Pendekar Bongkok Bagian 13

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 13

MELIHAT tanda ini, Bong Gan tersenyum dan mengangguk sedikit, untuk memberi isyarat bahwa dia dapat menangkap semua isyarat gadis manis itu dan merasa setuju kalau mereka dapat mengadakan hubungan yang lebih dekat.

Bi Sian yang sudah merasa tertarik sekali mendengar berita tentang Sie Liong, sudah langsung menuju ke kantor pemilik rumah makan. Pemilik rumah makan itu sudah mendengar dari si pelayan bahwa gadis cantik berpakaian aneh dan pemuda tampan itu bertanya-tanya tentang Pendekar Bongkok.

Sekarang, melihat mereka mendatangi kantornya, si pemilik rumah makan menyambut dengan pandang mata penuh perhatian. Sejak dia membantu Pendekar Bongkok, yaitu mencarikan tempat pemondokan untuk gadis peranakan Tibet Han yang menjadi adik angkat Pendekar Bongkok itu, dia tidak lagi pernah bertemu dengan Pendekar Bongkok.

“Apa yang dapat saya lakukan untuk ji-wi (kalian berdua)?” tanyanya ramah.

Bi Sian yang sudah tak sabar lagi untuk segera mengetahui di mana adanya Sie Liong, segera langsung berkata, “Kami ingin mengetahui mengenai seorang pemuda bongkok yang bernama Sie Liong dan yang terkenal dengan sebutan Pendekar Bongkok! Engkau tahu banyak tentang dia, karena itu kami harap engkau suka menceritakan di mana dia sekarang!”

Bagaimana pun juga, pemilik rumah makan itu bersimpati kepada Pendekar Bongkok yang pernah mengganti kerugiannya ketika terjadi keributan di rumah makan itu, dan bahkan adik angkat Pendekar Bongkok pernah tinggal bersama bibinya, yaitu bibi Cili. Maka, dia pun merasa ragu apakah benar kalau dia bicara tentang Pendekar Bongkok kepada dua orang yang belum dikenalnya dan tidak diketahui maksud mereka mencari Pendekar Bongkok.

“Maaf, kalau boleh saya mengetahui, siapakah ji-wi dan ada hubungan apa antara ji-wi dengan Sie Taihiap?”

Sekarang Bi Sian sudah tidak ragu lagi bahwa pemilik rumah makan ini jelas mengenal Sie Liong dan tahu di mana dia berada, maka kesabarannya habis. Dia ingin segera mengetahui di mana adanya musuh besarnya itu!

Ketika melihat ada sumpit-sumpit berdiri di gelas tempat menyimpan sumpit, tangannya mengambil segenggam sumpit, lalu ia pun mengerahkan tenaganya pada jari-jari tangan yang menggenggam sumpit.

“Krekk! Krekkk!”

Sumpit-sumpit itu patah-patah dan remuk di dalam genggaman tangan yang kecil dan berkulit halus lunak itu!

“Sobat, katakan saja cepat-cepat di mana adanya Sie Liong dan jangan berbohong!” kata Bi Sian, lirih.

Wajah pemilik rumah makan itu berubah menjadi pucat. Hampir dia tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Tangan yang kecil dan berkulit halus itu memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya!

“Saya... saya tidak tahu di mana dia sekarang. Baiklah saya ceritakan perjumpaan saya dengan dia. Silakan duduk, silakan duduk...”

Bi Sian dan Bong Gan duduk dan pemilik rumah makan itu lalu berecrita. Diceritakannya betapa hampir dua bulan yang lalu, Sie Liong Si Pendekar Bongkok itu pernah makan bersama seorang gadis yang bernama Sam Ling dan diaku sebagai adik angkatnya, di rumah makan itu. Betapa kemudian terjadi keributan yang dilakukan seorang anggota Kim-sim-pai dan betapa kemudian semua orang baru mengetahui si bongkok itu adalah seorang sakti.

“Setelah terjadi keributan itu, Sie Taihiap minta bantuanku untuk mencarikan tempat pemondokan bagi adik angkatnya dan saya menunjukkan rumah bibiku. Kemudian adik angkatnya itu tinggal bersama bibi Cili, akan tetapi Sie Taihiap pergi entah ke mana. Sejak itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan dia.”

“Apakah adik angkatnya itu masih tinggal di sini?” tanya Bi Sian.

Pemilik rumah makan itu menggerakkan pundaknya. “Sejak tinggal di sana, baru satu kali saya pernah menengok. Dua minggu setelah dia tinggal di sana dan sejak itu, saya tidak pernah lagi ke sana karena repotnya pekerjaan.”

“Hayo cepat antar kami ke sana, sekarang juga!” kata Bi Sian dan pandang matanya penuh kepastian.

Pemilik rumah makan itu tak berani membantah, lalu memesan kepada para pelayannya bahwa dia akan pergi sebentar. Tak lama kemudian, keluarlah dia dari rumah makan itu, diikuti Bi Sian dan Bong Gan.

Ketika hendak meninggalkan rumah makan, Bong Gan sempat menengok ke arah gadis cantik itu dan melihat gadis itu dan pendeta yang menemaninya memandang padanya dengan penuh perhatian. Kembali gadis cantik itu berkedip kepadanya.

Bong Gan tersenyum dengan jantung berdebar. Sayang, pikirnya. Dia belum sempat membuat kencan dengan gadis manis itu. Akan tetapi dia merasa yakin bahwa gadis itu pun ‘ada hati’ padanya dan tentu mereka akan dapat saling bertemu lagi dalam suasana yang lebih bebas, berdua saja!

Pemilik rumah makan itu mengantar Bi Sian dan Bong Gan ke rumah bibi Cili. Akan tetapi pada waktu mereka tiba di situ, gadis yang bernama Sam Ling atau oleh bibi Cili disebut nona Ling itu sudah tidak berada lagi di situ!

“Kurang lebih seminggu yang lalu, ia pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit!” kata bibi Cili ketika keponakannya datang bersama pemuda dan gadis cantik itu. “Aku sendiri tidak tahu ke mana ia pergi karena memang tidak pamit.”

Tentu saja Bi Sian marasa kecewa sekali. “Akan tetapi, kenapa ia pergi tanpa pamit?”

Bibi Cili menggeleng kepalanya. “Mungkin karena ia hendak mencari kakak angkatnya, Sie Taihiap itu. Setelah sebulan tinggal di sini, setiap hari ia selalu menanti datangnya Sie Taihiap dan setiap malam ia menangis. Ia mengatakan kepadaku bahwa Sie Taihiap berjanji akan menjemputnya setelah satu bulan ia tinggal di sini. Kemudian, seminggu yang lalu, setelah tinggal di sini kurang lebih satu setengah bulan, ia pergi tanpa pamit.”

Bi Sian mengerutkan alisnya. “Apakah selama ia berada di sini, Pendekar Bongkok tidak pernah datang menjenguk?”

“Pendekar Bongkok...? Ahh, nona maksudkan Sie Taihiap? Tidak, tak pernah lagi. Sejak meninggalkan adik angkatnya di sini, dia pergi dan tak pernah muncul kembali.”

“Apakah gadis itu tidak pernah menceritakan kepadamu ke mana perginya Sie Taihiap itu?” Bi Sian mendesak terus.

Wanita setengah tua itu mengerutkan alis seolah mengingat-ingat. “Pernah ia bercerita bahwa kakak angkatnya itu ialah seorang pendekar yang akan melakukan penyelidikan terhadap Kim-sim-pai...”

Ketika menyebut nama perkumpulan ini, wanita itu kelihatan takut-takut. Juga pemilik rumah makan itu kelihatan khawatir sekali dan memandang keluar pintu rumah, seolah takut kalau sampai terdengar orang lain bahwa mereka membicarakan Kim-sim-pai.

“Apa itu Kim-sim-pai dan di mana tempatnya?”

Wanita itu semakin ketakutan dan menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu... ahhh, aku tidak tahu...”

Pemilik rumah makan itu segera membantu bibinya. “Nona, sebetulnya kami semua merasa takut untuk menyebut nama itu, nama yang sangat ditakuti seluruh penduduk Lhasa. Kami hanya dapat memberi tahukan kepadamu bahwa perkumpulan itu berada di sekitar Telaga Yan-so di sebelah selatan Lhasa... Sudahlah, kami tidak berani banyak bicara dan kami juga tidak tahu apa-apa lagl. Kalau nona hendak mencari Sie Taihiap, sebaiknya mencari ke sana...”

Bi Sian mengerutkan alisnya. Ia tahu bahwa pemilik rumah makan dan bibinya itu bicara sejujurnya dan memang mereka ketakutan. Pernah Sie Liong bercerita mengenai para pendeta Lama yang memusuhi para pertapa di Himalaya, bahkan ada pendeta Lama yang melakukan pengejaran sampai ke Kun-lun-san untuk membunuhi para pertapa dan tosu yang melarikan diri ke sana.

Juga gurunya, Koay Tojin, pernah bicara tentang para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa di Himalaya. Apakah penyelidikan yang dilakukan Sie Liong ada hubungannya dengan hal itu? Memang, jalan satu-satunya untuk mencari Sie Liong adalah mengejarnya ke sarang perkumpulan Kim-sim-pai yang akan diselidiki Pendekar Bongkok itu!

Sementara itu, Bong Gan yang cerdik segera bertanya kepada wanita itu. “Bibi, coba gambarkan bagaimana rupanya gadis bernama Sam Ling itu, agar kalau kami bertemu dengannya, kami akan mudah mengenalnya.”

Bi Sian menyetujui pertanyaan sute-nya, karena jika mereka mengenal Ling Ling, siapa tahu gadis itu akan dapat membawa mereka kepada Sie Liong. Diam-diam Bi Sian juga merasa heran bukan main mendengar bahwa pamannya itu mempunyai seorang adik angkat!

“Ia seorang gadis berusia delapan belas tahun yang amat manis. Kulitnya agak gelap, sikapnya pendiam namun ia manis budi dan penurut. Sungguh aku sudah mulai merasa cinta kepada anak itu, dan aku khawatir sekali membayangkan betapa dia melakukan perjalanan seorang diri. Seorang gadis yang demikian manis dan menarik, tentu akan banyak mengalami ancaman bahaya...”

Diam-diam hati Bong Gan yang menjadi hamba nafsu birahinya itu sudah tertarik bukan main. Seorang gadis yang hitam manis!

“Apakah ia seorang gadis Tibet?” tanyanya.

“Ia peranakan Tibet Han,” jawab bibi Cili.

Bi Sian dan Bong Gan lalu meninggalkan rumah itu.

“Kita harus cepat mencari ke daerah Telaga Yan-so!” kata Bi Sian penuh semangat.

Akan tetapi Bong Gan mempunyai rencana lain. Wajah cantik manis yang dijumpainya di rumah makan itu masih terus membayanginya.

“Suci, kurasa kita harus bertindak hati-hati. Kita selidiki dulu perkumpulan macam apa sesungguhnya Kim-sim-pai yang ditakuti penduduk itu, dan juga di mana letak Telaga Yan-so. Hari telah sore, sebentar lagi gelap. Sungguh tidak menguntungkan kalau kita meninggalkan kota ini dan berada dalam perjalanan yang asing di waktu malam gelap. Kita selidiki dulu, dan setelah jelas, baru kita berangkat mencari ke sana. Bagaimana pendapatmu?”

“Baiklah, kita mencari rumah penginapan,” kata Bi Sian singkat.

Dia sudah ingin sekali dapat menemukan Sie Liong dan membalas dendamnya! Juga sungguh mengherankan, ia ingin sekali melihat seperti apa ‘adik angkat’ pamannya itu, dan hubungan apa sesungguhnya yang ada di antara mereka…..

**********

Di sebelah selatan kota Lhasa terdapat sebuah telaga yang terkurung pegunungan yang amat luas. Telaga ini indah bukan main, akan tetapi juga sunyi karena jalan menuju ke telaga itu melalui bukit dan jurang.

Apa lagi semenjak beberapa tahun ini, daerah itu merupakan daerah yang rawan. Tidak ada orang berani melalui daerah itu yang kabarnya dihuni banyak orang jahat dan iblis. Juga dikatakan bahwa akhir-akhir ini, perkumpulan Kim-sim-pang berpangkal di daerah itu. Semakin takutlah orang untuk melewati daerah itu. Kim-sim-pang atau Kim-sim-pai (Perkumpulan atau Partai Hati Emas) memang amat ditakuti.

Menurut kabar angin, Kim-sim-pai dipimpin oleh seorang tokoh pendeta Lama yang dulu pernah menjabat sebagai wakil Dalai Lama yang berjuluk Kim Sim Lama. Karena terjadi perbedaan paham dengan Dalai Lama, Kim Sim Lama lolos dari Lhasa, kemudian dia membentuk perkumpulan Kim-sim-pai yang berdiri sendiri, lepas dari kekuasaan Dalai Lama, terlepas dari kekuasaan pemerintah pusat Tibet.

Karena tak ada bukti bahwa Kim-sim-pai melakukan kejahatan apa lagi pemberontakan, maka pemerintah Tibet tidak mengambil tindakan apa pun. Hal ini adalah karena Dalai Lama mengingat akan jasa-jasa Kim Sim Lama ketika masih menjadi wakil Dalai Lama dahulu.

Bahkan, Kim Sim Lama merupakan seorang tokoh besar, memiliki pengaruh yang besar pula dan jasanya sudah banyak. Kim Sim Lama adalah seorang pendeta Lama yang tertua, dan Dalai Lama sendiri pun dahulu diangkat menjadi Dalai Lama karena desakan Kim Sim Lama, dan atas pilihan Kim Sim Lama pula!

Kim Sim Lama merupakan orang kedua paling berkuasa dan berpengaruh setelah Dalai Lama. Oleh karena dia tidak memiliki tanda-tanda sebagai reinkarnasi Dalai Lama yang meninggal dunia, maka tidak mungkin dia menjadi pengganti Dalai Lama dan karena itu, dia menjadi pendukung utama ketika Dalai Lama yang baru dipilih.

Dalai Lama yang baru itu hanya seorang anak dusun saja, akan tetapi memiliki ciri-ciri sebagai penitisan Dalai Lama. Bahkan Kim Sim Lama tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk memaksa bocah itu menjadi Dalai Lama yang baru, dan ketika para penduduk dusun menentang, dia tidak segan mengamuk dan membunuh mereka yang dianggapnya memberontak.

Peristiwa ini membuat para pertapa dan para tosu di Himalaya menjadi marah. Malah Pek Thian Siansu, guru dari Himalaya Sam Lojin, atau juga suheng dari Pek-sim Siansu, turun tangan sendiri untuk membela penduduk dusun itu. Pertapa sakti ini kemudian bertanding melawan Pek Sim Lama yang dibantu oleh sembilan orang pendeta Lama yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Pek Thian Siansu berhasil merobohkan bahkan menewaskan tiga orang pendeta Lama, akan tetapi dia sendiri terluka dan anak itu tetap saja dibawa lari Kim Sim Lama. Karena ketika peristiwa itu terjadi Pek Thian Siansu sudah berusia hampir delapan puluh tahun, maka luka yang dideritanya membuat dia tewas tak lama kemudian.

Beberapa tahun lamanya tak lagi terjadi keributan. Akan tetapi setelah anak itu dewasa dan dijadikan Dalai Lama, dan telah berjalan dua tiga tahun, mulailah terjadi penyerbuan terhadap para tosu dan pertapa di pegunungan Himalaya.

Banyak korban yang jatuh sehingga para tosu itu segera pergi meninggalkan Himalaya dan mengungsi ke pegunungan lain. Para pertapa lalu menganggap bahwa Dalai Lama sungguh merupakan orang yang tidak mengenal budi. Dahulu dibela oleh para tosu, dan setelah menjadi Dalai Lama bahkan memusuhi para tosu!

Para tosu itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pada saat Kim Sim Lama memilih Dalai Lama baru, dia beranggapan bahwa akhirnya dialah yang akan berkuasa di Tibet karena Dalai Lama baru tentu akan tunduk terhadap semua pimpinannya.

Mula-mula memang demikian. Akan tetapi, setelah Dalai Lama yang baru itu mengerti urusan, dia tidak sudi dijadikan boneka! Dalai Lama yang baru itu lalu mempergunakan kedudukan dan kekuasaannya untuk menentang semua kebijaksanaan Kim Sim Lama yang dianggapnya tidak bijaksana!

Dan mulailah terjadi pertentangan antara Kim Sim Lama dan Dalai Lama. Karena kalah kedudukan, maka Kim Sim Lama tidak berani secara berterang memusuhi Dalai Lama yang banyak pendukungnya. Maka dia lalu mengundurkan diri, kemudian membentuk Kim-sim-pang itu.

Dan mulailah dilakukan pengejaran terhadap para tosu! Semua ini dilakukan oleh kaki tangan Kim Sim Lama, dengan maksud untuk menjatuhkan nama baik Dalai Lama dan memancing supaya para tosu memusuhi Dalai Lama sehingga kedudukan Dalai Lama menjadi semakin lemah.

Sementara itu, diam-diam Kim-sim-pai juga mengadakan persekutuan dengan seorang pangeran pemberontak dari Nepal yang sudah diusir oleh Raja Nepal. Pangeran itu bersama pengikutnya yang ternyata cukup banyak, bergabung dengan Kim-sim-pai dan mereka merencanakan pemberontakan-pemberontakan untuk bersama-sama mengusai Tibet dan Nepal.

Di sebuah bukit dekat Telaga Yan-so, Kim-sim-pai menyusun kekuatan. Kim Sim Lama maklum bahwa kalau dia hanya mengandalkan anak buahnya dan pasukan Pangeran Nepal itu untuk menyerbu Lhasa, dia akan mengalami kegagalan. Dalai Lama memiliki pasukan yang sangat kuat, terdiri dari para pendeta Lama dan banyak di antara para pendeta Lama itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan banyak yang sakti. Maka, dia pun tidak tergesa-gesa.

Di samping usaha yang dilakukan oleh anak buahnya untuk memusuhi berbagai pihak dengan dalih diutus oleh Dalai Lama, juga Kim Sim Lama mulai menyusupkan pengaruh ke dalam istana dan kuil di Lhasa untuk menghasut dan mempengaruhi tokoh-tokoh di pemerintahan Tibet. Bagaikan seekor laba-laba, dengan amat tekun dan sabar Kim Sim Lama mulai menyusun kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan di Tibet.

Pangeran Nepal itu sudah siap di perbatasan, sudah siap membantu gerakan Kim Sim Lama dengan janji bahwa kelak, apa bila Kim Sim Lama telah berhasil menguasai Tibet, maka dia akan membalas kebaikan pangeran itu dengan membantunya mengadakan pemberontakan di Nepal!

Kim Sim Lama mempunyai banyak pembantu yang pandai. Dan pembantu-pembantu utamanya bukan lain adalah Lima Harimau Tibet! Dan seperti sudah kita ketahui, para pembantu utamanya inilah yang diutus untuk melakukan pengejaran terhadap para tosu dan pertapa Himalaya yang telah melarikan diri dan mengungsi ke pegunungan Kun-lun.

Pengejaran dan pembunuhan yang dilakukan Lima Harimau Tibet terhadap para tosu itu bukan semata-mata karena mereka membenci para tosu, tetapi terutama sekali, dengan dalih sebagai utusan Dalai Lama, mereka hendak merusak nama baik Dalai Lama agar dibenci dan dimusuhi semua golongan, terutama golongan orang-orang sakti.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, sesosok tubuh berkelebat bagaikan terbang cepatnya, datang dari arah telaga Yam-so dan menuju ke bukit yang menjadi markas Kim-sim-pai. Melihat gerakannya yang cepat, larinya bagaikan terbang itu, mudah diketahui bahwa dia adalah seorang yang memiliki ginkang dan ilmu berlari cepat yang hebat.

Orang akan merasa terkejut dan terheran-heran kalau sudah melihat orangnya. Setelah dia berhenti dan menyelinap di bawah sebatang pohon, memandang ke atas, ke arah puncak bukit itu, barulah nampak bahwa dia adalah seorang pemuda yang tubuhnya bongkok! Dia adalah Sie Liong, Si Pendekar Bongkok!

Sesudah meninggalkan Ling Ling di rumah bibi Cili, hati Sie Liong merasa lega dan mulailah dia melakukan penyelidikan di Lhasa tentang Kim-sim-pang. Ketika dia melihat munculnya pemungut derma di rumah makan dengan membawa bendera Kim-sim-pai, teringatlah ia akan nama Kim Sim Lama yang dulu pernah didengarnya dari pengakuan salah seorang di antara Tibet Sam Sin-to. Tentu ada hubungan antara Kim-sim-pai dan Kim Sim Lama, pikirnya.

Agaknya pemberontakan terhadap pemerintah Tibet seperti yang diceritakan Coa Kiu, orang ke tiga Tibet Sam Sin-to itu, tentulah perkumpulan Kim-sim-pai itu yang dipimpin oleh Kim Sim Lama dan dibantu oleh Lima Harimau Tibet yang harus diselidikinya. Dan dia mendapat kenyataan bahwa hampir semua orang yang ditanya tentang Kim-sim-pai menjadi ketakutan dan tidak berani menjawab.

Yang berani menjawab hanya mengatakan dengan singkat bahwa Kim-sim-pai adalah perkumpulan orang-orang Tibet yang berpusat di sebuah bukit di dekat Telaga Yam-so. Makin jelas dan yakinlah hatinya bahwa jejak yang diikutinya sudah benar. Memang di tempat itulah dia harus menceri keterangan tentang apa rahasianya maka para pendeta Lama memusuhi para pertapa dan tosu dari Himalaya.

Dari kaki bukit itu, yang nampak di atas hanyalah dinding tembok yang berwarna putih, panjang dan melingkar-lingkar seperti benteng. Akan tetapi, segera ia melihat beberapa orang mendaki bukit itu. Ada sebuah jalan besar yang cukup baik menuju ke atas bukit!

Kini terdapat beberapa orang menuju ke puncak, ada yang berjalan kaki, ada pula yang menunggang keledai atau kuda. Tetapi mereka itu sama sekali bukan kelihatan sebagai pasukan atau pendeta, melainkan penduduk biasa. Nampak pula bahwa mereka semua membawa perbekalan untuk sembahyang.

Tentu saja dia merasa heran, akan tetapi diam-diam dia pun lalu mendaki bukit, agak jauh di belakang serombongan orang yang memanggul atau memikul sebuah kursi di mana duduk setengah rebah seorang yang nampaknya sedang sakit. Dari keadaan itu saja mudah diduga bahwa orang-orang ini sedang pergi ke suatu tempat, agaknya ke sebuah kuil untuk bersembahyang.

Dugaannya benar. Kini mereka tiba di pintu gerbang dinding tembok yang panjang itu. Bukan dinding tembok sebuah benteng, melainkan dinding yang melingkari sebuah kuil yang amat luas. Terdapat banyak bangunan di dalam kompleks atau perkampungan itu. Akan tetapi bangunan paling depan adalah sebuah kuil yang besar dan cukup megah. Di depan pintu kuil itu terdapat papan dengan tulisan tinta emas berbunyi: ‘KUIL HATI EMAS’.

Kim-sim-tang? Apakah di sini pusatnya Kim-sim-pai? Dan di sini pula tinggal pemimpin pemberontak yang berjuluk Kim Sim Lama itu? Benar-benar di luar dugaan sama sekali. Tempat ini sama sekali tidak menyeramkan seperti seharusnya tempat yang menjadi sarang pemberontak. Bahkan merupakan sebuah kuil yang besar dan di mana datang banyak penduduk dusun untuk bersembahyang dan mohon sesuatu!

Akan tetapi dia segera teringat bahwa andai kata pun benar mereka itu pemberontak, mereka tetap saja adalah para pendeta yang biasanya memang berusaha untuk hidup saleh dan beribadat, menjauhi kejahatan dan selalu mendekatkan diri dengan kebajikan.

Mereka pun bukan memberontak terhadap suatu kerajaan, melainkan terhadap Dalai Lama, seorang pimpinan pendeta pula. Mungkin saja suasananya menjadi lain dengan para pemberontak biasa yang umumnya terdiri dari orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan kekerasan, kejam dan liar.

Dia mulai memperhatikan keadaan di luar kuil. Setelah dia melalui pintu gerbang dinding tembok yang tingginya lebih dari dua meter, nampak kuil itu, jauhnya kurang lebih lima puluh meter dari pintu gerbang. Di kanan kiri kuil itu terdapat bangunan-bangunan besar seperti pengawal kuil dan terdapat banyak jendela yang tertutup.

Agaknya itu merupakan asrama para pendeta, pikirnya. Di depan kuil terdapat halaman yang luas, penuh dengan tanaman bunga-bunga dan juga tanaman yang mengandung khasiat pengobatan. Di sana sini terdapat arca-arca Buddha yang besar dan megah, juga pahatannya amat halus. Asap dupa mengepul tebal dari cerobong yang dipasang di tengah bangunan kuil, akan tetapi ada juga asap yang mengepul keluar dari pintu depan yang besar, dan membawa keharuman yang khas.

Sie Liong melangkah masuk ke dalam kuil. Dua orang pendeta Lama berdiri di kanan kiri pintu sebelah dalam dan menyambutnya dengan doa-doa yang tidak terdengar jelas, akan tetapi kedua tangan mereka yang dirangkap dan berada di depan dada selalu menyambut para pendatang dengan doa dan puja-puji.

Ketika Sie Liong memandang kepada mereka, kedua orang pendeta Lama yang masih muda-muda itu nampak memejamkan mata. Mereka itu kelihatan alim dan sopan.

Kuil itu penuh tamu dengan berbagai kesibukan sembahyang. Yang menyolok adalah tidak adanya seorang pun wanita di situ. Sungguh berbeda dengan kuil-kuil lain yang selalu dipenuhi wanita.

Kemudian dia teringat bahwa kehidupan seorang pendeta Lama memang sangat keras dan satu di antara pantangan yang paling kuat adalah wanita. Karena kuil itu dilayani oleh para pendeta Lama, maka agaknya tidak ada tamu wanita diperkenankan masuk! Teringat dia akan kuil Siauw-lim-si yang juga pantang dimasuki wanita, apa lagi wanita yang muda dan menarik.

Di sebelah dalam kuil terdapat pula pendeta-pendeta tua dan muda yang melayani semua kebutuhan mereka yang datang untuk bersembahyang. Mereka semua rata-rata bersikap ramah, pendiam, sopan dan lembut. Sikap pendeta tulen, tidak nampak sikap keras dan liar sehingga orang tidak akan mau percaya kalau mendengar bahwa para pendeta Lama itu adalah pemberontak-pemberontak.

Meja-meja sembahyang yang besar-benar penuh dengan perabot sembahyang, lilin-lilin besar bernyala. Pendeknya, kuil itu lengkap dan juga sangat luas. Akan tetapi hanya merupakan sebagian kecil saja dari daerah perumahan yang luas sekali itu.

Di kanan kiri ruangan besar tempat sembahyang itu terdapat pintu-pintu kayu tebal dan besar, akan tetapi kedua pintu itu dalam keadaan tertutup dan terkunci. Memang pintu itu tidak ada hubungannya dengan keperluan sembahyang.

Dan di sebelah dalam, terdapat pintu yang lebar sekali. Ketika dia mendekati pintu yang menuju ke dalam ini, Sie Liong melihat bahwa di sana terdapat sedikitnya tujuh orang pendeta yang berjaga, ada yang bersila, ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Mereka itu tidak bergerak macam arca-arca saja, akan tetapi mata mereka tajam mengamati para tamu dan jelas bahwa tamu tidak diperkenankan masuk, karena jalan masuk itu tertutup atau terhalang oleh para penjaga ini.

Sie Liong melihat betapa pintu itu menembus ke jalan lorong yang panjang, kemudian membelok ke kiri sehingga dari situ tidak dapat melihat apa yang berada di belakang kuil itu.

“Apakah kongcu hendak melakukan sembahyang dan belum membawa perlengkapan? Kami dapat membantumu.” Tiba-tiba terdengar suara halus di belakangnya.

Sie Liong membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pendeta berusia empat puluhan tahun telah berdiri di depannya dengan kedua tangan terangkap di depan dada.

Sudah mendaki bukit dan berkunjung ke kuil namun tidak sembahyang, tentu saja tidak masuk akal. Dia belum ingin memperkenalkan diri dan menjelaskan keinginannya untuk bertemu dengan Tibet Ngo-houw.

“Saya ingin bertanya tentang nasib diri saya,” jawabnya tenang.

Memang dia tidak bermaksud untuk bersembahyang. Tadi dia sempat melihat di bagian kiri ruangan itu, dan di sana terdapat sebuah meja sembahyang di mana orang-orang bertanya tentang nasib mereka.

“Ahh, mari kami bantu, kongcu. Bertanya nasib pun harus melakukan sembahyang dan kalau kongcu tidak membawa perlengkapan, dapat membeli di sini, harganya tidak lebih mahal dari pada kalau membeli di toko,” kata pendeta itu dengan sikap ramah.

“Terima kasih,” kata Sie Liong.

Dia pun mengikuti pendeta Lama itu yang mengambilkan perlengkapan bersembahyang berupa lilin dan hioswa (dupa biting). Kemudian, di bawah petunjuk pendeta itu, Sie Liong melakukan sembahyang di depan meja sembahyang, kemudian dia, seperti para tamu lain, dipersilakan untuk mengocok ciam-si, yaitu batang-batang bambu sebesar jari tangan yang pada ujungnya bernomor.

Batang-batang bambu kecil sepanjang satu kaki ini berada dalam tabung bambu besar dan mereka yang menanyakan nasib, setelah sembahyang dan dalam hati mengajukan permohonan tentang apa yang ingin diketahui mengenai nasibnya, harus memegang tabung bambu sambil berlutut di depan meja sembahyang dan mengguncang-guncang tabung itu. Batang-batang bambu itu akan terguncang dan setelah ada sebatang yang meloncat atau terloncat keluar, maka itulah batang bambu yang menjadi jawaban atas pertanyaannya.

Sie Liong mengguncang tabung itu dan berloncatlah sebatang bambu dari dalamnya. Akan tetapi hal itu belum menentukan bahwa pilihan jawaban itu benar. Dia harus pula melemparkan dua potong bambu yang permukaannya berbeda.

Kalau dua potong bambu itu terjatuh ke atas lantai lalu kedua permukaannya sama dengan yang lain, dengan ada tulisan BENAR, maka batang bambu yang terloncat itu sudah sah akan kebenarannya. Sebaliknya, andai kata dua potong bambu itu terletak dengan permukaan yang berbeda menghadap ke atas, dia harus mengguncang sekali lagi dan kembali memilih. Juga apa bila kedua potong bambu itu menghadapkan tulisan SALAH, dia harus memilih lagi.

Setelah mendapat tanda BENAR, Sie Liong menyerahkan batang bambu itu kepada pendeta Lama yang bertugas di bagian pertanyaan nasib itu, dan setelah dicocokkan nomornya, pendeta itu kemudian memberinya sehelai kertas yang telah ada tulisannya.

Biasanya, kertas ini berisikan sajak atau syair yang merupakan jawaban dari permintaan orang yang bersembahyang dan minta sesuatu. Karena sajak itu selalu mengandung perumpamaan dan maksud yang tersembunyi, maka ada pula pendeta yang bertugas memberi tafsirannya. Hal ini sudah pernah didengar dan diketahui Sie Liong walau pun baru kini dia sendiri mengocok batang bambu untuk mendapatkan ramalan nasibnya.

Akan tetapi, ketika dia membuka gulungan kertas selembar itu, jantungnya berdesir. Di situ tertulis dengan jelas, dengan tulisan tangan yang indah, sebuah pesan untuknya!

KALAU PENDEKAR BONGKOK INGIN BICARA DENGAN KAMI, SILAKAN MASUK PINTU SELATAN PAGAR BELAKANG.

Sie Liong mengangkat muka memandang pada pendeta yang melayaninya. Akan tetapi pendeta itu hanya merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan mukanya. Sie Liong merasa kagum sekali. Kiranya para pendeta Lama ini mempunyai perkumpulan yang kuat dan dapat bekerja dengan rapi sekali sehingga dia yang ingin melakukan penyelidikan, bahkan lebih dahulu menjadi bahan penyelidikan dan sekarang keinginannya sudah diketahui oleh mereka!

Dia pun segera keluar dari kuil itu, keluar lewat pintu gerbang pagar tembok kemudian mengambil jalan memutar. Kalau pihak Kim-sim-pai sudah tahu akan keadaan dirinya, bahkan mungkin sudah tahu pula akan maksud kedatangannya, dia pun tidak perlu lagi berpura-pura. Memang lebih baik kalau bicara dengan sejujurnya, menuntut sikap para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa Himalaya, yang kini mengungsi ke Kun-lun-san, dari pada melakukan penyelidikan secara rahasia, hal yang amat tidak enak kalau sampai ketahuan pihak yang diselidiki.

Dengan sikap tenang dan hati tabah Sie Liong lalu menuju ke arah belakang. Ternyata, memang tempat itu luas sekali, bentuknya memanjang ke belakang, bagaikan sebuah perkampungan saja.

Ketika dia memutari pagar tembok itu, akhirnya di sebelah belakang dia melihat sebuah pintu yang tidak besar, bukan pintu umum, melainkan pintu untuk keluar masuk para pendeta anggota perkampungan itu sendiri. Di pintu kecil itu, Sie Liong disambut oleh dua orang pendeta Lama yang usianya sekitar lima puluh tahun.

“Sie Taihiap, silakan masuk dan mengikuti kami. Para suhu sudah menanti di dalam,” kata seorang di antara mereka berdua yang bersikap hormat.

Kembali Sie Liong kagum bukan main. Mereka itu agaknya telah lama mengikuti gerak geriknya dan sudah tahu benar siapa dia! Hal ini amat tidak menguntungkan bagi dia, karena tentu mereka yang sudah mengetahui akan kedatangannya itu telah membuat persiapan-persiapan. Bagaimana pun juga, dia telah tiba di situ dan tidak mungkin dapat mundur kembali.

Maka, sambil mengucapkan terima kasih, dia pun mengikuti mereka masuk ke dalam melalui sebuah taman yang indah. Ketika melewati sebuah bangunan besar, lapat-lapat dia mendengar suara ketawa wanita! Namun, segera suara ketawa itu terhenti dan dia pun pura-pura tidak mendengarnya. Sie Liong hanya mencatat di dalam hatinya.

Agaknya, sikap hormat dan sopan yang dia lihat di kuil tadi, sikap saleh dan beribadat para pendeta Lama yang melayani para tamu, masih perlu diselidiki lebih seksama lagi. Dari luarnya saja nampak bahwa pendeta itu hidupnya secara saleh dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi, namun di sini dia mendengar suara ketawa wanita! Tidak mungkin dia salah dengar.

Dua orang pendeta Lama itu membawa Sie Liong ke sebuah ruangan yang luas sekali. Paling sedikitnya lima ratus orang akan dapat berkumpul dalam ruangan yang luas itu. Ruangan itu terbuka dan di sudut terdapat bangku-bangku mengelilingi beberapa buah meja yang dideretkan menjadi meja panjang. Di situ dia melihat belasan orang pendeta Lama sedang duduk bagaikan arca-arca tak bergerak, hanya mata mereka saja yang mencorong tajam menyambut kedatangannya.

Dua orang pendeta yang mengantarnya itu lalu memberi hormat dengan menyembah kepada belasan orang itu, kemudian mengundurkan diri membiarkan Sie Liong seorang diri berhadapan dengan tiga belas orang pendeta Lama itu.

Sie Liong juga melayangkan pandang matanya kepada mereka. Segera dia mengenal lima orang di antara mereka yang duduk berjajar. Biar pun usia mereka kini sudah enam puluh tahun lebih, dan sudah tujuh delapan tahun yang lalu dia pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi dia tidak melupakan lima orang pendeta Lama itu. Siapa lagi kalau bukan Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet) yang pernah datang ke Kun-lun-pai dan menyerang Himalaya Sam Lojin dahulu!

Dan karena mereka berlima inilah maka kini dia datang ke Tibet, karena para gurunya minta kepadanya untuk menyelidiki mengapa Dalai Lama mengutus lima orang pendeta Lama ini untuk memusuhi para pertapa dan para tosu dari Himalaya, bahkan masih mengejar-ngejar mereka yang sudah melarikan diri mengungsi ke pegunungan Kun-lun. Selain lima orang ini, delapan yang lain dia tidak mengenalnya.

Akan tetapi, melihat seorang pendeta Lama yang usianya sudah tujuh puluh tahunan, tinggi kurus dengan muka merah kekanak-kanakan, berjubah merah serta memegang sebatang tongkat pendeta yang berlapis emas, berwibawa dan duduk di kursi paling depan, juga kursinya berbeda dengan bangku-bangku yang lain, terbuat dari gading gajah, dia pun dapat menduga bahwa mungkin kakek itulah yang berjulukan Kim Sim Lama!

“Orang muda, apakah engkau yang bernama Sie Liong dan memiliki julukan Pendekar Bongkok?” kakek itu bertanya dan diam-diam Sie Liong terkejut.

Pada saat pendeta itu berbicara, suaranya demikian tinggi dan tajam sekali, membuat jantungnya tergetar. Wajah yang kekanak-kanakan itu mengeluarkan sinar dan matanya mengandung wibawa yang sangat kuat. Bukan main, pikirnya. Kakek ini bukanlah orang sembarangan dan akan menjadi lawan yang sangat berat. Akan tetapi dia kemudian mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada belasan orang itu.

“Benar, losuhu, nama saya adalah Sie Liong dan ada pun julukan itu mungkin hanya kelakar orang-orang yang melihat keadaan tubuh saya yang cacat saja.”

“Sie Liong, engkau telah berada di sini. Katakan apa yang kau kehendaki maka engkau datang ke tempat kami.”

Hemm, kakek ini demikian terus terang, maka dia pun tidak perlu menyembunyikan lagi keperluannya. Sejenak dia memandang ke arah lima orang pendeta Lama yang duduk di sebelah kanan kakek itu, kemudian dengan suara lantang dia pun menjawab.

“Losuhu, sesungguhnya saya datang ke Tibet untuk bertemu dan bicara dengan Tibet Ngo-houw. Karena saya mendengar bahwa Tibet Ngo-houw berada di sini, maka saya memberanikan diri untuk datang berkunjung, tanpa bermaksud untuk berurusan dengan Kim-sim-pai.”

Sambil berkata demikian, sepasang mata Sie Liong dengan tajam menatap kepada lima orang pendeta Lama yang dimaksudkannya itu. Namun, mereka berlima itu tetap duduk tanpa bergoyang seperti arca. Hanya mata mereka yang ditujukan kepadanya, seperti mata para pendeta lainnya, dan Sie Liong kini melihat betapa pandang mata itu sama sekali tidak bersahabat, bahkan nampak marah.

“Hemm, orang muda. Jika engkau tak bermaksud untuk berurusan dengan Kim-sim-pai, kenapa engkau telah menghina orang kami yang sedang mengumpulkan sumbangan di Lhasa?” Kini suara kakek itu tidak lagi lembut, melainkan mengandung kemarahan dan lengkingan suara itu makin meninggi.

Sekarang Sie Liong merasakan adanya bahaya yang mengancam dirinya dan dia mulai merasa menyesal telah datang ke situ, namun hal ini agaknya telah terlambat karena dia melihat gerakan banyak orang di luar dan ketika dia menengok, ternyata ruangan itu telah dikepung oleh banyak sekali orang di luar. Bukan hanya pendeta-pendeta Lama berjubah merah, akan tetapi ada pula yang bukan pendeta Lama, dan jumlah mereka itu tentu mendekati lima puluh sampai seratus orang!

Namun, dia tetap bersikap tenang. “Losuhu, saya sama sekali tidak pernah menghina siapa pun juga, apa lagi menghina orang Kim-sim-pai yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan saya. Peristiwa di rumah makan itu terjadi karena saya ditekan dan saya hanya membela diri, juga saya terpaksa mencegah cara pengumpulan sumbangan yang dilakukan dengan paksaan. Bukan hanya Kim-sim-pai, biar dari mana pun, kalau saya melihat orang minta sumbangan secara paksa, sudah menjadi kewajiban saya untuk mencegahnya. Saya tak bermaksud menghina Kim-sim-pai, dan harap para losuhu suka maafkan saya. Saya hanya ingin berurusan dengan Tibet Ngo-houw, tidak bermaksud berurusan dengan Kim-sim-pai. Tibet Ngo-houw, saya harap kalian cukup gagah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian di Kun-lun-san tujuh delapan tahun yang lalu!”

Karena dia tahu bahwa ancaman bahaya terhadap dirinya datangnya dari Kim-sim-pai, maka Sie Liong sengaja menujukan tantangannya kepada Tibet Ngo-houw saja.

Mendadak terdapat gerakan pada lima orang pendeta Lama itu yang sejak tadi diam seperti arca. “Omitohud, dia itu anak bongkok yang dahulu menggagalkan desakan kita terhadap Himalaya Sam Lojin!” Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berlima yang bermata satu berseru. Dia adalah Thay Hok Lama, orang ke empat dari Lima Harimau Tibet itu.

Mendengar seruannya ini, keempat orang saudaranya juga teringat dan mereka semua merasa heran. Anak bongkok itu kini berani datang dan bersikap demikian tenang dan gagah!

“Benar sekali, Tibet Ngo-houw. Aku adalah anak bongkok yang dulu itu dan kini aku datang mencari kalian sebagai utusan para tosu dan pertapa dari Himalaya yang kini berada di Kun-lun-san. Sudah tiba saatnya kalian berlima mempertanggung jawabkan perbuatan kalian dahulu itu dan menjelaskan kepadaku apa yang menjadi sebab maka kalian memusuhi mereka yang sama sekali tidak berdosa.”

“Omitohud... alangkah lancang dan sombongnya anak ini!” Tiba-tiba seorang di antara para pendeta yang hadir di situ berseru.

Dia bukan seorang di antara Lima Harimau Tibet, melainkan seorang pendeta Lama Jubah Merah yang tubuhnya pendek kecil seperti kanak-kanak berusia belasan tahun. Akan tetapi melihat wajahnya, tentu usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Dia bangkit berdiri dan menjura ke arah Kim Sim Lama.

“Susiok (paman guru), perkenankan teecu (murid) menghajar bocah lancang yang sama sekali tidak menghormati kita ini. Bocah ini tidak cukup pantas dilayani oleh para suheng berlima!”

Kakek tua renta itu mengangguk. Juga Tibet Ngo-houw diam saja karena mereka pun merasa malu kalau harus melayani seorang pemuda, yang bongkok pula. Hanya akan menurunkan nama besar mereka sebagai pembantu-pembantu utama Kim-sim-pai!

Pendeta Lama yang bertubuh pendek kecil itu bernama Ki Tok Lama dan dia pun merupakan seorang di antara ‘dua belas besar’ yang menjadi para pembantu utama Kim Sim Lama. Sebagai seorang di antara para pembantu utama, tentu saja dia memiliki tingkat ilmu kepandaian yang cukup hebat.

Dua belas orang pembantu utama itu masih terhitung murid-murid keponakan Kim Sim Lama sendiri, demikian pula Tibet Ngo-houw, juga merupakan murid keponakannya, sehingga tingkat kepandaian mereka satu dengan yang lain tidak banyak berselisih.

Hanya Tibet Ngo-houw sudah memiliki nama besar dan mereka berlima itu sudah biasa bertindak sebagai kelompok yang bekerja sama, maka mereka yang dianggap menjadi pembantu-pembantu utama. Karena itu kedudukan mereka berlima sedikit lebih tinggi dibandingkan para pembantu lainnya.

Pada saat Ki Tok Lama sudah berdiri di depan Sie Liong, pemuda ini maklum bahwa keadaannya sungguh tidak menguntungkan baginya. Dia bukan seorang pemuda yang bodoh. Dia tahu bahwa dia sudah terjebak, memasuki goa harimau yang berbahaya sekali.

Bagaimana mungkin dia yang hanya seorang diri bisa menandingi lawan yang demikian banyaknya! Akan tetapi, untuk mundur pun tidak mungkin. Tempat itu telah terkepung. Jalan keluar sudah buntu dan kalau dia nekat melarikan diri, tentu akan dikepung dan dikeroyok.

“Sie Liong!” Ki Tok Lama membentak, “Engkau masih bocah ingusan tapi sudah berani memakai julukan pendekar, dan engkau sudah berani menghina para suheng-ku Tibet Ngo-houw pula! Hemm, coba keluarkan semua ilmu kepandaianmu, hendak pinceng (saya) lihat apakah sepak terjangmu juga sehebat suara dan sikapmu. Majulah!”

Setelah berkata demikian, pendeta Lama yang bertubuh katai ini memasang kuda-kuda yang aneh. Kedua kakinya berdiri di ujung jari seperti berjingkat, tangan kanan miring di depan dada, sedangkan tangan kiri berada di balik punggung dengan bentuk cakar.

Melihat ini, diam-diam Sie Liong dapat menduga akan keadaan batin orang ini. Dengan berjingkat dia ingin mengangkat diri lebih tinggi sesuai dengan watak orang yang masih dikuasai nafsu-nafsunya. Nampak dari depan, tangan kanannya seperti sikap seorang yang beribadat, yang menaruh tangan berdiri lurus di depan dada, namun diam-diam, tangan yang lain bersembunyi di punggung dalam bentuk cakar. Ini menandakan bahwa dia seorang munafik, yang pura-pura alim akan tetapi sesungguhnya batinnya masih bergelimang nafsu sehingga siap untuk melakukan kekerasan.

Tentu saja bukan demikian maksud Ki Tok Lama, hanya gerakannya itu mungkin saja tanpa disadarinya sudah menggambarkan keadaan batinnya.

Sie Liong memberi hormat, kemudian berkata dengan sikap tenang dan suara lembut. “Losuhu, maafkan saya. Kedatangan saya ini untuk berbicara dengan Tibet Ngo-houw, bukan untuk bertanding dengan siapa pun juga. Sudah saya katakan bahwa saya tidak mempunyai urusan pribadi dengan Kim-sim-pai...”

“Pengecut! Engkau sudah masuk ke sini dan bersikap sombong dan sekarang engkau tidak berani menyambut tantangan pinceng?”

“Bukan tidak berani, melainkan karena saya tidak melihat adanya suatu alasan apa pun untuk menyambut tantangan ini.”

“Ada alasan atau tidak, mau atau tidak, engkau harus menerima seranganku ini. Nah, sambutlah!”

Ki Tok Lama tak mempedulikan semua alasan Sie Liong. Tubuhnya sudah bergerak dan dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh itu sudah meluncur ke depan. Tangan kirinya yang membentuk cakar tadi, dari belakang telah melayang dari atas ke depan, dan oleh karena tubuhnya tadi meloncat tinggi, maka tangan itu mencengkeram tepat ke arah ubun-ubun kepala Sie Liong!

“Hyaaaaattt...!” Dia mengeluarkan pekik melengking.

Diserang seperti itu, tentu saja Sie Liong tidak mungkin dapat tinggal diam. Serangan itu merupakan serangan maut! Dia pun terkejut melihat betapa cepatnya gerakan lawan. Tahulah dia bahwa lawannya yang cebol itu memiliki ginkang yang tinggi. Namun, masih belum terlalu cepat gerakan itu baginya. Dengan mudah dia pun menggeser tubuh ke kiri dan terkaman itu luput.

Ki Tok Lama menjadi semakin marah. Begitu tubuhnya turun, dia sudah membalik dan kembali dia sudah menyerang, kali ini lebih dahsyat, dengan kedua tangan menyambar dari kanan dan kiri. Sekali lagi Sie Liong mengelak dengan loncatan mundur.

“Losuhu, aku tidak ingin bertanding denganmu!” katanya masih lembut, akan tetapi tidak begitu hormat lagi.

Ki Tok Lama tidak peduli. Dua kali serangannya dengan jurus pilihan gagal. Hal ini saja sudah membuat dia merasa malu dan menganggap bahwa pemuda itu menghinanya.

“Haiiiiiitttt...!”

Dia menyerang lagi, sekarang dengan pukulan-pukulan yang bertubi dan tubuhnya yang ringkas itu bergerak-gerak bagaikan seekor tupai yang melompat-lompat, dan setiap kali serangannya luput, sudah disusulkannya serangan berikutnya.

“Losuhu, sekali lagi, aku tidak ingin berkelahi denganmu!” Sie Liong berkata, suaranya semakin keras.

Namun jawabannya adalah serangan yang lebih ganas. Sie Liong merasa serba salah. Apa bila dia tidak melayani, tentu orang ini akan terus menyerangnya dan tidak mungkin jika dia hanya selalu mengelak. Kalau dia membalas, berarti dia sudah terpancing dan melibatkan diri dalam permusuhan. Padahal sekarang dia berada di dalam sarang Kim-sim-pai.
cerita silat karya kho ping hoo

“Engkau sungguh memaksaku!” kata Sie Liong.

Pada waktu kedua lengan lawannya menghantam dengan pengerahan sinkang, dia pun menyambut dari samping, menangkis untuk membuktikan kepada lawan bahwa kalau dia mau, tidak begitu sukar baginya untuk mengalahkan si cebol itu.

“Dukkk!”

Sie Liong membatasi tenaganya, tidak mempergunakan seluruh tenaga, tetapi akibatnya tubuh si cebol terpelanting dan dia sendiri terhuyung-huyung hampir roboh terbanting.

Si cebol mengeluarkan teriakan melengking nyaring dikarenakan marahnya, dan ketika dia melompat ke depan, dia sudah memegang sepasang pedang, yaitu senjatanya yang selalu disembunyikan di balik jubah merahnya yang lebar.

“Hemm, losuhu, bagaimana seorang pendeta mau memegang senjata tajam? Apa lagi sepasang!” Sie Liong memperingatkan.

Sebenarnya, menggunakan senjata untuk membunuh orang merupakan pantangan bagi seorang pendeta, apa lagi memegang senjata pedang untuk menyerang lawan yang tak bersenjata!

Agaknya Ki Tok Lama masih mengingat akan kedudukannya dan dia merasa sungkan juga. “Jangan banyak mulut! Cepat kau keluarkan senjatamu dan mari kita bertanding dengan menggunakan senjata!” tantangnya.

“Losuhu, aku tidak pernah memegang senjata!” kata Sie Liong dengan harapan agar lawannya itu merasa malu dan mundur. “Sebaiknya kita hentikan saja ribut-ribut yang tiada gunanya ini dan membiarkan aku untuk bicara dengan Tibet Ngo-houw.”

“Tidak! Kau kalahkan dulu sepasang pedangku, baru engkau boleh bicara dengan lima orang suheng Tibet Ngo-houw!” si cebol berkeras.

Sie Liong menarik napas panjang. Pada waktu dia memandang kepada para pimpinan Kim-sim-pai, mereka itu diam tak bergerak seperti arca.

Dia melihat sebuah rak senjata di sudut, dan dengan perlahan dia menghampiri rak itu, lalu mengambil sebatang tombak bergagang kayu dan mematahkan mata tombaknya. Gagang tombaknya saja yang berada di tangannya dan dia pun berkata,

“Baiklah, kalau engkau memaksa, losuhu, biar aku meminjam gagang tombak ini saja, agar tidak sampai melukaimu dengan senjata yang tajam atau runcing.”

Sie Liong menggunakan senjata itu bukan karena takut menghadapi sepasang pedang lawan, melainkan untuk berjaga diri. Kalau sampai terpaksa dia didesak dan dikeroyok, dia harus memiliki senjata untuk melindungi dirinya dan tidak ada senjata di dunia ini yang lebih baik baginya dari pada sebatang tongkat!

Jawaban Sie Liong itu membuat wajah Ki Tok Lama menjadi semakin merah karena jelas memandang rendah kepadanya.

“Lihat pedang!” bentaknya untuk berlagak bahwa dia tidak mau menyerang lawan tanpa memberi peringatan lebih dahulu.

Dua gulungan sinar berkelebat ketika sepasang pedang di tangannya digerakkan secara amat cepat dan kuat sekali. Akan tetapi, dengan tenang Sie Liong bergerak mundur dan mengelak dari dua kali sambaran kilat dari sepasang pedang lawan.

Tongkat di tangannya tidak tinggal diam dan ujung tongkat itu diputarnya sedemikian rupa sehingga ujungnya seperti berubah menjadi belasan banyaknya. Dan ujung-ujung tongkat ini sekarang menyambar-nyambar ke arah jalan darah di seluruh tubuh Ki Tok Lama!

Pendeta Lama itu terkejut bukan main dan terpaksa dia memutar sepasang pedangnya untuk melindungi diri dari serangan banyak ujung tongkat itu! Akan tetapi, di antara ujung-ujung tongkat itu yang tentu saja sesungguhnya hanya memiliki dua ujung saja, namun karena tongkat itu bergerak dengan menggetar, maka ujungnya nampak menjadi banyak, kini ada yang menyerang ke arah pergelangan lengan lawan yang memegang pedang, sementara ada ujung-ujung lain yang masih mengancam jalan darah tubuh Ki Tok Lama.

Tentu saja pendeta ini menjadi semakin terkejut dan bingung. Dia lebih condong untuk melindungi tubuhnya yang akan tertotok, karena itu tanpa dapat dihindarkan lagi, kedua pergelangan tangannya tertumbuk ujung tongkat secara aneh sekali dan kedua tangan itu tiba-tiba terasa lumpuh dan sepasang pedangnya pun terlepas dari tangannya.

Akan tetapi Sie Liong menghentikan gerakan tongkatnya, berdiri tegak di depan Ki Tok Lama dan berkata, “Losuhu, silakan mengambil kembali sepasang pedangmu.”

Dengan muka agak pucat dan mata terbelalak penuh rasa penasaran dan kemarahan, Ki Tok Lama bergerak cepat. Dia segera menyambar sepasang pedang itu dari atas lantai, kemudian memutar sepasang pedang itu, bersiap untuk melakukan penyerangan yang lebih dahsyat dan nekat lagi.

“Tahan senjata!” tiba-tiba Kim Sim Lama berseru. “Ki Tok Lama, kau mundurlah!”

Ki Tok Lama sejenak hanya memandang melotot ke arah Sie Liong. Akan tetapi ia tidak berani membantah perintah susiok-nya dan dia pun mundur sambil menyimpan kembali sepasang pedangnya ke balik jubah merah.

Kiranya pada waktu Sie Liong mulai melayani Ki Tok Lama tadi, Kim Sim Lama yang memandang penuh perhatian, menjadi kagum dan tertarik. Dia berbisik-bisik kepada Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet Ngo-houw. Setelah memerintahkan Ki Tok Lama untuk mundur, Kim Sim Lama lalu diam saja dan menyerahkan kepada Thay Ku Lama untuk menghadapi Sie Liong seperti yang mereka bisikkan tadi.

Thay Ku Lama bangkit dari bangkunya, lalu menghampiri Sie Liong yang sudah siap siaga karena sekarang yang maju adalah orang pertama dari Tibet Ngo-houw. Sejenak mereka saling pandang, kemudian Thay Ku Lama yang bertubuh besar dengan perut gendut itu menarik napas panjang.

“Omitohud, sekarang pinceng ingat. Memang engkau adalah bocah yang dahulu itu, dan agaknya engkau telah menjadi murid para tosu pelarian itu. Bukankah ilmu tongkatmu tadi adalah Thian-te Sin-tung yang amat hebat dari Pek Sim Siansu?”

Sie Liong terkejut bukan main. Sungguh tajam pandangan mata Thai Ku Lama ini, dan pengetahuannya tentang ilmu silat sangat luas. Hal itu saja membuktikan bahwa lima orang Harimau Tibet ini memang tidak boleh dipandang ringan.

“Sesungguhnya, losuhu, aku pernah menerima bimbingan dari suhu Pek Sim Siansu,” jawabnya jujur.

“Hemm, begitukah? Nah, sekarang lekas katakan, apa keperluanmu mencari kami Tibet Ngo-houw? Katakan saja terus terang karena yang hadir di sini bukanlah orang-orang lain bagi kami.”

Sie Liong memandang ke arah lima orang itu bergantian, kemudian dia berkata dengan suara lantang. “Tibet Ngo-houw, dengarlah baik-baik. Aku mewakili para locianpwe dan para pertapa yang selama ini kalian kejar-kejar, untuk bertanya kepada kalian, apakah sesungguhnya alasan yang mendorong kalian berlima untuk memusuhi mereka? Jawab sejujurnya, benarkah kalian menjadi utusan Dalai Lama untuk membasmi para tosu dan pertapa asal Himalaya?”

Thay Ku Lama tertawa bergelak. Perutnya yang gendut itu terguncang dan di antara suara ketawanya itu terdengar bunyi berkokok dari dalam perutnya, seperti suara katak besar.

Pendeta Lama ini memang mempunyai ilmu yang luar biasa hebat, yang disebut Hek-in Tai-hong-ciang, yaitu suatu pukulan yang didorong oleh tenaga dari perut yang kalau dia gunakan, selain dari perutnya keluar bunyi berkokok nyaring dan kedua kakinya ditekuk dalam-dalam seperti berjongkok, juga telapak tangannya itu mengeluarkan uap hitam.

“Ha-ha-ha, tentu saja Dalai Lama yang mengutus kami untuk membasmi para pertapa Himalaya yang dianggap pemberontak!”

“Pemberontakan apakah yang telah dilakukan oleh para locianpwe, atau para pertapa itu terhadap Dalai Lama?” Sie Liong mengeluarkan pertanyaan yang dulu sudah pernah diperbincangkan para gurunya itu.

“Hemm, para tosu itu pernah membunuhi beberapa orang pendeta Lama, hal itu berarti pemberontakan!” kata pula Thay Ku Lama dengan sikap acuh.

“Nanti dulu, losuhu. Memang pernah aku mendengar bahwa mendiang locianpwe Pek Thian Siansu, yaitu seorang pertapa Himalaya, membela penduduk yang diserbu para pendeta Lama. Lalu terjadilah perkelahian antara Pek Thian Siansu dan para pendeta Lama dan ada beberapa orang pendeta Lama yang tewas. Itukah yang menjadi sebab maka para pendeta Lama lalu memusuhi para tosu dan pertapa Himalaya?” Sie Liong pernah mendengar cerita itu dari tiga orang gurunya, yaitu Himalaya Sam Lojin tentang guru mereka itu.

“Ha, kiranya engkau sudah tahu? Nah, kenapa bertanya lagi? Para tosu itu mencampuri urusan kami para pendeta Lama, itulah maka mereka dianggap pemberontak.”

“Akan tetapi, losuhu. Bukankah mendiang Pek Thian Siansu membela penduduk dusun yang mempertahankan seorang anak laki-laki yang ketika itu hendak diculik oleh para para pendeta Lama itu? Dan anak itu yang kemudian menjadi Dalai Lama! Bagaimana mungkin Dalai Lama itu malah mengutus losuhu berlima untuk memusuhi para pertapa Himalaya? Padahal, para pertapa itu dahulu bahkan pernah membelanya! Dan juga, kalau suhu berlima menjadi utusan Dalai Lama, bagaimana pula ngo-wi (anda berlima) sekarang berada di sini dan kudengar malah memusuhi Dalai Lama?”

Mendengar ucapan Sie Liong itu, Tibet Ngo-houw saling pandang dan Thay Ku Lama sendiri mengerutkan alisnya dengan wajah berubah merah. Tidak disangkanya bahwa pemuda bongkok itu agaknya telah mengerti akan segala rahasia mereka!

Akan tetapi Kim Sim Lama yang sejak tadi mendengarkan saja, tiba-tiba mengeluarkan suara ketawa.

“Ha-ha-ha-ha! Omitohud...! Sie Taihiap agaknya mengetahui ekornya. Baiklah, pinceng yang akan memberi penjelasan kepadamu. Memang, dulunya Tibet Ngo-houw ini, para murid keponakanku, hanya mentaati perintah Dalai Lama saja. Pinceng sudah mencoba untuk mencegah perintah itu karena ketika itu pinceng masih menjadi wakil Dalai Lama. Akan tetapi, memang dia telah tersesat dan lalim, dan karena itulah maka kami semua meninggalkan Dalai Lama lalu berdiri sendiri di sini. Kami memang bermaksud untuk menggulingkan penguasa yang lalim itu! Itu pula sebabnya maka kini Tibet Ngo-houw berada di sini membantu Kim-sim-pai. Kami mempersilakan engkau untuk bekerja sama dengan kami juga, Sie Taihiap. Kami menentang Dalai Lama karena dia adalah seorang pemimpin lalim, sedangkan engkau membantu kami untuk membalaskan dendam para tosu dan pertapa dari Himalaya yang pernah melepas budi kepada Dalai Lama, akan tetapi malah dibalasnya dengan pengejaran dan pembunuhan! Dan masih banyak pula pihak-pihak yang memusuhi Dalai Lama. Gerakan kita pasti akan berhasil, Sie Taihiap!”

Sejak tadi Sie Liong mendengarkan saja, dan alisnya mulai berkerut. Tentu saja dia tidak dapat menerima dan percaya semua yang dikatakan pendeta ketua itu. Jelas bahwa Kim Sim Lama sedang memberontak terhadap Dalai Lama, maka tentu saja dia memburuk-burukkan nama Dalai Lama! Dia tidak mau percaya begitu saja, pula dia pun tidak ingin melibatkan dirinya dalam pemberontakan dan pertikaian di Tibet yang bukan negaranya.

“Terima kasih, losuhu. Akan tetapi tugas saya hanya bertanya kepada Tibet Ngo-houw mengapa dia dahulu memusuhi para pertapa pelarian dari Himalaya. Sekarang, setelah mereka menjawab bahwa mereka hanya utusan dari Dalai Lama, maka biarlah saya akan menghadap Dalai Lama sendiri untuk bertanya, mengapa beliau membalas budi kebaikan para tosu itu dengan pengejaran dan penumpasan. Nah, selamat tinggal, para losuhu, saya hendak pergi sekarang.”

Akan tetapi, agaknya sudah ada isyarat dari Kim Sim Lama. Begitu dia malangkah ke arah pintu ruangan luas itu, di ambang pintu telah berdiri banyak pendeta Lama dengan berbagai macam senjata di tangan, menutup lubang pintu itu dengan sikap mengancam. Ketika dia melirik ke arah jendela-jendela di sekeliling ruangan, di sana pun sudah rapat tertutup oleh tubuh banyak pendeta Lama yang berjaga-jaga. Jelas mereka semua itu tidak akan memberi jalan keluar padanya.

“Nanti dulu, orang muda!” Tiba-tiba Kim Sim Lama berseru, suaranya tidak begitu ramah lagi walau pun masih lembut.

Sie Liong menatap tajam wajah pemimpin Kim-sim-pai itu. “Ada apa lagi, losuhu?”

“Orang muda, engkau datang ke sini tanpa kami undang, dan kami telah bersikap terus terang, menceritakan segala rahasia kami kepadamu. Oleh karena itu, jika engkau mau bekerja sama dengan kami untuk menentang Dalai Lama, hal itu sudah sepatutnya. Akan tetapi, apa bila engkau menolak dan hendak pergi begitu saja dengan membawa semua rahasia kami, sudah tentu kami merasa keberatan!”

Sie Liong maklum bahwa saatnya sudah tiba. Kim Sim Lama sudah membuka kartunya. Tadi dia sudah merasa khawatir bahwa dia telah terperangkap, dan inilah buktinya. Dia dipaksa untuk bekerja sama atau dia tidak diperkenankan pergi meninggalkan tempat itu!

“Losuhu, saya tidak ingin terlibat dalam pemberontakan! Tibet bukan negaraku dan saya tidak mempunyai urusan dalam pemberontakan. Saya hanya melaksanakan tugas untuk menyelidiki mengapa para pertapa di Himalaya dimusuhi oleh Dalai Lama.”

“Sie Liong!” Kim Sim Lama membentak, kini terdengar sangat marah. “Dengar baik-baik! Pinceng pernah menjadi wakil Dalai Lama, merupakan orang kedua setelah Dalai Lama yang berkuasa di negeri ini! Dan sekarang pinceng adalah seorang calon Dalai Lama atau pemilik Dalai Lama yang baru! Sekali aku memerintahkan, engkau akan mati!”

“Losuhu, mati hidup bukan di tangan siapa pun, melainkan di tangan Thian Yang Maha Kuasa! Apa bila Thian sudah menghendaki aku harus mati, maka tidak ada kekuasaan apa pun di dunia ini yang akan mampu mencegahnya, namun sebaliknya, kalau Thian menghendaki aku hidup, tidak ada kekuasaan pula yang akan mampu membunuhku. Mati hidup di tangan Thian, akan tetapi baik buruknya langkah hidup berada di tangan kita masing-masing. Oleh karena itu, aku tetap akan melangkah melalui jalan kebenaran dan aku menyerahkan jiwa ragaku kepada Thian. Aku tetap menolak untuk menjadi kaki tangan pemberontak, apa pun yang akan menjadi akibatnya!”

Semua pendeta Lama yang berada di situ, diam-diam merasa kagum. Bahkan Kim Sim Lama juga merasa kagum sekali. Pemuda ini, biar pun bongkok ternyata jiwanya tidak bongkok dan semangatnya tegak lurus. Akan tetapi, betapa pun kagum rasa hatinya, dia tidak rela membiarkan Sie Liong pergi karena tentu semua rahasia akan ketahuan dan mereka terancam bahaya serbuan Dalai Lama sehelum mereka kuat benar.

“Sie Liong, engkau masih amat muda, akan tetapi selain memiliki ketabahan besar, juga kesombongan yang berlebihan. Agaknya engkau terlalu mengandalkan kepandaianmu sendiri sehingga merasa bahwa di kolong langit ini tidak ada orang yang akan mampu mengalahkanmu. Nah, ingin sekali pinceng melihat sampai berapa hebat kepandaianmu maka engkau berani menentang kami! Thay Ku Lama, pinceng ingin melihat seorang di antara kalian mengujinya!” kata Kim Sim Lama.

Biasanya, apa bila menghadapi lawan berat, Tibet Ngo-houw tentu maju berlima. Akan tetapi kini yang mereka hadapi hanya seorang pemuda bongkok. Betapa pun lihainya, kalau mereka maju berlima mengeroyok seorang pemuda bongkok, hal ini tentu saja amat merendahkan nama besar mereka sebagai pembantu-pembantu utama Kim Sim Lama!

Bahkan Thay Ku Lama sendiri pun merasa sungkan kalau harus bertanding melawan pemuda bongkok itu. Karena itu, dia memberi isyarat kepada Thay Bo Lama, saudara termuda di antara mereka berlima, untuk maju menandingi Sie Liong.

Thay Bo Lama bertubuh kurus kering dan wataknya memang keras dan berangasan. Begitu menerima isyarat dari suheng-nya, dia sudah melompat ke depan menghadapi Sie Liong. Tangan kirinya sudah memegang sebatang tombak karena tadi dia sudah menyambar tombaknya yang dia letakkan di atas lantai di bawah meja.

Kini, dengan tombak berdiri di sebelah kirinya, tangan kanannya bergerak ke depan, lalu telunjuknya menuding ke arah muka Sie Liong.

“Orang muda sombong! Ketika masih kecil dahulu engkau sudah mengganggu kami, sekarang setelah dewasa, engkau masih datang mengganggu. Agaknya memang sudah kehendak Thian bahwa engkau akan mati di tanganku! Nah, sekarang engkau majulah, perlihatkan kepandaianmu kepada Thay Bo Lama!”

Sie Liong bersikap tenang. Dia sudah siap sedia menghadapi ancaman yang paling hebat karena dia maklum bahwa hanya dengan pertolongan Thian saja dia akan dapat lolos dari tempat ini, lolos dari ancaman bahaya maut.

“Thay Bo Lama, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapa pun juga di sini. Maka, tentu aku tidak akan menyerang siapa pun, dan hanya akan membela diri kalau aku diserang.”

“Sombong! Sambutlah serangan tombakku ini!”

Thay Bo Lama segera menggerakkan tombaknya. Terdengarlah suara bersiutan karena tombak itu bergerak dengan cepat dan kuat bukan main. Pada saat menyerang dengan tusukan, tombak itu meluncur bagaikan anak panah saja, menusuk ke arah dada Sie Liong!

Melihat gerakan Lama ini, Sie Liong dapat menduga bahwa lawannya yang kurus kering bagaikan cecak mati kering itu agaknya mempunyai tenaga yang sangat besar. Untuk meyakinkan dugaannya, dia pun segera mengerahkan tenaganya pada tongkat yang dipegangnya, lalu dengan tubuh miring dia menangkis dari samping.

“Traanggg...!”

Dugaan Sie Liong memang tepat. Walau pun lawannya itu kurus kering dan kelihatan lemah, namun ternyata di dalam lengan yang kecil dan hanya tulang terbungkus kulit itu terdapat tenaga raksasa yang mengejutkan.

Untung bahwa dia sudah menduga hal itu sebelumnya sehingga tidak merasa terkejut. Juga tidak sampai terpental karena dia pun sudah mengerahkan tenaganya pada waktu menyambut dengan tangkisan tadi.

Di lain pihak, Thay Bo Lama terkejut bukan main. Bocah bongkok itu mampu menangkis tombaknya, dan tongkat yang dipegang bocah itu tidak sampai terpental, apa lagi patah. Bahkan kedudukan kakinya sendiri yang menjadi goyah karena dia merasa seolah-olah tombaknya bertemu dengan pagoda baja yang amat kuatnya!

“Bagus! Bocah bongkok kiranya engkau telah mewarisi sedikit ilmu dari Pek Sim Siansu dan karenanya menjadi sombong! Akan tetapi awas, hari ini engkau akan mampus di tangan pinceng!” bentak Thay Bo Lama sambil melintangkan tombaknya di depan dada.

“Thay Bo Lama, ingatlah bahwa engkau yang memaksaku untuk berkelahi, bukan aku yang mencari permusuhan!” jawab Sie Liong dengan sikap yang amat tenang.

“Hyeeeehhhh... haittt...!”

Thay Bo Lama mengeluarkan teriakan keras, lengan kirinya membuat gerakan memutar di depan dada untuk mengumpulkan tenaga sakti yang dipusatkan pada kedua lengan. Kakek yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun ini ternyata memang masih amat kuat sehingga dari kedua lengannya itu timbul getaran melalui tombaknya dan kini tombak itu bagaikan hidup menyambar ke arah Sie Liong.

“Wuuuuuuutt... singgggg...!”

Ketika dielakkan, senjata itu menyambar-nyambar dan melakukan serangan bertubi-tubi yang selain mendatangkan sambaran angin yang amat kuat, juga mengeluarkan suara bersiutan dan berdesing.

Akan tetapi, tanpa terlalu sulit Sie Liong selalu dapat menghindarkan diri, menggunakan gerakan dua kakinya yang amat lincah untuk membuat tubuhnya selalu meliuk-liuk dan menyusup-nyusup di antara sinar tombak. Kadang-kadang tongkatnya menolak tombak dengan tangkisan yang demikian kuat sehingga beberapa kali tombak itu menyeleweng dan Thay Bo Lama sendiri terhuyung!

Sie Liong maklum bahwa dia berada di dalam bahaya, juga dalam keadaan serba salah. Kalau dia terlalu lama melayani Thay Bo Lama, tentu tenaganya akan terkuras karena di situ masih terdapat banyak lawan yang tentu akan maju satu demi satu. Sebaliknya, apa bila terlalu cepat dia mengalahkan Thay Bo Lama, hal ini hanya akan membuat mereka menjadi semakin penasaran dan marah kepadanya!

Jalan lari sudah tidak mungkin lagi sebab dia telah terperosok ke dalam sarang mereka. Tetapi bagaimana pun juga, dia harus menghadapi ancaman bahaya itu dengan gagah. Tiba-tiba dia mempercepat gerakan tongkatnya dan dia mainkan Thian-te Sin-tung pada bagian yang menekan dan menyerang.

Begitu Sie Liong mengubah gerakannya dan mulai menyerang, Thay Bo Lama terkejut. Dia melihat betapa tongkat di tangan lawannya seperti berubah menjadi banyak sekali. Sebagian menahan tombaknya, sebagian lagi menyerangnya seperti gelombang lautan yang menyerbu dirinya! Beberapa kali tubuhnya nyaris terpukul dan dia terus memutar tombak, melindungi tubuhnya sambil terdesak mundur. Padahal, belum ada tiga puluh jurus dia melawan!

Cepat dia mengerahkan tenaga sakti dan mulutnya berkemak-kemik. Sebagai jalan terakhir, dia hendak menggunakan kekuatan sihir untuk mengalahkan lawan yang masih muda itu.

“Hyaaaahh, orang muda berlututlah engkau!”

Namun, biar masih muda, Sie Liong adalah murid yang dikasihi dan digembleng oleh Pek Sim Siansu, maka tentu saja dirinya sudah ‘berisi’ dan segala macam kekuatan sihir tak akan mudah mempengaruhi batinnya yang sudah kuat. Dia merasakan getaran ilmu sihir itu, akan tetapi cepat Sie Liong mengerahkan sinkang melindungi dirinya dan sekali tongkatnya berkelebat, dua lutut kaki lawan telah dicium ujung tongkatnya.

Thay Bo Lama mengeluarkan seruan kaget pada saat dua kakinya mendadak menjadi lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi, dia pun sudah jatuh berlutut! Ternyata jeritannya yang mengandung perintah tadi langsung disusul dengan dirinya sendiri yang berlutut, bukan lawannya.

“Thay Bo Lama, tidak berani aku menerima penghormatan itu!” kata Sie Liong sambil melangkah mundur dan menghadap ke samping.

Sikap Sie Liong wajar dan sedikit pun tidak menunjukkan ejekan. Justru sikap ini yang membuat Thay Bo Lama menjadi malu dan marah bukan main. Setelah rasa kesemutan yang membuat kedua lututnya lumpuh tadi lenyap, dia pun bangkit berdiri dengan muka merah dan matanya mencorong memandang pemuda bongkok itu penuh kebencian.

“Hyaaattttt… ahhhh...!”

Tiba-tiba Thay Hok Lama, pendeta mata satu itu sudah menyerang Sie Liong dengan senjatanya yang amat ampuh, yaitu sebatang rantai baja yang panjang dan berat sekali. Rantai itu menyambar ganas ke arah kepala Sie Liong.

Semenjak dahulu Pendekar Bongkok sudah mengenal akan kelihaian Tibet Ngo-houw ini. Maka, melihat rantai menyambar ganas, dia pun merendahkan tubuhnya dan rantai itu lewat di atas kepalanya, kemudian dia pun melangkah maju mendekat.

Rantai itu panjangnya ada tiga meter sehingga kalau berkelahi jarak jauh, dia akan rugi. Rantai lawan dapat mencapai dirinya sedangkan tongkatnya yang hanya satu setengah meter panjangnya tidak akan dapat mencapai lawan.

Akan tetapi, Thay Hok Lama sudah cepat menyambutnya dengan dorongan tangan kiri yang terbuka. Ada angin yang berbau amis menyambar ke arah Sie Liong. Pemuda ini meloncat ke kiri, maklum bahwa itu adalah pukulan yang mengandung racun.

Memang, pendeta Lama yang matanya buta sebelah itu, selain amat lihai memainkan rantai bajanya yang panjang dan berat, juga terkenal mempunyai pukulan beracun, juga pandai mempergunakan racun sebagai senjata atau alat untuk mengalahkan lawannya.

Sambil melangkah maju, Sie Liong juga menggerakkan tongkatnya menusuk ke arah perut lawan baru ini. Namun tiba-tiba rantai baja itu ditekuk menjadi dua dan ternyata pendeta Lama itu sekarang memegang rantai di bagian tengah dan rantai yang tadinya tunggal dan panjang itu berubah menjadi dua rantai pendek karena dipegang bagian tengahnya!

Dua batang rantai itu berputar menangkis tongkat, bahkan dengan membalas serangan dari kanan kiri, dua helai rantai baja itu melakukan gerakan menggunting. Kembali Sie Liong melangkah ke belakang untuk menghindarkan diri dari guntingan sepasang rantai baja itu. Akan tetapi, dia mendengar angin bersiut ke arah kepalanya dari belakang.

Cepat Sie Liong merendahkan tubuh sambil memutar tongkat untuk menyambut orang yang menyerangnya dari belakang itu. Kiranya Thay Bo Lama yang telah menyerangnya secara curang sekali.

Thay Bo Lama yang tadi menghantamkan tombaknya ke arah kepala Sie Liong, malah kini berbalik diancam tongkat yang menusuk ke arah lambungnya dari samping. Cepat dia melempar tubuhnya mengelak, akan tetapi kaki Sie Liong menyambar dan dia pun terpelanting! Untung bahwa tendangan itu tidak mengenai dengan tepat sehingga tubuh Thay Bo Lama hanya terpelanting saja dan tidak terluka.

Pada saat itu, Thay Hok Lama sudah pula menyerang dengan rantai bajanya. Ketika Sie Liong menggerakkan tongkat menangkis, ujung rantai yang panjang itu melibat tongkat! Maksud Thay Hok Lama tentu saja untuk merampas tongkat. Dia membetot keras untuk membuat tongkat di tangan pemuda itu terlepas.

Akan tetapi Sie Liong mempertahankan dan dengan pengerahan sinkang-nya, dia pun membalas, menarik dan akibatnya, tubuh Thay Hok Lama melayang terbawa tarikan itu, melambung ke atas sehingga terpaksa Thay Hok Lama melepaskan belitan rantainya dan dia meloncat turun dengan muka berubah merah.

Melihat betapa dua orang rekan mereka masih terdesak oleh Pendekar Bongkok, Thay Ku Lama memberi isyarat kepada dua orang sute-nya, yaitu Thay Si Lama dan Thay Pek Lama. Tiga orang ini serentak berloncatan turun ke gelanggang dan mereka pun sudah menggerakkan senjata masing-masing melakukan pengepungan.

Thay Ku Lama yang bermuka codet dan berperut gendut itu telah memegang goloknya, Thay Si Lama yang bermuka bopeng mempergunakan senjata cambuknya, sedangkan Thay Pek Lama yang bermuka pucat memegang sepasang pedang! Lengkaplah kini Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet) mengepung Pandekar Bongkok Sie Liong!

Sie Liong tersenyum dan terbayanglah peristiwa beberapa tahun yang silam ketika dia masih kecil. Pada saat itu, dia pun melihat Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan tiga orang gurunya atau juga dapat disebut suheng-nya, yaitu Himalaya Sam Lojin.

Mereka adalah gurunya sebab dia menerima gemblengan silat pertama kali dari mereka bertiga. Akan tetapi mereka pun kakak-kakak seperguruannya karena dia adalah murid Pek Sim Siansu yang terhitung susiok (paman guru) dari Himalaya Sam Lojin.

Masih terbayang olehnya betapa Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan Himalaya Sam Lojin, lima orang melawan tiga orang! Suatu pertandingan yang amat hebat dan dahsyat dan dia masih ingat betapa Himalaya Sam Lojin terdesak oleh Tibet Ngo-houw yang lihai itu. Untung ketika itu muncul Pek Sim Siansu dan juga sute dari kakek sakti itu, Koay Tojin yang aneh sehingga Tibet Ngo-houw dapat dikalahkan dan diusir.

Dan kini, dia seorang diri harus menghadapi pengeroyokan lima orang Lama yang amat lihai itu! Namun, dia sudah menerima gemblengan lahir batin dari Pek Sim Siansu dan dia tidak merasa gentar sedikit pun juga.

“Hemm, aku datang mewakili para tosu yang dimusuhi hanya untuk minta keterangan mengapa mereka yang tidak berdosa itu dimusuhi. Ternyata sekarang Tibet Ngo-houw bahkan juga berusaha keras untuk mengeroyok aku! Apakah ini pun termasuk perintah dari Yang Mulia Dalai Lama? Ataukah nama beliau itu hanya kalian pergunakan untuk menjatuhkan nama Dalai Lama? Bukankah ini juga merupakan suatu muslihat dalam pemberontakan kalian terhadap Dalai Lama? Sungguh bagus sekali!” Sie Liong berkata. Karena maklum bahwa dia telah masuk sarang harimau dan tidak dapat mengharapkan lolos, maka dia pun tidak menyembunyikan perasaan dan dugaannya.

Ucapan ini membuat lima orang pendeta Lama itu saling pandang. Tentu saja mereka merasa betapa janggalnya dan memalukan keadaan mereka saat itu. Lima orang datuk besar persilatan yang namanya sudah menjulang tinggi, lima orang kakek sakti yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun dengan senjata-senjata pusaka andalan mereka di tangan, kini mengepung seorang pemuda yang cacat tubuhnya, bongkok dan hanya memegang senjata sebatang tongkat kayu pula!

Betapa memalukan keadaan ini. Akan tetapi mereka berada di sarang sendiri, tidak ada orang luar yang menyaksikan peristiwa memalukan itu. Yang hadir di situ hanyalah para rekan mereka, yaitu Kim Sim Lama, yang tentunya maklum bahwa mereka harus maju bersama menghadapi musuh yang demikian lihainya, meski pun masih amat muda dan bongkok pula.

Betapa pun juga, ucapan Sie Liong tadi menyentuh perasaan harga diri mereka dan kini mereka berdiri berjajar, tidak lagi mengepung. Hal ini mereka lakukan atas isyarat Thay Ku Lama, orang pertama di antara mereka.

Mereka hendak menggunakan tenaga gabungan mereka untuk mengalahkan Sie Liong sehingga tidak akan kelihatan terlalu mengepung dan mengeroyok pemuda itu! Mereka berdiri berjajar sambil bergandeng tangan. Thay Ku Lama menempatkan dirinya di ujung kanan sebagai kepala dan Thay Si Lama di sebelah kiri paling ujung sebagai ekor.

Mereka membentuk suatu barisan yang mereka ciptakan sendiri dan nama barisan ini adalah Siang-thouw-coa (Ular Berkepala Dua). Memang barisan atau ‘tin’ ini amat mirip dengan gerakan ular yang berkepala dua. Mereka berlima sambil bergandengan tangan menghadapi lawan dengan gerakan melingkar-lingkar dan meliuk-liuk dan yang menjadi penyerang utama hanyalah sang kepala dan sang ekor yang keduanya dapat berganti tempat. Jadi penyerang utama hanya Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, sedangkan tiga orang Lama yang lain, karena kedua tangan mereka bergandeng untuk menyambung barisan itu, hanya membantu dengan tendangan-tendangan saja.

Menghadapi lima orang lawan yang sudah menyimpan senjata masing-masing dan kini bergandeng tangan itu, Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama sakti yang amat berbahaya, lihai dan licik bukan main.

Oleh karena itu, dia pun menduga bahwa mereka tentu akan menggunakan suatu cara penyerangan yang istimewa. Melihat cara mereka bergandengan tangan, dia pun dapat menduga bahwa ini tentulah semacam tin (barisan) dan cara bergandengan tangan itu menunjukkan bahwa mereka berlima tentu akan menyatukan tenaga sinkang mereka.

Ini berbahaya bukan main. Menghadapi mereka itu satu lawan satu, mungkin dia masih dapat menandingi kekuatan sinkang mereka, bahkan mengatasi mereka. Akan tetapi kalau tenaga sinkang mereka berlima disatukan, dia harus berhati-hati sekali, terutama kalau hendak mengadu tangan!

“Sie Liong, bocah sombong! Hendak kami lihat apakah engkau mampu menandingi barisan kami!” teriak Thay Ku Lama.

Barisan lima orang ini mulai bergerak, melenggang-lenggok dan bagaikan ular berjalan mengelilingi Sie Liong! Thay Ku Lama berada paling depan sebagai kepala dan Thay Si Lama paling belakang sebagai ekor. Melihat kelima orang pendeta Lama ini berjalan beriringan sambil bergandeng tangan seperti itu, sungguh merupakan penglihatan yang aneh dan lucu, seperti melihat lima orang anak kecil bermain-main saja.

Akan tetapi Sie Liong sama sekali tidak menganggapnya demikian. Dia tetap waspada, tetap melintangkan tongkatnya di depan dada dan pandang matanya, juga pendengaran telinganya, tidak pernah melepaskan gerakan lima orang lawan itu.

Pada waktu lima orang itu bergerak mengelilinginya, dia tidak ikut memutar-mutar tubuh, hanya lehernya saja yang bergerak perlahan mengikuti mereka. Setelah mereka tiba di belakang tubuhnya, dia pun memutar leher dari arah lain dan mengikuti gerakan mereka lagi hanya dengan menggerakkan leher. Tidak pernah dia menggeser kaki yang selalu siap bergerak dengan sikap bertahan dan menjaga diri.

Pancingan pertama ini saja sudah tidak berhasil. Tadinya, Siang-thouw Coa-tin (Barisan Ular Kepala Dua) ini mengelilingi lawan memancing agar lawan ikut pula berputar. Kalau lawan melakukan ini, mereka akan berlari makin cepat mengelilinginya, memaksa lawan berputar demikian cepat dan dengan mengubah-ubah arah, berbalik-balik, maka lawan yang berputaran dalam lingkaran mereka tentu akan menjadi bingung dan juga pening sehingga kedudukannya menjadi lemah.

Akan tetapi, Pendekar Bongkok itu tidak mau memutar tubuh, hanya mengikuti gerakan mereka dengan leher saja. Kalau dilanjutkan seperti itu, bukan Pendekar Bongkok yang menjadi bingung, pening dan lelah, melainkan mereka sendiri.

Gerakan Siang-thouw Coa-tin itu kini berubah. Mereka masih mengitari Sie Liong, akan tetapi sekarang berganti arah, yang tadinya ekor menjadi kepala dan kepala menjadi ekor. Perubahan arah gerakan semacam ini dilakukan lagi beberapa kali.

Kemudian, atas isyarat Thay Ku Lama yang melihat pemuda itu tidak terpancing dan tetap tenang saja, Thay Si Lama lalu melakukan penyerangan pertama. Tangan kirinya bergandengan dengan tangan Thay Pek Lama, maka kini dia mempergunakan tangan kanan untuk menghantam ke arah kepala Sie Liong.

“Wuuuuuuttt...!”

Sie Liong cepat mengelak karena dia merasa betapa pukulan itu mengandung angin pukulan yang amat dahsyat. Pada waktu pukulan itu melewati atas kepalanya, tiba-tiba barisan itu membalik dan kini ‘ekornya’, yaitu Thay Ku Lama sudah berganti kedudukan menjadi kepala dan tangan kiri orang pertama dari Tibet Ngo-houw ini tahu-tahu sudah mencengkeram ke arah dada Sie Liong!

Cepat dan tidak terduga sekali gerakan ini sehingga Sie Liong terkejut. Dia pun cepat membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik.

“Brettt...!”

Ujung baju di dada Sie Liong tersentuh cengkeraman tangan kiri Thay Ku Lama dan terbukalah lubang di baju bagian dada itu, dan bekas robekan itu menjadi hangus!

Sambil melompat menjauhi, Sie Liong makin yakin bahwa dugaannya benar. Lima orang itu sedang menyatukan tenaga sinkang sehingga dia seolah menghadapi seorang lawan yang memiliki kekuatan sinkang yang amat hebat.

Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berpikir banyak karena pada saat itu pula, Siang-thouw Coa-tin sudah bergerak lagi, dengan dahsyat dan cepatnya, juga dengan cara yang aneh dan tidak dapat diduga sebelumnya, menyerangnya dengan hantaman-hantaman tangan yang mengandung sinkang amat kuat. Sukar diduga siapa yang akan menyerangnya, Thay Ku Lama ataukah Thay Si Lama.

Namun Sie Liong sudah cepat-cepat menggunakan langkah-langkah ajaib yang dahulu pernah dilatihnya dari Pek Sim Siansu. Langkah-langkah yang menjadi dasar Thian-te Sin-tung dan yang membuat tubuhnya berkelebatan bagaikan bayang-bayang saja. Biar pun dia terdesak hebat, akan tetapi sampai belasan jurus lamanya, belum pernah ada pukulan lawan yang mampu menyerempetnya lagi.

Setelah dua puluh jurus dia selalu mengelak sambil memperhatikan gerakan barisan lima orang itu, akhirnya dia pun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Ular Kepala Dua adalah karena dua orang yang berada di kedua ujung itulah yang menyerangnya secara bergantian, dan mereka itulah kepala dan ekor, akan tetapi ekor dapat pula menjadi kepala dan sebaliknya. Justru perubahan tiba-tiba inilah yang membingungkan lawan.

Dan dia pun melihat betapa tiga orang pendeta Lama lainnya yang menjadi penghubung dan penyalur tenaga sinkang yang disatukan, tidak mampu banyak berbuat sebagai penyerang karena kedua tangan mereka saling gandeng. Hanya kadang-kadang saja tiga orang ini membantu dengan tendangan kaki. Akan tetapi karena tubuh mereka tidak bebas, sebab dengan kedua tangan saling bergandengan itu mereka seperti terikat oleh barisan, maka tendangan mereka itu pun tidak banyak artinya bagi Sie Liong.

Dan pemuda yang cerdik ini pun menemukan suatu kenyataan yang memberi harapan, yaitu bahwa pada bagian ‘tubuh’ atau tengah yang dimainkan tiga orang inilah bagian barisan itu yang paling lemah!

“Yaaaaattt...!”

Thay Ku Lama sudah menyerang lagi dengan hantaman telapak tangan terbuka ke arah dada Sie Liong ketika pemuda itu membalik dari elakan serangan sebelumnya. Bukan main kerasnya angin pukulan itu.

Sie Liong yang sudah membuat perhitungan matang, lalu menggerakkan kedua tangan pula untuk menyambut pukulan itu dari jarak sekitar dua meter. Tentu saja dia tak berani menyambut secara langsung, maklum betapa hebat tenaga sinkang yang mendorong pukulan itu.

Akan tetapi dalam jarak dua meter, dia pun berani mengambil resiko karena tidak terlalu berbahaya. Dia juga mengerahkan sinkang yang lemas, tak mau mengadu keras lawan keras karena tenaga sinkangnya jelas kalah jauh kalau dibandingkan tenaga lawan yang disatukan itu.

“Desss...!”

Dua pasang tangan itu tidak sampai bertemu, tidak saling sentuh, akan tetapi tenaga sinkang yang menyambar bagai kekuatan dahsyat itu telah saling bertemu dan saling bertumbuk di udara. Akibatnya hebat bukan main.

Sie Liong merasa seperti didorong oleh angin taupan dan dia pun terlempar! Namun, dia telah memperhitungkan sehingga dia membiarkan dirinya terjatuh ke atas tanah lalu dia bergulingan. Dengan cepat tubuhnya berguling-guling ke sana-sini hingga mematahkan tenaga luncuran sambil memperhatikan keadaan barisan lawan.

Seperti yang diduganya, lima orang Tibet Ngo-houw itu mengira bahwa dia tentu terluka. Mereka itu sudah datang menghampiri dengan cepat, dengan gerakan lenggak-lenggok seperti seekor ular.

Tiba-tiba Sie Liong yang bergulingan itu tubuhnya melambat, dan setelah cukup dekat, dia meloncat dan mengeluarkan suara melengking nyaring. Tongkatnya bergerak-gerak sehingga ujungnya nampak menjadi banyak dan diseranglah tiga orang yang berada di tengah-tengah!

Serangan yang tiba-tiba ini membuat Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang berada di tengah-tengah terkejut bukan main. Juga Thay Ku Lama dan Thay Si Lama yang menjadi kepala dan ekor barisan itu sangat terkejut. Mereka tadi salah perhitungan. Mereka mengira bahwa Sie Liong terluka.

Sungguh tak mereka sangka kini pemuda itu bahkan menyerang dengan hebat ke arah bagian barisan yang lemah. Tiga orang sute mereka itu hanya dapat membantu dengan penyaluran tenaga, sama sekali tidak dapat menangkis atau mengelak karena mereka itu seperti terkait dan terjepit! Padahal, serangan tongkat di tangan pemuda bongkok itu dahsyat bukan main karena dia memainkan jurus-jurus Thian-te Sin-tung!

“Lepaskan ikatan!” bentak Thay Ku Lama pada saat melihat betapa tiga orang sute-nya terancam bahaya maut oleh tongkat kayu yang digerakkan secara lihai sekali itu.

Terlepaslah tangan mereka yang bergandengan dan kini tiga orang pendeta Lama yang diserang itu dapat menggunakan kaki tangan mereka untuk membela diri. Mereka pun segera bergerak, ada yang mengelak dan ada juga yang menangkis. Namun, gerakan mereka melepaskan diri dari ikatan barisan tadi terlambat sedikit.

Akibatnya, Thay Pek Lama terjengkang dengan pundaknya tertotok ujung tongkat. Thay Hok Lama juga terpelanting akibat kakinya menjadi lumpuh sebelah ketika ujung tongkat singgah di lutut kirinya. Sedangkan Thay Bo Lama terhuyung ke belakang, dada kirinya kena didorong tangan kanan Sie Liong sehingga terasa napasnya sesak dan dadanya nyeri.

Masih untung bagi tiga orang pendeta Lama itu bahwa Sie Liong hanya berniat untuk menghancurkan Siang-thouw Coa-tin itu saja, tidak berniat membunuh sehingga baik tongkat mau pun tangan kirinya, menyerang dengan tenaga yang terbatas. Bagaimana pun juga, jelas bahwa barisan itu dapat dia pecahkan dan kini lima orang pendeta Lama itu berdiri dengan muka berubah merah karena malu dan marah.

Tiga orang pendeta Lama yang tadi terkena serangan, juga sudah dapat memulihkan tenaga. Mereka sudah menyambar senjata masing-masing, seperti juga yang dilakukan Thay Ku Lama dan Thay Si Lama!

Melihat ini, Sie Liong menjura. “Apakah ucapan Tibet Ngo-houw tidak dapat dipercaya lagi? Aku sudah menandingi barisanmu dan berhasil memecahkannya, mengapa kalian malah mengeluarkan senjata?”

“Pendekar Bongkok, apakah engkau takut?” Thay Ku Lama bertanya dengan suara mengejek, juga empat orang sute-nya mengeluarkan suara mengejek, semua ini tentu saja untuk menghibur atau menutupi kekalahannya tadi yang membuat mereka merasa malu, penasaran dan marah.

Mendengar ini, mendadak saja Sie Liong menekuk punggungnya yang bongkok itu ke belakang. Dia menengadah, memandang langit-langit ruangan yang luas itu dan dia pun mengeluarkan suara tawa yang membuat semua orang di situ terkejut dan tercengang. Suara ketawa itu amat nyaring melengking, akan tetapi juga bergelak dan bergemuruh bagai gelombang, mendatangkan getaran dahsyat yang seolah-olah akan meruntuhkan bangunan ruangan itu!

Bahkan Kim Sim Lama sendiri memandang dengan kagum. Belum pernah selamanya dia bertemu dengan seorang pemuda seperti ini, yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali! Bukan hanya hebat ilmu kepandaiannya, akan tetapi juga luar biasa sekali tabah dan beraninya! Seorang diri memasuki sarangnya, bahkan menyambut tantangan Tibet Ngo-houw! Sungguh hampir tak masuk akal dan sukar dipercaya!

Kehebatan Sie Liong ini saja sudah mendatangkan perasaan sayang di dalam hatinya. Betapa akan senangnya jika dia dapat mempunyai seorang pendukung atau pembantu seperti pemuda bongkok itu!

“Ha-ha-ha-ha!” Sie Liong menghentikan tawanya yang bergelombang dan bergemuruh tadi, kemudian menudingkan tongkatnya ke arah muka Tibet Ngo-houw dan suaranya terdengar tidak seperti tadi, lemah lembut, melainkan tegas dan berani penuh kekuatan dan kegagahan.

“Tibet Ngo-houw, bukan aku yang takut, melainkan kalian! Buktinya kalian mengeroyok aku! Seorang seperti aku ini, apa artinya takut? Aku seorang sebatang kara yang tidak memiliki apa-apa, tubuh pun cacat, dan kematian bagiku hanya kembali ke tempat yang jauh lebih baik dari pada di dunia yang penuh kekotoran dan manusia busuk macam kalian ini! Bagiku, yang ada hanyalah berpegang kepada kebenaran dan keadilan. Demi kebenaran dan keadilan, mati pun tidak apa-apa! Kematian hanya pulang dan kembali kepada sumber kebenaran dan keadilan! Sebaliknya, kalian ini walau pun berpakaian pendeta, tapi selalu menuruti nafsu angkara murka, menjadi setan sehingga kalian takut mati, karena kematian kalian akan menyeret kalian kepada kerajaan setan dan iblis!”

Seperti juga suara ketawanya tadi, kini ucapannya itu membuat banyak orang di situ merasa panas dingin dan bulu tengkuk mereka meremang.

Akan tetapi, Tibet Ngo-houw yang sudah merasa sangat malu dan penasaran, tidak mempedulikan semua itu. Atas isyarat Thay Ku Lama, mereka sudah kembali bergerak mengepung dengan senjata masing-masing di tangan.


BERSAMBUNG KE PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 14


Thanks for reading Pendekar Bongkok Bagian 13 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »