Social Items

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

CERITA SILAT KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 01

Bulan Purnama memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang. Bulan purnama kalangan (ada garis bundar mengelilinginya). Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting.

Pantai segara laut kidul itu putih berkilauan tertimpa sinar bulan. Pasir putih yang bersih halus terhampar luas. Laut tampak tenang. Ombak kecil yang menipis hanya sempat menjilat tepi pantai. Suara air laut yang biasanya menggelora itu kini hanya terdengar berbisik-bisik lembut. Tebing-tebing terjal disebelah barat itu seolah merupakan bendungan untuk mencegah lautan membanjir ke darat. Perbukitan batu karang dan kapur itu tampak bagaikan raksasa-raksasa yang berdiri dengan kokoh kuat melakukan penjagaan. Sunyi senyap, yang terdengar hanya desah air laut dan yang tampak hanya buih-buih air diatas ombak-ombak kecil yang beriringan menuju ke pantai. Akan tetapi semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keheningan yang khidmat itu. Tiada awan di langit. Kenyataan itu suci dan agung. Tidak ada indah atau buruk. Yang ada hanya kenyataan. Indah atau buruk baru muncul setelah ada penilaian dan penilaian inilah yang mendatangkan pertentangan.

Bau keharuman dupa dan kemenyan yang datang dari dusun Karang Tirta yang berada tidak jauh dari pantai Pasir Putih iru mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang bagi para penduduk dusun itu dianggap sebagai malam keramat yang menakutkan karena menurut kepercayaan mereka pada malam itu semua lelembut, siluman, setan dan segala macam iblis keluar dan keluyuran, gentayangan di permukaan bumi mencari korban!. Segala macam wewe gombel, brekasakan, kuntilanak, banaspati, tetakan dan tuyul keluar untuk mencari mangsa. Karena itu orang-orang membakar dupa dan kemenyan untuk dihidangkan kepada mereka agar setelah menghirup keharuman itu mereka menjadi puas dan tidak mengganggu si penyuguh asap yang harum itu.

Di jajaran tebing terjal yang berada di sebelah barat pantai pasir putih itu terdapat sebuah guha yang luasnya sekitar tiga meter persegi dan luarnya sekitar dua meter lebih. Di tengah guha itu nampak seorang pria duduk bagaikan sebuah arca. Dia duduk dengan kedua kaki bersilang diatas paha, kedua lengan juga bersilang dan kedua matanya terpejam. Duduknya tegak lurus. Agaknya pria ini sedang bersamadhi. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah berwarna dua disanggul keatas dan tusuk sanggulnya sederhana sekali terbuat dari bambu. Tubuhnya yang tinggi kurus itu hanya dilindungi sehelai kain hitam yang dilibat-libatkan dari leher ke lutut.

Kakinya telanjang. Seorang kakek yang sederhana sekali. Dari keadaan pakaiannya dan cara dia duduk bersamadhi dapat diduga dia tentu seorang pendeta atau pertapa. Wajahnya yang kurus itu seolah bercahaya. Alis, kumis dan janggutnya yang menutupi lehernya juga sudah penuh uban. Wajahnya masih membayangkan bekas ketampanan dan mulutnya mengembangkan senyum pengertian.

Kakek itu adalah Empu Dewamurti. Dia terkenal sebagai empu ahli pembuat keris pusaka. Juga dia terkenal sebagai seorang sakti mandraguna dan ahli tapabrata yang tekun dan sering kali dia menghabiskan waktu untuk bertapa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi untuk memohon petunjuk dan bimbingannya.

Malam itu adalah malam ketiga dia bertapa dalam guha di tepi segara kidul. Empu Dewamurti adalah empu yang terkenal dijaman Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikrama Utunggadewa atau yang lebih mudah diingat dengan sebutan Raja Erlangga.

Tiba-tiba Empu Dewamurti seperti tergugah dari samadhinya. Pendengarannya menangkap jerit suara wanita dan teriakan pria yang datangnya dari hamparan pasir putih. Kalau saja suara lain yang mengganggunya, dia tentu tidak mau mengacuhkan. Akan tetapi dalam jeritan dan teriakan tadi dia menanggkap suara yang ketakutan dan mengharapkan pertolongan. Empu Dewamurti adalah seorang yang sejak muda berwatak kesatria, tidak pernah menolak untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Maka dia jadi sadar sepenuhnya dan dia segera bangkit dan keluar dari dalam guha. Dibawah sinar bulan purnama dia dapat melihat adanya dua bayangan orang, masing-masing memanggul tubuh seorang yang meronta-ronta muncul di pantai pasir putih itu.

Empu Dewamurti lalu melompat dan berlari cepat menuju kesana. Larinya cepat sekali walaupun kedua kaki yang telanjang itu nampaknya seperti melangkah seenaknya. Kecepatannya terbukti dari berkibarnya kain yang melibat-libat tubuhnya dari leher sampai ke lutut. Sebentar saja dia sudah berhadapan dengan dua orang itu.

Ternyata mereka adalah seorang wanita dan seorang lakilaki. Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam dan mukanya penuh brewok, rambutnya hitam panjang dibiarkan berjuntai di belakang kepalanya, hanya diikat kain merah. Pakaiannya serba mewah, seperti pakaian seorang bangsawan. Di pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) bergagang gading dan ujung pecut yang panjang itu digulung dan digantung di pinggang. Wajahnya kasar dan bengis.

Adapun orang kedua adalah seorang seorang wanita yang sukar ditaksir usianya karena ia masih nampak cantik jelita dan genit seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja. Mukanya yang sudah cantik itu dirias dengan bedak dan pemerah pipi dan bibir seperti riasan muka waranggana yang hendak bertembang dan berjoged. Pakaiannya mewah sekali, dengan gelang emas pada pegelangan tangan dan kaki. Di pinggang yang ramping itu tergantung sebatang pedang dengan sarungnya yang terukir indah. Wanita itu sungguh cantik menarik, terutama sekali matanya yang bersinar tajam dan senyumnya yang semanis madu.

Melihat dua orang ini, Empu Dewamurti diam-diam terkejut dan dia memperhatikan orang-orang yang berada dalam pondongan mereka itu. Laki-laki tinggi besar itu memanggul tubuh seorang gadis remaja yang usianya tiga belas tahun. Sanggul rambut gadis itu terlepas dan rambutnya yang panjang itu terurai kebawah. Ia kini tidak mampu bergerak atau menjerit lagi, agaknya sudah dibuat pingsan oleh laki-laki yang memanggulnya. Wanita cantik itu juga memanggul seseorang dan ketika Empu Dewamurti mengamati, ternyata yang dipanggulnya itu seorang pemuda remaja berusia sekitar lima belas tahun. Pemuda remaja ini sama eloknya dengan gadis remaja itu, dan dia juga kini diam saja dan lemas seperti orang pingsan atau tidur.

“Jagat Dewa Bhatara!, kiranya andika Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker dan Nyi Dewi Durgakumala dari kerjaan Wurawari!, Apa kehendak andika berdua muncul di pantai Segara Kidul wilayah Kahuripan ini dan siapa pula anak-anak remaja yang andika tawan itu?” tegur Empu Dewamurti sambil mengamati mereka berdua dengan sinar mata tajam menyelidik.

“Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki tinggi besar yang bernama Resi Bajrasakti itu tertawa bergelak-gelak sehingga seluruh tubuhnya berguncang. “Tak kusangka di sini aku bertemu dengan Empu Dewamurti, pandai besi tukang membuat pacul, arit dan pisau dapur!” Dia tertawa lagi, merasa geli dengan gurauannya sendiri yang memperolok-olok Empu Dewamurti sebagai ahli pembuat keris pusaka.

“Hik-hik, Empu Dewamurti. Senang hatiku bertemu denganmu. Aku hendak memesan sepasang gelang kaki perak, dapatkah engkau membuatkan untukku?” Wanita cantik pesolek yang bernama Nyi Durgakumala itupun tertawa dan ucapannya tadipun bermaksud menghina Empu Dewamurti.

Kalau Resi Bajrasakti merupakan Datuk Kerajaan Wengker yang sakti mandraguna, Nyi Dewi Durgakumala yang sesungguhnya telah berusia empat puluh lima tahun itu adalah seorang tokoh besar Kerajaan Wurawari dan menjadi kepercayaan Raja.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang berlari menuju ke pantai itu. Dari jauh dia melihat Empu Dewamurti dan dia berteriak. “Eyang Empu Dewamurti ......!”

Tiga orang sakti itu memandang dan Empu Dewamurti segera mengenal pemuda remaja berusia sekitar enam belas tahun yang berpakaian sederhana seperti seorang petani biasa. Dia memandang wajah yang cerah itu dengan alis berkerut. Pemuda itupun kini baru tahu bahwa di situ terdapat dua orang asing yang masing-masing memanggul seorang gadis remaja dan seorang pemuda. Maka dia lalu berkata gugup. “Maafkan saya, eyang, saya tidak tahu bahwa eyang sedang sibuk. Saya hanya menyerahkan ini. Saya temukan keris ini ketika sore tadi saya menggali kebun......” Pemuda itu membuka sebuah buntalan kuning dan terkejutlah tiga orang sakti itu ketika melihat sebatang keris yang mengeluarkan sinar kilat ketika tertimpa sinar bulan.

Tiba-tiba Nyi Dewi Durgakumala berseru dengan melengking nyaring, “Serahkan keris itu kepadaku!” Dalam suaranya terkandung pengaruh yang demikian kuat sehingga mau tidak mau pemuda petani itu mengulurkan kedua tangan yang membawa keris itu kepada wanita itu.

“Tidak! Berikan kepadaku!” terdengar bentakan lantang yang keluar dari mulut Resi Bajrasakti. Teriakan inipun mengandung pengaruh yang kuat bukan main, sehingga pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak menyerahkan kerisnya kepada Resi Bajrasakti. Akan tetapi ketika datuk dari kerjaan wengker yang tinggi besar itu menjulurkan tangannya hendak mengambil keris, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tangan Nyi Dewi Durgakumala sudah menangkisnya. Ketika kedua orang ini sedang bersitegang, tubuh Empu Dewamurti melayang ke arah pemuda itu. Dia berdiri membelakangi pemuda itu dan berkata. “Nurseta, cepat engkau duduk bersandar batu dibelakangku!”

Pemuda yang bernama Nurseta itu terbebas dari pengaruh suara dua orang yang hendak memaksa dia menyerahkan keris. Dia lalu duduk bersila di dekat batukarang yang berada di belakang Empu Dewamurti dengan hati yang berdebar tegang karena dia dapat merasakan bahwa dua orang asing itu tentu bukan orang baik-baik. Buktinya mereka agaknya menguasai gadis dan pemuda yang mereka panggul.

“Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala! Kalian berdua adalah orang-orang asing yang menjadi tamu di sini. Harap kalian tidak membuat gara-gara!”

“Empu Dewamurti, keris itu harus menjadi milikku!” teriak Nyi Dewi Durgakumala sambil menuding telunjuk kanannya ke arah Nurseta.

“Tidak, harus diberikan kepadaku!” bentak Resi Bajrasakti.

“kalau tidak, akan kurampas dengan kekerasan!”

“Babo-babo, Resi Bajrasakti, Apa kau kira aku ini patung hidup? Engkau tidak akan dapat merampasnya selama aku masih berada di sini!” teriak Nyi Dewi Durgakumala.

Melihat dua orang itu agaknya saling berebut sendiri, Empu Dewamurti tersenyum.

“Sadhu...Sadhu...Sadhu...! Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala, ketahuilah bahwa keris itu ditemukan di tanah yang menjadi wilayah kahuripan, oleh karena itu menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan. Selain daripada itu, agaknya andika berdua tidak mengenal pusaka itu. Sekali pandang saja aku mengenalnya. Keris pusaka itu adalah Sang Megatantra dan pusaka dibuat oleh mendiang Empu Bramakendali di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang menjadi nenek moyang Kerajaan Kahuripan. Oleh karena itu, kalian berdua dari Kerajaan Wengker dan Wurawari sama sekali tidak berhak memilikinya. Selain itu, muda-mudi yang kalian culik itu tentu kawula Kahuripan, maka bebaskan mereka dan pulanglah kalian ke tempat kalian masing-masing dengan damai”.

“Babo-babo, empu keparat! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dia yang berhak memiliki Keris Pusaka Sang Megatantra!” bentak Resi Bajrasakti.

“Sang Resi, keris pusaka merupakan hak milik Kerajaan Kahuripan, tidak mungkin diperebutkan. Kalau andika memperebutkannya, berarti andika hendak merampok.”

“Heh, Empu konyol! Apakah engkau tidak tahu akan hokum alam bahwa siapa yang menang, dia berkuasa? Engkau hendak menentang hukum alam?”

“Resi Bajrasakti, wawasanmu itu salah sama sekali. Hukum alam adalah hukum sebab akibat yang seadil-adilnya. Hukummu tadi bukan hukum alam, melainkan hukum yang dibuat manusia sesat yang diperbudak nafsu. Nafsu selalu ingin menang dan kalau menang dia harus berkuasa dan yang berkuasa selalu harus benar! Yang berkuasa menindas yang lemahpun dibenarkan oleh nafsu angkara murka.” kata Empu Dewamurti dengan sikap tenang.

“Jangan banyak cerewet, Empu Dewamurti! Serahkan Keris Megatantra itu kepadaku atau aku akan menggunakan kekerasan!” bentak Nyi Dewi Durgakumala.

“Jagat Dewa Bhatara! Manusia diciptakan hidup di permukaan ini memang diberi wewenang untuk memilih, apakah dia ingin menjadi alat iblis ataukah ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, membela kebenaran dan menentang kejahatan. Terserah kepada kalian berdua.”

Resi Bajrasakti lalu melangkah belasan tindak dan menurunkan gadis remaja yang dipanggulnya. “Bocah ayu, engkau berdiamlah di sini dulu sebentar ya? Nanti setelah kubereskan Empu konyol itu, kupondong lagi dan kita bersenang-senang.”

Gadis remaja itu ketika diturunkan rebah terlentang, agaknya untuk bangkit dudukpun ia tidak kuat. Nyi Dewi Durgakumala tidak mau kalah. Iapun menurunkan pemuda remaja yang tadi dipanggulnya itu agak jauh dari situ. Pemuda itupun rebah terlentang dan tanpa malu-malu Nyi Dewi Durgakumala menciumnya. “Cah bagus, engkau kutinggalkan sebentar!”

Kini Empu Dewamurti berhadapan dengan dua orang datuk itu. Nyi Dewi Durgakumala bersikap cerdik. Ia maklum untuk memperebutkan Keris Pusaka Megatantra, ia harus dapat mengalahkan dua orang lawan yang tangguh. Sebetulnya kedatangan ke wilayah Kahuripan itu, seperti juga Resi Bajrasakti adalah untuk melaksanakan tugas masing-masing yang diperintahkan raja mereka, yaitu untuk melakukan penyelidikan terhadap kerajaan Kahuripan dan kalau ada kesempatan menimbulkan kekacauan di kerajaan musuh itu. Karena keduanya memang saling mengenal sejak dahulu, maka ketika saling berjumpa, segera terjalin hubungan akrab dan mesra antara mereka.

Akan tetapi dua orang manusia cabul yang menjadi hamba nafsu mereka sendiri itu sebentar saja sudah merasa bosan dan malam itu mereka masing-masing menculik seorang gadis dan pemuda remaja untuk menyalurkan gairah nafsu mereka yang kotor. Kebetulan sekali mereka menculik dua orang muda remaja dari dusun Karang Tirta pula dan ketika mereka membawa korban calon mangsa mereka ke pantai pasir putih untuk bersenang-senang melampiaskan nafsu disana, Empu Dewamurti memergoki mereka. Kebetulan pula Nurseta, pemuda petani dari Dusun Karang Tirta pula, datang untuk menyerahkan penemuannya kepada Empu Dewamurti yang dikenalnya sehingga kini yang menjadi persoalan bukan hanya orang-orang muda yang diculik, melainkan perebutan Keris Megatantra. Nyi Dewi Durgakumala sengaja diam saja dan membiarkan Resi Bajrasakti untuk lebih dulu bertanding melawan Empu Dewamurti agar ia memperoleh kesempatan yang dapat menguntungkannya.

Resi Bajrasakti juga ingin secepatnya merobohkan Empu Dewamurti yang merupakan penghalang pertama. Setelah empu ini roboh, baru dia akan menghadapi Nyi Dewi Durgakumala yang mungkin akan diajaknya berdamai demi keuntungan mereka berdua. Hal ini akan dipikirkan nanti saja setelah dia berhasil mengalahkan Empu Dewamurti. Kini dia berkemak-kemik membaca mantera, mengerahkan tenaga sihirnya, kemudian cepat dia membungkuk dan mengambil segenggam pasir lalu melontarkannya ke atas sambil berseru lantang. “Bramara Sewu (Seribu Lebah)!!”

Pasir yang dilontarkan itu tiba-tiba menjadi asap dan asap itu berubah pula menjadi lebah banyak sekali. Lebah-lebah itu beterbangan menyerbu Empu Dewamurti sambil mengeluarkan bunyi mendengung. Akan tetapi Empu Dewamurti tadi meniru perbuatan lawan mengambil segenggam pasir putih dan melihat banyak lebah yang menyerangnya, dia lalu menyabitkan segenggam pasir putih itu sambil membentak, “Asal pasir kembali menjadi pasir!!”

“Wuuuttt ..... blar .....!!”

Ketika rombongan lebah itu dihantam pasir yang disambitkan Empu Dewamurti, terdengar ledakan, asap mengepul dan pasir berhamburan ke bawah. Lebah=lebah itupin lenyap.

“Jahanam!” Resi Bajrasakti berteriak memaki, lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Empu Dewamurti maklum bahwa lawan akan menyerangnya dengan ilmu lain. Dia sudah tahu bahwa Resi Bajrasakti terkenal sakti mandraguna, ahli sihir dan memiliki banyak aji yang berbahaya. Ketika Datuk dari Wengker itu merasa betapa tenaga saktinya telah terpusat di kedua tangannya, dia lalu melakukan pukulan mendorong ke arah Empu Dewamurti sambil membentak nyaring.

“Aji Sihung Naga .....!!!” pukalan sakti ini dahsyat bukan main. Terdengar suara bercuitan dan getaran amat kuat menerjang ke arah Empu Dewamurti. Kakek ini sudah siap. Kedua tangannya merangkap menjadi sembah sujud di atas dahinya, kemudian kedua tangan itu dari situ dikembangkan dan dengan telapak tangan terbuka menyambut dorongan lawan.

“Syuuuuttt ..... desss ...!!”

Tubuh Empu Dewamurt i bergoyang-goyang, akan tetapi Resi Bajrasakti terdorong ke belakang sampai terhuyung dan hampir roboh. Resi Bajrasakti menjadi semakin marah dan penasaran. Dia segera melompat ke depan dan mencabut cemeti (cambuk) yang tergulung dan terselip di p inggangnya. Inilah Pecut Tatit Geni (Halilintar Api) yang sudah amat terkenal dan ditakuti lawan karena Resi Bajrasakti sudah marah sekali dan bahwa dia menganggap lawannya terlalu tangguh sehingga terpaksa dia menggunakan senjata pamungkas itu.

“Tar-tar-tarrr .....!” Begitu cambuk itu digerakkan, ujungnya yang panjang meluncur ke atas dan mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan nyaring dan mengeluarkan asap dari bunga api yang berpijar di ujung cambuk. Hebat bukan main cambuk ini! Empu Dewamurti memutar tubuh menghadap tebing dimana terdapat guha yang untuk sementara waktu menjadi tempat tinggalnya. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali dan tampak sinar meluncur dari dalam guha ke arah tangannya dan ketika Empu Dewamurti menggunakan tangan kanannya menangkap, ternyata sebatang tongkat Pring Gading (Bambu Kuning) telah berada di tangannya! Ini merupakan satu diantara kesaktian sang Empu, yaitu menguasai senjatanya yang hanya sebatang tongkat bambu kuning namun ampuhnya mengiriskan dia mampu “memanggil” dari jauh.

“Resi Bajrasakti, sekali lagi aku peringatkan andika. Bebaskan gadis remaja itu dan pulanglah ke tempat asalmu. Aku tidak ingin bermusuhan secara pribadi denganmu!”.

Melihat cara Empu Dewamutri menguasai senjatanya tadi, hati Resi Bajrasakti menjadi gentar juga, akan tetapi dasar orang yang terbiasa diagungkan dan disanjung sehingga dia merasa diri sendiri paling hebat, mana dia mau mengalah begitu saja!. Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya dan seketika tempat itu diselimuti semacam halimun yang membuat malam terang bulan purnama menjadi berkabut. Diapun menerjang setelah aji panglimunan berhasil baik.

“Tar-tar-tarrr .....!” Pecut Tatit Geni meledak-ledak, mengeluarkan pijaran api dan menyambar-nyambar ke arah kepala Empu Dewamurti. Namun dengan tenang sang Empu menangkis dengan tongkat bambu kuningnya dan kedua orang sakti itu segera bertanding dengan serunya. Nyi Dewi Durgakumala juga menonton dengan penuh perhatian. Harus dia akui bahwa empu itu memang sakti mandraguna dan ia merasa sangsi apakah ia akan mampu mengalahkan Empu Dewamurti. Karena tidak ada yang memperhatikan, dan menggunakan selagi cuaca diliputi kabut, diam-diam Nurseta menghampiri gadis remaja yang berada paling dekat dengan dirinya. Dia tentu saja mengenal anak perempuan itu yang memang tinggal sedusun dengannya, yaitu di Dusun Karang Tirta.

Sambil memegangi Keris Pusaka Megatantra dengan tangan kanan, Nurseta mengguncang pundak anak perempuan itu yang bernama Puspa Dewi. “Dewi ....., Dewi ....., bangunlah .....!” katanya sambil mengguncang pundak anak perempuan itu.

Puspa Dewi membuka mata dan seolah baru terbangun dari tidurnya. Padahal ia tadi dalam keadaan tak berdaya oleh pengaruh sihir. Di luar pengetahuan dua orang anak itu Puspa Dewi dapat terbebas dari pengaruh sihir karena keampuhan Keris Pusaka Megatantra yang dibawa Nurseta!.

“Apa ..... apa yang terjadi? Ah, engkau Kakang Nurseta .....! Apa yang terjadi? Tadi ..... kakek yang jahat itu .....”

“Stttt, lihat dia sedang bertanding melawan Eyang Empu Dewamurti. Diam saja di sini, aku hendak melihat pemuda di sana itu.” Nurseta meninggalkan Puspa Dewi dan berlari dalam kabut dan menghampiri pemuda remaja yang dipanggul Nyi Dewi Durgakumala. Setelah dekat dia berjongkok dan kini tahulah dia bahwa pemuda remaja itu adalah Linggajaya, putera kepala dusun Karang Tirta yang terkenal sombong karena merasa dia putera kepala dusun Karang Tirta yang berkuasa, kaya raya dan juga memiliki wajah tampan.

Sebetulnya Nurseta tidak begitu suka kepada pemuda sombong ini, bahkan dia seringkali sebagai seorang pemuda yatim piatu mendapat ejekan dan olok-olok dari Linggajaya. Akan tetapi kini melihat keadaan pemuda itu, dia merasa iba dan seperti tadi ketika menggugah Puspa Dewi, kini diapun mengguncang pundak Linggajaya dengan tangan kirinya.

“Jaya ....., Linggajaya ..... bangunlah .....!” Kembali keampuhan keris pusaka Megatantra bekerja dan seketika pemuda putera lurah itu terbebas dari pengaruh sihir Nyi Dewi Durgakumala atas dirinya. Dia terbangun menggosok-gosok kedua mata dengan tangan karena keremangan kabut membuat penglihatannya tidak begitu terang. Akhirnya dia melihat wajah Nurseta dan dia bangkit duduk.

“Eh, engkau ini Nurseta? Mau apa engkau di sini? Ah ya, apa yang terjadi? Dimana wanita cantik yang membawa lari aku tadi ? »

“Ssttt ….. jangan berisik Jaya. Mereka sedang bertempur. Sebaiknya mari cepat ajak Puspa Dewi lari dari sini.” Bisik Nurseta.

Linggajaya bangkit berdiri. “Puspa Dewi? Di mana dia? Mengapa pula ia ada di sini?”

“Iapun diculik orang. Mari kita ajak ia lari.” kata Nurseta dan mereka pergi menghampiri Puspa Dewi.

Puspa Dewi adalah Gadis remaja yang amat cantik dan hampir semua pemuda remaja di Karang Tirta gandrung kepadanya, termasuk Linggajaya. Setelah bertemu dengan Puspa Dewi, Linggajaya lalu memegang tangan anak perempuan itu dan ditariknya, diajak lari dari tempat itu.

“Puspa Dewi, hayo cepat kita lari pulang!” katanya sambil menarik tangan anak perempuan itu.

Karena ketakutan terhadap kakek yang menculiknya tadi, Puspa Dewi menurut saja dan keduanya lari meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Nurseta lagi. Pemuda ini hanya berdiri memandang. Dia tidak perlu berlari, bahkan dia harus berlindung kepada Empu Dewamurti yang sedang bertanding melawan kakek tinggi besar itu. Akan tetapi sekarang dia melihat Empu Dewamurti bahkan dikeroyok olek dua orang penculik itu. Teringat akan pesan Empu Dewamurti, Nurseta lalu menyelinap dan duduk lagi di dekat batu karang. Kini dengan penuh perhatian dia menonton pertarungan itu.

Anehnya, kabut yang tadi menyelimuti temmpat itu sudah menipis dan cahaya bulan purnama tampak berseri lagi. Tadi pertandingan antara Resi Bajrasakti dan Empu Dewamurti berlangsung tak seimbang. Betapapun saktinya Resi Bajrasakti namun ternyata tingkatannya masih berada dibawah tingkat Empu Dewamurti yang memiliki aji-aji yang kuat sekali karena semua ajiannya selalu dipergunakan untuk membela kebenaran. Juga hidupnya selalu penuh dengan keprihatinan, berserah diri dan selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi, tidak seperti Resi Bajrasakti yang selalu melakukan kejahatan terdorong oleh nafsu-nafsunya sendiri yang memperbudaknya. Beberapa kali cambuknya terpental membentur tongkat bambu kuning, bahkan sempat terdorong dan terhuyung sehingga dalam waktu singkat saja dia hampir kehabisan tenaga.

Melihat ini, timbul kekhawatiran dalam hati Nyi Dewi Durgakumala. Tingkat kepandaiannya sendiri seimbang dengan tingkat yang dikuasai Resi Bajrasakti. Berarti dia sendiri juga tidak akan mampu menandingi ketangguhan Empu Dewamurti. Lebih baik kalau Empu Dewamurti disingkirkan terlebih dahulu, pikirnya. Ia lalu mencabut Candrasa Langking (Pedang Hitam) yang merupakan senjata pusakanya dan melompat ke depan mengeroyok sang empu.Pedangnya menjadi gulungan sinar hitam yang menerjang kearah Empu Dewamurti.

Setelah dikeroyok dua, Empu Dewamurti merasa kewalahan juga. Bertanding satu lawan satu, dia pasti dapat mengalahkan mereka, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang digjaya itu, dia harus mengeluarkan aji kesaktian yang lebih tinggi. Tiba-tiba Empu Dewamurti memutar tongkat bambu kuning dengan tangan kanannya. Tongkat itu membentuk gulungan sinar kuning yang melingkar-lingkar, bagai sebuah perisai yang kokoh kuat melindungi dirinya. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri dan dua kali mendorongkan telapak tangan kirinya itu ke arah sua orang pengeroyoknya.

“Hyaaahhh ..... yaaaahhh ...!!”

Angin dahsyat menggempur datuk Wengker dan datuk Wurawari itu. Biarpun mereka berdua mencoba bertahan, namun tetap saja mereka terdorong ke belakang dan terhuyung sampai jatuh! Mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa lawannya benar-benar sakti mandraguna dan kalau lawannya mempergunakan tangan kejam mungkin mereka berdua takkan mampu bertahan. Apalagi melihat Nurseta yang menemukan keris pusaka Megatantra berlindung di belakang sang empu. Mereka menjadi putus harapan dan melihat betapa dua orang anak remaja yang mereka culik tadi lenyap, mereka semakin marah dan penasaran lalu mereka melakukan pengejaran, meninggalkan Empu Dewamurti yang berdiri sambil mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi banyak dihamburkan untuk melawan dua orang tangguh itu.

“Hei, ke mana dua orang bocah yang mereka culik tadi?”

Empu Dewamurti baru melihat bahwa dua orang anak itu sudah tidak ada dan dia melihat betul bahwa dua orang datuk tadi melarikan diri tanpa membawa dua orang bocah yang tadi diculiknya.

“Maaf, eyang. Tadi saya menggugah dan menyuruh mereka melarikan diri karena saya merasa kasihan dan khawatir akan keselamatan mereka.”

“Engkau? Menggugah meraka?” Empu Dewamurti merasa heran. Dia dapat menduga bahwa dua orang bocah remaja tadi tentu tidak mampu bergerak atau berteriak karena pengaruh sihir! Bagaimana mungkin anak ini dapat menyadarkan mereka? Akan tetapi dia tiba-tiba teringat akan keris pusaka Megatantra yang berada dalam buntalan kain kuning yang dibawa nurseta dan dia mengangguk-angguk. Mengertilah empu ini bahwa tentu daya kekuatan keris ampuh itu yang memunahkan pengarus sihir atas diri dua orang bocah remaja itu.

“Kenalkah engkau kepada dua orang anak itu?”

Nurseta mengangguk. “Saya mengenal mereka, eyang. Mereka asalah Puspa Dewi dan Linggajaya dari dusun Karang Tirta. Kami sedusun eyang.”

“Dari dusun Karang Tirta? Ah jangan-jangan dua orang sesat itu melakukan pengejaran ke sana. Hayo Nurseta, kita menyusul mereka ke Karang Tirta! Pegang erat-erat tanganku!.”

Nurseta menurut. Tangan kirinya masih mendekap buntalan kuning dan tangan kanannya memegang tangan kiri kakek itu erat-erat. Tiba-tiba Nurseta merasa betapa tubuhnya meluncur seperti terbang dengan cepatnya! Kedua kaki agak terangkat sehingga tidak menginjak tanah lagi. Kiranya kakek itu mengangkat tangannya keatas sehingga tubuhnya agak terangkat dan kakek itu membawanya lari secepat terbang!

Nurseta terbelalak, kagum dan heran. Sudah kurang lebih sebulan dia mengenal Empu Dewamurti, yaitu ketika secara kebetulan dia melewaati guha itu. Dia merasa kasihan kepada kakek yang bertapa itu dan melihat tubuh yang tinggi kurus itu, Nurseta mencari buah-buahan dan menghidangkan kepada Empu Dewamurti. Mereka berkenalan dan sang empu juga kagum melihat pemuda yang budiman itu. Mereka tiba di dusun Karang Tirta dan Nurseta mengajak sang empu lebih dulu mengunjungi rumah Nyi Lasmi, seorang janda berusia tiga puluh satu tahun yang hanya hidup berdua dengan anaknya yaitu Puspa Dewi. Alangkah terkejut dan herannya hati Nurseta ketika dia dan sang empu mendapatkan janda muda itu menangis terisak-isak, dirubung beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya.

Ketika Nurseta dan Empu Dewamurti datang, semua orang menatapnya dengan heran. Akan tetapi Nurseta tidak mengacuhkan mereka, langsung dia menghampiri Nyi Randa (Janda) Lasmi dan bertanya, “Bibi Lasmi, apakah Puspa Dewi sudah pulang?”

Mendengar pertanyaan ini Nyi Lasmi menyusut air matanya yang sudah hampir habis dan ia memandang Nurseta dengan mata merah... “Bagaimana engkau ini, Nurseta? Semua orang geger meributkan anakku yang diculik penjahat, engkau malah bertanya apakah dia sudah pulang!”

“Saya sudah tahu, Bibi Lasmi. Malah tadi saya yang menggugah dan menyuruhnya cepat melarikan diri ketika penculiknya sedang bertanding dengan eyang empu ini. Apakah ia belum tiba di sini?”

cerita silat online karya kho ping hoo

Semua orang terheran mendengar ini dan Nyi Lasmi menjadi semakin gelisah.

“Tidak, ia belum pulang sejak diculik. Ah, anakku Puspa Dewi .....!” Lalu janda muda itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah Empu Dewamurti yang tidak dikenalnya. Mendengar bahwa kakek itu bertanding melawan penculik anaknya, maka timbul harapan di hatinya bahwa kakek itu akan dapat menyelamatkan puterinya.

“Aduh paman.... saya mohon, tolonglah anak saya Puspa Dewi .....!”

“Tadi Dewi melarikan diri bersama Linggajaya, mungkin mereka lari ke rumah Bapak Lurah Suramenggala. Mari eyang, kita mencari kesana!” kata Nurseta.

Empu Dewamurti mengangguk dan mereka berdua segera keluar dari rumah itu dan mereka menuju ke rumah ki lurah. Akan tetapi sekali ini semua orang termasuk Nyi Lasmi juga mengikuti mereka karena Nyi Lasmi dan para tetangganya ingin sekali melihat apakah benar Puspa Dewi selamat dan kini berada di rumah Ki Lurah Suramenggala! Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, keluarga Ki Lurah Suramengggala juga sedang kebingungan dan kesedihan. Banyak penduduk berkumpul di situ. Ketika Ki Lurah Suramenggala mendengar bahwa Nurseta mengetahui tentang puteranya yang diculik wanita cantik, dia segera melangkah ke luar menemui Nurseta.

Empu Dewamurti memandang penuh perhatian. Ki Lurah Suramenggala adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah bengis, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dibelakangnya berjalan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang berwajah cantik dan matanya merah karena kebanyakan menangis.

“Nurseta, benarkah engkau melihat Linggajaya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?” Tanya wanita yang menjadi isteri ketiga dan ibu Linggajaya itu dengan suara serak.

“Nurseta, hayo ceritakan semuanya dan jangan bohong engkau!” Ki Lurah Suramenggala membentak galak.

Nyi Lasmi, janda ibu Puspa Dewi juga mendekat dan mendengarkan. Semua orang tidak ada yang bersuara, ingin mendengarkan cerita Nurseta. Nurseta menelan ludah, tampak gugup, siapa diantara para penduduk Karang Tirta yang tidak akan gugup menghadapi Ki Lurah yang bengis galak itu? Apalagi nurseta adalah seorang pemuda remaja yatim piatu yang pekerjaannya hanya menjadi buruh tani. Karena tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki secuilpun tanah maka dia hanya membantu bertani di sawah ladang mereka yang memiliki tanah dan menerima upah sekadarnya untuk dapat makan setiap harinya.

“Malam tadi saya pergi ke pantai pasir putih untuk menemui eyang ini ... “

“Siapa dia?” Ki Lurah Suramenggala bertanya sambil memandang ke arah Empu Dewamurti, seolah seorang jaksa sedang memeriksa seorang terdakwa.

“Eyang ini adalah Empu Dewamurti yang sedang bertapa di dalam gua di bawah tebing dekat pantai pasir putih.” Nurseta menjelaskan.

“Hemm, lanjutkan ceritamu!”

“ketika saya tiba si pantai pasir putih, saya melihat eyang empu sedang berhadapan dengan dua orang. Seorang kakek tinggi besar yang memanggul tubuh Puspa Dewi dan seorang wanita cantik yang memanggul tubuh Linggajaya.”

“Anakku Dewi ....!” Nyi Lasmi menangis.

“Diam kau, Nyi Lasmi!” Ki Lurah membentak. “Hayo lanjutkan, Nurseta, akan tetapi awas, jangan bohong kau!”

“Kemudian eyang minta agar mereka melepaskan Puspa Dewi dan Linggajaya yang mereka tawan, akan tetapi mereka menolak dan setelah menurunkan tubuh kedua orang anak itu, mereka lalu bertanding melawan Eyang Dewamurti. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menggugah Puspa Dewi dan Linggajaya yang keliatannya seperti tertidur, lalu menganjurkan mereka untuk cepat melarikan diri dan pulang. Setelah eyang empu berhasil mengalahkan dua orang penculik itu dan mereka melarikan diri dan kuceritakan kepada eyang empu tentang Puspa Dewi dan Linggajaya, kami berdua datang ke sini untuk melihat apakah kedua orang anak itu sudah pulang. Akan tetapi ternyata belum …..”

“Nurseta, jangan bohong kau! Kalau memang benar engkau membujuk kedua orang anak itu untuk lari dan pulang, kenapa engkau sendiri tidak mengantar mereka? Lalu engkau Pergi kemana?” Hardik Ki Lurah dengan suara galak dan matanya melotot menatap wajah Nurseta.

“Saya kembali berlindung di belakang eyang empu seperti yang diperintahkannya.”

“Semua itu bohong! siapa percaya omongan seorang yatim piatu terlantar seperti engkau? Ceritamu itu bohong! Engkau tentu menjadi antek penculik anakku! Hayo katakan, berapa engkau dibayar untuk membantunya?”

Nurseta memandang lurah itu dengan mata terbelalak. ”Saya tidak membantu para penculik itu. Saya malah mencoba untuk menolong Linggajaya dan Puspa Dewi!”

“Bohong! mana mungkin kakek kurus kering ini mampu menandingi dua orang penculik itu? Baru penculik wanita itu saja memiliki kesaktian luar biasa. Lima orang jagabaya ia robohkan seketika dan ia memondong tubuh Linggajaya dan berlari seperti terbang. Engkau pasti berbohong dan kakek ini tentu temanmu yang bersekongkol dengan penculik itu!”

“Tidak, sungguh saya tidak membohongi siapa-siapa …!” kata Nurseta.

“Diam! Engkau pasti bersekongkol dengan para penculik. Engkau dan kakek ini. Kalian akan kami tahan sampai anakku kembali dengan selamat. Tangkap bocah dan kakek ini!” Ki lurah Suramenggala dengan mata melotot menudingkan telunjuknya kepada Nurseta, memerintah kepada para jagabaya (penjaga keamanan) untuk menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti.

Akan tetapi terjadi hal yang amat aneh sehingga mengherankan semua orang yang berada di situ. Baik Ki Lurah Suramenggala, lima orang jagabaya belasan orang anak buahnya dan siapa saja yang berniat menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti sama sekali tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. Bahkan Ki Lurah Suramenggala masih berdiri melotot dan menudingkan telunjuknya ke arah Nurseta, tidak mampu bergerak lagi, seolah berubah menjadi arca. Tentu saja dia merasa kaget dan heran sekali. Dia berusaha meronta dan mengggerakkan tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil, bahkan bibirnya tak mampu bergerak untuk mengeluarkan suara!

Mereka yang tidak berniat buruk terhadap Empu Dewamurti dan Nurseta dapat bergerak seperti biasa dan melihat betapa kakek itu berkata kepada Nurseta dengan suara tenang.

“Mari Nurseta, mari kita tinggalkan lurah yang bodoh dan suka mengandalkan kedudukan bersikap sewenang-wenang ini”. Lalu kakek itu melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu,diikuti Nurseta.

Lama setelah dua orang itu pergi, barulah KiLurah Suramenggala mampu bergerak kembali. Demikian pula mereka yang tadi berniat menangkap Nurseta dan kakek itu. Begitu sapat bergerak, Ki Lurah Suramenggala berseru, “Tangkap bocah dan kakek itu! Tangkap mereka!”

Seorang carik yang sudah tua segera berkata, “Kilurah, saya harap andika menyadari bahwa kakek tadi bukan orang sembarangan. Tentu dia membuat kami tidak mampu bergerak maupun bersuara. Kalau dia berniat jahat, mungkin selamanya kami tidak dapat bergerak lagi.”

Mendengar ini, belasan orang yang tadi berniat menangkap dan tidak mampu bergerak atau bersuara menjadi ketakutan. Juga Ki Lurah menjadi takut membayangkan betapa dia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi dengan tubuh kaku seperti berubah menjadi arca batu!

“Tapi..... tapi ..... bagaimana dengan anakku si Linggajaya?” katanya dengan cemas.

“Ki lurah, kalau apa yang diceritakan Nurseta tadi benar-benar terjadi, tentu kedua orang anak yang diculik itu terjatuh kembali ketangan penculiknya atau mungki juga masih berkeliaran karena takut, bersembunyi di sekitar pantai. Lebih baik kita berpencar dan mencari.” Kata carik tua itu.

Semua orang setuju dan berhamburanlah mereka keluar dari dusun karang tirta untuk mencari kedua anak yang hilang itu. Akan tetapi sampai keesokan harinya, usaha para penduduk Karang Tirta itu tidak berhasil. Akhirnya, terpaksa mereka kembali ke dusun dan dua keluarga yang kehilangan anak itu hanya dapat menangis.

Nurseta mengikuti Empu Dewamurti meninggalkan daerah pantai laut kidul menuju utara. Mereka berjalan terus melalui bukit-bukit kapur. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berhenti mengaso di puncak sebuah bukit kecil. Empu Dewamurti yang minta anak itu berhenti mengaso, melihat nurseta tampak kelelahan. Diam-diam dia mengagumi pemuda remaja yang tahan uji itu, berjalan sepanjang malam tanpa henti dan sama sekali tidak mengeluh walaupun kelelahan. Mereka duduk di atas batu. Nurseta masih tetap memegang buntalan kain kuning berisi keris pusaka itu.

“Nurseta, berikan keris itu padaku.” Kata Empu Dewamurti sambil menyodorkan tangannya.

Pemuda itu menyerahkannya dan Empu Dewamurti membuka buntalan kain kuning. Tampak sinar kilat ketika sinar matahari pagi menimpa keris itu. Empu Dewamurti memegang gagang keris, mengangkat dan mengamatinya. Lalu dia mengangguk-angguk.

“Tidak salah lagi. Inilah Sang Megatantra, buatan empu Bramakendali yang hidup ratusan tahun yang lalu di jaman Medang Kamulan. Pusaka ini dikabarkan hilang tanpa bekas puluhan tahun yang lalu setelah dijadikan rebutan para raja muda yang mengirim orang-orang sakti. Sungguh luar biasa sekali bahwa akhirnya pusaka ini ditemukan olehmu, Nurseta. Ini hanya berarti bahwa engkau berjodoh dengan pusaka ini, dan mulai saat ini, Keris Pusaka Megatantra menjadi milikmu.”

Kakek itu mengembalikan keris. Nurseta menerimanya dan membungkusnya kembali dengan kain kuning.

“Akan tetapi eyang, saya justru hendak menyerahkan keris ini kepada eyang.”

“Tidak, Nurseta. Engkau yang menemukan. Hal itu sudah merupakan kehendak Sang Hyang Widhi dan engkau pula yang berhak memilikinya.”

“Eyang, saya tidak tahu apakah yang harus saya lakukan dengan keris ini. Bagi saya keris ini tidak ada gunanya. Sebatang arit atau pacul jauh lebih berguna karena dengan alat-alat itu saya dapat bekerja di sawah ladang. Akan tetapi sebatang keris? Untuk apa? Saya tidak dapat mempergunakannya.”

Kakek itu tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengamati wajah pemuda itu, lalu mengangguk-angguk. “Bagus!, kewajaran dan kejujuranmu itu merupakan modal utama bagimu untuk melangkah sepanjang jalan kebenaran dan mencegahmu agar tidak tersesat jalan. Jangan khawatir, Nurseta. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu kanuragan dan aji kesaktian agar engkau dapat memanfaatkan kegunaan keris pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, juga agar engkau dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”

Mendengar ini, Nurseta tertegun. Teringat dia bahwa kakek ini adalah seorang yang sakti mandraguna seperti Dewa saja. Teringat ketika kakek ini bertanding melawan dua orang penculik yang sakti itu dan ketika kakek ini membawanya “terbang” dalam berlari. Dia menjadi muridnya?

“Maksud paduka... hendak mengambil saya menjadi murid? Mengajari saya aji kesaktian, juga cara berlari seperti terbang?”

Melihat kegembiraan membayang pada wajah pemuda yang tegang itu Empu dewamurti tersenyum dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa kagum. Bocah ini biarpun menjadi anak desa dan yatim piatu, pekerjaannya hanya sebagai seorang buruh tani namun memiliki wajah yang cerah, bersih, sepasang mata yang sinarnya tajam cerdik namun penuh kejujuran dan kebaikan budinya tercermin pada pandang matanya. Wajah seorang pemuda remaja yang mempunyai daya tarik amat kuat, walaupun tak dapat disebut tampan sekali. Wajah biasa saja namun menyembunyikan sesuatu yang pasti menarik hati orang untuk mengenalnya lebih dekat. Dia teringat betapa bocah ini mula-mula lewat di depan goa dan melihatnya. Tak lama kemudian bocah ini membawa sesisir pisang raja yang kuning masak dan memberikan pisang itu kepadanya! Dan sejak hari itu Nurseta sering datang membawa bermacam makanan seperti buah-buahan, jagung bakar, ketela bakar, bahkan kelapa muda untuk dihidangkan kepadanya. Mereka seperti menjadi sahabat. Namun hanya sebatas begitu saja. Belum pernah dia mendengar tentang keadaan pemuda itu. Dan tadi dia mendengar kemarahan Ki Lurah yang mengatakan bahwa Nurseta adalah seorang anak yatim piatu. Setelah teringat bahwa dia kini menjadi murid kakek itu, Nurseta segera meletakkan buntalan keris di atas batu dan dia sendiri lalu turun dari atas batu.

“Eyang guru .....!” katanya sambil berlutut dan menyembah, sungkem dengan penuh hormat didepan kaki kakek itu.

“Bagus, Nurseta muridku. Sekarang duduk dan bersila di atas batu itu agar lebih leluasa kita bicara.”

Biarpun Nurseta ingin menghormati gurunya dengan duduk bersila di atas tanah, di sebelah bawah, namun mendengar ucapan itu, dia menyembah lagi lalu kembali duduk bersila di atas batu.

“Nah, sekarang aku ingin mendengar riwayatmu. Ceritakan keadaanmu sejak kecil dan tentang orang tuamu!. Aku harus mengenal benar siapa sesungguhnya anak yang menjadi muridku.”

Nurseta menarik nafas panjang, menenangkan hatinya lalu mulai bercerita tentang dirinya. “Seingat saya, ayah bernama Darmaguna dan ibu bernama Sawitri. Menurut ibu, mereka mulai tinggal di Karang Tirta ketika saya berusia tiga tahun, akan tetapi ayah dan ibu tidak pernah bercerita dari mana mereka berasal. Di Dusun ini ayah terkenal sebagai seorang sastrawan. Banyak orang yang datang kepada ayah untuk mempelajari sastra, tembang maupun untuk minta pengobatan karena ayah seorang ahli pengobatan. Sejak saya berusia lima tahun, ayah mengajarkan sastra kepada saya.”

“Jagat Dewa Bhatara! Kalau begitu engkau pandai membaca dan menulis” tanya Empu Dewamurti heran bukan main.

Pada masa itu, jangankan seorang bocah desa, bahkan para remaja kota rajapun banyak yang tidak bisa baca tulis. Nurseta mengangguk dan mukanya kemerahan. Dia merasa malu karena merasa tidak pantas dikagumi orang seperti gurunya.

“Ketika saya berusia sepuluh tahun pada suatu pagi sehabis bangun tidur, saya tidak menemukan ayah dan ibu di rumah. Juga mereka tidak berada di ladang, tidak dapat saya temukan di luar rumah. Mereka telah pergi... mereka pergi meninggalkan saya tanpa pamit.” Nurseta menekan perasaan yang tiba-tiba bersedih agar tidak terdengar dalam suaranya.

“Pergi begitu saja? Pergi kemana dan kenapa?”

Nurseta menggeleng kepalanya. “Saya tidak tahu eyang. Mereka tidak meninggalkan pesan dan pakaian merekapun tidak ada. Sampai sekarang mereka tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar.”

“Hemm, lalu engkau yang dulu berusia sepuluh tahun hidup seorang diri? Apakah engkau tidak memiliki sanak keluarga?”

“Tidak eyang, ayah dan ibu merupakan pendatang baru dan orang asing di Karang Tirta. Saya hidup seorang diri. Ki Lurah Suramenggala mengurus semua peninggalan orang tuaku. Tidak banyak hanya pondok kecil dan sedikit ladang. Ki Lurah membelinya sendiri dan memberikan uangnya sedikit demi sedikit kepada saya. Saya diperbolehkan tinggal membantu pengembala mengurus hewan ternaknya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, uang hasil penjualan rumah dan ladang itu kata Ki Lurah sudah habis untuk biaya hidup saya. Mulailah dalam usia tiga belas tahun saya hidup sebagai buruh tani. Sampai sekarang, selalu berpindah-pindah ke rumah pemilik sawah yang saya bantu.”

Empu Dewamurti mengangguk-angguk. Anak ini memiliki latar belakang yang penuh rahasia. Entah darimana datangnya orang tuanya dan rahasia apa yang tersembunyi di balik kehilangan mereka yang aneh.

“Jadi kalau begitu engkau hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga dan tiada rumah atau tempat tinggal sama sekali”.

“Benar eyang, akan tetapi mulai sekarang saya tidak sebatang kara lagi. Saya hidup bersama eyang guru, saya mempunyai eyang dan saya dapat melayani eyang!” kata Nurseta dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.

“Baik Nurseta, engkau akan hidup bersamaku sampai engkau dapat menguasai ilmu-ilmu yang akan kuajarkan kepadamu. Kulihat engkau masih membawa arit di ikat pinggangmu. Nah, sekarang carilah sebatang kayu batang pohon nangka untuk membuat sarung untuk Keris Pusaka Megatantra itu.”

“Baik eyang.” Nurseta lalu mencari kayu untuk membuat warangka (sarung keris). Setelah mendapat kayu yang cukup baik dia kembali dan duduk di atas batu di depan gurunya, lalu mulai membentuk sebuah sarung keris. Sambil membuat sarung keris, Nurseta bertanya kepada gurunya.

“Eyang, mengapa dua orang penculik itu begitu ngotot untuk merebut keris megatantra ini?”

“Keris pusaka ini adalah sebuah keris yang ampuh dan bertuah, Seta! Engkau telah membuktikannya sendiri. Ketika engkau menggugah dua orang bocah yang terculik itu, karena engkau memegang keris ini, maka engkau membebaskan mereka dari pengaruh sihir. Mereka ingin memiliki keris pusaka ini yang akam membuat mereka menjadi semakin kuat dan sakti.

“Dan kalau boleh saya bertanya, eyang. Mengapa pula eyang mempertahankan keris ini mati-matian?”

Empu Dewamurti tersenyum lebar. "memang aku melawan mereka, akan tetapi bukan semata-mata untuk mempertahankan keris, melainkan terutama sekali agar mereka membebaskan dua bocah yang mereka culik itu."

"Eyang, apakah gunanya sebatang keris diperebutkan sampai mengadu nyawa? Saya masih ingat akan satu diantara nasehat ayah dahulu. Ketika saya membaca sebuah kitab Weda, ayah menerangkan bahwa setiap alat apapun juga tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Kata ayah, baik dan buruknya suatu alat tergantung sepenuhnya kepada cara kita yang mempegunakan alat itu. Contohnya arit ini, eyang. Kalau dipergunakan untuk bekerja, menyabit rumput, menebang pohon, termasuk membuat warangka keris ini, maka ini menjadi alat yang baik. Sebaliknya kalau dipakai untuk membacok, melukai atau membunuh orang, maka jelas arit ini menjadi alat yang tidak baik. Lalu untuk apa keris diperebutkan mati-matian?"

"Bagus kalau engkau masih ingat akan wejangan ayahmu itu, Nurseta. Ayahmu benar. Memang baik atau buruk itu tidak ada, baik atau buruk baru muncul setelah ada pandangan dan perbuatan. Agar mudah kau ingat, segala yang sifatnya membangun, menjaga keindahan, mendatangkan manfaat bagi orang-orang lain adalah baik dan segala sesuatu yang sifatnya merusak, menyebabkan keburukan, mendatangkan manfaat hanya kepada diri sendiri, adalah buruk dan jahat. Mengapa aku mencegah keris ini jatuh ke tangan mereka?, karena aku mengenal siapa mereka dan aku yakin bahwa kalau keris ini jatuh ke tangan mereka, maka keris ini akan menjadi alat yang jahat dan mendatangkan malapetaka kepada orang banyak."

"Siapakah sebenarnya orang sakti itu eyang?"

"Yang laki-laki adalah Resi Bajrasakti, dia itu seorang penasehat kerajaan Wengker. Karena kerajaan itu memusuhi Sang Prabu Erlangga, maka tentu kedatangannya di wilayah Kahuripan ini hanya akan melakukan perbuatan yang mendatangkan kekacauan. Mungkin dia melakukan penyelidikan di wilayah Kahuripan ini. Adapun yang perempuan itu bernama Nyi Dewi Durgakumala. Ia seorang tokoh kerajaan Wurawari yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Tentu kedatangannya juga tidak bermaksud baik, tiada bedanya dengan Rsi Bajrasakti. Mereka berdua itu sakti mandraguna, selain dahsyat ilmu silatnya, juga mereka itu ahli-ahli sihir dan segala macam ilmu hitam. Lihat saja Nyi Dewi Durgakumala itu. Usianya seingatku sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi ia masih nampak muda belia dan cantik. Ah orang-orang sesat itu hanya mementingkan keindahan dan kesenangan jasmani saja, sama sekali melupakan keadaan rohani."

"Akan tetapi apa perlunya mereka itu menculik linggajaya dan Puspadewi, eyang?"

Kakek itu menarik nafas panjang. "Hal itu ada hubungannya dengan syarat ilmu sesat mereka. Ilmu sesat itu selalu ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu apa saja. Akan tetapi dalam hal mereka berdua, yang menjadi syarat adalah pemuasan nafsu daya rendah birahi. Resi Bajrasakti suka menculik dan memperkosa perawan-perawan cantik demi memperkuat ilmu sesatnya, Nyi Dewi Durgakumala sebaliknya menculik para perjaka yang tampan."

"Aduh, kasihan sekali kalau begitu Lingggajaya dan Puspa dewi" seru Nurseta.

Empu Dewamurti menghela nafas panjang."Kita sudah berusaha menolong mereka, akan tetapi gagal. Segala upaya itu dapat berhasil atau gagal sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Yang penting, upaya kita itu berlandaskan kebenaran. Berhasil atau gagal berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Kita semua masing-masing terikat oleh karmanya sendiri-sendiri. Tidak ada yang perlu disesalkan!"

Setelah Nurseta selesai membuat warangka keris, Empu Dewamurti lalu memasukkan keris pusaka itu kedalam sarung keris yang sederhana itu lalu menyuruh Nurseta menyelipkan keris dan warangkanya itu di pinggangnya. Kemudian dia mengajak muridnya melanjutkan perjalanan.

"Kita akan tinggal di sebuah goa diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna." Kata kakek itu. Dan pergilah mereka ke gunung Arjuna yang terkenal wingit (angker/menakutkan) itu.

*******************

Kemanakah perginya Linggajaya dan Puspa Dewi? Mereka sudah dapat melarikan diri, kenapa tidak tiba di rumah masing-masing di dusun Karang Tirta dan ketika dicari oleh para penduduk dusun itu tidak dapat ditemukan?

Tidak salah apa yang dikatakan Empu Dewamutri kepada Nurseta tadi bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia sudah diatur dan ditentukan oleh kekuasaan Sang Hyang Widhi sesuai dengan karma masing-masing. Manusia memang wajib berusaha, wajib berdaya upaya sekuat tenaga, namun semua itu tidak akan mengubah apa yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi. Adapun baik buruknya karma itu tergantung sepenuhnya kepada keadaan hati dan perbuatan manusia itu sendiri. Sang Hyang Widhi Maha Adil, manusia bijak pasti menerima kebaikan dan manusia jahat pasti menerima keburukan. Siapa menanam benihnya, dia akan memetik buahnya.

Ketika Linggajaya dan Puspa Dewi melariak diri di malam bulan purnama itu, memang mereka bermaksud untuk pulang ke Karang Tirta. Akan tetapi, sebelum tiba di dusun yang sudah dekat itu, mereka mendengar teriakan lembut namun jelas terdengar oleh telinga mereka.

"Bocah bagus, kemana engkau hendak lari?" Jelas itu adalah suara Nyi Dewi durgakumala. Suara itu memang tidak nyaring karena wanita itu takut kalau-kalau terdengar oleh Empu Dewamurti, akan tetapi suara itu didorong oleh tenaga sakti dan melengking ke arah depan sehingga terdengar oleh Linggajaya dan Puspa Dewi.

"Cah Ayu manis, denok moblong-moblong, berhentilah!" terdengar pula suara Resi Bajrasakti.

Mendengar dua suara ini, tentu saja dua orang itu menjadi takut dan panik. Tadinya memang mereka lari berbareng, akan tetapi ketika mendengar suara itu, saking bingungnya mereka berpencar. Linggajaya berlari ke arah kanan meninggalkan Puspa Dewi dan bocah perempuan itu dengan ketakutan berlari ke kiri.

Sementara itu Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala yang kecewa sekali karena tidak berhasil merampas keris Megatantra dan dikalahkan oleh Empu dewamurti kini mencurahkan perhatian mereka kepada dua orang anak yang mereka culik dan kini entah bagaimana telah melarikan diri. Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi mereka mengejar dengan hati gentar pula kalau-kalau Empu Dewamurti juga mengejar mereka. Dalam kegugupan mereka itu, kini merekapun berpencar dan melakukan pengejaran. Dan terjadilah hal yang sama sekali diluar kehendak dan perhitungan dua orang datuk itu. Resi Bajrasakti lari mengejar ke kanan dan Nyi Dewi Durgakumala lari mengejar ke kiri. Dengan sendirinya Resi Bajrasakti dapat menyusul Linggajaya dan sebaliknya Nyi Dewi Durgakumala dapat menyusul Puspa Dewi.

Dalam keremangan malam karena bulan purnama sudah condong ke barat dan tertutup awan tipis, Resi Bajrasakti hanya melihat bayangan Linggajaya yang berlari di depannya. Dia mengira bahwa itu adalah Puspa Dewi. Setelah dia menyambar tubuh anak itu, dibuatnya tidak mampu bergerak dan bersuara lalu dipanggulnya, barulah dia menyadari bahwa telah salah tangkap. Akan tetapi sudah kepalang, dia tidak peduli dan mempercepat larinya meninggalkan tempat itu karena merasa takut terhadap Empu Dewamurti, apalagi setelah kini ia berpisah dengan Nyi Dewi Durgakumala.

Resi Bajrasakti berlari mempergunakan ilmu lari cepat, melarikan diri seperti terbang saja sambil memanggul tubuh Linggajaya. Pemuda remaja berusia lima belas tahun ini kembali merasa tidak berdaya, tidak mampu menggerakkan tubuh dan tidak mampu mengeluarkan suara. Akan tetapi diapun tahu bahwa kini yang melarikan bukanlah wanita cantik tadi, melainkan kakek tinggi besar yang menyeramkan. Diam-diam dia merasa menyesal. Bagaimanapun juga dia lebih senang kalau diculik wanita cantik itu. Baru baunya saja, ketika dia dipanggul wanita itu, harum semerbak. Tidak seperti kakek ini yang baunya apek!


BERSAMBUNG KE JILID 02


Cerita Silat Keris Pusaka Sang Megatantra Jilid 01

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

CERITA SILAT KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 01

Bulan Purnama memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang. Bulan purnama kalangan (ada garis bundar mengelilinginya). Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting.

Pantai segara laut kidul itu putih berkilauan tertimpa sinar bulan. Pasir putih yang bersih halus terhampar luas. Laut tampak tenang. Ombak kecil yang menipis hanya sempat menjilat tepi pantai. Suara air laut yang biasanya menggelora itu kini hanya terdengar berbisik-bisik lembut. Tebing-tebing terjal disebelah barat itu seolah merupakan bendungan untuk mencegah lautan membanjir ke darat. Perbukitan batu karang dan kapur itu tampak bagaikan raksasa-raksasa yang berdiri dengan kokoh kuat melakukan penjagaan. Sunyi senyap, yang terdengar hanya desah air laut dan yang tampak hanya buih-buih air diatas ombak-ombak kecil yang beriringan menuju ke pantai. Akan tetapi semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keheningan yang khidmat itu. Tiada awan di langit. Kenyataan itu suci dan agung. Tidak ada indah atau buruk. Yang ada hanya kenyataan. Indah atau buruk baru muncul setelah ada penilaian dan penilaian inilah yang mendatangkan pertentangan.

Bau keharuman dupa dan kemenyan yang datang dari dusun Karang Tirta yang berada tidak jauh dari pantai Pasir Putih iru mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang bagi para penduduk dusun itu dianggap sebagai malam keramat yang menakutkan karena menurut kepercayaan mereka pada malam itu semua lelembut, siluman, setan dan segala macam iblis keluar dan keluyuran, gentayangan di permukaan bumi mencari korban!. Segala macam wewe gombel, brekasakan, kuntilanak, banaspati, tetakan dan tuyul keluar untuk mencari mangsa. Karena itu orang-orang membakar dupa dan kemenyan untuk dihidangkan kepada mereka agar setelah menghirup keharuman itu mereka menjadi puas dan tidak mengganggu si penyuguh asap yang harum itu.

Di jajaran tebing terjal yang berada di sebelah barat pantai pasir putih itu terdapat sebuah guha yang luasnya sekitar tiga meter persegi dan luarnya sekitar dua meter lebih. Di tengah guha itu nampak seorang pria duduk bagaikan sebuah arca. Dia duduk dengan kedua kaki bersilang diatas paha, kedua lengan juga bersilang dan kedua matanya terpejam. Duduknya tegak lurus. Agaknya pria ini sedang bersamadhi. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah berwarna dua disanggul keatas dan tusuk sanggulnya sederhana sekali terbuat dari bambu. Tubuhnya yang tinggi kurus itu hanya dilindungi sehelai kain hitam yang dilibat-libatkan dari leher ke lutut.

Kakinya telanjang. Seorang kakek yang sederhana sekali. Dari keadaan pakaiannya dan cara dia duduk bersamadhi dapat diduga dia tentu seorang pendeta atau pertapa. Wajahnya yang kurus itu seolah bercahaya. Alis, kumis dan janggutnya yang menutupi lehernya juga sudah penuh uban. Wajahnya masih membayangkan bekas ketampanan dan mulutnya mengembangkan senyum pengertian.

Kakek itu adalah Empu Dewamurti. Dia terkenal sebagai empu ahli pembuat keris pusaka. Juga dia terkenal sebagai seorang sakti mandraguna dan ahli tapabrata yang tekun dan sering kali dia menghabiskan waktu untuk bertapa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi untuk memohon petunjuk dan bimbingannya.

Malam itu adalah malam ketiga dia bertapa dalam guha di tepi segara kidul. Empu Dewamurti adalah empu yang terkenal dijaman Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikrama Utunggadewa atau yang lebih mudah diingat dengan sebutan Raja Erlangga.

Tiba-tiba Empu Dewamurti seperti tergugah dari samadhinya. Pendengarannya menangkap jerit suara wanita dan teriakan pria yang datangnya dari hamparan pasir putih. Kalau saja suara lain yang mengganggunya, dia tentu tidak mau mengacuhkan. Akan tetapi dalam jeritan dan teriakan tadi dia menanggkap suara yang ketakutan dan mengharapkan pertolongan. Empu Dewamurti adalah seorang yang sejak muda berwatak kesatria, tidak pernah menolak untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Maka dia jadi sadar sepenuhnya dan dia segera bangkit dan keluar dari dalam guha. Dibawah sinar bulan purnama dia dapat melihat adanya dua bayangan orang, masing-masing memanggul tubuh seorang yang meronta-ronta muncul di pantai pasir putih itu.

Empu Dewamurti lalu melompat dan berlari cepat menuju kesana. Larinya cepat sekali walaupun kedua kaki yang telanjang itu nampaknya seperti melangkah seenaknya. Kecepatannya terbukti dari berkibarnya kain yang melibat-libat tubuhnya dari leher sampai ke lutut. Sebentar saja dia sudah berhadapan dengan dua orang itu.

Ternyata mereka adalah seorang wanita dan seorang lakilaki. Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam dan mukanya penuh brewok, rambutnya hitam panjang dibiarkan berjuntai di belakang kepalanya, hanya diikat kain merah. Pakaiannya serba mewah, seperti pakaian seorang bangsawan. Di pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) bergagang gading dan ujung pecut yang panjang itu digulung dan digantung di pinggang. Wajahnya kasar dan bengis.

Adapun orang kedua adalah seorang seorang wanita yang sukar ditaksir usianya karena ia masih nampak cantik jelita dan genit seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja. Mukanya yang sudah cantik itu dirias dengan bedak dan pemerah pipi dan bibir seperti riasan muka waranggana yang hendak bertembang dan berjoged. Pakaiannya mewah sekali, dengan gelang emas pada pegelangan tangan dan kaki. Di pinggang yang ramping itu tergantung sebatang pedang dengan sarungnya yang terukir indah. Wanita itu sungguh cantik menarik, terutama sekali matanya yang bersinar tajam dan senyumnya yang semanis madu.

Melihat dua orang ini, Empu Dewamurti diam-diam terkejut dan dia memperhatikan orang-orang yang berada dalam pondongan mereka itu. Laki-laki tinggi besar itu memanggul tubuh seorang gadis remaja yang usianya tiga belas tahun. Sanggul rambut gadis itu terlepas dan rambutnya yang panjang itu terurai kebawah. Ia kini tidak mampu bergerak atau menjerit lagi, agaknya sudah dibuat pingsan oleh laki-laki yang memanggulnya. Wanita cantik itu juga memanggul seseorang dan ketika Empu Dewamurti mengamati, ternyata yang dipanggulnya itu seorang pemuda remaja berusia sekitar lima belas tahun. Pemuda remaja ini sama eloknya dengan gadis remaja itu, dan dia juga kini diam saja dan lemas seperti orang pingsan atau tidur.

“Jagat Dewa Bhatara!, kiranya andika Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker dan Nyi Dewi Durgakumala dari kerjaan Wurawari!, Apa kehendak andika berdua muncul di pantai Segara Kidul wilayah Kahuripan ini dan siapa pula anak-anak remaja yang andika tawan itu?” tegur Empu Dewamurti sambil mengamati mereka berdua dengan sinar mata tajam menyelidik.

“Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki tinggi besar yang bernama Resi Bajrasakti itu tertawa bergelak-gelak sehingga seluruh tubuhnya berguncang. “Tak kusangka di sini aku bertemu dengan Empu Dewamurti, pandai besi tukang membuat pacul, arit dan pisau dapur!” Dia tertawa lagi, merasa geli dengan gurauannya sendiri yang memperolok-olok Empu Dewamurti sebagai ahli pembuat keris pusaka.

“Hik-hik, Empu Dewamurti. Senang hatiku bertemu denganmu. Aku hendak memesan sepasang gelang kaki perak, dapatkah engkau membuatkan untukku?” Wanita cantik pesolek yang bernama Nyi Durgakumala itupun tertawa dan ucapannya tadipun bermaksud menghina Empu Dewamurti.

Kalau Resi Bajrasakti merupakan Datuk Kerajaan Wengker yang sakti mandraguna, Nyi Dewi Durgakumala yang sesungguhnya telah berusia empat puluh lima tahun itu adalah seorang tokoh besar Kerajaan Wurawari dan menjadi kepercayaan Raja.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang berlari menuju ke pantai itu. Dari jauh dia melihat Empu Dewamurti dan dia berteriak. “Eyang Empu Dewamurti ......!”

Tiga orang sakti itu memandang dan Empu Dewamurti segera mengenal pemuda remaja berusia sekitar enam belas tahun yang berpakaian sederhana seperti seorang petani biasa. Dia memandang wajah yang cerah itu dengan alis berkerut. Pemuda itupun kini baru tahu bahwa di situ terdapat dua orang asing yang masing-masing memanggul seorang gadis remaja dan seorang pemuda. Maka dia lalu berkata gugup. “Maafkan saya, eyang, saya tidak tahu bahwa eyang sedang sibuk. Saya hanya menyerahkan ini. Saya temukan keris ini ketika sore tadi saya menggali kebun......” Pemuda itu membuka sebuah buntalan kuning dan terkejutlah tiga orang sakti itu ketika melihat sebatang keris yang mengeluarkan sinar kilat ketika tertimpa sinar bulan.

Tiba-tiba Nyi Dewi Durgakumala berseru dengan melengking nyaring, “Serahkan keris itu kepadaku!” Dalam suaranya terkandung pengaruh yang demikian kuat sehingga mau tidak mau pemuda petani itu mengulurkan kedua tangan yang membawa keris itu kepada wanita itu.

“Tidak! Berikan kepadaku!” terdengar bentakan lantang yang keluar dari mulut Resi Bajrasakti. Teriakan inipun mengandung pengaruh yang kuat bukan main, sehingga pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak menyerahkan kerisnya kepada Resi Bajrasakti. Akan tetapi ketika datuk dari kerjaan wengker yang tinggi besar itu menjulurkan tangannya hendak mengambil keris, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tangan Nyi Dewi Durgakumala sudah menangkisnya. Ketika kedua orang ini sedang bersitegang, tubuh Empu Dewamurti melayang ke arah pemuda itu. Dia berdiri membelakangi pemuda itu dan berkata. “Nurseta, cepat engkau duduk bersandar batu dibelakangku!”

Pemuda yang bernama Nurseta itu terbebas dari pengaruh suara dua orang yang hendak memaksa dia menyerahkan keris. Dia lalu duduk bersila di dekat batukarang yang berada di belakang Empu Dewamurti dengan hati yang berdebar tegang karena dia dapat merasakan bahwa dua orang asing itu tentu bukan orang baik-baik. Buktinya mereka agaknya menguasai gadis dan pemuda yang mereka panggul.

“Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala! Kalian berdua adalah orang-orang asing yang menjadi tamu di sini. Harap kalian tidak membuat gara-gara!”

“Empu Dewamurti, keris itu harus menjadi milikku!” teriak Nyi Dewi Durgakumala sambil menuding telunjuk kanannya ke arah Nurseta.

“Tidak, harus diberikan kepadaku!” bentak Resi Bajrasakti.

“kalau tidak, akan kurampas dengan kekerasan!”

“Babo-babo, Resi Bajrasakti, Apa kau kira aku ini patung hidup? Engkau tidak akan dapat merampasnya selama aku masih berada di sini!” teriak Nyi Dewi Durgakumala.

Melihat dua orang itu agaknya saling berebut sendiri, Empu Dewamurti tersenyum.

“Sadhu...Sadhu...Sadhu...! Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala, ketahuilah bahwa keris itu ditemukan di tanah yang menjadi wilayah kahuripan, oleh karena itu menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan. Selain daripada itu, agaknya andika berdua tidak mengenal pusaka itu. Sekali pandang saja aku mengenalnya. Keris pusaka itu adalah Sang Megatantra dan pusaka dibuat oleh mendiang Empu Bramakendali di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang menjadi nenek moyang Kerajaan Kahuripan. Oleh karena itu, kalian berdua dari Kerajaan Wengker dan Wurawari sama sekali tidak berhak memilikinya. Selain itu, muda-mudi yang kalian culik itu tentu kawula Kahuripan, maka bebaskan mereka dan pulanglah kalian ke tempat kalian masing-masing dengan damai”.

“Babo-babo, empu keparat! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dia yang berhak memiliki Keris Pusaka Sang Megatantra!” bentak Resi Bajrasakti.

“Sang Resi, keris pusaka merupakan hak milik Kerajaan Kahuripan, tidak mungkin diperebutkan. Kalau andika memperebutkannya, berarti andika hendak merampok.”

“Heh, Empu konyol! Apakah engkau tidak tahu akan hokum alam bahwa siapa yang menang, dia berkuasa? Engkau hendak menentang hukum alam?”

“Resi Bajrasakti, wawasanmu itu salah sama sekali. Hukum alam adalah hukum sebab akibat yang seadil-adilnya. Hukummu tadi bukan hukum alam, melainkan hukum yang dibuat manusia sesat yang diperbudak nafsu. Nafsu selalu ingin menang dan kalau menang dia harus berkuasa dan yang berkuasa selalu harus benar! Yang berkuasa menindas yang lemahpun dibenarkan oleh nafsu angkara murka.” kata Empu Dewamurti dengan sikap tenang.

“Jangan banyak cerewet, Empu Dewamurti! Serahkan Keris Megatantra itu kepadaku atau aku akan menggunakan kekerasan!” bentak Nyi Dewi Durgakumala.

“Jagat Dewa Bhatara! Manusia diciptakan hidup di permukaan ini memang diberi wewenang untuk memilih, apakah dia ingin menjadi alat iblis ataukah ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, membela kebenaran dan menentang kejahatan. Terserah kepada kalian berdua.”

Resi Bajrasakti lalu melangkah belasan tindak dan menurunkan gadis remaja yang dipanggulnya. “Bocah ayu, engkau berdiamlah di sini dulu sebentar ya? Nanti setelah kubereskan Empu konyol itu, kupondong lagi dan kita bersenang-senang.”

Gadis remaja itu ketika diturunkan rebah terlentang, agaknya untuk bangkit dudukpun ia tidak kuat. Nyi Dewi Durgakumala tidak mau kalah. Iapun menurunkan pemuda remaja yang tadi dipanggulnya itu agak jauh dari situ. Pemuda itupun rebah terlentang dan tanpa malu-malu Nyi Dewi Durgakumala menciumnya. “Cah bagus, engkau kutinggalkan sebentar!”

Kini Empu Dewamurti berhadapan dengan dua orang datuk itu. Nyi Dewi Durgakumala bersikap cerdik. Ia maklum untuk memperebutkan Keris Pusaka Megatantra, ia harus dapat mengalahkan dua orang lawan yang tangguh. Sebetulnya kedatangan ke wilayah Kahuripan itu, seperti juga Resi Bajrasakti adalah untuk melaksanakan tugas masing-masing yang diperintahkan raja mereka, yaitu untuk melakukan penyelidikan terhadap kerajaan Kahuripan dan kalau ada kesempatan menimbulkan kekacauan di kerajaan musuh itu. Karena keduanya memang saling mengenal sejak dahulu, maka ketika saling berjumpa, segera terjalin hubungan akrab dan mesra antara mereka.

Akan tetapi dua orang manusia cabul yang menjadi hamba nafsu mereka sendiri itu sebentar saja sudah merasa bosan dan malam itu mereka masing-masing menculik seorang gadis dan pemuda remaja untuk menyalurkan gairah nafsu mereka yang kotor. Kebetulan sekali mereka menculik dua orang muda remaja dari dusun Karang Tirta pula dan ketika mereka membawa korban calon mangsa mereka ke pantai pasir putih untuk bersenang-senang melampiaskan nafsu disana, Empu Dewamurti memergoki mereka. Kebetulan pula Nurseta, pemuda petani dari Dusun Karang Tirta pula, datang untuk menyerahkan penemuannya kepada Empu Dewamurti yang dikenalnya sehingga kini yang menjadi persoalan bukan hanya orang-orang muda yang diculik, melainkan perebutan Keris Megatantra. Nyi Dewi Durgakumala sengaja diam saja dan membiarkan Resi Bajrasakti untuk lebih dulu bertanding melawan Empu Dewamurti agar ia memperoleh kesempatan yang dapat menguntungkannya.

Resi Bajrasakti juga ingin secepatnya merobohkan Empu Dewamurti yang merupakan penghalang pertama. Setelah empu ini roboh, baru dia akan menghadapi Nyi Dewi Durgakumala yang mungkin akan diajaknya berdamai demi keuntungan mereka berdua. Hal ini akan dipikirkan nanti saja setelah dia berhasil mengalahkan Empu Dewamurti. Kini dia berkemak-kemik membaca mantera, mengerahkan tenaga sihirnya, kemudian cepat dia membungkuk dan mengambil segenggam pasir lalu melontarkannya ke atas sambil berseru lantang. “Bramara Sewu (Seribu Lebah)!!”

Pasir yang dilontarkan itu tiba-tiba menjadi asap dan asap itu berubah pula menjadi lebah banyak sekali. Lebah-lebah itu beterbangan menyerbu Empu Dewamurti sambil mengeluarkan bunyi mendengung. Akan tetapi Empu Dewamurti tadi meniru perbuatan lawan mengambil segenggam pasir putih dan melihat banyak lebah yang menyerangnya, dia lalu menyabitkan segenggam pasir putih itu sambil membentak, “Asal pasir kembali menjadi pasir!!”

“Wuuuttt ..... blar .....!!”

Ketika rombongan lebah itu dihantam pasir yang disambitkan Empu Dewamurti, terdengar ledakan, asap mengepul dan pasir berhamburan ke bawah. Lebah=lebah itupin lenyap.

“Jahanam!” Resi Bajrasakti berteriak memaki, lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Empu Dewamurti maklum bahwa lawan akan menyerangnya dengan ilmu lain. Dia sudah tahu bahwa Resi Bajrasakti terkenal sakti mandraguna, ahli sihir dan memiliki banyak aji yang berbahaya. Ketika Datuk dari Wengker itu merasa betapa tenaga saktinya telah terpusat di kedua tangannya, dia lalu melakukan pukulan mendorong ke arah Empu Dewamurti sambil membentak nyaring.

“Aji Sihung Naga .....!!!” pukalan sakti ini dahsyat bukan main. Terdengar suara bercuitan dan getaran amat kuat menerjang ke arah Empu Dewamurti. Kakek ini sudah siap. Kedua tangannya merangkap menjadi sembah sujud di atas dahinya, kemudian kedua tangan itu dari situ dikembangkan dan dengan telapak tangan terbuka menyambut dorongan lawan.

“Syuuuuttt ..... desss ...!!”

Tubuh Empu Dewamurt i bergoyang-goyang, akan tetapi Resi Bajrasakti terdorong ke belakang sampai terhuyung dan hampir roboh. Resi Bajrasakti menjadi semakin marah dan penasaran. Dia segera melompat ke depan dan mencabut cemeti (cambuk) yang tergulung dan terselip di p inggangnya. Inilah Pecut Tatit Geni (Halilintar Api) yang sudah amat terkenal dan ditakuti lawan karena Resi Bajrasakti sudah marah sekali dan bahwa dia menganggap lawannya terlalu tangguh sehingga terpaksa dia menggunakan senjata pamungkas itu.

“Tar-tar-tarrr .....!” Begitu cambuk itu digerakkan, ujungnya yang panjang meluncur ke atas dan mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan nyaring dan mengeluarkan asap dari bunga api yang berpijar di ujung cambuk. Hebat bukan main cambuk ini! Empu Dewamurti memutar tubuh menghadap tebing dimana terdapat guha yang untuk sementara waktu menjadi tempat tinggalnya. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali dan tampak sinar meluncur dari dalam guha ke arah tangannya dan ketika Empu Dewamurti menggunakan tangan kanannya menangkap, ternyata sebatang tongkat Pring Gading (Bambu Kuning) telah berada di tangannya! Ini merupakan satu diantara kesaktian sang Empu, yaitu menguasai senjatanya yang hanya sebatang tongkat bambu kuning namun ampuhnya mengiriskan dia mampu “memanggil” dari jauh.

“Resi Bajrasakti, sekali lagi aku peringatkan andika. Bebaskan gadis remaja itu dan pulanglah ke tempat asalmu. Aku tidak ingin bermusuhan secara pribadi denganmu!”.

Melihat cara Empu Dewamutri menguasai senjatanya tadi, hati Resi Bajrasakti menjadi gentar juga, akan tetapi dasar orang yang terbiasa diagungkan dan disanjung sehingga dia merasa diri sendiri paling hebat, mana dia mau mengalah begitu saja!. Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya dan seketika tempat itu diselimuti semacam halimun yang membuat malam terang bulan purnama menjadi berkabut. Diapun menerjang setelah aji panglimunan berhasil baik.

“Tar-tar-tarrr .....!” Pecut Tatit Geni meledak-ledak, mengeluarkan pijaran api dan menyambar-nyambar ke arah kepala Empu Dewamurti. Namun dengan tenang sang Empu menangkis dengan tongkat bambu kuningnya dan kedua orang sakti itu segera bertanding dengan serunya. Nyi Dewi Durgakumala juga menonton dengan penuh perhatian. Harus dia akui bahwa empu itu memang sakti mandraguna dan ia merasa sangsi apakah ia akan mampu mengalahkan Empu Dewamurti. Karena tidak ada yang memperhatikan, dan menggunakan selagi cuaca diliputi kabut, diam-diam Nurseta menghampiri gadis remaja yang berada paling dekat dengan dirinya. Dia tentu saja mengenal anak perempuan itu yang memang tinggal sedusun dengannya, yaitu di Dusun Karang Tirta.

Sambil memegangi Keris Pusaka Megatantra dengan tangan kanan, Nurseta mengguncang pundak anak perempuan itu yang bernama Puspa Dewi. “Dewi ....., Dewi ....., bangunlah .....!” katanya sambil mengguncang pundak anak perempuan itu.

Puspa Dewi membuka mata dan seolah baru terbangun dari tidurnya. Padahal ia tadi dalam keadaan tak berdaya oleh pengaruh sihir. Di luar pengetahuan dua orang anak itu Puspa Dewi dapat terbebas dari pengaruh sihir karena keampuhan Keris Pusaka Megatantra yang dibawa Nurseta!.

“Apa ..... apa yang terjadi? Ah, engkau Kakang Nurseta .....! Apa yang terjadi? Tadi ..... kakek yang jahat itu .....”

“Stttt, lihat dia sedang bertanding melawan Eyang Empu Dewamurti. Diam saja di sini, aku hendak melihat pemuda di sana itu.” Nurseta meninggalkan Puspa Dewi dan berlari dalam kabut dan menghampiri pemuda remaja yang dipanggul Nyi Dewi Durgakumala. Setelah dekat dia berjongkok dan kini tahulah dia bahwa pemuda remaja itu adalah Linggajaya, putera kepala dusun Karang Tirta yang terkenal sombong karena merasa dia putera kepala dusun Karang Tirta yang berkuasa, kaya raya dan juga memiliki wajah tampan.

Sebetulnya Nurseta tidak begitu suka kepada pemuda sombong ini, bahkan dia seringkali sebagai seorang pemuda yatim piatu mendapat ejekan dan olok-olok dari Linggajaya. Akan tetapi kini melihat keadaan pemuda itu, dia merasa iba dan seperti tadi ketika menggugah Puspa Dewi, kini diapun mengguncang pundak Linggajaya dengan tangan kirinya.

“Jaya ....., Linggajaya ..... bangunlah .....!” Kembali keampuhan keris pusaka Megatantra bekerja dan seketika pemuda putera lurah itu terbebas dari pengaruh sihir Nyi Dewi Durgakumala atas dirinya. Dia terbangun menggosok-gosok kedua mata dengan tangan karena keremangan kabut membuat penglihatannya tidak begitu terang. Akhirnya dia melihat wajah Nurseta dan dia bangkit duduk.

“Eh, engkau ini Nurseta? Mau apa engkau di sini? Ah ya, apa yang terjadi? Dimana wanita cantik yang membawa lari aku tadi ? »

“Ssttt ….. jangan berisik Jaya. Mereka sedang bertempur. Sebaiknya mari cepat ajak Puspa Dewi lari dari sini.” Bisik Nurseta.

Linggajaya bangkit berdiri. “Puspa Dewi? Di mana dia? Mengapa pula ia ada di sini?”

“Iapun diculik orang. Mari kita ajak ia lari.” kata Nurseta dan mereka pergi menghampiri Puspa Dewi.

Puspa Dewi adalah Gadis remaja yang amat cantik dan hampir semua pemuda remaja di Karang Tirta gandrung kepadanya, termasuk Linggajaya. Setelah bertemu dengan Puspa Dewi, Linggajaya lalu memegang tangan anak perempuan itu dan ditariknya, diajak lari dari tempat itu.

“Puspa Dewi, hayo cepat kita lari pulang!” katanya sambil menarik tangan anak perempuan itu.

Karena ketakutan terhadap kakek yang menculiknya tadi, Puspa Dewi menurut saja dan keduanya lari meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Nurseta lagi. Pemuda ini hanya berdiri memandang. Dia tidak perlu berlari, bahkan dia harus berlindung kepada Empu Dewamurti yang sedang bertanding melawan kakek tinggi besar itu. Akan tetapi sekarang dia melihat Empu Dewamurti bahkan dikeroyok olek dua orang penculik itu. Teringat akan pesan Empu Dewamurti, Nurseta lalu menyelinap dan duduk lagi di dekat batu karang. Kini dengan penuh perhatian dia menonton pertarungan itu.

Anehnya, kabut yang tadi menyelimuti temmpat itu sudah menipis dan cahaya bulan purnama tampak berseri lagi. Tadi pertandingan antara Resi Bajrasakti dan Empu Dewamurti berlangsung tak seimbang. Betapapun saktinya Resi Bajrasakti namun ternyata tingkatannya masih berada dibawah tingkat Empu Dewamurti yang memiliki aji-aji yang kuat sekali karena semua ajiannya selalu dipergunakan untuk membela kebenaran. Juga hidupnya selalu penuh dengan keprihatinan, berserah diri dan selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi, tidak seperti Resi Bajrasakti yang selalu melakukan kejahatan terdorong oleh nafsu-nafsunya sendiri yang memperbudaknya. Beberapa kali cambuknya terpental membentur tongkat bambu kuning, bahkan sempat terdorong dan terhuyung sehingga dalam waktu singkat saja dia hampir kehabisan tenaga.

Melihat ini, timbul kekhawatiran dalam hati Nyi Dewi Durgakumala. Tingkat kepandaiannya sendiri seimbang dengan tingkat yang dikuasai Resi Bajrasakti. Berarti dia sendiri juga tidak akan mampu menandingi ketangguhan Empu Dewamurti. Lebih baik kalau Empu Dewamurti disingkirkan terlebih dahulu, pikirnya. Ia lalu mencabut Candrasa Langking (Pedang Hitam) yang merupakan senjata pusakanya dan melompat ke depan mengeroyok sang empu.Pedangnya menjadi gulungan sinar hitam yang menerjang kearah Empu Dewamurti.

Setelah dikeroyok dua, Empu Dewamurti merasa kewalahan juga. Bertanding satu lawan satu, dia pasti dapat mengalahkan mereka, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang digjaya itu, dia harus mengeluarkan aji kesaktian yang lebih tinggi. Tiba-tiba Empu Dewamurti memutar tongkat bambu kuning dengan tangan kanannya. Tongkat itu membentuk gulungan sinar kuning yang melingkar-lingkar, bagai sebuah perisai yang kokoh kuat melindungi dirinya. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri dan dua kali mendorongkan telapak tangan kirinya itu ke arah sua orang pengeroyoknya.

“Hyaaahhh ..... yaaaahhh ...!!”

Angin dahsyat menggempur datuk Wengker dan datuk Wurawari itu. Biarpun mereka berdua mencoba bertahan, namun tetap saja mereka terdorong ke belakang dan terhuyung sampai jatuh! Mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa lawannya benar-benar sakti mandraguna dan kalau lawannya mempergunakan tangan kejam mungkin mereka berdua takkan mampu bertahan. Apalagi melihat Nurseta yang menemukan keris pusaka Megatantra berlindung di belakang sang empu. Mereka menjadi putus harapan dan melihat betapa dua orang anak remaja yang mereka culik tadi lenyap, mereka semakin marah dan penasaran lalu mereka melakukan pengejaran, meninggalkan Empu Dewamurti yang berdiri sambil mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi banyak dihamburkan untuk melawan dua orang tangguh itu.

“Hei, ke mana dua orang bocah yang mereka culik tadi?”

Empu Dewamurti baru melihat bahwa dua orang anak itu sudah tidak ada dan dia melihat betul bahwa dua orang datuk tadi melarikan diri tanpa membawa dua orang bocah yang tadi diculiknya.

“Maaf, eyang. Tadi saya menggugah dan menyuruh mereka melarikan diri karena saya merasa kasihan dan khawatir akan keselamatan mereka.”

“Engkau? Menggugah meraka?” Empu Dewamurti merasa heran. Dia dapat menduga bahwa dua orang bocah remaja tadi tentu tidak mampu bergerak atau berteriak karena pengaruh sihir! Bagaimana mungkin anak ini dapat menyadarkan mereka? Akan tetapi dia tiba-tiba teringat akan keris pusaka Megatantra yang berada dalam buntalan kain kuning yang dibawa nurseta dan dia mengangguk-angguk. Mengertilah empu ini bahwa tentu daya kekuatan keris ampuh itu yang memunahkan pengarus sihir atas diri dua orang bocah remaja itu.

“Kenalkah engkau kepada dua orang anak itu?”

Nurseta mengangguk. “Saya mengenal mereka, eyang. Mereka asalah Puspa Dewi dan Linggajaya dari dusun Karang Tirta. Kami sedusun eyang.”

“Dari dusun Karang Tirta? Ah jangan-jangan dua orang sesat itu melakukan pengejaran ke sana. Hayo Nurseta, kita menyusul mereka ke Karang Tirta! Pegang erat-erat tanganku!.”

Nurseta menurut. Tangan kirinya masih mendekap buntalan kuning dan tangan kanannya memegang tangan kiri kakek itu erat-erat. Tiba-tiba Nurseta merasa betapa tubuhnya meluncur seperti terbang dengan cepatnya! Kedua kaki agak terangkat sehingga tidak menginjak tanah lagi. Kiranya kakek itu mengangkat tangannya keatas sehingga tubuhnya agak terangkat dan kakek itu membawanya lari secepat terbang!

Nurseta terbelalak, kagum dan heran. Sudah kurang lebih sebulan dia mengenal Empu Dewamurti, yaitu ketika secara kebetulan dia melewaati guha itu. Dia merasa kasihan kepada kakek yang bertapa itu dan melihat tubuh yang tinggi kurus itu, Nurseta mencari buah-buahan dan menghidangkan kepada Empu Dewamurti. Mereka berkenalan dan sang empu juga kagum melihat pemuda yang budiman itu. Mereka tiba di dusun Karang Tirta dan Nurseta mengajak sang empu lebih dulu mengunjungi rumah Nyi Lasmi, seorang janda berusia tiga puluh satu tahun yang hanya hidup berdua dengan anaknya yaitu Puspa Dewi. Alangkah terkejut dan herannya hati Nurseta ketika dia dan sang empu mendapatkan janda muda itu menangis terisak-isak, dirubung beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya.

Ketika Nurseta dan Empu Dewamurti datang, semua orang menatapnya dengan heran. Akan tetapi Nurseta tidak mengacuhkan mereka, langsung dia menghampiri Nyi Randa (Janda) Lasmi dan bertanya, “Bibi Lasmi, apakah Puspa Dewi sudah pulang?”

Mendengar pertanyaan ini Nyi Lasmi menyusut air matanya yang sudah hampir habis dan ia memandang Nurseta dengan mata merah... “Bagaimana engkau ini, Nurseta? Semua orang geger meributkan anakku yang diculik penjahat, engkau malah bertanya apakah dia sudah pulang!”

“Saya sudah tahu, Bibi Lasmi. Malah tadi saya yang menggugah dan menyuruhnya cepat melarikan diri ketika penculiknya sedang bertanding dengan eyang empu ini. Apakah ia belum tiba di sini?”

cerita silat online karya kho ping hoo

Semua orang terheran mendengar ini dan Nyi Lasmi menjadi semakin gelisah.

“Tidak, ia belum pulang sejak diculik. Ah, anakku Puspa Dewi .....!” Lalu janda muda itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah Empu Dewamurti yang tidak dikenalnya. Mendengar bahwa kakek itu bertanding melawan penculik anaknya, maka timbul harapan di hatinya bahwa kakek itu akan dapat menyelamatkan puterinya.

“Aduh paman.... saya mohon, tolonglah anak saya Puspa Dewi .....!”

“Tadi Dewi melarikan diri bersama Linggajaya, mungkin mereka lari ke rumah Bapak Lurah Suramenggala. Mari eyang, kita mencari kesana!” kata Nurseta.

Empu Dewamurti mengangguk dan mereka berdua segera keluar dari rumah itu dan mereka menuju ke rumah ki lurah. Akan tetapi sekali ini semua orang termasuk Nyi Lasmi juga mengikuti mereka karena Nyi Lasmi dan para tetangganya ingin sekali melihat apakah benar Puspa Dewi selamat dan kini berada di rumah Ki Lurah Suramenggala! Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, keluarga Ki Lurah Suramengggala juga sedang kebingungan dan kesedihan. Banyak penduduk berkumpul di situ. Ketika Ki Lurah Suramenggala mendengar bahwa Nurseta mengetahui tentang puteranya yang diculik wanita cantik, dia segera melangkah ke luar menemui Nurseta.

Empu Dewamurti memandang penuh perhatian. Ki Lurah Suramenggala adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah bengis, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dibelakangnya berjalan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang berwajah cantik dan matanya merah karena kebanyakan menangis.

“Nurseta, benarkah engkau melihat Linggajaya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?” Tanya wanita yang menjadi isteri ketiga dan ibu Linggajaya itu dengan suara serak.

“Nurseta, hayo ceritakan semuanya dan jangan bohong engkau!” Ki Lurah Suramenggala membentak galak.

Nyi Lasmi, janda ibu Puspa Dewi juga mendekat dan mendengarkan. Semua orang tidak ada yang bersuara, ingin mendengarkan cerita Nurseta. Nurseta menelan ludah, tampak gugup, siapa diantara para penduduk Karang Tirta yang tidak akan gugup menghadapi Ki Lurah yang bengis galak itu? Apalagi nurseta adalah seorang pemuda remaja yatim piatu yang pekerjaannya hanya menjadi buruh tani. Karena tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki secuilpun tanah maka dia hanya membantu bertani di sawah ladang mereka yang memiliki tanah dan menerima upah sekadarnya untuk dapat makan setiap harinya.

“Malam tadi saya pergi ke pantai pasir putih untuk menemui eyang ini ... “

“Siapa dia?” Ki Lurah Suramenggala bertanya sambil memandang ke arah Empu Dewamurti, seolah seorang jaksa sedang memeriksa seorang terdakwa.

“Eyang ini adalah Empu Dewamurti yang sedang bertapa di dalam gua di bawah tebing dekat pantai pasir putih.” Nurseta menjelaskan.

“Hemm, lanjutkan ceritamu!”

“ketika saya tiba si pantai pasir putih, saya melihat eyang empu sedang berhadapan dengan dua orang. Seorang kakek tinggi besar yang memanggul tubuh Puspa Dewi dan seorang wanita cantik yang memanggul tubuh Linggajaya.”

“Anakku Dewi ....!” Nyi Lasmi menangis.

“Diam kau, Nyi Lasmi!” Ki Lurah membentak. “Hayo lanjutkan, Nurseta, akan tetapi awas, jangan bohong kau!”

“Kemudian eyang minta agar mereka melepaskan Puspa Dewi dan Linggajaya yang mereka tawan, akan tetapi mereka menolak dan setelah menurunkan tubuh kedua orang anak itu, mereka lalu bertanding melawan Eyang Dewamurti. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menggugah Puspa Dewi dan Linggajaya yang keliatannya seperti tertidur, lalu menganjurkan mereka untuk cepat melarikan diri dan pulang. Setelah eyang empu berhasil mengalahkan dua orang penculik itu dan mereka melarikan diri dan kuceritakan kepada eyang empu tentang Puspa Dewi dan Linggajaya, kami berdua datang ke sini untuk melihat apakah kedua orang anak itu sudah pulang. Akan tetapi ternyata belum …..”

“Nurseta, jangan bohong kau! Kalau memang benar engkau membujuk kedua orang anak itu untuk lari dan pulang, kenapa engkau sendiri tidak mengantar mereka? Lalu engkau Pergi kemana?” Hardik Ki Lurah dengan suara galak dan matanya melotot menatap wajah Nurseta.

“Saya kembali berlindung di belakang eyang empu seperti yang diperintahkannya.”

“Semua itu bohong! siapa percaya omongan seorang yatim piatu terlantar seperti engkau? Ceritamu itu bohong! Engkau tentu menjadi antek penculik anakku! Hayo katakan, berapa engkau dibayar untuk membantunya?”

Nurseta memandang lurah itu dengan mata terbelalak. ”Saya tidak membantu para penculik itu. Saya malah mencoba untuk menolong Linggajaya dan Puspa Dewi!”

“Bohong! mana mungkin kakek kurus kering ini mampu menandingi dua orang penculik itu? Baru penculik wanita itu saja memiliki kesaktian luar biasa. Lima orang jagabaya ia robohkan seketika dan ia memondong tubuh Linggajaya dan berlari seperti terbang. Engkau pasti berbohong dan kakek ini tentu temanmu yang bersekongkol dengan penculik itu!”

“Tidak, sungguh saya tidak membohongi siapa-siapa …!” kata Nurseta.

“Diam! Engkau pasti bersekongkol dengan para penculik. Engkau dan kakek ini. Kalian akan kami tahan sampai anakku kembali dengan selamat. Tangkap bocah dan kakek ini!” Ki lurah Suramenggala dengan mata melotot menudingkan telunjuknya kepada Nurseta, memerintah kepada para jagabaya (penjaga keamanan) untuk menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti.

Akan tetapi terjadi hal yang amat aneh sehingga mengherankan semua orang yang berada di situ. Baik Ki Lurah Suramenggala, lima orang jagabaya belasan orang anak buahnya dan siapa saja yang berniat menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti sama sekali tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. Bahkan Ki Lurah Suramenggala masih berdiri melotot dan menudingkan telunjuknya ke arah Nurseta, tidak mampu bergerak lagi, seolah berubah menjadi arca. Tentu saja dia merasa kaget dan heran sekali. Dia berusaha meronta dan mengggerakkan tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil, bahkan bibirnya tak mampu bergerak untuk mengeluarkan suara!

Mereka yang tidak berniat buruk terhadap Empu Dewamurti dan Nurseta dapat bergerak seperti biasa dan melihat betapa kakek itu berkata kepada Nurseta dengan suara tenang.

“Mari Nurseta, mari kita tinggalkan lurah yang bodoh dan suka mengandalkan kedudukan bersikap sewenang-wenang ini”. Lalu kakek itu melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu,diikuti Nurseta.

Lama setelah dua orang itu pergi, barulah KiLurah Suramenggala mampu bergerak kembali. Demikian pula mereka yang tadi berniat menangkap Nurseta dan kakek itu. Begitu sapat bergerak, Ki Lurah Suramenggala berseru, “Tangkap bocah dan kakek itu! Tangkap mereka!”

Seorang carik yang sudah tua segera berkata, “Kilurah, saya harap andika menyadari bahwa kakek tadi bukan orang sembarangan. Tentu dia membuat kami tidak mampu bergerak maupun bersuara. Kalau dia berniat jahat, mungkin selamanya kami tidak dapat bergerak lagi.”

Mendengar ini, belasan orang yang tadi berniat menangkap dan tidak mampu bergerak atau bersuara menjadi ketakutan. Juga Ki Lurah menjadi takut membayangkan betapa dia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi dengan tubuh kaku seperti berubah menjadi arca batu!

“Tapi..... tapi ..... bagaimana dengan anakku si Linggajaya?” katanya dengan cemas.

“Ki lurah, kalau apa yang diceritakan Nurseta tadi benar-benar terjadi, tentu kedua orang anak yang diculik itu terjatuh kembali ketangan penculiknya atau mungki juga masih berkeliaran karena takut, bersembunyi di sekitar pantai. Lebih baik kita berpencar dan mencari.” Kata carik tua itu.

Semua orang setuju dan berhamburanlah mereka keluar dari dusun karang tirta untuk mencari kedua anak yang hilang itu. Akan tetapi sampai keesokan harinya, usaha para penduduk Karang Tirta itu tidak berhasil. Akhirnya, terpaksa mereka kembali ke dusun dan dua keluarga yang kehilangan anak itu hanya dapat menangis.

Nurseta mengikuti Empu Dewamurti meninggalkan daerah pantai laut kidul menuju utara. Mereka berjalan terus melalui bukit-bukit kapur. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berhenti mengaso di puncak sebuah bukit kecil. Empu Dewamurti yang minta anak itu berhenti mengaso, melihat nurseta tampak kelelahan. Diam-diam dia mengagumi pemuda remaja yang tahan uji itu, berjalan sepanjang malam tanpa henti dan sama sekali tidak mengeluh walaupun kelelahan. Mereka duduk di atas batu. Nurseta masih tetap memegang buntalan kain kuning berisi keris pusaka itu.

“Nurseta, berikan keris itu padaku.” Kata Empu Dewamurti sambil menyodorkan tangannya.

Pemuda itu menyerahkannya dan Empu Dewamurti membuka buntalan kain kuning. Tampak sinar kilat ketika sinar matahari pagi menimpa keris itu. Empu Dewamurti memegang gagang keris, mengangkat dan mengamatinya. Lalu dia mengangguk-angguk.

“Tidak salah lagi. Inilah Sang Megatantra, buatan empu Bramakendali yang hidup ratusan tahun yang lalu di jaman Medang Kamulan. Pusaka ini dikabarkan hilang tanpa bekas puluhan tahun yang lalu setelah dijadikan rebutan para raja muda yang mengirim orang-orang sakti. Sungguh luar biasa sekali bahwa akhirnya pusaka ini ditemukan olehmu, Nurseta. Ini hanya berarti bahwa engkau berjodoh dengan pusaka ini, dan mulai saat ini, Keris Pusaka Megatantra menjadi milikmu.”

Kakek itu mengembalikan keris. Nurseta menerimanya dan membungkusnya kembali dengan kain kuning.

“Akan tetapi eyang, saya justru hendak menyerahkan keris ini kepada eyang.”

“Tidak, Nurseta. Engkau yang menemukan. Hal itu sudah merupakan kehendak Sang Hyang Widhi dan engkau pula yang berhak memilikinya.”

“Eyang, saya tidak tahu apakah yang harus saya lakukan dengan keris ini. Bagi saya keris ini tidak ada gunanya. Sebatang arit atau pacul jauh lebih berguna karena dengan alat-alat itu saya dapat bekerja di sawah ladang. Akan tetapi sebatang keris? Untuk apa? Saya tidak dapat mempergunakannya.”

Kakek itu tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengamati wajah pemuda itu, lalu mengangguk-angguk. “Bagus!, kewajaran dan kejujuranmu itu merupakan modal utama bagimu untuk melangkah sepanjang jalan kebenaran dan mencegahmu agar tidak tersesat jalan. Jangan khawatir, Nurseta. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu kanuragan dan aji kesaktian agar engkau dapat memanfaatkan kegunaan keris pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, juga agar engkau dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”

Mendengar ini, Nurseta tertegun. Teringat dia bahwa kakek ini adalah seorang yang sakti mandraguna seperti Dewa saja. Teringat ketika kakek ini bertanding melawan dua orang penculik yang sakti itu dan ketika kakek ini membawanya “terbang” dalam berlari. Dia menjadi muridnya?

“Maksud paduka... hendak mengambil saya menjadi murid? Mengajari saya aji kesaktian, juga cara berlari seperti terbang?”

Melihat kegembiraan membayang pada wajah pemuda yang tegang itu Empu dewamurti tersenyum dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa kagum. Bocah ini biarpun menjadi anak desa dan yatim piatu, pekerjaannya hanya sebagai seorang buruh tani namun memiliki wajah yang cerah, bersih, sepasang mata yang sinarnya tajam cerdik namun penuh kejujuran dan kebaikan budinya tercermin pada pandang matanya. Wajah seorang pemuda remaja yang mempunyai daya tarik amat kuat, walaupun tak dapat disebut tampan sekali. Wajah biasa saja namun menyembunyikan sesuatu yang pasti menarik hati orang untuk mengenalnya lebih dekat. Dia teringat betapa bocah ini mula-mula lewat di depan goa dan melihatnya. Tak lama kemudian bocah ini membawa sesisir pisang raja yang kuning masak dan memberikan pisang itu kepadanya! Dan sejak hari itu Nurseta sering datang membawa bermacam makanan seperti buah-buahan, jagung bakar, ketela bakar, bahkan kelapa muda untuk dihidangkan kepadanya. Mereka seperti menjadi sahabat. Namun hanya sebatas begitu saja. Belum pernah dia mendengar tentang keadaan pemuda itu. Dan tadi dia mendengar kemarahan Ki Lurah yang mengatakan bahwa Nurseta adalah seorang anak yatim piatu. Setelah teringat bahwa dia kini menjadi murid kakek itu, Nurseta segera meletakkan buntalan keris di atas batu dan dia sendiri lalu turun dari atas batu.

“Eyang guru .....!” katanya sambil berlutut dan menyembah, sungkem dengan penuh hormat didepan kaki kakek itu.

“Bagus, Nurseta muridku. Sekarang duduk dan bersila di atas batu itu agar lebih leluasa kita bicara.”

Biarpun Nurseta ingin menghormati gurunya dengan duduk bersila di atas tanah, di sebelah bawah, namun mendengar ucapan itu, dia menyembah lagi lalu kembali duduk bersila di atas batu.

“Nah, sekarang aku ingin mendengar riwayatmu. Ceritakan keadaanmu sejak kecil dan tentang orang tuamu!. Aku harus mengenal benar siapa sesungguhnya anak yang menjadi muridku.”

Nurseta menarik nafas panjang, menenangkan hatinya lalu mulai bercerita tentang dirinya. “Seingat saya, ayah bernama Darmaguna dan ibu bernama Sawitri. Menurut ibu, mereka mulai tinggal di Karang Tirta ketika saya berusia tiga tahun, akan tetapi ayah dan ibu tidak pernah bercerita dari mana mereka berasal. Di Dusun ini ayah terkenal sebagai seorang sastrawan. Banyak orang yang datang kepada ayah untuk mempelajari sastra, tembang maupun untuk minta pengobatan karena ayah seorang ahli pengobatan. Sejak saya berusia lima tahun, ayah mengajarkan sastra kepada saya.”

“Jagat Dewa Bhatara! Kalau begitu engkau pandai membaca dan menulis” tanya Empu Dewamurti heran bukan main.

Pada masa itu, jangankan seorang bocah desa, bahkan para remaja kota rajapun banyak yang tidak bisa baca tulis. Nurseta mengangguk dan mukanya kemerahan. Dia merasa malu karena merasa tidak pantas dikagumi orang seperti gurunya.

“Ketika saya berusia sepuluh tahun pada suatu pagi sehabis bangun tidur, saya tidak menemukan ayah dan ibu di rumah. Juga mereka tidak berada di ladang, tidak dapat saya temukan di luar rumah. Mereka telah pergi... mereka pergi meninggalkan saya tanpa pamit.” Nurseta menekan perasaan yang tiba-tiba bersedih agar tidak terdengar dalam suaranya.

“Pergi begitu saja? Pergi kemana dan kenapa?”

Nurseta menggeleng kepalanya. “Saya tidak tahu eyang. Mereka tidak meninggalkan pesan dan pakaian merekapun tidak ada. Sampai sekarang mereka tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar.”

“Hemm, lalu engkau yang dulu berusia sepuluh tahun hidup seorang diri? Apakah engkau tidak memiliki sanak keluarga?”

“Tidak eyang, ayah dan ibu merupakan pendatang baru dan orang asing di Karang Tirta. Saya hidup seorang diri. Ki Lurah Suramenggala mengurus semua peninggalan orang tuaku. Tidak banyak hanya pondok kecil dan sedikit ladang. Ki Lurah membelinya sendiri dan memberikan uangnya sedikit demi sedikit kepada saya. Saya diperbolehkan tinggal membantu pengembala mengurus hewan ternaknya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, uang hasil penjualan rumah dan ladang itu kata Ki Lurah sudah habis untuk biaya hidup saya. Mulailah dalam usia tiga belas tahun saya hidup sebagai buruh tani. Sampai sekarang, selalu berpindah-pindah ke rumah pemilik sawah yang saya bantu.”

Empu Dewamurti mengangguk-angguk. Anak ini memiliki latar belakang yang penuh rahasia. Entah darimana datangnya orang tuanya dan rahasia apa yang tersembunyi di balik kehilangan mereka yang aneh.

“Jadi kalau begitu engkau hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga dan tiada rumah atau tempat tinggal sama sekali”.

“Benar eyang, akan tetapi mulai sekarang saya tidak sebatang kara lagi. Saya hidup bersama eyang guru, saya mempunyai eyang dan saya dapat melayani eyang!” kata Nurseta dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.

“Baik Nurseta, engkau akan hidup bersamaku sampai engkau dapat menguasai ilmu-ilmu yang akan kuajarkan kepadamu. Kulihat engkau masih membawa arit di ikat pinggangmu. Nah, sekarang carilah sebatang kayu batang pohon nangka untuk membuat sarung untuk Keris Pusaka Megatantra itu.”

“Baik eyang.” Nurseta lalu mencari kayu untuk membuat warangka (sarung keris). Setelah mendapat kayu yang cukup baik dia kembali dan duduk di atas batu di depan gurunya, lalu mulai membentuk sebuah sarung keris. Sambil membuat sarung keris, Nurseta bertanya kepada gurunya.

“Eyang, mengapa dua orang penculik itu begitu ngotot untuk merebut keris megatantra ini?”

“Keris pusaka ini adalah sebuah keris yang ampuh dan bertuah, Seta! Engkau telah membuktikannya sendiri. Ketika engkau menggugah dua orang bocah yang terculik itu, karena engkau memegang keris ini, maka engkau membebaskan mereka dari pengaruh sihir. Mereka ingin memiliki keris pusaka ini yang akam membuat mereka menjadi semakin kuat dan sakti.

“Dan kalau boleh saya bertanya, eyang. Mengapa pula eyang mempertahankan keris ini mati-matian?”

Empu Dewamurti tersenyum lebar. "memang aku melawan mereka, akan tetapi bukan semata-mata untuk mempertahankan keris, melainkan terutama sekali agar mereka membebaskan dua bocah yang mereka culik itu."

"Eyang, apakah gunanya sebatang keris diperebutkan sampai mengadu nyawa? Saya masih ingat akan satu diantara nasehat ayah dahulu. Ketika saya membaca sebuah kitab Weda, ayah menerangkan bahwa setiap alat apapun juga tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Kata ayah, baik dan buruknya suatu alat tergantung sepenuhnya kepada cara kita yang mempegunakan alat itu. Contohnya arit ini, eyang. Kalau dipergunakan untuk bekerja, menyabit rumput, menebang pohon, termasuk membuat warangka keris ini, maka ini menjadi alat yang baik. Sebaliknya kalau dipakai untuk membacok, melukai atau membunuh orang, maka jelas arit ini menjadi alat yang tidak baik. Lalu untuk apa keris diperebutkan mati-matian?"

"Bagus kalau engkau masih ingat akan wejangan ayahmu itu, Nurseta. Ayahmu benar. Memang baik atau buruk itu tidak ada, baik atau buruk baru muncul setelah ada pandangan dan perbuatan. Agar mudah kau ingat, segala yang sifatnya membangun, menjaga keindahan, mendatangkan manfaat bagi orang-orang lain adalah baik dan segala sesuatu yang sifatnya merusak, menyebabkan keburukan, mendatangkan manfaat hanya kepada diri sendiri, adalah buruk dan jahat. Mengapa aku mencegah keris ini jatuh ke tangan mereka?, karena aku mengenal siapa mereka dan aku yakin bahwa kalau keris ini jatuh ke tangan mereka, maka keris ini akan menjadi alat yang jahat dan mendatangkan malapetaka kepada orang banyak."

"Siapakah sebenarnya orang sakti itu eyang?"

"Yang laki-laki adalah Resi Bajrasakti, dia itu seorang penasehat kerajaan Wengker. Karena kerajaan itu memusuhi Sang Prabu Erlangga, maka tentu kedatangannya di wilayah Kahuripan ini hanya akan melakukan perbuatan yang mendatangkan kekacauan. Mungkin dia melakukan penyelidikan di wilayah Kahuripan ini. Adapun yang perempuan itu bernama Nyi Dewi Durgakumala. Ia seorang tokoh kerajaan Wurawari yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Tentu kedatangannya juga tidak bermaksud baik, tiada bedanya dengan Rsi Bajrasakti. Mereka berdua itu sakti mandraguna, selain dahsyat ilmu silatnya, juga mereka itu ahli-ahli sihir dan segala macam ilmu hitam. Lihat saja Nyi Dewi Durgakumala itu. Usianya seingatku sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi ia masih nampak muda belia dan cantik. Ah orang-orang sesat itu hanya mementingkan keindahan dan kesenangan jasmani saja, sama sekali melupakan keadaan rohani."

"Akan tetapi apa perlunya mereka itu menculik linggajaya dan Puspadewi, eyang?"

Kakek itu menarik nafas panjang. "Hal itu ada hubungannya dengan syarat ilmu sesat mereka. Ilmu sesat itu selalu ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu apa saja. Akan tetapi dalam hal mereka berdua, yang menjadi syarat adalah pemuasan nafsu daya rendah birahi. Resi Bajrasakti suka menculik dan memperkosa perawan-perawan cantik demi memperkuat ilmu sesatnya, Nyi Dewi Durgakumala sebaliknya menculik para perjaka yang tampan."

"Aduh, kasihan sekali kalau begitu Lingggajaya dan Puspa dewi" seru Nurseta.

Empu Dewamurti menghela nafas panjang."Kita sudah berusaha menolong mereka, akan tetapi gagal. Segala upaya itu dapat berhasil atau gagal sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Yang penting, upaya kita itu berlandaskan kebenaran. Berhasil atau gagal berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Kita semua masing-masing terikat oleh karmanya sendiri-sendiri. Tidak ada yang perlu disesalkan!"

Setelah Nurseta selesai membuat warangka keris, Empu Dewamurti lalu memasukkan keris pusaka itu kedalam sarung keris yang sederhana itu lalu menyuruh Nurseta menyelipkan keris dan warangkanya itu di pinggangnya. Kemudian dia mengajak muridnya melanjutkan perjalanan.

"Kita akan tinggal di sebuah goa diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna." Kata kakek itu. Dan pergilah mereka ke gunung Arjuna yang terkenal wingit (angker/menakutkan) itu.

*******************

Kemanakah perginya Linggajaya dan Puspa Dewi? Mereka sudah dapat melarikan diri, kenapa tidak tiba di rumah masing-masing di dusun Karang Tirta dan ketika dicari oleh para penduduk dusun itu tidak dapat ditemukan?

Tidak salah apa yang dikatakan Empu Dewamutri kepada Nurseta tadi bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia sudah diatur dan ditentukan oleh kekuasaan Sang Hyang Widhi sesuai dengan karma masing-masing. Manusia memang wajib berusaha, wajib berdaya upaya sekuat tenaga, namun semua itu tidak akan mengubah apa yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi. Adapun baik buruknya karma itu tergantung sepenuhnya kepada keadaan hati dan perbuatan manusia itu sendiri. Sang Hyang Widhi Maha Adil, manusia bijak pasti menerima kebaikan dan manusia jahat pasti menerima keburukan. Siapa menanam benihnya, dia akan memetik buahnya.

Ketika Linggajaya dan Puspa Dewi melariak diri di malam bulan purnama itu, memang mereka bermaksud untuk pulang ke Karang Tirta. Akan tetapi, sebelum tiba di dusun yang sudah dekat itu, mereka mendengar teriakan lembut namun jelas terdengar oleh telinga mereka.

"Bocah bagus, kemana engkau hendak lari?" Jelas itu adalah suara Nyi Dewi durgakumala. Suara itu memang tidak nyaring karena wanita itu takut kalau-kalau terdengar oleh Empu Dewamurti, akan tetapi suara itu didorong oleh tenaga sakti dan melengking ke arah depan sehingga terdengar oleh Linggajaya dan Puspa Dewi.

"Cah Ayu manis, denok moblong-moblong, berhentilah!" terdengar pula suara Resi Bajrasakti.

Mendengar dua suara ini, tentu saja dua orang itu menjadi takut dan panik. Tadinya memang mereka lari berbareng, akan tetapi ketika mendengar suara itu, saking bingungnya mereka berpencar. Linggajaya berlari ke arah kanan meninggalkan Puspa Dewi dan bocah perempuan itu dengan ketakutan berlari ke kiri.

Sementara itu Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala yang kecewa sekali karena tidak berhasil merampas keris Megatantra dan dikalahkan oleh Empu dewamurti kini mencurahkan perhatian mereka kepada dua orang anak yang mereka culik dan kini entah bagaimana telah melarikan diri. Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi mereka mengejar dengan hati gentar pula kalau-kalau Empu Dewamurti juga mengejar mereka. Dalam kegugupan mereka itu, kini merekapun berpencar dan melakukan pengejaran. Dan terjadilah hal yang sama sekali diluar kehendak dan perhitungan dua orang datuk itu. Resi Bajrasakti lari mengejar ke kanan dan Nyi Dewi Durgakumala lari mengejar ke kiri. Dengan sendirinya Resi Bajrasakti dapat menyusul Linggajaya dan sebaliknya Nyi Dewi Durgakumala dapat menyusul Puspa Dewi.

Dalam keremangan malam karena bulan purnama sudah condong ke barat dan tertutup awan tipis, Resi Bajrasakti hanya melihat bayangan Linggajaya yang berlari di depannya. Dia mengira bahwa itu adalah Puspa Dewi. Setelah dia menyambar tubuh anak itu, dibuatnya tidak mampu bergerak dan bersuara lalu dipanggulnya, barulah dia menyadari bahwa telah salah tangkap. Akan tetapi sudah kepalang, dia tidak peduli dan mempercepat larinya meninggalkan tempat itu karena merasa takut terhadap Empu Dewamurti, apalagi setelah kini ia berpisah dengan Nyi Dewi Durgakumala.

Resi Bajrasakti berlari mempergunakan ilmu lari cepat, melarikan diri seperti terbang saja sambil memanggul tubuh Linggajaya. Pemuda remaja berusia lima belas tahun ini kembali merasa tidak berdaya, tidak mampu menggerakkan tubuh dan tidak mampu mengeluarkan suara. Akan tetapi diapun tahu bahwa kini yang melarikan bukanlah wanita cantik tadi, melainkan kakek tinggi besar yang menyeramkan. Diam-diam dia merasa menyesal. Bagaimanapun juga dia lebih senang kalau diculik wanita cantik itu. Baru baunya saja, ketika dia dipanggul wanita itu, harum semerbak. Tidak seperti kakek ini yang baunya apek!


BERSAMBUNG KE JILID 02