Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 01

HARI Respati (Kamis) malam terang bulan! Malam yang berbeda daripada malam-malam lainnya. Sejak surup (senja) orang tidak berani keluar pintu, melainkan tekun di dalam rumah membakar kemenyan dan menaruh sesajen dan bunga-bunga rampai di sudut rumah. Asap kemenyan. Yang mengepul dari setiap rumah, berkumpul di angkasa bermain dengan sinar bulan, suram-muram mengandung keajaiban menyeramkan.

Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa pada malam hari Respati, apalagi di waktu terang bulan, jin setan iblis siluman dan roh-roh yang gentayangan berpesta-pora, keluyuran di seluruh permukaan bumi untuk mencari mangsa dan korban di antara manusia yang lemah batinnya. Setelah senja, begitu matahari yang amat ditakuti mereka tenggelam, mereka, keluar dari pohon-pohon besar, dari gua-gua angker, memasuki kota dan dusun. Mula-mula ributlah suara mereka, bercampur-baur dengan suara margasatwa, kerak jangkerik, tangis walang kekek, kerak kalak dan bunyi burung burung malam.

"Kulikkk kulik kulikkk...!"

Suara ini terdengar di angkasa, melewati rumah-rumah orang, nyaring dan tinggi suaranya, kadang-kadang diiringi kelepak sayap.

"Huuuuukk.. huukkk huuukkk....!"

Suara besar parau, jarang akan tetapi amat mengesankan sehingga gemanya terdengar membangunkan bulu roma.

"Klebek... klebek... klebek..." suara ini! terdengar di bawah di sekitar rumah, membuat orang menengok ke kolong balai dengan hati giris.

Sukar menentukan siapa pembuat suara-suara itu. Burung kulikkah atau kuntilanak yang menangis kehilangan anak yang mencari-cari penggantinya di antara bayi-bayi manusia yang baru terlahir? Suara burung hantukah yang besar parau itu, ataukah suara iblis raksasa dan gendruwo berambut panjang riap-riapan dan gimbal, bermata merah menyala sebesar bende, bersiung sejengkal-jengkal dan lidahnya tergantung sampai di leher?

Dan yang terakhir itu, suara kalepak sayap ayamkah, atau suara banaspatl si glundung pringis, kepala tanpa tubuh yang bergulingan ke atas tanah kadang-kadang berloncatan seperti bola, matanya melotot mulutnya lebar meringls ketawa tidak menangispun bukan? Kadang-kadang, apabila angin berhentl bertiup, suara-suara ltupun lenyap. Sunyi senyap menyelimuti bumi, keadaan begini lebih menyeramkan lagi karena kata orang, pada saat beginilah roh-roh jahat menerkam korbannya. Kalau sudah begini, bunyi pintu berderit sedikit saja cukup menegangkan urat syaraf.

Dan pada saat sunyi senyap seperti itu, di waktu bulan purnama menyembunyikan sebagian mukanya yang keemasan di balik awan hitam berbentuk kepala Bathara Kala, di waktu angin berhenti bertiup dan semua penduduk Kota Raja Jenggala tak berani berkutik pula dalam rumah di atas tempat tidur masing-masing, ibu-ibu mendekap anaknya, suami-suami mendekap isterinya, hati berdebar-debar gelisah, pada saat itulah terdengar jerit melengking yang nyaring mengerikan.

Jerit yang hanya dapat keluar dari mulut iblis, atau dari mulut seekor serigala terluka, atau juga dari mulut seorang yang nyawanya direnggut maut! Jerit melengking yang membuat seluruh penghuni Kota Raja Jenggala terbelalak ketakutan. Sampai berdiri rambut kepala saking kaget dan takut. Dan lebih gelisah lagi mereka yang berdekatan tinggalnya dengan rumah gedung itu dari mana jerit melengking tadi terdengar kemudian disusul tangis dan ratap memilukan hati.

Mereka ini tahu bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat di dalam rumah gedung Tumenggung Wirodwipo itu. Akan tetapi rasa serem dan ngeri membuat mereka pura-pura tidak tahu karena siapakah yang berani datang bertandang? Siapa berani keluar dari pintu rumah pada malam terkutuk seperti itu?

Dua bayangan hitam menyelinap keluar dari pekarangan rumah gedung Tumenggung Wirodwipo. Mereka adalah dua orang laki-laki tinggi besar dengan tubuh yang kokoh kuat. Keduanya memelihara kumis tebal sekepal sebelah dan kepala mereka memakai pengikat kepala yang ujungnya menjulang runcing ke atas sehingga bayangan mereka tampak bertanduk.

Biarpun tubuh mereka dempal besar, namun gerakan mereka amat lincah, ringan dan cepat mengagumkan. Seakan-akan kaki mereka tidak menlmbulkan suara sama sekali. Kalau ada penduduk yang melihat mereka pada saat itu, tentu dia yakin telah melihat setan, tidak akan percaya bahwa manusia-manusia jugalah yang ia lihat.

Dua orang tinggi besar itu berlari terus tanpa mengeluarkan suara, tanpa berkata-kata dan mereka. keluar dari kota raja dengan cara yang hebat pula, yakni dengan melompati pintu gerbang sebelah selatan. Mereka memasuki hutan Jati yang berada tak jauh dari kota raja, akhirnya membuka pintu sebuah pondok.

"Geriiiiiittttt...!"

Daun pintu bergerit terbuka dan api pelita dl sebelah dalam bergoyang-goyang terbawa angin yang ikut masuk bersama dua orang tinggi besar ke dalam pondok. Pintu ditutupkan kembali dan api pelita berhenti bergoyang. Tiga ekor binatang kalong (kelelawar) yang amat besar terbang berputaran dalam pondok itu, mengeluarkan bunyi mencicit dan kelepak sayap mereka terdengar jarang. Kembali api pelita bergoyang. Agaknya binatang-binatang menyeramkan ini terbang menyambut kedatangan dua orang tinggi besar, atau mungkin juga karena kaget. Setelah kedua orang laki-laki itu duduk, kalong-kalong itu berhentl terbang, hinggap menggantung di bawah atap.

"Heh-heh-heh-hih-hik!"

Di balik asap kemenyan yang mengepul tinggi dan tebal, suara ketawa itu terdengar seperti suara ketawa iblis, Dua orang laki-laki tinggi besar itu memandang kagum bercampur seram. Mereka berdua adalah orang-orang yang biasa akan hal-hal menyeramkan, bahkan mereka berdua mampu mencekik leher orang sampai mati, tanpa mengejapkan mata. Namun penglihatan malam ini di dalam pondok, apalagi setelah tadi mereka membuktikan sendiri hasilnya di dalam gedung Tumenggung Wirodwipo, benar-benar melampaui batas ketabahan mereka dan bulu tengkuk mereka meremang.

Kakek yang bersila di belakang tabir asap kemenyan itu sudah tua. Begitu tuanya sampai wajahnya yang berkeriputan itu seperti bukan wajah manusia lagi. Tubuhnya kurus bongkok, mukanya berkulit hitam sehingga yang tampak jelas hanya warna putih matanya dan dua buah giginya yang menguning. Kepalanya dibungkus sorban kuning yang kotor. Memang segala sesuatunya pada kakek ini kelihatan kotor belaka. Ruangan pondok yang tidak luas terhias banyak tengkorak manusia yang oleh gerakan asap bergulung tampak seakan-akan hidup, mata yang tak berbiji seperti melotot dan mulut tak berbibir seperti tertawa.

Kakek yang tertawa-tawa itu memegang sebatang keris kecil, hanya sejengkal panjangnya dan ujung keris berlumur darah segar. Di depan perutnya, tangan kirinya memegang sebuah boneka dari lempung, boneka yang juga berlumur darah, boneka yang memakai pakaian. Kalau dipandang dengan teliti, tampaklah bahwa boneka ini serupa benar dengan Tumenggung Wirodwipo!

"Heh-heh-hi-hik, bagaimanakah, anakmas? Berhasilkan?" Kakek itu bertanya kepada dua orang laki-laki itu sambil melempar boneka ke sudut dan menyimpan keris di ikat pinggangnya.

"Bagus sekali hasilnya, paman wiku. Kami mendengar sendiri jerit kematiannya yang terakhir setelah dua kali ia mengerang kesakitan," jawab Klabangkoro yang mempunyai tanda bekas bacokan pada pipi kanannya.

"Ha-ha-heh-heh, aku sudah tahu, anakmas. Sebelum kalian datang, kalong-kalongku sudah pulang lebih dulu mewartakan hasil usahaku. Dan darah di kerisku menjadi tanda yang tak dapat dlsangkal lagi, heh-heh-heh!"

Klabangmuko, adik Klabangkoro, bergidik. Memang tadi ia mendengar kelepak sayap kalong-kalong itu di atas rumah gedung Tumenggung Wirodwipo.

"Paman Wiku Kalawisesa, hebat sekali kesaktian paman. Semua berhasil sesuai dengan rencana. Gusti adipati di Blambangan tentu akan gembira sekali mendengar ini."

"Paman wiku tentu akan menerima ganjaran (hadiah) yang besar. Ha-hahal" kata Klabangkoro yang ikut gembira karena berhasilnya tugas ini berarti dia sendiri berdua adiknya akan menerima ganjaran pula.

"Heh-heh-heh, nanti dulu, masih kurang satu. Kalian lihat saja nanti hari Respati pekan depan, lihat baik-baik dan bergembiralah karena pada malam hari itu, Pangeran Panjirawit menerima gilirannya mati di ujung keris wasiatku. Heh-heh-heh-heh!"

Dua orang kakak beradik itu kaget, juga girang. "Dia....? Tapi... menurut rencana, kita hanya akan menghitamkan namanya agar ia menerima hukuman dari dua kerajaan bersaudara, tidak.... tidak perlu paman bunuh."

"Heh-heh, kalian tahu apa, anak-mas? Bukan hanya Gusti Adipati Blambangan yang menaruh dendam kepada isteri pangeran itu, juga aku mempunyai perhitungan setinggi langit!! Adik seperguruanku, Cekel Aksomolo, tewas di tangan Endang Patibroto, yang kini menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Inilah sebabnya mengapa aku segera menerima penawaran kerja sama dari Gusti Adipati Blambangan. Memang, cara yang direncanakan gusti adipati cukup hebat, akan tetapi hatiku tidak puas kalau tidak melihat wanita itu sengsara hebat. Maka suaminya harus kubunuh, baru nanti dia dimusuhi kedua kerajaan. Ha-ha-heh-heh!"

"Tapi.... dia amat sakti....bukankah berbahaya itu, paman?" tanya Klabangmuko.

"Hik...hik" boleh jadi dia sendiri tak dapat dibunuh secara ini. Akan tetapi suaminya orang biasa! Kalian boleh lihat pekan nanti, akan tetapi awas, jangan terlalu dekat mengintai istana pangeran itu."

"Baiklah, paman. Kini kami mohon pamit untuk melaporkan hasil ini kepada Raden Sindupati."

Kakek itu mengangguk-angguk. Dua orang tinggi besar ini lalu membuka daun pintu pondok, keluar dan menutupkan kembali daun pintunya. Pelita di dalam bergoyang apinya, si kakek terkekeh girang lalu bangkit menghampiri sebuah arca Bathara Kala yang berdiri angker di s眉dut, menjatuhkan diri berlutut dan mencium kaki arca, menyembah dan mulut yang ompong itu berkemak-kemik. Sepasang mata arca itu seolah-olah mengeluarkan cahaya berkilat.

Siapakah sesungguhnya kakek sakti yang mengerikan ini? Para pembaca BADAI LAUT SELATAN tentu mengenal nama Cekel Aksomolo, seorang pendeta seperti Bhagawan Durna bentuk tubuhnya, pendeta sakti yang menyeleweng ke jalan resat, dan akhirnya tewas di tangan Endang Patibroto isteri Pangeran Panjirawit dari Kerajaan Jenggala.

Pendeta Itu adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo, yang selama puluhan tahun bertapa di Gunung Cermai. Pendeta ini sebetulnya adalah seorang Bangsa Hindu yang datang merantau ke Nusantara, seperguruan dengan Cekel Aksomolo dalam ilmu hitam dan ilmu sihir, juga kesaktian. Akan tetapi berbeda dalam agama karena Wiku Kalawisesa ini adalah seorang penyembah Bathara Kala.

Ketika ia mendengar tentang kematian adik seperguruannya di tangan Endang Patibroto, hatinya sakit sekali. Maka turunlah ia dari pertapaannya di Gunung Cermai dan mulailah ia berdaya upaya untuk membalas dendam. Namun karena ia mendengar bahwa isteri Pangeran Panjirawit itu adalah seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan hampir sepuluh tahun lamanya belum berani turun tangan.

Akhirnya tibalah kesempatan yang dinanti-nantikannya. Adipati Blambangan yang juga merasa sakit hati kepada Endang Patibroto atas kematian Bhagawan Kundilomuko, pamannya dan penyembah Bhatari Durgo, dan di samping sakit hati terhadap Endang Patibroto juga kepada Kerajaan Jenggala yang sudah menghancurkan Kadipaten Nusabarung yang masih saudaranya, datang menghubungi kakek ini.

Maklum akan kesaktian Endang Patibroto, maka lalu direncanakan siasat keji yaitu mengenyahkan orang-orang penting di Kerajaan Jenggala dan Panjalu dengan menjatuhkan dosanya di pundak Endang Patibroto. Dengan siasat ini kalau berhasil, selain kedudukan dua kerajaan menjadi lemah, juga Endang Patibroto akan ditangkap dan kalau sudah begitu, Blambangan akan datang menyerbu Jenggala!

Adapun yang dipercayai tugas ini oleh Adipati Blambangan adalah seorang perwiranya yang bernama Raden Sindupati, seorang bekas senopati Jenggala yang sudah melarikan diri karena mempunyai dosa, yaitu membujuk rayu dan memperkosa seorang puteri Jenggala dan kini ia menjadi perwira di Blambangan. Raden Sindupati membawa sepasukan pengawal Blambangan yang berkepandaian tinggi, dipimpin oleh kakak beradik Klabangkoro. Ia bermarkas di dalam hutan yang tersembunyi dan melakukan operasinya dari tempat ini. Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi penghubung antara pasukan ini dengan si dukun lepus Wiku Kalawisesa.

Bagaimana adanya rencana itu dapat dlikuti dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya, siasat yang keji dan menciptakan malam-malam terkutuk yang mengerikan, seperti yang terjadi pada malam itu yang membawa maut bagi Tumenggung Wirodwipo, seorang tokoh perajurit Jenggala yang tangguh.

Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala geger! Betapa tidak kalau dalam waktu beberapa pekan saja beberapa orang perwira yang penting-penting telah mati dalam keadaan yang amat ajaib? Mula-mula lengan kiri korban-korban ini secara tiba-tiba mengucurkan darah, kemudian lengan kanan bercucuran darah dan terasa sakit seperti ditusuk keris, dan akhirnya ulu hati mereka mengucurkan darah segar yang mendatangkan kematian.

Dan semua itu terjadi tiap hari Respati malam! Perbuatan setankah? Kanjeng Ratu Roro Kidul entah sebab apa menjadi murka dan bala tentaranya mendarat lalu mengamuk menyebar maut dl antara ponggawa kedua kerajaan? Ataukah iblis-iblis penghuni Pancagiri (Lima Gunung Semeru, Bromo, Kelud, Arjuno, Anjasmoro) oleh sebab yang belum diketahui menjadi marah-marah kepada dua kerajaan bersaudara?

Sang prabu di Panjalu dan sang prabu di Jenggala menjadi prihatin dan mengerahkan para cerdik pandai untuk mencari sebab-sebabnya dan menangkap biang keladinya. Dan terdengarlah desas-desus yang disebar oleh kaki tangan Raden Sindupati di Kerajaan Panjalu bahwa satu-satunya orang yang mungkin dapat melakukan perbuatan keji itu bukan lain adalah Endang Patibroto, isteri Pangeran Panjirawit yang masih mendendam hati kepada Kerajaan Panjalu!

Desas-desus ini santer ditiupkan oleh kaki tangan Blambangan. Endang Patibroto, bekas kepala pengawal Jenggala itu adalah murid mendiang Dibyo Mamangkoro, seorang manusia setengah iblis, senopati kerajaan iblis, yaitu Kerajaan Wengker yang dahulu dirajai Prabu Boko!

Mungkin karena mendendam, atau karena iri hati melihat betapa Kerajaan Panjalu lebih besar dan makmur daripada Kerajaan Jenggala! Atau mungkin untuk melampiaskan amarah karena isteri Pangeran Panjirawit ini setelah menikah selama hampir sepuluh tahun belum juga dikaruniai putera!

Bermacam-macamlah isi desas-desus itu yang kesemuanya jatuh ke pundak Endang Patibroto. Wanita sakti yang banyak musuhnya karena sepak terjangnya yang dahulu telah menjatuhkan banyak korban itu kini dikeroyok oleh mereka yang membencinya, biarpun tidak tahu-menahu sama sekali tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia itu, langsung saja memberi komentar dan menjatuhkan fitnahnya atas namanya!

Desas-desus itu menembus pintu gerbang istana dan sampai ke telinga sang prabu di Panjalu. Akan tetapi karena sang prabu adalah seorang yang arif bijaksana, tidak mau menelan mentah-mentah fitnah yang jatuh atas diri Endang Patibroto, maklum betapa hebat dan berbahayanya fitnah ini. Diam-diam sang prabu hanya berpesan kepada ponggawa-ponggawa yang pandai dan setia untuk memasang mata dan memperketat penyelidikan.

Endang Patibroto sendiri juga terkejut ketika mendengar tentang kematian-kematian aneh mengerikan Itu. Sebagai murid Dibyo Mamangkoro yang ahil Ilmu hitam, Ia dapat menduga bahwa ini tentulah hasil perbuatan seorang ahli sihir yang jahat. Lebih kaget dan penasaran lagi hatinya ketika sampai ke telinganya desas-desus bahwa dialah orangnya yang disangka umum melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Pangeran Panjirawit juga mendengar desas-desus ini dan melihat sikap isterinya yang marah-marah dan penasaran, Ia di senja hari itu menghibur isterinya. Dipeluknya isteri tercinta itu dan dItariknya duduk di atas pangkuan.

Sepuluh tahun mereka menjadI suami isteri, dan biarpun Endang Patibroto belum melahirkan putera, namun sang pangeran tidak berubah cinta kasihnya yang mendalam, bahkan tidak pernah mau mengambil selir untuk menyambung keturunan. Pangeran Panjirawit adalah putera selir Sang Prabu Jenggala. Dia seorang pangeran yang tampan dan pandai olah keprajuritan. Seorang pangeran yang hidup sederhana, tidak suka bermewahan, setia kepada kerajaan ramanda, dan jujur dalam melakukan tugas, ramah terhadap bawahan, tidak menjilat kepada atasan. Oleh karena itu, semua orang suka belaka kepada pangeran ini dan tertutuplah sebagian rasa tidak suka terhadap isterinya, Endang Patibroto.

Tidak mengherankan apabila banyak orang tidak suka kepada Endang Patibroto. Sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit (baca Badai Laut Selatan), Endang Patibroto adalah seorang gadis yang liar, sakti mandraguna sehingga menggiriskan semua orang, wataknya ganas dan mudah membunuh, pernah pula menjadi kepala pengawal keraton Jenggala. Akan tetapi semenjak ia menjadi isteri Pangeran Panjirawit, ia tidak pernah lagi bertualang, bahkan jarang keluar dari istana di mana ia tenggelam dalam kasih sayang suaminya. Harus diakui bahwa tadinya tidak ada cinta kasih dalam hatinya terhadap Pangeran Panjirawit, akan tetapi penumpahan cinta kasih yang berlimpahan dari suaminya mencairkan kekerasan hatinya dan menumbuhkan cinta kasih yang besar pula.

Endang Patibroto adalah seorang wanita yang amat sakti. Sebelum menjadi murid Dibyo Mamangkoro, ia sudah memiliki bermacam ilmu. Setelah menjadi murid tokoh iblis ini, ia seperti seekor harimau yang tumbuh sayap. Sakti mandraguna dan jarang bertemu tanding. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa pembunuhan itu membangkitkan semangatnya, membakar hatinya membuatnya penasaran dan bersumpah di dalam hati untuk menangkap dan menghukum biang keladinya.

Ketika suaminya memeluk dan memangkunya, ia merangkulkan kedua lengan di leher Pangeran Panjirawit. Sudah sepuluh tahun menikah, namun suami isteri ini masih tetap seperti pengantin baru, saling menumpahkan kasih sayang yang tak kunjung padam. Betapapun gagah dan saktinya, dalam saat-saat bermain asmara seperti itu, timbul pula sifat kewanitaan Endang Patibroto dan ia kadang-kadang menjadi aleman (manja). Sore itu mereka duduk di ruangan dalam, di samping kamar tidur, menghadapi taman bunga. Tempat inilah menjadl tempat kesukaan mereka sehabis makan sore, duduk bercakap-cakap atau bersenda-gurau, bermain asmara, menghadapi bunga-bunga yang mekar dan semerbak wangi.

Kesukaan Endang Patibroto adalah bunga melati dan bunga menur yang sedap. Adapun kesukaan sang pangeran adalah bunga mawar merah dan putih yang harum. Ketiga macam bunga itu memenuhi taman di depan ruang duduk ini, di samping bunga-bunga kenanga, kantil, dan arum dalu yang menyiarkan ganda harum sedap seperti di dalam taman sorgaloka, menyentuh rasa dan membangkitkan cinta.

Ruangan itu sederhana namun menyenangkan. Hanya terdapat beberapa kursi, sebuah meja hiasan-hiasan binatang. Sejuk hawanya, harum semerbak baunya, dan para pelayan memang tidak pernah memasuki ruangan ini di waktu suami isteri di situ. Mereka semua sudah maklum akan keadaan pangeran dan isterinya yang selaIu berpengantinan mesra sehingga mereka enggan dan takut mengganggu.

"Isteriku Endang jiwa hatiku tersayang, mengapa wajahmu yang ayu muram sejak siang tadi? Lihat bulan sampai bersembunyi di balik awan seperti wajahmu yang muram. Apa yang kau susahkan, sayang?" Pangeran Panjirawit bertanya sambil mengelus-elus rambut ikal dengan belaian mesra.

Endang Patibroto menghela napas panjang. Biasanya, kalau suaminya sudah mencumbunya seperti ini, hatinya serasa nikmat dan senang, sebesar Gunung Semeru. Akan tetapi sekali ini perasaan senang itu tidak kunjung datang, bahkan ingin ia menangis, makin tertindih dan risau hatinya mengingat akan segala penasaran yang didengarnya.

"Aduh, pangeran. Bagaimana hatiku tidak risau kalau teringat akan segala peristiwa yang terjadi dan mendengar segala desas-desus tentang diriku? Ah, tentu kakangmas pangeran telah mendengar pula?"

Panjirawit mempererat pelukannya sampai terasa detak jantung isterinya menjadi satu dengan debar jantungnya sendiri. Alangkah besar cintanya kepada isterinya ini!
"Endang, mengapa kau perdulikan segala omong kosong itu? Biarkan saja mulut usil bicara, asal tidak langsung di depan kita. Di bagian manakah di dunia in! tidak ada orang yang usil mulut? Mereka itu iri hati terhadap engkau, nimas, terhadap kita, melihat kebahagiaan kita..."

"Tidak.... tidak begitu, pangeran. Semua desas-desus tentu ada sebabnya. Kematian-kematian yang aneh itu. Bahkan pekan lalu kakang Tumenggung Wirodwipo juga menjadi korban. Sudah tiga orang ponggawa setia dan perkasa Jenggala tewas secara keji. Juga ada tujuh orang ponggawa Panjalu tewas seperti itu..."

"Hidup mati manusia berada di tangan Dewata, lsteriku. Kebetulan saja para ponggawa yang mati itu yang telah terpilih oleh Hyang Widi untuk dipanggil kembali, mengapa merisaukan kematian yang sudah disuratkan takdir?" Pangeran itu masih berusaha menghibur, jari-jarinya dengan penuh cinta kasih menyisihkan sinom rambut yang berikal di tengkuk, kemudian mencium kulit tengkuk yang putih bersih itu dengan bibirnya.

Biasanya, kalau dicium seperti itu, meremang seluruh bulu di tubuh Endang Patibroto, menimbulkan gairah dan ia akan membalas belaian suami tersayang.Akan tetapi kali ini la melawan gairah itu dengan menggeliatkan tubuh dan berkata lagi, agak merajuk,

"Pangeran, suami junjunganku, berpura-purakah paduka? Kematiankematian itu jelas berada di tangan Hyang Widi, akan tetapi sebab kematiannya dapat dibuat orang yang mengandung hati jahat. Itupun tidaklah amat kurisaukan kalau saja nama hamba tidak didesas-desuskan orang. Siapa dapat menahan kalau mendengar desas-desus itu? Dlkabarkan bahwa hambalah yang melakukan perbuatan keji itu, karena hamba murid Dibyo Mamangkoro, karena hamba iri hati, dengki, karena hamba tidak...tidak punya anak...." Kalimat terakhir ini disusul dengan sedu-sedan.

Pangeran Panjirawit mengerutkan kening, memegang dagu isterinya, diangkat muka itu sehingga berhadapan dengan mukanya, kemudian dengan sepenuh cinta kasihnya ia menempelkan mulut pada mulut isterinya, menciumnya dengan halus, lembut dan mesra. Sedu-sedan itu terhenti, lenyap dalam ciuman yang dibalas oleh Endang Patibroto dengan penyerahan yang tulus, dengan cinta kasih yang sama besarnya. Sejenak keduanya tenggelam dalam kasih asmara, sampai akhirnya Endang Patibroto terengah dan gemetar dalam dekapan suaminya, tubuhnya menjadi hangat, kedua pipinya kemerahan. Akan tetapi kembali pangeran itu mengerutkan keningnya yang tebal ketika melihat air mata mengalir turun di kedua pipi isterinya.

"Endang, kekasihku, dewiku.... kau.... kau menangis?"

Memang mengherankan bahkan mengejutkan melihat isterinya menangis. Endang Patibroto adalah seorang wanita sakti, gagah perkasa tak kenal takut, tak kenal susah, dan tak pernah meruntuhkan waspa (air mata).

"Kakangmas, hamba harus.... harus menyelidiki semua ini...!" Panjirawit mencium kening isterinya yang kanan. Kening ini kecil panjang dan hitam, melengkung indah dan sedemikian indahnya sehingga kulit di dekat kening tampak lebih putih daripada kulit di bagian lain pada wajah ayu itu.

"Aduh yayi, mutiara hatiku. Sesungguhnya aku tidak mau bicara tentang semua peristiwa ini, khawatir mencemaskan hatimu. Jangan mengira bahwa aku tidak mendengar segala macam desas-desus keji tentang dirimu, nimas. Akan tetapi, setelah sekarang engkau mendesak dan agaknya engkau benar-benar merasa penasaran, baiklah kita bicara tentang ini. Akan tetapi, adindaku, lupakah engkau akan janjimu kepadaku bahwa kau tidak akan bertualang mempergunakan kesaktianmu seperti dahulu lagi? Aku amat khawatir, nimas...."

Kini Endang Patibroto bangkit, merangkul leher suaminya dan dialah yang kini mencium mulut yang dicintanya itu. Kemudian ia turun dari atas pangkuan sambil berkata manja, "Takkan mungkin bicara benar kalau kita tenggelam dalam bercinta." Ia tersenyum dan lenyaplah semua kemuraman wajahnya.

Senyum itu pula yang membuat Panjirawit lupa akan kekhawatirannya, bahwa isterinya akan menonjolkan kesaktiannya yang mengerikan dan ditakutinya, karena sekali isterinya bertualang dalam permusuhan, bencana hebat tentu akan timbul. Akan tetapi senyum itu terlalu cerah, terlalu indah dan menyilaukan mata, mengusir semua keraguan hati.

"Betapa aku dapat menghentikan cintaku kepadamu walaupun sekejap mata?" ia menggoda dan hendak meraih lagi. Akan tetapi Endang Patibroto mlringkan tubuh, raihan itu tidak mengenai sasaran. Endang Patibroto duduk di atas kursi menghadapi suaminya, lalu berkata sungguh-sungguh,

"Pangeran, aku tahu apa yang terjadi pada mereka. Dahulu guruku pernah menjelaskan tentang ilmu membunuh musuh melalui guna-guna, melalui aji ilmu hitam yang disebut Aji Kalacakra. Ilmu itu mujijat dan keji, sanggup membunuh orang dari jauh hanya dengan menusuk-nusuk boneka yang dibuat menyerupai orang yang dijadikan korbannya."

"Ihhh....! Aji terkutuk!"

Endang Patibroto tersenyum.
"Memang semua aji itu terkutuk kalau dipergunakan untuk kejahatan, kakanda."

"Dan siapakah orangnya yang dituju, akan tewas begitu saja?" Pangeran itu masih kurang percaya.

Endang Patibroto menggeleng kepala. "Tidak ada kekuasaan di dunia ini, betapapun hebatnya, dapat mengalahkan orang yang bersih batinnya dan yang tidak mempunyai dosa. Aji Kalacakra tidak mempan tentunya kepada orang yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada orang yang melakukan aji itu, juga tidak akan mempan (mempengaruhi) orang yang tidak pernah berdosa. Akan tetapi, manusia manakah yang tidak pernah melakukan dosa? Itulah sebabnya mengapa aji itu amat berbahaya."

"Akan tetapi, betul-betulkah aji semacam itu dapat dilakukan orang?"

"Kakanda masih sangsi akan kebenarannya? Sungguhpun hamba selamanya belum pernah melakukannya, akan tetapi mengerti caranya. Harap paduka lihat baik-baik!" Endang Patibroto lalu turun dari anak tangga ke dalam taman, mengambil sekepal tanah lempung dan sehelai bulu ayam, lalu kembali ke dekat suaminya yang memandangnya dengan mata penuh perhatian.

"Paduka mengenaI ini?"

"Eh, itu bulu ayam. Putih.... hemm, hanya ayam kelangenan (kesukaan) kita Si Petak yang suka masuk ke taman."

"Betul, kakangmas. Ini bulu Si Petak, dan lihatlah ini."

"Engkau membuat boneka Si Petak dari tanah lempung!"

"Kembali benar," kata Endang Patibroto sambil memasangkan bulu putih itu pada tubuh boneka ayam. Kemudian ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada emas, lalu duduk bersila pada permadani dan berkata, "Sekarang harap paduka lihat baik-baik, adinda akan membuat bukti akan kebenaran dugaan adinda."

Pangeran Panjirawit memandang dengan mata terbelalak. Dilihatnya isteri tercinta itu duduk bersamadhi, boneka di tangan kiri, tusuk konde di tangan kanan, matanya dipejamkan dan bibirnya berkemak-kemik, kemudian tubuh isterinya seperti menegang dan kedua tangan gemetaran, matanya dibuka lalu ujung tusuk konde yang runcing itu ia tusukkan ke arah paha boneka ayam.

Hampir Pangeran Panjirawit terpekik saking kagetnya melihat darah keluar dari paha ayam itu! la melompat dari tempat duduknya dan keluar dari situ melalui pintu tengah dan hampir ia bertubrukan dengan seorang gadis yang jongkok di belakang pintu.

"Eh?! Engkau ini, Minten? Apa yang kau kerjakan di sini??"

Gadis Itu berusia kurang lebih enam belas tahun. Cantik manis, tubuhnya padat dan mulai mekar, jelas nampak pada bagian dadanya yang tertutup kemben, kulitnya halus dan hitam manis. Tubuh gadis itu gemetar ketika ia berjongkok di depan sang pangeran.

"Ampun....gusti....hamba.... hamba tadinya ingin mencari kembang melati dan mawar untuk tambah sesaji...."

"Hemm, jangan ganggu kami. Pergi!" kata pangeran itu yang tergesa-gesa lari terus menuju ke belakang, ke kandang ayam di mana Petak berada.

Sebagai seorang pria ia tidak begitu memperhatikan tentang sesaji, tidak tahu bahwa kembang untuk itu sudah lengkap tersedia. Akan tetapi bukankah Suminten seorang gadis pelayan dalam? Tidak terlalu mengherankan kehadiran gadis itu di sana. Ia tidak pikirkan lagi gadis Itu dan jantungnya berdebar keras ketika tiba di luar kandang ia mendengar suara Petak berkeok-keok.

Cepat ia membuka pintu kamar dan wajahnya menjadI pucat. Si Petak tampak rebah miring, paha kanannya mengucurkan darah! Pangeran Panjirawit cepat melompat dan lari kembali ke tempat isterinya.

"Endang jangan bunuh Si Petak..... !" katanya Iirih, suaranya gemetar wajahnya masih pucat.

Endang PatIbroto yang duduk bersila menggeleng kepala, lalu mencabut tusuk kondenya dari paha boneka ayam, mencabut bulu putih lalu melempar boneka dan bulu ayam ke taman. Ia bangkit berdiri sambil berkata,

"Jangan khawatlr, kakanda. Hamba terlalu sayang kepada ayam kita itu untuk membunuhnya. Hanya untuk pembuktian kebenaran ucapan dan dugaan adinda." Pangeran Pannirawit menghela napas panjang.

"Engkau benar, yayi. Kulihat tadi paha Si Petak berdarah. Hiihhhh menggigil aku sekarang. Terkutuk benar orang yang melakukan perbuatan sekeji itu terhadap para ponggawa kerajaan."

"Dan setelah terjadi perbuatan pengecut itu, disebar desas-desus tentang diri hamba. Tidakkah sekarang kakanda pikir bahwa hamba harus menyelidiki peristiwa ini?" kata pula Endang Patibroto sambil membetulkan rambutnya yang terurai lepas karena tadi ia mencabut tusuk kondenya. Ia menggunakan kedua tangan untuk membereskan gelungnya dan gerakan ini mengangkat kedua lengan membetulkan rambut, amatlah manisnya. Lenyaplah sifat Endang Patibroto wanita sakti, yang tampak kini seorang puteri yang cantik jelita dengan sepasang lengan yang indah bentuknya dan halus kulitnya seperti batu pualam.

Pangeran Panjirawit meraih, menangkap pinggang isterinya dan menariknya duduk di atas pangkuannya kembali.

"Biarkan rambutmu, sayang. Biarkan terurai seperti itu....!" Ia menyusupkan muka pada selimut rambut yang harum dan halus, meramkan mata.

Endang Patibroto tertawa kecil, mengelus dagu suaminya. "Belum paduka jawab pertanyaan adinda...?"

"Apa....? Ah, tentang penyelidikan, biarlah besok kuperintahkan kakang Sungkono untuk mengerahkan para abdi pengawal menyelidik."

"Tidak akan ada gunanya, pangeran. Penjahat itu sakti, kakang Sungkono bukanlah lawannya. Harus diakui bahwa kakang Sungkono merupakan abdi yang baik dan setia, akan tetapi menghadapi penjahat sakti ini harus dilawan dengan kesaktian pula."

"Baiklah, yayi. Besok kau bersama aku menyelidik, sekarang mari temani aku tidur, sayang. Aku menjadi ngeri dan serem." la memeluk dan hendak memondong tubuh isterinya. Akan tetapi Endang Patibroto meronta dan turun dari pondongan suaminya karena la tahu bahwa sekali ia sudah memasuki peraduan bersama suaminya, ia akan lupa segala. Padahal malam inilah saat yang tepat untuk menyelldik, malam hari Respati !

"Kakanda, maafkan adinda untuk saat ini. Hari ini hari Respati, bukan? Nah, inilah saatnya penjahat itu turun tangan. Karena, ketahuilah kanda bahwa amat sukar untuk mencari penjahat sakti Ini kalau tidak pada waktu ia melepas kejahatannya. Biasanya, pada saat ia melakukan kejahatannya, tentu ia melepas pengintai yang akan mengabarkan apakah usahanya itu berhasil atau tidak."

"Pengintai? Kalau begitu, mengapa para penyelidik kedua kerajaan tidak dapat menangkapnya?"

"Ah, mana dapat? Biasanya, pengintai itu bukan manusia, melainkan binatang, biasanya burung hantu, burung gagak dan sebangsanya..."

"Ihhh....! Pangeran itu bergidik dan merangkul leher isterinya. "Jangan pergi, Endang, aku.... aku.... hihh, aku takut!"

Endang tersenyum dan mencium suaminya. "Paduka? Takut? Pangeran Panjirawit yang gagah perkasa, suami hamba yang tercinta.... takut....??"

Panjirawit mencubit pinggul isterinya dengan gemas. "Tidak takut menghadapi musuh siapapun juga, tapi setan dan ibiis...... hihh, ngeri aku...!"

"Perkenankan hamba pergi, kakanda. Tidak akan lama. Setelah selesai menyelidik, hamba akan cepat kembali. Mudah-mudahan berhasil membekuk batang leher penjahat itu, demi keamanan Jenggala dan Panjalu dan demi bersihnya nama hamba. Hamba past! kembali dan.... mudah-mudahan paduka belum tidur."

"Mana bisa aku tidur tanpa kau di sampingku, manis? Bibirmu itu lho...!"

"Mengapa dengan bibir hamba....?" Endang mengusap-usap bibirnya dan suaminya tertawa.

"Bibirmu yang membuat aku tidak bisa tidur sendirian." lapun meraih lagi isterinya, mencium bibir yang selalu merah tanpa menginang (makan sirih) itu, merah membasah, lembut dan hangat penuh madu asmara. setelah puas berciuman, Endang Patibroto akhirnya merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan suaminya, membenarkan rambutnya yang awut-awutan, meringkaskan pakaiannya. Melihat isterinya berkemas dan mengenakan celana hitam sebatas lutut, mengaitkan kain yang berubah menjadi dandanan seorang pendekar wanita, kembali Pangeran Panjirawit gelisah.

"Engkau tidak membawa senjata, Endang?" Ia bergidik kalau teringat betapa dahulu, sepuluh tahun yang lalu, isterinya ini dengan keris pusaka Ki Brojol Luwuk (pusaka Mataram) merupakan seorang wanita perkasa yang menggiriskan dan menggegerkan seluruh Kerajaan Panjalu dan Jenggala.

Endang tersenyum. "Menghadapi penjahat pengecut perlu apa bersenjata? Tusuk konde hamba inipun belum tentu perlu hamba pergunakan. Nah, suami pujaan hati, hamba pergi, sampai nanti!" Begitu selesai kata-kata ini, tubuh Endang Patibroto berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Panjirawit.

Pangeran ini termenung, tidak heran menyaksikan kesaktian isterinya yang ia tahu memiliki ilmu Aji Bayu Tantra yang memungkinkan isterinya berkelebat cepat seperti terbang dan lari seperti angin cepatnya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, hatinya merasa kosong setelah isterinya tidak berada di sampingnya. Ia lalu bangkit dan memasuki kamar tidurnya. Akan tetapi di pintu ia terhenti karena melihat bayangan Suminten menyelinap.

"Heiii, kau lagi, Minten? Tidak dipanggil mengapa kau berada di sini? Tidak mengaso di belakang, di pondok abdi dalem?"

Gadis yang berdada montok itu maju, berlangkah jongkok sampai dekat kaki Pangeran Panjirawit, menyembah dan sedikit menyentuh kaki sang pangeran, kemudian menengadah memandang pangeran itu, mata yang jeli bersinar-sinar penuh harapan, hidung yang mancung berkembang-kempis, mulutnya setengah terbuka sehingga tampak di balik sepasang bibir yang basah itu ujung deretan gigi yang putih dalam mulut yang merah. Lalu terdengar mulut yang menggairahkan itu berbisik,

"Ampunkan hamba, gusti.... hamba kira... barangkali.... paduka masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba kerjakan..."

Pangeran Panjirawit mengerutkan kening. Aneh sekali, pada mata dan mulut gadis ini terdapat sesuatu yang mengingatkan ia akan isterinya, akan pandang mata dan mulut isterinya sewaktu ia cumbu! Aiihh, tidak! Ia takkan membiarkan dirinya tertarik oleh lain wanita. Tiada wanita di dunia ini yang dapat menandingi isterinya!

"Tidak, Minten. Kau pergilah ke belakang, aku mau tidur." Pangeran Itu memasuki kamarnya tanpa menutup daun pintu karena ia ingin melihat apabila isterinya pulang.

Perlahan Suminten bangkit berdiri, sejenak ia berdiri di depan pintu kamar, kedua tangan dengan jari-jari kecil itu dikepal-kepal, giginya yang kecil-kecil putih menggigit bibir bawah, matanya layu dan air mata mengalir turun di kedua pipinya. Ia sampai tak sedap makan tak nyenyak tidur, siang malam memikirkan sang pangeran, mengharap-harap dan diusahakannya sedapat mungkin menarik perhatiannya.

Namun sia-sia, pangeran itu sama sekali tidak tertarik padanya, melihat dengan pandang mata seperti kebanyakan pria kalau memandangnyapun tidak pernah. Bukankah wajar dan sudah selayaknya kalau seorang pangeran mengambil dara abdi dalem menjadi selir?

Apakah yang dipunyai isteri pangeran yang tidak ada pada dirinya? Ia penasaran dan menderita karena tergila-gila dan jatuh cinta kepada sang pangeran. Begitu gagah, begitu tampan, begitu halus, begitu dekat namun... begitu jauh tak terjangkau tangan dan hati. Ini semua gara-gara isteri pangeran. Gara-gara Endang Patibroto sehingga suaminya tidak wajar seperti para pangeran lain. Wanita iblis itu, dengan ilmu iblisnya. Suminten bergidik ngeri, akan tetapi matanya menyinarkan cahaya.

Desas-desus itu memang benar. Ia telah menyaksikan sendiri. Dengan ilmu iblisnya isteri pangeran telah mengguna-gunai Si Petak tadi! Bergeraklah kedua kakinya perlahan menuju ke belakang, di mana tersedia kamar-kamar dalam pondok khusus untuk para abdi.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Bagaikan iblis sendiri, tubuh Endang Patibroto melesat naik ke atas atap rumah dan mulailah ia dengan petualangannya, dengan perjalanan malamnya melakukan penyelldikan. Begitu kedua kakinya menginjak genteng, begitu angin malam bermain dengan rambutnya, timbul kegairahannya, teringat ia akan hidupnya, naluri seorang pendekar yang waspada akan setiap gerak dan suara.

Ketajaman telinganya bertambah, pandahg matanya yang selama sepuluh tahun ini terbenam dalam kemesraan, dalam lautan asmara yang tak kunjung padam bersama suaminya kini bersinar-sinar tajam, indera ke enam yang ada pada diri setiap orang pendekar yang sudah matang ilmunya, kini hidup dan menjadi sandaran baginya untuk melakukan penyelidikan.

Tubuhnya berkelebat cepat sekali, kadang-kadang di atas genteng berlompatan, kadang-kadang di bawah berlarian. Malam ini amat sunyi. Tak tampak seorangpun penduduk kota raja keluar dari pintu. Hanya orang-orang yang mabuk minuman, mabuk asmara, mabuk judi, dan sebangsa maling saja yang berani keluar pintu di malam Respati itu. Mereka ini tentu saja tidak takut dicaplok iblis karena sudah mabuk.

Namun Endang Patibroto tidak menaruh perhatian kepada mereka ini. Ia bahkan menujukan perhatiannya ke atas! Ke arah pohon-pohon besar, ke arah atap-atap gedung di mana tinggal para ponggawa tinggi, para pangeran dan tumenggung, para panglima dan perwira. Kalau ia berloncatan dari genteng ke genteng, jelas tercium bau kemenyan yang memenuhi udara.

Suasana malam itu tentu akan mengecilkan hati seorang pendekar, namun Endang sama sekali tidak merasa gentar. Kepercayaan akan diri sendiri timbul kembali pada saat itu. Di dalam pelukan dan di bawah cumbu rayu dan belaian Pangeran Panjirawit, la merasa kehilangan kepercayaan ini, tidak berdaya dan lemah, seakan-akan tidak kuasa akan tubuhnya sendiri, tidak kuasa akan hatinya sendiri. Seakan-akan tubuh dan hatinya sudah menjadi sebagian milik suaminya dan ia hanya menurut apa yang dikehendaki suaminya karena kebahagiaanlah yang terasa olehnya dalam pelayanan terhadap suaminya ini. Ia bahagia melihat suaminya bahagia karena dia. la puas melihat suaminya puas karena dia. Tapi sekarang ia merasa seperti seekor burung yang bebas. Dengan seluruh dirinya seorang. la menentang segala bahaya.

Tiba-tiba, ketika ia meloncat ke atas genteng tinggi gedung Pangeran Panjirawit, ia berhenti bergerak. Telinganya mendengar sesuatu. Pekik mengerikan! Jelas sekali dari atas genteng itu. Datang dari rumah gedung Demang Kanaroga, demang yang ahli dalam ilmu perang yang selalu menjadi tangan kanan setiap orang senopati Jenggala dalam perang. Secepat kilat tubuhnya melesat dan berlarilah ia ke arah gedung itu, lalu melayang naik ke atas atap gedung. Ia mencari-cari lalu mengintai ke dalam kamar ki demang. Terlambat! Demang Kanaroga tampak terkapar di dalam kamarnya, dirubung dan ditangisi anak isterinya. Mati dan darah mengalir dari kedua lengan, dan terutama banyak sekali dari dadanya. Tiada gunanya masuk, ia takkan mampu berbuat sesuatu.

Endang Patibroto meloncat ke bagian yang paling tinggi dari atap itu. Dan tampaklah olehnya kini dua ekor benda terbang berputaran di atas gedung itu. Burungkah? Burung hitam? Bukan! Sayapnya tidak mengeluarkan bunyi dan bentuk tubuhnya tidak seperti burung, pendek, tapi sayapnya amat lebar. Dua ekor binatang Itu mencicit. Kalong (kelelawar)! Tak salah lagi, lnilah yang ia cari-cari, pikir Endang Patibroto. Jantungnya berdebar tegang dan gembira. Mampuslah kau sekarang, pengecut berhati keji! Peliharaanmu yang akan mengantarku ke sarangmu. Awas kau, ini Endang Patibroto akan datang untuk membekuk batang lehermu!

Ketika dua ekor kelelawar itu terbang ke barat, Endang Patibrotopun segera melompat turun dan berlari cepat ke barat, mengikuti dua ekor kelelawar itu dari bawah. Ke manakah ia akan dibawa oleh dua ekor binatang itu? Ke luar kota? Ke manapun juga, akan kuikuti kalian!

Heee! Mereka menuju ke barat terus?. Eh, membelok ke selatan kini. Terus ke selatan. Endang Patibroto masih berdebar tegang dan terus berlari. Kini ia berlari melalui depan istana suaminya! Arah terbang dua ekor kelelawar menuju ke selatan itu mengharuskan ia mengambil jalan ini. Aduh, betapa kalau suaminya mengetahui! Ah, tentu suaminya kini sedang tidur seorang diri di atas pembaringan bersih lunak yang menjadi saksi tunggal cinta kasih di antara mereka. Mendadak saja timbul perasaan mesra yang membuat Endang Patibroto meloncat naik ke atas atap rumahnya sendiri.

Dua ekor kelelawar masih terbang di atas. Dan pada saat kedua kakinya menglnjak genteng rumahnya itulah ia menahan pekik yang hampir keluar dari mulutnya. Di atas genteng itu terbang berputaran pula seekor kelelawar yang lain! Lebih besar daripada yang dua itu. Dan ia mendengar suara mengaduh di bawah. Suara suaminya!!

Serasa berhenti detak jantung Endang Patibroto. Ia tidak memperdulikan lagi kepada kalong itu dan langsung ia melayang turun, memasuki taman dan melompat ke dalam, terus berkelebat masuk melalui pintu kamar tidur mereka yang tidak tertutup.

"Kakanda....!"

Suaminya tidak tidur, melainkan duduk dengan mata terbelalak. Lengan kirinya berdarah di dekat siku dan tangan kanannya berusaha menghentikan keluarnya darah dari lengan yang tidak luka itu. Dan pada saat ia meloncat masuk, suaminya mengaduh lagi dan terbelalak memandang lengan kanannya yang sekarang juga berdarah! Dari atas terdengar suara burung hantu terbang lewat,

"Huuu uukkkk huukk huuukkk !" Seakan-akan burung hantu itu mentertawakan Pangeran Panjirawit.

"Endang... lekas....! Ini lenganku ini bagaimana....??"

"Tenanglah, suamiku! Tenang....hemm, bedebah! Keparat...!"

Panjirawit bukanlah seorang penakut, apalagi ada isterinya di situ. Mendengar maki-makian keluar dari mulut isterinya yang biasanya halus ramah itu, ia memandang, bertanya,

"Kau memaki siapa, yayi?"

"Tenanglah, suamiku....tenanglah....." kata Endang Patibroto dengan suara bercampur sedu-sedan. Terlambat sedikit saja, ia akan menemukan suaminya dalam kamar seperti halnya Demang Kanaroga tadi, terkapar mati! Cepat ia menubruk suaminya, bersila di depan suaminya, menaruh kedua telapak tangan ke depan dada, menempel ulu hati suaminya.

Melihat keadaan isterinya yang demikian sungguh-sungguh, teringatlah lagi Pangeran Panjirawit akan keadaannya. Teringat lagi bahwa kali ini dialah yang hendak dijadikan korban. Mula-mula kedua lengan, kemudian ulu hati. Tahulah ia bahwa isterinya mempergunakan kesaktiannya untuk melindunginya. Dari kedua telapak tangan yang halus itu, yang ia ingat benar kalau membelai-belainya, kini keluar hawa panas yang menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuhnya, ke arah kedua lengannya dan darah tidak mengalir lagi dari kedua lengannya.

Tiba-tiba Endang Patibroto melompat dan menyambar bokor perak, tempolong perak dan semua benda terbuat daripada perak yang berada di kamar itu. Pangeran dan dia memang lebih suka akan perak daripada emas. Kedua tangannya bergerak cepat, secepat tubuhnya ketika melesat dan bergerak mengumpulkan benda-benda tadi. Tidak sampai satu menit lamanya, semua benda perak itu telah ia robek, kait-kaitkan dan kini la kembali kepada suaminya, menggunakan robekan-robekan perak itu menutupi tubuh suaminya.

"Tutup baik-baik, kakanda. Bagian-bagian yang lemah, kakanda tahu, dada, punggung, perut, pusar, kepala. Kaki tangan tidak mengapa. Tutup bagian-bagian yang lemah. Jangan takut, jangan khawatir, kakanda tidak akan mengapa, aku akan menghancurkan bedebah laknat itu! Berani dia mengganggu suamiku!" Suara ini bercampur isak dan tubuh Endang Patibroto sudah melesat lenyap lagi.

"Endang....!" Pangeran Panjirawit memanggil, akan tetapi ia menahan kecemasannya. Ia harus percaya kepada isterinya. Endang tidak akan kalah. Cepat ia melakukan pesan isterinya, menutupi bagian-bagian tubuh yang lemah yang akan membuatnya tewas dengan sekali tusuk. Kaki tangan biarlah, tusuklah kalau mau tusuk, pikirnya penuh geram. Endang Patibroto sudah melompat naik, tangannya menyambar genteng, sekali remas ia mendapatkan sepotong genteng. Kelelawar yang dua ekor tak tampak lagi, akan tetapi yang seekor dan paling besar masih beterbangan di atas gedungnya, berputaran, seakan-akan menanti keluarnya pekik maut yang diharapkan keluar dari dalam gedung. Dengan menahan geram dan mengukur tenaga karena ia tIdak ingin membunuh kelelawar Itu, la mengayun tangan menyambit.

Kelelawar besar itu mengeluarkan bunyi mencicit keras, terbangnya terhuyung dan setelah mencicit-cicit bingung akhirnya ia terbang ke arah selatan. Inilah yang dikehendaki Endang Patibroto. ia berhasli mengusir kelelawar itu agar terbang pulang sebelum menyelesaikan tugas. Terbang pulang dan membawa dia ke tempat majikannyal Dengan jantung berdebar tegang dan girang Endang Patibroto melesat cepat. Ia tidak mau tertinggal oleh kelelawar itu.

Kelelawar itu terbang terus ke selatan melalui pintu gerbang selatan. Keluar kota raja. Sudah ia duga akan hal inl. Siapapun dia yang melakukan semua pembunuhan keji dan pengecut ini, tentu tidak berani tinggal di kota raja, di mana terdapat banyak perwira-perwira berilmu tinggi dan di mana terdapat dia. Ia meloncat melalul dinding yang mengelilingi kota raja, terus berlari cepat. Untung bulan yang tinggal sepotong masih terang. Tidak ada awan malam itu. Langit tampak suram muram, namun bayangan kecil hitam Itu tampak jelas.

Alangkah besarnya kelelawar itu yang terbang rendah. Dari ujung ke ujung sayap tentu lebih daripada sedepa. Binatang Itu terbang ke atas sebuah hutan. Celaka! Hutan yang banyak pohonnya, kalaulah di bawah pohon itu ia akan kehilangan bayangan Itu. Terpaksa Endang Patibroto lalu meloncat naik ke atas pohon, kemudian dengan cekatan la berloncatan dari pohon ke pohon. Betapapun juga, tak salah perhitungannya, tentu penjahat itu berdiam dan bersembunyi di dalam hutan ini. Ia naik ke atas pohon yang tinggi dan tampaklah kelelawar itu yang menukik turun ke atas atap sebuah pondok kecil di tengah hutan. Pondok itu! Tentu di situ tempat bersembunyi si bedebah. Dengan hati-hati Endang Patibroto melompat ke atas pohon yang berdekatan dengan pondok, mengintai.

Kelelawar itu menggelepar-gelepar di atas atap lalu menerobos masuk melalui pintu setelah dengan berat badannya menabrak pintu terbuka sedikit. Terdengar suara orang mengutuk dari dalam. Endang Patibroto meloncat turun, kakinya tidak menimbulkan suara sedikitpun seperti seekor kucing melompat. Berindap-indap namun cepat ia mendekati pondok, mengintai dari celah daun pintu yang terbuka sedikit. Giginya berkerotan ketika ia melihat ke dalam pondok! Kakek tinggi kurus itu duduk bersila, memaki-maki kelelawar yang hinggap di bawah atap, di atas sebuah arca Bathara Kala.

"Kelelawar bodoh! Kalong yang tiada gunanya! Belum selesai tugas sudah pulang! Apa hendak melapor akan gagalnya usahaku? Bedebah, kubakar dagingmu besok untuk santapan!" Kakek itu mengomel panjang pendek. Sebuah boneka berada di tangan kirinya, sebatang keris kecil di tangan kanan. "Setan alas! Belum mau tunduk juga engkau, Pangeran Panjirawit? Tubuhmu kebal, ya? Keparat!" Ia menggunakan kerisnya menusuk-nusuki tubuh boneka ltu, dadanya, lambungnya, pusarnya, punggungnya, kemudian lehernya dan kepalanya. Akan tetapi betapapun kuat ia menusuk, kerisnya tidak mampu menembusi tanah lempung yang tidak keras itu, seolah-olah tubuh boneka lempung itu berubah menjadi baja!

Endang Patibroto bergidik. Kalau terlambat sedikit saja ia pulang tadi, tentu suaminya sudah terkapar mati dengan tubuh mandi darah. Ia melihat kaki kanan dan lengan kiri boneka itu berlumur darah. Suaminya tentu menderita, akan tetapi alangkah gagah suaminya. Biarpun kaki dan tangan berdarah, namun tetap dapat menjaga tubuh di bagian berbahaya. Dapat ia bayangkan betapa suaminya menderita dan cemas.

"Setan keparat kau Panjirawit. Heh-heh-hih-hi-hik! Hanya kaki tanganmu saja yang tidak kebal, ya? Hendak kulihat bagaimana kalau darahmu habis keluar dari kaki tanganmu, akan kuhancur leburkan kaki tanganmu!" Tangan yang hanya tulang terbungkus kulit itu kini menghujamkan keras ke arah kaki kira boneka Panjirawit. Akan tetapi keris itu terhenti di tengah gerakan karena tangannya tertahan oleh sebuah tangan yang berkulit putih halus. Hidungnya mencium bau sedap harum dan tiba-tiba ada tangan putih halus lain lagi yang menyambar dan merampas boneka itu.

Wiku Kalawisesa terbelalak kaget dan mengangkat muka. Matanya yang tersembunyi dalam-dalam di rongga mata, memandang seolah-olah ia tidak percaya akan apa yang tampak olehnya. Seorang wanita cantik jelita sudah berdiri di depannya, boneka itu telah berada di tangan si wanita yang dengan tenang mencabuti beberapa helai rambut hitam yang menempel di kepala patung. Rambut suaminya. la memasukkan gumpalan rambut itu ke balik kemben, lalu menghancurkan patung dengan remasan tangannya sehingga berubah menjadi sekepal tanah lempung!

"Manusia berwatak iblis, tua bangka yang tidak mencari jalan terang, calon penderita di dasar neraka jahanam! Siapakah engkau wahai kakek yang lebih rendah daripada binatang, lebih keji daripada iblis?"

Biarpun suara Endang Patibroto halus, merdu, akan tetapi bagi kakek itu seperti menyambarnya guntur di siang hari!. Tahulah ia kini mengapa usahanya membunuh Pangeran Panjirawit gagal. Kiranya ada wanita sakti ini dan biarpun selama hidupnya ia belum pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto, namun ia dapat menduga dengan siapa ia berhadapan. Lalu meloncat bangun, gerakannya cepat dan tangkas tidak sesuai dengan tubuhnya yang lapuk.

"Engkaukah yang bernama Endang Patlbroto?" Gumamnya, matanya mendeilk mukanya terasa panas membakar karena memang wanita inilah yang dimusuhinya. Semua perbuatannya membunuhi para ponggawa itupun didasari rasa benci dan dendam kepada wanita ini.

Endang Patibroto tersenyum, senyum yang dingin yang sudah sepuluh tahun tak pernah membayang di bibirnya. Biasanya hanya untuk suaminya, senyum mesra dan hangat. Hampir ia lupa bagaimana ia tersenyum di waktu ia masih gadis dan menghadapi lawan yang sakti dan jahat. Kini otomatis senyum itu muncul di bibirnya. senyum yang membuat seorang seperti Wiku Kalawisesa saja sampai bergidik.

"Tidak salah seujung rambutpun dugaanmu, keparat tua bangka. Aku bukan pengecut macam engkau yang melempar batu sembunyi tangan melakukan pembunuhan-pembunuhan keji sambil bersembunyi. Akulah Endang Patibroto, isteri dari Pangeran Panjirawit yang kau usahakan kematiannya. Kau... Kau... si laknat pengotor jagad! Kau telah berani lancang tangan, menyerang suamiku secara keji. Hayo mengakulah siapa namamu, sebelum kujuwing-juwing (cabik-cabik) kulitmu, sebelum kupatahkan semua tulangmu, sebelum kuhancurkan kepalamu!"

Kini senyum dingin meninggalkan wajah ayu itu, berganti dengan warna merah membara, sepasang mata itu berkilat seperti mengeluarkan cahaya terang, lubang hidungnya mendengus seolah-olah keluar apinya. Teringat akan suaminya, kemarahan Endang Patibroto memuncak dan beginilah Endang Patibroto di kala gadisnya, di kala ia menjadi orang yang paling ditakuti seluruh kerajaan, di kala keris pusaka Ki Brojol Luwuk masih berada di tangannya. Kalau sudah begini, dia seolah-olah menjadi malaikat maut sendiri!

Wiku Kalawisesa bukan seorang yang lemah. Tidak, bahkan sebaliknya. Dia adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo yang dulu terkenal sakti mandraguna. Dia seorang tokoh dari India yang membawa datang banyak aji yang aneh-aneh, terutama sekali ilmu hitamnya. Maka ia lalu menggunakan, kekuatan batinnya untuk menekan rasa ngeri dan gentarnya. Biarpun ia bongkok, namun karena tubuhnya jangkung sekali, ia masih lebih tinggi daripada Endang Patibroto dan ketinggiannya ini ia pergunakan untuk memaksa hati memandang rendah lawan. Satu-satunya syarat bagi keampuhan ilmu hitam adalah perasaan lebih tinggl dan lebih kuat daripada lawan, jauh daripada rasa gentar.

"Heh-heh-hi-hi-hik! Babo-babo, Endang Pitibroto! Sumbarmu melebihi letusan Gunung Bromo! Kesombonganmu seolah-olah engkau dapat mencapai puncak Mahameru dan menyelam sampai di dasar Laut Kidul! Jangan kau mengira bahwa aku adalah sebangsa coro yang dapat kau perbuat sesukamu begitu saja, inilah lawanmu, Endang Patibroto, inilah Sang Wiku Kalawisesa yang sudah bertahun-tahun menanti saat ini untuk menyambut nyawamu dan membalas kematian adik seperguruanku Cekel Aksomolo. Hah-hah-hi-hikl"

Tangan kiri kakek itu bergerak menyambar sebatang tongkat yang tadi bersandar di dinding. Tongkat ini berwarna hitam, sebesar ibu jari, bengkak-bengkok dan butut, akan tetapi dari tongkat ini keluar pengaruh yang mengerikan. Tongkat bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat pusaka yang sudah ia rapal, yang sudah bertahun-tahun menerima hikmat sinar matahari dan bulan purnama, sudah bertahun-tahun ia menghisap pengaruh sakti dan hawa mujijat dari tempat-tempat angker dan kuburan-kuburan keramat!

Endang Patibroto menggangguk-angguk. Ia berdiri tegak, bertolak pinggang, sinar matanya tajam menyelidik, menyapu keadaan dalam pondok dan tahulah ia bahwa pendeta ini adalah seorang pemuja Bathara Kala. Maka ia berhati-hati, maklum bahwa pemuja Bathara Kala biasanya memiliki ilmu-ilmu yang mujijat dan sakti mandraguna. Gurunya dahulu pernah berpesan kepadanya agar hati-hati kalau bertemu dengan tokoh pemuja Bathara Kala.

"Arca Bathara Kala dapat mengeluarkan mujijat, muridku." demikian kata gurunya, "kalau dipuja secara setia berpuluh tahun, dapat kemasukan roh dan kesaktian Bathara Kala yang haus akan darah manusia, lapar akan daging manusia. Hancurkan lebih dahulu kesaktian arca ini, baru penyembahnya kehilangan sinar kesaktian yang menjadi dasarnya."

Teringat akan nasehat gurunya ini, besar hati Endang Patibroto. Ia tersenyum mengejek ketika menjawab. "Aehhh, kiranya engkau ini kakak seperguruan Cekel Aksomolo si Durna itu? Dan namamu Wiku Kalawisesa? Heh, wiku sesat ! Cekel Aksomolo adalah aku yang membunuhnya! Kalau engkau hendak membalaskan kematiannya, aku Endang Patibroto siap untuk menghadapi setiap saat. Kenapa engkau berlaku begini pengecut, menyerang suamiku? Dan kenapa pula engkau membunuh-bunuhi ponggawa Panjalu dan Jenggala??"

Wiku Kalawisesa amatlah cerdik dan banyak siasatnya. Karena cerdiknya, la amat berhati-hati dan harus mengakui bahwa menghadapi wanita ini, belum tentu ia akan menang. Kalau ia menang maka itulah yang dikehendakinya dan tidak akan ada urusan lagi. Akan tetapi kalau ia kalah dan tewas? Ia tidak takut mati, akan tetapi matinya akan mengandung mati penasaran karena tujuannya tidak tercapai. Dan mati penasaran akan membuat rohnya gentayangan tidak menentu. Karena itu ia harus mengatur siasat sebelumnya. Baik ia akan kalah atau menang, wanita musuh besarnya ini harus dlhancurkannya.

"Hoah-ha-ha-hah, bagaimana seorang perempuan muda yang bodoh macam engkau ini hendak menjagoi? Urusan yang terjadi di depan matamu saja engkau masih tidak mengerti, dan kau mengaku dirimu pintar?"

"Wiku sombong, aku memang bukan orang pintar, akan tetapi setidaknya bukan manusia pengecut sebodoh engkau sehingga berani kau mengganggu aku! Melihat adanya para korban yang terdiri dari ponggawa-ponggawa pilihan, tentu engkau bersekongkol dengan orang yang ingin melihat Kerajaan Jenggala dan Panjalu menjadi lemah. Nah, kau katakan siapa orangnya yang bersekongkol denganmu!"

Diam-diam kakek ini terkejut. Kiranya cerdik pula wanita ini, dapat menduga dengan tepat. la tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau kau sakti mandraguna, awas paningal, tahu akan segala rahasia alam, melihat akan segala yang tergelar di jagad raya, tentu engkau tak perlu bertanya-tanya lagi."

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 02

Perawan Lembah Wilis Jilid 01

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 01

HARI Respati (Kamis) malam terang bulan! Malam yang berbeda daripada malam-malam lainnya. Sejak surup (senja) orang tidak berani keluar pintu, melainkan tekun di dalam rumah membakar kemenyan dan menaruh sesajen dan bunga-bunga rampai di sudut rumah. Asap kemenyan. Yang mengepul dari setiap rumah, berkumpul di angkasa bermain dengan sinar bulan, suram-muram mengandung keajaiban menyeramkan.

Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa pada malam hari Respati, apalagi di waktu terang bulan, jin setan iblis siluman dan roh-roh yang gentayangan berpesta-pora, keluyuran di seluruh permukaan bumi untuk mencari mangsa dan korban di antara manusia yang lemah batinnya. Setelah senja, begitu matahari yang amat ditakuti mereka tenggelam, mereka, keluar dari pohon-pohon besar, dari gua-gua angker, memasuki kota dan dusun. Mula-mula ributlah suara mereka, bercampur-baur dengan suara margasatwa, kerak jangkerik, tangis walang kekek, kerak kalak dan bunyi burung burung malam.

"Kulikkk kulik kulikkk...!"

Suara ini terdengar di angkasa, melewati rumah-rumah orang, nyaring dan tinggi suaranya, kadang-kadang diiringi kelepak sayap.

"Huuuuukk.. huukkk huuukkk....!"

Suara besar parau, jarang akan tetapi amat mengesankan sehingga gemanya terdengar membangunkan bulu roma.

"Klebek... klebek... klebek..." suara ini! terdengar di bawah di sekitar rumah, membuat orang menengok ke kolong balai dengan hati giris.

Sukar menentukan siapa pembuat suara-suara itu. Burung kulikkah atau kuntilanak yang menangis kehilangan anak yang mencari-cari penggantinya di antara bayi-bayi manusia yang baru terlahir? Suara burung hantukah yang besar parau itu, ataukah suara iblis raksasa dan gendruwo berambut panjang riap-riapan dan gimbal, bermata merah menyala sebesar bende, bersiung sejengkal-jengkal dan lidahnya tergantung sampai di leher?

Dan yang terakhir itu, suara kalepak sayap ayamkah, atau suara banaspatl si glundung pringis, kepala tanpa tubuh yang bergulingan ke atas tanah kadang-kadang berloncatan seperti bola, matanya melotot mulutnya lebar meringls ketawa tidak menangispun bukan? Kadang-kadang, apabila angin berhentl bertiup, suara-suara ltupun lenyap. Sunyi senyap menyelimuti bumi, keadaan begini lebih menyeramkan lagi karena kata orang, pada saat beginilah roh-roh jahat menerkam korbannya. Kalau sudah begini, bunyi pintu berderit sedikit saja cukup menegangkan urat syaraf.

Dan pada saat sunyi senyap seperti itu, di waktu bulan purnama menyembunyikan sebagian mukanya yang keemasan di balik awan hitam berbentuk kepala Bathara Kala, di waktu angin berhenti bertiup dan semua penduduk Kota Raja Jenggala tak berani berkutik pula dalam rumah di atas tempat tidur masing-masing, ibu-ibu mendekap anaknya, suami-suami mendekap isterinya, hati berdebar-debar gelisah, pada saat itulah terdengar jerit melengking yang nyaring mengerikan.

Jerit yang hanya dapat keluar dari mulut iblis, atau dari mulut seekor serigala terluka, atau juga dari mulut seorang yang nyawanya direnggut maut! Jerit melengking yang membuat seluruh penghuni Kota Raja Jenggala terbelalak ketakutan. Sampai berdiri rambut kepala saking kaget dan takut. Dan lebih gelisah lagi mereka yang berdekatan tinggalnya dengan rumah gedung itu dari mana jerit melengking tadi terdengar kemudian disusul tangis dan ratap memilukan hati.

Mereka ini tahu bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat di dalam rumah gedung Tumenggung Wirodwipo itu. Akan tetapi rasa serem dan ngeri membuat mereka pura-pura tidak tahu karena siapakah yang berani datang bertandang? Siapa berani keluar dari pintu rumah pada malam terkutuk seperti itu?

Dua bayangan hitam menyelinap keluar dari pekarangan rumah gedung Tumenggung Wirodwipo. Mereka adalah dua orang laki-laki tinggi besar dengan tubuh yang kokoh kuat. Keduanya memelihara kumis tebal sekepal sebelah dan kepala mereka memakai pengikat kepala yang ujungnya menjulang runcing ke atas sehingga bayangan mereka tampak bertanduk.

Biarpun tubuh mereka dempal besar, namun gerakan mereka amat lincah, ringan dan cepat mengagumkan. Seakan-akan kaki mereka tidak menlmbulkan suara sama sekali. Kalau ada penduduk yang melihat mereka pada saat itu, tentu dia yakin telah melihat setan, tidak akan percaya bahwa manusia-manusia jugalah yang ia lihat.

Dua orang tinggi besar itu berlari terus tanpa mengeluarkan suara, tanpa berkata-kata dan mereka. keluar dari kota raja dengan cara yang hebat pula, yakni dengan melompati pintu gerbang sebelah selatan. Mereka memasuki hutan Jati yang berada tak jauh dari kota raja, akhirnya membuka pintu sebuah pondok.

"Geriiiiiittttt...!"

Daun pintu bergerit terbuka dan api pelita dl sebelah dalam bergoyang-goyang terbawa angin yang ikut masuk bersama dua orang tinggi besar ke dalam pondok. Pintu ditutupkan kembali dan api pelita berhenti bergoyang. Tiga ekor binatang kalong (kelelawar) yang amat besar terbang berputaran dalam pondok itu, mengeluarkan bunyi mencicit dan kelepak sayap mereka terdengar jarang. Kembali api pelita bergoyang. Agaknya binatang-binatang menyeramkan ini terbang menyambut kedatangan dua orang tinggi besar, atau mungkin juga karena kaget. Setelah kedua orang laki-laki itu duduk, kalong-kalong itu berhentl terbang, hinggap menggantung di bawah atap.

"Heh-heh-heh-hih-hik!"

Di balik asap kemenyan yang mengepul tinggi dan tebal, suara ketawa itu terdengar seperti suara ketawa iblis, Dua orang laki-laki tinggi besar itu memandang kagum bercampur seram. Mereka berdua adalah orang-orang yang biasa akan hal-hal menyeramkan, bahkan mereka berdua mampu mencekik leher orang sampai mati, tanpa mengejapkan mata. Namun penglihatan malam ini di dalam pondok, apalagi setelah tadi mereka membuktikan sendiri hasilnya di dalam gedung Tumenggung Wirodwipo, benar-benar melampaui batas ketabahan mereka dan bulu tengkuk mereka meremang.

Kakek yang bersila di belakang tabir asap kemenyan itu sudah tua. Begitu tuanya sampai wajahnya yang berkeriputan itu seperti bukan wajah manusia lagi. Tubuhnya kurus bongkok, mukanya berkulit hitam sehingga yang tampak jelas hanya warna putih matanya dan dua buah giginya yang menguning. Kepalanya dibungkus sorban kuning yang kotor. Memang segala sesuatunya pada kakek ini kelihatan kotor belaka. Ruangan pondok yang tidak luas terhias banyak tengkorak manusia yang oleh gerakan asap bergulung tampak seakan-akan hidup, mata yang tak berbiji seperti melotot dan mulut tak berbibir seperti tertawa.

Kakek yang tertawa-tawa itu memegang sebatang keris kecil, hanya sejengkal panjangnya dan ujung keris berlumur darah segar. Di depan perutnya, tangan kirinya memegang sebuah boneka dari lempung, boneka yang juga berlumur darah, boneka yang memakai pakaian. Kalau dipandang dengan teliti, tampaklah bahwa boneka ini serupa benar dengan Tumenggung Wirodwipo!

"Heh-heh-hi-hik, bagaimanakah, anakmas? Berhasilkan?" Kakek itu bertanya kepada dua orang laki-laki itu sambil melempar boneka ke sudut dan menyimpan keris di ikat pinggangnya.

"Bagus sekali hasilnya, paman wiku. Kami mendengar sendiri jerit kematiannya yang terakhir setelah dua kali ia mengerang kesakitan," jawab Klabangkoro yang mempunyai tanda bekas bacokan pada pipi kanannya.

"Ha-ha-heh-heh, aku sudah tahu, anakmas. Sebelum kalian datang, kalong-kalongku sudah pulang lebih dulu mewartakan hasil usahaku. Dan darah di kerisku menjadi tanda yang tak dapat dlsangkal lagi, heh-heh-heh!"

Klabangmuko, adik Klabangkoro, bergidik. Memang tadi ia mendengar kelepak sayap kalong-kalong itu di atas rumah gedung Tumenggung Wirodwipo.

"Paman Wiku Kalawisesa, hebat sekali kesaktian paman. Semua berhasil sesuai dengan rencana. Gusti adipati di Blambangan tentu akan gembira sekali mendengar ini."

"Paman wiku tentu akan menerima ganjaran (hadiah) yang besar. Ha-hahal" kata Klabangkoro yang ikut gembira karena berhasilnya tugas ini berarti dia sendiri berdua adiknya akan menerima ganjaran pula.

"Heh-heh-heh, nanti dulu, masih kurang satu. Kalian lihat saja nanti hari Respati pekan depan, lihat baik-baik dan bergembiralah karena pada malam hari itu, Pangeran Panjirawit menerima gilirannya mati di ujung keris wasiatku. Heh-heh-heh-heh!"

Dua orang kakak beradik itu kaget, juga girang. "Dia....? Tapi... menurut rencana, kita hanya akan menghitamkan namanya agar ia menerima hukuman dari dua kerajaan bersaudara, tidak.... tidak perlu paman bunuh."

"Heh-heh, kalian tahu apa, anak-mas? Bukan hanya Gusti Adipati Blambangan yang menaruh dendam kepada isteri pangeran itu, juga aku mempunyai perhitungan setinggi langit!! Adik seperguruanku, Cekel Aksomolo, tewas di tangan Endang Patibroto, yang kini menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Inilah sebabnya mengapa aku segera menerima penawaran kerja sama dari Gusti Adipati Blambangan. Memang, cara yang direncanakan gusti adipati cukup hebat, akan tetapi hatiku tidak puas kalau tidak melihat wanita itu sengsara hebat. Maka suaminya harus kubunuh, baru nanti dia dimusuhi kedua kerajaan. Ha-ha-heh-heh!"

"Tapi.... dia amat sakti....bukankah berbahaya itu, paman?" tanya Klabangmuko.

"Hik...hik" boleh jadi dia sendiri tak dapat dibunuh secara ini. Akan tetapi suaminya orang biasa! Kalian boleh lihat pekan nanti, akan tetapi awas, jangan terlalu dekat mengintai istana pangeran itu."

"Baiklah, paman. Kini kami mohon pamit untuk melaporkan hasil ini kepada Raden Sindupati."

Kakek itu mengangguk-angguk. Dua orang tinggi besar ini lalu membuka daun pintu pondok, keluar dan menutupkan kembali daun pintunya. Pelita di dalam bergoyang apinya, si kakek terkekeh girang lalu bangkit menghampiri sebuah arca Bathara Kala yang berdiri angker di s眉dut, menjatuhkan diri berlutut dan mencium kaki arca, menyembah dan mulut yang ompong itu berkemak-kemik. Sepasang mata arca itu seolah-olah mengeluarkan cahaya berkilat.

Siapakah sesungguhnya kakek sakti yang mengerikan ini? Para pembaca BADAI LAUT SELATAN tentu mengenal nama Cekel Aksomolo, seorang pendeta seperti Bhagawan Durna bentuk tubuhnya, pendeta sakti yang menyeleweng ke jalan resat, dan akhirnya tewas di tangan Endang Patibroto isteri Pangeran Panjirawit dari Kerajaan Jenggala.

Pendeta Itu adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo, yang selama puluhan tahun bertapa di Gunung Cermai. Pendeta ini sebetulnya adalah seorang Bangsa Hindu yang datang merantau ke Nusantara, seperguruan dengan Cekel Aksomolo dalam ilmu hitam dan ilmu sihir, juga kesaktian. Akan tetapi berbeda dalam agama karena Wiku Kalawisesa ini adalah seorang penyembah Bathara Kala.

Ketika ia mendengar tentang kematian adik seperguruannya di tangan Endang Patibroto, hatinya sakit sekali. Maka turunlah ia dari pertapaannya di Gunung Cermai dan mulailah ia berdaya upaya untuk membalas dendam. Namun karena ia mendengar bahwa isteri Pangeran Panjirawit itu adalah seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan hampir sepuluh tahun lamanya belum berani turun tangan.

Akhirnya tibalah kesempatan yang dinanti-nantikannya. Adipati Blambangan yang juga merasa sakit hati kepada Endang Patibroto atas kematian Bhagawan Kundilomuko, pamannya dan penyembah Bhatari Durgo, dan di samping sakit hati terhadap Endang Patibroto juga kepada Kerajaan Jenggala yang sudah menghancurkan Kadipaten Nusabarung yang masih saudaranya, datang menghubungi kakek ini.

Maklum akan kesaktian Endang Patibroto, maka lalu direncanakan siasat keji yaitu mengenyahkan orang-orang penting di Kerajaan Jenggala dan Panjalu dengan menjatuhkan dosanya di pundak Endang Patibroto. Dengan siasat ini kalau berhasil, selain kedudukan dua kerajaan menjadi lemah, juga Endang Patibroto akan ditangkap dan kalau sudah begitu, Blambangan akan datang menyerbu Jenggala!

Adapun yang dipercayai tugas ini oleh Adipati Blambangan adalah seorang perwiranya yang bernama Raden Sindupati, seorang bekas senopati Jenggala yang sudah melarikan diri karena mempunyai dosa, yaitu membujuk rayu dan memperkosa seorang puteri Jenggala dan kini ia menjadi perwira di Blambangan. Raden Sindupati membawa sepasukan pengawal Blambangan yang berkepandaian tinggi, dipimpin oleh kakak beradik Klabangkoro. Ia bermarkas di dalam hutan yang tersembunyi dan melakukan operasinya dari tempat ini. Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi penghubung antara pasukan ini dengan si dukun lepus Wiku Kalawisesa.

Bagaimana adanya rencana itu dapat dlikuti dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya, siasat yang keji dan menciptakan malam-malam terkutuk yang mengerikan, seperti yang terjadi pada malam itu yang membawa maut bagi Tumenggung Wirodwipo, seorang tokoh perajurit Jenggala yang tangguh.

Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala geger! Betapa tidak kalau dalam waktu beberapa pekan saja beberapa orang perwira yang penting-penting telah mati dalam keadaan yang amat ajaib? Mula-mula lengan kiri korban-korban ini secara tiba-tiba mengucurkan darah, kemudian lengan kanan bercucuran darah dan terasa sakit seperti ditusuk keris, dan akhirnya ulu hati mereka mengucurkan darah segar yang mendatangkan kematian.

Dan semua itu terjadi tiap hari Respati malam! Perbuatan setankah? Kanjeng Ratu Roro Kidul entah sebab apa menjadi murka dan bala tentaranya mendarat lalu mengamuk menyebar maut dl antara ponggawa kedua kerajaan? Ataukah iblis-iblis penghuni Pancagiri (Lima Gunung Semeru, Bromo, Kelud, Arjuno, Anjasmoro) oleh sebab yang belum diketahui menjadi marah-marah kepada dua kerajaan bersaudara?

Sang prabu di Panjalu dan sang prabu di Jenggala menjadi prihatin dan mengerahkan para cerdik pandai untuk mencari sebab-sebabnya dan menangkap biang keladinya. Dan terdengarlah desas-desus yang disebar oleh kaki tangan Raden Sindupati di Kerajaan Panjalu bahwa satu-satunya orang yang mungkin dapat melakukan perbuatan keji itu bukan lain adalah Endang Patibroto, isteri Pangeran Panjirawit yang masih mendendam hati kepada Kerajaan Panjalu!

Desas-desus ini santer ditiupkan oleh kaki tangan Blambangan. Endang Patibroto, bekas kepala pengawal Jenggala itu adalah murid mendiang Dibyo Mamangkoro, seorang manusia setengah iblis, senopati kerajaan iblis, yaitu Kerajaan Wengker yang dahulu dirajai Prabu Boko!

Mungkin karena mendendam, atau karena iri hati melihat betapa Kerajaan Panjalu lebih besar dan makmur daripada Kerajaan Jenggala! Atau mungkin untuk melampiaskan amarah karena isteri Pangeran Panjirawit ini setelah menikah selama hampir sepuluh tahun belum juga dikaruniai putera!

Bermacam-macamlah isi desas-desus itu yang kesemuanya jatuh ke pundak Endang Patibroto. Wanita sakti yang banyak musuhnya karena sepak terjangnya yang dahulu telah menjatuhkan banyak korban itu kini dikeroyok oleh mereka yang membencinya, biarpun tidak tahu-menahu sama sekali tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia itu, langsung saja memberi komentar dan menjatuhkan fitnahnya atas namanya!

Desas-desus itu menembus pintu gerbang istana dan sampai ke telinga sang prabu di Panjalu. Akan tetapi karena sang prabu adalah seorang yang arif bijaksana, tidak mau menelan mentah-mentah fitnah yang jatuh atas diri Endang Patibroto, maklum betapa hebat dan berbahayanya fitnah ini. Diam-diam sang prabu hanya berpesan kepada ponggawa-ponggawa yang pandai dan setia untuk memasang mata dan memperketat penyelidikan.

Endang Patibroto sendiri juga terkejut ketika mendengar tentang kematian-kematian aneh mengerikan Itu. Sebagai murid Dibyo Mamangkoro yang ahil Ilmu hitam, Ia dapat menduga bahwa ini tentulah hasil perbuatan seorang ahli sihir yang jahat. Lebih kaget dan penasaran lagi hatinya ketika sampai ke telinganya desas-desus bahwa dialah orangnya yang disangka umum melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Pangeran Panjirawit juga mendengar desas-desus ini dan melihat sikap isterinya yang marah-marah dan penasaran, Ia di senja hari itu menghibur isterinya. Dipeluknya isteri tercinta itu dan dItariknya duduk di atas pangkuan.

Sepuluh tahun mereka menjadI suami isteri, dan biarpun Endang Patibroto belum melahirkan putera, namun sang pangeran tidak berubah cinta kasihnya yang mendalam, bahkan tidak pernah mau mengambil selir untuk menyambung keturunan. Pangeran Panjirawit adalah putera selir Sang Prabu Jenggala. Dia seorang pangeran yang tampan dan pandai olah keprajuritan. Seorang pangeran yang hidup sederhana, tidak suka bermewahan, setia kepada kerajaan ramanda, dan jujur dalam melakukan tugas, ramah terhadap bawahan, tidak menjilat kepada atasan. Oleh karena itu, semua orang suka belaka kepada pangeran ini dan tertutuplah sebagian rasa tidak suka terhadap isterinya, Endang Patibroto.

Tidak mengherankan apabila banyak orang tidak suka kepada Endang Patibroto. Sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit (baca Badai Laut Selatan), Endang Patibroto adalah seorang gadis yang liar, sakti mandraguna sehingga menggiriskan semua orang, wataknya ganas dan mudah membunuh, pernah pula menjadi kepala pengawal keraton Jenggala. Akan tetapi semenjak ia menjadi isteri Pangeran Panjirawit, ia tidak pernah lagi bertualang, bahkan jarang keluar dari istana di mana ia tenggelam dalam kasih sayang suaminya. Harus diakui bahwa tadinya tidak ada cinta kasih dalam hatinya terhadap Pangeran Panjirawit, akan tetapi penumpahan cinta kasih yang berlimpahan dari suaminya mencairkan kekerasan hatinya dan menumbuhkan cinta kasih yang besar pula.

Endang Patibroto adalah seorang wanita yang amat sakti. Sebelum menjadi murid Dibyo Mamangkoro, ia sudah memiliki bermacam ilmu. Setelah menjadi murid tokoh iblis ini, ia seperti seekor harimau yang tumbuh sayap. Sakti mandraguna dan jarang bertemu tanding. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa pembunuhan itu membangkitkan semangatnya, membakar hatinya membuatnya penasaran dan bersumpah di dalam hati untuk menangkap dan menghukum biang keladinya.

Ketika suaminya memeluk dan memangkunya, ia merangkulkan kedua lengan di leher Pangeran Panjirawit. Sudah sepuluh tahun menikah, namun suami isteri ini masih tetap seperti pengantin baru, saling menumpahkan kasih sayang yang tak kunjung padam. Betapapun gagah dan saktinya, dalam saat-saat bermain asmara seperti itu, timbul pula sifat kewanitaan Endang Patibroto dan ia kadang-kadang menjadi aleman (manja). Sore itu mereka duduk di ruangan dalam, di samping kamar tidur, menghadapi taman bunga. Tempat inilah menjadl tempat kesukaan mereka sehabis makan sore, duduk bercakap-cakap atau bersenda-gurau, bermain asmara, menghadapi bunga-bunga yang mekar dan semerbak wangi.

Kesukaan Endang Patibroto adalah bunga melati dan bunga menur yang sedap. Adapun kesukaan sang pangeran adalah bunga mawar merah dan putih yang harum. Ketiga macam bunga itu memenuhi taman di depan ruang duduk ini, di samping bunga-bunga kenanga, kantil, dan arum dalu yang menyiarkan ganda harum sedap seperti di dalam taman sorgaloka, menyentuh rasa dan membangkitkan cinta.

Ruangan itu sederhana namun menyenangkan. Hanya terdapat beberapa kursi, sebuah meja hiasan-hiasan binatang. Sejuk hawanya, harum semerbak baunya, dan para pelayan memang tidak pernah memasuki ruangan ini di waktu suami isteri di situ. Mereka semua sudah maklum akan keadaan pangeran dan isterinya yang selaIu berpengantinan mesra sehingga mereka enggan dan takut mengganggu.

"Isteriku Endang jiwa hatiku tersayang, mengapa wajahmu yang ayu muram sejak siang tadi? Lihat bulan sampai bersembunyi di balik awan seperti wajahmu yang muram. Apa yang kau susahkan, sayang?" Pangeran Panjirawit bertanya sambil mengelus-elus rambut ikal dengan belaian mesra.

Endang Patibroto menghela napas panjang. Biasanya, kalau suaminya sudah mencumbunya seperti ini, hatinya serasa nikmat dan senang, sebesar Gunung Semeru. Akan tetapi sekali ini perasaan senang itu tidak kunjung datang, bahkan ingin ia menangis, makin tertindih dan risau hatinya mengingat akan segala penasaran yang didengarnya.

"Aduh, pangeran. Bagaimana hatiku tidak risau kalau teringat akan segala peristiwa yang terjadi dan mendengar segala desas-desus tentang diriku? Ah, tentu kakangmas pangeran telah mendengar pula?"

Panjirawit mempererat pelukannya sampai terasa detak jantung isterinya menjadi satu dengan debar jantungnya sendiri. Alangkah besar cintanya kepada isterinya ini!
"Endang, mengapa kau perdulikan segala omong kosong itu? Biarkan saja mulut usil bicara, asal tidak langsung di depan kita. Di bagian manakah di dunia in! tidak ada orang yang usil mulut? Mereka itu iri hati terhadap engkau, nimas, terhadap kita, melihat kebahagiaan kita..."

"Tidak.... tidak begitu, pangeran. Semua desas-desus tentu ada sebabnya. Kematian-kematian yang aneh itu. Bahkan pekan lalu kakang Tumenggung Wirodwipo juga menjadi korban. Sudah tiga orang ponggawa setia dan perkasa Jenggala tewas secara keji. Juga ada tujuh orang ponggawa Panjalu tewas seperti itu..."

"Hidup mati manusia berada di tangan Dewata, lsteriku. Kebetulan saja para ponggawa yang mati itu yang telah terpilih oleh Hyang Widi untuk dipanggil kembali, mengapa merisaukan kematian yang sudah disuratkan takdir?" Pangeran itu masih berusaha menghibur, jari-jarinya dengan penuh cinta kasih menyisihkan sinom rambut yang berikal di tengkuk, kemudian mencium kulit tengkuk yang putih bersih itu dengan bibirnya.

Biasanya, kalau dicium seperti itu, meremang seluruh bulu di tubuh Endang Patibroto, menimbulkan gairah dan ia akan membalas belaian suami tersayang.Akan tetapi kali ini la melawan gairah itu dengan menggeliatkan tubuh dan berkata lagi, agak merajuk,

"Pangeran, suami junjunganku, berpura-purakah paduka? Kematiankematian itu jelas berada di tangan Hyang Widi, akan tetapi sebab kematiannya dapat dibuat orang yang mengandung hati jahat. Itupun tidaklah amat kurisaukan kalau saja nama hamba tidak didesas-desuskan orang. Siapa dapat menahan kalau mendengar desas-desus itu? Dlkabarkan bahwa hambalah yang melakukan perbuatan keji itu, karena hamba murid Dibyo Mamangkoro, karena hamba iri hati, dengki, karena hamba tidak...tidak punya anak...." Kalimat terakhir ini disusul dengan sedu-sedan.

Pangeran Panjirawit mengerutkan kening, memegang dagu isterinya, diangkat muka itu sehingga berhadapan dengan mukanya, kemudian dengan sepenuh cinta kasihnya ia menempelkan mulut pada mulut isterinya, menciumnya dengan halus, lembut dan mesra. Sedu-sedan itu terhenti, lenyap dalam ciuman yang dibalas oleh Endang Patibroto dengan penyerahan yang tulus, dengan cinta kasih yang sama besarnya. Sejenak keduanya tenggelam dalam kasih asmara, sampai akhirnya Endang Patibroto terengah dan gemetar dalam dekapan suaminya, tubuhnya menjadi hangat, kedua pipinya kemerahan. Akan tetapi kembali pangeran itu mengerutkan keningnya yang tebal ketika melihat air mata mengalir turun di kedua pipi isterinya.

"Endang, kekasihku, dewiku.... kau.... kau menangis?"

Memang mengherankan bahkan mengejutkan melihat isterinya menangis. Endang Patibroto adalah seorang wanita sakti, gagah perkasa tak kenal takut, tak kenal susah, dan tak pernah meruntuhkan waspa (air mata).

"Kakangmas, hamba harus.... harus menyelidiki semua ini...!" Panjirawit mencium kening isterinya yang kanan. Kening ini kecil panjang dan hitam, melengkung indah dan sedemikian indahnya sehingga kulit di dekat kening tampak lebih putih daripada kulit di bagian lain pada wajah ayu itu.

"Aduh yayi, mutiara hatiku. Sesungguhnya aku tidak mau bicara tentang semua peristiwa ini, khawatir mencemaskan hatimu. Jangan mengira bahwa aku tidak mendengar segala macam desas-desus keji tentang dirimu, nimas. Akan tetapi, setelah sekarang engkau mendesak dan agaknya engkau benar-benar merasa penasaran, baiklah kita bicara tentang ini. Akan tetapi, adindaku, lupakah engkau akan janjimu kepadaku bahwa kau tidak akan bertualang mempergunakan kesaktianmu seperti dahulu lagi? Aku amat khawatir, nimas...."

Kini Endang Patibroto bangkit, merangkul leher suaminya dan dialah yang kini mencium mulut yang dicintanya itu. Kemudian ia turun dari atas pangkuan sambil berkata manja, "Takkan mungkin bicara benar kalau kita tenggelam dalam bercinta." Ia tersenyum dan lenyaplah semua kemuraman wajahnya.

Senyum itu pula yang membuat Panjirawit lupa akan kekhawatirannya, bahwa isterinya akan menonjolkan kesaktiannya yang mengerikan dan ditakutinya, karena sekali isterinya bertualang dalam permusuhan, bencana hebat tentu akan timbul. Akan tetapi senyum itu terlalu cerah, terlalu indah dan menyilaukan mata, mengusir semua keraguan hati.

"Betapa aku dapat menghentikan cintaku kepadamu walaupun sekejap mata?" ia menggoda dan hendak meraih lagi. Akan tetapi Endang Patibroto mlringkan tubuh, raihan itu tidak mengenai sasaran. Endang Patibroto duduk di atas kursi menghadapi suaminya, lalu berkata sungguh-sungguh,

"Pangeran, aku tahu apa yang terjadi pada mereka. Dahulu guruku pernah menjelaskan tentang ilmu membunuh musuh melalui guna-guna, melalui aji ilmu hitam yang disebut Aji Kalacakra. Ilmu itu mujijat dan keji, sanggup membunuh orang dari jauh hanya dengan menusuk-nusuk boneka yang dibuat menyerupai orang yang dijadikan korbannya."

"Ihhh....! Aji terkutuk!"

Endang Patibroto tersenyum.
"Memang semua aji itu terkutuk kalau dipergunakan untuk kejahatan, kakanda."

"Dan siapakah orangnya yang dituju, akan tewas begitu saja?" Pangeran itu masih kurang percaya.

Endang Patibroto menggeleng kepala. "Tidak ada kekuasaan di dunia ini, betapapun hebatnya, dapat mengalahkan orang yang bersih batinnya dan yang tidak mempunyai dosa. Aji Kalacakra tidak mempan tentunya kepada orang yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada orang yang melakukan aji itu, juga tidak akan mempan (mempengaruhi) orang yang tidak pernah berdosa. Akan tetapi, manusia manakah yang tidak pernah melakukan dosa? Itulah sebabnya mengapa aji itu amat berbahaya."

"Akan tetapi, betul-betulkah aji semacam itu dapat dilakukan orang?"

"Kakanda masih sangsi akan kebenarannya? Sungguhpun hamba selamanya belum pernah melakukannya, akan tetapi mengerti caranya. Harap paduka lihat baik-baik!" Endang Patibroto lalu turun dari anak tangga ke dalam taman, mengambil sekepal tanah lempung dan sehelai bulu ayam, lalu kembali ke dekat suaminya yang memandangnya dengan mata penuh perhatian.

"Paduka mengenaI ini?"

"Eh, itu bulu ayam. Putih.... hemm, hanya ayam kelangenan (kesukaan) kita Si Petak yang suka masuk ke taman."

"Betul, kakangmas. Ini bulu Si Petak, dan lihatlah ini."

"Engkau membuat boneka Si Petak dari tanah lempung!"

"Kembali benar," kata Endang Patibroto sambil memasangkan bulu putih itu pada tubuh boneka ayam. Kemudian ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada emas, lalu duduk bersila pada permadani dan berkata, "Sekarang harap paduka lihat baik-baik, adinda akan membuat bukti akan kebenaran dugaan adinda."

Pangeran Panjirawit memandang dengan mata terbelalak. Dilihatnya isteri tercinta itu duduk bersamadhi, boneka di tangan kiri, tusuk konde di tangan kanan, matanya dipejamkan dan bibirnya berkemak-kemik, kemudian tubuh isterinya seperti menegang dan kedua tangan gemetaran, matanya dibuka lalu ujung tusuk konde yang runcing itu ia tusukkan ke arah paha boneka ayam.

Hampir Pangeran Panjirawit terpekik saking kagetnya melihat darah keluar dari paha ayam itu! la melompat dari tempat duduknya dan keluar dari situ melalui pintu tengah dan hampir ia bertubrukan dengan seorang gadis yang jongkok di belakang pintu.

"Eh?! Engkau ini, Minten? Apa yang kau kerjakan di sini??"

Gadis Itu berusia kurang lebih enam belas tahun. Cantik manis, tubuhnya padat dan mulai mekar, jelas nampak pada bagian dadanya yang tertutup kemben, kulitnya halus dan hitam manis. Tubuh gadis itu gemetar ketika ia berjongkok di depan sang pangeran.

"Ampun....gusti....hamba.... hamba tadinya ingin mencari kembang melati dan mawar untuk tambah sesaji...."

"Hemm, jangan ganggu kami. Pergi!" kata pangeran itu yang tergesa-gesa lari terus menuju ke belakang, ke kandang ayam di mana Petak berada.

Sebagai seorang pria ia tidak begitu memperhatikan tentang sesaji, tidak tahu bahwa kembang untuk itu sudah lengkap tersedia. Akan tetapi bukankah Suminten seorang gadis pelayan dalam? Tidak terlalu mengherankan kehadiran gadis itu di sana. Ia tidak pikirkan lagi gadis Itu dan jantungnya berdebar keras ketika tiba di luar kandang ia mendengar suara Petak berkeok-keok.

Cepat ia membuka pintu kamar dan wajahnya menjadI pucat. Si Petak tampak rebah miring, paha kanannya mengucurkan darah! Pangeran Panjirawit cepat melompat dan lari kembali ke tempat isterinya.

"Endang jangan bunuh Si Petak..... !" katanya Iirih, suaranya gemetar wajahnya masih pucat.

Endang PatIbroto yang duduk bersila menggeleng kepala, lalu mencabut tusuk kondenya dari paha boneka ayam, mencabut bulu putih lalu melempar boneka dan bulu ayam ke taman. Ia bangkit berdiri sambil berkata,

"Jangan khawatlr, kakanda. Hamba terlalu sayang kepada ayam kita itu untuk membunuhnya. Hanya untuk pembuktian kebenaran ucapan dan dugaan adinda." Pangeran Pannirawit menghela napas panjang.

"Engkau benar, yayi. Kulihat tadi paha Si Petak berdarah. Hiihhhh menggigil aku sekarang. Terkutuk benar orang yang melakukan perbuatan sekeji itu terhadap para ponggawa kerajaan."

"Dan setelah terjadi perbuatan pengecut itu, disebar desas-desus tentang diri hamba. Tidakkah sekarang kakanda pikir bahwa hamba harus menyelidiki peristiwa ini?" kata pula Endang Patibroto sambil membetulkan rambutnya yang terurai lepas karena tadi ia mencabut tusuk kondenya. Ia menggunakan kedua tangan untuk membereskan gelungnya dan gerakan ini mengangkat kedua lengan membetulkan rambut, amatlah manisnya. Lenyaplah sifat Endang Patibroto wanita sakti, yang tampak kini seorang puteri yang cantik jelita dengan sepasang lengan yang indah bentuknya dan halus kulitnya seperti batu pualam.

Pangeran Panjirawit meraih, menangkap pinggang isterinya dan menariknya duduk di atas pangkuannya kembali.

"Biarkan rambutmu, sayang. Biarkan terurai seperti itu....!" Ia menyusupkan muka pada selimut rambut yang harum dan halus, meramkan mata.

Endang Patibroto tertawa kecil, mengelus dagu suaminya. "Belum paduka jawab pertanyaan adinda...?"

"Apa....? Ah, tentang penyelidikan, biarlah besok kuperintahkan kakang Sungkono untuk mengerahkan para abdi pengawal menyelidik."

"Tidak akan ada gunanya, pangeran. Penjahat itu sakti, kakang Sungkono bukanlah lawannya. Harus diakui bahwa kakang Sungkono merupakan abdi yang baik dan setia, akan tetapi menghadapi penjahat sakti ini harus dilawan dengan kesaktian pula."

"Baiklah, yayi. Besok kau bersama aku menyelidik, sekarang mari temani aku tidur, sayang. Aku menjadi ngeri dan serem." la memeluk dan hendak memondong tubuh isterinya. Akan tetapi Endang Patibroto meronta dan turun dari pondongan suaminya karena la tahu bahwa sekali ia sudah memasuki peraduan bersama suaminya, ia akan lupa segala. Padahal malam inilah saat yang tepat untuk menyelldik, malam hari Respati !

"Kakanda, maafkan adinda untuk saat ini. Hari ini hari Respati, bukan? Nah, inilah saatnya penjahat itu turun tangan. Karena, ketahuilah kanda bahwa amat sukar untuk mencari penjahat sakti Ini kalau tidak pada waktu ia melepas kejahatannya. Biasanya, pada saat ia melakukan kejahatannya, tentu ia melepas pengintai yang akan mengabarkan apakah usahanya itu berhasil atau tidak."

"Pengintai? Kalau begitu, mengapa para penyelidik kedua kerajaan tidak dapat menangkapnya?"

"Ah, mana dapat? Biasanya, pengintai itu bukan manusia, melainkan binatang, biasanya burung hantu, burung gagak dan sebangsanya..."

"Ihhh....! Pangeran itu bergidik dan merangkul leher isterinya. "Jangan pergi, Endang, aku.... aku.... hihh, aku takut!"

Endang tersenyum dan mencium suaminya. "Paduka? Takut? Pangeran Panjirawit yang gagah perkasa, suami hamba yang tercinta.... takut....??"

Panjirawit mencubit pinggul isterinya dengan gemas. "Tidak takut menghadapi musuh siapapun juga, tapi setan dan ibiis...... hihh, ngeri aku...!"

"Perkenankan hamba pergi, kakanda. Tidak akan lama. Setelah selesai menyelidik, hamba akan cepat kembali. Mudah-mudahan berhasil membekuk batang leher penjahat itu, demi keamanan Jenggala dan Panjalu dan demi bersihnya nama hamba. Hamba past! kembali dan.... mudah-mudahan paduka belum tidur."

"Mana bisa aku tidur tanpa kau di sampingku, manis? Bibirmu itu lho...!"

"Mengapa dengan bibir hamba....?" Endang mengusap-usap bibirnya dan suaminya tertawa.

"Bibirmu yang membuat aku tidak bisa tidur sendirian." lapun meraih lagi isterinya, mencium bibir yang selalu merah tanpa menginang (makan sirih) itu, merah membasah, lembut dan hangat penuh madu asmara. setelah puas berciuman, Endang Patibroto akhirnya merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan suaminya, membenarkan rambutnya yang awut-awutan, meringkaskan pakaiannya. Melihat isterinya berkemas dan mengenakan celana hitam sebatas lutut, mengaitkan kain yang berubah menjadi dandanan seorang pendekar wanita, kembali Pangeran Panjirawit gelisah.

"Engkau tidak membawa senjata, Endang?" Ia bergidik kalau teringat betapa dahulu, sepuluh tahun yang lalu, isterinya ini dengan keris pusaka Ki Brojol Luwuk (pusaka Mataram) merupakan seorang wanita perkasa yang menggiriskan dan menggegerkan seluruh Kerajaan Panjalu dan Jenggala.

Endang tersenyum. "Menghadapi penjahat pengecut perlu apa bersenjata? Tusuk konde hamba inipun belum tentu perlu hamba pergunakan. Nah, suami pujaan hati, hamba pergi, sampai nanti!" Begitu selesai kata-kata ini, tubuh Endang Patibroto berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Panjirawit.

Pangeran ini termenung, tidak heran menyaksikan kesaktian isterinya yang ia tahu memiliki ilmu Aji Bayu Tantra yang memungkinkan isterinya berkelebat cepat seperti terbang dan lari seperti angin cepatnya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, hatinya merasa kosong setelah isterinya tidak berada di sampingnya. Ia lalu bangkit dan memasuki kamar tidurnya. Akan tetapi di pintu ia terhenti karena melihat bayangan Suminten menyelinap.

"Heiii, kau lagi, Minten? Tidak dipanggil mengapa kau berada di sini? Tidak mengaso di belakang, di pondok abdi dalem?"

Gadis yang berdada montok itu maju, berlangkah jongkok sampai dekat kaki Pangeran Panjirawit, menyembah dan sedikit menyentuh kaki sang pangeran, kemudian menengadah memandang pangeran itu, mata yang jeli bersinar-sinar penuh harapan, hidung yang mancung berkembang-kempis, mulutnya setengah terbuka sehingga tampak di balik sepasang bibir yang basah itu ujung deretan gigi yang putih dalam mulut yang merah. Lalu terdengar mulut yang menggairahkan itu berbisik,

"Ampunkan hamba, gusti.... hamba kira... barangkali.... paduka masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba kerjakan..."

Pangeran Panjirawit mengerutkan kening. Aneh sekali, pada mata dan mulut gadis ini terdapat sesuatu yang mengingatkan ia akan isterinya, akan pandang mata dan mulut isterinya sewaktu ia cumbu! Aiihh, tidak! Ia takkan membiarkan dirinya tertarik oleh lain wanita. Tiada wanita di dunia ini yang dapat menandingi isterinya!

"Tidak, Minten. Kau pergilah ke belakang, aku mau tidur." Pangeran Itu memasuki kamarnya tanpa menutup daun pintu karena ia ingin melihat apabila isterinya pulang.

Perlahan Suminten bangkit berdiri, sejenak ia berdiri di depan pintu kamar, kedua tangan dengan jari-jari kecil itu dikepal-kepal, giginya yang kecil-kecil putih menggigit bibir bawah, matanya layu dan air mata mengalir turun di kedua pipinya. Ia sampai tak sedap makan tak nyenyak tidur, siang malam memikirkan sang pangeran, mengharap-harap dan diusahakannya sedapat mungkin menarik perhatiannya.

Namun sia-sia, pangeran itu sama sekali tidak tertarik padanya, melihat dengan pandang mata seperti kebanyakan pria kalau memandangnyapun tidak pernah. Bukankah wajar dan sudah selayaknya kalau seorang pangeran mengambil dara abdi dalem menjadi selir?

Apakah yang dipunyai isteri pangeran yang tidak ada pada dirinya? Ia penasaran dan menderita karena tergila-gila dan jatuh cinta kepada sang pangeran. Begitu gagah, begitu tampan, begitu halus, begitu dekat namun... begitu jauh tak terjangkau tangan dan hati. Ini semua gara-gara isteri pangeran. Gara-gara Endang Patibroto sehingga suaminya tidak wajar seperti para pangeran lain. Wanita iblis itu, dengan ilmu iblisnya. Suminten bergidik ngeri, akan tetapi matanya menyinarkan cahaya.

Desas-desus itu memang benar. Ia telah menyaksikan sendiri. Dengan ilmu iblisnya isteri pangeran telah mengguna-gunai Si Petak tadi! Bergeraklah kedua kakinya perlahan menuju ke belakang, di mana tersedia kamar-kamar dalam pondok khusus untuk para abdi.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Bagaikan iblis sendiri, tubuh Endang Patibroto melesat naik ke atas atap rumah dan mulailah ia dengan petualangannya, dengan perjalanan malamnya melakukan penyelldikan. Begitu kedua kakinya menginjak genteng, begitu angin malam bermain dengan rambutnya, timbul kegairahannya, teringat ia akan hidupnya, naluri seorang pendekar yang waspada akan setiap gerak dan suara.

Ketajaman telinganya bertambah, pandahg matanya yang selama sepuluh tahun ini terbenam dalam kemesraan, dalam lautan asmara yang tak kunjung padam bersama suaminya kini bersinar-sinar tajam, indera ke enam yang ada pada diri setiap orang pendekar yang sudah matang ilmunya, kini hidup dan menjadi sandaran baginya untuk melakukan penyelidikan.

Tubuhnya berkelebat cepat sekali, kadang-kadang di atas genteng berlompatan, kadang-kadang di bawah berlarian. Malam ini amat sunyi. Tak tampak seorangpun penduduk kota raja keluar dari pintu. Hanya orang-orang yang mabuk minuman, mabuk asmara, mabuk judi, dan sebangsa maling saja yang berani keluar pintu di malam Respati itu. Mereka ini tentu saja tidak takut dicaplok iblis karena sudah mabuk.

Namun Endang Patibroto tidak menaruh perhatian kepada mereka ini. Ia bahkan menujukan perhatiannya ke atas! Ke arah pohon-pohon besar, ke arah atap-atap gedung di mana tinggal para ponggawa tinggi, para pangeran dan tumenggung, para panglima dan perwira. Kalau ia berloncatan dari genteng ke genteng, jelas tercium bau kemenyan yang memenuhi udara.

Suasana malam itu tentu akan mengecilkan hati seorang pendekar, namun Endang sama sekali tidak merasa gentar. Kepercayaan akan diri sendiri timbul kembali pada saat itu. Di dalam pelukan dan di bawah cumbu rayu dan belaian Pangeran Panjirawit, la merasa kehilangan kepercayaan ini, tidak berdaya dan lemah, seakan-akan tidak kuasa akan tubuhnya sendiri, tidak kuasa akan hatinya sendiri. Seakan-akan tubuh dan hatinya sudah menjadi sebagian milik suaminya dan ia hanya menurut apa yang dikehendaki suaminya karena kebahagiaanlah yang terasa olehnya dalam pelayanan terhadap suaminya ini. Ia bahagia melihat suaminya bahagia karena dia. la puas melihat suaminya puas karena dia. Tapi sekarang ia merasa seperti seekor burung yang bebas. Dengan seluruh dirinya seorang. la menentang segala bahaya.

Tiba-tiba, ketika ia meloncat ke atas genteng tinggi gedung Pangeran Panjirawit, ia berhenti bergerak. Telinganya mendengar sesuatu. Pekik mengerikan! Jelas sekali dari atas genteng itu. Datang dari rumah gedung Demang Kanaroga, demang yang ahli dalam ilmu perang yang selalu menjadi tangan kanan setiap orang senopati Jenggala dalam perang. Secepat kilat tubuhnya melesat dan berlarilah ia ke arah gedung itu, lalu melayang naik ke atas atap gedung. Ia mencari-cari lalu mengintai ke dalam kamar ki demang. Terlambat! Demang Kanaroga tampak terkapar di dalam kamarnya, dirubung dan ditangisi anak isterinya. Mati dan darah mengalir dari kedua lengan, dan terutama banyak sekali dari dadanya. Tiada gunanya masuk, ia takkan mampu berbuat sesuatu.

Endang Patibroto meloncat ke bagian yang paling tinggi dari atap itu. Dan tampaklah olehnya kini dua ekor benda terbang berputaran di atas gedung itu. Burungkah? Burung hitam? Bukan! Sayapnya tidak mengeluarkan bunyi dan bentuk tubuhnya tidak seperti burung, pendek, tapi sayapnya amat lebar. Dua ekor binatang Itu mencicit. Kalong (kelelawar)! Tak salah lagi, lnilah yang ia cari-cari, pikir Endang Patibroto. Jantungnya berdebar tegang dan gembira. Mampuslah kau sekarang, pengecut berhati keji! Peliharaanmu yang akan mengantarku ke sarangmu. Awas kau, ini Endang Patibroto akan datang untuk membekuk batang lehermu!

Ketika dua ekor kelelawar itu terbang ke barat, Endang Patibrotopun segera melompat turun dan berlari cepat ke barat, mengikuti dua ekor kelelawar itu dari bawah. Ke manakah ia akan dibawa oleh dua ekor binatang itu? Ke luar kota? Ke manapun juga, akan kuikuti kalian!

Heee! Mereka menuju ke barat terus?. Eh, membelok ke selatan kini. Terus ke selatan. Endang Patibroto masih berdebar tegang dan terus berlari. Kini ia berlari melalui depan istana suaminya! Arah terbang dua ekor kelelawar menuju ke selatan itu mengharuskan ia mengambil jalan ini. Aduh, betapa kalau suaminya mengetahui! Ah, tentu suaminya kini sedang tidur seorang diri di atas pembaringan bersih lunak yang menjadi saksi tunggal cinta kasih di antara mereka. Mendadak saja timbul perasaan mesra yang membuat Endang Patibroto meloncat naik ke atas atap rumahnya sendiri.

Dua ekor kelelawar masih terbang di atas. Dan pada saat kedua kakinya menglnjak genteng rumahnya itulah ia menahan pekik yang hampir keluar dari mulutnya. Di atas genteng itu terbang berputaran pula seekor kelelawar yang lain! Lebih besar daripada yang dua itu. Dan ia mendengar suara mengaduh di bawah. Suara suaminya!!

Serasa berhenti detak jantung Endang Patibroto. Ia tidak memperdulikan lagi kepada kalong itu dan langsung ia melayang turun, memasuki taman dan melompat ke dalam, terus berkelebat masuk melalui pintu kamar tidur mereka yang tidak tertutup.

"Kakanda....!"

Suaminya tidak tidur, melainkan duduk dengan mata terbelalak. Lengan kirinya berdarah di dekat siku dan tangan kanannya berusaha menghentikan keluarnya darah dari lengan yang tidak luka itu. Dan pada saat ia meloncat masuk, suaminya mengaduh lagi dan terbelalak memandang lengan kanannya yang sekarang juga berdarah! Dari atas terdengar suara burung hantu terbang lewat,

"Huuu uukkkk huukk huuukkk !" Seakan-akan burung hantu itu mentertawakan Pangeran Panjirawit.

"Endang... lekas....! Ini lenganku ini bagaimana....??"

"Tenanglah, suamiku! Tenang....hemm, bedebah! Keparat...!"

Panjirawit bukanlah seorang penakut, apalagi ada isterinya di situ. Mendengar maki-makian keluar dari mulut isterinya yang biasanya halus ramah itu, ia memandang, bertanya,

"Kau memaki siapa, yayi?"

"Tenanglah, suamiku....tenanglah....." kata Endang Patibroto dengan suara bercampur sedu-sedan. Terlambat sedikit saja, ia akan menemukan suaminya dalam kamar seperti halnya Demang Kanaroga tadi, terkapar mati! Cepat ia menubruk suaminya, bersila di depan suaminya, menaruh kedua telapak tangan ke depan dada, menempel ulu hati suaminya.

Melihat keadaan isterinya yang demikian sungguh-sungguh, teringatlah lagi Pangeran Panjirawit akan keadaannya. Teringat lagi bahwa kali ini dialah yang hendak dijadikan korban. Mula-mula kedua lengan, kemudian ulu hati. Tahulah ia bahwa isterinya mempergunakan kesaktiannya untuk melindunginya. Dari kedua telapak tangan yang halus itu, yang ia ingat benar kalau membelai-belainya, kini keluar hawa panas yang menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuhnya, ke arah kedua lengannya dan darah tidak mengalir lagi dari kedua lengannya.

Tiba-tiba Endang Patibroto melompat dan menyambar bokor perak, tempolong perak dan semua benda terbuat daripada perak yang berada di kamar itu. Pangeran dan dia memang lebih suka akan perak daripada emas. Kedua tangannya bergerak cepat, secepat tubuhnya ketika melesat dan bergerak mengumpulkan benda-benda tadi. Tidak sampai satu menit lamanya, semua benda perak itu telah ia robek, kait-kaitkan dan kini la kembali kepada suaminya, menggunakan robekan-robekan perak itu menutupi tubuh suaminya.

"Tutup baik-baik, kakanda. Bagian-bagian yang lemah, kakanda tahu, dada, punggung, perut, pusar, kepala. Kaki tangan tidak mengapa. Tutup bagian-bagian yang lemah. Jangan takut, jangan khawatir, kakanda tidak akan mengapa, aku akan menghancurkan bedebah laknat itu! Berani dia mengganggu suamiku!" Suara ini bercampur isak dan tubuh Endang Patibroto sudah melesat lenyap lagi.

"Endang....!" Pangeran Panjirawit memanggil, akan tetapi ia menahan kecemasannya. Ia harus percaya kepada isterinya. Endang tidak akan kalah. Cepat ia melakukan pesan isterinya, menutupi bagian-bagian tubuh yang lemah yang akan membuatnya tewas dengan sekali tusuk. Kaki tangan biarlah, tusuklah kalau mau tusuk, pikirnya penuh geram. Endang Patibroto sudah melompat naik, tangannya menyambar genteng, sekali remas ia mendapatkan sepotong genteng. Kelelawar yang dua ekor tak tampak lagi, akan tetapi yang seekor dan paling besar masih beterbangan di atas gedungnya, berputaran, seakan-akan menanti keluarnya pekik maut yang diharapkan keluar dari dalam gedung. Dengan menahan geram dan mengukur tenaga karena ia tIdak ingin membunuh kelelawar Itu, la mengayun tangan menyambit.

Kelelawar besar itu mengeluarkan bunyi mencicit keras, terbangnya terhuyung dan setelah mencicit-cicit bingung akhirnya ia terbang ke arah selatan. Inilah yang dikehendaki Endang Patibroto. ia berhasli mengusir kelelawar itu agar terbang pulang sebelum menyelesaikan tugas. Terbang pulang dan membawa dia ke tempat majikannyal Dengan jantung berdebar tegang dan girang Endang Patibroto melesat cepat. Ia tidak mau tertinggal oleh kelelawar itu.

Kelelawar itu terbang terus ke selatan melalui pintu gerbang selatan. Keluar kota raja. Sudah ia duga akan hal inl. Siapapun dia yang melakukan semua pembunuhan keji dan pengecut ini, tentu tidak berani tinggal di kota raja, di mana terdapat banyak perwira-perwira berilmu tinggi dan di mana terdapat dia. Ia meloncat melalul dinding yang mengelilingi kota raja, terus berlari cepat. Untung bulan yang tinggal sepotong masih terang. Tidak ada awan malam itu. Langit tampak suram muram, namun bayangan kecil hitam Itu tampak jelas.

Alangkah besarnya kelelawar itu yang terbang rendah. Dari ujung ke ujung sayap tentu lebih daripada sedepa. Binatang Itu terbang ke atas sebuah hutan. Celaka! Hutan yang banyak pohonnya, kalaulah di bawah pohon itu ia akan kehilangan bayangan Itu. Terpaksa Endang Patibroto lalu meloncat naik ke atas pohon, kemudian dengan cekatan la berloncatan dari pohon ke pohon. Betapapun juga, tak salah perhitungannya, tentu penjahat itu berdiam dan bersembunyi di dalam hutan ini. Ia naik ke atas pohon yang tinggi dan tampaklah kelelawar itu yang menukik turun ke atas atap sebuah pondok kecil di tengah hutan. Pondok itu! Tentu di situ tempat bersembunyi si bedebah. Dengan hati-hati Endang Patibroto melompat ke atas pohon yang berdekatan dengan pondok, mengintai.

Kelelawar itu menggelepar-gelepar di atas atap lalu menerobos masuk melalui pintu setelah dengan berat badannya menabrak pintu terbuka sedikit. Terdengar suara orang mengutuk dari dalam. Endang Patibroto meloncat turun, kakinya tidak menimbulkan suara sedikitpun seperti seekor kucing melompat. Berindap-indap namun cepat ia mendekati pondok, mengintai dari celah daun pintu yang terbuka sedikit. Giginya berkerotan ketika ia melihat ke dalam pondok! Kakek tinggi kurus itu duduk bersila, memaki-maki kelelawar yang hinggap di bawah atap, di atas sebuah arca Bathara Kala.

"Kelelawar bodoh! Kalong yang tiada gunanya! Belum selesai tugas sudah pulang! Apa hendak melapor akan gagalnya usahaku? Bedebah, kubakar dagingmu besok untuk santapan!" Kakek itu mengomel panjang pendek. Sebuah boneka berada di tangan kirinya, sebatang keris kecil di tangan kanan. "Setan alas! Belum mau tunduk juga engkau, Pangeran Panjirawit? Tubuhmu kebal, ya? Keparat!" Ia menggunakan kerisnya menusuk-nusuki tubuh boneka ltu, dadanya, lambungnya, pusarnya, punggungnya, kemudian lehernya dan kepalanya. Akan tetapi betapapun kuat ia menusuk, kerisnya tidak mampu menembusi tanah lempung yang tidak keras itu, seolah-olah tubuh boneka lempung itu berubah menjadi baja!

Endang Patibroto bergidik. Kalau terlambat sedikit saja ia pulang tadi, tentu suaminya sudah terkapar mati dengan tubuh mandi darah. Ia melihat kaki kanan dan lengan kiri boneka itu berlumur darah. Suaminya tentu menderita, akan tetapi alangkah gagah suaminya. Biarpun kaki dan tangan berdarah, namun tetap dapat menjaga tubuh di bagian berbahaya. Dapat ia bayangkan betapa suaminya menderita dan cemas.

"Setan keparat kau Panjirawit. Heh-heh-hih-hi-hik! Hanya kaki tanganmu saja yang tidak kebal, ya? Hendak kulihat bagaimana kalau darahmu habis keluar dari kaki tanganmu, akan kuhancur leburkan kaki tanganmu!" Tangan yang hanya tulang terbungkus kulit itu kini menghujamkan keras ke arah kaki kira boneka Panjirawit. Akan tetapi keris itu terhenti di tengah gerakan karena tangannya tertahan oleh sebuah tangan yang berkulit putih halus. Hidungnya mencium bau sedap harum dan tiba-tiba ada tangan putih halus lain lagi yang menyambar dan merampas boneka itu.

Wiku Kalawisesa terbelalak kaget dan mengangkat muka. Matanya yang tersembunyi dalam-dalam di rongga mata, memandang seolah-olah ia tidak percaya akan apa yang tampak olehnya. Seorang wanita cantik jelita sudah berdiri di depannya, boneka itu telah berada di tangan si wanita yang dengan tenang mencabuti beberapa helai rambut hitam yang menempel di kepala patung. Rambut suaminya. la memasukkan gumpalan rambut itu ke balik kemben, lalu menghancurkan patung dengan remasan tangannya sehingga berubah menjadi sekepal tanah lempung!

"Manusia berwatak iblis, tua bangka yang tidak mencari jalan terang, calon penderita di dasar neraka jahanam! Siapakah engkau wahai kakek yang lebih rendah daripada binatang, lebih keji daripada iblis?"

Biarpun suara Endang Patibroto halus, merdu, akan tetapi bagi kakek itu seperti menyambarnya guntur di siang hari!. Tahulah ia kini mengapa usahanya membunuh Pangeran Panjirawit gagal. Kiranya ada wanita sakti ini dan biarpun selama hidupnya ia belum pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto, namun ia dapat menduga dengan siapa ia berhadapan. Lalu meloncat bangun, gerakannya cepat dan tangkas tidak sesuai dengan tubuhnya yang lapuk.

"Engkaukah yang bernama Endang Patlbroto?" Gumamnya, matanya mendeilk mukanya terasa panas membakar karena memang wanita inilah yang dimusuhinya. Semua perbuatannya membunuhi para ponggawa itupun didasari rasa benci dan dendam kepada wanita ini.

Endang Patibroto tersenyum, senyum yang dingin yang sudah sepuluh tahun tak pernah membayang di bibirnya. Biasanya hanya untuk suaminya, senyum mesra dan hangat. Hampir ia lupa bagaimana ia tersenyum di waktu ia masih gadis dan menghadapi lawan yang sakti dan jahat. Kini otomatis senyum itu muncul di bibirnya. senyum yang membuat seorang seperti Wiku Kalawisesa saja sampai bergidik.

"Tidak salah seujung rambutpun dugaanmu, keparat tua bangka. Aku bukan pengecut macam engkau yang melempar batu sembunyi tangan melakukan pembunuhan-pembunuhan keji sambil bersembunyi. Akulah Endang Patibroto, isteri dari Pangeran Panjirawit yang kau usahakan kematiannya. Kau... Kau... si laknat pengotor jagad! Kau telah berani lancang tangan, menyerang suamiku secara keji. Hayo mengakulah siapa namamu, sebelum kujuwing-juwing (cabik-cabik) kulitmu, sebelum kupatahkan semua tulangmu, sebelum kuhancurkan kepalamu!"

Kini senyum dingin meninggalkan wajah ayu itu, berganti dengan warna merah membara, sepasang mata itu berkilat seperti mengeluarkan cahaya terang, lubang hidungnya mendengus seolah-olah keluar apinya. Teringat akan suaminya, kemarahan Endang Patibroto memuncak dan beginilah Endang Patibroto di kala gadisnya, di kala ia menjadi orang yang paling ditakuti seluruh kerajaan, di kala keris pusaka Ki Brojol Luwuk masih berada di tangannya. Kalau sudah begini, dia seolah-olah menjadi malaikat maut sendiri!

Wiku Kalawisesa bukan seorang yang lemah. Tidak, bahkan sebaliknya. Dia adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo yang dulu terkenal sakti mandraguna. Dia seorang tokoh dari India yang membawa datang banyak aji yang aneh-aneh, terutama sekali ilmu hitamnya. Maka ia lalu menggunakan, kekuatan batinnya untuk menekan rasa ngeri dan gentarnya. Biarpun ia bongkok, namun karena tubuhnya jangkung sekali, ia masih lebih tinggi daripada Endang Patibroto dan ketinggiannya ini ia pergunakan untuk memaksa hati memandang rendah lawan. Satu-satunya syarat bagi keampuhan ilmu hitam adalah perasaan lebih tinggl dan lebih kuat daripada lawan, jauh daripada rasa gentar.

"Heh-heh-hi-hi-hik! Babo-babo, Endang Pitibroto! Sumbarmu melebihi letusan Gunung Bromo! Kesombonganmu seolah-olah engkau dapat mencapai puncak Mahameru dan menyelam sampai di dasar Laut Kidul! Jangan kau mengira bahwa aku adalah sebangsa coro yang dapat kau perbuat sesukamu begitu saja, inilah lawanmu, Endang Patibroto, inilah Sang Wiku Kalawisesa yang sudah bertahun-tahun menanti saat ini untuk menyambut nyawamu dan membalas kematian adik seperguruanku Cekel Aksomolo. Hah-hah-hi-hikl"

Tangan kiri kakek itu bergerak menyambar sebatang tongkat yang tadi bersandar di dinding. Tongkat ini berwarna hitam, sebesar ibu jari, bengkak-bengkok dan butut, akan tetapi dari tongkat ini keluar pengaruh yang mengerikan. Tongkat bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat pusaka yang sudah ia rapal, yang sudah bertahun-tahun menerima hikmat sinar matahari dan bulan purnama, sudah bertahun-tahun ia menghisap pengaruh sakti dan hawa mujijat dari tempat-tempat angker dan kuburan-kuburan keramat!

Endang Patibroto menggangguk-angguk. Ia berdiri tegak, bertolak pinggang, sinar matanya tajam menyelidik, menyapu keadaan dalam pondok dan tahulah ia bahwa pendeta ini adalah seorang pemuja Bathara Kala. Maka ia berhati-hati, maklum bahwa pemuja Bathara Kala biasanya memiliki ilmu-ilmu yang mujijat dan sakti mandraguna. Gurunya dahulu pernah berpesan kepadanya agar hati-hati kalau bertemu dengan tokoh pemuja Bathara Kala.

"Arca Bathara Kala dapat mengeluarkan mujijat, muridku." demikian kata gurunya, "kalau dipuja secara setia berpuluh tahun, dapat kemasukan roh dan kesaktian Bathara Kala yang haus akan darah manusia, lapar akan daging manusia. Hancurkan lebih dahulu kesaktian arca ini, baru penyembahnya kehilangan sinar kesaktian yang menjadi dasarnya."

Teringat akan nasehat gurunya ini, besar hati Endang Patibroto. Ia tersenyum mengejek ketika menjawab. "Aehhh, kiranya engkau ini kakak seperguruan Cekel Aksomolo si Durna itu? Dan namamu Wiku Kalawisesa? Heh, wiku sesat ! Cekel Aksomolo adalah aku yang membunuhnya! Kalau engkau hendak membalaskan kematiannya, aku Endang Patibroto siap untuk menghadapi setiap saat. Kenapa engkau berlaku begini pengecut, menyerang suamiku? Dan kenapa pula engkau membunuh-bunuhi ponggawa Panjalu dan Jenggala??"

Wiku Kalawisesa amatlah cerdik dan banyak siasatnya. Karena cerdiknya, la amat berhati-hati dan harus mengakui bahwa menghadapi wanita ini, belum tentu ia akan menang. Kalau ia menang maka itulah yang dikehendakinya dan tidak akan ada urusan lagi. Akan tetapi kalau ia kalah dan tewas? Ia tidak takut mati, akan tetapi matinya akan mengandung mati penasaran karena tujuannya tidak tercapai. Dan mati penasaran akan membuat rohnya gentayangan tidak menentu. Karena itu ia harus mengatur siasat sebelumnya. Baik ia akan kalah atau menang, wanita musuh besarnya ini harus dlhancurkannya.

"Hoah-ha-ha-hah, bagaimana seorang perempuan muda yang bodoh macam engkau ini hendak menjagoi? Urusan yang terjadi di depan matamu saja engkau masih tidak mengerti, dan kau mengaku dirimu pintar?"

"Wiku sombong, aku memang bukan orang pintar, akan tetapi setidaknya bukan manusia pengecut sebodoh engkau sehingga berani kau mengganggu aku! Melihat adanya para korban yang terdiri dari ponggawa-ponggawa pilihan, tentu engkau bersekongkol dengan orang yang ingin melihat Kerajaan Jenggala dan Panjalu menjadi lemah. Nah, kau katakan siapa orangnya yang bersekongkol denganmu!"

Diam-diam kakek ini terkejut. Kiranya cerdik pula wanita ini, dapat menduga dengan tepat. la tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau kau sakti mandraguna, awas paningal, tahu akan segala rahasia alam, melihat akan segala yang tergelar di jagad raya, tentu engkau tak perlu bertanya-tanya lagi."

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 02