Rajawali Emas Jilid 29

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJAWALI EMAS JILID 29

Di pihak Bun Lim Kwi yang sekarang sudah kelihatan setengah tua dan masih gagah, ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan sikap calon menantunya yang malu-malu itu. Sikap demikian adalah wajar, maka dia tidak merasa tersinggung malah tertawa bergelak. Ada pun Bun Wan yang mengerling pada saat gadis itu tadi memberi hormat kepada ayahnya, merasa jantungnya berdebar. Bukan main tunangannya itu! Cantik jelita seperti bidadari, melampaui segala yang pernah ia impikan. Diam-diam ia memberi selamat pada diri sendiri atas kemujuran ini.

Cui Bi diam-diam gelisah sekali melihat betapa akrab pergaulan antara orang tuanya dan Ketua Kun-lun-pai itu. Ia tetap bersembunyi sampai tamu-tamu yang disambut hangat ini sudah dipersilakan duduk kembali ke daerah kursi kehormatan. Hidangan berupa arak dan daging mulailah dikeluarkan dan keadaan menjadi semakin meriah. Dengan amat singkat Beng San membuka pertemuan itu sambil berdiri di atas panggung. Suaranya lantang terdengar jelas karena semua orang menghentikan percakapan mereka untuk mendengarkan.

"Cuwi sekalian yang terhormat. Sebagai Ketua Thai-san-pai, saya menghaturkan banyak terima kasih dan selamat datang atas kunjungan dan perhatian saudara sekalian sebagai saksi dari pendirian partai baru yang kami dirikan, yaitu Thai-san-pai. Terima kasih pula kami ucapkan atas pemberian selamat dan bingkisan-bingkisan, semoga hal ini akan bisa mempererat persaudaraan di antara kita dan semoga Thian yang akan membalas segala kebaikan saudara sekalian. Kepada para saudara yang datang dengan kandungan hati yang tulus ikhlas kami persilakan menikmati hidangan sekedarnya. Ada pun mereka yang mengandung maksud lain, segala rasa penasaran yang terpendam, sekaranglah kiranya terbuka kesempatan bagi mereka itu untuk mengeluarkannya agar disaksikan oleh semua tamu yang terhormat."

Setelah berpidato singkat ini, Beng San kembali ke tempat duduknya. Kata-katanya yang terakhir itu singkat saja, namun langsung menikam mereka yang memang datang bukan mengandung niat baik. Kata-kata ini diucapkan bukan tanpa alasan, tetapi karena memang sudah ada kejadian yang menunjukkan bahwa di antara para tamu yang datang terkandung pula niat yang buruk. Hal ini terbukti dari adanya orang yang membunuh anak murid Thai-san-pai, juga mereka yang berusaha mati-matian untuk memecahkan jalan rahasia, dan mereka yang telah menculik Cui Bi serta mengeroyoknya.

Beng San terpaksa mengeluarkan pernyataan ini karena dari atas panggung tadi ia masih belum melihat tokoh-tokoh yang mengeroyoknya dua hari yang lalu, juga tidak kelihatan adanya Giam Kin.

Dari tempat ia duduk, sepasang mata Beng San yang amat tajam itu menyapu para tamu dan terlihat jelas olehnya kini betapa di antara para tamu itu terdapat bekas-bekas lawan dan orang-orang yang selama ini menganggapnya sebagai musuh. Diam-diam pendekar ini menggolongkan para tamunya menjadi tiga golongan.

Pertama-tama tentu saja golongan para sahabat baik yang datang khusus untuk memberi selamat dan ikut bergembira dengan pendirian Thai-san-pai, mereka ini antara lain adalah Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, tokoh-tokoh Pek-lian-pai dan beberapa tokoh kang-ouw yang dikenalnya baik.

Golongan ke dua adalah golongan yang selama ini memusuhinya dan di antara golongan ini ia mengenal beberapa tosu Ngo-lian-kauw, orang-orang Bu-eng-pai yang dipimpin oleh seorang wanita tua yang ia kenal, yaitu Ang Kim Nio. Juga ia melihat adanya tokoh-tokoh bajak sungai dari Huang-ho yang tentu tidak senang hati mereka sejak Ho-hai Sam-ong terbunuh oleh Li Cu.

Ada pula Koai-sin-kiam Oh Tojin yang dulu membantu kakak kandungnya yang jahat, Tan Beng Kui, dan masih banyak lagi orang-orang dari golongan jahat. Dia menduga bahwa tokoh-tokoh besar yang mengeroyok kemarin dulu, tentu bersembunyi dan nanti juga akan muncul kalau sudah tiba saatnya. Orang-orang itu memang termasuk tokoh-tokoh aneh, tidak seperti kebanyakan.

Ada pun golongan ke tiga adalah yang tidak mudah diraba bagaimana nanti sikapnya. Di dalam golongan ini termasuk pula para wakil Siauw-lim-si, dan sungguh pun Siauw-lim-pai tidak langsung memusuhinya, namun ia melihat dua orang di antara mereka adalah Hek Tung Hwesio dan Pek Tung Hwesio yang dahulunya dianggap sudah melarikan diri dari Siauw-lim-pai dan menjadi musuh mendiang Cia Hui Gan. Malah pernah dua orang ini dikalahkah oleh Li Cu.

Juga guru silat kota raja Lai Tang si pongah itu yang sukar dijajaki isi hatinya. Dan masih banyak orang-orang aneh dari selatan yang tidak dikenalnya namun yang jelas memiliki kepandaian tinggi. Suasana makin menegang ketika para tamu sudah minum arak dan minuman keras ini agaknya membuat mereka mulai terlepas bicaranya dan keadaan makin berisik. Namun keadaan tuan rumah dan orang-orang muda yang menemaninya itu tetap tenang-tenang saja, seakan-akan tidak tahu akan perbuatan ini.

Beng San maklum bahwa perkumpulan yang baru didirikannya itu hanya mempunyai tiga puluh lebih orang anggota, tak boleh dibilang cukup kuat untuk menghadapi bahaya. Akan tetapi ia percaya kepada diri sendiri, apa lagi di situ ada isterinya yang lihai dan terutama sekali karena sekarang di samping Cui Bi yang ia tahu tak lihai dari ibunya, terdapat pula anaknya yang baru tiba, Sin Lee, Kong Bu.

Ia maklum bahwa dua orang puteranya ini adalah bocah-bocah gemblengan, bahkan ia boleh mengandalkan tenaga murid-murid Hoa-san-pai terutama Li Eng. Hui Cu memang belum begitu tinggi ilmunya sedang Kun Hong tetap merupakan tokoh penuh rahasia bagi Beng San.

Pemuda ini sama sekali tidak pernah mau mengaku bahwa ia memiliki kepandaian tinggi, dan karena Beng San merasa berhutang nyawa, maka pendekar ini tidak berani untuk mencoba-coba. Biar pun masih amat muda, sikap Kun Hong seperti seorang yang sudah tua, membuat orang tidak berani main-main kepadanya.

Di samping kekuatan keluarga sendiri yang cukup membesarkan hati ini, di sana masih banyak sahabat-sahabat yang kiranya takkan berpeluk tangan kalau melihat Thai-san-pai diganggu penjahat. Terutama sekali tentu saja, calon besan dan calon mantunya Bun Lim Kwi dan Bun Wan.

Cuma seorang saja yang kadang-kadang membuat Beng San berdebar, yaitu Pak-thian Locu. Apa bila kakek itu nanti muncul, tidak ada orang lain yang boleh diandalkan untuk menghadapinya kecuali dia sendiri. Kakek itu terlampau lihai, dan tingkatnya sudah tinggi sekali sehingga dia sendiri pun masih ragu-ragu apakah akan dapat mengatasinya.

Beberapa orang tamu sudah mulai mabuk dan tiba-tiba Lai Teng guru silat pongah yang tinggi besar itu berdiri dari bangkunya. Agaknya teman-temannya semeja sudah berhasil menghasutnya dan sekarang dia berdiri dengan kaki terpentang dan dia bertepuk tangan beberapa kali untuk menarik perhatian.

Setelah semua orang memandangnya, ia pun mulai berkata dengan suara nyaring, "Heii! Thai-san-pai ini partai macam apa sih? Perkumpulan para pengejar huruf, para pengejar konde, ataukah perkumpulan orang-orang gagah? Jika ketuanya seorang ahli silat tinggi, seorang raja pedang, kenapa perayaan ini begini adem? Membosankan!"

Ucapan ini terang merupakan penghinaan yang sengaja dikeluarkan untuk memancing keributan. Akan tetapi Beng San dan keluarganya hanya memandangnya dengan sikap tenang-tenang saja.

Terdengarlah pekik sorak di sana-sini, terutama dari mereka yang memang ingin segera menyaksikan keributan terjadi di tempat itu. Ada suara dari sudut berseru, "Lai-kauwsu, kau mempunyai julukan Si Cakar Naga, di kota raja siapa yang tidak pernah mendengar nama besarmu? Tetapi di sini, jangan kau main-main. Apa kau berani memperlihatkan kepandaianmu di panggung? Jangan-jangan kau akan diketawai Thai-san-pai!"

Semua orang menengok untuk melihat Si Pembicara, akan tetapi tidak ada yang tahu betul siapa yang menguacapkan suara tadi. Hanya orang-orang pandai di antara tamu dan tentu saja pihak tuan rumah yang tahu bahwa suara ini dikeluarkan oleh seorang pandai yang mempunyai ilmu khikang tinggi sehingga dapat memindahkan arah suaranya. Orang yang pandai dengan ilmu ini, biar pun ia berdiri di sebelah barat, suaranya dapat terdengar seperti datang di sebelah timur.

Beng San maklum bahwa orang yang memusuhinya mulai ‘membakar’ suasana. Namun dia tenang saja dan memang sudah siap menghadapi segala kericuhan yang disengaja oleh para lawannya. Sebagai sebuah partai baru, Thai-san-pai harus bisa memperlihatkan keangkerannya, harus dapat menjaga nama, dan keadaan yang sekarang dia hadapi ini merupakan ujian berat namun baik sekali.

Lai Tang Si Cakar Naga ikut menengok juga akan tetapi karena tidak dapat melihat orang yang mengeluarkan kata-kata itu, ia segera melihat ke arah panggung dan kemarahannya sudah meluap.

"Siapa takut diketawai dan siapa berani menertawai aku?"

Tubuhnya melayang dan ia sudah naik ke atas panggung yang memang disediakan itu. Ketika melayang ke atas papan panggung itu, tubuhnya seperti daun kering saja, amat ringan dan sedikit pun tidak mengeluarkan suara. Menyaksikan ginkang yang cukup hebat ini, para tamu yang muda dan yang tidak begitu tinggi tingkat ilmunya, segera bertepuk tangan riuh-rendah memuji.

Lai Tang yang disoraki ini ‘mendapat hati’. Sambil petantang-petenteng ia berkata ke arah rombongan tuan rumah.

"Tidak ada partai baru didirikan tanpa diuji. Thai-san-pai adalah partai baru, tapi siapa pernah mendengar tentang ilmu silat Thai-san-pai? Dalam perayaan semacam ini, sudah sepatutnya Thai-san-pai memperlihatkan isinya. Biarlah aku menjadi orang pertama untuk belajar kenal dengan kelihaian ilmu siiat Thai-san-pai!"

Kong Bu bergerak dari bangkunya, juga Sin Lee mengepal tinju, akan tetapi Beng San memberi isyarat kepada dua orang puteranya itu untuk menahan diri dan bersikap sabar, kemudian ia menggapai kepada Oei Sun, murid kepala yang berdiri di rombongan para murid Thai-san-pai.

Isyarat ini cukup dapat dimengerti oleh Oei Sun yang dengan langkah tenang kemudian menghampiri panggung. Setelah menjura ke depan Beng San dan Li Cu, murid kepala ini lalu melompat ke atas panggung, menghadapi Lai Tang sambil tersenyum dan memberi hormat.

"Lai-kauwsu, atas perkenan ketua kami, saya diwajibkan melayani Kauwsu yang datang sebagai tamu dan kami Thai-san-pai sebagai tuan rumah wajib melayani semua kehendak tamu. Harap Kauwsu ketahui bahwa Thai-san-pai didirikan bukan sekali-kali bermaksud untuk menjagoi, terlebih-lebih pula sama sekali bukan didirikan dengan maksud mencari permusuhan dengan orang atau pihak mana pun juga."

"Ha-ha-ha-ha!" Lai Tang tertawa bergelak. "Kalau begitu, apakah Thai-san-pai merupakan sebuah perkumpulan yang mengajar seni tari, ataukah kebatinan, apakah perkumpulan bermain judi? Apakah Thai-san-pai bukan perkumpulan silat?"

Merah muka Oei Sun mendengar ejekan ini, namun mulutnya masih tersenyum ramah dan tenang. "Lai-kauwsu, sudah tentu saja guru kami mendirikan sebuah perkumpulan silat dan Thai-san-pai adalah perkumpulan silat karena ketuanya adalah seorang ahli silat yang sudah dikenal oleh seluruh dunia. Akan sama sekali bukan perkumpulan silat yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi orang pongah dan sombong. Semua anak murid Thai-san-pai mempelajari ilmu silat hanya untuk memenuhi kehendak guru dan memenuhi sumpah Thai-san-pai, yaitu menggunakan kepandaian silat untuk memberantas kejahatan dan kelaliman, menegakkan kebenaran serta keadilan, mengabdi kebajikan, bukan untuk menjadi jagoan yang berlagak tengik!"

Lai Tang merasa disindir dan matanya melotot. "Bagus sekali! Kalau begitu ingin sekali aku menguji ilmu silat Thai-san-pai, apakah sudah cukup tinggi untuk sanggup membuat anak-anak muridnya menjadi pendekar. Silahkan ketuanya maju, biar aku Lai Tang mohon sedikit pelajaran."

Oei Sun juga sudah marah. "Lai-kauw-su, aku Oei Sun adalah murid Thai-san-pai. Suhu sudah memerintahkan aku untuk melayanimu, jadi kalau kau sebagai tamu menghendaki pertandingan untuk menguji ilmu silat, silakan, aku bisa melayanimu."

"Ahh, begitukah? Nah, kau terimalah seranganku ini!"

Lai Tang serta merta menerjang dengan serangannya dan agaknya guru silat ini hendak mencapai kemenangan dalam waktu singkat karena begitu menerjang dia telah mainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan dan yang membuat dia dijuluki Si Cakar Naga, yaitu ilmu silat yang dia namakan Liong-jiauw-kang (Ilmu Cakar Naga).

Ilmu silat ini dimainkan dengan kedua tangan terbuka, dan jari-jari tangan dipergunakan untuk mencengkeram sedangkan pukulan dilakukan oleh pangkal tangan. Disertai tenaga lweekang yang kuat, ilmu Liong-jiauw-kang ini memang berbahaya sekali karena selain memukul, kedua tangan itu dapat mencengkeram atau menangkap.

Pada hakekatnya ilmu Liong-jiauw-kang ini tiada bedanya dengan ilmu Eng-jiauw-kang. Akan tetapi dasar Lai Tang orangnya sombong, ia mengadakan perubahan pada ilmu Silat Eng-jiauw-kang ini dan menganggap bahwa ilmu silat ini merupakan ciptaannya, malah ia memakai julukan Si Cakar Naga segala!

Oei Sun adalah murid pertama dari Beng San. Biar pun bakatnya tidak amat baik, namun karena ketekunannya mempelajari ilmu silat selama belasan tahun, bahkan selama dua puluh tahunan ini, tentu saja ilmu silatnya sudah cukup tinggi.

Beng San serta Li Cu memang tidak melihat bakat baik pada dirinya, namun Oei Sun memiliki kejujuran, kesetiaan dan keteguhan hati. Pasangan suami isteri ini menemukan Oei Sun ketika pemuda ini di suatu dusun mengamuk menghadapi pengeroyokan belasan orang perampok untuk membela penduduk di situ, padahal ia sama sekali tidak tahu ilmu silat.

Sifat gagah dan jiwa ksatria inilah yang menarik hati Beng San. Karena Oei Sun tidak mempunyai sanak keluarga, dia lalu diajak ke Thai-san dan diberi pelajaran ilmu silat. Oei Sun amat setia dan malah sampai sekarang dia tidak pernah beristeri.

Tentu saja Beng San tidak menurunkan ilmu-ilmu seperti Im-yang Sin-hoat atau ilmu silat isterinya Sian-li Kun-hoat kepada Oei Sun, hanya puteri mereka saja yang mewarisi kedua ilmu ini. Namun Beng San mengajarnya Thai-san Kun-hoat yang dia ciptakan bersama isterinya. Dalam Ilmu Silat Thai-san Kun-hoat ini terkandung beberapa pukulan-pukulan penting dari kedua ilmu silat di atas.

Melihat datangnya penyerangan Lai Tang yang cepat dan bertubi-tubi itu, Oei Sun dengan tenang menggeser kaki ke belakang dan beberapa kali ia mengelak dengan cepat sambil memperhatikan gaya permainan lawan. Memang beginilah sikap anak murid Thai-san-pai, apa bila diserang lawan, tidak buru-buru membalas melainkan menangkis atau mengelak beberapa kali sambil memperhatikan gaya lawan untuk mencari kelemahannya.

Pada hakekatnya, dasar ilmu silat Lai Tang tidaklah hebat, maka setelah mengelak lima kali saja Oei Sun sudah dapat mengetahui kelemahan lawan. Cengkeraman yang menjadi pokok penyerangan itu dilakukan dengan tangan bergerak dari depan dada sehingga siku lengan itu menjulur ke depan dan inilah kelemahah Lai Tang.

Setelah mengelak dan menangkis beberapa belas jurus lamanya, Oei Sun mulai mencari kesempatan. Pada waktu dia mengelak dari cengkeraman tangan kanan, tangan kiri Lai Tang sudah siap, lengannya ditekuk dengan tangan di depan dada. Saat itulah Oei Sun cepat memukul ke depan, tepat pada siku kiri Lai Tang, mengarah ke jalan darah pada sambungan siku.

"Aduh...!" Lai Tang terhuyung mundur, mukanya pucat dan tangan kanannya memegangi siku kiri yang terlepas sambungannya oleh pukulan tadi!

Oei Sun cepat menjura sambil tersenyum, "Terima kasih bahwa Lai-kauwsu sudah suka mengalah kepadaku."

'"Keparat! Jangan sombong dulu, aku belum kalah!" teriak guru silat kasar ini dan tangan kanannya tahu-tahu telah mencabut sebatang golok dari pinggangnya.

Biar pun lengan kirinya sudah lumpuh karena sambungan sikunya terlepas ia masih dapat bergerak cepat dan goloknya menyambar ke arah leher Oei Sun. Semua orang terkejut melihat gerakan golok yang amat cepat datangnya, namun Beng San yang menonton dari kursinya hanya tersenyum tenang saja. Muridnya itu biar pun kurang berbakat, namun cukup teliti dan terlatih sehingga kalau hanya menghadapi seorang lawan kasar macam Lai Tang saja pasti tak akan memalukan.

"Eh, Lai-kauwsu hendak main-main dengan senjata?” seru Oei Sun sambil menundukkan kepala dan menggeser kaki ke kiri, tangan kanannya bergerak dan tercabutlah sebatang pedang dari pinggangnya.

Ketika golok lawannya menyambar lagi dari samping, dia menangkis sambil menyelinap maju dan tahu-tahu pedangnya sudah melanjutkan tenaga tangkisan atau benturan itu merupakan tusukan ke arah lambung. Lai Tang dapat menangkis pula dan bertandinglah dua orang ini dengan seru.

Harus dipuji juga keuletan Lai Tang. Lengan kiri yang lumpuh itu menghambat gerakan-gerakannya, tapi dia tidak mau menyerah mentah-mentah dan goloknya yang digerakkan dengan tenaga besar menyambar-nyambar ganas.

Namun menghadapi ilmu pedang Oei Sun, jelas bahwa ia kalah setingkat. Ilmu pedang Thai-san-pai yang dimainkan Oei Sun adalah pecahan dari Im-yang Kiam-hoat dan Sian-li Kiam-hoat, hebatnya bukan kepalang, juga amat indah ditonton.

Belum sampai dua puluh jurus pandang mata Lai Tang menjadi kabur, kepalanya pening dan melihat lawan seakan-akan sudah berubah menjadi banyak sekali. Baiknya Oei Sun sebagai murid Beng San, bukanlah seorang kejam. Ketika mendapat kesempatan baik, ia berhasil menggurat pergelangan tangan kanan Lai Tang sehingga guru silat pongah ini berteriak sambil melepas goloknya. Darah bercucuran dari luka di pergelangan tangan, luka yang tidak berbahaya tapi cukup mengeluarkan banyak darah.

Oei Sun sudah menyimpan pedangnya, membungkuk untuk memungut golok kemudian menyerahkannya kepada Lai Tang sambil berkata, "Terima kasih bahwa Lai-kauwsu telah mengalah dua kali kepadaku.”

Lai Tang menerima goloknya dan memandang dengan mata mendelik, mendengus sekali lalu meloncat turun dari panggung, diiringi sorak sorai tamu yang memuji-muji Oei Sun. Di tengah sorak sorai itu, sebelum Oei Sun meloncat turun, tiba-tiba saja nampak bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu seorang tosu tua sudah berdiri menghadapi Oei Sun di atas panggung.

Pendeta ini berjubah kuning ringkas, pada punggungnya tampak gagang sebuah pedang. Sambil tersenyum ia menjura dan berkata, "Kepandaian Sicu sangat hebat, tidak kecewa menjadi murid Thai-san-pai. Lebih-lebih ilmu pedang tadi, amat indah dilihat sungguh pun kegunaannya belum tentu sehebat keindahannya! Sicu, maukah kau memperlihatkan ilmu pedang Thai-san-pai kepada pinto (aku)?"

Melihat tosu ini, Beng San mengerutkan alisnya. Dia mengenal tosu itu yang bukan lain adalah Koai-sin-kiam Oh Tojin, dahulu pun pernah membantu Tan Beng Kui, kakaknya. Dari julukannya saja, Koai-sin-kiam (Pedang Sakti Aneh), dapatlah diduga bahwa tosu ini merupakan seorang ahli pedang dan seingat Beng San muridnya itu tidak akan menang menghadapi tosu ini yang lebih tinggi tingkatnya.

Akan tetapi, melihat bahwa muridnya itu tak menolak tantangan tosu itu, sudah tentu saja dia tidak dapat menyuruh muridnya untuk mundur sebelum mereka bergerak. Dia hanya memandang dengan alis berkerut.

Ada pun Oei Sun, sebetulnya dia adalah seorang yang cukup mempunyai kesabaran. Apa bila dia yang dihina orang kiranya ia takkan mudah menjadi marah. Akan tetapi ucapan tosu itu tadi merupakan penghinaan bagi Thai-san-pai, merupakan ucapan memandang rendah ilmu pedang Thai-san-pai, maka ia menjadi penasaran dan mengambil keputusan untuk menjaga nama baik suhu-nya dan partainya. Ia pun balas memberi hormat sambil berkata,

“Tentu saja sebagai tamu Totiang berhak meminta sesuatu dan sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayani tamunya. Akan tetapi, siapakah Totiang ini, hendaknya sudi memberi nama yang benar agar aku, Oei Sun murid Thai-san-pai, dapat terbuka mata dan mengenalnya."

"Ha-ha-ha-ha, kau orang muda yang pandai merendah, Oei-sicu. Bagus, karena sikapmu inilah kau akan selamat dari tanganku. Ketahuilah, pinto adalah Oh Tojin, dan bergelar Koai-sin-kiam. Seperti kau ketahui, dari julukan pinto itu sudah sepatutnya pinto tertarik akan ilmu pedang. Nah, pergunakanlah pedangmu untuk menyerang, supaya pinto dapat merasakan kelihaian ilmu pedang Thai-san-pai!"

Tanpa banyak cakap Oei Sun mencabut pedangnya. "Harap Totiang suka mengeluarkan pedang Totiang"

"Ha-ha-ha!" tosu itu tertawa dengan sikap jumawa sekali. "Sudah kukatakan tadi, sikapmu menolongmu. Pinto tak perlu menggunakan pedang karena sekali menggunakan pedang, tentu kau celaka. Jangan ragu-ragu, kau pergunakanlah pedangmu."

Oei Sun mendongkol sekali. "Totiang sendiri yang minta, harap jangan menyesal. Lihat pedang!"

Pedang Oei Sun berkelebat menyambar. Tosu itu dengan gerakan yang baik dan cepat sekali telah berhasil menghindarkan diri. Oei Sun menyerang terus dengan hati-hati, akan tetapi benar-benar tosu di depannya ini tidak dapat dipersamakan dengan Lai Tang yang sombong tadi.

Gerakan tosu ini ringan sekali dan berdasarkan ilmu silat yang tinggi. Geseran-geseran kakinya teratur dan walau pun bertangan kosong, belum pernah pedang Oei Sun dapat menyentuh bajunya.

"Hemmm, Oei Sun terlalu sungkan, kalau ia bersungguh melakukan serangan maut, tosu badut itu tentu akan repot," kata Li Cu yang duduk di sebelah kiri suaminya.

Beng San mengangguk. "Memang, mendengar bahwa tosu itu takkan mencelakakannya, cukup membuat Oei Sun juga ikut sungkan melukainya. Kesalahan besar, terhadap orang yang begitu tinggi hati harus memberi hajaran. Tetapi betapa pun juga, Oei Sun bukanlah lawannya."

Tosu itu benar-benar mempermainkan lawannya. Sambil mengelak dan meloncat ke sana ke mari, mulutnya terus mengoceh. "Ah, jurus ini seperti jurus Hoa-san-pai. Orang muda, sudah banyak kuketahui tentang ilmu pedang, banyak yang kelihatannya indah dan bagus tapi tidak berisi, seperti misalnya ilmu pedang Hoa-san-pai itu. Memang bagus dipandang, tapi kalau dipergunakan dalam pertempuran, tidak ada gunanya." Ia mengelak ke kiri dan menyambung. "Seperti jurusmu yang ini, apa gunanya? Lihat, ini baru gerakan istimewa yang disebut Udang Sakti Mencapit Ikan!"

Pada saat itu, pedang Oei Sun menyambar dari atas ke bawah membacok pundaknya. Oh Tojin miringkan tubuh dan pada saat pedang itu menyambar di dekat tubuhnya, tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu punggung pedang benar-benar telah di ‘capit’ oleh dua buah jari tangannya yang telah ditekuk.

Hebatnya, betapa pun Oei Sun berusaha membetot kembali pedangnya, ia tidak berhasil. Capitan atau jepitan kedua jari tangan yang ditekuk itu benar-benar sangat kuat seperti jepitan baja!

"Ha-ha-ha, inilah jurus saktiku, Oei-sicu. Tangan kirimu masih bebas, apakah kau hendak memukul? Bisa, tapi jagalah capit saktiku," kata tosu itu sambil tertawa-tawa.

Oei Sun tentu saja tidak mau mengalah secara demikian. Meski pedangnya sudah dijepit dan tak dapat ia tarik kembali, tapi ia belum boleh dibilang kalah. Mendengar tantangan ini, ia lalu menggerakkan tangan kirinya memukul bukan ke arah tubuh tosu itu melainkan ke arah tangan yang menjepit pedangnya. Usaha ini ia lakukan supaya tangan itu suka melepaskan jepitannya dan pedangnya dapat terlepas.

Akan tetapi sekarang tosu itu menggerakkan tangan kirinya pula dan...

"Capp!"

Lengan tangan Oei Sun pada pergelangannya kena dijepit pula sehingga sekarang Oei Sun tak dapat menggerakkan kedua lengannya sama sekali! Jepitan pada pergelangan itu mengakibatkan rasa nyeri yang menusuk jantung.

"Ha-haha, Oei-sicu, apakah kau belum menerima kalah?"

Oei Sun adalah murid seorang pendekar sakti, mana bisa dia menyerah kalah sebelum roboh? Ia menggeleng kepala, lalu kaki kanannya bekerja, menendang keras ke depan. Tetapi tiba-tiba tubuhnya terdorong ke belakang dan karena kakinya sedang menendang, otomatis ia terjengkang dan roboh.

Pedangnya masih dalam jepitan tangan tosu lihai itu yang tertawa-tawa bergelak. Sekali tangan kanan tosu itu bergerak, pedang yang dijepit itu sudah menancap ke atas papan panggung sampai setengahnya!

Oei Sun merayap bangun, berdiri dan menjura kepada tosu itu, "Aku Oei Sun mengaku kalah, tingkat Totiang lebih tinggi dari padaku."

Setelah berkata begitu, Oei Sun mengerahkan tenaga mencabut pedangnya dan meloncat turun, memberi hormat kepada suhu-nya dengan wajah muram.

Beng San hanya menegurnya singkat, "Lain kali jangan terlalu sungkan bila berhadapan dengan lawan, Oei Sun!" Murid itu mengangguk dan berdiri di pinggiran.

Pada saat itu, Li Eng sudah berdiri di depan Beng San dan berkata, "Paman, aku akan menghadapi Si Sombong itu!"

Anehnya, dia berlari-lari menghampiri panggung berdua dengan Hui Cu. Beng San tidak keberatan, namun terheran-heran dan ingin mencegah dua orang gadis itu naik bersama. Apa maksud Li Eng? Apakah hendak mengeroyok?

Adanya Beng San memberi persetujuan, karena ia maklum akan isi hati gadis itu. Tadi Oh Tojin menyebut-nyebut dan memburuk-burukkan nama Hoa-san-pai, sudah sepatutnya kalau gadis itu hendak membela nama baik perguruannya dan ia maklum bahwa dengan kepandaiannya itu, Li Eng sudah pasti akan dapat mengatasi Oh Tojin.

Akan tetapi, kalau gadis itu hendak maju berdua mengeroyok Oh Tojin, ahh, hal itu akan sangat memalukan Hoa-san-pai! Sebelum ia sempat mencegah, dua orang gadis itu telah melompat ke atas panggung dengan gerakan yang ringan dan cepat, gerakan khas dari Hoa-san-pai.

Pada saat itu, para tamu sedang bersorak dan bertepuk tangan memuji Oh Tojin. Setelah mendengar pujian orang, tosu ini menjadi girang sekali dan lagaknya dibuat-buat. Ia lalu menjura ke empat penjuru dan berkata nyaring,

''Tidak ada harganya untuk dipuji! Pinto belum memperlihatkan kepandaian karena hanya menghadapi seorang lemah, mana ada kesempatan memperlihatkan kepandaian asli?"

Akan tetapi tepuk tangan semakin bergemuruh. Ia mengira bahwa orang-orang itu sedang memuji-muji dia, tidak tahunya yang disoraki adalah gerakan dua orang gadis muda yang cantik-cantik dan yang gerakannya benar-benar mengagumkan itu. Oh Tojin cepat-cepat menoleh, kemudian memandang dan senyumnya melebar.

"Aha, kiranya Thai-san-pai mempunyai pula murid-murid wanita yang cantik dan pandai! Tentunya kalian lebih pandai dari pada Oei Sun tadi. Akan tetapi kalian maju berdua, ini bagus sekali. Memang sepatutnya... bagus sekali kalian maju berdua jadi berimbang dan agar jangan dikatakan bahwa aku orang tua mau menang sendiri. Ha-ha-ha!"

Li Eng tertawa-tawa dan Hui Cu yang pendiam hanya berdiri tegak. Tadi memang Li Eng yang membisikkan akalnya untuk menggoda tosu ini. Sebenarnya Hui Cu tak setuju, tapi karena ia maklum akan kenakalan Li Eng dan pula memang ia mendongkol mendengar betapa tosu ini menghina Hoa-san-pai, di samping kepercayaannya akan kelihaian Li Eng, maka ia menuruti kehendak adiknya itu.

"Eh, tosu tua yang bernama Oh Tojin berjuluk Koai-sin-kiam! Kami berdua ini juga menjadi tamu-tamu Thai-san-pai dan kami naik ke sini karena kau tadi sudah menyingung nama Hoa-san-pai, perguruan kami!"

"Ha-ha-ha-ha, kalian anak murid Hoa-san-pai, ya? Aha, kalian naik mau apakah? Jangan main-main, biar pun ilmu pedang Thai-san-pai yang diperlihatkan bocah tadi tidak berapa hebat, akan tetapi kalau ditandingi dengan ilmu pedang Hoa-san-pai saja kiraku belum tentu kalian akan dapat mengalahkan." Tosu itu memotong ucapan Li Eng.

"Bukan begitu, Totiang. Kami berdua tadi mendengar ocehanmu tentang keburukan ilmu pedang Hoa-san-pai yang hanya indah dilihat namun tidak ada gunanya. Apakah benar begitu anggapanmu?"

Oh Tojin gelagapan mendengar pertanyaan Li Eng. Sebenarnya tadi dia berani mencela Hoa-san-pai karena ia tidak melihat adanya tokoh-tokoh Hoa-san-pai hadir di tempat itu. Sekarang muncul dua orang gadis muda ini yang mengaku sebagai murid Hoa-san-pai, sedangkan ia sudah terlanjur mengeluarkan kata-kata mencela ilmu pedang Hoa-san-pai, terpaksa ia tidak dapat mundur lagi.

"Jika memang betul begitu, kalian mau apakah? Apakah kalian bisa membuktikan bahwa ucapanku tadi tidak benar?" tantangnya sambil pringas-pringis.

Li Eng tersenyum, bukan main manisnya kalau dia tersenyum sambil memainkan kedua matanya itu. "Totiang, tentang keburukan ilmu pedang Hoa-san-pai, kami sendiri tak akan menyombong dan aku yang muda tidak berani pula membantah. Akan tetapi gerakanmu tadi ketika menjepit pedang Oei-enghiong agaknya tidak menang hebatnya dengan jurus Hoa-san-pai yang bernama Kepiting Sakti Mencapit Ikan!"

Tosu itu melengak. "Tidak bisa jadi! Ilmu mencapit dengan dua buah jari itu merupakan ciptaanku, mana bisa Hoa-san-pai memiliki ilmu seperti itu? Dan bukan kepiting melainkan udang sakti. Jangan kau main-main!"

"Hi-hik, siapa main-main? Kau mau bukti? Lihatlah! Eh, Enci Hui Cu, kau cabut pedangmu dan bacok aku seperti yang dilakukan Oei-enghiong tadi!" kata Li Eng kepada Hui Cu.

Mau tidak mau Hui Cu menahan ketawanya sehingga ia tersenyum-senyum lalu mencabut pedangnya. Dengan gerakan perlahan dan lambat sekali ia membacok ke arah Li Eng.

Dengan lagak dibuat-buat seperti lagak tosu tadi, Li Eng mengelak dan ketika pedang itu begitu lambat menurun di dekatnya ia lalu mencapit pedang itu dengan dua jari tangannya yang ditekuk. Gerakannya begitu persis dengan gerakan tosu tadi, akan tetapi karena baik bacokan mau pun jepitan dilakukan perlahan dan lambat sekali, terang bahwa dua orang gadis cantik itu mempermainkan Si Tosu.

Meledaklah suara ketawa para tamu. Para tokoh-tokoh besar yang melihat pertunjukan ini bahkan tidak sanggup menahan ketawa mereka. Benar-benar seorang bocah yang nakal sekali, pikir mereka.

Li Cu tak dapat menahan ketawanya, menutupi mulut dengan sapu tangannya, sedangkan Beng San tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Cui Bi terkekeh-kekeh dan memegangi perutnya, juga Sin Lee dan Kong Bu terbahak-bahak.

Hanya Kun Hong yang menggeleng-geleng kepala sambil menggerutu. "Kurang ajar sekali dia... kurang ajar sekali..."

Sementara itu, Oh Tojin tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Anak setan, apakah kau sengaja hendak menghina pinto?"

"Aih-aih, siapa menghina, keledai tua? Siapa yang tadi mengatakan bahwa Hoa-san-pai memiliki ilmu pedang yang tiada gunanya? Kau yang menghina perguruan kami, sekarang kau berbalik bilang kami yang menghina. Hemm, sungguh tak tahu malu, tosu bau hidung kerbau!"

Memang Li Eng nakal dan pintar bicara, hal ini sudah pernah dialami oleh Kong Bu yang ketika itu hampir terpelanting dari kursinya saking tertawa bergelak-gelak melihat lagak kekasihnya mempermainkan tosu sombong itu.

"Perempuan sombong! Bocah setan, apakah kau berani menghadapi pedangku?" Sambil berkata begitu Oh Tojin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkan pedangnya agar cahayanya berkilau tertimpa sinar matahari.

Li Eng menunjukkan sikap ketakutan. "Wah-wah, Enci Hui Cu, lebih baik kau lekas turun panggung, jangan-jangan kau keserempet pedang. Pedang tajam di tangan orang mabuk yang tidak mampu main pedang, benar-benar lebih berbahaya dari pada di tangan orang yang baru belajar."

Sambil tersenyum-senyum saking gelinya Hui Cu melayang turun dari atas panggung lalu menghampiri kembali tempat duduknya, disambut tertawa lebar semua orang yang duduk di pihak Thai-san-pai. Juga para tamu tadi terpingkal-pingkal menyaksikan ini, sehingga tempat itu benar-benar menjadi meriah seakan-akan di situ sedang terdapat pertunjukan pelawak-pelawak yang pandai mengocok perut.

Kemarahan Oh Tojin tak dapat ditahannya lagi. "Bocah setan, kau bersiaplah menghadapi pedangku. Hemmm, kalau aku tidak bisa memberi hajaran kepadamu, jangan sebut aku Koai-sin-kiam lagi!"

"Ehh, betulkah? Nah, biarlah kini kau berkenalan dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang kelihatan indah tapi tak berguna ini. Awas pedang!"

Tosu itu tercengang, juga para tamu, karena gadis itu mengancam ‘awas pedang’ akan tetapi belum kelihatan memegang pedang. Tiba-tiba saja, belum juga hilang keheranan Oh Tojin, tahu-tahu di depan mukanya berkelebat sinar seperti kilat diikuti hawa pedang yang dingin menyambat hidungnya!

"Ayaaa...!" ia berseru kaget.

Cepat ia mencelat ke belakang sambil menyabet-nyabetkan pedangnya ke depan untuk menjaga diri. Ia masih berjumpalitan sambil menyabet-nyabetkan pedang dan baru berani turun ketika ia tidak merasa adanya desakan. Ketika berdiri kembali, ia mendengar suara tertawa ramai. Kiranya gadis itu masih berdiri di tempatnya yang tadi, hanya sekarang tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan.

Hebat, pikirnya dengan hati kecut. Jurus apa yang diperlihatkan gadis ini tadi? Ia berlaku hati-hati dan tanpa menyombong lagi ia berkata,

"Majulah, aku telah siap menghadapi pedangmu."

Li Eng tersenyum mengejek.

Tiba-tiba terdengar seruan orang, "Tahan dulu."

Dua orang itu memandang, juga semua tamu. Kiranya Kun Hong yang berseru itu dan pemuda ini menaiki anak tangga yang menuju ke panggung dengan tergesa-gesa.

Dari tempat duduknya tadi, Kun Hong telah menyaksikan kepandaian Oh Tojin. Ia maklum bahwa menghadapi Li Eng, tosu itu tak akan menang. Ia cukup mengenal pula watak Li Eng yang selain jenaka dan nakal, juga keras hati. Mendengar bahwa Hoa-san-pai dihina orang, ia kuatir kalau Li Eng mendendam dan menjatuhkan tangan besi kepada tosu itu. Maka, tanpa dipikir panjang ia lalu berseru menahan pertempuran dan naik ke panggung, tidak dengan cara meloncat seperti yang lain, melainkan lari melalui anak tangga.

"Eng-ji, kau hendak bermain pedang dengan totiang ini, berhati-hatilah jangan sampai kau membunuhnya. Kau tahu aku tidak suka kau membunuh orang!"

Li Eng tertawa, "Jangan kuatir, Paman Hong. Aku tidak akan membunuh orang ini."

"Juga tidak melukai secara hebat."

"Tidak, aku hanya ingin membuat dia kapok supaya tidak menghina Hoa-san-pai lagi."

Sementara itu, semua orang yang mendengarkan percakapan ini menjadi bengong dan terheran-heran sejenak, kemudian meledaklah suara tawa mereka. Sikap Kun Hong tadi seperti seorang nenek bawel yang memberi nasehat cucunya. Justru sikap kedua orang ini menimbulkan kesan bahwa mereka amat memandang rendah kepada Oh Tojin.

Kalau sampai pemuda halus itu melarang gadis keponakannya membunuh atau melukai berat kepada tosu itu, bukankah itu hanya boleh diartikan bahwa Si Pemuda ini sudah yakin akan kemenangan keponakannya? Inilah yang lucu dan tentu saja Oh Tojin menjadi marah dan mendongkol sekali.

Dari tempat duduknya, Beng San berbisik kepada Li Cu, "Kulihat Kun Hong ini sungguh seorang pemuda yang luar biasa wataknya, dan halus budi pekertinya."

Li Cu tersenyum. "Dia seperti bayanganmu pada waktu kau masih muda." Kedua suami isteri itu saling pandang lalu, tersenyum.

Sementara itu, Kun Hong lega hatinya. Ia kembali menuruni anak tangga meninggalkan panggung, dan juga Oh Tojin yang membanting-banting kakinya.

"Orang-orang Hoa-san-pai memang benar-benar sombong luar biasa! Apa yang dia bilang tadi? Kau tidak boleh membunuhku, tidak boleh melukai aku? Lihat, sebaliknya pintolah yang akan merobohkanmu dalam beberapa jurus saja. Lihat pedangku!"

Dengan gerakan yang penuh kemarahan pedangnya berkelebat menyambar ke arah Li Eng. Tapi ia tertegun karena selain pedangnya hanya mengenai angin belaka, juga gadis di depannya itu telah lenyap dari depan matanya. Selagi ia bingung, ia mendengar suara ketawa lirih di belakangnya.

Cepat ia membalik sambil mengayun pedang menyerang lagi. Tapi kembali ia kehilangan lawannya yang ternyata dengan ginkang yang luar biasa telah lenyap dan sudah berada di belakangnya. Berkali-kali ia menyerang akan tetapi hasilnya sama dan tak pernah ia dapat melihat lawannya yang cepat sekali gerakannya, seperti setan.

Suara ketawa serta seruan kagum terdengar di sana sini ketika para tamu menyaksikan gerakan tubuh gadis itu yang memang luar biasa cepatnya, melebihi cepatnya gerakan pedang lawan. Tosu itu mulai marah, tapi diam-diam hatinya mengecil.

"Hai, bocah setan. Jangan hanya melarikan diri, bertandinglah secara berdepan kalau kau memang laki-laki!"

"Hi-hik, tosu bau, apakah kau sudah-gila? Aku memang seorang wanita, bukan seorang laki-laki!"

Suara ketawa makin riuh-rendah menyambut kelakar ini dan wajah Oh Tojin makin merah. Kini ia melihat gadis itu berdiri tegak di depannya dan ketika ia menyerang lagi, Li Eng sengaja tidak mau mengelak melainkan menggunakan pedangnya untuk menangkis dan balas menyerang.

Kini Li Eng sengaja mengeluarkan kepandaiannya. Pedangnya berkelebat cepat laksana kilat menyambar-nyambar sehingga dalam belasan jurus saja Oh Tojin sudah terdesak hebat, mengelak dan menangkis ke sana ke mari tanpa dapat membalas sedikit pun juga.

"Tosu bau, kau bilang ilmu pedang Hoa-san-pai tak ada gunanya? Nah, rasakanlah ilmu pedang yang kumainkan ini. Inilah Hoa-san Kiam-hoat!"

Oh Tojin memang pernah menyaksikan ilmu pedang Hoa-san-pai, tetapi selama hidupnya tak pernah dia mengira bahwa Hoa-san Kiam-hoat dapat dimainkan seperti ini hebatnya. Diam-diam ia terkejut dan menyesal sekali. Wajah yang tadinya merah sekarang menjadi pucat, napasnya terengah-engah dan makin sibuklah dia menangkis hujan ujung pedang yang tak terhitung banyaknya itu.

"Koai-sin-kiam Oh Tojin, jagalah serangan ilmu pedang Hoa-san-pai ini!" gadis itu berseru keras dan pedangnya makin hebat menekan.

Oh Tojin berteriak kaget, jenggotnya terbabat putus dan beterbangan ke bawah dan pada detik berikutnya ia memekik kesakitan, tangannya berdarah dan pedangnya terlepas dari pegangan! Sambil mengerang kesakitan tosu ini melompat turun dari panggung dan terus melarikan diri tanpa menoleh lagi.

Terdengar sorak-sorai riuh-rendah, sebagian menyoraki tosu yang lari itu, sebagian lagi bersorak karena melihat Li Eng kini memperlihatkan pertunjukan hebat, yaitu pedangnya sudah dapat menyambar pedang tosu itu dan pedang lawan itu sekarang terputar-putar bagai kitiran di ujung pedangnya!

Melihat lawannya lari tunggang-langgang, Li Eng berseru keras, "Oh Tojin, ini pedangmu, terimalah kembali...!"

Sekali ia mengerakkan pedang di tangannya, maka pedang lawan yang tadinya berputar cepat seperti kitiran itu terlempar melayang ke arah Oh Tojin yang sedang berlari. Hebat sekali bidikan Li Eng karena dengan tepat gagang pedang itu menimpa kepala orang dan jatuh ke bawah.

Sejenak Oh Tojin pucat saking kagetnya. Akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa kepalanya tidak bocor, ia cepat-cepat memungut pedangnya dan terus melarikan diri pergi meninggalkan tempat itu diikuti gelak tawa para penonton. Gelak tawa para penonton sirap kembali ketika mereka melihat seorang tosu tua sudah meloncat ke atas panggung.

Tosu ini pun berpakaian kuning dan rambutnya yang panjang digelung ke atas. Biar pun pakaiannya kuning sederhana sebagai tosu, namun rambutnya dihias dengan lima bunga teratai dan pada bajunya terdapat tanda-tanda jasa dari istana. Inilah Thian It tosu, salah seorang di antara tujuh orang pengawal Pangeran Mahkota Kian Bun Ti, juga seorang tokoh Ngo-lian-kauw dan pernah menjadi tangan kanan Kim-thouw Thian-Li.

Melihat naiknya tosu ini, Kun Hong yang mengenalnya menjadi tidak enak hatinya, lalu berkata perlahan tapi cukup keras untuk didengar oleh Beng San.

"Heran betul, dia itu seorang di antara pengawal-pengawal istana Pangeran Mahkota, mau apa ke sini?"

Kagetlah Beng San mendengar ucapan Kun Hong ini. Dia memandang penuh perhatian. Ia maklum dari tanda bunga teratai itu bahwa tosu ini adalah seorang tosu Ngo-lian-kauw, akan tetapi apakah orang ini muncul sebagai tokoh Ngo-lian-kauw, ataukah dia sebagai pengawal istana Pangeran?

Tosu itu sudah menjura ke arah tuan rumah dan berkata, suaranya yang rendah parau membayangkan lweekang tinggi, "Pinto Thian It Tosu ingin sekali berkenalan dengan ilmu silat Thai-san-pai. Syukur apa bila Ketua Thai-san-pai sendiri berkenan memberi petunjuk karena pinto sudah lama mendengar nama besarnya."

Sin Lee segera menghadap Ayah, "Ayah, biarlah saya menghadapi tosu ini."

Beng San mengangguk. Ia pun ingin mengenalkan putera-puteranya kepada para tokoh kang-ouw yang datang dari pelbagai tempat itu.

"Boleh, kau hati-hatilah. Dia seorang Ngo-lian-kauw, pandai menggunakan senjata rahasia dan pandai ilmu sihir, biasanya curang, maka kau yang waspada. Juga karena dia orang istana, jangan sampai membunuh."

Sin Lee mengangguk. Ketika kakinya mengenjot tanah, tubuhnya dari tempat itu langsung melayang ke atas panggung dengan kedua lengan tangan dikembangkan. Sorak sorai menyambut kehadirannya dan Thian It Tosu kaget sekali menyaksikan cara melompat yang seperti burung raksasa ini. Ia pun memandang pemuda tampan gagah itu penuh selidik, lalu menegur,

"Orang muda, caramu meloncat tadi tidak sama dengan gaya loncatan para anak murid Thai-san-pai tadi. Siapakah kau dan pinto menantang Thai-san-pai atau ketuanya, kenapa kau yang maju?"

"Thian-It Tosu, memang jitu wawasanmu. Aku bukan anak murid Thai-san-pai, akan tetapi Ketua Thai-san-pai adalah ayahku. Karena kau tadi menantang ayahku, sudah sepatutnya bila aku mewakilinya untuk menghadapimu. Thian-It Tosu, kau sendiri sekarang ini berdiri di sini mewakili siapakah? Apa bila kau sebagai tokoh Ngo-lian-kauw datang menantang, bukanlah hal aneh dan akan kulayani. Akan tetapi karena aku mendengar bahwa kau telah menjadi seorang pengawal istana Pangeran Mahkota, maka kalau kedatanganmu ini sebagai pangawal istana, harap kau turun lagi saja. Kami orang-orang dunia persilatan tidak mempunyai urusan dengan kaki tangan kota raja.”

Terdengar sorakan gembira menyambut ucapan ini, tanda bahwa sebagian besar orang kang-ouw memang tidak melibatkan diri dengan orang-orang pemerintah. Wajah Thian It Tosu menjadi merah karena sekaligus pemuda ini membuka kedoknya. Pada saat itu terdengar lengking tinggi dan di atas panggung berkelebat bayangan orang, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang yang tua sekali. Alangkah kaget gentarnya semua tamu ketika mengenal nenek ini sebagai tokoh yang dianggap manusia iblis, bukan lain adalah Hek-hwa Kui-bo!

"Berikan dia padaku! Dia pembunuh muridku!" teriaknya dengan suara parau.

Namun, kembali orang-orang tercengang karena tanpa mereka lihat datangnya, tahu-tahu Ketua Thai-san-pai sudah berdiri di situ pula menghadapi Hek-hwa Kui-bo. Beng San berdiri tegak dengan sepasang mata berkilat-kilat, lalu berkata kepada Hek-hwa Kui-bo, "Kui-bo, pertemuan ini kuadakan dengan peraturan dan kesopanan. Apa bila kau mempunyai penasaran, tunggulah giliranmu, harap jangan mengacau. Mundurlah!"

Sinar mata Beng San berkilat-kilat seperti halilintar menyambar sehingga Hek-hwa Kui-bo gentar juga menghadapi sikap musuh lamanya ini. Ia meragu. Ia tahu betul bahwa orang ini telah terluka hebat dalam pengeroyokan kemarin dulu, akan tetapi mengapa sekarang masih dapat meloncat seperti terbang saja cepatnya? Untuk menutupi kegugupannya, ia tertawa,

"Hi-hi-hik, Beng San, betul juga kata-katamu. Baiklah, aku menanti giliranku." Sambil tertawa-tawa ia lalu melayang turun dan sekejap mata saja ia sudah lenyap entah ke mana. Juga Beng San dengan tenang meloncat turun dan kembali ke tempat duduknya. Semua tamu menahan napas, terhadap tokoh seperti Hak-hwa Kui-bo tentu saja tak seorang pun berani mentertawai.
cerita silat karya kho ping hoo

Keadaan makin tegang setelah mereka ketahui bahwa ternyata tempat itu dihadiri pula oleh tamu-tamu tak kelihatan yang sehebat Hek-hwa Kui-bo. Siapa tahu masih banyak lagi tokoh-tokoh aneh seperti ini. Karena nenek itu tidak kelihatan lagi, maka perhatian para tamu dialihkan kembali ke atas panggung, kepada tosu Ngo-lian-kauw dan pemuda yang mengaku putera Ketua Thai-san-pai itu.

Tosu itu memandang rendah kepada Sin Lee, lalu berkata, "Menjawab pertanyaanmu tadi, orang muda, pinto datang ini boleh dibilang atas nama pribadi, juga bisa disebut mewakili Ngo-lian-kauw, apa lagi mendengar tadi bahwa ketua kami tewas di tanganmu. Sebagai pengawal istana aku pun mempunyai urusan, yaitu mengejar larinya tiga orang buronan dari kota raja!"

Tosu itu dengan mata tajam lalu memandang ke arah tiga anak murid Hoa-san-pai yang duduk di rombongan tuan rumah.

"Kalau yang kau maksud dengan ketuamu itu adalah Kim-thouw Thian-li, aku Tan Sin Lee tak merasa telah membunuhnya. Akan tetapi kalau toh ia mampus oleh pukulanku, hal itu pun aku tidak menyesal karena itu berarti bahwa aku telah melenyapkan seorang jahat. Tentang kau mengejar buronan, itu bukanlah urusanku. Nah, kalau memang kau hendak membalas sakit hati ketuamu, kau majulah!”

Thian It Tosu memang telah mendengar bahwa Ketua Ngo-lian-kauw tewas dalam tangan beberapa orang muda, akan tetapi ia tidak tahu siapakah pembunuhnya. Tadi Hek-hwa Kui-bo muncul dan menerangkan bahwa pemuda ini adalah pembunuh ketuanya, maka tentu saja ia menjadi marah dan ingin membalas dendam. Ia tidak berani memandang rendah lagi karena kalau pemuda ini mampu merobohkan Kim-thouw Thian-li berarti dia pasti lihai sekali. Apa lagi bila diingat bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Thai-san-pai.

Tosu ini lalu melolos keluar sebatang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencabut hiasan rambutnya yang berupa lima bunga teratai itu. Hiasan rambut ini terbuat dari benda berwarna putih, merupakan lima buah kembang yang atasnya tertutup rapi berbentuk runcing, dan sekarang gagangnya dipegang oleh tangan kiri tosu itu.

Mengingat akan nasehat ayahnya tadi, Sin Lee selalu bersikap waspada dan tidak berani memandang remeh pada hiasan rambut ini yang melihat ukuran dan bentuknya, bukanlah merupakan senjata yang baik.

Sambil mengeluarkan teriakan keras tosu itu menyerangnya dengan pedang, namun Sin Lee cepat mengelak sedangkan pedangnya sendiri lalu menukik dari atas kiri menusuk pundak lawan. Thian It Tosu terkejut dan maklum bahwa lawannya ini walau pun masih muda ternyata mempunyai gerakan cepat dan ilmu pedang yang aneh namun berbahaya sekali. Ia pun segera bertempur seru, makin lama makin cepat.

Baru berjalan belasan jurus saja Thian It Tosu maklum bahwa ilmu pedang pemuda itu betul-betul luar biasa dan ia sudah terdesak hebat. Tiba-tiba tangan kirinya telah menjepit sebuah kembang buatan itu dan melesatlah jarum-jarum halus ke arah lawannya.

Sin Lee mengeluarkan suara melengking tinggi. Tubuhnya mendadak mencelat ke atas, demikian cepat gerakannya bagaikan gerakan seekor burung dan semua senjata rahasia halus yang tak dapat dilihat mata itu lewat di bawah kakinya.

Dari atas Sin Lee membalas, pedangnya meluncur turun menyerang kepala tosu itu. Hal ini sungguh-sungguh tidak pernah diduga oleh Thian It Tosu yang tadinya mengharapkan penyerangannya akan berhasil, siapa duga bahwa orang yang diserang secara mendadak itu malah menyerang dari atas.

Karena menangkis sudah tidak ada waktu lagi, terpaksa untuk menyelamatkan dirinya tosu ini membanting tubuh ke belakang dan bergulingan menjauhi kejaran pedang lawan. Ia meloncat bangun dan sekarang ibu jari dan telunjuknya menjepit bunga teratai kedua.

Terdengar suara ledakan kecil dan dari tangan kirinya itu menyambar asap hitam ke arah muka Sin Lee. Pemuda ini tidak kurang waspada, cepat ia melompat ke samping, cukup jauh agar tidak terkena pengaruh asap beracun itu. Sambil menahan napas lalu meniup ke arah asap itu sehingga buyar!

"Tosu curang!" Sin Lee berseru keras.

Pedangnya kini berkelebatan laksana kilat mencari korban. Ia sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada tosu itu untuk mempergunakan senjata rahasianya lagi, malah ia lalu mengincar tangan kiri yang memegang bunga-bungaan itu, yang bahkan dianggapnya lebih berbahaya dari pada pedang di tangan kanan.

Thian It Tosu berusaha melawan, namun akhirnya ia berteriak keras ketika ujung pedang Sin Lee mengancam pergelangan tangan atau jari-jari tangan kirinya. Terpaksa ia menarik tangannya, akan tetapi…

“Crakk!” terdengar suara dan hiasan rambut itu kini tinggal gagangnya saja yang berada di tangannya.

Sin Lee mengeluarkan suara menghina dan kakinya menendang bunga-bungaan itu ke bawah panggung.

"Nah, marilah kita bertanding pedang secara laki-laki, tidak main curang!" seru Sin Lee, perlahan-lahan maju menghampiri tosu yang berdiri dengan muka pucat itu.

Akan tetapi Thian It Tosu tidak segera menggerakkan pedangnya. Ia hanya berdiri tegak, mukanya pucat, matanya terbelalak memandang lawan, bibirnya komat-kamit.

"Hayo, majulah, apakah kau takut?" kata Sin Lee mengejek sambil menggerak-gerakkan pedangnya, siap menanti penyerangan lawannya.

Akan tetapi tosu itu tetap tidak bergerak, dan mulutnya tetap bergerak-gerak. Orang lain tidak ada yang mendengar suaranya, namun tiba-tiba Sin Lee mendengar suara yang seolah-olah datang dari dasar bumi, suara yang penuh kekuasaan, penuh pengaruh, yang berbisik-bisik dan mendesis-desis.

"Sin Lee, pandang baik-baik pinto siapa! Pinto adalah pendeta, kau takkan bisa menang melawan pinto, baru melihat saja kau sudah pening, tenagamu lemah, pikiranmu kacau..." Ucapan ini diulang-ulang.

Mula-mula Sin Lee hendak mentertawakannya, akan tetapi dia mulai bingung dan gugup karena tiba-tiba dia merasa kepalanya pening.

Pada saat itu Thian It Tosu sudah menyerangnya dan ia cepat menangkis, akan tetapi benar-benar ia semakin gelisah karena tenaganya terasa amat lemah kepalanya semakin pening dan pikirannya menjadi kacau-balau, malah ia mulai agak ketakutan! Samar-samar Sin Lee teringat akan nasehat ayahnya bahwa tosu ini merupakan seorang ahli sihir. Ia mengerahkan semangat hendak melawan, akan tetapi ternyata dia telah masuk ke dalam perangkap dan sudah terpengaruh sehingga usahanya sia-sia belaka karena pikirannya telah kacau.

Para penonton terheran-heran betapa sekarang tosu itu melakukan penyerangan dengan pedangnya sedangkan Sin Lee hanya menangkis dengan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Beng San duduk menegang di kursinya. Dahinya berkerut, alisnya bergerak-gerak, sinar matanya berkilat. Ia dapat menduga apa yang terjadi dan siap untuk menolong puteranya jika terancam bahaya maut.

Pada saat itu tampak Kun Hong berlari-lari ke bawah panggung. Setelah dekat panggung ia menggunakan tangannya menggebrak-gebrak panggung sambil berkata nyaring,

"He, pendeta murtad! Pendeta penuh dosa, pendeta nyeleweng!"

Orang-orang mulai tertawa menyaksikan sikap pemuda ini dan Thian It Tosu yang sudah mulai gembira melihat hasil ilmu hitamnya, kini terpecah perhatiannya dan marah sekali. Ketika mendapat kesempatan, selagi Sin Lee terhuyung-huyung, ia menyambar ke pinggir panggung dan menggunakan pedangnya membacok tangan Kun Hong yang pada saat itu sedang mengebrak-gebrak papan.

Tentu saja Kun Hong menarik tangannya, akan tetapi ia berpura-pura menjerit, "Aduh… aduh…! Pendeta kejam kau!"

Dan pada saat pandang mata Thian It Tojin yang penuh kemarahan itu sedetik bertemu dengan pandang matanya, Kun Hong mengerahkan ilmu sihirnya dan ia berkata,

"Kau pendeta murtad, tak patut menggunakan segala ilmu hitam. Kau patut dihukum pukul kepala sepuluh kali" Setelah berkata demikian Kun Hong lari kembali ke tempat duduknya.

Tiba-tiba saja semua tamu terbelalak memandang kejadian yang amat aneh di panggung. Setelah tosu itu menghentikan serangan-serangannya, Sin Lee masih terhuyung-huyung dan tosu itu kini berteriak-teriak,

"Benar sekali, pinto patut dihukum pukul kepala sepuluh kali"

Dan tangan kirinya segera bekerja menampar muka, dan kepalanya sendiri dengan keras. "Plak-plak-plak!" terdengar suara berkali-kali dan muka itu menjadi bengkak-bengkak!

Sin Lee agaknya sudah sadar kembali. Pemuda ini cepat berdiri tegak dan untuk sejenak ia mengumpulkan hawa murni di tubuhnya sehingga pikirannya jernih kembali, tenaganya pulih dan sekarang dia memandang terheran-heran kepada lawannya yang sedang penuh semangat menghantami kepalanya sendiri itu.

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan Hek-hwa Kui-bo sudah berdiri di atas panggung. "Memalukan saja, pergi!" tangannya bergerak dan tubuh Thian It Tosu terlempar ke bawah panggung.

Tosu itu roboh dan berbareng dengan jatuhnya itu agaknya ia pun sadar kembali. Dengan bingung ia bangkit berdiri, memandang bingung ke kanan kiri lalu angkat kaki lari dari tempat itu.

Beberapa orang tamu yang masih melongo kemudian membuat tanda dengan telunjuk dimiringkan ke depan kening, yaitu tanda orang yang miring otaknya. Mereka ini mengira bahwa tosu itu tentu seorang yang berotak miring! Akan tetapi karena peristiwa itu sudah lewat dan di atas panggung berdiri seorang tokoh yang ditakuti, yaitu Hek-hwa Kui-bo, para tamu yang kini menjadi penonton memandang dengan penuh ketegangan. Semua orang tahu bahwa tentu sekarang akan terjadi pertandingan yang luar biasa hebatnya.

Hek-hwa Kui-bo dengan muka yang merah dan mata mendelik sudah menghadapi Sin Lee, pedang berkilauan di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang sehelai sabuk beraneka warna.

"Orang muda, kau sudah menewaskan muridku. Akan tetapi kau mengatakan bahwa kau adalah anak dari Tan Beng San. Hemm, jangan kau mencoba mengunakan nama Ketua Thai-san-pai untuk menggertak orang. Aku tahu benar bahwa Cia Li Cu isteri Tan Beng San hanya memiliki seorang anak perempuan, bagaimana kau bisa mengaku dia sebagai ayahmu? Siapakah ibumu?"

Beng San di tempat duduknya meremas jari-jari tangannya sendiri, hatinya mengharap supaya Sin Lee tidak usah menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi dengan sikap gagah Sin Lee menjawab, suaranya nyaring,

"Hek-hwa Kui-bo, kau kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau sendiri sudah tahu siapa ibuku, akan tetapi kau sengaja mengajukan pertanyaan ini di tempat umum, tentu dengan maksud keji di hatimu yang memang tidak bersih itu. Akan tetapi aku Tan Sin Lee sebagai seorang laki-laki sejati tidak akan menyembunyikan dan tidak akan malu mengaku bahwa ayahku adalah Tan Beng San Ketua Thai-San-pai sedangkan ibuku adalah Kwa Hong anak murid Hoa-san-pai! Nah, aku sudah mengaku, kau mau bilang apa?" Suara pemuda itu nyaring.

Pada saat itu wajah Beng San sebentar pucat sebentar merah. Dia merasa terpukul, menoleh kepada isterinya dan berbisik, "Dia lebih jantan dari padaku... dia lebih jantan dan gagah..."

Hek-hwa Kui-bo tertawa terkekeh-kekeh. Wajah tuanya yang biasanya masih berbekas kecantikannya itu setelah terkekeh-kekeh kelihatan buruknya. Mulutnya yang tak bergigi lagi kelihatan kehitaman dan matanya berputar-putar liar.

"He-he-he-he, kiranya kau anak haram. Ha-hah-heh-heh, memang sejak dahulu Tan Beng San bukanlah orang baik-baik. Kapankah dia menikah dengan Kwa Hong? Kapankah dia menjadi ayahmu? Tentu melalui hubungan gelap. Coba sekalian yang hadir pikir dengan baik-baik, orang yang mempunyai anak haram apakah masih patut menjadi ketua sebuah perkumpulan silat?"

Sin Lee sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi, mukanya pucat matanya seperti mengeluarkan api. Meski pun ia dengan gagah berani mengakui kenyataan dirinya, akan tetapi jika mendengar hinaan yang diucapkan di depan umum secara begitu merendahkan dan disertai kata-kata kotor, tentu saja ia tidak tahan mendengarnya.

"Iblis betina lihat pedangku!" Ia sudah menerjang dengan nafsu meluap.

Hek-hwa Kui-bo terkekeh-kekeh, tetapi cepat menangkis serbuan pemuda ini, lalu sambil melayani serangan Sin Lee yang bernafsu, ia masih sempat berkata,

"Kau bocah haram harus kubikin mampus dulu, baru kemudian tiba giliran ibumu yang tak tahu malu dan ayahmu yang hina!"

Makin naik darah Sin Lee dan ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menikam mati orang yang dibencinya ini. Dan inilah kesalahannya. Sebagai orang muda, tentu saja ia berdarah panas dan tidak tahu akan siasat lawan yang jauh berpengalaman dan yang terkenal sebagai seorang tokoh besar penuh tipu muslihat.

Di samping sengaja menghina tuan rumah, memang Hek-hwa Kui-bo sengaja membakar hati orang muda ini pula sehingga kini Sin Lee lupa akan kewaspadaan dan menerjang dengan nekat. Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, mengumbar nafsu amarah merupakan pantangan besar.

Dalam bersilat, apa lagi kalau menghadapi lawan berat, sekali-kali tidak boleh dihinggapi kemarahan, karena nafsu ini akan menyesakkan dada serta mengurangi ketelitian dan ketenangan. Apa bila bermain silat dengan diamuk kemarahan, maka permainannya tidak tenang dan karenanya daya permainannya kurang kuat.

Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh kawakan yang sebelum mendapatkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sudah merupakan tokoh jarang tandingun, Apa lagi setelah ia mendapatkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut, kepandaiannya menjadi hebat sekali dan orang-orang yang dapat menandinginya hanyalah tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi. Biar pun Sin Lee juga merupakan seorang pemuda gemblengan, namun menghadapi Hek-hwa Kui-bo ia kalah setingkat, kalah akal dan kalah pengalaman.

Dalam dorongan nafsunya, memang tampaknya Sin Lee yang mendesak Hek-hwa Kui-bo dengan penyerangan bertubi-tubi. Ia menggunakan ilmu silatnya yang aneh malah tangan kirinya beberapa kali ia putar-putar untuk melakukan pukulan Jing-tok-ciang.

Akan tetapi pukulan-pukulan ini dapat dibikin buyar oleh tangkisan Hek-hwa Kui-bo yang mempergunakan ilmu pukulan beracun Hwa-tok-ciang yang dilakukan dengan tangan kiri sekalian untuk mengebutkan sabuknya yang dapat menjadi alat menotok jalan darah yang ampuh itu. Nenek ini sengaja main mundur karena ia sengaja memancing agar pemuda lawannya ini makin bernafsu hingga akan terbuka kesempatan baginya untuk merobohkan lawannya sekaligus tanpa meleset lagi.

Beng San memegangi tangan kursinya dengan erat, mukanya agak pucat. Celaka dia, pikirnya gelisah. Sebagai seorang gagah yang memegang aturan kang-ouw, tentu saja tak dapat ia melompat ke depan untuk menolong puteranya itu dan ia tahu betul betapa Sin Lee terancam maut.

Hanya Beng San seorang yang tahu akan hal ini, ada pun orang-orang lain, bahkan juga Cui Bi, Li Eng dan Kong Bu yang berkepandaian tinggi, tidak dapat menduga akan hal ini. Mereka memperlihatkan muka gembira. Hanya Kun Hong yang muram wajahnya karena bukan saja ia juga mengerti seperti Beng San, melainkan pemuda itu merasa sedih sekali karena sekali lagi ia harus menjadi saksi dari pertempuran-pertempuran maut yang pasti akan membawa korban.

Pengertian Beng San akan hal ini adalah karena dia sudah sangat menyelami keadaan kepandaian Hek-hwa Kui-bo, maka ia dapat mengerti bahwa nenek itu sedang mengintai kesempatan seperti maut mengintai korban. Betapa pun juga, ia bersiap sedia menolong puteranya itu apa bila nyawanya nanti terancam. Ia tidak akan mengeroyok, hanya akan menyelamatkan Sin Lee.

Ketika kesempatan itu tiba, ketika pedang Sin Lee menusuknya, Hek-hwa Kui-bo melihat pergelangan tangan pemuda itu tidak terjaga. Cepat sabuknya yang beraneka warna itu menyambar dari samping sedangkan pedangnya menangkis.

Tentu saja Sin Lee hanya mengira bahwa serangannya ini akan dihindarkan oleh lawan dengan tangkisan ini. Tidak tahunya tangkisan ini hanya untuk memancing perhatiannya dan yang penting bagi nenek itu adalah sabuknya yang kini telah menyambar pergelangan tangan Sin Lee dan seperti seekor ular hidup sudah melibat-libat pergelangan tangan berikut jari-jari yang memegang pedang!

Sin Lee kaget sekali, berusaha membetot tangannya, namun sabuk itu ternyata terbuat dari bahan aneh yang selain kuat dan ulet, juga dapat mulur maka tak dapat ia menarik putus. Dan pada saat itu, pedang Hek-hwa Kui-bo sudah berkelebat menyambar di atas kepalanya diiringi suara ketawa aneh nenek itu.

Pemuda itu tak dapat mengelak, tak dapat melompat pergi karena lengan kanannya telah terbelit sabuk, jalan satu-satunya baginya hanya menangkis bacokan itu dengan tangan kiri karena untuk menggunakan tangan kiri memukul, sudah tidak keburu lagi.

Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar lengking tinggi nyaring dan berkelebatlah bayangan orang didahului sinar kehijauan.

"Trangggg!''

Pedang yang akan membacok Sin Lee tertangkis oleh sebatang anak panah hijau dan kemudian lima batang anak panah yang terikat pada ujung cambuk yang berujung lima, menyambar-nyambar dan menyerang Hek-hwa Kui-bo.

"Jangan menghina orang muda, Hek-hwa Kui-bo siluman tua bangka, akulah lawanmu, lepaskan anakku!"

Hek-hwa Kui-bo cepat melepaskan sabuk yang membelit lengan Sin Lee dan melompat mundur sambil memutar pedangnya menangkis. Sementara itu orang yang baru datang ini yang bukan lain adalah Kwa Hong sendiri, mendorong pundak Sin Lee dan berkata,

"Pergilah kau kepada ayahmu, siluman ini akulah lawannya."

Dorongan ini kuat sekali, tak dapat ditahan oleh Sin Lee yang terpaksa melompat turun dari panggung, menduduki lagi tempat duduknya lalu dengan wajah pucat memandang ke atas panggung. Melihat betapa Kwa Hong menggantikan putranya menghadapi Hek-hwa Kui-bo, wajah Beng San dan semua keluarganya menegang.

Beng San diam-diam merasa terharu sekali. Ia maklum bahwa di balik kebencian Kwa Hong kepadanya, masih terdapat kasih terpendam dan akhirnya melalui putera mereka, Sin Lee, agaknya Kwa Hong menyingkirkan sakit hati dan dendamnya sehingga di depan umum Kwa Hong sekarang berhadapan dengan Hek-hwa Kui-bo yang sudah jelas datang dengan maksud buruk terhadap Thai-san-pai.

Memang mendongkol sekali hati Hek-hwa Kui-bo melihat Kwa Hong maju melawannya. Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi ia marah bukan main, lalu memaki,

"Aha, inilah perempuan tidak tahu malu yang melahirkan pemuda tadi dari perbuatan hina! He-he-heh, kau murid Hoa-san-pai murtad, wanita iblis sombong, memang orang macam kau ini kalau tak dibikin mampus hanya akan mengotorkan dunia persilatan saja!"

Kwa Hong tidak menjawab, namun melengking keras dan tahu-tahu dia telah melakukan serangan serentak dengan lima buah anak panah di ujung cambuk dan dengan pedang di tangan kanannya. Hebat sekali serangan ini.

Hek-hwa Kui-bo sendiri yang merupakan tokoh hebat dari selatan sampai berseru kaget dan cepat melompat mundur. Ia merasa seakan-akan sekaligus diserang oleh lima enam orang lawan! Nenek ini pun maklum bahwa kepandaian Kwa Hong tidak boleh dipandang ringan. Maka ia tidak mau bicara lagi, segera kedua tangannya bergerak, pedang dan sabuknya sudah menyambar-nyambar mengimbangi permainan lawan.

Hebat sekali pertempuran kali ini. Keduanya mempunyai ilmu silat yang ganas dan tak mengenal kasihan. Hek-hwa Kui-bo segera merasa betapa ilmu pedang yang dimainkan oleh Kwa Hong itu ganas dan aneh bukan main, maka ia pun lalu cepat mainkan Im-sin Kiam-sut untuk melawannya, sedangkan sabuknya juga merupakan lawan dari cambuk di tangan Kwa Hong.

Dua orang jago betina bertempur mempergunakan pedang dan senjata-senjata aneh yang mengandung racun, tentu saja pertandingan ini hebat dan seru, juga amat menegangkan hati.

Tiba-tiba terdengar suara parau, "Heee! Hek-hwa Kui-bo, Iblis betina itu adalah untukku, jangan dibikin mampus dulu. Akulah yang berhak membunuhnya!"

Berbareng dengan teriakan ini tubuh seorang yang mukanya seperti setan melayang ke atas panggung. Sebagian besar para tamu tercengang dan merasa ngeri menyaksikan muka seorang laki-laki yang begini menyeramkan, mata kiri bolong, mulut robek, telinga kiri buntung dan tangan kiri kaku seperti cakar setan.

"Iblis betina Kwa Hong, inilah Siauw-coa-ong Giam Kin! Kau sudah membikin wajahku seperti ini, saat ini juga kau harus menebusnya!"

Seperti orang gila Giam Kin memainkan senjatanya yang aneh, yaitu sebuah suling ular, dimainkan dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya yang berbentuk cakar setan itu juga melakukan penyerangan yang hebat.

Dari pihak tuan rumah berkelebat bayangan yang sangat gesit seperti burung terbang, disusul bentakan nyaring halus, "Manusia muka setan, tidak boleh main keroyokan. Dasar curang! Hayo sekarang hadapi pedangku secara laki-laki!"

Tanpa memberi kesempatan lagi Cui Bi yang sudah berada di atas panggung langsung menerjang Giam Kin dengan pedangnya. Gadis ini menyerang penuh kebencian, karena itu gerakan pedangnya hebat bukan main, cepat dan kuat sekali.

Giam Kin kaget dan cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Sulingnya terbuat dari logam yang kuat dan dengan mengandalkan lweekang-nya, ia ingin membuat pedang di tangan gadis itu terlepas. Namun alangkah kagetnya ketika tiba-tiba pedang di tangan Cui Bi itu yang bagaikan hidup, melejit ke bawah dan melewati sulingnya terus menusuk ke arah lambungnya!

"Celaka...!"

Giam Kin segera membuang diri ke belakang dan terus bergulingan di atas papan untuk menghindarkan diri. Ia tidak mengira bahwa gadis itu demikian cerdik dan ilmu pedangnya demikian hebat.

Memang sebelum melompat ke atas panggung tadi, telinga gadis ini mendengar bisikan, suara ayahnya, "... jangan mengadu tenaga..."

Pesan inilah yang membuat Cui Bi berhati-hati dan berlaku cerdik. Dia dapat menduga maksud ayahnya dengan pesan ini. Tentu Si Muka setan ini memiliki tenaga lweekang yang lebih kuat darinya, atau mungkin suling yang berbentuk ular itu mengandung senjata rahasia yang akan bekerja kalau senjata itu beradu dengan senjata lain.

Setelah meloncat bangun, Giam Kin menghadapi penyerangan gadis itu dengan hati-hati sekali, menggunakan seluruh tenaga dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Namun hatinya kecut bukan main ketika mendapat kenyataan betapa makin lama pedang gadis itu semakin kuat dan membingungkan.

Hal ini takkan mengherankan hatinya kalau ia tahu bahwa untuk menghadapi orang yang amat dibencinya ini Cui Bi telah mengeluarkan ilmu pedang simpanannya, yaitu Im-yang Sin-kiam-sut yang jarang tandingannya di dunia persilatan. Giam Kin mulai menyesal.

Tadinya dia menganggap dirinya sudah kuat benar, malah ia ingin menonjolkan namanya dengan mengalahkan Beng San kalau bisa, karena dia sudah mendengar bahwa Ketua Thai-san-pai itu telah terluka parah sekali. Siapa kira, baru menghadapi gadis puteri Ketua Thai-san-pai ini saja ternyata sangat berat. Dan ia tahu pula betapa bencinya gadis ini kepadanya, gadis yang kemarin dulu hampir mati menjadi korbannya.

Para tamu memandang ke atas panggung dengan hati yang penuh diliputi ketegangan. Pertandingan antara Hek-hwa Kui-bo dan Kwa Hong sudah cukup hebat dan membuat pandang mata menjadi kabur. Apa lagi sekarang ditambah dengan sebuah pertandingan lagi antara manusia muka setan dan gadis cantik itu, benar-benar membuat hati menjadi tegang bukan main. Melihat munculnya tokoh-tokoh besar serta melihat ilmu silat yang demikian hebatnya, mereka yang tadinya ingin mempertunjukkan kepandaiannya di atas panggung, sekarang menjadi kuncup hatinya dan keinginan hati itu terbang jauh.

Ilmu pedang Cui Bi hebat bukan main. Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa ia telah mendapat gemblengan dari ayah dan ibunya semenjak kecil. Tokoh seperti Giam Kin, biar pun memiliki kepandaian yang tinggi, bukanlah lawannya bermain pedang.

Segera ternyata bahwa Si Muka Setan itu terdesak dan tertindih hebat sekali sampai tak mampu membalas serangan Cui Bi. Dia hanya sanggup menangkis ke sana ke mari dan meloncat ke kanan kiri untuk menghindarkan sambaran pedang yang akan merupakan tangan maut baginya.

Desakan ini membuat Giam Kin menjadi malu, penasaran, dan marah sehingga kemudian dia menjadi nekat. Sambil menggereng seperti seekor binatang terpojok, dia menangkis pedang dengan suling ularnya, lalu tangan kirinya yang seperti cakar setan itu bergerak mencengkeram ke arah dada Cui Bi!

"Setan tak bermalu!" Cui Bi memaki.

Cui Bi menggeser kaki, miringkan tubuh jauh ke kanan, lalu dengan gerakan yang indah dan tak terduga-duga pedangnya menyambar dan... terdengar seperti orang membacok kayu ketika pedangnya membabat putus lengan kiri yang kering itu! Tetapi lengan yang buntung itu sama sekali tidak mengeluarkan darah, agaknya tangan itu memang sudah mati dan kering.

Kaget sekali Cui Bi dan kekagetannya ini memperlambat gerakannya sehingga dia kena diserang oleh Giam Kin yang menghantamkan suling ularnya ke arah punggung Cui Bi. Tetapi gadis puteri tunggal Ketua Thai-san-pai ini hebat sekali.

Dia berada dalam posisi berbahaya sekali, sehabis membacok tangan kelihatan tertegun dan ngeri, dan sekarang punggungnya disambar senjata musuh yang lihai. Tidak mungkin ia dapat menangkis dan untuk mengelak juga sukar karena suling ular itu menghantam dari arah belakangnya.

Tapi dasar ia gadis pendekar yang sudah tinggi ilmu silatnya, sehingga punggungnya pun seakan-akan mempunyai ‘mata’ yaitu perasaan naluri yang membuat seorang ahli silat dapat menangkis serangan di waktu ia sedang tidur sekali pun!

Melihat dirinya terancam bahaya, Cui Bi tidak menjadi bingung, bahkan dia menerjang dengan pedangnya menusuk ke arah ulu hati Giam Kin sambil diam-diam mengerahkan lweekang pada punggungnya. Ia pikir, gerakannya tidak kalah dulu dan tidak kalah cepat. Andai kata datangnya kedua senjata berbareng, pedangnya sudah pasti akan menembus ulu hati, sedangkan pukulan suling itu belum tentu akan berbahaya baginya karena sudah terjaga oleh pengerahan tenaga lweekang-nya!

"Ayaaaa...!"

Giam Kin kaget setengah mati. Tentu saja ia tidak mau menukar pukulan pada punggung dengan tusukan pada ulu hatinya karena selain rugi, juga sudah pasti nyawanya akan melayang! Secepat kilat ia membanting tubuhnya ke kiri untuk menghindarkan dirinya dari tusukan maut, akan tetapi otomatis pukulannya pada punggung lawan juga menjadi batal.

Cui Bi menjadi marah sekali. Selagi tubuh lawan bergulingan di atas papan, ia tidak mau memberi hati, lantas menerjang maju, melakukan serangan bertubi-tubi dengan gerakan pedang yang amat lihai.

Sambil bergulingan Giam Kin berusaha menangkis, tapi gerakannya kalah cepat. Sebelum ia meloncat bangun, Cui Bi sudah berhasil menusuk pergelangan tangan kanannya. Giam Kin mengaduh dan suling ularnya terlepas dari pegangan.

Cui Bi menyerang terus, membuat Giam Kin bergulingan ke sana ke mari menghindarkan bacokan atau tusukan pedang. Darah mulai mengucur pada saat ujung pedang Cui Bi menembus baju lalu mengenai pundak dan paha, akan tetapi Giam Kin bergulingan terus berusaha menyelamatkan dirinya.

"Bi-moi, jangan membunuh orang...!" tiba-tiba Kun Hong berseru sambil berdiri dari tempat duduknya.

Mendengar suara ini, Cui Bi menahan sebuah tusukan yang sedianya akan menamatkan riwayat Si Muka Setan itu, lalu kakinya menendang. Tubuh Giam Kin terlempar ke bawah panggung dibarengi jeritan kesakitan. Tubuh itu terbanting di atas tanah, dia merangkak lalu lari terpincang-pincang dari tempat itu.

Pada saat itu, pertempuran antara Kwa Hong dan Hek-hwa Kui-bo juga telah mencapai puncaknya. Dengan jurus Im-Sin Kiam-sut yang istimewa gayanya, Hek-hwa Kui-bo yang penasaran itu menyerang. Hebat serangan pedang ini sehingga biar pun Kwa Hong sudah cepat mengelak, tetap saja pundak kirinya tertusuk dan darah mengucur keluar.

Hek-hwa Kui-bo tertawa bergelak, akan tetapi suara ketawanya berhenti ketika pada saat itu Kwa Hong yang tidak mempedulikan pundaknya yang tertusuk, sempat mengerahkan cambuknya dan tiga di antara lima anak panah di ujung cambuk itu menyambar ke tiga bagian tubuh Hek-hwa Kui-bo. Nenek ini masih dapat menangkis dua anak panah yang menghantam pusar dan dada, akan tetapi masih ada sebatang anak panah yang sedianya menghancurkan kepalanya, biar pun telah ia elakkan, tetap saja menancap pada pinggir lehernya!

Hek-hwa Kui-bo melepaskan pedangnya yang masih menancap pada pundak Kwa Hong, tangan kanannya lantas menghantam sekuat tenaga ke depan. Kwa Hong yang melihat hantaman ini, tidak sempat lagi mengelak, tangan kirinya melepaskan cambuk dan sekali putar ia telah melancarkan pukulan Jing-tok-ciang menyambut pukulan Hek-hwa Kui-bo.

Terdengar suara keras, kemudian tubuh dua orang wanita itu terlempar turun panggung. Kebetulan sekali tubuh Kwa Hong terlempar ke arah Giam Kin, yang sedang merangkak bangun. Melihat musuh besarnya yang sudah membuat wajahnya yang tampan menjadi seperti muka setan, Giam Kin girang dan menggunakan kesempatan itu untuk mengayun tangan kanannya memukul Kwa Hong yang jatuhnya dekat sekali dengan dirinya.

"Bukkk!"

Pangkal leher Kwa Hong terpukul, tapi wanita ini sempat menggerakkan pedangnya dan…

"Cesss!" pedang itu menusuk perut Giam Kin sampai tembus ke punggungnya.

Si Muka Setan itu berkelojotan sebentar kemudian diam, putus napasnya. Kwa Hong juga terguling roboh. Di lain tempat, Hek-hwa Kui-bo yang jatuh terbanting berusaha bangun, tapi dua kali ia gagal, lalu roboh tak bernapas lagi. Kiranya anak panah yang menancap di lehernya itu mengandung racun yang luar biasa jahatnya sehingga seluruh tubuhnya telah keracunan, tak dapat ditolong lagi.

Sambil berseru keras Sin Lee sudah melompat ke arah ibunya, menyambar tubuh ibunya dan dibawa lari ke tempat rombongan tuan rumah. Segera Kwa Hong disambut oleh Beng San, Li Cu, dan Kun Hong. Yang lain-lain mendekati dan memandang kuatir.

Keadaan Kwa Hong hebat sekali. Lukanya parah, namun wanita ini tersenyum-senyum saja. Melihat Sin Lee berlutut dengan muka pucat, Kwa Hong berbisik,

"Mana... mana dia...?"

Sin Lee maklum, menoleh kepada ayahnya. Beng San mendekat, berlutut.

"Hong-moi, bagaimana luka-lukamu...?" tanyanya terharu.

"Tidak usah bicara tentang aku, yang perlu anakku. Beng San, apakah kau benar mau menerimanya sebagai puteramu?"

"Sudah tentu, Hong-moi, Sin Lee memang puteraku."

"Kau akan mendidiknya baik-baik seperti anak-anakmu yang lain?"

"Tentu!"

"Bersumpahlah!" suara Kwa Hong masih keras dan seperti marah-marah.

Tanpa ragu-ragu lagi Beng San bersumpah bahwa dia akan menerima Sin Lee sebagai putera sendiri dan mendidiknya baik-baik.

Kwa Hong nampak lega. “ Mana…. Li Cu?”

Li Cu memang sedang berdiri di dekat situ, maka mendengar ini dia pun lalu mendekat dan berlutut.

“Li Cu, kau rela menerima Sin Lee sebagai anak tirimu?”

Li Cu mengangguk, terharu. “Puteramu adalah putera suamiku, berarti dia itu puteraku sendiri, tiada bedanya.”

“Enci Kwa Hong, biarkan aku memeriksa luka-lukamu….” Tiba-tiba Kun Hong berkata, mendekati wanita yang terluka parah itu.

“Siapa kau?!” Kwa Hong membentak, suaranya ketus.

“Enci Hong, ayahku bernama Kwa Tin Siong, Ibuku Liem Sian Hwa, kita adalah saudara tiri.”

Sejenak Kwa Hong tercengang, lalu mengipatkan tangan Kun Hong yang menjangkaunya hendak melakukan pemeriksaan. “Jangan sentuh aku! Aku anak… jahat, anak murtad.”

“Enci, Ayah tidak pernah marah kepadamu, rindu sekali dan berkasihan kepadamu,” kata Kun Hong dengan suara halus.

Kwa Hong memandang tajam, agaknya tak percaya. Suaranya semakin lemah dan parau ketika ia bertanya, “Ayah… Ayah mengampuni aku…?”

“Sejak dahulu Ayah mengampunimu, Enci. Malah diharap-harap kembalimu ke Hoa-san. Enci, biarkan aku memeriksamu, barangkali aku dapat mengobatimu.”

“Benar, Hong-moi. Adikmu ini mempunyai kepandaian ilmu pengobatan, aku pun sudah mendapatkan pertolongannya,” kata Beng San.

“Tidak! Biar aku mati…. Ahhh, aku seorang jahat…. Li Cu, kau begini mulia, Ayah pun mengampuniku…. Semua orang baik-baik sedangkan aku… aku… Sin Lee… Jangan kau tiru Ibumu. Kau ikutlah ayahmu menjadi orang baik-baik….”

Tubuh ini menegang sebentar, kemudian lemas. Mulutnya tersenyum, matanya meram, napasnya terhenti.

Sin Lee menubruk ibunya, tetapi dua buah tangan tangan kuat memegang pundaknya. Ia menoleh, melihat wajah ayahnya yang pucat. Sepasang mata ayahnya yang tajam itu memperingatkannya bahwa tak selayaknya seorang gagah terlalu menyedihkan kematian.

"Ibu... ibu... selamat jalan..." Sin Lee terisak lalu menguatkan hatinya, mundur.

Beng San memberi isyarat kepada anak muridnya dan memberi perintah supaya jenazah Kwa Hong dibawa naik ke puncak dan dirawat di sana. Semua berjalan dengan tenang dan para tamu dari tempat jauh tidak melihat nyata apa yang terjadi di situ. Hanya setelah jenazah itu diangkat mereka tahu bahwa Kwa Hong yang dikenal sebagai wanita iblis itu telah tewas.

Jenazah Hek-hwa Kui-bo sudah diangkut oleh para anggota Ngo-lian-kauw, sedangkan jenazah Giam Kin disingkirkan oleh Siauw-ong-kwi. Keadaan sementara menjadi sunyi.

Pada saat itu terdengar orang tertawa terkekeh-kekeh dan dua bayangan orang meloncat ke atas panggung. Mereka ini ternyata adalah Toat-beng Yok-mo dan Tok Kak Hwesio. Suara tertawa tadi adalah suara Toat-beng Yok-mo, dan sekarang Setan Obat itu pun berkata nyaring dengan suaranya yang serak,

"Heh-heh-heh, Ketua Thai-san-pai. Kau benar-benar licik sekali. Sejak tadi baru seorang anak murid Thai-san-pai yang maju, lalu kedua orang putera-puterimu. Kau menggunakan orang-orang muda untuk melindungi muka Thai-san-pai, malah mengadu domba antara bekas musuh dengan musuh. Pintar! Aku memang tidak memiliki urusan penting dengan Thai-san-pai, akan tetapi aku mempunyai urusan dengan pemuda Kwa Kun Hong yang berlindung di tempatmu. Kwa Kun Hong, kau sudah menghina kami berdua dengan akal licik, hayo keluarlah untuk perhitungan di atas panggung ini!"

"Toat-beng Yok-Mo!" suara Beng San amat keras menggeledek. "Tak usah kita berbicara tentang pengeroyokan kemarin dulu, kau tidak menantang aku sudahlah. Akan tetapi kau menantang seorang pemuda keponakanku dari Hoa-san-pai yang sekarang menjadi tamu terhormat, Apakah kalian berdua tua bangka hendak mengeroyok seorang pemuda?"

"Hi-hi-hi, sama sekali tidak mengeroyok. Biarlah aku turun dulu dan menunggu giliran." Ia menoleh kepada Tok Kak Hwesio "Hwesio yang baik, kau boleh memberi hajaran kepada dia, tapi jangan dibunuh, biarkan aku yang menghabisinya, heh-heh-heh!"

Setelah Toat-beng Yok-mo melompat turun, Tok Kak Hwesio berkata ke arah Kun Hong. "Siluman muda, hayo kau naik perlihatkan kepandaianmu!"

Kun Hong mengerutkan keningnya. Dia tidak senang berkelahi, apa lagi di tempat umum seperti itu, dijadikan tontonan! Ia ragu-ragu. Bila didiamkan saja, tentu memalukan, bukan memalukan namanya, terutama sekali memalukan Hoa-san-pai dan Thai-san-pai sebagai tuan rumah. Dilayani, ahh, mengapa melayani orang gila yang mabuk nafsu membunuh?

Kong Bu bangkit berdiri, memegang lengannya. "Saudara Kun Hong, jangan gelisah. Aku akan menjadi wakilmu!"

Belum lagi Kun Hong sempat menjawab, tubuh Kong Bu sudah melayang naik ke atas panggung. Dengan muka kereng dan pandang mata tajam pemuda ini membentak,

"Hwesio tua, sepanjang ingatanku, saudara Kwa Kun Hong adalah orang yang tidak suka berkelahi, pantang membunuh dan selalu mengalah. Bagaimana seorang pendeta seperti kau ini mendendam kepadanya? Biar pun dia itu seorang murid Hoa-san-pai, namun ia mempelajari ilmu sastra saja, tidak suka akan ilmu silat. Apakah tantanganmu ini tidak hanya merendahkan dirimu sendiri dan sekaligus membuka watakmu yang tak tahu malu, menantang kepada seorang pemuda yang hanya tahu ilmu sastra dan pengobatan? Jika memang kau hendak berlagak, akulah tandinganmu!"

Tok Kak Hwesio marah sekali. Ia mengenal pemuda ini yang kemarin sudah membantu Beng San dalam pengeroyokan, dan sepanjang pendengarannya, pemuda ini katanya cucu Song-bun-kwi. Bagaimana bisa begini dan apa artinya semua ini?

"Ehhh, orang muda, sebenarnya kau ini siapakah? Ada hubungan apa kau dengan Ketua Thai-san-pai dan apamu pula Kun Hong itu?"

"Hwesio, aku tahu bahwa kau adalah Tok Kak Hwesio yang berjuluk Kauw-jiauw-kang Si Cakar Monyet, bekas perampok besar! Kau belum kenal aku? Aku adalah putera Ketua Thai-san-pai, namaku Tan Kong Bu."

"Ha-ha-ha, semua mengaku putera Ketua Thai-san-pai? Orang bilang bahwa kau adalah cucu Song-bun-kwi... Berapa orang sih isteri Ketua Thai-san-pai?"

"Benar! Mendiang ibuku adalah puteri tunggal Kakek Song-bun-kwi. Nah, sekarang kau sudah tahu jelas, apakah kau masih berani melawanku sebagai wakil saudara Kwa Kun Hong seorang sahabatku yang baik?"

"Keparat, kau sombong benar. Lihat seranganku!"

Hwesio itu sudah marah sejak ia dimaki-maki sebagai perampok besar tadi, maka tanpa banyak cakap lagi dia telah langsung menyerang mempergunakan cengkeramannya yaitu Kauw-jiauw-kang. Lihai sekali ilmu ini, kedua tangannya sudah digembleng, gerakannya cepat, penuh tenaga lweekang dan sekali lawan kena dicengkeram, pasti kulitnya hancur dagingnya robek tulangnya remuk!

Kemarin dulu ketika Kong Bu menolong ayahnya dari pengeroyokan, sudah melihat ilmu kepandaian hwesio ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono menghadapi serangan ini. Ia mengelak dan membalas dengan jurus-jurus Yang-sin-hoat, ilmu silat yang berdasarkan tenaga keras sehingga pukulannya mendatangkan hawa panas.

Kong Bu semenjak kecil digembleng hebat oleh Song-bun-Kwi dan karena Song-bun-kwi tadinya bercita-cita supaya cucu ini kelak bertanding melawan Beng San, tentu saja dia sudah menurunkan seluruh kepandaiannya. Siapa kira sekarang cucunya bukan melawan ayahnya, bahkan sebaliknya di atas panggung ini membela dan mempertahankan nama baik Thai-san-pai.

Sesudah belasan jurus saling serang, diam-diam Tok Kak Hwesio mengeluh di dalam hatinya. Dia tahu bahwa Song-bun-kwi adalah seorang tokoh besar yang sakti dan yang jauh lebih tinggi ilmunya dari pada dia sendiri, akan tetapi sungguh ia tidak mengira bahwa cucunya, seorang pemuda yang usianya baru dua puluhan tahun, sudah pula memiliki kepandaian begini tinggi dan tenaga yang begini kuat.

Di lain pihak, Kong Bu juga merasa sukar untuk menjatuhkan hwesio itu karena dia tidak berani melakukan tangkisan terhadap cengkeraman lawan. Dengan cara hanya mengelak tiba-tiba ia dapat balas memukul sehingga biar pun ia dapat mendesaknya dengan hujan pukulan, tapi masih kurang cepat dan selalu dapat dielakkan oleh hwesio kosen itu. Apa lagi kalau hwesio itu menangkis sambil mencengkeram, ia selalu harus menghindarkan tangannya dan menarik kembali pukulannya.

Tiba-tiba dia mendengar suara lirih di dekat telinganya, "Cengkeraman cakar bebek begini saja takut apa? Paling-paling membikin lecet kulit"

Kong Bu girang sekali. Itulah suara kakeknya! Sejak tadi ia melihat-lihat akan tetapi di situ tidak kelihatan kakeknya muncul, dan sekarang tahu-tahu ada suaranya yang dikirim dari tempat jauh.

Tadinya Kong Bu meragu untuk membiarkan tangannya dicengkeram sambil membarengi memukul. Sekarang mendengar bisikan ini, hatinya menjadi tabah. Ketika tangan kirinya menjotos dada, kakek itu menangkis sambil mencengkeram lengan Kong Bu. Pemuda ini sengaja berlaku lambat hingga pergelangan tangan kirinya betul-betul dapat dicengkeram.

Tok Kak Hwesio sudah menyeringai kegirangan. Akan tetapi mendadak terdengar suara keras, dadanya terkena jotosan hebat dari tangan kanan Kong Bu. Hwesio itu berteriak, tubuhnya terlempar ke bawah panggung dan roboh terbanting, bangkit lagi lalu muntah darah segar, terus ngeloyor pergi dari situ!

Toat-beng Yok-mo marah bukan main, tubuhnya telah melayang ke atas panggung. Akan tetapi sebelum Kong Bu menghadapinya, Kun Hong sudah berlari-lari naik ke panggung melalui anak tangga, terus menarik tangan Kong Bu yang kiri.

"Wah, kau terkena racun!" bisiknya sambil menotok beberapa jalan darah di lengan itu, mengurut sebentar lalu berkata, "Saudara Kong Bu, aku berterima kasih bahwa kau sudah mewakili aku, tetapi aku tidak senang kau atas namaku menjotos orang sampai muntah darah. Sekarang kau turunlah, minta Ayahmu supaya mengeluarkan darah di pergelangan tanganmu dengan melukainya, kemudian kau telanlah dua butir pel ini."

Dia mengeluarkan dua butir pel hijau buatannya sendiri dari daun-daun yang khasiatnya memunahkan racun. Kong Bu mengangguk dan hendak turun panggung, akan tetapi dia memandang ragu kepada Toat-beng Yok-mo.

"Saudaraku, apakah kau benar-benar dapat menghadapi iblis ini?" bisiknya.

"Biarlah, itu tanggung jawabku, kau turunlah,'" jawab Kun Hong.

Ketika Kong Bu menoleh ke arah ayahnya, ia melihat ayahnya memberi isyarat supaya ia turun, maka ia pun lalu melompat turun.

Ada pun Toat-beng Yok-mo pada saat melihat cara Kun Hong mengobati Kong Bu tadi, memandang dengan mata terbelalak, kemudian ia pun mencak-mencak saking marahnya ketika ia mengenal bahwa cara pengobatan itu adalah pelajaran dari kitabnya.

"Pencuri, kau harus mampus di tanganku untuk menebus dosamu!" teriaknya marah.

"Nanti dulu, Toat-beng Yok-mo jangan sembarangan kau menuduh orang. Di sini banyak orang gagah yang menjadi saksi, tak boleh kau menuduh sebagai pencuri. Coba katakan orang yang kecurian tentu kehilangan sesuatu, dan kau kehilangan apamukah?"

"Aku tidak kehilangan sesuatu, tapi kau tetap mencuri, mencuri ilmuku pengobatan. Hayo katakan, apakah kau tidak membaca habis semua kitab-kitabku tentang ilmu pengobatan? Jawab!"

Kun Hong menghadapi para tamu yang dengan penuh perhatian sedang mendengarkan perdebatan itu. "Cu-wi sekalian mendengar jelas bahwa kakek ini tidak kehilangan suatu, akan tetapi menuduh siauwte sebagai pencuri. Bukankah itu aneh? Yok-mo, kau sudah membohong! Dulu pada saat kau terluka, kau minta aku menolongmu, menggendongmu berhari-hari lamanya. Sementara itu, kau sudah memberi ijin kepadaku untuk membaca kitab-kitabmu yang sudah kukembalikan pula. Jadi aku tidak mencuri baca kitab-kitabmu karena kau sudah memberi perkenan. Ada pun mengenai ilmu, ilmu itu bukankah milik pribadi siapa pun juga. Siapa pun dia orangnya yang suka mempelajari, akan memiliki ilmu itu, yang suka mempelajari akan mendapat ilmu, yang mengajar takkan kehilangan ilmu, karena ilmu bukanlah milik pribadi manusia dan akan lenyap bersama manusia, kembali ke tangan pemiliknya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Nah, sudah sadarkah kau sekarang?"

"Sadar perutmu!" Toat-beng Yok-mo memaki. “Siapa pun yang pernah kuobati dia harus kubunuh, siapa yang memiliki ilmu pengobatanku dia pun harus kubunuh!"

"Wah-wah-wah, kalau begitu kau nyeleweng dari kebenaran. Kau nyeleweng dan tersesat jauh sekali, orang tua. Benar kata-kata kuno yang menyatakan bahwa segala sesuatu, baik buruknya tergantung kepada manusia yang bersangkutan. Pisau tetap pisau, dapat dipergunakan untuk hal-hal yang baik misalnya pemotong sayur-sayur di dapur sebagai alat pembuat perabot rumah tangga, dan lain-lain. Akan tetapi pisau yang itu-itu juga dapat juga dipergunakan untuk hal yang buruk misalnya menusuk perut sesama manusia! Segalanya tergantung kepada manusia yang memegangnya. Hemm, Toat-beng Yok-mo ilmu pengobatan pun demikian, baik buruknya tergantung pada manusia yang menguasai ilmu itu. Di tanganmu, ilmu itu menjadi alat kejahatan."

"Sudah, sekarang aku bukan datang untuk mendengar kuliahmu, tetapi untuk mencabut nyawamu. Hayo berani kau melawan aku?"

"Berani dan tidak bagiku tergantung dari persoalannya. Kalau aku berada di pihak benar, aku takkan mengenal takut, sebaliknya kalau aku berada di pihak salah, aku tak mengenal berani. Dalam persoalan antara kita, aku tidak bersalah, tentu aku tidak takut, Yok-mo."

"Keparat, lidahmu tak bertulang, bibirmu lemas seperti bibir perempuan, omonganmu pun berbelit-belit. Keluarkan senjatamu!"

"Apakah lidahmu bertulang? Bibirmu kaku?" Kun Hong menjawab.

Akan tetapi karena maklum bahwa kakek ini berkepandaian tinggi, ia kemudian mencabut pedangnya secara terbalik yaitu memegang gagang pedang dengan ujung pedang yang menghadap ke dalam seperti orang memegang sebilah pisau belati.

"Awas serangan!"

Yok-mo segera menerjang maju dengan tongkatnya, ingin sekali pukul menghancurkan kepala lawan, maka ia mengarah tubuh bagian atas ini.

"Wah, galaknya!" Kwa Hong membungkuk dengan kaku.

Gerakannya lucu seperti gerakan orang yang tidak pandai silat, namun anehnya, pukulan itu tidak mengenai kepalanya...


BERSAMBUNG KE Rajawali Emas Jilid 30


Thanks for reading Rajawali Emas Jilid 29 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »