Si Tangan Sakti Bagian 06

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SI TANGAN SAKTI BAGIAN 06

Kui Thiancu sendiri mengerutkan alisnya dan memandang rendah. Dia sudah pandai bermain pedang sebelum gadis yang usianya baru dua puluh tahun lebih ini lahir! Dia telah menguasai ilmu pedang selama puluhan tahun, sedangkan gadis ini paling banyak hanya belajar silat selama belasan tahun saja. Apa lagi dalam hal pengalaman bertanding. Sudah ratusan kali dia bertanding melawan orang-orang yang lihai, sedangkan gadis ini? Mungkin belum pernah bertemu tanding yang sungguh-sungguh.

Kui Thiancu tersenyum pahit karena merasa sangat direndahkan dengan kemunculan seorang bocah untuk menandinginya. Diam-diam dia mengerahkan ilmu sihirnya. Setiap orang tosu Pek-lian-kauw yang sudah tinggi kedudukannya tentu pandai menggunakan ilmu sihir.

Ia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya terhadap gadis di depannya. Sepasang matanya bagai menembus mata gadis itu, sedang mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Kemudian terdengar suaranya yang menggetar mengandung penuh wibawa.

"Nona yang begini muda bagaimana hendak bermain-main dengan pedang yang tajam? Bila tergores sedikit saja, kulitmu yang halus akan berdarah dan engkau akan menangis karena ngeri. Nah, sekarang pun engkau sudah ingin menangis. Menangislah, Nona, menangislah karena engkau memang pantas dikasihani! Menangislah...!"

Kui Thiancu merasa diremehkan, maka kini dia hendak membalas dan membikin malu keluarga ketua Pao-beng-pai dengan ilmu sihirnya. Akan tetapi, gadis itu tidak menangis, malah memandang kepadanya dengan matanya yang mencorong, lalu bertanya dengan suara yang sungguh-sungguh, "Totiang, bagai mana sih caranya menangis itu? Aku tidak pernah menangis, harap Totiang memberi contoh."

Tentu saja Kui Thiancu merasa heran. Seorang gadis muda tidak pernah menangis? Sungguh aneh.

"Bagaimana caranya menangis? Engkau sungguh belum tahu? Begini, Nona, beginilah caranya orang menangis..."

Dan tosu itu lalu mengeluarkan suara tangis sambil menutupi muka dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tetap memegang pedang.

"Huauuu-uuuuu... huuuuu-uuuhhh..."

Terdengar suara orang-orang tertawa geli karena pertunjukan itu memang lucu sekali. Kakek yang tubuhnya pendek kurus dan mukanya keriputan sehingga nampak amat tua itu, yang mengenakan jubah pendeta, tokoh Pek-lian-kauw, sekarang seperti anak kecil menangis di depan Siangkoan Eng yang cantik dan kini tersenyum-senyum mengejek.

Mendengar suara tawa orang-orang di situ, Kui Thiancu baru menyadari keadaannya. Diam-diam dia terkejut. Sihirnya yang dikerahkan untuk memaksa gadis itu menangis bahkan seperti senjata makan tuan. Gadis itu ternyata tak terpengaruh sihirnya, bahkan menggunakan kekuatan sihir itu, ditambah kekuatannya sendiri, membuat pengaruh itu membalik sehingga dialah yang lalu menangis, tanpa disadarinya sendiri bahwa ia telah melakukan perbuatan yang lucu dan memalukan.

Tentu saja Kui Thiancu marah sekali, akan tetapi ia bukan seorang bodoh atau ceroboh. Dia adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw yang sudah berpengalaman, maka biar pun dia mendapat malu di depan banyak orang, namun dia dapat melihat kenyataan dan tidak menuruti hawa nafsu amarah.

Dia menyadari bahwa dia sudah membuat kesalahan besar, keliru menafsirkan orang dan terlalu memandang rendah gadis puteri tuan rumah itu. Dia pun sudah mendengar bahwa Siangkoan Kok adalah seorang bangsawan keturunan keluarga Kerajaan Beng yang selain tinggi ilmu silatnya, juga menguasai ilmu sihir. Maka tidak mengherankan kalau puterinya juga pandai ilmu sihir.

"Hemmm, Nona masih muda sudah lihai dan juga cerdik sekali sehingga aku terjebak. Nah, sekarang aku ingin melihat kehebatan ilmu pedangmu, Nona."

Dia menggerakkan tangan dan memutar-mutar pedang di atas kepala, sedemikian kuat dan cepatnya sehingga pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan terdengar bunyi desing yang menyeramkan.

Siangkoan Eng masih tersenyum mengejek. Tangan kanannya bergerak dan dia sudah mencabut pedangnya yang beronce merah, sedangkan tangan kirinya tetap memegang hud-tim (kebutan) yang bergagang emas dan bulunya merah mengkilap itu.

Dengan sikap tenang gadis itu menyilangkan pedang dan kebutan di depan dada, lalu berkata, "Totiang, aku sudah siap, silakan mulai memperlihatkan ilmu pedangmu yang hebat!"

Dalam ucapan yang dingin ini terkandung tantangan dan juga ejekan yang terasa sekali oleh Kui Thiancu sehingga membuatnya marah sekali, akan tetapi hanya ditahannya di dalam hati.

Ini memang merupakan siasat yang cerdik dari Siangkoan Eng. Kemarahan akan dapat melemahkan orang, membuat orang menjadi kurang waspada. Maka bagi seorang ahli silat, marah pada waktu bertanding merupakan pantangan besar karena hanya akan merugikan diri sendiri.

Kui Thiancu yang sudah amat marah itu tidak mau lagi bersikap sungkan. Sebenarnya, sebagai seorang yang jauh lebih tua, apa lagi memiliki kedudukan tinggi sebagai wakil sebuah perkumpulan besar seperti Pek-lian-pai, seharusnya dia merasa malu bila harus menyerang lebih dahulu dalam sebuah pi-bu melawan seorang gadis muda. Akan tetapi karena sudah amat marah, dia tidak lagi peduli dan putaran pedangnya di atas kepala semakin kuat dan cepat.

"Nona, jaga baik-baik seranganku ini!" bentaknya dan pedang itu makin cepat berdesing membentuk sinar yang membentuk gulungan lingkaran, lalu dari lingkaran itu mencuat sinar menyambar ke arah Siangkoan Eng secara bertubi-tubi.

Gadis itu pun menggerakkan pedangnya untuk menangkis sementara kakinya membuat langkah-langkah melingkar sehingga semua serangan itu gagal, luput atau tertangkis. Kemudian sambil menangkis, dia pun membalas dengan serangan hud-tim di tangan kirinya. Begitu digerakkan, bulu hud-tim yang lemas itu berubah kaku seperti kawat baja, dapat dipergunakan untuk menusuk, akan tetapi juga dapat lemas seperti rambut yang dapat membelit lawan.

Pertandingan itu berlangsung dengan seru sekali. Karena merasa dirinya sebagai wakil perkumpulan besar, tentu saja Kui Thiancu tidak mau kalah melawan seorang gadis. Dia pun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya.

Namun agaknya sedikit banyak gadis itu mengenal jurus-jurus ilmu pedang Pek-lian-pai. Buktinya, gadis itu dapat menghindarkan diri dengan mudah dan tepat sekali. Bahkan serangan balasan dengan kebutannya, setelah lewat dua puluh jurus, membuat tokoh Pek-lian-kauw itu mulai terdesak dan sibuk menghindarkan diri.

Diam-diam kakek ini terkejut dan khawatir. Sungguh di luar dugaannya bahwa gadis ini benar-benar amat lihai! Dia semakin memperhebat serangannya, bahkan mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya. Namun tetap saja dia menghadapi benteng pertahanan yang tidak mampu ditembus oleh gulungan sinar pedangnya. Sebaliknya, sambaran bulu-bulu kebutan itu membuat dia semakin repot dengan loncatan ke kanan kiri dan memutar pedang untuk melindungi tubuhnya.

Ketika kembali dia membacokkan pedangnya dengan pengerahan tenaga, bulu kebutan itu menyambut dan melibat pedangnya dengan lilitan bagaikan ular. Dan pada saat yang sama pula, pedang di tangan gadis itu menyambar, membacok ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang!

Serangan ini hebat sekali dan tidak ada lain jalan bagi Kui Thiancu kecuali melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang kalau dia tidak ingin tangannya terbabat buntung di pergelangannya! Dengan muka berubah kemerahan dia meloncat ke belakang dan melepaskan pedangnya yang kini masih terbelit hud-tim.

Siangkoan Eng juga tidak mengejar. Sambil tersenyum dingin gadis ini memandang kepada lawannya, lalu berkata, "Totiang, terimalah kembali pedangmu!"

Dia menggerakkan hud-tim di tangan kiri, dan pedang rampasan itu meluncur ke arah pemiliknya! Wajah tokoh Pek-lian-pai itu berubah pucat, akan tetapi dia menyambut pedangnya dan dia pun maklum bahwa dia tidak akan menang melawan gadis itu. Kalau tadi dia merasa penasaran, kini dia kagum bukan main.

Kalau puterinya saja sehebat itu, apa lagi ayahnya. Dan dia pun mendengar bahwa ibu gadis ini, Lauw Cu Si, ialah seorang keturunan para pimpinan Beng-kauw, perkumpulan yang dahulu amat terkenal sebagai perkumpulan besar kaum sesat yang telah hancur. Dan kabarnya, isteri Siangkoan Kok itu pun memiliki ilmu yang lihai, di samping ilmu sihir.

"Nona memang hebat, pinto mengaku kalah," lalu dia menghadap ke arah tuan rumah dan memberi hormat. "Pangcu, sekarang pinto yakin bahwa Pao-beng-pai merupakan kawan seperjuangan yang layak dihargai dan pinto dapat memberi kabar kepada para pimpinan Pek-lian-kauw."

Tentu saja Siangkoan Kok merasa girang. "Terima kasih, Totiang dan silakan duduk."

Setelah tokoh Pek-lian-kauw itu duduk kembali, bangkitlah seorang di antara tiga orang pemuda yang belum mau memperkenalkan diri. Dia seorang pemuda berusia tiga puluh tahun yang bertubuh tinggi besar, kepalanya botak dan kulitnya kuning dengan mata yang sipit. Gerakannya tangkas ketika dia melompat ke atas ruangan tempat mengadu ilmu itu dan dia pun menjura kepada pihak tuan rumah.

"Melihat kepandaian Nona Siangkoan, hati saya penuh rasa kagum dan sebelum saya memperkenalkan diri sebagai murid Kong-thong-pai, saya ingin berkenalan lebih dahulu dengan ilmu silat puteri tuan rumah! Nona, silakan maju dan melayaniku beberapa belas jurus!" Sikapnya kaku dan agak takabur, seperti bukan sikap seorang ahli silat di dunia kang-ouw yang berpengalaman.

Siangkoan Eng tentu saja tidak mau melayani seorang tamu seperti itu. Kalau tadi dia mewakil ayahnya menandingi Kui Thiancu adalah karena mengingat bahwa Pek-lian-pai sebuah perkumpulan pejuang yang besar dan dia tahu bahwa para tosu Pek-lian-kauw amat lihai. Akan tetapi, biar laki-laki muda itu murid perkumpulan silat Kong-thong-pai, sikapnya demikian hijau dan dungu.

Dia memberi isyarat kepada seorang di antara pelayannya, yaitu yang berpakaian serba kuning, pelayannya yang paling lihai, lalu berkata lantang.

"Sahabat dari Kong-thong-pai, untuk menyambut tantanganmu, aku mewakilkan kepada salah seorang pelayanku. Kalau engkau dapat mengalahkannya, barulah engkau pantas menantangku!"

Sesosok bayangan kuning berkelebat dan wanita muda berpakaian serba kuning yang juga cantik itu tahu-tahu telah berdiri di depan pemuda Kong-thong-pai yang tidak mau mengenalkan diri sebelum menguji kepandaian.

"Kongcu (Tuan Muda), saya mewakili Siocia untuk menandingi Kongcu. Silakan!"

Diam-diam murid Kong-thong-pai ini mendongkol bukan main. Dia adalah seorang murid unggulan dari Kong-thong-pai, dan dia dipercaya para pimpinan perkumpulannya untuk mewakili Kong-thong-pai. Namun di sini dia dipandang rendah sekali, tingkatnya hanya disejajarnya dengan seorang pelayan dari puteri tuan rumah! Keterlaluan sekali!

Maka, dia pun melawan aksi meremehkan dari pihak tuan rumah itu dengan sikap yang angkuh, "Baik, sebagai tamu saya tentu saja menerima semua peraturan tuan rumah. Akan tetapi, saya tidak mau mencari kemenangan dari seorang pelayan! Kalau wakil Nona Siangkoan ini mampu bertahan melawanku selama dua puluh jurus maka aku mengaku kalah!"

Melihat lagak orang yang meremehkan dirinya itu, si baju kuning hanya tersenyum saja. Dengan sikap tetap menghormat sebagai seorang pelayan terhadap tamu majikannya, dia tersenyum dan memberi hormat,

"Kongcu, saya sudah siap. Silakan Kongcu mengalahkan saya sebelum dua puluh jurus itu."

Melihat sikap si pelayan yang menantang, pemuda Kong-thong-pai itu menjadi semakin penasaran. Mukanya yang kuning kini berubah merah dan dia pun membentak, "Lihat seranganku!"

Dan dia pun sudah menerjang dengan ganas. Ilmu silat yang dia mainkan adalah ilmu silat Kong-thong-pai yang banyak menggunakan gerakan kedua lengan dikembangkan seperti sepasang sayap burung rajawali dan kedua tangan dapat menyambar dari kanan kiri secara cepat sekali. Serangan pertama itu dilakukan dengan gerakan seperti seekor harimau menerkam kambing, kedua lengan yang dikembangkan itu membuat gerakan ke depan, dan kedua tangannya menerkam dari kanan kiri dengan tubuh melompat.

Akan tetapi, nona baju kuning itu adalah pelayan Siangkoan Eng yang nomor satu, serta merupakan pelayan kepercayaan yang telah menguasai ilmu silat paling tinggi di antara rekan-rekannya. Menghadapi terkaman yang dahsyat itu, dia pun bersikap lincah dan meloncat ke belakang, lalu memutar tubuh sehingga serangan lawan luput dan dia pun telah menggerakkan kaki ketika memutar tubuh tadi, membalas serangan lawan dengan sebuah tendangan kaki yang mencuat ke arah dada lawan!

Melihat kelincahan lawan, pemuda Kong-thong-pai itu menjadi semakin penasaran. Dia memutar lengannya dan berusaha menangkap kaki yang menendangnya. Akan tetapi gadis pelayan itu sudah maklum akan niat lawan, maka ia pun menarik kembali kakinya, meloncat dengan gerakan cepat sekali ke kiri, kemudian dari kiri ia mengirim tamparan ke arah kepala lawan!

Sekali ini, pemuda itu tidak berani bersikap lengah. Untuk menangkis tidak ada waktu lagi, maka terpaksa dia melempar tubuh ke belakang agar terhindar dari tamparan yang cukup berbahaya itu karena dia dapat merasakan sambaran angin pukulan yang cukup kuat. Tahulah dia bahwa gadis berpakaian kuning itu, biar pun hanya seorang pelayan, ternyata memiliki ilmu kepandaian tinggi dan merupakan lawan berat.

Maka ia pun tidak berani lagi memandang rendah. Dia mulai menyerang dengan gencar dan tanpa sungkan lagi. Setelah lewat sepuluh jurus dan dia sama sekali belum mampu mengalahkan lawan, bahkan mendesak pun tak mampu, pemuda murid Kong-thong-pai itu menjadi semakin penasaran.

Ia segera mengeluarkan semua jurus pilihan yang paling dia andalkan, namun gadis itu mampu menandinginya, bahkan mampu pula membalas dengan tak kalah kuatnya. Dua puluh jurus lewat dan pemuda Kong-thong-pai itu melompat mundur. Mukanya berubah merah sekali.

"Dua puluh jurus telah lewat, aku mengaku kalah!”

Siangkoan Eng tersenyum, kini senyumnya tidak mengejek lagi karena bagaimana pun juga, dia senang dengan sikap jantan pemuda itu yang tidak malu-malu untuk mengakui kekalahannya sesuai dengan janjinya, walau pun sebenarnya dia belum kalah.

"Lanjutkanlah sampai ada yang kalah karena sesungguhnya engkau belum kalah, sobat dari Kong-thong-pai!" katanya lembut.

"Hemmm, aku Koan Tek adalah seorang lelaki sejati yang menjunjung tinggi nama dan kebesaran nama Kong-thong-pai. Tadi aku sudah berjanji, dan ternyata setelah lewat dua puluh jurus aku masih belum mampu mengalahkannya, berarti aku kalah. Pangcu, terimalah hormatku!" katanya sambil memberi hormat kepada Siangkoan Kok.

Ketua Pao-beng-pai yang tinggi besar ini mengangguk dan membalas penghormatan pemuda wakil Kong-thong-pai itu. "Silakan duduk, saudara Koan Tek!"

Kini tinggal dua orang tamu yang masih belum mau memperkenalkan diri dan mereka adalah dua orang pemuda yang kebetulan tidak saling berjauhan duduknya. Sekarang perhatian semua tamu ditujukan kepada kedua orang pemuda itu, bertanya-tanya siapa kiranya mereka berdua. Di antara mereka yang hadir, tidak ada yang mengenal mereka, maka tentu saja semua orang merasa heran bagaimana ada dua orang pemuda yang tidak terkenal berani bersikap begitu angkuh, tidak mau memperkenalkan diri lebih dulu kepada pihak tuan rumah!

Dua orang pemuda yang merasa menjadi pusat perhatian itu, kini juga saling pandang. Mereka belum saling mengenal, namun mereka berdua seperti merasakan suatu ikatan dan sepenanggungan. Keduanya merasa menjadi pusat perhatian sebab hanya mereka berdua saja yang kini belum lagi memperkenalkan diri, dan diharapkan mereka berdua akan menguji pihak tuan rumah seperti tadi dilakukan oleh wakil-wakil Pek-eng Bu-koan, Pat-kwa-pai, Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai.

Pemuda pertama berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, berperawakan sedang dan tegap. Wajahnya bulat, berkulit putih bersih. Sepasang matanya tajam, hidungnya agak besar dan mancung, mulutnya selalu terhias senyum manis dan alisnya tebal.

Dia seorang pemuda yang tampan. Sikapnya juga sangat anggun, tidak malu-malu dan berwibawa. Pemuda ini bukan lain adalah Pangeran Cia Sun yang sedang melakukan penyamaran!

Dia meninggalkan istana untuk mencari pengalaman, menyamar sebagai pemuda biasa. Karena dia seorang yang semenjak kecil suka mempelajari silat, kini ia ingin meluaskan pengetahuan dan menjelajahi dunia kang-ouw.

Maka, mendengar akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai, apa lagi sesudah mendengar bahwa Pao-beng-pai adalah perkumpulan yang anti terhadap pemerintahan kakeknya, yaitu Kaisar Kian Liong, dia tertarik dan sengaja datang berkunjung. Tentu saja dia tidak akan mengaku bahwa dia adalah seorang pangeran, karena hal itu sama saja dengan mencari kematian.

Kalau perkumpulan Pao-beng-pai itu anti pemerintah Kerajaan Ceng, tentu mereka akan membunuhnya ketika mengetahui bahwa dia seorang pangeran Mancu! Di sepanjang perjalanannya pun ia mengaku bernama Cia Ceng Sun. Dia memakai namanya sendiri, hanya menambahkan huruf Ceng di tengah, yaitu yang berarti kerajaan atau Dinasti Kerajaan Mancu.

Dan karena sejak kecil dia hidup dalam pendidikan seperti orang Han, maka tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia seorang pangeran Mancu. Dalam segala hal ia adalah seorang pemuda Han biasa. Dia pandai silat dan pandai pula dalam hal kesusastraan bangsa Han.

Pemuda yang kedua juga tampan, berusia lebih tua, kurang lebih dua puluh enam tahun dan sikapnya lebih matang dan pendiam. Dia pun tampan, walau pun ketampanannya berbeda dengan ketampanan Pangeran Cia Sun yang kini kita kenal sebagai pemuda Cia Ceng Sun.

Pemuda ke dua ini bermuka lonjong dengan dua mata yang tajam, hidung mancung dan mulutnya ramah tersenyum. Dagunya runcing berlekuk, rambutnya panjang dan hitam, alisnya tebal dengan dahi lebar. Perawakannya juga hampir sama dengan perawakan Cia Ceng Sun, sedang dan tegap. Gerak-geriknya amat tenang, sikapnya seperti acuh tak acuh walau pun wajahnya ramah.

Pemuda ini bukan lain adalah Yo Han, pemuda perkasa yang dijuluki Sin-ciang Taihiap (Pendekar Besar Tangan Sakti). Namun, karena ketika dia dijuluki Tangan Sakti itu tidak pernah ada orang yang melihat wajahnya, maka sekarang tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai pendekar itu di dalam pertemuan orang-orang dunia persilatan di situ.

Berbeda dengan Cia Ceng Sun yang pergi meninggalkan istana dengan tujuan hendak memperdalam pengetahuan dan meluaskan pengalaman, Yo Han datang ke tempat itu dalam rangka menunaikan tugasnya yang teramat sulit, yaitu mencari puteri bibinya Can Bi Lan dan suami bibinya si Pendekar Suling Naga Sim Houw.

Para pembaca kisah Si Bangau Merah tentu mengenal baik siapa Yo Han. Dia seorang yatim piatu. Mendiang ayahnya adalah Yo Jin, seorang petani biasa yang jujur namun berjiwa gagah, sedangkan mendiang ibunya adalah seorang tokoh sesat yang sudah bertobat, berjuluk Bi Kwi (Setan Cantik), su-ci dari Can Bi Lan atau Nyonya Sim Houw.

Semenjak kecil, Yo Han dididik oleh Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li sehingga sejak kecil Yo Han sudah akrab dengan Tan Sian Li Si Bangau Merah sebagai kakak seperguruan. Akan tetapi, ketika kecilnya, Yo Han sama sekali tidak suka belajar atau berlatih ilmu silat.

Biar pun suami isteri Tan Sin Hong Si Bangau Putih dan Kao Hong Li merupakan suami isteri yang sakti dan mengajarkan silat kepadanya, Yo Han hanya mempelajari teorinya saja dan tidak pernah mau berlatih. Dia selalu menganggap bahwa ilmu silat adalah ilmu kekerasan yang hanya dipelajari orang-orang yang suka berkelahi untuk saling bunuh dengan orang lain.

Karena ulahnya ini, maka suami isteri pendekar itu merasa khawatir kalau-kalau puteri mereka yang amat akrab dengan Yo Han kelak akan ketularan sikap itu. Oleh karena itu mereka ingin memisahkan dua orang anak itu dengan menitipkan Yo Han pada sebuah perguruan silat yang baik.

Yo Han mendengar hal ini dan dia pun lebih dahulu meninggalkan keluarga itu. Dengan nekat dia mengikuti seorang iblis betina setelah berhasil membujuk iblis betina itu untuk melepaskan Sian Li kecil yang diculiknya dan dia menyerahkan diri sebagai penukarnya.

Demikianlah, setelah ikut dengan iblis betina itu ia mengalami banyak penderitaan yang aneh-aneh sampai akhirnya dia bertemu dengan mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, namun yang memiliki ilmu luar biasa. Akhirnya Yo Han menjadi pewaris tunggal ilmu Bu-kek Hoat-keng dari kakek itu, yang lalu membuat dia menjadi seorang pendekar sakti.

Ketika Yo Han merantau ke barat dan terkenal dengan julukan Sin-ciang Taihiap yang mukanya tidak pernah dikenal oleh orang lain, secara kebetulan dia bertemu kembali dengan Sian Li yang telah menjadi seorang gadis cantik. Mereka saling mengenal dan kasih sayang yang sejak kecil sudah tumbuh dalam hati mereka, kini berubah menjadi cinta kasih dewasa antara pria dan wanita!

Namun, kembali ayah dan ibu Sian Li tidak menyetujui hubungan mereka karena suami isteri pendekar itu khawatir kalau-kalau Yo Han mewarisi watak mendiang ibunya yang dulu pernah menjadi seorang wanita golongan sesat yang jahat. Maka, terang-terangan mereka memberi tahu kepada Yo Han bahwa Sian Li telah dijodohkan dengan seorang pangeran di kota raja!

Yo Han menjadi sangat terpukul. Pada saat diingatkan akan lenyapnya puteri bibinya, dia pun bertekad untuk mencari puteri bibinya itu sampai dapat dia temukan dan dia kembalikan kepada bibinya.
Si tangan sakti bagian 06

Demikianlah tentang riwayat singkat Yo Han Si Pendekar Tangan Sakti. Dan pada hari itu, sebetulnya dia mendengar tentang pertemuan para orang gagah yang diadakan oleh Pao-beng-pai, maka dia pun sengaja berkunjung dengan maksud untuk mencari jejak adik misannya yang dicuri penjahat pada waktu masih kecil. Yo Han maklum sepenuhnya alangkah sulitnya tugas yang dipikulnya. Mencari seorang anak perempuan yang hilang dua puluh tahun yang lalu, dan ketika hilang diculik orang masih berusia tiga tahun!

Dia tidak tahu siapa penculiknya, juga tidak pernah melihat anak perempuan itu. Yang dia ketahui hanya bahwa anak perempuan itu adalah puteri Sim Houw dan Can Bi Lan, nama anak itu Sim Hui Eng dan mempunyai tanda pengenal yang mustahil untuk dapat dilihat orang, yaitu noda merah di tapak kaki kanan dan tahi lalat hitam di pundak kiri.

Bagaimana mungkin melihat kedua tanda itu di tubuh seorang gadis tanpa membuka sepatu dan bajunya? Dan sudah pasti pula anak berusia tiga tahun itu sudah lupa sama sekali akan ayah dan ibu kandungnya, tak tahu lagi bahwa ia adalah anak yang diculik. Itu pun kalau anak itu masih hidup!

Sungguh merupakan suatu usaha yang teramat sulit, bahkan agaknya mustahil untuk bisa menemukan anak yang hilang pada dua puluh tahun yang lalu itu. Akan tetapi, Yo Han mempunyai akal. Bila dia tidak dapat menemukan kembali anak itu, setidaknya dia berusaha menyelidiki siapa pelaku penculikan itu. Hal ini tentu hanya dapat dia lakukan dengan menyelidiki dunia kang-ouw, bahkan di antara golongan sesat. Maka, untuk tugas itulah sekarang ia sengaja datang menghadiri pertemuan itu dan sengaja dia tidak mau memperkenalkan diri sesuai dengan rencana siasatnya.

Ketika dua orang pemuda itu saling pandang, Yo Han tersenyum dan dengan tangannya dia memberi isyarat, mempersilakan pemuda tampan murah senyum itu untuk bertindak lebih dahulu. Dia hadir di sana karena ingin menyelidiki keberadaan adik misannya yang belum tentu terdapat di tempat itu, tidak memiliki tujuan lain.

Melihat isyarat gerakan tangan itu, Cia Ceng Sun tersenyum lebar dan mengangguk. Pemuda ini pun kemudian mulai melangkah dengan ringan dan santai menuju ke ruang tempat bertanding silat. Dia berdiri di tengah ruangan dan menjura kepada pihak tuan rumah. Terdengarlah suaranya yang halus dan sopan, juga dengan gaya bahasa yang menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang kang-ouw kasar biasa, melainkan seorang yang terpelajar.

"Harap Pangcu dari Pao-beng-pai sekeluarga suka memaafkan saya. Bukan karena ketinggian hati maka saya belum memperkenalkan nama, namun karena tertarik akan kehebatan ilmu silat keluarga Siangkoan yang tadi telah diperlihatkan. Oleh karena saya memang bermaksud meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan, maka saya ingin mempergunakan kesempatan ini untuk sekedar menambah pengetahuan dengan jalan bertanding silat secara persahabatan, sebelum saya memperkenalkan nama saya yang tidak berarti."

Sikap yang lembut dan kata-kata yang amat sopan seperti biasa dilakukan orang-orang terpelajar dan kaum bangsawan, tidak disuka oleh kebanyakan orang dunia kang-ouw, maka di sana-sini terdengar ejekan terhadap pemuda tampan itu. Bahkan ada pula yang menganggap bahwa pemuda ini tentu tak memiliki kemampuan yang berarti dalam ilmu silat, hanya pandai berlagak saja.

Akan tetapi tidak demikianlah kesan yang didatangkan Cia Ceng Sun kepada keluarga tuan rumah. Siangkoan Kok adalah seorang bangsawan pula, bahkan masih keturunan keluarga Kaisar Beng. Sejak kecil dia terbiasa dengan tata-cara dan sopan-santun yang berlaku di antara para bangsawan, di antaranya sikap yang halus dan kata-kata yang indah. Oleh karena itu, sikap pemuda tampan itu sungguh menarik perhatiannya dan dia merasa senang.

Demikian pula dengan Siangkoan Eng. Biar pun tidak mengalami kehidupan bangsawan istana, namun karena di dalam keluarganya, ayahnya masih memakai peraturan seperti keluarga bangsawan, ia pun tertarik melihat pemuda yang berbeda dari pemuda biasa itu.

Pemuda itu berwajah tampan, anggun dan berwibawa. Sikapnya begitu lemah lembut, akan tetapi telah berani maju untuk menguji ilmu silat. Seketika hatinya tertarik kepada pemuda itu, maka ia berbisik-bisik kepada pelayannya, si baju kuning yang lihai, dengan pesan agar pelayannya itu kembali mewakilinya menguji si pemuda, akan tetapi jangan sekali-kali dilukai atau dibikin malu.

Si baju kuning mengerti dan mengangguk, kemudian ia maju menghadapi Cia Ceng Sun sambil memberi hormat.

"Kongcu, saya bertugas melaksanakan perintah Siocia (Nona) untuk mewakili keluarga Siangkoan dan melayanimu beberapa jurus."

Cia Ceng Sun tersenyum, ia tidak merasa dipandang rendah. Maka dia pun cepat-cepat membalas penghormatan pelayan yang lihai itu.

"Aku tadi sudah melihat kelihaianmu, Nona pelayan. Tentu nona majikanmu jauh lebih lihai, maka untunglah engkau yang maju sehingga bagaimana pun juga, lawanku lebih ringan. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kelihaianmu."

Si nona baju kuning juga amat senang melihat sikap pemuda tampan ini yang demikian rendah hati, bahkan sikapnya menghormat terhadap dirinya, padahal ia hanya seorang pelayan.

"Kongcu, silakan mulai, saya sudah siap!" katanya lembut dan memperlihatkan senyum ramah.

"Baik, lihat seranganku!" dan Cia Ceng Sun sudah menggerakkan tangan melakukan serangan.

Karena ia maklum bahwa pelayan baju kuning ini cukup lihai, tentu saja ia tidak berani memandang rendah. Begitu bergerak, dia sudah menyerang dengan sungguh-sungguh, memainkan jurus yang ampuh dari ilmu silat aliran Siauw-lim-pai. Kepalan tangan kiri yang memukul lurus ke depan itu mendatangkan angin pukulan yang kuat.

Nona baju kuning itu mengeluarkan seruan kagum dan cepat ia mengelak dengan lincah ke kiri sambil membalas dengan sebuah tendangan. Namun, Cia Ceng Sun yang sudah menguasai banyak macam Ilmu silat itu dapat menghindar dengan baik, bahkan lantas mengirim serangan balasan dengan cepat sekali, mencengkeram pundak gadis pelayan itu dari samping.

Gerakan ini mengejutkan lawan yang kembali terpaksa harus meloncat ke belakang karena serangan pemuda itu sungguh tidak boleh dipandang ringan dan sama sekali tidak boleh disamakan dengan murid Kong-thong-pai tadi. Maka, si nona baju kuning kini mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi, walau pun ia tetap ingat akan pesan nonanya agar tidak melukai atau membikin malu pemuda itu.

Diam-diam dia mengeluh. Bagaimana mungkin? Untuk menang pun tidak akan mudah, pikirnya. Tak disangkanya bahwa pemuda yang tampan dan sopan ini demikian lihainya dan ia pun merasa sangat heran.

Selama ini Pao-beng-pai sudah menyebarkan banyak mata-mata untuk menyelidiki para tokoh dunia persilatan, bahkan mencatat dan mempelajari ilmu-ilmu silat mereka. Akan tetapi, pemuda ini agaknya luput dari pengawasan sehingga tidak dikenal oleh keluarga majikannya. Padahal, kepandaian pemuda ini cukup hebat. Ia sendiri sampai kewalahan setelah mereka bertanding selama tiga puluh jurus. Mulailah ia terdesak hebat!

Para tamu yang menonton pertandingan itu pun menjadi kagum. Apa lagi para tokoh dari aliran persilatan besar seperti wakil Siauw-lim-pai. Mereka tertegun melihat betapa pemuda tampan itu memainkan beberapa jurus dari ilmu silat aliran mereka!

Ilmu silat pemuda itu campur aduk, akan tetapi setiap jurus yang dimainkannya sudah mendekati kesempurnaan! Dan mereka semua tidak pernah mengenal pemuda tampan itu!

Hal ini memang tidak aneh. Sebagai seorang pangeran, Cia Ceng Sun atau Cia Sun tentu saja tidak menjadi murid biasa dalam sebuah perguruan. Dengan kekuasaannya dan kedudukan ayahnya, mudah saja dia mendatangkan guru-guru silat dari berbagai aliran yang melatihnya secara rahasia.

Apa lagi, di antara para jagoan istana bangsa Mancu terdapat banyak tokoh persilatan pandai. Mereka ini sudah berhasil mencari dan menguasai ilmu-ilmu silat dari berbagai aliran itu sehingga mereka dapat mengajarkannya kepada Pangeran Cia Sun tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.

Keadaan pangeran ini tentu saja berbeda dengan kakeknya, yaitu yang kini menjadi kaisar ketika masih muda. Kaisar Kian Liong pun ketika masih muda juga bertualang dan mempelajari ilmu silat, akan tetapi dia mempelajarinya dari para tokoh persilatan secara berterang sehingga namanya dikenal oleh semua tokoh kang-ouw.

Siangkoan Eng memandang kagum dan hatinya semakin tertarik. Bukan main pemuda itu, pikirnya sambil termenung. Ilmu silatnya tinggi, bahkan pandai memainkan jurus dari berbagai aliran persilatan. Wajahnya tampan, sikapnya agung seperti bangsawan, serta gerak-geriknya lembut dan cara bicaranya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

Belum pernah dia bertemu dengan seorang pemuda seperti ini! Dan pemuda itu mampu mengimbangi pelayannya yang utama sampai lebih dari empat puluh jurus, bahkan kini pelayannya sudah terdesak hebat.

"Haiiiiittttt!"

Tiba-tiba Cia Ceng Sun berseru nyaring dan serangannya mendatangkan angin pukulan yang amat kuat, membuat nona baju kuning itu terpaksa menggunakan kedua tangan menangkis.

"Dukkk!"

Dua pasang lengan bertemu dan akibatnya, nona baju kuning itu terdorong ke belakang, terhuyung-huyung dan hampir saja roboh kalau Siangkoan Eng tidak cepat melompat ke depan dan menyambar lengannya.

"Kau mundurlah!" kata Siangkoan Eng.

Pelayan itu pun mundur dan kini nona cantik jelita itu berhadapan dengan Cia Ceng Sun yang cepat memberi hormat.

"Maaf kalau aku kesalahan tangan. Aku sudah puas dapat menguji ilmu silat dan biarlah kini aku mengaku dan memperkenalkan namaku. Aku bernama Cia Ceng Sun, seorang pemuda perantau yang hidup di antara langit dan bumi tanpa tempat tinggal tertentu. Aku pun tidak mewakili golongan mana pun, hanya ingin meluaskan pengalaman." Dia memberi hormat ke arah ketua Pao-beng-pai dan hendak kembali ke tempat duduknya.

"Cia Kongcu (tuan muda Cia), nanti dulu!" terdengar seruan halus dan Cia Ceng Sun menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya dan memandang kepada gadis jelita yang berhadapan dengannya.

"Nona, aku sudah memperkenalkan diri sebagai tamu, ada urusan apa lagikah yang dapat kulakukan untuk keluarga tuan rumah?"

Siangkoan Eng tersenyum. Nampak giginya yang rata dan putih itu berkilauan sejenak. "Harap jangan salah mengerti, Kongcu. Tadi engkau sudah memperkenalkan diri, tidak sepatutnya jika aku sebagai nona rumah juga tidak memperkenalkan diri. Aku bernama Siangkoan Eng dan aku hendak mewakili orang tuaku dan mewakili Pao-beng-pai untuk berkenalan dengan ilmu silatmu yang tinggi. Ingin sekali aku mengajak engkau berlatih sejenak untuk mengenal ilmu masing-masing. Sudikah engkau memenuhi keinginanku ini, Kongcu?"

Cia Ceng Sun terbelalak. Bukan main gadis ini! Begitu pandai membawa diri dan kalau tadi nampak begitu dingin, kini begitu ramah dan wajahnya cerah seperti matahari baru terbit dari balik gunung.

Dan manisnya bukan main, cantik jelita seperti seorang puteri istana! Lebih lagi karena jika puteri istana dikekang oleh adat istiadat yang kaku, gadis ini demikian bebas seperti bunga mawar hutan yang semerbak harum dan indah.

Dia teringat akan pesan ayahnya agar dia tidak jatuh hati kepada gadis lain, karena dia sudah ditunangkan dengan seorang gadis lain yang juga seorang gadis perkasa dengan julukan Si Bangau Merah. Akan tetapi, dia belum pernah berhadapan dengan Si Bangau Merah. Apakah ia secantik gadis di depannya ini?

"Nona Siangkoan terlalu memujiku. Kepandaian silatku memang hanya sejajar dengan tingkat kepandaian pelayanmu, Nona. Kalau untuk melawanmu, mana mungkin aku bisa mengimbangimu?"

"Cia Kongcu, harap jangan terlalu merendahkan diri. Kita hanya berlatih sebentar untuk menambah pengetahuan masing-masing dan harap jangan sungkan. Marilah, Kongcu."

Sikap Siangkoan Eng begitu membujuk dan manis sehingga Cia Ceng Sun yang tadinya tidak ingin bertanding lagi, menjadi tertarik.

"Baik, harap jangan terlalu kejam kepadaku, Nona. Nah, aku sudah siap, silakan Nona mulai."

Pemuda itu maklum bahwa dia menghadapi lawan yang sangat tangguh. Maka kini dia telah memasang kuda-kuda Lo-han-hun dari aliran Siauw-lim-pai, kuda-kuda yang amat kokoh, kuat dan tangguh seperti benteng baja. Ketika melihat kuda-kuda ini, Siangkoan Eng tersenyum.

"Cia Kongcu, awas terhadap seranganku! Hiaaaaattttt...!"

Dan ia pun menyerang dengan jurus ilmu silat Siauw-lim-pai pula! Tentu saja Cia Ceng Sun terkejut dan kagum, maka dia pun menyambut serangan itu dengan tangkisan dan membalas serangan lawan dengan jurus ilmu silat Siauw-lim-pai.

Belasan jurus mereka saling serang dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, kemudian tiba-tiba gadis itu mengubah ilmu silatnya. Kini ia menyerang dengan ilmu silat dari Bu-tong-pai. Dan Cia Ceng Sun juga mengimbangi dengan ilmu silat yang sama!

Demikianlah, pertandingan itu berlangsung seru bukan main. Keduanya menukar-nukar ilmu silat dan selalu diimbangi lawan dengan ilmu yang sama. Gerakan mereka tangkas dan gesit, juga dalam hal tenaga sinkang, mereka seimbang.

Sesungguhnya, kalau Siangkoan Eng menghendaki, tingkatnya masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Cia Ceng Sun dan biar pun pemuda itu merupakan lawan yang tangguh baginya, namun kalau ia bersungguh-sungguh akhirnya pemuda itu akan kalah. Apa lagi kalau gadis itu mau mempergunakan kekuatan sihir atau ilmu pukulan sesat beracun yang amat berbahaya dari didikan ibunya, tentu pemuda itu akan celaka.

Hanya saja, gadis itu memang tidak ingin mencelakai Cia Ceng Sun. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Siangkoan Eng merasa tertarik dan sayang kepada seorang pemuda dan ia sengaja mengalah.

Enam puluh jurus sudah lewat dan pertandingan itu masih ramai dan seru, seolah tidak ada yang menang atau pun kalah, dan nampaknya seimbang dan setingkat. Kecepatan gerakan mereka, keindahan gerakan mereka, membuat semua orang merasa kagum.

Lauw Cu Si, ibu dari Siangkoan Eng, berbisik kepada suaminya, "Anakmu agaknya telah menjatuhkan pilihan hatinya."

Siangkoan Kok mengelus jenggotnya yang panjang dan rapi. "Jika memang benar, apa salahnya? Pemuda itu cukup tampan dan gagah, dan pembawaannya seperti seorang bangsawan. Kita hanya perlu mengetahui siapa orang tuanya," suaminya berbisik pula.

Pada saat itu, Cia Ceng Sun merasa penasaran juga. Belum pernah dia dikalahkan oleh seorang wanita dalam pertandingan silat, dan sekarang dia sama sekali tidak mampu mengalahkan gadis ini, bahkan mendesak pun dia tidak mampu. Dia merasa penasaran sekali.

Tiba-tiba dia melompat ke depan, lalu menyerang dengan kedua lengan diluruskan dan kedua tangan terbuka mendorong ke depan dengan jurus Pat-bun Twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung). Kedua kakinya terpentang sedangkan lutut ditekuk, kedua tangan lurus mendorong ke arah lawan sambil mengerahkan tenaga sinkang. Jurus ini merupakan serangan yang mengandalkan tenaga sakti. Hawa dorongannya saja mampu membuat lawan terlempar.

Tetapi melihat serangan ini, Siangkoan Eng tidak mengelak atau menangkis, melainkan meloncat pula ke depan, membuat gerakan yang sama dan menyambut serangan itu dengan dorongan kedua tangan pula, juga dengan kedua kaki terpentang dan ditekuk lututnya. Kedudukan mereka persis sama, dan kini dua pasang tangan yang terbuka itu saling bertemu.

"Plakkk!"

Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan melekat! Keduanya seperti tergetar dan terguncang karena pertemuan tenaga sinkang itu, akan tetapi keduanya dapat bertahan!
Mereka saling pandang dalam jarak dekat, hanya terpisah juluran lengan.

Mereka dapat saling merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh masing-masing, dan keduanya tersenyum. Mereka seperti sedang bercanda atau bercumbu dengan cara yang aneh. Keduanya saling dorong, akan tetapi Siangkoan Eng sengaja membatasi tenaganya sehingga kedudukan mereka seimbang dan dua pasang telapak tangan itu seperti melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi.

Banyak di antara para tamu yang memandang dengan hati berdebar tegang. Adu tenaga seperti itu amatlah berbahaya bagi yang kalah! Salah-salah dapat merenggut nyawa salah seorang di antara mereka.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa hal ini tidak mungkin terjadi karena sebenarnya tenaga sinkang Siangkoan Eng masih lebih kuat sehingga gadis ini dapat mengatur dan mengendalikan adu tenaga itu. Kalau tenaga mereka seimbang, memang berbahaya sekali.

Agaknya Cia Ceng Sun juga menyadari bahwa sebetulnya dia kalah kuat. Buktinya, gadis itu nampak santai saja dan tidak nampak khawatir seperti dia. Maka dia pun kini tersenyum dan maklum bahwa keadaan mereka sama sekali tidak berbahaya karena gadis itu menguasai tenaga mereka. Jantung pangeran ini berdebar pada saat melalui telapak tangan itu ia bisa merasakan suatu kehangatan dan kelembutan yang membuat kedua pipinya menjadi kemerahan.

Pada saat itu nampak Yo Han cepat naik ke tempat pertandingan itu. Tanpa ragu-ragu lagi dia menengahi, menggunakan kedua tangannya mendorong di tengah-tengah, ke arah dua pasang tangan yang saling tempel.

"Cukup, harap kalian mundur!" katanya.

Dari dorongannya muncul tenaga yang sangat dahsyat, yang membuat Siangkoan Eng dan Cia Ceng Sun terdorong mundur sampai tiga langkah. Dengan sendirinya tempelan dua pasang tangan itu terlepas, namun tidak mendatangkan bahaya kepada keduanya. Mereka hanya merasa kedua lengan mereka tergetar dan mereka terdorong hawa pukulan yang dahsyat.

Diam-diam Cia Ceng Sun terkejut dan memandang kepada Yo Han dengan sinar mata penuh kagum.

"Siangkoan Siocia, terima kasih atas pelajaran yang kau berikan kepadaku," katanya sambil memberi hormat kepada gadis itu.

Siangkoan Eng membalas dan tersenyum. "Cia Kongcu, engkaulah yang telah memberi pelajaran kepadaku. Terima kasih."

Sekarang Cia Ceng Sun menghadapi Yo Han. Sesudah mereka saling pandang penuh perhatian, pangeran itu berkata, "Sobat, engkau hebat. Terima kasih."

Lalu dia kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Yo Han yang kini berdiri di situ, berhadapan dengan Siangkoan Eng. Gadis ini mengerutkan alisnya dan nampak marah, akan tetapi pada saat itu, ayahnya berkata dengan suara yang dalam.

"Eng Eng, engkau mundurlah, biar aku sendiri menghadapi sobat muda itu."

Kiranya ketua Pao-beng-pai ini sudah waspada setelah melihat gerakan Yo Han tadi. Dia tahu bahwa puterinya mempunyai tenaga sinkang yang sudah kuat, dan tahu pula bahwa puterinya tadi mengalah terhadap pemuda she Cia itu sehingga biar pun mereka nampaknya mengadu tenaga sinkang, namun puterinya dapat mengendalikan tenaga mereka dan keadaan keduanya sama sekali tldak berbahaya.

Lalu muncul pemuda yang lain itu, yang dengan sekali dorong saja mampu membuat kedua orang itu terdorong mundur. Ini berarti bahwa pemuda yang baru muncul ini memiliki kekuatan sinkang yang amat hebat, yang dapat sekaligus melawan kekuatan Siangkoan Eng dan Cia Ceng Sun yang bergabung menjadi satu!

Maklum akan hal ini, Siangkoan Kok dapat menduga bahwa pemuda yang baru muncul ini lihai sekali dan mungkin puterinya tak akan mampu menandinginya, maka dia sendiri yang maju. Setelah puterinya mundur, ia pun bangkit dan melangkah maju menghadapi Yo Han.

Dua orang laki-laki itu berdiri berhadapan dalam jarak empat meter. Yo Han bersikap angkuh dan dingin karena sikap ini merupakan pelaksanaan dari siasat yang sudah dia rencanakan.

Untuk dapat mencari jejak penculik puteri bibinya, dia harus berkecimpung dalam dunia kang-ouw, bergaul dengan golongan sesat dan bersikap seperti seorang pemuda sesat pula. Atau setidaknya seorang pemuda yang memusuhi keluarga besar para pendekar, terutama sekali memusuhi ayah dan ibu anak yang diculik itu. Itulah sebabnya dia lalu bersikap bagaikan seorang pemuda yang tinggi hati, dingin serta kejam. Sikap seorang pemuda golongan sesat!

Setelah saling pandang beberapa lamanya, melihat pemuda itu sama sekali tidak mau menghormatinya, Siangkoan Kok mengerutkan alisnya. Dengan suara yang mengguntur dia berkata, "Sobat muda! Engkau datang ke sini, berarti engkau adalah tamu kami. Nah, perkenalkan namamu dan katakan mengapa engkau usil tangan mencampuri adu ilmu yang dilakukan puteri kami tadi?"

Yo Han mengangguk dan dengan sikap congkak dia pun berkata, "Pangcu, aku sudah mendengar bahwa engkau adalah pangcu dari Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Kok. Pertemuan ini memang kupergunakan sebagai kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang sehaluan dan juga segolongan. Dan aku belum memperkenalkan nama, karena memang aku menunggu kesempatan terakhir ini untuk bicara kepada seluruh saudara segolongan yang kini berkumpul di sini!"

Sikap yang congkak ini membuat Siangkoan Kok semakin senang, akan tetapi juga membuat dia ingin sekali tahu siapa pemuda ini dan apa maunya.

"Hemm, baiklah, kau perkenalkan diri dan katakan apa kehendakmu datang ke sini. Jika memang beralasan kami mau menerimanya, tapi kalau engkau hanya ingin mengacau, jangan salahkan kalau terpaksa kami akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok kembali duduk di kursinya...


JILID SELANJUTNYA SI TANGAN SAKTI BAGIAN 07


Thanks for reading Si Tangan Sakti Bagian 06 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »