Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 05

Kartikosari mengangguk. "Ki Tunggaljiwa?" Wanita ini sudah dapat menduga apa yang dipikirkan sang adipati. Tejolaksono mengangguk.

"Saya tidak menyangka bahwa orang tua itu mempunyai niat buruk. Akan tetapi, hemm... keadaannya juga amat aneh. Oleh karena Itulah sepeninggal saya ke Panjalu, saya harap bibi berdua sudi membantu Ayu untuk mengamat-amati Bagus Seta. Tentu saja hal Ini sudah dan akan bibi lakukan tanpa saya minta, akan tetapi... hati saya akan lega dalam perjalanan kalau saya sudah membicarakan hal ini secara berdepan begini dengan bibi yang saya percaya dan hormati setingginya."

Kartikosari tersenyum. Biarpun Roro Luhito lebih pandai bicara daripadanya, akan tetapi menghadapi segala urusan, selalu dia yang menjadi dan penentunya. Roro Luhito hanya akan mengikuti semua jejaknya.

"Anakku adipati, kami mengerti perasaanmu setelah pengalamanmu bersama Bagus Seta di dalam hutan. Dan bukan hal yang kebetulan saja ucapan Ki Tunggaljiwa kepadamu yang meramalkan bahwa dalam waktu singkat ananda akan pergi dari Selopenangkep. Oleh karena itu, harap engkau waspada dan hati-hati dalam perjalanan menunaikan tugas yang dibebankan oleh sang prabu kepadamu. Adapun tentang keadaan di Selopenangkep sepeninggalmu, harap legakan hati dan jangan khawatir. Isterimu, Ayu Candra bukan seorang anak-anak melainkan seorang ibu yang tentu akan dapat menjaga putera dan rumah tangga sebaiknya. Adapun kami, kedua bibimu ini, tentu saja akan mengamat-amati kesemuanya dan akan membela Selopenangkep seisinya dengan taruhan nyawa."

Ucapan Kartikosari yang tenang dan mantap ini membuat hati Adipati Tejolaksono menjadi lega. Lapang rasa dadanya dan ia dapat pergi dengan tenang. Ayu Candra juga sadar bahwa ketidakrelaannya yang diperlihatkan atas kepergian suaminya, amatlah tidak baik. Suaminya adalah seorang yang sakti mandraguna. Kalau hanya menghadapi seorang penjahat pengecut saja, memang tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.

Demikianlah, pada pagi hari itu juga, Adipati Tejolaksono meninggalkan Selopenangkep, menunggang seekor kuda berbulu dawuk yang besar dan kuat, membawa perbekalan dan tidak lupa membawa senjata pusakanya, yaitu keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh yang mengeluarkan sinar keputihan seperti awan. Hatinya tenang karena kepergiannya diantar senyum penuh kepercayaan oleh isteri dan kedua biblnya, dan dibekali peluk cium puteranya, Bagus Seta.

Akan tetapi ketenangan hati Adipati Tejolaksono lenyap seperti awan ditiup angin ketika perjalanannya membawa ia makin mendekati Kerajaan Panjalu. Ia melakukan perjalanan ini seorang diri, tidak berpengawal karena apakah artinya pengawal bagi seorang sakti seperti adipati muda ini? Apalagi, perjalanannya kali ini adalah perjalanan untuk melakukan penyelidikan dan mencari seorang penjahat sakti sehingga perlu ia lakukan dengan diam-diam.

Hatinya makin gelisah setelah ia dekat dengan Kerajaan Panjalu karena santer terdengar olehnya akan desas-desus tentang pembunuhan-pembunuhan itu. Apalagi setelah pada suatu pagi ia tiba di luar kota raja, kagetnya bukan main mendengar berita bahwa di Kota Raja Panjalu terjadi geger yang hebat sekali. Yaitu tentang penyerbuan Endang Patibroto ke istana Pangeran Darmokusumo yang gagal.

Berita ini membuat ia terkejut dan termenung di atas kudanya yang ia hentikan di tepi jalan agar mendapat kesempatan makan rumput hijau. Endang Patibroto menyerbu dan berniat membunuh Pangeran Darmokusumo? Inilah hebat! Untung, menurut berita itu, bahwa penyerbuan itu dapat digagalkan oleh pasukan-pasukan Panjalu yang memang sudah berjaga-jaga. Nyaris Endang Patibroto tertangkap, demikian berita itu.

Penasaran memenuhi hati Adlipati Tejolaksono. Mengapa Endang Patibroto melakukan hal itu? Bukankah wanita ini telah menjadi seorang isteri berbahagia dari Pangeran Panjirawit dan hidup mulia di Kerajaan Jenggala? Bukankah Pangeran Darmokusumo itu masih saudara iparnya sendiri karena isteri Pangeran ini adalah adik kandung Pangeran Panjirawit? Ah, hampir tak dapat ia mempercayail berita aneh itu. Akan tetapi, bukan hanya dari satu dua orang ia mendengar berita ini!

Ia harus segera ke Jenggala, sekarang juga! Ia harus bertemu sendiri dengan Endang Patibroto dan bercakap-cakap dengan adik angkatnya itu. Sebelum melihat bukti dan mendengar keterangan dari mulut Endang sendiri, ia tidak akan mengambil tindakan tergesa-gesa dan harus amat berhati-hati karena ia sudah cukup mengenal watak Endang Patibroto yang boleh dikatakan sejak kecil selalu menjadi musuhnya (baca cerita Badai Laut Selatan).

Tanpa memasuki Kota Raja Panjalu, Tejolaksono lalu membedal lagi kudanya berangkat menuju ke Jenggala. Melalui jalan-jalan yang amat dikenalnya ini terkenang lagilah sang adipati akan masa mudanya, terkenang akan segala peristiwa yang terjadi pada dirinya belasan tahun yang lalu dan terkenanglah ia kepada Endang Patibroto, gadis sakti mandraguna yang amat galak terhadapnya dahulu itu. Endang Patibroto, yang sejak kecil selalu benci kepadanya, yang merupakan lawan terberat baginya, bahkan yang telah membunuh ibu kandungnya!

Wanita yang amat dikasihaninya, dikaguminya akan tetapi juga pernah dibencinya karena telah membunuh ibunya. Namun karena ibu kandungnya menjadi pembunuh ayah kandung wanita ini, maka kesadaran hatinya telah menyudahi rasa bencinya, dan berbalik ia menjadi kasihan kepada Endang Patibroto, apalagi setelah ia hidup berkecimpung di dalam kebahagiaan cinta kasih dengan isterinya, Ayu Candra. Dan hatinya ikut girang dan bahagia ketika ia mendengar berita bahwa Endang Patibroto juga hidup bahagia di samping seorang suami yang amat rnencintanya, yaitu Pangeran Panjirawit.

Akan tetapi sekarang muncul peristiwa yang amat aneh ini. Mula-mula terjadi pembunuhan-pembunuhan gelap, kemudian timbul desas-desus bahwa Endang Patibrotolah orangnya yang melakukan perbuatan pengecut dan keji ini. Dan sekarang, yang amat mengejutkan adalah berita tentang penyerbuan Endang Patibroto seorang diri di malam gelap untuk membunuh Pangeran Darmokusumo. Mana ia bisa percaya?

Hari telah menjadi malam ketika Adipati Tejolaksono memasuki Kota Raja Jenggala yang dahulu amat dikenalnya itu. begitu ia menuntun kudanya memasuki pintu gerbang, lima orang penjaga menghadang dan memandangnya penuh kecurigaan. Akan tetapi sebelum mereka sempat menegurnya, seorang di antara para penjaga yang sudah tua usianya memandang Tejolaksono penuh perhatian, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah adipati ini dan berkata gagap,

"Bukankah.... andika ini.... Raden Bagus Joko Wandiro..??"

Tejolaksono tersenyum. Sebetulnya ia, tidak ingin memperkenalkan diri, karena ia ingin diam-diam mengunjungi Pangeran Panjirawit dan menemui Endang Patibroto, tidak mau memberitakan tentang kedatangannya ke Jenggala kepada orang lain. Akan tetapi karena penjaga tua ini mengenalnya, ia tidak dapat menyangkal lagi dan mengangguk.

"Benar, paman. Aku ingin pergi mengunjungi Gusti Pangeran Panjirawit....." Tejolaksono menghentikan ucapannya ketika melihat perubahan muka kelima orang penjaga itu yang tampak nyata di bawah sinar lampu di pintu gerbang. Mereka itu terbelalak, jelas kaget sekali mendengar disebutnya nama pangeran itu. Ia menyangka pasti ada hal yang hebal terjadi, maka cepat ia bertanya,

"Ada terjadi apakah, paman?"

Penjaga tua itu bertanya, "Benarkah paduka ini Raden Bagus Joko Wandiro yang kini sudah menjadi gusti adipati di Selopenangkep?"

Kembali Tejolaksono mengangguk tak sabar. la tidak mempersoalkan dirinya, melainkan ingin mendengar tentang Endang Patibroto. Melihat orang muda ini mengangguk, lima orang penjaga itu lalu memberi hormat. Yang empat adalah penjaga-penjaga muda yang belum pernah melihat Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, akan tetapi sudah mendengar nama besar ksatria yang sakti mandraguna ini.

"Maafkan hamba berlima tadi berlaku kurang hormat, gusti adipati....!

"Ah, bangkitlah, paman dan harap suka menceritakan apa yang telah terjadi."

Dan Tejolaksono melongo keheranan ketika mendengar penjaga tua itu bercerita. Makin banyak ia mendengar, wajahnya makin keruh. Keheranan bercampur dengan kegelisahan dan tidak percaya. Bagaimana ia bisa percaya mendengar betapa Endang Patibroto benar-benar telah membunuh-bunuhi para ponggawa Jenggala dan Panjalu dengan ilmu hitam, kemudian betapa wanita sakti yang oleh para penjaga disebut iblis betina itu telah menyerbu istana Pangeran Darmokusumo, kemudian betapa Pangeran Panjirawit yang membela nama isterinya itu ditangkap sendiri oleh ayahnya, sang prabu di Jenggala lalu dipenjarakan. Betapa kemudian, iblis betina itu secara hebat dan seorang diri telah menyerbu penjara yang terjaga amat kuatnya, menyamar sebagai pria, sebagai penjaga kemudian berhasil melarikan suaminya itu dari penjara.

"Iblis itu hebat bukan main, gusti adipati. jelas bahwa dia bukan manusia biasa, melainkan iblis. Kalau manusia biasa, bagaimana bisa berhasil merampas gusti pangeran yang terjaga oleh ratusan orang prajurit dan pengawal? Bahkan dikerocok (dihujani) anak panah, masih berhasil melesat pergi seperti terbang saja dan keluar dari kota raja, entah ke mana, hanya setan yang tahu"

Adipati Tejolaksono hanya bisa mengeluarkan suara "ahh!" berkall-kali, kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pergi dari situ, meninggalkan para penjaga sambil menuntun kudanya, berjalan perlahan seperti orang mimpi melalui jalan yang amat gelap itu. la memang merasa seperti mimpi mendengar semua itu. Ia tersenyum kalau teringat akan keheranan para penjaga yang menceritakan tentang perbuatan Endang Patibroto membebaskan suaminya. Ia tidak heran mendengar itu. Seorang sakti seperti Endang Endang Patibroto tentu saja mampu melakukan hal itu, bahkan yang lebih daripada itu sekalipun!

Ia tersenyum kalau membayangkan betapa Endang Patibroto mempermainkan ratusan orang prajurit itu, membakari sebagian istana dan menyamar sebagai perajurit, kemudian melarikan diri, dikeroyok puluhan orang pengawal dan menangkis semua anak panah yang datang bagaikan hujan. Ia sudah tahu akan kesaktian wanita itu. Iblis betina? Ah, ia cukup tahu akan watak Endang Patibroto. Kalau sedang marah memang melebihi iblis, akan tetapi sebetulnya mempunyai dasar watak satria puteri utama! Akan tetapi, tidak habis keheranannya mendengar semua peristiwa itu.

Endang Patibroto membunuhi para ponggawa dengan ilmu hitam yang mujijat? Memang hal inipun tidak aneh dan bisa saja Endang Patibroto melakukannya, mengingat bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro yang jahat dan sakti seperti iblis sendiri. Akan tetapi, ia yakin bahwa tanpa alasan yang amat kuat, tak mungkin Endang Patibroto mau melakukannya, apalagi sebagai isteri Pangeran Panjirawit yang terkenal berbudi bawa-laksana!

Kalau begitu, apa sebabnya? Mengapa terjadi semua itu? Mengapa? Dan ke mana ia harus mencari Endang Patibroto? Ia tidak akan menjatuhkan sesuatu pendapat atau penilaian atas peristiwa semua itu sebelum ia mendengar sendiri dari orang yang bersangkutan, dalam hal ini Endang Patibroto dan suaminya. Ia harus mencari Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit. Ia menyesal mengapa tidak datang lebih pagi. Peristiwa penyerbuan penjara oleh Endang Patibroto itu baru terjadi dua hari yang lalu!

Adipati Tejolaksono memeras otaknya. Di dalam gelap, ia berhenti berjalan, lalu duduk bersila, merenung dan mengerjakan otaknya. Peristiwa ini terlalu aneh, tidak mungkin terjadi tanpa dasar yang amat kuat. Ia merasa yakin bahwa tentu ada sesuatu yang menggerakkan semua itu, sesuatu yang memaksa Endang Patibroto melakukan perbuatan-perbuatan hebat itu, yakni menyerbu istana Pangeran Darmokusumo dan kemudian menyerbu penjara membebaskan suaminya, melawan perajurit-perajurit mertuanya sendiri, Sang Prabu Jenggala! Dan, satu-satunya hal yang mungkin terjadi adalah bahwa tentu penggerak itu merupakan musuh besar Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

Siapa? Kadipaten Nusabarung merupakan musuh besar terakhir dari Jenggala, akan tetapi kadipaten itu telah dihancurkan. Siapa lagi yang dapat memusuhi Jenggala dan Panjalu? Memang banyak kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tunduk kepada kedua kerajaan ini, akan tetapi mereka itu tak mungkin dapat melakukan hal yang amat hebat ini.

Kemudian ia teringat. Bukankah kerajaan Adipati Nusabarung mempunyai sekutu yang amat besar dan kuat? Adipati di Blambangan! Ya, kiranya Kadipaten Blambangan inilah merupakan satu-satunya musuh besar yang termasuk kuat dan berbahaya. Akan tetapi bagaimana Blambangan dapat mempengaruhi Endang Patibroto?

Inipun kiranya tak masuk di akal karena setahunya, hubungan Endang Patibroto dengan pengaruh-pengaruh luar hanya dengan Dibyo Mamangkoro yang telah meninggal dunia, pula, Kerajaan Wengker di mana dahulu Dibyo Mamangkoro menjadi senopati besarnya, kini telah tiada pula. Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, menuntun kudanya, kemudian melompat naik ke punggung kudanya.

"Dawuk, satu-satunya peganganku hanya Blambangan. Semoga tidak salah perhitunganku. Kita ke Blambangan!" Ia menarik kendali kudanya dan mulailah ia melakukan perjalanan, menuju ke timur. Ke Blambangan!

Pada malam ke dua tibalah ia di lembah Sungai Menjangan setelah melewati Gunung Semeru. Tiba-tiba kudanya Si Dawuk mengeluarkan ringkik perlahan. Tejolaksono menjadi waspada, cepat meloncat turun dan membiarkan kudanya terlepas di dekat sungai di mana terdapat banyak daun dan rumput hijau gemuk. Kemudian ia berjalan ke sebelah kira ke mana tadi kudanya menoleh ketika mengeluarkan ringkikan. Ia percaya akan ketajaman indra ke enam yang amat tajam dari binatang tunggangannya.

Kalau Si Dawuk meringkik seperti itu, tentu ada apa-apa yang tidak wajar di sebelah kiri itu. Berindap-indap Adipati Tejolaksono berjalan dan matanya tajam meneliti keadaan sekelilingnya, siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama menerangi jagat raya dan biarpun keadaan remang-remang namun Tejolaksono dapat melihat dengan terang.

Tiba-tiba ia merighentikan langkahnya. Ada suara mengerang perlahan, agak jauh dari tempat ia berdiri. Agaknya suara itulah yang tadi mengejutkan kudanya. Suara itu terdengar memang aneh, bukan seperti suara manusia, akan tetapi juga tak pernah ia mendengar ada binatang yang suaranya seperti itu. Cepat ia melangkah maju ke arah suara. Kiranya suara itu terdengar dari sebuah jurang atau sumur tua yang dalamnya kurang lebih tiga meter. Dan di atas sumur itu, ia melihat sesuatu bergerak-gerak. Cahaya bulan tidak mencapai dasar sumur sehingga keadaan amat gelap.

"Kisanak, siapakah andika yang berada di dasar jurang?" tanya Tejolaksono sambil berjongkok di pinggir jurang. Lama ia menanti jawabannya. Namun tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara merintih lagi, kini jelas suara manusia mengaduh.

Ada manusia yang membutuhkan pertolongan! Adipati Tejolaksono yang berjiwa satria, tentu saja tidak membuang waktu untuk meragu di mana tenaganya dibutuhkan orang lain. Ia segera lari ke arah serurnpun bambu yang tumbuh tak jauh dari situ. Dengan pengerahan tenaga saktinya, tangan kanannya membabat ke bagian bawah sebatang pohon bambu dan....

"krakkk!" pohon itu jebol dan tumbang. Dia lalu menyeret pohon yang amat panjang itu, diturunkan perlahan ke dalam sumur. Ternyata pohon baru itu cukup tinggi sehingga dapat mencapai dasar sumur. Merayaplah Adipati Tejolaksono turun ke dalam sumur melalui batang pohon bambu.

Keadaan di dasar sumur gelap, remang-remang namun setelah matanya biasa dengan kegelapan itu, Tejolaksono dapat melihat sosok tubuh seorang laki-laki tinggi besar rebah miring sambil mengerang kesakitan. Ia meraba, lalu mengangkat tubuh itu dan memanggulnya. Perlahan ia memanjat batang bambu ke atas, kemudian mengerahkan tenaganya meloncat keluar lubang sumur.

"Aduh.... aduhh...!" Laki-laki tinggi besar itu ternyata tubuhnya berlumur darah. Ketika memeriksanya di bawah sinar bulan, tampak oleh Tejolaksono gagang sebatang keris tersembul keluar dari dadanya. Keris itu menancap di dada sampai ke hulu kerisnya.

"Paman, siapakah andika dan mengapa berada dalam sumur dalam keadaan begini?" Tejolaksono bertanya setelah melihat bahwa laki-laki tinggi besar itu adalah seorang kakek yang bertampang gagah dan bertubuh kuat sekali. Ia sudah terheran-heran mengapa kakek ini belum tewas oleh luka di dadanya yang hebat itu. Tahulah ia bahwa orang ini bukan orang sembarangan, karena kalau tidak berkepandaian tinggi tentu tak dapat bertahan.

Kakek itu mernbelalakkan matanya, mengerang lagi perlahan lalu berkata, "Terima kasih.... terima kasih..... aduhhh..... kasihan kau, gusti puteri Endang Patibroto.... aduhh, Gusti Dibyo Mamangkoro..... maafkan hamba.... Maafkan hamba tidak dapat melindungi murid paduka.... auugggghhh....!"

Adipati Tejolaksono terkejut sekali. Cepat ia menyentuh punggung orang itu, rnengerahkan aji kesaktian sehingga hawa panas keluar dari pusarnya melalui tangan dan menembus kulit punggung. Orang itu mengeluarkan seruan perlahan, agaknya terheran, kemudian napasnya yang terengah-engah itu mulai tenang.

"Kau... kau siapa....?" Agaknya kakek ini heran menyaksikan betapa orang yang mengangkatnya keluar dari sumur ini memiliki ilmu yang demikian hebat. Tadinya ia mengira bahwa yang menolongnya hanyalah seorang petani biasa.

"Paman, aku adalah saudara Endang Patibroto! Ke mana dia? Dan apakah yang telah terjadi dengannya? Katakanlah, pamanI"

"Uuhh... siapa kau...?"

AdIpati Tejolaksono berpikir sebentar. orang ini menyebut-nyebut nama Dibyo Mamangkoro, tentu anak buah guru Endang Patibroto itu. Kalau ia menyebut namanya yang sekarang, tentu tidak mengenalnya. Maka ia lalu berkata, "Paman, namaku adalah Joko Wandiro..."

Tiba-tiba orang Itu berseru dan tangannya yang besar itu melayang, menghantam ke arah muka Adlpati Tejolaksono. Tentu saja dengan mudah Tejolaksono mengelak dan orang itu kembali mengerang kesakitan.

"Aduh, keparat...! Kau... kau pembunuh gusti senopati Dibyo Mamangkoro... !"
Memang Adipati Tejolaksono dahulu telah membunuh manusia iblis itu (baca cerita Badan Laut Selatan).

"Paman, betapapun juga, aku adalah saudara Endang Patibroto. Kalau engkau gagal menolongnya, barangkali aku yang akan dapat menolongnya!"

"Benar.... uuhh, benar.... nah, dengarlah orang muda."

cerita silat online karya kho ping hoo

Kakek itu bukan lain adalah Ki Brejeng, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro. Seperti telah kita ketahui di bagian depan cerita ini, Ki Brejeng telah menjadi anak buah Raden Sindupati pemimpin pasukan Blambangan dan telah ikut menjalankan siasat membujuk dan mempengaruhi Endang Patibroto sehingga wanita yang bernasib malang itu terbujuk ikut dengan rombongan itu ke Blambangan.

Ketika rombongan tiba di lembah Sungai Menjangan, malam telah tiba dan mereka membuat pesanggrahan darurat di situ. Malam harinya, Raden Sindupati yang tak dapat menahan lagi nafsu hatinya yang sudah tergila-gila akan kecantikan Endang Patibroto, diam-diam dibantu oleh beberapa orang anak buahnya hendak menyergap wanita itu dengan menggunakan racun memabukkan dalam makanan yang dihidangkan kepada wanita itu.

Akan tetapi, Ki Brejeng yang merasa sayang kepada murid bekas junjungannya, tahu akan hal ini dan segera mencegahnya. Dia diam-diam masih amat setia kepada Dibyo Mamangkoro dan karena itu setia pula kepada Endang Patlbroto. Biarpun ia mau diajak menipu Endang Patibroto, namun diam-diam ia selalu memasang mata dan bersiap melindungi puteri yang dikasihinya ini.

"Demikianlah, raden.... aku mengganti makanan yang disuguhkan gusti puteri sehingga usaha keji Raden Sindupati itu tak berhasil. Akan tetapi.... mereka mengetahui perbuatanku ini maka ketika malam itu aku tidur, mereka menyergap. Sia-sia aku melawan. Mereka sakti dan akhirnya aku roboh tertikam kerisku sendiri yang terampas oleh Raden Sindupati,. Setelah sadar, aku mendapatkan diriku di dalam sumur sampai tiga hari tiga malam. Kebetulan kau dapat menolongku keluar....

Adipati Tejolaksono terkejut dan diam-diam ia makin kagum. Kakek ini hebat sekali. Terluka begitu parah masih dapat bertahan untuk hidup selama tiga hari tiga malam di dasar sumur!

"Akan tetapi, paman. Mengapakah paman Brejeng berada dalam rombongan Sindupati dan mengapa pula Endang Patibroto ikut bersama kalian?"

Dengan napas terengah-engah Ki Brejeng menceritakan riwayatnya, kemudian ia mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi, semua siasat Blambangan yang mempergunakan Wiku Kalawisesa untuk menyebar maut di antara para ponggawa kedua kerajaan dan betapa siasat itu selanjutnya menimpakan kesalahan di pundak Endang Patibroto, menyebar desas-desus kemudian betapa Endang Patibroto tertipu oleh penuturan Wiku Kalawisesa untuk mengadu domba dia dengan Pangeran Darmokusumo. Adipati Tejolaksono terheran-heran dan bukan main marahnya mendengar semua siasat jahat Blambangan itu.

"Demikianlah... dia... dia terbujuk... ikut ke Blambangan dan....dan... ah, nasibnya tentu... tertimpa bencana hebat di sana.... aku.... aku tak berhasil.... aaaahhhhh!" Tubuh tinggi besar itu mengejang lalu lemas dan habislah riwayat Ki Brejeng karena nyawanya telah meninggalkan badannya.

Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, mengepal tinju. Tak salah dugaannya. Blambangan yang berdiri di belakang semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu itu, dan Endang Patibroto yang menjadi korban. Ia menyesal sekali mengapa Ki Brejeng keburu tewas sehingga ia tidak dapat bertanya lebih jelas. Ia tidak tahu bagaimana jadinya dengan Pangeran Panjirawit, Endang Patibroto.

Dalam cerita yang singkat dan terputus-putus tadi, Ki Brejeng tidak menyebut-nyebut nama Pangeran Panjirawit dan dia sendiri yang pikirannya penuh dengan Endang Patibroto tidak ingat pula untuk menanyakannya. Kalau Endang Patibroto terkena bujukan orang-orang Blambangan, ia masih dapat menerimanya karena ia tahu bahwa Endang Patibroto yang tentu marah sekali karena dituduh melakukan pembunuhan-pembunuhan itu kemudian diadu domba dengan pihak Panjalu, tentu marah kepada kedua kerajaan itu dan mudah dihasut oleh orang Blambangan.

Akan tetapi, mengapa Pangeran Panjirawit tidak mencegahnya? Tentu pangeran itu tidak sudi melakukan pengkhianatan, tidak sudi bersekutu dengan Blambangan. Apakah pangeran itu tidak bersama Endang? Kalau begitu, ke mana gerangan perginya setelah berhasil diselamatkan Endang Patibroto dari dalam penjara?

"Tidak perlu bingung, paling perlu mengejar dan menyusul ke Blambangan!" pikirnya. "Endang Patibroto harus ditolong, kemudian bersama wanita itu datang menghadap kedua kerajaan untuk memberi laporan tentang keadaan sebenarnya yang telah terjadi." Setelah berpikir demikian Adipati Tejolaksono menggali sebuah lubang dan mengubur mayat Ki Brejeng. Ia melakukan hal ini karena mengingat akan jasa dan budi Ki Brejeng terhadap Endang Patibroto. Setelah selesai, menjelang pagi ia melanjutkan perjalanan. Ke Blambangan.

********************


Endang Patibroto merasa menyesal dan kecewa sekali mendengar penuturan Raden Sindupati bahwa Ki Brejeng semalam telah melarikan diri.

"Memang selama di Blambangan, dia selalu gelisah dan agaknya tidak kerasan. Dia yang sejak dahulu suka hidup bertualang dan bebas, agaknya tidak tahan hidup bermalas-malasan di Blambangan. Hanya karena ia merasa berhutang budi kepada Gusti Adipati Blambangan sajalah agaknya yang membuat kakek itu segan meninggalkan pekerjaannya. Akan tetapi, semenjak ia ikut bersama rombongan kami, makin tampak sifatnya yang suka akan alam bebas. Semalam, betapapun kami berusaha mencegahnya, ia tetap tidak mau mendengar dan melarikan diri. Kami tidak dapat menahannya dengan paksa. Kasihan orang tua itu, kalau memang dia ingin hidup bebas, biarlah," demikian antara lain keterangan Raden Sindupati kepadanya.

Endang Patibroto dapat menerima keterangan ini karena iapun mengenal watak seorang bekas anak buah gurunya seperti Ki Brejeng itu. Akan tetapi, sedikit banyak kepergian Ki Brejeng mempengaruhi hatinya, membuat ia kurang senang. Namun, karena ia harus membalas dendam hatinya kepada Kerajaan Jenggala dan Panjalu, ia harus mencari sekutu dan untuk menghadapi kekuatan barisan kedua kerajaan itu, maka Kadipaten Blambangan merupakan sekutu yang baik.

Selama dalam perjalanan, Raden Sindupati memperlihatkan sikap yang amat baik, sopan dan menghormat kepadanya sehingga senang juga hati Endang Patibroto. Ia mengambil keputusan bahwa kalau Adipati Blambangan kurang baik sikapnya, masih belum terlambat baginya untuk pergi dari Blambangan dan menuntut balas seorang diri saja.

Akan tetapi, ternyata bahwa Adipati Blambangan menyambut kedatangannya dengan sikap yang amat baik. Adipati itu seorang tinggi besar, mukanya penuh cambang bauk, kedua lengannya yang kuat dan besar itupun penuh rambut yang panjang seperti lengan monyet besar. Matanya lebar-lebar dan suaranya parau kasar, suka tertawa akan tetapi sikapnya yang kasar itu malah menyenangkan hati Endang Patibroto, mengingatkannya kepada mendiang gurunya, Dibyo Mamangkoro.

Adipati Blambangan itu bernama Adipati Menak Linggo, dahulunya seorang adipati- yang diangkat oleh raja di Bali, akan tetapi yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri tidak mengakui kedaulatan Raja Bali maupun Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Berkali-kali Kerajaan Bali mengirim pasukan untuk menyerang, namun selalu dipukul mundur oleh barisan Kadipaten Blambangan yang kini menjadi kuat dan memiliki banyak panglima-panglima yang sakti.

Adipati Menak Linggo yang tinggi besar dan tubuhnya penuh bulu itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Kabarnya, ketika gajah putih Dwipangga Seta yang didapatnya sebagai hadiah dari barat pada suatu hari mengamuk, kepalan tangan kanan Adipati Menak Linggo inilah yang menundukkannya, dengan sekali pukulan membikin pecah kepala gajah yang mengamuk itu sehingga tewas seketika!

Di samping tenaganya yang dahsyat, adipati ini wataknya keras dan dengan tangannya sendiri, ponggawanya yang bersalah akan dipukulnya mati sekali pukul. Akan tetapi, di samping kekerasan terhadap yang salah, adipati ini terkenal royal dan pandai mengambil hati ponggawa-ponggawa yang pandai dan berjasa sehingga para ponggawa yang pandai suka mengabdi kepadanya.

Sebagai contoh akan keroyalannya, karena melihat kesetiaan dan kepandaian Raden Sindupati, ia tidak saja membiarkan Raden Sindupati bermain gila dengan selir-selirnya yang cantik-cantik dan banyak jumlahnya, bahkan ia menyerahkan seorang di antara puteri-puteri selirnya yang baru berusia lima belas tahun untuk diselir oleh Raden Sindupati yang tak pernah mempunyai isteri.

Banyak sekali senopati-senopati yang sakti mandraguna dan pandai memimpin tentara bekerja di Blambangan. Selain Raden Sindupati yang selain sakti juga amat pandai bersiasat dan dua bersaudara Klabangkoro dan Klabangmuko yang kuat dan setia, masih terdapat banyak senopati-senopati yang sakti, di antaranya yang paling menyolok adalah Ki Patih Kalanarmodo, Patih Blambangan yang masih tunggal guru dengan Adipati Menak Linggo.

Kalau sang adipati berusia lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar, ki patih ini usianya lebih tua lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi kalau orang, sudah menyaksikan tandangnya (sepak terjangnya), dia akan terkejut sekali. Ki patih ini adalah seorang yang amat ahli dalam air. Ia pandai berenang seperti seekor ikan hiu, kuat sampai lama sekali menyelam dalam air dan pandai mengatur barisan yang bergerak di atas perahu-perahu.

Berkat kepandaian ki patih inilah maka beberapa kali barisan Bali yang menyerang melalui laut, selalu mengalami kegagalan. Selain ahli dalam hal itu, juga ki patih ini memiliki tubuh yang licin seperti belut. Kabarnya, dia tidak dapat dibelenggu, tidak dapat dirantai. Betapapun kuat orang merantai dan mengikatnya, tubuhnya yang licin seperti belut itu pasti akan dapat terlepas dalam waktu singkat!

Orang ke dua yang terkenal sekali dalam barisan senopati Blambangan adalah Mayangkurdo. Senopati Blambangan ini adalah seorang peranakan Bali, tubuhnya besar sekali akan tetapi pendek sehingga kelihatan persegi empat! Kekuatannya amat mengagumkan dan selain kuat, iapun kebal tidak termakan senjata tajam dan runcing.

"Huah-hah-ha-ha-ha! Bagus, bagus ...... ! Aaahh, wong denok ayu yang gagah perkasa! Endang Patibroto yang. sakti - manraguna! Aha, sudah lama sekali aku mendengar tentang dirimu yang amat mengagumkan! Bagus, andika suka datang bersama Sindupati senopatiku yang setia. Bagus sekali! Sudah kudengar pelaporan juru berita tentang malapetaka yang menimpa dirimu. Waaahhh! Memang Raja Jenggala itu seorang manusia tak berjantung! Tega membunuh putera sendiri dan menjatuhkan fitnah keji kepada seorang puteri mantu yang begini denok, begini perkasa! Keparat! Dan apa pula itu Raja Panjalu! Halus mulus seperti wanita! Tidak patut! Tidak patut! Harus dihancurkan Jenggala dan Panjalu, dibumi-hanguskan disamaratakan dengan bumi. Eh, sang puteri, Endang Patibroto. Katakanlah, apa kehendakmu sekarang setelah andika menghadap di depanku, heh?"

Ucapan sang adipati ini kasar sekali, akan tetapi Endang Patibroto sudah biasa dengan sikap dan ucapan kasar. Gurunya dahulu, Dibyo Mamangkoro, lebih kasar daripada adipati ini. Dahulu, dalam pergaulannya dengan gurunya dan anak buah gurunya, semua laki-laki itu kasar dan tidak sopan, akan tetapi di dalam kekasaran mereka itu ia melihat suatu keindahan, yaitu keindahan daripada sikap jantan yang terus terang dan jujur polos!

Karena itulah maka kini ia menilai sang adipati dengan kesan yang baik pula, menganggap bahwa Adipati Menak Linggo inipun tentu seorang kasar yang jujur! Endang Patibroto sama sekali tidak tahu bahwa kekasaran sikap seorang laki-laki tidak dapat dijadikan ukuran bahwa ia jujur dan setia! Ia sama sekali tidak tahu, bahkan mendugapun tidak bahwa di balik kekasaran watak Sang Adipati Blambangan ini tersembunyi kecerdikan dan kepalsuan yang mengerikan!

Teringat akan persamaan watak adipati ini dengan gurunya, Endang Patibroto tersenyum. Disebut wong denok ayu oleh seorang bersikap seperti ini tidaklah menyakitkan hati, bahkan menyenangkan karena ia tahu bahwa di balik sebutan yang amat bebas dan berani ini tidak tersembunyi maksud buruk. Andaikata orang lain yang menyebutnya demikian, dengan sikap mencumbu atau berkurang ajar, tentu tanpa banyak cakap lagi ia akan turun tangan menghajarnya, mungkin membunuhnya!

"Adipati Menak Linggo, hatikupun lega melihat dan bertemu denganmu. Kau bertanya tentang kehendakku datang ke Blambangan dan bertemu denganmu? Sudah jelas dan agaknya Raden Sindupati sudah menyampaikan pelaporan kepadamu bahwa aku ingin sekali membalas dendam atas kematian suamiku dan atas pencemaran nama baikku. Karena itu, mendengar bahwa engkau berhasrat hendak menyerang Jenggala, maka aku ingin bekerja sama denganmu. Aku ingin menjadi senopati jika bala tentaramu menyerang Jenggala."

"Huah-ha-ha-ha-ha! Hebat engkau! Hebat sekali! Siapa menyangka bahwa dalam tubuh yang denok ayu, di balik wajah yang cantik jelita, seperti Dewi Sri, bersembunyi semangat yang membara! Bagus, bagus! Mulai saat ini, anggaplah dirimu sendiri sebagai senopatiku! Ha-ha-ha-ha! Di mana di dunia ini ada seorang adipati yang mempunyai seorang senopati begini hebat, begini bahenol (denok)? Eh, senopatiku yang denok, tahukah engkau syarat menjadi senopati?"

"Adipati, di waktu aku baru berusia belasan tahun, aku sudah pernah menjadi senopati Kerajaan Jenggala! Tentu saja syarat seorang senopati harus pandai mengatur barisan, harus memiliki kesaktian dan keberanian, dan harus setia."

Tentu saja Sang Adipati Menak Linggo tahu akan kesemuanya itu. Ia tahu betul siapa wanita di depannya ini. Tahu bahwa wanita sakti inilah yang menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Wanita inilah yang membunuhi orang orang perkasa, dan yang amat menyakitkan hatinya adalah terbunuhnya pamannya, yaitu Bhagawan Kundilomuko di tangan wanita ini! Akan tetapi semua ini hanya terkandung di dalam hati Sang Adipati Menak Linggo, sedangkan pada wajahnya yang penuh cambang bauk itu tidak tampak sesuatu kecuali ketawa riang gembira.

"Heh-heh, bagus-bagus! Memang ltulah syaratnya, akan tetapi bagaimana aku tahu bahwa kesaktianmu yang tersohor luar biasa itu benar-benar dapat mengatasi semua senopatiku? Ha-ha-ha, ketahuilah, Endang Patibroto senopatiku, di Blambangan ini aku mempunyai banyak sekali senopati yang sakti mandraguna! Dan perang terhadap Jenggala dan Panjalu adalah perang besar yang tidak ringan. Aku sendiri harus maju dan tentu saja yang menjadi senopati beryuda (berperang) harus yang terbaik di antara semua senopatiku!"

Merah kedua pipi yang halus seperti lilin itu. Endang Patibroto yang masih berdiri di depan Adipati Menak Linggo yang duduk, kini menyapu ruangan paseban itu dengan pandang matanya. Ia memandang setiap orang yang hadir, yang duduk bersila di atas lantai. Mereka yang bertemu pandang dengan mata Endang Patibroto, melihat sinar mata yang tajam seperti ujung keris pusaka yang mengandung cahaya panas berahi, yang amat berwibawa dan yang jelas membayangkan keberanian yang mengerikan. Banyak di antara para ponggawa yang hadir, tak dapat lama-lama menentang pandang mata seperti itu, ada yang menunduk, dan ada pula yang memaksa bertahan untuk akhirnya berkedip-kedip!

"Adipati Menak Linggo! Untuk membuktikan kesanggupanku, aku bersedia melayani semua senopatimu untuk bertanding kedigdayaan!"

"Huah-hah-hah-hah!" Adipati Menak Linggo menoleh ke kanan kiri, memandangi para senopatinya. sambil terkekeh-kekeh. "Para senopatiku ditantang! Ditantang bertanding kedigdayaan oleh seorang wanita cantik jelita! Hah-ha-ha-ha, apakah ini tidak menggelikan? Hayo, siapa yang berani??"

Seorang di antara para senopati Blambangan itu adalah seorang yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, wajahnya tampan, tubuhnya sedang akan tetapi wajahnya agak pucat dan matanya kemerahan penuh nafsu berahi. Pemuda ini seorang senopati yang terkenal pandai bermain panah, namanya Haryo Baruno. Di samping ahli bermain panah, juga dia seorang ahli bermain asmara! Semacam Raden Sindupati akan tetapi lebih parah lagi. Kalau Raden Sindupati mencari korban nafsunya di antara para puteri, adalah Haryo Baruno ini begitu mata keranjangnya sehingga siapa saja, asal dia wanita masih muda dan tidak cacad, tentu tidak terlepas daripada incaran dan godaannya.

Semenjak tadi ia melihat tubuh belakang Endang Patibroto dan jantungnya sudah jungkir-balik tidak karuan. Berkali-kali kalamenjingnya bergerak turun naik ketika ia menelan ludah saking besarnya dorongan hasrat dan gairah nafsu berahinya. Baru melihat bentuk pinggul itu saja, ia sudah tergila-gila, apalagi ketika Endang Patibroto memutar tubuh dan tampak wajahnya.

Haryo Baruno melongo dan pandang matanya seakan hendak menelan Endang Patibroto bulat-bulat! Ia baru sekali ini melihat dan mendengar nama Endang Patibroto maka tentu saja akan kesaktian yang dipuji-puji setinggi langit oleh Adipati Menak Linggo, ia sama sekali tidak memandang sebelah mata. Kini, begitu melihat kesempatan untuk mempermainkan Endang Patibroto seperti yang biasa ia lakukan terhadap setiap wanita, berkatalah ia cepat-cepat sebelum lain orang ada yang mendahuluinya,

"Gusti adipati, hamba rasa amatlah sayang kalau kulit yang begitu halus menjadi lecet dalam bermain yuda! Hamba berani menantangnya mengadukelincahan. Kalau dia dapat mengelak semua usaha hamba untuk memeluk dan menciumnya, hamba akan mengaku kalah dan tidak berkeberatan dia menjadi senopati perang, yaitu setelah lima kali hamba menubruknya. Akan tetapi, kalau sampai dapat terpeluk dan tercium oleh hamba sang dewi yang jelita ini harus menemani hamba, tidur selama... aaauuuuggghhh...!!"

Tahu-tahu tubuh Haryo Baruno terlempar sampai menabrak dinding ruangan itu dan ketika tubuhnya terbanting ke atas lantai, darah mengalir dari telinga, mulut, hidung dan mata. Kepalanya telah pecah dan tewas seketika!

Semua orang melongo, terbelalak dan kaget sekali. Mereka tadi hanya melihat tubuh Endang Patibroto bergerak ke arah Haryo Baruno dan tangan kanan wanita itu bergerak menghantam. Tahu-tahu senopati muda itu telah terlempar dan tewas dalam keadaan begitu mengerikan. Bahkan Adipati Menak Linggo sendiri merasa kaget dan ngeri. Bukan main hebatnya wanita ini. Pantas saja pamannya yang sakti, Bhagawan Kundilomuko, tewas di tangan wanita ini. Juga sekutu utusannya, Sang Wiku Kalawisesa juga tewas di tangannya!

"Eh... hoh-hoh kenapa...? Kenapa kau membunuh seorang senopatiku begitu saja di hadapanku, Endang Patlbroto?" Baru sekali ini sejak tadi sang adipati tidak tertawa, mukanya yang penuh cambang bauk itu kemerahan, matanya melotot lebih lebar lagi dan air ludahnya muncrat-muncrat ketika ia menegur.

Endang Patibroto yang tadi menghajar mampus Haryo Baruno dengan gerak Bayu Tantra dilanjutkan pukulan Pethit Nogo kemudian secepat kilat melayang kembali ke tempatnya yang tadi, perlahan-lahan memutar tumit kakinya menghadapi sang adipati. Bibir yang manis itu tersenyum dan orang yang sudah mengenal watak Endang Patibroto sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit, senyum ini amat mengerikan. Makin manis senyum Endang Patibroto seperti itu, makin berbahayalah dia karena senyum ini menyembunyikan gelora hati yang marah!

"Adipati Menak Linggo, maafkan kalau aku telah mengotori ruangan persidanganmu, akan tetapi aku tidak bisa membiarkan seorang macam dia menghinaku. Siapapun orangnya, kalau berani mengucapkan kata-kata kotor menghina seperti itu kepadaku, tentu akan kubunuh, di manapun ia berada dan bilamanapun!"

Adipati Menak Linggo termenung sebentar, mengerutkan alisnya yang tebal sekali, kemudian bertanya, "Kalau ada senopati hendak mengujimu, apakah kaupun akan turun tangan membunuhnya?"

Endang Patibroto menggeleng kepala. "Tentu saja tidak. Bertanding mengadu kedigdayaan bukanlah pertandingan mengadu nyawa. Penghinaan berbeda lagi, harus dibalas dengan kematian. Sampai di mana harga diri seorang wanita kalau membiarkan dirinya diperhina laki-laki seperti yang dikeluarkan dari mulut laki-laki keparat itu tadi?"

Adipati Menak Linggo mengangguk-angguk, kemudian sudah menyeringai tertawa lagi, menggerakkan tangan kepada para pengawal, "Sudah, lekas bawa keluar mayat itu!"

Para senopati yang hadir di situ diam-diam menjadi marah sekali terhadap Endang Patibroto. Kemarahan yang tadinya timbul oleh rasa iri hati menyaksikan betapa junjungan mereka memuji-muji dan menghormat Endang Patibroto secara berlebihan. Semua senopati menghadap sambil duduk di lantai, akan tetapi wanita ini berdiri saja dan sama sekali tidak menghormat Adipati Menak Linggo. Kemarahan mereka makin menjadi oleh pembunuhan yang dilakukan Endang Patibroto terhadap Haryo Baruno. Akan tetapi, melihat kesaktian yang mengerikan itu, sebagian besar para senopati sudah kuncup hatinya, hilang keberaniannya untuk menentang wanita sakti itu.

"Huah-ha-ha-hal Kehebatanmu membuat hati laki-laki menjadi kecil, Endang Patibroto. Eh, Mayangkurdo, apakah engkau juga tidak berani menguji kedigdayaan Endang Patibroto?"

Mayangkurdo mengangkat mukanya, memandang kepada Endang Patibroto. Senopati Blambangan berusia empat puluh tahun ini tidak pernah mengenal takut. Di dalam perang ia terkenal sebagai penyerbu terdepan dan jika pasukan terpaksa mengundurkan diri, selalu berada paling belakang. Dia adalah tokoh nomor dua di antara para senopati yang dikepalai oleh Ki Patih Kalanarmodo sendiri sebagai tokoh nomor satu.

Kematian Haryo Baruno tadi tidak menimbulkan perasaan sesuatu dalam hatinya karena Mayangkurdo menganggap Haryo Baruno sebagai seorang bawahan yang tiada artinya. Dan di antara para senopati, yang tahu bahwa Endang Patibroto ini sebetulnya musuh besar sang adipati yang harus dibunuh, mengerti pula bahwa sang adipati menggunakan siasat halus, hanyalah Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo, dan Raden Sindupati bersama tangan kanannya, yaitu kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko. Oleh karena itulah maka ia tidak merasa iri hati menyaksikan betapa Adipati Menak Linggo memuji-muji Endang Patibroto.

"Hamba bersedia untuk menguji kesaktian wanita perkasa Endang Patibroto!" katanya, maklum bahwa sang adipati selain hendak menyuruhnya menguji kesaktian, juga kalau mungkin membunuh wanita inil

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Mayangkurdo. Memang engkaulah yang pantas menandingi Endang Patibroto!" kata sang adipati girang.

Ruangan persidangan itu cukup luas untuk bertanding ilmu dan para senopati sudah mundur untuk memberi tempat yang luas bagi kedua orang yang hendak mengadu ilmu. Endang Patibroto tersenyum, memandang calon lawannya dengan sinar mata penuh selidik. Melihat bentuk tubuh orang itu, ia dapat menduga bahwa Mayangkurdo memiliki tenaga yang amat besar, dan sikap orang ini yang tenang, pandang matanya yang tajam juga membayangkan kekuatan dalam yang tak boleh dipandang ringan. Namun tentu saja ia tidak takut dam sambil tersenyum ia berkata kepada calon lawannya,

"Majulah, Mayangkurdo!"

"Baiklah, Endang Patibroto, kau hati-hatilah akan seranganku!" kata pula Mayangkurdo yang sudah menyembah sang adipati kemudian sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan berhadapan dengan Endang Patibroto.

Mayangkurdo sudah memasang kuda-kuda. Kedua kakinya bersilang, lutut ditekuk sedikit sehingga tubuhnya yang pendek menjadi makin rendah, tangan diangkat melengkung melindungi kepala, tangan kanan dengan jari dikepal ditaruh di depan dada kiri, sebagian mukanya terhalang oleh lengan kiri dan sepasang matanya mengintai lawan dari bawah lengan kiri itu. Kuda-kudanya ini amat kuat dan kedudukan kedua lengannya merupakan perisai yang setiap saat dapat bergerak menangkis, akan tetapi juga mudah dirubah untuk menjadi gerak serangan dari atas dan bawah. Karena tubuhnya pendek, maka kuda-kuda inipun merupakan kuda-kuda segi empat yang kokoh kuat. Lawan akan sukar mencari lowongan atau sasaran yang mudah dimasuki.

Melihat kuda-kuda lawan ini, Endang Patibroto diam-diam memuji. Orang ini bertenaga kuat dan agaknya sudah menduga akan kesaktiannya maka memasang kuda-kuda yang menitik beratkan kepada pertahanan itu. Karena tidak mau gagal Endang Patibroto tidak tergesa-gesa. Pertandingan kali ini adalah pertandingan untuk menguji kedigdayaan, bukan perkelahian merebut kemenangan dengan taruhan nyawa. Kalau dalam perkelahian, ia tidak akan berlaku terlalu sungkan atau mengalah, tentu sudah digempurnya dengan gerak cepatnya, seperti yang telah ia lakukan pada diri Haryo Baruno tadi.

Kemenangan sekali ini harus ia dapatkan tanpa membunuh lawan, paling-paling hanya merobohkan dan melukainya tanpa membahayakan keselamatan nyawa. Maka iapun lalu memasang kuda-kuda yang amat indah dipandang. Indah dan gagah. Ia berdiri miring dengan lawan di sebelah kanannya. Kaki kanan diangkat dengan paha lurus kedepan, lutut ditekuk, kaki lurus ke bawah. Kaki kiri tegak dan teguh. Lengan kanan diangkat, tangan kanan dengan jari-jari terbuka dan dikembangkan menghadap musuh, telapak tangan di atas dengan ibu jari ditekuk ke dalam. Tangan kiri dikepal, menempel di siku kanan. Matanya melirik ke kanan, ke arah lawan. Tubuhnya tak bergerak sama sekali, teguh dan kokoh kuat, namun indah seperti sebuah patung batu pualam, bibirnya yang merah membasah tersenyum mengejek.

Para senopati memandang tegang. Adipati Menak Linggo juga memandang penuh perhatian, mulutnya menyeringai matanya melotot, tubuhnya agak condong ke depan karena ia tidak ingin melewatkan sedikitpun gerakan pertandingan ini. Ruangan menjadi sunyi sekali, seakan tiada manusianya. Tiba-tiba Mayangkurdo bergerak, mula-mula yang tampak hanya getaran pundak dan betis, lalu terdengar ia berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju bagaikan angin badai.

"Haaaaahhhhh!!" Tubuhnya yang segi empat itu seperti sebuah peluru menyambar ke depan, tangan kiri mencengkeram pundak lawan, tangan kanan menyusul dengan pukulan keras sekali ke arah perut.

"Hyaaaaattt...!" Seruan nyaring ini keluar dari mulut Endang Patibroto dan tubuhnya itu sudah melejit seperti seekor burung walet, menghindar ke kiri Dengan membanting kaki kanan ke depan dan membalikkan tubuh, kini kaki kiri yang berbalik di depan. Ketika membalikkan tubuh tadi, cengkeraman lawan terelakkan, akan tetapi, pukulan lawan ditangkis dengan kepretan jari-jari tangan kiri yang menyambar dari atas ke bawah, menampar lengan kanan yang memukul perut itu dari atas ke bawah.

"Plakkk.............. !!

"Aiiihhh....!" Tubuh Mayangkurdo seperti diseret dan hampir saja ia terbanting kalau tidak cepat-cepat ia meloncat dan mematahkan tenaga yang mendorongnya. Kepretan jari-jari tangan yang lentik halus itu bukan sembarangan kiranya! Bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan dengan jari-jari kecil halus yang penuh berisi setrum Aji Pethit Nogo!

Mayangkurdo menjadi merah mukanya. Lengan kanan di bagian pergelangan yang tercium jari-jari tangan wanita itu terasa pedas dan panas. Ia sudah memasang kuda-kuda lagi, kini tubuhnya makin merendah sehingga kepalanya kira-kira setinggi dada Endang Patibroto.

Di lain pihak, Endang Patibroto juga tertegun. Kepretan jari tangannya tadi hebat sekali dan jarang ada lawan dapat menahannya. Ia tadinya menaksir bahwa dengan pengerahan tenaga sakti Pethit Nogo, ia akan berhasil mematahkan lawan, atau setidaknya membuat lengan lawan keselio. Akan tetapi ternyata lawan ini hanya berseru kesakitan saja.

Ketika ia memandang, pergelangan lawan itu jangankan patah, lecet atau bengkak pun tidak! Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan lawan yang memiliki aji kekebalan yang lumayan kuatnya. Kembali ia memasang kuda-kuda, menanti lawan menerjang. Hanya dengan cara inilah ia mengharapkan dapat merobohkan lawan tanpa membunuhnya.

Kalau dia yang mendahului menerjang, ia tidak percaya kepada dirinya sendiri, tahu bahwa aji-ajinya terlampau hebat untuk dibuat main-main. Ia khawatir kalau ia yang menyerang, lawannya ini akan terpukul mati dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki karena ia benar-benar ingin bersekutu dengan Blambangan agar maksud hatinya membalas dendam tercapai.

Mayangkurdo seorang senopati yang tidak mengenal takut. Akan tetapi, gebrakan pertama membuat ia berhati-hati sekali, dan tidak mau gegabah menerjang lagi seperti tadi. Ia hanya memasang kuda-kuda, kemudian melihat lawan tak bergerak sedikitpun, ia merubah kuda-kuda sambil melangkah maju setindak mendekat. Endang Patibroto tersenyum. Ia maklum bahwa perubahan kuda-kuda lawan ini menempatkan ia dalam posisi terbuka dan lemah.


Kuda-kuda wanita sakti ini hanya menutup bagian depan tubuh, kalau lawan berada di kirinya, tentu saja lambung, dan leher sebelah kirinya menjadi terbuka dan tidak terjaga. Namun ia sengaja diam saja untuk memberi kesempatan kepada lawan agar suka menyerang karena iapun dapat menduga bahwa lawan menjadi hati-hati dan tidak mau menyerang secara sembrono seperti tadi. Saat yang dinanti-nantinya datang. Lawan menerjang dengan dahsyat sekali dan amat cepatnya sehingga dalam gebrakan ini, Mayangkurdo sudah menyerangnya dengan tiga serangan hampir sekaligus, yaitu dengan kedua tangan menyerang lambung dan leher, disusul sabetan kaki kanan menyerimpung kakinya!

"Haiiiiittttt ......!!" Mayangkurdo berkelebat cepat sekali ketika menyerang sehingga bagi yang tidak dapat mengikuti gerakannya, melihat seolah-olah kedua lengannya lenyap menjadi bayangan menyambar.

"Iiiiihhhh!!" Endang Patibroto berseru perlahan dan bagi Mayangkurdo, tubuh lawannya itu tiba-tiba saja lenyap sehingga tiga serangannya mengenai angin kosong! Barulah ia tahu ketika ada angin menyambar dari atas, cepat ia menangkis, namun kalah cepat karena pundaknya tiba-tiba disambar sesuatu yang lunak namun beratnya seperti Gunung Semeru menindih pundak. Ia merasa pundaknya seperti ambleg dan kedua kakinya menggigil dan tak dapat ia pertahankan lagi sehingga ia mendeprok berlutut! Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang-kunang akan tetapi senopati yang tangguh ini belum juga roboh!

Bagi orang lain yang menonton, mereka melongo ketika tadi melihat betapa tiba-tiba tubuh Endang Patibroto yang diserang dahsyat itu melambung tinggi melewati atas kepala Mayangkurdo dan dari atas, Endang Patibroto menggunakan tangan kirinya menghantam pundak lawan. Biarpun kelihatannya hanya menepuk perlahan, namun sesungguhnya telapak tangan kiri wanita sakti ini menggunakan Aji Gelap Musti yang ampuhnya menggila dan hebatnya seperti kilat menyambar. Sengaja Endang Patibroto tidak menggunakan Aji Pethit Nogo karena khawatir kalau-kalau ia akan meremukkan tulang pundak dan hal ini terlalu berat bagi lawan. Memang ada perbedaan antara semua aji yang dimiliki Endang Patibroto.

Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) keistimewaannya adalah hawa sakti yang memenuhi ujung-ujung jari tangan. Aji ini didapatnya dari kakeknya, Resi Bhargowo. Karena terdapat di ujung-ujung jari, maka digunakan sebagai tamparan atau kepretan dan jari-jari yang berubah menjadi sekuat ekor naga ini dapat meremukkan tulang-tulang yang tertampar.

Adapun aji pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) ini dapat dipergunakan dengan tangan terkepal atau hanya dengan telapak tangan yang penuh dengan getaran tenaga yang timbul dari hawa sakti. Pukulan ini selain terasa berat seperti tindihan gunung, juga mengandung hawa panas yang melumpuhkan lawan, akan tetapi sifatnya tidak tajam sehingga tidak membahayakan tulang seperti halnya Aji Pethit Nogo.

Ada lagi ilmu pukulan hebat luar biasa yang dimiliki Endang Patibroto, yaitu yang disebut Aji Pukulan Wisangnala (Hati Beracun). Pukulan ini hanya dapat digunakan jika ia berada dalam keadaan marah dan sakit hati, jika ia bermaksud untuk membunuh lawan karena kemarahan yang hebatlah yang menjadi pendorong pukulan ini hingga menjadi pukulan beracun yang dapat menghanguskan isi rongga dada Iawan! Ilmu-ilmu yang hebat ini ia dapatkan dari gurunya si manusia iblis Dibyo Mamangkoro!

Kembali Endang Patibroto tertegun. Pukulan yang ke dua itu, Gelap Musti, amat kuat dan ia tadinya mengharapkan memukul pingsan lawan. Akan tetapi siapa kira, lawannya hanya jatuh terduduk dan pening sejenak, terbukti dari kedua matanya yang dipejamkan. Kemudian tubuh pendek besar itu sudah meloncat bangun lagi seakan-akan tidak pernah terpukul aji yang ampuh!

"Hebat...!!" katanya di dalam hati. Kiranya Blambangan memiliki senopati-senopati yang begini kuat. Ia tahu bahwa dalam hal kekebalan, Mayangkurdo ini tentu jauh lebih menang daripada Raden Sindupati, sungguhpun dalam hal ilmu silat, si pendek besar ini masih kalah setingkat.

Pada saat itu, Mayangkurdo yang sudah menjadi marah sekali, telah menerjangnya secara bertubi-tubi dan hebat. Kali ini, dari kerongkongan Mayangkurdo terdengar suara menggereng-gereng seperti seekor harimau terluka. Namun serangan yang cepat ini malah menggirangkan hati Endang Patibroto.

Makin cepat lawan menyerang, makin baik baginya karena jangankan hanya dengan gerak cepat yang dimiliki Mayangkurdo seperti itu, andaikata Mayangkurdo memiliki yang berlipat ganda, takkan dapat menandingi gerak cepatnya dengan aji Bayu Tantra ditambah gerakan-gerakan burung walet dan camar yang ia pelajari dahulu di waktu kecilnya dari ibunya, Kartikosari!

Makin cepat Mayangkurdo menyerang, makin cepat pula tubuh Endang Patibroto bergerak mengelak sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya, berubah menjadi bayangan yang kerkelebat ke sana ke mari! Mayangkurdo menjadi pening kepalanya, pandang matanya berkunang-kunang karena ia merasa seakan-akan bertanding melawan bayangannya sendiri.

Para senopati, termasuk juga Adipati Menak Linggo, memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Gentarlah rasa hati mereka. Kecuali Raden Sindupati yang menonton dengan pandang mata penuh kekaguman dan dengan hati makin berdebar penuh rasa cinta berahi. Ia harus mendapatkan wanita ini! Harus! Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang kekasih seperti Endang Patibroto ini, dalam mimpipun tidak pernah. Ia harus menggunakan akal, la harus berhasil memiliki tubuh denok ayu yang penuh dengan hawa sakti itu! Harus!

Pertandingan berjalan makin seru dan gerakan Endang Patibroto makin cepat sehingga akhirnya Mayangkurdo menyerang secara ngawur. Ke manapun ia melihat bayangan berkelebat, ke sanalah ia mengirim tinjunya.

Akan tetapi karena bayangan itu makin lama makin banyak dan berkelebat di sekeliling tubuhnya, iapun ikut berputaran sambil menghantam sana sini sampai akhirnya ia roboh terguling pingsan dalam keadaan mata terbelalak dan napas hampir putus, tubuhnya-kejang-kejangl

Endang Patibroto berhenti bergerak, dan melihat keadaan lawannya, ia kaget sekali. Ia tahu bahwa biarpun ia tadi tidak memukul, namun keadaan Mayangkurdo kini lebih berbahaya lagi. Lawannya ini telah mengalami akibat daripada tenaga sendiri yang membalik, ditambah pening dan kemarahan meluap-luap sehingga kalau dibiarkan dalam keadaan seperti ini, ada bahaya akan putus napasnya.

Cepat ia menepuk pundak lawan yang segera lenyap kejangnya, tubuhnya lemas dan pingsan, akan tetapi napasnyapun tidak magap-megap seperti. tadi. Dan ketika menotok pundak orang itu, diam-diam Endang Patibroto terkejut dan kagum karena baru ia tahu sekarang bahwa orang ini memiliki ilmu kekebalan yang setingkat dengan ilmu kekebalan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Pantas saja kuat menahan pukulan-pukulan ampuh.

Kini berisiklah ruangan persidangan itu. Para senopati saling berbisik dan rata-rata mereka itu memuji kehebatan ilmu kesaktian Endang Patibroto. Bahkan Adipati Menak Linggo sampai lama tertegun, kemudian setelah melihat Mayangkurdo bergerak dan bangkit duduk sambil mengeluh, barulah ia tertawa terbahak.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau benar hebat, Endang Patibroto!"

Endang Patibroto menghadapi Adipati Menak Linggo, hatinya merasa puas. "Memang sejak kecil aku digembleng. untuk menjadi senopati, adipati! Kalau engkau masih belum yakin, boleh mengajukan penguji lagi." Ia menoleh ke sekelllingnya dan kali ini semua yang bertemu pandang dengannya, cepat-cepat menundukkan muka. "Masih ada lagikah senopati gemblengan yang hendak main-main sebentar dengan aku?"

Kembali sunyi senyap di situ. Ketegangan timbul karena tantangan Endang Patibroto ini. Adipati Menak Linggo sendiri menjadi malu karena senopatinya seperti serombongan kelinci melihat munculnya seekor harimau buas. Bagaimanakah para jagoannya yang biasanya galak-galak itu kini menjadi seperti orong-orong terpijak, tidak ada suaranya sama sekali? Terdengar orang batuk-batuk, batuk buatan yang dimaksudkan mengusir keheningan yang mencekam.

"Gusti adipati, kalau paduka menghendaki, biarlah hamba sendiri yang menguji kesaktian Sang Puteri Endang Patibroto."

Inilah suara Ki Patih Kalanarmodo yang tadi batuk-batuk. Semua mata memandang kepada patih yang tua ini. Semua senopati maklum bahwa setelah Mayangkurdo kalah, memang tidak ada lain orang lagi yang patut menandingi Endang Patibroto. Ki patih ini adalah saudara seperguruan sang adipati sendiri, sungguhpun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan Adipati Menak Linggo, namun ia sakti sekali dan ada kemenangannya terhadap sang adipati, yaitu ilmu di dalam air.

"Kau, kakang patih? Ahhh, tidak usah, tidak perlu lagi. Aku sudah percaya akan kesaktiannya. Endang Patibroto, engkau kuterima menjadi senopati perang. Memang kau tepat untuk memimpin bala tentaraku menyerbu Jenggala dan Panjalu. Akan tetapi, penyerbuan itu tidak perlu dilakukan secara tergesa-gesa, karena sekali bergerak, kita harus jangan sampai gagal. Kau boleh melatih dulu pasukan-pasukan istimewa yang akan menjadi penggempur terdepan. Sementara itu, kau tinggallah di sini, dan senangkan dirimu. Jangan khawatir, takkan lama lagi Jenggala dan Panjalu kita gempur, kita bikin karang abang (lautan api) dan kau boleh memuaskan hatimu membalas kematian suamimu, ha-ha-ha-ha!"

Demikianlah, sejak saat itu, Endang Patibroto menjadi senopati di Blambangan. Ia diberi tempat tinggal mewah, di sebuah bangunan mungil indah di sebelah kiri istana, lebih indah dan lebih mewah daripada istana mendiang suaminya. Segala keperluannya disediakan oleh Adipati Menak Linggo dan tampaknya saja Endang Patibroto hidup senang, mewah dan mulia.

Akan tetapi, di samping kesibukannya menggembleng pasukan penyerbu yang istimewa dan segala kemewahan yang menyelimuti hidupnya, di waktu malam seorang diri di dalam kamarnya Endang Patibroto menangis tersedu-sedu, menangisi suaminya dengan hati penuh kedukaan.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 06

Perawan Lembah Wilis Jilid 05

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 05

Kartikosari mengangguk. "Ki Tunggaljiwa?" Wanita ini sudah dapat menduga apa yang dipikirkan sang adipati. Tejolaksono mengangguk.

"Saya tidak menyangka bahwa orang tua itu mempunyai niat buruk. Akan tetapi, hemm... keadaannya juga amat aneh. Oleh karena Itulah sepeninggal saya ke Panjalu, saya harap bibi berdua sudi membantu Ayu untuk mengamat-amati Bagus Seta. Tentu saja hal Ini sudah dan akan bibi lakukan tanpa saya minta, akan tetapi... hati saya akan lega dalam perjalanan kalau saya sudah membicarakan hal ini secara berdepan begini dengan bibi yang saya percaya dan hormati setingginya."

Kartikosari tersenyum. Biarpun Roro Luhito lebih pandai bicara daripadanya, akan tetapi menghadapi segala urusan, selalu dia yang menjadi dan penentunya. Roro Luhito hanya akan mengikuti semua jejaknya.

"Anakku adipati, kami mengerti perasaanmu setelah pengalamanmu bersama Bagus Seta di dalam hutan. Dan bukan hal yang kebetulan saja ucapan Ki Tunggaljiwa kepadamu yang meramalkan bahwa dalam waktu singkat ananda akan pergi dari Selopenangkep. Oleh karena itu, harap engkau waspada dan hati-hati dalam perjalanan menunaikan tugas yang dibebankan oleh sang prabu kepadamu. Adapun tentang keadaan di Selopenangkep sepeninggalmu, harap legakan hati dan jangan khawatir. Isterimu, Ayu Candra bukan seorang anak-anak melainkan seorang ibu yang tentu akan dapat menjaga putera dan rumah tangga sebaiknya. Adapun kami, kedua bibimu ini, tentu saja akan mengamat-amati kesemuanya dan akan membela Selopenangkep seisinya dengan taruhan nyawa."

Ucapan Kartikosari yang tenang dan mantap ini membuat hati Adipati Tejolaksono menjadi lega. Lapang rasa dadanya dan ia dapat pergi dengan tenang. Ayu Candra juga sadar bahwa ketidakrelaannya yang diperlihatkan atas kepergian suaminya, amatlah tidak baik. Suaminya adalah seorang yang sakti mandraguna. Kalau hanya menghadapi seorang penjahat pengecut saja, memang tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.

Demikianlah, pada pagi hari itu juga, Adipati Tejolaksono meninggalkan Selopenangkep, menunggang seekor kuda berbulu dawuk yang besar dan kuat, membawa perbekalan dan tidak lupa membawa senjata pusakanya, yaitu keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh yang mengeluarkan sinar keputihan seperti awan. Hatinya tenang karena kepergiannya diantar senyum penuh kepercayaan oleh isteri dan kedua biblnya, dan dibekali peluk cium puteranya, Bagus Seta.

Akan tetapi ketenangan hati Adipati Tejolaksono lenyap seperti awan ditiup angin ketika perjalanannya membawa ia makin mendekati Kerajaan Panjalu. Ia melakukan perjalanan ini seorang diri, tidak berpengawal karena apakah artinya pengawal bagi seorang sakti seperti adipati muda ini? Apalagi, perjalanannya kali ini adalah perjalanan untuk melakukan penyelidikan dan mencari seorang penjahat sakti sehingga perlu ia lakukan dengan diam-diam.

Hatinya makin gelisah setelah ia dekat dengan Kerajaan Panjalu karena santer terdengar olehnya akan desas-desus tentang pembunuhan-pembunuhan itu. Apalagi setelah pada suatu pagi ia tiba di luar kota raja, kagetnya bukan main mendengar berita bahwa di Kota Raja Panjalu terjadi geger yang hebat sekali. Yaitu tentang penyerbuan Endang Patibroto ke istana Pangeran Darmokusumo yang gagal.

Berita ini membuat ia terkejut dan termenung di atas kudanya yang ia hentikan di tepi jalan agar mendapat kesempatan makan rumput hijau. Endang Patibroto menyerbu dan berniat membunuh Pangeran Darmokusumo? Inilah hebat! Untung, menurut berita itu, bahwa penyerbuan itu dapat digagalkan oleh pasukan-pasukan Panjalu yang memang sudah berjaga-jaga. Nyaris Endang Patibroto tertangkap, demikian berita itu.

Penasaran memenuhi hati Adlipati Tejolaksono. Mengapa Endang Patibroto melakukan hal itu? Bukankah wanita ini telah menjadi seorang isteri berbahagia dari Pangeran Panjirawit dan hidup mulia di Kerajaan Jenggala? Bukankah Pangeran Darmokusumo itu masih saudara iparnya sendiri karena isteri Pangeran ini adalah adik kandung Pangeran Panjirawit? Ah, hampir tak dapat ia mempercayail berita aneh itu. Akan tetapi, bukan hanya dari satu dua orang ia mendengar berita ini!

Ia harus segera ke Jenggala, sekarang juga! Ia harus bertemu sendiri dengan Endang Patibroto dan bercakap-cakap dengan adik angkatnya itu. Sebelum melihat bukti dan mendengar keterangan dari mulut Endang sendiri, ia tidak akan mengambil tindakan tergesa-gesa dan harus amat berhati-hati karena ia sudah cukup mengenal watak Endang Patibroto yang boleh dikatakan sejak kecil selalu menjadi musuhnya (baca cerita Badai Laut Selatan).

Tanpa memasuki Kota Raja Panjalu, Tejolaksono lalu membedal lagi kudanya berangkat menuju ke Jenggala. Melalui jalan-jalan yang amat dikenalnya ini terkenang lagilah sang adipati akan masa mudanya, terkenang akan segala peristiwa yang terjadi pada dirinya belasan tahun yang lalu dan terkenanglah ia kepada Endang Patibroto, gadis sakti mandraguna yang amat galak terhadapnya dahulu itu. Endang Patibroto, yang sejak kecil selalu benci kepadanya, yang merupakan lawan terberat baginya, bahkan yang telah membunuh ibu kandungnya!

Wanita yang amat dikasihaninya, dikaguminya akan tetapi juga pernah dibencinya karena telah membunuh ibunya. Namun karena ibu kandungnya menjadi pembunuh ayah kandung wanita ini, maka kesadaran hatinya telah menyudahi rasa bencinya, dan berbalik ia menjadi kasihan kepada Endang Patibroto, apalagi setelah ia hidup berkecimpung di dalam kebahagiaan cinta kasih dengan isterinya, Ayu Candra. Dan hatinya ikut girang dan bahagia ketika ia mendengar berita bahwa Endang Patibroto juga hidup bahagia di samping seorang suami yang amat rnencintanya, yaitu Pangeran Panjirawit.

Akan tetapi sekarang muncul peristiwa yang amat aneh ini. Mula-mula terjadi pembunuhan-pembunuhan gelap, kemudian timbul desas-desus bahwa Endang Patibrotolah orangnya yang melakukan perbuatan pengecut dan keji ini. Dan sekarang, yang amat mengejutkan adalah berita tentang penyerbuan Endang Patibroto seorang diri di malam gelap untuk membunuh Pangeran Darmokusumo. Mana ia bisa percaya?

Hari telah menjadi malam ketika Adipati Tejolaksono memasuki Kota Raja Jenggala yang dahulu amat dikenalnya itu. begitu ia menuntun kudanya memasuki pintu gerbang, lima orang penjaga menghadang dan memandangnya penuh kecurigaan. Akan tetapi sebelum mereka sempat menegurnya, seorang di antara para penjaga yang sudah tua usianya memandang Tejolaksono penuh perhatian, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah adipati ini dan berkata gagap,

"Bukankah.... andika ini.... Raden Bagus Joko Wandiro..??"

Tejolaksono tersenyum. Sebetulnya ia, tidak ingin memperkenalkan diri, karena ia ingin diam-diam mengunjungi Pangeran Panjirawit dan menemui Endang Patibroto, tidak mau memberitakan tentang kedatangannya ke Jenggala kepada orang lain. Akan tetapi karena penjaga tua ini mengenalnya, ia tidak dapat menyangkal lagi dan mengangguk.

"Benar, paman. Aku ingin pergi mengunjungi Gusti Pangeran Panjirawit....." Tejolaksono menghentikan ucapannya ketika melihat perubahan muka kelima orang penjaga itu yang tampak nyata di bawah sinar lampu di pintu gerbang. Mereka itu terbelalak, jelas kaget sekali mendengar disebutnya nama pangeran itu. Ia menyangka pasti ada hal yang hebal terjadi, maka cepat ia bertanya,

"Ada terjadi apakah, paman?"

Penjaga tua itu bertanya, "Benarkah paduka ini Raden Bagus Joko Wandiro yang kini sudah menjadi gusti adipati di Selopenangkep?"

Kembali Tejolaksono mengangguk tak sabar. la tidak mempersoalkan dirinya, melainkan ingin mendengar tentang Endang Patibroto. Melihat orang muda ini mengangguk, lima orang penjaga itu lalu memberi hormat. Yang empat adalah penjaga-penjaga muda yang belum pernah melihat Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, akan tetapi sudah mendengar nama besar ksatria yang sakti mandraguna ini.

"Maafkan hamba berlima tadi berlaku kurang hormat, gusti adipati....!

"Ah, bangkitlah, paman dan harap suka menceritakan apa yang telah terjadi."

Dan Tejolaksono melongo keheranan ketika mendengar penjaga tua itu bercerita. Makin banyak ia mendengar, wajahnya makin keruh. Keheranan bercampur dengan kegelisahan dan tidak percaya. Bagaimana ia bisa percaya mendengar betapa Endang Patibroto benar-benar telah membunuh-bunuhi para ponggawa Jenggala dan Panjalu dengan ilmu hitam, kemudian betapa wanita sakti yang oleh para penjaga disebut iblis betina itu telah menyerbu istana Pangeran Darmokusumo, kemudian betapa Pangeran Panjirawit yang membela nama isterinya itu ditangkap sendiri oleh ayahnya, sang prabu di Jenggala lalu dipenjarakan. Betapa kemudian, iblis betina itu secara hebat dan seorang diri telah menyerbu penjara yang terjaga amat kuatnya, menyamar sebagai pria, sebagai penjaga kemudian berhasil melarikan suaminya itu dari penjara.

"Iblis itu hebat bukan main, gusti adipati. jelas bahwa dia bukan manusia biasa, melainkan iblis. Kalau manusia biasa, bagaimana bisa berhasil merampas gusti pangeran yang terjaga oleh ratusan orang prajurit dan pengawal? Bahkan dikerocok (dihujani) anak panah, masih berhasil melesat pergi seperti terbang saja dan keluar dari kota raja, entah ke mana, hanya setan yang tahu"

Adipati Tejolaksono hanya bisa mengeluarkan suara "ahh!" berkall-kali, kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pergi dari situ, meninggalkan para penjaga sambil menuntun kudanya, berjalan perlahan seperti orang mimpi melalui jalan yang amat gelap itu. la memang merasa seperti mimpi mendengar semua itu. Ia tersenyum kalau teringat akan keheranan para penjaga yang menceritakan tentang perbuatan Endang Patibroto membebaskan suaminya. Ia tidak heran mendengar itu. Seorang sakti seperti Endang Endang Patibroto tentu saja mampu melakukan hal itu, bahkan yang lebih daripada itu sekalipun!

Ia tersenyum kalau membayangkan betapa Endang Patibroto mempermainkan ratusan orang prajurit itu, membakari sebagian istana dan menyamar sebagai perajurit, kemudian melarikan diri, dikeroyok puluhan orang pengawal dan menangkis semua anak panah yang datang bagaikan hujan. Ia sudah tahu akan kesaktian wanita itu. Iblis betina? Ah, ia cukup tahu akan watak Endang Patibroto. Kalau sedang marah memang melebihi iblis, akan tetapi sebetulnya mempunyai dasar watak satria puteri utama! Akan tetapi, tidak habis keheranannya mendengar semua peristiwa itu.

Endang Patibroto membunuhi para ponggawa dengan ilmu hitam yang mujijat? Memang hal inipun tidak aneh dan bisa saja Endang Patibroto melakukannya, mengingat bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro yang jahat dan sakti seperti iblis sendiri. Akan tetapi, ia yakin bahwa tanpa alasan yang amat kuat, tak mungkin Endang Patibroto mau melakukannya, apalagi sebagai isteri Pangeran Panjirawit yang terkenal berbudi bawa-laksana!

Kalau begitu, apa sebabnya? Mengapa terjadi semua itu? Mengapa? Dan ke mana ia harus mencari Endang Patibroto? Ia tidak akan menjatuhkan sesuatu pendapat atau penilaian atas peristiwa semua itu sebelum ia mendengar sendiri dari orang yang bersangkutan, dalam hal ini Endang Patibroto dan suaminya. Ia harus mencari Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit. Ia menyesal mengapa tidak datang lebih pagi. Peristiwa penyerbuan penjara oleh Endang Patibroto itu baru terjadi dua hari yang lalu!

Adipati Tejolaksono memeras otaknya. Di dalam gelap, ia berhenti berjalan, lalu duduk bersila, merenung dan mengerjakan otaknya. Peristiwa ini terlalu aneh, tidak mungkin terjadi tanpa dasar yang amat kuat. Ia merasa yakin bahwa tentu ada sesuatu yang menggerakkan semua itu, sesuatu yang memaksa Endang Patibroto melakukan perbuatan-perbuatan hebat itu, yakni menyerbu istana Pangeran Darmokusumo dan kemudian menyerbu penjara membebaskan suaminya, melawan perajurit-perajurit mertuanya sendiri, Sang Prabu Jenggala! Dan, satu-satunya hal yang mungkin terjadi adalah bahwa tentu penggerak itu merupakan musuh besar Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

Siapa? Kadipaten Nusabarung merupakan musuh besar terakhir dari Jenggala, akan tetapi kadipaten itu telah dihancurkan. Siapa lagi yang dapat memusuhi Jenggala dan Panjalu? Memang banyak kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tunduk kepada kedua kerajaan ini, akan tetapi mereka itu tak mungkin dapat melakukan hal yang amat hebat ini.

Kemudian ia teringat. Bukankah kerajaan Adipati Nusabarung mempunyai sekutu yang amat besar dan kuat? Adipati di Blambangan! Ya, kiranya Kadipaten Blambangan inilah merupakan satu-satunya musuh besar yang termasuk kuat dan berbahaya. Akan tetapi bagaimana Blambangan dapat mempengaruhi Endang Patibroto?

Inipun kiranya tak masuk di akal karena setahunya, hubungan Endang Patibroto dengan pengaruh-pengaruh luar hanya dengan Dibyo Mamangkoro yang telah meninggal dunia, pula, Kerajaan Wengker di mana dahulu Dibyo Mamangkoro menjadi senopati besarnya, kini telah tiada pula. Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, menuntun kudanya, kemudian melompat naik ke punggung kudanya.

"Dawuk, satu-satunya peganganku hanya Blambangan. Semoga tidak salah perhitunganku. Kita ke Blambangan!" Ia menarik kendali kudanya dan mulailah ia melakukan perjalanan, menuju ke timur. Ke Blambangan!

Pada malam ke dua tibalah ia di lembah Sungai Menjangan setelah melewati Gunung Semeru. Tiba-tiba kudanya Si Dawuk mengeluarkan ringkik perlahan. Tejolaksono menjadi waspada, cepat meloncat turun dan membiarkan kudanya terlepas di dekat sungai di mana terdapat banyak daun dan rumput hijau gemuk. Kemudian ia berjalan ke sebelah kira ke mana tadi kudanya menoleh ketika mengeluarkan ringkikan. Ia percaya akan ketajaman indra ke enam yang amat tajam dari binatang tunggangannya.

Kalau Si Dawuk meringkik seperti itu, tentu ada apa-apa yang tidak wajar di sebelah kiri itu. Berindap-indap Adipati Tejolaksono berjalan dan matanya tajam meneliti keadaan sekelilingnya, siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama menerangi jagat raya dan biarpun keadaan remang-remang namun Tejolaksono dapat melihat dengan terang.

Tiba-tiba ia merighentikan langkahnya. Ada suara mengerang perlahan, agak jauh dari tempat ia berdiri. Agaknya suara itulah yang tadi mengejutkan kudanya. Suara itu terdengar memang aneh, bukan seperti suara manusia, akan tetapi juga tak pernah ia mendengar ada binatang yang suaranya seperti itu. Cepat ia melangkah maju ke arah suara. Kiranya suara itu terdengar dari sebuah jurang atau sumur tua yang dalamnya kurang lebih tiga meter. Dan di atas sumur itu, ia melihat sesuatu bergerak-gerak. Cahaya bulan tidak mencapai dasar sumur sehingga keadaan amat gelap.

"Kisanak, siapakah andika yang berada di dasar jurang?" tanya Tejolaksono sambil berjongkok di pinggir jurang. Lama ia menanti jawabannya. Namun tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara merintih lagi, kini jelas suara manusia mengaduh.

Ada manusia yang membutuhkan pertolongan! Adipati Tejolaksono yang berjiwa satria, tentu saja tidak membuang waktu untuk meragu di mana tenaganya dibutuhkan orang lain. Ia segera lari ke arah serurnpun bambu yang tumbuh tak jauh dari situ. Dengan pengerahan tenaga saktinya, tangan kanannya membabat ke bagian bawah sebatang pohon bambu dan....

"krakkk!" pohon itu jebol dan tumbang. Dia lalu menyeret pohon yang amat panjang itu, diturunkan perlahan ke dalam sumur. Ternyata pohon baru itu cukup tinggi sehingga dapat mencapai dasar sumur. Merayaplah Adipati Tejolaksono turun ke dalam sumur melalui batang pohon bambu.

Keadaan di dasar sumur gelap, remang-remang namun setelah matanya biasa dengan kegelapan itu, Tejolaksono dapat melihat sosok tubuh seorang laki-laki tinggi besar rebah miring sambil mengerang kesakitan. Ia meraba, lalu mengangkat tubuh itu dan memanggulnya. Perlahan ia memanjat batang bambu ke atas, kemudian mengerahkan tenaganya meloncat keluar lubang sumur.

"Aduh.... aduhh...!" Laki-laki tinggi besar itu ternyata tubuhnya berlumur darah. Ketika memeriksanya di bawah sinar bulan, tampak oleh Tejolaksono gagang sebatang keris tersembul keluar dari dadanya. Keris itu menancap di dada sampai ke hulu kerisnya.

"Paman, siapakah andika dan mengapa berada dalam sumur dalam keadaan begini?" Tejolaksono bertanya setelah melihat bahwa laki-laki tinggi besar itu adalah seorang kakek yang bertampang gagah dan bertubuh kuat sekali. Ia sudah terheran-heran mengapa kakek ini belum tewas oleh luka di dadanya yang hebat itu. Tahulah ia bahwa orang ini bukan orang sembarangan, karena kalau tidak berkepandaian tinggi tentu tak dapat bertahan.

Kakek itu mernbelalakkan matanya, mengerang lagi perlahan lalu berkata, "Terima kasih.... terima kasih..... aduhhh..... kasihan kau, gusti puteri Endang Patibroto.... aduhh, Gusti Dibyo Mamangkoro..... maafkan hamba.... Maafkan hamba tidak dapat melindungi murid paduka.... auugggghhh....!"

Adipati Tejolaksono terkejut sekali. Cepat ia menyentuh punggung orang itu, rnengerahkan aji kesaktian sehingga hawa panas keluar dari pusarnya melalui tangan dan menembus kulit punggung. Orang itu mengeluarkan seruan perlahan, agaknya terheran, kemudian napasnya yang terengah-engah itu mulai tenang.

"Kau... kau siapa....?" Agaknya kakek ini heran menyaksikan betapa orang yang mengangkatnya keluar dari sumur ini memiliki ilmu yang demikian hebat. Tadinya ia mengira bahwa yang menolongnya hanyalah seorang petani biasa.

"Paman, aku adalah saudara Endang Patibroto! Ke mana dia? Dan apakah yang telah terjadi dengannya? Katakanlah, pamanI"

"Uuhh... siapa kau...?"

AdIpati Tejolaksono berpikir sebentar. orang ini menyebut-nyebut nama Dibyo Mamangkoro, tentu anak buah guru Endang Patibroto itu. Kalau ia menyebut namanya yang sekarang, tentu tidak mengenalnya. Maka ia lalu berkata, "Paman, namaku adalah Joko Wandiro..."

Tiba-tiba orang Itu berseru dan tangannya yang besar itu melayang, menghantam ke arah muka Adlpati Tejolaksono. Tentu saja dengan mudah Tejolaksono mengelak dan orang itu kembali mengerang kesakitan.

"Aduh, keparat...! Kau... kau pembunuh gusti senopati Dibyo Mamangkoro... !"
Memang Adipati Tejolaksono dahulu telah membunuh manusia iblis itu (baca cerita Badan Laut Selatan).

"Paman, betapapun juga, aku adalah saudara Endang Patibroto. Kalau engkau gagal menolongnya, barangkali aku yang akan dapat menolongnya!"

"Benar.... uuhh, benar.... nah, dengarlah orang muda."

cerita silat online karya kho ping hoo

Kakek itu bukan lain adalah Ki Brejeng, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro. Seperti telah kita ketahui di bagian depan cerita ini, Ki Brejeng telah menjadi anak buah Raden Sindupati pemimpin pasukan Blambangan dan telah ikut menjalankan siasat membujuk dan mempengaruhi Endang Patibroto sehingga wanita yang bernasib malang itu terbujuk ikut dengan rombongan itu ke Blambangan.

Ketika rombongan tiba di lembah Sungai Menjangan, malam telah tiba dan mereka membuat pesanggrahan darurat di situ. Malam harinya, Raden Sindupati yang tak dapat menahan lagi nafsu hatinya yang sudah tergila-gila akan kecantikan Endang Patibroto, diam-diam dibantu oleh beberapa orang anak buahnya hendak menyergap wanita itu dengan menggunakan racun memabukkan dalam makanan yang dihidangkan kepada wanita itu.

Akan tetapi, Ki Brejeng yang merasa sayang kepada murid bekas junjungannya, tahu akan hal ini dan segera mencegahnya. Dia diam-diam masih amat setia kepada Dibyo Mamangkoro dan karena itu setia pula kepada Endang Patlbroto. Biarpun ia mau diajak menipu Endang Patibroto, namun diam-diam ia selalu memasang mata dan bersiap melindungi puteri yang dikasihinya ini.

"Demikianlah, raden.... aku mengganti makanan yang disuguhkan gusti puteri sehingga usaha keji Raden Sindupati itu tak berhasil. Akan tetapi.... mereka mengetahui perbuatanku ini maka ketika malam itu aku tidur, mereka menyergap. Sia-sia aku melawan. Mereka sakti dan akhirnya aku roboh tertikam kerisku sendiri yang terampas oleh Raden Sindupati,. Setelah sadar, aku mendapatkan diriku di dalam sumur sampai tiga hari tiga malam. Kebetulan kau dapat menolongku keluar....

Adipati Tejolaksono terkejut dan diam-diam ia makin kagum. Kakek ini hebat sekali. Terluka begitu parah masih dapat bertahan untuk hidup selama tiga hari tiga malam di dasar sumur!

"Akan tetapi, paman. Mengapakah paman Brejeng berada dalam rombongan Sindupati dan mengapa pula Endang Patibroto ikut bersama kalian?"

Dengan napas terengah-engah Ki Brejeng menceritakan riwayatnya, kemudian ia mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi, semua siasat Blambangan yang mempergunakan Wiku Kalawisesa untuk menyebar maut di antara para ponggawa kedua kerajaan dan betapa siasat itu selanjutnya menimpakan kesalahan di pundak Endang Patibroto, menyebar desas-desus kemudian betapa Endang Patibroto tertipu oleh penuturan Wiku Kalawisesa untuk mengadu domba dia dengan Pangeran Darmokusumo. Adipati Tejolaksono terheran-heran dan bukan main marahnya mendengar semua siasat jahat Blambangan itu.

"Demikianlah... dia... dia terbujuk... ikut ke Blambangan dan....dan... ah, nasibnya tentu... tertimpa bencana hebat di sana.... aku.... aku tak berhasil.... aaaahhhhh!" Tubuh tinggi besar itu mengejang lalu lemas dan habislah riwayat Ki Brejeng karena nyawanya telah meninggalkan badannya.

Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, mengepal tinju. Tak salah dugaannya. Blambangan yang berdiri di belakang semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu itu, dan Endang Patibroto yang menjadi korban. Ia menyesal sekali mengapa Ki Brejeng keburu tewas sehingga ia tidak dapat bertanya lebih jelas. Ia tidak tahu bagaimana jadinya dengan Pangeran Panjirawit, Endang Patibroto.

Dalam cerita yang singkat dan terputus-putus tadi, Ki Brejeng tidak menyebut-nyebut nama Pangeran Panjirawit dan dia sendiri yang pikirannya penuh dengan Endang Patibroto tidak ingat pula untuk menanyakannya. Kalau Endang Patibroto terkena bujukan orang-orang Blambangan, ia masih dapat menerimanya karena ia tahu bahwa Endang Patibroto yang tentu marah sekali karena dituduh melakukan pembunuhan-pembunuhan itu kemudian diadu domba dengan pihak Panjalu, tentu marah kepada kedua kerajaan itu dan mudah dihasut oleh orang Blambangan.

Akan tetapi, mengapa Pangeran Panjirawit tidak mencegahnya? Tentu pangeran itu tidak sudi melakukan pengkhianatan, tidak sudi bersekutu dengan Blambangan. Apakah pangeran itu tidak bersama Endang? Kalau begitu, ke mana gerangan perginya setelah berhasil diselamatkan Endang Patibroto dari dalam penjara?

"Tidak perlu bingung, paling perlu mengejar dan menyusul ke Blambangan!" pikirnya. "Endang Patibroto harus ditolong, kemudian bersama wanita itu datang menghadap kedua kerajaan untuk memberi laporan tentang keadaan sebenarnya yang telah terjadi." Setelah berpikir demikian Adipati Tejolaksono menggali sebuah lubang dan mengubur mayat Ki Brejeng. Ia melakukan hal ini karena mengingat akan jasa dan budi Ki Brejeng terhadap Endang Patibroto. Setelah selesai, menjelang pagi ia melanjutkan perjalanan. Ke Blambangan.

********************


Endang Patibroto merasa menyesal dan kecewa sekali mendengar penuturan Raden Sindupati bahwa Ki Brejeng semalam telah melarikan diri.

"Memang selama di Blambangan, dia selalu gelisah dan agaknya tidak kerasan. Dia yang sejak dahulu suka hidup bertualang dan bebas, agaknya tidak tahan hidup bermalas-malasan di Blambangan. Hanya karena ia merasa berhutang budi kepada Gusti Adipati Blambangan sajalah agaknya yang membuat kakek itu segan meninggalkan pekerjaannya. Akan tetapi, semenjak ia ikut bersama rombongan kami, makin tampak sifatnya yang suka akan alam bebas. Semalam, betapapun kami berusaha mencegahnya, ia tetap tidak mau mendengar dan melarikan diri. Kami tidak dapat menahannya dengan paksa. Kasihan orang tua itu, kalau memang dia ingin hidup bebas, biarlah," demikian antara lain keterangan Raden Sindupati kepadanya.

Endang Patibroto dapat menerima keterangan ini karena iapun mengenal watak seorang bekas anak buah gurunya seperti Ki Brejeng itu. Akan tetapi, sedikit banyak kepergian Ki Brejeng mempengaruhi hatinya, membuat ia kurang senang. Namun, karena ia harus membalas dendam hatinya kepada Kerajaan Jenggala dan Panjalu, ia harus mencari sekutu dan untuk menghadapi kekuatan barisan kedua kerajaan itu, maka Kadipaten Blambangan merupakan sekutu yang baik.

Selama dalam perjalanan, Raden Sindupati memperlihatkan sikap yang amat baik, sopan dan menghormat kepadanya sehingga senang juga hati Endang Patibroto. Ia mengambil keputusan bahwa kalau Adipati Blambangan kurang baik sikapnya, masih belum terlambat baginya untuk pergi dari Blambangan dan menuntut balas seorang diri saja.

Akan tetapi, ternyata bahwa Adipati Blambangan menyambut kedatangannya dengan sikap yang amat baik. Adipati itu seorang tinggi besar, mukanya penuh cambang bauk, kedua lengannya yang kuat dan besar itupun penuh rambut yang panjang seperti lengan monyet besar. Matanya lebar-lebar dan suaranya parau kasar, suka tertawa akan tetapi sikapnya yang kasar itu malah menyenangkan hati Endang Patibroto, mengingatkannya kepada mendiang gurunya, Dibyo Mamangkoro.

Adipati Blambangan itu bernama Adipati Menak Linggo, dahulunya seorang adipati- yang diangkat oleh raja di Bali, akan tetapi yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri tidak mengakui kedaulatan Raja Bali maupun Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Berkali-kali Kerajaan Bali mengirim pasukan untuk menyerang, namun selalu dipukul mundur oleh barisan Kadipaten Blambangan yang kini menjadi kuat dan memiliki banyak panglima-panglima yang sakti.

Adipati Menak Linggo yang tinggi besar dan tubuhnya penuh bulu itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Kabarnya, ketika gajah putih Dwipangga Seta yang didapatnya sebagai hadiah dari barat pada suatu hari mengamuk, kepalan tangan kanan Adipati Menak Linggo inilah yang menundukkannya, dengan sekali pukulan membikin pecah kepala gajah yang mengamuk itu sehingga tewas seketika!

Di samping tenaganya yang dahsyat, adipati ini wataknya keras dan dengan tangannya sendiri, ponggawanya yang bersalah akan dipukulnya mati sekali pukul. Akan tetapi, di samping kekerasan terhadap yang salah, adipati ini terkenal royal dan pandai mengambil hati ponggawa-ponggawa yang pandai dan berjasa sehingga para ponggawa yang pandai suka mengabdi kepadanya.

Sebagai contoh akan keroyalannya, karena melihat kesetiaan dan kepandaian Raden Sindupati, ia tidak saja membiarkan Raden Sindupati bermain gila dengan selir-selirnya yang cantik-cantik dan banyak jumlahnya, bahkan ia menyerahkan seorang di antara puteri-puteri selirnya yang baru berusia lima belas tahun untuk diselir oleh Raden Sindupati yang tak pernah mempunyai isteri.

Banyak sekali senopati-senopati yang sakti mandraguna dan pandai memimpin tentara bekerja di Blambangan. Selain Raden Sindupati yang selain sakti juga amat pandai bersiasat dan dua bersaudara Klabangkoro dan Klabangmuko yang kuat dan setia, masih terdapat banyak senopati-senopati yang sakti, di antaranya yang paling menyolok adalah Ki Patih Kalanarmodo, Patih Blambangan yang masih tunggal guru dengan Adipati Menak Linggo.

Kalau sang adipati berusia lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar, ki patih ini usianya lebih tua lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi kalau orang, sudah menyaksikan tandangnya (sepak terjangnya), dia akan terkejut sekali. Ki patih ini adalah seorang yang amat ahli dalam air. Ia pandai berenang seperti seekor ikan hiu, kuat sampai lama sekali menyelam dalam air dan pandai mengatur barisan yang bergerak di atas perahu-perahu.

Berkat kepandaian ki patih inilah maka beberapa kali barisan Bali yang menyerang melalui laut, selalu mengalami kegagalan. Selain ahli dalam hal itu, juga ki patih ini memiliki tubuh yang licin seperti belut. Kabarnya, dia tidak dapat dibelenggu, tidak dapat dirantai. Betapapun kuat orang merantai dan mengikatnya, tubuhnya yang licin seperti belut itu pasti akan dapat terlepas dalam waktu singkat!

Orang ke dua yang terkenal sekali dalam barisan senopati Blambangan adalah Mayangkurdo. Senopati Blambangan ini adalah seorang peranakan Bali, tubuhnya besar sekali akan tetapi pendek sehingga kelihatan persegi empat! Kekuatannya amat mengagumkan dan selain kuat, iapun kebal tidak termakan senjata tajam dan runcing.

"Huah-hah-ha-ha-ha! Bagus, bagus ...... ! Aaahh, wong denok ayu yang gagah perkasa! Endang Patibroto yang. sakti - manraguna! Aha, sudah lama sekali aku mendengar tentang dirimu yang amat mengagumkan! Bagus, andika suka datang bersama Sindupati senopatiku yang setia. Bagus sekali! Sudah kudengar pelaporan juru berita tentang malapetaka yang menimpa dirimu. Waaahhh! Memang Raja Jenggala itu seorang manusia tak berjantung! Tega membunuh putera sendiri dan menjatuhkan fitnah keji kepada seorang puteri mantu yang begini denok, begini perkasa! Keparat! Dan apa pula itu Raja Panjalu! Halus mulus seperti wanita! Tidak patut! Tidak patut! Harus dihancurkan Jenggala dan Panjalu, dibumi-hanguskan disamaratakan dengan bumi. Eh, sang puteri, Endang Patibroto. Katakanlah, apa kehendakmu sekarang setelah andika menghadap di depanku, heh?"

Ucapan sang adipati ini kasar sekali, akan tetapi Endang Patibroto sudah biasa dengan sikap dan ucapan kasar. Gurunya dahulu, Dibyo Mamangkoro, lebih kasar daripada adipati ini. Dahulu, dalam pergaulannya dengan gurunya dan anak buah gurunya, semua laki-laki itu kasar dan tidak sopan, akan tetapi di dalam kekasaran mereka itu ia melihat suatu keindahan, yaitu keindahan daripada sikap jantan yang terus terang dan jujur polos!

Karena itulah maka kini ia menilai sang adipati dengan kesan yang baik pula, menganggap bahwa Adipati Menak Linggo inipun tentu seorang kasar yang jujur! Endang Patibroto sama sekali tidak tahu bahwa kekasaran sikap seorang laki-laki tidak dapat dijadikan ukuran bahwa ia jujur dan setia! Ia sama sekali tidak tahu, bahkan mendugapun tidak bahwa di balik kekasaran watak Sang Adipati Blambangan ini tersembunyi kecerdikan dan kepalsuan yang mengerikan!

Teringat akan persamaan watak adipati ini dengan gurunya, Endang Patibroto tersenyum. Disebut wong denok ayu oleh seorang bersikap seperti ini tidaklah menyakitkan hati, bahkan menyenangkan karena ia tahu bahwa di balik sebutan yang amat bebas dan berani ini tidak tersembunyi maksud buruk. Andaikata orang lain yang menyebutnya demikian, dengan sikap mencumbu atau berkurang ajar, tentu tanpa banyak cakap lagi ia akan turun tangan menghajarnya, mungkin membunuhnya!

"Adipati Menak Linggo, hatikupun lega melihat dan bertemu denganmu. Kau bertanya tentang kehendakku datang ke Blambangan dan bertemu denganmu? Sudah jelas dan agaknya Raden Sindupati sudah menyampaikan pelaporan kepadamu bahwa aku ingin sekali membalas dendam atas kematian suamiku dan atas pencemaran nama baikku. Karena itu, mendengar bahwa engkau berhasrat hendak menyerang Jenggala, maka aku ingin bekerja sama denganmu. Aku ingin menjadi senopati jika bala tentaramu menyerang Jenggala."

"Huah-ha-ha-ha-ha! Hebat engkau! Hebat sekali! Siapa menyangka bahwa dalam tubuh yang denok ayu, di balik wajah yang cantik jelita, seperti Dewi Sri, bersembunyi semangat yang membara! Bagus, bagus! Mulai saat ini, anggaplah dirimu sendiri sebagai senopatiku! Ha-ha-ha-ha! Di mana di dunia ini ada seorang adipati yang mempunyai seorang senopati begini hebat, begini bahenol (denok)? Eh, senopatiku yang denok, tahukah engkau syarat menjadi senopati?"

"Adipati, di waktu aku baru berusia belasan tahun, aku sudah pernah menjadi senopati Kerajaan Jenggala! Tentu saja syarat seorang senopati harus pandai mengatur barisan, harus memiliki kesaktian dan keberanian, dan harus setia."

Tentu saja Sang Adipati Menak Linggo tahu akan kesemuanya itu. Ia tahu betul siapa wanita di depannya ini. Tahu bahwa wanita sakti inilah yang menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Wanita inilah yang membunuhi orang orang perkasa, dan yang amat menyakitkan hatinya adalah terbunuhnya pamannya, yaitu Bhagawan Kundilomuko di tangan wanita ini! Akan tetapi semua ini hanya terkandung di dalam hati Sang Adipati Menak Linggo, sedangkan pada wajahnya yang penuh cambang bauk itu tidak tampak sesuatu kecuali ketawa riang gembira.

"Heh-heh, bagus-bagus! Memang ltulah syaratnya, akan tetapi bagaimana aku tahu bahwa kesaktianmu yang tersohor luar biasa itu benar-benar dapat mengatasi semua senopatiku? Ha-ha-ha, ketahuilah, Endang Patibroto senopatiku, di Blambangan ini aku mempunyai banyak sekali senopati yang sakti mandraguna! Dan perang terhadap Jenggala dan Panjalu adalah perang besar yang tidak ringan. Aku sendiri harus maju dan tentu saja yang menjadi senopati beryuda (berperang) harus yang terbaik di antara semua senopatiku!"

Merah kedua pipi yang halus seperti lilin itu. Endang Patibroto yang masih berdiri di depan Adipati Menak Linggo yang duduk, kini menyapu ruangan paseban itu dengan pandang matanya. Ia memandang setiap orang yang hadir, yang duduk bersila di atas lantai. Mereka yang bertemu pandang dengan mata Endang Patibroto, melihat sinar mata yang tajam seperti ujung keris pusaka yang mengandung cahaya panas berahi, yang amat berwibawa dan yang jelas membayangkan keberanian yang mengerikan. Banyak di antara para ponggawa yang hadir, tak dapat lama-lama menentang pandang mata seperti itu, ada yang menunduk, dan ada pula yang memaksa bertahan untuk akhirnya berkedip-kedip!

"Adipati Menak Linggo! Untuk membuktikan kesanggupanku, aku bersedia melayani semua senopatimu untuk bertanding kedigdayaan!"

"Huah-hah-hah-hah!" Adipati Menak Linggo menoleh ke kanan kiri, memandangi para senopatinya. sambil terkekeh-kekeh. "Para senopatiku ditantang! Ditantang bertanding kedigdayaan oleh seorang wanita cantik jelita! Hah-ha-ha-ha, apakah ini tidak menggelikan? Hayo, siapa yang berani??"

Seorang di antara para senopati Blambangan itu adalah seorang yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, wajahnya tampan, tubuhnya sedang akan tetapi wajahnya agak pucat dan matanya kemerahan penuh nafsu berahi. Pemuda ini seorang senopati yang terkenal pandai bermain panah, namanya Haryo Baruno. Di samping ahli bermain panah, juga dia seorang ahli bermain asmara! Semacam Raden Sindupati akan tetapi lebih parah lagi. Kalau Raden Sindupati mencari korban nafsunya di antara para puteri, adalah Haryo Baruno ini begitu mata keranjangnya sehingga siapa saja, asal dia wanita masih muda dan tidak cacad, tentu tidak terlepas daripada incaran dan godaannya.

Semenjak tadi ia melihat tubuh belakang Endang Patibroto dan jantungnya sudah jungkir-balik tidak karuan. Berkali-kali kalamenjingnya bergerak turun naik ketika ia menelan ludah saking besarnya dorongan hasrat dan gairah nafsu berahinya. Baru melihat bentuk pinggul itu saja, ia sudah tergila-gila, apalagi ketika Endang Patibroto memutar tubuh dan tampak wajahnya.

Haryo Baruno melongo dan pandang matanya seakan hendak menelan Endang Patibroto bulat-bulat! Ia baru sekali ini melihat dan mendengar nama Endang Patibroto maka tentu saja akan kesaktian yang dipuji-puji setinggi langit oleh Adipati Menak Linggo, ia sama sekali tidak memandang sebelah mata. Kini, begitu melihat kesempatan untuk mempermainkan Endang Patibroto seperti yang biasa ia lakukan terhadap setiap wanita, berkatalah ia cepat-cepat sebelum lain orang ada yang mendahuluinya,

"Gusti adipati, hamba rasa amatlah sayang kalau kulit yang begitu halus menjadi lecet dalam bermain yuda! Hamba berani menantangnya mengadukelincahan. Kalau dia dapat mengelak semua usaha hamba untuk memeluk dan menciumnya, hamba akan mengaku kalah dan tidak berkeberatan dia menjadi senopati perang, yaitu setelah lima kali hamba menubruknya. Akan tetapi, kalau sampai dapat terpeluk dan tercium oleh hamba sang dewi yang jelita ini harus menemani hamba, tidur selama... aaauuuuggghhh...!!"

Tahu-tahu tubuh Haryo Baruno terlempar sampai menabrak dinding ruangan itu dan ketika tubuhnya terbanting ke atas lantai, darah mengalir dari telinga, mulut, hidung dan mata. Kepalanya telah pecah dan tewas seketika!

Semua orang melongo, terbelalak dan kaget sekali. Mereka tadi hanya melihat tubuh Endang Patibroto bergerak ke arah Haryo Baruno dan tangan kanan wanita itu bergerak menghantam. Tahu-tahu senopati muda itu telah terlempar dan tewas dalam keadaan begitu mengerikan. Bahkan Adipati Menak Linggo sendiri merasa kaget dan ngeri. Bukan main hebatnya wanita ini. Pantas saja pamannya yang sakti, Bhagawan Kundilomuko, tewas di tangan wanita ini. Juga sekutu utusannya, Sang Wiku Kalawisesa juga tewas di tangannya!

"Eh... hoh-hoh kenapa...? Kenapa kau membunuh seorang senopatiku begitu saja di hadapanku, Endang Patlbroto?" Baru sekali ini sejak tadi sang adipati tidak tertawa, mukanya yang penuh cambang bauk itu kemerahan, matanya melotot lebih lebar lagi dan air ludahnya muncrat-muncrat ketika ia menegur.

Endang Patibroto yang tadi menghajar mampus Haryo Baruno dengan gerak Bayu Tantra dilanjutkan pukulan Pethit Nogo kemudian secepat kilat melayang kembali ke tempatnya yang tadi, perlahan-lahan memutar tumit kakinya menghadapi sang adipati. Bibir yang manis itu tersenyum dan orang yang sudah mengenal watak Endang Patibroto sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit, senyum ini amat mengerikan. Makin manis senyum Endang Patibroto seperti itu, makin berbahayalah dia karena senyum ini menyembunyikan gelora hati yang marah!

"Adipati Menak Linggo, maafkan kalau aku telah mengotori ruangan persidanganmu, akan tetapi aku tidak bisa membiarkan seorang macam dia menghinaku. Siapapun orangnya, kalau berani mengucapkan kata-kata kotor menghina seperti itu kepadaku, tentu akan kubunuh, di manapun ia berada dan bilamanapun!"

Adipati Menak Linggo termenung sebentar, mengerutkan alisnya yang tebal sekali, kemudian bertanya, "Kalau ada senopati hendak mengujimu, apakah kaupun akan turun tangan membunuhnya?"

Endang Patibroto menggeleng kepala. "Tentu saja tidak. Bertanding mengadu kedigdayaan bukanlah pertandingan mengadu nyawa. Penghinaan berbeda lagi, harus dibalas dengan kematian. Sampai di mana harga diri seorang wanita kalau membiarkan dirinya diperhina laki-laki seperti yang dikeluarkan dari mulut laki-laki keparat itu tadi?"

Adipati Menak Linggo mengangguk-angguk, kemudian sudah menyeringai tertawa lagi, menggerakkan tangan kepada para pengawal, "Sudah, lekas bawa keluar mayat itu!"

Para senopati yang hadir di situ diam-diam menjadi marah sekali terhadap Endang Patibroto. Kemarahan yang tadinya timbul oleh rasa iri hati menyaksikan betapa junjungan mereka memuji-muji dan menghormat Endang Patibroto secara berlebihan. Semua senopati menghadap sambil duduk di lantai, akan tetapi wanita ini berdiri saja dan sama sekali tidak menghormat Adipati Menak Linggo. Kemarahan mereka makin menjadi oleh pembunuhan yang dilakukan Endang Patibroto terhadap Haryo Baruno. Akan tetapi, melihat kesaktian yang mengerikan itu, sebagian besar para senopati sudah kuncup hatinya, hilang keberaniannya untuk menentang wanita sakti itu.

"Huah-ha-ha-hal Kehebatanmu membuat hati laki-laki menjadi kecil, Endang Patibroto. Eh, Mayangkurdo, apakah engkau juga tidak berani menguji kedigdayaan Endang Patibroto?"

Mayangkurdo mengangkat mukanya, memandang kepada Endang Patibroto. Senopati Blambangan berusia empat puluh tahun ini tidak pernah mengenal takut. Di dalam perang ia terkenal sebagai penyerbu terdepan dan jika pasukan terpaksa mengundurkan diri, selalu berada paling belakang. Dia adalah tokoh nomor dua di antara para senopati yang dikepalai oleh Ki Patih Kalanarmodo sendiri sebagai tokoh nomor satu.

Kematian Haryo Baruno tadi tidak menimbulkan perasaan sesuatu dalam hatinya karena Mayangkurdo menganggap Haryo Baruno sebagai seorang bawahan yang tiada artinya. Dan di antara para senopati, yang tahu bahwa Endang Patibroto ini sebetulnya musuh besar sang adipati yang harus dibunuh, mengerti pula bahwa sang adipati menggunakan siasat halus, hanyalah Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo, dan Raden Sindupati bersama tangan kanannya, yaitu kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko. Oleh karena itulah maka ia tidak merasa iri hati menyaksikan betapa Adipati Menak Linggo memuji-muji Endang Patibroto.

"Hamba bersedia untuk menguji kesaktian wanita perkasa Endang Patibroto!" katanya, maklum bahwa sang adipati selain hendak menyuruhnya menguji kesaktian, juga kalau mungkin membunuh wanita inil

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Mayangkurdo. Memang engkaulah yang pantas menandingi Endang Patibroto!" kata sang adipati girang.

Ruangan persidangan itu cukup luas untuk bertanding ilmu dan para senopati sudah mundur untuk memberi tempat yang luas bagi kedua orang yang hendak mengadu ilmu. Endang Patibroto tersenyum, memandang calon lawannya dengan sinar mata penuh selidik. Melihat bentuk tubuh orang itu, ia dapat menduga bahwa Mayangkurdo memiliki tenaga yang amat besar, dan sikap orang ini yang tenang, pandang matanya yang tajam juga membayangkan kekuatan dalam yang tak boleh dipandang ringan. Namun tentu saja ia tidak takut dam sambil tersenyum ia berkata kepada calon lawannya,

"Majulah, Mayangkurdo!"

"Baiklah, Endang Patibroto, kau hati-hatilah akan seranganku!" kata pula Mayangkurdo yang sudah menyembah sang adipati kemudian sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan berhadapan dengan Endang Patibroto.

Mayangkurdo sudah memasang kuda-kuda. Kedua kakinya bersilang, lutut ditekuk sedikit sehingga tubuhnya yang pendek menjadi makin rendah, tangan diangkat melengkung melindungi kepala, tangan kanan dengan jari dikepal ditaruh di depan dada kiri, sebagian mukanya terhalang oleh lengan kiri dan sepasang matanya mengintai lawan dari bawah lengan kiri itu. Kuda-kudanya ini amat kuat dan kedudukan kedua lengannya merupakan perisai yang setiap saat dapat bergerak menangkis, akan tetapi juga mudah dirubah untuk menjadi gerak serangan dari atas dan bawah. Karena tubuhnya pendek, maka kuda-kuda inipun merupakan kuda-kuda segi empat yang kokoh kuat. Lawan akan sukar mencari lowongan atau sasaran yang mudah dimasuki.

Melihat kuda-kuda lawan ini, Endang Patibroto diam-diam memuji. Orang ini bertenaga kuat dan agaknya sudah menduga akan kesaktiannya maka memasang kuda-kuda yang menitik beratkan kepada pertahanan itu. Karena tidak mau gagal Endang Patibroto tidak tergesa-gesa. Pertandingan kali ini adalah pertandingan untuk menguji kedigdayaan, bukan perkelahian merebut kemenangan dengan taruhan nyawa. Kalau dalam perkelahian, ia tidak akan berlaku terlalu sungkan atau mengalah, tentu sudah digempurnya dengan gerak cepatnya, seperti yang telah ia lakukan pada diri Haryo Baruno tadi.

Kemenangan sekali ini harus ia dapatkan tanpa membunuh lawan, paling-paling hanya merobohkan dan melukainya tanpa membahayakan keselamatan nyawa. Maka iapun lalu memasang kuda-kuda yang amat indah dipandang. Indah dan gagah. Ia berdiri miring dengan lawan di sebelah kanannya. Kaki kanan diangkat dengan paha lurus kedepan, lutut ditekuk, kaki lurus ke bawah. Kaki kiri tegak dan teguh. Lengan kanan diangkat, tangan kanan dengan jari-jari terbuka dan dikembangkan menghadap musuh, telapak tangan di atas dengan ibu jari ditekuk ke dalam. Tangan kiri dikepal, menempel di siku kanan. Matanya melirik ke kanan, ke arah lawan. Tubuhnya tak bergerak sama sekali, teguh dan kokoh kuat, namun indah seperti sebuah patung batu pualam, bibirnya yang merah membasah tersenyum mengejek.

Para senopati memandang tegang. Adipati Menak Linggo juga memandang penuh perhatian, mulutnya menyeringai matanya melotot, tubuhnya agak condong ke depan karena ia tidak ingin melewatkan sedikitpun gerakan pertandingan ini. Ruangan menjadi sunyi sekali, seakan tiada manusianya. Tiba-tiba Mayangkurdo bergerak, mula-mula yang tampak hanya getaran pundak dan betis, lalu terdengar ia berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju bagaikan angin badai.

"Haaaaahhhhh!!" Tubuhnya yang segi empat itu seperti sebuah peluru menyambar ke depan, tangan kiri mencengkeram pundak lawan, tangan kanan menyusul dengan pukulan keras sekali ke arah perut.

"Hyaaaaattt...!" Seruan nyaring ini keluar dari mulut Endang Patibroto dan tubuhnya itu sudah melejit seperti seekor burung walet, menghindar ke kiri Dengan membanting kaki kanan ke depan dan membalikkan tubuh, kini kaki kiri yang berbalik di depan. Ketika membalikkan tubuh tadi, cengkeraman lawan terelakkan, akan tetapi, pukulan lawan ditangkis dengan kepretan jari-jari tangan kiri yang menyambar dari atas ke bawah, menampar lengan kanan yang memukul perut itu dari atas ke bawah.

"Plakkk.............. !!

"Aiiihhh....!" Tubuh Mayangkurdo seperti diseret dan hampir saja ia terbanting kalau tidak cepat-cepat ia meloncat dan mematahkan tenaga yang mendorongnya. Kepretan jari-jari tangan yang lentik halus itu bukan sembarangan kiranya! Bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan dengan jari-jari kecil halus yang penuh berisi setrum Aji Pethit Nogo!

Mayangkurdo menjadi merah mukanya. Lengan kanan di bagian pergelangan yang tercium jari-jari tangan wanita itu terasa pedas dan panas. Ia sudah memasang kuda-kuda lagi, kini tubuhnya makin merendah sehingga kepalanya kira-kira setinggi dada Endang Patibroto.

Di lain pihak, Endang Patibroto juga tertegun. Kepretan jari tangannya tadi hebat sekali dan jarang ada lawan dapat menahannya. Ia tadinya menaksir bahwa dengan pengerahan tenaga sakti Pethit Nogo, ia akan berhasil mematahkan lawan, atau setidaknya membuat lengan lawan keselio. Akan tetapi ternyata lawan ini hanya berseru kesakitan saja.

Ketika ia memandang, pergelangan lawan itu jangankan patah, lecet atau bengkak pun tidak! Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan lawan yang memiliki aji kekebalan yang lumayan kuatnya. Kembali ia memasang kuda-kuda, menanti lawan menerjang. Hanya dengan cara inilah ia mengharapkan dapat merobohkan lawan tanpa membunuhnya.

Kalau dia yang mendahului menerjang, ia tidak percaya kepada dirinya sendiri, tahu bahwa aji-ajinya terlampau hebat untuk dibuat main-main. Ia khawatir kalau ia yang menyerang, lawannya ini akan terpukul mati dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki karena ia benar-benar ingin bersekutu dengan Blambangan agar maksud hatinya membalas dendam tercapai.

Mayangkurdo seorang senopati yang tidak mengenal takut. Akan tetapi, gebrakan pertama membuat ia berhati-hati sekali, dan tidak mau gegabah menerjang lagi seperti tadi. Ia hanya memasang kuda-kuda, kemudian melihat lawan tak bergerak sedikitpun, ia merubah kuda-kuda sambil melangkah maju setindak mendekat. Endang Patibroto tersenyum. Ia maklum bahwa perubahan kuda-kuda lawan ini menempatkan ia dalam posisi terbuka dan lemah.


Kuda-kuda wanita sakti ini hanya menutup bagian depan tubuh, kalau lawan berada di kirinya, tentu saja lambung, dan leher sebelah kirinya menjadi terbuka dan tidak terjaga. Namun ia sengaja diam saja untuk memberi kesempatan kepada lawan agar suka menyerang karena iapun dapat menduga bahwa lawan menjadi hati-hati dan tidak mau menyerang secara sembrono seperti tadi. Saat yang dinanti-nantinya datang. Lawan menerjang dengan dahsyat sekali dan amat cepatnya sehingga dalam gebrakan ini, Mayangkurdo sudah menyerangnya dengan tiga serangan hampir sekaligus, yaitu dengan kedua tangan menyerang lambung dan leher, disusul sabetan kaki kanan menyerimpung kakinya!

"Haiiiiittttt ......!!" Mayangkurdo berkelebat cepat sekali ketika menyerang sehingga bagi yang tidak dapat mengikuti gerakannya, melihat seolah-olah kedua lengannya lenyap menjadi bayangan menyambar.

"Iiiiihhhh!!" Endang Patibroto berseru perlahan dan bagi Mayangkurdo, tubuh lawannya itu tiba-tiba saja lenyap sehingga tiga serangannya mengenai angin kosong! Barulah ia tahu ketika ada angin menyambar dari atas, cepat ia menangkis, namun kalah cepat karena pundaknya tiba-tiba disambar sesuatu yang lunak namun beratnya seperti Gunung Semeru menindih pundak. Ia merasa pundaknya seperti ambleg dan kedua kakinya menggigil dan tak dapat ia pertahankan lagi sehingga ia mendeprok berlutut! Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang-kunang akan tetapi senopati yang tangguh ini belum juga roboh!

Bagi orang lain yang menonton, mereka melongo ketika tadi melihat betapa tiba-tiba tubuh Endang Patibroto yang diserang dahsyat itu melambung tinggi melewati atas kepala Mayangkurdo dan dari atas, Endang Patibroto menggunakan tangan kirinya menghantam pundak lawan. Biarpun kelihatannya hanya menepuk perlahan, namun sesungguhnya telapak tangan kiri wanita sakti ini menggunakan Aji Gelap Musti yang ampuhnya menggila dan hebatnya seperti kilat menyambar. Sengaja Endang Patibroto tidak menggunakan Aji Pethit Nogo karena khawatir kalau-kalau ia akan meremukkan tulang pundak dan hal ini terlalu berat bagi lawan. Memang ada perbedaan antara semua aji yang dimiliki Endang Patibroto.

Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) keistimewaannya adalah hawa sakti yang memenuhi ujung-ujung jari tangan. Aji ini didapatnya dari kakeknya, Resi Bhargowo. Karena terdapat di ujung-ujung jari, maka digunakan sebagai tamparan atau kepretan dan jari-jari yang berubah menjadi sekuat ekor naga ini dapat meremukkan tulang-tulang yang tertampar.

Adapun aji pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) ini dapat dipergunakan dengan tangan terkepal atau hanya dengan telapak tangan yang penuh dengan getaran tenaga yang timbul dari hawa sakti. Pukulan ini selain terasa berat seperti tindihan gunung, juga mengandung hawa panas yang melumpuhkan lawan, akan tetapi sifatnya tidak tajam sehingga tidak membahayakan tulang seperti halnya Aji Pethit Nogo.

Ada lagi ilmu pukulan hebat luar biasa yang dimiliki Endang Patibroto, yaitu yang disebut Aji Pukulan Wisangnala (Hati Beracun). Pukulan ini hanya dapat digunakan jika ia berada dalam keadaan marah dan sakit hati, jika ia bermaksud untuk membunuh lawan karena kemarahan yang hebatlah yang menjadi pendorong pukulan ini hingga menjadi pukulan beracun yang dapat menghanguskan isi rongga dada Iawan! Ilmu-ilmu yang hebat ini ia dapatkan dari gurunya si manusia iblis Dibyo Mamangkoro!

Kembali Endang Patibroto tertegun. Pukulan yang ke dua itu, Gelap Musti, amat kuat dan ia tadinya mengharapkan memukul pingsan lawan. Akan tetapi siapa kira, lawannya hanya jatuh terduduk dan pening sejenak, terbukti dari kedua matanya yang dipejamkan. Kemudian tubuh pendek besar itu sudah meloncat bangun lagi seakan-akan tidak pernah terpukul aji yang ampuh!

"Hebat...!!" katanya di dalam hati. Kiranya Blambangan memiliki senopati-senopati yang begini kuat. Ia tahu bahwa dalam hal kekebalan, Mayangkurdo ini tentu jauh lebih menang daripada Raden Sindupati, sungguhpun dalam hal ilmu silat, si pendek besar ini masih kalah setingkat.

Pada saat itu, Mayangkurdo yang sudah menjadi marah sekali, telah menerjangnya secara bertubi-tubi dan hebat. Kali ini, dari kerongkongan Mayangkurdo terdengar suara menggereng-gereng seperti seekor harimau terluka. Namun serangan yang cepat ini malah menggirangkan hati Endang Patibroto.

Makin cepat lawan menyerang, makin baik baginya karena jangankan hanya dengan gerak cepat yang dimiliki Mayangkurdo seperti itu, andaikata Mayangkurdo memiliki yang berlipat ganda, takkan dapat menandingi gerak cepatnya dengan aji Bayu Tantra ditambah gerakan-gerakan burung walet dan camar yang ia pelajari dahulu di waktu kecilnya dari ibunya, Kartikosari!

Makin cepat Mayangkurdo menyerang, makin cepat pula tubuh Endang Patibroto bergerak mengelak sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya, berubah menjadi bayangan yang kerkelebat ke sana ke mari! Mayangkurdo menjadi pening kepalanya, pandang matanya berkunang-kunang karena ia merasa seakan-akan bertanding melawan bayangannya sendiri.

Para senopati, termasuk juga Adipati Menak Linggo, memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Gentarlah rasa hati mereka. Kecuali Raden Sindupati yang menonton dengan pandang mata penuh kekaguman dan dengan hati makin berdebar penuh rasa cinta berahi. Ia harus mendapatkan wanita ini! Harus! Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang kekasih seperti Endang Patibroto ini, dalam mimpipun tidak pernah. Ia harus menggunakan akal, la harus berhasil memiliki tubuh denok ayu yang penuh dengan hawa sakti itu! Harus!

Pertandingan berjalan makin seru dan gerakan Endang Patibroto makin cepat sehingga akhirnya Mayangkurdo menyerang secara ngawur. Ke manapun ia melihat bayangan berkelebat, ke sanalah ia mengirim tinjunya.

Akan tetapi karena bayangan itu makin lama makin banyak dan berkelebat di sekeliling tubuhnya, iapun ikut berputaran sambil menghantam sana sini sampai akhirnya ia roboh terguling pingsan dalam keadaan mata terbelalak dan napas hampir putus, tubuhnya-kejang-kejangl

Endang Patibroto berhenti bergerak, dan melihat keadaan lawannya, ia kaget sekali. Ia tahu bahwa biarpun ia tadi tidak memukul, namun keadaan Mayangkurdo kini lebih berbahaya lagi. Lawannya ini telah mengalami akibat daripada tenaga sendiri yang membalik, ditambah pening dan kemarahan meluap-luap sehingga kalau dibiarkan dalam keadaan seperti ini, ada bahaya akan putus napasnya.

Cepat ia menepuk pundak lawan yang segera lenyap kejangnya, tubuhnya lemas dan pingsan, akan tetapi napasnyapun tidak magap-megap seperti. tadi. Dan ketika menotok pundak orang itu, diam-diam Endang Patibroto terkejut dan kagum karena baru ia tahu sekarang bahwa orang ini memiliki ilmu kekebalan yang setingkat dengan ilmu kekebalan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Pantas saja kuat menahan pukulan-pukulan ampuh.

Kini berisiklah ruangan persidangan itu. Para senopati saling berbisik dan rata-rata mereka itu memuji kehebatan ilmu kesaktian Endang Patibroto. Bahkan Adipati Menak Linggo sampai lama tertegun, kemudian setelah melihat Mayangkurdo bergerak dan bangkit duduk sambil mengeluh, barulah ia tertawa terbahak.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau benar hebat, Endang Patibroto!"

Endang Patibroto menghadapi Adipati Menak Linggo, hatinya merasa puas. "Memang sejak kecil aku digembleng. untuk menjadi senopati, adipati! Kalau engkau masih belum yakin, boleh mengajukan penguji lagi." Ia menoleh ke sekelllingnya dan kali ini semua yang bertemu pandang dengannya, cepat-cepat menundukkan muka. "Masih ada lagikah senopati gemblengan yang hendak main-main sebentar dengan aku?"

Kembali sunyi senyap di situ. Ketegangan timbul karena tantangan Endang Patibroto ini. Adipati Menak Linggo sendiri menjadi malu karena senopatinya seperti serombongan kelinci melihat munculnya seekor harimau buas. Bagaimanakah para jagoannya yang biasanya galak-galak itu kini menjadi seperti orong-orong terpijak, tidak ada suaranya sama sekali? Terdengar orang batuk-batuk, batuk buatan yang dimaksudkan mengusir keheningan yang mencekam.

"Gusti adipati, kalau paduka menghendaki, biarlah hamba sendiri yang menguji kesaktian Sang Puteri Endang Patibroto."

Inilah suara Ki Patih Kalanarmodo yang tadi batuk-batuk. Semua mata memandang kepada patih yang tua ini. Semua senopati maklum bahwa setelah Mayangkurdo kalah, memang tidak ada lain orang lagi yang patut menandingi Endang Patibroto. Ki patih ini adalah saudara seperguruan sang adipati sendiri, sungguhpun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan Adipati Menak Linggo, namun ia sakti sekali dan ada kemenangannya terhadap sang adipati, yaitu ilmu di dalam air.

"Kau, kakang patih? Ahhh, tidak usah, tidak perlu lagi. Aku sudah percaya akan kesaktiannya. Endang Patibroto, engkau kuterima menjadi senopati perang. Memang kau tepat untuk memimpin bala tentaraku menyerbu Jenggala dan Panjalu. Akan tetapi, penyerbuan itu tidak perlu dilakukan secara tergesa-gesa, karena sekali bergerak, kita harus jangan sampai gagal. Kau boleh melatih dulu pasukan-pasukan istimewa yang akan menjadi penggempur terdepan. Sementara itu, kau tinggallah di sini, dan senangkan dirimu. Jangan khawatir, takkan lama lagi Jenggala dan Panjalu kita gempur, kita bikin karang abang (lautan api) dan kau boleh memuaskan hatimu membalas kematian suamimu, ha-ha-ha-ha!"

Demikianlah, sejak saat itu, Endang Patibroto menjadi senopati di Blambangan. Ia diberi tempat tinggal mewah, di sebuah bangunan mungil indah di sebelah kiri istana, lebih indah dan lebih mewah daripada istana mendiang suaminya. Segala keperluannya disediakan oleh Adipati Menak Linggo dan tampaknya saja Endang Patibroto hidup senang, mewah dan mulia.

Akan tetapi, di samping kesibukannya menggembleng pasukan penyerbu yang istimewa dan segala kemewahan yang menyelimuti hidupnya, di waktu malam seorang diri di dalam kamarnya Endang Patibroto menangis tersedu-sedu, menangisi suaminya dengan hati penuh kedukaan.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 06