Badai Laut Selatan Jilid 13

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 13

"Kau... kau pura-pura tidak tahu...? Pura-pura lupa ? Serendah inikah budimu? Benarkah engkau begini... begini... pengecut??"

Pujo menjadi makin heran, akan tetapi lapun merasa tak senang disebut pengecut dan rendah budi.

"Roro Luhito! Hati-hatilah engkau dengan kata-katamu! Aku tidak akan mengingkari semua perbuatanku dan aku sama sekali bukanlah seorang pengecut yang rendah budi. Memang benar, sepuluh tahun yang lalu aku telah menyerbu gedung ayahmu, melukai ayahmu dan membunuh beberapa orang pengawal. Kemudian aku telah menculik isteri dan putera kakakmu! Tidak kusangkal bahwa aku kemudian telah meninggalkan isteri kakakmu di Guha Siluman dan membawa lari putera kakakmu! Nah, aku tidak menyangkal semua perbuatanku. Habis, kau mau apa? Hendak membalas dendam?"

Akan tetapi pengakuan Pujo ini sama sekali tidak memuaskan hati Roro Luhito, bahkan membuat ia makin marah. Hampir berteriak ia ketika berkata, "Bagus! Hanya itukah yang kaulakukan? Mengapa engkau tidak menyebut-nyebut perbuatan yang kaulakukan terhadap aku?"

"Perbuatan yang kulakukan terhadapmu?" Pujo mengingat-ingat, lalu tertawa. "Ahh, ketika engkau ikut mengeroyokku? Dan kau terguling roboh? Hanya untuk perbuatan itu saja engkau mencari-cariku sampai sepuluh tahun?"

Pujo makin terheran-heran, apalagi ketika teringat betapa sikap wanita ini tadi amat mesra memanggilnya, sama sekali bukan sikap seorang yang hendak menuntut balas atas kekalahannya dahulu. Kini pandang mata Roro Luhito seperti mengeluarkan api saking marahnya.

"Pujo! Engkau tidak mengaku tentang perbuatanmu dalam... dalam... bilikku...?"

Pujo tertegun. Wanita ini tidak main-main agaknya. Akan tetapi, ia tak pernah merasa melakukan sesuatu dalam biliknya! Ia mengingat-ingat keras akan tetapi tidak menemui jawaban. Gilakah wanita ini? Sayang kalau gila, wanita begini manis. Ia menggeleng kepala.

"Aku tidak penah memasuki bilikmu "

"Keparat! Kalau kau menyangkal, berarti kau harus mampus di tanganku!"

Roro Luhito mengeluarkan pekik menyeramkan, seperti bukan pekik seorang manusia, lebih mirip pekik seekor monyet betina. Akan tetapi terjangannya hebat sekali, tubuhnya sudah menyerbu ke depan, kedua tangan mencengkeram, kedua kaki menendang, cepat dan dahsyat seperti topan mengamuk!

"Haaaiiittt!!"

Pujo terkejut sekali dan mengeluarkan teriakan ini sambil cepat mengelak dan menggunakan tangannya menangkis. Alangkah kagetnya ketika lengannya bertemu dengan tangan Roro Luhito, ia merasa hawa panas menyambar dari tangan itu. Serangan wanita ini tak boleh dipandang ringan. Di lain pihak Roro Luhito juga terkejut karena tubuhnya terpental ke belakang ketika lengannya ditangkis.

Memang Roro Luhito yang sekarang berbeda dengan puteri Adipati Selopenangkep sepuluh tahun yang lalu. Ia telah digembleng oleh gurunya, Resi Telomoyo dan menerima banyak ilmu. Bukan sembarang ilmu. Aji Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi Dibyo membuat ia menjadi kuat dan tangkas, memiliki tenaga mujijat yang timbul dari hawa sakti di dalam tubuh yang sudah dapat dihimpunnya. Namun, menghadapi Pujo ia kalah latihan dan kalah tenaga.

Melihat dengan gerakan yang amat sigap dan cepat wanita itu sudah hendak menerjangnya lagi, Pujo cepat mengangkat tangan dan berkata, "Eehh.... setop! Setop dulu!"

"Mau bicara apa lagi?" Roro Luhito membentak marah, akan tetapi sepasang matanya yang bening berair.

"Roro Luhito, sikapmu membuat orang penasaran dan tidak mengerti. Kalau kau marah dan hendak membalasku karena perbuatanku seperti yang telah kuceritakan tadi, yaitu menculik keponakanmu, melukai ayahmu, mengalahkan kau dan membunuh beberapa orang pengawal ketika aku menyerbu Selopenangkep, aku dapat menerimanya dan tidak akan menjadi penasaran. Akan tetapi, kau menuduhku melakukan sesuatu terhadapmu di dalam bilikmu! Nanti dulu!" Pujo menghindar dari sebuah serangan kilat. "Dengarkan dulu! Sungguh mati aku tidak mengerti apa yang kaumaksudkan! Perbuatan apakah itu?"

Tentu saja amat sukar bagi seorang gadis seperti Roro Luhito untuk menceritakan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, pada malam hari di dalam biliknya yang gelap Ia menganggap bahwa Pujo ini berpura-pura saja, atau agaknya sengaja hendak membikin dia malu dan hendak memaksa dia yang mengadakan pengakuan. Hal ini membuat kemarahannya meluap-luap dan ia segera menerjang setelah membentak, "Boleh saja kau pura-pura tidak tahu! Akan tetapi engkau atau aku harus mati untuk menebus peristiwa jahanam itu!"

Kembali tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bicara, Roro Luhito sudah menerjang lagi dengan gerakan yang amat cepat, secepat monyet melompat, dan bukan hanya tangan kirinya yang mencengkeram ke arah muka lawan mengarah kedua mata, akan tetapi juga tangan kanannya yang sudah mencabut cundrik itu menghantam ke arah dada dengan tusukan kilat. Bukan main hebatnya serangan ini, dilakukan selagi tubuhnya masih mencelat di atas udara!

Pujo benar-benar kaget. Sepuluh tahun yang lalu pernah ia menghadapi gadis ini ketika ia dikeroyok di Kadipaten Selopenangkep, akan tetapi tidaklah sehebat ini gerakan gadis itu. Gerakannya sekarang selain tangkas dan kuat, juga amat aneh, sepertj gerakan seekor binatang buas. Dalam keheranannya, Pujo berlaku hati-hati. Cepat ia menggerakkan tubuh miring ke kanan untuk menghindarkan diri daripada cengkeraman tangan lawan. Adapun tusukan cundrik itu terpaksa ia tangkis dengan tamparan jari-jari yang menggunakan Aji Pethit Nogo.

"Plakk!"

"Aduh.... !"

Cundrik itu terlepas dari tangan Roro Luhito yang merasa betapa tangan kanannya seakan-akan remuk semua tulangnya dan menjadi lumpuh. Ia terguling roboh ke atas pasir, akan tetapi cepat sekali ia sudah meloncat dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar. Pujo berusaha mengelak akan tetapi karena serangan wanita yang sudah ia robohkan itu benar-benar sama sekali tidak pernah diduganya, sebagian dari pasir yang disebarkan oleh Roro Luhito itu mengenai matanya. Pujo mengeluh, kedua matanya pedas dipejamkan dan ia terhuyung ke belakang.

Roro Luhito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan kakinya menendang, tepat mengenai dada Pujo yang terjengkang ke belakang dan jatuh terbanting ke atas pasir. Roro Luhito yang sudah meluap kemarahannya itu menubruk, dengan maksud menghabiskan nyawa lawannya dengan pukulan-pukulan maut. Tentu saja Pujo juga maklum akan bahaya ini, biarpun kedua matanya untuk sementara tak dapat ia buka, namun telinganya dapat menangkap sambaran tubuh dan tangan Roro Luhito yang menubruknya. Ia menggulingkan tubuh ke kiri sehingga tubrukan Roro Luhito mengenai tempat kosong dan Pujo yang tahu bahaya ini dengan mata masih terpejam cepat meringkusnya dan memegang kedua tangannya.

"Lepaskan! Setan keparat.... lepaskan....!"

Roro Luhito menjerit-jerit dan bergumullah kedua orang itu di atas pasir yang halus. Karena kemarahannya Roro Luhito menjadi ganas dan buas dan dalam usahanya membebaskan kedua pergelangan tangannya yang terpegang erat-erat oleh tangan Pujo, ia meronta-ronta, bahkan lalu menggigit! Karena Pujo masih meram dan mereka bergumul tak teratur dalam ilmu perkelahian lagi, maka pipi kiri Pujo tergigit .

"Aduhhhhh !! Adu-du-duhhh lepaskan! Eh, kok mengigit.... !"

Saking sakitnya Pujo mengaduh-aduh dan cepat ia mengerahkan tenaganya melemparkan tubuh Roro Luhito ke depan, lalu cepat meloncat berdiri. Untung, rasa pedas pada matanya membuat air matanya bercucuran dan air mata inilah yang mencuci dan membawa keluar pasir yang memasuki matanya sehingga pada saat itu Pujo sudah mampu membuka mata kirinya.

"Brukkk!"

Tubuh Roro Luhito terlempar dan terbanting keras. Untung bahwa tempat itu adalah pesisir laut yang banyak pasirnya sehingga terbanting sekeras itu hanya terasa pedas dan agak njarem bagian pinggulnya. Roro Luhito menyumpah-nyumpah ketika bangkit sambil mengelus pinggulnya. Juga Pujo menyumpah-nyumpah ketika meraba pipi kirinya yang berdarah. Kini ia berhasil pula membuka mata kanannya. Kedua matanya merah dan masih berair, akan tetapi sudah terbebas dari pasir. Mereka kini berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang, penuh kemarahan.

"Kau... perempuan liar!" Pujo memaki, timbul kemarahannya.

"Dan kau... laki-laki pengecut !"

Roro Luhito balas memaki, juga marah sekali karena hatinya telah dikecewakan. Sama sekali tak disangkanya bahwa Pujo menyangkal perbuatannya sepuluh tahun yang lalu, perbuatan yang disangkanya benar-benar berlandaskan cinta kasih seperti yang dibisikkannya sepuluh tahun yang lalu. Betapa kecewa hatinya kini. Sepuluh tahun ia mengharap-harapkan pertemuan ini, mengharapkan penerimaan Pujo dengan hati gembira dan perasaan bahagia, mengharapkan dapat menjadi isteri Pujo, selain untuk menebus aib juga untuk melaksanakan hasrat hatinya yang mencinta. Siapa kira, Pujo selain menyangkal, juga memakinya dan kini bahkan melawan dan mengalahkannya. Rasa kecewa membuat ia menjadi nekad dan kini hanya ada satu harapan di hatinya, yaitu membunuh laki-laki yang ia cinta dan yang mengecewakan hatinya ini, kemudian membunuh diri sendiri!.

Roro Luhito yang sudah nekat Itu lalu menerjang maju lagi sambil mengeluarkan pekik yang melengking tinggi seperti pekik tantangan marah seekor monyet betina yang diganggu anaknya. Ia telah mengeluarkan semua ajinya yang ia peroleh dari gurunya, Resi Telomoyo. Mendengar pekik yang mengiringi Aji Sosro Satwo ini, semua binatang buas di dalam hutan tentu akan lari tunggang-langgang. Seekor harimau yang liar sekalipun akan lari bersembunyi mendengar pekik ini! Tubuh Roro Luhito melompat ke depan, kaki tangannya melakukan serangan bertubi-tubi yang sifatnya liar ganas, namun juga amat berbahaya.

Pujo maklum bahwa wanita ini tak boleh dipandang ringan, maka iapun lalu mengerahkan ajinya, Aji Bayu Tantra yang membuat tubuhnya ringan laksana kapas gesit laksana burung srikatan, juga ia mengerahkan Aji Pethit Npgo ke dalam sepuluh jari tangannya. Biarpun ia sama sekali tidak mempunyai niat membunuh wanita ini, namun tanpa Aji Pethit Nogo, agaknya tidak akan mudah baginya untuk mengatasi kedahsyatan serangan Roro Luhito.

Bukan main cepatnya gerakan kedua orang itu. Ketika Roro Luhito menerjang dan menyerang bertubi-tubi dan Pujo mengelak ke sana ke mari mengandalkan ilmunya Bayu Tantra, lenyaplah kedua orang itu, yang tampak hanya bayangan mereka berkelebatan dan kadang-kadang bergumul menjadi satu. Ketika mendapat kesempatan menangkis, Pujo mempergunakan jari tangannya untuk dikipatkan ke arah lengan Roro Luhito. Akan tetapi wanita inipun bukanlah seorang wanita biasa. Ia cukup cerdik dan maklum bahwa lawannya memiliki jari-jari tangan yang kuat dan mengeluarkan hawa panas yang bukan main, maka setiap kali Pujo menangkis, ia selalu menarik kembali tangannya untuk diganti dengan pukulan lain yang lebih berbahaya dan yang kecepatannya tak mungkin dapat ditangkis kecuali hanya dielakkan secara cepat pula.

Gerakan Roro Luhito selain cepat juga aneh dan bertubi-tubi. Kadang-kadang kelihatan seperti gesitnya seekor Kera, kadang-kadang seperti menyambarnya seekor burung elang, atau seperti ganasnya harimau menerkam. Memang Ilmu Silat Sosro Satwo ini, sesuai dengan namanya yang berarti Seribu Binatang, mengambil inti sari daripada gerakan bermacam-macam binatang hutan.

Repot juga Pujo menghadapi ilmu silat yang aneh itu. Untung ia menang kuat dan tubuhnya kebal, kalau tidak, ia bisa kalah oleh lawannya. Belum pernah ia berhasil menangkis, malah sudah tiga kali ia kena tendangan dan pukulan yang cukup membuat matanya berkunang, akan tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya roboh. Kembali karena bingung menghadapi serangan Roro Luhito yang gayanya berputaran seperti lagak seekor ayam jago, lambung kirinya kena di jalu, yaitu ditendang dengan gaya seperti seekor ayam jago meneladung (menendang).

"Ngekkk!"

Terasa juga kali ini. Lambungnya kena digajul keras sekali. Sejenak Pujo terengah, akan tetapi gerakan Roro Luhito yang menendang sambil meloncat itu membuat rambutnya yang panjang terurai ke depan. Pujo tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Tangan kirinya meraih dan rambut panjang itu dapat dijambaknya dan ditarik sehingga tubuh Roro Luhito terhuyung .

"Athooooouu!" Ia menjerit-jerit kesakitan. "Lepaskan! Curang kau !" .

Akan tetapi Pujo yang masih mulas perutnya karena lambungnya digajul tadi, sudah menampar dengan tangannya, ke arah tengkuk.

"Plakkk!"

Tidak keras tamparan itu, namun karena jari tangannya masih mengandung hawa sakti Aji Pethit Nogo, cukup membuat tubuh Roro Luhito terpelanting dan tak dapat bangun kembali. Wanita itu merintih-rintih dan memegangi tengkuknya yang rasanya seperti patah-patah!

"Heh si keparat Pujo! Kau tidak menerimanya dengan baik-baik malah berani merobohkannya? Aku tidak terima!"

Terdengar suara keras, sesosok bayangan melesat dan menyambar ke arah kepala Pujo dari atas. Pujo terkejut sekali, cepat ia menggerakkan kaki, tubuh ditekuk ke bawah sehingga kakinya lurus dengan tanah. Cepat sekali gerakannya mengelak ini, karena ia tahu akan kehebatan serangan dari atas maka ia menggunakan jurus kelit Kemul Bantolo (Berselimut Tanah). Akan tetapi sungguh tak disangkanya dan amat mengejutkan hatinya karena sungguhpun serangan pertama itu dapat ia elakkan, akan tetapi secara aneh sekali kaki penyerang itu dapat menyeleweng dan mendupak (menendang) pundaknya dengan kecepatan yang tak mungkin ia elakkan lagi! Selain terkejut, juga Pujo merasa nyeri pundaknya.

Tendangan itu tidak mengenai secara tepat, namun cukup membikin nyeri, tanda bahwa ini telah menggunakan tenaga hebat yang keluar dari hawa sakti! . Pujo membanting diri ke kiri terus bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan susulan, kemudian ia melompat dan membalikkan tubuh dengar sigap dan siap dengan kuda-kuda yang kuat. Baru sekarang ia dapat melihal lawannya. Kiranya lawannya adalah seorang kakek yang sudah putih semua rambutnya, akan tetapi kakek itu mukanya buruk sekali, dahinya nonong, matanya cekung, hidungnya pesek, dagunya menonjol ke depan.

Muka seekor monyet! Dan sungguhpun kaki dan tangannya tidak berbulu seperti seekor monyet, akan tetapi karena kulitnya agak putih dan rambutnya sudah putih semua, kakek ini benar-benar mirip dengan seekor kera putih berpakaian! Kakek yang aneh ini dengar gerakan yang aneh sekali telah menghampiri Roro Luhito dan beberapa kali mengurut-urut tengkuk gadis itu dan seketika Roro Luhito dapat bangkit kembali.

"Bapa resi, dia menyangkal, malah menyerangku!" kata Roro Luhito dengan sikap dan suara manja. "Harap bapa resi suka membunuh dia untuk membalas sakit yang ia datangkan kepada diriku!"

"Jangan khawatir, muridku yang denok. Heh, Pujo, kau laki-laki pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab! Kau telah memperkosa muridku, akan tetapi dia bersedia memaafkan perbuatanmu bahkan ingin bersuwita (menghamba) kepadamu, menerima sekalipun menjadi isterimu yang ke dua. Akan tetapi engkau tidak hanya menyangkal perbuatanmu yang rendah, malah telah merobohkannya. Aku Resi Telomoyo tidak suka bermusuhan dengan orang muda, akan tetapi sekali ini apa boleh buat, karena mertuamu Resi Bhargowo tidak ada, aku sendirilah vang akan memberi hajaran kepadamu!"

Kalau saja tidak sedang menghadapi keadaan yang gawat dan berbahaya, juga kalau saja Pujo tidak sedemikian terkejutnya mendengar ia didakwa memperkosa Roro Luhito, tentu Pujo takkan dapat menahan ketawanya menyaksikan sikap kakek itu yang sambil bicara panjang lebar tiada hentinya menggaruk-garuk kepala, punggung atau bebokongnya, persis tingkah laku seekor monyet! Akan tetapi ia terlampau kaget dan dengan muka merah ia berkata,

"Resi adalah gelar bagi seorang pertapa yang sidik paninggal (tajam pandangan) dan tidak hanya mendengarkan fitnah sepihak! Aku tidak pernah merasa melakukan perbuatan serendah itu, bagaimana aku dapat mempertanggung jawabkannya?"

"Jahanam keparat! Kalau kau tidak melakukan kekejian itu, apa perlunya aku mencarimu sampai sepuluh tahun? Apa perlunya aku minggat dari kadipaten? Kau memang manusia rendah, pengecut yang selain mendatangkan aib dengan keji juga telah menculik kakak ipar dan keponakanku!"

Saking marahnya Pujo sampai tak dapat menjawab dan saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo yang memang wataknya keras itu untuk menerjangnya lagi. Seperti juga Roro Luhito tadi, dalam penyerangannya ini kakek itu mengeluarkan suara geraman seperti seekor monyet jantan. Akan tetapi sepak terjangnya jauh berbeda dengan muridnya. Kakek ini jauh lebih ampuh gerakannya dan kedua tangan kakinya mendatangkan angin bersiutan tanda bahwa tenaga yang ia keluarkan mengandung hawa sakti yang dahsyat.

Pujo juga marah, menganggap kakek ini keterlaluan, menjatuhkan tangan besi tanpa pemeriksaan lebih dulu. Ia bergerak dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya ia bergerak sampai tubuhnya lenyap menjadi bayangan berkelebatan, dan dengan pengerahan tenaga ia menerjang, kadang-kadang dengan Aji Gelap Musti, kadang-kadang dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh.

"Wah-wah, kau hebat, orang muda!"

Kakek itu sambil menghindar ke sana ke mari dengan sigapnya memuji. Dengan kecepatan dan gerakan aneh, kakek itu meloncat-loncat dan membingungkan Pujo. Tadi menghadapi Roro Luhito saja ia sudah bingung dan beberapa kali kena dipukul. Apalagi sekarang. Hanya bedanya, kalau tadi menghadapi Roro Luhito ia segan menurunkan pukulan maut, kini menghadapi kakek yang ia tahu amat sakti itu ia tidak segan-segan mengeluarkan semua ajiannya, bahkan mengerahkan tenaga mujijat yang ia latih selama ini melawan gelombang Laut Selatan.

"Luar biasa!" seru Resi Telomoyo sambil menggulingkan diri di atas pasir ketika jari-jari tangan Pujo menyambar dengan Aji Pethit Nogo sehingga mengeluarkan suara nyaring seperti cambuk menyambar.

Sambil bergulingan kakek ini menggunakan tipu seperti yang dipergunakan Roro Luhito. Pasir berhamburan menyambar ke muka Pujo. Baiknya Pujo tadi sudah mengalami akibat tipu ini sehingga ia sudah waspada dan melihat bayangan pasir menyambar, ia sudah menutup mata dan mengelak. Namun pasir yang hanya merupakan butir-butiran kecil itu ketika mengenai kulit muka dan leher, terasa seperti jarum-jarum yang runcing menusuk-nusuk! Ia kaget sekali dan baiknya Pujo dapat menyalurkan hawa sakti ke bagian yang terserang sehingga kulitnya hanya lecet-lecet saja akan tetapi pasir tidak dapat menembus.

Dari ini saja sudah dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam kakek seperti monyet itu. Orang biasa saja terkena sambaran pasir ini tentu akan tewas karena pasir itu akan terus menembus kulit daging, bahkan mungkin dapat menembus tulang, tiada ubahnya seperti peluru-peluru baja!

"Wah-wah, tidak kecewa kau menjadi murid Resi Bhargowo!" Kembali kakek itu bicara sambil menerjang terus. "Sayang kau mata keranjang dan pengecut!"

Makin marahlah Pujo. Ia mencelat ke belakang agak jauh dan tahu-tahu ia sudah mencabut kerisnya, yaitu pusaka Banuwilis yang mengeluarkan cahaya hijau. Keris berlekuk sembilan ini mencorong dan hawanya seperti seekor ular hijau berbisa. Namun Resi Telomoyo tidak gentar, hanya tersenyum mengejek.

"Ha-ha! Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, sudah mengeluarkan pusaka! Ha-ha-ha!"

cerita silat online karya kho ping hoo

"Resi Telomoyo! Entah perbuatan kita yang mana dan kapan yang menghasilkan akibat saat ini. Aku tidak pernah memusuhi anda dan murid anda, akan tetapi andika agaknya menghendaki kematianku! Apa boleh buat, kalau memang hendak mengadu nyawa, silakan!"

Pujo memasang kuda-kuda dengan keris pusaka di tangannya, siap untuk membunuh atau dibunuh!

"Ha-ha-ha! Mengakui dan menyesali perbuatan sendiri memang merupakan perkara yang paling sulit dilakukan di dunia ini! Betapapun buruk perbuatan sendiri, selalu dipandang dan dicari segi-segi kebaikannya. Aku tidak ingin membunuhmu, hanya ingin memaksamu mempertanggung-jawabkan perbuatanmu terhadap muridku. Hayo, kau boleh gunakan pusakamu, orang muda. Murid sama dengan anak, kalau guru tidak membela muridnya, orang tua tidak membela anaknya, habis apa gunanya menjadi guru atau orang tua? Kerahkan semua tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu kalau kau mau mengenal Resi Telomoyo!"

Pujo makin mendongkol hatinya. Agaknya percuma saja bicara dengan dua orang itu. Menyangkalpun tidak akan ada gunanya karena tidak dipercaya Maka ia lalu berseru, "Baik, hati-hatilah, sang resi. Awas pusakaku!"

Ia menubruk maju dan menerjang dengan hebat. Bukan main hebatnya serangan Pujo ini. Kerisnya menyambarnyambar, lenyap ujudnya berubah menjadi segulung sinar hijau. Sedangkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga dalam mengimbangi terjangan kerisnya dengan pukulan-pukulan jari Pethit Nogo!

Baiknya Resi Telomoyo adalah seorang pertapa sakti yang sudah tinggi sekali tingkat ilmunya. Ia seorang pemuja dan penyembah tokoh pewayangan Hanuman (Anoman), kera putih yang terkenal sakti mandraguna di jaman Ramayana, kera putih yang menjadi senopati dan yang seorang diri berani menyerbu Kerajaan Alengka, mempermainkan raja denawa Prabu Dasamuka beserta semua perajuritnya.

Resi Telomoyo memiliki aji yang membuat tubuhnya dapat bergerak laksana terbang, ringan seperti kapas, cepat seperti halilintar menyambar, dan hawa sakti di tubuhnya sudah mencapai tingkat yang amat tinggi karena ia gentur tapa (tekun bertapa), waspada dan sakti mandraguna. Hanya sayangnya, yang ia puja adalah seorang tokoh bertubuh monyet, dan agaknya karena memang ia lebih menyayang monyet daripada manusia, maka kekasaran, kenakalan, dan kelucuan seekor monyet menular kepadanya.

Ia suka main-main, kadang-kadang kasar dan nakal. Pandang matanya yang waspada sebetulnya menyadarkan perasaannya bahwa Pujo adalah seorang laki-laki yang baik dan agaknya tidak melakukan perbuatan hina terhadap muridnya. Akan tetapi ia juga merasa yakin bahwa muridnya tidak membohong kepadanya. Kalau disuruh memilih, percaya yang mana, tentu saja tanpa ragu-ragu lagi ia lebih percaya muridnya! Pula, melihat orang muda itu memiliki kesaktian tinggi juga, timbul keinginan hatinya untuk melawan dan mengalahkannya!.

Pertandingan berlangsung seru. Baru sekarang Roro Luhito melihat dengan mata sendiri betapa saktinya Pujo! Tahulah ia kini bahwa tadi Pujo sengaja banyak mengalah terhadapnya. Kalau tadi Pujo seperti sekarang ini sepak terjangnya, ia harus mengakui bahwa ia takkan kuat menghadapi Pujo lebih dari dua puluh jurus. Gurunya memang hebat. Akan tetapi agaknya mengalahkan Pujo yang memegang keris pusaka, bukan merupakan hal yang mudah. Diam-diam ia merasa kagum kepada Pujo dan mau tidak mau ia harus mengakui bahwa cinta kasih yang terpendam di hatinya bukan lenyap oleh kemarahannya, bahkan makin menjadi.

Ia menghela napas berulang-ulang saking pedih hatinya oleh penolakan dan penyangkalan Pujo. Bisikan-bisikan Pujo di dalam bilik dahulu! Pernyataan cintanya! Masih terngiang di telinganya bisikan pada peristiwa di malam hari itu, sepuluh tahun yang lalu. Masih terasa kehangatan lengan yang merangkulnya dan masih bergema bisikan halus, "Luhito, aku Pujo, aku tahu, engkau suka kepadaku seperti aku mencintaimu..."

Dan sekarang Pujo menyangkal perbuatannya itu! Berpikir begini, panas lagi hatinya, panas dan kecewa, maka menangislah ia terisak-isak sambil mendeprok (terduduk) di atas pasir. Pandang mata Resi Telomoyo amat tajam. Biarpun ia sedang bertanding seru dengan Pujo, akan tetapi ia dapat melihat muridnya yang menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis terisak-isak dengan sedihnya. Melihat ini, kemarahannya meluap. Ia harus merobohkan pemuda ini dan memaksanya menerima muridnya sebagai isteri!

Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik yang amat dahsyat. Pekik yang disertai hawa sakti sedemikian hebatnya sehingga Pujo sendiri hampir tergetar tubuhnya, dan menggigil tangan yang memegang keris. Saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo untuk menendang pergelangan tangan yang memegang keris. Tendangan yang amat keras sehingga terlepaslah sambungan pergelangan tangan Pujo. Keris pusakanya terlempar dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, tubuhnya sudah terangkat dan terbanting di atas pasir. Matanya berkunang, kepalanya pening dan sejenak Pujo tidak mampu bangun.

"Kakangmas Pujo....!"

Jerit ini disusul berkelebatnya sesosok bayangan yang gerakannya cepat sekali. Tahu-tahu seorang wanita cantik muncul di depan Resi Telomoyo. Dia ini bukan lain adalah Kartikosari. Melihat suaminya menggeletak tak berdaya dan kakek yang wajahnya buruk menyeramkan berdiri di situ sedangkan seorang wanita cantik menangis tak jauh dari situ, Kartikosari langsung menerjang Resi Telomoyo.

Resi ini tadinya terkesima karena tidak mengenal siapa wanita yang luar biasa cantiknya ini sehingga ia memandang rendah. Pukulan dari Kartikosari adalah pukulan dengan Aji Gelap Musti, dilakukan cepat sekali karena selama waktu sepuluh tahun ini Kartikosari memperdalam ilmunya dan berhasil menciptakan gerakan yang diambil dari gerakan burung camar di tepi laut.

"Plak! Desssssss!!"

Resi Telomoyo yang tidak menyangka-nyangka wanita itu sedemikian hebatnya, kena ditampar lehernya dan ditonjok perutnya. Ia gelayaran (sempoyongan), jatuh terduduk dan melongo saking herannya. "Waduh, galak dan tangkas !" Ia memuji.

Kartikosari sejenak melongo juga. Pukulannya tadi adalah pukulan Gelap Musti dan jangankan perut seorang manusia kalau tidak pecah atau remuk isinya, batu karang sekalipun terkena hantamannya tadi akan remuk! Akan tetapi kakek aneh itu hanya jatuh terduduk, dan matanya kethap-kethip seperti orang terheran saja, sama sekali tidak seperti orang habis dipukul. Maklumlah ia bahwa kakek ini seorang sakti, maka cepat ia berlutut dekat suaminya yang sudah dapat bangun duduk.

"Bagaimana, kakangmas ? Kau... kau terluka...?"

Pujo serasa mimpi. Benar-benar Kartikosari sekarang yang berada di dekatnya, memeluk pundaknya dan dengan wajah yang gelisah bertanya kalau-kalau ia terluka. Tanda kasih sayang terbayang jelas di wajahnya yang selalu dirindukannya itu. Tak dapat lagi ia menahan hasrat hatinya. Dirangkulnya leher isterinya, dibelai dan hendak diciumnya! Kartikosari membuang muka mengelak.

"Hussshh, orang lain melihat....!"

Barulah Pujo teringat dan sadar cepat ia menarik tubuh Kartikosari bangun dan berdiri. Resi Telomoyo sudah berdiri pula, memandang dan menyeringai.

"Ho-ho-ho! Kebetulan sekali! engkau isterinya? Engkau isteri Pujo? Kalau begitu engkau tentu puteri Resi Bhargowo! Ha-ha, sungguh kebetulan.dengarlah engkau akan kelakuan suamimu yang bagus itu! Dia telah meng.... "

"Bapa guru, diam !!!" Tiba-tiba Roro Luhito menjerit meloncat berdiri dan menubruk gurunya sambil menangis. "Bapa guru, haruskah aku menderita malu dan terhina di depan banyak orang lain ? Biarlah aku yang menghadapi Pujo!"

Roro Luhito adalah seorang wanita yang berwatak keras. Sebentar saja ia sudah berhasil menekan perasaannya. Matanya masih merah, akan tetapi tidak ada air mata mengalir turun. Dengan pandang mata penuh benci dan dendam . Ia memandang Pujo, dan hanya mengerling sejenak ke arah Kartikosari yang diam-diam ia puji kecantikannya.

"Pujo, kau tadi bilang bahwa kau tidak mempunyai permusuhan dengan aku. Sekarang, aku minta engkau sebagai seorang ksatria jantan, sebagai laki-laki sejati, di depan isterimu, kau ceritakanlah apa yang terjadi di Kadipaten Selopenangkep sepuluh tahun yang lalu! Kalau kau menceritakan kesemuanya dan memang tepat, biar aku mengalah dan pergi. Akan tetapi kalau sebaliknya aku pasti akan mengadu nyawa denganmu!"

"Kakangmas, siapakah dia ini dan kakek itu? Jangan takut, biarlah kuhadapi mereka!"

Kartikosari hendak melangkah maju, akan tetapi Pujo memegang lengannya dan berkata halus, "Jangan, nimas. Urusan ini adalah urusan salah faham dan fitnah, memang harus dibikin terang agar jangan menjadi jadi." Pujo melarang isterinya karena ia tahu bahwa biarpun Kartikosari kini agaknya memperoleh kemajuan pesat dengan ilmunya, namun belum tentu dapat mengatasi Resi Telomoyo yang demikian saktinya. Selain itu, ia kini percaya bahwa betul-betul aib yang menimpa diri Roro Luhito dan bahwa di balik peristiwa ini tentu terselip rahasia yang harus dipecahkan.

Ia melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan Resi Telomoyo dan Roro Luhito, terpisah dua meter saja jauhnya. Kartikosari masih digandengnya. Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata, "Roro Luhito dan juga paman Resi Telomoyo, harap suka dengarkan baik-baik penuturanku. Aku bersumpah demi kehormatanku sebagai satria kepada Hyang Maha Pamungkas, bahwa apa yang kuceritakan ini adalah yang sebenar-benarnya, tidak lebih maupun kurang daripada hal-hal yang sebenarnya terjadi."

Ia menarik napas panjang, mengajak isterinya duduk di atas pasir sambil mempersilakan kedua orang guru dan murid itu untuk duduk pula. Resi Telomoyo yang memang yakin bahwa orang muda di depannya ini bukan orang jahat, segera menjatuhkan diri duduk di pasir seenaknya, sedangkan Roro Luhito melihat tiga orang itu duduk, biarpun dengan ragu-ragu, akhirnya duduk pula bersimpuh, matanya menatap wajah Kartikosari yang cantik dan berwibawa. Diam-diam ia merasa iri betapa kedua suami isteri itu bergandeng tangan dengan sikap mesra, penuh cinta kasih.

"Sepuluh tahun yang lalu, aku mempunyai dendam sedalam lautan terhadap Wisangjiwo, dendam yang hanya dapat diselesaikan dengan menyabung nyawa. Oleh karena dendam itu semata maka pada malam hari itu aku menyerbu Kadipaten Selopenangkep. Maksud hatiku hendak mencari Wisangjiwo dan membunuhnya. Akan tetapi sayang sekali, Wisangjiwo tidak berada di kadipaten dan karena mata gelap saking besarnya rasa dendam kesumat, aku mengamuk, membunuh beberapa orang pengawal, melukai Adipati Joyowiseso, akan tetapi akhirnya aku tertangkap. Aku tetap tidak mau mengaku dendam apa yang kurasakan terhadap Wisangjiwo. Aku disiksa dan akhirnya dihukum perapat."

"Ohhh.....!"

Kartikosari yang belum mendengar cerita ini berseru kaget dan jari-jari tangannya yang halus mencengkeram tangan suaminya. Pujo menoleh kepadanya dan mengangguk-angguk, mengerling kepada Roro Luhito dan Resi Telomoyo lalu berkata, "Lihat, isteriku sendiripun baru sekarang dapat mendengarkan ceritaku karena akibat perbuatan Wisangjiwo itu telah membuat kami suami isteri berpisah pula sampai sepuluh tahun!"

"Hemmm.....!"

Resi Telomoyo mengangguk-angguk dan menggaruk-garuk punggung serta kepalanya. Sejak tadi Kartikosari memperhatikan gerak-gerik Resi Telomoyo ini dan di dalam hatinya ia merasa geli dan baru sekarang ia melihat betapa kakek ini mirip benar, baik muka maupun gerak-gerik, dengan seekor kera putih yang besar!

"Hukuman perapat tidak berhasil membunuhku dan akhirnya muncullah Jokowanengpati yang pada malam hari itu turun tangan dan membuat aku tertangkap."

"Jokowanengpati murid uwa guru Empu Bharodo?" Kartikosari tercengang Pujo mengangguk.

"Dia menjadi tamu kadipaten ketika itu dan membantu kadipaten sehingga aku tertangkap. Akan tetapi ketika hukum perapat dijalankan dan tidak berhasil membunuhku, kakang Jokowanengpati datang dan membawaku kembali ke dalam tahanan. Ternyata dia bermaksud baik terhadap aku, mengingat kita masih saudara seperguruan. Dia membalik terhadap kadipaten, malam itu ia membebaskan aku, malah dia pula yang membantu menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya, membantu aku keluar dari kadipaten dan setelah jauh baru dia menyuruhku cepat-cepat pergi membawa isteri Wisangjiwo dan puteranya."

"Ahhh, kau lakukan hal itu ??" Suara Kartikosari benar-benar membayangkan hati kaget dan heran. Pujo menepuk-nepuk lengan isterinya, menyabarkan hatinya.

"Karena tidak berhasil mendapatkan Wisangjiwo, aku seperti kemasukan iblis saking kecewa dan marahku, maka kuculik isteri dan puteranya. Akan tetapi jangan salah sangka, demi Dewata Yang Agung, aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar susila terhadap wanita itu, nimas."

Kemudian Pujo menoleh kepada dua orang bekas lawannya. Ia melihat betapa sepasang mata Roro Luhito terbelalak, pandang matanya liar dan sepasang alis yang hitam kecil itu berkerut-kerut.

"Lalu bagaimana...? Lalu bagaimana...??" desak Roro Luhito, dadanya yang membusung tertutup kemben itu bergelombang turun-naik, napasnya agak terengah tanda bahwa di dalam hatinya timbul perasaan yang tegang.

"Kubawa mereka ke Gua Siluman, kutinggalkan isteri Wisangjiwo di dalam gua akan tetapi kubawa lari puteranya yang selanjutnya kujadikan muridku dan kuanggap anak sendiri...."

"Dia Joko Wandiro....??" Kini Kartikosari yang memegang lengan suaminya, bertanya, suaranya gugup.

"Benar. Eh, bagaimana kau bisa tahu, nimas?" tanya Pujo heran, menoleh kepada isterinya.

Akan tetapi, sebelum Kartikosari menjawab, Roro Luhito sudah melompat berdiri dengan gerakan cepat. Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo memandang kaget. Wajah gadis itu pucat sekali, matanya bergerak-gerak liar, hidungnya kembang-kempis, dadanya terengah-engah.

"Pujo... Pujo... kau bersumpahlah sekali lagi.... bahwa apa yang kau ceritakan semua itu tadi adalah yang sebenarnya terjadi?"

"Aku bersumpah demi Dewata Agung!"

"Dan bukannya engkau terlepas karena bantuan gurumu Resi Bhargowo, kemudian gurumu membantumu menculik isteri dan putera kangmas Wisangjiwo dan engkau sendiri memasuki bilikku?"

"Tidak sama sekali! Dari mana datangnya fitnah itu?!?" Pujo melompat berdiri, juga Kartikosari dan Resi Telomoyo. Mereka sama-sama menjadi tegang.

"Kata kakangmas Jokowanengpati engkau memasuki bilikku.... dan kau dibantu Resi Bhargowo maka dia tidak berdaya dan..... aduh Jagad Dewa Batara...! Tahulah aku sekarang! Dialah orangnya! Dia si keparat Jokowanengpati.... ya Dewa... Gusti Maha Agung, cabut sajalah nyawaku.... bapa guru ..!"

Roro Luhito menubruk gurunya dan rebah pingsan dalam pelukan Resi TeHomoyo. Resi Telomoyo memandang Pujo bingung, bertanya, "Anakmas, apa sebenarnya yang terjadi?"

Pujo menggeleng kepala.
"Aku sendiri bingung, paman. Bawalah dia ke pondok, dia perlu istirahat dan menenangkan perasaannya yang terguncang hebat."

Kakek itu mengangguk, memondong tubuh muridnya dan membawanya memasuki pondok Pujo. Pujo dan isterinya memandang sampai kakek itu lenyap di balik pintu pondok.

"Kakangmas! Jadi putera Wisangjiwo kah yang bernama Joko Wandiro?"

"Betul, nimas. Tadinya hendak kudidik dia agar kelak memusuhi ayahnya sendiri. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ah, kakangmas... celaka! Aku khawatir sekali. Dia dan..... anak kita telah lenyap....."

Saking kagetnya Pujo melepaskan tangan Kartikosari yang memegang lengannya sambil melompat mundur sejauh lima meter lebih. Benar-benar kaget sekali dan tadi ia meloncat seperti menghindar kan diri dari serangan maut! Kini matanya terbelalak, kakinya bergerak lambat-lambat maju, bibirnya gemetar ketika ia bertanya,

"Anak... anak... kita....??"

Kartikosari tak dapat menahan diri lagi. Ia menjatuhkan dirinya bersimpuh di atas pasir, mengangguk-angguk sambil menangis, lalu keluar kata-katanya tersendat-sendat,

"Ketika.... kita berpisah.... aku... aku sudah mengandung aku.... lari dan bersembunyi ke Karang Racuk.... memelihara dan mendidiknya di sana..."

Pujo melompat dan menubruk isterinya, mendekapnya dan air mata membanjir di pipinya,
"Aduh Gusti.... terima kasih! Nimas Sari, di mana anak kita.....? Laki-laki atau perempuankah? Siapa namanya?"

"Kunamakan dia Endang Patibroto...."

Pujo terharu sekali mendengar nama ini, dipandangnya wajah isterinya, lalu didekapnya kepala itu ke dadanya,diciumnya.

"Ampunkan aku, Sari kau ampunkan aku yang bermata namun tak dapat melihat betapa engkau sesungguhnya seorang wanita sesuci-sucinya, seorang puteri yang patut menjadi tauladan. Aku bodoh bebal dan pengecut. Kau ampunkan aku, nimas..." Pujo lalu berlutut dan hendak meraih dan mencium jari kaki Kartikosari.

Naik sedu-sedan dari dada wanita itu dan cepat ia merangkul leher suaminya, melarang suaminya melakukan perbuatan itu. "Jangan, kakangmas! Tak baik seorang suami merendahkan diri macam ini! Aku tetap isterimu, aku selamanya tetap mencinta dan setia kepadamu, kakangmas."

Mereka berdekapan, merasa seakan-akan diterbangkan angin, terapung-apung di angkasa raya, penuh bahagia, menemukan kembali kehilangan yang sepuluh tahun membuat mereka merana.

"Di mana dia, nimas. Di mana Endang Patibroto anakku?"

Kartikosari tersentak kaget, lalu melepaskan diri dari pelukan. "Inilah sebabnya mengapa aku datang ke sini kakangmas. Ketika beberapa hari yang lalu aku bertemu Joko Wandiro dan mendengar tentang kau, aku lari ke sini, meninggalkan Joko Wandiro dan Endang Patibroto yang kusuruh kembali kepantai. Akan tetapi ketika aku kembali ke sana, mereka tidak ada. Mereka lenyap dan kulihat ada lima orang penjahat sudah menggeletak menjadi mayat. Aku gelisah sekali, kakangmas......entah di mana adanya mereka berdua...."

Pujo termenung dan juga cemas, Kiranya Joko Wandiro yang disuruhnya mencari kuda itu bertemu dengan Kartikosari. Pantas sampai kini belum pulang. Dan sekarang anak itu, bersama-sama anak kandungnya sendiri, mereka telah lenyap tak meninggalkan bekas! Ia bertemu isterinya akan tetapi berbareng kehilangan muridnya yang terkasih dan anak kandungnya yang belum pernah ia lihat!

Pada saat itu, Resi Telomoyo keluar dari pondok bersama Roro Luhito. Wanita itu tidak menangis lagi dan wajahnya amat pucat, rambutnya kusut, matanya sayu. Ia melangkah mendekati Pujo dan Kartikosari yang sudah bangkit berdiri, lalu berkata kepada Pujo, "Kakangmas Pujo, harap kau ampunkan kesalahanku yang telah menuduhmu. Aku mengerti sekarang. Jokowanengpati yang telah melakukan hal itu kemudian menjatuhkan fitnah kepadamu. Agar tiada awan gelap lagi mengeruhkan pikiran kita, bolehkah aku mengetahui, apa yang telah dilakukan oleh kakangmas Wisangjiwo maka engkau begitu membencinya?"

Pujo memandang isterinya yang juga menatapnya, kemudian Kartikosari yang menjawab, "Diajeng Roro Luhito, memang ada permusuhan antara kakakmu dengan kami suami isteri. Malah beberapa hari yang lalu kami telah berhasil menangkapnya. Akan tetapi ternyata kami telah salah duga. Sungguhpun kakakmu itu pernah memusuhi kami, akan tetapi bukan dialah orang yang sebenarnya kami cari. Kami juga telah salah duga, seperti engkau salah menduga suamiku tadi. Tidak ada urusan apa-apa lagi antara keluargamu dengan kami, diajeng. Bahkan keponakanmu, Joko Wandiro, juga dididik baik-baik oleh suamiku, malah menjadi muridnya. Sekarang dia bersama anak kami yang kusuruh menanti di Karang Racuk, telah lenyap entah ke mana. Kami sedang bingung memikirkannya dan hendak berusaha mencari mereka."

"Kalau begitu, kakakkupun terkena fitnah! Bagaimana kalian baru bisa tahu bahwa bukan kakangmas Wisangjiwo yang kalian cari? Ataukah inipun rahasia?" Roro Luhito bertanya.

"Yang kami cari adalah seorang laki-laki yang buntung kelingking tangan kirinya, sedangkan Wisangjiwo masih lengkap jari tangannya."

"Buntung kelingking kirinya?" Roro Luhito bertanya setengah menjerit. "Hyang Maha Agung yang menguasai jagad! Si keparat Jokowanengpati buntung kelingking kirinya!"

Tiba-tiba Pujo meloncat dan menampar kepalanya sendiri. "Ahhhhh...! Alangkah tolol aku! Benar... kelingking tangan kirinya buntung!"

Suami isteri itu saling pandang, mata mereka bersinar-sinar penuh kemarahan dan hampir berbareng mereka berseru, "Jokowanengpati iblis keparat!"

"Tahu aku sekarang!" Roro Luhito ikut bicara. "Kalau kalian mencari orangnya yang melakukan fitnah terhadap kakangmas Wisangjiwo kepada kalian, tentulah si Jokowanengpati. Pantas saja dia bertindak seperti ular kepala dua di kadipaten! Dia membantu ayah menangkapmu kakangmas Pujo, kemudian dia membantumu membebaskan diri dan menculik isteri dan putera kakakku, kemudian dia membohongi ayah dan menyatakan bahwa kau kabur menculik serta melakukan perbuatan keji di kadipaten atas bantuan gurumu, Resi Bhargowo!"

"Tobat-tobat...! Ada manusia sejahat itu? Dia hendak mengadu domba antara Resi Bhargowo semuridnya dengan Kadipaten Selopenangkep! Dan aku pernah bertemu dengan manusia iblis itu. Sayang yang kucari adalah Pujo dan Resi Bhargowo, kalau aku tahu dia orangnya yang bersalah, tentu sudah kubekuk dia!" Secara singkat Resi Telomoyo menceritakan pertemuan dan pertandingannya melawan Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo beserta pasukannya.

Pujo mengangguk-angguk, "Tahulah aku sekarang! Pantas gusti patih sendiri menuduh aku dan ayah mertuaku sebagai pemberontak-pemberontak! Kiranya itulah siasat si jahanam Jokowanengpati. Nimas Sari, jelas sekarang siapa musuh kita. Hemm, agaknya dahulu itu dia berada di sebelah dalam gua, dan dia menggunakan kesempatan munculnya Wisangjiwo untuk melakukan perbuatan biadab mempergunakan nama Wisangjiwo!"

Wajah Kartikosari menjadi merah saking malu dan marah, namun matanya memancarkan cahaya berapi-api.
"Agaknya begitulah. Pantas kau roboh olehnya ketika itu, karena kau sudah terluka. Wisangjiwo yang sudah terluka pula agaknya tak mungkin dapat merobohkanmu. bodoh kita, kita berangkat dan mencarinya!".

"Akan tetapi bagaimana dengan anak kita dan muridmu? Kita harus mencarinya."

"Kakangmas Pujo dan kakang mbok, kalau diperkenankan biarlah aku menemani kalian. Musuh kita ternyata sama orangnya!" kata Roro Luhito.

"Betul, harap kalian berbaik hati menerima muridku sebagai teman. Aku sendiri akan pulang ke Telomoyo, akan tetapi kelak akupun akan menyusul kalian ke Selopenangkep. Nah, muridku Roro Luhito, baik-baiklah engkau menjaga diri. Dua orang ini boleh kau percaya sepenuhnya, mereka orang-orang baik. Kalau sudah tiba saatnya, aku akan menyusulmu, nak." Roro Luhito segera berlutut menyembah, memberi hormat dan menghaturkan selamat jalan.

Demikian pula suami isteri itu yang tahu bahwa kakek itu adalah seorang pertapa yang sakti dan berbudi walaupun wataknya aneh seperti monyet, segera memberi hormat. Tanpa ragu-ragu lagi mereka menerima Roro Luhito sebagai teman, karena sedikit banyak terutama Pujo, merasa bersalah terhadap keluarga Wisangjiwo, bersalah telah menculik Joko Wandiro. Jelas bahwa musuh besar mereka sama orangnya bukan lain adalah Jokowanengpati, Siapa lagi kalau bukan dia? Selain bukti kelingking kiri yang buntung, juga semua sepak terjangnya di Selopenangkep membayangkan pengkhianatan dan penipuan untuk mengadu domba, dan ini saja sudah cukup menjadi bukti.

Betapapun juga, ia tidak mau berlaku gegabah, dan potongan kelingking kering masih ia simpan. Ia akan mengukurnya dahulu dengan kelingking kiri Jokowanengpati sebelum menjatuhkan pembalasan. Kalau sekali ini ia keliru lagi, akibatnya tentu hebat, karena Jokowanengpati adalah murid uwa gurunya, Empu Bharodo yang sakti mandraguna. Setelah Resi Telomoyo pergi meninggalkan tempat itu, Kartikosari bertanya kepada Roro Luhito, "Diajeng, kalau menurut pikiranmu, ke manakah kita akan dapat mencari musuh kita?"

Roro Luhito menundukkan mukanya.
"Terserahlah kepada kalian, aku hanya menurut dan ikut. Kepandaianku tidak seberapa, dan aku tahu betapa saktinya musuh kita."

"Kita harus pergi dulu mencari anak kami dan keponakanmu Joko Wandiro. Aku khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan mereka, karena aku melihat lima orang mayat penjahat di sana."

"Begitupun baik, aku hanya menurut saja." kata Roro Luhito dan sekilat matanya mengerling ke arah Pujo lalu menunduk kembali.

Pujo melihat ini dan teringat akan sikap gadis itu ketika mula-mula bertemu dengannya, mukanya menjadi merah sekali. Ketika gadis itu menyangka dia orang yang menggagahinya, gadis ini malah mencarinya dan hendak bersuwita (menghamba) kepadanya. Kini setelah tahu bahwa bukan dia orangnya, melainkan Jokowanengpati, mengapa sikapnya berubah dan hendak membalas dendam kepada Jokowanengpati penuh kebencian? Hanya satu saja jawaban yang mungkin benar, yaitu bahwa Roro Luhito ini mencintanya!!

Berdebar jantung Pujo sehingga mukanya menjadi merah. Timbul rasa haru dan iba yang besar di hatinya. Namun, betapa mungkin. ia mengimbangi perasaan gadis itu? Ia telah menemukan kembali isterinya, satu-satunya wanita di jagad raya ini yang dicintainya sepenuh jiwa raganya! Untuk menghilangkan kecanggungan hatinya ia segera berkata, "Perjalanan kita jauh dan sukar, sebaiknya kita ke dusun mencari tiga ekor kuda. Menunggang kuda akan lebih cepat dan tidak melelahkan."

Dua orang wanita itu setuju dan berangkatlah mereka ke dusun mencari kuda. Setelah mendapatkan kuda dari penghuni dusun yang mengenal baik Pujo, berangkatlah mereka mulai dengan perjalanan yang mempunyai dua tujuan, pertama mencari Endang Patibroto dan Joko Wandiro, kedua mencari musuh besar mereka, Jokowanengpati. Di sepanjang perjalanan, terutama di waktu malam ketika mereka mengaso, Roro Luhito selalu bersunyi diri dan sengaja menjauh, tidak ingin mengganggu suami isteri itu sungguhpun hal ini membuat hatinya makin merana.

Namun Kartikosari secara bijaksana tidak mau memperlihatkan diri bermesra-mesraan dengan suaminya, betapun besar rindu dendam mereka satu sama lain. Bahkan dengan bisikan, Kartikosari menyatakan bahwa ia tetap dengan pendiriannya, yaitu tidak hendak kembali kepada suaminya memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani suami kalau musuh besar mereka belum terbalas dan tewas di depan kakinya.

Pujo sebagai seorang ksatria utama juga memaklumi perasaan isterinya ini sebagai wanita utama yang dapat menjaga harga diri, dan iapun merasa lega kalau hal ini malah memurnikan cinta kasih mereka, cinta kasih yang bukan hanya berdasarkan nafsu berahi semata, melainkan lebih mendalam. Dan selain ini, juga pembatasan mereka dalam hubungan ini menolong Roro Luhito dari keadaan tidak enak!

********************


Kita tinggalkan Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito yang melakukan perjalanan menunggang kuda untuk mencari musuh besar mereka dan melampiaskan dendam hati yang sedalam lautan sebesar Gunung Mahameru. Kita mengikuti perjalanan Endang Patibroto, gadis cilik yang meninggalkan Pulau Sempu setelah membunuh dua orang yang mengunjungi pulau itu.

Telah diceritakan di bagian depan betapa Endang Patibroto berhasil membunuh mereka dengan amat mudahnya karena ia memegang pusaka ampuh Brojol Luwuk. Kemudian karena takut kepada eyangnya setelah ia membunuh orang, pula karena hatinya tidak rela kalau harus berpisah dari keris pusaka seperti yang diperintahkan eyangnya, yaitu keris ini disuruh menyembunyikan, maka Endang lalu mempergunakan perahu kedua orang yang dibunuhnya itu dengan maksud menyeberang ke darat dan mencari ibunya.

Sudah setahun lebih ia berpisah dari ibunya. Anak perempuan yang baru berusia sebelas tahun ini tidak tahu sama sekali bahwa di suatu daerah dekat Pulau Sempu merupakan kedung ikan hiu yang buas. Semua nelayan di daerah itu tentu saja tahu belaka akan hal ini dan mereka itu tidak berani melintasi laut melalui daerah itu, yakni di sebelah timur pulau, kecuali kalau mereka menunggang perahu besar yang cukup tinggi dan kuat sehingga tidak akan dapat diganggu ikan-ikan hiu. Endang Patibroto secara kebetulan mendayung perahunya melalui daerah itu karena memang ia tadinya berlari ke pantai ujung timur di pulau itu.

Demikianlah, selagi ia enak-enak mendayung dan sudah jauh meninggalkan pulau, tiba-tiba air laut di sebelah depannya bergelombang keras dan nampaklah sirip-sirip ikan hiu yang seperti layar-layar kecil meluncur cepat mengarah perahunya. Di pantai Karang Racuk seringkali Endang melihat sirip-sirip ikan hiu dan oleh ibunya ia sudah diberi tahu bahwa ikan-ikan hiu merupakan raja lautan yang amat ganas, seperti harimau di darat.

"Tentu saja lebih berbahaya daripada harimau," kata ibunya. "Harimau berada di darat dan dapat kita lawan dengan kecepatan dan kekuatan, akan tetapi ikan hiu dalam air, amat sukar untuk dilawan. Maka hati-hatilah kau kalau mandi di laut."

Dan kini melihat banyak sekali sirip ikan hiu meluncur ke depan perahu menimbulkan air bergelombang, hati Endang berdebar. Perahunya amat kecil dan melihat sirip-sirip itu, dapat diduga bahwa ikan-ikan itu lebih besar dan lebih panjang daripada perahunya! Akan tetapi pada saat itu, rasa cemasnya kalah oleh rasa heran dan kaget ketika ia melihat pemandangan yang sukar dipercaya. Jauh dari arah pantai daratan, ia melihat seorang laki-laki tua meluncur berdiri di atas air dengan jubah dikembangkan seperti layar!

Mana mungkin ada manusia berlari di atas air? Ia mengucek-ucek matanya, serasa mimpi, akan tetapi ketika membuka kembali matanya, kakek itu masih tampak! Bahkan kakek itu agaknya tertawa-tawa, karena suara gelak tawanya terbawa angin dan sampai di telinganya. Suara terkekeh-kekeh seperti seorang anak kecil yang bergembira dan bermain-main di air.

Saking heran dan kagetnya, sejenak Endang lupa akan sirip-sirip ikan hiu dan tiba-tiba dayungnya terlepas dari tangannya seperti ada yang merenggutnya. Ia kaget dan meloncat berdiri. Untung ia sudah meloncat berdiri karena pada saat itu perahunya tertumbuk dan terdorong dari bawah dengan kekuatan yang amat luar biasa sehingga perahunya itu terlempar ke atas.

Tubuh Endang ikut pula mencelat ke atas dan untungnya ia berlaku waspada. Menduga bahwa ikan-ikan hiu yang menjungkir balikkan perahunya, di atas udara Endang cepat berjungkir balik sehingga turunnya ke bawah agak melambat. Perahu jatuh ke air dalam keadaan terbalik dan ia segera turun ke atas perahu terbalik itu. Di kanan kiri perahu, dekat dengan kakinya mulai tampaklah kepala ikan-ikan hiu yang besar, yang seakan-akan berlumba hendak menyambarnya!.

Endang Patibroto merasa ngeri dan takut, akan tetapi ia tidak kehilangan akal. Di samping rasa ngeri dan takut, juga kemarahannya memuncak dan ia cepat-cepat menghunus keris Brojol Luwuk dari kembennya, lalu memasang kuda-kuda di atas perahu terbalik dengan kedua lutut ditekuk rendah. Ketika kepala seekor ikan hiu muncul dekat sekali di sebelah kanan, kerisnya menyambar dan tepat menusuk kepala ikan itu. Ikan itu kelabakan, mendatangkan ombak sehingga perahunya yang terbalik itu terdorong agak jauh.

Terjadilah pergulatan hebat ketika ikan yang terluka itu diserbu kawannya sendiri. Akan tetapi beberapa ekor ikan tetap saja masih mengelilingi perahu dan kini tiba-tiba sekaligus dua ekor ikan menyerbu, mengangkat kepalanya dan berusaha menyambar kaki Endang Patibroto. Gadis cilik ini makin marah, keris pusakanya menyambar dengan kecepatan luar biasa dan dua ekor ikan itupun berkelepakan di dalam air dalam keadaan sekarat, lalu diserbu kawan-kawannya sehingga perut mereka pecah dan ususnya berantakan. Air di sekitar perahu menjadi kemerahan.

Saking banyaknya ikan hiu yang berkeliaran di tempat itu, bangkai tiga ekor ikan korban keris pusaka Brojol Luwuk itu sebentar saja habis dan belum memuaskan kelahapan mereka. Beberapa ekor ikan masih menyerbu perahu. Endang Patibroto berbesar hati menyaksikan hasilnya, dan dengan gerakan yang lincah sekali ia berloncatan dari ujung kiri ke ujung kanan perahunya yang terbalik, mengayun keris pusaka Brojol Luwuk ke kanan kiri dan setiap kali ada ikan hiu yang berani memperlihatkan kepalanya, biarpun sejauh satu dua meter dari perahu, Endang melompat ke arah kepala ikan, kedua kaki hinggap di kepala yang miring dan kerisnya menusuk. Secepat kilat ia melompat sebelum ikan itu tenggelam, kembali ke atas perahu terbalik atau ke kepala ikan lain sambil menusukkan kerisnya.

Memang gadis cilik ini sudah biasa berlatih melompat-lompat di atas batu-batu karang yang menonjol di permukaan Laut Selatan. Maka kali ini gerakannya amat lincah dan cekatan dan sebentar saja bangkai ikan hiu memenuhi tempat di sekeliling perahu! Dasar masih kanak-kanak, dan pula memang dasarnya Endang memiliki watak keras hati, tidak mau kalah dan suka mengumbar amarah, melihat banyak bangkai ikan, ia menjadi makin gembira.

Kini ia berloncatan, tidak hanya di atas perahu, bahkan ia meloncat dari bangkai ke bangkai sambil mencari-cari. Kalau ada ikan hiu biarpun hanya tampak siripnya meluncur dekat, ia akan menyerang dengan kerisnya ke sebelah depan sirip. Kerisnya masuk ke dalam air dan ikan yang tertusuk keris itu pasti berkelojotan dan tewas! Akan tetapi, perut ikan tidak sama dengan perut perahu, perut ikan ini licin sekali sehingga ketika Endang meloncat ke sebuah bangkai ikan, tiba-tiba ikan yang di injaknya itu bergerak!

Ternyata ikan itu belum mati dan masih berkelojotan. Tentu saja Endang tak dapat mempertahankan diri di atas perut ikan yang licin itu dan terpelesetlah ia, jatuh ke dalam air! Belasan sirip ikan meluncur dari sekelilingnya, menuju ke arahnya! Ngeri juga hati Endang, karena biarpun ia pandai berenang, namun dikeliling ikan-ikan buas itu bagaimana ia mampu melawan?

"Hua-ha-ha-ha, hebat... hebat... luar biasa sekali kau!"

Tiba-tiba terdengar suara ini yang keras sekali dan tahu-tahu Endang merasa tubuhnya melayang ke atas. Ketika ia melihat, ternyata ia sudah berada di pondongan tangan kiri seorang laki-laki tua yang tinggi besar, bermata lebar bundar menciutkan.

Teringat akan keris pusakanya yang tidak boleh kelihatan orang lain, Endang cepat-cepat menyimpannya ke dalam kemben. Ia memperhatikan kakek tinggi besar yang menakutkan ini. Kulit kakek itu hitam mengkilap, rambutnya sudah penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman. Jenggotnya sekepal sebelah, menutupi sebagian mulutnya yang lebar.

Ketika Endang memperhatikan, ia dapat menduga bahwa kakek ini adalah orang yang tadi ia lihat berlari di atas air! Bahkan sekarang juga ia masih berlari di atas air! Kedua kakinya bergerak ke depan, cepat sekali dan kainnya yang dikembangkan ke kanan kiri tubuhnya, tertiup angin dari belakang merupakan layar kembar sehingga kedua kakinya amat laju bergerak ke depan!

Benar-benar luar biasa sekali dan sebagai puteri seorang sakti, Endang Patibroto dapat menduga bahwa kakek yang aneh dan berwajah menakutkan ini tentulah seorang yang luar biasa saktinya! Oleh karena ini ia membiarkan saja dirinya dipondong. Hanya saja, hatinya berdebar ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu meluncur kemhali ke arah pulau Sempu!

"Hua-ha-ha! Genduk bocah ayu, kau siapakah?"

Sambil meluncur cepat di atas air, menggerak-gerakkan kedua kakinya, kakek itu bertanya, tangan kiri memondong, tangan kanan mengelus-elus kepala memijit-mijit perlahan dan meraba raba bentuk kepala orang.

BADAI LAUT SELATAN JILID 14


Thanks for reading Badai Laut Selatan Jilid 13 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »