Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 26

IA mengerahkan tenaganya dan jari-jari tangannya menusuk mata ikan itu dan mengoreknya keluar, lalu cepat tangannya meraih mata yang sebelah lagi. Ikan itu kesakitan dan berkelojotan, membawa tubuh Jokowanengpati ikut pula terbanting-banting dan berputaran di dalam air. Akan tetapi dia berhasil membikin buta mata yang Scbelah lagi. Karena sakit sekali agaknya, ikan itu mengatupkan mulutnya dengan tenaga yang luar biasa dan Jokowanengpati tiba-tiba merasa tubuhnya terlepas dari pada gigitan ikan hiu.

Rasa girang berbareng dengan timbulnya harapan membuat tenaganya menjadi berlipat ganda. la menggerakkan kedua tangan menekan air dan tubuhnya mumbul ke atas. Hari telah menjelang malam dan Jokowanengpati segera menggerakkan kedua tangannya berenang menuju ke pantai yang kelihatan remang-remang. Ketika ia berenang dan menggerakkan kaki, ia merasa jantungnya seperti tidak berdenyut lagi.

Kedua kakinya! Begitu ringan! la menoleh dan matanya terbelalak lebar. Kedua kakinya tidak ada lagi! Hampir ia pingsan saking kagetnya. Dan sekiranya ia pingsan pada saat itu, tentu akan tamatlah riwayat hidupnya. Akan tetapi Jokowanengpati masih suka hidup dan berenanglah ia tanpa kaki, dengan susah payah menuju pantai. Ketika tiba di tempat dangkal ia tak dapat berenang lagi, tidak dapat berdiri pula. la lalu merangkak dan pada saat itulah semua rasa nyeri yang hebat menyelubungi tubuhnya.

Nyeri pada kedua kaki yang mendenyut-denyut sampai menembus jantung dan tulang sumsum. Nyeri karena perih dan sakit-sakit pada seluruh tubuh, pada mukanya. Nyeri yang tak tertahankan lagi, bagaikan dibetot-betot nyawa dari tubuh. Serasa ditarik-tarik semua urat di tubuhnya. Jokowanengpati tidak kuat lagi dan akhirnya ia roboh pingsan di atas pasir. Saat itulah penentuan mati hidupnya. Dan jelas bahwa Tuhan menghendaki dia hidup. Buktinya, secara kebetulan sekali air laut menjadi surut setelah ia roboh pingsan. Andaikata air laut tidak surut dan sebaliknya malah pasang, tentu ia akan terendam air atau dibawa hanyut ke tengah oleh ombak.

Air laut yang surut membuat Jokowanengpati menggeletak tertelungkup di atas pasir, seperti mayat. Semalam suntuk ia menggeletak tak sadarkan diri di atas pasir. Kalau saja ia tidak terluka sewaktu berada di dalam air laut, tentu ia akan tewas, bukan saja karena luka akan tetapi juga karena kehabisan darah. Agaknya air laut menjadi obat penawar yang mujijat. Pada pagi harinya, Jokowanengpati siuman dari pingsannya. Dengan merangkak-rangkak ia mendarat. Setelah ia terbebas daripada cengkeraman maut yang mengerikan, biarpun ia harus mengorbankan kedua kakinya, kini ia ingin hidup terus! la belum mau mati dan timbul pula semangatnya untuk hidup.

Biarpun harus merangkak-rangkak, akhirnya ia dapat memasuki sebuah hutan dan merawat luka-lukanya sampai sembuh. la tidak berani keluar dari dalam hutan-hutan lebat. la maklum bahwa kalau musuh-musuhnya mengetahui bahwa ia masih hidup, tentu mereka akan datang mencarinya dan rnembunuhnya. Dan dalam keadaan seperti itu, tak mungkin ia mampu mengadakan perlawanan seimbang.

Karena itulah, Jokowanengpati hidup di dalam hutan-hutan, merawat luka-lukanya dan juga memperdalam ilmu-ilmunya karena la ingin hidup terus. Dan untuk dapat hidup terus ia harus memperdalam ilmu-ilmunya untuk mengatasi kebuntungan kakinya. Untuk menyambung hidupnya di dalam hutan ia tidak khawatir. Biarpun kedua kakinya buntung, namun kedua tangannya masih ampuh. Sekali sambit dengan batu ia mampu merobohkan binatang hutan, baik binatang kelinci, kijang, maupun harimau.

Demikian, lima tahun lebih ia merantau seperti binatang di dalam hutan-hutan sehingga akhirnya ia naik ke lereng Gunung Lawu. Ia tadinya berniat hendak bertapa dan memperdalam kesaktiannya. Akan tetapi karena selama lima tahun lebih tidak bergaul dengan manusia, ia merasa kesepian dan terutama sekali ia merasa rindu akan seorang wanita. Perasaan sepi dan rindu ini yang membuat ia tergoda dan tersiksa dalam tapanya sehingga ia mengeluh dan merintih ketika secara kebetulan sekali Ayu Candra lewat.

Alangkah kaget, heran, dan girang hati Jokowanengpati ketika ia mendengar suara wanita menegur di luar pohon dimana ia bertapa! Hampir ia tidak percaya akan pendengaran telinganya. Suara wanita! Dan begitu merdu, begitu halus. Telinganya yang sudah hafal akan suara wanita segera dapat menduga bahwa yang berdiri di luar pohon adalah seorang wanita muda, seorang gadis remaja. Maka ia lalu bersandiwara, membuka pintu tempat pertapaannya di dalam batang gerowong, lalu menggelundung keluar. Dengan akal yang cerdik sekali, disertai Aji Asmoro kingkin yang pernah ia pelajari dari Ni Nogogini, ia berhasil membuat hati gadis itu terharu dan suka kepadanya, ia berhasil mempengaruhinya dan kini dengan hati girang ia ikut gadis remaja yang cantik jelita itu pulang ke pondok!

Dapat dibayangkan betapa jantung laki-laki yang sudah bobrok moralnya ini berdebar tidak karuan ketika ia digandeng oleh Ayu Candra yang menaruh kasihan kepadanya. Akan tetapi, mengingat akan cara gadis jelita ini tadi memecah buah kelapa dengan telapak tangan, kemudian melihat pula cara Ayu Candra mendaki dan menuruni bukit sambil menggandengnya sedemikian cekatan, pula merasa betapa ketika menggandengnya, gadis itu menyalurkan hawa sakti untuk dapat membawanya melompati jurang-jurang kecil, Jokowanengpati yang kini sudah berganti nama Ki Jatoko (Sengsara) itu maklum bahwa Ayu Candra bukanlah gadis sembarangan. Tentu orang tuanya yang bernama Ki Adibroto juga seorang yang memiliki kesaktian.

Maka ia berlaku hati-hati dan menahan-nahan hasrat hatinya yang timbul oleh dorongan nafsu berahi melihat gadis yang benar-benar amat jelita ini. Hatinya girang dan lega mendengar bahwa ayah bunda gadis itu tidak berada di pondok. Gadis itu berada seorang diri! Calon korban yang mudah dan lunak. Betapapun juga, ia tidak mau berlaku sembrono dan ada sesuatu dalam gerak-gerik dan sikap Ayu Candra yang amat menarik dan yang mengguncangkan hatinya, perasaan yang selamanya belum pernah ia alami.

Biasanya, menghadapi setiap orang wanita dari gadis dusun sampai puteri bangsawan, ia memandang dan menganggapnya sebagai setangkai bunga yang menarik hati, yang menimbulkan rangsang dan hasrat untuk memetik, menikmati keindahannya, mencium keharumannya, kemudian melemparkannya bunga yang melayu tanpa perasaan kecewa atau menyesal lagi. Akan tetapi, kali ini tidak demikian. Memang tersentuh berahinya menyaksikan gadis jelita ini, mendorong nafsunya untuk memiliki Ayu Candra, akan tetapi berbeda dengan yang sudah-sudah, ia mendapat keyakinan dalam perasaannya bahwa hidupnya akan selalu bahagia apabila ia dapat terus berdampingan dengan gadis ini!

Inilah yang membuat hati Ki Jatoko ragu-ragu untuk mempergunakan kekerasan seperti yang seringkali ia lakukan terhadap para wanita korbannya. Inilah yang membuat Ki Jatoko timbul keinginan di hatinya untuk mempersunting Ayu Candra dengan bujuk rayu, ingin dicinta gadis itu sepenuh hati, dan ingin melihat gadis itu menyerahkan diri dan jiwa kepadanya dengan landasan cinta kasih!

Menggelikan sekali! Ki Jatoko, atau Jokowanengpati, yang dahulunya seorang pria yang gagah dan tampan, yang tidak pernah jatuh hati kepada wanita manapun juga, yang hanya suka untuk mempermainkannya, kini setelah berusia empat puluh tahun lebih, setelah kedua kakinya buntung dan badan serta mukanya penuh cacat, secara mendadak ia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik jelita berusia tujuh belas tahun! Sungguh gila! Gilakah Jokowanengpati karena mencinta gadis jelita remaja puteri? Kalau dia dikatakan gila, maka agaknya di dunia ini penuh orang gila!

Betapa banyaknya di dunia ini terdapat orang-orang seperti Jokowanengpati, malah banyak yang lebih gila daripada itu. Orang-orang dimabuk cinta, dimabuk benci, dirangsang marah, dibakar dendam, digoda iri dan dengki. Tidak, Jokowanengpati atau Ki Jatoko tidak gila, melainkan lemah. Dia lemah seperti manusia kebanyakan, lemah terhadap nafsu-nafsu pribadi, menjadi hamba nafsu dan karenanya menjadi abdi iblis dan setan!

Cinta kasih yang bersemi secara aneh di lubuk hati Ki Jatoko inilah yang membuat Ayu Candra terjamin keamanannya dalam perjalanan pulang itu. Andaikata tidak ada cinta kasih yang ganjil ini tentu ia telah ditubruknya dan diperkosa dengan kekerasan. Dan betapapun pandai gadis itu dalam ilmu silat dan kesaktian, dia bukanlah lawan Ki Jatoko atau Jokowanengpati!

Dalam perjalanan pulang ke pondok di Sarangan ini, sambil bergandeng tangan, Ki Jatoko berhasil memancing Ayu Candra menceritakan keadaannya. Gadis ayu yang sama sekali tidak menaruh curiga itu menceritakan bahwa ayahnya, Ki Adibroto, adalah seorang pendekar daerah Ponorogo yang terkenal, seorang warok golongan putih, yang tidak akan ragu-ragu untuk membasmi kejahatan. Dalam bercerita tentang ayahnya, Ayu Candra merasa bangga.

"Pantas saja engkaupun hebat sekali!" Ki Jatoko memuji. "Aku tadi merasa kagum dan heran ketika engkau memecah buah kelapa dengan tanganmu yang halus lunak ini. Kiranya engkau puteri seorang pendekar perkasa!"

Ayu Candra adalah seorang gadis yang masih hijau dalam pergaulan dan pengalaman. Ia tidak dapat membedakan antara bujuk rayu dan pujian sesungguhnya. Ia merasa bangga dan dengan kedua pipi kemerahan ia berkata, "Ah, paman Jatoko, kau terlalu memuji. Kepandaianku tidak ada artinya kalau dibandingkah dengan ayah. Kau tunggulah sampai ayah pulang, tentu ayah akan menolongmu."

"Aku boleh tinggal bersamamu di pondok? Apakah ayah bundamu tidak akan marah?"

Ayu Candra masih bodoh. Belum begitu mendalam pengertiannya tentang tata susila antara pria dan wanita. Apalagi, dalam pandang matanya, Ki Jatoko adalah seorang tua yang bercacat, pantas menjadi pamannya. Apa salahnya kalau mondok di rumahnya? Orang yang berpikiran bersih memang tidak ada syak wasangka yang bukan-bukan.

"Mengapa tidak boleh? Tentu saja mereka tidak akan marah! Siapa orangnya takkan menolong kalau melihat keadaanmu seperti ini?"

"Kau baik sekali....kau baik sekali...." Entah mengapa, Ki Jatoko menggigil seluruh tubuhnya dan biarpun ia berusaha menekan, tangan Ayu Candra yang menggandeng tangannya merasa betapa tangan laki-laki buntung itu tergetar. Hal ini dianggap oleh gadis itu sebagai perasaan terharu si laki-laki buntung yang merasa amat bersyukur dan berterima kasih. Ia menjadi makin kasihan.

Setibanya di pondok, Ayu Candra cepat menanak nasi dan memasak sayuran untuk Ki Jatoko yang duduk di lincak (bangku bambu) depan pondok. Setelah matang, gadis itu mempersilahkan tamunya dahar yang diterima dengan rasa syukur dan girang oleh Ki Jatoko. Malam itu Ki Jatoko bermalam di pondok. Akan tetapi ia menolak ketika oleh Ayu Candra ditawarkan bilik belakang.

"Tidak, anak manis, biarlah di sini saja di atas lincak ini cukuplah."

"Akan tetapi, di luar dingin sekali, paman. Pula, kalau malam nanti datang binatang buas, kan berbahaya?"

Di dalam hatinya, Ki Jatoko mentertawakan. Masa ia takut akan segala binatang buas? Akan tetapi mulutnya menjawab, "Ah, kiranya tidak akan ada binatang buas yang doyan tubuhku lagi. Pula, biasanya binatang buas tidak berani mendekati tempat tinggal manusia. Aku sudah biasa tidur di luar, mungkin kalau tidur di dalam pondok malah menjadi gelisah tak dapat tidur."

Ayu Candra tidak memaksa dan malam itu dia segera memasuki biliknya. Betapapun juga, tidak enak hatinya kalau malam-malam bercakap-cakap dengan laki-laki buntung itu, ia merasa canggung juga. Ia tidak tahu bahwa Ki Jatoko memang sengaja tidak mau tidur di dalam pondok karena ada niatnya. Di samping itu, laki-laki yang cerdik ini menjaga kalau-kalau orang tua gadis itu sewaktu waktu pulang. Jika pulang di waktu malam dan melihat dia sebagai seorang pria berani tidur sepondok dengan puteri mereka, tentu mereka akan marah dan menganggap dia tidak tahu aturan.

Sungguh dia polos, suci murni dan baik budi. Demikian Ki Jatoko termenung memikirkan gadis ayu itu yang tanpa ragu-ragu mempersilahkan dia seorang laki-laki asing, untuk tidur di dalam pondok. Bagi umum, tentu hal ini dianggap pelanggaran susila, akan tetapi ia tahu betul bahwa gadis itu menawarkan pondok dengan hati bersih daripada segala pikiran yang bukan-bukan. Ki jatoko gelisah sekali. Sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, hanya duduk merenung di atas lincak.

Bayangan wajah yang cantik jelita, bentuk tubuh yang ramping padat, keindahan dan keranuman usia muda, kulit tangan yang halus lunak dan hangat, semua ini menggoda hatinya, membangkitkan berahi yang makin berkobar. Apalagi kalau ia terkenang akan semua perbuatannya di masa lalu, membanding-bandingkan semua korbannya, yaitu wanita-wanita yang dimilikinya baik secara halus maupun kasar, secara suka rela maupun perkosaan, dalam kenangannya tidak ada yang dapat melawan Ayu Candra!

"Aku harus dapatkan dia! Harus! Matipun takkan penasaran lagi, setiap waktu matipun aku akan rela asal sudah mendapatkan dia. Ah, Ayu Candra bocah ayu denok, kau membikin aku tergila-gila"

Ki Jatoko lalu bersedakap dan matek aji sirep. Sejam kemudian, keadaan pondok dan sekelilingnya sunyi mati, tidak terdengar suara sedikitpun karena terkena pengaruh aji sirep yang ampuh. Ki Jatoko lalu meloncat turun dari lincak dan kini gerakannya amat gesit ketika ia membuka daun pintu pondok dan berjalan biasa menggunakan kedua kaki buntungnya. Berindap-indap ia menghampiri bilik tempat tidur Ayu Candra.

Dari dalam bilik bersinar cahaya dian yang menyorot keluar menembus celah-celah anyamam bambu, menyinari wajah Ki Jatoko yang kelihatan mengerikan sekali. Wajah itu lebih buruk daripada biasanya. Kini berkilat-kilat basah oleh peluh, matanya agak kemerahan dan bersinar-sinar penuh nafsu berahi, mulutnya menyeringai basah, napasnya agak tersendat-sendat tertahan karena gelora nafsu asmara.

Dengan tangan gemetar didorongnya daun pintu bilik itu dan di lain saat ia sudah memasuki bilik. Seperti terpesona ia berdiri di ambang pintu. Dian itu kecil sumbunya. Api minyak kelapa itu kecil namun anteng dan membuat keadaan bilik remang-remang. Ayu Candra tampak tidur nyenyak. Rambut yang panjang gemuk dan hitam itu terurai, sebagian menutupi muka, terus terurai ke bawah menutupi dada, membuat kulit dada itu tampak makin putih halus di balik kehitaman rambut.

Dada padat membusung itu bergerak perlahan naik turun seirama dengan napas yang halus dan tidak bersuara. Mata yang membuat bulu mata tampak panjang melengkung dan membuat bayang-bayang di bawah mata. Bibir yang merah membentuk gendewa terpentang itu mengulum senyum, manis mengalahkan sari madu. Tubuh yang padat, denok dan ramping, kelihatan panjang ketika tidur telentang.

Lengan kiri dara itu ditekuk ke atas, lengan kanan menyilang perut, seperti gerak tari yang amat indah gemulai. Ki Jatoko mengejapkan matanya, menggoyang-goyang kepala. Akan tetapi ketika memandang kembali, tetap saja ia menjadi seperti mabuk. Berkali-kali ia menelan ludah, tubuhnya makin menggigil, dan perlahan-lahan ia mendekati pembaringan.

"Ayu...Ayu Candra...aduhhh alangkah cantik jelita engkau....belum pernah kumelihat wanita secantik engkau, Ayu...!"

Ucapan ini tidak dibisikkannya, melainkan diucapkan. Akan tetapi Ayu Candra yang biasanya peka dan mudah bangun dari tidurnya setiap mendengar suara yang tidak sewajarnya, kini tetap pulas. Ternyata ia telah terkena pengaruh aji sirep yang ampuh tadi sehingga keadaannya seperti orang pingsan.

Jangankan hanya suara manusia, biar suara harimau mengaum dekat telinganya, ia takkan dapat bangun. Andaikata ia diseret turun dari atas pembaringan sekalipun, ia takkan dapat sadar! Ki Jatoko kini sudah dekat, berdiri di pinggir pembaringan. Harum kembang mawar putih yang tersebar di atas pembaringan membuat ia sejenak memejamkan kedua matanya. Cuping hidungnya tergetar dan napasnya menjadi sesak. Ketika ia membuka matanya kembali, tampak matanya membasah. Keindahan yang tampak di depan matanya begitu mempesona, begitu memikat, begitu indah sampai mendatangkan rasa haru.

"Aduh, dewiku....kalau engkau tidak membalas cintaku, aku tidak mau hidup lagi.....!

Kedua tangan Ki Jatoko terulur, jari-jari tangannya tergetar, ia bergerak memeluk, hendak merangkul. Akan tetapi sebelum jari tangannya menyentuh kulit yang putih halus itu, tiba-tiba ia tersentak kaget dan menarik kembali tangannya.

"Duh Jagad Dewa Bathara! Gilakah aku? Ayu Candra....bocah ayu kuning....bagaimana aku dapat memperlakukannya seperti wanita-wanita lain? Bagaimana aku tega untuk memperkosanya? Tentu dia akan benci kepadaku! Tentu ia akan memandang rendah, akan mengutukku, memusuhiku. Ahhh.....tidak boleh begini! Jokowanengpati, engkau sudah gila! Gadis ini benar-benar telah menjatuhkan hatiku. Aku....aku cinta kepadanya, tidak boleh ia membenciku. Aduh..... Ayu Candra.......engkau maafkan aku, nimas! Aku tidak tega memaksamu, aku akan menanti sampai engkau dengan suka rela menyerahkan diri kepadaku, membalas cinta kasihku....!!"

Lemaslah kedua kaki yang tinggal paha itu dan Ki Jatoko hanya berani mencium ujung rambut yang terurai keluar dari pembaringan. Kemudian dengan pipi basah air mata ia keluar lagi dari bilik menutupkan pintu dan merebahkan diri di atas lincak di depan pondok. Ia gelisah tak dapat tidur, mengeluh panjang pendek, dan akhirnya baru bisa pulas menjelang fajar.

Cinta memang perasaan ajaib. Akibat daripada cintapun banyak macamnya dan aneh-aneh. Orang merasa dirinya dalam surga dunia karena cinta. Akan tetapi dapat juga merasa dirinya dalam neraka dunia karena cinta. Cinta ditempeli nafsu berahi membuat orang lupa akan tata susila. Cinta dicampur cemburu dapat membuat orang menjadi kejam dan suka menyiksa. Cinta dapat merubah seorang baik-baik menjadi seorang yang jahat dan keji. Sebaliknya cinta dapat pula merubah seorang yang biasanya jahat menjadi seorang yang baik dan setia terhadap orang yang dicintainya. Cinta mampu merubah watak domba menjadi watak harimau, sebaliknya watak harimau dirubah menjadi watak domba.

Ayu Candra bangun dari tidurnya, bangkit dengan malas, menggeliat dan menguap di belakang kepalan tangannya. Ia merasa tubuhnya segar. Enak sekali tidurnya malam tadi. Akan tetapi....tiba-tiba ia mengerutkan alisnya yang hitam melengkung. Ia bermimpi malam tadi! Mimpi aneh sekali, dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua pundaknya yang telanjang seperti orang jijik. Ia mimpi menggandeng tangan Ki Jatoko seperti kemarin akan tetapi tiba-tiba Ki Jatoko mencium ujung jarinya. Ketika dilepaskan pegangannya, tangan yang dicium itu menjadi busuk dan rusak, seperti orang sakit kusta dan makin lama penyakit itu menjalar makin ke atas, makan jarinya, tangannya, lengannya!

"Ihhh.....! Gila, menjijikkan!"

la melompat turun dari pembaringan dan mencoba untuk menghibur diri dengan keyakinan bahwa hal itu hanya terjadi dalam mimpi. Akan tetapi hatinya tetap tidak enak, seakan-akan ada kotoran yang hinggap pada tubuhnya dan harus segera dibersihkan!.

Di luar pondok, ayam hutan terdengar berkokok saling sahut. Memang sudah biasa dara ini bangun pagi-pagi sekali. Bangun pagi di waktu ayam berkokok menyehatkan dan menyegarkan badan. Ia lalu meniup padam dian di atas meja, dan berjalan keluar dari bilik. Hati-hati ia membuka pintu depan dan ketika menjenguk keluar, ia melihat Ki Jatoko masih tidur meringkuk di atas lincak. Kelihatan pendek sekali. Mulutnya terbuka dan dengkurnya kasar. Ayu Candra bergidik teringat akan mimpinya semalam.

Makin tak enak perasaan hatinya setelah melihat orang yang kakinya buntung itu tidur mendengkur di atas lincak. Benar menjijikkan sekali. Karena keadaan si buntung itu tidak menderita seperti siang tadi, rasa kasihan menipis di hatinya dan rasa jijik timbul. Sialan, pikirnya. Mimpi saja kok macam itu. Ia jarang sekali mimpi dan mimpi yang sekali ini benar-benar membuat ia tak tenang jiwanya. Ia menutup daun pintu depan lalu melangkah keluar dan cepat-cepat ia berlari menuju ke telaga. la sengaja jalan memutar dan memilih bagian yang jauh dari pondoknya, yang sunyi dan memang bagian ini menjadi tempat ia mencuci pakaian dan mandi. Bagian ini airnya paling bersih.

Sampai tempat itu, ia duduk di atas batu yang bersih licin. Duduk termenung. Mengapa ayah bundanya lama amat perginya? Kalau mereka pulang, tentu hatinya akan tenteram. Kini teringat ia betapa sepasang mata orang buntung itu seperti mata setan. Aneh sekali, pikirnya. Orang buntung yang sengsara dan lemah itu memiliki sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh dan begitu kuatnya, seakan-akan mampu menjenguk isi hatinya.

Mata seperti itu sepatutnya dimiliki seorang yang sakti! Ada persamaan dengan sinar mata ayahnya, hanya kalau sinar mata ayahnya yang tajam itu mengandung kelembutan dan ketenangan, adalah mata orang buntung ini juga tajam akan tetapi mengandung sesuatu yang aneh dan liar tidak tenang.

Ayu Candra tidak segera turun keair. Hari masih terlalu pagi, dan hawa udara amat dingin. Biasanya, ia baru berani terjun ke air kalau matahari sudah muncul sehingga begitu selesai mandi ia dapat berjemur menghangatkan tubuh dan mengeringkan rambut. Apalagi sekarang karena tergesa-gesa hendak segera meninggalkan pondok dan orang buntung itu, ia telah kelupaan membawa kain pengganti.

Ibunya melarangnya mandi bertelanjang, kecuali di waktu malam gelap. Banyak mata laki-laki kurang ajar, kata ibunya. Pernah dibantahnya bahwa di telaga tidak ada orang lain. Siapa tahu, kata ibunya. Di mana-mana dalam dunia ini akan kau jumpai laki-laki kurang ajar yang suka mengintai wanita mandi, apalagi kalau mandi bertelanjang, kata pula ibunya. Ia teringat akan laki-laki buntung.

Apakah mata laki-laki itupun mata kurang ajar? Ayu Candra belum mampu membedakan dengan jelas. Pernah ketika di Ponorogo dahulu, ketika ia pulang dari pasar, lima orang pemuda berandalan menggodanya dengan ucapan ucapan kasar, bahkan tangan mereka berlancang hendak menjamahnya. Mula-mula Ayu Candra melayani mereka bicara, akan tetapi setelah tangan mereka mulai jahil, ia mengeluarkan kepandaiannya dan membuat mereka berlima berjungkir balik dan babak belur. Mulailah ia dikenal orang dan tak seorangpun pemuda berani berkurang ajar kepadanya. Apalagi setelah orang tahu bahwa dia puteri pendekar Adibroto!

Kalau teringat kepada Ki Jatoko dan mimpinya semalam, Ayu Candra masih merasa jijik dan merasa seakan-akan tubuhnya menjadi kotor. Ia bangkit dari duduknya dan mencari daun pandan dan bunga-bungaan karena ia hendak keramas. Kalau hanya mandi biasa tanpa keramas, ia takkan merasa dirinya bersih kembali. Sementara itu, matahari sudah mulai menyinarkan cahayanya yang lembut dan kemerahan.

Lama juga gadis ini duduk termenung tadi. Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa ketika sedang memetik daun pandan dan bunga-bunga mawar, sepasang mata yang baru bangun tidur menatapnya dari atas sebatang pohon yang besar. Mata itu mula-mula terbuka kaget dan bangun dari tidur ketika Ayu Candra menginjak daun-daun kering, kemudian terbelalak memandang ke bawah, lalu ketap-ketip (berkejap-kejap) dan tangannya menggaruk-garuk kepala, menggosok-gosok kedua mata yang masih sepet, memandang kembali dan sekali lagi melongo.

"Mimpikah aku? Gila benar, ada mimpi begini jelas?"

Tangan itu kini mencubit pahanya sendiri dan mulutnya menyeringai ketika ia merasa nyeri. Ketika memandang ke bawah lagi, ia melihat dara jelita itu yang sudah selesai memetik bunga, kini berjalan pergi. Lenggang yang seenaknya tak dibuat-buat itu seakan-akan mempunyai daya tarik dan membetot-Betot hati laki-laki yang rebah di atas batang pohon besar. Ia bangkit dan duduk di atas cabang pohon, matanya terbelalak memandang pinggul yang menari-nari itu.

"Bukan mimpi! Dia itu peri penjaga hutan atau peri telaga yang kesiangan! Atau bidadari kahyangan hendak mandi! Kalau manusia tak mungkin. Bagaimana seorang dara remaja berada seorang diri dihutan sunyi dan liar ini? Dan kalau manusia tidak ada yang sedemikian eloknya, wajahnya bersinar-sinar seperti mengeluarkan cahaya keemasan, rambutnya seperti awan hitam berarak, kakinya begitu ringan tak menyentuh bumi! Aduh Gusti, benar-benarkah aku melihat bidadari?"

Laki-laki itu menyingkap rambut yang turun ke dahi itu, lalu sekali menggerakkan tubuh ia telah melayang turun dari pohon. Gerakannya amat ringan dan sigap, kedua kakinya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara! Dia seorang laki-laki yang masih amat muda, bertubuh sedang dengan bentuk tegap kuat, wajahnya tampan. Akan tetapi pada saat itu sinar matanya yang tajam berpengaruh itu diselimuti kebingungan yang timbul dari hati yang berdebar-debar. Dengan gerakan yang amat gesit namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, ia mengejar ke depan dan mengikuti Ayu Chandra yang berjalan dengan lenggang sewajarnya menuju ke pinggir telaga.

Sinar matahari pagi disambut keriangan burung yang berkicau merdu, tanda bahwa permukaan bumi mulai bangun untuk menyambut kemegahan sang surya. Keadaan yang indah ini agaknya mempengaruhi hati Ayu Candra karena mulutnya mulai tersenyum-senyum, wajahnya berseri dan ia lalu bersenandung.

"Ana pandhita akarya wangsit,
minda kumbang angajab ing tawang,
susuh angin ngendi nggone,
lawan galihing kangkung,
wekasane langit jaladri,
Isining wulung wungwang,
lan gigiring punglu,
tapaking kuntul anglayang,
manuk miber uluke ngurgkuli langit,
kusuma jrahing tawang."

Pemuda yang mengikuti dari belakang itu melongo. Aduhh, pikirnya, tentu bidadari kahyangan. Kalau seorang gadis gunung biasa tak mungkin bertembang seperti itu! Suaranya merdu melebihi burung kenari. Tembang Dandanggendis itu tepat dan indah alunannya seperti nyanyian waranggana istana saja. Dan kata-katanya Mengandung makna yang amat dalam, penuh filsalat kebatinan yang hebat!

Selama hidupnya, baru kali ini Joko Wandiro terpesona oleh seorang wanita. Ya! Pemuda itu bukan lain adalah Joko Wandiro. Setelah ia gagal mengabdi kepada Sang Prabu Panjalu, kemudian di alun-alun kerajaan itu ia berhasil mengalahkan dan mengusir Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Joko Wandiro lalu meninggalkan Kerajaan Panjalu. Ia terus mengembara ke barat karena tujuan hatinya adalah mencari ayah angkatnya dan bibinya di Bayuwismo pantai Laut Selatan. Ia melakukan perjalanan seenaknya, melalui gunung-gunung sambil menikmati pemandangan alam yang indah sehingga akhirnya ia sampai di lereng Gunung Lawu dan bermalam di sebuah hutan tidak jauh dari Telaga Sarangan.

Perjumpaannya dengan Ayu Candra benar-benar tak disangkanya sama sekali. Tidak pernah ia menyangka bahwa di tempat sunyi ini tinggal seorang gadis jelita seorang diri sehingga mau ia percaya bahwa gadis itu tentulah sebangsa bidadari penghuni kahyangan. Biarpun Joko Wandiro semenjak kecil digembleng oleh orang-orang pandai, memiliki batin yang amat kuat, namun ia seorang manusia juga. Manusia laki-laki yang masih muda, baru berusia dua puluh tahun kurang.

Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja iapun mempunyai perasaan wajar terhadap wanita, teristimewa kepala wanita yang memiliki daya penarik khas terhadap perasaan dan seleranya. Joko Wandiro bukanlah seorang laki-laki mata keranjang, dan biasanya hatinya acuh tak acuh apabila ia bertemu dengan wanita muda. Memang setelah dewasa, ia dapat menilai akan cantik tidaknya seorang wanita, namun belum pernah ia merasa tertarik dan boleh dikatakan hatinya selalu dingin terhadap mahluk jenis lawan ini.

Akan tetapi sekali ini lain sama sekali. Begitu melihat Ayu Candra, ia terpesona, jantungnya berdebar-debar tidak karuan dan semangatnya serasa melayang-layang. Tidak ada hasrat lain di hatinya kecuali mengikuti ke manapun juga dara itu pergi! Seperti, seorang linglung kini ia berindap-indap dan mengikuti dara itu yang menuju ke pinggir telaga sambil bertembang amat merdunya.

Ayu Candra tidak tahu bahwa dirinya diikuti dan diperhatikan orang. Ia lalu turun ke dalam air, terus ke depan di mana air sampai di pinggangnya. Amat sejuk dan segar. Ia menyelam tiga kali lalu menggosok-gosokkan daun pandan dan bunga-bungaan kepada rambutnya yang terurai basah. Rambut yang hitam gemuk panjang itu mengkilap tertimpa sinar matanari pagi dan kulit yang putih menguning itu seperti kencana muda.

Joko Wandiro berindap-indap mendekat pantai. Seperti mimpi ia terus mendekat sampai berada di tepi pantai, hanya beberapa meter jauhnya dari gadis itu, lalu bersimpuh di atas rumput. Kini ia tidak bersembunyi lagi, melainkan duduk menonton di tepi telaga seperti orang tak sadar akan keadaan dirinya. Terpesona ia memandang ke depan, melihat tubuh belakang dara itu. Kain yang basah itu menempel ketat dan mencetak tubuh belakang yang ramping, padat dan gempal. Di bagian pinggul, kain itu seakan-akan hendak pecah, tidak kuat menahan gumpalan daging yang menonjol haus akan kebebasan.

cerita silat online karya kho ping hoo

Ketika kedua tangan dara itu bergerak-gerak mulai menggosok leher dan dadanya, dari belakang tampak tulang belikatnya bergerak-gerak, membuat punggung yang halus itu bergerak-gerak pula seperti menari. Melihat semua keindahan yang selama hidupnya baru kali ini mengikat perhatiannya, Joko Wandiro menahan napas.

Pandang mata manusia mengandung getaran-getaran yang kuat, apalagi kalau pandang mata itu didorong perasaan. Juga manusia diperlengkapi alat-alat halus untuk menerima getaran ini, menangkap dengan indera ke enam. Makin bersih batin manusia, makin kuat indera ke enam ini sehingga membuat ia mungkin menerima getaran-getaran yang paling halus, memungkinkan ia melihat yang tak terlihat mata, mendengar yang tak terdengar telinga.

Ayu Candra yang tadi sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai tidak memperhatikan getaran-getaran halus yang semenjak tadi menyerangnya, kini mulai merasakan getaran itu dan membuatnya melakukan gerak otomatis membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba ke belakang. Dua pasang mata bertemu pandang. Dua pasang mata yang bersinar sama tajam, penuh getaran. Sampai lama dua pasang mata itu bergelut pandang, yang satu terpesona yang ke dua kaget dan heran.

Menyaksikan tubuh dara itu dari belakang sudah hebat, kini menatapnya dari depan, benar-benar menakjubkan, membuat kerongkongan Joko Wandiro serasa kering tercekik sehingga terpaksa ia berusaha menelan ludah. Kemudian, terdorong oleh keharuan dan perasaan kagum terpikat yang sukar dilukiskan dengan kta-kata, terdorong pula oleh rasa kesadaran bahwa ia telah bersikap tidak sebagaimana mestinya dan melakukan pelanggaran susila yang semenjak ia kecil sudah digariskan oleh guru-gurunya, mendadak Joko Wandiro menunduk dan menyembah!

"Duh sang dewi, hamba mohon ampun akan kelancangan hamba, berani menjatuhkan pandang mata terhadap paduka."

Sejenak Ayu Candra tertegun. Sinar kemarahan yang mulai menyelubungi mukanya, perlahan-lahan lenyap, berganti keheranan, tidak mengerti, kemudian setelah sikap pemuda yang amat aneh itu dapat ia duga maksudnya, ia tersenyum lebar dan menutupkan tangan kiri ke depan mulut menahan ketawa geli.

"Hi-hi-hik! Kau sangka aku ini dewi penjaga telaga? Hi-hik!"

Joko Wandiro mengangkat muka memandang dan hampir saja ia terjungkal ke dalam telaga! Setelah kini tersenyum, wajah itu makin hebat! Dan dara itu tertawa dan mengeluarkan kata-kata, ia menjadi sadar akan keadaannya yang tidak sewajarnya, menyeretnya kembali kealam dunia dari alam mimpi. Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan rasa malu membuat mukanya terasa dingin panas tidak keruan! Ia hanya bisa memandang dengan mulut melongo dan hal ini kembali mendatangkan kemarahan di hati Ayu Candra karena kembali timbul prasangka bahwa pemuda itu tentu mengintainya dengan sengaja untuk bersikap kurang ajar

"Heh! mau apa kau di situ? Kau mau mengintai orang mandi, ya? Kurang ajar....!"

Joko Wandiro yang telah sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang manusia, seorang dara jelita, seakan-akan disiram air dingin. Ia gelagapan, bingung, malu dan gugup. Jelas tertekan dalam benaknya betapa ia telah berlaku terlalu kurang ajar, melanggar tata susila. Dengan gagap-gugup ia menyangkal, "Tidak....tidak....! Aku tidak berniat kurang ajar....!"

Diam-diam Ayu Candra memperhatikan pemuda itu dan iapun kagum. Pemuda ini amat tampan dan muka seperti itu tak mungkin kurang ajar! Akan tetapi dengan mulut cemberut ia mendesak, "Kalau tidak mau kurang ajar, mau apa kau di sini?"

"Aku mau...mau mandi....!"

Ayu Candra membentak, "Mana ada orang mandi di darat?"

"aku....belum....sekarang juga....mandi....."

Dengan gagap dan gugup Joko Wandiro yang hendak menyembunyikan rasa malunya itu bangkit dan segera pergi ke sebelah kanan, terpisah sepuluh meter dari tempat dara itu mandi, kemudian ia melompat ke air tanpa membuka pakaian pula!

"Eeeeeeh, awas di situ amat dalam....!"

Ayu Candra menjerit kaget, akan tetapi sudah terlambat, pemuda itu sudah ambyur ke air sehingga air muncrat tinggi ketika terdengar suara menjebur. Tubuh pemuda itu tenggelam dan tak tampak lagi sampai permukaan air menjadi tenang kembali dan hanya tampak air berbunyi blekutuk-blekutuk karena ada hawa naik dari bawah.

"Celaka........!" Ayu Candra berseru kaget Melihat cara pemuda tadi terjun ke air, begitu kaku dan dengan perut lebih dulu, dapat diduga bahwa pemuda itu tidak pandai berenang, kini ternyata pemuda itu tenggelam dan tidak muncul kembali!

Gerak gerik pemuda tadi amat aneh. Kalau bukan orang yang miring otaknya tentu orang yang mempunyai penyakit ayan! Menurut ayahnya, penyakit ini hebat sekali dan kabarnya orang yang mempunyai penyakit ayan sama sekali tidak boleh dekat air yang dalam karena sekali tergelincir ke dalam air di waktu penyakitnya kumat, orang itu tentu akan mati!

Teringat akan hal ini, bangkit sikap pendekar dalam diri Ayu Candra. Bagian di mana pemuda tadi terjun amat dalam, kata ayahnya dalamnya setinggi pohon bambu tua! Ia lalu berenang ke depan, ke bagian telaga yang dalam di mana pemuda tadi terjun, kemudian mengambil napas panjang dan menyelam.

Dengan gerakan kedua kakinya disertai tenaga dalam yang amat kuat, Ayu Candra terus menyelam. Ia membuka mata di dalam air dan untung baginya bahwa sinar matahari ada yang menimpa bagian itu dan air amat jernih sehingga ia dapat melihat ke bawah. Tidak jauh di sebelah bawah ia melihat benda hitam bergerak-gerak. Tidak salah lagi, tentulah itu pemuda yang gendeng tadi, atau mungkin sedang sekarat karena penyakit ayannya kumat.

Dengan gerakan kaki dan tangan, Ayu Candra menyelam terus dan setelah dekat, benar saja ia melihat bayangan kepala orang. Menolong orang kalap (tenggelam di air) sekali-kali tidak boleh sembrono, pikirnya, teringat akan nasehat ayahnya. Kalau yang ditolong itu saking takutnya merangkul dan memeluk mencari pegangan, bisa celaka pula orang yang berusaha menolong. Harus dijambak rambutnya, atau dibikin tak berdaya, atau dipukul sekali biar pingsan!.

Ayu Candra meragu. Untuk menempiling kepala itu ia khawatir kalau-kalau pukulannya terlalu keras dan yang dipukul akan mampus sama sekali! Ketika tangannya meraih ke depan, jari-jari tangannya mencengkeram muka dan menangkap hidung. Ia merasa betapa muka itu hangat dan dari hidungnya keluar hawa yang menimbulkan gelembung-gelembung air, maka ia cepat merangkul leher orang itu dan memiting (menjepit) dengan lengan erat erat. Kalau ia meronta dan hendak mencengkeram, kuperkeras jepitanku pada lehernya, hendak kulihat apakah ia takkan tercekik pingsan, pikirnya.

Dengan lengan kiri memiting leher, Ayu Candra lalu menjejakkan kedua kaki bergantian ke bawah dan tangan kanannya membantu. Memang hebat tenaga dalam dara ini sehingga dalam waktu singkat, kepalanya sudah tersembul keluar dari permukaan air. Ia mengguncang-guncang kepala dan menghapus air dari muka dengan tangan kanan, kemudian melihat sejenak ke arah yang menempel di dadanya.

Orang yang dipiting lehernya itu matanya meram, napasnya terengah-engah akan tetapi tidak mati. Ayu Candra lalu berenang ke pinggir dan setelah tiba di pinggir, di tempat dangkal, ia melepaskan pitingannya dan menyeret orang itu dengan mencengkeram leher bajunya, menariknya ke darat. Akan tetapi, perut orang itu sama sekali tidak kembung, tidak terisi air seperti biasanya orang yang tenggelam. Bahkan begitu sampai di darat, pemuda itu membuka matanya dan bangkit duduk! Matanya terbelalak lebar, mukanya kemerahan dan pemuda itu memandangnya dengan bengong.

Ayu Candra melihat arah pandang mata pemuda itu ditujukan ke dadanya. Cepat ia menunduk dan hampir ia menjerit ketika melihat betapa kainnya telah merosot turun sampai ke pinggang membuka bagian dadanya yang hanya sebagian tertutup rambutnya. Secepat kilat tangan kirinya menarik kainnya ke atas dan tangan kanannya menampar.

"Plakk!!"

Tamparan itu keras sekali dan diam-diam Joko Wandiro kaget bukan main. Tidak disangkanya dara ini memiliki tenaga yang demikian hebatnya. Untung dia memiliki kesaktian, kalau orang biasa menerima tamparan sehebat itu, tentu akan rontok giginya! Akan tetapi, karena tidak menyangka-nyangka sehingga ia tidak mengerahkan tenaga, untuk menerima tamparan, pipinya terasa panas dan perih juga.

Joko Wandiro mengangkat tangannya, mengusap-usap pipinya yang kena tampar. Ia tidak tahu bahwa dara itu lebih terkejut dan lebih heran daripadanya. Ayu Candra merasa kaget melihat betapa pemuda yang disangkanya gendeng (setengah gila) atau berpenyakit ayan itu menerima tamparannya seperti orang yang pipinya dihinggapi lalat saja agaknya! Padahal tadi karena malu dan marah ia telah melakukan penamparan yang cukup keras untuk membikin gigi rontok bibir pecah Ataukah tanpa disadarinya ia merasa kasihan dan menampar tidak sekeras yang ia kehendaki semula?

Kini Joko Wandiro sudah dapat menentramkan hatinya kembali. Agaknya tamparan tadi mengusir semua sisa kegugupan dan kecanggungan yang masih ada di hatinya. Akan tetapi kalau teringat akan penglihatan yang baru saja terbentang di depan matanya, ia merasa ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut dan kedua pipinya terasa panas. Kini ia bangkit berdiri dan berkata,

"Sungguh aku tidak mengerti sama sekali mengapa engkau begini marah kepadaku. Sudah kuakui kesalahanku tadi yang tidak sengaja datang ke tempat ini dan mendapatkan kau sedang berjalan seorang diri lalu mandi. Aku sudah minta maaf dan akupun hendak mandi, sudah menjauhimu dan...."

"Cerewet! Kau orang tak kenal budi, tak tahu terima kasih dan mata keranjang!" Ayu Candra berkata marah sekali.

Joko Wandiro menekan jantungnya yang berdebar keras. Bukan main! Marah-marah malah bertambah manisnya. Heran ia mengapa hatinya berhal demikian. Mengapa ia kini sekali bertemu tergila-gila kepada seorang wanita? Apakah ini yang namanya mata keranjang?

"Benar mata keranjang!" Joko Wandiro menampar kepalanya dan ia kaget sendiri karena kata-kata dan gerakannya ini di luar kehendaknya. Saking kerasnya berpikir, ia sampai mengeluarkan suara hati melalui mulutnya tanpa disadarinya.

"Apa....kau bilang....?"

Ayu Candra bertanya dengan mata terbelalak lebar, memandang penuh perhatian. Tidak salah lagi. Orang ini otaknya miring! Sayang sekali, muda belia yang tampan sekali ini, yang memiliki sifat gagah juga karena ditampar sama sekali tidak mengeluh, ternyata tidak beres ingatannya. Tentu saja Joko Wandiro makin gagap.

"Ku...kumaksudkan....eh, biarpun mata....eh, sama sekali tidak mata keranjang, tapi aku....aku bukan tidak mengenal budi dan sama sekali tidak berniat kurang ajar, dan...." berhenti dan bingung sendiri.

Mata gadis itu yang membingungkannya. Matanya begitu lebar, begitu jernih, begitu indah. "Apa? Engkau hampir mampus di kedung itu, susah payah aku menolongmu. Akan tetapi kau....kau memandang....dengan mata melotot! Apa itu namanya tahu terima kasih, mengenal budi? Apa itu namanya tidak mata keranjang dan kurang ajar?"

"Memandang....? Melotot....?"

"Ya! Biji matamu tadi hampir terloncat keluar, melotot memandang.....memandang....hemm, ini!"

Ayu Candra menuding ke arah dadanya dan tiba-tiba pipinya menjadi merah sekali. Kedua pipi Joko Wandiro lebih merah daripada pipi dara itu. Ia menundukkan mukanya dan menjawab,

"Bu....bukan aku yang menyebabkan kain....merosot."

"Tentu saja, akan tetapi matamu memandang!"

Joko Wandiro menjadi penasaran juga. Gadis ini hebat, cantik jelita dan menarik, akan tetapi terlalu galak dan mau menang sendiri.

"Aku tidak sengaja memandang, habis....di depan mata sih. Dan lagi, untuk Apa punya mata kalau tidak untuk memandang? Kalau aku tahu bakal menjadikanmu marah, aku lebih senang meramkan mataku tadi. Kaukira aku ini begitu ceriwis untuk memandangi.... anu orang?"

Diserang begini, Ayu Candra kewalahan. Bagaimanapun juga, pemuda itu tak dapat dipersalahkan karena begitu membuka mata melihat dadanya terbuka di depannya.

"Mata sih boleh dipakai memandang, tapi kau memandang sampai melotot!"

Wah benar-benar dara yang mau menang sendiri. "Kuharap engkau sekali lagi suka maafkan aku. Sesungguhnya, ketika kau berada di hutan sana tadi, aku menjadi amat heran dan kaget melihat betapa seorang dara berada di tempat sesunyi ini sendirian saja. Sungguh mati, aku menyangka kau bukan manusia, sebangsa peri atau bidadari kahyangan, maka scperti orang bermimpi aku mengikutimu sampaai di sini. Kau lalu mandi dan aku...aku menjadi gugup ketika kau tegur. Akupun hendak mandi...."

"Gila! Mana ada orang mandi berpakaian lengkap begitu, langsung terjun tanpa melihat air itu dalam atau tidak? Nyaris engkau mampus!"

"Hemm, agaknya ada salah pengertian di sini. Aku tadi sudah minta maaf, akan tetapi mengapa engkau tidak membiarkan aku mandi dengan aman? Aku sudah menjauhimu akan tetapi engkau malah mendekat, menyusul ke bawah air dan dengan sewenang-wenang engkau memiting leherku sampai hampir patah, menyeretku ke darat. Belum juga kutegur perbuatanmu ini, baru saja mataku kubuka, kau sudah menamparku. Coba, kalau perbuatanmu terhadapku ini tidak sewenang-wenang, Apa namanya?"

Ayu Candra membelalakkan matanya lagi dan kembali Joko Wandiro merasa jantungnya jungkir balik. Celaka, pikirnya sambil mengalihkan pandang agar ia jangan menentang mata yang sedemikian indahnya. Kalau terlalu sering ia membelalakkan matanya, aku akan gila, pikirnya

"Jadi kau...kau tidak gendeng...?"

"Gendeng...?!?" Joko Wandiro berteriak kaget.

"Ya, gendeng, begini...!" Ayu Candra menaruh telunjuk di depan dahi, melintang. Aih, aih....orang ini terlalu amat, pikir Joko Wandiro dan kini ia yang melototkan matanya.

"Kukira engkau tadi gendeng atau setidaknya mempunyai penyakit ayan"

"ayan...? Aku... ayan...?!?"

Cuping hidung Joko Wandiro mulai kembang-kempis. Dara ini benar-benar lancang mulut. Terlalu amat sangat melewati ukuran! Melanggar batas Kesabarannya.

"Kau jangan main-main, memaki orang seenak perut sendiri saja!" ia balas menghardik.

"Habis engkau yang bikin orang mendongkol! Kalau tidak gendeng tidak ayan, kenapa pura-pura tenggelam?"

"Siapa yang pura-pura? Memang aku menyelam. Kau kira hanya kau seorang di dunia ini yang pandai berenang dan menyelam? Hayo kita bertaruh, kita berlumba renang atau kuat-kuatan menyelam!" Joko Wandiro menantang.

Akan tetapi Ayu Candra tidak memperhatikan tantangannya. Dara ini agaknya teringat akan sesuatu dan kembali matanya terbelalak. Aduh, jangan lagi! Joko Wandiro mengeluh dalam hati dan mengalihkan pandang.

"Kalau begitu...ketika kau kutolong tadi, ketika kurangkul...."

"Maksudmu kaupiting sampai leherku hampir patah tadi?"

"Ketika itu....engkau....tidak pingsan?"

"Siapa bilang pingsan! Baru enak-enak menyelam kau seret saja aku!"

"Kenapa kau pura-pura pingsan? Kenapa kau diam saja? Kau sengaja, ya? Kau mempergunakan kesempatan selagi aku salah menduga kau tenggelam, kau membiarkan lehermu kurangkul....mukamu....kudekap....kau, manusia kurang ajar!"

Ayu Candra kini marah sama sekali dan ia sudah menerjang dengan kedua tangan dikepal. Melihat kedudukan dara ini memasang kuda-kuda, kembali Joko Wandiro terkejut. Agaknya dara ini selain cantik jelita dan mau menang sendiri, juga memiliki kepandaian pula.

"Eh, eh....sabar dulu! Jangan mau menang sendiri dan jangan kukuh akan kebenaran sendiri. Kau memiting leherku erat-erat sampai hampir tercekik. Aku berada dalam air ketika kau tiba-tiba memitingku. Habis Apa yang harus kulakukan ketika itu? Apakah aku harus memberontak dan melawanmu? Kalau kulakukan itu, tentu kita berdua akan celaka. Apakah harus berteriak? Di dalam air mana dapat? Kau sendiri yang salah, tanpa periksa lebih dulu tahu-tahu menjatuhkan dugaan aku orang edan atau orang ayan yang akan mampus tenggelam. Maksud hatimu memang mulia akan tetapi pelaksanaannya yang keliru. Betapapun juga, kau telah bermaksud menolong nyawaku dan untuk itu biarlah aku memaafkan maki-makianmu tadi dan aku menghaturkan banyak terima kasih."

"Kau bisa saja membela diri. Lidah memang tak bertulang!"

"Kalau lidah bertulang, tentu sukar bergerak dalam mulut," Joko Wandiro membantah karena merasa jengkel juga.

"Kau tidak meronta dan berteriak di dalam air siapa peduli? Akan tetapi ketika sudah tersembul di atas permukaan air, mengapa kau masih enak-enak saja, pura-pura memejamkan matamu?? Hayo jawab, bukankah ini kau sengaja menyalahgunakan pertolongan orang untuk melakukan penghinaan?"

Joko Wandiro menarik napas panjang.
"Agaknya kau berkeras hati untuk memaksa aku mengaku kurang ajar. Apa boleh buat, engkau sudah menamparku, biarlah aku berterus terang. Ketahuilah, ketika kita tersembul di permukaan air, aku memang membuka mata. Baru kuketahui bahwa aku hemm bahwa mukaku tadi ah, bagaimana ini, terus terang saja, aku tidak berani membuka mata atau membuka suara. Aku terlalu bingung, terlalu....ngeri!! Ah, sudahlah. Aku jadi bingung kau desak-desak. Apakah kau tidak mau memaafkan aku?"

Sejenak Ayu Candra membuang muka dengan mulut cemberut. Apa yang harus ia lakukan terhadap pemuda ini?

"Engkau menggigil. Berdiri di sini dengan kain basah tertiup angin dingin, bisa masuk angin. Pulanglah, kalau engkau punya rumah, dan jangan pikir lagi. Aku bersedia minta maaf dan biarlah kuakui lagi kesalahanku."

Suara Joko Wandiro kini amat halus dan penuh kesabaran, jelas ia mengalah. Ayu Candra mengangkat muka memandang. Kini wajah pemuda itu amat tampan dan ia heran melihat pandang mata yang demlkian tajam, seperti mata harimau.

"Aku sudah biasa dengan hawa dingin, tidak apa-apa. Engkau malah yang bisa sakit demam, pakaianmu basah kuyup."

Joko Wandiro tersenyum, girang hatinya. Agaknya dara ini tidak segalak yang ia sangka tadi. Mungkin tadi galak terdorong rasa malunya.

"Akupun sudah biasa melawan hawa dingin atau panas. Engkau baik sekali, dan terima kasih atas kemurahan hatimu yang suka memaafkan aku!"

"Hemm,siapa yang bilang aku sudah memaafkanmu, habis....ada Apa?"

"Tidak apa-apa, hanya setelah kita berjumpa secara kebetulan di sini dan sudah lama juga bercakap-cakap, kalau boleh, aku ingin mengetahui siapa anda ini dan di mana tempat tinggalmu?"

"Namaku Ayu Candra, tempat tinggalku di sana, tak jauh dari tempat ini. Ayah ibuku sedang pergi, aku sendirian saja di pondok, akan tetapi ada...."

Tiba-tiba Ayu Candra menahan kata-katanya. Cuping hidungnya bergerak sediklt. Ia mencium bau wengur, bau seekor harimau berada dekat tempat itu! Ia terkejut, akan tetapi bersikap tenang kembali. Malu kalau memperlihatkan kekagetannya. Pula ia meragu apakah ia harus bercerita sebanyak itu tentang dirinya? Mengapa ia mendadak menaruh kepercayaan yang mendalam kepada pemuda ini yang tadinya ia anggap seorang laki-laki kurang ajar?

"Ada Apa? Mengapa tidak kau lanjutkan?" Joko Wandiro mendesak.

"Tidak ada apa-apa lagi, sudah cukup keteranganku. Kau sendiri, kau orang dari manakah dan di mana tempat tinggalmu?"

Joko Wandiro menarik napas panjang, memandang wajah gadis itu dan sikapnya seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaan orang, ia melainkan berkata lirih seperti orang melamun,

"Ayu Candra....bukan main indahnya nama ini....memang ayu seperti candra (bulan) "

"Hishh! Ditanya tidak menjawab malah ngaco....!" Ayu Candra menghardik dan mukanya menjadi merah sekali namun jantungnya berdebar girang!

"Oya , aku tidak punya tempat tinggal tertentu di dunia ini. Rumahku buana bebas, atap rumahku langit biru, dinding rumahku pohon-pohon, lantai rumahku bumi ditilami rumput hijau, batu-batu dan akar-akar pohon meja kursiku, ranting-ranting pohon pembaringanku, bintang-bintang di langit pelitaku."

Ayu Candra tertawa mendengar jawaban ini, akan tetapi jantungnya makin berdebar gelisah ketika bau yang wengur makin keras.

"Kau seperti badut saja, suka melucu. Dan namamu....?"

"Namaku Joko...." Aduh, tertelan kembali lanjutan namanya karena pada saat itu Ayu Candra sudah membelalakkan matanya lagi sehingga Joko Wandiro merasa semrepet (pusing dan gelap mata). Akan tetapi, tiba-tiba Ayu Candra menjerit,

"Joko....awas....!!"

Kedua tangan gadis itu secepat kilat mendorong ke depan, ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tentu saja maklum bahwa sejak tadi di dekat situ terdapat seekor harimau, akan tetapi ia memang pura-pura tidak tahu, karena selain tidak suka membikin dara itu terkejut, juga ia tentu saja tidak takut sama sekali. lapun tahu bahwa pada saat itu sang harimau telah meloncat dan menerkam ke arahnya dari belakang. Karena ia tadi terpesona oleh sepasang mata yang melebar indah, maka ia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Begitu dadanya didorong, ia membiarkan dirinya terlempar sampai tiga meter lebih!

Seekor harimau yang amat besar telah menerkam dan kini, karena terkamannya luput, harimau itu membalik dan menggereng. Suara geramannya itu amat keras, seakan-akan menggetarkan seluruh permukaan telaga dan menggema di dalam hutan-hutan di sekitarnya. Bibir atas binatang itu bergerak-gerak tertarik ke atas memperlihatkan taring yang runcing kuat, tubuhnya yang panjang merendah sampai perutnya menempel tanah, sepasang matanya tajam penuh kemarahan menatap Joko Wandiro.

Pemuda ini yang tadi terlempar oleh dorongan Ayu Candra, sudah bangkit kembali dan menghadapi ancaman harimau dengan sikap tenang sekali.

"Joko jangan bergerak. Biarkan aku melawannya!" terdengar Ayu Candra berkata.

Gadis itu sudah memasang kuda kuda dan kakinya berindap-indap menghampiri harimau. Melihat gerak-gerik dara itu, Joko Wandiro dapat menduga bahwa Ayu Candra memiliki kepandaian yang tinggi juga. Akan tetapi harimau itu amat besar dan buas. Menghadapi binatang sebuas ini banyak bahayanya bagi Ayu Candra. Biarpun bukan bahaya maut, setidaknya kalau terkena cakaran kaki harimau, tentu akan menimbulkan luka-luka parah.

"Jangan, Ayu. Biarkanlah, menghadapi harimau macam ini saja, biar ada lima ekor aku tidak gentar."

Jawaban ini membuat Ayu Candra tertegun. "Kau...? Kau...berani...melawannya?"

Joko Wandiro tersenyum bangga. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa bangga akan kepandaiannya. Dan baru sekali ini ia ingin memamerkan kepandaiannya di depan orang lain! Biasanya ia sama sekali tak mengharapkan pujian orang lain, akan tetapi sekali ini, ia bahkan ingin sekali mendengar pujian si dara jelita. Karena itu, tanpa disadarinya sendiri, ia secara sembarangan malah berjalan mendekati harimau yang sudah menggereng-gereng dan siap menerkamnya itu!

"Eh, Joko hati-hatilah harimau ini kelaparan!"

Ayu Candra menjerit kembali ketika Joko Wandiro menghampiri harimau itu sampai dekat sekali. Joko Wandiro kembali tersenyum.

"Tidak ada binatang sebuas manusia, Ayu. Harimau inipun tidak sebuas manusia. Ia hanya akan menerkam mahluk lain kalau perutnya lapar karena ia membutuhkan makan sebagai penyambung hidupnya. Manusia akan menerkam manusia lain hanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya."

"Joko awas!!"

Ayu Candra memperingatkan, gelisah juga melihat pemuda itu masih enak-enakan mengobrol dan bahkan membelakangi harimau itu yang kini jaraknya hanya tinggal dua meter di belakangnya. Harimau itu menerkam untuk kedua kalinya. Dahsyat terkamannya, dengan cakar runcing melengkung siap merobek kulit daging dan moncong terbuka lebar siap meremukkan tulang-tulang.

"Joko........!"

Kembali Ayu Candra menjerit dengan muka berubah pucat. jerit penuh kekhawatiran dan kengerian yang terdengar merdu memasuki telinga Joko Wandiro. Dara itu mengkhawatirkan dirinya! Berarti dara itu tidak ingin melihat ia dirobek-robek dan dijadikan mangsa harimau.

"Jangan khawatir, Ayu...!" katanya sambil menggerakkan tubuhnya. Dengan sebuah gerakan yang indah cekatan sekali Joko Wandiro sudah menghindar dengan amat mudahnya.

Kembali harimau itu menerkam tempat kosong. Kini Ayu Candra melongo keheranan. Gerakan pemuda itu jelas membayangkan bahwa pemuda itu bukan seorang lemah, bukan penyombong seperti gentong kosong. Ketika harimau itu kini menerkam kembali, dan dari jarak dekat dan dengan gerakan yang lebih indah mengagumkan pemuda itu kembali menghindar, mulai berkuranglah kekhawatiran hati Ayu Candra.

Mulailah ia mencurahkan perhatiannya dan menonton, tidak cemas lagi seperti tadi, melainkan menonton dengan kagum. Sudah tujuh kali harimau itu menerkam, makin lama makin dahsyat dan makin marah. Akan tetapi selalu terkamannya mengenai tempat kosong karena dielakkan secara mudah dan cepat oleh Joko Wandiro yang tersenyum-senyum dan melirik ke arah Ayu Candra, hatinya berdebar girang melihat sinar kekaguman terpancar keluar dari sepasang mata bintang itu.

"Joko, kenapa main-main dengan dia? Lekas bunuh saja!" Akhirnya Ayu Candra berteriak karena mengganggap bahwa dengan main kelit pemuda itu membahayakan diri sendiri.

"Ah, bagaimana aku tega?" balas Joko sambil mengelak lagi ketika si harimau menerkam dari samping. "Dia menyerangku untuk makan. Akan tetapi aku tidak membutuhkan kematiannya. Lihat, Ayu, akan ku akhiri permainannya ini!"

Sebelum harimau itu membalik, Joko Wandiro sudah mendahului dengan loncatan cepat sekali ke belakang tubuh harimau dan tangan kanan Joko Wandiro menyambar ekor harimau yang panjang. Harimau itu menggereng keras dan berusaha membalikkan tubuh untuk mencakar orang yang memegang ekornva, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dari atas tanah dan terus tubuhnya itu diputar-putar oleh Joko Wandiro di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak mempermainkan seekor tikus saja.

Ayu Candra terbelalak kagum. Dia sendiri tidak takut menghadapi harimau, malah sanggup mengalahkan binatang itu. Akan tetapi untuk memegang ekornya dan memutar-mutar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga dahsyat dan keberanian yang luar biasa! Kiranya pemuda ini seorang yang sakti! Dan dia tadi telah menduganya seorang gila, bahkan disangkanya pemuda itu seorang penderita penyakit ayan! Teringat akan hal ini, mendadak kedua pipi dara ini menjadi merah padam.

BADAI LAUT SELATAN JILID 27


Badai Laut Selatan Jilid 26

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 26

IA mengerahkan tenaganya dan jari-jari tangannya menusuk mata ikan itu dan mengoreknya keluar, lalu cepat tangannya meraih mata yang sebelah lagi. Ikan itu kesakitan dan berkelojotan, membawa tubuh Jokowanengpati ikut pula terbanting-banting dan berputaran di dalam air. Akan tetapi dia berhasil membikin buta mata yang Scbelah lagi. Karena sakit sekali agaknya, ikan itu mengatupkan mulutnya dengan tenaga yang luar biasa dan Jokowanengpati tiba-tiba merasa tubuhnya terlepas dari pada gigitan ikan hiu.

Rasa girang berbareng dengan timbulnya harapan membuat tenaganya menjadi berlipat ganda. la menggerakkan kedua tangan menekan air dan tubuhnya mumbul ke atas. Hari telah menjelang malam dan Jokowanengpati segera menggerakkan kedua tangannya berenang menuju ke pantai yang kelihatan remang-remang. Ketika ia berenang dan menggerakkan kaki, ia merasa jantungnya seperti tidak berdenyut lagi.

Kedua kakinya! Begitu ringan! la menoleh dan matanya terbelalak lebar. Kedua kakinya tidak ada lagi! Hampir ia pingsan saking kagetnya. Dan sekiranya ia pingsan pada saat itu, tentu akan tamatlah riwayat hidupnya. Akan tetapi Jokowanengpati masih suka hidup dan berenanglah ia tanpa kaki, dengan susah payah menuju pantai. Ketika tiba di tempat dangkal ia tak dapat berenang lagi, tidak dapat berdiri pula. la lalu merangkak dan pada saat itulah semua rasa nyeri yang hebat menyelubungi tubuhnya.

Nyeri pada kedua kaki yang mendenyut-denyut sampai menembus jantung dan tulang sumsum. Nyeri karena perih dan sakit-sakit pada seluruh tubuh, pada mukanya. Nyeri yang tak tertahankan lagi, bagaikan dibetot-betot nyawa dari tubuh. Serasa ditarik-tarik semua urat di tubuhnya. Jokowanengpati tidak kuat lagi dan akhirnya ia roboh pingsan di atas pasir. Saat itulah penentuan mati hidupnya. Dan jelas bahwa Tuhan menghendaki dia hidup. Buktinya, secara kebetulan sekali air laut menjadi surut setelah ia roboh pingsan. Andaikata air laut tidak surut dan sebaliknya malah pasang, tentu ia akan terendam air atau dibawa hanyut ke tengah oleh ombak.

Air laut yang surut membuat Jokowanengpati menggeletak tertelungkup di atas pasir, seperti mayat. Semalam suntuk ia menggeletak tak sadarkan diri di atas pasir. Kalau saja ia tidak terluka sewaktu berada di dalam air laut, tentu ia akan tewas, bukan saja karena luka akan tetapi juga karena kehabisan darah. Agaknya air laut menjadi obat penawar yang mujijat. Pada pagi harinya, Jokowanengpati siuman dari pingsannya. Dengan merangkak-rangkak ia mendarat. Setelah ia terbebas daripada cengkeraman maut yang mengerikan, biarpun ia harus mengorbankan kedua kakinya, kini ia ingin hidup terus! la belum mau mati dan timbul pula semangatnya untuk hidup.

Biarpun harus merangkak-rangkak, akhirnya ia dapat memasuki sebuah hutan dan merawat luka-lukanya sampai sembuh. la tidak berani keluar dari dalam hutan-hutan lebat. la maklum bahwa kalau musuh-musuhnya mengetahui bahwa ia masih hidup, tentu mereka akan datang mencarinya dan rnembunuhnya. Dan dalam keadaan seperti itu, tak mungkin ia mampu mengadakan perlawanan seimbang.

Karena itulah, Jokowanengpati hidup di dalam hutan-hutan, merawat luka-lukanya dan juga memperdalam ilmu-ilmunya karena la ingin hidup terus. Dan untuk dapat hidup terus ia harus memperdalam ilmu-ilmunya untuk mengatasi kebuntungan kakinya. Untuk menyambung hidupnya di dalam hutan ia tidak khawatir. Biarpun kedua kakinya buntung, namun kedua tangannya masih ampuh. Sekali sambit dengan batu ia mampu merobohkan binatang hutan, baik binatang kelinci, kijang, maupun harimau.

Demikian, lima tahun lebih ia merantau seperti binatang di dalam hutan-hutan sehingga akhirnya ia naik ke lereng Gunung Lawu. Ia tadinya berniat hendak bertapa dan memperdalam kesaktiannya. Akan tetapi karena selama lima tahun lebih tidak bergaul dengan manusia, ia merasa kesepian dan terutama sekali ia merasa rindu akan seorang wanita. Perasaan sepi dan rindu ini yang membuat ia tergoda dan tersiksa dalam tapanya sehingga ia mengeluh dan merintih ketika secara kebetulan sekali Ayu Candra lewat.

Alangkah kaget, heran, dan girang hati Jokowanengpati ketika ia mendengar suara wanita menegur di luar pohon dimana ia bertapa! Hampir ia tidak percaya akan pendengaran telinganya. Suara wanita! Dan begitu merdu, begitu halus. Telinganya yang sudah hafal akan suara wanita segera dapat menduga bahwa yang berdiri di luar pohon adalah seorang wanita muda, seorang gadis remaja. Maka ia lalu bersandiwara, membuka pintu tempat pertapaannya di dalam batang gerowong, lalu menggelundung keluar. Dengan akal yang cerdik sekali, disertai Aji Asmoro kingkin yang pernah ia pelajari dari Ni Nogogini, ia berhasil membuat hati gadis itu terharu dan suka kepadanya, ia berhasil mempengaruhinya dan kini dengan hati girang ia ikut gadis remaja yang cantik jelita itu pulang ke pondok!

Dapat dibayangkan betapa jantung laki-laki yang sudah bobrok moralnya ini berdebar tidak karuan ketika ia digandeng oleh Ayu Candra yang menaruh kasihan kepadanya. Akan tetapi, mengingat akan cara gadis jelita ini tadi memecah buah kelapa dengan telapak tangan, kemudian melihat pula cara Ayu Candra mendaki dan menuruni bukit sambil menggandengnya sedemikian cekatan, pula merasa betapa ketika menggandengnya, gadis itu menyalurkan hawa sakti untuk dapat membawanya melompati jurang-jurang kecil, Jokowanengpati yang kini sudah berganti nama Ki Jatoko (Sengsara) itu maklum bahwa Ayu Candra bukanlah gadis sembarangan. Tentu orang tuanya yang bernama Ki Adibroto juga seorang yang memiliki kesaktian.

Maka ia berlaku hati-hati dan menahan-nahan hasrat hatinya yang timbul oleh dorongan nafsu berahi melihat gadis yang benar-benar amat jelita ini. Hatinya girang dan lega mendengar bahwa ayah bunda gadis itu tidak berada di pondok. Gadis itu berada seorang diri! Calon korban yang mudah dan lunak. Betapapun juga, ia tidak mau berlaku sembrono dan ada sesuatu dalam gerak-gerik dan sikap Ayu Candra yang amat menarik dan yang mengguncangkan hatinya, perasaan yang selamanya belum pernah ia alami.

Biasanya, menghadapi setiap orang wanita dari gadis dusun sampai puteri bangsawan, ia memandang dan menganggapnya sebagai setangkai bunga yang menarik hati, yang menimbulkan rangsang dan hasrat untuk memetik, menikmati keindahannya, mencium keharumannya, kemudian melemparkannya bunga yang melayu tanpa perasaan kecewa atau menyesal lagi. Akan tetapi, kali ini tidak demikian. Memang tersentuh berahinya menyaksikan gadis jelita ini, mendorong nafsunya untuk memiliki Ayu Candra, akan tetapi berbeda dengan yang sudah-sudah, ia mendapat keyakinan dalam perasaannya bahwa hidupnya akan selalu bahagia apabila ia dapat terus berdampingan dengan gadis ini!

Inilah yang membuat hati Ki Jatoko ragu-ragu untuk mempergunakan kekerasan seperti yang seringkali ia lakukan terhadap para wanita korbannya. Inilah yang membuat Ki Jatoko timbul keinginan di hatinya untuk mempersunting Ayu Candra dengan bujuk rayu, ingin dicinta gadis itu sepenuh hati, dan ingin melihat gadis itu menyerahkan diri dan jiwa kepadanya dengan landasan cinta kasih!

Menggelikan sekali! Ki Jatoko, atau Jokowanengpati, yang dahulunya seorang pria yang gagah dan tampan, yang tidak pernah jatuh hati kepada wanita manapun juga, yang hanya suka untuk mempermainkannya, kini setelah berusia empat puluh tahun lebih, setelah kedua kakinya buntung dan badan serta mukanya penuh cacat, secara mendadak ia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik jelita berusia tujuh belas tahun! Sungguh gila! Gilakah Jokowanengpati karena mencinta gadis jelita remaja puteri? Kalau dia dikatakan gila, maka agaknya di dunia ini penuh orang gila!

Betapa banyaknya di dunia ini terdapat orang-orang seperti Jokowanengpati, malah banyak yang lebih gila daripada itu. Orang-orang dimabuk cinta, dimabuk benci, dirangsang marah, dibakar dendam, digoda iri dan dengki. Tidak, Jokowanengpati atau Ki Jatoko tidak gila, melainkan lemah. Dia lemah seperti manusia kebanyakan, lemah terhadap nafsu-nafsu pribadi, menjadi hamba nafsu dan karenanya menjadi abdi iblis dan setan!

Cinta kasih yang bersemi secara aneh di lubuk hati Ki Jatoko inilah yang membuat Ayu Candra terjamin keamanannya dalam perjalanan pulang itu. Andaikata tidak ada cinta kasih yang ganjil ini tentu ia telah ditubruknya dan diperkosa dengan kekerasan. Dan betapapun pandai gadis itu dalam ilmu silat dan kesaktian, dia bukanlah lawan Ki Jatoko atau Jokowanengpati!

Dalam perjalanan pulang ke pondok di Sarangan ini, sambil bergandeng tangan, Ki Jatoko berhasil memancing Ayu Candra menceritakan keadaannya. Gadis ayu yang sama sekali tidak menaruh curiga itu menceritakan bahwa ayahnya, Ki Adibroto, adalah seorang pendekar daerah Ponorogo yang terkenal, seorang warok golongan putih, yang tidak akan ragu-ragu untuk membasmi kejahatan. Dalam bercerita tentang ayahnya, Ayu Candra merasa bangga.

"Pantas saja engkaupun hebat sekali!" Ki Jatoko memuji. "Aku tadi merasa kagum dan heran ketika engkau memecah buah kelapa dengan tanganmu yang halus lunak ini. Kiranya engkau puteri seorang pendekar perkasa!"

Ayu Candra adalah seorang gadis yang masih hijau dalam pergaulan dan pengalaman. Ia tidak dapat membedakan antara bujuk rayu dan pujian sesungguhnya. Ia merasa bangga dan dengan kedua pipi kemerahan ia berkata, "Ah, paman Jatoko, kau terlalu memuji. Kepandaianku tidak ada artinya kalau dibandingkah dengan ayah. Kau tunggulah sampai ayah pulang, tentu ayah akan menolongmu."

"Aku boleh tinggal bersamamu di pondok? Apakah ayah bundamu tidak akan marah?"

Ayu Candra masih bodoh. Belum begitu mendalam pengertiannya tentang tata susila antara pria dan wanita. Apalagi, dalam pandang matanya, Ki Jatoko adalah seorang tua yang bercacat, pantas menjadi pamannya. Apa salahnya kalau mondok di rumahnya? Orang yang berpikiran bersih memang tidak ada syak wasangka yang bukan-bukan.

"Mengapa tidak boleh? Tentu saja mereka tidak akan marah! Siapa orangnya takkan menolong kalau melihat keadaanmu seperti ini?"

"Kau baik sekali....kau baik sekali...." Entah mengapa, Ki Jatoko menggigil seluruh tubuhnya dan biarpun ia berusaha menekan, tangan Ayu Candra yang menggandeng tangannya merasa betapa tangan laki-laki buntung itu tergetar. Hal ini dianggap oleh gadis itu sebagai perasaan terharu si laki-laki buntung yang merasa amat bersyukur dan berterima kasih. Ia menjadi makin kasihan.

Setibanya di pondok, Ayu Candra cepat menanak nasi dan memasak sayuran untuk Ki Jatoko yang duduk di lincak (bangku bambu) depan pondok. Setelah matang, gadis itu mempersilahkan tamunya dahar yang diterima dengan rasa syukur dan girang oleh Ki Jatoko. Malam itu Ki Jatoko bermalam di pondok. Akan tetapi ia menolak ketika oleh Ayu Candra ditawarkan bilik belakang.

"Tidak, anak manis, biarlah di sini saja di atas lincak ini cukuplah."

"Akan tetapi, di luar dingin sekali, paman. Pula, kalau malam nanti datang binatang buas, kan berbahaya?"

Di dalam hatinya, Ki Jatoko mentertawakan. Masa ia takut akan segala binatang buas? Akan tetapi mulutnya menjawab, "Ah, kiranya tidak akan ada binatang buas yang doyan tubuhku lagi. Pula, biasanya binatang buas tidak berani mendekati tempat tinggal manusia. Aku sudah biasa tidur di luar, mungkin kalau tidur di dalam pondok malah menjadi gelisah tak dapat tidur."

Ayu Candra tidak memaksa dan malam itu dia segera memasuki biliknya. Betapapun juga, tidak enak hatinya kalau malam-malam bercakap-cakap dengan laki-laki buntung itu, ia merasa canggung juga. Ia tidak tahu bahwa Ki Jatoko memang sengaja tidak mau tidur di dalam pondok karena ada niatnya. Di samping itu, laki-laki yang cerdik ini menjaga kalau-kalau orang tua gadis itu sewaktu waktu pulang. Jika pulang di waktu malam dan melihat dia sebagai seorang pria berani tidur sepondok dengan puteri mereka, tentu mereka akan marah dan menganggap dia tidak tahu aturan.

Sungguh dia polos, suci murni dan baik budi. Demikian Ki Jatoko termenung memikirkan gadis ayu itu yang tanpa ragu-ragu mempersilahkan dia seorang laki-laki asing, untuk tidur di dalam pondok. Bagi umum, tentu hal ini dianggap pelanggaran susila, akan tetapi ia tahu betul bahwa gadis itu menawarkan pondok dengan hati bersih daripada segala pikiran yang bukan-bukan. Ki jatoko gelisah sekali. Sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, hanya duduk merenung di atas lincak.

Bayangan wajah yang cantik jelita, bentuk tubuh yang ramping padat, keindahan dan keranuman usia muda, kulit tangan yang halus lunak dan hangat, semua ini menggoda hatinya, membangkitkan berahi yang makin berkobar. Apalagi kalau ia terkenang akan semua perbuatannya di masa lalu, membanding-bandingkan semua korbannya, yaitu wanita-wanita yang dimilikinya baik secara halus maupun kasar, secara suka rela maupun perkosaan, dalam kenangannya tidak ada yang dapat melawan Ayu Candra!

"Aku harus dapatkan dia! Harus! Matipun takkan penasaran lagi, setiap waktu matipun aku akan rela asal sudah mendapatkan dia. Ah, Ayu Candra bocah ayu denok, kau membikin aku tergila-gila"

Ki Jatoko lalu bersedakap dan matek aji sirep. Sejam kemudian, keadaan pondok dan sekelilingnya sunyi mati, tidak terdengar suara sedikitpun karena terkena pengaruh aji sirep yang ampuh. Ki Jatoko lalu meloncat turun dari lincak dan kini gerakannya amat gesit ketika ia membuka daun pintu pondok dan berjalan biasa menggunakan kedua kaki buntungnya. Berindap-indap ia menghampiri bilik tempat tidur Ayu Candra.

Dari dalam bilik bersinar cahaya dian yang menyorot keluar menembus celah-celah anyamam bambu, menyinari wajah Ki Jatoko yang kelihatan mengerikan sekali. Wajah itu lebih buruk daripada biasanya. Kini berkilat-kilat basah oleh peluh, matanya agak kemerahan dan bersinar-sinar penuh nafsu berahi, mulutnya menyeringai basah, napasnya agak tersendat-sendat tertahan karena gelora nafsu asmara.

Dengan tangan gemetar didorongnya daun pintu bilik itu dan di lain saat ia sudah memasuki bilik. Seperti terpesona ia berdiri di ambang pintu. Dian itu kecil sumbunya. Api minyak kelapa itu kecil namun anteng dan membuat keadaan bilik remang-remang. Ayu Candra tampak tidur nyenyak. Rambut yang panjang gemuk dan hitam itu terurai, sebagian menutupi muka, terus terurai ke bawah menutupi dada, membuat kulit dada itu tampak makin putih halus di balik kehitaman rambut.

Dada padat membusung itu bergerak perlahan naik turun seirama dengan napas yang halus dan tidak bersuara. Mata yang membuat bulu mata tampak panjang melengkung dan membuat bayang-bayang di bawah mata. Bibir yang merah membentuk gendewa terpentang itu mengulum senyum, manis mengalahkan sari madu. Tubuh yang padat, denok dan ramping, kelihatan panjang ketika tidur telentang.

Lengan kiri dara itu ditekuk ke atas, lengan kanan menyilang perut, seperti gerak tari yang amat indah gemulai. Ki Jatoko mengejapkan matanya, menggoyang-goyang kepala. Akan tetapi ketika memandang kembali, tetap saja ia menjadi seperti mabuk. Berkali-kali ia menelan ludah, tubuhnya makin menggigil, dan perlahan-lahan ia mendekati pembaringan.

"Ayu...Ayu Candra...aduhhh alangkah cantik jelita engkau....belum pernah kumelihat wanita secantik engkau, Ayu...!"

Ucapan ini tidak dibisikkannya, melainkan diucapkan. Akan tetapi Ayu Candra yang biasanya peka dan mudah bangun dari tidurnya setiap mendengar suara yang tidak sewajarnya, kini tetap pulas. Ternyata ia telah terkena pengaruh aji sirep yang ampuh tadi sehingga keadaannya seperti orang pingsan.

Jangankan hanya suara manusia, biar suara harimau mengaum dekat telinganya, ia takkan dapat bangun. Andaikata ia diseret turun dari atas pembaringan sekalipun, ia takkan dapat sadar! Ki Jatoko kini sudah dekat, berdiri di pinggir pembaringan. Harum kembang mawar putih yang tersebar di atas pembaringan membuat ia sejenak memejamkan kedua matanya. Cuping hidungnya tergetar dan napasnya menjadi sesak. Ketika ia membuka matanya kembali, tampak matanya membasah. Keindahan yang tampak di depan matanya begitu mempesona, begitu memikat, begitu indah sampai mendatangkan rasa haru.

"Aduh, dewiku....kalau engkau tidak membalas cintaku, aku tidak mau hidup lagi.....!

Kedua tangan Ki Jatoko terulur, jari-jari tangannya tergetar, ia bergerak memeluk, hendak merangkul. Akan tetapi sebelum jari tangannya menyentuh kulit yang putih halus itu, tiba-tiba ia tersentak kaget dan menarik kembali tangannya.

"Duh Jagad Dewa Bathara! Gilakah aku? Ayu Candra....bocah ayu kuning....bagaimana aku dapat memperlakukannya seperti wanita-wanita lain? Bagaimana aku tega untuk memperkosanya? Tentu dia akan benci kepadaku! Tentu ia akan memandang rendah, akan mengutukku, memusuhiku. Ahhh.....tidak boleh begini! Jokowanengpati, engkau sudah gila! Gadis ini benar-benar telah menjatuhkan hatiku. Aku....aku cinta kepadanya, tidak boleh ia membenciku. Aduh..... Ayu Candra.......engkau maafkan aku, nimas! Aku tidak tega memaksamu, aku akan menanti sampai engkau dengan suka rela menyerahkan diri kepadaku, membalas cinta kasihku....!!"

Lemaslah kedua kaki yang tinggal paha itu dan Ki Jatoko hanya berani mencium ujung rambut yang terurai keluar dari pembaringan. Kemudian dengan pipi basah air mata ia keluar lagi dari bilik menutupkan pintu dan merebahkan diri di atas lincak di depan pondok. Ia gelisah tak dapat tidur, mengeluh panjang pendek, dan akhirnya baru bisa pulas menjelang fajar.

Cinta memang perasaan ajaib. Akibat daripada cintapun banyak macamnya dan aneh-aneh. Orang merasa dirinya dalam surga dunia karena cinta. Akan tetapi dapat juga merasa dirinya dalam neraka dunia karena cinta. Cinta ditempeli nafsu berahi membuat orang lupa akan tata susila. Cinta dicampur cemburu dapat membuat orang menjadi kejam dan suka menyiksa. Cinta dapat merubah seorang baik-baik menjadi seorang yang jahat dan keji. Sebaliknya cinta dapat pula merubah seorang yang biasanya jahat menjadi seorang yang baik dan setia terhadap orang yang dicintainya. Cinta mampu merubah watak domba menjadi watak harimau, sebaliknya watak harimau dirubah menjadi watak domba.

Ayu Candra bangun dari tidurnya, bangkit dengan malas, menggeliat dan menguap di belakang kepalan tangannya. Ia merasa tubuhnya segar. Enak sekali tidurnya malam tadi. Akan tetapi....tiba-tiba ia mengerutkan alisnya yang hitam melengkung. Ia bermimpi malam tadi! Mimpi aneh sekali, dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua pundaknya yang telanjang seperti orang jijik. Ia mimpi menggandeng tangan Ki Jatoko seperti kemarin akan tetapi tiba-tiba Ki Jatoko mencium ujung jarinya. Ketika dilepaskan pegangannya, tangan yang dicium itu menjadi busuk dan rusak, seperti orang sakit kusta dan makin lama penyakit itu menjalar makin ke atas, makan jarinya, tangannya, lengannya!

"Ihhh.....! Gila, menjijikkan!"

la melompat turun dari pembaringan dan mencoba untuk menghibur diri dengan keyakinan bahwa hal itu hanya terjadi dalam mimpi. Akan tetapi hatinya tetap tidak enak, seakan-akan ada kotoran yang hinggap pada tubuhnya dan harus segera dibersihkan!.

Di luar pondok, ayam hutan terdengar berkokok saling sahut. Memang sudah biasa dara ini bangun pagi-pagi sekali. Bangun pagi di waktu ayam berkokok menyehatkan dan menyegarkan badan. Ia lalu meniup padam dian di atas meja, dan berjalan keluar dari bilik. Hati-hati ia membuka pintu depan dan ketika menjenguk keluar, ia melihat Ki Jatoko masih tidur meringkuk di atas lincak. Kelihatan pendek sekali. Mulutnya terbuka dan dengkurnya kasar. Ayu Candra bergidik teringat akan mimpinya semalam.

Makin tak enak perasaan hatinya setelah melihat orang yang kakinya buntung itu tidur mendengkur di atas lincak. Benar menjijikkan sekali. Karena keadaan si buntung itu tidak menderita seperti siang tadi, rasa kasihan menipis di hatinya dan rasa jijik timbul. Sialan, pikirnya. Mimpi saja kok macam itu. Ia jarang sekali mimpi dan mimpi yang sekali ini benar-benar membuat ia tak tenang jiwanya. Ia menutup daun pintu depan lalu melangkah keluar dan cepat-cepat ia berlari menuju ke telaga. la sengaja jalan memutar dan memilih bagian yang jauh dari pondoknya, yang sunyi dan memang bagian ini menjadi tempat ia mencuci pakaian dan mandi. Bagian ini airnya paling bersih.

Sampai tempat itu, ia duduk di atas batu yang bersih licin. Duduk termenung. Mengapa ayah bundanya lama amat perginya? Kalau mereka pulang, tentu hatinya akan tenteram. Kini teringat ia betapa sepasang mata orang buntung itu seperti mata setan. Aneh sekali, pikirnya. Orang buntung yang sengsara dan lemah itu memiliki sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh dan begitu kuatnya, seakan-akan mampu menjenguk isi hatinya.

Mata seperti itu sepatutnya dimiliki seorang yang sakti! Ada persamaan dengan sinar mata ayahnya, hanya kalau sinar mata ayahnya yang tajam itu mengandung kelembutan dan ketenangan, adalah mata orang buntung ini juga tajam akan tetapi mengandung sesuatu yang aneh dan liar tidak tenang.

Ayu Candra tidak segera turun keair. Hari masih terlalu pagi, dan hawa udara amat dingin. Biasanya, ia baru berani terjun ke air kalau matahari sudah muncul sehingga begitu selesai mandi ia dapat berjemur menghangatkan tubuh dan mengeringkan rambut. Apalagi sekarang karena tergesa-gesa hendak segera meninggalkan pondok dan orang buntung itu, ia telah kelupaan membawa kain pengganti.

Ibunya melarangnya mandi bertelanjang, kecuali di waktu malam gelap. Banyak mata laki-laki kurang ajar, kata ibunya. Pernah dibantahnya bahwa di telaga tidak ada orang lain. Siapa tahu, kata ibunya. Di mana-mana dalam dunia ini akan kau jumpai laki-laki kurang ajar yang suka mengintai wanita mandi, apalagi kalau mandi bertelanjang, kata pula ibunya. Ia teringat akan laki-laki buntung.

Apakah mata laki-laki itupun mata kurang ajar? Ayu Candra belum mampu membedakan dengan jelas. Pernah ketika di Ponorogo dahulu, ketika ia pulang dari pasar, lima orang pemuda berandalan menggodanya dengan ucapan ucapan kasar, bahkan tangan mereka berlancang hendak menjamahnya. Mula-mula Ayu Candra melayani mereka bicara, akan tetapi setelah tangan mereka mulai jahil, ia mengeluarkan kepandaiannya dan membuat mereka berlima berjungkir balik dan babak belur. Mulailah ia dikenal orang dan tak seorangpun pemuda berani berkurang ajar kepadanya. Apalagi setelah orang tahu bahwa dia puteri pendekar Adibroto!

Kalau teringat kepada Ki Jatoko dan mimpinya semalam, Ayu Candra masih merasa jijik dan merasa seakan-akan tubuhnya menjadi kotor. Ia bangkit dari duduknya dan mencari daun pandan dan bunga-bungaan karena ia hendak keramas. Kalau hanya mandi biasa tanpa keramas, ia takkan merasa dirinya bersih kembali. Sementara itu, matahari sudah mulai menyinarkan cahayanya yang lembut dan kemerahan.

Lama juga gadis ini duduk termenung tadi. Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa ketika sedang memetik daun pandan dan bunga-bunga mawar, sepasang mata yang baru bangun tidur menatapnya dari atas sebatang pohon yang besar. Mata itu mula-mula terbuka kaget dan bangun dari tidur ketika Ayu Candra menginjak daun-daun kering, kemudian terbelalak memandang ke bawah, lalu ketap-ketip (berkejap-kejap) dan tangannya menggaruk-garuk kepala, menggosok-gosok kedua mata yang masih sepet, memandang kembali dan sekali lagi melongo.

"Mimpikah aku? Gila benar, ada mimpi begini jelas?"

Tangan itu kini mencubit pahanya sendiri dan mulutnya menyeringai ketika ia merasa nyeri. Ketika memandang ke bawah lagi, ia melihat dara jelita itu yang sudah selesai memetik bunga, kini berjalan pergi. Lenggang yang seenaknya tak dibuat-buat itu seakan-akan mempunyai daya tarik dan membetot-Betot hati laki-laki yang rebah di atas batang pohon besar. Ia bangkit dan duduk di atas cabang pohon, matanya terbelalak memandang pinggul yang menari-nari itu.

"Bukan mimpi! Dia itu peri penjaga hutan atau peri telaga yang kesiangan! Atau bidadari kahyangan hendak mandi! Kalau manusia tak mungkin. Bagaimana seorang dara remaja berada seorang diri dihutan sunyi dan liar ini? Dan kalau manusia tidak ada yang sedemikian eloknya, wajahnya bersinar-sinar seperti mengeluarkan cahaya keemasan, rambutnya seperti awan hitam berarak, kakinya begitu ringan tak menyentuh bumi! Aduh Gusti, benar-benarkah aku melihat bidadari?"

Laki-laki itu menyingkap rambut yang turun ke dahi itu, lalu sekali menggerakkan tubuh ia telah melayang turun dari pohon. Gerakannya amat ringan dan sigap, kedua kakinya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara! Dia seorang laki-laki yang masih amat muda, bertubuh sedang dengan bentuk tegap kuat, wajahnya tampan. Akan tetapi pada saat itu sinar matanya yang tajam berpengaruh itu diselimuti kebingungan yang timbul dari hati yang berdebar-debar. Dengan gerakan yang amat gesit namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, ia mengejar ke depan dan mengikuti Ayu Chandra yang berjalan dengan lenggang sewajarnya menuju ke pinggir telaga.

Sinar matahari pagi disambut keriangan burung yang berkicau merdu, tanda bahwa permukaan bumi mulai bangun untuk menyambut kemegahan sang surya. Keadaan yang indah ini agaknya mempengaruhi hati Ayu Candra karena mulutnya mulai tersenyum-senyum, wajahnya berseri dan ia lalu bersenandung.

"Ana pandhita akarya wangsit,
minda kumbang angajab ing tawang,
susuh angin ngendi nggone,
lawan galihing kangkung,
wekasane langit jaladri,
Isining wulung wungwang,
lan gigiring punglu,
tapaking kuntul anglayang,
manuk miber uluke ngurgkuli langit,
kusuma jrahing tawang."

Pemuda yang mengikuti dari belakang itu melongo. Aduhh, pikirnya, tentu bidadari kahyangan. Kalau seorang gadis gunung biasa tak mungkin bertembang seperti itu! Suaranya merdu melebihi burung kenari. Tembang Dandanggendis itu tepat dan indah alunannya seperti nyanyian waranggana istana saja. Dan kata-katanya Mengandung makna yang amat dalam, penuh filsalat kebatinan yang hebat!

Selama hidupnya, baru kali ini Joko Wandiro terpesona oleh seorang wanita. Ya! Pemuda itu bukan lain adalah Joko Wandiro. Setelah ia gagal mengabdi kepada Sang Prabu Panjalu, kemudian di alun-alun kerajaan itu ia berhasil mengalahkan dan mengusir Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Joko Wandiro lalu meninggalkan Kerajaan Panjalu. Ia terus mengembara ke barat karena tujuan hatinya adalah mencari ayah angkatnya dan bibinya di Bayuwismo pantai Laut Selatan. Ia melakukan perjalanan seenaknya, melalui gunung-gunung sambil menikmati pemandangan alam yang indah sehingga akhirnya ia sampai di lereng Gunung Lawu dan bermalam di sebuah hutan tidak jauh dari Telaga Sarangan.

Perjumpaannya dengan Ayu Candra benar-benar tak disangkanya sama sekali. Tidak pernah ia menyangka bahwa di tempat sunyi ini tinggal seorang gadis jelita seorang diri sehingga mau ia percaya bahwa gadis itu tentulah sebangsa bidadari penghuni kahyangan. Biarpun Joko Wandiro semenjak kecil digembleng oleh orang-orang pandai, memiliki batin yang amat kuat, namun ia seorang manusia juga. Manusia laki-laki yang masih muda, baru berusia dua puluh tahun kurang.

Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja iapun mempunyai perasaan wajar terhadap wanita, teristimewa kepala wanita yang memiliki daya penarik khas terhadap perasaan dan seleranya. Joko Wandiro bukanlah seorang laki-laki mata keranjang, dan biasanya hatinya acuh tak acuh apabila ia bertemu dengan wanita muda. Memang setelah dewasa, ia dapat menilai akan cantik tidaknya seorang wanita, namun belum pernah ia merasa tertarik dan boleh dikatakan hatinya selalu dingin terhadap mahluk jenis lawan ini.

Akan tetapi sekali ini lain sama sekali. Begitu melihat Ayu Candra, ia terpesona, jantungnya berdebar-debar tidak karuan dan semangatnya serasa melayang-layang. Tidak ada hasrat lain di hatinya kecuali mengikuti ke manapun juga dara itu pergi! Seperti, seorang linglung kini ia berindap-indap dan mengikuti dara itu yang menuju ke pinggir telaga sambil bertembang amat merdunya.

Ayu Candra tidak tahu bahwa dirinya diikuti dan diperhatikan orang. Ia lalu turun ke dalam air, terus ke depan di mana air sampai di pinggangnya. Amat sejuk dan segar. Ia menyelam tiga kali lalu menggosok-gosokkan daun pandan dan bunga-bungaan kepada rambutnya yang terurai basah. Rambut yang hitam gemuk panjang itu mengkilap tertimpa sinar matanari pagi dan kulit yang putih menguning itu seperti kencana muda.

Joko Wandiro berindap-indap mendekat pantai. Seperti mimpi ia terus mendekat sampai berada di tepi pantai, hanya beberapa meter jauhnya dari gadis itu, lalu bersimpuh di atas rumput. Kini ia tidak bersembunyi lagi, melainkan duduk menonton di tepi telaga seperti orang tak sadar akan keadaan dirinya. Terpesona ia memandang ke depan, melihat tubuh belakang dara itu. Kain yang basah itu menempel ketat dan mencetak tubuh belakang yang ramping, padat dan gempal. Di bagian pinggul, kain itu seakan-akan hendak pecah, tidak kuat menahan gumpalan daging yang menonjol haus akan kebebasan.

cerita silat online karya kho ping hoo

Ketika kedua tangan dara itu bergerak-gerak mulai menggosok leher dan dadanya, dari belakang tampak tulang belikatnya bergerak-gerak, membuat punggung yang halus itu bergerak-gerak pula seperti menari. Melihat semua keindahan yang selama hidupnya baru kali ini mengikat perhatiannya, Joko Wandiro menahan napas.

Pandang mata manusia mengandung getaran-getaran yang kuat, apalagi kalau pandang mata itu didorong perasaan. Juga manusia diperlengkapi alat-alat halus untuk menerima getaran ini, menangkap dengan indera ke enam. Makin bersih batin manusia, makin kuat indera ke enam ini sehingga membuat ia mungkin menerima getaran-getaran yang paling halus, memungkinkan ia melihat yang tak terlihat mata, mendengar yang tak terdengar telinga.

Ayu Candra yang tadi sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai tidak memperhatikan getaran-getaran halus yang semenjak tadi menyerangnya, kini mulai merasakan getaran itu dan membuatnya melakukan gerak otomatis membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba ke belakang. Dua pasang mata bertemu pandang. Dua pasang mata yang bersinar sama tajam, penuh getaran. Sampai lama dua pasang mata itu bergelut pandang, yang satu terpesona yang ke dua kaget dan heran.

Menyaksikan tubuh dara itu dari belakang sudah hebat, kini menatapnya dari depan, benar-benar menakjubkan, membuat kerongkongan Joko Wandiro serasa kering tercekik sehingga terpaksa ia berusaha menelan ludah. Kemudian, terdorong oleh keharuan dan perasaan kagum terpikat yang sukar dilukiskan dengan kta-kata, terdorong pula oleh rasa kesadaran bahwa ia telah bersikap tidak sebagaimana mestinya dan melakukan pelanggaran susila yang semenjak ia kecil sudah digariskan oleh guru-gurunya, mendadak Joko Wandiro menunduk dan menyembah!

"Duh sang dewi, hamba mohon ampun akan kelancangan hamba, berani menjatuhkan pandang mata terhadap paduka."

Sejenak Ayu Candra tertegun. Sinar kemarahan yang mulai menyelubungi mukanya, perlahan-lahan lenyap, berganti keheranan, tidak mengerti, kemudian setelah sikap pemuda yang amat aneh itu dapat ia duga maksudnya, ia tersenyum lebar dan menutupkan tangan kiri ke depan mulut menahan ketawa geli.

"Hi-hi-hik! Kau sangka aku ini dewi penjaga telaga? Hi-hik!"

Joko Wandiro mengangkat muka memandang dan hampir saja ia terjungkal ke dalam telaga! Setelah kini tersenyum, wajah itu makin hebat! Dan dara itu tertawa dan mengeluarkan kata-kata, ia menjadi sadar akan keadaannya yang tidak sewajarnya, menyeretnya kembali kealam dunia dari alam mimpi. Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan rasa malu membuat mukanya terasa dingin panas tidak keruan! Ia hanya bisa memandang dengan mulut melongo dan hal ini kembali mendatangkan kemarahan di hati Ayu Candra karena kembali timbul prasangka bahwa pemuda itu tentu mengintainya dengan sengaja untuk bersikap kurang ajar

"Heh! mau apa kau di situ? Kau mau mengintai orang mandi, ya? Kurang ajar....!"

Joko Wandiro yang telah sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang manusia, seorang dara jelita, seakan-akan disiram air dingin. Ia gelagapan, bingung, malu dan gugup. Jelas tertekan dalam benaknya betapa ia telah berlaku terlalu kurang ajar, melanggar tata susila. Dengan gagap-gugup ia menyangkal, "Tidak....tidak....! Aku tidak berniat kurang ajar....!"

Diam-diam Ayu Candra memperhatikan pemuda itu dan iapun kagum. Pemuda ini amat tampan dan muka seperti itu tak mungkin kurang ajar! Akan tetapi dengan mulut cemberut ia mendesak, "Kalau tidak mau kurang ajar, mau apa kau di sini?"

"Aku mau...mau mandi....!"

Ayu Candra membentak, "Mana ada orang mandi di darat?"

"aku....belum....sekarang juga....mandi....."

Dengan gagap dan gugup Joko Wandiro yang hendak menyembunyikan rasa malunya itu bangkit dan segera pergi ke sebelah kanan, terpisah sepuluh meter dari tempat dara itu mandi, kemudian ia melompat ke air tanpa membuka pakaian pula!

"Eeeeeeh, awas di situ amat dalam....!"

Ayu Candra menjerit kaget, akan tetapi sudah terlambat, pemuda itu sudah ambyur ke air sehingga air muncrat tinggi ketika terdengar suara menjebur. Tubuh pemuda itu tenggelam dan tak tampak lagi sampai permukaan air menjadi tenang kembali dan hanya tampak air berbunyi blekutuk-blekutuk karena ada hawa naik dari bawah.

"Celaka........!" Ayu Candra berseru kaget Melihat cara pemuda tadi terjun ke air, begitu kaku dan dengan perut lebih dulu, dapat diduga bahwa pemuda itu tidak pandai berenang, kini ternyata pemuda itu tenggelam dan tidak muncul kembali!

Gerak gerik pemuda tadi amat aneh. Kalau bukan orang yang miring otaknya tentu orang yang mempunyai penyakit ayan! Menurut ayahnya, penyakit ini hebat sekali dan kabarnya orang yang mempunyai penyakit ayan sama sekali tidak boleh dekat air yang dalam karena sekali tergelincir ke dalam air di waktu penyakitnya kumat, orang itu tentu akan mati!

Teringat akan hal ini, bangkit sikap pendekar dalam diri Ayu Candra. Bagian di mana pemuda tadi terjun amat dalam, kata ayahnya dalamnya setinggi pohon bambu tua! Ia lalu berenang ke depan, ke bagian telaga yang dalam di mana pemuda tadi terjun, kemudian mengambil napas panjang dan menyelam.

Dengan gerakan kedua kakinya disertai tenaga dalam yang amat kuat, Ayu Candra terus menyelam. Ia membuka mata di dalam air dan untung baginya bahwa sinar matahari ada yang menimpa bagian itu dan air amat jernih sehingga ia dapat melihat ke bawah. Tidak jauh di sebelah bawah ia melihat benda hitam bergerak-gerak. Tidak salah lagi, tentulah itu pemuda yang gendeng tadi, atau mungkin sedang sekarat karena penyakit ayannya kumat.

Dengan gerakan kaki dan tangan, Ayu Candra menyelam terus dan setelah dekat, benar saja ia melihat bayangan kepala orang. Menolong orang kalap (tenggelam di air) sekali-kali tidak boleh sembrono, pikirnya, teringat akan nasehat ayahnya. Kalau yang ditolong itu saking takutnya merangkul dan memeluk mencari pegangan, bisa celaka pula orang yang berusaha menolong. Harus dijambak rambutnya, atau dibikin tak berdaya, atau dipukul sekali biar pingsan!.

Ayu Candra meragu. Untuk menempiling kepala itu ia khawatir kalau-kalau pukulannya terlalu keras dan yang dipukul akan mampus sama sekali! Ketika tangannya meraih ke depan, jari-jari tangannya mencengkeram muka dan menangkap hidung. Ia merasa betapa muka itu hangat dan dari hidungnya keluar hawa yang menimbulkan gelembung-gelembung air, maka ia cepat merangkul leher orang itu dan memiting (menjepit) dengan lengan erat erat. Kalau ia meronta dan hendak mencengkeram, kuperkeras jepitanku pada lehernya, hendak kulihat apakah ia takkan tercekik pingsan, pikirnya.

Dengan lengan kiri memiting leher, Ayu Candra lalu menjejakkan kedua kaki bergantian ke bawah dan tangan kanannya membantu. Memang hebat tenaga dalam dara ini sehingga dalam waktu singkat, kepalanya sudah tersembul keluar dari permukaan air. Ia mengguncang-guncang kepala dan menghapus air dari muka dengan tangan kanan, kemudian melihat sejenak ke arah yang menempel di dadanya.

Orang yang dipiting lehernya itu matanya meram, napasnya terengah-engah akan tetapi tidak mati. Ayu Candra lalu berenang ke pinggir dan setelah tiba di pinggir, di tempat dangkal, ia melepaskan pitingannya dan menyeret orang itu dengan mencengkeram leher bajunya, menariknya ke darat. Akan tetapi, perut orang itu sama sekali tidak kembung, tidak terisi air seperti biasanya orang yang tenggelam. Bahkan begitu sampai di darat, pemuda itu membuka matanya dan bangkit duduk! Matanya terbelalak lebar, mukanya kemerahan dan pemuda itu memandangnya dengan bengong.

Ayu Candra melihat arah pandang mata pemuda itu ditujukan ke dadanya. Cepat ia menunduk dan hampir ia menjerit ketika melihat betapa kainnya telah merosot turun sampai ke pinggang membuka bagian dadanya yang hanya sebagian tertutup rambutnya. Secepat kilat tangan kirinya menarik kainnya ke atas dan tangan kanannya menampar.

"Plakk!!"

Tamparan itu keras sekali dan diam-diam Joko Wandiro kaget bukan main. Tidak disangkanya dara ini memiliki tenaga yang demikian hebatnya. Untung dia memiliki kesaktian, kalau orang biasa menerima tamparan sehebat itu, tentu akan rontok giginya! Akan tetapi, karena tidak menyangka-nyangka sehingga ia tidak mengerahkan tenaga, untuk menerima tamparan, pipinya terasa panas dan perih juga.

Joko Wandiro mengangkat tangannya, mengusap-usap pipinya yang kena tampar. Ia tidak tahu bahwa dara itu lebih terkejut dan lebih heran daripadanya. Ayu Candra merasa kaget melihat betapa pemuda yang disangkanya gendeng (setengah gila) atau berpenyakit ayan itu menerima tamparannya seperti orang yang pipinya dihinggapi lalat saja agaknya! Padahal tadi karena malu dan marah ia telah melakukan penamparan yang cukup keras untuk membikin gigi rontok bibir pecah Ataukah tanpa disadarinya ia merasa kasihan dan menampar tidak sekeras yang ia kehendaki semula?

Kini Joko Wandiro sudah dapat menentramkan hatinya kembali. Agaknya tamparan tadi mengusir semua sisa kegugupan dan kecanggungan yang masih ada di hatinya. Akan tetapi kalau teringat akan penglihatan yang baru saja terbentang di depan matanya, ia merasa ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut dan kedua pipinya terasa panas. Kini ia bangkit berdiri dan berkata,

"Sungguh aku tidak mengerti sama sekali mengapa engkau begini marah kepadaku. Sudah kuakui kesalahanku tadi yang tidak sengaja datang ke tempat ini dan mendapatkan kau sedang berjalan seorang diri lalu mandi. Aku sudah minta maaf dan akupun hendak mandi, sudah menjauhimu dan...."

"Cerewet! Kau orang tak kenal budi, tak tahu terima kasih dan mata keranjang!" Ayu Candra berkata marah sekali.

Joko Wandiro menekan jantungnya yang berdebar keras. Bukan main! Marah-marah malah bertambah manisnya. Heran ia mengapa hatinya berhal demikian. Mengapa ia kini sekali bertemu tergila-gila kepada seorang wanita? Apakah ini yang namanya mata keranjang?

"Benar mata keranjang!" Joko Wandiro menampar kepalanya dan ia kaget sendiri karena kata-kata dan gerakannya ini di luar kehendaknya. Saking kerasnya berpikir, ia sampai mengeluarkan suara hati melalui mulutnya tanpa disadarinya.

"Apa....kau bilang....?"

Ayu Candra bertanya dengan mata terbelalak lebar, memandang penuh perhatian. Tidak salah lagi. Orang ini otaknya miring! Sayang sekali, muda belia yang tampan sekali ini, yang memiliki sifat gagah juga karena ditampar sama sekali tidak mengeluh, ternyata tidak beres ingatannya. Tentu saja Joko Wandiro makin gagap.

"Ku...kumaksudkan....eh, biarpun mata....eh, sama sekali tidak mata keranjang, tapi aku....aku bukan tidak mengenal budi dan sama sekali tidak berniat kurang ajar, dan...." berhenti dan bingung sendiri.

Mata gadis itu yang membingungkannya. Matanya begitu lebar, begitu jernih, begitu indah. "Apa? Engkau hampir mampus di kedung itu, susah payah aku menolongmu. Akan tetapi kau....kau memandang....dengan mata melotot! Apa itu namanya tahu terima kasih, mengenal budi? Apa itu namanya tidak mata keranjang dan kurang ajar?"

"Memandang....? Melotot....?"

"Ya! Biji matamu tadi hampir terloncat keluar, melotot memandang.....memandang....hemm, ini!"

Ayu Candra menuding ke arah dadanya dan tiba-tiba pipinya menjadi merah sekali. Kedua pipi Joko Wandiro lebih merah daripada pipi dara itu. Ia menundukkan mukanya dan menjawab,

"Bu....bukan aku yang menyebabkan kain....merosot."

"Tentu saja, akan tetapi matamu memandang!"

Joko Wandiro menjadi penasaran juga. Gadis ini hebat, cantik jelita dan menarik, akan tetapi terlalu galak dan mau menang sendiri.

"Aku tidak sengaja memandang, habis....di depan mata sih. Dan lagi, untuk Apa punya mata kalau tidak untuk memandang? Kalau aku tahu bakal menjadikanmu marah, aku lebih senang meramkan mataku tadi. Kaukira aku ini begitu ceriwis untuk memandangi.... anu orang?"

Diserang begini, Ayu Candra kewalahan. Bagaimanapun juga, pemuda itu tak dapat dipersalahkan karena begitu membuka mata melihat dadanya terbuka di depannya.

"Mata sih boleh dipakai memandang, tapi kau memandang sampai melotot!"

Wah benar-benar dara yang mau menang sendiri. "Kuharap engkau sekali lagi suka maafkan aku. Sesungguhnya, ketika kau berada di hutan sana tadi, aku menjadi amat heran dan kaget melihat betapa seorang dara berada di tempat sesunyi ini sendirian saja. Sungguh mati, aku menyangka kau bukan manusia, sebangsa peri atau bidadari kahyangan, maka scperti orang bermimpi aku mengikutimu sampaai di sini. Kau lalu mandi dan aku...aku menjadi gugup ketika kau tegur. Akupun hendak mandi...."

"Gila! Mana ada orang mandi berpakaian lengkap begitu, langsung terjun tanpa melihat air itu dalam atau tidak? Nyaris engkau mampus!"

"Hemm, agaknya ada salah pengertian di sini. Aku tadi sudah minta maaf, akan tetapi mengapa engkau tidak membiarkan aku mandi dengan aman? Aku sudah menjauhimu akan tetapi engkau malah mendekat, menyusul ke bawah air dan dengan sewenang-wenang engkau memiting leherku sampai hampir patah, menyeretku ke darat. Belum juga kutegur perbuatanmu ini, baru saja mataku kubuka, kau sudah menamparku. Coba, kalau perbuatanmu terhadapku ini tidak sewenang-wenang, Apa namanya?"

Ayu Candra membelalakkan matanya lagi dan kembali Joko Wandiro merasa jantungnya jungkir balik. Celaka, pikirnya sambil mengalihkan pandang agar ia jangan menentang mata yang sedemikian indahnya. Kalau terlalu sering ia membelalakkan matanya, aku akan gila, pikirnya

"Jadi kau...kau tidak gendeng...?"

"Gendeng...?!?" Joko Wandiro berteriak kaget.

"Ya, gendeng, begini...!" Ayu Candra menaruh telunjuk di depan dahi, melintang. Aih, aih....orang ini terlalu amat, pikir Joko Wandiro dan kini ia yang melototkan matanya.

"Kukira engkau tadi gendeng atau setidaknya mempunyai penyakit ayan"

"ayan...? Aku... ayan...?!?"

Cuping hidung Joko Wandiro mulai kembang-kempis. Dara ini benar-benar lancang mulut. Terlalu amat sangat melewati ukuran! Melanggar batas Kesabarannya.

"Kau jangan main-main, memaki orang seenak perut sendiri saja!" ia balas menghardik.

"Habis engkau yang bikin orang mendongkol! Kalau tidak gendeng tidak ayan, kenapa pura-pura tenggelam?"

"Siapa yang pura-pura? Memang aku menyelam. Kau kira hanya kau seorang di dunia ini yang pandai berenang dan menyelam? Hayo kita bertaruh, kita berlumba renang atau kuat-kuatan menyelam!" Joko Wandiro menantang.

Akan tetapi Ayu Candra tidak memperhatikan tantangannya. Dara ini agaknya teringat akan sesuatu dan kembali matanya terbelalak. Aduh, jangan lagi! Joko Wandiro mengeluh dalam hati dan mengalihkan pandang.

"Kalau begitu...ketika kau kutolong tadi, ketika kurangkul...."

"Maksudmu kaupiting sampai leherku hampir patah tadi?"

"Ketika itu....engkau....tidak pingsan?"

"Siapa bilang pingsan! Baru enak-enak menyelam kau seret saja aku!"

"Kenapa kau pura-pura pingsan? Kenapa kau diam saja? Kau sengaja, ya? Kau mempergunakan kesempatan selagi aku salah menduga kau tenggelam, kau membiarkan lehermu kurangkul....mukamu....kudekap....kau, manusia kurang ajar!"

Ayu Candra kini marah sama sekali dan ia sudah menerjang dengan kedua tangan dikepal. Melihat kedudukan dara ini memasang kuda-kuda, kembali Joko Wandiro terkejut. Agaknya dara ini selain cantik jelita dan mau menang sendiri, juga memiliki kepandaian pula.

"Eh, eh....sabar dulu! Jangan mau menang sendiri dan jangan kukuh akan kebenaran sendiri. Kau memiting leherku erat-erat sampai hampir tercekik. Aku berada dalam air ketika kau tiba-tiba memitingku. Habis Apa yang harus kulakukan ketika itu? Apakah aku harus memberontak dan melawanmu? Kalau kulakukan itu, tentu kita berdua akan celaka. Apakah harus berteriak? Di dalam air mana dapat? Kau sendiri yang salah, tanpa periksa lebih dulu tahu-tahu menjatuhkan dugaan aku orang edan atau orang ayan yang akan mampus tenggelam. Maksud hatimu memang mulia akan tetapi pelaksanaannya yang keliru. Betapapun juga, kau telah bermaksud menolong nyawaku dan untuk itu biarlah aku memaafkan maki-makianmu tadi dan aku menghaturkan banyak terima kasih."

"Kau bisa saja membela diri. Lidah memang tak bertulang!"

"Kalau lidah bertulang, tentu sukar bergerak dalam mulut," Joko Wandiro membantah karena merasa jengkel juga.

"Kau tidak meronta dan berteriak di dalam air siapa peduli? Akan tetapi ketika sudah tersembul di atas permukaan air, mengapa kau masih enak-enak saja, pura-pura memejamkan matamu?? Hayo jawab, bukankah ini kau sengaja menyalahgunakan pertolongan orang untuk melakukan penghinaan?"

Joko Wandiro menarik napas panjang.
"Agaknya kau berkeras hati untuk memaksa aku mengaku kurang ajar. Apa boleh buat, engkau sudah menamparku, biarlah aku berterus terang. Ketahuilah, ketika kita tersembul di permukaan air, aku memang membuka mata. Baru kuketahui bahwa aku hemm bahwa mukaku tadi ah, bagaimana ini, terus terang saja, aku tidak berani membuka mata atau membuka suara. Aku terlalu bingung, terlalu....ngeri!! Ah, sudahlah. Aku jadi bingung kau desak-desak. Apakah kau tidak mau memaafkan aku?"

Sejenak Ayu Candra membuang muka dengan mulut cemberut. Apa yang harus ia lakukan terhadap pemuda ini?

"Engkau menggigil. Berdiri di sini dengan kain basah tertiup angin dingin, bisa masuk angin. Pulanglah, kalau engkau punya rumah, dan jangan pikir lagi. Aku bersedia minta maaf dan biarlah kuakui lagi kesalahanku."

Suara Joko Wandiro kini amat halus dan penuh kesabaran, jelas ia mengalah. Ayu Candra mengangkat muka memandang. Kini wajah pemuda itu amat tampan dan ia heran melihat pandang mata yang demlkian tajam, seperti mata harimau.

"Aku sudah biasa dengan hawa dingin, tidak apa-apa. Engkau malah yang bisa sakit demam, pakaianmu basah kuyup."

Joko Wandiro tersenyum, girang hatinya. Agaknya dara ini tidak segalak yang ia sangka tadi. Mungkin tadi galak terdorong rasa malunya.

"Akupun sudah biasa melawan hawa dingin atau panas. Engkau baik sekali, dan terima kasih atas kemurahan hatimu yang suka memaafkan aku!"

"Hemm,siapa yang bilang aku sudah memaafkanmu, habis....ada Apa?"

"Tidak apa-apa, hanya setelah kita berjumpa secara kebetulan di sini dan sudah lama juga bercakap-cakap, kalau boleh, aku ingin mengetahui siapa anda ini dan di mana tempat tinggalmu?"

"Namaku Ayu Candra, tempat tinggalku di sana, tak jauh dari tempat ini. Ayah ibuku sedang pergi, aku sendirian saja di pondok, akan tetapi ada...."

Tiba-tiba Ayu Candra menahan kata-katanya. Cuping hidungnya bergerak sediklt. Ia mencium bau wengur, bau seekor harimau berada dekat tempat itu! Ia terkejut, akan tetapi bersikap tenang kembali. Malu kalau memperlihatkan kekagetannya. Pula ia meragu apakah ia harus bercerita sebanyak itu tentang dirinya? Mengapa ia mendadak menaruh kepercayaan yang mendalam kepada pemuda ini yang tadinya ia anggap seorang laki-laki kurang ajar?

"Ada Apa? Mengapa tidak kau lanjutkan?" Joko Wandiro mendesak.

"Tidak ada apa-apa lagi, sudah cukup keteranganku. Kau sendiri, kau orang dari manakah dan di mana tempat tinggalmu?"

Joko Wandiro menarik napas panjang, memandang wajah gadis itu dan sikapnya seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaan orang, ia melainkan berkata lirih seperti orang melamun,

"Ayu Candra....bukan main indahnya nama ini....memang ayu seperti candra (bulan) "

"Hishh! Ditanya tidak menjawab malah ngaco....!" Ayu Candra menghardik dan mukanya menjadi merah sekali namun jantungnya berdebar girang!

"Oya , aku tidak punya tempat tinggal tertentu di dunia ini. Rumahku buana bebas, atap rumahku langit biru, dinding rumahku pohon-pohon, lantai rumahku bumi ditilami rumput hijau, batu-batu dan akar-akar pohon meja kursiku, ranting-ranting pohon pembaringanku, bintang-bintang di langit pelitaku."

Ayu Candra tertawa mendengar jawaban ini, akan tetapi jantungnya makin berdebar gelisah ketika bau yang wengur makin keras.

"Kau seperti badut saja, suka melucu. Dan namamu....?"

"Namaku Joko...." Aduh, tertelan kembali lanjutan namanya karena pada saat itu Ayu Candra sudah membelalakkan matanya lagi sehingga Joko Wandiro merasa semrepet (pusing dan gelap mata). Akan tetapi, tiba-tiba Ayu Candra menjerit,

"Joko....awas....!!"

Kedua tangan gadis itu secepat kilat mendorong ke depan, ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tentu saja maklum bahwa sejak tadi di dekat situ terdapat seekor harimau, akan tetapi ia memang pura-pura tidak tahu, karena selain tidak suka membikin dara itu terkejut, juga ia tentu saja tidak takut sama sekali. lapun tahu bahwa pada saat itu sang harimau telah meloncat dan menerkam ke arahnya dari belakang. Karena ia tadi terpesona oleh sepasang mata yang melebar indah, maka ia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Begitu dadanya didorong, ia membiarkan dirinya terlempar sampai tiga meter lebih!

Seekor harimau yang amat besar telah menerkam dan kini, karena terkamannya luput, harimau itu membalik dan menggereng. Suara geramannya itu amat keras, seakan-akan menggetarkan seluruh permukaan telaga dan menggema di dalam hutan-hutan di sekitarnya. Bibir atas binatang itu bergerak-gerak tertarik ke atas memperlihatkan taring yang runcing kuat, tubuhnya yang panjang merendah sampai perutnya menempel tanah, sepasang matanya tajam penuh kemarahan menatap Joko Wandiro.

Pemuda ini yang tadi terlempar oleh dorongan Ayu Candra, sudah bangkit kembali dan menghadapi ancaman harimau dengan sikap tenang sekali.

"Joko jangan bergerak. Biarkan aku melawannya!" terdengar Ayu Candra berkata.

Gadis itu sudah memasang kuda kuda dan kakinya berindap-indap menghampiri harimau. Melihat gerak-gerik dara itu, Joko Wandiro dapat menduga bahwa Ayu Candra memiliki kepandaian yang tinggi juga. Akan tetapi harimau itu amat besar dan buas. Menghadapi binatang sebuas ini banyak bahayanya bagi Ayu Candra. Biarpun bukan bahaya maut, setidaknya kalau terkena cakaran kaki harimau, tentu akan menimbulkan luka-luka parah.

"Jangan, Ayu. Biarkanlah, menghadapi harimau macam ini saja, biar ada lima ekor aku tidak gentar."

Jawaban ini membuat Ayu Candra tertegun. "Kau...? Kau...berani...melawannya?"

Joko Wandiro tersenyum bangga. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa bangga akan kepandaiannya. Dan baru sekali ini ia ingin memamerkan kepandaiannya di depan orang lain! Biasanya ia sama sekali tak mengharapkan pujian orang lain, akan tetapi sekali ini, ia bahkan ingin sekali mendengar pujian si dara jelita. Karena itu, tanpa disadarinya sendiri, ia secara sembarangan malah berjalan mendekati harimau yang sudah menggereng-gereng dan siap menerkamnya itu!

"Eh, Joko hati-hatilah harimau ini kelaparan!"

Ayu Candra menjerit kembali ketika Joko Wandiro menghampiri harimau itu sampai dekat sekali. Joko Wandiro kembali tersenyum.

"Tidak ada binatang sebuas manusia, Ayu. Harimau inipun tidak sebuas manusia. Ia hanya akan menerkam mahluk lain kalau perutnya lapar karena ia membutuhkan makan sebagai penyambung hidupnya. Manusia akan menerkam manusia lain hanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya."

"Joko awas!!"

Ayu Candra memperingatkan, gelisah juga melihat pemuda itu masih enak-enakan mengobrol dan bahkan membelakangi harimau itu yang kini jaraknya hanya tinggal dua meter di belakangnya. Harimau itu menerkam untuk kedua kalinya. Dahsyat terkamannya, dengan cakar runcing melengkung siap merobek kulit daging dan moncong terbuka lebar siap meremukkan tulang-tulang.

"Joko........!"

Kembali Ayu Candra menjerit dengan muka berubah pucat. jerit penuh kekhawatiran dan kengerian yang terdengar merdu memasuki telinga Joko Wandiro. Dara itu mengkhawatirkan dirinya! Berarti dara itu tidak ingin melihat ia dirobek-robek dan dijadikan mangsa harimau.

"Jangan khawatir, Ayu...!" katanya sambil menggerakkan tubuhnya. Dengan sebuah gerakan yang indah cekatan sekali Joko Wandiro sudah menghindar dengan amat mudahnya.

Kembali harimau itu menerkam tempat kosong. Kini Ayu Candra melongo keheranan. Gerakan pemuda itu jelas membayangkan bahwa pemuda itu bukan seorang lemah, bukan penyombong seperti gentong kosong. Ketika harimau itu kini menerkam kembali, dan dari jarak dekat dan dengan gerakan yang lebih indah mengagumkan pemuda itu kembali menghindar, mulai berkuranglah kekhawatiran hati Ayu Candra.

Mulailah ia mencurahkan perhatiannya dan menonton, tidak cemas lagi seperti tadi, melainkan menonton dengan kagum. Sudah tujuh kali harimau itu menerkam, makin lama makin dahsyat dan makin marah. Akan tetapi selalu terkamannya mengenai tempat kosong karena dielakkan secara mudah dan cepat oleh Joko Wandiro yang tersenyum-senyum dan melirik ke arah Ayu Candra, hatinya berdebar girang melihat sinar kekaguman terpancar keluar dari sepasang mata bintang itu.

"Joko, kenapa main-main dengan dia? Lekas bunuh saja!" Akhirnya Ayu Candra berteriak karena mengganggap bahwa dengan main kelit pemuda itu membahayakan diri sendiri.

"Ah, bagaimana aku tega?" balas Joko sambil mengelak lagi ketika si harimau menerkam dari samping. "Dia menyerangku untuk makan. Akan tetapi aku tidak membutuhkan kematiannya. Lihat, Ayu, akan ku akhiri permainannya ini!"

Sebelum harimau itu membalik, Joko Wandiro sudah mendahului dengan loncatan cepat sekali ke belakang tubuh harimau dan tangan kanan Joko Wandiro menyambar ekor harimau yang panjang. Harimau itu menggereng keras dan berusaha membalikkan tubuh untuk mencakar orang yang memegang ekornva, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dari atas tanah dan terus tubuhnya itu diputar-putar oleh Joko Wandiro di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak mempermainkan seekor tikus saja.

Ayu Candra terbelalak kagum. Dia sendiri tidak takut menghadapi harimau, malah sanggup mengalahkan binatang itu. Akan tetapi untuk memegang ekornya dan memutar-mutar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga dahsyat dan keberanian yang luar biasa! Kiranya pemuda ini seorang yang sakti! Dan dia tadi telah menduganya seorang gila, bahkan disangkanya pemuda itu seorang penderita penyakit ayan! Teringat akan hal ini, mendadak kedua pipi dara ini menjadi merah padam.

BADAI LAUT SELATAN JILID 27