Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PUSAKA PULAU ES BAGIAN 16

PANGERAN Tao Seng sudah bangkit dan mundur sampai mepet dinding. Demikian pula Liong Siok Hwa mundur dan gentar menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.

Pertandingan itu memang hebat sekali. Gulam Sang adalah seorang murid dari Dalai Lama yang selain mempelajari ilmu silat tinggi juga telah memiliki tenaga sakti yang ampuh, diperkuat pula oleh ilmu sihirnya. Akan tetapi, berhadapan dengan Keng Han, dia tidak dapat menggunakan ilmu sihirnya. Orang yang sudah memiliki tenaga sinkang sekuat Keng Han tidak dapat dipengaruhi sihir lagi. Oleh karena itu, Gulam Sang hanya mengandalkan ilmu pedangnya yang cepat dan aneh gerakannya.

“Heiiiiittttt...!”

Pedang Gulam Sang menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Keng Han.

“Hemmm...!”

Keng Han mengelak ke kanan sambil menorehkan pedang bengkoknya ke arah lengan lawan yang memegang pedang. Namun Gulam Sang sudah menarik lengannya, lantas tubuhnya merendah dan pedangnya membabat ke arah kedua kaki Keng Han.

“Hiaaaaattt...!”

Gulam Sang berteriak dengan pengaruh sihir, “Robohlah engkau!”

Keng Han merasa jantungnya tergetar, akan tetapi tidak terpengaruh oleh teriakan itu. Dia meloncat tinggi ke udara untuk menghindarkan kedua kakinya yang dibabat pedang, lalu berjungkir balik dan menukik dengan kepala ke bawah, pedangnya menikam dari atas ke arah ubun-ubun kepala Gulam Sang.

“Wuttttt... tranggg...!”

Bunga api berpijar ketika pedang bertemu dan sekali ini Gulam Sang agak terhuyung, akan tetapi Keng Han juga harus berjungkir balik untuk mematahkan tenaga dorongan pedang dari bawah yang menangkisnya. Keduanya telah berhadapan lagi dan saling menyerang dengan dahsyatnya. Akan tetapi kini Keng Han mulai memainkan ilmunya yang hebat yaitu Hong-In Bun-hoat. Pedang bengkoknya membuat coretan-coretan di udara seperti orang menulis huruf, akan tetapi akibatnya, permainan pedang Gulam Sang menjadi kacau.

Semua jurus yang dimainkan Gulam Sang dikacaukan oleh gerakan pedang di tangan Keng Han. Setiap serangannya selalu dapat ditangkis lawan, bahkan lawan membalas kontan dengan cepatnya dan dengan gerakan sambung menyambung yang aneh sekali sehingga tak lama kemudian Gulam Sang sudah terdesak hebat oleh Keng Han. Dia kini hanya mampu menangkis dan mengelak dengan repot sekali oleh permainan pedang lawan.

Pada saat itu, Pangeran Tao Seng memberi isyarat dan muncullah tiga orang datuk yang sejak tadi sudah mengintai dan menunggu isyarat dari sang pangeran. Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin tahu-tahu sudah berada di situ. Lam-hai Koai-jin yang masih memandang rendah Keng Han, bahkan sudah menerjang dengan senjata ruyungnya.

“Tranggg...!”

Pedang Keng Han dan ruyung bertemu dan akibatnya, keduanya mundur dua langkah. Baru kini Keng Han melihat adanya tiga orang kakek itu di situ. Melihat Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-mo, barulah dia tahu benar akan kekuatan persekutuan itu. Ternyata ayahnya itu telah mempergunakan orang-orang dari golongan sesat untuk membantunya. Dan dia maklum bahwa kalau dia harus menghadapi empat orang ini sekaligus, tidak mungkin dia akan menang. Mereka terlampau kuat dan paling bisa dia melawan dua orang di antara mereka. Pikiran Keng Han bekerja cepat dan tiba-tiba tubuhnya sudah berkelebat dan meloncat ke dekat ayahnya.

“Jangan mendekat!” bentaknya dan dia sudah menempelkan pedang bengkoknya pada leher Pangeran Tao Seng sedangkan tangan kirinya memegang lengan pangeran itu.

“Biarkan kami keluar. Awas, siapa bergerak, dia akan kubunuh lebih dulu!”

Dia teringat akan perbuatan Cu In ketika hendak membebaskan diri dari pengeroyokan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit dan anak buah Kwi-kiam-pang, yaitu dengan menyandera puteri Lo Cit. Kini dia meniru perbuatan Cu In itu dengan menyandera Pangeran Tao Seng. Ayahnya sendiri!

Memang dalam keadaan terdesak, apa lagi menghadapi pengeroyokan yang curang, ia boleh saja mempergunakan kecurangan sebagai taktik untuk menyelamatkan diri. Kini ia menangkap ayahnya sendiri bukan hanya untuk membebaskan diri dari pengeroyokan, melainkan karena dia memang hendak menangkap ayahnya dan memaksanya pergi ke Khitan bersamanya untuk menghadap ibunya!

Benar saja. Tiga orang datuk itu tidak berani bergerak ketika melihat Keng Han sudah menyandera sang pangeran. Dan Keng Han yang terus menodong Pangeran Tao Seng lalu menyeret ayahnya itu menuju ke pintu.

“Sam-wi Locianpwe (ketiga orang tua gagah), marilah kita serang dia! Dia tidak akan membunuh ayahnya sendiri!” Mendadak Gulam Sang berteriak dan menyerang dengan pedangnya.

Keng Han terkejut sekali. Tak disangkanya Gulam Sang demikian cerdiknya. Memang, bagaimana pun dia takkan mau membunuh ayahnya dan tadi hanya untuk menggertak saja.

Tung-hai Lo-mo sudah mengayun dayung bajanya. Swat-hai Lo-kwi juga menggerakkan pedangnya dan Lam-hai Koai-jin mengerahkan ruyungnya, serentak menyerang kepada Keng Han. Terpaksa Keng Han memutar pedangnya untuk menangkis dan melepaskan pegangannya pada lengan ayahnya.

Merasa dirinya dilepas, Pangeran Tao Seng cepat meloncat menjauhkan diri. Kini Keng Han sudah dikeroyok oleh empat orang yang sangat lihai sehingga dia mulai terdesak hebat.

“Jangan bunuh dia! Tangkap saja, jangan sekali-kali membunuh dia!” teriak Pangeran Tao Seng.

Pangeran Tao Seng masih sangat mengharapkan puteranya itu berubah pikirannya dan mau membantunya. Bagaimana pun, Keng Han adalah putera kandungnya dan ternyata ilmu kepandaiannya melebihi Gulam Sang!

Empat orang itu mendengar seruan ini dan mereka pun membatasi serangan mereka. Biar pun demikian, tetap saja Keng Han terkepung ketat sekali oleh empat orang itu dan setelah dia dapat membela diri sampai hampir seratus jurus, ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin mengenai punggungnya, membuat dia terhuyung.

Ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin menyerang terus dengan dorongan ke arah dada. Keng Han mengelak, akan tetapi dayung baja di tangan Tung-hai Lo-mo menghantam dari belakang mengenai pahanya dan Keng Han roboh terpelanting. Sebelum dia dapat meloncat bangun, pedang Gulam Sang sudah menempel di lehernya, juga pedang Swat-hai Lo-kwi telah mengancam dadanya.

Keng Han maklum bahwa dia telah kalah dan tertawan. Gulam Sang segera mengikat kaki tangannya dan dia pun dibawa ke dalam kamar tahanan yang berada di belakang rumah Hartawan Ji. Kamar tahanan itu kokoh kuat dan dijaga oleh belasan orang anak buah Gulam Sang.

“Ayah, Keng Han itu amat berbahaya, apakah tidak sebaiknya kalau dia dibunuh saja?” Gulam Sang bertanya kepada Pangeran Tao Seng setelah mereka semua kembali ke ruangan depan untuk berunding.

“Jangan! Aku menyayangkan ilmu kepandaiannya yang hebat. Akan kubujuk dia agar mau membantu. Dia akan merupakan tenaga bantuan yang penting sekali,” jawab sang pangeran.

“Bagaimana kalau dia tidak mau?”

“Kalau dia keras kepala dan tidak dapat dibujuk, maka kuserahkan dia kepadamu.”

Gulam Sang nampak gembira sekali. Pemuda ini ingin sekali dapat membunuh Keng Han sebab diam-diam dia merasa khawatir kalau-kalau kelak ayah angkatnya menerima Keng Han sebagai puteranya dan tentu kedudukannya akan kalah oleh anak kandung itu. Baginya, Keng Han merupakan duri dalam daging yang harus dilenyapkan.

“Tetapi aku membutuhkan bantuanmu. Kita berikan racun perampas ingatan darimu itu. Kalau sampai dia hilang ingatan, tentu dia tidak mempunyai niat macam-macam lagi dan akan tunduk kepada semua perintah kita.”

Gulam Sang mengerutkan alisnya. Dia teringat betapa Keng Han sudah minum racun itu yang dicampurkan dalam arak yang disuguhkan kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak nampak tanda-tanda bahwa pemuda itu keracunan! Ahh, mungkin racunnya kurang banyak, demikian pikirnya.

“Baik, akan saya laksanakan. Saya akan mencampurkan racun perampas ingatan itu di dalam makanan dan minumannya.”

Malam itu udara terasa amat dingin, sedingin hati mereka yang tinggal di gedung tempat kediaman Ji Wan-gwe….
cerita silat karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, Keng Han duduk bersila dalam kamar tahanannya. Tangan dan kakinya tidak dibelenggu, akan tetapi kaki tangannya dipasangi rantai yang terikat pada dinding sehingga dia tidak akan dapat melarikan diri. Rantai itu terbuat dari baja dan tebal sekali sehingga tak mungkin dipatahkan.

Keng Han juga tidak bodoh untuk coba mematahkan rantai itu. Penjaga banyak terdapat di luar tahanan dan di sana masih terdapat empat orang sakti itu. Dia tidak mungkin dapat melawan mereka kalau mereka maju bersama. Dia hanya menanti saatnya untuk dapat meloloskan dirinya.

Maka, dia pun menjaga kesehatan dan tenaganya dan dia makan semua makanan dan minuman yang dihidangkan biar pun dia dapat menduga bahwa makanan dan minuman itu dicampuri racun. Dia tidak takut akan segala racun. Tubuhnya kebal terhadap segala macam racun. Asal saja mereka tidak mempergunakan asap pembius, pikirnya.

Pernah dia tertawan akibat ledakan asap pembius yang dipergunakan oleh orang-orang Kwi-kiam-pang. Akan tetapi kalau racun itu masuk ke tubuhnya melalui makanan, atau melalui luka, dia tidak akan terpengaruh. Darahnya memiliki daya menolak pengaruh racun itu. Pada hari kedua dia ditahan, pagi-pagi sekali Pangeran Tao Seng sudah mengunjungi kamar tahanannya.

“Anakku, kenapa engkau masih berkeras hati? Aku adalah ayah kandungmu. Engkau darah dagingku. Sungguh sengsara hatiku melihat engkau tertawan seperti ini. Anakku, mengapa engkau tidak mau membantu gerakanku? Katakanlah bahwa engkau akan membantuku, maka engkau akan dibebaskan dan menjadi puteraku yang tersayang dan terpercaya.”

Hati Keng Han panas sekali mendengar ucapan ayahnya itu. Hatinya sudah kecewa sekali melihat orang yang menjadi ayah kandungnya. Ternyata orang itu amat licik dan curang bukan main.

“Aku memang puteramu dan engkau adalah ayah kandungku. Akan tetapi kalau engkau berpikir bahwa aku akan mau membantu engkau melakukan kejahatan, engkau mimpi di siang hari. Sampai mati sekali pun aku tak ingin membantumu. Sebaliknya engkau yang menyadari kekeliruan tindakanmu dan ikut dengan aku menemui ibu. Kalau engkau mau melakukan itu, tentu aku akan menganggap engkau seorang ayah yang telah bertobat dan baik, dan aku akan berbakti kepadamu.”

“Jangan khawatir, Keng Han anakku. Kalau sudah tercapai cita-citaku, pasti aku akan memboyong ibumu ke istanaku. Aku juga sangat mencinta ibumu.” Pangeran Tao Seng membujuk.

“Sudahlah, tidak perlu membujukku lebih lanjut. Akan sia-sia saja. Biar pun engkau ayah kandungku, akan tetapi bila kau lanjutkan usahamu untuk berkhianat dan memberontak, aku akan berdiri di pihak Kaisar kakekku dan Pangeran Mahkota Tao Kuang pamanku.”

Pangeran Tao Seng lalu meninggalkan tempat tahanan itu dengan muka merah karena marah, Akan tetapi dia tidak putus asa dan berharap agar racun perampas ingatan dari Gulam Sang itu akan bekerja dengan baik sehingga dia dapat membujuk puteranya itu.

Pada malam kedua, nampak sesosok bayangan putih berkelebat di atas pagar tembok di belakang rumah Hartawan Ji. Bayangan ini bukan lain adalah Cu In. Setelah gadis itu mendapatkan keterangan dari The-ciangkun di mana letak rumah Hartawan Ji, dia lalu datang berkunjung pada malam itu.

Ketika melihat ada dua orang peronda berjalan menghampiri tempat ia bersembunyi, ia meloncat dari dalam taman itu ke atas sebatang pohon. Ia berada di atas pohon, siap bertindak kalau sampai ketahuan. Dan ia mendengarkan mereka bercakap-cakap.

“Menjemukan sekali, malam-malam gelap begini harus meronda. Biasanya kita hanya berjaga di gardu dan dapat terlindung dari cuaca yang amat dingin, dapat membuat api unggun yang hangat.”

“Ahh, ini semua gara-gara pemuda yang bandel itu. Kabarnya dia berkepandaian tinggi dan tidak mau dibujuk untuk membantu Ji Wan-gwe. Heran aku mengapa ada orang tak mau bekerja kepada Ji Wan-gwe yang kaya raya dan royal.”

“Ketika hendak menangkap dia pun susah bukan main. Dari teman-teman yang melihat, kabarnya setelah tiga locianpwe dikerahkan untuk membantu Kongcu, barulah dia dapat ditawan. Kongcu sendiri kewalahan menghadapi pemuda ini.”

“Hebat. Sayang sekali kalau pemuda lihai macam itu akhirnya mesti mati karena tidak mau terbujuk.”

Percakapan itu cukup bagi Cu In. Tubuhnya melayang turun dan sekali dua tangannya menyambar, dua orang peronda itu sudah roboh tanpa dapat berteriak, roboh tertotok tidak mampu bergerak mau pun bersuara.

Ang Hwa Nio-nio memang memiliki keistimewaan dalam ilmu menotok sehingga ilmunya itu disebut Tok-ciang (Tangan Beracun) karena sekali totok saja mampu mencabut nyawa orang. Cu In juga menguasai ilmu ini dan dua orang yang ditotoknya itu sama sekali tidak mampu berkutik. Akan tetapi dara bercadar ini tidak membunuh mereka.

Cu In melolos pakaian hitam salah seorang di antara mereka dan mengenakan pakaian itu menutupi pakaiannya sendiri yang serba putih. Kemudian ia berkata kepada orang kedua. “Cepat lakukan perondaan sampai ke tempat tahanan itu. Awas, sekali saja kau berteriak, nyawamu akan melayang.”

Setelah berkata demikian dia membebaskan orang kedua dari totokan, lalu memaksa peronda itu berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Ia berjalan di belakangnya sambil menyembunyikan mukanya yang bercadar.

Peronda itu ketakutan setengah mati. Dia maklum bahwa orang yang sekarang berada di belakangnya itu tidak hanya menggertak kosong belaka. Kalau dia berteriak, tentu dia akan tewas. Dia pun masih tidak tahu bagaimana nasib temannya yang ditinggalkan di belakang semak-semak dalam keadaan tidak bergerak seperti sudah menjadi mayat.

“Bawa aku ke tempat tahanan dan berbuatlah seolah-olah engkau melakukan ronda,” desis suara Cu In di dekat telinga peronda itu.

Peronda itu hanya mengangguk, membawa lampu teng dan memukul kentungannya, lalu melangkah menuju ke bagian belakang rumah besar Ji Wangwe. Segera dua orang penjaga yang berada di luar tempat tahanan menghadap mereka.

“Kanapa engkau sampai di tempat ini?” tanya seorang diantara dua orang penjaga itu.

Pemuda yang sudah mendapat pesan dari Cu In berkata dengan suara ketakutan. “Ah, tolonglah... tadi aku melihat banyak bayangan orang di sana. Aku khawatir akan datang serangan musuh!”

Mendengar cerita ini, dua orang itu segera masuk ke dalam dan memberi tahu kepada kawan-kawannya di sana. Empat orang lain keluar dan kini enam orang itu bertanya, “Di mana bayangan-bayangan itu?”

“Di sana...!” Peronda itu menudingkan telunjuknya ke arah taman, sedangkan Cu In bersembunyi di balik tubuh peronda sehingga mukanya tidak nampak.

“Mari kita periksa tempat itu!” kata seorang di antara enam penjaga itu dan mereka, segera berlarian dengan golok di tangan memasuki taman.

Melihat ini, Cu In segera menotok peronda itu sehingga roboh tak mampu berkutik lagi. Ia pun cepat-cepat menyelinap melalui pintu dari mana enam orang penjaga tadi keluar. Ternyata di sebelah dalam masih terdapat tujuh orang penjaga lagi, dan mereka sedang bermain kartu.

Melihat bayangan memasuki tempat mereka berjaga, tujuh orang itu serentak bangkit. Melihat bahwa yang masuk adalah seorang yang menutupi tubuhnya dengan pakaian hitam dan mukanya bercadar, semua menjadi kaget dan menyambar golok mereka.

“Siapa engkau?” bentak seorang kepala jaga.

Akan tetapi Cu In tidak memberi kesempatan kepada mereka. Sabuk sutera putihnya menyambar-nyambar dengan totokan yang jitu sehingga tujuh orang itu roboh malang melintang dalam keadaan tertotok.

Dengan cepat ia dapat menemukan serangkai kunci di atas meja, dan ia segera berlari masuk. Dari sela-sela jeruji baja ia dapat melihat Keng Han yang duduk bersila dengan kaki terikat rantai.

“Keng Han...,” bisiknya.

Keng Han membuka matanya dan segera dia mengenal orang bercadar itu.

“Cu In...!” bisiknya kembali.

Cu In bekerja cepat. Sebuah kunci membuka pintu tahanan yang berat itu, kemudian dengan sebuah kunci lain ia membuka rantai yang mengikat kaki Keng Han.

“Cu In, terima kasih...” kata Keng Han girang dan juga terharu.

Lagi-lagi gadis bercadar ini yang menolongnya. Ketika dia ditawan Kwi-kiam-pang, gadis ini pula yang menyelamatkannya. Ketika dia hendak dibunuh Bi-kiam Niocu, Cu In pula yang mencegahnya.

“Ssttt, kita harus cepat pergi dari sini sebelum mereka semua datang!” kata Cu In yang segera melompat keluar dari situ, diikuti oleh Keng Han.

Baru saja mereka tiba di luar, enam orang penjaga yang tadi memeriksa dalam taman sudah kembali dan melihat bahwa tawanan mereka lolos, mereka terkejut sekali dan menggunakan golok mereka untuk menyerang Keng Han dan Cu In. Ada pula yang berteriak-teriak minta tolong sehingga ributlah keadaan di tempat itu.

“Cepat robohkan mereka dan lari!” kata pula Cu In kepada Keng Han.

Cu In sendiri sudah merobohkan tiga orang penjaga. Keng Han juga lalu menggunakan tenaganya, menampar ke sana sini dan tiga orang penjaga dapat dia robohkan dalam waktu singkat. Pada saat itu, nampak orang-orang berdatangan dengan obor di tangan.

“Cepat lari!” kata Cu In pula.

Keng Han segera mengikuti Cu In melarikan diri. Mereka memasuki taman dan keluar dari pagar tembok taman itu.

Orang-orang yang mengejar mereka, Gulam Sang dan para datuk, tidak menemukan jejak mereka berdua. Ketika mendapat kenyataan bahwa tawanan telah lolos, Gulam Sang menjadi marah sekali dan dia lantas menampari para penjaga. Sialan sekali para penjaga. Baru saja ditotok roboh oleh dua orang itu, kini ditampar lagi oleh Gulam Sang sampai pipi mereka bengkak-bengkak.

Mereka segera memberi laporan kepada Pangeran Tao Seng. Sejenak sang pangeran berpikir sambil mengerutkan alisnya, kemudian dia berkata, “Kalau begitu, pelaksanaan rencana kita harus dipercepat. Sam-wi Locianpwe harap melaksanakan pembunuhan terhadap kaisar itu selambat-lambatnya besok pagi. Aku khawatir dengan lolosnya Keng Han maka rencana kita akan menjadi kacau. Gulam Sang, malam ini juga engkau harus menghubungi Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, juga kerahkan murid-murld Bu-tong-pai untuk bersiap di luar kota raja. Dan Sam-wi Locianpwe, harap membawa orang-orang yang dapat diandalkan untuk pekerjaan membunuh Kaisar. Mereka harus orang-orang berani mati yang sudah disumpah untuk mengakui sebagai orang Thian-li-pang kalau sampai tertangkap hidup-hidup, sesuai dengan rencana kita semula.”

Setelah mengatur semuanya, Pangeran Tao Seng memberi keterangan yang lebih jelas kepada tiga orang datuk sesat yang bertugas membunuh kaisar itu.

“Seperti biasanya, sesudah persidangan Kaisar akan pergi ke taman sambil membawa laporan-laporan untuk dipelajari. Nah, saat itulah kesempatan yang terbaik untuk turun tangan. Semua menteri dan panglima sudah meninggalkan ruang sidang dan pulang ke rumah masing-masing, saat itu keadaan di istana dalam suasana tenang dan tenteram. Para pengawal tentu tidak akan ada yang menduga bahwa akan terjadi penyerangan. Untuk menyelundupkan kalian ke dalam istana, sudah kuserahkan kepada Ciu-ciangkun yang akan mengaturnya. Kalian akan diberi pakaian sebagai pengawal-pengawal istana dan dapat masuk ke dalam istana dengan leluasa. Nah, bersiaplah kalian semua. Untuk menjaga jangan sampai Keng Han bertindak terhadap diriku, aku akan mengungsi di luar kota raja, yaitu di dusun yang telah kalian ketahui sebagai tempat peristirahatanku. Mengerti semua?”

Setelah semua mengerti dan siap, mereka bubaran. Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji bersama adiknya, Pangeran Tao San, keluar dari rumah, bahkan keluar dari kota raja menunggang kereta menuju ke dusun di sebelah utara kota raja. Gulam Sang pergi pula untuk mempersiapkan pasukan, dan tiga orang locianpwe bersama selusin anak buah pergi menemui Ciu-ciangkun untuk diselundupkan pagi hari itu ke dalam istana!

Gulam Sang sendiri sudah mendapat perintah istimewa dari Pangeran Tao Seng, yaitu untuk membawa teman dan pergi melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota Tao Kuang, tentu saja sesudah dia mengumpulkan pasukan di luar kota raja yang siap untuk memasuki kota raja dan menyerbu istana, apa bila saatnya telah tiba.

Menurut rencana Pangeran Tao Seng, apa bila usaha membunuh Kaisar telah berhasil, dan juga usaha membunuh Pangeran Mahkota berhasil, dia sendiri akan menyerbu ke dalam istana, mempergunakan pasukan Panglima Ciu yang sudah berhasil dihasutnya dengan janji pangkat besar, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Andai kata rencana itu gagal, mereka akan menimpakan kesalahan pemberontakan itu kepada Thian-li-pang…..

**********

“Cu In, sekali lagi engkau menyelamatkan nyawaku. Hutang budi terhadapmu sungguh bertumpuk-tumpuk, bagaimana aku akan dapat membalasnya? Dan engkau yang sudah menyaksikan betapa aku akan membunuh Paman Tao Kuang karena aku dihasut oleh ayah kandungku sendiri, kenapa engkau masih saja mau menolong aku yang sesat ini?” Keng Han bertanya setelah dia dan Cu In lolos dari rumah Hartawan Ji.

“Tidak ada hutang piutang budi, Keng Han. Aku membantumu karena melihat bahwa engkau tak bersalah. Engkau hendak membunuh Pangeran Tao Kuang karena engkau dihasut dan mendapat keterangan yang keliru.”

“Akan tetapi bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku akan tertimpa mala petaka di rumah Hartawan Ji yang bukan lain adalah Pangeran Tao Seng itu?”

“Sudah kuduga bahwa setelah menerima keterangan dari Pangeran Tao Kuang, engkau tentu akan menuntut balik kepada ayah kandungmu sendiri yang sudah menghasutmu. Dan kalau engkau melakukan hal itu, besar sekali kemungkinan engkau akan ditentang, ditawan atau dibunuh karena Pangeran Tao Seng ternyata adalah seorang yang mabuk kedudukan dan sudah melupakan putera sendiri. Maka aku lalu mencari keterangan lebih lanjut dan sesudah merasa pasti bahwa Hartawan Ji adalah Pangeran Tao Seng, malam ini aku segera pergi ke sana. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting sekarang ini, apa yang hendak kau lakukan?”

“Aku harus menyelamatkan Sribaginda Kaisar. Beliau terancam bahaya maut!”

“Ahh, benarkah itu? Bahaya apa yang mengancamnya?”

Keng Han kemudian bercerita tentang ucapan-ucapan Pangeran Tao Seng yang akan membunuh kaisar dan pangeran mahkota, dan betapa kini di rumah pangeran itu telah berkumpul datuk-datuk sesat seperti Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo, dan Lam-hai Koai-jin. Juga di sana terdapat Gulam Sang yang lihai.

“Jika begitu, kita harus cepat memberi peringatan kepada Pangeran Tao Kuang. Hanya beliau yang dapat mengatur semua penjagaan agar jangan sampai terjadi pembunuhan itu.”

“Baik, mari kita menghadap beliau.”

“Keng Han, apa sudah kau pikirkan masak-masak semua ini? Ingat, kalau kau bertindak begini, itu berarti bahwa engkau melawan ayah kandungmu sendiri!”

“Ayah kandung atau siapa saja yang bertindak salah, harus ditentang. Ayahku itu telah menyia-nyiakan kehidupan ibuku hingga ibu hidup merana dan selalu menanti di Khitan. Kemudian ayahku itu sudah bertindak curang hendak membunuh adiknya sendiri, apa lagi sekarang dia telah bertindak sedemikian jauhnya untuk membunuh ayahnya sendiri dan juga adiknya yang menjadi pangeran mahtkota. Tentu saja aku menentangnya!”

Mendengar ini, Cu In termenung. Hampir bersamaan nasib yang dialami oleh Keng Han dan ia sendiri. Hanya bedanya, kalau yang menyusahkan hati Keng Han itu ayahnya, ia lain lagi. Ibu kandungnya yang membuatnya bersusah hati. Ibunya mendidiknya sebagai murid, menghasutnya supaya ia membunuh ayah kandungnya! Akan tetapi dapatkah ia membenci ibu kandungnya?

“Keng Han, apakah engkau membenci ayahmu itu?”

“Tidak, aku tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Maka perbuatannya itu yang kutentang.”

“Bagaimana kalau nanti ayahmu itu mau mengubah sikapnya dan tidak lagi melakukan kejahatan?”

“Aku sudah membujuknya, bahkan hendak memaksanya untuk ikut bersamaku pergi menemui ibu di Khitan. Akan tetapi semua usahaku itu dihalangi oleh para datuk. Kami berkelahi dan aku dikeroyok empat sampai akhirnya aku tertawan.”

“Jadi engkau akan memaafkan ayahmu kalau dia mengubah sikapnya?”

“Tentu saja. Kalau perbuatannya sudah benar, apa lagi dia itu ayahku, maka aku harus berbakti kepadanya.”

“Ahhh...!“

“Kau kenapakah, Cu In?” tanya Keng Han khawatir melihat gadis itu seperti tertegun.

“Tidak apa-apa. Marilah kita menghadap Pangeran Mahkota.”

“Sebetulnya aku merasa sungkan dan malu menghadap beliau. Baru dua hari yang lalu aku berusaha untuk membunuhnya!”

“Jangan khawatir. Ada aku yang akan menjelaskan kepadanya.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ketika mereka hampir tiba di istana itu, Keng Han kembali bertanya, “Cu In, mengapa engkau begini baik terhadap diriku? Kanapa engkau begini membela aku?”

“Hemmm, kenapa? Karena engkau pun baik sekali kepadaku. Ingat, engkau pun pernah menolongku, bukan?”

“Cu In, suci-mu mengatakan bahwa engkau lebih kejam dari pada ia, akan tetapi aku melihat engkau sama sekali tidak kejam, bahkan engkau lembut hati dan mulia. Aku menyebut namamu begitu saja, bukan menyebut Su-I (Bibi Guru), engkau pun tidak marah. Aku sungguh kagum kepadamu semenjak pertama kali kita bertemu, aku... aku terpesona melihat sinar matamu dan aku suka sekali kepadamu. Apakah engkau akan marah dan membunuhku kalau aku mengatakan bahwa aku suka kepadamu?”

Sepasang mata itu mencorong, namun hanya sebentar. Tadinya Cu In hendak marah sekali karena ia sudah terbiasa menganggap bahwa kalau ada pria menyatakan suka kepadanya, maka pria itu hanya merayu saja dan pernyataannya itu palsu adanya seperti yang sering kali dikatakan gurunya. Akan tetapi kemudian ia teringat bahwa gurunya atau ibunya itu bersikap demikian karena sakit hati terhadap kekasihnya, maka kemarahannya pun hilang. Ia tidak perlu percaya lagi kepada semua pendapat ibunya.

Ia sendiri tidak dapat menyangkal bahwa ia pun suka sekali kepada Keng Han. Baru sekarang ia menyadari bahwa pria pun sama saja dengan wanita, ada yang baik dan ada yang jahat. Dan Keng Han ini jelas bukan laki-laki yang jahat.

Ia menyadari bahwa kebiasaannya mengenakan cadar supaya mukanya jangan sampai terlihat laki-laki itu merupakan kebiasaan yang keliru. Tetapi sekarang sudah kepalang, bahkan hal itu dapat dipakainya untuk menguji sampai di mana rasa suka Keng Han terhadap dirinya.

“Aku tidak marah dan tidak akan membunuhmu karena pernyataan itu, Keng Han. Akan tetapi bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa engkau suka kepadaku pada hal engkau belum pernah melihat wajahku?”

“Aku tidak peduli akan wajahmu, Cu In. Bagaimana pun bentuk wajahmu aku tetap akan merasa suka padamu. Aku kagum akan kepribadianmu, watakmu, cara engkau bicara, gerak-gerikmu, dan sinar matamu.”

“Tidak, Keng Han. Jangan katakan begitu. Aku... aku tidak berharga bagimu. Aku gadis kang-ouw, petualang yang hidup menyendiri, sedangkan engkau adalah seorang putera pangeran! Tidak, aku sama sekali tidak sebanding denganmu.”

“Cu In, jangan merendahkan diri sampai demikian! Aku cinta padamu, bukan karena rupa atau kedudukan. Aku mencinta dirimu, pribadimu, tidak peduli engkau berwajah bagaimana dan dari golongan apa.”

“Ahhh, engkau akan menyesal kelak dan kalau engkau menyesal, aku kembali akan menjadi pembenci pria yang ternyata berhati palsu, kata-katanya tidak dapat dipercaya.”

“Aku tidak akan menyesal, Cu In. Aku cinta padamu dan tidak ada apa pun yang dapat mengubah cintaku.”

“Akan tetapi wajahku buruk sekali, Keng Han. Aku hanyalah seorang wanita yang cacat mukanya.”

“Aku tidak percaya! Dan andai kata benar wajahmu cacat, aku tetap akan mencintamu.”

“Benarkah? Ingin aku melihat apakah pendapat guruku tentang pria benar, bahwa pria hanya merupakan perayu besar yang tidak setia dan palsu. Kau lihatlah baik-baik, Keng Han!”

Setelah berkata demikian, Cu In menyingkap cadarnya memperlihatkan mukanya dari hidung ke bawah. Keng Han memandangnya dan pemuda itu terbelalak, terkejut dan heran.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa wajah yang di bagian atasnya demikian cantik jelita, bagian bawahnya mengerikan. Wajah itu totol-totol hitam, seperti bekas luka yang memenuhi permukaan wajahnya sehingga meski pun hidung dan mulutnya berbentuk sempurna, namun karena bertotol-totol hitam menjadi buruk untuk dipandang.

Cu In menutupkan kembali cadarnya, kemudian berkata dengan nada suara mengejek, “Engkau terkejut? Engkau ngeri? Wajahku seperti setan, bukan? Nah, apakah masih ada ada rasa cinta di dalam hatimu, Keng Han?”

Keng Han sudah dapat menyadari lagi keadaannya dan menguasai perasaannya yang terkejut. “Aku tetap mencintamu, Cu In. Biar pun wajahmu cacat, engkau tetap Cu In yang tadi, yang bercadar, yang kucinta. Akan tetapi mengapa wajahmu seperti itu, Cu In? Aku merasa iba kepadamu dan aku akan berusaha agar supaya cacat di wajahmu dapat hilang. Akan kucarikan tabib terpandai di dunia ini yang mampu menyembuhkan dirimu.”

“Kau tidak benci kepadaku? Tidak jijik melihat mukaku?” tanya Cu In, dalam suaranya mengandung keheranan.

Keng Han mendekat dan memegang kedua tangan gadis itu. “Sudah kukatakan, aku mencinta pribadimu, bukan sekedar kecantikanmu. Aku tetap mencintaimu walau pun wajahmu cacat. Jadi itulah sebabnya engkau memakai cadar selama ini! Agar mukamu yang cacat tidak kelihatan orang lain.”

“Benar, aku tidak ingin ada orang melihat mukaku dan kemudian membenciku. Engkau benar-benar tidak peduli akan cacat di mukaku?” tanya Cu In tanpa melepas pegangan Keng Han pada kedua tangannya.

“Aku bukan tidak peduli, akan tetapi aku bahkan kasihan sekali padamu dan ingin membantumu mencarikan obat untuk menghilangkan bekas luka di wajahmu itu. Akan tetapi cacat di mukamu itu tidak mengubah perasaan hatiku yang mencintamu.”

Cu In melepaskan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu. “Aku... aku tidak percaya...” suaranya mengandung isak.

“Kenapa engkau tidak percaya? Kenyataan bahwa engkau murid Ang Hwa Nio-nio dan sumoi Bi-kiam Niocu yang jahat dan kejam itu pun tidak mengubah cintaku padamu, pada hal aku sama sekali tidak menyukai watak mereka. Aku bersumpah bahwa aku tetap mencintamu Cu In.”

“Ssttt, sudahlah. Soal itu dapat kita bicarakan kemudian. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Mari kita menghadap Pangeran Mahkota Tao Kuang.”

Baru teringat oleh Keng Han betapa lama mereka berhenti di jalan yang sunyi itu. Dia tersenyum kepada Cu In dan berkata, “Perasaan hati kita lebih penting dari segala urusan, Cu In. Aku sudah mengutarakan isi hatiku dan hal ini melegakan sekali. Walau pun aku belum tahu bagaimana tanggapanmu tentang perasaanku, akan tetapi kini aku merasa lega bahwa engkau mengetaihui akan perasasn hatiku kepadamu. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita.”

Ketika mereka tiba di istana Pangeran Tao Kuang, mereka segera disambut oleh Sang Pangeran sendiri yang ditemani oleh Kwi Hong dan ibunya, juga Kai-ong dan muridnya, Yo Han Li yang masih berada di situ. Melihat munculnya Keng Han bersama Cu In, Kwi Hong segera meloncat ke depan ayahnya dengan pedang terhunus di tangan.

“Han-ko, apakah engkau hendak membunuh ayahku?!” bentaknya.

Keng Han tersenyum. Sudah lama dia mengetahui bahwa Kwi Hong itu adalah adiknya sendiri, adik sepupu dan semarga. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak, Hong-moi. Aku bahkan datang untuk minta maaf kepada ayahmu.”

Lega hati Kwi Hong mendengar ini. Ia pun segera melangkah ke pinggir dekat ayahnya.

“Saya datang pertama-tama untuk mohon maaf kepada Paman Pangeran!” kata Keng Han sambil memberi hormat kepada Pangeran Tao Kuang.

Pangeran itu tersenyum, kemudian berkata, “Aku maafkan engkau, Keng Han. Engkau kemarin bersikap demikian karena hasutan orang. Apakah kini engkau sudah mengerti benar akan duduknya perkara?”

“Sudah, Paman. Bahkan bukan itu saja. Kami, yaitu Cu In dan saya, mengetahui hal-hal lain yang amat membahayakan keselamatan Paduka dan juga keselamatan Yang Mulia Kaisar. Ada komplotan yang hendak membunuh Paman dan Kaisar.”

Pangeran Tao Kuang terkejut mendengar ini dan segera mengajak Cu In dan Keng Han ke ruangan dalam untuk membicarakan hal itu.

Setelah tiba di ruangan dalam, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya. Dia menceritakan pula rencana ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota dan Kaisar.

“Dia yang kini memakai nama Hartawan Ji telah mengundang datuk-datuk besar yang berilmu tinggi untuk melaksanakan pembunuhan itu. Karena itulah maka kami berdua cepat-cepat menghadap Paman untuk menghadapi komplotan pembunuh itu. Di antara mereka yang bersekutu itu terdapat pula seorang Tibet bernama Gulam Sang yang agaknya sudah mengadakan persekutuan dengan pihak Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Mungkin mereka akan mengadakan penyerbuan ke kota raja. Juga Bu-tong-pai bekerja sama dengan mereka. Keadaan ini gawat sekali kalau tidak dipersiapkan penjagaan yang ketat.” demikian antara lain Keng Han berkata.

“Untuk menjaga keselamatan Paduka, di sini sudah terdapat adik Kwi Hong, adik Han Li dan Locianpwe Kai-ong. Akan tetapi untuk menjaga keselamatan Kaisar, perlu adanya tenaga yang boleh diandalkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan,” kata Cu In.

“Wah, ini perkara penting sekati. Aku harus segera menghubungi ayahanda Kaisar dan para panglima untuk melakukan penjagaan dan untuk menyelidiki gerakan musuh di luar kota raja. Bagaimana kalau kami minta bantuan kalian, Keng Han dan Cu In, untuk ikut menjadi pengawal Kaisar untuk sementara waktu?”

“Saya bersedia, Paman.” kata Keng Han.

“Jika memang dibutuhkan, saya pun suka membantu,” kata pula Cu In penuh semangat.

“Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian berdua ikut dengan aku menghadap Kaisar. Kwi Hong, engkau menjaga di rumah dan saya mohon bantuan Locianpwe Kai-ong dan nona Yo untuk membantu Kwi Hong.”

“Baik, Ayah. Aku dan ibu akan siap siaga.”

“Ha-ha-ha, setelah siang malam makan dan tidur dengan enak di sini kami tentu saja suka membantu. Ada pekerjaan itu baik sekali, makan tidur saja setiap hari membuat aku menjadi malas!” kata Kai-ong.

Maka berangkatlah Pangeran Tao Kuang menuju ke istana Kaisar, dikawal oleh Keng Han dan Cu In. Setelah tiba di istana dan diterima oleh Kaisar, Pangeran Tao Kuang menceritakan keadaan yang berbahaya itu.

Mendengar laporan ini, Kaisar yang sudah tua itu memukul lengan kursinya.

“Aahhh, anak-anak macam apa Tao Seng dan Tao San itu? Mereka sudah dihukum, tapi tidak jera dan malah membikin ulah lagi. Kami serahkan penanggulangan pengacau ini kepadamu, Tao Kuang. Selesaikan sampai tuntas urusan ini. Aaahh, kalau kami yang harus memikirkan masalah anak-anak durhaka ini, bahkan hanya akan mendatangkan penyesalan saja di dalam hati!”

“Baik, Ayah. Serahkan saja semua ini kepada hamba. Di sini hamba mengajak dua orang pendekar yang menjadi saksi usaha pemberontakan itu dan hamba harap supaya Ayah suka menerimanya sebagai pengawal sementara untuk menghadapi mereka yang berani masuk ke Istana.”

Kaisar menerima Keng Han dan Cu In dengan senang. Akan tetapi melihat Cu In yang bercadar, Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata, “Kenapa gadis ini memakai cadar? Sebaiknya kalau cadar itu dilepas agar kami dapat melihat wajahnya.”

“Ampun, Yang Mulia. Hamba sudah bersumpah untuk tidak membuka cadar ini. Yang berhak melakukan hanya suami hamba kelak,” kata Cu In.

Keterangannya ini tidak seluruhnya bohong karena di dalam hatinya ia pun mengambil keputusan bahwa yang berhak membuka cadar adalah tangan suaminya. Mendengar ini Keng Han merasa jantungnya berdebar. Gadis ini sudah membuka cadar di depannya, bukankah itu menunjukkan bahwa gadis ini setuju dia menjadi calon suaminya?

“Hemmm, sumpah yang aneh. Tetapi sudahlah, karena putera kami yang membawamu ke sini, engkau boleh bercadar.” Akhirnya Kaisar berkata sambil mengangguk walau pun merasa heran akan sumpah yang aneh itu.

Keng Han dan Cu In ditinggalkan dalam istana untuk menjadi pengawal pribadi kaisar. Walau pun kaisar sudah mempunyai pasukan pengawal pribadi, akan tetapi hadirnya dua orang muda yang oleh puteranya diperkenalkan sebagai dua orang pendekar yang berilmu tinggi, kaisar suka menerimanya dan hal ini menambah tenang hatinya.

Pangeran Tao Kuang sendiri lalu membawa sepasukan pengawal untuk mengawalnya. Dia tidak segera pulang, akan tetapi mendatangi rumah panglima The Sun Tek yang dikenalnya sebagai Panglima besar yang memiliki ilmu silat tinggi. Kepada panglima itu dia menceritakan tentang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Pangeran Tao Seng.

Ia menyerahkan penyelidikan dan pembasmian gerombolan pemberontak yang mungkin bersembunyi dekat kota raja, supaya dapat mencegah gerombolan itu menyerbu kota raja. Sesudah Panglima The Sun Tek menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Kaisar melalui Pangeran Mahkota itu, Pangeran Tao Kuang baru pulang ke rumahnya, dikawal pasukan pengawal dengan ketat.

Panglima The Sun Tek dengan cepat mengerahkan pasukan istimewa untuk menambah kekuatan penjagaan di istana, lalu menyebar penyelidik untuk menyelidiki apakah ada gerombolan yang bersembunyi di sekitar kota raja.

Kaisar Cia Cing yang usianya sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun itu nampak tenang saja mendengar bahwa dirinya terancam bahaya maut. Apa lagi dengan adanya Keng Han dan Cu In, dia merasa aman. Ada pun penambahan pengawal istana membuat dia lebih tenang lagi karena penjagaan menjadi ketat sekali.

Keng Han dan Cu In sama sekali tidak menyangka bahwa di antara pengawal istana itu terdapat Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka ini di selundupkan oleh panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran Tao Seng, yaitu Panglima Ciu, ke dalam pasukan pengawal istana! Ada pun Swat-hai Lo-kwi oleh Panglima Ciu diselundupkan ke dalam pasukan penjaga istana Pangeran Mahkota.

Tentu saja ketiga orang datuk sesat ini menyamar sehingga kelihatan muda dan seperti anggota pasukan biasa. Dua orang datuk, yaitu Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin, bertugas untuk membunuh kaisar. Bersama dengan mereka diselundupkan pula anak buah Pek-lian-pai sebanyak selosin orang untuk membantu usaha dua orang datuk itu.

Sedangkan Swat-hai Lo-kwi dibantu oleh selosin prajurit pula, yaitu para anggota dari Pat-kwa-pai. Gulam Sang sendiri memimpin pasukan inti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai bersama para tokoh kedua gerombolan itu, mempersiapkan pasukannya di luar kota raja, siap untuk membantu apa bila saatnya tiba.

Penyerbuan itu akan dibarengi dengan gerakan pasukan Panglima Ciu dari dalam. Bila saatnya tiba, Panglima Ciu akan melepaskan anak panah berapi di udara sebagai tanda kepada gerombolan yang bersembunyi di luar kota raja. Penyerbuan akan dilakukan pada malam hari.

Pangeran Tao Kuang yang sudah menerima keterangan sejelasnya dari Keng Han dan Cu In, berhubungan terus dengan Panglima The Sun Tek. Panglima ini adalah seorang panglima perang yang telah hafal akan liku-liku siasat perang. Maka dia tidak terpancing keluar dan mengerahkan pasukannya keluar kota raja.

Ia menaruh curiga kalau-kalau pihak pemberontak justru telah menyelundupkan banyak pasukan ke dalam kota raja. Mudah saja untuk menyusup dengan menyamar sebagai pedagang atau petani yang menjual hasil ladang mereka ke kota raja. Maka dia pun membagi pasukannya menjadi dua bagian. Yang satu bagian diperuntukkan membasmi gerombolan yang berada di luar kota raja, sedangkan sebagian lagi tetap menjaga di kota raja kalau-kalau pihak musuh sudah menyelundupkan pasukan ke dalam kota raja untuk menyerbu istana. Penjagaan di istana diperketat.

Malam itu teramat indah. Biar pun tidak ada bulan di angkasa namun malam itu penuh bintang. Langit bersih sehingga semua bintang nampak di angkasa bagaikan butir-butir mutiara di hamparan beludru hitam. Apa bila ada orang yang menengadah, maka akan nampak keindahan yang luar biasa, nampak pula kekuasaan Tuhan yang tiada taranya.

Bintang-bintang itu berkelap-kelip, ada yang berkejap ada pula yang tenang diam tanpa sinar gemerlapan. Cahaya sekian banyak bintang di angkasa, tak terhitung banyaknya, membuat cuaca di bumi nampak remang-remang. Cahaya bintang-blntang itu demikian lembut sehingga malam terasa sejuk.

Kalau ada angin semilir, barulah terasa betapa dinginnya hawa udara di saat itu. Dingin dan sunyi, penuh pesona dan rahasia. Kadang nampak bintang meluncur lalu lenyap membuat kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi jauh di atas itu.

Benarkah pendapat kuno bahwa setiap bintang itu mewakili seorang manusia. Agaknya pendapat kuno ini berlebihan. Buktinya banyak bintang yang sudah beratus tahun masih nampak cemerlang di angkasa sedangkan manusia sudah berganti beberapa generasi. Apakah di bintang itu terdapat makhluk hidup? Mungkin saja, siapa tahu. Tuhan Maha Kuasa, maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Kalau Tuhan menghendaki, mungkin saja di antara bintang-bintang itu ada bintang yang seperti dunia kita ini.

Malam yang indah. Akan tetapi malam yang mencekam bagi para penjaga di istana. Beberapa orang melihat berkelebatnya bayangan orang di luar kamar tidur Kaisar. Akan tetapi ketika diperiksa, ternyata tidak ada siapa-siapa.

Ketika mendengar laporan para penjaga itu, Keng Han dan Cu In siap siaga dengan penuh kewaspadaan. Keng Han menyuruh para prajurit pengawal untuk mengepung kamar tidur kaisar, sedangkan dia sendiri bersama Cu In sudah melayang naik ke atas atap, menjaga kalau-kalau ada yang menyerbu dari atas. Penjagaan itu demikian ketat sehingga siapa pun yang akan memasuki kamar kaisar, dari luar mau pun dari atas, pasti akan ketahuan. Kecuali kalau ada yang masuk melalui bawah tanah, suatu hal yang tidak mungkin...


BERSAMBUNG KE PUSAKA PULAU ES BAGIAN 17


Pusaka Pulau Es Bagian 16

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PUSAKA PULAU ES BAGIAN 16

PANGERAN Tao Seng sudah bangkit dan mundur sampai mepet dinding. Demikian pula Liong Siok Hwa mundur dan gentar menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.

Pertandingan itu memang hebat sekali. Gulam Sang adalah seorang murid dari Dalai Lama yang selain mempelajari ilmu silat tinggi juga telah memiliki tenaga sakti yang ampuh, diperkuat pula oleh ilmu sihirnya. Akan tetapi, berhadapan dengan Keng Han, dia tidak dapat menggunakan ilmu sihirnya. Orang yang sudah memiliki tenaga sinkang sekuat Keng Han tidak dapat dipengaruhi sihir lagi. Oleh karena itu, Gulam Sang hanya mengandalkan ilmu pedangnya yang cepat dan aneh gerakannya.

“Heiiiiittttt...!”

Pedang Gulam Sang menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Keng Han.

“Hemmm...!”

Keng Han mengelak ke kanan sambil menorehkan pedang bengkoknya ke arah lengan lawan yang memegang pedang. Namun Gulam Sang sudah menarik lengannya, lantas tubuhnya merendah dan pedangnya membabat ke arah kedua kaki Keng Han.

“Hiaaaaattt...!”

Gulam Sang berteriak dengan pengaruh sihir, “Robohlah engkau!”

Keng Han merasa jantungnya tergetar, akan tetapi tidak terpengaruh oleh teriakan itu. Dia meloncat tinggi ke udara untuk menghindarkan kedua kakinya yang dibabat pedang, lalu berjungkir balik dan menukik dengan kepala ke bawah, pedangnya menikam dari atas ke arah ubun-ubun kepala Gulam Sang.

“Wuttttt... tranggg...!”

Bunga api berpijar ketika pedang bertemu dan sekali ini Gulam Sang agak terhuyung, akan tetapi Keng Han juga harus berjungkir balik untuk mematahkan tenaga dorongan pedang dari bawah yang menangkisnya. Keduanya telah berhadapan lagi dan saling menyerang dengan dahsyatnya. Akan tetapi kini Keng Han mulai memainkan ilmunya yang hebat yaitu Hong-In Bun-hoat. Pedang bengkoknya membuat coretan-coretan di udara seperti orang menulis huruf, akan tetapi akibatnya, permainan pedang Gulam Sang menjadi kacau.

Semua jurus yang dimainkan Gulam Sang dikacaukan oleh gerakan pedang di tangan Keng Han. Setiap serangannya selalu dapat ditangkis lawan, bahkan lawan membalas kontan dengan cepatnya dan dengan gerakan sambung menyambung yang aneh sekali sehingga tak lama kemudian Gulam Sang sudah terdesak hebat oleh Keng Han. Dia kini hanya mampu menangkis dan mengelak dengan repot sekali oleh permainan pedang lawan.

Pada saat itu, Pangeran Tao Seng memberi isyarat dan muncullah tiga orang datuk yang sejak tadi sudah mengintai dan menunggu isyarat dari sang pangeran. Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin tahu-tahu sudah berada di situ. Lam-hai Koai-jin yang masih memandang rendah Keng Han, bahkan sudah menerjang dengan senjata ruyungnya.

“Tranggg...!”

Pedang Keng Han dan ruyung bertemu dan akibatnya, keduanya mundur dua langkah. Baru kini Keng Han melihat adanya tiga orang kakek itu di situ. Melihat Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-mo, barulah dia tahu benar akan kekuatan persekutuan itu. Ternyata ayahnya itu telah mempergunakan orang-orang dari golongan sesat untuk membantunya. Dan dia maklum bahwa kalau dia harus menghadapi empat orang ini sekaligus, tidak mungkin dia akan menang. Mereka terlampau kuat dan paling bisa dia melawan dua orang di antara mereka. Pikiran Keng Han bekerja cepat dan tiba-tiba tubuhnya sudah berkelebat dan meloncat ke dekat ayahnya.

“Jangan mendekat!” bentaknya dan dia sudah menempelkan pedang bengkoknya pada leher Pangeran Tao Seng sedangkan tangan kirinya memegang lengan pangeran itu.

“Biarkan kami keluar. Awas, siapa bergerak, dia akan kubunuh lebih dulu!”

Dia teringat akan perbuatan Cu In ketika hendak membebaskan diri dari pengeroyokan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit dan anak buah Kwi-kiam-pang, yaitu dengan menyandera puteri Lo Cit. Kini dia meniru perbuatan Cu In itu dengan menyandera Pangeran Tao Seng. Ayahnya sendiri!

Memang dalam keadaan terdesak, apa lagi menghadapi pengeroyokan yang curang, ia boleh saja mempergunakan kecurangan sebagai taktik untuk menyelamatkan diri. Kini ia menangkap ayahnya sendiri bukan hanya untuk membebaskan diri dari pengeroyokan, melainkan karena dia memang hendak menangkap ayahnya dan memaksanya pergi ke Khitan bersamanya untuk menghadap ibunya!

Benar saja. Tiga orang datuk itu tidak berani bergerak ketika melihat Keng Han sudah menyandera sang pangeran. Dan Keng Han yang terus menodong Pangeran Tao Seng lalu menyeret ayahnya itu menuju ke pintu.

“Sam-wi Locianpwe (ketiga orang tua gagah), marilah kita serang dia! Dia tidak akan membunuh ayahnya sendiri!” Mendadak Gulam Sang berteriak dan menyerang dengan pedangnya.

Keng Han terkejut sekali. Tak disangkanya Gulam Sang demikian cerdiknya. Memang, bagaimana pun dia takkan mau membunuh ayahnya dan tadi hanya untuk menggertak saja.

Tung-hai Lo-mo sudah mengayun dayung bajanya. Swat-hai Lo-kwi juga menggerakkan pedangnya dan Lam-hai Koai-jin mengerahkan ruyungnya, serentak menyerang kepada Keng Han. Terpaksa Keng Han memutar pedangnya untuk menangkis dan melepaskan pegangannya pada lengan ayahnya.

Merasa dirinya dilepas, Pangeran Tao Seng cepat meloncat menjauhkan diri. Kini Keng Han sudah dikeroyok oleh empat orang yang sangat lihai sehingga dia mulai terdesak hebat.

“Jangan bunuh dia! Tangkap saja, jangan sekali-kali membunuh dia!” teriak Pangeran Tao Seng.

Pangeran Tao Seng masih sangat mengharapkan puteranya itu berubah pikirannya dan mau membantunya. Bagaimana pun, Keng Han adalah putera kandungnya dan ternyata ilmu kepandaiannya melebihi Gulam Sang!

Empat orang itu mendengar seruan ini dan mereka pun membatasi serangan mereka. Biar pun demikian, tetap saja Keng Han terkepung ketat sekali oleh empat orang itu dan setelah dia dapat membela diri sampai hampir seratus jurus, ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin mengenai punggungnya, membuat dia terhuyung.

Ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin menyerang terus dengan dorongan ke arah dada. Keng Han mengelak, akan tetapi dayung baja di tangan Tung-hai Lo-mo menghantam dari belakang mengenai pahanya dan Keng Han roboh terpelanting. Sebelum dia dapat meloncat bangun, pedang Gulam Sang sudah menempel di lehernya, juga pedang Swat-hai Lo-kwi telah mengancam dadanya.

Keng Han maklum bahwa dia telah kalah dan tertawan. Gulam Sang segera mengikat kaki tangannya dan dia pun dibawa ke dalam kamar tahanan yang berada di belakang rumah Hartawan Ji. Kamar tahanan itu kokoh kuat dan dijaga oleh belasan orang anak buah Gulam Sang.

“Ayah, Keng Han itu amat berbahaya, apakah tidak sebaiknya kalau dia dibunuh saja?” Gulam Sang bertanya kepada Pangeran Tao Seng setelah mereka semua kembali ke ruangan depan untuk berunding.

“Jangan! Aku menyayangkan ilmu kepandaiannya yang hebat. Akan kubujuk dia agar mau membantu. Dia akan merupakan tenaga bantuan yang penting sekali,” jawab sang pangeran.

“Bagaimana kalau dia tidak mau?”

“Kalau dia keras kepala dan tidak dapat dibujuk, maka kuserahkan dia kepadamu.”

Gulam Sang nampak gembira sekali. Pemuda ini ingin sekali dapat membunuh Keng Han sebab diam-diam dia merasa khawatir kalau-kalau kelak ayah angkatnya menerima Keng Han sebagai puteranya dan tentu kedudukannya akan kalah oleh anak kandung itu. Baginya, Keng Han merupakan duri dalam daging yang harus dilenyapkan.

“Tetapi aku membutuhkan bantuanmu. Kita berikan racun perampas ingatan darimu itu. Kalau sampai dia hilang ingatan, tentu dia tidak mempunyai niat macam-macam lagi dan akan tunduk kepada semua perintah kita.”

Gulam Sang mengerutkan alisnya. Dia teringat betapa Keng Han sudah minum racun itu yang dicampurkan dalam arak yang disuguhkan kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak nampak tanda-tanda bahwa pemuda itu keracunan! Ahh, mungkin racunnya kurang banyak, demikian pikirnya.

“Baik, akan saya laksanakan. Saya akan mencampurkan racun perampas ingatan itu di dalam makanan dan minumannya.”

Malam itu udara terasa amat dingin, sedingin hati mereka yang tinggal di gedung tempat kediaman Ji Wan-gwe….
cerita silat karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, Keng Han duduk bersila dalam kamar tahanannya. Tangan dan kakinya tidak dibelenggu, akan tetapi kaki tangannya dipasangi rantai yang terikat pada dinding sehingga dia tidak akan dapat melarikan diri. Rantai itu terbuat dari baja dan tebal sekali sehingga tak mungkin dipatahkan.

Keng Han juga tidak bodoh untuk coba mematahkan rantai itu. Penjaga banyak terdapat di luar tahanan dan di sana masih terdapat empat orang sakti itu. Dia tidak mungkin dapat melawan mereka kalau mereka maju bersama. Dia hanya menanti saatnya untuk dapat meloloskan dirinya.

Maka, dia pun menjaga kesehatan dan tenaganya dan dia makan semua makanan dan minuman yang dihidangkan biar pun dia dapat menduga bahwa makanan dan minuman itu dicampuri racun. Dia tidak takut akan segala racun. Tubuhnya kebal terhadap segala macam racun. Asal saja mereka tidak mempergunakan asap pembius, pikirnya.

Pernah dia tertawan akibat ledakan asap pembius yang dipergunakan oleh orang-orang Kwi-kiam-pang. Akan tetapi kalau racun itu masuk ke tubuhnya melalui makanan, atau melalui luka, dia tidak akan terpengaruh. Darahnya memiliki daya menolak pengaruh racun itu. Pada hari kedua dia ditahan, pagi-pagi sekali Pangeran Tao Seng sudah mengunjungi kamar tahanannya.

“Anakku, kenapa engkau masih berkeras hati? Aku adalah ayah kandungmu. Engkau darah dagingku. Sungguh sengsara hatiku melihat engkau tertawan seperti ini. Anakku, mengapa engkau tidak mau membantu gerakanku? Katakanlah bahwa engkau akan membantuku, maka engkau akan dibebaskan dan menjadi puteraku yang tersayang dan terpercaya.”

Hati Keng Han panas sekali mendengar ucapan ayahnya itu. Hatinya sudah kecewa sekali melihat orang yang menjadi ayah kandungnya. Ternyata orang itu amat licik dan curang bukan main.

“Aku memang puteramu dan engkau adalah ayah kandungku. Akan tetapi kalau engkau berpikir bahwa aku akan mau membantu engkau melakukan kejahatan, engkau mimpi di siang hari. Sampai mati sekali pun aku tak ingin membantumu. Sebaliknya engkau yang menyadari kekeliruan tindakanmu dan ikut dengan aku menemui ibu. Kalau engkau mau melakukan itu, tentu aku akan menganggap engkau seorang ayah yang telah bertobat dan baik, dan aku akan berbakti kepadamu.”

“Jangan khawatir, Keng Han anakku. Kalau sudah tercapai cita-citaku, pasti aku akan memboyong ibumu ke istanaku. Aku juga sangat mencinta ibumu.” Pangeran Tao Seng membujuk.

“Sudahlah, tidak perlu membujukku lebih lanjut. Akan sia-sia saja. Biar pun engkau ayah kandungku, akan tetapi bila kau lanjutkan usahamu untuk berkhianat dan memberontak, aku akan berdiri di pihak Kaisar kakekku dan Pangeran Mahkota Tao Kuang pamanku.”

Pangeran Tao Seng lalu meninggalkan tempat tahanan itu dengan muka merah karena marah, Akan tetapi dia tidak putus asa dan berharap agar racun perampas ingatan dari Gulam Sang itu akan bekerja dengan baik sehingga dia dapat membujuk puteranya itu.

Pada malam kedua, nampak sesosok bayangan putih berkelebat di atas pagar tembok di belakang rumah Hartawan Ji. Bayangan ini bukan lain adalah Cu In. Setelah gadis itu mendapatkan keterangan dari The-ciangkun di mana letak rumah Hartawan Ji, dia lalu datang berkunjung pada malam itu.

Ketika melihat ada dua orang peronda berjalan menghampiri tempat ia bersembunyi, ia meloncat dari dalam taman itu ke atas sebatang pohon. Ia berada di atas pohon, siap bertindak kalau sampai ketahuan. Dan ia mendengarkan mereka bercakap-cakap.

“Menjemukan sekali, malam-malam gelap begini harus meronda. Biasanya kita hanya berjaga di gardu dan dapat terlindung dari cuaca yang amat dingin, dapat membuat api unggun yang hangat.”

“Ahh, ini semua gara-gara pemuda yang bandel itu. Kabarnya dia berkepandaian tinggi dan tidak mau dibujuk untuk membantu Ji Wan-gwe. Heran aku mengapa ada orang tak mau bekerja kepada Ji Wan-gwe yang kaya raya dan royal.”

“Ketika hendak menangkap dia pun susah bukan main. Dari teman-teman yang melihat, kabarnya setelah tiga locianpwe dikerahkan untuk membantu Kongcu, barulah dia dapat ditawan. Kongcu sendiri kewalahan menghadapi pemuda ini.”

“Hebat. Sayang sekali kalau pemuda lihai macam itu akhirnya mesti mati karena tidak mau terbujuk.”

Percakapan itu cukup bagi Cu In. Tubuhnya melayang turun dan sekali dua tangannya menyambar, dua orang peronda itu sudah roboh tanpa dapat berteriak, roboh tertotok tidak mampu bergerak mau pun bersuara.

Ang Hwa Nio-nio memang memiliki keistimewaan dalam ilmu menotok sehingga ilmunya itu disebut Tok-ciang (Tangan Beracun) karena sekali totok saja mampu mencabut nyawa orang. Cu In juga menguasai ilmu ini dan dua orang yang ditotoknya itu sama sekali tidak mampu berkutik. Akan tetapi dara bercadar ini tidak membunuh mereka.

Cu In melolos pakaian hitam salah seorang di antara mereka dan mengenakan pakaian itu menutupi pakaiannya sendiri yang serba putih. Kemudian ia berkata kepada orang kedua. “Cepat lakukan perondaan sampai ke tempat tahanan itu. Awas, sekali saja kau berteriak, nyawamu akan melayang.”

Setelah berkata demikian dia membebaskan orang kedua dari totokan, lalu memaksa peronda itu berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Ia berjalan di belakangnya sambil menyembunyikan mukanya yang bercadar.

Peronda itu ketakutan setengah mati. Dia maklum bahwa orang yang sekarang berada di belakangnya itu tidak hanya menggertak kosong belaka. Kalau dia berteriak, tentu dia akan tewas. Dia pun masih tidak tahu bagaimana nasib temannya yang ditinggalkan di belakang semak-semak dalam keadaan tidak bergerak seperti sudah menjadi mayat.

“Bawa aku ke tempat tahanan dan berbuatlah seolah-olah engkau melakukan ronda,” desis suara Cu In di dekat telinga peronda itu.

Peronda itu hanya mengangguk, membawa lampu teng dan memukul kentungannya, lalu melangkah menuju ke bagian belakang rumah besar Ji Wangwe. Segera dua orang penjaga yang berada di luar tempat tahanan menghadap mereka.

“Kanapa engkau sampai di tempat ini?” tanya seorang diantara dua orang penjaga itu.

Pemuda yang sudah mendapat pesan dari Cu In berkata dengan suara ketakutan. “Ah, tolonglah... tadi aku melihat banyak bayangan orang di sana. Aku khawatir akan datang serangan musuh!”

Mendengar cerita ini, dua orang itu segera masuk ke dalam dan memberi tahu kepada kawan-kawannya di sana. Empat orang lain keluar dan kini enam orang itu bertanya, “Di mana bayangan-bayangan itu?”

“Di sana...!” Peronda itu menudingkan telunjuknya ke arah taman, sedangkan Cu In bersembunyi di balik tubuh peronda sehingga mukanya tidak nampak.

“Mari kita periksa tempat itu!” kata seorang di antara enam penjaga itu dan mereka, segera berlarian dengan golok di tangan memasuki taman.

Melihat ini, Cu In segera menotok peronda itu sehingga roboh tak mampu berkutik lagi. Ia pun cepat-cepat menyelinap melalui pintu dari mana enam orang penjaga tadi keluar. Ternyata di sebelah dalam masih terdapat tujuh orang penjaga lagi, dan mereka sedang bermain kartu.

Melihat bayangan memasuki tempat mereka berjaga, tujuh orang itu serentak bangkit. Melihat bahwa yang masuk adalah seorang yang menutupi tubuhnya dengan pakaian hitam dan mukanya bercadar, semua menjadi kaget dan menyambar golok mereka.

“Siapa engkau?” bentak seorang kepala jaga.

Akan tetapi Cu In tidak memberi kesempatan kepada mereka. Sabuk sutera putihnya menyambar-nyambar dengan totokan yang jitu sehingga tujuh orang itu roboh malang melintang dalam keadaan tertotok.

Dengan cepat ia dapat menemukan serangkai kunci di atas meja, dan ia segera berlari masuk. Dari sela-sela jeruji baja ia dapat melihat Keng Han yang duduk bersila dengan kaki terikat rantai.

“Keng Han...,” bisiknya.

Keng Han membuka matanya dan segera dia mengenal orang bercadar itu.

“Cu In...!” bisiknya kembali.

Cu In bekerja cepat. Sebuah kunci membuka pintu tahanan yang berat itu, kemudian dengan sebuah kunci lain ia membuka rantai yang mengikat kaki Keng Han.

“Cu In, terima kasih...” kata Keng Han girang dan juga terharu.

Lagi-lagi gadis bercadar ini yang menolongnya. Ketika dia ditawan Kwi-kiam-pang, gadis ini pula yang menyelamatkannya. Ketika dia hendak dibunuh Bi-kiam Niocu, Cu In pula yang mencegahnya.

“Ssttt, kita harus cepat pergi dari sini sebelum mereka semua datang!” kata Cu In yang segera melompat keluar dari situ, diikuti oleh Keng Han.

Baru saja mereka tiba di luar, enam orang penjaga yang tadi memeriksa dalam taman sudah kembali dan melihat bahwa tawanan mereka lolos, mereka terkejut sekali dan menggunakan golok mereka untuk menyerang Keng Han dan Cu In. Ada pula yang berteriak-teriak minta tolong sehingga ributlah keadaan di tempat itu.

“Cepat robohkan mereka dan lari!” kata pula Cu In kepada Keng Han.

Cu In sendiri sudah merobohkan tiga orang penjaga. Keng Han juga lalu menggunakan tenaganya, menampar ke sana sini dan tiga orang penjaga dapat dia robohkan dalam waktu singkat. Pada saat itu, nampak orang-orang berdatangan dengan obor di tangan.

“Cepat lari!” kata Cu In pula.

Keng Han segera mengikuti Cu In melarikan diri. Mereka memasuki taman dan keluar dari pagar tembok taman itu.

Orang-orang yang mengejar mereka, Gulam Sang dan para datuk, tidak menemukan jejak mereka berdua. Ketika mendapat kenyataan bahwa tawanan telah lolos, Gulam Sang menjadi marah sekali dan dia lantas menampari para penjaga. Sialan sekali para penjaga. Baru saja ditotok roboh oleh dua orang itu, kini ditampar lagi oleh Gulam Sang sampai pipi mereka bengkak-bengkak.

Mereka segera memberi laporan kepada Pangeran Tao Seng. Sejenak sang pangeran berpikir sambil mengerutkan alisnya, kemudian dia berkata, “Kalau begitu, pelaksanaan rencana kita harus dipercepat. Sam-wi Locianpwe harap melaksanakan pembunuhan terhadap kaisar itu selambat-lambatnya besok pagi. Aku khawatir dengan lolosnya Keng Han maka rencana kita akan menjadi kacau. Gulam Sang, malam ini juga engkau harus menghubungi Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, juga kerahkan murid-murld Bu-tong-pai untuk bersiap di luar kota raja. Dan Sam-wi Locianpwe, harap membawa orang-orang yang dapat diandalkan untuk pekerjaan membunuh Kaisar. Mereka harus orang-orang berani mati yang sudah disumpah untuk mengakui sebagai orang Thian-li-pang kalau sampai tertangkap hidup-hidup, sesuai dengan rencana kita semula.”

Setelah mengatur semuanya, Pangeran Tao Seng memberi keterangan yang lebih jelas kepada tiga orang datuk sesat yang bertugas membunuh kaisar itu.

“Seperti biasanya, sesudah persidangan Kaisar akan pergi ke taman sambil membawa laporan-laporan untuk dipelajari. Nah, saat itulah kesempatan yang terbaik untuk turun tangan. Semua menteri dan panglima sudah meninggalkan ruang sidang dan pulang ke rumah masing-masing, saat itu keadaan di istana dalam suasana tenang dan tenteram. Para pengawal tentu tidak akan ada yang menduga bahwa akan terjadi penyerangan. Untuk menyelundupkan kalian ke dalam istana, sudah kuserahkan kepada Ciu-ciangkun yang akan mengaturnya. Kalian akan diberi pakaian sebagai pengawal-pengawal istana dan dapat masuk ke dalam istana dengan leluasa. Nah, bersiaplah kalian semua. Untuk menjaga jangan sampai Keng Han bertindak terhadap diriku, aku akan mengungsi di luar kota raja, yaitu di dusun yang telah kalian ketahui sebagai tempat peristirahatanku. Mengerti semua?”

Setelah semua mengerti dan siap, mereka bubaran. Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji bersama adiknya, Pangeran Tao San, keluar dari rumah, bahkan keluar dari kota raja menunggang kereta menuju ke dusun di sebelah utara kota raja. Gulam Sang pergi pula untuk mempersiapkan pasukan, dan tiga orang locianpwe bersama selusin anak buah pergi menemui Ciu-ciangkun untuk diselundupkan pagi hari itu ke dalam istana!

Gulam Sang sendiri sudah mendapat perintah istimewa dari Pangeran Tao Seng, yaitu untuk membawa teman dan pergi melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota Tao Kuang, tentu saja sesudah dia mengumpulkan pasukan di luar kota raja yang siap untuk memasuki kota raja dan menyerbu istana, apa bila saatnya telah tiba.

Menurut rencana Pangeran Tao Seng, apa bila usaha membunuh Kaisar telah berhasil, dan juga usaha membunuh Pangeran Mahkota berhasil, dia sendiri akan menyerbu ke dalam istana, mempergunakan pasukan Panglima Ciu yang sudah berhasil dihasutnya dengan janji pangkat besar, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Andai kata rencana itu gagal, mereka akan menimpakan kesalahan pemberontakan itu kepada Thian-li-pang…..

**********

“Cu In, sekali lagi engkau menyelamatkan nyawaku. Hutang budi terhadapmu sungguh bertumpuk-tumpuk, bagaimana aku akan dapat membalasnya? Dan engkau yang sudah menyaksikan betapa aku akan membunuh Paman Tao Kuang karena aku dihasut oleh ayah kandungku sendiri, kenapa engkau masih saja mau menolong aku yang sesat ini?” Keng Han bertanya setelah dia dan Cu In lolos dari rumah Hartawan Ji.

“Tidak ada hutang piutang budi, Keng Han. Aku membantumu karena melihat bahwa engkau tak bersalah. Engkau hendak membunuh Pangeran Tao Kuang karena engkau dihasut dan mendapat keterangan yang keliru.”

“Akan tetapi bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku akan tertimpa mala petaka di rumah Hartawan Ji yang bukan lain adalah Pangeran Tao Seng itu?”

“Sudah kuduga bahwa setelah menerima keterangan dari Pangeran Tao Kuang, engkau tentu akan menuntut balik kepada ayah kandungmu sendiri yang sudah menghasutmu. Dan kalau engkau melakukan hal itu, besar sekali kemungkinan engkau akan ditentang, ditawan atau dibunuh karena Pangeran Tao Seng ternyata adalah seorang yang mabuk kedudukan dan sudah melupakan putera sendiri. Maka aku lalu mencari keterangan lebih lanjut dan sesudah merasa pasti bahwa Hartawan Ji adalah Pangeran Tao Seng, malam ini aku segera pergi ke sana. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting sekarang ini, apa yang hendak kau lakukan?”

“Aku harus menyelamatkan Sribaginda Kaisar. Beliau terancam bahaya maut!”

“Ahh, benarkah itu? Bahaya apa yang mengancamnya?”

Keng Han kemudian bercerita tentang ucapan-ucapan Pangeran Tao Seng yang akan membunuh kaisar dan pangeran mahkota, dan betapa kini di rumah pangeran itu telah berkumpul datuk-datuk sesat seperti Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo, dan Lam-hai Koai-jin. Juga di sana terdapat Gulam Sang yang lihai.

“Jika begitu, kita harus cepat memberi peringatan kepada Pangeran Tao Kuang. Hanya beliau yang dapat mengatur semua penjagaan agar jangan sampai terjadi pembunuhan itu.”

“Baik, mari kita menghadap beliau.”

“Keng Han, apa sudah kau pikirkan masak-masak semua ini? Ingat, kalau kau bertindak begini, itu berarti bahwa engkau melawan ayah kandungmu sendiri!”

“Ayah kandung atau siapa saja yang bertindak salah, harus ditentang. Ayahku itu telah menyia-nyiakan kehidupan ibuku hingga ibu hidup merana dan selalu menanti di Khitan. Kemudian ayahku itu sudah bertindak curang hendak membunuh adiknya sendiri, apa lagi sekarang dia telah bertindak sedemikian jauhnya untuk membunuh ayahnya sendiri dan juga adiknya yang menjadi pangeran mahtkota. Tentu saja aku menentangnya!”

Mendengar ini, Cu In termenung. Hampir bersamaan nasib yang dialami oleh Keng Han dan ia sendiri. Hanya bedanya, kalau yang menyusahkan hati Keng Han itu ayahnya, ia lain lagi. Ibu kandungnya yang membuatnya bersusah hati. Ibunya mendidiknya sebagai murid, menghasutnya supaya ia membunuh ayah kandungnya! Akan tetapi dapatkah ia membenci ibu kandungnya?

“Keng Han, apakah engkau membenci ayahmu itu?”

“Tidak, aku tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Maka perbuatannya itu yang kutentang.”

“Bagaimana kalau nanti ayahmu itu mau mengubah sikapnya dan tidak lagi melakukan kejahatan?”

“Aku sudah membujuknya, bahkan hendak memaksanya untuk ikut bersamaku pergi menemui ibu di Khitan. Akan tetapi semua usahaku itu dihalangi oleh para datuk. Kami berkelahi dan aku dikeroyok empat sampai akhirnya aku tertawan.”

“Jadi engkau akan memaafkan ayahmu kalau dia mengubah sikapnya?”

“Tentu saja. Kalau perbuatannya sudah benar, apa lagi dia itu ayahku, maka aku harus berbakti kepadanya.”

“Ahhh...!“

“Kau kenapakah, Cu In?” tanya Keng Han khawatir melihat gadis itu seperti tertegun.

“Tidak apa-apa. Marilah kita menghadap Pangeran Mahkota.”

“Sebetulnya aku merasa sungkan dan malu menghadap beliau. Baru dua hari yang lalu aku berusaha untuk membunuhnya!”

“Jangan khawatir. Ada aku yang akan menjelaskan kepadanya.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ketika mereka hampir tiba di istana itu, Keng Han kembali bertanya, “Cu In, mengapa engkau begini baik terhadap diriku? Kanapa engkau begini membela aku?”

“Hemmm, kenapa? Karena engkau pun baik sekali kepadaku. Ingat, engkau pun pernah menolongku, bukan?”

“Cu In, suci-mu mengatakan bahwa engkau lebih kejam dari pada ia, akan tetapi aku melihat engkau sama sekali tidak kejam, bahkan engkau lembut hati dan mulia. Aku menyebut namamu begitu saja, bukan menyebut Su-I (Bibi Guru), engkau pun tidak marah. Aku sungguh kagum kepadamu semenjak pertama kali kita bertemu, aku... aku terpesona melihat sinar matamu dan aku suka sekali kepadamu. Apakah engkau akan marah dan membunuhku kalau aku mengatakan bahwa aku suka kepadamu?”

Sepasang mata itu mencorong, namun hanya sebentar. Tadinya Cu In hendak marah sekali karena ia sudah terbiasa menganggap bahwa kalau ada pria menyatakan suka kepadanya, maka pria itu hanya merayu saja dan pernyataannya itu palsu adanya seperti yang sering kali dikatakan gurunya. Akan tetapi kemudian ia teringat bahwa gurunya atau ibunya itu bersikap demikian karena sakit hati terhadap kekasihnya, maka kemarahannya pun hilang. Ia tidak perlu percaya lagi kepada semua pendapat ibunya.

Ia sendiri tidak dapat menyangkal bahwa ia pun suka sekali kepada Keng Han. Baru sekarang ia menyadari bahwa pria pun sama saja dengan wanita, ada yang baik dan ada yang jahat. Dan Keng Han ini jelas bukan laki-laki yang jahat.

Ia menyadari bahwa kebiasaannya mengenakan cadar supaya mukanya jangan sampai terlihat laki-laki itu merupakan kebiasaan yang keliru. Tetapi sekarang sudah kepalang, bahkan hal itu dapat dipakainya untuk menguji sampai di mana rasa suka Keng Han terhadap dirinya.

“Aku tidak marah dan tidak akan membunuhmu karena pernyataan itu, Keng Han. Akan tetapi bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa engkau suka kepadaku pada hal engkau belum pernah melihat wajahku?”

“Aku tidak peduli akan wajahmu, Cu In. Bagaimana pun bentuk wajahmu aku tetap akan merasa suka padamu. Aku kagum akan kepribadianmu, watakmu, cara engkau bicara, gerak-gerikmu, dan sinar matamu.”

“Tidak, Keng Han. Jangan katakan begitu. Aku... aku tidak berharga bagimu. Aku gadis kang-ouw, petualang yang hidup menyendiri, sedangkan engkau adalah seorang putera pangeran! Tidak, aku sama sekali tidak sebanding denganmu.”

“Cu In, jangan merendahkan diri sampai demikian! Aku cinta padamu, bukan karena rupa atau kedudukan. Aku mencinta dirimu, pribadimu, tidak peduli engkau berwajah bagaimana dan dari golongan apa.”

“Ahhh, engkau akan menyesal kelak dan kalau engkau menyesal, aku kembali akan menjadi pembenci pria yang ternyata berhati palsu, kata-katanya tidak dapat dipercaya.”

“Aku tidak akan menyesal, Cu In. Aku cinta padamu dan tidak ada apa pun yang dapat mengubah cintaku.”

“Akan tetapi wajahku buruk sekali, Keng Han. Aku hanyalah seorang wanita yang cacat mukanya.”

“Aku tidak percaya! Dan andai kata benar wajahmu cacat, aku tetap akan mencintamu.”

“Benarkah? Ingin aku melihat apakah pendapat guruku tentang pria benar, bahwa pria hanya merupakan perayu besar yang tidak setia dan palsu. Kau lihatlah baik-baik, Keng Han!”

Setelah berkata demikian, Cu In menyingkap cadarnya memperlihatkan mukanya dari hidung ke bawah. Keng Han memandangnya dan pemuda itu terbelalak, terkejut dan heran.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa wajah yang di bagian atasnya demikian cantik jelita, bagian bawahnya mengerikan. Wajah itu totol-totol hitam, seperti bekas luka yang memenuhi permukaan wajahnya sehingga meski pun hidung dan mulutnya berbentuk sempurna, namun karena bertotol-totol hitam menjadi buruk untuk dipandang.

Cu In menutupkan kembali cadarnya, kemudian berkata dengan nada suara mengejek, “Engkau terkejut? Engkau ngeri? Wajahku seperti setan, bukan? Nah, apakah masih ada ada rasa cinta di dalam hatimu, Keng Han?”

Keng Han sudah dapat menyadari lagi keadaannya dan menguasai perasaannya yang terkejut. “Aku tetap mencintamu, Cu In. Biar pun wajahmu cacat, engkau tetap Cu In yang tadi, yang bercadar, yang kucinta. Akan tetapi mengapa wajahmu seperti itu, Cu In? Aku merasa iba kepadamu dan aku akan berusaha agar supaya cacat di wajahmu dapat hilang. Akan kucarikan tabib terpandai di dunia ini yang mampu menyembuhkan dirimu.”

“Kau tidak benci kepadaku? Tidak jijik melihat mukaku?” tanya Cu In, dalam suaranya mengandung keheranan.

Keng Han mendekat dan memegang kedua tangan gadis itu. “Sudah kukatakan, aku mencinta pribadimu, bukan sekedar kecantikanmu. Aku tetap mencintaimu walau pun wajahmu cacat. Jadi itulah sebabnya engkau memakai cadar selama ini! Agar mukamu yang cacat tidak kelihatan orang lain.”

“Benar, aku tidak ingin ada orang melihat mukaku dan kemudian membenciku. Engkau benar-benar tidak peduli akan cacat di mukaku?” tanya Cu In tanpa melepas pegangan Keng Han pada kedua tangannya.

“Aku bukan tidak peduli, akan tetapi aku bahkan kasihan sekali padamu dan ingin membantumu mencarikan obat untuk menghilangkan bekas luka di wajahmu itu. Akan tetapi cacat di mukamu itu tidak mengubah perasaan hatiku yang mencintamu.”

Cu In melepaskan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu. “Aku... aku tidak percaya...” suaranya mengandung isak.

“Kenapa engkau tidak percaya? Kenyataan bahwa engkau murid Ang Hwa Nio-nio dan sumoi Bi-kiam Niocu yang jahat dan kejam itu pun tidak mengubah cintaku padamu, pada hal aku sama sekali tidak menyukai watak mereka. Aku bersumpah bahwa aku tetap mencintamu Cu In.”

“Ssttt, sudahlah. Soal itu dapat kita bicarakan kemudian. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Mari kita menghadap Pangeran Mahkota Tao Kuang.”

Baru teringat oleh Keng Han betapa lama mereka berhenti di jalan yang sunyi itu. Dia tersenyum kepada Cu In dan berkata, “Perasaan hati kita lebih penting dari segala urusan, Cu In. Aku sudah mengutarakan isi hatiku dan hal ini melegakan sekali. Walau pun aku belum tahu bagaimana tanggapanmu tentang perasaanku, akan tetapi kini aku merasa lega bahwa engkau mengetaihui akan perasasn hatiku kepadamu. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita.”

Ketika mereka tiba di istana Pangeran Tao Kuang, mereka segera disambut oleh Sang Pangeran sendiri yang ditemani oleh Kwi Hong dan ibunya, juga Kai-ong dan muridnya, Yo Han Li yang masih berada di situ. Melihat munculnya Keng Han bersama Cu In, Kwi Hong segera meloncat ke depan ayahnya dengan pedang terhunus di tangan.

“Han-ko, apakah engkau hendak membunuh ayahku?!” bentaknya.

Keng Han tersenyum. Sudah lama dia mengetahui bahwa Kwi Hong itu adalah adiknya sendiri, adik sepupu dan semarga. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak, Hong-moi. Aku bahkan datang untuk minta maaf kepada ayahmu.”

Lega hati Kwi Hong mendengar ini. Ia pun segera melangkah ke pinggir dekat ayahnya.

“Saya datang pertama-tama untuk mohon maaf kepada Paman Pangeran!” kata Keng Han sambil memberi hormat kepada Pangeran Tao Kuang.

Pangeran itu tersenyum, kemudian berkata, “Aku maafkan engkau, Keng Han. Engkau kemarin bersikap demikian karena hasutan orang. Apakah kini engkau sudah mengerti benar akan duduknya perkara?”

“Sudah, Paman. Bahkan bukan itu saja. Kami, yaitu Cu In dan saya, mengetahui hal-hal lain yang amat membahayakan keselamatan Paduka dan juga keselamatan Yang Mulia Kaisar. Ada komplotan yang hendak membunuh Paman dan Kaisar.”

Pangeran Tao Kuang terkejut mendengar ini dan segera mengajak Cu In dan Keng Han ke ruangan dalam untuk membicarakan hal itu.

Setelah tiba di ruangan dalam, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya. Dia menceritakan pula rencana ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota dan Kaisar.

“Dia yang kini memakai nama Hartawan Ji telah mengundang datuk-datuk besar yang berilmu tinggi untuk melaksanakan pembunuhan itu. Karena itulah maka kami berdua cepat-cepat menghadap Paman untuk menghadapi komplotan pembunuh itu. Di antara mereka yang bersekutu itu terdapat pula seorang Tibet bernama Gulam Sang yang agaknya sudah mengadakan persekutuan dengan pihak Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Mungkin mereka akan mengadakan penyerbuan ke kota raja. Juga Bu-tong-pai bekerja sama dengan mereka. Keadaan ini gawat sekali kalau tidak dipersiapkan penjagaan yang ketat.” demikian antara lain Keng Han berkata.

“Untuk menjaga keselamatan Paduka, di sini sudah terdapat adik Kwi Hong, adik Han Li dan Locianpwe Kai-ong. Akan tetapi untuk menjaga keselamatan Kaisar, perlu adanya tenaga yang boleh diandalkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan,” kata Cu In.

“Wah, ini perkara penting sekati. Aku harus segera menghubungi ayahanda Kaisar dan para panglima untuk melakukan penjagaan dan untuk menyelidiki gerakan musuh di luar kota raja. Bagaimana kalau kami minta bantuan kalian, Keng Han dan Cu In, untuk ikut menjadi pengawal Kaisar untuk sementara waktu?”

“Saya bersedia, Paman.” kata Keng Han.

“Jika memang dibutuhkan, saya pun suka membantu,” kata pula Cu In penuh semangat.

“Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian berdua ikut dengan aku menghadap Kaisar. Kwi Hong, engkau menjaga di rumah dan saya mohon bantuan Locianpwe Kai-ong dan nona Yo untuk membantu Kwi Hong.”

“Baik, Ayah. Aku dan ibu akan siap siaga.”

“Ha-ha-ha, setelah siang malam makan dan tidur dengan enak di sini kami tentu saja suka membantu. Ada pekerjaan itu baik sekali, makan tidur saja setiap hari membuat aku menjadi malas!” kata Kai-ong.

Maka berangkatlah Pangeran Tao Kuang menuju ke istana Kaisar, dikawal oleh Keng Han dan Cu In. Setelah tiba di istana dan diterima oleh Kaisar, Pangeran Tao Kuang menceritakan keadaan yang berbahaya itu.

Mendengar laporan ini, Kaisar yang sudah tua itu memukul lengan kursinya.

“Aahhh, anak-anak macam apa Tao Seng dan Tao San itu? Mereka sudah dihukum, tapi tidak jera dan malah membikin ulah lagi. Kami serahkan penanggulangan pengacau ini kepadamu, Tao Kuang. Selesaikan sampai tuntas urusan ini. Aaahh, kalau kami yang harus memikirkan masalah anak-anak durhaka ini, bahkan hanya akan mendatangkan penyesalan saja di dalam hati!”

“Baik, Ayah. Serahkan saja semua ini kepada hamba. Di sini hamba mengajak dua orang pendekar yang menjadi saksi usaha pemberontakan itu dan hamba harap supaya Ayah suka menerimanya sebagai pengawal sementara untuk menghadapi mereka yang berani masuk ke Istana.”

Kaisar menerima Keng Han dan Cu In dengan senang. Akan tetapi melihat Cu In yang bercadar, Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata, “Kenapa gadis ini memakai cadar? Sebaiknya kalau cadar itu dilepas agar kami dapat melihat wajahnya.”

“Ampun, Yang Mulia. Hamba sudah bersumpah untuk tidak membuka cadar ini. Yang berhak melakukan hanya suami hamba kelak,” kata Cu In.

Keterangannya ini tidak seluruhnya bohong karena di dalam hatinya ia pun mengambil keputusan bahwa yang berhak membuka cadar adalah tangan suaminya. Mendengar ini Keng Han merasa jantungnya berdebar. Gadis ini sudah membuka cadar di depannya, bukankah itu menunjukkan bahwa gadis ini setuju dia menjadi calon suaminya?

“Hemmm, sumpah yang aneh. Tetapi sudahlah, karena putera kami yang membawamu ke sini, engkau boleh bercadar.” Akhirnya Kaisar berkata sambil mengangguk walau pun merasa heran akan sumpah yang aneh itu.

Keng Han dan Cu In ditinggalkan dalam istana untuk menjadi pengawal pribadi kaisar. Walau pun kaisar sudah mempunyai pasukan pengawal pribadi, akan tetapi hadirnya dua orang muda yang oleh puteranya diperkenalkan sebagai dua orang pendekar yang berilmu tinggi, kaisar suka menerimanya dan hal ini menambah tenang hatinya.

Pangeran Tao Kuang sendiri lalu membawa sepasukan pengawal untuk mengawalnya. Dia tidak segera pulang, akan tetapi mendatangi rumah panglima The Sun Tek yang dikenalnya sebagai Panglima besar yang memiliki ilmu silat tinggi. Kepada panglima itu dia menceritakan tentang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Pangeran Tao Seng.

Ia menyerahkan penyelidikan dan pembasmian gerombolan pemberontak yang mungkin bersembunyi dekat kota raja, supaya dapat mencegah gerombolan itu menyerbu kota raja. Sesudah Panglima The Sun Tek menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Kaisar melalui Pangeran Mahkota itu, Pangeran Tao Kuang baru pulang ke rumahnya, dikawal pasukan pengawal dengan ketat.

Panglima The Sun Tek dengan cepat mengerahkan pasukan istimewa untuk menambah kekuatan penjagaan di istana, lalu menyebar penyelidik untuk menyelidiki apakah ada gerombolan yang bersembunyi di sekitar kota raja.

Kaisar Cia Cing yang usianya sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun itu nampak tenang saja mendengar bahwa dirinya terancam bahaya maut. Apa lagi dengan adanya Keng Han dan Cu In, dia merasa aman. Ada pun penambahan pengawal istana membuat dia lebih tenang lagi karena penjagaan menjadi ketat sekali.

Keng Han dan Cu In sama sekali tidak menyangka bahwa di antara pengawal istana itu terdapat Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka ini di selundupkan oleh panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran Tao Seng, yaitu Panglima Ciu, ke dalam pasukan pengawal istana! Ada pun Swat-hai Lo-kwi oleh Panglima Ciu diselundupkan ke dalam pasukan penjaga istana Pangeran Mahkota.

Tentu saja ketiga orang datuk sesat ini menyamar sehingga kelihatan muda dan seperti anggota pasukan biasa. Dua orang datuk, yaitu Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin, bertugas untuk membunuh kaisar. Bersama dengan mereka diselundupkan pula anak buah Pek-lian-pai sebanyak selosin orang untuk membantu usaha dua orang datuk itu.

Sedangkan Swat-hai Lo-kwi dibantu oleh selosin prajurit pula, yaitu para anggota dari Pat-kwa-pai. Gulam Sang sendiri memimpin pasukan inti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai bersama para tokoh kedua gerombolan itu, mempersiapkan pasukannya di luar kota raja, siap untuk membantu apa bila saatnya tiba.

Penyerbuan itu akan dibarengi dengan gerakan pasukan Panglima Ciu dari dalam. Bila saatnya tiba, Panglima Ciu akan melepaskan anak panah berapi di udara sebagai tanda kepada gerombolan yang bersembunyi di luar kota raja. Penyerbuan akan dilakukan pada malam hari.

Pangeran Tao Kuang yang sudah menerima keterangan sejelasnya dari Keng Han dan Cu In, berhubungan terus dengan Panglima The Sun Tek. Panglima ini adalah seorang panglima perang yang telah hafal akan liku-liku siasat perang. Maka dia tidak terpancing keluar dan mengerahkan pasukannya keluar kota raja.

Ia menaruh curiga kalau-kalau pihak pemberontak justru telah menyelundupkan banyak pasukan ke dalam kota raja. Mudah saja untuk menyusup dengan menyamar sebagai pedagang atau petani yang menjual hasil ladang mereka ke kota raja. Maka dia pun membagi pasukannya menjadi dua bagian. Yang satu bagian diperuntukkan membasmi gerombolan yang berada di luar kota raja, sedangkan sebagian lagi tetap menjaga di kota raja kalau-kalau pihak musuh sudah menyelundupkan pasukan ke dalam kota raja untuk menyerbu istana. Penjagaan di istana diperketat.

Malam itu teramat indah. Biar pun tidak ada bulan di angkasa namun malam itu penuh bintang. Langit bersih sehingga semua bintang nampak di angkasa bagaikan butir-butir mutiara di hamparan beludru hitam. Apa bila ada orang yang menengadah, maka akan nampak keindahan yang luar biasa, nampak pula kekuasaan Tuhan yang tiada taranya.

Bintang-bintang itu berkelap-kelip, ada yang berkejap ada pula yang tenang diam tanpa sinar gemerlapan. Cahaya sekian banyak bintang di angkasa, tak terhitung banyaknya, membuat cuaca di bumi nampak remang-remang. Cahaya bintang-blntang itu demikian lembut sehingga malam terasa sejuk.

Kalau ada angin semilir, barulah terasa betapa dinginnya hawa udara di saat itu. Dingin dan sunyi, penuh pesona dan rahasia. Kadang nampak bintang meluncur lalu lenyap membuat kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi jauh di atas itu.

Benarkah pendapat kuno bahwa setiap bintang itu mewakili seorang manusia. Agaknya pendapat kuno ini berlebihan. Buktinya banyak bintang yang sudah beratus tahun masih nampak cemerlang di angkasa sedangkan manusia sudah berganti beberapa generasi. Apakah di bintang itu terdapat makhluk hidup? Mungkin saja, siapa tahu. Tuhan Maha Kuasa, maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Kalau Tuhan menghendaki, mungkin saja di antara bintang-bintang itu ada bintang yang seperti dunia kita ini.

Malam yang indah. Akan tetapi malam yang mencekam bagi para penjaga di istana. Beberapa orang melihat berkelebatnya bayangan orang di luar kamar tidur Kaisar. Akan tetapi ketika diperiksa, ternyata tidak ada siapa-siapa.

Ketika mendengar laporan para penjaga itu, Keng Han dan Cu In siap siaga dengan penuh kewaspadaan. Keng Han menyuruh para prajurit pengawal untuk mengepung kamar tidur kaisar, sedangkan dia sendiri bersama Cu In sudah melayang naik ke atas atap, menjaga kalau-kalau ada yang menyerbu dari atas. Penjagaan itu demikian ketat sehingga siapa pun yang akan memasuki kamar kaisar, dari luar mau pun dari atas, pasti akan ketahuan. Kecuali kalau ada yang masuk melalui bawah tanah, suatu hal yang tidak mungkin...


BERSAMBUNG KE PUSAKA PULAU ES BAGIAN 17