Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJAWALI EMAS JILID 03

Mendengar penuturan itu, Beng San menjadi marah serta berduka sekali. Hubungannya dengan Hoa-san-pai demikian baik dan dia sangat sayang kepada Lian Bu Tojin. Maka, mendengar bahwa kakek ini dibunuh oleh Kwa Hong dan Koai Atong, ia menjadi berduka sekali. Apa lagi yang membunuhnya adalah Kwa Hong.

Kini begitu berhadapan dengan Kwa Hong, Beng San memandang penuh keharuan hati dan diam-diam ia harus mengakui bahwa sebetulnya dialah yang membuat gadis murid Hoa-san-pai ini menjadi begini. Dua orang muda ini saling pandang tanpa menghiraukan Koai Atong yang bertempur mati-matian melawan Lian Ti Tojin, juga tidak pedulikan para tosu Hoa-san-pai yang baru sekarang berani muncul dari tempat sembunyi mereka semenjak munculnya Lian Ti Tojin yang mereka takuti.

"San-ko...," akhirnya Kwa Hong mampu mengeluarkan kata-kata dengan suara setengah berbisik dan air matanya masih menitik turun, "Akhirnya kau... kau datang padaku...? Kau datang menyelamatkan nyawaku... dan kau hendak menerima diriku... hendak membawa aku pergi...? Begitukah, San-ko...?"

Pertanyaan terakhir ini diucapkan penuh harapan, seakan mengiris hati Beng San. Hanya dengan pengerahan batin yang sangat kuat saja Beng San dapat menahan air matanya supaya tidak membasahi mata. Beberapa kali Beng San menelan ludah menahan gelora hatinya, kemudian ia pun dapat mengatasi perasaannya dan menarik muka marah lalu berkata, suaranya penuh teguran. "Hong-moi, kenapa kau lakukan semua ini? Kenapa kau mengajak Koai Atong membunuh Lian Bu Tojin dan mengacau Hoa-san-pai? Kenapa kau berbuat menggila dan merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai, malah membunuh banyak sekali orang gagah? Kulihat lima orang tosu Bu-tong-pai yang terkenal gagah dan budiman juga sudah kau bunuh. Hong-moi, kenapa kau sampai tersesat begini jauh? Kedatanganku ini untuk mencegah kau melanjutkan kegilaan ini!"

"Ohhh...!"

Kwa Hong terhuyung mundur tiga langkah dengan muka membayangkan hati yang perih seperti ditusuk jarum beracun. Kemudian setelah menghapus air matanya, ia maju lagi, wajahnya berubah beringas dan marah. Matanya bersinar-sinar penuh api dan bentaknya, "Kaulah orang pertama yang ingin sekali aku membunuhnya!"

Secepat kilat ia lalu menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai di tangannya, sedangkan tangan kirinya juga menggerakkan cambuk dengan lima panah hijau itu ke arah Beng San. Gerakannya dahsyat bukan main, penuh kemarahan dan kebencian. Gerakan maut untuk mencari korban!

Namun, kali ini serangan Kwa Hong yang dahsyat dan keji itu tidak berhasil. Kali ini dia menghadapi seorang yang telah mewarisi ilmu silat sakti, seorang yang telah menguasai ilmu silat Im-yang Sin-kiam-sut ciptaan Pendekar Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu. Apa lagi karena dalam mempelajari gerakan-gerakan rajawali emas, baru beberapa bulan saja Kwa Hong melatih diri, maka boleh dibilang kepandaiannya dalam ilmu yang mukjijat ini belum masak benar. Mana mampu dia menghadapi serangan raja pedang seperti Beng San?

Begitu orang muda itu menggerakkan tubuh dan kedua kaki tangannya bersilat, tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san-pai itu sudah terampas olehnya dan cambuk dengan lima anak panah itu terlepas dari pegangan Kwa Hong. Kwa Hong berdiri lemas. Mukanya makin pucat ketika ia berhadapan dengan Beng San yang kini sudah berdiri di depannya memegang pedang Hoa-san Po-kiam dengan kedua kaki tegak terpentang dan pandang mata tajam penuh kemarahan.

"Hong-moi, sekali lagi kuperingatkan kau. Bertobatlah dan jangan kau teruskan perbuatan-perbuatanmu yang keji dan jahat!"

Tiba-tiba Kwa Hong membanting-banting kaki dan menangis tersedu-sedu. Melihat sikap itu, makin hancur hati Beng San. Kenal betul dia akan sifat Kwa Hong ini, masih sama dengan dulu, kalau jengkel membanting-banting kaki.

"Aku memang tidak kuat melawanmu. Hayo... Beng San... kau boleh bunuh aku... mari, kau teruskan pedang itu ke perutku ini... ya ke perut ini, biar mati sekalian... anak kita... uhu-hu-hu..."

Bagaikan orang gila Kwa Hong menerjang ke arah pedang di tangan Beng San yang menjadi kaget sekali mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut Kwa Hong.

"Apa kau bilang...?!"

Ia meloncat ke samping, mukanya kini berubah hijau sekali, hijau mengerikan. Inilah sifat aneh dari Raja Pedang Tan Beng San. Di dalam tubuhnya sudah penuh dengan dua macam hawa, yaitu hawa Thai-yang dan Im-kang yang amat luar biasa sehingga tiap kali ia merasa kaget atau malu, mukanya berubah hijau. Sebaliknya kalau marah mukanya akan berubah merah sekali sampai kehitaman! Dapat dibayangkan betapa hebat rasa kagetnya ketika ia mendengar ucapan Kwa Hong yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya itu.

"Hayo... kau bunuh aku dan anak kita... makhluk yang tidak tahu apa-apa di perutku ini..." Kwa Hong masih maju-maju sambil rnenangis terisak-isak.

"Hong-moi...! Kau maksudkan... kau... kau mengandung... karena... dahulu itu?!" Setelah berkata demikian Beng San terhuyung-huyung, pedang pusaka Hoa-san-pai terlepas dari tangannya. Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya, seluruh tubuhnya gemetar lemah.

Sementara itu, pertempuran antara Koai Atong dan Lian Ti Tojin berjalan amat serunya. Mereka berdua secara mati-matian bertempur, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Ilmu silat yang dimiliki Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoa-san-pai yang asli dan selama puluhan tahun kakek ini sudah melatih diri sehingga tingkat ilmunya benar-benar sudah jauh melampaui tingkat kepandaian asli dari Koai Atong.

Akan tetapi, biar pun baru beberapa bulan mempelajari gerakan rajawali emas, ternyata Koai Atong telah mempelajari ilmu gerakan yang hebat sekali. Kepandaian baru ini yang menyelamatkan dia sehingga sampai sekian lamanya belum juga Lian Ti Tojin berhasil memukulnya roboh. Di samping ini, memang Lian Ti Tojin sudah terlalu tua, sudah berpuluh tahun tak pernah bertanding. Selain ini juga telah menderita luka dalam yang hebat ketika tadi ‘bertanding kekuatan’ dengan Beng San melalui suara. Meski pun makin lama Koai Atong semakin terdesak hebat, namun tidaklah mudah bagi Lian Ti Tojin untuk merobohkannya dengan cepat.

Semenjak tadi Koai Atong kebingungan. Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Kwa Hong, namun agaknya Kwa Hong sama sekali tidak pernah rnendengarnya. Kemudian setelah melihat Kwa Hong dikalahkan Beng San dan melihat ‘isterinya’ itu menangis tersedu-sedu minta mati, makin kalut pikiran Koai Atong.

Gerakan Koai Atong makin tak karuan dan beberapa kali ia terkena pukulan Lian Ti Tojin. Namun begitu roboh dia bangun kembali dan menyerang lagi dengan nekat. Koai Atong sudah muntah-muntah darah dan ia maklum bahwa sebentar lagi ia pasti tak akan kuat menahan. Pikiran ini membuat ia menjadi nekat. Pada waktu Lian Ti Tojin mendesaknya, dia malah membiarkan dirinya dipukul, tetapi kesempatan ini ia pergunakan pula untuk menghantam pundak lawannya itu dengan Jing-tok-ciang, menggunakan seluruh tenaganya yang masih ada.

"Plakk-plakk-blugg!"

Tubuh Koai Atong terpental dan roboh tak berkutik lagi karena nyawanya telah melayang, akan tetapi juga tubuh Lian Ti Tojin terlempar. Ia masih dapat mengimbangi dan tidak roboh, hanya terhuyung-huyung dengan muka pucat lalu muntahkan darah segar tiga kali. Mukanya yang seperti tengkorak itu makin menakutkan ketika ia menoleh ke arah Beng San dan Kwa Hong.

Ia melihat Beng San menutupi muka dengan kedua tangan, sedangkah Kwa Hong yang tadinya menangis ketika melihat Koai Atong tewas, cepat menyambar pedang pusaka Hoa-san-pai di atas tanah dan cambuknya. Lian Ti Tojin marah sekali kepada Kwa Hong, biar pun ia sudah terluka parah ia masih mengerahkan tenaga dan lompat menerjang.

Kwa Hong juga meloncat ke atas punggung burungnya sehingga pada saat Lian Ti Tojin menubruk, ia disambut ‘tendangan’ cakar burung rajawali. Tubuhnya bergulingan sampai beberapa meter jauhnya dan kakek ini bangun berdiri lagi dengan terheran-heran bukan main.

Seorang jagoan ilmu silat yang bagaimana pun juga belum tentu akan dapat merobohkan dirinya hanya dengan sekali ‘tendang’ saja, akan tetapi burung itu ternyata benar-benar telah merobohkannya dengan tendangan yang bukan main hebatnya. Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang dan baru sekarang ia merasa dadanya sakit sekali.

Tiba-tiba berkelebat sinar hijau di atas kepalanya. Lian Ti Tojin berusaha mengelak, tapi telambat. Sambaran cambuk di tangan Kwa Hong dari atas itu amat dahsyat, apa lagi rajawali emas terbang tanpa mengeluarkan bunyi. Belakang kepala Lian Ti Tojin terkena pukulan sebuah anak panah hijau dan kakek yang sudah tua renta ini roboh terjungkal, tewas tak jauh dari mayat Koai Atong.

Setelah berhasil menewaskan Lian Ti Tojin, dari atas punggung burungnya Kwa Hong lalu kembali menyerang. Dia hendak menyerang Beng San dari atas. Dengan suaranya yang melengking tinggi Kwa Hong memberi aba-aba kepada burungnya untuk menyerang Beng San yang lihai. Baru sekarang ia teringat untuk minta bantuan rajawali emas itu.

Beng San masih berdiri membungkuk dengan kedua tangan menutupi mukanya. Ketika merasa ada angin bertiup dari atas kepalanya, secara otomatis dia menggerakkan kedua tangannya ke atas. Inilah gerakan seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya.

Ilmu kepandaian ini sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga jangankan baru dalam keadaan berduka dan masih sadar, biar pun sedang tidur andai kata ada sesuatu tentu secara otomatis ia dapat menjaga diri. Penjagaan ini dilakukan sesuai dengan datangnya serangan, maka ketika ia merasa ada angin bertiup dari atas yang mengandung tenaga dahsyat, ia pun segera menangkis.

Hebat bukan main tenaga tangkisan Beng San ini. Burung yang menerkamnya itu lantas terpukul kembali oleh hawa tangkisan sehingga terbangnya menyeleweng dan terlempar ke samping, juga beberapa helai bulunya gugur. Kwa Hong malah hampir terjungkal dari tempat duduknya!

Beng San kini memandang. Dia terkejut melihat bahwa hampir saja dia mencelakai Kwa Hong tadi, maka katanya dengan suara lemah, "Kwa Hong, kau bunuhlah aku yang penuh dosa, tapi pergunakan tanganmu sendiri..."

Kwa Hong yang sudah marah itu kembali memerintahkan burungnya menyambar. Burung rajawali itu sudah sangat patuh kepada Kwa Hong. Apa lagi ketika tadi tertangkis hampir saja dia runtuh, maka dia pun marah sekali. Sambarannya kini amat hebat, tidak hanya kedua kakinya menerkam, malah pelatuknya turut pula menyerang dan mematuk.

Akan tetapi, sekarang Beng San sudah berada dalam keadaan sadar. Mana bisa burung itu mencelakainya? Dengan gerakan kaki yang ringan sekali Beng San dapat mengelak.

"Aku tidak mau terbunuh oleh burung bedebah ini, Hong-moi... kalau kau mau bunuh aku, turunlah dan bunuhlah aku dengan tanganmu sendiri..."

Kwa Hong mengeluarkan suara aneh seperti orang menangis tetapi juga seperti suara ketawa, lalu berkata, "Tidak...! Terlalu enak kalau kau mati... hi-hi-hik, kau harus hidup... Beng San, kau harus hidup untuk menebus perbuatanmu yang menghancurkan hatiku...! Kau tunggulah saja, kelak anak di kandunganku inilah yang akan membunuhmu. Anakmu sendiri... hi-hi-hik... anakmu sendiri akan membunuhmu...!"

"Hong-moi..., jangan...! Kau bunuhlah aku sekarang...!" teriak Beng San penuh kengerian.

Akan tetapi burung itu telah terbang ke atas dengan sangat cepatnya dan sebentar saja sudah membawa Kwa Hong amat jauh sehingga hanya terlihat sebuah titik kuning emas di angkasa raya!

Beng San merasa betapa matanya berkunang dan gelap, penuh oleh air mata sehingga ia gunakan kedua tangannya untuk menutup mukanya dan menguatkan hati untuk menahan tekanan batin yang maha berat itu. Entah berapa lamanya dia berada dalam keadaan seperti itu. Barulah dia tersadar ketika mendengar suara orang berkata.

"Tan-taihiap, kau telah menyelamatkan Hoa-san-pai kami dari tangan seorang iblis jahat. Tak lain kami semua murid Hoa-san-pai menghaturkan terima kasih, dan mohon petunjuk selanjutnya."

Beng San cepat mengeringkan air matanya dan mengangkat muka memandang. Ternyata bahwa para tosu Hoa-san-pai semua telah muncul di situ dan berlutut di depannya! Ada pun yang bicara tadi adalah tosu tua yang telah datang ke Min-san dan minta pertolongan kepadanya. Tentu saja dia menjadi kaget dan sibuk sekali melihat para tosu itu berlutut memberi hormat kepadanya.

Cepat-cepat ia berkata, "Para Totiang harap lekas bangkit dan mari kita bicara baik-baik. Janganlah memberi hormat seperti ini, aku sama sekali tidak berani terima. Bangkitlah!" Di dalam suaranya mengandung pengaruh yang tak dapat dibantah lagi, maka para tosu itu lalu bangun berdiri.

Setelah para tosu itu berdiri, terjadilah keributan. Beberapa orang tosu menuding-nuding dan mencela tosu-tosu lain yang tadinya mereka anggap taat dan tunduk serta membantu Kwa Hong. Para tosu itu tentu saja menjadi ketakutan dan menyangkal sehingga terjadi percekcokan dan keributan.

Beng San yang memperhatikan keributan itu segera maju melerai sambil berkata, "Para Totiang harap jangan cekcok sendiri. Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan tidak perlu menekan mereka yang tadinya jatuh ke bawah pengaruh Kwa Hong. Di dunia ini, manusia manakah yang tak pernah menyeleweng dan bersalah? Tanpa ada kesalahan dan dosa, manusia takkan dapat sadar dan bertobat, takkan mampu membedakan baik dan buruk. Yang penting adalah kesadaran akan dosa itu, maka walau pun tadinya ada beberapa orang Totiang yang bertindak keliru, asal sekarang sudah sadar dan bertobat, kiranya tidak perlu ditekan terus."

Para tosu dapat menerima ucapan ini dan kembali mereka berunding, kini dengan hati rukun dan tidak saling menyalahkan seperti tadi.

"Tan-taihiap, keadaan Hoa-san-pai kami sudah morat-marit dan rusak. Mohon petunjuk Taihiap bagaimana supaya Hoa-san-pai dapat dibangun kembali. Kami sudah kehilangan pimpinan," kata tosu tua.

"Aku sudah mendengar bahwa Saudara Kui Lok dan Thio Bwee diusir oleh Kwa Hong. Cucu murid yang masih ada sekarang hanyalah Thio Ki yang sekarang tinggal di Tin-yang menjadi piauwsu (pengawal barang). Para Totiang harap tinggal di sini dan mengurus semua mayat ini secara baik-baik, biarlah aku yang pergi mengabarkan ke Sin-yang dan minta kepada Saudara Thio Ki untuk datang ke sini, kemudian mengurus pembangunan Hoa-san-pai. Kurasa hanya dia seorang yang berhak, karena dia pun murid dari mendiang Lian Bu Tojin."

Para tosu menyatakan persetujuan mereka dan berangkatlah Beng San turun gunung dengan wajah muram. Pertemuannya dengan Kwa Hong tadi benar-benar membuat dia berubah menjadi manusia lain. Ketika mendaki Puncak Hoa-san, dia adalah seorang manusia bahagia karena selama ini ia tinggal di Min-san bersama isterinya, yaitu Kwee Bi Goat, hidup dengan penuh cinta kasih dan damai, saling mencinta dan rukun. Ketika ada tosu Hoa-san-pai datang dan bercerita tentang mala petaka yang menimpa Hoa-san-pai lalu mohon pertolongannya, Beng San tidak dapat menolak karena ia mengingat akan hubungannya dengan partai itu.

Isterinya mengatakan hendak ikut, akan tetapi oleh karena Beng San tahu bahwa akan buruk jadinya kalau isterinya itu bertemu dengan Kwa Hong, maka dia mencegah dan menyatakan bahwa tidak baik bagi kesehatan isterinya untuk melakukan perjalanan jauh, karena keadaan Bi Goat yang sedang mengandung itu. Demikianlah, dia lalu meninggalkan Bi Goat di Min-san bersama ayah mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun. Siapa sangka bahwa pertemuannya dengan Kwa Hong akan menghancurkan hatinya seperti ini!

"Aduh... aku tidak berharga lagi mendekati Bi Goat..."

Di sepanjang perjalanan menuju ke Sin-yang mencari Thio Ki, Beng San membayangkan isterinya dengan hati remuk redam. Setelah apa yang ia lakukan bersama Kwa Hong dan ternyata Kwa Hong mengandung keturunannya, dia merasa berdosa besar dan merasa tidak berharga untuk mendekati isterinya terkasih dan suci. Ketika mendaki Puncak Hoa-san tadi ia masih merupakan seorang suami yang bahagia. Sekarang ia meninggalkan puncak dengan hati terjepit derita sengsara.

Namun dasar seorang berwatak satria, sungguh pun diri sendiri mengalami penderitaan batin yang maha besar, akan tetapi dia terus saja melanjutkan usahanya untuk menolong Hoa-san-pai. Ia harus mencari Thio Ki dan menarik orang muda kakak Thio Bwee itu agar suka turun tangan membangun kembali Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.

Sekarang mari kita mendahului perjalanan Beng San yang sedang menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki dan kita melihat apa yang terjadi di Sin-yang….

**********

Seperti telah dituturkan, Thio Ki adalah murid Hoa-san-pai juga, malah dalam tingkatnya, ia merupakan cucu murid yang paling tua. Thio Ki adalah kakak kandung Thio Bwee dan pemuda Hoa-san-pai yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka tampan ini sekarang telah bekerja membuka piauwkiok di Sin-yang.

Pada masa itu, perusahaan piauwkiok (kantor exspedisi) amat maju karena banyaknya orang jahat sehingga para saudagar selalu mengirim barang-barangnya yang berharga di bawah perlindungan jago-jago dari piauwkiok, Karena kepandaiannya memang tinggi dan sebagai murid Hoa-san-pai, sebentar saja Thio Ki sudah membuat nama baik, ditakuti penjahat dan dipercaya langganan pengirim barang. Sekarang Thio Ki sudah menikah dengan seorang gadis bernama Lee Giok. Bukan gadis sembarangan. Selain cantik jelita juga gadis ini hebat kepandaiannya, bahkan lebih tinggi ilmu pedangnya kalau dibandingkan dengan Thio Ki sendiri.

Hal ini tidak aneh karena Lee Giok adalah seorang gadis keturunan bangsawan Kerajaan Goan yang lalu, yang menjadi murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan Si Raja Pedang Tanpa Tandingan! Selain menjadi murid orang sakti, Lee Giok juga terkenal sebagai seorang gadis patriot yang dalam jaman perjuangan melawan Kerajaan Mongol telah berjasa besar.

Suami isteri ini hidup rukun dan damai di Sin-yang. Thio Ki amat mencintai isterinya itu, sungguh pun sebetulnya di dalam hati kecilnya Lee Giok tidak mencinta suaminya. Bukan karena Thio Ki kurang gagah atau kurang tampan, tetapi karena cinta kasih pertamanya telah gagal, dibawa mati seorang patriot besar murid Kun-lun-pai bernama Kwee Sin.

Hal ini tidak aneh karena sebagai seorang patriot tentu saja ia kagum kepada lain orang patriot dan ketika orang yang dicintanya itu, Kwee Sin, meninggal dunia, hatinya menjadi hampa dan ia tidak banyak membantah lagi ketika ia dijodohkan dengan Thio Ki, seorang pemuda yang selain gagah juga tampan. Hanya sedikit hal yang mengecewakan hati Lee Giok, yaitu bahwa suaminya ini sama sekali tidak memiliki jiwa patriotik.

Di Sin-yang mereka berdua hidup dalam keadaan cukup. Perusahaan piauwkiok yang didirikan Thio Ki mendatangkan hasil lumayan. Mereka mampu membeli sebuah rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang luas juga. Oleh karena pekerjaan suaminya itu mengharuskan suaminya lebih sering keluar rumah dari pada berada di rumah, untuk mengurangi kesepian, Lee Giok memelihara banyak ayam dan binatang ternak lain di rumahnya. Juga la menanam banyak kembang indah di pekarangannya.

Pada sore hari itu di pekarangan rumah Thio Ki nampak sunyi. Sehari itu tidak nampak Lee Giok atau pelayannya keluar dari dalam rumah. Padahal sudah tiga hari ini Thio Ki berada di rumah. Dan pada hari itu pun Thio Ki tidak pergi ke perusahaannya. Akan tetapi mengapa kelihatan begitu sunyi?

Malah tiga orang pelayan rumah tangga sejak pagi tadi sudah disuruh pulang semua dan disuruh libur sepekan lamanya oleh Lee Giok. Para pelayan itu amat terheran-heran, akan tetapi tidak berani membantah kehendak nyonya rumah itu. Apakah yang terjadi? Kalau kita menengok ke dalam rumah, keadaannya lebih aneh lagi. Thio Ki dan Lee Giok berada di ruang tengah, muka mereka agak pucat dan biar pun di dalam rumah, mereka berpakaian ringkas dan di pinggang mereka tergantung pedang seperti orang yang siap akan bertempur!
cerita silat karya kho ping hoo

Kedua orang suami isteri ini bersikap begini semenjak malam tadi. Memang tidak aneh kalau diketahui sebabnya. Ada bahaya maut mengancam keselamatan mereka, bahkan keselamatan para pelayan dan malah semua yang hidup di dalam rumah itu terancam bahaya maut. Malam tadi, lewat tengah malam, dua orang suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi ini mendengar tindakan kaki ringan di atas genteng rumah mereka. Thio Ki adalah seorang yang biasa melakukan perjalanan dan sudah biasa berhadapan dengan orang-orang jahat. Juga Lee Giok bukanlah pendekar kemarin sore.

Oleh karena itu, ketika mendengar suara ini mereka cepat meloncat keluar dari kamar. Tanpa mengeluarkan suara ribut-ribut mereka berdua telah mengejar, seorang lewat pintu belakang, seorang lagi lewat pintu depan, terus meloncat ke atas genteng rumah sendiri. Akan tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Setelah mencari-cari beberapa lama, mereka melihat berkelebatnya bayangan orang dari bawah, baru saja orang itu meloncat keluar dari ruangan dalam. Gerakan orang itu gesit dan ringan sekali.

Akan tetapi Lee Giok dan Thio Ki sudah cepat menerjang ke depan untuk menghadang dan Thio Ki membentak, "Penjahat dari mana berani mampus mengganggu rumahku?"

Orang itu tertawa, suara ketawanya melengking amat tinggi dan sekali berkelebat sudah melayang melalui atas kepala suami isteri itu. Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, cepat mereka mengejar. Mereka belum sempat melihat wajah orang itu.

Ketika melihat dua orang itu mengejar, Si Penjahat lalu membalikkan tubuh di tempat yang gelap, kedua tangannya bergerak dua kali ke depan seperti orang memukul. Thio Ki dan Lee Giok segera dapat menduga bahwa itu tentulah serangan gelap, mungkin senjata rahasia, maka mereka cepat berhenti dan siap siaga. Tidak ada senjata rahasia melayang datang, tapi tiba-tiba mereka merasa terdorong ke belakang dan hampir terjengkang roboh kalau tidak cepat-cepat berjungkir-balik. Mereka merasa dada mereka agak sesak oleh tenaga dorongan yang tidak kelihatan itu.

Pada saat mereka berdiri kembali, penjahat itu telah lenyap, hanya rneninggalkan gema suara ketawanya yang melengking tinggi, suara ketawa wanita! Juga meninggalkan ganda yang harum semerbak. Thio Ki dan Lee Giok mengejar sampai jauh keluar rumah, namun sia-sia belaka. Dengan kecewa dan lesu mereka kembali memasuki rumah dan apa yang mereka lihat membuat mereka mengertak gigi saking marah, akan tetapi juga membuat wajah mereka pucat.

Di dalam kamar mereka, di atas dinding yang putih, terdapat tulisan-tulisan corat-coret merah yang berbunyi:

Sebelum lewat besok malam, semua yang bernyawa di rumah ini akan mati.

Tidak ada tanda tangan apa-apa dan huruf-huruf itu ditulis dengan darah. Ketika mereka memeriksa ke belakang, ternyata dua ekor anjing peliharaan yang tidur di belakang telah mati dengan kepala pecah. Agaknya darah anjing ini yang dipakai untuk menulis ‘surat maut’ itu.

"Apa kau mengenal suaranya?" akhirnya Thio Ki bertanya kepada isterinya.

Lee Giok menggelengkan kepala dan keningnya berkerut, "Jelas dia seorang perempuan, akan tetapi karena gelap tidak dapat mengenalnya. Suaranya pun seakan-akan pernah mendengarnya tapi entah di mana."

"Kepandaiannya hebat..." Thio Ki menarik napas panjang. "Entah mengapa dia melakukan ini?"

"Dia tentu tidak datang seorang diri," berkata Lee Giok, sepasang matanya yang jeli itu bergerak-gerak cerdik. "Tulisan ini baru saja ditulis, darahnya masih belum beku, bangkai anjing itu pun masih hangat. Tentu hal ini dilakukan pada saat kita mengejar penjahat perempuan itu. Yang datang ke sini pada malam ini sedikitnya tentu dua orang, mungkin pula lebih."

Thio Ki lebih gelisah mendengar ini. Dia tidak dapat menyangkal pendapat isterinya yang sangat cerdik itu. "Seorang saja demikian lihainya, kalau mereka itu berkawan, benar... berbahaya...!"

"Tak perlu gelisah. Kalau orang sudah menghendaki untuk memusuhi kita, tidak ada jalan lain kecuali melawannya mati-matian. Hanya aku ingin sekali tahu siapa mereka dan apa sebabnya... Apakah selama beberapa bulan ini menjadi piauwsu kau tidak menanam bibit permusuhan yang hebat dengan golongan hitam (penjahat)!"

"Tidak, tidak ada. Melihat tulisan ini, agaknya Si Penulis mempunyai dendam yang amat mendalam terhadap kita." Muka Thio Ki makin pucat.

Tiba-tiba Lee Giok mengangkat alisnya, matanya bersinar-sinar. "Ahhh, siapa lagi kalau bukan dia? Hemm, sejak dulu memusuhi aku, hemm... tapi... ah, kalau benar dia kenapa ilmu kepandaiannya begitu hebat?"

"Siapakah? Siapakah yang kau maksudkan, isteriku?" Thio Ki bertanya penuh perhatian.

"Aku teringat akan Kim-thouw Thian-li...."

Thio Ki menahan napas, dia pun sekarang teringat. Memang agaknya kalau ada musuh besar wanita, kiranya dia itulah Kim-thouw Thian-li (Dewi Berkepala Emas), ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Terang)). Seorang siluman yang hebat dan kejam. Apa lagi gurunya yang bernama Hek-hwa Kui-bo (Setan Betina Hitam). Bergidiklah Thio Ki teringat mereka itu dan bulu tengkuknya meremang.

"Kalau betul dia... Hek-hwa Kui-bo... ahhh... bagaimana baiknya?" Ia nampak ketakutan sekali.

Sekali lagi lubuk hati Lee Giok tertikam oleh kekecewaan suaminya. Ia makin kenal betul bahwa di balik keangkuhan dan kegagahan Thio Ki terdapat pula sifat penakut yang tidak menyenangkan hatinya.

"Orang-orang seperti kita ini apakah pantas ketakutan menghadapi ancaman musuh?" Dalam ucapan Lee Giok ini terkandung kekecewaan dan teguran yang amat terasa oleh Thio Ki.

Maka ia segera berdiri dan menepuk dada sambil berkata, "Jangan kuatir isteriku. Aku suamimu tentu saja tidak takut menghadapi musuh yang mana pun juga, tidak pula takut menghadapi kematian sebagai orang gagah. Hanya aku meragukan apakah kita mampu melawan mereka itu kalau benar-benar mereka terdiri dari Hek-wa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li?"

Agak senang juga hati Lee Giok. Memang beginilah seharusnya sikap orang yang menjadi suaminya. "Apa bila betul dugaan kita bahwa mereka itu adalah Kim-thouw Thian-li dan gurunya, sudah tentu kita bukanlah lawan mereka. Akan tetapi, nyawa berada di tangan Thian. Jangankan baru mereka berdua, biar pun kita diancam oleh seratus orang macam mereka, kalau Thian belum menghendaki mati, kiranya kita pun akan selamat. Sebaliknya, kalau Thian sudah menghendaki kematian kita, biar pun andai kata kita melarikan diri, tentu musuh akan dapat mengejar dan membunuh kita juga. Sama-sama mati, bukankah lebih baik mati sebagai orang gagah?"

"Kau betul, isteriku. Seribu kali lebih baik mati sebagai harimau yang baru mati setelah melakukan perlawanan gigih dari pada mati sebagai seekor babi yang tidak melakukan perlawanan malah melarikan diri."

"Bukan begitu saja, pendirian seorang gagah sejati malah lebih tinggi lagi. Lebih baik mati sebagai seekor harimau dari pada hidup sebagai seekor babi!"

Thio Ki mengangguk-angguk. "Kau betul... kau betul..."

"Kita harus berjaga-jaga," kata pula Lee Giok.

Setelah agak lama mereka merenung, barulah Lee Giok kembali berkata, "Pertama-tama besok pagi-pagi tiga orang pelayan kita harus pergi dari sini pulang ke kampung masing-masing. Biar mereka berlibur sepekan, baru mereka diperbolehkan kembali ke sini. Aku tidak suka jika karena permusuhan kita, orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut terancam bahaya."

Demikianlah, pada keesokan harinya, tiga orang pelayan mereka suruh pulang, diberi bekal uang dan dipesan supaya jangan kembali sebelum sepekan. Kemudian suami isteri ini berjaga-jaga sehari penuh dengan pedang selalu di pinggang. Mereka makan sambil berjaga-jaga dan tidak pernah berpisah sebentar pun juga. Mereka maklum akan kelihaian lawan, maka biar pun siang hari, mereka tak berani meninggalkan kewaspadaan. Apa lagi setelah hari itu menjelang malam, mereka makin berhati-hati.

Pintu-pintu depan dan belakang mereka tutup, kemudian dipalang kuat-kuat. Hanya pintu samping yang kecil mereka tutup saja tanpa dipalangi. Dengan cerdik Lee Giok kemudian memasangkan anak panah terpentang di busur yang dihubungkan dengan pintu-pintu dan jendela sehingga siapa saja berani memasuki rumah dengan jalan merusak, pasti akan disambut anak panah. Sedangkan dia sendiri dan Thio Ki selain membawa pedang juga menyediakan kantong senjata rahasia piauw secukupnya. Tidak begini saja, malah di depan pintu Lee Giok telah menyebar paku-paku yang sudah ditekuk sehingga merupakan perintang bagi musuh.

Setelah sore terganti malam, keadaan di rumah Thio Ki makin sunyi lagi. Memang rumah ini agak jauh dari tetangga dan mempunyai pekarangan yang luas. Apa lagi suami isteri yang berjaga-jaga di ruangan dalam itu, sejak tadi mereka hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun.

Lampu-lampu penerangan di luar rumah dipasang semua, terang benderang. Akan tetapi di sebelah dalam, di ruangan itu, sengaja digelapkan. Inilah siasat Lee Giok agar mereka dapat melihat kedatangan musuh tanpa kedudukan mereka diketahui oleh musuh itu. Waktu merayap amat lambat. Angin bertiup agak keras, menggerakkan daun-daun pohon, mengeluarkan bunyi yang terdengar amat mengerikan bagi orang-orang yang berada di dalam cekaman ketegangan itu.

Keduanya tidak dapat melihat apa-apa, biar pun mereka mengintai dari lubang-lubang di antara pintu keluar, keadaan sunyi saja. Akan tetapi mereka memasang telinga baik-baik. Setiap bunyi harus dapat terdengar oleh mereka dan ini penting sekali bagi ahli-ahli silat. Kadang kala telinga dapat mendahului mata dan telingalah yang menyelamatkan nyawa. Keadaan di ruangan itu begitu sunyi sehingga andai kata ada jarum jatuh, tentu segera dapat terdengar oleh mereka. Beberapa kali terdengar suara orang atau kaki kuda dari jauh, hanya sayup sampai terbawa angin lalu.

Thio Ki memandang bayangan isterinya di dalam gelap dan bangkitlah kasih sayangnya yang besar. Ngeri ia bila memikirkan bagaimana mereka nanti harus menghadapi musuh yang lihai. Bagaimana kalau sampai dia atau isterinya tewas? Terharu hatinya memikirkan dan tak terasa pula ia menjamah tangan isterinya dengan mesra dan penuh kasih. Agaknya Lee Giok merasai ini, maka cepat-cepat mengibaskan tangan suaminya. Dalam keadaan seperti itu Lee Giok tidak mau memperlihatkan perasaan lemah, apa lagi seluruh panca indera harus dipusatkan untuk memperhatikan keadaan di luar.

"Ssttt, dengar.. baik-baik...," bisiknya memperingatkan suaminya.

"Srrtt-srttt!"

Suami isteri itu menghunus pedang, digenggam erat-erat dan berdiri siap siaga. Mereka mendengar langkah kaki yang amat ringan datang dari depan!

"Jaga kanan kiri pintu..." bisik lagi Lee Giok.

Thio Ki maklum akan maksud isterinya dan ia lalu berdiri di sebelah kiri pintu sedangkan isterinya menjaga sebelah kanan. Menurut rencana Lee Giok, kalau musuh bisa melalui lantai penuh paku, biar musuh itu mendobrak pintu kemudian menerima sambaran anak panah dan diterjang oleh mereka berdua dari kanan kiri. Walau pun musuh lebih pandai, kiranya tak akan dapat menyelamatkan diri kalau dihujani serangan seperti ini.

Suara langkah kaki yang ringan itu makin lama makin dekat, berhenti di depan pintu di mana sudah disebar paku-paku oleh Lee Giok. Keadaan makin tegang dan makin sunyi setelah langkah kaki itu berhenti dan tak terdengar lagi. Lee Giok yang biasanya tabah dan sudah biasa menghadapi saat-saat tegang ketika dia masih menjadi pejuang dahulu, kini mau tidak mau mengeluarkan keringat dingin.

Apa lagi Thio Ki yang memang sudah merasa gelisah sekali. Tubuhnya menggigil dan setiap saat ia bisa kalap, meloncat dan menerjang siapa saja yang muncul pada saat itu. Senjata-senjata rahasia sudah siap di tangan kedua orang ini. Mendadak terdengar suara perlahan di luar pintu, suara wanita yang bicara seorang diri setengah berbisik.

"Aneh sekali... di luar terang kenapa di dalam gelap dan sunyi? Pergikah orang-orangnya? Dan paku-paku ini..." Suara itu berhenti sebentar lalu terdengar ia memanggil, "Enci Lee Giok...! Enci Lee Giok! Suci (Kakak Seperguruan)...!"

Lega bukan main hati Lee Giok setelah mengenal suara ini, seakan-akan ia merasa batu besar yang menindih dadanya dilepaskan.

"Sumoi (Adik Seperguruan)... kaukah itu, Sumoi...?" tanpa disadarinya, suara Lee Giok mengandung isak.

"Suci Lee Giok, kau kenapakah? Ah, tentu terjadi sesuatu yang hebat... jangan takut, Suci, aku datang..." Terdengar orang bergerak di luar pintu.

"Nanti dulu, Sumoi... jangan masuk...!" teriak Lee Giok akan tetapi terlambat.

Pintu telah didorong dari luar sehingga terbuka dan palangnya patah. Pada saat itu anak panah rahasia yang dipasang Lee Giok melesat ke depan, tiga batang banyaknya.

"Sumoi...!" Lee Giok menjerit.

Dari luar berkelebat bayangan merah, bukan main cepatnya dan gesitnya gerakannya dan bagai seekor burung walet menyambar kupu-kupu, bayangan itu menyambar tiga batang anak panah itu dan di lain saat ia telah meloncat masuk ke dalam ruangan, tiga batang anak panah sudah berada di tangannya. Dari sinar lampu yang menyorot masuk ke dalam ruangan melalui pintu yang terbuka, tampaklah orang itu.

Dia seorang gadis cantik jelita berpakaian merah. Pakaiannya yang warnanya merah itu berpotongan ringkas dan membuat ia selain nampak cantik juga gagah sekali. Di belakang punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya dihiasi ronce-ronce terbuat dari benang kuning. Juga pengikai rambut, ikat pinggang, dan sepatunya berwarna seperti warna ronce-ronce pedangnya.

Mukanya berkulit putih halus dan manis bentuknya, rambutnya hitam panjang. Sepasang mata yang indah bentuknya itu bersinar-sinar dan bening laksana mata ‘burung hong’. Hidung dan mulutnya bagaikan bunga-bunga yang memperindah taman sari wajahnya. Kesemuanya itu menjadikan dia seorang gadis berwajah ayu bukan main.

Siapakah gadis jelita ini? Dia bukan lain adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Bandingan) Cia Hui Gan, benama Cia Li Cu. Dia telah mewarisi ilmu silat ayahnya, bahkan sudah mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang bukan main indah dan lihainya. Karena kepandaiannya dan kecantikannya inilah maka akhir-akhir ini Cia Li Cu mendapat julukan Thai-San Sian-li (Dewi Gunung Thai-san) karena memang ayahnya tinggal di Gunung Thai-san.

Seperti pernah kita ketahui, apa lagi sudah jelas diceritakan dalam cerita Raja Pedang, gadis jelita ini dipertunangkan dengan suheng-nya sendiri, yaitu Tan Beng Kui, kakak dari Tan Beng San. Dapat dibayangkan betapa lega dan girang hati Lee Giok melihat kedatangan sumoi-nya yang mempunyai ilmu kepandaian amat tinggi itu. Saking girang dan terharunya ia segera menubruk, memeluk dan menciumi sumoi-nya sambil menangis!

"Eh-ehh-ehh... ada apakah Suci? Ci-hu (Kakak Ipar), ada masalah apakah...?" tanyanya berganti-ganti kepada Lee Giok dan Thio Ki. "Dan kenapa gelap amat di sini? Pasanglah pelita..."

Thio Ki ragu-ragu, dia belum berani menyalakan lampu. Akan tetapi di antara isaknya Lee Giok berkata, "Setelah Sumoi berada di sini, kita takut apa lagi? Hayo pasang lampunya."

Thio Ki segera menyalakan lampu dan sebentar saja ruangan itu menjadi terang. Li Cu semakin heran melihat keadaan suci dan cihu-nya begitu tegang, malah di dalam rumah telah melakukan persiapan seperti itu seakan-akan sedang menghadapi musuh yang luar biasa hebat. Ia sudah berpengalaman dan tentu saja tanpa diceritakan lagi ia sudah dapat menduga bahwa suci-nya menghadapi ancaman musuh.

Sebetulnya ketika datang, Li Cu sendiri membawa hati yang sakit oleh urusan pribadinya. Akan tetapi begitu melihat keadaan Lee Giok, urusan sendiri dilupakan dan dia menjadi marah sekali.

"Suci, katakan siapa yang berani kurang ajar mengancam keselamatanmu, katakan! Aku yang akan menghadapinya!"

Lee Giok menarik napas panjang, lalu menuntun tangan Li Cu diajak ke dalam kamar. Thio Ki maklum bahwa isterinya hendak memperlihatkan tulisan darah anjing itu, maka ia pun ikut masuk. Tanpa berkata apa-apa Lee Giok menuding ke arah coretan merah di tembok itu.

Li Cu memandang dan sepasang matanya yang indah berkilat. "Keparat betul! Alangkah sombongnya. Binatang mana yang berani berbuat begini? Dia menghinamu, berarti menghinaku dan menghina ayahku. Biarkan dia datang, Suci, kita lawan dan bikin mampus Si Sombong itu!" Li Cu menjadi merah kedua pipinya saking marahnya.

"Memang aku pun tadi siap hendak melawannya, Sumoi. Dan alangkah senang hatiku melihat kau datang, kau tahu... mereka itu lihai sekali!"

Lee Giok lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan juga dugaannya bahwa penjahat itu tentu lebih dari seorang, Juga dugaannya bahwa agaknya yang akan mengganggu itu tentulah Kim-thouw Thian-li dan mungkin juga bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo.

Li Cu mengangguk-angguk, mengerti kenapa suci-nya menduga demikian. Ia tahu bahwa dahulu suci-nya ini mencinta mendiang Kwee Sin, sedangkan Kim-touw Thian-li adalah kekasih Kwee Sin. Selain permusuhan karena rasa cemburu ini, juga memang Kim-thouw Thian-li dulunya merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, sebaliknya Lee Giok adalah seorang pejuang.

"Jika betul mereka yang datang, kau dan cihu bersama-sama hadapilah Ngo-lian Kauwcu (Ketua Ngo-lian-kauw) itu, biarkan aku yang akan menghadapi Hek-hwa Kui-bo!" kata Li Cu dengan gagah dan bersemangat.

Kembali mereka melakukan penjagaan. Akan tetapi sekarang keadaan suami isteri itu tidak sekuatir tadi, meski pun ketegangan masih tetap ada di dalam hati mereka. Juga ruangan di mana mereka berjaga itu tidak digelapkan. Dalam keadaan sunyi ini Li Cu teringat kembali akan keadaan dirinya sendiri sehingga wajahnya yang ayu itu menjadi murung. Baiknya Lee Giok terlalu tegang hatinya sehingga tidak melihat keadaan sumoi-nya ini.

Menjelang tengah malam, keadaan amat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara ayam berkeok, lalu sunyi lagi. Sunyi yang mencekam. Lee Giok bangkit dari tempat duduknya, wajahnya tegang. Dia saling pandang dengan suaminya dan dapat menduga bahwa tentu ada orang mengganggu binatang peliharaan mereka itu. Lee Giok memandang Li Cu dan pandang matanya mengisyaratkan bahwa agaknya musuh yang ditunggu-tunggu sudah datang!

Lee Giok beserta Thio Ki sudah berdiri dengan tangan di gagang pedang masing-masing. Hanya Li Cu yang masih duduk, sikapnya tenang. Mendadak terdengar lagi suara ayam berkeok beberapa kali, lalu sunyi kembali. Suami isteri itu menggerakkan tangan kanan mencabut pedang, sedangkan tangan kiri bersiap di kantong piauw. Mata mereka memandang ke arah pintu yang sudah ditutup lagi. Li Cu masih seperti tadi, duduk dengan tenang seperti orang melamun. Agaknya ia masih tenggelam dalam lamunan duka tentang dirinya sendiri.

Ketegangan suami isteri itu memuncak ketika di dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara ketawa dari jauh. Setelah suara ketawa berhenti lalu terdengar suara suling ditiup perlahan. Mendengar suara suling ini, Lee Giok memegang tangan sumoi-nya yang masih duduk dan berbisik,

"Sumoi, bukankah itu si iblis Giam Kin?"

Li Cu berdiri dan berkata, "Hemmm, makin banyak iblis makin baik, biar kita basmi mereka agar dunia terbebas dari genggaman mereka!"

Suara ketawa makin lama makin dekat dan jelas terdengar bahwa suara itu adalah suara ketawa wanita, kemudian setibanya di depan rumah suara itu berhenti. Suara suling juga berhenti, keadaan sunyi sebentar lalu terdengar suara berisik mendesis-desis. Tiga orang yang berada di dalam rumah sudah siap siaga, hanya Li Cu yang belum juga mencabut pedang. Memang bagi seorang ahli pedang seperti dia tidak mau sembarangan mencabut pedang kalau tidak perlu.

"Brakkkk!"

Tiba-tiba pintu depan pecah terbuka dan dari luar terdengar lagi suara suling lapat-lapat. Yang membuat ketiga orang muda itu terkejut adalah ratusan ekor ular besar kecil yang masuk ke rumah seperti banjir. Belasan ekor sudah memasuki ruangan itu melalui pintu. Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar menyilaukan dan belasan ular itu sudah putus menjadi dua potong oleh sambaran pedang di tangan Li Cu. Sungguh hebat gerakan ini dan mengerikan sekali ular-ular yang sudah putus menjadi dua tapi masih berkelojotan itu. Dari luar masih membanjir terus ular-ular besar kecil, merayap melalui bangkai ular-ular yang sudah sekarat.

Kini Lee Giok dan Thio Ki sudah hilang kagetnya. Semangat mereka bangkit oleh gerakan Li Cu tadi, karena itu mereka pun menyerbu ke depan dan membabati ular-ular dengan pedang mereka. Akan tetapi ular-ular itu masih saja membanjir masuk, malah kini merayap dari celah-celah jendela dan pintu belakang, dan baunya yang amat amis tak kuat tertahankan oleh tiga orang muda itu lebih lama lagi.

"Keluar melalui jendela terus ke atas genteng...!" kata Li Cu mendahului melompat ke jendela.

Sekali tendang jendela terpentang lebar, pedangnya berkeredepan diputar di depan tubuh ketika tubuhnya melayang keluar, tangan kiri menyambar langkan lalu tubuhnya diayun terus ke atas ke arah genteng. Perbuatannnya ini disusul oleh Lee Giok dan Thio Ki. Baiknya Li Cu yang berada paling depan karena segera tampak sinar hijau dan putih menyambar ke arah mereka. Namun sinar-sinar senjata rahasia ini dapat ditangkis runtuh semua oleh pedang di tangan Li Cu!

Ketika mereka tiba di atas genteng dalam keadaan selamat, ternyata di situ telah berdiri dua orang wanita dan seorang laki-laki menghadapi mereka sambil tertawa mengejek. Tepat seperti yang diduga oleh Lee Giok, dua orang wanita itu bukan lain adalah Ngo-lian Kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Kim-thouw Thian-li yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih nampak cantik jelita seperti gadis remaja saja, sikapnya pun genit dan angkuh. Ini masih tidak aneh, bahkan gurunya, Hek-hwa Kui-bo yang usianya sudah enam puluhan tahun, masih nampak cantik, memegang sapu tangan sutera beraneka warna!

Ada pun laki-laki itu adalah seorang pemuda ganteng, mukanya pucat, pakaiannya serba kuning dan di tangannya terdapat sebatang suling. Pembaca Raja Pedang tentu sudah mengenal siapa orang ini. Bukan lain adalah Giam Kin yang berjuluk Siauw-coa-ong (Raja Ular Kecil), murid iblis dari utara Siauw-ong-kwi. Selain berilmu tinggi, Giam Kin ini juga memiliki kepandaian hebat, yaitu dengan sulingnya ia dapat memanggil ratusan ekor ular yang dapat ia perintah untuk menyerang musuhnya. Juga ia pandai sekali dalam hal penggunaan racun ular yang berbahaya.

"Ehh, kiranya ada Thai-san Sian-li di sini!" kata Kim-thouw Thian-li. "Pantas saja tuan dan nyonya rumah begini tabah!"

Giam Kin memandang dengan mata melongo dan penuh kekaguman kepada wajah yang disinari bulan yang sudah muncul sepenuhnya di langit, kemudian dia pun berseru sambil menarik napas panjang berkali-kali, "Aduh... aduh... bidadari baju merah dari Thai-san... hemmm, makin cantik jelita saja. Bidadari kahyangan pun tak akan menang...!" Kemudian dia menoleh kepada Hek-hwa Kui-bo. "Locianpwe, kalau sekali ini dapat menangkapkan bidadari merah ini untukku, aku berjanji akan menyembah seratus kali kepadamu."

Hek-hwa Kui-bo mengibaskan tangannya. "Huh, laki-laki mata keranjang benar kau ini!"

Tentu saja hati Li Cu mendongkol bukan main mendengar omongan-omongan kotor itu. Akan tetapi dia memandang rendah kepada Giam Kin dan Kim-thouw Thian-li, maka dia tidak pedulikan mereka dan langsung menghadapi Hek-hwa Kui-bo sambil menudingkan jarinya.

"Hek-hwa Kui-bo, kau tergolong tingkatan tua yang sudah mendapat nama besar sebagai tokoh utama dari selatan. Kenapa sekarang kau melakukan tindakan yang amat rendah, mengancam enci-ku dan suaminya, lalu datang membawa dua orang manusia hina dina ini?"

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek kemudian dia berkata, suaranya mengandung sikap memandang rendah, "Kau bocah masih ingusan berani bicara begini kepadaku. Ayahmu sendiri kiranya tidak sekurang ajar engkau! Muridku masih ingat akan permusuhan lama, bersama Giam-kongcu hendak membikin perhitungan dan pelunasan hutang-hutang lama. Aku hanya menonton kalau-kalau ada bocah ingusan lancang dan ikut-ikut campur!"

"Siluman betina tua bangka! Kau dan antek-antekmu hendak menghina Suci dan cihu-ku? Hemmm, selama di sini masih ada Cia Li Cu, jangan harap kalian akan dapat berlaku sewenang-wenang!" bentak Li Cu sambil melintangkan pedangnya.

"Locianpwe, kenapa layani dia bicara? Pegang saja, ringkus dan berikan kepadaku habis perkara!" kata pula Giam Kin sambil tersenyum-senyum. Matanya yang sipit memandang kepada Li Cu dengan kurang ajar.

"Giam-ko, dari pada banyak cerewet lebih baik turun tangan. Kau bereskan yang laki-laki, biar aku mampuskan budak she Lee ini!" kata Kim-thouw Thian-li yang tidak suka melihat Giam Kin tergila-gila kepada Li Cu. Giam Kin tertawa mengejek ketika ia mendekati Thio Ki.

Suami isteri ini maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, akan tetapi mereka tidak takut. Dengan kemarahan meluap mereka lalu menerjang maju, Thio Ki menyerang Giam Kin sedangkan Lee Giok memutar pedang menyerang Kim-thouw Thian-li. Juga Cia Li Cu yang maklum bahwa menghadapi tiga orang jahat itu tidak perlu banyak bicara lagi, lalu menggerakkan pedang di tangannya menerjang Hek-hwa Kui-bo.

Sambil tertawa-tawa Giam Kin menyambut serangan Thio Ki. Raja Ular Kecil ini memang amat tinggi kepandaiannya. Serangan pedang dari Thio Ki ia hadapi dengan permainan suling ularnya yang aneh gerakan-gerakannya. Tenaga lweekang-nya jauh lebih kuat dari pada Thio Ki sehingga setiap kali pedang bertemu suling, tangan Thio Ki tergetar dan pedangnya hampir terlepas.

Namun Thio Ki bermodal kenekatan dan menerjang terus sambil mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Betapa pun juga dia adalah seorang murid Hoa-san-pai yang baik, juga pernah mendapat bimbingan dari Lian Bu Tojin sendiri. Karena itu, setelah ia bertempur dengan nekat Giam Kin tidak berani main-main lagi.

Juga Kim-thouw Thian-li menghadapi perlawanan sengit dan nekat dari Lee Giok. Seperti halnya suaminya, Lee Giok mendapat lawan yang lebih lihai darinya. Kim-thouw Thian-li benar-benar hebat kepandaiannya. Dengan ilmu silatnya dari golongan hitam yang penuh muslihat dan keji, ditambah Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut yang sebagian telah dia warisi pula dari Hek-hwa Kui-bo.

Ketua Ngo-lian-kauw ini benar-benar membuat Lee Giok tak berdaya. Senjata di tangan Kim-thouw Thian-li adalah sebatang golok di tangan kanan dan sehelai selampai merah di tangan kiri. Sapu tangan atau selampai merah inilah yang justru amat berbahaya karena mengandung pelbagai racun jahat.

Akan tetapi karena ilmu pedang Lee Goat juga bukan ilmu pedang sembarangan, akan tetapi ilmu pedang yang ia warisi dari gurunya, Si Raja Pedang, tentu saja ia tidak mau menyerah mentah-mentah sehingga bagi Kim-thouw Thian-li juga tak begitu mudah untuk mendapatkan kemenangan dalam waktu singkat. Yang paling ramai adalah pertandingan antara Hek-hwa Kui-bo dengan Cia Li Cu. Harus diketahui bahwa nama Hek-hwa Kui-bo untuk daerah selatan merupakan nama seorang jagoan kelas satu yang tak pernah terkalahkan. Ilmu silatnya tinggi sekali.

Pada mulanya, sebetulnya ilmu kepandaian Hek-hwa Kui-bo bersumber kepada keahlian tenaga Thai-yang. Sesudah kepandaiannya ini diturunkan kepada Kim-thow Thian-li yang menjadi Ketua Ngo-lian-kauw, maka perkumpulan itu pun turut terkenal dengan keahlian tentang Thai-yang pula.

Belum lama ini dia sudah dapat merampas kitab Im-sin Kiam-sut dan telah menguasainya. Sayang, tenaganya bersumber kepada Yang-kang, sedangkan Im-sin Kiam-sut bersumber kepada Im-kang, maka ilmu pedangnya yang paling akhir dan paling hebat ini pun tidak bisa mencapai puncaknya. Walau pun demikian, Ilmu silat aliran selatan sudah dikuasai Hek-hwa Kui-bo, ditambah lagi pengalamannya yang puluhan tahun, maka kehebatannya bukan main.

Di lain pihak, lawannya adalah Cia Li Cu, puteri tunggal Raja Pedang Tanpa Tanding Cia Hui Gan yang memiliki ilmu pedang keturunan dari pendekar wanita Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Harus diketahui bahwa ilmu pedang keturunan dari Ang I Niocu disebut Sian-li Kiam-sut sesungguhnya masih satu sumber dengan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut dan Yang-sin Kiam-sut, karena kesemuanya itu asalnya adalah ilmu-ilmu ciptaan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su.

Sebagai puteri tunggalnya, tentu saja Cia Li Cu telah mewarisi kepandaian ayahnya, maka biar pun usianya masih amat muda, namun ilmu pedangnya sudah hebat sekali. Kini menghadapi permainan pedang Im-sim Kiam-sut dari Hek-hwa Kui-bo, ia dapat melayani dengan baik. Hebat sekali pertandingan antara nenek dan gadis remaja ini. Hek-hwa Kui-bo mempergunakan sebatang pedang dan dibantu pula dengan sapu tangan suteranya yang beraneka warna itu, yang kehebatannya tak kalah oleh pedang di tangan kanannya. Akan tetapi Cia Li Cu justru mempergunakan sebatang pedang pusaka yang ampuh, yakni pedang pusaka Liong-cu-kiam yang pendek.

Di dalam cerita Raja Pedang sudah diceritakan bahwa Liong-cu Siang-kiam sebetulnya merupakan sepasang pedang, yang sebatang panjang dan ada ukiran huruf ‘Jantan’, sedangkan yang ke dua pendek dengan ukiran huruf ‘Betina’. Tadinya sepasang pedang itu berada di tangan mendiang Lo-tong Souw Lee, seorang pendekar tua yang pernah diangkat guru oleh Tan Beng San, akan tetapi kemudian terjatuh ke dalam tangan Cia Li Cu.

Pada pertemuan puncak di Thai-san, sepasang pedang itu dapat dirampas kembali oleh Tan Beng San, akan tetapi kemudian oleh kakak kandungnya, Tan Beng Kui, sepasang pedang itu diminta atau dipinjam karena pedang-pedang itu menjadi lambang perjodohan antara dia dan Li Cu. Beng San memberikan pedang-pedang itu sebagai pinjaman selama tiga tahun.

Sekarang yang berada di tangan Cia Li Cu dalam menghadapi Hek-hwa Kui-bo adalah pedang yang pendek, yaitu yang Betina. Pada jaman dahulu pedang ini adalah pedang pusaka pegangan Pendekar Bodoh, maka hebatnya bukan kepalang. Selain tajam, juga keras dan dapat mematahkan segala macam baja, lagi pula ampuhnya bukan kepalang.

Dua orang ini yang termasuk orang-orang pemilik ilmu silat tinggi, bertempur sampai tidak kelihatan lagi orangnya. Sinar pedang mereka bergulung-gulung membungkus bayangan tubuh mereka sehingga yang tampak hanyalah gulungan sinar pedang di antara bayangan merah dari pakaian Li Cu diselingi bayangan pelangi beraneka warna yang ditimbulkan oleh gerakan sapu tangan sutera di tangan Hek-hwa Kui-bo!

Setelah ratusan jurus berlangsung cepat sekali antara Hek-hwa Kui-bo dan Cia Li Cu, keduanya merubah permainan, kini tidak secepat tadi, bahkan sangat lambat. Gerakan mereka seperti orang berlatih saja, lambat-lambat sekali sehingga mudah diikuti pandang mata siapa pun juga. Akan tetapi jangan salah sangka, pertempuran yang berjalan lambat ini sesungguhnya malah merupakan pertandingan yang jauh lebih hebat dari pada tadi ketika mereka lenyap dibungkus gulungan sinar senjata mereka. Pertempuran lambat-lambat ini justru berupa pertandingan mati-matian di mana kedua orang itu mengeluarkan seluruh kepandaian asli mereka disertai tenaga dalam yang paling kuat untuk merobohkan lawan.

Beberapa kali senjata mereka hampir mengenai tubuh lawan dan setiap kali pedang Li Cu bertemu dengan sapu tangan sutera, terjadi getaran hebat dan dua macam senjata itu seakan-akan menempel dan saling sedot. Setelah bertempur seperti ini keduanya harus mengakui bahwa mereka masing-masing memiliki keunggulan. Li Cu ternyata memiliki ilmu silat yang lebih murni, sebaliknya dalam hal tenaga dalam, ia kalah kuat oleh nenek tokoh persilatan dari selatan itu.

Karena merasa sangat penasaran, mendadak Li Cu melakukan tekanan dengan pedang Liong-cu-kiam, menggores ke arah ulu hati lawan sambil mengeluarkan suara dari perut. Pedangnya perlahan-lahan sekali melakukan gerakan goresan dari kiri ke kanan, sedikit memutar ke atas. Bukan main hebatnya serangan ini karena dilakukan dengan tenaga sepenuhnya. Jangan kira bahwa serangan yang amat lambat ini akan dapat dihindarkan dengan mengelak, karena yang berbuat demikian dan mengira bahwa serangan itu amat lambat, maka akan celakalah. Pukulan yang penuh mengandung hawa karena daya tenaga dalam itu biar pun lambat namun angin pukulannya saja sudah cukup untuk mencelakakan musuh, apa lagi mempunyai perubahan yang bukan main banyak lagi berbahaya. Ujung pedang di tangan Li Cu kelihatannya meluncur lambat, namun ujungnya tergetar menyilaukan dan sukar dilihat bagaimana perkembangan selanjutnya.

Hek-hwa Kui-bo tentu saja maklum akan kehebatan serangan ini sungguh pun dia tidak tahu bahwa gerak tipu ini adalah jurus Sian-li-hut-si (Sang Dewi Mengebutkan Kipas) dan tidak tahu pula apa pecahannya. Ia hanya tahu bahwa kali ini lawannya yang muda itu mengeluarkan gerak tipu yang amat berbahaya. Ia tidak berani menangkis dengan pedangnya, takut kalau-kalau pedangnya biar pun juga pedang yang ampuh, tidak akan kuat menandingi keampuhan Liong-cu-kiam. Maka ia lalu menggerakkan senjatanya di tangan kiri yaitu sapu tangan sutera yang beraneka warna itu.

Jangan memandang rendah sapu tangan sutera yang halus lembek dan lebar ini. Biar pun kelihatannya beraneka warna dan indah seperti pelangi serta harum pula baunya, entah sudah berapa banyak nyawa diantarkan pulang oleh sapu tangan ini! Biar pun demikian halus dan lembek, namun sekali menotok jalan darah dengan ujung sapu tangan, atau sekali mengebut kepala orang, Hek-hwa Kui-bo sanggup membunuh orang itu!

Pedang Liong-Cu-kiam terlibat oleh sapu tangan itu, tak dapat ditarik kembali sedangkan pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo secara tiba-tiba sekali menyambar dari kanan ke kiri menyerampang sepasang kaki Li Cu. Jika terkena sambaran ini, kiranya kedua kaki Li Cu sebatas lutut akan menjadi buntung. Pedang di tangan Li Cu masih terlibat sapu tangan sedangkan sekarang lawannya menyerang dengan pedang, sungguh keadaan yang amat sulit.

Namun, gadis ini biar pun masih muda belia, kepandaiannya sudah hebat sekali. Melihat gerakan lawan, sebelum pedang bergerak ia sudah tahu bahwa ia akan diserang bagian kakinya. Li Cu maklum bahwa ketika menggerakkan pedang menyerangnya, tentu tenaga tangan kiri Hek-hwa Kui-bo yang memegang sapu tangan itu akan berkurang.

Maka ia mengerahkan tenaga dikumpulkan di tangan kanan, dan pada saat pedang lawan menyambar ke arah kedua lututnya, gadis perkasa ini menggenjot kakinya meloncat ke atas sambil membetot pedangnya. Gerakan ini selain cepat dan tidak terduga, juga amat kuatnya.

"Brettt!"

Sapu tangan yang melibat pedang itu terputus menjadi dua dan kedua kaki Li Cu selamat, terluput dari pada ancaman pedang yang ganas tadi!

"Kurang ajar, kau merusak sapu tanganku?" Hek-hwa Kui-bo membentak marah.

Akan tetapi Li Cu tak memberi kesempatan lagi padanya. Gadis ini segera mengerahkan ginkang-nya dan melakukan serangan bertubi-tubi mengandalkan kegesitan dan kelihaian Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut. Pedang tunggal di tangannya itu seakan-akan berubah menjadi puluhan batang, sinarnya berkeredepan dan bergulung-gulung bagai mengeroyok Hek-hwa Kui-bo. Nenek ini juga marah sekali. Meski pun sapu tangannya tinggal sepotong, namun tidak dibuangnya dan masih ia pergunakan untuk membantu pedangnya melakukan serangan-serangan balasan.

Tiba-tiba Li Cu terkejut mendengar keluhan Thio Ki dan melihat orang muda itu terhuyung-huyung. Ternyata dadanya telah kena dihantam oleh suling di tangan Giam Kin sehingga pedang yang dipegangnya terlepas dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Sambil tertawa-tawa Giam Kin menendang lututnya maka robohlah Thio Ki.

"Bunuh dia, bikin mampus saja!" seru Kim-thouw Thian-li girang.

Giam Kin masih tertawa-tawa ketika ia meloncat maju dan menusukkan sulingnya ke arah kepala Thio Ki. Pasti akan berlubang kepala orang muda itu kalau terkena tusukan ini. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar putih diikuti bayangan merah.

"Trangggg!"

Ujung suling Giam Kin patah terbabat pedang Liong-cu-kiam yang tadi cepat digerakkan oleh Li Cu dalam usahanya menolong nyawa Thio Ki! Giam Kin terkejut, cepat meloncat mundur dan segera Hek-hwa Kui-bo yang tadi ditinggalkan Li Cu sudah mengejar pula, lalu saling serang dengan gadis perkasa itu. Thio Ki yang sudah terluka parah tubuhnya bergulingan di atas genteng, terus terguling ke bawah dan baiknya tidak sampai terjatuh dari atas, akan tetapi terhenti oleh wuwungan sebelah bawah.

"Enci Kim Li, jangan kau bunuh Si Manis itu! Biar kau berikan kepadaku...ha-ha-ha!" Giam Kin tertawa-tawa untuk menutupi malu dan kagetnya ketika ujung sulingnya terbabat oleh pedang Li Cu tadi.

Mendengar ini, Li Cu gelisah sekali, apa lagi pada saat ia mengerling, ia melihat betapa suci-nya sekarang sedang dikeroyok dua, payah sekali keadaannya. Memang demikianlah. Menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang saja sudah sangat berat bagi Lee Giok. Sungguh pun selama itu dia masih mampu melindungi dirinya dan terus bertahan, namun sama sekali dia sudah tidak mampu untuk balas menyerang. Sekarang melihat suaminya terluka dan roboh, hatinya semakin risau dan bingung, apa lagi setelah Giam Kin ikut maju mengeroyoknya sambil nyengar nyengir dan mengeluarkan kata-kata memuakkan.

"Trangg... tranggg....!"

Pedang di tangan Lee Giok terlepas dan jatuh ke atas genteng dengan bunyi berisik ketika pedang itu secara serentak digempur dari kanan kiri oleh golok Kim-thouw Thian-li dan suling buntung Giam Kin. Nyonya muda itu kini sudah tidak bersenjata lagi!

"Ha-ha-ha, Enci Kim Li, kurasa lebih baik kau membantu gurumu mengalahkan bidadari Thai-san itu, biarlah janda muda ini aku yang melayaninya..."

Kim-thouw Thian-li memang sudah menguatirkan gurunya, maka dia segera meloncat dan ikut mengeroyok Li Cu. Ada pun Lee Giok dengan muka merah dan dada panas hampir terbakar menghadapi Giam Kin. Suaminya terluka dan kini ia dihina, disebut janda muda. Hati siapa yang tak akan sakit?

"Manusia berwatak iblis! Binatang busuk, hari ini aku Lee Giok hendak mengadu nyawa denganmu!" teriak Lee Giok.

Ia pun cepat menubruk maju sambil menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah ulu hati lawan, disusul tendangan yang ditujukan ke arah pusar. Kedua serangan susul menyusul ini merupakan serangan maut yang nekat sekali karena dengan melakukannya, Lee Giok sebetulnya juga telah ‘membuka’ beberapa bagian tubuhnya menjadi tidak terlindung lagi.

Namun dia sudah tidak peduli lagi karena saking marah dan putus asanya. Nyonya muda ini betul-betul sudah berlaku nekat dan ingin membunuh lawannya. Namun sayang sekali bagi Lee Giok, lawannya terlampau kuat baginya. Tingkat kepandaiannya kalah jauh kalau dibandingkan dengan Giam Kin, murid tunggal dari Siauw-ong-kwi, tokoh pertama dari utara itu.

Dengan tertawa mengejek Giam Kin bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Lee Giok yang memukul ulu hatinya, sambil dia menggeser kakinya mengelakkan tendangan. Kemudian, sebelum nyonya muda itu sempat meronta, Giam Kin sudah menotok jalan darahnya membuat Lee Giok tak dapat berkutik lagi.

"Ha-ha-ha-ha, Enci Kim Li dan Hek-hwa Locianpwe, aku akan pergi lebih dahulu saja...!" katanya sambil memondong tubuh Lee Giok dan membawanya lari pergi dari tempat itu!

"Bangsat Giam Kin, lepaskan suci-ku!" bentak Cia Li Cu marah sekali melihat Lee Giok hendak diculik.

Akan tetapi Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li menghadangnya dan tidak memberi kesempatan sama sekali pada dara itu untuk melakukan pengejaran terhadap Giam Kin. Bukan main marahnya Li Cu ketika melihat betapa Giam Kin telah menghilang di dalam gelap sambil membawa pergi Lee Giok. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa kerena dia sendiri sedang didesak hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Ternyata bahwa selama ini Kim-thouw Thian-li telah menerima latihan-latihan dari gurunya sehingga kepandaiannya sudah meningkat cepat. Maka agak repot juga Li Cu dikeroyok dua oleh guru dan murid ini.

"Lepaskan Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Kembang)!" mendadak Hek-hwa Kui-bo berseru kepada muridnya.

Dua orang guru dan murid itu gemas juga ketika menghadapi kenyataan bahwa biar pun mereka mengeroyok, tetap saja ilmu pedang yang dimainkan Cia Li Cu tak dapat mereka gempur dan pecahkan. Oleh karena itu, sekarang tiba-tiba mereka menggerakkan tangan kiri berulang-ulang. Li Cu kaget sekali. Gadis ini cukup maklum akan bahayanya senjata rahasia yang keji dari kedua orang lawannya ini. Dia maklum bahwa Kim-thouw Thian-li sudah sangat terkenal dengan racun kembang yang menjadi keistimewaan Ngo-lian-kauw.

Maka ia pun segera menutar pedangnya dengan gerakan yang disebut Sian-li Thouw-so (Sang Dewi Menenun). Runtuhlah belasan batang jarum halus yang dilepas oleh kedua orang lawannya itu. Akan tetapi sekarang kedudukan Li Cu menjadi lemah sekali karena ia harus menghadapi serangan serta desakan dua orang lawannya itu sambil menjaga kalau-kalau masih ada pelepasan senjata rahasia lagi. Ia mulai terdesak dan mulai dipaksa mundur!

Pada saat yang sangat berbahaya bagi diri Li Cu itu, mendadak dari bawah berkelebat bayangan orang. Gerakannya demikian ringan laksana seekor burung terbang saja dan begitu tiba di atas genteng, orang ini lantas berseru,

“Kim-thouw Thian-li dan gurunya, di mana-mana mengacau saja!”

Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tidak dapat melihat jelas siapa adanya orang yang datang ini, akan tetapi Cia Li Cu biar pun selama hidupnya baru dua kali bertemu dengan orang ini, masih mengenal suara dan diam-diam dia menjadi girang sekali. Wajahnya tiba-tiba berubah merah dan dadanya berdebar, akan tetapi ia tidak mau mengeluarkan suara apa pun melainkan terus mendesak dua orang lawannya seolah-olah tak tahu akan datangnya bala bantuan.

Hek-hwa Kui-bo marah sekali karena tadinya dia dan muridnya sudah mulai mendesak hebat kepada Li Cu. Datangnya orang ini merupakan gangguan besar, maka cepat dia mengggerakkan pedangnya membacok kepala orang yang baru datang sedangkan sapu tangannya yang tinggal sepotong itu pun diarahkan ke arah perut orang.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika potongnya hanya mengenai angin dan tlba-tiba saja sapu tangannya terbetot oleh orang itu hingga terlepas dari pegangannya! Hanya dengan tangan kosong orang itu dapat merampas sapu tangannya dan menghindarkan serangan pedangnya!

“Siapa kau?!” bentaknya marah.

“Hek-hwa Locianpwe, lupakah kau padaku? Aku tidak saja belum lupa kepada Locianpwe, malah tiga macam ilmu Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee yang kau ajarkan dahulu pun masih teringat baik olehku!”

Bukan main kagetnya Hek-hwa Kui-bo. Sekarang ia mengenal laki-laki muda ini.

“Beng san... Kau...?! Kim Li, hayo kita pergi.” Hek-hwa Kui-bo menarik tangan muridnya dan dua orang wanita itu maloncat lenyap di malam gelap.

Mengapa Hek-hwa Kui-bo nampaknya begitu takut kepada orang muda yang ternyata adalah Tan Beng San itu? Sebetulnya, Hek-hwa Kui-bo sudah mengenal Beng San sejak jago pedang ini masih kecil. Dalam cerita Raja Pedang sudah diceritakan dengan jelas betapa di waktu kecilnya saja Beng San sudah ‘menerima kebaikan’ dari Hek-hwa Kui-bo, yaitu diberi latihan Thai-hwee (Api Besar), Siu-hwee (Simpan Api) dan Ci-hwe (Keluarkan api), padahal tiga macam ilmu itu sebetulnya diberikan dengan niat untuk mencelakakan Beng San yang pada waktu itu tubuhnya telah penuh dengan tenaga Yang-kang sehingga ilmu ini bisa menewaskannya.

Kemudian setelah Beng San dewasa dan memiliki ilmu tinggi, Hek-hwa Kui-bo sudah pula melihat kepandaiannya ketika diadakan pertemuan memperebutkan gelar Raja pedang di Puncak Thai-san. Karena itu, kedatangan pemuda yang memiliki ilmu tinggi ini tentu saja membuat ia maklum bahwa melawan terus tidak akan ada gunanya sehingga ia segera mengajak muridnya lari saja.

Cia Li Cu baru dua kali selama hidupnya bertemu dengan adik dari suheng-nya ini, yaitu adik dari Tang Beng Kui. Akan tetapi dalam dua kali pertemuan itu ia mendapat kesan hebat akan diri Beng San, maka ketika tadi ia mengenai suaranya, hatinya menjadi girang sekali.

Anehnya, entah apa sebabnya, ia merasa malu juga bertemu dengan Beng San. Hal ini mungkin sekali karena ayahnya pernah menyatakan bahwa Beng San adalah ‘lebih baik’ dari pada Beng Kui yang menjadi tunangannya, atau mungkin ia merasa malu karena Beng San adalah adik Beng Kui. Entahlah, sesungguhnya bagaimana ia sendiri tidak tahu
sebabnya. Pokoknya ia merasa malu bertemu dengan Beng San.

Maka melihat dua orang lawannya kabur, Li Cu segera mengejar. Bukan hanya karena tidak ingin bertemu lama-lama dengan Beng San, akan tetapi terutama sekali karena ia hendak menolong suci-nya, Lee Giok yang sudah terculik oleh Giam Kin. Orang muda yang baru datang dan hanya dalam segebrakan saja sudah dapat mengusir orang-orang yang memusuhi keluarga Thio Ki itu, memang benar adalah Beng San, Si Raja Pedang. Seperti kita ketahui, orang muda ini dari Hoa-san-pai melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki untuk memberitahukan mengenai keadaan Hoa-san-pai yang dirusak oleh Kwa Hong.

Hati orang muda ini masih perih dan bukan main sedihnya setelah pertemuannya yang mengharukan dengan Kwa Hong di Hoa-san-pai itu. Pedih dan sakit rasa hatinya kalau ia teringat betapa perbuatannya dengan Kwa Hong dulu itu telah mengakibatkan terjadinya hal-hal yang demikian hebatnya. Kwa Hong telah mengandung dan hati wanita itu rusak binasa, membuatnya seperti gila kemudian berubah menjadi manusia yang ganas karena kepatahan hatinya. Dan semua itu karena dia!

Beng San melakukan perjalanan siang malam, maka ketika ia tiba di Sin-yang pada waktu malam, ia tidak berhenti dan langsung ia mencari rumah Thio Ki dan mengunjunginya. Memang segala hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan dan diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan manusia hanya memandangnya sebagai hal yang ‘kebetulan’ saja.

Demikian pula dengan munculnya Beng San malam-malam di rumah Thio Ki. Sungguh kebetulan sekali. Begitu melihat keadaan yang tidak sewajarnya, Beng San mencari tahu dan nampak olehnya pertempuran yang terjadi di atas genteng. Sayang ia agak terlambat sehingga tidak terlihat olehnya ketika Lee Giok terculik oleh Giam Kin.

Sekarang melihat bahwa Li Cu yang tadinya terdesak hebat oleh pengeroyokan guru dan murid itu dengan nekat mengejar, hatinya menjadi gelisah. Dia sudah kenal baik dengan kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang curang dan amat licin itu, penuh tipu daya dan muslihat busuk. Maka ia berkuatir kalau-kalau Cia Li Cu yang meski pun amat lihai namun tentu kalah licin itu akan terjebak.

Segera Beng San menggerakkan kaki hendak mengejar pula. Akan tetapi tiba-tiba saja ia mendengar suara mengeluh kesakitan tidak jauh dari tempat dia berdiri. Pada waktu dia menghampiri, dia melihat Thio Ki rebah dalam keadaan terluka. Segera Beng San memondongnya dan membawanya turun ke bawah. Di ruangan dalam, di bawah penerangan lampu, Beng San memeriksa luka Thio Ki. Memang hebat, akan tetapi tidak amat berbahaya.

Di Puncak Min-san, sedikit banyak Beng San sudah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun, maka di dalam perjalanannya ia pun membawa obat-obat manjur untuk mengobati luka-luka pukulan dan racun. Setelah ia menotok jalan darah, mengurut dan memberi obat, Thio Ki dapat bangun dan duduk kembali.

"Saudara Beng San...," katanya mengeluh, "baiknya kau datang... tapi bagaimana dengan isteriku...? Bagaimana pula dengan Adik Cia Li Cu?"

"Isterimu? Aku tidak melihatnya tadi. Ketika aku datang, Nona Cia sedang bertempur dan dikeroyok dua oleh Hek-hwa Kui-bo bersama muridnya."

Thio Ki meloncat berdiri. "Celaka! Dan kau tidak melihat isteriku? Tidak pula melihat Giam Kin?"

Beng San menggeleng kepala dan Thio Ki segera menjatuhkan diri di atas pembaringan. "Celaka.... celaka sekali... tentu Lee Giok telah diculik oleh penjahat iblis itu..."

Beng San adalah seorang yang amat cerdik. Sekilas saja ia sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Tentu Giam Kin menawan Lee Giok. Pantas saja tadi Li Cu sama sekali tidak rnenghiraukannya dan terus mengejar. Kiranya gadis Thai-san itu hendak menolong suci-nya. Ia mengambil keputusan cepat.

"Dengar, Thio-twako. Kedatanganku ini pun membawa berita penting sekali. Sekarang kita harus bertindak tegas dan cepat. Ketahuilah, Hoa-san-pai sudah dirusak oleh sumoi-mu, Kwa Hong. Gurumu terbunuh, Kwa Hong menduduki Hoa-san-pai. Sekarang sudah pergi dan Hoa-san-pai dalam keadaan kacau tidak ada yang mengurus. Sute-mu Kui Lok dan adikmu Thio Bwee juga diusir oleh Kwa Hong. Maka, biar pun kau terluka, kau sekarang juga harus pergi ke Hoa-san-pai, kau urus Hoa-san-pai baik-baik sambil beristirahat dan menyembuhkan lukamu. Obat ini kau bawa, harus kau minum sehari sebungkus. Tentang isterimu dan Nona Li Cu, biarlah aku yang mewakilimu melakukan pengejaran. Sudah mengertikah kau?"

Wajah Thio Ki sebentar pucat sebentar merah. Tak disangkanya bahwa akan terjadi hal yang demikian hebat, tidak saja yang menimpa keluarganya sendiri, malah Hoa-san-pai tertimpa mala petaka lebih parah lagi. Ia hanya bisa mengangguk-angguk, karena selain Beng San, siapakah yang akan dapat menolong isterinya?

"Sudah, aku pergi!" kata Beng San dan sekali berkelebat orang muda itu sudah lenyap dari depan Thio Ki, membuat orang ini kagum bukan main. Thio Ki juga tak mau berlama-lama di rumah. Pada keesokan harinya pagi-pagi ia sudah pergi memaksa diri menuju ke Hoa-san-pai…..

**********

Cia Li Cu yang melakukan pengejaran, tidak melihat lagi adanya Giam Kin dan tidak tahu ke mana suci-nya dibawa lari oleh manusia iblis itu. Maka karena yang lari di depannya hanyalah Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, mau tidak mau ia hanya dapat mengikuti dua orang itu. Dia tidak mau segera turun tangan terhadap Hek-hwa Kui-bo dan muridnya karena tujuan utamanya adalah untuk menolong suci-nya. Maka, diam-diam ia hanya mengikuti dari jauh karena ia mengira bahwa kedua orang itu tentu akan membawanya ke tempat Giam Kin yang menculik Lee Giok.

Sungguh di luar dugaan Li Cu sama sekali bahwa tujuan perjalanan dua orang guru dan murid itu sama sekali berlawanan arah dengan jalan yang ditempuh oleh Giam Kin yang menculik Lee Giok! Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li berlari menuju ke selatan, ke tempat tinggal Kim-thouw Thian-li, yaitu di Propinsi An-hui, di lembah Sungai Huai.

Sejak para pejuang berhasil merobohkan pemerintah Mongol, ibu kota lalu dlpindahkan ke Nan-king. Diam-diam Kim-thouw Thian-li juga lalu memindahkan pusat perkumpulannya, yaitu Ngo-lian-kauw, ke lembah Sungai Huai, tidak jauh dari kota raja baru ini, di sebelah baratnya. Perkumpulannya berpusat di sebelah utara kota Ho-pei. Guru dan murid ini memang tadinya hanya bermaksud membunuh Lee Giok dan Thio Ki, dibantu oleh Giam Kin.

Sekarang mereka sudah berhasil melukai Thio Ki, juga Lee Giok telah diculik oleh Giam Kin. Berarti usaha mereka itu sudah berhasil baik sekali biar pun mendapat tantangan dari orang-orang pandai seperti Cia Li Cu dan Tan Beng San. Setelah mengikuti perjalanan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li selama lima hari, mulailah hati Li Cu menjadi gelisah serta curiga. Apalagl ketika dia mendapat kenyataan bahwa guru dan murid itu sekarang tidak lari lagi, dan agaknya melakukan perjalanan dengan tidak tergesa-gesa.

Ia merasa amat kuatir tentang diri suci-nya. Ia mengambil keputusan bahwa kalau hari itu kedua orang yang diikutinya tidak membawanya kepada Giam Kin, dia akan menerjang dengan nekat dan memaksa mereka mengaku ke mana suci-nya itu dibawa pergi.

Akan tetapi, lewat tengah hari itu Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tiba di sebuah dusun kecil di pinggir Sungai Huang-ho (Sungai Kuning). Alangkah mendongkolnya hati Li Cu ketika ia mendengar dua orang itu hendak menyewa perahu untuk pergi ke pantai Kui-feng. Jelas bahwa dua orang ini hendak terus melakukan perjalanan ke selatan.

Diam-diam dia lalu menyelidiki dusun itu. Dia bertanya-tanya kepada para tukang perahu kalau-kalau dalam beberapa hari ini di situ lewat seorang laki-laki muda bermuka pucat dan membawa seorang wanita muda. Ia mendapat jawaban bahwa tidak ada orang-orang yang ditanyakannya itu. Maka mulailah Li Cu mengerti bahwa ia telah salah kira. Agaknya dua orang yang diikutinya ini sama sekali tidak menuju ke tempat Giam Kin!

"Hek-hwa Kui-bo, tunggu dulu!" begitu bentaknya sambil berlari mendekati pada waktu ia melihat dua orang guru dan murid itu hendak naik ke dalam perahu.

Nenek itu menoleh dan tersenyum mengejek, "Bocah bandel! Kau mengikuti kami selama lima hari terus-menerus, mau apa sih?"

Bukan main mendongkol dan kagetnya hati Li Cu. Nenek ini benar-benar amat lihai dan bermata tajam. Akan tetapi Kim-thouw Thian-li menoleh dengan terheran-heran, agaknya tidak tahu akan perbuatannya mengikuti mereka siang malam itu.

"Hek-hwa Kui-bo, sahabatmu Giam Kin si iblis busuk itu telah menculik Enci Lee Giok. Aku mengikutimu untuk menanyakan di mana suci-ku itu dibawa pergi."

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek, "Kalau kau ada kemampuan, carilah sendiri, peduli apa aku dengan nasib suci-mu?"

"Kalau begitu, sebelum kubunuh iblis she Giam itu, lebih dahulu kau dan muridmu akan kubasmi!" bentak lagi Li Cu sambil mencabut pedangnya.

Pada saat itu, tiba-tiba saja terdengar suara bersuit keras sekali datangnya dari tengah sungai yang lebar itu. Semua tukang perahu dan nelayan yang berada di darat segera rnenjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah sungai. Keadaan menjadi sunyi senyap, sampai-sampai tiga orang yang tadinya akan bertempur itu ikut pula menengok ke arah suara tadi. Li Cu juga menunda penyerangannya dan memandang ke tengah sungai.

Sebuah perahu besar sekali dan mewah berada di tengah sungai. Dari kejauhan tampak beberapa orang di atas perahu itu memandang ke darat. Kemudian terdengar suara yang nyaring bergema, suara yang penuh dengan tenaga khikang, sehingga bisa didengar jelas sampai ke darat.

"Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Laut) mengundang Hek-hwa Kui-bo bersama Kim-thouw Thian-li untuk datang berkunjung ke tempat kediamannya!" Suara ini bergema di permukaan air sungai.

Li Cu tidak pernah mendengar nama Tiga Raja Sungai dan Laut ini, maka ia tidak ambil peduli. Akan tetapi tidak demikian dengan Hek-hwa Kui-bo dari Kim-thouw Thian-li.

Hek-Hwa Kui-bo merupakan seorang tokoh besar di selatan, maka sudah tentu saja ia mengenal nama besar Ho-hai Sam-ong. Kalau dia boleh dibilang merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan bagian daratan sebelah selatan, kiranya nama Ho-hai Sam-ong adalah nama tokoh nomor satu pula di bagian sungai dan laut!

Demikian pula Kim-thouw Thian-li. Dia sudah mengenal nama besar ini yang sudah amat terkenal dan amat berpengaruh, karena Ho-hai Sam-ong dianggap sebagai pemimpin dari sekalian bajak sungai dan bajak laut di daerah selatan ini.

Sebuah perahu kecil meluncur cepat sekali ke pinggir sungai dan di ujungnya berkibar sebuah bendera dengan gambar tiga macam binatang air yang menyerupai buaya, naga dan ikan cucut. Pendayungnya hanya dua orang, akan tetapi melihat betapa perahu itu cepat bukan main meluncurnya, dapat diketahui bahwa dua orang itu adalah orang-orang ahli.

"Tamu-tamu yang diundang, silakan turun ke perahu!" seorang di antara dua pendayung itu berkata. Mereka adalah dua orang lelaki yang usianya mendekati empat puluh tahun, bertubuh tegap dan bermuka keras.

Hek-hwa Kui-bo berpaling kepada muridnya, dan berkata sambil tersenyum, "Sam-ong sudah begitu baik hati mengundang kita, tak baik kalau kita menolaknya."

Setelah berkata demikian ia meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu kecil itu, diikuti oleh Kim-thouw Thian-li. Perahu itu sama sekali tidak bergoyang ketika kedua kaki Hek-hwa Kui-bo tiba di situ, dan hanya bergoyang sedikit ketika Kim-thouw Thian-li menyusul gurunya.

"Hek-hwa Kui-bo, jangan harap bisa pergi sebelum memberi tahu di mana adanya Giam Kin!" Li Cu membentak marah dan ikut pula melompat dengan gerakan indah dan cepat.

"Kau sudah bosan hidup!"

Hek-hwa Kui-bo menyambut dengan serangan pedangnya pada waktu tubuh Li Cu masih berada di udara. Akan tetapi Li Cu memang sudah siap sedia. Pedang Liong-cu-kiam sudah di tangannya dan cepat pedang ini ia putar sedemikian rupa mendahului tubuhnya sehingga serangan Hek-hwa Kui-bo tertangkis dengan suara nyaring dan... ujung pedang Hek-hwa Kui-bo telah patah! Sementara itu, Li Cu sudah mendarat di atas perahu, siap menghadapi pengeroyokan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li.

Pada saat itu, kembali terdengar suara suitan keras dari perahu besar di tengah sungai. Dua orang pendayung perahu kecil yang sudah menggerakkan perahu itu meluncur ke tengah, segera berhenti mendayung dan berkata,

"Nona muda ini pun menjadi tamu undangan yang terhormat. Sam-wi (kalian bertiga) tidak boleh bertempur!"

Akan tetapi, mana Li Cu sudi mendengarkan omongan ini? Sekarang bukan lagi guru dan murid itu yang menyerangnya, sebaliknya dia yang cepat menggerakkan pedang untuk menyerang. Dara cantik ini sudah nekat sekali dalam usahanya untuk memaksa mereka memberi tahu di mana adanya Giam Kin yang menculik Lee Giok.

Padahal perahu itu amat kecil dan kiranya akan terguling kalau dipakai untuk bertempur. Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang berdiri berdampingan, terpaksa menyambut serangan ini dan dua orang tukang perahu itu menjadi bingung dan marah.

"Sam-wi tidak boleh bertempur!" berkali-kali mereka berseru.

Perahu itu mulai terombang-ambing. Namun yang bertempur tetap nekat.

"Kalau tidak mau berhenti, kami akan gulingkan perahu!" kata dua orang pendayung.

Sementara itu, para nelayan dan tukang perahu yang berada di pinggir sungai menonton kejadian yang menarik ini tanpa berani mengeluarkan suara. Akan tetapi Li Cu tetap tidak mau berhenti menyerang. Dua orang tukang pendayung itu lalu meloncat ke dalam air dan sekali mereka bergerak, perahu kecil itu sudah terguling! Hebat bukan main kegesitan tiga orang wanita ini dan ginkang (ilmu meringankan tubuh) mereka memang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Sambil berseru keras ketiganya meloncat ke atas. Perahu membalik, dan tiga orang itu sudah turun kembali, kini berdiri di atas perahu yang terbalik!

Dari pinggir sungai terdengar seruan-seruan memuji. Memang indah dan hebat gerakan mereka, seperti tiga ekor burung saja. Akan tetapi sekarang tiga orang wanita ini tidak berani sembarangan bergerak menyerang lagi karena perahu yang terbalik itu sudah bergoyang-goyang hebat, dan pasti mereka akan celaka kalau terjatuh ke dalam air.

Li Cu berdiri di satu ujung dengan pedang siap di tangan, sedangkan di ujung yang lain berdiri guru dan murid itu, juga siap dengan senjata di tangan. Ada pun dua orang tukang perahu itu sambil menyelam lalu berenang dan menarik perahu kecil itu menuju ke perahu besar. Benar-benar keadaan yang amat lucu dan aneh kedatangan tiga orang tamu yang diundang ini!

Li Cu maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Dia tidak mengenal siapa itu Ho-hai Sam-ong dan karena tiga raja itu mengenal Hek-hwa Kui-bo, sudah tentu sekali mereka adalah orang-orang jahat dan ia tentu akan menghadapi pengeroyokan hebat. Oleh sebab inilah maka ia berlaku nekat.

Begitu perahu kecil sudah mendekat dengan perahu besar itu, Li Cu mengenjot tubuhnya dan bagai seekor burung kepinis tubuhnya melayang ke atas perahu besar. Di depannya bergulung-gulung sinar pedang yang ia putar-putar untuk menjaga diri. Tiga orang laki-laki yang berpakaian gagah sudah berada di depannya sambil tertawa dan mengangkat tangan memberi hormat. Seorang di antara mereka yang paling tua sambil tersenyum lalu berkata,

"Nona muda berkepandaian hebat bukan main. Kami kagum sekali... kagum sekali. Atas desakan Kiang-te (Adik Kiang) yang sungguh-sungguh kagum terhadap Nona, maka kami sengaja mengundang Nona dengan baik-baik. Sekarang harap Nona sudi menyimpan kembali pedang pusaka itu."

Li Cu hanya berdiri tegak, tidak mau menyimpan pedangnya, tetap dalam keadaan siap siaga. Sementara itu, tiga orang itu pun berpaling kepada Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang sudah meloncat pula ke atas perahu lalu memberi hormat dan berkata,

"Sudah lama mendengar nama besar Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, maka hari ini kami sengaja mengundang Ji-wi. Nona ini juga menjadi tamu kami, maka harap Ji-wi tidak memusuhinya selama dia menjadi tamu undangan kami."

Hek-hwa Kui-bo membalas penghormatan mereka sambil berkata, "Sudah lama pula kami mendengar nama besar Sam-ong. Hari ini menerima kehormatan dan undangan, hal ini berarti tidak melupakan hubungan dunia kang-ouw di daerah selatan. Tentu saja aku dan muridku tidak akan mengacaukan tempat Sam-ong, kecuali kalau Nona muda galak ini menyerang kami, terpaksa kami mempertahankan diri."

"Hek-hwa Kui-bo, apakah kau begini pengecut?" Li Cu membentak marah. "Mengapa kau berlindung di tempat orang? Kalau kau memang gagah, marilah kita mendarat dan kita melanjutkan pertempuran."

Orang tertua dari ketiga Sam-ong itu segera menghadapi Li Cu dan berkata, suaranya tetap halus, "Nona, harap kau suka memandang muka kami dan tidak memusuhi kedua orang tamu kami ini. Kelak kalau kau sudah tidak bersama kami, terserah."

"Aku tidak mengenal kalian, akan tetapi aku pun tahu akan peraturan kang-ouw dan tidak akan mengacaukan tempat kalian ini. Biarlah aku mendarat saja dan menanti sampai dua orang pengecut ini berani mendarat pula."

"Ha-ha-ha, Nona muda, besar sekali nyalimu. Hek-hwa Kui-bo sebagai tokoh terkenal di dunia selatan, masih sungkan menolak undangan kami. Sekarang kami mengundang kau dengan maksud baik, bagaimana kau bisa menolaknya?"

Pedang di tangan Li Cu menggetar. Memang dia adalah seorang gadis muda yang amat berani, apa lagi ilmu silatnya memang tinggi sekali dan waktu itu dia memang sedang berada dalam keadaan marah. Sama sekali ia tidak gentar meski pun ia berada di tempat orang lain.

"Mana ada aturan mengundang orang dengan cara memaksa? Aku bebas merdeka untuk menerima atau menolak setiap undangan dan kali ini aku tidak ingin menerima undangan siapa pun juga. Lekas sediakan perahu agar aku dapat mendarat kembali!"

Kini orang ke tiga dari tiga orang itu melangkah rnaju. Suaranya tinggi kecil dan matanya yang sipit itu bercahaya tajam. Hebat warna matanya yang sipit itu, karena warnanya merah seperti orang yang sedang sakit mata.

"Nona, apakah kau belum pernah mendengar nama Ho-hai Sam-ong maka kau berani menolak undangan kami?"

Li Cu balas memandang, tidak berani lama-lama menentang mata yang merah itu karena sebentar saja ia merasa matanya sakit. Tapi ia masih tabah dan tersenyum mengejek. "Belum pernah mendengar sama sekali, akan tetapi andai kata pernah mendengar juga, jangankan baru Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Lautan), meski Thian-te Sam-ong (Tiga Raja Bumi Langit) yang mengundang, sekali aku bilang tidak mau tetap tidak mau!"

Orang ke dua melangkah maju dan tertawa bergelak. Seperti dua orang yang lain, orang ke dua ini pun usianya sudah lima puluh tahun, akan tetapi dia adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah.

"Ha-ha-ha-ha, masih begini muda namun hebat kepandaiannya, dan ketabahannya luar biasa. Ehh, Nona manis, kau ini puteri siapakah dan siapa pula namamu?"

Kini Li Cu mendapat kesempatan untuk membanggakan keadaannya. Dengan senyum mengejek dan suara nyaring dia lalu berkata, "Aku dari Thai-san. Ayahku adalah Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tanpa Tanding) Cia Hui Gan, namaku sendiri Cia Li Cu. Hayo lekas antar aku mendarat."

Tiga orang itu saling pandang, lalu tertawa bergelak-gelak. Li Cu menjadi heran dan dia mulai memperhatikan mereka...


BERSAMBUNG KE Rajawali Emas Jilid 04


Rajawali Emas Jilid 03

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJAWALI EMAS JILID 03

Mendengar penuturan itu, Beng San menjadi marah serta berduka sekali. Hubungannya dengan Hoa-san-pai demikian baik dan dia sangat sayang kepada Lian Bu Tojin. Maka, mendengar bahwa kakek ini dibunuh oleh Kwa Hong dan Koai Atong, ia menjadi berduka sekali. Apa lagi yang membunuhnya adalah Kwa Hong.

Kini begitu berhadapan dengan Kwa Hong, Beng San memandang penuh keharuan hati dan diam-diam ia harus mengakui bahwa sebetulnya dialah yang membuat gadis murid Hoa-san-pai ini menjadi begini. Dua orang muda ini saling pandang tanpa menghiraukan Koai Atong yang bertempur mati-matian melawan Lian Ti Tojin, juga tidak pedulikan para tosu Hoa-san-pai yang baru sekarang berani muncul dari tempat sembunyi mereka semenjak munculnya Lian Ti Tojin yang mereka takuti.

"San-ko...," akhirnya Kwa Hong mampu mengeluarkan kata-kata dengan suara setengah berbisik dan air matanya masih menitik turun, "Akhirnya kau... kau datang padaku...? Kau datang menyelamatkan nyawaku... dan kau hendak menerima diriku... hendak membawa aku pergi...? Begitukah, San-ko...?"

Pertanyaan terakhir ini diucapkan penuh harapan, seakan mengiris hati Beng San. Hanya dengan pengerahan batin yang sangat kuat saja Beng San dapat menahan air matanya supaya tidak membasahi mata. Beberapa kali Beng San menelan ludah menahan gelora hatinya, kemudian ia pun dapat mengatasi perasaannya dan menarik muka marah lalu berkata, suaranya penuh teguran. "Hong-moi, kenapa kau lakukan semua ini? Kenapa kau mengajak Koai Atong membunuh Lian Bu Tojin dan mengacau Hoa-san-pai? Kenapa kau berbuat menggila dan merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai, malah membunuh banyak sekali orang gagah? Kulihat lima orang tosu Bu-tong-pai yang terkenal gagah dan budiman juga sudah kau bunuh. Hong-moi, kenapa kau sampai tersesat begini jauh? Kedatanganku ini untuk mencegah kau melanjutkan kegilaan ini!"

"Ohhh...!"

Kwa Hong terhuyung mundur tiga langkah dengan muka membayangkan hati yang perih seperti ditusuk jarum beracun. Kemudian setelah menghapus air matanya, ia maju lagi, wajahnya berubah beringas dan marah. Matanya bersinar-sinar penuh api dan bentaknya, "Kaulah orang pertama yang ingin sekali aku membunuhnya!"

Secepat kilat ia lalu menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai di tangannya, sedangkan tangan kirinya juga menggerakkan cambuk dengan lima panah hijau itu ke arah Beng San. Gerakannya dahsyat bukan main, penuh kemarahan dan kebencian. Gerakan maut untuk mencari korban!

Namun, kali ini serangan Kwa Hong yang dahsyat dan keji itu tidak berhasil. Kali ini dia menghadapi seorang yang telah mewarisi ilmu silat sakti, seorang yang telah menguasai ilmu silat Im-yang Sin-kiam-sut ciptaan Pendekar Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu. Apa lagi karena dalam mempelajari gerakan-gerakan rajawali emas, baru beberapa bulan saja Kwa Hong melatih diri, maka boleh dibilang kepandaiannya dalam ilmu yang mukjijat ini belum masak benar. Mana mampu dia menghadapi serangan raja pedang seperti Beng San?

Begitu orang muda itu menggerakkan tubuh dan kedua kaki tangannya bersilat, tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san-pai itu sudah terampas olehnya dan cambuk dengan lima anak panah itu terlepas dari pegangan Kwa Hong. Kwa Hong berdiri lemas. Mukanya makin pucat ketika ia berhadapan dengan Beng San yang kini sudah berdiri di depannya memegang pedang Hoa-san Po-kiam dengan kedua kaki tegak terpentang dan pandang mata tajam penuh kemarahan.

"Hong-moi, sekali lagi kuperingatkan kau. Bertobatlah dan jangan kau teruskan perbuatan-perbuatanmu yang keji dan jahat!"

Tiba-tiba Kwa Hong membanting-banting kaki dan menangis tersedu-sedu. Melihat sikap itu, makin hancur hati Beng San. Kenal betul dia akan sifat Kwa Hong ini, masih sama dengan dulu, kalau jengkel membanting-banting kaki.

"Aku memang tidak kuat melawanmu. Hayo... Beng San... kau boleh bunuh aku... mari, kau teruskan pedang itu ke perutku ini... ya ke perut ini, biar mati sekalian... anak kita... uhu-hu-hu..."

Bagaikan orang gila Kwa Hong menerjang ke arah pedang di tangan Beng San yang menjadi kaget sekali mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut Kwa Hong.

"Apa kau bilang...?!"

Ia meloncat ke samping, mukanya kini berubah hijau sekali, hijau mengerikan. Inilah sifat aneh dari Raja Pedang Tan Beng San. Di dalam tubuhnya sudah penuh dengan dua macam hawa, yaitu hawa Thai-yang dan Im-kang yang amat luar biasa sehingga tiap kali ia merasa kaget atau malu, mukanya berubah hijau. Sebaliknya kalau marah mukanya akan berubah merah sekali sampai kehitaman! Dapat dibayangkan betapa hebat rasa kagetnya ketika ia mendengar ucapan Kwa Hong yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya itu.

"Hayo... kau bunuh aku dan anak kita... makhluk yang tidak tahu apa-apa di perutku ini..." Kwa Hong masih maju-maju sambil rnenangis terisak-isak.

"Hong-moi...! Kau maksudkan... kau... kau mengandung... karena... dahulu itu?!" Setelah berkata demikian Beng San terhuyung-huyung, pedang pusaka Hoa-san-pai terlepas dari tangannya. Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya, seluruh tubuhnya gemetar lemah.

Sementara itu, pertempuran antara Koai Atong dan Lian Ti Tojin berjalan amat serunya. Mereka berdua secara mati-matian bertempur, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Ilmu silat yang dimiliki Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoa-san-pai yang asli dan selama puluhan tahun kakek ini sudah melatih diri sehingga tingkat ilmunya benar-benar sudah jauh melampaui tingkat kepandaian asli dari Koai Atong.

Akan tetapi, biar pun baru beberapa bulan mempelajari gerakan rajawali emas, ternyata Koai Atong telah mempelajari ilmu gerakan yang hebat sekali. Kepandaian baru ini yang menyelamatkan dia sehingga sampai sekian lamanya belum juga Lian Ti Tojin berhasil memukulnya roboh. Di samping ini, memang Lian Ti Tojin sudah terlalu tua, sudah berpuluh tahun tak pernah bertanding. Selain ini juga telah menderita luka dalam yang hebat ketika tadi ‘bertanding kekuatan’ dengan Beng San melalui suara. Meski pun makin lama Koai Atong semakin terdesak hebat, namun tidaklah mudah bagi Lian Ti Tojin untuk merobohkannya dengan cepat.

Semenjak tadi Koai Atong kebingungan. Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Kwa Hong, namun agaknya Kwa Hong sama sekali tidak pernah rnendengarnya. Kemudian setelah melihat Kwa Hong dikalahkan Beng San dan melihat ‘isterinya’ itu menangis tersedu-sedu minta mati, makin kalut pikiran Koai Atong.

Gerakan Koai Atong makin tak karuan dan beberapa kali ia terkena pukulan Lian Ti Tojin. Namun begitu roboh dia bangun kembali dan menyerang lagi dengan nekat. Koai Atong sudah muntah-muntah darah dan ia maklum bahwa sebentar lagi ia pasti tak akan kuat menahan. Pikiran ini membuat ia menjadi nekat. Pada waktu Lian Ti Tojin mendesaknya, dia malah membiarkan dirinya dipukul, tetapi kesempatan ini ia pergunakan pula untuk menghantam pundak lawannya itu dengan Jing-tok-ciang, menggunakan seluruh tenaganya yang masih ada.

"Plakk-plakk-blugg!"

Tubuh Koai Atong terpental dan roboh tak berkutik lagi karena nyawanya telah melayang, akan tetapi juga tubuh Lian Ti Tojin terlempar. Ia masih dapat mengimbangi dan tidak roboh, hanya terhuyung-huyung dengan muka pucat lalu muntahkan darah segar tiga kali. Mukanya yang seperti tengkorak itu makin menakutkan ketika ia menoleh ke arah Beng San dan Kwa Hong.

Ia melihat Beng San menutupi muka dengan kedua tangan, sedangkah Kwa Hong yang tadinya menangis ketika melihat Koai Atong tewas, cepat menyambar pedang pusaka Hoa-san-pai di atas tanah dan cambuknya. Lian Ti Tojin marah sekali kepada Kwa Hong, biar pun ia sudah terluka parah ia masih mengerahkan tenaga dan lompat menerjang.

Kwa Hong juga meloncat ke atas punggung burungnya sehingga pada saat Lian Ti Tojin menubruk, ia disambut ‘tendangan’ cakar burung rajawali. Tubuhnya bergulingan sampai beberapa meter jauhnya dan kakek ini bangun berdiri lagi dengan terheran-heran bukan main.

Seorang jagoan ilmu silat yang bagaimana pun juga belum tentu akan dapat merobohkan dirinya hanya dengan sekali ‘tendang’ saja, akan tetapi burung itu ternyata benar-benar telah merobohkannya dengan tendangan yang bukan main hebatnya. Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang dan baru sekarang ia merasa dadanya sakit sekali.

Tiba-tiba berkelebat sinar hijau di atas kepalanya. Lian Ti Tojin berusaha mengelak, tapi telambat. Sambaran cambuk di tangan Kwa Hong dari atas itu amat dahsyat, apa lagi rajawali emas terbang tanpa mengeluarkan bunyi. Belakang kepala Lian Ti Tojin terkena pukulan sebuah anak panah hijau dan kakek yang sudah tua renta ini roboh terjungkal, tewas tak jauh dari mayat Koai Atong.

Setelah berhasil menewaskan Lian Ti Tojin, dari atas punggung burungnya Kwa Hong lalu kembali menyerang. Dia hendak menyerang Beng San dari atas. Dengan suaranya yang melengking tinggi Kwa Hong memberi aba-aba kepada burungnya untuk menyerang Beng San yang lihai. Baru sekarang ia teringat untuk minta bantuan rajawali emas itu.

Beng San masih berdiri membungkuk dengan kedua tangan menutupi mukanya. Ketika merasa ada angin bertiup dari atas kepalanya, secara otomatis dia menggerakkan kedua tangannya ke atas. Inilah gerakan seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya.

Ilmu kepandaian ini sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga jangankan baru dalam keadaan berduka dan masih sadar, biar pun sedang tidur andai kata ada sesuatu tentu secara otomatis ia dapat menjaga diri. Penjagaan ini dilakukan sesuai dengan datangnya serangan, maka ketika ia merasa ada angin bertiup dari atas yang mengandung tenaga dahsyat, ia pun segera menangkis.

Hebat bukan main tenaga tangkisan Beng San ini. Burung yang menerkamnya itu lantas terpukul kembali oleh hawa tangkisan sehingga terbangnya menyeleweng dan terlempar ke samping, juga beberapa helai bulunya gugur. Kwa Hong malah hampir terjungkal dari tempat duduknya!

Beng San kini memandang. Dia terkejut melihat bahwa hampir saja dia mencelakai Kwa Hong tadi, maka katanya dengan suara lemah, "Kwa Hong, kau bunuhlah aku yang penuh dosa, tapi pergunakan tanganmu sendiri..."

Kwa Hong yang sudah marah itu kembali memerintahkan burungnya menyambar. Burung rajawali itu sudah sangat patuh kepada Kwa Hong. Apa lagi ketika tadi tertangkis hampir saja dia runtuh, maka dia pun marah sekali. Sambarannya kini amat hebat, tidak hanya kedua kakinya menerkam, malah pelatuknya turut pula menyerang dan mematuk.

Akan tetapi, sekarang Beng San sudah berada dalam keadaan sadar. Mana bisa burung itu mencelakainya? Dengan gerakan kaki yang ringan sekali Beng San dapat mengelak.

"Aku tidak mau terbunuh oleh burung bedebah ini, Hong-moi... kalau kau mau bunuh aku, turunlah dan bunuhlah aku dengan tanganmu sendiri..."

Kwa Hong mengeluarkan suara aneh seperti orang menangis tetapi juga seperti suara ketawa, lalu berkata, "Tidak...! Terlalu enak kalau kau mati... hi-hi-hik, kau harus hidup... Beng San, kau harus hidup untuk menebus perbuatanmu yang menghancurkan hatiku...! Kau tunggulah saja, kelak anak di kandunganku inilah yang akan membunuhmu. Anakmu sendiri... hi-hi-hik... anakmu sendiri akan membunuhmu...!"

"Hong-moi..., jangan...! Kau bunuhlah aku sekarang...!" teriak Beng San penuh kengerian.

Akan tetapi burung itu telah terbang ke atas dengan sangat cepatnya dan sebentar saja sudah membawa Kwa Hong amat jauh sehingga hanya terlihat sebuah titik kuning emas di angkasa raya!

Beng San merasa betapa matanya berkunang dan gelap, penuh oleh air mata sehingga ia gunakan kedua tangannya untuk menutup mukanya dan menguatkan hati untuk menahan tekanan batin yang maha berat itu. Entah berapa lamanya dia berada dalam keadaan seperti itu. Barulah dia tersadar ketika mendengar suara orang berkata.

"Tan-taihiap, kau telah menyelamatkan Hoa-san-pai kami dari tangan seorang iblis jahat. Tak lain kami semua murid Hoa-san-pai menghaturkan terima kasih, dan mohon petunjuk selanjutnya."

Beng San cepat mengeringkan air matanya dan mengangkat muka memandang. Ternyata bahwa para tosu Hoa-san-pai semua telah muncul di situ dan berlutut di depannya! Ada pun yang bicara tadi adalah tosu tua yang telah datang ke Min-san dan minta pertolongan kepadanya. Tentu saja dia menjadi kaget dan sibuk sekali melihat para tosu itu berlutut memberi hormat kepadanya.

Cepat-cepat ia berkata, "Para Totiang harap lekas bangkit dan mari kita bicara baik-baik. Janganlah memberi hormat seperti ini, aku sama sekali tidak berani terima. Bangkitlah!" Di dalam suaranya mengandung pengaruh yang tak dapat dibantah lagi, maka para tosu itu lalu bangun berdiri.

Setelah para tosu itu berdiri, terjadilah keributan. Beberapa orang tosu menuding-nuding dan mencela tosu-tosu lain yang tadinya mereka anggap taat dan tunduk serta membantu Kwa Hong. Para tosu itu tentu saja menjadi ketakutan dan menyangkal sehingga terjadi percekcokan dan keributan.

Beng San yang memperhatikan keributan itu segera maju melerai sambil berkata, "Para Totiang harap jangan cekcok sendiri. Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan tidak perlu menekan mereka yang tadinya jatuh ke bawah pengaruh Kwa Hong. Di dunia ini, manusia manakah yang tak pernah menyeleweng dan bersalah? Tanpa ada kesalahan dan dosa, manusia takkan dapat sadar dan bertobat, takkan mampu membedakan baik dan buruk. Yang penting adalah kesadaran akan dosa itu, maka walau pun tadinya ada beberapa orang Totiang yang bertindak keliru, asal sekarang sudah sadar dan bertobat, kiranya tidak perlu ditekan terus."

Para tosu dapat menerima ucapan ini dan kembali mereka berunding, kini dengan hati rukun dan tidak saling menyalahkan seperti tadi.

"Tan-taihiap, keadaan Hoa-san-pai kami sudah morat-marit dan rusak. Mohon petunjuk Taihiap bagaimana supaya Hoa-san-pai dapat dibangun kembali. Kami sudah kehilangan pimpinan," kata tosu tua.

"Aku sudah mendengar bahwa Saudara Kui Lok dan Thio Bwee diusir oleh Kwa Hong. Cucu murid yang masih ada sekarang hanyalah Thio Ki yang sekarang tinggal di Tin-yang menjadi piauwsu (pengawal barang). Para Totiang harap tinggal di sini dan mengurus semua mayat ini secara baik-baik, biarlah aku yang pergi mengabarkan ke Sin-yang dan minta kepada Saudara Thio Ki untuk datang ke sini, kemudian mengurus pembangunan Hoa-san-pai. Kurasa hanya dia seorang yang berhak, karena dia pun murid dari mendiang Lian Bu Tojin."

Para tosu menyatakan persetujuan mereka dan berangkatlah Beng San turun gunung dengan wajah muram. Pertemuannya dengan Kwa Hong tadi benar-benar membuat dia berubah menjadi manusia lain. Ketika mendaki Puncak Hoa-san, dia adalah seorang manusia bahagia karena selama ini ia tinggal di Min-san bersama isterinya, yaitu Kwee Bi Goat, hidup dengan penuh cinta kasih dan damai, saling mencinta dan rukun. Ketika ada tosu Hoa-san-pai datang dan bercerita tentang mala petaka yang menimpa Hoa-san-pai lalu mohon pertolongannya, Beng San tidak dapat menolak karena ia mengingat akan hubungannya dengan partai itu.

Isterinya mengatakan hendak ikut, akan tetapi oleh karena Beng San tahu bahwa akan buruk jadinya kalau isterinya itu bertemu dengan Kwa Hong, maka dia mencegah dan menyatakan bahwa tidak baik bagi kesehatan isterinya untuk melakukan perjalanan jauh, karena keadaan Bi Goat yang sedang mengandung itu. Demikianlah, dia lalu meninggalkan Bi Goat di Min-san bersama ayah mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun. Siapa sangka bahwa pertemuannya dengan Kwa Hong akan menghancurkan hatinya seperti ini!

"Aduh... aku tidak berharga lagi mendekati Bi Goat..."

Di sepanjang perjalanan menuju ke Sin-yang mencari Thio Ki, Beng San membayangkan isterinya dengan hati remuk redam. Setelah apa yang ia lakukan bersama Kwa Hong dan ternyata Kwa Hong mengandung keturunannya, dia merasa berdosa besar dan merasa tidak berharga untuk mendekati isterinya terkasih dan suci. Ketika mendaki Puncak Hoa-san tadi ia masih merupakan seorang suami yang bahagia. Sekarang ia meninggalkan puncak dengan hati terjepit derita sengsara.

Namun dasar seorang berwatak satria, sungguh pun diri sendiri mengalami penderitaan batin yang maha besar, akan tetapi dia terus saja melanjutkan usahanya untuk menolong Hoa-san-pai. Ia harus mencari Thio Ki dan menarik orang muda kakak Thio Bwee itu agar suka turun tangan membangun kembali Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.

Sekarang mari kita mendahului perjalanan Beng San yang sedang menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki dan kita melihat apa yang terjadi di Sin-yang….

**********

Seperti telah dituturkan, Thio Ki adalah murid Hoa-san-pai juga, malah dalam tingkatnya, ia merupakan cucu murid yang paling tua. Thio Ki adalah kakak kandung Thio Bwee dan pemuda Hoa-san-pai yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka tampan ini sekarang telah bekerja membuka piauwkiok di Sin-yang.

Pada masa itu, perusahaan piauwkiok (kantor exspedisi) amat maju karena banyaknya orang jahat sehingga para saudagar selalu mengirim barang-barangnya yang berharga di bawah perlindungan jago-jago dari piauwkiok, Karena kepandaiannya memang tinggi dan sebagai murid Hoa-san-pai, sebentar saja Thio Ki sudah membuat nama baik, ditakuti penjahat dan dipercaya langganan pengirim barang. Sekarang Thio Ki sudah menikah dengan seorang gadis bernama Lee Giok. Bukan gadis sembarangan. Selain cantik jelita juga gadis ini hebat kepandaiannya, bahkan lebih tinggi ilmu pedangnya kalau dibandingkan dengan Thio Ki sendiri.

Hal ini tidak aneh karena Lee Giok adalah seorang gadis keturunan bangsawan Kerajaan Goan yang lalu, yang menjadi murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan Si Raja Pedang Tanpa Tandingan! Selain menjadi murid orang sakti, Lee Giok juga terkenal sebagai seorang gadis patriot yang dalam jaman perjuangan melawan Kerajaan Mongol telah berjasa besar.

Suami isteri ini hidup rukun dan damai di Sin-yang. Thio Ki amat mencintai isterinya itu, sungguh pun sebetulnya di dalam hati kecilnya Lee Giok tidak mencinta suaminya. Bukan karena Thio Ki kurang gagah atau kurang tampan, tetapi karena cinta kasih pertamanya telah gagal, dibawa mati seorang patriot besar murid Kun-lun-pai bernama Kwee Sin.

Hal ini tidak aneh karena sebagai seorang patriot tentu saja ia kagum kepada lain orang patriot dan ketika orang yang dicintanya itu, Kwee Sin, meninggal dunia, hatinya menjadi hampa dan ia tidak banyak membantah lagi ketika ia dijodohkan dengan Thio Ki, seorang pemuda yang selain gagah juga tampan. Hanya sedikit hal yang mengecewakan hati Lee Giok, yaitu bahwa suaminya ini sama sekali tidak memiliki jiwa patriotik.

Di Sin-yang mereka berdua hidup dalam keadaan cukup. Perusahaan piauwkiok yang didirikan Thio Ki mendatangkan hasil lumayan. Mereka mampu membeli sebuah rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang luas juga. Oleh karena pekerjaan suaminya itu mengharuskan suaminya lebih sering keluar rumah dari pada berada di rumah, untuk mengurangi kesepian, Lee Giok memelihara banyak ayam dan binatang ternak lain di rumahnya. Juga la menanam banyak kembang indah di pekarangannya.

Pada sore hari itu di pekarangan rumah Thio Ki nampak sunyi. Sehari itu tidak nampak Lee Giok atau pelayannya keluar dari dalam rumah. Padahal sudah tiga hari ini Thio Ki berada di rumah. Dan pada hari itu pun Thio Ki tidak pergi ke perusahaannya. Akan tetapi mengapa kelihatan begitu sunyi?

Malah tiga orang pelayan rumah tangga sejak pagi tadi sudah disuruh pulang semua dan disuruh libur sepekan lamanya oleh Lee Giok. Para pelayan itu amat terheran-heran, akan tetapi tidak berani membantah kehendak nyonya rumah itu. Apakah yang terjadi? Kalau kita menengok ke dalam rumah, keadaannya lebih aneh lagi. Thio Ki dan Lee Giok berada di ruang tengah, muka mereka agak pucat dan biar pun di dalam rumah, mereka berpakaian ringkas dan di pinggang mereka tergantung pedang seperti orang yang siap akan bertempur!
cerita silat karya kho ping hoo

Kedua orang suami isteri ini bersikap begini semenjak malam tadi. Memang tidak aneh kalau diketahui sebabnya. Ada bahaya maut mengancam keselamatan mereka, bahkan keselamatan para pelayan dan malah semua yang hidup di dalam rumah itu terancam bahaya maut. Malam tadi, lewat tengah malam, dua orang suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi ini mendengar tindakan kaki ringan di atas genteng rumah mereka. Thio Ki adalah seorang yang biasa melakukan perjalanan dan sudah biasa berhadapan dengan orang-orang jahat. Juga Lee Giok bukanlah pendekar kemarin sore.

Oleh karena itu, ketika mendengar suara ini mereka cepat meloncat keluar dari kamar. Tanpa mengeluarkan suara ribut-ribut mereka berdua telah mengejar, seorang lewat pintu belakang, seorang lagi lewat pintu depan, terus meloncat ke atas genteng rumah sendiri. Akan tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Setelah mencari-cari beberapa lama, mereka melihat berkelebatnya bayangan orang dari bawah, baru saja orang itu meloncat keluar dari ruangan dalam. Gerakan orang itu gesit dan ringan sekali.

Akan tetapi Lee Giok dan Thio Ki sudah cepat menerjang ke depan untuk menghadang dan Thio Ki membentak, "Penjahat dari mana berani mampus mengganggu rumahku?"

Orang itu tertawa, suara ketawanya melengking amat tinggi dan sekali berkelebat sudah melayang melalui atas kepala suami isteri itu. Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, cepat mereka mengejar. Mereka belum sempat melihat wajah orang itu.

Ketika melihat dua orang itu mengejar, Si Penjahat lalu membalikkan tubuh di tempat yang gelap, kedua tangannya bergerak dua kali ke depan seperti orang memukul. Thio Ki dan Lee Giok segera dapat menduga bahwa itu tentulah serangan gelap, mungkin senjata rahasia, maka mereka cepat berhenti dan siap siaga. Tidak ada senjata rahasia melayang datang, tapi tiba-tiba mereka merasa terdorong ke belakang dan hampir terjengkang roboh kalau tidak cepat-cepat berjungkir-balik. Mereka merasa dada mereka agak sesak oleh tenaga dorongan yang tidak kelihatan itu.

Pada saat mereka berdiri kembali, penjahat itu telah lenyap, hanya rneninggalkan gema suara ketawanya yang melengking tinggi, suara ketawa wanita! Juga meninggalkan ganda yang harum semerbak. Thio Ki dan Lee Giok mengejar sampai jauh keluar rumah, namun sia-sia belaka. Dengan kecewa dan lesu mereka kembali memasuki rumah dan apa yang mereka lihat membuat mereka mengertak gigi saking marah, akan tetapi juga membuat wajah mereka pucat.

Di dalam kamar mereka, di atas dinding yang putih, terdapat tulisan-tulisan corat-coret merah yang berbunyi:

Sebelum lewat besok malam, semua yang bernyawa di rumah ini akan mati.

Tidak ada tanda tangan apa-apa dan huruf-huruf itu ditulis dengan darah. Ketika mereka memeriksa ke belakang, ternyata dua ekor anjing peliharaan yang tidur di belakang telah mati dengan kepala pecah. Agaknya darah anjing ini yang dipakai untuk menulis ‘surat maut’ itu.

"Apa kau mengenal suaranya?" akhirnya Thio Ki bertanya kepada isterinya.

Lee Giok menggelengkan kepala dan keningnya berkerut, "Jelas dia seorang perempuan, akan tetapi karena gelap tidak dapat mengenalnya. Suaranya pun seakan-akan pernah mendengarnya tapi entah di mana."

"Kepandaiannya hebat..." Thio Ki menarik napas panjang. "Entah mengapa dia melakukan ini?"

"Dia tentu tidak datang seorang diri," berkata Lee Giok, sepasang matanya yang jeli itu bergerak-gerak cerdik. "Tulisan ini baru saja ditulis, darahnya masih belum beku, bangkai anjing itu pun masih hangat. Tentu hal ini dilakukan pada saat kita mengejar penjahat perempuan itu. Yang datang ke sini pada malam ini sedikitnya tentu dua orang, mungkin pula lebih."

Thio Ki lebih gelisah mendengar ini. Dia tidak dapat menyangkal pendapat isterinya yang sangat cerdik itu. "Seorang saja demikian lihainya, kalau mereka itu berkawan, benar... berbahaya...!"

"Tak perlu gelisah. Kalau orang sudah menghendaki untuk memusuhi kita, tidak ada jalan lain kecuali melawannya mati-matian. Hanya aku ingin sekali tahu siapa mereka dan apa sebabnya... Apakah selama beberapa bulan ini menjadi piauwsu kau tidak menanam bibit permusuhan yang hebat dengan golongan hitam (penjahat)!"

"Tidak, tidak ada. Melihat tulisan ini, agaknya Si Penulis mempunyai dendam yang amat mendalam terhadap kita." Muka Thio Ki makin pucat.

Tiba-tiba Lee Giok mengangkat alisnya, matanya bersinar-sinar. "Ahhh, siapa lagi kalau bukan dia? Hemm, sejak dulu memusuhi aku, hemm... tapi... ah, kalau benar dia kenapa ilmu kepandaiannya begitu hebat?"

"Siapakah? Siapakah yang kau maksudkan, isteriku?" Thio Ki bertanya penuh perhatian.

"Aku teringat akan Kim-thouw Thian-li...."

Thio Ki menahan napas, dia pun sekarang teringat. Memang agaknya kalau ada musuh besar wanita, kiranya dia itulah Kim-thouw Thian-li (Dewi Berkepala Emas), ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Terang)). Seorang siluman yang hebat dan kejam. Apa lagi gurunya yang bernama Hek-hwa Kui-bo (Setan Betina Hitam). Bergidiklah Thio Ki teringat mereka itu dan bulu tengkuknya meremang.

"Kalau betul dia... Hek-hwa Kui-bo... ahhh... bagaimana baiknya?" Ia nampak ketakutan sekali.

Sekali lagi lubuk hati Lee Giok tertikam oleh kekecewaan suaminya. Ia makin kenal betul bahwa di balik keangkuhan dan kegagahan Thio Ki terdapat pula sifat penakut yang tidak menyenangkan hatinya.

"Orang-orang seperti kita ini apakah pantas ketakutan menghadapi ancaman musuh?" Dalam ucapan Lee Giok ini terkandung kekecewaan dan teguran yang amat terasa oleh Thio Ki.

Maka ia segera berdiri dan menepuk dada sambil berkata, "Jangan kuatir isteriku. Aku suamimu tentu saja tidak takut menghadapi musuh yang mana pun juga, tidak pula takut menghadapi kematian sebagai orang gagah. Hanya aku meragukan apakah kita mampu melawan mereka itu kalau benar-benar mereka terdiri dari Hek-wa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li?"

Agak senang juga hati Lee Giok. Memang beginilah seharusnya sikap orang yang menjadi suaminya. "Apa bila betul dugaan kita bahwa mereka itu adalah Kim-thouw Thian-li dan gurunya, sudah tentu kita bukanlah lawan mereka. Akan tetapi, nyawa berada di tangan Thian. Jangankan baru mereka berdua, biar pun kita diancam oleh seratus orang macam mereka, kalau Thian belum menghendaki mati, kiranya kita pun akan selamat. Sebaliknya, kalau Thian sudah menghendaki kematian kita, biar pun andai kata kita melarikan diri, tentu musuh akan dapat mengejar dan membunuh kita juga. Sama-sama mati, bukankah lebih baik mati sebagai orang gagah?"

"Kau betul, isteriku. Seribu kali lebih baik mati sebagai harimau yang baru mati setelah melakukan perlawanan gigih dari pada mati sebagai seekor babi yang tidak melakukan perlawanan malah melarikan diri."

"Bukan begitu saja, pendirian seorang gagah sejati malah lebih tinggi lagi. Lebih baik mati sebagai seekor harimau dari pada hidup sebagai seekor babi!"

Thio Ki mengangguk-angguk. "Kau betul... kau betul..."

"Kita harus berjaga-jaga," kata pula Lee Giok.

Setelah agak lama mereka merenung, barulah Lee Giok kembali berkata, "Pertama-tama besok pagi-pagi tiga orang pelayan kita harus pergi dari sini pulang ke kampung masing-masing. Biar mereka berlibur sepekan, baru mereka diperbolehkan kembali ke sini. Aku tidak suka jika karena permusuhan kita, orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut terancam bahaya."

Demikianlah, pada keesokan harinya, tiga orang pelayan mereka suruh pulang, diberi bekal uang dan dipesan supaya jangan kembali sebelum sepekan. Kemudian suami isteri ini berjaga-jaga sehari penuh dengan pedang selalu di pinggang. Mereka makan sambil berjaga-jaga dan tidak pernah berpisah sebentar pun juga. Mereka maklum akan kelihaian lawan, maka biar pun siang hari, mereka tak berani meninggalkan kewaspadaan. Apa lagi setelah hari itu menjelang malam, mereka makin berhati-hati.

Pintu-pintu depan dan belakang mereka tutup, kemudian dipalang kuat-kuat. Hanya pintu samping yang kecil mereka tutup saja tanpa dipalangi. Dengan cerdik Lee Giok kemudian memasangkan anak panah terpentang di busur yang dihubungkan dengan pintu-pintu dan jendela sehingga siapa saja berani memasuki rumah dengan jalan merusak, pasti akan disambut anak panah. Sedangkan dia sendiri dan Thio Ki selain membawa pedang juga menyediakan kantong senjata rahasia piauw secukupnya. Tidak begini saja, malah di depan pintu Lee Giok telah menyebar paku-paku yang sudah ditekuk sehingga merupakan perintang bagi musuh.

Setelah sore terganti malam, keadaan di rumah Thio Ki makin sunyi lagi. Memang rumah ini agak jauh dari tetangga dan mempunyai pekarangan yang luas. Apa lagi suami isteri yang berjaga-jaga di ruangan dalam itu, sejak tadi mereka hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun.

Lampu-lampu penerangan di luar rumah dipasang semua, terang benderang. Akan tetapi di sebelah dalam, di ruangan itu, sengaja digelapkan. Inilah siasat Lee Giok agar mereka dapat melihat kedatangan musuh tanpa kedudukan mereka diketahui oleh musuh itu. Waktu merayap amat lambat. Angin bertiup agak keras, menggerakkan daun-daun pohon, mengeluarkan bunyi yang terdengar amat mengerikan bagi orang-orang yang berada di dalam cekaman ketegangan itu.

Keduanya tidak dapat melihat apa-apa, biar pun mereka mengintai dari lubang-lubang di antara pintu keluar, keadaan sunyi saja. Akan tetapi mereka memasang telinga baik-baik. Setiap bunyi harus dapat terdengar oleh mereka dan ini penting sekali bagi ahli-ahli silat. Kadang kala telinga dapat mendahului mata dan telingalah yang menyelamatkan nyawa. Keadaan di ruangan itu begitu sunyi sehingga andai kata ada jarum jatuh, tentu segera dapat terdengar oleh mereka. Beberapa kali terdengar suara orang atau kaki kuda dari jauh, hanya sayup sampai terbawa angin lalu.

Thio Ki memandang bayangan isterinya di dalam gelap dan bangkitlah kasih sayangnya yang besar. Ngeri ia bila memikirkan bagaimana mereka nanti harus menghadapi musuh yang lihai. Bagaimana kalau sampai dia atau isterinya tewas? Terharu hatinya memikirkan dan tak terasa pula ia menjamah tangan isterinya dengan mesra dan penuh kasih. Agaknya Lee Giok merasai ini, maka cepat-cepat mengibaskan tangan suaminya. Dalam keadaan seperti itu Lee Giok tidak mau memperlihatkan perasaan lemah, apa lagi seluruh panca indera harus dipusatkan untuk memperhatikan keadaan di luar.

"Ssttt, dengar.. baik-baik...," bisiknya memperingatkan suaminya.

"Srrtt-srttt!"

Suami isteri itu menghunus pedang, digenggam erat-erat dan berdiri siap siaga. Mereka mendengar langkah kaki yang amat ringan datang dari depan!

"Jaga kanan kiri pintu..." bisik lagi Lee Giok.

Thio Ki maklum akan maksud isterinya dan ia lalu berdiri di sebelah kiri pintu sedangkan isterinya menjaga sebelah kanan. Menurut rencana Lee Giok, kalau musuh bisa melalui lantai penuh paku, biar musuh itu mendobrak pintu kemudian menerima sambaran anak panah dan diterjang oleh mereka berdua dari kanan kiri. Walau pun musuh lebih pandai, kiranya tak akan dapat menyelamatkan diri kalau dihujani serangan seperti ini.

Suara langkah kaki yang ringan itu makin lama makin dekat, berhenti di depan pintu di mana sudah disebar paku-paku oleh Lee Giok. Keadaan makin tegang dan makin sunyi setelah langkah kaki itu berhenti dan tak terdengar lagi. Lee Giok yang biasanya tabah dan sudah biasa menghadapi saat-saat tegang ketika dia masih menjadi pejuang dahulu, kini mau tidak mau mengeluarkan keringat dingin.

Apa lagi Thio Ki yang memang sudah merasa gelisah sekali. Tubuhnya menggigil dan setiap saat ia bisa kalap, meloncat dan menerjang siapa saja yang muncul pada saat itu. Senjata-senjata rahasia sudah siap di tangan kedua orang ini. Mendadak terdengar suara perlahan di luar pintu, suara wanita yang bicara seorang diri setengah berbisik.

"Aneh sekali... di luar terang kenapa di dalam gelap dan sunyi? Pergikah orang-orangnya? Dan paku-paku ini..." Suara itu berhenti sebentar lalu terdengar ia memanggil, "Enci Lee Giok...! Enci Lee Giok! Suci (Kakak Seperguruan)...!"

Lega bukan main hati Lee Giok setelah mengenal suara ini, seakan-akan ia merasa batu besar yang menindih dadanya dilepaskan.

"Sumoi (Adik Seperguruan)... kaukah itu, Sumoi...?" tanpa disadarinya, suara Lee Giok mengandung isak.

"Suci Lee Giok, kau kenapakah? Ah, tentu terjadi sesuatu yang hebat... jangan takut, Suci, aku datang..." Terdengar orang bergerak di luar pintu.

"Nanti dulu, Sumoi... jangan masuk...!" teriak Lee Giok akan tetapi terlambat.

Pintu telah didorong dari luar sehingga terbuka dan palangnya patah. Pada saat itu anak panah rahasia yang dipasang Lee Giok melesat ke depan, tiga batang banyaknya.

"Sumoi...!" Lee Giok menjerit.

Dari luar berkelebat bayangan merah, bukan main cepatnya dan gesitnya gerakannya dan bagai seekor burung walet menyambar kupu-kupu, bayangan itu menyambar tiga batang anak panah itu dan di lain saat ia telah meloncat masuk ke dalam ruangan, tiga batang anak panah sudah berada di tangannya. Dari sinar lampu yang menyorot masuk ke dalam ruangan melalui pintu yang terbuka, tampaklah orang itu.

Dia seorang gadis cantik jelita berpakaian merah. Pakaiannya yang warnanya merah itu berpotongan ringkas dan membuat ia selain nampak cantik juga gagah sekali. Di belakang punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya dihiasi ronce-ronce terbuat dari benang kuning. Juga pengikai rambut, ikat pinggang, dan sepatunya berwarna seperti warna ronce-ronce pedangnya.

Mukanya berkulit putih halus dan manis bentuknya, rambutnya hitam panjang. Sepasang mata yang indah bentuknya itu bersinar-sinar dan bening laksana mata ‘burung hong’. Hidung dan mulutnya bagaikan bunga-bunga yang memperindah taman sari wajahnya. Kesemuanya itu menjadikan dia seorang gadis berwajah ayu bukan main.

Siapakah gadis jelita ini? Dia bukan lain adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Bandingan) Cia Hui Gan, benama Cia Li Cu. Dia telah mewarisi ilmu silat ayahnya, bahkan sudah mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang bukan main indah dan lihainya. Karena kepandaiannya dan kecantikannya inilah maka akhir-akhir ini Cia Li Cu mendapat julukan Thai-San Sian-li (Dewi Gunung Thai-san) karena memang ayahnya tinggal di Gunung Thai-san.

Seperti pernah kita ketahui, apa lagi sudah jelas diceritakan dalam cerita Raja Pedang, gadis jelita ini dipertunangkan dengan suheng-nya sendiri, yaitu Tan Beng Kui, kakak dari Tan Beng San. Dapat dibayangkan betapa lega dan girang hati Lee Giok melihat kedatangan sumoi-nya yang mempunyai ilmu kepandaian amat tinggi itu. Saking girang dan terharunya ia segera menubruk, memeluk dan menciumi sumoi-nya sambil menangis!

"Eh-ehh-ehh... ada apakah Suci? Ci-hu (Kakak Ipar), ada masalah apakah...?" tanyanya berganti-ganti kepada Lee Giok dan Thio Ki. "Dan kenapa gelap amat di sini? Pasanglah pelita..."

Thio Ki ragu-ragu, dia belum berani menyalakan lampu. Akan tetapi di antara isaknya Lee Giok berkata, "Setelah Sumoi berada di sini, kita takut apa lagi? Hayo pasang lampunya."

Thio Ki segera menyalakan lampu dan sebentar saja ruangan itu menjadi terang. Li Cu semakin heran melihat keadaan suci dan cihu-nya begitu tegang, malah di dalam rumah telah melakukan persiapan seperti itu seakan-akan sedang menghadapi musuh yang luar biasa hebat. Ia sudah berpengalaman dan tentu saja tanpa diceritakan lagi ia sudah dapat menduga bahwa suci-nya menghadapi ancaman musuh.

Sebetulnya ketika datang, Li Cu sendiri membawa hati yang sakit oleh urusan pribadinya. Akan tetapi begitu melihat keadaan Lee Giok, urusan sendiri dilupakan dan dia menjadi marah sekali.

"Suci, katakan siapa yang berani kurang ajar mengancam keselamatanmu, katakan! Aku yang akan menghadapinya!"

Lee Giok menarik napas panjang, lalu menuntun tangan Li Cu diajak ke dalam kamar. Thio Ki maklum bahwa isterinya hendak memperlihatkan tulisan darah anjing itu, maka ia pun ikut masuk. Tanpa berkata apa-apa Lee Giok menuding ke arah coretan merah di tembok itu.

Li Cu memandang dan sepasang matanya yang indah berkilat. "Keparat betul! Alangkah sombongnya. Binatang mana yang berani berbuat begini? Dia menghinamu, berarti menghinaku dan menghina ayahku. Biarkan dia datang, Suci, kita lawan dan bikin mampus Si Sombong itu!" Li Cu menjadi merah kedua pipinya saking marahnya.

"Memang aku pun tadi siap hendak melawannya, Sumoi. Dan alangkah senang hatiku melihat kau datang, kau tahu... mereka itu lihai sekali!"

Lee Giok lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan juga dugaannya bahwa penjahat itu tentu lebih dari seorang, Juga dugaannya bahwa agaknya yang akan mengganggu itu tentulah Kim-thouw Thian-li dan mungkin juga bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo.

Li Cu mengangguk-angguk, mengerti kenapa suci-nya menduga demikian. Ia tahu bahwa dahulu suci-nya ini mencinta mendiang Kwee Sin, sedangkan Kim-touw Thian-li adalah kekasih Kwee Sin. Selain permusuhan karena rasa cemburu ini, juga memang Kim-thouw Thian-li dulunya merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, sebaliknya Lee Giok adalah seorang pejuang.

"Jika betul mereka yang datang, kau dan cihu bersama-sama hadapilah Ngo-lian Kauwcu (Ketua Ngo-lian-kauw) itu, biarkan aku yang akan menghadapi Hek-hwa Kui-bo!" kata Li Cu dengan gagah dan bersemangat.

Kembali mereka melakukan penjagaan. Akan tetapi sekarang keadaan suami isteri itu tidak sekuatir tadi, meski pun ketegangan masih tetap ada di dalam hati mereka. Juga ruangan di mana mereka berjaga itu tidak digelapkan. Dalam keadaan sunyi ini Li Cu teringat kembali akan keadaan dirinya sendiri sehingga wajahnya yang ayu itu menjadi murung. Baiknya Lee Giok terlalu tegang hatinya sehingga tidak melihat keadaan sumoi-nya ini.

Menjelang tengah malam, keadaan amat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara ayam berkeok, lalu sunyi lagi. Sunyi yang mencekam. Lee Giok bangkit dari tempat duduknya, wajahnya tegang. Dia saling pandang dengan suaminya dan dapat menduga bahwa tentu ada orang mengganggu binatang peliharaan mereka itu. Lee Giok memandang Li Cu dan pandang matanya mengisyaratkan bahwa agaknya musuh yang ditunggu-tunggu sudah datang!

Lee Giok beserta Thio Ki sudah berdiri dengan tangan di gagang pedang masing-masing. Hanya Li Cu yang masih duduk, sikapnya tenang. Mendadak terdengar lagi suara ayam berkeok beberapa kali, lalu sunyi kembali. Suami isteri itu menggerakkan tangan kanan mencabut pedang, sedangkan tangan kiri bersiap di kantong piauw. Mata mereka memandang ke arah pintu yang sudah ditutup lagi. Li Cu masih seperti tadi, duduk dengan tenang seperti orang melamun. Agaknya ia masih tenggelam dalam lamunan duka tentang dirinya sendiri.

Ketegangan suami isteri itu memuncak ketika di dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara ketawa dari jauh. Setelah suara ketawa berhenti lalu terdengar suara suling ditiup perlahan. Mendengar suara suling ini, Lee Giok memegang tangan sumoi-nya yang masih duduk dan berbisik,

"Sumoi, bukankah itu si iblis Giam Kin?"

Li Cu berdiri dan berkata, "Hemmm, makin banyak iblis makin baik, biar kita basmi mereka agar dunia terbebas dari genggaman mereka!"

Suara ketawa makin lama makin dekat dan jelas terdengar bahwa suara itu adalah suara ketawa wanita, kemudian setibanya di depan rumah suara itu berhenti. Suara suling juga berhenti, keadaan sunyi sebentar lalu terdengar suara berisik mendesis-desis. Tiga orang yang berada di dalam rumah sudah siap siaga, hanya Li Cu yang belum juga mencabut pedang. Memang bagi seorang ahli pedang seperti dia tidak mau sembarangan mencabut pedang kalau tidak perlu.

"Brakkkk!"

Tiba-tiba pintu depan pecah terbuka dan dari luar terdengar lagi suara suling lapat-lapat. Yang membuat ketiga orang muda itu terkejut adalah ratusan ekor ular besar kecil yang masuk ke rumah seperti banjir. Belasan ekor sudah memasuki ruangan itu melalui pintu. Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar menyilaukan dan belasan ular itu sudah putus menjadi dua potong oleh sambaran pedang di tangan Li Cu. Sungguh hebat gerakan ini dan mengerikan sekali ular-ular yang sudah putus menjadi dua tapi masih berkelojotan itu. Dari luar masih membanjir terus ular-ular besar kecil, merayap melalui bangkai ular-ular yang sudah sekarat.

Kini Lee Giok dan Thio Ki sudah hilang kagetnya. Semangat mereka bangkit oleh gerakan Li Cu tadi, karena itu mereka pun menyerbu ke depan dan membabati ular-ular dengan pedang mereka. Akan tetapi ular-ular itu masih saja membanjir masuk, malah kini merayap dari celah-celah jendela dan pintu belakang, dan baunya yang amat amis tak kuat tertahankan oleh tiga orang muda itu lebih lama lagi.

"Keluar melalui jendela terus ke atas genteng...!" kata Li Cu mendahului melompat ke jendela.

Sekali tendang jendela terpentang lebar, pedangnya berkeredepan diputar di depan tubuh ketika tubuhnya melayang keluar, tangan kiri menyambar langkan lalu tubuhnya diayun terus ke atas ke arah genteng. Perbuatannnya ini disusul oleh Lee Giok dan Thio Ki. Baiknya Li Cu yang berada paling depan karena segera tampak sinar hijau dan putih menyambar ke arah mereka. Namun sinar-sinar senjata rahasia ini dapat ditangkis runtuh semua oleh pedang di tangan Li Cu!

Ketika mereka tiba di atas genteng dalam keadaan selamat, ternyata di situ telah berdiri dua orang wanita dan seorang laki-laki menghadapi mereka sambil tertawa mengejek. Tepat seperti yang diduga oleh Lee Giok, dua orang wanita itu bukan lain adalah Ngo-lian Kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Kim-thouw Thian-li yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih nampak cantik jelita seperti gadis remaja saja, sikapnya pun genit dan angkuh. Ini masih tidak aneh, bahkan gurunya, Hek-hwa Kui-bo yang usianya sudah enam puluhan tahun, masih nampak cantik, memegang sapu tangan sutera beraneka warna!

Ada pun laki-laki itu adalah seorang pemuda ganteng, mukanya pucat, pakaiannya serba kuning dan di tangannya terdapat sebatang suling. Pembaca Raja Pedang tentu sudah mengenal siapa orang ini. Bukan lain adalah Giam Kin yang berjuluk Siauw-coa-ong (Raja Ular Kecil), murid iblis dari utara Siauw-ong-kwi. Selain berilmu tinggi, Giam Kin ini juga memiliki kepandaian hebat, yaitu dengan sulingnya ia dapat memanggil ratusan ekor ular yang dapat ia perintah untuk menyerang musuhnya. Juga ia pandai sekali dalam hal penggunaan racun ular yang berbahaya.

"Ehh, kiranya ada Thai-san Sian-li di sini!" kata Kim-thouw Thian-li. "Pantas saja tuan dan nyonya rumah begini tabah!"

Giam Kin memandang dengan mata melongo dan penuh kekaguman kepada wajah yang disinari bulan yang sudah muncul sepenuhnya di langit, kemudian dia pun berseru sambil menarik napas panjang berkali-kali, "Aduh... aduh... bidadari baju merah dari Thai-san... hemmm, makin cantik jelita saja. Bidadari kahyangan pun tak akan menang...!" Kemudian dia menoleh kepada Hek-hwa Kui-bo. "Locianpwe, kalau sekali ini dapat menangkapkan bidadari merah ini untukku, aku berjanji akan menyembah seratus kali kepadamu."

Hek-hwa Kui-bo mengibaskan tangannya. "Huh, laki-laki mata keranjang benar kau ini!"

Tentu saja hati Li Cu mendongkol bukan main mendengar omongan-omongan kotor itu. Akan tetapi dia memandang rendah kepada Giam Kin dan Kim-thouw Thian-li, maka dia tidak pedulikan mereka dan langsung menghadapi Hek-hwa Kui-bo sambil menudingkan jarinya.

"Hek-hwa Kui-bo, kau tergolong tingkatan tua yang sudah mendapat nama besar sebagai tokoh utama dari selatan. Kenapa sekarang kau melakukan tindakan yang amat rendah, mengancam enci-ku dan suaminya, lalu datang membawa dua orang manusia hina dina ini?"

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek kemudian dia berkata, suaranya mengandung sikap memandang rendah, "Kau bocah masih ingusan berani bicara begini kepadaku. Ayahmu sendiri kiranya tidak sekurang ajar engkau! Muridku masih ingat akan permusuhan lama, bersama Giam-kongcu hendak membikin perhitungan dan pelunasan hutang-hutang lama. Aku hanya menonton kalau-kalau ada bocah ingusan lancang dan ikut-ikut campur!"

"Siluman betina tua bangka! Kau dan antek-antekmu hendak menghina Suci dan cihu-ku? Hemmm, selama di sini masih ada Cia Li Cu, jangan harap kalian akan dapat berlaku sewenang-wenang!" bentak Li Cu sambil melintangkan pedangnya.

"Locianpwe, kenapa layani dia bicara? Pegang saja, ringkus dan berikan kepadaku habis perkara!" kata pula Giam Kin sambil tersenyum-senyum. Matanya yang sipit memandang kepada Li Cu dengan kurang ajar.

"Giam-ko, dari pada banyak cerewet lebih baik turun tangan. Kau bereskan yang laki-laki, biar aku mampuskan budak she Lee ini!" kata Kim-thouw Thian-li yang tidak suka melihat Giam Kin tergila-gila kepada Li Cu. Giam Kin tertawa mengejek ketika ia mendekati Thio Ki.

Suami isteri ini maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, akan tetapi mereka tidak takut. Dengan kemarahan meluap mereka lalu menerjang maju, Thio Ki menyerang Giam Kin sedangkan Lee Giok memutar pedang menyerang Kim-thouw Thian-li. Juga Cia Li Cu yang maklum bahwa menghadapi tiga orang jahat itu tidak perlu banyak bicara lagi, lalu menggerakkan pedang di tangannya menerjang Hek-hwa Kui-bo.

Sambil tertawa-tawa Giam Kin menyambut serangan Thio Ki. Raja Ular Kecil ini memang amat tinggi kepandaiannya. Serangan pedang dari Thio Ki ia hadapi dengan permainan suling ularnya yang aneh gerakan-gerakannya. Tenaga lweekang-nya jauh lebih kuat dari pada Thio Ki sehingga setiap kali pedang bertemu suling, tangan Thio Ki tergetar dan pedangnya hampir terlepas.

Namun Thio Ki bermodal kenekatan dan menerjang terus sambil mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Betapa pun juga dia adalah seorang murid Hoa-san-pai yang baik, juga pernah mendapat bimbingan dari Lian Bu Tojin sendiri. Karena itu, setelah ia bertempur dengan nekat Giam Kin tidak berani main-main lagi.

Juga Kim-thouw Thian-li menghadapi perlawanan sengit dan nekat dari Lee Giok. Seperti halnya suaminya, Lee Giok mendapat lawan yang lebih lihai darinya. Kim-thouw Thian-li benar-benar hebat kepandaiannya. Dengan ilmu silatnya dari golongan hitam yang penuh muslihat dan keji, ditambah Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut yang sebagian telah dia warisi pula dari Hek-hwa Kui-bo.

Ketua Ngo-lian-kauw ini benar-benar membuat Lee Giok tak berdaya. Senjata di tangan Kim-thouw Thian-li adalah sebatang golok di tangan kanan dan sehelai selampai merah di tangan kiri. Sapu tangan atau selampai merah inilah yang justru amat berbahaya karena mengandung pelbagai racun jahat.

Akan tetapi karena ilmu pedang Lee Goat juga bukan ilmu pedang sembarangan, akan tetapi ilmu pedang yang ia warisi dari gurunya, Si Raja Pedang, tentu saja ia tidak mau menyerah mentah-mentah sehingga bagi Kim-thouw Thian-li juga tak begitu mudah untuk mendapatkan kemenangan dalam waktu singkat. Yang paling ramai adalah pertandingan antara Hek-hwa Kui-bo dengan Cia Li Cu. Harus diketahui bahwa nama Hek-hwa Kui-bo untuk daerah selatan merupakan nama seorang jagoan kelas satu yang tak pernah terkalahkan. Ilmu silatnya tinggi sekali.

Pada mulanya, sebetulnya ilmu kepandaian Hek-hwa Kui-bo bersumber kepada keahlian tenaga Thai-yang. Sesudah kepandaiannya ini diturunkan kepada Kim-thow Thian-li yang menjadi Ketua Ngo-lian-kauw, maka perkumpulan itu pun turut terkenal dengan keahlian tentang Thai-yang pula.

Belum lama ini dia sudah dapat merampas kitab Im-sin Kiam-sut dan telah menguasainya. Sayang, tenaganya bersumber kepada Yang-kang, sedangkan Im-sin Kiam-sut bersumber kepada Im-kang, maka ilmu pedangnya yang paling akhir dan paling hebat ini pun tidak bisa mencapai puncaknya. Walau pun demikian, Ilmu silat aliran selatan sudah dikuasai Hek-hwa Kui-bo, ditambah lagi pengalamannya yang puluhan tahun, maka kehebatannya bukan main.

Di lain pihak, lawannya adalah Cia Li Cu, puteri tunggal Raja Pedang Tanpa Tanding Cia Hui Gan yang memiliki ilmu pedang keturunan dari pendekar wanita Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Harus diketahui bahwa ilmu pedang keturunan dari Ang I Niocu disebut Sian-li Kiam-sut sesungguhnya masih satu sumber dengan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut dan Yang-sin Kiam-sut, karena kesemuanya itu asalnya adalah ilmu-ilmu ciptaan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su.

Sebagai puteri tunggalnya, tentu saja Cia Li Cu telah mewarisi kepandaian ayahnya, maka biar pun usianya masih amat muda, namun ilmu pedangnya sudah hebat sekali. Kini menghadapi permainan pedang Im-sim Kiam-sut dari Hek-hwa Kui-bo, ia dapat melayani dengan baik. Hebat sekali pertandingan antara nenek dan gadis remaja ini. Hek-hwa Kui-bo mempergunakan sebatang pedang dan dibantu pula dengan sapu tangan suteranya yang beraneka warna itu, yang kehebatannya tak kalah oleh pedang di tangan kanannya. Akan tetapi Cia Li Cu justru mempergunakan sebatang pedang pusaka yang ampuh, yakni pedang pusaka Liong-cu-kiam yang pendek.

Di dalam cerita Raja Pedang sudah diceritakan bahwa Liong-cu Siang-kiam sebetulnya merupakan sepasang pedang, yang sebatang panjang dan ada ukiran huruf ‘Jantan’, sedangkan yang ke dua pendek dengan ukiran huruf ‘Betina’. Tadinya sepasang pedang itu berada di tangan mendiang Lo-tong Souw Lee, seorang pendekar tua yang pernah diangkat guru oleh Tan Beng San, akan tetapi kemudian terjatuh ke dalam tangan Cia Li Cu.

Pada pertemuan puncak di Thai-san, sepasang pedang itu dapat dirampas kembali oleh Tan Beng San, akan tetapi kemudian oleh kakak kandungnya, Tan Beng Kui, sepasang pedang itu diminta atau dipinjam karena pedang-pedang itu menjadi lambang perjodohan antara dia dan Li Cu. Beng San memberikan pedang-pedang itu sebagai pinjaman selama tiga tahun.

Sekarang yang berada di tangan Cia Li Cu dalam menghadapi Hek-hwa Kui-bo adalah pedang yang pendek, yaitu yang Betina. Pada jaman dahulu pedang ini adalah pedang pusaka pegangan Pendekar Bodoh, maka hebatnya bukan kepalang. Selain tajam, juga keras dan dapat mematahkan segala macam baja, lagi pula ampuhnya bukan kepalang.

Dua orang ini yang termasuk orang-orang pemilik ilmu silat tinggi, bertempur sampai tidak kelihatan lagi orangnya. Sinar pedang mereka bergulung-gulung membungkus bayangan tubuh mereka sehingga yang tampak hanyalah gulungan sinar pedang di antara bayangan merah dari pakaian Li Cu diselingi bayangan pelangi beraneka warna yang ditimbulkan oleh gerakan sapu tangan sutera di tangan Hek-hwa Kui-bo!

Setelah ratusan jurus berlangsung cepat sekali antara Hek-hwa Kui-bo dan Cia Li Cu, keduanya merubah permainan, kini tidak secepat tadi, bahkan sangat lambat. Gerakan mereka seperti orang berlatih saja, lambat-lambat sekali sehingga mudah diikuti pandang mata siapa pun juga. Akan tetapi jangan salah sangka, pertempuran yang berjalan lambat ini sesungguhnya malah merupakan pertandingan yang jauh lebih hebat dari pada tadi ketika mereka lenyap dibungkus gulungan sinar senjata mereka. Pertempuran lambat-lambat ini justru berupa pertandingan mati-matian di mana kedua orang itu mengeluarkan seluruh kepandaian asli mereka disertai tenaga dalam yang paling kuat untuk merobohkan lawan.

Beberapa kali senjata mereka hampir mengenai tubuh lawan dan setiap kali pedang Li Cu bertemu dengan sapu tangan sutera, terjadi getaran hebat dan dua macam senjata itu seakan-akan menempel dan saling sedot. Setelah bertempur seperti ini keduanya harus mengakui bahwa mereka masing-masing memiliki keunggulan. Li Cu ternyata memiliki ilmu silat yang lebih murni, sebaliknya dalam hal tenaga dalam, ia kalah kuat oleh nenek tokoh persilatan dari selatan itu.

Karena merasa sangat penasaran, mendadak Li Cu melakukan tekanan dengan pedang Liong-cu-kiam, menggores ke arah ulu hati lawan sambil mengeluarkan suara dari perut. Pedangnya perlahan-lahan sekali melakukan gerakan goresan dari kiri ke kanan, sedikit memutar ke atas. Bukan main hebatnya serangan ini karena dilakukan dengan tenaga sepenuhnya. Jangan kira bahwa serangan yang amat lambat ini akan dapat dihindarkan dengan mengelak, karena yang berbuat demikian dan mengira bahwa serangan itu amat lambat, maka akan celakalah. Pukulan yang penuh mengandung hawa karena daya tenaga dalam itu biar pun lambat namun angin pukulannya saja sudah cukup untuk mencelakakan musuh, apa lagi mempunyai perubahan yang bukan main banyak lagi berbahaya. Ujung pedang di tangan Li Cu kelihatannya meluncur lambat, namun ujungnya tergetar menyilaukan dan sukar dilihat bagaimana perkembangan selanjutnya.

Hek-hwa Kui-bo tentu saja maklum akan kehebatan serangan ini sungguh pun dia tidak tahu bahwa gerak tipu ini adalah jurus Sian-li-hut-si (Sang Dewi Mengebutkan Kipas) dan tidak tahu pula apa pecahannya. Ia hanya tahu bahwa kali ini lawannya yang muda itu mengeluarkan gerak tipu yang amat berbahaya. Ia tidak berani menangkis dengan pedangnya, takut kalau-kalau pedangnya biar pun juga pedang yang ampuh, tidak akan kuat menandingi keampuhan Liong-cu-kiam. Maka ia lalu menggerakkan senjatanya di tangan kiri yaitu sapu tangan sutera yang beraneka warna itu.

Jangan memandang rendah sapu tangan sutera yang halus lembek dan lebar ini. Biar pun kelihatannya beraneka warna dan indah seperti pelangi serta harum pula baunya, entah sudah berapa banyak nyawa diantarkan pulang oleh sapu tangan ini! Biar pun demikian halus dan lembek, namun sekali menotok jalan darah dengan ujung sapu tangan, atau sekali mengebut kepala orang, Hek-hwa Kui-bo sanggup membunuh orang itu!

Pedang Liong-Cu-kiam terlibat oleh sapu tangan itu, tak dapat ditarik kembali sedangkan pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo secara tiba-tiba sekali menyambar dari kanan ke kiri menyerampang sepasang kaki Li Cu. Jika terkena sambaran ini, kiranya kedua kaki Li Cu sebatas lutut akan menjadi buntung. Pedang di tangan Li Cu masih terlibat sapu tangan sedangkan sekarang lawannya menyerang dengan pedang, sungguh keadaan yang amat sulit.

Namun, gadis ini biar pun masih muda belia, kepandaiannya sudah hebat sekali. Melihat gerakan lawan, sebelum pedang bergerak ia sudah tahu bahwa ia akan diserang bagian kakinya. Li Cu maklum bahwa ketika menggerakkan pedang menyerangnya, tentu tenaga tangan kiri Hek-hwa Kui-bo yang memegang sapu tangan itu akan berkurang.

Maka ia mengerahkan tenaga dikumpulkan di tangan kanan, dan pada saat pedang lawan menyambar ke arah kedua lututnya, gadis perkasa ini menggenjot kakinya meloncat ke atas sambil membetot pedangnya. Gerakan ini selain cepat dan tidak terduga, juga amat kuatnya.

"Brettt!"

Sapu tangan yang melibat pedang itu terputus menjadi dua dan kedua kaki Li Cu selamat, terluput dari pada ancaman pedang yang ganas tadi!

"Kurang ajar, kau merusak sapu tanganku?" Hek-hwa Kui-bo membentak marah.

Akan tetapi Li Cu tak memberi kesempatan lagi padanya. Gadis ini segera mengerahkan ginkang-nya dan melakukan serangan bertubi-tubi mengandalkan kegesitan dan kelihaian Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut. Pedang tunggal di tangannya itu seakan-akan berubah menjadi puluhan batang, sinarnya berkeredepan dan bergulung-gulung bagai mengeroyok Hek-hwa Kui-bo. Nenek ini juga marah sekali. Meski pun sapu tangannya tinggal sepotong, namun tidak dibuangnya dan masih ia pergunakan untuk membantu pedangnya melakukan serangan-serangan balasan.

Tiba-tiba Li Cu terkejut mendengar keluhan Thio Ki dan melihat orang muda itu terhuyung-huyung. Ternyata dadanya telah kena dihantam oleh suling di tangan Giam Kin sehingga pedang yang dipegangnya terlepas dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Sambil tertawa-tawa Giam Kin menendang lututnya maka robohlah Thio Ki.

"Bunuh dia, bikin mampus saja!" seru Kim-thouw Thian-li girang.

Giam Kin masih tertawa-tawa ketika ia meloncat maju dan menusukkan sulingnya ke arah kepala Thio Ki. Pasti akan berlubang kepala orang muda itu kalau terkena tusukan ini. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar putih diikuti bayangan merah.

"Trangggg!"

Ujung suling Giam Kin patah terbabat pedang Liong-cu-kiam yang tadi cepat digerakkan oleh Li Cu dalam usahanya menolong nyawa Thio Ki! Giam Kin terkejut, cepat meloncat mundur dan segera Hek-hwa Kui-bo yang tadi ditinggalkan Li Cu sudah mengejar pula, lalu saling serang dengan gadis perkasa itu. Thio Ki yang sudah terluka parah tubuhnya bergulingan di atas genteng, terus terguling ke bawah dan baiknya tidak sampai terjatuh dari atas, akan tetapi terhenti oleh wuwungan sebelah bawah.

"Enci Kim Li, jangan kau bunuh Si Manis itu! Biar kau berikan kepadaku...ha-ha-ha!" Giam Kin tertawa-tawa untuk menutupi malu dan kagetnya ketika ujung sulingnya terbabat oleh pedang Li Cu tadi.

Mendengar ini, Li Cu gelisah sekali, apa lagi pada saat ia mengerling, ia melihat betapa suci-nya sekarang sedang dikeroyok dua, payah sekali keadaannya. Memang demikianlah. Menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang saja sudah sangat berat bagi Lee Giok. Sungguh pun selama itu dia masih mampu melindungi dirinya dan terus bertahan, namun sama sekali dia sudah tidak mampu untuk balas menyerang. Sekarang melihat suaminya terluka dan roboh, hatinya semakin risau dan bingung, apa lagi setelah Giam Kin ikut maju mengeroyoknya sambil nyengar nyengir dan mengeluarkan kata-kata memuakkan.

"Trangg... tranggg....!"

Pedang di tangan Lee Giok terlepas dan jatuh ke atas genteng dengan bunyi berisik ketika pedang itu secara serentak digempur dari kanan kiri oleh golok Kim-thouw Thian-li dan suling buntung Giam Kin. Nyonya muda itu kini sudah tidak bersenjata lagi!

"Ha-ha-ha, Enci Kim Li, kurasa lebih baik kau membantu gurumu mengalahkan bidadari Thai-san itu, biarlah janda muda ini aku yang melayaninya..."

Kim-thouw Thian-li memang sudah menguatirkan gurunya, maka dia segera meloncat dan ikut mengeroyok Li Cu. Ada pun Lee Giok dengan muka merah dan dada panas hampir terbakar menghadapi Giam Kin. Suaminya terluka dan kini ia dihina, disebut janda muda. Hati siapa yang tak akan sakit?

"Manusia berwatak iblis! Binatang busuk, hari ini aku Lee Giok hendak mengadu nyawa denganmu!" teriak Lee Giok.

Ia pun cepat menubruk maju sambil menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah ulu hati lawan, disusul tendangan yang ditujukan ke arah pusar. Kedua serangan susul menyusul ini merupakan serangan maut yang nekat sekali karena dengan melakukannya, Lee Giok sebetulnya juga telah ‘membuka’ beberapa bagian tubuhnya menjadi tidak terlindung lagi.

Namun dia sudah tidak peduli lagi karena saking marah dan putus asanya. Nyonya muda ini betul-betul sudah berlaku nekat dan ingin membunuh lawannya. Namun sayang sekali bagi Lee Giok, lawannya terlampau kuat baginya. Tingkat kepandaiannya kalah jauh kalau dibandingkan dengan Giam Kin, murid tunggal dari Siauw-ong-kwi, tokoh pertama dari utara itu.

Dengan tertawa mengejek Giam Kin bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Lee Giok yang memukul ulu hatinya, sambil dia menggeser kakinya mengelakkan tendangan. Kemudian, sebelum nyonya muda itu sempat meronta, Giam Kin sudah menotok jalan darahnya membuat Lee Giok tak dapat berkutik lagi.

"Ha-ha-ha-ha, Enci Kim Li dan Hek-hwa Locianpwe, aku akan pergi lebih dahulu saja...!" katanya sambil memondong tubuh Lee Giok dan membawanya lari pergi dari tempat itu!

"Bangsat Giam Kin, lepaskan suci-ku!" bentak Cia Li Cu marah sekali melihat Lee Giok hendak diculik.

Akan tetapi Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li menghadangnya dan tidak memberi kesempatan sama sekali pada dara itu untuk melakukan pengejaran terhadap Giam Kin. Bukan main marahnya Li Cu ketika melihat betapa Giam Kin telah menghilang di dalam gelap sambil membawa pergi Lee Giok. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa kerena dia sendiri sedang didesak hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Ternyata bahwa selama ini Kim-thouw Thian-li telah menerima latihan-latihan dari gurunya sehingga kepandaiannya sudah meningkat cepat. Maka agak repot juga Li Cu dikeroyok dua oleh guru dan murid ini.

"Lepaskan Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Kembang)!" mendadak Hek-hwa Kui-bo berseru kepada muridnya.

Dua orang guru dan murid itu gemas juga ketika menghadapi kenyataan bahwa biar pun mereka mengeroyok, tetap saja ilmu pedang yang dimainkan Cia Li Cu tak dapat mereka gempur dan pecahkan. Oleh karena itu, sekarang tiba-tiba mereka menggerakkan tangan kiri berulang-ulang. Li Cu kaget sekali. Gadis ini cukup maklum akan bahayanya senjata rahasia yang keji dari kedua orang lawannya ini. Dia maklum bahwa Kim-thouw Thian-li sudah sangat terkenal dengan racun kembang yang menjadi keistimewaan Ngo-lian-kauw.

Maka ia pun segera menutar pedangnya dengan gerakan yang disebut Sian-li Thouw-so (Sang Dewi Menenun). Runtuhlah belasan batang jarum halus yang dilepas oleh kedua orang lawannya itu. Akan tetapi sekarang kedudukan Li Cu menjadi lemah sekali karena ia harus menghadapi serangan serta desakan dua orang lawannya itu sambil menjaga kalau-kalau masih ada pelepasan senjata rahasia lagi. Ia mulai terdesak dan mulai dipaksa mundur!

Pada saat yang sangat berbahaya bagi diri Li Cu itu, mendadak dari bawah berkelebat bayangan orang. Gerakannya demikian ringan laksana seekor burung terbang saja dan begitu tiba di atas genteng, orang ini lantas berseru,

“Kim-thouw Thian-li dan gurunya, di mana-mana mengacau saja!”

Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tidak dapat melihat jelas siapa adanya orang yang datang ini, akan tetapi Cia Li Cu biar pun selama hidupnya baru dua kali bertemu dengan orang ini, masih mengenal suara dan diam-diam dia menjadi girang sekali. Wajahnya tiba-tiba berubah merah dan dadanya berdebar, akan tetapi ia tidak mau mengeluarkan suara apa pun melainkan terus mendesak dua orang lawannya seolah-olah tak tahu akan datangnya bala bantuan.

Hek-hwa Kui-bo marah sekali karena tadinya dia dan muridnya sudah mulai mendesak hebat kepada Li Cu. Datangnya orang ini merupakan gangguan besar, maka cepat dia mengggerakkan pedangnya membacok kepala orang yang baru datang sedangkan sapu tangannya yang tinggal sepotong itu pun diarahkan ke arah perut orang.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika potongnya hanya mengenai angin dan tlba-tiba saja sapu tangannya terbetot oleh orang itu hingga terlepas dari pegangannya! Hanya dengan tangan kosong orang itu dapat merampas sapu tangannya dan menghindarkan serangan pedangnya!

“Siapa kau?!” bentaknya marah.

“Hek-hwa Locianpwe, lupakah kau padaku? Aku tidak saja belum lupa kepada Locianpwe, malah tiga macam ilmu Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee yang kau ajarkan dahulu pun masih teringat baik olehku!”

Bukan main kagetnya Hek-hwa Kui-bo. Sekarang ia mengenal laki-laki muda ini.

“Beng san... Kau...?! Kim Li, hayo kita pergi.” Hek-hwa Kui-bo menarik tangan muridnya dan dua orang wanita itu maloncat lenyap di malam gelap.

Mengapa Hek-hwa Kui-bo nampaknya begitu takut kepada orang muda yang ternyata adalah Tan Beng San itu? Sebetulnya, Hek-hwa Kui-bo sudah mengenal Beng San sejak jago pedang ini masih kecil. Dalam cerita Raja Pedang sudah diceritakan dengan jelas betapa di waktu kecilnya saja Beng San sudah ‘menerima kebaikan’ dari Hek-hwa Kui-bo, yaitu diberi latihan Thai-hwee (Api Besar), Siu-hwee (Simpan Api) dan Ci-hwe (Keluarkan api), padahal tiga macam ilmu itu sebetulnya diberikan dengan niat untuk mencelakakan Beng San yang pada waktu itu tubuhnya telah penuh dengan tenaga Yang-kang sehingga ilmu ini bisa menewaskannya.

Kemudian setelah Beng San dewasa dan memiliki ilmu tinggi, Hek-hwa Kui-bo sudah pula melihat kepandaiannya ketika diadakan pertemuan memperebutkan gelar Raja pedang di Puncak Thai-san. Karena itu, kedatangan pemuda yang memiliki ilmu tinggi ini tentu saja membuat ia maklum bahwa melawan terus tidak akan ada gunanya sehingga ia segera mengajak muridnya lari saja.

Cia Li Cu baru dua kali selama hidupnya bertemu dengan adik dari suheng-nya ini, yaitu adik dari Tang Beng Kui. Akan tetapi dalam dua kali pertemuan itu ia mendapat kesan hebat akan diri Beng San, maka ketika tadi ia mengenai suaranya, hatinya menjadi girang sekali.

Anehnya, entah apa sebabnya, ia merasa malu juga bertemu dengan Beng San. Hal ini mungkin sekali karena ayahnya pernah menyatakan bahwa Beng San adalah ‘lebih baik’ dari pada Beng Kui yang menjadi tunangannya, atau mungkin ia merasa malu karena Beng San adalah adik Beng Kui. Entahlah, sesungguhnya bagaimana ia sendiri tidak tahu
sebabnya. Pokoknya ia merasa malu bertemu dengan Beng San.

Maka melihat dua orang lawannya kabur, Li Cu segera mengejar. Bukan hanya karena tidak ingin bertemu lama-lama dengan Beng San, akan tetapi terutama sekali karena ia hendak menolong suci-nya, Lee Giok yang sudah terculik oleh Giam Kin. Orang muda yang baru datang dan hanya dalam segebrakan saja sudah dapat mengusir orang-orang yang memusuhi keluarga Thio Ki itu, memang benar adalah Beng San, Si Raja Pedang. Seperti kita ketahui, orang muda ini dari Hoa-san-pai melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki untuk memberitahukan mengenai keadaan Hoa-san-pai yang dirusak oleh Kwa Hong.

Hati orang muda ini masih perih dan bukan main sedihnya setelah pertemuannya yang mengharukan dengan Kwa Hong di Hoa-san-pai itu. Pedih dan sakit rasa hatinya kalau ia teringat betapa perbuatannya dengan Kwa Hong dulu itu telah mengakibatkan terjadinya hal-hal yang demikian hebatnya. Kwa Hong telah mengandung dan hati wanita itu rusak binasa, membuatnya seperti gila kemudian berubah menjadi manusia yang ganas karena kepatahan hatinya. Dan semua itu karena dia!

Beng San melakukan perjalanan siang malam, maka ketika ia tiba di Sin-yang pada waktu malam, ia tidak berhenti dan langsung ia mencari rumah Thio Ki dan mengunjunginya. Memang segala hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan dan diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan manusia hanya memandangnya sebagai hal yang ‘kebetulan’ saja.

Demikian pula dengan munculnya Beng San malam-malam di rumah Thio Ki. Sungguh kebetulan sekali. Begitu melihat keadaan yang tidak sewajarnya, Beng San mencari tahu dan nampak olehnya pertempuran yang terjadi di atas genteng. Sayang ia agak terlambat sehingga tidak terlihat olehnya ketika Lee Giok terculik oleh Giam Kin.

Sekarang melihat bahwa Li Cu yang tadinya terdesak hebat oleh pengeroyokan guru dan murid itu dengan nekat mengejar, hatinya menjadi gelisah. Dia sudah kenal baik dengan kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang curang dan amat licin itu, penuh tipu daya dan muslihat busuk. Maka ia berkuatir kalau-kalau Cia Li Cu yang meski pun amat lihai namun tentu kalah licin itu akan terjebak.

Segera Beng San menggerakkan kaki hendak mengejar pula. Akan tetapi tiba-tiba saja ia mendengar suara mengeluh kesakitan tidak jauh dari tempat dia berdiri. Pada waktu dia menghampiri, dia melihat Thio Ki rebah dalam keadaan terluka. Segera Beng San memondongnya dan membawanya turun ke bawah. Di ruangan dalam, di bawah penerangan lampu, Beng San memeriksa luka Thio Ki. Memang hebat, akan tetapi tidak amat berbahaya.

Di Puncak Min-san, sedikit banyak Beng San sudah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun, maka di dalam perjalanannya ia pun membawa obat-obat manjur untuk mengobati luka-luka pukulan dan racun. Setelah ia menotok jalan darah, mengurut dan memberi obat, Thio Ki dapat bangun dan duduk kembali.

"Saudara Beng San...," katanya mengeluh, "baiknya kau datang... tapi bagaimana dengan isteriku...? Bagaimana pula dengan Adik Cia Li Cu?"

"Isterimu? Aku tidak melihatnya tadi. Ketika aku datang, Nona Cia sedang bertempur dan dikeroyok dua oleh Hek-hwa Kui-bo bersama muridnya."

Thio Ki meloncat berdiri. "Celaka! Dan kau tidak melihat isteriku? Tidak pula melihat Giam Kin?"

Beng San menggeleng kepala dan Thio Ki segera menjatuhkan diri di atas pembaringan. "Celaka.... celaka sekali... tentu Lee Giok telah diculik oleh penjahat iblis itu..."

Beng San adalah seorang yang amat cerdik. Sekilas saja ia sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Tentu Giam Kin menawan Lee Giok. Pantas saja tadi Li Cu sama sekali tidak rnenghiraukannya dan terus mengejar. Kiranya gadis Thai-san itu hendak menolong suci-nya. Ia mengambil keputusan cepat.

"Dengar, Thio-twako. Kedatanganku ini pun membawa berita penting sekali. Sekarang kita harus bertindak tegas dan cepat. Ketahuilah, Hoa-san-pai sudah dirusak oleh sumoi-mu, Kwa Hong. Gurumu terbunuh, Kwa Hong menduduki Hoa-san-pai. Sekarang sudah pergi dan Hoa-san-pai dalam keadaan kacau tidak ada yang mengurus. Sute-mu Kui Lok dan adikmu Thio Bwee juga diusir oleh Kwa Hong. Maka, biar pun kau terluka, kau sekarang juga harus pergi ke Hoa-san-pai, kau urus Hoa-san-pai baik-baik sambil beristirahat dan menyembuhkan lukamu. Obat ini kau bawa, harus kau minum sehari sebungkus. Tentang isterimu dan Nona Li Cu, biarlah aku yang mewakilimu melakukan pengejaran. Sudah mengertikah kau?"

Wajah Thio Ki sebentar pucat sebentar merah. Tak disangkanya bahwa akan terjadi hal yang demikian hebat, tidak saja yang menimpa keluarganya sendiri, malah Hoa-san-pai tertimpa mala petaka lebih parah lagi. Ia hanya bisa mengangguk-angguk, karena selain Beng San, siapakah yang akan dapat menolong isterinya?

"Sudah, aku pergi!" kata Beng San dan sekali berkelebat orang muda itu sudah lenyap dari depan Thio Ki, membuat orang ini kagum bukan main. Thio Ki juga tak mau berlama-lama di rumah. Pada keesokan harinya pagi-pagi ia sudah pergi memaksa diri menuju ke Hoa-san-pai…..

**********

Cia Li Cu yang melakukan pengejaran, tidak melihat lagi adanya Giam Kin dan tidak tahu ke mana suci-nya dibawa lari oleh manusia iblis itu. Maka karena yang lari di depannya hanyalah Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, mau tidak mau ia hanya dapat mengikuti dua orang itu. Dia tidak mau segera turun tangan terhadap Hek-hwa Kui-bo dan muridnya karena tujuan utamanya adalah untuk menolong suci-nya. Maka, diam-diam ia hanya mengikuti dari jauh karena ia mengira bahwa kedua orang itu tentu akan membawanya ke tempat Giam Kin yang menculik Lee Giok.

Sungguh di luar dugaan Li Cu sama sekali bahwa tujuan perjalanan dua orang guru dan murid itu sama sekali berlawanan arah dengan jalan yang ditempuh oleh Giam Kin yang menculik Lee Giok! Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li berlari menuju ke selatan, ke tempat tinggal Kim-thouw Thian-li, yaitu di Propinsi An-hui, di lembah Sungai Huai.

Sejak para pejuang berhasil merobohkan pemerintah Mongol, ibu kota lalu dlpindahkan ke Nan-king. Diam-diam Kim-thouw Thian-li juga lalu memindahkan pusat perkumpulannya, yaitu Ngo-lian-kauw, ke lembah Sungai Huai, tidak jauh dari kota raja baru ini, di sebelah baratnya. Perkumpulannya berpusat di sebelah utara kota Ho-pei. Guru dan murid ini memang tadinya hanya bermaksud membunuh Lee Giok dan Thio Ki, dibantu oleh Giam Kin.

Sekarang mereka sudah berhasil melukai Thio Ki, juga Lee Giok telah diculik oleh Giam Kin. Berarti usaha mereka itu sudah berhasil baik sekali biar pun mendapat tantangan dari orang-orang pandai seperti Cia Li Cu dan Tan Beng San. Setelah mengikuti perjalanan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li selama lima hari, mulailah hati Li Cu menjadi gelisah serta curiga. Apalagl ketika dia mendapat kenyataan bahwa guru dan murid itu sekarang tidak lari lagi, dan agaknya melakukan perjalanan dengan tidak tergesa-gesa.

Ia merasa amat kuatir tentang diri suci-nya. Ia mengambil keputusan bahwa kalau hari itu kedua orang yang diikutinya tidak membawanya kepada Giam Kin, dia akan menerjang dengan nekat dan memaksa mereka mengaku ke mana suci-nya itu dibawa pergi.

Akan tetapi, lewat tengah hari itu Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tiba di sebuah dusun kecil di pinggir Sungai Huang-ho (Sungai Kuning). Alangkah mendongkolnya hati Li Cu ketika ia mendengar dua orang itu hendak menyewa perahu untuk pergi ke pantai Kui-feng. Jelas bahwa dua orang ini hendak terus melakukan perjalanan ke selatan.

Diam-diam dia lalu menyelidiki dusun itu. Dia bertanya-tanya kepada para tukang perahu kalau-kalau dalam beberapa hari ini di situ lewat seorang laki-laki muda bermuka pucat dan membawa seorang wanita muda. Ia mendapat jawaban bahwa tidak ada orang-orang yang ditanyakannya itu. Maka mulailah Li Cu mengerti bahwa ia telah salah kira. Agaknya dua orang yang diikutinya ini sama sekali tidak menuju ke tempat Giam Kin!

"Hek-hwa Kui-bo, tunggu dulu!" begitu bentaknya sambil berlari mendekati pada waktu ia melihat dua orang guru dan murid itu hendak naik ke dalam perahu.

Nenek itu menoleh dan tersenyum mengejek, "Bocah bandel! Kau mengikuti kami selama lima hari terus-menerus, mau apa sih?"

Bukan main mendongkol dan kagetnya hati Li Cu. Nenek ini benar-benar amat lihai dan bermata tajam. Akan tetapi Kim-thouw Thian-li menoleh dengan terheran-heran, agaknya tidak tahu akan perbuatannya mengikuti mereka siang malam itu.

"Hek-hwa Kui-bo, sahabatmu Giam Kin si iblis busuk itu telah menculik Enci Lee Giok. Aku mengikutimu untuk menanyakan di mana suci-ku itu dibawa pergi."

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek, "Kalau kau ada kemampuan, carilah sendiri, peduli apa aku dengan nasib suci-mu?"

"Kalau begitu, sebelum kubunuh iblis she Giam itu, lebih dahulu kau dan muridmu akan kubasmi!" bentak lagi Li Cu sambil mencabut pedangnya.

Pada saat itu, tiba-tiba saja terdengar suara bersuit keras sekali datangnya dari tengah sungai yang lebar itu. Semua tukang perahu dan nelayan yang berada di darat segera rnenjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah sungai. Keadaan menjadi sunyi senyap, sampai-sampai tiga orang yang tadinya akan bertempur itu ikut pula menengok ke arah suara tadi. Li Cu juga menunda penyerangannya dan memandang ke tengah sungai.

Sebuah perahu besar sekali dan mewah berada di tengah sungai. Dari kejauhan tampak beberapa orang di atas perahu itu memandang ke darat. Kemudian terdengar suara yang nyaring bergema, suara yang penuh dengan tenaga khikang, sehingga bisa didengar jelas sampai ke darat.

"Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Laut) mengundang Hek-hwa Kui-bo bersama Kim-thouw Thian-li untuk datang berkunjung ke tempat kediamannya!" Suara ini bergema di permukaan air sungai.

Li Cu tidak pernah mendengar nama Tiga Raja Sungai dan Laut ini, maka ia tidak ambil peduli. Akan tetapi tidak demikian dengan Hek-hwa Kui-bo dari Kim-thouw Thian-li.

Hek-Hwa Kui-bo merupakan seorang tokoh besar di selatan, maka sudah tentu saja ia mengenal nama besar Ho-hai Sam-ong. Kalau dia boleh dibilang merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan bagian daratan sebelah selatan, kiranya nama Ho-hai Sam-ong adalah nama tokoh nomor satu pula di bagian sungai dan laut!

Demikian pula Kim-thouw Thian-li. Dia sudah mengenal nama besar ini yang sudah amat terkenal dan amat berpengaruh, karena Ho-hai Sam-ong dianggap sebagai pemimpin dari sekalian bajak sungai dan bajak laut di daerah selatan ini.

Sebuah perahu kecil meluncur cepat sekali ke pinggir sungai dan di ujungnya berkibar sebuah bendera dengan gambar tiga macam binatang air yang menyerupai buaya, naga dan ikan cucut. Pendayungnya hanya dua orang, akan tetapi melihat betapa perahu itu cepat bukan main meluncurnya, dapat diketahui bahwa dua orang itu adalah orang-orang ahli.

"Tamu-tamu yang diundang, silakan turun ke perahu!" seorang di antara dua pendayung itu berkata. Mereka adalah dua orang lelaki yang usianya mendekati empat puluh tahun, bertubuh tegap dan bermuka keras.

Hek-hwa Kui-bo berpaling kepada muridnya, dan berkata sambil tersenyum, "Sam-ong sudah begitu baik hati mengundang kita, tak baik kalau kita menolaknya."

Setelah berkata demikian ia meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu kecil itu, diikuti oleh Kim-thouw Thian-li. Perahu itu sama sekali tidak bergoyang ketika kedua kaki Hek-hwa Kui-bo tiba di situ, dan hanya bergoyang sedikit ketika Kim-thouw Thian-li menyusul gurunya.

"Hek-hwa Kui-bo, jangan harap bisa pergi sebelum memberi tahu di mana adanya Giam Kin!" Li Cu membentak marah dan ikut pula melompat dengan gerakan indah dan cepat.

"Kau sudah bosan hidup!"

Hek-hwa Kui-bo menyambut dengan serangan pedangnya pada waktu tubuh Li Cu masih berada di udara. Akan tetapi Li Cu memang sudah siap sedia. Pedang Liong-cu-kiam sudah di tangannya dan cepat pedang ini ia putar sedemikian rupa mendahului tubuhnya sehingga serangan Hek-hwa Kui-bo tertangkis dengan suara nyaring dan... ujung pedang Hek-hwa Kui-bo telah patah! Sementara itu, Li Cu sudah mendarat di atas perahu, siap menghadapi pengeroyokan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li.

Pada saat itu, kembali terdengar suara suitan keras dari perahu besar di tengah sungai. Dua orang pendayung perahu kecil yang sudah menggerakkan perahu itu meluncur ke tengah, segera berhenti mendayung dan berkata,

"Nona muda ini pun menjadi tamu undangan yang terhormat. Sam-wi (kalian bertiga) tidak boleh bertempur!"

Akan tetapi, mana Li Cu sudi mendengarkan omongan ini? Sekarang bukan lagi guru dan murid itu yang menyerangnya, sebaliknya dia yang cepat menggerakkan pedang untuk menyerang. Dara cantik ini sudah nekat sekali dalam usahanya untuk memaksa mereka memberi tahu di mana adanya Giam Kin yang menculik Lee Giok.

Padahal perahu itu amat kecil dan kiranya akan terguling kalau dipakai untuk bertempur. Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang berdiri berdampingan, terpaksa menyambut serangan ini dan dua orang tukang perahu itu menjadi bingung dan marah.

"Sam-wi tidak boleh bertempur!" berkali-kali mereka berseru.

Perahu itu mulai terombang-ambing. Namun yang bertempur tetap nekat.

"Kalau tidak mau berhenti, kami akan gulingkan perahu!" kata dua orang pendayung.

Sementara itu, para nelayan dan tukang perahu yang berada di pinggir sungai menonton kejadian yang menarik ini tanpa berani mengeluarkan suara. Akan tetapi Li Cu tetap tidak mau berhenti menyerang. Dua orang tukang pendayung itu lalu meloncat ke dalam air dan sekali mereka bergerak, perahu kecil itu sudah terguling! Hebat bukan main kegesitan tiga orang wanita ini dan ginkang (ilmu meringankan tubuh) mereka memang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Sambil berseru keras ketiganya meloncat ke atas. Perahu membalik, dan tiga orang itu sudah turun kembali, kini berdiri di atas perahu yang terbalik!

Dari pinggir sungai terdengar seruan-seruan memuji. Memang indah dan hebat gerakan mereka, seperti tiga ekor burung saja. Akan tetapi sekarang tiga orang wanita ini tidak berani sembarangan bergerak menyerang lagi karena perahu yang terbalik itu sudah bergoyang-goyang hebat, dan pasti mereka akan celaka kalau terjatuh ke dalam air.

Li Cu berdiri di satu ujung dengan pedang siap di tangan, sedangkan di ujung yang lain berdiri guru dan murid itu, juga siap dengan senjata di tangan. Ada pun dua orang tukang perahu itu sambil menyelam lalu berenang dan menarik perahu kecil itu menuju ke perahu besar. Benar-benar keadaan yang amat lucu dan aneh kedatangan tiga orang tamu yang diundang ini!

Li Cu maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Dia tidak mengenal siapa itu Ho-hai Sam-ong dan karena tiga raja itu mengenal Hek-hwa Kui-bo, sudah tentu sekali mereka adalah orang-orang jahat dan ia tentu akan menghadapi pengeroyokan hebat. Oleh sebab inilah maka ia berlaku nekat.

Begitu perahu kecil sudah mendekat dengan perahu besar itu, Li Cu mengenjot tubuhnya dan bagai seekor burung kepinis tubuhnya melayang ke atas perahu besar. Di depannya bergulung-gulung sinar pedang yang ia putar-putar untuk menjaga diri. Tiga orang laki-laki yang berpakaian gagah sudah berada di depannya sambil tertawa dan mengangkat tangan memberi hormat. Seorang di antara mereka yang paling tua sambil tersenyum lalu berkata,

"Nona muda berkepandaian hebat bukan main. Kami kagum sekali... kagum sekali. Atas desakan Kiang-te (Adik Kiang) yang sungguh-sungguh kagum terhadap Nona, maka kami sengaja mengundang Nona dengan baik-baik. Sekarang harap Nona sudi menyimpan kembali pedang pusaka itu."

Li Cu hanya berdiri tegak, tidak mau menyimpan pedangnya, tetap dalam keadaan siap siaga. Sementara itu, tiga orang itu pun berpaling kepada Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang sudah meloncat pula ke atas perahu lalu memberi hormat dan berkata,

"Sudah lama mendengar nama besar Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, maka hari ini kami sengaja mengundang Ji-wi. Nona ini juga menjadi tamu kami, maka harap Ji-wi tidak memusuhinya selama dia menjadi tamu undangan kami."

Hek-hwa Kui-bo membalas penghormatan mereka sambil berkata, "Sudah lama pula kami mendengar nama besar Sam-ong. Hari ini menerima kehormatan dan undangan, hal ini berarti tidak melupakan hubungan dunia kang-ouw di daerah selatan. Tentu saja aku dan muridku tidak akan mengacaukan tempat Sam-ong, kecuali kalau Nona muda galak ini menyerang kami, terpaksa kami mempertahankan diri."

"Hek-hwa Kui-bo, apakah kau begini pengecut?" Li Cu membentak marah. "Mengapa kau berlindung di tempat orang? Kalau kau memang gagah, marilah kita mendarat dan kita melanjutkan pertempuran."

Orang tertua dari ketiga Sam-ong itu segera menghadapi Li Cu dan berkata, suaranya tetap halus, "Nona, harap kau suka memandang muka kami dan tidak memusuhi kedua orang tamu kami ini. Kelak kalau kau sudah tidak bersama kami, terserah."

"Aku tidak mengenal kalian, akan tetapi aku pun tahu akan peraturan kang-ouw dan tidak akan mengacaukan tempat kalian ini. Biarlah aku mendarat saja dan menanti sampai dua orang pengecut ini berani mendarat pula."

"Ha-ha-ha, Nona muda, besar sekali nyalimu. Hek-hwa Kui-bo sebagai tokoh terkenal di dunia selatan, masih sungkan menolak undangan kami. Sekarang kami mengundang kau dengan maksud baik, bagaimana kau bisa menolaknya?"

Pedang di tangan Li Cu menggetar. Memang dia adalah seorang gadis muda yang amat berani, apa lagi ilmu silatnya memang tinggi sekali dan waktu itu dia memang sedang berada dalam keadaan marah. Sama sekali ia tidak gentar meski pun ia berada di tempat orang lain.

"Mana ada aturan mengundang orang dengan cara memaksa? Aku bebas merdeka untuk menerima atau menolak setiap undangan dan kali ini aku tidak ingin menerima undangan siapa pun juga. Lekas sediakan perahu agar aku dapat mendarat kembali!"

Kini orang ke tiga dari tiga orang itu melangkah rnaju. Suaranya tinggi kecil dan matanya yang sipit itu bercahaya tajam. Hebat warna matanya yang sipit itu, karena warnanya merah seperti orang yang sedang sakit mata.

"Nona, apakah kau belum pernah mendengar nama Ho-hai Sam-ong maka kau berani menolak undangan kami?"

Li Cu balas memandang, tidak berani lama-lama menentang mata yang merah itu karena sebentar saja ia merasa matanya sakit. Tapi ia masih tabah dan tersenyum mengejek. "Belum pernah mendengar sama sekali, akan tetapi andai kata pernah mendengar juga, jangankan baru Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Lautan), meski Thian-te Sam-ong (Tiga Raja Bumi Langit) yang mengundang, sekali aku bilang tidak mau tetap tidak mau!"

Orang ke dua melangkah maju dan tertawa bergelak. Seperti dua orang yang lain, orang ke dua ini pun usianya sudah lima puluh tahun, akan tetapi dia adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah.

"Ha-ha-ha-ha, masih begini muda namun hebat kepandaiannya, dan ketabahannya luar biasa. Ehh, Nona manis, kau ini puteri siapakah dan siapa pula namamu?"

Kini Li Cu mendapat kesempatan untuk membanggakan keadaannya. Dengan senyum mengejek dan suara nyaring dia lalu berkata, "Aku dari Thai-san. Ayahku adalah Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tanpa Tanding) Cia Hui Gan, namaku sendiri Cia Li Cu. Hayo lekas antar aku mendarat."

Tiga orang itu saling pandang, lalu tertawa bergelak-gelak. Li Cu menjadi heran dan dia mulai memperhatikan mereka...


BERSAMBUNG KE Rajawali Emas Jilid 04