Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 11

Wanita itu masih muda dan memang hebat. Wajahnya cantik jelita, dihias rambutnya yang panjang terurai ke belakang hitam berombak. Pakaiannya bagian atas hamper tidak dapat menahan lekuk lengkung tubuh yang seperti hendak memberontak dan memecahkan kain penutup karena kepadatannya.

Namun, kecantikan dan keindahan bentuk tubuh ini dilindungi sikap yang agung, pandang mata yang tajam angker, tarikan mulut yang membayangkan kekerasan hati, kerut di kening yang menggoreskan derita hidup yang kesemuanya itu membuat ia tampak bercuriga kepada setiap orang yang dihadapinya.

"Pergilah engkau, paman tua dan jangan ganggu anak ini!"

Demikian ucapannya yang ditujukan kepada Cekel Aksomolo. Suaranya merdu akan tetapi nadanya dingin menyeramkan, seakan-akan di balik ucapan itu bersembunyi ancaman maut yang mengerikan. Cekel Aksomolo dapat merasakan ini, akan tetapi tentu saja ia tidak takut. Masa seorang sakti mandraguna seperti dia takut terhadap seorang wanita yang begitu denok ayu?

"Aduuhh, ayu kinyis-kinyis, denok montrok-montrok, di dunia tiada keduanya! Engkau siapa, genduk bocah ayu manis? Waduhhh, mati aku ada wanita kok begini cantik!"

Wanita itu mengerutkan kening, pandang matanya mengeluarkan sinar berapi, lalu terdengar lagi ia bertanya, suaranya masih merdu namun lebih dingin daripada tadi, "Kakek tua, sekali lagi pergilah! Aku tak akan menangani (menghajar) seorang kakek yang sudah tua renta seperti kau, kecuali kalau terpaksa."

"Heh-heh-huh-huh-huh! Biar tua tuanya kelapa, tuanya kemiri, biar tua lebih berguna daripada yang muda! Bocah denok montrok, aku mau pergi dari sini kalau menggendongmu!"

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan hampir saja Cekel Aksomolo terjengkang saking kagetnya. Kiranya yang mengeluarkan suara lengking mengerikan tadi adalah wanita ayu ini! Akan tetapi kakek ini tidak diberi kesempatan untuk terheran lebih lama karena pada detik itu wanita tadi telah menerjangnya dengan gerakan kilat dan sebuah tamparan keras menyambar mukanya! Tamparan yang menggunakan telapak tangan, dan hawa pukulannya saja sudah seperti api membara! Kagetlah kakek ini, sama sekali tidak disangkanya wanita seelok ini dapat melakukan pukulan sedahsyat itu. Cepat ia mengelak, kini tangan dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah lambung, hebatnya bukan main.

"Aduhhh, celaka.... !"

Cekel Aksomolo adalah seorang sakti tentu saja dalam keadaan bahaya ini ia tidak kehilangan akal. Tahu bahwa tusukan itu biarpun hanya dilakukan dengan jari-jari tangan yang halus meruncing lunak, namun dapat menembus kulit lambungnya, dan bahwa tusukan itu tak dapat lagi ia elakkan, si kakek cepat menggerakkan tasbihnya, menghantam ke arah kepala wanita itu untuk mengajak sampyuh (mati bersama)!

"Kakek jahat!" Wanita itu berseru, tangan kirinya menangkis lengan kanan lawan yang membawa tasbih dan karena itu maka tusukannya tadi melambat sehingga Cekel Aksomolo mendapat kesempatan untuk menangkis pula dengan tangan kiri sambil miringkan tubuh. Dua pasang tangan saling bertemu dan akibatnya, wanita itu terhuyung ke belakang, akan tetapi juga Cekel Aksomolo hampir terguling.

Wanita itu agaknya penasaran dan marah, tanpa mengeluarkan kata-kata ia sudah menerjang maju lagi, gerakannya cepat bukan main, kedua tangannya mengeluarkan angin panas! Cekel Aksomolo yang kecelik mengira dia itu wanita ayu yang lemah dan mudah dijadikan korban, terpaksa menggunakan tasbih melawan. Yang lebih mengherankan hatinya adalah betapa suara tasbihnya seakan-akan tidak mempan terhadap wanita ini. Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa wanita cantik yang ia hadapi ini adalah Kartikosari, isteri Pujo. Kartikosari kini bukanlah Kartikosari sepuluh tahun yang lalu. Ia sudah melatih diri di tepi laut, jika sedang melatih tenaga sakti, deru badai mengamuk sekalipun tidak menggoyahkan pertahanan batinnya. Apalagi kini suara tasbih yang biarpun mengandung suara mujijat, namun bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suara mujijat yang dibawa oleh ombak dan badai!

Pada saat Kartikosari menerjang dan terlibat dalam pertandingan seru dengan Cekel Aksomolo, Joko Wandiro berdiri terbelalak kagum. Sudah banyak ia melihat laki-laki sakti, jagoan-jagoan yang pandai. Akan tetapi baru kali ini ia menyaksikan seorang wanita berkelahi dengan cara yang demikian mengagumkan. Apalagi ketika ia mengenal gerakan-gerakan ayahnya, ia makin terpesona. Tadi ketika Cekel Aksomolo bertanding melawan Ki Tejoranu, tahu-tahu wanita ini muncul dan sekali mengurut pundaknya, ia dapat bangun. Akan tetapi sebelum Joko Wandiro sempat bertanya, Cekel Aksomolo yang telah merobohkan Ki Tejoranu telah menghadapi penolongnya. Kini mereka berdua bertanding hebat, Joko Wandiro memandang kagum akan tetapi juga khawatir karena ia maklum betapa kakek bongkok itu benar- benar berbahaya dan sakti.

Pada saat itu, ia merasa ada angin bertiup di belakangnya dan disusul napas terengah seorang manusia. Joko Wandiro cepat membalikkan tubuhnya, siap menghadapi serangan lawan. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat seorang anak perempuan sebaya dengannya, hanya satu dua tahun lebih muda, anak yang berwajah seperti bulan dan bermata seperti bintang, berdiri dengan napas terengah-engah memandang pertempuran. Agaknya anak ini telah berlari jauh dan cepat maka sampai terengah-engah napasnya.

Melihat anak ini memandang pertempuran dengan mata terbelalak, Joko Wandiro menyangka dia ketakutan dan ngeri, maka katanya, "Kau siapa? Anak kecil tidak boleh di sini, berbahaya. Tidak kaulihat ada orang bertempur? Pergilah!"

Tangannya bergerak mendorong ke arah pundak untuk menakut-nakuti dan menyuruh anak itu pergi, akan tetapi hanya dengan gerakan miringkan tubuh, dorongannya tidak mengenai sasaran dan anak perempuan itu kini memandangnya dengan mata marah dan mulut cemberut.

"Lagaknya seperti orang tua saja! Apakah kau juga bukan anak kecil? Tentu kau anak monyet itu!"

Dan tiba-tiba sekali, benar-benar di luar dugaan Joko Wandiro, anak perempuan itu telah menerjang dan menghantam dadanya dengan kepalan tangannya yang kecil. Serangan ini amat cepat dan juga sama sekali tidak disangka-sangka, maka Joko Wandiro tidak sempat mengelak lagi.

"Bukk!"

Joko Wandiro roboh terjengkang, mengelus dadanya yang terpukul karena merasa sakit. Benar-benar ia heran luar biasa bagaimana ada seorang anak perempuan memiliki pukulan yang begini ampuh, cukup kuat sehingga ia sesak bernapas. Gerakannya cepat sekali dan melihat cara anak ini memukul, jelas bahwa anak ini memiliki ilmu berkelahi yang sama sekali tidak rendah! Melihat Joko Wandiro hanya jatuh terduduk saja oleh pukulannya tadi, anak perempuan itu marah-marah,

"Kau masih belum rebah mampus?" teriaknya dan kini dengan gerakan yang benar-benar dahsyat dan cepat dia telah menendang ke arah muka Joko Wandiro yang masih terheran-heran. Akan tetapi kali ini Joko Wandiro tidak berani berlaku lengah. Cepat ia mengelak dan meloncat bangun.

"Wah, kau ini bocah setan begini galak dan keji!"

Joko Wandiro berseru karena anak itu sudah menerjangnya lagi kalang-kabut. Sebuah pukulan secara aneh sekali telah bersarang di perutnya membuat ia terhuyung ke belakang. Hebat dan cepat gerakan anak perempuan itu. Kalau ia tadi menangkis lalu membalas tentu ia akan dapat mendahului, akan tetapi karena Joko Wandiro tidak mau menyerang anak perempuan, maka ia lagi-lagi terkena pukulan. Perutnya menjadi mulas dan ia mulai marah.

"Kau ini bukan bocah perempuan, kau seperti kucing mabok!" katanya dan menangkis kuat-kuat, bahkan balas menampar ke arah pipi anak itu. Anak itu mengelak sambil meloncat mundur, kedua pipinya yang tadi terkena tamparan itu menjadi merah sekali,

"Apa kau bilang?" Telunjuknya yang kecil menuding ke arah hidung Joko Wandiro, seperti hendak menusuk lubang hidungnya. "Aku kucing? Kalau begitu kau monyet! Kau celeng goteng! Kau kirik (anak anjing) bungkik!"

"Wah-wah, galak dan tukang maki. Kau ini bocah manakah sih begini kurang ajar? Hayo pergi, kalau tidak tentu kutempiling kau!" Joko Wandiro marah, melangkah maju dan mengancam dengan kedua tangan terkepal.

"Kau berani menempiling aku? Coba! Hayo coba! Dua kali sudah kuhantam engkau, yang ketiga kalinya tentu kau takkan dapat bangun lagi!"

Anak perempuan itu memekik dan menyerang lagi lebih dahsyat daripada tadi. Joko Wandiro yang sudah marah dan penasaran, menangkis dan balas menyerang. Alangkah kaget dan herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan anak perempuan ini sama dengan gerakan-gerakannya!

Sementara itu Kartikosari merupakan lawan yang kuat bagi Cekel Aksomolo. Biarpun kakek itu memiliki tasbih mujijat, namun Kartikosari dapat menghadapinya dengan baik. Kedua tangan wanita ini ampuh sekali, apalagi dibantu dengan tendangan-tendangan kaki yang tak terduga-duga. Setelah serangan-serangannya gagal dan ia mendapat kenyataan bahwa kakek bongkok itu tidaklah selemah yang ia kira semula, Kartikosari mencabut sebatang keris kecil dari pinggangnya dan kini dengan keris di tangan kanan untuk menyerang, tangan kirinya berusaha mencengkeram dan merampas tasbih.

Kagetlah Cekel Aksomolo. Tak disangkanya wanita muda yang cantik jelita ini demikian perkasa. Dan ketika ada dua sinar golok menyambar sebagai tanda bahwa Ki Tejoranu sudah maju pula mengeroyoknya, diam-diam Cekel Aksomolo mengeluh. Menghadapi wanita cantik ini saja ia sudah repot dan andaikata dapat menang juga akan makan waktu lama, apalagi sekarang ditambah sepasang golok Ki Tejoranu yang cukup ampuh, bisa- bisa ia mati konyol! Maka ia tiba-tiba membunyikan tasbihnya dan menyerang hebat.

Ki Tejoranu yang sudah terluka hebat itu cepat meloncat mundur dan Kartikosari juga kaget dan cepat mundur memasang kuda-kuda. Saat itu dipergunakan oleh Cekel Aksomolo untuk mencelat ke belakang dan melarikan diri. Ki Tejoranu cepat maju dan memberi hormat kepada Kartikosari, berkata kagum,

"Nona yang gagah pelkasa telah menolong saya olang tua yang tiada guna, sungguh melupakan budi besal."

Akan tetapi Kartikosari tidak menjawab karena perhatiannya tertarik oleh gerakan-gerakan di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat dua orang anak itu masih saling serang dengan gerakan cepat. Ia tertegun sejenak, kagum menyaksikan gerakan mereka yang jelas sealiran. Akan tetapi iapun dapat melihat bahwa anak perempuan itu yang lebih banyak menyerang, sedangkan anak laki-laki itu lebih banyak mengalah, menangkis dan mengelak.

"Endang! Berhenti, jangan pukul orang!"

Suaranya merdu akan tetapi berpengaruh karena anak perempuan itu meloncat mundur, mencibirkan bibir bawah yang merah kepada Joko Wandiro sambil berkata perlahan,

"Untung kau, ibu melarang, kalau tidak.... hemmm..... !"

Joko Wandiro mendongkol, akan tetapi lega hatinya karena tidak harus melayani anak perempuan liar dan galak ini. Ia menengok dan memandang wanita itu penuh kagum. Kartikosari sudah menghadapi Ki Tejoranu lagi sambil mengeluarkan pertanyaan halus,

"Kau terluka, paman?"

Ki Tejoranu menoleh ke arah pundak kirinya. Ia tadi sudah merobek baju di sebelah kiri dan tahu bahwa pundaknya terluka biji tasbih yang berbisa sehingga pundaknya memperlihatkan luka menghitam.

"Ah, telkena senjata ganitli yang belbisa. Kakek itu benal jahat."

Kartikosari agak geli hatinya mendengar omongan yang pelo itu, dan ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang asing.

"Syukur kalau kau dapat mengobatinya sendiri, kalau tidak, saya mempunyai obat widosari (semacam boreh) yang baik untuk memunahkan bisa."

"Telima kasih. Tidak usah, bisanya tidak amat jahat, tidak sejahat Cekel Aksomolo."

"Ah, dia Cekel Aksomolo? Pantas begitu sakti. Nah, paman, harap kau tinggalkan kami dan kuharap kau tidak usah sebut-sebut kehadiranku di sini."

Ki Tejoranu memandang penuh perhatian, lalu mengangguk-angguk.
"Nona telah menolong, saya tidak akan lupa."

Kemudian ia melangkah menghampiri Joko Wandiro dan mengangguk-angguk pula memberi hormat. "Saudala kecil amat gagah calon ksatlia, kelak kita beltemu lagi. Selamat... selamat.... !" pergilah kakek itu dengan gerakan cepat sekali.

Kartikosari membalikkan tubuh memandang Joko Wandiro yang juga memandangnya dengan matanya yang tajam. "Eh, bocah, siapa namamu dan mengapa kau bertanding melawan anakku? Kau tadi tahu betapa aku telah menolongmu, mengapa kau membalas pertolongan orang dengan cara demikian?"

Joko Wandiro menundukkan mukanya, tak kuasa menentang kilatan sinar mata wanita itu, lalu menguatkan hati karena merasa tidak bersalah, memandang lagi dan menjawab, "Bibi yang baik, nama saya Joko Wandiro. Saya sama sekali tidak mengajak berkelahi boc .. eh, adik ini, melainkan saya hanya membela diri karena diserang kalang-kabut. Selain itu, tadi saya tidak tahu bahwa dia.... dia anak bibi. Maafkan, bibi."

Senang hati Kartikosari melihat anak tampan dan bertubuh tegap ini bicara secara jujur dan pandai membawa diri pula. Ia mengangguk-angguk dan berkata, "Gerakanmu bertanding tadi, dari siapa kau belajar?"

Kartikosari setengah menduga bahwa anak ini kalau bukan murid Pujo tentulah murid ayahnya, Resi Bhargowo. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia mendengar jawaban yang tegas.

"Dari ayah saya."

"Ayahmu...? Siapakah nama ayahmu?"

"Namanya Pujo."

Berdegup jantung dalam dada Kartikosari. Lalu ia melirik ke arah puterinya, membanding-bandingkan. Anak laki -laki ini jelas lebih tua daripada anaknya. Akan tetapi ia masih belum puas.

"Berapa usiamu sekarang?"

"Kata ayah usia saya dua belas tahun, bibi."

"Hemm, kalau begitu tak mungkin Pujo beristeri lagi dan mempunyai anak ini," pikir Kartikosari agak lega.

Akan tetapi mengapa Pujo bisa memiliki putera yang lebih tua daripada anaknya? "Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro menggigit bibir, menekan perasaannya yang sakit, lalu menggeleng kepala. "Saya saya tidak tahu, bibi, mungkin sudah tidak ada di dunia ini ..... "

"Oohhhh.... di mana dia sekarang ? "

"Siapa, bibi?"
"Pujo itu, di mana dia?"
"Ayah?"
"Hemm, ya. Di mana dia?"
"Bibi mengenal ayah?" Joko Wandiro girang.

"Mengenal Pujo?" Kartikosari mengulang pertanyaan ini.

Bibirnya tersenyum akan tetapi hatinya serasa diremas-remas. Dia mengenal Pujo? Sungguh pertanyaan yang menggelikan, tapi juga menyedihkan. "Tentu saja. Di mana dia sekarang?"

"Ayah sejak dahulu tinggal di muara Sungai Lorog, bibi."

Mendengar ini Kartikosari serentak timbul niat di hatinya untuk menjumpai suaminya. Sudah lama sekali ia merindukan suaminya yang tercinta. Sekarangpun ia baru saja meninggalkan Karangracuk di pantai selatan untuk melakukan balas dendam, untuk mencari Wisangjiwo dan mencari suaminya. Ia menyimpan dendamnya sampai sepuluh tahun adalah karena ia ingin memperdalam ilmunya dan di samping itu, iapun tidak dapat meninggalkan Endang Patibroto yang masih kecil.

Kini anaknya sudah berusia sepuluh tahun, sudah cukup besar dan kuat diajak melakukan perjalanan jauh. Siapa kira, suaminya itu berada di muara Sungai Lorog, di pantai Laut Selatan pula yang tidak berapa jauhnya dari tempat tinggalnya sendiri. Apalagi kalau melakukan perjalanan dari Karangracuk terus menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan menuju ke timur, dengan ilmu lari cepat agaknya dalam waktu dua hari saja paling lama tentu akan sampai!

"Endang, kau kembalilah ke pantai bersama anak ini. Ibumu akan pergi selama sepekan. Kalian berdua tunggu kembaliku di pantai dan jangan berkelahi lagi!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Kartikosari dari depan kedua anak itu. Joko Wandiro masih termenung karena kagum melihat gerakan yang luar biasa cepatnya itu dan ia kaget ketika tiba-tiba punggungnya disodok siku dari belakang Ia menoleh dan ternyata yang menyikunya adalah anak perempuan tadi! Anak itu memandangnya, penuh tantangan.

"Mau apa kau?" Ia menegur marah.

Anak perempuan itu menjelajahi tubuhnya dari kaki ke kepala dengan pandang mata menilai, lalu berkata, "Sekarang ibuku telah pergi. Hayo kita lanjutkan adu tebalnya kulit kerasnya tulang!"

Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum. Anak perempuan ini memang luar biasa sekali dan ia tidak bisa mengharapkan lain dari anak seorang wanita sakti seperti tadi. Anak ini agaknya dimanja dan tak pernah mau kalah, pikirnya. Ia maklum bahwa kalau ia bersungguh-sungguh, biarpun tidak mudah namun ia pasti akan dapat menangkan anak perempuan ini. Akan tetapi anak ini adalah anak wanita cantik tadi yang telah menolong nyawanya, bagaimana ia dapat menjadi lawan? Kalau sampai kesalahan pukul, bukankah ibunya akan marah kalau pulang nanti? Dan pula, ia tidak tega untuk memukul kulit yang kelihatannya halus tipis itu.

"Eh, ditantang berkelahi kok malah mesam-mesem (senyum-senyum)! Hayo, kalau kau memang laki-laki gagah. Kalau bisa kalahkan Endang Patibroto barulah kau benar-benar perkasa!"

Anak perempuan itu berdiri memasang kuda-kuda, menggerak-gerakkan kedua tangannya yang jari-jarinya dibuka seperti kuku burung elang. Terdengar bunyi angina perlahan bercuitan dari jari-jari ini dan diam-diam Joko Wandiro terkejut. Itulah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya! Mengapa tadi anak itu tidak mengeluarkan ilmu pukulan ini? Dia merasa ragu- ragu apakah akan mampu menghadapi tangan yang telah memiliki tenaga sakti seperti itu.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa karena tidak mau kalah, Endang Patibroto ini sengaja memperlihatkan ilmu simpanan yang ia pelajari dari ibunya. Ilmu ini adalah ciptaan ibunya sendiri yang mengambil inti gerakan burung-burung walet dan elang laut. Ibunya telah mengancamnya agar jangan menggunakan ilmu ini karena selain belum sempurna dipelajari, juga ilmu ini hanya boleh digunakan kalau keadaan betul-betul mendesak. Kini ibunya tidak ada maka timbul keberaniannya untuk memamerkan di depan Joko Wandiro!

"Sudahlah, aku terima kalah. Ibumu begitu baik menolongku, mengapa engkau begini galak?"

Setelah berkata demikian, Joko Wandiro membalikkan tubuhnya lalu duduk di atas sebuah batu hitam besar di bawah pohon asem. Di dekat kakinya banyak terdapat buah-buah asem yang rontok, buahnya sudah matang. Dipilihnya beberapa biji dan dikupasnya perlahan, lalu dimakannya daging asem yang matang berwarna merah kehitaman itu. Rasanya masam-masam manis. Rasa masam membuat kedua pelupuk matanya bergetar dan melihat ini, Endang Patibroto tak dapat menahan lagi air liurnya. Menyaksikan orang makan yang asam-masam memang bisa membikin mulut kemecer (mengeluarkan liur)! Joko Wandiro melihat betapa anak perempuan itu beberapa kali menelan ludah, tersenyum dan memilih beberapa buah asem matang, mengangsurkannya kepada Endang Patibroto.

"Enak yang kemampo (setengah matang) begini!"

Endang Patibroto masih memasang kuda-kuda. Melihat betapa orang yang ditantangnya tidak menyambut tantangannya malah menawarkan buah asem kemampo ia tertegun. Selama ini tidak banyak ia bergaul dengan orang lain. Ibunya melarangnya. Buah asempun belum pernah ia memakannya, kecuali buah asem yang dipergunakan ibunya membumbui ikan, itupun dimakan sebagai bumbu. Sikap dan senyum Joko Wandiro membuat ia kehilangan semangat bertempur, dan akhirnya ia menerima pemberian itu, duduk agak menjauhi dan mulai makan buah asem. Memang enak masam-masam manis. Akan tetapi rasa masam membuat kedua matanya kiyer-kiyer (tergetar setengah terpejam).

"lihhh, kecut sekali !" katanya.

Joko Wandiro tertawa karena lucu sekali melihat anak itu terkiyer-kiyer seperti itu. Endang Patibroto juga tertawa dan lenyaplah semua sisa rasa permusuhan dari dalam dada Endang.

"Namamu siapa?" tanya Endang sambil mengelamuti buah asem, matanya ketap-ketip menatap wajah Joko, mata yang seperti bintang.

"Namaku Joko Wandiro, dan kau?"
"Endang Patibroto "
"Wah, namamu bagus, terutama Patibroto itu..."
"Dan namamu buruk, lebih-lebih Wandiro itu!"

Keduanya terdiam, hanya saling pandang. Karena keduanya sejak kecil jarang bergaul dengan anak-anak berbeda kelamin, pernah melihatpun dalam kelompok banyak, maka kini mereka saling berhadapan merupakan pengalaman pertama dan keduanya merasa seakan-akan menghadapi sesuatu yang aneh dan membutuhkan perhatian.

Setelah kini Endang Patibroto tidak marah lagi, wajahnya tampak manis dan menyenangkan sekali bagi Joko Wandiro. Terutama sepasang mata yang lebar seperti bintang itu. Melihat gadis cilik itu duduknya mendeprok di atas rumput, Joko Wandiro menepuk-nepuk batu hitam di sebelahnya dan berkata, "Endang, marilah duduk di sini, enak duduk di sini."

Endang Patibroto menggeleng-geleng kepala.
"Di sini lebih enak!"

Wandiro menahan senyum. Anak ini benar-benar keras kepala. Rumput itu agak basah dan kotor, bagaimana enak diduduki? "Mungkin lebih enak, akan tetapi hati-hati, kalau ada ulat berbulu dan semut api menggigit kakimu!"

Seketika Endang melompat bangun dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya karena ngeri dan jijik, lalu berjalan perlahan menghampiri Wandiro, duduk di atas batu.

"Kau bilang tadi ibumu sudah tiada... ?"

Joko Wandiro mengangguk sunyi, matanya redup dan keningnya agak berkerut. Melihat ini, Endang Patibroto cepat-cepat menyambung, "Ibuku masih ada, akan tetapi ayahku pun sudah tiada. Engkau tak beribu, aku tak berbapa, jadi sama nilainya. Kita sama-sama anak yatim."

Joko Wandiro mengangguk-angguk, wajahnya masih muram. Dalam hatinya ia membantah. Kau mana tahu, pikirnya. Kehilangan ibu bukanlah suatu hal yang amat menyakitkan hati, akan tetapi mendengar ibu diperkosa orang!

"Joko, kenapa kau diam saja? Seperti arca!"

Teguran disertai sentuhan pada lengannya ini menyadarkan Joko Wandiro. Ia menoleh dan melihat anak perempuan itu tersenyum. Akibatnya luar biasa sekali. Seketika lenyap semua renungan buruk dan bagaikan terkena aliran aneh wajah Joko Wandiro juga murah cerah, tersenyum dan kemudian keduanya tertawa girang!

"Hayo kita berangkat!"
"Berangkat? Ke mana?"

"Ihh, bagaimana sih engkau ini? Bukankah tadi ibu berpesan agar kita kembali ke pantai, ke pondok kami dan menanti ibu di sana selama sepekan? Marilah!"

Joko Wandiro menggeleng kepala.

"Tidak, aku harus lekas pulang. Ayah akan mencari-cari dan menanti-nantiku."

"Eh, mengapa begitu? Kau dengar tadi. Ibuku sedang pergi mencari ayahmu, tentu ibuku akan memberi tahu bahwa engkau berada di sini bersamaku."

"Mengapa ibumu mencari ayahku?"

"Siapa tahu?" Tiba-tiba gadis cilik itu tertawa geli, matanya yang lebar memancarkan sinar berseri dan ia berkata, "Siapa tahu, ayahmu dan ibuku itu sahabat-sahabat baik dan....eh, kalau saja mereka bersatu"

"Hah ..... ??" Joko Wandiro terbelalak heran dan kaget, tidak segera dapat menangkap maksud kata-kata yang tersendat-sendat itu.

"Ibuku menjadi ibumu, ayahmu menjadi ayahku. Bukankah itu baik sekali? Kau mendapatkan ibu baru, aku mendapatkan ayah baru, dan kita menjadi kakak-beradik!"

Serentak gadis cilik itu menari-nari kegirangan, berjingkrak-jingkrak dan berputaran amatlah lincahnya. Joko Wandiro tertegun dan termenung. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam hati ia tidak setuju, akan tetapi menyaksikan kegembiraan gadis cilik ini, ia tidak tega untuk membantahnya.

"Hayo kita berangkat ke pantai!" akhirnya Endang mengajaknya.

Dia menggeleng kepala. "Kurasa lebih baik aku pulang sekarang."

Endang Patibroto cemberut dan membanting-banting kaki kirinya, merajuk.

"Apakah kau tidak mau menemaniku? Kau membiarkan aku sendirian pulang ke pantai yang sunyi dan jauh? Apakah kau tidak suka menjadi kakakku?"

Di dalam suara anak perempuan ini terkandung isak tertahan, terkandung rindu akan kasih sayang saudara yang tak pernah dirasainya, terkandung rasa rindu akan teman bermain yang tak pernah pula dirasainya. Joko Wandiro terharu, apalagi kalau mengingat betapa ibu gadis cilik ini telah menyelamatkannya daripada bahaya maut. Ia mengeraskan hati. Biarlah aku dimarahi ayah kalau perlu. Kasihan dia ini. Ia mengangguk dan berkata tegas,

"Baiklah. Kutemani kau sampai ibumu pulang."

Endang Patibroto bersorak, lalu menyambar tangan Joko Wandiro, ditariknya dan diajaknya lari menuju ke selatan, keluar dari dalam hutan itu. Joko Wandiro hanya tersenyum-senyum dan ia makin tertarik kepada gadis cilik yang amat lincah, galak, mudah marah dan mudah gembira, berwatak aneh ini. Akan tetapi tidak lama kedua orang anak ini berlari-lari sambil tertawa- tawa gembira. Belum juga habis hutan itu mereka tembusi, tiba-tiba mereka berhenti lari dan berdiri terbelalak kaget.

Di depan mereka menghadang lima orang laki-laki tinggi besar yang semua membawa golok di tangan, dengan sikap mengancam memandang mereka berdua. Mereka itu adalah lima orang perampok yang tiga hari yang lalu bersama Cekel Aksomolo. Mereka mengejar dan mencari jejak Ki Tejoranu yang menuju ke hutan ini, maka sampailah mereka ke dalam hutan ini. Sungguh tak mereka sangka bahwa yang mereka temukan bukanlah Ki Tejoranu yang mereka cari-cari, melainkan Joko Wandiro bocah yang pernah membuat mereka kalang-kabut. Tentu saja dapat dibayangkan kemarahan mereka melihat anak ini. Terutama sekali perampok bermata juling yang pernah jatuh bangun oleh Joko Wandiro. Kemarahannya memuncak dan hatinya girang bukan main melihat bocah ini sekarang berada di depannya.

"Hoh-hoh-hoh, keketulan sekali! Kelinci muda mendekati mulut harimau kelaparan! Hayo, anak setan, kau akan lari ke mana sekarang?" bentaknya, goloknya siap membacok. "Uwah, Ki roko, cincang saja tubuhnya si bocah iblis!" seru perampok baju hitam di belakangnya.

"Hayo, kita bunuh dia, akan tetapi bocah ayu itu jangan dibunuh! Kuncup bunga yang belum mekar itu sayang kalau dibunun, ha-ha-hah!" kata perampok ke tiga yang wajahnya pucat.

Melihat lagak para perampok yang tertawa-tawa dan air ludah mereka menyemprot-nyemprot itu, Endang Patibroto ketakutan. Benar ia seorang anak yang sejak kecil menerima gemblengan ibunya di pantai Laut Selatan, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengan orang-orang yang begini buas dan berwajah menyeramkan. Para petani yang pernah ia temui berwajah sabar dan manis budi, tidak seperti binatang buas sikapnya.

Rasa takut membuat ia cepat bersembunyi di belakang Joko Wandiro dan telapak tangannya dingin ketika ia memegang lengan temannya. Juga Joko Wandiro merasa terkejut, gelisah. Ia sendiri tidak takut menghadapi lima orang buas itu, akan tetapi sekarang ia bersama Endang Patibroto yang harus ia lindungi. Keringat dingin menitik turun dari dahinya ketika bocah pemberani ini mendorong temannya supaya mundur sambil membentak.

"Kalian berlima mau apakah? Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, apa kesalahanku sehingga kalian mengancam hendak membunuhku?"

"Ho-ho-ho-ha-ha-ha! Kau ketakutan sekarang, anak setan?"

Si juling tertawa mengejek dan mengangkat goloknya menakut-nakuti. Joko Wandiro siap waspada, memasang kuda-kuda dan menjawab,

"Aku tidak takut karena aku tidak bersalah apa-apa. Orang yang berbuat salah, dialah yang akan ketakutan selama hidupnya!" Ia meniru wejangan ayahnya.

"Huah-ha-ha, bocah sombong, bocah setan. Kematian sudah di depan mata, lekas kau berlutut minta ampun di depan kakiku!" Si juling mengancam lagi.

"Kalau aku bersalah, tanpa kau paksa aku suka minta ampun. Akan tetapi apakah kesalahanku?"

"Kau berani membantah? Minta kucincang kepalamu?"

Golok itu diangkat tinggi-tinggi, mulutnya menyeringai lebar memperlihatkan gigi yang besar-besar dan kuning, matanya makin menjuling lagi sehingga seakan menjadi satu di pinggir hidung. Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan sesosok bayangan berkelebat dari belakang tubuh Joko Wandiro. Bayangan itu menubruk ke depan dan....

"cesssss .. ! " sebuah cundrik (keris kecil) menancap di perut perampok mata juling itu. Cepat gerakan Endang Patibroto ini dan sama sekali tidak pernah tersangka oleh perampok mata juling, bahkan tidak tersangka oleh Joko Wandiro yang menjadi kaget sekali. Cepat pula Endang Patibroto mencelat ke belakang mencabut cundriknya dan "currrrr!!" darah merah muncrat-muncrat dari perut yang gendut.

"....apa...? Aduhh... wah...!"

Si mata juling mendekap perutnya dengan tangan kiri, matanya sejenak terbelalak mengawasi darahnya yang mengucur melalui celah-celah jari tangannya, kemudian ia terbelalak memandang gadis cilik yang berdiri di samping Joko Wandiro dengan cundrik di tangan, cundrik yang merah ujungnya karena darah! Kini Endang Patibroto sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan sepasang matanya yang lebar itu nampak beringas dan liar.

"Endang.... kau... kenapa kau lakukan itu....?"

Joko Wandiro bertanya gagap. Dia sendiri juga seorang anak gemblengan, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melukai orang sampai darah bercucuran dari perutnya seperti itu, maka iapun merasa ngeri. Akan tetapi Endang Patibroto menjawab tegas, "Dia mau membunuhmu, si keparat! Biar kubunuh mereka semua!"

Jawaban ini selain mengagetkan Joko Wandiro, juga membuat para perampok itu marah sekali. Bahkan perampok muka pucat yang tadi tertarik oleh kecantikan wajah gadis cilik ini, sekarang menjadi marah sekali.

"Bunuh mereka! Bunuh kedua setan cilik ini!"

Si mata juling yang lebih dulu mengamuk. Goloknya menyambar dan kini yang ia terjang bukannya Joko Wandiro, melainkan Endang Patibroto yang telah melukai perutnya. Namun gadis cilik yang masih kanak-kanak, baru berusia sepuluh tahun itu memiliki gerakan yang amat gesit sehingga bacokan golok si juling meluncur mengenai tanah. Ia terengah-engeh, mendengus-dengus dan mencari-cari. Ternyata anak perempuan itu sudah meloncat dua meter jauhnya di sebelah kiri. Ia menggereng dan menerjang lagi, kini goloknya ia obat-abitkan sekuat tenaga sehingga merupakan gulungan sinar yang menghalang anak itu meloncat.

Endang Patibroto sejak kecil belajar ilmu silat, akan tetapi ia masih belum ada pengalaman sama sekali, maka melihat golok itu berkelebat ke kanan kiri, ia menjadi bingung. Sambil melangkah maju ia nekat menangkis dengan cundriknya.

"Cringgg.. !" Cundrik itu terlepas dari tangannya, meluncur dan menancap ke atas tanah, tiga meter jauhnya.

"Heh-heh-heh, kucincang kepalamu, bocah keparat!" Si mata juling marah sekali, akan tetapi tiba-tiba tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan, kemudian menggerakkan kedua tangannya seperti cakar burung.

Dua tangannya dengan jari-jari mencengkeram persis kaki burung elang itu membuat gerakan ke arah lengan besar si mata juling yang memegang golok, kemudian mencengkeram, yang kiri bergerak mundur yang kanan maju.

"Kreeeeekkkkk!"

Si mata juling berteriak keras sekali, goloknya terlepas dan lengan kanannya itu robek berikut kulit dan dagingnya! Demikian hebatnya ilmu simpanan yang diajarkan oleh Kartikosari kepada puterinya itu. Baru anak kecil berusia sepuluh tahun saja dengan ilmu ini sudah dapat merobek kulit, daging, dan baju lengan seorang yang kuat seperti perampok mata juling!

Sejenak perampok itu terbelalak, meringis kesakitan, lalu terhuyung-huyung mundur dengan muka ketakutan. Siapa yang takkan ngeri menghadapi bocah perempuan demikian kecilnya akan tetapi yang telah merobek perut dan lengannya? Apalagi darah yang terlalu banyak keluar membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Akhirnya roboh terjerembab di bawah pohon.

Adapun empat orang perampok lain kini sudah menghujani Joko Wandiro dengan bacokan-bacokan golok. Mereka penasaran sekali karena sebegitu lama belum juga mereka mampu menyentuh anak itu dengan golok mereka. Memang mengagumkan sekali gerakan Joko Wandiro. Anak ini cerdik sekali dan maklum bahwa empat orang lawannya kuat-kuat pula memegang senjata tajam, ia tidak mau melawan dengan kekerasan, melainkan cepat menggunakan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh sambil berloncatan ke sana ke mari, mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara kilatan dan sambaran golok.

"Jangan takut, Joko, kubantu!" tiba-tiba terdengar teriakan Endang Patibroto yang sudah tidak punya lawan lagi. Gadis cilik ini berlari hendak mengambil cundriknya, akan tetapi melihat itu, dua orang perampok meninggalkan Joko Wandiro dan menerjang si gadis cilik.

Sabetan pertama pada kepalanya dapat dielakkan oleh Endang Patibroto yang cepat membungkuk untuk mengambil cundriknya. Dalam keadaan membungkuk inilah perampok ke dua sudah menggerakkan golok hendak membacoknya!

"Endang, awas....!"

Saking khawatirnya melihat bahaya mengancam Endang, Joko Wandiro melesat meninggalkan kedua orang pengeroyoknya dan karena lompatannya ini dilakukan sambil mengerahkan Bayu Tantra, tubuhnya melayang dan tahu-tahu telah berada di atas tengkuk si muka pucat yang hendak membacok Endang. Dalam keadaan seperti itu, Joko Wandiro tidak ingat untuk menggunakan ilmu silat lagi, ia segera mencengkeram ke depan sambil berjongkok di atas tengkuk dan pundak dan begitu jari tangannya bertemu benda lunak di depan, terus ia mencengkeram dan menarik.

"Auggghhhh!" Si muka pucat berteriak kesakitan karena cengkeraman itu tepat mengenai mukanya. Celakanya jari tangan yang kecil itu ada yang memasuki lubang hidungnya sehingga ketika Joko Wandiro mencengkeram dan menarik, sebagian hidung si muka pucat menjadi semplok (pecah) dan darah mengucur keluar. Lebih sialan lagi baginya, kawannya yang melihat Joko Wandiro jongkok di atas pundak si muka pucat, cepat mengayun goloknya membacok. Joko Wandiro secepat burung terbang telah melompat turun dari pundak si muka pucat itulah yang menjadi makanan golok. Si muka pucat mengeluh lirih dan roboh terkulai seperti kain basah.

Tiga orang perampok yang lain menjadi makin marah dan mengamuk dengan golok mereka diobat-abitkan. Terpaksa Joko Wandiro dan Endang Patibroto hanya menggunakan kegesitan tubuh mengelak ke sana sini. Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat seperti kilat menyambar-nyambar cepatnya dan berturut-turut tiga orang perampok itu berjatuhan, golok mereka terlempar. Sebelum kedua orang anak itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka telah dikempit seorang kakek tua yang membawa mereka lari secepat terbang!

Betapapun mereka berdua berusaha meronta dan melepaskan diri, sia-sia belaka dan saking cepatnya si kakek ini "terbang", Joko Wandiro dan Endang Patilbroto merasa ngeri dan akhirnya mereka hanya meramkan mata dan menerima nasib!

********************


"Hamba merasa heran sekali mengapa paduka dikeroyok oleh tokoh-tokoh itu," Pujo berkata ketika Ki Patih Narotama sudah tiba di pondoknya, di muara Sungai Lorog. Narotama menarik naipas panjang.

"Pujo, engkau adalah murid Resi Bhargowo yang memiliki kesaktian. Sungguh mengecewakan sekali engkau sebagai seorang satria terlalu tenggelam dalam dendam dan urusan pribadi sehingga sama sekali tidak tahu akan keadaan di kerajaan. Ahhh, bukan baru tadi saja orang-orang itu berusaha membunuhku, sudah sering sekali. Bahkan beberapa orang tumenggung dan senopati yang setia kepada sri baginda, telah dibunuh orang. Sungguh menyedihkan sekali, semenjak Gusti Prabu Airlangga mengundurkan diri, terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di kerajaan. Aku hanya seorang patih bagaimana dapat mengurusi nafsu para pangeran?" Narotama menarik napas panjang dan kelihatan berduka sekali.

"Perebutan kekuasaan?" Pujo yang selama bertahun-tahun mengasingkan diri, sama sekali tidak tahu akan hal ini.

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk,

"Engkau tentu sudah tahu bahwa sri baginda mempunyai dua orang permaisuri, yang pertama adalah Puteri Mataram, sedangkan yang ke dua adalah Puteri Sriwijaya. Nah, kini terjadilah perebutan pengaruh antara kedua pangeran dari dua permaisuri itu. Atau lebih tepat lagi, pangeran muda, putera permaisuri ke dua berdarah Sriwijaya itu berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk meruntuhkan kekuasaan dan pengaruh kakak tirinya, pangeran tua putera permaisuri pertama. Pangeran muda ini banyak sekali pengikutnya, di antaranya para senopati yang membenci Sang Prabu Airlangga karena telah ditaklukkan. Kau tahu, orang-orang seperti Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono dan kepala rampok Ki Krendoyakso yang mengeroyokku tadipun adalah kaki tangan pangeran muda."

"Kalau memang mereka itu jahat dan bermaksud merebut kekuasaan, mengapa tidak dilaporkan saja kepada gusti prabu?"

Narotama menggeleng-geleng kepala.

"Gusti prabu sudah lima tahun ini mengundurkan diri dan bertapa. Bagaima mungkin diganggu dengan hal-hal seperti itu? Beliau sudah menyerahkan kepadaku akan tetapi.... persaingan antara pangeran-pangeran putera sang prabu sendiri, bagaimana mengatasinya? Sayang.... pusaka keraton yang hilang belum juga dapat diketemukan kembali. Inilah agaknya yang menjadi sebab malapetaka ini. Kalau pusaka itu tak dapat diketemukan kembali, berarti kerajaan kehilangan cahaya dan wahyunya, dan tentu akan terjadi malapetaka yang akan menghancurkan kerajaan!" Narotama menarik napas panjang lagi, wajahnya muram."Apalagi kalau para satrianya, seperti engkau ini, hanya tenggelam ke dalam dendam pribadi, tidak peduli lagi akan kewajiban sebagai seorang satria!"

"Ampunkan hamba, gusti patih. Hamba berjanji bahwa jika saya sudah dapat melakukan pembalasan atas diri Wisangjiwo, hamba akan menyerahkan jiwa raga untuk membela kerajaan."

"Hemm, begitukah? Kalau begitu kau boleh segera mulai. Tentang Wisangjiwo, mudah saja. Dia terhitung orang kepercayaan pangeran muda, akan tetapi karena aku yang memasukkannya menjadi pengawal sehingga kini ia menjadi senopati muda, maka aku dapat mengatur agar ia datang ke tempat ini dan kau dapat berhadapan empat mata dengannya. Akan tetapi, jangan engkau menjadi buta oleh dendam pribadi engkau harus dapat membantuku melakukan penyelidikan. Kalau tidak salah, para pembantu pangeran muda itu sebagian besar dikumpulkan oleh Adipati Joyowiseso ayah Wisangjiwo. Nah, kau cobalah untuk memaksanya mengaku, peran apakah yang dilakukan ayahnya dan oleh dia sendiri."

"Sendika dawuh paduka, gusti!" jawab Pujo dengan hati girang.

Memang ia dahulu sudah menduga di dalam hatinya, Adipati Joyowiseso dan puteranya itu tidak tunduk benar-benar kepada Mataram, maka dalam keadaan Kerajaan sedang kacau di mana dua orang pangeran saling berebut kekuasaan, tentu memberi kesempatan kepada orang-orang yang tidak setia untuk mainkan perannya.

Ki Patih Narotama lalu pergi meninggalkan muara Sungai Lorog, dan beberapa hari kemudian, benar saja Pujo dari tempat sembunyinya melihat seorang laki-laki gagah perkasa naik kuda besar hilir mudik di sekitar muara. Siapa lagi orang itu kalau bukan Wisangjiwo! Senopati muda ini menerima perintah dari ki patih sendiri untuk menyelidiki muara Sungai Lorog yang menurut ki patih, mungkin menjadi tempat disembunyikannya pusaka kerajaan yang hilang dan masih dicari-cari oleh semua tokoh di empat penjuru.

Seperti para tokoh lainnya, Wisangjiwo tentu saja ingin sekali bisa menemukan dan merampas pusaka itu karena kedua pangeran diam-diam saling memperebutkan pusaka dan mengutus orang-orang kepercayaan untuk mencarinya. Hal ini tidaklah aneh kalau terdapat kepercayaan bahwa siapa yang memiliki patung pusaka, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi raja!

Seperti telah sedikit disinggung Ki Patih Narotama ketika berceritera kepada Pujo, memang terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di istana. Semestinya, putera yang pertama atau pangeran tua yang sepatutnya menjadi pangeran mahkota. Hal ini sudah lajim karena sebagai putera tertua, tentu saja pangeran tua yang menjadi calon raja. Sang Prabu Airlangga juga tidak melanggar kelajiman ini dan sebelum beliau mengundurkan diri untuk menjadi pertapa, kekuasaan sementara ia serahkan kepada pangeran tua, diembani oleh Ki Patih Narotama yang oleh Sang Prabu Airlang- ga dianggap sebagai wakil beliau pribadi.

Hal ini menimbulkan iri dalam hati pangeran muda dan ibunya, maka mulailah mereka berusaha untuk mengenyahkan setidaknya mengurangi pengaruh dan kekuasaan pangeran tua. Dengan menggunakan barang-barang berharga seperti emas dan permata, pangeran muda ini mengumpulkan orang-orang pandai dan menjanjikan kedudukan-kedudukan mulia, mengadakan persekutuan dengan mereka yang memang memusuhi Prabu Airlangga dan menanti kesempatan untuk memberontak.

Di antara cara-cara yang digunakan pangeran muda untuk mengurangi kekuasaan kakak tirinya adalah mempergunakan orang-orang pandai membunuhi tumenggung-tumenggung dan senopati-senopati yang setia kepada Prabu Airlangga dan karenanya mereka taat akan perintah dan bersetia pula kepada pangeran tua. Banyaklah sudah para tumenggung yang tewas tentu saja dengan dalih permusuhan pribadi. Bahkan Ki Patih Narotama sendiri sudah sering dihadang di tengah jaian dan dikeroyok. Hanya berkat kesaktiannya, selama itu ki patih masih dapat menyelamatkan diri. Dan karena adanya Ki Patih Narotama inilah pangeran muda masih belum berani terang-terangan berusaha merebut kekuasaan, apalagi Sang Prabu Airlangga sendiri masih hidup, biarpun sudah menjadi pertapa dan tidak mau mencampuri urusan duniawi.

Wisangjiwo adalah seorang pemuda yang cerdik. Ia tahu ke mana angin bertiup, sebentar saja bertugas di dalam keraton, tahulah ia akan persaingan ini dan tahulah ia fihak mana yang harus ia bantu. Karena ia dan ayahnya memang bermaksud memberontak, maka segera ia mendekati pangeran muda dan mengambil hati pangeran ini.

Maka dalam waktu singkat saja Wisangjiwo ditarik oleh pangeran muda dan menjadi senopatinya, bahkan menjadi orang kepercayaannya. Melalui Wisangjiwo inilah pangeran muda dapat berkenalan dan menarik bantuan tokoh-tokoh yang memang sudah lama dihimpun oleh ayah Wisangjiwo, yaitu Adipati Joyowiseso.

Tentu saja begitu mendengar dari ki patih bahwa ada kemungkinan patung pusaka disembunyikan di muara Sungai Lorog, Wisangjiwo menjadi girang sekali dan tergesa-tega berangkat naik kuda ke daerah itu. la tidak heran mengapa ki patih justru menyuruh dia, karena hal ini baginya tidak aneh. Bukankah ia selalu bersikap hormat dan baik terhadap ki patih? Bukankah ki patih ini bekas kekasih gurunya, Ni Durgogini?

Hal ini baru ia ketahui setelah ia bekerja di istana. Dan bukankah Ki Patih Narotama yang membantunya mendapatkan kedudukan di istana? Tanpa curiga sedikitpun, Wisangjiwo berangkat naik kuda. Kalau benar-benar ia dapat menemukan patung pusaka, hemmm... ia masih ragu-ragu apakah akan diserahkannya pusaka itu kepada pangeran muda. Bagaimana nanti sajalah, pikirnya dan dengan hati gembira ia mempercepat larinya kuda.

Di balik batang pohon, Pujo yang mengintai kedatangan Wisangjiwo, menjadi tegang seluruh tubuhnya. Melihat musuh besarnya ini, terbayanglah semua peristiwa sepuluh tahun yang lalu, peristiwa malam jahanam di dalam Gua Siluman. Kedua tangan Pujo dikepalkan erat-erat, matanya menjadi merah beringas, gigi atas dan bawah bertemu ketat menimbulkan bunyi berkerotan, jantungnya berdegup seakan hendak pecah, nafasnya mendesis keluar di antara gigi yang merapat.

Ketika kuda yang ditunggangi Wisangjiwo lewat, Pujo cepat-cepat lari membayangi sambil bersembunyi dari pohon ke pohon. Akhirnya, di dekat muara di mana air Sungai Lorog yang kemerahan memasuki laut yang airnya kebiruan, Wisangjiwo melompat turun dari atas kudanya. Ia tidak mengikat kuda ini pada pohon, tanda bahwa kuda itu jinak dan baik. Kemudian Wisangjiwo melangkah ke kanan menyusuri pinggir muara, matanya memandang ke empat penjuru.

Bagaimana di tempat yang sunyi ini disembunyikan patung pusaka? Apakah Ki Patih Narotama sengaja berbohong dan mempermainkannya? Akan tetapi hatinya berdebar ketika ia melihat sebuah pondok kecil di sudut sana, dekat hutan. Hemm, agaknya pondok itu ada penghuninya dan penghuni pondok itu agaknya yang tahu akan pusaka yang disembunyikan. Dengan langkah lebar Wisangjiwo berjalan menuju ke pondok. Akan tetapi tiba-tiba dari balik sebatang pohon meloncat keluar seorang laki-laki yang menghadapinya dengan muka beringas dan mata merah.

"Pujo.... ??!?"

Wisangjiwo berseru kaget sekali. Kaget dan heran, karena sungguh ia sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Pujo di tempat ini. Akan tetapi ia sama sekali tidak takut. Dahulu ia pernah kalah oleh Pujo di dalam gua itu, akan tetapi lain dulu lain sekarang. Ia telah memperdalam ilmunya. Pula, ia malah girang bertemu dengan musuh besarnya, yang telah memperkosa isterinya dan adiknya, dan telah menculik puteranya.

Pujo tertawa menyeramkan, tawa mengandung dendam, benci, dan juga girang. Bertahun-tahun ia menanti datangnya saat ini dengan penuh ketekunan. Belum pernah sedetikpun api dendam yang menyala di dalam hatinya itu padam. Bahkan mengecilpun tidak kalau tak dapat dikatakan makin membesar.

"Wisangjiwo jahanam pengecut! Akhirnya kita berhadapan empat mata di tempat sunyi ini. Agaknya Dewa Keadilan sengaja mempertemukan kita agar semua perhitungan yang lalu dapat dibereskan sekarang juga. Wisangjiwo, sepuluh tahun lebih yang telah lalu, engkau melakukan perbuatan keji dan biadab. Kau merobohkan aku dengan serangan pengecut dan curang, kemudian engkau melakukan perbuatan biadab terhadap isteriku. Nah, sekarang bersiaplah untuk menebus dosamu dengan nyawa!"

Wisangjiwo bertolak pinggang dan tertawa mengejek. "Ha-ha-ha-ha! Benar-benar engkau pria yang sama sekali tidak jantan! Engkau memutarbalikkan fakta dan pandai melontarkan fitnah hanya untuk mencarikan dalih penutup perbuatan-perbuatanmu yang biadab. Ha-ha- ha!"

Pujo mengerutkan keningnya. "Apa maksud kata-katamu yang busuk ini? Kau berani menyangkal bahwa malam itu kau tidak datang ke Gua Siluman, memukul roboh aku secara curang kemudian engkau memperkosa isteriku yang telah terluka dan tak berdaya?"

Wisangjiwo menggeleng kepala cepat-cepat. "Datang ke guha dan bertanding denganmu sampai isterimu dan engkau roboh, itu memang betul. Akan tetapi setelah itu aku pergi ke luar gua, sama sekali tidak memperkosa "

"Bohong.... !!"

Saking marahnya Pujo sudah menerjang maju, memukul dahsyat sekali karena ia telah mempergunakan Aji Gelap Musti dalam keadaan dendam dan penuh kebencian. Wisangjiwo selama sepuluh tahun inipun tidak tinggal diam, melainkan melatih diri dengan tekun. Betapa dahsyatnya pukulan Pujo, sekali miringkan tubuh pukulan itu menyambar lewat dan cepat Wisangjiwo membalas dengan ilmu pukulan Tirto Rudiro karena sejak turun dari kuda tadi, untuk menjaga bahaya ia sudah menggenggam ajimatnya kerang merah sehingga sewaktu-waktu dapat ia pergunakan.

Hawa dingin menyambar ke arah lambung Pujo ketika pukulan Tirto Rudiro itu dilakukan lawan dari sebelah kanannya. Pujo yang tadi tak berhasil pukulannya, kini malah terus memutar tubuh ke kiri amat cepatnya sambil melakukan gerakan mendorong dengan lengan tangan kirinya yang mendahului tubuhnya membalik. Tentu saja ia mengerahkan tenaga saktinya dalam tangkisan ini karena maklum bahwa lawannya bukan orang lemah.

"Dukkk! "

Tepat sekali gerakan Pujo tadi karena tangan kirinya dengan jari-jari terbuka itu menangkis hantaman kepalan kanan Wisangjiwo. Kesudahannya, Pujo tergetar mundur tiga langkah, akan tetapi Wisangjiwo terhuyung ke belakang hampir roboh kalau ia tidak cepat-cepat meloncat untuk mematahkan tenaga benturan yang mendorongnya! Ketika Pujo hendak mendesak lagi, Wisangjiwo menyetopnya dengan tangan kanan diangkat dan membentak marah,

"Heh keparat Pujo. Jangan kira aku takut kepadamu. Kita sama-sama laki-laki gemblengan. Kalah dan maut dalam pertandingan bukan apa-apa! Akan tetapi kau bicaralah yang genah (masuk akal)! Jangan membuang fitnah ke kanan kiri seperti orang mabok saja. Hayo katakan, di mana kau sembunyikan puteraku yang kau culik?"

Senyum paksaan, senyum masam membayang di wajah yang muram itu. "Apa yang kau kehendaki akan terjadi Wisangjiwo. Kau ingin dia mati? Mudah. Ingin melihat dia menjadi penderita cacat, menjadi anggota para jembel gelandangan atau menjadi anggota maling dan rampok?"

"Setan iblis! Kau apakan puteraku? Kau bunuh dia? Jahanam keji, kau telah merusak kehormatan adikku, isteriku, dan kiranya kau malah telah membunuh puteraku. Di samping kekejianmu ini kau masih mendakwa aku yang bukan-bukan. Cuh, tak tahu malu! Laki-laki macam apa kau ini? Hayo, sekarang tidak perlu beradu suara lagi, biarlah senjata yang menentukan!"

Setelah berkata demikian Wisangjiwo menggerakkan tangannya dan tampaklah sinar hitam bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara "tar-tar-tar!" Itulah cambuk sakti Sarpokenoko milik Ni Durgogini yang telah dihadiahkan kepada murid dan kekasih rupawan ini! Memang bukan cambuk sembarang cambuk. Cambuk pusaka ampuh yang dimainkan dalam ilmu yang hebat sehingga cambuk itu berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung yang mengeluarkan suara meledak-ledak dan mengeluarkan asap hitam tipis!

"Wuuut-tar-tar-tar!"

Gulungan sinar hitam cambuk Sarpokenoko menyambar ganas. Pujo mengenal senjata ampuh. Cepat ia menggedruk (menendang dengan tumit) tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas dengan kecepatan luar biasa. Cambuk Sarpokenoko menyambar-nyambar dan meledak-ledak di bawah kakinya. Akan tetapi sambaran ke tiga menyentuh ujung tumit kirinya dan Pujo terpaksa membuang diri ke kiri lalu tubuhnya jatuh ke tanah, terus bergulingan dan meloncat bangun dengan wajah agak pucat. Tumit kirinya terasa panas sekali.

"Ha-ha-ha, Pujo. Kepandaian hanya sebegitu akan tetapi berani mati engkau menuduh yang bukan-bukan kepadaku hanya untuk menutupi perbuatan-perbuatan yang rendah dan keji. Lebih baik lekas kauberitahu di mana puteraku, mungkin aku masih akan mempertimbangkan dosamu. Sebagai laki-laki sejati, aku tidak akan meributkan benar perkara wanita. Kalau kau berkeras hemmmmm, Sarpokenoko akan merobek-robek tubuhmu!"

Pujo tadi memang terkejut sekali. Ia tadi meloncat dengan Aji Bayu Tantra, ilmu meringankan tubuh ajaran Resi Bhargowo yang selama ini telah ia sempurnakan. Dan menilik gerakannya, Wisangjiwo tidak secepat itu sehingga dapat mengenai tumitnya dengan cambuk. Maka ia menduga bahwa tentu cambuk hitam itulah yang hebat, cambuk sakti yang amat ampuh dan ia kini berlaku hati-hati sekali.

"Wisangjiwo keparat sombong! Baru dapat menjilat tungkakku saja engkau sudah menyombong. Kau kira aku kalah olehmu? Nah, majulah!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Pujo menggerakkan tangan kanan dan sudah mencabut sebatang keris yang mengeluarkan sinar kehijauan. Inilah keris pusaka yang ia namakan Banuwilis karena sinarnya yang kehijauan. Keris eluk sembilan yang pamornya seperti ombak Laut Selatan dengan airnya yang hijau saking dalamnya.

Wisangjiwo tertawa mengejek, cambuknya melecut keras dan menyambar kepala Pujo. Pujo sudah siap sedia, sengaja ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan kerisnya ke atas dengan pengerahan tenaga agar cambuk lawannya terbabat putus. Ketika ujung cambuk bertemu dengan mata keris, dari kedua senjata itu keluar hawa mujijat yang ampuh dan saling bertentangan. Keris Banuwilis tidak cukup kuat untuk dapat membabat putus Sarpokenoko, akan tetapi tenaga sakti yang tersalur melalui keris itu masih lebih kuat daripada tenaga Wisangjiwo sehingga cambuk itu terpental ke atas dan telapak tangan Wisangjiwo terasa panas dan sakit.

Marahlah senopati muda ini. Ia mengeluarkan gerengan keras dan cepat cambuknya bergerak menyambar-nyambar, dan diam-diam tangan kirinya sudah melolos keluar sehelai kain merah dari saku baju. Selama sepuluh tahun ini, selain memperoleh kemajuan dalam semua ilmu yang telah dimilikinya, juga Wisangjiwo menerima hadiah lain dari Ni Nogogini bibi guru yang menjadi juga kekasihnya, yaitu kain ini yang mengandung hawa beracun amat berbahaya. Sekali mengebutkan kain ini, bau yang harum akan tercium lawan dan betapapun tangguhnya lawan, tentu akan roboh pingsan mencium bau ini. Senjata yang amat curang dan hanya digunakan oleh laki-laki yang suka mengganggu wanita baik-baik, atau setidaknya oleh orang yang suka merebut kemenangan dengan jalan apapun juga.

Melihat betapa gulungan sinar cambuk hitam itu kini menyambar-nyambar membentuk lingkaran-lingkaran ruwet seperti banyak ular bermain-main, sukar diduga mana ujungnya yang akan menerjangnya, Pujo berlaku hati-hati sekali. Ia berdiri tegak memasang kuda-kuda, membiarkan sinar hitam itu bergulung-gulung mengitari atas kepalanya. Ketika sampai lama gulungan sinar hitam itu tidak menerjangnya, maklumlah ia bahwa Wisangjiwo memang hendak memancingnya agar ia mempergunakan kecepatan gerakan mengimbangi gerakan cambuk. Pujo tahu akan hal ini dan tahu pula bahwa biarpun ia memiliki Bayu Tantra yang membuat ia mampu bergerak secepat gerakan cambuk, namun mana mungkin ia dapat bertanding kecepatan melawan sebatang cambuk yang digerakkan tangan? Lama-lama ia tentu akan lelah dan kalah.

Oleh karena itulah, ia diam saja tidak melayani permainan cambuk lawan. Iapun maklum bahwa biarpun cambuk itu kini bergulung-gulung sinarnya di atas kepala, namun Wisangjiwo sedang menanti saat baik. Kalau ia terpancing dan melakukan serangan lebih dulu, tentu Wisangjiwo akan menjatuhkan serangannya secara tak tersangka-sangka. Di lain pihak, Wisangjiwo mendongkol dan kecewa sekali, juga kagum. Siasat pertempuran ini ia dapat dari gurunya belum lama ini.

"Menghadapi lawan tangguh yang sedang marah, biarkanlah ia bingung dengan bayangan cambuk berputar-putar di atas kepalanya, pancing dia supaya menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya mengimbangi kecepatan gerak cambukmu. Nah,kalau sudah demikian, mudah saja merobohkannya. Baik dia menyerang dulu atau tidak, kau boleh gerakkan samputangan merah mengebut mukanya atau menangkis serangannya dan pada saat itu ujung cambukmu menghantam dari atas memilih Sasaran yang tepat."

Demikian itu ajaran dari gurunya. Akan tetapi sekarang Pujo diam saja, hanya berdiri memasang kuda-kuda dan menatap kepadanya penuh kewaspadaan, benar-benar membuat ia sendiri yang bingung! Akhirnya Wisangjiwo menjadi tidak sabar. Secara tiba-tiba ia menggerakkan saputangan merahnya dengan tangan kiri, dikebutkan ke arah muka Pujo lalu menyusul dengan gerakan cambuknya yang siap menghantam bagian berbahaya sesuai dengan gerakan Pujo apabila mengelak serangan saputangan merah...

BADAI LAUT SELATAN JILID 12


Badai Laut Selatan Jilid 11

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 11

Wanita itu masih muda dan memang hebat. Wajahnya cantik jelita, dihias rambutnya yang panjang terurai ke belakang hitam berombak. Pakaiannya bagian atas hamper tidak dapat menahan lekuk lengkung tubuh yang seperti hendak memberontak dan memecahkan kain penutup karena kepadatannya.

Namun, kecantikan dan keindahan bentuk tubuh ini dilindungi sikap yang agung, pandang mata yang tajam angker, tarikan mulut yang membayangkan kekerasan hati, kerut di kening yang menggoreskan derita hidup yang kesemuanya itu membuat ia tampak bercuriga kepada setiap orang yang dihadapinya.

"Pergilah engkau, paman tua dan jangan ganggu anak ini!"

Demikian ucapannya yang ditujukan kepada Cekel Aksomolo. Suaranya merdu akan tetapi nadanya dingin menyeramkan, seakan-akan di balik ucapan itu bersembunyi ancaman maut yang mengerikan. Cekel Aksomolo dapat merasakan ini, akan tetapi tentu saja ia tidak takut. Masa seorang sakti mandraguna seperti dia takut terhadap seorang wanita yang begitu denok ayu?

"Aduuhh, ayu kinyis-kinyis, denok montrok-montrok, di dunia tiada keduanya! Engkau siapa, genduk bocah ayu manis? Waduhhh, mati aku ada wanita kok begini cantik!"

Wanita itu mengerutkan kening, pandang matanya mengeluarkan sinar berapi, lalu terdengar lagi ia bertanya, suaranya masih merdu namun lebih dingin daripada tadi, "Kakek tua, sekali lagi pergilah! Aku tak akan menangani (menghajar) seorang kakek yang sudah tua renta seperti kau, kecuali kalau terpaksa."

"Heh-heh-huh-huh-huh! Biar tua tuanya kelapa, tuanya kemiri, biar tua lebih berguna daripada yang muda! Bocah denok montrok, aku mau pergi dari sini kalau menggendongmu!"

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan hampir saja Cekel Aksomolo terjengkang saking kagetnya. Kiranya yang mengeluarkan suara lengking mengerikan tadi adalah wanita ayu ini! Akan tetapi kakek ini tidak diberi kesempatan untuk terheran lebih lama karena pada detik itu wanita tadi telah menerjangnya dengan gerakan kilat dan sebuah tamparan keras menyambar mukanya! Tamparan yang menggunakan telapak tangan, dan hawa pukulannya saja sudah seperti api membara! Kagetlah kakek ini, sama sekali tidak disangkanya wanita seelok ini dapat melakukan pukulan sedahsyat itu. Cepat ia mengelak, kini tangan dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah lambung, hebatnya bukan main.

"Aduhhh, celaka.... !"

Cekel Aksomolo adalah seorang sakti tentu saja dalam keadaan bahaya ini ia tidak kehilangan akal. Tahu bahwa tusukan itu biarpun hanya dilakukan dengan jari-jari tangan yang halus meruncing lunak, namun dapat menembus kulit lambungnya, dan bahwa tusukan itu tak dapat lagi ia elakkan, si kakek cepat menggerakkan tasbihnya, menghantam ke arah kepala wanita itu untuk mengajak sampyuh (mati bersama)!

"Kakek jahat!" Wanita itu berseru, tangan kirinya menangkis lengan kanan lawan yang membawa tasbih dan karena itu maka tusukannya tadi melambat sehingga Cekel Aksomolo mendapat kesempatan untuk menangkis pula dengan tangan kiri sambil miringkan tubuh. Dua pasang tangan saling bertemu dan akibatnya, wanita itu terhuyung ke belakang, akan tetapi juga Cekel Aksomolo hampir terguling.

Wanita itu agaknya penasaran dan marah, tanpa mengeluarkan kata-kata ia sudah menerjang maju lagi, gerakannya cepat bukan main, kedua tangannya mengeluarkan angin panas! Cekel Aksomolo yang kecelik mengira dia itu wanita ayu yang lemah dan mudah dijadikan korban, terpaksa menggunakan tasbih melawan. Yang lebih mengherankan hatinya adalah betapa suara tasbihnya seakan-akan tidak mempan terhadap wanita ini. Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa wanita cantik yang ia hadapi ini adalah Kartikosari, isteri Pujo. Kartikosari kini bukanlah Kartikosari sepuluh tahun yang lalu. Ia sudah melatih diri di tepi laut, jika sedang melatih tenaga sakti, deru badai mengamuk sekalipun tidak menggoyahkan pertahanan batinnya. Apalagi kini suara tasbih yang biarpun mengandung suara mujijat, namun bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suara mujijat yang dibawa oleh ombak dan badai!

Pada saat Kartikosari menerjang dan terlibat dalam pertandingan seru dengan Cekel Aksomolo, Joko Wandiro berdiri terbelalak kagum. Sudah banyak ia melihat laki-laki sakti, jagoan-jagoan yang pandai. Akan tetapi baru kali ini ia menyaksikan seorang wanita berkelahi dengan cara yang demikian mengagumkan. Apalagi ketika ia mengenal gerakan-gerakan ayahnya, ia makin terpesona. Tadi ketika Cekel Aksomolo bertanding melawan Ki Tejoranu, tahu-tahu wanita ini muncul dan sekali mengurut pundaknya, ia dapat bangun. Akan tetapi sebelum Joko Wandiro sempat bertanya, Cekel Aksomolo yang telah merobohkan Ki Tejoranu telah menghadapi penolongnya. Kini mereka berdua bertanding hebat, Joko Wandiro memandang kagum akan tetapi juga khawatir karena ia maklum betapa kakek bongkok itu benar- benar berbahaya dan sakti.

Pada saat itu, ia merasa ada angin bertiup di belakangnya dan disusul napas terengah seorang manusia. Joko Wandiro cepat membalikkan tubuhnya, siap menghadapi serangan lawan. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat seorang anak perempuan sebaya dengannya, hanya satu dua tahun lebih muda, anak yang berwajah seperti bulan dan bermata seperti bintang, berdiri dengan napas terengah-engah memandang pertempuran. Agaknya anak ini telah berlari jauh dan cepat maka sampai terengah-engah napasnya.

Melihat anak ini memandang pertempuran dengan mata terbelalak, Joko Wandiro menyangka dia ketakutan dan ngeri, maka katanya, "Kau siapa? Anak kecil tidak boleh di sini, berbahaya. Tidak kaulihat ada orang bertempur? Pergilah!"

Tangannya bergerak mendorong ke arah pundak untuk menakut-nakuti dan menyuruh anak itu pergi, akan tetapi hanya dengan gerakan miringkan tubuh, dorongannya tidak mengenai sasaran dan anak perempuan itu kini memandangnya dengan mata marah dan mulut cemberut.

"Lagaknya seperti orang tua saja! Apakah kau juga bukan anak kecil? Tentu kau anak monyet itu!"

Dan tiba-tiba sekali, benar-benar di luar dugaan Joko Wandiro, anak perempuan itu telah menerjang dan menghantam dadanya dengan kepalan tangannya yang kecil. Serangan ini amat cepat dan juga sama sekali tidak disangka-sangka, maka Joko Wandiro tidak sempat mengelak lagi.

"Bukk!"

Joko Wandiro roboh terjengkang, mengelus dadanya yang terpukul karena merasa sakit. Benar-benar ia heran luar biasa bagaimana ada seorang anak perempuan memiliki pukulan yang begini ampuh, cukup kuat sehingga ia sesak bernapas. Gerakannya cepat sekali dan melihat cara anak ini memukul, jelas bahwa anak ini memiliki ilmu berkelahi yang sama sekali tidak rendah! Melihat Joko Wandiro hanya jatuh terduduk saja oleh pukulannya tadi, anak perempuan itu marah-marah,

"Kau masih belum rebah mampus?" teriaknya dan kini dengan gerakan yang benar-benar dahsyat dan cepat dia telah menendang ke arah muka Joko Wandiro yang masih terheran-heran. Akan tetapi kali ini Joko Wandiro tidak berani berlaku lengah. Cepat ia mengelak dan meloncat bangun.

"Wah, kau ini bocah setan begini galak dan keji!"

Joko Wandiro berseru karena anak itu sudah menerjangnya lagi kalang-kabut. Sebuah pukulan secara aneh sekali telah bersarang di perutnya membuat ia terhuyung ke belakang. Hebat dan cepat gerakan anak perempuan itu. Kalau ia tadi menangkis lalu membalas tentu ia akan dapat mendahului, akan tetapi karena Joko Wandiro tidak mau menyerang anak perempuan, maka ia lagi-lagi terkena pukulan. Perutnya menjadi mulas dan ia mulai marah.

"Kau ini bukan bocah perempuan, kau seperti kucing mabok!" katanya dan menangkis kuat-kuat, bahkan balas menampar ke arah pipi anak itu. Anak itu mengelak sambil meloncat mundur, kedua pipinya yang tadi terkena tamparan itu menjadi merah sekali,

"Apa kau bilang?" Telunjuknya yang kecil menuding ke arah hidung Joko Wandiro, seperti hendak menusuk lubang hidungnya. "Aku kucing? Kalau begitu kau monyet! Kau celeng goteng! Kau kirik (anak anjing) bungkik!"

"Wah-wah, galak dan tukang maki. Kau ini bocah manakah sih begini kurang ajar? Hayo pergi, kalau tidak tentu kutempiling kau!" Joko Wandiro marah, melangkah maju dan mengancam dengan kedua tangan terkepal.

"Kau berani menempiling aku? Coba! Hayo coba! Dua kali sudah kuhantam engkau, yang ketiga kalinya tentu kau takkan dapat bangun lagi!"

Anak perempuan itu memekik dan menyerang lagi lebih dahsyat daripada tadi. Joko Wandiro yang sudah marah dan penasaran, menangkis dan balas menyerang. Alangkah kaget dan herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan anak perempuan ini sama dengan gerakan-gerakannya!

Sementara itu Kartikosari merupakan lawan yang kuat bagi Cekel Aksomolo. Biarpun kakek itu memiliki tasbih mujijat, namun Kartikosari dapat menghadapinya dengan baik. Kedua tangan wanita ini ampuh sekali, apalagi dibantu dengan tendangan-tendangan kaki yang tak terduga-duga. Setelah serangan-serangannya gagal dan ia mendapat kenyataan bahwa kakek bongkok itu tidaklah selemah yang ia kira semula, Kartikosari mencabut sebatang keris kecil dari pinggangnya dan kini dengan keris di tangan kanan untuk menyerang, tangan kirinya berusaha mencengkeram dan merampas tasbih.

Kagetlah Cekel Aksomolo. Tak disangkanya wanita muda yang cantik jelita ini demikian perkasa. Dan ketika ada dua sinar golok menyambar sebagai tanda bahwa Ki Tejoranu sudah maju pula mengeroyoknya, diam-diam Cekel Aksomolo mengeluh. Menghadapi wanita cantik ini saja ia sudah repot dan andaikata dapat menang juga akan makan waktu lama, apalagi sekarang ditambah sepasang golok Ki Tejoranu yang cukup ampuh, bisa- bisa ia mati konyol! Maka ia tiba-tiba membunyikan tasbihnya dan menyerang hebat.

Ki Tejoranu yang sudah terluka hebat itu cepat meloncat mundur dan Kartikosari juga kaget dan cepat mundur memasang kuda-kuda. Saat itu dipergunakan oleh Cekel Aksomolo untuk mencelat ke belakang dan melarikan diri. Ki Tejoranu cepat maju dan memberi hormat kepada Kartikosari, berkata kagum,

"Nona yang gagah pelkasa telah menolong saya olang tua yang tiada guna, sungguh melupakan budi besal."

Akan tetapi Kartikosari tidak menjawab karena perhatiannya tertarik oleh gerakan-gerakan di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat dua orang anak itu masih saling serang dengan gerakan cepat. Ia tertegun sejenak, kagum menyaksikan gerakan mereka yang jelas sealiran. Akan tetapi iapun dapat melihat bahwa anak perempuan itu yang lebih banyak menyerang, sedangkan anak laki-laki itu lebih banyak mengalah, menangkis dan mengelak.

"Endang! Berhenti, jangan pukul orang!"

Suaranya merdu akan tetapi berpengaruh karena anak perempuan itu meloncat mundur, mencibirkan bibir bawah yang merah kepada Joko Wandiro sambil berkata perlahan,

"Untung kau, ibu melarang, kalau tidak.... hemmm..... !"

Joko Wandiro mendongkol, akan tetapi lega hatinya karena tidak harus melayani anak perempuan liar dan galak ini. Ia menengok dan memandang wanita itu penuh kagum. Kartikosari sudah menghadapi Ki Tejoranu lagi sambil mengeluarkan pertanyaan halus,

"Kau terluka, paman?"

Ki Tejoranu menoleh ke arah pundak kirinya. Ia tadi sudah merobek baju di sebelah kiri dan tahu bahwa pundaknya terluka biji tasbih yang berbisa sehingga pundaknya memperlihatkan luka menghitam.

"Ah, telkena senjata ganitli yang belbisa. Kakek itu benal jahat."

Kartikosari agak geli hatinya mendengar omongan yang pelo itu, dan ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang asing.

"Syukur kalau kau dapat mengobatinya sendiri, kalau tidak, saya mempunyai obat widosari (semacam boreh) yang baik untuk memunahkan bisa."

"Telima kasih. Tidak usah, bisanya tidak amat jahat, tidak sejahat Cekel Aksomolo."

"Ah, dia Cekel Aksomolo? Pantas begitu sakti. Nah, paman, harap kau tinggalkan kami dan kuharap kau tidak usah sebut-sebut kehadiranku di sini."

Ki Tejoranu memandang penuh perhatian, lalu mengangguk-angguk.
"Nona telah menolong, saya tidak akan lupa."

Kemudian ia melangkah menghampiri Joko Wandiro dan mengangguk-angguk pula memberi hormat. "Saudala kecil amat gagah calon ksatlia, kelak kita beltemu lagi. Selamat... selamat.... !" pergilah kakek itu dengan gerakan cepat sekali.

Kartikosari membalikkan tubuh memandang Joko Wandiro yang juga memandangnya dengan matanya yang tajam. "Eh, bocah, siapa namamu dan mengapa kau bertanding melawan anakku? Kau tadi tahu betapa aku telah menolongmu, mengapa kau membalas pertolongan orang dengan cara demikian?"

Joko Wandiro menundukkan mukanya, tak kuasa menentang kilatan sinar mata wanita itu, lalu menguatkan hati karena merasa tidak bersalah, memandang lagi dan menjawab, "Bibi yang baik, nama saya Joko Wandiro. Saya sama sekali tidak mengajak berkelahi boc .. eh, adik ini, melainkan saya hanya membela diri karena diserang kalang-kabut. Selain itu, tadi saya tidak tahu bahwa dia.... dia anak bibi. Maafkan, bibi."

Senang hati Kartikosari melihat anak tampan dan bertubuh tegap ini bicara secara jujur dan pandai membawa diri pula. Ia mengangguk-angguk dan berkata, "Gerakanmu bertanding tadi, dari siapa kau belajar?"

Kartikosari setengah menduga bahwa anak ini kalau bukan murid Pujo tentulah murid ayahnya, Resi Bhargowo. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia mendengar jawaban yang tegas.

"Dari ayah saya."

"Ayahmu...? Siapakah nama ayahmu?"

"Namanya Pujo."

Berdegup jantung dalam dada Kartikosari. Lalu ia melirik ke arah puterinya, membanding-bandingkan. Anak laki -laki ini jelas lebih tua daripada anaknya. Akan tetapi ia masih belum puas.

"Berapa usiamu sekarang?"

"Kata ayah usia saya dua belas tahun, bibi."

"Hemm, kalau begitu tak mungkin Pujo beristeri lagi dan mempunyai anak ini," pikir Kartikosari agak lega.

Akan tetapi mengapa Pujo bisa memiliki putera yang lebih tua daripada anaknya? "Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro menggigit bibir, menekan perasaannya yang sakit, lalu menggeleng kepala. "Saya saya tidak tahu, bibi, mungkin sudah tidak ada di dunia ini ..... "

"Oohhhh.... di mana dia sekarang ? "

"Siapa, bibi?"
"Pujo itu, di mana dia?"
"Ayah?"
"Hemm, ya. Di mana dia?"
"Bibi mengenal ayah?" Joko Wandiro girang.

"Mengenal Pujo?" Kartikosari mengulang pertanyaan ini.

Bibirnya tersenyum akan tetapi hatinya serasa diremas-remas. Dia mengenal Pujo? Sungguh pertanyaan yang menggelikan, tapi juga menyedihkan. "Tentu saja. Di mana dia sekarang?"

"Ayah sejak dahulu tinggal di muara Sungai Lorog, bibi."

Mendengar ini Kartikosari serentak timbul niat di hatinya untuk menjumpai suaminya. Sudah lama sekali ia merindukan suaminya yang tercinta. Sekarangpun ia baru saja meninggalkan Karangracuk di pantai selatan untuk melakukan balas dendam, untuk mencari Wisangjiwo dan mencari suaminya. Ia menyimpan dendamnya sampai sepuluh tahun adalah karena ia ingin memperdalam ilmunya dan di samping itu, iapun tidak dapat meninggalkan Endang Patibroto yang masih kecil.

Kini anaknya sudah berusia sepuluh tahun, sudah cukup besar dan kuat diajak melakukan perjalanan jauh. Siapa kira, suaminya itu berada di muara Sungai Lorog, di pantai Laut Selatan pula yang tidak berapa jauhnya dari tempat tinggalnya sendiri. Apalagi kalau melakukan perjalanan dari Karangracuk terus menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan menuju ke timur, dengan ilmu lari cepat agaknya dalam waktu dua hari saja paling lama tentu akan sampai!

"Endang, kau kembalilah ke pantai bersama anak ini. Ibumu akan pergi selama sepekan. Kalian berdua tunggu kembaliku di pantai dan jangan berkelahi lagi!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Kartikosari dari depan kedua anak itu. Joko Wandiro masih termenung karena kagum melihat gerakan yang luar biasa cepatnya itu dan ia kaget ketika tiba-tiba punggungnya disodok siku dari belakang Ia menoleh dan ternyata yang menyikunya adalah anak perempuan tadi! Anak itu memandangnya, penuh tantangan.

"Mau apa kau?" Ia menegur marah.

Anak perempuan itu menjelajahi tubuhnya dari kaki ke kepala dengan pandang mata menilai, lalu berkata, "Sekarang ibuku telah pergi. Hayo kita lanjutkan adu tebalnya kulit kerasnya tulang!"

Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum. Anak perempuan ini memang luar biasa sekali dan ia tidak bisa mengharapkan lain dari anak seorang wanita sakti seperti tadi. Anak ini agaknya dimanja dan tak pernah mau kalah, pikirnya. Ia maklum bahwa kalau ia bersungguh-sungguh, biarpun tidak mudah namun ia pasti akan dapat menangkan anak perempuan ini. Akan tetapi anak ini adalah anak wanita cantik tadi yang telah menolong nyawanya, bagaimana ia dapat menjadi lawan? Kalau sampai kesalahan pukul, bukankah ibunya akan marah kalau pulang nanti? Dan pula, ia tidak tega untuk memukul kulit yang kelihatannya halus tipis itu.

"Eh, ditantang berkelahi kok malah mesam-mesem (senyum-senyum)! Hayo, kalau kau memang laki-laki gagah. Kalau bisa kalahkan Endang Patibroto barulah kau benar-benar perkasa!"

Anak perempuan itu berdiri memasang kuda-kuda, menggerak-gerakkan kedua tangannya yang jari-jarinya dibuka seperti kuku burung elang. Terdengar bunyi angina perlahan bercuitan dari jari-jari ini dan diam-diam Joko Wandiro terkejut. Itulah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya! Mengapa tadi anak itu tidak mengeluarkan ilmu pukulan ini? Dia merasa ragu- ragu apakah akan mampu menghadapi tangan yang telah memiliki tenaga sakti seperti itu.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa karena tidak mau kalah, Endang Patibroto ini sengaja memperlihatkan ilmu simpanan yang ia pelajari dari ibunya. Ilmu ini adalah ciptaan ibunya sendiri yang mengambil inti gerakan burung-burung walet dan elang laut. Ibunya telah mengancamnya agar jangan menggunakan ilmu ini karena selain belum sempurna dipelajari, juga ilmu ini hanya boleh digunakan kalau keadaan betul-betul mendesak. Kini ibunya tidak ada maka timbul keberaniannya untuk memamerkan di depan Joko Wandiro!

"Sudahlah, aku terima kalah. Ibumu begitu baik menolongku, mengapa engkau begini galak?"

Setelah berkata demikian, Joko Wandiro membalikkan tubuhnya lalu duduk di atas sebuah batu hitam besar di bawah pohon asem. Di dekat kakinya banyak terdapat buah-buah asem yang rontok, buahnya sudah matang. Dipilihnya beberapa biji dan dikupasnya perlahan, lalu dimakannya daging asem yang matang berwarna merah kehitaman itu. Rasanya masam-masam manis. Rasa masam membuat kedua pelupuk matanya bergetar dan melihat ini, Endang Patibroto tak dapat menahan lagi air liurnya. Menyaksikan orang makan yang asam-masam memang bisa membikin mulut kemecer (mengeluarkan liur)! Joko Wandiro melihat betapa anak perempuan itu beberapa kali menelan ludah, tersenyum dan memilih beberapa buah asem matang, mengangsurkannya kepada Endang Patibroto.

"Enak yang kemampo (setengah matang) begini!"

Endang Patibroto masih memasang kuda-kuda. Melihat betapa orang yang ditantangnya tidak menyambut tantangannya malah menawarkan buah asem kemampo ia tertegun. Selama ini tidak banyak ia bergaul dengan orang lain. Ibunya melarangnya. Buah asempun belum pernah ia memakannya, kecuali buah asem yang dipergunakan ibunya membumbui ikan, itupun dimakan sebagai bumbu. Sikap dan senyum Joko Wandiro membuat ia kehilangan semangat bertempur, dan akhirnya ia menerima pemberian itu, duduk agak menjauhi dan mulai makan buah asem. Memang enak masam-masam manis. Akan tetapi rasa masam membuat kedua matanya kiyer-kiyer (tergetar setengah terpejam).

"lihhh, kecut sekali !" katanya.

Joko Wandiro tertawa karena lucu sekali melihat anak itu terkiyer-kiyer seperti itu. Endang Patibroto juga tertawa dan lenyaplah semua sisa rasa permusuhan dari dalam dada Endang.

"Namamu siapa?" tanya Endang sambil mengelamuti buah asem, matanya ketap-ketip menatap wajah Joko, mata yang seperti bintang.

"Namaku Joko Wandiro, dan kau?"
"Endang Patibroto "
"Wah, namamu bagus, terutama Patibroto itu..."
"Dan namamu buruk, lebih-lebih Wandiro itu!"

Keduanya terdiam, hanya saling pandang. Karena keduanya sejak kecil jarang bergaul dengan anak-anak berbeda kelamin, pernah melihatpun dalam kelompok banyak, maka kini mereka saling berhadapan merupakan pengalaman pertama dan keduanya merasa seakan-akan menghadapi sesuatu yang aneh dan membutuhkan perhatian.

Setelah kini Endang Patibroto tidak marah lagi, wajahnya tampak manis dan menyenangkan sekali bagi Joko Wandiro. Terutama sepasang mata yang lebar seperti bintang itu. Melihat gadis cilik itu duduknya mendeprok di atas rumput, Joko Wandiro menepuk-nepuk batu hitam di sebelahnya dan berkata, "Endang, marilah duduk di sini, enak duduk di sini."

Endang Patibroto menggeleng-geleng kepala.
"Di sini lebih enak!"

Wandiro menahan senyum. Anak ini benar-benar keras kepala. Rumput itu agak basah dan kotor, bagaimana enak diduduki? "Mungkin lebih enak, akan tetapi hati-hati, kalau ada ulat berbulu dan semut api menggigit kakimu!"

Seketika Endang melompat bangun dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya karena ngeri dan jijik, lalu berjalan perlahan menghampiri Wandiro, duduk di atas batu.

"Kau bilang tadi ibumu sudah tiada... ?"

Joko Wandiro mengangguk sunyi, matanya redup dan keningnya agak berkerut. Melihat ini, Endang Patibroto cepat-cepat menyambung, "Ibuku masih ada, akan tetapi ayahku pun sudah tiada. Engkau tak beribu, aku tak berbapa, jadi sama nilainya. Kita sama-sama anak yatim."

Joko Wandiro mengangguk-angguk, wajahnya masih muram. Dalam hatinya ia membantah. Kau mana tahu, pikirnya. Kehilangan ibu bukanlah suatu hal yang amat menyakitkan hati, akan tetapi mendengar ibu diperkosa orang!

"Joko, kenapa kau diam saja? Seperti arca!"

Teguran disertai sentuhan pada lengannya ini menyadarkan Joko Wandiro. Ia menoleh dan melihat anak perempuan itu tersenyum. Akibatnya luar biasa sekali. Seketika lenyap semua renungan buruk dan bagaikan terkena aliran aneh wajah Joko Wandiro juga murah cerah, tersenyum dan kemudian keduanya tertawa girang!

"Hayo kita berangkat!"
"Berangkat? Ke mana?"

"Ihh, bagaimana sih engkau ini? Bukankah tadi ibu berpesan agar kita kembali ke pantai, ke pondok kami dan menanti ibu di sana selama sepekan? Marilah!"

Joko Wandiro menggeleng kepala.

"Tidak, aku harus lekas pulang. Ayah akan mencari-cari dan menanti-nantiku."

"Eh, mengapa begitu? Kau dengar tadi. Ibuku sedang pergi mencari ayahmu, tentu ibuku akan memberi tahu bahwa engkau berada di sini bersamaku."

"Mengapa ibumu mencari ayahku?"

"Siapa tahu?" Tiba-tiba gadis cilik itu tertawa geli, matanya yang lebar memancarkan sinar berseri dan ia berkata, "Siapa tahu, ayahmu dan ibuku itu sahabat-sahabat baik dan....eh, kalau saja mereka bersatu"

"Hah ..... ??" Joko Wandiro terbelalak heran dan kaget, tidak segera dapat menangkap maksud kata-kata yang tersendat-sendat itu.

"Ibuku menjadi ibumu, ayahmu menjadi ayahku. Bukankah itu baik sekali? Kau mendapatkan ibu baru, aku mendapatkan ayah baru, dan kita menjadi kakak-beradik!"

Serentak gadis cilik itu menari-nari kegirangan, berjingkrak-jingkrak dan berputaran amatlah lincahnya. Joko Wandiro tertegun dan termenung. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam hati ia tidak setuju, akan tetapi menyaksikan kegembiraan gadis cilik ini, ia tidak tega untuk membantahnya.

"Hayo kita berangkat ke pantai!" akhirnya Endang mengajaknya.

Dia menggeleng kepala. "Kurasa lebih baik aku pulang sekarang."

Endang Patibroto cemberut dan membanting-banting kaki kirinya, merajuk.

"Apakah kau tidak mau menemaniku? Kau membiarkan aku sendirian pulang ke pantai yang sunyi dan jauh? Apakah kau tidak suka menjadi kakakku?"

Di dalam suara anak perempuan ini terkandung isak tertahan, terkandung rindu akan kasih sayang saudara yang tak pernah dirasainya, terkandung rasa rindu akan teman bermain yang tak pernah pula dirasainya. Joko Wandiro terharu, apalagi kalau mengingat betapa ibu gadis cilik ini telah menyelamatkannya daripada bahaya maut. Ia mengeraskan hati. Biarlah aku dimarahi ayah kalau perlu. Kasihan dia ini. Ia mengangguk dan berkata tegas,

"Baiklah. Kutemani kau sampai ibumu pulang."

Endang Patibroto bersorak, lalu menyambar tangan Joko Wandiro, ditariknya dan diajaknya lari menuju ke selatan, keluar dari dalam hutan itu. Joko Wandiro hanya tersenyum-senyum dan ia makin tertarik kepada gadis cilik yang amat lincah, galak, mudah marah dan mudah gembira, berwatak aneh ini. Akan tetapi tidak lama kedua orang anak ini berlari-lari sambil tertawa- tawa gembira. Belum juga habis hutan itu mereka tembusi, tiba-tiba mereka berhenti lari dan berdiri terbelalak kaget.

Di depan mereka menghadang lima orang laki-laki tinggi besar yang semua membawa golok di tangan, dengan sikap mengancam memandang mereka berdua. Mereka itu adalah lima orang perampok yang tiga hari yang lalu bersama Cekel Aksomolo. Mereka mengejar dan mencari jejak Ki Tejoranu yang menuju ke hutan ini, maka sampailah mereka ke dalam hutan ini. Sungguh tak mereka sangka bahwa yang mereka temukan bukanlah Ki Tejoranu yang mereka cari-cari, melainkan Joko Wandiro bocah yang pernah membuat mereka kalang-kabut. Tentu saja dapat dibayangkan kemarahan mereka melihat anak ini. Terutama sekali perampok bermata juling yang pernah jatuh bangun oleh Joko Wandiro. Kemarahannya memuncak dan hatinya girang bukan main melihat bocah ini sekarang berada di depannya.

"Hoh-hoh-hoh, keketulan sekali! Kelinci muda mendekati mulut harimau kelaparan! Hayo, anak setan, kau akan lari ke mana sekarang?" bentaknya, goloknya siap membacok. "Uwah, Ki roko, cincang saja tubuhnya si bocah iblis!" seru perampok baju hitam di belakangnya.

"Hayo, kita bunuh dia, akan tetapi bocah ayu itu jangan dibunuh! Kuncup bunga yang belum mekar itu sayang kalau dibunun, ha-ha-hah!" kata perampok ke tiga yang wajahnya pucat.

Melihat lagak para perampok yang tertawa-tawa dan air ludah mereka menyemprot-nyemprot itu, Endang Patibroto ketakutan. Benar ia seorang anak yang sejak kecil menerima gemblengan ibunya di pantai Laut Selatan, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengan orang-orang yang begini buas dan berwajah menyeramkan. Para petani yang pernah ia temui berwajah sabar dan manis budi, tidak seperti binatang buas sikapnya.

Rasa takut membuat ia cepat bersembunyi di belakang Joko Wandiro dan telapak tangannya dingin ketika ia memegang lengan temannya. Juga Joko Wandiro merasa terkejut, gelisah. Ia sendiri tidak takut menghadapi lima orang buas itu, akan tetapi sekarang ia bersama Endang Patibroto yang harus ia lindungi. Keringat dingin menitik turun dari dahinya ketika bocah pemberani ini mendorong temannya supaya mundur sambil membentak.

"Kalian berlima mau apakah? Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, apa kesalahanku sehingga kalian mengancam hendak membunuhku?"

"Ho-ho-ho-ha-ha-ha! Kau ketakutan sekarang, anak setan?"

Si juling tertawa mengejek dan mengangkat goloknya menakut-nakuti. Joko Wandiro siap waspada, memasang kuda-kuda dan menjawab,

"Aku tidak takut karena aku tidak bersalah apa-apa. Orang yang berbuat salah, dialah yang akan ketakutan selama hidupnya!" Ia meniru wejangan ayahnya.

"Huah-ha-ha, bocah sombong, bocah setan. Kematian sudah di depan mata, lekas kau berlutut minta ampun di depan kakiku!" Si juling mengancam lagi.

"Kalau aku bersalah, tanpa kau paksa aku suka minta ampun. Akan tetapi apakah kesalahanku?"

"Kau berani membantah? Minta kucincang kepalamu?"

Golok itu diangkat tinggi-tinggi, mulutnya menyeringai lebar memperlihatkan gigi yang besar-besar dan kuning, matanya makin menjuling lagi sehingga seakan menjadi satu di pinggir hidung. Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan sesosok bayangan berkelebat dari belakang tubuh Joko Wandiro. Bayangan itu menubruk ke depan dan....

"cesssss .. ! " sebuah cundrik (keris kecil) menancap di perut perampok mata juling itu. Cepat gerakan Endang Patibroto ini dan sama sekali tidak pernah tersangka oleh perampok mata juling, bahkan tidak tersangka oleh Joko Wandiro yang menjadi kaget sekali. Cepat pula Endang Patibroto mencelat ke belakang mencabut cundriknya dan "currrrr!!" darah merah muncrat-muncrat dari perut yang gendut.

"....apa...? Aduhh... wah...!"

Si mata juling mendekap perutnya dengan tangan kiri, matanya sejenak terbelalak mengawasi darahnya yang mengucur melalui celah-celah jari tangannya, kemudian ia terbelalak memandang gadis cilik yang berdiri di samping Joko Wandiro dengan cundrik di tangan, cundrik yang merah ujungnya karena darah! Kini Endang Patibroto sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan sepasang matanya yang lebar itu nampak beringas dan liar.

"Endang.... kau... kenapa kau lakukan itu....?"

Joko Wandiro bertanya gagap. Dia sendiri juga seorang anak gemblengan, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melukai orang sampai darah bercucuran dari perutnya seperti itu, maka iapun merasa ngeri. Akan tetapi Endang Patibroto menjawab tegas, "Dia mau membunuhmu, si keparat! Biar kubunuh mereka semua!"

Jawaban ini selain mengagetkan Joko Wandiro, juga membuat para perampok itu marah sekali. Bahkan perampok muka pucat yang tadi tertarik oleh kecantikan wajah gadis cilik ini, sekarang menjadi marah sekali.

"Bunuh mereka! Bunuh kedua setan cilik ini!"

Si mata juling yang lebih dulu mengamuk. Goloknya menyambar dan kini yang ia terjang bukannya Joko Wandiro, melainkan Endang Patibroto yang telah melukai perutnya. Namun gadis cilik yang masih kanak-kanak, baru berusia sepuluh tahun itu memiliki gerakan yang amat gesit sehingga bacokan golok si juling meluncur mengenai tanah. Ia terengah-engeh, mendengus-dengus dan mencari-cari. Ternyata anak perempuan itu sudah meloncat dua meter jauhnya di sebelah kiri. Ia menggereng dan menerjang lagi, kini goloknya ia obat-abitkan sekuat tenaga sehingga merupakan gulungan sinar yang menghalang anak itu meloncat.

Endang Patibroto sejak kecil belajar ilmu silat, akan tetapi ia masih belum ada pengalaman sama sekali, maka melihat golok itu berkelebat ke kanan kiri, ia menjadi bingung. Sambil melangkah maju ia nekat menangkis dengan cundriknya.

"Cringgg.. !" Cundrik itu terlepas dari tangannya, meluncur dan menancap ke atas tanah, tiga meter jauhnya.

"Heh-heh-heh, kucincang kepalamu, bocah keparat!" Si mata juling marah sekali, akan tetapi tiba-tiba tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan, kemudian menggerakkan kedua tangannya seperti cakar burung.

Dua tangannya dengan jari-jari mencengkeram persis kaki burung elang itu membuat gerakan ke arah lengan besar si mata juling yang memegang golok, kemudian mencengkeram, yang kiri bergerak mundur yang kanan maju.

"Kreeeeekkkkk!"

Si mata juling berteriak keras sekali, goloknya terlepas dan lengan kanannya itu robek berikut kulit dan dagingnya! Demikian hebatnya ilmu simpanan yang diajarkan oleh Kartikosari kepada puterinya itu. Baru anak kecil berusia sepuluh tahun saja dengan ilmu ini sudah dapat merobek kulit, daging, dan baju lengan seorang yang kuat seperti perampok mata juling!

Sejenak perampok itu terbelalak, meringis kesakitan, lalu terhuyung-huyung mundur dengan muka ketakutan. Siapa yang takkan ngeri menghadapi bocah perempuan demikian kecilnya akan tetapi yang telah merobek perut dan lengannya? Apalagi darah yang terlalu banyak keluar membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Akhirnya roboh terjerembab di bawah pohon.

Adapun empat orang perampok lain kini sudah menghujani Joko Wandiro dengan bacokan-bacokan golok. Mereka penasaran sekali karena sebegitu lama belum juga mereka mampu menyentuh anak itu dengan golok mereka. Memang mengagumkan sekali gerakan Joko Wandiro. Anak ini cerdik sekali dan maklum bahwa empat orang lawannya kuat-kuat pula memegang senjata tajam, ia tidak mau melawan dengan kekerasan, melainkan cepat menggunakan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh sambil berloncatan ke sana ke mari, mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara kilatan dan sambaran golok.

"Jangan takut, Joko, kubantu!" tiba-tiba terdengar teriakan Endang Patibroto yang sudah tidak punya lawan lagi. Gadis cilik ini berlari hendak mengambil cundriknya, akan tetapi melihat itu, dua orang perampok meninggalkan Joko Wandiro dan menerjang si gadis cilik.

Sabetan pertama pada kepalanya dapat dielakkan oleh Endang Patibroto yang cepat membungkuk untuk mengambil cundriknya. Dalam keadaan membungkuk inilah perampok ke dua sudah menggerakkan golok hendak membacoknya!

"Endang, awas....!"

Saking khawatirnya melihat bahaya mengancam Endang, Joko Wandiro melesat meninggalkan kedua orang pengeroyoknya dan karena lompatannya ini dilakukan sambil mengerahkan Bayu Tantra, tubuhnya melayang dan tahu-tahu telah berada di atas tengkuk si muka pucat yang hendak membacok Endang. Dalam keadaan seperti itu, Joko Wandiro tidak ingat untuk menggunakan ilmu silat lagi, ia segera mencengkeram ke depan sambil berjongkok di atas tengkuk dan pundak dan begitu jari tangannya bertemu benda lunak di depan, terus ia mencengkeram dan menarik.

"Auggghhhh!" Si muka pucat berteriak kesakitan karena cengkeraman itu tepat mengenai mukanya. Celakanya jari tangan yang kecil itu ada yang memasuki lubang hidungnya sehingga ketika Joko Wandiro mencengkeram dan menarik, sebagian hidung si muka pucat menjadi semplok (pecah) dan darah mengucur keluar. Lebih sialan lagi baginya, kawannya yang melihat Joko Wandiro jongkok di atas pundak si muka pucat, cepat mengayun goloknya membacok. Joko Wandiro secepat burung terbang telah melompat turun dari pundak si muka pucat itulah yang menjadi makanan golok. Si muka pucat mengeluh lirih dan roboh terkulai seperti kain basah.

Tiga orang perampok yang lain menjadi makin marah dan mengamuk dengan golok mereka diobat-abitkan. Terpaksa Joko Wandiro dan Endang Patibroto hanya menggunakan kegesitan tubuh mengelak ke sana sini. Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat seperti kilat menyambar-nyambar cepatnya dan berturut-turut tiga orang perampok itu berjatuhan, golok mereka terlempar. Sebelum kedua orang anak itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka telah dikempit seorang kakek tua yang membawa mereka lari secepat terbang!

Betapapun mereka berdua berusaha meronta dan melepaskan diri, sia-sia belaka dan saking cepatnya si kakek ini "terbang", Joko Wandiro dan Endang Patilbroto merasa ngeri dan akhirnya mereka hanya meramkan mata dan menerima nasib!

********************


"Hamba merasa heran sekali mengapa paduka dikeroyok oleh tokoh-tokoh itu," Pujo berkata ketika Ki Patih Narotama sudah tiba di pondoknya, di muara Sungai Lorog. Narotama menarik naipas panjang.

"Pujo, engkau adalah murid Resi Bhargowo yang memiliki kesaktian. Sungguh mengecewakan sekali engkau sebagai seorang satria terlalu tenggelam dalam dendam dan urusan pribadi sehingga sama sekali tidak tahu akan keadaan di kerajaan. Ahhh, bukan baru tadi saja orang-orang itu berusaha membunuhku, sudah sering sekali. Bahkan beberapa orang tumenggung dan senopati yang setia kepada sri baginda, telah dibunuh orang. Sungguh menyedihkan sekali, semenjak Gusti Prabu Airlangga mengundurkan diri, terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di kerajaan. Aku hanya seorang patih bagaimana dapat mengurusi nafsu para pangeran?" Narotama menarik napas panjang dan kelihatan berduka sekali.

"Perebutan kekuasaan?" Pujo yang selama bertahun-tahun mengasingkan diri, sama sekali tidak tahu akan hal ini.

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk,

"Engkau tentu sudah tahu bahwa sri baginda mempunyai dua orang permaisuri, yang pertama adalah Puteri Mataram, sedangkan yang ke dua adalah Puteri Sriwijaya. Nah, kini terjadilah perebutan pengaruh antara kedua pangeran dari dua permaisuri itu. Atau lebih tepat lagi, pangeran muda, putera permaisuri ke dua berdarah Sriwijaya itu berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk meruntuhkan kekuasaan dan pengaruh kakak tirinya, pangeran tua putera permaisuri pertama. Pangeran muda ini banyak sekali pengikutnya, di antaranya para senopati yang membenci Sang Prabu Airlangga karena telah ditaklukkan. Kau tahu, orang-orang seperti Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono dan kepala rampok Ki Krendoyakso yang mengeroyokku tadipun adalah kaki tangan pangeran muda."

"Kalau memang mereka itu jahat dan bermaksud merebut kekuasaan, mengapa tidak dilaporkan saja kepada gusti prabu?"

Narotama menggeleng-geleng kepala.

"Gusti prabu sudah lima tahun ini mengundurkan diri dan bertapa. Bagaima mungkin diganggu dengan hal-hal seperti itu? Beliau sudah menyerahkan kepadaku akan tetapi.... persaingan antara pangeran-pangeran putera sang prabu sendiri, bagaimana mengatasinya? Sayang.... pusaka keraton yang hilang belum juga dapat diketemukan kembali. Inilah agaknya yang menjadi sebab malapetaka ini. Kalau pusaka itu tak dapat diketemukan kembali, berarti kerajaan kehilangan cahaya dan wahyunya, dan tentu akan terjadi malapetaka yang akan menghancurkan kerajaan!" Narotama menarik napas panjang lagi, wajahnya muram."Apalagi kalau para satrianya, seperti engkau ini, hanya tenggelam ke dalam dendam pribadi, tidak peduli lagi akan kewajiban sebagai seorang satria!"

"Ampunkan hamba, gusti patih. Hamba berjanji bahwa jika saya sudah dapat melakukan pembalasan atas diri Wisangjiwo, hamba akan menyerahkan jiwa raga untuk membela kerajaan."

"Hemm, begitukah? Kalau begitu kau boleh segera mulai. Tentang Wisangjiwo, mudah saja. Dia terhitung orang kepercayaan pangeran muda, akan tetapi karena aku yang memasukkannya menjadi pengawal sehingga kini ia menjadi senopati muda, maka aku dapat mengatur agar ia datang ke tempat ini dan kau dapat berhadapan empat mata dengannya. Akan tetapi, jangan engkau menjadi buta oleh dendam pribadi engkau harus dapat membantuku melakukan penyelidikan. Kalau tidak salah, para pembantu pangeran muda itu sebagian besar dikumpulkan oleh Adipati Joyowiseso ayah Wisangjiwo. Nah, kau cobalah untuk memaksanya mengaku, peran apakah yang dilakukan ayahnya dan oleh dia sendiri."

"Sendika dawuh paduka, gusti!" jawab Pujo dengan hati girang.

Memang ia dahulu sudah menduga di dalam hatinya, Adipati Joyowiseso dan puteranya itu tidak tunduk benar-benar kepada Mataram, maka dalam keadaan Kerajaan sedang kacau di mana dua orang pangeran saling berebut kekuasaan, tentu memberi kesempatan kepada orang-orang yang tidak setia untuk mainkan perannya.

Ki Patih Narotama lalu pergi meninggalkan muara Sungai Lorog, dan beberapa hari kemudian, benar saja Pujo dari tempat sembunyinya melihat seorang laki-laki gagah perkasa naik kuda besar hilir mudik di sekitar muara. Siapa lagi orang itu kalau bukan Wisangjiwo! Senopati muda ini menerima perintah dari ki patih sendiri untuk menyelidiki muara Sungai Lorog yang menurut ki patih, mungkin menjadi tempat disembunyikannya pusaka kerajaan yang hilang dan masih dicari-cari oleh semua tokoh di empat penjuru.

Seperti para tokoh lainnya, Wisangjiwo tentu saja ingin sekali bisa menemukan dan merampas pusaka itu karena kedua pangeran diam-diam saling memperebutkan pusaka dan mengutus orang-orang kepercayaan untuk mencarinya. Hal ini tidaklah aneh kalau terdapat kepercayaan bahwa siapa yang memiliki patung pusaka, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi raja!

Seperti telah sedikit disinggung Ki Patih Narotama ketika berceritera kepada Pujo, memang terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di istana. Semestinya, putera yang pertama atau pangeran tua yang sepatutnya menjadi pangeran mahkota. Hal ini sudah lajim karena sebagai putera tertua, tentu saja pangeran tua yang menjadi calon raja. Sang Prabu Airlangga juga tidak melanggar kelajiman ini dan sebelum beliau mengundurkan diri untuk menjadi pertapa, kekuasaan sementara ia serahkan kepada pangeran tua, diembani oleh Ki Patih Narotama yang oleh Sang Prabu Airlang- ga dianggap sebagai wakil beliau pribadi.

Hal ini menimbulkan iri dalam hati pangeran muda dan ibunya, maka mulailah mereka berusaha untuk mengenyahkan setidaknya mengurangi pengaruh dan kekuasaan pangeran tua. Dengan menggunakan barang-barang berharga seperti emas dan permata, pangeran muda ini mengumpulkan orang-orang pandai dan menjanjikan kedudukan-kedudukan mulia, mengadakan persekutuan dengan mereka yang memang memusuhi Prabu Airlangga dan menanti kesempatan untuk memberontak.

Di antara cara-cara yang digunakan pangeran muda untuk mengurangi kekuasaan kakak tirinya adalah mempergunakan orang-orang pandai membunuhi tumenggung-tumenggung dan senopati-senopati yang setia kepada Prabu Airlangga dan karenanya mereka taat akan perintah dan bersetia pula kepada pangeran tua. Banyaklah sudah para tumenggung yang tewas tentu saja dengan dalih permusuhan pribadi. Bahkan Ki Patih Narotama sendiri sudah sering dihadang di tengah jaian dan dikeroyok. Hanya berkat kesaktiannya, selama itu ki patih masih dapat menyelamatkan diri. Dan karena adanya Ki Patih Narotama inilah pangeran muda masih belum berani terang-terangan berusaha merebut kekuasaan, apalagi Sang Prabu Airlangga sendiri masih hidup, biarpun sudah menjadi pertapa dan tidak mau mencampuri urusan duniawi.

Wisangjiwo adalah seorang pemuda yang cerdik. Ia tahu ke mana angin bertiup, sebentar saja bertugas di dalam keraton, tahulah ia akan persaingan ini dan tahulah ia fihak mana yang harus ia bantu. Karena ia dan ayahnya memang bermaksud memberontak, maka segera ia mendekati pangeran muda dan mengambil hati pangeran ini.

Maka dalam waktu singkat saja Wisangjiwo ditarik oleh pangeran muda dan menjadi senopatinya, bahkan menjadi orang kepercayaannya. Melalui Wisangjiwo inilah pangeran muda dapat berkenalan dan menarik bantuan tokoh-tokoh yang memang sudah lama dihimpun oleh ayah Wisangjiwo, yaitu Adipati Joyowiseso.

Tentu saja begitu mendengar dari ki patih bahwa ada kemungkinan patung pusaka disembunyikan di muara Sungai Lorog, Wisangjiwo menjadi girang sekali dan tergesa-tega berangkat naik kuda ke daerah itu. la tidak heran mengapa ki patih justru menyuruh dia, karena hal ini baginya tidak aneh. Bukankah ia selalu bersikap hormat dan baik terhadap ki patih? Bukankah ki patih ini bekas kekasih gurunya, Ni Durgogini?

Hal ini baru ia ketahui setelah ia bekerja di istana. Dan bukankah Ki Patih Narotama yang membantunya mendapatkan kedudukan di istana? Tanpa curiga sedikitpun, Wisangjiwo berangkat naik kuda. Kalau benar-benar ia dapat menemukan patung pusaka, hemmm... ia masih ragu-ragu apakah akan diserahkannya pusaka itu kepada pangeran muda. Bagaimana nanti sajalah, pikirnya dan dengan hati gembira ia mempercepat larinya kuda.

Di balik batang pohon, Pujo yang mengintai kedatangan Wisangjiwo, menjadi tegang seluruh tubuhnya. Melihat musuh besarnya ini, terbayanglah semua peristiwa sepuluh tahun yang lalu, peristiwa malam jahanam di dalam Gua Siluman. Kedua tangan Pujo dikepalkan erat-erat, matanya menjadi merah beringas, gigi atas dan bawah bertemu ketat menimbulkan bunyi berkerotan, jantungnya berdegup seakan hendak pecah, nafasnya mendesis keluar di antara gigi yang merapat.

Ketika kuda yang ditunggangi Wisangjiwo lewat, Pujo cepat-cepat lari membayangi sambil bersembunyi dari pohon ke pohon. Akhirnya, di dekat muara di mana air Sungai Lorog yang kemerahan memasuki laut yang airnya kebiruan, Wisangjiwo melompat turun dari atas kudanya. Ia tidak mengikat kuda ini pada pohon, tanda bahwa kuda itu jinak dan baik. Kemudian Wisangjiwo melangkah ke kanan menyusuri pinggir muara, matanya memandang ke empat penjuru.

Bagaimana di tempat yang sunyi ini disembunyikan patung pusaka? Apakah Ki Patih Narotama sengaja berbohong dan mempermainkannya? Akan tetapi hatinya berdebar ketika ia melihat sebuah pondok kecil di sudut sana, dekat hutan. Hemm, agaknya pondok itu ada penghuninya dan penghuni pondok itu agaknya yang tahu akan pusaka yang disembunyikan. Dengan langkah lebar Wisangjiwo berjalan menuju ke pondok. Akan tetapi tiba-tiba dari balik sebatang pohon meloncat keluar seorang laki-laki yang menghadapinya dengan muka beringas dan mata merah.

"Pujo.... ??!?"

Wisangjiwo berseru kaget sekali. Kaget dan heran, karena sungguh ia sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Pujo di tempat ini. Akan tetapi ia sama sekali tidak takut. Dahulu ia pernah kalah oleh Pujo di dalam gua itu, akan tetapi lain dulu lain sekarang. Ia telah memperdalam ilmunya. Pula, ia malah girang bertemu dengan musuh besarnya, yang telah memperkosa isterinya dan adiknya, dan telah menculik puteranya.

Pujo tertawa menyeramkan, tawa mengandung dendam, benci, dan juga girang. Bertahun-tahun ia menanti datangnya saat ini dengan penuh ketekunan. Belum pernah sedetikpun api dendam yang menyala di dalam hatinya itu padam. Bahkan mengecilpun tidak kalau tak dapat dikatakan makin membesar.

"Wisangjiwo jahanam pengecut! Akhirnya kita berhadapan empat mata di tempat sunyi ini. Agaknya Dewa Keadilan sengaja mempertemukan kita agar semua perhitungan yang lalu dapat dibereskan sekarang juga. Wisangjiwo, sepuluh tahun lebih yang telah lalu, engkau melakukan perbuatan keji dan biadab. Kau merobohkan aku dengan serangan pengecut dan curang, kemudian engkau melakukan perbuatan biadab terhadap isteriku. Nah, sekarang bersiaplah untuk menebus dosamu dengan nyawa!"

Wisangjiwo bertolak pinggang dan tertawa mengejek. "Ha-ha-ha-ha! Benar-benar engkau pria yang sama sekali tidak jantan! Engkau memutarbalikkan fakta dan pandai melontarkan fitnah hanya untuk mencarikan dalih penutup perbuatan-perbuatanmu yang biadab. Ha-ha- ha!"

Pujo mengerutkan keningnya. "Apa maksud kata-katamu yang busuk ini? Kau berani menyangkal bahwa malam itu kau tidak datang ke Gua Siluman, memukul roboh aku secara curang kemudian engkau memperkosa isteriku yang telah terluka dan tak berdaya?"

Wisangjiwo menggeleng kepala cepat-cepat. "Datang ke guha dan bertanding denganmu sampai isterimu dan engkau roboh, itu memang betul. Akan tetapi setelah itu aku pergi ke luar gua, sama sekali tidak memperkosa "

"Bohong.... !!"

Saking marahnya Pujo sudah menerjang maju, memukul dahsyat sekali karena ia telah mempergunakan Aji Gelap Musti dalam keadaan dendam dan penuh kebencian. Wisangjiwo selama sepuluh tahun inipun tidak tinggal diam, melainkan melatih diri dengan tekun. Betapa dahsyatnya pukulan Pujo, sekali miringkan tubuh pukulan itu menyambar lewat dan cepat Wisangjiwo membalas dengan ilmu pukulan Tirto Rudiro karena sejak turun dari kuda tadi, untuk menjaga bahaya ia sudah menggenggam ajimatnya kerang merah sehingga sewaktu-waktu dapat ia pergunakan.

Hawa dingin menyambar ke arah lambung Pujo ketika pukulan Tirto Rudiro itu dilakukan lawan dari sebelah kanannya. Pujo yang tadi tak berhasil pukulannya, kini malah terus memutar tubuh ke kiri amat cepatnya sambil melakukan gerakan mendorong dengan lengan tangan kirinya yang mendahului tubuhnya membalik. Tentu saja ia mengerahkan tenaga saktinya dalam tangkisan ini karena maklum bahwa lawannya bukan orang lemah.

"Dukkk! "

Tepat sekali gerakan Pujo tadi karena tangan kirinya dengan jari-jari terbuka itu menangkis hantaman kepalan kanan Wisangjiwo. Kesudahannya, Pujo tergetar mundur tiga langkah, akan tetapi Wisangjiwo terhuyung ke belakang hampir roboh kalau ia tidak cepat-cepat meloncat untuk mematahkan tenaga benturan yang mendorongnya! Ketika Pujo hendak mendesak lagi, Wisangjiwo menyetopnya dengan tangan kanan diangkat dan membentak marah,

"Heh keparat Pujo. Jangan kira aku takut kepadamu. Kita sama-sama laki-laki gemblengan. Kalah dan maut dalam pertandingan bukan apa-apa! Akan tetapi kau bicaralah yang genah (masuk akal)! Jangan membuang fitnah ke kanan kiri seperti orang mabok saja. Hayo katakan, di mana kau sembunyikan puteraku yang kau culik?"

Senyum paksaan, senyum masam membayang di wajah yang muram itu. "Apa yang kau kehendaki akan terjadi Wisangjiwo. Kau ingin dia mati? Mudah. Ingin melihat dia menjadi penderita cacat, menjadi anggota para jembel gelandangan atau menjadi anggota maling dan rampok?"

"Setan iblis! Kau apakan puteraku? Kau bunuh dia? Jahanam keji, kau telah merusak kehormatan adikku, isteriku, dan kiranya kau malah telah membunuh puteraku. Di samping kekejianmu ini kau masih mendakwa aku yang bukan-bukan. Cuh, tak tahu malu! Laki-laki macam apa kau ini? Hayo, sekarang tidak perlu beradu suara lagi, biarlah senjata yang menentukan!"

Setelah berkata demikian Wisangjiwo menggerakkan tangannya dan tampaklah sinar hitam bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara "tar-tar-tar!" Itulah cambuk sakti Sarpokenoko milik Ni Durgogini yang telah dihadiahkan kepada murid dan kekasih rupawan ini! Memang bukan cambuk sembarang cambuk. Cambuk pusaka ampuh yang dimainkan dalam ilmu yang hebat sehingga cambuk itu berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung yang mengeluarkan suara meledak-ledak dan mengeluarkan asap hitam tipis!

"Wuuut-tar-tar-tar!"

Gulungan sinar hitam cambuk Sarpokenoko menyambar ganas. Pujo mengenal senjata ampuh. Cepat ia menggedruk (menendang dengan tumit) tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas dengan kecepatan luar biasa. Cambuk Sarpokenoko menyambar-nyambar dan meledak-ledak di bawah kakinya. Akan tetapi sambaran ke tiga menyentuh ujung tumit kirinya dan Pujo terpaksa membuang diri ke kiri lalu tubuhnya jatuh ke tanah, terus bergulingan dan meloncat bangun dengan wajah agak pucat. Tumit kirinya terasa panas sekali.

"Ha-ha-ha, Pujo. Kepandaian hanya sebegitu akan tetapi berani mati engkau menuduh yang bukan-bukan kepadaku hanya untuk menutupi perbuatan-perbuatan yang rendah dan keji. Lebih baik lekas kauberitahu di mana puteraku, mungkin aku masih akan mempertimbangkan dosamu. Sebagai laki-laki sejati, aku tidak akan meributkan benar perkara wanita. Kalau kau berkeras hemmmmm, Sarpokenoko akan merobek-robek tubuhmu!"

Pujo tadi memang terkejut sekali. Ia tadi meloncat dengan Aji Bayu Tantra, ilmu meringankan tubuh ajaran Resi Bhargowo yang selama ini telah ia sempurnakan. Dan menilik gerakannya, Wisangjiwo tidak secepat itu sehingga dapat mengenai tumitnya dengan cambuk. Maka ia menduga bahwa tentu cambuk hitam itulah yang hebat, cambuk sakti yang amat ampuh dan ia kini berlaku hati-hati sekali.

"Wisangjiwo keparat sombong! Baru dapat menjilat tungkakku saja engkau sudah menyombong. Kau kira aku kalah olehmu? Nah, majulah!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Pujo menggerakkan tangan kanan dan sudah mencabut sebatang keris yang mengeluarkan sinar kehijauan. Inilah keris pusaka yang ia namakan Banuwilis karena sinarnya yang kehijauan. Keris eluk sembilan yang pamornya seperti ombak Laut Selatan dengan airnya yang hijau saking dalamnya.

Wisangjiwo tertawa mengejek, cambuknya melecut keras dan menyambar kepala Pujo. Pujo sudah siap sedia, sengaja ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan kerisnya ke atas dengan pengerahan tenaga agar cambuk lawannya terbabat putus. Ketika ujung cambuk bertemu dengan mata keris, dari kedua senjata itu keluar hawa mujijat yang ampuh dan saling bertentangan. Keris Banuwilis tidak cukup kuat untuk dapat membabat putus Sarpokenoko, akan tetapi tenaga sakti yang tersalur melalui keris itu masih lebih kuat daripada tenaga Wisangjiwo sehingga cambuk itu terpental ke atas dan telapak tangan Wisangjiwo terasa panas dan sakit.

Marahlah senopati muda ini. Ia mengeluarkan gerengan keras dan cepat cambuknya bergerak menyambar-nyambar, dan diam-diam tangan kirinya sudah melolos keluar sehelai kain merah dari saku baju. Selama sepuluh tahun ini, selain memperoleh kemajuan dalam semua ilmu yang telah dimilikinya, juga Wisangjiwo menerima hadiah lain dari Ni Nogogini bibi guru yang menjadi juga kekasihnya, yaitu kain ini yang mengandung hawa beracun amat berbahaya. Sekali mengebutkan kain ini, bau yang harum akan tercium lawan dan betapapun tangguhnya lawan, tentu akan roboh pingsan mencium bau ini. Senjata yang amat curang dan hanya digunakan oleh laki-laki yang suka mengganggu wanita baik-baik, atau setidaknya oleh orang yang suka merebut kemenangan dengan jalan apapun juga.

Melihat betapa gulungan sinar cambuk hitam itu kini menyambar-nyambar membentuk lingkaran-lingkaran ruwet seperti banyak ular bermain-main, sukar diduga mana ujungnya yang akan menerjangnya, Pujo berlaku hati-hati sekali. Ia berdiri tegak memasang kuda-kuda, membiarkan sinar hitam itu bergulung-gulung mengitari atas kepalanya. Ketika sampai lama gulungan sinar hitam itu tidak menerjangnya, maklumlah ia bahwa Wisangjiwo memang hendak memancingnya agar ia mempergunakan kecepatan gerakan mengimbangi gerakan cambuk. Pujo tahu akan hal ini dan tahu pula bahwa biarpun ia memiliki Bayu Tantra yang membuat ia mampu bergerak secepat gerakan cambuk, namun mana mungkin ia dapat bertanding kecepatan melawan sebatang cambuk yang digerakkan tangan? Lama-lama ia tentu akan lelah dan kalah.

Oleh karena itulah, ia diam saja tidak melayani permainan cambuk lawan. Iapun maklum bahwa biarpun cambuk itu kini bergulung-gulung sinarnya di atas kepala, namun Wisangjiwo sedang menanti saat baik. Kalau ia terpancing dan melakukan serangan lebih dulu, tentu Wisangjiwo akan menjatuhkan serangannya secara tak tersangka-sangka. Di lain pihak, Wisangjiwo mendongkol dan kecewa sekali, juga kagum. Siasat pertempuran ini ia dapat dari gurunya belum lama ini.

"Menghadapi lawan tangguh yang sedang marah, biarkanlah ia bingung dengan bayangan cambuk berputar-putar di atas kepalanya, pancing dia supaya menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya mengimbangi kecepatan gerak cambukmu. Nah,kalau sudah demikian, mudah saja merobohkannya. Baik dia menyerang dulu atau tidak, kau boleh gerakkan samputangan merah mengebut mukanya atau menangkis serangannya dan pada saat itu ujung cambukmu menghantam dari atas memilih Sasaran yang tepat."

Demikian itu ajaran dari gurunya. Akan tetapi sekarang Pujo diam saja, hanya berdiri memasang kuda-kuda dan menatap kepadanya penuh kewaspadaan, benar-benar membuat ia sendiri yang bingung! Akhirnya Wisangjiwo menjadi tidak sabar. Secara tiba-tiba ia menggerakkan saputangan merahnya dengan tangan kiri, dikebutkan ke arah muka Pujo lalu menyusul dengan gerakan cambuknya yang siap menghantam bagian berbahaya sesuai dengan gerakan Pujo apabila mengelak serangan saputangan merah...

BADAI LAUT SELATAN JILID 12