Badai Laut Selatan Jilid 21

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 21

"Siapa yang hendak mengambil kembali perahu ini, boleh datang ke Pulau Iblis. Huah-ha-hah!"

Perahu itu didayung ke tengah oleh Dibyo Mamangkoro, setelah melewati kepala ombak, angin menangkap layar dan berkembanglah layar itu. Perahu meluncur cepat ke arah pulau yang tampak hitam menyeramkan. Suro dan para nelayan masih berdiri pucat di pantai. Potongan-potongan tombak yang dilemparkan secara perlahan oleh kakek raksasa tadi telah menancap dan amblas terus memasuki batu karang!

"Celaka...! Dia agaknya penghuni Pulau Iblis....!!" Akhirnya seorang kakek mengemukakan terkaannya dengan suara gemetar.

"Ah, engkau masih untung, Suro. Untung tidak sampai dibunuh....!

"Tidak salah lagi. Mereka tentulah.... bukan manusia biasa, mereka penghuni Pulai Iblis. Bayangkan anak perempuan tadi. Begitu cantik, seperti anak peri.... akan tetapi begitu kuat, sekali gerak telah merampas tombak dan merobohkan Suro. Eh, Suro, bukankah tenaga anak tadi luar biasa sekali, bukan tenaga manusia?"

Suro masih ketakutan, mukanya pucat matanya sayu. Ia tidak kuasa membuka suara dan setelah menelan ludah, baru ia dapat menjawab dengan anggukan kepala.

"Suro, kau tentu akan mendapat untung besar. Perahumu diminta penghuni Pulau Iblis, tentu anugerahnya berlipat ganda! Jangan murung, Suro, relakanlah, tentu engkau akan dilindungi!

Bermacam-macam pendapat mereka. Tidak seorangpun berani mengomel atau menyumpahi kakek raksasa itu. Dan tentang untung yang mereka ramalkan untuk Suro, sungguhpun belum nampak untungnya, namun sedikitnya Suro sudah agak terhibur daripada dukanya karena para temannya secara gotong royong bergilir meminjamkan perahu mereka kepada Suro untuk mencari ikan. Dan secara kebetulan sekali, atau mungkin juga karena Suro sesudah kehilangan itu bekerja keras dan rajin, setiap kali pergi mencari ikan semenjak peristiwa itu, Suro selalu memperoleh penghasilan yang besar! Memang, di dunia ini tidak ada yang lebih kuat daripada kepercayaan yang mendalam.

Endang Patibroto merasa suka sekali kepada gurunya. Ia merasa cocok dengan watak gurunya yang kasar, berandalan, dan mencari enaknya sendiri saja. Perampasan perahu itu bagi Endang Patibroto bukan hal yang dianggap tidak semestinya. Malah dianggap benar, karena, bukankah mereka membutuhkan perahu untuk menyeberang? Dan bukankah sudah semestinya mereka memakai perahu siapa saja yang tak mampu mempertahankan miliknya?

Semenjak kecil, anak ini hidup dalam asuhan seorang ibu yang mabok dendam. Bahkan semenjak dalam kandungan, ibunya seringkali membayangkan pembalasan dendam yang hebat-hebat dan kejam-kejam. Oleh karena itu, tidak mengherankan pula apabila Endang Patibroto memiliki watak yang aneh, berandalan, keras hati dan tidak mengenal kasihan!

Hebatnya, anak ini secara kebetulan sekali telah rnewarisi keris pusaka Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang semenjak dahulu kalau lenyap dari keraton pasti menimbulkan geger dan peristiwa-peristiwa hebat! Untuk melengkapinya lagi, secara kebetulan pula Endang Patibroto menjadi murid seorang sakti mandraguna yang liar dan ganas seperti Dibyo Mamangkoro!

Begitu perahu menempel pulau, Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya dan melompat ke darat. Kemudian sekali ia rnembetot dan melontarkan, perahu rampasan itu terlempar ke pantai pulau dan rebah miring. Ia tidak pedulikan lagi perahu itu melainkan menarik tangan muridnya, mengajaknya berlari-lari memasuki pulau sambil tertawa-tawa dan berkata,

"Huah-hah-hah! Inilah negara kita, inilah tempat tinggal kita, Endang! Inilah sorga dunia. Aku raja di sini, dan kini engkau menjadi puterinya, ha-ha-ha!"

Akan tetapi tiba-tiba Endang Patibroto terkejut dan berhenti berlari sambil melepaskan tangan gurunya, siap untuk menghadapi bahaya. Di depan mereka muncul seekor harimau tutul yang besar, sebesar anak lembu! Harimau itu meringis memperlihatkan taring yang besar meruncing, matanya bersinar-sinar galak, air liurnya menetes-netes seakan tak dapat ia menahan seleranya melihat manusia cilik yang berdaging lunak berdarah manis ini.

"Huah-ha-hah! Jangan takut, kalau dia berani mengganggu, bunuh saja! He, tutul, kalau kau berani membikin takut tuan puterimu, akan kubuntungi ekormu dan kedua telingamu. Pergi!" Kaki kiri Dibyo Mamangkoro terayun.

"Bukkk!!" Tubuh harimau tutul yang besar dan berat itu terlempar sampai beberapa meter jauhnya, jatuh terbanting, lalu binatang itu mengaum kesakitan dan berlari pcrgi terpincang-pincang, diikuti suara ketawa Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto.

Mulailah isi pulau itu mengenal suara ketawa yang lain daripada biasanya. Suara ketawa yang merdu dan nyaring, kadang-kadang melengking tinggi, namun mengandung kekerasan yang menyeramkan! Itulah suara ketawa Endang Patibroto yang mulai saat itu menjadi penghuni Pulau Iblis atau Pulau Nusakambangan, hidup berdua dengan gurunya, Dibyo Mamangkoro dan binatang-binatang buas yang menjadi penghuni asli pulau itu.

"Hati-hatilah engkau terhadap manusia di dunia ini Endang," demikian sebuah di antara nasehat-nasehat Dibyo Mamangkoro kepada muridnya. "Jauh lebih baik berhadapan dengan ancaman binatang buas daripada manusia. Binatang hutan, betapa buaspun, selalu menyerang orang berdepan, bahkan mcmberi peringatan lebih dulu dengan suaranya. Menang atau kalah dalam pertandingan, binatang mengandalkan kekuatan dan kecepatan nya, secara jujur. Akan tetapi tidak demikian dengan lawan manusia.

Manusia lebih sering menang mcngandalkan tipu muslihat yang licik. Karena itu, sekali-kali jangan engkau pereaya manusia. Apalagi manusia yang pandai bermain mulut, wah, berbahaya sekali dia itu, karena biasanya apa yang keluar dari mulutnya berlawanan dengan yang terkandung dalam hati. Kalau berhadapan dengan manusia yang mencurigakan, pukul saja lebih dahulu sebelum engkau dipukul!"

Ajaran-ajaran seperti inilah yang membuat Endang Patibroto menyerang kalang-kabut ketika beberapa bulan kemudian ia melihat tiga orang laki-laki tinggi besar mendarat di Pulau Iblis. Tiga orang laki-laki seperti gurunya, tinggi besar dan menyeramkan. Mereka itu mendarat dan menyeret sebuah perahu kecil ke pantai. Mereka itu adalah Wirokolo dan dua orang anak buahnya, Gagak Kunto dan Cagak Rudro yang telah gagal membunuh Sang Resi Jatinendra di Jalatunda.

Seperti kita ketahui, tiga orang ini mundur setelah Wirokolo dirobohkan Ki Patih Narotama. Setelah gagal, Wirokolo mengajak dua orang kawannya itu pergi ke Nusakambangan menghadap kakak seperguruannya. Melihat laki-laki tinggi besar yang berkalung dan bergelang ular pada leher dan kedua pasang kaki tangannya, tentu saja sekaiigus Endang Patibroto menjadi curiga. Apalagi sikap Gagak Kunto dan Cagak Rudro juga amat kasar dan tidak menyenangkan hatinya. Dari tempat persembunyiannya, di balik scrumpun pandan, Endang Patibroto mcngintai.

Setelah ia merasa yakin akan dugaannya bahwa tiga orang itu tentu datang ke pulau dengan maksud buruk, Endang Patibroto menggerakkan tangan, mengambil beberapa buah pecahan batu karang. "Pukul lebih dahulu sebelum engkau dipukul!" Bukankah demikian pesan dan ajaran gurunya?

Tiga orang ini mencurigakan, kalau tidak didahului tentu hanya akan mendatangkan bencana. Dari tempat persembunyiannya Endang lalu mengayun kedua tangan dan secara berturut-turut, tiga buah batu karang yang keras telah menyambar ke arah kepala tiga orang itu dengan kecepatan mengagumkan. Biarpun orang memiliki tubuh kuat, kalau kepalanya dihantam batu karang yang keras itu, tentu akan celaka, sedikitnya akan moncrot dan bileng!

Namun, tiga orang itu adalah jagoan-jagoan Kerajaan Wengker dahulu, ilmu ke pandaian mereka tinggi. Biarpun sambitan itu dilakukan dari jarak dekat dan dilakukan dengan tenaga yang dahsyat melebihi tenaga orang biasa, namun mereka sudah dapat menangkap sambaran anginnya lebih dahulu sehihgga dengan miringkan tubuh, mereka dapat mengelak sehingga tiga buah batu itu menyambar lewat.

Wirokolo mengerutkan kening dan bertukar pandang dengan kedua orang temannya. Ia terheran dan meragu. Ia maklum benar bahwa pulau ini adalah pulau yang hanya ditinggali oleh kakak scperguruannya, Dibyo Mamangkoro, tidak ada manusia lain. Ia maklum pula bahwa pulau ini oleh semua nelayan dianggap sebagai pulau iblis yang gawat dan angker bahwa tidak ada manusia lain berani mendatangi pulau ini, bahkan mendekatipun tidak ada yang berani.

Bagaimana sekarang begitu mendarat di pulau ini mereka bertiga diserang orang secara menggelap? Apakah Dibyo Mamangkoro membawa anak buah ke pulau ini? Andaikata demikian, tidak mungkin pula anak buahnya menyerang mereka! Semua anak buah Dibyo Mamangkoro tentu sudah mengenal siapa dia Wirokolo, Gagak Kunto dan Gagak Rudro! Ini pasti perbuatan musuh yang diam-diam menyelundup masuk ke Pulau Nusakambangan! Berpikir demikian, tiba-tiba Wirokolo tertawa berkakakan, kemudian kedua lengannya bergerak dan ia sudah melakukan gerakan memukul ke arah rumpun pandan di mana Endang Patibroto bersembunyi.

"Werrrr.... braaaakkkk.... !!"

Hebat bukan main kesaktian Wirokolo. Ilmu pukulan jarak jauh ini mendatangkan akibat yang mengerikan. Hawa pukulannya yang dahsyat tadi menyambar bagaikan angina puyuh. Debu mengebul dan daun-daun bergoyang, kemudian rumpun pandan itu bobol, tereabut berikut akar-akarnya dan terlempar sampai lima meter lebih. Akan tetapi di belakang rumpun pandan itu tidak ada apa-apa! Wirokolo sampai melongo keheranan. Juga Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang tadi tertawa-tawa melihat Wirokolo melakukan pukulan dahsyat ke arah rumpun pandan.

Merekapun, seperti Wirokolo, sudah dapat mengetahui bahwa yang melakukan penyerangan gelap dengan sambitan batu tadi bersembunyi di belakang rumpun pandan. Akan tetapi setelah rumpun itu terlempar, mengapa di situ tidak tampak ada orangnya? Salahkah dugaan dan perhitungan mereka? Tidak, sebetulnya dugaan mereka tepat sekali. Akan tetapi mereka tidak pernah menyangka bahwa yang melakukan penyerangan gelap hanyalah seorang gadis cilik. Lebih-lebih lagi mereka tidak tahu bahwa gadis cilik itu adalah seorang yang amat cerdik, dan sekecil itu telah memiliki gerakan gesit dan tangkas seperti burung srikatan.

Begitu serangannya tadi gagal, Endang Patibroto sudah maklum bahwa tiga orang itu bukanlah orang sembarangan, maka ia berlaku hati-hati sekali. Kalau mereka mampu mengelak dari sambitannya, tentu mereka itu akan dapat menemukan tempat persembunyiannya, demikian pikirnya. Maka cepat sekali Endang Patibroto lalu menggunakan ajinya Bayu Tantra, melompat dari belakang rumpun pandan ke atas anak pohon nyiur dan dari situ meloncat pula ke atas scbuah batu karang besar lalu bersejnbunyi di situ sambil mengintai!

Ia menjulurkan lidah saking ngeri dan kagum menyaksikan betapa rumpun pandan di mana tadi ia bersembunyi, jebol dan terlempar karena pukulan jarak jauh yang demikian dahsyat! Ia bersyukur bahwa tadi telah berlaku cerdik dan cepat. Kalau ia masih mendekam di belakang rumpun pandan, tentu tubuhnya menjadi korban pukulan dahsyat yang hebat akibatnya!.

Betapapun cepat gerakan Endang Patibroto, ia tidak dapat terlepas dari pandang mata yang tajam dari ketiga orang kakek itu. Mereka tadi melihat berkelebatnya bayangan dari rumpun pandan ke nyiur, hanya mereka tadi sama sekali tidak menduga bahwa itu adalah bayangan seorang manusia. Setelah kini melihat di balik pandan itu tidak ada apa-apa, barulah mereka maklum bahwa orang yang tadi menyambit mereka itu telah lari bersembunyi dan memiliki gerakan yang cepat.

"Babo-babo! Keparat dari mana berani memasuki Nusakambangan dan menyerang kami? Heh, pengecut di belakang karang. Keluarlah!" bentak Wirokolo.

Akan tetapi Endang Patibroto tidak mau keluar dari tempat sembunyinya. Ia tetap mendekam dan siap melakukan perlawanan apa bila diserang.

"Gagak Kembar, pergi kalian tangkap dia!" Wirokolo memerintah.

Dua orang raksasa kembar Itu tertawa lalu melangkah lebar ke arah batu karang. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan pereaya kepada diri sendiri, menjadi sombong, maka tanpa gentar mereka menghampiri tempat persembunyian lawan sarnbil tertawa-tawa.

Dari tempat persembunyiannya Endang Patibroto melihat datangnya dua orang raksasa yang sikapnya mengancam itu, diam-diam membuat perhitungan. Ia harus menyerang lebih dulu, pikirnya. Laripun tiada gunanya, tentu mereka akan mengejarnya dan kalau ketahuan gurunya, alangkah akan malunya. Melarikan diri dari lawan? Tidak sudi! Ia menanti dengan tubuh setengah membongkok, siap menerjang. Ketika dua orang raksasa itu sudah tiba di dekat batu karang, seperti seekor kijang muda Endang Patibroto melompat keluar, tangan kakinya bergerak menyerang.

"Plak-bukk!!"

Cepat bukan main serangan Endang Patibroto, cepat laksana kilat dan sama sekali tidak terduga-duga oleh sepasang Gagak itu yang sejenak tertegun melihat bahwa yang keluar dari balik batu karang adalah seorang anak perempuan! Karena inilah mereka terlambat untuk mengelak atau menangkis sehingga perut mereka kena digebuk sekali oleh tangan Endang Patibroto. Akan tetapi tubuh mereka kebal dan pukulan Endang Patibrpto, sungguhpun jauh lebih keras daripada pukulan orang dewasa pada umumnya, masih kurang kuat untuk dapat merobohkan dua orang jagoan Wengker ini.

Di lain saat berikutnya, dua orang yang tadinya tertegun dan terkejut itu sudah menubruk hendak menangkapnya. Akan tetapi, biarpun kalah jauh dalam hal tenaga, namun mengenai kecepatan gerak, Endang menang jauh. Dua orang itu menubruk dan dua-duanya mendapatkan angin kosong karena secara indah sekali tubuh kecil itu telah rnenyelinap pergi di antara empat buah tangan mereka yang menubruk.

"Ha-ha-ha, bocah ayu. Mari kugendong, ha-ha!" Gagak Kunto tertawa sambil melangkah maju.

"Kiranya hanya seorang bocah perempuan. Ha-ha, marilah, manis!" Gagak Rudro juga tertawa-tawa untuk menutupi rasa malu bahwa selain tadi kena dihantam, juga sekarang sekali tubruk tak berhasil menangkapnya.

Terjadilah kejar-kejaran yang menggelikan. Dua orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu menubruk sana-sini, namun selalu luput. Gerakan Endang yang menggunakan Aji Bayu Tantra amatlah cepatnya, secepat burung terbang, sedangkan dua orang raksasa itu terlalu besar tubuhnya sehingga agak lamban. Sampai tubuh mereka mandi peluh, belum juga mereka dapat menangkap Endang Patibroto!

"Ha-ha-ha !"

Wirokolo terbahak tertawa menyaksikan hal yang dianggapnya lucu itu. Dengan berindap ia melangkah maju dan pada saat Endang meloncat ke samping menghindarkan tubrukan dua orang lawannya dari depan dan belakang, tiba-tiba ia merasa rambutnya dijambak orang dan tubuhnya sudah menggantung di tangan Wirokolo yang menyambaknya!

"Ha-ha-ha! Bocah ayu manis, galaknya seperti kucing, ha ha!"

Wirokolo tertawa bergelak, membiarkan anak itu menendang dan memukul. Endang marah sekali. Biarpun tubuhnya tergantung dan kepalanya terasa pedas karena rambutnya dijambak, namun ia tidak tinggal diam, kaki tangannya bergerak menyerang. Celakanya, raksasa mengerikan ini tubuhnya jauh lebih kebal daripada yang dua tadi.

"Lepaskan aku, kau orang tua tak tahu malu!" Ia berteriak-teriak.

"Ha-ha-ha-ha! Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa, cah ayu? Hayo kau mengaku lebih dulu, siapa kau ini dan dengan siapa kau datang ke pulau ini."

Endang Patibroto yang cerdik segera mengerti bahwa menghadapi kakek ini tidak bisa menggunakan kekasaran. Maka ia lalu tersenyum amat manis dan berkata, suaranya lembut dan merdu, "Kakek yang baik, kau benar-benar sakti mandraguna. Aku takluk dan kagum melihat kesaktianmu. Aku sering mendengar bahwa seorang kakek sakti mandraguna pantang menghina seorang anak-anak."

"Ha-ha-ha, kau benar. Ha-ha-ha!" Senang hati Wirokolo. Anak ini terang bukan bocah biasa, suaranya merdu dan pujiannya enak di hati dan telinga.

"Kau lepaskanlah aku, kakek yang sakti, nanti aku ceritakan siapa aku ini."

Dengan senyum di bibir, dengan pandang mata bersinar-sinar, dan dengan suara merdu Endang dapat mengalahkan Wirokolo. Sambil tertawa-tawa, diikuti pula oleh sepasang Gagak yang kini juga tertawa-tawa, ia melepaskan rambut Endang.

Endang Patibroto membereskan rambutnya yang mawut oleh jambakan tadi. Di dalam hatinya ia merasa marah dan panas sekali, akan tetapi hal ini tidak ia perlihatkan pada wajahnya yang berseri. Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun sudah jelas terbayang kecantikan wajah Endang, dan tubuhnya juga mulai membentuk keindahan seperti bunga mekar. Manis sekali ketika ia membereskan rambutnya dengan kedua tangan.

"Ha-ha-ha, rambutmu hitam dan halus sekali....... !" Wirokolo mengusap kepalanya sambil memuji.

"Genduk, pipimu segar kemerahan!" Gagak Kunto juga memuji sambil mengusap pipi.

"Beberapa tahun lagi engkau tentu menjadi seorang gadis jelita, denok ayu, ha-ha-ha!" Gagak Rudro juga memuji dan mencubit dagu Endang.

Menghadapi tangan-tangan nakal ini, kemarahan Endang meluap. Tadinya ia hanya hendak menggunakan siasat bersikap lunak agar mereka lalai untuk kemudian mencari jalan dan kesempatan untuk melarikan diri melapor kepada gurunya. la maklum bahwa ia tidak akan menang menghadapi mereka ini. Akan tetapi setelah mereka ini memuji-muji dan tangan mereka mulai nakal, mengelus dan mendatangkan rasa jijik, ia marah sekali dan lupa bahwa mereka itu sama sekali bukan lawannya. Kalah atau menang ia tidak perduli lagi, yang penting kelakuan mereka yang ia anggap kurang ajar ini harus dihukum!

"Lepas tangan! Ada apa kalian meraba-raba??" bentaknya, mukanya tidak berseri lagi, mulutnya kehilangan senyum dan matanya memancarkan sinar marah. Endang makin menarik kalau sedang marah-marah begini. Mulut yang manis itu cemberut, matanya seperti bintang dan kulit muka yang halus itu menjadi kemerahan.

Tiga orang kakek itu makin senang hatinya untuk menggoda. Sambil tertawa-tawa mereka sengaja mengusap, meraba dan mencubit untuk membuat anak itu makin marah. Endang Patibroto tak kuasa menahan kemarahannya. Kini ia menyerang dengan pukulan-pukulan tangannya. Ia mengerahkan Aji Pethit Nogo, meloncat dengan 脌ji Bayu Tantra.

Kedua ilmunya ini sudah disempurnakan di bawah gemblengan Resi bhargowo, dan gurunya yang baru, Dibyo Mamangkoro yang melihat bahwa muridnya telah mempelajari ilmu-ilmu yang hebat, tidak melenyapkannya malah memperkuatnya dengan aji-aji yang lain. Karena kini Endang menyerang untuk membunuh, maka ia memilih bagian yang berbahaya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menyerang pusar dan bawah perut!

cerita silat online karya kho ping hoo

Tiga orang kakek itu diam-diam terkejut juga. Akan tetapi mereka tidak kehilangan kegembiraan mereka. Dengan mengelak atau menangkis, mereka membuat Endang jatuh bangun. Siapa saja diantara mereka bertiga yang diserangnya, tentu dapat mengelak lalu mendorongnya jatuh, atau menangkis lalu nembetotnya roboh tertelungkup. sungguh mereka bertiga mengalami saat yang gembira sekali sebagai hiburan atas kekalahan mereka di Jalatunda.

Makin hebat Endang mengamuk, makin gembiralah mereka yang mengelak dan menangkis sambil tertawa-tawa. Kasihan Endang yang jatuh bangun sampai lututnya lecet-lecet. Pada saat itu, Wirokolo menangkap pundaknya. Muka yang besar dan penuh rambut dengan mata lebar mulut nenyeringai menjijikkan itu dekat sekali dengan muka Endang.

"Ha-ha-ha, cah ayu, aku minta ambung, ya? Ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha! Bagus, beri kami cium manis!"

Gagak Kunto dan Gagak Rudro juga tertawa-tawa. Endang tak tahan lagi. Tangan kanannya merogoh ke balik baju, menggenggam gagang keris pusaka Brojol Luwuk, menghunusnya lalu menerjang sambil membentak nyaring, "Mampuslah orang-orang kurang ajar!"

Suara ketawa mereka seketika terhenti. Wajah tiga orang itu menjadi pucat sekali dan serentak mereka membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh dengan penuh ketakutan.

"Eh, jangan.... jangan....!! teriak Gagak Kunto.

"Aduh, celaka....... !" Gagak Rudro berseru ketika ia jatuh bangun dan tubuhnya menggigil, matanya seakan-akan silau oleh cahaya yang bersinar keluar dari keris pusaka Brojol Luwuk.

Wirokolo sendiri sungguhpun seorang sakti mandraguna, selama hidupnya belum pernah ia menghadapi sebuah keris pusaka yang mempunyai wibawa sedahsyat ini. Ketika keris itu tadi ditodongkan, ia merasa seakan-akan diserang lahar panas yang dimuntahkan kawah gunung berapi. Ketika ia bergulingan ke belakang menjauhkan diri kemudian meloncat kembali, ia mendapat kenyataan bahwa lima ekor ular berbisa yang tadinya melingkar di leher, kedua tangan dan kakinya, telah terlepas dan menjadi bangkai hangus di atas tanah!

Baru hawanya saja sudah sedemikian ampuhnya, apa lagi kalau tubuh terkena pusaka mujijat itu. Ia bergidik. Maklum bahwa gadis cilik ini memegang keris yang amat ampuh dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, lenyap semua sikap main-main pada Wirokolo dan dua orang pembantunya.

Sepasang Gagak itu kini sudah mengeluarkan suara bergaok menyeramkan seperti suara burung gagak, sedangkan Wirokolo sudah menggosok-gosok kedua tangannya sampai mengepulkan asap karena ia telah mengerahkan ajinya Anolo Hasto (Tangan Berapi) untuk menghadapi keris pusaka di tangan Endang!

Endang Patibroto sendiri tertegun menyaksikan kehebatan tiga orang lawannya itu. Betapa kedua tangan Wirokolo keluar asap dan bara apinya. Betapa kedua orang yang bersuara seperti gagak itu tampak mengerikan sikapnya, yang seorang memegang tombak yang ke dua memegang ruyung besar! Akan tetapi ia tidak gentar. Jelas bahwa tiga orang itu tadi ngeri dan ketakutan menghadapi keris pusakanya! Hal ini membesarkan hatinya dan dengan keris siap di tangan, ia berlaku awas. Pada saat yang sangat tegang itu, tiba-tiba terdengar suara bekakakan dari Jauh.

"Huah-hah-hah! Aku sudah mendengar suara Si Gagak Kembar dan Wirokolo! Kalian tidak lekas-lekas menghadapi aku, mengapa berlambat-lambatan?"

Belum habis suara itu bergema, tahu-tahu orangnya sudah muncul, yaitu Dibyo Mamangkoro sendiri. Betapa kagetnya melihat muridnya menghunus sebuah keris yang bersinar-sinar berhadapan dengan Wirokolo dan Gagak Kembar yang juga sudah siap bertanding mati-matian! Seketika lenyap seri dan tawa pada wajah kakek raksasa ini. Cepat ia melompat maju dan berkata,

"Heeee! Endang muridku sayang! Apa yang kau lakukan ini? Aduh..... wah..... bukan main pusakamu itu... eh... simpan, Endang. Simpan dulu keris pusaka itu. Hebat..... !"

Dibyo Mamangkoro sendiri terkejut bukan main ketika ia merasa betapa dahsyatnya wibawa keris pusaka itu yang membuat jantungnya berdebar keras, dan barulah ia menarik napas lega ketika keris itu disimpan oleh Endang di balik bajunya. Dibyo Mamangkoro merangkulnya, mengelus rambutnya dan berkata lirih,

"Muridku..... sayangku.... mengapa kau tidak bilang bahwa kau memiliki Brojol Luwuk....?!!"

"Pusaka sakti Brojol Luwuk.....???"

Wirokolo dan kedua orang Gagak Kembar berseru dan mata mereka terbelalak memandang ke arah Endang. Jelas tampak betapa mereka terheran, dan mengilar ketika mendengar bahwa pusaka ampuh tadi adalah Ki Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang hanya mereka dengar dalam dongeng sebagai pusaka yang tiada taranya di dunia ini. Melihat hasrat memancar jelas sekali dari muka tiga orang itu, Dibyo Mamangkoro yang masih merangkul muridnya segera membentak,

"Kalian bertiga apakah mendadak sudah menjadi gila? Ki Brojol Luwuk adalah pusaka milik muridku. Kenapa kalian tiga orang tua bangka mau mampus tadi hendak bertanding melawan muridku, Endang Patibroto? Sungguh bagus sekali, ya? Tiga orang kakek tua bangka hendak mengeroyok seorang bocah. Di mana kegagahan kalian?"

Tiga orang itu menjadi makin kaget sekali. Tidak mereka sangka seujung rambutpun bahwa anak perempuan itu adalah murid Dibyo Mamangkoro!

"Aduh..... maafkan kami, kakang Dibyo Mamangkoro! Sungguh mati kami tidak tahu bahwa anak ini adalah murid keponakanku sendiri. Siapa yang mengira begitu? Selamanya kakang tidak mempunyai murid. Bagaimana sekarang secara mendadak mempunyai murid begini elok?"

"Ini urusanku sendiri, tak perlu kau mencampuri! lngat, inilah Endang Patibroto, muridku yang kelak akan menggantikan aku. Muridku inilah yang kelak akan memimpin kalian semua, menghancurkan musuh-musuhku, menggegerken Kahuripan. Apalagi Ki Brojol Luwuk berada di tangannya. Huah-ha-hah!" Kemudian ia berhenti tertawa secara mendadak, menudingkan telunjuknya yang besar ke arah Gagak Kembar dan membentak,

"Kalian berani tadi melawan dan kurang ajar kepada gusti puterimu??"

Tiba-tiba Gagak Kunto dan Gagak Rudro menjadi pucat dan mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Dibyo Mamangkoro.

"Karena hamba berdua tidak tahu, telah bersikap kurang ajar terhadap..... gusti puteri, mohon paduka suka memberi ampun...."

"Huah-ha-hah! Enak saja minta ampun. Kalian patut dihajar!"

Tiba-tiba tangan yang menuding itu membuat gerakan mendorong dan... dua orang raksasa yang berlutut itu lalu terjengkang ke belakang. Dibyo Mamangkoro menggerak-gerakkan kedua tangannya ke arah mereka. Sungguh aneh dan rnengagumkan sekali dan jelas membuktikan betapa hebatnya tenaga sakti Dibyo Mamangkoro.

Pukulan jarak jauh kedua tangannya itu mampu menjatuh bangunkan dua orang yang terhitung orang-orang berkepandaian tinggi. Gagak Kunto dan Gagak Rudro berkali-kali terbanting sehingga babak belur. Mereka mengaduh-aduh dan sama sekali tidak berdaya, seperti dua helai daun kering dipermainkan angin. Ketika Dibyo Mamangkoro menghentikan gerakan tangannya, mereka rebah miring dengan napas terengah-engah.

"Kau puas, muridku?" Dibyo Mamangkoro bertanya kepada Endang yang hanya menonton saja.

Endang mengangguk. "Mereka itu tidak dibunuh, sungguh masih amat baik nasibnya!"

Wirokolo adalah seorang yang buas dan ganas. Namun mendengar ucapan seenaknya keluar dari mulut yang mungil itu, tengkuknya terasa dingin juga. Tidak salah lagi, pikirnya, kakak seperguruannya telah menemukan seorang murid yang hebat! Setelah Gagak Kembar dapat bangun dan berlutut lagi, Dibyo Mamangkoro bertanya,

"Nah, sekarang ceritakan bagaimana hasilmu menyerbu Jalatunda, adiku Wirokolo?"

Dengan suara bernada penyesalan, Wirokolo menceritakan pengalamannya di Jalatunda. Menceritakan betapa lima orang anak buah Gagak Kembar semua kalah oleh seorang anak laki-laki yang agaknya cucu murid Resi Bhargowo, kemudian betapa Gagak Kembar sendiri kalah melawan Resi Bhargowo.

"Terpaksa aku turun tangan sendiri, kakang Dibyo. Biarpun dalam ilmu sihir, aku tidak mampu menghadapi Empu Bharodo, namun dalam pertandingan, Empu Bharodo dan Resi Bhargowo masih belum mampu mengalahkan aku. Airlangga yang sudah menjadi pertapa itu telah menjadi seorang yang lemah dan tidak mau berkelahi. Sebetulnya aku sudah mendapat kesempatan baik sekali untuk membunuhnya. Siapa kira si jahanam Narotama muncul...."

"Narotama.....?? Keparat!!" Dibyo Mamangkoro berjingkrak marah. "Lalu bagaimana? Apakah dia masih sekuat dahulu?"

Wirokolo menarik napas panjang. "Dia hebat, kakang. Agaknya malah lebih kuat daripada dahulu. Aku tahu bahwa aku bukan tandingannya, maka terpaksa kami mundur."

Dibyo Mamangkoro menggendong kedua tangan di punggung, lalu berjalan kian kemari dengan kening berkerut. Dari mulutnya keluar suara menggereng seperti harimau kelaparan. Tiba-tiba ia berhenti dan kembali merangkul pundak Endang.

"Kita tunggu waktu dan kesempatan! Kita tunggu muridku dewasa. Dengan kepandaiannya dan dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangannya aku yakin Kahuripan akan hancur lebur kelak. Huah-ha-ha!"

Wirokolo dan Gagak Kembar hanya sehari tinggal di pulau itu. Mereka segera pergi dari pulau, kembali ke tempat mereka sendiri, yaitu di lembah Citandui. Mereka sebagai anak buah Dibyo Mamangkoro dipesan untuk mempersiapkan diri, mengumpulkan tenaga bantuan yang bersakit hati terhadap Kahuripan, dan menyelidiki keadaan Kahuripan. Jika ada perubahan di Kahuripan, mereka dipesan agar mengabarkan ke Nusakambangan.

Sementara itu semenjak mengalami peristiwa pertempuran melawan paman gurunya sendiri, Endang Patibrpto maklum bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai dan kalau ia tidak tekun belajar, menguras semua ilmu yang dimiliki gurunya, kelak tentu ia akan menemui banyak kesulitan dari orang pandai.

Di lain pihak, setelah mendapat kenyataan bahwa muridnya secara aneh telah memiliki keris pusaka Ki Brojol Luwuk, Dibyo Mamangkoro menjadi makin sayang kepada muridnya! Makin besar hatinya, dan makin tebal keyakinannya bahwa muridnya ini kelak akan lebih berhasil daripadanya dalam usaha meruntuhkan Kahuripan.

*******************


Kita tinggalkan dulu Endang Patibroto yang tekun menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Dibyo Mamangkoro. Mari kita mengikuti perjalanan Jokowanengpati yang melarikan diri menunggang kuda menuju ke selatan. Melihat perang dihentikan oleh Sang Prabu Airlangga sendiri, Jokowanengpati maklum bahwa perdamaian antara kedua pangeran tentu akan terjadi. Dan ia telah melihat musuh besarnya, orang-orang yang tentu tidak akan berhenti sebelum berhadapan muka dan mengadu nyawa dengannya. la melihat Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito, tiga orang yang menaruh dendam sedalam lautan kepadanya. Lebih dari semua itu, ia melihat Resi Bhargowo!

Kaget seperti disambar petir ketika ia tadi melihat Resi Bhargowo di sebelah Sang Prabu Airlangga. Jelas bahwa Resi Bhargowo sudah ia hantam roboh dengan penggada milik Ki Krendoyakso. Ia ingat betul betapa ia mengerahkan tenaga sekuatnya ketika melakukan pemukulan curang itu dan ia tahu pula bahwa ruyung Wesi Ireng adalah senjata pusaka yang ampuh. Terasa oleh tangannya betapa kepala resi itu terkena pukulan yang telak sehingga resi itu roboh seketika. Bagaimana sekarang Resi Bhargowo bisa muncul dalam keadaan segar sehat di samping Sang Prabu Airlangga? Tentu saja ia tidak berani bertemu muka dengan bekas paman gurunya itu. Selain itu, juga ia melihat munculnya Empu Bharodo, gurunya!

Setelah mereka itu muncul, bagaimana ia berani tinggal lebih lama lagi di kota raja? Dalam keadaan perang saudara, tentu saja ia dapat berlindung di belakang punggung Pangeran Anom. Akan tetapi setelah damai, tidak mungkin lagi. Lebih cepat pergi, lebih aman baginya. Lebih-lebih lagi kini setelah ia membunuh Wisangjiwo. Akan bertambah mereka yang benci dan mendendam kepadanya.

"Ha-ha-ha! TIdak seorangpun melihat aku pergi Mereka kini tentu sedang mencari-cari!"

Jokowanengpati terkekeh senang sambil membalapkan kudanya terus ke selatan. Setelah membalapkan kuda tiada hentinya selama dua hari dua malam, kudanya itu akhirnya roboh lemas dan mati di luar sebuah kampung. Jokowanengpati melompat turun dan menendang bangkai kuda yang telah membawanya lari selama itu.

"Huh, kuda sialan!"

Akan tetapi lega hatinya setelah mendapat kenyataan bahwa ia telah melarikan diri jauh sekali dari kota raja. Ia sudah sampai di wilayah pantai selatan. Dari kampung itu ke Laut Selatan hanya tinggal perjalanan selama satu dua jam saja. Hatinya mulai gembira. la telah berada di tempat aman, jauh dari kota raja, dan tak seorangpun mengenalnya di sini. Hari telah mendekati malam dan dengan senyum menghias bibirnya yang tampan, ia memasuki kampung itu meninggalkan bangkai kudanya tanpa menengok satu kalipun.

Manusia dengan watak seperti Jokowanengpati ini tidak mungkin dapat mengingat budi dan jasa seekor kuda. Jokowanengpati meraba-raba dadanya. Masih terasa sakit bekas pukulan Wisangjiwo. Ia tahu bahwa pukulan itu mengakibatkan luka dalam di dadanya. Akan tetapi, asal ia dapat beristirahat dan tidak mengeluarkan tenaga berat, ia akan sembuh kembali.

Pikiran ini menenangkan hatinya. Ia boleh beristirahat di kampung ini, atau besok ia akan mencari tempat yang lebih aman. Di pinggir laut. Kemudian, dari pinggir laut ini ia akan terus mencari tempat kediaman Ni Nogogini yang katanya di pinggir laut sebelah timur. Asal ia menyusuri sepanjang pantai ke timur, akhirnya tentu akan ketemu.

Akan tetapi, malam ini ia akan bermalam di dalam kampung. Perutnya lapar sekali. Ia harus mencari makanan. Tiba-tiba ia tersenyum lebar. Suara gamelan menyambut kedatangannya. Suara gamelan yang terdengar amat merdu dan indah. Kalau ada gamelan, berarti 脿da pesta dan kalau ada pesta, berarti ada makanan enak berlebihan!

Jokowanengpati tertawa terkekeh senang dan ia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara gamelan. Dari jauh sudah tampak sinar lampu yang menerangi tempat pesta, juga suara banyak anak-anak di depan rumah yang berpesta. Memang tepat dugaannya. Ada orang mengadakan perayaan pesta perkawinan. Bukan lain adalah lurah kampung itu sendiri yang mengadakan pesta, untuk merayakan perkawinan puterinya! Tamu-tamu mulai berdatangan dan beberapa penari mulai mcnari sambil bersinden, diiringi suara gamelan meriah. Minuman dan hidangan dikeluarkan oleh pelayan-pelayan yang sibuk.

Jokowanengpati melangkah gagah memasuki ruangan. Biarpun ia tidak berganti pakaian, namun pakaian yang menempel di tubuhnya adalah pakaian perwira kerajaan, pakaian yang jauh lebih indah dan lebih gagah daripada pakaian semua orang yang hadir di situ, termasuk pengantin prianya sendiri!

Semua orang cingak (memandang kagum) ketika ia masuk, dan pak lurah sendiri tergopoh-gopoh menyambutnya. Tentu saja pak lurah agak bingung karena tidak mengenal tamunya ini, tamu yang tidak diundang, namun ia harus menghormat, melihat pakaian tamunya yang jelas membayangkan seorang priyayi dari kota raja. Sambil membongkok-bongkok tuan rumah ini menyambut Joko wanengpati. Tanpa malu atau sungkan sedikitpun, Jokowanengpati bekata,

"Maaf, paman. Aku adalah seorang pelancong dari kota raja. Kudaku sakit dan mati di luar kampung. Terpaksa aku mengganggu dan datang ke sini."

"Wah, malah kebetulan sekali, raden. Kami sedang mengadakan pesta perkawinan anak kami. Silahkan raden."

"Aku hanya mengganggu saja."

"Tidak, sama sekali tidak. Malah kami merasa terhormat sekali dapat rnenyambut andika sebagai tamu kehormatan! Silahkan..."

Sambil mengangkat dada Jokowanengpati mendapat tempat kehormatan, dekat pengantin! Dan tentu saja ia mendapat hidangan yang istimewa sehingga sebentar saja kenyanglah perutnya. Mulai terasa olehnya keletihan tubuh akibat pertempuran dan perjalanan jauh. Tanpa segan-segan lagi ia beberapa kali menguap sambil menutup mulut dengan kepalan tangan. Telinganya yang tajam menangkap suara ketawa wanita, ketawa ditahan, akan tetapi sangat merdu dalam pendengaran Jokowanengpati.

Ia melirik dan tahu bahwa yang menahan tawa itu tadi adalah si pengantin wanita! Puteri bapak lurah. Hemm, baru sekarang ia menaruh perhatian. Bentuk tubuh yang padat ramping. Kulit yang agak hitam, akan tetapi bersih dan halus. la melirik ke bawah. Dari bawah kain itu tampak tumit yang halus dan indah bentuknya, mata kaki dan ujung betis yang merit dengan lengkung sempurna. Kembali ia melirik ke atas. Sayang, pengantin wanita itu mukanya tertutup, tak dapat dilihat. Akan tetapi seorang wanita dengan perawakan seperti Itu tak mungkin buruk rupa. Apalagi puteri pak lurah yang wajahnya tampan.

Suara ketawa pengantin wanita itu menambah lamunan Jokowanengpati yang sudah mulai terpengaruh minuman tuwak (arak). Setelah sepasang pengantin diiring masuk kekamar, Jokowanengpati juga minta kepada tuan rumah agar supaya malam itu ia diberi tempat untuk mengaso.

Bapak lurah menyambut permintaan ini dengan penuh hormat dan gembira. Mak脿 diantarnyalah Jokowanengpati ke dalam sebuah kamar di ruang belakang kelurahan. Pesta berlangsung terus karena menjelang tengah malam dimulai pesta tayuban, di mana para tamu yang sudah agak mabok itu ikut pula menari bersama para penari yang cantik-cantik.

Gamelan dipukul makin keras, suasana makin meriah. Suasana yang riuh dan meriah di ruangan depan di mana pesta berlangsung inilah yang membuat semua orang tidak tahu betapa lewat tengah malam itu terdengar suara gaduh di dalam kamar pengantin. Tidak ada yang mendengar jerit tangis pengantin wanita, dan tidak ada yang tahu pula betapa sesaat kemudian pengantin pria terlempar dari pintu kamar, jatuh di atas lantai depan pintu tak bergerak lagi. Baik pihak tuan rumah maupun pihak tamu semua telah minum tuwak terlalu banyak.

Di ruangan depan, orang-orang bersenang dan bergembira melewati batas, tertawa, bersorak, menggoda penari yang kadang-kadang menjerit manja menyeling suara gamelan yang tak kunjung henti. Sedangkan di ruangan dalam, di kamar pengantin yang menyendiri dan sunyi, maut merajalela!

Dapat dibayangkan betapa kaget tuan rumah sekeluarga ketika pada pagi harinya mereka mendapatkan pengantin pria menggeletak di luar kamar pengantin dalam keadaan mengerikan, kepala pecah dan tak bernyawa lagi! Bapak lurah dan keluarganya menyerbu ke dalam kamar pengantin dan terbelalak memandang puterinya yang malam tadi menjadi pengantin, kini dalam keadaan telanjang bulat mati pula menggantung diri di dalam kamar pengantin!

Jerit tangis melengking dan Ibu lurah serta beberapa orang lain roboh pingsan. Gegerlah keadaan dalam kalurahan, kacau-balau dan panik. Bapak lurah dengan mata jelalatan melompat keluar dari kamar pengantin lalu lari ke belakang, menuju kamar tamu di mana malam tadi ia mengantar tamunya, priyayi dari kota raja. Pintu kamar itu masih tertutup, akan tetapi bapak lurah segera menyerbu masuk dan mendorong pintu kamar. Daun pintu terbuka dan.... tidak ada seorangpun dalam kamar itu!

"Si keparat....! Manusia iblis.. .!!

Bapak lurah makin beringas, lari menyambar tombaknya dari kamar dan ia jelilatan mencari-cari keluar masuk kelurahan. Namun bayangan tamunya itu tidak kelihatan lagi. Akhirnya ia menangisi jenasah puterinya yang sudah diturunkan orang.

Jokowanengpati berjalan seenaknya menuju ke selatan. Mulutnya tersenyum-senyum, hatinya gembira. Ia bebas dari musuh-musuh besarnya yang berkumpul di kota raja. Tiada satupun yang ia takuti di daerah pantai selatan ini. Puteri pak lurah itu benar manis tepat seperti dugaannya. Sungguh baik nasibnya. Kudanya mati di luar kampung, kebetulan kepala kampung mengadakan pesta sehingga ia mendapat hidangan sampai kenyang, mendapat tempat penginapan tanpa bayar, bahkan mendapat kawan puteri pak lurah yang manis !. Teringat akan ini, ia tertawa menyeringai. Terpaksa ia membunuh pengantin pria yang hendak melawan. Dan tadi ia meninggalkan pengantin wanita, pengantinnya yang manis, dalam keadaan banjir air mata.

Jokowanengpati berjalan tidak tergesa-gesa. Perduli apa orang-orang kampung itu. Kalau ada yang mengejarnyapun ia tidak takut. Masa depannya cerah. Ia akan bersembunyi di daerah pantai ini, mengunjungi dusun-dusun yang kaya akan gadis-gadis dusun yang manis-manis. Ia akan bersembunyi sambil menanti sampai keadaan di kota raja beres, sampai tiba saatnya dan terbuka kesempatan baginya untuk mengabdi kepada Pangeran Anom sehingga keselamatannya terlindung.

Kalau sudah bosan di daerah sunyi, kalau sudah tidak ada perawan dusun yang menarik perhatiannya, ia akan menyusuri pantai ke timur, mencari Ni Nogogini. Tuhan Maha Adil. Maha Kuasa. Kuasa memberkahi, kuasa pula menghukum. Perbuatan terkutuk yang dilakukan Jokowanengpati di dusun, berarti penundaan pelariannya sejak senja sampai pagi.

Hal ini berarti pula bahwa pelariannya terlambat sehingga memberi kesempatan kepada para pengejarnya untuk menebus kekalahan waktu. Andaikata Jokowanengpati tidak berhenti di dusun dan terus melanjutkan larinya dengan aji lari cepat, terus menyusuri pantai ke timur, tentu para pengejarnya akan kehilangan jejak dan takkan dapat menyusulnya. Akan tetapi, iblis telah menyelewengkannya ke dalam dusun itu, di mana ia melakukan perbuatan keji dan terkutuk terhadap pengantin wanita sehingga mengakibatkan tewasnya pengantin pria dan matinya pengantin wanita karena bunuh diri.

Tidak seperti Jokowanengpati yang terus menekan dan memaksa kudanya sehingga mati kelelahan di luar dusun, Kartikosari dan Roro Luhito yang melakukan pengejaran, selalu berhenti memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk mengaso, makan rumput atau minum air. Karena inilah maka mereka ketinggalan jauh oleh Jokowanengpati. Akan tetapi dua orang wanita ini hanya berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka mengaso saja, dan mereka menggunakan kesempatan ini pula untuk melepas lelah sebentar.

Setelah itu mereka berangkat lagi, tidak perduli panas terik siang hari dan dingin gelap malam hari. Inilah sebabnya maka ketika Jokowanengpati membuang waktu semalam untuk melakukan perbuatan terkutuk di kelurahan dusun itu, dua orang wanita pengejar ini telah dapat menebus kekalahan waktu ketinggalan.

Pada pagi itu, ketika kelurahan geger karena peristiwa terkutuk akibat perbuatan Jokowanengpati, Kartikosari dan Roro Luhito memasuki dusun itu. Mereka berdua memasuki dusun dan berdebar hati mereka melihat bangkai kuda di luar dusun. Besar dugaan mereka bahwa itulah kuda tunggangan Jokowanengpati, yang mati karena kelelahan di luar dusun. Kalau begitu, agaknya si keparat itu berada dalam dusun ini!

Akan tetapi mereka melihat keadaan yang geger dan kacau. Orang-orang dusun itu lari ke sana ke mari seperti orang mencari-cari, dengan mata jelilatan dan semua orang yang berada di jalan membawa senjata. Dua orang wanita ini terus menjalankan kuda ke arah pusat keributan, yaitu didepan rumah yang besar dan yang terhias seperti ada perayaan di situ, dihias janur-janur kuning dan daun-daun waringin.

Kartikosari dan Roro Luhito ialu melompat turun dari atas kuda masing-masing, siap hendak bertanya apa gerangan yang nerjadi, dan terutama sekali bertanya kalau-kalau penduduk di situ ada yang melihat seorang laki-laki asing, yaitu Jokowanengpati. Akan tetapi beium juga mereka membuka suara, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua berlari keluar dari dalam rumah, tangannya memegang sebatang tombak. Begitu melihat dua orang wanita ini, laki-laki setengah tua itu segera membentak,

"Ini dia! Ini tentu teman-teman si keparat dari kota raja! Mereka tentu bukan orang baik-baik!" Setelah membentak demikian, serta-merta ia menerjang dengan tombaknya. Karena Kartikosari berada di depan, maka wanita inilah yang langsung mendapat serangan bapak lurah, laki-laki setengah tua itu.

"Eh-eh, sabar dulu, paman. Apakah yang terjadi?" seru Kartikosari sambil mengelak.

Akan tetapi, melihat betapa wanita itu dengan mudah mengelak serangan tombaknya, bapak lurah makin curiga dan segera berseru, "Saudara-saudara, kepung mereka berdua inil Tentu mereka ini teman-teman si keparat itul"

Mendapat komando ini, orang-orang kampung segera mengepung dengan sikap mengancam. Melihat keadaan yang tidak baik ini, Roro Luhito yang cerdik berlaku sigap. Ia sudah meloncat maju ke arah bapak lurah yang kembali sudah menusukkan tombaknya. Roro Luhito tidak mengelak seperti Kartikosari tadi, melainkan ia miringkan tubuh sambil menyambar gagang tombak dan sekali betot ia sudah merampas tombak, mematahkannya menjadi dua kemudian sekali tangannya menjambak, ia sudah mencengkeram pundak bapak lurah. P脿k lurah meringis kesakitan. Pundaknya seperti dicengkeram kaitan baja Serasa akan remuk tulang pundaknya.

"Jangan main gila !" bentak Roro Luhito. "Hayo semua mundur, kalau tidak, aku akan menggunakan orang tua ini sebagai senjata melawan kalian!"

Berkata demikian, begitu kedua tangannya bergerak, benar saja, tubuh p脿k lurah sudah ia putar-putar di atas kepala seperti kitiran angin! Tentu saja p脿k lurah menjadi ketakutan dan berkaok-kaok, dan semua penduduk kampung melangkah mundur dengan muka jerih. Roro Luhito menurunkan lagi p脿k lurah yang ketakutan itu, lalu menghardik,

"Hayo katakan! Apa artinya semua ini? Kami berdua adalah orang baik-baik, mengapa baru saja datang hendak kalian keroyok dan bunuh?"

Saking takutnya, pak lurah sampai sukar mengeluarkan kata-kata. Ia tetap menduga bahwa dua orang wanita yang sakti ini tentulah sahabat laki-laki keji yang telah menyebar maut di rumahnya. Bagaimana ia dapat menuturkan peristiwa itu dan memburukkan nama laki-laki keparat itu? Namun Kartikosari sudah tertarik akan perintah-perintah pak lurah tadi. la melangkah maju dan bertanya, suaranya tidak segalak Roro Luhito.

"Paman, kau tadi bilang bahwa kami tentu teman-teman si keparat. Siapakah si keparat itu? Apakah ia seorang laki-laki berusia tiga puluh enam tahun, pakaiannya seperti perwira kerajaan, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, datangnya ke kampung ini menunggang kuda?"

Makin jerih muka pak lurah.
"Beb... betul sekali....!"

Kartikosari dan Roro Luhito terkejut dan girang sekali. "Bagus! Kami datang untuk mencarinya, memang. Akan tetapi sama sekali bukan teman, bahkan musuh. Kami mengejar dan hendak membunuhnya. Apa yang terjadi di sini? Di mana dia sekarang?"

Mendengar ini, pak lurah tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan menangis! Juga para penduduk lenyap sikapnya bermusuhan, kini mendengar dan duduk di atas tanah mengelilingi mereka. Roro Luhito dan Kartikosari saling pandang, mengerutkan kening. Perbuatan laknat apa lagi yang dilakukan Jokowanengpati di sini?

"Sudahlah, jangan menangis seperti anak kecil!" Roro Luhito membentak, habis kesabarannya. "Lebih baik lekas ceritakan!"

Dengan suara terputus-putus pak lurah bereerita tentang peristiwa semalam sambil menangis. Tentu saja dua orang wanita itu menjadi marah bukan main, dan makin besar nafsu untuk dapat segera bectemu muka dan membalas dendam kepada laki-laki jahat dan keji itu.

"Di mana dia sekarang, paman? Mana keparat itu?" bentak Roro Luhito, suaranya nyaring, sikapnya mengancam, giginya berkerot.

"Dia sudah lari.... pagi tadi, entah ke mana....... !!"

Begitu mendengar jawaban ini, seperti diberi komando saja, Kartikosari dan Roro Luhito lari dan melompat ke atas kuda mereka, lalu membalapkan kuda keluar dari dusun itu, melakukan pengejaran. Mereka tadi memasuki kampung dari utara, maka agaknya si keparat Jokowanengpati itu tentu lari terus ke selatan, melanjutkan pelariannya, pikir mereka. Membalapkan kuda mereka keluar dari dusun ke jurusan selatan.

Jokowanengpati yang berjalan seenaknya, telah tiba di pantai Laut Selatan. Ia merasa aman dan gembira. Merasa tubuhnya lelah dan alangkah nikmatnya melepas lelah di pantai yang berpasir, menghadap ke selatan melihat ombak mengganas memecah di pantai. Angin laut sejuk bersih. Dadanya masih terasa sakit, bekas pukulan Wisangjiwo. Namun ia pereaya akan segera sembuh setelah ia beristirahat satu dua bulan. apalagi kalau kelak ia bertemu dengan Ni Nogogini, guru ilmu pukulan yang dipakai Wisangjiwo melukainya, tentu wanita sakti itu akan mampu menyembuhkannya dengan segera. Dan penyembuhan dengan cara bagaimana!

Jokowanengpati tertawa sendiri, tertawa bergelak mengingat akan hal itu. Betapapun juga, Ni Nogogini hanya umurnya saja yang tua, tubuh dan wajahnya sama sekali tidak tua! Bagaikan iblis, atau seorang yang miring otaknya, ia tertawa bergelak di antara suara ombak menderu.

"Iblis laknat! Tertawalah. sepuasmu selagi masih ada kesempatan terakhir!"

"Si keparat Jokowanengpati! Bersiaplah mampus di tanganku!"

Hampir Jokowanengpati tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Suara setankah itu yang terbawa angin bersama suara ombak menderu? Perlahan ia bangkit berdiri dan memutar tubuh. Ia menahan rasa terkejut dan cemas yang mencengkeram jantungnya ketika melihat dua orang wanita itu!

Deru ombak yang tiada berkeputusan telah memenuhi telinganya sehingga ia tadi tidak mendengar kedatangan mereka. Kini Kartikosari, cantik jelita, dengan sikap tenang dan mata penuh benci, memandang kepadanya. Di sampingnya berdiri Roro Luhito, denok ayu, sikapnya mengancam, matanya yang jeli seperti memancarkan api yang hendak membakarnya. Angin laut membuat ujung kain dan rambut mereka berkibar-kibar, membuat mereka kelihatan seperti dua orang dewi laut yang cantik menarik rnenggirahkan.

Akan tetapi pada saat itu, sama sekali tidak timbul gairah dalam hati Jokowanengpati. Ia maklum sedalamnya betapa kedua orang wanita ini membencinya, membenci sampai ke tulang sumsum, dan bahwa kedua wanita ini datang dengan hanya satu hasrat, yaitu membalas dendam dan membunuhnya! Namun, Jokowanengpati bukah seorang penakut, bukan pula bodoh. Biarpun ia tahu bahwa dua orang ini adalah wanita-wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ia telah tahu pula bahwa setelah menjadi murid si raja kera Resi Telomoyo kini ilmu kepandaian Roro Luhito sama sekali tidak boleh dipandang ringan, namun ia tidak memperlihatkan sikap takut. Malah ia segera tersenyum manis sambil memandang mereka,

"Duhai! Dewata Agung! Baru saja aku melamun, betapa akan senangnya di tempat seindah ini bertemu dengan orang-orang terkasih. Dan tanpa kusang-kusangka, kalian muncul di sini. Diajeng Kartikosari, engkau makin cantik jelita. Roro Luhito, kau makin manis merak ati!"

"Jananam keji, tutup mulutmu yang busuk!!" bentak Roro Luhito marah.

"Jokowanengpati, dosamu sudah bertumpuk. Kini tiba waktunya engkau menebus dosamu dengan nyawa!"

Kartikosari mengancam sambil menghunus keris, demikian pula Roro Luhito. Kedua orang wanita ini sudah siap menerjang, setiap urat dalam tubuh sudah menegang, nafsu membunuh membayang di mata. Namun Jokowanengpati masih tertawa. Setidaknya, aku harus membuat mereka ini gila oleh kemarahan lebih dulu, pikirnya. Dalam kemarahan meluap, gerakan akan menjadi kurang sempurna dan tenaga sakti akan banyak terbuang sia-sia.

"Ha-ha-ha, kedua adik yang manis. Mengapa mengancam? Mengapa kita harus bertempur? Kalian tidak akan menang. Sayang kalau sampai aku melukai kulit yang halus lunak itu, apalagi sampai membikin cacat wajah yang cantik. Aku amat sayang kepada kalian. Bukankah sudah kubuktikan kasih sayangku di dalam Gua Silurnan dahulu, diajeng Kartikosari? Dan engkau, Roro Luhito, lupakah akan kasih sayangku di dalam kamarmu dahulu? Marilah kita berdamai saja, mari kalian ikut bersamaku, hidup mulia di dalam keraton Pangeran Anom, menjadi isteriku yang tercinta dan..."

"Keparat busuk!"

"Iblis laknat!"

Dua orang wanita itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan mereka sudah menerjang maju. Jokowanengpati sudah memperhitungkan hal ini. Cepat ia mengelak dan membalas dengan pukulan dan tendangan, kemudian iapun mencabut kerisnya ketika melihat betapa sepak terjang kedua orang lawannya itu amat hebat. Ketika melihat keris Kartikosari meluncur cepat menuju lambung, ia menggeser tubuh ke kanan lalu membalas dari samping dengan luncuran kerisnya mengarah leher kiri Kartikosari. Wanita perkasa ini menggunakan tangan kirinya menyabet dengan cengkeraman ke arah siku kanan lawan sambil mengelak dan sambaran kaki Jokowanengpati yang menendang sebagai lanjutan serangannya ia elakkan dengan loncatan menyamping.

Pada saat itu, Roro Luhito dengan gerakan secepat kilat sudah pula datang menyerang dengan tusukan keris diarahkan ke dada lawan. Ketika Jokowanengpati menangkis dengan kerisnya pula, dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Roro Luhito menarik kembaii kerisnya dengan gerakan yang sedemikian cepat dan tak tersangka-sangka, kini dengan tangan kirinya menarnpar dari samping dan kaki kanannya menendang ke arah pusar. Benar-benar serangan yang hebat dan cepat tak tersangkasangka! Apalagi pada saat itu Kartikosari sudah menerjang lagi dengan tusukan keris dari belakang disusul dengan hantaman tangan kiri dengan pukulan Gelap Musti yang ampuh.

Jokowanengpati benar-benar terdesak. Ia sudah menangkis Kartikosari dan mengelak dari terjangan lain, namun dia kurang cepat dan sambaran tangan kiri Roro Luhito masih berhasil menyerempet pundak kanannya, membuat ia terhuyung-huyung ke belakang. Tamparan Roro Luhito memang tidaklah begitu hebat bagi tubuhnya yang kebal, akan tetapi karena dadanya masih menderita luka dalam, tamparan itu terasa juga. Baiknya ia cepat menggerakkan kerisnya dengan Ilmu Jonggring Saloko sehingga ujung keris di tangannya berubah menjadi belasan banyaknya, membuat dua orang lawannya tidak berani sembrono menerjang terlalu dekat.

Pertandingan itu makin lama makin seru dan mati-matian. Namun makin lama makin berat terasa oleh Jokowanengpati. Kartikosari hebat bukan main. Tiap kali keris mereka beradu, biarpun ia telah mengerahkan segenap tenaganya, tetap saja ia merasa betapa tangannya tergetar saking hebatnya pertemuan itu, tanda bahwa Kartikosari kini memiliki tenaga dalam yang hebat! Roro Luhito tidaklah memiliki tenaga dalam yang terlalu besar, akan tetapi wanita ini cerdik bukan main dan memiliki gerakan yang tangkas dan aneh. Tak pernah Roro Luhito mau mengadu senjata dan selalu menarik kerisnya tiap kali ditangkis, untuk disusul dengan terjangan-terjangan yang aneh dan cepat.

Ketika merasa bahwa dadanya makin lama makin sakit karena ia harus mengerahkan tenaga dalam, Jokowanengpati maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, akhirnya ia tentu roboh. Maka mulailah ia mencari kesempatan untuk lari. Ia mulai melakukan perlawanan sambil menjauhkan diri. Setiap kali ada kesempatan, ia meloncat jauh, akan tetapi celaka baginya, kedua wanita itu dalam hal kecepatan, tidak kalah olehnya.

Andaikata ia tidak terluka di dalam dadanya, tentu ia dapat menggunakan Aji Bayu Sakti yang sampai saat itu merupakan aji keringanan tubuh yang tak terkalahkan, untuk melarikan diri. Akan tetapi, dengan luka dalam di dadanya, ia tidak mampu menggunakan Aji Bayu Sakti sepenuhnya, dan karena kedua wanita itupun memiliki aji meringankan tubuh yang hebat, terutama sekali Roro Luhito, sukar baginya untuk dapat melarikan diri daripada kepungan mereka.

Namun yang dipergunakan Jokowanengpati untuk bertanding sambil berlompatan menjauh ini membuat tempat pertandingan berpindah-pindah. Makin lama karena loncatan-loncatan untuk berusaha lari ini, mereka bertempur tidak di atas pasir di pantai lagi melainkan berloncatan ke atas batu karang, makin lama makin tinggi sehingga akhirnya mereka bertanding di tebing karang yang curam!

BADAI LAUT SELATAN JILID 22


Thanks for reading Badai Laut Selatan Jilid 21 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »