Social Items

Si Tangan Sakti Bagian 13

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SI TANGAN SAKTI BAGIAN 13

GADIS itu berdiri termenung di lereng itu. Dia memandang lurus ke depan, ke arah bukit menghitam yang disebut orang Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan). Memang nampak menyeramkan dari lereng itu, seolah-olah lembah itu memang sepantasnya dihuni oleh setan dan iblis.

Para penduduk dusun di sekitar kaki Bukit Setan itu menganggap Ban-kwi-kok sebagai lembah yang keramat sehingga tiada seorang pun berani mendaki ke sana. Akan tetapi, menurut keterangan para penghuni dusun, baru sebulan yang silam lembah itu diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.

Kabar itu mengatakan bahwa terjadi pertempuran besar, kemudian pasukan pemerintah turun dan membawa banyak tawanan, kemudian lembah itu nampak terbakar. Biar pun desas-desus mengatakan bahwa gerombolan yang bersembunyi di lembah itu sudah terbasmi habis, dan lembah itu telah kosong, perkampungan gerombolan pemberontak telah dibakar, namun masih saja tidak ada seorang pun yang berani naik ke sana.

Gadis itu masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya. Cantik manis dan nampak gagah dengan pakaiannya yang sederhana namun serasi dengan bentuk tubuhnya yang padat dan ramping, dan pakaian itu bersih.

Wajahnya yang manis, dengan sepasang matanya yang indah dan bersinar tajam, juga sederhana, tanpa dipoles bedak dan gincu. Akan tetapi, kulit mukanya memang sudah halus dan putih, dan kedua pipinya kemerahan karena sehat, demikian pula sepasang bibirnya merah tanpa gincu.

Biar pun dia muda dan cantik manis, namun di sepanjang perjalanan tidak pernah atau jarang sekali ada pria yang berani mengganggunya. Hal ini karena penampilannya yang pendiam dan gagah, dengan sebatang pedang di punggungnya sehingga mudah diduga bahwa ia bukan wanita sembarangan yang boleh diganggu begitu saja, tetapi seorang wanita kang-ouw, seorang pendekar wanita.

Dan memang dugaan itu benar. Gadis muda ini adalah Cu Kim Giok, puteri tunggal dari pendekar Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian.

Cu Kun Tek adalah pendekar yang merupakan keturunan para pendekar Cu, majikan Lembah Naga Siluman. Cu Kun Tek terkenal mewarisi ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman). Juga ilmu tangan kosongnya Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok) dan Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) hebat sekali.

Ada pun ibu gadis itu, yang bernama Pouw Li Sian, bahkan lebih lihai bila dibandingkan suaminya. Pouw Li Sian ini adalah murid mendiang Bu Beng Lokai yang sakti.

Ketika Cu Kim Giok diajak oleh ayah ibunya menghadiri ulang tahun dan pertemuan tiga keluarga besar di rumah Suma Ceng Liong, gadis ini merasa gembira bukan main. Dan bangkitlah keinginannya untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau seperti yang dilakukan para pendekar.

Ayah ibunya tidak merasa keberatan. Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar yang dahulu di waktu mudanya sudah biasa melakukan penjalanan merantau memperluas pengalaman. Pula, puteri mereka sudah mewarisi ilmu kepandaian mereka dan tingkat kepandaian gadis itu hanya sedikit selisihnya dengan tingkat mereka sehingga Kim Giok telah memiliki bekal yang cukup untuk melindungi dan menjaga diri sendiri.

Tentu saja Kim Giok juga sangat tertarik dengan peristiwa yang terjadi di rumah Suma Ceng Liong, yaitu munculnya seorang gadis cantik lihai yang mengaku sebagai seorang puteri tokoh Pao-beng-pai yang memusuhi tiga keluarga besar. Oleh karena itulah, pada siang hari itu, ia tiba di Kwi-san dan sekarang termangu berdiri di lereng itu setelah ia mendengar keterangan penduduk tentang penyerbuan pasukan pemerintah yang sudah membasmi gerombolan Pao-beng-pai di Lembah Selaksa Setan.

Ahh, pikirnya, sayang aku datang terlambat. Andai kata tidak terlambat, tentu akan bisa menyaksikan terbasminya gerombolan itu, dan kalau perlu ia akan membantu pasukan.

Bukan semata karena ia ingin membantu pemerintah. Ayah ibunya berpesan supaya ia tidak melibatkan diri dengan pemerintah Mancu. Akan tetapi, ia dapat mempergunakan kesempatan selagi gerombolan itu ditumpas, untuk bisa membalas sikap sombong dara gadis Pao-beng-pai itu terhadap tiga keluarga besar. Ia lalu menduga-duga, bagaimana dengan nasib gadis cantik itu? Apakah ikut terbunuh? Atau tertawan?

Tidak ada gunanya lagi mendaki ke lembah yang sudah hancur itu. Tentu tidak ada lagi orang di sana. Cu Kim Giok membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan lereng itu. Akan tetapi baru belasan langkah ia berjalan, tiba-tiba pendengarannya yang tajam terlatih mendengar gerakan orang.

Ia berhenti melangkah dan memandang ke sekeliling penuh kewaspadaan dan tiba-tiba bermunculan lima orang laki-laki yang nampak bengis. Mereka itu berloncatan dari balik semak belukar. Melihat bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang cantik manis, mereka cengar-cengir dan menyeringai dengan sikap kurang ajar, dengan mata yang liar dan bengis.

Kim Giok bersikap tenang, akan tetapi matanya yang indah tajam itu menyapu mereka. Lima orang itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Tubuh mereka rata-rata kekar dan kuat. Pakaian mereka butut dan kotor, tentu sudah lama tidak pernah berganti pakaian.

Melihat pakaian kotor itu seperti seragam abu-abu, teringatlah ia akan beberapa orang lelaki yang ikut datang mengawal gadis Pao-beng-pai yang berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong tempo hari. Agaknya mereka ini sisa anggota Pao-beng-pai, pikir gadis yang cukup cerdik ini. Dan memang dugaannya benar.

Lima orang itu adalah mereka yang berhasil lolos dari penyerbuan pasukan pemerintah. Karena takut muncul di tempat umum, lima orang ini bersembunyi saja di Kwi-san, tidak jauh dari bekas sarang Pao-beng-pai.

Mereka mengharapkan dapat bertemu dengan seorang di antara para pimpinan mereka karena mereka tahu bahwa ketua mereka tidak tewas, juga tidak ikut tertawan. Hanya nyonya ketua mereka yang tewas. Bahkan nona puteri ketua juga tidak ikut tertawan.

Ketika dari tempat persembunyian mereka nampak ada gadis yang datang ke tempat itu, mereka tadinya mengira bahwa gadis itu tentulah Siangkoan Eng sehingga mereka merasa girang sekali. Akan tetapi setelah mereka muncul, mereka melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan puteri ketua mereka, melainkan seorang gadis lain yang asing sama sekali, akan tetapi gadis itu cantik manis dan menarik.

Seorang di antara mereka, yang berhidung besar dan bermata lebar, agaknya menjadi pimpinan mereka, melangkah maju sambil tertawa bergelak. Perutnya yang besar itu nampak karena bajunya kehilangan kancing dan terbuka. Perut itu terguncang-guncang naik turun ketika dia tertawa.

"Ha-ha-ha-ha-ha, kawan-kawan, alangkah beruntungnya kita hari ini! Kita kedatangan seorang bidadari yang cantik jelita, yang agaknya menaruh iba kepada kita dan datang untuk menghibur kita. Ha-ha-ha-ha-ha!"

Teman-temannya ikut pula tertawa. Selama sebulan lebih mereka dicekam ketakutan, kekurangan dan kedukaan. Dan hari ini, tiba-tiba saja, tanpa disangka-sangka, mereka berhadapan dengan seorang gadis cantik! Tentu saja mereka bergembira.

Anak buah Pao-beng-pai terdiri dari bermacam-macam orang, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berjiwa sesat. Kalau membutuhkan, mereka tidak segan untuk melakukan perampokan dan berbagai kejahatan lainnya. Dan kini, melihat seorang gadis seorang diri di tempat sunyi itu, tentu saja timbul gairah mereka, seperti lima ekor harimau kelaparan melihat munculnya seekor domba seorang diri.

"He-he-heh-heh, Nona manis, siapakah engkau, siapa namamu dan mengapa engkau berada di sini seorang diri? Apakah engkau sengaja datang hendak menghibur kami berlima? Ha-ha-ha!" Si hidung besar kembali berkata dan kini mereka berlima, sambil tersenyum menyeringai, sudah mengambil posisi mengepung gadis itu agar tidak dapat melarikan diri.

Akan tetapi, sebetulnya lima orang itu harus tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang bukan gadis sembarangan saja. Hal ini sebetulnya dapat dilihat dari sikap Kim Giok. Biar pun sudah dikepung lima orang itu, ia bersikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengancam dirinya, tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti.

"Aneh... aneh sekali..." Kim Giok tidak menjawab pertanyaan, bahkan bergumam sambil menggelengkan kepalanya.

"Apanya yang aneh, Nona manis? Kami bukan orang-orang aneh, kami adalah laki-laki sejati dan engkau sebentar lagi akan membuktikannya sendiri, heh-heh!" kata si hidung besar sambil melangkah maju mendekat.

"Aneh, kenapa masih ada sisa anak buah Pao-beng-pai? Kenapa kalian tidak mampus atau tertawan?" kata Kim Giok, masih tenang saja.

Mendengar ucapan gadis itu, lima orang bekas anak buah Pao-beng-pai nampak sangat terkejut. Mereka saling pandang dan kini mengepung lebih ketat dengan sikap bengis dan mengancam.

"Nona, siapakah engkau sebenarnya dan mau apa engkau datang ke tempat ini?" Suara si hidung besar kini galak dan mengandung ancaman, tidak lagi menggoda seperti tadi.

"Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian. Juga aku tidak mempunyai sangkut paut dengan pembasmian Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah. Aku hanya heran mengapa kalian tidak ikut mampus atau tertawan. Nah, karena di antara kita tidak ada urusan, minggirlah dan biarkan aku lewat!" kata Kim Giok.

Dia memang tidak ingin mencari keributan dengan bekas anak buah Pao-beng-pai yang sudah hancur itu. Tapi kalau ia bertemu dengan gadis tokoh Pao-beng-pai yang pernah mengacau di rumah Suma Ceng Liong, tentu akan lain lagi sikapnya.

Akan tetapi, ketika ia mulai melangkah, lima orang itu cepat menghadangnya dan tetap mengepungnya. Bahkan kini sikap mereka kembali seperti tadi, dengan pandang mata yang tidak sopan.

"Hemmm, engkau tak boleh pergi sebelum menghibur kami, Nona manis!" Dan si hidung besar cepat menggerakkan kedua lengannya yang panjang, jari-jari tangan yang besar panjang itu hendak merangkul.

"Wuuut... plakkk! Aughhh...!"

Tubuh tinggi besar si hidung besar itu terjengkang. Ternyata ketika kedua tangannya sudah hampir menyentuh kedua pundak gadis itu untuk merangkul, gadis itu dengan gerakan cepat sekali menyelinap ke samping sehingga tubrukan itu luput dan sekali Kim Giok menggerakkan tangan kiri menampar, leher di bawah telinga si hidung besar kena ditampar dan orang itu pun terjengkang dan terbanting, melotot dan meraba lehernya dengan mata terbelalak dan mulut mengaduh-aduh.

Empat orang temannya menjadi kaget dan marah. Mereka berempat cepat menyerbu, seolah-olah hendak berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus gadis manis itu. Namun, sekali ini mereka membentur karang. Gerakan Kim Giok cepat bukan main, tangan dan kakinya menyambar-nyambar dan dalam segebrakan saja, empat orang itu pun sudah terpelanting dan roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya!

Kelima orang itu mengaduh-ngaduh dan menyumpah-nyumpah. Dasar golongan kasar yang tidak tahu diri dan yang selalu merasa diri mereka paling pandai, lima orang itu tidak melihat kenyataan bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan gadis manis yang mereka sangka domba itu. Mereka tidak menyadari bahwa yang disangka domba itu sesungguhnya seekor singa betina yang amat tangguh!

Mereka merasa penasaran. Sekarang nafsu birahi mereka terbang lenyap, terganti oleh nafsu amarah yang hanya bisa diredakan dengan darah! Mereka cepat mencabut golok mereka dan berloncatan berdiri.

Kim Giok sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan lima orang lawannya, maka dia pun tidak mau mencabut pedangnya, hanya berdiri tegak sambil tersenyum manis. Kelima orang itu sudah menggerakkan golok mereka. Bagaikan binatang-binatang yang haus darah, mereka sudah menyerang Kim Giok, serangan maut yang dimaksudkan untuk membunuh!

Akan tetapi, pandangan mata mereka menjadi kabur ketika gadis itu bergerak cepat dan lenyap bentuk tubuhnya, hanya nampak bayangannya berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor capung. Itulah Pat-hong Sin-kun yang membuat tubuh gadis itu seolah-olah bergerak dari delapan penjuru angin!

Dan ketika kelima orang itu membacok-bacok secara membabi-buta ke arah bayangan tubuh gadis itu tanpa hasil, Kim Giok kembali membagi tamparan dan tendangan. Kini ia menambah tenaganya hingga lima orang lawan yang terkena tamparan atau tendangan, roboh untuk tidak dapat bangkit dengan cepat, hanya mengaduh-aduh, ada yang patah tulang, ada yang nanar dan ada pula yang mendadak mulas perutnya!

Kim Giok berdiri sambil bertolak pinggang, memandang kelima orang lawan yang masih mengeluh kesakitan itu.

"Hemmm, pantas saja Pao-beng-pai terbasmi oleh pasukan pemerintah. Kiranya kalian ini hanya mengaku sebagai pejuang, akan tetapi sesungguhnya hanyalah segerombolan penjahat kecil yang tidak tahu malu. Perampok dan pengganggu wanita. Orang-orang macam kalian ini berani mengaku pejuang?"

"Nona, ucapanmu itu lancang sekali!" tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan dalam, juga amat berwibawa karena Kim Giok merasa betapa isi dadanya tergetar oleh suara itu.

Ia terkejut dan cepat menoleh ke kanan, ke arah datangnya suara dan semakin kagetlah ia ketika melihat bayangan mendaki lereng itu dari arah kanan. Kalau orang itu yang tadi mengeluarkan suara, alangkah kuatnya khikang dari orang itu. Jelas bahwa dia mampu mengirim suara dari jauh dengan demikian kuatnya, dan hal ini menunjukkan bahwa dia akan berhadapan dengan seorang yang amat lihai.

Gerakan orang itu pun cepat bukan main. Sebentar saja dia telah berada di situ, berdiri tegak berhadapan dengan Kim Giok. Gadis ini memang penuh perhatian.

Seorang pria jantan berusia lima puluh lima tahun yang sangat gagah. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat bagaikan batu karang. Mukanya persegi merah dan jenggotnya terpelihara rapi, di punggungnya nampak gagang pedang dengan ronce merah.

"Pangcu...!" lima orang itu segera memaksa diri untuk memberi hormat dengan berlutut kepada orang yang baru tiba ini.

Tahulah Kim Giok bahwa pria ini adalah ketua Pao-beng-pai! Tentu orang ini ayah dari gadis lihai yang dulu pernah mengacau pesta pertemuan keluarga di rumah Suma Ceng Liong! Biar pun maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang amat lihai, namun puteri dari sepasang pendekar Lembah Naga Siluman ini sedikit pun tak merasa gentar. Hanya ia bersikap waspada.

Pria itu menengok ke arah lima orang anggota Pao-beng-pai itu dan mendengus marah, lalu dia menghadapi Kim Giok lagi. Pandang matanya yang sangat tajam mencorong itu mengamati Kim Giok penuh selidik, dari kepala sampai ke kakinya.

Seperti sudah diceriterakan di bagian depan, pada waktu Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah, Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini, telah dikepung oleh belasan orang jagoan istana yang datang bersama muridnya, Tio Sui Lan, murid utama yang kemudian dia paksa menjadi isterinya setelah dia bercekcok dengan isterinya, Lauw Cu Si.

Dia berhasil membunuh Sui Lan dan melukai Cu Si, akan tetapi ketika dia menghadapi pengeroyokan belasan orang jagoan istana yang membuatnya amat terdesak, kemudian mendengar keributan di luar dengan adanya penyerbuan pasukan pemerintah, dia cepat meninggalkan para pengeroyoknya. Setelah tiba di luar, dia melihat betapa tempat itu diserbu oleh pasukan yang besar sekali jumlahnya. Tahulah ia bahwa semua usahanya telah gagal, gerakannya hancur.

Karena maklum bahwa melawan pasukan itu pun tidak akan ada gunanya dan akhirnya bahkan hanya akan membahayakan diri sendiri, dia pun meninggalkan Ban-kwi-kok! Dia melarikan diri bukan karena takut, melainkan karena maklum betapa akan sia-sianya melakukan perlawanan terus.

Sebagai seorang yang amat cerdik dan licik, dia tidak mau berlaku nekat yang akhirnya mengorbankan dirinya sendiri. Tidak, demi cita-citanya, biar pun sekali ini kelompoknya dihancurkan, apa bila dia masih hidup, dia dapat membentuk dan membangun kembali Pao-beng-pai, berjuang terus sampai dapat menjatuhkan kerajaan Ceng, serta mengusir orang-orang Mancu dari tanah air!

Karena dia ingin mengetahui keadaan bekas markas Pao-beng-pai yang telah dibasmi dan dibakar, maka siang hari itu dia mendaki Kwi-san dan kebetulan dia melihat dan mendengar apa yang terjadi di lereng itu biar pun dia masih jauh.

"Nona, siapakah engkau yang begitu lancang memaki dan menghina Pao-beng-pai?" bentaknya dengan alis berkerut dan wajah bengis.

Kim Giok adalah seorang gadis yang sejak kecil telah dilatih ayah ibunya sendiri. Bukan hanya ilmu silat tinggi, akan tetapi juga kebudayaan sehingga dia tahu sopan santun. Menghadapi seorang yang kedudukannya tinggi seperti ketua Pao-beng-pai, ia memang ada menaruh hormat. Akan tetapi mengingat betapa puteri orang ini pernah menghina dan mengacau dalam pertemuan tiga keluarga besar, ia merasa tidak senang dan ia pun tidak memberi hormat.

"Kalau aku tidak salah duga, tentulah engkau ini ketua Pao-beng-pai yang telah dibasmi pasukan pemerintah!" katanya, dan dia pun menentang pandang mata pria itu dengan penuh keberanian.

"Benar, akulah Siangkoan Kok. Sekarang katakan, siapa engkau dan kenapa engkau menghina Pao-beng-pai!"

"Maaf, Pangcu. Aku sama sekali tak berniat menghina Pao-beng-pai. Bahkan aku akan menghormati Pao-beng-pai jika memang perkumpulan itu sungguh-sungguh merupakan perkumpulan para orang gagah yang berjuang menentang penjajah Mancu. Akan tetapi, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja. Aku mendengar tentang penyerbuan pasukan pemerintah terhadap Pao-beng-pai dan aku ingin melihat keadaan di sini. Aku, Cu Kim Giok, ingin meluaskan pengalaman dan kesempatan ini tidak kulewatkan begitu saja. Akan tetapi, apa yang kudapatkan? Lima orang itu muncul dan mengaku sebagai anggota Pao-beng-pai. Mereka bersikap sebagai penjahat-penjahat kecil yang hendak merampok dan mengganggu wanita. Kalau memang para anggota Pao-beng-pai seperti itu, lalu apa yang harus kukatakan terhadap Pao-beng-pai?"

Siangkoan Kok melirik ke arah anak buahnya yang kini telah bangkit berdiri bergerombol sambil memandang penuh harapan, ingin melihat ketua mereka menundukkan gadis yang sudah menghajar mereka itu. Lalu dia berkata, "Tidak sembarang orang boleh menilai kami. Nona, aku ingin melihat lebih dulu sampai di mana kepandaianmu, baru aku akan mengambil keputusan, apa yang harus kulakukan terhadap dirimu."

"Pangcu, kalau engkau membela mereka itu, aku berani mengatakan bahwa memang Pao-beng-pai dipimpin oleh orang yang tidak baik!" kata Kim Giok berani.

"Kita bicara lagi setelah kita mengadu kepandaian. Nah, sambutlah seranganku ini!"

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala gadis itu. Angin yang dahsyat menyambar, disusul angin yang menyambar dari samping karena tangannya yang kedua sudah mengikuti serangan pertama itu dengan mencengkeram ke arah perut.

Kim Giok memang kurang pengalaman bertanding, namun dia sudah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil, maka ia segera mengenal serangan yang berbahaya. Cepat dia pun mengerahkan ginkang-nya dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang untuk mengelak sehingga serangan kedua tangan Siangkoan Kok yang beruntun itu luput.

Diam-diam Siangkoan Kok maklum bahwa gadis ini meski pun masih muda, memang cukup berisi, agaknya tak kalah jika dibandingkan dengan mendiang Tio Sui Lan, murid pertamanya. Ia kembali mendesak dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin berpusing.

Kembali Kim Giok menggunakan ginkang dan mengelak dengan gerakan cepat sekali, membuat tubuhnya hanya merupakan bayangan yang berkelebatan mengelak di antara hujan serangan lawan. Oleh karena maklum bahwa lawannya benar-benar tangguh, Kim Giok cepat mencabut pedangnya. Nampaklah sinar berkilat dan terdengar bunyi desing yang aneh, seperti gerengan binatang buas, bagaikan auman harimau. Itulah Koai-liong Pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman), pedang milik ayahnya yang diberikan padanya agar gadis itu dapat melindungi diri dengan baik.

Melihat sinar pedang dan dengungnya yang menyeramkan itu, diam-diam Siangkoan Kok terkejut dan kagum bukan main.

"Ahhh, po-kiam (pedang pusaka) yang hebat!" teriaknya.

Begitu Kim Giok memainkan pedangnya, dia pun semakin kaget dan cepat mencabut pedangnya sendiri. Dia kaget karena dia maklum bahwa walau pun dia memiliki tingkat kepandaian tinggi, namun terlalu berbahaya baginya kalau menghadapi pedang seperti itu dengan tangan kosong saja. Apa lagi gerakan ilmu pedang gadis itu pun hebat dan dahsyat, bagaikan seekor naga yang mengamuk.

Segera terjadi pertandingan pedang yang amat seru.

Setelah lewat belasan jurus, mendadak Siangkoan Kok meloncat jauh ke belakang dan berseru, "Tahan dulu!"

Kim Giok berdiri tegak, pedang juga tegak lurus di depan dadanya.

"Nona, bukankah itu Koai-liong Kiamsut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang barusan kau mainkan? Dan tentu pedang itu Koai-liong Pokiam! Apa hubunganmu dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman?"

Kim Giok tersenyum. "Namaku Cu Kim Giok, tentu engkau bisa menduganya, Pangcu."

"Ahh, benar! Engkau tentu keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman! Sudah lama aku mendengar tentang keluarga Cu yang gagah perkasa. Ah, sungguh beruntung hari ini dapat menguji kepandaian seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman. Nah, kini sambutlah seranganku ini dan keluarkan seluruh ilmu pedang Naga Siluman itu, Nona!"

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menerjang ke depan dengan dahsyat karena dia tahu betapa lihainya pedang dan ilmu pedang gadis muda itu. Dia memang sejak dahulu ingin sekali menguasai semua ilmu silat tinggi di seluruh dunia, maka dia sejak dahulu memancing para tokoh persilatan untuk mengadu ilmu dan dengan cara itu, dia dapat mempelajari ilmu mereka.

Kini, berhadapan dengan seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja dia tidak mau melewatkan kesempatan baik itu untuk memaksa Kim Giok memainkan ilmu pedang itu. Justru kelihaian Siangkoan Kok terletak kepada kekuatan ingatannya sehingga sekali melihat, dia sudah hampir dapat mengingat dan menguasai gerakan itu. Karena pengetahuannya yang luas tentang ilmu-ilmu dari para tokoh besar, maka dia pun tentu saja menjadi lihai bukan main.

Karena didesak lawan yang lihai, tentu saja terpaksa Kim Giok memainkan Kaoi-liong Kiam-sut sepenuhnya, bahkan ia mengerahkan seluruh tenaganya. Hebat memang ilmu pedang gadis ini. Pedangnya langsung berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung, seolah-olah ada naga yang melayang-layang dan mengamuk.

Melihat hal ini, lima orang anak buah Pao-beng-pai itu diam-diam memaki diri mereka sendiri. Mereka seperti buta, tak melihat bahwa gadis itu adalah seorang yang demikian lihainya. Bergidik mereka membayangkan betapa tadi mereka berani hendak kurang ajar kepada gadis itu. Apa bila tadi gadis itu mencabut pedangnya, mungkin sekarang mereka telah menjadi setan-setan tanpa kepala!

Betapa pun hebatnya ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut, namun ketangguhan seseorang bukan hanya bergantung sepenuhnya pada ilmu silatnya, melainkan lebih banyak pada keadaan orang itu sendiri. Jika dibandingkan Siangkoan Kok, tentu saja Kim Giok kalah segala-galanya, walau pun mungkin ilmu pedangnya tidak kalah bila dibandingkan ilmu pedang lawan. Ia kalah tenaga, kalah pengalaman bertanding, juga jauh kalah matang dalam gerakan ilmu pedang.

Setelah lewat seratus jurus, karena ditekan terus sehingga ia harus berulang-ulang kali memainkan ilmu pedangnya, dia sudah mandi keringat dan napasnya mulai tersengal. Tahulah gadis ini bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan roboh oleh pedang lawan.

Namun, ia sudah dilatih ayah ibunya untuk tidak mengenal takut dan pantang menyerah kepada orang yang jahat. Lebih baik mati dengan pedang di tangan dari pada menyerah kepada pada seorang yang jahat dan yang tentu akan membuat ia lebih menderita dari pada kalau ia roboh dan tewas. Baru lima orang anak buahnya saja sudah seperti itu, apa lagi ketuanya! Maka, ia pun terus menggerakkan pedangnya dengan nekat, walau pun tenaganya sudah banyak berkurang.

Makin lama, semakin repotlah Kim Giok, hanya mampu mengelak dan menangkis saja, itu pun setiap kali menangkis, pedangnya terpental dan lengannya tergetar hebat. Pada saat itu terdengar suara tertawa yang aneh, tawa mengejek yang mengandung getaran yang membuat dua orang yang sedang bertanding itu terpaksa menghentikan gerakan mereka karena mereka merasa betapa jantung mereka terguncang.

Menggunakan kesempatan terlepas dari desakan karena lawan menghentikan gerakan pedangnya, Kim Giok segera melompat ke belakang dan menengok ke arah orang yang tertawa itu. Juga Siangkoan Kok menoleh.

Yang tertawa itu adalah seorang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun, gagah dan tampan sekali. Alisnya hitam tebal dan panjang, matanya mencorong. Hidungnya mancung dan mulutnya yang tersenyum itu manis. Dagunya juga kokoh dan mukanya bersih. Tubuhnya tegap berisi otot yang membuat dia nampak gagah. Pakaian yang dikenakan pemuda itu tidak mewah, namun rapi dan bersih.

Pemuda itu sudah menghentikan tawanya dan kebetulan dia memandang kepada Kim Giok. Dua pasang mata bertemu pandang, melekat, kemudian wajah Kim Giok berubah kemerahan dan ia pun menundukkan mukanya. Hatinya berdebar aneh dan harus diakui bahwa ia merasa amat tertarik kepada pemuda yang tampan dan gagah itu.

Akan tetapi, sebaliknya Siangkoan Kok mengerutkan alisnya, matanya melotot marah. Tentu saja dia memandang rendah kepada pemuda yang tidak dikenalnya itu, yang berarti tidak terkenal pula.

"Heh siapa engkau berani mentertawakan aku dan mencampuri urusanku?"

Pemuda tampan itu bukan lain adalah Ouw Seng Bu yang belum lama ini telah berhasil menguasai Thian-li-pang dan menjadi ketuanya. Dia mendengar mengenai kehancuran Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah. Dia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Pao-beng-pai sekarang karena dia ingin memperkuat Thian-li-pang dengan bersekutu dan bekerja sama dengan para perkumpulan lainnya yang besar seperti Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai, dan Pao-beng-pai.

Biar pun dia sendiri belum pernah melihat Siangkoan Kok, namun dia sudah menyelidiki dan mendengar bagaimana keadaan ketua Pao-beng-pai itu. Maka, ketika melihat pria setengah tua yang gagah perkasa itu bertanding melawan seorang gadis yang juga lihai, akan tetapi gadis itu terdesak, Ouw Seng sengaja mengeluarkan suara tawa yang dilakukan dengan pengerahan khikang sehingga kedua orang yang sedang bertanding itu terkejut dan menghentikan pertandingan mereka.

Mendengar teguran dari Siangkoan Kok, Seng Bu yang datang untuk mencari kawan, tersenyum. "Bukankah kini aku tengah berhadapan dengan Siangkoan Kok, pangcu dari Pao-beng-pai?" tanyanya, kini sikapnya sopan dan ramah.

Siangkoan Kok mengamati pemuda itu. Dia seorang yang berpengalaman. Dari suara tawa pemuda itu tadi saja, dia pun dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang lemah. Akan tetapi karena dia tidak mengenalnya, maka dia memandang rendah.

"Engkau sudah tahu namaku, mengapa masih berani lancang mencampuri urusanku?!" bentaknya. "Siapa engkau?!"

"Namaku Ouw Seng Bu dan seperti juga engkau, aku seorang pengcu (ketua) pula. Aku adalah pangcu dari Thian-li-pang."

"Bohong!" Siangkoan Kok membentak marah.

Sementara itu, kelima orang bekas anak buahnya kini sudah memegang golok mereka masing-masing dan siap untuk membantu ketua mereka kalau diperintahkan. Ada pun Kim Giok, walau pun tidak mengenal siapa pemuda itu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah condong untuk berpihak kepadanya sehingga kalau sampai pemuda itu terancam bahaya, tanpa diminta pun ia pasti akan membantunya.

"Ha-ha-ha, orang muda. Jangan engkau mencoba untuk membohongi aku. Kau kira aku tidak tahu siapa ketua Thian-li-pang? Ketuanya adalah Lauw Kang Hui, dan pemimpin besarnya adalah Sin-ciang Taihiap Yo Han. Bukankah begitu? Dan engkau ini, orang bernama Ouw Seng Bu tidak pernah dikenal sebagai ketua Thian-li-pang!"

Seng Bu tersenyum dan menggeleng kepala. "Itu menandakan bahwa Pao-beng-pai yang telah hancur tak lagi pandai meneliti keadaan di dunia kang-ouw. Engkau agaknya tidak tahu, Pangcu, bahwa Lauw Pangcu dari Thian-li-pang telah tewas dan akulah yang menjadi penggantinya. Ada pun Yo Han, ahh, dia bukan orang Thian-li-pang dan dia tak mempunyai urusan apa pun dengan Thian-li-pang."

Siangkoan Kok masih sangsi, akan tetapi karena dia memang tidak tahu perkembangan di dunia kang-ouw, maka dia tidak membantah lagi.

"Walau engkau benar ketua Thian-li-pang, itu pun tidak memberi hak kepadamu untuk mencampuri urusanku! Nah, mau apa engkau datang ke sini?"

"Pangcu, aku mendengar bahwa Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah. Begitulah jadinya kalau kita tidak mau bekerja sama antara perkumpulan pejuang. Aku datang hendak mengulurkan tangan kepadamu, mengajakmu bekerja sama. Thian-li-pang sejak dahulu terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih. Beberapa kali kami sudah menyusup ke istana dan biar pun belum berhasil, namun nama kami cukup ditakuti. Akan tetapi setelah tiba di sini, markas Pao-beng-pai sudah hancur, dan aku melihat Pangcu bahkan sedang bertanding melawan seorang gadis muda. Siapakah Nona ini dan mengapa pula bertanding melawan Pangcu?"

"Huh, dia berani berkeliaran di sini dan memukul anak buahku!" kata Siangkoan Kok dengan singkat karena dia tidak menghendaki orang luar mencampuri urusannya.

Akan tetapi Seng Bu yang amat tertarik kepada gadis cantik manis yang juga lihai ilmu pedangnya itu, kini sudah menghadapi Kim Giok lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Nona telah mengenal namaku. Aku Ouw Seng Bu, ketua Thian-li-pang dan kalau boleh aku bertanya, siapakah Nona dan mengapa engkau bertanding melawan Pangcu dari Pao-beng-pai yang amat lihai?"

Kim Giok cepat membalas penghormatan itu dengan senyum ramah, lalu ia menjawab, "Namaku Cu Kim Giok dan aku sedang merantau untuk meluaskan pengalaman. Ketika tiba di sini aku mendengar bahwa Pao-beng-pai dibasmi pasukan pemerintah, maka aku sengaja hendak melihat bekas-bekasnya di sini. Tiba-tiba muncul lima orang itu yang hendak merampok dan bersikap kurang ajar kepadaku. Aku menghajar mereka. Lalu muncul Pangcu dari Pao-beng-pai ini yang memaksaku untuk bertanding."

Mendengar ini, Seng Bu kembali menghadapi Siangkoan Kok, "Aih, Pangcu semestinya malu terhadap Cu-siocia (nona Cu) ini. Anak buahmu yang bersalah, dan sepantasnya engkau yang minta maaf kepadanya dan menghukum anak-anak buahmu, bukan malah menantang Cu-siocia untuk bertanding." katanya mencela.

Wajah ketua Pao-beng-pai menjadi merah sekali dan matanya mencorong tajam. "Ouw Seng Bu, engkau ini siapa berani berkata seperti itu kepadaku? Kalau engkau memang mengulurkan tangan ingin bekerja sama dengan aku, setidaknya aku tentu harus tahu orang macam apa engkau ini dan apakah engkau pantas duduk sejajar dengan aku!"

"Hemmm, sudah kudengar bahwa Siangkoan Kok adalah orang yang berwatak angkuh dan selalu memandang rendah orang lain. Baiklah, akan tetapi bagaimana kalau aku mampu menandingi ilmu silatmu?"

"Ouw Seng Bu, jika memang engkau dapat mengalahkan aku, barulah aku mau menjadi sekutumu, bahkan aku akan membantu Thian-li-pang. Akan tetapi, kalau engkau tidak mampu menandingi aku, engkau harus cepat berlutut minta ampun kepadaku dan tidak mencampuri urusanku lagi. Kalau engkau bukan ketua Thian-li-pang, tentu engkau akan kubunuh."

"Bagus! Nah, aku sudah siap, Siangkoan Pangcu. Tetapi karena aku ingin bersahabat denganmu, bukan bermusuhan, maka sebaiknya kita bertanding dengan tangan kosong saja."

"Baik, sambutlah seranganku ini, orang she Ouw!"

Setelah berkata begitu, Siangkoan Kok yang sudah menyimpan pedangnya, menerjang dengan pukulannya yang mengandung tenaga sinkang yang dahsyat. Karena dia ingin cepat-cepat mengalahkan lawannya, maka dia mengerahkan tenaganya yang disebut Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi) dan begitu kedua tangan kakinya bergerak menggunakan ilmu ini, terdengar suara berkerotokan pada buku-buku tulangnya!

Walau pun masih menderita nyeri, lima orang anak buah Pao-beng-pai kini memandang dengan wajah gembira. Mereka merasa yakin sekali bahwa ketua mereka yang sakti akan dapat mengalahkan pemuda itu pula.

Akan tetapi, Kim Giok memandang dengan sinar mata penuh khawatir. Pemuda itu jelas muncul dan membantunya, bahkan dia berani menegur bekas ketua Pao-beng-pai untuk membelanya. Dan ia tahu betapa lihainya Siangkoan Kok, apa lagi kini mengeluarkan ilmu yang demikian mengerikan.

Dia tidak dapat maju membantu, karena satu di antara pesan yang ditekankan ayah dan bundanya adalah supaya dia menjadi seorang yang gagah dan pantang untuk bertindak curang. Dan maju melakukan pengeroyokan merupakan suatu perbuatan yang curang dan ia tak mau melakukannya. Maka ia hanya menjadi penonton yang risau, dan hanya siap untuk melindungi kalau pemuda she Ouw itu terancam maut.

Menghadapi serangan yang sangat dahsyat dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu juga maklum bahwa kalau dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Lauw Kang Hui saja, dia tak akan menang. Bahkan mendiang gurunya itu, Lauw Kang Hui, masih kalah setingkat dibandingkan bekas ketua Pao-beng-pai ini.

Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar. Dia sudah cepat mengeluarkan ilmu rahasianya, yaitu Bu-kek Hoat-keng! Begitu kedua tangannya bergerak, terdengar bunyi aneh bersiutan dan angin pukulan dari dua tangannya mendatangkan angin berpusing. Dengan mudah saja dia menangkis lima kali pukulan lawan yang datang beruntun susul menyusul, kemudian dia pun membalas dengan cepat dan tak kalah dahsyatnya!

Siangkoan Kok terkejut bukan main. Sedikit banyak, dia sudah mengenal ilmu andalan dari Lauw Kang Hui. Walau pun dia belum dapat menirukan, namun dia sudah banyak mendengar dua ilmu andalan Thian-li-pang, yaitu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang.

Dia sudah mengenali kedua ilmu ini. Dan karena mengenal, setidaknya dia akan lebih mudah menghadapi dan melawannya. Akan tetapi, gerakan pemuda ini sama sekali tak dikenalnya! Dia hanya merasa ada angin berpusing datang menyambar dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menyambutnya.

"Plak! Desss...!!"

Siangkoan Kok berjungkir balik ke belakang, dan setelah membuat salto tiga kali baru dia terbebas dari dorongan tenaga yang tentu akan membuatnya terjengkang kalau saja dia tidak membuat salto tadi.

Seng Bu sendiri terkejut dan kagum melihat ginkang yang diperlihatkan lawan. Akan tetapi dia menyerang terus dan sekali ini, Siangkoan Kok yang maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang mukjijat, tidak mau mengadu tenaga secara langsung, melainkan menggunakan kecepatan gerakan untuk menghindar kemudian membalas serangan itu dengan sepenuh tenaga.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat! Beberapa kali bila kedua tangan mereka saling bertemu, keduanya terdorong mundur. Tanpa diketahui orang lain, terjadilah perubahan pada diri Seng Bu, seperti biasa kalau dia memainkan ilmunya itu. Sepasang matanya berubah liar, senyumnya menjadi dingin mengerikan dan beberapa kali ia mengeluarkan suara tawa yang aneh.

"Siangkoan Kok, engkau takkan menang melawanku!" beberapa kali dia mengeluarkan ucapan ini yang didahului dan diakhiri suara tawa ha-ha-hi-hi-hi seperti orang gila.

Hal ini membuat Siangkoan Kok merasa amat penasaran dan semakin marah. Dia telah mengerahkan semua jurus yang menjadi andalannya, tapi dia tidak mampu menembus benteng pertahanan lawan, meski pun lawannya juga belum mampu merobohkan atau mendesaknya. Mereka memiliki tingkat yang seimbang!

"Ouw Seng Bu, marilah kita bertanding dengan senjata!" bentaknya sambil meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya.

Seng Bu hanya terkekeh dan melihat pemuda itu agaknya tidak membawa senjata, Kim Giok cepat menghampiri dan menyodorkan pedangnya.

"Kau pergunakanlah pedangku ini!"

Ouw Seng Bu memandang gadis itu dengan matanya yang mencorong liar hingga Kim Giok terkejut. Akan tetapi pemuda itu menerima juga Koai-liong-kiam, lalu menghadap Siangkoan Kok sambil tertawa.

"He-he-heh, Siangkoan Kok. Apakah perlu diteruskan? Kalau aku membiarkan saja pun engkau akan mampus. Lihat baik-baik kedua telapak tanganmu."

Mendengar ini, Siangkoan Kok cepat-cepat memeriksa kedua tangannya dan wajahnya berubah pucat. Kedua telapak tangannya berwarna menghitam dan terasa panas bukan main!

"Kau...! Aku... keracunan...!" katanya.

"Ha-ha-ha, dalam waktu beberapa jam saja, kalau tidak kusedot kembali hawa beracun itu, engkau akan mati. Perlukah dilanjutkan? Atau engkau mengaku kalah?"

Siangkoan Kok menarik napas panjang dan kembali menyarungkan pedangnya. Dia harus mengaku kalah, kalau ingin hidup!

"Baiklah, Ouw-pangcu. Aku mengaku kalah. Akan tetapi sebelum kita bicara, punahkan dulu racun dari kedua tanganku."

"Baik, duduklah bersila, Siangkoan Pangcu, dan acungkan kedua telapak tanganmu ke atas, menghadap ke belakang," kata Seng Bu.

Siangkoan Kok duduk bersila, mengangkat kedua tangan ke atas dan menghadapkan kedua telapak tangan yang menghitam itu ke belakang! Seng Bu yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng secara keliru, memang telah mendapatkan suatu ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun.

Jika Siangkoan Kok tidak memiliki sinkang yang amat kuat, tentu ia telah tewas dengan tubuh hangus. Untung bahwa ketua Pao-beng-pai itu mempunyai sinkang kuat sehingga hawa beracun itu hanya berhenti sampai di pergelangan tangannya saja, dihambat oleh sinkang-nya.

Sekarang Seng Bu menjulurkan kedua tangannya dan ditempelkan pada kedua tangan Siangkoan Kok. Sampai beberapa menit lamanya dia terus mengerahkan sinkang-nya sehingga tubuh kedua orang itu menggigil. Perlahan-lahan, warna menghitam di kedua tangan Siangkoan Kok menjadi hilang, tersedot ke dalam kedua tangan Seng Bu!

Setelah Seng Bu melepaskan kedua tangannya dan meloncat ke belakang, Siangkoan Kok memeriksa kedua tangannya dan ternyata kedua telapak tangannya sudah bersih. Dia lalu memandang kepada Seng Bu dengan kagum.

"Ouw-pangcu, sekarang aku percaya. Engkau masih muda akan tetapi lihai bukan main, dan aku akan suka menjadi sekutumu. Karena Pao-beng-pai sudah terbasmi pasukan pemerintah penjajah, maka biarlah aku membantumu untuk memperkuat Thian-li-pang dan kita bersama akan menjatuhkan pemerintah kerajaan Mancu!"

"Nanti dulu, Siangkoan Pangcu. Urusan di sini harus dibereskan dulu. Sebaiknya kalau engkau minta maaf kepada Nona Cu, dan memberi hukuman kepada lima orang bekas anak buahmu."

Siangkoan Kok menghela napas panjang. Dia maklum bahwa pemuda yang mengaku ketua Thian-li-pang itu lihai bukan main, mempunyai ilmu pukulan yang amat aneh dan berbahaya. Dia akan melihat dulu keadaan di Thian-li-pang. Kalau memang pantas dia bantu, apa salahnya? Baginya, yang penting adalah menggulingkan pemerintah Mancu! Dan memang tidak menguntungkan kalau dia bermusuhan dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman.

"Nona Cu, maafkan sikapku tadi." Dia menjura kepada gadis itu. Tentu saja Kim Giok segera membalas penghormatan ketua Pao-beng-pai itu.

"Tidak mengapa, Pangcu, hanya kesalah pahaman saja," katanya.

Sekarang Siangkoan Kok menoleh ke arah lima orang anak buahnya yang menyeringai. Ketika dia melangkah maju menghampiri mereka, lima orang itu memandang dengan wajah pucat dan mata ketakutan. Melihat sikap ketua mereka yang sudah amat mereka kenal, mereka ketakutan dan maklum bahwa ketua mereka itu marah kepada mereka. Dengan kaki menggigil, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi, Siangkoan Kok menggerakkan tangan kirinya lima kali dan lima orang itu pun terjengkang dan tewas seketika! Melihat ini, terkejutlah Kim Giok. Lima orang itu memang jahat dan patut dihajar, akan tetapi hukuman mati itu ia anggap terlalu keras. Akan tetapi karena yang membunuh adalah ketua mereka sendiri, ia pun tidak dapat mencampuri.

Sementara itu, Seng Bu merasa sangat senang dan puas melihat cara Siangkoan Kok membuktikan kesungguhan niat kerja sama dengan dia. Dia kini menghadapi Kim Giok dan berkata, sikapnya pun sudah pulih, ramah dan sopan.

"Nona Cu, secara kebetulan kita saling bertemu dan berkenalan di sini. Mendengar tadi Nona berkata bahwa Nona sedang merantau untuk meluaskan pengalaman, sudikah Nona menerima undanganku untuk berkunjung ke Thian-li-pang bersama Siangkoan Pangcu ini? Pasti Nona akan mendapat pengalaman dan pengetahuan lebih luas."

Karena memang merasa tertarik dan kagum sekali melihat pemuda yang ternyata mampu menundukkan Siangkoan Kok, lagi pula ia pun tahu bahwa tanpa bantuan Ouw Seng Bu, mungkin ia sudah menderita celaka di tangan ketua Pao-beng-pai dan anak buahnya, maka Kim Giok mengangguk dan mengucapkan terima kasihnya.

Tetapi, Siangkoan Kok agaknya merasa tidak enak kalau harus melakukan perjalanan bersama mereka.

"Ouw-pangcu, aku bukan seorang yang suka mengingkari janji. Aku pasti akan datang berkunjung ke Thian-li-pang, karena bukan hanya engkau yang membutuhkan bantuan dariku, tetapi juga aku sendiri amat membutuhkan kerja sama dengan orang sepertimu. Memang engkau benar, tanpa adanya kerja sama antara kekuatan-kekuatan yang ada, perjuangan kita menentang penjajah tidak akan berhasil. Nah, silakan engkau dan Nona Cu pergi dulu, Ouw-pangcu, aku akan segera menyusul berkunjung ke sana."

Ketua Thian-li-pang itu setuju dan demikianlah, dia mengajak Cu Kim Giok untuk pergi lebih dahulu.

Setelah mereka pergi, Siangkoan Kok menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung memandang ke arah mayat lima orang anak buahnya yang terbaring malang melintang. Dia mengerutkan alisnya. Terpaksa dia membunuh mereka, untuk memuaskan hati Ouw Seng Bu.

Kini hatinya panas bukan main. Ketua Thian-li-pang itu memaksanya membunuh anak buahnya sendiri. Dia, Siangkoan Kok, adalah keturunan kaisar kerajaan Beng, berdarah bangsawan tinggi. Bagaimana mungkin dia begitu direndahkan untuk menjadi pembantu saja dari seorang pemuda ingusan macam Ouw Seng Bu, betapa pun lihainya pemuda itu karena menguasai ilmu pukulan beracun yang hebat?

Tidak, dia harus menjadi kepala, dia harus menjadi pemimpin, dia harus menjadi yang nomor satu. Dia akan mencari akal untuk mengalahkan dan menjatuhkan Ouw Seng Bu. Dia mengepal tinju, kemudian dia melempar-lemparkan lima buah mayat itu ke dalam jurang yang dalam agar tidak kelihatan terlantar di tempat itu...


JILID SELANJUTNYA SI TANGAN SAKTI BAGIAN 14