Pendekar Buta Jilid 26

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

PENDEKAR BUTA JILID 26

Kun Hong terkejut. Kiranya Bouw Si Ma si orang Mancu yang pandai memainkan pedang dan memiliki tenaga lweekang yang lihai ini adalah murid Pak-thian Lo-cu. Agaknya baru sekarang dia ini tahu bahwa gurunya dahulu tewas dalam pertandingan menghadapinya. Tetapi dia tidak menjadi gentar karena sudah pernah mengukur kepandaian orang Mancu ini, juga dia dahulu pernah bergebrak dengan Ching-toanio.

Tadi Hui Kauw sudah membisikinya bahwa dia harus berhati-hati menghadapi beberapa orang yang berada di situ, terutama sekali Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu, dan ketiga Ang-hwa Sam-cimoi. Lima orang itulah yang merupakan lawan berat, sekarang ditambah lagi dengan Hek Lojin yang kiranya tidak kalah lihainya dibandingkan dengan yang lima orang itu.

"Kalian akan maju berdua mengeroyokku? Silakan!" tantang Kun Hong yang mendengar gerakan Ching-toanio dan Bouw Si Ma.

Tiba-tiba Hui Kauw berseru, "Ching-toanio, mengingat bahwa engkau pernah menjadi ibu angkatku, lebih baik kau jangan melawan Kun Hong dan pulanglah saja ke Ching-coa-to dengan aman. Kau tidak akan menang dan aku tidak ingin melihat kau tewas di tangan Kun Hong."

Ucapan Hui Kauw ini keluar dari hati sejujurnya. Biar pun ibu angkat ini kerap kali bersikap sewenang-wenang dan tidak baik kepadanya, namun ia masih ingat bahwa ketika kecil ia dirawat dan dididik oleh nyonya galak ini. Akan tetapi dasar watak Ching-toanio memang sombong dan galak, ucapan ini diterimanya salah dan ia malah menjadi marah sekali.

"Hui Kauw perempuan rendah! Tak usah banyak cerewet, lihat pedangku akan menembus jantungmu!" Ucapan ini ditutupnya dengan sambaran sepasang pedangnya ke arah Hui Kauw.

Sungguh sebuah serangan maut karena sekaligus sepasang pedang itu menebas leher dan menusuk dada. Tentu saja Hui Kauw yang sudah mengenal watak ibu angkatnya ini semenjak tadi sudah bersiaga. Maka ketika melihat berkelebatnya sepasang pedang itu, segera dia mengelak dan melompat ke belakang. Sebelum Ching-toanio sempat menyerang kembali, Kun Hong sudah menghadangnya sambil tersenyum.

"Siapa pun juga tidak boleh mengganggu Hui Kauw. Akulah lawanmu!"

"Bangsat buta, apamukah dia itu?" bentak Ching-toanio, suaranya menggetar penuh hawa kemarahan.

"Dia... isteriku! Hemmm, kau sendiri yang mengawinkan kami, Ching-toanio. Lupakah kau?"

Ching-toanio mengeluarkan seruan keras dan sepasang pedangnya langsung berkelebat menyambar, dibarengi oleh pedang hitam di tangan Bouw Si Ma yang juga sudah ikut menerjang maju. Pendekar Buta ini menyontekkan tongkatnya dua kali dan dua orang itu tergetar mundur karena pedang-pedang mereka sekaligus sudah kena ditangkis dengan tepat. Namun mereka cepat menyerang lagi dan terjadilah pertempuran mati-matian.

Girang hati Kun Hong ketika ternyata olehnya betapa mudah dan ringannya menghadapi kedua orang ini sesudah dia memainkan ilmu silat gabungan Kim-tiauw-kun dan Im-yang Kiam-hoat yang dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-eng-cu Lui Bok. Ketika bertempur di Ching-coa-to dahulu, meski pun dia dapat juga mengatasi dua orang ini, namun dia masih merasa agak berat.

Sebaliknya, sekarang telinganya dapat menangkap semua gerakan itu seperti menangkap gerakan yang tidak asing lagi karena ilmu silatnya sendiri dapat memecahkan setiap daya serangan lawan. Dengan ilmu silatnya yang baru ia merasa seolah-olah dirinya terlindung benteng baja dari pada serangan dari luar. Kilat sinar pedang dalam tongkatnya cukup untuk menendang pergi semua ancaman pedang lawan dan dia masih mempunyai waktu dan kesempatan banyak sekali untuk membobolkan pertahanan kedua lawannya dengan jurus-jurus aneh dari tongkatnya ditambah hawa pukulan yang keluar dari tangan kirinya.

Kun Hong menguatkan hatinya, membuang jauh-jauh perasaan yang biasanya pantang membunuh dengan pikiran bahwa kedua orang ini adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya disingkirkan dari dunia karena kalau mereka ini dibiarkan hidup, tentu kelak akan menimbulkan banyak mala petaka, terutama sekali terhadap Hui Kauw. Di samping ini, dia harus pula berusaha mengurangi tenaga para musuhnya yang begitu banyak dan yang tentu harus dia hadapi semua dalam pertempuran-pertempuran berikutnya.

Karena pikiran inilah, tanpa banyak sungkan lagi tongkatnya lantas bergerak, menyambar-nyambar secara aneh sekali, dibarengi oleh gerakan tangan kiri yang terbuka jari-jarinya dan melakukan pukulan-pukulan yang mengundang hawa kadang-kadang panas kadang kala dingin. Tangan kirinya ini hebat sekali karena mulai kelihatan uap putih yang keluar dari sela-sela jari tangannya.

Ching-toanio sebenarnya adalah seorang ahli pedang yang tidak boleh dipandang ringan. Gerakannya lincah dan pedangnya memiliki gerakan seperti ular. Memang sesungguhnya ia telah mewarisi Ilmu Pedang Ular dari mendiang Siauw-coa-ong Giam Kin si Raja Ular.

Selain sepasang pedangnya itu ujungnya mengandung racun ular yang amat berbahaya, juga nyonya galak ini selalu siap mencari kesempatan untuk menyerang lawannya secara menggelap, menggunakan jarum-jarum beracun yang juga telah direndam racun ular yang sekali mengenai sasaran sukar diharapkan korban itu akan dapat tertolong.

Sedangkan Bouw Si Ma si tokoh Mancu adalah murid tunggal Pak-thian Lo-cu. Jadi dia masih terhitung kakak seperguruan dari Giam Kin karena guru Giam Kin, yakni mendiang Siauw-ong-kwi adalah adik seperguruan Pak-thian Lo-cu.

Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Pak-thian Lo-cu masih lebih tinggi dari pada tingkat Siauw-ong-kwi akan tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih lihai dari pada Giam Kin. Dalam hal ilmu silat, mereka berdua ini memiliki keistimewaan masing-masing dan boleh dikata mereka setingkat.

Mungkin bisa dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih unggul sedikit dalam hal tenaga dalam, karena Gim Kin sering kali menghambur-hamburkan tenaganya dalam mengumbar hawa nafsu. Akan tetapi Giam Kin jauh lebih berbahaya karena orang ini merupakan iblis muda yang amat ganas dan keji, penuh akal dan tipu muslihat.

Sebaliknya, Bouw Si Ma tidak selicin Giam Kin. Dalam setiap pertempuran orang Mancu ini sepenuhnya mengandalkan kepandaian silatnya yang sudah cukup tinggi. Betapa pun juga, tingkatnya itu masih melebihi tingkat Ching-toanio dan pedang hitam di tangannya merupakan pedang yang ampuh karena terbuat dari pada baja hitam yang hanya terdapat di dekat kutub utara.

Tetapi kali ini kepandaian dua orang itu tidak banyak artinya ketika mereka mengeroyok Kun Hong. Dua macam ilmu silat yang digabungkan menjadi satu itu seakan-akan hilang keampuhannya, lenyap keganasannya seperti arus sungai banjir memasuki lautan.

Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian yang kini dimiliki Kun Hong adalah ilmu sakti yang bersumber pada Ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng, peninggalan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su. Ilmu silat ini berdasarkan Im dan Yang, merupakan sepasang tenaga berlawanan atau bertentangan yang menggerakkan seluruh kehidupan di dunia ini. Ilmu kesaktian ini sudah mencakup seluruh inti silat yang mana pun juga.

Maka tidaklah mengherankan apa bila kedua orang itu seolah-olah merasa bahwa mereka menghadapi lawan yang mempunyai tenaga mukjijat dan ilmu silat ajaib. Pedang mereka seperti mental sendiri sebelum terbentur tongkat dan serangan-serangan mereka sudah gagal dan buyar sebelum dilancarkan sepenuhnya, seakan-akan tertahan atau terhalang di tengah jalan!

Baru beberapa jurus saja, baik Ching-toanio mau pun Bouw Si Ma sudah terdesak hebat. Pedang mereka tidak mampu lagi melakukan serangan karena harus terus diputar untuk melindungi tubuh dari pada sambaran cahaya kemerahan yang keluar dari tangan kanan Kun Hong.

Demikian cepat gerakan tiga orang ini sehingga tubuh mereka tidak tampak lagi oleh mata biasa, tertutup oleh sinar pedang yang berkelebatan dan bergulung-gulung. Amatlah indah tampaknya bagi mata orang biasa kalau menyaksikan pertempuran itu.

Tiga sinar pedang saling membelit, lalu sinar pedang merah bergulung-gulung makin lebar sehingga akhirnya mengurung sinar pedang hitam dan cahaya sinar pedang putih. Sinar pedang hitam adalah senjata Bouw Si Ma, sedangkan sepasang sinar yang putih adalah pedang-pedang Ching-toanio. Dua macam sinar pedang ini terkurung sinar merah, makin lama makin ciut karena pergerakan senjata mereka amat terbatas.

Mendadak Ching-toanio berseru keras dan pedangnya yang berada di tangan yang kanan dia sambitkan ke depan. Pedang itu meluncur cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, menyambar ke arah tenggorokan Kun Hong.

"Singgggg…!"

Pedang itu berdesing lewat di atas kepala Pendekar Buta itu ketika dia mengelak dengan merendahkan tubuh.

"Weerrrr…!"

Serangkum angin halus lalu bertiup menyambar tiga bagian tubuh yang mematikan, yaitu leher, dada, dan lambung.

Kun Hong kaget sekali, begitu halus suara dan angin itu sehingga hampir saja dia celaka. Namun pendengaran dan perasaan Pendekar Buta ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak lumrah, maka suara sehalus itu dapat juga ditangkapnya. Dia marah sekali karena dapat menduga bahwa itu tentulah senjata rahasia halus yang amat berbahaya.

Memang dugaan Kun Hong tidak salah karena setelah Ching-toanio tadi menyambitkan pedangnya, terus saja menggunakan kesempatan itu untuk menyerang dengan melepas jarum-jarum halusnya yang beracun. Sebenarnya, ilmu inilah yang membuat Ching-toanio disegani dan ditakuti.

Jarang ada lawan yang sanggup menyelamatkan diri menghadapi penyerangan hebat ini. Sambitan pedangnya sangat kuat dan cepat. Andai kata pun lawan dapat mengelak atau menangkis dari pada ancaman pedang terbang itu, dalam posisi berikutnya agaknya akan sulit sekali mampu menyelamatkan diri ketika diancam jarum-jarum beracun yang malah lebih cepat dan lebih berbahaya datangnya dari pada pedang tadi. Jarum-jarum ini amat kecil dan halus, baru ketahuan datangnya kalau sudah amat dekat sehingga sukar untuk dapat dielakkan.

Keadaan Kun Hong lebih sulit lagi pada saat itu. Baru saja dia mengelak dari sambaran pedang terbang, tubuhnya masih merendah dan pada detik itu pedang hitam Bouw Si Ma membabat ke arah kaki. Terpaksa dia menangkis dengan pedangnya. Ketika dalam posisi merendahkan tubuh dan menangkis inilah datangnya sambaran jarum-jarum halus yang hendak merenggut nyawanya itu!

"Keji...!" Kun Hong berseru keras.

Tangan kirinya dikibaskan dengan pengerahan tenaga mukjijat dan hampir pada detik itu juga, tongkatnya yang tadi menangkis pedang hitam Bouw Si Ma telah berkelebat ke arah dada tokoh Mancu itu.

Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Ching-toanio terjengkang ke belakang berbarengan dengan robohnya Bouw Si Ma. Kiranya tokoh Mancu ini tidak dapat mengelak lagi karena sambaran tongkat Kun Hong luar biasa cepatnya, tahu-tahu sudah menusuk dada dan tepat menembus jantung sehingga tokoh Mancu ini memekik, pedang hitamnya terlepas dan dia roboh tidak bernyawa lagi.

Ada pun Ching-toanio sama sekali tidak pernah menyangka bahwa penyerangannya yang amat curang tadi berakibat celakanya diri sendiri. Uap putih menyambar dari tangan kiri Kun Hong dan tenaga yang sangat dahsyat seakan-akan meniup jarum-jarum halus yang menyambar balik ke arah Ching-toanio sendiri.

Wanita ini sama sekali tidak pernah menyangka akan dapat terjadi hal seperti itu, maka ia tidak sempat menyelamatkan dirinya. Jarum-jarum itu lantas menembus pakaian, kulit dan langsung memasuki dada dan lambungnya. Kali ini karena jarum-jarum itu digerakkan oleh tenaga dahsyat yang menyambar dari tangan kiri Kun Hong, bukan main pesatnya sehingga jarum-jarum itu amblas dan lenyap ke dalam tubuh Ching-toanio!

Jarum-jarum beracun itu baru melukai kulit saja sudah dapat merenggut nyawa, apa lagi sekarang menembus kulit dan mengeram di dalam daging. Seketika itu juga Ching-toanio terjengkang dan pada detik berikutnya dia telah tewas dengan mata mendelik dan muka membiru!

"Ohhh...!" Hui Kauw terisak dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

Betapa pun juga, hatinya ngeri dan sedih melihat kematian Ching-toanio. Sudah terlalu lama dia menganggap wanita itu sebagai ibunya, sejak dulu pada waktu dia masih kecil. Baru ia sadar dan menurunkan kedua tangannya lagi ketika ia merasa betapa Kun Hong memegangnya sambil berkata,

"Hui Kauw, jangan lengah. Kau pergunakan pedang ini..."

Kiranya Kun Hong sudah mengambil pedang hitam milik Bouw Si Ma dan menyerahkan pedang itu kepada Hui Kauw. Pendekar Buta ini sangat khawatir akan keselamatan Hui Kauw. Biar dia berada di situ dan siap membela Hui Kauw dengan seluruh jiwa raganya, namun berhadapan dengan begitu banyak orang pandai, keselamatan Hui Kauw masih saja tidak dapat terjamin. Maka lebih baik gadis itu memegang senjata dan membantunya sehingga kedudukan mereka menjadi lebih kuat.

Setelah Hui Kauw menerima pedang hitam, Kun Hong sengaja berseru, suaranya amat keras dan bernada menantang,

"Hayo, siapa lagi yang hendak merintangi aku bersama nona ini pergi dengan aman? Kalian adalah jago-jago dan tokoh-tokoh terkemuka, terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti. Kalau sudah begitu tidak tahu malu, boleh maju semua mengeroyok kami berdua. Hayo, majulah!"

Dengan tongkat melintang di depan dadanya, Kun Hong sengaja membakar hati mereka dengan maksud menyinggung kehormatan mereka supaya mereka merasa segan untuk melakukan pengeroyokan. Biarlah mereka maju seorang demi seorang, pikirnya, dan dia merasa sanggup untuk mengalahkan mereka.

Ka Chong Hoatsu kaget sekali melihat tewasnya Ching-toanio dan Bouw Si Ma. Juga dia merasa amat menyesal atas kelancangan dua orang itu. Dia telah cukup dapat menduga bahwa orang muda buta itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kini dua orang kawan yang dapat diandalkan tewas begitu saja.

Ketika melihat The Sun berbisik-bisik dengan teman-temannya, Ka Chong Hoatsu segera berkata dengan lantang, "Para sahabat dari kota raja! Penjahat buta ini adalah seorang pemberontak, demikian pula si nona hitam. Kenapa tidak segera turun tangan membasmi dia sebelum dia menimbulkan lebih banyak kekacauan? Kalau perlu, kami pun sanggup membantu."

"Aha, Ka Chong Hoatsu, kau tua bangka dari Mongol yang tidak tahu malu. Bukankah kepandaianmu sendiri terkenal sangat tinggi? Kenapa tidak maju sendiri? Hayo, aku siap menghadapimu!" Kun Hong sengaja membakar.

Akan tetapi Ka Chong Hoatsu hanya tersenyum mengejek dan berkata acuh tak acuh, "Belum saatnya... belum saatnya...," setelah berkata demikian dia memberi isyarat kepada Ang-hwa Sam-cimoi untuk menyuruh anak buah Ngo-lian-kauw menyingkirkan dan merawat jenazah Ching-toanio dan Bouw Si Ma.

Setelah mendapat perintah, delapan orang wanita anggota Ngo-lian-kauw maju cepat dan mengangkat pergi mayat-mayat itu.

Sementara itu sejak tadi The Sun berunding dengan Hek Lojin yang mengangguk-angguk. Kemudian The Sun tersenyum mengejek, dan sekali menggerakkan tubuhnya dia sudah melayang ke depan Kun Hong.

"Kwa Kun Hong, kau benar-benar sombong sekali. Kau kira tanpa mengeroyokmu tidak mungkin kami menang? Hemmm, aku sendiri yang hendak maju melabrakmu, Kun Hong, kecuali kau suka menyerahkan diri menjadi tawananku untuk diadili di kota raja."

Kun Hong melengak, terheran-heran. Sudah terang bahwa betapa pun lihainya, pemuda tokoh kota raja itu tidak akan mampu mengalahkannya. Hal ini The Sun sendiri sudah cukup mengerti. Dia seorang yang amat cerdik dan penuh tipu muslihat, kenapa sekarang nekat hendak menghadapinya seorang diri?

Diam-diam Kun Hong menjadi waspada, The Sun seorang yang cerdik dan curang sekali. Tak mungkin dia maju hanya dengan mengandalkan kepandaian silatnya dan sudah pasti tindakannya ini diikuti tipu muslihat licin.

"Hui Kauw, kau mundurlah dan jaga dirimu baik-baik. Berteriaklah kalau kau menghadapi bahaya, biar aku membereskan manusia curang dan pengecut ini," demikian kata Kun Hong sambil mendorong Hui Kauw ke belakang. Dia amat khawatir kalau The Sun akan mempergunakan siasat keji dan mencelakai Hui Kauw dengan cara lain selagi bertempur melawannya.

"The Sun, kaulah orang pertama yang kuharapkan untuk bertanding denganku pada saat ini. Majulah."

The Sun tertawa mengejek dan…

"Srattt!" pedangnya telah dia cabut dengan gerakan indah.

Pada saat itu juga, seakan-akan pencabutan pedang tadi merupakan isyarat, terdengarlah suara tambur dan gembreng dipukul orang, mula-mula lirih dan lambat, makin lama makin keras dan cepat. Itulah suara tambur dan gembreng perang dan ternyata belasan orang anggota pasukan dari istana sudah berada di situ membunyikan tambur dan gembreng. Suara itu amat bising memekakkan telinga.

"Wuuuttttt!"

Kun Hong cepat mengelak dan dia kaget setengah mati ketika angin pedang The Sun terus-menerus menyerangnya bertubi-tubi dengan gerakan menyambar-nyambar laksana kilat dibarengi suara ketawa pemuda yang cerdik itu. Kun Hong menggertak giginya dan terpaksa memutar tongkat sejadinya sambil menggunakan langkah-langkah ajaib. Tahulah dia sekarang akal muslihat yang dipergunakan The Sun dalam melawannya.

Memang dia seorang pemuda yang cerdik dan penuh akal. Kiranya pemuda ini maklum pula bahwa kelihaian Kun Hong terletak pada pendengaran telinganya sebagai pengganti matanya yang buta.

Memang begitulah. Seorang buta hanya dapat mengandalkan pendengaran, penciuman dan rabaan untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Terutama sekali pendengaran. Apa lagi dalam ilmu silat, tentu saja keawasan mata yang terutama dipergunakan dan sebagai pengganti mata yang buta, pendengaranlah yang diandalkan. Kini The Sun menggunakan suara bising untuk merusak pendengaran Kun Hong!

Hampir saja akal The Sun yang licin ini berhasil kalau saja Kun Hong tidak mewarisi ilmu silat yang betul-betul sakti seperti Kim-tiauw-kun dan Im-yang Sin-hoat. Langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun telah menolongnya terhindar dari ancaman pedang The Sun yang ganas dan cepat.

Pada jurus-jurus pertama memang Kun Hong menjadi bingung. Dia tak dapat berbuat lain kecuali mengelak, menangkis dan memutar tongkat sejadinya untuk melindungi diri. Akan tetapi lambat laun telinganya mulai dapat menangkap perbedaan-perbedaan antara suara bising tambur gembreng dengan suara bersiutan dan berdesingnya pedang di tangan The Sun. Diam-diam dia menjadi girang sekali.

Kun Hong sangat beruntung bahwa tingkat kepandaian The Sun masih belum mencapai puncaknya. Seorang yang ilmu pedangnya sudah mencapai titik puncak, seperti misalnya pamannya, Tan Beng San ketua Thai-san-pai, dapat memainkan pedang sedemikian rupa tanpa menimbulkan angin atau suara mendesing dan bersiut.

Memang masih sulit bagi Kun Hong untuk dapat balas menyerang karena dia juga harus mencurahkan seluruh perhatian untuk menjaga diri jangan sampai menjadi korban pedang The Sun yang cukup berbahaya. Akan tetapi sedikitnya dengan mendengar suara angin pedang, dia dapat mencari kesempatan baik untuk balas menyerang.

Tentu saja dia tak mau berlaku sembrono dengan serangan balasannya. Dia pun maklum bahwa sekali serangannya luput, dia akan langsung terancam oleh pedang lawan karena dalam keadaan menyerang, tentu kedudukan pertahanannya menjadi lemah dan lowong.

Mula-mula The Sun gembira sekali melihat betapa lawannya Si Pendekar Buta menjadi bingung dan kacau gerakannya. Akalnya berhasil, lawannya menjadi kacau-balau setelah pendengarannya rusak oleh suara bising! Hal inilah yang membuat dia tadi tertawa-tawa mengejek.

Akan tetapi tidak lama, karena dia segera berubah menjadi marah dan penasaran sekali. Si Buta ini sekarang buta tuli, kenapa masih selalu dapat mengelak dari pada sambaran pedangnya? Kenapa pedangnya belum juga dapat mengenai sasaran, padahal lawannya itu sama sekali tidak mampu, balas menyerang?

Dia menjadi jengkel, sejengkel seorang anak kecil yang selalu gagal menepuk lalat yang gesit dengan tangannya. Lima puluh jurus telah berlalu dan jangankan memenggal leher atau menusuk dada, membabat ujung baju saja belum!

Hui Kauw berdiri dengan muka pucat. Ia sudah mengenal kelihaian pedang The Sun dan sebagai orang yang cerdik, ia pun maklum apa artinya dibunyikan tambur dan gembreng yang sangat bising itu. Ia pun maklum akan kelemahan Kun Hong. Maka melihat betapa kekasihnya itu hanya berloncatan, terhuyung-huyung, jongkok berdiri dan terus-menerus diserang tanpa mampu membalas, hatinya sudah gelisah bukan main.

Untuk menjaga martabat nama Kun Hong sebagai seorang pendekar, betapa pun gelisah hatinya, tidak berani ia membantu. Akan tetapi hati kecilnya mengambil keputusan teguh bahwa begitu Kun Hong tewas dalam pertandingan, ia hendak mengamuk dan tidak akan berhenti sebelum ia pun roboh binasa di medan laga!

Pedang hitam telah terpegang erat-erat di tangannya dan ia sudah siap untuk melompat, menggantikan Kun Hong. Namun ia tetap berdoa semoga kekasihnya itu menang dalam pertandingan yang berat sebelah ini.

Kun Hong seakan-akan seorang yang buta tuli, melawan seorang yang ilmu pedangnya begitu tangkas dan dahsyat seperti The Sun. Namun Kun Hong bukanlah orang dengan kepandaian biasa. Ilmu kesaktian yang dia pelajari adalah ilmu yang tingkatnya tinggi luar biasa, dan kepandaian itu sudah mendarah daging di tubuhnya. Setiap gerakannya adalah otomatis didorong oleh naluri yang bukan sewajarnya.

Apa lagi setelah dia menemukan ciptaannya terbaru yaitu penggabungan dari kedua ilmu silat yang dia ambil inti sarinya saja, dia benar-benar telah memiliki ilmu yang sukar dicari keduanya di dunia persilatan. Biar pun dia seakan-akan tuli karena bisingnya suara, tapi perasaannya masih menuntunnya dan sambaran pedang lawannya masih bisa tertangkap olehnya sehingga dengan langkah ajaibnya dia dapat menyelamatkan diri sambil mencari kesempatan baik.

Sukarnya, The Sun juga seorang yang amat lihai dan cerdik. Orang muda yang menjadi tokoh di kota raja itu pun tak berani memandang ringan lawannya yang sudah dia ketahui memiliki ilmu silat yang amat luar biasa. Oleh karena itu, biar pun dia dibantu suara bising yang membuat Kun Hong tidak berdaya, akan tetapi dia tidak lengah sedetik pun juga, menyerang terus sambil menutup diri dalam pertahanan yang ketat. Memang dia amat penasaran karena semua serangannya gagal, selalu mengenai tempat kosong, namun dia tidak pernah mengurangi desakannya dan merasa yakin bahwa sewaktu-waktu tentu akan berhasil.

Payah juga Kun Hong yang mencari kesempatan baik tapi tidak juga dapat menemukan kesempatan ini. Diam-diam dia kagum dan memuji kecerdikan lawannya yang masih tetap berhati-hati meski pun sudah menyerang dan mendesak terus. Lain orang tentu sudah akan menjadi sombong dan lengah.

Kemudian Pendekar Buta ini mendapatkan akal. Ketika untuk kesekian kalinya pedang The Sun menyambar leher, dia mengelak dengan langkah ajaibnya, akan tetapi sengaja bergerak lambat sehingga ujung pedang itu menyerempet pundaknya. Bajunya robek dan kulitnya terkelupas, darahnya pun mengalir. Terdengar Hui Kauw ikut menjerit ketika Kun Hong berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung.

Hasil yang dinanti-nanti oleh The Sun ini membuat hatinya girang bukan main. Dia tertawa terkekeh-kekeh dengan nada mengejek sambil mendesak terus, menubruk untuk memberi tikaman terakhir ketika dia melihat Kun Hong terhuyung dalam posisi yang buruk sekali. Pedangnya bergerak seperti kilat menyambar, menusuk dada Kun Hong.

"Traanggg! Kraakkk!"

The Sun menjerit. Pedangnya terpental dan patah menjadi dua, tubuhnya pun terlempar seperti layang-layang putus talinya.

Ternyata akal yang digunakan Kun Hong sudah berhasil baik sekali. Dengan membiarkan pundaknya terluka dan sedikit darahnya mengalir, The Sun sudah dapat diakali sehingga kegirangan dan untuk beberapa detik mengurangi kewaspadaannya. Ketika menyerang dengan tusukan maut tadi, dia lengah tidak memperhatikan segi pertahanannya sehingga lowongan ini dipergunakan dengan baiknya oleh Kun Hong.

Sambil mengerahkan tenaga, Pendekar Buta ini menangkis pedang, membuat pedang itu patah dua kemudian tangan kirinya menampar ke arah pundak. Sekali tampar saja tulang pundak The Sun lantas patah dan pemuda itu menderita luka dalam yang mengakibatkan dia roboh dan pingsan!

Kun Hong tidak mau berlaku kepalang tanggung. Tubuhnya sudah menyambar ke depan, tongkatnya bergerak hendak menewaskan The Sun, orang yang amat dibencinya karena telah menyebabkan kematian janda Yo.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara menggereng menyeramkan dan tongkatnya terbentur oleh tangkisan tongkat hitam di tangan Hek Lojin. Kiranya kakek ini tadi sudah melompat maju untuk menolong muridnya, kemudian sekaligus laksana badai mengamuk kakek ini menerjang Kun Hong.

"Kun Hong, awas...!" Hui Kauw menjerit ketika melihat betapa tongkat hitam di tangan kakek itu berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung mengancam kepala Si Pendekar Buta.

Tanpa diperingatkan, Kun Hong sudah siap dan tahu akan datangnya ancaman bahaya maut. Cepat dia menggunakan tongkatnya menangkis. Untung baginya bahwa kini suara tambur dan gembreng otomatis berhenti setelah The Sun roboh. Dengan menghilangnya suara bising ini, dia dapat menghadapi Hek Lojin dengan baiknya.

Dia maklum bahwa kepandaian kakek ini luar biasa tingginya. Karena itu dia pun segera menggerakkan tongkatnya, memainkan ilmu silat gabungan yang baru saja dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-eng-cu Lui Bok.

Tongkat hitam itu menyambar lagi, mendatangkan suara seperti ada angin topan mulai mengamuk. Kun Hong mengangkat tongkatnya menangkis.

"Dukkkkk!"

Dua tenaga mukjijat lewat tongkat bertemu tanding. Tubuh berkulit hitam tinggi besar itu tergetar. Kun Hong merasakan tubuhnya kesemutan, maka cepat-cepat dia menggunakan langkah ajaib, tubuhnya terhuyung-huyung sehingga lenyaplah pengaruh benturan tenaga dahsyat tadi. Diam-diam dia kagum dan harus mengakui bahwa kakek hitam itu tidak hanya sombong, melainkan betul-betul hebat.

"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, awas kepalamu!" Kakek itu terkekeh dan kembali tongkatnya menyambar.

Kun Hong maklum bahwa kalau terus menerus dia mengadu tenaga dia akan kalah oleh kakek sakti ini, maka cepat dia mengelak dan kembali dia telah mempergunakan langkah ajaib. Akan tetapi, begitu tongkatnya tidak mengenai sasaran, kakek itu langsung kembali menerjang dan sekarang tongkatnya diobat abitkan bagai orang gila mengamuk, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menurut aturan ilmu silat!

Kun Hong kaget bukan main saat telinganya menangkap gerakan-gerakan ilmu berkelahi yang liar dan dahsyat ini. Sukar sekali untuk mengikuti, apa lagi menduga perkembangan dari ilmu silat aneh yang gerakan-gerakannya ada kalanya bahkan bertentangan dengan ilmu silat ini. Gerakan-gerakan kacau balau akan tetapi justru kekacau balauannya itulah yang membuat serangan-serangannya menjadi hebat, liar, dahsyat dan amat berbahaya, mengingatkan Kun Hong akan gerakan binatang-binatang liar termasuk gerakan-gerakan kim-tiauw!

Maka dia pun cepat mengandalkan langkah-langkah ajaib untuk menghadapi serangan ini. Langkah ajaib adalah ilmu langkah dalam persilatan yang tercipta berdasarkan gerak dan langkah rajawali emas, yang tentu saja juga mengandalkan naluri yang tidak ada pada diri manusia, atau andai kata ada pun tidak akan sekuat yang ada pada binatang liar seperti kim-tiauw.

Mereka yang menonton pertandingan itu memandang dengan kedua mata terbelalak dan bengong, malah ada pula di antaranya yang diam-diam menahan ketawa karena merasa geli dan heran. Tak patut pertempuran ini dikatakan pertempuran antara dua orang tokoh pandai atau jago-jago silat ulung, lebih tepat dikatakan pertempuran antara dua orang yang miring otaknya atau dua orang hutan liar yang tidak tahu ilmu berkelahi manusia.

Kakek hitam dengan tongkatnya itu mengamuk, memutar-mutar tongkat dan menghantam ke sana ke mari secara ngawur belaka, kadang-kadang bahkan menghantam tempat yang berlawanan dengan adanya si lawan. Kadang-kadang dia menghantam ke kiri selagi Kun Hong berada di kanan, menghantam ke belakang selagi lawan berada di depan atau pun sebaliknya! Batu-batu hancur lebur begitu tersentuh ujung tongkatnya, sedangkan debu berhamburan menggelapkan sekelilingnya. Ada pun Kun Hong tetap berloncat-loncatan, terhuyung-huyung, kadang kala jongkok berdiri seperti seorang penari yang terlalu banyak minum arak keras.

Kalau di bawah menjadi agak gelap karena debu berhamburan dari amukan tongkat hitam Hek Lojin, adalah di angkasa gelap pula oleh berkumpulnya awan mendung menghitam. Makin lama keadaannya menjadi semakin gelap dan beberapa kali keadaan ini bahkan menarik perhatian orang-orang yang berada di sana, memaksa mereka memandang ke udara yang gelap. Jelas bahwa hujan akan turun membasahi bumi.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Hayo tangkap dulu si pemberontak perempuan!"

Kun Hong terkejut dan gelisah sekali. Itulah suara The Sun. Kiranya pemuda ini sudah sadar dari pingsannya dan melihat betapa Kun Hong sedang didesak secara gencar oleh gurunya, dia pun cepat-cepat mengeluarkan aba-aba karena dia maklum bahwa sekali Hui Kauw ditawan, Kun Hong tentu akan tunduk.

Memang cerdik sekali The Sun. Biar pun dia sendiri terluka berat, namun kecerdikannya ini berhasil membuat Kun Hong gelisah.

Hui Kauw juga memiliki ilmu silat tinggi, maka ia dapat mengerti akan kegelisahan Kun Hong yang kelihatan dari gerakannya. Maka, sambil melintangkan pedang hitam di depan dada ia berseru, "Kun Hong, jangan khawatir, aku mampu menjaga diri, berjuang sampai mati!"

Kata-kata ‘berjuang sampai mati’ ini segera menambah besar semangat Kun Hong. Dia tersenyum. Ternyata gadis itu benar-benar telah mengambil keputusan nekat untuk terus melawan dan mati bersama dia di tempat ini.

Tidak! Tidak boleh! Hui Kauw harus diselamatkan dan untuk itu dia pun harus hidup, harus menang.

Pikiran ini mendatangkan semangat baru yang hebat sekali. Tongkatnya bergerak hidup dan sinar merah tahu-tahu telah menutup dan melingkari sinar hitam yang menjadi makin ciut. Dengan ilmunya yang baru, Kun Hong ternyata berhasil menjinakkan keliaran tongkat lawannya dan sekarang sebaliknya Hek Lojin yang menjadi kaget setengah mati.

Hek Lojin masih berusaha mengerahkan seluruh kepandaian agar lolos keluar dari ‘ikatan’ sinar merah, namun sia-sia belaka, ke mana pun dia bergerak, ujung tongkat Pendekar Buta ini selalu mengikuti dan mengancamnya. Dia tahu bahwa sekali dia kena disentuh, akan celakalah dia.

Maka dengan nekat pula dia menggereng-gereng bagai singa, kemudian sambil memutar tongkatnya cepat-cepat yang dilepaskan tiba-tiba sehingga tongkat itu berputaran sendiri menerjang Kun Hong, kedua tangannya yang kini bebas itu berbareng mengirim pukulan dengan tenaga sakti sepenuhnya, susul menyusul cepat sekali!

Inilah serangan kilat dan maut yang luar biasa hebatnya. Kakek iblis Song-bun-kwi sendiri tidak kuat menerima pukulan-pukulan Hek Lojin dan sekarang dia menggunakan pukulan-pukulan maut ini kepada Kun Hong.

Tentu saja Kun Hong kaget sekali ketika mendengar betapa tongkat yang dilontarkan itu berputaran menyambar. Sekali sampok tongkat itu melayang dan menyeleweng, akan tetapi kini dia menghadapi dua pukulan tangan yang tidak kalah bahayanya dari pada sambaran tongkat hitam tadi.

Maklum bahwa untuk menghadapi serangan dahsyat ini amatlah sukar dan berbahaya, Kun Hong memekik nyaring dan tahu-tahu dia sudah menggunakan jurus Sakit Hati yang dimasukkan pula ke dalam ilmu silatnya yang baru. Tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah, tangan kiri menampar dengan pengerahan tenaga yang mengeluarkan uap putih.

"Crakkk... desssss!"

Tubuh Kun Hong langsung terlempar ke belakang sampai lima meter lebih, akan tetapi dia jatuh dalam keadaan berdiri dan tongkatnya masih berada di tangan, hanya mukanya agak pucat dan napasnya terengah.

Hui Kauw cepat berlari menghampirinya, menyentuh lengannya dan suaranya menggetar, "Kun Hong, kau... terluka...?"

Kun Hong mencoba senyum, menggelengkan kepala dan menjawab lirih. "Hui Kauw, kau lihat dia... hati-hatilah, dia hebat..."

Karena tadi perhatian Hui Kauw sepenuhnya ditujukan kepada Kun Hong, maka ia tidak memperhatikan orang lain. Sekarang melihat bahwa keadaan Kun Hong tidak berbahaya, dia menengok dan alangkah bangga serta girang hatinya ketika melihat bahwa ternyata keadaan kakek hitam itu lebih parah lagi. Kakek ini sedang berdiri tegak memandang ke arah lengan kirinya yang sudah buntung!

Ternyata tadi bahwa tangan kiri itu tanpa dapat dicegah lagi sudah terbabat oleh pedang Ang-hong-kiam yang tersembunyi di dalam tongkat, sedangkan tangan kanan kakek itu beradu dengan tangan kiri Kun Hong. Saking tajamnya Ang-hong-kiam dan juga saking hebatnya jurus yang dijalankan oleh Kun Hong, lengan kiri itu lalu terbabat putus sampai sebatas siku tanpa terasa nyeri sama sekali. Sedangkan dalam pertemuan tenaga tadi, tenaga mukjijat dan mengandung ilmu hitam dari kakek itu benar-benar memperlihatkan keampuhannya, karena membuat Kun Hong terlempar dan biar pun tidak berbahaya, tapi telah menderita luka dalam.

"Jahanam, kau berani melukai suhu?" Terdengar The Sun berseru keras dan tubuhnya melesat ke depan.

Kiranya The Sun yang biasanya cerdik itu kini tidak dapat menahan kemarahannya dan tadi dia telah mendapatkan sebuah pedang lain. Biar pun tulang pundak kanannya patah, akan tetapi dengan tangan kiri dia sekarang menerjang maju, tapi curangnya, bukan Kun Hong yang dia serang, melainkan Hui Kauw! Hebat bukan main penyerangan ini, karena didorong nafsu membunuh.

Hui Kauw cepat menangkis dengan pedang hitamnya, namun tangannya tergetar oleh benturan pedang itu dan sebelum dia sempat membalas, kembali pedang di tangan The Sun sudah menyambar. Memang menghadapi The Sun, gadis ini masih kalah setingkat, apa lagi dia baru saja mengalami getaran batin yang membuat seluruh anggota tubuhnya lemah.

Beberapa kali ia berhasil menangkis, namun pada jurus selanjutnya, ketika ia menangkis sebuah bacokan, pedang The Sun menyelinap dan hendak memasuki bawah lengannya. Hui Kauw membalikkan pedang ke bawah, namun terlambat dan ujung pedang The Sun berhasil menggurat lengan.

Hampir saja dia mengalami cidera kalau saja guratan itu mengenai urat nadinya. Untung bahwa guratan itu memanjang, hanya merobek kulit melukai daging. Namun cukup untuk membuat lengannya lemah sehingga sebuah benturan pedang lawan lagi cukup membuat pedang hitamnya terlepas.

"Pergi...!" terdengar Kun Hong berseru dan tubuh The Sun terlempar ke arah gurunya. Kiranya tadi Kun Hong yang maju dan mengirim tendangan kilat yang tak tertahankan oleh The Sun.

Agaknya baru sekarang Hek Lojin sadar bahwa lengan kirinya benar-benar telah buntung. Dia memekik tinggi, memungut lengan yang buntung, melengking-lengking dan melihat tubuh muridnya melayang, dia cepat menangkap dengan sambaran tangan kanan, lalu dia berlari secepat terbang pergi dari situ tanpa mempedulikan tongkat hitamnya lagi. Dari jauh terdengar suara pekiknya, entah tertawa entah menangis, tapi amat menyeramkan.

Memang Hek Lojin orangnya amat licik. Terbukti ketika dia melawan Song-bun-kwi karena mengira bahwa Song-bun-kwi mempunyai kepandaian yang melebihi dirinya, dia segera mengundurkan diri mencari selamat. Sekarang pun, melihat lengan kirinya buntung dan muridnya terluka, tahulah dia bahwa keadaannya tidak menguntungkan.

Andai kata Kun Hong berhasil dikalahkan, tentu bukanlah oleh dia atau muridnya dan hal ini hanya akan merendahkan namanya belaka. Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang dia anggap paling baik adalah... kabur!

Tempat itu menjadi geger setelah Hek Lojin membawa The Sun kabur. Terutama pihak jagoan-jagoan dari istana menjadi marah bukan main kepada Kun Hong dan serentak mereka maju, juga Ka Chong Hoatsu, Ang-hwa Sam-cimoi serta Souw Bu Lai sudah mencabut senjata masing-masing. Hanya Bhok Hwesio dari pihak istana yang masih tenang berdiri di tempatnya. Hwesio ini sebagai tokoh dari Siauw-lim sama sekali tidak sudi kalau harus mengeroyok seorang lawan yang masih muda dan buta lagi.

Sementara itu Kun Hong maklum bahwa banyak lawan yang sudah mulai bergerak hendak mengeroyoknya. Dia sendiri masih belum terbebas dari pada pengaruh benturan tenaga dengan Hek Lojin yang sakti, masih terasa sakit pada pangkal lengannya.

Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi bagaimana ia akan bisa melindungi Hui Kauw kalau dia dikeroyok oleh banyak orang pandai? Kalau Hui Kauw sampai terjatuh ke tangan mereka, apa artinya semua perlawanannya? Tiba-tiba sebuah akal berkelebat dalam benaknya dan secepat itu pula tubuhnya melompat ke belakang Hui Kauw.

Sambil menempelkan tangan pada tengkuk gadis itu dia berbisik, "Hui Kauw, kau jadilah mataku... kau pergunakan matamu memandang mereka, di antara kedua mata mereka, pandang tajam dan pergunakan tenaga yang kusalurkan kepadamu, dengar kata-kataku dan perkuat kata-kata itu dalam hati dan pikiranmu... tak usah bingung, kau menurut saja, barang kali ini akan menolong kita..."

Hui Kauw tadinya bingung dan semua bulu di tubuhnya berdiri ketika ia merasa telapak tangan yang hangat dari Kun Hong menempel di tengkuknya dan mengirim getaran-getaran kuat ke dalam tubuhnya. Makin lama gelombang hawa yang menggetar-getar itu makin kuat, begitu kuatnya sehingga tak terasa tergetar lagi seakan-akan sudah terbuka jalan saluran hawa sakti itu dari tubuh Kun Hong ke dalam tubuhnya. Ia merasa betapa dadanya seakan-akan penuh hawa yang panas dan bergerak-gerak. Ia lalu teringat akan pesan Kun Hong tadi, maka ia segera pusatkan perhatiannya untuk mengerahkan tenaga sakti ini melalui matanya yang memandang tajam ke depan.

Sementara itu, para jagoan istana dan Ching-coa-to berhenti bergerak karena heran dan sangsi menyaksikan tingkah laku Kun Hong yang sekarang merangkul Hui Kauw sambil menempelkan tangan di tengkuk gadis itu. Apa kehendak si buta itu? Mereka ragu-ragu dan curiga.

"Dengarlah kata-kataku!" Kun Hong mulai bicara, suaranya tenang, dalam, lambat-lambat dan amat berpengaruh. "Kalian adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang bernama besar. Tentu kalian tidak sudi dan malu untuk bertempur dengan cara mengeroyok, hal ini hanya akan merendahkan nama kalian, dan akan menghancurkan nama besar yang bertahun-tahun kalian pupuk dengan perbuatan-perbuatan gagah berani. Aku Kwa Kun Hong tidak pernah bermaksud memusuhi kalian, hanya hendak menolong nona Hui Kauw pergi dari tempat ini. Dan sebagai orang-orang kang-ouw yang gagah, seharusnya kalian membiarkan kami berdua pergi dengan aman."

Pada waktu Kun Hong berbicara itu, Hui Kauw mentaati perintah Kun Hong tadi. Sambil menyalurkan hawa yang memenuhi dada melalui mata, ia pergunakan sepasang matanya memandang para lawan itu seorang demi seorang, menatap tajam di antara kedua mata mereka. Dan karena Kun Hong sengaja menyembunyikan mukanya di belakang kepala Hui Kauw, mau tidak mau mereka itu terpaksa bertemu pandang dengan Hui Kauw.

Akibatnya aneh! Mereka itu saling pandang, tersenyum malu-malu dan seperti berlomba mereka lalu melangkah mundur seperti hendak memberi jalan kepada Kun Hong dan Hui Kauw untuk pergi dengan aman!

Sebetulnya hal ini sama sekali tidak aneh. Karena matanya sudah buta, tentu saja Kun Hong tidak dapat lagi menggunakan ilmu sihir yang dahulu dia pelajari dari Sin-eng-cu Lui Bok. Akan tetapi karena dia masih memiliki ilmu itu, tenaga batinnya masih amat kuat, bahkan lebih kuat dari pada dahulu, walau pun dengan cara ‘meminjam’ mata Hui Kauw pengaruh sihirnya menjadi lemah karena gadis itu tidak dapat menggunakannya dengan tepat, namun ternyata masih ada hasilnya juga.

Hal ini adalah karena apa yang dia ucapkan adalah hal yang menyinggung kehormatan dan perasaan orang-orang gagah di situ. Tanpa menggunakan tenaga batin sekali pun, ucapan itu akan membuat mereka bermerah muka, apa lagi sekarang disertai tenaga batin yang kuat, maka otomatis, di luar kesadaran mereka sendiri, mereka itu serta merta memenuhi permintaan Kun Hong itu tanpa dipikir lagi!

Kun Hong tidak membuang kesempatan ini. Dia segera menarik tangan Hui Kauw pergi dari situ. "Mari kita pergi...," bisiknya perlahan.

Akan tetapi, di antara orang-orang yang mengurungnya, ada dua orang yang tidak ikut melangkah mundur. Mereka ini adalah Lui-kong Thian Te Cu dan Bhewakala si tokoh Nepal. Yang pertama karena sakit hatinya melihat suheng-nya, Hek Lojin kalah sehingga kata-kata itu tidak mempengaruhi hatinya.

Ada pun yang ke dua, Bhewakala, adalah seorang tokoh barat yang sudah kenyang akan ilmu-ilmu sihir. Maka begitu merasakan ada getaran aneh keluar dari ucapan Kun Hong disertai pandang mata Hui Kauw yang tajam mengikat semangat dan kemauan, dia pun terkejut dan cepat dia membaca mentera sambil mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh yang keluar dari pandang mata Hui Kauw dan suara Kun Hong itu. Dua orang inilah yang mengejar ketika Kun Hong lari sambil menarik tangan Hui Kauw.

Akan tetapi agaknya Thian melindungi Kun Hong yang terancam bahaya. Mendadak langit yang sudah sejak tadi gelap oleh mendung tebal, kini menyiram permukaan bumi dengan air hujan disertai kilat dan angin ribut. Mempergunakan kesempatan ini, Kun Hong dan Hui Kauw mempercepat larinya, sedangkan Thian Te Cu dan Bhewakala yang maklum akan kelihaian Kun Hong, menjadi ragu-ragu untuk mengejar terus karena yang lain-lain tidak turut mengejar.

"Ehh, cu-wi sekalian ini bagaimana? Kenapa tidak mengejar pemberontak itu?" Lui-kong Thian Te Cu bertanya dengan nada penasaran.

Sesudah Kun Hong dan Hui Kauw lenyap dari pandangan mata serta hujan yang dingin menimpa kepala dan tubuh mereka, barulah orang-orang itu seakan-akan sadar dari pada mimpi. Diam-diam mereka merasa menyesal juga kenapa tadi mereka mendiamkan saja Kun Hong lari.

"Mereka tidak akan lari jauh," kata Kui Ciauw, orang tertua dari Ang-hwa Sam-cimoi, "sekeliling lembah ini kalau turun hujan amat berbahaya, banyak timbul rawa berlumpur. Juga sampai beberapa li jauhnya telah terjaga oleh anak buah kami. Kalau sekarang kita kejar masih belum terlambat."

"Ha-ha-ha, baru menghadapi seorang bocah buta saja sekian banyaknya orang sudah kewalahan, bagaimana bila harus menghadapi pasukan musuh yang kuat? Bhok Hwesio, bagaimana pendapatmu? Apakah kita tak terlalu banyak menimbulkan kehebohan hanya untuk menangkap seorang bocah buta?"

Mendengar ucapan Ka Chong Hoatsu ini, Bhok Hwesio tertawa juga. "Omitohud, omongan Hoatsu memang tidak keliru. Marilah kita mengejar dengan cara kita masing-masing dan kita berlomba, siapa yang lebih dahulu membekuk bocah itu, dialah yang terhitung jago."

"Bagus! Memang aku juga sudah lama mendengar nama besar Bhok Hwesio tokoh dari Siauw-lim-pai. Mari!" Ka Chong Hoatsu menggerakkan tongkat pendeta di tangannya, lalu sambil tertawa-tawa dia berkelebat lenyap dari situ.

Pada saat orang-orang menengok ke arah Bhok Hwesio, ternyata hwesio ini pun sudah lenyap dari situ. Agaknya dua orang ini dengan hati panas hendak menguji kepandaian masing-masing dengan cara aneh, yaitu berlomba mengejar dan menangkap Kun Hong!

Melihat dua orang tokoh itu sudah pergi, yang lain beramai-ramai melakukan pengejaran pula, mengambil cara dan jalan masing-masing. Terjadilah perlombaan mengejar di dalam hujan ribut itu. Para anggota pasukan dan anggota Ngo-lian-kauw juga sibuk sendiri, ada yang berlindung dari air hujan yang turun seperti ditumpahkan dari langit, ada yang ikut mengejar pula. Keadaan menjadi ramai seperti para pemburu mengejar seekor harimau di dalam hutan.
cerita silat karya kho ping hoo

Memang betul apa yang diucapkan oleh orang tertua dari Ang-hwa Sam-cimoi tadi. Kun Hong dan Hui Kauw menemui kesukaran dalam usaha mereka melarikan diri. Air hujan secara mendadak mengubah semua tempat sekeliling lembah itu menjadi rawa-rawa yang berbahaya.

Hampir saja Hui Kauw terjerumus ketika kakinya menginjak air yang nampaknya dangkal itu, namun kiranya di bawahnya mengandung lumpur yang mempunyai daya menghisap sehingga kakinya seakan-akan tersedot ke bawah. Baiknya Kun Hong cepat menariknya ketika gadis ini menjerit.

Mereka kini berdiri di pinggir rawa, terengah-engah dan sukar bernapas karena serangan air hujan pada muka mereka. Air hujan itu turun dengan derasnya sehingga titik-titik air itu seperti batu-batu kecil menghantam muka.

"Kun Hong... mengapa kita harus lari? Perlu apa takut...? Bukankah kalau tewas pun kita berdua?"

"Hui Kauw, siapa ingin mati? Aku tidak takut mati, akan tetapi, apa bila ada kesempatan menyelamatkan diri, apa perlunya kita mengadu nyawa? Hui Kauw, masa depan menanti untuk kita."

Suara Kun Hong terdengar nyaring penuh harapan dan kebahagiaan, jauh sekali bedanya dengan dulu. Agaknya pemuda ini sekarang merasa amat berbahagia dapat hidup berdua dengan Hui Kauw. Gadis ini dapat merasa hal ini dan dengan terharu ia mencengkeram tangan Kun Hong.

"Sesukamulah... Kun Hong, aku menurut saja...," katanya lirih. "Akan tetapi, ke mana kita akan lari?"

Pada saat itu pula, di antara suara angin dan hujan, terdengarlah suara mereka yang sedang mengejar.

"Wah, mereka mengejar dan sudah dekat!" Kun Hong berkata dan sambil menarik tangan Hui Kauw untuk lari lagi.

Hui Kauw menjadi penunjuk jalan, akan tetapi ia setengah diangkat oleh Kun Hong yang menggunakan ilmu lari cepat. Lebih lima li mereka lari meninggalkan tempat pertempuran tadi. Namun karena tidak mengenal jalan dan selalu terhalang oleh rawa, mereka hanya berputaran saja di sekitar lembah tanpa mereka sadari.

Mendadak Hui Kauw berkata, "Kun Hong, di sana ada sebuah pondok kecil menyendiri. Mari kita berlindung ke sana." Suara Hui Kauw hampir tak dapat terdengar karena terbawa angin yang makin keras bertiup dan air hujan makin deras menyiram tubuh mereka.

Dengan susah payah akhirnya sampai juga mereka di pondok kecil yang sudah tua dan berdiri miring di luar hutan lebat. Mereka cepat memasuki pondok yang ternyata kosong. Agak lega hati mereka karena sekarang tidak lagi diserang hujan dan angin. "Kita berada di mana?" tanya Kun Hong.

Hui Kauw memandang ke luar, bergidik melihat hutan yang tampak amat menyeramkan karena pohon-pohonnya bergoyang-goyang seperti mengamuk diserang angin ribut. Amat berbahaya memasuki hutan di waktu demikian itu. Sewaktu-waktu akan ada pohon yang tumbang. Saking kerasnya angin, banyak pohon kelihatan gundul karena daun-daunnya rontok oleh tiupan angin.

"Di luar sebuah hutan lebat. Kurasa untuk sementara kita bersembunyi di sini, menunggu sampai hujan dan angin berhenti," katanya sambil mengusap air dari mukanya.

"Hui Kauw..."

Tiba-tiba Kun Hong memeluk mesra dan mendekap kepala gadis itu di dadanya. Gadis itu pun balas memeluk dan sampai beberapa lama mereka berdiam diri. Mendadak Kun Hong mendorong tubuh Hui Kauw perlahan ke belakang sambil berkata, "Kau larilah. Kau masuklah ke hutan itu, larilah ke utara dan carilah perlindungan di sana. Carilah Sin Lee dan Hui Cu, atau menggabunglah dengan pasukan dari utara. Kau akan selamat. Aku akan menanti mereka di sini!"

"Tidak! Sekali lagi, tidak!" Hui Kauw berkata nyaring. "Aku hanya mau pergi dan lari kalau bersama kau!"

"Jangan Hui Kauw. Percuma kita lari, pasti akan tersusul oleh mereka. Di antara mereka terdapat banyak orang sakti. Kalau kau lari sendiri, aku dapat menghalangi mereka di sini dan mencegah mereka mengejarmu. Bukan kau yang mereka kehendaki, melainkan aku. Kau harus selamat."

"Tidak mau! Kun Hong, tidak tahukah kau bahwa mati hidup aku harus bersamamu? Lebih baik mati di sampingmu dari pada hidup jauh dari padamu. Aku... aku isterimu, bukan? Seorang isteri harus menyertai suaminya, di mana pun suaminya berada."

Kun Hong amat terharu, membalikkan tubuh membelakangi Hui Kauw, "Hui Kauw, jangan kau hancurkan kebahagiaanku. Aku merasa bahagia sekali bahwa pada saat terakhir aku masih sempat melindungimu, membelamu. Akan sia-sia pengorbananku kalau kau akan tewas juga. Pergilah.”

"Tidak, Kun Hong. Aku tidak mau. Kau... kau sudah terluka! Aku tahu itu... sebaiknya kau saja yang bersembunyi di hutan itu, biar aku yang menghadang mereka!" Suaranya tinggi dan bernada gagah. Kun Hong makin terharu dan kembali mereka berpelukan. Tiba-tiba Kun Hong melepaskan pelukannya.

"Trang-trang...!"

Dua batang pedang terlempar. Tongkat itu terus bergerak dan... ada dua orang anggota pasukan istana jatuh tersungkur, tak bernapas lagi. Kiranya dua orang ini sudah berhasil mengejar sampai ke dalam pondok dan langsung menyerang, akan tetapi hal ini hanya menyebabkan mereka mati konyol. Karena larinya terhalang rawa-rawa dan hanya berputaran saja, maka dua orang sakti seperti Bhok Hwesio dan Ka Chong Hoatsu malah tidak dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw. Dua orang ini malah lewat jauh dan mencari-cari di dalam hutan itu.

Sebaliknya, ada dua orang anggota pasukan yang merasa payah dan melihat pondok itu, hendak mengaso, akan tetapi malah mereka yang dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw tanpa mereka sengaja dan mengakibatkan kematian mereka. Kun Hong kembali siap dengan tongkatnya. Hui Kauw memungut sebatang pedang yang tadi terpental jatuh. Mereka kini memasuki pondok dan Hui Kauw mengintai ke luar dari jendela yang tidak berdaun lagi. Keduanya menanti dengan tegang. Hujan mulai berhenti, angin sudah tidak mengamuk lagi dan lapat-lapat terdengar suara mereka yang mengejar, makin lama semakin dekat.

"Ada dua orang yang menuju ke sini...," bisik Hui Kauw kepada Kun Hong, suaranya agak gemetar karena tegang, "mereka itu adalah Bhewakala dan yang seorang lagi It-to-kiam Gui Hwa."

Kun Hong mengangguk. "Kau berdiam saja di sini, jangan bantu kalau tidak amat perlu. Biar aku menyergap mereka di depan."

Memang betul, It-to-kiam Gui Hwa yang mengejar berbareng dengan Bhewakala, tampak berlari-lari menuju pondok itu. Bhewakala yang mengajak tokoh Kun-lun itu, mengatakan bahwa pondok itu mungkin sekali dipergunakan untuk tempat sembunyi.

"Mereka melarikan diri, mana bisa berhenti di tempat itu?" bantah Gui Hwa.

"Siapa tahu? Semua orang sudah mengejar ke dalam hutan, tak seorang pun ingat untuk menengok pondok itu. Biar kita menengok sebentar," kata Bhewakala dan demikianlah, dengan ilmu lari cepat mereka, kedua orang tokoh ini menuju ke pondok.

"Awas...!" Bhewakala berseru sambil menuding ke arah dua mayat yang menggeletak di depan pondok itu.

"Ahh, mereka tentu di sini!" seru It-to-kiam Gui Hwa sambil mencabut pedangnya.

"Memang aku berada di sini!"

Dua orang itu terkejut dan cepat menengok. Ehh, tahu-tahu Kun Hong sudah berdiri di belakang mereka dengan tongkat melintang di depan dada!

Sejenak Bhewakala dan It-to-kiam Gui Hwa meremang bulu tengkuknya. Bhewakala telah merasakan kelihaian Pendekar Buta itu, benar-benar amat sakti, maka kini ketika secara tiba-tiba saja orang yang dikejarnya itu berada di depan mereka, mereka menjadi terkejut setengah mati. Namun, sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, hanya sebentar saja mereka terkejut. Bhewakala sudah mengeluarkan senjatanya yang lihai, yaitu sebuah cambuk hitam yang kecil dan sekali cambuk itu digerakkan, sudah terulur panjang sampai tiga meter.

Dahulu pernah di kota raja dia kehilangan cambuknya karena hancur bertemu dengan pedang Kun Hong. Sekarang dia telah mengeluarkan cambuk simpanannya, terbuat dari pada bulu binatang aneh di Pegunungan Himalaya.

"Pemberontak muda, lebih baik kau menyerah. Kau tidak akan dapat melarikan diri!" Gui Hwa mencoba untuk membujuk karena betapa pun juga dia merasa jeri juga.

"It-to-kiam, hayo kita tangkap dia!"

Bhewakala yang pernah dikalahkan oleh Kun Hong, sebaliknya menjadi penasaran dan marah. Ingin dia membalas kekalahannya dengan bantuan It-to-kiam Gui Hwa. Karena itu, sambil berkata demikian cambuknya sudah dia putar-putar di atas kepalanya sehingga mengeluarkan bunyi mengaung-aung laksana sirene. Melihat temannya sudah mendesak maju, dengan sikap apa boleh buat It-to-kiam Gui Kwa juga menerjang dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilat.

Kun Hong sudah siap. Dia maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang amat kuat. Pernah dia menghadapi Bhewakala dan karenanya dia maklum bahwa orang Nepal ini benar-benar memiliki ilmu yang luar biasa. Jika dulu itu dalam beberapa gebrakan saja dia mampu mengalahkan Bhewakala, adalah karena orang Nepal ini tadinya memandang rendah kepadanya. Sekarang, setelah pernah dikalahkan, tentu dia akan berlaku hati-hati dan tidak begitu mudah dikalahkan. Apa lagi di samping orang Nepal ini terdapat seorang ahli pedang seperti It-to-kiam Gui Hwa yang dia tahu memiliki Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang cukup tinggi.

Dia harus hati-hati, maka begitu melihat mereka menerjang maju, dia segera memainkan ilmu silat ciptaannya. Tongkatnya berkelebat hingga sinarnya bergulung-gulung, diselingi dengan pukulan-pukulan tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih!

Baik Bhewakala mau pun It-to-kiam Gui Hwa mau tidak mau amat kagum dan diam-diam memuji kehebatan ilmu silat Pendekar Buta ini karena mereka berdua sama sekali tidak mampu mendekatinya. Jangan kata sampai terbentur tongkat yang mengeluarkan sinar merah, baru terkena angin pukulannya saja mereka merasa betapa tenaga yang sangat hebat mendorong senjata mereka ke belakang. Belum lagi pukulan tangan kiri itu yang mendatangkan hawa pukulan ganas dan mukjijat sehingga membuat mereka sama sekali tidak berani menangkisnya.

Sebaliknya, Kun Hong diam-diam juga terkejut. Dia sudah terluka karena mengadu tenaga dengan Hek Lojin yang sakti. Walau pun luka itu tidak membahayakan keselamatannya, akan tetapi setidaknya banyak membutuhkan pengerahan hawa sakti di tubuhnya untuk melawannya. Hal ini mengurangi kekuatannya dan kini menghadapi dua orang yang tak boleh dipandang ringan ini, tenaganya hanya dapat menandingi dengan berimbang saja. Baiknya ilmu silatnya memang amat aneh dan tinggi sehingga dua orang itu sendiri tidak dapat menyelami inti sarinya dan menjadi bingung oleh sambaran tongkat dan dorongan tangan kirinya. Yang paling diperhatikan oleh Kun Hong adalah cambuk panjang di tangan Bhewakala.

Cambuk itu benar-benar lihai sekali dan sukar diduga gerakannya, bergerak bagai seekor binatang hidup yang kadang-kadang merentang panjang, akan tetapi kadang-kadang juga melingkar-lingkar. Hebatnya, cambuk hitam yang sekarang dimainkan oleh Bhewakala ini sangat ampuh serta kuat, beberapa kali dihantam oleh tongkat Kun Hong, hanya mental kembali tetapi tidak putus.

Tiba-tiba Bhewakala mengeluarkan suara pekik rendah menggetarkan jantung, kemudian berkata-kata seperti orang membaca doa dalam bahasa asing. Memang orang Nepal ini sedang berbicara seorang diri dengan keras, dan sebetulnya dia memuji-muji kepandaian Kun Hong dan juga menyatakan penasarannya.

Akan tetapi gerakan cambuknya kini berubah, sama sekali tak lagi menyerang tubuh Kun Hong, melainkan mengejar dan memapaki tongkat Pendekar Buta itu dengan cambuknya. Cambuk hitam yang panjang itu seperti seekor ular kecil panjang segera melibat dengan kecepatan yang tak terduga oleh Kun Hong. Pendekar Buta ini cepat menggentakkan tongkatnya dengan tenaga sakti untuk membikin senjata lawan itu terputus. Akan tetapi hebat sekali, cambuk itu bukannya putus karena dapat mulur seperti karet, malah terus bergerak melibat-libat seluruh tongkat, tangan dan lengan kanan Kun Hong, masih terus melibat pundak, leher dan lengan kiri.

Dalam sekejap mata tampaknya Kun Hong telah kena terbelenggu oleh cambuk mukjijat itu! Pada saat itu juga, It-to-kiam Gui Hwa menggunakan kesempatan itu menubruk maju dan mengirim pukulan maut ke arah ulu hati Kun Hong dengan gerakan cepat karena dia memainkan jurus Tit-ci Coan-sim (Tudingkan Jari Tusuk Hati) dari ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang paling ampuh.

"It-to-kiam, jangan bunuh dia, sayang kepandaiannya!" Bhewakala berseru dengan suara keras untuk mencegah, namun dia tidak berdaya untuk menolong karena dia pun sedang mengerahkan tenaga untuk melibat tubuh Kun Hong dengan cambuknya itu.

"Sruuuuuttttt! Cringggg... krakkk!"

Apa yang terjadi dalam sedetik ini benar-benar hebat dan sekaligus membuktikan bahwa Si Pendekar Buta benar-benar telah memiliki kesaktian yang jarang bandingannya. Dalam keadaan yang serba sulit itu dia masih bisa menyelamatkan diri, malah terlihat It-to-kiam Gui Hwa sudah roboh tak berkutik karena dadanya tertembus oleh tongkat Kun Hong, sedangkan cambuk hitam yang tadi melibat-libat tubuh Kun Hong itu kini berantakan dan putus-putus!

Kiranya dengan tenaga saktinya, ketika menghadapi bahaya maut tadi, Kun Hong masih sempat menggerakkan kaki dan melakukan langkah ajaib sehingga dia terhindar dari pada tusukan maut It-to-kiam, kemudian sekali mengerahkan tenaga terdengar suara keras dan cambuk hitam itu hancur berantakan, dan akhirnya sinar merah berkelebat dan tahu-tahu tubuh It-to-kiam sudah roboh binasa. Saking cepatnya tongkat itu bergerak, sampai tidak kelihatan bagaimana senjata ini tadi menembus tubuh It-to-kiam!

Bhewakala terkejut setengah mati dan bulu tengkuknya berdiri. Selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan hal seperti ini. Mana mungkin tubuh seorang manusia mampu membikin hancur berantakan cambuk hitamnya yang terbuat dari pada bulu binatang sakti di Pegunungan Himalaya itu?

Ia cepat menubruk lagi dan mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga dalamnya yang amat kuat. Akan tetapi kali ini Kun Hong sudah siap. Tubuhnya tiba-tiba bergerak miring sehingga pukulan itu luput dan tahu-tahu Bhewakala roboh karena kaki Kun Hong sudah menyerampangnya dan menyentuh jalan darah di dekat lutut. Bhewakala semakin kaget dan maklum bahwa sekali tongkat yang ampuh itu bergerak, nyawanya tak akan tertolong lagi. Akan tetapi aneh, tongkat itu tidak bergerak, malah Kun Hong hanya berdiri tegak sambil berkata,

"Bhewakala, tadi kau menyayangkan nyawaku, aku pun tak tega membunuhmu. Memang di antara kita tidak ada permusuhan. Pergilah, atau... biarkanlah aku pergi dengan aman."

Bhewakala bangkit. Dia memandang dengan matanya yang agak kebiruan itu, kemudian mengangguk-angguk. "Kau hebat. Tak perlu lagi aku di sini, aku harus pulang dan belajar sepuluh tahun lagi." Setelah berkata demikian, dengan langkah panjang dia lari pergi dari tempat itu.

"Kun Hong, tolong...!"

Jeritan Hui Kauw ini seperti menyendal semangat Kun Hong. Kaget dan khawatir sekali hatinya. Seperti kilat cepatnya tubuhnya melompat ke arah suara dan ternyata di sebelah kanan pondok itu telah berdiri Ang-hwa Sam-cimoi dengan pedang di tangan. Kui Siauw, orang termuda dari Ang-hwa Sam-cimoi memegang lengan Hui Kauw yang tidak berdaya lagi karena sudah ditotok jalan darahnya.

"Hui Kauw, kau di mana? Apa yang terjadi...?!" Kun Hong berteriak dan berdiri bingung.

"Kun Hong, aku... tertawan Ang-hwa Sam-cimoi...," kata Hui Kauw lemah.

Kun Hong menggerakkan tongkatnya mengancam, "Lepaskan dia!" suaranya mengguntur.

Kui Ciauw dan Kui Biauw tertawa mengejek, kemudian Kui Ciauw berkata, "Pemberontak buta. Lebih baik kau menyerahkan diri saja sebelum kekasihmu ini kami bunuh!"

Kun Hong ragu-ragu. Dia maklum bahwa kalau dia bergerak, biar pun akhirnya dia akan menang, Hui Kauw tentu akan terbunuh lebih dulu.

"Kun Hong, serang mereka. Jangan pedulikan aku!" ucapan Hui Kauw ini membangkitkan semangat Kun Hong.

Akan tetapi cepat Kui Ciauw berseru, "Kau benar-benar ingin dia mampus?!"

''Lepaskan dia!"

Kun Hong melompat dan tongkatnya menerjang Kui Siauw karena dari suara Hui Kauw dia tahu siapa yang harus dia serang lebih dulu untuk menolong kekasihnya.

"Plak-plak-plak!"

Kun Hong terhuyung mundur. Tongkatnya sampai tiga kali bertemu dengan senjata lunak tapi kuat bukan main, disertai tenaga sakti yang mampu melawan tenaga dan tongkatnya.

"Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong. Lebih baik kau menyerah kalau kau menghendaki nona itu dan kau sendiri selamat."

"Bhok Hwesio!" Kun Hong berteriak marah. "Apa bila kalian memusuhi aku, itu memang sudah sepatutnya karena kau dan teman-temanmu adalah anjing-anjing penjaga istana yang menganggap aku telah memberontak. Akan tetapi apa salahnya Hui Kauw? Segera kau lepaskan dia dan mari kita bertanding seribu jurus sebagai laki-laki!"

"Hemm, bocah buta yang sombong. Apa kau kira pinceng takut kepadamu? Soal nona itu, tidak usah dibicarakan lagi. Ada pun mengenai kepandaian, kalau memang kau merasa jagoan, majulah biar pinceng layani."

Kun Hong sudah marah sekali, tongkat di tangannya tergetar. Akan tetapi sebelum dia sempat bergerak, terdengar suara halus di belakangnya.

"Omitohud, semoga Tuhan mengampuni kesalahan hambaNya..."

Suara itu sedemikian halusnya, namun pengaruhnya membuat Kun Hong seketika lemas dan lenyap kemarahannya. Ia merasa terheran-heran dan menanti dengan telinga dibuka lebar-lebar untuk mengetahui siapakah gerangan orang yang mempunyai suara demikian berpengaruh. Ada pun Hui Kauw yang berada dalam tawanan Kui Siauw juga memandang penuh perhatian. Tadinya ia terbelalak penuh kekhawatiran terhadap diri Kun Hong ketika di situ tiba-tiba muncul Bhok Hwesio.

Tadi dia sedang menonton perlawanan Kun Hong terhadap Bhewakala dan It-to-kiam Gui Hwa dari samping pondok. Mendadak dari arah belakangnya berkelebat tiga bayangan yang cepat sekali gerakannya. Hui Kauw hendak melawan, akan tetapi ia kalah jauh oleh Ang-hwa Sam-cimoi sehingga dalam beberapa jurus saja ia telah tertotok dan tertawan. Ia tidak takut mati, juga tidak takut melihat Kun Hong menghadapi Ang-hwa Sam-cimoi karena ia memang sudah nekat untuk mati bersama. Akan tetapi tidak tega juga hatinya melihat kekasihnya yang buta itu akan dikeroyok oleh orang-orang sakti, maka munculnya Bhok Hwesio yang amat sakti itu menggelisahkan hatinya.

Kini ia terbelalak memandang tiga orang yang datang dengan langkah lambat dan ringan. Mereka ini adalah tiga orang hwesio tua yang jalan berjajar. Yang kanan dan kiri serupa benar bentuk badan dan muka, seperti hwesio tua yang kembar, bertubuh kurus pendek. Yang berada di tengah adalah seorang hwesio tinggi kurus berusia sedikitnya delapan puluh tahun dan hwesio inilah tadi yang mengeluarkan kata-kata.

Besar keheranan hati Hui Kauw pada saat melihat betapa Bhok Hwesio menjadi berubah mukanya. Malah dengan sikap menghormat Bhok Hwesio sekarang melangkah maju dan menjura hingga badannya yang tinggi besar itu hampir berlipat menjadi dua, lalu mulutnya berkata, "Thian Ki suheng, ji-suheng dan sam-suheng, siauwte menghaturkan hormat."

Kedua hwesio kembar itu hanya mengangguk. Ada pun hwesio di tengah yang disebut Thian Ki suheng oleh Bhok Hwesio itu, memandang sejenak, kemudian bibirnya bergerak mengeluarkan ucapan yang halus tapi penuh teguran, "Bhok-sute, semenjak kapankah murid Siauw-lim-pai mencampuri urusan kerajaan? Sejak kapan murid Siauw-lim-pai tamak akan harta benda atau kemuliaan duniawi?"

Suaranya penuh wibawa dan sampai lama Bhok Hwesio tidak dapat menjawab. Ada pun Kun Hong dan Hui Kauw yang pernah mendengar nama Thian Ki Losu, yaitu pendeta Siauw-lim-pai yang amat terkenal kesaktiannya itu, menjadi terkejut. Thian Ki Losu terkenal sebagai seorang di antara para tokoh tua Siauw-lim-pai yang tidak pernah muncul, akan tetapi yang kabarnya memiliki kepandaian bagai dewa. Oleh karena itu Kun Hong hanya diam saja. Dia hanya mendengarkan penuh perhatian dan menanti perkembangannya lebih jauh sambil bersiap siaga.

Akan tetapi, Ang-hwa Sam-cimoi yang semenjak mudanya merantau ke dunia barat, tidak mengenal nama Thian Ki Losu, maka mereka tak peduli sama sekali. Apa lagi ketika Kui Siauw melihat betapa sinar mata dan muka Hui Kauw berseri-seri seakan-akan gadis itu mengharapkan bantuan, ia menjadi marah dan berkata,

"Kwa Kun Hong, kalau kau tidak lekas berlutut dan menyerah, sekarang juga aku akan membunuh kekasihmu!"

Hui Kauw benar-benar tidak berdaya. Kui Siauw yang galak itu sudah mencengkeram batang lehernya dan sekali menggerakkan tangan, tentu jalan darah yang menuju ke otak akan dihancurkan dan dia akan tewas dalam sekejap mata. Kun Hong sudah menggigil kedua kakinya, siap melompati penawan Hui Kauw itu dan kalau perlu mengadu nyawa.

"Omitohud, sesama manusia mana berhak saling bunuh? Ada pinceng di sini, tidak boleh orang berlaku keji!" Inilah suara Thian Ki Losu dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang seperti kapas tertiup angin ke arah Kui Siauw.

Orang termuda dari Ang-hwa Sam-cimoi ini marah dan membentak, "Hwesio tua, kau mau apa?" Berkata demikian, ia memukul dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga sedangkan tangan kirinya tetap mencengkeram tengkuk Hui Kauw.

"Omitohud, keji sekali...!" Thian Ki Losu berseru, lengan bajunya dikebutkan berkibar-kibar menerima pukulan sedangkan lengan baju yang lain juga bergerak ke arah Hui Kauw.

Entah bagaimana, tahu-tahu tubuh Kui Siauw seperti dilemparkan tenaga raksasa, lantas melayang sampai lima meter lebih jauhnya dan cengkeramannya pada tengkuk Hui Kauw tadi seketika terlepas. Dan lebih hebat lagi, tanpa kelihatan kapan bergeraknya, tubuh Hui Kauw sudah terbebas dari pada totokan dan gadis itu cepat berlari ke arah Kun Hong, berdiri di samping Kun Hong, sedangkan Thian Ki Losu sudah kembali berdiri di antara kedua orang adik seperguruannya seperti tidak pernah terjadi sesuatu!

Kui Ciauw dan Kui Biauw mencabut pedangnya masing-masing, akan tetapi tidak berani sembarangan bergerak, apa lagi melihat bahwa sumoi mereka tak terluka. Juga Kui Siauw sudah mencabut pedangnya, akan tetapi juga tidak berani sembarangan bergerak karena maklum bahwa hwesio tua renta itu benar-benar seorang sakti yang tidak boleh dibuat sembrono.

Bhok Hwesio melihat kejadian itu, mengerutkan keningnya dan berkata menegur, "Suheng berat sebelah. Bocah buta itu adalah seorang pemberontak, juga gadis itu. Mereka harus ditawan."

"Bhok-sute," suara Thian Ki Losu tetap tenang dan sabar, "hal itu bukanlah urusan kita. Sebelum berlarut-larut kau terbelit oleh urusan kerajaan, marilah kau ikut pinceng kembali, semoga Buddha mengampunimu."

"Tidak, Suheng. Siauwte sudah berjanji akan membantu menghancurkan pemberontak. Suheng pulanglah dahulu, kelak siauwte akan pulang dan mohon ampun kepada Suheng bahwa hari ini siauwte berani membantah perintah Suheng."

"Bhok-sute, kau tahu apa hukumannya murid yang murtad? Sekali lagi, marilah pulang bersama kami, kalau tidak, terpaksa pinceng akan melaksanakan hukuman di sini juga."

"Thian Ki suheng, kau terlalu! Di depan banyak orang merendahkan aku seperti ini, kalau aku tidak mau ikut pulang, kau mau apa?"

"Omitohud, terpaksa pinceng melakukan hal yang berlawanan dengan hati!" Hwesio tua itu berseru dan tiba-tiba dia menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan. Terdengar suara berciutan dan seketika itu tubuh Bhok Hwesio bergoyang-goyang. Bhok Hwesio tentu saja mengenal kelihaian kakak seperguruannya ini, maka dia pun bergerak dan mendorong.

Kakak beradik seperguruan ini berdiri dalam jarak antara dua meter. Oleh karena mereka masing-masing mengulurkan lengannya, maka telapak tangan mereka saling mendekati, hanya terpisah satu meter. Akan tetapi, meski telapak tangan mereka tidak saling sentuh, namun jangan dikira bahwa mereka itu tidak saling serang. Hawa sakti yang keluar dari telapak tangan masing-masing saling dorong dan dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara. Mereka berdiri tak bergerak, dan hanya satu menit Bhok Hwesio kuat bertahan. Mukanya tiba-tiba menjadi pucat dan dia mengeluh perlahan, kemudian tubuhnya terjengkang.

Thian Ki Losu melangkah empat tindak dan kembali dia menggerakkan tangannya cepat sekali ke arah pundak. Pada lain saat Bhok Hwesio sudah menjadi pingsan dan digotong oleh dua orang hwesio kembar, seorang memegang pundak dan seorang lagi memegang betis. Thian Ki Losu memandang sekeliling, dan pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk tidak jauh dari situ, lalu tampak api mengebul dibarengi sorak-sorai dan suara tambur perang. Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Omitohud, perang... perang... sekali lagi perang. Manusia saling bunuh, buta oleh karena kemuliaan dunia. Bilakah semua ini berakhir?" Lama dia memandang kepada Kun Hong, menggeleng-geleng kepala dan berkata lagi. "Sayang... sayang..."

Kemudian kakek ini mengajak dua orang sute-nya pergi dari tempat itu, membawa tubuh Bhok Hwesio yang sudah pingsan. Ang-Hwa Sam-cimoi tadi tidak berani bergerak. Setelah hwesio-hwesio itu pergi, mereka serentak mengurung Kun Hong yang juga sudah siap.

Suara gaduh semakin menghebat dan sambil bersiaga Kun Hong bertanya, "Hui Kauw, suara apakah itu? Apakah... mereka sudah datang...?"

"Agaknya perang sudah dimulai!" jawab Hui Kauw penuh semangat.

Kun Hong merasa girang. Tahulah dia sekarang bahwa saat itu orang-orang Pek-lian-pai dan Hwa-i Kai-pang, mungkin dengan pasukan dari utara, telah menyerbu dan bertanding melawan pasukan pengawal dan para anggota Ngo-lian-kauw.

Benar saja dugaannya. Datang berlarian dua orang wanita yang terengah-engah melapor dari jauh. "Kauwcu (ketua)... musuh menyerbu... semua dibakar...!"

Mendengar ini, Ang-hwa Sam-cimoi makin marah dan serentak mereka menerjang Kun Hong.

"Hui Kauw, mundur...!"

Kun Hong cepat menggerakkan tongkatnya menangkis dan diam-diam ia harus mengakui bahwa tiga orang lawannya ini hebat sekali ilmu pedangnya. Menangkis yang satu datang yang ke dua menyambar, disusul lagi yang ke tiga. Terus menerus mereka itu mendesak dengan penyerangan bertubi-tubi, sangat teratur seakan-akan barisan yang sudah diatur terlebih dahulu. Juga tenaga mereka itu rata-rata amat kuat.

Kun Hong mengeluh. Benar-benar hari ini dia harus menghadapi banyak orang pandai. Namun Hui Kauw tidak mundur, bahkan cepat ia mengambil pedang It-to-kiam Gui Hwa tadi dan serta merta ia menyerbu dan membantu Kun Hong. Karena maklum bahwa tiga orang wanita itu amat sakti, Hui Kauw segera mainkan ilmu pedang simpanannya yang ia dapatkan dari kitab rahasia. Setelah ia menyerbu, maka terpaksa Kui Siauw melayaninya sehingga lumayan juga bagi Kun Hong yang hanya menghadapi dua orang lawan.

Pada saat itu terdengar suara orang yang parau, "Ang-hwa Sam-cimoi, celaka sekali! Kita terjebak dan terkepung musuh. Lekas bereskan si buta itu!"

Dan muncullah Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu, sedangkan di belakangnya tampak berlari-lari mendatangi Lui-kong Thian Te Cu yang juga berteriak-teriak. "Bereskan jahanam buta itu dan lekas lari! Tentara dari utara yang datang menyerbu. Jumlah mereka amat banyak!"

Ketiga orang itu, Souw Bu Lai, Ka Chong Hoatsu dan Lui-kong Thian Te Cu serta merta menggunakan senjata menerjang Kun Hong yang sekarang dikepung lima orang! Repot juga Kun Hong, apa lagi dia merasa gelisah karena Hui Kauw makin terdesak hebat oleh Kui Siauw yang jauh lebih lihai. Tidak mungkin untuk membantu kekasihnya karena dia sendiri pun sedang dihujani serangan maut oleh lima orang itu.

Kun Hong timbul marahnya, dengan bentakan yang melengking nyaring ia menggunakan jurus mematikan, tongkatnya menyambar ke depan dibarengi sambaran tangan kirinya. Namun lima orang lawannya sudah cepat mundur sambil menangkis, lalu mengepung lagi dengan rapat.

Pada saat Kun Hong dan Hui Kauw terdesak hebat di tengah-tengah medan pertempuran yang sekarang makin gaduh karena perang antara pasukan utara dan para pengawal itu agaknya makin mendekat, nampak berkelebat bayangan dua orang bagai garuda-garuda menyambar. Mereka ini bukan lain adalah Si Raja Pedang Tan Beng San serta isterinya Cia Li Cu! "Kun Hong, jangan takut, aku dan bibimu datang membantumu!"

Mendengar suara ini, bukan main lega dan gembiranya hati Kun Hong.

"Paman Beng San! Bibi Li Cu! Lekas, inilah musuh-musuh Thai-san-pai! Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa Sam-cimoi mempunyai peran besar dalam penyerbuan itu!"

Bukan main marahnya Beng San dan isterinya ini. Beng San segera menerjang Ka Chong Hoatsu yang kelihatan paling lihai di antara pengeroyok-pengeroyok Kun Hong. Kakek ini menangkis dengan tongkatnya dan di lain saat kedua orang tokoh sakti ini sudah saling gempur mati-matian dengan amat hebatnya. Ada pun Cia Li Cu sambil membentak nyaring segera menerjang Lui-kong Thian Te Cu yang juga kelihatan amat kuat dengan senjatanya yang aneh, yaitu tanduk rusa. Seperti juga suaminya, nyonya yang berilmu tinggi ini segera lenyap terbungkus sinar pedangnya ketika ia menandingi tokoh Go-bi-san ini.

Kun Hong mendapat hati setelah dua orang di antara pengeroyoknya yang paling kuat disambut oleh paman dan bibinya. Dia memekik keras dan robohlah Souw Bu Lai dengan kepala retak-retak akibat terkena pukulan tangan kiri Kun Hong. Kui Ciauw dan Kui Biauw terkejut sekali sehingga permainan pedang mereka menjadi kacau. Akan tetapi Kun Hong tidak mempedulikan mereka, langsung dia melesat ke arah Hui Kauw. "Hui Kauw, mundurlah!" serunya.

Telinganya yang sangat tajam dapat membedakan suara pedang dan segera tongkatnya menyambar ke arah Kui Siauw. Wanita ini mendengar suara berdesing dan sinar merah menyilaukan matanya. Dia cepat menangkis dan inilah kesalahannya, karena kehebatan serangan Kun Hong hanya sebagian saja terletak pada sambaran pedang dalam tongkat itu, sedangkan sebagian lagi terletak pada tangan kirinya yang sudah mengirim pukulan maut.

Tubuh Kui Siauw terjengkang ke belakang, pedangnya terpental dan ia tewas tanpa dapat bersambat lagi. Seperti juga dengan nasib Souw Bu Lai, kepalanya retak-retak tersambar hawa pukulan Pek-in Hoat-sut! Sekarang Kui Ciauw dan Kui Biauw tidak sanggup menahan kemarahannya lagi. Mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, mengeroyok Kun Hong dengan serangan-serangan nekat. Kun Hong yang sudah lega hatinya karena Hui Kauw telah terlepas dari bahaya, melayani mereka dengan tenang, namun dia selalu mencari kesempatan untuk merobohkan kedua orang ini.

Ada pun pertandingan antara Ka Chong Hoatsu dan Tan Beng San, amatlah dahsyat. Kakek dari Mongol ini tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan Tan Beng San ketua Thai-san-pai di situ. Pada waktu mereka menyerbu Thai-san-pai dahulu, dialah orang yang menyamar sebagai Song-bun-kwi. Dan dia pula yang membunuh Tan Hok serta beberapa orang anak murid Thai-san-pai. Karena dia pun maklum bahwa ketua Thai-san-pai ini tentu tidak akan mau mengampuninya, maka ia mengerahkan kepandaiannya, cepat memutar tongkat pendeta dengan tenaga bergelombang, dengan penuh keyakinan akan dapat mengalahkan ketua Thai-san-pai itu.

Akan tetapi dia tidak mengenal Tan Beng San, Si Raja Pedang. Hanya tampaknya saja Beng San terdesak oleh tongkat yang mengamuk itu, akan tetapi memang semakin tua permainan pedang Tan Beng San semakin matang dan amat tenang.

"Kau menyerbu Thai-san-pai, membakar tempat kami? Hemmm, ada permusuhan apakah antara kita, kakek jahat?" Di antara berkelebatnya tongkat dan pedang, Beng San masih sempat bertanya.

Ka Chong Hoatsu kaget. Dia mengira sudah berhasil mendesak lawan, siapa kira lawan masih enak-enak mengajak dia mengobrol. Orang yang terdesak mana bisa mengobrol? Dia tidak menjawab, melainkan mendesak makin hebat.

Kun Hong mendengar ucapan Beng San dan dialah yang menjawab dengan tenang pula, seakan-akan dia melayani dua orang wanita itu dengan seenaknya. "Paman, dia itu tokoh Mongol, dia turut menyerbu Thai-san membantu mendiang Ching-toanio bekas isteri Giam Kin. Ada pun Ang-hwa Sam-cimoi ini adalah sumoi-sumoi dari Hek-hwa Kui-bo. Itu yang melawan Bibi adalah Lui-kong Thian Ti Cu tokoh Go-bi, penjilat istana."

Seperti juga Ka Chong Hoatsu, dua orang saudara Ang-hwa itu merasa kaget dan heran bagaimana si buta yang mereka hujani bacokan itu masih enak-enak mengobrol, tanda bahwa si buta ini masih banyak mengalah. Mereka memperhebat gerakan pedang untuk menekan lawan. Sementara itu, Hui Kauw gembira dan kagum bukan main menyaksikan sepak terjang ketua Thai-san-pai dengan isterinya. Terutama ia kagum sekali melihat permainan pedang Cia Li Cu yang amat indah. Wanita yang sudah setengah tua itu nampak cantik jelita dan gagah, seperti seorang bidadari tengah menari-nari menandingi Thian Te Cu yang lihai. Karena dapat melihat betapa nyonya gagah itu agaknya sukar untuk mengalahkan lawan, tanpa banyak ragu lagi ia meloncat dan membantu.

"Bibi, maaf, perkenankanlah saya membantu."

Li Cu melirik dan heran ia melihat gadis yang suaranya merdu dan halus, sikapnya sopan santun, serta ilmu pedangnya lihai, akan tetapi mukanya hitam menutupi kecantikannya, maju membantunya.

"Anak, kau siapakah?" tanyanya sambil menangkis senjata Thian Te Cu yang kini tiba-tiba menyambar ke arah Hui Kauw.

"Bibi, dia itu Kwee Hui Kauw, dia... eh, dia... eh..." sukarlah Kun Hong menjawab. Mana mungkin dia mengakui Hui Kauw begitu saja sebagai isterinya di depan ibu Cui Bi?

"Kun Hong, lawan bibimu itu kuat juga, mari kita cepat bereskan mereka ini!" kata Beng San yang juga melirik ke arah isterinya.

"Baik, Paman."

Terdengar bunyi nyaring beradunya senjata dan sukar dikatakan siapa yang lebih dahulu berhasil karena tahu-tahu tubuh Ka Chong Hoatsu roboh mandi darah, juga tubuh Kui Biauw roboh dengan dada tertembus tongkat sedangkan Kui Ciauw meski pun sempat mengelak namun sebuah tendangan membuat ia terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan. Kun Hong tidak menyerang lagi, membiarkan Kui Ciauw merayap bangun dan wanita ini pun menangis sambil menyambar tubuh kedua orang adiknya dan memeluki tubuh itu.

Kun Hong menarik napas panjang. "Penyesalan selalu akhirnya datang terlambat! Ahhh, kenapa orang baru menyesal kalau sudah terlambat?"

Kui Ciauw menghentikan tangisnya dan matanya memandang sedih pada Lui-kong Thian Te Cu yang juga roboh sesudah Beng San melompat dan menyerang tiga empat jurus membantu isterinya. Semua temannya sudah tewas atau melarikan diri. Matanya beringas memandang ke arah Kun Hong, Hui Kauw, Li Cu, dan Beng San yang berdiri dengan sikap mengancam. Kemudian ia berkata,

"Kun Hong, apa bila kau memberi kesempatan kepadaku untuk mengubur jenazah kedua adikku, tunggulah beberapa tahun lagi, aku Ngo Kui Ciauw bersumpah akan mencarimu dan menagih hutang!"

Kun Hong menggeleng-gelengkan kepala. "Nasibku! Terikat karma, bunuh membunuh. Sesukamulah, aku hanyalah merobohkan orang yang menyerangku, kalau sekarang kau tidak menyerangku, aku pun tidak akan mengganggumu."

Kui Ciauw lalu memanggul jenazah kedua orang adiknya dan sambil menangis ia lari dari tempat itu. Rambutnya terurai panjang dan darah dari tubuh dua orang adiknya mengalir membasahi muka dan pakaiannya, sungguh menyeramkan sekali.

Beng San menghela napas. "Kun Hong, yang seorang itu karena hari ini kau ampuni, kelak akan mendatangkan banyak persoalan kepadamu."

Kun Hong hanya menunduk. Beng San lalu menghampiri dan merangkulnya. "Kun Hong, kau sudah tahu akan mala petaka yang menimpa kami?"

"Kun Hong, tahukah kau bahwa Cui Sian...," dengan suara mengandung isak Cia Li Cu ikut berkata pula.

"Tenanglah, Bibi, Paman, saya sudah tahu semuanya, malah adik Cui Sian juga sudah berada dalam keadaan selamat."

Li Cu menjerit dan menangis sambil merangkul Kun Hong. Girangnya bukan main dan ia tertawa-tawa sambil menangis, menciumi Kun Hong sambil berkata,

"Anak baik... kau anak baik."

Adapun Beng San mengusap dua butir air mata dengan kepalan tangan sambil tersenyum mengerling ke arah isterinya. "Hampir saja... aku kehilangan segala-galanya..." Dia teringat akan ancaman isterinya yang tidak akan sudi melihatnya tanpa Cui Sian!

Dengan singkat Kun Hong menceriterakan keadaan Cui Sian yang sudah tertolong oleh Sin-eng-cu Lui Bok dan kini berada di tempat yang aman. Kedua suami isteri itu berterima kasih sekali pada kakek yang aneh itu dan menyatakan hendak datang sendiri menjemput puteri mereka setelah bertemu kembali dengan Sin Lee dan Kong Bu.

Kiranya Sin Lee dan Kong Bu bersama isteri mereka juga sudah berada di tempat itu, sedang membantu para pejuang yang menggempur barisan pengawal dan para anggota Ngo-lian-kauw. Karena adanya bantuan mereka inilah maka sebentar saja pertempuran itu selesai. Ngo-lian-kauw dibasmi habis, para pengawal banyak yang tewas dan sebagian pula melarikan diri.

Kiranya Sin Lee bersama isterinya yang membawa surat rahasia dan menuju ke utara, di tengah perjalanan bertemu dengan pasukan dari utara yang dipimpin orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo. Ketika mendengar tentang surat rahasia, panglima itu menunjukkan surat kuasa dan mengusulkan untuk mengirim surat rahasia itu melalui sepasukan prajurit pilihan agar surat itu dapat cepat dibawa kepada Raja Muda Yung Lo. Sin Lee dan isterinya tidak keberatan, malah begitu mendengar tentang niat pasukan itu yang hendak menggempur Ngo-lian-kauw dan mendengar pula bahwa banyak jagoan dari istana berada di sana, mereka segera ikut. Di tengah perjalanan pasukan yang terdiri dari dua ratus orang prajurit ini bertemu dengan Kong Bu dan Li Eng. Bukan main girang hati empat orang itu dan Kong Bu bersama isterinya juga serta merta ikut pula dalam barisan.

Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi karena pihak utara lebih besar jumlahnya, apa lagi dibantu oleh empat orang gagah itu, dengan mudah pihak Ngo-lian-kauw dan pengawal istana dapat dihancurkan. Kebetulan sekali pada saat pertempuran terjadi, Beng San yang mencari keterangan dari orang-orang Pek-lian-pai tentang musuh-musuhnya, sampai juga di situ. Ada pun Cia Li Cu bukan kebetulan berada di situ, karena sesungguhnya nyonya perkasa ini sudah lebih maju dalam penyelidikannya dari pada suaminya. Ia sudah mendapat tahu bahwa penyerbu Thai-san-pai adalah orang-orang Ching-coa-to, malah ia sudah sampai di Ching-coa-to. Dari para pelayan pulau yang kosong itu ia mendapat keterangan bahwa semua orang gagah pergi ke Ngo-lian-kauw, maka ia segera menyusul musuh-musuhnya.

Tak perlu diceriterakan lagi betapa gembira dan girangnya hati para orang gagah ini yang saling berjumpa di tempat yang tidak disangka-sangka, apa lagi mendengar berita tentang selamatnya Cui Sian. Hanya saja, kegembiraan mereka terganggu oleh kabar mengenai kematian Song-bun-kwi. Karena memang sejak dahulu keturunan orang-orang gagah, Beng San mengajak putera-puteranya untuk membantu Raja Muda Yung Lo yang dianggap benar berdasarkan surat wasiat peninggalan kaisar tua. Berkat bantuan orang-orang gagah seperti mereka inilah maka perjuangan Yung Lo akhirnya berhasil merebut kekuasaan hanya dengan perang selama empat tahun saja. Dia naik tahta pada tahun 1403, menggantikan Kaisar Hui Ti yang hanya berkuasa dari tahun 1399 sampai 1403.

Walau pun Kun Hong tidak dapat turut membantu peperangan, akan tetapi dia menunda pernikahannya dengan Hui Kauw sampai perang selesai, barulah pernikahan dirayakan secara amat meriah di Hoa-san-pai. Semua orang gagah dari semua penjuru memerlukan datang, karena ketika itu nama Pendekar Buta sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Terharu sekali hati orang tua Kun Hong, yaitu ketua Hoa-san-pai dan semua orang gagah yang hadir menyaksikan pasangan pengantin itu. Yang pria buta, yang wanita bermuka hitam. Lebih-lebih terharu hati para orang tua mengingat akan ucapan Hui Kauw ketika di depan para orang tua, Kun Hong berkata, "Sebetulnya, mukanya itu hanya terkena racun dan aku sanggup mengobati sampai sembuh dan lenyap warna hitamnya."

Dan bagaimana jawaban Hui Kauw? Dengan suara halus gadis ini berkata, "Tidak perlu. Memang sebaiknya begini, agar kami berdua masing-masing mempunyai cacat, lagi pula, mukaku boleh hitam atau putih, apa bedanya baginya? Aku tidak ingin kelihatan cantik oleh mata orang lain, kecuali hanya cantik untuk suamiku."

Akan tetapi ketika sepasang mempelai dipertemukan dan mereka berdua berkesempatan bicara berdua di dalam kamar pengantin, Hui Kauw terpaksa tidak dapat mempertahankan terus pendapatnya itu. Dengan suara berbisik mereka bercakap-cakap. Begini….. "Hui Kauw, kau harus membiarkan aku mengobati mukamu."

"Aku tidak ingin mukaku putih. Aku tidak ingin memamerkan kecantikan pada orang lain kecuali kepadamu."

"Hushh, bukan untuk pamer, tetapi kau ingat, ibunya bermuka hitam, anaknya pun akan bermuka hitam. Apa kau suka bila kelak melihat anakmu mukanya menjadi hitam seperti pantat kuali?"

"Ihhhhh, ceriwis kau, tak tahu malu...!" Akan tetapi akhirnya ia tidak berani mencegah suaminya mengobati mukanya sehingga pulih menjadi putih bersih dan membuat dia tampak cantik seperti bidadari, karena tentu saja dia takut kalau-kalau betul seperti kata suaminya bahwa kelak muka anaknya akan menjadi hitam!

Tiga bulan kemudian Kun Hong dan isterinya pergi ke Liong-thouw-san di mana mereka kemudian tinggal. Di situ pula Yo Wan atau A Wan putera janda Yo, dididik sebagai murid. Sin-eng-cu Lui Bok bersama rajawali emas sudah pergi lagi melakukan perantauan yang tiada tujuan tertentu.

Bagaimana dengan Tan Loan Ki? Gadis lincah jenaka yang kehilangan orang tuanya akan tetapi sebagai penggantinya mendapatkan jodohnya, Nagai Ici jagoan samurai Jepang itu, ikut dengan suaminya ke Jepang. Tempat tinggal warisan ayahnya masih ia pertahankan. Kadang kala ia bersama suaminya menyeberangi lautan untuk tinggal selama beberapa bulan atau tahun di tempat lama. Seperti juga Kun Hong, Loan Ki dan suaminya hidup bahagia.

Bun Wan putera Kun-lun-pai yang ternyata adalah seorang kepercayaan Raja Muda Yung Lo, mendapat penghargaan dan diberi kedudukan sebagai panglima muda. Orang gagah yang mengorbankan sebelah matanya ini juga mengawini Hui Siang dan hidup mulia dan megah di kota raja utara.

Tan Beng San ketua Thai-san-pai, setelah menjemput puterinya di Liong-thouw-san dan menghaturkan terima kasih kepada Sin-eng-cu Lui Bok, lalu kembali ke Thai-san-pai yang sudah dirusak oleh orang-orang jahat. Suami isteri ini sangat bahagia karena Kun Hong mendapat seorang jodoh yang baik sebagai pengganti puteri mereka dan mereka amat berterima kasih karena biar pun sudah buta, ternyata Kun Hong selalu membela mereka.

Keadilan Tuhan selalu akan mendatangkan rahmat serta keselamatan jiwa raga bagi orang-orang yang menjunjung tinggi dan melaksanakan kebenaran dalam hidupnya, dan selalu mendatangkan hukum dan kehancuran bagi mereka yang menyeleweng dari pada kebenaran serta mengabdi kepada nafsu dan kesenangan pribadi, menyengsarakan dan menindas orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Wahai kasih, aku di sini...!


T A M A T

EPISODE SELANJUTNYA JAKA LOLA


Thanks for reading Pendekar Buta Jilid 26 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »