Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJA PEDANG JILID 11

Sudah amat lama kita meninggalkan Kwa Hong, gadis cilik putera tunggal Kwa Tin Siong, bocah mungil yang lincah gembira itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwa Hong diantar oleh Koai Atong menuju ke Hoa-san-pai menyusul ayahnya.

Biar pun usia Koai Atong sudah sebaya dengan Kwa Tin Siong, kurang lebih empat puluh tahun, namun orang ini memang tidak normal jiwanya, dan wataknya kadang-kadang atau sering kali seperti seorang kanak-kanak sebaya Kwa Hong.

Oleh karena wataknya inilah maka Kwa Hong merasa amat senang melakukan perjalanan bersama seorang teman yang cocok dan baik lagi lucu. Di samping ini, juga kelihaian Koai Atong merupakan jaminan bagi keselamatannya.

Seperti juga di partai-partai persilatan besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, juga puncak Hoa-san ini merupakan pusat Hoa-san-pai yang ditinggali oleh banyak anak murid Hoa-san-pai. Mereka adalah tosu-tosu yang selain mempelajari ilmu silat sekedarnya, juga terutama sekali mempelajari ilmu kebatinan yang diturunkan oleh Nabi Locu. Di bawah bimbingan Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai, para tosu ini rata-rata memiliki kesabaran besar dan bisa menjaga nama baik Hoa-san-pai sebagai orang-orang beribadat.

Kedatangan Kwa Hong menggirangkan para tosu yang menjaga di luar. Mereka ini tentu saja sudah mengenal baik puteri tunggal Kwa Tin Siong yang sering mengajak anaknya mengunjungi Hoa-san. Akan tetapi para tosu ini pun terheran-heran melihat orang yang datang bersama Kwa Hong, seorang laki-laki tinggi besar berusia empat puluh tahun akan tetapi cengar-cengir dan ikut berlari-larian di samping Kwa Hong yang seorang anak kecil!

"Supek (Uwa Guru) sekalian! Aku datang menyusul ayah. Di mana ayah dan bibi guru?" Datang-datang Kwa Hong berteriak-teriak kepada para tosu itu.

Tiga orang tua menghampiri Kwa Hong sambil tersenyum, "Ayahmu dan bibi gurumu tidak berada di sini, belum kembali. Lebih baik segera pergi menghadap kakek gurumu, Hong Hong." Para tosu itu biasa memanggil Kwa Hong dengan sebutan Hong Hong dan mereka amat menyayang bocah yang mungil dan selalu gembira ini.

Memang, di antara para cucu murid Lian Bu Tojin, hanya Kwa Hong yang paling sering berdiam di puncak itu karena dia amat dimanja oleh ayahnya dan sering diajak ikut pergi mengembara bersama ayahnya. Kwa Hong berlari sambil tertawa-tawa hendak memasuki bangunan besar berbentuk kelenteng untuk menghadap sukong-nya (kakek gurunya).

"Enci Hong, jangan tinggalkan aku! Aku ikut!" Koai Atong juga lari mengejar.

"Hong Hong, kenapa kau bawa-bawa orang tolol ini? Ehh, orang gila, jangan kurang ajar kau. Tidak boleh masuk!" Tiga orang tosu itu tentu saja hendak melarang Koai Atong yang seenaknya saja hendak memasuki kelenteng itu. Mereka melangkah maju menghadang dan membentangkan kedua lengan menghalanginya.

"Aku mau ikut Enci Hong... melihat-lihat kelenteng!" Koai Atong membantah dan lari terus.

Tiga orang tosu itu menggerakkan tangan untuk memegangnya. Koai Atong bergerak aneh dan... tahu-tahu dia telah dapat menyelinap masuk, lolos dari tangkapan tiga orang tosu itu.

Tentu saja tiga orang tosu ini saling pandang dengan mulut melongo. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan Koai Atong, tidak tahu bagaimana orang itu dapat meluputkan diri dari cengkeraman tiga orang dan tahu-tahu sudah menyelonong masuk. Dari heran mereka menjadi malu dan marah.

"Otak miring, perlahan jalan. Kau tidak boleh masuk!" bentak mereka sambil lari mengejar.

Sekarang mereka mengambil keputusan untuk tidak bersikap lemah lagi, dan kalau perlu orang gila itu harus dipukul. Akan tetapi ketika mereka maju untuk mencengkeram dan memukul, tanpa menoleh Koai Atong menggerakkan kedua lengannya ke arah belakang. Sekaligus dia menangkis tangan tiga orang tosu itu dan... tiga orang tosu itu terjengkang dan roboh!

Hal ini terlihat oleh beberapa orang tosu lain. Mereka menjadi marah dan bersama tiga orang tosu pertama yang sudah bangun lagi, sekarang ada tujuh orang tosu mengejar Koai Atong dengan marah-marah. Baru tosu-tosu ini serentak berhenti mengejar ketika mendengar suara halus dari dalam kelenteng.

"Jangan ganggu dia. Biarkan Koai Atong masuk ke dalam!"

Itulah suara Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai. Tentu saja para tosu itu sama sekali tidak berani membantah, apa lagi sesudah mendengar bahwa orang tua yang seperti berotak miring itu adalah Koai Atong, seorang kang-ouw yang namanya sudah pernah mereka dengar sebagai seorang yang berilmu tinggi akan tetapi yang berwatak bagaikan bocah! Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas ketika Koai Atong yang mendengar suara Lian Bu Tojin itu kini menoleh kepada mereka, menyeringai dan meleletkan lidah seperti seorang anak nakal mengejek anak-anak lain!

Satu-satunya orang yang agak ditakuti Kwa Hong adalah Lian Bu Tojin. Kakek gurunya ini orangnya sabar sekali, bicaranya halus dan tidak pernah bersikap galak. Akan tetapi bagi Kwa Hong, pandang mata kakek gurunya itu amat tajam dan langsung menjenguk isi hati orang, kadang-kadang berkilat dan membuat hatinya mengkeret.

Maka sekarang ia berlutut dengan hormat di depan kakek gurunya yang duduk bersila di atas lantai bertilam kasur tipis. Koai Atong yang memasuki ruangan itu sambil celingukan dan pringas-pringis, setelah melihat kakek yang berjenggot panjang itu, segera pula turut menjatuhkan diri berlutut di sebelah Kwa Hong.

Lian Bu Tojin mengelus-elus jenggotnya yang panjang, tubuhnya yang tinggi dan kurus itu duduk bersila tegak, tongkat bambunya yang membuat namanya amat terkenal itu terletak di sebelah kirinya. Bibirnya tersenyum dan dia mengangguk-angguk senang.

"Bagus, Hong Hong, kau sudah datang. Ehh, Koai Atong, terima kasih atas jerih payahmu mengantar dia ke sini. Bagaimana dengan gurumu?"

Koai Atong mengangkat mukanya memandang. "Suhu... entah di mana sekarang. Teecu mohon Totiang suka mintakan maaf kepada suhu kalau kelak suhu marah dan menghajar teecu. Tidak mestinya teecu sampai ke Hoa-san."

Dengan sabar Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Tentu saja, kau tidak perlu khawatir. Gurumu Giam Kong Hwesio tak akan marah apa bila dia tahu bahwa kau mengantar cucu muridku ke sini. Kalau kau kembali dan bertemu padanya, harap kau sampaikan salamku kepadanya."

Koai Atong hanya mengangguk-angguk.

Kwa Hong ingin sekali bertanya tentang ayahnya kepada kakek gurunya itu, akan tetapi di depan kakek itu, entah mengapa, mulutnya sukar sekali dibuka. Tetapi kakek yang sudah kenyang makan asam garam penghidupan itu, sekali pandang saja telah dapat menduga apa yang dipikirkan Kwa Hong.

"Hong Hong, ayahmu bersama kedua susiok dan sukouw-mu pergi turun gunung. Kurasa tidak lama lagi, dalam beberapa hari ini mereka akan datang. Di belakang sana ada tiga orang saudara-saudaramu, anak-anak dari kedua susiok-mu. Kau pergilah ke sana dan bermain dengan mereka."

Wajah Kwa Hong tiba-tiba berseri gembira. "Enci Bwee di situ?"

Ketika kakek itu mengangguk. Kwa Hong lalu bangkit dan lari ke belakang melalui pintu samping.

Koai Atong yang masih berlutut, memandang ke arah larinya Kwa Hong, kemudian ia berkata. "Totiang, perkenankan teecu bermain-main di sini selama beberapa hari dengan Enci Hong."

Lian Bu Tojin tersenyum, akan tetapi suaranya tegas ketika berkata. "Atong, kau boleh bermain-main dengan anak-anak itu di sini selama tiga hari. Tak boleh lebih dari tiga hari. Suhu-mu tentu akan menanti-nanti kembalimu."

Sambil mengangguk-angguk Koai Atong lalu berlari gembira mengejar Kwa Hong yang pergi menuju ke taman bunga di belakang kelenteng. Setibanya di taman bunga yang luas dan indah itu, Koai Atong melihat Kwa Hong sedang bercakap-cakap gembira dengan tiga orang anak lain, yaitu dua orang anak laki-laki yang tampan dan seorang anak perempuan yang cantik seperti Kwa Hong.

Biar pun Kwa Hong tampak yang paling muda di antara mereka, namun jelas bahwa tiga orang anak-anak lain itu mengagumi dan menghormatnya, terlihat dari cara mereka itu mendengarkan kata-kata Kwa Hong yang sedang menyombongkan semua pengalaman dirinya yang hebat-hebat, tentu saja dengan tambahan di sana-sini, agar lebih seram dan menarik.

Seperti kita telah ketahui, tiga orang anak itu bukan lain adalah Thio Ki dan Thio Bwee, putera-puteri Thio Wan It, dan yang seorang lagi adalah Kui Lok putera tunggal Kui Teng. Tiga orang anak itu masih berada di Hoa-san, mereka menanti orang tua mereka sambil memperdalam ilmu silat di bawah asuhan Lian Bu Tojin sendiri. Oleh karena Kwa Hong adalah puteri dari orang pertama dari Hoa-san Sie-eng, apa lagi karena memang Kwa Hong lebih sering dan lebih banyak merantau dari pada mereka, ditambah lagi sifat yang lincah gembira, membuat tiga orang anak itu amat mengagumi Kwa Hong.

Tiba-tiba Kui Lok menudingkan telunjuknya ke arah seorang yang berlari-lari memasuki taman. "Ehh, dari mana datangnya orang gila?"

Semua anak menoleh dan melihat seorang laki-laki tinggi besar berlari datang sambil tertawa-tawa. Pakaian dan sepatu laki-laki tinggi besar ini berkembang-kembang seperti yang biasa dipakai wanita. Tentu saja dia ini adalah Koai Atong yang sangat gembira melihat taman bunga begitu indah dan di situ terdapat banyak teman bermain pula.

Kwa Hong tertawa. "Dia bukan orang gila. Dia itulah Koai Atong yang baru saja aku ceritakan tadi. Dia lihai bukan main, orangnya lucu dan pandai bermain-main. He, Koai Atong, ke sinilah. Banyak teman di sini!"

Sambil berloncat-loncatan Koai Atong mempercepat larinya, congklang seperti seekor kuda besar. "Wah, Enci Hong. Aku senang di sini, banyak bunga indah. Tosu tua itu sudah memberi ijin kepadaku untuk tinggal di sini selama tiga hari. Hore, kita bisa bermain-main sepuasnya!"

Thio Ki dan Kui Lok memandang Koai Atong dengan kening berkerut, sedangkan Thio Bwee memandang orang aneh itu dengan perasaan ngeri dan jijik. Bagaimana mereka bisa bermain-main dengan seorang gila seperti ini?

Tanpa mempedulikan sikap ketiga orang anak yang lain itu, Kwa Hong berkata gembira kepada Koai Atong, "Eh, Atong, kau berkenalan dulu dengan teman-teman ini yang semua adalah orang-orang sendiri."

Dia lalu menyebut nama ketiga orang anak itu seorang demi seorang. Dengan sepasang matanya yang berputaran, Koai Atong memandang tiga orang anak itu seorang demi seorang. Thio Bwee sampai melangkah mundur setindak saking ngerinya.

"Masa orang tua bermain-main dengan anak-anak?" Thio Ki mencela sambil memandang tajam kepada Koai Atong. Dia tidak percaya kepada orang tinggi besar ini yang menurut pandangannya tentu bukan orang baik-baik.

"Benar, Ki-ko (Kakak Ki). Aku pun tidak sudi bermain-main dengan dia. Ihhh, kakek-kakek mau bermain dengan anak kecil!" Thio Bwee memperkuat pendapat kakaknya.

Akan tetapi Kui Lok mendadak berkata sambil memandang Kwa Hong, "Kalau Adik Hong sudah menjadi temannya, mengapa kita tidak? Koai Atong, aku juga suka bermain-main denganmu, sama seperti Adik Hong."

Thio Bwee menoleh kepada Kui Lok. Sepasang matanya seperti berapi. Biasanya anak ini pendiam, akan tetapi entah mengapa, kini agaknya dia marah sekali kepada Kui Lok.

"Kau memang selalu lain dari pada orang lain. Tidak hanya tangan, juga pikiranmu!"

Wajah Kui Lok menjadi merah mendengar sindiran ini. la maklum bahwa Thio Bwee tadi menyindir tangannya yang kidal.

Kwa Hong tertawa, sama sekali tidak marah karena temannya dicela. "Dulu pun aku tidak suka, akan tetapi setelah melihat betapa lihainya Koai Atong, dan betapa dia baik hati dan penurut, aku lalu menjadi suka padanya. Hemmm, kalian ini bertiga menghadapi tangan kirinya saja tak akan mampu mengalahkannya. Dia lihai sekali, mungkin tidak kalah oleh ayah kalian."

"Bohong..,..!" seru Thio Bwee marah.

"Aku tidak percaya...!" kata Thio Ki penasaran.

Kui Lok juga terpukul oleh ucapan Kwa Hong itu. la ragu-ragu, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepala. "Ahh, agaknya tak mungkin..." akhirnya dia berkata.

"Kalian tidak percaya? Kurasa, dua orang ayah kalian maju bersama masih tidak mampu melawan Koai Atong. Kalian tahu? Dia pernah menolong ayah dan bibi guru. Hebat sekali. Penjahat-penjahat lihai dia kalahkan hanya dengan memutar-mutar tangan kirinya seperti ini..."

Dengan lincah dan lucu Kwa Hong lalu memutar-mutar tangan kiri beberapa lama sambil menggigit bibir, kemudian sambil berseru, "mati...!" tangan kirinya itu mendorong ke depan ke arah batang pohon besar yang tumbuh di situ. Beberapa helai daun pohon gugur dari tangkainya.

"Ahh, Enci Hong, kurang tenaga... kurang tenaga...! Gerakanmu sudah cukup indah, tapi pukulan itu belum mengandung tenaga. Lihat begini Iho!"

Koai Atong lalu memutar-mutar tangan kirinya seperti yang dilakukan Kwa Hong barusan, menggerakkan tangan itu perlahan ke depan, ke arah pohon yang tadi. Hebat sekali akibatnya. Pohon yang jaraknya antara dua meter dari tempat dia berdiri, tidak kelihatan goyang akan tetapi tiba-tiba semua daunnya rontok dari atas seperti hujan. Ketika semua anak memandang, ternyata bahwa pohon itu tiba-tiba menjadi gundul tak berdaun lagi!

Kwa Hong tersenyum girang dan bangga ketika melihat betapa Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok memandang dengan muka pucat. Bahkan Kui Lok meleletkan lidahnya saking heran dan kagumnya!

"Nah, bukankah dia hebat dan sangat lucu?, Kalau kalian berbaik kepadanya, kalian juga bisa mempelajari ilmunya, seperti aku. Kelak kita akan menjadi orang-orang yang lebih lihai dari pada ayah. Bukankah hebat?" kata pula Kwa Hong.

"Heee, siapa bikin rontok semua daun pohon itu? Celaka, pohon itu akan mati!"

Seruan ini dibarengi munculnya tiga orang tosu dari pintu taman. Ketika tiga orang tosu itu melihat Koai Atong, mereka makin marah. Mereka ini bukan lain adalah tosu-tosu yang tadi telah dirobohkan Koai Atong.

Seorang di antara mereka, yang matanya juling, melangkah maju dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Koai Atong sambil membentak.

"Orang gila ini berada di sini? Hong Hong, jangan biarkan dia di sini. Tentu dialah yang merusak pohon itu. Ahh, celaka, Hoa-san-pai kedatangan iblis gila!"

Kwa Hong melihat Koai Atong cengar-cengir dan mengejek ke arah tiga orang tosu itu dengan mulut dan mata dimain-mainkan, matanya melotot plerak-plerok dan mulutnya kadang-kadang dipencas-penceskan atau lidahnya dikeluarkan dan diulur ke arah ketiga orang tosu itu.

Sambil menahan ketawanya melihat ‘kenakalan’ Koai Atong, Kwa Hong cepat berkata, "Sam-wi Supek (Uwa Guru Bertiga) harap jangan marah. Koai Atong sudah mendapat perkenan sukong (kakek guru) untuk bermain-main di sini selama tiga hari."

Tiga orang tosu itu cemberut dan bersungut-sungut, "Orang gila diperbolehkan mengacau taman, merusak bunga dan merusak watak anak-anak. Celaka...! Biarlah, pinto (aku) akan berdoa selama tiga hari kepada para dewa agar supaya dia dikutuk...!" kata tosu bermata juling sambil mengajak teman-temannya pergi.

Setelah menyaksikan ketihaian Koai Atong tadi, di dalam hati tiga orang anak itu timbul keinginan hendak mempelajari ilmu pukulan tadi.

"Koai Atong, kau memang lihai sekali. Ajarkan ilmu pukulan tadi kepadaku!" kata Kui Lok mendekati.

”Kami pun ingin mempelajarinya," kata Thio Ki dengan sikapnya yang masih angkuh. Thio Bwee diam saja akan tetapi diam-diam dia mengambil keputusan bahwa kalau semua orang mempelajari, dia pun tak akan mau ketinggalan.

Melihat betapa anak-anak itu semua sekarang suka kepadanya, Koai Atong menjadi gembira sekali. Memang dia sudah tua, namun jiwanya memang tidak normal, sifatnya seperti kanak-kanak yang tentu saja merasa bangga dan suka apa bila anak-anak lain kagum kepadanya.

Ia tertawa-tawa dan berkata, "Mau belajar? Boleh, boleh, akan tetapi tidak mudah. Biarlah kita pergunakan pohon-pohon di taman ini sebagai lawan dalam latihan. Lihatlah baik-baik bagaimana kedudukannya kedua kaki, gerakan tangan kiri dan di mana letaknya tangan kanan. Begini."

Koai Atong lalu memberi petunjuk yang diturut oleh tiga orang anak itu. Mula-mula Thio Bwee masih malu-malu, akan tetapi kemudian melihat betapa Kwa Hong juga memberi petunjuk-petunjuk, ia menjadi tertarik dan ikut-ikut juga.

"Sudah bagus, sudah baik. Kalian cucu-cucu murid Hoa-san-pai memang berbakat," kata Koai Atong senang. "Sekarang mari coba memukul pohon-pohon itu. Kalian perhatikan baik-baik."

Koai Atong lalu menghampiri sebatang pohon besar, kemudian dengan sepenuh tenaga dia mendorong dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang. Akan tetapi pada saat itu, dari belakang pohon berkelebat bayangan orang dan di situ telah berdiri Lian Bu Tojin, tangan kiri memegang tongkat bambu sedangkan tangan kanannya diluruskan untuk menyambut dorongan tangan kiri Koai Atong.

"Atong, jangan merusak pohon...," kata tosu tua itu.

Koai Atong yang berwatak kanak-kanak itu pada dasarnya bukan dari kalangan baik-baik, maka setiap kali dilawan, dia tentu akan menggunakan kepandaiannya untuk mencapai kemenangan. Maka begitu dia merasa betapa pukulannya Jing-tok-ciang disambut oleh tangan kakek itu, dia mengerahkan tenaga dan melanjutkan pukulan itu dengan dorongan maut yang penuh hawa Jing-tok-ciang (Racun Hijau).

Kedua tangan itu bertemu dan lengket. Tangan kiri Koai Atong berubah kehijauan. Akan tetapi Lian Bu Tojin hanya berdiri tersenyum sambil memandang tajam. la maklum akan watak seorang seperti Koai Atong yang tentu tidak jauh dengan watak guru anak tua ini, teman baiknya, Ban-tok-sim Giam Kong. Dari julukannya saja, Ban-tok-sim berarti Hati Selaksa Racun. Dapat dibayangkan bagaimana watak guru Koai Atong.

Kwa Hong dan teman-temannya merupakan anak-anak dari para ahli silat Hoa-san-pai. Sebagai anak-anak yang semenjak kecil kenal akan seluk-beluk persilatan tingkat tinggi, tentu saja mereka tahu apa yang sedang terjadi antara Koai Atong dan sukong (kakek guru) mereka, yakni adu kepandaian atau lebih tepat adu tenaga dalam. Mereka semua memandang dengan muka berubah dan mata bersinar-sinar.

Ada dua menit Koai Atong dan ketua Hoa-san-pai itu berdiri tegak sambil meluruskan tangan. Akhirnya Lian Bu Tojin berkata perlahan.

"Koai Atong, kau sudah maju banyak."

Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuh Koai Atong terdorong ke belakang sampai lima langkah tanpa dapat dicegahnya lagi. Mukanya menjadi merah sekali dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan anak panahnya yang berwarna hijau. Inilah senjatanya yang ampuh dan hebat.

Lian Bu Tojin melihat ini kemudian tertawa. Tentu saja dia tidak bisa menganggap murid temannya ini sebagai musuh atau lawan yang seimbang.

"Aha, Atong, kau hendak memperlihatkan Ilmu Silat anak panah? Silakan, silakan, biar kau nanti dapat melapor kepada gurumu bahwa ketua Hoa-san-pai meski pun sudah tua tetapi belum lemah benar..."

Ucapan ini merupakan perkenan bagi Koai Atong yang tadinya masih ragu-ragu untuk menyerang kakek itu. Mendadak dia berseru keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Sekaligus anak panah di tangannya sudah melakukan serangan susul-menyusul sampai delapan kali banyaknya.

Anak panah itu berubah menjadi segulung sinar hijau menyambar-nyambar ke arah diri kakek itu. Kwa Hong dan teman-temannya memandang penuh kekhawatiran. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan tenang menggerakkan tongkat bambunya.

Terdengar bunyi keras delapan kali ketika anak panah itu selalu terbentur tongkat bambu ke mana pun juga digerakkan. Memang ilmu pedang Hoa-san-pai luar biasa hebat. Jelas kelihatan oleh Kwa Hong dan teman-temannya bahwa kakek gurunya itu hanya mainkan jurus Tian-mo Po-in (Payung Kilat Sapu Awan) dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat. Tapi cara pergerakannya demikian sempurnanya sehingga delapan macam serangan dari Koai Atong dapat digagalkan!

Kemudian terdengar seruan perlahan dari kakek itu. "Koai Atong, sekarang jagalah jurus dari Hoa-san ini."

Tongkat bambu bergerak perlahan dan... anak panah itu terlepas dari tangan Koai Atong, terlempar ke atas. Akan tetapi Koai Atong lantas memperlihatkan kelihaiannya. la dapat menggulingkan tubuh melepaskan diri dari lingkaran tongkat bambu, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan tahu-tahu anak panah itu sudah dipegangnya lagi. la mengeluarkan suara seperti orang menangis kemudian dia lari tunggang-langgang dan meninggalkan taman seperti seorang anak kecil nakal melarikan diri karena takut mendapat hukuman.

Lian Bu Tojin tertawa, lantas mengerahkan khikang berkata ke arah larinya Koai Atong, "Atong, sampaikan salamku kepada gurumu Giam Kong!"

Setelah Koai Atong pergi, kakek ini berubah mukanya. Kini keren dan sungguh-sungguh. la menghadapi Kwa Hong dan teman-temannya, kemudian terdengar kakek ini berkata, suaranya menahan kemarahan.

"Kwa Hong, bagaimana bunyi larangan ke tiga dari Hoa-san-pai?"

Berubah wajah Kwa Hong, agak pucat. Kalau kakek gurunya sudah memanggil namanya dengan penuh, tidak Hong Hong seperti biasanya, itu bisa diartikan bahwa kakek gurunya benar-benar marah.

Setelah menjura ia pun berkata sambil menundukkan muka, "Larangan ke tiga berbunyi: Setiap orang murid Hoa-san-pai tidak boleh mempelajari ilmu silat dari luar Hoa-san-pai tanpa seijin gurunya.”

"Hemmm, baik kau masih ingat. Tapi, kenapa kau tadi mempelajari Jing-tok-ciang yang amat keji itu dari Koai Atong?"

Suara tosu tua itu kedengarannya makin marah, membuat Kwa Hong kaget dan takut sekali. la memang paling takut kepada kakek gurunya ini. Akan tetapi ia pun merasa heran mengapa orang tua ini marah-marah, padahal biasanya amat sabar.

"Saya... saya mengaku salah, Sukong. Siap menerima hukuman!"

Anak perempuan ini menjatuhkan diri berlutut di depan kakek gurunya. Tiga orang anak yang lain melihat ini menjadi ketakutan pula dan mereka pun serta-merta menjatuhkan diri berlutut dan berkata hampir berbareng.

”Teecu juga mengaku salah dan siap menerima hukuman”.

Melihat cucu-cucu muridnya berlutut siap menerima hukuman dan sikap anak-anak yang penuh ketaatan akan peraturan Hoa-san-pai, sikap yang memang sudah terkenal dari murid-murid Hoa-san-pai, kemarahan ketua Hoa-san-pai ini mereda.

"Kalian tahu," katanya, suaranya masih keren, "apa hukuman bagi murid yang melanggar larangan ke tiga itu?"

Empat orang anak itu mengangguk.

"Si pelanggar harus membuang ilmu yang dipelajarinya di luar Hoa-san-pai, kalau perlu badannya dirusak supaya ilmu itu tidak dapat dipergunakan. Baiknya kalian belum pandai mempergunakan Jing-tok-ciang, kalau sudah pandai, pinto (aku) tidak akan segan-segan mematahkan tangan kiri kalian!"

Jelas tampak betapa empat orang anak itu pucat dan gemetar mendengar ini.

"Hong Hong, kelancanganmu belajar dari Koai Atong masih belum seberapa bahaya jika dibandingkan dengan perbuatanmu membujuk saudara-saudara seperguruan untuk turut mempelajarinya pula. Perbuatan itu buruk sekali."

Biar pun ia dimarahi, namun Kwa Hong yang cerdik menjadi lega mendengar cara kakek itu menyebut namanya. Itu berarti bahwa kakek gurunya tidak marah lagi kepadanya.

"Teecu tidak membujuk, Sukong. Mereka memang suka mempelajari setelah melihat Koai Atong memukul pohon."

"Betul, Sukong. Teecu yang bersalah, ingin belajar, sama sekali tidak dibujuk oleh Adik Hong," kata Kui Lok cepat-cepat.

"Teecu juga tidak dibujuk," sambung Thio Ki. Thio Bwee diam saja, hanya melirik ke arah Kui Lok.

"Sudahlah," kata kakek itu. "Kalian anak-anak harus ingat baik-baik. Sebetulnya bagi aku sendiri yang menjadi ketua Hoa-san-pai, belajar ilmu silat dari golongan lain bukanlah hal yang amat buruk. Akan tetapi mengapa diadakan peraturan dan larangan di Hoa-san-pai? Bukan lain untuk menjaga dan mencegah anak-anak murid Hoa-san-pai menyeleweng mempelajari ilmu yang sesat. Kalau sampai terjadi demikian, apa bila sampai ada anak murid Hoa-san-pai mempelajari ilmu yang sesat kemudian menyeleweng dan melakukan perbuatan jahat, bukankah hal itu akan merusak nama baik Hoa-san-pai?"

"Sukong," kata Kwa Hong yang sekarang sudah timbul keberaniannya. "Apakah ilmu silat dari Koai Atong termasuk ilmu sesat?"

Kakek itu menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya. "Sesungguhnya, kalau mau berkata secara jujur, di dunia ini tak ada ilmu yang sesat. Semua ilmu itu baik, tergantung kepada si pemakai ilmu. Ilmu dapat menjadi baik kalau dipergunakan untuk kebajikan. Sebaliknya, biar pun ilmu yang amat bersih, apa bila dipergunakan untuk kejahatan, dapat menjadi ilmu yang kotor dan buruk."

Empat orang anak itu saling pandang tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sukong mereka.

Kakek ini pun agaknya maklum, karena itu sambil tersenyum dia berkata lagi, "Biarlah aku jelaskan. Misalnya saja ilmu bun (kesusastraan), siapa bilang bahwa ilmu membaca dan menulis ini bersifat buruk? Akan tetapi tetap saja baik buruknya tergantung pada pemakai ilmu. Ilmu ini baik apa bila dipergunakan untuk membuat sajak-sajak indah, menuliskan ilmu-iimu yang tinggi dan sebagainya. Akan tetapi bukankah menjadi ilmu yang sangat buruk dan jahat apa bila dipergunakan orang untuk membuat surat-surat fitnah, membuat laporan-laporan palsu, dan lain-lain seperti yang sekarang ini sering kali dilakukan orang?"

Barulah Kwa Hong dan teman-temannya mengerti. Memang pada waktu itu, sebagian besar rakyat tidak pandai membaca dan menulis. Sepucuk surat fitnah saja cukup untuk mencabut nyawa seorang yang buta huruf. Apa lagi di kota-kota besar dan terutama di kota raja, kepandaian menulis menjadi senjata yang jauh lebih ampuh dari pada selaksa pedang dan lebih jahat dan keji dari pada ular-ular berbisa.

"Nah, jelaskah sekarang? Baru ilmu menulis saja sudah begitu jahat, apa lagi ilmu silat. Aku tidak mau bilang bahwa ilmu yang diajarkan oleh Koai Atong itu jahat, akan tetapi sifat dari Jing-tok-ciang amatlah berbahaya. Ilmu pukulan itu tidak ada ampunnya, sekali saja dipergunakan, kalau yang menerima kurang kuat, bisa merenggut nyawa. Kalau tadi aku tak kuat menahan pukulannya, apakah sekarang aku tidak sudah menggeletak mampus? Ha-ha-ha!"

Kwa Hong dan teman-temannya bergidik dan baru terbuka mata mereka akan perbedaan ilmu silat Hoa-san-pai dan Ilmu Jing-tok-ciang. Dari kata-kata kakek gurunya itu mereka tahu bahwa sebetulnya ilmu silat milik Hoa-san-pai tidak usah kalah oleh Jing-tok-ciang, sungguh pun Jing-tok-ciang kelihatan luar biasa dan mukjijat.

"Kalian yang tekun belajar ilmu silat kita sendiri, yang rajin berlatih, kalau ilmu silat kalian sudah mencapai tingkat setaraf dengan tingkat Koai Atong, kalian takkan kalah olehnya." Kakek ini menarik napas panjang dan berkata lagi, perlahan seperti pada diri sendiri, "Sayangnya... sampai sekarang tidak ada tulang yang cukup baik untuk menjadi ahli waris Hoa-san-pai... bahkan yang sebaik Koai Atong saja tak ada..." Setelah berkata demikian, dengan muka sedih kakek ini meninggalkan taman.

Terbangkit semangat Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok mendengar wejangan-wejangan Lian Bu Tojin tadi. Sejak saat itu, mereka lalu berlatih dengan giat, setiap saat mereka berempat dapat terlihat berlatih silat di dalam taman atau di lian-bu-thia (ruang berlatih silat) di bawah petunjuk Lian Bu Tojin sendiri.

Tentu saja dalam beberapa bulan saja mereka mendapatkan kemajuan yang luar biasa. Dengan adanya teman-teman berlatih, mereka seakan-akan berlomba untuk melebihi temannya dan hal ini pula yang mempercepat kemajuan mereka.

Akan tetapi, terjadi keganjilan yang menyolok. Hal ini hanya dapat diketahui oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Anak-anak perempuan tentu saja lebih halus perasaannya dan tahu membedakan sikap anak laki-laki. Baik Kwa Hong mau pun Thio Bwee dapat melihat bahwa selain berlomba dalam latihan, agaknya antara Thio Ki dan Kui Lok juga ada lain perlombaan lagi, yaitu berlomba menyenangkan atau merebut perhatian Kwa Hong, si gadis cilik yang lincah gembira, bermata bintang dan agak galak itu!

Kwa Hong menghadapi kenyataan ini dengan bangga dan sikapnya menjadi makin manja, tinggi hati, dan agaknya mempermainkan dua orang anak laki-laki itu. Sebaliknya, Thio Bwee yang pendiam, hanya sering nampak murung kalau melihat Kui Lok bermain-main dengan sikap bermuka-muka di depan Kwa Hong, mencarikan bunga, mernbuat mainan dari rumput dan lain-lain.

Waktu berlalu cepat. Anak-anak itu ditinggal orang tua mereka di puncak Hoa-san-pai sudah ada empat bulan lebih. Ketika Hoa-san Sie-eng datang ke puncak Hoa-san, semua anak-anak itu merasa gembira, akan tetapi ternyata bahwa orang tua mereka itu masih belum mau meninggalkan Hoa-san.

Kwa Tin Siong dan tiga orang adik seperguruannya menceritakan kepada Lian Bu Tojin tentang pertemuan mereka dengan dua orang saudara Bun, malah memberi tahukan pula bahwa Kun-lun Sam-hengte akan datang ke Hoa-san dalam waktu lima bulan lagi.

Lian Bu Tojin rnengelus jenggot dan menggeleng kepala. "Tidak disangka sama sekali akan terjadi hal yang begini tidak menyenangkan," katanya. "Selama puluhan tahun ini, hubunganku dengan Pek Gan Siansu ketua Kun-lun-pai adalah hubungan saudara. Malah kami ingin mempererat hubungan dengan menjodohkan murid-murid kami. Siapa tahu malah mala petaka timbul karena ini."

Dengan air mata berlinang Sian Hwa berkata, "Ampunkan teecu Suhu. Teecu sudah menimbulkan kedukaan dalam hati Suhu, akan tetapi... apakah daya teecu? Ayah teecu dibunuh oleh... oleh... keparat itu..."

Lian Bu Tojin mengangkat tangannya. "Kau tidak salah Sian Hwa, kau tidak salah. Malah pinto yang sesungguhnya merasa berdosa. Pinto yang menjodohkan kau dengan murid Kun-lun-pai, siapa tahu..." Kakek itu berulang kali menarik napas panjang.

"Persoalan ini tentu akan segera dibikin terang setelah Kun-lun Sam-hengte tiba di sini lima bulan lagi, Suhu.” Kwa Tin Siong menghibur. "Biarlah lima bulan lagi teecu bersama datang lagi dan berkumpul di sini untuk menghadapi murid-murid Kun-lunpai."

"Kalian pulanglah, akan tetapi anak-anak itu biarkan di sini saja. Bukankah lima bulan lagi kalian datang? Aku ingin melihat sendiri kemajuan mereka, terutama membimbing watak mereka. Tin Siong dan kau, Wan It dan Kui Keng, tentu rela meninggalkan anak-anak kalian di sini untuk lima bulan lagi, bukan?"

"Tentu saja, Suhu. Malah teecu menghaturkan banyak terima kasih bahwa Suhu sendiri berkenan membimbing mereka," jawab tiga orang murid itu serempak.

"Suheng sekalian, jangan khawatir, aku berada di sini menemani mereka," kata Sian Hwa.

Makin gembira hati mereka, juga Lian Bu Tojin girang sekali mendengar bahwa Sian Hwa yang sudah tidak ada keluarga lagi itu hendak ikut menanti di Hoa-san selama lima bulan.

Demikianlah, Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng turun dari Hoa-san untuk pulang ke rumah masing-masing sedangkan Sian Hwa tinggal di Hoa-san bersama murid-murid keponakannya. Gadis yang sedang menderita tekanan batin ini menghibur hatinya dengan melatih silat kepada keponakan-keponakannya. Sedikit banyak agak terhiburlah hatinya melihat anak-anak yang gembira dan lincah itu. Apa-lagi terhadap Kwa Hong, Sian Hwa amat menyayangnya.

*********

Ketika terjadi perang kecil antara serombongan orang Pek-lian-pai yang dipimpin oleh Tan Hok melawan pasukan Mongol yang mengakibatkan musnahnya pasukan Mongol di kaki Gunung Hoa-san, beberapa orang tosu Hoa-san-pai melaporkan hal itu kepada Sian Hwa. Memang gadis ini dianggap orang yang paling pandai di antara para tosu. Lian Bu Tojin sendiri sedang bersemedhi dan sama sekali tak boleh diganggu, maka kepada Sian Hwa mereka itu menuturkan tentang perang di kaki gunung.

Mendengar kejadian ini, dengan dikawani oleh lima orang tosu kepala yang sudah cukup tinggi kepandaiannya, Sian Hwa kemudian berlari turun dari puncak. Kepada anak-anak keponakannya ia berpesan agar supaya jangan meninggalkan taman dan bermain-main di dalam taman saja.

Kedatangan Sian Hwa dan lima orang tosu di tempat pertempuran sudah terlambat. Tan Hok dan teman-temannya, juga termasuk Beng San, sudah lama meninggalkan tempat itu dikejar oleh pasukan Mongol lainnya yang lebih besar jumlahnya dan seperti yang sudah kita ketahui, akhirnya dipancing untuk mengalami kehancuran di Pek-tiok-kok.

Liem Sian Hwa hanya mendapatkan tanah yang baru digali dan ditimbun kembali, yaitu tempat di mana mayat-mayat serdadu Mongol dikubur oleh Beng San dan yang kemudian dibantu oleh Tan Hok dan teman-temannya. Melihat adanya sebuah bendera Pek-lian-pai di pohon, timbul kemarahan dalam hati Sian Hwa.

Bagaimana pun juga, sekarang Pek-lian-pai sudah menjadi musuh besarnya. Bukankah ayahnya telah terbunuh oleh orang Pek-lian-pai dan Kwee Sin? Saking marahnya, ia lalu merenggutkan bendera itu dari pohon dan merobek-robeknya.

Seorang tosu mendekati dan berkata, "Sumoi, kenapa kau merobek-robek bendera milik Pek-lian-pai itu? Bukankah itu bendera orang-orang yang melawan pasukan Mongol?"

"Pek-lian-pai perkumpulan orang-orang jahat! Kalau aku melihat mereka tadi di sini, akan kulawan dan kubasmi semua!” Sian Hwa berseru dengan suara marah. "Suheng sekalian apakah tak ingat bahwa ayahku terbunuh oleh paku Pek-lian-ting milik Pek-lian-pai? Bagai mana aku tidak akan memusuhinya?"

"Bagus, bagus! Memang Pek-lian-pai jahat sekali, patut dibasmi!” tiba-tiba terdengar suara orang.

Pada saat Sian Hwa menengok, ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki muda yang tampan, selalu tersenyum dan pakaiannya indah sekali. Muka gadis itu seketika menjadi merah karena sinar mata pemuda ini amat tajam, bersinar-sinar tidak menyembunyikan kekagumannya ketika menatap kepadanya.

Orang muda itu lalu memberi hormat, menjura sambil mengangkat kedua tangan dengan sikap yang halus sekali sehingga tiada kesempatan bagi Sian Hwa untuk marah.

"Maafkan saya, Nona. Saya Souw Kian Bi dan saya merasa sangat cocok dengan pendapat Nona tadi. Memang Pek-lian-pai adalah perkumpulan orang-orang jahat.”

Sungguh pun hatinya tidak senang melihat kelancangan orang ini, Liem Sian Hwa tidak mungkin dapat marah terhadap orang yang bersikap manis dan hormat ini. Terpaksa oleh sopan santun ia balas menjura dan berkata singkat.

"Saya tidak ada urusan dengan Tuan ini, juga tidak mengenal Tuan. Maafkan bahwa saya tidak sempat bercakap-cakap lebih lama lagi." Nona ini membalikkan tubuh hendak pergi.

Souw Kian Bi melangkah maju. "Perlahan dulu, Nona. Apa salahnya kalau kita sekarang berkenalan? Apakah Nona anak murid Hoa-san-pai?"

Lima orang tosu yang mengawani Sian Hwa merasa tidak senang melihat ada seorang muda berani menegur sumoi mereka. Dianggapnya pemuda itu kurang ajar.

Seorang di antara para tosu itu mencela. "Sumoi-ku tidak ada urusan denganmu, orang muda. Harap jangan mengganggu lebih jauh."

Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakkan tangan bajunya untuk mendorong orang muda itu minggir karena orang itu menghalangi jalan. Tentu saja dia mengerahkan tenaga untuk memperlihatkan kepandaian dan sekaligus untuk menakut-nakuti orang muda itu.

Orang muda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi ketika lengan baju tosu itu mengenai dadanya, bukan pemuda itu yang terdorong, namun tosu tadilah yang terpelanting. Tosu itu berseru kaget dan menjadi marah.

"Ehh, kau mau main-main?" bentaknya sambil mencengkeram ke arah pundak.

"Suheng, jangan...!" Sian Hwa memperingatkan tosu itu.

Gadis ini melihat bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, terbukti dari gerakan kakinya ketika terdorong tadi. Namun terlambat, tangan tosu itu terpelanting. Hanya kali ini terpelanting keras sampai terbentur batu dan mengeluarkan darah.

Empat orang tosu yang lain menjadi marah sekali.

"Keparat, berani kau merobohkan saudara kami?"

Serentak empat orang tosu ini menerjang pemuda tadi dengan pukulan-pukulan tangan. Souw Kian Bi, pemuda aneh itu, hanya tersenyum saja tanpa menangkis. Dia hanya menundukkan kepala untuk menghindarkan pukulan yang mengancam mukanya.

Terjadi hal yang aneh sekali. Kepalan tangan empat orang tosu itu dengan jelas kelihatan mengenai tubuh pemuda itu sampai terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi tosu-tosu itu lalu berteriak kesakitan sambil memegangi tangan mereka yang tahu-tahu sudah menjadi bengkak-bengkak. Mereka merasa seperti memukul baja, bukan badan orang!

Sian Hwa tak dapat menahan kesabarannya lagi, di samping merasa heran sekali. Meski pun kepandaian empat orang suheng-nya belum tinggi benar, namun menerima pukulan dengan badan dari empat orang sekaligus seperti pemuda itu dan membuat si pemukul sendiri bengkak-bengkak tangannya, benar membuktikan bahwa pemuda itu berilmu amat tinggi. Tanpa ragu-ragu ia lalu mencabut pedangnya, meloncat dekat dan membentak.

"Manusia sombong, beraninya kau bermain gila di depanku?" la melintangkan pedang di depan dada, lalu menantang. "Hayo keluarkan senjatamu, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"

Orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi itu tersenyum dan pandang matanya makin membayangkan kekaguman.

"Kau hebat, Nona, hebat sekali. Patut menjadi sahabat baikku. Cantik dan gagah perkasa, hemmm..."

Tentu saja muka Sian Hwa menjadi makin merah. Tidak ada wanita di dunia ini yang tidak senang dipuji seorang laki-laki, terutama sekali dipuji akan kecantikannya. Demikian pula Sian Hwa. Akan tetapi di samping rasa senangnya ini, terdapat pula perasaan marah karena dianggapnya laki-laki itu kurang ajar.

"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Hayo keluarkan senjatamu, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau habis kesabaranku...”

Souw Kian Bi tertawa, dan tampaklah barisan giginya yang putih dan rapi. "Kau hendak main-main dengan pedang? Oho, bagus sekali. Memang kurang mesra perkenalan kita jika tidak melalui ujung senjata. Nah, aku sudah siap, kau perlihatkanlah ilmu pedangmu, Nona Manis."

Pemuda itu sekarang sudah memegang sebuah pedang yang amat indah karena gagang pedang itu dihias dengan banyak batu-batu kumala. Selain indah bentuknya, pedang itu pun nampak amat tajam sampai berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Melihat lawannya sudah bersenjata, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Sian Hwa segera menerjang maju dengan gerakannya yang amat lincah dan cepat. Sepasang pedang di kedua tangannya mengeluarkan suara mengaung pada saat dia menghujani Souw Kian Bi dengah serangan-serangan maut. Sepasang pedangnya itu lenyap berubah menjadi dua gulung sinar yang membungkus tubuhnya, amat luar biasa dipandang.

Souw Kian Bi mengeluarkan seruan terkejut menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis itu. Cepat-cepat dia memutar senjatanya melindungi diri sehingga berkali-kali terdengar suara pedang bertemu pedang. Lima menit sudah Souw Kian Bi hanya menangkis dan melindungi diri saja, kemudian tiba-tiba dia meloncat ke belakang sambil berseru.

"Jadi Nona ini Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, orang termuda dari Hoa-san Sie-eng? Pantas begini lihai dan cantik!" Dia tersenyum-senyum lagi, senyum memikat dengan sinar mata kagum.

Kembali wajah Sian Hwa menjadi merah. "Tak usah banyak cakap, kau telah merobohkan lima orang suheng-ku. Kau boleh coba merobohkan aku, baru patut menyombongkan diri!" Kembali gadis ini menubruk maju sambil mainkan sepasang pedangnya.

Souw Kian Bu segera menangkis lagi sambil tertawa. "Alangkah akan senangnya andai kata aku dapat merobohkanmu, Nona, merobohkan hatimu terutama sekali. Alangkah senangnya..."

"Keparat kurang ajar!"

Sian Hwa memperhebat serangannya dan kali ini Souw Kian Bi terpaksa mengeluarkan kepandaiannya untuk melindungi dirinya dari ancaman maut. Gadis itu merasa heran sekali ketika mendapat kenyataan bahwa orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi ini ternyata memiliki ilmu pedang yang amat aneh gerakannya, akan tetapi juga amat lihai.

Semua serangannya dapat ditangkis dengan mudah, malah setiap kali pedangnya beradu dengan pedang lawannya, dia merasa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga dalam pemuda itu juga tidak kalah olehnya. Diam-diam dia mengeluh dan mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. la akan merasa malu sekali kalau sampai kalah oleh pemuda ceriwis ini.

Di lain pihak, Souw Kian Bi juga amat kagum menyaksikan ilmu pedang gadis lawannya. Tidak percuma gadis ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) dan menjadi orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang ternama. Rasa sayangnya terhadap gadis ini yang tadinya timbul karena kecantikan Sian Hwa, kini menjadi bertambah-tambah.

Rasa sayang inilah yang membuat Souw Kian Bi tak mau menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan Sian Hwa. Dia sengaja hendak membuat gadis ini roboh sendiri karena lelah dan di samping ini dia pun hendak memamerkan kepandaiannya agar betul-betul dapat merebut hati gadis cantik dan gagah ini.

Sementara itu, para tosu yang sudah roboh oleh Souw Kian Bi, menjadi makin khawatir menyaksikan betapa sumoi mereka yang terkenal gagah itu pun belum berhasil pula merobohkan lawan itu dengan sepasang pedangnya. Diam-diam mereka lalu berunding, kemudian seorang di antara lima tosu itu lari naik ke puncak untuk melaporkan hal itu kepada Lian Bu Tojin.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketua Hoa-san-pai itu. Belum pernah ada anak murid Hoa-san-pai yang berani mengganggunya di waktu dia sedang bersemedhi. Kali ini tosu itu memaksa dia sadar dari semedhinya dan menceritakan tentang serbuan seorang laki-laki muda yang kurang ajar dan lihai ilmu silatnya.

Walau pun sedang marah, tosu tua itu mengelus jenggotnya dan menahan napas untuk menekan kemarahan sehingga dia tenang dan sabar kembali.

"Kau bilang dia bernama Souw Kian Bi?"

Kakek ini mengingat-ingat, akan tetapi tidak merasa mempunyai musuh ber-she Souw. Jangan-jangan sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul), pikirnya. Ini sangat berbahaya, apa bila sampai Sian Hwa benar-benar kalah oleh penjahat itu akan celakalah muridnya.

la segera bangkit, menyeret tongkatnya dan berkata, "Antarkan pinto ke sana."

Ketika Lian Bu Tojin tiba di tempat pertempuran, dia menahan seruan kagetnya. Sian Hwa telah terdesak hebat. Pedangnya yang kiri sudah terlepas dan kini gadis itu dengan napas tersengal-sengal mempertahankan diri dari serangan pemuda tampan itu yang selalu tersenyum-senyum sambil mengeluarkan kata-kata menggoda. Jelas sekali terlihat bahwa kepandaian pemuda itu jauh lebih tinggi, malah dengan amat mudahnya akan mampu merobohkan Sian Hwa kalau dia mau.

Ketika diam-diam Lian Bu Tojin memperhatikan ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu, dia mengangguk-angguk. Itulah ilmu pedang utara yang sudah tinggi tingkatnya. Juga gerakan-gerakan pemuda itu menyatakan bahwa tenaga dalamnya sudah kuat sekali. Pantas saja Sian Hwa terdesak. Andai kata yang melawan pemuda ini bukan Sian Hwa, melainkan Kwa Tin Siong, mungkin akan seimbang dan lebih ramai.

"Sian Hwa, mundurlah. Orang muda ada urusan boleh dirunding dengan pinto!"

Seruan Lian Bu Tojin ini biar pun perlahan, akan tetapi mengandung tenaga yang amat berpengaruh. Tentu saja sukar bagi Sian Hwa untuk mundur karena dia sudah dikurung sinar pedang lawannya. Kalau bukan lawannya yang menghentikan pertandingan ini, dia sendiri sudah tidak berdaya melepaskan diri.

Sambil mengeluarkan suara ketawa bergelak, Souw Kian Bi menggetarkan pedangnya dan….

"Tringgg...!" pedang kanan Sian Hwa terlepas pula, terlempar ke udara.

Lian Bu Tojin menggerakkan tongkatnya dan tahu-tahu pedang yang terbang itu sudah tertempel oleh tongkat bambunya. Sedangkan Souw Kian Bi melangkah maju mendekati Sian Hwa sambil cengar-cengir dan berkata, "Nona manis, apakah sekarang kau masih belum mau mengaku kalah padaku? Apakah dengan kepandaianku ini kau masih tetap menganggap tak pantas kalau aku menjadi sahabat baikmu?"

Sian Hwa merasa malu sekali. Dengan kemarahan yang membuat dadanya seolah-olah akan meledak, dia kembali menerjang maju, menghantam kepalan tangan kanannya ke dada pemuda itu.

Souw Kian Bi cepat mengelak sambil tertawa dan berkata, "Sayang tanganmu yang halus kalau sampai mengenai dadaku, Manis."

Sekali lagi dia mengelak pada saat pukulan ke dua datang dan kini sambil mengelak dia mempergunakan tangan kirinya untuk mencekal pergelangan tangan kanan Sian Hwa. Gerakan ini amat cepatnya dan sekali melihat saja Lian Bu Tojin tahu bahwa pemuda itu pun mahir sekali akan ilmu tangkap dan ilmu cengkeram semacam Eng-jiauw-kang. Sian Hwa kaget sekali karena percuma saja ia berusaha melepaskan tangannya.

"Orang muda, jangan kurang ajar. Lepaskan!" Tiba-tiba Lian Bu Tojin melangkah maju untuk mencegah kekurang-ajaran pemuda itu terhadap muridnya.

Akan tetapi Souw Kian Bi hanya tertawa. Mana dia mau memandang mata kepada kakek tua ini? Sambil tangan kiri masih memegangi tangan Sian Hwa, pedangnya di tangan kanan bergerak ke arah dada Lian Bu Tojin dan dia membentak.

"Tosu bau jangan ikut campur. Menggelindinglah kau!"

Tetapi kali ini dia telah salah hitung. Pedangnya yang meluncur ke arah dada tosu tua itu tiba-tiba bertemu dengan tongkat bambu, pedangnya menggetar-getar dan...

"Krakkk!"

Pedang itu patah menjadi dua. Tubuhnya sendiri menggigil, pegangannya pada tangan Sian Hwa terlepas dan dia masih terhuyung-huyung ke belakang lima atau enam tindak. Mukanya menjadi pucat sekali.

"Kau... kau siapakah...?” dia memandang kepada kakek tua itu dengan mata terbelalak.

Lian Bu Tojin tak menjawab, hanya berdiri tegak sambil memandang dengan tajam. Souw Kian Bi menggerak-gerakkan biji matanya, memandangi kakek itu dari atas ke bawah. Agaknya jenggot panjang dan tongkat bambu itu yang menarik perhatiannya, kemudian membuat dia dapat menduga siapa yang sedang berhadapan dengannya.

"Ah, kiranya Totiang adalah Lian Tojin sendiri? Pantas saja aku tak dapat melawannya. Kiranya ketua yang terhormat dari Hoa-san-pai sendiri yang telah turun tangan!" Ucapan ini merupakan sindiran hebat.

Memang sebetulnya amat memalukan bagi Lian Bu Tojin, seorang ciangbunjin (ketua) dari partai besar harus turun tangan sendiri menghadapi seorang muda seperti Souw Kian Bi! Mau tak mau kedua pipi kakek itu menjadi merah. Pemuda ini ternyata bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga amat tajam kata-katanya.

"Orang she Souw," katanya sabar, "murid-muridku sedang turun gunung maka tidak ada yang menyambutmu sehingga terpaksa pinto sendiri menjenguk ke sini. Tak tahu apakah yang menjadi sebabnya maka engkau mengacau di sini?"

Souw Kian Bi tertawa mengejek. ”Siapa mengacau? Aku lewat di sini, bertemu Nona ini, tertarik dan ingin bersahabat, apa salahnya? Sudahlah, lain kali dia tetap akan menjadi sahabat baikku..." Setelah berkata demikian pemuda itu membalikkan tubuhnya dan pergi.

Sian Hwa yang masih marah sekali cepat menyambar pedangnya yang tadi terpukul jatuh, hendak mengejar. Akan tetapi gurunya mencegahnya.

"Jangan kejar, Sian Hwa. Kulihat orang itu bukan orang sembarangan. Sudah jelas bahwa dia itu dari utara. Akan tetapi mengapa sengaja datang mengacau Hoa-san-pai? Hemmm, kita harus berhati-hati, makin banyak saja musuh-musuh rahasia yang hendak memusuhi kita."

Kakek ini lalu mengajak semua muridnya naik ke puncak Hoa-san lagi sambil memesan kepada para muridnya yang menjadi tosu supaya mulai saat itu melakukan penjagaan yang kuat siang malam, akan tetapi tidak boleh lancang turun tangan menyerang orang luar.

Kalau di kaki Gunung Hoa-san terjadi hal yang aneh ini, di puncak Hoa-san terjadi pula hal yang ganjil. Pada waktu Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sedang berlatih silat di dalam taman bunga. Antara Thio Ki dan Kui Lok jelas sekali terjadi perlombaan, bukan hanya untuk kemajuan ilmu silat, akan tetapi terang sekali keduanya berlomba untuk bersikap manis kepada Kwa Hong.

Keduanya memiliki watak yang hampir sama, yaitu gagah dan tabah, tetapi keduanya juga angkuh sekali. Mungkin hal ini timbul karena mereka merasa menjadi putera-putera pendekar Hoa-san-pai. Bahkan pada Thio Bwee yang pendiam juga tampak sifat angkuh ini dan merasa seolah-olah mereka adalah anak-anak orang gagah yang berbeda dengan anak-anak lain. Hanya Kwa Hong seorang yang wataknya tetap lincah jenaka, galak akan tetapi tidak angkuh.

Pada saat itu, tiba giliran Kui Lok untuk bersilat pedang disaksikan oleh ketiga orang temannya. Kui Lok benar-benar memiliki bakat yang amat baik. Selama beberapa bulan ini kepandaiannya sudah meningkat banyak.

Ketika dia bersilat tidak saja gerakan pedangnya mantap dan kuat, akan tetapi juga cepat sekali. Tentu saja dia bersilat pedang dengan tangan kiri, karena memang dia lebih pandai mempergunakan tangan kirinya dari pada tangan kanannya. Setelah dia selesai bersilat, Kwa Hong bersorak.

"Bagus sekali Lok-ko (kakak Lok), kepandaianmu benar-benar sudah maju pesat!" dia memuji dengan sejujurnya.

Thio Bwee juga mengangguk-angguk membenarkan pujian Kwa Hong. Akan tetapi, pujian itu tidak menyenangkan hati Thio Ki.

”Sayangnya pedang itu dimainkan tangan kiri, jadi tentu saja kurang kuat dan kurang tepat seperti kalau dimainkan oleh tangan kanan," Thio Ko berkata dengan lagak seakan-akan seorang yang lebih pandai menilai permainan orang yang lebih rendah tingkatnya.

Ucapan ini diterima oleh Kui Lok dengan muka merah. Dia merasa disindir dan ditegur karena sifat tangannya yang kidal.

"Walau pun dengan tangan kiri kurasa tidak kalah oleh permainan pedang tangan kanan," jawabnya sambil menatap wajah Thio Ki penuh tantangan.

"Phuah...!" Thio Ki mengejek, membuang muka.

"Phuah...!" Kui Lok juga mengeluarkan suara mengejek.

Thio Ki naik darah, dirabanya gagang pedang di punggungnya. "Kalau begitu, mari kita buktikan, siapa lebih pandai, si tangan kanan atau si tangan kidal!"

"Begitu? Baiklah, tapi kau yang menantang, saudara Ki, bukan aku!" Kui Lok menjawab, pedangnya siap ditangan kiri.

Kwa Hong memperhatikan kejadian ini dengan mata berseri.

"Baik sekali begitu!" ia bersorak. "Gembira sekali kalau diadakan pibu persaudaraan."

Yang dimaksudkan dengan pibu (adu kepandaian silat) adalah pertandingan mengadu kepandaian silat untuk menentukan siapa kalah siapa menang.

"Dari pada setiap hari kalian bercekcok saja tentang tingkat kepandaian kalian, lebih baik diputuskan dengan bukti."

Dua orang anak laki-laki itu sekarang sudah berhadapan dengan pedang di tangan. Thio Bwee membelalakkan matanya yang lebar, penuh kekhawatiran.

"Jangan!" teriaknya memohon. "Bagaimana kalau ada yang terluka? Sukong akan marah sekali."

Kwa Hong tertawa dan melangkah di antara dua orang jago muda itu. "Kalian ini sudah bernafsu untuk saling serang," godanya, "jangan begitu, ah! Kita ini kan saudara-saudara seperguruan. Masa mau main tusuk dengan pedang."

"Habis bagaimana untuk menentukan siapa lebih unggul?" tanya Kui Lok.

"Biarkan saja, Hong-moi (adik Hong). Lok-te (adik Lok) ini sombong sekali, tidak mau mengalah terhadap aku yang lebih tua," kata Thio Ki.

"Mana bisa saudara seperguruan saling hantam? Kalau diketahui sukong, apa kau kira aku tidak ikut dipersalahkan? Aku tidak mau! Kalau kalian berkelahi, pergilah jauh-jauh dari sini agar aku tidak terbawa-bawa," kata Kwa Hong.

Dua orang anak laki-laki itu saling pandang. Mereka ingin memperlihatkan di depan Kwa Hong bahwa mereka gagah dan tidak kalah oleh yang lain. Sekarang Kwa Hong tidak mau melihat mereka mengadu kepandaian, untuk apa mereka lanjutkan? Akan tetapi kalau tidak pergi mencari tempat lain, juga dapat dianggap takut atau pengecut.

Kwa Hong yang melihat keraguan mereka lalu tertawa. "Sudahlah, simpan pedang kalian. Kalau mau menentukan siapa yang lebih unggul, mudah saja. Kalian pergunakan ranting yang tidak berbahaya, aku akan menyediakan tinta. Ujung ranting diberi tinta dan ranting itu dimainkan seperti ujung pedang. Siapa yang lebih dulu terkena tinta bajunya dialah yang kalah."

Usul ini didukung oleh Thio Bwee yang tentu saja juga tidak menghendaki pertempuran sungguh-sungguh antara kakaknya dan Kui Lok. Dua orang anak itu pun menyetujui dan masing-masing mencari sebatang ranting yang lembek. Segera mereka membasahi ujung ranting masing-masing dengan tinta dan mulailah mereka bertanding, disaksikan oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Kwa Hong bertindak sebagai wasitnya.

“Tak-tok-tak-tok…!” bunyi dua batang ranting itu beradu dan kedua orang jago muda itu bergerak cepat untuk mendahului lawan, mengirim tusukan untuk menodai baju lawannya dengan tinta di ujung ranting.

"He, Ki-ko! Tidak boleh menyerang mata!" Kwa Hong berseru.

Sebagai wasit, ia harus berlaku adil. Menurut perjanjian tadi, masing-masing hanya boleh menyerang baju untuk memberi tanda dengan tinta.

"Lok-ko, tidak boleh menendang!" Ia kembali berseru.

Mula-mula hanya jarang dia berseru melarang. Akan tetapi kedua orang jago muda itu makin lama menjadi makin penasaran dan panas karena belum juga dapat mengalahkan lawan.

Makin sering mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran dan semakin sering pula Kwa Hong berteriak-teriak melarang. Malah sekarang Thio Bwee juga turut berteriak-teriak karena khawatir melihat dua orang jago muda itu mulai menggunakan serangan sungguh-sungguh yang membahayakan lawan. Pertandingan untuk mengadu kepandaian itu sudah menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.

Kwa Hong menjadi marah dan membanting-banting kakinya. "Kalian curang! Kalian tidak memegang janji. Sudah, jangan berkelahi lagi!"

Akan tetapi mana dua orang jago muda yang sudah panas perutnya itu mau berhenti? Mereka malah menyerang lebih hebat. Kwa Hong berteriak-teriak marah.

Tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dua orang jago muda itu roboh terguling. Mereka tak terluka karena tadi hanya terdorong saja ke samping. Dengan heran mereka merayap bangun. Juga Kwa Hong dan Thio Bwee terheran-heran memandang.

Ternyata Koai Atong sudah berdiri di situ, cengar-cengir dan berkata, "Kalian tidak boleh bikin marah Enci Hong!"

Lalu dia berpaling kepada Kwa Hong dan berkata, "Enci Hong, aku datang kembali untuk mengajak kau bermain-main seperti dulu. Hayo ikut aku ke hutan sebelah sana itu, tadi aku melihat seekor kijang muda yang amat indah. Akan kutangkap binatang itu untukmu." la melangkah maju hendak menggandeng tangan Kwa Hong.

"Tidak, Koai Atong. Aku tidak mau pergi. Sukong akan marah nanti." Kwa Hong mengelak.

"Tidak marah, biar kalau marah aku yang tanggung jawab." Koai Atong hendak memaksa, sekali tangannya menyambar dia sudah dapat memegang pergelangan tangan Kwa Hong.

"Tidak, tidak, aku tidak mau...”

Mereka berkutetan. Agaknya Koai Atong tidak mau mempergunakan kekerasan terhadap Kwa Hong yang disayanginya sebagai sahabat baik itu, maka mereka berkutetan saling tarik. Kalau Koai Atong mau menggunakan kekerasan, tentu saja dengan mudah dia akan dapat membawa lari Kwa Hong.

Pada saat itu, dari luar taman berjalan masuk seorang anak laki-laki. Jauh di belakang nampak beberapa orang tosu berlari-lari sambil berteriak-teriak.

"Anak setan, tak boleh masuk ke sana!"

Agaknya anak yang masuk itu tadi dapat meninggalkan para tosu yang sekarang berlari mengejarnya. Anak ini bukan lain adalah Beng San!

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Beng San sampai di kaki gunung Hoa-san dan bertemu dengan Tan Hok beserta teman-temannya, para anggota Pek-lian-pai. Setelah berpisah dari Tan Hok, dia segera mendaki gunung itu menuju ke puncak.

Beberapa orang tosu melarangnya naik, akan tetapi Beng San berkeras hendak bertemu dengan ketua Hoa-san pai. Ketika dihalangi anak ini lalu berlari menyelinap cepat sampai para tosu itu tertinggal jauh dan mengejar terus. Akhirnya dia memasuki taman bunga itu.

Melihat betapa seorang gadis cilik ditarik-tarik seorang laki-laki tinggi besar, hati Beng San menjadi penasaran dan marah sekali. Ia tidak mengenal Kwa Hong, juga tidak mengenal Koai Atong sungguh pun pernah dia bertemu dengan kedua orang ini.

Dengan langkah lebar dia menghampiri Koai Atong yang masih berkutetan dengan Kwa Hong, memegang lengan Koai Atong sambil berkata keras.

"Seorang laki-laki dewasa menyeret-nyeret seorang anak perempuan kecil, sungguh tidak patut. Memalukan sekali!"

Suara Beng San amat nyaring sampai terngiang di telinga. Tidak hanya Koai Atong yang kaget, juga Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sangat terkejut. Mereka menoleh dan memandang.

Tiba-tiba saja Koai Atong melepaskan pegangannya pada lengan Kwa Hong. Tubuhnya menggigil, wajahnya yang merah berubah pucat sekali, matanya melotot lebar, mulutnya ternganga dan dia pun berdiri seperti orang terserang demam. Tangan kanannya dengan telunjuk menggigil menuding ke arah Beng San, sedangkan bibirnya mengeluarkan suara tidak karuan, akan tetapi masih dapat ditangkap oleh anak-anak itu.

"Ssseeeee... sssssetannn... setan...!"

Tiba-tiba dia meloncat jauh dari situ, lalu lari sekerasnya sambil memekik-mekik, "Setan! Dia roh jahat... hidup lagi... aduhhh setan... ampunkan aku...!" Sebentar saja Koai Atong sudah tidak tampak lagi bayang-bayangnya.

Tentu saja Beng San terlongong keheranan. la tidak tahu bahwa dahulu dalam keadaan tidak sadar karena menelan pil buatan Siok Tin Cii, dia dipukul dan dilukai oleh Koai Atong yang menggunakan Jing-tok-ciang dan anak tua itu menyangka bahwa dia sudah tewas. Tentu saja sekarang tiba-tiba melihat Beng San dengan muka merah kehitaman berdiri di depan kakek yang berwatak anak-anak ini membuat Koai Atong ketakutan setengah mati dan membuat dia lari tunggang-langgang, tak berani lagi kembali ke Hoa-san!

Kwa Hong dan teman-temannya juga terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di situ. Pakaiannya compang-camping, kakinya tidak bersepatu, rambutnya kusut dan mukanya merah kehitaman.

Muka Beng San menjadi merah karena dia tadi marah melihat Koai Atong menarik-narik tangan Kwa Hong. Mukanya merah hitam, sedang matanya tajam seperti mata harimau, benar-benar merupakan seorang anak yang aneh dan patut kalau dianggap setan.

Akan tetapi Kwa Hong segera mengenal Beng San. Dia melangkah maju, kemudian dia memperhatikan muka Beng San yang sementara itu telah mulai berubah, lenyap warna merah hitam menjadi putih bersih kembali, akan tetapi perlahan-lahan lalu berubah pula menjadi kehijauan. Hal ini adalah karena sepasang mata Kwa Hong sudah mengenalnya, dan ia merasa agak malu berhadapan dengan empat orang anak-anak yang berpakaian indah-indah dan bersikap gagah ini.

"Ehh, kaukah ini? Kau... bunglon?" Kwa Hong menegur sambil tertawa geli.

Setelah mendengar suara Kwa Hong, baru Beng San teringat bahwa gadis cilik berbaju merah inilah yang dahulu pernah bercekcok dengannya di dalam hutan. la pun tersenyum dan berkata. "Kiranya kau di sini... kuntilanak!"

Kui Lok dan Thio Ki menjadi merah mukanya. Mereka memandang kepada Beng San dengan mata melotot, marah sekali mereka mendengar betapa anak jembel ini memaki Kwa Hong kuntilanak. Benar-benar kurang ajar sekali!

Pada saat itu para tosu yang mengejar Beng San, empat orang jumlahnya, sudah tiba di situ dan mereka berteriak-teriak.

"Penjahat cilik itu jangan sampai terlepas! Di larang masuk ke sini!"

"Aku mau berjumpa dengan Lian Bu Tojin," bantah Beng San.

Akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki yang sudah marah sekali, melihat para tosu marah-marah pula kepada anak jembel itu, menjadi makin berani. Keduanya lalu melangkah maju dan memaki, "Jembel busuk hayo pergi dari sini!"

Beng San tenang-tenang saja, memandang kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri angkuh di depannya. "Aku tidak mau pergi kalau belum bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Keparat! Kau minta dipukul?" bentak Thio Ki marah.

Beng San tertawa dan menggeleng kepalanya. "Siapa yang minta dipukul? Aku tidak! Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Macammu ini mau bertemu dengan sukong? Sukong terlalu mulia untuk bertemu dengan segala jembel busuk. Kalau kau tidak lekas minggat dari sini, akan kupukul!" kata Kui Lok galak.

Beng San melengak heran. "Kalian ini cucu murid Lian Bu Tojin? Ahh, kalau begitu aku salah alamat. Orang bilang Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai seorang yang mulia hatinya, dan bahwa orang-orang Hoa-san-pai adalah orang-orang gagah. Kiranya murid kecilnya saja sudah begini galak."

Kui Lok dan Thio Ki adalah keturunan orang-orang gagah, maka ucapan itu merupakan tamparan bagi mereka. "Kau yang kurang ajar!" bantah Thio Ki membela diri. "Kau berani memaki kuntilanak kepada Hong-moi. Kurang ajar kau!"

Beng San menoleh kepada Kwa Hong sambil tertawa kecil. "Dia memang kuntilanak. Tanyakan saja kepadanya, kami berkenalan sebagai bunglon dan kuntilanak. Betul tidak begitu, kuntilanak?"

Kwa Hong membanting kakinya yang kecil. "Bunglon! Kadal monyet kau! Aku bukanlah kuntilanak!”

"Aku juga bukan bunglon, kadal atau monyet!" bantah Beng San marah.

"Tapi mukamu berubah-ubah seperti bunglon, kau masuk selongsong ular seperti kadal, rupamu buruk cengar-cengir seperti monyet!" maki Kwa Hong dengan muka merah saking marahnya.

"Kau pun galak dan mukamu buruk seperti kuntilanak..."

"Plakkk!"

Tangan Kwa Hong melayang dan pipi kiri Beng San telah ditamparnya. Tubuh Beng San terhuyung mundur.

Pada saat itu, Kui Lok dan Thio Ki sudah menubruk maju dan menghujani tubuh Beng San dengan pukulan-pukulan keras. Beng San terhuyung-huyung dan roboh. Anak ini memang selama meninggalkan tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee, selalu mentaati perintah kakek itu dan tidak pernah mau mempergunakan kepandaiannya. Maka ketika ditampar kemudian dipukuli dia diam saja, ‘menyimpan’ tenaga dalam tubuhnya dan membiarkan dirinya dipukuli. Ia merasa kulit dada dan mukanya sakit-sakit.

”Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin, jangan pukul aku..." dia berkata.

Akan tetapi dua orang jago muda itu tidak mau memberi ampun lagi kepadanya. Thio Ki memukul lagi ketika Beng San mencoba untuk berdiri, pukulan keras mengenai leher Beng San membuat anak itu terpelanting roboh. Kui Lok lalu menubruknya, menduduki dadanya dan memukuli muka Beng San dengan kedua tangan. Kedua pipi Beng San sampai bengkak-bengkak terkena pukulan ini.

"Hayo, kau minta ampun dan berjanji mau pergi dari sini!" kata Kui Lok terengah-engah, menghentikan pukulannya.

Beng San hanya menggeleng kepalanya. "Aku mau bertemu dengan Lian Bu..." Tak dapat dia melanjutkan kata-katanya karena hidungnya dipukul Kui Lok sampai keluar darahnya.

"Lok-te, biar kugantikan engkau!" Thio Ki menarik Kui Lok pergi dan menjambak rambut Beng Sang, menarik anak ini berdiri lalu memukul ke arah dada.

"Blukkk!"

Tubuh Beng San terlempar sampai dua meter lebih. Thio Ki mengejar, menjambak rambut lagi, mendirikan Beng San lalu dipukul lagi lebih keras. Pakaian Beng San yang sudah cobak-cabik itu makin rusak, koyak-koyak di sana-sini.
cerita silat karya kho ping hoo

"Sudah, Ki-ko, Lok-ko, jangan pukul lagi!"

Kwa Hong maju mencegah. Tak tega ia melihat Beng San dipukuli seperti itu. Juga Thio Bwee maju mencegah kakaknya. Akan tetapi para tosu dengan tertawa lebar memuji-muji kepandaian dua orang kongcu muda itu dan berkata menganjurkan.

"Pukul terus! Pukul sampai dia mau minta ampun."

"Hayo lekas berlutut minta ampun!” teriak Kui Lok dan Thio Ki berganti-ganti sambil memukul terus.

Sesabar-sabarnya orang, apa lagi seorang anak kecil seperti Beng San, kalau didesak terus seperti itu dan disiksa, akhirnya tak kuat juga menahan. Sakit pada tubuhnya bukan apa-apa baginya karena dia sudah sering kali menderita sakit. Akan tetapi sakit pada hatinya yang lebih berat ditanggung. Mukanya yang tadinya kehijauan sekarang sudah mulai menjadi merah kehitaman, tanda bahwa dia tak dapat lagi menahan kemarahannya.

Pada waktu itu, Kui Lok memegang tangan kirinya, sedangkan Thio Ki memegang tangan kanannya, keduanya memukul dari kanan kiri sambil membentak-bentak, memaksa dia berlutut minta ampun. Karena tidak dapat lagi menahan kemarahannya, tenaga mukjijat dalam tubuh Beng San bekerja, hawa Yang di tubuhnya membuat mukanya kehitaman itu menolak pukulan-pukulan dari kanan kiri.

Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan, Kui Lok sehabis memukul terguling roboh, disusul Thio Ki yang juga roboh setelah memukul leher Beng San. Kedua orang anak itu roboh dan pingsan dengan mata mendelik dan mulut berbusa!

Bukan main kagetnya Kwa Hong dan Thio Bwee. Mereka melihat jelas betapa dua orang jago muda itu yang memukul, kenapa tahu-tahu roboh pingsan dengan mata mendelik? Para tosu juga melihat ini dan mereka yang percaya akan tahyul menjadi ketakutan.

"Dia benar setan... dia iblis jahat... celaka...!" Para tosu itu cepat mengeluarkan senjata masing-masing dan siap hendak mengeroyok Beng San.

”Supek sekalian, jangan turun tangan!" Kwa Hong meloncat mencegah. "Biar sukong nanti yang memutuskan urusan ini."

Para tosu masih bersikap mengancam. Beng San diam-diam mencatat pembelaan Kwa Hong atas dirinya ini di dalam hatinya. Betapa pun juga, kuntilanak cilik ini tidak jahat, pikirnya. la diam saja, hanya menyusuti darah yang tadi mengalir dari lubang hidungnya dan membereskan pakaiannya yang koyak-koyak.

Kebetulan sekali pada waktu itu, Lian Bu Tojin dan Sian Hwa datang memasuki taman. Mereka kaget melihat ribut-ribut di taman.

Sian Hwa berseru kaget. Ia cepat-cepat memeriksa dua orang anak keponakannya yang pingsan dengan mata mendelik. Lian Bu Tojin juga memandang heran.

Setelah memeriksa sebentar, kakek ini bertanya dengan suara terheran-heran. "Mereka pingsan karena terluka hawa pukulan sendiri yang membalik," lalu menoleh kepada Kwa Hong dan Thio Bwee. "Apa yang telah terjadi di sini?”

Beramai-ramai Kwa Hong bersama para tosu yang tadi menghalangi Beng San masuk menceritakan asal mula kejadian itu. Bahwa Beng San memaksa naik ke puncak sampai memasuki taman dan betapa Koai Atong yang hendak membawa pergi Kwa Hong kaget dan lari ketakutan saat melihat kedatangan Beng San. Kemudian Kwa Hong menceritakan betapa Thio Ki dan Kui Lok marah karena Beng San tidak mau pergi, dan kemudian dua anak ini memukuli Beng San.

"Bunglon... ehh, anak ini tidak melawan, Sukong. Teecu sudah mencegah kedua suheng memukulinya, tetapi mereka terus saja memukul. Akhirnya, entah bagaimana, keduanya malah roboh sendiri seperti itu." Setelah berkata demikian, Kwa Hong menoleh kepada Beng San yang kini berdiri menundukkan mukanya yang sudah berubah putih kembali, pulih bersih dengan alisnya yang hitam lebat dan matanya yang seperti mata harimau.

Lian Bu Tojin menghampiri kedua orang muridnya. Dengan beberapa kali mengurut pada punggung mereka, dua orang anak itu waras kembali, bangun dengan muka kemerahan.

Lian Bu Tojin memandang mereka dengan muka keren, membuat dua orang anak itu tunduk ketakutan. Kemudian Lian Bu Tojin menghampiri Beng San, untuk beberapa menit lamanya dia menatap wajah anak itu dan amat terheran-heran menyaksikan sinar mata yang luar biasa dari anak jembel yang berdiri di depannya.

"Kau siapakah, anak muda?" Pertanyaan kakek ini halus tetapi berpengaruh, sedangkan pandang matanya tajam menembus jantung.

Hal ini dirasakan oleh Beng San ketika dia mengangkat muka. Cepat-cepat dia kembali menundukkan pandang matanya agar jangan sampai kakek itu dapat membaca rahasia hatinya.

"Nama teecu Beng San," jawabnya sederhana.
"Apa nama keturunanmu?"
"Ehh... nama keturunan? Hemmm, she (nama keturunan) teecu (aku) adalah... Huang-ho (Sungai Kuning)."

”Apa?” Lian Bu Tojin mengerutkan keningnya. "Di dunia ini, mana ada orang bernama keturunan Huang-ho?"

"Teecu hanya tahu bahwa teecu terbawa hanyut Sungai Huang-ho, karena itu teecu tidak tahu lagi siapa orang tua dan siapa pula she, teecu mengambil keputusan untuk memakai nama keturunan Huang-ho saja. Jadi nama teecu Huang-ho Beng San."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggot. Diam-diam dia memuji sikap anak ini yang dari kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang anak yang tahu akan sopan santun.

"Kenapa Koai Atong lari tunggang-langgang melihatmu?"

"Siapa itu Koai Atong, Totiang? Teecu tidak mengenalnya."

"Orang tinggi besar yang tadi lari ketakutan melihatmu. Apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Beng San menggelengkan kepalanya. "Teecu tidak merasa pernah bertemu dengan orang tadi."

Kembali Lian Bu Tojin mengelus jenggot, sedangkan Sian Hwa, Kwa Hong dan tiga orang temannya, juga para tosu yang berada di situ, mendengarkan dengan heran. Bocah ini benar-benar aneh.

”Ketika kau dipukuli oleh kedua orang anak nakal ini, dengan cara bagaimana kau dapat mengembalikan tenaga dan hawa pukulan mereka? Pernahkah kau belajar silat?"

Kembali Beng San menggelengkan kepala. "Teecu tidak tahu, tidak bisa silat."

Lian Bu Tojin menoleh kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri sambil tunduk. Kening kakek ini berkerut.

"Kalian ini anak-anak nakal sungguh tak tahu malu. Mengeroyok dan memukuli seorang anak yang tidak pandai silat? Apakah hal itu termasuk perbuatan gagah? Sungguh amat memalukan kalian ini. Dan katakanlah, apa sebabnya kalian tadi roboh pingsan?"

Kui Lok tidak berani menjawab, Thio Ki juga hanya melirik kepadanya. Setelah Lian Bu Tojin membentak dan mendesak, baru Thio Ki menjawab lirih.

"Tidak tahu, Sukong. Tahu-tahu teecu sudah sadar tadi. Entah apa sebabnya teecu bisa pingsan.”

Sian Hwa merasa kasihan melihat murid-murid keponakannya, maka ia berkata. "Suhu, apakah tidak bisa jadi karena terlampau marah, mereka tidak mengatur tenaga dan hawa kemarahan lantas menyesak ke dada sehingga ketika mereka memukul, tenaga pukulan terpental oleh hawa yang menyesak di dada sendiri itu?"

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Mungkin begitu. Tapi hal ini termasuk hal yang luar biasa sekali." Ia menoleh kepada Beng San. "Apakah badanmu sakit-sakit dipukul tadi? Coba kuperiksa, barangkali kau terluka parah, kalau begitu akan kuobati sampai sembuh."

Tanpa menanti jawaban Lian Bu Tojin menyodorkan tangannya dan meraba pundak Beng San. Anak ini merasa betapa dari telapak tangan yang halus lunak itu keluar semacam tenaga dahsyat yang menyerang pundaknya.

la kaget sekali dan hampir saja mengerahkan tenaga. Baiknya dia seorang yang cerdik. Biar pun dia belum perpengalaman, namun pengertiannya dalam ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Lo-tong Souw Lee sudah cukup. la mengerti bahwa dirinya diuji, maka segera dia mengumpulkan semangatnya, memaksa diri diam saja agar hawa di tubuhnya jangan bergerak.

Lian Bu Tojin mendapat kenyataan dari rabaan tangannya pada pundak anak itu bahwa memang anak itu kosong, tubuhnya tidak memiliki tenaga dalam. Karena itu, lenyaplah kecurigaannya bahwa cucu-cucu muridnya roboh oleh penggunaan tenaga dalam yang luar biasa. la tertawa sambil melepaskan tangannya.

"Ha, kau tidak apa-apa, tidak terluka. Beng San, sekarang ceritakan, apa kehendakmu datang ke Hoa-san mencari pinto."

"Teecu datang membawa sepucuk surat dari sahabat lama Totiang. Inilah suratnya."

Beng San menyerahkan surat tulisan Lo-tong Souw Lee dengan mengucapkan kata-kata seperti yang dipesan oleh kakek itu. Memang kakek tua itu memesan kepadanya agar jangan mengucapkan namanya di depan Lian Bu Tojin.

Lian Bu Tojin tersenyum dan menerima surat itu. Jantung kakek ketua Hoa-san-pai ini berdetak keras ketika dia melirik ke arah nama pengirim surat itu. Akan tetapi kekuatan batinnya yang sudah tinggi itu membuat wajahnya tetap tersenyum, sama sekali tidak memperlihatkan keadaan hatinya. Siapa orangnya tidak akan berdetak keras jantungnya ketika membaca nama Lo-tong Souw Lee?

Nama besar Souw Lee dikenal oleh semua orang kang-ouw setelah perbuatannya yang menggemparkan, yaitu setelah dia mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang gagah di dunia persilatan.

Sebagai seorang ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin sendiri tentu saja merasa malu untuk turut memperebutkan senjata pusaka lain orang. Apa lagi dengan Souw Lee dia dahulu waktu mudanya pernah menjadi sahabat yang amat baik.

Dengan tenang Lian Bu Tojin membaca surat itu. Di dalam suratnya itu, Lo-tong Souw Lee minta pertolongan ketua Hoa-san-pai agar suka melindungi Beng San dari ancaman mara bahaya.

"Anak ini yatim piatu," tulis Lo-tong Souw Lee, "aku amat kasihan dan suka kepadanya. Mungkin akibat kenal denganku, jiwanya menjadi terancam oleh orang-orang jahat. Harap kau lindungi dia sampai saat aku mati dan dia terbebas dari ancaman orang yang hendak memaksanya membawa mereka kepadaku."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. la mengerti akan maksud Lo-tong Souw Lee. Agaknya anak ini dikasihi kakek itu dan karena anak ini berkenalan dengan Souw Lee, sangat bisa jadi orang-orang kang-ouw akan menculiknya dan memaksanya menunjukkan di mana tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee.

"Beng San, sudah lamakah kau kenal dengan penulis surat ini?" Lian Bu Tojin bertanya sambil menyimpan surat itu ke dalam saku jubahnya.

"Belum lama, Totiang, baru beberapa bulan," jawab Beng San sejujurnya.

"Jadi kau tidak tahu tempatnya, ya? Bagus, tentu kau tidak tahu tempatnya," kata ketua Hoa-san-pai ini, membuat Beng San terheran-heran.

Akan tetapi anak yang cerdik ini segera maklum akan maksud Lian Bu Tojin. Tentu kakek ini memperingatkan kepadanya supaya dia tidak mengaku tahu tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee kepada siapa pun juga. Maka dia mengangguk dan menundukkan mukanya.

"Apa kau suka belajar silat? Kulihat kau amat berbakat untuk belajar ilmu silat. Kau boleh belajar dari para tosu murid-murid pinto."

Beng San berpikir. Apa artinya dia mempelajari ilmu silat lain? Ilmu-ilmu yang sudah dia hafalkan pun belum matang dia latih. Pula, kalau dia belajar ilmu silat Hoa-san-pai, berarti dia menjadi murid Hoa-san-pai dan ada bahayanya akan diketahui orang rahasianya apa bila dia bergerak dalam bermain silat.

"Teecu lebih senang mempelajari ujar-ujar kuno dan filsafat-filsafat, dalam hal ini mohon petunjuk Totiang."

Lian Bu Tojin menggerak-gerakkan alisnya saking herannya. Di mana di dunia ini ada seorang anak belasan tahun umurnya ingin mempelajari filsafat kebatinan?

"Pernahkah kau mempelajari kebatinan?" tanyanya.

"Teecu pernah bekerja sebagai kacung di dalam kelenteng besar dan para losuhu yang baik dari kelenteng itu kadang-kadang mengajar teecu membaca kitab-kltab kuno."

”Bagus kalau begitu. Beng San, mulai sekarang kau kuserahi tugas menjaga kebersihan pondok pinto dan di waktu senggang kau boleh mempelajari filsafat tentang Agama To."

Beng San menjatuhkan diri berlutut, kemudian menghaturkan terima kasih. Lian Bu Tojin mengangguk-angguk dan mengajak anak itu masuk pondoknya untuk memberi petunjuk tentang tugas pekerjaannya.

Ketika Beng San bangkit berdiri, dia menoleh ke arah Kwa Hong dan tersenyum ramah. Tidak terlupa olehnya betapa tadi Kwa Hong membelanya ketika dia dipukuli dua orang jago cilik murid Hoa-san-pai itu. Juga dia mengerling manis ke arah Thio Bwee yang tadi pun berusaha mencegah Thio Ki. Akan tetapi dia melihat betapa dua pasang mata jago cilik itu memandang kepadanya penuh kebencian.


BERSAMBUNG KE Raja Pedang Jilid 12


Raja Pedang Jilid 11

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJA PEDANG JILID 11

Sudah amat lama kita meninggalkan Kwa Hong, gadis cilik putera tunggal Kwa Tin Siong, bocah mungil yang lincah gembira itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwa Hong diantar oleh Koai Atong menuju ke Hoa-san-pai menyusul ayahnya.

Biar pun usia Koai Atong sudah sebaya dengan Kwa Tin Siong, kurang lebih empat puluh tahun, namun orang ini memang tidak normal jiwanya, dan wataknya kadang-kadang atau sering kali seperti seorang kanak-kanak sebaya Kwa Hong.

Oleh karena wataknya inilah maka Kwa Hong merasa amat senang melakukan perjalanan bersama seorang teman yang cocok dan baik lagi lucu. Di samping ini, juga kelihaian Koai Atong merupakan jaminan bagi keselamatannya.

Seperti juga di partai-partai persilatan besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, juga puncak Hoa-san ini merupakan pusat Hoa-san-pai yang ditinggali oleh banyak anak murid Hoa-san-pai. Mereka adalah tosu-tosu yang selain mempelajari ilmu silat sekedarnya, juga terutama sekali mempelajari ilmu kebatinan yang diturunkan oleh Nabi Locu. Di bawah bimbingan Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai, para tosu ini rata-rata memiliki kesabaran besar dan bisa menjaga nama baik Hoa-san-pai sebagai orang-orang beribadat.

Kedatangan Kwa Hong menggirangkan para tosu yang menjaga di luar. Mereka ini tentu saja sudah mengenal baik puteri tunggal Kwa Tin Siong yang sering mengajak anaknya mengunjungi Hoa-san. Akan tetapi para tosu ini pun terheran-heran melihat orang yang datang bersama Kwa Hong, seorang laki-laki tinggi besar berusia empat puluh tahun akan tetapi cengar-cengir dan ikut berlari-larian di samping Kwa Hong yang seorang anak kecil!

"Supek (Uwa Guru) sekalian! Aku datang menyusul ayah. Di mana ayah dan bibi guru?" Datang-datang Kwa Hong berteriak-teriak kepada para tosu itu.

Tiga orang tua menghampiri Kwa Hong sambil tersenyum, "Ayahmu dan bibi gurumu tidak berada di sini, belum kembali. Lebih baik segera pergi menghadap kakek gurumu, Hong Hong." Para tosu itu biasa memanggil Kwa Hong dengan sebutan Hong Hong dan mereka amat menyayang bocah yang mungil dan selalu gembira ini.

Memang, di antara para cucu murid Lian Bu Tojin, hanya Kwa Hong yang paling sering berdiam di puncak itu karena dia amat dimanja oleh ayahnya dan sering diajak ikut pergi mengembara bersama ayahnya. Kwa Hong berlari sambil tertawa-tawa hendak memasuki bangunan besar berbentuk kelenteng untuk menghadap sukong-nya (kakek gurunya).

"Enci Hong, jangan tinggalkan aku! Aku ikut!" Koai Atong juga lari mengejar.

"Hong Hong, kenapa kau bawa-bawa orang tolol ini? Ehh, orang gila, jangan kurang ajar kau. Tidak boleh masuk!" Tiga orang tosu itu tentu saja hendak melarang Koai Atong yang seenaknya saja hendak memasuki kelenteng itu. Mereka melangkah maju menghadang dan membentangkan kedua lengan menghalanginya.

"Aku mau ikut Enci Hong... melihat-lihat kelenteng!" Koai Atong membantah dan lari terus.

Tiga orang tosu itu menggerakkan tangan untuk memegangnya. Koai Atong bergerak aneh dan... tahu-tahu dia telah dapat menyelinap masuk, lolos dari tangkapan tiga orang tosu itu.

Tentu saja tiga orang tosu ini saling pandang dengan mulut melongo. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan Koai Atong, tidak tahu bagaimana orang itu dapat meluputkan diri dari cengkeraman tiga orang dan tahu-tahu sudah menyelonong masuk. Dari heran mereka menjadi malu dan marah.

"Otak miring, perlahan jalan. Kau tidak boleh masuk!" bentak mereka sambil lari mengejar.

Sekarang mereka mengambil keputusan untuk tidak bersikap lemah lagi, dan kalau perlu orang gila itu harus dipukul. Akan tetapi ketika mereka maju untuk mencengkeram dan memukul, tanpa menoleh Koai Atong menggerakkan kedua lengannya ke arah belakang. Sekaligus dia menangkis tangan tiga orang tosu itu dan... tiga orang tosu itu terjengkang dan roboh!

Hal ini terlihat oleh beberapa orang tosu lain. Mereka menjadi marah dan bersama tiga orang tosu pertama yang sudah bangun lagi, sekarang ada tujuh orang tosu mengejar Koai Atong dengan marah-marah. Baru tosu-tosu ini serentak berhenti mengejar ketika mendengar suara halus dari dalam kelenteng.

"Jangan ganggu dia. Biarkan Koai Atong masuk ke dalam!"

Itulah suara Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai. Tentu saja para tosu itu sama sekali tidak berani membantah, apa lagi sesudah mendengar bahwa orang tua yang seperti berotak miring itu adalah Koai Atong, seorang kang-ouw yang namanya sudah pernah mereka dengar sebagai seorang yang berilmu tinggi akan tetapi yang berwatak bagaikan bocah! Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas ketika Koai Atong yang mendengar suara Lian Bu Tojin itu kini menoleh kepada mereka, menyeringai dan meleletkan lidah seperti seorang anak nakal mengejek anak-anak lain!

Satu-satunya orang yang agak ditakuti Kwa Hong adalah Lian Bu Tojin. Kakek gurunya ini orangnya sabar sekali, bicaranya halus dan tidak pernah bersikap galak. Akan tetapi bagi Kwa Hong, pandang mata kakek gurunya itu amat tajam dan langsung menjenguk isi hati orang, kadang-kadang berkilat dan membuat hatinya mengkeret.

Maka sekarang ia berlutut dengan hormat di depan kakek gurunya yang duduk bersila di atas lantai bertilam kasur tipis. Koai Atong yang memasuki ruangan itu sambil celingukan dan pringas-pringis, setelah melihat kakek yang berjenggot panjang itu, segera pula turut menjatuhkan diri berlutut di sebelah Kwa Hong.

Lian Bu Tojin mengelus-elus jenggotnya yang panjang, tubuhnya yang tinggi dan kurus itu duduk bersila tegak, tongkat bambunya yang membuat namanya amat terkenal itu terletak di sebelah kirinya. Bibirnya tersenyum dan dia mengangguk-angguk senang.

"Bagus, Hong Hong, kau sudah datang. Ehh, Koai Atong, terima kasih atas jerih payahmu mengantar dia ke sini. Bagaimana dengan gurumu?"

Koai Atong mengangkat mukanya memandang. "Suhu... entah di mana sekarang. Teecu mohon Totiang suka mintakan maaf kepada suhu kalau kelak suhu marah dan menghajar teecu. Tidak mestinya teecu sampai ke Hoa-san."

Dengan sabar Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Tentu saja, kau tidak perlu khawatir. Gurumu Giam Kong Hwesio tak akan marah apa bila dia tahu bahwa kau mengantar cucu muridku ke sini. Kalau kau kembali dan bertemu padanya, harap kau sampaikan salamku kepadanya."

Koai Atong hanya mengangguk-angguk.

Kwa Hong ingin sekali bertanya tentang ayahnya kepada kakek gurunya itu, akan tetapi di depan kakek itu, entah mengapa, mulutnya sukar sekali dibuka. Tetapi kakek yang sudah kenyang makan asam garam penghidupan itu, sekali pandang saja telah dapat menduga apa yang dipikirkan Kwa Hong.

"Hong Hong, ayahmu bersama kedua susiok dan sukouw-mu pergi turun gunung. Kurasa tidak lama lagi, dalam beberapa hari ini mereka akan datang. Di belakang sana ada tiga orang saudara-saudaramu, anak-anak dari kedua susiok-mu. Kau pergilah ke sana dan bermain dengan mereka."

Wajah Kwa Hong tiba-tiba berseri gembira. "Enci Bwee di situ?"

Ketika kakek itu mengangguk. Kwa Hong lalu bangkit dan lari ke belakang melalui pintu samping.

Koai Atong yang masih berlutut, memandang ke arah larinya Kwa Hong, kemudian ia berkata. "Totiang, perkenankan teecu bermain-main di sini selama beberapa hari dengan Enci Hong."

Lian Bu Tojin tersenyum, akan tetapi suaranya tegas ketika berkata. "Atong, kau boleh bermain-main dengan anak-anak itu di sini selama tiga hari. Tak boleh lebih dari tiga hari. Suhu-mu tentu akan menanti-nanti kembalimu."

Sambil mengangguk-angguk Koai Atong lalu berlari gembira mengejar Kwa Hong yang pergi menuju ke taman bunga di belakang kelenteng. Setibanya di taman bunga yang luas dan indah itu, Koai Atong melihat Kwa Hong sedang bercakap-cakap gembira dengan tiga orang anak lain, yaitu dua orang anak laki-laki yang tampan dan seorang anak perempuan yang cantik seperti Kwa Hong.

Biar pun Kwa Hong tampak yang paling muda di antara mereka, namun jelas bahwa tiga orang anak-anak lain itu mengagumi dan menghormatnya, terlihat dari cara mereka itu mendengarkan kata-kata Kwa Hong yang sedang menyombongkan semua pengalaman dirinya yang hebat-hebat, tentu saja dengan tambahan di sana-sini, agar lebih seram dan menarik.

Seperti kita telah ketahui, tiga orang anak itu bukan lain adalah Thio Ki dan Thio Bwee, putera-puteri Thio Wan It, dan yang seorang lagi adalah Kui Lok putera tunggal Kui Teng. Tiga orang anak itu masih berada di Hoa-san, mereka menanti orang tua mereka sambil memperdalam ilmu silat di bawah asuhan Lian Bu Tojin sendiri. Oleh karena Kwa Hong adalah puteri dari orang pertama dari Hoa-san Sie-eng, apa lagi karena memang Kwa Hong lebih sering dan lebih banyak merantau dari pada mereka, ditambah lagi sifat yang lincah gembira, membuat tiga orang anak itu amat mengagumi Kwa Hong.

Tiba-tiba Kui Lok menudingkan telunjuknya ke arah seorang yang berlari-lari memasuki taman. "Ehh, dari mana datangnya orang gila?"

Semua anak menoleh dan melihat seorang laki-laki tinggi besar berlari datang sambil tertawa-tawa. Pakaian dan sepatu laki-laki tinggi besar ini berkembang-kembang seperti yang biasa dipakai wanita. Tentu saja dia ini adalah Koai Atong yang sangat gembira melihat taman bunga begitu indah dan di situ terdapat banyak teman bermain pula.

Kwa Hong tertawa. "Dia bukan orang gila. Dia itulah Koai Atong yang baru saja aku ceritakan tadi. Dia lihai bukan main, orangnya lucu dan pandai bermain-main. He, Koai Atong, ke sinilah. Banyak teman di sini!"

Sambil berloncat-loncatan Koai Atong mempercepat larinya, congklang seperti seekor kuda besar. "Wah, Enci Hong. Aku senang di sini, banyak bunga indah. Tosu tua itu sudah memberi ijin kepadaku untuk tinggal di sini selama tiga hari. Hore, kita bisa bermain-main sepuasnya!"

Thio Ki dan Kui Lok memandang Koai Atong dengan kening berkerut, sedangkan Thio Bwee memandang orang aneh itu dengan perasaan ngeri dan jijik. Bagaimana mereka bisa bermain-main dengan seorang gila seperti ini?

Tanpa mempedulikan sikap ketiga orang anak yang lain itu, Kwa Hong berkata gembira kepada Koai Atong, "Eh, Atong, kau berkenalan dulu dengan teman-teman ini yang semua adalah orang-orang sendiri."

Dia lalu menyebut nama ketiga orang anak itu seorang demi seorang. Dengan sepasang matanya yang berputaran, Koai Atong memandang tiga orang anak itu seorang demi seorang. Thio Bwee sampai melangkah mundur setindak saking ngerinya.

"Masa orang tua bermain-main dengan anak-anak?" Thio Ki mencela sambil memandang tajam kepada Koai Atong. Dia tidak percaya kepada orang tinggi besar ini yang menurut pandangannya tentu bukan orang baik-baik.

"Benar, Ki-ko (Kakak Ki). Aku pun tidak sudi bermain-main dengan dia. Ihhh, kakek-kakek mau bermain dengan anak kecil!" Thio Bwee memperkuat pendapat kakaknya.

Akan tetapi Kui Lok mendadak berkata sambil memandang Kwa Hong, "Kalau Adik Hong sudah menjadi temannya, mengapa kita tidak? Koai Atong, aku juga suka bermain-main denganmu, sama seperti Adik Hong."

Thio Bwee menoleh kepada Kui Lok. Sepasang matanya seperti berapi. Biasanya anak ini pendiam, akan tetapi entah mengapa, kini agaknya dia marah sekali kepada Kui Lok.

"Kau memang selalu lain dari pada orang lain. Tidak hanya tangan, juga pikiranmu!"

Wajah Kui Lok menjadi merah mendengar sindiran ini. la maklum bahwa Thio Bwee tadi menyindir tangannya yang kidal.

Kwa Hong tertawa, sama sekali tidak marah karena temannya dicela. "Dulu pun aku tidak suka, akan tetapi setelah melihat betapa lihainya Koai Atong, dan betapa dia baik hati dan penurut, aku lalu menjadi suka padanya. Hemmm, kalian ini bertiga menghadapi tangan kirinya saja tak akan mampu mengalahkannya. Dia lihai sekali, mungkin tidak kalah oleh ayah kalian."

"Bohong..,..!" seru Thio Bwee marah.

"Aku tidak percaya...!" kata Thio Ki penasaran.

Kui Lok juga terpukul oleh ucapan Kwa Hong itu. la ragu-ragu, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepala. "Ahh, agaknya tak mungkin..." akhirnya dia berkata.

"Kalian tidak percaya? Kurasa, dua orang ayah kalian maju bersama masih tidak mampu melawan Koai Atong. Kalian tahu? Dia pernah menolong ayah dan bibi guru. Hebat sekali. Penjahat-penjahat lihai dia kalahkan hanya dengan memutar-mutar tangan kirinya seperti ini..."

Dengan lincah dan lucu Kwa Hong lalu memutar-mutar tangan kiri beberapa lama sambil menggigit bibir, kemudian sambil berseru, "mati...!" tangan kirinya itu mendorong ke depan ke arah batang pohon besar yang tumbuh di situ. Beberapa helai daun pohon gugur dari tangkainya.

"Ahh, Enci Hong, kurang tenaga... kurang tenaga...! Gerakanmu sudah cukup indah, tapi pukulan itu belum mengandung tenaga. Lihat begini Iho!"

Koai Atong lalu memutar-mutar tangan kirinya seperti yang dilakukan Kwa Hong barusan, menggerakkan tangan itu perlahan ke depan, ke arah pohon yang tadi. Hebat sekali akibatnya. Pohon yang jaraknya antara dua meter dari tempat dia berdiri, tidak kelihatan goyang akan tetapi tiba-tiba semua daunnya rontok dari atas seperti hujan. Ketika semua anak memandang, ternyata bahwa pohon itu tiba-tiba menjadi gundul tak berdaun lagi!

Kwa Hong tersenyum girang dan bangga ketika melihat betapa Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok memandang dengan muka pucat. Bahkan Kui Lok meleletkan lidahnya saking heran dan kagumnya!

"Nah, bukankah dia hebat dan sangat lucu?, Kalau kalian berbaik kepadanya, kalian juga bisa mempelajari ilmunya, seperti aku. Kelak kita akan menjadi orang-orang yang lebih lihai dari pada ayah. Bukankah hebat?" kata pula Kwa Hong.

"Heee, siapa bikin rontok semua daun pohon itu? Celaka, pohon itu akan mati!"

Seruan ini dibarengi munculnya tiga orang tosu dari pintu taman. Ketika tiga orang tosu itu melihat Koai Atong, mereka makin marah. Mereka ini bukan lain adalah tosu-tosu yang tadi telah dirobohkan Koai Atong.

Seorang di antara mereka, yang matanya juling, melangkah maju dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Koai Atong sambil membentak.

"Orang gila ini berada di sini? Hong Hong, jangan biarkan dia di sini. Tentu dialah yang merusak pohon itu. Ahh, celaka, Hoa-san-pai kedatangan iblis gila!"

Kwa Hong melihat Koai Atong cengar-cengir dan mengejek ke arah tiga orang tosu itu dengan mulut dan mata dimain-mainkan, matanya melotot plerak-plerok dan mulutnya kadang-kadang dipencas-penceskan atau lidahnya dikeluarkan dan diulur ke arah ketiga orang tosu itu.

Sambil menahan ketawanya melihat ‘kenakalan’ Koai Atong, Kwa Hong cepat berkata, "Sam-wi Supek (Uwa Guru Bertiga) harap jangan marah. Koai Atong sudah mendapat perkenan sukong (kakek guru) untuk bermain-main di sini selama tiga hari."

Tiga orang tosu itu cemberut dan bersungut-sungut, "Orang gila diperbolehkan mengacau taman, merusak bunga dan merusak watak anak-anak. Celaka...! Biarlah, pinto (aku) akan berdoa selama tiga hari kepada para dewa agar supaya dia dikutuk...!" kata tosu bermata juling sambil mengajak teman-temannya pergi.

Setelah menyaksikan ketihaian Koai Atong tadi, di dalam hati tiga orang anak itu timbul keinginan hendak mempelajari ilmu pukulan tadi.

"Koai Atong, kau memang lihai sekali. Ajarkan ilmu pukulan tadi kepadaku!" kata Kui Lok mendekati.

”Kami pun ingin mempelajarinya," kata Thio Ki dengan sikapnya yang masih angkuh. Thio Bwee diam saja akan tetapi diam-diam dia mengambil keputusan bahwa kalau semua orang mempelajari, dia pun tak akan mau ketinggalan.

Melihat betapa anak-anak itu semua sekarang suka kepadanya, Koai Atong menjadi gembira sekali. Memang dia sudah tua, namun jiwanya memang tidak normal, sifatnya seperti kanak-kanak yang tentu saja merasa bangga dan suka apa bila anak-anak lain kagum kepadanya.

Ia tertawa-tawa dan berkata, "Mau belajar? Boleh, boleh, akan tetapi tidak mudah. Biarlah kita pergunakan pohon-pohon di taman ini sebagai lawan dalam latihan. Lihatlah baik-baik bagaimana kedudukannya kedua kaki, gerakan tangan kiri dan di mana letaknya tangan kanan. Begini."

Koai Atong lalu memberi petunjuk yang diturut oleh tiga orang anak itu. Mula-mula Thio Bwee masih malu-malu, akan tetapi kemudian melihat betapa Kwa Hong juga memberi petunjuk-petunjuk, ia menjadi tertarik dan ikut-ikut juga.

"Sudah bagus, sudah baik. Kalian cucu-cucu murid Hoa-san-pai memang berbakat," kata Koai Atong senang. "Sekarang mari coba memukul pohon-pohon itu. Kalian perhatikan baik-baik."

Koai Atong lalu menghampiri sebatang pohon besar, kemudian dengan sepenuh tenaga dia mendorong dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang. Akan tetapi pada saat itu, dari belakang pohon berkelebat bayangan orang dan di situ telah berdiri Lian Bu Tojin, tangan kiri memegang tongkat bambu sedangkan tangan kanannya diluruskan untuk menyambut dorongan tangan kiri Koai Atong.

"Atong, jangan merusak pohon...," kata tosu tua itu.

Koai Atong yang berwatak kanak-kanak itu pada dasarnya bukan dari kalangan baik-baik, maka setiap kali dilawan, dia tentu akan menggunakan kepandaiannya untuk mencapai kemenangan. Maka begitu dia merasa betapa pukulannya Jing-tok-ciang disambut oleh tangan kakek itu, dia mengerahkan tenaga dan melanjutkan pukulan itu dengan dorongan maut yang penuh hawa Jing-tok-ciang (Racun Hijau).

Kedua tangan itu bertemu dan lengket. Tangan kiri Koai Atong berubah kehijauan. Akan tetapi Lian Bu Tojin hanya berdiri tersenyum sambil memandang tajam. la maklum akan watak seorang seperti Koai Atong yang tentu tidak jauh dengan watak guru anak tua ini, teman baiknya, Ban-tok-sim Giam Kong. Dari julukannya saja, Ban-tok-sim berarti Hati Selaksa Racun. Dapat dibayangkan bagaimana watak guru Koai Atong.

Kwa Hong dan teman-temannya merupakan anak-anak dari para ahli silat Hoa-san-pai. Sebagai anak-anak yang semenjak kecil kenal akan seluk-beluk persilatan tingkat tinggi, tentu saja mereka tahu apa yang sedang terjadi antara Koai Atong dan sukong (kakek guru) mereka, yakni adu kepandaian atau lebih tepat adu tenaga dalam. Mereka semua memandang dengan muka berubah dan mata bersinar-sinar.

Ada dua menit Koai Atong dan ketua Hoa-san-pai itu berdiri tegak sambil meluruskan tangan. Akhirnya Lian Bu Tojin berkata perlahan.

"Koai Atong, kau sudah maju banyak."

Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuh Koai Atong terdorong ke belakang sampai lima langkah tanpa dapat dicegahnya lagi. Mukanya menjadi merah sekali dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan anak panahnya yang berwarna hijau. Inilah senjatanya yang ampuh dan hebat.

Lian Bu Tojin melihat ini kemudian tertawa. Tentu saja dia tidak bisa menganggap murid temannya ini sebagai musuh atau lawan yang seimbang.

"Aha, Atong, kau hendak memperlihatkan Ilmu Silat anak panah? Silakan, silakan, biar kau nanti dapat melapor kepada gurumu bahwa ketua Hoa-san-pai meski pun sudah tua tetapi belum lemah benar..."

Ucapan ini merupakan perkenan bagi Koai Atong yang tadinya masih ragu-ragu untuk menyerang kakek itu. Mendadak dia berseru keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Sekaligus anak panah di tangannya sudah melakukan serangan susul-menyusul sampai delapan kali banyaknya.

Anak panah itu berubah menjadi segulung sinar hijau menyambar-nyambar ke arah diri kakek itu. Kwa Hong dan teman-temannya memandang penuh kekhawatiran. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan tenang menggerakkan tongkat bambunya.

Terdengar bunyi keras delapan kali ketika anak panah itu selalu terbentur tongkat bambu ke mana pun juga digerakkan. Memang ilmu pedang Hoa-san-pai luar biasa hebat. Jelas kelihatan oleh Kwa Hong dan teman-temannya bahwa kakek gurunya itu hanya mainkan jurus Tian-mo Po-in (Payung Kilat Sapu Awan) dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat. Tapi cara pergerakannya demikian sempurnanya sehingga delapan macam serangan dari Koai Atong dapat digagalkan!

Kemudian terdengar seruan perlahan dari kakek itu. "Koai Atong, sekarang jagalah jurus dari Hoa-san ini."

Tongkat bambu bergerak perlahan dan... anak panah itu terlepas dari tangan Koai Atong, terlempar ke atas. Akan tetapi Koai Atong lantas memperlihatkan kelihaiannya. la dapat menggulingkan tubuh melepaskan diri dari lingkaran tongkat bambu, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan tahu-tahu anak panah itu sudah dipegangnya lagi. la mengeluarkan suara seperti orang menangis kemudian dia lari tunggang-langgang dan meninggalkan taman seperti seorang anak kecil nakal melarikan diri karena takut mendapat hukuman.

Lian Bu Tojin tertawa, lantas mengerahkan khikang berkata ke arah larinya Koai Atong, "Atong, sampaikan salamku kepada gurumu Giam Kong!"

Setelah Koai Atong pergi, kakek ini berubah mukanya. Kini keren dan sungguh-sungguh. la menghadapi Kwa Hong dan teman-temannya, kemudian terdengar kakek ini berkata, suaranya menahan kemarahan.

"Kwa Hong, bagaimana bunyi larangan ke tiga dari Hoa-san-pai?"

Berubah wajah Kwa Hong, agak pucat. Kalau kakek gurunya sudah memanggil namanya dengan penuh, tidak Hong Hong seperti biasanya, itu bisa diartikan bahwa kakek gurunya benar-benar marah.

Setelah menjura ia pun berkata sambil menundukkan muka, "Larangan ke tiga berbunyi: Setiap orang murid Hoa-san-pai tidak boleh mempelajari ilmu silat dari luar Hoa-san-pai tanpa seijin gurunya.”

"Hemmm, baik kau masih ingat. Tapi, kenapa kau tadi mempelajari Jing-tok-ciang yang amat keji itu dari Koai Atong?"

Suara tosu tua itu kedengarannya makin marah, membuat Kwa Hong kaget dan takut sekali. la memang paling takut kepada kakek gurunya ini. Akan tetapi ia pun merasa heran mengapa orang tua ini marah-marah, padahal biasanya amat sabar.

"Saya... saya mengaku salah, Sukong. Siap menerima hukuman!"

Anak perempuan ini menjatuhkan diri berlutut di depan kakek gurunya. Tiga orang anak yang lain melihat ini menjadi ketakutan pula dan mereka pun serta-merta menjatuhkan diri berlutut dan berkata hampir berbareng.

”Teecu juga mengaku salah dan siap menerima hukuman”.

Melihat cucu-cucu muridnya berlutut siap menerima hukuman dan sikap anak-anak yang penuh ketaatan akan peraturan Hoa-san-pai, sikap yang memang sudah terkenal dari murid-murid Hoa-san-pai, kemarahan ketua Hoa-san-pai ini mereda.

"Kalian tahu," katanya, suaranya masih keren, "apa hukuman bagi murid yang melanggar larangan ke tiga itu?"

Empat orang anak itu mengangguk.

"Si pelanggar harus membuang ilmu yang dipelajarinya di luar Hoa-san-pai, kalau perlu badannya dirusak supaya ilmu itu tidak dapat dipergunakan. Baiknya kalian belum pandai mempergunakan Jing-tok-ciang, kalau sudah pandai, pinto (aku) tidak akan segan-segan mematahkan tangan kiri kalian!"

Jelas tampak betapa empat orang anak itu pucat dan gemetar mendengar ini.

"Hong Hong, kelancanganmu belajar dari Koai Atong masih belum seberapa bahaya jika dibandingkan dengan perbuatanmu membujuk saudara-saudara seperguruan untuk turut mempelajarinya pula. Perbuatan itu buruk sekali."

Biar pun ia dimarahi, namun Kwa Hong yang cerdik menjadi lega mendengar cara kakek itu menyebut namanya. Itu berarti bahwa kakek gurunya tidak marah lagi kepadanya.

"Teecu tidak membujuk, Sukong. Mereka memang suka mempelajari setelah melihat Koai Atong memukul pohon."

"Betul, Sukong. Teecu yang bersalah, ingin belajar, sama sekali tidak dibujuk oleh Adik Hong," kata Kui Lok cepat-cepat.

"Teecu juga tidak dibujuk," sambung Thio Ki. Thio Bwee diam saja, hanya melirik ke arah Kui Lok.

"Sudahlah," kata kakek itu. "Kalian anak-anak harus ingat baik-baik. Sebetulnya bagi aku sendiri yang menjadi ketua Hoa-san-pai, belajar ilmu silat dari golongan lain bukanlah hal yang amat buruk. Akan tetapi mengapa diadakan peraturan dan larangan di Hoa-san-pai? Bukan lain untuk menjaga dan mencegah anak-anak murid Hoa-san-pai menyeleweng mempelajari ilmu yang sesat. Kalau sampai terjadi demikian, apa bila sampai ada anak murid Hoa-san-pai mempelajari ilmu yang sesat kemudian menyeleweng dan melakukan perbuatan jahat, bukankah hal itu akan merusak nama baik Hoa-san-pai?"

"Sukong," kata Kwa Hong yang sekarang sudah timbul keberaniannya. "Apakah ilmu silat dari Koai Atong termasuk ilmu sesat?"

Kakek itu menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya. "Sesungguhnya, kalau mau berkata secara jujur, di dunia ini tak ada ilmu yang sesat. Semua ilmu itu baik, tergantung kepada si pemakai ilmu. Ilmu dapat menjadi baik kalau dipergunakan untuk kebajikan. Sebaliknya, biar pun ilmu yang amat bersih, apa bila dipergunakan untuk kejahatan, dapat menjadi ilmu yang kotor dan buruk."

Empat orang anak itu saling pandang tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sukong mereka.

Kakek ini pun agaknya maklum, karena itu sambil tersenyum dia berkata lagi, "Biarlah aku jelaskan. Misalnya saja ilmu bun (kesusastraan), siapa bilang bahwa ilmu membaca dan menulis ini bersifat buruk? Akan tetapi tetap saja baik buruknya tergantung pada pemakai ilmu. Ilmu ini baik apa bila dipergunakan untuk membuat sajak-sajak indah, menuliskan ilmu-iimu yang tinggi dan sebagainya. Akan tetapi bukankah menjadi ilmu yang sangat buruk dan jahat apa bila dipergunakan orang untuk membuat surat-surat fitnah, membuat laporan-laporan palsu, dan lain-lain seperti yang sekarang ini sering kali dilakukan orang?"

Barulah Kwa Hong dan teman-temannya mengerti. Memang pada waktu itu, sebagian besar rakyat tidak pandai membaca dan menulis. Sepucuk surat fitnah saja cukup untuk mencabut nyawa seorang yang buta huruf. Apa lagi di kota-kota besar dan terutama di kota raja, kepandaian menulis menjadi senjata yang jauh lebih ampuh dari pada selaksa pedang dan lebih jahat dan keji dari pada ular-ular berbisa.

"Nah, jelaskah sekarang? Baru ilmu menulis saja sudah begitu jahat, apa lagi ilmu silat. Aku tidak mau bilang bahwa ilmu yang diajarkan oleh Koai Atong itu jahat, akan tetapi sifat dari Jing-tok-ciang amatlah berbahaya. Ilmu pukulan itu tidak ada ampunnya, sekali saja dipergunakan, kalau yang menerima kurang kuat, bisa merenggut nyawa. Kalau tadi aku tak kuat menahan pukulannya, apakah sekarang aku tidak sudah menggeletak mampus? Ha-ha-ha!"

Kwa Hong dan teman-temannya bergidik dan baru terbuka mata mereka akan perbedaan ilmu silat Hoa-san-pai dan Ilmu Jing-tok-ciang. Dari kata-kata kakek gurunya itu mereka tahu bahwa sebetulnya ilmu silat milik Hoa-san-pai tidak usah kalah oleh Jing-tok-ciang, sungguh pun Jing-tok-ciang kelihatan luar biasa dan mukjijat.

"Kalian yang tekun belajar ilmu silat kita sendiri, yang rajin berlatih, kalau ilmu silat kalian sudah mencapai tingkat setaraf dengan tingkat Koai Atong, kalian takkan kalah olehnya." Kakek ini menarik napas panjang dan berkata lagi, perlahan seperti pada diri sendiri, "Sayangnya... sampai sekarang tidak ada tulang yang cukup baik untuk menjadi ahli waris Hoa-san-pai... bahkan yang sebaik Koai Atong saja tak ada..." Setelah berkata demikian, dengan muka sedih kakek ini meninggalkan taman.

Terbangkit semangat Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok mendengar wejangan-wejangan Lian Bu Tojin tadi. Sejak saat itu, mereka lalu berlatih dengan giat, setiap saat mereka berempat dapat terlihat berlatih silat di dalam taman atau di lian-bu-thia (ruang berlatih silat) di bawah petunjuk Lian Bu Tojin sendiri.

Tentu saja dalam beberapa bulan saja mereka mendapatkan kemajuan yang luar biasa. Dengan adanya teman-teman berlatih, mereka seakan-akan berlomba untuk melebihi temannya dan hal ini pula yang mempercepat kemajuan mereka.

Akan tetapi, terjadi keganjilan yang menyolok. Hal ini hanya dapat diketahui oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Anak-anak perempuan tentu saja lebih halus perasaannya dan tahu membedakan sikap anak laki-laki. Baik Kwa Hong mau pun Thio Bwee dapat melihat bahwa selain berlomba dalam latihan, agaknya antara Thio Ki dan Kui Lok juga ada lain perlombaan lagi, yaitu berlomba menyenangkan atau merebut perhatian Kwa Hong, si gadis cilik yang lincah gembira, bermata bintang dan agak galak itu!

Kwa Hong menghadapi kenyataan ini dengan bangga dan sikapnya menjadi makin manja, tinggi hati, dan agaknya mempermainkan dua orang anak laki-laki itu. Sebaliknya, Thio Bwee yang pendiam, hanya sering nampak murung kalau melihat Kui Lok bermain-main dengan sikap bermuka-muka di depan Kwa Hong, mencarikan bunga, mernbuat mainan dari rumput dan lain-lain.

Waktu berlalu cepat. Anak-anak itu ditinggal orang tua mereka di puncak Hoa-san-pai sudah ada empat bulan lebih. Ketika Hoa-san Sie-eng datang ke puncak Hoa-san, semua anak-anak itu merasa gembira, akan tetapi ternyata bahwa orang tua mereka itu masih belum mau meninggalkan Hoa-san.

Kwa Tin Siong dan tiga orang adik seperguruannya menceritakan kepada Lian Bu Tojin tentang pertemuan mereka dengan dua orang saudara Bun, malah memberi tahukan pula bahwa Kun-lun Sam-hengte akan datang ke Hoa-san dalam waktu lima bulan lagi.

Lian Bu Tojin rnengelus jenggot dan menggeleng kepala. "Tidak disangka sama sekali akan terjadi hal yang begini tidak menyenangkan," katanya. "Selama puluhan tahun ini, hubunganku dengan Pek Gan Siansu ketua Kun-lun-pai adalah hubungan saudara. Malah kami ingin mempererat hubungan dengan menjodohkan murid-murid kami. Siapa tahu malah mala petaka timbul karena ini."

Dengan air mata berlinang Sian Hwa berkata, "Ampunkan teecu Suhu. Teecu sudah menimbulkan kedukaan dalam hati Suhu, akan tetapi... apakah daya teecu? Ayah teecu dibunuh oleh... oleh... keparat itu..."

Lian Bu Tojin mengangkat tangannya. "Kau tidak salah Sian Hwa, kau tidak salah. Malah pinto yang sesungguhnya merasa berdosa. Pinto yang menjodohkan kau dengan murid Kun-lun-pai, siapa tahu..." Kakek itu berulang kali menarik napas panjang.

"Persoalan ini tentu akan segera dibikin terang setelah Kun-lun Sam-hengte tiba di sini lima bulan lagi, Suhu.” Kwa Tin Siong menghibur. "Biarlah lima bulan lagi teecu bersama datang lagi dan berkumpul di sini untuk menghadapi murid-murid Kun-lunpai."

"Kalian pulanglah, akan tetapi anak-anak itu biarkan di sini saja. Bukankah lima bulan lagi kalian datang? Aku ingin melihat sendiri kemajuan mereka, terutama membimbing watak mereka. Tin Siong dan kau, Wan It dan Kui Keng, tentu rela meninggalkan anak-anak kalian di sini untuk lima bulan lagi, bukan?"

"Tentu saja, Suhu. Malah teecu menghaturkan banyak terima kasih bahwa Suhu sendiri berkenan membimbing mereka," jawab tiga orang murid itu serempak.

"Suheng sekalian, jangan khawatir, aku berada di sini menemani mereka," kata Sian Hwa.

Makin gembira hati mereka, juga Lian Bu Tojin girang sekali mendengar bahwa Sian Hwa yang sudah tidak ada keluarga lagi itu hendak ikut menanti di Hoa-san selama lima bulan.

Demikianlah, Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng turun dari Hoa-san untuk pulang ke rumah masing-masing sedangkan Sian Hwa tinggal di Hoa-san bersama murid-murid keponakannya. Gadis yang sedang menderita tekanan batin ini menghibur hatinya dengan melatih silat kepada keponakan-keponakannya. Sedikit banyak agak terhiburlah hatinya melihat anak-anak yang gembira dan lincah itu. Apa-lagi terhadap Kwa Hong, Sian Hwa amat menyayangnya.

*********

Ketika terjadi perang kecil antara serombongan orang Pek-lian-pai yang dipimpin oleh Tan Hok melawan pasukan Mongol yang mengakibatkan musnahnya pasukan Mongol di kaki Gunung Hoa-san, beberapa orang tosu Hoa-san-pai melaporkan hal itu kepada Sian Hwa. Memang gadis ini dianggap orang yang paling pandai di antara para tosu. Lian Bu Tojin sendiri sedang bersemedhi dan sama sekali tak boleh diganggu, maka kepada Sian Hwa mereka itu menuturkan tentang perang di kaki gunung.

Mendengar kejadian ini, dengan dikawani oleh lima orang tosu kepala yang sudah cukup tinggi kepandaiannya, Sian Hwa kemudian berlari turun dari puncak. Kepada anak-anak keponakannya ia berpesan agar supaya jangan meninggalkan taman dan bermain-main di dalam taman saja.

Kedatangan Sian Hwa dan lima orang tosu di tempat pertempuran sudah terlambat. Tan Hok dan teman-temannya, juga termasuk Beng San, sudah lama meninggalkan tempat itu dikejar oleh pasukan Mongol lainnya yang lebih besar jumlahnya dan seperti yang sudah kita ketahui, akhirnya dipancing untuk mengalami kehancuran di Pek-tiok-kok.

Liem Sian Hwa hanya mendapatkan tanah yang baru digali dan ditimbun kembali, yaitu tempat di mana mayat-mayat serdadu Mongol dikubur oleh Beng San dan yang kemudian dibantu oleh Tan Hok dan teman-temannya. Melihat adanya sebuah bendera Pek-lian-pai di pohon, timbul kemarahan dalam hati Sian Hwa.

Bagaimana pun juga, sekarang Pek-lian-pai sudah menjadi musuh besarnya. Bukankah ayahnya telah terbunuh oleh orang Pek-lian-pai dan Kwee Sin? Saking marahnya, ia lalu merenggutkan bendera itu dari pohon dan merobek-robeknya.

Seorang tosu mendekati dan berkata, "Sumoi, kenapa kau merobek-robek bendera milik Pek-lian-pai itu? Bukankah itu bendera orang-orang yang melawan pasukan Mongol?"

"Pek-lian-pai perkumpulan orang-orang jahat! Kalau aku melihat mereka tadi di sini, akan kulawan dan kubasmi semua!” Sian Hwa berseru dengan suara marah. "Suheng sekalian apakah tak ingat bahwa ayahku terbunuh oleh paku Pek-lian-ting milik Pek-lian-pai? Bagai mana aku tidak akan memusuhinya?"

"Bagus, bagus! Memang Pek-lian-pai jahat sekali, patut dibasmi!” tiba-tiba terdengar suara orang.

Pada saat Sian Hwa menengok, ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki muda yang tampan, selalu tersenyum dan pakaiannya indah sekali. Muka gadis itu seketika menjadi merah karena sinar mata pemuda ini amat tajam, bersinar-sinar tidak menyembunyikan kekagumannya ketika menatap kepadanya.

Orang muda itu lalu memberi hormat, menjura sambil mengangkat kedua tangan dengan sikap yang halus sekali sehingga tiada kesempatan bagi Sian Hwa untuk marah.

"Maafkan saya, Nona. Saya Souw Kian Bi dan saya merasa sangat cocok dengan pendapat Nona tadi. Memang Pek-lian-pai adalah perkumpulan orang-orang jahat.”

Sungguh pun hatinya tidak senang melihat kelancangan orang ini, Liem Sian Hwa tidak mungkin dapat marah terhadap orang yang bersikap manis dan hormat ini. Terpaksa oleh sopan santun ia balas menjura dan berkata singkat.

"Saya tidak ada urusan dengan Tuan ini, juga tidak mengenal Tuan. Maafkan bahwa saya tidak sempat bercakap-cakap lebih lama lagi." Nona ini membalikkan tubuh hendak pergi.

Souw Kian Bi melangkah maju. "Perlahan dulu, Nona. Apa salahnya kalau kita sekarang berkenalan? Apakah Nona anak murid Hoa-san-pai?"

Lima orang tosu yang mengawani Sian Hwa merasa tidak senang melihat ada seorang muda berani menegur sumoi mereka. Dianggapnya pemuda itu kurang ajar.

Seorang di antara para tosu itu mencela. "Sumoi-ku tidak ada urusan denganmu, orang muda. Harap jangan mengganggu lebih jauh."

Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakkan tangan bajunya untuk mendorong orang muda itu minggir karena orang itu menghalangi jalan. Tentu saja dia mengerahkan tenaga untuk memperlihatkan kepandaian dan sekaligus untuk menakut-nakuti orang muda itu.

Orang muda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi ketika lengan baju tosu itu mengenai dadanya, bukan pemuda itu yang terdorong, namun tosu tadilah yang terpelanting. Tosu itu berseru kaget dan menjadi marah.

"Ehh, kau mau main-main?" bentaknya sambil mencengkeram ke arah pundak.

"Suheng, jangan...!" Sian Hwa memperingatkan tosu itu.

Gadis ini melihat bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, terbukti dari gerakan kakinya ketika terdorong tadi. Namun terlambat, tangan tosu itu terpelanting. Hanya kali ini terpelanting keras sampai terbentur batu dan mengeluarkan darah.

Empat orang tosu yang lain menjadi marah sekali.

"Keparat, berani kau merobohkan saudara kami?"

Serentak empat orang tosu ini menerjang pemuda tadi dengan pukulan-pukulan tangan. Souw Kian Bi, pemuda aneh itu, hanya tersenyum saja tanpa menangkis. Dia hanya menundukkan kepala untuk menghindarkan pukulan yang mengancam mukanya.

Terjadi hal yang aneh sekali. Kepalan tangan empat orang tosu itu dengan jelas kelihatan mengenai tubuh pemuda itu sampai terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi tosu-tosu itu lalu berteriak kesakitan sambil memegangi tangan mereka yang tahu-tahu sudah menjadi bengkak-bengkak. Mereka merasa seperti memukul baja, bukan badan orang!

Sian Hwa tak dapat menahan kesabarannya lagi, di samping merasa heran sekali. Meski pun kepandaian empat orang suheng-nya belum tinggi benar, namun menerima pukulan dengan badan dari empat orang sekaligus seperti pemuda itu dan membuat si pemukul sendiri bengkak-bengkak tangannya, benar membuktikan bahwa pemuda itu berilmu amat tinggi. Tanpa ragu-ragu ia lalu mencabut pedangnya, meloncat dekat dan membentak.

"Manusia sombong, beraninya kau bermain gila di depanku?" la melintangkan pedang di depan dada, lalu menantang. "Hayo keluarkan senjatamu, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"

Orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi itu tersenyum dan pandang matanya makin membayangkan kekaguman.

"Kau hebat, Nona, hebat sekali. Patut menjadi sahabat baikku. Cantik dan gagah perkasa, hemmm..."

Tentu saja muka Sian Hwa menjadi makin merah. Tidak ada wanita di dunia ini yang tidak senang dipuji seorang laki-laki, terutama sekali dipuji akan kecantikannya. Demikian pula Sian Hwa. Akan tetapi di samping rasa senangnya ini, terdapat pula perasaan marah karena dianggapnya laki-laki itu kurang ajar.

"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Hayo keluarkan senjatamu, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau habis kesabaranku...”

Souw Kian Bi tertawa, dan tampaklah barisan giginya yang putih dan rapi. "Kau hendak main-main dengan pedang? Oho, bagus sekali. Memang kurang mesra perkenalan kita jika tidak melalui ujung senjata. Nah, aku sudah siap, kau perlihatkanlah ilmu pedangmu, Nona Manis."

Pemuda itu sekarang sudah memegang sebuah pedang yang amat indah karena gagang pedang itu dihias dengan banyak batu-batu kumala. Selain indah bentuknya, pedang itu pun nampak amat tajam sampai berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Melihat lawannya sudah bersenjata, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Sian Hwa segera menerjang maju dengan gerakannya yang amat lincah dan cepat. Sepasang pedang di kedua tangannya mengeluarkan suara mengaung pada saat dia menghujani Souw Kian Bi dengah serangan-serangan maut. Sepasang pedangnya itu lenyap berubah menjadi dua gulung sinar yang membungkus tubuhnya, amat luar biasa dipandang.

Souw Kian Bi mengeluarkan seruan terkejut menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis itu. Cepat-cepat dia memutar senjatanya melindungi diri sehingga berkali-kali terdengar suara pedang bertemu pedang. Lima menit sudah Souw Kian Bi hanya menangkis dan melindungi diri saja, kemudian tiba-tiba dia meloncat ke belakang sambil berseru.

"Jadi Nona ini Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, orang termuda dari Hoa-san Sie-eng? Pantas begini lihai dan cantik!" Dia tersenyum-senyum lagi, senyum memikat dengan sinar mata kagum.

Kembali wajah Sian Hwa menjadi merah. "Tak usah banyak cakap, kau telah merobohkan lima orang suheng-ku. Kau boleh coba merobohkan aku, baru patut menyombongkan diri!" Kembali gadis ini menubruk maju sambil mainkan sepasang pedangnya.

Souw Kian Bu segera menangkis lagi sambil tertawa. "Alangkah akan senangnya andai kata aku dapat merobohkanmu, Nona, merobohkan hatimu terutama sekali. Alangkah senangnya..."

"Keparat kurang ajar!"

Sian Hwa memperhebat serangannya dan kali ini Souw Kian Bi terpaksa mengeluarkan kepandaiannya untuk melindungi dirinya dari ancaman maut. Gadis itu merasa heran sekali ketika mendapat kenyataan bahwa orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi ini ternyata memiliki ilmu pedang yang amat aneh gerakannya, akan tetapi juga amat lihai.

Semua serangannya dapat ditangkis dengan mudah, malah setiap kali pedangnya beradu dengan pedang lawannya, dia merasa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga dalam pemuda itu juga tidak kalah olehnya. Diam-diam dia mengeluh dan mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. la akan merasa malu sekali kalau sampai kalah oleh pemuda ceriwis ini.

Di lain pihak, Souw Kian Bi juga amat kagum menyaksikan ilmu pedang gadis lawannya. Tidak percuma gadis ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) dan menjadi orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang ternama. Rasa sayangnya terhadap gadis ini yang tadinya timbul karena kecantikan Sian Hwa, kini menjadi bertambah-tambah.

Rasa sayang inilah yang membuat Souw Kian Bi tak mau menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan Sian Hwa. Dia sengaja hendak membuat gadis ini roboh sendiri karena lelah dan di samping ini dia pun hendak memamerkan kepandaiannya agar betul-betul dapat merebut hati gadis cantik dan gagah ini.

Sementara itu, para tosu yang sudah roboh oleh Souw Kian Bi, menjadi makin khawatir menyaksikan betapa sumoi mereka yang terkenal gagah itu pun belum berhasil pula merobohkan lawan itu dengan sepasang pedangnya. Diam-diam mereka lalu berunding, kemudian seorang di antara lima tosu itu lari naik ke puncak untuk melaporkan hal itu kepada Lian Bu Tojin.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketua Hoa-san-pai itu. Belum pernah ada anak murid Hoa-san-pai yang berani mengganggunya di waktu dia sedang bersemedhi. Kali ini tosu itu memaksa dia sadar dari semedhinya dan menceritakan tentang serbuan seorang laki-laki muda yang kurang ajar dan lihai ilmu silatnya.

Walau pun sedang marah, tosu tua itu mengelus jenggotnya dan menahan napas untuk menekan kemarahan sehingga dia tenang dan sabar kembali.

"Kau bilang dia bernama Souw Kian Bi?"

Kakek ini mengingat-ingat, akan tetapi tidak merasa mempunyai musuh ber-she Souw. Jangan-jangan sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul), pikirnya. Ini sangat berbahaya, apa bila sampai Sian Hwa benar-benar kalah oleh penjahat itu akan celakalah muridnya.

la segera bangkit, menyeret tongkatnya dan berkata, "Antarkan pinto ke sana."

Ketika Lian Bu Tojin tiba di tempat pertempuran, dia menahan seruan kagetnya. Sian Hwa telah terdesak hebat. Pedangnya yang kiri sudah terlepas dan kini gadis itu dengan napas tersengal-sengal mempertahankan diri dari serangan pemuda tampan itu yang selalu tersenyum-senyum sambil mengeluarkan kata-kata menggoda. Jelas sekali terlihat bahwa kepandaian pemuda itu jauh lebih tinggi, malah dengan amat mudahnya akan mampu merobohkan Sian Hwa kalau dia mau.

Ketika diam-diam Lian Bu Tojin memperhatikan ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu, dia mengangguk-angguk. Itulah ilmu pedang utara yang sudah tinggi tingkatnya. Juga gerakan-gerakan pemuda itu menyatakan bahwa tenaga dalamnya sudah kuat sekali. Pantas saja Sian Hwa terdesak. Andai kata yang melawan pemuda ini bukan Sian Hwa, melainkan Kwa Tin Siong, mungkin akan seimbang dan lebih ramai.

"Sian Hwa, mundurlah. Orang muda ada urusan boleh dirunding dengan pinto!"

Seruan Lian Bu Tojin ini biar pun perlahan, akan tetapi mengandung tenaga yang amat berpengaruh. Tentu saja sukar bagi Sian Hwa untuk mundur karena dia sudah dikurung sinar pedang lawannya. Kalau bukan lawannya yang menghentikan pertandingan ini, dia sendiri sudah tidak berdaya melepaskan diri.

Sambil mengeluarkan suara ketawa bergelak, Souw Kian Bi menggetarkan pedangnya dan….

"Tringgg...!" pedang kanan Sian Hwa terlepas pula, terlempar ke udara.

Lian Bu Tojin menggerakkan tongkatnya dan tahu-tahu pedang yang terbang itu sudah tertempel oleh tongkat bambunya. Sedangkan Souw Kian Bi melangkah maju mendekati Sian Hwa sambil cengar-cengir dan berkata, "Nona manis, apakah sekarang kau masih belum mau mengaku kalah padaku? Apakah dengan kepandaianku ini kau masih tetap menganggap tak pantas kalau aku menjadi sahabat baikmu?"

Sian Hwa merasa malu sekali. Dengan kemarahan yang membuat dadanya seolah-olah akan meledak, dia kembali menerjang maju, menghantam kepalan tangan kanannya ke dada pemuda itu.

Souw Kian Bi cepat mengelak sambil tertawa dan berkata, "Sayang tanganmu yang halus kalau sampai mengenai dadaku, Manis."

Sekali lagi dia mengelak pada saat pukulan ke dua datang dan kini sambil mengelak dia mempergunakan tangan kirinya untuk mencekal pergelangan tangan kanan Sian Hwa. Gerakan ini amat cepatnya dan sekali melihat saja Lian Bu Tojin tahu bahwa pemuda itu pun mahir sekali akan ilmu tangkap dan ilmu cengkeram semacam Eng-jiauw-kang. Sian Hwa kaget sekali karena percuma saja ia berusaha melepaskan tangannya.

"Orang muda, jangan kurang ajar. Lepaskan!" Tiba-tiba Lian Bu Tojin melangkah maju untuk mencegah kekurang-ajaran pemuda itu terhadap muridnya.

Akan tetapi Souw Kian Bi hanya tertawa. Mana dia mau memandang mata kepada kakek tua ini? Sambil tangan kiri masih memegangi tangan Sian Hwa, pedangnya di tangan kanan bergerak ke arah dada Lian Bu Tojin dan dia membentak.

"Tosu bau jangan ikut campur. Menggelindinglah kau!"

Tetapi kali ini dia telah salah hitung. Pedangnya yang meluncur ke arah dada tosu tua itu tiba-tiba bertemu dengan tongkat bambu, pedangnya menggetar-getar dan...

"Krakkk!"

Pedang itu patah menjadi dua. Tubuhnya sendiri menggigil, pegangannya pada tangan Sian Hwa terlepas dan dia masih terhuyung-huyung ke belakang lima atau enam tindak. Mukanya menjadi pucat sekali.

"Kau... kau siapakah...?” dia memandang kepada kakek tua itu dengan mata terbelalak.

Lian Bu Tojin tak menjawab, hanya berdiri tegak sambil memandang dengan tajam. Souw Kian Bi menggerak-gerakkan biji matanya, memandangi kakek itu dari atas ke bawah. Agaknya jenggot panjang dan tongkat bambu itu yang menarik perhatiannya, kemudian membuat dia dapat menduga siapa yang sedang berhadapan dengannya.

"Ah, kiranya Totiang adalah Lian Tojin sendiri? Pantas saja aku tak dapat melawannya. Kiranya ketua yang terhormat dari Hoa-san-pai sendiri yang telah turun tangan!" Ucapan ini merupakan sindiran hebat.

Memang sebetulnya amat memalukan bagi Lian Bu Tojin, seorang ciangbunjin (ketua) dari partai besar harus turun tangan sendiri menghadapi seorang muda seperti Souw Kian Bi! Mau tak mau kedua pipi kakek itu menjadi merah. Pemuda ini ternyata bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga amat tajam kata-katanya.

"Orang she Souw," katanya sabar, "murid-muridku sedang turun gunung maka tidak ada yang menyambutmu sehingga terpaksa pinto sendiri menjenguk ke sini. Tak tahu apakah yang menjadi sebabnya maka engkau mengacau di sini?"

Souw Kian Bi tertawa mengejek. ”Siapa mengacau? Aku lewat di sini, bertemu Nona ini, tertarik dan ingin bersahabat, apa salahnya? Sudahlah, lain kali dia tetap akan menjadi sahabat baikku..." Setelah berkata demikian pemuda itu membalikkan tubuhnya dan pergi.

Sian Hwa yang masih marah sekali cepat menyambar pedangnya yang tadi terpukul jatuh, hendak mengejar. Akan tetapi gurunya mencegahnya.

"Jangan kejar, Sian Hwa. Kulihat orang itu bukan orang sembarangan. Sudah jelas bahwa dia itu dari utara. Akan tetapi mengapa sengaja datang mengacau Hoa-san-pai? Hemmm, kita harus berhati-hati, makin banyak saja musuh-musuh rahasia yang hendak memusuhi kita."

Kakek ini lalu mengajak semua muridnya naik ke puncak Hoa-san lagi sambil memesan kepada para muridnya yang menjadi tosu supaya mulai saat itu melakukan penjagaan yang kuat siang malam, akan tetapi tidak boleh lancang turun tangan menyerang orang luar.

Kalau di kaki Gunung Hoa-san terjadi hal yang aneh ini, di puncak Hoa-san terjadi pula hal yang ganjil. Pada waktu Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sedang berlatih silat di dalam taman bunga. Antara Thio Ki dan Kui Lok jelas sekali terjadi perlombaan, bukan hanya untuk kemajuan ilmu silat, akan tetapi terang sekali keduanya berlomba untuk bersikap manis kepada Kwa Hong.

Keduanya memiliki watak yang hampir sama, yaitu gagah dan tabah, tetapi keduanya juga angkuh sekali. Mungkin hal ini timbul karena mereka merasa menjadi putera-putera pendekar Hoa-san-pai. Bahkan pada Thio Bwee yang pendiam juga tampak sifat angkuh ini dan merasa seolah-olah mereka adalah anak-anak orang gagah yang berbeda dengan anak-anak lain. Hanya Kwa Hong seorang yang wataknya tetap lincah jenaka, galak akan tetapi tidak angkuh.

Pada saat itu, tiba giliran Kui Lok untuk bersilat pedang disaksikan oleh ketiga orang temannya. Kui Lok benar-benar memiliki bakat yang amat baik. Selama beberapa bulan ini kepandaiannya sudah meningkat banyak.

Ketika dia bersilat tidak saja gerakan pedangnya mantap dan kuat, akan tetapi juga cepat sekali. Tentu saja dia bersilat pedang dengan tangan kiri, karena memang dia lebih pandai mempergunakan tangan kirinya dari pada tangan kanannya. Setelah dia selesai bersilat, Kwa Hong bersorak.

"Bagus sekali Lok-ko (kakak Lok), kepandaianmu benar-benar sudah maju pesat!" dia memuji dengan sejujurnya.

Thio Bwee juga mengangguk-angguk membenarkan pujian Kwa Hong. Akan tetapi, pujian itu tidak menyenangkan hati Thio Ki.

”Sayangnya pedang itu dimainkan tangan kiri, jadi tentu saja kurang kuat dan kurang tepat seperti kalau dimainkan oleh tangan kanan," Thio Ko berkata dengan lagak seakan-akan seorang yang lebih pandai menilai permainan orang yang lebih rendah tingkatnya.

Ucapan ini diterima oleh Kui Lok dengan muka merah. Dia merasa disindir dan ditegur karena sifat tangannya yang kidal.

"Walau pun dengan tangan kiri kurasa tidak kalah oleh permainan pedang tangan kanan," jawabnya sambil menatap wajah Thio Ki penuh tantangan.

"Phuah...!" Thio Ki mengejek, membuang muka.

"Phuah...!" Kui Lok juga mengeluarkan suara mengejek.

Thio Ki naik darah, dirabanya gagang pedang di punggungnya. "Kalau begitu, mari kita buktikan, siapa lebih pandai, si tangan kanan atau si tangan kidal!"

"Begitu? Baiklah, tapi kau yang menantang, saudara Ki, bukan aku!" Kui Lok menjawab, pedangnya siap ditangan kiri.

Kwa Hong memperhatikan kejadian ini dengan mata berseri.

"Baik sekali begitu!" ia bersorak. "Gembira sekali kalau diadakan pibu persaudaraan."

Yang dimaksudkan dengan pibu (adu kepandaian silat) adalah pertandingan mengadu kepandaian silat untuk menentukan siapa kalah siapa menang.

"Dari pada setiap hari kalian bercekcok saja tentang tingkat kepandaian kalian, lebih baik diputuskan dengan bukti."

Dua orang anak laki-laki itu sekarang sudah berhadapan dengan pedang di tangan. Thio Bwee membelalakkan matanya yang lebar, penuh kekhawatiran.

"Jangan!" teriaknya memohon. "Bagaimana kalau ada yang terluka? Sukong akan marah sekali."

Kwa Hong tertawa dan melangkah di antara dua orang jago muda itu. "Kalian ini sudah bernafsu untuk saling serang," godanya, "jangan begitu, ah! Kita ini kan saudara-saudara seperguruan. Masa mau main tusuk dengan pedang."

"Habis bagaimana untuk menentukan siapa lebih unggul?" tanya Kui Lok.

"Biarkan saja, Hong-moi (adik Hong). Lok-te (adik Lok) ini sombong sekali, tidak mau mengalah terhadap aku yang lebih tua," kata Thio Ki.

"Mana bisa saudara seperguruan saling hantam? Kalau diketahui sukong, apa kau kira aku tidak ikut dipersalahkan? Aku tidak mau! Kalau kalian berkelahi, pergilah jauh-jauh dari sini agar aku tidak terbawa-bawa," kata Kwa Hong.

Dua orang anak laki-laki itu saling pandang. Mereka ingin memperlihatkan di depan Kwa Hong bahwa mereka gagah dan tidak kalah oleh yang lain. Sekarang Kwa Hong tidak mau melihat mereka mengadu kepandaian, untuk apa mereka lanjutkan? Akan tetapi kalau tidak pergi mencari tempat lain, juga dapat dianggap takut atau pengecut.

Kwa Hong yang melihat keraguan mereka lalu tertawa. "Sudahlah, simpan pedang kalian. Kalau mau menentukan siapa yang lebih unggul, mudah saja. Kalian pergunakan ranting yang tidak berbahaya, aku akan menyediakan tinta. Ujung ranting diberi tinta dan ranting itu dimainkan seperti ujung pedang. Siapa yang lebih dulu terkena tinta bajunya dialah yang kalah."

Usul ini didukung oleh Thio Bwee yang tentu saja juga tidak menghendaki pertempuran sungguh-sungguh antara kakaknya dan Kui Lok. Dua orang anak itu pun menyetujui dan masing-masing mencari sebatang ranting yang lembek. Segera mereka membasahi ujung ranting masing-masing dengan tinta dan mulailah mereka bertanding, disaksikan oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Kwa Hong bertindak sebagai wasitnya.

“Tak-tok-tak-tok…!” bunyi dua batang ranting itu beradu dan kedua orang jago muda itu bergerak cepat untuk mendahului lawan, mengirim tusukan untuk menodai baju lawannya dengan tinta di ujung ranting.

"He, Ki-ko! Tidak boleh menyerang mata!" Kwa Hong berseru.

Sebagai wasit, ia harus berlaku adil. Menurut perjanjian tadi, masing-masing hanya boleh menyerang baju untuk memberi tanda dengan tinta.

"Lok-ko, tidak boleh menendang!" Ia kembali berseru.

Mula-mula hanya jarang dia berseru melarang. Akan tetapi kedua orang jago muda itu makin lama menjadi makin penasaran dan panas karena belum juga dapat mengalahkan lawan.

Makin sering mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran dan semakin sering pula Kwa Hong berteriak-teriak melarang. Malah sekarang Thio Bwee juga turut berteriak-teriak karena khawatir melihat dua orang jago muda itu mulai menggunakan serangan sungguh-sungguh yang membahayakan lawan. Pertandingan untuk mengadu kepandaian itu sudah menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.

Kwa Hong menjadi marah dan membanting-banting kakinya. "Kalian curang! Kalian tidak memegang janji. Sudah, jangan berkelahi lagi!"

Akan tetapi mana dua orang jago muda yang sudah panas perutnya itu mau berhenti? Mereka malah menyerang lebih hebat. Kwa Hong berteriak-teriak marah.

Tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dua orang jago muda itu roboh terguling. Mereka tak terluka karena tadi hanya terdorong saja ke samping. Dengan heran mereka merayap bangun. Juga Kwa Hong dan Thio Bwee terheran-heran memandang.

Ternyata Koai Atong sudah berdiri di situ, cengar-cengir dan berkata, "Kalian tidak boleh bikin marah Enci Hong!"

Lalu dia berpaling kepada Kwa Hong dan berkata, "Enci Hong, aku datang kembali untuk mengajak kau bermain-main seperti dulu. Hayo ikut aku ke hutan sebelah sana itu, tadi aku melihat seekor kijang muda yang amat indah. Akan kutangkap binatang itu untukmu." la melangkah maju hendak menggandeng tangan Kwa Hong.

"Tidak, Koai Atong. Aku tidak mau pergi. Sukong akan marah nanti." Kwa Hong mengelak.

"Tidak marah, biar kalau marah aku yang tanggung jawab." Koai Atong hendak memaksa, sekali tangannya menyambar dia sudah dapat memegang pergelangan tangan Kwa Hong.

"Tidak, tidak, aku tidak mau...”

Mereka berkutetan. Agaknya Koai Atong tidak mau mempergunakan kekerasan terhadap Kwa Hong yang disayanginya sebagai sahabat baik itu, maka mereka berkutetan saling tarik. Kalau Koai Atong mau menggunakan kekerasan, tentu saja dengan mudah dia akan dapat membawa lari Kwa Hong.

Pada saat itu, dari luar taman berjalan masuk seorang anak laki-laki. Jauh di belakang nampak beberapa orang tosu berlari-lari sambil berteriak-teriak.

"Anak setan, tak boleh masuk ke sana!"

Agaknya anak yang masuk itu tadi dapat meninggalkan para tosu yang sekarang berlari mengejarnya. Anak ini bukan lain adalah Beng San!

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Beng San sampai di kaki gunung Hoa-san dan bertemu dengan Tan Hok beserta teman-temannya, para anggota Pek-lian-pai. Setelah berpisah dari Tan Hok, dia segera mendaki gunung itu menuju ke puncak.

Beberapa orang tosu melarangnya naik, akan tetapi Beng San berkeras hendak bertemu dengan ketua Hoa-san pai. Ketika dihalangi anak ini lalu berlari menyelinap cepat sampai para tosu itu tertinggal jauh dan mengejar terus. Akhirnya dia memasuki taman bunga itu.

Melihat betapa seorang gadis cilik ditarik-tarik seorang laki-laki tinggi besar, hati Beng San menjadi penasaran dan marah sekali. Ia tidak mengenal Kwa Hong, juga tidak mengenal Koai Atong sungguh pun pernah dia bertemu dengan kedua orang ini.

Dengan langkah lebar dia menghampiri Koai Atong yang masih berkutetan dengan Kwa Hong, memegang lengan Koai Atong sambil berkata keras.

"Seorang laki-laki dewasa menyeret-nyeret seorang anak perempuan kecil, sungguh tidak patut. Memalukan sekali!"

Suara Beng San amat nyaring sampai terngiang di telinga. Tidak hanya Koai Atong yang kaget, juga Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sangat terkejut. Mereka menoleh dan memandang.

Tiba-tiba saja Koai Atong melepaskan pegangannya pada lengan Kwa Hong. Tubuhnya menggigil, wajahnya yang merah berubah pucat sekali, matanya melotot lebar, mulutnya ternganga dan dia pun berdiri seperti orang terserang demam. Tangan kanannya dengan telunjuk menggigil menuding ke arah Beng San, sedangkan bibirnya mengeluarkan suara tidak karuan, akan tetapi masih dapat ditangkap oleh anak-anak itu.

"Ssseeeee... sssssetannn... setan...!"

Tiba-tiba dia meloncat jauh dari situ, lalu lari sekerasnya sambil memekik-mekik, "Setan! Dia roh jahat... hidup lagi... aduhhh setan... ampunkan aku...!" Sebentar saja Koai Atong sudah tidak tampak lagi bayang-bayangnya.

Tentu saja Beng San terlongong keheranan. la tidak tahu bahwa dahulu dalam keadaan tidak sadar karena menelan pil buatan Siok Tin Cii, dia dipukul dan dilukai oleh Koai Atong yang menggunakan Jing-tok-ciang dan anak tua itu menyangka bahwa dia sudah tewas. Tentu saja sekarang tiba-tiba melihat Beng San dengan muka merah kehitaman berdiri di depan kakek yang berwatak anak-anak ini membuat Koai Atong ketakutan setengah mati dan membuat dia lari tunggang-langgang, tak berani lagi kembali ke Hoa-san!

Kwa Hong dan teman-temannya juga terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di situ. Pakaiannya compang-camping, kakinya tidak bersepatu, rambutnya kusut dan mukanya merah kehitaman.

Muka Beng San menjadi merah karena dia tadi marah melihat Koai Atong menarik-narik tangan Kwa Hong. Mukanya merah hitam, sedang matanya tajam seperti mata harimau, benar-benar merupakan seorang anak yang aneh dan patut kalau dianggap setan.

Akan tetapi Kwa Hong segera mengenal Beng San. Dia melangkah maju, kemudian dia memperhatikan muka Beng San yang sementara itu telah mulai berubah, lenyap warna merah hitam menjadi putih bersih kembali, akan tetapi perlahan-lahan lalu berubah pula menjadi kehijauan. Hal ini adalah karena sepasang mata Kwa Hong sudah mengenalnya, dan ia merasa agak malu berhadapan dengan empat orang anak-anak yang berpakaian indah-indah dan bersikap gagah ini.

"Ehh, kaukah ini? Kau... bunglon?" Kwa Hong menegur sambil tertawa geli.

Setelah mendengar suara Kwa Hong, baru Beng San teringat bahwa gadis cilik berbaju merah inilah yang dahulu pernah bercekcok dengannya di dalam hutan. la pun tersenyum dan berkata. "Kiranya kau di sini... kuntilanak!"

Kui Lok dan Thio Ki menjadi merah mukanya. Mereka memandang kepada Beng San dengan mata melotot, marah sekali mereka mendengar betapa anak jembel ini memaki Kwa Hong kuntilanak. Benar-benar kurang ajar sekali!

Pada saat itu para tosu yang mengejar Beng San, empat orang jumlahnya, sudah tiba di situ dan mereka berteriak-teriak.

"Penjahat cilik itu jangan sampai terlepas! Di larang masuk ke sini!"

"Aku mau berjumpa dengan Lian Bu Tojin," bantah Beng San.

Akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki yang sudah marah sekali, melihat para tosu marah-marah pula kepada anak jembel itu, menjadi makin berani. Keduanya lalu melangkah maju dan memaki, "Jembel busuk hayo pergi dari sini!"

Beng San tenang-tenang saja, memandang kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri angkuh di depannya. "Aku tidak mau pergi kalau belum bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Keparat! Kau minta dipukul?" bentak Thio Ki marah.

Beng San tertawa dan menggeleng kepalanya. "Siapa yang minta dipukul? Aku tidak! Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Macammu ini mau bertemu dengan sukong? Sukong terlalu mulia untuk bertemu dengan segala jembel busuk. Kalau kau tidak lekas minggat dari sini, akan kupukul!" kata Kui Lok galak.

Beng San melengak heran. "Kalian ini cucu murid Lian Bu Tojin? Ahh, kalau begitu aku salah alamat. Orang bilang Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai seorang yang mulia hatinya, dan bahwa orang-orang Hoa-san-pai adalah orang-orang gagah. Kiranya murid kecilnya saja sudah begini galak."

Kui Lok dan Thio Ki adalah keturunan orang-orang gagah, maka ucapan itu merupakan tamparan bagi mereka. "Kau yang kurang ajar!" bantah Thio Ki membela diri. "Kau berani memaki kuntilanak kepada Hong-moi. Kurang ajar kau!"

Beng San menoleh kepada Kwa Hong sambil tertawa kecil. "Dia memang kuntilanak. Tanyakan saja kepadanya, kami berkenalan sebagai bunglon dan kuntilanak. Betul tidak begitu, kuntilanak?"

Kwa Hong membanting kakinya yang kecil. "Bunglon! Kadal monyet kau! Aku bukanlah kuntilanak!”

"Aku juga bukan bunglon, kadal atau monyet!" bantah Beng San marah.

"Tapi mukamu berubah-ubah seperti bunglon, kau masuk selongsong ular seperti kadal, rupamu buruk cengar-cengir seperti monyet!" maki Kwa Hong dengan muka merah saking marahnya.

"Kau pun galak dan mukamu buruk seperti kuntilanak..."

"Plakkk!"

Tangan Kwa Hong melayang dan pipi kiri Beng San telah ditamparnya. Tubuh Beng San terhuyung mundur.

Pada saat itu, Kui Lok dan Thio Ki sudah menubruk maju dan menghujani tubuh Beng San dengan pukulan-pukulan keras. Beng San terhuyung-huyung dan roboh. Anak ini memang selama meninggalkan tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee, selalu mentaati perintah kakek itu dan tidak pernah mau mempergunakan kepandaiannya. Maka ketika ditampar kemudian dipukuli dia diam saja, ‘menyimpan’ tenaga dalam tubuhnya dan membiarkan dirinya dipukuli. Ia merasa kulit dada dan mukanya sakit-sakit.

”Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin, jangan pukul aku..." dia berkata.

Akan tetapi dua orang jago muda itu tidak mau memberi ampun lagi kepadanya. Thio Ki memukul lagi ketika Beng San mencoba untuk berdiri, pukulan keras mengenai leher Beng San membuat anak itu terpelanting roboh. Kui Lok lalu menubruknya, menduduki dadanya dan memukuli muka Beng San dengan kedua tangan. Kedua pipi Beng San sampai bengkak-bengkak terkena pukulan ini.

"Hayo, kau minta ampun dan berjanji mau pergi dari sini!" kata Kui Lok terengah-engah, menghentikan pukulannya.

Beng San hanya menggeleng kepalanya. "Aku mau bertemu dengan Lian Bu..." Tak dapat dia melanjutkan kata-katanya karena hidungnya dipukul Kui Lok sampai keluar darahnya.

"Lok-te, biar kugantikan engkau!" Thio Ki menarik Kui Lok pergi dan menjambak rambut Beng Sang, menarik anak ini berdiri lalu memukul ke arah dada.

"Blukkk!"

Tubuh Beng San terlempar sampai dua meter lebih. Thio Ki mengejar, menjambak rambut lagi, mendirikan Beng San lalu dipukul lagi lebih keras. Pakaian Beng San yang sudah cobak-cabik itu makin rusak, koyak-koyak di sana-sini.
cerita silat karya kho ping hoo

"Sudah, Ki-ko, Lok-ko, jangan pukul lagi!"

Kwa Hong maju mencegah. Tak tega ia melihat Beng San dipukuli seperti itu. Juga Thio Bwee maju mencegah kakaknya. Akan tetapi para tosu dengan tertawa lebar memuji-muji kepandaian dua orang kongcu muda itu dan berkata menganjurkan.

"Pukul terus! Pukul sampai dia mau minta ampun."

"Hayo lekas berlutut minta ampun!” teriak Kui Lok dan Thio Ki berganti-ganti sambil memukul terus.

Sesabar-sabarnya orang, apa lagi seorang anak kecil seperti Beng San, kalau didesak terus seperti itu dan disiksa, akhirnya tak kuat juga menahan. Sakit pada tubuhnya bukan apa-apa baginya karena dia sudah sering kali menderita sakit. Akan tetapi sakit pada hatinya yang lebih berat ditanggung. Mukanya yang tadinya kehijauan sekarang sudah mulai menjadi merah kehitaman, tanda bahwa dia tak dapat lagi menahan kemarahannya.

Pada waktu itu, Kui Lok memegang tangan kirinya, sedangkan Thio Ki memegang tangan kanannya, keduanya memukul dari kanan kiri sambil membentak-bentak, memaksa dia berlutut minta ampun. Karena tidak dapat lagi menahan kemarahannya, tenaga mukjijat dalam tubuh Beng San bekerja, hawa Yang di tubuhnya membuat mukanya kehitaman itu menolak pukulan-pukulan dari kanan kiri.

Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan, Kui Lok sehabis memukul terguling roboh, disusul Thio Ki yang juga roboh setelah memukul leher Beng San. Kedua orang anak itu roboh dan pingsan dengan mata mendelik dan mulut berbusa!

Bukan main kagetnya Kwa Hong dan Thio Bwee. Mereka melihat jelas betapa dua orang jago muda itu yang memukul, kenapa tahu-tahu roboh pingsan dengan mata mendelik? Para tosu juga melihat ini dan mereka yang percaya akan tahyul menjadi ketakutan.

"Dia benar setan... dia iblis jahat... celaka...!" Para tosu itu cepat mengeluarkan senjata masing-masing dan siap hendak mengeroyok Beng San.

”Supek sekalian, jangan turun tangan!" Kwa Hong meloncat mencegah. "Biar sukong nanti yang memutuskan urusan ini."

Para tosu masih bersikap mengancam. Beng San diam-diam mencatat pembelaan Kwa Hong atas dirinya ini di dalam hatinya. Betapa pun juga, kuntilanak cilik ini tidak jahat, pikirnya. la diam saja, hanya menyusuti darah yang tadi mengalir dari lubang hidungnya dan membereskan pakaiannya yang koyak-koyak.

Kebetulan sekali pada waktu itu, Lian Bu Tojin dan Sian Hwa datang memasuki taman. Mereka kaget melihat ribut-ribut di taman.

Sian Hwa berseru kaget. Ia cepat-cepat memeriksa dua orang anak keponakannya yang pingsan dengan mata mendelik. Lian Bu Tojin juga memandang heran.

Setelah memeriksa sebentar, kakek ini bertanya dengan suara terheran-heran. "Mereka pingsan karena terluka hawa pukulan sendiri yang membalik," lalu menoleh kepada Kwa Hong dan Thio Bwee. "Apa yang telah terjadi di sini?”

Beramai-ramai Kwa Hong bersama para tosu yang tadi menghalangi Beng San masuk menceritakan asal mula kejadian itu. Bahwa Beng San memaksa naik ke puncak sampai memasuki taman dan betapa Koai Atong yang hendak membawa pergi Kwa Hong kaget dan lari ketakutan saat melihat kedatangan Beng San. Kemudian Kwa Hong menceritakan betapa Thio Ki dan Kui Lok marah karena Beng San tidak mau pergi, dan kemudian dua anak ini memukuli Beng San.

"Bunglon... ehh, anak ini tidak melawan, Sukong. Teecu sudah mencegah kedua suheng memukulinya, tetapi mereka terus saja memukul. Akhirnya, entah bagaimana, keduanya malah roboh sendiri seperti itu." Setelah berkata demikian, Kwa Hong menoleh kepada Beng San yang kini berdiri menundukkan mukanya yang sudah berubah putih kembali, pulih bersih dengan alisnya yang hitam lebat dan matanya yang seperti mata harimau.

Lian Bu Tojin menghampiri kedua orang muridnya. Dengan beberapa kali mengurut pada punggung mereka, dua orang anak itu waras kembali, bangun dengan muka kemerahan.

Lian Bu Tojin memandang mereka dengan muka keren, membuat dua orang anak itu tunduk ketakutan. Kemudian Lian Bu Tojin menghampiri Beng San, untuk beberapa menit lamanya dia menatap wajah anak itu dan amat terheran-heran menyaksikan sinar mata yang luar biasa dari anak jembel yang berdiri di depannya.

"Kau siapakah, anak muda?" Pertanyaan kakek ini halus tetapi berpengaruh, sedangkan pandang matanya tajam menembus jantung.

Hal ini dirasakan oleh Beng San ketika dia mengangkat muka. Cepat-cepat dia kembali menundukkan pandang matanya agar jangan sampai kakek itu dapat membaca rahasia hatinya.

"Nama teecu Beng San," jawabnya sederhana.
"Apa nama keturunanmu?"
"Ehh... nama keturunan? Hemmm, she (nama keturunan) teecu (aku) adalah... Huang-ho (Sungai Kuning)."

”Apa?” Lian Bu Tojin mengerutkan keningnya. "Di dunia ini, mana ada orang bernama keturunan Huang-ho?"

"Teecu hanya tahu bahwa teecu terbawa hanyut Sungai Huang-ho, karena itu teecu tidak tahu lagi siapa orang tua dan siapa pula she, teecu mengambil keputusan untuk memakai nama keturunan Huang-ho saja. Jadi nama teecu Huang-ho Beng San."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggot. Diam-diam dia memuji sikap anak ini yang dari kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang anak yang tahu akan sopan santun.

"Kenapa Koai Atong lari tunggang-langgang melihatmu?"

"Siapa itu Koai Atong, Totiang? Teecu tidak mengenalnya."

"Orang tinggi besar yang tadi lari ketakutan melihatmu. Apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Beng San menggelengkan kepalanya. "Teecu tidak merasa pernah bertemu dengan orang tadi."

Kembali Lian Bu Tojin mengelus jenggot, sedangkan Sian Hwa, Kwa Hong dan tiga orang temannya, juga para tosu yang berada di situ, mendengarkan dengan heran. Bocah ini benar-benar aneh.

”Ketika kau dipukuli oleh kedua orang anak nakal ini, dengan cara bagaimana kau dapat mengembalikan tenaga dan hawa pukulan mereka? Pernahkah kau belajar silat?"

Kembali Beng San menggelengkan kepala. "Teecu tidak tahu, tidak bisa silat."

Lian Bu Tojin menoleh kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri sambil tunduk. Kening kakek ini berkerut.

"Kalian ini anak-anak nakal sungguh tak tahu malu. Mengeroyok dan memukuli seorang anak yang tidak pandai silat? Apakah hal itu termasuk perbuatan gagah? Sungguh amat memalukan kalian ini. Dan katakanlah, apa sebabnya kalian tadi roboh pingsan?"

Kui Lok tidak berani menjawab, Thio Ki juga hanya melirik kepadanya. Setelah Lian Bu Tojin membentak dan mendesak, baru Thio Ki menjawab lirih.

"Tidak tahu, Sukong. Tahu-tahu teecu sudah sadar tadi. Entah apa sebabnya teecu bisa pingsan.”

Sian Hwa merasa kasihan melihat murid-murid keponakannya, maka ia berkata. "Suhu, apakah tidak bisa jadi karena terlampau marah, mereka tidak mengatur tenaga dan hawa kemarahan lantas menyesak ke dada sehingga ketika mereka memukul, tenaga pukulan terpental oleh hawa yang menyesak di dada sendiri itu?"

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Mungkin begitu. Tapi hal ini termasuk hal yang luar biasa sekali." Ia menoleh kepada Beng San. "Apakah badanmu sakit-sakit dipukul tadi? Coba kuperiksa, barangkali kau terluka parah, kalau begitu akan kuobati sampai sembuh."

Tanpa menanti jawaban Lian Bu Tojin menyodorkan tangannya dan meraba pundak Beng San. Anak ini merasa betapa dari telapak tangan yang halus lunak itu keluar semacam tenaga dahsyat yang menyerang pundaknya.

la kaget sekali dan hampir saja mengerahkan tenaga. Baiknya dia seorang yang cerdik. Biar pun dia belum perpengalaman, namun pengertiannya dalam ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Lo-tong Souw Lee sudah cukup. la mengerti bahwa dirinya diuji, maka segera dia mengumpulkan semangatnya, memaksa diri diam saja agar hawa di tubuhnya jangan bergerak.

Lian Bu Tojin mendapat kenyataan dari rabaan tangannya pada pundak anak itu bahwa memang anak itu kosong, tubuhnya tidak memiliki tenaga dalam. Karena itu, lenyaplah kecurigaannya bahwa cucu-cucu muridnya roboh oleh penggunaan tenaga dalam yang luar biasa. la tertawa sambil melepaskan tangannya.

"Ha, kau tidak apa-apa, tidak terluka. Beng San, sekarang ceritakan, apa kehendakmu datang ke Hoa-san mencari pinto."

"Teecu datang membawa sepucuk surat dari sahabat lama Totiang. Inilah suratnya."

Beng San menyerahkan surat tulisan Lo-tong Souw Lee dengan mengucapkan kata-kata seperti yang dipesan oleh kakek itu. Memang kakek tua itu memesan kepadanya agar jangan mengucapkan namanya di depan Lian Bu Tojin.

Lian Bu Tojin tersenyum dan menerima surat itu. Jantung kakek ketua Hoa-san-pai ini berdetak keras ketika dia melirik ke arah nama pengirim surat itu. Akan tetapi kekuatan batinnya yang sudah tinggi itu membuat wajahnya tetap tersenyum, sama sekali tidak memperlihatkan keadaan hatinya. Siapa orangnya tidak akan berdetak keras jantungnya ketika membaca nama Lo-tong Souw Lee?

Nama besar Souw Lee dikenal oleh semua orang kang-ouw setelah perbuatannya yang menggemparkan, yaitu setelah dia mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang gagah di dunia persilatan.

Sebagai seorang ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin sendiri tentu saja merasa malu untuk turut memperebutkan senjata pusaka lain orang. Apa lagi dengan Souw Lee dia dahulu waktu mudanya pernah menjadi sahabat yang amat baik.

Dengan tenang Lian Bu Tojin membaca surat itu. Di dalam suratnya itu, Lo-tong Souw Lee minta pertolongan ketua Hoa-san-pai agar suka melindungi Beng San dari ancaman mara bahaya.

"Anak ini yatim piatu," tulis Lo-tong Souw Lee, "aku amat kasihan dan suka kepadanya. Mungkin akibat kenal denganku, jiwanya menjadi terancam oleh orang-orang jahat. Harap kau lindungi dia sampai saat aku mati dan dia terbebas dari ancaman orang yang hendak memaksanya membawa mereka kepadaku."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. la mengerti akan maksud Lo-tong Souw Lee. Agaknya anak ini dikasihi kakek itu dan karena anak ini berkenalan dengan Souw Lee, sangat bisa jadi orang-orang kang-ouw akan menculiknya dan memaksanya menunjukkan di mana tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee.

"Beng San, sudah lamakah kau kenal dengan penulis surat ini?" Lian Bu Tojin bertanya sambil menyimpan surat itu ke dalam saku jubahnya.

"Belum lama, Totiang, baru beberapa bulan," jawab Beng San sejujurnya.

"Jadi kau tidak tahu tempatnya, ya? Bagus, tentu kau tidak tahu tempatnya," kata ketua Hoa-san-pai ini, membuat Beng San terheran-heran.

Akan tetapi anak yang cerdik ini segera maklum akan maksud Lian Bu Tojin. Tentu kakek ini memperingatkan kepadanya supaya dia tidak mengaku tahu tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee kepada siapa pun juga. Maka dia mengangguk dan menundukkan mukanya.

"Apa kau suka belajar silat? Kulihat kau amat berbakat untuk belajar ilmu silat. Kau boleh belajar dari para tosu murid-murid pinto."

Beng San berpikir. Apa artinya dia mempelajari ilmu silat lain? Ilmu-ilmu yang sudah dia hafalkan pun belum matang dia latih. Pula, kalau dia belajar ilmu silat Hoa-san-pai, berarti dia menjadi murid Hoa-san-pai dan ada bahayanya akan diketahui orang rahasianya apa bila dia bergerak dalam bermain silat.

"Teecu lebih senang mempelajari ujar-ujar kuno dan filsafat-filsafat, dalam hal ini mohon petunjuk Totiang."

Lian Bu Tojin menggerak-gerakkan alisnya saking herannya. Di mana di dunia ini ada seorang anak belasan tahun umurnya ingin mempelajari filsafat kebatinan?

"Pernahkah kau mempelajari kebatinan?" tanyanya.

"Teecu pernah bekerja sebagai kacung di dalam kelenteng besar dan para losuhu yang baik dari kelenteng itu kadang-kadang mengajar teecu membaca kitab-kltab kuno."

”Bagus kalau begitu. Beng San, mulai sekarang kau kuserahi tugas menjaga kebersihan pondok pinto dan di waktu senggang kau boleh mempelajari filsafat tentang Agama To."

Beng San menjatuhkan diri berlutut, kemudian menghaturkan terima kasih. Lian Bu Tojin mengangguk-angguk dan mengajak anak itu masuk pondoknya untuk memberi petunjuk tentang tugas pekerjaannya.

Ketika Beng San bangkit berdiri, dia menoleh ke arah Kwa Hong dan tersenyum ramah. Tidak terlupa olehnya betapa tadi Kwa Hong membelanya ketika dia dipukuli dua orang jago cilik murid Hoa-san-pai itu. Juga dia mengerling manis ke arah Thio Bwee yang tadi pun berusaha mencegah Thio Ki. Akan tetapi dia melihat betapa dua pasang mata jago cilik itu memandang kepadanya penuh kebencian.


BERSAMBUNG KE Raja Pedang Jilid 12