Social Items

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 20

Kita tinggalkan dulu dua orang puteri yang tiada hentinya berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Sang Prabu Erlangga itu dan kita ikut perjalanan Ki Patih Narotama yang hendak menyelidiki tentang keris pusaka Sang Megatantra, siapa sesungguhnya yang menemukan dan siapa pula yang mencurinya agar dapat diketahui siapa yang kini menguasainya.

Ki Patih Narotata melakukan perjalanan seorang diri menuju dusun Karang Tirta. Dalam perjalanan ini, tidak ada yang mengenalnya karena seperti biasa kalau melakukan tugas penyelidikan seorang diri, Narotama tidak mengenakan pakaian kebesaran, menunggang kereta atau kuda dan dikawal sepasukan perajurit seperti seorang patih. Dia melakukan perjalanan menunggang kuda dengan pakaian biasa sehingga orang akan mengira bahwa dia hanya seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh dua tahun dengan pakaian biasa, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan.

Setelah tiba di dusun Karang Tirta, Narotama segera bertanya-tanya dimana dan siapa yang menjadi lurah dusun itu. Dia mendapat keterangan bahwa lurahnya adalah Ki Suramenggala. Karena hari masih pagi dan dia ingin berkunjung kepada lurah itu dalam keadaan menyamar sebagai orang biasa, maka dia hendak menunggu sampai saat yang pantas untuk berkunjung ke rumah orang.

Ketika dia melewati sebuah rumah sederhana dan seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun tampak menyapu daun-daun kering di halaman rumah yang ditumbuhi pohon nangka, Narotama menghentikan kudanya, lalu menuntun kuda memasuki halaman rumah itu. Pemilik rumah yang sedang menyapu itu menghentikan kegiatannya dan memandang Narotama dengan heran karena dia merasa tidak mengenal tamu yang memasuki halaman rumahnya sambil menuntun kuda itu.

Sebagai seorang dusun yang sederhana dan miskin, dalam anggapannya, kalau orang sudah memiliki seekor kuda dan pakaiannya juga tidak seperti petani biasa walaupun pakaian itu tidak mewah, tentu seorang priyayi atau seorang kota yang derajatnya lebih tinggi daripada penduduk dusun. Maka orang itu melepaskan sapunya dan menyambut kedatangan Narotama dengan sikap hormat dan membungkuk-bungkuk. Melihat sikap orang itu, Narotama cepat memberi salam dengan suara lembut dan sikap ramah.

"Permisi, paman, maafkan kalau saya mengganggu kesibukan paman."

Orang itu tersenyum polos, agaknya senang melihat sikap dan mendengar kata-kata yang lembut dan ramah itu.

"Ah, tidak denmas, sama sekali tidak mengganggu. Ada keperluan apakah, denmas, maka andika sudi berkunjung ke gubuk saya ini?"

"Nanti dulu, paman. Sebelumnya saya ingin mengetahui, apakah paman sudah lama tinggal di dusun Karang Tirta ini?"

"Wah, sudah lama sekali, denmas. Sejak muda bersama isteri saya, sampai isteri saya meninggal..... hemm, berapa lama, ya? Pergantian lurah sudah tiga kali, yang terakhir sampai sekarang lurahnya Ki Suramenggala, sudah hampir dua puluh tahun jadi lurah di sini. Dan sebelum itu..... hemm, paling tidak sudah tiga puluh tahun saya tinggal di dusun ini."

Girang rasa hati Narotama. "Kalau begitu, saya berhadapan dengan orang yang tepat, paman. Perkenalkan, nama saya..... Tama dan saya datang dari kota raja. Saya ingin bertanya kepada paman tentang keadaan dusun ini belasan tahun yang lalu."

"Wah, dengan senang hati, denmas Tama. Mari, silakan masuk, kita bicara di dalam."

Narotama menambatkan kudanya pada batang pohon, lalu berkata, "Terima kasih, paman ....."

"Wirodipo nama saya, denmas. Mari silakan."

Mereka memasuki pondok sederhana dan Narotama dipersilakan duduk di atas bangku. Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja yang kasar buatannya. Narotama melihat betapa isi rumah itupun amat sederhana, namun cukup bersih.

"Nah, denmas Tama, tanyakan apa saja yang andika ingin ketahui. Saya akan menceritakan apa yang saya tahu,."

"Sebelumnya, terima kasih banyak, paman Wirodipo Saya ingin bertanya tentang diri seorang yang dulu tinggal di dusun ini, yang bernama Nurseta. Apakah paman mengenalnya?"

Wirodipo mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Lalu matanya bersinar, wajahnya menjadi cerah.

"Ah ....., dia? Tentu saja saya tahu, bahkan belum lama ini dia membikin geger dusun ini!"

Tentu saja Narotama menjadi tertarik sekali. "Ceritakan tentang dia, paman. Saya ingin sekali mengetahuinya."

"Saya tidak mengenal baik orang tuanya, hanya tahu bahwa ayahnya bernama Dharmaguna dan isterinya yang cantik, saya lupa lagi namanya. Mereka tinggal di sini beberapa tahun, akan tetapi pada suatu hari suami isteri itu meninggalkan Nurseta begitu saja, entah ke mana. Kalau tidak salah ketika itu Nurseta berusia kurang lebih sepuluh tahun. Anak itu rajin, bekerja di mana saja, tadinya membantu Ki Lurah Suramenggala dan selanjutnya mencari makan dengan membantu para petani di sini. Ketika berusia belasan tahun dia menghilang. Saya tidak melihat sendiri kejadian itu, akan tetapi orang-orang menceritakan Nurseta pergi bersama seorang kakek sakti. Kabarnya, kakek itu membuat Ki Lurah Suramenggala dan anak buahnya lumpuh ketika mereka hendak memukul Nurseta dan kakek itu. Kemudian mereka berdua pergi entah ke mana."

Narotama menduga bahwa kakek yang membawa pergi Nurseta itu tentu Empu Dewamurti.

"Apakah andika mengetahui siapa kakek yang membawa pergi Nurseta itu. Paman Wirodipo?"

"Saya sendiri tidak pernah bertemu dengan kakek sakti itu, denmas. Akan tetapi ada beberapa orang yang pernah bertemu dan mereka mengatakan bahwa kakek itu adalah seorang sakti yang bertapa di tepi pantai Laut Kidul dan pernah menolong orang-orang yang sakit dengan memberi jamu yang mujarab sekali."

"Apakah andika pernah mendengar bahwa Nurseta itu telah menemukan sebatang keris pusaka yang disebut Sang Megatantra?"

Ki Wirodipo mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Saya tidak tahu dan tidak pernah mendengarnya, denmas."

Dalam hatinya, Narotama merasa kecewa. justru yang terpenting baginya adalah keterangan mengenai Sang Megatantra, akan tetapi kakek ini tidak mengetahuinya.

"Hemm, lalu bagaimana selanjutnya? Tadi andika mengatakan bahwa belum lama ini Nurseta membikin geger dusun ini. Apa yang telah terjadi?"

"Saya juga hanya mendengar saja cerita orang-orang, denmas. Menurut cerita mereka, Nurseta, setelah pergi kurang lebih lima tahun dan sekarang telah dewasa, muncul di rumah Ki Lurah Suramenggala dan kabarnya dia mengamuk, merobohkan para jagoan ki lurah, bahkan mengancam Ki Lurah Suramenggala. Kemudian muncul putera ki lurah dan juga puteri tiri ki lurah. Kedua orang muda ini setelah menghilang kurang lebih lima tahun juga pulang dan telah menjadi orang-orang sakti. Nurseta dikeroyok oleh Denmas Linggajaya dan Masayu Puspa Dewi sehingga melarikan diri."

"Siapa nama anak-anak Ki Lurah Suramenggala itu?"

"Denmas Linggajaya adalah anak kandung ki lurah, sedangkan Masayu Puspa Dewi adalah anak tirinya."

Narotama termenung, diam-diam dia merasa heran. Dia pernah bertemu dengan Puspa Dewi, gadis yang mengaku sebagal murid Nyi Dewi Durgakumala dan yang menyerangnya karena perintah gurunya, akan tetapi dia dapat menyadarkan gadis itu yang dia tahu dasarnya tidak jahat. Dan Ki Patih Narotama semakin heran mendengar nama Linggajaya. Tadinya dia hanya merasa seperti pernah mendengar nama ini. Kemudian setelah teringat, dia terkejut.

Bukankah juru taman kepatihan yang baru itu, yang diusulkan oleh Lasmini dan katanya pemuda itu saudara misan Sarti pelayan Lasmini, juga bernama Linggajaya? Kalau benar demikian, mengapa putera seorang lurah, juga yang menurut Ki Wirodipo telah menjadi seorang pemuda sakti, mau menjadi tukang kebun? Tentu saja timbul kecurigaan dalam hatinya. Apakah yang tersembunyi di balik semua itu? Dia teringat Puspa Dewi.

Gadis itu memusuhinya karena terpaksa untuk mentaati pesan gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang memang memusuhinya dan memusuhi Kahuripan. Lalu apa yang mendorong Linggajaya menyusup ke kepatihan? Mereka berdua itu anak-anak Ki Lurah Sura menggala! Dia harus menyelidiki keadaan lurah itu. Mungkin di sana dia akan menemukan jawabannya.

"Terima kasih, paman. Keteranganmu itu amat berguna bagi saya. Sekarang saya ingin bertanya tentang keluarga Ki Lurah Suramenggala itu, yaitu tentang anak-anaknya."

"Anak kandungnya hanya seorang denmas Linggajaya itulah yang sekarang sudah dewasa, sekitar dua puluh satu tahun usianya. Selain denmas Linggajaya, ki lurah juga mempunyai seorang anak tiri, yaitu Masayu Puspa Dewi, setelah ibu gadis itu, seorang janda diambil selir oleh ki lurah. Selain mereka berdua Ki Lurah Suramenggala tidak mempunyai anak lain."

"Bagaimana watak anak-anaknya itu?"

"Hemm, denmas Linggajaya itu ketika kecilnya terkenal nakal sekali, mungkin karena mengandalkan kedudukan orang tuanya. Entah sekarang setelah dewasa karena sejak pulang dan menjadi orang sakti, dia hanya sebentar berada di sini lalu pergi lagi. Adapun Masayu Puspa Dewi yang juga berasal dari dusun ini, sejak kecil wataknya baik sekali. Ibunya juga seorang janda yang lemah lembut dan baik. Setelah Masayu Puspa Dewi hilang, kabarnya diculik orang, ibunya diambil sebagai selir oleh ki lurah. Kini Masayu Puspa Dewi juga telah menjadi seorang gadis sakti dan saya tidak tahu bagaimana wataknya sekarang."

Narotama mengangguk-angguk. Puspa Dewi masih menjadi seorang gadis yang baik budi, walaupun ia menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat.

"Dan bagaimana dengan Nurseta sendiri? Ketika dia masih tinggal di sini, bagaimana wataknya?"

"Wah, kalau dia anaknya rajin dan baik, denmas. Semua orang di dusun ini menyukainya. Bayangkan, dia pernah membantu saya mengerjakan ladang saya dan karena tahu bahwa saya bukan orang kaya, dia sudah puas hanya mendapatkan makan sebagai upahnya. Dia tidak mengharapkan upah lainnya lagi."

Narotama mengangguk-angguk. Seorang pemuda dengan watak sebaik itu tidak mungkin mencuri keris pusaka Sang Megatantra!

"Terima kasih, Paman Wirodipo. Sekarang saya hendak menitipkan kuda saya di sini, apakah andika tidak keberatan? Nanti kalau sudah selesai urusan saya, saya akan mengambilnya."

"Oh, tentu saja, denmas. Biar di halaman depan, nanti akan saya beri rumput dan minum."

Setelah mengucapkan terima kasih, Narotama lalu meninggalkan rumah Ki Wirodipo dengan jalan kaki. Ki Wirodipo memang tidak dapat memberi keterangan sedikitpun juga tentang Sang Megatantra, akan tetapi mungkin di rumah Ki Lurah Suramenggala dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang keris pusaka itu. mudah saja bagi Narotama untuk menemukan rumah Ki Lurah Suramenggala.

Rumah itu tampak mencolok karena berbeda jauh dari rumah-rumah lain. Tampak besar dan megah untuk ukuran dusun Itu. Di dekat pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi gedung itu, terdapat lima orang penjaga keamanan yang bertubuh tegap dan berwajah bengis. Diam-diam Narotama merasa heran. Kalau rumah seorang lurah dusun dijaga orang-orang yang lagaknya seperti tukang pukul ini, hal itu hanya menunjukkan bahwa hubungan antara lurah itu dan penghuni dusun tidak akrab.

Seorang lurah diharapkan untuk menjadi bapak dari rakyatnya yang mengatur dan melayani rakyatnya, menjadi panutan dan sumber pertolongan. Bukan menjadi penguasa yang galak dan sewenang-wenang, yang ditakuti rakyat dan yang memelihara para tukang pukul untuk menakut nakuti rakyat dan untuk memaksakan kehendaknya sebagai penguasa.

Lurah yang begini pasti bukan lurah yang baik. Dari keadaan di pintu gerbang kelurahan ini saja Narotama sudah dapat menilai lurah macam apa adanya Ki Suramenggala!

Dengan langkah tenang Narotama memasuki pintu gerbang kelurahan itu. Baru saja kakinya melangkahi ambang pintu, seorang penjaga keluar dari gardu penjagaan dan membentaknya.

"Hei, berhenti! Siapa engkau yang begini lancang memasuki tempat ini tanpa melapor lebih dulu kepada kami?"

Narotama memandang penjaga yang tubuhnya besar perutnya gendut itu, melihat betapa orang yang usianya sekitar empat puluh tahun itu memandang kepadanya dengan mata melotot lebar.

"Ini rumah Ki Lurah Suramenggala lurah dusun Karang Tirta ini, bukan?" tanyanya.

"Kiranya engkau sudah tahu? Orang asing, engkau tidak tahu aturan! Untuk masuk kelurahan, harus melapor dulu kepada kami, tahu?"

"Hemm, setahuku kelurahan adalah kantor lurah yang melayani semua keperluan penduduk dan karenanya terbuka bagi umum. Aku tidak tahu bahwa di sini aturannya lain."

"Cukup, jangan banyak rewel. Hayo masuk gardu dan membuat laporan tentang dirimu, tempat tinggalmu dan apa keperluanmu masuk ke kelurahan ini! " bentak orang kedua yang kumisnya tebal.

Diam-diam Narotama marah, akan tetapi kebijaksanaan mengingatkannya bahwa ulah dan sikap para penjaga ini hanya merupakan pencerminan sikap sang lurah. Kalau atasannya brengsek, sukar mengharapkan bawahannya baik. Kebaikan harus dimulai dari atasan karena atasan merupakan tauladan bawahan. Kalau atasannya benar, tentu bawahan tidak akan berani bertindak melanggar kebenaran karena akan dihantam atasan. Jadi, para penjaga ini hanya mencontoh saja sikap atasannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala.

Narotama memasuki gardu. Seorang yang bertubuh pendek gendut, kepalanya botak, bertanya sambil lalu dan pandang matanya merendahkan.

"Siapa namamu?"

"Nama saya Tama."

"Dari mana?"

"Dari kota raja."

Si gendut itu memandang dengan alis berkerut dan sinar mata menyelidik ketika mendengar bahwa orang itu datang dari kota raja.

"Mau apa engkau datang ke sini?"

"Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ki Lurah Suramenggala."

"Bicara tentang apa?"

Narotama menggeleng kepalanya. "Tidak ada urusannya dengan kalian, hanya Ki Lurah Suramenggala yang berhak mendengar apa yang akan kubicarakan."

"Huh! Tidak ada orang boleh menghadap yang mulia Bapak Lurah sebelum melaporkan apa yang akan dibicarakan kepada kami!" bentak si gendut pendek kepada Narotama.

"Juga engkau harus membayar biaya laporan ini. Hayo keluarkan berapa uang yang kau miliki dan serahkan kepada kami!" kata yang berkumis tebal.

Narotama mengambil sebuah kantung dari pinggangnya dan membuka kantung yang berisi beberapa potong emas itu. Lima orang itu terbelalak.

"Serahkan itu kepada kami dan kami akan melaporkan kedatanganmu kepada Bapak Lurah!" kata si gendut sambil bangkit berdiri dan menjulurkan tangan untuk merampas kantung di tangan Narotama itu.

Narotama cepat menyimpan kembali kantungnya lalu berkata. "Kalau begitu biar aku langsung masuk saja menemui Ki Lurah Suramenggala " Dia melangkah keluar dari gardu dan menuju ke pendapa kelurahan.

"Hei, keparat! Kawan-kawan, tangkap dia!" bentak si pendek gendut kepada empat orang rekannya.

Mereka berhamburan keluar mengejar Narotama. Ki Patih Narotama yang sudah kehilangan kesabarannya, berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi lima orang yang menyerbu dan menerjang hendak menangkap dan meringkusnya itu. Kedua tangan Narotama bergerak seperti kilat menyambar lima kali dan tubuh lima orang itu berpusing lalu roboh terbanting ke atas tanah. Masih untung bagi mereka karena Narotama membatasi tenaganya sehingga mereka hanya menderita pipi bengkak dan gigi rontok saja.

Akan tetapi dasar orang-orang kasar yang biasanya mengagulkan diri sendiri dengan keroyokan, lima orang itu bangkit dan mencabut senjata mereka dari pinggang, yaitu golok yang tajam mengkilap. Bagaikan lima ekor anjing mereka melompat dan menggerakkan golok mereka membacok ke arah tubuh Narotama. Narotama mendahului gerakan mereka. Kakinya mencuat dan lima kali kedua kakinya secara bergantian menendang. Kini tubuh lima orang itu terpental dan jatuh berdebuk di atas tanah. Sekali ini mereka dihantam tenaga yang lebih kuat lagi sehingga sejenak mereka tidak mampu bangkit, hanya mengaduh-aduh dengan kepala pening dan dada sesak.

Suara gaduh di luar itu memancing munculnya Ki Suramenggala dengan tujuh orang pengawal lain. Dia terkejut sekali melihat seorang pemuda berdiri di tengah halaman dan lima orang anak buahnya bergelimpangan tidak mampu bangkit. Segera dia dapat menduga apa yang terjadi. Tentu lima orang penjaga itu berkelahi melawan pemuda itu dan dirobohkan. Ki Suramenggala yang juga sudah terbiasa ditakuti dan ditaati orang, melihat bahwa pemuda itu hanya seorang biasa berusia tiga puluh tahun lebih, menjadi marah dan memandang rendah. Dia berseru kepada tujuh orang pengawalnya.

"Tangkap pengacau itu atau bunuh dia!"

Tujuh orang itu mencabut golok masing-masing. Mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi. Perintah Ki Lurah Suramenggala sudah jelas. Pengacau harus dibunuh! Maka, mereka bertujuh segera berlompatan ke depan dan mengepung Narotama. Ternyata mereka adalah pengawal-pengawal pribadi ki lurah yang tentu saja lebih tangguh dibandingkan lima orang penjaga tadi. Mereka bergerak mengitari Narotama dengan gerak silat, kemudian dikomando yang diisyarat kan pemimpin mereka, tujuh orang itu serentak menyerang!

Untung bagi tujuh orang itu bahwa Narotama sudah memiliki tenaga batin yang amat kuat, sehingga dia mampu mengatasi kemarahannya dengan mengingat bahwa mereka itu hanya memenuhi perintah ki lurah. Menghadapi serangan yang sesungguhnya amat berbahaya bagi orang lain itu, Narotama segera mengerahkan tenaga saktinya lalu menggerakkan kedua tangan dengan tenaga mendorong sambil memutar tubuhnya. Hebat sekali dorongan kedua tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu. Tujuh orang penyerang itu terpental ke belakang dan terjengkang sehingga terbanting kuat. Mereka roboh dan tidak dapat segera bangkit kembali karena kepala terasa pening dan napas menjadi sesak!

Melihat ini, Ki Lurah Suramenggala terkejut bukan main dan dia masih hendak menggertak seperti yang sudah biasa dia lakukan kepada para penduduk dusun.

"Heh, penjahat dari mana engkau, berani membikin kacau di kelurahan? Sikapmu Ini berarti pemberontakan terhadap pamong praja!"

Narotama marah sekali. Dengan sekali lompat dia sudah tiba dekat sang lurah, lalu menangkap tubuh lurah itu dengan tangan kanan, mengangkatnya ke atas dengan ringan saja lalu membantingnya.

"Bresss .....!!"

Ki Lurah Suramenggala mengaduh, pinggulnya terasa nyeri sekali karena terbanting ke atas lantai dan dia mencoba untuk merangkak bangun sambil berteriak-teriak, "Tolooongg ..... toloongg ..... perampok .....!!"

Narotama menjadi semakin marah. Dicengkeramnya tengkuk baju Ki Lurah Suramenggala dan ditariknya sehingga berdiri. Dasar lurah yang terbiasa menindas dan merendahkan orang lain, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya, Lurah Suramenggala masih belum mau tunduk. Dia malah membentak marah.

"Awas kau, jahanam keparat! Kalau kedua anakku, Linggajaya dan Puspa Dewi pulang dan ku beritahukan kejahatanmu ini kepada mereka, lihat saja, mereka akan mencabik-cabik tubuhmu!"

Pada saat itu, tertarik oleh teriakan Ki Lurah Suramenggala, banyak penduduk dusun datang berlarian dan memenuhi halaman kelurahan. Juga isteri dan para selir lurah, termasuk Nyi Lasmi, janda Ibu kandung Puspa Dewi yang kini menjadi selir ki lurah, berlarian keluar dan terkejut melihat ki lurah dicengkeram tengkuk bajunya oleh seorang pemuda gagah.

Para tukang pukul yang tadi telah dirobohkan Narotama, sebanyak dua belas orang, juga petantang-petenteng mengepung dengan golok di tangan, seolah mereka itu menguasai keadaan dan mengancam Narotama, padahal tak seorangpun dari mereka berani menyerang orang yang mereka ketahui sakti mandraguna itu.

"Lurah Suramenggala!" bentak Narotama dengan suara menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang, termasuk yang berada di jalan depan halaman rumah kelurahan itu.

"Sudah butakah matamu? Lihat baik-baik, siapa orang yang engkau perhina dengan makian makian mu tadi! Lihat, tidak kenalkah engkau kepadaku?"

Lurah Suramenggala terbelalak, mengamati wajah Narotama. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali. Kalau tadi dia tidak mengenal Narotama, hal itu tertutup kecongkakannya melihat laki-laki itu berpakaian seperti orang biasa. Dia sudah beberapa kali sowan (menghadapi Sribaginda) di kota raja dan beberapa kali melihat Ki Patih Narotama. Maka, setelah kini dia mendengar suara yang amat berwibawa itu dan mengamati wajah itu dengan seksama, baru dia mengenal siapa orang yang tadi dia maki-maki.

"A..... aduhh..... paduka..... paduka..... Gusti Patih Narotama.....!"

Ketika Narotama melepaskan cengkeramannya Ki Lurah Suramenggala lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah.

"Ampun..... mohon beribu ampun, Gusti Patih..... hamba..... hamba tidak tahu..... bahwa paduka yang datang berkunjung ....."

Mendengar ini, semua keluarganya, juga para tukang pukul, terkejut setengah mati. Terutama para tukang pukul yang mengeroyok Narotama. Mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut dan dua belas orang tukang pukul itu menggumamkan permohonan ampun berulang kali.

"Semua mundur, biarkan aku bicara berdua dengan Lurah Suramenggala!" kata Narotama dengan suara berwibawa.

Mendengar ini, semua keluarga lurah itu memasuki rumah dan dua belas orang jagoan keluar dari pendapa, lalu menyuruh semua orang yang berkerumun di halaman untuk meninggalkan tempat itu. sebentar saja pendapa rumah itu menjadi sepi, hanya tinggal Narotama yang masih berdiri tegak dan Ki Lurah Suramenggala yang masih berlutut di depannya.

"Nah, ki lurah, bangkit dan duduklah. Mari kita bicara. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan dan kuminta anda menjawabnya dengan sejujurnya." kata Narotama dengan suara keren.

Ki Luran Suramenggala yang sudah mati kutu itu menurut, bangkit dan mempersilakan Narotama duduk di atas kursi yang berada di pendapa itu. Dia hendak duduk bersila di atas lantai, di depan Narotama, akan tetapi ki patih itu melarangnya.

"Duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara dengan leluasa."

Ki Suramenggala tidak berani membantah lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan kt patih, terhalang sebuah meja marmer.

"Ki lurah, aku ingin engkau menceritakan tentang seorang yang bernama Nurseta yang pernah tinggal di dusun ini Apa yang kau ketahui tentang dia?"

Diam-diam Ki Lurah Suramenggala terkejut. Kenapa ki patih tiba-tiba datang bertanya tentang Nurseta?

"Nurseta .....? Ah, tentu saja, gusti patih. Hamba tahu siapa bocah itu!"

"Hemm, begitukah?" Narotama menatap tajam wajah lurah yang dari suaranya jelas menunjukkan rasa bencinya terhadap Nurseta. "Ceritakan sejujurnya apa yang andika ketahui tentang dia”.

"Dia itu anak pasangan suami istri yang menjadi buronan, dan ketika Nurseta berusia lima tahun, ayah ibunya melarikan diri karena ketahuan oleh Senopati Sindukerta yang mencari mereka. Nurseta ditinggalkan di dusun ini. Kalau tidak ada hamba yang memeliharanya, tentu anak itu akan kapiran dan mungkin mati kelaparan, gusti patih."

"Hemm, kenapa mereka ketakutan dan dicari Senopati Sindukerta?"

"Karena Dharmaguna, ayah Nurseta Itu, melarikan puteri Senopati Sindukerta yang menjadi ibu kandung Nurseta, dan Senopati Sindukerta mencari mereka, tentu untuk menghukum Dharmaguna yang membawa minggat puterinya."

"Lalu bagaimana dengan Nurseta?"

"Hamba memeliharanya sampai besar. Akan tetapi dasar anak buronan yang tidak mengenal budi, ketika berusia sekitar enam belas tahun dia minggat, tak seorangpun mengetahui dia pergi kemana. Kemudian, baru beberapa bulan yang lalu ini dia muncul kembali dan..... ah, dasar anak orang jahat, anak setan itu ....." ,

"Cukup! Hentikan maki-makianmu yang kotor itu dan ceritakan saja apa yang terjadi!" Narotama membentak. Ki Lurah Suramenggala terkejut sekali dan menyembah.

"Ampun, gusti patih. Anak itu malam-malam datang dan hendak membunuh hamba!"

"Hemm, aneh. Kenapa dia hendak membunuhmu?"

"Hamba juga tidak tahu. Dia bertanya kepada hamba dimana adanya orang tuanya. Hamba memang tidak tahu akan tetapi agaknya dia tidak percaya lalu marah dan hendak membunuh hamba. Untung pada saat itu ada anak-anak hamba, Linggajaya dan Puspa Dewi yang juga telah menjadi orang-orang sakti. Kedua anak hamba itu melawan Nurseta dan berhasil membuat Nurseta lari ketakutan. Itulah yang hamba ketahui tentang anak se..... eh, Nurseta itu, gusti patih." '

Narotama termenung. Omongan seorang seperti lurah ini tentu saja tidak dapat dipercaya sepenuhnya, akan tetapi setidaknya dari ceritanya itu dia dapat menilai bahwa lurah ini memang seorang yang tidak pantas menjadi seorang kepala dusun yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Cerita Ki Wirodipo tentang Nurseta dan tentang keluarga Lurah Suramenggala tentu saja lebih dapat dipercaya kebenarannya.

"Sekarang ceritakan yang sejujurnya tentang keris pusaka Sang Megatantra. Apakah andika mengetahui sesuatu tentang keris pusaka itu?"

Ki Lurah Suramenggala memang belum pernah mendengar tentang keris pusaka itu. Sebetulnya Puspa Dewi mengetahuinya, akan tetapi anak tirinya itupun tidak bercerita kepadanya. Maka dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan suara yang meyakinkan.

"Tidak, gusti. Hamba sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang pusaka yang paduka sebutkan tadi."

Sekali ini Narotama percaya karena kata lurah itu sudah mengetahui, tentu diapun akan memutar-balik kebutaan dan memburukkan Nurseta, mengatakan bahwa Nurseta yang mencuri. Orang seperti ini bukan saja tidak boleh dipercaya, akan tetapi yang jelas juga tidak boleh dibiarkan terus menjadi lurah di dusun Karang Tirta ini. Dia dapat membayangkan betapa lurah ini pasti hidup sebagai seorang raja kecil yang lalim di dusun ini.

Bukti nyata bahwa rakyat Karang Tirta tidak mencintanya adalah ketika lurah itu tadi berteriak teriak minta tolong, ada penduduk yang berlarian datang. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang bersikap hendak membela sang lurah, melainkan hanya ingin menonton apa yang terjadi Dan ketika dia menghajar para anak buah lurah, dia melihat betapa banyak penduduk yang berada di halaman tersenyum gembira!

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Narotama memikul tugas yang cukup berat. Untuk menyelidiki kebenaran keterangan Nurseta, dia harus pergi ke dusun Karang Tirta di mana pemuda itu dahulu tinggal dan menemukan Sang Megatantra, juga dia akan menyelidiki tempat yang dulu dijadikan tempat pertapaan mendiang Empu Dewamurti.

Narotama tahu bahwa Empu Dewamurti adalah kakak seperguruan Empu Bharada yang amat dihormati Sang Prabu Erlangga dan dia sendiri. Kalau Nurseta merupakan murid Sang Empu Dewamurti, tentu dia telah menerima gemblengan batin dari gurunya yang arif dan bijaksana itu. Maka dia lalu berpamit kepada kedua isterinya, Listyarini dan Lasmini, bahwa kepergiannya sekali ini akan makan waktu yang agak lama, mungkin sampai sebulan baru dia akan kembali.

Setelah Narotama pergi, Lasmini merasa kesepian. Puteri Kerajaan Parang Siluman ini adalah seorang yang telah terjatuh ke dalam kekuasaan nafsu-nafsunya. Cintanya terhadap suaminya, Ki Patih Narotama, hanyalah cinta yang didasari nafsu berahi. Karena itu, baru ditinggal pergi Narotama selama beberapa hari saja. ia sudah gelisah dan kesepian sekali, haus akan belaian suaminya.

Pada saat dan keadaan seperti itu, mulailah ia mencurahkan perhatiannya kepada tukang kebunnya, yang bukan lain adalah Linggajaya pemuda tampan, ganteng dan sakti, yang juga diam-diam menjadi sekutunya karena pemuda itu adalah utusan Kerajaan Wengker.

Pada suatu senja yang tidak cerah karena langit mengandung awan hitam biang hujan, terkadang tampak sinar berkilat dalam mendung tebal disusul bunyi Guntur bergemuruh, Lasmini memasuki taman bunga kepatihan yang luas dan penuh tanaman beraneka ragam kembang itu. Dalam kesepiannya, ia teringat akan Linggajaya dan ingin melihat apa yang dilakukan pemuda yang menyamar sebagai tukang kebun itu.

Ketika ia tiba di padang rumput dekat pondok kecil di tengah taman, ia melihat pemuda itu sedang berlatih silat. Ia berhenti melangkah dan menonton dari jauh. Linggajaya bertelanjang dada sehingga tampak tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang dan tampak penuh dengan tenaga. Kedua tangan yang bergerak-gerak tangkas itu menimbulkan angin yang mengeluarkan bunyi bersiutan. Alangkah gagahnya, alangkah gantengnya, pikir Lasmini dan timbul kegembiraannya bercampur gairahnya. Ia lalu melompat dan berlari menghampiri.

"Mari kita latihan!" katanya dan langsung saja ia menyerang pemuda itu.

Linggajaya girang melihat munculnya wanita cantik ini dan dia cepat menangkis lalu membalas. Mereka segera saling serang dengan cepat dan kuat. Tubuh mereka berkelebatan. Setelah menjadi selir Narotama, Lasmini memperoleh kemajuan banyak sekali dalam ilmu silat, juga tenaga saktinya bertambah setelah mendapat petunjuk Narotama bagaimana untuk menghimpun tenaga sakti.

Namun, karena kedua orang itu bertanding hanya untuk latihan, seperti pasangan yang menari-nari, tentu saja mereka membatasi tenaga dan menjaga agar tidak saling melukai. Karena sering lengan mereka beradu dan melihat betapa dekatnya wanita cantik itu sehingga dia dapat mencium keharuman melati yang melekat di tubuh Lasmini, Linggajaya seperti dibakar gairah nafsunya sendiri. Demikian pula Lasmini.

Tiba-tiba Lasmini kehilangan bayangan Linggajaya yang menggunakan Aji Panglimutan, yang membuat tubuhnya sejenak tidak tampak. Lasmini tahu ilmu apa yang dipergunakan Linggajaya. Kalau ia mau, dengan pengerahan tenaga saktinya mengeluarkan teriakan melengking, ia akan mampu membuyarkan Aji Panglimutan itu.

Akan tetapi ia tidak mau melakukannya, khawatir kalau-kalau teriakan melengking itu akan menarik perhatian orang. Pula, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda yang menarik hatinya itu. Tiba-tiba dua lengan yang kuat memeluknya dari belakang. Hidung dan bibir yang hangat menempel pada lehernya yang membuat ia menggelijang.

"Ihh, sembrono....., jangan di sini..... lepaskan!" Mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tidak meronta agar lepas dari pelukan hangat itu.

"Lalu di mana, sayang?" tanya Linggajaya berbisik di dekat telinga Lasmini.

"Di kamarku..... malam ini..... lewat jendela.....!" kata Lasmini dengan hati menggetar karena gairah berahi.

Mendengar jawaban ini, Linggajaya girang sekali dan dia melepaskan pelukannya dari belakang. Lasmini lalu berlari-lari meninggalkannya. Linggajaya tertawa. Dia tahu bahwa sudah lima hari lamanya Narotama meninggalkan kepatihan. Saat seperti yang dijanjikan Lasmini tadilah yang dinanti-nantinya, yang membuat dia bertahan menjadi tukang kebun di kepatihan itu. Kalau tidak ada harapan itu, dia tidak akan sudi menyamar sebagai tukang kebun.

Lasmini mandi dan hatinya bergetar. Ia masih perawan ketika menjadi isteri Narotama dan sejak itu, ia tidak pernah berdekatan dengan pria lain. Sekarang inilah pertama kalinya ia hendak menyeleweng dengan laki-laki lain, maka hatinya penuh ketegangan, juga kegembiraan yang membuat jantungnya berdebar-debar.

Seperti sudah dapat diduga sejak sore, malam itu gelap dan mendung menjadi semakin tebal. Suasana di gedung kepatihan sepi sekali. Semua penghuni rumah itu merasa lebih senang tinggal di dalam kamar masing-masing. Apalagi Ki Patih Narotama tidak berada di rumah. Bahkan para perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang kepatihan merasa lebih aman tinggal di gardu penjagaan.

Lasmini sejak tadi sudah berada dalam kamarnya. Pintu kamarnya sudah ditutup dan dipalangi dari dalam, akan tetapi daun jendela kamarnya hanya dirapatkan begitu saja, tidak dipalang. Dan di luar kamar duduk seorang wanita bertubuh tinggi besar berwajah buruk berusia sekitar empat puluh dua tahun. Ia adalah Sarti, pelayan pribadi, kepercayaan Lasmini yang dulu dibawanya dari Kerajaan Parang Siluman ketika ia menjadi selir Narotama. Pelayan ini bertugas untuk menjaga agar kamar Lasmini malam itu tidak mendapat gangguan. Tentu saja Sarti tahu bahwa majikannya malam itu hendak kangen asmara (bermain cinta) dengan Linggajaya!

Lasmini duduk menanti di tepi pembaringannya. Kamar yang indah itu harum semerbak melati, kesukaannya. Ia mengenakan pakaian tipis. Di atas meja terdapat lampu kecil yang memberi penerangan remang-remang. Setelah menanti dengan hati tegang sejak senja tadi, tiba-tiba daun jendela terbuka dan bayangan tubuh Linggajaya melompat masuk melalui lubang jendela. Dengan tenang Linggajaya menutupkan kembali daun jendela dan memalangnya. Lalu dia memutar tubuh memandang ke arah Lasmini.

Wanita ini bangkit berdiri. Dua buah kakinya gemetar ketika ia melangkah perlahan menghampiri pemuda itu. Tanpa berkata-kata, keduanya saling menghampiri dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah melekat dalam rangkulan yang ketat. Linggajaya memondong tubuh itu dalam pelukannya, melingkari tubuh itu dengan kedua lengannya yang kokoh kuat membawanya ke pembaringan yang seolah sudah menggapai dan mengajak mereka.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Seolah-olah iblis setan bekasakan merestui perjinaan yang dilakukan dua orang manusia yang sudah menjadi permainan nafsu mereka sendiri. Lasmini bagaikan seekor ikan yang tadinya menggelepar di darat, kini mendapatkan air sehingga ia dapat berenang-renang sepuas hatinya.

Nafsu berahi adalah satu di antara nafsu yang paling mulia karena melalui nafsu ini suami isteri mencurahkan cinta mereka yang paling mendalam, yang mendorong pasangan itu bukan hanya ingin bersatu raga akan tetapi juga bersatu jiwa. Bahkan melalui nafsu berahi ini terjadilah perkembang-biakan manusia sehingga nafsu ini merupakan anugerah Sang Hyang Widhi yang paling penting, paling indah, dan paling mulia.

Akan tetapi, seperti juga semua nafsu yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia didunia ini maka nafsu diikut-sertakan manusia sejak lahir, nafsu akan menjadi penyeret manusia ke lembah dosa. Kalau nafsu tetap dalam fungsinya semula, yaitu sebagai hamba yang baik dan bermanfaat, taat kepada kita selaku majikan , jinak dibawah kendali etika, kehormataan dan peradaban, maka nafsu merupakan anugerah.

Akan tetapi sebaliknya, kalau nafsu berahi menjadi majikan, liar tak terkendalikan, dan kita sebaliknya yang diiperhamba, maka nafsu akan menimbulkan malapetaka. Nafsu berahi akan menyeret kita dan menimbulkan perbuatan sesat seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan sebagainya. Dua orang yang menjadi hamba nafsu itu berpesta ria di malam hujan yang dingin itu. Dan perbuatan yang dilakukan sebagai pemuasan nafsu itu selalu menuntut pengulangan dan pengulangan untuk kemudian menimbulkan kebosanan.


Pagi-pagi sekali Linggajaya meninggalkan Lasmini, keluar dari kamar melalui jendela. Dan kesempatan selagi Narotama tidak berada di rumah itu dimanfaatkan oleh dua orang yang mabuk berahi untuk mengulangi perbuatan mereka. Setiap malam Linggajaya berada di kamar Lasmini.

Beberapa hari kemudian, setelah gelombang nafsu berahi yang menguasai diri mereka agak reda, keduanya teringat akan keadaan dan tugas, lalu di sela-sela permainan asmara itu mereka mulai berunding. Lasmini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di istana Sang Prabu Erlangga, yaitu tentang persidangan di istana untuk memeriksa perkara antara Pangeran Hendratama melawan Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta. Mereka rebah berdampingan di atas pembaringan, di antara bantal-bantal.

"Kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dia merupakan sekutu kita yang penting karena dengan bantuannya, lebih besar kemungkinan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga. Aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama terancam oleh pemuda yang bernama Nurseta itu, yang kabarnya sakti mandraguna."

Linggajaya mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengenal Nurseta, bahkan pernah bertanding melawannya ketika Nurseta menyerbu rumah Ki Lurah Suramenggala, ayahnya dan dia harus mengakui bahwa Nurseta merupakan lawan berat. Kalau ketika itu tidak muncul Puspa Dewi yang menjadi anak tiri ayahnya dan yang membantunya melawan Nurseta, dia tentu akan kalah.

"Aku tahu siapa itu Nurseta. Sebetulnya dia sedusun dengan aku, bahkan pernah bekerja sebagai kuli pada ayahku yang menjadi lurah di dusun Karang Tirta. Dia menjadi sakti karena diambil murid mendiang Empu Dewamurti."


"Tentu saja yang menemukan adalah Nurseta. Aku sendiri mengetahui hal itu, dan yang mencurinya tentu Pangeran Hendratama." kata Linggajaya tidak begitu acuh. Ada tubuh mulus wajah cantik di dekatnya, bagaimana mungkin dia dapat bergairah memikirkan hal lain? Dia memeluk lagi, akan tetapi Lasmini menolak dengan lembut, mendorongkan tangannya.

"Ih, dengarkan dulu, kita bicara penting ini!" tegurnya. "Aku juga sudah menduga demikian. Akan tetapi karena itu kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dengan Sang Megatantra di tangannya, dia dapat mempengaruhi para pamong praja yang tinggi kedudukannya, untuk memihak kepadanya yang mempunyai wahyu mahkota."

"Bagaimana kita dapat membantunya?" tanya Linggajaya penuh perhatian kini karena dia teringat akan tugas mereka untuk bersekutu dan menjatuhkan Kerajaan Kahuripan.

"Begini, kita harus dapat membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam penjara. Akan tetapi sebelumnya, kita tunggu kedatangan Ki Patih Narotama. Kalau dia menemukan hal-hal yang memberatkan Pangeran Hendratama, sebelum dia dapat bertindak lebih jauh, kita bunuh saja Ki Patih Narotama!"

Linggajaya terkejut dan bangkit duduk, menatap wajah cantik yang masih ada titik-titik keringat seperti embun di dahinya. Dia mengusap dahi halus itu menghilangkan keringatnya.

"Membunuh ..... suamimu??" Lasmini juga bangkit duduk.

"Husssh, aku menjadi selirnya hanya untuk dapat membunuhnya. Ingat?"

"Ya-ya ..... akan tetapi Ki Patih Narotama itu sakti mandraguna. Bagaimana mungkin dapat mengalahkan dan membunuhnya?"

Lasmini merangkul pemuda itu. "Linggajaya, kalau kita berdua maju bersama mengeroyoknya, kukira kita akan dapat mengalahkan dan membunuhnya. Asal engkau mau membantuku dan bersungguh-sungguh. Ingat, kalau dia mati, hubungan kita akan dapat berlanjut tanpa sembunyi-sembunyi lagi, kan?"

Linggajaya balas merangkul. "Baiklah, Lasmini. Kalau engkau yang minta, pasti ku turuti. Betapa sukar dan beratnya, aku akan membantumu sekuat tenaga. Engkau benar, betapapun saktinya dia, kalau kita maju bersama, kurasa tidak mungkin kita akan kalah."

Demikianlah, dua orang yang tidak merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang kotor dan hina itu melanjutkan hubungan gelap mereka. Tidak ada seorangpun di antara para penghuni gedung kepatihan yang menyangka, apalagi tahu akan hubungan gelap itu, kecuali, tentu saja Sarti pelayan setia dari Lasmini itu. Mereka menanti kembalinya Ki Patih Narotama dan Lasmini juga sering mengadakan kontak rahasia dengan para sekutunya.

Karena Ki Patih Narotama tidak berada di rumah, kesempatan Ini dipergunakan Lasmini bukan saja untuk mengumbar nafsu bejatnya, akan tetapi Juga ia menjadi leluasa untuk mengadakan kunjungan ke istana raja untuk bertemu dan berunding dengan Mandari.

Pada suatu hari Lasmini berkunjung kepada adiknya, Mandari di istana keputren. Mereka berdua mempergunakan kesempatan itu untuk pergi berburu binatang hutan bersama. Tentu saja ini hanya alasan. Sebenarnya mereka berkunjung ke hutan di mana akan diadakan pertemuan rapat antara mereka yang bersekutu memusuhi Sang Prabu Erlangga.

********************


Pada saat itu juga Narotama sudah mengambil keputusan apa yang harus dia lakukan. Dia sudah mendapat keterangan tentang Nurseta dan dapat mengambil kesimpulan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik. Dan agaknya di Karang Tirta ini dia tidak akan bisa mendapatkan keterangan tentang Sang Megatantra. Akan tetapi yang sudah jelas, sebagai seorang pejabat tinggi kerajaan Kahuripan, sebagai patih yang mewakili raja, dia harus bertindak terhadap seorang pamong praja yang lalim dan sewenang-wenang.

"Lurah Suramenggala, sekarang aku minta andika mengeluarkan tanda memanggil semua penduduk yang berada di dusun ini untuk datang berkumpul di sini. Cepat laksanakan!"

Karena ketakutan, sang lurah memanggil para anak buahnya dengan berteriak lantang, namun tak seorangpun anak buahnya muncul. Ternyata dua belas orang yang tadi merasa telah menghina dan mengeroyok Ki Patih Narotama, sudah melarikan diri pergi dari dusun Karang Tirta karena takut menerima hukuman berat!

Karena tidak seorangpun muncul Ki lurah Suramenggala terpaksa menghampiri sebuah kentungan yang tergantung di depan pendapa lalu menabuh kentungan Itu dengan alat pemukulnya, memberi tanda untuk mengumpulkan penduduk seperti biasanya.

Mendengar bunyi kentungan, semua penduduk Karang Tirta, tua muda, laki-laki perempuan, yang tidak sedang bekerja di ladang luar dusun, berdatangan berbondong-bondong memenuhi halaman kelurahan. Memang kebanyakan dari mereka ingin sekali melihat sang lurah di marahi Gusti Patih dan tadi mereka terpaksa pergi karena disuruh oleh para jagoan anak buah Ki Lurah Suramenggala.

Ketika melihat penduduk dusun memasuki halaman dan tampaknya mereka agak takut-takut sehingga mereka berdiri bergerombol dekat pintu gerbang tidak berani terlalu mendekat pendapa. Narotama lalu bangkit dan melangkah keluar, berdiri di tepi pendopo yang lebih tinggi daripada tanah halaman itu dan berkata sambil melambaikan tangan.

"Seluruh warga dusun Karang Tirta dipersilakan maju saja semua, jangan takut. Tidak ada yang mengancam andika sekalian. Aku, Ki Patih Narotama, yang menjamin keamanan dan keselamatan andika sekalian. Hayo, maju dan mendekatlah...!"

Mendengar ini, orang-orang itu yang sesungguhnya takut kepada Ki Lurah Suramenggala, menjadi gembira dan timbul keberanian mereka. Dipelopori oleh beberapa orang pemuda, mereka lalu melangkah maju sampai tiba di pendopo. Wajah mereka berseri dan memancarkan harapan agar terjadi perubahan yang baik bagi mereka dalam dusun mereka itu.

Sementara itu, dari ruangan dalam rumah, ketika kentungan dibunyikan bertalu-talu, para keluarga dan pelayan Ki lurah Suramenggala juga bermunculan keluar dan duduk, bergerombol di atas lantai dekat pintu tembusan. Hanya seorang saja di antara para keluarga yang tidak tampak, yaitu Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi.

Wanita ini, yang dulu diambil sebagai selir oleh Ki Lurah Suramenggala dengan bujukan dan ancaman sehingga terpaksa ia mau menjadi selir ki lurah, sebetulnya merasa tersiksa hidupnya. Ia hanya melayani ki lurah atas dasar rasa takut dan melihat sepak terjang lurah yang menjadi suaminya itu seringkali ia merasa tidak suka dan menyesal sekali.

Berbagai tindakan kejam dilakukan suaminya itu terhadap penduduk Karang Tirta. Akan tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Juga perlakukan ki lurah terhadap dirinya kasar dan kejam. Baru setelah Puspa Dewi muncul, sikap ki lurah agak berbeda, tidak berani bersikap terlalu kasar, apalagi kejam kepadanya. Dan di dalam hatinya, Nyi Lasmi juga mulai merasa tidak takut karena ia tahu bahwa suaminya itu takut kepada Puspa Dewi yang kini menjadi seorang gadis sakti.

Mulailah ia sering berani membantah kehendak ki lurah. Tadi ketika melihat munculnya Ki Patih Narotama yang merobohkan para tukang pukul dan memarahi ki lurah, Nyi Lasmi merasa senang, mengharap agar kedatangan ki patih itu akan mengubah watak suaminya dan akan membela kepentingan rakyat Karang Tirta yang selama ini tertindas, dalam ketakutan dan kekurangan.

Maka, ketika ki lurah memanggil semua orang lewat kentungan, diam-diam ia malah keluar dari kelurahan melalui pintu belakang dan dengan jalan memutar kini ia bergabung dengan para penduduk!

Setelah tidak ada yang datang lagi, Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas dan berdiri di tepi lantai pendapa sambil mengajak ki lurah berdiri di sampingnya. Suara hiruk-pikuk orang penduduk sehingga suasananya seperti dalam pasar itu segera berhenti dan suasana penjadi sunyi. Semua orang memandang kepada ki patih.

"Warga dusun Karang Tirta sekalian! Kami, Ki Patih Narotama dalam hal ini mewakili junjungan kita Sang Prabu Erlangga ingin mengadakan perubahan di dusun Karang Tirta ini yang sesuai dengan keinginan andika sekalian. Oleh karena itu, kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kalian yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, atau sekadar mengacungkan tangan, Nah, sekarang kami hendak mengajukan pertanyaan pertama dan kami minta agar yang merasa terkena suka mengacungkan tangannya ke atas. Dengarkan baik-baik. Siapa di antara andika sekalian yang merasa tidak memiliki tanah sejengkal pun?"

Banyak sekali tangan diacungkan keatas, hampir semua. Hanya ada belasan orang yang berdiri di bagian depan yang tidak mengacungkan tangan. Melihat ini, Narotama mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ki lurah yang tampak menundukkan mukanya yang basah oleh peluh. Narotama menggapai kepada mereka yang tidak mengacungkan tangan dan berdiri di bagian depan kelompok itu.

"Apakah di antara kalian ada yang suka naik ke sini untuk memberi penjelasan kepada kami? Jangan takut kepada siapa pun, kami, Ki Patih Narotama yang menjamin keselamatanmu. Hayo, siapa yang berani menjadi wakil saudara-saudara sedusun. Maju dan naiklah!"

Mereka saling dorong dan akhirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun maju dan naik anak tangga lalu memberi hormat dengan sembah kepada ki patih. Narotama melihat laki laki ini berwajah cukup terang dan tampaknya selain pemberani juga cerdas.

"Siapa nama andika?" tanya ki patih. "Jawab dengan keras agar semua orang mendengar."

"Nama hamba Pujosaputro."

"Nah, ceritakanlah keadaan penduduk di Karang Tirta ini. Bagaimana sampai hampir semua orang tidak memiliki tanah garapan?"

Pujosaputro menoleh kepada Ki Lurah Suramenggala dan berkata lirih, "Ki Lurah, maafkan kalau saya harus bercerita sejujurnya." Kemudian dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata dengan suara lantang. "Dulu, hampir semua penduduk dusun kami ini mempunyai sebidang tanah, tidak terlalu luas namun hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing. Lalu beberapa tahun yang lalu datang musim kemarau yang panjang sekali. Tanah tidak menghasilkan apa-apa. Kami beberapa orang yang memiliki simpanan jagung dan gaplek berusaha menolong para saudara yang kekurangan makan, akan tetapi masih juga tidak mencukupi. Lalu Lurah Suramenggala yang mempunyai kelebihan uang, mendatangkan bahan makanan dari daerah lain. Semua penduduk mendapatkan bahan makanan, akan tetapi mereka harus menjual tanah mereka kepada Ki Lurah. Karena itulah maka sebagian besar di antara penduduk kini tidak mempunyai tanah lagi."

"Hemm, begitukah? Dan mereka semua lalu menggarap tanah siapa?"

"Tentu saja menggarap tanah ki lurah gusti patih, dan mereka mendapatkan upah kerja sekadarnya."

"Dan semua hasil panen masuk gudang ki lurah?"

Kembali Pujosaputro mengerling pada ki lurah yang hanya menundukkan muka, lalu menjawab, "Benar begitu gusti."

Narotama mengangguk-angguk. "Pujosaputro, apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala menggunakan kekuatan para anak buahnya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat?"

Ki Pujosaputro meragu. "Ampun, gusti patih. Hamba tidak berani menjawab, tidak enak terhadap ki lurah. Mohon paduka tanyakan saja kepada semua penduduk."

Narotama lalu berseru kepada semua penduduk. "Dengar, warga sekalian. Apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala bertindak sewenang-wenang menggunakan para tukang pukulnya, memaksakan kehendaknya terhadap andika sekalian? Kalau tidak, kalian diam saja, kalau benar, angkatlah tangan ke atas."

Serentak semua orang mengangkat tangannya ke atas! Dengan hadirnya Ki Patih Narotama dan melihat Ki Lurah Suramenggala mati kutu dan para tukang pukul juga tidak ada yang muncul, orang orang itu menjadi berani, apalagi kini mereka berkumpul dan keselamatan mereka dijamin oleh Ki Patih Narotama.

"Baik, sekarang kami yakin bahwa Ki suramenggala memang bertindak sewenang-wenang kepada penghuni dusun Ini. Sekarang, apakah andika sekalian menghendaki lurah dusun ini diganti?"

Kembali semua tangan mengacung keatas. Orang-orang mulai hiruk-pikuk saling bicara sendiri dan rata-rata mereka gembira dan bersemangat. Dengan melambaikan kedua tangannya Narotama minta agar semua orang diam. Dia lalu berkata kepada Ki Suramenggala suaranya lantang dan penuh wibawa.

"Ki Suramenggala, sepatutnya andika ini dihukum karena telah menyalah-gunakan wewenang sehingga andika mencemarkan nama baik semua pamong praja dan kerajaan Kahuripan. Akan tetapi kami hanya menjatuhkan hukuman agar andika sekeluarga pergi dari dusun Karang Tirta dan boleh membawa barang-barang andika. Akan tetapi, semua tanah akan di kembalikan kepada para petani dan semua hutang para petani kepada andika dihapus. Dusun ini akan mendapatkan seorang lurah lain."

Ki Suramenggala mengangkat mukanya dan pandang matanya berkilat, sekilas menatap wajah Narotama penuh kebencian, kemudian dia menyapu para penduduk dengan kilatan matanya sehingga para penduduk menjadi gentar. Akan tetapi Narotama dengan lantang membesarkan hati para penduduk.

"Jangan andika sekalian merasa takut. Lurah baru akan membentuk pasukan keamanan terdiri dari para pemuda sehingga kalau ada yang hendak mengacaukan Karang Tirta, kalian dapat melawannya. Pula, kalau kami mendengar ada pengacau di sini, pasti kami akan datang atau mengirim senopati dengan pasukannya untuk menghukum si pengacau!"

Mendengar ucapan yang lantang dan tegas ini, Ki Lurah atau lebih tepat mantan lurah Suramenggala menundukkan mukanya dan semua orang tiba-tiba bersorak gembira. Sudah terlalu lama mereka merindukan perubahan nasib mereka yang tertindas dibawah tangan besi Ki Suramenggala. Kini, KI Suramenggala dicopot dari kedudukanya, bahkan tanah mereka yang dibeli secara paksa oleh Ki Suramenggala karena mereka membutuhkan makan di waktu paceklik, kini dikembalikan begitu saja kepada mereka. Juga mereka yang masih terikat hutang oleh Ki Suramenggala kini telah bebas! Muncul harapan baru bagaikan sinar matahari pagi di hati para penduduk.

"Nah, Ki Suramenggala, berkemaslah dengan keluarga mu dan hari ini juga andika harus meninggalkan Karang Tirta." kata Narotama kepada mantan lurah yang mukanya berubah pucat itu.

Ki Suramenggala mengangkat muka memandang kepada Narotama dengan sinar mata berapi, penuh kebencian. Kemudian, di bawah hiruk-pikuk suara orang-orang yang saling bicara dengan gembira, dia berkata lirih dan hanya terdengar oleh Narotama, bahkan Ki Pujosaputro yang berdiri pula di tepi pendopo itu tidak mendengarnya karena dia asyik memperhatikan kegembiraan penduduk Karang Tirta.

"Ki patih, karena paduka patih dan saya lurah, maka terpaksa saya menaati keputusan paduka. Akan tetapi, harap diingat bahwa saya tidak akan melupakan penghinaan ini. Tunggulah pembalasan anak-anakku kelak!"

Setelah berkata demikian, Ki Suramenggala dengan muka berubah merah karena marah sudah meninggalkan pendapa itu dan masuk kedalam rumah, diikuti oleh semua keluarganya yang tadi duduk di lantai pendapa. Dengan hati yang sakit dan dendam, Ki Suramenggala lalu mengajak semua keluarganya, kecuali Nyi Lasmi karena selirnya ini ikut bergembira dengan penduduk dan tidak kembali lagi ke dalam rumah, untuk pergi meninggalkan gedung kelurahan melalui pintu belakang dan boyongan keluar dari dusun Karang Tirta. Barang-barang berharga mereka bawa semua dengan gerobak, juga ternak mereka, kuda dan sapi mereka bawa serta. Mereka meninggalkan gedung kelurahan dengan prabot-prabot rumahnya.

Sementara itu, Narotama melanjutkan usahanya untuk mengatur agar dusun Karang Tirta menjadi sebuah dusun yang penghuninya hidup tenteram dan tenang, tidak ada penindasan, dipimpin oleh seorang lurah yang baik dan yang membawa penduduk ke dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan bergotong royong sebagaimana layaknya kehidupan di dusun sejak jaman nenek moyang mereka dahulu. Dia mengangkat kedua tangan minta agar semua orang diam. Setelah keadaaan menjadi tenang, Narotama bertanya.

"Sekarang kami hendak bertanya, apakah kalian bersedia sekarang untuk memilih dan mengangkat seorang lurah baru. Kalau bersedia, harap angkat tangan tanda setuju!"

Semua orang mengacungkan tangan dan ada yang berteriak-teriak lantang "Setujuuuu .....!"

"Baik, kalau andika sekalian setuju, pilihlah seorang di antara kalian untuk menjadi lurah baru di dusun ini!"

Bagaikan sekumpulan burung, terdengar mereka menyebutkan nama seseorang, "Ki Pujosaputro .....!!"

Narotama tersenyum. Ki patih ini memiliki batin yang selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi sehingga dia memiliki kepekaan yang amat halus. Tadi begitu melihat Ki Pujosaputro, dia sudah merasa suka kepada orang ini.

"Dengarkan semua! Kami mendengar seruan nama Ki Pujosaputro? Benarkah andika sekalian memilih Ki Pujosaputro sebagai lurah kalian yang baru? Kalau benar, acungkan tangan!"

Semua orang bersorak sambil mengacungkan tangan mereka. Ki Pujosaputro sendiri yang berdiri di pendopo segera mendekati Ki Patih Narotama dan berkata dengan muka kemerahan.

"Aduh, Gusti Patih! Hamba..... hamba seorang yang bodoh dan lemah, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang lurah yang baik? Mohon paduka memilih lain orang saja."

Narotama tersenyum kepadanya. "Justru ucapan penolakan mu ini yang meyakinkan hati kami bahwa andika adalah orang yang tepat untuk menjadi lurah yang baik hati untuk dusun ini. Bukan orang pintar dan kuat yang kami butuhkan, melainkan orang yang rendah hati dan baik budi."

Narotama melihat Ki Wirodipo, orang pertama yang dia jumpai ketika memasuki dusun Karang Tirta, dan yang dia titipi kudanya, berdiri di bagian depan kelompok penduduk dusun itu. Narotama menggapai kepada Ki Wirodipo dan berkata, "Paman Wirodipo, naiklah ke sini, kami hendak bertanya kepada andika."

Ki Wirodipo tergopoh-gopoh naik pendapa dan begitu tiba di depan Narotama dia lalu sungkem dan menyembah "Ampunkan hamba, sama sekali hamba tidak tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih ....."

"Bangkitlah, Paman Wirodipo dan jawab pertanyaanku dengan suara nyaring agar semua orang dapat mendengarkan. Coba ceritakan tentang keadaan diri Ki Pujosaputro ini. Andika mengenalnya bukan?"

Ki Wirodipo bangkit berdiri dan dengan muka berseri dia memandang kepada Ki Pujosaputro lalu menjawab dengan suara lantang. "Tentu saja hamba mengenal Ki Pujosaputro. Sejak kecil dia tinggal di dusun ini dan dia adalah seorang yang mewarisi sawah ladang yang luas. Ki Pujosaputro inilah yang mengajak para penduduk yang mampu untuk membantu penduduk yang kekurangan. Kalau tidak ada Ki Pujosaputro dan teman-temannya, hamba semua tentu semakin payah di bawah tekanan Ki Suramenggala. Karena itulah, Gusti Patih, maka hamba sekalian memilih Ki Pujosaputro untuk menjadi lurah Karang Tirta yang baru."

Narotama lalu menghadapi Ki Pujosaputro dan berkata, "Ki Pujosaputro, kami harap andika tidak menolak lagi karena andika telah dipilih oleh semua penduduk Karang Tirta."

"Ampun, Gusti Patih, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"

"Itu dapat diatur nanti, kami akan memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian dan melihat Ki Pujosaputro tidak memperlihatkan sikap menolak lagi, Narotama lalu menghadapi para penduduk dan berkata dengan lantang.

"Kami sebagai Patih Kahuripan mewakili Gusti Sinuwun mengangkat Ki Pujosaputro sebagai lurah dusun Karang Tirta, sesuai dengan keinginan semua penduduknya. Semua pengembalian tanah kepada pemiliknya dahulu akan diatur dengan tertib oleh Ki Lurah Pujosaputro yang akan dibantu oleh Ki Wirodipo dan para pembantu lain yang akan dipilih dan ditunjuk oleh Ki Lurah Pujosaputro. Sekarang, andika sekalian harap kembali ke pekerjaan masing masing."

Orang-orang itu bersorak sorai dan berlarian meninggalkan halaman kelurahan itu. Halaman itu sebentar saja kosong dan hanya tinggal seorang yang tinggal situ, seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tujuh tahun dan wanita itu mendeprok di atas tanah sambil menangis.

"Ki Lurah Pujosaputro, siapakah wanita itu? Kenapa ia menangis dan tinggal di sana?"

Ki Pujosaputro dan Ki Wirodipo memandang dan Ki Pujosaputro berkata, "Ia adalah Nyi Lasmi yang sudah beberapa tahun ini menjadi selir Ki Suramengga, gusti. Hamba juga tidak tahu mengapa ia menangis."

"Selir Ki Suramenggala? Kenapa ia tidak ikut pergi bersama Ki Suramenggala? Coba panggil ia ke sini...!"

Ki Wirodipo tanpa diperintah mendahului lurahnya turun dari pendopo menghampiri Nyi Lasmi. Melihat sikap Wtrodipo ini, Ki Lurah Pujosaputro merasa senang. Tidak salah pilihan Ki Patih Narotama untuk memperbantukan Ki wirodipo kepadanya!

"Nyi Lasmi, andika dipanggil oleh Gusti Patih. Mari menghadap, beliau bijaksana, tentu akan dapat membikin terang persoalan yang menggelapkan hatimu."

Nyi Lasmi menahan tangisnya, bangkit dan mengikuti naik ke pendopo kelurahan. setelah tiba di depan Narotama, ia menekuk lututnya dan menyembah.

"Nyi Lasmi, mari ikut ke dalam, kita bicara di dalam." Kata Narotama dan mereka semua memasuki ruangan depan rumah yang telah kosong itu. Di situ terdapat sebuah meja besar dengan beberapa buah kursi. Narotama mengajak tiga orang itu duduk berhadapan dengannya, terhalang meja. Di depan ki patih, Nyi Lasmi tidak berani menangis, hanya matanya masih merah dan terkadang ia harus mengusap air mata yang tergantung di bulu matanya.

"Nyi Lasmi, katakan kenapa andika tidak ikut Ki Suramenggala pergi?" tanya Narotama, suaranya lembut dan ramah sehingga hilanglah rasa takut Nyi Lasmi "Bukankah andika ini isterinya?"

Nyi Lasmi menggunakan sehelai sapu tangan yang sudah basah untuk menyusut dua butir air mata, lalu menyembah. "Ampunkan hamba, gusti patih, hamba menjadi isteri Ki Suramenggala karena terpaksa dan sekarang setelah dia terusir dari dusun ini, hamba merasa bebas dan tidak ingin ikut dengannya."

Narotama menoleh kepada Ki Pujosaputro. "Benarkah bahwa Nyi Lasmi ini terpaksa menjadi isteri Suramenggala?"

Ki Pujosaputro melaporkan sejujurnya "Dahulu, Nyi Lasmi adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan. Kurasa lebih lima tahun yang lalu anaknya diculik orang. Dalam keadaan hidup seorang diri itu dia dibujuk dan diancam oleh Ki Suramenggala dan ia agaknya tidak dapat menolak ketika diambil sebagai selir."

Narotama mengangguk-angguk, ia bertanya lagi kepada wanita itu. "Kalau memang andika sudah mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Ki Suramenggala, kenapa andika menangis di halaman itu?"

"Hamba merasa bingung harus pergi kemana, gusti patih. Hamba tidak mempunyai tempat tinggal, hidup sebatang kara."

"Hemm, apakah andika tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali?"

Wanita itu kembali mengusap dua bulir air mata. "Hamba hanya mempunyai seorang anak perempuan yang ketika berusia tiga belas tahun diculik orang. Akan tetapi lima tahun kemudian, baru beberapa bulan yang lalu, ia pulang ke sini dan telah pergi lagi. Kalau saja ada Puspa Dewi anak hamba, tentu hamba tidak menjadi bingung seperti ini."

Narotama melebarkan matanya. "Puspa Dewi? Ia itu anakmu? Gadis yang memiliki kesaktian itu?"

"Kasinggihan (benar), gusti. Setelah pulang, anak hamba Puspa Dewi menjadi seorang gadis yang memiliki kesaktian, akan tetapi kini ia pergi entah ke mana hamba tidak diberitahu."

Tiba-tiba Ki Lurah Pujosaputro menyembah dan berkata, "Kalau hamba boleh mengajukan usul, gusti. Biarlah Nyi Lasmi tetap tinggal di rumah ini. Hamba hanya akan menggunakan ruangan depan dan pendopo untuk tempat para pamong desa bekerja dan untuk rapat pertemuan warga dusun."

"Bagaimana, Nyi Lasmi?" tanya Narotama.

"Terima kasih atas kebaikan hati Ki Lurah, akan tetapi rumah ini terlalu besar untuk saya tempati seorang diri saja. Saya hanya ingin mondok untuk sementara sambil menanti anak saya pulang."

"Hemm, kalau begitu, Ki Lurah Pujosaputro, sebaiknya andika sekeluarga boyongan pindah ke rumah kelurahan ini dan biarkan Nyi Lasmi mondok di sini. Setujukah andika?"

"Tentu saja hamba setuju, gusti patih!" kata Ki Lurah Pujosaputro dengan wajah cerah.

"Nah, kalau begitu urusan Nyi Lasmi sudah beres. Masuklah dan siapkan ke perluan mu, Nyi Lasmi. Kami masih mempunyai banyak persoalan untuk dibicarakan"

Nyi Lasmi menyembah dan berkata, "Gusti patih, hamba menghaturkan banyak terima kasih. Sesungguhnya, selain hamba terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala, juga hamba tidak ingin anak hamba Puspa Dewi dibawa ke jalan sesat olehnya maka sekarang setelah mendapat kesempatan hamba memisahkan diri dari keluarga Ki Suramenggala."

Narotama mengangguk-angguk, dan berkata, "Keputusan yang andika ambil itu bijaksana."

Nyi Lasmi lalu memberi hormat lagi dan mengundurkan diri, masuk ke ruangan dalam rumah gedung itu. Narotama lalu memberi petunjuk kepada lurah baru itu. Agar segera memilih pembantu-pembantu yang jujur dan rajin bekerja, lalu membentuk penjaga keamanan dengan memilih pemuda-pemuda dusun itu yang baik budi. Menertibkan pemilikan kembali sawah ladang para penduduk yang dulu diambil Ki Suramenggala, dan agar mengajak semua warga untuk menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan penduduk dengan bergotong royong.

"Tentu saja untuk mengurus dan menertibkan semua itu andika memerlukan tenaga bantuan, karena itu, bersama Wirodipo yang telah mengenal semua penduduk di sini, harap andika pilih siapa kiranya yang tepat untuk menjadi pembantu kelurahan. Jangan mendahulukan orang pintar, akan tetapi lebih baik mencari pembantu yang jujur dan baik budi. Orang pintar sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, akan tetapi mencari orang yang jujur, setia dan baik budi amatlah sulitnya. Soal kepintaran dapat dipelajari oleh orang yang bodoh, akan tetapi kebaikan budi tidak dapat dipelajari oleh orang yang jahat. Kalau kami sudah kembali ke kota raja, akan kami kirim pejabat yang berwenang untuk mengesahkan pengangkatan andika sebagai Lurah baru."

Setelah meninggalkan semua pesan itu Narotama lalu kembali ke kota raja. Dia ditugaskan oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyelidiki urusan antara Nurseta dan Pangeran Hendratama, untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk itu, dia membutuhkan bukti yang nyata.

Dia sudah melakukan penyelidikan tentang diri Nurseta dan keterangan yang diperolehnya menyatakan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik wataknya. Apalagi mengingat betapa pemuda itu menjadi murid mendiang Sang Empu Dewamurti, maka dia mendapatkan kesan baik terhadap pemuda itu. Kini dia harus melakukan penyelidikan kepada Pangeran Hendratama.

*********************




BERSAMBUNG KE JILID 21


Cerita Silat Keris Pusaka Sang Megatantra Jilid 20

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 20

Kita tinggalkan dulu dua orang puteri yang tiada hentinya berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Sang Prabu Erlangga itu dan kita ikut perjalanan Ki Patih Narotama yang hendak menyelidiki tentang keris pusaka Sang Megatantra, siapa sesungguhnya yang menemukan dan siapa pula yang mencurinya agar dapat diketahui siapa yang kini menguasainya.

Ki Patih Narotata melakukan perjalanan seorang diri menuju dusun Karang Tirta. Dalam perjalanan ini, tidak ada yang mengenalnya karena seperti biasa kalau melakukan tugas penyelidikan seorang diri, Narotama tidak mengenakan pakaian kebesaran, menunggang kereta atau kuda dan dikawal sepasukan perajurit seperti seorang patih. Dia melakukan perjalanan menunggang kuda dengan pakaian biasa sehingga orang akan mengira bahwa dia hanya seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh dua tahun dengan pakaian biasa, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan.

Setelah tiba di dusun Karang Tirta, Narotama segera bertanya-tanya dimana dan siapa yang menjadi lurah dusun itu. Dia mendapat keterangan bahwa lurahnya adalah Ki Suramenggala. Karena hari masih pagi dan dia ingin berkunjung kepada lurah itu dalam keadaan menyamar sebagai orang biasa, maka dia hendak menunggu sampai saat yang pantas untuk berkunjung ke rumah orang.

Ketika dia melewati sebuah rumah sederhana dan seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun tampak menyapu daun-daun kering di halaman rumah yang ditumbuhi pohon nangka, Narotama menghentikan kudanya, lalu menuntun kuda memasuki halaman rumah itu. Pemilik rumah yang sedang menyapu itu menghentikan kegiatannya dan memandang Narotama dengan heran karena dia merasa tidak mengenal tamu yang memasuki halaman rumahnya sambil menuntun kuda itu.

Sebagai seorang dusun yang sederhana dan miskin, dalam anggapannya, kalau orang sudah memiliki seekor kuda dan pakaiannya juga tidak seperti petani biasa walaupun pakaian itu tidak mewah, tentu seorang priyayi atau seorang kota yang derajatnya lebih tinggi daripada penduduk dusun. Maka orang itu melepaskan sapunya dan menyambut kedatangan Narotama dengan sikap hormat dan membungkuk-bungkuk. Melihat sikap orang itu, Narotama cepat memberi salam dengan suara lembut dan sikap ramah.

"Permisi, paman, maafkan kalau saya mengganggu kesibukan paman."

Orang itu tersenyum polos, agaknya senang melihat sikap dan mendengar kata-kata yang lembut dan ramah itu.

"Ah, tidak denmas, sama sekali tidak mengganggu. Ada keperluan apakah, denmas, maka andika sudi berkunjung ke gubuk saya ini?"

"Nanti dulu, paman. Sebelumnya saya ingin mengetahui, apakah paman sudah lama tinggal di dusun Karang Tirta ini?"

"Wah, sudah lama sekali, denmas. Sejak muda bersama isteri saya, sampai isteri saya meninggal..... hemm, berapa lama, ya? Pergantian lurah sudah tiga kali, yang terakhir sampai sekarang lurahnya Ki Suramenggala, sudah hampir dua puluh tahun jadi lurah di sini. Dan sebelum itu..... hemm, paling tidak sudah tiga puluh tahun saya tinggal di dusun ini."

Girang rasa hati Narotama. "Kalau begitu, saya berhadapan dengan orang yang tepat, paman. Perkenalkan, nama saya..... Tama dan saya datang dari kota raja. Saya ingin bertanya kepada paman tentang keadaan dusun ini belasan tahun yang lalu."

"Wah, dengan senang hati, denmas Tama. Mari, silakan masuk, kita bicara di dalam."

Narotama menambatkan kudanya pada batang pohon, lalu berkata, "Terima kasih, paman ....."

"Wirodipo nama saya, denmas. Mari silakan."

Mereka memasuki pondok sederhana dan Narotama dipersilakan duduk di atas bangku. Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja yang kasar buatannya. Narotama melihat betapa isi rumah itupun amat sederhana, namun cukup bersih.

"Nah, denmas Tama, tanyakan apa saja yang andika ingin ketahui. Saya akan menceritakan apa yang saya tahu,."

"Sebelumnya, terima kasih banyak, paman Wirodipo Saya ingin bertanya tentang diri seorang yang dulu tinggal di dusun ini, yang bernama Nurseta. Apakah paman mengenalnya?"

Wirodipo mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Lalu matanya bersinar, wajahnya menjadi cerah.

"Ah ....., dia? Tentu saja saya tahu, bahkan belum lama ini dia membikin geger dusun ini!"

Tentu saja Narotama menjadi tertarik sekali. "Ceritakan tentang dia, paman. Saya ingin sekali mengetahuinya."

"Saya tidak mengenal baik orang tuanya, hanya tahu bahwa ayahnya bernama Dharmaguna dan isterinya yang cantik, saya lupa lagi namanya. Mereka tinggal di sini beberapa tahun, akan tetapi pada suatu hari suami isteri itu meninggalkan Nurseta begitu saja, entah ke mana. Kalau tidak salah ketika itu Nurseta berusia kurang lebih sepuluh tahun. Anak itu rajin, bekerja di mana saja, tadinya membantu Ki Lurah Suramenggala dan selanjutnya mencari makan dengan membantu para petani di sini. Ketika berusia belasan tahun dia menghilang. Saya tidak melihat sendiri kejadian itu, akan tetapi orang-orang menceritakan Nurseta pergi bersama seorang kakek sakti. Kabarnya, kakek itu membuat Ki Lurah Suramenggala dan anak buahnya lumpuh ketika mereka hendak memukul Nurseta dan kakek itu. Kemudian mereka berdua pergi entah ke mana."

Narotama menduga bahwa kakek yang membawa pergi Nurseta itu tentu Empu Dewamurti.

"Apakah andika mengetahui siapa kakek yang membawa pergi Nurseta itu. Paman Wirodipo?"

"Saya sendiri tidak pernah bertemu dengan kakek sakti itu, denmas. Akan tetapi ada beberapa orang yang pernah bertemu dan mereka mengatakan bahwa kakek itu adalah seorang sakti yang bertapa di tepi pantai Laut Kidul dan pernah menolong orang-orang yang sakit dengan memberi jamu yang mujarab sekali."

"Apakah andika pernah mendengar bahwa Nurseta itu telah menemukan sebatang keris pusaka yang disebut Sang Megatantra?"

Ki Wirodipo mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Saya tidak tahu dan tidak pernah mendengarnya, denmas."

Dalam hatinya, Narotama merasa kecewa. justru yang terpenting baginya adalah keterangan mengenai Sang Megatantra, akan tetapi kakek ini tidak mengetahuinya.

"Hemm, lalu bagaimana selanjutnya? Tadi andika mengatakan bahwa belum lama ini Nurseta membikin geger dusun ini. Apa yang telah terjadi?"

"Saya juga hanya mendengar saja cerita orang-orang, denmas. Menurut cerita mereka, Nurseta, setelah pergi kurang lebih lima tahun dan sekarang telah dewasa, muncul di rumah Ki Lurah Suramenggala dan kabarnya dia mengamuk, merobohkan para jagoan ki lurah, bahkan mengancam Ki Lurah Suramenggala. Kemudian muncul putera ki lurah dan juga puteri tiri ki lurah. Kedua orang muda ini setelah menghilang kurang lebih lima tahun juga pulang dan telah menjadi orang-orang sakti. Nurseta dikeroyok oleh Denmas Linggajaya dan Masayu Puspa Dewi sehingga melarikan diri."

"Siapa nama anak-anak Ki Lurah Suramenggala itu?"

"Denmas Linggajaya adalah anak kandung ki lurah, sedangkan Masayu Puspa Dewi adalah anak tirinya."

Narotama termenung, diam-diam dia merasa heran. Dia pernah bertemu dengan Puspa Dewi, gadis yang mengaku sebagal murid Nyi Dewi Durgakumala dan yang menyerangnya karena perintah gurunya, akan tetapi dia dapat menyadarkan gadis itu yang dia tahu dasarnya tidak jahat. Dan Ki Patih Narotama semakin heran mendengar nama Linggajaya. Tadinya dia hanya merasa seperti pernah mendengar nama ini. Kemudian setelah teringat, dia terkejut.

Bukankah juru taman kepatihan yang baru itu, yang diusulkan oleh Lasmini dan katanya pemuda itu saudara misan Sarti pelayan Lasmini, juga bernama Linggajaya? Kalau benar demikian, mengapa putera seorang lurah, juga yang menurut Ki Wirodipo telah menjadi seorang pemuda sakti, mau menjadi tukang kebun? Tentu saja timbul kecurigaan dalam hatinya. Apakah yang tersembunyi di balik semua itu? Dia teringat Puspa Dewi.

Gadis itu memusuhinya karena terpaksa untuk mentaati pesan gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang memang memusuhinya dan memusuhi Kahuripan. Lalu apa yang mendorong Linggajaya menyusup ke kepatihan? Mereka berdua itu anak-anak Ki Lurah Sura menggala! Dia harus menyelidiki keadaan lurah itu. Mungkin di sana dia akan menemukan jawabannya.

"Terima kasih, paman. Keteranganmu itu amat berguna bagi saya. Sekarang saya ingin bertanya tentang keluarga Ki Lurah Suramenggala itu, yaitu tentang anak-anaknya."

"Anak kandungnya hanya seorang denmas Linggajaya itulah yang sekarang sudah dewasa, sekitar dua puluh satu tahun usianya. Selain denmas Linggajaya, ki lurah juga mempunyai seorang anak tiri, yaitu Masayu Puspa Dewi, setelah ibu gadis itu, seorang janda diambil selir oleh ki lurah. Selain mereka berdua Ki Lurah Suramenggala tidak mempunyai anak lain."

"Bagaimana watak anak-anaknya itu?"

"Hemm, denmas Linggajaya itu ketika kecilnya terkenal nakal sekali, mungkin karena mengandalkan kedudukan orang tuanya. Entah sekarang setelah dewasa karena sejak pulang dan menjadi orang sakti, dia hanya sebentar berada di sini lalu pergi lagi. Adapun Masayu Puspa Dewi yang juga berasal dari dusun ini, sejak kecil wataknya baik sekali. Ibunya juga seorang janda yang lemah lembut dan baik. Setelah Masayu Puspa Dewi hilang, kabarnya diculik orang, ibunya diambil sebagai selir oleh ki lurah. Kini Masayu Puspa Dewi juga telah menjadi seorang gadis sakti dan saya tidak tahu bagaimana wataknya sekarang."

Narotama mengangguk-angguk. Puspa Dewi masih menjadi seorang gadis yang baik budi, walaupun ia menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat.

"Dan bagaimana dengan Nurseta sendiri? Ketika dia masih tinggal di sini, bagaimana wataknya?"

"Wah, kalau dia anaknya rajin dan baik, denmas. Semua orang di dusun ini menyukainya. Bayangkan, dia pernah membantu saya mengerjakan ladang saya dan karena tahu bahwa saya bukan orang kaya, dia sudah puas hanya mendapatkan makan sebagai upahnya. Dia tidak mengharapkan upah lainnya lagi."

Narotama mengangguk-angguk. Seorang pemuda dengan watak sebaik itu tidak mungkin mencuri keris pusaka Sang Megatantra!

"Terima kasih, Paman Wirodipo. Sekarang saya hendak menitipkan kuda saya di sini, apakah andika tidak keberatan? Nanti kalau sudah selesai urusan saya, saya akan mengambilnya."

"Oh, tentu saja, denmas. Biar di halaman depan, nanti akan saya beri rumput dan minum."

Setelah mengucapkan terima kasih, Narotama lalu meninggalkan rumah Ki Wirodipo dengan jalan kaki. Ki Wirodipo memang tidak dapat memberi keterangan sedikitpun juga tentang Sang Megatantra, akan tetapi mungkin di rumah Ki Lurah Suramenggala dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang keris pusaka itu. mudah saja bagi Narotama untuk menemukan rumah Ki Lurah Suramenggala.

Rumah itu tampak mencolok karena berbeda jauh dari rumah-rumah lain. Tampak besar dan megah untuk ukuran dusun Itu. Di dekat pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi gedung itu, terdapat lima orang penjaga keamanan yang bertubuh tegap dan berwajah bengis. Diam-diam Narotama merasa heran. Kalau rumah seorang lurah dusun dijaga orang-orang yang lagaknya seperti tukang pukul ini, hal itu hanya menunjukkan bahwa hubungan antara lurah itu dan penghuni dusun tidak akrab.

Seorang lurah diharapkan untuk menjadi bapak dari rakyatnya yang mengatur dan melayani rakyatnya, menjadi panutan dan sumber pertolongan. Bukan menjadi penguasa yang galak dan sewenang-wenang, yang ditakuti rakyat dan yang memelihara para tukang pukul untuk menakut nakuti rakyat dan untuk memaksakan kehendaknya sebagai penguasa.

Lurah yang begini pasti bukan lurah yang baik. Dari keadaan di pintu gerbang kelurahan ini saja Narotama sudah dapat menilai lurah macam apa adanya Ki Suramenggala!

Dengan langkah tenang Narotama memasuki pintu gerbang kelurahan itu. Baru saja kakinya melangkahi ambang pintu, seorang penjaga keluar dari gardu penjagaan dan membentaknya.

"Hei, berhenti! Siapa engkau yang begini lancang memasuki tempat ini tanpa melapor lebih dulu kepada kami?"

Narotama memandang penjaga yang tubuhnya besar perutnya gendut itu, melihat betapa orang yang usianya sekitar empat puluh tahun itu memandang kepadanya dengan mata melotot lebar.

"Ini rumah Ki Lurah Suramenggala lurah dusun Karang Tirta ini, bukan?" tanyanya.

"Kiranya engkau sudah tahu? Orang asing, engkau tidak tahu aturan! Untuk masuk kelurahan, harus melapor dulu kepada kami, tahu?"

"Hemm, setahuku kelurahan adalah kantor lurah yang melayani semua keperluan penduduk dan karenanya terbuka bagi umum. Aku tidak tahu bahwa di sini aturannya lain."

"Cukup, jangan banyak rewel. Hayo masuk gardu dan membuat laporan tentang dirimu, tempat tinggalmu dan apa keperluanmu masuk ke kelurahan ini! " bentak orang kedua yang kumisnya tebal.

Diam-diam Narotama marah, akan tetapi kebijaksanaan mengingatkannya bahwa ulah dan sikap para penjaga ini hanya merupakan pencerminan sikap sang lurah. Kalau atasannya brengsek, sukar mengharapkan bawahannya baik. Kebaikan harus dimulai dari atasan karena atasan merupakan tauladan bawahan. Kalau atasannya benar, tentu bawahan tidak akan berani bertindak melanggar kebenaran karena akan dihantam atasan. Jadi, para penjaga ini hanya mencontoh saja sikap atasannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala.

Narotama memasuki gardu. Seorang yang bertubuh pendek gendut, kepalanya botak, bertanya sambil lalu dan pandang matanya merendahkan.

"Siapa namamu?"

"Nama saya Tama."

"Dari mana?"

"Dari kota raja."

Si gendut itu memandang dengan alis berkerut dan sinar mata menyelidik ketika mendengar bahwa orang itu datang dari kota raja.

"Mau apa engkau datang ke sini?"

"Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ki Lurah Suramenggala."

"Bicara tentang apa?"

Narotama menggeleng kepalanya. "Tidak ada urusannya dengan kalian, hanya Ki Lurah Suramenggala yang berhak mendengar apa yang akan kubicarakan."

"Huh! Tidak ada orang boleh menghadap yang mulia Bapak Lurah sebelum melaporkan apa yang akan dibicarakan kepada kami!" bentak si gendut pendek kepada Narotama.

"Juga engkau harus membayar biaya laporan ini. Hayo keluarkan berapa uang yang kau miliki dan serahkan kepada kami!" kata yang berkumis tebal.

Narotama mengambil sebuah kantung dari pinggangnya dan membuka kantung yang berisi beberapa potong emas itu. Lima orang itu terbelalak.

"Serahkan itu kepada kami dan kami akan melaporkan kedatanganmu kepada Bapak Lurah!" kata si gendut sambil bangkit berdiri dan menjulurkan tangan untuk merampas kantung di tangan Narotama itu.

Narotama cepat menyimpan kembali kantungnya lalu berkata. "Kalau begitu biar aku langsung masuk saja menemui Ki Lurah Suramenggala " Dia melangkah keluar dari gardu dan menuju ke pendapa kelurahan.

"Hei, keparat! Kawan-kawan, tangkap dia!" bentak si pendek gendut kepada empat orang rekannya.

Mereka berhamburan keluar mengejar Narotama. Ki Patih Narotama yang sudah kehilangan kesabarannya, berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi lima orang yang menyerbu dan menerjang hendak menangkap dan meringkusnya itu. Kedua tangan Narotama bergerak seperti kilat menyambar lima kali dan tubuh lima orang itu berpusing lalu roboh terbanting ke atas tanah. Masih untung bagi mereka karena Narotama membatasi tenaganya sehingga mereka hanya menderita pipi bengkak dan gigi rontok saja.

Akan tetapi dasar orang-orang kasar yang biasanya mengagulkan diri sendiri dengan keroyokan, lima orang itu bangkit dan mencabut senjata mereka dari pinggang, yaitu golok yang tajam mengkilap. Bagaikan lima ekor anjing mereka melompat dan menggerakkan golok mereka membacok ke arah tubuh Narotama. Narotama mendahului gerakan mereka. Kakinya mencuat dan lima kali kedua kakinya secara bergantian menendang. Kini tubuh lima orang itu terpental dan jatuh berdebuk di atas tanah. Sekali ini mereka dihantam tenaga yang lebih kuat lagi sehingga sejenak mereka tidak mampu bangkit, hanya mengaduh-aduh dengan kepala pening dan dada sesak.

Suara gaduh di luar itu memancing munculnya Ki Suramenggala dengan tujuh orang pengawal lain. Dia terkejut sekali melihat seorang pemuda berdiri di tengah halaman dan lima orang anak buahnya bergelimpangan tidak mampu bangkit. Segera dia dapat menduga apa yang terjadi. Tentu lima orang penjaga itu berkelahi melawan pemuda itu dan dirobohkan. Ki Suramenggala yang juga sudah terbiasa ditakuti dan ditaati orang, melihat bahwa pemuda itu hanya seorang biasa berusia tiga puluh tahun lebih, menjadi marah dan memandang rendah. Dia berseru kepada tujuh orang pengawalnya.

"Tangkap pengacau itu atau bunuh dia!"

Tujuh orang itu mencabut golok masing-masing. Mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi. Perintah Ki Lurah Suramenggala sudah jelas. Pengacau harus dibunuh! Maka, mereka bertujuh segera berlompatan ke depan dan mengepung Narotama. Ternyata mereka adalah pengawal-pengawal pribadi ki lurah yang tentu saja lebih tangguh dibandingkan lima orang penjaga tadi. Mereka bergerak mengitari Narotama dengan gerak silat, kemudian dikomando yang diisyarat kan pemimpin mereka, tujuh orang itu serentak menyerang!

Untung bagi tujuh orang itu bahwa Narotama sudah memiliki tenaga batin yang amat kuat, sehingga dia mampu mengatasi kemarahannya dengan mengingat bahwa mereka itu hanya memenuhi perintah ki lurah. Menghadapi serangan yang sesungguhnya amat berbahaya bagi orang lain itu, Narotama segera mengerahkan tenaga saktinya lalu menggerakkan kedua tangan dengan tenaga mendorong sambil memutar tubuhnya. Hebat sekali dorongan kedua tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu. Tujuh orang penyerang itu terpental ke belakang dan terjengkang sehingga terbanting kuat. Mereka roboh dan tidak dapat segera bangkit kembali karena kepala terasa pening dan napas menjadi sesak!

Melihat ini, Ki Lurah Suramenggala terkejut bukan main dan dia masih hendak menggertak seperti yang sudah biasa dia lakukan kepada para penduduk dusun.

"Heh, penjahat dari mana engkau, berani membikin kacau di kelurahan? Sikapmu Ini berarti pemberontakan terhadap pamong praja!"

Narotama marah sekali. Dengan sekali lompat dia sudah tiba dekat sang lurah, lalu menangkap tubuh lurah itu dengan tangan kanan, mengangkatnya ke atas dengan ringan saja lalu membantingnya.

"Bresss .....!!"

Ki Lurah Suramenggala mengaduh, pinggulnya terasa nyeri sekali karena terbanting ke atas lantai dan dia mencoba untuk merangkak bangun sambil berteriak-teriak, "Tolooongg ..... toloongg ..... perampok .....!!"

Narotama menjadi semakin marah. Dicengkeramnya tengkuk baju Ki Lurah Suramenggala dan ditariknya sehingga berdiri. Dasar lurah yang terbiasa menindas dan merendahkan orang lain, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya, Lurah Suramenggala masih belum mau tunduk. Dia malah membentak marah.

"Awas kau, jahanam keparat! Kalau kedua anakku, Linggajaya dan Puspa Dewi pulang dan ku beritahukan kejahatanmu ini kepada mereka, lihat saja, mereka akan mencabik-cabik tubuhmu!"

Pada saat itu, tertarik oleh teriakan Ki Lurah Suramenggala, banyak penduduk dusun datang berlarian dan memenuhi halaman kelurahan. Juga isteri dan para selir lurah, termasuk Nyi Lasmi, janda Ibu kandung Puspa Dewi yang kini menjadi selir ki lurah, berlarian keluar dan terkejut melihat ki lurah dicengkeram tengkuk bajunya oleh seorang pemuda gagah.

Para tukang pukul yang tadi telah dirobohkan Narotama, sebanyak dua belas orang, juga petantang-petenteng mengepung dengan golok di tangan, seolah mereka itu menguasai keadaan dan mengancam Narotama, padahal tak seorangpun dari mereka berani menyerang orang yang mereka ketahui sakti mandraguna itu.

"Lurah Suramenggala!" bentak Narotama dengan suara menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang, termasuk yang berada di jalan depan halaman rumah kelurahan itu.

"Sudah butakah matamu? Lihat baik-baik, siapa orang yang engkau perhina dengan makian makian mu tadi! Lihat, tidak kenalkah engkau kepadaku?"

Lurah Suramenggala terbelalak, mengamati wajah Narotama. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali. Kalau tadi dia tidak mengenal Narotama, hal itu tertutup kecongkakannya melihat laki-laki itu berpakaian seperti orang biasa. Dia sudah beberapa kali sowan (menghadapi Sribaginda) di kota raja dan beberapa kali melihat Ki Patih Narotama. Maka, setelah kini dia mendengar suara yang amat berwibawa itu dan mengamati wajah itu dengan seksama, baru dia mengenal siapa orang yang tadi dia maki-maki.

"A..... aduhh..... paduka..... paduka..... Gusti Patih Narotama.....!"

Ketika Narotama melepaskan cengkeramannya Ki Lurah Suramenggala lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah.

"Ampun..... mohon beribu ampun, Gusti Patih..... hamba..... hamba tidak tahu..... bahwa paduka yang datang berkunjung ....."

Mendengar ini, semua keluarganya, juga para tukang pukul, terkejut setengah mati. Terutama para tukang pukul yang mengeroyok Narotama. Mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut dan dua belas orang tukang pukul itu menggumamkan permohonan ampun berulang kali.

"Semua mundur, biarkan aku bicara berdua dengan Lurah Suramenggala!" kata Narotama dengan suara berwibawa.

Mendengar ini, semua keluarga lurah itu memasuki rumah dan dua belas orang jagoan keluar dari pendapa, lalu menyuruh semua orang yang berkerumun di halaman untuk meninggalkan tempat itu. sebentar saja pendapa rumah itu menjadi sepi, hanya tinggal Narotama yang masih berdiri tegak dan Ki Lurah Suramenggala yang masih berlutut di depannya.

"Nah, ki lurah, bangkit dan duduklah. Mari kita bicara. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan dan kuminta anda menjawabnya dengan sejujurnya." kata Narotama dengan suara keren.

Ki Luran Suramenggala yang sudah mati kutu itu menurut, bangkit dan mempersilakan Narotama duduk di atas kursi yang berada di pendapa itu. Dia hendak duduk bersila di atas lantai, di depan Narotama, akan tetapi ki patih itu melarangnya.

"Duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara dengan leluasa."

Ki Suramenggala tidak berani membantah lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan kt patih, terhalang sebuah meja marmer.

"Ki lurah, aku ingin engkau menceritakan tentang seorang yang bernama Nurseta yang pernah tinggal di dusun ini Apa yang kau ketahui tentang dia?"

Diam-diam Ki Lurah Suramenggala terkejut. Kenapa ki patih tiba-tiba datang bertanya tentang Nurseta?

"Nurseta .....? Ah, tentu saja, gusti patih. Hamba tahu siapa bocah itu!"

"Hemm, begitukah?" Narotama menatap tajam wajah lurah yang dari suaranya jelas menunjukkan rasa bencinya terhadap Nurseta. "Ceritakan sejujurnya apa yang andika ketahui tentang dia”.

"Dia itu anak pasangan suami istri yang menjadi buronan, dan ketika Nurseta berusia lima tahun, ayah ibunya melarikan diri karena ketahuan oleh Senopati Sindukerta yang mencari mereka. Nurseta ditinggalkan di dusun ini. Kalau tidak ada hamba yang memeliharanya, tentu anak itu akan kapiran dan mungkin mati kelaparan, gusti patih."

"Hemm, kenapa mereka ketakutan dan dicari Senopati Sindukerta?"

"Karena Dharmaguna, ayah Nurseta Itu, melarikan puteri Senopati Sindukerta yang menjadi ibu kandung Nurseta, dan Senopati Sindukerta mencari mereka, tentu untuk menghukum Dharmaguna yang membawa minggat puterinya."

"Lalu bagaimana dengan Nurseta?"

"Hamba memeliharanya sampai besar. Akan tetapi dasar anak buronan yang tidak mengenal budi, ketika berusia sekitar enam belas tahun dia minggat, tak seorangpun mengetahui dia pergi kemana. Kemudian, baru beberapa bulan yang lalu ini dia muncul kembali dan..... ah, dasar anak orang jahat, anak setan itu ....." ,

"Cukup! Hentikan maki-makianmu yang kotor itu dan ceritakan saja apa yang terjadi!" Narotama membentak. Ki Lurah Suramenggala terkejut sekali dan menyembah.

"Ampun, gusti patih. Anak itu malam-malam datang dan hendak membunuh hamba!"

"Hemm, aneh. Kenapa dia hendak membunuhmu?"

"Hamba juga tidak tahu. Dia bertanya kepada hamba dimana adanya orang tuanya. Hamba memang tidak tahu akan tetapi agaknya dia tidak percaya lalu marah dan hendak membunuh hamba. Untung pada saat itu ada anak-anak hamba, Linggajaya dan Puspa Dewi yang juga telah menjadi orang-orang sakti. Kedua anak hamba itu melawan Nurseta dan berhasil membuat Nurseta lari ketakutan. Itulah yang hamba ketahui tentang anak se..... eh, Nurseta itu, gusti patih." '

Narotama termenung. Omongan seorang seperti lurah ini tentu saja tidak dapat dipercaya sepenuhnya, akan tetapi setidaknya dari ceritanya itu dia dapat menilai bahwa lurah ini memang seorang yang tidak pantas menjadi seorang kepala dusun yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Cerita Ki Wirodipo tentang Nurseta dan tentang keluarga Lurah Suramenggala tentu saja lebih dapat dipercaya kebenarannya.

"Sekarang ceritakan yang sejujurnya tentang keris pusaka Sang Megatantra. Apakah andika mengetahui sesuatu tentang keris pusaka itu?"

Ki Lurah Suramenggala memang belum pernah mendengar tentang keris pusaka itu. Sebetulnya Puspa Dewi mengetahuinya, akan tetapi anak tirinya itupun tidak bercerita kepadanya. Maka dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan suara yang meyakinkan.

"Tidak, gusti. Hamba sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang pusaka yang paduka sebutkan tadi."

Sekali ini Narotama percaya karena kata lurah itu sudah mengetahui, tentu diapun akan memutar-balik kebutaan dan memburukkan Nurseta, mengatakan bahwa Nurseta yang mencuri. Orang seperti ini bukan saja tidak boleh dipercaya, akan tetapi yang jelas juga tidak boleh dibiarkan terus menjadi lurah di dusun Karang Tirta ini. Dia dapat membayangkan betapa lurah ini pasti hidup sebagai seorang raja kecil yang lalim di dusun ini.

Bukti nyata bahwa rakyat Karang Tirta tidak mencintanya adalah ketika lurah itu tadi berteriak teriak minta tolong, ada penduduk yang berlarian datang. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang bersikap hendak membela sang lurah, melainkan hanya ingin menonton apa yang terjadi Dan ketika dia menghajar para anak buah lurah, dia melihat betapa banyak penduduk yang berada di halaman tersenyum gembira!

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Narotama memikul tugas yang cukup berat. Untuk menyelidiki kebenaran keterangan Nurseta, dia harus pergi ke dusun Karang Tirta di mana pemuda itu dahulu tinggal dan menemukan Sang Megatantra, juga dia akan menyelidiki tempat yang dulu dijadikan tempat pertapaan mendiang Empu Dewamurti.

Narotama tahu bahwa Empu Dewamurti adalah kakak seperguruan Empu Bharada yang amat dihormati Sang Prabu Erlangga dan dia sendiri. Kalau Nurseta merupakan murid Sang Empu Dewamurti, tentu dia telah menerima gemblengan batin dari gurunya yang arif dan bijaksana itu. Maka dia lalu berpamit kepada kedua isterinya, Listyarini dan Lasmini, bahwa kepergiannya sekali ini akan makan waktu yang agak lama, mungkin sampai sebulan baru dia akan kembali.

Setelah Narotama pergi, Lasmini merasa kesepian. Puteri Kerajaan Parang Siluman ini adalah seorang yang telah terjatuh ke dalam kekuasaan nafsu-nafsunya. Cintanya terhadap suaminya, Ki Patih Narotama, hanyalah cinta yang didasari nafsu berahi. Karena itu, baru ditinggal pergi Narotama selama beberapa hari saja. ia sudah gelisah dan kesepian sekali, haus akan belaian suaminya.

Pada saat dan keadaan seperti itu, mulailah ia mencurahkan perhatiannya kepada tukang kebunnya, yang bukan lain adalah Linggajaya pemuda tampan, ganteng dan sakti, yang juga diam-diam menjadi sekutunya karena pemuda itu adalah utusan Kerajaan Wengker.

Pada suatu senja yang tidak cerah karena langit mengandung awan hitam biang hujan, terkadang tampak sinar berkilat dalam mendung tebal disusul bunyi Guntur bergemuruh, Lasmini memasuki taman bunga kepatihan yang luas dan penuh tanaman beraneka ragam kembang itu. Dalam kesepiannya, ia teringat akan Linggajaya dan ingin melihat apa yang dilakukan pemuda yang menyamar sebagai tukang kebun itu.

Ketika ia tiba di padang rumput dekat pondok kecil di tengah taman, ia melihat pemuda itu sedang berlatih silat. Ia berhenti melangkah dan menonton dari jauh. Linggajaya bertelanjang dada sehingga tampak tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang dan tampak penuh dengan tenaga. Kedua tangan yang bergerak-gerak tangkas itu menimbulkan angin yang mengeluarkan bunyi bersiutan. Alangkah gagahnya, alangkah gantengnya, pikir Lasmini dan timbul kegembiraannya bercampur gairahnya. Ia lalu melompat dan berlari menghampiri.

"Mari kita latihan!" katanya dan langsung saja ia menyerang pemuda itu.

Linggajaya girang melihat munculnya wanita cantik ini dan dia cepat menangkis lalu membalas. Mereka segera saling serang dengan cepat dan kuat. Tubuh mereka berkelebatan. Setelah menjadi selir Narotama, Lasmini memperoleh kemajuan banyak sekali dalam ilmu silat, juga tenaga saktinya bertambah setelah mendapat petunjuk Narotama bagaimana untuk menghimpun tenaga sakti.

Namun, karena kedua orang itu bertanding hanya untuk latihan, seperti pasangan yang menari-nari, tentu saja mereka membatasi tenaga dan menjaga agar tidak saling melukai. Karena sering lengan mereka beradu dan melihat betapa dekatnya wanita cantik itu sehingga dia dapat mencium keharuman melati yang melekat di tubuh Lasmini, Linggajaya seperti dibakar gairah nafsunya sendiri. Demikian pula Lasmini.

Tiba-tiba Lasmini kehilangan bayangan Linggajaya yang menggunakan Aji Panglimutan, yang membuat tubuhnya sejenak tidak tampak. Lasmini tahu ilmu apa yang dipergunakan Linggajaya. Kalau ia mau, dengan pengerahan tenaga saktinya mengeluarkan teriakan melengking, ia akan mampu membuyarkan Aji Panglimutan itu.

Akan tetapi ia tidak mau melakukannya, khawatir kalau-kalau teriakan melengking itu akan menarik perhatian orang. Pula, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda yang menarik hatinya itu. Tiba-tiba dua lengan yang kuat memeluknya dari belakang. Hidung dan bibir yang hangat menempel pada lehernya yang membuat ia menggelijang.

"Ihh, sembrono....., jangan di sini..... lepaskan!" Mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tidak meronta agar lepas dari pelukan hangat itu.

"Lalu di mana, sayang?" tanya Linggajaya berbisik di dekat telinga Lasmini.

"Di kamarku..... malam ini..... lewat jendela.....!" kata Lasmini dengan hati menggetar karena gairah berahi.

Mendengar jawaban ini, Linggajaya girang sekali dan dia melepaskan pelukannya dari belakang. Lasmini lalu berlari-lari meninggalkannya. Linggajaya tertawa. Dia tahu bahwa sudah lima hari lamanya Narotama meninggalkan kepatihan. Saat seperti yang dijanjikan Lasmini tadilah yang dinanti-nantinya, yang membuat dia bertahan menjadi tukang kebun di kepatihan itu. Kalau tidak ada harapan itu, dia tidak akan sudi menyamar sebagai tukang kebun.

Lasmini mandi dan hatinya bergetar. Ia masih perawan ketika menjadi isteri Narotama dan sejak itu, ia tidak pernah berdekatan dengan pria lain. Sekarang inilah pertama kalinya ia hendak menyeleweng dengan laki-laki lain, maka hatinya penuh ketegangan, juga kegembiraan yang membuat jantungnya berdebar-debar.

Seperti sudah dapat diduga sejak sore, malam itu gelap dan mendung menjadi semakin tebal. Suasana di gedung kepatihan sepi sekali. Semua penghuni rumah itu merasa lebih senang tinggal di dalam kamar masing-masing. Apalagi Ki Patih Narotama tidak berada di rumah. Bahkan para perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang kepatihan merasa lebih aman tinggal di gardu penjagaan.

Lasmini sejak tadi sudah berada dalam kamarnya. Pintu kamarnya sudah ditutup dan dipalangi dari dalam, akan tetapi daun jendela kamarnya hanya dirapatkan begitu saja, tidak dipalang. Dan di luar kamar duduk seorang wanita bertubuh tinggi besar berwajah buruk berusia sekitar empat puluh dua tahun. Ia adalah Sarti, pelayan pribadi, kepercayaan Lasmini yang dulu dibawanya dari Kerajaan Parang Siluman ketika ia menjadi selir Narotama. Pelayan ini bertugas untuk menjaga agar kamar Lasmini malam itu tidak mendapat gangguan. Tentu saja Sarti tahu bahwa majikannya malam itu hendak kangen asmara (bermain cinta) dengan Linggajaya!

Lasmini duduk menanti di tepi pembaringannya. Kamar yang indah itu harum semerbak melati, kesukaannya. Ia mengenakan pakaian tipis. Di atas meja terdapat lampu kecil yang memberi penerangan remang-remang. Setelah menanti dengan hati tegang sejak senja tadi, tiba-tiba daun jendela terbuka dan bayangan tubuh Linggajaya melompat masuk melalui lubang jendela. Dengan tenang Linggajaya menutupkan kembali daun jendela dan memalangnya. Lalu dia memutar tubuh memandang ke arah Lasmini.

Wanita ini bangkit berdiri. Dua buah kakinya gemetar ketika ia melangkah perlahan menghampiri pemuda itu. Tanpa berkata-kata, keduanya saling menghampiri dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah melekat dalam rangkulan yang ketat. Linggajaya memondong tubuh itu dalam pelukannya, melingkari tubuh itu dengan kedua lengannya yang kokoh kuat membawanya ke pembaringan yang seolah sudah menggapai dan mengajak mereka.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Seolah-olah iblis setan bekasakan merestui perjinaan yang dilakukan dua orang manusia yang sudah menjadi permainan nafsu mereka sendiri. Lasmini bagaikan seekor ikan yang tadinya menggelepar di darat, kini mendapatkan air sehingga ia dapat berenang-renang sepuas hatinya.

Nafsu berahi adalah satu di antara nafsu yang paling mulia karena melalui nafsu ini suami isteri mencurahkan cinta mereka yang paling mendalam, yang mendorong pasangan itu bukan hanya ingin bersatu raga akan tetapi juga bersatu jiwa. Bahkan melalui nafsu berahi ini terjadilah perkembang-biakan manusia sehingga nafsu ini merupakan anugerah Sang Hyang Widhi yang paling penting, paling indah, dan paling mulia.

Akan tetapi, seperti juga semua nafsu yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia didunia ini maka nafsu diikut-sertakan manusia sejak lahir, nafsu akan menjadi penyeret manusia ke lembah dosa. Kalau nafsu tetap dalam fungsinya semula, yaitu sebagai hamba yang baik dan bermanfaat, taat kepada kita selaku majikan , jinak dibawah kendali etika, kehormataan dan peradaban, maka nafsu merupakan anugerah.

Akan tetapi sebaliknya, kalau nafsu berahi menjadi majikan, liar tak terkendalikan, dan kita sebaliknya yang diiperhamba, maka nafsu akan menimbulkan malapetaka. Nafsu berahi akan menyeret kita dan menimbulkan perbuatan sesat seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan sebagainya. Dua orang yang menjadi hamba nafsu itu berpesta ria di malam hujan yang dingin itu. Dan perbuatan yang dilakukan sebagai pemuasan nafsu itu selalu menuntut pengulangan dan pengulangan untuk kemudian menimbulkan kebosanan.


Pagi-pagi sekali Linggajaya meninggalkan Lasmini, keluar dari kamar melalui jendela. Dan kesempatan selagi Narotama tidak berada di rumah itu dimanfaatkan oleh dua orang yang mabuk berahi untuk mengulangi perbuatan mereka. Setiap malam Linggajaya berada di kamar Lasmini.

Beberapa hari kemudian, setelah gelombang nafsu berahi yang menguasai diri mereka agak reda, keduanya teringat akan keadaan dan tugas, lalu di sela-sela permainan asmara itu mereka mulai berunding. Lasmini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di istana Sang Prabu Erlangga, yaitu tentang persidangan di istana untuk memeriksa perkara antara Pangeran Hendratama melawan Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta. Mereka rebah berdampingan di atas pembaringan, di antara bantal-bantal.

"Kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dia merupakan sekutu kita yang penting karena dengan bantuannya, lebih besar kemungkinan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga. Aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama terancam oleh pemuda yang bernama Nurseta itu, yang kabarnya sakti mandraguna."

Linggajaya mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengenal Nurseta, bahkan pernah bertanding melawannya ketika Nurseta menyerbu rumah Ki Lurah Suramenggala, ayahnya dan dia harus mengakui bahwa Nurseta merupakan lawan berat. Kalau ketika itu tidak muncul Puspa Dewi yang menjadi anak tiri ayahnya dan yang membantunya melawan Nurseta, dia tentu akan kalah.

"Aku tahu siapa itu Nurseta. Sebetulnya dia sedusun dengan aku, bahkan pernah bekerja sebagai kuli pada ayahku yang menjadi lurah di dusun Karang Tirta. Dia menjadi sakti karena diambil murid mendiang Empu Dewamurti."


"Tentu saja yang menemukan adalah Nurseta. Aku sendiri mengetahui hal itu, dan yang mencurinya tentu Pangeran Hendratama." kata Linggajaya tidak begitu acuh. Ada tubuh mulus wajah cantik di dekatnya, bagaimana mungkin dia dapat bergairah memikirkan hal lain? Dia memeluk lagi, akan tetapi Lasmini menolak dengan lembut, mendorongkan tangannya.

"Ih, dengarkan dulu, kita bicara penting ini!" tegurnya. "Aku juga sudah menduga demikian. Akan tetapi karena itu kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dengan Sang Megatantra di tangannya, dia dapat mempengaruhi para pamong praja yang tinggi kedudukannya, untuk memihak kepadanya yang mempunyai wahyu mahkota."

"Bagaimana kita dapat membantunya?" tanya Linggajaya penuh perhatian kini karena dia teringat akan tugas mereka untuk bersekutu dan menjatuhkan Kerajaan Kahuripan.

"Begini, kita harus dapat membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam penjara. Akan tetapi sebelumnya, kita tunggu kedatangan Ki Patih Narotama. Kalau dia menemukan hal-hal yang memberatkan Pangeran Hendratama, sebelum dia dapat bertindak lebih jauh, kita bunuh saja Ki Patih Narotama!"

Linggajaya terkejut dan bangkit duduk, menatap wajah cantik yang masih ada titik-titik keringat seperti embun di dahinya. Dia mengusap dahi halus itu menghilangkan keringatnya.

"Membunuh ..... suamimu??" Lasmini juga bangkit duduk.

"Husssh, aku menjadi selirnya hanya untuk dapat membunuhnya. Ingat?"

"Ya-ya ..... akan tetapi Ki Patih Narotama itu sakti mandraguna. Bagaimana mungkin dapat mengalahkan dan membunuhnya?"

Lasmini merangkul pemuda itu. "Linggajaya, kalau kita berdua maju bersama mengeroyoknya, kukira kita akan dapat mengalahkan dan membunuhnya. Asal engkau mau membantuku dan bersungguh-sungguh. Ingat, kalau dia mati, hubungan kita akan dapat berlanjut tanpa sembunyi-sembunyi lagi, kan?"

Linggajaya balas merangkul. "Baiklah, Lasmini. Kalau engkau yang minta, pasti ku turuti. Betapa sukar dan beratnya, aku akan membantumu sekuat tenaga. Engkau benar, betapapun saktinya dia, kalau kita maju bersama, kurasa tidak mungkin kita akan kalah."

Demikianlah, dua orang yang tidak merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang kotor dan hina itu melanjutkan hubungan gelap mereka. Tidak ada seorangpun di antara para penghuni gedung kepatihan yang menyangka, apalagi tahu akan hubungan gelap itu, kecuali, tentu saja Sarti pelayan setia dari Lasmini itu. Mereka menanti kembalinya Ki Patih Narotama dan Lasmini juga sering mengadakan kontak rahasia dengan para sekutunya.

Karena Ki Patih Narotama tidak berada di rumah, kesempatan Ini dipergunakan Lasmini bukan saja untuk mengumbar nafsu bejatnya, akan tetapi Juga ia menjadi leluasa untuk mengadakan kunjungan ke istana raja untuk bertemu dan berunding dengan Mandari.

Pada suatu hari Lasmini berkunjung kepada adiknya, Mandari di istana keputren. Mereka berdua mempergunakan kesempatan itu untuk pergi berburu binatang hutan bersama. Tentu saja ini hanya alasan. Sebenarnya mereka berkunjung ke hutan di mana akan diadakan pertemuan rapat antara mereka yang bersekutu memusuhi Sang Prabu Erlangga.

********************


Pada saat itu juga Narotama sudah mengambil keputusan apa yang harus dia lakukan. Dia sudah mendapat keterangan tentang Nurseta dan dapat mengambil kesimpulan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik. Dan agaknya di Karang Tirta ini dia tidak akan bisa mendapatkan keterangan tentang Sang Megatantra. Akan tetapi yang sudah jelas, sebagai seorang pejabat tinggi kerajaan Kahuripan, sebagai patih yang mewakili raja, dia harus bertindak terhadap seorang pamong praja yang lalim dan sewenang-wenang.

"Lurah Suramenggala, sekarang aku minta andika mengeluarkan tanda memanggil semua penduduk yang berada di dusun ini untuk datang berkumpul di sini. Cepat laksanakan!"

Karena ketakutan, sang lurah memanggil para anak buahnya dengan berteriak lantang, namun tak seorangpun anak buahnya muncul. Ternyata dua belas orang yang tadi merasa telah menghina dan mengeroyok Ki Patih Narotama, sudah melarikan diri pergi dari dusun Karang Tirta karena takut menerima hukuman berat!

Karena tidak seorangpun muncul Ki lurah Suramenggala terpaksa menghampiri sebuah kentungan yang tergantung di depan pendapa lalu menabuh kentungan Itu dengan alat pemukulnya, memberi tanda untuk mengumpulkan penduduk seperti biasanya.

Mendengar bunyi kentungan, semua penduduk Karang Tirta, tua muda, laki-laki perempuan, yang tidak sedang bekerja di ladang luar dusun, berdatangan berbondong-bondong memenuhi halaman kelurahan. Memang kebanyakan dari mereka ingin sekali melihat sang lurah di marahi Gusti Patih dan tadi mereka terpaksa pergi karena disuruh oleh para jagoan anak buah Ki Lurah Suramenggala.

Ketika melihat penduduk dusun memasuki halaman dan tampaknya mereka agak takut-takut sehingga mereka berdiri bergerombol dekat pintu gerbang tidak berani terlalu mendekat pendapa. Narotama lalu bangkit dan melangkah keluar, berdiri di tepi pendopo yang lebih tinggi daripada tanah halaman itu dan berkata sambil melambaikan tangan.

"Seluruh warga dusun Karang Tirta dipersilakan maju saja semua, jangan takut. Tidak ada yang mengancam andika sekalian. Aku, Ki Patih Narotama, yang menjamin keamanan dan keselamatan andika sekalian. Hayo, maju dan mendekatlah...!"

Mendengar ini, orang-orang itu yang sesungguhnya takut kepada Ki Lurah Suramenggala, menjadi gembira dan timbul keberanian mereka. Dipelopori oleh beberapa orang pemuda, mereka lalu melangkah maju sampai tiba di pendopo. Wajah mereka berseri dan memancarkan harapan agar terjadi perubahan yang baik bagi mereka dalam dusun mereka itu.

Sementara itu, dari ruangan dalam rumah, ketika kentungan dibunyikan bertalu-talu, para keluarga dan pelayan Ki lurah Suramenggala juga bermunculan keluar dan duduk, bergerombol di atas lantai dekat pintu tembusan. Hanya seorang saja di antara para keluarga yang tidak tampak, yaitu Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi.

Wanita ini, yang dulu diambil sebagai selir oleh Ki Lurah Suramenggala dengan bujukan dan ancaman sehingga terpaksa ia mau menjadi selir ki lurah, sebetulnya merasa tersiksa hidupnya. Ia hanya melayani ki lurah atas dasar rasa takut dan melihat sepak terjang lurah yang menjadi suaminya itu seringkali ia merasa tidak suka dan menyesal sekali.

Berbagai tindakan kejam dilakukan suaminya itu terhadap penduduk Karang Tirta. Akan tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Juga perlakukan ki lurah terhadap dirinya kasar dan kejam. Baru setelah Puspa Dewi muncul, sikap ki lurah agak berbeda, tidak berani bersikap terlalu kasar, apalagi kejam kepadanya. Dan di dalam hatinya, Nyi Lasmi juga mulai merasa tidak takut karena ia tahu bahwa suaminya itu takut kepada Puspa Dewi yang kini menjadi seorang gadis sakti.

Mulailah ia sering berani membantah kehendak ki lurah. Tadi ketika melihat munculnya Ki Patih Narotama yang merobohkan para tukang pukul dan memarahi ki lurah, Nyi Lasmi merasa senang, mengharap agar kedatangan ki patih itu akan mengubah watak suaminya dan akan membela kepentingan rakyat Karang Tirta yang selama ini tertindas, dalam ketakutan dan kekurangan.

Maka, ketika ki lurah memanggil semua orang lewat kentungan, diam-diam ia malah keluar dari kelurahan melalui pintu belakang dan dengan jalan memutar kini ia bergabung dengan para penduduk!

Setelah tidak ada yang datang lagi, Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas dan berdiri di tepi lantai pendapa sambil mengajak ki lurah berdiri di sampingnya. Suara hiruk-pikuk orang penduduk sehingga suasananya seperti dalam pasar itu segera berhenti dan suasana penjadi sunyi. Semua orang memandang kepada ki patih.

"Warga dusun Karang Tirta sekalian! Kami, Ki Patih Narotama dalam hal ini mewakili junjungan kita Sang Prabu Erlangga ingin mengadakan perubahan di dusun Karang Tirta ini yang sesuai dengan keinginan andika sekalian. Oleh karena itu, kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kalian yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, atau sekadar mengacungkan tangan, Nah, sekarang kami hendak mengajukan pertanyaan pertama dan kami minta agar yang merasa terkena suka mengacungkan tangannya ke atas. Dengarkan baik-baik. Siapa di antara andika sekalian yang merasa tidak memiliki tanah sejengkal pun?"

Banyak sekali tangan diacungkan keatas, hampir semua. Hanya ada belasan orang yang berdiri di bagian depan yang tidak mengacungkan tangan. Melihat ini, Narotama mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ki lurah yang tampak menundukkan mukanya yang basah oleh peluh. Narotama menggapai kepada mereka yang tidak mengacungkan tangan dan berdiri di bagian depan kelompok itu.

"Apakah di antara kalian ada yang suka naik ke sini untuk memberi penjelasan kepada kami? Jangan takut kepada siapa pun, kami, Ki Patih Narotama yang menjamin keselamatanmu. Hayo, siapa yang berani menjadi wakil saudara-saudara sedusun. Maju dan naiklah!"

Mereka saling dorong dan akhirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun maju dan naik anak tangga lalu memberi hormat dengan sembah kepada ki patih. Narotama melihat laki laki ini berwajah cukup terang dan tampaknya selain pemberani juga cerdas.

"Siapa nama andika?" tanya ki patih. "Jawab dengan keras agar semua orang mendengar."

"Nama hamba Pujosaputro."

"Nah, ceritakanlah keadaan penduduk di Karang Tirta ini. Bagaimana sampai hampir semua orang tidak memiliki tanah garapan?"

Pujosaputro menoleh kepada Ki Lurah Suramenggala dan berkata lirih, "Ki Lurah, maafkan kalau saya harus bercerita sejujurnya." Kemudian dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata dengan suara lantang. "Dulu, hampir semua penduduk dusun kami ini mempunyai sebidang tanah, tidak terlalu luas namun hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing. Lalu beberapa tahun yang lalu datang musim kemarau yang panjang sekali. Tanah tidak menghasilkan apa-apa. Kami beberapa orang yang memiliki simpanan jagung dan gaplek berusaha menolong para saudara yang kekurangan makan, akan tetapi masih juga tidak mencukupi. Lalu Lurah Suramenggala yang mempunyai kelebihan uang, mendatangkan bahan makanan dari daerah lain. Semua penduduk mendapatkan bahan makanan, akan tetapi mereka harus menjual tanah mereka kepada Ki Lurah. Karena itulah maka sebagian besar di antara penduduk kini tidak mempunyai tanah lagi."

"Hemm, begitukah? Dan mereka semua lalu menggarap tanah siapa?"

"Tentu saja menggarap tanah ki lurah gusti patih, dan mereka mendapatkan upah kerja sekadarnya."

"Dan semua hasil panen masuk gudang ki lurah?"

Kembali Pujosaputro mengerling pada ki lurah yang hanya menundukkan muka, lalu menjawab, "Benar begitu gusti."

Narotama mengangguk-angguk. "Pujosaputro, apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala menggunakan kekuatan para anak buahnya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat?"

Ki Pujosaputro meragu. "Ampun, gusti patih. Hamba tidak berani menjawab, tidak enak terhadap ki lurah. Mohon paduka tanyakan saja kepada semua penduduk."

Narotama lalu berseru kepada semua penduduk. "Dengar, warga sekalian. Apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala bertindak sewenang-wenang menggunakan para tukang pukulnya, memaksakan kehendaknya terhadap andika sekalian? Kalau tidak, kalian diam saja, kalau benar, angkatlah tangan ke atas."

Serentak semua orang mengangkat tangannya ke atas! Dengan hadirnya Ki Patih Narotama dan melihat Ki Lurah Suramenggala mati kutu dan para tukang pukul juga tidak ada yang muncul, orang orang itu menjadi berani, apalagi kini mereka berkumpul dan keselamatan mereka dijamin oleh Ki Patih Narotama.

"Baik, sekarang kami yakin bahwa Ki suramenggala memang bertindak sewenang-wenang kepada penghuni dusun Ini. Sekarang, apakah andika sekalian menghendaki lurah dusun ini diganti?"

Kembali semua tangan mengacung keatas. Orang-orang mulai hiruk-pikuk saling bicara sendiri dan rata-rata mereka gembira dan bersemangat. Dengan melambaikan kedua tangannya Narotama minta agar semua orang diam. Dia lalu berkata kepada Ki Suramenggala suaranya lantang dan penuh wibawa.

"Ki Suramenggala, sepatutnya andika ini dihukum karena telah menyalah-gunakan wewenang sehingga andika mencemarkan nama baik semua pamong praja dan kerajaan Kahuripan. Akan tetapi kami hanya menjatuhkan hukuman agar andika sekeluarga pergi dari dusun Karang Tirta dan boleh membawa barang-barang andika. Akan tetapi, semua tanah akan di kembalikan kepada para petani dan semua hutang para petani kepada andika dihapus. Dusun ini akan mendapatkan seorang lurah lain."

Ki Suramenggala mengangkat mukanya dan pandang matanya berkilat, sekilas menatap wajah Narotama penuh kebencian, kemudian dia menyapu para penduduk dengan kilatan matanya sehingga para penduduk menjadi gentar. Akan tetapi Narotama dengan lantang membesarkan hati para penduduk.

"Jangan andika sekalian merasa takut. Lurah baru akan membentuk pasukan keamanan terdiri dari para pemuda sehingga kalau ada yang hendak mengacaukan Karang Tirta, kalian dapat melawannya. Pula, kalau kami mendengar ada pengacau di sini, pasti kami akan datang atau mengirim senopati dengan pasukannya untuk menghukum si pengacau!"

Mendengar ucapan yang lantang dan tegas ini, Ki Lurah atau lebih tepat mantan lurah Suramenggala menundukkan mukanya dan semua orang tiba-tiba bersorak gembira. Sudah terlalu lama mereka merindukan perubahan nasib mereka yang tertindas dibawah tangan besi Ki Suramenggala. Kini, KI Suramenggala dicopot dari kedudukanya, bahkan tanah mereka yang dibeli secara paksa oleh Ki Suramenggala karena mereka membutuhkan makan di waktu paceklik, kini dikembalikan begitu saja kepada mereka. Juga mereka yang masih terikat hutang oleh Ki Suramenggala kini telah bebas! Muncul harapan baru bagaikan sinar matahari pagi di hati para penduduk.

"Nah, Ki Suramenggala, berkemaslah dengan keluarga mu dan hari ini juga andika harus meninggalkan Karang Tirta." kata Narotama kepada mantan lurah yang mukanya berubah pucat itu.

Ki Suramenggala mengangkat muka memandang kepada Narotama dengan sinar mata berapi, penuh kebencian. Kemudian, di bawah hiruk-pikuk suara orang-orang yang saling bicara dengan gembira, dia berkata lirih dan hanya terdengar oleh Narotama, bahkan Ki Pujosaputro yang berdiri pula di tepi pendopo itu tidak mendengarnya karena dia asyik memperhatikan kegembiraan penduduk Karang Tirta.

"Ki patih, karena paduka patih dan saya lurah, maka terpaksa saya menaati keputusan paduka. Akan tetapi, harap diingat bahwa saya tidak akan melupakan penghinaan ini. Tunggulah pembalasan anak-anakku kelak!"

Setelah berkata demikian, Ki Suramenggala dengan muka berubah merah karena marah sudah meninggalkan pendapa itu dan masuk kedalam rumah, diikuti oleh semua keluarganya yang tadi duduk di lantai pendapa. Dengan hati yang sakit dan dendam, Ki Suramenggala lalu mengajak semua keluarganya, kecuali Nyi Lasmi karena selirnya ini ikut bergembira dengan penduduk dan tidak kembali lagi ke dalam rumah, untuk pergi meninggalkan gedung kelurahan melalui pintu belakang dan boyongan keluar dari dusun Karang Tirta. Barang-barang berharga mereka bawa semua dengan gerobak, juga ternak mereka, kuda dan sapi mereka bawa serta. Mereka meninggalkan gedung kelurahan dengan prabot-prabot rumahnya.

Sementara itu, Narotama melanjutkan usahanya untuk mengatur agar dusun Karang Tirta menjadi sebuah dusun yang penghuninya hidup tenteram dan tenang, tidak ada penindasan, dipimpin oleh seorang lurah yang baik dan yang membawa penduduk ke dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan bergotong royong sebagaimana layaknya kehidupan di dusun sejak jaman nenek moyang mereka dahulu. Dia mengangkat kedua tangan minta agar semua orang diam. Setelah keadaaan menjadi tenang, Narotama bertanya.

"Sekarang kami hendak bertanya, apakah kalian bersedia sekarang untuk memilih dan mengangkat seorang lurah baru. Kalau bersedia, harap angkat tangan tanda setuju!"

Semua orang mengacungkan tangan dan ada yang berteriak-teriak lantang "Setujuuuu .....!"

"Baik, kalau andika sekalian setuju, pilihlah seorang di antara kalian untuk menjadi lurah baru di dusun ini!"

Bagaikan sekumpulan burung, terdengar mereka menyebutkan nama seseorang, "Ki Pujosaputro .....!!"

Narotama tersenyum. Ki patih ini memiliki batin yang selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi sehingga dia memiliki kepekaan yang amat halus. Tadi begitu melihat Ki Pujosaputro, dia sudah merasa suka kepada orang ini.

"Dengarkan semua! Kami mendengar seruan nama Ki Pujosaputro? Benarkah andika sekalian memilih Ki Pujosaputro sebagai lurah kalian yang baru? Kalau benar, acungkan tangan!"

Semua orang bersorak sambil mengacungkan tangan mereka. Ki Pujosaputro sendiri yang berdiri di pendopo segera mendekati Ki Patih Narotama dan berkata dengan muka kemerahan.

"Aduh, Gusti Patih! Hamba..... hamba seorang yang bodoh dan lemah, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang lurah yang baik? Mohon paduka memilih lain orang saja."

Narotama tersenyum kepadanya. "Justru ucapan penolakan mu ini yang meyakinkan hati kami bahwa andika adalah orang yang tepat untuk menjadi lurah yang baik hati untuk dusun ini. Bukan orang pintar dan kuat yang kami butuhkan, melainkan orang yang rendah hati dan baik budi."

Narotama melihat Ki Wirodipo, orang pertama yang dia jumpai ketika memasuki dusun Karang Tirta, dan yang dia titipi kudanya, berdiri di bagian depan kelompok penduduk dusun itu. Narotama menggapai kepada Ki Wirodipo dan berkata, "Paman Wirodipo, naiklah ke sini, kami hendak bertanya kepada andika."

Ki Wirodipo tergopoh-gopoh naik pendapa dan begitu tiba di depan Narotama dia lalu sungkem dan menyembah "Ampunkan hamba, sama sekali hamba tidak tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih ....."

"Bangkitlah, Paman Wirodipo dan jawab pertanyaanku dengan suara nyaring agar semua orang dapat mendengarkan. Coba ceritakan tentang keadaan diri Ki Pujosaputro ini. Andika mengenalnya bukan?"

Ki Wirodipo bangkit berdiri dan dengan muka berseri dia memandang kepada Ki Pujosaputro lalu menjawab dengan suara lantang. "Tentu saja hamba mengenal Ki Pujosaputro. Sejak kecil dia tinggal di dusun ini dan dia adalah seorang yang mewarisi sawah ladang yang luas. Ki Pujosaputro inilah yang mengajak para penduduk yang mampu untuk membantu penduduk yang kekurangan. Kalau tidak ada Ki Pujosaputro dan teman-temannya, hamba semua tentu semakin payah di bawah tekanan Ki Suramenggala. Karena itulah, Gusti Patih, maka hamba sekalian memilih Ki Pujosaputro untuk menjadi lurah Karang Tirta yang baru."

Narotama lalu menghadapi Ki Pujosaputro dan berkata, "Ki Pujosaputro, kami harap andika tidak menolak lagi karena andika telah dipilih oleh semua penduduk Karang Tirta."

"Ampun, Gusti Patih, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"

"Itu dapat diatur nanti, kami akan memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian dan melihat Ki Pujosaputro tidak memperlihatkan sikap menolak lagi, Narotama lalu menghadapi para penduduk dan berkata dengan lantang.

"Kami sebagai Patih Kahuripan mewakili Gusti Sinuwun mengangkat Ki Pujosaputro sebagai lurah dusun Karang Tirta, sesuai dengan keinginan semua penduduknya. Semua pengembalian tanah kepada pemiliknya dahulu akan diatur dengan tertib oleh Ki Lurah Pujosaputro yang akan dibantu oleh Ki Wirodipo dan para pembantu lain yang akan dipilih dan ditunjuk oleh Ki Lurah Pujosaputro. Sekarang, andika sekalian harap kembali ke pekerjaan masing masing."

Orang-orang itu bersorak sorai dan berlarian meninggalkan halaman kelurahan itu. Halaman itu sebentar saja kosong dan hanya tinggal seorang yang tinggal situ, seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tujuh tahun dan wanita itu mendeprok di atas tanah sambil menangis.

"Ki Lurah Pujosaputro, siapakah wanita itu? Kenapa ia menangis dan tinggal di sana?"

Ki Pujosaputro dan Ki Wirodipo memandang dan Ki Pujosaputro berkata, "Ia adalah Nyi Lasmi yang sudah beberapa tahun ini menjadi selir Ki Suramengga, gusti. Hamba juga tidak tahu mengapa ia menangis."

"Selir Ki Suramenggala? Kenapa ia tidak ikut pergi bersama Ki Suramenggala? Coba panggil ia ke sini...!"

Ki Wirodipo tanpa diperintah mendahului lurahnya turun dari pendopo menghampiri Nyi Lasmi. Melihat sikap Wtrodipo ini, Ki Lurah Pujosaputro merasa senang. Tidak salah pilihan Ki Patih Narotama untuk memperbantukan Ki wirodipo kepadanya!

"Nyi Lasmi, andika dipanggil oleh Gusti Patih. Mari menghadap, beliau bijaksana, tentu akan dapat membikin terang persoalan yang menggelapkan hatimu."

Nyi Lasmi menahan tangisnya, bangkit dan mengikuti naik ke pendopo kelurahan. setelah tiba di depan Narotama, ia menekuk lututnya dan menyembah.

"Nyi Lasmi, mari ikut ke dalam, kita bicara di dalam." Kata Narotama dan mereka semua memasuki ruangan depan rumah yang telah kosong itu. Di situ terdapat sebuah meja besar dengan beberapa buah kursi. Narotama mengajak tiga orang itu duduk berhadapan dengannya, terhalang meja. Di depan ki patih, Nyi Lasmi tidak berani menangis, hanya matanya masih merah dan terkadang ia harus mengusap air mata yang tergantung di bulu matanya.

"Nyi Lasmi, katakan kenapa andika tidak ikut Ki Suramenggala pergi?" tanya Narotama, suaranya lembut dan ramah sehingga hilanglah rasa takut Nyi Lasmi "Bukankah andika ini isterinya?"

Nyi Lasmi menggunakan sehelai sapu tangan yang sudah basah untuk menyusut dua butir air mata, lalu menyembah. "Ampunkan hamba, gusti patih, hamba menjadi isteri Ki Suramenggala karena terpaksa dan sekarang setelah dia terusir dari dusun ini, hamba merasa bebas dan tidak ingin ikut dengannya."

Narotama menoleh kepada Ki Pujosaputro. "Benarkah bahwa Nyi Lasmi ini terpaksa menjadi isteri Suramenggala?"

Ki Pujosaputro melaporkan sejujurnya "Dahulu, Nyi Lasmi adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan. Kurasa lebih lima tahun yang lalu anaknya diculik orang. Dalam keadaan hidup seorang diri itu dia dibujuk dan diancam oleh Ki Suramenggala dan ia agaknya tidak dapat menolak ketika diambil sebagai selir."

Narotama mengangguk-angguk, ia bertanya lagi kepada wanita itu. "Kalau memang andika sudah mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Ki Suramenggala, kenapa andika menangis di halaman itu?"

"Hamba merasa bingung harus pergi kemana, gusti patih. Hamba tidak mempunyai tempat tinggal, hidup sebatang kara."

"Hemm, apakah andika tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali?"

Wanita itu kembali mengusap dua bulir air mata. "Hamba hanya mempunyai seorang anak perempuan yang ketika berusia tiga belas tahun diculik orang. Akan tetapi lima tahun kemudian, baru beberapa bulan yang lalu, ia pulang ke sini dan telah pergi lagi. Kalau saja ada Puspa Dewi anak hamba, tentu hamba tidak menjadi bingung seperti ini."

Narotama melebarkan matanya. "Puspa Dewi? Ia itu anakmu? Gadis yang memiliki kesaktian itu?"

"Kasinggihan (benar), gusti. Setelah pulang, anak hamba Puspa Dewi menjadi seorang gadis yang memiliki kesaktian, akan tetapi kini ia pergi entah ke mana hamba tidak diberitahu."

Tiba-tiba Ki Lurah Pujosaputro menyembah dan berkata, "Kalau hamba boleh mengajukan usul, gusti. Biarlah Nyi Lasmi tetap tinggal di rumah ini. Hamba hanya akan menggunakan ruangan depan dan pendopo untuk tempat para pamong desa bekerja dan untuk rapat pertemuan warga dusun."

"Bagaimana, Nyi Lasmi?" tanya Narotama.

"Terima kasih atas kebaikan hati Ki Lurah, akan tetapi rumah ini terlalu besar untuk saya tempati seorang diri saja. Saya hanya ingin mondok untuk sementara sambil menanti anak saya pulang."

"Hemm, kalau begitu, Ki Lurah Pujosaputro, sebaiknya andika sekeluarga boyongan pindah ke rumah kelurahan ini dan biarkan Nyi Lasmi mondok di sini. Setujukah andika?"

"Tentu saja hamba setuju, gusti patih!" kata Ki Lurah Pujosaputro dengan wajah cerah.

"Nah, kalau begitu urusan Nyi Lasmi sudah beres. Masuklah dan siapkan ke perluan mu, Nyi Lasmi. Kami masih mempunyai banyak persoalan untuk dibicarakan"

Nyi Lasmi menyembah dan berkata, "Gusti patih, hamba menghaturkan banyak terima kasih. Sesungguhnya, selain hamba terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala, juga hamba tidak ingin anak hamba Puspa Dewi dibawa ke jalan sesat olehnya maka sekarang setelah mendapat kesempatan hamba memisahkan diri dari keluarga Ki Suramenggala."

Narotama mengangguk-angguk, dan berkata, "Keputusan yang andika ambil itu bijaksana."

Nyi Lasmi lalu memberi hormat lagi dan mengundurkan diri, masuk ke ruangan dalam rumah gedung itu. Narotama lalu memberi petunjuk kepada lurah baru itu. Agar segera memilih pembantu-pembantu yang jujur dan rajin bekerja, lalu membentuk penjaga keamanan dengan memilih pemuda-pemuda dusun itu yang baik budi. Menertibkan pemilikan kembali sawah ladang para penduduk yang dulu diambil Ki Suramenggala, dan agar mengajak semua warga untuk menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan penduduk dengan bergotong royong.

"Tentu saja untuk mengurus dan menertibkan semua itu andika memerlukan tenaga bantuan, karena itu, bersama Wirodipo yang telah mengenal semua penduduk di sini, harap andika pilih siapa kiranya yang tepat untuk menjadi pembantu kelurahan. Jangan mendahulukan orang pintar, akan tetapi lebih baik mencari pembantu yang jujur dan baik budi. Orang pintar sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, akan tetapi mencari orang yang jujur, setia dan baik budi amatlah sulitnya. Soal kepintaran dapat dipelajari oleh orang yang bodoh, akan tetapi kebaikan budi tidak dapat dipelajari oleh orang yang jahat. Kalau kami sudah kembali ke kota raja, akan kami kirim pejabat yang berwenang untuk mengesahkan pengangkatan andika sebagai Lurah baru."

Setelah meninggalkan semua pesan itu Narotama lalu kembali ke kota raja. Dia ditugaskan oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyelidiki urusan antara Nurseta dan Pangeran Hendratama, untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk itu, dia membutuhkan bukti yang nyata.

Dia sudah melakukan penyelidikan tentang diri Nurseta dan keterangan yang diperolehnya menyatakan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik wataknya. Apalagi mengingat betapa pemuda itu menjadi murid mendiang Sang Empu Dewamurti, maka dia mendapatkan kesan baik terhadap pemuda itu. Kini dia harus melakukan penyelidikan kepada Pangeran Hendratama.

*********************




BERSAMBUNG KE JILID 21