Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 06

Dari Adipati Menak Linggo sampai semua hulubalang, terutama sekali Raden Sindupati, semua amat menghormat dan ramah tamah kepadanya sehingga Endang Patibroto sama sekali tidak menyangka bahwa di belakang punggungnya, sang adipati seringkali berkasak-kusuk membuat rencana-rencana jahat dengan para pembantunya dan terutama sekali Raden Sindupati yang diserahi tugas untuk membereskan Endang Patibroto.

"Menurut pendapat hamba, kita harus dapat menarik keuntungan sebanyaknya dari wanita iblis itu," demikian antara lain Sindupati mengemukakan siasatnya kepada sang adipati, "pertama-tama kita harus membiarkan dia menggembleng dan melatih pasukan Blambangan, kemudian setelah waktunya tiba, barulah diusahakan pembunuhan atas diri iblis betina itu untuk membalas dendam paduka. Hamba sanggup melakukan hal itu, malah.... malah menurut pendapat hamba, ada cara untuk membalas dendam yang lebih memuaskan hati, yang lebih hebat daripada membunuhnya begitu saja."

"Heh-heh, cara bagaimana itu, senopatiku yang baik?"

Wajah tampan Sindupati tersenyum, matanya mengerling penuh arti. "Paduka tentu dapat mengira sendiri apa yang lebih hebat bagi seorang wanita!"

Sejenak adipati itu merenung, mengangkat alis, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Huah-ha-ha-ha-ha, dasar kau tak boleh melewatkan batuk kelimis (wanita cantik) begitu saja. Aku mengerti...ha-ha-ha-ha, aku mengerti... memang dia hebat, denok ayu seperti puteri Bali. Ha-ha-ha!"

Beberapa pekan kemudian, Blambangan kedatangan seorang yang wajahnya tampan namun membayangkan kebodohan seorang dusun. Laki-laki ini usianya tiga puluhan tahun, pakaiannya sederhana sekali, pakaian petani yang miskin. Wajahnya biarpun tampan tampak bodoh, terutama sinar matanya yang seperti orang bingung. Laki-laki ini memasuki kota raja dan menawarkan tenaga kepada siapa saja yang suka memberinya makan.

Akhirnya, pada suatu hari ia diterima menjadi tukang pemelihara kuda karena ia rajin dan pandai mencari rumput-rumput gemuk. Seorang perwira menerimanya dan menempatkannya di kandang kuda di mana dipelihara empat puluh ekor kuda tunggangan para perwira Kerajaan Blambangan. Laki-laki ini pandai sekali memelihara kuda dan semua kuda yang bagaimana binal sekalipun selalu menurut kalau dituntun dan dibersihkan tubuhnya oleh Sutejo, laki-laki ini.

Dari pagi sampai petang Sutejo bekerja giat dan rajin, mencari rumput, memberi makan kuda, membersihkan mereka, dan membersihkan pula kandang. Para perwira suka kepada pelayan baru ini yang mengaku berasal dari dusun Cempa di kaki Gunung Tengger.

Akan tetapi kalau malam tiba, lewat tengah malam pada saat semua orang sudah tidur, tampak bayangan hitam berkelebat ke atas atap kandang dan kemudian lenyap ditelan kegelapan malam untuk kemudian berkelebatan pula di atas atap istana! Dialah Sutejo si tukang kuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro atau lebih tepatnya sekarang bernama Tejolaksono, adipati di Selopenangkep!

Seperti telah kita ketahui, Tejolaksono melakukan perjalanan ke Blambangan dan di tengah jalan la bertemu dengan Ki Brejeng yang membuka rahasia segala peristiwa yang terjadi di Jenggala dan Panjalu. Ia melakukan perjalanan untuk mengejar dan mencari Endang Patibroto yang menurut Ki Brejeng, telah ikut bersama rombongan pasukan Blambangan menuju ke Blambangan di mana tersedia perangkap untuk mencelakakan Endang Patibroto. Setibanya di daerah Blambangan, Tejolaksono lalu menitipkan kudanya pada seorang penduduk gunung, kemudian ia berjalan kaki memasuki kerajaan atau Kadipaten Blambangan dengan menyamar sebagai seorang petani bodoh yang mencari pekerjaan ke kota raja.

Dapat dibayangkan alangkah heran dan cemas hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto kini telah menjadi seorang senopati besar dari Blambangan! Ah, Endang.... Endang pikirnya di hati, mengapa sampai sekarang engkau masih seperti dulu juga? Mengapa sudi menjadi Senopati Blambangan dan metnbiarkan dirimu tertipu? Ia makin cemas karena tidak mendengar akan diri Pangeran Panjirawit!

Menurut penyelidikannya, Endang Patibroto datang ke Blambangan.bersama dengan pasukan dan tanpa Pangeran Panjirawit suaminya yang telah dibebaskannya dari penjara lenggala. Apa artinya ini? Ia mendengar pula penuturan beberapa orang perwira tentang sepak terjang senopati wanita itu yang telah mengalahkan para senopati gemblengan dari Blambangan dan kini diperbolehkan tinggal di dalam istana Sang Adipati Menak Linggo sendiri!

Sudah beberapa malam ia melakukan penyelidikan ke istana, namum belum juga ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Endang Patibroto. Dalam penyamarannya sebagai tukang kuda seperti sekarang ini, tentu saja tidak mungkin baginya untuk berjumpa secara berterang dengan Endang Patibroto, bahkan di waktu senopati wanita itu melatih pasukan di alun-alun, iapun hanya dapat menonton dari jauh saja.

Hatinya terharu kalau melihat wanita itu dari jauh. Tidak banyak perubahan dalam bentuk tubuh wanita itu, pikirnya. Masih langsing dan cantik jelita, tangkas seperti dahulu! Makin, trenyuh hatinya kalau mengenangkan nasib wanita itu dan makin besar keinginan hatinya untuk segera dapat berbicara dengan Endang Patibroto. Akan tetapi jangan sampai diketahui orang lain di Blambangan karena hal itu akan menjadi berbahaya sekali.

Malam itu ia sudah mengambil keputusan bulat untuk memasuki kamar Endang Patibroto. Sebagaimana lajimnya tempat tinggal seorang senopati, rumah di samping istana itu terjaga oleh para pengawal. Ia harus menemui Endang dan kalau perlu, ia akan menggunakan aji penyirepan atau kalau terpaksa akan merobohkan para. pengawal.

Dengan aji keringanan tubuh Aji Bayu Sakti, bagaikan seekor burung garuda saja Tejolaksono berlontatan di atas atap istana yang amat tinggi. Andaikata secara kebetulan ada penjaga yang melihatnya, tentu penjaga itu akan mengira bahwa yang dilihatnya adalah bayangan burung malarn atau kalong, demikian cepatnya bayangan itu berkelebat. Tak lama kemudian Tejolaksono sudah berada di atas sebuah bangunan mungil yang menjadi tempat tinggal Endang Patibroto.

Ia mengintai dari atas dan melihat dua orang pengawal peronda. Tanpa melalui dua orang pengawal ini; tak mungkin ia dapat turun mencari kamar Endang Patibroto, pikirnya. Maka cepat ia menyambar dari atas, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengawal itu roboh pingsan tanpa mereka tahu mengapa mereka begitu! Cepat sekali pukulan Tejolaksono tadi menampar di belakang telinga dua orang pengawal.

Kemudian Tejolaksono berindap-indap menyelinap ke pinggir bangunan dan tiba-tiba ia mendengar isak tertahan. Cepat ia menyelinap dekat dan mengintai dari celah-celah daun jendela. Dilihatnya Endang Patibroto menelungkup di atas pembaringan sambil menangis! Yang tampak hanyalah belakang tubuh wanita itu, pinggulnya yang menyendul dan pundaknya yang bergerak-gerak ketika terisak-isak memeluk bantal.

Tejolaksono terpaku seperti berubah menjadi arca. Endang Patibroto menangis! Selama hidupnya belum pernah ia melihat Endang Patibroto menangis. Gadis yang dahulu menantang maut dengan keberanian yang tiada taranya, gadis yang keras hati keras kepala, yang berhati baja, kini menangis terisak-isak memeluk bantal seperti kebiasaan wanita-wanita cengeng. Apa artinya ini?

Namun, biarpun agaknya Endang Patibroto telah kehilangan kekerasan hatinya, jelas bahwa kewaspadaannya tidak berkurang. Hal ini diketahui terlambat oleh Tejolaksono ketika tiba-tiba dari dalam kamar itu, dari arah pembaringan Endang Patibroto, menyambar sinar terang menuju ke arah jendela, menerobos celah jendela dan tentu akan tepat mengenai muka Tejolaksono yang mengintai tadi kalau saja dia tidak cepat miringkan muka dan mengulur tangan menyambar benda bersinar itu yang ternyata adalah sebatang anak panah.

Panah tangan beracun senjata rahasia Endang Patibroto yang dahulu amat ditakuti lawan! Senjata rahasia ini pulalah yang dahulu pernah melukai Ayu Candra, isterinya (baca Badai Laut Selatan)! Tejolaksono terkejut dan hendak melompat ke dalam memperkenalkan diri, akan tetapi dari dalam kamar itu sudah terdengar bentakan suara Endang Patibroto,

"Pengawal! Tangkap penjahat!!"

Adipati Tejolaksono hendak melompat ke atas atap, akan tetapi tiba-tiba menyerbulah tiga orang pengawal. Dia cepat melompat ke tempat gelap dan seketika tiga orang pengawal itu menyerbu dengan senjata di tangan, ia mendorong dengan kedua tangan ke depan, melakukan pukulan jarak jauh. Tiga orang itu terpelanting roboh.

Tejolaksono cepat menghampiri seorang di antara mereka dan dengan cepat ia menampar dada orang itu dengan Pethit Nogo, dengan tenaga sedemikian rupa sehingga pukulan ini tidak mematikan orang, melainkan hanya meninggalkan bekas tapak lima buah jari tangan yang menghanguskan baju dan menembus kulit sehingga pada dada orang itu kini terdapat tanda tapak tangannya! Dia sengaja melakukan hal ini untuk memperkenalkan diri kepada Endang Patibroto.

Ramailah suara para pengawal, akan tetapi ketika mereka menyerbu ke situ, Adipati Tejolaksono telah tiada. Tak seorangpun sampai melihat wajahnya, bahkan Endang Patibroto sendiripun tidak sampai melihatnya. Untung Endang Patibroto yang tidak ingin terlihat orang lain bahwa ia habis menangis itu, terlambat keluar karena harus mencuci muka lebih dulu.

Endang Patibroto tadinya terheran-heran mendapat kenyataan bahwa ada seorang maling yang dapat menghindarkan diri daripada anak panah tangan, senjata rahasianya yang ampuh itu. Bukan hanya dapat mengelak, bahkan dapat menangkap dan merampas anak panah tangan itu karena buktinya anak panahnya lenyap tak berbekas.

Akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat tapak lima jari tangan di atas dada seorang pengawalnya. Aji Pethit Nogo! Dan sekaligus ia dapat menduga siapa orangnya yang mengintai kamarnya tadi, Joko Wandiro! Siapa lagi kalau bukan pria yang sakti mandraguna, musuh besarnya semenjak ia kecil itu?

Apa maunya Joko Wandiro datang ke Blambangan dan mencarinya? Di dalam kamarnya, Endang Patibroto termenung. Ia tahu bahwa Joko Wandiro kini telah diangkat menjadi Adipati Tejolaksono, adipati di Selopenangkep yang termasuk wilayah Panjalu. Hemmm, tak salah lagi, tentulah ini kehendak sang prabu di Panjalu, atau mungkin si keparat Pangeran Darmokusumo yang memerintahkan Adipati Tejolaksono untuk mengejar dan mencarinya.

"Setan kau Joko Wandiro," gumamnya gemas di dalam hatinya. "Kau datang hendak menangkap aku? ,Hemm, kaukira aku takut kepadamu, keparat!"

Ia teringat bahwa Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono itu hidup bahagia, demikian berita yang pernah ia dengar dari suaminya, hidup di samping isterinya yang tercinta, Ayu Candra! Masih teringat ia akan Ayu Candra, masih ada rasa tidak suka mernbara di hatinya kalau ia teringat akan Ayu Candra.

Tidak suka yang timbul karena sebab yang ia sendiri. tidak tahu mengapa. Mungkin karena iri hati? Pernah ia dahulu mengira, atau mengharapkan? Mengira bahwa Joko Wandiro mencinta dirinya. Joko Wandiro yang oleh mendiang ayahnya telah dijodohkan dengannya. Kemudian Joko Wandiro malah mencinta Ayu Candra dan menjadi suami Ayu Candra.

Hal ini sebetulnya sama sekali terlupa olehnya ketika ia masih berdampingan dengan suaminya.Tidak perduli itu semua selama suaminya masih berada di sampingnya. Akan tetapi, sekarang suaminya telah tiada! Dan JokoWandiro masih berdua dengan Ayu Candra! Endang Patibroto tidak dapat menahan air matanya yang panas membasahi pipinya. Keparat Ayu Candra! Keparat Joko Wandiro! Sekarang datang hendak menangkapnya? Boleh coba!

"Keparat, jangan lari kau!!" Tiba-tiba Endang Patibroto yang marah sekali tak dapat lagi menahan kemarahannya. Tubuhnya melesat keluar dari jendela dan tak lama kemudian tampaklah bayangannya, berkelebat di atas atap-atap rumah di sekitar Kerajaan Blambangan. Dia mencari-cari sampai hampir pagi tanpa hasil sehingga ia menjadi makin mendongkol dan gemas.

Tiba-tiba ada bayangan lain berkelebat dari bawah dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang tampan. Endang Patibroto sudah siap irienerjangnya, akan tetapi ia menjadi lemas lagi ketika melihat bahwa yang datang bukanlah Adipati Tejolaksono melainkan Sindupati yang sudah membawa sebatang keris telanjang di tangannya.

"Aku... aku mendengar tentang penyerbuan orang jahat di tempatmu... aku khawatir kalau-kalau andika akan rnengalami celaka maka cepat-cepat mencari ketika tak dapat mendapatkan andika di istana. Adinda Dewi....tidak apa-apakah andika...?"

Raden Sindupati cepat melangkah maju dan menangkap tubuh Endang Patibroto yang terhuyung-huyung dan memegang dahi dengan tangan kirinya. Wanita ini menjadi pening karena terlalu berduka bercampur marah dan kecewa menjadi satu, ditambah lagi tidak tidur sernalam suntuk dan lelah. Kedukaan hampir membuat Endang Patibroto hampir pingsan dan pada saat seperti itu, setiap kata-kata halus yang menghiburnya membua hatinya trenyuh.

Sejenak ia rnembiarka dirinya dirangkul pundaknya dan ia menyandarkan kepalanya di atas pundak Raden Sindupati. la membutuhkan hiburan dan kawan pada saat seperti itu dan karena selama ini sikap Sindupati amat baik terhadap dirinya, halus dan ramah penuh kesopanan, ia menganggap orang ini sebagai seorang sahabat.

Ia terisak perlahan dan baru ia sadar ketika merasa betapa tangan Sindupati dengan halus dan mesra membelai rambut kepalanya. Begitu sadar ia merenggut lepas dari pelukan, akan tetapi tidak terlalu kasar karena ia tidak ingin menyinggung orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya. Ia cukup maklum melihat sikap Sindupati selama ini bahwa senopati ini diam-diam mencinta dirinya.

"Ahhh...maafkan... aku... aku sejenak kehllangan akal..." katanya menahan isak.

"Kasihan engkau, diajeng. Engkau telah banyak menderita. Kalau saja aku bisa mendapat kehormatan untuk menghibur... ah, aku bersedia mengorbankan nyawaku untuk mengusir kedukaanmu. Diajeng Endang Patibroto, apakah yang telah terjadi? Aku tadi mendengar dari para pengawal bahwa ada orang jahat menyerbu tempat tinggalmu dan kemudian melarikan diri. Melihat engkau tidak berada di sana, aku tahu bahwa engkau mengejar penjahat itu lalu menyusul dan mencari. Apakah diajeng tidak dapat menangkapnya?"

Merah kedua pipi Endang Patibroto mendengar senopati ini menyebutnya diajeng. Akan tetapi ia tidak marah dan hanya menghela napas panjang. Diam-diam ia merasa kasihan kepada orang ini yang mencintanya dengan sia-sia. Sia-sia belaka karena ia tahu bahwa tidak mungkin ia membalas perasaan itu.

"Aku tidak dapat menangkapnya, akan tetapi aku tahu atau dapat menduga siapa orangnya."

"Ah... begitukah? Siapakah dia gerangan?" la tertarik sekali karena merasa terheran-heran. Di seluruh Kerajaan Blambangan, kiranya hanya sang adipati saja yang menganggap wanita sakti dan jelita ini sebagai musuh besar yang harus dibunuh. Dan yang tahu akan hal ini hanyalah dia, Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo dan kedua kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko. Siapa lagi yang mempunyai niat buruk bahkan berani menyerbu tempat kediaman ini?

"Hanya dugaanku saja, akan tetapi aku sendiri masih ragu-ragu..."

"Engkau agaknya kurang sehat. Tidak baik berdiam di sini. Marilah kita kernbali dan bicara yang enak di gedungmu, diajeng. Percayalah, siapapun adanya si keparat itu, aku Sindupati akan menyediakan segenap jiwa ragaku untuk membelamu dan menangkap orang itu sampai dapat."

Diam-diam Endang Patibroto tertawa di dalam hatinya. Kalau betul dugaannya bahwa orang itu adalah Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, jangankan baru Sindupati seorang, biarpun dikerahkan semua senopati di Blambangan, tak mungkin akan dapat menangkapnya! Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu dan menurut saja diajak pulang. Mereka melompat turun dari atas atap lalu berjalan berdampingan menuju ke istana.

Ketika tiba kembali di gedung tempat tinggal Endang Patibroto, para pengawal yang dirobohkan pingsan tanpa mereka tahu apa yang terjadi bersama tigat orang pengawal yang bertanding melawan "penjahat" itu dipanggil menghadap. Setelah mendengar cerita mereka yang aneh, yaitu bahwa penjahat itu amat sakti, sehingga mereka keburu roboh tanpa diberi kesempatan melihat wajahnya.

Endang Patibroto lalu menyuruh pengawalnya yang terpukul itu membuka baju sehingga dadanya yang terdapat tanda tapak lima jari tangan itu tampak nyata seperti dibakar besi panas! KemudIan Endang Patibroto menyuruh para pengawal itu mundur dan dia berkata kepada Raden Sindupati.

"Kau melihat sendiri, raden. Tanda tapak lima jari tangan di dada pengawal tadi adalah tanda bekas pukulan Pethit Nogo. Seperti ini!" Endang Patibroto mengayun telapak tangan kirinya menghantam lantai, perlahan sekali dan tampaklah jelas tapak jari tangannya di lantai batu itu!

"Aihhh.... ! Kalau begitu sama dengan aji pukulan yang dimiliki diajeng...!"

Endang Patibroto mengangguk. "Benar begitu, dan karena itulah maka aku dapat menduga siapa adanya orang itu."

"Siapa, diajeng Endang Patibroto?"

"Di dalam dunia ini, yang mempunyai ilmu pukulan itu hanya dua orang, aku sendiri dan adipati di Selopenangkep, Adipati Tejolaksono."

Biarpun belum pernah bertemu dengan Adipati Tejolaksono, namun Raden Sindupati sudah mendengar tentang Adipati Selopenangkep yang sakti mandraguna itu, maka berubahlah air mukanya ketika berseru,

"Yang dahulu bernama Joko Wandiro..."

"Betul, dialah orangnya, dan aku merasa yakin akan hal ini."

"Tapi... tapi... mengapa...?" Sindupati terheran, "Apakah dia musuhmu, diajeng?"

"Dahulu memang musuh besarku, akan tetapi selama sepuluh tahun di antara kami tidak ada permusuhan, tidak ada hubungan apa-apa lagi." Ia diam sebentar, termenung. Memang tidak ada permusuhan di antara mereka. Bagaimana bisa bermusuh? Ibunya sendiri, ibu kandungnya, tinggal bersarna Adipati Tejolaksono! "Agaknya.... aku tahu bahwa dia tentulah menjadi utusan Kerajaan Panjalu untuk mencariku, menangkapku atau membunuhku..."

Raden Sindupati meloncat bangun dari kursinya, wajahnya yang tampan menjadi merah padam, matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Babo-babo...Si keparat Tejolaksono! Berani dia datang Seorang diri di Blambangan dengan niat yang begitu keji? Mernbunuhmu? Huh, harus dapat menyempal bahuku kanan harus melangkahi mayat Sindupati dahulu baru dapat menyentuh ujung rambut Endang Patibroto!"

Endang Patibroto tersenyum pahit. Ia terharu menyaksikan tingkah pria ini, tingkah seorang yang menjadi korban asmara, akan tetapi alangkah lucunya kalau pria ini hendak menantang kesaktian Joko Wandiro! Dia sendiri sudah beberapa kali harus mengakui keunggulan Adipati Selopenangkep itu.

"Raden Sindupati, dia itu amat sakti mandraguna, tidak mudah dikalahkan."

"Aku tidak takut! Diajeng Endang Patibroto, lihatlah sinar mataku, lihatlah wajahku. Masih tidak percayakah adinda bahwa aku akan membelamu dengan mernpertaruhkan seluruh jiwa ragaku? Akan kukerahkan seluruh pasukan Blambangan! Biar Tejolaksono bersekutu dengan dewa sekalipun, tak mungkin dia dapat menandingi pasukan Blambangan seorang diri saja!"

Endang Patibroto menghela napas panjang. Sukar berdebat dengan orang yang sudah mabuk cinta. Ia tidak tega untuk membuyarkan harapan, merusak hati laki-laki ini. Masih banyak waktu untuk membuka mata Sindupati kelak bahwa dia tidak mungkin dapat membalas cintanya. Tidak mungkin! Wajah suaminya tak pernah meninggalkan hatinya, biar sedetik sekalipun. Di siang hari terbayang di depan pelupuk mata, di malam hari menjadi kembang mimpi.

"Cobalah kau usahakan, raden. Kurasa Adipati Tejolaksono bersembunyi di sekitar kota raja. Aku cukup mengenalnya dan tahu bahwa orang seperti dia tidak akan mundur sebelum tercapai cita-citanya, sebelum terpenuhi tugasnya. Kadipaten Selopenangkep termasuk wilayah Panjalu. Tentu dia menjadi jago sang prabu di Panjalu untuk menangkap saya. Amat lelah tubuhku, aku ingin tidur."

"Aduh kasihan diajeng yang bernasib malang. Kau beristirahatlah dan jangan khawatir, akan kukerahkan pasukan sekarang juga untuk mencari di seluruh kota raja. Dan tentang keselamatanmu, aku yang menjamin dan aku sendiri yang akan memimpin para pengawal menjaga tempat tinggalmu ini!"

Setelah berkata demikian, dengan sikap mengasih dan gagah Raden Sindupati memberi hormat lalu pergi meninggalkan Endang Patibroto yang duduk termenung. Laki,laki yang baik, pikirnya. Sayang aku terpaksa akan :menghancurkan hatinya dengan penolakan cinta kasihnya. Dan Adipati Tejolaksono! Joko Wandiro! Ah, mengapa ia terbayang akan semua pengalamannya di masa dahulu, sepuluh tahun yang lalu?

Teringat akan masa dahulu, terbayang pula pangalarnan yang tak dapat dilupakan, pengalaman yang amat pahit, yang amat menusuk perasaannya, yang membuatnya membenci Joko Wandiro dan mernbenci pula Ayu Candra! Terbayang ia betapa .pada waktu dipeluk dari belakang oleh Joko Wandiro, dibelai dan dicium tengkuknya, penuh kasih sayang, penuh kemesraan.

Pada waktu itu, ia belum ada hati sedikitpun juga terhadap Pangeran Panjirawit dan ketika itu dengan sepenuh jiwa raganya ia menyerahkan diri, hangat hatinya menyambut cinta kasih Joko Wandiro, orang yang oleh ayahnya telah dijodohkan kepadanya!. Akan tetapi, bagaikan halilintar menyambar kepalanya, mulut Joko Wandiro membisikkan nama Ayu Candra. Kiranya Joko Wandiro bukan memeluk dan membelainya, melainkan mengira bahwa dia adalah Ayu Candra.

Bukan dia yang dicinta Joko Wandiro, melainkan Ayu Candra (baca Badai Laut Selatan)! Maka timbullah bencinya yang hebat terhadap dua orang itu, benci yang tanpa ia sadari sendiri didasari oleh cinta kasih yang dikecewakan, oleh cemburu dan iri hati! Sampai akhirnya datang obat penawar yang sangat manjur, yaitu limpahan cinta kasih Pangeran Panjirawit yang akhirnya dapat menyembuhkan sakit hatinya...

Kini... suami tercinta telah meninggal dunia. Dan... tanpa disangka-sangkanya, muncul pula Joko Wandiro dalam hidupnya, muncul sebagai Adipati Tejolaksono, sebagai utusan musuh besarnya, Pangeran Darmokusumo yang datang dengan niat jahat, menangkap atau membunuhnya! Ia mengerutkan kening, jantungnya seperti ditusuk oleh duka, kecewa dan dendam, lalu terhuyung memasuki kamarnya di mana ia membanting diri di atas kasur, menangis sampai ia tertidur pulas dengan bantal basah air mata.

Biarpun sepekan lamanya Raden Sindupati mengerahkan semua pasukan untuk mencari Adipati Tejdaksono, namun hasilnya sia-sia belaka. Orang yang dicari-carinya itu masih enak-enak bekerja sebagai tukang kuda yang rajin dan menyenangkan para perwira.

Namun Endang Patibroto tidak memperdulikan hal itu. Ia tidak perduli apakah penyerbu itu tertangkap atau tidak, tidak perduli siapa penyerbu itu, benar Joko Wandiro seperti yang disangkanya ataukah bukan. Ia sudah dapat mengatasi kedukaan hatinya yang amat hebat di malam munculnya penyerbu itu, dan kini ia melakukan tugasnya kembali seperti biasa, melatih pasukan karena cita-citanya hanyalah untuk dapat menyerbu Jenggala, membalas dendam kematian suaminya.

Raden Sindupati setiap hari sedikitnya satu kali tentu datang menjenguknya untuk memberi laporan tentang usaha mencari penjahat itu, dan dalam kesempatan ini selalu senopati muda itu memperlihatkan sikap manis, ramah tamah, menghiburnya dan tak lupa membawa apa saja untuk menyenangkan hatinya. Buah-buahan yang sukar didapat di Blambangan, sutera-sutera tenun yang indah, perhiasan emas permata. Pendeknya, makin jelas tampak sikap Raden Sindupati yang rnencintanya, sungguhpun belum pernah menyatakan perasaan hatinya melalui mulut.

Endang Patibroto tak dapat mengelak, tak dapat menolak semua pemberian tanda cinta itu, karena ia tidak mau menyakitkan hati satu-satunya orang yang pada saat itu dianggapnya sebagai seorang sahabat baik. tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk dengan halus menolak apabila Sindupati menyatakan cinta kasihnya dengan kata-kata. Dan agaknya, saatnya tentu akan tiba sewaktu-waktu, melihat sikap yang makin mendesak itu.

Pada pagi hari itu, seperti biasa setelah bangun pagi-pagi, Endang Patibroto mandi lalu berganti pakaian, merias diri secara sederhana dan sudah siap untuk melakukan tugasnya setiap hari. Pada hari itu ia akan mulai dengan melatih barisan anak panah kepada pasukan istimewa yang digemblengnya. Dan sebelum berangkat ke alun-alun, lebih dulu ia duduk menghadapi meja di ruangan depan untuk sekedar mengisi perut dengan sarapan pagi yang disediakan oleh seorang pelayan.

Endang Patibroto yang tidak mencurigai sesuatu, tidak tahu bahwa sejak sebelum ia bangun dari tidur tadi, sepasang mata telah mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata Raden Sindupati. Kini, pada saat ia menghadapl meja untuk minum kopi dan makan ketan kelapa yang disediakan. Raden Sindupati juga sudah menyelinap ke depan dan bersembunyi. Endang Patibroto hendak mulai sarapan pagi dengan menghirup kopi panas. Akan tetapi baru saja cangkirnya menempel bibir, tiba-tiba terdengar suara nyaring,

"Diajeng, jangan diminum itu... Endang Patibroto menoleh dan melihat Sindupati sudah ada di belakangnya. Wajah yang tampan dan biasanya tersenyum-senyum kepadanya itu kini tampak gelisah dan bersungguh-sungguh, bahkan wajahnya agak pucat. Endang Patibroto meletakkan kembali cangkir kopinya yang belum ia minum isinya, ke atas meja.

"Ada apakah, kakang SIndupati?" Sudah beberapa hari ini, atas permintaan Sindupati yang berkali-kali, ia menyebut kakang kepada senopati ini.

"Engkau belum makan ketan itu dan belum minum kopi itu, bukan?"

Endang Patibroto menggeleng kepala. "Belum. Mengapakah?"

"Coba diajeng panggil pelayan yang menyediakan makan minum ini dan diajeng akan menyakslkan sendiri," jawab Raden Sindupati, mukanya masih pucat.

Endang Patibroto bertepuk tangan. Seorang pelayan muncul dan pelayan ini disuruh memanggil pelayan yang menyediakan sarapan pagi. Tak lama kemudian muncullah seorang pelayan, wanita yang setengah tua.

"Kaukah yang menyediakan sarapan pagi untuk diajeng Endang Patibroto?" Sindupati bertanya, suaranya keren.

"Betul seperti apa yang paduka katakan, raden. Memang tugas hamba untuk menyediakan semua makanan dan minuman gusti puteri..."

"Bibi, kalau begitu, coba kau makan ketan itu dan minum kopinya!" kata pula Sindupati sambil menudingkan telunjuknya ke atas meja di mana terdapat sepiring kecil ketan kelapa dan secangkir kopi hitam.

"Tapi... tapi..." Wanita pelayan itu terbelalak memandang. Tentu saja la terheran dan tidak berani melakukan hal ini. Sarapan itu adalah persediaan untuk sang puteri, bagaimana ia berani minum dan memakannya? Juga beberapa orang pelayan yang tertarik oleh ribut-ribut dan berada di situ, terbelalak memandang heran.

"Tidak ada tapi! Hayo lekas makan dan minum ketan dan kopi itu atau kujejalkan nanti ke mulutmu!" bentak Raden Sindupati sehingga Endang Patibroto sendiri memandang heran. Tidak biasanya senopati muda ini bersikap demikian galak dan kasar. Akan tetapi karena ia menyangka tentu ada terjadi sesuatu, ia lalu berkata kepada pelayannya,

"Bibi, kalau memang engkau tidak mempunyai kesalahan dalam menghidangkan makanan dan minuman ini, mengapa kau tidak mau makan dan minum? Kau cobalah dan jangan takut, aku tidak akan marah."

Karena sang puteri yang dilayaninya sudah memberi ijin, terpaksa, dengan muka pucat, pelayan wanita itu tidak membantah lagi. Jari-jari tangannya gemeter ketika ia mengambil piring ketan dan memakan isinya sampai setengahnya. Kemudian iapun minum kopi itu sampai setengah cangkir. Tidak terjadi apa-apa!

"Kakang Sindupati..." Endang Patibroto hendak menegur senopati itu akan tetapi menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, si wanita pelayan menjerit dan roboh terguling mencengkeram perutnya sendiri, merintih-rintih kemudian berkelojotan dan tewas.

Endang Patibroto cepat menyambar piring ketan, mengambil ketan sedikit dan memasukkan ke mulut. Begitu lidahnya merasai ketan Itu, cepat dibuang dan diludahkannya kembali. Demikian pula ia mencicipi kopi yang cepat ia ludahkan keluar. Sikapnya tenang-tenang saja dan ia tidak tahu betapa Sindupati memandangnya dengan kagum dan khawatir. Kemudian ia membalikkan tubuhnya memandang senopati itu,

"Kakang Sindupati, ketan dan kopi mengandung racun. Bagaimana kau bisa tahu?"

Di dalam hatinya, Sindupati tersenyum girang. Untung ia berlaku cerdik, pikirnya. Tadinya, Sang Adipati Menak Linggo yang mengusulkan rencana untuk membunuh Endang Patibroto dengan jalan meracunnya, mencampurkan racun dalam makanan dan minumannya.

"Wanita itu terlalu sakti, terlalu berbahaya," demikian antara lain sang adipati berkata, "biarpun sekarang kelihatan bersekutu dengan kita, akan tetapi sekali rahasia kita terbongkar, ia merupakan ancaman bahaya yang tak boleh dipandang ringan. Aku menghendaki agar dia mati, biar dengan cara apapun juga. Dan kaulah orangnya yang kuserahi tugas untuk membunuhnya, Sindupati"

Untung bahwa Sindupati memiliki kecerdikan yang luar biasa dan ia membeberkan rencananya kepada sang adipati.

"Hamba yakin bahwa seorang sakti seperti Endang Patibroto, tidaklah mudah diracun begitu saja, gusti adipati. Mencampurkan racun ke dalam makanan dan minumannya adalah amat berbahaya karena selain belum tentu ia akan dapat diracuni karena memiliki daya tahan dan daya penolak untuk itu, kalau ketahuan bukankah akan menggagalkan semua rencana? Hamba mempunyai siasat yang lebih halus lagi."

la lalu menuturkan siasatnya dan sang adipati menyetujuinya. Dan apa yang terjadi pada pagi hari ini adalah hasil daripada siasatnya yang amat licik. Ia diam-diam, tanpa setahu si pelayan, menaruh racun ke dalam ketan dan kopi, kemudian dia pula yang datang memberi peringatan kepada Endang Patibroto, bahkan secara kejam sekali ia memaksa si pelayan yang sebetulnya tidak tahu apa-apa itu untuk makan dan minum sarapan pagi yang sudah ia campuri racun sampai tewas!

Ketika melihat Endang Patibroto dapat mengenal racun hanya dengan mencicipi sedikit ketan dan kopi itu, terbuktilah kebenaran dugaannya. Andaikata tidak ia peringatkan sekalipun, Endang Patibroto akan tahu tentang racun dan tidak akan menjadi korban, bahkan akan menjadi curiga! Kini, dengan mengorbankan nyawa si pelayan, ia dapat menangkan kepercayaan Endang Patibroto bahkan tampaklah ia sebagai seorang yang baik dan setia kawan, membuat ia makin menonjol dalam pandangan wanita sakti ini!

Ketika ditanya oleh Endang Patibroto bagaimana ia bisa tahu bahwa sarapan itu ada racunnya, ia sudah menyediakan jawabannya seperti yang ia rencanakan.

"syukur bahwa para dewata masih melindungimu, diajeng," demikian jawabnya setelah ia memerintahkan para pengawal untuk membawa pergi mayat si pelayan dan di situ tidak terdapat orang lain lagi. "Alangkah ngerinya! Kalau sampai diajeng menjadi korban racun...aaahhh... betapa mungkin aku dapat hidup lebih lama lagi... !" Wajahnya pucat, suaranya menggetar dan ia melangkah maju, seperti hendak meraih dan memeluk karena hatinya terharu dan tegang. Akan tetapi Endang Patibroto melangkah mundur dan berkata,

"Bahaya telah lewat, kakang Sindupati. Sungguh untung bahwa kakang telah tahu dan dapat memperingatkan aku, sungguhpun belum tentu aku akan dapat diracun begitu saja. Duduklah dan ceritakan, bagaimana engkau bias mengetahui akan perbuatan keji itu!"

Melihat wanita itu tidak melayani hasratnya, Sindupati tidak memaksa dan segera mengambil tempat duduk. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan kedua tangannya yang ditaruh di atas meja masih gemetar. Sesungguhnya bukan gemetar karena kekhawatirannya terhadap Endang Patibroto, melainkan gemetar karena girang melihat berhasilnya siasatnya dan karena nafsu berahi yang menggelora!

"Diajeng Endang Patibroto, jantungku masih berdebar seakan-akan hendak pecah kalau kuingat betapa keselamatan adinda terancam maut yang mengerikan tadi! Ketahuilah, bahwa biarpun kami tidak berhasil menangkap si penjahat Tejolaksono atau siapapun dia yang menyerbu kamar adinda, akan tetapi aku diam-diam selalu menaruh penyelidik dan mata-mata di sekitar istana untuk mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan. Semalam, demikian menurut penyelidikku, terlihat pelayan laknat itu mengadakan pertemuan dengan seorang yang tak dikenal di taman. Ketika para penyelidik hendak menyergap, orang itu berkelebat Ienyap cepat sekali. Para penyelidik segera melapor kepadaku dan aku menjadi curiga kepada pelayan itu. Semalam aku tidak tidur memikirkan segala kemungkinan dan akhirnya aku teringat bahwa pelayan yang bertugas melayani makan minummu itu tentu hendak melakukan sesuatu atas perintah musuh keparat itu. Aku menghubungkan segala sesuatu dan mengambil kesimpulan bahwa mungkin si jahat itu hendak meracunimu. Cepat-cepat aku lalu berlari ke sini dan syukur bahwa kau belum makan atau minum sarapanmu!" Kembali ia menggigil.

Endang Patibroto tersenyum. Terharu juga hatinya. Senopati muda ini benar-benar amat memikirkan keselamatannya sehingga menyiksa diri sendiri sedemikian rupa. Karena terharu dan berterima kasih, ia mengulurkan tangan dan menyentuh tangan senopati itu di atas meja.

"Terima kasih, kakang Sindupati. Engkau memang baik sekali terhadap diriku."
Sindupati cepat memegang tangan yang halus itu dan meremas jari-jari tangan Endang Patibroto.

"Diajeng... aku... aku menyediakan nyawaku untukmu dan...."

Endang Patibroto menarik tangannya terlepas dari genggaman Sindupati. "Kakang Sindupati," katanya cepat-cepat memotong kalimat yang diucapkan senopati itu, "sungguh amat disayangkan bahwa kakang terburu nafsu tadi. Kalau saja pelayan itu tidak dibunuh dan kini masih hidup, tentu kita dapat memaksanya mengaku siapa orangnya yang menyuruh dia menaruh racun dalam sarapanku."

Wajah yang tampan itu kelihatan marah sekali, matanya bersinar-sinar. "Siapa dapat menahan kemarahan, diajeng? Melihat dia hendak meracunimu! Aku sudah cukup bersabar. Kalau tidak melihat dia seorang wanita tua, sudah kuhancurkan kepalanya tadi! Akan tetapi jangan khawatir, diajeng, aku sudah mempunyai siasat yang baik sekali, yang dapat memastikan keluarnya penjahat itu!"

Endang Patibroto maklum bahwa senopati di depannya ini, di samping kesaktiannya, juga memiliki kecerdikan luar biasa, maka ia segera memandang penuh perhatian dan bertanya, "Bagaimana siasatmu, kakang Sindupati?"

"Beginilah seharusnya diatur. Sudah jelas bahwa siapapun, adanya orang yang malam itu mendatangimu, dan mungkin sekali Adipati Tejolaksono melihat dari kesaktiannya dan aji pukulan Pethit Nogo seperti yang adinda katakan kini berada dalam persembunyiannya dan masih berada dalam kota raja. Dan jelas pula bahwa dia tentu menanti saat yang baik untuk bertemu dengan engkau, karena kalau menghadapi pengeroyokan semua senopati dan pengawal, tentu dia tidak berani, betapapun juga hebat kepandaiannya. Oleh karena itu, tiada jalan lain kecuali memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya dan satu-satunya orang yang dapat memancingnya keluar, adalah diajeng sendiri."

Endang Patibroto mengangguk-angguk akan tetapi keningnya yang kecil panjang dan hitam seperti dilukis itu berkerut. Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan ia tidak suka akan segala macam siasat. Akan tetapi, iapun tahu bahwa ucapan ini mengandung kebenaran. Kalau tidak keliru dugaannya, tentu Joko Wandiro sedang menanti kesernpatan untuk turun tangan terhadap dirinya, dan karena maklum bahwa dia merupakan lawan tanding dan berat, tentu saja Joko Wandiro berlaku hati-hati dan tidak sembrono.

Memang benar kalau sampai dikeroyok, betapapun saktlnya Joko Wandiro, tidak mungkin dapat menang. Kebenciannya terhadap Joko Wandiro sudah bertambah-tambah ketika terdapat bukti bahwa ia hendak diracun tadi, sungguhpun ia masih meragu apakah Joko Wandiro sudi melaksanakan hal semacam itu, hal yang amat pengecut dan rendah sedangkan ia tahu betul bahwa Joko Wandiro bukan seorang pengecut, apalagi berjiwa rendah!

"Bagaimana rencanamu untuk memancingnya, kakang Sindupati?"

"Malam ini juga sebaiknya diajeng keluar dari istana dan berada seorang diri di tempat yang sunyi. Untuk itu, menurut rencanaku, taman istana merupakan tempat yang amat baik. Kalau diajeng muncul pada malam hari di ternpat sunyi seorang diri, aku merasa yakin bahwa penjahat itu tentu akan muncul. Aku akan mengepung tempat itu dan kalau dia muncul, kita maju menangkapnya. Orang ini harus ditangkap untuk diperiksa dan dIketahui apa maksud datangannya di Blambangan. Gustl adipati ingin sekalI mengetahui, karena selain hendak mencelakai diajeng, siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Jenggala atau Panjalu yang berbahaya."

Di dalam hatinya, Endang Patibroto kurang setuju. Akan tetapi ia tidak melihat cara lain untuk menghadapi Joko Wandiro. Ia sendiripun ingin melihat orang itu tertangkap, ingin melihat Joko Wandiro dikalahkan untuk memuaskan hatInya yang diracuni kebencian. Kalau Joko Wandiro memusuhinya dan menjadi utusan Pangeran Darmokusumo untuk membunuhnya, mengapa ia harus ragu-ragu untuk membantu Sindupati menangkap Joko Wandiro?

"Baiklah, malam nanti aku akan berada di dalam taman."

"Sebaiknya menjelang tengah malam jika semua penghuni istana sudah tidur, agar jangan meragukan hati penjahat itu diajeng."

Endang Patibroto setuju dan berundinglah mereka berdua untuk menghadapi dan menangkap Joko Wandiro atau Adlpati Tejolaksono seperti yang diduga penuh keyaklnan oleh wanita sakti ini. Dengan hati girang Raden Sindupati lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan persiapan. Ia menghubungi para senopati yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga Ki Patih Kalanarmodo dan Mayangkurdo, kemudian mempersiapkan pula seratus orang perajurit pilihan termasuk dua losin barisan anak panah yang mengepung taman sari dengan busur dan anak panah siap di tangan masing-masing.

Malam hari itu, Adipati Tejolaksono atau yang kini berganti nama menjadi Sutejo tukang kuda, rebah di atas setumpukan jerami kering di dalam kamar di dekat kandang kuda. Hatinya gelisah sekali dan berkali-kali ia menghela napas panjang. Sudah beberapa pekan ia bekerja di situ sebagai tukang kuda, namun belum juga ia berhasil bertemu empat mata dengan Endang Patibroto.

Ia tidak berani lagi secara sembrono mendatangi tempat Endang Patibroto setelah malam itu hampir saja ia tertangkap. Kalau sampai ia dikenal orang, tentu keadaan wanita itu akan menjadi terancam keselamatannya. Ah, dia sudah meninggalkan tanda tapak jari Aji Pethit Nogo, tidak mungkin Endang Patibroto tidak mengenalnya! Mengapa Endang Patibroto tidak mencarinya, bahkan para senopati dan pengawal yang berkeliaran mencari?

Penjagaan makin diperketat sehingga ia tidak berani sembrono memperlihatkan diri, lebih tekun bekerja menyembunyikan diri di balik penyamarannya sebagai tukang kuda. Ia sudah mendengar percakapan para perwira yang seringkali datang jika membutuhkan kuda tunggangan mereka tentang keadaan Endang Patibroto, malah ia mendengar pula bahwa Raden Sindupati, senopati yang menjadi tokoh penting dan dipercaya sang adipati, agaknya jatuh cinta kepada Endang Patibroto!

Ia mendengar pula percakapan para perwira tentang watak Raden Sindupati yang tak pernah mau melewatkan begitu saja wanita denok! Semua ini tidak menggelisahkan hati Tejolaksono. Yang membuat ia terkejut sekali adalah ketika siang hari tadi ia mendengar bahwa Endang Patibroto nyaris menjadi korban peracunan dalam santapan paginya. Ia harus cepat-cepat menemui Endang Patibroto yang terancam keselamatannya, malam hari ini juga, sebelum ia terlambat!

Demikianlah, menjelang tengah malam, tukang kuda Sutejo ini melompat keluar dari kamarnya dan sebentar saja ia sudah berlompatan di atas atap dengan kecepatan luar biasa. Malam itu masih terang bulan dan kebetulan tidak ada mendung sehingga sinar bulan menerangi permukaan bumi. Dengan pandang matanya yang tajam dan waspada, ketika melewati atap istana, Tejolaksono dapat melihat berkelebatnya bayangan yang amat cepat menuju ke taman sari, yaitu taman bunga yang amat luas dan indah dari istana Kadipaten Blambangan.

Hatinya berdebar keras. Bayangan seorang wanita yang bertubuh langsing. Tidak salah dugaannya ketika ia melihat wajah bayangan itu. Siapa lagi wanita yang dapat bergerak secepat itu kalau bukan Endang Patibroto! Dengan girang sekali Tejolaksono lalu melompat turun dan mengikuti dari jauh. Hatinya makin berdebar ketika ia melihat Endang Patibroto memasuki taman sari lalu duduk di atas bangku di tengah taman sari itu, lalu termenung menghadapi kolam ikan emas yang penuh dengan teratai putih.

Sejenak Tejolaksono memandang tubuh yang duduk termenung itu dengan hati terharu. Inilah Endang Patibroto, wanita yang sejak kecil ia kenal, yang pernah menjadi musuhnya berkali-kali, lawan terberat yang pernah ia jumpai. Endang Patibroto, puteri kandung bibi Kartikosarl dan ayah angkatnya, Pujo. Masih tunggal guru dengannya, ketika keduanya di waktu kecil digembleng oleh Resi Bhargowo di Pulau Sempu (baca Badai Laut Salatan).

Telah sepuluh tahun ia tidak pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto yang semenjak menjadi isteri Pangeran Panjirawit tak pernah meninggalkan istana suaminya. Kini, secara aneh terlibat oleh peristiwa-peristiwa .yang tak tersangka-sangka, mereka kembali bertemu dl Blambangan. Sungguh tidak dapat disangka lika-liku hidup ini. Ia melangkah maju menghampiri dan memanggil lirih,

"Endang....!"

Tubuh yang duduk diam seperti arca itu tiba-tiba bergerak melompat sambil memutar tubuh menghadapi Tejolaksono, sepasang mata yang seperti bintang bercahaya dan suaranya penuh teguran,

"Joko Wandiro, ternyata benar engkau...!!!"

Tejolaksono terpesona memandang Endang Patibroto masih tetap seperti dahulu, seakan-akan tidak bertambah sepuluh tahun usianya. Masih tetap cantik jelita dan masih penuh semangat, panas dan galak seperti dahulu. Mendengar suaranya ketika menyebut nama kecilnya dengan nada marah, Tejolaksono mau tak mau tersenyum.

"Benar aku, Endang Patibroto. Akan tetapi namaku sekarang Tejolaksono...."

"Tidak perduli Joko Wandiro atau Tejolaksono, engkau tetap selalu memusuhiku! Engkau... pengecut rendah. Memang sudah kunanti-nanti kau." Sambil berkata demikian, Endang Patibroto sudah menerjang maju dengan cepat dan tangkas, mengirim tamparan ke arah kepala Tejolaksono. Tangannya ketika berkelebat itu mengeluarkan angin panas menyambar.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Plakk I!" Endang Patibroto menjadi miring kedudukan tubuhnya ketika Iengannya bertemu dengan tapak tangan Tejolaksono yang menangkisnya. Akan tetapi secepat kilat Endang Patibroto sudah memukul lagi ke dada lawan. Tejolaksono melompat mundur sambil beseru,

"Nanti dulu, Endang.... engkau salah sangka..."

"Weerrrr... plakk!" Kembali Tejolaksono terpaksa menangkis karena tamparan yang menyusul hantaman ke tiga tak dapat ia elakkan lagi, demikian cepat sekali datangnya. Kembali keduanya terdorong ke belakang.

"Endang, dengarlah keteranganku......... kau... kau tertipu... masuk perangkap...!" Adipati Tejolaksono kembali melejit ke kanan agak jauh untuk menghindari tendangan kilat yang disusul hantaman Aji Wisangnala yang ampuhnya menggiriskan.

"Engkau utusan Panjalu, hayo menyangkallah kau manusia palsu!"

"Betul, memang sang prabu di Panjalu yang mengutusku menyusul dan mencarimu, tapi semua pembunuhan keji itu..."

"Tak usah banyak cakap. Aku sudah tahu semua! Aku tahu siasat Darmokusumo yang jahat. Aku tahu...! Aku tahu.... Semua kesalahan ditimpakan pada diriku. Dan kau datang untuk menangkapku, menyeretku ke depan kaki Raja Panjalu dan Raja Jenggala yang jahat!"

"Endang....!

"Cukup! Tak usah banyak cerewet lagi. Kau sudah mencoba menangkapku malam itu, kemudian.... kemudian mencoba meracuniku... aku tidak takut. Hayo majulah, kalau tidak engkau yang menggeletak tewas di sini, tentu aku!"

Kembali Endang Patibroto sudah menerjangnya dengan dahsyat sekali. Wanita ini teringat akan semua peristiwa yang menimpa dirinya, teringat akan kematian suaminya dan kini melihat Joko Wandiro yang hidupnya selalu lebih bahagia daripadanya, membuat ia menumpahkan semua kebencian dan kemarahannya kepada musuh lama ini.

"Endang, dengar dulu... kau tertipu..." Akan tetapi pada saat itu tampak banyak sekali bayangan manusia berkelebat dan ternyata tempat itu sudah terkurung oleh belasan orang senopati dan perwira yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Kalanarmodo dan Sindupati.

"Tangkap mata-mata....!" terdengar teriakan-teriakan di sekeliling tempat itu.

Tejolaksono terkejut sekali, tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi kepungan seperti ini. Ketika dua orang senopati menerjang dari kiri ia menggerakkan kaki tangan dan dua orang lawan itu roboh terjengkang!

"Wuuuttt....!!" Tejolaksono cepat membuang diri ke kiri karena pukulan Endang Patibroto dari kanan itu dahsyat sekali datangnya.

"Endang, larilah. Mari kau ikut aku lari, Endang....sebelum terlambat. Marilah, nanti aku beri penjelasan..."

Namun Endang Patibroto tidak memperdulikannya dan pada saat itu, Raden Sindupati, Mayangkurdo, Ki Patih Kalanarmodo, Klabangkoro, Klabangmuko dan beberapa orang senopati yang lain yang pilihan telah menerjang maju. Cepat Tejolaksono menggerakkan tubuhnya, kaki tangannya menyambar dan sambil menangkis semua hantaman lawan, la telah berhasil merobohkan Klabangmuko dan Klabangkoro dengan tendangan berantai. Akan tetapi, karena ia dihujani serangan, seperti juga senopati-senopati yang ia robohkan tadi, Klabangkoro dan Klabangmuko tidak terluka parah dan dapat bangkit kembali sambil meringis kesakitan.

"Ehh.... dia ini si Sutejo tukang kuda...!" Terdengar seorang perwira berseru kaget dan semua orang tercengang. Siapa kira bahwa penjahat yang dianggap maling haguna (maling sakti) dan selama ini dicari-cari itu ternyata adalah si tukang kuda yang baru! Orang dusun yang kelihatan bodoh, jujur, dan rajin bekerja! Kinipun pakaiannya masih sederhana, namun setelah bergerak, bukan main hebatnya!

Melihat banyaknya orang-orang yang mengeroyoknya, bukan orang-orang sembarangan pula, dan melihat betapa taman itu terkepung oleh seratus orang lebih perajurit sehingga merupakan pagar manusia yang tebal, Tejolaksono mulai khawatir. Ia masih sibuk berkelebat ke sana ke marl menghadapi pengeroyokan para senopati yang kini sudah menggunakan senjata, dan untuk yang penghabisan ia berseru,

"Endang...dengarlah kepadaku. Mari kita lari bersama... masih ada waktu. Kalau kita berdua menyerang, tikus-tikus busuk ini tak mungkin dapat menahan kita...!"

Akan tetapi sebagai jawaban dari ajakan ini, Endang Patibroto kini malah mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dengan Aji Wisangnala yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dahsyat sekali ke arah lambung Tejolaksono. Itulah pukulan maut yang tak mungkin dapat ditahan, biar oleh seorang manusia sakti seperti Adipati Tejolaksono sekali pun!

Beberapa orang senopati yang terdekat sudah roboh mendengar pekik tadi dan Tejolaksono terkejut bukan main. Dia sedang menghadapi serbuan senjata yang banyak sekali, dan kini dari samping kanan Endang Patibroto memukulnya ke arah lambung dengan pengerahan aji yang sedemikian dahsyatnya!

Tidak ada pilihan lain baginya, mengelak tidak keburu lagi menangkis tentu kurang kuat dan tentu ia akan menjadi korban. Maka cepat ia membalikkan tubuh ke kanan dan menerima pukulan Wisangnala yang ampuhnya menggila itu dengan dorongan kedua telapak tangannya pula ke depan sambil mengerahkan Aji Brojo Dahono (Kilat Berapi) yang dahulu ia terima dari gurunya, Ki Patih Narotama.

"Desssss... !!!"

Dua pasang tangan bertemu permukaannya dan tubuh Endang Patibroto terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dalam keadaan pingsanI Akan tetapi, Tejolaksono juga terhuyung-huyung ke belakang, kepalanya pening pandang matanya berkunang. Kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, tentu Endang Patibroto akan terpukul tewas dan dia sendiri tidak akan terluka parah. Akan tetapi bagaimana ia tega untuk membunuh Endang Patibroto? Maka ia tadi hanya mengerahkan sebagian besar tenaganya, tidak sepenuhnya sehingga akibatnya sungguhpun ia dapat membuat Endang Patibroto pingsan, namun dia sendiri juga mendapat hantaman di sebelah dalam tubuhnya yang cukup hebat.

Sebelum Tejolaksono sempat memulihkan tenaga, banyak pukulan-pukulan keras dan penggada menghujani tubuhnya sehingga ia roboh pingsan. Segera para senopati menubruknya dan melibat-libat tubuhnya dengan ikatan-ikatan rantai yang amat kuat seperti seekor kerbau hendak disembelih saja. Kemudian, beramai-ramai mereka menggotong tubuh Tejolaksono sambil bersorak kegirangan.

Adapun Endang Patibroto yang pingsan itu sudah lebih dulu dipondong oleh Raden Sindupati dan dibawa pergi menuju ke... rumah senopati itu sendiri. Ketika Sindupati yang memondong tubuh Endang Patibroto tiba di rumah gedungnya, ia disambut oleh seorang wanita yang maslh amat muda dan berwajah cantik jelita akan tetapi pucat pasi mukanya.

"Kakangmas..."" Wanita itu menegur dan matanya terbelalak lebar.

Akan tetapi dengan kasar Sindupati membentak, "Minggir kau!" Lalu terus membawa tubuh Endang Patibroto memasuki kamarnya.

Wanita muda itu adalah selirnya, yaitu puteri Adipati Menak Linggo dari selir yang "dihadiahkan" kepada Sindupati. Dibentak seperti itu, wanita ini minggir dan terisak menangis, akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya pergi memasuki sebuah kamar lain dan membanting tubuh di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu. Semuda itu, sudah terlampau banyak ia menderita tekanan batin semenjak setahun yang lalu ia diberikan kepada Sindupati, dijadikan benda permainan senopati itu yang sama sekali tidak memperdulikan hati wanita muda ini.

Endang Patibroto masih merasa pusing sekali dan napasnya agak terengah ketika ia mendengar suara yang halus,

"Minumlah, diajeng.... minumlah madu tentu akan sembuh dan enak badanmu....!"

Segera ia merasa ada benda menempel bibirnya. Ia berada dalam keadaan setengah sadar akan tetapi dapat mengenal suara Sindupati, maka tanpa membuka mata ia segera membuka mulut dan minum madu manis dan harum dari cangkir itu dengan penuh kepercayaan. Memang enak rasanya, dan mendatangkan rasa hangat di dadanya. Madu yang manis dan harum bercampur jamu, Ia masih meramkan matanya, mengingat-ingat. Kemudian teringatlah ia akan pertandingan tadi. Tadikah? Ia tidak tahu bahwa ia telah rebah pingsan selama setengah malam.

Joko Wandiro, alangkah berat lawan itu. Teringat ia betapa pukulan Wisangnala membentur gunung karang dan tenaga aji itu membalik, membuat dadanya sesak dan tubuhnya terlempar ke belakang. Bukan main hebatnya Joko Wandiro.
Tangan yang lembut membelai rambutnya dahinya lalu turun ke pipinya, terus ke lehernya. Bisikan-bisikan yang tadinya hampir tak terdengar, kini mulai terdengar, lirih-lirih dekat telinga.

"Diajeng Endang Patibroto... alangkah cantik jelita engkau, alangkah gagah perkasa... ah, adinda... aku cinta padamu, diajeng... Jari tangan itu turun ke atas dada dan... bibir yang panas menempel mulutnya!

Endang Patibroto hampir saja tenggelam karena terbayang ia kepada kemesraan bercinta dengan suaminya, membayangkan bahwa yang berbisik-bisik, membelai dan menciumnya itu adalah suaminya. Akan tetapi ia segera teringat dan tersentak kaget. Bukan suaminya yang sudah mati, melainkan Raden Sindupati! Segera ia mendorong sambil melompat bangun dari atas pangkuan karena tadinya ia rebah telentang dengan kepala di atas pangkuan Sindupati yang duduk di atas pembaringan. Tubuh Sindupati terlempar keluar dari pembaringan dan seperti seekor burung kepinis, Endang Patibroto sudah melompat turun dan berdiri menatap Sindupati yang terbanting roboh di atas lantai.

"Diajeng..." Sindupati merintih.

Merah wajah Endang Patibroto. Kamar ini terang dan kiranya sinar matahari telah bersinar masuk melalui celah-celah daun jendela kamar itu. Sebuah kamar yang indah. Dan ia tadi berada di atas pembaringan, bersama Sindupati, sejak malam tadi, ia memandang senopati itu, bingung karena merasa malu, menyesal bercampur marah.

"Maaf, kakang Sindupati. Akan tetapi... aku... aku tidak dapat menerima cinta kasihmu! Betapapun baik engkau sudah terhadap diriku, namun... hemm... jangan sekali-kali berani meraba diriku lagi karena lain kali... aku akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Endang Patibroto lalu melompat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri.

"Diajeng.... Endang Patibroto... !!"

Namun seruan Sindupati ini tidak terjawab dan senopati ini lalu merangkak bangun. Belakang kepalanya yang terbentur lantai menjendol dan terasa nyeri. la menyeringai, mukanya menjadi merah padam, kedua tangannya dikepal dan ia menggumam dengan marah,

"Hemm..... Endang Patibroto, engkau tak mau disayang orang! Lihat saja engkau nanti! Tidak bisa mendapatkan dirimu secara halus, aku akan menggunakan kekerasan! Ha-ha-ha, awas engkau jangan kira dapat melepaskan diri begitu saja dari tangan Raden Sindupati!"

Kalau saja Endang Patibroto dapat mendengar ucapan dan sikap Sindupati setelah ia meninggalkan kamar senopati itu, tentu ia akan menjadi kaget sekali. Akan tetapi, Endang Patibroto sudah berlari jauh dan di dalam hatinya wanita ini malah merasa kasihan kepada Sindupati. Ia menganggap senopati itu amat baik dan biarpun tadi telah berani menjamah tubuhnya, bahkan mencium bibirnya, namun ia dapat memaafkan perbuatan yang ia anggap terdorong oleh cinta kasih yang mendalam!

Seorang wanita seperti Endang Patibroto, tentu saja tidak dapat membedakan antara cinta kasih murni seperti cinta kasih mendiang suaminya, dengan cinta berahi seperti cinta seorang pria macam Sindupati yang menjadi hamba daripada nafsu berahi dan menginginkan tubuhnya karena ia cantik jelita belaka, seperti rasa sayang seorang akan setangkai bunga mawar. Jika masih segar dinikmati keindahannya dan harumnya, jika sudah bosan dan kembang itu melayu lalu dibuang begitu saja!

Ketika Endang Patibroto memasuki tempat tinggalnya, ia mendengar dari para pengawal bahwa Adipati Tejolaksono telah tertangkap dan kini sedang mengalami siksaan di dalam penjara!

"Menurut keputusan gusti adipati, mata-mata itu yang telah menewaskan tujuh orang pengeroyok semalam, akan dihukum picis di alun-alun sore hari nanti!" demikian antara lain para pengawal memberitahukannya.

Berdebar jantung Endang Patibroto. Dihukum picis! Hukuman yang mengerikan. Tubuh orang hukuman akan diikat di alun-alun, dan setiap orang boleh menggunakan sebuah pisau tajam yang tersedia di situ untuk mengerat kulit dan daging si terhukum, kemudian algojo akan mengoleskan asam dan garam pada goresan pisau! Si terhukum tidak akan mati seketika, melainkan mati perlahan-lahan, menderita siksaan ngeri yang tiada taranya, kemudian mungkin baru pada keesokan harinya mati kehabisan darah! Ia membayangkan wajah Joko Wandiro dan Endang Patibroto meramkan mata.

Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang. Teringat ia akan semua kebaikan Joko Wandiro. Betapa pria itu kini telah menampung ibu kandungnya, betapa Joko Wandiro tidak mendendam kepadanya biarpun dialah yang membunuh ibu kandung Joko Wandiro! Betapa dahulu ia amat tertarik kepada Joko Wandiro, betapa ia merindu, haus akan kasih sayangnya namun pada lahirnya ia selalu bersikap keras dan bermusuh. Bahkan terbayang pula betapa seringkali, sebelum akhirnya ia jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Pangeran Panjirawit, seringkali ia membayangkan wajah Joko Wandiro di kala suaminya itu mencumbunya.

"Tidak...! Tidak boleh....!" Demikian teriak hatinya dan dengan kepala masih pening, dengan langkah terhuyung-huyung Endang Patibroto lalu lari menuju ke penjara!

Para penjaga yang menjaga penjara dengan ketat, semua mengenal Endang Patibroto dan tidak seorangpun di antara mereka berani mencegah ketika Endang Patibroto memasuki penjara. Bahkan Mayangkurdo yang bertugas mengepalai barisan penjaga, hanya bertanya,

"Apakah perlunya menemui keparat itu? Gusti adipati sudah memutuskan hukum picis, harap saja paduka jangan membunuhnya!"

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 07

Perawan Lembah Wilis Jilid 06

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 06

Dari Adipati Menak Linggo sampai semua hulubalang, terutama sekali Raden Sindupati, semua amat menghormat dan ramah tamah kepadanya sehingga Endang Patibroto sama sekali tidak menyangka bahwa di belakang punggungnya, sang adipati seringkali berkasak-kusuk membuat rencana-rencana jahat dengan para pembantunya dan terutama sekali Raden Sindupati yang diserahi tugas untuk membereskan Endang Patibroto.

"Menurut pendapat hamba, kita harus dapat menarik keuntungan sebanyaknya dari wanita iblis itu," demikian antara lain Sindupati mengemukakan siasatnya kepada sang adipati, "pertama-tama kita harus membiarkan dia menggembleng dan melatih pasukan Blambangan, kemudian setelah waktunya tiba, barulah diusahakan pembunuhan atas diri iblis betina itu untuk membalas dendam paduka. Hamba sanggup melakukan hal itu, malah.... malah menurut pendapat hamba, ada cara untuk membalas dendam yang lebih memuaskan hati, yang lebih hebat daripada membunuhnya begitu saja."

"Heh-heh, cara bagaimana itu, senopatiku yang baik?"

Wajah tampan Sindupati tersenyum, matanya mengerling penuh arti. "Paduka tentu dapat mengira sendiri apa yang lebih hebat bagi seorang wanita!"

Sejenak adipati itu merenung, mengangkat alis, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Huah-ha-ha-ha-ha, dasar kau tak boleh melewatkan batuk kelimis (wanita cantik) begitu saja. Aku mengerti...ha-ha-ha-ha, aku mengerti... memang dia hebat, denok ayu seperti puteri Bali. Ha-ha-ha!"

Beberapa pekan kemudian, Blambangan kedatangan seorang yang wajahnya tampan namun membayangkan kebodohan seorang dusun. Laki-laki ini usianya tiga puluhan tahun, pakaiannya sederhana sekali, pakaian petani yang miskin. Wajahnya biarpun tampan tampak bodoh, terutama sinar matanya yang seperti orang bingung. Laki-laki ini memasuki kota raja dan menawarkan tenaga kepada siapa saja yang suka memberinya makan.

Akhirnya, pada suatu hari ia diterima menjadi tukang pemelihara kuda karena ia rajin dan pandai mencari rumput-rumput gemuk. Seorang perwira menerimanya dan menempatkannya di kandang kuda di mana dipelihara empat puluh ekor kuda tunggangan para perwira Kerajaan Blambangan. Laki-laki ini pandai sekali memelihara kuda dan semua kuda yang bagaimana binal sekalipun selalu menurut kalau dituntun dan dibersihkan tubuhnya oleh Sutejo, laki-laki ini.

Dari pagi sampai petang Sutejo bekerja giat dan rajin, mencari rumput, memberi makan kuda, membersihkan mereka, dan membersihkan pula kandang. Para perwira suka kepada pelayan baru ini yang mengaku berasal dari dusun Cempa di kaki Gunung Tengger.

Akan tetapi kalau malam tiba, lewat tengah malam pada saat semua orang sudah tidur, tampak bayangan hitam berkelebat ke atas atap kandang dan kemudian lenyap ditelan kegelapan malam untuk kemudian berkelebatan pula di atas atap istana! Dialah Sutejo si tukang kuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro atau lebih tepatnya sekarang bernama Tejolaksono, adipati di Selopenangkep!

Seperti telah kita ketahui, Tejolaksono melakukan perjalanan ke Blambangan dan di tengah jalan la bertemu dengan Ki Brejeng yang membuka rahasia segala peristiwa yang terjadi di Jenggala dan Panjalu. Ia melakukan perjalanan untuk mengejar dan mencari Endang Patibroto yang menurut Ki Brejeng, telah ikut bersama rombongan pasukan Blambangan menuju ke Blambangan di mana tersedia perangkap untuk mencelakakan Endang Patibroto. Setibanya di daerah Blambangan, Tejolaksono lalu menitipkan kudanya pada seorang penduduk gunung, kemudian ia berjalan kaki memasuki kerajaan atau Kadipaten Blambangan dengan menyamar sebagai seorang petani bodoh yang mencari pekerjaan ke kota raja.

Dapat dibayangkan alangkah heran dan cemas hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto kini telah menjadi seorang senopati besar dari Blambangan! Ah, Endang.... Endang pikirnya di hati, mengapa sampai sekarang engkau masih seperti dulu juga? Mengapa sudi menjadi Senopati Blambangan dan metnbiarkan dirimu tertipu? Ia makin cemas karena tidak mendengar akan diri Pangeran Panjirawit!

Menurut penyelidikannya, Endang Patibroto datang ke Blambangan.bersama dengan pasukan dan tanpa Pangeran Panjirawit suaminya yang telah dibebaskannya dari penjara lenggala. Apa artinya ini? Ia mendengar pula penuturan beberapa orang perwira tentang sepak terjang senopati wanita itu yang telah mengalahkan para senopati gemblengan dari Blambangan dan kini diperbolehkan tinggal di dalam istana Sang Adipati Menak Linggo sendiri!

Sudah beberapa malam ia melakukan penyelidikan ke istana, namum belum juga ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Endang Patibroto. Dalam penyamarannya sebagai tukang kuda seperti sekarang ini, tentu saja tidak mungkin baginya untuk berjumpa secara berterang dengan Endang Patibroto, bahkan di waktu senopati wanita itu melatih pasukan di alun-alun, iapun hanya dapat menonton dari jauh saja.

Hatinya terharu kalau melihat wanita itu dari jauh. Tidak banyak perubahan dalam bentuk tubuh wanita itu, pikirnya. Masih langsing dan cantik jelita, tangkas seperti dahulu! Makin, trenyuh hatinya kalau mengenangkan nasib wanita itu dan makin besar keinginan hatinya untuk segera dapat berbicara dengan Endang Patibroto. Akan tetapi jangan sampai diketahui orang lain di Blambangan karena hal itu akan menjadi berbahaya sekali.

Malam itu ia sudah mengambil keputusan bulat untuk memasuki kamar Endang Patibroto. Sebagaimana lajimnya tempat tinggal seorang senopati, rumah di samping istana itu terjaga oleh para pengawal. Ia harus menemui Endang dan kalau perlu, ia akan menggunakan aji penyirepan atau kalau terpaksa akan merobohkan para. pengawal.

Dengan aji keringanan tubuh Aji Bayu Sakti, bagaikan seekor burung garuda saja Tejolaksono berlontatan di atas atap istana yang amat tinggi. Andaikata secara kebetulan ada penjaga yang melihatnya, tentu penjaga itu akan mengira bahwa yang dilihatnya adalah bayangan burung malarn atau kalong, demikian cepatnya bayangan itu berkelebat. Tak lama kemudian Tejolaksono sudah berada di atas sebuah bangunan mungil yang menjadi tempat tinggal Endang Patibroto.

Ia mengintai dari atas dan melihat dua orang pengawal peronda. Tanpa melalui dua orang pengawal ini; tak mungkin ia dapat turun mencari kamar Endang Patibroto, pikirnya. Maka cepat ia menyambar dari atas, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengawal itu roboh pingsan tanpa mereka tahu mengapa mereka begitu! Cepat sekali pukulan Tejolaksono tadi menampar di belakang telinga dua orang pengawal.

Kemudian Tejolaksono berindap-indap menyelinap ke pinggir bangunan dan tiba-tiba ia mendengar isak tertahan. Cepat ia menyelinap dekat dan mengintai dari celah-celah daun jendela. Dilihatnya Endang Patibroto menelungkup di atas pembaringan sambil menangis! Yang tampak hanyalah belakang tubuh wanita itu, pinggulnya yang menyendul dan pundaknya yang bergerak-gerak ketika terisak-isak memeluk bantal.

Tejolaksono terpaku seperti berubah menjadi arca. Endang Patibroto menangis! Selama hidupnya belum pernah ia melihat Endang Patibroto menangis. Gadis yang dahulu menantang maut dengan keberanian yang tiada taranya, gadis yang keras hati keras kepala, yang berhati baja, kini menangis terisak-isak memeluk bantal seperti kebiasaan wanita-wanita cengeng. Apa artinya ini?

Namun, biarpun agaknya Endang Patibroto telah kehilangan kekerasan hatinya, jelas bahwa kewaspadaannya tidak berkurang. Hal ini diketahui terlambat oleh Tejolaksono ketika tiba-tiba dari dalam kamar itu, dari arah pembaringan Endang Patibroto, menyambar sinar terang menuju ke arah jendela, menerobos celah jendela dan tentu akan tepat mengenai muka Tejolaksono yang mengintai tadi kalau saja dia tidak cepat miringkan muka dan mengulur tangan menyambar benda bersinar itu yang ternyata adalah sebatang anak panah.

Panah tangan beracun senjata rahasia Endang Patibroto yang dahulu amat ditakuti lawan! Senjata rahasia ini pulalah yang dahulu pernah melukai Ayu Candra, isterinya (baca Badai Laut Selatan)! Tejolaksono terkejut dan hendak melompat ke dalam memperkenalkan diri, akan tetapi dari dalam kamar itu sudah terdengar bentakan suara Endang Patibroto,

"Pengawal! Tangkap penjahat!!"

Adipati Tejolaksono hendak melompat ke atas atap, akan tetapi tiba-tiba menyerbulah tiga orang pengawal. Dia cepat melompat ke tempat gelap dan seketika tiga orang pengawal itu menyerbu dengan senjata di tangan, ia mendorong dengan kedua tangan ke depan, melakukan pukulan jarak jauh. Tiga orang itu terpelanting roboh.

Tejolaksono cepat menghampiri seorang di antara mereka dan dengan cepat ia menampar dada orang itu dengan Pethit Nogo, dengan tenaga sedemikian rupa sehingga pukulan ini tidak mematikan orang, melainkan hanya meninggalkan bekas tapak lima buah jari tangan yang menghanguskan baju dan menembus kulit sehingga pada dada orang itu kini terdapat tanda tapak tangannya! Dia sengaja melakukan hal ini untuk memperkenalkan diri kepada Endang Patibroto.

Ramailah suara para pengawal, akan tetapi ketika mereka menyerbu ke situ, Adipati Tejolaksono telah tiada. Tak seorangpun sampai melihat wajahnya, bahkan Endang Patibroto sendiripun tidak sampai melihatnya. Untung Endang Patibroto yang tidak ingin terlihat orang lain bahwa ia habis menangis itu, terlambat keluar karena harus mencuci muka lebih dulu.

Endang Patibroto tadinya terheran-heran mendapat kenyataan bahwa ada seorang maling yang dapat menghindarkan diri daripada anak panah tangan, senjata rahasianya yang ampuh itu. Bukan hanya dapat mengelak, bahkan dapat menangkap dan merampas anak panah tangan itu karena buktinya anak panahnya lenyap tak berbekas.

Akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat tapak lima jari tangan di atas dada seorang pengawalnya. Aji Pethit Nogo! Dan sekaligus ia dapat menduga siapa orangnya yang mengintai kamarnya tadi, Joko Wandiro! Siapa lagi kalau bukan pria yang sakti mandraguna, musuh besarnya semenjak ia kecil itu?

Apa maunya Joko Wandiro datang ke Blambangan dan mencarinya? Di dalam kamarnya, Endang Patibroto termenung. Ia tahu bahwa Joko Wandiro kini telah diangkat menjadi Adipati Tejolaksono, adipati di Selopenangkep yang termasuk wilayah Panjalu. Hemmm, tak salah lagi, tentulah ini kehendak sang prabu di Panjalu, atau mungkin si keparat Pangeran Darmokusumo yang memerintahkan Adipati Tejolaksono untuk mengejar dan mencarinya.

"Setan kau Joko Wandiro," gumamnya gemas di dalam hatinya. "Kau datang hendak menangkap aku? ,Hemm, kaukira aku takut kepadamu, keparat!"

Ia teringat bahwa Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono itu hidup bahagia, demikian berita yang pernah ia dengar dari suaminya, hidup di samping isterinya yang tercinta, Ayu Candra! Masih teringat ia akan Ayu Candra, masih ada rasa tidak suka mernbara di hatinya kalau ia teringat akan Ayu Candra.

Tidak suka yang timbul karena sebab yang ia sendiri. tidak tahu mengapa. Mungkin karena iri hati? Pernah ia dahulu mengira, atau mengharapkan? Mengira bahwa Joko Wandiro mencinta dirinya. Joko Wandiro yang oleh mendiang ayahnya telah dijodohkan dengannya. Kemudian Joko Wandiro malah mencinta Ayu Candra dan menjadi suami Ayu Candra.

Hal ini sebetulnya sama sekali terlupa olehnya ketika ia masih berdampingan dengan suaminya.Tidak perduli itu semua selama suaminya masih berada di sampingnya. Akan tetapi, sekarang suaminya telah tiada! Dan JokoWandiro masih berdua dengan Ayu Candra! Endang Patibroto tidak dapat menahan air matanya yang panas membasahi pipinya. Keparat Ayu Candra! Keparat Joko Wandiro! Sekarang datang hendak menangkapnya? Boleh coba!

"Keparat, jangan lari kau!!" Tiba-tiba Endang Patibroto yang marah sekali tak dapat lagi menahan kemarahannya. Tubuhnya melesat keluar dari jendela dan tak lama kemudian tampaklah bayangannya, berkelebat di atas atap-atap rumah di sekitar Kerajaan Blambangan. Dia mencari-cari sampai hampir pagi tanpa hasil sehingga ia menjadi makin mendongkol dan gemas.

Tiba-tiba ada bayangan lain berkelebat dari bawah dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang tampan. Endang Patibroto sudah siap irienerjangnya, akan tetapi ia menjadi lemas lagi ketika melihat bahwa yang datang bukanlah Adipati Tejolaksono melainkan Sindupati yang sudah membawa sebatang keris telanjang di tangannya.

"Aku... aku mendengar tentang penyerbuan orang jahat di tempatmu... aku khawatir kalau-kalau andika akan rnengalami celaka maka cepat-cepat mencari ketika tak dapat mendapatkan andika di istana. Adinda Dewi....tidak apa-apakah andika...?"

Raden Sindupati cepat melangkah maju dan menangkap tubuh Endang Patibroto yang terhuyung-huyung dan memegang dahi dengan tangan kirinya. Wanita ini menjadi pening karena terlalu berduka bercampur marah dan kecewa menjadi satu, ditambah lagi tidak tidur sernalam suntuk dan lelah. Kedukaan hampir membuat Endang Patibroto hampir pingsan dan pada saat seperti itu, setiap kata-kata halus yang menghiburnya membua hatinya trenyuh.

Sejenak ia rnembiarka dirinya dirangkul pundaknya dan ia menyandarkan kepalanya di atas pundak Raden Sindupati. la membutuhkan hiburan dan kawan pada saat seperti itu dan karena selama ini sikap Sindupati amat baik terhadap dirinya, halus dan ramah penuh kesopanan, ia menganggap orang ini sebagai seorang sahabat.

Ia terisak perlahan dan baru ia sadar ketika merasa betapa tangan Sindupati dengan halus dan mesra membelai rambut kepalanya. Begitu sadar ia merenggut lepas dari pelukan, akan tetapi tidak terlalu kasar karena ia tidak ingin menyinggung orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya. Ia cukup maklum melihat sikap Sindupati selama ini bahwa senopati ini diam-diam mencinta dirinya.

"Ahhh...maafkan... aku... aku sejenak kehllangan akal..." katanya menahan isak.

"Kasihan engkau, diajeng. Engkau telah banyak menderita. Kalau saja aku bisa mendapat kehormatan untuk menghibur... ah, aku bersedia mengorbankan nyawaku untuk mengusir kedukaanmu. Diajeng Endang Patibroto, apakah yang telah terjadi? Aku tadi mendengar dari para pengawal bahwa ada orang jahat menyerbu tempat tinggalmu dan kemudian melarikan diri. Melihat engkau tidak berada di sana, aku tahu bahwa engkau mengejar penjahat itu lalu menyusul dan mencari. Apakah diajeng tidak dapat menangkapnya?"

Merah kedua pipi Endang Patibroto mendengar senopati ini menyebutnya diajeng. Akan tetapi ia tidak marah dan hanya menghela napas panjang. Diam-diam ia merasa kasihan kepada orang ini yang mencintanya dengan sia-sia. Sia-sia belaka karena ia tahu bahwa tidak mungkin ia membalas perasaan itu.

"Aku tidak dapat menangkapnya, akan tetapi aku tahu atau dapat menduga siapa orangnya."

"Ah... begitukah? Siapakah dia gerangan?" la tertarik sekali karena merasa terheran-heran. Di seluruh Kerajaan Blambangan, kiranya hanya sang adipati saja yang menganggap wanita sakti dan jelita ini sebagai musuh besar yang harus dibunuh. Dan yang tahu akan hal ini hanyalah dia, Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo dan kedua kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko. Siapa lagi yang mempunyai niat buruk bahkan berani menyerbu tempat kediaman ini?

"Hanya dugaanku saja, akan tetapi aku sendiri masih ragu-ragu..."

"Engkau agaknya kurang sehat. Tidak baik berdiam di sini. Marilah kita kernbali dan bicara yang enak di gedungmu, diajeng. Percayalah, siapapun adanya si keparat itu, aku Sindupati akan menyediakan segenap jiwa ragaku untuk membelamu dan menangkap orang itu sampai dapat."

Diam-diam Endang Patibroto tertawa di dalam hatinya. Kalau betul dugaannya bahwa orang itu adalah Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, jangankan baru Sindupati seorang, biarpun dikerahkan semua senopati di Blambangan, tak mungkin akan dapat menangkapnya! Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu dan menurut saja diajak pulang. Mereka melompat turun dari atas atap lalu berjalan berdampingan menuju ke istana.

Ketika tiba kembali di gedung tempat tinggal Endang Patibroto, para pengawal yang dirobohkan pingsan tanpa mereka tahu apa yang terjadi bersama tigat orang pengawal yang bertanding melawan "penjahat" itu dipanggil menghadap. Setelah mendengar cerita mereka yang aneh, yaitu bahwa penjahat itu amat sakti, sehingga mereka keburu roboh tanpa diberi kesempatan melihat wajahnya.

Endang Patibroto lalu menyuruh pengawalnya yang terpukul itu membuka baju sehingga dadanya yang terdapat tanda tapak lima jari tangan itu tampak nyata seperti dibakar besi panas! KemudIan Endang Patibroto menyuruh para pengawal itu mundur dan dia berkata kepada Raden Sindupati.

"Kau melihat sendiri, raden. Tanda tapak lima jari tangan di dada pengawal tadi adalah tanda bekas pukulan Pethit Nogo. Seperti ini!" Endang Patibroto mengayun telapak tangan kirinya menghantam lantai, perlahan sekali dan tampaklah jelas tapak jari tangannya di lantai batu itu!

"Aihhh.... ! Kalau begitu sama dengan aji pukulan yang dimiliki diajeng...!"

Endang Patibroto mengangguk. "Benar begitu, dan karena itulah maka aku dapat menduga siapa adanya orang itu."

"Siapa, diajeng Endang Patibroto?"

"Di dalam dunia ini, yang mempunyai ilmu pukulan itu hanya dua orang, aku sendiri dan adipati di Selopenangkep, Adipati Tejolaksono."

Biarpun belum pernah bertemu dengan Adipati Tejolaksono, namun Raden Sindupati sudah mendengar tentang Adipati Selopenangkep yang sakti mandraguna itu, maka berubahlah air mukanya ketika berseru,

"Yang dahulu bernama Joko Wandiro..."

"Betul, dialah orangnya, dan aku merasa yakin akan hal ini."

"Tapi... tapi... mengapa...?" Sindupati terheran, "Apakah dia musuhmu, diajeng?"

"Dahulu memang musuh besarku, akan tetapi selama sepuluh tahun di antara kami tidak ada permusuhan, tidak ada hubungan apa-apa lagi." Ia diam sebentar, termenung. Memang tidak ada permusuhan di antara mereka. Bagaimana bisa bermusuh? Ibunya sendiri, ibu kandungnya, tinggal bersarna Adipati Tejolaksono! "Agaknya.... aku tahu bahwa dia tentulah menjadi utusan Kerajaan Panjalu untuk mencariku, menangkapku atau membunuhku..."

Raden Sindupati meloncat bangun dari kursinya, wajahnya yang tampan menjadi merah padam, matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Babo-babo...Si keparat Tejolaksono! Berani dia datang Seorang diri di Blambangan dengan niat yang begitu keji? Mernbunuhmu? Huh, harus dapat menyempal bahuku kanan harus melangkahi mayat Sindupati dahulu baru dapat menyentuh ujung rambut Endang Patibroto!"

Endang Patibroto tersenyum pahit. Ia terharu menyaksikan tingkah pria ini, tingkah seorang yang menjadi korban asmara, akan tetapi alangkah lucunya kalau pria ini hendak menantang kesaktian Joko Wandiro! Dia sendiri sudah beberapa kali harus mengakui keunggulan Adipati Selopenangkep itu.

"Raden Sindupati, dia itu amat sakti mandraguna, tidak mudah dikalahkan."

"Aku tidak takut! Diajeng Endang Patibroto, lihatlah sinar mataku, lihatlah wajahku. Masih tidak percayakah adinda bahwa aku akan membelamu dengan mernpertaruhkan seluruh jiwa ragaku? Akan kukerahkan seluruh pasukan Blambangan! Biar Tejolaksono bersekutu dengan dewa sekalipun, tak mungkin dia dapat menandingi pasukan Blambangan seorang diri saja!"

Endang Patibroto menghela napas panjang. Sukar berdebat dengan orang yang sudah mabuk cinta. Ia tidak tega untuk membuyarkan harapan, merusak hati laki-laki ini. Masih banyak waktu untuk membuka mata Sindupati kelak bahwa dia tidak mungkin dapat membalas cintanya. Tidak mungkin! Wajah suaminya tak pernah meninggalkan hatinya, biar sedetik sekalipun. Di siang hari terbayang di depan pelupuk mata, di malam hari menjadi kembang mimpi.

"Cobalah kau usahakan, raden. Kurasa Adipati Tejolaksono bersembunyi di sekitar kota raja. Aku cukup mengenalnya dan tahu bahwa orang seperti dia tidak akan mundur sebelum tercapai cita-citanya, sebelum terpenuhi tugasnya. Kadipaten Selopenangkep termasuk wilayah Panjalu. Tentu dia menjadi jago sang prabu di Panjalu untuk menangkap saya. Amat lelah tubuhku, aku ingin tidur."

"Aduh kasihan diajeng yang bernasib malang. Kau beristirahatlah dan jangan khawatir, akan kukerahkan pasukan sekarang juga untuk mencari di seluruh kota raja. Dan tentang keselamatanmu, aku yang menjamin dan aku sendiri yang akan memimpin para pengawal menjaga tempat tinggalmu ini!"

Setelah berkata demikian, dengan sikap mengasih dan gagah Raden Sindupati memberi hormat lalu pergi meninggalkan Endang Patibroto yang duduk termenung. Laki,laki yang baik, pikirnya. Sayang aku terpaksa akan :menghancurkan hatinya dengan penolakan cinta kasihnya. Dan Adipati Tejolaksono! Joko Wandiro! Ah, mengapa ia terbayang akan semua pengalamannya di masa dahulu, sepuluh tahun yang lalu?

Teringat akan masa dahulu, terbayang pula pangalarnan yang tak dapat dilupakan, pengalaman yang amat pahit, yang amat menusuk perasaannya, yang membuatnya membenci Joko Wandiro dan mernbenci pula Ayu Candra! Terbayang ia betapa .pada waktu dipeluk dari belakang oleh Joko Wandiro, dibelai dan dicium tengkuknya, penuh kasih sayang, penuh kemesraan.

Pada waktu itu, ia belum ada hati sedikitpun juga terhadap Pangeran Panjirawit dan ketika itu dengan sepenuh jiwa raganya ia menyerahkan diri, hangat hatinya menyambut cinta kasih Joko Wandiro, orang yang oleh ayahnya telah dijodohkan kepadanya!. Akan tetapi, bagaikan halilintar menyambar kepalanya, mulut Joko Wandiro membisikkan nama Ayu Candra. Kiranya Joko Wandiro bukan memeluk dan membelainya, melainkan mengira bahwa dia adalah Ayu Candra.

Bukan dia yang dicinta Joko Wandiro, melainkan Ayu Candra (baca Badai Laut Selatan)! Maka timbullah bencinya yang hebat terhadap dua orang itu, benci yang tanpa ia sadari sendiri didasari oleh cinta kasih yang dikecewakan, oleh cemburu dan iri hati! Sampai akhirnya datang obat penawar yang sangat manjur, yaitu limpahan cinta kasih Pangeran Panjirawit yang akhirnya dapat menyembuhkan sakit hatinya...

Kini... suami tercinta telah meninggal dunia. Dan... tanpa disangka-sangkanya, muncul pula Joko Wandiro dalam hidupnya, muncul sebagai Adipati Tejolaksono, sebagai utusan musuh besarnya, Pangeran Darmokusumo yang datang dengan niat jahat, menangkap atau membunuhnya! Ia mengerutkan kening, jantungnya seperti ditusuk oleh duka, kecewa dan dendam, lalu terhuyung memasuki kamarnya di mana ia membanting diri di atas kasur, menangis sampai ia tertidur pulas dengan bantal basah air mata.

Biarpun sepekan lamanya Raden Sindupati mengerahkan semua pasukan untuk mencari Adipati Tejdaksono, namun hasilnya sia-sia belaka. Orang yang dicari-carinya itu masih enak-enak bekerja sebagai tukang kuda yang rajin dan menyenangkan para perwira.

Namun Endang Patibroto tidak memperdulikan hal itu. Ia tidak perduli apakah penyerbu itu tertangkap atau tidak, tidak perduli siapa penyerbu itu, benar Joko Wandiro seperti yang disangkanya ataukah bukan. Ia sudah dapat mengatasi kedukaan hatinya yang amat hebat di malam munculnya penyerbu itu, dan kini ia melakukan tugasnya kembali seperti biasa, melatih pasukan karena cita-citanya hanyalah untuk dapat menyerbu Jenggala, membalas dendam kematian suaminya.

Raden Sindupati setiap hari sedikitnya satu kali tentu datang menjenguknya untuk memberi laporan tentang usaha mencari penjahat itu, dan dalam kesempatan ini selalu senopati muda itu memperlihatkan sikap manis, ramah tamah, menghiburnya dan tak lupa membawa apa saja untuk menyenangkan hatinya. Buah-buahan yang sukar didapat di Blambangan, sutera-sutera tenun yang indah, perhiasan emas permata. Pendeknya, makin jelas tampak sikap Raden Sindupati yang rnencintanya, sungguhpun belum pernah menyatakan perasaan hatinya melalui mulut.

Endang Patibroto tak dapat mengelak, tak dapat menolak semua pemberian tanda cinta itu, karena ia tidak mau menyakitkan hati satu-satunya orang yang pada saat itu dianggapnya sebagai seorang sahabat baik. tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk dengan halus menolak apabila Sindupati menyatakan cinta kasihnya dengan kata-kata. Dan agaknya, saatnya tentu akan tiba sewaktu-waktu, melihat sikap yang makin mendesak itu.

Pada pagi hari itu, seperti biasa setelah bangun pagi-pagi, Endang Patibroto mandi lalu berganti pakaian, merias diri secara sederhana dan sudah siap untuk melakukan tugasnya setiap hari. Pada hari itu ia akan mulai dengan melatih barisan anak panah kepada pasukan istimewa yang digemblengnya. Dan sebelum berangkat ke alun-alun, lebih dulu ia duduk menghadapi meja di ruangan depan untuk sekedar mengisi perut dengan sarapan pagi yang disediakan oleh seorang pelayan.

Endang Patibroto yang tidak mencurigai sesuatu, tidak tahu bahwa sejak sebelum ia bangun dari tidur tadi, sepasang mata telah mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata Raden Sindupati. Kini, pada saat ia menghadapl meja untuk minum kopi dan makan ketan kelapa yang disediakan. Raden Sindupati juga sudah menyelinap ke depan dan bersembunyi. Endang Patibroto hendak mulai sarapan pagi dengan menghirup kopi panas. Akan tetapi baru saja cangkirnya menempel bibir, tiba-tiba terdengar suara nyaring,

"Diajeng, jangan diminum itu... Endang Patibroto menoleh dan melihat Sindupati sudah ada di belakangnya. Wajah yang tampan dan biasanya tersenyum-senyum kepadanya itu kini tampak gelisah dan bersungguh-sungguh, bahkan wajahnya agak pucat. Endang Patibroto meletakkan kembali cangkir kopinya yang belum ia minum isinya, ke atas meja.

"Ada apakah, kakang SIndupati?" Sudah beberapa hari ini, atas permintaan Sindupati yang berkali-kali, ia menyebut kakang kepada senopati ini.

"Engkau belum makan ketan itu dan belum minum kopi itu, bukan?"

Endang Patibroto menggeleng kepala. "Belum. Mengapakah?"

"Coba diajeng panggil pelayan yang menyediakan makan minum ini dan diajeng akan menyakslkan sendiri," jawab Raden Sindupati, mukanya masih pucat.

Endang Patibroto bertepuk tangan. Seorang pelayan muncul dan pelayan ini disuruh memanggil pelayan yang menyediakan sarapan pagi. Tak lama kemudian muncullah seorang pelayan, wanita yang setengah tua.

"Kaukah yang menyediakan sarapan pagi untuk diajeng Endang Patibroto?" Sindupati bertanya, suaranya keren.

"Betul seperti apa yang paduka katakan, raden. Memang tugas hamba untuk menyediakan semua makanan dan minuman gusti puteri..."

"Bibi, kalau begitu, coba kau makan ketan itu dan minum kopinya!" kata pula Sindupati sambil menudingkan telunjuknya ke atas meja di mana terdapat sepiring kecil ketan kelapa dan secangkir kopi hitam.

"Tapi... tapi..." Wanita pelayan itu terbelalak memandang. Tentu saja la terheran dan tidak berani melakukan hal ini. Sarapan itu adalah persediaan untuk sang puteri, bagaimana ia berani minum dan memakannya? Juga beberapa orang pelayan yang tertarik oleh ribut-ribut dan berada di situ, terbelalak memandang heran.

"Tidak ada tapi! Hayo lekas makan dan minum ketan dan kopi itu atau kujejalkan nanti ke mulutmu!" bentak Raden Sindupati sehingga Endang Patibroto sendiri memandang heran. Tidak biasanya senopati muda ini bersikap demikian galak dan kasar. Akan tetapi karena ia menyangka tentu ada terjadi sesuatu, ia lalu berkata kepada pelayannya,

"Bibi, kalau memang engkau tidak mempunyai kesalahan dalam menghidangkan makanan dan minuman ini, mengapa kau tidak mau makan dan minum? Kau cobalah dan jangan takut, aku tidak akan marah."

Karena sang puteri yang dilayaninya sudah memberi ijin, terpaksa, dengan muka pucat, pelayan wanita itu tidak membantah lagi. Jari-jari tangannya gemeter ketika ia mengambil piring ketan dan memakan isinya sampai setengahnya. Kemudian iapun minum kopi itu sampai setengah cangkir. Tidak terjadi apa-apa!

"Kakang Sindupati..." Endang Patibroto hendak menegur senopati itu akan tetapi menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, si wanita pelayan menjerit dan roboh terguling mencengkeram perutnya sendiri, merintih-rintih kemudian berkelojotan dan tewas.

Endang Patibroto cepat menyambar piring ketan, mengambil ketan sedikit dan memasukkan ke mulut. Begitu lidahnya merasai ketan Itu, cepat dibuang dan diludahkannya kembali. Demikian pula ia mencicipi kopi yang cepat ia ludahkan keluar. Sikapnya tenang-tenang saja dan ia tidak tahu betapa Sindupati memandangnya dengan kagum dan khawatir. Kemudian ia membalikkan tubuhnya memandang senopati itu,

"Kakang Sindupati, ketan dan kopi mengandung racun. Bagaimana kau bisa tahu?"

Di dalam hatinya, Sindupati tersenyum girang. Untung ia berlaku cerdik, pikirnya. Tadinya, Sang Adipati Menak Linggo yang mengusulkan rencana untuk membunuh Endang Patibroto dengan jalan meracunnya, mencampurkan racun dalam makanan dan minumannya.

"Wanita itu terlalu sakti, terlalu berbahaya," demikian antara lain sang adipati berkata, "biarpun sekarang kelihatan bersekutu dengan kita, akan tetapi sekali rahasia kita terbongkar, ia merupakan ancaman bahaya yang tak boleh dipandang ringan. Aku menghendaki agar dia mati, biar dengan cara apapun juga. Dan kaulah orangnya yang kuserahi tugas untuk membunuhnya, Sindupati"

Untung bahwa Sindupati memiliki kecerdikan yang luar biasa dan ia membeberkan rencananya kepada sang adipati.

"Hamba yakin bahwa seorang sakti seperti Endang Patibroto, tidaklah mudah diracun begitu saja, gusti adipati. Mencampurkan racun ke dalam makanan dan minumannya adalah amat berbahaya karena selain belum tentu ia akan dapat diracuni karena memiliki daya tahan dan daya penolak untuk itu, kalau ketahuan bukankah akan menggagalkan semua rencana? Hamba mempunyai siasat yang lebih halus lagi."

la lalu menuturkan siasatnya dan sang adipati menyetujuinya. Dan apa yang terjadi pada pagi hari ini adalah hasil daripada siasatnya yang amat licik. Ia diam-diam, tanpa setahu si pelayan, menaruh racun ke dalam ketan dan kopi, kemudian dia pula yang datang memberi peringatan kepada Endang Patibroto, bahkan secara kejam sekali ia memaksa si pelayan yang sebetulnya tidak tahu apa-apa itu untuk makan dan minum sarapan pagi yang sudah ia campuri racun sampai tewas!

Ketika melihat Endang Patibroto dapat mengenal racun hanya dengan mencicipi sedikit ketan dan kopi itu, terbuktilah kebenaran dugaannya. Andaikata tidak ia peringatkan sekalipun, Endang Patibroto akan tahu tentang racun dan tidak akan menjadi korban, bahkan akan menjadi curiga! Kini, dengan mengorbankan nyawa si pelayan, ia dapat menangkan kepercayaan Endang Patibroto bahkan tampaklah ia sebagai seorang yang baik dan setia kawan, membuat ia makin menonjol dalam pandangan wanita sakti ini!

Ketika ditanya oleh Endang Patibroto bagaimana ia bisa tahu bahwa sarapan itu ada racunnya, ia sudah menyediakan jawabannya seperti yang ia rencanakan.

"syukur bahwa para dewata masih melindungimu, diajeng," demikian jawabnya setelah ia memerintahkan para pengawal untuk membawa pergi mayat si pelayan dan di situ tidak terdapat orang lain lagi. "Alangkah ngerinya! Kalau sampai diajeng menjadi korban racun...aaahhh... betapa mungkin aku dapat hidup lebih lama lagi... !" Wajahnya pucat, suaranya menggetar dan ia melangkah maju, seperti hendak meraih dan memeluk karena hatinya terharu dan tegang. Akan tetapi Endang Patibroto melangkah mundur dan berkata,

"Bahaya telah lewat, kakang Sindupati. Sungguh untung bahwa kakang telah tahu dan dapat memperingatkan aku, sungguhpun belum tentu aku akan dapat diracun begitu saja. Duduklah dan ceritakan, bagaimana engkau bias mengetahui akan perbuatan keji itu!"

Melihat wanita itu tidak melayani hasratnya, Sindupati tidak memaksa dan segera mengambil tempat duduk. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan kedua tangannya yang ditaruh di atas meja masih gemetar. Sesungguhnya bukan gemetar karena kekhawatirannya terhadap Endang Patibroto, melainkan gemetar karena girang melihat berhasilnya siasatnya dan karena nafsu berahi yang menggelora!

"Diajeng Endang Patibroto, jantungku masih berdebar seakan-akan hendak pecah kalau kuingat betapa keselamatan adinda terancam maut yang mengerikan tadi! Ketahuilah, bahwa biarpun kami tidak berhasil menangkap si penjahat Tejolaksono atau siapapun dia yang menyerbu kamar adinda, akan tetapi aku diam-diam selalu menaruh penyelidik dan mata-mata di sekitar istana untuk mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan. Semalam, demikian menurut penyelidikku, terlihat pelayan laknat itu mengadakan pertemuan dengan seorang yang tak dikenal di taman. Ketika para penyelidik hendak menyergap, orang itu berkelebat Ienyap cepat sekali. Para penyelidik segera melapor kepadaku dan aku menjadi curiga kepada pelayan itu. Semalam aku tidak tidur memikirkan segala kemungkinan dan akhirnya aku teringat bahwa pelayan yang bertugas melayani makan minummu itu tentu hendak melakukan sesuatu atas perintah musuh keparat itu. Aku menghubungkan segala sesuatu dan mengambil kesimpulan bahwa mungkin si jahat itu hendak meracunimu. Cepat-cepat aku lalu berlari ke sini dan syukur bahwa kau belum makan atau minum sarapanmu!" Kembali ia menggigil.

Endang Patibroto tersenyum. Terharu juga hatinya. Senopati muda ini benar-benar amat memikirkan keselamatannya sehingga menyiksa diri sendiri sedemikian rupa. Karena terharu dan berterima kasih, ia mengulurkan tangan dan menyentuh tangan senopati itu di atas meja.

"Terima kasih, kakang Sindupati. Engkau memang baik sekali terhadap diriku."
Sindupati cepat memegang tangan yang halus itu dan meremas jari-jari tangan Endang Patibroto.

"Diajeng... aku... aku menyediakan nyawaku untukmu dan...."

Endang Patibroto menarik tangannya terlepas dari genggaman Sindupati. "Kakang Sindupati," katanya cepat-cepat memotong kalimat yang diucapkan senopati itu, "sungguh amat disayangkan bahwa kakang terburu nafsu tadi. Kalau saja pelayan itu tidak dibunuh dan kini masih hidup, tentu kita dapat memaksanya mengaku siapa orangnya yang menyuruh dia menaruh racun dalam sarapanku."

Wajah yang tampan itu kelihatan marah sekali, matanya bersinar-sinar. "Siapa dapat menahan kemarahan, diajeng? Melihat dia hendak meracunimu! Aku sudah cukup bersabar. Kalau tidak melihat dia seorang wanita tua, sudah kuhancurkan kepalanya tadi! Akan tetapi jangan khawatir, diajeng, aku sudah mempunyai siasat yang baik sekali, yang dapat memastikan keluarnya penjahat itu!"

Endang Patibroto maklum bahwa senopati di depannya ini, di samping kesaktiannya, juga memiliki kecerdikan luar biasa, maka ia segera memandang penuh perhatian dan bertanya, "Bagaimana siasatmu, kakang Sindupati?"

"Beginilah seharusnya diatur. Sudah jelas bahwa siapapun, adanya orang yang malam itu mendatangimu, dan mungkin sekali Adipati Tejolaksono melihat dari kesaktiannya dan aji pukulan Pethit Nogo seperti yang adinda katakan kini berada dalam persembunyiannya dan masih berada dalam kota raja. Dan jelas pula bahwa dia tentu menanti saat yang baik untuk bertemu dengan engkau, karena kalau menghadapi pengeroyokan semua senopati dan pengawal, tentu dia tidak berani, betapapun juga hebat kepandaiannya. Oleh karena itu, tiada jalan lain kecuali memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya dan satu-satunya orang yang dapat memancingnya keluar, adalah diajeng sendiri."

Endang Patibroto mengangguk-angguk akan tetapi keningnya yang kecil panjang dan hitam seperti dilukis itu berkerut. Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan ia tidak suka akan segala macam siasat. Akan tetapi, iapun tahu bahwa ucapan ini mengandung kebenaran. Kalau tidak keliru dugaannya, tentu Joko Wandiro sedang menanti kesernpatan untuk turun tangan terhadap dirinya, dan karena maklum bahwa dia merupakan lawan tanding dan berat, tentu saja Joko Wandiro berlaku hati-hati dan tidak sembrono.

Memang benar kalau sampai dikeroyok, betapapun saktlnya Joko Wandiro, tidak mungkin dapat menang. Kebenciannya terhadap Joko Wandiro sudah bertambah-tambah ketika terdapat bukti bahwa ia hendak diracun tadi, sungguhpun ia masih meragu apakah Joko Wandiro sudi melaksanakan hal semacam itu, hal yang amat pengecut dan rendah sedangkan ia tahu betul bahwa Joko Wandiro bukan seorang pengecut, apalagi berjiwa rendah!

"Bagaimana rencanamu untuk memancingnya, kakang Sindupati?"

"Malam ini juga sebaiknya diajeng keluar dari istana dan berada seorang diri di tempat yang sunyi. Untuk itu, menurut rencanaku, taman istana merupakan tempat yang amat baik. Kalau diajeng muncul pada malam hari di ternpat sunyi seorang diri, aku merasa yakin bahwa penjahat itu tentu akan muncul. Aku akan mengepung tempat itu dan kalau dia muncul, kita maju menangkapnya. Orang ini harus ditangkap untuk diperiksa dan dIketahui apa maksud datangannya di Blambangan. Gustl adipati ingin sekalI mengetahui, karena selain hendak mencelakai diajeng, siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Jenggala atau Panjalu yang berbahaya."

Di dalam hatinya, Endang Patibroto kurang setuju. Akan tetapi ia tidak melihat cara lain untuk menghadapi Joko Wandiro. Ia sendiripun ingin melihat orang itu tertangkap, ingin melihat Joko Wandiro dikalahkan untuk memuaskan hatInya yang diracuni kebencian. Kalau Joko Wandiro memusuhinya dan menjadi utusan Pangeran Darmokusumo untuk membunuhnya, mengapa ia harus ragu-ragu untuk membantu Sindupati menangkap Joko Wandiro?

"Baiklah, malam nanti aku akan berada di dalam taman."

"Sebaiknya menjelang tengah malam jika semua penghuni istana sudah tidur, agar jangan meragukan hati penjahat itu diajeng."

Endang Patibroto setuju dan berundinglah mereka berdua untuk menghadapi dan menangkap Joko Wandiro atau Adlpati Tejolaksono seperti yang diduga penuh keyaklnan oleh wanita sakti ini. Dengan hati girang Raden Sindupati lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan persiapan. Ia menghubungi para senopati yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga Ki Patih Kalanarmodo dan Mayangkurdo, kemudian mempersiapkan pula seratus orang perajurit pilihan termasuk dua losin barisan anak panah yang mengepung taman sari dengan busur dan anak panah siap di tangan masing-masing.

Malam hari itu, Adipati Tejolaksono atau yang kini berganti nama menjadi Sutejo tukang kuda, rebah di atas setumpukan jerami kering di dalam kamar di dekat kandang kuda. Hatinya gelisah sekali dan berkali-kali ia menghela napas panjang. Sudah beberapa pekan ia bekerja di situ sebagai tukang kuda, namun belum juga ia berhasil bertemu empat mata dengan Endang Patibroto.

Ia tidak berani lagi secara sembrono mendatangi tempat Endang Patibroto setelah malam itu hampir saja ia tertangkap. Kalau sampai ia dikenal orang, tentu keadaan wanita itu akan menjadi terancam keselamatannya. Ah, dia sudah meninggalkan tanda tapak jari Aji Pethit Nogo, tidak mungkin Endang Patibroto tidak mengenalnya! Mengapa Endang Patibroto tidak mencarinya, bahkan para senopati dan pengawal yang berkeliaran mencari?

Penjagaan makin diperketat sehingga ia tidak berani sembrono memperlihatkan diri, lebih tekun bekerja menyembunyikan diri di balik penyamarannya sebagai tukang kuda. Ia sudah mendengar percakapan para perwira yang seringkali datang jika membutuhkan kuda tunggangan mereka tentang keadaan Endang Patibroto, malah ia mendengar pula bahwa Raden Sindupati, senopati yang menjadi tokoh penting dan dipercaya sang adipati, agaknya jatuh cinta kepada Endang Patibroto!

Ia mendengar pula percakapan para perwira tentang watak Raden Sindupati yang tak pernah mau melewatkan begitu saja wanita denok! Semua ini tidak menggelisahkan hati Tejolaksono. Yang membuat ia terkejut sekali adalah ketika siang hari tadi ia mendengar bahwa Endang Patibroto nyaris menjadi korban peracunan dalam santapan paginya. Ia harus cepat-cepat menemui Endang Patibroto yang terancam keselamatannya, malam hari ini juga, sebelum ia terlambat!

Demikianlah, menjelang tengah malam, tukang kuda Sutejo ini melompat keluar dari kamarnya dan sebentar saja ia sudah berlompatan di atas atap dengan kecepatan luar biasa. Malam itu masih terang bulan dan kebetulan tidak ada mendung sehingga sinar bulan menerangi permukaan bumi. Dengan pandang matanya yang tajam dan waspada, ketika melewati atap istana, Tejolaksono dapat melihat berkelebatnya bayangan yang amat cepat menuju ke taman sari, yaitu taman bunga yang amat luas dan indah dari istana Kadipaten Blambangan.

Hatinya berdebar keras. Bayangan seorang wanita yang bertubuh langsing. Tidak salah dugaannya ketika ia melihat wajah bayangan itu. Siapa lagi wanita yang dapat bergerak secepat itu kalau bukan Endang Patibroto! Dengan girang sekali Tejolaksono lalu melompat turun dan mengikuti dari jauh. Hatinya makin berdebar ketika ia melihat Endang Patibroto memasuki taman sari lalu duduk di atas bangku di tengah taman sari itu, lalu termenung menghadapi kolam ikan emas yang penuh dengan teratai putih.

Sejenak Tejolaksono memandang tubuh yang duduk termenung itu dengan hati terharu. Inilah Endang Patibroto, wanita yang sejak kecil ia kenal, yang pernah menjadi musuhnya berkali-kali, lawan terberat yang pernah ia jumpai. Endang Patibroto, puteri kandung bibi Kartikosarl dan ayah angkatnya, Pujo. Masih tunggal guru dengannya, ketika keduanya di waktu kecil digembleng oleh Resi Bhargowo di Pulau Sempu (baca Badai Laut Salatan).

Telah sepuluh tahun ia tidak pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto yang semenjak menjadi isteri Pangeran Panjirawit tak pernah meninggalkan istana suaminya. Kini, secara aneh terlibat oleh peristiwa-peristiwa .yang tak tersangka-sangka, mereka kembali bertemu dl Blambangan. Sungguh tidak dapat disangka lika-liku hidup ini. Ia melangkah maju menghampiri dan memanggil lirih,

"Endang....!"

Tubuh yang duduk diam seperti arca itu tiba-tiba bergerak melompat sambil memutar tubuh menghadapi Tejolaksono, sepasang mata yang seperti bintang bercahaya dan suaranya penuh teguran,

"Joko Wandiro, ternyata benar engkau...!!!"

Tejolaksono terpesona memandang Endang Patibroto masih tetap seperti dahulu, seakan-akan tidak bertambah sepuluh tahun usianya. Masih tetap cantik jelita dan masih penuh semangat, panas dan galak seperti dahulu. Mendengar suaranya ketika menyebut nama kecilnya dengan nada marah, Tejolaksono mau tak mau tersenyum.

"Benar aku, Endang Patibroto. Akan tetapi namaku sekarang Tejolaksono...."

"Tidak perduli Joko Wandiro atau Tejolaksono, engkau tetap selalu memusuhiku! Engkau... pengecut rendah. Memang sudah kunanti-nanti kau." Sambil berkata demikian, Endang Patibroto sudah menerjang maju dengan cepat dan tangkas, mengirim tamparan ke arah kepala Tejolaksono. Tangannya ketika berkelebat itu mengeluarkan angin panas menyambar.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Plakk I!" Endang Patibroto menjadi miring kedudukan tubuhnya ketika Iengannya bertemu dengan tapak tangan Tejolaksono yang menangkisnya. Akan tetapi secepat kilat Endang Patibroto sudah memukul lagi ke dada lawan. Tejolaksono melompat mundur sambil beseru,

"Nanti dulu, Endang.... engkau salah sangka..."

"Weerrrr... plakk!" Kembali Tejolaksono terpaksa menangkis karena tamparan yang menyusul hantaman ke tiga tak dapat ia elakkan lagi, demikian cepat sekali datangnya. Kembali keduanya terdorong ke belakang.

"Endang, dengarlah keteranganku......... kau... kau tertipu... masuk perangkap...!" Adipati Tejolaksono kembali melejit ke kanan agak jauh untuk menghindari tendangan kilat yang disusul hantaman Aji Wisangnala yang ampuhnya menggiriskan.

"Engkau utusan Panjalu, hayo menyangkallah kau manusia palsu!"

"Betul, memang sang prabu di Panjalu yang mengutusku menyusul dan mencarimu, tapi semua pembunuhan keji itu..."

"Tak usah banyak cakap. Aku sudah tahu semua! Aku tahu siasat Darmokusumo yang jahat. Aku tahu...! Aku tahu.... Semua kesalahan ditimpakan pada diriku. Dan kau datang untuk menangkapku, menyeretku ke depan kaki Raja Panjalu dan Raja Jenggala yang jahat!"

"Endang....!

"Cukup! Tak usah banyak cerewet lagi. Kau sudah mencoba menangkapku malam itu, kemudian.... kemudian mencoba meracuniku... aku tidak takut. Hayo majulah, kalau tidak engkau yang menggeletak tewas di sini, tentu aku!"

Kembali Endang Patibroto sudah menerjangnya dengan dahsyat sekali. Wanita ini teringat akan semua peristiwa yang menimpa dirinya, teringat akan kematian suaminya dan kini melihat Joko Wandiro yang hidupnya selalu lebih bahagia daripadanya, membuat ia menumpahkan semua kebencian dan kemarahannya kepada musuh lama ini.

"Endang, dengar dulu... kau tertipu..." Akan tetapi pada saat itu tampak banyak sekali bayangan manusia berkelebat dan ternyata tempat itu sudah terkurung oleh belasan orang senopati dan perwira yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Kalanarmodo dan Sindupati.

"Tangkap mata-mata....!" terdengar teriakan-teriakan di sekeliling tempat itu.

Tejolaksono terkejut sekali, tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi kepungan seperti ini. Ketika dua orang senopati menerjang dari kiri ia menggerakkan kaki tangan dan dua orang lawan itu roboh terjengkang!

"Wuuuttt....!!" Tejolaksono cepat membuang diri ke kiri karena pukulan Endang Patibroto dari kanan itu dahsyat sekali datangnya.

"Endang, larilah. Mari kau ikut aku lari, Endang....sebelum terlambat. Marilah, nanti aku beri penjelasan..."

Namun Endang Patibroto tidak memperdulikannya dan pada saat itu, Raden Sindupati, Mayangkurdo, Ki Patih Kalanarmodo, Klabangkoro, Klabangmuko dan beberapa orang senopati yang lain yang pilihan telah menerjang maju. Cepat Tejolaksono menggerakkan tubuhnya, kaki tangannya menyambar dan sambil menangkis semua hantaman lawan, la telah berhasil merobohkan Klabangmuko dan Klabangkoro dengan tendangan berantai. Akan tetapi, karena ia dihujani serangan, seperti juga senopati-senopati yang ia robohkan tadi, Klabangkoro dan Klabangmuko tidak terluka parah dan dapat bangkit kembali sambil meringis kesakitan.

"Ehh.... dia ini si Sutejo tukang kuda...!" Terdengar seorang perwira berseru kaget dan semua orang tercengang. Siapa kira bahwa penjahat yang dianggap maling haguna (maling sakti) dan selama ini dicari-cari itu ternyata adalah si tukang kuda yang baru! Orang dusun yang kelihatan bodoh, jujur, dan rajin bekerja! Kinipun pakaiannya masih sederhana, namun setelah bergerak, bukan main hebatnya!

Melihat banyaknya orang-orang yang mengeroyoknya, bukan orang-orang sembarangan pula, dan melihat betapa taman itu terkepung oleh seratus orang lebih perajurit sehingga merupakan pagar manusia yang tebal, Tejolaksono mulai khawatir. Ia masih sibuk berkelebat ke sana ke marl menghadapi pengeroyokan para senopati yang kini sudah menggunakan senjata, dan untuk yang penghabisan ia berseru,

"Endang...dengarlah kepadaku. Mari kita lari bersama... masih ada waktu. Kalau kita berdua menyerang, tikus-tikus busuk ini tak mungkin dapat menahan kita...!"

Akan tetapi sebagai jawaban dari ajakan ini, Endang Patibroto kini malah mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dengan Aji Wisangnala yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dahsyat sekali ke arah lambung Tejolaksono. Itulah pukulan maut yang tak mungkin dapat ditahan, biar oleh seorang manusia sakti seperti Adipati Tejolaksono sekali pun!

Beberapa orang senopati yang terdekat sudah roboh mendengar pekik tadi dan Tejolaksono terkejut bukan main. Dia sedang menghadapi serbuan senjata yang banyak sekali, dan kini dari samping kanan Endang Patibroto memukulnya ke arah lambung dengan pengerahan aji yang sedemikian dahsyatnya!

Tidak ada pilihan lain baginya, mengelak tidak keburu lagi menangkis tentu kurang kuat dan tentu ia akan menjadi korban. Maka cepat ia membalikkan tubuh ke kanan dan menerima pukulan Wisangnala yang ampuhnya menggila itu dengan dorongan kedua telapak tangannya pula ke depan sambil mengerahkan Aji Brojo Dahono (Kilat Berapi) yang dahulu ia terima dari gurunya, Ki Patih Narotama.

"Desssss... !!!"

Dua pasang tangan bertemu permukaannya dan tubuh Endang Patibroto terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dalam keadaan pingsanI Akan tetapi, Tejolaksono juga terhuyung-huyung ke belakang, kepalanya pening pandang matanya berkunang. Kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, tentu Endang Patibroto akan terpukul tewas dan dia sendiri tidak akan terluka parah. Akan tetapi bagaimana ia tega untuk membunuh Endang Patibroto? Maka ia tadi hanya mengerahkan sebagian besar tenaganya, tidak sepenuhnya sehingga akibatnya sungguhpun ia dapat membuat Endang Patibroto pingsan, namun dia sendiri juga mendapat hantaman di sebelah dalam tubuhnya yang cukup hebat.

Sebelum Tejolaksono sempat memulihkan tenaga, banyak pukulan-pukulan keras dan penggada menghujani tubuhnya sehingga ia roboh pingsan. Segera para senopati menubruknya dan melibat-libat tubuhnya dengan ikatan-ikatan rantai yang amat kuat seperti seekor kerbau hendak disembelih saja. Kemudian, beramai-ramai mereka menggotong tubuh Tejolaksono sambil bersorak kegirangan.

Adapun Endang Patibroto yang pingsan itu sudah lebih dulu dipondong oleh Raden Sindupati dan dibawa pergi menuju ke... rumah senopati itu sendiri. Ketika Sindupati yang memondong tubuh Endang Patibroto tiba di rumah gedungnya, ia disambut oleh seorang wanita yang maslh amat muda dan berwajah cantik jelita akan tetapi pucat pasi mukanya.

"Kakangmas..."" Wanita itu menegur dan matanya terbelalak lebar.

Akan tetapi dengan kasar Sindupati membentak, "Minggir kau!" Lalu terus membawa tubuh Endang Patibroto memasuki kamarnya.

Wanita muda itu adalah selirnya, yaitu puteri Adipati Menak Linggo dari selir yang "dihadiahkan" kepada Sindupati. Dibentak seperti itu, wanita ini minggir dan terisak menangis, akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya pergi memasuki sebuah kamar lain dan membanting tubuh di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu. Semuda itu, sudah terlampau banyak ia menderita tekanan batin semenjak setahun yang lalu ia diberikan kepada Sindupati, dijadikan benda permainan senopati itu yang sama sekali tidak memperdulikan hati wanita muda ini.

Endang Patibroto masih merasa pusing sekali dan napasnya agak terengah ketika ia mendengar suara yang halus,

"Minumlah, diajeng.... minumlah madu tentu akan sembuh dan enak badanmu....!"

Segera ia merasa ada benda menempel bibirnya. Ia berada dalam keadaan setengah sadar akan tetapi dapat mengenal suara Sindupati, maka tanpa membuka mata ia segera membuka mulut dan minum madu manis dan harum dari cangkir itu dengan penuh kepercayaan. Memang enak rasanya, dan mendatangkan rasa hangat di dadanya. Madu yang manis dan harum bercampur jamu, Ia masih meramkan matanya, mengingat-ingat. Kemudian teringatlah ia akan pertandingan tadi. Tadikah? Ia tidak tahu bahwa ia telah rebah pingsan selama setengah malam.

Joko Wandiro, alangkah berat lawan itu. Teringat ia betapa pukulan Wisangnala membentur gunung karang dan tenaga aji itu membalik, membuat dadanya sesak dan tubuhnya terlempar ke belakang. Bukan main hebatnya Joko Wandiro.
Tangan yang lembut membelai rambutnya dahinya lalu turun ke pipinya, terus ke lehernya. Bisikan-bisikan yang tadinya hampir tak terdengar, kini mulai terdengar, lirih-lirih dekat telinga.

"Diajeng Endang Patibroto... alangkah cantik jelita engkau, alangkah gagah perkasa... ah, adinda... aku cinta padamu, diajeng... Jari tangan itu turun ke atas dada dan... bibir yang panas menempel mulutnya!

Endang Patibroto hampir saja tenggelam karena terbayang ia kepada kemesraan bercinta dengan suaminya, membayangkan bahwa yang berbisik-bisik, membelai dan menciumnya itu adalah suaminya. Akan tetapi ia segera teringat dan tersentak kaget. Bukan suaminya yang sudah mati, melainkan Raden Sindupati! Segera ia mendorong sambil melompat bangun dari atas pangkuan karena tadinya ia rebah telentang dengan kepala di atas pangkuan Sindupati yang duduk di atas pembaringan. Tubuh Sindupati terlempar keluar dari pembaringan dan seperti seekor burung kepinis, Endang Patibroto sudah melompat turun dan berdiri menatap Sindupati yang terbanting roboh di atas lantai.

"Diajeng..." Sindupati merintih.

Merah wajah Endang Patibroto. Kamar ini terang dan kiranya sinar matahari telah bersinar masuk melalui celah-celah daun jendela kamar itu. Sebuah kamar yang indah. Dan ia tadi berada di atas pembaringan, bersama Sindupati, sejak malam tadi, ia memandang senopati itu, bingung karena merasa malu, menyesal bercampur marah.

"Maaf, kakang Sindupati. Akan tetapi... aku... aku tidak dapat menerima cinta kasihmu! Betapapun baik engkau sudah terhadap diriku, namun... hemm... jangan sekali-kali berani meraba diriku lagi karena lain kali... aku akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Endang Patibroto lalu melompat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri.

"Diajeng.... Endang Patibroto... !!"

Namun seruan Sindupati ini tidak terjawab dan senopati ini lalu merangkak bangun. Belakang kepalanya yang terbentur lantai menjendol dan terasa nyeri. la menyeringai, mukanya menjadi merah padam, kedua tangannya dikepal dan ia menggumam dengan marah,

"Hemm..... Endang Patibroto, engkau tak mau disayang orang! Lihat saja engkau nanti! Tidak bisa mendapatkan dirimu secara halus, aku akan menggunakan kekerasan! Ha-ha-ha, awas engkau jangan kira dapat melepaskan diri begitu saja dari tangan Raden Sindupati!"

Kalau saja Endang Patibroto dapat mendengar ucapan dan sikap Sindupati setelah ia meninggalkan kamar senopati itu, tentu ia akan menjadi kaget sekali. Akan tetapi, Endang Patibroto sudah berlari jauh dan di dalam hatinya wanita ini malah merasa kasihan kepada Sindupati. Ia menganggap senopati itu amat baik dan biarpun tadi telah berani menjamah tubuhnya, bahkan mencium bibirnya, namun ia dapat memaafkan perbuatan yang ia anggap terdorong oleh cinta kasih yang mendalam!

Seorang wanita seperti Endang Patibroto, tentu saja tidak dapat membedakan antara cinta kasih murni seperti cinta kasih mendiang suaminya, dengan cinta berahi seperti cinta seorang pria macam Sindupati yang menjadi hamba daripada nafsu berahi dan menginginkan tubuhnya karena ia cantik jelita belaka, seperti rasa sayang seorang akan setangkai bunga mawar. Jika masih segar dinikmati keindahannya dan harumnya, jika sudah bosan dan kembang itu melayu lalu dibuang begitu saja!

Ketika Endang Patibroto memasuki tempat tinggalnya, ia mendengar dari para pengawal bahwa Adipati Tejolaksono telah tertangkap dan kini sedang mengalami siksaan di dalam penjara!

"Menurut keputusan gusti adipati, mata-mata itu yang telah menewaskan tujuh orang pengeroyok semalam, akan dihukum picis di alun-alun sore hari nanti!" demikian antara lain para pengawal memberitahukannya.

Berdebar jantung Endang Patibroto. Dihukum picis! Hukuman yang mengerikan. Tubuh orang hukuman akan diikat di alun-alun, dan setiap orang boleh menggunakan sebuah pisau tajam yang tersedia di situ untuk mengerat kulit dan daging si terhukum, kemudian algojo akan mengoleskan asam dan garam pada goresan pisau! Si terhukum tidak akan mati seketika, melainkan mati perlahan-lahan, menderita siksaan ngeri yang tiada taranya, kemudian mungkin baru pada keesokan harinya mati kehabisan darah! Ia membayangkan wajah Joko Wandiro dan Endang Patibroto meramkan mata.

Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang. Teringat ia akan semua kebaikan Joko Wandiro. Betapa pria itu kini telah menampung ibu kandungnya, betapa Joko Wandiro tidak mendendam kepadanya biarpun dialah yang membunuh ibu kandung Joko Wandiro! Betapa dahulu ia amat tertarik kepada Joko Wandiro, betapa ia merindu, haus akan kasih sayangnya namun pada lahirnya ia selalu bersikap keras dan bermusuh. Bahkan terbayang pula betapa seringkali, sebelum akhirnya ia jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Pangeran Panjirawit, seringkali ia membayangkan wajah Joko Wandiro di kala suaminya itu mencumbunya.

"Tidak...! Tidak boleh....!" Demikian teriak hatinya dan dengan kepala masih pening, dengan langkah terhuyung-huyung Endang Patibroto lalu lari menuju ke penjara!

Para penjaga yang menjaga penjara dengan ketat, semua mengenal Endang Patibroto dan tidak seorangpun di antara mereka berani mencegah ketika Endang Patibroto memasuki penjara. Bahkan Mayangkurdo yang bertugas mengepalai barisan penjaga, hanya bertanya,

"Apakah perlunya menemui keparat itu? Gusti adipati sudah memutuskan hukum picis, harap saja paduka jangan membunuhnya!"

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 07