Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 12

Pujo melihat bayangan merah saputangan ini, cepat menahan napas, lalu mengerahkan hawa bakti meniup dari mulutnya, dibarengi tangan kirinya menyampok dari depan. Lima jari tangannya berkembang menyambut saputangan merah dan....

"breeittt.... !!!"

Pecahlah kain merah itu, pecah dan hangus lalu hancur, tidak kuat senjata mujijat yang beracun itu bertemu dengan hawa pukulan Pethit Nogo yang dilancarkan tangan kiri Pujo. Dalam kaget dan marahnya, Wisangjiwo menggerakkan Sarpokenoko yang melecut dan ujungnya bagaikan paruh elang mematuk ubun-ubun kepala Pujo. Celakalah Pujo jika serangan ini mengenai sasaran. Tentu ubun-ubun kepalanya akan pecah. Akan tetapi ketika tadi menghancurkan senjata kain merah lawan, Pujo sudah siap sedia, sudah dapat menduga bahwa tentu Wisangjiwo akan menyusul dengan serangan susulan yang menggunakan cambuknya.

Maka giranglah hatinya melihat lawannya marah dan tidak sabar, karena makin marah dan tidak sabar keadaan seorang lawan, makin mudah diatasi. Melihat datangnya lecutan cambuk, ia tidak menangkis dengan kerisnya karena maklum bahwa tangkisan tidak dapat mengalahkan lawan. Secepat kilat tangan kirinya bergerak ke atas dan di lain detik, ujung cambuk itu sudah terjepit jari-jari tangan kirinya yang masih mengerahkan Aji Pethit Nogo.

"Cappp!"

Sekali terjepit, ujung cambuk itu tak mungkin dapat terlepas lagi. Wisangjiwo makin kaget, akan tetapi selagi ia berusaha menarik cambuknya, ujung keris Banuwilis dengan tak tersangka-sangka telah meluncur ke depan dan telah menusuk pergelangan tangan kanannya. Wisangjiwo berseru kaget, terpaksa mengelak, namun masih ada ujung keris melukai pangkal ibu jari tangan kanannya. Rasa nyeri membuat ia terpaksa melepaskan gagang cambuk dan saking marah melihat cambuknya terampas ia mengirim tendangan kilat sekenanya. Tendangan memang berhasil mengenai paha kiri Pujo, akan tetapi pada saat itu, lehernya terpukul oleh tangan kanan Pujo yang sudah membalikkan kerisnya sehingga bukan mata keris yang menusuk leher, melainkan gagang keris yang keras. Wisangjiwo mengeluh dan roboh terguling, matanya berkunang-kunang.

"Aduhhh, mati aku.... !"

Ia mengeluh dan sebuah tendangan keras yang mengenai pangkal telinganya membuat ia tak dapat mengeluh lagi dan tidak ingat apa-apa. Akan tetapi Wisangjiwo tidak mati, atau setidaknya belum mati ketika ia siuman kembali. Ia sadar dan mendapatkan dirinya berdiri bersandarkan batang pohon dalam keadaan terikat erat-erat pada batang pohon dengan kedua lengannya ditelikung ke belakang. Bahkan bagian lehernyapun dikalungi tambang yang ternyata adalah cambuknya sendiri, cambuk Sarpokenoko! Ketika berusaha meronta, ia merasa sakit-sakit pada lengannya dan lehernya makin tercekik, maka ia tidak lagi meronta dan memandang kepada musuhnya yang berdiri di depannya, memandangnya sambil tersenyum-senyurn, senyum iblis!

"Pujo, aku sudah kalah. Kenapa engkau tidak membunuhku saja? Untuk apa mesti mengikatku di sini?"

"Untuk apa? Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja!"

"Hemm, Pujo, begitu bencikah engkau kepadaku? Memang aku pernah mengganggumu ketika kau dan isterimu bertapa di Gua Siluman, akan tetapi pembalasanmu sungguh keterlaluan. Aku hanya merobohkan kau dan isterimu, karena hatiku panas disebabkan engkau dahulu tidak ikut mempertahankan Selopenangkep dari serbuan balatentara Mataram. Akan tetapi, hanya sampai di situ saja perbuatanku. Setelah engkau dan isterimu roboh karena.... hemm, terus terang saja, karena akalku, aku lalu pergi meninggalkan gua. Akan tetapi pembalasanmu sungguh berlebihan. Kau menyebu Selopenangkep, membunuh banyak pengawal bahkan hampir membunuh ayahku, kemudian kau memperkosa Roro Luhito adikku, menculik kemudian memperkosa isteriku, dan membawa pergi puteraku! Dan kau masih belum puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu! Pujo, apakah kau sudah menjadi gila, ataukah kau berubah menjadi iblis?"

Tentu saja makin panas dan marah hati Pujo mendengar ini. Ia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha! Tiada manusia di dunia ini yang suka mengakui akan kesalahannya! Apalagi manusia macam engkau, Wisangjiwo! Karena banyaknya manusia macam engkau inilah maka dunia ini menjadi makin kotor dan makin keruh, karena itu sebaiknya orang macam engkau ini dibasmi habis! Memang semula aku hendak memperkosa isterimu di gua, hendak kulakukan persis seperti yang kau lakukan terhadap isteriku. Sayang aku bukan manusia macam engkau sehingga aku tak sanggup melakukan hal itu. Ocehanmu tentang memperkosa isterimu dan adikmu boleh saja kau keluarkan, akan tetapi aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Andaikata ada orang lain melakukan hal itu, sudah menjadi bagianmu, karena hukum karma takkan melepaskan korbannya. Tentang anakmu, haha-ha! Kau tunggu saja, aku sengaja mendidik dia untuk membunuhmu, Wisangjiwo!"

Wisangjiwo terpekik ngeri, mukanya pucat. Maklum ia apa yang akan dilakukan Pujo. Agaknya puteranya itu dipelihara dan dididik Pujo dan ditanamkan dalam jiwa anaknya itu bahwa dia adalah musuh anaknya sendiri, dan setelah sekarang ia menjadi tawanan, agaknya Pujo menanti datangnya anak itu untuk turun tangan membunuhnya! Inilah sebabnya mengapa ia diikat erat-erat pada pohon agar supaya tidak dapat melawan jika anak itu turun tangan. Tadinya ia merasa heran mengapa dia yang sudah kalah masih harus diikat, padahal kalau Pujo hendak membunuhnya, adalah amat mudah.

"Pujo....! Kuminta kepadamu demi dewata yang agung lekas bunuh saja padaku agar punah sudah perhitungan kita. Akan tetapi, kau kembalikan puteraku ke kadipaten...." Ia memohon, mukanya masih pucat sekali.

Pujo tersenyum, tangan kirinya mencengkeram baju dekat pundak, tangan kanannya mencengkeram keris Banuwilis. "Keparat! Sekarang kau ada muka untuk minta-minta? Kau tidak ingat betapa aku hampir gila mengingat akan kebiadabanmu terhadap isteriku dahulu? Hemmm, seluruh urat syaraf di tubuhku mendesak agar kucincang tubuhmu sekarang juga dengan keris ini! Akan tetapi terlampau enak bagimu, Wisangjiwo, terlampau enak dan terlalu lekas mampus. Kau tunggulah...! Engkau laki-laki perusak wanita, mengandalkan kedudukan, harta benda dan wajah tampan. Bagaimana kalau kubuntungkan saja hidungmu? Dan kedua telingamu? Bagaimana kalau kurajang mukamu sehingga kelak setiap orang wanita yang memandang mukamu, biar nenek-nenek sekalipun, akan muntah karena jijik dan muak?"

Gelora dendam membuat Pujo bicara seperti orang tidak waras lagi pikirannya, matanya merah dan mukanya menjadi buas sehingga Wisangjiwo makin pucat dan ngeri. Biarpun Wisangjiwo merasa tidak pernah memperkosa isteri Pujo, namun mulailah ia menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Memang banyak sudah ia merusak anak isteri orang dan inilah agaknya buah daripada perbuatannya, atau hukum karma daripada semua perbuatannya itu. Ia merasa ngeri karena tahu bahwa dalam keadaan murka seperti itu bukan tidak mungkin Pujo melaksanakan ancamannya yang menyeramkan. Ketika keris di tangan Pujo menggigil dan sudah terangkat, Wisangjiwo meramkan matanya dan...

"Kakangmas Pujo....!!"

Keris itu tertahan dan Pujo mencengkeram baju Wisangjiwo makin erat saking kagetnya. Wisangjiwo juga membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik jelita datang berlari seperti terbang cepatnya. Wisangjiwo terkejut bukan main karena wanita itu bukan lain adalah Kartikosari! Kartikosari yang lebih cantik menarik daripada dahulu, akan tetapi Kartikosari dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh dendam memandang kepadanya!

"Kakangmas Pujo, biarlah aku yang membalas jahanam terkutuk ini!" seru Kartikosari girang ketika ia sudah tiba di tempat itu.

Pujo masih tak mampu mengeluarkan kata-kata, bahkan kedua kakinya menggigil ketika ia memandang kepada isterinya, hatinya penuh keharuan, penuh penyesalan, penuh rindu. Munculnya Kartikosari di saat ia berhasil menangkap musuh besar ini sungguh-sungguh tak pernah ia sangka. Ia hanya memandang wajah isterinya itu tanpa berkedip, mukanya pucat dan ketika mendengar permintaan Kartikosari, ia tidak dapat menjawab, hanya melangkah mundur dan memandang seperti orang mimpi.

Dengan gerakan ringan dan cepat sekali sehingga amat mengherankan hati Pujo yang maklum bahwa isterinya dahulu tidaklah secepat itu gerakannya, Kartikosari meloncat ke depan Wisangjiwo yang memandangnya dengan mata terbelalak. Sinar mata Kartikosari penuh kebencian menyala-nyala dan kedua tangannya bergerak ke depan.

"Plak-plak-plak-plak!"

Empat kali tangannya menampar kedua pipi. Wisangjiwo merintih biarpun ia telah sekuat tenaga menahan sakit. Ternyata kulit pipinya hancur oleh tamparan itu dan penuh darah saking hebatnya tamparan telapak tangan Kartikosari!

"Manusia berhati binatang! Anjing busuk hina-dina!" Kartikosari memaki dengan mata berapi-api. "Aku akan merobek dadamu, akan kukeluarkan jantungmu, kuminum darahmu! Akan tetapi lebih dulu akan kucokel kedua matamu!"

Wisangjiwo merasa ngeri. Menghadapi wanita ini kiranya lebih mengerikan daripada menghadapi kemarahan Pujo tadi. Akan tetapi ia membesarkan hatinya dan memaksa senyum biarpun kedua pipinya merasa nyeri kalau digerakkan, lalu berkata lemah, "Kalian pengecut-pengecut boleh melakukan kepadaku apa saja kepada orang yang terikat tak mampu membalas!"

"Bedebah! Kau masih berani bicara begitu? Tak ingat akan perbuatanmu sendiri dahulu? Kaukira aku takut kepadamu jika kau terlepas? Cihh, tak tahu malu! Boleh kau kulepaskan, biar lebih enak aku menghajarmu!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari merenggut dengan kedua tangannya ke arah tambang yang mengikat tangan dan dada Wisangjiwo. Hebat sekali kepandaian wanita ini sekarang, sekali renggut saja tali-tali yang kuat itu putus semua!

Setelah kedua tangannya bebas, Wisangjiwo cepat melepaskan cambuk Sarpokenoko yang melilit lehernya. Ia merasa betapa kedua pergelangan tangannya sakit-sakit setelah terlepas daripada belenggu, dan hampir sukar digerakkan karena darahnya tidak lancar jalannya. Karena itu, ia lalu memencet-mencet kedua pergelangan tangannya untuk memperlancar jalan darahnya.

Kartikosari berdiri menanti sambil memandang dengan senyum mengejek, sama sekali tidak takut melihat musuhnya bebas dan sudah memegang sebatang cambuk. Akan tetapi ketika ia melihat ke arah jari-jari tangan yang bergerak-gerak memencet-mencet pergelangan tangan itu, tiba-tiba ia menjadi pucat, menjerit lirih dan tubuhnya terhuyung-huyung hendak roboh!

Pujo kaget sekali dan cepat ia merangkul pundak isterinya agar tidak sampai jatuh. Mendapatkan kesempatan ini, Wisangjiwo yang tahu bahwa nyawanya di tepi jurang kematian itu lalu melarikan diri. Pujo menjadi marah dan melepaskan rangkulannya dan pundak Kartikosari sambil membentak.

"Jahanam busuk hendak lari ke mana?" Akan tetapi sebelum ia sempat meloncat dan mengejar, lengannya dipegang Kartikosari yang mencegahnya. Pujo kaget dan heran, menoleh dan memandang dengan kening berkerut.

"Jangan kejar dia...!"

"Mengapa? Aku harus bunuh dia!"

Kartikosari menggeleng kepala dan wajah yang ayu itu nampak kecewa. "Bukan dia.... ahhhh, bukan dia...."

"Nimas Sari.... apa maksudmu?" Pujo memegang pundak isterinya dan menatap wajah yang sudah bertahun-tahun ia rindukan ini.

"Bukan dia orangnya..... ah, selama bertahun-tahun ini aku menjatuhkan dendam kepada orang yang sama sekali tidak berdosa, dan agaknya engkau juga, kakangmas Pujo. Aduh, makin payah penanggungannya kalau begini!"

Kartikosari merenggutkan tangannya yang dipegang suaminya, dan membanting-banting kakinya dengan marah. Tergetar hati Pujo menyaksikan ini. Terbayang depan matanya betapa dahulu isterinya juga membanting-banting kakinya kalau sedang marah-marah dalam kemanjaan. Akan tetapi sekarang lenyaplah sikap manja itu, dan kemarahannya benar-benar tidak dibuat-buat.

"Sari.... apa maksudmu? Kau bilang bahwa bukan Wisangjiwo orangnya? Bukan dia musuh kita?" Dalam suara Pujo terkandung kegetiran dan kepahitan, bahkan terbayang keraguan dan kecurigaan. Selama sepuluh tahun bertapa ini, perasaan Kartikosari peka sekali maka cepat ia membalikkan tubuh menoleh, menatap wajah suaminya dengan pandang mata seakan-akan menembus jantung Pujo.

"Kau... kau masih tak berubah! Kau laki-laki penuh cemburu! Kau menyangka aku sengaja melindungi dia, bukan? Celaka !"

Merah wajah Pujo. Ingin ia memukul mukanya sendiri. Memang tak dapat disangkalnya, ada perasaan dan dugaan demikian itu tadi menyelinap dalam benaknya. Ia menunduk, lalu tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.

"Nimas Sari, isteriku jangan kau memandangku seperti itu... ah, isteriku, kau tidak tahu betapa hebat kesengsaraanku selama sepuluh tahun ini. Kartikosari, kau kembalilah kepadaku, nimas. Jangan kau tinggalkan aku lagi. Aku percaya kepadamu, biarlah dewata menghancur leburkan diriku kalau aku tak percaya kepadamu. Aku cinta padamu, nimas, dan aku tidak sanggup hidup jauh daripadamu. Marilah, nimas, mari kita bangun kembali rumah tangga kita....

"Tidak..... ! Tidak.... kakangmas Pujo. Belum tiba saatnya!"

"Nimas Sari.... tega benarkah engkau membiarkan aku hidup merana seperti orang gila tidak kasihankah engkau kepadaku... ?"

"Kakangmas Pujo, coba kau ingat-ingat, alangkah serupa keadaan kita sekarang ini dengan sepuluh tahun yang lalu di dalam gua, hanya akulah waktu itu yang memohon-mohon akan tetapi engkau yang membalas dengan penghinaan dan fitnahan keji...."

"Aduh, nimas..... ampunkahlah aku. Ketika itu aku gila oleh malapetaka yang menimpa kita, aku gila dan tetap bersikap tidak adil kepadamu, nimas. Namun kegilaanku itu telah kutebus dengan penderitaan hidup bertahun-tahun. Kauampunkanlah aku, nimas... dan marilah kita hidup bersama kembali, membangun cinta kasih kita yang porak-poranda dilanda badai nimas Sari, aku selamanya tak pernah kehilangan cinta kasihku kepadamu dan aku tahu bahwa kaupun selalu mencintaiku, nimas...."

Suara Pujo memelas sekali. Melihat dia berlutut mengembangkan kedua lengan, dengan suara gemetar dan muka pucat, mata penuh permohonan, mulut seperti orang hendak menangis, hati siapa yang kuat menahan? Apalagi hati Kartikosari yang memang mencinta suaminya, serasa ditusuk-tusuk jarum rasa jantungnya. Ingin ia menjatuhkan diri berlutut, membiarkan dirinya di dalam pelukan suaminya yang aman sentosa, membiarkan dirinya dibelai dan dicumbu laki-laki yang setiap malam ia rindukan dan impikan. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Ia membuang muka untuk menyembunyikan air matanya yang bercucuran membasahi pipi, tangan kirinya ia goyang-goyang perlahan, kemudian berkatalah wanita ini dengan suara bercampur isak.

"Belum tiba waktunya, kakangmas. Engkau belum berhasil menghukum orang yang mendatangkan aib dan sengsara kepada kita, bagaimana kau ada muka untuk mengajak aku kembali? Kakangmas Pujo, sebelum kulihat dia yang telah merusak kebahagiaan kita itu menggeletak tak bernyawa di depan kakiku, mana mungkin aku dapat kembali kepadamu? Tadinya kusangka Wisangjiwo orangnya ah, kiranya bukan dia... bukan dia...!" Suara Kartikosari kecewa sekali dan kini ia menangis betul-betul.

"Kalau begitu, siapakah, nimas? Kau sungguh membikin hatiku bingung. Bukan sekali-kali aku menyangka engkau melindunginya, ohhh, sama sekali tidak. Akan tetapi, ketika itu, bukankah Wisangjiwo si keparat yang bertempur dengan kita? Bukankah tidak ada orang lain terdapat di dalam gua di malam jahanam itu? Maka betapa aku takkan heran dan bingung mendengar kau memastikan bahwa bukan dia orangnya yang menjadi musuh besar kita?"

Kartikosari menghapus air matanya. Kini wajahnya menjadi beringas kembali, penuh kemarahan. "Bukan dia memang! Kakangmas Pujo, kau tidak tahu dan karena pada waktu itu engkau seperti gila karena cemburu, maka aku tidak sempat memberi tahu. Sekarang ketahuilah bahwa biarpun pada waktu itu aku tidak berdaya karena terluka, namun aku masih berhasil mendatangkan cacat kepada si laknat terkutuk. Aku telah berhasil menggigit sampai putus sebagian daripada kelingking tangan kirinya."

Ia meraba-raba ke dalam kembennya, mengeluarkan sebuah benda kecil dan melemparkannya kepada Pujo yang masih berlutut di atas tanah. "Inilah dia kelingking itu. Musuh kita sekarang tidak mempunyai jari kelingking pada tangan kirinya! Dan kulihat Wisangjiwo tadi masih lengkap jari tangannya, oleh karena itu tanpa ragu kukatakan bahwa bukan dia si jahanam malam itu! Nah, kakangmas, aku girang melihat engkau masih hidup dan selamat serta sehat. Biarlah kita berpisah sekarang dan baru kita mungkin berkumpul lagi kalau sudah berhasil aku melihat musuh kita menggeletak tanpa nyawa di depan kakiku. Selamat tinggal, kangmas...!"

Kartikosari memandang suaminya penuh kasih sayang yang mesra untuk beberapa lamanya, kemudian ia membalikkan diri sambil terisak dan lari dengan cepat sekali meninggalkan Pujo. Pujo hanya membisikkan nama isterinya, mukanya pucat dan matanya tertuju kepada benda kecil di depannya, sepotong jari kelingking yang sudah kering. Pikirannya berputar-putar membuatnya nanar dan pening. Terang bukan Wisangjiwo kalau begitu. Akan tetapi mengapa? Bagaimana? Siapa gerangan? Dan dia sudah membalas kepada keluarga Wisangjiwo! Dia sudah menculik Joko Wandiro. Ah, dia sudah bertindak terlalu jauh. Jadi Wisangjiwo tidak berdosa? Siapakah dia yang melakukan perbuatan biadab di malam jahanam itu. Orang tanpa kelingking kiri? Tiba-tiba Pujo meloncat berdiri, serasa pernah ia melihat orang yang tak berkelingking kiri. Akan tetapi lupa lagi ia di mana, dan lupa pula bilamana dan siapa. Ia membungkuk, mengambil benda mengerikan itu lalu menyimpannya dalam saku.

Ketika ia memandang ke depan, bayangan Kartikosari telah lenyap. Betapapun juga, agak terhibur hatinya bahwa isterinya masih hidup, isterinya masih cantik jelita dan ia tahu dari pandang mata isterinya bahwa Kartikosari masih mencintanya, bahwa isterinya itu menanti sampai musuh besar mereka itu terbalas, baru suka kembali kepadanya. Wajah Pujo mulai tampak berseri, tidak seperti biasanya muram-suram. Kini ada titik api menerangi wajahnya, titik api harapan yang membuat hidupnya berarti. Dengan girang ia lalu berlutut dan menelungkup di atas tanah di tempat Kartikosari tadi berdiri. Dibelai-belainya rumput hijau yang masih rebah terinjak kaki isterinya, diciuminya rumput itu penuh rindu sambil berbisik-bisik, "Sari.... Sari"

Pujo sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tak jauh dari situ, di tengah hutan, Kartikosari juga menangis sambil memeluk batang pohon. Kartikosari menciumi tangannya yang tadi terpegang Pujo sambil berbisik, "Kakangmas Pujo kasihan kau.... begitu kurus dan pucat.... tapi cinta kasihmu belum bersih daripada cemburu, kangmas.... sehingga tak berani aku bercerita tentang Endang... hu-hu-hukk.... kangmas, bilakah kita dapat berkumpul kembali..?"

Sampai lama wanita ini menangis, memeluki batang pohon dan bersambat menyebut-nyebut nama suaminya, kemudian baru ia pergi dengan cepat sekali. Hatinya pepat karena kini musuh besarnya menjadi teka-teki setelah ternyata bahwa Wisangjiwo tidak buntung kelingkingnya. Ia menduga-duga akan tetapi tetap saja tidak dapat menerka siapa gerangan laki-laki yang telah melakukan perbuatan biadab atas dirinya di malam jahanam dalam gua sepuluh tahun yang lalu itu.

********************


Kenyataan bahwa kakek tua renta yang rambut dan cambangnya sudah putih semua itu memondong mereka dengan sikap hati-hati, yang wajahnya membayangkan keramahan dan larinya secepat terbang, membuat Joko Wandiro dan Endang Patibroto akhirnya tidak meronta-ronta lagi dan mandah saja dibawa lari. Baik Endang Patibroto maupun Joko Wandiro adalah anak-anak yang cerdik dan mereka dapat menduga bahwa kakek ini tentulah bukan orang yang mempunyai niat buruk terhadap mereka.

Joko Wandiro pernah mendapat pesan ayahnya bahwa kelak kalau ayahnya meninggalkannya, dia akan disuruh tinggal bersama seorang resi yang sakti mandraguna, yaitu kakek gurunya sendiri yang kata ayahnya bernama Resi Bhargowo dan tinggal di tepi Laut Selatan sebelah barat. Kalau kakek gurunya itu seperti kakek ini saktinya, alangkah senang hatinya.

"Kek, kami akan kau bawa ke mana, kek?" Akhirnya Joko Wandiro tak dapat menahan lagi hatinya dan bertanya.

Kakek itu tertawa tanpa memperlambat larinya. "Kubawa ke tempat tinggalku."

"Tetapi ayah akan mencari-cariku, kek! Dia akan kebingungan tidak tahu ke mana aku kau bawa pergi," kata pula Joko Wandiro.

"Heh-heh-heh, biarlah, kelak juga kau akan bertemu kembali dengan ayahmu." Kakek itu lari makin cepat lagi sehingga suara angin bertiup keras di telinga kedua orang anak itu.

"Kakek, kalau ibuku tahu kau menculikku, tentu kau akan dibunuh!" tiba-tiba Endang Patibroto berkata, suaranya nyaring, penuh ancaman.

"Ha-ha-ha, ibumu takkan berani membunuh aku, angger!" Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Ia seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah. Ia menganggap ibunya seorang yang paling sakti di dunia ini, masa tidak berani menghadapi kakek ini? Karena ibunya kalah tua barangkali?

"Kalau ibu tidak berani, aku juga punya kakek yang sakti, kau tentu akan dicekik!" katanya mendongkol.

Namun kakek itu malah makin keras tertawa dan tidak menjawab. Sementara itu, diam-diam Joko Wandiro memperhatikan gerak kaki kakek yang menggendongnya dan ia amatlah kagum. Kedua kaki kakek itu benar-benar seperti tidak menyentuh bumi, tidak ada suaranya namun amatlah cepat larinya, dan amat tinggi loncatannya.

"Kek, kau hebat sekali. Akan tetapi belum tentu kakek akan dapat menangkan kakekku!" kata Joko Wandiro. "Kakek guruku amat sakti."

"Kakek gurumu? Siapa dia?"

"Kakek guruku adalah guru ayahku bernama Resi Bhargowo!"

"Wah, bohong! Kau tidak tahu malu!" Tiba-tiba Endang Patibroto berteriak marah.

"Eh, eh, mengapa kau marah-marah dan memaki orang?" Joko Wandiro menegur.

"Kau tak tahu malu! Resi Bhargowo adalah kakekku! Ayah ibuku adalah murid Resi Bhargowo yang tinggal di Bayuwismo. Bagaimana kau berani mengaku-aku sebagai kakek gurumu? Cih, tak bermalu!"

"Kau yang tak tahu malu. Ayahku adalah murid terkasih Resi Bhargowo!"

"Bohong!"

"Kau yang bohong!"

"Kek, turunkan aku. Biar kuhajar mulutnya yang lancang!" Endang Patibroto marah-marah.

"Boleh kau coba!" tantang Joko Wandiro.

Kakek itu tertawa, akan tetapi keningnya berkerut dan ia menggeleng-geleng kepalanya. Ia berhenti berlari, menurunkan Endang Patibroto dan memegang muka yang ayu itu dalam kedua tangannya, memandangi penuh perhatian, kemudian berkata, "Kau memang anaknya, tak salah lagi. Cah ayu, kau adalah cucuku. Ibumu, Kartikosari, adalah puteri tunggalku."

Endang Patibroto yang sedang marah kepada Joko Wandiro itu kini terbelalak memandang kakek itu. Wajah kakek yang menyeramkan dan menimbulkan rasa takut inikah kakeknya?

"Siapakah engkau, kek?"

"Aku Bhagawan Rukmoseto, cucuku."

"Ah, kalau begitu kau tak mungkin kakekku! Kakekku bernama Resi Bhargowo!"

"Ha-ha-ha, memang sepuluh tahun yang lalu namaku Resi Bhargowo, akan tetapi sekarang julukanku Bhagawan Rukmoseto. Lihatlah, rambutku sudah putih semua. Cucuku yang manis, namamu siapakah?"

"Namaku Endang Patibroto."

Diam-diam kakek itu terkejut. Mengapa Kartikosari menamakan puterinya demikian? Rahasia apakah yang telah terjadi sehingga puterinya itu berpisah dari suaminya? Kemudian ia berpaling kepada Joko Wandiro dan memandang tajam. Bocah inipun sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak. Tiada hentinya ia memperhatikan kakek ini dan menjadi ragu-ragu. Jadi kakek inikah guru ayahnya?

Melihat Joko Wandiro, Bhagawan Rukmoseto juga kagum. Anak ini bukan anak sembarangan dan sudah sepatutnya kalau menjadi cucu muridnya pula. Akan tetapi mengapa anak ini mengaku sebagai putera Pujo? Sering ia melihat dari jauh betapa seperti Endang Patibroto dilatih Kartikosari, anak laki-laki ini digembleng oleh Pujo secara hebat. "Anak baik, sekarang tiba giliranmu. Kau anak siapa?"

"Ayahku Pujo dan menurut ayah, guru ayah bernama Resi Bhargowo" Ia meragu.

Bhagawan Rukmoseto tersenyum. "Memang tidak keliru. Ayahmu itu muridku, angger. Akulah kakek gurumu."

Mendengar ini, serta merta joko Wandiro menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Makin girang hati kakek itu dan ia mengelus-elus kepala Joko Wandiro.

"Siapakah namamu, nak?"

"Namaku Joko Wandiro, eyang."

"Ayahmu bernama Pujo. Dan ibumu? Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro hanya menggeleng kepala. "Tidak tahu, eyang. Ayah tidak pernah menceritakan tentang ibu,"

Si kakek mengelus-elus jenggotnya lalu berpaling kepada Endang Patibroto.

"Dan kau, angger. Siapakah nama ayahmu?"

Gadis cilik itu menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak tahu!"

Berkerut kening yang sudah putih itu.

"Ah, cucu-cucuku, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalian ikut bersamaku mempelajari ilmu. Dunia sedang kacau- balau, permusuhan terjadi di mana-mana, perebutan kekuasaan membuat orang saling bunuh, iblis dan setan merajalela, lebih baik kalian belajar ilmu bersama kakek di tempat sunyi. Hayo!"

Tanpa menanti jawaban kedua orang anak itu, Bhagawan Rukmoseto sudah menyambar tubuh mereka lagi dan di lain saat ia sudah berlari secepat terbang meninggalkan tempat itu, menuju ke timur. Bhagawan Rukmoseto tinggal di Pulau Sempu yang sunyi. Untuk menyeberang ke pulau kosong itu ia menggunakan sebuah perahu yang disembunyikannya di dalam semak-semak di tepi Laut Selatan.

Baik Joko Wandiro maupun Endang Patibroto tadinya merasa tidak senang karena merasa dipaksa dan diculik oleh orang tua yang mengaku menjadi kakek mereka itu, akan tetapi setelah kakek itu memastikan bahwa ayah Joko Wandiro dan ibu Endang Patibroto kelak pasti akan datang ke situ, mereka berdua merasa terhibur. Hanya anehnya, di antara kedua orang anak itu seakan-akan terdapat rasa saling iri, seakan-akan mereka bersaing dan tidak mau saling mengalah sehingga diam-diam kakek pertapa itu merasa prihatin sekali, juga terheran-heran. Apalagi ketika ia mencoba tingkat mereka, ia mendapat kenyataan bahwa tingkat mereka itu tidak banyak selisihnya dan memang tidak salah lagi, ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu daripadanya, yaitu Bayu Tantra dan pukulan Gelap Musti. Maka mulailah ia menggembleng keduanya dengan ilmu-ilmu yang tinggi, karena kakek yang waspada ini maklum bahwa kedua orang cucunya ini akan hidup dalam jaman yang kacau dan penuh dengan perang.

Juga dalam mempelajari ilmu yang diturunkan kakek itu, kedua orang anak ini selalu berlomba dan bersaing. Namun sifat ini sesungguhnya malah membuat mereka cepat sekali maju. Sifat tidak mau kalah dan ingin mengatasi yang lain inilah justru membuat mereka tekun sekali berlatih dan kemajuan yang mereka peroleh luar biasa sekali. Kurang lebih setahun kemudian semenjak mereka tinggal bersama Bhagawan Rukmoseto, pada suatu senja kakek itu tampak datang mendayung perahu ke pulau itu dengan wajah penuh kerut-merut dan sinar mata sayu.

Begitu ia melompat ke atas pulau, ia segera memanggil kedua orang cucunya dan masuklah mereka bertiga ke dalam pondok kecil yang menjadi tempat tinggal mereka. Dua orang anak itu bersila, bersujud di depan kakek ini dengan hati berdebar. Melihat wajah yang biasanya berseri dan ramah itu kini kelihatan marah dan gelisah, dua orang anak ini dapat menduga pasti telah terjadi hal yang hebat.

"Cucu-cucuku, aku telah bertemu dengan orang tua kalian dan mereka telah kuberi tahu bahwa kalian berada bersamaku."

Endang Patibroto bersorak girang.

"Eyang, kenapa ibu tidak diajak ke sini?"

"Sstttt....!" Joko Wandiro mencela.

Gadis cilik itu menjebi kepadanya dan mengernyitkan hidung mengejek. Sejenak keduanya saling melotot. Bhagawan Rukmoseto menarik napas panjang.

"Cucu-cucuku, kalian ini biarpun bukan saudara sekandung, akan tetapi terhitung saudara seperguruan. Mengapa tidak bisa akur dan selalu bercekcok saja?"

"Dia yang selalu mulai dulu, eyang," kata Joko Wandiro.

"Ah, tidak, eyang. Dia itu anak laki-laki tidak pernah mau mengalah."

"Aaahhh !"

"Aahhhhh !"

Kembali keduanya saling pandang melotot. Bhagawan Rukmoseto tersenyum. Kakek ini memang telah menjumpai Pujo dan juga telah menjumpai puterinya. Mereka telah mengaku terus terang apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka ia tahu bahwa Joko Wandiro sesungguhnya adalah putera Wisangjiwo, sedangkan Endang Patibroto puteri Pujo dan Kartikosari. Akan tetapi bukan hal ini yang membuat kakek itu pulang dengan wajah keruh. Melainkan apa yang ia lihat dan dengar tentang keadaan di Kerajaan Kahuripan. Permusuhan menjadi-jadi di antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda.

Kini permusuhan dan persaingan terjadi secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi seperti dulu. Bentrokan antara jagoan-jagoan mereka setiap hari terjadi. Para ponggawa terpecah dua, memihak pilihan masing-masing. Juga para adipati di luar kerajaan mulai terpecah-pecah bahkan sudah mulai saling serang sendiri. Perang saudara yang hebat sudah membayang, takkan mungkin dapat dicegah lagi. Bunuh-membunuh mulai terjadi. Kedua pihak saling menarik bala bantuan, orang-orang sakti dan para pertapa yang biasanya bersembunyi di gunung-gunung dan pekerjaannya hanya mengejar ilmu kebatinan dan bertapa memujikan selamat dan sejahtera bagi dunia dan isinya, kini mulai turun gunung, keluar dari tempat sembunyi masing-masing untuk ikut berlomba memperebutkan kedudukan Kebajikan menyuram, kekuasaan iblis dan setan menonjol.

Dan kini, di depan matanya sendiri, dua orang anak kecil yang masih bersih pikiran dan hatinya, agaknya tidak terluput pula dari pengaruh hawa jahat yang merajalela menguasai dunia. Ia lalu menggerakkan tangannya, merangkul kedua orang anak itu di kanan kiri.

"Endang Patibroto, kau adalah cucuku. Ibumu itu puteri tunggalku. Oleh karena itu engkau harus taat kepadaku. Dan kau, Joko Wandiro, biarpun bukan keluarga, namun sama saja. Kau cucu muridku dan akupun sayang kepadamu. Kalian ini ada hubungan keluarga seperguruan, oleh karena itu sama sekali tidak boleh bermusuhan. Kelak kalian harus bantu-membantu tidak boleh berselisih dan bermusuhan. Ketahuilah, dunia sedang kacau dan tenaga kalian kelak amatlah dibutuhkan untuk membantu para dewata memulihkan ketentraman. Kini orang-orang jahat yang memiliki kesaktian luar biasa sedang merajalela, oleh karena itu kalian harus tekun belajar di sini. Marilah, cucu-cucuku, mari ikut denganku. Ada semacam rahasia yang harus sekarang juga kuberitahukan kalian sebelum terlambat. Mari kalian ikut denganku."

Keluarlah mereka bertiga dari dalam pondok. Hari telah senja dan matahari telah bersembunyi di langit barat, hanya tinggal cahaya layung (merah kekuningan) yang masih menerangi sebagian permukaan bumi bagian barat. Bhagawan Rukmoseto menggandeng tangan Endang Patibroto di kiri sedangkan Joko Wandiro berada di kanannya. Mereka berjalan perlahan menuju ke barat, menuju ke sinar layung kemerahan, mendekati pantai pulau sebelah barat yang ditumbuhi pandan. Setelah mereka tiba dekat pandan yang memenuhi tempat itu, terdengar suara keras dan burung-burung camar yang menjadikan tempat itu sebagai sarang, beterbangan sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk, agaknya marah karena tempat mereka terganggu. Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto terus mengajak mereka menyelinap di antara pandan-pandan yang tebal dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah guha kecil yang tersembunyi di antara pandan.

"Cucu-cucuku, di tempat ini tersimpan sebuah benda yang pada saat sekarang ini dijadikan perebutan semua manusia di dunia. Kalau ada yang tahu bahwa benda ini berada di sini, hemmm... agaknya nyawa kita akan terancam bahaya maut."

"Ihhh, benda apakah itu, eyang?"

"Benda apakah eyang dan mengapa eyang menyimpannya di sini?" tanya pula Joko Wandiro.

Kakek itu menarik kedua orang cucunya duduk di atas batu depan guha, lalu bercerita. "Dengarlah baik-baik, cucuku. Hanya kepada kalianlah aku mempercayakan benda ini, dan hanya kepada kalianlah aku mempertaruhkan kepercayaanku. Ketahuilah, Kerajaan Mataram yang kemudian disebut Kerajaan Medang dan kini disebut Kahuripan, memiliki sebuah pusaka yang menjadi lambang kejayaan kerajaan. Apabila pusaka itu lenyap dari kerajaan, hal itu berarti bahwa kerajaan akan menyuram, berarti akan terjadi perang dan perebutan kekuasaan. Dahulu beberapa kali pusaka itu lenyap dan akibatnya memang hebat.

Belum lama ini, pusaka itu lenyap pula tercuri oleh orang jahat, dan inilah sebabnya mengapa kini Kerajaan Kahuripan mulai menyuram dan mulailah terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda. Tidak itu saja, malah orang-orang cerdik pandai mulai berlomba untuk mencari dan memperebutkan benda keramat itu, oleh karena sesungguhnya benda itu luar biasa sekali, siapa yang memilikinya menjadi seorang yang paling sakti dan mempunyai wahyu mahkota, berhak menjadi raja! Secara kebetulan sekali, pusaka itu terjatuh ke dalam tanganku, ketika dibawa lari penjahat dan kusimpan di sini."

"Aiihhhh ..... !"

"Hebat ..... !"

"Hemm, mengapa kalian ribut-ribut?" Kakek itu memandang tajam.

"Oh, tidak, eyang. Hanya.... kalau begitu tentu eyang berhak menjadi raja?" kata Endang Patibroto.

Kakek itu tertawa. "Tidak, cucuku. Aku seorang yang masih setia kepada sang prabu di Kahuripan. Sang prabu sendiri mengundurkan diri tidak suka lagi menjadi raja dan kini menjadi pertapa, masa aku seorang pendeta ingin menjadi raja? Tidak. Hanya aku merasa prihatin menyaksikan keadaan perebutan kekuasaan itu. Kalau mereka itu tahu bahwa pusaka berada di sini, sudah pasti mereka akan memperebutkannya dan keadaan akan menjadi lebih geger lagi. Aku sudah tua, aku tidak ingin menduduki kemuliaan, bahkan tidak ingin aku terseret ke dalam urusan-urusan kerajaan. Akan tetapi kalian adalah orang-orang muda yang harus mengisi hidup kalian dengan darma sebagai keturunan satria dan pertapa. Oleh karena itulah, kalian akan kugembleng di pulau ini dan pusaka itu kuserahkan kepada kalian. Kelak harus kalian yang mengembalikan pusaka itu ke kerajaan, akan tetapi harus kalian kembalikan kepada seorang raja yang benar-benar bijaksana, karena sekali pusaka itu terjatuh ke dalam tangan raja lalim, rakyat tentu akan celaka."

Joko Wandiro adalah seorang yang cerdik. "Eyang, mengapa eyang mengajak aku dan Endang sekarang ke tempat ini? Kami berdua masih kecil, bagaimana mampu melindungi pusaka itu? Ataukah, eyang mengajak kami hanya agar mengetahui tempatnya saja?"

Bhagawan Rukmoseto mengelus kepala Joko Wandiro. "Kau benar. Bukan hanya untuk mengetahui tempatnya, melainkan akan kuberikan sekarang juga."

"Sekarang.... ??" Endang Patibroto bersorak, girang dan kaget.

Bhagawan Rukmoseto mengangguk- angguk dan mengelus jenggotnya. "Orang-orang di dunia hitam sudah mulai tahu akan tempat persembunyianku ini dan mulai curiga. Tak lama lagi tentu mereka akan mencari ke sini dan akan memaksaku mengaku. Oleh karena itu, biarlah pusaka itu kuberikan kepada kalian berdua karena mereka tentu tidak akan mengira bahwa pusaka yang sepenting itu kuberikan kepada dua orang anak kecil. Aku hanya bertindak menurutkan naluri dan agaknya Dewata yang memberi petunjuk kepadaku, cuku-cucuku."

Kakek itu lalu merangkak memasuki gua kecil itu dan tak lama kemudian ia sudah keluar lagi membawa sebuah bungkusan kain kuning. Dua orang anak itu duduk bersila dan memandang dengan mata terbelalak. Apalagi ketika kakek itu membuka bungkusan kain kuning, Endang Patibroto berseru girang.

"Golek kencono (boneka emas)!! Aduhhh bagusnya! Eyang, berikan aku saja !"

Bhagawan Rukmoseto tertawa, akan tetapi tiba-tiba ia memandang ke sekelilingnya seperti orang ketakutan. "Kalian mendengar sesuatu tadi?"

Dua orang anak itu menggeleng kepala. Adapun Joko Wandiro merasa kecewa karena kiranya pusaka itu hanyalah sebuah boneka emas, mainan seorang anak perempuan!

"Pusaka ini macam dua," katanya berbisik, "karena itu akan kujadikan dua dan seorang menyimpan sebuah. Cucuku Endang, kau boleh memilih. Nah, kau terimalah ini dan kau pilih, yang mana kau suka."

Endang Patibroto menerima patung kencana itu, memutar-mutar dan memeriksa lalu tanpa ia sengaja tangan kanannya kena cabut gagang keris di sebelah bawah. Sinar yang menggiriskan hati berkelebat ketika keris pusaka Brojol Luwuk tercabut.

"Aku pilih ini, eyang.... !"

Endang Patibroto berseru girang dan gadis cilik ini melemparkan patung emas yang menjadi warangka itu kearah Joko Wandiro! Joko menerima dan bibirnya cemberut. Untuk apa sebuah patung emas bagi seorang anak laki-laki? Ia memandang ke arah keris di tangan Endang Patibroto dengan penuh kagum dan ingin. Juga Bhagawan Rukmoseto memandang anak perempuan itu dengan tercengang. Dia terheran-heran mengapa anak itu memegang keris sedemikian cocok, seakan-akan memang keris itu sudah sejak dahulu dikenalnya. Keris itu memang bukan keris besar, hanya keris tanpa ganja seperti sebuah keris biasa, akan tetapi begitu digerakkan sedikit saja keluarlah sinar yang aneh. Ketika kakek itu menoleh ke arah Joko Wandiro, ia melihat anak laki-laki itu memandangi patung. Anak ini dapat membawa diri, pikirnya. Ia tahu bahwa anak ini kecewa mendapat bagian patung, akan tetapi sama sekali tidak diperlihatkan.

"Joko, benda di tanganmu itu bukanlah benda biasa. Itulah benda keramat yang menjadi pujaan sekalian raja di Mataram dahulu. Sekarang dengarlah kalian baik-baik. Kedua pusaka itu seharusnya menjadi satu. Patung itu merupakan warangka atau tempat pusaka di tangan Endang itu. Dan pusaka itu adalah pusaka Mataram yang menjadi lambang kemakmuran Mataram. Kini kerajaan sedang kacau balau. Orang-orang jahat memperebutkan kedudukan dan saling berlomba mendapatkan singgasana. Oleh karena itulah belum waktunya pusaka ini kembali ke Mataram. Maka aku sengaja memberikan kepada kalian berdua dengan dipisah, agar tidak mudah kedua-duanya jatuh ke tangan orang jahat. Endang dan kau Joko. Setelah pusaka ini berada di tangan kalian, sekarang juga kalian harus mencari tempat persembunyian, kalian harus sembunyikan pusaka-pusaka itu di tempat yang aman, yang hanya kalian saja yang mengetahui. Dan ingat, biarpun nyawa kalian terancam, jangan sekali-kali kalian beritahukan kepada orang lain tentang pusaka itu. Kalian adalah cucu-cucuku, maka aku mempercayakan pusaka ini kepada kalian. Dapatkah kalian kupercaya?"

"Aku akan melindungi pusaka ini dengan nyawaku, eyang!" Endang Patibroto berkata sambil mainkan keris itu. Ia cekatan dan lincah sehingga ketika ia menggerakkan kerisnya tampak sinar berkilauan dan terdengar suara seperti halilintar.

"Saya akan mentaati perintah eyang guru," jawab Joko Wandiro.

"Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian lekas pergi menyembunyikan pusaka-pusaka itu. Aku menanti di sini."

Tanpa menanti perintah dua kali karena anak-anak itu memang cerdik dan tahu bahwa pusaka-pusaka di tangan mereka itu amat diingini orang-orang jahat di dunia, Joko Wandiro dan Endang Patibroto berlari pergi, seorang ke barat seorang ke timur. Joko Wandiro tiba di tepi pulau itu yang penuh batu karang dan di situ terdapat banyak gua-gua batu. Akan tetapi gua itu demikian banyaknya dan bentuknya serupa. Bagaimana kalau kelak ia lupa lagi? Pula, tempat seperti ini malah mencurigakan orang. Ia harus menyembunyikan patung kecil itu di tempat yang tidak disangka- sangka orang, pikirnya. Akan tetapi di mana? Tiba-tiba wajahnya yang tampan berseri ketika ia memandang kepada sebatang pohon randu yang besar.

Pulau ini kosong, tidak ditinggali orang. Andaikata ada orang di pulau itu membutuhkan kayu, tak mungkin susah-susah menebang pohon besar ini, pikirnya. Banyak terdapat kayu di sekitar tempat itu, tinggal ambil saja. Pula, kayu randu adalah kayu yang lemah, tidak baik untuk dibuat apapun, kurang kuat. Joko Wandiro lalu mengambil sebuah batu yang tajam runcing dan dengan senjata ini naiklah ia ke atas pohon randu. Di ujung batangnya yang paling atas, ia mulai membuat lubang dengan batu itu, dengan perlahan-lahan dan hati-hati.

Karena kayu randu memang tidak keras, akhirnya ia berhasil membuat sebuah lubang cukup besar dan disembunyikannya patung emas itu ke dalam lubang yang segera ia tutup dengan kulit kayu randu yang tadi ia buka. Tempat yang amat aman dan tak seorangpun manusia akan menyangka bahwa di dalam batang randu itu terdapat sebuah pusaka yang dijadikan rebutan orang sedunia!

Girang sekali hati Joko Wandiro. Akan tetapi ketika ia membuang batu tajam itu dan mulai merayap turun, tiba- tiba kakinya terasa sakit bukan main dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika betisnya itu dililit seekor ular hijau sebesar ibu jari kaki yang menggigit tungkaknya. Ia berteriak dan pegangannya pada pohon terlepas, tubuhnya roboh terguling. Ia memegang tubuh ular itu dan merenggutkannya dari kaki, akan tetapi ular yang berwarna hijau itu membelit tangannya dan kini malah menggigit pergelangan tangannya. Seluruh tubuhnya terasa panas dan sakit-sakit,

"Aduh, eyang....... celaka " Ia berlari, dan dalam marahnya karena ular itu tidak dapat ia lepaskan dari lengan, iapun lalu menggigit leher ular hijau itu. Belum jauh ia berlari, tubuhnya sudah terguling roboh dan ia pingsan.

Ular itu masih menggigit pergelangan lengannya, akan tetapi ia sendiripun masih menggigit leher ular itu sampai hampir putus! Sambil menggigit Joko Wandiro mengisap dan mengisap terus saking marah dan bencinya sehingga tanpa ia sadari ia telah minum darah ular, darah berikut racun ular yang terasa manis!

Sementara itu, Endang Patibroto juga kebingungan ketika ia tiba di pantai timur. Pantai sebelah ini amat indah, penuh rumput dan terdapat beberapa belas batang pohon nyiur yang tinggi-tinggi. Kemana ia harus menyembunyikan sebatang keris itu? Ditanam dalam tanah? Hanya itulah cara yang ia ketahui. Ia memilih sebatang pohon yang paling besar, kemudian mulailah ia menggali tanah, mempergunakan keris pusaka itu! Agaknya para tokoh sakti di empat penjuru dunia akan meringis kalau melihat betapa pusaka yang mereka impi-impikan itu kini dipakai menggali tanah oleh seorang anak kecil, seakan-akan pusaka itu hanyalah sebatang pisau dapur saja!

Mendadak Endang Patibroto terkejut. Hampir saja kepalanya tertimpa kelapa yang berjatuhan dari atas. Ia menengok ke atas dan alangkah kagetnya ketika melihat betapa buah-buah kelapa dari batang itu rontok semua dan daunnya menjadi kering, juga batang kelapa menjadi kering sama sekali. Ia tidak tahu bahwa pohon kelapa itu tidak kuat menerima hawa mujijat keris pusaka yang menggali tanah di bawahnya!

"He, bocah ayu, kau sedang apa di situ?"

Endang Patibroto kaget seperti disengat kalajengking. Ia tersentak dan mencelat berdiri, menyembunyikan keris di belakang tubuhnya sambil memandang. Kiranya, tanpa ia ketahui, ada sebuah perahu mendarat tak jauh dari tempat itu. Sebuah perahu kecil yang ditumpangi dua orang laki-laki yang memandangnya sambil menyeringai menakutkan. Seorang di antara mereka masih muda, mukanya pucat matanya juling. Yang ke dua sudah agak tua, akan tetapi mukanya kasar bercambang-bauk dan matanya melotot seperti hendak meloncat keluar dari tempatnya. Endang Patibroto mundur-mundur, tetap menyembunyikan kerisnya di belakang tubuh sambil memandang mereka yang meloncat ke darat.

"Ha-ha-ha, masih kecil sudah cantik jelita. Eh, cah ayu, apakah kau anak peri penjaga pulau kosong ini?" kata si muka pucat dengan sikap ceriwis sekali. "Mari beri pamanmu cium selamat datang, ya?"

"Jangan main-main, siapa tahu dia itu keluarganya. Eh, genduk (sebutan anak perempuan), tahukah kau di mana rumah bapa Resi Bhargowo?"

Endang Patibroto hanya menggeleng dan sepasang matanya yang lebar dan bening itu memandang tak pernah berkedip. Dua orang itu masing-masing membawa golok besar yang diselipkan di pinggang dan sikap mereka itu jelas membayangkan watak yang kasar dan kejam.

"Anak manis, kau tinggal bersama siapa di pulau ini? Mana ibumu? Wah, ibumu tentu masih muda dan cantik heh-heh!" Si juling berkata, lagi sambil mendekati.

"Adi Wirawa, jangan lupakan tugas kita. Kita di sini menyelidik, bukan bersenang-senang!" Si cambang-bauk menegur.

"Ah, kakang, bekerja saja tanpa senang-senang, membosankan. Anak ini manis sekali, ibunya tentu cantik. Biar kugendong dia dan kita ajak dia pulang, siapa tahu di rumahnya kita bisa bertemu dengan Resi Bhargowo, ha-ha-ha! Hayo, nduk cah ayu, mari kugendong. Diupah cium, ya?"

Ia mendesak maju. Endang Patibroto masih mundur-mundur dan tangannya disembunyikan di belakang tubuh. Ketika si juling itu menubruk maju sambil tertawa-tawa, tiba-tiba dengan gerakan gesit Endang Patibroto miringkan tubuh, tangan kanannya menyambar ke depan laksana kilat cepatnya.

"Aduhhhh... mati aku...!!"

Sijuling itu terjengkang, menggelepar seperti seekor ayam dipotong lehernya, berkelojotan menggeliat-geliat kemudian tak bergerak lagi, tubuhnya kering dan hangus, mati seketika!

cerita silat online karya kho ping hoo

Temannya berdiri terbelalak, matanya yang lebar itu makin lebar lagi dan kumisnya yang tebal menggetar-getar. Ia memandang anak perempuan itu dengan heran dan marah. Anak itu paling banyak berusia sepuluh atau sebelas tahun, dengan sebatang keris di tangan, bagaimana dapat membunuh temannya? Dan mengapa temannya itu tidak kelihatan terluka, akan tetapi mati sedemikian mengerikan, bajunya hangus semua, kulitnya juga hangus dan kering? Akan tetapi kemarahannya meluap-luap dan ia sudah mencabut goloknya yang lebar dan besar.

"Bocah keparat! Bocah setan.... !" Ia menerjang dengan goloknya, lupa bahwa yang dihadapinya hanyalah seorang anak perempuan kecil. Namun Endang Patibroto adalah seorang bocah gemblengan yang sejak kecil sudah melatih diri dengan ilmu silat tinggi. Melihat golok itu berkelebat menerjangnya, ia cepat trengginas melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kanan menyampok dari kanan.

"Trangggg...!!"

Si brewok menjerit kaget karena goloknya telah patah menjadi empat potong begitu bertemu dengan keris di tangan anak itu dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, kedua kakinya sudah lumpuh ketika keris itu mengeluarkan cahaya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi. Sepasang mata yang lebar dari si brewok itu terbelalak ketakutan, mulutnya terbuka tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya kedua tangannya menolak seolah-olah dengan gerakan itu ia akan dapat melindungi tubuhnya. Akan tetapi benda bercahaya itu tetap saja datang menyentuh dadanya.

"Aauuughhh!"

Hanya keluhan ini yang keluar dari mulutnya karena iapun mengalami nasib seperti si juling, tubuhnya menjadi kering dan hangus, mati seketika! Sejenak Endang Patibroto berdiri tercengang. Keris pusaka Brojol Luwuk masih berada di tangan kanannya. Sedikitpun tidak ada tanda darah di ujung keris itu. Anak perempuan yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini sedikitpun tidak merasa ngeri bahwa tangannya telah membunuh dua orang lagi. Setahun yang lalu, ketika ia dan Joko Wandiro dihadang perampok-perampok, iapun dengan berani telah melukai dan membunuh dua orang perampok.

Akan tetapi sekarang lain lagi. Ia melihat betapa ampuh dan hebatnya keris di tangannya dan ia tercengang. Keris itu seakan-akan hidup kalau ia berhadapan dengan musuh, seakan-akan dapat bergerak sendiri dan sedikit menyentuh tubuh lawan saja sudah cukup membuat lawan roboh tewas dalam keadaan mengerikan, yaitu hangus dan kering!

Di dalam hatinya, Endang Patibroto merasa girang bukan main, akan tetapi juga khawatir. Ia girang bahwa setelah setahun menerima gemblengan eyangnya, kini dalam menghadapi dua orang lawan itu gerakannya tidak ragu-ragu dan ia merasa betapa mudah mengalahkan lawan, girang pula bahwa ia telah memiliki keris pusaka yang ampuhnya menggiriskan. Geli hatinya kalau teringat olehnya betapa Joko Wandiro mendapatkan bagian patung kencana. Teringat akan ini, Endang Patibroto tersenyum geli. Biarlah Joko Wandiro mencari selendang dan menggendong golek kencana itu dan bertembang meninabobokkan! Alangkah lucunya!

Akan tetapi hatinya khawatir melihat dua orang lawan yang sudah hangus tubuhnya itu. Eyangnya tentu akan marah bukan main. Kata eyangnya, pusaka itu adalah pusaka keraton Mataram yang ampuh dan terpuja. Kalau eyangnya melihat ia menggunakan pusaka itu untuk membunuh dua orang, tentu eyangnya akan marah. Selain itu, kemana ia dapat menyimpan pusaka keris di tangannya? Pusaka ini luar biasa ampuhnya dan sekarang tahulah ia bahwa saking ampuhnya, pohon nyiur tadi seketika menjadi kering dan mati ketika ia hendak mengubur keris itu di bawah pohon.

Ia memandang keris di tangannya itu penuh perhatian. Kalau dilihat sepintas lalu, keris pusaka ini tidaklah amat aneh. Keris biasa saja berlekuk tujuh dan berwarna abu-abu. Akan tetapi karena tahu akan keampuhannya yang sudah terbukti, maka timbul rasa sayang besar sekali dalam hati anak itu dan ia mendekap keris itu di depan dadanya yang mulai membayangkan bagian menonjol.

"Tidak," kata hatinya. "Keris ini tidak akan kutinggalkan, akan kusimpan bersamaku, kubawa selalu. Aku harus pergi dari sini, kalau eyang marah melihat dua mayat ini kemudian minta kembali keris pusaka, aku rugi! Lebih baik aku pergi dan mencari ibu. Ibu tentu akan bangga melihat keris ini!"

Pikiran ini datang sekonyong-konyong dalam benaknya ketika Endang Patibroto melihat perahu yang ditumpangi dua orang tadi. Kesempatan baik baginya untuk pergi. Tanpa ragu-ragu lagi ia menyembunyikan keris pusaka di balik kembennya, kemudian lari menghampiri perahu dan mendorongnya ke tengah melawan ombak.

Semenjak kecil sudah biasa dia bersama ibunya bermain-main dengan ombak laut yang jauh lebih besar daripada ombak di pantai pulau ini, dan bermain perahu tentu saja merupakan permainan sehari-hari baginya. Setelah berhasil melalui buih ombak yang memecah di pantai, perahunya mulai melaju ke tengah samudera dalam penyeberangan menuju ke daratan!

*********************


"Kakangmas Pujo....!"

Pujo yang sedang duduk termenung di depan pondoknya, terkejut. Pikirannya sedang sibuk, hatinya gelisah. Pertemuannya dengan Kartikosari beberapa hari yang lalu mendatangkan bermacam perasaan kepadanya. Rasa cinta, sesal, duka, dan kecewa, namun ada juga harapan yang membuatnya gembira. Isterinya masih hidup, masih mencintanya. Hal ini mudah saja ia duga, karena bukankah cinta kasih itu terpancar jelas dari pandang matanya? Namun kegembiraan dan harapan untuk kelak dapat bersatu dengan isterinya terganggu bermacam-macam kenyataan.

Musuh besar mereka, si laknat yang melakukan perbuatan terkutuk terhadap isterinya di malam jahanam di Guha Siluman itu, belum terbalas. Bahkan mengetahuinya siapapun belum! Bukan Wisangjiwo Inilah yang membikin hatinya risau dan gelisah. Kalau bukan Wisangjiwo, berarti dosa putera adipati itu tidaklah sebesar yang disangka sebelumnya. Dan dia sudah membalas dengan hebat! Sudah menculik puteranya, dan membuat isterinya gila.

Diam-diam rasa sesal menyusupi perasaan hati Pujo. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sudah sepekan ini Joko Wandiro yang ia suruh mencari kuda di dusun belum juga datang! Ia merasa gelisah dan mengambil keputusan untuk menyusul dan mencarinya kalau hari ini belum juga pulang anak itu. Anak Wisaigjiwo yang diculiknya, akan tetapi anak yang ia sayang sebagai murid, bahkan seperti telah menjadi puteranya sendiri. Suara wanita memanggilnya itu benar-benar mengejutkannya, akan tetapi juga sejenak wajahnya berseri karena timbul harapannya bahwa Kartikosari akhirnya datang kepadanya!

Akan tetapi setelah menengok, ia cepat bangkit berdiri dengan wajah terheran-heran. Wanita memang yang memanggilnya tadi, seorang wanita yang cantik manis, akan tetapi sama sekali bukanlah isterinya. Bukan Kartikosari! Usianya memang sebaya, mungkin hanya dua tiga tahun lebih muda daripada Kartikosari. Wajahnya manis, pandang matanya tajam, tubuhnya ramping padat, akan tetapi pada saat itu air mata turun mengalir di sepanjang kedua pipinya.

"Anda siapakah....?" Akhirnya Pujo dapat bertanya sambil melangkah maju.

Wanita itu terisak, mengusap air mata dengan tangan kirinya. Akan tetapi hanya sebentar karena ia sudah dapat menguasai perasaannya kembali. Air matanya tidak mengucur lagi ketika ia mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan menatap wajah Pujo dengan pandang mata tajam.

"Kakangmas Pujo, sepuluh tahun lamanya aku mencari-carimu. Setelah kini bertemu engkau tidak mengenalku lagi! Alangkah pahitnya kenyataan ini! Kakangmas Pujo, kelirukah penilaianku dalam hati tentang dirimu? Bukankah engkau seorang laki-laki jantan yang tidak akan mengingkari semua perbuatanmu, seorang satria yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kakangmas, lupakah kau kepadaku, kepada... Roro Luhito... ?"

Ia terisak lagi dan beberapa butir air mata bertitik ke atas pipi. Pujo teringat. Pantas saja tadi serasa pernah ia melihat wanita ini! Akan tetapi mengapa seperti itu sikapnya dan seperti itu pula bicaranya? Pujo mengerutkan kening dan menduga-duga akan tetapi tetap tidak dapat mengerti. Ia mengangguk dan berkata,

"Ah, teringat aku sekarang. Engkau Roro Luhito puteri sang adipati di Selopenangkep yang dulu ikut pula mengepungku, bukan? Akan tetapi apa artinya semua ucapanmu tadi?"

Seketika berhenti tangis wanita itu. Kedua matanya yang masih berkaca-kaca (membasah) itu terbelalak memandang. Mata yang indah dan bening. Mulut yang mungil itu bergerak-gerak ketika giginya menggigit-gigit bibir bawah. Bibir yang berkulit tipis, merah dan penuh. Kedua tangan diangkat ke pinggang, mengepal dan jarinya meremas remas. Jari-jari kecil meruncing...

BADAI LAUT SELATAN JILID 13


Badai Laut Selatan Jilid 12

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 12

Pujo melihat bayangan merah saputangan ini, cepat menahan napas, lalu mengerahkan hawa bakti meniup dari mulutnya, dibarengi tangan kirinya menyampok dari depan. Lima jari tangannya berkembang menyambut saputangan merah dan....

"breeittt.... !!!"

Pecahlah kain merah itu, pecah dan hangus lalu hancur, tidak kuat senjata mujijat yang beracun itu bertemu dengan hawa pukulan Pethit Nogo yang dilancarkan tangan kiri Pujo. Dalam kaget dan marahnya, Wisangjiwo menggerakkan Sarpokenoko yang melecut dan ujungnya bagaikan paruh elang mematuk ubun-ubun kepala Pujo. Celakalah Pujo jika serangan ini mengenai sasaran. Tentu ubun-ubun kepalanya akan pecah. Akan tetapi ketika tadi menghancurkan senjata kain merah lawan, Pujo sudah siap sedia, sudah dapat menduga bahwa tentu Wisangjiwo akan menyusul dengan serangan susulan yang menggunakan cambuknya.

Maka giranglah hatinya melihat lawannya marah dan tidak sabar, karena makin marah dan tidak sabar keadaan seorang lawan, makin mudah diatasi. Melihat datangnya lecutan cambuk, ia tidak menangkis dengan kerisnya karena maklum bahwa tangkisan tidak dapat mengalahkan lawan. Secepat kilat tangan kirinya bergerak ke atas dan di lain detik, ujung cambuk itu sudah terjepit jari-jari tangan kirinya yang masih mengerahkan Aji Pethit Nogo.

"Cappp!"

Sekali terjepit, ujung cambuk itu tak mungkin dapat terlepas lagi. Wisangjiwo makin kaget, akan tetapi selagi ia berusaha menarik cambuknya, ujung keris Banuwilis dengan tak tersangka-sangka telah meluncur ke depan dan telah menusuk pergelangan tangan kanannya. Wisangjiwo berseru kaget, terpaksa mengelak, namun masih ada ujung keris melukai pangkal ibu jari tangan kanannya. Rasa nyeri membuat ia terpaksa melepaskan gagang cambuk dan saking marah melihat cambuknya terampas ia mengirim tendangan kilat sekenanya. Tendangan memang berhasil mengenai paha kiri Pujo, akan tetapi pada saat itu, lehernya terpukul oleh tangan kanan Pujo yang sudah membalikkan kerisnya sehingga bukan mata keris yang menusuk leher, melainkan gagang keris yang keras. Wisangjiwo mengeluh dan roboh terguling, matanya berkunang-kunang.

"Aduhhh, mati aku.... !"

Ia mengeluh dan sebuah tendangan keras yang mengenai pangkal telinganya membuat ia tak dapat mengeluh lagi dan tidak ingat apa-apa. Akan tetapi Wisangjiwo tidak mati, atau setidaknya belum mati ketika ia siuman kembali. Ia sadar dan mendapatkan dirinya berdiri bersandarkan batang pohon dalam keadaan terikat erat-erat pada batang pohon dengan kedua lengannya ditelikung ke belakang. Bahkan bagian lehernyapun dikalungi tambang yang ternyata adalah cambuknya sendiri, cambuk Sarpokenoko! Ketika berusaha meronta, ia merasa sakit-sakit pada lengannya dan lehernya makin tercekik, maka ia tidak lagi meronta dan memandang kepada musuhnya yang berdiri di depannya, memandangnya sambil tersenyum-senyurn, senyum iblis!

"Pujo, aku sudah kalah. Kenapa engkau tidak membunuhku saja? Untuk apa mesti mengikatku di sini?"

"Untuk apa? Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja!"

"Hemm, Pujo, begitu bencikah engkau kepadaku? Memang aku pernah mengganggumu ketika kau dan isterimu bertapa di Gua Siluman, akan tetapi pembalasanmu sungguh keterlaluan. Aku hanya merobohkan kau dan isterimu, karena hatiku panas disebabkan engkau dahulu tidak ikut mempertahankan Selopenangkep dari serbuan balatentara Mataram. Akan tetapi, hanya sampai di situ saja perbuatanku. Setelah engkau dan isterimu roboh karena.... hemm, terus terang saja, karena akalku, aku lalu pergi meninggalkan gua. Akan tetapi pembalasanmu sungguh berlebihan. Kau menyebu Selopenangkep, membunuh banyak pengawal bahkan hampir membunuh ayahku, kemudian kau memperkosa Roro Luhito adikku, menculik kemudian memperkosa isteriku, dan membawa pergi puteraku! Dan kau masih belum puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu! Pujo, apakah kau sudah menjadi gila, ataukah kau berubah menjadi iblis?"

Tentu saja makin panas dan marah hati Pujo mendengar ini. Ia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha! Tiada manusia di dunia ini yang suka mengakui akan kesalahannya! Apalagi manusia macam engkau, Wisangjiwo! Karena banyaknya manusia macam engkau inilah maka dunia ini menjadi makin kotor dan makin keruh, karena itu sebaiknya orang macam engkau ini dibasmi habis! Memang semula aku hendak memperkosa isterimu di gua, hendak kulakukan persis seperti yang kau lakukan terhadap isteriku. Sayang aku bukan manusia macam engkau sehingga aku tak sanggup melakukan hal itu. Ocehanmu tentang memperkosa isterimu dan adikmu boleh saja kau keluarkan, akan tetapi aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Andaikata ada orang lain melakukan hal itu, sudah menjadi bagianmu, karena hukum karma takkan melepaskan korbannya. Tentang anakmu, haha-ha! Kau tunggu saja, aku sengaja mendidik dia untuk membunuhmu, Wisangjiwo!"

Wisangjiwo terpekik ngeri, mukanya pucat. Maklum ia apa yang akan dilakukan Pujo. Agaknya puteranya itu dipelihara dan dididik Pujo dan ditanamkan dalam jiwa anaknya itu bahwa dia adalah musuh anaknya sendiri, dan setelah sekarang ia menjadi tawanan, agaknya Pujo menanti datangnya anak itu untuk turun tangan membunuhnya! Inilah sebabnya mengapa ia diikat erat-erat pada pohon agar supaya tidak dapat melawan jika anak itu turun tangan. Tadinya ia merasa heran mengapa dia yang sudah kalah masih harus diikat, padahal kalau Pujo hendak membunuhnya, adalah amat mudah.

"Pujo....! Kuminta kepadamu demi dewata yang agung lekas bunuh saja padaku agar punah sudah perhitungan kita. Akan tetapi, kau kembalikan puteraku ke kadipaten...." Ia memohon, mukanya masih pucat sekali.

Pujo tersenyum, tangan kirinya mencengkeram baju dekat pundak, tangan kanannya mencengkeram keris Banuwilis. "Keparat! Sekarang kau ada muka untuk minta-minta? Kau tidak ingat betapa aku hampir gila mengingat akan kebiadabanmu terhadap isteriku dahulu? Hemmm, seluruh urat syaraf di tubuhku mendesak agar kucincang tubuhmu sekarang juga dengan keris ini! Akan tetapi terlampau enak bagimu, Wisangjiwo, terlampau enak dan terlalu lekas mampus. Kau tunggulah...! Engkau laki-laki perusak wanita, mengandalkan kedudukan, harta benda dan wajah tampan. Bagaimana kalau kubuntungkan saja hidungmu? Dan kedua telingamu? Bagaimana kalau kurajang mukamu sehingga kelak setiap orang wanita yang memandang mukamu, biar nenek-nenek sekalipun, akan muntah karena jijik dan muak?"

Gelora dendam membuat Pujo bicara seperti orang tidak waras lagi pikirannya, matanya merah dan mukanya menjadi buas sehingga Wisangjiwo makin pucat dan ngeri. Biarpun Wisangjiwo merasa tidak pernah memperkosa isteri Pujo, namun mulailah ia menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Memang banyak sudah ia merusak anak isteri orang dan inilah agaknya buah daripada perbuatannya, atau hukum karma daripada semua perbuatannya itu. Ia merasa ngeri karena tahu bahwa dalam keadaan murka seperti itu bukan tidak mungkin Pujo melaksanakan ancamannya yang menyeramkan. Ketika keris di tangan Pujo menggigil dan sudah terangkat, Wisangjiwo meramkan matanya dan...

"Kakangmas Pujo....!!"

Keris itu tertahan dan Pujo mencengkeram baju Wisangjiwo makin erat saking kagetnya. Wisangjiwo juga membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik jelita datang berlari seperti terbang cepatnya. Wisangjiwo terkejut bukan main karena wanita itu bukan lain adalah Kartikosari! Kartikosari yang lebih cantik menarik daripada dahulu, akan tetapi Kartikosari dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh dendam memandang kepadanya!

"Kakangmas Pujo, biarlah aku yang membalas jahanam terkutuk ini!" seru Kartikosari girang ketika ia sudah tiba di tempat itu.

Pujo masih tak mampu mengeluarkan kata-kata, bahkan kedua kakinya menggigil ketika ia memandang kepada isterinya, hatinya penuh keharuan, penuh penyesalan, penuh rindu. Munculnya Kartikosari di saat ia berhasil menangkap musuh besar ini sungguh-sungguh tak pernah ia sangka. Ia hanya memandang wajah isterinya itu tanpa berkedip, mukanya pucat dan ketika mendengar permintaan Kartikosari, ia tidak dapat menjawab, hanya melangkah mundur dan memandang seperti orang mimpi.

Dengan gerakan ringan dan cepat sekali sehingga amat mengherankan hati Pujo yang maklum bahwa isterinya dahulu tidaklah secepat itu gerakannya, Kartikosari meloncat ke depan Wisangjiwo yang memandangnya dengan mata terbelalak. Sinar mata Kartikosari penuh kebencian menyala-nyala dan kedua tangannya bergerak ke depan.

"Plak-plak-plak-plak!"

Empat kali tangannya menampar kedua pipi. Wisangjiwo merintih biarpun ia telah sekuat tenaga menahan sakit. Ternyata kulit pipinya hancur oleh tamparan itu dan penuh darah saking hebatnya tamparan telapak tangan Kartikosari!

"Manusia berhati binatang! Anjing busuk hina-dina!" Kartikosari memaki dengan mata berapi-api. "Aku akan merobek dadamu, akan kukeluarkan jantungmu, kuminum darahmu! Akan tetapi lebih dulu akan kucokel kedua matamu!"

Wisangjiwo merasa ngeri. Menghadapi wanita ini kiranya lebih mengerikan daripada menghadapi kemarahan Pujo tadi. Akan tetapi ia membesarkan hatinya dan memaksa senyum biarpun kedua pipinya merasa nyeri kalau digerakkan, lalu berkata lemah, "Kalian pengecut-pengecut boleh melakukan kepadaku apa saja kepada orang yang terikat tak mampu membalas!"

"Bedebah! Kau masih berani bicara begitu? Tak ingat akan perbuatanmu sendiri dahulu? Kaukira aku takut kepadamu jika kau terlepas? Cihh, tak tahu malu! Boleh kau kulepaskan, biar lebih enak aku menghajarmu!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari merenggut dengan kedua tangannya ke arah tambang yang mengikat tangan dan dada Wisangjiwo. Hebat sekali kepandaian wanita ini sekarang, sekali renggut saja tali-tali yang kuat itu putus semua!

Setelah kedua tangannya bebas, Wisangjiwo cepat melepaskan cambuk Sarpokenoko yang melilit lehernya. Ia merasa betapa kedua pergelangan tangannya sakit-sakit setelah terlepas daripada belenggu, dan hampir sukar digerakkan karena darahnya tidak lancar jalannya. Karena itu, ia lalu memencet-mencet kedua pergelangan tangannya untuk memperlancar jalan darahnya.

Kartikosari berdiri menanti sambil memandang dengan senyum mengejek, sama sekali tidak takut melihat musuhnya bebas dan sudah memegang sebatang cambuk. Akan tetapi ketika ia melihat ke arah jari-jari tangan yang bergerak-gerak memencet-mencet pergelangan tangan itu, tiba-tiba ia menjadi pucat, menjerit lirih dan tubuhnya terhuyung-huyung hendak roboh!

Pujo kaget sekali dan cepat ia merangkul pundak isterinya agar tidak sampai jatuh. Mendapatkan kesempatan ini, Wisangjiwo yang tahu bahwa nyawanya di tepi jurang kematian itu lalu melarikan diri. Pujo menjadi marah dan melepaskan rangkulannya dan pundak Kartikosari sambil membentak.

"Jahanam busuk hendak lari ke mana?" Akan tetapi sebelum ia sempat meloncat dan mengejar, lengannya dipegang Kartikosari yang mencegahnya. Pujo kaget dan heran, menoleh dan memandang dengan kening berkerut.

"Jangan kejar dia...!"

"Mengapa? Aku harus bunuh dia!"

Kartikosari menggeleng kepala dan wajah yang ayu itu nampak kecewa. "Bukan dia.... ahhhh, bukan dia...."

"Nimas Sari.... apa maksudmu?" Pujo memegang pundak isterinya dan menatap wajah yang sudah bertahun-tahun ia rindukan ini.

"Bukan dia orangnya..... ah, selama bertahun-tahun ini aku menjatuhkan dendam kepada orang yang sama sekali tidak berdosa, dan agaknya engkau juga, kakangmas Pujo. Aduh, makin payah penanggungannya kalau begini!"

Kartikosari merenggutkan tangannya yang dipegang suaminya, dan membanting-banting kakinya dengan marah. Tergetar hati Pujo menyaksikan ini. Terbayang depan matanya betapa dahulu isterinya juga membanting-banting kakinya kalau sedang marah-marah dalam kemanjaan. Akan tetapi sekarang lenyaplah sikap manja itu, dan kemarahannya benar-benar tidak dibuat-buat.

"Sari.... apa maksudmu? Kau bilang bahwa bukan Wisangjiwo orangnya? Bukan dia musuh kita?" Dalam suara Pujo terkandung kegetiran dan kepahitan, bahkan terbayang keraguan dan kecurigaan. Selama sepuluh tahun bertapa ini, perasaan Kartikosari peka sekali maka cepat ia membalikkan tubuh menoleh, menatap wajah suaminya dengan pandang mata seakan-akan menembus jantung Pujo.

"Kau... kau masih tak berubah! Kau laki-laki penuh cemburu! Kau menyangka aku sengaja melindungi dia, bukan? Celaka !"

Merah wajah Pujo. Ingin ia memukul mukanya sendiri. Memang tak dapat disangkalnya, ada perasaan dan dugaan demikian itu tadi menyelinap dalam benaknya. Ia menunduk, lalu tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.

"Nimas Sari, isteriku jangan kau memandangku seperti itu... ah, isteriku, kau tidak tahu betapa hebat kesengsaraanku selama sepuluh tahun ini. Kartikosari, kau kembalilah kepadaku, nimas. Jangan kau tinggalkan aku lagi. Aku percaya kepadamu, biarlah dewata menghancur leburkan diriku kalau aku tak percaya kepadamu. Aku cinta padamu, nimas, dan aku tidak sanggup hidup jauh daripadamu. Marilah, nimas, mari kita bangun kembali rumah tangga kita....

"Tidak..... ! Tidak.... kakangmas Pujo. Belum tiba saatnya!"

"Nimas Sari.... tega benarkah engkau membiarkan aku hidup merana seperti orang gila tidak kasihankah engkau kepadaku... ?"

"Kakangmas Pujo, coba kau ingat-ingat, alangkah serupa keadaan kita sekarang ini dengan sepuluh tahun yang lalu di dalam gua, hanya akulah waktu itu yang memohon-mohon akan tetapi engkau yang membalas dengan penghinaan dan fitnahan keji...."

"Aduh, nimas..... ampunkahlah aku. Ketika itu aku gila oleh malapetaka yang menimpa kita, aku gila dan tetap bersikap tidak adil kepadamu, nimas. Namun kegilaanku itu telah kutebus dengan penderitaan hidup bertahun-tahun. Kauampunkanlah aku, nimas... dan marilah kita hidup bersama kembali, membangun cinta kasih kita yang porak-poranda dilanda badai nimas Sari, aku selamanya tak pernah kehilangan cinta kasihku kepadamu dan aku tahu bahwa kaupun selalu mencintaiku, nimas...."

Suara Pujo memelas sekali. Melihat dia berlutut mengembangkan kedua lengan, dengan suara gemetar dan muka pucat, mata penuh permohonan, mulut seperti orang hendak menangis, hati siapa yang kuat menahan? Apalagi hati Kartikosari yang memang mencinta suaminya, serasa ditusuk-tusuk jarum rasa jantungnya. Ingin ia menjatuhkan diri berlutut, membiarkan dirinya di dalam pelukan suaminya yang aman sentosa, membiarkan dirinya dibelai dan dicumbu laki-laki yang setiap malam ia rindukan dan impikan. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Ia membuang muka untuk menyembunyikan air matanya yang bercucuran membasahi pipi, tangan kirinya ia goyang-goyang perlahan, kemudian berkatalah wanita ini dengan suara bercampur isak.

"Belum tiba waktunya, kakangmas. Engkau belum berhasil menghukum orang yang mendatangkan aib dan sengsara kepada kita, bagaimana kau ada muka untuk mengajak aku kembali? Kakangmas Pujo, sebelum kulihat dia yang telah merusak kebahagiaan kita itu menggeletak tak bernyawa di depan kakiku, mana mungkin aku dapat kembali kepadamu? Tadinya kusangka Wisangjiwo orangnya ah, kiranya bukan dia... bukan dia...!" Suara Kartikosari kecewa sekali dan kini ia menangis betul-betul.

"Kalau begitu, siapakah, nimas? Kau sungguh membikin hatiku bingung. Bukan sekali-kali aku menyangka engkau melindunginya, ohhh, sama sekali tidak. Akan tetapi, ketika itu, bukankah Wisangjiwo si keparat yang bertempur dengan kita? Bukankah tidak ada orang lain terdapat di dalam gua di malam jahanam itu? Maka betapa aku takkan heran dan bingung mendengar kau memastikan bahwa bukan dia orangnya yang menjadi musuh besar kita?"

Kartikosari menghapus air matanya. Kini wajahnya menjadi beringas kembali, penuh kemarahan. "Bukan dia memang! Kakangmas Pujo, kau tidak tahu dan karena pada waktu itu engkau seperti gila karena cemburu, maka aku tidak sempat memberi tahu. Sekarang ketahuilah bahwa biarpun pada waktu itu aku tidak berdaya karena terluka, namun aku masih berhasil mendatangkan cacat kepada si laknat terkutuk. Aku telah berhasil menggigit sampai putus sebagian daripada kelingking tangan kirinya."

Ia meraba-raba ke dalam kembennya, mengeluarkan sebuah benda kecil dan melemparkannya kepada Pujo yang masih berlutut di atas tanah. "Inilah dia kelingking itu. Musuh kita sekarang tidak mempunyai jari kelingking pada tangan kirinya! Dan kulihat Wisangjiwo tadi masih lengkap jari tangannya, oleh karena itu tanpa ragu kukatakan bahwa bukan dia si jahanam malam itu! Nah, kakangmas, aku girang melihat engkau masih hidup dan selamat serta sehat. Biarlah kita berpisah sekarang dan baru kita mungkin berkumpul lagi kalau sudah berhasil aku melihat musuh kita menggeletak tanpa nyawa di depan kakiku. Selamat tinggal, kangmas...!"

Kartikosari memandang suaminya penuh kasih sayang yang mesra untuk beberapa lamanya, kemudian ia membalikkan diri sambil terisak dan lari dengan cepat sekali meninggalkan Pujo. Pujo hanya membisikkan nama isterinya, mukanya pucat dan matanya tertuju kepada benda kecil di depannya, sepotong jari kelingking yang sudah kering. Pikirannya berputar-putar membuatnya nanar dan pening. Terang bukan Wisangjiwo kalau begitu. Akan tetapi mengapa? Bagaimana? Siapa gerangan? Dan dia sudah membalas kepada keluarga Wisangjiwo! Dia sudah menculik Joko Wandiro. Ah, dia sudah bertindak terlalu jauh. Jadi Wisangjiwo tidak berdosa? Siapakah dia yang melakukan perbuatan biadab di malam jahanam itu. Orang tanpa kelingking kiri? Tiba-tiba Pujo meloncat berdiri, serasa pernah ia melihat orang yang tak berkelingking kiri. Akan tetapi lupa lagi ia di mana, dan lupa pula bilamana dan siapa. Ia membungkuk, mengambil benda mengerikan itu lalu menyimpannya dalam saku.

Ketika ia memandang ke depan, bayangan Kartikosari telah lenyap. Betapapun juga, agak terhibur hatinya bahwa isterinya masih hidup, isterinya masih cantik jelita dan ia tahu dari pandang mata isterinya bahwa Kartikosari masih mencintanya, bahwa isterinya itu menanti sampai musuh besar mereka itu terbalas, baru suka kembali kepadanya. Wajah Pujo mulai tampak berseri, tidak seperti biasanya muram-suram. Kini ada titik api menerangi wajahnya, titik api harapan yang membuat hidupnya berarti. Dengan girang ia lalu berlutut dan menelungkup di atas tanah di tempat Kartikosari tadi berdiri. Dibelai-belainya rumput hijau yang masih rebah terinjak kaki isterinya, diciuminya rumput itu penuh rindu sambil berbisik-bisik, "Sari.... Sari"

Pujo sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tak jauh dari situ, di tengah hutan, Kartikosari juga menangis sambil memeluk batang pohon. Kartikosari menciumi tangannya yang tadi terpegang Pujo sambil berbisik, "Kakangmas Pujo kasihan kau.... begitu kurus dan pucat.... tapi cinta kasihmu belum bersih daripada cemburu, kangmas.... sehingga tak berani aku bercerita tentang Endang... hu-hu-hukk.... kangmas, bilakah kita dapat berkumpul kembali..?"

Sampai lama wanita ini menangis, memeluki batang pohon dan bersambat menyebut-nyebut nama suaminya, kemudian baru ia pergi dengan cepat sekali. Hatinya pepat karena kini musuh besarnya menjadi teka-teki setelah ternyata bahwa Wisangjiwo tidak buntung kelingkingnya. Ia menduga-duga akan tetapi tetap saja tidak dapat menerka siapa gerangan laki-laki yang telah melakukan perbuatan biadab atas dirinya di malam jahanam dalam gua sepuluh tahun yang lalu itu.

********************


Kenyataan bahwa kakek tua renta yang rambut dan cambangnya sudah putih semua itu memondong mereka dengan sikap hati-hati, yang wajahnya membayangkan keramahan dan larinya secepat terbang, membuat Joko Wandiro dan Endang Patibroto akhirnya tidak meronta-ronta lagi dan mandah saja dibawa lari. Baik Endang Patibroto maupun Joko Wandiro adalah anak-anak yang cerdik dan mereka dapat menduga bahwa kakek ini tentulah bukan orang yang mempunyai niat buruk terhadap mereka.

Joko Wandiro pernah mendapat pesan ayahnya bahwa kelak kalau ayahnya meninggalkannya, dia akan disuruh tinggal bersama seorang resi yang sakti mandraguna, yaitu kakek gurunya sendiri yang kata ayahnya bernama Resi Bhargowo dan tinggal di tepi Laut Selatan sebelah barat. Kalau kakek gurunya itu seperti kakek ini saktinya, alangkah senang hatinya.

"Kek, kami akan kau bawa ke mana, kek?" Akhirnya Joko Wandiro tak dapat menahan lagi hatinya dan bertanya.

Kakek itu tertawa tanpa memperlambat larinya. "Kubawa ke tempat tinggalku."

"Tetapi ayah akan mencari-cariku, kek! Dia akan kebingungan tidak tahu ke mana aku kau bawa pergi," kata pula Joko Wandiro.

"Heh-heh-heh, biarlah, kelak juga kau akan bertemu kembali dengan ayahmu." Kakek itu lari makin cepat lagi sehingga suara angin bertiup keras di telinga kedua orang anak itu.

"Kakek, kalau ibuku tahu kau menculikku, tentu kau akan dibunuh!" tiba-tiba Endang Patibroto berkata, suaranya nyaring, penuh ancaman.

"Ha-ha-ha, ibumu takkan berani membunuh aku, angger!" Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Ia seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah. Ia menganggap ibunya seorang yang paling sakti di dunia ini, masa tidak berani menghadapi kakek ini? Karena ibunya kalah tua barangkali?

"Kalau ibu tidak berani, aku juga punya kakek yang sakti, kau tentu akan dicekik!" katanya mendongkol.

Namun kakek itu malah makin keras tertawa dan tidak menjawab. Sementara itu, diam-diam Joko Wandiro memperhatikan gerak kaki kakek yang menggendongnya dan ia amatlah kagum. Kedua kaki kakek itu benar-benar seperti tidak menyentuh bumi, tidak ada suaranya namun amatlah cepat larinya, dan amat tinggi loncatannya.

"Kek, kau hebat sekali. Akan tetapi belum tentu kakek akan dapat menangkan kakekku!" kata Joko Wandiro. "Kakek guruku amat sakti."

"Kakek gurumu? Siapa dia?"

"Kakek guruku adalah guru ayahku bernama Resi Bhargowo!"

"Wah, bohong! Kau tidak tahu malu!" Tiba-tiba Endang Patibroto berteriak marah.

"Eh, eh, mengapa kau marah-marah dan memaki orang?" Joko Wandiro menegur.

"Kau tak tahu malu! Resi Bhargowo adalah kakekku! Ayah ibuku adalah murid Resi Bhargowo yang tinggal di Bayuwismo. Bagaimana kau berani mengaku-aku sebagai kakek gurumu? Cih, tak bermalu!"

"Kau yang tak tahu malu. Ayahku adalah murid terkasih Resi Bhargowo!"

"Bohong!"

"Kau yang bohong!"

"Kek, turunkan aku. Biar kuhajar mulutnya yang lancang!" Endang Patibroto marah-marah.

"Boleh kau coba!" tantang Joko Wandiro.

Kakek itu tertawa, akan tetapi keningnya berkerut dan ia menggeleng-geleng kepalanya. Ia berhenti berlari, menurunkan Endang Patibroto dan memegang muka yang ayu itu dalam kedua tangannya, memandangi penuh perhatian, kemudian berkata, "Kau memang anaknya, tak salah lagi. Cah ayu, kau adalah cucuku. Ibumu, Kartikosari, adalah puteri tunggalku."

Endang Patibroto yang sedang marah kepada Joko Wandiro itu kini terbelalak memandang kakek itu. Wajah kakek yang menyeramkan dan menimbulkan rasa takut inikah kakeknya?

"Siapakah engkau, kek?"

"Aku Bhagawan Rukmoseto, cucuku."

"Ah, kalau begitu kau tak mungkin kakekku! Kakekku bernama Resi Bhargowo!"

"Ha-ha-ha, memang sepuluh tahun yang lalu namaku Resi Bhargowo, akan tetapi sekarang julukanku Bhagawan Rukmoseto. Lihatlah, rambutku sudah putih semua. Cucuku yang manis, namamu siapakah?"

"Namaku Endang Patibroto."

Diam-diam kakek itu terkejut. Mengapa Kartikosari menamakan puterinya demikian? Rahasia apakah yang telah terjadi sehingga puterinya itu berpisah dari suaminya? Kemudian ia berpaling kepada Joko Wandiro dan memandang tajam. Bocah inipun sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak. Tiada hentinya ia memperhatikan kakek ini dan menjadi ragu-ragu. Jadi kakek inikah guru ayahnya?

Melihat Joko Wandiro, Bhagawan Rukmoseto juga kagum. Anak ini bukan anak sembarangan dan sudah sepatutnya kalau menjadi cucu muridnya pula. Akan tetapi mengapa anak ini mengaku sebagai putera Pujo? Sering ia melihat dari jauh betapa seperti Endang Patibroto dilatih Kartikosari, anak laki-laki ini digembleng oleh Pujo secara hebat. "Anak baik, sekarang tiba giliranmu. Kau anak siapa?"

"Ayahku Pujo dan menurut ayah, guru ayah bernama Resi Bhargowo" Ia meragu.

Bhagawan Rukmoseto tersenyum. "Memang tidak keliru. Ayahmu itu muridku, angger. Akulah kakek gurumu."

Mendengar ini, serta merta joko Wandiro menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Makin girang hati kakek itu dan ia mengelus-elus kepala Joko Wandiro.

"Siapakah namamu, nak?"

"Namaku Joko Wandiro, eyang."

"Ayahmu bernama Pujo. Dan ibumu? Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro hanya menggeleng kepala. "Tidak tahu, eyang. Ayah tidak pernah menceritakan tentang ibu,"

Si kakek mengelus-elus jenggotnya lalu berpaling kepada Endang Patibroto.

"Dan kau, angger. Siapakah nama ayahmu?"

Gadis cilik itu menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak tahu!"

Berkerut kening yang sudah putih itu.

"Ah, cucu-cucuku, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalian ikut bersamaku mempelajari ilmu. Dunia sedang kacau- balau, permusuhan terjadi di mana-mana, perebutan kekuasaan membuat orang saling bunuh, iblis dan setan merajalela, lebih baik kalian belajar ilmu bersama kakek di tempat sunyi. Hayo!"

Tanpa menanti jawaban kedua orang anak itu, Bhagawan Rukmoseto sudah menyambar tubuh mereka lagi dan di lain saat ia sudah berlari secepat terbang meninggalkan tempat itu, menuju ke timur. Bhagawan Rukmoseto tinggal di Pulau Sempu yang sunyi. Untuk menyeberang ke pulau kosong itu ia menggunakan sebuah perahu yang disembunyikannya di dalam semak-semak di tepi Laut Selatan.

Baik Joko Wandiro maupun Endang Patibroto tadinya merasa tidak senang karena merasa dipaksa dan diculik oleh orang tua yang mengaku menjadi kakek mereka itu, akan tetapi setelah kakek itu memastikan bahwa ayah Joko Wandiro dan ibu Endang Patibroto kelak pasti akan datang ke situ, mereka berdua merasa terhibur. Hanya anehnya, di antara kedua orang anak itu seakan-akan terdapat rasa saling iri, seakan-akan mereka bersaing dan tidak mau saling mengalah sehingga diam-diam kakek pertapa itu merasa prihatin sekali, juga terheran-heran. Apalagi ketika ia mencoba tingkat mereka, ia mendapat kenyataan bahwa tingkat mereka itu tidak banyak selisihnya dan memang tidak salah lagi, ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu daripadanya, yaitu Bayu Tantra dan pukulan Gelap Musti. Maka mulailah ia menggembleng keduanya dengan ilmu-ilmu yang tinggi, karena kakek yang waspada ini maklum bahwa kedua orang cucunya ini akan hidup dalam jaman yang kacau dan penuh dengan perang.

Juga dalam mempelajari ilmu yang diturunkan kakek itu, kedua orang anak ini selalu berlomba dan bersaing. Namun sifat ini sesungguhnya malah membuat mereka cepat sekali maju. Sifat tidak mau kalah dan ingin mengatasi yang lain inilah justru membuat mereka tekun sekali berlatih dan kemajuan yang mereka peroleh luar biasa sekali. Kurang lebih setahun kemudian semenjak mereka tinggal bersama Bhagawan Rukmoseto, pada suatu senja kakek itu tampak datang mendayung perahu ke pulau itu dengan wajah penuh kerut-merut dan sinar mata sayu.

Begitu ia melompat ke atas pulau, ia segera memanggil kedua orang cucunya dan masuklah mereka bertiga ke dalam pondok kecil yang menjadi tempat tinggal mereka. Dua orang anak itu bersila, bersujud di depan kakek ini dengan hati berdebar. Melihat wajah yang biasanya berseri dan ramah itu kini kelihatan marah dan gelisah, dua orang anak ini dapat menduga pasti telah terjadi hal yang hebat.

"Cucu-cucuku, aku telah bertemu dengan orang tua kalian dan mereka telah kuberi tahu bahwa kalian berada bersamaku."

Endang Patibroto bersorak girang.

"Eyang, kenapa ibu tidak diajak ke sini?"

"Sstttt....!" Joko Wandiro mencela.

Gadis cilik itu menjebi kepadanya dan mengernyitkan hidung mengejek. Sejenak keduanya saling melotot. Bhagawan Rukmoseto menarik napas panjang.

"Cucu-cucuku, kalian ini biarpun bukan saudara sekandung, akan tetapi terhitung saudara seperguruan. Mengapa tidak bisa akur dan selalu bercekcok saja?"

"Dia yang selalu mulai dulu, eyang," kata Joko Wandiro.

"Ah, tidak, eyang. Dia itu anak laki-laki tidak pernah mau mengalah."

"Aaahhh !"

"Aahhhhh !"

Kembali keduanya saling pandang melotot. Bhagawan Rukmoseto tersenyum. Kakek ini memang telah menjumpai Pujo dan juga telah menjumpai puterinya. Mereka telah mengaku terus terang apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka ia tahu bahwa Joko Wandiro sesungguhnya adalah putera Wisangjiwo, sedangkan Endang Patibroto puteri Pujo dan Kartikosari. Akan tetapi bukan hal ini yang membuat kakek itu pulang dengan wajah keruh. Melainkan apa yang ia lihat dan dengar tentang keadaan di Kerajaan Kahuripan. Permusuhan menjadi-jadi di antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda.

Kini permusuhan dan persaingan terjadi secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi seperti dulu. Bentrokan antara jagoan-jagoan mereka setiap hari terjadi. Para ponggawa terpecah dua, memihak pilihan masing-masing. Juga para adipati di luar kerajaan mulai terpecah-pecah bahkan sudah mulai saling serang sendiri. Perang saudara yang hebat sudah membayang, takkan mungkin dapat dicegah lagi. Bunuh-membunuh mulai terjadi. Kedua pihak saling menarik bala bantuan, orang-orang sakti dan para pertapa yang biasanya bersembunyi di gunung-gunung dan pekerjaannya hanya mengejar ilmu kebatinan dan bertapa memujikan selamat dan sejahtera bagi dunia dan isinya, kini mulai turun gunung, keluar dari tempat sembunyi masing-masing untuk ikut berlomba memperebutkan kedudukan Kebajikan menyuram, kekuasaan iblis dan setan menonjol.

Dan kini, di depan matanya sendiri, dua orang anak kecil yang masih bersih pikiran dan hatinya, agaknya tidak terluput pula dari pengaruh hawa jahat yang merajalela menguasai dunia. Ia lalu menggerakkan tangannya, merangkul kedua orang anak itu di kanan kiri.

"Endang Patibroto, kau adalah cucuku. Ibumu itu puteri tunggalku. Oleh karena itu engkau harus taat kepadaku. Dan kau, Joko Wandiro, biarpun bukan keluarga, namun sama saja. Kau cucu muridku dan akupun sayang kepadamu. Kalian ini ada hubungan keluarga seperguruan, oleh karena itu sama sekali tidak boleh bermusuhan. Kelak kalian harus bantu-membantu tidak boleh berselisih dan bermusuhan. Ketahuilah, dunia sedang kacau dan tenaga kalian kelak amatlah dibutuhkan untuk membantu para dewata memulihkan ketentraman. Kini orang-orang jahat yang memiliki kesaktian luar biasa sedang merajalela, oleh karena itu kalian harus tekun belajar di sini. Marilah, cucu-cucuku, mari ikut denganku. Ada semacam rahasia yang harus sekarang juga kuberitahukan kalian sebelum terlambat. Mari kalian ikut denganku."

Keluarlah mereka bertiga dari dalam pondok. Hari telah senja dan matahari telah bersembunyi di langit barat, hanya tinggal cahaya layung (merah kekuningan) yang masih menerangi sebagian permukaan bumi bagian barat. Bhagawan Rukmoseto menggandeng tangan Endang Patibroto di kiri sedangkan Joko Wandiro berada di kanannya. Mereka berjalan perlahan menuju ke barat, menuju ke sinar layung kemerahan, mendekati pantai pulau sebelah barat yang ditumbuhi pandan. Setelah mereka tiba dekat pandan yang memenuhi tempat itu, terdengar suara keras dan burung-burung camar yang menjadikan tempat itu sebagai sarang, beterbangan sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk, agaknya marah karena tempat mereka terganggu. Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto terus mengajak mereka menyelinap di antara pandan-pandan yang tebal dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah guha kecil yang tersembunyi di antara pandan.

"Cucu-cucuku, di tempat ini tersimpan sebuah benda yang pada saat sekarang ini dijadikan perebutan semua manusia di dunia. Kalau ada yang tahu bahwa benda ini berada di sini, hemmm... agaknya nyawa kita akan terancam bahaya maut."

"Ihhh, benda apakah itu, eyang?"

"Benda apakah eyang dan mengapa eyang menyimpannya di sini?" tanya pula Joko Wandiro.

Kakek itu menarik kedua orang cucunya duduk di atas batu depan guha, lalu bercerita. "Dengarlah baik-baik, cucuku. Hanya kepada kalianlah aku mempercayakan benda ini, dan hanya kepada kalianlah aku mempertaruhkan kepercayaanku. Ketahuilah, Kerajaan Mataram yang kemudian disebut Kerajaan Medang dan kini disebut Kahuripan, memiliki sebuah pusaka yang menjadi lambang kejayaan kerajaan. Apabila pusaka itu lenyap dari kerajaan, hal itu berarti bahwa kerajaan akan menyuram, berarti akan terjadi perang dan perebutan kekuasaan. Dahulu beberapa kali pusaka itu lenyap dan akibatnya memang hebat.

Belum lama ini, pusaka itu lenyap pula tercuri oleh orang jahat, dan inilah sebabnya mengapa kini Kerajaan Kahuripan mulai menyuram dan mulailah terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda. Tidak itu saja, malah orang-orang cerdik pandai mulai berlomba untuk mencari dan memperebutkan benda keramat itu, oleh karena sesungguhnya benda itu luar biasa sekali, siapa yang memilikinya menjadi seorang yang paling sakti dan mempunyai wahyu mahkota, berhak menjadi raja! Secara kebetulan sekali, pusaka itu terjatuh ke dalam tanganku, ketika dibawa lari penjahat dan kusimpan di sini."

"Aiihhhh ..... !"

"Hebat ..... !"

"Hemm, mengapa kalian ribut-ribut?" Kakek itu memandang tajam.

"Oh, tidak, eyang. Hanya.... kalau begitu tentu eyang berhak menjadi raja?" kata Endang Patibroto.

Kakek itu tertawa. "Tidak, cucuku. Aku seorang yang masih setia kepada sang prabu di Kahuripan. Sang prabu sendiri mengundurkan diri tidak suka lagi menjadi raja dan kini menjadi pertapa, masa aku seorang pendeta ingin menjadi raja? Tidak. Hanya aku merasa prihatin menyaksikan keadaan perebutan kekuasaan itu. Kalau mereka itu tahu bahwa pusaka berada di sini, sudah pasti mereka akan memperebutkannya dan keadaan akan menjadi lebih geger lagi. Aku sudah tua, aku tidak ingin menduduki kemuliaan, bahkan tidak ingin aku terseret ke dalam urusan-urusan kerajaan. Akan tetapi kalian adalah orang-orang muda yang harus mengisi hidup kalian dengan darma sebagai keturunan satria dan pertapa. Oleh karena itulah, kalian akan kugembleng di pulau ini dan pusaka itu kuserahkan kepada kalian. Kelak harus kalian yang mengembalikan pusaka itu ke kerajaan, akan tetapi harus kalian kembalikan kepada seorang raja yang benar-benar bijaksana, karena sekali pusaka itu terjatuh ke dalam tangan raja lalim, rakyat tentu akan celaka."

Joko Wandiro adalah seorang yang cerdik. "Eyang, mengapa eyang mengajak aku dan Endang sekarang ke tempat ini? Kami berdua masih kecil, bagaimana mampu melindungi pusaka itu? Ataukah, eyang mengajak kami hanya agar mengetahui tempatnya saja?"

Bhagawan Rukmoseto mengelus kepala Joko Wandiro. "Kau benar. Bukan hanya untuk mengetahui tempatnya, melainkan akan kuberikan sekarang juga."

"Sekarang.... ??" Endang Patibroto bersorak, girang dan kaget.

Bhagawan Rukmoseto mengangguk- angguk dan mengelus jenggotnya. "Orang-orang di dunia hitam sudah mulai tahu akan tempat persembunyianku ini dan mulai curiga. Tak lama lagi tentu mereka akan mencari ke sini dan akan memaksaku mengaku. Oleh karena itu, biarlah pusaka itu kuberikan kepada kalian berdua karena mereka tentu tidak akan mengira bahwa pusaka yang sepenting itu kuberikan kepada dua orang anak kecil. Aku hanya bertindak menurutkan naluri dan agaknya Dewata yang memberi petunjuk kepadaku, cuku-cucuku."

Kakek itu lalu merangkak memasuki gua kecil itu dan tak lama kemudian ia sudah keluar lagi membawa sebuah bungkusan kain kuning. Dua orang anak itu duduk bersila dan memandang dengan mata terbelalak. Apalagi ketika kakek itu membuka bungkusan kain kuning, Endang Patibroto berseru girang.

"Golek kencono (boneka emas)!! Aduhhh bagusnya! Eyang, berikan aku saja !"

Bhagawan Rukmoseto tertawa, akan tetapi tiba-tiba ia memandang ke sekelilingnya seperti orang ketakutan. "Kalian mendengar sesuatu tadi?"

Dua orang anak itu menggeleng kepala. Adapun Joko Wandiro merasa kecewa karena kiranya pusaka itu hanyalah sebuah boneka emas, mainan seorang anak perempuan!

"Pusaka ini macam dua," katanya berbisik, "karena itu akan kujadikan dua dan seorang menyimpan sebuah. Cucuku Endang, kau boleh memilih. Nah, kau terimalah ini dan kau pilih, yang mana kau suka."

Endang Patibroto menerima patung kencana itu, memutar-mutar dan memeriksa lalu tanpa ia sengaja tangan kanannya kena cabut gagang keris di sebelah bawah. Sinar yang menggiriskan hati berkelebat ketika keris pusaka Brojol Luwuk tercabut.

"Aku pilih ini, eyang.... !"

Endang Patibroto berseru girang dan gadis cilik ini melemparkan patung emas yang menjadi warangka itu kearah Joko Wandiro! Joko menerima dan bibirnya cemberut. Untuk apa sebuah patung emas bagi seorang anak laki-laki? Ia memandang ke arah keris di tangan Endang Patibroto dengan penuh kagum dan ingin. Juga Bhagawan Rukmoseto memandang anak perempuan itu dengan tercengang. Dia terheran-heran mengapa anak itu memegang keris sedemikian cocok, seakan-akan memang keris itu sudah sejak dahulu dikenalnya. Keris itu memang bukan keris besar, hanya keris tanpa ganja seperti sebuah keris biasa, akan tetapi begitu digerakkan sedikit saja keluarlah sinar yang aneh. Ketika kakek itu menoleh ke arah Joko Wandiro, ia melihat anak laki-laki itu memandangi patung. Anak ini dapat membawa diri, pikirnya. Ia tahu bahwa anak ini kecewa mendapat bagian patung, akan tetapi sama sekali tidak diperlihatkan.

"Joko, benda di tanganmu itu bukanlah benda biasa. Itulah benda keramat yang menjadi pujaan sekalian raja di Mataram dahulu. Sekarang dengarlah kalian baik-baik. Kedua pusaka itu seharusnya menjadi satu. Patung itu merupakan warangka atau tempat pusaka di tangan Endang itu. Dan pusaka itu adalah pusaka Mataram yang menjadi lambang kemakmuran Mataram. Kini kerajaan sedang kacau balau. Orang-orang jahat memperebutkan kedudukan dan saling berlomba mendapatkan singgasana. Oleh karena itulah belum waktunya pusaka ini kembali ke Mataram. Maka aku sengaja memberikan kepada kalian berdua dengan dipisah, agar tidak mudah kedua-duanya jatuh ke tangan orang jahat. Endang dan kau Joko. Setelah pusaka ini berada di tangan kalian, sekarang juga kalian harus mencari tempat persembunyian, kalian harus sembunyikan pusaka-pusaka itu di tempat yang aman, yang hanya kalian saja yang mengetahui. Dan ingat, biarpun nyawa kalian terancam, jangan sekali-kali kalian beritahukan kepada orang lain tentang pusaka itu. Kalian adalah cucu-cucuku, maka aku mempercayakan pusaka ini kepada kalian. Dapatkah kalian kupercaya?"

"Aku akan melindungi pusaka ini dengan nyawaku, eyang!" Endang Patibroto berkata sambil mainkan keris itu. Ia cekatan dan lincah sehingga ketika ia menggerakkan kerisnya tampak sinar berkilauan dan terdengar suara seperti halilintar.

"Saya akan mentaati perintah eyang guru," jawab Joko Wandiro.

"Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian lekas pergi menyembunyikan pusaka-pusaka itu. Aku menanti di sini."

Tanpa menanti perintah dua kali karena anak-anak itu memang cerdik dan tahu bahwa pusaka-pusaka di tangan mereka itu amat diingini orang-orang jahat di dunia, Joko Wandiro dan Endang Patibroto berlari pergi, seorang ke barat seorang ke timur. Joko Wandiro tiba di tepi pulau itu yang penuh batu karang dan di situ terdapat banyak gua-gua batu. Akan tetapi gua itu demikian banyaknya dan bentuknya serupa. Bagaimana kalau kelak ia lupa lagi? Pula, tempat seperti ini malah mencurigakan orang. Ia harus menyembunyikan patung kecil itu di tempat yang tidak disangka- sangka orang, pikirnya. Akan tetapi di mana? Tiba-tiba wajahnya yang tampan berseri ketika ia memandang kepada sebatang pohon randu yang besar.

Pulau ini kosong, tidak ditinggali orang. Andaikata ada orang di pulau itu membutuhkan kayu, tak mungkin susah-susah menebang pohon besar ini, pikirnya. Banyak terdapat kayu di sekitar tempat itu, tinggal ambil saja. Pula, kayu randu adalah kayu yang lemah, tidak baik untuk dibuat apapun, kurang kuat. Joko Wandiro lalu mengambil sebuah batu yang tajam runcing dan dengan senjata ini naiklah ia ke atas pohon randu. Di ujung batangnya yang paling atas, ia mulai membuat lubang dengan batu itu, dengan perlahan-lahan dan hati-hati.

Karena kayu randu memang tidak keras, akhirnya ia berhasil membuat sebuah lubang cukup besar dan disembunyikannya patung emas itu ke dalam lubang yang segera ia tutup dengan kulit kayu randu yang tadi ia buka. Tempat yang amat aman dan tak seorangpun manusia akan menyangka bahwa di dalam batang randu itu terdapat sebuah pusaka yang dijadikan rebutan orang sedunia!

Girang sekali hati Joko Wandiro. Akan tetapi ketika ia membuang batu tajam itu dan mulai merayap turun, tiba- tiba kakinya terasa sakit bukan main dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika betisnya itu dililit seekor ular hijau sebesar ibu jari kaki yang menggigit tungkaknya. Ia berteriak dan pegangannya pada pohon terlepas, tubuhnya roboh terguling. Ia memegang tubuh ular itu dan merenggutkannya dari kaki, akan tetapi ular yang berwarna hijau itu membelit tangannya dan kini malah menggigit pergelangan tangannya. Seluruh tubuhnya terasa panas dan sakit-sakit,

"Aduh, eyang....... celaka " Ia berlari, dan dalam marahnya karena ular itu tidak dapat ia lepaskan dari lengan, iapun lalu menggigit leher ular hijau itu. Belum jauh ia berlari, tubuhnya sudah terguling roboh dan ia pingsan.

Ular itu masih menggigit pergelangan lengannya, akan tetapi ia sendiripun masih menggigit leher ular itu sampai hampir putus! Sambil menggigit Joko Wandiro mengisap dan mengisap terus saking marah dan bencinya sehingga tanpa ia sadari ia telah minum darah ular, darah berikut racun ular yang terasa manis!

Sementara itu, Endang Patibroto juga kebingungan ketika ia tiba di pantai timur. Pantai sebelah ini amat indah, penuh rumput dan terdapat beberapa belas batang pohon nyiur yang tinggi-tinggi. Kemana ia harus menyembunyikan sebatang keris itu? Ditanam dalam tanah? Hanya itulah cara yang ia ketahui. Ia memilih sebatang pohon yang paling besar, kemudian mulailah ia menggali tanah, mempergunakan keris pusaka itu! Agaknya para tokoh sakti di empat penjuru dunia akan meringis kalau melihat betapa pusaka yang mereka impi-impikan itu kini dipakai menggali tanah oleh seorang anak kecil, seakan-akan pusaka itu hanyalah sebatang pisau dapur saja!

Mendadak Endang Patibroto terkejut. Hampir saja kepalanya tertimpa kelapa yang berjatuhan dari atas. Ia menengok ke atas dan alangkah kagetnya ketika melihat betapa buah-buah kelapa dari batang itu rontok semua dan daunnya menjadi kering, juga batang kelapa menjadi kering sama sekali. Ia tidak tahu bahwa pohon kelapa itu tidak kuat menerima hawa mujijat keris pusaka yang menggali tanah di bawahnya!

"He, bocah ayu, kau sedang apa di situ?"

Endang Patibroto kaget seperti disengat kalajengking. Ia tersentak dan mencelat berdiri, menyembunyikan keris di belakang tubuhnya sambil memandang. Kiranya, tanpa ia ketahui, ada sebuah perahu mendarat tak jauh dari tempat itu. Sebuah perahu kecil yang ditumpangi dua orang laki-laki yang memandangnya sambil menyeringai menakutkan. Seorang di antara mereka masih muda, mukanya pucat matanya juling. Yang ke dua sudah agak tua, akan tetapi mukanya kasar bercambang-bauk dan matanya melotot seperti hendak meloncat keluar dari tempatnya. Endang Patibroto mundur-mundur, tetap menyembunyikan kerisnya di belakang tubuh sambil memandang mereka yang meloncat ke darat.

"Ha-ha-ha, masih kecil sudah cantik jelita. Eh, cah ayu, apakah kau anak peri penjaga pulau kosong ini?" kata si muka pucat dengan sikap ceriwis sekali. "Mari beri pamanmu cium selamat datang, ya?"

"Jangan main-main, siapa tahu dia itu keluarganya. Eh, genduk (sebutan anak perempuan), tahukah kau di mana rumah bapa Resi Bhargowo?"

Endang Patibroto hanya menggeleng dan sepasang matanya yang lebar dan bening itu memandang tak pernah berkedip. Dua orang itu masing-masing membawa golok besar yang diselipkan di pinggang dan sikap mereka itu jelas membayangkan watak yang kasar dan kejam.

"Anak manis, kau tinggal bersama siapa di pulau ini? Mana ibumu? Wah, ibumu tentu masih muda dan cantik heh-heh!" Si juling berkata, lagi sambil mendekati.

"Adi Wirawa, jangan lupakan tugas kita. Kita di sini menyelidik, bukan bersenang-senang!" Si cambang-bauk menegur.

"Ah, kakang, bekerja saja tanpa senang-senang, membosankan. Anak ini manis sekali, ibunya tentu cantik. Biar kugendong dia dan kita ajak dia pulang, siapa tahu di rumahnya kita bisa bertemu dengan Resi Bhargowo, ha-ha-ha! Hayo, nduk cah ayu, mari kugendong. Diupah cium, ya?"

Ia mendesak maju. Endang Patibroto masih mundur-mundur dan tangannya disembunyikan di belakang tubuh. Ketika si juling itu menubruk maju sambil tertawa-tawa, tiba-tiba dengan gerakan gesit Endang Patibroto miringkan tubuh, tangan kanannya menyambar ke depan laksana kilat cepatnya.

"Aduhhhh... mati aku...!!"

Sijuling itu terjengkang, menggelepar seperti seekor ayam dipotong lehernya, berkelojotan menggeliat-geliat kemudian tak bergerak lagi, tubuhnya kering dan hangus, mati seketika!

cerita silat online karya kho ping hoo

Temannya berdiri terbelalak, matanya yang lebar itu makin lebar lagi dan kumisnya yang tebal menggetar-getar. Ia memandang anak perempuan itu dengan heran dan marah. Anak itu paling banyak berusia sepuluh atau sebelas tahun, dengan sebatang keris di tangan, bagaimana dapat membunuh temannya? Dan mengapa temannya itu tidak kelihatan terluka, akan tetapi mati sedemikian mengerikan, bajunya hangus semua, kulitnya juga hangus dan kering? Akan tetapi kemarahannya meluap-luap dan ia sudah mencabut goloknya yang lebar dan besar.

"Bocah keparat! Bocah setan.... !" Ia menerjang dengan goloknya, lupa bahwa yang dihadapinya hanyalah seorang anak perempuan kecil. Namun Endang Patibroto adalah seorang bocah gemblengan yang sejak kecil sudah melatih diri dengan ilmu silat tinggi. Melihat golok itu berkelebat menerjangnya, ia cepat trengginas melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kanan menyampok dari kanan.

"Trangggg...!!"

Si brewok menjerit kaget karena goloknya telah patah menjadi empat potong begitu bertemu dengan keris di tangan anak itu dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, kedua kakinya sudah lumpuh ketika keris itu mengeluarkan cahaya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi. Sepasang mata yang lebar dari si brewok itu terbelalak ketakutan, mulutnya terbuka tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya kedua tangannya menolak seolah-olah dengan gerakan itu ia akan dapat melindungi tubuhnya. Akan tetapi benda bercahaya itu tetap saja datang menyentuh dadanya.

"Aauuughhh!"

Hanya keluhan ini yang keluar dari mulutnya karena iapun mengalami nasib seperti si juling, tubuhnya menjadi kering dan hangus, mati seketika! Sejenak Endang Patibroto berdiri tercengang. Keris pusaka Brojol Luwuk masih berada di tangan kanannya. Sedikitpun tidak ada tanda darah di ujung keris itu. Anak perempuan yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini sedikitpun tidak merasa ngeri bahwa tangannya telah membunuh dua orang lagi. Setahun yang lalu, ketika ia dan Joko Wandiro dihadang perampok-perampok, iapun dengan berani telah melukai dan membunuh dua orang perampok.

Akan tetapi sekarang lain lagi. Ia melihat betapa ampuh dan hebatnya keris di tangannya dan ia tercengang. Keris itu seakan-akan hidup kalau ia berhadapan dengan musuh, seakan-akan dapat bergerak sendiri dan sedikit menyentuh tubuh lawan saja sudah cukup membuat lawan roboh tewas dalam keadaan mengerikan, yaitu hangus dan kering!

Di dalam hatinya, Endang Patibroto merasa girang bukan main, akan tetapi juga khawatir. Ia girang bahwa setelah setahun menerima gemblengan eyangnya, kini dalam menghadapi dua orang lawan itu gerakannya tidak ragu-ragu dan ia merasa betapa mudah mengalahkan lawan, girang pula bahwa ia telah memiliki keris pusaka yang ampuhnya menggiriskan. Geli hatinya kalau teringat olehnya betapa Joko Wandiro mendapatkan bagian patung kencana. Teringat akan ini, Endang Patibroto tersenyum geli. Biarlah Joko Wandiro mencari selendang dan menggendong golek kencana itu dan bertembang meninabobokkan! Alangkah lucunya!

Akan tetapi hatinya khawatir melihat dua orang lawan yang sudah hangus tubuhnya itu. Eyangnya tentu akan marah bukan main. Kata eyangnya, pusaka itu adalah pusaka keraton Mataram yang ampuh dan terpuja. Kalau eyangnya melihat ia menggunakan pusaka itu untuk membunuh dua orang, tentu eyangnya akan marah. Selain itu, kemana ia dapat menyimpan pusaka keris di tangannya? Pusaka ini luar biasa ampuhnya dan sekarang tahulah ia bahwa saking ampuhnya, pohon nyiur tadi seketika menjadi kering dan mati ketika ia hendak mengubur keris itu di bawah pohon.

Ia memandang keris di tangannya itu penuh perhatian. Kalau dilihat sepintas lalu, keris pusaka ini tidaklah amat aneh. Keris biasa saja berlekuk tujuh dan berwarna abu-abu. Akan tetapi karena tahu akan keampuhannya yang sudah terbukti, maka timbul rasa sayang besar sekali dalam hati anak itu dan ia mendekap keris itu di depan dadanya yang mulai membayangkan bagian menonjol.

"Tidak," kata hatinya. "Keris ini tidak akan kutinggalkan, akan kusimpan bersamaku, kubawa selalu. Aku harus pergi dari sini, kalau eyang marah melihat dua mayat ini kemudian minta kembali keris pusaka, aku rugi! Lebih baik aku pergi dan mencari ibu. Ibu tentu akan bangga melihat keris ini!"

Pikiran ini datang sekonyong-konyong dalam benaknya ketika Endang Patibroto melihat perahu yang ditumpangi dua orang tadi. Kesempatan baik baginya untuk pergi. Tanpa ragu-ragu lagi ia menyembunyikan keris pusaka di balik kembennya, kemudian lari menghampiri perahu dan mendorongnya ke tengah melawan ombak.

Semenjak kecil sudah biasa dia bersama ibunya bermain-main dengan ombak laut yang jauh lebih besar daripada ombak di pantai pulau ini, dan bermain perahu tentu saja merupakan permainan sehari-hari baginya. Setelah berhasil melalui buih ombak yang memecah di pantai, perahunya mulai melaju ke tengah samudera dalam penyeberangan menuju ke daratan!

*********************


"Kakangmas Pujo....!"

Pujo yang sedang duduk termenung di depan pondoknya, terkejut. Pikirannya sedang sibuk, hatinya gelisah. Pertemuannya dengan Kartikosari beberapa hari yang lalu mendatangkan bermacam perasaan kepadanya. Rasa cinta, sesal, duka, dan kecewa, namun ada juga harapan yang membuatnya gembira. Isterinya masih hidup, masih mencintanya. Hal ini mudah saja ia duga, karena bukankah cinta kasih itu terpancar jelas dari pandang matanya? Namun kegembiraan dan harapan untuk kelak dapat bersatu dengan isterinya terganggu bermacam-macam kenyataan.

Musuh besar mereka, si laknat yang melakukan perbuatan terkutuk terhadap isterinya di malam jahanam di Guha Siluman itu, belum terbalas. Bahkan mengetahuinya siapapun belum! Bukan Wisangjiwo Inilah yang membikin hatinya risau dan gelisah. Kalau bukan Wisangjiwo, berarti dosa putera adipati itu tidaklah sebesar yang disangka sebelumnya. Dan dia sudah membalas dengan hebat! Sudah menculik puteranya, dan membuat isterinya gila.

Diam-diam rasa sesal menyusupi perasaan hati Pujo. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sudah sepekan ini Joko Wandiro yang ia suruh mencari kuda di dusun belum juga datang! Ia merasa gelisah dan mengambil keputusan untuk menyusul dan mencarinya kalau hari ini belum juga pulang anak itu. Anak Wisaigjiwo yang diculiknya, akan tetapi anak yang ia sayang sebagai murid, bahkan seperti telah menjadi puteranya sendiri. Suara wanita memanggilnya itu benar-benar mengejutkannya, akan tetapi juga sejenak wajahnya berseri karena timbul harapannya bahwa Kartikosari akhirnya datang kepadanya!

Akan tetapi setelah menengok, ia cepat bangkit berdiri dengan wajah terheran-heran. Wanita memang yang memanggilnya tadi, seorang wanita yang cantik manis, akan tetapi sama sekali bukanlah isterinya. Bukan Kartikosari! Usianya memang sebaya, mungkin hanya dua tiga tahun lebih muda daripada Kartikosari. Wajahnya manis, pandang matanya tajam, tubuhnya ramping padat, akan tetapi pada saat itu air mata turun mengalir di sepanjang kedua pipinya.

"Anda siapakah....?" Akhirnya Pujo dapat bertanya sambil melangkah maju.

Wanita itu terisak, mengusap air mata dengan tangan kirinya. Akan tetapi hanya sebentar karena ia sudah dapat menguasai perasaannya kembali. Air matanya tidak mengucur lagi ketika ia mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan menatap wajah Pujo dengan pandang mata tajam.

"Kakangmas Pujo, sepuluh tahun lamanya aku mencari-carimu. Setelah kini bertemu engkau tidak mengenalku lagi! Alangkah pahitnya kenyataan ini! Kakangmas Pujo, kelirukah penilaianku dalam hati tentang dirimu? Bukankah engkau seorang laki-laki jantan yang tidak akan mengingkari semua perbuatanmu, seorang satria yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kakangmas, lupakah kau kepadaku, kepada... Roro Luhito... ?"

Ia terisak lagi dan beberapa butir air mata bertitik ke atas pipi. Pujo teringat. Pantas saja tadi serasa pernah ia melihat wanita ini! Akan tetapi mengapa seperti itu sikapnya dan seperti itu pula bicaranya? Pujo mengerutkan kening dan menduga-duga akan tetapi tetap tidak dapat mengerti. Ia mengangguk dan berkata,

"Ah, teringat aku sekarang. Engkau Roro Luhito puteri sang adipati di Selopenangkep yang dulu ikut pula mengepungku, bukan? Akan tetapi apa artinya semua ucapanmu tadi?"

Seketika berhenti tangis wanita itu. Kedua matanya yang masih berkaca-kaca (membasah) itu terbelalak memandang. Mata yang indah dan bening. Mulut yang mungil itu bergerak-gerak ketika giginya menggigit-gigit bibir bawah. Bibir yang berkulit tipis, merah dan penuh. Kedua tangan diangkat ke pinggang, mengepal dan jarinya meremas remas. Jari-jari kecil meruncing...

BADAI LAUT SELATAN JILID 13