Pendekar Bongkok Bagian 15

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 15

Mereka memasuki kota Lhasa sambil menuntun kuda tunggangan mereka yang nampak lelah sekali. Sie Lan Hong memandang ke kanan kiri, mengagumi bangunan-bangunan kuno yang kokoh dan megah di lereng bukit-bukit itu. Sungguh sebuah kota yang aneh dan juga asing baginya. Melihat daerah yang luas itu, perumahan yang berada di lereng-lereng bukit, orang-orang yang berlalu lalang di jalan-jalan lebar, ia pun mengerutkan alisnya dan merasa khawatir.

“Lie-toako, di tempat besar seperti ini, ke mana kita harus mencari puteriku dan adikku?”

Lie Bouw Tek tersenyum. Dia memandang wanita itu dengan sinar mata lembut dan menghibur.

“Jangan khawatir, Hong-moi. Yang kita cari adalah dua orang Han, maka tentu tidak akan begitu sukar. Tidak banyak orang Han di sini, maka kalau mereka berada di sini, tentu ada yang melihat mereka.”

“Sekarang, kita ke mana toako?”

“Kita mencari tempat penginapan dahulu, menyewa dua buah kamar, dan membiarkan kuda kita mendapat perawatan, kemudian kita membersihkan diri, lalu makan. Setelah itu, baru kita pergi menghadap atau berusaha supaya dapat diterima menghadap Dalai Lama.”

“Menghadap Dalai Lama? Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa kedudukan Dalai Lama amat tinggi, hampir seperti kaisar kita, dan tidak akan mudah menghadap beliau.”

“Benar, akan tetapi aku yakin akan dapat diterimanya, Hong-moi. Aku mengenal beliau pribadi, karena aku pernah membantu beliau ketika ada segerombolan penjahat hendak membunuh beliau.”

“Akan tetapi, adikku Sie Liong mungkin pergi mencari Tibet Ngo-houw, kenapa engkau hendak mengajak aku menghadap Dalai Lama?”

“Begini, Hong-moi. Aku sendiri sesungguhnya sedang menerima tugas dari Kun-lun-pai untuk menyelidiki kenapa Tibet Ngo-houw memusuhi para tosu, bahkan memusuhi pula Kun-lun-pai. Di sepanjang perjalanan kita sudah mendengar akan adanya perkumpulan Kim-sim-pai yang kabarnya hendak memberontak. Maka, kupikir sebaiknya kalau aku langsung saja bertanya kepada Dalai Lama tentang sikap Tibet Ngo-houw itu. Aku yakin di sana aku akan bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas. Dan tentang mencari adikmu dan puterimu, kukira orang-orang Dalai Lama akan lebih tahu, atau setidaknya akan lebih mudah menemukan kedua orang itu kalau Dalai Lama membantu, menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki dan mencari.”

Sie Lan Hong mengangguk-angguk. Ia memang telah tahu bahwa Lie Bouw Tek adalah seorang pria yang hebat, yang gagah perkasa, cerdik dan juga amat berpengalaman. Ia merasa lemah dan bodoh sekali berada di samping pria ini, dan ia merasa aman dan terlindung.

Alangkah bedanya ketika ia masih menjadi isteri Yauw Sun Kok. Ia tak pernah merasa tenteram, tak pernah merasa aman bahkan selalu merasa gelisah, takut dan juga sakit hati. Lie Bouw Tek yang bukan apa-apanya, tidak ada hubungan apa pun antara mereka telah bersikap demikian baiknya!

Begitukah sikap setiap orang pendekar, ataukah ada sesuatu yang istimewa di dalam hubungan di antara mereka? Mengingat akan hal ini, sering kali Lan Hong tersipu malu. Tidak, bantahnya kepada diri sendiri. Ia hanya seorang janda yang mempunyai seorang puteri lagi. Ia bukan seorang gadis muda!

Sedangkan Lie Bouw Tek adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal! Betapa mungkin... ah, ia telah mengharapkan terlalu jauh, sungguh tidak tahu malu!

Lan Hong menurut saja ketika Lie Bouw Tek mengajaknya mencari rumah penginapan. Mereka menyewa dua buah kamar yang letaknya berdampingan dan menyerahkan dua ekor kuda mereka kepada pelayan untuk diberi makan.

Setelah mandi, dengan tubuh terasa segar dan pakaian bersih menggantikan pakaian mereka yang penuh debu, keduanya lalu pergi ke rumah makan. Mereka tidak terlalu menarik perhatian, seperti sepasang suami isteri saja.

Lie Bouw Tek sendiri biar pun dia seorang pendekar besar, tetapi dia tidak menonjolkan diri dan pedang pusakanya selalu tersembunyi di balik baju luarnya. Atas nasehat Lie Bouw Tek pula, Sie Lan Hong juga menyembunyikan pedangnya sehingga tidak terlalu menyolok. Pedang Lan Hong memang hanya pedang pendek, maka setelah diselipkan di ikat pinggang, ujung sarung pedang masih tertutup baju, dan gagangnya juga tidak nampak walau pun ada kalanya ujung itu menonjol keluar.

Setelah makan, pada pagi hari itu juga, mereka pun pergi menuju ke istana Dalai Lama di lereng bukit. Suasana di bukit itu sungguh nyaman. Terdapat beberapa buah taman bunga yang amat indah, dengan suasana yang aman dan tenteram. Para pendeta Lama yang kadang-kadang bersimpang jalan dengan mereka, bersikap hormat dan ramah.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang memasuki daerah istana itu, beberapa orang pendeta Lama menghadang mereka. Biar pun sikap mereka sangat hormat, akan tetapi dengan tegas mereka mengatakan bahwa orang luar tak diperbolehkan memasuki daerah itu tanpa ijin.

“Harap kalian memaafkan kami,” kata kepala jaga dengan sikap hormat. “Kalau hendak berjalan-jalan dan menikmati keadaan, harap lakukan itu di luar daerah istana. Tidak seorang pun diperbolehkan memasuki daerah dalam pintu gerbang tanpa ijin.”

Lie Bouw Tek tersenyum dan menjura dengan hormat, diikuti pula oleh Sie Lan Hong. “Harap saudara sekalian suka memaafkan saya. Saya sengaja datang ke Lhasa untuk menghadap Dalai Lama. Harap saudara sudi melaporkan ke dalam dan mengatakan bahwa kami berdua ingin menghadap Dalai Lama karena ada suatu keperluan yang amat penting.”

“Omitohud...!” Kepala jaga itu berseru. “Apakah sicu (tuan yang gagah) mengira akan demikian mudah saja bertemu dengan beliau? Tanpa panggilan bagaimana sicu dapat diperkenankan menghadap? Pinceng (saya) sungguh tidak berani lancang mengganggu beliau di pagi hari ini, tanpa alasan yang cukup kuat.”

“Sahabat, harap sampaikan saja ke dalam bahwa saya adalah utusan dari Kun-lun-pai yang ingin menyampaikan sesuatu yang teramat penting untuk Dalai Lama,” kata pula Lie Bouw Tek dengan sikap dan suaranya yang tenang berwibawa.

Mendengar disebutnya Kun-lun-pai, sikap para pendeta penjaga itu berubah dan kepala jaga memandang dengan sikap lebih hormat.

“Omitohud, kiranya sicu adalah utusan dari Kun-lun-pai? Harap sicu menyampaikan surat dari ketua Kun-lun-pai lebih dahulu kepada Dalai Lama melalui kami. Setelah surat itu kami sampaikan, tentu sicu diperkenankan masuk menghadap.”

Akan tetapi Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya. “Sobat, sampaikan saja kepada Dalai Lama bahwa saya, Lie Bouw Tek murid Kun-lun-pai, hendak mohon menghadap. Kalau mendengar nama saya, tentu beliau akan sudi menerimaku.”

Pada saat itu, seorang pendeta Lama yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun berjalan tenang dari sebelah dalam. Begitu melihat Lie Bouw Tek, dia pun cepat-cepat menghampiri dan menjura dengan sikap hormat.

“Omitohud... kiranya Lie Taihiap yang sedang berada di sini! Selamat datang, taihiap. Ada keperluan apakah gerangan yang membawa taihiap datang berkunjung ke Lhasa?”

Lie Bouw Tek tidak mengenal pendeta Lama itu, akan tetapi dia tahu bahwa pendeta ini tentu seorang di antara mereka yang dulu tahu akan bantuan yang dia berikan kepada Dalai Lama. Dia pun cepat memberi hormat dan berkata dengan lembut.

“Selamat bertemu, losuhu. Saya datang untuk mohon menghadap Dalai Lama karena ada sesuatu hal yang sangat penting harus saya sampaikan kepada beliau. Tolonglah, harap mintakan ijin kepada beliau agar saya diperkenankan menghadap sekarang juga.”

“Baik, taihiap. Tunggulah sebentar di sini!” kata pendeta itu yang bergegas masuk ke arah bangunan istana yang megah itu.

Kini para pendeta jaga bersikap hormat dan ramah, bahkan mempersilakan Bouw Tek dan Lan Hong untuk duduk menanti di dalam gardu penjagaan.

Tidak lama kemudian, muncullah enam orang pendeta Lama yang merupakan sebuah pasukan kecil berbaris menghampiri tempat itu. Mereka ditemani oleh pendeta Lama yang tadi menegur Bouw Tek, yang kini tersenyum ramah.

“Silakan, taihiap. Dalai Lama yang agung mengundang taihiap.”

“Akan tetapi, saya datang bersama Sie-toanio ini, harap supaya ia pun diperkenankan menemani saya untuk menghadap Dalai Lama.”

Pendeta itu mengerutkan alisnya. “Tidak biasanya Dalai Lama mau menerima tamu wanita. Akan tetapi karena toanio ini datang bersamamu, maka silakan masuk. Terserah kepada Dalai Lama sendiri nanti setelah ji-wi (kalian berdua) tiba di luar ruangan tamu, apakah toanio ini diperkenankan turut masuk ataukah dipersilakan menunggu di luar ruangan.”

Lie Bouw Tek mengangguk dan bersama Lan Hong, dia lalu mengikuti enam orang pendeta itu yang mengawal dan menjadi penunjuk jalan. Setelah mereka memasuki istana, tidak seperti Lie Bouw Tek yang pernah satu kali masuk ke istana ini, Lan Hong memandang ke kanan kiri dengan bengong.

Ia terpesona menyaksikan segala keindahan yang terdapat di istana itu. Ukir-ukiran yang indah sekali, marmer, emas, perak, sutera beraneka warna! Ia merasa seperti memasuki sebuah istana dalam mimpi! Patung-patung logam, marmer, perak atau emas yang ukirannya sangat indahnya, lukisan-lukisan. Pendeknya, selama hidupnya belum pernah Lan Hong menyaksikan keindahan seperti itu.

Ketika mereka sampai di luar sebuah pintu besar yang terjaga, enam orang pendeta pengawal itu mempersilakan mereka menanti sebentar. Seorang di antara mereka memasuki ruangan di balik pintu besar itu, dari mana keluar keharuman cendana yang nyaman. Tak lama kemudian, pendeta itu keluar lagi dengan wajah cerah.

“Taihiap dan toanio dipersilakan masuk untuk menghadap Yang Agung Dalai Lama!”

Dengan wajah gembira Lie Bouw Tek lalu mengajak Sie Lan Hong memasuki ruangan itu. Akan tetapi Sie Lan Hong sendiri agak gemetar ketika melangkah masuk.

Ruangan itu luas dan nampak sunyi karena kosong. Di sudut paling belakang, nampak ada seorang pria duduk di atas sebuah kursi yang besar dan terukir indah, mengenakan jubah dan kepalanya tertutup topi pendeta.

“Selamat datang, pendekar perkasa Lie Bouw Tek dan toanio! Silakan duduk!”

Lie Bouw Tek cepat maju memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada dan membungkuk sampai dalam. Sie Lan Hong juga memberi hormat, akan tetapi dia merasa heran bukan main.

Tadinya ia membayangkan bahwa Dalai Lama yang mengepalai para pendeta Lama di Tibet, tentu seorang kakek yang tua renta keriputan dan buruk. Akan tetapi ternyata sama sekali tidak demikian!

Pendeta yang duduk menyendiri itu usianya hanya beberapa tahun saja lebih tua dari Lie Bouw Tek, dan wajahnya tampak bersih! Wajah yang cerah dengan sepasang mata yang terang dan jernih, senyum yang terbuka dan seluruh gerak geriknya menyiratkan kesabaran, keagungan dan kebesaran hati.

Setelah Bouw Tek dan Lan Hong duduk di atas kursi yang agaknya sudah disediakan untuk mereka, menghadap ke arah Dalai Lama, nampaklah oleh mereka berdua bahwa di belakang Dalai Lama terdapat sehelai kain sutera putih dan di balik kain sutera itu berdiri beberapa orang pendeta Lama yang tak bergerak bagaikan arca-arca mati saja. Bouw Tek maklum bahwa sedikitnya sepuluh orang pendeta Lama berdiri di sana, dan mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, yang merupakan pasukan pengawal yang melindungi keselamatan Dalai Lama.

Dalai Lama sendiri memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ditambah penjagaan pasukan pengawal pribadi ini, dan adanya ratusan orang pendeta Lama di kompleks istana itu, maka tentu saja tempat itu amatlah kuatnya. Apa lagi di benteng yang setiap waktu siap mentaati perintah Dalai Lama.

“Nah, menurut laporan tadi engkau datang sebagai seorang utusan Kun-lun-pai, maka katakanlah semua keperluanmu berkunjung ke sini, taihiap.”

Dari tempat duduknya, Bouw Tek memberi hormat kepada orang pertama yang paling berkuasa di Tibet itu. “Mohon dimaafkan atas kelancangan saya. Karena para pimpinan Kun-lun-pai yang mengutus saya itu hanya menyampaikan pesan melalui beberapa orang murid yang menyusul saya, maka saya tidak membawa surat perintah tertulis. Sebetulnya, tugas saya dari Kun-lun-pai adalah untuk menyelidiki Tibet Ngo-houw, akan tetapi karena saya merasa yakin akan dapat paduka terima dengan baik, maka saya langsung saja menghadap paduka untuk mohon pertimbangan dan kebijaksanaan.”

Dalai Lama masih tersenyum walau pun pandang matanya sejenak kehilangan cahaya kelembutannya ketika mendengar disebutnya nama Tibet Ngo-houw tadi.

“Tibet Ngo-houw? Taihiap, ada urusan apakah dengan Tibet Ngo-houw?”

Jelas bagi Bouw Tek bahwa pertanyaan itu memancing. Dia merasa heran. Semenjak dahulu semua orang juga tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama yang terkenal sebagai pembantu-pembantu Dalai Lama yang dipercaya. Dan mungkin saja mereka kini pun berada di balik sutera putih di belakang Dalai Lama itu. Mengapa Dalai Lama masih bertanya lagi?

“Ampunkan saya, bukan maksud saya untuk mengadu, hanya saya diutus oleh para pimpinan Kun-lun-pai untuk menyelidiki kenapa Tibet Ngo-houw datang ke Kun-lun-san, bukan hanya mencari dan menyerang dengan maksud membunuhi para pertapa dan tosu yang berasal dari Himalaya dan kini bertapa di sana, akan tetapi juga bahkan mereka berlima itu memusuhi Kun-lun-pai. Karena mereka itu mengaku sudah diutus oleh paduka, maka saya kira lebih baik saya langsung saja bertanya kepada paduka mengenai sepak terjang Tibet Ngo-houw itu.”

Dalai Lama mengangguk-angguk, agaknya dia sama sekali tidak heran apa lagi terkejut mendengar ucapan Bouw Tek ini, bahkan terdengar dia berkata lirih, seperti kepada diri sendiri. “Hemm, sampai begitu jauh mereka berusaha memburukkan nama kami?”

Dalai Lama bertepuk tangan dua kali dan muncullah seorang pendeta Lama dari balik kain sutera putih. Dia seorang pendeta yang bertubuh tinggi besar, bersikap agung dan usianya sudah enam puluh tahun lebih. Mukanya berbentuk persegi seperti muka singa, membayangkan kekerasan dan kekokohan, akan tetapi sinar matanya sangat lembut. Dia menjura di depan Dalai Lama, menanti perintah.

“Lie-taihiap, engkau tentu masih ingat kepada Kong Ka Lama yang bijaksana dan sakti ini. Nah, dialah yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Maafkan, sekarang tiba saatnya bagi saya untuk melakukan meditasi, maka urusan selanjutnya, rundingkanlah segalanya dengan Kong Ka Lama ini.” Setelah berkata demikian, Dalai Lama bangkit berdiri.

Bouw Tek cepat bangkit berdiri diikuti oleh Lan Hong dan setelah sedikit mengangguk kepada mereka, Dalai Lama lalu melangkah masuk dari pintu di belakang sutera putih, meninggalkan Bouw Tek dan Lan Hong berdua dengan pendeta Lama yang bernama Kong Ka Lama itu.

Setelah Dalai Lama dan para pendeta yang mengawalnya memasuki pintu yang segera tertutup kembali, Kong Ka Lama baru menghadapi Bouw Tek dan Lan Hong, membuat gerakan dengan tangan menunjuk pintu samping dan berkata, “Taihiap dan toanio, mari kita bicara di ruangan sebelah.”

Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, melalui pintu samping mereka memasuki sebuah ruangan lain yang tidak begitu besar. Ruangan ini pun kosong dan hanya ada sebuah meja dan beberapa buah kursi. Kong Ka Lama mempersilakan dua orang tamu itu untuk duduk dan dia sendiri pun duduk menghadapi mereka.

Tentu saja Lie Bouw Tek masih ingat kepada pendeta Lama ini. Kong Ka Lama atau artinya Lama Salju Putih adalah seorang di antara jagoan Tibet yang mengawal Dalai Lama. Bahkan dulu, ketika Dalai Lama dalam perjalanan keluar Lhasa dihadang para pemberontak yang menyerangnya, Kong Ka Lama ini yang mengepalai para pengawal melakukan perlawanan dan melindungi Dalai Lama yang berada di dalam tandu. Pada waktu itulah kebetulan dia melakukan perjalanan dan melihat peristiwa itu, lalu dia turun tangan membantu para pendeta Lama, menghalau para penghadang sehingga akhirnya Dalai Lama dapat diselamatkan.

Kong Ka Lama adalah seorang pendeta Lama yang berilmu tinggi dan masih saudara seperguruan dengan lima orang Tibet Ngo-houw, maka bisa dibayangkan kelihaiannya.

“Taihiap, pinceng (saya) memenuhi perintah Dalai Lama untuk memberi keterangan dan penjelasan kepada taihiap tentang sepak terjang Tibet Ngo-houw terhadap para tosu yang berasal dari Himalaya dan yang kini telah mengungsi ke Kun-lun-san itu. Mungkin taihiap sudah mendengar betapa yang mulia Dalai Lama dahulunya terlahir di sebuah dusun dan melihat bahwa beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang tua, maka para pendeta Lama yang ketika itu dipimpin oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama mengambil calon Dalai Lama baru itu secara paksa. Hal ini diketahui oleh seorang pertapa Himalaya, dan terjadilah bentrokan ketika pertapa itu membela orang-orang dusun yang hendak mempertahankan anak itu sehingga akibatnya, tiga orang pendeta Lama tewas. Akan tetapi anak itu dapat dibawa ke sini. Kemudian, dengan bimbingan Kim Sim Lama, anak itu diangkat menjadi Dalai Lama.”

Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong mendengarkan dengan penuh perhatian. Lie Bouw Tek tidak merasa heran karena dia pernah mendengar sendiri dari Dalai Lama, yaitu ketika dia menolongnya beberapa tahun yang lalu, bahwa Dalai Lama ketika kecilnya pernah menimbulkan keributan karena dia dipaksa oleh para pendeta Lama ke Tibet sehingga timbul pertempuran antara para pendeta Lama dan orang-orang dusun yang hendak mempertahankannya.

“Itulah yang aneh, losuhu,” katanya. “Kalau sedikit banyak para tosu Himalaya sudah berjasa membela Dalai Lama ketika masih kecil, mengapa sekarang Dalai Lama yang mulia dan adil bahkan menyuruh Tibet Ngo-houw untuk membunuhi para tosu dari Himalaya, bahkan juga memusuhi para tosu Kun-lun-pai?”

Kong Ka Lama menarik napas panjang. “Omitohud... memang demikianlah agaknya yang dikehendaki mereka yang hendak merusak nama baik yang mulia Dalai Lama. Dengarkan, taihiap, akan pinceng lanjutkan penjelasan itu….” Kong Ka Lama berhenti sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.

“Karena ketika diangkat menjadi Dalai Lama, pemimpin kami itu masih belum dewasa, maka kekuasaan dipegang sementara oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama yang sudah berpengalaman. Adalah Kim Sim Lama ini yang dahulu mengamuk, mengirim para pendeta Lama ke Himalaya dan menyerang para tosu dan pertapa Himalaya. Tindakan itu dia lakukan karena dendam, yaitu karena kematian tiga orang pendeta Lama ketika terjadi pertempuran untuk memperebutkan Dalai Lama ketika masih kecil. Perbuatan itu mendatangkan keributan dan banyak para tosu dan pertapa tewas, terluka dan lebih banyak lagi yang melarikan diri meninggalkan Himalaya. Di antaranya banyak yang mengungsi ke Kun-lun-san.”

Lie Bouw Tek mengangguk-angguk. “Akan tetapi, kiranya peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pihak Kun-lun-pai, losuhu.”

“Omitohud, memang tidak ada hubungannya. Harap taihiap dengarkan selanjutnya, dan nanti taihiap akan mengerti. Beberapa tahun kemudian, setelah Dalai Lama menjadi dewasa dan mengerti, beliau mendengar tentang segala sepak terjang Kim Sim Lama yang menjadi wakil, juga pembimbingnya pada waktu beliau masih kecil. Beliau terkejut sekali. Pertama, beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang selalu hidup suci, maka tentu saja beliau sangat tidak suka mendengar tentang permusuhan, apa lagi dendam kebencian dan bunuh membunuh. Apa lagi yang dikejar-kejar adalah para pertapa, para tosu karena dahulu seorang di antara mereka pernah membantu penduduk dusun yang mempertahankan dirinya yang hendak dibawa dengan paksa oleh para pendeta Lama. Juga masih banyak kebijaksanaan yang diambil Kim Sim Lama tapi tidak disetujuinya. Beliau menegur Kim Sim Lama dan terjadilah bentrokan!”

“Hemm, terjadi pemberontakan, begitukah maksud losuhu?”

Pendeta Lama itu mengangguk. “Semacam itulah. Dalai Lama tidak suka meributkan peristiwa itu, karena hanya akan memukul nama baik Tibet sendiri. Kim Sim Lama dapat ditundukkan dan dia pun meninggalkan Lhasa, tidak mau lagi membantu Dalai Lama. Bahkan dia membentuk suatu perkumpulan yang disebut Kim-sim-pai yang berpusat di sekitar Telaga Yam-so, di sebelah selatan Lhasa. Akan tetapi, karena sampai sekarang mereka tak pernah melakukan gerakan pemberontakan, Dalai Lama mendiamkan saja, bahkan memesan kepada kami semua supaya tidak membuat keributan dengan pihak Kim-sim-pai, apa lagi mengingat bahwa Kim Sim Lama adalah seorang tokoh tua di sini dan sudah banyak jasanya dahulu ketika menjadi wakil Dalai Lama.”

“Akan tetapi, bagaimana dengan Tibet Ngo-houw yang mengamuk di Kun-lun-san?”

“Omitohud...! Benar-benar hal itu sama sekali tidak kami ketahui sebelumnya, taihiap. Agaknya, Yang Mulia Dalai Lama terlalu memberi hati kepada mereka dan agaknya sudah tiba waktunya untuk menghentikan nafsu mereka yang merajalela. Hendaknya taihiap ketahui bahwa Tibet Ngo-houw merupakan tokoh-tokoh Tibet yang juga menjadi anak buah Kim Sim Lama. Jelas bahwa perbuatan Tibet Ngo-houw itu sengaja mereka lakukan, sekarang bukan lagi untuk membalas dendam, namun terutama sekali untuk memburukkan nama baik Dalai Lama, atau untuk mengadu domba agar para tosu, dan juga Kun-lun-pai, supaya memusuhi Dalai Lama.”

“Ah, betapa liciknya!” Bouw Tek berseru. “Sekarang baru saya mengerti, losuhu. Untung bahwa saya langsung datang menghadap Dalai Lama sehingga mendapat keterangan yang teramat penting ini.”

“Omitohud, syukurlah kalau sekarang taihiap sudah dapat mengerti. Harap taihiap sudi menyampaikan maaf kami kepada Kun-lun-pai, juga para tosu di daerah pegunungan Kun-lun-san, dan suka memberi tahukan kenyataan yang sesungguhnya. Bahwa Dalai Lama sama sekali tidak memusuhi para tosu, dan bahwa semua itu, semenjak dahulu, adalah tindakan yang diambil oleh Kim Sim Lama.”

“Akan tetapi, apakah perbuatan itu harus didiamkan saja? Jelas bahwa Kim Sim Lama telah melakukan perbuatan menyeleweng dan jahat terhadap nama baik Dalai Lama...”

“Lie-taihiap, hal itu merupakan urusan dalam kami sendiri. Tentu saja Dalai Lama akan mengambil kebijaksanaan, dan apa pun yang diambilnya, kebijaksanaan itu tidak ada hubungannya dengan pihak luar. Oleh karena itu, kami harap supaya taihiap juga tidak mencampuri. Bahkan pinceng yakin bahwa yang mulia Dalai Lama sendirilah yang akan bertindak. Nah, kiranya cukup jelas, taihiap. Sekarang kami persilakan ji-wi kembali ke luar istana, dan kalau mungkin secepatnya meninggalkan Lhasa supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

Pendeta Lama itu bangkit berdiri. Bouw Tek dan Lan Hong juga ikut bangkit berdiri.

“Maaf, losuhu. Ada sedikit lagi pertanyaan dari kami. Harap saja losuhu suka membantu kami.”

“Hemm, urusan apakah itu, taihiap?”

“Sie-toanio ini datang ke Lhasa untuk mencari dua orang, losuhu. Yang pertama adalah puterinya, seorang gadis bernama Yauw Bi Sian yang berusia kurang lebih delapan belas tahun, dan yang ke dua adalah adiknya yang bernama Sie Liong dan terkenal dengan julukan Pendekar Bongkok. Kami perkirakan mereka pun datang ke Lhasa. Kalau barangkali losuhu dapat memberi keterangan tentang mereka...”

Pendeta Lama itu mengelus jenggotnya yang dibiarkan memanjang, alisnya berkerut dan dia mengangguk-angguk sambil memandang kepada Sie Lan Hong.

“Hemm, jadi toanio ini kakak dari Pendekar Bongkok yang terkenal itu? Toanio, tentang puteri toanio ini, kami memang tidak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau Pendekar Bongkok... hemm, namanya sudah sampai pula ke dalam istana ini. Memang dia pernah berada di Lhasa, kabarnya bersama seorang gadis peranakan Tibet Han. Dan kebetulan pula menurut kabar yang kami dengar, dia pernah bentrok dengan seorang anggota Kim-sim-pai.”

“Aihh, terima kasih, losuhu. Dapatkah losuhu memberi tahu, di mana dia sekarang?” tanya Lan Hong yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara.

“Menurut penyelidikan para anak buah kami yang diam-diam kami taruh di mana-mana untuk menjaga keamanan Lhasa, ada yang melihat PendeKar Bongkok mendatangi sarang Kim-sim-pai. Akan tetapi karena anak buah kami itu dipesan dengan keras agar jangan sampai terlibat dengan urusan Kim-sim-pai, dan karena tak ada sangkut pautnya dengan kami, maka kami pun tidak tahu apa yang terjadi di sana. Nah, kiranya cukup keterangan kami, taihiap dan toanio.”

Lie Bouw Tek tidak berani mengganggu lagi. Dia pun menghaturkan terima kasih, lalu meninggalkan istana itu bersama Lan Hong. Wanita itu menahan-nahan perasaannya, dan baru setelah mereka keluar dari istana itu, Lan Hong berkata dengan suara yang mengandung kekhawatiran.

“Aihh, toako. Apa yang hurus aku lakukan sekarang? Aku ingin cepat menyusul dan mencari Sie Liong. Aku harus lebih dahulu bertemu dia sebelum Bi Sian mendahuluiku. Aih, ngeri aku membayangkan mereka saling bertemu sebelum aku menemui adikku...”

“Tenanglah, Hong-moi. Biar aku yang akan melakukan penyelidikan ke daerah Telaga Yam-so untuk mencari Pendekar Bongkok, dan aku akan mengajaknya ke sini untuk menemuimu.”

“Tidak! Aku harus ikut, toako. Aku harus cepat menemukannya. Sekarang juga.”

“Akan tetapi hal itu berbahaya sekali, Hong-moi. Tentu engkau tadi sudah mendengar keterangan Kong Ka Lama. Daerah telaga Yam-so itu menjadi sarang Kim-sim-pai dan mereka adalah para pendeta Lama yang memberontak. Banyak terdapat orang sakti di sana, Hong-moi. Lebih baik engkau menanti saja di rumah penginapan dan biarlah aku yang akan mencari adikmu di sana.”

“Toako, tidak boleh begitu. Yang mempunyai kepentingan adalah aku, lalu bagaimana mungkin engkau yang bersusah payah menempuh bahaya sedangkan aku enak-enak menanti sambil tiduran di kamar? Tidak, aku harus ikut! Aku tidak takut menghadapi bahaya dan aku juga dapat menjaga diriku sendiri, toako!”

“Akan tetapi, sungguh aku amat mengkhawatirkan keselamatan dirimu, Hong-moi. Bagai mana kalau sampai datang ancaman bahaya dan aku sampai tidak mampu melindungi dirimu? Aihh, Hong-moi, tak dapat aku membayangkan hal itu terjadi...”

Suara pendekar perkasa itu tiba-tiba agak gemetar. “... tidak, aku tak dapat membiarkan engkau terancam bahaya. Aku... aku akan merasa menyesal selama hidupku!”

Melihat pendekar itu bicara seperti itu, seperti tanpa disadarinya bahwa dia membuka rahasia hatinya, tiba-tiba wajah Lan Hong berubah merah dan ia pun tersipu. Kalau saja tidak sedang menghadapi keadaan yang menegangkan, tentu ia akan semakin tersipu malu, walau pun ada rasa bahagia dan bangga menyelinap di dalam hatinya.

“Toako, banyak terima kasih atas perhatianmu kepada diriku, akan tetapi sebaliknya, toako. Kalau engkau pergi sendiri meninggalkan aku untuk mencari adikku, kemudian terjadi sesuatu dengan dirimu, maka aku pun akan merasa menyesal selama hidupku, bahkan tak mungkin lagi aku menghadapi kehidupan yang kejam ini seorang diri saja...”

Keduanya menunduk dan dalam saat seperti itu, biar pun mereka tidak secara langsung mengucapkan pengakuan, akan tetapi keduanya merasa benar betapa keduanya saling membutuhkan, saling menyayang, saling mencinta dan merasa ngeri kalau-kalau saling kehilangan!

“Baiklah, Hong-moi. Kita pergi bersama, akan tetapi kita harus berhati-hati dan membuat persiapan. Aku akan melakukan penyelidikan yang lebih seksama dulu. Besok baru kita berangkat ke Telaga Yam-so.”

“Terima kasih, toako. Selama hidupku, aku tidak akan pernah dapat melupakan semua budi kebaikanmu ini,” kata Lan Hong lirih dengan suara mengandung isak haru.

Keduanya lalu terdiam, terbenam dalam lamunan masing-masing….
cerita silat karya kho ping hoo

Telaga Yam-so adalah sebuah telaga yang besar dan luas di sebelah selatan. Orang Tibet menyebut danau ini dalam Bahasa Tibet sebagai Yamzho Yumco (Telaga Yam-so). Letaknya di sebelah selatan sungai besar Brahmaputra yang amat panjang.

Yamzho Yumco (Telaga Yam-so)

Sungai Brahmaputra mengalir di sepanjang negara Tibet sampai membelok ke selatan dan berakhir di selatan negara Bangladesh, di sebelah timur laut India. Daerah inilah, mulai dari Sungai Brahmaputra sampai ke Telaga Yamso, menjadi daerah yang dikuasai Kim-sim-pai!

Daerah ini amat sunyi, penuh dengan hutan-hutan belantara yang liar, yang sambung menyambung sampai ke selatan, hingga ke Pegunungan Himalaya. Dusun-dusun hanya dihuni orang-orang pribumi Tibet, dan ada pula peranakan Tibet Bhutan dan beberapa orang peranakan India.

Namun mereka adalah orang-orang gunung yang sederhana, dan agaknya Kim-sim-pai tidak mengusik mereka yang hidup tenang dan damai karena setiap harinya mereka hanya mengurus mencari makan dengan jalan berburu, beternak kecil-kecilan, dan ada pula yang menjadi penangkap-penangkap ikan di sepanjang Sungai Brahmaputra atau Telaga Yamso.

Akan tetapi, akhir-akhir ini bermunculan banyak orang Nepal di daerah itu dan mulailah terdapat gangguan-gangguan yang mengusik kehidupan yang tadinya aman damai dari para penghuni dusun di daerah itu. Orang-orang Nepal ini adalah anak-anak buah dari pangeran Nepal pelarian yang kini telah bersekutu dengan Kim-sim-pai.

Pangeran itu, Janghar Singh, sudah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan dia berjanji untuk membantu gerakan para pendeta Lama yang memberontak terhadap Dalai Lama. Sedangkan pihak Kim-sim-pai juga berjanji bahwa kelak, kalau mereka telah menguasai Tibet, mereka akan membantu Pangeran Janghar Singh yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Nepal.

Gangguan para orang Nepal itu kadang amat menggelisahkan penduduk. Kalau mereka itu kadang hanya minta dengan paksa beberapa ekor hewan ternak, hal itu masih dapat diberikan dengan hati sabar oleh para penghuni dusun. Tetapi ada kalanya, orang-orang Nepal itu mengganggu wanita! Karena itu, maka banyaklah wanita muda yang cantik atau bersih, diungsikan keluarga mereka ke tempat yang jauh dari daerah itu, terutama mereka yang tinggal di lereng Pegunungan Himalaya yang menjadi perbatasan antara Tibet dengan Nepal.

Pada suatu pagi yang cerah, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang menunggang kuda tiba di lereng bukit dekat Telaga Yam-so.

“Sute, berhenti dulu!” kata Bi Sian menahan kendali kudanya. Bong Gan juga menahan kudanya dan menoleh, lalu menghampiri suci-nya.

“Ada apakah, suci?” tanyanya, sambil memandang ke sekeliling dengan khawatir.

“Lihat, sute, betapa indahnya pemandangan di sini. Lihatlah telaga di bawah itu, airnya seperti permadani biru dikelilingi bukit menghijau. Indah sekali!”

Bong Gan menarik napas lega. Dia sudah mengatur rencana bersama Pek Lan dan menurut rencana itulah pada pagi ini ia dan Bi Sian tiba di lareng bukit itu. Tadinya, ketika Bi Sian minta berhenti, dia khawatir kalau-kalau suci-nya itu mencurigai sesuatu. Kiranya gadis itu hanya mengagumi alam yang memang amat indah itu.

“Memang indah sekali tempat ini, suci. Hawanya pun nyaman dan sejuk sekali. Ahhh, alangkah senangnya kalau kita dapat tinggal beberapa lamanya di tempat seindah ini!”

Bi Sian menoleh dan memandang pemuda itu yang mengembangkan kedua lengannya sambil menghirup udara yang amat menyegarkan itu. Ia tersenyum.

“Ihhh, sute. Apakah engkau lupa bahwa kita datang ke tempat ini bukan untuk pesiar melainkan untuk mencari musuh besarku?”

“Wah, memang kadang-kadang aku lupa, suci. Perjalanan ini demikian menyenangkan bagiku. Siapa tahu, kita dapat lebih cepat lagi menemukan musuhmu dan membereskan perhitungan, agar kita mempunyai banyak waktu untuk menikmati tempat indah ini.”

Mendadak sepasang mata Bi Sian terbelalak. Bukan hanya matanya yang menangkap berkelebatnya banyak bayangan orang, akan tetapi juga pendengaran telinganya sudah menangkap gerakan banyak orang di sekitar tempat itu.

“Ada orang...!” bisiknya.

“Mereka mengepung kita!” Bong Gan juga berbisik dan pemuda ini kelihatan terkejut.

Padahal, di dalam hatinya dia bersyukur karena dia tahu bahwa ini merupakan siasat yang dijalankan oleh Pek Lan. Maka, dia pun hanya berpura-pura ketika kelihatan kaget, tidak seperti Bi Sian yang merasa benar-benar terkejut karena melihat bahwa mereka telah dikepung oleh sedikitnya tiga puluh orang.

Mereka bukan orang Han, bukan pula orang Tibet, melainkan orang-orang yang aneh. Orang-orang itu rata-rata berkulit kehitaman dan gelap, bentuk tubuh mereka tinggi dan sebagian besar dari mereka menggunakan penutup kepala berupa sorban putih yang tebal.

“Mereka orang-orang asing...,” kata pula Bong Gan. Padahal dia sudah mendengar dari Pek Lan yang mengatur siasat itu, bahwa yang akan mengepung mereka adalah orang-orang Nepal.

Melihat banyak orang mengepung dan maju mendekat, kedua ekor kuda yang mereka tunggangi menjadi panik. Bi Sian lalu melompat turun dari atas punggung kudanya dan berkata kepada Bong Gan, “Sute, turun saja dari atas kuda agar kita dapat membela diri lebih leluasa!”

Keduanya sudah melompat turun dari atas punggung kuda dan dengan sikap tenang akan tetapi penuh kesiap siagaan, kakak adik seperguruan ini lalu berdiri dengan saling membelakangi.

“Sute, biarkan aku yang bicara dengan mereka,” bisik Bi Sian dan diam-diam Bong Gan tersenyum. Memang sebaiknya begitu agar tidak akan terdengar suaranya yang pasti akan terdengar sumbang.

Kini, tiga puluh orang lebih prajurit Nepal itu sudah datang dekat dan seorang di antara mereka, yang melihat pakaiannya tentu merupakan komandannya berdiri di depan Bi Sian. Dia seorang pria berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus, matanya cekung ke dalam dan hidungnya yang panjang itu agak membengkok ke kiri sehingga mulutnya kelihatan seperti mengejek selalu.

“Hei, kalian dengarlah baik-baik!” Bi Sian berseru dengan suara lantang. “Kami dua orang pelancong dari timur, tidak ingin bermusuhan dengan penduduk pribumi. Kenapa kalian menghadang dan mengepung kami yang tidak bersalah?”

Orang tinggi kurus itu memandang tajam, kemudian menjawab. Dia dapat bicara dalam Bahasa Han, walau pun logatnya aneh dan lucu.

“Kami biasa menghormati tamu yang datang diundang. Akan tetapi kalian berdua tidak diundang, tapi telah melanggar wilayah kami. Sudah sepatutnya kalau kami membunuh kalian, akan tetapi mengingat kalian dua orang muda, dan seorang di antaranya bahkan wanita, kami tidak akan bersikap keras. Orang-orang muda, menyerahlah kalian dengan baik, agar kami tawan dan kami hadapkan kepada pemimpin kami!”

Bi Sian menatap orang itu. Sikap mereka cukup gagah, pikirnya, tidak mirip gerombolan perampok atau penjahat yang kejam. Maka, dia pun berkata lantang. “Maafkan apa bila tanpa disengaja kami melanggar wilayah kalian. Akan tetapi kami tidak bersalah, harap biarkan kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak suka untuk ditawan.”

Pemimpin tinggi kurus itu mengerutkan alisnya yang tebal, lalu dia mencabut sebatang golok yang bentuknya melengkung panjang, dan dia berkata dengan tegas, “Di wilayah ini, kami yang berkuasa! Mau atau tidak mau, kalian harus menyerah untuk menjadi tawanan kami. Harap kalian menyerah dengan damai!”

“Kalau kami tidak mau menyerah?” tanya Bi Sian yang mulai marah dan penasaran.

“Terpaksa kami menggunakan kekerasan untuk menangkap kalian!”

“Singgg...!” Nampak sinar putih berkilauan ketika dia mencabut pedang Pek-lian-kiam (Pedang Teratai Putih).

“Bagus! Andai kata aku mau menyerah pun, pedang ini yang tidak membolehkannya. Karena tidak merasa bersalah, tentu saja aku tidak mau menyerah dan kalau kalian hendak memaksaku dan menggunakan kekerasan, jangan salahkan aku kalau kalian menjadi korban pedangku!”

Bong Gan juga telah menyambar sebatang dahan pohon di atasnya, membuangi ranting dan daunnya sehingga kini dia sudah memegang sebatang tongkat.

“Kalau kalian memaksa, kami akan melawan!” Dia pun membentak dan sambil berdiri saling membelakangi dengan suci-nya, ia melintangkan tongkatnya dan siap melakukan perlawanan.

“Kami tidak akan membunuh kalian, akan tetapi terpaksa harus menangkap kalian!” bentak pemimpin rombongan itu dan dia pun lalu mengeluarkan aba-aba dalam bahasa Nepal. Tiga puluh orang lebih itu, dengan senjata tombak atau golok dan perisai, kini mengepung ketat dan kepungan itu makin mendesak.

“Sute, sedapat mungkin robohkan mereka akan tetapi jangan bunuh!” kata Bi Sian.

Dara itu menganggap mereka itu bukan orang jahat, hanya akan menangkap dan tidak membunuh. Oleh karena itu ia pun tak ingin sute-nya melakukan pembunuhan sehingga menanam permusuhan yang semakin dalam.

“Baik, suci,” kata Bong Gan.

Pada saat kepungan itu sudah makin dekat dan dua orang murid Koay Tojin itu siap bergerak menyerang pengeroyok terdekat, tiba-tiba saja terdengar seruan nyaring suara seorang wanita.

“Tahan...! Jangan bertempur!”

Para pengepung itu menahan senjata mereka dan segera mundur. Bi Sian dan Bong Gan menoleh ke arah suara wanita itu dan mereka melihat seorang wanita yang berusia dua puluh empat tahun lebih, cantik manis dengan muka lonjong dan kulit putih mulus berambut keemasan, muncul bersama seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang berkepala gundul, berjubah pendeta dengan gambar Teratai Putih di dadanya. Kakek itu masih nampak muda dan tampan, dengan tubuh yang tinggi besar. Begitu dua orang ini mendekat, semerbak bau keharuman bunga mawar.

Tentu saja Bong Gan mengenal wanita itu, wanita yang baru beberapa hari yang lalu, semalam suntuk berada dalam pelukannya. Wanita itu adalah Pek Lan dan kakek yang nampak muda itu adalah Thai Yang Suhu, tokoh Pek-lian-kauw. Akan tetapi Bi Sian tidak mengenalnya.

Melihat para pengepung itu mundur, Bi Sian mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan pemimpin gerombolan orang asing yang menghadangnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dua orang itu telah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan kini menjalankan siasat untuk menjebaknya! Dan para pengepung itu adalah orang-orang Nepal yang digunakan untuk membantu siasat itu, yang juga sudah diketahui oleh Bong Gan.

Sambil memandang tajam wanita cantik yang sikapnya genit itu, pedang Pek-lian-kiam masih melintang di depan dadanya, Bi Sian berkata, “Hemm, kiranya kalian berdua, seorang gadis cantik dan seorang pendeta, yang memimpin gerombolan ini. Apa alasan kalian menghadang perjalanan kami dan kenapa orang-orangmu yang mengepung kami ini hendak menawan kami?” Suara Bi Sian penuh wibawa, tanda bahwa ia sama sekali tidak merasa gentar.

Diam-diam Pek Lan kagum. Pantas Bong Gan tergila-gila kepada suci-nya sendiri dan ingin memperisterinya. Memang manis dan jelita sekali! Dan diam-diam Thai Yang Suhu mengamati pedang di tangan gadis itu.

Pedang itu bersinar putih dan ada ukiran bunga teratai. Pedang Teratai Putih! Sungguh merupakan pedang yang cocok sekali apa bila menjadi miliknya, bahkan kalau menjadi pusaka dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sekiranya bila pedang itu memang sebuah pusaka yang ampuh, bukan pedang biasa saja.

Pek Lan tersenyum dan memang ia memiliki deretan gigi yang rapi dan putih sehingga nampak menarik sekali ketika tersenyum, dan kerling matanya ke arah Bong Gan penuh daya pikat. Diam-diam Bong Gan membandingkan dua orang wanita itu.

Memang, biar pun Bi Sian amat manis, namun ia tidak mampu bergaya seperti Pek Lan sehingga daya tariknya tidak sekuat Pek Lan. Bagaimana pun juga, kalau harus memilih keduanya untuk menjadi isterinya, tanpa ragu-ragu dia akan memilih Bi Sian.

Bi Sian seorang gadis yang masih perawan dan hatinya juga bersih, sebaliknya Pek Lan adalah seorang wanita yang matang dan juga genit sehingga sukar diharapkan dapat menjadi seorang isteri yang setia. Akan tetapi kalau untuk bersenang-senang, tentu Pek Lan akan lebih memuaskan dan menyenangkan.

“Adik yang baik, engkau sungguh cantik jelita dan gagah berani. Jangan salah mengerti, kalau anak buah kami melakukan penghadangan, hal itu terjadi karena kalian sudah melanggar wilayah kekuasaan kami. Akan tetapi, kami dapat menghargai orang-orang gagah. Melihat kalian berdua yang tidak gentar menghadapi pengepungan orang-orang kami, tentu kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kami ingin sekali berkenalan melalui adu silat. Jika memang kalian pantas menjadi kenalan kami, tentu akan kami persilakan untuk menjadi tamu dari Sang Pangeran yang menjadi tuan rumah kami. Suhu, engkau ujilah kepandaian adik manis ini, biar aku yang menguji pemuda ini,” katanya kepada Thai Yang Suhu.

Memang Pek Lan cerdik. Ia sudah mendengar dari Bong Gan bahwa tingkat kepandaian Bi Sian bahkan lebih tinggi bila dibandingkan pemuda itu, padahal baginya, menghadapi Bong Gan saja ia hanya mampu mengimbangi. Berbahaya kalau ia menghadapi Bi Sian kemudian sampai kalah!

Maka ia sengaja menyuruh Thai Yang Suhu yang menghadapi gadis itu sedangkan ia akan menghadapi Bong Gan yang tentu saja hanya akan main-main, tidak bertanding sungguh-sungguh. Biar pun ilmu kepandaian silat dari tokoh Pek-lian-kauw itu pun tidak jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri, namun setidaknya pendeta itu mempunyai kekuatan sihir untuk melindungi diri.

Thai Yang Suhu memang sudah tertarik sekali, bukan kepada Bi Sian saja, melainkan terutama sekali tertarik melihat pedang di tangan gadis itu. Sekarang dia memperoleh kesempatan untuk menguji apakah pedang Teratai Putih itu sebuah pedang pusaka ampuh ataukah pedang biasa saja.

Dia tidak menurunkan sepasang pedangnya karena sepasang pedangnya merupakan pedang yang baik dan dia khawatir bila pedangnya akan menjadi rusak kalau pedang di tangan gadis itu benar pedang pusaka yang ampuh. Maka dia pun meminjam sebatang pedang yang dipegang oleh seorang prajurit Nepal, kemudian menghampiri Bi Sian.

“Siancai... harap maafkan pinto (saya), nona. Kami memang hanya ingin menguji, sebab hanya melalui pertandingan silat maka perkenalan menjadi erat. Nah, silakan, nona!”

Melihat sikap dua orang itu cukup hormat dan sopan, Bi Sian juga merasa tidak enak kalau ia bersikap keras. Biar pun tadi pasukan itu mengepungnya, namun mereka belum melakukan penyerangan.

“Aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapa pun juga, dan aku pun tidak sengaja melanggar wilayah siapa pun juga. Wilayah ini bukan pekarangan, juga tidak dipagari, melainkan pegunungan dan telaga. Bagaimana aku tahu bahwa tempat ini ada orang yang memilikinya? Akan tetapi, biar pun tidak mau bermusuhan, kalau dimusuhi, jangan dikira aku takut!”

“Siancai...! Nona memang seorang gagah perkasa, karena itu pinto ingin sekali menguji kepandaianmu, bukan berkelahi atau bermusuhan. Nona, lihat pedang!” kata Thai Yang Suhu sambil menggerakkan pedang pinjamannya, mengirim serangan gertakan ke arah kepala gadis itu.

Dengan cepat Bi Sian mengelak. Dan ketika tangannya bergerak, pedang Pek-lian-kiam sudah lantas menyambar ke depan, menusuk ke arah dada lawan sehingga merupakan sinar putih berkelebat.


BERSAMBUNG KE PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 16


Thanks for reading Pendekar Bongkok Bagian 15 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »