Cerita Silat Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 14

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 14

"Ni Puspa Dewi, dari mana saja Andika? Ceritakan kepada kami bagaimana Andika pergi mencari Niken Harni." Tanya Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi memandang kepada ayahnya dan kakeknya, maklum bahwa tentu Sang Prabu Erlangga telah mendengar dari mereka akan Kepergiannya mencari Niken Harni.

"Hamba telah berhasil memasuki Kerajaan Wengker dan mendengar keterangan dari Resi Bajrasakti bahwa adik hamba Niken Harni telah dibawa oleh Nini Bumigarbo."

"Ahh... " Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama berseru kaget. Mereka tahu siapa Nini Bumlgarbo, seorang datuk wanita sakti mandraguna yang membenci guru mereka dan membenci mereka akan tetapi tidak berani turun tangan mengganggu mereka karena dilarang oleh Sang Bhagawan Ekadenta.

"Mengapa Niken Harni dibawa datuk wanita itu?" Tanya Sang Prabu Erlangga.

"Hamba tidak tahu, Gusti. Juga para pimpinan Wengker tidak ada yang mengetahuinya."

"Ni Puspa Dewi, Wengker memiliki banyak orang sakti, juga adipatinya yang baru adalah Linggawijaya, permaisurinya Dewi Mayangsari yang kabarnya pernah digembleng oleh Nini Bumigarbo. Bagaimana Andika seorang diri dapat masuk kesana dengan leluasa dan selamat?"

"Sesungguhnya hamba mendapat perlindungan Sang Hyang Widhi, Gusti. Ketika hamba tiba di sana, Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari sedang tidak berada di Wengker. Hamba dikeroyok dan tentu akan terancam malapetaka kalau hamba tidak bertindak cepat. Hamba menangkap dan menyandera Tumenggung Suramenggala dan dengan cara itu hamba dapat keluar dari Wengker dengan selamat. Setelah mendengar bahwa Niken Harni dibawa Nini Bumigarbo, hamba masih berusaha mencarinya ke mana-mana. Namun hamba tidak berhasil menemukan jejak Niken Harni maupun Nini Bumigarbo."

"Hemm, tidak aneh. Nini Bumigarbo memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi."

"Karena tidak berhasil menemukan Niken Harni, hamba mengambil keputusan untuk pulang lebih dulu agar keluarga hamba tidak merasa khawatir. Begitu memasuki kota raja, hamba terkejut mendengar akan musibah yang menimpa kota raja. Hamba pulang dan mendengar dari kedua Ibu hamba dan Nenek bahwa Kanjeng Rama dan Kanjeng Eyang berada di sini menghadap Paduka, maka hamba lalu cepat menyusul ke sini. Hamba mohon maaf bahwa hamba tidak dapat membantu melawan musuh ketika serangan malam tadi datang, Gusti."

Ki Patih Narotama merasa kagum dan girang sekali melihat sikap dan ucapan gadis itu yang kini lembut dan penuh hormat, walaupun di dalam kelembutannya masih terkandung kekerasan hati. Kiranya penggemblengan Maha Resi Satyadharma telah mengubah watak keras liar gadis itu dan menanamkan kebijaksanaan.

"Bukan kesalahan Andika atau kesalahan siapa pun, Ni Puspa Dewi. Semua telah terjadi dan kami yakin bahwa yang terjadi sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi dan pasti mengandung hikmah yang dapat dipetik dan dimanfaatkan."

Ucapan Sang Prabu Erlangga ini mengandung maksud yang hanya dimengerti oleh dia dan Ki Patih Narotama. Mereka berdua menyadari bahwa semua peristiwa ini merupakan akibat kesalahan tindakan mereka ketika mengambil Ni Lasmini dan Ni Mandari menjadi selir. Walau niat itu baik untuk memperbaiki hubungan kedua kerajaan, namun caranya yang salah. Caranya merupakan hasil dorongan nafsu.

Kedatangan Puspa Dewi yang memperkuat barisan pertahanan mereka membuat para senopati berbesar hati. Ki Patih Narotama diserahi tugas mengatur penjagaan dan membagi-bagi tugas penjagaan Kepada para senopatinya. Untuk menghadapi bahaya penyerangan musuh, Sang Prabu Erlangga sendiri juga siap untuk turun tangan, mengingat bahwa pihak musuh mempunyai banyak orang sakti mandraguna. Bahkan Sang Prabu Erlangga mengutus Ki Patih Narotama sendiri untuk mengundang Empu Bharada di Tanah Perdikan Lemah Citra, dan Empu Kanwa yang tinggal di dusun Margarejo di luar kota raja, di lereng daerah perbukitan yang sunyi.

Pada hari itu juga, Empu Bharada dan Empu Kanwa datang menghadap Sang Prabu Erlangga bersama Ki Patih Narotama. Mereka berempat duduk bercakap-cakap di ruangan pustaka. Ki Patih Narotama sudah menceritakan kepada dua orang Empu itu akan peristiwa semalam yang menimpa kota raja Kahuripan, maka ketika menghadap Sang Prabu Erlangga, Empu Bharada lalu berkata setelah dipersilakan duduk dan menerima penghormatan raja yang menganggapnya sebagai sesepuh itu.

"Puteranda Kanjeng Sinuwun, saya telah mendengar akan malapetaka yang menimpa kerajaan Paduka semalam, juga tentang tercurinya Pusaka Cupu Manik Maya dan terculiknya Cucunda Raden Joko Pekik Satyabudhi dari Gedung Kepatihan. Saya ikut merasa prihatin, akan tetapi tentu Paduka sudah dapat menerimanya dengan sabar karena semua ini sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi."

"Saya juga ikut merasa prihatin, Kanjeng Sinuwun, dan Kakang Empu Bharada benar. Kalau kita dapat menerima segala kejadian ini dengan sabar dan ikhlas dan memperkuat iman dan penyerahan diri kita kepada Dia Yang Maha Kuasa, saya kira kita akan diberi pengampunan dan jalan keluar dari semua musibah."!

"Terima kasih, Paman Empu Bharada dan Paman Empu Kanwa. Kami menyadari akan hal itu dan semoga kami semua dapat menerima semua musibah ini dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan penyerahan seperti yang Paman berdua maksudkan. Sekarang saya hendak mohon bantuan Paman berdua. Karena musuh menyebar racun yang menjadi wabah penyakit dan menimbulkan banyak korban pada rakyat, maka kami mohon kepada Paman Empu Kanwa yang ahli dalam soal pengobatan, untuk menanggulangi wabah ini dan membebaskan rakyat dari ancaman dan gangguan wabah penyakit itu. Dan permohonan kami kepada Paman Empu Bharada, mengingat bahwa besar kemungkinan sewaktu-waktu musuh yang sudah menghimpun kekuatan itu akan menyerang dan mereka memiliki banyak tokoh sakti ahli ilmu sihir, maka mohon Paman Empu Bharada suka memperkuat pertahanan kami untuk menghadapi serangan ilmu hitam."

Dua orang pertapa itu menyanggupi dan menyatakan kesediaan mereka untuk memenuhi permintaan Sang Prabu Erlangga. Empu Bharada lalu berkata dengan nada serius. "Puteranda Kanjeng Sinuwun, kalau saya tidak salah ingat, disini terdapat senopati-senopati yang cukup digdaya untuk melawan musuh yang berbahaya, pula, selain Paduka sendiri dan Ananda Patih Narotama ini, masih terdapat beberapa orang muda yang sakti mandraguna. Di antaranya adalah Ni Puspa Dewi dan terutama sekali Nurseta. Saya kira mereka itu dapat dimintai bantuan untuk menghadapi lawan yang menggunakan ilmu hitam dan sihir."

Empu Bharada teringat akan pertanda yang dilihatnya dahulu bahwa Kahuripan akan tertimpa malapetaka dan diselimuti awan gelap, ada pun yang akan dapat menghalau pengaruh jahat itu adalah Sinar Putih atau Nurseta. Tentu saja ? bukan pemuda itu seorang diri yang diberi tugas melawan semua musuh, akan tetapi bantuannya tentu akan dapat diandalkan dan berguna sekali bagi keselamatan Kahuripan.

"Semua sudah mempersiapkan diri, Paman Empu Bharada. Juga Puspa Dewi baru saja pulang setelah terjadi penyerangan gelap malam itu. Sekarang ia juga sudah mempersiapkan diri memperkuat pertahanan Kahuripan. Akan tetapi sungguh sayang, Nurseta masih belum kembali ke kota raja karena dia sedang mencari puteri Senopati Yudajaya yang pergi ke Wengker dan menurut keterangan Puspa Dewi, adiknya Niken Harni itu telah dibawa pergi Nini Bumigarbo. Nurseta tidak mengetahui akan hal itu dan sampai sekarang dia belum kembali."

Empu Bharada menghela napas panjang. Segala sesuatu yang menimpa diri manusia tidak terlepas dari ikatan karma, semua bersumber dari diri pribadi. Berdasarkan hukum sebab akibat ini, maka segala sesuatu terjadi. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia hanya wajib berikhtiar sekuat tenaga sebesar kemampuannya, namun akhirnya dia harus dan hanya dapat menerima segala sesuatu yang terjadi kepadanya, suka atau tidak! Dia mengerti bahwa semua yang menimpa Kerajaan Kahuripan ini menjadi akibat dari masuknya Ni Lasmini dan Ni Mandari, dua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.

Apa yang dikhawatirkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama terjadi tiga hari kemudian. Pagi-pagi sekali, baru saja fajar menyingsing membangunkan ayam-ayam jantan yang berkeruyuk saling bersahutan dengan nyaring sehingga menggugah burung-burung di pepohonan, membuat mereka ramai saling memberi salam pagi yang ribut namun merdu, pasukan gabungan empat kerajaan yang dibantu beberapa raja muda daerah yang kecil, mengadakan serangan besar-besaran.

Jumlah perajurit dalam pasukan gabungan itu tidak kurang dari tiga laksa orang! Mereka menyerbu dari empat jurusan dan selain mengerahkan seluruh pasukan, mereka pun mengerahkan semua tokoh yang memiliki aji kesaktian untuk memimpin pasukan yang dibagi empat itu. Empat kerajaan yang amat membenci Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka itu tidak mau kepalang tanggung dan tidak mau gagal lagi. Mereka mengerahkan semua tenaga.

Pasukan pertama terdiri dari sepuluh ribu orang perajurit Wengker bergerak dari depan dan pasukan terbesar ini dipimpin sendiri oleh para pimpinan Wengker lengkap, yaitu Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek!

Pasukan ke dua yang bergerak menyerang dari sayap kiri terdiri dari sepuluh ribu orang perajurit Wura-wuri, dipimpin sendiri oleh Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja, dan Ki Gandarwo.

Pasukan ke tiga bergerak menyerang dari sayap kanan, terdiri dari sekitar lima ribu orang perajurit Parang Siluman, dipimpin oleh Ratu Durgamala, Bhagawan Kundolomuko, Ni Lasmini, Ni Mandar , dan Ki Nagakumala.

Pasukan ke empat bergerak dari belakang, terdiri sekitar lima ribu orang perajurit Siluman Laut Kidul, dipimpin oieh Ratu Mayang Gupita sendiri, dibantu oleh Bhagawan Kalamisani, Nagarodra, dan Nagajaya. Semua itu masih diperkuat oleh para perwira kerajaan masing-masing yang memimpin pasukan di bawah komando para pimpinan tertinggi itu. Dan juga ada Pasukan Siluman yang dibentuk oleh Bagawan Kundolomuko dari Parang Siuman, penyembah Bathari Durga dan ahli sihir yang berilmu tinggi itu. Pasukan Siluman yang berpakaian serba putih ini terdiri dari tiga ratus orang, akan tetapi karena mereka itu digerakkan oleh iImu hitam yang dahsyat, maka kekuatannya juga menggiriskan.

Namun pihak Kerajaan Kahuripan sudah siap siaga sehingga ketika musuh datang dari empat penjuru, dengan tenang pasukan yang sudah siap dibagi menjadi empat itu menyambut mereka. Kekuatan pasukan Kerajaan Kahuripan berjumlah sekitar empat laksa orang. Selaksa orang dipimpin sendiri oleh Sang Prabu Erlangga yang berdampingan dengan Empu Bharada dan beberapa orang perwira tinggi, menjaga bagian depan yang merupakan gapura terbesar. Selaksa orang perajurit dipimpin oleh Ki Patih Narotama yang juga dibantu beberapa orang perwira, menjaga sebelah kanan. Selaksa orang perajurit yang lain dipimpin oleh Puspa Dewi, dibantu ayahnya, Senopati Yudajaya dan beberapa orang perwira, menjaga sebelah kiri. Adapun sisanya, kurang lebih selaksa orang perajurit, dipimpin oleh Senopati Sepuh Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu dibantu beberapa orang perwira.

Maka begitu musuh datang menyerbu! dari empat penjuru, pasukan-pasukan Kahuripan keluar dari pintu gerbang dan menyambut dengan gegap-gempita hingga terjadilah pertempuran hebat di luar kota raja, di empat penjuru.

Perang campuh terjadi, hiruk-pikuk dan gegap-gempita suara puluhan ribu mulut berteriak marah, saling maki, juga teriakan kesakitan, bercampur suara beradunya senjata pedang, golok, tombak, keris dan sebagainya, berdentingan nyaring, hentakan puluhan ribu kaki berdebukan, debu mengepul tebal dan membubung tinggi, dengan napas terengah-engah, darah mulai muncrat dan berceceran, tubuh tanpa nyawa atau terluka mulai berpelantingan, terkapar dan berserakan, malang melintang terinjak kaki kawan maupun lawan!

Perang! Peristiwa terkutuk. Puncak kebuasan mahluk yang dinamai manusia. Nafsu amarah, dendam, kebencian, menggetarkan udara. Buas seperti binatang liar, haus darah, yang ada dalam benak pikiran hanya membunuh atau dibunuh. Hanya satu keinginan semua pihak. Menang! Mencari- kemenangan dengan cara apapun juga. Terhapuslah sudah semua peradaban, kebudayaan, dan sifat luhur manusia. Tawa bergelak setiap kali merobohkan lawan, memenggal leher, merobek perut, menusuk, dada. Jerit rintih kematian lawan seolah gamelan paling merdu bagi telinganya. Bahkan matahari pun agaknya ngeri menyaksikan kekejaman ini dan matahari bersembunyi di balik awan-awan yang berarak di angkasa.

Sang Prabu Erlangga yang memimpin pasukannya bertemu dengan pasukan Wengker. Adipati Linggawijaya, Permaisuri Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti segera maju mengeroyok Raja Kahuripan ini. Raja yang mereka anggap sebagai musuh besar. Mereka bertiga maju dengan harapan akan mampu mengalahkan menawan atau membunuh Sang Prabu Erlangga, karena kalau raja ini tewas atau tertawan, tentu pasukan Kahuripan akan menyerah. Akan tetapi, mereka bertiga terkejut bukan main.

Sang Prabu Erlangga benar-benar sakti mandraguna. Semua serangan mereka bertiga, bahkan ketika mereka menyatukan tenaga sakti menghantam ke arah Sang Prabu Erlangga, Raja Kahuripan ini menyambut dengan dorongan tangan kirinya dan hawa sakti yang menyambut serangan tiga orang itu sedemikian kuatnya sehingga tiga orang itu hampir terjengkang dan terhuyung ke belakang! Juga semua aji kesaktian mereka kerahkan, namun semua dapat ditangkis Sang Prabu Erlangga.

Sang Empu Bharada yang membantu Sang Prabu Erlangga dikeroyok oleh Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek. Pertapa ini sebetulnya hampir tidak pernah berkelahi, namun dia adalah seorang yang sakti. Dengan Aji Bayu Sakti tubuhnya yang berpakaian serba hitam itu dapat menghindarkan diri dari sambaran keris di tangan Warok Surogeni, pecut berujung besi di tangan Warok Wirobento dan sepasang kolor merah yang menjadi senjata Warok Wirobandrek. Dia pun membalas dengan tamparan-tamparan yang mengandung Aji Gelap Musti sehingga tiga orang lawan itu sukar untuk dapat merobohkan Empu Bharada.

Tiba-tiba tampak awan gelap seolah turun dari angkasa dan menggelapkan cuaca di tempat pertempuran bagian depan kota raja itu. Dan dari dalam kegelapan ini muncul suara-suara yang menyeramkan, tawa dan tangis yang bukan suara manusia, lalu muncul bentuk-bentuk mengerikan seolah ada ratusan iblis jadi-jadian muncul dari kegelapan dan mengancam para perajurit Kahuripan. Tentu saja para perajurit terkejut dan menjadi panik.

Empu Bharada menggunakan Aji Bayu Sakti berkelebatan lenyap meninggalkan tiga orang lawannya dan dia sudah menuju ke pusat dari mana muncul awan gelap dan bayangan iblis itu. Kiranya tiga ratus perajurit dalam Pasukan Siluman itu mulai menyerbu, dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuko yang melepas ilmu hitamnya. Melihat ini, Empu Bharada memberi isyarat kepada lima ratus orang perajurit yang sudah dipilih untuk menghadapi pasukan ilmu hitam itu yang memang sudah diperhitungkan oleh pihak Kahuripan.

Lima ratus orang perajurit ini mengenakan sehelai kain putih yang diikatkan di kepala dan kain itu sudah dirajah (diisi kekuatan gaib) oleh Empu Bharada. Lima ratus orang perajurit inilah yang menyambut serbuan tiga ratus perajurit Pasukan Siluman. Empu Bharada sendiri berdiri dan bersedakap (melipat kedua lengan di depan dada), mengerahkan aji kesaktiannya menyambut ilmu hitam yang dilepaskan Bhagawan Kundolomuko.

Dahsyat bukan main pertandingan adu sihir dan pertempuran antara dua pasukan yang sama-sama telah diisi rajah oleh Bhagawan Kundolomuko dan Empu Bharada. Akan tetapi karena jumlah pasukan Kahuripan lebih banyak maka tentu saja Pasukan Siluman itu agak kewalahan, apalagi karena kekuatan gaib dari Bhagawan Kundolomuko yang tadinya mendukung mereka itu kini terpaksa dialihkan untuk bertanding melawan Empu Bharada.

Sementara itu, Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek yang telah ditinggalkan Empu Bharada, kini membantu tiga orang pimpinan Wengker yang masih mengeroyok Sang Prabu Erlangga. Raja itu kini dikeroyok enam orang lawan yang tangguh! Pasukan sayap kanan dari Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama bertemu di luar gapura dengan pasukan Wura-wuri yang dipimpin Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja, dan Gandarwo.

Ki Patih Narotama yang telah memberi petunjuk kepada para perwira pembantunya untuk memimpin pasukan menyambut pasukan Wura-wuri yang menyerbu, mengamuk. Dia marah dan khawatir sekali karena puteranya diculik musuh.

"Hl-hi-hik! Narotama, sekarang tiba saatnya engkau mati di tangan kami!" Dewi Durgakumala tertawa mengejek.

"Hemm, kalau engkau berani mengganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi dan tidak mengembalikannya kepadaku, aku tidak peduli lagi akan pelanggaran dan akan kubunuh kalian semua, akan kumusnahkan dan kubikin karang abang (lautan api) kerajaan kalian, kubikin rata dengan tanah!"

Suara Ki Patih Narotama menggetarkan semua yang mendengarnya karena dia sudah dikuasai amarah yang hebat. Narotama adalah seorang yang tidak mau sembarangan membunuh dan baginya merupakan pantangan membunuh. Biasanya, lawan yang dihadapinya hanya dikalahkan dan dirobohkan tanpa membunuh. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia hanya seorang manusia biasa, seorang ayah yang menjadi marah dan mata gelap melihat puteranya diculik orang.

Karena maklum betapa saktinya Ki Patih Narotama, maka Adipati Bhismaprabhawa dan Dewi Durgakumala tidak banyak cakap lagi. Teriakan dahsyat tadi membuat hati mereka menjadi gentar juga. Mereka memberi isyarat kepada empat orang pembantu mereka dan segera enam orang sakti ini menerjang dan mengeroyok Ki Patih Narotama.

Terjadilah pertempuran yang hebat. Dengan keris pusaka Megantoro di tangan, Ki Patih Narotama menghadapi pengeroyokan enam orang sakti itu. Adipati Bhismaprabhawa bersenjatakan sebatang klewang bergagang emas, Dewi Durgakumala menggunakan sebatang pedang, Kala Muka memegang sebatang keris, Kala Manik sebatang klewang, Kala Tejo sebatang ruyung dan Ki Gandarwo bersenjatakan pedang.

Enam orang itu bagaikan enam ekor srigala mengeroyok dan menyerang seekor harimau. Terjadilah perkelahian mati-matian dan Ki Patih Narotama harus mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan semua tenaga untuk melawan enam orang pengeroyok yang tangguh itu. Akan tetapi pasukannya yang berjumlah selaksa orang sudah bertempur melawan selaksa orang perajurit Wura-wuri. Perang campuh yang hebat terjadi, sama seru dan ramainya seperti pasukan yang bertempur di bagian depan kota raja.

Lima ribu orang perajurit dalam Pasukan Parang Siluman yang dipimpin Ratu Durgakumala, disambut pasukan Kahuripan yang dipimpin Puspa Dewi! Karena Bhagawan Kundolomuka yang memimpin Pasukan Siluman membantu penyerangan dari depan, maka kini yang membantu Ratu Durgamala adalah Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala. Sungguh merupakan pimpinan yang amat kuat. Akan tetapi Puspa Dewi yang didampingi ayahnya, Senopati Yudajaya, tidak gentar dan dengan tenang saja la menyambut lawan-lawan yang amat tangguh itu.

Mereka berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata mencorong. Terutama sekali Mandari dan Lasmini. Mereka memandang wajah Puspa Dewi dengan penuh kebencian karena gadis itu merupakan satu di antara penyebab penting gagalnya usaha mereka dahulu untuk menjatuhkan Kahuripan.

"Perempuan rendah Pengkhianat, tidak malu engkau memperlihatkan mukamu kepada kami?" bentak Mandarl sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Puspa Dewi.

"Puspa Dewi bocah desa melarat. Engkau sudah dimuliakan, diangkat derajatmu menjadi Sekar Kedaton di Wura-wuri, akan tetapi malah mengkhianati kami! Sekarang sudah saatnya engkau menerima hukuman, kupenggal batang lehermu, kurobek dadamu dan kucabut keluar jantungmu!" Lasmini juga memaki-maki marah.

Setelah menerima penggemblengan selama tiga bulan dari Maha Resi Satyadharma, Puspa Dewi telah mampu menjinakkan hatinya dan mampu mengendalikan perasaannya sehingga dihina seperti itu, ia tersenyum saja dan tidak menjadi marah.

"Lasmini dan Mandari, bukan aku yang berkhianat karena aku memang kawula Kahuripan yang sudah sepatutnya membela, apalagi karena Gusti Sinuwun Erlangga dan Gusti Patih Narotama memang merupakan manusi-manusia arif bijaksana yang sudah semestinya kubela. Sebaliknya kamu berdua yang berkhianat dan tidak tahu malu. Sudah mau menyerahkan diri menjadi selir Sang Prabu dan Ki Patih, ternyata itu hanya siasat untuk melakukan pemberontakan."

"Keparat, mampuslah!" Lasmini sudah menerjang dengan marah sekali, menghujamkan kerisnya ke arah dada Puspa Dewi. Akan tetapi dengan tenang Puspa Dewi menggeser kaki mengelak ke belakang sambil mencabut pedangnya. Sinar hitam tampak ketika Pedang Gandrasa Langking tercabut.

Mandari, Ratu Durgamala, dan Ki Nagakumala juga berlompatan ke depan untuk mengeroyok. Akan tetapi Ki Yudajaya sudah memberi aba-aba kepada para perwira pembantu untuk maju membantu Puspa Dewi. Terjadilah pertempuran hebat. Puspa Dewi dikeroyok tiga oleh Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala. Ia harus mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menandingi tiga orang lawan yang teramat tangguh itu.

Ratu Durgamala sendiri dihadapi oleh Senopati Yudajaya yang dibantu oleh tiga orang perwira. Akan tetapi, biarpun para pimpinan pasukan ini agak kewalahan menghadapi lawan-lawan yang sakti, sebaliknya pasukan Parang Siluman yang hanya lima ribu orang jumlahnya itu, menjadi kewalahan melawan sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan. Dengan sendirinya tiga orang yang mengeroyok Puspa Dewi terkadang harus memecah perhatiannya dan terpaksa seringkali meninggalkan Puspa Dewi untuk membantu anak buah yang terdesak oleh pasukan Kahuripan yang jumlahnya dua kali lipat itu.

Hal ini tentu saja meringankan Puspa Dewi yang kewalahan juga dikeroyok tiga orang sakti itu. Terutama Ki Nagakumala merupakan lawan yang amat tangguh. Kalau kakek ini maju seorang diri, tentu saja tidak sukar bagi Puspa Dewi untuk mengalahkannya. Namun dua orang kakak beradik Lasmini dan Mandarl itu pun memiliki tingkat kepandaian yang sudah hampir mencapai tingkat guru atau paman mereka, yaitu Ki Nagakumala.

Pasukan Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin sendiri oleh Ratu Mayang Gupita, raseksi yang menyeramkan dan sakti, dibantu Bhagawan Kalamisani paman gurunya, dan dua orang adik seperguruannya yaitu Nagarodra dan Nagajaya, menyerang dari belakang dengan lima ribu orang perajuritnya. Mereka disambut sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan yang dipimpin oleh Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu, dibantu pula oleh beberapa orang perwira tinggi. Biarpun pasukan ini yang jumlahnya dua kali lipat jumlah pasukan penyerbu dapat menekan pasukan musuh, namun para pimpinan mereka kewalahan menghadapi empat orang yang sakti mandraguna dari Siluman Laut Kidul itu.

Sampai tengah hari pertempuran masih berjalan seru. Kedua pihak sudah kehilangan banyak perajurit yang tewas atau terluka. Namun pihak penyerang tidak mau menghentikan serbuan mereka, tidak mau mundur karena mereka tahu bahwa kalau sekali ini penyerbuan mereka gagal, akan sulitlah untuk melakukan penyerangan lagi. Maka mereka terus mendesak dan para pimpinan memberi aba-aba agar pasukan mereka maju terus..!

Sang Prabu Erlangga prihatin melihat banyaknya perajurit yang tewas, baik perajurit Kahuripan maupun para perajurit pihak musuh. Sedih hatinya melihat Kahuripan banjir darah dan menjadi tempat pembantaian antar manusia. Hal ini membuat dia marah kepada para pimpinan empat kerajaan itu. Kemarahan ini membangkitkan Aji Triwikrama yang dikuasainya. Aji Triwikrama adalah aji kesaktian dari Sang Hyang Whisnu.

Sang Prabu Erlangga melangkah tiga kali menjejakkan kaki dan tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan bumi Kahuripan! Enam orang pengeroyoknya, Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek terkejut setengah mati dan mata mereka terbelalak melihat betapa lawan mereka itu tiba-tiba tampak membesar seperti sebatang pohon Waringin! Enam orang yang sakti ini terkejut, namun mereka masih nekat.

"Ini hanya ilmu sihir Serang!" bentak Warok Surogeni kepada dua orang warok lain, yaitu Wirobento dan Wlrobandrek. Tiga orang warok ini lalu menerjang maju, menggerakkan senjata mereka menyerang raksasa itu.

"Wuut-wuut-wuut... blaarrrr...!"

Sang Prabu Erlangga mengibaskan tangannya dan tiga orang itu terlempar jauh dan terbanting keras tanpa dapat bangun kembali karena mereka telah tewas. Serangan mereka tadi dihantam kekuatan yang luar biasa sehingga membalik dan mengenai tubuh mereka sendiri sehingga mereka tewas seketika.
< br> "Bapa...!!" Dewi Mayangsari berlari menubruk tubuh ayahnya, akan tetapi Warok Surogeni sudah tewas.

Permaisuri itu sambil menangis memondong jenazah ayahnya dan menghilang di antara para perajuritnya. Adipati Linggawijaya juga cepat menyelinap ketakutan bersembunyi di antara para perajuritnya yang sudah terdesak hebat oleh pasukan lawan yang kini mendapat hati dan semakin bersemangat Itu. Otomatis para perwira pembantunya juga jerih dan memberi aba-aba kepada pasukan Wengker untuk mundur meninggalkan kawan-kawannya yang tewas dan yang terluka.

Ketika mendapat laporan bahwa pasukan bagian belakang yang dipimpin tiga orang senopati kewalahan menghadapi sepak terjang para pimpinan pasukan Siluman Laut Kidul, Sang Prabu Erlangga menyerahkan pimpinan kepada para perwira pembantu dan dia sendiri berlari menuju ke pertempuran di bagian belakang.

Dilihatnya betapa pasukan Kahuripan yang dua kali lipat lebih banyak jumlahnya itu dapat menekan dan mendesak pasukan Siluman Laut Kidul, akan tetapi Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu terdesak hebat sekali. Bahkan ketika Sang Prabu Erlangga tiba di tengah pertempuran itu, dia melihat tubuh Senopati Sindukerta dan tubuh Tumenggung Jayatanu sudah menderita luka-luka dan berlepotan darah.

Akan tetapi dengan gagah perkasa, dua orang senopati yang sudah tua ini terus melakukan perlawanan! Melihat Ini, Sang Prabu Erlangga terkejut dan marah. Tubuhnya melompat ke depan dan begitu kedua tangannya bergerak-gerak menyerang, hawa pukulan yang dahsyat sekali seperti badai menerjang pihak musuh.

"Wuuuutttt... wessss... plak-plak....!"

Tubuh Ratu Mayang Gupita yang tinggi besar itu terlempar ke belakang. Juga tubuh Bhagawan Kalamisani terlempar. Akan tetapi mereka berdua yang terbanting jatuh itu lalu bergulingan dan dapat berlompatan bangun, wajah mereka pucat dan mata mereka terbelalak. Mereka gentar sekali dan cepat menyelinap di antara para perajurit dan memberi aba-aba untuk mundur. Adapun tubuh Nagarodra dan Nagajaya terpelanting roboh dan tewas karena tenaga serangan mereka membalik dan memukul diri sendiri.

Akan tetapi, walaupun pertempuran di bagian belakang ini juga dimenangkan pasukan Kahuripan dan pihak musuh melarikan diri, namun Kahuripan kehilangan dua orang senopatinya yang sudah tua dan setia, yaitu Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu!

Sementara itu, Narotama yang dibantu beberapa orang perwira juga mendesak lawan. Biarpun dia dikeroyok enam orang pimpinan pasukan Wura-wuri yang rata-rata sakti, namun Ki Patih Narotama yang mengamuk seperti banteng terluka karena teringat akan puteranya yang diculik musuh, akhirnya dapat merobohkan Tri Kala, yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja. Melihat sepak terjang Ki Patih Narotama yang dahsyat itu, Dewi Durgakumala memberi tanda kepada suaminya, yaitu Adipati Bhismaprabhawa, untuk mundur.

Sang Adipati, Dewi Durgakumala, dan Ki Gandarwo lalu melarikan diri, menyusup di antara para perajurit dan mereka juga bergerak mundur bersama sisa pasukan mereka. Ki Patih Narotama juga kehilangan enam orang perwira pembantunya karena mereka tadi mencoba untuk membantunya dan semua tewas di tangan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani.

Sementara itu, Puspa Dewi yang dikeroyok oleh Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari, terdesak hebat. Tiga orang pengeroyoknya ini memang sakti mandraguna. Seandainya Puspa Dewi belum digembleng Maha Resi Satyadharma selama tiga bulan, kiranya tidak mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri dari tekanan tiga orang pengeroyok itu. Gadis ini sungguh mengagumkan sekali. Selain kepandaiannya mencapai tingkat tinggi, juga ia memiliki semangat dan keberanian yang pantang mundur, la tetap bertahan dan pertahanannya seolah benteng baja yang sulit ditembus tiga orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, ayah kandungnya, Senopati Yudajaya, biarpun dibantu oleh beberapa orang perwira, tetap saja terdesak hebat oleh Ratu Durgamala. Tiga orang perwira yang membantunya telah roboh dan tewas, sedangkan dia sendiri sudah terluka pundak kirinya sehingga baju dan kulit pundak terobek dan berdarah. Akan tetapi, perwira-perwira lain berdatangan membantunya sehingga biarpun dihimpit terus oleh Ratu Durgamala, Senopati Yudajaya masih dapat melakukan perlawanan. Apalagi pasukannya yang dua kali lebih besar dari pasukan Parang Siluman, dapat mendesak terus pihak musuh.

Pada saat yang gawat itu, datang Ki Patih Narotama yang sudah memperoleh kemenangan dlsayap kanan dan datang membantu Senopati Yudajaya. Melihat datangnya Ki Patih Narotama, Ratu Durgamala menjadi terkejut dan gentar. Ia lalu melompat ke belakang memberi isarat kepada Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari untuk mundur. Tiga orang ini yang belum juga mampu mengalahkan Puspa Dewi, juga merasa jerih melihat munculnya Ki Patih Narotama, apalagi melihat pasukan mereka mendapat tekanan pihak musuh. Mereka lalu melarikan diri ke dalam pasukan dan memerintahkan Pasukan Parang Siluman untuk mundur dan meninggalkan pertempuran.

Demikianlah, semua pasukan Empat Kerajaan yang dibantu para penguasa daerah yang kecil-kecil, terpukul mundur dan sisa pasukan mereka melarikan diri kembali ke wilayah masing-masing, meninggalkan banyak korban yang tewas, terluka atau tertawan. Kerajaan Wengker kehilangan ayah kandung Dewi Mayangsari, yaitu Warok Surogeni, dan dua orang saudara seperguruannya, Warok Wirobento dan Warok Wirobandrek.

Tiga orang ini tewas dan masih ada belasan orang perwira dan sedikitnya tiga ribu orang perajurit tewas atau tertawan. Kerajaan Wura-wuri juga kehilangan Tri Kala yang tewas, dan hampir empat ribu orang perajurit dan perwira tewas atau tertawan. Kerajaan Parang Siluman kehilangan Bhagawan Kundolomuko, bekas suami Ratu Durgamala dan ayah kandung Lasmini dan Mandari.

Bhagawan Kundolomuko tidak diketahui ke mana perginya, mungkin merasa malu atas kekalahannya dan melarikan diri. Selain itu, juga ada tiga ribu orang perajurit tewas atau tertawan. Sedangkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, kematian Nagarodra dan Nagajaya, juga beberapa orang perwira dan tiga ribu perajurit yang tewas atau tertawan.

Akan tetapi, dalam pertempuran mati-matian, perang campuh itu, Kerajaan Kahuripan juga menderita kerugian yang cukup banyak. Tidak kurang dari delapan ribu perajurit tewas dan terluka, juga ada dua puluhan orang lebih perwira tewas. Selain itu, yang membuat para pemimpin berkabung dan berduka adalah tewasnya Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu.

Selain itu, wabah penyakit masih merajalela dan sedang ditanggulangi oleh Empu Kanwa. Kini ditambah lagi mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan dan yang ribuan orang banyaknya, mengurus mereka yang terluka dan membutuhkan perawatan. Pendeknya, biarpun memperoleh kemenangan dalam perang dan berhasil mengusir musuh, namun Kerajaan Kahuripan tetap saja sedang dilanda musibah besar-besaran. Lebih-lebih lagi karena putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang dan Pusaka Cupu Manik Maya sebagai lambang kebesaran kerajaan juga hilang dicuri orang.

Para perajurit Kahuripan kini sibuk mengurus para jenazah korban perang, baik kawan maupun lawan. Juga merawat yang terluka. Memang sikap pengampun ini yang ditekankan Sang Prabu Erlangga kepada mereka yang memusuhinya. Yang tewas dikuburkan sebagaimana mestinya, yang luka dirawat dan yang tertawan dibebaskan kembali sehingga selanjutnya mereka yang diperlakukan dengan baik dan dibebaskan itu tidak mau lagi menjadi anggauta pasukan yang dipergunakan untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.

Di rumah keluarga Senopati Sindukerta semua anggota keluarga berkabung. Ki Dharmaguna dan Endang Sawitri, ayah ibu Nurseta merasa sedih sekali karena Senopati Sindukerta gugur dalam perang tanpa mendapat bantuan putera mereka. Mereka tidak tahu di mana adanya Nurseta sekarang dan merasa menyesal bahwa Nureta tidak membantu ketika Kahuripan diserang musuh sehingga Senopati Sindukerta gugur. Juga keluarga Tumenggung Jayatanu berkabung. Untung luka di pundak yang diderita Senopati Yudajaya tidaklah parah.

Senopati Yudajaya dan dua orang isterinya, Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih bersama Nyi Tumenggung dan semua keluarga, berduka atas gugurnya Tumenggung Jayatanu. Akan tetapi yang paling merasa menyesal adalah Puspa Dewi. Ia merasa menyesal bahwa ia tidak berhasil menemukan adiknya, Niken Harni, dan tidak berhasil pula melindungi kakeknya dalam perang karena mereka berpisah dengan pasukan masing-masing. Kalau mendiang Tumenggung Jayatanu memimpin pasukan bagian belakang bersama mendiang Senopati Sindukerta dan Senopati Wiradana, Puspa Dewi memimpin pasukan di sayap kiri.

Keluarga Senopati Sindukerta dan keluarga Tumenggung Jayatanu saling mengunjungi, saling menyatakan ikut berbelasungkawa, saling menghibur. Biarpun ia merupakan anggota keluarga yang paling muda, tetapi justru Puspa Dewi yang menghibur para anggota kedua keluarga itu! Mereka sedang berkumpul karena keluarga Sindukerta sedang datang berkunjung ke rumah keluarga Jayatanu.

"Saya harap Andika sekalian dapat menerima kenyataan ini dan tidak larut dalam kedukaan. Bagaimanapun juga, kita patut berbangga dan bersukur bahwa Eyang Senopati Sindukerta dan Eyang Tumenggung Jayatanu gugur sebagai satria-satria utama, gugur dalam membela negara, tewas secara gagah perkasa. Kita sepatutnya ingat bahwa bukan eyang berdua saja yang berkorban nyawa dalam membela negara, melainkan ada ribuan orang perwira dan perajurit yang juga gugur sebagai pahlawan bunga bangsa."

Ucapan dara perkasa yang penuh semangat itu banyak menolong dan menghibur hati para keluarga yang merasa kehilangan dan berduka. Dalam kesempatan selagi anggota kedua keluarga itu berkumpul, Puspa Dewi yang teringat akan wejangan Maha Resi Satyadharma tentang kedukaan, lalu berkata dengan hati-hati kepada para orang tua yang hadir.

"Apa yang akan saya katakan ini sama sekali bukan gagasan saya sendiri. Saya hanya mengulang apa yang diwejangkan Eyang Resi Satyadharma kepada saya. Bahwa perasaan yang kita alami saat ini, yaitu duka hanyalah menjadi saudara kembar atau kebalikan dari suka. Suka dan duka tak terpisahkan seperti telapak dan punggung sebuah tangan. Tak pernah muncul bersama di permukaan, namun tak pernah terpisah dan bermunculan secara bergantian dalam kehidupan kita. Seperti tawa dan tangisi tidak pernah muncul berbarengan, namun tak terpisahkan, muncul dari mulut dan sama-sama mengeluarkan air mata. Tidak akan ada duka kalau tidak ada suka, dan sebaliknya. Baik suka maupun duka terbentuk oleh pikiran yang mengaku-aku sebagai sang AKU. Kalau sang aku dirugikan timbullah duka, kalau diuntungkan timbullah suka. Maka, suka duka bukan timbul karena peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana pikiran menerimanya. Tanggapan pikiran terhadap peristiwa yang terjadi dan menimpa kita itulah yang menimbulkan suka atau duka. Begitu pikiran tidak bekerja, dalam tidur misalnya, maka rasa suka ataupun duka itu pun lenyap."

"Jagad Dewa Bathara...!" Ki Dharmaguna berkata dan memandang kagum kepada Puspa Dewi. "Wejangan Paman Maha Resi Satyadharma itu sungguh tak dapat disangkal kebenarannya. Apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh berduka kalau tertimpa musibah, misalnya kematian orang yang kita kasihi seperti sekarang ini, Puspa Dewi?"

Puspa Dewi tersenyum. "Untung sekali, Paman Dharmaguna, dahulu saya pun bertanya seperti itu kepada Eyang Resi Satyadharma sehingga sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Paman itu, sesuai dengan jawaban Eyang Resi waktu itu. Begini, Paman, menurut Eyang Resi, segala macam masalah, segala macam emosi, timbul dari nafsu-nafsu daya rendah yang menguasai pikiran, membentuk sang AKU. Kita manusia tidak mungkin dapat membebaskan diri sendiri dari pengaruh nafsu. Adalah manusiawi kalau kita masih terkadang merasa bersuka atau berduka. Kita tidak mungkin mematikan nafsu. Akan tetapi kalau kita sudah mengerti bahwa suka dan duka hanya permainan sang AKU dalam pikiran, maka kita tidak terlalu tenggelam dalam suka maupun duka. Kita tidak menjadi budak permainan segala nafsu daya rendah yang berada dalam diri kita sendiri."

"Wah, Puspa Dewi, kata-katamu mengingatkan aku akan ucapan anakku Nurseta. Pernah dia bicara senada dengan apa yang kau katakan tadi dan dia menekankan bahwa dalam segala keadaan, baik keadaan itu menguntungkan atau merugikan, menyenangkan atau menyusahkan, kita sepatutnya bersyukur kepada Sang Hyang Widhi dan senantiasa mendasari semua perbuatan kita dengan penyerahan diri kepadaNya. Karena, menurut dia, hanya Sang Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu kita sehingga menjadi alat dan hamba kita, bukan memperalat dan memperhamba kita."

Puspa Dewi tersenyum dan mengangguk. "Saya mengenal... Kakangmas Nurseta, Bibi Endang Sawitri, dan saya tahu bahwa dia memang seorang sakti mandraguna yang bijaksana."

Dengan adanya percakapan seperti itu, dua keluarga itu merasa terhibur dan tidak membiarkan diri terlalu disiksa perasaan sendiri karena kematian Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Sang Prabu Erlangga merasa prihatin sekali. Hatinya sedih melihat demikian banyaknya manusia terbantai, tewas dalam perang campuh itu. Dia bukan hanya menyedihi kematian banyak perajuritnya, melainkan juga kematian para perajurit kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan dan melakukan penyerangan.!

Empu Kanwa yang dibantu Empu Bharada dapat mengurangi jumlah korban wabah penyakit dan berhasil menyingkirkan wabah itu. Akan tetapi wajah Sang Prabu Erlangga masih murung ketika dia mengadakan persidangan dengan para pembantunya. Yang hadir dalam persidangan itu adalah Ki Patih Narotama yang juga berwajah muram, Empu Bharada, Empu Kanwa, Senopati Wiradana, beberapa orang perwira tinggi dan tidak ketinggalan Bancak dan Doyok, dua orang abdi kinasih (hamba tersayang) Sang Prabu Erlangga.

Setelah mendengar laporan lengkap tentang keadaan kota raja sehabis perang, Sang Prabu Erlangga lalu minta nasehat Empu Bharada yang dianggap sebagai pinisepuh (tua-tua) dan penasehat, apa yang sebaiknya harus dilakukan pemerintahannya.

"Paman Empu, kami sungguh merasa ragu apa yang harus kita lakukan terhadap empat kerajaan yang selalu memusuhi kita, bahkan telah memusuhi nenek moyang kita sejak jaman Mataram dahulu."

"Puteranda Kanjeng Sinuwun, sebetulnya sudah berulang-ulang Paduka melakukan pendekatan dalam usaha untuk mengajak mereka hidup damai, bahkan Paduka sudah bertindak demikian jauh bersama Ki Patih Narotama mengawini puteri-puteri Wura-wuri. Akan tetapi semua itu gagal karena memang pada dasarnya mereka itu menaruh dendam kebencian kepada Paduka dan Kerajaan Kahuripan. Sudah beberapa kali mereka menggunakan kekerasan untuk menyerang dan membasmi Kahuripan, baik sendiri-sendiri maupun bergabung dengan pemberontak seperti yang dilakukan mereka beberapa tahun yang lalu. Berkali-kali mereka dipukul mundur, akan tetapi mereka bahkan semakin nekat dan yang terakhir ini mereka bergabung dan menyerang sehingga biarpun mereka berhasil dipukul mundur, namun perang itu menewaskan ribuan orang manusia. Kalau dibiarkan lebih lanjut, saya kira mereka tidak akan pernah merasa jera dan kalau mereka sudah dapat menyusun kembali kekuatan mereka, tentu mereka akan melakukan kekacauan dan penyerangan lagi. Oleh karena itu, sekaranglah saatnya Paduka bertindak, Sinuwun. Selagi mereka masih rapuh karena kekalahan mereka, sebelum mereka dapat bersatu kembali, Paduka kirim bala tentara untuk menyerang dan menundukan mereka satu demi satu. Mereka sedang dalam keadaan lemah, tentu tidak dapat melawan dengan gigih sehingga Paduka dapat menaklukkan mereka satu demi satu tanpa harus banyak menjatuhkan korban. Kalau mereka sudah ditundukkan dan ditaklukkan, tentu keadaan menjadi aman dan tidak akan terjadi bentrokan lagi. Demikianlah, Sinuwun, yang dapat saya usulkan."

"Terima kasih, Paman Empu Bharada. Bagaimana pendapat Andika sekalian, para senopati dan perwira?"

Para senopati dan perwira mengangguk-angguk menyatakan persetujuan mereka dan Senopati Wiradana yang tertua di antara para panglima, mewakili mereka dan berkata, "Usul itu sungguh tepat dan baik sekali, Gusti Sinuwun. Hamba kira kami semua menyetujui karena hal itu merupakan jalan terbaik."

Melihat Ki Patih Narotama hanya menundukkan muka dan diam saja, Sang Prabu Erlangga bertanya, "Bagaimana menurut pendapatmu, Kakang Patih Narotama?"

Narotama mengangkat mukanya yang agak pucat dan muram karena selama beberapa malam ini dia tidak dapat tidur.

"Gusti Sinuwun, apa yang diusulkan Paman Empu Bharada sungguh baik dan tepat sekali, akan tetapi kalau sekiranya Paduka mengijinkan, hamba mohon agar penyerangan ditunda beberapa hari lamanya untuk memberi kesempatan kepada hamba mencari dan menyelamatkan anak hamba Joko Pekik Satiabudhi. Kalau sekarang Paduka mengerahkan pasukan menyerang, hamba khawatir mereka akan membunuh Joko Pekik."

Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang dan mengerutkan alisnya, "Aduh, maafkan kami, Kakang Patih! Kami terlalu prihatin melihat keadaan negara sehingga sampai lupa akan penderitaan kehilangan puteramu Joko Pekik Satyabudhi. Tentu saja, Kakang Patih, tentu saja kami akan menunda penyerangan itu dan memberi kesempatan kepada Andika untuk menemukan kembali Joko Pekik!"

"Beribu terima kasih hamba haturkan kepada Paduka, Gusti, dan mohon beribu ampun bahwa hamba seolah lebih mementingkan urusan pribadi daripada urusan negara."

"Ah, tidak, Kakang. Andika tidak salah. Memang seharusnya Joko Pekik diselamatkan lebih dulu, baru kita mengadakan serangan dan gerakan pembersihan agar mereka tidak mengganggu kita lagi."

"Terima kasih Gusti... Hamba akan mencari Joko Pekik dan juga akan menyelidiki siapa yang telah mencuri Pusaka Cupu Manik Maya. Hamba mohon ijin berangkat hari ini juga, Gusti."

"Baiklah, Kakang Patih. Berangkatlah dan doaku mengikutimu. Yang penting selamatkan dulu Joko Pekik. Soal Cupu Manik Maya dapat dicari kemudian."

Ki Patih Narotama memberi hormat dan pamit pula pada para senopati yang hadir di situ, mohon doa restu dari Empu Bharada dan Empu Kanwa. Kemudian dia meninggalkan istana. Diantar tangis Listyarini yang merasa amat gelisah memikirkan puteranya yang hilang diculik orang, Ki Patih Narotama berangkat meninggalkan Kahuripan.

Seperti biasa, kalau sedang melakukan perjalanan, apalagi untuk urusan pribadi, Narotama lebih suka berpakaian seperti seorang penduduk biasa. Dia menunggang seekor kuda lalu membalapkan kudanya, langsung saja dia menuju ke Kerajaan Parang Siluman karena dia menduga bahwa puteranya pasti diculik oleh Lasmini, atau setidaknya Lasmini berada di belakang peristiwa penculikan itu.

Yang masih membesarkan hatinya adalah bahwa puteranya itu hilang diculik. Itu berarti bahwa Joko Pekik tidak dibunuh dan masih hidup. Kalau Si Penculik ingin membunuhnya, tentu sudah dilakukannya malam itu. Untuk apa susah-susah menculiknya kalau hanya untuk dibunuh? Dugaan ini membesarkan hatinya dan menimbukan keyakinan bahwa puteranya itu tentu masih hidup!

Dengan melakukan perjalanan cepat siang malam, hanya berhenti kalau kudanya sudah terlalu lelah, pada suatu hari Ki Patih Narotama telah tiba ditapal batas Kerajaan Parang Siluman. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat tinggal Lasmini, bekas selirnya tercinta itu, maka dia sudah hafal dan mengenal jalan. Setelah tiba di tapal batas, dia langsung saja menuju ke kota Kadipaten.

Penduduk Parang Siluman yang bertemu dengan Narotama di tengah jalan sama sekali tidak mempedulikannya karena mereka tidak mengenalnya dan menganggap dia seorang penduduk biasa. Rakyat Parang Siluman hanya mengenal nama Ki Patih Narotama, jarang ada yang pernah melihat orangnya. Akan tetapi, begitu ada perajurit melihat dan mengenalnya, berita tentang munculnya Ki Patih Narotama di Parang Siluman tersiar luas dan tentu saja menimbulkan kegemparan.

Tidak ada perajurit berani menghadang atau mengganggunya. Ketika berita itu memasuki istana Parang Siluman, Ratu Durgamala segera mengadakan perundingan dengan kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari, dihadiri pula oleh Ki Nagakumala dan beberapa orang senopati Parang Siluman.

Sang Ratu Durgamala yang masih merasa berduka dan marah karena kegagalan usaha gabungan empat kerajaan untuk menjatuhkan Kahuripan, bahkan Parang Siluman kehilangan Bhagawan Kundolomuko, bekas suaminya yang merupakan orang andalan di Parang Siluman, dan kehilangan ribuan orang perajurit, ketika mendengar berita bahwa Ki Patih Narotama datang seorang diri di Parang Siluman, lalu berkata dengan muka merah dan kedua tangan terkepal.

"Kita kerahkan seluruh tenaga dan bunuh Si Keparat Narotama itu! Kita kepung dia, jangan sampai lolos! Mustahil dia akan mampu mengalahkan pengeroyokan ribuan orang perajurit!"

"Nanti dulu, Kanjeng ibu!" kata Lasmini. "Saya mempunyai gagasan yang lebih baik. Ki Patih Narotama adalah seorang yang sakti mandraguna. Kalau kita menggunakan kekerasan, mungkin dia akan dapat dibunuh, akan tetapi tentu akan banyak sekali orang kita yang terbunuh oleh amukannya. Pula, kalau dia mati, apa gunanya bagi kita? Kahuripan akan tetap berdiri kokoh."

"Wah, Mbakayu Lasmini agaknya masih cinta dan sayang kepada Ki Patih Narotama maka hendak menghalangi kalau dia dibunuh!" kata Mandari.

"Hemm,... dia memang seorang pria yang patut digandrungi setiap orang wanita. Akan tetapi bukan itu maksudku. Daripada mengeroyok dan membunuhnya dengan mengorbankan banyak orang kita, lebih baik kita manfaatkan Ki Patih Narotama untuk menjamin keselamatan Parang Siluman."

"Menjamin keselamatan kita? Apa maksudmu, Lasmini?" tanya Ratu Durgakumala.

"Begini, Kanjeng Ibu. Seperti sudah saya ceritakan, saya dan bibi Dewi Durgakumala berhasil menculik putera Ki patih Narotarna, yaitu Joko Pekik Satyabudhi yang kini dibawa ke Wura-wuri oleh Kanjeng Bibi Durgakumala. Tadinya saya hendak membunuh anak itu, akan tetapi Kanjeng Bibi Dewi Durgakumala melarang dan mengatakan bahwa lebih baik anak itu dijadikan sandera, dan anak itu lalu dibawanya ke Wura-wuri. Sekarang, siasatnya itu benar dan dapat kita pergunakan untuk menundukkan Ki Patih Narotama.

"Bagaimana siasat itu?" Ratu Durgamala bertanya tertarik.

"Ki Patih Narotarna datang seorang diri ke sini tentu ada hubungannya dengar kehilangan puteranya. Mungkin dia dapat menduga bahwa saya yang menculik Joko Pekik Satyabudhi, maka dia datang kesini untuk minta kembali puteranya. Nah kalau dia datang, saya akan mengancam untuk membunuh Joko Pekik kalau dia membuat ulah. Saya akan memaksa dia berjanji untuk melindungi Parang Siluman dari serangan Kahuripan dengan imbalan puteranya tidak akan kita bunuh dan kelak kita kembalikan kepadanya. Nah bukankah gagasan ini jauh lebih menguntungkan daripada membunuhnya dan kita kehilangan banyak sekali perajurit, bahkan ada bahayanya dia akan dapat meloloskan diri? Ingat, Kanjeng Ibu, Ki Patih Narotarna itu sakti mandraguna dan memiliki Aji Panglimunan yang membuat dia mudah meloloskan diri."

Semua orang tertegun mendengar gagasan yang dikemukakan Lasmini itu. Mereka tahu bahwa Aji Panglimunan membuat orang dapat menghilang dan mudah untuk melarikan diri. Kalau Bhagawan Kundolomuko masih ada, mungkin pendeta itu dapat membuyarkan Aji Panglimunan itu. Akan tetapi dia sudah tidak ada dan kalau benar Ki Patih Narotarna mempergunakan ajian itu, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat menangkapnya atau membunuhnya.

"Apa yang dikemukakan Ni Lasmini itu benar sekali." Kata Ki Nagakumala, kakak dari Ratu Durgamala. "Kukira, setelah usaha serangan kita bersama tiga kerajaan lain terhadap Kahuripan gagal, Sang Prabu Erlangga pasti tidak akan tinggal diam dan akan mengirim pasukannya untuk menyerang balik dan menundukkan kita. Dengan bergabung saja kita tidak mampu mengalahkan Kahuripan, apalagi kalau pasukan Kahuripan menyerbu ke sini, bagaimana mungkin kita akan dapat mempertahankan diri? Maka, gagasan Ni Lasmini tadi tepat sekali. Kita ancam Ki Patih Narotarna bahwa kalau dia mengamuk dan tidak mau menjamin agar Kahuripan tidak menyerang dan menaklukkan Parang Siluman, kita akan bunuh puteranya itu!"

Ratu Durgamala mengangguk-angguk. "Agaknya memang itu merupakan siasat terbaik, Kakang Nagakumala. Akan tetapi siapa yang akan menghadapi Ki Patih Narotama dan bicara dengan dia? Dia berbahaya sekali, tangan dan kakinya dapat menyebar maut yang mengerikan!"

"Jangan khawatir, Kanjeng Ibu. Saya yang akan menghadapi dan bicara dengannya. Saya yakin bahwa Ki Patih Narotama tidak akan tega membunuh saya. Saya yakin dia masih mempunyai perasaan sayang kepada saya."

Demikianlah, rapat kilat itu memutuskan agar Lasmini yang akan menghadapi Ki Patih Narotama, sementara itu yang lain akan mempersiapkan diri, menyiapkan pula pasukan, untuk mengepung dan mengeroyok kalau Ki Patih Narotama yang ditakuti itu akan mengamuk. Sementara itu, Lasmini minta bantuan uwanya, juga gurunya, Ki Nagakumala untuk mengambil dan meminjam Joko Pekik Satyabudhi.

Menurut persetujuan antara Lasmini dan Permaisuri Wura-wuri, Dewi Durgakumala, putera Ki Patih Narotama itu disembunyikan disebuah tempat, yaitu di dalam Dusun Ketanggungan yang terletak di perbatasan utara Kerajaan Parang Siluman dan Kerajaan Wura-wuri, dalam asuhan seorang biyung emban (inang pengasuh) yang setia dan dipercaya dari Kerajaan Wura-wuri, dan dijaga oleh dua orang perwira dan diawasi oleh Senopati Gandarwo sendiri yang kadang-kadang datang ke Dusun Ketanggungan untuk melihat keadaan anak itu. Ki Nagakumala lalu cepat berangkat ke Dusun Ketanggungan untuk meminjam anak itu agar dapat dipergunakan untuk mengancam dan memaksa Ki Patih Narotama menurut keinginan Lasmini.

Saat yang ditunggu-tunggu dengan jantung berdebar penuh ketegangan oleh para pimpinan Parang Siluman itu akhirnya tiba. Pagi hari itu udara amat cerah, matahari bersinar lembut dan terang. Derap kaki seekor kuda memecah kesunyian di halaman istana Parang Siluman yang berupa sebuah alun-alun yang luas itu. Narotama menjalankan kudanya dengan congklang, melintasi alun-alun menuju ke istana.

Di depan istana, Narotama melompat turun dari atas pelana kudanya dan menambatkan kendali kuda pada sebatang pohon sawo kecik yang tumbuh di situ. Dia tidak heran melihat suasana lengang di depan Istana. Dia dapat menduga bahwa tentu Lasmini dan para pimpinan Parang Siluman sudah tahu akan kedatangannya dan sudah siap menyambutnya, entah dengan cara bagaimana.

Kesepian alun-alun dan halaman kraton (istana) itu tentu merupakan siasat mereka, pikirnya. Kalau belum diatur sebelumnya, tidak mungkin istana tidak dijaga seorang pun perajurit! Perasaannya yang peka, pendengaran dan penglihatannya yang tajam membuat dia tahu bahwa sekeliling tempat itu sudah terkepung banyak sekali orang yang masih bersembunyi!

Maka setelah menambatkan kudanya, Narotama melangkah ke depan pendapa istana Parang Siluman, lalu mengerahkan tenaga saktinya berseru sehingga suaranya melengking nyaring sekail sampai dapat terdengar dari seluruh bagian dalam istana itu!

"Haiii! Para penguasa di Parang Siluman! Keluarlah, tidak perlu sembunyi. Aku, Narotarma, ingin bicara dengan Andika sekalian!"

Dari dalam istana muncullah Ni Lasmini yang cantik jelita. Wanita ini mengenakan pakaian baru dengan perhiasan yang serba indah, wajahnya segar dan rambutnya disisir dan digelung rapi, wajahnya dirias sehingga tampak cantik berseri seperti seorang mempelai wanita hendak menyambut suaminya, sang mempelai pria!

Langkahnya seperti harimau kelaparan, dengan lenggang lenggok lemah gemulai dan lentur seperti menari. Sedetik muncul perasaan rikuh juga dalam hati Narotama karena dia sendiri berpakaian seperti seorang dusun. Harus diakui bahwa wanita yang berwajah amat jelita dengan tubuh yang indah menggairahkan itu memiliki daya tarik yang luar biasa dan begitu dia mengenangkan kehidupan antara mereka dahulu, bangkit gairah berahinya. Akan tetapi segera dia dapat menekannya dan menatap wanita yang melangkah maju dengan senyum manis itu dengan tenang.

Setelah tiba di depan Narotama, dalam jarak sekitar tiga tombak, di luar pendapa istana, masih di halaman, Lasmini mengangkat tangan kirinya ke atas dan Narotama mendengar gerakan orang-orang di sekitarnya. Ketika dia menoleh tampaklah banyak sekali perajurit telah mengepung tempat itu, siap dengan senjata lengkap. Mungkin tidak kurang dari seribu orang yang berlapis-lapis mengepung alun-alun kraton Parang Siluman itu!

Narotama tersenyum. "Hemm, Lasmini, apa mau mu dengan penyambutan seperti ini? Apa kau kira aku akan gentar menghadapi pengepungan semacam ini?"

Lasmini tersenyum manis. "Kakangmas Narotama, ingatlah bahwa sekarang kita berhadapan sebagai pemilik rumah dan tamunya. Aku pemilik rumah dan engkau tamunya. Sebaiknya pertanyaanmu itu dikembalikan kepadamu. Apa mau mu datang berkunjung ke sini?"

"Lasmini, sebenarnya, tanpa bertanyapun engkau pasti sudah tahu apa mau ku datang berkunjung ke sini. Akan tetapi karena engkau bertanya, baiklah aku akan menjawab. Engkau telah menculik puteraku, Joko Pekik Satyabudhi. Anak kecil berusia satu setengah tahun itu tidak tahu apa-apa, tidak bersalah apapun terhadap dirimu, dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan permusuhan antara kerajaan! Aku datang untuk minta kepadamu dan para penguasa di Parang Siluman. Kembalikanlah puteraku Joko Pekik Satyabudhi kepadaku!"

Lasmini yang cerdik merasa tidak perlu lagi menyangkal. "Kakangmas Narotama, bagaimana kalau tidak kami kembalikan?"

Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata mencorong mengeluarkan cahaya berkilat. Suaranya terdengar menggetar ketika Narotarna berkata. "Kalau sampai puteraku dibunuh...!"

Dia lalu mengeluarkan suara gerengan yang demikian dahsyatnya sehingga mengguncang seluruh istana Parang Siluman, bahkan banyak perajurit yang berdiri paling depan terpelanting. Lasmini sendiri melangkah mundur beberapa kali karena tidak tahan menghadapi getaran teriakan itu. Narotama menghentikan gerengannya dan berkata.

"Kalau Joko Pekik Satyabudhi dibunuh, aku bersumpah akan melumatkan seluruh Parang Siluman, tidak ada yang kubiarkan hidup!!"

Wajah Lasmini agak pucat. Belum pernah ia, selama menjadi selir terkasih patih itu, melihat Narotama marah sehebat itu. Akan tetapi ia tersenyum manis.

"Kakangmas Narotama, siapa yang tega membunuh puteramu yang mungil itu? Jangan khawatir, Kakangmas, Joko Pekik Satyabudhi berada dalam keadaan sehat dan terawat baik-baik." Kemudian suara Lasmini berubah, ketus dan penuh ancaman. "Akan tetapi, kalau engkau membuat ulah dan tidak mau memenuhi syarat yang kami ajukan, kami pasti akan membunuhnya sebelum engkau sempat melakukan sesuatu!"

Narotama mengenal benar siapa Lasmini. Wanita cantik jelita dengan daya tarik yang dapat meluluhkan hati setiap orang pria ini amat cerdik dan dia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, Lasmini pasti tidak akan berani mengeluarkan gertakan kosong belaka.

"Buktikan dulu bahwa dia berada dalam keadaan baik-baik dan sehat, baru kita bicara." katanya tegas.

Lasmini mengangguk dan tersenyum, lalu menoleh ke belakang, ke arah menara di atas pintu gerbang pendapa dan memberi isyarat dengan lambaian tangan. Karena memang sudah diatur sebelumnya, ketika Narotama memandang kearah menara, tampak muncul seorang biyung emban memondong seorang anak laki-laki berusia satu setengah tahun, didampingi oleh seorang kakek berusia lima puluhan tahun, berkumis lebat melintang dan bersikap gagah.

Narotama mengenal anak itu yang bukan lain adalah puteranya, Joko Pekik Satyabudhi, dan mengenal pula kakek itu yang terkenal sakti, yaitu Ki Nagakumala, uwa dan juga guru Lasmini dan Mandari. Ki Nagakumala berbisik kepada biyung emban yang mengangkat anak itu ke atas dan menuding ke bawah.

Joko Pekik Satyabudhi baru berusia satu setengah tahun, melihat banyak orang di bawah menara dia jadi gembira, tertawa-tawa dan melambaikan tangan. Melihat ini, jantung Narotarna seperti ditusuk, akan tetapi dia menenangkan diri. Sudah terbukti bahwa puteranya memang berada dalam keadaan sehat, bahkan dari sikap anak yang tertawa-tawa itu dia tahu bahwa puteranya diperlakukan dengan baik. Dia pun tahu bahwa tidak ada gunanya kalau dia mencoba untuk merampas anak itu. Sebelum ia melakukan sesuatu, Ki Nagakumala yang sakti itu tentu akan dengan mudah lebih dulu membunuh Joko Pekik!

Setelah memberi kesempatan ayah itu melihat keadaan anaknya, Lasmini memberi isyarat dengan tangannya ke atas dan Ki Nagakumala mengiringkan biyung emban yang memondong Joko Pekik itu menghilang lagi ke dalam menara.

"Nah, Kakangmas Narotarna, engkau lihat sendiri bahwa aku tidak berbohong. Puteramu berada dalam keadaan baik-baik dan sehat. Kami akan merawatnya dengan baik selama engkau memenuhi persyaratan kami."

"Katakan apa syaratmu!" kata Ki Patih Narotama singkat. "Akan tetapi awas jangan minta aku berkhianat dan memusuhi Sang Prabu Erlangga! Aku rela mengorbankan anakku dan diriku untuk membelanya, dan anakku akan mati bersama kalian semua. Tidak ada seorang pun dari kalian akan terlepas dari pembalasan kalau kalian membunuh anakku!"

"Tenang dan sabarlah, Kakangmas Narotama yang ganteng! Kami hanya minta agar engkau menjamin bahwa Kahuripan tidak akan menyerang dan menaklukkan Parang Siluman. Kalau sampai kami diserang Kahuripan, terpaksa anakmu akan kami bunuh dan menghadapi segala akibatnya."

"Hemm, bagaimana kalau aku dapat mengusahakan agar Parang Siluman tidak sampai diserang oleh Kahuripan?"

"Kami akan merawat Joko Pekik secara baik-baik dan menjamin keselamatannya!"

"Lasmini, aku sudah mengenal kelicikanmu! Janjimu tidak dapat kupercaya. Sampai kapan engkau akan menahan anakku?"

"Begini, Kakangmas Narotama! Engkau boleh tidak percaya padaku, akan tetapi aku percaya padamu. Karena itu, untuk sementara kami akan merawat puteramu Joko Pekik dan selama Kahuripan tidak menyerang Parang Siluman, puteramu dijamin keselamatannya. Setelah lewat lima tahun dan Kahuripan sama kali tidak mengganggu kami, Joko Pekik Satyabudhi akan kami kembalikan kepadamu dalam keadaan sehat dan selamat. Sekarang terserah kepadamu keputusan apa yang kau pilih. Puteramu selamat dan kami pun selamat, atau kita sama-sama hancur binasa berikut puteramu!"

Narotama menghela napas panjang. Terbayang olehnya betapa akan hancur hati Listyarini kalau sampai putera mereka itu terbunuh! Dan bagaimanapun juga, dia masih sangsi apakah dia benar-benar akan tega mengamuk dan membunuhi semua orang di Parang Siluman. Dia merasa kaki tangannya diikat oleh Lasmini yang cerdik itu. Bagaimanapun juga Lasmini ternyata dapat menyelami hatinya dan tidak minta agar dia memusuhi Sang Prabu Erlangga, hal yang tidak mungkin dia lakukan, biarpun harus berkorban segalanya.

"Baiklah, Lasmini, kita lihat saja siapa di antara kita yang melanggar janji. Akan tetapi tentu saja Parang Siluman juga tidak boleh mengacau dan mengganggu daerah Kahuripan lagi."

"Tentu saja, Kakangmas."

"Awas orang-orang Parang Siluman pegang janjimu dan jangan ganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi!" Narotama berteriak lantang, dan tiba-tiba tubuhnya lenyap, menjadi kabut karena dia telah mengerahkan Aji Panglimunan!

Tentu saja Lasmini cepat memberi isyarat kepada semua orang untuk waspada dan terutama sekali Ki Nagakumala menjaga Joko Pekik dengan ketat dan berlapis agar jangan sampai kecolongan oleh Narotama. Akan tetapi, Narotama adalah seorang satria yang teguh memegang janjinya. Bagi dia, melanggar janji berarti menghancurkan kehormatan diri dan merupakan pantangan yang hina baginya. Dia pulang dan menceritakan semua pengalamannya kepada Listyarini, lalu menghibur isterinya tercinta itu.

"Tenang dan bersabarlah, Diajeng. Percayalah bahwa Sang Hyang Widhi akan selalu Melindungi anak kita dan nanti pasti ada jalan untuk mengembalikan Joko Pekik ke pangkuanmu tanpa harus melanggar janjiku kepada Parang Siluman." Setelah menghibur isterinya, Ki Patih Narotama lalu menghadap Sang Prabu Erlangga.

"Bagaimana hasil pencarianmu, Kakang Patih Narotama? Sudahkah Andika berhasil menemukan puteramu?"

Narotama mengangguk dan menyembah. "Mendapat pangestu (restu) Paduka, hamba telah melihat Joko Pekik dan dia berada dalam keadaan sehat dan selamat di Parang Siluman, Sinuwun."

"Tapi, mengapa tidak Andika bawa pulang?"

"Belum bisa, Sinuwun, Anak itu dijaga ketat sehingga belum mungkin dapat hamba rebut kembali. Akan tetapi setidaknya, dia berada dalam keadaan selamat." Kata Narotarna. Dia merasa malu untuk menceritakan tentang ikatan janjinya dengan Lasmini. Inilah kesalahan besar yang sama sekali tidak disadari Narotama. Perasaan malunya untuk mengaku kepada Sang Prahu Erlangga tentang perjanjiannya dengan Lasmin menempatkan dia dalam keadaan yang akan menyulitkan.

"Kalau begitu, bagaimana dengan rencana penyerbuan kita, Kakang Patih?"

"Sebaiknya dilaksanakan sekarang sebelum mereka sempat memperkuat diri, Sinuwun." kata Narotarna dan para senopati yang hadir di situ menyatakan setuju.

"Baiklah, kalau begitu, kami menyerahkan kekuasaan kepada Andika, Kakang Patih, untuk memimpin para senopati, perwira, dan pasukan untuk menyerang dan menaklukkan mereka agar lain kali mereka tidak akan berani mengganggu kita lagi. Nah, buatlah persiapan secukupnya dan segera berangkat!"

Lega juga hati Narotarna ketika dia diserahi kekuasaan untuk memimpin penyerangan karena dengan demikian, tentu saja dia dapat melewati Parang Siluman atau setidaknya menunda niat penyerangan Kahuripan ke Parang Siluman. Setelah mempersiapkan pasukan yang cukup besar, Ki Patih Narotarna mengundang para senopati dan perwira bawahannya dan memberitahu bahwa yang pertama kali mereka serang adalah Kerajaan Wura-wuri.

"Wura-wuri merupakan lawan yang cukup kuat dan kerajaan ini yang terdekat, maka akan kita serbu lebih dulu. Puspa Dewi, karena engkau lebih mengenal daerah Wurawuri, maka engkau kami angkat menjadi pemimpin pasukan pelopor yang terdiri dari seribu orang perajurit. Tugasmu adalah melakukan pendobrakan pertama, menyelidiki keadaan musuh dan membuka jalan bagi pasukan besar. Ingat, dan juga para senopati dan perwira harus ingat betul bahwa tugas kita semua seperti yang ditekankan Gusti Sinuwun bukanlah untuk merusak atau membunuh, melainkan hanya menaklukkan. Maka, dilarang keras untuk sembarangan membunuh, kecuali kalau membela diri, dilarang keras mengambil barang berharga penduduk Wura-wuri, dan dilarang keras menyiksa dan mengganggu wanita. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman keras, sebaliknya yang menaati perintah dan melaksanakan dengan baik, tentu akan memperoleh ganjaran dari Gusti Sinuwun."

Demikianlah, setelah membagi-bagi tugas, tiga hari kemudian Ki Patih Narotama memimpin pasukan Kahuripan menuju ke Wura-wuri.

********************


BERSAMBUNG KE JILID 15


Thanks for reading Cerita Silat Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »