Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 27

Dan dia tadi berusaha menolong Joko dari dalam air! Ah, benar-benar ia telah salah sangka. Pemuda yang tampan dan halus gerak-geriknya itu kiranya memiliki ilmu kesaktian yang mungkin melebihi tingkat kepandaianya sendiri. Ayu Candra menggigit bibirnya menahan rasa jengah.

"Lihat, Ayu. Biar dia mandi dan minum air banyak-banyak menghilangkan laparnya!" teriak Joko Wandiro dan sekali melempar, tubuh harimau yang besar dan berat iiu melayang ke arah telaga dan terdengarlah suara menjebur ketika binatang itu terbanting kedalam air.

Harimau itu mengaum dan menggereng penuh kemarahan dan juga ketakutan. la meronta-ronta dan akhirnya berhasil juga berenang ke pinggir lalu mendarat dengan tubuh basah kuyup. Kelika Joko Wandiro meloncat ke depannya, harimau itu kembali menggereng dan tiba-tiba ia menyelinap ke kiri dan lari sambil menekuk ekornya kebawah di antara kedua kaki belakang.

Ayu Candra dan Joko Wandiro tertawa-tawa melihat harirnau itu lari ketakutan. Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti seketika dan pandang mata mereka terbelalak ditujukan ke arah tubuh harimau yang mendadak terjungkal dan rebah berkelojotan di atas tanah. Dengan beberapa kali loncatan, Ayu Candra dan Joko Wandiro sudah tiba di dekat harimau itu.

Keduanya makin terheran ketika melihat sebatang anak panah yang kecil pendek sudah menancap di antara kedua mata binatang itu yang kini berkelojotan dalam keadaan sekarat. Yang mengerikan adalah keadaan luka di mana anak panah itu menancap karena di sekitar tempal itu, ialah seluruh muka harimau, menjadi biru kehitaman tanda bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat!.

"Keji....!" Joko Wandiro berkata, masih tertegun.

Juga Ayu Candra marah sekali jelas bahwa harimau itu dikalahkan, bahkan ditaklukkan oleh Joko, diampuni dan dibiarkan lari. Akan tetapi ada orang lain yang mempergunakan kesempatan itu untuk membunuh binatang ini secara curang dan kejam sekali. la mencari-cari ke arah dari mana datangnya anak panah dan ketika ia menengadahkan mukanya, ia melihat seorang wanita berdiri di atas cabang pohon yang tinggi. Wanita yang berpakaian indah dan mewah, dengan hiasan terbuat daripada emas permata pada pergelangan tangan, lengan, leher dan rambut.

Wanita itu masih muda, sebaya dengan dirinya, amat cantik dan tersenyum-senyum penuh ejekan memandang ke bawah. Sejenak Ayu Candra tertegun dan kagum, akan tetapi ketika melihat betapa kedua tangan wanita itu memegang beberapa batang anak panah kecil yang sebentuk dengan anak panah yang menancap di kepala harimau, timbul kemarahannya.

"lblis betina yang curang!" bentaknya sambil menudingkan telunjuk ke arah wanita di atas pohon itu.

"Lihat, Joko! Dialah yang membunuh harimau secara curang!" Ketika Ayu Candra menoleh ke belakang, ia melihat Joko berdiri dan terbelalak memandang ke arah wanita cantik itu.

Pandang mata penuh kagum, kaget, dan heran. Ketika ia mengalihkan pandang ke atas, ia melihat wanita cantik itupun memandang ke arah Joko dengan mulut tersenyum! Rasa panas yang aneh menyelinap dan membakar dada Ayu Candra.

"lblis betina yang curang! Kau pengecut sekali, tanpa alasan membunuh harimau secara curang!" ia makin marah dan menghardik ke atas.

Wanita itu memperlebar senyumnya lalu menjawab, suaranya halus lunak dan merdu,
"Bocah dusun, mengapa kau banyak tingkah? Aku sedang berkuda, mendadak harimau ini menggereng-gereng keras mengagetkan kudaku yang tidak mau berjalan tenang lagi. Aku datang dan menghukum harimau itu, dan kau masih bilang tanpa alasan?"

"Keparat, kau sombong sekali! Harimau ini memang tempatnya di hutan. Kau ini wanita sombong mau apa berkeliaran di sini, mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian bermain curang membunuhi binatang hutan?" Ayu Candra makin marah karena dilihatnya Joko masih diam saja seperti orang terkena pesona, menengadah memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap.

"Turunlah kalau kau berani! Atau aku harus menyeretmu turun...?" Ayu Candra berteriak marah.

"Ayu...jangan....! Eh, awas senjata...!!"

Joko Wandiro berseru keras ketika melihat berkelebatnya tiga sinar ke arah dirinya dan tiga sinar lagi ke arah Ayu Candra. Ia cepat menggunakan tenaga saktinya, memutar tangan dengan jari-jari terbuka, memukul runtuh tiga batang anak panah itu dengan hawa pukulannya, dan melanjutkan gerakannya untuk menolong Ayu Candra. Ia berhasil meruntuhkan sebatang anak panah lagi dan Ayu Candra sendiri berhasil mengelak dari sambaran sebatang anak panah, akan tetapi anak panah yang terakhir menyambar, tak dapat dielakkannya dan karena ia berdiri agak jauh dari Joko Wandiro, pemuda inipun tidak sempat menyelamatkannya.

"bles!"

Anak panah itu menancap di dada kanan Ayu Candra yang mengeluarkan suara rintihan dan terguling roboh!

"Ayu!"

Joko Wandiro berseru kaget. la menoleh dan melihat wanita cantik itu melayang turun dengan gerakan ringan seperti seekor burung, kemudian mulut yang selalu tersenyum manis itu mengeluarkan suara mencemooh dan sekali berkelebat, wanita itu lenyap. Kemudian terdengar suara derap kaki kuda pergi menjauh. Rasa penasaran hampir saja membuat Joko Wandiro meninggalkan Ayu Candra untuk mengejar dan memberi hajaran kepada wanita cantik itu. Akan tetapi pada saat itu Ayu Candra merintih-rintih dan ia cepat menghampiri dan berlutut. Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa anak panah itu menancap di dada dan betapa di sekitar kepala anak panah itu kulit yang tadinya putih kuning tampak menghitam. Anak panah beracun!

Masih untung bahwa Ayu Candra bukan seorang wanita biasa. Ketika tadi mengelak kemudian melihat bahwa sebatang anak panah tak mungkin dielakkan, ia mengerahkan tenaga dalam dan hal ini membuat anak panah itu menancap hanya sampai di kepala anak panah saja, tidak terlalu dalam. Namun cukup membahayakan keselamatan nyawanya karena racun di ujung anak panah mulai bekerja.

"Ayu, diamlah saja jangan bergerak, dan maafkan aku. Ini demi keselamatan nyawamu, Ayu."

Tanpa meragu lagi, Joko Wandiro membalikkan tubuh Ayu Candra sehingga terlentang, kemudian sekali mengerahkan tenaga ia mencabut keluar anak panah itu. Darah yang hitam mengalir keluar dari luka di dada. Joko Wandiro lalu mengerahkan tenaga dalam, menyalurkan hawa sakti. Kemudian menunduk. Ia harus mengerahkan kekuatan batin seluruhnya, bukan hanya untuk pengobatan, melainkan terutama sekali untuk menekan guncangan hatinya.

Terpaksa ia meramkan mata untuk mengusir bayangan dada yang membusung, kulit yang halus putih ketika ia menempelkan bibirnya pada luka menghitam itu. Dengan mengerahkan tenaga ia menyedot luka itu, menyedot terus sampai darah hitam memenuhi mulutnya. Ia melepaskan mukanya dan meludahkan darah hitam itu keluar. Ketika ia hendak menempelkan mukanya lagi, tiba-tiba Ayu Candra menampar pipinya.

"Plakk.........!!"

Berkunang pandang mata Joko Wandiro. Pipi yang ditampar terasa berdenyut-denyut panas. Ketika ia menatap wajah dara itu, ia melihat Ayu Candra menjadi merah sekali kedua pipinya dan dua butir air mata menitik turun. Ia tidak perduli. Luka itu belum bersih betul dari racun. Dengan nekat Joko Wandiro kembali menempelkan mukanya pada dada, mulutnya menyedot luka. Ia merasa betapa tubuh dara itu meronta, mendengar suara dara itu mengeluh dan merintih, akan tetapi ia tidak perduli. Ia cukup maklum betapa keadaan ini amat janggal, betapa perbuatan ini merupakan pelanggaran susila yang hebat, tetapi Apa artinya pelanggaran itu kalau dipikirkan betapa keselamatan nyawa dara ini terancam hebat? Kembali ia meludahkan darah dari dalam mulutnya. Hatinya lega melihat warna hitam di sekitar luka itu telah menipis, tinggal warna hijau.

"Sekali lagi cukup" katanya perlahan dan kembali ia menunduk.

"Plakk....!!"

Tamparan di pipi kirinya lebih keras daripada tadi, sampai terasa nanar kepalanya. Kini air mata di kedua pipi dara itu makin banyak. Joko Wandiro maklum akan perasaan dara itu namun keyakinan bahwa Apa yang ia lakukan itu berlandaskan kebenaran dan usaha menolong, ia tidak perduli, terus saja ia membenamkan muka pada dada yang lembut dan menempelkan mulut pada luka, lalu menghisap. Baru sekarang setelah perasaannya tidak tercekam kegelisahan lagi, ia merasa betapa lembut dada itu, dan jantungnya berdebar seperti hendak meledak.

Tiba-tiba ia merasa betapa kedua tangan gadis itu mencengkeram rambut di kepalanya, menjambak-jambak dan betapa Ayu Candra menangis terisak-isak. la melepaskan mukanya dan ketika ia menyemburkan darah dari mulutnya, darah itu sudah banyak yang merah. Ia memandang ke arah luka. Tidak ada warna hijau lagi dan darah mulai mengalir keluar. Bahaya sudah lewat. Akan tetapi Ayu Candra menangis tersedu-sedu, bangkit duduk dan menyembunyikan muka di belakang kedua tangan, pundaknya berguncang-guncang, tangisnya tersedu-sedu.

"Ayu, kenapa kau menangis? Kau sudah bebas daripada bahaya maut. Diamlah, Ayu, mengapa kau begini berduka?"

Dara itu tidak menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi, sampai mengguguk sehingga Joko Wandiro menjadi bingung sekali. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak dara itu dan berkata lagi,

"Ayu, aku mengaku salah. Aku...aku telah berlaku amat tidak sopan. Kau maafkanlah aku, Ayu. Tadipun sebelumnya aku sudah minta maaf. Sekarang, aku minta maaf lagi dan kalau kau mau melampiaskan kemarahanmu, kau pukullah aku, kau bunuhlah aku."

Ayu Candra tiba-tiba menghentikan tangisnya, mengangkat muka dari balik telapak tangan. Mukanya masih merah padam, akan tetapi basah air mata. Hanya sebentar saja ia berani bertentang pandang dengan Joko Wandiro karena ia segera menundukkan muka seperti orang yang merasa malu. Bibirnya bergerak perlahan, berbisik lirih,

"Mengapa kau lakukan itu?"

"Mengapa? Tentu saja untuk menolongmu, Ayu. Kaupun maklum bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat. Karena tidak mungkin mendapatkan obat yang bisa cepat menyedot racun, jalan satu-satunya terpaksa harus menyedotnya langsung dengan mulut untuk mengeluarkan racunnya. Memang aku lancang....kurang ajar, tapi....kau maafkanlah aku, aku terpaksa"

"Tidak Apa, bukan itu. Yang kumaksud, kenapa kau menolongku dan rela melakukan hal semacam itu? Kenapa?"

Joko Wandiro bingung. "Kenapa aku menolongmu? Ah, Ayu, aku harus menolongmu, biar apapun akibatnya. Andaikata aku akan kehilangan nyawa untuk menolongmu, aku rela."

Kembali Ayu Candra mengangkat muka memandang, kini amat tajam pandangannya, penuh selidik. "Kenapa begitu? Mengapa kau rela berkorban nyawa untukku? Kita baru saja bertemu, kita bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang. Kenapa kau rela berkorban nyawa untukku?"

Joko Wandiro merasa terpojok. lapun memeras otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sama, yang mengaduk hatinya. Memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang pendekar untuk menolong sesamanya. Hal ini sudah ia janjikan kepada gurunya. Akan tetapi, mengapa terhadap gadis ini landasan itu berubah? Tidak sekedar sebagai kewajiban lagi, bahkan agaknya ia, akan rela mati berkorban nyawa untuk gadis ini. Mengapa?

"Karena....karena aku tidak ingin melihat kau mati, Ayu. Dan karena bagiku kau bukanlah seorang yang baru saja kukenal. Bagiku, kau seakan-akan sudah selama hidupku kukenal baik, bahkan lebih dari itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa begini, Ayu, Semenjak pertemuan kita tadi, aku tidak dapat menguasai hatiku sehingga aku melakukan hal-hal yang tidak patut. Sudah mengintaimu, mengikutimu secara diam-diam sampai-sampai menimbulkan kemarahanmu. Aku sendiri tidak mengerti, Ayu. Selama hidupku baru kali ini aku mengalami hal aneh seperti ini. Agaknya...kalau menurut dongeng....dalam kelahiran dahulu, agaknya kita sudah saling mengenal, tidak asing lagi. Aku malah ingin bertanya kepadamu mengaku kau berhal seperti ini, Ayu Candra."

Dara itu menundukkan mukanya, menyembunyikan senyum! Senyum yang mekar dari hati penuh kebungahan. Ia sendiripun tidak mengerti mengapa hatinya menjadi begini bungah mendengar ucapan pemuda itu. Sedangkan perasaannya sendiri yang aneh ia tidak dapat mengerti artinya, apalagi keadaan pemuda itu. Ia hanya tahu bahwa ia senang sekali dekat dengan pemuda ini, dan bahwa tadi, biarpun ia merasa amat malu dan marah, namun di balik itu ia merasakan kebahagiaan yang amat aneh dalam hatinya.

"Joko...."

la sendiri kaget mengapa mulutnya memanggil nama ini. Ia tidak bermaksud memanggil, akan tetapi sebutan dalam hatinya ini menyundul sampai ke mulutnya.

"Ya... Ada Apa, Ayu?"

"Ahh...! tidak ada apa-apa, Joko. Eh, maksudku, kau baik sekali dan aku berterima kasih atas pertolonganmu tadi. Kau telah menyelamatkan nyawaku, Joko."

Girang bukan main hati Joko Wandiro. Dara ini ternyata benar seorang yang amat baik hatinya, tidak seperti yang kadang-kadang ingin diperlihatkannya. Saking girang hatinya, ia memegang gadis itu, memegang kedua tangannya.

"Bukan aku yang baik, Ayu, melainkan engkau. Aku hanya membalas, ingat? Kaulah yang pertama-tama nekat berusaha menyelamatkan nyawaku dari dalam air. Kaulah seorang yang berhati mulia, Ayu."

"Ahh, kau hanya pura-pura tenggelam."

"Betapapun juga, kau mengira aku benar-benar akan mati tenggelam dan kau telah terjun menolongku. Apa bedanya? Aku yang berterima kasih kepadamu."

Sejenak kedua orang remaja itu berdiri dan saling berpegang tangan. Jari-jari tangan mereka saling menggenggam. Hati mereka berdebar aneh penuh kebahagiaan. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu, tidak tahu Apa artinya perasaan yang menerbangkan semangat mereka ke angkasa ini. Namun jari-jari tangan mereka, digerakkan oleh perasaan halus, lebih tahu. Jari-jari tangan mereka membelai mesra, saling mencurahkan rasa kasih asmara.

Akan tetapi hanya sebentar. Kewanitaannya membuat Ayu Candra melepaskan kedua tangannya karena jengah. Mukanya merah sekali, matanya bersinar-sinar, akan tetapi pandang matanya tidak berani langsung menatap wajah Joko Wandiro. Untuk menenangkan dada yang berdebar-debar ia mengalihkan perhatian.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Joko, siapakah wanita tadi?"

"Entahlah, aku tidak tahu, sungguhpun serasa pernah aku melihatnya, akan tetapi entah di mana."

"Dia cantik sekali."

"Hemmm, agaknya dia berkepandaian hebat, melihat cara ia melayang turun dari pohon. Cara dia melepaskan anak panah tanpa busur, benar-benar membutuhkan tenaga yang hebat. Akan tetapi ia kejam."

"Dia cantik sekali," Ayu Candra mengulang.

"Memang cantik dia."

"Lebih cantik daripada aku."

"Lebih cantik daripada engkau? memang, pakaiannya lebih cantik, lebih mewah, akan tetapi orangnya....hemmm, tiada bidadari kahyangan, apalagi manusia biasa, yang menandingi kecantikanmu, Ayu."

Makin merah wajah dara itu, sampai ke leher dan daun telinganya. Akan tetapi giginya berkilat putih di balik bibirnya.

"Bisa saja kau memuji."

"Bukan memuji, melainkan bicara sebenarnya. Dia memang cantik dan kepandaiannya hebat. Hal itu tidak ada artinya. Yang mengkhawatirkan, ia amat kejam dan entah mengapa dia memusuhi kita."

"Karena harimau."

"Bukan, Ayu. Tidak mungkin kalau hanya karena harimau tadi ia melepas anak panah untuk membunuh kita. Aku khawatir sekali kalau-kalau ia akan datang kembali ke sini dan mengganggumu. Kau katakan tadi bahwa ayah bundamu sedang bepergian, bukan?"

"Kalau begitu engkau jangan pergi dulu, Joko. Kau temani aku sampai ayah bundaku pulang."

Di balik kata-kata ini ada harapan di hati Ayu Candra agar pemuda ini berkenalan dengan ayah bundanya!. Joko Wandiro mengangguk-angguk.

"Baiklah, Ayu. Akan tetapi karena engkau hanya seorang diri di pondok, tidak baik kalau aku bermalam di pondokmu. Biarlah aku tinggal di luar pondokmu, menjaga kalau-kalau wanita kejam itu datang kembali."

"Apa engkau mampu melawan dia? Tidak kusangka kau seorang yang sakti, Joko. Kalau kubayangkan betapa tadi kusangka kau seorang...." Dia menutupi mulut menahan tawa. "seorang gendeng dan berpenyakit ayan...!"

"Kau bocah nakal bukan orang sakti, bukan pula gendeng atau ayan, akan tetapi sedikit-sedikit aku mengerti bagaimana caranya menghadapi orang jahat."

Ketika mereka berjalan menuju ke pondok Ayu Candra, kadang-kadang tangan Joko Wandiro menggandeng tangan dara itu. Mula-mula tangan dara itu gemetar, akan tetapi tak lama kemudian, tangan itu menjadi hangat dan mereka bergandengan tangan sambil bercakap-cakap. Ketika Ayu Candra bercerita tentang laki-laki buntung, Joko Wandiro mengerutkan keningnya, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu. Setelah tiba di depan pondok, dari jauh mereka melihat laki-laki buntung duduk di atas bangku depan pondok. Mereka saling melepaskan gandengan tangan.

"Ayu Candra! Kalau ayah bundamu mendengar, bahwa engkau bermain-main dengan seorang pria muda, tentu mereka akan menjadi marah sekali!"

Ayu Candra terkejut mendengar teguran ini. Dan ia merasa heran pula mengapa laki-laki buntung itu kelihatan begitu marah. Menurutkan suara hatinya, ia membentak laki-laki buntung itu, ingin mengatakan agar laki-laki itu tidak mencampuri urusannya. Akan tetapi mengingat bahwa laki-laki itu sudah tua dan buntung pula kedua kakinya, ia hanya menjawab dengan mata bersinar marah,

"Paman Jatoko, dia ini adalah seorang sahabat baruku yang telah menolongku dari maut. Namanya Joko, dan dia akan menemaniku di sini sampai ayah ibuku pulang."

Dalam ucapan yang sifatnya memberi keterangan ini terkandung tantangan dan penandasan bahwa dialah pemilik pondok dan dia pula yang berhak menentukan apa yang akan dibuatnya. Mendadak sikap Ki Jatoko berubah. Lenyap sinar matanya yang marah, lenyap pula sikapnya yang keras dan kaku. Mulutnya kini tersenyum dan Joko Wandiro mendadak merasa kasihan. Muka yang buruk itu makin jelek kalau tersenyum, Laki-laki yang malang, pikirnya.

"Ahh, lain lagi kalau begitu! Ada terjadi apakah? Aku tadipun mendengar suara harimau menggereng-gereng marah. Saking takut aku tadi masuk ke pondok bersembunyi. Apakah kalian diserang harimau?"

Ayu Candra lalu menceritakan pengalaman mereka. Tentu saja ia tidak bercerita tentang anggapannya semula bahwa Joko adalah seorang gila atau ayan. Ia menceritakan betapa mereka diserang harimau dan betapa Joko telah mengalahkan harimau itu. Ia bercerita pula tentang munculnya wanita keji yang membunuh harimau dan berusaha membunuh mereka pula, dan tentang dirinya yang terkena anak panah, sehingga hampir saja nyawanya melayang.

"Aduh kau terpanah? Ah, kulihat dadamu itu...di situkah yang terpanah?" Ki Jatoko membelalakkan kedua matanya, kelihatan terkejut dan khawatir sekali.

"Betul, paman. Akan tetapi sekarang sudah sembuh."

Ki Jatoko memandang ke arah Joko Wandiro penuh selidik. "Kalau wanita itu demikian jahat dan kau hendak melindungi Ayu Candra, hal itu adalah baik sekali. Biarlah aku berganti tempat, kalau malam aku tidur di bilik belakang dan kau boleh tidur di bangku ini, orang muda."

Joko Wandiro menggeleng kepalanya. "Tidak usah, paman. Biarlah saya akan mencari tempat di luar untuk mengaso. Saya tidak mau mengganggu Ayu dan paman."

"Sesukamulah! Ayu Candra, biarkan hari ini aku yang masak. Aku sudah menanak nasi dan tadi kebetulan sekali ada seekor kelinci yang kudapati terluka dan tidak bisa lari. Mungkin terluka oleh harimau tadi. Aku akan memasaknya."

Tanpa menanti jawaban, Ki Jatoko turun dari bangku dan berjalan terbongkok-bongkok dan sukar sekali ke samping pondok, diikuti pandang mata Joko Wandiro dengan kening berkerut.

"Ayu," bisiknya, "kau berhati-hatilah terhadap dia...... "

"Apa?!" Ayu Candra juga berbisik, wajahnya terheran, "dia seorang tapadaksa, orang yang lemah dan patut dikasihani"

"Ssttt, aku melihat sesuatu yang tak menyenangkan akan dirinya. Aku tidak percaya kepadanya. Kau berhati-hatilah, Ayu."

"Tapi" Melihat wajah Joko Wandiro yang bersungguh-sungguh, Ayu Chandra tidak mau membantah lagi. "Baiklah, Joko, akan kuperhatikan pesanmu. Akan tetapi.... engkau hendak bermalam di mana?"

Pemuda itu tersenyum. "Mudah bagiku. Kalau perlu biar di atas pohon dekat pondokmu, agar lebih mudah aku menjaga keselamatanmu."

Ayu Candra menyentuh tangan Joko Wandiro yang segera menggenggam tangan yang.kecil hangat itu.

"Engkau baik sekali kepadaku, Joko."

"Aku harus baik kepadamu, Ayu. Harus, dan selamanya."

"Siapa mengharuskan?"

"Hatiku."

"lhh, bicaramu aneh sekali, tapi...tapi...hatiku sendiripun mengharuskan aku berbaik dan tunduk kepadamu, Joko."

Kembali kedua tangan itu saling genggam ketika mereka bercakap-cakap sambil berbisik dan baru mereka saling menjauhkan diri ketika Ki Jatoko berteriak memanggil mereka, mengundang mereka untuk makan.

********************


Sia-sia saja Ki Adibroto membujuk-bujuk isterinya agar suka membatalkan niatnya mencari Pujo untuk membalas dendam. Ia sudah berusaha sekuatnya dan melakukan perjaianan secara memutar, tidak langsung menuju ke Sungapan Kali Progo. Dengan dalih mencari sabahat baiknya, ia bahkan mengajak isterinya menyimpang ke kaki Gunung Merbabu untuk mengunjungi Ki Darmobroto, saudara seperguruannya dan sahabat baiknya yang tinggai di dusun kecil.

Perjumpaan dengan kakak seperguruannya ini amat menggembirakan, apalagi ketika Ki Adibroto melihat putera tunggal sahabatnya itu. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan gagah, bersikap halus dan berkulit putih bersih. Karena kulitnya yang putih sejak lahir itulah maka oleh ayahnya diberi nama Joko Seta. Sebagai seorang putera tunggal yang teiah kehilangan ibunya semenjak kecii, Joko Seta mewarisi ilmu kepandaian ayahnya dan biarpun masih muda, ia merupakan seorang yang sakti mandraguna. Melihat pemuda ini, timbullah rasa suka dalam hati Ki Adibroto dan dengan persetujuan isterinya pula, ia lalu mengajukan usul kepada Ki Darmobroto untuk berbesanan.

Ki Darmobroto menerima usul ini dengan penuh kegembiraan. Biarpun ia menjadi saudara seperguruan yang lebih tua, namun ia sudah cukup tahu akan sepak terjang adik seperguruannya yang mengagumkan, sudah mengenal watak adik seperguruannya ini sebagai seorang pendekar besar yang sakti. Kacang tidak akan meninggalkan lanjarannya, demikian ia berpendapat. Ayahnya seorang pendekar, puterinyapun tentu seorang yang berbudi.

Adapun Joko Seta adalah seorang putera yang amat berbakti dan patuh kepada ayahnya. Di lubuk hatinya memang ia kurang puas menerima keputusan itu, menjodohkan dengan seorang dara yang sama sekali belum pernah ia melihatnya. Akan tetapi maklum bahwa penolakannya akan menyusahkan hati ayahnya, maka ia menerima dengan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya. Demikianlah, ikatan perjodohan itu diresmikan oleh kedua orang tua.

Penyimpangan perjalanan ini tidak membuat Listyokumolo berubah niat hatinya. Setelah meninggalkan rumah calon besan itu, ia lalu mengajak suaminya melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, yaitu ke Bayuwismo, bekas tempat tinggal Resi Bhargowo yang diduga menjadi tempat tinggal Pujo dan isterinya sekarang. Sambil menghela napas Ki Adibroto terpaksa meluluskan kehendak isterinya dengari hati penuh kekhawatiran. Dalam percakapannya dengan Ki Darmobroto, ia telah menyinggung tentang Pujo yang dicari-cari isterinya itu dan Apa kata calon besan itu tentang diri Pujo?

"Aku mengenal baik paman Resi Bhargowo dan aku pernah bertemu satu kali dengan adimas Pujo, murid dan mantunya yang gagah perkasa, pendekar yang menjunjung kebenaran dan keadilan."

Jawaban Ki Darmobroto itu menambah kedukaan hati Ki Adibroto. Tepat seperti yang telah diduganya dan ditakutinya. Pujo adalah seorang satria yang perkasa dan tentang permusuhan Itu, tak salah lagi tentulah bekas suami isterinya, Wisangjiwo, yang memulainya. Betapapun juga, ia merasa tidak setuju dengan sepak terjang Pujo dalam membalas dendam. Kalau Wisangjiwo yang bersalah terhadap pendekar itu, kenapa Pujo membalasnya kepada Listyokumolo dan puteranya yang sama sekali tidak berdosa? Dengan modal pendapat inilah maka ia mengikuti isterinya menuju ke Bayuwismo. Ia hanya akan melihat dan mendengar dan siap membela isterinya daripada marabahaya dan mencegah isterinya melakukan sesuatu yang melanggar kebenaran.

Menjelang senja mereka tiba di Sungapan. Dan kebetulan sekali mereka berdua melihat Pujo berdiri seorang diri di pinggir hutan kering di dekat pantai, di lembah sungai yang menumpahkan airnya ke laut. Begitu melihat laki-laki itu, Listyokumolo segera mengenalnya. Wajahnya menjadi merah, sinar matanya berapi dan ia mendesis.

"Itulah dia, si keparat Pujo!" Hampir ia berlari menuju ke tempat musuh besarnya berdiri. Namun suaminya sudah memegang lengannya dan berbisik,

"Kau bersikaplah tenang, isteriku. Jangan dibikin mabuk oleh nafsu dendam. Kau boleh menemuinya dan bertanyalah secara baik-baik, tegurlah ia akan perbuatannya yang lalu dan tanyakan di mana adanya puteramu. Jangan bertindak terburu nafsu, dan apabila puteramu dalam keadaan baik, kurasa tidak perlu kau melanjutkan permusuhan ini. Aku akan tinggal di sini dan mengamat-amati dari sini, karena aku merasa tidak enak kalau mencampuri urusan ini."

Listyokumolo mengangguk kemudian meninggalkan suaminya yang bersembunyi di balik gerombolan pandan itu. Dengan hati berdebar dan tangan menggigil saking menahan gelora hatinya, wanita itu berlari cepat menghampiri Pujo yang tengah berdiri melamun seorang diri. Pondok kecil di pinggir laut tampak puluhan meter dari tempat itu dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi. Pria itu memang Pujo adanya. Beberapa tahun sudah ia tinggal di Bayuwismo, hidup penuh kebahagiaan dengan kedua orang isterinya, yaitu Kartikosari dan Roro Luhito.

Dua orang wanita ini seakan berlumba dalam pencurahan cinta kasih yang mendalam terhadap dirinya sehingga Pujo merupakan seorang pria yang amat bahagia dalam hal ini. Akan tetapi, kadang-kadang ia suka termenung kalau berada sendirian, teringat akan puterinya yang tak pernah dilihatnya, yaitu Endang Patibroto. Kalau teringat akan hal ini, penyesalan memenuhi hatinya, menghambarkan semua kebahagiaan hidupnya. Ia merasa amat rindu kepada puterinya, anak tunggal yang tidak pernah ia lihat itu.

Memang ada hal yang mengurangi kedukaan dan penyesalan ini yaitu bahwa kini kedua orang isterinya sedang mengandung! Sekaligus ia akan mendapatkan pengganti puterinya yang hilang sebanyak dua orang anak. Akan tetapi, betapapun juga, ia masih sangat ingin bertemu dengan puterinya yang hilang. Apalagi kalau ia ingat betapa Kartikosari sering kali menangis sedih apabila teringat akan Endang Patibroto.

Teringat akan ini, hati Pujo merasa perih dan membuat ia teringat akan semua sepak terjangnya yang lalu. Kalau sudah begitu, timbullah penyesalan besar di dalam hatinya. Teringatlah ia akan Wisangjiwo yang disangkanya menjadi musuh besarnya. Teringatlah ia betapa nafsu dendam membuat ia seperti gila, membuat ia mengamuk di Kadipaten Selopenangkep, membunuhi orang tak berdosa, bahkan telah menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya. Teringat akan keadaan isteri Wisangjiwo yang menjadi gila karena perbuatannya itu sehingga wanita yang malang nasibnya itu dipulangkan ke desanya, kemudian bahkan dibawa lari perampok. Semua ini gara-gara perbuatannya yang didorong nafsu dendam yang menggila.

"Ah, agaknya hilangnya puteriku merupakan hukuman bagi perbuatanku itu. Beginilah rasanya kehilangan anak, dan aku telah merenggut Joko Wandiro dari tangan dan hati ayah bundanya! Hukum karma, tepat seperti yang dikatakan bapa Resi Bhargowo. Semoga Dewata sudi mengampuni dosaku dan anakku dalam keadaan aman sentosa "

Demikianlah pada senja hari itu ia melamun dan menyesali perbuatannya. Tiba-tiba Pujo meloncat dan memutar tubuhnya membalik. Biarpun gerakan di sebelah belakangnya itu perlahan sekali, namun sebagai seorang sakti ia telah dapat mendengarnya. Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik telah berdiri di situ, menentangnya dengan pandang mata penuh kebencian dan kemarahan serta memegang sebatang keris yang mengeluarkan sinar, sebuah keris pusaka! Akan tetapi, pendekar sakti ini segera dapat menenangkan hatinya dan dengan sabar dan tenang ia bertanya,

"Siapakah andika dan apakah kehen..."

"Pujo! Sudah butakah matamu sehingga kau tidak mengenal aku? Ataukah engkau pura-pura tidak mengenal? Lupakah kau akan peristiwa di Gua Siluman delapan belas tahun yang lalu?"

Wanita itu membentak dan memotong pertanyaannya. Kini Pujo benar-benar kaget sekali. la mengenal suara ini, mengenal pula sekarang wajah ini dan ia benar-benar terkejut bukan main. Kedua matanya terbelalak dan ia berdiri bagaikah arca, bibirnya bergerak,

"Andika....Listyokumolo....??" Ia masih belum percaya akan dugaan ini dan memandang dengan penuh keheranan.

Listyokumolo tersenyum mengejek, dan tangan yang memegang keris itu gemetar. "Bagus, engkau masih ingat kepadaku. Aku datang untuk menuntut balas, untuk minta pertanggungan jawabmu atas kekejian yang kau lakukan delapan belas tahun yang lalu! Hayo katakan di mana kau kubur anakku? Kau tentu telah membunuh Joko Wandiro!"

Seketika lemas kedua lutut Pujo ketika mendapatkan kenyataan bahwa wanita ini memang betul Listyokumolo. Wanita inilah yang selama ini ia bayangkan, menjadi pengganggu kebahagiaan hidupnya karena ia merasa berdosa kepada wanita ini. Sekarang wanita ini datang. Dia ibu Joko Wandiro, muridnya! Melihat sinar mata penuh kebencian, penuh dendam dan kedukaan, tak tertahankan lagi Pujo menjatuhkan diri berlutut. Sejenak ia merasa kepalanya pening dan ia menutupi muka dengan kedua tangannya. Alangkah besar dosanya kepada wanita ini, wanita yang tidak berdosa sama sekali. Ia telah merenggut semua kebahagiaan hidup wanita ini, merampas puteranya, membuat ia menjadi gila sehingga terpisah pula dari suami.

Kehidupan wanita ini telah hancur lebur, semua karena akibat perbuatannya. Dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu telah membuat ia gila, membuat ia menumpahkan dendamnya kepada wanita tak berdosa ini. Alangkah kejamnya ia. Alangkah menyesal hatinya sekarang, apalagi kalau dia ingat bahwa dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu itu salah alamat! Dosanya kepada wanita ini adalah dosa tak berampun. Ia telah merusak kehidupan Listyokumolo, merusak sehingga tak dapat diperbaikinya kembali.

"Aku berdosa....aku mengaku bersalah. Aku telah menjadi gila dan buta oleh dendam kepada suamimu, dendam yang salah alamat pula. Engkau sudah datang, engkau berhak menuntut balas. Aku menerima segala pembalasanmu. Akan tetapi, percayalah, puteramu Joko Wandiro tidak kubunuh. Dia kupelihara baik-baik, bahkan menjadi puteraku, menjadi muridku. Kini ia menjadi murid Ki Patih Narotama "

"Bohong! Pengecut kau! Inikah seorang satria? Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, tidak berani mengaku. Aku tak percaya omonganmu! Kalau Joko Wandiro masih hidup, tentu dia sudah mencari ibu kandungnya "

"Aku sengaja tidak menceritakan kepadanya tentang ibu kandungnya, baru akhir-akhir ini ia tahu dan aku mendengar kau diculik perampok dan suamimu kakangmas Wisangjiwo telah gugur dalam perang " Suara Pujo terisak menahan getaran perasaannya yang penuh penyesalan dan iba kepada wanita di depannya itu.

"Huh, siapa percaya obrolanmu? Kau kemukakan ini semua karena kau takut akan pembalasanku. Kau takut menebus dosa-dosamu, pengecut!"

Pujo bangkit berdiri, mukanya menjadi pucat sekali. "Tentu kau tidak mau percaya kepadaku, orang yang telah melakukan perbuatan keji terhadap dirimu, terhadap puteramu. Listyokumolo, sudah kukatakan tadi, aku bersalah dan aku menerima kesalahanku. Aku tidak akan mundur untuk menghadapi hukumanmu, tidak akan gentar untuk menerima pembalasanmu. Nah, lakukanlah niat yang sudah membayang di matamu, aku takkan melawan!" Pujo memasang dadanya dengan penuh penyerahan karena ia merasa akan dosanya yang hebat terhadap wanita ini.

"Kau telah merusak hidupku, kau telah membunuh puteraku. Rasakan pembalasanku ini!" Listyokumolo menggerakkan tangan kanannya menusuk. Pujo tidak mau melawan dan sengaja memasang tubuhnya.

"Blesss........!!"

Keris pusaka itu nancap di lambung Pujo sampai ke gagangnya! Biarpun Listyokumolo seperti gila oleh dendam, dan belasan tahun ia digembleng suaminya dengan ilmu kesaktian, akan tetapi ia bukanlah seorang wanita kejam dan belum pernah selama hidupnya ia membunuh orang. Kini merasa betapa lambung itu dengan mudah tertusuk kerisnya, tangannya menggigil dan ia meloncat mundur dengan muka pucat. Ia menggunakan tangan menutup mulutnya yang hendak menjerit ketika ia melihat Pujo terhuyung-huyung ke belakang sambil memegang lambung yang ditancapi keris sampai ke gagangnya. Pujo tersenyum. Lenyaplah sekarang perasaan sesalnya. Ia telah menebus dosa yang selama ini menyelubungi dan menggelapkan kebahagiaan hidupnya!

"Sudah tertebus....!" Ia menggumam lalu terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya roboh terduduk di atas rumput.

"Aku aku tidak bohong....Joko Wandiro masih hidup dia di lereng Gunung Bekel" ia masih berusaha untuk memberi keterangan.

"Kakangmas Pujo........!!"

Mendengar jerit melengking ini Listyokumolo terkejut dan mengangkat mukanya memandang dua orang wanita yang datang berlari-lari secepat terbang. Matanya terbelalak ketika ia mengenal bahwa seorang dl antara dua wanita cantlk itu bukan lain adalah Roro Luhito, bekas adik iparnya. Dan lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melihat Roro Luhito menubruk Pujo yang duduk bersandar pohon, memeluknya dan menangis. Tiba-tiba Listyokumolo meloncat ke samping, menghindarkan diri daripada terjangan wanita ke dua yang amat hebat.

"Kau...wanita Iblis....kau berani melukai suamiku?" teriak wanita itu yang bukan lain adalah Kartikosari.

Mendengar bentakan ini, Roro Luhito agaknya baru sadar bahwa musuh yang melukai suaminya masih berada di situ. Sekali tubuhnya bergerak, ia telah meloncat dan berhadapan dengan Listyokumolo.

"Kau...?!? Kangmbok Listyo!"

Tentu saja Roro Luhito terkejut bukan main setelah mengenal wanita yang masih berdiri bingung itu. Teguran ini membuyarkan semua kebingungan hati Listyokumolo. Matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang bekas adik iparnya.

"Benar, Roro. Akulah Listyokumolo. Akulah orang yang dihancurkan kebahagiaannya oleh si keparat Pujo ini. Akulah yang diculiknya, dirampas puteraku sehingga aku menjadi gila dan dipulangkan oleh kakakmu. Dia ini musuh besarku dan pula yang menjerumuskan aku sampai aku terculik oleh perampok-perampok liar. Roro Luhito, dia, si keparat ini telah menyerbu dan mengacau Selopenangkep, dia musuh besar kita. Mengapa sekarang kulihat engkau menangisinya??"

"Kau....kaukah yang melukainya....? Kangmbok....dia....dia ini adalah suamiku...."

"Suamimu?!? Keparat....!"

"Wuuuttt!" Listyokumolo kini sudah dapat menguasai dirinya sehingga ia menjadi marah sekali mendengar pengakuan Ini.

Serta-merta ia melakukan serangan hebat dengan melancarkan pukulan maut ke arah dada bekas adik iparnya. Roro Luhito kaget sekali, kaget dan heran sambil mengelak cepat. Tidak disangkanya bahwa kini bekas kakak iparnya dapat melakukan penyerangan begini hebat, padahal dahulu Listyokumolo adalah seorang wanita yang halus dan lemah. Melihat betapa penyerangannya gagal, Listyokumolo menerjang lagi, Roro Luhito kembali mengelak. Betapapun sakit hatinya melihat suaminya dilukai, namun di dalam hatinya Roro Luhito memaklumi sakit hati yang diderita bekas kakak iparnya, maka ia bersikap mengalah dan hanya mengeiak saja.

Tidak demikian dengan Kartikosari. Ketika ia memeriksa keadaan suaminya dan melihat betapa keris itu menancap sampai ke gagangnya dalam lambung suaminya, ia hampir gila oleh rasa marah dan duka. Ia maklum bahwa keadaan suaminya amat parah dan terancam bahaya maut. Hal ini membuat ia hampir gila dan dengan pekik dahsyat wanita ini lalu menerjang maju. Ketika Listyokumolo menangkis pukulan ini, ia sampai terpental ke belakang hampir terjengkang roboh.

"Wanita jahat, kau harus mampus!" bentak Kartikosari sambil menubruk ke depan.

"Tahan dulu...."

Terdengar suara halus dan sebuah lengan yang amat kuat menangkis lengan Kartikosari yang cepat melompat ke samping. Diam-diam ia harus mengakui bahwa yang menangkis ini memiliki tenaga yang amat kuat. Ketika memandang, ia melihat bahwa yang menangkis adalah seorang laki-laki setengah tua yang bersikap tenang, namun wajahnya diselimuti kedukaan dan penyesalan.

"Nimas Sari... nimas Roro, sudahlah....tak perlu dilanjutkan permusuhan ini aku sudah menerima salah, aku sudah menebus dosaku terhadap Joko Wandiro dan ibunya. Jangan kalian mengulangi lagi dosaku, jangan kalian mengotori lagi apa yang sudah kucuci bersih dengan darah...." Terdengar suara Pujo berkata lemah.

Mendengar kata-kata ini, Kartikosari dan Roro Luhito teringat kembali akan suaminya. Mereka menengok dan keduanya menubruk Pujo sambil rnenangis. Mereka sibuk ingin menolong suami mereka yang tercinta ingin merenggut kembali nyawa yang sudah dalam cengkeraman maut. Akan tetapi Pujo menggeleng kepala.

"Tiada guna aku sudah merasa takkan hidup lagi nimas Sari, ketahuilah...... dia itu.....telunjuknya menuding ke arah Listyokumolo yang berdiri pucat di samping suaminya,....dia itu isteri Wisangjiwo....dialah ibu kandung Joko Wandiro. Dia dahulu yang kuculik, kurampas puteranya dalam kegilaanku hendak membalas Wisangjiwo, dalam dendam kita yang salah alamat kini ia datang membalas sudah sepatutnya, aku sengaja membiarkan dia menanamkan kerisnya sudah kuhancurkan hidupnya.... biarlah dia yang merenggut nyawaku..."

"Tidak...! Tidak boleh! Ahh...kakangmas tidak mungkin aku mendiamkannya saja tanpa membalas!"

Bagaikan seekor singa betina Kartikosari meloncat lagi dan rnenerjang Listyokumolo.

"Harap andika sudi bersabar!" Ki Adibroto kernbali menangkis pukulan Kartikosari yang ditujukan kepada isterinya.

"Dukkk! " Tubuh Kartikosari terpental ke belakang, namun karena pendekar itu menggunakan tenaga lemas, ia tidak merasa nyeri.

"Siapa engkau?!?" Kartikosari membentak, tangan kanan meraba gagang keris pusakanya, yaitu keris pusaka ki Banuwilis milik suaminya. Ki Adibroto membungkuk dengan sikap hormat.

"Saya bernama Adibroto, sekarang menjadi suami Listyokumolo..."

"Kau hendak membela isterimu? Boleh!!" Kartikosari membentak.

"Harap bersabar." Ki Adibroto menarik napas panjang penuh sesal dan duka. "Sudah bertahun-tahun isteri saya merajuk dan membujuk untuk mencari puteranya dan mencari musuh besarnya, saudara Pujo. Sudah sebanyak itu pula saya mencegah dan berusaha menghapus dendam, namun sia-sia. Akhirnya kami datang dan tadi saya melihat sendiri betapa saudara Pujo sengaja menyerahkan diri untuk dibalas. Saya menyesal dan berduka sekali. Saudara Pujo ternyata seorang satria utama dan seorang yang suka mengenal diri pribadi, suka mengakui kesalahan sendiri. Alangkah bahagianya seorang yang dapat mengakui kesalahan sendiri kemudian menikmati hukuman yang akan membebaskannya dari rasa salah diri. Saudara Pujo dahulu melakukan pembalasan dendam secara membuta, tidak kepada orang yang telah menyakitkan hatinya, melainkan kepada keluarga orang itu. Dan sekarang saya amat prihatin, tidak ingin melihat isteri saya melakukan kekeliruan yang sama. Urusannya dengan saudara Pujo sudah beres dan terhadap andika berdua, isteri saya tidak punya urusan sesuatu yang patut dipersoalkan lagi. Harap andika berdua suka berpikir mendalam akan hal ini dan menghentikan dendam-mendendam Ini."

"Enak saja kau bicara! Suamiku telah dibunuh isterimu dan aku disuruh menerima begitu saja? laki-laki bedebah! Kalau aku tidak dapat membunuh Listyokumolo, tidak patut aku menjadi puteri Resi Bhargowo dan namaku bukan Kartikosari lagi!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari yang seperti orang gila oleh kedukaan dan kemarahan itu rnenerjang maju sambil menghunus keris pusaka Banuwilis. Wajah Adibroto menjadi pucat dan ia sedih bukan main, akan tetapi tak mungkin ia menyaksikan isterinya yang terkasih itu dibunuh orang begitu saja di depannya. Ia cepat menarik lengan isterinya dan mendorong tubuh isterinya ke arah belakangnya sehingga dialah yang menghadapi Kartikosari.

"Kau benar-benar hendak membela isterimu?" Kartikosari membentak.

Ki Adibroto hanya menggeleng kepalanya, tidak mampu menjawab dan memandang sedih.

"Nimas Sari!" Terdengar suara Pujo memanggil.

Akan tetapi Kartikosari seperti tidak mendengar panggilan ini karena ia sudah menerjang maju, menusukkan kerisnya ke arah dada Ki Adibroto. Pendekar ini dapat melihat betapa dahsyatnya terjangan lawan, maklum bahwa wanita di depannya ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Cepat-cepat ia menggeser kaki dan mengelak ke kiri.

Pada saat itu tampak bayangan putih berkelebat, sukar diikuti pandangan mata saking cepatnya. Bayangan putih ini berkelebat di antara Kartikosari dan Ki Adibroto dan tubuh Ki Adibroto terjengkang ke belakang sampai terhuyung-huyung dan hampir roboh. Bukan main kagetnya pendekar itu. Bayangan tadi hanya mendorongkan tangan, namun serangkum tenaga dahsyat sekali telah mendorongnya, tak dapat dipertahankan lagi tubuhnya terdorong seperti daun kering terbawa angin.

Ketika ia membuka mata memandang, keheranannya makin menghebat karena kiranya bayangan putih itu hanyalah dara yang masih amat muda, seorang dara remaja sebaya puterinya. Dara remaja yang cantik jelita, berpakaian serba mewah, dengan hiasan rambut dari emas permata, gelang tangan dan lengan, kalung, pendeknya pakaian seorang puteri keraton! Dara remaja itu tidak memperdulikannya lagi.

Kini dara itu memutar tubuh menghadapi Kartikosari yang juga berdiri tercengang. Sejenak kedua orang wanita itu berdiri berhadapan dan saling pandang. Dan dalam keadaan seperti itu, Ki Adibroto merasa bulu tengkuknya meremang. Jelas sekali tampak persamaan di antara kedua orang wanita itu. Bentuk mukanya sama benar, seperti pinang dibelah dua, hanya bedanya, yang seorang setengah tua, yang seorang lagi masih muda belia.

"Bunda.....!!!"

"Endang....Ohhh, Endang....! Engkaukah ini, Endang Patibroto anakku...??" Kartikosari menjerit dan kedua orang wanita itu saling tubruk dan saling rangkul.

"Kakangmas, jangan bergerak...."

Roro Luhito mencegah Pujo yang berusaha hendak bangun. Tadi ia sudah rebah terlentang dan kini ia berusaha bangkit, matanya terbelalak memandang ke arah Endang Patibroto.

"Biar....biar....aku harus melihat dia, ohhh, Endang puteriku...."

Mendengar ini barulah Kartikosari sadar dan teringat akan suaminya. Ia memegang tangan puterinya mendekati Pujo yang sudah duduk.

"Endang, lihatlah baik-baik, inilah ayah kandungmu, anakku. Inilah ayahmu Pujo, beri sembah kepadanya, anakku...." Kartikosari tak tahan lagi, terisak menangis.

"Ayah?....Ayah kandungku...." Sejenak Endang Patibroto tertegun, kemudian terbelalak memandang ke arah gagang keris yang menempel pada lambung laki-laki itu. Setelah saling pandang sampai lama, Endang Patibroto lalu berlutut menyembah. "Ayah!"

"Anakku!....Endang Patibroto! Anakku...!" Pujo merangkul dan mengambungi rambut yang harum dan halus itu. "Ha-ha-ha-ha, terima kasih kepada Dewata Yang Maha Agung! Sebelum mati aku diberi kebahagian bertemu muka dengan anakku....! Ha-ha-ha-ha! Tiada penasaran lagi sekarang, dosa hapus anak jumpa....! Nimas Sari....nimas Luhito....dengar baik-baik, untuk terakhir ini....kalian harus memenuhi pesanku....ja....jangan kalian membalas kepada Listyokumolo..."

"Aduh, kakangmas Pujo...Jangan....tinggalkan aku, kakangmas bawalah aku....!" Kartikosari memeluki, menciumi dan menangis tersedu-sedu.

Juga Roro Luhito memeluk dan menangis. Tinggal Endang Patibroto yang memandang semua ini dengan kening berkerut. Tidak biasa ia menangis. Semenjak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, hatinya mengeras melebihi batu,

"Endang....anakku cah ayu, anakku yang cantik jelita kau.....kau turutilah permintaan ayahmu, nak" Suara Pujo makin lemah, napasnya terengah-engah.

"Permintaan apakah, ayah?" Endang Patibroto mendekatkan kepalanya dan memegang tangan ayahnya. Pujo meremas jari-jari tangan puterinya, sejenak matanya yang sudah layu itu bersinar-sinar.

"Anakku....kau....kau....kujodohkan dengan.....Joko Wandiro jangan jangan....uggghhh......" Suara terakhir ini mengantar nyawa Pujo meninggalkan badannya.

"Kakangmas Pujo.....!!" Kartikosari terguling roboh dan pingsan.

"Kakangmas...." Roro Luhito merangkul tubuh suaminya dan menangis menjerit-jerit.

Listyokumolo berdiri dengan muka pucat sekali. Setelah kini menyaksikan akibat pembalasan dendamnya sedemikian menyedihkan, hatinya diliputi keharuan yang amat hebat, tubuhnya bergoyang-goyang dan ia tentu akan roboh terguling kalau tidak dipeluk suaminya yang juga memandang dengan muka pucat.

Ki Adibroto menghela napas panjang dan diam-diam ia membaca mantera untuk mengantar nyawa Pujo yang dianggapnya seorang satria luhur budi pekertinya. Suami isteri ini berdiri seperti arca, tidak tahu harus berbuat Apa. Ketika Kartikosari sadar dari pingsannya dan melihat Roro Luhito masih menangis menjerit-jerit dan memanggil-manggil nama suaminya, segera ia meloncat dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Listyokumolo.

"Kau perempuan keji! Kau telah membunuh suamiku....dan aku tidak berani melanggar pesannya terakhir. Hayo kau bunuhlah aku sekalian, agar aku dapat menyusul suamiku....! bunuhlah aku...bunuhlah..."

Sambil menangis dan berteriak-teriak minta dibunuh Kartikosari yang amat mencinta suaminya itu jatuh berlutut di depan Listyokumolo. Tidak dapat lagi Listyokumolo menahan hatinya yang hampir meledak karena rasa haru. Iapun berlutut dan merangkul Kartikosari sambil menangis. Akan tetapi tiba-tiba rangkulan Listyokumolo terenggut dan tubuhnya terlempar sampai terjengkang. Ketika wanita ini meloncat, ia dan suaminya sudah berhadapan dengan Endang Patibroto! Suami isteri itu merasa ngeri memandang wajah yang demikian cantik jelitanya Itu seakan-akan merupakan kedok yang mati, begitu dingin dan tidak membayangkan apa-apa.

"Engkau yang membunuh ayahku?" Pertanyaan ini terdengar halus dan merdu, tenang dan, seakan-akan biasa saja.

"Betul!" jawab Listyokumolo yang sudah dapat menekan perasaannya, suaranya tegas dan agak marah.

Biarpun dara ini cantik jelita seperti puteri keraton, namun sikapnya mengerikan seperti iblis betina. Gadis ini oleh Pujo hendak dijodohkan dengan puteranya! Berarti bahwa puteranya benar-benar masih hidup. Ia sudah merasa menyesal telah membunuh Pujo, akan tetapi ia benar-benar tidak setuju kalau puteranya dijodohkan dengan gadis yang sikapnya seperti siluman ini.

"Aku yang membunuhnya dan ia sudah menerima kematiannya dengan rela karena dosanya terhadap diriku."

"Hemmm, begitukah?" Dengan sikap tenang Endang Patibroto menghampiri mayat ayahnya yang masih ditangisi Kartikosari dan Roro Luhito, kemudian dicabutnya keris yang menancap dilambung Pujo. Sedikit darah keluar dari luka di lambung dan tanpa memperdulikan Kartikosari dan Roro Luhito yang berteriak kaget, Endang Patibroto membawa keris itu sambil menghampiri Listyokumolo. Ia memegang ujung keris pusaka Itu dan mengangsurkannya kepada pemiliknya.

"Nah, karena engkau sudah membunuh ayahku, sekarang gunakan kerismu ini untuk menusuk perutmu sendiri!"

Ucapan inipun dikeluarkan dengan suara halus dan sewajarnya, tanpa perasaan sehingga Listyokumolo dan Ki Adibroto yang mendengarnya menjadi bergidik. Bahkan Kartikosari dan Roro Luhito juga tercengang.

"Endang! Apa yang kaulakukan....?" Kartikosari berseru sambil melompat ke depan dan memeluk pundak puterinya.

Akan tetapi dengan halus akan tetapi bertenaga Endang Patibroto mendorong ibunya sehingga Kartikosari kembali duduk di dekat mayat suaminya dengan mata terbelalak.

"Angger, Endang Patibroto...kau ingatlah pesan ayahmu..." Roro Luhito juga berusaha mengingatkannya.

Endang Patibroto memandang Roro Luhito dengan kening berkerut. "Siapakah wanita ini?"

Pertanyaan ini ia tujukan kepada ibunya akan tetapi pandang matanya tetap menatap wajah Roro Luhito.

"Dia Roro Luhito, dia juga ibumu, Endang, karena diapun isteri ayahmu...." Kembali Kartikosari terisak dan merangkul mayat suaminya.

"Hemm, ibu berdua jangan mencampuri urusan ini, biar kubereskan sendiri." Ia lalu membalikkan tubuh menghadapi Listyokumolo kembali. "Hayo lekas, belum juga kau tusuk perutmu sendiri?" bentaknya ketika melihat Listyokumolo yang tadi menerima kerisnya masih memandang keris di tangan dengan mata terbelalak, seakan-akan ia merasa ngeri melihat ujung keris yang berlumuran darah yang kini sudah menghitam itu. Ki Adibroto mengerutkan kening dan dengan suara tegas ia berkata,

"Isteriku telah membunuh Pujo untuk membalas dendam yang amat mendalam. Pujo sendiri telah mengakui kesalahannya dan telah menyerahkan nyawanya tanpa melawan sehingga ia tewas di tangan isteriku. Sekarang engkau menyuruh isteriku membunuh diri, apa maksud dan kehendak mu?'

"Kau suaminya? Bagus! Hayo suruh dia tusuk perutnya sendiri atau kalau dia tidak berani, kau yang mewakilinya dan menusuk perutnya dengan keris itu sampai mampus!"

"Babo-babo! Dara remaja sungguh sombong dan bermulut besar! Kalau kami tidak mau melakukan permintaanmu yang gila itu, lalu bagaimana?"

"Mau atau tidak, dia harus menusuk perutnya sampai mati."

"Tobat-tobat sombongnya. Hendak kami lihat apa yang hendak kau lakukan!"

"Engkau banyak bantahan, engkaupun harus dihajar!" Endang Patibroto berseru dan tubuhnya berkelebat ke depan rnenerjang Ki Adibroto.

Betapapun juga, Ki Adibroto adalah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Biarpun ia maklum betapa dahsyatnya terjangan itu, namun ia tidak takut. Melihat betapa tangan kiri dara itu bergerak dengan jari-jari tangan kiri terbuka hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya, ia bergidik. Alangkah kejinya cara penyerangan ini! Sungguh tidak patut dilakukan seorang dara jelita semuda itu, lebih patut serangan seorang iblis kejam. Dengan pengerahan hawa sakti untuk melawan tendangan ini, ia menangkis dari bawah dengan melintangkan lengan kanan ke atas kepala.

"Dessss....!!"

Dua lengan bertemu di udara dan tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang sampai tiga meter. Akan tetapi terpentalnya dalam keadaan enak saja, dan wajahnya tetap tersenyum-senyum. Tidak demikian dengan Ki Adibroto. Biarpun ia menang tenaga karena memang menang matang latihannya, namun ketika bertemu lengan, ia merasa betapa lengannya panas seperti dimasuki api yang terus menyelinap ke dalam tubuhnya, membuat dadanya terasa sakit. Ia kaget bukan main, juga terheran-heran.

Bocah ini benar-benar tidak menyombong kosong belaka, melainkan memiliki llmu yang tinggi, seorang yang sakti mandraguna! Endang Patibroto diam-diam marah pula karena tenaga lawannya benar hebat sehingga ia terpental. Biarpun hal ini tidak berarti ia kalah, akan tetapi pada lahirnya memang kelihatan bahwa dia tidak mampu menandingi tenaga lawan. Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangannya dan

"sing....sing....sing!!"

Tiga batang anak panah meluncur ke arah paha, perut dan tenggorokan Ki Adibroto. Anak panah ini diluncurkan dengan sentilan jari tangan, namun kecepatannya luar biasa, tidak kalah oleh anak panah yang diluncurkan dengan gendewa. Apalagi dilepas dari jarak empat lima meter, bukan main cepatnya laksana kilat menyambar.

Endang Patibroto sudah memastikan bahwa kali ini lawannya pasti akan roboh. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat tubuh lawannya itu tiba-tiba mencelat ke atas setinggi dua meter lebih sehingga tiga batang anah panah itu lewat di bawah kakinya dan tidak sebatangpun mengenai sasaran.

Dengan gemas yang meluap-luap Endang Patibroto lalu meloncat ke depan, tubuhnya agak merendah kemudian kedua tangannya melakukan gerak memukul ke depan. Inilah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya, yaitu Aji Wisangnolo. Api Beracun yang amat dahsyat, ilmu pukulan jarak jauh yang telah ia latih masak-masak dari gurunya!

Ketika itu, tubuh Ki Adibroto masih belum turun, masih melayang. Hatinya sudah berdebar karena serangan tiga batang anak panah tadl benar-benar amat berbahaya dan hanya sedikit selisihnya. Nyaris ia terkena anak panah yang ia dapat menduga tentu mengandung bisa ujungnya. Pada saat itu, Ki Adibroto sama sekali tidak menyangka bahwa lawannya yang masih begitu muda, dapat melakukan siasat pertandingan yang demikian licik dan curangnya. Karena inilah, maka dengan tidak menduga akan datangnya pukulan jarak jauh yang demiklan hebat, tahu-tahu ia merasa dadanya dihantam hawa pukulan yang panas sekali Tubuhnya terlempar ke belakang dan robohlah ia terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!

"Perempuan iblis.....!" Listyokumolo menjerit sambil menerjang maju dengan keris di tangan.

Namun, dengan mudah sekali Endang Patibroto miringkan tubuh, tangannya menyambar tangan kanan Listyokumolo yang memegang keris, kemudian ia memaksa tangan lawan itu untuk membalikkan keris dan menusuk lambung sendiri! Hebat bukan main tenaga dan ketangkasan Endang Patibroto.

Listyokumolo tahu benar betapa tanganya yang memegang keris itu tiba-tiba membalik, akan tetapi ia tidak kuasa mencegah atau menahan tangannya sendiri. Seolah-olah tangan kanannya itu bergerak di luar kekuasaannya dan seolah-olah tangannya itu kini sudah bukan tangannya lagi. Melihat betapa tangannya sendiri tanpa dapat dicegahnya menusuk ke arah lambungnya sendiri, Listyokumolo menjerit dengan mata terbelalak lebar.

Dengan tenaga terakhir ia berusaha menahan tangan kanan dengan tangan kirinya, namun sia-sia belaka usahanya. Dengan mata terbelalak ia melihat jelas betapa keris itu menusuk lambungnya, terus menusuk dan amblas sampai ke gagangnya. Ia merasa perih dan panas, mendengar suara ketawa lirih dari dara remaja yang sudah melepaskannya, suara ketawa yang bagi pendengarannya merupakan ketawa iblis yang menyeramkan. Listyokumolo sekali lagi menjerit kemudian tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Keris itu menancap tepat di lambung kiri, persis seperti lambung Pujo tadi!

BADAI LAUT SELATAN JILID 28


Badai Laut Selatan Jilid 27

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 27

Dan dia tadi berusaha menolong Joko dari dalam air! Ah, benar-benar ia telah salah sangka. Pemuda yang tampan dan halus gerak-geriknya itu kiranya memiliki ilmu kesaktian yang mungkin melebihi tingkat kepandaianya sendiri. Ayu Candra menggigit bibirnya menahan rasa jengah.

"Lihat, Ayu. Biar dia mandi dan minum air banyak-banyak menghilangkan laparnya!" teriak Joko Wandiro dan sekali melempar, tubuh harimau yang besar dan berat iiu melayang ke arah telaga dan terdengarlah suara menjebur ketika binatang itu terbanting kedalam air.

Harimau itu mengaum dan menggereng penuh kemarahan dan juga ketakutan. la meronta-ronta dan akhirnya berhasil juga berenang ke pinggir lalu mendarat dengan tubuh basah kuyup. Kelika Joko Wandiro meloncat ke depannya, harimau itu kembali menggereng dan tiba-tiba ia menyelinap ke kiri dan lari sambil menekuk ekornya kebawah di antara kedua kaki belakang.

Ayu Candra dan Joko Wandiro tertawa-tawa melihat harirnau itu lari ketakutan. Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti seketika dan pandang mata mereka terbelalak ditujukan ke arah tubuh harimau yang mendadak terjungkal dan rebah berkelojotan di atas tanah. Dengan beberapa kali loncatan, Ayu Candra dan Joko Wandiro sudah tiba di dekat harimau itu.

Keduanya makin terheran ketika melihat sebatang anak panah yang kecil pendek sudah menancap di antara kedua mata binatang itu yang kini berkelojotan dalam keadaan sekarat. Yang mengerikan adalah keadaan luka di mana anak panah itu menancap karena di sekitar tempal itu, ialah seluruh muka harimau, menjadi biru kehitaman tanda bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat!.

"Keji....!" Joko Wandiro berkata, masih tertegun.

Juga Ayu Candra marah sekali jelas bahwa harimau itu dikalahkan, bahkan ditaklukkan oleh Joko, diampuni dan dibiarkan lari. Akan tetapi ada orang lain yang mempergunakan kesempatan itu untuk membunuh binatang ini secara curang dan kejam sekali. la mencari-cari ke arah dari mana datangnya anak panah dan ketika ia menengadahkan mukanya, ia melihat seorang wanita berdiri di atas cabang pohon yang tinggi. Wanita yang berpakaian indah dan mewah, dengan hiasan terbuat daripada emas permata pada pergelangan tangan, lengan, leher dan rambut.

Wanita itu masih muda, sebaya dengan dirinya, amat cantik dan tersenyum-senyum penuh ejekan memandang ke bawah. Sejenak Ayu Candra tertegun dan kagum, akan tetapi ketika melihat betapa kedua tangan wanita itu memegang beberapa batang anak panah kecil yang sebentuk dengan anak panah yang menancap di kepala harimau, timbul kemarahannya.

"lblis betina yang curang!" bentaknya sambil menudingkan telunjuk ke arah wanita di atas pohon itu.

"Lihat, Joko! Dialah yang membunuh harimau secara curang!" Ketika Ayu Candra menoleh ke belakang, ia melihat Joko berdiri dan terbelalak memandang ke arah wanita cantik itu.

Pandang mata penuh kagum, kaget, dan heran. Ketika ia mengalihkan pandang ke atas, ia melihat wanita cantik itupun memandang ke arah Joko dengan mulut tersenyum! Rasa panas yang aneh menyelinap dan membakar dada Ayu Candra.

"lblis betina yang curang! Kau pengecut sekali, tanpa alasan membunuh harimau secara curang!" ia makin marah dan menghardik ke atas.

Wanita itu memperlebar senyumnya lalu menjawab, suaranya halus lunak dan merdu,
"Bocah dusun, mengapa kau banyak tingkah? Aku sedang berkuda, mendadak harimau ini menggereng-gereng keras mengagetkan kudaku yang tidak mau berjalan tenang lagi. Aku datang dan menghukum harimau itu, dan kau masih bilang tanpa alasan?"

"Keparat, kau sombong sekali! Harimau ini memang tempatnya di hutan. Kau ini wanita sombong mau apa berkeliaran di sini, mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian bermain curang membunuhi binatang hutan?" Ayu Candra makin marah karena dilihatnya Joko masih diam saja seperti orang terkena pesona, menengadah memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap.

"Turunlah kalau kau berani! Atau aku harus menyeretmu turun...?" Ayu Candra berteriak marah.

"Ayu...jangan....! Eh, awas senjata...!!"

Joko Wandiro berseru keras ketika melihat berkelebatnya tiga sinar ke arah dirinya dan tiga sinar lagi ke arah Ayu Candra. Ia cepat menggunakan tenaga saktinya, memutar tangan dengan jari-jari terbuka, memukul runtuh tiga batang anak panah itu dengan hawa pukulannya, dan melanjutkan gerakannya untuk menolong Ayu Candra. Ia berhasil meruntuhkan sebatang anak panah lagi dan Ayu Candra sendiri berhasil mengelak dari sambaran sebatang anak panah, akan tetapi anak panah yang terakhir menyambar, tak dapat dielakkannya dan karena ia berdiri agak jauh dari Joko Wandiro, pemuda inipun tidak sempat menyelamatkannya.

"bles!"

Anak panah itu menancap di dada kanan Ayu Candra yang mengeluarkan suara rintihan dan terguling roboh!

"Ayu!"

Joko Wandiro berseru kaget. la menoleh dan melihat wanita cantik itu melayang turun dengan gerakan ringan seperti seekor burung, kemudian mulut yang selalu tersenyum manis itu mengeluarkan suara mencemooh dan sekali berkelebat, wanita itu lenyap. Kemudian terdengar suara derap kaki kuda pergi menjauh. Rasa penasaran hampir saja membuat Joko Wandiro meninggalkan Ayu Candra untuk mengejar dan memberi hajaran kepada wanita cantik itu. Akan tetapi pada saat itu Ayu Candra merintih-rintih dan ia cepat menghampiri dan berlutut. Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa anak panah itu menancap di dada dan betapa di sekitar kepala anak panah itu kulit yang tadinya putih kuning tampak menghitam. Anak panah beracun!

Masih untung bahwa Ayu Candra bukan seorang wanita biasa. Ketika tadi mengelak kemudian melihat bahwa sebatang anak panah tak mungkin dielakkan, ia mengerahkan tenaga dalam dan hal ini membuat anak panah itu menancap hanya sampai di kepala anak panah saja, tidak terlalu dalam. Namun cukup membahayakan keselamatan nyawanya karena racun di ujung anak panah mulai bekerja.

"Ayu, diamlah saja jangan bergerak, dan maafkan aku. Ini demi keselamatan nyawamu, Ayu."

Tanpa meragu lagi, Joko Wandiro membalikkan tubuh Ayu Candra sehingga terlentang, kemudian sekali mengerahkan tenaga ia mencabut keluar anak panah itu. Darah yang hitam mengalir keluar dari luka di dada. Joko Wandiro lalu mengerahkan tenaga dalam, menyalurkan hawa sakti. Kemudian menunduk. Ia harus mengerahkan kekuatan batin seluruhnya, bukan hanya untuk pengobatan, melainkan terutama sekali untuk menekan guncangan hatinya.

Terpaksa ia meramkan mata untuk mengusir bayangan dada yang membusung, kulit yang halus putih ketika ia menempelkan bibirnya pada luka menghitam itu. Dengan mengerahkan tenaga ia menyedot luka itu, menyedot terus sampai darah hitam memenuhi mulutnya. Ia melepaskan mukanya dan meludahkan darah hitam itu keluar. Ketika ia hendak menempelkan mukanya lagi, tiba-tiba Ayu Candra menampar pipinya.

"Plakk.........!!"

Berkunang pandang mata Joko Wandiro. Pipi yang ditampar terasa berdenyut-denyut panas. Ketika ia menatap wajah dara itu, ia melihat Ayu Candra menjadi merah sekali kedua pipinya dan dua butir air mata menitik turun. Ia tidak perduli. Luka itu belum bersih betul dari racun. Dengan nekat Joko Wandiro kembali menempelkan mukanya pada dada, mulutnya menyedot luka. Ia merasa betapa tubuh dara itu meronta, mendengar suara dara itu mengeluh dan merintih, akan tetapi ia tidak perduli. Ia cukup maklum betapa keadaan ini amat janggal, betapa perbuatan ini merupakan pelanggaran susila yang hebat, tetapi Apa artinya pelanggaran itu kalau dipikirkan betapa keselamatan nyawa dara ini terancam hebat? Kembali ia meludahkan darah dari dalam mulutnya. Hatinya lega melihat warna hitam di sekitar luka itu telah menipis, tinggal warna hijau.

"Sekali lagi cukup" katanya perlahan dan kembali ia menunduk.

"Plakk....!!"

Tamparan di pipi kirinya lebih keras daripada tadi, sampai terasa nanar kepalanya. Kini air mata di kedua pipi dara itu makin banyak. Joko Wandiro maklum akan perasaan dara itu namun keyakinan bahwa Apa yang ia lakukan itu berlandaskan kebenaran dan usaha menolong, ia tidak perduli, terus saja ia membenamkan muka pada dada yang lembut dan menempelkan mulut pada luka, lalu menghisap. Baru sekarang setelah perasaannya tidak tercekam kegelisahan lagi, ia merasa betapa lembut dada itu, dan jantungnya berdebar seperti hendak meledak.

Tiba-tiba ia merasa betapa kedua tangan gadis itu mencengkeram rambut di kepalanya, menjambak-jambak dan betapa Ayu Candra menangis terisak-isak. la melepaskan mukanya dan ketika ia menyemburkan darah dari mulutnya, darah itu sudah banyak yang merah. Ia memandang ke arah luka. Tidak ada warna hijau lagi dan darah mulai mengalir keluar. Bahaya sudah lewat. Akan tetapi Ayu Candra menangis tersedu-sedu, bangkit duduk dan menyembunyikan muka di belakang kedua tangan, pundaknya berguncang-guncang, tangisnya tersedu-sedu.

"Ayu, kenapa kau menangis? Kau sudah bebas daripada bahaya maut. Diamlah, Ayu, mengapa kau begini berduka?"

Dara itu tidak menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi, sampai mengguguk sehingga Joko Wandiro menjadi bingung sekali. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak dara itu dan berkata lagi,

"Ayu, aku mengaku salah. Aku...aku telah berlaku amat tidak sopan. Kau maafkanlah aku, Ayu. Tadipun sebelumnya aku sudah minta maaf. Sekarang, aku minta maaf lagi dan kalau kau mau melampiaskan kemarahanmu, kau pukullah aku, kau bunuhlah aku."

Ayu Candra tiba-tiba menghentikan tangisnya, mengangkat muka dari balik telapak tangan. Mukanya masih merah padam, akan tetapi basah air mata. Hanya sebentar saja ia berani bertentang pandang dengan Joko Wandiro karena ia segera menundukkan muka seperti orang yang merasa malu. Bibirnya bergerak perlahan, berbisik lirih,

"Mengapa kau lakukan itu?"

"Mengapa? Tentu saja untuk menolongmu, Ayu. Kaupun maklum bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat. Karena tidak mungkin mendapatkan obat yang bisa cepat menyedot racun, jalan satu-satunya terpaksa harus menyedotnya langsung dengan mulut untuk mengeluarkan racunnya. Memang aku lancang....kurang ajar, tapi....kau maafkanlah aku, aku terpaksa"

"Tidak Apa, bukan itu. Yang kumaksud, kenapa kau menolongku dan rela melakukan hal semacam itu? Kenapa?"

Joko Wandiro bingung. "Kenapa aku menolongmu? Ah, Ayu, aku harus menolongmu, biar apapun akibatnya. Andaikata aku akan kehilangan nyawa untuk menolongmu, aku rela."

Kembali Ayu Candra mengangkat muka memandang, kini amat tajam pandangannya, penuh selidik. "Kenapa begitu? Mengapa kau rela berkorban nyawa untukku? Kita baru saja bertemu, kita bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang. Kenapa kau rela berkorban nyawa untukku?"

Joko Wandiro merasa terpojok. lapun memeras otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sama, yang mengaduk hatinya. Memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang pendekar untuk menolong sesamanya. Hal ini sudah ia janjikan kepada gurunya. Akan tetapi, mengapa terhadap gadis ini landasan itu berubah? Tidak sekedar sebagai kewajiban lagi, bahkan agaknya ia, akan rela mati berkorban nyawa untuk gadis ini. Mengapa?

"Karena....karena aku tidak ingin melihat kau mati, Ayu. Dan karena bagiku kau bukanlah seorang yang baru saja kukenal. Bagiku, kau seakan-akan sudah selama hidupku kukenal baik, bahkan lebih dari itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa begini, Ayu, Semenjak pertemuan kita tadi, aku tidak dapat menguasai hatiku sehingga aku melakukan hal-hal yang tidak patut. Sudah mengintaimu, mengikutimu secara diam-diam sampai-sampai menimbulkan kemarahanmu. Aku sendiri tidak mengerti, Ayu. Selama hidupku baru kali ini aku mengalami hal aneh seperti ini. Agaknya...kalau menurut dongeng....dalam kelahiran dahulu, agaknya kita sudah saling mengenal, tidak asing lagi. Aku malah ingin bertanya kepadamu mengaku kau berhal seperti ini, Ayu Candra."

Dara itu menundukkan mukanya, menyembunyikan senyum! Senyum yang mekar dari hati penuh kebungahan. Ia sendiripun tidak mengerti mengapa hatinya menjadi begini bungah mendengar ucapan pemuda itu. Sedangkan perasaannya sendiri yang aneh ia tidak dapat mengerti artinya, apalagi keadaan pemuda itu. Ia hanya tahu bahwa ia senang sekali dekat dengan pemuda ini, dan bahwa tadi, biarpun ia merasa amat malu dan marah, namun di balik itu ia merasakan kebahagiaan yang amat aneh dalam hatinya.

"Joko...."

la sendiri kaget mengapa mulutnya memanggil nama ini. Ia tidak bermaksud memanggil, akan tetapi sebutan dalam hatinya ini menyundul sampai ke mulutnya.

"Ya... Ada Apa, Ayu?"

"Ahh...! tidak ada apa-apa, Joko. Eh, maksudku, kau baik sekali dan aku berterima kasih atas pertolonganmu tadi. Kau telah menyelamatkan nyawaku, Joko."

Girang bukan main hati Joko Wandiro. Dara ini ternyata benar seorang yang amat baik hatinya, tidak seperti yang kadang-kadang ingin diperlihatkannya. Saking girang hatinya, ia memegang gadis itu, memegang kedua tangannya.

"Bukan aku yang baik, Ayu, melainkan engkau. Aku hanya membalas, ingat? Kaulah yang pertama-tama nekat berusaha menyelamatkan nyawaku dari dalam air. Kaulah seorang yang berhati mulia, Ayu."

"Ahh, kau hanya pura-pura tenggelam."

"Betapapun juga, kau mengira aku benar-benar akan mati tenggelam dan kau telah terjun menolongku. Apa bedanya? Aku yang berterima kasih kepadamu."

Sejenak kedua orang remaja itu berdiri dan saling berpegang tangan. Jari-jari tangan mereka saling menggenggam. Hati mereka berdebar aneh penuh kebahagiaan. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu, tidak tahu Apa artinya perasaan yang menerbangkan semangat mereka ke angkasa ini. Namun jari-jari tangan mereka, digerakkan oleh perasaan halus, lebih tahu. Jari-jari tangan mereka membelai mesra, saling mencurahkan rasa kasih asmara.

Akan tetapi hanya sebentar. Kewanitaannya membuat Ayu Candra melepaskan kedua tangannya karena jengah. Mukanya merah sekali, matanya bersinar-sinar, akan tetapi pandang matanya tidak berani langsung menatap wajah Joko Wandiro. Untuk menenangkan dada yang berdebar-debar ia mengalihkan perhatian.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Joko, siapakah wanita tadi?"

"Entahlah, aku tidak tahu, sungguhpun serasa pernah aku melihatnya, akan tetapi entah di mana."

"Dia cantik sekali."

"Hemmm, agaknya dia berkepandaian hebat, melihat cara ia melayang turun dari pohon. Cara dia melepaskan anak panah tanpa busur, benar-benar membutuhkan tenaga yang hebat. Akan tetapi ia kejam."

"Dia cantik sekali," Ayu Candra mengulang.

"Memang cantik dia."

"Lebih cantik daripada aku."

"Lebih cantik daripada engkau? memang, pakaiannya lebih cantik, lebih mewah, akan tetapi orangnya....hemmm, tiada bidadari kahyangan, apalagi manusia biasa, yang menandingi kecantikanmu, Ayu."

Makin merah wajah dara itu, sampai ke leher dan daun telinganya. Akan tetapi giginya berkilat putih di balik bibirnya.

"Bisa saja kau memuji."

"Bukan memuji, melainkan bicara sebenarnya. Dia memang cantik dan kepandaiannya hebat. Hal itu tidak ada artinya. Yang mengkhawatirkan, ia amat kejam dan entah mengapa dia memusuhi kita."

"Karena harimau."

"Bukan, Ayu. Tidak mungkin kalau hanya karena harimau tadi ia melepas anak panah untuk membunuh kita. Aku khawatir sekali kalau-kalau ia akan datang kembali ke sini dan mengganggumu. Kau katakan tadi bahwa ayah bundamu sedang bepergian, bukan?"

"Kalau begitu engkau jangan pergi dulu, Joko. Kau temani aku sampai ayah bundaku pulang."

Di balik kata-kata ini ada harapan di hati Ayu Candra agar pemuda ini berkenalan dengan ayah bundanya!. Joko Wandiro mengangguk-angguk.

"Baiklah, Ayu. Akan tetapi karena engkau hanya seorang diri di pondok, tidak baik kalau aku bermalam di pondokmu. Biarlah aku tinggal di luar pondokmu, menjaga kalau-kalau wanita kejam itu datang kembali."

"Apa engkau mampu melawan dia? Tidak kusangka kau seorang yang sakti, Joko. Kalau kubayangkan betapa tadi kusangka kau seorang...." Dia menutupi mulut menahan tawa. "seorang gendeng dan berpenyakit ayan...!"

"Kau bocah nakal bukan orang sakti, bukan pula gendeng atau ayan, akan tetapi sedikit-sedikit aku mengerti bagaimana caranya menghadapi orang jahat."

Ketika mereka berjalan menuju ke pondok Ayu Candra, kadang-kadang tangan Joko Wandiro menggandeng tangan dara itu. Mula-mula tangan dara itu gemetar, akan tetapi tak lama kemudian, tangan itu menjadi hangat dan mereka bergandengan tangan sambil bercakap-cakap. Ketika Ayu Candra bercerita tentang laki-laki buntung, Joko Wandiro mengerutkan keningnya, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu. Setelah tiba di depan pondok, dari jauh mereka melihat laki-laki buntung duduk di atas bangku depan pondok. Mereka saling melepaskan gandengan tangan.

"Ayu Candra! Kalau ayah bundamu mendengar, bahwa engkau bermain-main dengan seorang pria muda, tentu mereka akan menjadi marah sekali!"

Ayu Candra terkejut mendengar teguran ini. Dan ia merasa heran pula mengapa laki-laki buntung itu kelihatan begitu marah. Menurutkan suara hatinya, ia membentak laki-laki buntung itu, ingin mengatakan agar laki-laki itu tidak mencampuri urusannya. Akan tetapi mengingat bahwa laki-laki itu sudah tua dan buntung pula kedua kakinya, ia hanya menjawab dengan mata bersinar marah,

"Paman Jatoko, dia ini adalah seorang sahabat baruku yang telah menolongku dari maut. Namanya Joko, dan dia akan menemaniku di sini sampai ayah ibuku pulang."

Dalam ucapan yang sifatnya memberi keterangan ini terkandung tantangan dan penandasan bahwa dialah pemilik pondok dan dia pula yang berhak menentukan apa yang akan dibuatnya. Mendadak sikap Ki Jatoko berubah. Lenyap sinar matanya yang marah, lenyap pula sikapnya yang keras dan kaku. Mulutnya kini tersenyum dan Joko Wandiro mendadak merasa kasihan. Muka yang buruk itu makin jelek kalau tersenyum, Laki-laki yang malang, pikirnya.

"Ahh, lain lagi kalau begitu! Ada terjadi apakah? Aku tadipun mendengar suara harimau menggereng-gereng marah. Saking takut aku tadi masuk ke pondok bersembunyi. Apakah kalian diserang harimau?"

Ayu Candra lalu menceritakan pengalaman mereka. Tentu saja ia tidak bercerita tentang anggapannya semula bahwa Joko adalah seorang gila atau ayan. Ia menceritakan betapa mereka diserang harimau dan betapa Joko telah mengalahkan harimau itu. Ia bercerita pula tentang munculnya wanita keji yang membunuh harimau dan berusaha membunuh mereka pula, dan tentang dirinya yang terkena anak panah, sehingga hampir saja nyawanya melayang.

"Aduh kau terpanah? Ah, kulihat dadamu itu...di situkah yang terpanah?" Ki Jatoko membelalakkan kedua matanya, kelihatan terkejut dan khawatir sekali.

"Betul, paman. Akan tetapi sekarang sudah sembuh."

Ki Jatoko memandang ke arah Joko Wandiro penuh selidik. "Kalau wanita itu demikian jahat dan kau hendak melindungi Ayu Candra, hal itu adalah baik sekali. Biarlah aku berganti tempat, kalau malam aku tidur di bilik belakang dan kau boleh tidur di bangku ini, orang muda."

Joko Wandiro menggeleng kepalanya. "Tidak usah, paman. Biarlah saya akan mencari tempat di luar untuk mengaso. Saya tidak mau mengganggu Ayu dan paman."

"Sesukamulah! Ayu Candra, biarkan hari ini aku yang masak. Aku sudah menanak nasi dan tadi kebetulan sekali ada seekor kelinci yang kudapati terluka dan tidak bisa lari. Mungkin terluka oleh harimau tadi. Aku akan memasaknya."

Tanpa menanti jawaban, Ki Jatoko turun dari bangku dan berjalan terbongkok-bongkok dan sukar sekali ke samping pondok, diikuti pandang mata Joko Wandiro dengan kening berkerut.

"Ayu," bisiknya, "kau berhati-hatilah terhadap dia...... "

"Apa?!" Ayu Candra juga berbisik, wajahnya terheran, "dia seorang tapadaksa, orang yang lemah dan patut dikasihani"

"Ssttt, aku melihat sesuatu yang tak menyenangkan akan dirinya. Aku tidak percaya kepadanya. Kau berhati-hatilah, Ayu."

"Tapi" Melihat wajah Joko Wandiro yang bersungguh-sungguh, Ayu Chandra tidak mau membantah lagi. "Baiklah, Joko, akan kuperhatikan pesanmu. Akan tetapi.... engkau hendak bermalam di mana?"

Pemuda itu tersenyum. "Mudah bagiku. Kalau perlu biar di atas pohon dekat pondokmu, agar lebih mudah aku menjaga keselamatanmu."

Ayu Candra menyentuh tangan Joko Wandiro yang segera menggenggam tangan yang.kecil hangat itu.

"Engkau baik sekali kepadaku, Joko."

"Aku harus baik kepadamu, Ayu. Harus, dan selamanya."

"Siapa mengharuskan?"

"Hatiku."

"lhh, bicaramu aneh sekali, tapi...tapi...hatiku sendiripun mengharuskan aku berbaik dan tunduk kepadamu, Joko."

Kembali kedua tangan itu saling genggam ketika mereka bercakap-cakap sambil berbisik dan baru mereka saling menjauhkan diri ketika Ki Jatoko berteriak memanggil mereka, mengundang mereka untuk makan.

********************


Sia-sia saja Ki Adibroto membujuk-bujuk isterinya agar suka membatalkan niatnya mencari Pujo untuk membalas dendam. Ia sudah berusaha sekuatnya dan melakukan perjaianan secara memutar, tidak langsung menuju ke Sungapan Kali Progo. Dengan dalih mencari sabahat baiknya, ia bahkan mengajak isterinya menyimpang ke kaki Gunung Merbabu untuk mengunjungi Ki Darmobroto, saudara seperguruannya dan sahabat baiknya yang tinggai di dusun kecil.

Perjumpaan dengan kakak seperguruannya ini amat menggembirakan, apalagi ketika Ki Adibroto melihat putera tunggal sahabatnya itu. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan gagah, bersikap halus dan berkulit putih bersih. Karena kulitnya yang putih sejak lahir itulah maka oleh ayahnya diberi nama Joko Seta. Sebagai seorang putera tunggal yang teiah kehilangan ibunya semenjak kecii, Joko Seta mewarisi ilmu kepandaian ayahnya dan biarpun masih muda, ia merupakan seorang yang sakti mandraguna. Melihat pemuda ini, timbullah rasa suka dalam hati Ki Adibroto dan dengan persetujuan isterinya pula, ia lalu mengajukan usul kepada Ki Darmobroto untuk berbesanan.

Ki Darmobroto menerima usul ini dengan penuh kegembiraan. Biarpun ia menjadi saudara seperguruan yang lebih tua, namun ia sudah cukup tahu akan sepak terjang adik seperguruannya yang mengagumkan, sudah mengenal watak adik seperguruannya ini sebagai seorang pendekar besar yang sakti. Kacang tidak akan meninggalkan lanjarannya, demikian ia berpendapat. Ayahnya seorang pendekar, puterinyapun tentu seorang yang berbudi.

Adapun Joko Seta adalah seorang putera yang amat berbakti dan patuh kepada ayahnya. Di lubuk hatinya memang ia kurang puas menerima keputusan itu, menjodohkan dengan seorang dara yang sama sekali belum pernah ia melihatnya. Akan tetapi maklum bahwa penolakannya akan menyusahkan hati ayahnya, maka ia menerima dengan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya. Demikianlah, ikatan perjodohan itu diresmikan oleh kedua orang tua.

Penyimpangan perjalanan ini tidak membuat Listyokumolo berubah niat hatinya. Setelah meninggalkan rumah calon besan itu, ia lalu mengajak suaminya melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, yaitu ke Bayuwismo, bekas tempat tinggal Resi Bhargowo yang diduga menjadi tempat tinggal Pujo dan isterinya sekarang. Sambil menghela napas Ki Adibroto terpaksa meluluskan kehendak isterinya dengari hati penuh kekhawatiran. Dalam percakapannya dengan Ki Darmobroto, ia telah menyinggung tentang Pujo yang dicari-cari isterinya itu dan Apa kata calon besan itu tentang diri Pujo?

"Aku mengenal baik paman Resi Bhargowo dan aku pernah bertemu satu kali dengan adimas Pujo, murid dan mantunya yang gagah perkasa, pendekar yang menjunjung kebenaran dan keadilan."

Jawaban Ki Darmobroto itu menambah kedukaan hati Ki Adibroto. Tepat seperti yang telah diduganya dan ditakutinya. Pujo adalah seorang satria yang perkasa dan tentang permusuhan Itu, tak salah lagi tentulah bekas suami isterinya, Wisangjiwo, yang memulainya. Betapapun juga, ia merasa tidak setuju dengan sepak terjang Pujo dalam membalas dendam. Kalau Wisangjiwo yang bersalah terhadap pendekar itu, kenapa Pujo membalasnya kepada Listyokumolo dan puteranya yang sama sekali tidak berdosa? Dengan modal pendapat inilah maka ia mengikuti isterinya menuju ke Bayuwismo. Ia hanya akan melihat dan mendengar dan siap membela isterinya daripada marabahaya dan mencegah isterinya melakukan sesuatu yang melanggar kebenaran.

Menjelang senja mereka tiba di Sungapan. Dan kebetulan sekali mereka berdua melihat Pujo berdiri seorang diri di pinggir hutan kering di dekat pantai, di lembah sungai yang menumpahkan airnya ke laut. Begitu melihat laki-laki itu, Listyokumolo segera mengenalnya. Wajahnya menjadi merah, sinar matanya berapi dan ia mendesis.

"Itulah dia, si keparat Pujo!" Hampir ia berlari menuju ke tempat musuh besarnya berdiri. Namun suaminya sudah memegang lengannya dan berbisik,

"Kau bersikaplah tenang, isteriku. Jangan dibikin mabuk oleh nafsu dendam. Kau boleh menemuinya dan bertanyalah secara baik-baik, tegurlah ia akan perbuatannya yang lalu dan tanyakan di mana adanya puteramu. Jangan bertindak terburu nafsu, dan apabila puteramu dalam keadaan baik, kurasa tidak perlu kau melanjutkan permusuhan ini. Aku akan tinggal di sini dan mengamat-amati dari sini, karena aku merasa tidak enak kalau mencampuri urusan ini."

Listyokumolo mengangguk kemudian meninggalkan suaminya yang bersembunyi di balik gerombolan pandan itu. Dengan hati berdebar dan tangan menggigil saking menahan gelora hatinya, wanita itu berlari cepat menghampiri Pujo yang tengah berdiri melamun seorang diri. Pondok kecil di pinggir laut tampak puluhan meter dari tempat itu dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi. Pria itu memang Pujo adanya. Beberapa tahun sudah ia tinggal di Bayuwismo, hidup penuh kebahagiaan dengan kedua orang isterinya, yaitu Kartikosari dan Roro Luhito.

Dua orang wanita ini seakan berlumba dalam pencurahan cinta kasih yang mendalam terhadap dirinya sehingga Pujo merupakan seorang pria yang amat bahagia dalam hal ini. Akan tetapi, kadang-kadang ia suka termenung kalau berada sendirian, teringat akan puterinya yang tak pernah dilihatnya, yaitu Endang Patibroto. Kalau teringat akan hal ini, penyesalan memenuhi hatinya, menghambarkan semua kebahagiaan hidupnya. Ia merasa amat rindu kepada puterinya, anak tunggal yang tidak pernah ia lihat itu.

Memang ada hal yang mengurangi kedukaan dan penyesalan ini yaitu bahwa kini kedua orang isterinya sedang mengandung! Sekaligus ia akan mendapatkan pengganti puterinya yang hilang sebanyak dua orang anak. Akan tetapi, betapapun juga, ia masih sangat ingin bertemu dengan puterinya yang hilang. Apalagi kalau ia ingat betapa Kartikosari sering kali menangis sedih apabila teringat akan Endang Patibroto.

Teringat akan ini, hati Pujo merasa perih dan membuat ia teringat akan semua sepak terjangnya yang lalu. Kalau sudah begitu, timbullah penyesalan besar di dalam hatinya. Teringatlah ia akan Wisangjiwo yang disangkanya menjadi musuh besarnya. Teringatlah ia betapa nafsu dendam membuat ia seperti gila, membuat ia mengamuk di Kadipaten Selopenangkep, membunuhi orang tak berdosa, bahkan telah menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya. Teringat akan keadaan isteri Wisangjiwo yang menjadi gila karena perbuatannya itu sehingga wanita yang malang nasibnya itu dipulangkan ke desanya, kemudian bahkan dibawa lari perampok. Semua ini gara-gara perbuatannya yang didorong nafsu dendam yang menggila.

"Ah, agaknya hilangnya puteriku merupakan hukuman bagi perbuatanku itu. Beginilah rasanya kehilangan anak, dan aku telah merenggut Joko Wandiro dari tangan dan hati ayah bundanya! Hukum karma, tepat seperti yang dikatakan bapa Resi Bhargowo. Semoga Dewata sudi mengampuni dosaku dan anakku dalam keadaan aman sentosa "

Demikianlah pada senja hari itu ia melamun dan menyesali perbuatannya. Tiba-tiba Pujo meloncat dan memutar tubuhnya membalik. Biarpun gerakan di sebelah belakangnya itu perlahan sekali, namun sebagai seorang sakti ia telah dapat mendengarnya. Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik telah berdiri di situ, menentangnya dengan pandang mata penuh kebencian dan kemarahan serta memegang sebatang keris yang mengeluarkan sinar, sebuah keris pusaka! Akan tetapi, pendekar sakti ini segera dapat menenangkan hatinya dan dengan sabar dan tenang ia bertanya,

"Siapakah andika dan apakah kehen..."

"Pujo! Sudah butakah matamu sehingga kau tidak mengenal aku? Ataukah engkau pura-pura tidak mengenal? Lupakah kau akan peristiwa di Gua Siluman delapan belas tahun yang lalu?"

Wanita itu membentak dan memotong pertanyaannya. Kini Pujo benar-benar kaget sekali. la mengenal suara ini, mengenal pula sekarang wajah ini dan ia benar-benar terkejut bukan main. Kedua matanya terbelalak dan ia berdiri bagaikah arca, bibirnya bergerak,

"Andika....Listyokumolo....??" Ia masih belum percaya akan dugaan ini dan memandang dengan penuh keheranan.

Listyokumolo tersenyum mengejek, dan tangan yang memegang keris itu gemetar. "Bagus, engkau masih ingat kepadaku. Aku datang untuk menuntut balas, untuk minta pertanggungan jawabmu atas kekejian yang kau lakukan delapan belas tahun yang lalu! Hayo katakan di mana kau kubur anakku? Kau tentu telah membunuh Joko Wandiro!"

Seketika lemas kedua lutut Pujo ketika mendapatkan kenyataan bahwa wanita ini memang betul Listyokumolo. Wanita inilah yang selama ini ia bayangkan, menjadi pengganggu kebahagiaan hidupnya karena ia merasa berdosa kepada wanita ini. Sekarang wanita ini datang. Dia ibu Joko Wandiro, muridnya! Melihat sinar mata penuh kebencian, penuh dendam dan kedukaan, tak tertahankan lagi Pujo menjatuhkan diri berlutut. Sejenak ia merasa kepalanya pening dan ia menutupi muka dengan kedua tangannya. Alangkah besar dosanya kepada wanita ini, wanita yang tidak berdosa sama sekali. Ia telah merenggut semua kebahagiaan hidup wanita ini, merampas puteranya, membuat ia menjadi gila sehingga terpisah pula dari suami.

Kehidupan wanita ini telah hancur lebur, semua karena akibat perbuatannya. Dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu telah membuat ia gila, membuat ia menumpahkan dendamnya kepada wanita tak berdosa ini. Alangkah kejamnya ia. Alangkah menyesal hatinya sekarang, apalagi kalau dia ingat bahwa dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu itu salah alamat! Dosanya kepada wanita ini adalah dosa tak berampun. Ia telah merusak kehidupan Listyokumolo, merusak sehingga tak dapat diperbaikinya kembali.

"Aku berdosa....aku mengaku bersalah. Aku telah menjadi gila dan buta oleh dendam kepada suamimu, dendam yang salah alamat pula. Engkau sudah datang, engkau berhak menuntut balas. Aku menerima segala pembalasanmu. Akan tetapi, percayalah, puteramu Joko Wandiro tidak kubunuh. Dia kupelihara baik-baik, bahkan menjadi puteraku, menjadi muridku. Kini ia menjadi murid Ki Patih Narotama "

"Bohong! Pengecut kau! Inikah seorang satria? Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, tidak berani mengaku. Aku tak percaya omonganmu! Kalau Joko Wandiro masih hidup, tentu dia sudah mencari ibu kandungnya "

"Aku sengaja tidak menceritakan kepadanya tentang ibu kandungnya, baru akhir-akhir ini ia tahu dan aku mendengar kau diculik perampok dan suamimu kakangmas Wisangjiwo telah gugur dalam perang " Suara Pujo terisak menahan getaran perasaannya yang penuh penyesalan dan iba kepada wanita di depannya itu.

"Huh, siapa percaya obrolanmu? Kau kemukakan ini semua karena kau takut akan pembalasanku. Kau takut menebus dosa-dosamu, pengecut!"

Pujo bangkit berdiri, mukanya menjadi pucat sekali. "Tentu kau tidak mau percaya kepadaku, orang yang telah melakukan perbuatan keji terhadap dirimu, terhadap puteramu. Listyokumolo, sudah kukatakan tadi, aku bersalah dan aku menerima kesalahanku. Aku tidak akan mundur untuk menghadapi hukumanmu, tidak akan gentar untuk menerima pembalasanmu. Nah, lakukanlah niat yang sudah membayang di matamu, aku takkan melawan!" Pujo memasang dadanya dengan penuh penyerahan karena ia merasa akan dosanya yang hebat terhadap wanita ini.

"Kau telah merusak hidupku, kau telah membunuh puteraku. Rasakan pembalasanku ini!" Listyokumolo menggerakkan tangan kanannya menusuk. Pujo tidak mau melawan dan sengaja memasang tubuhnya.

"Blesss........!!"

Keris pusaka itu nancap di lambung Pujo sampai ke gagangnya! Biarpun Listyokumolo seperti gila oleh dendam, dan belasan tahun ia digembleng suaminya dengan ilmu kesaktian, akan tetapi ia bukanlah seorang wanita kejam dan belum pernah selama hidupnya ia membunuh orang. Kini merasa betapa lambung itu dengan mudah tertusuk kerisnya, tangannya menggigil dan ia meloncat mundur dengan muka pucat. Ia menggunakan tangan menutup mulutnya yang hendak menjerit ketika ia melihat Pujo terhuyung-huyung ke belakang sambil memegang lambung yang ditancapi keris sampai ke gagangnya. Pujo tersenyum. Lenyaplah sekarang perasaan sesalnya. Ia telah menebus dosa yang selama ini menyelubungi dan menggelapkan kebahagiaan hidupnya!

"Sudah tertebus....!" Ia menggumam lalu terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya roboh terduduk di atas rumput.

"Aku aku tidak bohong....Joko Wandiro masih hidup dia di lereng Gunung Bekel" ia masih berusaha untuk memberi keterangan.

"Kakangmas Pujo........!!"

Mendengar jerit melengking ini Listyokumolo terkejut dan mengangkat mukanya memandang dua orang wanita yang datang berlari-lari secepat terbang. Matanya terbelalak ketika ia mengenal bahwa seorang dl antara dua wanita cantlk itu bukan lain adalah Roro Luhito, bekas adik iparnya. Dan lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melihat Roro Luhito menubruk Pujo yang duduk bersandar pohon, memeluknya dan menangis. Tiba-tiba Listyokumolo meloncat ke samping, menghindarkan diri daripada terjangan wanita ke dua yang amat hebat.

"Kau...wanita Iblis....kau berani melukai suamiku?" teriak wanita itu yang bukan lain adalah Kartikosari.

Mendengar bentakan ini, Roro Luhito agaknya baru sadar bahwa musuh yang melukai suaminya masih berada di situ. Sekali tubuhnya bergerak, ia telah meloncat dan berhadapan dengan Listyokumolo.

"Kau...?!? Kangmbok Listyo!"

Tentu saja Roro Luhito terkejut bukan main setelah mengenal wanita yang masih berdiri bingung itu. Teguran ini membuyarkan semua kebingungan hati Listyokumolo. Matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang bekas adik iparnya.

"Benar, Roro. Akulah Listyokumolo. Akulah orang yang dihancurkan kebahagiaannya oleh si keparat Pujo ini. Akulah yang diculiknya, dirampas puteraku sehingga aku menjadi gila dan dipulangkan oleh kakakmu. Dia ini musuh besarku dan pula yang menjerumuskan aku sampai aku terculik oleh perampok-perampok liar. Roro Luhito, dia, si keparat ini telah menyerbu dan mengacau Selopenangkep, dia musuh besar kita. Mengapa sekarang kulihat engkau menangisinya??"

"Kau....kaukah yang melukainya....? Kangmbok....dia....dia ini adalah suamiku...."

"Suamimu?!? Keparat....!"

"Wuuuttt!" Listyokumolo kini sudah dapat menguasai dirinya sehingga ia menjadi marah sekali mendengar pengakuan Ini.

Serta-merta ia melakukan serangan hebat dengan melancarkan pukulan maut ke arah dada bekas adik iparnya. Roro Luhito kaget sekali, kaget dan heran sambil mengelak cepat. Tidak disangkanya bahwa kini bekas kakak iparnya dapat melakukan penyerangan begini hebat, padahal dahulu Listyokumolo adalah seorang wanita yang halus dan lemah. Melihat betapa penyerangannya gagal, Listyokumolo menerjang lagi, Roro Luhito kembali mengelak. Betapapun sakit hatinya melihat suaminya dilukai, namun di dalam hatinya Roro Luhito memaklumi sakit hati yang diderita bekas kakak iparnya, maka ia bersikap mengalah dan hanya mengeiak saja.

Tidak demikian dengan Kartikosari. Ketika ia memeriksa keadaan suaminya dan melihat betapa keris itu menancap sampai ke gagangnya dalam lambung suaminya, ia hampir gila oleh rasa marah dan duka. Ia maklum bahwa keadaan suaminya amat parah dan terancam bahaya maut. Hal ini membuat ia hampir gila dan dengan pekik dahsyat wanita ini lalu menerjang maju. Ketika Listyokumolo menangkis pukulan ini, ia sampai terpental ke belakang hampir terjengkang roboh.

"Wanita jahat, kau harus mampus!" bentak Kartikosari sambil menubruk ke depan.

"Tahan dulu...."

Terdengar suara halus dan sebuah lengan yang amat kuat menangkis lengan Kartikosari yang cepat melompat ke samping. Diam-diam ia harus mengakui bahwa yang menangkis ini memiliki tenaga yang amat kuat. Ketika memandang, ia melihat bahwa yang menangkis adalah seorang laki-laki setengah tua yang bersikap tenang, namun wajahnya diselimuti kedukaan dan penyesalan.

"Nimas Sari... nimas Roro, sudahlah....tak perlu dilanjutkan permusuhan ini aku sudah menerima salah, aku sudah menebus dosaku terhadap Joko Wandiro dan ibunya. Jangan kalian mengulangi lagi dosaku, jangan kalian mengotori lagi apa yang sudah kucuci bersih dengan darah...." Terdengar suara Pujo berkata lemah.

Mendengar kata-kata ini, Kartikosari dan Roro Luhito teringat kembali akan suaminya. Mereka menengok dan keduanya menubruk Pujo sambil rnenangis. Mereka sibuk ingin menolong suami mereka yang tercinta ingin merenggut kembali nyawa yang sudah dalam cengkeraman maut. Akan tetapi Pujo menggeleng kepala.

"Tiada guna aku sudah merasa takkan hidup lagi nimas Sari, ketahuilah...... dia itu.....telunjuknya menuding ke arah Listyokumolo yang berdiri pucat di samping suaminya,....dia itu isteri Wisangjiwo....dialah ibu kandung Joko Wandiro. Dia dahulu yang kuculik, kurampas puteranya dalam kegilaanku hendak membalas Wisangjiwo, dalam dendam kita yang salah alamat kini ia datang membalas sudah sepatutnya, aku sengaja membiarkan dia menanamkan kerisnya sudah kuhancurkan hidupnya.... biarlah dia yang merenggut nyawaku..."

"Tidak...! Tidak boleh! Ahh...kakangmas tidak mungkin aku mendiamkannya saja tanpa membalas!"

Bagaikan seekor singa betina Kartikosari meloncat lagi dan rnenerjang Listyokumolo.

"Harap andika sudi bersabar!" Ki Adibroto kernbali menangkis pukulan Kartikosari yang ditujukan kepada isterinya.

"Dukkk! " Tubuh Kartikosari terpental ke belakang, namun karena pendekar itu menggunakan tenaga lemas, ia tidak merasa nyeri.

"Siapa engkau?!?" Kartikosari membentak, tangan kanan meraba gagang keris pusakanya, yaitu keris pusaka ki Banuwilis milik suaminya. Ki Adibroto membungkuk dengan sikap hormat.

"Saya bernama Adibroto, sekarang menjadi suami Listyokumolo..."

"Kau hendak membela isterimu? Boleh!!" Kartikosari membentak.

"Harap bersabar." Ki Adibroto menarik napas panjang penuh sesal dan duka. "Sudah bertahun-tahun isteri saya merajuk dan membujuk untuk mencari puteranya dan mencari musuh besarnya, saudara Pujo. Sudah sebanyak itu pula saya mencegah dan berusaha menghapus dendam, namun sia-sia. Akhirnya kami datang dan tadi saya melihat sendiri betapa saudara Pujo sengaja menyerahkan diri untuk dibalas. Saya menyesal dan berduka sekali. Saudara Pujo ternyata seorang satria utama dan seorang yang suka mengenal diri pribadi, suka mengakui kesalahan sendiri. Alangkah bahagianya seorang yang dapat mengakui kesalahan sendiri kemudian menikmati hukuman yang akan membebaskannya dari rasa salah diri. Saudara Pujo dahulu melakukan pembalasan dendam secara membuta, tidak kepada orang yang telah menyakitkan hatinya, melainkan kepada keluarga orang itu. Dan sekarang saya amat prihatin, tidak ingin melihat isteri saya melakukan kekeliruan yang sama. Urusannya dengan saudara Pujo sudah beres dan terhadap andika berdua, isteri saya tidak punya urusan sesuatu yang patut dipersoalkan lagi. Harap andika berdua suka berpikir mendalam akan hal ini dan menghentikan dendam-mendendam Ini."

"Enak saja kau bicara! Suamiku telah dibunuh isterimu dan aku disuruh menerima begitu saja? laki-laki bedebah! Kalau aku tidak dapat membunuh Listyokumolo, tidak patut aku menjadi puteri Resi Bhargowo dan namaku bukan Kartikosari lagi!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari yang seperti orang gila oleh kedukaan dan kemarahan itu rnenerjang maju sambil menghunus keris pusaka Banuwilis. Wajah Adibroto menjadi pucat dan ia sedih bukan main, akan tetapi tak mungkin ia menyaksikan isterinya yang terkasih itu dibunuh orang begitu saja di depannya. Ia cepat menarik lengan isterinya dan mendorong tubuh isterinya ke arah belakangnya sehingga dialah yang menghadapi Kartikosari.

"Kau benar-benar hendak membela isterimu?" Kartikosari membentak.

Ki Adibroto hanya menggeleng kepalanya, tidak mampu menjawab dan memandang sedih.

"Nimas Sari!" Terdengar suara Pujo memanggil.

Akan tetapi Kartikosari seperti tidak mendengar panggilan ini karena ia sudah menerjang maju, menusukkan kerisnya ke arah dada Ki Adibroto. Pendekar ini dapat melihat betapa dahsyatnya terjangan lawan, maklum bahwa wanita di depannya ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Cepat-cepat ia menggeser kaki dan mengelak ke kiri.

Pada saat itu tampak bayangan putih berkelebat, sukar diikuti pandangan mata saking cepatnya. Bayangan putih ini berkelebat di antara Kartikosari dan Ki Adibroto dan tubuh Ki Adibroto terjengkang ke belakang sampai terhuyung-huyung dan hampir roboh. Bukan main kagetnya pendekar itu. Bayangan tadi hanya mendorongkan tangan, namun serangkum tenaga dahsyat sekali telah mendorongnya, tak dapat dipertahankan lagi tubuhnya terdorong seperti daun kering terbawa angin.

Ketika ia membuka mata memandang, keheranannya makin menghebat karena kiranya bayangan putih itu hanyalah dara yang masih amat muda, seorang dara remaja sebaya puterinya. Dara remaja yang cantik jelita, berpakaian serba mewah, dengan hiasan rambut dari emas permata, gelang tangan dan lengan, kalung, pendeknya pakaian seorang puteri keraton! Dara remaja itu tidak memperdulikannya lagi.

Kini dara itu memutar tubuh menghadapi Kartikosari yang juga berdiri tercengang. Sejenak kedua orang wanita itu berdiri berhadapan dan saling pandang. Dan dalam keadaan seperti itu, Ki Adibroto merasa bulu tengkuknya meremang. Jelas sekali tampak persamaan di antara kedua orang wanita itu. Bentuk mukanya sama benar, seperti pinang dibelah dua, hanya bedanya, yang seorang setengah tua, yang seorang lagi masih muda belia.

"Bunda.....!!!"

"Endang....Ohhh, Endang....! Engkaukah ini, Endang Patibroto anakku...??" Kartikosari menjerit dan kedua orang wanita itu saling tubruk dan saling rangkul.

"Kakangmas, jangan bergerak...."

Roro Luhito mencegah Pujo yang berusaha hendak bangun. Tadi ia sudah rebah terlentang dan kini ia berusaha bangkit, matanya terbelalak memandang ke arah Endang Patibroto.

"Biar....biar....aku harus melihat dia, ohhh, Endang puteriku...."

Mendengar ini barulah Kartikosari sadar dan teringat akan suaminya. Ia memegang tangan puterinya mendekati Pujo yang sudah duduk.

"Endang, lihatlah baik-baik, inilah ayah kandungmu, anakku. Inilah ayahmu Pujo, beri sembah kepadanya, anakku...." Kartikosari tak tahan lagi, terisak menangis.

"Ayah?....Ayah kandungku...." Sejenak Endang Patibroto tertegun, kemudian terbelalak memandang ke arah gagang keris yang menempel pada lambung laki-laki itu. Setelah saling pandang sampai lama, Endang Patibroto lalu berlutut menyembah. "Ayah!"

"Anakku!....Endang Patibroto! Anakku...!" Pujo merangkul dan mengambungi rambut yang harum dan halus itu. "Ha-ha-ha-ha, terima kasih kepada Dewata Yang Maha Agung! Sebelum mati aku diberi kebahagian bertemu muka dengan anakku....! Ha-ha-ha-ha! Tiada penasaran lagi sekarang, dosa hapus anak jumpa....! Nimas Sari....nimas Luhito....dengar baik-baik, untuk terakhir ini....kalian harus memenuhi pesanku....ja....jangan kalian membalas kepada Listyokumolo..."

"Aduh, kakangmas Pujo...Jangan....tinggalkan aku, kakangmas bawalah aku....!" Kartikosari memeluki, menciumi dan menangis tersedu-sedu.

Juga Roro Luhito memeluk dan menangis. Tinggal Endang Patibroto yang memandang semua ini dengan kening berkerut. Tidak biasa ia menangis. Semenjak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, hatinya mengeras melebihi batu,

"Endang....anakku cah ayu, anakku yang cantik jelita kau.....kau turutilah permintaan ayahmu, nak" Suara Pujo makin lemah, napasnya terengah-engah.

"Permintaan apakah, ayah?" Endang Patibroto mendekatkan kepalanya dan memegang tangan ayahnya. Pujo meremas jari-jari tangan puterinya, sejenak matanya yang sudah layu itu bersinar-sinar.

"Anakku....kau....kau....kujodohkan dengan.....Joko Wandiro jangan jangan....uggghhh......" Suara terakhir ini mengantar nyawa Pujo meninggalkan badannya.

"Kakangmas Pujo.....!!" Kartikosari terguling roboh dan pingsan.

"Kakangmas...." Roro Luhito merangkul tubuh suaminya dan menangis menjerit-jerit.

Listyokumolo berdiri dengan muka pucat sekali. Setelah kini menyaksikan akibat pembalasan dendamnya sedemikian menyedihkan, hatinya diliputi keharuan yang amat hebat, tubuhnya bergoyang-goyang dan ia tentu akan roboh terguling kalau tidak dipeluk suaminya yang juga memandang dengan muka pucat.

Ki Adibroto menghela napas panjang dan diam-diam ia membaca mantera untuk mengantar nyawa Pujo yang dianggapnya seorang satria luhur budi pekertinya. Suami isteri ini berdiri seperti arca, tidak tahu harus berbuat Apa. Ketika Kartikosari sadar dari pingsannya dan melihat Roro Luhito masih menangis menjerit-jerit dan memanggil-manggil nama suaminya, segera ia meloncat dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Listyokumolo.

"Kau perempuan keji! Kau telah membunuh suamiku....dan aku tidak berani melanggar pesannya terakhir. Hayo kau bunuhlah aku sekalian, agar aku dapat menyusul suamiku....! bunuhlah aku...bunuhlah..."

Sambil menangis dan berteriak-teriak minta dibunuh Kartikosari yang amat mencinta suaminya itu jatuh berlutut di depan Listyokumolo. Tidak dapat lagi Listyokumolo menahan hatinya yang hampir meledak karena rasa haru. Iapun berlutut dan merangkul Kartikosari sambil menangis. Akan tetapi tiba-tiba rangkulan Listyokumolo terenggut dan tubuhnya terlempar sampai terjengkang. Ketika wanita ini meloncat, ia dan suaminya sudah berhadapan dengan Endang Patibroto! Suami isteri itu merasa ngeri memandang wajah yang demikian cantik jelitanya Itu seakan-akan merupakan kedok yang mati, begitu dingin dan tidak membayangkan apa-apa.

"Engkau yang membunuh ayahku?" Pertanyaan ini terdengar halus dan merdu, tenang dan, seakan-akan biasa saja.

"Betul!" jawab Listyokumolo yang sudah dapat menekan perasaannya, suaranya tegas dan agak marah.

Biarpun dara ini cantik jelita seperti puteri keraton, namun sikapnya mengerikan seperti iblis betina. Gadis ini oleh Pujo hendak dijodohkan dengan puteranya! Berarti bahwa puteranya benar-benar masih hidup. Ia sudah merasa menyesal telah membunuh Pujo, akan tetapi ia benar-benar tidak setuju kalau puteranya dijodohkan dengan gadis yang sikapnya seperti siluman ini.

"Aku yang membunuhnya dan ia sudah menerima kematiannya dengan rela karena dosanya terhadap diriku."

"Hemmm, begitukah?" Dengan sikap tenang Endang Patibroto menghampiri mayat ayahnya yang masih ditangisi Kartikosari dan Roro Luhito, kemudian dicabutnya keris yang menancap dilambung Pujo. Sedikit darah keluar dari luka di lambung dan tanpa memperdulikan Kartikosari dan Roro Luhito yang berteriak kaget, Endang Patibroto membawa keris itu sambil menghampiri Listyokumolo. Ia memegang ujung keris pusaka Itu dan mengangsurkannya kepada pemiliknya.

"Nah, karena engkau sudah membunuh ayahku, sekarang gunakan kerismu ini untuk menusuk perutmu sendiri!"

Ucapan inipun dikeluarkan dengan suara halus dan sewajarnya, tanpa perasaan sehingga Listyokumolo dan Ki Adibroto yang mendengarnya menjadi bergidik. Bahkan Kartikosari dan Roro Luhito juga tercengang.

"Endang! Apa yang kaulakukan....?" Kartikosari berseru sambil melompat ke depan dan memeluk pundak puterinya.

Akan tetapi dengan halus akan tetapi bertenaga Endang Patibroto mendorong ibunya sehingga Kartikosari kembali duduk di dekat mayat suaminya dengan mata terbelalak.

"Angger, Endang Patibroto...kau ingatlah pesan ayahmu..." Roro Luhito juga berusaha mengingatkannya.

Endang Patibroto memandang Roro Luhito dengan kening berkerut. "Siapakah wanita ini?"

Pertanyaan ini ia tujukan kepada ibunya akan tetapi pandang matanya tetap menatap wajah Roro Luhito.

"Dia Roro Luhito, dia juga ibumu, Endang, karena diapun isteri ayahmu...." Kembali Kartikosari terisak dan merangkul mayat suaminya.

"Hemm, ibu berdua jangan mencampuri urusan ini, biar kubereskan sendiri." Ia lalu membalikkan tubuh menghadapi Listyokumolo kembali. "Hayo lekas, belum juga kau tusuk perutmu sendiri?" bentaknya ketika melihat Listyokumolo yang tadi menerima kerisnya masih memandang keris di tangan dengan mata terbelalak, seakan-akan ia merasa ngeri melihat ujung keris yang berlumuran darah yang kini sudah menghitam itu. Ki Adibroto mengerutkan kening dan dengan suara tegas ia berkata,

"Isteriku telah membunuh Pujo untuk membalas dendam yang amat mendalam. Pujo sendiri telah mengakui kesalahannya dan telah menyerahkan nyawanya tanpa melawan sehingga ia tewas di tangan isteriku. Sekarang engkau menyuruh isteriku membunuh diri, apa maksud dan kehendak mu?'

"Kau suaminya? Bagus! Hayo suruh dia tusuk perutnya sendiri atau kalau dia tidak berani, kau yang mewakilinya dan menusuk perutnya dengan keris itu sampai mampus!"

"Babo-babo! Dara remaja sungguh sombong dan bermulut besar! Kalau kami tidak mau melakukan permintaanmu yang gila itu, lalu bagaimana?"

"Mau atau tidak, dia harus menusuk perutnya sampai mati."

"Tobat-tobat sombongnya. Hendak kami lihat apa yang hendak kau lakukan!"

"Engkau banyak bantahan, engkaupun harus dihajar!" Endang Patibroto berseru dan tubuhnya berkelebat ke depan rnenerjang Ki Adibroto.

Betapapun juga, Ki Adibroto adalah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Biarpun ia maklum betapa dahsyatnya terjangan itu, namun ia tidak takut. Melihat betapa tangan kiri dara itu bergerak dengan jari-jari tangan kiri terbuka hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya, ia bergidik. Alangkah kejinya cara penyerangan ini! Sungguh tidak patut dilakukan seorang dara jelita semuda itu, lebih patut serangan seorang iblis kejam. Dengan pengerahan hawa sakti untuk melawan tendangan ini, ia menangkis dari bawah dengan melintangkan lengan kanan ke atas kepala.

"Dessss....!!"

Dua lengan bertemu di udara dan tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang sampai tiga meter. Akan tetapi terpentalnya dalam keadaan enak saja, dan wajahnya tetap tersenyum-senyum. Tidak demikian dengan Ki Adibroto. Biarpun ia menang tenaga karena memang menang matang latihannya, namun ketika bertemu lengan, ia merasa betapa lengannya panas seperti dimasuki api yang terus menyelinap ke dalam tubuhnya, membuat dadanya terasa sakit. Ia kaget bukan main, juga terheran-heran.

Bocah ini benar-benar tidak menyombong kosong belaka, melainkan memiliki llmu yang tinggi, seorang yang sakti mandraguna! Endang Patibroto diam-diam marah pula karena tenaga lawannya benar hebat sehingga ia terpental. Biarpun hal ini tidak berarti ia kalah, akan tetapi pada lahirnya memang kelihatan bahwa dia tidak mampu menandingi tenaga lawan. Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangannya dan

"sing....sing....sing!!"

Tiga batang anak panah meluncur ke arah paha, perut dan tenggorokan Ki Adibroto. Anak panah ini diluncurkan dengan sentilan jari tangan, namun kecepatannya luar biasa, tidak kalah oleh anak panah yang diluncurkan dengan gendewa. Apalagi dilepas dari jarak empat lima meter, bukan main cepatnya laksana kilat menyambar.

Endang Patibroto sudah memastikan bahwa kali ini lawannya pasti akan roboh. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat tubuh lawannya itu tiba-tiba mencelat ke atas setinggi dua meter lebih sehingga tiga batang anah panah itu lewat di bawah kakinya dan tidak sebatangpun mengenai sasaran.

Dengan gemas yang meluap-luap Endang Patibroto lalu meloncat ke depan, tubuhnya agak merendah kemudian kedua tangannya melakukan gerak memukul ke depan. Inilah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya, yaitu Aji Wisangnolo. Api Beracun yang amat dahsyat, ilmu pukulan jarak jauh yang telah ia latih masak-masak dari gurunya!

Ketika itu, tubuh Ki Adibroto masih belum turun, masih melayang. Hatinya sudah berdebar karena serangan tiga batang anak panah tadl benar-benar amat berbahaya dan hanya sedikit selisihnya. Nyaris ia terkena anak panah yang ia dapat menduga tentu mengandung bisa ujungnya. Pada saat itu, Ki Adibroto sama sekali tidak menyangka bahwa lawannya yang masih begitu muda, dapat melakukan siasat pertandingan yang demikian licik dan curangnya. Karena inilah, maka dengan tidak menduga akan datangnya pukulan jarak jauh yang demiklan hebat, tahu-tahu ia merasa dadanya dihantam hawa pukulan yang panas sekali Tubuhnya terlempar ke belakang dan robohlah ia terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!

"Perempuan iblis.....!" Listyokumolo menjerit sambil menerjang maju dengan keris di tangan.

Namun, dengan mudah sekali Endang Patibroto miringkan tubuh, tangannya menyambar tangan kanan Listyokumolo yang memegang keris, kemudian ia memaksa tangan lawan itu untuk membalikkan keris dan menusuk lambung sendiri! Hebat bukan main tenaga dan ketangkasan Endang Patibroto.

Listyokumolo tahu benar betapa tanganya yang memegang keris itu tiba-tiba membalik, akan tetapi ia tidak kuasa mencegah atau menahan tangannya sendiri. Seolah-olah tangan kanannya itu bergerak di luar kekuasaannya dan seolah-olah tangannya itu kini sudah bukan tangannya lagi. Melihat betapa tangannya sendiri tanpa dapat dicegahnya menusuk ke arah lambungnya sendiri, Listyokumolo menjerit dengan mata terbelalak lebar.

Dengan tenaga terakhir ia berusaha menahan tangan kanan dengan tangan kirinya, namun sia-sia belaka usahanya. Dengan mata terbelalak ia melihat jelas betapa keris itu menusuk lambungnya, terus menusuk dan amblas sampai ke gagangnya. Ia merasa perih dan panas, mendengar suara ketawa lirih dari dara remaja yang sudah melepaskannya, suara ketawa yang bagi pendengarannya merupakan ketawa iblis yang menyeramkan. Listyokumolo sekali lagi menjerit kemudian tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Keris itu menancap tepat di lambung kiri, persis seperti lambung Pujo tadi!

BADAI LAUT SELATAN JILID 28