Si Bangau Merah Bagian 15

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SI BANGAU MERAH BAGIAN 15

Mereka melanjutkan pertemuan itu untuk membicarakan gerakan mereka dan mengatur rencana dan membagi tugas kerja. Sian Lun yang sudah tidak berdaya itu diserahkan kepada Pek-lian Sam-Li untuk menjaga dan menundukkannya. Dan tiga orang wanita itu dengan wajah berseri-seri lalu mengajak Pangeran Gulam Sing dan memondong tubuh Sian Lun, pergi mengundurkan diri.

"Cukup, berhenti!" Sian Li merenggutkan tangannya dan sekali ini ia berhasil.

Mereka kini berada di kaki bukit yang sunyi, dikelilingi hutan-hutan kecil dan rawa-rawa. Orang yang bercaping lebar itu sekali ini tidak mempertahankan pegangannya lagi dan melepaskan lengan kiri Sian Li.

Sian Li menghentikan langkahnya. Matahari sudah condong ke barat, senja menjelang tiba. Dia menghadapi laki-laki itu dengan alis berkerut.

"Kenapa engkau memaksaku berlari-lari, melarikan diri seperti pengecut-pengecut yang ketakutan?" dua kali Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan muka merah karena marah dan penasaran. "Kenapa?"

Orang itu menghela napas panjang beberapa kali, kemudian terdengar suaranya yang lembut, "Karena aku tidak ingin melihat engkau tewas di sana."

"Akan tetapi, aku tidak takut mati!" Sian Li berkata dan membanting kakinya dengan marah.

Pendekar itu tidak menjawab, malah melangkah pergi meninggalkan Sian Li. Gadis itu hendak marah-marah, akan tetapi ia melihat betapa pendekar itu langkahnya gontai dan agak terhuyung. Tentu saja ia menjadi heran dan mengikuti dari belakang.

Orang bercaping lebar itu menuju ke sebuah goa besar yang tertutup rumpum semak-semak berduri, dan agaknya sudah biasa dia berada di situ. Ketika dia memasuki goa, Sian Li mengikuti dan ternyata goa itu terpelihara dan bersih, merupakan ruangan yang terlindung. Begitu memasuki goa, pendekar aneh itu lalu duduk bersila, seolah tidak mempedulikan lagi kepada Sian Li.

Gadis ini tentu saja menjadi semakin marah. Orang ini biar pun pernah beberapa kali menolongnya, akan tetapi sekali ini telah bertindak keterlaluan. Sudah memaksa dirinya melarikan diri, sekarang malah mengacuhkannya sama sekali.

"Heiiii! Engkau ini ternyata hanyalah seorang pendekar yang mempunyai pikiran tidak senonoh!" bentaknya semakin marah.

Pendekar itu menggerakkan kepalanya yang tadi bertunduk, akan tetapi tidak langsung menghadapkan mukanya yang tertutup rambut dan tirai.

"Kenapa engkau menuduh demikian?" tanyanya, masih lembut dan penuh kesabaran.

"Buktinya, engkau hanya melarikan aku sendiri saja. Kalau memang hendak menolong, kenapa hanya aku yang kau tolong, dan meninggalkan Suheng di sana?"

"Dia sudah tertawan. Kalau kubiarkan, engkau akan tertawan pula.”

“Aku tidak takut! Suheng telah ditawan, aku pun harus menolongnya, tidak peduli aku akan tertawan pula atau mati sekali pun!"

Sejenak orang itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar suaranya lirih, "Engkau tentu amat… sayang kepada suheng-mu itu."

"Tentu saja! Dia Suheng-ku, kalau bukan aku yang menolongnya, lalu siapa lagi?"

"Kalau engkau tadi tewas atau tertawan, lalu bagaimana engkau akan dapat menolong suheng-mu?"

Ucapan itu menyadarkan Sian Li dan ia pun termangu.

Sin-ciang Taihiap lalu berkata lagi, "Mereka terlalu banyak dan juga banyak orang lihai. Karena terpaksa aku mengajakmu melarikan diri dari sana supaya kita dapat mengatur siasat untuk dapat menolong suheng-mu..." Ucapan itu tidak dilanjutkan, tetapi berhenti tiba-tiba dan pendekar itu lalu menundukkan mukanya.

Sian Li masih curiga, apa lagi melihat orang itu tiba-tiba menghentikan ucapannya dan sikapnya seperti orang yang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak mengenal siapa orang ini, belum tahu pula bagaimana wataknya. Siapa tahu semua itu hanya siasat saja dan orang yang selalu menyembunyikan mukanya itu memang mempunyai niat yang tidak baik.

"Sudahlah, aku harus kembali ke sana sekarang juga untuk membebaskan Suheng!" katanya dan ia pun hendak meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, pendekar bercaping itu sudah mendahuluinya bergerak dan menghadang di depannya.

"Jangan! Sekarang belum boleh..."

Benar saja dugaannya. Orang ini mempunyai niat yang tidak baik, pikir Sian Li kecewa. Sebelum ini, ia selalu mengenang Sin-ciang Taihiap yang pernah menolong dirinya dan suheng-nya, membuat dia kagum dan ingin sekali bertemu. Akan tetapi setelah jumpa, kekagumannya menghilang karena ulah pendekar itu yang amat mencurigakan, dan kini ia malah menjadi marah sekali.

“Siapa pun tidak boleh melarang aku menolong Suheng-ku!" bentaknya.

Dia pun maju terus dan mendorong pendekar yang menghadang itu dengan tangan kiri. Tangan kirinya mengenai dada orang itu dan... pendekar itu terdorong ke belakang, terhuyung-huyung, lalu roboh!

Tentu saja Sian Li merasa heran dan terkejut bukan main. Mengapa orang itu menjadi demikian lemah? Dia cepat menghampiri dan keheranannya bertambah ketika melihat bahwa orang itu sudah pingsan! Wajahnya masih tertutup rambut dan tirai, akan tetapi napasnya terengah-engah. Ketika dia menyentuh lengannya, terasa amat panas!

Sian Li menjadi khawatir sekali. Sebagai murid Yok-sian Lo-kai yang sudah mempelajari ilmu pengobatan dari Dewa Obat itu, sekali pegang nadi orang itu tahulah dia bahwa tubuh orang itu sudah keracunan secara hebat! Racun yang berhawa panas, pikirnya dengan lega.

Racun yang mengandung hawa panas masih lebih mudah untuk diobati dibandingkan racun berhawa dingin. Jelas bahwa pendekar ini keracunan dan teringatlah dia ketika Sin-ciang Taihiap tadi membantunya. Ia diserang jarum-jarum oleh Pek-lian Sam-li dan pendekar ini yang melompat dan meruntuhkan jarum-jarum itu dengan lengan bajunya, gerakan yang membuat ia kagum bukan main.

Jangan-jangan ada jarum yang mengenai tubuh pendekar ini. Tangannya meraba-raba dan akhirnya ia tahu bahwa memang benar racun itu berpusat di pundak kirinya. Tanpa ragu lagi Sian Li merobek baju di pundak kiri dan benar saja. Ada bintik kehijauan di situ, kecil sekali dan ia pun tahu bahwa tentu jarum itu memasuki bagian tubuh itu dan meracuni darah.

Sebagai murid Yok-sian Lo-kai yang pandai, Sian Li tahu apa yang harus dilakukannya. Lebih dahulu dia menotok jalan darah di sekitar pundak untuk mencegah menjalarnya racun, lalu dengan ujung pedangnya yang tajam dia menoreh bintik hijau itu sehingga kulit dan dagingnya terbuka, dan ia mencongkel keluar sebatang jarum hitam kehijauan.

Kemudian, ia menyedot luka itu dengan mulutnya, menghisap keluar darah yang sudah keracunan, lalu menaruh obat bubuk pada luka di pundak. Setelah itu, ia mengeluarkan jarum emas serta perak yang dia dapatkan dari Yok-sian Lo-kai, kemudian melakukan pengobatan dengan tusuk jarum di beberapa bagian tubuh untuk memunahkan sisa-sisa hawa beracun yang mengeram di tubuh Sin-ciang Taihiap.

Kurang lebih setengah jam dia memberi pengobatan sampai dia merasa yakin benar bahwa pendekar itu telah terbebas dari racun. Ia memulihkan jalan darah pendekar itu. Pernapasannya mulai normal kembali dan tubuhnya tidak panas seperti tadi.

Melihat pendekar itu masih rebah telentang dalam keadaan tak sadar, timbul keinginan hati Sian Li untuk melihat wajahnya. Dia masih pingsan, apa salahnya kalau ia melihat wajahnya sebentar saja? Orang ini selalu menyembunyikan muka. Kenapa? Cacadkah dia? Atau ada rahasia lain?

Sekarang ia tahu bahwa tadi kecurigaannya tidak beralasan sama sekali. Pendekar ini jauh dari pada apa yang ia curigakan. Sama sekali tidak mempunyai niat buruk, apa lagi tak senonoh. Pendekar ini sedang menderita luka beracun yang amat parah ketika tadi menolongnya.

Karena itulah maka pendekar itu memaksanya melarikan diri, karena kalau tidak, tentu mereka berdua sudah tertawan pula, atau bahkan terbunuh. Dan memang benar. Kalau pendekar itu tidak memaksanya melarikan diri, tentu mereka bertiga sudah tertawan dan tidak ada kesempatan sama sekali untuk menolong suheng-nya.

Pendekar ini benar. Ia yang terburu nafsu dan terlalu mencurigainya. Dan sekarang, apa salahnya kalau ia memandang sebentar saja wajahnya yang penuh rahasia, mengambil kesempatan selagi dia belum siuman?

Dengan jari-jari tangan gemetar karena tegang dan juga diam-diam merasa malu pada diri sendiri bahwa dia sudah mencuri dan membuka rahasia orang, Sian Li menyingkap tirai di depan muka itu, lalu menyingkap rambutnya yang terurai awut-awutan menutupi muka. Ia melihat sebuah wajah yang tampan.

Muka itu berbentuk lonjong dengan dagu runcing dan ujung dagu berlekuk, alis yang tebal hitam dengan mata terpejam, dahinya lebar, hidung mancung dan bentuk muka yang amat dikenalnya. Dia terbelalak, tak bergerak seperti patung, lalu bibirnya berbisik berulang-ulang, seolah tidak percaya kepada pandang matanya sendiri.

"Yo Han...? Suheng... Kakak Yo Han...?"

Akan tetapi ia membantah sendiri. Tidak mungkin ini adalah suheng-nya yang selama bertahun-tahun dirindukannya itu. Suheng-nya itu selamanya tidak pernah suka berlatih silat. Suheng-nya sangat baik kepadanya, seperti kakak kandungnya sendiri, akan tetapi sama sekali tidak pandai silat biar pun ayah ibunya berusaha untuk menggemblengnya. Sedangkan pendekar ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Akan tetapi wajah ini...! Bagaimana mungkin ia bisa salah? Wajah ini hampir tak pernah meninggalkan lubuk hatinya. Biar pun kini telah menjadi seorang laki-laki dewasa, tetapi bentuk muka itu tidak berubah. Dahi itu, hidung mulut dan dagu itu! Ah, ia teringat akan sesuatu.

Pernah ketika suheng-nya ini mandi di sungai kecil dan bertelanjang tubuh bagian atas, ia melihat sebuah tahi lalat sebesar kedelai di dada suheng-nya itu, tepat di tengah ulu hatinya. Semenjak itu, sering kali dia menggoda dan memperolok suheng-nya dengan tahi lalat itu.

Dengan jari tangan menggigil Sian Li membuka kancing baju pendekar itu untuk melihat dadanya. Ia membuka baju itu dan... di sanalah, tepat di tengah ulu hati, bertengger tahi lalat itu.

"Kakak Yo Han...!" Kini ia tidak ragu lagi dan ia pun merangkul, menangis!

Pendekar itu membuka matanya. Ketika melihat Sian Li menangis di atas dadanya, dia mendorongnya dengan halus dan bangkit duduk. "Nona... kau..."

Tetapi dia tidak melanjutkan ucapannya karena Sian Li sudah memandangnya dengan mata yang berlinangan air mata, akan tetapi mulut gadis itu tersenyum, sinar matanya penuh kebahagiaan.

"Han-suheng (Kakak Seperguruan Han), Han-koko (Kakanda Han), kenapa engkau jadi bersikap begini terhadap aku? Benarkah engkau tidak mengenal aku lagi? Aku Sian Li, Tan Sian Li...!"

Akan tetapi Yo Han, yang selama beberapa tahun ini berkeliaran di perbatasan Tibet sehingga dijuluki Sin-ciang Taihiap oleh mereka yang pernah ditolongnya, tidak merasa heran. Tentu saja sebelumnya dia sudah tahu atau dapat menduga siapa adanya gadis remaja berpakaian serba merah itu.

"Sian Li... Sumoi..." katanya dan sinar matanya mengandung kasih sayang sedemikian mendalam sehingga Sian Li teringat akan masa lalu, ketika ia merasakan benar kasih sayang suheng-nya ini kepadanya.

"Suheng...!" Dan lupa akan segala, lupa bahwa ia bukan lagi kanak-kanak, ia menubruk dan merangkul Yo Han, menangis di dalam rangkulan pendekar itu!

Yo Han membiarkan saja dan mengelus rambut yang halus itu, maklum bahwa di saat seperti itu, semua peraturan sudah terlupakan, yang ada hanyalah peluapan perasaan. Pada saat itu, dia tahu bahwa perasaan gembira, terharu dan bahagia meluap di hati Sian Li.

Ia sendiri pun merasa terharu dan tanpa terasa kedua matanya menjadi basah. Betapa sering ia membayangkan dan mengenang Sian Li dengan hati penuh kerinduan. Hampir dia tidak dapat percaya akan tiba saat seperti sekarang ini, di mana dia merangkul Sian Li yang menangis di dadanya.

Setelah gejolak perasaan itu mereda, dengan lembut Yo Han mendorong kedua pundak gadis itu, bahkan terus memegangi kedua pundak itu dan mengamati wajahnya sambil tersenyum. Sepasang matanya mencorong sehingga diam-diam Sian Li terkejut dan amat kagum. Jika ada perubahan pada diri suheng-nya ini, barangkali hanya pada sinar matanya itulah. Ia pun membalas, mengamati wajah Yo Han.

"Aihhh, adikku yang dahulu begitu bengal, tabah, keras hati dan pemberani, mengapa sekarang telah berubah menjadi seorang gadis yang cantik dan cengeng?"

Seketika sinar mata itu bernyala. "Aku tidak cengeng! Aku menangis karena haru dan bahagia! Aihhh, Han-ko, selama ini engkau ke mana sajakah? Kenapa pula engkau tega meninggalkan aku sampai bertahun-tahun? Bagaimana pula engkau tahu-tahu sudah menjadi seorang pendekar sakti dan berjuluk Sin-ciang Taihiap? Mengapa pula engkau selalu menyembunyikan muka dan tidak ingin dikenal orang? Apa yang menyebabkan engkau menjadi seorang petualang di daerah ini dan mengapa tidak kembali kepada kami?"

Diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Yo Han tersenyum dan memandang wajah Sian Li penuh kasih sayang. Sian Li masih cerewet, masih lucu seperti dulu!

"Panjang ceritanya, Li-moi. Akan tetapi... apakah engkau sudah melupakan suheng-mu yang ditawan oleh gerombolan Lama Jubah Hitam?"

Sian Li seperti baru teringat kepada Sian Lun. "Ahhh, engkau benar juga, Han-ko. Kita harus cepat menolong dan membebaskannya, sekarang juga!"

Yo Han mengangguk, diam-diam hatinya merasa girang. Adik seperguruan yang sejak kecil sudah dianggap seperti adiknya sendiri dan yang sangat disayangnya ini ternyata merupakan seorang gadis gagah perkasa yang bertanggung jawab dan juga setia.

"Tidak akan ada gunanya kalau kita menyerbu ke sana sekarang. Malam hampir tiba dan selain di sana banyak terdapat orang lihai, juga penjagaan amat kuat dan dipasangi banyak jebakan berbahaya. Kita memang harus membebaskannya, akan tetapi bukan sekarang. Besok pagi aku akan berkunjung ke sana dan minta kepada Dobhin Lama, Ketua Lama Jubah Hitam, agar suheng-mu dibebaskan.”

"Tapi... kenapa harus menanti sampai besok? Bagaimana kalau kita telambat dan terjadi apa-apa dengan Suheng? Mungkin saja dia dibunuh!"

"Jangan khawatir, Li-moi. Aku sudah tahu akan sepak terjang gerombolan Lama Jubah Hitam. Mereka tidak memusuhi para pendekar, bahkan ingin merangkul dan mengajak para pendekar bersekutu. Mereka membutuhkan kerja sama dan bantuan orang-orang pandai dalam usaha mereka merebut tahta kekuasaan di Tibet. Perjuangan melawan pemerintah Mancu hanya sebagai sarana untuk memperoleh dukungan para pendekar saja. Pada hakekatnya, yang terpenting bagi mereka adalah menguasai Tibet, seperti juga orang-orang Nepal itu bercita-cita untuk merampas kekuasaan di Nepal dan kini mereka mencari sekutu agar kelak dapat membantu mereka. Sebab itu jangan khawatir, suheng-mu tak akan dibunuh, mungkin bahkan dibujuk untuk mau bekerja sama dengan mereka."

Hati Sian Li merasa sangat lega. Ia percaya sepenuhnya kepada Yo Han, bukan hanya percaya karena Yo Han adalah suheng-nya yang sejak dahulu paling disayangnya dan dipercayainya, akan tetapi juga karena ia ingat bahwa sudah lama Yo Han bertualang di daerah ini dan tentu mengenal benar keadaan di sini sehingga keterangannya tadi pasti benar.

"Baiklah kalau begitu, aku menyerahkan kepadamu supaya Suheng dapat terbebas dari tangan mereka. Sekarang, harap kau ceritakan semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah, Han-ko."

Yo Han merasa girang bahwa Sian Li menyebut dia koko (kakak), bukan suheng (kakak seperguruan) karena bagaimana pun juga dia tidak pernah dengan sungguh-sunggguh belajar silat dari ayah ibu Sian Li.

"Memang sebaiknya malam ini kita lewatkan dengan saling menceritakan pengalaman, Li-moi. Akan tetapi aku ingin tahu lebih dulu, bagaimana engkau dapat mengobati luka beracun di pundakku? Kurasakan racun itu cukup berbahaya, jika harus menggunakan kekuatan sendiri untuk mengusirnya dan menyembuhkan luka beracun itu, tentu akan memerlukan waktu paling sedikit sepuluh hari. Akan tetapi sekarang aku telah sembuh sama sekali! Bagaimana engkau dapat mempunyai kepandaian pengobatan yang begini hebat?"

Biasanya, Sian Li tidak haus pujian, bahkan ia akan menganggap seorang pria merayu kalau memujinya. Akan tetapi entah bagaimana sekali ini menerima pujian dari Yo Han, ia merasa amat girang dan bangga.

"Aku telah mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai," katanya sederhana untuk menyembunyikan rasa bangga dan senangnya.

"Ahhh, begitukah? Pantas saja kalau begitu. Aku sudah mendengar nama besar Dewa Obat itu. Dan kulihat ilmu silatmu juga hebat, agaknya engkau telah menguasai benar Pek-ho Sin-kun dari Suhu, akan tetapi aku melihat gerakan lain yang bukan dari ayah ibumu."

Sian Li mengangkat telunjuk kanan dan mengamangkannya kepada Yo Han. "Nah, nah, engkau mau mengakali aku, ya? Engkau belum menceritakan sedikit juga mengenai pengalamanmu dan engkau sudah memancing-mancing agar aku menceritakan segala tentang diriku."

Yo Han tertawa. Sudah lama dia tidak pernah merasakan kegembiraan hati seperti saat itu. Dan dia bersyukur kepada Tuhan bahwa dia dipertemukan dengan Sian Li di tempat yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini, apa lagi melihat Sian Li telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita, manis budi dan gagah perkasa.

Yo Han menceritakan pengalamannya dengan singkat saja. "Setelah aku meninggalkan tempat tinggal orang tuamu di Ta-tung..."

"Nanti dulu, ceritakan dulu kenapa engkau meninggalkan aku, meninggalkan kami dan sampai selama ini tidak pernah kembali, Han-ko!"

Yo Han menatap wajah gadis itu dan menarik napas panjang. Sekali lagi dia harus menghadapi suatu kenyataan dalam hidup ini, bahwa meski pun membohong adalah perbuatan tidak baik, namun ada waktunya perlu sekali orang membohong! Membohong bukan dalam arti menipu demi keuntungan pribadi, melainkan membohong agar jangan sampai menyinggung atau menyakiti perasaan orang yang dibohonginya!

Kalau sekarang dia berterus terang bahwa dia meninggalkan keluarga gadis itu karena mendengar ayah ibu gadis itu menyatakan keinginan hati supaya Sian Li jauh darinya, tentu cerita ini akan mengguncang perasaan Sian Li dan bukan hanya menyinggung, namun menyakitkan dan membingungkan. Maka, dia harus berbohong!

"Lupakah engkau, Li-moi? Aku menggantikanmu menjadi tawanan Ang-I Moli. Aku telah berjanji kepadanya bahwa kalau dia mengembalikan engkau kepada orang tuamu, aku akan menggantikanmu menjadi muridnya." Lega rasa hati Yo Han setelah dia mulai memberi keterangan. Bagaimana pun juga, dia tidaklah berbohong, hanya tidak berterus terang menceritakan keadaan selengkapnya.

Tentu saja Sian Li masih ingat akan semua itu. Bahkan dahulu ketika Yo Han pergi, hampir setiap hari ia menangis dan menanyakannya. Ia pun teringat akan pembelaan Yo Han kepadanya terhadap Ang-I Moli.

"Han-ko, jadi engkau telah menjadi murid iblis betina itu?"

"Tidak, Li-moi. Ia jahat bukan main, jahat dan kejam. Aku tidak suka menjadi muridnya. Aku berhasil lolos darinya dan aku lalu mendapatkan seorang guru di tempat rahasia. Guruku itu kini telah tiada, dan aku merantau ke sini adalah untuk memenuhi pesan terakhir guruku."

"Mencari mutiara hitam itu?"

"Benar, Li-moi. Benda mustika itu dahulu adalah milik guruku yang hilang dicuri orang. Aku hanya ingin merampasnya kembali untuk memenuhi pesan mendiang Suhu."

"Dan engkau malang melintang di daerah barat ini sebagai Sin-ciang Taihiap?”

Yo-Han menarik napas panjang. Selama bertahun-tahun ia berhasil menyimpan rahasia dirinya, akan tetapi sekali ini rahasianya terbuka. Bukan oleh orang lain, bahkan oleh Sian Li!

"Ternyata tak mudah mencari mutiara hitam seperti yang menjadi pesan terakhir Suhu," dia bercerita. "Suhu hanya mengatakan bahwa benda pusaka itu berada di daerah barat ini. Sampai hampir lima tahun aku berkeliaran di sini, bahkan sudah menjelajah sampai ke daerah Tibet, namun belum berhasil. Dalam penjelajahan itulah aku bertemu dengan hal-hal yang menggerakkan hatiku untuk turun tangan menentang kejahatan. Aku tidak ingin dikenal orang, karena itu aku selalu menyembunyikan mukaku dan tidak pernah memperkenalkan diri. Orang-orang memberi julukan Sin-ciang Taihiap. Aku membiarkan saja dan tidak ada seorang pun tahu bahwa akulah Sin-ciang Taihiap. Baru hari ini ada yang tahu, yaitu engkau Li-moi."

Sian Li tertawa dan suasana menjadi akrab sekali ketika dara itu tertawa. Yo Han lalu teringat akan masa lampau. Suara tawa Sian Li itu bagaikan bunyi musik merdu yang mendatangkan perasaan bahagia dalam hatinya. Seperti tetesan air hujan pada hatinya yang selama ini seperti tanah kering. Terasa demikian sejuk den segar dan dia pun tak dapat menahan timbulnya senyum lebar penuh kebahagiaan yang membuat wajahnya berseri.

"Hi-hi-hik, heh-heh-heh, engkau ini sungguh aneh dan lucu sekali, Han-ko. Engkau ingin menyembunyikan diri dan tidak ingin dikenal orang, ataukah engkau bahkan sengaja ingin mempopulerkan julukanmu atau penyamaranmu itu? Dengan penyamaranmu itu, maka semakin terkenallah Sin-ciang Taihiap sebagai seorang pendekar yang rambutnya riap-riapan, bercaping yang ditutupi tirai! Sebaliknya, kalau engkau tidak menyamar lagi, tidak menyembunyikan diri, siapa yang akan tahu bahwa engkau ini adalah Sin-ciang Taihiap? Kenapa mesti menyamar lagi, Han-ko?"

Yo Han mengangguk-angguk. "Engkau benar, Li-moi. Aku sudah begitu khawatir untuk dikenal orang, maka aku bahkan membuat Sin-ciang Taihiap semakin terkenal karena dipenuhi rahasia. Mulai sekarang aku akan menanggalkan penyamaran diriku sebagai Sin-ciang Taihiap, dan aku akan menjadi Yo Han biasa saja...”

Setelah berkata demikian, Yo Han yang sudah menanggalkan capingnya itu kemudian menggelung rambutnya, tidak lagi dibiarkan riap-riapan. Dia menggelung rambut, tidak dikuncirnya karena dia tidak senang harus mentaati peraturan pemerintah Mancu agar semua orang Han menguncir rambutnya. Peraturan itu dianggapnya menghina.

"Tapi caping itu jangan dibuang, Han-ko. Pertama, benda itu memang berguna untuk melindungi kepalamu dari panas dan hujan, dan ke dua, siapa tahu kadang-kadang kau perlukan juga tokoh Sin-ciang Taihiap itu."

"Li-moi, sudah cukup aku menceritakan pengalamanku, sekarang engkaulah yang harus menceritakan kepadaku keadaanmu semenjak kita saling berpisah. Engkau kini sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, lincah dan juga lihai ilmu silatnya. Tentu sekarang usiamu sudah dewasa, Li-moi."

"Ketika engkau pergi, usiaku empat tahun, Han-ko. Kita saling berpisah selama tiga belas tahun lebih, Jadi usiaku sekarang hampir delapan belas tahun. Aku belajar ilmu silat dari Ayah dan Ibu, kemudian aku menerima gemblengan dari Paman Kakek Suma Ceng Liong dan isterinya di dusun Hong-cun dekat kota Cin-an. Di sana aku bertemu dengan Suheng Liem Sian Lun, murid Paman dan Bibi. Selain itu, juga aku belajar ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai."

"Wah, engkau beruntung sekali, Li-moi, mendapat ilmu-ilmu dari banyak orang sakti. Akan tetapi bagaimana engkau dan suheng-mu itu dapat berada di sini, amat jauh dari tempat tinggal orang tuamu?"

"Aku dan Suheng Sian Lun sedang dalam perjalanan pulang. Kami baru saja berkunjung ke Bhutan, Han-ko."

"Bhutan? Kenapa pergi ke tempat yang demikian jauh?"

Sian Li lalu bercerita tentang Gangga Dewi dan paman kakeknya Suma Ciang Bun, tentang perjalanan mereka yang jauh, juga tentang pengalamannya ketika bertemu dan bertentangan dengan Lulung Lama dan sekutunya.

Dua orang muda yang merasa amat berbahagia dalam pertemuan yang sama sekali tak pernah mereka sangka-sangka itu, bercakap-cakap sampai larut tengah malam. Mereka makan malam secara amat sederhana, dari persediaan makanan yang disimpan Yo Han di dalam goa. Mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, menjawab semua pertanyaan.

Setelah lewat tengah malam, baru mereka istirahat dan tidur sesudah saling mengetahui hampir semua keadaan diri masing-masing. Hanya ada satu hal yang masih membuat Yo Han sangsi dan ragu, yaitu tentang hubungan batin antara Sian Li dan suheng-nya.

Mereka adalah kakak beradik seperguruan, akan tetapi apakah tidak lebih dari pada itu? Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis tidak ada hubungan darah, dan keduanya tampan dan cantik, melakukan perjalanan berdua saja. Tak ada anehnya bila mereka itu saling mencinta, bahkan agaknya tidak wajar kalau tidak ada perasaan cinta di antara mereka.

Yo Han tidak berani bertanya akan hal itu, akan tetapi dia menduga bahwa Sian Li agaknya amat mencinta suheng-nya itu. Dan dia pun tidak akan merasa heran. Suheng Sian Li itu memang seorang pemuda yang tampan dan gagah, sudah sepatutnya kalau menjadi jodoh Sian Li. Hanya saja, dia merasa heran dan tidak enak, mengapa hatinya menjadi pedih kalau membayangkan kakak beradik seperguruan itu saling mencinta dan menjadi jodoh?

Bahkan bayangan ini menghantuinya, membuat dia gelisah dan tidak dapat pulas. Baru setelah jauh lewat tengah malam, dia dapat mengusir gangguan itu dan tidur pulas.

**********

Pada keesokan harinya, Yo Han menunjukkan kepada Sian Li anak sungai berair jernih yang mengalir tak jauh dari goa itu, di mana dara itu dapat membersihkan diri. Mereka mandi bergantian dan dengan badan segar mereka sarapan pagi seadanya, hanya roti kering dan daging kering yang dihangatkan di atas api unggun, kemudian mereka pergi meninggalkan goa.

"Kita harus menolong suheng, Han-ko," kata Sian Li ketika mereka keluar dari hutan.

"Tentu saja, Li-moi." Dia menepuk buntalan pakaiannya. "Aku sudah mempersiapkan capingku. Kalau aku menghadapi para Lama, aku harus berperan sebagai Sin-ciang Taihiap. Dan aku akan minta dengan hormat kepada mereka untuk mau membebaskan suheng-mu."

"Akan tetapi bagaimana mungkin, Han-ko? Bagaimana jika mereka tidak mau menuruti permintaanmu?"

"Aku tidak pernah bermusuhan dengan para Lama itu, dan mereka adalah orang-orang yang menghargai kegagahan. Bila perlu, aku akan menantang mereka dengan taruhan bahwa kalau aku menang, mereka harus memenuhi permintaanku."

"Kalau kau kalah?"

"Hemm, kita harus bertanggung jawab dan tidak lari dari kenyataan, Li-moi. Kalau aku kalah, mereka boleh melakukan apa saja terhadap diriku."

"Tapi... itu berbahaya sekali, Han-ko!"

Yo Han tersenyum. "Aku tahu, Limoi. Semenjak aku mempelajari ilmu silat, tahulah aku bahwa aku sudah terjun ke dalam dunia kekerasan di mana terdapat penuh bahaya. Tetapi, hidup seperti apakah yang tidak berbahaya? Hidup itu sendiri sudah merupakan suatu bahaya, Li-moi. Hidup adalah perjuangan, suatu perjuangan orang tiada hentinya melawan bahaya yang datang dari segala jurusan. Hidup merupakan suatu tantangan yang harus kita perjuangkan, kita hadapi, dan perjuangan itu adalah untuk mengatasi semua tantangan itu, semua bahaya itu!"

Sian Li mengerutkan alisnya dan saking tertarik, ia langsung menghentikan langkahnya, memandang kepada pemuda itu. "Ehhh? Apa maksudmu, Han-ko? Kehidupan seorang dari dunia persilatan seperti kita ini memang menghadapi banyak tantangan, banyak bahaya, akan tetapi kehidupan seorang biasa, apakah bahaya dan tantangannya?"

Yo Han tersenyum, "Tiada bedanya, Li-moi. Apakah kehidupan seorang petani miskin itu tidak penuh tantangan yang harus mereka hadapi dan atasi? Tantangan itu dapat datang dari kemiskinan, dari kesehatan yang terganggu, dari kesejahteraan keluarga, dari kerukunan keluarganya. Orang bisa ditantang oleh kekurangan makan, pakaian dan tempat tinggal, oleh gangguan kesehatan oleh percekcokan rumah tangga, dan seribu satu tantangan lagi. Semua itu mau tidak mau, harus dihadapi dan diatasi. Kita tidak mungkin dapat lari darinya, karena itulah isi kehidupan ini, yaitu urusan jasmani, urusan duniawi."

"Hemm, kalau begitu orang kaya dan orang berpangkat tentu tidak menghadapi semua tantangan dan kesulitan..."

"Siapa bilang? Mereka pun dapat sakit, dapat cekcok dengan keluarga. Bahkan masih ditambah lagi. Orang kaya harus mempertahankan kekayaannya, menjaganya agar tak berkurang atau lenyap, selalu khawatir akan kehilangan. Demikian pula dengan orang berkedudukan yang selalu berusaha mempertahankan kedudukannya, takut kehilangan. Pendeknya, selagi hidup sebagai manusia, kita tidak akan dapat bebas dari tantangan dan bahaya. Justru itulah isi kehidupan, itulah romantikanya kehidupan, menghadapi semua itu, berusaha mengatasinya. Perjuangannya melawan semua tantangan, itulah seninya, seni kehidupan! Betapa akan membosankan kalau hidup ini tak ada tantangan yang harus ditanggulangi, dihadapi dan diatasi. Senang baru akan terasa senang kalau kita pernah merasakan susah. Kepuasan yang sebenarnya hanyalah terasa kalau kita pernah merasa kecewa. Bukankah begitu, Li-moi?"

Mata Sian Li terbelalak, kemudian tertawa. "Wah-wah-wah, bicaramu seperti seorang guru besar kebatinan saja, Han-ko. Menurut Ayah dan Ibuku, dahulu engkau tidak suka akan kekerasan, tidak suka belajar silat, akan tetapi sekarang malah menjadi seorang pendekar sakti dan bicaramu seperti seorang pendeta!"

"Li-moi, jika bicara mengenai kehidupan, apakah hanya para pendeta saja yang harus mengetahuinya? Kehidupan adalah kita sendiri, Li-moi. Sudah sewajarnya, dan bahkan sepatutnya kalau setiap orang tahu dan mengerti akan kenyataan di dalam hidup ini. Sampai sekarang pun aku tidak suka akan kekerasan, Li-moi, karena aku tahu dan yakin benar bahwa kekerasan bukanlah cara terbaik untuk hidup. Namun, menghadapi tantangan di dalam kehidupan ini, sekali waktu kita membutuhkan juga kekuatan untuk menanggulanginya, dn seperti juga semua ilmu, ilmu silat pun amat berguna kalau saja digunakan melalui garis yang benar, bukan sebagai alat mengumbar nafsu. Nah, kurasa engkau pun tentu sudah mengerti akan semua itu, karena aku tahu bahwa orang tuamu adalah sepasang suami isteri yang bijaksana. Apa lagi engkau telah digembleng oleh paman kakekmu dan isterinya, juga oleh seorang tokoh besar seperti Yok-sian Lo-kai."

Sian Li mengangguk-angguk kagum. "Cara mereka bicara tidak jauh bedanya dengan apa yang kau katakan semua tadi, Han-ko..."

"Hemmm, ada orang-orang datang ke sini, Li-moi. Jangan katakan bahwa aku adalah Sin-ciang Taihiap..."

Sian Li mengangkat muka memandang ke depan dan benar saja. Ada enam orang datang dengan langkah lebar. Dari jauh saja, sudah nampak bahwa lima orang di antara mereka adalah para pendeta Lama Jubah Hitam, dapat dilihat dari kepala mereka yang gundul dan jubah hitam mereka yang lebar. Yang seorang lagi adalah seorang pemuda.

Setelah mereka datang lebih dekat dan Sian Li mengenal siapa pemuda itu, wajahnya berubah merah dan ia menjadi marah. Pemuda itu bukan lain adalah Cu Ki Bok murid Lulung Lama yang kurang ajar itu. Dan lima orang gundul itu adalah lima orang anggota Hek-I Lama.

"Jahanam busuk! Akan kubunuh kalian!" Sian Li pun sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi Yo Han menyentuh lengannya,

"Sabarlah, Li-moi, biarkan mereka mengatakan dulu apa maksud mereka mencari kita."

Kini Cu Ki Bok sudah tiba di depan mereka. Pemuda tinggi tegap yang tampan gagah itu tersenyum, sedangkan lima orang pendeta Lama yang berdiri di belakangnya, diam tak bergerak seperti patung.

“Selamat pagi, Nona Tan Sian Li. Senang sekali bertemu denganmu, karena Nona tentu akan dapat memberi tahu kepada kami di mana kami dapat bertemu dengan Sin-ciang Taihiap."

Sian Li tersenyum mengejek. "Hemm, keparat busuk, andai kata aku tahu sekali pun tak akan sudi aku memberi tahukan kepadamu!"

"Hemm, Nona jangan berlagak. Kalau tidak ada Sin-ciang Taihiap, apa kau kira akan mampu lepas dari tangan kami? Sekarang kami menginginkan Sin-ciang Taihiap, untuk menyampaikan pesan dari ketua kami. Katakan di mana aku dapat bertemu dengan dia, dan aku tidak akan mengganggumu lagi, melihat muka pendekar itu."

"Sobat, katakan saja kepada kami apa yang hendak kau sampaikan kepada Sin-ciang Taihiap, dan kamilah yang akan menyampaikan kepadanya," kata Yo Han dengan suara tenang dan lembut.

Cu Ki Bok memandang pada Yo Han dengan alis berkerut. Jelas bahwa ia memandang rendah kepada pemuda itu. Dia tidak mengenalnya, tetapi merasa tidak senang karena pemuda ini berdua dengan gadis yang dirindukannya.

"Siapa kamu? Dan mengapa aku harus menyampaikan pesan untuk Sin-ciang Taihiap kepada kamu?"

Sian Li marah sekali melihat sikap dan mendengar ucapan yang nadanya menghina dan memandang rendah itu. Akan tetapi Yo Han tersenyum, gembira bahwa kini dia dapat menghadapi orang tanpa perlu menyembunyikan wajah aslinya dan orang itu tetap tidak mengenalnya. Benar juga pendapat Sian Li tadi malam. Sin-ciang Taihiap yang harus dirahasiakan, bukan Yo Han!

"Namaku Yo Han. Aku orang biasa saja, akan tetapi aku sudah dipesan oleh Taihiap bahwa jika ada orang yang mencarinya, boleh menyampaikan kepada kami berdua. Kalau engkau percaya kepada kami, nah, katakan apa yang kau ingin sampaikan kepadanya. Kalau tidak percaya, sudahlah, kau cari saja sendiri."

Sian Li mengeluarkan suara tawa mengejek. "Huh, mana pengecut ini berani mencari Sin-ciang Taihiap? Baru melihatnya saja, dia akan lari terbirit-birit!" Lalu dilanjutkannya dengan nada suara marah, "Kawanan serigala ini licik dan pengecut, beraninya hanya main keroyokan. Buktinya, Suheng-ku ditawan karena keroyokan. Jahanam Cu Ki Bok, kalau kalian mengganggu Suheng-ku, aku akan membasmi kalian semua, tak seorang pun kubiarkan hidup!"

Mendengar ucapan yang keras itu, Cu Ki Bok tidak menjadi marah, bahkan dia tertawa geli. "Ha-ha-ha, kau mengira suheng-mu itu kami ganggu, Nona? Nona masih saja salah sangka. Kami bukanlah penjahat. Kami adalah pejuang-pejuang yang memiliki cita-cita mengusir penjajah Mancu. Kami membutuhkan kerja sama dengan para pendekar. Bukankah ketua kami tadinya juga menawarkan kerja sama dengan Nona dan suheng Nona itu? Dan sekarang suheng-mu dengan suka rela membantu kami, dan dia hidup bersenang-senang. Hemm, suheng-mu memang pandai mempergunakan kesempatan, aku sendiri sampai iri melihat dia bersenang-senang seperti itu..."

"Kau bohong!" Sian Li membentak, tetapi diam-diam dia ingin sekali tahu kesenangan apa yang dimaksudkan oleh orang itu.

"Sudahlah, aku pun datang bukan untuk membicarakan urusan Liem Sian Lun. Aku diutus oleh ketua kami untuk bicara dengan Sin-ciang Taihiap. Kuharap saja dia akan muncul menemui kami."

"Orang macam engkau tidak berharga untuk bertemu dengan Sin-ciang Taihiap," kata Sian Li. "Sampaikan saja kepadaku atau kau boleh minggat dari sini."

Wajah Cu Ki Bok berubah merah. Dia merasa direndahkan dan dihina oleh gadis itu. Akan tetapi harus diakuinya bahwa dia memang merasa jeri untuk berhadapan dengan pendekar sakti itu.

"Baiklah, akan kusampaikan kepadamu, Nona Tan Sian Li, akan tetapi tidak kepada cacing tanah itu." Cu Ki Bok menggerakkan kepala ke arah Yo Han dengan sikap amat merendahkan sehingga wajah Sian Li berubah, merah karena marahnya.

"Cu Ki Bok, kalau engkau menghina kami berdua, berarti engkau menghina Sin-ciang Taihiap karena Taihiap sudah memberi kuasa kepada kami berdua untuk mewakilinya bicara dengan siapa saja! Nah, katakan kepada kami berdua apa keperluanmu tanpa menghina orang, atau aku akan mewakilinya membunuhmu di sini juga!"

Cu Ki Bok tidak gentar terhadap Sian Li, akan tetapi dia takut kalau Sin-ciang Taihiap muncul membantu nona itu. "Baik, dengarlah pesan kami. Ketua kami, Dobhin Lama mengundang Sin-ciang Taihiap untuk mengadakan pertandingan adu ilmu..."

"Huh, dan kalian tentu akan menjebaknya dan mengeroyoknya dengan mengandalkan banyak orang, bukan?" Sian Li mengejek. Ia sengaja memanaskan hati pihak lawan.

"Sama sekali tidak!" bantah Cu Ki Bok penasaran. "Nona, engkau belum mengenal siapa adanya Supek (Uwa Guru) Dobhin Lama! Beliau adalah seorang tokoh besar di Tibet yang mempunyai kedudukan tinggi. Tidak mungkin Supek menggunakan siasat. Supek telah lama mendengar akan nama besar Sin-ciang Taihiap dan sekarang ingin mengadu ilmu dengan Sin-ciang Taihiap. Kalau Sin-ciang Taihiap mampu menandingi Supek Dobhin Lama, maka mutiara hitam akan dikembalikan kepadanya."

"Hemmm, tidak cukup dengan itu! Kalau dia dapat mengalahkan Dobhin Lama, selain mutiara hitam diserahkan kepadanya, juga Suheng Liem Sian Lun harus dibebaskan!" kata Sian Li. "Kalau syarat ini tidak dijanjikan, aku tak sudi menyampaikan kepadanya."

"Ha-ha-ha, sekarang juga dia sudah bebas, tetapi mana mungkin dia mau meninggalkan segala kesenangan itu? Akan tetapi baiklah, aku yang tanggung bahwa syarat ke dua itu dapat diterima dan disetujui oleh Supek. Kalau Supek kalah, Liem Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan diserahkan kepada Sin-ciang Taihiap. Akan tetapi sebaliknya, kalau Supek yang menang, Sin-ciang Taihiap harus membantu perjuangan untuk menentang penjajah Mancu."

Tentu saja Sian Li tidak berani lancang menerima syarat itu, maka ia menoleh kepada Yo Han dan berkata, "Han-ko, bagaimana dengan pendapatmu? Biar pun Taihiap sudah menyerahkan keputusannya kepadaku, akan tetapi aku ingin menanyakan pendapatmu sebelum menerima syarat itu."

Yo Han mengangguk-angguk. "Sin-ciang Taihiap adalah seorang pendekar yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Bangsa Mancu menjajah, hal itu jelas tidak adil dan tidak benar, maka tentu saja dia tidak akan berkeberatan untuk menentang penjajah Mancu."

Sian Li mengangguk-angguk. "Tepat sekali, aku pun berpikir demikian, Han-ko. Nah, Cu Ki Bok, akan kusampaikan pesan itu kepada Sin-ciang Taihiap. Aku ulangi taruhannya. Kalau dia menang, mutiara hitam harus diserahkan kepadanya dan Suheng-ku harus dibebaskan, tapi kalau Dobhin Lama yang menang, Sin-ciang Taihiap harus membantu perjuangan menentang penjajah Mancu. Kalau dia menerima tantangan itu, lalu kapan dan di mana pertandingan itu akan diadakan?"

Cu Ki Bok tersenyum. "Dalam hal ini, Supek ingin memperlihatkan iktikad baiknya dan kejujurannya ketika mengajak Sin-ciang Taihiap mengadu ilmu. Supek menyerahkan kepada Sin-ciang Taihiap untuk menentukan waktu dan tempatnya."

"Kalau begitu sekarang juga!" Sian Li berkata dengan cepat.

Dara yang cerdik ini segera mengambil keputusan yang dianggapnya menguntungkan pihaknya. "Dan tempatnya, di puncak bukit sebelah sana itu!" Ia menunjuk ke arah bukit di sebelah kiri.

Ia tahu bahwa tempat yang menjadi sarang Hek-I Lama berada di sebelah kanan, maka bukit itu tentu merupakan tempat bebas dari pengaruh kekuasaan Hek-I Lama sehingga kalau diadakan pertandingan di sana, maka pihak musuh tidak akan sempat mengatur siasat untuk menjebak atau mengeroyok.

Cu Ki Bok memandang ke arah bukit itu dan mengangguk-angguk. "Baiklah. Kami akan melapor kepada ketua kami. Sebentar lagi, menjelang tengah hari, tentu Supek sudah berada di puncak bukit itu. Harap saja janji kalian bukan merupakan bual kosong belaka. Selamat tinggal!" Cu Ki Bok lalu pergi dari situ diikuti lima orang pendeta Lama.

"Kenapa engkau memilih tempat pertandingan di puncak bukit itu, Li-moi?"

"Aku sengaja memilih tempat yang jauh dari mereka agar kita dapat mendahului mereka ke tempat itu sehingga mereka tidak sempat membuat jebakan. Sebaiknya kalau kita sekarang juga pergi ke sana, Han-ko, untuk mengenal medan dan mempersiapkan diri."

Yo Han kagum. Kiranya Sian Li, Si Bangau Merah yang dahulu sering digendongnya dan diajak bermain-main itu, kini sudah menjadi seorang gadis yang cantik jelita, lihai, pemberani dan juga cerdik sekali. Cara gadis itu tadi menghadapi Cu Ki Bok saja sudah menunjukkan kecerdikannya. Diam-diam dia merasa bangga.

Mereka lalu berangkat mendaki bukit yang tadi ditunjuk oleh Sian Li. Bukit itu ternyata merupakan sebuah bukit yang sunyi, penuh dengan hutan belukar dan tidak nampak ada dusun di atas bukit. Dusun-dusun hanya terdapat pada kaki bukit.

Begitu mereka mendaki ke atas, ternyata tidak terdapat dusun di lereng-lereng bukit itu yang penuh hutan belukar dan rawa-rawa. Bahkan mendaki ke puncak pun tidak mudah walau pun bukit itu tidak terlalu besar. Karena kini dia sudah berada di tempat di mana ditentukan adu kepandaian itu, untuk menjaga kalau ada pihak musuh yang melihatnya, Yo Han sudah mengenakan caping berikut tirai sutera hitamnya lagi, dan membiarkan rambutnya juga terlepas riap-riapan.

Akan tetapi, betapa heran mereka ketika tiba di puncak, mereka melihat sebuah pondok berdiri di situ! Sebuah pondok kayu yang nampak masih baru, mungkin baru beberapa bulan saja umurnya. Kecil namun kokoh kuat. Di belakang dan kanan kiri pondok itu terlihat ditanami sayur-sayuran. Di depan pondok, ada sebuah taman yang penuh bunga indah dan amat menyedapkan pandang mata.

Tentu saja Sian Li dan Yo Han tertegun sejenak dan saling pandang. Sungguh di luar dugaan mereka bahwa di tempat sunyi itu terdapat pondok tempat tinggal orang! Siapa orangnya yang tinggal di tempat sunyi seperti ini? Tentu hanya pertapa atau pendeta yang sengaja mengasingkan diri dari dunia ramai.

Pada waktu dengan ragu-ragu mereka memasuki pelataran rumah itu yang merupakan sebuah taman dikelilingi pagar bambu, tiba-tiba terdengar bentakan halus suara wanita, "Berhenti! Siapa kalian yang berani lancang memasuki pekarangan rumah orang tanpa diundang?!"

Yo Han dan Sian Li berhenti, lalu memandang ke arah suara yang keluar dari pinggir pondok. Ketika pemilik suara muncul, mereka memandang heran.

Wanita itu berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi masih nampak cantik dan manis. Pakaiannya sederhana namun bersih dan ringkas. Tubuhnya masih padat dan tegak, sikapnya gagah. Sebatang pedang yang tergantung di pinggang menunjukkan bahwa wanita ini seorang ahli silat yang tidak lemah. Rambut panjang yang sudah dihias uban itu digelung ke atas, dengan hiasan tusuk sanggul dari perak berbentuk bunga seruni.

Wanita itu dengan alis berkerut dan sinar mata tajam menyelidik, mengamati Yo Han dan Sian Li. Juga ia merasa heran melihat bahwa tamu-tamu yang tidak diundangnya itu seorang pemuda tampan bermata tajam mencorong, dan seorang gadis yang jelita.

Sian Li yang lincah jenaka itu sudah dapat menguasai keheranannya. Ia pun tersenyum manis.

"Aih, Bibi ini manusia ataukah peri? Bibi kelihatan seperti seorang wanita setengah tua yang cantik dan gagah, agaknya memang seorang manusia dari darah daging. Akan tetapi kalau manusia, kenapa hidup di puncak bukit yang amat sepi ini seorang diri?"

Wanita itu terbelalak dan matanya bersinar marah. "Kau bocah lancang mulut!"

Wanita itu menggerakkan lengan bajunya dan tiba-tiba tubuhnya sudah meloncat dan melayang ke depan Sian Li. Gerakannya demikian ringan, seperti terbang saja. Begitu tiba di depan Sian Li, dia menggerakkan tangan menampar ke arah pundak gadis itu.

Tamparannya nampak lembut dan tidak mengandung tenaga, akan tetapi ada angin yang dingin menyambar ke arah pundak SianLi. Gadis ini terkejut, mengenal pukulan yang mengandung sinkang (tenaga sakti) dingin. Cepat ia pun mengelak dan sambaran tangan wanita itu luput.

Kini tangan kanan wanita itu menyambar dan kembali tangan itu menampar ke arah pundak kiri Sian Li. Kalau tadi tangan kiri wanita itu mendatangkan angin yang dingin sekali, sekarang tangan kanannya yang menyambar itu membawa angin pukulan yang amat panas sehingga telapak tangan itu beruap! Kembali Sian Li terkejut dan cepat ia menggeser kaki, menarik diri kebelakang sehingga pukulan kedua itu pun luput.

"Ehhh...?!"

Wanita itu nampak amat terkejut dan heran. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis remaja yang lancang mulut itu mampu menghindarkan diri dari dua tamparannya yang hebat! Ia merasa penasaran dan siap untuk menyerang sungguh-sungguh, akan tetapi pada saat itu terdengar suara mencegahnya.

"Ibu, harap jangan pukul orang...!"

Wanita setengah tua itu terkejut dan membalikkan tubuh, dan ketika ia melihat seorang pemuda keluar dari pintu pondok, ia cepat mengangkat kedua tangannya ke atas dan memandang penuh kekhawatiran.

"Ciang Hun, mengapa engkau bangun? Seharusnya engkau melanjutkan pengobatan dengan menghimpun hawa murni agar engkau sembuh benar!"

Pemuda itu tersenyum, "Ibu, aku sudah sembuh."

Mendengar ini, wanita itu berlari menghampiri dan langsung merangkul pundak pemuda itu dengan pandang mata yang membuat Sian Li terharu. Pandang mata wanita itu terhadap puteranya sungguh penuh kasih sayang mendalam! Wanita itu seorang ibu yang teramat besar kasih sayangnya kepada puteranya...


SELANJUTNYA SI BANGAU MERAH BAGIAN 16


Thanks for reading Si Bangau Merah Bagian 15 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »