Cerita Silat Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 19

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 19

Kerajaan Wengker geger! Pasukan Kahuripan yang besar jumlahnya dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama datang menyerbu bagaikan banjir bandang! Ki Patih Narotama menyerbu Kerajaan Wengker dengan semangat yang menggebu-gebu, bagaikan api berkobar menyala dan membakar apa saja yang menghalangi. Dia ingin cepat-cepat menguasai Wengker agar dapat mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap penyelamatan puteranya yang berada di tangan para pimpinan Parang Siluman, kemudian setelah puteranya dapat dirampas kembali, menundukkan Kerajaan Parang Siluman.

Namun ternyata Kerajaan Wengker tidak seperti Kerajaan Wura-wuri dan Kerajaan Siluman Laut Kidul yang mudah ditaklukkan. Kerajaan Wengker melakukan perlawanan mati-matian! Biarpun jumlah pasukan Wengker kalah banyak, namun Wengker mengerahkan seluruh kekuatan dan melakukan perlawanan dengan gigih. Dewi Mayangsari, Adipati Linggawijaya, dan Resi Bajrasakti merupakan tiga orang sakti yang pandai memimpin pasukan mereka. Pandai pula memberi dorongan semangat sehingga pasukan Wengker melawan dengan nekat.

Pertempuran antara kedua pasukan terjadi sampai berhari-hari. Pertempuran yang amat dahsyat, ganas dan buas! Yang ada hanya membunuh atau dibunuh! Mayat-mayat kedua pihak berserakan memenuhi lapangan pertempuran di luar tembok Kota Raja Wengker!

Semua serangan yang dilakukan Dewi Mayangsari, Linggawijaya, dan Resi Bajrasakti melalui ilmu pertempuran, aji kesaktian, bahkan sihir ilmu hitam, semua dapat digagalkan Ki Patih Narotama. Mereka bertiga memang jerih untuk berhadapan langsung melawan Ki Patih Narotama dan hanya mempergunakan berbagai muslihat untuk menghancurkan Pasukan Kahuripan. Namun, pasukan Kahuripan bertempur penuh semangat walaupun banyak pula di antara mereka yang terluka atau tewas.

Senopati Tanujoyo yang diperbantukan kepada Ki Patih Narotama, juga memperlihatkan keahliannya memimpin pasukan. Demikian pula para perwira pembantu, dengan penuh semangat mendorong pasukan sehingga setelah berhari-hari bertempur, akhirnya pasukan Kahuripan dapat mendesak pasukan Wengker sehingga mereka terpaksa mundur dan memasuki kota raja, menutup pintu gerbang dan melakukan pertahanan dari dalam benteng kota raja.

Ternyata pertahanan Wengker memang kuat sekali. Benteng itu kuat dan usaha pasukan Kahuripan untuk mendekat benteng, selalu disambut hujan anak panah beracun. Terpaksa pasukan Kahuripan menjauh, berlindung di balik perisai dan membalas dengan serangan anak panah. Pertempuran anak panah berlangsung berhari-hari. Akan tetapi Ki Patih Narotama memperketat pengepungan sehingga tidak memungkinkan Wengker mendatangkan ransum dari luar.

Sementara itu, banyak penyelidik diselundupkan. Di antara mereka banyak yang tertangkap dan dibunuh, akan tetapi masih ada beberapa orang berhasil menyusup masuk dan mereka lalu mengadakan aksi pembakaran gudang-gudang ransum. Mereka memang tertangkap dan terbunuh, namun mereka berhasil membakar sebagian besar persediaan ransum.

Tidak adanya penambahan bahan pangan membuat para pimpinan Wengker menjadi panik. Juga sisa pasukannya menjadi gentar dan turun semangatnya. Melihat berkurangnya semangat pasukan Wengker yang tampak dari semakin melemahnya penjagaan mereka, juga serangan balasan anak panah mereka kini hanya jarang dan semakin berkurang, tanda bahwa mungkin mereka kehabisan anak panah, setelah mengepung beberapa pekan lamanya, Ki Patih Narotama lalu memberi komando kepada pasukannya untuk menyerbu!

Di iringi suara bende (canang), genderang, tambur dan diikuti sorak sorai gemuruh, pasukan Kahuripan menyerbu dan mendobrak pintu gerbang yang kokoh dan tebal itu, mempergunakan batang pohon yang panjang dan besar, diangkat ratusan orang perajurit dan ditumbukkan ke pintu gerbang. Terdengar suara menggelegar beberapa kali dan akhirnya daun pintu gerbang itu pun runtuh! Kini pasukan kedua pihak bertempur mati-matian di pintu gerbang. Pasukan Kahuripan menyerbu masuk dan pasukan Wengker mempertahankan.

Melihat betapa pihaknya terancam bahaya dan berada di ambang kehancuran, Dewi Mayangsari, Linggawijaya dan Resi Bajrasakti menjadi panik. Akan tetapi Linggawijaya membesarkan hati isteri dan gurunya.

"Bapa Guru Resi Bajrasakti, saya harap Bapa Guru memimpin pasukan pengawal istana untuk membantu pertahanan pasukan kita. Pertahankan sekuatnya agar musuh jangan sampai dapat menyerbu masuk. Diajeng Dewi Mayangsari, sebaiknya kalau engkau membantu Bapa Resi untuk memperkuat pertahanan. Aku akan melakukan persiapan dan penjagaan terakhir untuk mempertahankan istana kita!"

Keadaan sudah mendesak. Teriakan-teriakan menggenggap gempita sudah menggetarkan istana, maka Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari tidak mempunyai waktu untuk memperbincangkan soal pertahanan lebih lama lagi. Mereka berdua segera berlari keluar, memanggil semua pasukan pengawal istana yang merupakan pasukan istimewa dan memimpin mereka keluar menuju pintu gerbang dan membantu pasukan mempertahankan pintu gerbang agar musuh tidak dapat menyerbu masuk.

Bantuan dua orang sakti ini membuat pertempuran menjadi lebih seru karena selain sepak terjang mereka berdua dapat merobohkan banyak perajurit Kahuripan, juga masuknya dua orang ini membangkitkan semangat para perajurit Wengker. Pasukan Kahuripan yang berada di bagian depan menjadi gempar ketika Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari muncul dan mengamuk. Dalam waktu sebentar saja dua orang ini telah merobohkan dan menewaskan puluhan orang perajurit Kahuripan!

Segera seorang perwira lari melapor kepada Ki Patih Narotama yang mengatur pasukan. Mendengar tentang dua orang sakti yang mengamuk itu, Ki Patih Narotama cepat menuju ke depan dan dia sudah berhadapan dengan Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari. Memang sepak terjang dua orang pimpinan Wengker ini amat menggiriskan. Dengan Aji Wisa Langking, pukulan yang mengeluarkan asap beracun hitam, Dewi Mayangsari menewaskan perajurit yang berani mendekatinya. Resi Bajrasakti lebih menyeramkan lagi. Dia membawa sebatang cambuk bergagang gading. Cambuknya meledak-ledak dan ujungnya mengeluarkan asap. Perajurit yang terkena lecutan cambuknya, seolah disayat pisau tajam. Kulit daging tersayat, tulang pun remuk terkena lecutan cambuk itu!

"Tar-tar-tarrr... plakk...!"

Tiba-tiba Resi Bajrasakti terkejut sekali ketika gerakan cambuknya yang meledak-ledak dan menyambar-nyambar itu bertemu sesuatu yang amat kuat sehingga cambuknya itu terpental dan membalik, ketika dia melihat orang yang menangkis cambuknya itu, dia mengenal Ki Patih Narotama! Tahulah dia bahwa kini dia berhadapan dengan tokoh Kahuripan yang memang dia takuti. Akan tetapi dalam pertempuran yang mati-matian itu, dia tidak mungkin dapat menghindar lagi, maka dia pun cepat melakukan penyerangan dengan dahsyat.

"Tar-tarrr....!" pecutnya menyambar-nyambar.

"Jahanam Narotama, mampuslah engkau!" Dewi Mayangsari juga membentak sambil menyerang dengan kedua tangannya yang mengandung hawa beracun. Ki Patih Narotama menghindar dari sambaran cambuk dengan lompatan ke kiri dan sengaja menyambut tamparan tangan Dewi Mayangsari sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Wuuuttt.... dessss....!!"

Tubuh Dewi Mayangsari terlempar sampai tiga tombak lebih dan wanita perkasa ini cepat menggulingkan tubuh sehingga tidak terluka ketika terbanting. Ia bangkit berdiri dengan wajah pucat dan gelung rambutnya terlepas. Ia melihat betapa Resi Bajrasakti yang dibantu empat orang perwira mengepung dan mengeroyok Ki Patih Narotama, namun mereka tetap saja terdesak oleh sepak terjang patih yang sakti mandraguna itu. Hati Dewi Mayangsari menjadi jerih, apalagi melihat kini para perajurit Kahuripan mulai menerobos masuk dan pertahanan di luar pintu gerbang sudah jebol. Hanya tinggal menunggu waktu saja istana Wengker tentu akan diserbu.

Ia pun merasa heran mengapa suaminya, Adipati Linggawijaya belum juga tampak membantu. Karena melihat keadaan gawat dan bahaya mengancam, Dewi Mayangsari lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan pertempuran, memasuki istana yang di sebelah dalamnya sepi karena para pelayan yang lemah melarikan dan menyembunyikan diri, sedangkan para perajurit pengawal istana sudah berkumpul semua di depan istana untuk menjaga Istana dari serbuan musuh. Dewi Mayangsari mencari-cari suaminya, namun Adipati Linggawijaya tidak tampak. Ia memanggil-manggil dan mencari ke semua ruangan istana.

"Kakangmas Adipati...!" teriaknya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Bayangan suaminya tidak tampak. Ia merasa heran lalu menuju ke belakang. Ketika bertemu seorang pelayan yang bersembunyi di dapur, ia bertanya, "Ke mana perginya Gusti Adipati?"

Pelayan yang ketakutan itu menuding ke arah belakang dan menjawab, "Hamba tadi melihat Gusti Adipati pergi ke kandang kuda, membawa buntalan kain besar berwarna hitam."

Dewi Mayangsari cepat berlari ke belakang. Setibanya di belakang, dekat kandang kuda, ia melihat suaminya, Adipati Linggawijaya dan Tumenggung Suramenggala, ayah suaminya itu, sedang melompat ke atas dua ekor kuda dan mereka berdua membawa buntalan kain yang tampak berat. Mudah saja bagi Dewi Mayangsari untuk menduga bahwa yang mereka bawa itu tentulah barang-barang berharga, perhiasan dari emas permata. Agaknya ayah dan anak itu hendak melarikan diri!

Melihat mereka mulai melarikan kuda, agaknya hendak mengambil jalan belakang untuk keluar dari istana melalui pintu rahasia yang berada di bagian belakang kompleks istana, Dewi Mayangsari berseru, "Kakangmas, tunggu....!!"

Akan tetapi, Linggawijaya sama sekali tidak mempedulikannya. Menoleh pun tidak bahkan membalapkan kudanya. Melihat ini, Dewi Mayangsari mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah sekali. Tahulah ia bahwa laki-laki yang menjadi suaminya itu, adalah seorang yang rendah budi. Kini hendak melarikan diri meninggalkan Istana dan tidak mempedullkan ia lagi, hendak mencari keselamatan bagi diri sendiri dan ayahnya, dengan membawa pergi harta kekayaan dari istananya!

"Kakangmas, tunggu aku....!" Dewi Mayangsari cepat melompat ke atas seekor kuda dan melakukan pengejaran.

Agaknya Linggawijaya dan Suramenggala yang sudah panik melihat keadaan istana gawat itu, melarikan diri tanpa menengok lagi, tidak tahu kalau Dewi Mayangsari melakukan pengejaran, Mereka berdua hanya mempunyai satu keinginan, yaitu cepat keluar dari istana dan dari Kota Raja Wengker dengan selamat.

Setelah berhasil mengejar dekat, Dewi Mayangsari berseru nyaring, "Kakangmas Linggawijaya, berhentilah. Kita harus membela Wengker dengan taruhan nyawa!"

Tanpa menoleh Linggawijaya berseru, "Engkau boleh tinggal di sini membela Wengker sampai titik darah penghabisan. Aku tidak ingin mati konyol!" jawaban ini terdengar seperti ejekan yang amat menyakitkan hati Dewi Mayangsari.

"Jahanam....!" Hatinya memaki dan ia pun mempercepat larinya kuda sehingga dapat mengejar suaminya. Setelah jaraknya cukup dekat Dewi Mayangsari menggerakkan tangan kanannya dan sinar hitam menyambar ke arah punggung Linggawijaya!

"Aduh....!!"

Linggawijaya berteriak dan roboh terjungkal dari atas punggung kudanya yang terus berlari ketakutan. Biarpun Linggawijaya memiliki kesaktian yang cukup tangguh, akan tetapi diserang dari belakang secara tiba-tiba dan dia sama sekali tidak menduga itu, maka dia tidak dapat menghindarkan diri. Pasir Sakti yang merupakan senjata rahasia ampuh sekali dari Dewi Mayangsari menembus kulit punggungnya dan memasuki rongga dada. Pasir itu mengandung racun yang amat kuat karena senjata rahasia itu merupakan senjata rahasia andalan Nini Bumigarbo yang telah diajarkan nenek itu kepada Dewi Mayangsari.

Melihat Linggawijaya roboh dari atas kudanya, Tumenggung Suramenggala terkejut, akan tetapi dia malah makin membalapkan kudanya. Mayangsari yang marah sekali kepada suaminya, tidak peduli akan larinya Ki Suramenggala. Ia melompat turun dari atas kudanya, lalu menghampiri Linggawijaya yang roboh miring sambil mencabut sebatang pedang yang tergantung di punggungnya.

"Jahanam keparat! Laki-laki pengecut, pengkhianat hina, manusia rendah....!" Dewi Mayangsari memaki-maki sambil menghampiri dan ia sudah mengangkat pedangnya.

Akan tetapi pada saat itu, secara tiba-tiba Linggawijaya membalik, mengeluarkan gerengan seperti binatang buas, tangan kanannya menggerakkan Pecut Tatit Geni yang telah dia persiapkan, menyerang ke arah dada Dewi Mayangsari.

"Tar-tarrr...!"

Tampak kilatan api dari pecut itu dan dada Dewi Mayangsari yang sama sekail tidak menyangka akan ada serangan mendadak yang amat dahsyat itu, dihantam ujung pecut. Dewi Mayangsari mengeluh akan tetapi dengan sisa tenaga yang ada ia menubruk dan menusukkan pedang di tangannya ke arah dada Linggawijaya yang terkulai setelah tadi mengerahkan tenaga terakhir untuk menyerang Dewi Mayangsari.

"Blesss...!"

Pedang itu menancap ulu hati Linggawijaya sampai menembus punggung. Tubuh Dewi Mayangsari terkulai dan roboh di atas tubuh Linggawijaya. Kedua orang itu tewas dalam saat yang bersamaan, tubuh mereka tumpang tindih berlepotan darah keduanya.

Sementara itu, Resi Bajrasakti kewalahan sekali melawan Ki Patih Narotama. Dengan repot dia mencoba untuk bertahan, mengeluarkan segala macam ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya. Akan tetapi tetap saja dia kewalahan dan semakin terdesak hebat. Ki Patih Narotama yang maklum bahwa kakek ini yang memperkuat Kerajaan Wengker dan datuk ini sejak dulu terkenal sebagai seorang datuk sesat yang jahat, kemudian menjadi guru Linggawijaya yang kemudian juga terkenal jahat, terus mendesaknya.

"Hyaaaaahhhhh....!"

Tiba-tiba dia mengeluarkan pekik melengking dan dengan nekat dia mengerahkan seluruh tenaganya, menggunakan pukulan Aji Gelap Sewu dan mendorongkan kedua tangannya ke arah dada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama menyambut dengan sikap tenang, mendorongkan kedua tangan dan juga mengerahkan tenaga saktinya.

Syuuuutttt... blarrr...!"

Sekali ini, Ki Patih Narotama mengerahkan seluruh tenaganya. Pertemuan hebat kedua tenaga sakti itu terasa getarannya oleh semua perajurit yang sedang bertempur di sekeliling tempat itu, bahkan yang terdekat terpelanting roboh disambar getaran itu. Tubuh Resi Bajrasakti sendiri terpental jauh, terjengkang dan terbanting roboh, tak bergerak lagi. Dari hidung dan mulutnya mengalir darah segar dan dia tewas seketika oleh tenaga saktinya sendiri yang membalik dan merusak isi dada dan perutnya.

Melihat Resi Bajrasakti yang menjadi andalan mereka itu roboh dan tewas, semua perwira Wengker menjadi panik dan ketakutan. Banyak di antara mereka lalu meninggalkan pertempuran dan melarikan diri. Melihat ini, tentu saja anak buah mereka, para perajurit juga kehilangan semangat dan ketakutan. Dengan sendirinya pasukan Kahuripan mendapat angin dan mereka terus menyerbu ke dalam. Setelah Ki Patih Narotama memimpin para perwira pembantu dan pasukan memasuki istana, dia tidak menemukan perlawanan sama sekali. Mereka semua merasa heran karena tidak melihat adanya Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari di dalam istana. Akan tetapi seorang perajurit datang melaporkan kepada Ki Patih Narotama bahwa suami isteri itu ternyata telah tewas dalam keadaan mengerikan di dekat kandang kuda.

Ki Patih Narotama cepat pergi ke belakang dan dia menemukan mayat kedua orang itu bertumpang tindih mandi darah. Linggawijaya masih memegang senjata pecutnya, dan Dewi Mayangsari masih memegang gagang pedangnya yang menembus dada Linggawijaya. Di dekat mereka terdapat buntalan berisi perhiasan emas permata berserakan.

Ki Patih Narotama menghela napas panjang. Sekali lagi dia menjadi saksi akan datangnya akibat dari perbuatan buruk yang menjadi sebabnya. Lebih jelas lagi bukti terjadinya hukum karma ini ketika seorang perwira melaporkan bahwa Ki Suramenggala yang melarikan diri menunggang kuda melalui jalan rahasia di belakang istana, bertemu dengan para perajurit Wengker yang sedang melarikan diri pula dan para perajurit itu melihat Ki Suramenggala lari membawa harta benda, lalu mengeroyok dan membunuhnya, dan buntalan harta benda itu menjadi rebutan!

"Tidak ada kejahatan yang mendatangkan kebahagiaan." katanya lirih, didengarkan oleh para perwira dalam ruangan istana itu. "Cepat atau lambat, hukum itu pasti datang menuntut pelakunya. Hukuman akibat perbuatan jahat yang datang selagi masih hidup, masih amat ringan dibandingkan dengan hukuman sebagai akibat yang datang setelah pelakunya mati. Perbuatan jahat hanya mendatangkan kesenangan lahiriah, kesenangan jasmani yang sifatnya fana. Sebaliknya perbuatan yang baik akan mendatangkan kebahagiaan kekal walaupun mungkin di waktu hidupnya si pelaku belum menikmati hasilnya."

Semua yang mendengarkan menundukkan kepala karena mereka semua yakin akan kebenaran ucapan Ki Patih Narotama dan apa yang terjadi itu merupakan contoh dan pelajaran yang baik sekali bagi mereka. Namun Ki Patih Narotama sekali ini tidak dapat menikmati kemenangan yang telah dicapainya dengan menalukkan Wengker karena dia melihat demikian banyaknya korban manusia yang tewas oleh pertempuran dahsyat itu.

Kerajaan Wengker merupakan lawan yang paling gigih selama operasi ini dan menimbulkan banyak korban, baik di pihak Wengker maupun di pihak Kahuripan. Selain itu, dia juga merasa prihatin karena kini tinggal Kerajaan Parang Siluman yang harus dia talukkan. Akan tetapi sampai sekarang belum juga ada berita tentang puteranya yang disandera para pimpinan Parang Siluman!

Dia lalu mengumpulkan sisa pasukannya dan mengirim berita kepada Sang Prabu Erlangga di Kahuripan tentang Wengker yang sudah ditalukkan dan mohon kiriman pasukan bantuan untuk memperkuat pasukannya yang sudah berkurang banyak, menghadapi musuh terakhir, yaitu Parang Siluman.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Seorang pemuda tampan melewati para perajurit yang berjaga di pintu gerbang Kota Raja Parang Siluman. Seandainya Nurseta belum tertawan, tentu para penjaga itu akan merasa curiga melihat pemuda tampan yang tidak dikenal sebagai penduduk Kota Raja Parang Siluman itu. Akan tetapi Nurseta sudah tertawan, maka para penjaga membiarkan pemuda tampan itu lewat tanpa curiga. Siapa yang mencurigai seorang pemuda yang tampan, bertubuh kecil dan tampak lemah itu?

Pemuda itu adalah Puspa Dewi yang menyamar. Dengan menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan tampak masih remaja, la dapat memasuki Parang Siluman dengan mudahnya. Puspa Dewi bersikap seolah-olah ia seorang pemuda dusun yang baru pertama kali melihat Kota Raja Parang Siluman. Ia memperlihatkan sikap terkagum-kagum dan terheran-heran melihat bangunan kompleks istana yang besar, indah dan megah.

Tampaknya ia seorang pemuda dusun yang melihat-lihat istana dan mengaguminya, padahal tentu saja ia mengelilingi perumahan istana itu untuk melakukan penyelidikan dan untuk melihat apakah ada jalan masuk yang baik baginya. Ia harus memasuki istana kalau ingin menemukan tempat disembunyikannya Joko Pekik putera Ki Patih Narotama. Ia pun tidak tahu di mana adanya Nurseta yang lebih dulu melakukan tugas menyelamatkan Joko Pekik. Apakah Nurseta sudah berhasil memasuki istana? Entah sudah berapa kali ia mengelilingi istana sejak masuknya ke kota raja pagi tadi. Hari sudah siang dan Puspa Dewi masih belum menemukan jalan terbaik untuk memasuki kompleks istana.

Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian seorang perwira menghampirinya. Perwira itu berusia empat puluh tahun lebih, wajahnya seperti tikus dan matanya tampak cerdik dan licik sekali. Tubuhnya juga kurus, namun dia berjalan dengan dada diangkat dan dibusungkan sehingga tampak lucu. Akan tetapi Puspa Dewi tidak memandang remeh dan ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Dengan wajah tenang dan sinar mata penuh pertanyaan ia berhenti melangkah dan memandang perwira yang bergegas menghampirinya itu. Kebetulan siang itu panas sekali dan di tempat mereka bertemu ini agak sunyi, tidak banyak orang berlalu-lalang.

"Kisanak, aku sejak tadi memperhatikanmu dan melihat betapa Andika sudah tiga kali lewat di sini. Mengapa Andika berputar-putar mengelilingi istana?"

Diam-diam Puspa Dewi terkejut akan kejelian mata orang ini. Akan tetapi ia bersikap tenang dan menjawab dengan suara sungguh-sungguh. "Baru satu kali ini saya melihat bangunan istana yang begini indahnya. Saya senang dan mengaguminya, tiada bosannya melihat sejak tadi. Apakah ini tidak boleh Kisanak?"

"Hush...! Jangan aku sebut Kisanak. Namaku Raden Kaloka dan engkau harus menyebut aku Raden Kaloka, aku perwira terkenal dari pasukan pengawal istana. Tahu?"

"Maaf, Raden Kaloka...!"

"Nah, sekarang jawab, siapa namamu?" tanya perwira itu dengan nada bangga dan angkuh setelah dia disebut Raden. "Dari mana asalmu?"

Puspa Dewi memang sudah siap dengan nama dan tempat asalnya untuk menjaga kalau-kalau ada yang bertanya dan harus dijawab. Maka suaranya datar dan wajar ketika ia menjawab. "Nama saya Sakri, saya tinggal di daerah Kadipaten Siluman Laut Kidul di pesisir. Ketika tempat saya diserbu dan diduduki pasukan Kahuripan, saya melarikan diri mengungsi dan hari ini tiba di sini untuk mencari pekerjaan."

"Hemm, bagus...! Kebetulan sekali, Sakri. Ada pekerjaan yang amat baik untukmu, engkau akan hidup berbahagia sekali, berenang di lautan kenikmatan dan kemewahan, maukah engkau kuberi pekerjaan itu?"

"Wah, tentu saja mau, Raden! Pekerjaan apakah itu?"

"Pekerjaan itu mudah dan menyenangkan, sama sekali tidak berat atau kotor. Bahkan engkau akan selalu mengenakan pakaian yang indah dan bersih, tinggal di kamar yang indahnya belum pernah engkau bayangkan dalam mimpi sekalipun."

"Wah, Raden Kaloka, saya mau mendapatkan pekerjaan itu! Pekerjaan apakah itu?"

"Nanti dulu, berapa usiamu sekarang?"

"Sekitar.... delapan belas tahun."

"Engkau masih perjaka?"

Wajah pemuda itu menjadi kemerahan, akan tetapi Puspa Dewi mengangguk dan menjawab sambil tersenyum. "Tentu saja saya masih perjaka, Raden."

"Bagus, itulah yang mereka inginkan. Perjaka tulen, tampan, sikapnya lembut, kulitnya halus bersih. Wah, engkau akan memenuhi selera mereka dan akan menjadi anak emas, Sakri!" Perwira itu tampak gembira sekali, menggosok-gosok kedua tangannya. "Akan tetapi, aku mau memberi pekerjaan itu asalkan engkau mau berjanji bahwa segala yang kau terima dari mereka, akan kau berikan kepaku separuhnya. Bagaimana, setuju?"

"Saya setuju, Raden. Akan tetapi siapakah mereka itu dan pekerjaan apa yang harus saya lakukan?"

"Engkau harus bersumpah dulu akan membagi penghasilanmu dengan aku, masing-masing separuh."

"Aku bersumpah!" kata Puspa Dewi dengan suara meyakinkah karena ia ingin sekali mengetahui pekerjaan apa yang ditawarkan perwira ini. Siapa tahu pekerjaan itu akan memungkinkan ia melaksanakan tugasnya membantu Nurseta untuk membebaskan Joko Pekik.

"Bagus...! Nah, sekarang dengarlah baik-baik. Engkau akan kuantar dan kuserahkan kepada dua orang puteri yang cantik seperti bidadari, yaitu bukan lain kedua orang puteri istana, Puteri Lasmini dan Puteri Mandari."

Puspa Dewi tak dapat menahan kegembiraan hatinya yang terpancar pada wajah dan sinar matanya.

"Ahhh...! Apa maksudmu, Raden? Kenapa saya akan diserahkan kepada mereka? Apa yang harus saya kerjakan di sana?"

"Ha-ha-ha... Engkau benar-benar masih hijau! Seorang perjaka ting-ting (tulen)! Mereka akan senang sekali menerimamu! Engkau akan bekerja di istana, menjadi pelayan dua orang puteri itu, menjadi penghiburnya, menjadi kekasih mereka dan engkau taati saja semua perintahnya yang pasti akan menyenangkan hatimu, menikmatkan tubuhmu dan engkau akan berenang dalam kemewahan, bahkan kekuasaan karena sebagai kekasih dua orang puteri itu, tidak ada seorang pun berani mengganggumu. Bagaimana?"

Tentu saja Puspa Dewi girang bukan main. Ia akan dimasukkan ke istana! Tentu saja hal ini akan memudahkan tugasnya menyelidiki di mana adanya Joko Pekik! Akan tetapi bulu tengkuknya meremang ketika ia membayangkan bahwa dirinya harus melayani dua orang puteri itu. Pelayanan apalagi kalau bukan bercumbu rayu kalau ia akan dijadikan kekasih mereka? Huh! Andaikata ia benar-benar seorang pemuda sekalipun, ia merasa ngeri dengan janji pekerjaan macam itu! Apalagi ia seorang wanita! Tentu penyamarannya akan ketahuan dan keselamatannya terancam berat!

"Wah, saya... saya takut, Raden! Bagaimana mungkin saya dapat diterima di dalam istana kedua orang Gusti Puteri itu? Andika sendiri pun mungkin akan mendapat marah besar dan menerima hukuman karena lancang membawa saya ke sana. Kita berdua akan dihukum berat. Saya takut, Raden Kaloka!"

"Ha-ha-ha, jangan takut, Sakri. Dua orang Gusti Puteri itu tidak akan marah kepadaku, malah mereka akan senang sekali. Kau tahu, akulah satu-satunya perwira pasukan pengawal istana yang mendapatkan kepercayaan dari mereka berdua. Hanya aku yang berhak membawakan pemuda-pemuda tampan yang menjadi penghibur mereka. Sudah sering aku membawa pemuda-pemuda tampan kepada mereka, akan tetapi rasanya belum pernah ada yang seperti engkau. Engkau pasti akan sangat menyenangkan hati mereka dan ini merupakan keuntungan kita berdua, Sakri."

Puspa Dewi melihat kesempatan baik sekali. Ia sengaja memperlihatkan keraguan, lalu berkata. "Tentu saja saya akan senang sekali mendapatkan pekerjaan itu, Raden Kaloka. Akan tetapi, agar aku dapat bekerja dengan baik dan dapat memuaskan hati kedua orang Gusti Puteri, maka saya perlu mempelajari tentang keadaan dan kebiasaan dalam istana, terutama tentang keadaan dua orang puteri itu. Kalau saya tidak tahu apa-apa, saya akan tampak bodoh sekali dan saya takut melakukan apa-apa."

"Tentu saja...! Juga engkau harus berganti pakaian yang bersih dan indah agar tampak tampan dan menarik sekali. Mari kita pergi ke rumahku yang khusus kupergunakan untuk mempersiapkan para pemuda calon pelayan Gusti Puteri Lasmini dan Gusti Puteri Mandari."

Puspa Dewi mengikuti perwira itu dan ternyata rumah milik perwira itu adalah sebuah rumah hanya ditunggu dan dijaga seorang pelayan laki-iaki tua dan di rumah itu tersedia pakaian pemuda yang banyak dan serba indah.

Puspa Dewi disuruh keramas dan mandi sampai bersih, lalu diberi pakaian baru yang indah. Setelah ia mempersiapkan diri, kini menjadi seorang pemuda yang benar-benar amat tampan menarik, Kaloka yang sebetulnya bukan raden dan bukan keturunan bangsawan itu, lalu memberi keterangan sejelasnya tentang kebiasaan dua orang puteri itu. Dengan cerdik Puspa Dewi memancing dalam pembicaraan itu sehingga Kaloka menceritakan segalanya. Bahkan dia menceritakan pula betapa Puteri Lasmini dan Puteri Mandari sedang kecewa, penasaran dan membutuhkan penghibur karena mereka berdua dikecewakan seorang pemuda yang ditawan akan tetapi pemuda itu menolak untuk menjadi kekasih mereka!

Biarpun jantungnya berdebar, namun Puspa Dewi bertanya secara sambil lalu dan acuh tak acuh. "Hemm, Andika bilang bahwa dua orang puteri cantik seperti bidadari. Akan tetapi mengapa seorang pemuda tawanan menolak mereka."

"Hemm, engkau mana tahu? Tawanan itu bukan sembarang orang. Dia adalah Nurseta, jagoan muda dari Kahuripan yang terkenal itu!"

Puspa Dewi tidak mengejar lebih lanjut mengenai Nurseta yang menjadi tawanan agar tidak mendatangkan kecurigaan. Sebaliknya ia memancing agar perwira itu menceritakan lebih jelas keadaan dalam istana, ruangan-ruangannya, lorong-lorong dan taman-tamannya. Ia mencatat dan menggambar dalam hatinya keadaan di dalam istana itu. Bahkan tanpa curiga sedikit pun Kaloka menceritakan di mana adanya tempat tahanan istana dengan jelas.

Menjelang senja, setelah sinar matahari melembut karena Raja Siang itu sudah bersembunyi di balik bukit barat, Puspa Dewi mengikuti Kaloka pergi ke istana Parang Siluman. Kaloka memang tadi menanti sampai cuaca remang-remang karena biarpun dia merupakan orang kepercayaan kedua orang puteri untuk mencarikan pemuda-pemuda tampan sebagai penghibur, namun dia masih merasa sungkan kepada para petugas lain. Karena itu, dia tidak ingin tampak mencolok kalau membawa pemuda tampan memasuki istana walaupun tentu saja tidak akan ada perajurit pengawal atau orang lain berani melarangnya.

Begitu memasuki perumahan istana yang luas itu, dia membawa Sakri memasuki taman bunga yang luas karena dia akan langsung menuju ke keputren yang letaknya di bagian belakang kompleks bangunan istana. Taman yang luas itu menyambung ke daerah keputren, dan malam itu kebetulan gelap dan sunyi karena angin malam bertiup kencang sehingga hawanya amat dingin. Ketika mereka tiba di tengah taman di mana tumbuh banyak pohon pisang emas, Puspa Dewi melihat keadaan disitu amat sunyi. Cepat ia menggerakkan tangan kirinya. Jari-jari tangan yang lentik itu menyambar tengkuk dan Kaloka mengeluh lalu terguling, tubuhnya terasa lumpuh!

"Diam...!" Puspa Dewi menghardik sambil berjongkok dan mencengkeram leher perwira itu.

"Hayo katakan di mana putera Ki Patih Narotama disembunyikan!"

Kaloka ketakutan. Baru dia menyadari bahwa pemuda ini adalah seorang sakti, agaknya utusan Ki Patih Narotama mencari puteranya yang ditawan di Parang Siluman.

"Aku.... aku... tidak tahu..."

"Jangan bohong!" Puspa Dewi memperkuat cekikannya. "Hayo mengaku, di ruangan mana anak itu ditahan!"

"Tidak... sungguh mati.... tidak disimpan di istana... telah dibawa keluar... akan tetapi entah di mana... karena dirahasiakan...."

Puspa Dewi teringat akan cerita Kaloka tentang Nurseta. Sebaiknya menolong Nurseta lebih dulu lalu bersama-sama nanti mencari Joko Pekik, pikirnya. Ia lalu bangkit berdiri dan menggerakkan tangan ke arah dada Kaloka tanpa menyentuhnya. Akan tetapi perwira itu terkulai dan tewas seketika karena dia telah terkena pukulan jarak jauh yang amat ampuh. Puspa Dewi terpaksa membunuhnya karena kalau tidak dibunuh, Kaloka merupakan bahaya besar bagi dirinya, Nurseta, dan mungkin Joko Pekik. Kaloka dapat menggagalkan kesemuanya kalau sampai dapat sadar dan menceritakan tentang sepak terjangnya kepada para pimpinan Parang Siluman.

Setelah menewaskan Kaloka, Puspa Dewi cepat menyusupkan mayat perwira itu ke dalam semak yang tumbuh disitu, kemudian ia segera mencari tempat tahanan yang sudah ia ketahui dari keterangan Kaloka tadi. Ia melihat sebuah ruangan yang terang dan terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap. Ia mengintai dan melihat para pimpinan Parang Siluman sedang mengadakan rapat pertemuan dalam ruangan itu. Tampak Ratu Durgamala, Lasmini, Mandari, Ki Nagakumala, dan beberapa orang senopati. Melihat ini, Puspa Dewi cepat menyelinap pergi. Kebetulan sekali, pikirnya. Para pimpinan yang sakti mandraguna berkumpul di ruangan itu sehingga ia dapat bergerak lebih bebas.

Tak lama kemudian, Puspa Dewi sudah berada di luar tempat tahanan. Ia melihat tiga orang menjaga di depan pintu besi di mana Nurseta tampak duduk bersila, dan di sekeliling rumah tahanan itu masih ada belasan orang perajurit yang melakukan penjagaan. Terlalu banyak penjaga, pikirnya. Kalau ia menggunakan kekerasan merobohkan mereka, sebelum mereka semua dapat ia robohkan, tentu ada yang berteriak dan ia akan gagal karena harus menghadapi semua tokoh sakti tadi, ditambah pasukan yang ribuan orang banyaknya!

Puspa Dewi segera melompat ke atas dan ternyata di atap tempat tahanan itu tidak terjaga orang. Ia membuka atap sehingga berlubang dan dari atas ia dapat melihat Nurseta yang bersila di atas lantai. Puspa Dewi lalu mengerahkan tenaga saktinya dan berbisik dari atas.

"Nurseta...., mengapa engkau tidak segera meloloskan diri? Ini aku... Puspa Dewi....!"

Bisikan ini tidak dapat terdengar oleh orang lain karena hanya merupakan bisikan lirih, namun digetarkan oleh tenaga sakti dan dikirim langsung ke arah Nurseta sehingga hanya pemuda ini yang dapat menangkapnya.

Mendengar ini, Nurseta maklum bahwa gadis perkasa itu telah datang hendak menolongnya dan berada di atas atap. Akan tetapi untuk menjawab dengan bisikan yang sama, dia tidak dapat karena begitu mengerahkan tenaga saktinya, racun dalam tubuhnya akan menyerangnya dan dapat menewaskannya. Dia maklum akan keheranan Puspa Dewi. Tentu saja gadis itu merasa heran mengapa dia diam saja dijadikan tawanan, tidak cepat membebaskan diri. Gadis itu tentu saja tidak tahu akan keadaan tubuhnya yang terancam maut oleh racun yang jahat sekali. Dia memperoleh akal lalu berkata-kata dengan suara bisikan, cukup lantang sehingga terdengar oleh Puspa Dewi yang berada di atas atap, juga oleh para penjaga yang berada di luar pintu kamar tahanan Itu.

"Hei...!, Kisanak yang menjaga di luar" dia memanggil.

Dua muka orang tampak di antara terali pintu kamar itu.

"Andika mau apa?" tanya seorang di antara mereka.

"Tolonglah Andika pergi ke kamar Gusti Puteri Lasmini dan sampaikan permintaanku agar tongkat hitam milikku dikembalikan padaku. Tanpa adanya tongkat hitamku itu, aku akan mati di sini."

Dua orang penjaga itu tertawa.

"Ha-ha, Nurseta. Engkau sungguh manusia rewel dan tak tahu diri. Gusti Puteri sudah memerintahkan agar kami memperlakukanmu baik-baik, menghidangkan makanan yang enak-enak dan tidak menganggumu. Sekarang engkau malah minta yang bukan-bukan. Mana kami berani mengganggu Gusti Puteri dengan permintaanmu itu!"!

Puspa Dewi terkejut dan merasa heran sekali mendengar ucapan Nurseta. Mengapa pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya melalui suara yang didorong tenaga sakti? Ia memandang dan melihat Nurseta menggunakan kedua tangan menekan ke arah dada lalu mengembangkan kedua tangan dengan gerakan seorang yang tidak berdaya. Lalu jari telunjuknya membuat gerakan menggores ke atas lantai. Puspa Dewi memperhatikan. Ternyata Nurseta membuat gerakan menulis dan ia memperhatikan dengan seksama.

"Pusaka Tunggul Manik." demikian bunyi tulisan itu.

Seketika Puspa Dewi maklum. Dia mendengar akan tongkat pusaka hitam bernama Tunggul Manik itu. Itu adalah tongkat pusaka milik Ki Patih Narotama yang ampuh dan kabarnya dapat menolak segala macam racun. Nurseta membutuhkan tongkat itu yang berarti bahwa dia keracunan hebat. Pantas saja tidak mampu menjawab pertanyaannya dengan suara yang dikerahkan tenaga sakti. Dan tongkat itu berada di kamar Lasmini! Agaknya tongkat itu tadinya dibawa Nurseta, kemudian dirampas Lasmini. Gadis yang cerdik ini segera mengetahui maksud Nurseta. Ia harus mencari tongkat itu untuk menyembuhkan Nurseta yang keracunan sehingga tidak berdaya meloloskan diri! Cepat ia berkelebat dan pergi mencari kamar tidur Lasmini.

Untung Puspa Dewi sudah mendapatkan gambaran yang jelas dari Kaloka tentang kamar-kamar dan ruangan di istana itu sehingga tidak sukar baginya untuk dapat menemukan kamar tidur Puteri Lasmini. Sekitar kamar mewah itu sepi, tidak ada perajurit pengawal yang berjaga. Hal ini dapat dimaklumi karena Lasmini adalah seorang wanita yang sakti, maka tentu saja ia tidak membutuhkan pengawalan para perajurit. Selain itu, puteri yang suka menerima pemuda di dalam kamarnya, tidak ingin ada orang lain mendekati kamarnya dan mengganggu kesenangannya. Maka kamar itu pun sepi dari penjagaan sehingga memudahkan Puspa Dewi untuk memasukinya. Dengan girang ia dapat menemukan tongkat pusaka hitam itu dan cepat ia membawa tongkat itu kembali ke atas atap kamar tahanan Nurseta.

"Nurseta,... Tunggul Manik sudah kudapatkan!" Ia berbisik melalui lubang di atap.

Nurseta bersikap tetap tenang walaupun hatinya merasa girang sekali. Ia lalu menulis lagi di atas lantai dengan goresan ujung jarinya, diperhatikan dan dibaca oleh Puspa Dewi dari atas.

"Kerik Tunggul Manik dan lemparkan bubuk kerikannya ke bawah." demikian bunyi tulisan yang dilakukan satu demi satu dan perlahan-lahan sehingga Puspa Dewi dapat mengikuti dan membacanya.

Setelah mengetahui maksudnya, Puspa Dewi segera mengambil patrem (keris kecil) Sang Cundrik Arum pemberian Erlangga dan menggunakan senjata pusaka kecil itu untuk mengerik tongkat kayu hitam itu. Untung ia memiliki Cundrik Arum, kalau tidak, akan sulit sekali untuk dapat mengerik tongkat pusaka yang amat kuat itu. Akan tetapi Sang Cundrik Arum juga merupakan pusaka ampuh, maka ia dapat mengerik tongkat hitam itu. Ia membungkus bubuk kerikan hitam itu dengan ujung sabuk yang dipotongnya, lalu ia melemparkan bungkusan itu ke bawah.

Lemparannya tepat mengenai pangkuan Nurseta yang segera mengambilnya. Dengan tenang Nurseta bangkit berdiri dan menghampiri bangku di sudut ruangan dekat pintu di mana para penjaga selalu menyediakan tempat air minum dan cawannya. Nurseta menuangkan bubuk hitam ke dalam cawan lalu diisi air minum dan diminumnya. Dua orang pengawal yang mendengar gerakannya, menjenguk dari balik terali akan tetapi melihat Nurseta hanya mengambil air minum, mereka duduk kembali sambil mengobrol melewatkan malam.

Nurseta kembali duduk bersila dan dia merasa betapa pengaruh obat bubuk tongkat sakti itu mulai bekerja. Ada hawa panas muncul dari dalam perutnya, menjalar ke seluruh tubuh dan tulang-tulangnya, pada buku-buku dan sambungan, mengeluarkan bunyi berkerotokan!

Puspa Dewi melihat dari atas dan ia maklum bahwa setelah minum bubuk kerikan tongkat itu, kini Nurseta sedang mengumpulkan hawa murni untuk membantu bekerjanya obat itu. Ia menanti dengan sabar dan penuh harapan. Beberapa lama lewat dengan menegangkan. Tiba-tiba Puspa Dewi mendengar suara bisikan.

"Dewi, terima kasih... Sekarang aku siap meloloskan diri. Bantulah dari luar!"

"Baik, Nurseta!"

Puspa Dewi gembira sekali karena kini Nurseta bicara melalui pengerahan tenaga sakti, berarti kesehatan pemuda itu telah pulih! Ia lalu berkelebat turun dan memasuki lorong menuju kamar tahanan itu. Begitu masuk, empat orang perajurit penjaga menyambutnya dengan bentakan dan ketika mereka melihat Puspa Dewi sebagai seorang pemuda yang tidak mereka kenal, mereka segera menyerang dengan golok mereka. Akan tetapi begitu Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya, empat orang itu terpelanting roboh. Puspa Dewi berlari masuk dan tiga orang penjaga di luar pintu besi kamar tahanan itu pun sudah roboh terpukul oleh Nurseta yang menggunakan pukulan jarak jauh.

Melihat munculnya Puspa Dewi, Nurseta terbelalak. Penerangan di situ memang tidak cukup maka dia tidak mengenal pemuda yang berada di luar pintu tahanan itu.

"Siapakah Andika...?" Nurseta bertanya.

Puspa Dewi tertawa. "Hi-hik, engkau juga tidak mengenalku?"

"Puspa Dewi...!"

"Husssh...! Mari kita buka pintu besi ini!" Mereka lalu menggabungkan tenaga sakti mereka. Nurseta menarik dan Puspa Dewi mendorong. Jebollah pintu itu dan terbuka ke sebelah dalam. Nurseta melompat keluar.

"Nih, pusaka mu!" Puspa Dewi menyerahkan tongkat pusaka Tunggul Manik itu kepada Nurseta.

"Terima kasih, Dewi...!"

"Nanti saja terima kasihnya. Masih banyak yang harus kita lakukan."

Pada saat itu, dari luar, belasan orang perajurit berlari masuk menyerbu dua orang itu. Nurseta dan Puspa Dewi menerjang ke depan. Dengan mudah mereka merobohkan perajurit yang berani menghadang. Sebentar saja mereka sudah berlari keluar dari rumah tahanan.

"Mari kita keluar dulu dari tempat ini!" kata Nurseta.

"Akan tetapi, kita harus mencari Joko Pekik!"

"Tidak ada di sini...! Mari kita pergi cepat!" kata Nurseta.

Sudah terdengar kentongan tanda bahaya ditabuh orang. Mereka berkelebat lewat taman dan sebentar saja mereka sudah keluar dari dinding yang mengelilingi kompleks istana. Begitu melompat turun keluar dinding istana, beberapa sosok bayangan berkelebat dan terdengar seruan berbisik.

"Cepat, Andika berdua ikuti kami!"

"Witarto...!" Seru Nurseta yang mengenal suara telik sandi Kahuripan itu.

Puspa Dewi yang tadinya sudah siap siaga hilang kecurigaannya dan bersama Nurseta ia berlari mengikuti bayangan tiga orang itu. Mereka menuju ke sebuah rumah bilik di daerah pinggiran kota raja, daerah yang sepi karena itu merupakan persawahan. Dalam rumah itu terdapat sepuluh orang laki-laki. Mereka adalah para telik sandi Kahuripan yang sudah lama menyusup dan bertugas di Parang Siluman, dipimpin oleh Witarto yang biarpun usianya baru dua puluh dua tahun, namun terkenal cerdik dan memiliki keahlian menyamar.

"Wah, beruntung sekali Andika dapat melepaskan diri, Denmas Nurseta. Kami semua sudah menjadi gelisah sekali mendengar bahwa Andika tertawan dan tidak tahu bagaimana harus menolong karena istana terkepung penjagaan yang amat ketat. Siapakah Kisanak ini?" Witarto menunjuk ke arah Puspa Dewi.

Nurseta tersenyum. "Ia yang telah menolong dan membebaskanku. Andika sebagai ahli penyamaran benar-benar tidak mengenalnya, Witarto?"

"Nanti dulu...!" Witarto mengambi lampu dari atas meja dan mendekati Puspa Dewi sehingga dia dapat meliha jelas wajah gadis yang menyamar itu.

"Ah...! Hebat sekali! Bukankah Andika ini Den Roro Puspa Dewi?"

"Hemm, penglihatanmu tajam sekali! Nurseta, siapakah Kisanak ini?" tanya Puspa Dewi kagum.

"Dewi, dia adalah Witarto yang memimpin para telik sandi yang dikirim Gusti Patih Narotama menyusup ke sini."

"Akan tetapi aku tidak mengenal dia! Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa aku..."

"Den Roro, Andika dan Denmas Nurseta adalah dua orang tokoh muda yang dikenal semua perajurit Kahuripan. Biarpun saya baru satu kali melihat Andika, tentu saja saya dapat mengenal Andika. Sekarang, marilah kita berangkat dan membebaskan Raden Joko Pekik Satyabudhi!"

"Witarto, Andika sudah tahu di mana anak itu disembunyikan?"

"Saya sudah mengetahui. Dia disembunyikan dalam sebuah gua yang terjaga ketat di luar kota raja. Tempat itu berbahaya sekali. Ketika menyelidiki ke sana, kami telah kehilangan dua orang rekan sehingga kini jumlah kami tinggal sepuluh orang."

"Hemm, menjadi selusin lagi ditambahi kami berdua." Kata Nurseta. "Mari kita berangkat, anak itu harus cepat-cepat dapat kita rampas dari tangan mereka."

Mereka semua lalu keluar dari rumah dan dalam kegelapan waktu lewat tengah malam itu mereka keluar dari kota raja melalui dinding yang tidak terjaga, yang sudah dikenal oleh Witarto yang sudah lama menjadi telik sandi di situ. Mereka dapat lolos tanpa diketahui para perajurit. Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di bukit di mana terdapat gua besar yang menjadi tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi itu.

Gua itu besar dan dari jauh tampak sebagai mulut raksasa yang ternganga, siap mencaplok siapa saja yang berani memasukinya. Di depan gua terdapat rumpun bambu yang lebat dan untuk menghampiri gua itu orang harus melalui lapangan rumput yang luas. Di luar lapangan rumput, agak jauh dari gua, tampak sebuah gardu dan di situ terdapat dua belas orang perajurit melakukan penjagaan. Melihat adanya selusin perajurit berjaga, Nurseta dan Puspa Dewi mulai timbul harapan besar dan semakin percaya akan keterangan Witarto bahwa gua itu dijadikan tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi.

Setelah mengintai beberapa saat lamanya dari kejauhan dan mendapat kenyataan bahwa yang tampak berjaga hanya dua belas orang perajurit itu, sedangkan di seberang lapangan rumput depan gua hanya tampak bayangan beberapa orang saja, Nurseta lalu berbisik kepada Puspa Dewi dan sepuluh orang telik sandi.

"Aku dan Dewi akan menghadapi dua belas orang perajurit itu. Karena di gua itu tampaknya hanya ada tiga atau empat orang saja, maka Andika sekalian sepuluh orang harap langsung saja lari menyerbu ke gua, merobohkan beberapa orang itu dan cepat mencari Joko Pekik Satyabudhi. Setelah membereskan selusin perajurit itu, kami akan segera menyusul ke sana."

Siasat ini dianggap paling tepat. Nurseta dan Puspa Dewi akan menghadapi dua belas orang perajurit itu agar mereka tidak dapat menghalangi Witarto dan rekan-rekannya menyerbu ke gua sehingga mereka yang berada di dalam gua tidak mendapat kesempatan untuk melarikan atau menyembunyikan Joko Pekik.

Setelah semua paham akan rencana itu, Nurseta dan Puspa Dewi lalu melompat dan lari ke arah gardu. Dua belas orang perajurit Parang Siluman yang melakukan penjagaan adalah perajurit-perajurit pilihan. Mereka segera berloncatan dan menyambut dua orang itu dengan serangan pengeroyokan dengan menggunakan senjata golok mereka. Gerakan mereka gesit dan bertenaga. Namun, mereka berhadapan dengan Nurseta dan Puspa Dewi. Dalam beberapa gebrakan saja, walaupun hanya menggunakan tangan dan kaki tanpa senjata, empat orang perajurit telah terpelanting roboh.

Sementara itu, sepuluh orang telik sandi yang terdiri dari para perajurit dan perwira Kahuripan itu cepat berlari melintasi padang rumput menuju ke gua. Setelah empat orang perajurit penjaga roboh lagi, sisanya tinggal empat orang, lalu berlari melintasi lapangan rumput menuju ke gua pula, seolah melakukan pengejaran terhadap sepuluh orang telik sandi Kahuripan.

Nurseta dan Puspa Dewi setelah merobohkan delapan orang pengeroyok dan melihat sisa para pengeroyok yang tinggal empat orang itu lari melintasi lapangan rumput, memandang ke arah gua. Mereka terbelalak, terkejut bukan main melihat Witarto dan sembilan orang rekannya itu roboh bergelimpangan ? di depan gua, dan tampak empat orang pengejar itu dan empat orang laki-laki yang memang sudah berada di gua, kini menggunakan golok menyerang para telik sandi yang sudah tak berdaya!

BERSAMBUNG KE JILID 20


Thanks for reading Cerita Silat Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 19 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »