Social Items

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 13

Semua punggawa kepatihan menyambut kembalinya Listyarini dengan gembira karena lenyapnya sang puteri itu sungguh membuat semua punggawa menjadi gelisah. Memang sebelum Sukardi datang membawa cincin Sang Puteri dan mengabarkan bahwa Listyarini dalam keadaan selamat di Telaga Sarangan, Narotama sudah menduga bahwa Nismara tentu tersangkut dengan peristiwa hilangnya isterinya itu.

Hal ini dapat diketahui karena Nismara juga tidak dapat ditemukan jejaknya dan tak seorangpun mengetahui ke mana perginya. Namun, Ki Patih Narotama tidak menghukum keluarga Nismara yang terdiri dari ibunya dan dua orang adiknya karena mereka dianggap sama sekali tidak tahu menahu akan perbuatan Nirmara yang kini telah tewas itu. Kembalinya Listyarini membuat semua orang gembira, kecuali Narotama sendiri yang terkejut melihat bahwa Lasmini tidak berada di kepatihan!

Beberapa orang dayangnya hanya mengatakan bahwa Lasmini yang pergi bersama Ki Patih Narotama itu kembali seorang diri beberapa hari kemudian akan tetapi pada hari itu juga lalu pergi lagi. Narotama memanggil Sarti, wanita berwajah buruk bertubuh tinggi besar yang menjadi pelayan pribadi Lasmini.

"Sarti, ceritakan ke mana gusti puterimu pergi dan kenapa pergi. Engkau pasti tahu karena engkau adalah pelayan pribadinya." kata Ki Patih Narotama.

Sarti menyembah lalu menjawab. "Kamanggihan (benar), gusti, hamba adalah pelayan pribadi gusti puteri. Akan tetapi gusti puteri hanya bicara sedikit paada hamba. Sekembalinya seorang diri gusti puteri hanya muwun (menangis) dan berkata bahwa tidak ada gunanya beliau tinggal di sini karena sudah tidak dipercaya lagi."

Patih Narotama mengerutkan alisnya yang hitam tebal berhentak golok itu.

"Hemm, lalu ke mana perginya?" Dia bertanya dan maklum bahwa Lasmini agaknya merasa sakit hati dengan peristiwa di Telaga Sarangan itu. Ia merasa tidak dipercaya, bahkan dituduh menyuruh Nismara membunuh Listyarini!

"beliau hanya mengatakan bahwa beliau hendak pulang. Entah yang dimaksudkan pulang ke Bukit Junggringslaka tempat tinggal Gusti Nagakumala, ataukah ke istana Parang Siluman."

"Apa yang kau ketahui selanjutnya?"

"Hanya itulah yang hamba ketahui, gusti."

Setelah mendapat keterangan dari Sarti, Ki Patih Narotama sering melamun memikirkan Lasmini. Harus diakuinya, bahwa dia tidak dapat melupakan selir tercinta itu, kecantikan dan kelembutannya, kemanjaannya, semua kemesraan yang diberikan wanita itu dengan kejelitaan wajahnya, dengan keindahan tubuhnya, kepadanya dengan cinta yang menggebu-gebu. Akan tetapi, Narotama tidak segera mengambil keputusan begitu saja. Dia ingat akan perasaan Listyarini, maka malam itu diajaknya Listyarini bicara tentang Lasmini.

"Diajeng, ketika Sang Prabu mengutus aku meminang kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu, dasar utamanya adalah untuk menghapus permusuhan antara kerajaan di pantai laut selatan itu terhadap Kerajaan Kahuripan. Kemudian setelah berhasil, Lasmini oleh Sang Prabu dihadiahkan kepadaku. Kini timbul persolan ini sehingga Lasmini agaknya pulang ke Parang Siluman. Kalau kudiamkan saja dan hal ini terdengar oleh Sang Prabu, sungguh amat tidak enak bagiku, diajeng. Seolah aku tidak mendukung keinginan Sang Prabu untuk berbaik dengan Parang Siluman. Diajeng, apakah engkau tetap menuduh Lasmini yang mengutus Nismara untuk menculikmu?"

Listyarini bukan seorang wanita yang pemarah, melainkan seorang yang berhati lembut. la memaklumi kedudukan suaminya, maka ia berkata dengan halus.

"Kakangmas, setelah mendengar semua keterangan paduka betapa Lasmini ikut sibuk mencari saya, dan tidak ada tanda-tanda, tidak ada bukti atau saksi bahwa Ia yang benar-benar menyuruh Nismara menculik saya, maka saya pun tidak yakin bahwa ia bersalah. Saya menyesal telah membuat ia marah dan meninggalkan kepatihan, kakangmas."

"Kalau begitu, engkau mau minta maaf kepadanya bahwa engkau pernah menuduhnya bersalah?"

Listyarini menghela napas panjang "Demi kebahagiaan paduka dan demi kepentingan Kerajaan Kahuripan, saya mau melakukan apa saja, kakangmas. Baiklah, saya bersedia minta maaf kepadanya, akan tetapi saya harap paduka bersikap adil, yaitu iapun patut minta maaf kepada saya karena ia telah menuduh saya berbuat zina dengan Kakang Tejoranu."

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk. "Itu cukup adil, diajeng... Kalian berdua agaknya hanya salah duga dan salah paham saja. Baiklah, kalau begitu..., aku akan menyusul diajeng Lasmini dan mengajaknya pulang ke kepatihan."

Demikianlah, pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Patih Narotama ke Kerajaan Parang Siluman karena dia telah mengirim penyelidik dan mendapatkan keterangan bahwa Puteri Lasmini berada di kerajaan pantai Laut Selatan itu. Ki Patih Narotama naik sebuah kereta untuk menjemput selirnya itu.

Kedatangannya disambut dengan ramah dan hormat oleh Ratu Durgamala, yaitu ibu Lasmini dan Mandari. Setelah upacara penyambutan dan menyatakan maksud kunjungannya, sambil diam-diam kl patih ini merasa heran dan juga kagum melihat betapa ibu dari Lasmini yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu masih tampak seperti puteri puterinya, seperti sebaya dengan Lasmini, Ki Patih Narotama lalu dipersilakan masuk kaputren untuk menjumpai Lasmini yang sudah menanti dalam kamarnya.

Narotama dipersilakan masuk oleh para dayang ke dalam sebuah kamar yang luas dan indah, bersih dan berbau harum melati, bunga kesukaan Lasmini. Ketika dia masuk, dia melihat selirnya itu rebah menelungkup di atas pembaringan dan menangis perlahan. Mukanya ditanamkan dalam bantal dan pundaknya hergoyang-goyang. Tubuh yang indah padat itu bergoyang perlahan, membuat hati sang patih dipenuhi kerinduan kepada selir terkasih ini. Dia menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, disentuhnya pundak Lasmini dengan lembut.

"Diajeng ....."

Lasmini tetap menelungkup dan tangisnya kini tersedu-sedu. Beberapa saat lamanya Narotama membiarkan Lasmini menangis, dan setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak selirnya dan berkata lagi dengan lembut.

"Diajeng, jauh-jauh aku datang menjemputmu, mengapa engkau tidak keluar menyambut kedatanganku, malah berdiam dalam kamar dan menangis?"

Dielusnya tengkuk indah dengan anak rambut melingkar lingkar itu karena rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas. Biasanya, belaian seperti ini amat disukai selir itu. Akan tetapi sekali ini, Lasmini menggerakkan tubuh menjauh tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menelungkup, akan tetapi terdengar ia berkata agak ketus namun lirih karena mukanya terbenam ke bantal.

"Mau apa paduka datang ke sini? Mau apa mengunjungi hamba yang rendah dan jahat ini?"

Narotama tersenyum. "Diajeng, tentu saja aku datang untuk menjemputmu. Mari kita pulang ke kadipaten, diajeng."

"Apa perlunya hamba kembali ke sana? Hamba sudah tidak dipercaya lagi. Bukankah hamba orang jahat yang menyuruh Nismara menculik garwa paduka?"

"Diajeng Lasmini, aku tidak pernah menganggap engkau seperti itu."

Tiba-tiba Lasmini bangkit duduk. Gerakannya menggeliat dari tidur menelungkup menjadi duduk ini tampak begitu Indah karena memperlihatkan gerakan tubuh yang meliuk dan lemah gemulai, juga padat dengan lekuk lengkung yang sempurna. Wajahnya tampak membayangkan kesedihan, matanya sayu, rambutnya sebagian terjuntai, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, kecantikannya bahkan semakin menonjol. Hal ini tentu saja lebih diperkuat oleh perasaan rindu dalam hati Narotama.

"Mungkin paduka tidak, akan tetapi kakang-mbok Listyarini menuduh hamba begitu. la melempar fitnah kepada hamba,..." Bibir yang mungil merah segar itu meruncing dan tampak menantang.

"Itu adalah kesalah pahaman belaka diajeng. Yang menjatuhkan fitnah adalah jahanam Nismara yang telah mati itu. Sayang dia telah mati, kalau tidak tentu akan kuhukum seberat-beratnya."

Mendengar bahwa Nismara telah mati, hati Lasmini menjadi lega dan girang sekali, namun perasaan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya yang tetap sedih. Dengan matinya Nismara, maka tuduhan itu tidak ada artinya, tidak ada saksinya dan rahasianya tetap tertutup Bagaimanapun juga, berita tentang kematian Nismara ini membuat ia sedemikian girangnya sehingga ia tidak dapat bicara untuk sejenak lamanya.

"Sudahlah, diajeng. Kita lupakan saja hal-hal yang terjadi di Telaga Sarang itu dan marilah kembali dengan aku ke kepatihan. Engkau masih cinta kepadaku seperti aku mencintaimu, bukan?" Narotama kini merangkul dan Lasmini balas merangkul sambil membenamkan mukanya di dada sang patih. Tanpa mengangkat muka dari atas dada suaminya, Lasmini berkata lirih, seperti merajuk.

"Hamba hanya mau kembali dengan satu syarat, kakangmas."

Narotama mengelus dan membelai punggung selirnya. "Katakanlah, apa syaratmu itu?"

"Kalau hamba sudah sampai di kepatihan, kakang mbok Listyarini harus minta maaf kepada hamba. Dengan begitu kesalah pahaman ini baru dapat hamba lupakan."

Narotama tersenyum. Hal itu sudah dia duga sebelumnya, maka sebelum berangkat menjemput Lasmini dia sudah minta janji isterinya untuk minta maaf kepada Lasmini.

"Tentu saja. Akan kusuruh ia minta maf kepadamu, Lasmini."

"Betul, kakangmas? Ah, baru senang hatiku!" Dan Lasmini menerima dengan penuh kepasrahan bahkan menyambut hangat ketika Narotama menciumnya.

"Akan tetapi, diajeng. Untuk membuat ketegangan antara kalian berdua benar-benar mencair, engkau pun sudah sepantasnya minta maaf pula kepada diajeng Listyarini, dengan demikian hubungan kalian akan menjadi akrab."

"Hamba? Minta maaf kepada kakang mbok Listyarini? Untuk apa?"

Narotama tersenyum. "Diajeng, engkau juga mempunyai hutang kepadanya, Engkau menuduh ia melakukan penyelewengan dan berbuat zina dengan Ki Tejoranu."

"Akan tetapi kita melihat sendiri"

"Hemm, tampaknya saja begitu, akan tetapi sesungguhnya, Ki Tejoranu itulah yang telah menyelamatkan nyawa diajeng Listyarini dari tangan si jahanam Nismara." Narotama lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Ki Tejoranu dan apa yang dialami Listyarini.

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Lasmini terhadap Nismara. Baru sekarang ia tahu bahwa Nismara telah mengkhianatinya, tidak melaksanakan perintahnya, tidak membawa Listyarini ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman. Melainkan membawanya jauh ke barat, la menjadi lebih gemas lagi mendengar bahwa Listyarini urung diperkosa Nismara karena tertolong oleh Ki Tejoranu keparat itu! Akan tetapi tentu saja la tidak memperlihatkan apa yang bergolak dalam hatinya.

"Aah, begitukah, kakangmas? Kasihan kakang mbok Listyarini yang mengalami banyak penderitaan, masih kusangka yang bukan-bukan lagi. Baiklah, setelah tiba disana, hamba akan minta maaf kepadanya."

Demikianlah, Lasmini kembali ke kadipaten Kahuripan. Dengan sikapnya yang amat pandai membawa diri ia berbaik dengan Listyarini sehingga garwa padmi patih inipun terkecoh dan sejak itu menganggap Lasmini seorang yang ramah dan baik hati! Namun, di lubuk hatinya, Lasmini merasa penasaran sekali, la harus membalas dendam karena semua usahanya yang gagal itu ia anggap sebagai kekalahannya yang memalukan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa adiknya, Mandari yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga, juga sebegitu lama belum berhasil sama sekali.

Seperti juga Lasmini, Mandari juga berhasil membuat Sang Prabu Erlangga terlena dan terbuai oleh rayuan dan sikapnya yang serba menyenangkan. Mandari juga pandai sekali mempergunakan segala kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya untuk membuat Sang Prabu Erlangga jatuh dengan cinta berahi yang menggebu-gebu. Namun, Sang Prabu Erlangga juga merupakan seorang yang arif dan bijaksana.

Walaupun dia tidak mampu mengekang nafsu berahinya yang berkobar dibangkitkan oleh kecantikan Mandari, namun dia tetap waspada dan tahu benar bahwa cinta di antara dia dan selirnya itu hanyalah merupakan cinta nafsu berahi semata. Jiwa mereka tidak pernah saling bersentuhan. Oleh karena itu, dengan kesaktiannya, Sang Prabu Erlangga juga selalu menjaga agar hubungannya dengan selir terkasih ini jangan sampai menghasilkan seorang keturunan. Dia sama sekali tidak menginginkan keturunan dari Mandari.

Sang Prabu Erlangga telah memiliki seorang permaisuri, yaitu Puteri Sekar kedaton, puteri dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, dan seorang selir terkasih dan setia bernama Dyah Untari. Dari kedua orang isterinya itu, Sang Prabu Erlangga telah mendapatkan dua orang putera. Ketika dia meminang dua orang puteri Ratu Kerajaan Parang siluman, bukan semata karena dia mendengar akan kecantikan dua orang puteri itu, melainkan terutama sekali demi menjaga agar permusuhan antara kerajaan kecil itu dan Kahuripan dapat dipadamkan dan terdapat perdamaian. Akan tetapi setelah dia memilih Mandari menjadi selir dan menyerahkan Lasmini kepada Narotama, dia segera tenggelam kedalam pengaruh yang teramat kuat dari kecantikan dan kepandaian Mandari mengambil hatinya.

Dalam waktu singkat Mandari menjadi selir yang tersayang. Hal Ini sebetulnya dianggap wajar saja oleh Sang Permaisuri dan juga oleh selir Dyah Untari yang setia. Pada jaman itu, raja manakah yang tidak memiliki banyak isteri? Dan wajar kalau Sang Prabu Erlangga amat menyayang Mandari, selir baru itu karena selain dara itu seorang puteri, yaitu puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman, juga memang puteri itu cantik jelita dan amat menggairahkan. Baik Sang Permaisuri maupun Dyah Untari sama sekali tidak merasa cemburu atau khawatir, apalagi mereka berdua masing-masing telah mempunyai seorang putera!

Memiliki putera ini berarti merupakan pengukuhan dan penguatan kedudukan mereka. Juga penguatan hubungan mereka dengan Sang Prabu Erlangga. Putera Sang Permaisuri diberi nama Pangeran Samarawijaya yang pada waktu itu sudah berusia dua tahun. Adapun putera Dyah Untari diberi nama Pangeran Budidharma dan berusia satu tahun.

Ni Mandari memang berhasil membuat Sang Prabu Erlangga mabuk kepayang dan tenggelam dalam lautan asmara, terpesona oleh kecantikan dan daya tariknya yang amat kuat. Akan tetapi ia kecewa sekali karena semua usahanya untuk mengacau keluarga Sang Prabu Erlangga selalu menemui kegagalan.

Usaha pertama mengadu domba Sang Prabu Erlangga dengan Ki Patih Narotama sudah menemui kegagalan. Maka hatinya selalu merasa tidak senang. Apalagi melihat betapa para madunya, Sang Permaisuri dan Dyah Untari masing-masing telah mempunyai seorang putera sedangkan ia sendiri belum ada tanda-tanda hamil, hatinya menjadi semakin kesal.

Kalau ia hendak membunuh Sang Prabu Erlangga, memang kesempatannya banyak sekali karena Sang Prabu Erlangga seringkali terlena dan tertidur pulas dalam pelukannya. Dalam keadaan seperti itu ia akan mudah dapat membunuh raja itu. Akan tetapi ada dua hal yang membuat ia tidak mau melakukan atau mencobanya. Pertama, ia tahu betapa sakti mandraguna Sang Prabu Erlangga sehingga ada kemungkinan usahanya untuk membunuh gagal, dan ke dua, diam-diam ia sendiri mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada pria yang menjadi suaminya itu.

Sang Prabu bukan saja sakti mandraguna, akan tetapi juga tampan, gagah, dan pandai dalam olah asmara, pendeknya seorang pria yang sukar dicari bandingnya. Karena itu, ia memutar otak untuk mencari cara lain untuk menghancurkan dan melemahkan Kerajaan Kahuripan.

Akan tetapi sebelum ia mendapatkan cara terbaik untuk memenuhi keinginannya, datang persoalan lain yang membuat hati Mandari menjadi semakin penasaran dan marah sekali. Berita itu adalah berita tentang peminangan yang diajukan Sang Prabu Erlangga terhadap puteri Sribaginda Raja Sriwijaya, telah diterima dan sang puteri dari Sriwijaya itu akan segera datang, dijemput oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama!

Juga pernikahan ini merupakan suatu tindakan untuk menjalin perdamaian dengan Kerajaan besar Sriwijaya itu, seperti halnya pernikahannya dengan Mandari. Hanya bedanya, karena Mandari hanya puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman yang merupakan kerajaan kecil saja, maka Mandari hanya menjadi seorang selir. Adapun puteri Kerajaan Sriwijaya yang merupakan saingan Mataram sejak dulu dan merupakan kerajaan besar, dinikahi secara besar-besaran dan diangkat menjadi permaisuri ke dua setelah Sang permaisuri yang dahulunya Puteri Sekar Kedaton, puteri mendiang Raja Teguh Dharmawangsa.

Hal inilah yang membuat hati Mandari menjadi semakin panas. Biarpun ia amat disayang Sang Prabu Erlangga dan Sang prabu lebih sering mengajak ia menemaninya tidur, namun tetap saja ia hanya seorang selir. Di atas ia masih ada Sang Permaisuri yang kedudukannya tentu saja lebih mulia dan lebih dihormati semua punggawa dan rakyat Kahuripan.

Bahkan la masih kalah dalam hal kedudukannya dibandingkan selir Dyah Untari karena Dyah Untari telah mempunyai seorang putera dan merupakan selir terdahulu atau tertua. Juga Dyah Untari adalah puteri dari mendiang Pangeran Sepuh Hardagutama yang masih kakak tiri berlainan ibu dengan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dan telah diangkat menjadi patih oleh raja yang masih saudara tirinya itu. Baru menghadapi dua orang saingan ini saja dia sudah merasa berat untuk berebutan pengaruh, dan sekarang malah ditambah datangnya seorang permaisuri ke dua.

Sang Prabu Erlangga menyambut kedatangan sang puteri dari Sriwijaya yang nama lengkapnya adalah Sri Sanggrama wijaya Dharmaprasadatunggadewi. Untuk menghormati sang puteri, tentu saja terutama sekali untuk menyenangkan Sri baginda Raja di Sriwijaya, Sang Prabu Erlangga mengadakan pesta besar-besar untuk merayakan pernikahannya dengan Puteri Sriwijaya itu.

Bahkan perkawinan agung yang mempersatukan dua kerajaan besar itu kemudian ditulis oleh Pujangga Empu Kanwa sebagai kitab kekawin junawiwaha yang mengisahkan pernikahan Sang Arjuna dengan seorang bidadari bernama Dewi Supraba, setelah Sang Arjuna lulus dari segala macam cobaan ujian berupa godaan berat dalam pondok pengasingannya melakukan tapabrata.

Pesta besar diadakan selama tujuh hari tujuh malam dan bukan hanya istana Kahuripan yang merayakan pesta pernikahan besar-besaran ini, bahkan seluruh rakyat juga ikut merayakannya. Akan tetapi kalau semua orang bergembira dan berpesta pora, dua orang merasa ngelangsa. Mereka memang ikut juga berpesta dan tampak gembira, namun semua itu hanya sandiwara.

Di dalam hati mereka, Lasmini yang datang sebagai tamu bersama keluarga Ki Patih Narotama dan Mandari yang bertindak sebagai keluarga tuan rumah yang empunya kerja, kedua orang kakak beradik ini merasa penasaran dan marah sekali. Setelah perayaan berjalan tiga hari, Mandari berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk beristirahat karena merasa lelah dan ia ingin menggunakan kesempatan Itu untuk melepas rindu dengan kakaknya, yaitu Ni Lasmini yang datang sebagai tamu.

Kedua orang puteri jelita ini lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka sudah berada dalam sebuah kamar. Mereka berdua bercakap-cakap. kini kamar itu dan menutup pintu dan jendela-jendela. Biarpun semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat, dua orang kakak beradik itu masih bicara lirih agar jangan sampai pembicaraan mereka terdengar orang lain.

"Aduh, bagaimana ini, mbakayu Lasmini? Apakah keadaan kita terus begini saja? Sampai sekarang kita belum juga dapat melakukan sesuatu yang berarti. Ah, tentu kita akan menjadi buah tertawaan di Parang Siluman, semua orang akan mengira kita karena keenakan disini lalu melupakan tugas dan tidak berbuat apa-apa!" kata Mandari gemas.

Lasmini mengepal kedua tangannya dengan gemas.

"Akupun merasa gemas sekali, Mandari. Usahaku berulang kali tak pernah berhasil. Bahkan paling akhir ini aku telah berhasil menyuruh orang menculik Listyarini, akan tetapi sial, ada saja orang yang menyelamatkannya sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Ki Patih Narotama. Malah nyaris rahasiaku terbuka. Sekarang ini, apa rencanamu Mandari?"

"Begini, mbakayu Lasmini. Kita tahu bahwa dengan pernikahan Sang Prabu Erlangga dengan puteri Sriwijaya ini, maka kedudukan Kahuripan menjadi semakin kuat karena dia dapat menarik Kerajaan Sriwijaya menjadi keluarga. Maka, hal ini harus kita cegah dengan jalan membunuh puteri Sriwijaya itu sehingga Raja Sriwijaya tentu akan marah dan timbul permusuhan antara Kahuripan dan Sriwijaya."

"Hemm, kurasa rencana itu baik sekali, akan tetapi pelaksanaan ....."

"Ssttt .....!" Mandari memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir sehingga Lasmini tidak melanjutkan ucapannya yang berbisik itu. Mereka berdua mendengar langkah kaki lewat di depan kamar dan setelah langkah itu tidak terdengar lagi Mandari berkata.

"Itu tadi tentu langkah pengawal yang meronda. Bicara disini tidak aman, mbakayu. Sebaiknya kita masuk ke taman saja dan bicara di sana dapat dilakukan dengan leluasa karena tidak ada orang lain yang mungkin dapat mendengar kita. Mari!" Mandari lalu mengajak Lasmini memasuki tamansari, taman istana yang indah dan luas.

Taman ini lebih indah daripada taman kepatihan dan di sana-sini diterangi lampu warna-warni. Agaknya taman itupun dihias dalam rangka pesta pernikahan yang meriah itu. Dua orang puteri itu memasuki taman dan Mandari mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah tempat peristirahatan terbuka. Tempat itu berpayon namun tanpa dinding dan di situ terdapat meja kursi ukiran indah, prabot-prabot hiasan dan juga digantungi sebuah lampu. Di sekitar bangunan peristirahatan itupun diterangi lampu sehingga kalau ada orang mendekati tempat itu, mereka akan dapat melihatnya.

Setelah kedua orang puteri itu duduk berhadapan di bangunan mungil itu dan memandang ke sekeliling, yakin bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada orang lain, mereka lalu melanjutkan percakapan yang tadi terpotong.

"Mandari, bagaimana cara melaksanakan rencanamu itu? Kurasa pelaksanaannya tidak mudah, bahkan berbahaya sekali."

"Memang tidak mudah, mbakayu Lasmini, akan tetapi mari kau bantu aku mencari jalan yang baik. Selain itu, masih ada rencana lain yang sudah lama ingin ku laksanakan akan tetapi belum juga menemukan cara terbaik."

"Rencana apa itu?"

"Begini, Puteri Sriwijaya itu akan diangkat menjadi permaisuri ke dua. Akan tetapi sekarang, permaisuri pertama telah mempunyai seorang putera berusia dua tahun, yaitu Pangeran Samarawijaya yang tentu saja sebagai putera pertama permaisuri akan menjadi putera mahkota. Nah, kalau saja putera ini dapat dibunuh ....."

"Mandari, hati-hati kau! Rencanamu Itu lebih berbahaya lagi dan amat sukar dilaksanakan'" bisik Lasmini.

Tiba-tiba terdengar suara pria yang lirih namun terdengar jelas di telinga dua orang puteri itu. Sebagai orang-orang sakti, dua orang puteri itu segera mengetahui bahwa suara itu diucapkan lirih, namun didorong tenaga sakti sehingga dapat mencapai telinga mereka dengan cukup jelas.

"Duhai sepasang puteri juwita yang cantik jelita dan sakti mandraguna mengapa risau kalau di sini ada hamba yang akan membikin terang semua perkara yang menggelapkan hati paduka"

Lasmini dan Mandari sudah melompat berdiri dengan sigapnya dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka terkejut sekali ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria muda yang keluar dari balik batang pohon sawo yang tumbuh tak jauh dari tempat peristirahatan itu! Tempat orang itu bersembunyi begitu dekat dan tentu dia tadi telah mendengar semua percakapan mereka! Akan tetapi dari mana datangnya laki-laki ini? Bagaimana dia dapat tiba dan bersembunyi di balik batang pohon itu? Padahal kalau dia datang, tentu sebelum tiba di situ mereka berdua sudah melihatnya!

Lasmini dan Mandari mempunyai pikiran yang sama pada saat itu. Laki laki ini harus dibunuh karena dialah satu satunya orang yang tadi mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui rahasia mereka. Ini berbahaya sekali. "Haiiiiittt .....!"

Dua orang puteri yang ketika duduk bercakap-cakap tadi tampak cantik jelita dan lemah gemulai, kini tiba-tiba berubah tangkas sekali. Keduanya sudah melompat keluar, bagaikan melayang dan keduanya sudah menyerang laki-laki itu dengan pengerahan tenaga sakti mereka karena mereka memang menyerang untuk membunuh!

Dari tangan-tangan mungil halus itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, menyerang ke arah tubuh laki-laki yang tiba-tiba muncul itu. Akan tetapi laki-laki muda itu tidak menjadi gentar. Diapun menggerakkan dua tangannya menyambut dan menangkis serangan dua orang puteri itu.

"Wuuuttt ..... desss .....!"

Dua orang puteri itu terkejut bukan main karena tubuh mereka terpental ketika serangan mereka bertemu dengan tolakan pemuda itu. Ternyata laki-laki muda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat! Kini pemuda itu berdiri tepat di bawah sinar lampu sehingga kedua orang puteri itu dapat melihat wajahnya dengan jelas dan keduanya tertegun.

Pemuda itu masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap, matanya lebar dan tajam mencorong, hidungnya mancung, mulutnya mengandung senyum ejekan dan penampilannya gagah. Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengenalnya, maka Lasmini dan Mandari sudah siap untuk menyerang lagi karena orang itu merupakan bahaya besar bagi mereka. Akan tetapi pemuda itu sudah melangkah maju dan mengangkat kedua buah tangannya ke atas seperti hendak mencegah mereka melakukan serangan.

"Perlahan dulu, harap paduka ketahui bahwa hamba bukanlah musuh, melainkan seorang sahabat yang datang hendak membantu agar apa yang paduka berdua rencanakan itu dapat terlaksana dengan baik."

Mendengar ini, dua orang puteri itu saling pandang dan Lasmini yang tertarik oleh ucapan pemuda itu cepat bertanya, "Siapakah andika dan apa maksud ucapanmu tadi?"

"Hamba bernama Linggajaya, murid bapa guru Sang Resi Bajrasakti."

"Sang Resi Bajrasakti, penasihat Kerajaan Wengker? Lalu apa maksudmu datang memasuki taman ini?" tanya Mandari sambil menatap wajah tampan pesolek itu dengan kagum.

Baik Lasmini maupun Mandari memiliki dasar watak mata keranjang, akan tetapi selama ini mereka berdua belum melihat adanya kesempatan untuk menuruti gairah nafsu yang memperbudak mereka. Apalagi, suami mereka merupakan pria-pria yang tampan gagah, yang cukup memenuhi kehausan mereka yang selalu bergelora.

"Hamba menerima perintah Sang Adipati Adhamapanuda, raja kerajaan Wengker untuk membantu paduka berdua dalam usaha mengacau dan melemahkan kerajaan Kahuripan."

"Ah, baik sekali kalau begitu. Akan tetapi, Linggajaya, kita tidak ada kesempatan untuk berunding karena andika tidak boleh terlalu lama di sini. Kalau sampai terlihat seorang perajurit pengawal yang meronda, bisa celaka!" kata Mandari.

Linggajaya tersenyum. "Harap paduka jangan khawatir, gusti puteri. Tadi hamba memasuki taman juga tidak ada yang dapat melihat hamba. Kalau ada orang datang, hamba dapat mempergunakan Aji Panglimutan dan tidak ada yang dapat melihat kehadiran hamba di sini."

"Hemm, bagaimana kami bisa yakin bahwa andika tidak hanya membual kalau kami tidak melihatnya sendiri?" tiba-tiba Lasmini berkata.

Linggajaya kembali tersenyum, kemudian dia berkata, "Kalau begitu, harap paduka berdua buktikan sendiri sekarang!" Dia telah mengerahkan ajiannya, yaitu Aji Panglirnutan.

Tiba-tiba tampak halimun tebal menyelubungi tubuh pemuda itu dan kedua orang puteri itupun tidak dapat melihatnya lagi! Mereka berdua merasa kagum sekali dan biarpun mereka memperhatikan dengan pandang mata mereka, tetap saja pemuda itu tidak tampak. Tiba-tiba Lasmini merasa ada tangan mengusap lengannya dengan sentuhan mesra dan ada napas hangat terasa pekat sekali dengan tengkuknya! Tahulah dia bahwa pemuda itu dengan ajiannya yang hebat telah melakukan hal ini kepadanya dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda itu tertarik sekali kepadanya seperti juga ia yang tertarik kepada Linggajaya!

Dua orang puteri itu lalu memperlihatkan pula kesaktian mereka. Keduanya bersedakap dan mengerahkan kekuatan batin mereka untuk membuyarkan Aji panglimutan itu dan perlahan-lahan halimun itupun makin menipis dan tampaklah Linggajaya sudah berdiri di dekat mereka sambil tersenyum manis.

"Hebat paduka berdua memang sakti dan dapat membuyarkan ajian hamba, akan tetapi para perajurit pengawal biasa itu tidak akan mampu melakukan itu karenanya harap paduka jangan khawatir dan harap suka memberi petunjuk, apa yang harus hamba lakukan agar rencana gusti Puteri Mandari tadi dapat dilaksanakan dengan baik."

"Hemm, andika juga sudah mengenal nama kami?" Tanya Lasmini.

Linggajaya memandang kepada Lasmini, tersenyum dan pandang matanya jelas memperlihatkan perasaan hatinya terhadap selir patih ini.

"Tentu saja hamba sudah diberitahu dan mengenal paduka berdua, Gusti Puteri Lasmini yang menjadi garwa Ki Patih Narotama dan Gusti Puteri Mandari yang menjadi garwa Sang Prabu Erlangga. Paduka berdua adalah kakak beradik puteri-puteri Gusti Ratu Kerajaan Parang Siluman yang bertugas untuk menyingkirkan raja dan patih Kahuripan, atau mengadu domba di antara mereka, atau mengusahakan apa saja agar Kerajaan Kahuripan menjadi lemah. Bukankah demikian seperti yang hamba dengar?"

"Benar sekali, Linggajaya. Nah, kalau begitu, dengarlah baik-baik. Aku mempunyai rencana ....."

"Hamba tadi sudah mendengar akan kedua rencana paduka itu, gusti puteri. Kalau menurut hamba, hamba dapat bertindak sebagai pedang bermata dua, sekali bergerak mendapatkan dua hasil yang baik."

"Apa maksudmu Linggajaya?" tanya Lasmini dengan tertarik.

"Begini, maksud hamba. Kalau hamba sudah diberitahu tentang tempat, waktu atau saat yang tepat untuk bertindak, hamba dapat membunuh pangeran kecil itu dan sekaligus diusahakan agar yang disangka melakukan perbuatan itu adalah sang puteri dari Sriwijaya! Masuk diakal kalau puteri Sriwijaya itu ingin melenyapkan putera pertama yang akan menjadi putera mahkota itu, bukan? Tentu saja dengan keinginan agar kelak, kalau ia melahirkan seorang putera, puteranya itu yang akan menjadi pangeran mahkota. Dengan demikian, sekali bertindak, mendapatkan dua hasil. Pertama, kematian Pangeran pertama itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi keluarga Sang Prabu Erlangga dan ke dua, kalau Puteri Sriwijaya dituduh melakukan pembunuhan dan ditindak, maka kerukunan antara Kahuripan dan Sriwijaya menjadi rusak."

"Ah, bagus sekali!" Lasmini berseru girang dan ia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata yang mengandung kegairahan. Pemuda seperti inilah yang dapat dijadikan sekutu, juga patut untuk menjadi teman untuk memuaskan gairahnya yang berkobar.

Linggajaya tersenyum dan menyambut pujian Lasmini itu dengan pandang mata yang penuh arti. pandang mata yang merayu dan seolah dengan pandang matanya itu dia membelai tubuh selir Kepatihan itu!

"Sekarang tinggal Gusti Puteri Mandari yang dapat memberi petunjuk kepada hamba tentang cara, tempat dan saat hamba harus bertindak karena tentu saja paduka yang lebih mengetahui keadaan dalam istana ini," kata Linggajaya.

"Aku sudah pikirkan hal itu," kata Mandari dengan suara yang bernada gembira. "Sebaiknya diatur begini." Ia lalu berbisik-bisik lirih sekali sehingga terpaksa Lasmini dan Linggajaya mendekatkan telinga mereka untuk menangkap apa yang dikatakan selir Sang Prabu Erlangga Itu.

Dan tanpa disengaja, ketika mendekatkan telinga, muka Linggajaya berlekatan sekali dengan muka Lasmini sehingga keduanya dapat merasakan tiupan napas masing-masing di pipi mereka. Kembali mereka bertukar pandang yang penuh arti, penuh daya tarik dan sekaligus penuh tantangan!

"Nah, sudah mengerti benarkah andika, Linggajaya?" Tanya Mandari setelah selesai berkasak-kusuk.

Linggajaya mengangguk. "Hamba sudah mengerti, gusti puteri.” Akan tetapi mata pemuda itu mengerling ke arah Lasmini.

"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan perlengkapan yang kau butuhkan. Besok malam, datanglah ke sini untuk menerima barang-barang itu."

"Sendiko, gusti puteri. Kalau begitu hamba mohon diri. Sudah terlalu lama hamba di sini."

Kedua orang puteri itu mengangguk dan ketika Linggajaya hendak melangkah pergi, Lasmini memanggilnya lirih, "Linggajaya .....!"

Pemuda itu berhenti dan menghadapi puteri itu. "Kalau semua sudah dapat terlaksana dengan baik, andika harus meninggalkan istana, akan tetapi jangan pergi jauh. Datanglah ke kepatihan, kami membutuhkan seorang juru taman yang pandai dan kalau engkau berada dekat sana, siapa tahu engkau dapat pula membantuku."

"Sendika, gusti puteri, dan terima kasih." jawab Linggajaya dengan wajah berseri dan dia lalu menyelinap lenyap ditelan kegelapan malam di balik pohon-pohon dalam taman itu.

Dua orang puteri itu merasa gembira sekali dan mereka lalu melangkah perlahan-lahan kembali ke istana. Ketika memasuki bangunan yang megah itu, karena tidak melihat ada orang dan suara perayaan pesta itu masih ramai terdengar di bagian depan dan luar istana, Lasmini berkata kepada adiknya.

"Wah, Mandari, kalau anak itu dapat dibunuh, akan berhasillah jerih payah kita selama ini."

"Ssttt ..... kita sudah di sini, jangan bicarakan itu lagi," bisik Mandari memperingatkan kakaknya.

Mereka tertawa tawa dan tampak gembira sekali ketika memasuki ruangan itu. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ketika mereka bicara tadi, ada sepasang telinga yang menangkap ucapan Lasmini tadi. Pemilik sepasang telinga ini adalah Dyah Untari, selir pertama Sang Prabu Erlangga. Tadinya, melihat dua orang puteri itu datang dari taman, Dyah Untari hendak menyambut dan menyapa dengan ramah seperti biasanya, akan tetapi melihat keduanya berbisik-bisik, ia merasa heran dan cepat menyelinap di balik tiang besar. Ketika mendengar bisikan yang diucapkan Lasmini, ia makin terkejut pula dan tidak memperlihatkan diri. Kecurigaan menyelinap dalam hatinya.

Biar pun Dyah Untari tidak cemburu kepada Mandari, namun dalam hatinya ia kurang suka kepada selir termuda dan terkasih dari Sang Prabu Erlangga ini. Bukan karena cemburu, melainkan karena sikap Mandari terkadang angkuh dan sering kali selir ini memperlihatkan sikap kasar kepada para dayang, ringan tangan menampar dayang hanya karena kesalahan kecil saja dan terutama sekali, di luar tahu sang prabu, Mandari suka memaki dengan kata-kata yang tidak bersusila dan tidak pantas dikeluarkan dari mulut seorang selir raja besar!

Akan tetapi di depan Sang Prabu Erlangga, Mandari selalu tampak lemah lembut, halus menyenangkan, seperti seekor domba yang berbulu indah bersih dan jinak lembut. Seringkah Dyah Untari melamun bahwa domba jinak itu tidak mustahil sewaktu waktu akan berubah menjadi seekor serigala!

*********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Malam terakhir pesta perayaan pernikahan itu diliputi cuaca yang gelap. sejak sore tadi langit tertutup mendung dan hujan gerimis mendatangkan hawa yang dingin. Akan tetapi perayaan malam terakhir itu tetap meriah. Suara gamelan dipukul bertalu-talu mengiringi suara tembang para waranggana.

Sesosok bayangan berkelebat membayangi seorang perwira berpakaian seperti perwira Sriwijaya. Perwira ini adalah Swandaru, kepala pasukan pengawal sang Puteri Sri Sanggramawijaya dari sriwijaya. Tadinya perwira inipun duduk di pendopo bersama para tamu lain, nonton para penari srimpi. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang dayang menghampirinya dan mengatakan dengan suara bisik bisik bahwa perwira dari Sriwijaya di dipanggil oleh sang puteri Sri Sanggramawijaya agar masuk ke dalam keputren.

Mendengar panggilan ini, tentu saja Swandaru cepat meninggalkan tempat pesta dan pergi ke arah keputren, sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat cepat dalam kegelapan dan membayanginya. Ketika dia tiba di lorong yang menuju ke keputren, tempat yang sepi karena semua orang sibuk luar, ada yang nonton, ada yang sibuk melayani tamu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat di dekatnya.

Sebuah tangan halus meluncur dan sebuah tamparan mengenai tengkuknya. Tanpa mengeluarkan suara Swandaru terkulai pingsan dan diseret ke dalam bagian taman yang gelap. Sungguh luar biasa betapa perwira Sriwijaya yang bukan seorang lemah ini dapat dirobohkan demikian mudahnya oleh sebuah tangan yang mungil dan halus.

Sementara itu, di ruangan samping yang masih menjadi bagian keputren menjadi tempat para biyung emban (inang pengasuh) biasa mengasuh anak-anak keluarga istana. Karena pada waktu itu Sang Prabu Erlangga baru mempunyai dua orang putera, maka biasanya hanya dua orang putera ini yang diasuh oleh para biyung emban. Akan tetapi pada malam itu, agaknya para biyung emban tidak ada pekerjaan dan ikut nonton di tempat pesta.

Yang berada di ruangan itu hanya seorang biyung emban bernama Darmi yang dipercaya untuk mengasuh Pangeran Samarawijaya. Biasanya, seorang pengasuh lain, Ginah, berada pula di situ dan mengasuh Pangeran Budidharma yang lebih kecil. Akan tetapi malam itu yang berada di situ hanya biyung emban Darmi yang bertubuh gemuk. la menggendong seorang anak laki - laki dengan sehelai selendang. Agaknya anak itu sedang tidur karena Darmi membawanya berjalan hilir mudik sambil bersenandung.

"Ah, semua menonton, bersenang senang dan malas!" gerutunya di tengah senandungnya.

Memang, semua orang nonton dan ia ditinggal seorang diri menggendong anak laki-laki itu. Agaknya selama perayaan pesta itu berlangsung, di istana makanan berlimpah-limpah. Sambil menidur-nidurkan anak itu, Darmi kadang berhenti di dekat sebuah meja dan mengambil makanan dari piring lalu memakannya.

Senandungnya menjadi sumbang karena diseling makan. Pantas tubuhnya gemuk karena agaknya ia suka ngemil (sering makan makanan kecil), Demikian asyiknya Darmi sehingga ia tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu. Pada saat dia mendengar gerakan di belakangnya, ia menengok dan matanya terbelalak melihat seorang laki-laki mengenakan topeng hitam sudah berdiri di depannya!

Laki-laki itu menggerakkan sebatang keris dan secepat kilat keris itu ditusukkan ke tubuh anak yang digendong Darmi. Anak yang malang itu hanya menjerit satu kali, lalu diam tak bergerak karena keris itu telah menembus dadanya. Orang yang menusuk anak itu lalu melompat dan keluar dari ruangan. Darmi masih terbelalak. Ketika ia memandang ke arah anak dalam gendongannya, ia melihat darah berlumuran dari tubuh anak itu!

la menjerit sekuatnya dan terkulai jatuh pingsan dengan anak yang telah mati itu masih dalam gendongannya. Akan tetapi jeritnya yang melengking nyaring itu mengejutkan orang-orarg yang berada di keputren. Para dayang berlarian memasuki ruangan itu dan sebentar saja keadaan menjadi gempar. Tak lama kemudian, Sang Prabu Erlangga sendiri memasuki ruangan, diikuti permaisuri yang baru, sang pengantin baru Puteri Sri Sanggramawijaya.

Sepasang pengantin ini terpaksa keluar dari kamar pengantin mereka ketika mendengar ada pembunuhan di tempat pengasuh anak anak. Tidak ketinggalan Mandari juga mengikuti Sang Prabu Erlangga, dan Dyah Untari. Ketika Sang Prabu Erlangga memasuki ruangan itu dengan tiga orang isterinya yang paling terkemuka, semua dayang dan abdi dalem (pelayan) berjongkok dipinggir dan menyembah.

Sang Prabu Erlangga menghampiri Darmi yang masih menangis meraung-raung setelah sadar dari pingsannya dan rnemeluki anak yang berlumuran darah dan sudah mati itu.

"Biyung Emban, berhentilah menangis dan ceritakan apa yang terjadi di sini." kata Sang Prabu Erlangga dengan tenang setelah dia mengamati sebentar anak yang masih digendong Darmi itu.

Mendengar suara sang prabu, agaknya Darmi baru menyadari bahwa junjungannya telah berada di situ. la segera menyembah-nyembah dan menahan tangisnya.

"Aduh, gusti..... ketiwasan (celaka), gusti..... ada..... ada orang masuk lalu menggunakan kerisnya membunuh " katanya gagap.

"Hemm, seperti apa orangnya?"

"Hamba tidak tahu, gusti ..... dia ..... dia memakai topeng hitam ....."

"Bagaimana pakaiannya?"

"Pakaiannya..... pakaiannya..... seperti perwira pasukan pengawal Gusti Puteri Pengantin.....dari Sriwijaya ....."

"Tidak mungkin.....!" puteri Sri Sanggramawi berseru. "Kenapa tidak mungkin? Ini buktinya!" terdengar jawaban dari luar dan masuklah Lasmini mengiringkan dua orang perajurit pengawal istana yang menggotong tubuh seorang tinggi besar yang memakai pakaian perwira pasukan Sriwijaya dan orang itu sudah mati!

"Paman Swandaru.....!" Sang Puteri Sri Sanggramawijaya berjongkok dekat mayat perwira pengawalnya itu, matanya terbelalak dan mukanya pucat. "Paman Swandaru..... andika kenapakah..... siapa yang berani membunuh perwira pengawalku?" la bangkit berdiri dan memandang penasaran kepada Sang Prabu Erlangga.

Ki Patih Narotama juga sudah datang ke tempat itu setelah dia yang tadi duduk di luar mendengar bahwa ada pembunuhan di bagian keputren. Dia memandang dengan alis berkerut kepada Lasmini karena sekali pandang ke arah muka mayat perwira Sriwijaya yang agak kebiruan itu diapun dapat menduga bahwa perwira itu tentu tewas oleh pukulan Aji Ampak-ampak yang ampuh dan dikuasai oleh selirnya itu.

"Tenanglah, adinda," kata Sang Prabu Erlangga kepada permaisurinya yang baru. Kemudian dia memandang kepada Lasmini yang membawa sebatang keris yang berlumuran darah lalu bertanya dengan suara penuh wibawa, "Lasmini, ceritakanlah apa yang terjadi."

"Diajeng, berceritalah sejujurnya, terus terang dan jangan ada yang disembunyikan!" terdengar Narotama berkata kepada Lasmini dengan suara memerintah.

Dengan hormat Lasmini menyembah kepada Sang Prabu Erlangga lalu menceritakan dengan suara lembut dan sungguh-sungguh. "Hamba sedang mencari angin di taman dan hamba mendengar jeritan dari bangunan bagian keputren, maka hamba segera hendak lari menghampiri. Akan tetapi setibanya di pintu taman, hampir hamba bertabrakan dengan orang ini! Melihat dia lari keluar dari bagian keputren, hamba menegurnya akan tetapi dia malah menyerang hamba dengan keris ini." Ia menyerahkan keris itu kepada Sang Prabu Erlangga yang menerima keris itu dan mengamatinya.

Kemudian dia berkata.

"Seterusnya bagaimana?"

"Hamba melawannya dan karena dia juga cukup digdaya dan agaknya mati-matian hendak menyerang hamba, terpaksa hamba lalu mengeluarkan aji pukulan untuk merobohkannya. Sayang, agaknya hamba memukul terlalu kuat sehingga dia tewas, padahal sesungguhnya hamba ingin menangkap dia hidup-hidup agar dia dapat mengaku mengapa dia membunuh Pangeran Samarawijaya dan siapa yang menyuruhnya."

"Siapa lagi yang menyuruhnya?" tiba tiba Puteri Mandari berkata lantang "Semua buktinya sudah lengkap dan saksinya juga ada. Biyung emban Darmi, coba lihat, bukankah ini laki-laki yang melakukan pembunuhan tadi?" Puteri Mandari menuding ke arah mayat Perwira Swandaru.

Biyung emban Darmi sudah Menjadi gugup sekali karena menghadapi pemeriksaan oleh Sang Prabu Erlangga, bahkan Ki Patih Narotama dan semua keluarga Istana. la memandang mayat itu dan berkata gagap, "kasinggihan..... pakaiannya..... begitu itulah..... tapi mukanya..... ditutupi topeng ....."

"Nah, itu sudah cukup, kakanda prabu. Buktinya lengkap, saksinya ada. Jelas perwira Sriwijaya ini pembunuhnya dan siapa lagi yang menyuruh dia melakukan pembunuhan itu kalau bukan Sang Puteri Sri Sanggramawijaya" kata Mandari.

"Ampun, gusti. Kalau boleh hamba ikut bicara, pembunuhan ini tentu dilakukan sebuah komplotan yang mempunyai niat jahat tertentu, lalu menjatuhkan fitnah atas diri Sang Puteri Sri Sanggrawijaya....."

"Kakangmbok Untari! Urusannya sudah jelas dan andika bicara soal komplotan segala. Apakah sekarang masih ada komplotan seperti yang dulu dilakukan mendiang Ki Patih Hardogutama ketika berkelomplot untuk membunuh mendiang kanjeng rama prabu Teguh Dharmawangsa?" bentak Mandari dengan suara mengandung penuh ejekan.

Pucat wajah Dyah Untari dan ia merasa terkejut, marah dan malu sehingga tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah.

"Sudah cukup! Apa perlunya ribut-ribut ini?" bentak Sang Prabu Erlangga sambil mengerutkan alis dan memandang Mandari dengan sinar mata mengandung teguran. Akan tetapi Mandari membalas pandang mata Sang Prabu Erlangga dengan berani dan lapun membantah.

"Akan tetapi, kakanda prabu! Putera paduka Pangeran Samarawijaya dibunuh orang dan hamba sekalian tidak boleh ribut-ribut?"

"Hemm, siapa bilang puteraku Pangeran Samarawijaya dibunuh orang? Anak yang terbunuh inipun aku tidak tahu siapa! Heh, biyung emban, siapakah anak dalam gendongan mu itu?"

"....ampun, gusti.... ini adalah Kadrya, keponakan hamba. Karena hamba mengganggur dan ibu anak ini sakit, maka malam ini dia dititipkan kepada hamba.... tidak tahunya..... dia mati terbunuh..... hu-hu-huuhh..... bagaimana hamba harus memberitahu adik hamba.....?"

Banyak orang menghela napas lega mendengar bahwa yang terbunuh bukan Pangeran Samarawijaya, akan tetapi Lasmini dan Mandari terkejut setengah mati! Sungguh tadinya mereka sudah merasa lega karena sekali ini usaha mereka berhasil baik. Linggajaya yang menyamar dengan pakaian perwira Sriwijaya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, membunuh anak itu lalu menyerahkan keris yang dipakai membunuh kepada Lasmini yang menanti di taman untuk dijadikan bukti. Siapa kira, yang diasuh biyung emban Darmi bukan sang pangeran, melainkan keponakan biyung-emban itu sendiri!

Yang tidak merasa heran adalah Dyah Untari karena ialah yang telah menggagalkan usaha pembunuhan atas diri sang pangeran itu. Ketika ia mendengarkan bisikan Lasmini dan Mandari yang mengatakan bahwa kalau anak itu dapat dibunuh maka berhasillah usaha mereka. hatinya menjadi curiga dan juga ngeri.

Siapa tahu yang dimaksudkan anak oleh dua orang wanita kakak beradik puteri-puteri Parang Siluman itu adalah kedua orang pangeran, puteranya sendiri, Pangeran Budidharma dan Pangeran Samarawijaya. Oleh karena itu, semenjak malam itu, ia minta kepada kedua orang biyung emban pengasuh agar membawa kedua orang anak itu!

Maka terjadilah salah bunuh itu. Akan tetapi, Dyah Untari tidak berani mengemukakan hal ini. Kecurigaannya bahwa dua orang puteri Parang Siluman itu yang mengatur pembunuhan, tidak mempunyai bukti yang kuat dan ia tidak mau kalau nanti Mandari kembali menghinanya dengan menceritakan tentang komplotan mendiang ayahnya di depan orang banyak. Ia dapat menderita malu. Apalagi, biyung emban Darmi sendiri sudah bersaksi bahwa pembunuhnya memang perwira Sriwijaya itu.

Mungkinkah perwira Sriwijaya itu berkomplot dengan kakak beradik dari Parang Siluman itu? Rasanya tidak mungkin dan urusannya menjadi bertambah ruwet. Memang, keadaannya di Kahuripan, menjadi selir pertama dan tercinta dari Sang Prabu Erlangga merupakan hal yang aneh. Mendiang ayahnya adalah Pangeran Tua Hardogutama yang kemudian diangkat sebagai patih oleh mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, mertua Sang Prabu Erlangga. Mendiang ayahnya itu dan mendiang kakaknya memang melakukan pemberontakan, hendak menguasai kerajaan dan hendak membunuh Sang Prabu Erlangga ketika belum menjadi raja. Namun usaha mereka itu gagal, bahkan mereka sendiri tewas dalam perang, la sendiri sama sekali tidak membantu ayahnya, bahkan membantu Erlangga dengan setia sehingga setelah Erlangga menjadi raja, dia diambil sebagai selir.

"Sudahlah, biyung emban, ceritakan saja apa yang terjadi dan kami akan beri hadiah untuk menghibur hati keluarga adikmu. Urusan ini kita habiskan di sini saja. Pembunuhan telah dilakukan dan pembunuhnya juga sudah terbunuh, tidak perlu adanya curiga mencurigai dan tuduh menuduh. Marilah, adinda Sri Sanggramawijaya, peristiwa ini jangan sampai menjadi penghalang kebahagiaan kita."

Semua bubar. Para abdi dan perajurit pengawal mengurus mayat perwira Sriwijaya dan mayat anak kecil itu oleh biyung emban Darmi dibawa pulang ke rumah adiknya, disambut ratap tangis Ibu anak itu.

Akan tetapi peristiwa yang terakhir ini seolah mulai menyadarkan Lasmini dan Mandari bahwa mereka kini harus berhati-hati. Apalagi agaknya peristiwa itu juga mendatangkan keraguan dalam hati Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Pandang mata Sang Prabu Erlangga terhadap Mandari, biarpun masih mesra seperti dulu, namun mengandung sinar mata tajam menyelidik, seolah raja itu ingin menjenguk isi hati yang paling dalam dari selirnya ini.

Demikian pula dengan Ki Patih Narotama. Memang masih dapat dibakar gairahnya oleh Lasmini yang pandai merayu, namun di saat-saat tertentu tampak betapa sinar mata ki patih ini mencorong dan memandang tajam kepada Lasmini, seperti hendak menyelidiki!

Bahkan Lasmini berhasil membujuk Ki patih Narotama untuk mengajarkan satu di antara ilmu-ilmunya kepada selir itu. Narotama mengajarkan semacam ilmu silat Kukila Sakti (Burung Sakti) pada Lasmini sehingga wanita ini menjadi semakin tangkas saja. Ilmu silat ini membuat ia dapat bergerak laksana seekor burung srikatan, lincah dan cepat bukan main.

"Kakangmas, setelah dua orang juru taman kita dulu itu terbunuh orang, sampai sekarang belum ada penggantinya yang tepat." kata Lasmini kepada Ki Patih Narotama dengan suara manja sambil merapatkan duduknya di bangku taman mendekati suaminya.

Narotama tersenyum. Selirnya ini kalau sudah bersikap manja seperti itu biasanya ada maunya. Akan tetapi sebelum memenuhi kehendaknya itu, biasanya Lasmini bersikap amat mesra dan amat menyenangkan hatinya. Dia lalu merangkul dan menarik tubuh yang bahenol itu. Mendapat kesempatan ini Lasmini lalu mengangkat pinggulnya dan duduklah ia di atas pangkuan Narotama.

Ki patih tertawa dan merangkul pinggang yang ramping itu. Bau melati semerbak dari rambut dan leher Lasmini dan dia menghirup keharuman itu sambil mencium leher yang berkulit putih mulus itu. Lasmini menggelijang dan tertawa lirih tertahan sehingga suara itu menimbulkan gairah dalam hati Narotama.

"Kalau engkau ada usul mengenai juru taman, katakana saja, sayang." kata Ki patih sambil mengamati wajah yang berkulit putih halus kemerahan itu.

"Begini, kakangmas tentu mengenal Sarti, pelayan pribadi hamba itu bukan"

"Tentu saja, abdimu yang ayu manis merak ati itu?" Narotama menggoda sambil tertawa.

"Ih, ngenyek (mengejek) ini, ya? Sarti memang berwajah buruk dan bentuk tubuhnya tinggi besar, akan tetapi ia mempunyai seorang adik misan laki-laki yang menurut keterangannya trampil dan pandai mengurus taman. Nah, Sarti yang minta kepada hamba agar adik misannya itu diterima bekerja sebagai juru taman di sini dan hamba menyanggupi. Akan tetapi tanpa perkenan dari paduka, mana hamba berani mengambil keputusan menerimanya?"

Narotama tersenyum. "Ah, urusan sekecil itu kenapa harus minta perkenan dariku, diajeng? Urusan taman dan juru tamannya, putuskan saja sendiri. Terserah kepadamu. Kalau engkau sudah menerima adik misan Sarti itu sebagai juru taman, aku sih setuju saja. Asal dia dapat bekerja dengan baik, menjaga agar taman kita selain bersih, terawat sehingga tampak indah dan bunga-bunganya berkembang subur."

"Tentu saja, kakangmas, dan terima kasih atas persetujuan paduka."

"Oya, siapa nama juru taman baru Itu, diajeng?"

"Namanya Linggajaya, kakangmas."

"Hemm, nama yang indah, tentu orangnya elok pula."

"Ih, kakangmas. Apakah itu penting? yang penting adalah hasil pekerjaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga, tentu lebih menyenangkan kalau pembantu-pembantu kita berwajah elok daripada berwajah buruk."

"Dan abdimu itu .....?" Narotama kembali menggoda.

"Sarti? Ia lain, kakangmas. la telah menjadi abdi di istana kanjeng ibu di istana Parang Siluman sejak hamba masih bayi. Ia yang mengasuh hamba sejak kecil. Karena itu, biar ia buruk rupa, ia merupakan pembantu setia yang sangat hamba sayangi."

Narotama tersenyum. "Hemm, ingin akuu melihat bagaimana rupanya ketika engkau masih bayi. Ingin aku memondongmu, menimang dan memandikanmu!"

"Memandikan hamba?" Lasmini tertawa. Tawanya renyah dan merdu. "Paduka ini aneh-aneh saja, membuat hamba malu... "

Mereka bergurau dan sambil bergandengan tangan mereka lalu masuk gedung kepatihan untuk melanjutkan senda gurau mereka yang mesra.

Lingga jaya memang datang ke kepatihan seperti yang pernah diminta Lasmini ketika mereka bertemu di taman istana Sang Prabu Erlangga. Seperti ketika memasuki taman istana kerajaan, ketika memasuki taman kepatihan, Linggajaya juga mempergunakan aji kesaktian untuk memasuki taman tanpa diketahui para penjaga dan para prajurit pengawal kepatihan.

Dengan mudah Linggajaya dapat bertemu dengan Lasmlni yang memang sudah menanti di taman malam itu karena ia telah memperoleh kabar rahasia dari Mandari bahwa Linggajaya akan mengunjunginya di taman kepatihan. Ketika Linggajaya muncul, Lasmini memerintahkan abdinya yang setia, Sarti untuk berjaga di luar pondok demi keamanan pertemuan itu.

"Duduklah, Linggajaya," kata Lasmini dengan sikap anggun dan angkuh karena ia tidak mau merendah dan masih "tahan harga" walaupun jantungnya berdebar tegang menerima kunjungan seorang pemuda tampan dan amat digdaya itu. Ia menjadi selir Narotama ketika masih seorang gadis dan belum pernah sebelumnya ia bergaul dengan pria. Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama iapun belum pernah bercengkerama dengan pria lain, apalagi mengadakan hubungan cinta. Maka kini berduaan saja dengan Linggajaya, ia menjadi tegang sehingga jantungnya berdebar-debar.

"Terima kasih, gusti puteri." kata Linggajaya dengan sopan dan hormat, lalu dia hendak duduk bersila di atas lantai.

"Ah, jangan di lantai. Duduk di kursi saja, agar lebih enak kita bicara." kata Lasmini.

"Akan tetapi ..... hamba ..... ah, takut, gusti puteri."

"Takut apa? Aku yang memerintahmu duduk, kenapa takut? Duduklah, ingin aku bertanya kepadamu."

"Baiklah dan terima kasih, gusti puteri. Maaf kalau hamba berani duduk di kursi ini."

Setelah pemuda itu duduk berhadapaan dengannya, terpisah sebuah meja, Lasmini dapat memandang wajah pemuda yang disinari lampu gantung itu dengan jelas. Memang tampan dan menawan, pikirnya. Masih muda dan mata itu! Mulut dengan senyumnya yang mengejek itu! Menggemaskan! Ki Patih Narotama juga tampan ganteng, akan tetapi karena telah bergaul sebagai isterinya selama hampir tiga tahun, ia merasa bosan juga.

Lasmini tidak mengerti bahwa kebosanan tentu datang dalam hati orang yang selalu dipengaruhi nafsu. Kalau ia tadinya merasa jatuh cinta kepada Narotama yang tampan dan ganteng, ia tidak tahu bahwa cintanya itu adalah cinta nafsu cinta karena ketampanan, kegantengan dan kekagumannya akan kesaktian Ki Patih Narotama. Dan segala yang terdorong nafsu hanya merupakan kesenangan lahiriah saja, hanya sebatas kulit dan kesenangan seperti ini sudah pasti mendatangkan kebosanan!

Kebosanan mendorong orang untuk mengejar yang baru, yang dianggap lebih menarik dan lebih menyenangkan dan kalau yang baru itu sudah terdapat, maka lambat laun dia Akan bosan pula dan ingin mengejar yang lebih baru lagi!

"Linggajaya, engkau tentu tahu bahwa bantuanmu kepada kami, kepada adikku Mandari dan aku, sama sekali telah gagal dan hal ini amat mengecewakan kami. Bagaimana bisa sampai gagal begitu, Linggajaya? Apakah engkau hanya pandai berjanji saja akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak menguntungkan kami?"

"Maaf, gusti puteri. Akan tetapi kekeliruan telah terjadi sehingga hamba membunuh anak yang salah. Kekeliruan Itu sama sekali bukan salah hamba karena hamba hanya mendapat tugas untuk membunuh anak yang diasuh oleh biyung emban Darmi itu dan perintah itu telah hamba laksanakan dengan baik. Tentu saja hamba tidak tahu kalau anak itu bukan sang pangeran, karena hamba belum pernah melihat pangeran yang dimaksudkan."

"Hemm, kalau begitu Mandari yang kurang teliti sehingga terjadi kekeliruan itu yang hampir saja malah membuka rahasia kita! Akan tetapi sudahlah, karena kekeliruan itu kita harus lebih berhati-hati. Sekarang maukah engkau membantuku di sini?"

"Memang tugas hamba untuk membantu gusti puteri Lasmini dan gusti puteri Mandari. Katakan saja apa yang harus hamba lakukan, gusti puteri."

"Pertama-tama, engkau harus selalu dekat denganku agar mudah bagiku mengatur rencana dan menghubungimu kalau saatnya yang baik tiba untuk bertindak. Dan untuk itu, engkau harus tinggal di kepatihan ini dan menyamar menjadi juru taman."

"Juru taman?" tanya Linggajaya heran. Masa dia, putera lurah, murid Resi Bjrasakti, bahkan dia telah diangkat oleh Adipati Adhamapanuda raja Wengker sebagai senopati dan diberi keris Candalamanik. Dia, senopati Wengker, kini harus menjadi seorang juru taman kepatihan Kahuripan?

"Ya, menjadi juru taman kepatihan, Linggajaya. Kenapa engkau tampak heran?"

"Menjadi juru taman, mencangkul tanah dan menanam bunga?"

"Ya, menyirami dan menyapu, membersihkan taman dan menjaga agar taman tetap tampak bersih dan rapi. Bagaimana, engkau keberatan, Linggajaya?"

"Gusti puteri, hamba jelek-jelek seorang senopati! Hamba belum pernah memegang tangkai pacul dan sapu!"

Lasmini tersenyum dan giginya yang putih mengkilap itu mengintai dari balik sepasang bibir yang merah basah ketika senyuman yang bergelimang madu dan merekah dan terdengar suara tawa kecil tertahan. Linggajaya sampai melongo, terpesona oleh keindahan wajah wanita yang demikian menggairahkan. sepasang mata yang redup dan mulut yang indah itu, demikian menantang!

"Aih, Linggajaya. Engkau memang hanya sebagai juru taman, bukan menjadi tukang kebun benar-benar. Maksudnya agar engkau selalu dekat denganku dan ....."

"Ah, jadi paduka juga ingin selalu berdekatan dengan hamba? Kalau begitu sama benar keinginan perasaan kita." kata Linggajaya sambil tersenyum dan pandang matanya mencorong tajam seperti hendak menembus dada yang membusung itu dan menjenguk isi hati yang terkandung di dalamnya.

"Hush! Maksudku agar selalu dekat dan mudah bagiku untuk mengajak berunding kalau aku telah menemukan sebuah rencana yang baik."

"Akan tetapi pekerjaan ini berat sekali bagi hamba, gusti. Berat dan sekaligus juga merendahkan martabat hamba. Jauh lebih ringan bagi hamba kalau paduka memberi perintah membunuh seseorang atau berapa orangpun!"

"Hemm, kalau engkau benar-benar ingin membantuku seperti yang ditugaskan kepadamu oleh Paman Adipati Wengker, tentu engkau tidak akan keberatan untuk menyamar sebagai juru taman Linggajaya."

"Bagaimanapun juga, penyamaran itu berat dan merendahkan martabat bagi hamba, akan tetapi... kalau imbalannya sepadan, agaknya hamba siap melakukannya!"

Linggajaya kembali memandang dengan sinar mata mengandung penuh arti. Tentu saja Lasmini dapat memahami apa yang tersirat di dalam ucapan pemuda yang telah berhasil menarik dan menggetarkan gairah dalam hatinya itu. Jantungnya kembali berdebar tegang karena selain dengan Ki Patih Narotama, belum pernah timbul berahinya ketika berhadapan dengan pria lain.

Mungkinkah Ini timbul karena kebosanannya kepada suaminya? Ataukah karena Linggajaya merupakan seorang pemuda sakti mandraguna yang dapat diharapkan bantuannya agar tugasnya di Kahuripan dapat berhasil? Ataukan karena Linggajaya memang seorang pemuda tampan, gagah dan juga sakti mandraguna dan merupakan wajah baru yang tentu saja memiliki daya tarik yang amat kuat? Mungkin kesemuanya itulah yang mendorong bangkitnya gairah dalam hatinya terhadap pemuda itu.

Lasmini tersenyum. "Imbalan apakah yang kau inginkan dariku agar engkau mau melaksanakan pekerjaan sebagai juru taman ini, Linggajaya?"

Melihat senyum dan pandang mata yang menantang itu, Linggajaya menjadi semakin berani. "Gusti Puteri Lasmini paduka laksana setangkai kembang indah sekali yang sedang mekar semerbak harum, adapun hamba bagaikan seekor kumbang yang hina. Betapa akan bahagianya sang kumbang ini kalau sang bunga sudi membuka kelopaknya dan memberikan kesempatan kepada sang kumbang untuk hinggap, menghisap dan menikmati sedikit sari madunya."

Sepasang pipi yang halus itu menjadi kemerahan seperti buah tomat matang dan sepasang bibir itu tersenyum malu-malu. Tentu saja Lasmini maklum betul apa yang dimaksudkan pemuda itu. Setelah agak lama merasa canggung dan salah tingkah, akhirnya Lasmini berkata.

"Kita lihat saja nanti hasil pekerjaanmu. Kalau engkau berhasil membuat rencanaku terlaksana dengan baik..... heemm, aku tidak menjanjikan apa-apa, akan tetapi mungkin sekali keinginan kumbang itu akan terlaksana."

Bukan main girangnya hati Linggajaya mendengar ini. Berarti Lasmini sudah setengah menyambut dan menjanjikan pemenuhan keinginannya itu. Dan pemuda yang sudah berpengalaman dengan wanita itu hampir yakin bahwa selir Ki Patih Narotama ini juga "ada rasa" kepadanya. Hal ini dapat dia lihat dari senyum dan sinar matanya.

"Sendika nglampahi (siap melaksanakan ) perintah paduka, gusti puteri!" katanya dengan girang.

"Nah, sekarang pergilah. Jangan terlalu lama di sini sebelum engkau diterima sebagai juru taman." kata Lasmini.!

Linggaya lalu mempergunakan Aji Panglimutan sehingga tubuhnya diselimuti semacam halimun atau kabut. Dalam keadaan tidak tampak itu, tiba-tiba Lasmini merasa ada hidung yang hangat menyentuh pipi kanannya. Hanya sentuhan lembut dan hangat dan pemuda itu lalu pergi dari situ. Lasmini merasakan jantungnya berdebar tegang dan tak terasa lagi, ia mengangkat tangan kirinya dan mengusap pipi kanannya.

Ia tahu bahwa pemuda itu telah mengambung (mencium dengan hidung) pipinya, suatu hal yang belum pernah ia alami sebelum atau selama ia menjadi selir Narotama, kecuali tentu saja oleh suaminya sendiri. Ia tersenyum-senyum dan membayangkan kemesraan dengan pemuda itu sehingga debar jantungnya menjadi semakin berdegup kencang.

Demikianlah, setelah mendapatkan perkenan dari Narotama, Linggajaya diterima sebagai seorang juru taman baru di taman kepatihan. Tentu saja Linggajaya mengenakan pakaian penduduk biasa dan dia menyembunyikan keris yang diberikan oleh Adipati Wengker...


BERSAMBUNG KE JILID 14


Cerita Silat Keris Pusaka Sang Megatantra Jilid 13

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 13

Semua punggawa kepatihan menyambut kembalinya Listyarini dengan gembira karena lenyapnya sang puteri itu sungguh membuat semua punggawa menjadi gelisah. Memang sebelum Sukardi datang membawa cincin Sang Puteri dan mengabarkan bahwa Listyarini dalam keadaan selamat di Telaga Sarangan, Narotama sudah menduga bahwa Nismara tentu tersangkut dengan peristiwa hilangnya isterinya itu.

Hal ini dapat diketahui karena Nismara juga tidak dapat ditemukan jejaknya dan tak seorangpun mengetahui ke mana perginya. Namun, Ki Patih Narotama tidak menghukum keluarga Nismara yang terdiri dari ibunya dan dua orang adiknya karena mereka dianggap sama sekali tidak tahu menahu akan perbuatan Nirmara yang kini telah tewas itu. Kembalinya Listyarini membuat semua orang gembira, kecuali Narotama sendiri yang terkejut melihat bahwa Lasmini tidak berada di kepatihan!

Beberapa orang dayangnya hanya mengatakan bahwa Lasmini yang pergi bersama Ki Patih Narotama itu kembali seorang diri beberapa hari kemudian akan tetapi pada hari itu juga lalu pergi lagi. Narotama memanggil Sarti, wanita berwajah buruk bertubuh tinggi besar yang menjadi pelayan pribadi Lasmini.

"Sarti, ceritakan ke mana gusti puterimu pergi dan kenapa pergi. Engkau pasti tahu karena engkau adalah pelayan pribadinya." kata Ki Patih Narotama.

Sarti menyembah lalu menjawab. "Kamanggihan (benar), gusti, hamba adalah pelayan pribadi gusti puteri. Akan tetapi gusti puteri hanya bicara sedikit paada hamba. Sekembalinya seorang diri gusti puteri hanya muwun (menangis) dan berkata bahwa tidak ada gunanya beliau tinggal di sini karena sudah tidak dipercaya lagi."

Patih Narotama mengerutkan alisnya yang hitam tebal berhentak golok itu.

"Hemm, lalu ke mana perginya?" Dia bertanya dan maklum bahwa Lasmini agaknya merasa sakit hati dengan peristiwa di Telaga Sarangan itu. Ia merasa tidak dipercaya, bahkan dituduh menyuruh Nismara membunuh Listyarini!

"beliau hanya mengatakan bahwa beliau hendak pulang. Entah yang dimaksudkan pulang ke Bukit Junggringslaka tempat tinggal Gusti Nagakumala, ataukah ke istana Parang Siluman."

"Apa yang kau ketahui selanjutnya?"

"Hanya itulah yang hamba ketahui, gusti."

Setelah mendapat keterangan dari Sarti, Ki Patih Narotama sering melamun memikirkan Lasmini. Harus diakuinya, bahwa dia tidak dapat melupakan selir tercinta itu, kecantikan dan kelembutannya, kemanjaannya, semua kemesraan yang diberikan wanita itu dengan kejelitaan wajahnya, dengan keindahan tubuhnya, kepadanya dengan cinta yang menggebu-gebu. Akan tetapi, Narotama tidak segera mengambil keputusan begitu saja. Dia ingat akan perasaan Listyarini, maka malam itu diajaknya Listyarini bicara tentang Lasmini.

"Diajeng, ketika Sang Prabu mengutus aku meminang kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu, dasar utamanya adalah untuk menghapus permusuhan antara kerajaan di pantai laut selatan itu terhadap Kerajaan Kahuripan. Kemudian setelah berhasil, Lasmini oleh Sang Prabu dihadiahkan kepadaku. Kini timbul persolan ini sehingga Lasmini agaknya pulang ke Parang Siluman. Kalau kudiamkan saja dan hal ini terdengar oleh Sang Prabu, sungguh amat tidak enak bagiku, diajeng. Seolah aku tidak mendukung keinginan Sang Prabu untuk berbaik dengan Parang Siluman. Diajeng, apakah engkau tetap menuduh Lasmini yang mengutus Nismara untuk menculikmu?"

Listyarini bukan seorang wanita yang pemarah, melainkan seorang yang berhati lembut. la memaklumi kedudukan suaminya, maka ia berkata dengan halus.

"Kakangmas, setelah mendengar semua keterangan paduka betapa Lasmini ikut sibuk mencari saya, dan tidak ada tanda-tanda, tidak ada bukti atau saksi bahwa Ia yang benar-benar menyuruh Nismara menculik saya, maka saya pun tidak yakin bahwa ia bersalah. Saya menyesal telah membuat ia marah dan meninggalkan kepatihan, kakangmas."

"Kalau begitu, engkau mau minta maaf kepadanya bahwa engkau pernah menuduhnya bersalah?"

Listyarini menghela napas panjang "Demi kebahagiaan paduka dan demi kepentingan Kerajaan Kahuripan, saya mau melakukan apa saja, kakangmas. Baiklah, saya bersedia minta maaf kepadanya, akan tetapi saya harap paduka bersikap adil, yaitu iapun patut minta maaf kepada saya karena ia telah menuduh saya berbuat zina dengan Kakang Tejoranu."

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk. "Itu cukup adil, diajeng... Kalian berdua agaknya hanya salah duga dan salah paham saja. Baiklah, kalau begitu..., aku akan menyusul diajeng Lasmini dan mengajaknya pulang ke kepatihan."

Demikianlah, pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Patih Narotama ke Kerajaan Parang Siluman karena dia telah mengirim penyelidik dan mendapatkan keterangan bahwa Puteri Lasmini berada di kerajaan pantai Laut Selatan itu. Ki Patih Narotama naik sebuah kereta untuk menjemput selirnya itu.

Kedatangannya disambut dengan ramah dan hormat oleh Ratu Durgamala, yaitu ibu Lasmini dan Mandari. Setelah upacara penyambutan dan menyatakan maksud kunjungannya, sambil diam-diam kl patih ini merasa heran dan juga kagum melihat betapa ibu dari Lasmini yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu masih tampak seperti puteri puterinya, seperti sebaya dengan Lasmini, Ki Patih Narotama lalu dipersilakan masuk kaputren untuk menjumpai Lasmini yang sudah menanti dalam kamarnya.

Narotama dipersilakan masuk oleh para dayang ke dalam sebuah kamar yang luas dan indah, bersih dan berbau harum melati, bunga kesukaan Lasmini. Ketika dia masuk, dia melihat selirnya itu rebah menelungkup di atas pembaringan dan menangis perlahan. Mukanya ditanamkan dalam bantal dan pundaknya hergoyang-goyang. Tubuh yang indah padat itu bergoyang perlahan, membuat hati sang patih dipenuhi kerinduan kepada selir terkasih ini. Dia menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, disentuhnya pundak Lasmini dengan lembut.

"Diajeng ....."

Lasmini tetap menelungkup dan tangisnya kini tersedu-sedu. Beberapa saat lamanya Narotama membiarkan Lasmini menangis, dan setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak selirnya dan berkata lagi dengan lembut.

"Diajeng, jauh-jauh aku datang menjemputmu, mengapa engkau tidak keluar menyambut kedatanganku, malah berdiam dalam kamar dan menangis?"

Dielusnya tengkuk indah dengan anak rambut melingkar lingkar itu karena rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas. Biasanya, belaian seperti ini amat disukai selir itu. Akan tetapi sekali ini, Lasmini menggerakkan tubuh menjauh tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menelungkup, akan tetapi terdengar ia berkata agak ketus namun lirih karena mukanya terbenam ke bantal.

"Mau apa paduka datang ke sini? Mau apa mengunjungi hamba yang rendah dan jahat ini?"

Narotama tersenyum. "Diajeng, tentu saja aku datang untuk menjemputmu. Mari kita pulang ke kadipaten, diajeng."

"Apa perlunya hamba kembali ke sana? Hamba sudah tidak dipercaya lagi. Bukankah hamba orang jahat yang menyuruh Nismara menculik garwa paduka?"

"Diajeng Lasmini, aku tidak pernah menganggap engkau seperti itu."

Tiba-tiba Lasmini bangkit duduk. Gerakannya menggeliat dari tidur menelungkup menjadi duduk ini tampak begitu Indah karena memperlihatkan gerakan tubuh yang meliuk dan lemah gemulai, juga padat dengan lekuk lengkung yang sempurna. Wajahnya tampak membayangkan kesedihan, matanya sayu, rambutnya sebagian terjuntai, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, kecantikannya bahkan semakin menonjol. Hal ini tentu saja lebih diperkuat oleh perasaan rindu dalam hati Narotama.

"Mungkin paduka tidak, akan tetapi kakang-mbok Listyarini menuduh hamba begitu. la melempar fitnah kepada hamba,..." Bibir yang mungil merah segar itu meruncing dan tampak menantang.

"Itu adalah kesalah pahaman belaka diajeng. Yang menjatuhkan fitnah adalah jahanam Nismara yang telah mati itu. Sayang dia telah mati, kalau tidak tentu akan kuhukum seberat-beratnya."

Mendengar bahwa Nismara telah mati, hati Lasmini menjadi lega dan girang sekali, namun perasaan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya yang tetap sedih. Dengan matinya Nismara, maka tuduhan itu tidak ada artinya, tidak ada saksinya dan rahasianya tetap tertutup Bagaimanapun juga, berita tentang kematian Nismara ini membuat ia sedemikian girangnya sehingga ia tidak dapat bicara untuk sejenak lamanya.

"Sudahlah, diajeng. Kita lupakan saja hal-hal yang terjadi di Telaga Sarang itu dan marilah kembali dengan aku ke kepatihan. Engkau masih cinta kepadaku seperti aku mencintaimu, bukan?" Narotama kini merangkul dan Lasmini balas merangkul sambil membenamkan mukanya di dada sang patih. Tanpa mengangkat muka dari atas dada suaminya, Lasmini berkata lirih, seperti merajuk.

"Hamba hanya mau kembali dengan satu syarat, kakangmas."

Narotama mengelus dan membelai punggung selirnya. "Katakanlah, apa syaratmu itu?"

"Kalau hamba sudah sampai di kepatihan, kakang mbok Listyarini harus minta maaf kepada hamba. Dengan begitu kesalah pahaman ini baru dapat hamba lupakan."

Narotama tersenyum. Hal itu sudah dia duga sebelumnya, maka sebelum berangkat menjemput Lasmini dia sudah minta janji isterinya untuk minta maaf kepada Lasmini.

"Tentu saja. Akan kusuruh ia minta maf kepadamu, Lasmini."

"Betul, kakangmas? Ah, baru senang hatiku!" Dan Lasmini menerima dengan penuh kepasrahan bahkan menyambut hangat ketika Narotama menciumnya.

"Akan tetapi, diajeng. Untuk membuat ketegangan antara kalian berdua benar-benar mencair, engkau pun sudah sepantasnya minta maaf pula kepada diajeng Listyarini, dengan demikian hubungan kalian akan menjadi akrab."

"Hamba? Minta maaf kepada kakang mbok Listyarini? Untuk apa?"

Narotama tersenyum. "Diajeng, engkau juga mempunyai hutang kepadanya, Engkau menuduh ia melakukan penyelewengan dan berbuat zina dengan Ki Tejoranu."

"Akan tetapi kita melihat sendiri"

"Hemm, tampaknya saja begitu, akan tetapi sesungguhnya, Ki Tejoranu itulah yang telah menyelamatkan nyawa diajeng Listyarini dari tangan si jahanam Nismara." Narotama lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Ki Tejoranu dan apa yang dialami Listyarini.

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Lasmini terhadap Nismara. Baru sekarang ia tahu bahwa Nismara telah mengkhianatinya, tidak melaksanakan perintahnya, tidak membawa Listyarini ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman. Melainkan membawanya jauh ke barat, la menjadi lebih gemas lagi mendengar bahwa Listyarini urung diperkosa Nismara karena tertolong oleh Ki Tejoranu keparat itu! Akan tetapi tentu saja la tidak memperlihatkan apa yang bergolak dalam hatinya.

"Aah, begitukah, kakangmas? Kasihan kakang mbok Listyarini yang mengalami banyak penderitaan, masih kusangka yang bukan-bukan lagi. Baiklah, setelah tiba disana, hamba akan minta maaf kepadanya."

Demikianlah, Lasmini kembali ke kadipaten Kahuripan. Dengan sikapnya yang amat pandai membawa diri ia berbaik dengan Listyarini sehingga garwa padmi patih inipun terkecoh dan sejak itu menganggap Lasmini seorang yang ramah dan baik hati! Namun, di lubuk hatinya, Lasmini merasa penasaran sekali, la harus membalas dendam karena semua usahanya yang gagal itu ia anggap sebagai kekalahannya yang memalukan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa adiknya, Mandari yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga, juga sebegitu lama belum berhasil sama sekali.

Seperti juga Lasmini, Mandari juga berhasil membuat Sang Prabu Erlangga terlena dan terbuai oleh rayuan dan sikapnya yang serba menyenangkan. Mandari juga pandai sekali mempergunakan segala kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya untuk membuat Sang Prabu Erlangga jatuh dengan cinta berahi yang menggebu-gebu. Namun, Sang Prabu Erlangga juga merupakan seorang yang arif dan bijaksana.

Walaupun dia tidak mampu mengekang nafsu berahinya yang berkobar dibangkitkan oleh kecantikan Mandari, namun dia tetap waspada dan tahu benar bahwa cinta di antara dia dan selirnya itu hanyalah merupakan cinta nafsu berahi semata. Jiwa mereka tidak pernah saling bersentuhan. Oleh karena itu, dengan kesaktiannya, Sang Prabu Erlangga juga selalu menjaga agar hubungannya dengan selir terkasih ini jangan sampai menghasilkan seorang keturunan. Dia sama sekali tidak menginginkan keturunan dari Mandari.

Sang Prabu Erlangga telah memiliki seorang permaisuri, yaitu Puteri Sekar kedaton, puteri dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, dan seorang selir terkasih dan setia bernama Dyah Untari. Dari kedua orang isterinya itu, Sang Prabu Erlangga telah mendapatkan dua orang putera. Ketika dia meminang dua orang puteri Ratu Kerajaan Parang siluman, bukan semata karena dia mendengar akan kecantikan dua orang puteri itu, melainkan terutama sekali demi menjaga agar permusuhan antara kerajaan kecil itu dan Kahuripan dapat dipadamkan dan terdapat perdamaian. Akan tetapi setelah dia memilih Mandari menjadi selir dan menyerahkan Lasmini kepada Narotama, dia segera tenggelam kedalam pengaruh yang teramat kuat dari kecantikan dan kepandaian Mandari mengambil hatinya.

Dalam waktu singkat Mandari menjadi selir yang tersayang. Hal Ini sebetulnya dianggap wajar saja oleh Sang Permaisuri dan juga oleh selir Dyah Untari yang setia. Pada jaman itu, raja manakah yang tidak memiliki banyak isteri? Dan wajar kalau Sang Prabu Erlangga amat menyayang Mandari, selir baru itu karena selain dara itu seorang puteri, yaitu puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman, juga memang puteri itu cantik jelita dan amat menggairahkan. Baik Sang Permaisuri maupun Dyah Untari sama sekali tidak merasa cemburu atau khawatir, apalagi mereka berdua masing-masing telah mempunyai seorang putera!

Memiliki putera ini berarti merupakan pengukuhan dan penguatan kedudukan mereka. Juga penguatan hubungan mereka dengan Sang Prabu Erlangga. Putera Sang Permaisuri diberi nama Pangeran Samarawijaya yang pada waktu itu sudah berusia dua tahun. Adapun putera Dyah Untari diberi nama Pangeran Budidharma dan berusia satu tahun.

Ni Mandari memang berhasil membuat Sang Prabu Erlangga mabuk kepayang dan tenggelam dalam lautan asmara, terpesona oleh kecantikan dan daya tariknya yang amat kuat. Akan tetapi ia kecewa sekali karena semua usahanya untuk mengacau keluarga Sang Prabu Erlangga selalu menemui kegagalan.

Usaha pertama mengadu domba Sang Prabu Erlangga dengan Ki Patih Narotama sudah menemui kegagalan. Maka hatinya selalu merasa tidak senang. Apalagi melihat betapa para madunya, Sang Permaisuri dan Dyah Untari masing-masing telah mempunyai seorang putera sedangkan ia sendiri belum ada tanda-tanda hamil, hatinya menjadi semakin kesal.

Kalau ia hendak membunuh Sang Prabu Erlangga, memang kesempatannya banyak sekali karena Sang Prabu Erlangga seringkali terlena dan tertidur pulas dalam pelukannya. Dalam keadaan seperti itu ia akan mudah dapat membunuh raja itu. Akan tetapi ada dua hal yang membuat ia tidak mau melakukan atau mencobanya. Pertama, ia tahu betapa sakti mandraguna Sang Prabu Erlangga sehingga ada kemungkinan usahanya untuk membunuh gagal, dan ke dua, diam-diam ia sendiri mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada pria yang menjadi suaminya itu.

Sang Prabu bukan saja sakti mandraguna, akan tetapi juga tampan, gagah, dan pandai dalam olah asmara, pendeknya seorang pria yang sukar dicari bandingnya. Karena itu, ia memutar otak untuk mencari cara lain untuk menghancurkan dan melemahkan Kerajaan Kahuripan.

Akan tetapi sebelum ia mendapatkan cara terbaik untuk memenuhi keinginannya, datang persoalan lain yang membuat hati Mandari menjadi semakin penasaran dan marah sekali. Berita itu adalah berita tentang peminangan yang diajukan Sang Prabu Erlangga terhadap puteri Sribaginda Raja Sriwijaya, telah diterima dan sang puteri dari Sriwijaya itu akan segera datang, dijemput oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama!

Juga pernikahan ini merupakan suatu tindakan untuk menjalin perdamaian dengan Kerajaan besar Sriwijaya itu, seperti halnya pernikahannya dengan Mandari. Hanya bedanya, karena Mandari hanya puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman yang merupakan kerajaan kecil saja, maka Mandari hanya menjadi seorang selir. Adapun puteri Kerajaan Sriwijaya yang merupakan saingan Mataram sejak dulu dan merupakan kerajaan besar, dinikahi secara besar-besaran dan diangkat menjadi permaisuri ke dua setelah Sang permaisuri yang dahulunya Puteri Sekar Kedaton, puteri mendiang Raja Teguh Dharmawangsa.

Hal inilah yang membuat hati Mandari menjadi semakin panas. Biarpun ia amat disayang Sang Prabu Erlangga dan Sang prabu lebih sering mengajak ia menemaninya tidur, namun tetap saja ia hanya seorang selir. Di atas ia masih ada Sang Permaisuri yang kedudukannya tentu saja lebih mulia dan lebih dihormati semua punggawa dan rakyat Kahuripan.

Bahkan la masih kalah dalam hal kedudukannya dibandingkan selir Dyah Untari karena Dyah Untari telah mempunyai seorang putera dan merupakan selir terdahulu atau tertua. Juga Dyah Untari adalah puteri dari mendiang Pangeran Sepuh Hardagutama yang masih kakak tiri berlainan ibu dengan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dan telah diangkat menjadi patih oleh raja yang masih saudara tirinya itu. Baru menghadapi dua orang saingan ini saja dia sudah merasa berat untuk berebutan pengaruh, dan sekarang malah ditambah datangnya seorang permaisuri ke dua.

Sang Prabu Erlangga menyambut kedatangan sang puteri dari Sriwijaya yang nama lengkapnya adalah Sri Sanggrama wijaya Dharmaprasadatunggadewi. Untuk menghormati sang puteri, tentu saja terutama sekali untuk menyenangkan Sri baginda Raja di Sriwijaya, Sang Prabu Erlangga mengadakan pesta besar-besar untuk merayakan pernikahannya dengan Puteri Sriwijaya itu.

Bahkan perkawinan agung yang mempersatukan dua kerajaan besar itu kemudian ditulis oleh Pujangga Empu Kanwa sebagai kitab kekawin junawiwaha yang mengisahkan pernikahan Sang Arjuna dengan seorang bidadari bernama Dewi Supraba, setelah Sang Arjuna lulus dari segala macam cobaan ujian berupa godaan berat dalam pondok pengasingannya melakukan tapabrata.

Pesta besar diadakan selama tujuh hari tujuh malam dan bukan hanya istana Kahuripan yang merayakan pesta pernikahan besar-besaran ini, bahkan seluruh rakyat juga ikut merayakannya. Akan tetapi kalau semua orang bergembira dan berpesta pora, dua orang merasa ngelangsa. Mereka memang ikut juga berpesta dan tampak gembira, namun semua itu hanya sandiwara.

Di dalam hati mereka, Lasmini yang datang sebagai tamu bersama keluarga Ki Patih Narotama dan Mandari yang bertindak sebagai keluarga tuan rumah yang empunya kerja, kedua orang kakak beradik ini merasa penasaran dan marah sekali. Setelah perayaan berjalan tiga hari, Mandari berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk beristirahat karena merasa lelah dan ia ingin menggunakan kesempatan Itu untuk melepas rindu dengan kakaknya, yaitu Ni Lasmini yang datang sebagai tamu.

Kedua orang puteri jelita ini lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka sudah berada dalam sebuah kamar. Mereka berdua bercakap-cakap. kini kamar itu dan menutup pintu dan jendela-jendela. Biarpun semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat, dua orang kakak beradik itu masih bicara lirih agar jangan sampai pembicaraan mereka terdengar orang lain.

"Aduh, bagaimana ini, mbakayu Lasmini? Apakah keadaan kita terus begini saja? Sampai sekarang kita belum juga dapat melakukan sesuatu yang berarti. Ah, tentu kita akan menjadi buah tertawaan di Parang Siluman, semua orang akan mengira kita karena keenakan disini lalu melupakan tugas dan tidak berbuat apa-apa!" kata Mandari gemas.

Lasmini mengepal kedua tangannya dengan gemas.

"Akupun merasa gemas sekali, Mandari. Usahaku berulang kali tak pernah berhasil. Bahkan paling akhir ini aku telah berhasil menyuruh orang menculik Listyarini, akan tetapi sial, ada saja orang yang menyelamatkannya sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Ki Patih Narotama. Malah nyaris rahasiaku terbuka. Sekarang ini, apa rencanamu Mandari?"

"Begini, mbakayu Lasmini. Kita tahu bahwa dengan pernikahan Sang Prabu Erlangga dengan puteri Sriwijaya ini, maka kedudukan Kahuripan menjadi semakin kuat karena dia dapat menarik Kerajaan Sriwijaya menjadi keluarga. Maka, hal ini harus kita cegah dengan jalan membunuh puteri Sriwijaya itu sehingga Raja Sriwijaya tentu akan marah dan timbul permusuhan antara Kahuripan dan Sriwijaya."

"Hemm, kurasa rencana itu baik sekali, akan tetapi pelaksanaan ....."

"Ssttt .....!" Mandari memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir sehingga Lasmini tidak melanjutkan ucapannya yang berbisik itu. Mereka berdua mendengar langkah kaki lewat di depan kamar dan setelah langkah itu tidak terdengar lagi Mandari berkata.

"Itu tadi tentu langkah pengawal yang meronda. Bicara disini tidak aman, mbakayu. Sebaiknya kita masuk ke taman saja dan bicara di sana dapat dilakukan dengan leluasa karena tidak ada orang lain yang mungkin dapat mendengar kita. Mari!" Mandari lalu mengajak Lasmini memasuki tamansari, taman istana yang indah dan luas.

Taman ini lebih indah daripada taman kepatihan dan di sana-sini diterangi lampu warna-warni. Agaknya taman itupun dihias dalam rangka pesta pernikahan yang meriah itu. Dua orang puteri itu memasuki taman dan Mandari mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah tempat peristirahatan terbuka. Tempat itu berpayon namun tanpa dinding dan di situ terdapat meja kursi ukiran indah, prabot-prabot hiasan dan juga digantungi sebuah lampu. Di sekitar bangunan peristirahatan itupun diterangi lampu sehingga kalau ada orang mendekati tempat itu, mereka akan dapat melihatnya.

Setelah kedua orang puteri itu duduk berhadapan di bangunan mungil itu dan memandang ke sekeliling, yakin bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada orang lain, mereka lalu melanjutkan percakapan yang tadi terpotong.

"Mandari, bagaimana cara melaksanakan rencanamu itu? Kurasa pelaksanaannya tidak mudah, bahkan berbahaya sekali."

"Memang tidak mudah, mbakayu Lasmini, akan tetapi mari kau bantu aku mencari jalan yang baik. Selain itu, masih ada rencana lain yang sudah lama ingin ku laksanakan akan tetapi belum juga menemukan cara terbaik."

"Rencana apa itu?"

"Begini, Puteri Sriwijaya itu akan diangkat menjadi permaisuri ke dua. Akan tetapi sekarang, permaisuri pertama telah mempunyai seorang putera berusia dua tahun, yaitu Pangeran Samarawijaya yang tentu saja sebagai putera pertama permaisuri akan menjadi putera mahkota. Nah, kalau saja putera ini dapat dibunuh ....."

"Mandari, hati-hati kau! Rencanamu Itu lebih berbahaya lagi dan amat sukar dilaksanakan'" bisik Lasmini.

Tiba-tiba terdengar suara pria yang lirih namun terdengar jelas di telinga dua orang puteri itu. Sebagai orang-orang sakti, dua orang puteri itu segera mengetahui bahwa suara itu diucapkan lirih, namun didorong tenaga sakti sehingga dapat mencapai telinga mereka dengan cukup jelas.

"Duhai sepasang puteri juwita yang cantik jelita dan sakti mandraguna mengapa risau kalau di sini ada hamba yang akan membikin terang semua perkara yang menggelapkan hati paduka"

Lasmini dan Mandari sudah melompat berdiri dengan sigapnya dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka terkejut sekali ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria muda yang keluar dari balik batang pohon sawo yang tumbuh tak jauh dari tempat peristirahatan itu! Tempat orang itu bersembunyi begitu dekat dan tentu dia tadi telah mendengar semua percakapan mereka! Akan tetapi dari mana datangnya laki-laki ini? Bagaimana dia dapat tiba dan bersembunyi di balik batang pohon itu? Padahal kalau dia datang, tentu sebelum tiba di situ mereka berdua sudah melihatnya!

Lasmini dan Mandari mempunyai pikiran yang sama pada saat itu. Laki laki ini harus dibunuh karena dialah satu satunya orang yang tadi mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui rahasia mereka. Ini berbahaya sekali. "Haiiiiittt .....!"

Dua orang puteri yang ketika duduk bercakap-cakap tadi tampak cantik jelita dan lemah gemulai, kini tiba-tiba berubah tangkas sekali. Keduanya sudah melompat keluar, bagaikan melayang dan keduanya sudah menyerang laki-laki itu dengan pengerahan tenaga sakti mereka karena mereka memang menyerang untuk membunuh!

Dari tangan-tangan mungil halus itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, menyerang ke arah tubuh laki-laki yang tiba-tiba muncul itu. Akan tetapi laki-laki muda itu tidak menjadi gentar. Diapun menggerakkan dua tangannya menyambut dan menangkis serangan dua orang puteri itu.

"Wuuuttt ..... desss .....!"

Dua orang puteri itu terkejut bukan main karena tubuh mereka terpental ketika serangan mereka bertemu dengan tolakan pemuda itu. Ternyata laki-laki muda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat! Kini pemuda itu berdiri tepat di bawah sinar lampu sehingga kedua orang puteri itu dapat melihat wajahnya dengan jelas dan keduanya tertegun.

Pemuda itu masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap, matanya lebar dan tajam mencorong, hidungnya mancung, mulutnya mengandung senyum ejekan dan penampilannya gagah. Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengenalnya, maka Lasmini dan Mandari sudah siap untuk menyerang lagi karena orang itu merupakan bahaya besar bagi mereka. Akan tetapi pemuda itu sudah melangkah maju dan mengangkat kedua buah tangannya ke atas seperti hendak mencegah mereka melakukan serangan.

"Perlahan dulu, harap paduka ketahui bahwa hamba bukanlah musuh, melainkan seorang sahabat yang datang hendak membantu agar apa yang paduka berdua rencanakan itu dapat terlaksana dengan baik."

Mendengar ini, dua orang puteri itu saling pandang dan Lasmini yang tertarik oleh ucapan pemuda itu cepat bertanya, "Siapakah andika dan apa maksud ucapanmu tadi?"

"Hamba bernama Linggajaya, murid bapa guru Sang Resi Bajrasakti."

"Sang Resi Bajrasakti, penasihat Kerajaan Wengker? Lalu apa maksudmu datang memasuki taman ini?" tanya Mandari sambil menatap wajah tampan pesolek itu dengan kagum.

Baik Lasmini maupun Mandari memiliki dasar watak mata keranjang, akan tetapi selama ini mereka berdua belum melihat adanya kesempatan untuk menuruti gairah nafsu yang memperbudak mereka. Apalagi, suami mereka merupakan pria-pria yang tampan gagah, yang cukup memenuhi kehausan mereka yang selalu bergelora.

"Hamba menerima perintah Sang Adipati Adhamapanuda, raja kerajaan Wengker untuk membantu paduka berdua dalam usaha mengacau dan melemahkan kerajaan Kahuripan."

"Ah, baik sekali kalau begitu. Akan tetapi, Linggajaya, kita tidak ada kesempatan untuk berunding karena andika tidak boleh terlalu lama di sini. Kalau sampai terlihat seorang perajurit pengawal yang meronda, bisa celaka!" kata Mandari.

Linggajaya tersenyum. "Harap paduka jangan khawatir, gusti puteri. Tadi hamba memasuki taman juga tidak ada yang dapat melihat hamba. Kalau ada orang datang, hamba dapat mempergunakan Aji Panglimutan dan tidak ada yang dapat melihat kehadiran hamba di sini."

"Hemm, bagaimana kami bisa yakin bahwa andika tidak hanya membual kalau kami tidak melihatnya sendiri?" tiba-tiba Lasmini berkata.

Linggajaya kembali tersenyum, kemudian dia berkata, "Kalau begitu, harap paduka berdua buktikan sendiri sekarang!" Dia telah mengerahkan ajiannya, yaitu Aji Panglirnutan.

Tiba-tiba tampak halimun tebal menyelubungi tubuh pemuda itu dan kedua orang puteri itupun tidak dapat melihatnya lagi! Mereka berdua merasa kagum sekali dan biarpun mereka memperhatikan dengan pandang mata mereka, tetap saja pemuda itu tidak tampak. Tiba-tiba Lasmini merasa ada tangan mengusap lengannya dengan sentuhan mesra dan ada napas hangat terasa pekat sekali dengan tengkuknya! Tahulah dia bahwa pemuda itu dengan ajiannya yang hebat telah melakukan hal ini kepadanya dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda itu tertarik sekali kepadanya seperti juga ia yang tertarik kepada Linggajaya!

Dua orang puteri itu lalu memperlihatkan pula kesaktian mereka. Keduanya bersedakap dan mengerahkan kekuatan batin mereka untuk membuyarkan Aji panglimutan itu dan perlahan-lahan halimun itupun makin menipis dan tampaklah Linggajaya sudah berdiri di dekat mereka sambil tersenyum manis.

"Hebat paduka berdua memang sakti dan dapat membuyarkan ajian hamba, akan tetapi para perajurit pengawal biasa itu tidak akan mampu melakukan itu karenanya harap paduka jangan khawatir dan harap suka memberi petunjuk, apa yang harus hamba lakukan agar rencana gusti Puteri Mandari tadi dapat dilaksanakan dengan baik."

"Hemm, andika juga sudah mengenal nama kami?" Tanya Lasmini.

Linggajaya memandang kepada Lasmini, tersenyum dan pandang matanya jelas memperlihatkan perasaan hatinya terhadap selir patih ini.

"Tentu saja hamba sudah diberitahu dan mengenal paduka berdua, Gusti Puteri Lasmini yang menjadi garwa Ki Patih Narotama dan Gusti Puteri Mandari yang menjadi garwa Sang Prabu Erlangga. Paduka berdua adalah kakak beradik puteri-puteri Gusti Ratu Kerajaan Parang Siluman yang bertugas untuk menyingkirkan raja dan patih Kahuripan, atau mengadu domba di antara mereka, atau mengusahakan apa saja agar Kerajaan Kahuripan menjadi lemah. Bukankah demikian seperti yang hamba dengar?"

"Benar sekali, Linggajaya. Nah, kalau begitu, dengarlah baik-baik. Aku mempunyai rencana ....."

"Hamba tadi sudah mendengar akan kedua rencana paduka itu, gusti puteri. Kalau menurut hamba, hamba dapat bertindak sebagai pedang bermata dua, sekali bergerak mendapatkan dua hasil yang baik."

"Apa maksudmu Linggajaya?" tanya Lasmini dengan tertarik.

"Begini, maksud hamba. Kalau hamba sudah diberitahu tentang tempat, waktu atau saat yang tepat untuk bertindak, hamba dapat membunuh pangeran kecil itu dan sekaligus diusahakan agar yang disangka melakukan perbuatan itu adalah sang puteri dari Sriwijaya! Masuk diakal kalau puteri Sriwijaya itu ingin melenyapkan putera pertama yang akan menjadi putera mahkota itu, bukan? Tentu saja dengan keinginan agar kelak, kalau ia melahirkan seorang putera, puteranya itu yang akan menjadi pangeran mahkota. Dengan demikian, sekali bertindak, mendapatkan dua hasil. Pertama, kematian Pangeran pertama itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi keluarga Sang Prabu Erlangga dan ke dua, kalau Puteri Sriwijaya dituduh melakukan pembunuhan dan ditindak, maka kerukunan antara Kahuripan dan Sriwijaya menjadi rusak."

"Ah, bagus sekali!" Lasmini berseru girang dan ia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata yang mengandung kegairahan. Pemuda seperti inilah yang dapat dijadikan sekutu, juga patut untuk menjadi teman untuk memuaskan gairahnya yang berkobar.

Linggajaya tersenyum dan menyambut pujian Lasmini itu dengan pandang mata yang penuh arti. pandang mata yang merayu dan seolah dengan pandang matanya itu dia membelai tubuh selir Kepatihan itu!

"Sekarang tinggal Gusti Puteri Mandari yang dapat memberi petunjuk kepada hamba tentang cara, tempat dan saat hamba harus bertindak karena tentu saja paduka yang lebih mengetahui keadaan dalam istana ini," kata Linggajaya.

"Aku sudah pikirkan hal itu," kata Mandari dengan suara yang bernada gembira. "Sebaiknya diatur begini." Ia lalu berbisik-bisik lirih sekali sehingga terpaksa Lasmini dan Linggajaya mendekatkan telinga mereka untuk menangkap apa yang dikatakan selir Sang Prabu Erlangga Itu.

Dan tanpa disengaja, ketika mendekatkan telinga, muka Linggajaya berlekatan sekali dengan muka Lasmini sehingga keduanya dapat merasakan tiupan napas masing-masing di pipi mereka. Kembali mereka bertukar pandang yang penuh arti, penuh daya tarik dan sekaligus penuh tantangan!

"Nah, sudah mengerti benarkah andika, Linggajaya?" Tanya Mandari setelah selesai berkasak-kusuk.

Linggajaya mengangguk. "Hamba sudah mengerti, gusti puteri.” Akan tetapi mata pemuda itu mengerling ke arah Lasmini.

"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan perlengkapan yang kau butuhkan. Besok malam, datanglah ke sini untuk menerima barang-barang itu."

"Sendiko, gusti puteri. Kalau begitu hamba mohon diri. Sudah terlalu lama hamba di sini."

Kedua orang puteri itu mengangguk dan ketika Linggajaya hendak melangkah pergi, Lasmini memanggilnya lirih, "Linggajaya .....!"

Pemuda itu berhenti dan menghadapi puteri itu. "Kalau semua sudah dapat terlaksana dengan baik, andika harus meninggalkan istana, akan tetapi jangan pergi jauh. Datanglah ke kepatihan, kami membutuhkan seorang juru taman yang pandai dan kalau engkau berada dekat sana, siapa tahu engkau dapat pula membantuku."

"Sendika, gusti puteri, dan terima kasih." jawab Linggajaya dengan wajah berseri dan dia lalu menyelinap lenyap ditelan kegelapan malam di balik pohon-pohon dalam taman itu.

Dua orang puteri itu merasa gembira sekali dan mereka lalu melangkah perlahan-lahan kembali ke istana. Ketika memasuki bangunan yang megah itu, karena tidak melihat ada orang dan suara perayaan pesta itu masih ramai terdengar di bagian depan dan luar istana, Lasmini berkata kepada adiknya.

"Wah, Mandari, kalau anak itu dapat dibunuh, akan berhasillah jerih payah kita selama ini."

"Ssttt ..... kita sudah di sini, jangan bicarakan itu lagi," bisik Mandari memperingatkan kakaknya.

Mereka tertawa tawa dan tampak gembira sekali ketika memasuki ruangan itu. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ketika mereka bicara tadi, ada sepasang telinga yang menangkap ucapan Lasmini tadi. Pemilik sepasang telinga ini adalah Dyah Untari, selir pertama Sang Prabu Erlangga. Tadinya, melihat dua orang puteri itu datang dari taman, Dyah Untari hendak menyambut dan menyapa dengan ramah seperti biasanya, akan tetapi melihat keduanya berbisik-bisik, ia merasa heran dan cepat menyelinap di balik tiang besar. Ketika mendengar bisikan yang diucapkan Lasmini, ia makin terkejut pula dan tidak memperlihatkan diri. Kecurigaan menyelinap dalam hatinya.

Biar pun Dyah Untari tidak cemburu kepada Mandari, namun dalam hatinya ia kurang suka kepada selir termuda dan terkasih dari Sang Prabu Erlangga ini. Bukan karena cemburu, melainkan karena sikap Mandari terkadang angkuh dan sering kali selir ini memperlihatkan sikap kasar kepada para dayang, ringan tangan menampar dayang hanya karena kesalahan kecil saja dan terutama sekali, di luar tahu sang prabu, Mandari suka memaki dengan kata-kata yang tidak bersusila dan tidak pantas dikeluarkan dari mulut seorang selir raja besar!

Akan tetapi di depan Sang Prabu Erlangga, Mandari selalu tampak lemah lembut, halus menyenangkan, seperti seekor domba yang berbulu indah bersih dan jinak lembut. Seringkah Dyah Untari melamun bahwa domba jinak itu tidak mustahil sewaktu waktu akan berubah menjadi seekor serigala!

*********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Malam terakhir pesta perayaan pernikahan itu diliputi cuaca yang gelap. sejak sore tadi langit tertutup mendung dan hujan gerimis mendatangkan hawa yang dingin. Akan tetapi perayaan malam terakhir itu tetap meriah. Suara gamelan dipukul bertalu-talu mengiringi suara tembang para waranggana.

Sesosok bayangan berkelebat membayangi seorang perwira berpakaian seperti perwira Sriwijaya. Perwira ini adalah Swandaru, kepala pasukan pengawal sang Puteri Sri Sanggramawijaya dari sriwijaya. Tadinya perwira inipun duduk di pendopo bersama para tamu lain, nonton para penari srimpi. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang dayang menghampirinya dan mengatakan dengan suara bisik bisik bahwa perwira dari Sriwijaya di dipanggil oleh sang puteri Sri Sanggramawijaya agar masuk ke dalam keputren.

Mendengar panggilan ini, tentu saja Swandaru cepat meninggalkan tempat pesta dan pergi ke arah keputren, sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat cepat dalam kegelapan dan membayanginya. Ketika dia tiba di lorong yang menuju ke keputren, tempat yang sepi karena semua orang sibuk luar, ada yang nonton, ada yang sibuk melayani tamu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat di dekatnya.

Sebuah tangan halus meluncur dan sebuah tamparan mengenai tengkuknya. Tanpa mengeluarkan suara Swandaru terkulai pingsan dan diseret ke dalam bagian taman yang gelap. Sungguh luar biasa betapa perwira Sriwijaya yang bukan seorang lemah ini dapat dirobohkan demikian mudahnya oleh sebuah tangan yang mungil dan halus.

Sementara itu, di ruangan samping yang masih menjadi bagian keputren menjadi tempat para biyung emban (inang pengasuh) biasa mengasuh anak-anak keluarga istana. Karena pada waktu itu Sang Prabu Erlangga baru mempunyai dua orang putera, maka biasanya hanya dua orang putera ini yang diasuh oleh para biyung emban. Akan tetapi pada malam itu, agaknya para biyung emban tidak ada pekerjaan dan ikut nonton di tempat pesta.

Yang berada di ruangan itu hanya seorang biyung emban bernama Darmi yang dipercaya untuk mengasuh Pangeran Samarawijaya. Biasanya, seorang pengasuh lain, Ginah, berada pula di situ dan mengasuh Pangeran Budidharma yang lebih kecil. Akan tetapi malam itu yang berada di situ hanya biyung emban Darmi yang bertubuh gemuk. la menggendong seorang anak laki - laki dengan sehelai selendang. Agaknya anak itu sedang tidur karena Darmi membawanya berjalan hilir mudik sambil bersenandung.

"Ah, semua menonton, bersenang senang dan malas!" gerutunya di tengah senandungnya.

Memang, semua orang nonton dan ia ditinggal seorang diri menggendong anak laki-laki itu. Agaknya selama perayaan pesta itu berlangsung, di istana makanan berlimpah-limpah. Sambil menidur-nidurkan anak itu, Darmi kadang berhenti di dekat sebuah meja dan mengambil makanan dari piring lalu memakannya.

Senandungnya menjadi sumbang karena diseling makan. Pantas tubuhnya gemuk karena agaknya ia suka ngemil (sering makan makanan kecil), Demikian asyiknya Darmi sehingga ia tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu. Pada saat dia mendengar gerakan di belakangnya, ia menengok dan matanya terbelalak melihat seorang laki-laki mengenakan topeng hitam sudah berdiri di depannya!

Laki-laki itu menggerakkan sebatang keris dan secepat kilat keris itu ditusukkan ke tubuh anak yang digendong Darmi. Anak yang malang itu hanya menjerit satu kali, lalu diam tak bergerak karena keris itu telah menembus dadanya. Orang yang menusuk anak itu lalu melompat dan keluar dari ruangan. Darmi masih terbelalak. Ketika ia memandang ke arah anak dalam gendongannya, ia melihat darah berlumuran dari tubuh anak itu!

la menjerit sekuatnya dan terkulai jatuh pingsan dengan anak yang telah mati itu masih dalam gendongannya. Akan tetapi jeritnya yang melengking nyaring itu mengejutkan orang-orarg yang berada di keputren. Para dayang berlarian memasuki ruangan itu dan sebentar saja keadaan menjadi gempar. Tak lama kemudian, Sang Prabu Erlangga sendiri memasuki ruangan, diikuti permaisuri yang baru, sang pengantin baru Puteri Sri Sanggramawijaya.

Sepasang pengantin ini terpaksa keluar dari kamar pengantin mereka ketika mendengar ada pembunuhan di tempat pengasuh anak anak. Tidak ketinggalan Mandari juga mengikuti Sang Prabu Erlangga, dan Dyah Untari. Ketika Sang Prabu Erlangga memasuki ruangan itu dengan tiga orang isterinya yang paling terkemuka, semua dayang dan abdi dalem (pelayan) berjongkok dipinggir dan menyembah.

Sang Prabu Erlangga menghampiri Darmi yang masih menangis meraung-raung setelah sadar dari pingsannya dan rnemeluki anak yang berlumuran darah dan sudah mati itu.

"Biyung Emban, berhentilah menangis dan ceritakan apa yang terjadi di sini." kata Sang Prabu Erlangga dengan tenang setelah dia mengamati sebentar anak yang masih digendong Darmi itu.

Mendengar suara sang prabu, agaknya Darmi baru menyadari bahwa junjungannya telah berada di situ. la segera menyembah-nyembah dan menahan tangisnya.

"Aduh, gusti..... ketiwasan (celaka), gusti..... ada..... ada orang masuk lalu menggunakan kerisnya membunuh " katanya gagap.

"Hemm, seperti apa orangnya?"

"Hamba tidak tahu, gusti ..... dia ..... dia memakai topeng hitam ....."

"Bagaimana pakaiannya?"

"Pakaiannya..... pakaiannya..... seperti perwira pasukan pengawal Gusti Puteri Pengantin.....dari Sriwijaya ....."

"Tidak mungkin.....!" puteri Sri Sanggramawi berseru. "Kenapa tidak mungkin? Ini buktinya!" terdengar jawaban dari luar dan masuklah Lasmini mengiringkan dua orang perajurit pengawal istana yang menggotong tubuh seorang tinggi besar yang memakai pakaian perwira pasukan Sriwijaya dan orang itu sudah mati!

"Paman Swandaru.....!" Sang Puteri Sri Sanggramawijaya berjongkok dekat mayat perwira pengawalnya itu, matanya terbelalak dan mukanya pucat. "Paman Swandaru..... andika kenapakah..... siapa yang berani membunuh perwira pengawalku?" la bangkit berdiri dan memandang penasaran kepada Sang Prabu Erlangga.

Ki Patih Narotama juga sudah datang ke tempat itu setelah dia yang tadi duduk di luar mendengar bahwa ada pembunuhan di bagian keputren. Dia memandang dengan alis berkerut kepada Lasmini karena sekali pandang ke arah muka mayat perwira Sriwijaya yang agak kebiruan itu diapun dapat menduga bahwa perwira itu tentu tewas oleh pukulan Aji Ampak-ampak yang ampuh dan dikuasai oleh selirnya itu.

"Tenanglah, adinda," kata Sang Prabu Erlangga kepada permaisurinya yang baru. Kemudian dia memandang kepada Lasmini yang membawa sebatang keris yang berlumuran darah lalu bertanya dengan suara penuh wibawa, "Lasmini, ceritakanlah apa yang terjadi."

"Diajeng, berceritalah sejujurnya, terus terang dan jangan ada yang disembunyikan!" terdengar Narotama berkata kepada Lasmini dengan suara memerintah.

Dengan hormat Lasmini menyembah kepada Sang Prabu Erlangga lalu menceritakan dengan suara lembut dan sungguh-sungguh. "Hamba sedang mencari angin di taman dan hamba mendengar jeritan dari bangunan bagian keputren, maka hamba segera hendak lari menghampiri. Akan tetapi setibanya di pintu taman, hampir hamba bertabrakan dengan orang ini! Melihat dia lari keluar dari bagian keputren, hamba menegurnya akan tetapi dia malah menyerang hamba dengan keris ini." Ia menyerahkan keris itu kepada Sang Prabu Erlangga yang menerima keris itu dan mengamatinya.

Kemudian dia berkata.

"Seterusnya bagaimana?"

"Hamba melawannya dan karena dia juga cukup digdaya dan agaknya mati-matian hendak menyerang hamba, terpaksa hamba lalu mengeluarkan aji pukulan untuk merobohkannya. Sayang, agaknya hamba memukul terlalu kuat sehingga dia tewas, padahal sesungguhnya hamba ingin menangkap dia hidup-hidup agar dia dapat mengaku mengapa dia membunuh Pangeran Samarawijaya dan siapa yang menyuruhnya."

"Siapa lagi yang menyuruhnya?" tiba tiba Puteri Mandari berkata lantang "Semua buktinya sudah lengkap dan saksinya juga ada. Biyung emban Darmi, coba lihat, bukankah ini laki-laki yang melakukan pembunuhan tadi?" Puteri Mandari menuding ke arah mayat Perwira Swandaru.

Biyung emban Darmi sudah Menjadi gugup sekali karena menghadapi pemeriksaan oleh Sang Prabu Erlangga, bahkan Ki Patih Narotama dan semua keluarga Istana. la memandang mayat itu dan berkata gagap, "kasinggihan..... pakaiannya..... begitu itulah..... tapi mukanya..... ditutupi topeng ....."

"Nah, itu sudah cukup, kakanda prabu. Buktinya lengkap, saksinya ada. Jelas perwira Sriwijaya ini pembunuhnya dan siapa lagi yang menyuruh dia melakukan pembunuhan itu kalau bukan Sang Puteri Sri Sanggramawijaya" kata Mandari.

"Ampun, gusti. Kalau boleh hamba ikut bicara, pembunuhan ini tentu dilakukan sebuah komplotan yang mempunyai niat jahat tertentu, lalu menjatuhkan fitnah atas diri Sang Puteri Sri Sanggrawijaya....."

"Kakangmbok Untari! Urusannya sudah jelas dan andika bicara soal komplotan segala. Apakah sekarang masih ada komplotan seperti yang dulu dilakukan mendiang Ki Patih Hardogutama ketika berkelomplot untuk membunuh mendiang kanjeng rama prabu Teguh Dharmawangsa?" bentak Mandari dengan suara mengandung penuh ejekan.

Pucat wajah Dyah Untari dan ia merasa terkejut, marah dan malu sehingga tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah.

"Sudah cukup! Apa perlunya ribut-ribut ini?" bentak Sang Prabu Erlangga sambil mengerutkan alis dan memandang Mandari dengan sinar mata mengandung teguran. Akan tetapi Mandari membalas pandang mata Sang Prabu Erlangga dengan berani dan lapun membantah.

"Akan tetapi, kakanda prabu! Putera paduka Pangeran Samarawijaya dibunuh orang dan hamba sekalian tidak boleh ribut-ribut?"

"Hemm, siapa bilang puteraku Pangeran Samarawijaya dibunuh orang? Anak yang terbunuh inipun aku tidak tahu siapa! Heh, biyung emban, siapakah anak dalam gendongan mu itu?"

"....ampun, gusti.... ini adalah Kadrya, keponakan hamba. Karena hamba mengganggur dan ibu anak ini sakit, maka malam ini dia dititipkan kepada hamba.... tidak tahunya..... dia mati terbunuh..... hu-hu-huuhh..... bagaimana hamba harus memberitahu adik hamba.....?"

Banyak orang menghela napas lega mendengar bahwa yang terbunuh bukan Pangeran Samarawijaya, akan tetapi Lasmini dan Mandari terkejut setengah mati! Sungguh tadinya mereka sudah merasa lega karena sekali ini usaha mereka berhasil baik. Linggajaya yang menyamar dengan pakaian perwira Sriwijaya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, membunuh anak itu lalu menyerahkan keris yang dipakai membunuh kepada Lasmini yang menanti di taman untuk dijadikan bukti. Siapa kira, yang diasuh biyung emban Darmi bukan sang pangeran, melainkan keponakan biyung-emban itu sendiri!

Yang tidak merasa heran adalah Dyah Untari karena ialah yang telah menggagalkan usaha pembunuhan atas diri sang pangeran itu. Ketika ia mendengarkan bisikan Lasmini dan Mandari yang mengatakan bahwa kalau anak itu dapat dibunuh maka berhasillah usaha mereka. hatinya menjadi curiga dan juga ngeri.

Siapa tahu yang dimaksudkan anak oleh dua orang wanita kakak beradik puteri-puteri Parang Siluman itu adalah kedua orang pangeran, puteranya sendiri, Pangeran Budidharma dan Pangeran Samarawijaya. Oleh karena itu, semenjak malam itu, ia minta kepada kedua orang biyung emban pengasuh agar membawa kedua orang anak itu!

Maka terjadilah salah bunuh itu. Akan tetapi, Dyah Untari tidak berani mengemukakan hal ini. Kecurigaannya bahwa dua orang puteri Parang Siluman itu yang mengatur pembunuhan, tidak mempunyai bukti yang kuat dan ia tidak mau kalau nanti Mandari kembali menghinanya dengan menceritakan tentang komplotan mendiang ayahnya di depan orang banyak. Ia dapat menderita malu. Apalagi, biyung emban Darmi sendiri sudah bersaksi bahwa pembunuhnya memang perwira Sriwijaya itu.

Mungkinkah perwira Sriwijaya itu berkomplot dengan kakak beradik dari Parang Siluman itu? Rasanya tidak mungkin dan urusannya menjadi bertambah ruwet. Memang, keadaannya di Kahuripan, menjadi selir pertama dan tercinta dari Sang Prabu Erlangga merupakan hal yang aneh. Mendiang ayahnya adalah Pangeran Tua Hardogutama yang kemudian diangkat sebagai patih oleh mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, mertua Sang Prabu Erlangga. Mendiang ayahnya itu dan mendiang kakaknya memang melakukan pemberontakan, hendak menguasai kerajaan dan hendak membunuh Sang Prabu Erlangga ketika belum menjadi raja. Namun usaha mereka itu gagal, bahkan mereka sendiri tewas dalam perang, la sendiri sama sekali tidak membantu ayahnya, bahkan membantu Erlangga dengan setia sehingga setelah Erlangga menjadi raja, dia diambil sebagai selir.

"Sudahlah, biyung emban, ceritakan saja apa yang terjadi dan kami akan beri hadiah untuk menghibur hati keluarga adikmu. Urusan ini kita habiskan di sini saja. Pembunuhan telah dilakukan dan pembunuhnya juga sudah terbunuh, tidak perlu adanya curiga mencurigai dan tuduh menuduh. Marilah, adinda Sri Sanggramawijaya, peristiwa ini jangan sampai menjadi penghalang kebahagiaan kita."

Semua bubar. Para abdi dan perajurit pengawal mengurus mayat perwira Sriwijaya dan mayat anak kecil itu oleh biyung emban Darmi dibawa pulang ke rumah adiknya, disambut ratap tangis Ibu anak itu.

Akan tetapi peristiwa yang terakhir ini seolah mulai menyadarkan Lasmini dan Mandari bahwa mereka kini harus berhati-hati. Apalagi agaknya peristiwa itu juga mendatangkan keraguan dalam hati Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Pandang mata Sang Prabu Erlangga terhadap Mandari, biarpun masih mesra seperti dulu, namun mengandung sinar mata tajam menyelidik, seolah raja itu ingin menjenguk isi hati yang paling dalam dari selirnya ini.

Demikian pula dengan Ki Patih Narotama. Memang masih dapat dibakar gairahnya oleh Lasmini yang pandai merayu, namun di saat-saat tertentu tampak betapa sinar mata ki patih ini mencorong dan memandang tajam kepada Lasmini, seperti hendak menyelidiki!

Bahkan Lasmini berhasil membujuk Ki patih Narotama untuk mengajarkan satu di antara ilmu-ilmunya kepada selir itu. Narotama mengajarkan semacam ilmu silat Kukila Sakti (Burung Sakti) pada Lasmini sehingga wanita ini menjadi semakin tangkas saja. Ilmu silat ini membuat ia dapat bergerak laksana seekor burung srikatan, lincah dan cepat bukan main.

"Kakangmas, setelah dua orang juru taman kita dulu itu terbunuh orang, sampai sekarang belum ada penggantinya yang tepat." kata Lasmini kepada Ki Patih Narotama dengan suara manja sambil merapatkan duduknya di bangku taman mendekati suaminya.

Narotama tersenyum. Selirnya ini kalau sudah bersikap manja seperti itu biasanya ada maunya. Akan tetapi sebelum memenuhi kehendaknya itu, biasanya Lasmini bersikap amat mesra dan amat menyenangkan hatinya. Dia lalu merangkul dan menarik tubuh yang bahenol itu. Mendapat kesempatan ini Lasmini lalu mengangkat pinggulnya dan duduklah ia di atas pangkuan Narotama.

Ki patih tertawa dan merangkul pinggang yang ramping itu. Bau melati semerbak dari rambut dan leher Lasmini dan dia menghirup keharuman itu sambil mencium leher yang berkulit putih mulus itu. Lasmini menggelijang dan tertawa lirih tertahan sehingga suara itu menimbulkan gairah dalam hati Narotama.

"Kalau engkau ada usul mengenai juru taman, katakana saja, sayang." kata Ki patih sambil mengamati wajah yang berkulit putih halus kemerahan itu.

"Begini, kakangmas tentu mengenal Sarti, pelayan pribadi hamba itu bukan"

"Tentu saja, abdimu yang ayu manis merak ati itu?" Narotama menggoda sambil tertawa.

"Ih, ngenyek (mengejek) ini, ya? Sarti memang berwajah buruk dan bentuk tubuhnya tinggi besar, akan tetapi ia mempunyai seorang adik misan laki-laki yang menurut keterangannya trampil dan pandai mengurus taman. Nah, Sarti yang minta kepada hamba agar adik misannya itu diterima bekerja sebagai juru taman di sini dan hamba menyanggupi. Akan tetapi tanpa perkenan dari paduka, mana hamba berani mengambil keputusan menerimanya?"

Narotama tersenyum. "Ah, urusan sekecil itu kenapa harus minta perkenan dariku, diajeng? Urusan taman dan juru tamannya, putuskan saja sendiri. Terserah kepadamu. Kalau engkau sudah menerima adik misan Sarti itu sebagai juru taman, aku sih setuju saja. Asal dia dapat bekerja dengan baik, menjaga agar taman kita selain bersih, terawat sehingga tampak indah dan bunga-bunganya berkembang subur."

"Tentu saja, kakangmas, dan terima kasih atas persetujuan paduka."

"Oya, siapa nama juru taman baru Itu, diajeng?"

"Namanya Linggajaya, kakangmas."

"Hemm, nama yang indah, tentu orangnya elok pula."

"Ih, kakangmas. Apakah itu penting? yang penting adalah hasil pekerjaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga, tentu lebih menyenangkan kalau pembantu-pembantu kita berwajah elok daripada berwajah buruk."

"Dan abdimu itu .....?" Narotama kembali menggoda.

"Sarti? Ia lain, kakangmas. la telah menjadi abdi di istana kanjeng ibu di istana Parang Siluman sejak hamba masih bayi. Ia yang mengasuh hamba sejak kecil. Karena itu, biar ia buruk rupa, ia merupakan pembantu setia yang sangat hamba sayangi."

Narotama tersenyum. "Hemm, ingin akuu melihat bagaimana rupanya ketika engkau masih bayi. Ingin aku memondongmu, menimang dan memandikanmu!"

"Memandikan hamba?" Lasmini tertawa. Tawanya renyah dan merdu. "Paduka ini aneh-aneh saja, membuat hamba malu... "

Mereka bergurau dan sambil bergandengan tangan mereka lalu masuk gedung kepatihan untuk melanjutkan senda gurau mereka yang mesra.

Lingga jaya memang datang ke kepatihan seperti yang pernah diminta Lasmini ketika mereka bertemu di taman istana Sang Prabu Erlangga. Seperti ketika memasuki taman istana kerajaan, ketika memasuki taman kepatihan, Linggajaya juga mempergunakan aji kesaktian untuk memasuki taman tanpa diketahui para penjaga dan para prajurit pengawal kepatihan.

Dengan mudah Linggajaya dapat bertemu dengan Lasmlni yang memang sudah menanti di taman malam itu karena ia telah memperoleh kabar rahasia dari Mandari bahwa Linggajaya akan mengunjunginya di taman kepatihan. Ketika Linggajaya muncul, Lasmini memerintahkan abdinya yang setia, Sarti untuk berjaga di luar pondok demi keamanan pertemuan itu.

"Duduklah, Linggajaya," kata Lasmini dengan sikap anggun dan angkuh karena ia tidak mau merendah dan masih "tahan harga" walaupun jantungnya berdebar tegang menerima kunjungan seorang pemuda tampan dan amat digdaya itu. Ia menjadi selir Narotama ketika masih seorang gadis dan belum pernah sebelumnya ia bergaul dengan pria. Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama iapun belum pernah bercengkerama dengan pria lain, apalagi mengadakan hubungan cinta. Maka kini berduaan saja dengan Linggajaya, ia menjadi tegang sehingga jantungnya berdebar-debar.

"Terima kasih, gusti puteri." kata Linggajaya dengan sopan dan hormat, lalu dia hendak duduk bersila di atas lantai.

"Ah, jangan di lantai. Duduk di kursi saja, agar lebih enak kita bicara." kata Lasmini.

"Akan tetapi ..... hamba ..... ah, takut, gusti puteri."

"Takut apa? Aku yang memerintahmu duduk, kenapa takut? Duduklah, ingin aku bertanya kepadamu."

"Baiklah dan terima kasih, gusti puteri. Maaf kalau hamba berani duduk di kursi ini."

Setelah pemuda itu duduk berhadapaan dengannya, terpisah sebuah meja, Lasmini dapat memandang wajah pemuda yang disinari lampu gantung itu dengan jelas. Memang tampan dan menawan, pikirnya. Masih muda dan mata itu! Mulut dengan senyumnya yang mengejek itu! Menggemaskan! Ki Patih Narotama juga tampan ganteng, akan tetapi karena telah bergaul sebagai isterinya selama hampir tiga tahun, ia merasa bosan juga.

Lasmini tidak mengerti bahwa kebosanan tentu datang dalam hati orang yang selalu dipengaruhi nafsu. Kalau ia tadinya merasa jatuh cinta kepada Narotama yang tampan dan ganteng, ia tidak tahu bahwa cintanya itu adalah cinta nafsu cinta karena ketampanan, kegantengan dan kekagumannya akan kesaktian Ki Patih Narotama. Dan segala yang terdorong nafsu hanya merupakan kesenangan lahiriah saja, hanya sebatas kulit dan kesenangan seperti ini sudah pasti mendatangkan kebosanan!

Kebosanan mendorong orang untuk mengejar yang baru, yang dianggap lebih menarik dan lebih menyenangkan dan kalau yang baru itu sudah terdapat, maka lambat laun dia Akan bosan pula dan ingin mengejar yang lebih baru lagi!

"Linggajaya, engkau tentu tahu bahwa bantuanmu kepada kami, kepada adikku Mandari dan aku, sama sekali telah gagal dan hal ini amat mengecewakan kami. Bagaimana bisa sampai gagal begitu, Linggajaya? Apakah engkau hanya pandai berjanji saja akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak menguntungkan kami?"

"Maaf, gusti puteri. Akan tetapi kekeliruan telah terjadi sehingga hamba membunuh anak yang salah. Kekeliruan Itu sama sekali bukan salah hamba karena hamba hanya mendapat tugas untuk membunuh anak yang diasuh oleh biyung emban Darmi itu dan perintah itu telah hamba laksanakan dengan baik. Tentu saja hamba tidak tahu kalau anak itu bukan sang pangeran, karena hamba belum pernah melihat pangeran yang dimaksudkan."

"Hemm, kalau begitu Mandari yang kurang teliti sehingga terjadi kekeliruan itu yang hampir saja malah membuka rahasia kita! Akan tetapi sudahlah, karena kekeliruan itu kita harus lebih berhati-hati. Sekarang maukah engkau membantuku di sini?"

"Memang tugas hamba untuk membantu gusti puteri Lasmini dan gusti puteri Mandari. Katakan saja apa yang harus hamba lakukan, gusti puteri."

"Pertama-tama, engkau harus selalu dekat denganku agar mudah bagiku mengatur rencana dan menghubungimu kalau saatnya yang baik tiba untuk bertindak. Dan untuk itu, engkau harus tinggal di kepatihan ini dan menyamar menjadi juru taman."

"Juru taman?" tanya Linggajaya heran. Masa dia, putera lurah, murid Resi Bjrasakti, bahkan dia telah diangkat oleh Adipati Adhamapanuda raja Wengker sebagai senopati dan diberi keris Candalamanik. Dia, senopati Wengker, kini harus menjadi seorang juru taman kepatihan Kahuripan?

"Ya, menjadi juru taman kepatihan, Linggajaya. Kenapa engkau tampak heran?"

"Menjadi juru taman, mencangkul tanah dan menanam bunga?"

"Ya, menyirami dan menyapu, membersihkan taman dan menjaga agar taman tetap tampak bersih dan rapi. Bagaimana, engkau keberatan, Linggajaya?"

"Gusti puteri, hamba jelek-jelek seorang senopati! Hamba belum pernah memegang tangkai pacul dan sapu!"

Lasmini tersenyum dan giginya yang putih mengkilap itu mengintai dari balik sepasang bibir yang merah basah ketika senyuman yang bergelimang madu dan merekah dan terdengar suara tawa kecil tertahan. Linggajaya sampai melongo, terpesona oleh keindahan wajah wanita yang demikian menggairahkan. sepasang mata yang redup dan mulut yang indah itu, demikian menantang!

"Aih, Linggajaya. Engkau memang hanya sebagai juru taman, bukan menjadi tukang kebun benar-benar. Maksudnya agar engkau selalu dekat denganku dan ....."

"Ah, jadi paduka juga ingin selalu berdekatan dengan hamba? Kalau begitu sama benar keinginan perasaan kita." kata Linggajaya sambil tersenyum dan pandang matanya mencorong tajam seperti hendak menembus dada yang membusung itu dan menjenguk isi hati yang terkandung di dalamnya.

"Hush! Maksudku agar selalu dekat dan mudah bagiku untuk mengajak berunding kalau aku telah menemukan sebuah rencana yang baik."

"Akan tetapi pekerjaan ini berat sekali bagi hamba, gusti. Berat dan sekaligus juga merendahkan martabat hamba. Jauh lebih ringan bagi hamba kalau paduka memberi perintah membunuh seseorang atau berapa orangpun!"

"Hemm, kalau engkau benar-benar ingin membantuku seperti yang ditugaskan kepadamu oleh Paman Adipati Wengker, tentu engkau tidak akan keberatan untuk menyamar sebagai juru taman Linggajaya."

"Bagaimanapun juga, penyamaran itu berat dan merendahkan martabat bagi hamba, akan tetapi... kalau imbalannya sepadan, agaknya hamba siap melakukannya!"

Linggajaya kembali memandang dengan sinar mata mengandung penuh arti. Tentu saja Lasmini dapat memahami apa yang tersirat di dalam ucapan pemuda yang telah berhasil menarik dan menggetarkan gairah dalam hatinya itu. Jantungnya kembali berdebar tegang karena selain dengan Ki Patih Narotama, belum pernah timbul berahinya ketika berhadapan dengan pria lain.

Mungkinkah Ini timbul karena kebosanannya kepada suaminya? Ataukah karena Linggajaya merupakan seorang pemuda sakti mandraguna yang dapat diharapkan bantuannya agar tugasnya di Kahuripan dapat berhasil? Ataukan karena Linggajaya memang seorang pemuda tampan, gagah dan juga sakti mandraguna dan merupakan wajah baru yang tentu saja memiliki daya tarik yang amat kuat? Mungkin kesemuanya itulah yang mendorong bangkitnya gairah dalam hatinya terhadap pemuda itu.

Lasmini tersenyum. "Imbalan apakah yang kau inginkan dariku agar engkau mau melaksanakan pekerjaan sebagai juru taman ini, Linggajaya?"

Melihat senyum dan pandang mata yang menantang itu, Linggajaya menjadi semakin berani. "Gusti Puteri Lasmini paduka laksana setangkai kembang indah sekali yang sedang mekar semerbak harum, adapun hamba bagaikan seekor kumbang yang hina. Betapa akan bahagianya sang kumbang ini kalau sang bunga sudi membuka kelopaknya dan memberikan kesempatan kepada sang kumbang untuk hinggap, menghisap dan menikmati sedikit sari madunya."

Sepasang pipi yang halus itu menjadi kemerahan seperti buah tomat matang dan sepasang bibir itu tersenyum malu-malu. Tentu saja Lasmini maklum betul apa yang dimaksudkan pemuda itu. Setelah agak lama merasa canggung dan salah tingkah, akhirnya Lasmini berkata.

"Kita lihat saja nanti hasil pekerjaanmu. Kalau engkau berhasil membuat rencanaku terlaksana dengan baik..... heemm, aku tidak menjanjikan apa-apa, akan tetapi mungkin sekali keinginan kumbang itu akan terlaksana."

Bukan main girangnya hati Linggajaya mendengar ini. Berarti Lasmini sudah setengah menyambut dan menjanjikan pemenuhan keinginannya itu. Dan pemuda yang sudah berpengalaman dengan wanita itu hampir yakin bahwa selir Ki Patih Narotama ini juga "ada rasa" kepadanya. Hal ini dapat dia lihat dari senyum dan sinar matanya.

"Sendika nglampahi (siap melaksanakan ) perintah paduka, gusti puteri!" katanya dengan girang.

"Nah, sekarang pergilah. Jangan terlalu lama di sini sebelum engkau diterima sebagai juru taman." kata Lasmini.!

Linggaya lalu mempergunakan Aji Panglimutan sehingga tubuhnya diselimuti semacam halimun atau kabut. Dalam keadaan tidak tampak itu, tiba-tiba Lasmini merasa ada hidung yang hangat menyentuh pipi kanannya. Hanya sentuhan lembut dan hangat dan pemuda itu lalu pergi dari situ. Lasmini merasakan jantungnya berdebar tegang dan tak terasa lagi, ia mengangkat tangan kirinya dan mengusap pipi kanannya.

Ia tahu bahwa pemuda itu telah mengambung (mencium dengan hidung) pipinya, suatu hal yang belum pernah ia alami sebelum atau selama ia menjadi selir Narotama, kecuali tentu saja oleh suaminya sendiri. Ia tersenyum-senyum dan membayangkan kemesraan dengan pemuda itu sehingga debar jantungnya menjadi semakin berdegup kencang.

Demikianlah, setelah mendapatkan perkenan dari Narotama, Linggajaya diterima sebagai seorang juru taman baru di taman kepatihan. Tentu saja Linggajaya mengenakan pakaian penduduk biasa dan dia menyembunyikan keris yang diberikan oleh Adipati Wengker...


BERSAMBUNG KE JILID 14