Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 02

"Akan tetapi, kuberitahu juga tidak mengapa agar kau tidak mati dalam penasaran. Aku tahu bahwa engkau akan mati di tanganku, Endang Patibroto, maka kau dengarlah dulu baik-baik dan jangan kaget akan hal-hal yang tentu tidak akan kau sangka-sangka. Heh-heh-heh! Memang tanpa tedeng aling-aling aku mengaku bahwa para ponggawa itu kubunuh atas perintah orang. Bukan sembarang orang, melainkan calon maharaja besar yang akan menguasai seluruh Panjalu dan Jenggala dijadikan satu! Dan untuk dapat menguasai kedua kerajaan ini, perlu sekali para penentangnya dan para penghalangnya disingkirkan lebih dulu untuk persiapan."

"Hemmm, sudah kuduga. Kemudian kau dan sekutumu menghamburkan desas-desus bahwa akulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu, bukan?"

"Heh-heh-hl-hi-hih! Itu akalku, Endang Patibroto. Akalku untuk memancing kau keluar mencariku. Akan tetapi kau ternyata penakut, tidak berani keluar sehingga terpaksa aku menyerang suamimu sebagai pancingan dan benar saja, kau datang menyerahkan nyawamu, heh-heh-heh!"

"Wiku jahanam, katakan siapa sekongkolmu itu!"

"Itu rahasia, heh-heh-heh, kau carilah sendIri. Tapi kau akan matl di sini, agar jangan menjadi setan penasaran, baik kuberitahu. Calon maharaja itu adalah Pangeran Darmokusumo di Panjalu."

"Apa....??" Endang Patibroto benar-benar kaget sekali karena tak pernah menduga. Pangeran Darmokusumo putera sang prabu di Panjalu? Ah, tidak mungkin! Pangeran Darmokusumo selain putera Sang Prabu Panjalu, juga putera mantu Sang Prabu Jenggala! Menikah dengan Puteri Mayagaluh, adik kandung Pangeran Panjirawit, suaminya! Mana mungkin ini? "Engkau dukun lepus, engkau tukang tenung hina-dina, engkau pembohong rendah! Siapa percaya omonganmu?"

"Heh-heh-heh, bocah kemarin sore semacam engkau ini yang begini tolol mana percaya? Mana bisa melihat kenyataan? Pangeran Darmokusumo tidak suka melihat kerajaan menjadi dua, beliau hendak menguasai seluruh kerajaan, dijadikan satu, pulih kembali seperti jaman Kahuripan, jaman Mataram."

"Tak mungkin ia mau membunuh-bunuhi ponggawa Jenggala, apalagi ponggawa Panjalu sendirI. Kau mengadu domba."

"Sesukamulah, Endang Patibroto. Engkau memang tolol, tidak tahu isi hati orang. Ponggawa-ponggawa Jenggala yang penting harus disingkirkan karena kelak menjadi penghalang, termasuk engkau sendiri yang terutama. Karena inilah beliau memilih aku yang memang ingin membunuhmu. Selama kau masih hidup, cita-citaku takkan tercapai. Maka rencana cerdik beliaulah yang mendesas-desuskan keadaanmu, mengatakan bahwa engkau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, karena engkau murid Dibyo Mamangkoro si manusia iblis! Ha-ha-ha, rencana yang bagus sekali dan kelak kalau beliau menjadi maharaja, aku Sang Wiku Kalawisesa akan diangkat menjadi sesepuh kerajaan."

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan nafsu amarah sudah memenuhi hati Endang Patibroto, matanya berkilat-kilat dan ia mulai ragu-ragu akan kebersihan Pangeran Darmokusumo. Memang semenjak kerajaan dibagi dua, selalu timbul ketegangan di antara kedua kerajaan bersaudara, bahkan dahulu sampai terjadi permusuhan, peperangan. Bukan tak bisa jadi kalau Pangeran Darmokusumo bercita-cita seperti itu, mempersatukan dua kerajaan, kalau perlu dengan kekerasan.

"Jangan coba menipu aku, wiku keparat. Pangeran Darmokusumo tidak mungkin suka membunuhi ponggawa-ponggawa Panjalu sendiri...!"

"Uuuuh, itulah kebodohanmu! Ponggawa-ponggawa yang terbunuh itu, seperti Tumenggung Diroprono, Senopati Surabala putera Patih Suroyudo, termasuk mereka yang menentang cita-cita Pangeran Darmokusumo, maka harus mati. Pangeran Darmokusumo sendiri yang memesan kepadaku untuk jangan sampai gagal membunuh engkau dan suamimu, heh-heh-heh, dan sekarang cita-cita beliau itu akan terlaksana..!

"Iblis laknat engkau, bukan aku, melainkan engkau yang akan mampus mendahului Darmokusumo!" Kemarahan Endang Patibroto tak tertahankan lagi.

Kini ia makin percaya bahwa benar-benar Pangeran Darmokusumo hendak memberontak, dan lebih menjengkelkan lagi, berniat membunuh dia dan suaminya, kakak ipar pangeran itu sendiri. Alangkah keji dan jahatnya! Tak boleh ia mendiamkan saja. Pangeran itu harus diseret di muka umum, dihajar dan dipaksa mengakui semua rencana pemberontakannya! Dalam amarah, ia sudah mengeluarkan aji kesaktiannya, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, hawa sakti terkumpul di tubuh, berputaran merupakan hawa panas yang menjalar dan berputar-putar dari ujung kaki sampai di ubun-ubun kepala. Ia sudah siap menandingl kakek sakti ini.

Sambil terkekeh-kekeh Wiku Kalawisesa mengangkat tongkat hitamnya sambil mengeluarkan bunyi mencicit seperti suara kelelawar dan tiga benda hitam tiba-tiba terbang menyambar kepala Endang Patibroto.. itulah tiga ekor kelelawar yang sejak tadi menggantung di bawah. Mereka ini menerjang Endang Patibroto, di bawah sinar pelita yang remang-remang itu tampak mata binatang-binatang ini merah bersInar-sinar, mulut terbuka memperlihatkan gigi yang runcing, kuku-kuku melengkung terbuka siap mencakar.

Apa artinya serangan tiga ekor kelelawar bagi Endang Patibroto? Biarpun tiga ekor kelelawar itu besar-besar, sebesar kucing, namun tanpa merubah kedudukan kaki, hanya dengan gerakan tangan kiri saja tanpa menggerakkan tangan kanan yang bertolak pinggang, Endang Patibroto berhasil menampar tiga kali berturut-turut, amat cepat gerakannya dan tiga ekor kelelawar itu mencelat, terlempar dan terbanting pada dinding pondok! Akan tetapi, tiga ekor binatang itu sudah terbang lagi menyambar, seakan-akan pukulan dan bantingan itu tidak mereka rasakan sama sekali.

Endang Patibroto terkejut. tamparan tangannya tadi cukup keras untuk membikin pecah kepala kerbau, bagaimana tiga ekor kelelawar itu hanya terlempar dan agaknya sama sekali tidak terluka? Ia mendengar kakek itu terkekeh dan kini bersama tiga ekor kelelawarnya, kakek itu sudah menyerangnya dengan tusukan tongkat hitam ke arah dadanya.

Endang Patibroto lega melihat betapa gerakan menusuk kakek itu tidak amat cepat, sungguhpun amat kuat. Mengertilah ia bahwa betapapun sakti kakek ini, namun dalam hal ilmu silat tidaklah tangguh. Kakek ini hanya mengandalkan keampuhan aji ilmu hitam dan tenaga mujijatnya saja. Dengan mudah ia mengelak sambil melangkah mundur, kemudian merendahkan tubuhnya membiarkan tiga ekor kelelawar menyambar lewat, kemudian dengan Aji Bayu Tantra tubuhnya mencelat ke depan, cepatnya melebihi seekor burung, dan tangannya sudah mengandung Aji Gelap Musti ketika dipukulkan ke dada Sang Wiku Kalawisesa.

"Dessss..!!!"

Pukulan ini tepat sekali, mengenai dada yang hanya tulang-tulang dibungkus kulit. Endang Patibroto dapat merasa betapa kepalan tangannya bertemu dengan tulang-tulang iga. Akan tetapi anehnya, ada semacam hawa dingin yang menolak pukulannya, atau yang melindungi tulang-tulang itu sehingga tulang-tulangnya tidak remuk, hanya tubuh kakek itu yang terlempar ke dinding, dekat arca Bathara Kala.

"Aduuhhh... aduuhhh... aduuhhh....!" Kakek itu mengeluh panjang pendek dan begitu tongkatnya menuding ke arah Endang Patibroto, segumpal asap hitam menyambar. Asap ini tebal dan membawa bau apak seperti bau kelelawar. Endang Patibroto miringkan tangan dan menampar dengan jari-jari terbuka, jari-jari yang mengandung Ajl Pethit Nogo.

"Pyurrr...!!"

Asap hitam yang bergulung tebal itu ambyar mawut, membubung ke atas, menerobos atap hitam dan lenyap. Ketika itu, tiga ekor kelelawar sudah menyambar lag, lebih ganas daripada tadi. Endang Patibroto menjadi gemas, dua ekor dapat ia pukul terpental, yang seekor, paling besar dan yang tadi mengelilingi rumahnya, ia tangkap. Kedua tangannya bergerak, mencengkeram sayap dan...

"krek-krekkkk....!" sepasang sayap binatang itu hancur berkeping-keping, dicabik-cabiknya, kemudian tubuh binatang Itu dibantingnya ke Iantai. Tubuh yang sudah tak bersayap itu terbanting, terpental, terbanting lagi seperti sebuah bola, kemudian menggelundung ke sudut, mengeluarkan bunyi mencicit aneh seperti orang mengerang dalam sekarat.

Binatang itu tidak mati, agaknya memiliki kekebalan luar biasa akan tetapi tidak berdaya lagi karena sepasang sayapnya sudah hancur. Yang dua lagi datang menyambar. Endang Patibroto kembali menangkap mereka, merobek-robek sayap mereka dan membanting tubuh mereka seperti tadi. Dua ekor kelelawar inipun terguling ke sudut pondok, tak dapat menyerang lagi.

Dengan pandang mata mulai beringas, semangat dan kegembiraan bertanding mulai menggairah di hatinya, Endang Patibroto membalikkan tubuh, mencari Wiku Kalawisesa. Dilihatnya kakek itu berlutut memeluk kaki arca, mengeluarkan ucapan-ucapan mantera yang tak dimengerti maksudnya. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika ia melihat sepasang mata arca itu. Dari sepasang mata itu keluar sinar kehijauan yang hebat dan menyilaukan mata! Tanpa disadari Endang Patibroto memandang sepasang mata arca itu dan ia seperti orang kena pesona, tubuhnya menjadi kaku dan ia tak dapat mengalihkan pandang matanya daripada sinar mata hijau yang melekat pandang matanya itu!

Pada saat itu, perlahan-lahan Wiku Kalawisesa sudah bangkit dari berlutut, tertawa terkekeh-kekeh dan terhuyung-huyung menghampiri Endang Patibroto. Tangan kirinya mencabut keris kecil sejengkal, tangan kanan mengangkat tongkat hitam tinggi-tinggi di atas kepala.

"Heh-heh-heh....hi-hi-hih, bersiaplah mati kau Endang Patibroto.... ha-ha!"

Endang hendak meloncat, tapi kedua kakinya seperti lekat pada tanah, hendak menggerakkan tangan akan tetapi kedua lengannya seperti lumpuh, hendak membuang muka tapi tak mampu melepaskan sinar hijau itu. Matanya perih dan lelah, amat lelah, mengantuk dan nikmat seperti kalau ia berada dalam dekapan suaminya. Suaminya tentu celaka kalau ia tidak segera menyelamatkan diri daripada pengaruh kekuatan mujijat.

Suaminya yang tercinta! Endang Patibroto melihat dengan perasaannya bahwa Wiku Kalawisesa sudah datang dekat, ujung keris sudah makin dekat, siap menusuknya. Ia mengerahkan segala tenaga batinnya, membayangkan wajah gurunya Dibyo Mamangkoro yang tertawa terbahak-bahak, kemudian bagaikan sebuah bendungan air yang pecah, terdengar mulutnya mengeluarkan suara jerit melengking yang sama sekali tidak menyerupai jerit manusia, melainkan lebih mirip pekik auman harimau betina.

"Aaauuuuuhhhhhmmmmm....!!!"

Luar biasa sekali pekik ini, karena ini bukan sembarang pekik, melainkan Aji Sardulo Bairowo yang suaranya mampu melumpuhkan lawan yang tangguh. Akibatnyapun hebat karena tiga ekor kelelawar yang tadinya mencicit-cicit belum mati, sekarang berkelojotan, kaku dan mati.

Kakek sakti Wiku Kalawisesa yang tadinya sudah menyeringai kejam, siap menusuk dada dan menghantam kepala Endang Patibroto seketika menjadi pucat dan terhuyung ke belakang, ke dekat arca Bathara Kala. Akan tetapi yang amat menguntungkan bagi Endang Patibroto, pengaruh mujijat yang mempesonakannya tadi telah buyar, tidak mengikatnya lagi sehingga ia mampu bergerak seperti biasa. la maklum akan bahayanya sinar hijau dari mata arca itu, dan ia tahu bahwa ia tIdak boleh terlalu lama memandang sinar mata hijau itu. Ia meloncat ke depan dan menantang.

"Hayoh, Wiku Kalawisesa dukun lepus pendeta sesat, kerahkan seluruh kesaktianmu! Inilah Endang Patibroto yang takkan mundur setapak menandingimu. Akulah orangnya yang akan menamatkan riwayatmu yang kotor, mengirimmu ke asalmu menjadi intip neraka!"

Sumbar seperti ini sama sekali bukan terdorong oleh kesombongan, melainkan sebuah di antara taktik-taktik pertandingan, karena sedikit banyak dapat melemahkan batin lawan, menimbulkan takut dan ragu. Padahal, pantangan bagi orang yang menghadapi lawan berat adalah ragu dan gentar, yang dapat mengurangi kewaspadaan.

Wiku Kalawisesa yang sudah amat kecewa karena kemenangan yang sudah di depan mata itu meleset dan gagal, sedikit banyak menjadi gentar juga. Ia tahu apa artinya pekik dahsyat tadi. Seorang yang sudah dapat memiliki aji seperti itu, bukanlah orang sembarangan. Aji itu tidaklah mudah dipelajari, membutuhkan kematangan tenaga dalam dan harus pandai mengatur dan menguasai getaran. Akan tetapi, teringat akan hikmat arca pujaannya yang lebih ia percaya daripada segala apa di dunia ini, bahkan melebihi dirinya sendiri, bangkit kembali semangat kakek itu.

Kini ia menerjang maju, gerakannya tidak cepat, tidak tergesa-gesa, bahkan perlahan-lahan seperti orang mengancam. Yang mengejutkan hati Endang Patibroto adalah keris kecil sejengkal itu. Dari keris ini memancar keluar sinar hijau yang mempengaruhinya seperti yang terpancar keluar dari sepasang mata arca Bathara Kala! Ia mundur-mundur dan mengambil kuda-kuda yang kuat untuk menghadapi lawan.

"Heh-heh-heh, kau takut, bocah sombong? Kau takut, ya? Heh-heh, kau akan mati di ujung kerisku ini!" kata Wiku Kalawisesa yang dapat melihat lawannya agak gentar menghadapi kerisnya. "Inilah keris pusaka Ki Kolokenaka! Inilah yang membunuh semua ponggawa, dan ini pula yang akan membunuhmu, lalu membunuh suamimu. Heh-heh !"

Hemm, keris ini berbahaya, pikir Endang Patibroto. Ia siap menanti terjangan lawan, awas terhadap kerisnya. Ia harus dapat menghalau keris itu, harus dapat merampasnya! Ia mundur-mundur memasang sikap, kedua tumitnya berjungkit, lengan kira ditekuk menyilang depan dada, tangan kanan diangkat tinggi di atas kepala, semua jari tangan terbuka. Inilah gerak pembukaan Aji Wisangnala! Tubuhnya dimasuki aji meringankan tubuh yang dulu ia pelajari dari ibunya, gerakan yang mengandung sari gerakan burung walet dan camar di Laut Kidul. Seluruh urat syaraf menggetar, siap dengan gerakan otomatis yang mendarah daging. Serangan datang dengan tusukan keris disusul hantaman tongkat. Dahsyat sekali.

"Siuuutt.... wussss....!"

Wiku Kalawisesa gelagapan. Tahu-tahu lawannya lenyap. la cepat membalik menurutkan gerak reflex dan perasaan dan ternyata lawannya sudah berada di belakangnya! Ia lalu menyerang bertubi-tubi, kinI cepat karena maklum bahwa lawannya ini memiliki gerakan cepat sekali melebihi burung walet.

Endang Patibtoto melejit ke sana ke sini, gerakannya cepat sekali, namun diam-diam ia mengeluh karena sinar hijau keris itu benar-benar ampuh sekali, seakan-akan menghalangi gerakannya, membuat ia silau dan canggung. Ketika untuk ke sekian kalinya tongkat menghantam ke arah kepala, la miringkan tubuh membiarkan tongkat lewat di dekat pundak, kemudian secepat kiIat ia menangkap dengan tangan kanannya pergelangan tangan kiri lawan yang memegang keris. Ia harus merampas keris ampuh ini, sebelum ia celaka! Dengan pengerahan tenaga sakti, jari-jari tangan kanan yang penuh dengan Aji Pethit Nogo ini mencengkeram pergelangan tangan lawan.

Ajl Pethit Nogo adalah aji ciptaan eyangnya, ayah dari ibunya, yang bernama Resi Bhargowo atau Bhagawan Rukmoseto. Hebatnya bukan kepalang. Dengan aji ini, tangan yang halus itu dapat meremas hancur batu karang yang kuat! Kini ia mencengkeram pergelangan tangan Wiku Kalawisesa, tak mau melepaskannya lagi. Sang wiku mengaduh-aduh, memekik-mekik berusaha melepaskan cengkeraman, namun sia-sia. Dengan marah tongkatnya menyambar kepada Endang Patibroto, mengarah kepala, dari atas ke bawah. Endang Patibroto tidak mau melepaskan cengkeramannya, bahkan menambah tenaganya, sambil miringkan tubuh.

"Krekkkk...! Dessss....!!"

Bersamaan detik terjadinya! Pergelangan kiri Wiku Kalawisesa hancur tulangnya, dan keris Ki Kolokenaka terampas oleh Endang Patibroto, akan tetapi pukulan tongkat hitam itu meleset dan mengenai pundak wanita sakti ini. Endang Patibroto terlempar menabrak arca Bathara Kala. Ia pening, pundaknya seperti remuk, membuat lengan kirinya sementara lumpuh. Ia bersandar kepada arca, terengah-engah.

"Augg.... aduhh.... tanganku...." Wiku Kalawisesa mengaduh-aduh, menyumpah-nyumpah, kemudian melangkah maju, mengayun tongkat.

Endang Patibroto maklum akan datangnya bahaya, berusaha mengelak, akan tetapi.... tubuhnya tak dapat digerakkan. Punggungnya yang menempel arca seperti lekat pada arca atau seolah-olah ada tenaga mujijat yang keluar dari tubuh arca itu yang menahannya! Tongkat sudah datang, mengarah kepalanya! Endang Patibroto meronta, dapat bergerak miring, namun pundaknya masih lekat. Terpaksa ia mengangkat lengan kanannya yang memegang keris, menangkis tongkat dengan lengannya sambil mengerahkan tenaga dalam yang didasari hawa sakti yang kuat.

"Duk..."

Wiku Kalawisesa terpental mundur, terhuyung-huyung ke belakang. Lengan kiri yang sudah remuk tulangnya itu tergantung lumpuh. Ia marah sekali, matanya mendelik marah, mulutnya mengeluarkan busa di kanan kiri, hidungnya yang panjang dan melengkung seperti hidung betet itu mekar, mendengus-dengus. Kemudian ia mengerahkan seluruh tenaga, perlahan-lahan mengangkat tongkat ke atas kepala, tidak tergesa-gesa karena calon korbannya sudah tak berdaya, tak mampu melepaskan diri dari arca, seperti seekor lalat yang terjaring lekat di jala sarang laba-laba. Ia tidak tergesa-gesa, harus memukul yang tepat, sekali pukul membinasakan lawan.

Terbelalak Endang Patibroto memandang. Maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya. Karena tubuhnya tak dapat terlepas dari arca, akhirnya ia tentu akan kena pukul. Wanita sakti ini memutar otak, mengingat ucapan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Hancurkan dahulu kesaktian arca Bathara Kala, baru kesaktian pemujanya akan punah, demikian pesan gurunya. la melirik ke atas, tampak betapa sinar kehijauan yang memancar keluar dari sepasang mata arca Itu makin terang bercahaya, seakan-akan mengeluarkan api hijau.

Dan keris di tangannyapun makin terang cahayanya. Ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya, bibirnya berkemak-kemik membaca mantera seperti yang diajarkan gurunya untuk melawan kekuasaan ilmu hitam yang ampuh, kemudian secepat kilat keris di tangan kanannya bergerak, menusuk mata arca itu, dua kali berturut-turut pada sepasang mata yang bercahaya hijau.

"Cesss...! Cesss...!!" Terdengar suara seperti api tersiram air dan tampak asap putih tebal bergulung-gulung keluar dari sepasang mata arca!

Dan sinar hijau lenyap, baik dari kedua mata maupun dari keris kecil. Saat itu, tongkat di tangan Wiku Kalawisesa sudah melayang datang, akan tetapi tiba-tiba terhenti di tengah jalan dan mata kakek itu terbelalak memandang patung, mulutnya celangap dan keluar rintihan dan tangisan dari dalam mulut.

Endang Patibroto menggerakkan tubuh, kini tidak ada lagi kekuasaan hitam menahannya. la meloncat dan melempar keris kecil ke sudut, tangannya dikepal dan dengan tenaga dahsyat ia menghantam ke arah kepala arca.

"Darrr...!" Kepala itu meledak hancur berkeping-keping dihantam tangan sakti dengan Aji Gelap Musti, seakan-akan disambar geledek. Dan pada saat itu, perut patung yang besar, berikut kaki tangannya, mengeluarkan bunyi gemuruh seperti Gunung Bromo mengamuk. Endang Patibroto mencelat mundur dan cepat melesat keluar pondok pada saat tubuh patung meledak.

"Blaaarrrr....i" Pondok itu hancur, atapnya terbang entah ke mana, dinding bambu hancur berkeping-keping. Tubuh Wiku Kalawisesa terlempar keluar pondok, jatuh terbanting bergulingan.

Kakek itu mengaduh tubuhnya sakit-sakit. Namun ia memiliki kekebalan sehingga tidak terluka hebat. Dengan satu lengannya yang masih waras, ia memegang tongkat hitam, ia merangkak bangun dan berdiri. Lengan klrinya tetap lumpuh, pergelangan yang remuk tulangnya mulai menggembung besar. Wajahnya pucat, matanya beringas, kemarahan dan kedukaan bercampur dengan rasa takut ketika ia melihat Endang Patibroto melangkah menghampirinya sambil tersenyum. Senyum yang dingin, sedingin tengkuknya yang meremang karena gentar.

"Engkau masih belum mati, Wiku Kalawisesa? Mari kita selesaikan."

Habis harapan Wiku Kalawisesa. Ia takut sekali dan karena tidak melihat jalan keluar, ia menjadi nekat. Sambil menggereng macam serigala tersudut, ia menubruk maju, tongkatnya menghantam. Akan tetapi dengan tenang Endang Patibroto menanti sampai tongkat dekat, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya miring, kakinya digeser lalu melangkah maju dari samping, tangan kanannya menyambar dan....

"Desss... lengan kanan kakek itu terpukul dari samping, membuat tongkatnya terlempar entah ke mana. Kemudian sebuah tamparan tangan kiri Endang Patibroto disertai Aji Pethit Nogo membuat kakek itu terpekik dan terbanting roboh, terengah-engah, tangan kanan memegangi kepala yang disambar geledek, napasnya hampir putus. Ia merangkak duduk, berusaha bangkit akan tetapi tidak kuat dan ambruk terduduk lagi.

"Keparat.... Endang Patibroto, sempurnakanlah (bunuhlah) aku...!"

Endang Patibroto tersenyum menyindir. "Terlalu nyaman bagimu. Kau harus merasakan hasil perbuatanmu yang terkutuk!" Endang lalu membungkuk, mengambil sekepal tanah lempung, dikepal-kepal agar lunak sambil memandang lawan, bibirnya masih tersenyum manis akan tetapi pandang matanya dingin. Kakek itu mengangkat muka, melihat wanita itu, terbelalak matanya.

"Apa.... apa yang akan kau lakukan...?"

"Seperti apa yang kau lakukan terhadap suamiku, terhadap ponggawa-ponggawa lainnya." Pucat wajah Wiku Kalawisesa, kemudian la terkekeh menutupi rasa ngerinya.

"He-he-heh, kau takkan mampu...."

Endang Patibroto tak menjawab, melainkan duduk di atas tanah, tiga meter jauhnya dari kakek yang ketakutan, duduk bersila sambil membentuk lempung itu menjadi boneka, boneka yang menyerupai Wiku Kalawisesa. Setelah jadi, tiba-tiba saja tubuhnya dengan masih bersila mencelat ke arah kakek itu yang merasa kepalanya sakit dan sekali lagi Endang Patibroto berkelebat, kembali ke tempat semula dalam keadaan duduk bersila, segumpal rambut kakek itu di tangannya.

Wiku Kalawisesa tercengang kagum. Ah, dia tidak tahu diri, pikirnya. Dia terlalu memandang rendah wanita ini. Pantas saja adik seperguruannya, Cekel Aksomolo tewas di tangan wanita ini, dan diapun tentu akan tewas. Kiranya wanita inl sedemikian saktinya. Dapat melompat dalam keadaan duduk adalah perbuatan yang langka bagi orang yang tidak memiliki kesaktian tinggi sekali. Ia tidak penasaran lagi kalau roboh di tangan wanita sakti ini. Hanya rasa penasaran karena tidak tercapai maksudnya membalas dendam.

Akan tetapi, ia tidak kehilangan kecerdikannya dan kembali ia terkekeh. Siapa bilang tidak tercapai maksudnya? Tunggulah saja kau, Endang Patibroto, pembalasanku akan tiba juga! Akan tetapi suara ketawanya lenyap ditelan kengerian ketika ia melihat Endang Patibroto mencabut tusuk konde. Rambutnya sudah dipasangkan pada boneka itu. Endang Patibroto bersila dan bersamadhi sebentar, meramkan mata, mulut masih tersenyum, kemudian tubuhnya gemetar dan mata dibuka, ia menggerakkan tusuk konde mendekati kaki kanan boneka.

"Jaga kaki kananmu, Wiku Kalawlsesa!"

"Kau takkan mampu" kakek itu mendengus marah.

"Kau lihat saja. Rasakanlah!" Tusuk konde ditusukkan ke paha kaki kanan boneka.

Sang wiku mengerahkan kesaktian menolak. Endang Patibroto merasa betapa kaki boneka itu mengeras, akan tetapi iapun mengerahkan kesaktian, terus menusuk. Setelah mengadu kekuatan batin, akhirnya...

"Blesss!" paha kanan boneka itu tertusuk dan darah mengucur keluar.

"Aaaugggghh....!" Wiku Kalawisesa mengaduh, tangan kanan yang masih dapat bergerak memegangi paha kanannya yang bercucuran darah.

"Sekarang paha kiri, wiku bedebah, manusia berhati iblis!" Kembali Endang Patibroto menusuk, kali ini lawannya tidak menahan karena maklum akan sia-sia usahanya itu.

"Blesss...!" Dan paha kiri boneka itu tertusuk, berdarah seperti juga paha kanan Wiku Kalawisesa.

"Aduhh.... bunuh saja aku, Endang Patibroto!"

"Enaknya....! Rasakan hasil kekejianmu sendiri. Awas lenganmu...!" Kembali Endang Patibroto menusuk, lengan kanan kemudian lengan kiri. Kaki tangan kakek itu mengucurkan darah segar dan ia mengeliat-geliat.... mengaduh-aduh...dan merintih-rintih minta mati.

"Ja.... jangan lanjutkan.... jangan tusuk lagi....kau pukul matilah aku, Endang....!!"

"Apa? Kau merasa tersiksa? Tak ingatkah akan para ponggawa yang kau bunuh? Tidak ingatkah akan penderitaan suamiku? Ya, suamiku yang hendak kau bunuh? Rasakan sekarang, perlahan-lahan kutusuk dadamu...!"

"Aduh, ampun, Endang Patibroto! Ampunkan aku seorang tua... hu-hu-huuhh...." Kakek itu menangis saking takutnya!

Endang Patibroto menahan tusuk kondenya di kulit dada boneka. "Ampunkan? Betapa mudahnya minta ampun. Hayo katakan, jangan membohong, siapa yang menyuruhmu? Aku masih tidak percaya akan semua keteranganmu tadi. Katakan siapa sekongkolmu? Siapa menyuruhmu membunuh suamiku? Membunuh para ponggawa?"

"Sudah kukatakan.... kepadamu... tiada lain.... Pangeran Darmokusumo...."

"Bohong!"

"Demi dewata...."

"Kau tidak mengindahkan para dewata!"

"Demi Hyang Widhi...."

"Manusia macam kau tidak takut Hyang Widhi"

"Aduh, ampun, aku tidak membohong Endang Patibroto. Benar Pangeran Darmokusumo yang menyuruhku..."

"Sekali lagi, jangan bohong! Lihat tusuk kondeku siap menusuk. Katakan sebenarnya, kalau kau mengaku, mungkin aku dapat mengampunimu" Endang Patibroto membujuk.

"Bukan orang lain, melainkan Pangeran Darmokusumo, seorang. Demi Sang Hyang Bathara Kala... aku bersumpah...!!"

Lega hati Endang Patibroto. la tidak lancang dan sembrono. Setelah kakek pemuja Bathara Kala ini bersumpah demi Bathara Kala, agaknya ia tidak berbohong. Si keparat Pangeran Darmokusumo! Dengan gemas ia menusukkan tusuk kondenya di ulu hati boneka itu.

"Aauuuurrrghh.....!" Wiku Kalawisesa roboh tergelimpang. Dari dadanya mengucur darah segar. Matanya mendelik dan aneh sekali, pada saat terakhir itu, ia terkekeh "Heh-heh-heh-hih-hik, Endang Patibroto. Aku akan membalas dendam kepadamu! Akan kuhancurkan engkau, suamimu, rumah....huah haha....tunggu.... kau tunggu pembalasanku...!" Dan tubuhnya berkelojotan dalam sekarat.

Endang Patibroto melemparkan membersihkan tusuk kondenya dan memakainya lagi di rambutnya. Kemudian ia meloncat dan berkelebat lenyap diteIan kegelapan malam. Sambil berloncatan Endang Patibroto berpikir, keparat si Pangeran Darmokusumo! Kejam benar hatimu. Demi tercapainya cita-cita, tega benar membunuhi para ponggawa setia. Bahkan tega hendak membunuh Pangeran Panjirawit, kakak iparnya sendiri. Kalau aku pulang dan menceritakan hal ini kepada suamiku, tentu dia tidak akan percaya. Dan celakalah kalau sampai ketidakpercayaan menguasai hati suamiku. Ketidakpercayaan pangkal keruntuhan cinta.

Tidak baik menaruh ganjalan hati. Lebih tepat sekarang juga bertindak sebelum terlalu parah keadaan. Ia dapat menyelinap ke Kerajaan Panjalu, akan ditangkapnya Pangeran Darmokusumo, dipaksanya supaya mengakui segala perbuatannya yang laknat. Kalau sudah begitu terserah keputusan Sang Prabu Panjalu terhadap puteranya. Akan tetapi ia akan bebas daripada tuduhan, akan tercuci bersih namanya. Tiada jalan lain, Wiku Kalawisesa sudah mati. Percuma saja ia jadikan bukti atau saksi.

"Heh, sira (kamu) Pangeran Darmokusumo! Awaslah engkau, aku tidak akan mendiamkan saja ulah tingkahmu memburuk-burukkan namaku dan terutama hendak membunuh suamiku. Pangeran Darmokusumo, jangan kaget. Endang Patibroto yang akan membuka kedokmu!"

Makin cepat tubuhnya berkelebat, mempergunakan ilmu lari cepat sehingga tubuhnya lenyap hanya tampak bayangan seperti bayangan seekor garuda melayang di angkasa.

********************


"Nini bocah ayu, siapakah engkau?" tanya Ki Patih Bratamanggala dengan sikap tenang dan sabar sambil memandang Suminten yang duduk bersimpuh di depannya dan menangis.

"Hamba Suminten, gusti patih, hamba adalah abdi dalem, pelayan Gusti Pangeran Panjirawit." Suminten menyembah dan berkata dengan suara gemetar.

Ki Patih yang sudah berusia lima puluh tahun lebih itu mengerutkan keningnya, kemudian sambil memandang penuh selidik bertanya, "Heh, Suminten. Apa kehendakmu di pagi hari buta ini memaksa para pengawal, mohon menghadap kepadaku?" Hari itu masih pagi sekali, Ki Patih Bratamenggala baru saja bangun tidur ketika kepala pengawal menghadap dan menyatakan bahwa, ada seorang gadis remaja memaksa minta menghadap karena urusan yang amat penting. Dari sikap pengawal ini, ki patih tahu bahwa tentu pengawal ini sudah mendengar akan urusannya dan mempertimbangkan bahwa hal itu amatlah pentingnya sehingga ia berani menyampaikan permohonan si gadis.

"Ampun beribu ampun, gusti. Hamba telah berani mengganggu paduka di pagi hari ini. Akan tetapi kepada siapakah gerangan hamba harus melaporkan peristiwa mengerikan semalam kalau tidak kepada paduka? Hamba tidak berani menghadap gusti prabu."

Berdebar jantung ki patih. Semalam ia sudah mendengar akan berita dahsyat yang mengabarkan tentang kematian Ki Demang Kanaroga, kematian yang mengerikan, seperti terjadi pada diri Tumenggung Wirodwipo dan yang lain-lain. Mengerikan berdarah sampai mati tanpa luka. Berita apa pula yang dibawa gadis ini, yang lebih mengerikan daripada peristiwa kematian Demang Kanaroga? Ia sedang bingung dan pusing serta gelisah memikirkan kematian-kematian itu, dan kini di pagi hari buta gadis ini mengganggunya dengan urusan tetek-bengek.

"Hemm, bocah ayu, tahukah kau bahwa bukan main-main menghadap dan mengganggu waktuku di pagi hari begini? Ceritakanlah dan berdoalah bahwa ceritamu cukup penting agar kau tidak membikin marah kepadaku."

Suminten tidak takut. la merasa yakin bahwa ceritanya amat penting, dan bahwa sudah bulat tekatnya untuk menyampaikan berita ini kepada ki patih. Hanya inilah yang dapat dilakukan seorang pelayan rendah seperti dia, hanya inilah yang dapat ia lakukan untuk melampiaskan iri hati dan cemburu, melampiaskan duka karena tidak mendapat perhatian Pangeran Panjirawit yang dicintanya.

"Ampun, gusti patih. Semalam, tanpa hamba sengaja, hamba telah menyaksikan sesuatu yang hebat, perbuatan mengerikan dan menyeramkan yang dilakukan oleh... gusti puteri...!!

"Gust! puteri....?"

"Garwa (isteri) gusti pangeran," Suminten membenarkan.

"Isteri Sang Pangeran Panjirawit?" Ki patih tertarik. Tentu saja tertarik mendengar sesuatu tentang isteri pangeran itu, tentang Endang Patibroto, wanita sakti bekas kepala pengawal Jenggala sepuluh tahun yang lalu, yang telah menggegerkan seluruh kerajaan.

"Apa yang beliau lakukan?"

"Hamba.... iihhh, hamba masih ngeri kalau mengenangkan semua itu...!
Suminten menggigil.

"Tanpa hamba sengaja, hamba melihat gusti puteri bercengkerama dengan gusti pangeran, kemudian gusti puteri membuat sebuah boneka Si Petak...."

"Siapa Si Petak?"

"Ayam kelangenan (kesayangan) gusti pangeran. Kemudian, gusti puteri mengambil tusuk kondenya dan ditusukkan paha ayam itu dan..."

"Dan bagaimana?" Ki Patih Bratamenggala makin tertarik, sampai terbungkuk dari kursinya agar lebih dekat dengan gadis itu dan lebih jelas mendengar penuturannya.

"Terdengar Si Petak memekik.... dan... ketika kemudian hamba melihat ke kandang.... paha Si Petak itu berdarah seperti ditusuk, padahal tidak ada lukanya sama sekali..."

"Nanti dulu!" Ki patih membentak keras sampai Suminten terkejut. Wajah patih itu menjadi pucat, tangan yang memegang lengan kursi menggigil. "Coba ceritakan lagi dengan jelas!"

Kini Suminten bercerita lagi, tidak gugup macam tadi, diceritakannya semua tentang perbuatan Endang Patibroto menusuk boneka ayam putih dan betapa akibatnya ayam itu bercucuran darah pahanya. Berdebar jantung Ki Patih Bratamenggala. Kiranya tidak kosong desas-desus itu! Desas-desus yang mengatakan bahwa semua pembunuhan yang terjadi atas diri para ponggawa Jenggala dan Panjalu adalah perbuatan Endang Patibroto. Apa maksudnya gerangan? Tentu tersembunyi niat buruk. Perlu segera dilaporkan kepada sang prabu, sekarang juga!

Tergesa-gesa Ki Patih Bratamenggala berdandan setelah menyuruh Suminten menanti, kemudian Ia membawa Suminten pergi ke istana, menghadap Sang Prabu Jenggala. Di depan sang prabu yang mendengarkan dengan kening berkerut, berceritalah Ki patih tentang apa yang didengarnya dari Suminten. Sang prabu terkejut bukan main. Sesungguhnya di dalam hatinya, sang prabu tidak pernah senang mempunyai mantu Endang Patibroto yang selain bukan darah kusuma (darah bangsawan) juga riwayat hidupnya amat mengecewakan itu. Apalagi setelah ada kenyataan bahwa selama sepuluh tahun Endang Patibroto tidak mempunyai putera, ditambah lagi kenyataan bahwa Pangeran Panjirawit tidak mengambil selir yang tentu saja karena takut kepada isterinya, makin tak senang hati sri baginda.

Desas-desus akhir-akhir ini menambah rasa tidak senangnya, namun maklum bahwa puteri mantunya itu seorang sakti, sang prabu tidak pernah menyatakan sesuatu. Kini, mendengar pelaporan ini yang ada saksinya, sang prabu menjadi murka dan Suminten lalu disuruh mengulangi ceritanya. Dengan tubuh gemetaran karena takut, Suminten bercerita kembali dan makin besar amarah sri baginda. Setelah menitahkan pelayan. untuk membawa Suminten yang sejak saat itu dilindungi atau diamankan di dalam istana, menjadi anggota kelompok abdi dalem sri baginda, maka sang prabu lalu mengajak ki patih berunding. Kemudian dipanggillah para pangeran dan pejabat tinggi dan akhirnya diputuskan untuk mengundang Pangeran Panjirawit beserta isteri ke istana!

"Kakang patih, kepadamulah kuserahkan tugas ini, undang Panjirawit dan isterinya ke istana menghadapku!" Persidangan lalu dibubarkan setelah sang prabu mengatur agar para pengawal siap untuk menangkap puteranya sendiri bersama mantunya, apabila beliau memberi perintah sewaktu-waktu setelah berwawancara dengan Pangeran Panjirawit dan isterinya.

Dapat dibayangkan betapa bingung hati Pangeran Panjirawit ketika pagi hari itu ia kedatangan Ki Patih Bratamenggala yang menyampaikan perintah sandi prabu mengundang dia dan isterinya ke istana. Semalam ia tidak dapat tidur barang sekejap. Hatinya risau, gelisah memikirkan isterinya. Endang Patibroto tak kunjung pulang, dan sungguhpun kaki tangannya yang berdarah tiba-tiba sembuh kembali sebagai tanda akan berhasilnya usaha Endang Patibroto mencari musuh tersembunyi, namun hatinya tetap khawatir sekali.

Bagaimana ia tidak akan gelisah kalau isteri tercinta itu belum juga pulang? Sampai malam berganti pagi, Endang Patibroto belum pulang! Payah ia menanti-nanti di dalam kamar, lalu keluar dari kamar duduk di ruangan dekat taman, kembali ke kamar, makin lama makin risau. Duduk tak senang, tidur tak mungkin, hendak menyusul kemana?

Wajahnya lesu dan kusut ketika ia menyambut kunjungan ki patih. Dan ia makin bingung mendengar perintah ramandanya. Bingung dan khawatir! Ada kepentingan apakah sampai sang prabu memanggil dia dan isterinya? Dan bagaimana ia harus menjawab karena isterinya tidak ada di rumah? Mengatakan sakit? Minta waktu diundur? Ramandanya tentu akan marah. Ia tahu atau dapat menduga dalam hati kecilnya bahwa isterinya tidak begitu disuka oleh keluarga ramandanya.

Sikap mereka dingin dan hormat dibuat-buat kepada isterinya. Kalau mengatakan isterinya pergi, pergi ke mana? Mana mungkin isteri seorang pangeran pergi begitu saja tanpa diketahui ke mana perginya? Ah, la menyesal sekali mengapa malam tadi ia memperbolehkan isterinya pergi. Hatinya sudah tIdak enak dan sekarang ia menghadapi hal yang lebih tidak enak lagi. Lebih baik berterus terang! Ya, tidak ada jalan lain baginya dan bagi kebaikan nama isterinya.

"Paman patih, sungguh amat menyesal hati saya bahwa untuk sementara ini tIdak mungkin saya mentaati perintah kanjeng rama, karena sesungguhnya isteri saya yayi dewi Endang Patibroto semalam telah pergi dan belum juga pulang sampai pagi hari ini."

Ki patih mengangkat alisnya, menghubungkan kepergian Itu dengan peristiwa yang ia dengar dari mulut Suminten.

"Ahhh, gusti puteri pergi? Eh, karena urusan ini mengenai panggilan kanjeng gusti sinuwun, kalau boleh hamba bertanya.... ke manakah perginya, mengapa malam-malam?"

Dengan muka pucat Pangeran Panjlrawit memandang ki patih, kemudian menarik napas panjang dan berkata, "Tidak baik kiranya kalau saya sembunyikan lagi, paman, setelah kini datang panggilan dari ramanda sinuwun."

Patlh itu mengangguk-angguk, mengira bahwa pangeran ini akan membuka rahasia isterinya, wanita siluman itu. Betapapun juga, ki patlh ini di dalam hatinya mencinta Pangeran Panjirawit yang terkenal sebagai pangeran yang halus budi pekertinya, ramah-tamah bahasanya, dan sopan tutur sapanya. La ingin melihat pangeran ini terlepas daripada "cengkeraman" wanita iblis Endang Patibroto.

"Memang seyogyanya begitulah, gusti pangeran. Lebih baik berterus terang sehingga hamba dapat menghaturkan laporan yang jelas dan lengkap kepada sri baginda."

Seorang abdi dalem datang berjalan jongkok, menghidangkan minuman. Percakapan terhenti sebentar dan Pangeran PanjlrawIt memberi tanda dengan tengah agar abdi dalem itu cepat-cepat pergi. Akan tetapi abdi dalem itu, seorang gadis berkulit kuning langsat berusia dua puluh tahun, meragu dan memandang kepada sang pangeran.

"Ada apa lagi? Pergilah?"

Gadis pelayan itu menyembah. "Ampun kalau hamba mengganggu, gusti. Hamba hanya hendak melapor bahwa pagi hari ini Suminten pergi, entah ke mana tak seorangpun abdi mengetahuinya."

Kalau tidak sedang dirisaukan urusan besar, tentu Pangeran Panjirawit akan menjadi heran, menaruh perhatian atau setidaknya teringat akan gerak-gerik Suminten malam tadi. Akan tetapi pikirannya terlalu penuh oleh isterinya yang belum pulang dan oleh panggilan sang prabu, maka ia berkata tak sabar.

"Laporkan saja kepada Raden Sungkono agar dicari. Pergilah!" Abdi dalem meninggalkan mereka dengan langkah jongkok.

"Paman patih, malam tadi telah terjadi hal yang mengerikan. Paman tentu tahu akan peristiwa-peristiwa kematian para ponggawa yang mengerikan, bukan? Nah, malam tadi saya Sendiri telah diserang!"

"Haa....??" Ki patih terbelalak, dan memandang tubuh Pangeran Panjirawit yang tiada kurang sesuatu. Pangeran Panjirawit mengerti akan makna pandang mata ini.
"Memang, saya selamat, paman. Kalau tidak ada isteriku, kiranya pagi hari ini paman akan mendapatkan diriku serupa dengan ponggawa-ponggawa lain, mati berlumur darah tanpa luka.!!

Dengan wajah masih pucat ki patih berkata, "Malam tadi Demang Kanoraga yang menjadi korban."

"Aiihh..... kakang Demang Kanaroga juga...?" Sang pangeran menghela napas, lalu melanjutkan, "Saya baru diserang pada lengan dan kaki. Malam tad! isteri saya yang merasa penasaran, memaksa diperkenankan keluar rumah untuk menyelidiki dan menangkap manusia atau iblis yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Baru ia pergi, tiba-tiba lenganku sakit dan berdarah. Untung isteri saya datang tepat pada waktunya dan saya tertolong. Paman tentu tahu akan kesaktian isteri saya. Kemudian isteri saya pergi untuk mencari iblis itu dan sampai pagi hari ini belum kembali. Oleh karena itu, sampaikan permohonan ampun saya kepada kanjeng rama, dan kalau beliau menghendaki saya seorang diri menghadap, beri kabarlah, saya tentu akan datang menghadap tanpa isteri saya."

Ki Patih Bratamenggala menjadi bingung sekali. Hatinya bertanya-tanya. Benarkah cerita ini? Lengan pangeran ini sama sekali tidak tampak bekas luka, atau tidak tampak bekas berdarah. Apa buktinya kebenaran cerita ini? Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengajukan pertanyaan ini, setelah minum hidangan lalu memohon diri. Ketika Sang Prabu Jenggala mendengar laporan ki patih, Ia termenung. Berkali-kali menarik napas panjang.

"Urusan ini sungguh ruwet dan meragukan. Biarlah kita menanti perkembangan selanjutnya, kakang patih."

Sementara itu, dengan hati gelisah Pangeran Panjirawit memanggil Sungkono menghadap. "Kakang Sungkono, ada tugas penting sekali bagimu."

"Hamba sudah mendengar dari abdi dalem, mencari Suminten yang lari..."

"Persetan dengan Suminten!" Pangeran Panjirawit berseru tak sabar. "Bukan Suminten yang harus dicari, kakang Sungkono, melainkan gusti puteri!"

"Gusti puteri....?" Raden Sungkono terkejut, menatap wajah junjungannya dengan heran dan kaget.

"Ya, gusti puteri. Dia malam tadi pergi, kakang. Kau tahu tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap ponggawa-ponggawa Jenggala dan Panjalu?"

Raden Sungkono mengangguk-angguk. "Malam tadi Demang Kanaroga yang terkena," katanya.

"Benar. Nah, gustimu puteri malam tadi pergi untuk melakukan penyeiidikan, untuk menangkap si pembunuh laknat setelah menyelamatkan aku yang hampir saja menjadi korban juga."

"Paduka, gusti....??" Kembali Sungkono terkejut.

"Tak usah ribut-ribut. Betapapun saktinya pembunuh pengecut itu, dia tak mungkin dapat mengalahkan gustimu puteri. Karena itu dia malam tadi pergi melakukan penyelidikan dan pengejaran."

Sungkono mengangguk-angguk. "Memang sesungguhnya di dalam hati hamba juga mengambil kesimpulan bahwa penjahat iblis Itu hanya dapat dutangkap oleh gusti puteri yang sakti mandraguna."

"Benar, kakang. Sekarang, gustimu belum juga pulang. Aku merasa khawatir juga. Oleh karena itu, kau kerahkan anak buahmu, kau lakukan penyelidikan ke mana gustimu melakukan pengejaran dan apabila perlu, kau harus siap membantunya. Mengerti, kakang?"

"Mengerti dan siap, gusti."

"Baik, aku percaya kepadamu. Apapun yang terjadi dengan diriku di sini, kau tidak perlu mencampuri, yang penting lekas susul dan temukan gustimu puteri. Nah, berangkatlah sekarang juga, kakang Sungkono."

Setelah pengawalnya yang setia itu pergi, Pangeran Panjirawit termenung, hatlnya merasa tidak enak sekali, wajah isterinya yang tercinta terbayang-bayang dan minuman panas di meja sampai menjadi dingin tanpa disentuhnya.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

"Waahh.... celaka, Raden....celaka....tiga belas...!!"

Raden Sindupati mengangkat alis dan menatap Klabangkoro dan Klabangmuko yang datang berlari-lari dengan napas senln kemis hampir putus, wajah penuh keringat sehingga kumis mereka yang sekepal sebelah itu menjadi basah kuyup dan kini berjuntai turun, sama sekali kehilangan kegagahannya, Di belakang Raden Sindupati, sekelompok pasukan terdiri dari dua puluh orang lebih, rata-rata berperawakan tinggi besar bersenjata tombak, golok, atau penggada. Mereka berikat kepala seperti Klabangkoro dan Klabangmuko, dengan ujung menjungat ke atas seperti tanduk. Biarpun mereka itu orang-orang yang kelihatan kasar, namun jelas mereka bukan orang-orang sembarangan, melainkan berisi. Inilah pasukan dari Blambangan, anak buah Adipati Blambangan yang tersohor kuat.

Pemimpin mereka, Raden Sindupati, berbeda dengan mereka. Memang dia juga mengenakan ikat kepala yang sama, akan tetapi perawakannya sedang, berdada bidang, wajahnya tampan dan usianya belum lewat empat puluh tahun. Kulitnya kuning bersih dan wajahnya selalu tersenyum, pandang matanya tajam. Kalau anak buahnya adalah orang-orang yang membayangkan kekuatan dan ketangkasan, adalah Raden Sindupati ini membayangkan kekuatan batin dan kesaktian. Senjatanya pun lebih sederhana, sebatang keris terselip di pinggangnya.

Sudah belasan tahun, semenjak ia berusia kurang dari dua puluh lima tahun, Raden Sindupati melarikan diri ke Blambangan. Tadinya ia adalah seorang senopati muda di Jenggala yang melakukan pelanggaran besar, yaitu memperkosa dengan bujuk rayu dan ketampanannya seorang puteri Jenggala. Ketika ketahuan, puteri itu membunuh diri dan Raden Sindupati menjadi buronan.

Semenjak itu tak pernah ia kembali ke Jenggala dan karena kesaktiannya, ia memperoleh kedudukan tinggi di Blambangan, bahkan kini dipercaya oleh Adipatl Blambangan untuk mengacau dan melemahkan kedudukan Jenggala dan Panjalu, bahkan kalau mungkin membunuh Endang Patibroto.

"Kakang Klabangkoro dan Klabangmuko!" katanya tenang akan tetapi penuh wibawa. "Tidak layak seorang prajurit tenggelam ke dalam kegelisahan. Takut dan gentar merupakan pantangan terbesar bagi seorang perajurit utama! Betapapun buruknya kenyataan yang dihadapi, seorang perajurit harus tetap tenang dan waspada."

"Maaf, raden, kami memang salah.... " kata Klabangkoro merendah.

"Yang belum mengerti itu tidak salah, kakang. Nah, sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi? Pagi ini kami telah mendengar akan tewasnya Demang Kanaroga, Ini berita baik, mengapa kalian seperti ketakutan?"

"Malam tadi, menurut rencana Wiku Kalawisesa akan merobohkan dua orang ponggawa Jenggala, pertama Demang Kanaroga dan ke dua Pangeran Panjirawit suami Endang Patibroto." Terdengar suara mencela seorang kakek berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar, dialah yang paling tinggi besar di antara semua prajurit Blambangan yang berada di situ.

"Kami berdua mendapat tugas untuk menyelidiki hasil usahanya itu di dekat gedung Pangeran Panjirawit. Malam itu mula-mula kami melihat dua ekor kelelawar terbang pulang dari atas gedung Demang Kanaroga, agaknya sudah selesai tugas. Kemudian seperti bayangan iblis... tampak bayangan wanita itu... seperti terbang layaknya!"

"Hemm, kau maksudkan bayangan Endang Patibroto?" tanya Raden Sindupati tertarik. Karena sudah belasan tahun ia tidak kembali ke Jenggala, ia tidak pernah bertemu dengan wanita sakti itu, hanya mendengar namanya.

"Betul, raden. Dia memang hebat luar biasa. Kelelawar besar disambitnya, kemudian ia seperti terbang mengikuti kelelawar itu. Dari istananya tidak terdengar sesuatu, tidak ada tanda-tanda Pangeran Panjirawit tewas. Kami sedapat mungkin tergopoh-gopoh mengikutlnya pula, dari jauh karena larinya cepat seperti angin. Dia membayangi kelelawar terbang. Coba bayangkan!" Klabangkoro menoleh kepada teman-temannya dengan mata terbelalak. "Dia dapat berlari begitu cepatnya sehingga dapat membayangi seekor kelelawar terbang!"

Semua pasukan menjadi gempar, kecuali kakek tinggi besar tadi yang kembali mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, dan Raden Sindupati yang merasa tidak aneh karena banyaknya pendekar di Jenggala yang mampu melakukan hal ini, termasuk dia sendiri!

"Lalu bagaimana?" tanya Sindupati, tidak puas melihat pasukannya ribut-ribut. Semua orang diam, tertarik dan ingin mendengarkan lebih lanjut.

"Ketika kami berdua tiba di pondok sang wiku, kami terkejut setengah mati. Pondok itu sudah hancur lebur, seperti diamuk gajah! Arca Bathara Kala sudah menjadi keping-kepingan batu dan di luar pondok sang wiku bertanding melawan Endang Patibroto. Cantik dan gagah dia. Cantik manis sekali ya, adi Klabangmuko?"

"Seperti bidadari dari Bali!" kata Klabangmuko meram-melek, agaknya membayangkan wajah yang jelita dan tubuh yang montok itu. Ia tampak seperti seekor anjing Herder melihat daging, menjilat-jilat bibir.

"Teruskan, kakang. Bagaimana akhir pertandingan?"

"Kami tadinya hendak membantu sang wiku, akan tetapi tidak keburu lagi karena sekali tampar sang wiku menggeletak tak berkutik lagi. Bahkan berdiripun tidak mampu dia. Agaknya lengannya poklek (patah) dan iganya remuk. Kemudian.... kemudian...." Orang tinggi besar dengan kumis sekepal sebelah ini bergidik ngeri.

"Tenanglah, kakang. Lalu bagaimana, terbunuhkah sang wiku?" tanya Raden Sindupati tenang.

"Kalau terbunuh biasa saja kami tidak akan ngeri, raden. Wanita itu.... huh, begitu cantik jelita, begitu halus kulitnya, begitu manis senyumnya, kiranya.... seperti iblis sendiri! Dia membuat boneka dari lempung menyerupai sang wiku, kemudian.... kemudian ia terbang..."

"Terbang??" Raden Sindupati terkejut juga, karena sesakti-saktinya manusia, belum pernah ia mendengar ada orang dapat terbang, kecuali kalau sudah memiliki tingkat setengah dewa seperti misalnya mendiang Sang Prabu Airlangga, atau Sang Rakyan Kanuruhan Patih Narotama, atau sedikitnya setingkat Sang Resi Empu Bharodo!

"Betul, terbang! Bukankah kau melihat dia terbang, Klabangmuko?"

"Betul! Dia bersila begini, lalu tubuhnya dalam keadaan bersila itu melayang ke arah sang wiku, mencabut rambutnya dan kembali melayang ke tempat tadi, masih duduk bersila seperti ini," kata Klabangmuko sambil meniru gerak-gerak Endang Patibroto.

Raden Sindupati mengangguk-angguk. Ia mengerti sekarang dan diam-diam ia kagum juga. Biarpun bukan terbang, namun cara meloncat dengan keadaan duduk bersila bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kakek tinggi besar yang matanya lebar hanya mendengus lagi, seakan-akan semua yang diceritakan Itu tidak aneh baginya, biasa saja dan sudah diketahuinya.

"Kemudian.... kemudian ia melakukan persis seperti yang dilakukan sang wiku selama ini dengan Aji Kalacakranya. Ia mengambil tusuk konde dan menusuk-nusuk boneka dan.... dan sang wiku berlumur darah dari semua tubuhnya!" cerita ini membuat para prajurit merasa ngeri dan mereka hanya saling pandang.

"Sudah kuduga... sudah kuduga... wiku sombong itu mana mampu menandingi murid gustiku Dibyo Mamangkoro?" kata kakek tinggi besar itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Semua itu tidak penting," kata Raden Sindupati tak sabar, "yang penting apakah yang dikatakan oleh sang wiku ketika ia hendak dibunuh? Tentu kalian dapat mendengar apa yang mereka, bicarakan."

"Betul, Raden. Endang Patibroto mengancam dan mendesak agar sang wiku mengaku siapa yang menyuruhnya melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Dan sang wiku, dalam saat terakhir sekalipun, tetap berpegang kepada kesetiaan, dia mengatakan bahwa yang menyuruhnya adalah Pangeran Darmokusumo dari Panjalu."

"Bagus...! Ha-ha-ha-ha, bagus.... Wiku Kalawisesa, andika (kamu) tewas sebagai seorang gagah sejati yang masih memegang kesetiaan. Bagus, ha-ha-ha, tepat sekali rencana Sang Adipati Blambangan." Tiba-tiba ia menoleh ke arah kakek tinggi besar Itu.dan berkata, "Paman Brejeng, kau yakin betul bahwa Endang Patibroto akan mengenalmu?"

"Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku mengingatkan hal-hal lalu, tentu ia ingat bahwa aku adalah Brejeng, pelayan pribadi Gusti Dibyo Mamangkoro," jawab kakek itu dengan sikap dan kata-kata yang kasar sekali. Agaknya ia tidak bisa bicara halus seperti sikap orang-orang liar. Memang orang liarlah kakek ini, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro.

"Baik sekali. Memang untuk itulah kau kubawa serta, paman Brejeng. Sekarang dengarkan kalian semua rencanaku selanjutnya." Raden Sindupati duduk di atas sebuah batu dan anak buahnya berjongkok mengelilinginya, mendengarkan rencana siasat yang akan dipergunakan terhadap Endang Patibroto.

********************


Kita tinggalkan dulu pasukan Blambangan yang sedang mengatur slasat dan mari kita mengikuti perjalanan Endang Patibroto. Tentu saja Endang Patibroto tidak mengetahui sama sekali akan keadaan suaminya, dan lebih-lebih tidak menyangka ada pasukan Blambangan yang merencanakan siasat untuk menjebaknya. Ia melakukan perjalanan siang malam menuju ke istana Kota Raja Panjalu.

Di sepanjang perjalanan, ia mellhat betapa kehidupan rakyat Panjalu jauh lebih makmur daripada keadaan rakyat JenggaIa. Rumah-rumah penduduk dusun lebih baik, pakaian mereka lebih bersih dan terutama sekali sinar wajah mereka lebih gembira dan tubuh mereka leblh gemuk sehat. Ia menghela napas panjang dan harus mengakui bahwa sang prabu di Panjalu jauh lebih pandai mengatur pemerintahan daripada sang prabu di Jenggala.

Ketika tiba di Kota Raja Panjalu, ia tidak berani memperlihatkan diri, bersembunyi dan malam harinya ia menyusup ke dalam kota raja, langsung ia mencari istana tempat tinggal Pangeran Darmokusumo. Malam itu sunyi sekali karena hujan turun rintik-rintik semenjak sore. Akan tetapi suasana sunyi ini menyenangkan hati Endang Patibroto. Memang lebih sunyi lebih baik. ia hendak menculik Pangeran Darmokusumo dan dipaksanya mengaku.

Kemarahannya terhadap pangeran ini masih belum mereda, bahkan setelah tiba di situ, amarahnya makin meluap. Ia teringat betapa pangeran ini yang menjadi biang keladi segala urusan, yang mengotorkan dan mencemarkan nama baiknya, bahkan yang hampir saja membunuh suaminya. Kalau teringat akan ini, sudah sepatutnya kalau ia membunuh pangeran ini. Akan tetapi ia tidak akan membunuhnya, hanya akan memaksanya mengakui semua perbuatannya di depan sang prabu, di depan umum.

Endang Patibroto sama sekali tidak mengira bahwa desas-desus tentang dirinya pada waktu itu lebih hebat lagi. Berita yang didesas-desuskan oleh Suminten kiranya telah mendahuluinya sampai ke Panjalu! Juga kepergiannya, bahkan ia tidak berada di rumah, telah terdengar sampai ke Panjalu. Di dalam beberapa hari ini tidak pernah terjadi pembunuhan-pembunuhan mujijat lagi dan hal ini dihubungkan dengan kepergiannya.

Setelah ia pergi, tidak ada lagi terjadi pembunuhan-pembunuhan. Makin yakinlah hati orang-orang yang tidak menyukainya bahwa dialah biang keladi semua pembunuhan! Juga Endang Patibroto sama sekali tidak pernah menduga bahwa pada saat itu, baris pendem pasukan Panjalu sudah siap menantinya. Para senopati Panjalu telah menerima berita rahasia yang dikirim oleh Raden Sindupati tentang kedatangannya ke Panjalu. Terutama istana Pangeran Darmokusumo telah dijaga oleh baris pendem yang amat banyak dan kuat. Inilah merupakan hasil sebuah di antara siasat Raden Sindupati.

Dengan menyamar sebagai seorang ponggawa Jenggala ia mengirim seorang pembantunya berkuda secepatnya ke Panjalu membawa berita bahwa Endang Patibroto berusaha menyerang dan membunuh Pangeran Darmokusumo! Dan karena memang desas-desus tentang Endang Patibroto sudah santer mempengaruhi orang-orang dan terutama sekali para senopati Panjalu, maka tanpa memeriksa lebih lanjut lagi para senopati lalu membuat persiapan menyambut kedatangan Endang Patibroto!

Karena memang dibiarkan masuk, dengan mudah Endang Patibroto malam itu meloncat masuk melalui dinding tinggi yang mengelilingi istana Pangeran Darmokusumo. Akan tetapi begitu ia menyelinap ke ruangan depan, terdengar bentakan keras, "Tangkap pembunuh!" Seketika ia dikurung oleh puluhan orang pengawal bersenjata lengkap. Obor-obor dipasang dan ia segera diserbu! Endang Patibroto terkejut sekali. Ia hendak membuka mulut, akan tetapi maklum bahwa percuma saja bicara. Para pengawal itu tentulah kaki tangan Pangeran Darmokusumo yang entah bagaimana sudah mengetahui kedatangannya.

"Pangeran Darmokusumo, keluarlah kalau kau laki-laki! Jangan mengusahakan rencana pemberontakan dan pembunuhan secara keji dan pengecut!" teriak Endang Patibroto, akan tetapi segala macam senjata sudah mengurung dan menyerangnya. Terpaksa Endang Patibroto bergerak dan robohlah empat orang pengeroyok! Ia hendak nekat masuk, ingin menangkap Pangeran Darmokusumo, akan tetapi dari dalam berlompatan keluar lima orang senopati pilihan dari Panjalu dikepalai oleh Ki Patih Suroyudo sendiri! Patih tua ini memegang tombak pusaka dan ia membentak.

"Endang Patibroto, kau benar-benar iblis betina! Kau pembunuh pengecut dan keji, masih berani mengeluarkan kata-kata keji terhadap gusti pangeran?"

"Paman Patih Suroyudo! Dengarlah baik-baik... Bukan aku, melainkan Pangeran Darmokusumo yang menjadi biang keladi segala...."

"Tutup mulut, iblis wanita laknat!" Ki Patih Suroyudo sudah menerjang dengan tombaknya, namun sedikit miringkan tubuh, Endang Patibroto sudah mengelak dan sekali tangannya bergerak, ia menangkap tombak dan didorong kuat-kuat ke belakang sehingga ki patih yang tua itu terhuyung-huyung dan terjengkang roboh. Lima orang senopati berseru marah dan menubruk dengan senjata masing-masing.

"Kalian tidak mau mendengar kata-kataku?? Biarkan aku menghadap sang prabu, akan kubuka semua rahasia Pangeran Darmokusumo!" teriaknya akan tetapi siapa sudi mendengar kata-katanya?

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 03

Perawan Lembah Wilis Jilid 02

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 02

"Akan tetapi, kuberitahu juga tidak mengapa agar kau tidak mati dalam penasaran. Aku tahu bahwa engkau akan mati di tanganku, Endang Patibroto, maka kau dengarlah dulu baik-baik dan jangan kaget akan hal-hal yang tentu tidak akan kau sangka-sangka. Heh-heh-heh! Memang tanpa tedeng aling-aling aku mengaku bahwa para ponggawa itu kubunuh atas perintah orang. Bukan sembarang orang, melainkan calon maharaja besar yang akan menguasai seluruh Panjalu dan Jenggala dijadikan satu! Dan untuk dapat menguasai kedua kerajaan ini, perlu sekali para penentangnya dan para penghalangnya disingkirkan lebih dulu untuk persiapan."

"Hemmm, sudah kuduga. Kemudian kau dan sekutumu menghamburkan desas-desus bahwa akulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu, bukan?"

"Heh-heh-hl-hi-hih! Itu akalku, Endang Patibroto. Akalku untuk memancing kau keluar mencariku. Akan tetapi kau ternyata penakut, tidak berani keluar sehingga terpaksa aku menyerang suamimu sebagai pancingan dan benar saja, kau datang menyerahkan nyawamu, heh-heh-heh!"

"Wiku jahanam, katakan siapa sekongkolmu itu!"

"Itu rahasia, heh-heh-heh, kau carilah sendIri. Tapi kau akan matl di sini, agar jangan menjadi setan penasaran, baik kuberitahu. Calon maharaja itu adalah Pangeran Darmokusumo di Panjalu."

"Apa....??" Endang Patibroto benar-benar kaget sekali karena tak pernah menduga. Pangeran Darmokusumo putera sang prabu di Panjalu? Ah, tidak mungkin! Pangeran Darmokusumo selain putera Sang Prabu Panjalu, juga putera mantu Sang Prabu Jenggala! Menikah dengan Puteri Mayagaluh, adik kandung Pangeran Panjirawit, suaminya! Mana mungkin ini? "Engkau dukun lepus, engkau tukang tenung hina-dina, engkau pembohong rendah! Siapa percaya omonganmu?"

"Heh-heh-heh, bocah kemarin sore semacam engkau ini yang begini tolol mana percaya? Mana bisa melihat kenyataan? Pangeran Darmokusumo tidak suka melihat kerajaan menjadi dua, beliau hendak menguasai seluruh kerajaan, dijadikan satu, pulih kembali seperti jaman Kahuripan, jaman Mataram."

"Tak mungkin ia mau membunuh-bunuhi ponggawa Jenggala, apalagi ponggawa Panjalu sendirI. Kau mengadu domba."

"Sesukamulah, Endang Patibroto. Engkau memang tolol, tidak tahu isi hati orang. Ponggawa-ponggawa Jenggala yang penting harus disingkirkan karena kelak menjadi penghalang, termasuk engkau sendiri yang terutama. Karena inilah beliau memilih aku yang memang ingin membunuhmu. Selama kau masih hidup, cita-citaku takkan tercapai. Maka rencana cerdik beliaulah yang mendesas-desuskan keadaanmu, mengatakan bahwa engkau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, karena engkau murid Dibyo Mamangkoro si manusia iblis! Ha-ha-ha, rencana yang bagus sekali dan kelak kalau beliau menjadi maharaja, aku Sang Wiku Kalawisesa akan diangkat menjadi sesepuh kerajaan."

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan nafsu amarah sudah memenuhi hati Endang Patibroto, matanya berkilat-kilat dan ia mulai ragu-ragu akan kebersihan Pangeran Darmokusumo. Memang semenjak kerajaan dibagi dua, selalu timbul ketegangan di antara kedua kerajaan bersaudara, bahkan dahulu sampai terjadi permusuhan, peperangan. Bukan tak bisa jadi kalau Pangeran Darmokusumo bercita-cita seperti itu, mempersatukan dua kerajaan, kalau perlu dengan kekerasan.

"Jangan coba menipu aku, wiku keparat. Pangeran Darmokusumo tidak mungkin suka membunuhi ponggawa-ponggawa Panjalu sendiri...!"

"Uuuuh, itulah kebodohanmu! Ponggawa-ponggawa yang terbunuh itu, seperti Tumenggung Diroprono, Senopati Surabala putera Patih Suroyudo, termasuk mereka yang menentang cita-cita Pangeran Darmokusumo, maka harus mati. Pangeran Darmokusumo sendiri yang memesan kepadaku untuk jangan sampai gagal membunuh engkau dan suamimu, heh-heh-heh, dan sekarang cita-cita beliau itu akan terlaksana..!

"Iblis laknat engkau, bukan aku, melainkan engkau yang akan mampus mendahului Darmokusumo!" Kemarahan Endang Patibroto tak tertahankan lagi.

Kini ia makin percaya bahwa benar-benar Pangeran Darmokusumo hendak memberontak, dan lebih menjengkelkan lagi, berniat membunuh dia dan suaminya, kakak ipar pangeran itu sendiri. Alangkah keji dan jahatnya! Tak boleh ia mendiamkan saja. Pangeran itu harus diseret di muka umum, dihajar dan dipaksa mengakui semua rencana pemberontakannya! Dalam amarah, ia sudah mengeluarkan aji kesaktiannya, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, hawa sakti terkumpul di tubuh, berputaran merupakan hawa panas yang menjalar dan berputar-putar dari ujung kaki sampai di ubun-ubun kepala. Ia sudah siap menandingl kakek sakti ini.

Sambil terkekeh-kekeh Wiku Kalawisesa mengangkat tongkat hitamnya sambil mengeluarkan bunyi mencicit seperti suara kelelawar dan tiga benda hitam tiba-tiba terbang menyambar kepala Endang Patibroto.. itulah tiga ekor kelelawar yang sejak tadi menggantung di bawah. Mereka ini menerjang Endang Patibroto, di bawah sinar pelita yang remang-remang itu tampak mata binatang-binatang ini merah bersInar-sinar, mulut terbuka memperlihatkan gigi yang runcing, kuku-kuku melengkung terbuka siap mencakar.

Apa artinya serangan tiga ekor kelelawar bagi Endang Patibroto? Biarpun tiga ekor kelelawar itu besar-besar, sebesar kucing, namun tanpa merubah kedudukan kaki, hanya dengan gerakan tangan kiri saja tanpa menggerakkan tangan kanan yang bertolak pinggang, Endang Patibroto berhasil menampar tiga kali berturut-turut, amat cepat gerakannya dan tiga ekor kelelawar itu mencelat, terlempar dan terbanting pada dinding pondok! Akan tetapi, tiga ekor binatang itu sudah terbang lagi menyambar, seakan-akan pukulan dan bantingan itu tidak mereka rasakan sama sekali.

Endang Patibroto terkejut. tamparan tangannya tadi cukup keras untuk membikin pecah kepala kerbau, bagaimana tiga ekor kelelawar itu hanya terlempar dan agaknya sama sekali tidak terluka? Ia mendengar kakek itu terkekeh dan kini bersama tiga ekor kelelawarnya, kakek itu sudah menyerangnya dengan tusukan tongkat hitam ke arah dadanya.

Endang Patibroto lega melihat betapa gerakan menusuk kakek itu tidak amat cepat, sungguhpun amat kuat. Mengertilah ia bahwa betapapun sakti kakek ini, namun dalam hal ilmu silat tidaklah tangguh. Kakek ini hanya mengandalkan keampuhan aji ilmu hitam dan tenaga mujijatnya saja. Dengan mudah ia mengelak sambil melangkah mundur, kemudian merendahkan tubuhnya membiarkan tiga ekor kelelawar menyambar lewat, kemudian dengan Aji Bayu Tantra tubuhnya mencelat ke depan, cepatnya melebihi seekor burung, dan tangannya sudah mengandung Aji Gelap Musti ketika dipukulkan ke dada Sang Wiku Kalawisesa.

"Dessss..!!!"

Pukulan ini tepat sekali, mengenai dada yang hanya tulang-tulang dibungkus kulit. Endang Patibroto dapat merasa betapa kepalan tangannya bertemu dengan tulang-tulang iga. Akan tetapi anehnya, ada semacam hawa dingin yang menolak pukulannya, atau yang melindungi tulang-tulang itu sehingga tulang-tulangnya tidak remuk, hanya tubuh kakek itu yang terlempar ke dinding, dekat arca Bathara Kala.

"Aduuhhh... aduuhhh... aduuhhh....!" Kakek itu mengeluh panjang pendek dan begitu tongkatnya menuding ke arah Endang Patibroto, segumpal asap hitam menyambar. Asap ini tebal dan membawa bau apak seperti bau kelelawar. Endang Patibroto miringkan tangan dan menampar dengan jari-jari terbuka, jari-jari yang mengandung Ajl Pethit Nogo.

"Pyurrr...!!"

Asap hitam yang bergulung tebal itu ambyar mawut, membubung ke atas, menerobos atap hitam dan lenyap. Ketika itu, tiga ekor kelelawar sudah menyambar lag, lebih ganas daripada tadi. Endang Patibroto menjadi gemas, dua ekor dapat ia pukul terpental, yang seekor, paling besar dan yang tadi mengelilingi rumahnya, ia tangkap. Kedua tangannya bergerak, mencengkeram sayap dan...

"krek-krekkkk....!" sepasang sayap binatang itu hancur berkeping-keping, dicabik-cabiknya, kemudian tubuh binatang Itu dibantingnya ke Iantai. Tubuh yang sudah tak bersayap itu terbanting, terpental, terbanting lagi seperti sebuah bola, kemudian menggelundung ke sudut, mengeluarkan bunyi mencicit aneh seperti orang mengerang dalam sekarat.

Binatang itu tidak mati, agaknya memiliki kekebalan luar biasa akan tetapi tidak berdaya lagi karena sepasang sayapnya sudah hancur. Yang dua lagi datang menyambar. Endang Patibroto kembali menangkap mereka, merobek-robek sayap mereka dan membanting tubuh mereka seperti tadi. Dua ekor kelelawar inipun terguling ke sudut pondok, tak dapat menyerang lagi.

Dengan pandang mata mulai beringas, semangat dan kegembiraan bertanding mulai menggairah di hatinya, Endang Patibroto membalikkan tubuh, mencari Wiku Kalawisesa. Dilihatnya kakek itu berlutut memeluk kaki arca, mengeluarkan ucapan-ucapan mantera yang tak dimengerti maksudnya. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika ia melihat sepasang mata arca itu. Dari sepasang mata itu keluar sinar kehijauan yang hebat dan menyilaukan mata! Tanpa disadari Endang Patibroto memandang sepasang mata arca itu dan ia seperti orang kena pesona, tubuhnya menjadi kaku dan ia tak dapat mengalihkan pandang matanya daripada sinar mata hijau yang melekat pandang matanya itu!

Pada saat itu, perlahan-lahan Wiku Kalawisesa sudah bangkit dari berlutut, tertawa terkekeh-kekeh dan terhuyung-huyung menghampiri Endang Patibroto. Tangan kirinya mencabut keris kecil sejengkal, tangan kanan mengangkat tongkat hitam tinggi-tinggi di atas kepala.

"Heh-heh-heh....hi-hi-hih, bersiaplah mati kau Endang Patibroto.... ha-ha!"

Endang hendak meloncat, tapi kedua kakinya seperti lekat pada tanah, hendak menggerakkan tangan akan tetapi kedua lengannya seperti lumpuh, hendak membuang muka tapi tak mampu melepaskan sinar hijau itu. Matanya perih dan lelah, amat lelah, mengantuk dan nikmat seperti kalau ia berada dalam dekapan suaminya. Suaminya tentu celaka kalau ia tidak segera menyelamatkan diri daripada pengaruh kekuatan mujijat.

Suaminya yang tercinta! Endang Patibroto melihat dengan perasaannya bahwa Wiku Kalawisesa sudah datang dekat, ujung keris sudah makin dekat, siap menusuknya. Ia mengerahkan segala tenaga batinnya, membayangkan wajah gurunya Dibyo Mamangkoro yang tertawa terbahak-bahak, kemudian bagaikan sebuah bendungan air yang pecah, terdengar mulutnya mengeluarkan suara jerit melengking yang sama sekali tidak menyerupai jerit manusia, melainkan lebih mirip pekik auman harimau betina.

"Aaauuuuuhhhhhmmmmm....!!!"

Luar biasa sekali pekik ini, karena ini bukan sembarang pekik, melainkan Aji Sardulo Bairowo yang suaranya mampu melumpuhkan lawan yang tangguh. Akibatnyapun hebat karena tiga ekor kelelawar yang tadinya mencicit-cicit belum mati, sekarang berkelojotan, kaku dan mati.

Kakek sakti Wiku Kalawisesa yang tadinya sudah menyeringai kejam, siap menusuk dada dan menghantam kepala Endang Patibroto seketika menjadi pucat dan terhuyung ke belakang, ke dekat arca Bathara Kala. Akan tetapi yang amat menguntungkan bagi Endang Patibroto, pengaruh mujijat yang mempesonakannya tadi telah buyar, tidak mengikatnya lagi sehingga ia mampu bergerak seperti biasa. la maklum akan bahayanya sinar hijau dari mata arca itu, dan ia tahu bahwa ia tIdak boleh terlalu lama memandang sinar mata hijau itu. Ia meloncat ke depan dan menantang.

"Hayoh, Wiku Kalawisesa dukun lepus pendeta sesat, kerahkan seluruh kesaktianmu! Inilah Endang Patibroto yang takkan mundur setapak menandingimu. Akulah orangnya yang akan menamatkan riwayatmu yang kotor, mengirimmu ke asalmu menjadi intip neraka!"

Sumbar seperti ini sama sekali bukan terdorong oleh kesombongan, melainkan sebuah di antara taktik-taktik pertandingan, karena sedikit banyak dapat melemahkan batin lawan, menimbulkan takut dan ragu. Padahal, pantangan bagi orang yang menghadapi lawan berat adalah ragu dan gentar, yang dapat mengurangi kewaspadaan.

Wiku Kalawisesa yang sudah amat kecewa karena kemenangan yang sudah di depan mata itu meleset dan gagal, sedikit banyak menjadi gentar juga. Ia tahu apa artinya pekik dahsyat tadi. Seorang yang sudah dapat memiliki aji seperti itu, bukanlah orang sembarangan. Aji itu tidaklah mudah dipelajari, membutuhkan kematangan tenaga dalam dan harus pandai mengatur dan menguasai getaran. Akan tetapi, teringat akan hikmat arca pujaannya yang lebih ia percaya daripada segala apa di dunia ini, bahkan melebihi dirinya sendiri, bangkit kembali semangat kakek itu.

Kini ia menerjang maju, gerakannya tidak cepat, tidak tergesa-gesa, bahkan perlahan-lahan seperti orang mengancam. Yang mengejutkan hati Endang Patibroto adalah keris kecil sejengkal itu. Dari keris ini memancar keluar sinar hijau yang mempengaruhinya seperti yang terpancar keluar dari sepasang mata arca Bathara Kala! Ia mundur-mundur dan mengambil kuda-kuda yang kuat untuk menghadapi lawan.

"Heh-heh-heh, kau takut, bocah sombong? Kau takut, ya? Heh-heh, kau akan mati di ujung kerisku ini!" kata Wiku Kalawisesa yang dapat melihat lawannya agak gentar menghadapi kerisnya. "Inilah keris pusaka Ki Kolokenaka! Inilah yang membunuh semua ponggawa, dan ini pula yang akan membunuhmu, lalu membunuh suamimu. Heh-heh !"

Hemm, keris ini berbahaya, pikir Endang Patibroto. Ia siap menanti terjangan lawan, awas terhadap kerisnya. Ia harus dapat menghalau keris itu, harus dapat merampasnya! Ia mundur-mundur memasang sikap, kedua tumitnya berjungkit, lengan kira ditekuk menyilang depan dada, tangan kanan diangkat tinggi di atas kepala, semua jari tangan terbuka. Inilah gerak pembukaan Aji Wisangnala! Tubuhnya dimasuki aji meringankan tubuh yang dulu ia pelajari dari ibunya, gerakan yang mengandung sari gerakan burung walet dan camar di Laut Kidul. Seluruh urat syaraf menggetar, siap dengan gerakan otomatis yang mendarah daging. Serangan datang dengan tusukan keris disusul hantaman tongkat. Dahsyat sekali.

"Siuuutt.... wussss....!"

Wiku Kalawisesa gelagapan. Tahu-tahu lawannya lenyap. la cepat membalik menurutkan gerak reflex dan perasaan dan ternyata lawannya sudah berada di belakangnya! Ia lalu menyerang bertubi-tubi, kinI cepat karena maklum bahwa lawannya ini memiliki gerakan cepat sekali melebihi burung walet.

Endang Patibtoto melejit ke sana ke sini, gerakannya cepat sekali, namun diam-diam ia mengeluh karena sinar hijau keris itu benar-benar ampuh sekali, seakan-akan menghalangi gerakannya, membuat ia silau dan canggung. Ketika untuk ke sekian kalinya tongkat menghantam ke arah kepala, la miringkan tubuh membiarkan tongkat lewat di dekat pundak, kemudian secepat kiIat ia menangkap dengan tangan kanannya pergelangan tangan kiri lawan yang memegang keris. Ia harus merampas keris ampuh ini, sebelum ia celaka! Dengan pengerahan tenaga sakti, jari-jari tangan kanan yang penuh dengan Aji Pethit Nogo ini mencengkeram pergelangan tangan lawan.

Ajl Pethit Nogo adalah aji ciptaan eyangnya, ayah dari ibunya, yang bernama Resi Bhargowo atau Bhagawan Rukmoseto. Hebatnya bukan kepalang. Dengan aji ini, tangan yang halus itu dapat meremas hancur batu karang yang kuat! Kini ia mencengkeram pergelangan tangan Wiku Kalawisesa, tak mau melepaskannya lagi. Sang wiku mengaduh-aduh, memekik-mekik berusaha melepaskan cengkeraman, namun sia-sia. Dengan marah tongkatnya menyambar kepada Endang Patibroto, mengarah kepala, dari atas ke bawah. Endang Patibroto tidak mau melepaskan cengkeramannya, bahkan menambah tenaganya, sambil miringkan tubuh.

"Krekkkk...! Dessss....!!"

Bersamaan detik terjadinya! Pergelangan kiri Wiku Kalawisesa hancur tulangnya, dan keris Ki Kolokenaka terampas oleh Endang Patibroto, akan tetapi pukulan tongkat hitam itu meleset dan mengenai pundak wanita sakti ini. Endang Patibroto terlempar menabrak arca Bathara Kala. Ia pening, pundaknya seperti remuk, membuat lengan kirinya sementara lumpuh. Ia bersandar kepada arca, terengah-engah.

"Augg.... aduhh.... tanganku...." Wiku Kalawisesa mengaduh-aduh, menyumpah-nyumpah, kemudian melangkah maju, mengayun tongkat.

Endang Patibroto maklum akan datangnya bahaya, berusaha mengelak, akan tetapi.... tubuhnya tak dapat digerakkan. Punggungnya yang menempel arca seperti lekat pada arca atau seolah-olah ada tenaga mujijat yang keluar dari tubuh arca itu yang menahannya! Tongkat sudah datang, mengarah kepalanya! Endang Patibroto meronta, dapat bergerak miring, namun pundaknya masih lekat. Terpaksa ia mengangkat lengan kanannya yang memegang keris, menangkis tongkat dengan lengannya sambil mengerahkan tenaga dalam yang didasari hawa sakti yang kuat.

"Duk..."

Wiku Kalawisesa terpental mundur, terhuyung-huyung ke belakang. Lengan kiri yang sudah remuk tulangnya itu tergantung lumpuh. Ia marah sekali, matanya mendelik marah, mulutnya mengeluarkan busa di kanan kiri, hidungnya yang panjang dan melengkung seperti hidung betet itu mekar, mendengus-dengus. Kemudian ia mengerahkan seluruh tenaga, perlahan-lahan mengangkat tongkat ke atas kepala, tidak tergesa-gesa karena calon korbannya sudah tak berdaya, tak mampu melepaskan diri dari arca, seperti seekor lalat yang terjaring lekat di jala sarang laba-laba. Ia tidak tergesa-gesa, harus memukul yang tepat, sekali pukul membinasakan lawan.

Terbelalak Endang Patibroto memandang. Maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya. Karena tubuhnya tak dapat terlepas dari arca, akhirnya ia tentu akan kena pukul. Wanita sakti ini memutar otak, mengingat ucapan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Hancurkan dahulu kesaktian arca Bathara Kala, baru kesaktian pemujanya akan punah, demikian pesan gurunya. la melirik ke atas, tampak betapa sinar kehijauan yang memancar keluar dari sepasang mata arca Itu makin terang bercahaya, seakan-akan mengeluarkan api hijau.

Dan keris di tangannyapun makin terang cahayanya. Ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya, bibirnya berkemak-kemik membaca mantera seperti yang diajarkan gurunya untuk melawan kekuasaan ilmu hitam yang ampuh, kemudian secepat kilat keris di tangan kanannya bergerak, menusuk mata arca itu, dua kali berturut-turut pada sepasang mata yang bercahaya hijau.

"Cesss...! Cesss...!!" Terdengar suara seperti api tersiram air dan tampak asap putih tebal bergulung-gulung keluar dari sepasang mata arca!

Dan sinar hijau lenyap, baik dari kedua mata maupun dari keris kecil. Saat itu, tongkat di tangan Wiku Kalawisesa sudah melayang datang, akan tetapi tiba-tiba terhenti di tengah jalan dan mata kakek itu terbelalak memandang patung, mulutnya celangap dan keluar rintihan dan tangisan dari dalam mulut.

Endang Patibroto menggerakkan tubuh, kini tidak ada lagi kekuasaan hitam menahannya. la meloncat dan melempar keris kecil ke sudut, tangannya dikepal dan dengan tenaga dahsyat ia menghantam ke arah kepala arca.

"Darrr...!" Kepala itu meledak hancur berkeping-keping dihantam tangan sakti dengan Aji Gelap Musti, seakan-akan disambar geledek. Dan pada saat itu, perut patung yang besar, berikut kaki tangannya, mengeluarkan bunyi gemuruh seperti Gunung Bromo mengamuk. Endang Patibroto mencelat mundur dan cepat melesat keluar pondok pada saat tubuh patung meledak.

"Blaaarrrr....i" Pondok itu hancur, atapnya terbang entah ke mana, dinding bambu hancur berkeping-keping. Tubuh Wiku Kalawisesa terlempar keluar pondok, jatuh terbanting bergulingan.

Kakek itu mengaduh tubuhnya sakit-sakit. Namun ia memiliki kekebalan sehingga tidak terluka hebat. Dengan satu lengannya yang masih waras, ia memegang tongkat hitam, ia merangkak bangun dan berdiri. Lengan klrinya tetap lumpuh, pergelangan yang remuk tulangnya mulai menggembung besar. Wajahnya pucat, matanya beringas, kemarahan dan kedukaan bercampur dengan rasa takut ketika ia melihat Endang Patibroto melangkah menghampirinya sambil tersenyum. Senyum yang dingin, sedingin tengkuknya yang meremang karena gentar.

"Engkau masih belum mati, Wiku Kalawisesa? Mari kita selesaikan."

Habis harapan Wiku Kalawisesa. Ia takut sekali dan karena tidak melihat jalan keluar, ia menjadi nekat. Sambil menggereng macam serigala tersudut, ia menubruk maju, tongkatnya menghantam. Akan tetapi dengan tenang Endang Patibroto menanti sampai tongkat dekat, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya miring, kakinya digeser lalu melangkah maju dari samping, tangan kanannya menyambar dan....

"Desss... lengan kanan kakek itu terpukul dari samping, membuat tongkatnya terlempar entah ke mana. Kemudian sebuah tamparan tangan kiri Endang Patibroto disertai Aji Pethit Nogo membuat kakek itu terpekik dan terbanting roboh, terengah-engah, tangan kanan memegangi kepala yang disambar geledek, napasnya hampir putus. Ia merangkak duduk, berusaha bangkit akan tetapi tidak kuat dan ambruk terduduk lagi.

"Keparat.... Endang Patibroto, sempurnakanlah (bunuhlah) aku...!"

Endang Patibroto tersenyum menyindir. "Terlalu nyaman bagimu. Kau harus merasakan hasil perbuatanmu yang terkutuk!" Endang lalu membungkuk, mengambil sekepal tanah lempung, dikepal-kepal agar lunak sambil memandang lawan, bibirnya masih tersenyum manis akan tetapi pandang matanya dingin. Kakek itu mengangkat muka, melihat wanita itu, terbelalak matanya.

"Apa.... apa yang akan kau lakukan...?"

"Seperti apa yang kau lakukan terhadap suamiku, terhadap ponggawa-ponggawa lainnya." Pucat wajah Wiku Kalawisesa, kemudian la terkekeh menutupi rasa ngerinya.

"He-he-heh, kau takkan mampu...."

Endang Patibroto tak menjawab, melainkan duduk di atas tanah, tiga meter jauhnya dari kakek yang ketakutan, duduk bersila sambil membentuk lempung itu menjadi boneka, boneka yang menyerupai Wiku Kalawisesa. Setelah jadi, tiba-tiba saja tubuhnya dengan masih bersila mencelat ke arah kakek itu yang merasa kepalanya sakit dan sekali lagi Endang Patibroto berkelebat, kembali ke tempat semula dalam keadaan duduk bersila, segumpal rambut kakek itu di tangannya.

Wiku Kalawisesa tercengang kagum. Ah, dia tidak tahu diri, pikirnya. Dia terlalu memandang rendah wanita ini. Pantas saja adik seperguruannya, Cekel Aksomolo tewas di tangan wanita ini, dan diapun tentu akan tewas. Kiranya wanita inl sedemikian saktinya. Dapat melompat dalam keadaan duduk adalah perbuatan yang langka bagi orang yang tidak memiliki kesaktian tinggi sekali. Ia tidak penasaran lagi kalau roboh di tangan wanita sakti ini. Hanya rasa penasaran karena tidak tercapai maksudnya membalas dendam.

Akan tetapi, ia tidak kehilangan kecerdikannya dan kembali ia terkekeh. Siapa bilang tidak tercapai maksudnya? Tunggulah saja kau, Endang Patibroto, pembalasanku akan tiba juga! Akan tetapi suara ketawanya lenyap ditelan kengerian ketika ia melihat Endang Patibroto mencabut tusuk konde. Rambutnya sudah dipasangkan pada boneka itu. Endang Patibroto bersila dan bersamadhi sebentar, meramkan mata, mulut masih tersenyum, kemudian tubuhnya gemetar dan mata dibuka, ia menggerakkan tusuk konde mendekati kaki kanan boneka.

"Jaga kaki kananmu, Wiku Kalawlsesa!"

"Kau takkan mampu" kakek itu mendengus marah.

"Kau lihat saja. Rasakanlah!" Tusuk konde ditusukkan ke paha kaki kanan boneka.

Sang wiku mengerahkan kesaktian menolak. Endang Patibroto merasa betapa kaki boneka itu mengeras, akan tetapi iapun mengerahkan kesaktian, terus menusuk. Setelah mengadu kekuatan batin, akhirnya...

"Blesss!" paha kanan boneka itu tertusuk dan darah mengucur keluar.

"Aaaugggghh....!" Wiku Kalawisesa mengaduh, tangan kanan yang masih dapat bergerak memegangi paha kanannya yang bercucuran darah.

"Sekarang paha kiri, wiku bedebah, manusia berhati iblis!" Kembali Endang Patibroto menusuk, kali ini lawannya tidak menahan karena maklum akan sia-sia usahanya itu.

"Blesss...!" Dan paha kiri boneka itu tertusuk, berdarah seperti juga paha kanan Wiku Kalawisesa.

"Aduhh.... bunuh saja aku, Endang Patibroto!"

"Enaknya....! Rasakan hasil kekejianmu sendiri. Awas lenganmu...!" Kembali Endang Patibroto menusuk, lengan kanan kemudian lengan kiri. Kaki tangan kakek itu mengucurkan darah segar dan ia mengeliat-geliat.... mengaduh-aduh...dan merintih-rintih minta mati.

"Ja.... jangan lanjutkan.... jangan tusuk lagi....kau pukul matilah aku, Endang....!!"

"Apa? Kau merasa tersiksa? Tak ingatkah akan para ponggawa yang kau bunuh? Tidak ingatkah akan penderitaan suamiku? Ya, suamiku yang hendak kau bunuh? Rasakan sekarang, perlahan-lahan kutusuk dadamu...!"

"Aduh, ampun, Endang Patibroto! Ampunkan aku seorang tua... hu-hu-huuhh...." Kakek itu menangis saking takutnya!

Endang Patibroto menahan tusuk kondenya di kulit dada boneka. "Ampunkan? Betapa mudahnya minta ampun. Hayo katakan, jangan membohong, siapa yang menyuruhmu? Aku masih tidak percaya akan semua keteranganmu tadi. Katakan siapa sekongkolmu? Siapa menyuruhmu membunuh suamiku? Membunuh para ponggawa?"

"Sudah kukatakan.... kepadamu... tiada lain.... Pangeran Darmokusumo...."

"Bohong!"

"Demi dewata...."

"Kau tidak mengindahkan para dewata!"

"Demi Hyang Widhi...."

"Manusia macam kau tidak takut Hyang Widhi"

"Aduh, ampun, aku tidak membohong Endang Patibroto. Benar Pangeran Darmokusumo yang menyuruhku..."

"Sekali lagi, jangan bohong! Lihat tusuk kondeku siap menusuk. Katakan sebenarnya, kalau kau mengaku, mungkin aku dapat mengampunimu" Endang Patibroto membujuk.

"Bukan orang lain, melainkan Pangeran Darmokusumo, seorang. Demi Sang Hyang Bathara Kala... aku bersumpah...!!"

Lega hati Endang Patibroto. la tidak lancang dan sembrono. Setelah kakek pemuja Bathara Kala ini bersumpah demi Bathara Kala, agaknya ia tidak berbohong. Si keparat Pangeran Darmokusumo! Dengan gemas ia menusukkan tusuk kondenya di ulu hati boneka itu.

"Aauuuurrrghh.....!" Wiku Kalawisesa roboh tergelimpang. Dari dadanya mengucur darah segar. Matanya mendelik dan aneh sekali, pada saat terakhir itu, ia terkekeh "Heh-heh-heh-hih-hik, Endang Patibroto. Aku akan membalas dendam kepadamu! Akan kuhancurkan engkau, suamimu, rumah....huah haha....tunggu.... kau tunggu pembalasanku...!" Dan tubuhnya berkelojotan dalam sekarat.

Endang Patibroto melemparkan membersihkan tusuk kondenya dan memakainya lagi di rambutnya. Kemudian ia meloncat dan berkelebat lenyap diteIan kegelapan malam. Sambil berloncatan Endang Patibroto berpikir, keparat si Pangeran Darmokusumo! Kejam benar hatimu. Demi tercapainya cita-cita, tega benar membunuhi para ponggawa setia. Bahkan tega hendak membunuh Pangeran Panjirawit, kakak iparnya sendiri. Kalau aku pulang dan menceritakan hal ini kepada suamiku, tentu dia tidak akan percaya. Dan celakalah kalau sampai ketidakpercayaan menguasai hati suamiku. Ketidakpercayaan pangkal keruntuhan cinta.

Tidak baik menaruh ganjalan hati. Lebih tepat sekarang juga bertindak sebelum terlalu parah keadaan. Ia dapat menyelinap ke Kerajaan Panjalu, akan ditangkapnya Pangeran Darmokusumo, dipaksanya supaya mengakui segala perbuatannya yang laknat. Kalau sudah begitu terserah keputusan Sang Prabu Panjalu terhadap puteranya. Akan tetapi ia akan bebas daripada tuduhan, akan tercuci bersih namanya. Tiada jalan lain, Wiku Kalawisesa sudah mati. Percuma saja ia jadikan bukti atau saksi.

"Heh, sira (kamu) Pangeran Darmokusumo! Awaslah engkau, aku tidak akan mendiamkan saja ulah tingkahmu memburuk-burukkan namaku dan terutama hendak membunuh suamiku. Pangeran Darmokusumo, jangan kaget. Endang Patibroto yang akan membuka kedokmu!"

Makin cepat tubuhnya berkelebat, mempergunakan ilmu lari cepat sehingga tubuhnya lenyap hanya tampak bayangan seperti bayangan seekor garuda melayang di angkasa.

********************


"Nini bocah ayu, siapakah engkau?" tanya Ki Patih Bratamanggala dengan sikap tenang dan sabar sambil memandang Suminten yang duduk bersimpuh di depannya dan menangis.

"Hamba Suminten, gusti patih, hamba adalah abdi dalem, pelayan Gusti Pangeran Panjirawit." Suminten menyembah dan berkata dengan suara gemetar.

Ki Patih yang sudah berusia lima puluh tahun lebih itu mengerutkan keningnya, kemudian sambil memandang penuh selidik bertanya, "Heh, Suminten. Apa kehendakmu di pagi hari buta ini memaksa para pengawal, mohon menghadap kepadaku?" Hari itu masih pagi sekali, Ki Patih Bratamenggala baru saja bangun tidur ketika kepala pengawal menghadap dan menyatakan bahwa, ada seorang gadis remaja memaksa minta menghadap karena urusan yang amat penting. Dari sikap pengawal ini, ki patih tahu bahwa tentu pengawal ini sudah mendengar akan urusannya dan mempertimbangkan bahwa hal itu amatlah pentingnya sehingga ia berani menyampaikan permohonan si gadis.

"Ampun beribu ampun, gusti. Hamba telah berani mengganggu paduka di pagi hari ini. Akan tetapi kepada siapakah gerangan hamba harus melaporkan peristiwa mengerikan semalam kalau tidak kepada paduka? Hamba tidak berani menghadap gusti prabu."

Berdebar jantung ki patih. Semalam ia sudah mendengar akan berita dahsyat yang mengabarkan tentang kematian Ki Demang Kanaroga, kematian yang mengerikan, seperti terjadi pada diri Tumenggung Wirodwipo dan yang lain-lain. Mengerikan berdarah sampai mati tanpa luka. Berita apa pula yang dibawa gadis ini, yang lebih mengerikan daripada peristiwa kematian Demang Kanaroga? Ia sedang bingung dan pusing serta gelisah memikirkan kematian-kematian itu, dan kini di pagi hari buta gadis ini mengganggunya dengan urusan tetek-bengek.

"Hemm, bocah ayu, tahukah kau bahwa bukan main-main menghadap dan mengganggu waktuku di pagi hari begini? Ceritakanlah dan berdoalah bahwa ceritamu cukup penting agar kau tidak membikin marah kepadaku."

Suminten tidak takut. la merasa yakin bahwa ceritanya amat penting, dan bahwa sudah bulat tekatnya untuk menyampaikan berita ini kepada ki patih. Hanya inilah yang dapat dilakukan seorang pelayan rendah seperti dia, hanya inilah yang dapat ia lakukan untuk melampiaskan iri hati dan cemburu, melampiaskan duka karena tidak mendapat perhatian Pangeran Panjirawit yang dicintanya.

"Ampun, gusti patih. Semalam, tanpa hamba sengaja, hamba telah menyaksikan sesuatu yang hebat, perbuatan mengerikan dan menyeramkan yang dilakukan oleh... gusti puteri...!!

"Gust! puteri....?"

"Garwa (isteri) gusti pangeran," Suminten membenarkan.

"Isteri Sang Pangeran Panjirawit?" Ki patih tertarik. Tentu saja tertarik mendengar sesuatu tentang isteri pangeran itu, tentang Endang Patibroto, wanita sakti bekas kepala pengawal Jenggala sepuluh tahun yang lalu, yang telah menggegerkan seluruh kerajaan.

"Apa yang beliau lakukan?"

"Hamba.... iihhh, hamba masih ngeri kalau mengenangkan semua itu...!
Suminten menggigil.

"Tanpa hamba sengaja, hamba melihat gusti puteri bercengkerama dengan gusti pangeran, kemudian gusti puteri membuat sebuah boneka Si Petak...."

"Siapa Si Petak?"

"Ayam kelangenan (kesayangan) gusti pangeran. Kemudian, gusti puteri mengambil tusuk kondenya dan ditusukkan paha ayam itu dan..."

"Dan bagaimana?" Ki Patih Bratamenggala makin tertarik, sampai terbungkuk dari kursinya agar lebih dekat dengan gadis itu dan lebih jelas mendengar penuturannya.

"Terdengar Si Petak memekik.... dan... ketika kemudian hamba melihat ke kandang.... paha Si Petak itu berdarah seperti ditusuk, padahal tidak ada lukanya sama sekali..."

"Nanti dulu!" Ki patih membentak keras sampai Suminten terkejut. Wajah patih itu menjadi pucat, tangan yang memegang lengan kursi menggigil. "Coba ceritakan lagi dengan jelas!"

Kini Suminten bercerita lagi, tidak gugup macam tadi, diceritakannya semua tentang perbuatan Endang Patibroto menusuk boneka ayam putih dan betapa akibatnya ayam itu bercucuran darah pahanya. Berdebar jantung Ki Patih Bratamenggala. Kiranya tidak kosong desas-desus itu! Desas-desus yang mengatakan bahwa semua pembunuhan yang terjadi atas diri para ponggawa Jenggala dan Panjalu adalah perbuatan Endang Patibroto. Apa maksudnya gerangan? Tentu tersembunyi niat buruk. Perlu segera dilaporkan kepada sang prabu, sekarang juga!

Tergesa-gesa Ki Patih Bratamenggala berdandan setelah menyuruh Suminten menanti, kemudian Ia membawa Suminten pergi ke istana, menghadap Sang Prabu Jenggala. Di depan sang prabu yang mendengarkan dengan kening berkerut, berceritalah Ki patih tentang apa yang didengarnya dari Suminten. Sang prabu terkejut bukan main. Sesungguhnya di dalam hatinya, sang prabu tidak pernah senang mempunyai mantu Endang Patibroto yang selain bukan darah kusuma (darah bangsawan) juga riwayat hidupnya amat mengecewakan itu. Apalagi setelah ada kenyataan bahwa selama sepuluh tahun Endang Patibroto tidak mempunyai putera, ditambah lagi kenyataan bahwa Pangeran Panjirawit tidak mengambil selir yang tentu saja karena takut kepada isterinya, makin tak senang hati sri baginda.

Desas-desus akhir-akhir ini menambah rasa tidak senangnya, namun maklum bahwa puteri mantunya itu seorang sakti, sang prabu tidak pernah menyatakan sesuatu. Kini, mendengar pelaporan ini yang ada saksinya, sang prabu menjadi murka dan Suminten lalu disuruh mengulangi ceritanya. Dengan tubuh gemetaran karena takut, Suminten bercerita kembali dan makin besar amarah sri baginda. Setelah menitahkan pelayan. untuk membawa Suminten yang sejak saat itu dilindungi atau diamankan di dalam istana, menjadi anggota kelompok abdi dalem sri baginda, maka sang prabu lalu mengajak ki patih berunding. Kemudian dipanggillah para pangeran dan pejabat tinggi dan akhirnya diputuskan untuk mengundang Pangeran Panjirawit beserta isteri ke istana!

"Kakang patih, kepadamulah kuserahkan tugas ini, undang Panjirawit dan isterinya ke istana menghadapku!" Persidangan lalu dibubarkan setelah sang prabu mengatur agar para pengawal siap untuk menangkap puteranya sendiri bersama mantunya, apabila beliau memberi perintah sewaktu-waktu setelah berwawancara dengan Pangeran Panjirawit dan isterinya.

Dapat dibayangkan betapa bingung hati Pangeran Panjirawit ketika pagi hari itu ia kedatangan Ki Patih Bratamenggala yang menyampaikan perintah sandi prabu mengundang dia dan isterinya ke istana. Semalam ia tidak dapat tidur barang sekejap. Hatinya risau, gelisah memikirkan isterinya. Endang Patibroto tak kunjung pulang, dan sungguhpun kaki tangannya yang berdarah tiba-tiba sembuh kembali sebagai tanda akan berhasilnya usaha Endang Patibroto mencari musuh tersembunyi, namun hatinya tetap khawatir sekali.

Bagaimana ia tidak akan gelisah kalau isteri tercinta itu belum juga pulang? Sampai malam berganti pagi, Endang Patibroto belum pulang! Payah ia menanti-nanti di dalam kamar, lalu keluar dari kamar duduk di ruangan dekat taman, kembali ke kamar, makin lama makin risau. Duduk tak senang, tidur tak mungkin, hendak menyusul kemana?

Wajahnya lesu dan kusut ketika ia menyambut kunjungan ki patih. Dan ia makin bingung mendengar perintah ramandanya. Bingung dan khawatir! Ada kepentingan apakah sampai sang prabu memanggil dia dan isterinya? Dan bagaimana ia harus menjawab karena isterinya tidak ada di rumah? Mengatakan sakit? Minta waktu diundur? Ramandanya tentu akan marah. Ia tahu atau dapat menduga dalam hati kecilnya bahwa isterinya tidak begitu disuka oleh keluarga ramandanya.

Sikap mereka dingin dan hormat dibuat-buat kepada isterinya. Kalau mengatakan isterinya pergi, pergi ke mana? Mana mungkin isteri seorang pangeran pergi begitu saja tanpa diketahui ke mana perginya? Ah, la menyesal sekali mengapa malam tadi ia memperbolehkan isterinya pergi. Hatinya sudah tIdak enak dan sekarang ia menghadapi hal yang lebih tidak enak lagi. Lebih baik berterus terang! Ya, tidak ada jalan lain baginya dan bagi kebaikan nama isterinya.

"Paman patih, sungguh amat menyesal hati saya bahwa untuk sementara ini tIdak mungkin saya mentaati perintah kanjeng rama, karena sesungguhnya isteri saya yayi dewi Endang Patibroto semalam telah pergi dan belum juga pulang sampai pagi hari ini."

Ki patih mengangkat alisnya, menghubungkan kepergian Itu dengan peristiwa yang ia dengar dari mulut Suminten.

"Ahhh, gusti puteri pergi? Eh, karena urusan ini mengenai panggilan kanjeng gusti sinuwun, kalau boleh hamba bertanya.... ke manakah perginya, mengapa malam-malam?"

Dengan muka pucat Pangeran Panjlrawit memandang ki patih, kemudian menarik napas panjang dan berkata, "Tidak baik kiranya kalau saya sembunyikan lagi, paman, setelah kini datang panggilan dari ramanda sinuwun."

Patlh itu mengangguk-angguk, mengira bahwa pangeran ini akan membuka rahasia isterinya, wanita siluman itu. Betapapun juga, ki patlh ini di dalam hatinya mencinta Pangeran Panjirawit yang terkenal sebagai pangeran yang halus budi pekertinya, ramah-tamah bahasanya, dan sopan tutur sapanya. La ingin melihat pangeran ini terlepas daripada "cengkeraman" wanita iblis Endang Patibroto.

"Memang seyogyanya begitulah, gusti pangeran. Lebih baik berterus terang sehingga hamba dapat menghaturkan laporan yang jelas dan lengkap kepada sri baginda."

Seorang abdi dalem datang berjalan jongkok, menghidangkan minuman. Percakapan terhenti sebentar dan Pangeran PanjlrawIt memberi tanda dengan tengah agar abdi dalem itu cepat-cepat pergi. Akan tetapi abdi dalem itu, seorang gadis berkulit kuning langsat berusia dua puluh tahun, meragu dan memandang kepada sang pangeran.

"Ada apa lagi? Pergilah?"

Gadis pelayan itu menyembah. "Ampun kalau hamba mengganggu, gusti. Hamba hanya hendak melapor bahwa pagi hari ini Suminten pergi, entah ke mana tak seorangpun abdi mengetahuinya."

Kalau tidak sedang dirisaukan urusan besar, tentu Pangeran Panjirawit akan menjadi heran, menaruh perhatian atau setidaknya teringat akan gerak-gerik Suminten malam tadi. Akan tetapi pikirannya terlalu penuh oleh isterinya yang belum pulang dan oleh panggilan sang prabu, maka ia berkata tak sabar.

"Laporkan saja kepada Raden Sungkono agar dicari. Pergilah!" Abdi dalem meninggalkan mereka dengan langkah jongkok.

"Paman patih, malam tadi telah terjadi hal yang mengerikan. Paman tentu tahu akan peristiwa-peristiwa kematian para ponggawa yang mengerikan, bukan? Nah, malam tadi saya Sendiri telah diserang!"

"Haa....??" Ki patih terbelalak, dan memandang tubuh Pangeran Panjirawit yang tiada kurang sesuatu. Pangeran Panjirawit mengerti akan makna pandang mata ini.
"Memang, saya selamat, paman. Kalau tidak ada isteriku, kiranya pagi hari ini paman akan mendapatkan diriku serupa dengan ponggawa-ponggawa lain, mati berlumur darah tanpa luka.!!

Dengan wajah masih pucat ki patih berkata, "Malam tadi Demang Kanoraga yang menjadi korban."

"Aiihh..... kakang Demang Kanaroga juga...?" Sang pangeran menghela napas, lalu melanjutkan, "Saya baru diserang pada lengan dan kaki. Malam tad! isteri saya yang merasa penasaran, memaksa diperkenankan keluar rumah untuk menyelidiki dan menangkap manusia atau iblis yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Baru ia pergi, tiba-tiba lenganku sakit dan berdarah. Untung isteri saya datang tepat pada waktunya dan saya tertolong. Paman tentu tahu akan kesaktian isteri saya. Kemudian isteri saya pergi untuk mencari iblis itu dan sampai pagi hari ini belum kembali. Oleh karena itu, sampaikan permohonan ampun saya kepada kanjeng rama, dan kalau beliau menghendaki saya seorang diri menghadap, beri kabarlah, saya tentu akan datang menghadap tanpa isteri saya."

Ki Patih Bratamenggala menjadi bingung sekali. Hatinya bertanya-tanya. Benarkah cerita ini? Lengan pangeran ini sama sekali tidak tampak bekas luka, atau tidak tampak bekas berdarah. Apa buktinya kebenaran cerita ini? Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengajukan pertanyaan ini, setelah minum hidangan lalu memohon diri. Ketika Sang Prabu Jenggala mendengar laporan ki patih, Ia termenung. Berkali-kali menarik napas panjang.

"Urusan ini sungguh ruwet dan meragukan. Biarlah kita menanti perkembangan selanjutnya, kakang patih."

Sementara itu, dengan hati gelisah Pangeran Panjirawit memanggil Sungkono menghadap. "Kakang Sungkono, ada tugas penting sekali bagimu."

"Hamba sudah mendengar dari abdi dalem, mencari Suminten yang lari..."

"Persetan dengan Suminten!" Pangeran Panjirawit berseru tak sabar. "Bukan Suminten yang harus dicari, kakang Sungkono, melainkan gusti puteri!"

"Gusti puteri....?" Raden Sungkono terkejut, menatap wajah junjungannya dengan heran dan kaget.

"Ya, gusti puteri. Dia malam tadi pergi, kakang. Kau tahu tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap ponggawa-ponggawa Jenggala dan Panjalu?"

Raden Sungkono mengangguk-angguk. "Malam tadi Demang Kanaroga yang terkena," katanya.

"Benar. Nah, gustimu puteri malam tadi pergi untuk melakukan penyeiidikan, untuk menangkap si pembunuh laknat setelah menyelamatkan aku yang hampir saja menjadi korban juga."

"Paduka, gusti....??" Kembali Sungkono terkejut.

"Tak usah ribut-ribut. Betapapun saktinya pembunuh pengecut itu, dia tak mungkin dapat mengalahkan gustimu puteri. Karena itu dia malam tadi pergi melakukan penyelidikan dan pengejaran."

Sungkono mengangguk-angguk. "Memang sesungguhnya di dalam hati hamba juga mengambil kesimpulan bahwa penjahat iblis Itu hanya dapat dutangkap oleh gusti puteri yang sakti mandraguna."

"Benar, kakang. Sekarang, gustimu belum juga pulang. Aku merasa khawatir juga. Oleh karena itu, kau kerahkan anak buahmu, kau lakukan penyelidikan ke mana gustimu melakukan pengejaran dan apabila perlu, kau harus siap membantunya. Mengerti, kakang?"

"Mengerti dan siap, gusti."

"Baik, aku percaya kepadamu. Apapun yang terjadi dengan diriku di sini, kau tidak perlu mencampuri, yang penting lekas susul dan temukan gustimu puteri. Nah, berangkatlah sekarang juga, kakang Sungkono."

Setelah pengawalnya yang setia itu pergi, Pangeran Panjirawit termenung, hatlnya merasa tidak enak sekali, wajah isterinya yang tercinta terbayang-bayang dan minuman panas di meja sampai menjadi dingin tanpa disentuhnya.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

"Waahh.... celaka, Raden....celaka....tiga belas...!!"

Raden Sindupati mengangkat alis dan menatap Klabangkoro dan Klabangmuko yang datang berlari-lari dengan napas senln kemis hampir putus, wajah penuh keringat sehingga kumis mereka yang sekepal sebelah itu menjadi basah kuyup dan kini berjuntai turun, sama sekali kehilangan kegagahannya, Di belakang Raden Sindupati, sekelompok pasukan terdiri dari dua puluh orang lebih, rata-rata berperawakan tinggi besar bersenjata tombak, golok, atau penggada. Mereka berikat kepala seperti Klabangkoro dan Klabangmuko, dengan ujung menjungat ke atas seperti tanduk. Biarpun mereka itu orang-orang yang kelihatan kasar, namun jelas mereka bukan orang-orang sembarangan, melainkan berisi. Inilah pasukan dari Blambangan, anak buah Adipati Blambangan yang tersohor kuat.

Pemimpin mereka, Raden Sindupati, berbeda dengan mereka. Memang dia juga mengenakan ikat kepala yang sama, akan tetapi perawakannya sedang, berdada bidang, wajahnya tampan dan usianya belum lewat empat puluh tahun. Kulitnya kuning bersih dan wajahnya selalu tersenyum, pandang matanya tajam. Kalau anak buahnya adalah orang-orang yang membayangkan kekuatan dan ketangkasan, adalah Raden Sindupati ini membayangkan kekuatan batin dan kesaktian. Senjatanya pun lebih sederhana, sebatang keris terselip di pinggangnya.

Sudah belasan tahun, semenjak ia berusia kurang dari dua puluh lima tahun, Raden Sindupati melarikan diri ke Blambangan. Tadinya ia adalah seorang senopati muda di Jenggala yang melakukan pelanggaran besar, yaitu memperkosa dengan bujuk rayu dan ketampanannya seorang puteri Jenggala. Ketika ketahuan, puteri itu membunuh diri dan Raden Sindupati menjadi buronan.

Semenjak itu tak pernah ia kembali ke Jenggala dan karena kesaktiannya, ia memperoleh kedudukan tinggi di Blambangan, bahkan kini dipercaya oleh Adipatl Blambangan untuk mengacau dan melemahkan kedudukan Jenggala dan Panjalu, bahkan kalau mungkin membunuh Endang Patibroto.

"Kakang Klabangkoro dan Klabangmuko!" katanya tenang akan tetapi penuh wibawa. "Tidak layak seorang prajurit tenggelam ke dalam kegelisahan. Takut dan gentar merupakan pantangan terbesar bagi seorang perajurit utama! Betapapun buruknya kenyataan yang dihadapi, seorang perajurit harus tetap tenang dan waspada."

"Maaf, raden, kami memang salah.... " kata Klabangkoro merendah.

"Yang belum mengerti itu tidak salah, kakang. Nah, sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi? Pagi ini kami telah mendengar akan tewasnya Demang Kanaroga, Ini berita baik, mengapa kalian seperti ketakutan?"

"Malam tadi, menurut rencana Wiku Kalawisesa akan merobohkan dua orang ponggawa Jenggala, pertama Demang Kanaroga dan ke dua Pangeran Panjirawit suami Endang Patibroto." Terdengar suara mencela seorang kakek berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar, dialah yang paling tinggi besar di antara semua prajurit Blambangan yang berada di situ.

"Kami berdua mendapat tugas untuk menyelidiki hasil usahanya itu di dekat gedung Pangeran Panjirawit. Malam itu mula-mula kami melihat dua ekor kelelawar terbang pulang dari atas gedung Demang Kanaroga, agaknya sudah selesai tugas. Kemudian seperti bayangan iblis... tampak bayangan wanita itu... seperti terbang layaknya!"

"Hemm, kau maksudkan bayangan Endang Patibroto?" tanya Raden Sindupati tertarik. Karena sudah belasan tahun ia tidak kembali ke Jenggala, ia tidak pernah bertemu dengan wanita sakti itu, hanya mendengar namanya.

"Betul, raden. Dia memang hebat luar biasa. Kelelawar besar disambitnya, kemudian ia seperti terbang mengikuti kelelawar itu. Dari istananya tidak terdengar sesuatu, tidak ada tanda-tanda Pangeran Panjirawit tewas. Kami sedapat mungkin tergopoh-gopoh mengikutlnya pula, dari jauh karena larinya cepat seperti angin. Dia membayangi kelelawar terbang. Coba bayangkan!" Klabangkoro menoleh kepada teman-temannya dengan mata terbelalak. "Dia dapat berlari begitu cepatnya sehingga dapat membayangi seekor kelelawar terbang!"

Semua pasukan menjadi gempar, kecuali kakek tinggi besar tadi yang kembali mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, dan Raden Sindupati yang merasa tidak aneh karena banyaknya pendekar di Jenggala yang mampu melakukan hal ini, termasuk dia sendiri!

"Lalu bagaimana?" tanya Sindupati, tidak puas melihat pasukannya ribut-ribut. Semua orang diam, tertarik dan ingin mendengarkan lebih lanjut.

"Ketika kami berdua tiba di pondok sang wiku, kami terkejut setengah mati. Pondok itu sudah hancur lebur, seperti diamuk gajah! Arca Bathara Kala sudah menjadi keping-kepingan batu dan di luar pondok sang wiku bertanding melawan Endang Patibroto. Cantik dan gagah dia. Cantik manis sekali ya, adi Klabangmuko?"

"Seperti bidadari dari Bali!" kata Klabangmuko meram-melek, agaknya membayangkan wajah yang jelita dan tubuh yang montok itu. Ia tampak seperti seekor anjing Herder melihat daging, menjilat-jilat bibir.

"Teruskan, kakang. Bagaimana akhir pertandingan?"

"Kami tadinya hendak membantu sang wiku, akan tetapi tidak keburu lagi karena sekali tampar sang wiku menggeletak tak berkutik lagi. Bahkan berdiripun tidak mampu dia. Agaknya lengannya poklek (patah) dan iganya remuk. Kemudian.... kemudian...." Orang tinggi besar dengan kumis sekepal sebelah ini bergidik ngeri.

"Tenanglah, kakang. Lalu bagaimana, terbunuhkah sang wiku?" tanya Raden Sindupati tenang.

"Kalau terbunuh biasa saja kami tidak akan ngeri, raden. Wanita itu.... huh, begitu cantik jelita, begitu halus kulitnya, begitu manis senyumnya, kiranya.... seperti iblis sendiri! Dia membuat boneka dari lempung menyerupai sang wiku, kemudian.... kemudian ia terbang..."

"Terbang??" Raden Sindupati terkejut juga, karena sesakti-saktinya manusia, belum pernah ia mendengar ada orang dapat terbang, kecuali kalau sudah memiliki tingkat setengah dewa seperti misalnya mendiang Sang Prabu Airlangga, atau Sang Rakyan Kanuruhan Patih Narotama, atau sedikitnya setingkat Sang Resi Empu Bharodo!

"Betul, terbang! Bukankah kau melihat dia terbang, Klabangmuko?"

"Betul! Dia bersila begini, lalu tubuhnya dalam keadaan bersila itu melayang ke arah sang wiku, mencabut rambutnya dan kembali melayang ke tempat tadi, masih duduk bersila seperti ini," kata Klabangmuko sambil meniru gerak-gerak Endang Patibroto.

Raden Sindupati mengangguk-angguk. Ia mengerti sekarang dan diam-diam ia kagum juga. Biarpun bukan terbang, namun cara meloncat dengan keadaan duduk bersila bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kakek tinggi besar yang matanya lebar hanya mendengus lagi, seakan-akan semua yang diceritakan Itu tidak aneh baginya, biasa saja dan sudah diketahuinya.

"Kemudian.... kemudian ia melakukan persis seperti yang dilakukan sang wiku selama ini dengan Aji Kalacakranya. Ia mengambil tusuk konde dan menusuk-nusuk boneka dan.... dan sang wiku berlumur darah dari semua tubuhnya!" cerita ini membuat para prajurit merasa ngeri dan mereka hanya saling pandang.

"Sudah kuduga... sudah kuduga... wiku sombong itu mana mampu menandingi murid gustiku Dibyo Mamangkoro?" kata kakek tinggi besar itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Semua itu tidak penting," kata Raden Sindupati tak sabar, "yang penting apakah yang dikatakan oleh sang wiku ketika ia hendak dibunuh? Tentu kalian dapat mendengar apa yang mereka, bicarakan."

"Betul, Raden. Endang Patibroto mengancam dan mendesak agar sang wiku mengaku siapa yang menyuruhnya melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Dan sang wiku, dalam saat terakhir sekalipun, tetap berpegang kepada kesetiaan, dia mengatakan bahwa yang menyuruhnya adalah Pangeran Darmokusumo dari Panjalu."

"Bagus...! Ha-ha-ha-ha, bagus.... Wiku Kalawisesa, andika (kamu) tewas sebagai seorang gagah sejati yang masih memegang kesetiaan. Bagus, ha-ha-ha, tepat sekali rencana Sang Adipati Blambangan." Tiba-tiba ia menoleh ke arah kakek tinggi besar Itu.dan berkata, "Paman Brejeng, kau yakin betul bahwa Endang Patibroto akan mengenalmu?"

"Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku mengingatkan hal-hal lalu, tentu ia ingat bahwa aku adalah Brejeng, pelayan pribadi Gusti Dibyo Mamangkoro," jawab kakek itu dengan sikap dan kata-kata yang kasar sekali. Agaknya ia tidak bisa bicara halus seperti sikap orang-orang liar. Memang orang liarlah kakek ini, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro.

"Baik sekali. Memang untuk itulah kau kubawa serta, paman Brejeng. Sekarang dengarkan kalian semua rencanaku selanjutnya." Raden Sindupati duduk di atas sebuah batu dan anak buahnya berjongkok mengelilinginya, mendengarkan rencana siasat yang akan dipergunakan terhadap Endang Patibroto.

********************


Kita tinggalkan dulu pasukan Blambangan yang sedang mengatur slasat dan mari kita mengikuti perjalanan Endang Patibroto. Tentu saja Endang Patibroto tidak mengetahui sama sekali akan keadaan suaminya, dan lebih-lebih tidak menyangka ada pasukan Blambangan yang merencanakan siasat untuk menjebaknya. Ia melakukan perjalanan siang malam menuju ke istana Kota Raja Panjalu.

Di sepanjang perjalanan, ia mellhat betapa kehidupan rakyat Panjalu jauh lebih makmur daripada keadaan rakyat JenggaIa. Rumah-rumah penduduk dusun lebih baik, pakaian mereka lebih bersih dan terutama sekali sinar wajah mereka lebih gembira dan tubuh mereka leblh gemuk sehat. Ia menghela napas panjang dan harus mengakui bahwa sang prabu di Panjalu jauh lebih pandai mengatur pemerintahan daripada sang prabu di Jenggala.

Ketika tiba di Kota Raja Panjalu, ia tidak berani memperlihatkan diri, bersembunyi dan malam harinya ia menyusup ke dalam kota raja, langsung ia mencari istana tempat tinggal Pangeran Darmokusumo. Malam itu sunyi sekali karena hujan turun rintik-rintik semenjak sore. Akan tetapi suasana sunyi ini menyenangkan hati Endang Patibroto. Memang lebih sunyi lebih baik. ia hendak menculik Pangeran Darmokusumo dan dipaksanya mengaku.

Kemarahannya terhadap pangeran ini masih belum mereda, bahkan setelah tiba di situ, amarahnya makin meluap. Ia teringat betapa pangeran ini yang menjadi biang keladi segala urusan, yang mengotorkan dan mencemarkan nama baiknya, bahkan yang hampir saja membunuh suaminya. Kalau teringat akan ini, sudah sepatutnya kalau ia membunuh pangeran ini. Akan tetapi ia tidak akan membunuhnya, hanya akan memaksanya mengakui semua perbuatannya di depan sang prabu, di depan umum.

Endang Patibroto sama sekali tidak mengira bahwa desas-desus tentang dirinya pada waktu itu lebih hebat lagi. Berita yang didesas-desuskan oleh Suminten kiranya telah mendahuluinya sampai ke Panjalu! Juga kepergiannya, bahkan ia tidak berada di rumah, telah terdengar sampai ke Panjalu. Di dalam beberapa hari ini tidak pernah terjadi pembunuhan-pembunuhan mujijat lagi dan hal ini dihubungkan dengan kepergiannya.

Setelah ia pergi, tidak ada lagi terjadi pembunuhan-pembunuhan. Makin yakinlah hati orang-orang yang tidak menyukainya bahwa dialah biang keladi semua pembunuhan! Juga Endang Patibroto sama sekali tidak pernah menduga bahwa pada saat itu, baris pendem pasukan Panjalu sudah siap menantinya. Para senopati Panjalu telah menerima berita rahasia yang dikirim oleh Raden Sindupati tentang kedatangannya ke Panjalu. Terutama istana Pangeran Darmokusumo telah dijaga oleh baris pendem yang amat banyak dan kuat. Inilah merupakan hasil sebuah di antara siasat Raden Sindupati.

Dengan menyamar sebagai seorang ponggawa Jenggala ia mengirim seorang pembantunya berkuda secepatnya ke Panjalu membawa berita bahwa Endang Patibroto berusaha menyerang dan membunuh Pangeran Darmokusumo! Dan karena memang desas-desus tentang Endang Patibroto sudah santer mempengaruhi orang-orang dan terutama sekali para senopati Panjalu, maka tanpa memeriksa lebih lanjut lagi para senopati lalu membuat persiapan menyambut kedatangan Endang Patibroto!

Karena memang dibiarkan masuk, dengan mudah Endang Patibroto malam itu meloncat masuk melalui dinding tinggi yang mengelilingi istana Pangeran Darmokusumo. Akan tetapi begitu ia menyelinap ke ruangan depan, terdengar bentakan keras, "Tangkap pembunuh!" Seketika ia dikurung oleh puluhan orang pengawal bersenjata lengkap. Obor-obor dipasang dan ia segera diserbu! Endang Patibroto terkejut sekali. Ia hendak membuka mulut, akan tetapi maklum bahwa percuma saja bicara. Para pengawal itu tentulah kaki tangan Pangeran Darmokusumo yang entah bagaimana sudah mengetahui kedatangannya.

"Pangeran Darmokusumo, keluarlah kalau kau laki-laki! Jangan mengusahakan rencana pemberontakan dan pembunuhan secara keji dan pengecut!" teriak Endang Patibroto, akan tetapi segala macam senjata sudah mengurung dan menyerangnya. Terpaksa Endang Patibroto bergerak dan robohlah empat orang pengeroyok! Ia hendak nekat masuk, ingin menangkap Pangeran Darmokusumo, akan tetapi dari dalam berlompatan keluar lima orang senopati pilihan dari Panjalu dikepalai oleh Ki Patih Suroyudo sendiri! Patih tua ini memegang tombak pusaka dan ia membentak.

"Endang Patibroto, kau benar-benar iblis betina! Kau pembunuh pengecut dan keji, masih berani mengeluarkan kata-kata keji terhadap gusti pangeran?"

"Paman Patih Suroyudo! Dengarlah baik-baik... Bukan aku, melainkan Pangeran Darmokusumo yang menjadi biang keladi segala...."

"Tutup mulut, iblis wanita laknat!" Ki Patih Suroyudo sudah menerjang dengan tombaknya, namun sedikit miringkan tubuh, Endang Patibroto sudah mengelak dan sekali tangannya bergerak, ia menangkap tombak dan didorong kuat-kuat ke belakang sehingga ki patih yang tua itu terhuyung-huyung dan terjengkang roboh. Lima orang senopati berseru marah dan menubruk dengan senjata masing-masing.

"Kalian tidak mau mendengar kata-kataku?? Biarkan aku menghadap sang prabu, akan kubuka semua rahasia Pangeran Darmokusumo!" teriaknya akan tetapi siapa sudi mendengar kata-katanya?

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 03