Perawan Lembah Wilis Jilid 09

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 09

Ayu Candra masih terisak-isak ketika ia dituntun suaminya memasuki ruangan dalam dan diajak duduk di situ. Setyaningsih dan Pusporini tidak berani ikut masuk dan segera mengundurkan diri.

"Aduh, Kakangmas... malapetaka telah menimpa keluarga kita selama Kanda pergi..." Ayu Candra kembali menangis. "Bagus Seta.... bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito...."

Adipatl Tejolaksono merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik. Punggung dan tengkuknya terasa dingin sekali. Kemball ia meraih isterinya dan bertanya, suaranya gemetar,

"Ada apa dengan mereka? Mana Bagus Seto...?

"...serangan pertama... sebulan yang lalu...di malam hari terjadi tlba-tiba. Keadaan menjadi kacau dan....dan anak kIta itu hilang...

"Apa...? Tertawan oleh Lima Gagak Serayu??"

Pertanyaan ini mengandung kemarahan besar terhadap pimpinan para penyerbu itu. "Mudah-mudahan tidak begitu, Kakangmas Adipati. Mereka itu amat keji dan kejam! Ada di antara para pengawal kita yang melihat bahwa pada malam terjadinya penyerbuan itu ada seekor harimau putih yang besar sekali lari keluar dari taman sari dan.... dan Bagus Seta menunggang di punggungnya...."

"Aahhhh... harimau putih...? Ki Tunggaljiwa...?"

"Mudah-mudahan begitulah seperti yang diperkirakan pula oleh mendiang.... bibi Kartikosari...."

"Haaaa...???" Kini Adipati Tejolaksono benar-benar terkejut, sampai pucat mukanya. "Mendiang....?"

Ayu Candra terisak-isak dan berkata tersendat-sendat, "Tiga hari berikutnya, dalam perlawanan terhadap para musuh yang dipimpin sendiri oleh bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito... bibi Kartikosari tewas di tangan musuh...."

"Dan bibi Roro Luhito....?"

"Terluka parah....kini beristirahat di kamarnya..."

"Duh Jagad Dewa Bathara.... !!" Adipati Tejolaksono duduk termenung seperti arca. Wajahnya pucat, matanya sayu dan bibirnya menggigil.

Isterinya hanya rnenangis terisak-isak. Adipati Tejolaksono ingin sekali memukul kepala sendiri. Malapetaka hebat terjadi di rumahnya. Puteranya lenyap, bibinya tewas dan yang seorang terluka, rakyatnya banyak yang dirampok, dibakar rumahnya, diperkosa dan dibunuh, para perajuritnya banyak pula yang tewas. Dan dia... dia bersenang-senang memadu kasih bersama Endang Patibroto!

Akan tetapi, haruskah ia menyalahkan diri sendiri? Ah, tidak bisa! Mereka berdua bukan sengaja hendak bersenang-senang! Mereka berdua bukan sengaja hendak memadu kasih karena terdorong nafsu belaka! Tidak! Mereka berduapun terancam bahaya hebat yang nyaris merenggut nyawa mereka. Dan keberangkatannya ke Blambangan adalah karena tugas yang dibebankan sang prabu ke atas pundaknya, seperti juga pada saat ini Endang Patibroto dibebani tugas menyerbu Blambangan.

Nyawa manusia di tangan Hyang Widhi. Nyawa manusia setiap saat terancam maut. Kalau Hyang Widhi menghendaki, tiada kekuasaan apapun di dunia ini yang dapat merubah jalan hidup seseorang. Yang dapat merubah saat datangnya kematian!

"Bagaimanakah Bibi Kartikosari dan Bibi Roro Luhito yang sakti mandraguna sampai terkalahkan oleh musuh?"

"Kedua orang bibi Itu tidak dapat menahan kemarahan ketika mendengar akan sepak terjang dan kekejaman para perampok yang merusak dusun-dusun di sekitar Selopenangkep. Mereka membawa pasukan dan mengejar jauh keluar kadipaten, ke dusun-dusun. Akan tetapi pasukan mereka terkepung dan karena jumlah lawan jauh lebih banyak, mereka terjebak dan dikeroyok oleh Lima Gagak Serayu dengan anak buah mereka. Bibi Kartikosari terluka parah dan biarpun dapat dilarikan oleh Bibi Roro Luhito yang juga luka-luka sampai ke kadipaten, namun Bibi Kartikosari meninggal karena terlalu banyak kehilangan darah. Beberapa kali kadipaten diserbu musuh, namun kami dan para pengawal yang setia dapat mempertahankan kadipaten."

"Sudahlah, keringkan air matamu, nimas. Setelah aku berada di sini, aku akan membalaskan kematian Bibi Kartikosari, kemudian setelah musuh dapat terbasmi, aku akan menyusul Bagus Seta ke Merapi."

Adipati Tejolaksono tidak membuang waktu lagi. Ia menengok Roro Luhito yang biarpun terluka parah namun tidak membahayakan nyawanya.

"Sayang kau datang terlambat... sebetulnya aku dan Bibimu Kartikosari tidak akan kalah melawah Lima Gagak Serayu...akan tetapi.... musuh terlalu banyak dan Bibimu Kartikosari mengamuk, memisahkan diri.... ah, maafkan, anakku. Kami tidak dapat menjaga puteramu Bagus Seta...."

"Sudahlah, Kanjeng Bibi. Yang sudah terjadi tidak perlu disesalkan lagi. Semua sudah dikehendaki Hyang Widhi. Pembelaan sudah cukup dan saya amat berterima kasih. Saya sendiri akan menghajar Lima Gagak Serayu!" kata Adipati Tejolaksono.

Adipati ini segera mengumpulkan semua pengawal dan barisan bantuan dari Panjalu, menyusun barisan dan rnembagi-bagi tugas. Sebagian daripada pasukan bertugas menjaga kadipaten, dipimpin sendiri oleh Ayu Candra. Kemudian Adipati Tejolaksono memimpin pasukan pilihan, keluar dari kadipaten dan mulailah pasukan istimewa ini melakukan pengejaran dan pembersihan ke dusun-dusun di sekitar Selopenangkep.

Karena dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, maka semangat pasukan ini hebat sekali. Setiap gerombolan perampok yang mengganas dan bertemu dengan pasukan ini dihancurkan, jarang ada yang dapat melarikan diri. Mawutlah gerombolan-gerombolan perampok Bagelen dan Lembah Serayu. Mereka mundur terus bahkan lalu menggabung dengan induk pasukan di sebelah barat, dan terus dikejar oleh Adipati Tejolaksono.

Pasukan sang adipati makin lama makin besar karena ke manapun pasukan itu tiba, selalu disambut oleh rakyat yang menjadi girang sekali dan di situlah pasukan bertambah besar dengan adanya rakyat yang menggabungkan diri untuk membalas dendam kepada perampok yang mengganas selama ini.

Bala bantuan dari Panjalu yang diminta oleh Adipati Tejolaksono yang mengirim utusan ke sana, tiba tak lama kemudian, maka makin kuatlah barisan Kadipaten Selopenangkep. Akhirnya, setelah mengejar dan menghancurkan banyak gerombolan sebulan kemudian pasukan Adipati Tejolaksono yang kini menjadi besar jumlahnya bertemu dengan induk pasukan Lima Gagak Serayu. Terjadilah perang tanding yang amat hebat!

Perang tanding yang terjadi di lembah Serayu ini amat hebat dan ia jadi cerita perajurit yang lolos dari maut untuk diceritakan kepada anak cucu mereka kelak. Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Serayu yang amat dahsyat. Ribuan orang, sebagian besar di pihak gerombolan Bagelen dan gerombolan Lembah Serayu, tewas dalam perang ini.

Biarpun pihak pasukan Adipati Tejolaksono kalah banyak, namun mereka ini menang semangat dan memang pasukan pengawal Kadipaten Selopenangkep dan pasukan bantuan dari Panjalu adalah pasukan istimewa yang rata-rata terdiri dari perajurit-perajurit gemblengan dan pilihan. Apalagi karena mereka ini semua dipenuhi dendam kemarahan terhadap para gerombolan yang sudah mengacau daerah mereka, sudah membinasakan dan merusak dusun-dusun. Sepak terjang barisan di bawah pimpinan Adipati Tejolaksono seperti banteng ketaton (terluka).

Menurut cerita, sampai tiga hari tiga malam perang tanding ini berlangsung, dan mereka yang berhenti untuk makan atau tidur digantikan oleh rombongan lain. Adipati Tejolaksono sendiri menjadi buah bibir semua orang yang ikut beryuda, baik dari pihak lawan maupun pihak kawan. Barisan Selopenangkep menjadi makin besar semangatnya menyaksikan sepak terjang Adipati Tejolaksono sedangkan pihak lawan menjadi giris hatinya.

Menurut cerita para perajurit kemudian, jika lapar, sang adipati ini mengepal nasi. dan makan dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri yang memegang keris terus mengamuk. Setiap kepal nasi yang memasuki mulut diantar dengan nyawa seorang musuh yang roboh oleh kerisnya! Bahkan ada yang bilang bahwa sang adipati ini tidur sambil berperang! Jasmaninya tertidur, akan tetapi dalam tidur itu sang adipati bermimpi mengamuk dan berperang merobohkan banyak sekali perajurit lawan!

Pada hari ke tiga, terjadilah perang tanding yang amat dahsyat antara Adipati Tejolaksono yang dihadapi oleh Lima Gagak Serayu sendiri! Di sinilah letak pertandingan yang akan memutuskan keadaan perang itu. Lima Gagak Serayu adalah lima orang kakak beradik yang tinggi besar dan memiliki kesaktian yang luar biasa, juga masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, akan tetapi rata-rata bertubuh kebal.

Banyak perajurit Selopenangkep yang roboh dan tewas di tangan mereka ini. Golok dan tombak tak dapat melukai tubuh mereka dan sekali mereka menggunakan bedog (golok) mereka yang lebar dan berat, tentu tubuh lawan terpotong menjadi dua. Karena inilah maka Adipati Tejolaksono sengaja mencari mereka dan kini di waktu siang dan panas sedang membakar medan perang, sang adipati bertemu dengan lima orang pimpinan barisan musuh itu.

Orang pertama dari mereka adalah Gagak Dwipa, yang paling sakti di antara mereka. Sama tinggi besar dengan adik-adiknya, hanya karena ia paling kurus maka kelihatan paling tinggi. Permainan bedog (golok) di tangannya amat cepat dan kuat dan memang dialah yang terpandai di antara kelima orang Gagak Serayu itu.

Orang ke dua adalah Gagak Kroda yang memiliki tubuh paling besar dengan otot-otot melingkar-lingkar di seluruh tubuh, terutama di kedua lengannya yang sebesar kaki manusia lumrah. Demikian kuat dan kebal si Gagak Kroda ini sehingga ia bersombong bahwa setiap pagi ia sarapan golok dan tombak yang harus ditusuk-tusukkan dan dibacok-bacokkan pada tubuhnya untuk menghilangkan gatal-gatal dan kekakuan tubuhnya!

Orang ke tiga adalah Gagak Tirta yang di samping kesaktiannya, juga memiliki keistimewaan bermain di dalam air. Kabarnya dia ini sanggup menyelam ke dalam air sampai setengah hari lamanya! Senjatanya juga bedog, akan tetapi dia memiliki sebuah senjata rahasia yang aneh, yaitu sehelai jaring yang kuat sekali. Orang ke empat dan ke lima adalah Gagak Maruta dan Gagak Legawa.

Sejenak Adipati Tejolaksono yang berdiri berhadapan dengan lima orang lawannya itu memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan. Ia memandang dengan penuh perhatian lima orang yang telah membikin kacau daerahnya ini, dan sinar matanya menyapu mereka seperti lecutan cambuk sakti. Lima orang itu tak tahan menentang pandang mata Adipati Tejolaksono dan untuk menyembunyikan kegentaran hati mereka tertawa-tawa mengejek.

"Heh, si keparat Gagak Serayu berlima! Sudah lama aku mendengar kejahatan kalian di sepanjang Lembah Serayu, akan tetapi selama itu aku berdiam diri saja karena jalan hidup kita memang tak pernah saling bersilang. Akan tetapi mengapa kalian berani mengganggu Selopenangkep secara pengecut, selagi aku tidak berada di sana?"

"Babo-babo, Adipati Tejolaksono! Sudah lama kami menanti saat ini untuk berhadapan dengan senjata di tangan denganmu! Ingatkah engkau ketika engkau dahulu masih menjadi seorang bocah gunung yang hina? Ingatkah engkau bahwa sejak dahulu engkau memusuhi orang-orang dari Bagelen dan Lembah Serayu?"

"Hemmm, aku tidak ingat lagi karena terlampau banyak orang jahat yang terpaksa menjadi lawanku. Aku tidak memusuhi siapa-siapa kecuali orang jahat, dari manapun datang dan asalnyal"

"Ha-ha-ha-ha! Demi setan jin brekasakan! Kau hendak memungkiri? Lupakah engkau kepada Ki Krendoyakso dari Bagelen? Dia adalah kakak segemblengan kami! Dan lupa pula engkau kepada Sang Dibyo Mamangkoro? Dia adalah bekas junjungan kami!"

Adipati Tejolaksono mengangguk-angguk. Mengertilah ia kini mengapa mereka ini memusuhinya, adapun Dibyo Mamangkoro adalah dia sendiri yang membunuhnya (baca Badai Laut Selatan)!

"Ah, kiranya kalian ini segolongan mereka? Tentu saja aku masih ingat kepada tokoh-tokoh jahat itu. Nah, inilah dadaku, Gagak Serayu! Inilah aku Adipati Tejolaksono yang takkan undur setapakpun menghadapi keganasan kalian. Majulah, tandingilah Tejolaksono!"

"Ha-ha-ha-ha!" Kembali Gagak Dwipa tertawa bergelak. "Sumbarmu seperti hendak mengeringkan air Kali Serayu! Ketahuilah bahwa saat kematianmu sudah berada di depan mata, Tejolaksono. Rasakan ini.... haaiiiiittttt...." Gagak Dwipa menerjang maju menggerakkan bedognya secepat kilat.

Adipati Tejolaksono hanya merendahkan tubuh sedikit untuk mengelak, akan tetapi pada saat itu, empat orang Gagak yang lain sudah menyambar dari kiri kanan dan bedog mereka menyambar-nyambar sampai mengeluarkan suara berdesing.

Adipati Tejolaksono mengerahkan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya menjadi seringan kapas tertiup angin, melayang ke sana ke mari menghindarkan diri daripada hujan sinar kilat senjata kelima, orang pengeroyoknya. Iapun cepat mencabut keris Megantoro dari pinggangnya dan terjadilah pertandingan yang luar biasa hebatnya.

Lima orang itu selain bertenaga besar dan dapat bergerak cepat, juga memiliki kerja sama yang amat rapi sehingga gerakan mereka seolah-olah teratur sekali, dapat saling menjaga dan saling bantu. Mereka ini memang sedang mainkan ilmu silat barisan yang mereka sendiri namakan Gagak Yuda.

Gerakan mereka teratur seperti seekor burung gagak bertanding dan kelima orang itu merupakan kedua cakar, kedua sayap, dan sebuah paruh yang dapat bekerja sama dengan baik, kadang-kadang sekaligus menerjang maju, kadang-kadang yang satu menyerang yang lain melindungi.

Di lain pihak, Adipati Tejolaksono memiliki kelincahan yang sedemikian cepatnya sehingga lima pasang mata lawan sampai-sampai menjadi silau dan kabur. Pertandingan itu seakan-akan lima ekor burung gagak mengepung seekor garuda! Selain amat seru menyeramkan, juga amat indah ditonton sehingga para anak buah kedua belah pihak yang kebetulan bertempur di dekat tempat itu, otomatis tanpa diperintah menunda pertandingan mereka sendiri dan berdiri melingkari medan pertempuran itu, menonton dan menjagoi pimpinan masing-masing!

Hanya mereka yang jauh saja yang masih melanjutkan perang tanding. Pertandingan antara Tejolaksono dan lima orang Gagak Serayu itu makin seru dan hebat. Tejolaksono memang sakti, lebih lincah dan lebih kuat, namun ia menghadapi kerja sama yang amat rapi sehingga tidak banyak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Ksatria yang sakti itu maklum bahwa kalau ia melanjutkan cara bertanding seperti ini, yaitu hanya mempertahankan dan membela diri, ia akan celaka karena setiap serangan kelima orang itu tidak boleh dipandang ringan, penuh dengan tenaga yang didasari hawa sakti. Apalagi, ia telah berperang tanpa mengenal istirahat sehingga tubuhnya mulai lelah. Ia harus cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini dengan pengerahan tenaga yang dahsyat.

Sayang bahwa perasaannya tidaklah se-marah dan sakit hati seperti sebelum lima orang Gagak Serayu ini memperkenalkan diri sebagai adik seperguruan Ki Krendoyakso tokoh Bagelen itu. Tadinya ia memang marah dan sakit hati atas kematian Bibi Kartikosari, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa mereka ini saudara Ki Krendroyakso, ia dapat memaklumi sikap mereka memusuhinya dan lenyaplah sakit hatinya.

Mereka ini memang musuh dan mereka memusuhinya adalah hal yang sewajarnya. Dan karena ia tidak marah dan tidak lagi merasa sakit hati, akan percuma sajalah kalau ia menggunakan Aji Triwikrama, sebuah aji yang hanya dapat dilakukan dalam keadaan marah dan sakit hati. Ia lalu mengumpulkan tenaga batinnya dan meledaklah pekiknya yang dahsyat, yaitu pekik Dirodo Meta yang keluar dari dadanya.

Lima orang lawannya tergetar dan terkejut. Saat itu dipergunakan oleh Tejolaksono untuk menubruk dada Gagak Dwipa yang merupakan lawan paling tangguh. Akan tetapi sungguh di luar dugaannya. Lima orang itu benar-benar sudah merupakan lima orang dengan satu perasaan agaknya. Tanpa dikomando lagi, lima batang golok itu sudah menangkis kerisnya dengan kekuatan yang amat hebat!

"Tranggggg..!!!

Pengerahan tenaga yang amat hebat dari Adipati Tejolaksono tersalur di dalam keris Megantoro dan akibat dari pertemuan senjata ini hebat sekali karena berbareng dengan suara yang amat nyaring ini tampak api berpijar menyilaukan mata dan lima batang golok itu patah semua! Akan tetapi, karena sebuah di antara golok yang patah itu meleset dan menyambar turun menggores lengan sang adipati, maka keris itu pun terlepas dari tangan Tejolaksono!

Melihat bahwa lawan yang dikeroyok inipun kehilangan senjatanya, Lima Gagak Serayu menjadi girang dan sambil berteriak ganas mereka menubruk dan mengirim serangan serentak. Namun Tejolaksono juga sudah siap. Begitu lima orang lawan bergerak menyerangnya penuh nafsu, la melihat kesempatan baik sekali. Tubuhnya mengelak ke kiri, melewatkan tiga pukulan lawan dan sengaja menerima hantaman dua orang gagak yang ia terima dengan dada dan pundaknya sambil mengerahkan tenaga, namun berbareng jari-jari tangan kanannya menusuk dengan Aji Pethit Nogo ke arah dada Gagak Legawa dan tangan kirinya menangkis pukulan susulan dari Gagak Dwipa.

"Dessss.... krakkk.... !!"

Tubuh Tejolaksono yang menerima pukulan Gagak Maruta di dada kiri dan hantaman Gagak Legawa di pundak itu hanya tergoncang seperti sebatang pohon beringin diserang angin lalu, akan tetapi jari-jari tangan kanannya amblas masuk ke dalam dada Gagak Legawa, mematahkan tulang-tulang iganya! Gagak Legawa berteriak ngeri dan roboh berkelojotan. Seorang di antara lima Gagak Serayu, menjadi korban dan tewas. Para perajurit Selopenangkep yang menonton pertandingan dahsyat itu bersorak gembira, sebaliknya pihak pasukan Lembah Serayu marah dan gelisah.

"Siuuuuuttttt....!!

Benda yang berubah menjadi bayang-bayang hitam yang amat lebar itu adalah senjata rahasia Gagak Tirta, yakni sehelai jaring yang amat lebar dan ujungnya dikelilingi mata kaitan terbuat daripada baja. Jaring itu sendiri terbuat daripada kawat-kawat halus yang amat kuat. Dengan jaring pusakanya yang ampuh ini, Gagak Tirta sanggup menangkap hidup-hidup seekor harimau!

Karena secara otomatis, tiga orang Gagak yang lain dengan kemarahan meluap-luap melihat kematian Gagak Legawa juga menerjang maju dengan pukulan tangan kosong dari kanan kiri sehingga tertutuplah jalan keluar bagi Tejolaksono, maka adipati inipun memutar tubuh menangkis pukulan-pukulan itu dan sengaja membiarkan dirinya disambar jaring. Ia tidak takut menghadapi jaring itu, bahkan adipati yang sakti dan cerdik ini hendak menggunakan kesempatan ini untuk mencapai kemenangannya.

Empat orang Gagak Serayu berseru girang dan anak buah mereka bersorak ketika melihat betapa tubuh Adipati Tejolaksono terselimut dan tertangkap oleh jaring itu, Tejolaksono meronta dan mendapat kenyataan bahwa jaring ini benar-benar amat kuat, dan pada saat itu, Gagak Tirta menyendal tali jaringnya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Tejolaksono terguling roboh!

Makin riuh sorak sorai anak buah Gagak Serayu dan makin kecil hati para perajurit Selopenangkep melihat jagoan mereka tertangkap! Akan tetapi pada saat yang memang dinanti-nanti oleh Tejolaksono itu, tiba-tiba tubuh sang adipati yang terguling tadi terus bergerak bergulingan dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka. Tahu-tahu tubuh yang berada dalam libatan jaring ini telah menggelundung ke arah lawan.

Empat orang Gagak Serayu kaget dan meloncat, namun kurang cepat bagi Gagak Tirta yang memegang ujung tali jaring. Kakinya tertangkap tangan Tejolaksono yang menyambar dari dalam jaring sehingga Gagak Tirta dapat ditarik roboh! Gagak Maruta yang berada paling dekat, cepat menubruk maju untuk menolong adiknya, hendak merampas adiknya yang kakinya terpegang lawan.

"Maruta... mundur...!" Gagak Dwipa memperingatkan adiknya, namun terlambat karena pada saat Tejolaksono yang menggunakan aji kekuatan sakti, sudah melompat bangun dengan kaki Gagak Tirta rnasih dipegangnya dan tubuh lawan ini ia ayun sedemikian rupa merupakan senjata yang luar biasa. Gagak Maruta hendak menghindar, namun terlambat.

"Prakkk...!!" Suara keras beradunya kepala Gagak Maruta dengan kepala Gagak Tirta ini disusul pekik yang mengerikan, pekik kematian dua orang kakak beradik itu yang pecah kepalanya! Darah dan otak keluar muncrat-muncrat dan Adipati Tejolaksono cepat membebaskan diri dari libatan jaring untuk menghadapi lawannya yang kini hanya tinggal dua orang lagi, yaitu Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Akan tetapi, pada saat itu para anak buah pasukan Lembah Serayu sudah menerjangnya dan disambut pula oleh perajurit-perajurit Selopenangkep yang mendapat hati. Ketika Tejolaksono keluar dari jaring dan melihat, ternyata dua orang pimpinan musuh itu sudah lenyap, lari sambil membawa pergi mayat tiga orang adik mereka! Tejolaksono tidak mengejar, melainkan memimpin anak buahnya menghajar musuh. Perang itu selesai pada sore hari itu juga.

Karena kehilangan pimpinan, para pasukan Lembah Serayu yang terdiri dari perampok-perampok dan bajak menjadi kacau, apalagi karena mereka sudah jerih dan ketakutan ketika mendengar berita bahwa Lima Gagak Serayu yang mereka agul-agulkan itu kalah oleh Adipati Tejolaksono. Bubarlah mereka, melarikan diri ke seberang barat Sungai Serayu. Ada pula yang melarikan diri ke utara untuk bersembunyi di dalam hutan-hutan di kaki dan lereng Gunung Slamet, Gunung Beser, atau Gunung Ragajembangan.

Adipati Tejolaksono dan pasukannya membuat pembersihan, mendapat kemenangan besar dan disambut oleh rakyat dari Lembah Serayu sampai ke Selopenangkep dengan penuh kegirangan dan terima kasih. Akan tetapi sang adipati sendiri tetap tidak bergembira, bahkan wajahnya muram dan keningnya selalu berkerut. Ia tetap gelisah teringat akan putera tunggalnya, Bagus Seta.

Apakah yang telah terjadi atas diri Bagus Seta? Anak yang baru berusia sepuluh tahun ini telah mewarisi sifat-sifat ayah bundanya. Ia tidak pernah mengenal takut, bersikap tenang dan biarpun masih kanak-kanak, namun sudah nnempunyai pandangan yang jauh dan cerdik, tidak kekanak-kanakan. Selain memiliki sifat-sifat ksatria ini, Bagus Seta juga semenjak kecil digembleng oleh ayahnya sendiri dengan ilmu sehingga biarpun ia belum memiliki kedigdayaan yang hanya dicapai oleh seseorang dengan latihan-latihan yang matang, namun ia sudah memiliki tubuh yang kuat, hati yang tabah dan pikiran yang cerdas.

Nama yang diberikan ayah bundanya kepadanya, yaitu Bagus Seta, selain untuk mengingat nama Joko Seta bekas tunangan ibunya yang gugur di dalam perang membela Kerajaan Panjalu, juga amat cocok dengan kulit tubuh anak ini yang putih kuning dan wajahnya yang amat tampan. Yang amat menyolok pada diri Bagus Seta adalah sepasang matanya yang bersinar-sinar dan amat tajam itu dan mulutnya yang membayangkan hati yang tabah, kemauan yang keras dan watak yang berbudi dan welas asih.

Ketika Kadipaten Selopenangkep diserbu oleh gerombolan perampok Lembah Serayu, Bagus Seta sedikitpun tidak menjadi takut. Seperti halnya dua orang bibinya yang masih kecil, yaitu Setyaningsih dan Pusporini, Bagus Seta juga siap untuk ikut berperang! Sebatang keris kecil terselip di pinggang, bahkan goloknya yang kecil, yang biasa ia pakai berlatih jika diajar oleh ayahnya, kini tergantung di pinggangnya.

"Ibu, kalau ada perampok jahat berani masuk ke rumah kita, kita gempur mereka sampai habis!" demikian kata-kata yang keluar dari mulut anak ini.

"Betul, aku juga tidak takut!" kata Setyaningsih dengan suara nyaring.

"Aku juga!" kata Pusporini dengan mata bercahaya.

"Husssshhh...!!! Anak-anak, kalian tidak boleh keluar," pesan Kartikosari dan Roro Luhito yang sudah siap menerjang musuh. "Sembunyi saja dalam kamar dan baru boleh melawan kalau sampai ada musuh yang menyerbu masuk ke kamar kalian."

Setyaningsih dan Pusporini tidak berani membantah ibu mereka, juga di depan ibunya yang memerintahkan agar dia berdiam di dalam kamar, Bagus Seta tidak berani membantah. Akan tetapi begitu ia mendengar malam itu suara hiruk-pikuk di luar kamarnya dan mendengar dari para pelayan yang ketakutan bahwa para gerombolan perampok sudah menyerbu istana kadipaten, hati Bagus Seta berdebar penuh kemarahan dan ketegangan.

Ia marah sekali karena menganggap para perampok itu pengecut, melakukan penyerbuan pada saat ayahnya tidak berada di rumah. Coba kalau ayahnya berada di rumah, sudah lama para perampok itu dibasmi habis. Ia merasa penasaran sekali akan perintah dan larangan ibunya. Kenapa ia harus bersembunyi di dalam kamar? Ia tidak takut sama sekali terhadap para perampok! Memalukan benar! Putera Adipati Tejolaksono yang terkenal sakti mandraguna harus bersembunyi karena serbuan perampok!

Tidak! Ia tidak mau bersembunyi lagi dan membiarkan ibunya dan kedua eyang puterinya menghadapi para perampok sendiri. Apalagi ketika malam itu suara pertempuran makin hebat, Bagus Seta tak dapat menahan dirinya lagi. Terdengar olehnya suara pertempuran itu makin mendekat dan kini bahkan terdengar suara beradunya senjata tajam dan teriakan-teriakan orang bertanding di luar kamarnya, di dalam taman! Cepat Bagus Seta membuka daun jendelanya dan memandang keluar.
Lampu-lampu penerangan yang tergantung di sudut-sudut taman menambah cahaya bulan dan di dalam taman yang remang-remang itu tampaklah banyak orang berkelebat dan saling bertanding. la mengenal belasan orang pengawal istana ayahnya yang dengan gagah berani melawan serbuan para perampok yang berjumlah besar, dua kali lebih besar daripada jumlah para pengawal.

Melihat daun jendela terbuka dan seorang anak laki-laki tampak di jendela, dua orang perampok yang bertubuh tinggi besar segera melompat maju dan lari menghampiri Bagus Seta. Anak ini tidak takut, bahkan ia segera melompat keluar dari jendela dengan golok terhunus di tangan kanan dan keris di tangan kiril. Melihat ini, dua orang perampok itu tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha, anak kecil berani bukan main!"

"Wah, pakaiannya indah. Tentu bukan anak sembarangan. Di dalam kamarnya tentu banyak terdapat barang berharga!" kata perampok ke dua.

"Keparat jahanam, kalian perampok-perampok jahat! Jangan memasuki kamarku!" bentak Bagus Seta sambil meloncat ke depan jendela menghadang ketika ia melihat betapa dua orang perampok itu hendak memasuki kamarnya.

Dua orang perampok itu saling pandang lalu tertawa bergelak. Biarpun mereka ini orang-orang kasar dan perampok liar, namun tadinya mereka tidak berniat memusuhi seorang kanak-kanak. Akan tetapi melihat sikap Bagus Seta, mereka menjadi marah juga dan sambil tertawa mereka menerjang maju, perampok pertama mengayun goloknya dengan kuat, hendak memenggal leher anak itu sekali mengayun golok. Ayunan goloknya ini cepat dan kuat sekali dan dua orang perampok itu sudah memastikan bahwa si anak kecil tentu akan roboh binasa. Mereka sudah mengilar ketika mengerling ke arah dalam kamar dari jendela. Memang kamar yang indah dan mereka ingin sekali menjadi orang-orang pertama, memasukinya dan memilih isinya yang berharga.

"Aihhh...!!" Perampok yang mengayun golok berseru kaget karena goloknya membacok angin kosong ketika Bagus Seta dengan cepat dan tangkas mengelak ke kiri, dan lebih besar lagi rasa kaget perampok itu ketika tiba-tiba pahanya sakit sekali dan robek berdarah, kena hantam golok kecil di tangan Bagus Seta. Untung baginya bahwa anak berusia sepuluh tahun itu tenaganya belum matang, kalau lebih kuat sedikit saja bacokan itu, tentu pahanya sudah menjadi buntung!

cerita silat online karya kho ping hoo

Perampok yang terluka pahanya itu menjadi marah sekali, akan tetapi pahanya terasa amat perih dan nyeri sehingga ia tidak dapat menerjang maju. Hanya temannya yang kini dapat menduga bahwa anak kecil itu bukan bocah sembarangan, sudah meloncat maju dan ayunan goloknya melakukan serangan bertubi-tubi. Namun, makin besar keheranan dua orang perampok itu karena betapapun cepatnya si perampok membacok, selalu bacokannya mengenai tempat kosong. Anak itu gesitnya melebihi seekor kera!

Pada saat itu, dari tempat pertempuran datang pula dua orang perampok. Memang jumlah perampok lebih banyak sehingga para pengawal terdesak dan karena para perampok itu sudah Ingin sekali menyerbu istana untuk merampok harta benda dan memperkosa puteri-puteri kini dua orang perampok itu yang melihat dua orang teman mereka mengeroyok seorang anak kecil di dekat jendela terbuka, cepat menghampiri. Mereka terheran-heran dan kagum melihat betapa seorang anak kecil dengan golok di tangan kanan dan keris di tangan kiri dapat melayani terjangan seorang kawan mereka begitu gesitnya!

"Aaahh, anak ini tentu putera adipati! Puteranya hanya seorang, siapa lagi kalau bukan anak setan ini?" Demikian. kata seorang di antara mereka.

Bagus Seta yang mendengar ucapan ini lalu meloncat mundur sambil menghardik, "Sudah tahu aku putera Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, kalian masih berani datang?"

Sejenak empat orang perampok itu tercengang akan tetapi mereka lalu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Dia ini lebih berharga daripada segala benda rampasan. Gagak Lembah Serayu tentu akan memberi hadiah besar kepada kita kalau kita menyerahkan anak ini sebagai tawanan!"

Mendengar ucapan ini, tiga orang perampok yang tidak terluka itu lalu menubruk maju seakan berlumba hendak berdulu-duluan menangkap Bagus Seta. Anak ini cepat melompat ke kanan menghindarkan diri sambil menyabet dengan goloknya.

"Tranggggg...!!" Dua buah golok perampok menangkisnya dengan pengerahan tenaga keras. Tentu saja tenaga Bagus Seta tidak dapat melawan tenaga dua orang perampok kasar itu. Golok kecil di tangannya terlempar jauh!

Perampok-perampok itu tertawa dan menubruk lagi. Akan tetapi biarpun goloknya sudah hilang, Bagus Seta tidak menjadi gugup atau takut. Melihat dirinya ditubruk tiga orang, ia cepat menggerakkan keris kecilnya, menyambut tangan-tangan mereka dengan tusukan keris ke depan!

"Eh-eh, bocah ini seperti anak harimau saja!" kata seorang perampok sambil menarik kembali tangannya yang nyaris tertusuk keris. Akan tetapi kakinya melayang dari kiri dan tepat mengenai pinggang Bagus Seta yang jatuh terguling-guling dan kerisnya terlepas dari pegangan. Namun, anak itu meloncat bangun lagi, sudah siap menghadapi para perampok dengan kedua tangan kosong!

Melihat sikap ini, mau, tak mau empat orang perampok itu memandang kagum dan terheran-heran. Belum pernah selama hidup mereka yang penuh kekejaman itu mereka bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki keberanian seperti ini! Seekor harimau sekalipun agaknya tentu akan tunggang-langgang kalau sudah dihajar dan mendapat kenyataan bahwa pihak lawan jauh lebih kuat. Anak ini sudah kehilangan golok dan keris, sudah pula terjengkang roboh, akan tetapi masih bangkit lagi dan sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, apalagi menyerah!

Rasa penasaran membuat tiga orang perampok yang tak terluka itu menjadi marah. Masa tiga orang gagah seperti mereka tidak mampu merobohkan seorang anak kecil? Alangkah akan malu hati mereka kalau hal itu diketahui kawan-kawan mereka. Tentu mereka akan menjadi bahan ejekan. Karena marah, berubahlah keinginan hati mereka yang tadi hendak menawan Bagus Seta, menjadi nafsu untuk membunuhnya! Dengan golok di tangan terangkat tinggi-tinggi, tiga orang itu kini melangkah maju, slap untuk menghancurkan tubuh yang kecil itu dengan golok mereka yang tajam.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara auman yang menggetarkan taman. Bumi yang terpijak serasa bergoyang. Tiga orang perampok itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri seperti berubah menjadi arca. Entah dari mana datangnya, tak jauh dari situ berdiri seekor harimau yang besarnya seperti lembu! Seekor harimau berbulu putih yang besar dan menyeramkan sekali!

Akan tetapi kalau para perampok dan juga sebagian pengawal yang bertanding di dekat tempat itu terkejut dan gentar, sebaliknya Bagus Seta menjadi girang sekali. Ia menoleh dan melihat harimau putih itu, segera mengenalnya sebagai harimau yang pernah ia jumpai di dalam hutan bersama ayahnya, harimau yang telah menggondolnya. Karena anak inipun maklum bahwa ia tidak akan menang menghadapi pengeroyokan para perampok, maka ia lalu lari menghampiri binatang itu dan memeluk lehernya. Harimau itu merendahkan tubuhnya sambil menggereng dan di lain saat Bagus Seta telah menunggang di atas punggungnya!

"Paman sardulo, amuk para perampok itu! Basmi mereka, usir mereka... Bagus Seta menepuk-nepuk punggung harimau itu sambil berbisik di dekat telinganya. Anak ini memang pandai menunggang kuda, akan tetapi menunggang kuda jauh sekali bedanya dengan menunggang harimau yang tanpa kendali tanpa sela itu. Maka ia duduk sambil menelungkup dan merangkul leher menengkeram bulu yang panjang putih pada leher harimau.

Harimau itu kembali mengaum dan tubuhnya menerjang maju. Tiga orang perampok yang tadi hendak membunuh Bagus Seta, berbareng mengangkat golok untuk menyerang dalam pembelaan diri mereka, akan tetapi hanya satu kali sang harimau putih mengangkat kaki depan sebelah kanan, menampar atau mencakar dan tiga batang golok mereka terlepas dari pegangan, bahkan lengan seorang di antara mereka kena cakar sampai robek-robek dagingnya! Yang dua orang membalikkan tubuh dan lari, diikuti dua orang temannya yang sudah terluka, yaitu yang tadi terluka golok pahanya dan yang terluka lengannya.

Harimau itu dengan Bagus Seta di punggungnya, lalu berlari perlahan memasuki taman. Gegerlah mereka yang sedang berperang di dalam taman. Para perampok menjadi ketakutan dan otomatis bubar meninggalkan lawan. Beberapa orang perampok yang mencoba untuk melawan harimau putih, roboh oleh tamparan kaki depan harimau itu yang berbeda dengan harimau-harimau biasa, bergerak seperti seorang manusia, bukan menubruk atau menggigit seperti harimau lain. Akan tetapi gerakan kaki depannya amat kuat sehingga senjata-senjata tajam selalu terlempar kalau bertemu kakinya.

Sebentar saja, para perampok yang menyerbu kadipaten menjadi geger dan bubar meninggalkan kadipaten. Bermacam-macam cerlta mereka. Bahkan yang tidak sempat bertemu dengan harimau putih itu dapat bercerita bahwa penjaga kadipaten harimau yang sebesar gajah telah mengamuk! Ada yang bilang bahwa itu adalah sang adipati sendiri yang berubah menjadi harimau putih. Bahkan para pengawal yang sempat melihat harimau di dalam taman, menjadi panik. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang berusaha merampas kembali Bagus Seta. Akan tetapi mereka inipun roboh oleh tamparan sang harimau yang kemudian melarikan Bagus Seta dari dalam taman sambil berlompatan cepat sekali. Bagus Seta merasa ngeri juga dan terpaksa ia meramkan mata sambil memeluk leher harimau lebih kuat lagi. Angin berdesir di pinggir telinganya dan tubuhnya kadang-kadang terkena lecutan rumput alang-alang di kanan kiri

"Paman sardulo.... ke mana kau membawaku pergi? Kembalilah, kita harus membantu ibuku... harus membasmi dan mengusir para perampok jahat....!" Bekali-kali Bagus Seta berbisik di dekat telinga si harimau, akan tetapi harimau putih itu tidak memperdulikannya lagi dan berlari terus keluar masuk hutan dan naik turun gunung.

Malam telah berganti pagi ketika harimau putih tiba di lereng sebuah gunung, lalu mengaum dan berhenti. Bagus Seta yang merasa lelah sekali lalu melorot turun dari atas punggung harimau, memandang kepada kakek tua renta berpakaian putih yang tahu-tahu telah berdiri di depan harimau. Kakek itu berdiri sambil memegang tongkat bambu gading, tangan kiri mengelus jenggot panjang yang putih itu dan mulutnya tersenyum.

"Terpujilah Sang Hyang Wishnu..." Kakek tua renta itu berkata halus. "Suratan takdir tak dapat dihapus oleh siapapun juga di dunia ini! Kulup, Bagus Seta, kedatanganmu ini meyakinkan hatiku bahwa engkau memang berjodoh dengan aku. Engkaulah yang kelak akan mempertahankan kebesaran Sang Hyang Wishnu, angger...!!!"

Bagus Seta memang seorang anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun. Namun ia telah banyak mempelajari tata susila dan tahu menghormat dan menghargai seorang tua yang suci dan bijaksana. Biarpun masih kecil, ia maklum bahwa kakek di hadapannya ini bukanlah seorang manusia biasa dan bahkan menjadi majikan dari sang harimau putih yang hebat. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

"Jadi Eyangkah yang menyuruh paman sardula putih datang menolong saya daripada pengeroyokan perampok? Saya mengucap syukur dan menghaturkan banyak terima kasih, Eyang."

Kakek itu tertawa, suara ketawanya halus dan sepasang matanya yang bersinar amat tajam itu berseri-seri gembira. "Sardulo pethak, kau dengar, alangkah pandainya sang adipati di Selopenangkep mendidik puteranya! Heh-hehheh, angger Bagus Seta. Tidak ada yang menolong atau ditolong. Sardulo pethak kusuruh datang ke Selopenangkep hanya untuk mempersiapkan diri kalau-kalau memang engkau berjodoh denganku, Angger. Kalau bukan karena kehendakmu sendiri engkau ikut dengannya, dia tidak akan memaksamu. Bukankah engkau sendiri yang ikut bersamanya, kulup?"

"Tidak salah, Eyang. Memang saya menunggangi punggungnya. Akan tetapi saya tidak mengerti mengapa dia membawa saya ke sini menghadap Eyang."

"Kekuasaan berada di tangan Sang Hyang Widhi, Angger. Bahkan semua dewata dan manusia hanya mempunyai tugas kewajiban, namun keputusan terakhir sepenuhnya berada di tangan Yang Maha Kuasa. Akupun hanya berusaha, angger, dan agaknya usahaku mendapat berkah Sang Hyang Wishnu yang memelihara dan menjaga semua kebaikan. Engkau berjodoh untuk menjadi muridku, kulup, dan kepadamulah aku harus menurunkan semua pengertian yang kumiliki."

"Banyak terima kasih saya haturkan kepada Eyang. Menurut wejangan Ayah saya, amatlah bahagia menjadi murid seorang yang maha sakti seperti Eyang. Akan tetapi, saya harus kembali ke Selopenangkep, Eyang. Selopenangkep diserbu penjahat, Kanjeng Ibu tentu terancam bahaya. Bagaimana saya dapat mendiamkannya saja dan berada di sini dalam aman tenteram sedangkan Kanjeng Ibu terancam bahaya?"

"Ha-ha-ha, bagus sekali, sekecil engkau sudah mengenal dharma bakti kepada orang tua! Akan tetapi engkau lupa, Bagus Seta, bahwa kehadiranmu di sana sama sekali tidak akan membantu ibumu, melainkan menambah beban ibumu karena harus melindungimu. Jangan khawatir, Angger. Engkau ikutlah bersamaku dan kelak pasti engkau akan bertemu kembali dengan orang tuamu."

"Memang saya tidak dapat membantu ibu, Eyang. Akan tetapi... apapun yang terjadi di Selopenangkep, saya harus menyaksikannya. Kata Kanjeng Rama, bukanlah watak seorang ksatria kalau melarikan diri daripada bahaya meninggalkan orang lain yang terancam malapetaka. Mencari keselamatan sendiri tanpa memperdulikan orang lain, apalagi Kangjeng ibu sendiri, adalah perbuatan pengecut yang hina!"

Kakek itu merangkul pundak sambil membungkuk, lalu membelai kepala Bagus Seta. "Wahai muridku yang bagus dan baik! Engkau benar-benar calon seorang ksatria budiman yang selalu mengingat wejangan baik di dalam hati. Semoga pengetahuanmu tentang itu akan mendarah daging pada dirimu, tidak hanya akan menjadi hafalan-hafalan kosong belaka melainkan kau nyatakan di dalam semua sepak terjangmu dalam hidup! Tidak salah seujung rambutpun wejangan Ramandamu, Angger. Akan tetapi, sekali ini keadaannya berbeda. Engkau bukan melarikan diri, melainkan dituntun oleh tangan gaib Sang Hyang Wishnu sendiri sehingga engkau datang kepadaku. Sekali lagi kukatakan, janganlah kau khawatir dan marilah kau ikut aku. Sudah tentu saja aku tidak hendak memaksakan kehendakku, karena aku selalu bertindak sesuai dengan-kehendak Sang Hyang Widhi. Sukakah engkau menjadi muridku, Bagus Seta?"

Anak itu menyembah lagi. "Demi semua Dewata di Suralaya, Eyang. Saya suka sekali menjadi murid Eyang."

"Nah, kalau begitu, mulai saat ini juga engkau kuangkat menjadi muridku. Aku dikenal sebagai Ki Tunggaljiwa dan ketahuilah, muridku, bahwa sesungguhnya Ramandamu itu masih cucu muridku sendiri! Bagus Seta, biarpun engkau masih seorang kanak-kanak, tentu Ramandamu pernah bercerita kepadamu. Tahukah engkau guru ramandamu?"

Jantung anak itu sudah berdebar tegang saking kagetnya mendengar bahwa kakek ini masih eyang guru ayahnya! Tentu saja ia sudah banyak mendengar dari ayahnya tentang guru-guru ayahnya maka tanpa ragu-ragu ia menjawab.

"Menurut penuturan Kanjeng Rama, pertama-tama yang menjadi guru Kangjeng Rama adalah Kanjeng Eyang Pujo sendiri, ayah angkat Kanjeng Rama. Kemudian Kanjeng Rama digembleng oleh Eyang Buyut Resi Bhargowo, dan yang terakhir, guru Kanjeng Rama adalah sang bijaksana yang sakti mandraguna Rakyana Patih Narotama."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Benar sekali apa yang kau dengar dari Ramandamu itu, Angger. Yang membuat Ramandamu menjadi seorang ksatria sakti mandraguna seperti sekarang ini adalah karena beliau menjadi murid mendiang Ki Patih Narotama. Ketahuilah, bahwa bersama mendiang Sang Prabu Airlangga, Ki Patih Narotama adalah murid-murid terkasih dari Sang Bhagawan Satyadharma yang bertapa di puncak Gunung Agung di Bali. Nah, adapun Bhagawan Satyadharma itu adalah kakak seperguruanku sendiri, Angger."

Terkejutlah hati Bagus Seta. Ia menyembah lagi dan berkata penuh takjub. "Kalau begitu.... Eyang adalah Eyang guru dari Kanjeng Rama dan saya... adalah cucu buyut Eyang..."

"Ha-ha-ha, tidak perlu terlibat dalam urutan yang tiada artinya, muridku. Engkau adalah terpilih menjadi muridku, karena itu engkau adalah muridku dan kau boleh saja menyebutku Bapa Guru. Nah, setelah kau menjadi muridku, kau tentu tahu, apakah kewajiban pertama dari seorang murid kepada gurunya?"

"Kalau saya tidak keliru, kewajiban pertama adalah mentaati semua perintah dan petunjuk sang guru."

"Tepat sekali, Angger. Nah, sekarang perintahku yang pertama kali, engkau harus ikut bersamaku ke puncak dan lenyapkan semua kegelisahan hatimu tentang Selopenangkep."

Bagus Seta masih seorang kanak-kanak. Berat sekali rasanya mentaati perintah ini, apalagi harus melupakan Selopenangkep. Mana mungkin? Akan tetapi sebagai seorang anak gemblengan yang tahu akan arti kata kegagahan dan memegang teguh kata-kata yang sudah keluar dari mulut, ia tidak berani membantah, lalu bangkit berdiri dan mengikuti gurunya yang mulai mendaki Gunung Merapi.

Sardulo pethak, si macan putih, tampak gembira sekali melihat Bagus Seta ikut naik ke puncak. Seperti seekor anak kambing yang nakal, ia melonjak-lonjak dan kadang-kadang lari mendahului mendaki lereng, dan di lain saat ia sudah berlari lagi turun, mengitari Bagus Seta, dan mendorong-dorong punggung anak itu dari belakang, seperti rnengajak berlumba lari. Karena diapun masih seorang kanak-kanak, Bagus Seta timbul kegembiraannya dan tak lama kernudian iapun sudah lupa akan kegelisahannya dan bermain-main di sepanjang jalan pendakian itu bersama sardulo pethak.

Kakek tua renta itu memang benar adik seperguruan Sang Bhagawan Satyadharma di Gunung Agung yang terkenal maha sakti itu. Berbeda dengan Sang Bhagawan Satyadharma yang terkenal menjadi seorang pendeta, adik seperguruan yang jauh lebih muda ini semenjak dahulu suka melakukan perantauan. Akan tetapi kakek ini yang memakai nama sederhana, yaitu Ki Tunggaljiwa, tidak suka menonjolkan diri di dunia ramai dan ke manapun juga ia pergi, ia selalu mengunjungi puncak-puncak gunung yang sunyi, jarang bertemu dengan manusia dan hidup bertani di tempat sunyi. Karena itulah maka jarang ada orang mengenalnya. Andaikata ada yang melihatnya sekalipun tentu akan mengira bahwa dia seorang petani tua biasa saja. Padahal sesungguhnya kakek ini adalah orang yang memiliki ilmu amat tinggi!

Mengapa kini Ki Tunggaljiwa yang biasanya hidup menyendiri itu secara tiba-tiba mengambil murid? Bukan sedikit anak-anak yang ia lihat bertulang baik dan berjiwa bersih yang cukup berharga untuk diambil murid selama ia melakukan perantauannya, akan tetapi tadinya ia memang tidak ingin mencampuri urusan dunia, maka hatinyapun menjadi dingin dan hambar, tidak ingin mempunyai murid, bahkan ingin membawa semua ilmunya yang dianggap tiada gunanya itu ke alam baka. Akan tetapi, sungguh di luar perkiraannya, terjadilah hal-hal yang membuat ia terkejut dan prihatin sekali. Ia melihat ada usaha-usaha untuk mendesak agama yang dianut oleh rakyat terbanyak di daerah Daha (Panjalu), Jenggala dan terus timur sampai ke Bali, yaitu agama yang memuja Sang Hyang Wishnu!

Kalau yang mengancam ini hanyalah penyembah-penyembah Bathara Kala atau Bathari Durgo yang tidak banyak pengikutnya, ia tidak merasa khawatir. Akan tetapi musuh-musuh yang akan muncul ini merupakan bahaya-bahaya besar karena selain didukung oleh kerajaan-kerajaan besar, juga dikendalikan atau dijagoi oleh orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi sekali.

Melihat ancaman yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang ini, hati Ki Tunggaljiwa merasa risau dan ia tahu bahwa kini tibalah saat baginya untuk berdharma bakti kepada dunia, kepada manusia dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. Ia sudah amat tua, dan betapapun saktinya, la bukan sebangsa ular yang yang ditakdirkan dapat berganti kulit. Dia seorang manusia yang tidak akan luput daripada kematian. Maka ia pikir bahwa jalan terbaik baginya adalah menurunkan atau mewariskan seluruh ilmunya kepada seorang murid yang terbaik.

Memang apa yang dikhawatirkan Ki Tunggaljiwa itu tidaklah berlebihan kalau dilihat dari perkembangan keadaan negara di waktu itu. Semenjak Kerajaan Kahuripan yang tadinya menjadi amat besar dan kuat sebagai lanjutan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga dipecah menjadi dua seperti keadaan waktu itu, yaitu menjadi Kerajaan Panjalu yang kemudian terkenal dengan sebutan Kerajaan Daha dan Kerajaan Jenggala, maka keadaan menjadi lemah.

Hal ini mungkin karena pemecahan kerajaan menjadi dua mendatangkan pandangan dan kesan yang amat tidak menguntungkan kerajaan-kerajaan keturunan Sang Prabu Airlangga. Raja-raja yang tadinya takluk, menganggap pemecahan itu sebagai kelemahan dan banyaklah di antara mereka yang memberontak dan berdiri sendiri, tidak mengakui kedaulatan kedua kerajaan itu.

Hal ini menjadi lebih memburuk dan berbahaya ketika pada masa itu ancaman membesar dari Kerajaan Sriwijaya yang memasukkan pengaruhnya lewat Pulau Jawa di sebelah barat. Tadinya, ketika Sriwijaya masih menghadapi musuh utamanya yaitu Kerajaan Cola (India selatan) yang terus menerus menyerang Sriwijaya dan setiap kali mengalahkan pasukan-pasukan Sriwijaya, maka Sriwijaya tidak ada kesempatan untuk mendesak Daha (Panjalu) dan Jenggala.

Akan tetapi pada waktu itu, terjadilah perdamaian antara Sriwijaya dan Cola, juga dengan kerajaan dari India utara dari mana Sriwijaya mendapat banyak pelajaran tentang ilmu dan agama, yaitu Agama Buddha (Mahayana). Setelah terdapat perdamaian ini, Sriwijaya merasa dirinya kuat kembali dan mulailah melakukan desakan ke selatan, yaitu kepada musuh lamanya, Mataram yang kini menjadi Panjalu atau Daha dan Jenggala itu.

Seperti telah menjadi catatan sejarah, semenjak dahulu Sriwijaya dan Mataram selalu bertentangan. Hanya pada masa jayanya Sang Prabu Airlangga, terjadilah hubungan baik, yaitu ketika Sang Prabu Airlangga menikah dengan puteri dari Sriwijaya yang kemudian menjadi ibu dari sang prabu di Jenggala. Akan tetapi, setelah terjadi pertikaian antar saudara antara kedua orang pangeran putera Sang Prabu Airlangga, hal ini kembali merenggangkan perhubungan dengan Sriwijaya. Apalagi setelah Sang Prabu Airlangga dan puteri dari Sriwijaya telah meninggal dunia, hubungan dengan Sriwijaya boleh dibllang terputus sama sekali.

Namun tentu saja hal ini tidak memutuskan cita-cita Sriwijaya untuk menanam pengaruhnya di Jawadwipa dan terutama sekali untuk keperluan Agama Buddha yang dianutnya. Selain itu, juga Kerajaan Cola yang kini sudah berbaik dengan Sriwijaya tidak mau ketinggalan, ikut membonceng dan mencari kesempatan menanam pengaruh dan mencari keuntungan di pulau yang indah dan lohjinawi (subur makmur) itu. Golongan ini mempergunakan para penganut Sang Hyang Syiwa untuk mencari kedudukan.

Dahulu, memang pernah Agama Buddha yang memegang kekuasaan, yaitu ketika Pulau Jawa berada di bawah pimpinan Raja-raja Syailendra. Akan tetapi, pada jaman Mataram di bawah raja yang berjuluk Rakai Pikatan, agama yang memuja Sang Bathara Syiwa menjadi berkembang karena raja ini beragama Syiwa. Dan pada masa itu dua agama itu, yaitu Agama Buddha dan Agama Syiwa yang merupakan pecahan daripada Agama Hindu lama, mengalami masa kebesarannya. Akhirnya, setelah Kerajaan Mataram berpindah ke timur di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga, kedua agama ini mulai terdesak dan karena sang raja memuja Sang Bathara Wishnu, maka rakyatpun banyak yang mengikuti jejak raja.

Dan sekarang, menurut wawasan Ki Tunggaljiwa yang menjadi seorang penyembah Sang Hyang Wishnu, mulailah tampak ancaman dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola. Kakek ini sama sekali tidak prihatin akan pertentangan antara kerajaan, akan tetapi ia merasa prihatin sekali melihat betapa Agama Wishnu terancam kebesarannya oleh agama-agama lain. Ki Tunggaljiwa tahu akan hal itu karena beberapa bulan yang lalu, ketika ia melakukan perjalanan merantau ke barat, dan hendak bertapa dan bersunyi diri di Gunung Sanggabuwana, bertemulah ia di sana dengan seorang tokoh Agama Syiwa dan seorang pendeta Buddha.

Sebagai manusia-manusia biasa, biarpun tiga orang tokoh besar ini sudah memiliki kepandaian tinggi, terjadilah perdebatan yang berlarut-larut sehingga memanaskan suasana dan kedua orang tokoh Agama Syiwa dan Agama Buddha itu dalam keadaan hati panas menyatakan bahwa agama mereka sudah siap untuk mengembalikan kekuasaannya di Daha (Panjalu) dan Jenggala!

"Kami akan menghalau setiap rintangan!" Demikian tokoh Agama Syiwa yang marah itu berkata. "Dan terutama sekali andika, sebagai tokoh pemuja Sang Bathara Wishnu, kalau merintangi akan kami lenyapkan lebih dahulu!"

Hanya karena kesadaran dan kesabaran hati Ki Tunggaljiwa saja maka pertemuan dan perdebatan itu tidak berubah menjadi pertempuran. Setelah terjadi hal itu, dengan hati penuh prihatin kembalilah sang pertapa ke timur dan menetap di puncak Merapi. Biarpun ia sudah mengambil keputusan untuk mencari murid, namun tetap saja sang pertapa menyerahkan pemilihannya kepada Sang Hyang Wishnu sendiri, dan setiap hari hanya berdoa agar memberi petunjuk dan agar bisa mendapatkan seorang murid yang baik.

Maka terjadilah pertemuannya dengan Bagus Seta dengan perantaraan sardulo pethak, binatang ajaib yang jarang ada ini dan yang menjadi kelangenannya atau binatang peliharaan yang amat dikasihinya. Pertemuan inilah yang dijadikan tanda oleh Ki Tunggaljiwa bahwa Sang Hyang Wishnu telah memberi petunjuk. Apalagi setelah diketahuinya bahwa anak itu adalah putera Adipati Tejolaksono yang ia tahu adalah murid Ki Patih Narotama, hatinya menjadi girang sekali. Inilah murid yang selama ini ia tunggu-tunggu!

Di puncak Merapi, tak jauh dari kawah yang selalu mengeluarkan asap, uap dan api panas, terdapat sebuah pondok yang dijadikan tempat bertapa Ki Tunggaljiwa. Pondok tempat tinggalnya berada di sebelah bawah puncak, di tempat yang subur, di mana tumbuh banyak pohon dan buah-buahan dan di situ terdapat pula mata air yang mengeluarkan dua macam air dari dua sumber yang berdampingan, yaitu sebuah sumber air panas mengandung belerang, dan yang sebuah pula sumber air dingin yang amat dingin dan jernih.

Begitu tiba di situ, pada hari-hari pertama Bagus Seta digembleng oleh gurunya dengan ilmu bersamadhi yang amat berat. Biarpun baru berusia sepuluh tahun, Bagus Seta tidaklah asing akan ilmu samadhi, karena sudah diajari ayahnya. Akan tetapi, latihan samadhi yang diajarkan gurunya ini amatlah sukar dan menyiksa diri karena ia disuruh bersamadhi di siang hari sambil merendam tubuh sampai ke leher dalam air dari sumber air panas yang berbau belerang dan panasnya bukan main itu. Pada hari pertama, tubuhnya terasa terbakar dan hampir saja ia tidak kuat bertahan kalau saja di situ tidak ada Ki Tunggaljiwa yang setiap kali menyentuh kepalanya rasa panas membakar itu menjadi berkurang dan dapat ia tahan!

Latihan di malam hari tidak kurang menyiksanya karena ia diharuskan bersamadhi sambil merendam diri di dalam air dari sumber air dingin. Bukan main dinginnya. Tubuhnya serasa membeku dan giginya sampai berbunyi karena saling beradu, tubuh menggigil dan ia tentu pingsan kalau saja tidak disentuh gurunya pada tengkuknya. Sentuhan bukan sembarang sentuhan karena dari jari tangan gurunya itu, keluar hawa panas yang dapat melawan rasa dingin membeku itu!

Setelah genap tiga pekan berlatih samadhi seperti ini, mulailah Bagus Seta terbiasa dan tidak perlu dibantu gurunya pula. Tubuhnya dapat menahan, akan tetapi masih belum mudahlah baginya untuk mengheningkan cipta. Semua pancaindranya ia kerahkan untuk melawan rasa panas jika berendam di air panas dan rasa dingin pada malam harinya jika berendam di air dingin, sehingga tidak ada sisa kekuatan lagi untuk mengendalikan pancaindra dan mematikan raga.

Akan tetapi sudah mulai mendapat kemajuan, sedikit demi sedikit dibimbing gurunya. Adanya sardulo pethak di situ banyak membantu Bagus Seta karena harimau ini ternyatapun kuat bertahan berendam di dalam air dingin. Bagus Seta adalah seorang anak yang menjunjung tinggi kegagahan, juga telah memiliki harga diri yang tinggi, maka tentu saja la merasa malu kalau sampai kalah oleh seekor harimau! Hal ini banyak menolongnya dan banyak membantunya memperoleh kemajuan pesat.

Kemajuan yang mulai tampak itu menggembirakan hati Bagus Seta sehingga anak ini menjadi makin rajin. Memang dalam waktu kurang lebih satu bulan itu, seringkali termenung kalau memikirkan orang tuanya dan Selopenangkep, akan tetapi justeru hal inipun merupakan latihan batin yang amat baik baginya. Mula-mula seringkali ia duduk menangis seorang diri teringat akan ibunya, akan tetapi akhirnya ia dapat melawannya, bahkan kalau perasaan rindu kepada ibunya Itu datang menyerangnya, ia menceburkan diri ke dalam air panas di waktu siang hari dan air dingin di waktu malam, kemudian, menghilangkan semua rasa rindu itu dengan bersamadhi!

Biarpun di luarnya tidak menyatakan sesuatu, namun sesungguhnya, setiap saat Ki Tungaljiwa memperhatikan gerak-gerik muridnya dan ia gembira bukan main menyaksikan betapa muridnya yang masih kecil itu ternyata sudah lulus dari ujian pertama yang amat berat. Ia kini yakin bahwa memang Sang Hyang Wishnu sendirilah yang telah memilihkan murid baginya dan ia merasa berterima kasih sekali,

Kurang lebih delapan pekan telah lewat semenjak Bagus Seta berada di puncak Gunung Merapi bersama Ki Tunggaljiwa. Pagi hari itu, seperti biasa, setelah sarapan pagi yang amat sederhana, yaitu ubi bakar dan minum air panas dari sumber yang berbau belerang untuk mengusir hawa dingin pagi hari itu, Ki Tunggaljiwa bersama Bagus Seta duduk di depan pondok. Setiap pagi, Ki Tunggaljiwa tentu mengajak muridnya untuk menyambut munculnya matahari sambil duduk bersila di atas tanah.

"Sebelum dewangkara (matahari) naik sampai ke atas kepala kita, cahayanya mengandung berkah yang berlimpah-limpah, sarinya, mengandung dasar kekuatan yang tak ternilai harganya. Karena itu, kita harus dapat menikmati berkahnya dan sedapat mungkin kau harus dapat menampung inti sari kekuatan mujijat yang terdapat di dalam sinar kencana itu, muridku."

Demikian Ki Tunggaljiwa memberitahu muridnya sehingga setiap pagi mereka duduk bersila tak berbaju. Hal ini dilakukan oleh guru dan murid dengan sikap yang amat menghormat, karena menurut pendapat Ki Tunggaljiwa, yang menguasai sang dewangkara adalah Sang Hyang Bathara Surya sendiri, oleh karena itu berkah dan kekuatan itu harus diterima dengan penuh hormat.

Guru yang amat tua dan murid yang masih kanak-kanak itu duduk bersila di pagi hari itu di depan pondok. Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk diam dan berlatih samadhi sambil menikmati cahaya sinar matahari pagi yang memandikan tubuh mereka. Demikian tekun dan hening mereka dalam samadhi sehingga tidak tahu bahwa ada dua orang yang memiliki gerakan ringan dan gesit telah mendaki puncak dan tiba di dekat pondok mereka.

Dua orang itu bukan lain adalah Adipati Tejolaksono sendiri bersama isterinya, Ayu Candra. Wanita ini berkeras tidak mau ditinggalkan suaminya, hendak ikut dan turun tangan sendiri mencari puteranya yang hilang.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 10

Thanks for reading Perawan Lembah Wilis Jilid 09 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »