Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 10

Akan tetapi Thai Yang Suhu memberi isyarat agar supaya para pembantunya itu jangan bergerak dulu. Lalu dia merogoh sesuatu dari dalam saku jubahnya, melontarkan benda sebesar kepalan tangan ke atas, ke arah Pendekar Bongkok sambil membentak lebih dulu dengan suara parau.

“Orang she Sie, lihat apakah engkau mampu menandingi seekor naga berapi!”

Sungguh hebat! Benda yang dilontarkan tadi seketika berubah menjadi asap hitam dan dari dalam asap hitam itu muncullah seekor naga menyemburkan api, bahkan tubuhnya juga bernyala. Naga itu terbang ke atas lalu dari atas menyambar turun ke arah tubuh Sie Liong.

Namun, Pendekar Bongkok ini yang tadinya juga terkejut, cepat menahan napas dan mengerahkan tenaga khikang. Dia lalu mengangkat tangan kirinya ke atas, dan dengan pengerahan sinkang Pek-in Sin-ciang yang membuat tangan kiri itu mengeluarkan uap putih, mendorong ke arah naga api.

Terdengar suara keras dan naga itu pun lenyap, dan nampak benda sekepal tadi runtuh ke depan kaki Thai Yang Suhu. Ternyata benda itu adalah sebuah tengkorak manusia yang amat kecil, seperti tengkorak bayi saja!

Thai Yang Suhu terbelalak, menyambar benda itu dan mengantunginya lagi, akan tetapi pada saat dia mengambil benda itu, tengkorak kecil itu lantas hancur berkeping-keping. Ternyata benda yang tadi berubah menjadi naga itu tidak kuat menahan pukulan jarak jauh Pendekar Bongkok dan sudah retak-retak, maka ketika dipungut oleh pemiliknya, langsung menjadi hancur berantakan.

Thai Yang Suhu mengeluarkan teriakan marah dan dia pun menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang dahsyat ke arah Pendekar Bongkok. Pada saat itu Pek Lan juga menggerakkan pedangnya, berbarengan dengan Tibet Sam Sin-to yang sudah pula ikut menggerakkan golok mereka.

Sie Liong mengeluarkan teriakan melengking dan menggerakkan ranting di tangannya. Sekali ia memutar ranting itu, nampak banyak sekali sinar hijau beterbangan menyerang ke arah lima orang pengeroyoknya!

Lima orang yang sudah siap menyerang itu, bahkan sudah menggerakkan senjata, amat terkejut ketika tiba-tiba saja melihat sinar-sinar hijau menyambar ke arah mereka. Cepat mereka menggerakkan senjata yang diputar di depan tubuh untuk menangkis. Mereka mengira bahwa Pendekar Bongkok mempergunakan senjata rahasia.

Ketika sinar-sinar hijau itu runtuh, ternyata ‘senjata rahasia’ itu adalah daun-daun yang tadi menempel pada ranting. Kini di tangan Pendekar Bongkok hanya tinggal sebatang tongkat.

Melihat betapa pemuda bongkok itu dapat mempergunakan daun-daun sebagai senjata rahasia yang mereka rasakan sangat kuat dan berbahaya, lima orang itu terkejut dan makin maklum bahwa Pendekar Bongkok ini, biar pun masih muda dan cacat tubuhnya, ternyata benar-benar mempunyai kesaktian. Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka pun segera mengepung dan mengeroyok!

Menghadapi pengeroyokan lima orang yang semuanya memiliki kepandaian tinggi, Sie Liong lalu memutar tongkatnya dan ia pun telah memainkan Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi). Ilmu ini adalah ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Pek-sim Siansu. Suatu ilmu yang dahsyat bukan main.

Ketika senjata yang hanya merupakan sebatang ranting yang menjadi tongkat itu diputar oleh Sie Liong, maka angin pun menyambar-nyambar begitu dahsyat bagaikan badai, sehingga nampak gulungan sinar hijau yang amat panjang. Dari gulungan sinar hijau itu mencuat ujung-ujung tongkat yang cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar ke arah lima orang pengeroyoknya.

Sekarang tahulah Thai Yang Suhu mengapa Pek Lan kewalahan menghadapi pemuda bongkok ini. Kiranya Pendekar Bongkok ini memang memiliki kepandaian yang sangat hebat! Walau pun dia sendiri maju, dibantu pula oleh Pek Lan dan tiga orang Tibet Sam Sin-to, tetap saja mereka berlima sama sekali tidak mampu mendesak, bahkan mereka yang kewalahan menghadapi tongkat sederhana yang dimainkan secara luar biasa itu.

Tongkat di tangan Pendekar Bongkok itu selain luar biasa cepatnya, juga mengandung tenaga kasar dan halus yang bekerja secara bergantian. Setiap gerakan ujung tongkat itu mengeluarkan suara bersiutan di antara angin yang kuat sekali.

Thai Yang suhu adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw yang kedudukannya sudah tinggi. Dia memiliki ilmu pedang yang sangat lihai di samping ilmu sihirnya, dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menandingi ilmu sepasang pedangnya. Kini, karena mengeroyok, tentu saja dia tidak dapat memainkan sepasang pedangnya dengan leluasa. Maka, dia pun membentak agar para pembantunya minggir.

“Minggir semua, biar pinceng sendiri yang menghadapi Pendekar Bongkok!” bentaknya.

Mendengar ini, Pek Lan dan Tibet Sam Sin-to lalu berloncatan keluar dari gelanggang pertempuran sehingga pendeta gundul tinggi besar itu kini sendirian saja berhadapan dengan Sie Liong. Sie Liong juga menghentikan gerakan tongkatnya dan berdiri tegak menghadapi pendeta itu sambil memandang tajam.

“Thai Yang Suhu, tadi sudah kukatakan bahwa aku tak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga. Yang kutentang adalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Oleh karena itu, jika kalian membebaskan gadis-gadis yang sudah kalian tawan dan mereka dalam keadaan selamat dan tidak terganggu, maka aku pun akan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing dan tidak akan memusuhi kalian, asal saja kalian juga tidak mengulang perbuatan jahat itu.”

“Pendekar Bongkok, apa kau kira pinceng takut kepadamu? Pinceng sengaja menyuruh kawan-kawan pinceng minggir supaya pinceng dapat menghadapimu dengan leluasa. Akan tetapi, katakanlah dulu siapa guru-gurumu agar pinceng tahu siapa yang pinceng lawan!”

“Hemmm, Thai Yang Suhu, ketahuilah bahwa guru-guruku adalah Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Siansu,” jawab Sie Liong sejujurnya.

“Wah! Kiranya murid para tosu pelarian dari Himalaya!” seorang di antara Tibet Sam Sin-to berseru. Sebagai tokoh-tokoh Tibet, tentu saja mereka mendengar akan hal itu.

Juga Thai Yang Suhu sudah pernah mendengar nama-nama yang disebutkan Pendekar Bongkok. Nama Himalaya Sam Lojin tidak mengejutkan hatinya karena kepandaian tiga orang kakek dari Himalaya itu tidak lebih dari tingkatnya sendiri. Akan tetapi disebutnya Pek-sim Siansu membuat dia terkejut.

Pantas saja pemuda bongkok ini tidak hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga mampu menangkis ilmu sihirnya, bahkan sudah menghancurkan jimatnya, yaitu tengkorak kecil tadi. Bagaimana pun juga, Thai Yang Suhu yang terlalu mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri, tidak merasa jeri.

“Bagus, sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!” Sambil berkata demikian, tokoh Pek-lian-kauw itu menodongkan pedang di tangan kirinya ke arah Sie Liong.

Pendekar Bongkok bersikap waspada karena dia sudah mendengar akan kecurangan para tokoh Pek-lian-kauw. Begitu dari gagang pedang itu menyambar sinar-sinar hitam yang lembut, dia sudah cepat memutar tongkatnya sehingga semua jarum hitam yang meluncur keluar dari gagang pedang itu runtuh.

“Pendeta palsu yang licik dan curang!” bentak Sie Liong.

Dia pun membalas dengan serangan tongkatnya yang menyambar dengan dahsyat dari kanan ke kiri, mengarah pada pinggang lawan. Thai Yang Suhu meloncat ke belakang, pedang kanannya menyambar dari atas ke kepala Sie Liong sedangkan pedang kirinya menangkis ujung tongkat. Sie Liong mengelak dan memutar tongkat, membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya.

Maka terjadilah perkelahian yang sangat seru dan mati-matian. Sepasang pedang yang dimainkan oleh Thai Yang Suhu menyambar-nyambar, berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Akan tetapi dua gulungan sinar itu sering kali goyah dan patah oleh sinar tongkat yang kehijauan, yang bergulung panjang bagaikan seekor naga hijau yang bermain di angkasa.

Ilmu tongkat Thian-te sin-tung yang dimainkan Pendekar Bongkok adalah ilmu tingkat tinggi yang tidak mampu dilawan oleh ilmu pedang pasangan yang dimainkan pendeta Pek-lian-kauw itu. Lagi pula, gerakan pendeta itu kalah cepat dibandingkan Sie Liong, bahkan dalam hal tenaga sinkang, pendeta itu juga kalah kuat.

Kelebihan Thai Yang Suhu hanyalah pada pengalaman bertanding saja. Di samping itu, Sie Liong bersikap hati-hati sekali, karena dia tahu bahwa lengah sedikit saja dia dapat celaka di tangan lawan yang licik dan curang ini. Kehati-hatian inilah yang membuat Sie Liong tidak berani terlalu mendesak sehingga membuat lawannya mampu mengadakan perlawanan yang cukup seru dan perkelahian itu nampaknya seru dan ramai.

Betapa pun juga, Pek Lan dan Tibet Sam Sin-to yang sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, mampu mengikuti jalannya pertandingan. Mereka tahu bahwa kalau tidak dibantu, akan sulit sekali bagi Thai Yang Suhu untuk bisa mengalahkan Pendekar Bongkok.

Oleh karena itu Pek Lan memberi isyarat kepada tiga orang jagoan Tibet itu dan mereka berempat langsung berloncatan memasuki gelangang perkelahian dan mengeroyok lagi. Sekali ini, Thai Yang Suhu diam saja karena dia pun mengerti bahwa kalau dia nekat melawan sendiri, jelas bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Pendekar Bongkok.

Di lain pihak, Sie Liong sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengeroyokan lima orang itu. Bahkan dia dapat mainkan tongkatnya lebih leluasa lagi. Dia tahu bahwa di antara para pengeroyoknya, yang amat lihai adalah Thai Yang Suhu dan Pek Lan.

Akan tetapi karena di situ terdapat tiga orang Tibet Sam Sin-to, maka permainan kedua orang lawan lihai ini bahkan menjadi terhalang. Mereka berdua itu tak dapat menyerang sepenuhnya, terhalang oleh gerakan tiga orang jagoan Tibet itu.

Hal ini membuat gerakan Sie Liong semakin hebat. Dia pun tidak takut lagi bahwa dua orang lawan yang curang itu akan dapat mempergunakan senjata rahasia, mengingat bahwa di situ terdapat pula Tibet Sam Sin-to yang ikut mengeroyok sehingga kalau ada yang mempergunakan senjata rahasia, hal itu dapat membahayakan kawan sendiri.

Akan tetapi hal ini, hal yang sama sekali tak disangkanya, ternyata memang benar telah terjadi. Dan kesalahannya memperkirakan ini akhirnya harus makan korban!

Ketika itu, ia merasakan betapa yang sungguh berbahaya di antara serangan lima orang itu adalah serangan Pek Lan, wanita cantik yang pernah dilawannya sebagai siluman merah itu. Pedang wanita itu menyambar-nyambar ganas, dibantu pula oleh dorongan tangan kirinya yang melakukan pukulan atau tamparan Hek-in Tok-ciang sehingga dari telapak tangan kirinya itu keluar uap hitam.

Oleh karena itu, dia berpikir untuk lebih dulu melumpuhkan perlawanan wanita ini. Dia memutar tongkatnya secara aneh dan segera mengerahkan daya serangan tongkatnya kepada Pek Lan.

“Trang...! Trangggg...!”

Bunga api berpijar ketika dua kali pedang di tangan Pek Lan bertemu dengan ujung tongkat yang mendesaknya.

“Ihhhhh...!”

Pek Lan mengeluarkan seruan kaget dan marah karena tenaga yang keluar dari tongkat itu sedemikian kuatnya sehingga ia terdorong ke belakang dan tangan yang memegang pedang tergetar hebat, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan. Untung bahwa Thai Yang Suhu segera menghujani Pendekar Bongkok dengan serangannya sehingga dalam keadaan terhuyung itu Pek Lan tidak didesak terus. Hal ini membuat Pek Lan marah sekali.

Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika tangan kirinya bergerak, belasan jarum-jarum hitam beracun telah menyambar ke arah tubuh Pendekar Bongkok! Jarum-jarum itu dilepas dari jarak dekat, juga disambitkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena Pek Lan sedang marah, maka tentu saja luar biasa berbahaya bagi Pendekar Bongkok!

Akan tetapi, dia memang selalu waspada dan melihat sinar lembut yang banyak itu, dia pun maklum bahwa Pek Lan mempergunakan senjata rahasia. Maka dia cepat memutar tongkatnya sehingga tongkat itu membentuk bayangan seperti payung yang melindungi tubuhnya.

Ketika jarum-jarum itu bertemu dengan sinar tongkat, runtuhlah jarum-jarum itu, akan tetapi ada beberapa batang yang terpental ke kanan kiri. Terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan dua orang di antara tiga Tibet Sam Sin-to roboh!

Tentu saja hal ini sangat mengejutkan para pengeroyok. Kiranya, di antara jarum hitam beracun yang terpental, ada beberapa batang yang mengenai dua orang itu! Racun yang dikandung jarum-jarum itu memang jahat sekali. Dua orang itu sudah berkelojotan sekarat!

Tentu saja Pek Lan tak mungkin sempat melakukan pemeriksaan untuk dapat memberi pengobatannya, bahkan dia pun sama sekali tidak memusingkan keadaan kedua orang rekan ini. Hal itu bahkan membuat ia menjadi makin marah kepada Pendekar Bongkok sehingga kini ia menyerang lagi mati-matian dengan pedangnya. Namun, mengeroyok lima saja tidak dapat mendesak Pendekar Bongkok, apa lagi kini berkurang dua.

Gerakan tongkat di tangan Pendekar Bongkok menjadi semakin dahsyat. Ketika salah seorang di antara Tibet Sam Sin-to yang masih hidup serta merasa berduka dan marah karena kematian dua orang saudaranya itu menyerangkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, Pendekar Bongkok sengaja memapaki golok itu dengan tongkatnya, juga sambil mengerahkan tenaganya.

“Trakkk...!”

Golok itu patah dan terlepas. Sebuah tendangan kaki Pendekar Bongkok masih sempat dielakkan oleh orang itu, namun sambaran ujung tongkat tidak dapat dia hindarkan.

“Bukkk!”

Orang itu terjungkal dan pingsan karena punggungnya terkena gebukan tongkat dari samping.

Kini Pek Lan dan Thai Yang Suhu terkejut bukan main, juga mulai merasa jeri. Pada saat itu terdengarlah sorak sorai gemuruh. Ketika tiga orang yang sedang berkelahi itu mendengar suara ini, mereka semua berloncatan ke belakang dan memandang ke arah bawah.

Nampaklah puluhan orang, bahkan ada kurang lebih seratus orang penduduk yang memegang segala macam senjata, sedang berlarian mendaki Bukit Onta dengan sikap penuh ancaman!

Melihat keberanian para penduduk ini, tentu saja Pendekar Bongkok menjadi girang. Dia sudah berhasil membangkitkan semangat para penduduk itu yang sekarang agaknya berbondong-bondong naik ke bukit itu untuk membasmi siluman! Sebaliknya, Thai Yang Suhu dan Pek Lan makin gelisah.

“Pek Lan, mari kita pergi!” kata Thai Yang Suhu. Tanpa diperintah dua kali, Pek Lan meloncat bersama Thai Yang Suhu.

“Hemm, kalian hendak lari ke mana?” Pendekar Bongkok membentak dan dia pun cepat meloncat untuk melakukan pengejaran.

Akan tetapi, tiba-tiba Thai Yang Suhu melontarkan sesuatu ke atas tanah dan terdengar ledakan keras disusul mengepulnya asap hitam yang tebal. Khawatir kalau-kalau asap itu beracun, tentu saja Sie Liong segera menjauhkan diri, bermaksud mengejar dengan mengambil jalan memutar. Akan tetapi setelah dia tiba di belakang asap hitam, dua orang itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Dia lalu kembali ke tempat tadi, melihat betapa orang ke tiga dari Tibet Sam Sin-to telah siuman dan kini bangkit sambil mengeluh.

Melihat Pendekar Bongkok datang kembali, dia terkejut, meloncat akan tetapi roboh lagi sambil mengerang kesakitan. Wajahnya nampak ketakutan dan orang tinggi besar itu segera menjatuhkan diri, berlutut menghadap Pendekar Bongkok.

“Taihiap (pendekar besar), ampunilah aku...”

Pendekar Bongkok adalah seorang yang berhati lembut. Dia tidak pernah membenci orang, betapa pun jahatnya orang itu. Yang ditentangnya adalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Dari gemblengan yang didapatnya dari Pek-sim Siansu, ia tahu bahwa orang yang melakukan perbuatan jahat adalah orang yang sedang sakit batinnya. Batin yang sakit itulah yang mendorongnya melakukan perbuatan jahat. Jika batinnya telah sembuh tentu dia tidak akan melakukan perbuatan jahat.

Maka, melihat betapa salah seorang di antara Tibet Sam Sin-to itu minta ampun, dia mengangguk. “Siapa namamu?”

“Namaku Coa Kiu, taihiap. Mereka ini adalah kakakku dan adikku, maka ijinkanlah aku membawa mayat mereka agar dapat kukuburkan dengan pantas.”

“Nanti dulu, aku ingin bertanya. Di mana adanya gadis-gadis yang diculik itu dan kenapa mereka diculik?”

“Itu adalah kehendak Thai Yang Suhu yang sedang mengumpulkan lima belas orang gadis untuk dijadikan pelayan di Pek-lian-kauw. Kami hanya membantunya. Gadis-gadis itu semua dalam keadaan selamat, berada di rumah itu. Mereka tidak diganggu karena memang hendak diangkut dan diserahkan kepada ketua Pek-lian-kauw.”

Pendekar Bongkok mengangguk, hatinya merasa lega. Orang ini jelas tidak akan berani berbohong.

“Ada satu pertanyaan lagi. Engkau memakai julukan Tibet Sam Sin-to, tentu merupakan tokoh Tibet. Aku ingin sekali tahu tentang mereka yang disebut Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu lima orang pendeta Lama dari Tibet. Di mana mereka sekarang dan apa kedudukan mereka?”

Mendengar disebutnya Lima Harimau Tibet, Coa Kiu terkejut dan kelihatan ketakutan. “Tidak, taihiap... aku tidak mempunyai hubungan apa pun dengan mereka. Sama sekali tidak mempunyai hubungan...!”

Pendekar Bongkok mengerutkan alisnya. Sikap itu sungguh menarik sekali.

“Aku tidak menuduhmu memiliki hubungan, hanya ingin mendapat keterangan darimu tentang diri mereka.”

Barulah Coa Kiu kelihatan lega. “Mereka adalah tokoh-tokoh paling ditakuti di Tibet, dan kini mereka menjadi pendukung-pendukung utama dari Kim Sim Lama, pendeta tingkat tinggi yang memberontak karena hendak merampas kedudukan Dalai Lama.”

“Pemberontak? Ahh, di mana kini mereka itu?”

“Mereka di sekitar telaga Yam-so di sebelah selatan Lasha. Lima Harimau Tibet menjadi pendukung. Bahkan lima orang tokoh itulah yang sebenarnya menjadi pelopor karena tanpa adanya mereka, tentu Kim Sim Lama tidak mampu berbuat sesuatu.”

Pendekar Bongkok mengangguk-angguk. Pada waktu itu, para penduduk dusun sudah datang semakin dekat dan Coa Kiu nampak gelisah. Maka dia lalu menyuruh orang itu membawa jenazah dua orang saudaranya dan melarikan diri ke jurusan lain. Coa Kiu mengucapkan terima kasih dan memanggul jenazah kakaknya dan adiknya, pergi dari situ sambil terhuyung.

Pendekar Bongkok tidak menanti datangnya orang-orang dusun, melainkan cepat dia lari ke arah rumah yang menjadi tempat tinggal Thai Yang Suhu dan teman-temannya.

Sembilan orang gadis yang berada dalam ruangan di rumah itu, terkejut ketika daun pintu dirobohkan orang dari luar. Mereka bergerombol saling peluk dengan ketakutan, semua mata memandang ke arah pemuda bongkok yang berdiri di ambang pintu.

“Ampunkan kami... jangan... jangan ganggu kami...!” kata seorang di antara mereka.

Melihat betapa semua gadis yang berada di ruangan itu cantik-cantik dan masih amat muda, dan kini wajah yang manis-manis itu nampak pucat, dan mata mereka terbelalak seperti sekelompok kelinci yang ketakutan melihat seekor harimau, Pendekar Bongkok tersenyum pahit. Dia teringat akan bongkoknya, dan dia maklum bahwa tentu mereka mengira bahwa dia adalah seorang jahat!

“Tenanglah, nona-nona. Aku tidak berniat jahat. Aku datang untuk membebaskan kalian. Para penjahat itu telah kuusir pergi dan keluarga kalian kini sedang menuju ke sini.”

Namun, para gadis remaja itu masih belum percaya dan mereka masih memandang kepada pemuda berpunuk itu dengan curiga. Pada saat itu, orang-orang dusun sudah tiba di situ. Mereka menyerbu ke dalam rumah dan dipimpin oleh Gumo Cali, mereka tiba di ruangan yang daun pintunya sudah dijebol Sie Liong. Mereka melihat Sie Liong masih berdiri di ambang pintu dan para gadis itu sedang memandang ketakutan.

“Ayah...!” teriakan ini bukan hanya keluar dari mulut dua orang gadis puteri Gumo Cali, akan tetapi juga dari para gadis lain.

Ternyata para ayah dari gadis-gadis yang diculik itu ikut pula dalam rombongan para penyerbu. Terjadilah pertemuan yang mengharukan dan para gadis itu segera dihujani pertanyaan oleh ayah mereka. Diam-diam Pendekar Bongkok merasa lega dan gembira mendengar keterangan mereka bahwa benar seperti yang diceritakan Coa Kiu, mereka itu sama sekali tidak diganggu, bahkan diperlakukan dengan baik.

“Semua ini karena jasa Pendekar Bongkok! Taihiap, terimalah terima kasih kami!” Gumo Cali menjatuhkan diri berlutut menghadap Pendekar Bongkok, diturut oleh semua orang.

Para gadis yang tadinya merasa ketakutan itu kini baru sadar bahwa pemuda bongkok itu memang benar menjadi penolong mereka. Maka mereka pun ikut berlutut di samping ayah masing-masing.

Salah seorang di antara para gadis itu menjatuhkan diri berlutut paling dekat di depan Pendekar Bongkok dan ia menangis sesenggukan. Tadi pun Sie Liong melihat bahwa berbeda dengan para gadis lain, tak ada seorang pun yang memeluk gadis ini. Tadinya dia mengira bahwa tentu ayah gadis yang satu ini tidak ikut.

Dia seorang gadis yang bertubuh sedang, berkulit agak gelap namun wajahnya manis sekali, dengan mata yang lebar dan bening. Pakaiannya sederhana, bahkan ia tidak memakai perhiasan seperti para gadis lainnya. Usianya kurang lebih delapan belas tahun dan tubuhnya sudah mulai padat ramping, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar.

“Nona, kau kenapa?” tanya Sie Liong, dan kepada semua orang dia berkata, “Harap kalian suka berdiri, tidak perlu memberi hormat berlebihan seperti itu!”

Gumo Cali bangkit dan yang lain ikut berdiri. Gadis itu masih tetap berlutut di depan Sie Liong. Sie Liong segera menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.

“Nona, bangkitlah, tak perlu berlutut. Kenapa engkau menangis? Bukankah seharusnya engkau bergembira karena sudah terbebas dari cengkeraman penjahat?” Mendadak dia merasa curiga jangan-jangan gadis ini telah mengalami nasib yang buruk di tangan para penjahat. “Nona, apakah para penjahat itu mengganggumu?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya, akan tetapi masih terisak. Akhirnya, dengan suara bercampur tangis, dia berkata, “Aku... aku tidak mau pulang... ke rumah mereka...”

“Kenapa, nona? Di mana rumahmu?” tanya Sie Liong.

Seorang di antara para penduduk dusun itu, seorang laki-laki setengah tua, kemudian mendekat dan berkata, “Ling Ling, kenapa engkau tidak mau pulang?”

Gadis itu tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala sambil menangis.

“Siapakah nona ini, paman, dan di mana rumahnya?” tanya Sie Liong.

Orang itu lalu memberi keterangan bahwa gadis itu bernama Sam Ling, biasa dipanggil Ling Ling. Ia adalah seorang gadis yatim piatu. Ketika ia berusia sepuluh tahun, ayah dan ibunya meninggal dunia karena wabah, dan ia lalu dipungut anak oleh keluarga di dusunnya. Dijadikan anak angkat dan bekerja seperti pelayan.

“Sepanjang pengetahuan kami, keluarga yang memungutnya itu bersikap baik padanya. Mereka tidak mempunyai anak, maka mau mengambil Ling Ling menjadi anak mereka. Ling Ling, katakanlah, kenapa engkau tidak mau pulang! Ayah dan ibu angkatmu tentu mengharapkan kedatanganmu!” kata orang itu.

Gadis itu mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang kepada orang itu dan menggeleng kepala keras-keras sambil berkata, “Tidak..., tidak... aku tidak mau pulang ke sana... Lebih baik aku mati saja dari pada harus kembali lagi ke sana...!” Dan ia pun menangis lagi.

Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia menduga bahwa tentu ada alasan yang kuat sekali sehingga gadis ini tidak mau pulang ke rumah ayah dan ibu angkatnya.

“Marilah, nona. Kita berbicara di luar,” katanya, lalu dia berkata kepada semua orang. “Kalau kalian setuju, rumah ini sebaiknya dibakar saja supaya jangan menjadi sarang penjahat lainnya! Semua orang boleh pulang, akan tetapi kerukunan seperti sekarang ini harus dipelihara terus. Kalau kalian dapat bersatu seperti ini, tidak akan ada penjahat yang berani mengganggu kalian.”

Berkata demikian, Sie Liong lalu mengajak gadis bernama Sam Ling atau Ling Ling itu untuk keluar. Dia mengajak gadis itu agak menjauhi rumah, lalu duduk di atas sebuah batu besar.

“Nah, Ling Ling, duduklah kau dan ceritakan mengapa engkau memilih mati dari pada pulang ke rumah orang tua angkatmu.”

Setelah mereka berada di tempat sepi, hanya berdua saja, tiba-tiba gadis itu kembali mpnjatuhkan diri berlutut.

“Taihiap, engkau telah menyelamatkan aku bersama teman-teman, harap taihiap jangan kepalang tanggung untuk menolongku. Berjanjilah bahwa taihiap akan suka menolong diriku, dan aku akan menceritakan keadaanku.”

“Baiklah, dan duduklah supaya engkau dapat bicara dengan enak. Ceritakan apa yang terjadi. Tentu saja aku suka membantumu kalau memang engkau perlu dibantu.”

“Sejak berusia sepuluh tahun, ayah ibuku meninggal dunia karena penyakit...”

Ling Ling mulai bercerita sambil duduk di atas batu, di depan Sie Liong. Suaranya lirih dan memelas, dan matanya yang lebar itu kini agak kemerahan dan masih basah walau pun ia sudah tidak menangis lagi.

“Aku diangkat anak oleh ayah ibu angkatku yang sekarang karena mereka tidak memiliki anak. Sekarang mereka berusia kurang lebih empat puluh tahun. Dahulu memang sikap mereka itu baik sekali walau pun aku tidak menguntungkan mereka karena aku seorang anak perempuan. Aku pun bekerja keras di rumah mereka, seperti seorang budak untuk membalas budi kebaikan hati mereka. Akan tetapi akhir-akhir ini...” Ling Ling menutupi mukanya, hatinya merasa sedih dan berat untuk menceritakan peristiwa yang membuat dirinya merasa sengsara itu.

Sie Liong membiarkan gadis itu sejenak, dan setelah kelihatan agak tenang, ia berkata, “Bagaimana lanjutannya? Aku baru akan dapat menolongmu bila aku sudah mengetahui persoalannya.”

Gadis itu menatap wajah Sie Liong dengan sepasang mata yang penuh permohonan, sepasang mata yang tentu akan nampak indah kalau tidak tertutup awan kedukaan.

“Taihiap, aku akan kelihatan sebagai orang yang tak mengenal budi kalau sekarang aku seolah menceritakan keburukan orang tua angkatku. Akan tetapi, kepadamu aku harus berterus terang. Harap taihiap mengerti bahwa bukan maksudku untuk memburukkan mereka. Aku masih berterima kasih kepada mereka. Begini taihiap. Akhir-akhir ini, sejak beberapa bulan yang lalu ini, ayah angkatku berusaha untuk... untuk menodaiku...”

Sie Liong mengerutkan alis. Dia mengamati wajah itu dengan sinar matanya yang tajam menyelidik. Dia sudah menduga, akan tetapi ingin mendapat keyakinan.

“Apa maksudmu dengan menodai itu?”

“Dia... dia mula-mula merayuku... agar aku suka melayaninya, suka tidur dengan dia. Aku menolak dan beberapa kali dia nyaris berhasil memperkosa aku...! Karena aku selalu menghindar dan menolak, dia kini seperti benci kepadaku. Ibu angkatku agaknya melihat pula gejala itu dan ia pun menjadi cemburu dan membenci aku...”

“Hemmm...!” Sie Liong mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi rambut. Mengertilah dia kini mengapa gadis ini tidak ada yang menjemput, dan mengapa pula Ling Ling tidak mau pulang ke rumah orang tua angkatnya.

“Ling Ling, engkau tadi menceritakan bahwa tadinya, sebelum timbul perubahan sikap ayah angkatmu itu, mereka amat baik kepadamu. Bagaimana kalau sekarang engkau kuantar ke sana, ayah angkatmu itu kuancam agar dia tidak lagi melakukan hal yang tidak pantas itu, dan aku membujuk ibu angkatmu agar ia mau mengerti bahwa engkau tidak bersalah dalam peristiwa itu? Kalau mereka mau mendengarnya dan mentaati permintaanku, maukah engkau kembali kepada mereka?”

Ling Ling mengerutkan alisnya. Ia menatap wajah pemuda itu sampai beberapa lama. Sinar matanya penuh kegelisahan dan keraguan, lalu ia pun menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin, taihiap. Ayah angkatku itu akan tetap membenciku selama aku tidak mau memenuhi permintaannya. Aku melihat nafsu yang amat mengerikan dari pandang matanya. Dan ibu angkatku... ia amat membenciku karena cemburu. Tidak, aku tidak akan kembali lagi ke sana. Bahkan, terus terang saja, taihiap. Ketika wanita cantik yang menyamar sebagai siluman merah itu menculikku, membawaku ke sini, melihat betapa gerombolan itu tidak menggangguku, memperlakukan dengan baik, aku merasa girang untuk menjadi pelayan. Asalkan aku tidak harus kembali ke rumah orang tua angkatku.”

“Tapi... kalau engkau tidak mau kembali ke sana, lalu ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau mempunyai keluarga lain, sanak keluarga dari orang tua kandungmu sendiri?”

Diam-diam Sie Liong merasa kasihan sekali dan dia dapat menerima alasan gadis itu. Tentu saja dia tidak mungkin dapat menanggung dan memastikan bahwa ayah angkat Ling Ling kelak tak akan mengulang perbuatannya terhadap gadis yang bagai setangkai bunga baru mulai mekar ini.

Mungkin karena segan dan takut kepadanya, ayah angkat itu mau berjanji, bahkan mau bersumpah. Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat berada di dusun itu terus! Dan gadis ini makin hari menjadi semakin cantik manis dan semakin menarik. Kalau nafsu sudah menguasai hati ayah angkat itu, siapa berani tanggung dia tidak akan menjadi buta akan kebenaran?

Dan dia dapat menduga bahwa seorang gadis yang demikian kukuh mempertahankan kehormatannya seperti Ling Ling ini, kalau sampai diperkosa ayah angkatnya, tentu akan membunuh diri!

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mempunyai siapa pun juga di dunia ini. Aku sebatang kara...,” jawabnya lirih dengan air mata kembali mengalir di pipi.

“Kalau begitu, lalu engkau hendak pergi ke mana, Ling Ling? Jika engkau tidak memiliki keluarga lain, dan engkau tidak mau kembali ke rumah orang tua angkatmu, lalu bagai mana?”

Mendengar pertanyaan ini, Ling Ling turun dari atas batu dan kembali ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Liong sambil berkata dengan suara mengandung isak, “Aku ingin turut denganmu, taihiap...”

“Ehhh?” Sie Liong terkejut dan heran bukan main.

Tadinya timbul dugaan di hatinya bahwa tentu gadis manis ini telah mempunyai seorang kekasih dan ia akan pergi bersama kekasihnya itu. Sungguh seujung rambut pun dia tidak pernah menyangka akan mendengar jawaban seperti itu.

“Apa maksudmu, Ling Ling? Bangkitlah, dan mari kita bicara dengan baik.”

“Tidak, aku tak akan bangkit sebelum engkau sudi menerimaku. Taihiap, tolonglah aku. Aku... aku ingin membalas budimu, aku ingin ikut denganmu, biar kau jadikan pelayan... aku akan mencucikan pakaianmu, memasakkan makananmu, melayani keperluanmu...”

Tiba-tiba Sie Liong tertawa. Dia memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya bangun, mendudukkannya di atas batu kembali. Ling Ling tidak mampu menolak karena ia bagaikan sebuah boneka saja di kedua tangan yang memiliki tenaga dahsyat itu. Ia pun kini yang memandang bengong.

Pendekar itu tertawa bergelak dan alangkah gagah dan tampannya wajah itu sekarang nampak olehnya. Wajah yang tadinya selalu nampak dilanda duka itu, wajah yang selalu menimbulkan perasaan iba kepada siapa pun yang memandang, kini nampak cerah dan berseri!

“Aihh, Ling Ling... engkau ini sungguh lucu sekali!” kata Sie Liong setelah menghentikan ketawanya.

“Taihiap, apanya yang lucu?” Ling Ling bertanya khawatir.

“Bagaimana mungkin engkau ikut denganku? Kau tahu siapa aku ini?”

“Taihiap seorang pria yang sakti dan berbudi mulia, yang telah menyelamatkan aku dan banyak gadis di sini, yang pantas kupuja dan kubalas budinya...”

“Cukup semua itu. Aku hanyalah seorang laki-laki yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai tempat tinggal, miskin dan papa. Dan engkau malah hendak ikut dengan aku. Bukankah itu sama sekali tidak mungkin, dan lucu sekali?”

“Kenapa tidak mungkin dan kenapa lucu, taihiap? Aku ingin ikut denganmu ke mana pun engkau pergi. Aku tidak peduli apakah engkau kaya atau miskin taihiap. Bahkan kebetulan sekali kalau engkau pun sebatang kara seperti aku, karena tidak akan ada keluargamu yang mungkin tidak suka kepadaku. Aku akan melayanimu, membantumu dalam segala hal. Taihiap, kasihanilah aku...”

“Tapi, Ling Ling, engkau tidak mengerti! Kau tahu, aku seorang pengembara, hidupku penuh bahaya! Aku seorang yang selalu menentang kejahatan, sehingga aku dimusuhi para penjahat yang kejam. Engkau akan ikut terancam bahaya kalau bersamaku.”

“Aku tidak takut! Kalau aku berada di sampingmu, bahaya maut pun tak akan membuat aku gentar, taihiap. Aku pun siap mati kalau perlu!”

Diam-diam Sie Liong menjadi kagum dan juga heran. Mengapa gadis ini mati-matian hendak ikut dengan dia?

“Ling Ling, aku kadang-kadang tidur di hutan... di atas rumput...”

“Hemm, tentu menyenangkan sekali, taihiap. Apa lagi di waktu terang bulan, dengan api unggun menghangatkan badan. Rumput tentu lunak dan amat nyaman untuk tidur...”

“Kadang-kadang harus di atas pohon besar...”

“Ahh, aku belum pernah tidur di atas pohon, taihiap. Aku ingin sekali merasakan. Tentu aman dari gangguan binatang buas...”

“Ling Ling...” Sie Liong kewalahan. “Kadang-kadang aku tidur di dalam kuil tua yang kuno dan kotor, yang pantas menjadi tempat tinggal para iblis dan setan!”

Wajah itu menjadi pucat seketika, matanya terbelalak dan tubuhnya jelas nampak menggigil, pandang matanya ketakutan dan penuh kengerian. Bagi orang-orang dusun di daerah itu, iblis dan setan amat menakutkan karena mereka itu pada umumnya masih amat tebal rasa ketahyulan mereka.

Melihat ini, Sie Liong menjadi tidak tega dan tanpa disadarinya dia menyambung. “Akan tetapi selama ini belum pernah aku bertemu setan dan iblis, semua itu hanya dongeng kosong belaka untuk menakut-nakuti anak-anak dan orang-orang penakut.”

Ling Ling menarik napas lega. “Aku juga... ti... tidak takut, taihiap.”

Akan tetapi, membayangkan betapa gadis ini ikut dengannya, Sie Liong menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

“Ling Ling, maafkan aku. Bagaimana pun juga, rasanya tidak mungkin jika engkau ikut denganku. Ingatlah, aku seorang pria, dan engkau seorang wanita, seorang gadis muda yang cantik. Apa akan kata orang? Tentu mereka akan menyangka yang bukan-bukan terhadap kita.”

“Taihiap, apakah kita harus menggantungkan hidup kita kepada kata-kata dan pendapat orang lain? Yang terpenting adalah kita sendiri, bukan? Apa bila kita tidak melakukan sesuatu yang tidak benar, mengapa takut disangka orang? Taihiap, aku akan menjaga diri agar tidak sampai membikin kecewa dan malu padamu. Aku akan menjadi pelayan yang baik...”

“Sekali lagi maaf, Ling Ling. Terpaksa aku menolak. Tidak mungkin aku dapat mengajak engkau berkelana menempuh banyak bahaya.”

Tiba-tiba wajah gadis itu nampak layu dan muram. Ia menundukkan mukanya, sampai lama tidak bergerak. Tidak lagi ia menangis, akan tetapi ketika ia bicara, suaranya lirih dan mengandung rintihan.

“Baiklah, taihiap. Maafkan gangguanku tadi. Aku akan pergi sekarang juga, selamat... tinggal...” Dan gadis itu pun membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah satu-satu dengan tubuh lemas dan agak terhuyung.

“Nanti dulu, Ling Ling! Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Sie Liong dengan hati penuh rasa iba.

Gadis itu berhenti melangkah, menoleh dan wajahnya nampak demikian pucat. Matanya tidak ada sinarnya lagi dan sebelum menjawab ia tersenyum, senyum yang menyayat perasaan Sie Liong karena senyum itu demikian pahitnya.

“Ke mana saja kakiku membawaku, taihiap. Habis, ke mana lagi? Aku pun tidak tahu...” dan ia pun melanjutkan langkahnya. Langkah satu-satu.

Dari belakang Sie Liong melihat betapa kedua pundak itu menurun, kemudian sedikit bergoyang-goyang, tanda bahwa gadis itu menangis lagi. Tiba-tiba gadis itu terhuyung, lalu jatuh berlutut dan menangis!

Sie Liong marasa semakin iba dan sekali meloncat, dia telah berada di samping gadis yang berlutut sambil menangis itu.

“Ling Ling...” katanya lirih.

“Biarkan aku mati saja... ahhh, biarkan aku mati saja...” gadis itu berbisik-bisik dan tangisnya mengguguk.

Dengan dua tangannya, Sie Liong memegang pundak gadis itu dan menariknya bangun berdiri. “Ling Ling, jangan berkata demikian! Kalau engkau memang nekat dan berani menghadapi kesengsaraan, baiklah, aku suka menerimamu.”

Kedua tangan itu menurun dari depan mata, mata itu terbelalak, air matanya masih menetes-netes, muka itu masih pucat, akan tetapi mulut itu mengembangkan senyum. “Benarkan, taihiap? Ah, terima kasih...! Aku tidak akan sengsara. Aku akan menjaga agar taihiap tidak sengsara! Aku siap menghadapi segala kesukaran tanpa mengeluh. Dan aku dapat bekerja, taihiap. Aku memiliki keahlian menyulam indah, dan dengan itu aku akan dapat mencari uang untuk dipakai keperluan kita sehari-hari! Ahh, aku bahagia sekali, terima kasih, taihiap... terima kasih...”

Pada saat itu terdengar suara sorak sorai dan ketika mereka menengok, nampak rumah itu sudah dibakar. Api bernyala besar dan orang-orang dusun itu bersorak gembira. Lalu mereka berbondong menghampiri Sie Liong, dipimpin oleh Gumo Cali. Mereka kembali menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu, menghaturkan terima kasih.

“Saudara sekalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kuharap saja mulai sekarang saudara sekalian bisa mempersatukan tenaga untuk menjaga keamanan dusun sendiri. Sekarang, perkenankan aku pergi.”

Pendekar Bongkok meninggalkan tempat itu dan Ling Ling mengikutinya. Semua orang memandang dengan heran melihat gadis itu ikut pergi bersama Pendekar Bongkok, namun tidak ada seorang pun yang berani bertanya. Mereka hanya mengira bahwa pendekar itu tentu hendak mengantarkan gadis yang tidak dijemput orang tuanya itu ke dusunnya sendiri.

Mereka pun bubar dengan hati gembira karena gadis-gadis itu ternyata dalam keadaan selamat. Di dusun itu nama Pendekar Bongkok lebih dikenal dari pada nama Sie Liong. Mereka tidak akan pernah melupakan pertolongan yang diberikan pendekar itu dalam mengusir para penjahat yang menyamar sebagai siluman merah, penculik gadis-gadis remaja yang cantik.

“Ling Ling, aku mau mengajakmu pergi, akan tetapi engkau harus mentaati semua permintaanku,” demikian Sie Liong berkata setelah dia dan gadis itu berada di kaki Bukit Onta, jauh dari para penduduk dusun.

Wajah yang manis itu basah oleh keringat. Sejak tadi, Sie Liong berjalan saja, seolah tidak mempedulikan gadis yang berjalan di belakangnya itu, bahkan kadang-kadang dia sengaja melangkah lebar sehingga Ling Ling terpaksa harus setengah berlari untuk mengikutinya.

Sie Liong mendengar langkah kaki pendek-pendek itu, dan dia mendengar pula betapa pernapasan gadis itu mulai memburu. Akan tetapi, sedikit pun Sie Liong tidak pernah mendengar gadis itu mengeluh.

Kini, dia berhenti dan berkata demikian sambil menatap wajah itu. Wajah itu basah oleh keringat, dan napas gadis itu agak memburu, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun kekesalan hati. Bahkan wajah itu berseri-seri dan penuh kegembiraan! Mendengar ucapan itu, ia menjawab lantang dan mantap, tanpa ragu.

“Tentu saja, taihiap! Aku akan mentaati semua perintahmu, biar pun untuk itu aku harus berkorban nyawa...” tiba-tiba dia cepat menyambung kalimat yang sebenarnya sudah berakhir itu, “... asal saja taihiap tidak menyuruh aku pergi meninggalkanmu!”

Sie Liong tersenyum. Gadis dusun ini sederhana dan tabah, tapi dalam kesederhanaan, ternyata ia cerdik juga.

“Nah, kalau begitu, perintahku yang pertama adalah jangan sebut aku taihiap. Namaku Sie Liong dan mengingat bahwa engkau pantas menjadi adikku, sebut saja aku sebagai kakakmu.”

“Baiklah, Liong-ko (kakak Liong)!” kata Ling Ling gembira.

“Dan ke dua, sekarang engkau harus mengantar aku ke rumah orang tua angkatmu.” Dia melihat wajah itu terkejut, maka disambungnya cepat, “Bagaimana pun juga, aku ingin menemui mereka dan mengatakan bahwa engkau tidak suka kembali ke sana dan akan ikut dengan aku. Hendak kulihat bagaimana sikap mereka, dan juga tidak baik pergi begitu saja tanpa pamit.”

Ling Ling mengangguk, nampak hilang kagetnya. “Baiklah, Liong-ko.”

Mereka pun pergi menuju ke dusun tempat tinggal orang tua angkat Ling Ling. Ketika tiba di rumah itu, mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang memandang pada Ling Ling dengan mulut cemberut. Apa lagi mereka melihat bahwa gadis itu pulang bersama seorang pemuda bongkok.

Ayah angkatnya yang dipenuhi kecewa dan cemburu segera menudingkan telunjuknya kepada Ling Ling dan mulutnya langsung mengeluarkan makian.

“Perempuan tak tahu malu! Kiranya engkau bukan diculik siluman merah akan tetapi minggat bersama siluman bongkok ini, ya? Bagus, engkau membikin malu padaku!”

“Dasar anak tak tahu diri, tidak mengenal budi!” bentak ibu angkatnya. “Bertahun-tahun kami memeliharamu, memberi makan dan pakaian sampai kau dewasa, sekarang tidak membalas budi malah melempar kotoran ke rumah kami!”

Sejak tadi Sie Liong mengamati dua orang ini. Seorang pria tinggi kurus dengan muka pucat seperti berpenyakitan, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Mulutnya lebar dan giginya yang panjang-panjang itu kelihatan separuhnya lebih di luar bibir. Matanya membayangkan wataknya yang kurang baik.

Ada pun wanita itu beberapa tahun lebih muda. Tubuhnya gendut dan hidungnya pesek, dengan muka yang tidak menarik dan nampaknya juga galak. Sungguh ia merasa heran bagaimana sepasang suami isteri seperti ini menjadi orang tua angkat seorang gadis seperti Ling Ling, bahkan dipuji oleh gadis itu sebagai orang-orang yang tadinya amat baik kepadanya.

“Ayah, ibu, aku tidak minggat, memang benar diculik...”

“Diculik setan bongkok ini, ya? Sungguh kalian pantas dihajar!” habis berkata demikian, laki-laki jangkung itu menerjang maju, siap menghajar dan tangannya menampar ke arah kepala Sie Liong.

Apa bila menurutkan panasnya hati karena dimaki-maki, ingin Sie Liong sekali pukul menghancurkan mulut yang giginya panjang-panjang itu. Namun dia tidak menurutkan nafsu amarahnya, melainkan menangkap lengan yang memukul, lalu memuntirnya dan mendorongnya.

Pria itu mengeluarkan teriakan dan roboh terbanting lalu berguling-guling, berteriak mengaduh-aduh. Isterinya juga sudah maju dan dengan tangan membentuk cakar telah siap mencakari muka Ling Ling yang berdiri diam saja tidak melawan.

Akan tetapi, sebelum kuku-kuku jari tangan wanita itu mengenai kulit muka Ling Ling, kakinya ditendang oleh Sie Liong dan wanita itu jatuh berdebuk. Pantat yang besar itu terbanting ke atas tanah dan ia mengaduh-aduh, mengelus pantatnya dan tidak mampu bangun, seperti seekor kura-kura yang jatuh telentang.

“Berani kamu memukul orang...?”

Ayah angkat Ling Ling sudah bangkit lagi dan membantu isterinya berdiri. Keduanya semakin marah, akan tetapi hanya mulut mereka saja yang nyerocos, tidak berani lagi menyerang.
cerita silat karya kho ping hoo

Pada saat itu juga, beberapa orang dusun yang tadi turut menyerbu ke bukit Onta, datang mengiringkan dua orang gadis dusun itu yang terbebas dari penculikan. Melihat betapa ayah dan ibu angkat Ling Ling memaki-maki Pendekar Bongkok, mereka terkejut dan cepat semua orang lari ke situ.

“Engkau setan bongkok, kunyuk bongkok, beraninya melarikan gadis orang!” teriak ayah angkat gadis itu yang menjadi semakin berani melihat para tetangga berlarian datang.

“Heiii! Gumalung... tutup mulutmu yang kotor itu!” bentak beberapa orang. Mendengar ini, tentu saja Gumalung, demikian nama ayah angkat Ling Ling, memandang heran.

“Sungguh engkau lancang mulut! Tahukah engkau siapa pendekar ini? Dia adalah Sie Taihiap! Dialah yang telah mengusir para penjahat yang menculik gadis-gadis itu! Malah anak kalian Ling Ling juga dibebaskannya. Sekarang, datang-datang dia kalian semprot dengan makian. Kalian sungguh orang-orang yang jahat!”

Mendengar ini, seketika pucat wajah Gumalung dan isterinya. “Ahhh... ohhh... maafkan kami... maafkan kami... sungguh kami tidak tahu…” kata Gumalung, diikuti oleh isterinya dan mereka membungkuk-bungkuk.

“Sudahlah!” kata Sie Liong membentak. Melihat banyak orang di sana, dia menganggap kebetulan sekali untuk membersihkan nama Ling Ling.

“Kalian memang suami isteri yang tidak berbudi! Ketika Ling Ling berusia sepuluh tahun, dengan dalih tidak memiliki anak, kalian kemudian mengangkat dia sebagai anak. Ling Ling telah bekerja seperti budak di sini untuk membalas budi kalian. Akan tetapi setelah ia dewasa, engkau yang menjadi ayah angkatnya mulai bersikap tidak wajar, merayunya bahkan hendak memperkosanya. Karena Ling Ling tidak sudi memenuhi permintaanmu yang kotor itu, engkau lalu membencinya. Dan isterinya yang tidak tahu diri ini bukannya menyalahkan suaminya, bahkan juga membenci Ling Ling karena cemburu. Nah, coba kalian berdua katakan, betul tidak apa yang kukatakan semua ini. Kalian harus mengaku terus terang, baru akan kumaafkan. Kalau kalian membohong, aku akan turun tangan menghajar kalian!”

Suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa takut kepada Pendekar Bongkok, akan tetapi mereka juga merasa malu kalau harus mengaku di depan para tetangga yang kini sudah berdatangan ke tempat itu. Karena merasa bingung dan serba salah, akhirnya isteri yang galak itu menuding-nudingkan telunjuknya ke muka suaminya.

“Memang engkau yang celaka! Engkau suami tidak setia, engkau rakus, engkau suami mata keranjang! Sudah kuduga bahwa tentu engkau yang hendak memaksa Ling Ling, akan tetapi engkau selalu mengatakan bahwa Ling Ling yang menggodamu! Pendusta besar! Perempuan mana yang sudi menggoda laki-laki bermuka buruk seperti mukamu? Engkau hendak memperkosanya, ya? Bagus, engkau memang layak mampus!” Wanita itu menerjang suaminya menggunakan kedua tangannya yang hendak mencakar-cakar.

Suaminya cepat-cepat menangkap kedua pergelangan tangan isterinya dan mereka pun mulai bersitegang. Agaknya si suami yang kerempeng ini kalah tenaga sehingga justru dialah yang terbawa terhuyung ke kanan kiri.

“Engkau perempuan cerewet! Engkaulah yang membenci Ling Ling, engkau iri hati dan cemburu melihat ia cantik jelita, tidak macam engkau ini babi gemuk!”

“Apa kau bilang? Aku babi? Dan engkau ini monyet, engkau tikus kurus mau mampus!”

Kedua suami isteri itu saling dorong dan para tetangga mulai tertawa melihat mereka berkelahi. Tidak ada seorang pun yang berusaha untuk memisahkan pasangan suami isteri itu.

Sie Liong dengan gerakan tidak sabar segera maju. Sekali dia menggerakkan tangan, kedua suami isteri itu saling melepaskan cengkeraman dan keduanya lalu terpelanting, untuk kedua kalinya mereka terbanting jatuh. Keduanya sangat terkejut, kesakitan dan ketakutan, lalu mereka berdua berlutut menghadap Pendekar Bongkok.

“Taihiap, ampunkan saya...” Wanita itu merengek.

“Taihiap, ampunkan kami, kami mengaku salah. Kami bersalah terhadap Ling Ling...” kata sang suami, lalu tanpa memandang wajah anak angkatnya, dia pun menyambung, “Ling Ling, maafkanlah ayahmu yang bersalah ini...”

“Aku tidak mempunyai ayah dan ibu seperti kalian! Aku datang untuk berpamit, aku akan pergi meninggalkan kalian!”

“Ehhh...? Kenapa, Ling Ling? Kenapa engkau hendak meninggalkan kami?” Gumalung berseru kaget, juga isterinya kaget mendengar ucapan ini.

Mereka memang tidak sayang lagi kepada Ling Ling, dan kesayangan ayah angkat itu merupakan kesayangan yang terdorong nafsu, akan tetapi mereka akan repot apa bila ditinggalkan Ling Ling yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.

“Tapi, kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja, Ling Ling!” kata pula Nyonya gendut itu.

Sie Liong sudah merasa lega. Percekcokan suami isteri itu tadi saja sudah merupakan pengakuan dari mereka bahwa Ling Ling tidak berbohong, dan semua orang pun sudah mendengarnya. Maka, dia pun lalu berkata dengan suara tegas.

“Ling Ling akan meninggalkan rumah ini, dan dia akan pergi bersamaku. Apakah kalian merasa berkeberatan?”

“Tapi... tapi... ia merupakan bantuan bagi kami di rumah ini. Tanpa Ling Ling... pakaian tidak tercuci bersih, masakan pun tidak enak rasanya...”

“Anjing kurus, engkau mencela aku lagi, ya?” bentak isterinya. “Kalau kurang bersih, kau cuci sendiri pakaianmu, dan kalau engkau tak menyukai masakanku, pergi sana makan di luar! Taihiap, kami memang berkeberatan kalau Ling Ling pergi karena... karena...”

“Karena apa?” Sie Liong mendesak.

Wanita gendut itu beberapa kali menelan ludah, agaknya dia takut untuk bicara. Akan tetapi dengan memaksa diri akhirnya dia berkata juga, “... anak itu sudah delapan tahun tinggal bersama kami... dan entah sudah berapa banyak kami mengeluarkan uang untuk memeliharanya, makannya... pakaiannya...”

Sie Liong menahan diri untuk tidak menampar muka wanita itu. “Hemmmm, jadi engkau merasa rugi? Katakanlah, berapa banyak hutang Ling Ling kepada kalian?”

“Sedikitnya seratus tail perak...”

Terdengar suara orang-orang yang mengomel panjang pendek. Banyak penduduk yang merasa sikap orang tua angkat Ling Ling itu keterlaluan sekali.

Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki beberapa ekor kuda dan ternyata yang muncul adalah Gumo Cali dan beberapa orang dusun lainnya yang tadi memimpin penyerbuan ke Bukit Onta. Gumo Cali cepat memberi hormat kepada Pendekar Bongkok dan dia menurunkan sebuah bungkusan kain dari atas kudanya.

“Sie Taihiap, tadi ketika kami menggeledah rumah para penjahat di puncak Bukit Onta, kami menemukan uang sebanyak tiga ratus tail perak. Kami semua sudah bersepakat untuk menyerahkan uang ini kepada taihiap!”

Sie Liong tersenyum. Dia memang sedang bingung memikirkan bagaimana caranya dia akan dapat membayar hutang Ling Ling kepada orang tua angkatnya itu. Dan sekarang mereka datang hendak menyerahkan uang, bukan hanya seratus tail, bahkan tiga ratus tail! Kalau Tuhan hendak menolong, ternyata ada saja jalannya!

“Terima kasih!” katanya. “Tolong ambilkan seratus tail perak dan serahkan kepadaku.”

Gumo Cali membuka kantung itu dan mengeluarkan sepertiga bagian dari isi kantung. Gumpalan perak senilai lima tail itu besar dan berkilauan, jumlahnya ada sebanyak dua puluh buah.

“Lihat, inilah uang yang pernah kau keluarkan untuk Ling Ling!” berkata demikian, Sie Liong mengambil gumpalan-gumpalan perak itu dan melemparkannya ke arah dinding.

Potongan potongan perak itu beterbangan dan menancap pada dinding, sampai masuk ke dalam, berjajar dua puluh lubang banyaknya. Tentu saja suami isteri itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Kalau saja tadi gumpalan perak itu diarahkan kepada mereka, tentu akan remuk dada mereka dan pecah kepala mereka!

“Paman, harap sisanya ini paman bagi-bagikan kepada para gadis yang sudah menjadi korban penculikan. Nah, selamat tinggal dan terima kasih!”

Bersama Ling Ling yang sudah berlari mengambil pakaiannya dari dalam kamarnya dan memasukkan bekal pakaian itu ke dalam buntalan kain, Sie Liong lalu meninggalkan tempat itu…..

*********

Mereka duduk menghadapi api unggun di bawah pohon dekat hutan besar itu. Hawa amat dinginnya walau pun udara cerah pada sore hari itu. Bahkan panasnya api unggun yang dihadapinya tidak cukup kuat untuk dapat mengusir hawa dingin yang dirasakan Ling Ling. Ia kadang-kadang masih menggigil.

Melihat keadaan gadis ini, Sie Liong merasa kasihan. Dia membuka baju luarnya yang agak tebal, kemudian diselimutkan dari belakang ke tubuh gadis itu. Melihat hal ini, Ling Ling tersenyum dan menarik baju luar itu agar lebih banyak menyelimuti lehernya.

“Terima kasih...” katanya lirih.

Ling Ling termenung memandang ke arah api unggun yang bernyala indah. Ia merasa betapa kedua kakinya nyeri, kiut-miut rasanya karena seharian itu mereka hampir terus menerus berjalan naik turun bukit. Ia tidak pernah mengeluh walau pun kakinya terasa seperti akan patah-patah, dan telapak kakinya terasa tebal dan panas sekali.

Kelelahan membuat ia merasa lemas, ditambah pula rasa lapar karena sejak pagi tadi mereka tidak pernah makan apa pun. Minum pun hanya dari sumber air yang mereka lewati di kaki bukit terakhir tadi. Ia tidak tahu betapa pemuda itu semenjak tadi mencuri pandang dan mengamati wajahnya.

Ia merasa berbahagia! Biar pun ia merasa lelah bukan main, namun senyum manis tak pernah meninggalkan mulutnya, cahaya matanya tidak pernah meredup, dan wajahnya berseri-seri. Apa lagi karena sepanjang hari itu dia banyak bergerak jalan, kedua pipinya menjadi kemerahan, puncak pipi di bawah dan kanan kiri mata bagaikan buah tomat masak.

Sie Liong duduk di seberang api unggun. Dari atas nyala api, dia dapat memandang wajah gadis itu dengan jelas. Cuaca sudah mulai suram, akan tetapi cahaya api yang kuning kemerahan menimpa wajah yang manis itu. Diam-diam dia kagum sekali kepada Ling Ling.

Sudah sepekan gadis itu melakukan perjalanan dengan dia. Sengaja dia membawa Ling Ling merasakan kelelahan, kekurangan makan dan minum, kepanasan dan kedinginan. Namun, gadis itu selalu tersenyum, tidak pernah mengeluh.

Dia sengaja menguji karena dia belum yakin apakah benar gadis ini hendak nekat ikut bersama dengan dia mengembara dan hidup serba kekurangan. Tetapi selama sepekan ini dia mendapatkan kenyataan bahwa memang gadis ini hebat bukan main!

Seorang gadis yang lemah badannya karena tidak pernah mempelajari silat, akan tetapi yang memiliki batin yang amat kuat, semangat membaja dan pantang mundur! Seorang gadis yang sama sekali tidak cengeng. Timbullah perasaan iba dan suka dalam hatinya terhadap Ling Ling.

Agaknya Ling Ling merasa bahwa dirinya dipandang. Dia mengangkat muka dan pada saat itu, pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sie Liong. Dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut agak lama. Akhirnya Sie Liong yang mengalihkan lebih dahulu pandang matanya, merasa tidak enak memandang orang terlalu lama dan penuh perhatian.

“Liong-ko, ada apakah? Engkau memandangku seperti hendak mengatakan sesuatu.”

Sie Liong memandang padanya sambil tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya, apakah engkau masih kedinginan, Ling Ling?”

Ling Ling merapatkan baju luar yang tebal itu dan tersenyum makin lebar. “Tadi aku memang kedinginan, akan tetapi sekarang tidak lagi. Hangat dan nyaman, Liong-ko.”

Mereka diam sejenak.

“Lelah...?” terdengar Sie Liong bertanya.

Gadis itu mengangkat mukanya dan kembali mereka bertemu pandang. Ia mengangguk. “Akan tetapi, alangkah nyamannya dan enaknya beristirahat seperti ini setelah merasa kelelahan!”

“Kakimu terasa nyeri?”

Sejenak Ling Ling tidak menjawab, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan memandang ke kakinya, kemudian menarik kedua kakinya dari bawah untuk diluruskan. Gerakan ini mendatangkan perasaan nyeri bukan main, akan tetapi ia sama sekali tidak mengeluh, hanya matanya tergetar sedikit dan juga bibirnya dikatupkan makin kuat. Akan tetapi ia menggelengkan kepala.

“Tidak, tidak nyeri...”

Hening lagi sejenak. Dalam keheningan ini, pendengaran Sie Liong yang terlatih dan amat peka itu mendengar suara perut gadis itu berkeruyuk, seperti juga perutnya sendiri yang sejak tadi berkeruyuk.

“Lapar...?” tanyanya sambil menatap wajah itu.

Ling Ling mengangkat muka dan kembali mereka bertemu pandang. Kembali gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sekali ini sambil menambahkan kayu kering pada perapian di depannya.

“Ling Ling, aku melihat engkau adalah seorang gadis yang tabah dan jujur, akan tetapi mengapa engkau membohongi aku?”

Gadis itu nampak terkejut sekali. Sebatang ranting yang sedang dipegangnya terlepas dan matanya terbelalak ketika dia memandang kepada pemuda itu. Sepasang alisnya berkerut dan suaranya terdengar heran, “Aku? Bohong?”

Sie Liong menganguk dan tersenyum. “Baru saja dua kali engkau berbohong kepadaku. Kakimu pasti nyeri sekali dan engkau mengatakan tidak, perutmu lapar dan engkau juga mengatakan tidak. Bukankah itu bohong namanya?”

Wajah yang tadinya menjadi agak pucat itu merah kembali, dan sepasang mata itu pun berseri kembali. “Aih, Liong-ko, engkau benar-benar mengejutkan aku. Kiranya itu yang kau namakan bohong. Itu bukan bohong, koko, melainkan untuk melawan keadaan dan untuk menguatkan hati.”

“Hemm, apa pula maksudnya itu?”

“Sebelum kujawab, aku ingin tahu bagaimana engkau begitu yakin bahwa kakiku nyeri dan perutku lapar?”

“Kita sudah berjalan sehari, naik turun bukit, sudah sepatutnya kalau kakimu nyeri dan pada saat engkau meluruskan kakimu tadi, jelas nampak pada wajahmu bahwa engkau menahan rasa nyeri. Juga sejak pagi kita belum makan lagi, sudah sepantasnya kalau perutmu lapar, dan tadi, aku sempat mendengar perutmu berkeruyuk.”

Ling Ling tertawa sambil menutupi mulutnya. Ia merasa lucu, juga sangat malu. “Ihhh, engkau membikin aku malu saja, koko. Telingamu usil amat sih, mendengarkan bunyi perut orang! Sekarang kujawab pertanyaanmu tadi. Memang kakiku terasa nyeri, habis mengapa? Andai kata aku mengaku nyeri pun, pengakuan itu tak akan mengurangi rasa nyeri, bahkan akan menambah. Maka aku membohongi diri sendiri saja, mengatakan tidak nyeri sehingga rasa nyeri banyak berkurang. Demikian pula tentang perutku yang lapar. Jika aku mengaku lapar juga tidak akan ada sesuatu yang dapat kumakan. Lebih baik mengaku tidak lapar supaya rasa laparnya berkurang. Ketika tadi engkau bertanya apakah aku lelah dan dingin, aku menjawab ya karena di sini ada tempat beristirahat untuk menghilangkan lelah dan api unggun penahan dingin. Nah, jelas, kan? Aku bukan pembohong, ya koko?”

Kalimat terakhir ini terdengar manja seperti rengek kanak-kanak sehingga Sie Liong memandang dengan senyum dan hatinya terharu. Dia teringat kepada Yauw Bi Sian.

Teringat dia betapa ketika masih kecil, Bi Sian yang tidak mempunyai teman lain kecuali dia, juga sering merengek seperti ini kalau minta sesuatu kepadanya. Dan seperti juga dahulu, ketika dia selalu menuruti permintaan Bi Sian kalau keponakannya itu sedang merengek, kini pun ia menuruti permintaan Ling Ling dan dia mengangguk.

“Engkau memang bukan pembohong, Ling Ling. Dan sekarang aku hendak membuat pengakuan.”

Kini gadis itu yang memandang heran dan penuh selidik. “Engkau hendak membuat pengakuan? Pengakuan apa lagi, Liong-ko?”

“Aku telah bersikap kejam sekali kepadamu, Ling Ling...”

“Aihhh! Sama sekali tidak, Liong-ko! Apa yang kau maksudkan ini? Bagiku engkaulah satu-satunya orang yang paling baik di dunia ini. Engkau bagiku menjadi pengganti ayah ibu kandungku, pengganti saudara dan keluargaku, menjadi sahabat dan juga guruku...”

“Jangan terlalu tinggi memuji, Ling Ling. Lihat dan rasakan, bukankah selama sepekan ini engkau sudah kubawa berjalan sampai melampaui batas kekuatanmu, memaksamu berjalan jauh melalui bukit dan tempat yang amat sukar, lalu membiarkanmu kelaparan dan kehausan? Bukankah selama sepekan ini aku juga membiarkan engkau mengalami sengsara, tubuhmu lelah, kakimu nyeri, perut lapar dan mulut haus? Aku telah bersikap kejam sekali!”

“Tidak, tidak! Aku tidak pernah menganggapmu kejam, koko. Sudah sewajarnya karena memang kita berdua ini sepasang kelana yang merantau, tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki rumah, bukan? Rumah kita adalah dunia ini, lantainya tanah ini, atapnya langit. Betapa indahnya rumah kita, koko, tidak ada di dunia ini yang seindah tempat tinggal kita. Di mana-mana tempat tinggal kita. Lantai kita bertilamkan rumput lunak, kebun kita penuh pohon dan bunga, kupu-kupu, burung...”

Mau tak mau Sie Liong tertawa gembira. Bukan main gadis ini, pikirnya girang. Memiliki ketabahan dan tahan uji, akan tetapi juga memiliki kelincahan dan kegembiraan hidup sehingga baru berkumpul sepekan saja semua kenangan buruk dan perasaan nelangsa di dalam hatinya tersapu bersih, membuat dia pun ikut gembira. Tiba-tiba saja segala sesuatu di sekelilingnya nampak demikian indahnya!

“Engkau tidak tahu, Ling Ling. Selama sepekan ini, aku memang sengaja membuatmu menderita. Aku sengaja membuat engkau kecapaian, kelaparan dan kehausan!”

Gadis itu memandang heran. “Kau sengaja? Aku... aku tak mengerti maksudmu, koko.”

“Aku memang hendak mengujimu. Setelah engkau menderita, hendak kulihat apakah engkau benar-benar sudah nekat untuk tetap ikut denganku. Apa bila engkau tidak kuat, aku akan mencarikan tempat yang baik untukmu, pada sebuah keluarga yang dapat kupercaya dan...”

“Liong-ko, kenapa begitu? Sudah kukatakan bahwa aku hanya mempunyai satu saja keinginan hidup ini, ialah ikut denganmu ke mana pun engkau pergi. Jangankan hanya kesukaran yang tidak seberapa ini, hanya keletihan, kelaparan dan kehausan, biar pun sampai mati aku tidak akan menyesal telah ikut denganmu, koko!”

Sie Liong menundukkan mukanya agar jangan nampak oleh gadis ini betapa wajahnya merasa terharu sekali. Apakah yang mendorong gadis ini demikian nekat? Mungkinkah gadis ini mencintanya? Ahhh, bagaimana mungkin?

Semua orang, terutama kaum wanita, takut dan benci kepadanya, jijik melihat keadaan tubuhnya. Bagaimana mungkin ada yang jatuh cinta kepadanya? Dan gadis ini bukan seorang gadis yang buruk rupa atau pun cacat, melainkan seorang gadis yang sehat lahir batinnya, bahkan cantik manis dan pasti akan mudah menundukkan hati pria yang mana pun.

“Maafkan aku, Ling Ling. Sudahlah, sekarang lebih baik kita makan. Perut kita sudah lapar sekali. Aku masih menyimpan roti tawar, kini hanya tinggal mencari daging segar untuk dijadikan teman roti.”

“Tapi...”
“Ssstttt, di sana ada daging...!”

Sie Liong yang sudah menyambar sebatang ranting dengan tangannya, secara tiba-tiba menyambitkan ranting itu ke arah kiri. Ranting itu pun meluncur bagaikan anak panah ke dalam semak-semak tidak jauh dari situ dan seekor kelinci putih terguling keluar dengan leher tertembus ranting dan mati seketika. Melihat hal ini, tentu saja Ling Ling menjadi girang bukan main.

“Hebat, engkau hebat, Liong-ko! Kelinci ini gemuk sekali... ahhh, akan kubuatkan daging kelinci panggang yang lezat untukmu, Liong-ko.” Mendadak ia kelihatan bimbang dan kemudian mengeluh. “Ahh, bagaimana mungkin dapat lezat tanpa bumbu?”

Melihat wajah gadis yang tadinya sangat gembira itu tiba-tiba menjadi sedih, Sie Liong tersenyum. “Jangan khawatir, Ling Ling. Bumbu apakah yang kau butuhkan? Katakan saja!”

Gadis itu memandang wajah Sie Liong dengan putus asa. Yang dia butuhkan itu hanya dapat dibeli di pasar, mana mungkin pendekar itu akan bisa mendapatkan bumbu untuk memanggang daging kelinci tadi?

Dengan lesu dia pun menjawab, “Lada untuk penghilang bau amis, atau jahe, bawang putih untuk penyedap, garam... dan gula agar terasa gurih dan manis...”

Akan tetapi, Ling Ling terbelalak ketika Sie Liong mengeluarkan barang-barang yang ia butuhkan itu dari dalam buntalan pakaian. Bumbu lengkap! Ling Ling bersorak gembira.

“Seorang pengelana harus selalu menyimpan dan membawa bekal bumbu-bumbu ini, Ling Ling.”

Akan tetapi gadis itu kini sudah bekerja keras, apa lagi ketika Sie Liong menyerahkan sebatang pisau yang sangat tajam, yang juga menjadi bekal Sie Liong untuk keperluan memasak makanan. Ia lupa akan dinginnya hawa udara dan sambil bersenandung lagu rakyat Tibet, Ling Ling menguliti kelinci gemuk itu dan mengambil dagingnya.

Kegembiraan gadis itu menular kepada Sie Liong. Dia pun merasa gembira dan lincah, merasa seolah-olah dia menjadi kanak-kanak atau remaja kembali. Dia mempersiapkan ranting penusuk daging, lalu membantu Ling Ling dan tidak lama kemudian, bau daging panggang yang sedap karena bumbunya lengkap, membuat perut mereka makin keras berkeruyuk saling bersahutan.

Sie Liong lalu mengeluarkan bungkusan roti tawar dan seguci anggur merah yang tidak keras, melainkan anggur manis. Dan kemudian mereka pun makan roti tawar dengan daging kelinci panggang yang benar lezat karena masih segar, lunak dan gurih.

Pada waktu mereka makan ini pun Sie Liong menemukan kenyataan yang membuat dia semakin termenung dan hatinya berdebar aneh. Kenapa mereka berdua berebut saling memilihkan daging terbaik? Kenapa mereka saling mementingkan kawannya dan saling memperhatikan? Inikah cinta? Dia merasa heran dan ragu.

Pernah dia mengalami perasaan seperti ini, ketika berhadapan dengan Yauw Bi Sian, keponakannya! Hanya bedanya, jika dari Bi Sian dia tidak merasakan perhatian lainnya kecuali kasih sayang yang kekanak-kanakan dari seorang keponakan yang sejak kecil menjadi temannya bermain.

Sebaliknya, dari Ling Ling dia dapat merasakan perhatian yang lain, yang lebih dewasa dan membuat dirinya merasa dimanja, merasakan suatu kemesraan yang belum pernah dirasakannya. Inikah cinta? Dia tidak dapat menjawabnya. Terlampau pagi untuk dapat menduga sejauh itu.

Kini perut mereka tidak berkeruyuk lagi. Mereka menemukan sumber air tidak jauh dari situ. Sesudah mencuci tangan dan mulut, mereka duduk lagi menghadapi api unggun. Malam mulai larut dan mereka membesarkan api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk. Kembali mereka saling berpandangan melalui atas nyala api.

“Ling Ling...” Sie Liong meragu, suaranya lirih dan seolah dia sangsi apakah perlu dia menyatakan isi hatinya.

Gadis itu memandangnya dan bibir itu terseryyum. Bibir yang kini nampak merah segar, tidak layu dan agak pucat seperti ketika kelaparan dan keletihan menguasainya tadi.

“Ya, Liong-ko?”
Aku heran sekali...”

Melihat pemuda itu jadi meragu, Ling Ling menjadi penasaran. “Apa yang kau herankan, Liong-ko?”

“Engkau...”

“Ehhh? Aku kenapa sih?” Ling Ling tertawa kecil. “Apakah mataku tiga? Hidungku dua? Apanya yang mengherankan pada diriku?”

“Seorang gadis seperti engkau... mengapa nekat hendak ikut dengan aku? Aku seorang laki-laki yang sebatang kara, miskin dan tidak mempunyai apa-apa...”

“Sama dengan aku!” Ling Ling menyambung cepat.

“Akan tetapi engkau seorang gadis yang cantik dan masih muda, sedangkan aku...”

“Engkau adalah seorang pendekar yang budiman, seorang jantan yang mengagumkan dan hebat sekali, dan...”

“Bukan itu maksudku, Ling Ling. Aku adalah seorang laki-laki yang cacat, bongkok dan menjijikkan...”

“Cukup, Liong-ko!” Ling Ling berteriak dan ia mengerutkan alisnya, sepasang matanya bersinar-sinar seperti orang marah. “Liong-ko, kenapa engkau begitu merendahkan diri? Ketika engkau muncul di ambang pintu itu, ketika semua gadis ketakutan melihatmu dan mengira engkau adalah seorang penjahat karena cacat tubuhmu, aku melihat betapa engkau seperti menerima tamparan atau tusukan. Aih koko, aku tidak dapat melupakan pandang matamu pada waktu itu dan di saat itu pula aku... aku memutuskan untuk ikut denganmu, ke mana pun engkau pergi...” Kini sepasang mata yang tadinya nampak marah itu menjadi lembut sinarnya, mata itu seperti redup.

“Kenapa, Ling Ling? Justru itulah yang ingin sekali kuketahui! Kenapa tiba-tiba engkau berani mengambil keputusan yang begitu nekat? Pergi mengikuti aku yang tidak engkau kenal sama sekali?”

“Pada saat itu aku melihat pandang matamu seperti itu, koko, aku... aku merasa hatiku tertusuk, aku merasa terharu dan kasihan sekali kepadamu. Ingatkah engkau betapa aku menangis sesenggukan, menangis dengan sedih? Bukan hanya karena aku tidak ada yang menjemput, bukan hanya karena aku takut membayangkan harus kembali ke rumah orang tua angkatku, melainkan terutama sekali karena kasihan kepadamu!”

Sie Liong menatap tajam wajah gadis itu. “Engkau kasihan kepadaku karena... tubuhku bongkok? Karena cacat tubuhku?”

Dengan tegas Ling Ling menggelengkan kepalanya. “Sama sekali tidak! Kenapa cacat tubuhmu harus dikasihani? Walau pun engkau mempunyai cacat, akan tetapi cacat itu sama sekali tidak mengganggumu, bahkan engkau memiliki kesaktian luar biasa. Tidak, aku bukan kasihan karena cacatmu, koko, melainkan kasihan karena engkau begitu menderita batin karena cacat itu, yang membuatmu begitu merendahkan diri. Engkau tentu merasa betapa semua orang, terutama wanita, jijik dan benci kepadamu...”

“Memang kenyataannya demikian!” kata Sie Liong, suaranya agak keras.

“Tidak, tidak semua merasa seperti itu! Hanya perempuan yang tinggi hati saja yang memandang rendah kepada seorang pria yang cacat. Padahal, cacat tubuh bukan hal yang terlalu memalukan, tidak seperti cacat batin! Tidak, koko, tidak semua perempuan benci kepadamu, setidaknya... aku kagum kepadamu, aku menganggap engkau orang yang paling baik di dunia ini, dan paling gagah...”

“... dan paling buruk?” Sie Liong menambahkan sambil tersenyum pahit.

Ling Ling mengerutkan alisnya. “Liong-ko, jangan tersenyum seperti itu! Begitulah cara engkau tersenyum ketika berdiri di ambang pintu itu, tersenyum seolah engkau melihat dunia kiamat dan engkau tidak peduli! Tidak, koko. Siapa bilang engkau paling buruk? Bagiku, engkau gagah dan tampan!”

Sie Liong membelalakkan matanya, menatap wajah gadis itu, dan jantungnya berdebar keras. Dan dia pun lalu bertanya kepada matanya, bagaimana gadis itu nampak dalam pandangannya.

Dia melihat seorang gadis yang sangat cantik manis, yang menimbulkan rasa iba dan suka, seorang gadis yang membuat dia merasa berbahagia. Pandang mata yang bening itu seperti memberi nyala hidup dalam hatinya, senyum manis di bibir itu seperti tetesan embun pagi pada perasaannya yang mulai mengering dan dia pun mendadak tertawa bergelak.

Suara ketawanya bebas lepas dan nyaring, memecahkan kesunyian malam. Beberapa ekor burung yang bertengger di pepohonan yang berdekatan sampai terkejut, dan bunyi kelepak sayap mereka menandakan bahwa mereka itu terkejut sekali dan terbang pergi menjauhi suara aneh itu.

Ling Ling juga memandang kepada Sie Liong dengah sinar mata khawatir. Suara tawa pemuda itu mula-mula perlahan, semakin lama semakin kuat dan anehnya, dia seperti mendengar isak tangis terselip di antara bunyi tawa itu.

Bagaikan terdorong oleh sesuatu, Ling Ling bangkit berdiri, menghampiri Sie Liong dan berlutut di dekat pemuda itu yang masih duduk bersila sambil tertawa. Dipegangnya pundak pemuda itu, diguncangnya dan dia pun berteriak dengan gelisah.

“Liong-ko...! Liong-ko... Kau... kau kenapa, Liong-ko?”

Ketika merasa betapa tubuhnya diguncang-guncang, Sie Liong baru sadar. Kalau tadi pada waktu tertawa dia menengadah, kini dia menundukkan muka dan suara ketawanya terhenti. Ketika dia melihat Ling Ling di dekatnya dan gadis itu kelihatan gelisah hampir menangis, mengguncang pundaknya, Sie Liong ingat akan keadaan dirinya dan seperti didorong oleh sesuatu yang amat kuat, dia lalu merangkul.

“Ling Ling...!”

“Liong-ko... ahhh, Liong-koko...!”

Keduanya saling rangkul, hanya berpelukan saja dengan kuat seolah-olah ingin menjadi satu dan tidak akan berpisah lagi. Rangkulan yang penuh dengan keharuan dan rasa syukur, tidak mengandung nafsu birahi sama sekali.

Sie Liong yang lebih dulu sadar bahwa keadaan mereka itu tidak semestinya. Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya. Merasa akan hal ini, Ling Ling juga melepaskan rangkulannya, akan tetapi dia diam saja ketika kedua tangannya dipegang oleh kedua tangan Sie Liong.

Mereka duduk berhadapan, saling berpegang tangan. Dengan suara menggetar karena keharuan Sie Liong berkata lirih.

“Ling Ling, terima kasih, engkau telah mengembalikan harga diriku!”

“Dan engkau telah mengembalikan pengharapanku untuk menghadapi kehidupan yang kejam ini, Liong-ko.”

“Nah, sekarang mengasolah. Engkau harus tidur yang enak agar besok memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan, Ling Ling.”

Ling Ling bangkit berdiri, lalu membongkar buntalan pakaiannya. Dikeluarkan sehelai selimut, dibentangkan selimut itu di atas rumput dekat api unggun.

“Akan tetapi engkau bagaimana, Liong-ko? Engkau pun harus mengaso!”

Pemuda itu tersenyum. “Aku sudah terbiasa dengan kehidupan begini, Ling Ling. Aku tidak perlu tidur karena harus menjagamu, menjaga supaya api unggun tidak padam. Tidurlah, dengan bersila saja aku akan dapat melepaskan lelah.”

“Baiklah, Liong-ko.”

Gadis itu menguap dan menutupi mulut dengan punggung tangan karena dia merasa lelah sekali dan mengantuk. Begitu dia merebahkan diri miring, dia pun pulas tertidur.

Dia miring menghadap api unggun sehingga Sie Liong dapat melihat mukanya. Hatinya penuh rasa haru dan rasa sayang melihat wajah itu tidur pulas dengan mulut tersenyum membayangkan kebahagiaan, dan napasnya amat halus. Seorang gadis yang baik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah pergi ke sumber air untuk mandi. Hawa sangat dingin, akan tetapi karena tubuhnya memang kuat sekali, maka mandi di waktu pagi itu terasa amat segar dan nyaman. Tubuhnya mengepulkan uap putih ketika dia merendam tubuhnya ke dalam air yang amat dingin itu.

Dia merasa segar sekali ketika dia kembali ke tempat mereka melewatkan malam dan dia mendapatkan Ling Ling sudah bangun. Pakaian dan rambutnya kusut, namun hal ini tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Melihat Sie Liong datang dengan rambut masih basah, gadis itu tertawa kecil.

“Aih, sepagi ini dan sedingin ini engkau agaknya telah mandi, koko! Hi-hik-hik, aku tidak berani mandi. Hawa begini dinginnya dan air itu tentu amat dingin pula seperti salju!” Ia mengeluarkan pakaian dari dalam buntalannya. “Akan tetapi aku akan bertukar pakaian dan mencuci pakaian yang kotor. Kesinikan pakaianmu yang kotor, Liong-ko, akan aku cucikan sekalian!”

Sie Liong memperlihatkan pakaian yang masih basah dan sudah diperasnya. “Sudah kucuci tadi!” katanya.

Gadis itu cemberut. “Aihh, koko. Berulang kali engkau mencuci sendiri pakaianmu. Apa kau kira aku tidak dapat mencuci bersih? Itu sudah menjadi kewajibanku, koko. Lain kali jangan kau cuci sendiri!”

Sie Liong mengangguk dan tertawa. “Baiklah, Ling Ling, aku berjanji.”

Gadis itu berlari kecil menuju ke sumber air yang berada kurang lebih tiga ratus meter dari tempat itu, menuruni tebing yang tidak curam. Sie Liong memandang sejenak dari belakang sambil tersenyum. Sesudah gadis itu menghilang di balik semak dan batang pohon, dia pun membuat persiapan untuk memanggang sisa roti tawar semalam untuk dipakai sarapan.

Sie Liong merasa gembira bukan main pagi itu. Dia merasa seolah-olah mengalami hidup baru. Suasana nampak indah bukan main. Matahari pagi dengan lembut mengusir kabut pagi, menggugah burung-burung yang kini mulai sibuk membuat persiapan untuk melaksanakan tugas kewajiban mereka sehari-hari, yaitu mencari makan.

Rumput dan daun pohon juga tergugah, nampak berseri dan segar, dihiasi butir-butir embun yang seperti mutiara berkilauan tertimpa sinar matahari pagi yang masih lemah. Kicau burung bagaikan musik yang amat riang dan merdu. Sie Liong tersenyum-senyum seorang diri.

Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. Roti yang dipanggangnya sudah matang sejak tadi. Terlalu lama gadis itu pergi ke sumber air, pikirnya. Biar pun dengan mencuci pakaian, pakaian itu tidak berapa banyak. Mestinya sudah selesai sejak tadi.

Dia bangkit berdiri dan memandang ke arah hutan, di mana terdapat sumber air itu. Tak nampak dari situ karena selain tertutup semak dan pohon, juga jalan ke sumber air itu agak menurun.

“Ling Ling...!” Dia berteriak memanggil, mengerahkan tenaganya agar suaranya sampai ke sumber air itu. Dia menanti jawaban, namun tak kunjung tiba.

“Ling Ling, rotinya sudah masak...” Dia berteriak lagi, lebih nyaring. Juga tidak terdengar jawaban.

Dia mengerutkan alisnya. Tak mungkin gadis itu tidak mendengar, dan andai kata gadis itu menjawabnya, tentu dengan pendengarannya yang peka terlatih, dia pasti akan bisa mendengarnya.

Memang tidak pantas kalau dia mendatangi sumber air itu. Siapa tahu gadis itu sedang mandi dan telanjang. Akan tetapi kekhawatiran hatinya membuat dia melangkah ke arah sumber air.

Setelah tiba di atas tebing, dia berhenti dan mendengarkan. Hanya suara gemercik air sumber bermain dengan batu-batu yang terdengar. Tidak terdengar suara orang mandi, bermain di air, atau mencuci pakaian. Akan tetapi dia masih belum mau turun.

“Ling Ling...!” Dia memanggil lagi.

Sekarang tidak mungkin sama sekali kalau gadis itu tidak mendengar karena sumber itu berada dekat di bawahnya, biar pun belum nampak dari situ karena terhalang batu-batu besar. Tidak ada jawaban!

Sie Liong tidak ragu-ragu lagi, dengan hati gelisah dia meloncat turun. Dia memandang ke sana-sini. Tidak nampak bayangan Ling Ling sama sekali.

“Ling Ling...!” Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Ketika dia mendekat ke sumber air, dia terkejut sekali melihat pakaian Ling Ling berada di situ, baik pakaian kotor yang akan dicucinya tadi mau pun pakaian kering untuk ganti. Gadis itu lenyap, tanpa berpakaian!

Wajahnya seketika pucat ketika detik jantungnya seperti terhenti, kemudian jantung itu berdebar-debar penuh ketegangan. Diterkam harimau atau binatang buas lain? Tentu ada bekas darahnya. Dengan muka pucat dia lalu meneliti ke atas tanah, mencari bekas atau bercak darah. Tidak ada darah, yang ada hanyalah jejak-jejak kaki!

Jejak banyak sepatu dengan ukuran besar. Banyak laki-laki baru saja berada di tempat itu! Dan jejak itu masih baru sekali. Celaka, pikirnya, Ling Ling tentu sudah diculik oleh entah berapa orang laki-laki, dalam keadaan telanjang bulat!

Dengan hati tidak karuan rasanya, dipenuhi oleh kegelisahan, dia lalu mengikuti jejak itu dengan cepat. Jejak itu membawanya masuk hutan. Dia berlari dengan cepat mengikuti jejak itu dan tiba-tiba dia mendengar suara-suara tertahan, seperti mulut yang menjerit akan tetapi dibungkam.

Cepat dia meloncat ke kiri, ke arah suara dan matanya terbelalak, melotot ketika melihat apa yang terjadi di balik semak-semak belukar, di atas rumput tebal itu.

Ling Ling, dalam keadaan telanjang bulat sedang menggeliat-geliat dan meronta-ronta, melawan mati-matian terhadap lima orang laki-laki yang hendak menggelutinya! Empat orang memegangi kedua tangan dan kakinya yang dipentang dan seorang lagi, yang brewokan, sambil terkekeh-kekeh berusaha untuk memperkosanya!

Ling Ling meronta-ronta, menggigit, menjerit, akan tetapi mulutnya dibungkam. Biar pun demikian, bagaikan seekor singa betina Ling Ling mempertaruhkan kehormatannya.

Dari dalam dada Sie Liong keluar lengking panjang yang menggetarkan hutan itu. Lima orang itu terkejut, menengok. Akan tetapi Sie Liong sudah tidak dapat lagi menahan kemarahan hatinya yang seolah-olah dibakar nyala api. Matanya mencorong, napasnya seperti mengeluarkan uap panas.

Begitu tubuhnya menerjang ke depan dan tangannya menyambar, maka rambut kepala si brewok itu telah dijambaknya. Dengan sekali angkat, tubuh si brewok yang setengah telanjang itu sudah diangkat dan diayun-ayun ke atas kepalanya seakan-akan tubuh si brewok yang tinggi besar itu hanya sehelai kain saja.

Si brewok berteriak-teriak, dia ketakutan setengah mati. Akan tetapi, dengan kemarahan meluap-luap Sie Liong membanting tubuh itu ke atas sebongkah batu.

“Prakkk!” kepala si brewok itu pecah dan otaknya berantakan bersama darah.

Melihat betapa pemimpin mereka tewas dalam keadaan demikian mengerikan, empat orang itu terbelalak dan mereka melepaskan kaki dan tangan Ling Ling. Dengan marah, mereka yang belum menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar sakti, mereka mencabut golok dari punggung masing-masing lantas serentak mereka menyerang Sie Liong dengan golok mereka.

Akan tetapi, kembali Sie Liong mengeluarkan suara melengking, menyambut mereka dengan kaki kanan yang melakukan tendangan berputar.

Terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan dan empat batang golok terpental lepas dari tangan empat orang itu. Mereka mengaduh-aduh, memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri karena pergelangan tangan kanan mereka telah patah disambar tendangan memutar tadi!

Sekarang mereka memandang dengan kedua mata terbelalak, penuh rasa takut melihat pemuda bongkok itu dengan langkah perlahan-lahan menghampiri mereka. Dan saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Ampun... ampunkan kami...”

Akan tetapi, lengkingan ketiga kalinya terdengar dan kembali kaki Sie Liong bergerak menendang. Empat kali dia menendang, dan tubuh empat orang itu terjengkang dan mereka tewas seketika dengan tulang leher patah-patah!

Ling Ling yang berlutut di atas tanah, memandang dengan tubuh menggigil dan muka pucat. Biar pun ia merasa marah dan membenci lima orang itu, namun ia merasa ngeri melihat pembunuhan itu terjadi di depan matanya, melihat betapa lima orang itu tewas seketika, melihat Sie Liong yang biasanya lemah lembut itu mengamuk, laksana iblis maut sendiri!

Sie Liong meloncat dan melihat gadis itu dalam keadaan telanjang bulat berlutut di atas tanah, dia pun lalu menghampirinya.

“Ling Ling..., kau tidak apa-apa...?” tanyanya lembut.

“Liong-ko...!” Ling Ling menjerit dan ia pun pingsan dalam dekapan Sie Liong.

Pemuda itu lalu memondongnya, membawanya ke sumber air, mengambil pakaian Ling Ling dan membawa gadis itu kembali ke tempat mereka melewatkan malam tadi. Sambil memaksa matanya supaya jangan melihat bagian terlarang dari tubuh gadis itu, dia lalu merebahkan Ling Ling ke atas selimut dan menyelimuti tubuh yang telanjang itu. Baru ia memijat-mijat tengkuk gadis itu untuk menyadarkannya.

Ling Ling siuman kembali, mengeluh dan membuka matanya. Tiba-tiba ia terbelalak dan menjerit karena teringat kembali akan peristiwa tadi. Jerit melengking ketakutan sambil bangkit duduk.

Sie Liong merangkul gadis yang menjerit-jerit histeris itu. Begitu dirangkul, Ling Ling bahkan meronta-ronta dan menjerit semakin nyaring.

“Lepaskan aku...! Lepaskan! Keparat jahanam kalian... lepaskan akuuuu...!”

Sie Liong mendorong gadis itu dan memaksanya untuk memandang kepadanya.

“Ling Ling, lihat siapa aku...!” katanya setengah membentak untuk menyadarkan gadis yang dilanda ketakutan dan kengerian itu.

Ling Ling terbelalak memandang, sadar dan merangkul. “Liong-ko... ahhh, Liong-ko...!”

Dan dia pun menangis di dada Sie Liong, tanpa sadar bahwa selimut yang menutupi tubuhnya menjadi terbuka.

“Tenanglah, Ling Ling. Tenanglah, engkau sudah terbebas dari kelima orang anjing itu! Tenanglah, dan pakailah pakaian ini...” Sie Liong menutupkan lagi selimut yang tadinya menutupi tubuh gadis itu.

Ling Ling baru sadar bahwa kini ia masih telanjang bulat. Hal ini mengingatkan ia akan pengalaman tadi dan ia pun bergidik ngeri. Lalu dengan kedua tangan gemetar ia cepat mengenakan pakaiannya di balik selimut.

Sie Liong duduk di atas rumput membelakangi gadis itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia menarik napas panjang. Dia termenung dan wajahnya muram sekali.

Tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, dan suara itu lirih berbisik penuh kekhawatiran. “Liong-ko, engkau kenapakah...? Liong-ko, kenapa kau diam saja? Tadi... ketika aku berada di sumber, ketika aku habis mencuci muka membersihkan diri, ketika hendak berganti pakaian, mendadak mereka itu datang menyergapku. Aku tidak dapat menjerit karena mereka membungkam mulutku. Aku melawan mati-matian. Pada waktu engkau berteriak memanggil namaku, mereka lalu membawa aku pergi ke hutan itu dan di sana... ahh, untung engkau datang tepat pada waktunya, Liong-ko. Hampir aku tidak kuat bertahan lagi...”

Tiba-tiba Sie Liong mengepal tinju dan tangan Ling Ling yang memegang pundak itu cepat ditarik kembali karena kaget. Pundak itu seperti mengeluarkan tenaga yang amat panas! Ling Ling melangkah maju dan memandang wajah pemuda itu. Ia terkejut. Wajah itu pucat, mata itu seperti sayu dan sedih, seperti akan menangis!

“Liong-ko, engkau kenapa? Engkau kelihatan begini berduka! Apa yang telah terjadi?”

Suara itu parau dan penuh penyesalan. “Aku telah membunuh mereka...”

Gadis itu memandang heran. “Tentu saja, koko! Orang-orang seperti mereka memang layak kau bunuh! Mereka itu jahat sekali!”

Sie Liong menghela napas panjang. “Untuk menentang kejahatan, memang kadang-kadang terpaksa kita harus membunuh, akan tetapi tidak seperti yang kulakukan tadi, Ling Ling. Aku tadi membunuh karena rasa benci! Membunuh dengan hati dipenuhi dendam kebencian, karena aku melihat mereka memperlakukan engkau seperti itu. Membunuh karena cemburu dan benci. Ah, aku menjadi kejam sekali, tidak ada bedanya dengan mereka...!”

“Tentu saja engkau berbeda sekali dengan mereka! Engkau seorang pendekar sakti yang budiman, penentang kejahatan, dan mereka itu adalah segerombolan orang jahat yang berhati kejam, yang suka melakukan kejahatan. Bayangkan saja andai kata tidak ada engkau, Liong-ko, aihh... aku akan tertimpa mala petaka yang bagiku bahkan lebih mengerikan dan menyedihkan dari pada maut sendiri. Engkau sudah benar, Liong-ko, tidak ada sesuatu untuk disesalkan.”

Sie Liong memandang gadis itu dan tersenyum, akan tetapi senyumnya tidak segembira malam tadi atau pagi tadi sebelum terjadi peristiwa itu.

“Engkau tidak mengerti, Ling Ling. Sudahlah, mari kita kemasi barang-barang kita untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, sebelum itu aku akan menguburkan lebih dulu lima jenazah itu.”

“Menguburkan mereka?” Gadis itu terbelalak, akan tetapi melihat sinar mata pendekar itu, ia pun menunduk. “Baiklah, Liong-ko... aku hanya menuruti semua perintahmu.”

Mendengar jawaban ini dan melihat sikap Ling Ling, senyum Sie Liong melebar dan tak begitu pahit lagi. Gadis ini sungguh merupakan sinar baru dalam kehidupannya.

Dia tadi merasa amat terpukul dan berduka sekali mengenangkan kekejaman yang telah dilakukannya terhadap lima orang yang tidak dikenalnya itu. Dia tahu bahwa kekejaman itu dia lakukan karena cemburu dan kebencian yang amat hebat. Padahal, kebencian merupakan suatu hal yang harus dihindarkan, demikian yang selalu dipesankan oleh Pek-sim Siansu kepadanya. Tidak lama kemudian, Sie Liong sudah membuat lubang kuburan untuk lima jenazah orang-orang yang tidak pernah dikenalnya itu. Orang-orang yang kini menjadi jenazah karena sudah dibunuhnya secara kejam.

Ling Ling hanya menonton dari kejauhan, tidak mau mendekat karena merasa ngeri. Diam-diam gadis ini semakin kagum kepada Sie Liong. Seorang pendekar sakti yang budiman, gagah perkasa, namun berhati lembut. Mana ada orang mau menguburkan jenazah orang-orang jahat yang tadi menjadi musuhnya? Setelah selesai mengubur jenazah lima orang yang dibunuhnya itu dengan sederhana namun pantas, Sie Liong lalu mengajak Ling Ling melanjutkan perjalanan ke selatan.


BERSAMBUNG KE PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 11


Pendekar Bongkok Bagian 10

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 10

Akan tetapi Thai Yang Suhu memberi isyarat agar supaya para pembantunya itu jangan bergerak dulu. Lalu dia merogoh sesuatu dari dalam saku jubahnya, melontarkan benda sebesar kepalan tangan ke atas, ke arah Pendekar Bongkok sambil membentak lebih dulu dengan suara parau.

“Orang she Sie, lihat apakah engkau mampu menandingi seekor naga berapi!”

Sungguh hebat! Benda yang dilontarkan tadi seketika berubah menjadi asap hitam dan dari dalam asap hitam itu muncullah seekor naga menyemburkan api, bahkan tubuhnya juga bernyala. Naga itu terbang ke atas lalu dari atas menyambar turun ke arah tubuh Sie Liong.

Namun, Pendekar Bongkok ini yang tadinya juga terkejut, cepat menahan napas dan mengerahkan tenaga khikang. Dia lalu mengangkat tangan kirinya ke atas, dan dengan pengerahan sinkang Pek-in Sin-ciang yang membuat tangan kiri itu mengeluarkan uap putih, mendorong ke arah naga api.

Terdengar suara keras dan naga itu pun lenyap, dan nampak benda sekepal tadi runtuh ke depan kaki Thai Yang Suhu. Ternyata benda itu adalah sebuah tengkorak manusia yang amat kecil, seperti tengkorak bayi saja!

Thai Yang Suhu terbelalak, menyambar benda itu dan mengantunginya lagi, akan tetapi pada saat dia mengambil benda itu, tengkorak kecil itu lantas hancur berkeping-keping. Ternyata benda yang tadi berubah menjadi naga itu tidak kuat menahan pukulan jarak jauh Pendekar Bongkok dan sudah retak-retak, maka ketika dipungut oleh pemiliknya, langsung menjadi hancur berantakan.

Thai Yang Suhu mengeluarkan teriakan marah dan dia pun menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang dahsyat ke arah Pendekar Bongkok. Pada saat itu Pek Lan juga menggerakkan pedangnya, berbarengan dengan Tibet Sam Sin-to yang sudah pula ikut menggerakkan golok mereka.

Sie Liong mengeluarkan teriakan melengking dan menggerakkan ranting di tangannya. Sekali ia memutar ranting itu, nampak banyak sekali sinar hijau beterbangan menyerang ke arah lima orang pengeroyoknya!

Lima orang yang sudah siap menyerang itu, bahkan sudah menggerakkan senjata, amat terkejut ketika tiba-tiba saja melihat sinar-sinar hijau menyambar ke arah mereka. Cepat mereka menggerakkan senjata yang diputar di depan tubuh untuk menangkis. Mereka mengira bahwa Pendekar Bongkok mempergunakan senjata rahasia.

Ketika sinar-sinar hijau itu runtuh, ternyata ‘senjata rahasia’ itu adalah daun-daun yang tadi menempel pada ranting. Kini di tangan Pendekar Bongkok hanya tinggal sebatang tongkat.

Melihat betapa pemuda bongkok itu dapat mempergunakan daun-daun sebagai senjata rahasia yang mereka rasakan sangat kuat dan berbahaya, lima orang itu terkejut dan makin maklum bahwa Pendekar Bongkok ini, biar pun masih muda dan cacat tubuhnya, ternyata benar-benar mempunyai kesaktian. Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka pun segera mengepung dan mengeroyok!

Menghadapi pengeroyokan lima orang yang semuanya memiliki kepandaian tinggi, Sie Liong lalu memutar tongkatnya dan ia pun telah memainkan Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi). Ilmu ini adalah ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Pek-sim Siansu. Suatu ilmu yang dahsyat bukan main.

Ketika senjata yang hanya merupakan sebatang ranting yang menjadi tongkat itu diputar oleh Sie Liong, maka angin pun menyambar-nyambar begitu dahsyat bagaikan badai, sehingga nampak gulungan sinar hijau yang amat panjang. Dari gulungan sinar hijau itu mencuat ujung-ujung tongkat yang cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar ke arah lima orang pengeroyoknya.

Sekarang tahulah Thai Yang Suhu mengapa Pek Lan kewalahan menghadapi pemuda bongkok ini. Kiranya Pendekar Bongkok ini memang memiliki kepandaian yang sangat hebat! Walau pun dia sendiri maju, dibantu pula oleh Pek Lan dan tiga orang Tibet Sam Sin-to, tetap saja mereka berlima sama sekali tidak mampu mendesak, bahkan mereka yang kewalahan menghadapi tongkat sederhana yang dimainkan secara luar biasa itu.

Tongkat di tangan Pendekar Bongkok itu selain luar biasa cepatnya, juga mengandung tenaga kasar dan halus yang bekerja secara bergantian. Setiap gerakan ujung tongkat itu mengeluarkan suara bersiutan di antara angin yang kuat sekali.

Thai Yang suhu adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw yang kedudukannya sudah tinggi. Dia memiliki ilmu pedang yang sangat lihai di samping ilmu sihirnya, dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menandingi ilmu sepasang pedangnya. Kini, karena mengeroyok, tentu saja dia tidak dapat memainkan sepasang pedangnya dengan leluasa. Maka, dia pun membentak agar para pembantunya minggir.

“Minggir semua, biar pinceng sendiri yang menghadapi Pendekar Bongkok!” bentaknya.

Mendengar ini, Pek Lan dan Tibet Sam Sin-to lalu berloncatan keluar dari gelanggang pertempuran sehingga pendeta gundul tinggi besar itu kini sendirian saja berhadapan dengan Sie Liong. Sie Liong juga menghentikan gerakan tongkatnya dan berdiri tegak menghadapi pendeta itu sambil memandang tajam.

“Thai Yang Suhu, tadi sudah kukatakan bahwa aku tak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga. Yang kutentang adalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Oleh karena itu, jika kalian membebaskan gadis-gadis yang sudah kalian tawan dan mereka dalam keadaan selamat dan tidak terganggu, maka aku pun akan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing dan tidak akan memusuhi kalian, asal saja kalian juga tidak mengulang perbuatan jahat itu.”

“Pendekar Bongkok, apa kau kira pinceng takut kepadamu? Pinceng sengaja menyuruh kawan-kawan pinceng minggir supaya pinceng dapat menghadapimu dengan leluasa. Akan tetapi, katakanlah dulu siapa guru-gurumu agar pinceng tahu siapa yang pinceng lawan!”

“Hemmm, Thai Yang Suhu, ketahuilah bahwa guru-guruku adalah Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Siansu,” jawab Sie Liong sejujurnya.

“Wah! Kiranya murid para tosu pelarian dari Himalaya!” seorang di antara Tibet Sam Sin-to berseru. Sebagai tokoh-tokoh Tibet, tentu saja mereka mendengar akan hal itu.

Juga Thai Yang Suhu sudah pernah mendengar nama-nama yang disebutkan Pendekar Bongkok. Nama Himalaya Sam Lojin tidak mengejutkan hatinya karena kepandaian tiga orang kakek dari Himalaya itu tidak lebih dari tingkatnya sendiri. Akan tetapi disebutnya Pek-sim Siansu membuat dia terkejut.

Pantas saja pemuda bongkok ini tidak hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga mampu menangkis ilmu sihirnya, bahkan sudah menghancurkan jimatnya, yaitu tengkorak kecil tadi. Bagaimana pun juga, Thai Yang Suhu yang terlalu mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri, tidak merasa jeri.

“Bagus, sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!” Sambil berkata demikian, tokoh Pek-lian-kauw itu menodongkan pedang di tangan kirinya ke arah Sie Liong.

Pendekar Bongkok bersikap waspada karena dia sudah mendengar akan kecurangan para tokoh Pek-lian-kauw. Begitu dari gagang pedang itu menyambar sinar-sinar hitam yang lembut, dia sudah cepat memutar tongkatnya sehingga semua jarum hitam yang meluncur keluar dari gagang pedang itu runtuh.

“Pendeta palsu yang licik dan curang!” bentak Sie Liong.

Dia pun membalas dengan serangan tongkatnya yang menyambar dengan dahsyat dari kanan ke kiri, mengarah pada pinggang lawan. Thai Yang Suhu meloncat ke belakang, pedang kanannya menyambar dari atas ke kepala Sie Liong sedangkan pedang kirinya menangkis ujung tongkat. Sie Liong mengelak dan memutar tongkat, membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya.

Maka terjadilah perkelahian yang sangat seru dan mati-matian. Sepasang pedang yang dimainkan oleh Thai Yang Suhu menyambar-nyambar, berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Akan tetapi dua gulungan sinar itu sering kali goyah dan patah oleh sinar tongkat yang kehijauan, yang bergulung panjang bagaikan seekor naga hijau yang bermain di angkasa.

Ilmu tongkat Thian-te sin-tung yang dimainkan Pendekar Bongkok adalah ilmu tingkat tinggi yang tidak mampu dilawan oleh ilmu pedang pasangan yang dimainkan pendeta Pek-lian-kauw itu. Lagi pula, gerakan pendeta itu kalah cepat dibandingkan Sie Liong, bahkan dalam hal tenaga sinkang, pendeta itu juga kalah kuat.

Kelebihan Thai Yang Suhu hanyalah pada pengalaman bertanding saja. Di samping itu, Sie Liong bersikap hati-hati sekali, karena dia tahu bahwa lengah sedikit saja dia dapat celaka di tangan lawan yang licik dan curang ini. Kehati-hatian inilah yang membuat Sie Liong tidak berani terlalu mendesak sehingga membuat lawannya mampu mengadakan perlawanan yang cukup seru dan perkelahian itu nampaknya seru dan ramai.

Betapa pun juga, Pek Lan dan Tibet Sam Sin-to yang sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, mampu mengikuti jalannya pertandingan. Mereka tahu bahwa kalau tidak dibantu, akan sulit sekali bagi Thai Yang Suhu untuk bisa mengalahkan Pendekar Bongkok.

Oleh karena itu Pek Lan memberi isyarat kepada tiga orang jagoan Tibet itu dan mereka berempat langsung berloncatan memasuki gelangang perkelahian dan mengeroyok lagi. Sekali ini, Thai Yang Suhu diam saja karena dia pun mengerti bahwa kalau dia nekat melawan sendiri, jelas bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Pendekar Bongkok.

Di lain pihak, Sie Liong sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengeroyokan lima orang itu. Bahkan dia dapat mainkan tongkatnya lebih leluasa lagi. Dia tahu bahwa di antara para pengeroyoknya, yang amat lihai adalah Thai Yang Suhu dan Pek Lan.

Akan tetapi karena di situ terdapat tiga orang Tibet Sam Sin-to, maka permainan kedua orang lawan lihai ini bahkan menjadi terhalang. Mereka berdua itu tak dapat menyerang sepenuhnya, terhalang oleh gerakan tiga orang jagoan Tibet itu.

Hal ini membuat gerakan Sie Liong semakin hebat. Dia pun tidak takut lagi bahwa dua orang lawan yang curang itu akan dapat mempergunakan senjata rahasia, mengingat bahwa di situ terdapat pula Tibet Sam Sin-to yang ikut mengeroyok sehingga kalau ada yang mempergunakan senjata rahasia, hal itu dapat membahayakan kawan sendiri.

Akan tetapi hal ini, hal yang sama sekali tak disangkanya, ternyata memang benar telah terjadi. Dan kesalahannya memperkirakan ini akhirnya harus makan korban!

Ketika itu, ia merasakan betapa yang sungguh berbahaya di antara serangan lima orang itu adalah serangan Pek Lan, wanita cantik yang pernah dilawannya sebagai siluman merah itu. Pedang wanita itu menyambar-nyambar ganas, dibantu pula oleh dorongan tangan kirinya yang melakukan pukulan atau tamparan Hek-in Tok-ciang sehingga dari telapak tangan kirinya itu keluar uap hitam.

Oleh karena itu, dia berpikir untuk lebih dulu melumpuhkan perlawanan wanita ini. Dia memutar tongkatnya secara aneh dan segera mengerahkan daya serangan tongkatnya kepada Pek Lan.

“Trang...! Trangggg...!”

Bunga api berpijar ketika dua kali pedang di tangan Pek Lan bertemu dengan ujung tongkat yang mendesaknya.

“Ihhhhh...!”

Pek Lan mengeluarkan seruan kaget dan marah karena tenaga yang keluar dari tongkat itu sedemikian kuatnya sehingga ia terdorong ke belakang dan tangan yang memegang pedang tergetar hebat, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan. Untung bahwa Thai Yang Suhu segera menghujani Pendekar Bongkok dengan serangannya sehingga dalam keadaan terhuyung itu Pek Lan tidak didesak terus. Hal ini membuat Pek Lan marah sekali.

Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika tangan kirinya bergerak, belasan jarum-jarum hitam beracun telah menyambar ke arah tubuh Pendekar Bongkok! Jarum-jarum itu dilepas dari jarak dekat, juga disambitkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena Pek Lan sedang marah, maka tentu saja luar biasa berbahaya bagi Pendekar Bongkok!

Akan tetapi, dia memang selalu waspada dan melihat sinar lembut yang banyak itu, dia pun maklum bahwa Pek Lan mempergunakan senjata rahasia. Maka dia cepat memutar tongkatnya sehingga tongkat itu membentuk bayangan seperti payung yang melindungi tubuhnya.

Ketika jarum-jarum itu bertemu dengan sinar tongkat, runtuhlah jarum-jarum itu, akan tetapi ada beberapa batang yang terpental ke kanan kiri. Terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan dua orang di antara tiga Tibet Sam Sin-to roboh!

Tentu saja hal ini sangat mengejutkan para pengeroyok. Kiranya, di antara jarum hitam beracun yang terpental, ada beberapa batang yang mengenai dua orang itu! Racun yang dikandung jarum-jarum itu memang jahat sekali. Dua orang itu sudah berkelojotan sekarat!

Tentu saja Pek Lan tak mungkin sempat melakukan pemeriksaan untuk dapat memberi pengobatannya, bahkan dia pun sama sekali tidak memusingkan keadaan kedua orang rekan ini. Hal itu bahkan membuat ia menjadi makin marah kepada Pendekar Bongkok sehingga kini ia menyerang lagi mati-matian dengan pedangnya. Namun, mengeroyok lima saja tidak dapat mendesak Pendekar Bongkok, apa lagi kini berkurang dua.

Gerakan tongkat di tangan Pendekar Bongkok menjadi semakin dahsyat. Ketika salah seorang di antara Tibet Sam Sin-to yang masih hidup serta merasa berduka dan marah karena kematian dua orang saudaranya itu menyerangkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, Pendekar Bongkok sengaja memapaki golok itu dengan tongkatnya, juga sambil mengerahkan tenaganya.

“Trakkk...!”

Golok itu patah dan terlepas. Sebuah tendangan kaki Pendekar Bongkok masih sempat dielakkan oleh orang itu, namun sambaran ujung tongkat tidak dapat dia hindarkan.

“Bukkk!”

Orang itu terjungkal dan pingsan karena punggungnya terkena gebukan tongkat dari samping.

Kini Pek Lan dan Thai Yang Suhu terkejut bukan main, juga mulai merasa jeri. Pada saat itu terdengarlah sorak sorai gemuruh. Ketika tiga orang yang sedang berkelahi itu mendengar suara ini, mereka semua berloncatan ke belakang dan memandang ke arah bawah.

Nampaklah puluhan orang, bahkan ada kurang lebih seratus orang penduduk yang memegang segala macam senjata, sedang berlarian mendaki Bukit Onta dengan sikap penuh ancaman!

Melihat keberanian para penduduk ini, tentu saja Pendekar Bongkok menjadi girang. Dia sudah berhasil membangkitkan semangat para penduduk itu yang sekarang agaknya berbondong-bondong naik ke bukit itu untuk membasmi siluman! Sebaliknya, Thai Yang Suhu dan Pek Lan makin gelisah.

“Pek Lan, mari kita pergi!” kata Thai Yang Suhu. Tanpa diperintah dua kali, Pek Lan meloncat bersama Thai Yang Suhu.

“Hemm, kalian hendak lari ke mana?” Pendekar Bongkok membentak dan dia pun cepat meloncat untuk melakukan pengejaran.

Akan tetapi, tiba-tiba Thai Yang Suhu melontarkan sesuatu ke atas tanah dan terdengar ledakan keras disusul mengepulnya asap hitam yang tebal. Khawatir kalau-kalau asap itu beracun, tentu saja Sie Liong segera menjauhkan diri, bermaksud mengejar dengan mengambil jalan memutar. Akan tetapi setelah dia tiba di belakang asap hitam, dua orang itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Dia lalu kembali ke tempat tadi, melihat betapa orang ke tiga dari Tibet Sam Sin-to telah siuman dan kini bangkit sambil mengeluh.

Melihat Pendekar Bongkok datang kembali, dia terkejut, meloncat akan tetapi roboh lagi sambil mengerang kesakitan. Wajahnya nampak ketakutan dan orang tinggi besar itu segera menjatuhkan diri, berlutut menghadap Pendekar Bongkok.

“Taihiap (pendekar besar), ampunilah aku...”

Pendekar Bongkok adalah seorang yang berhati lembut. Dia tidak pernah membenci orang, betapa pun jahatnya orang itu. Yang ditentangnya adalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Dari gemblengan yang didapatnya dari Pek-sim Siansu, ia tahu bahwa orang yang melakukan perbuatan jahat adalah orang yang sedang sakit batinnya. Batin yang sakit itulah yang mendorongnya melakukan perbuatan jahat. Jika batinnya telah sembuh tentu dia tidak akan melakukan perbuatan jahat.

Maka, melihat betapa salah seorang di antara Tibet Sam Sin-to itu minta ampun, dia mengangguk. “Siapa namamu?”

“Namaku Coa Kiu, taihiap. Mereka ini adalah kakakku dan adikku, maka ijinkanlah aku membawa mayat mereka agar dapat kukuburkan dengan pantas.”

“Nanti dulu, aku ingin bertanya. Di mana adanya gadis-gadis yang diculik itu dan kenapa mereka diculik?”

“Itu adalah kehendak Thai Yang Suhu yang sedang mengumpulkan lima belas orang gadis untuk dijadikan pelayan di Pek-lian-kauw. Kami hanya membantunya. Gadis-gadis itu semua dalam keadaan selamat, berada di rumah itu. Mereka tidak diganggu karena memang hendak diangkut dan diserahkan kepada ketua Pek-lian-kauw.”

Pendekar Bongkok mengangguk, hatinya merasa lega. Orang ini jelas tidak akan berani berbohong.

“Ada satu pertanyaan lagi. Engkau memakai julukan Tibet Sam Sin-to, tentu merupakan tokoh Tibet. Aku ingin sekali tahu tentang mereka yang disebut Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu lima orang pendeta Lama dari Tibet. Di mana mereka sekarang dan apa kedudukan mereka?”

Mendengar disebutnya Lima Harimau Tibet, Coa Kiu terkejut dan kelihatan ketakutan. “Tidak, taihiap... aku tidak mempunyai hubungan apa pun dengan mereka. Sama sekali tidak mempunyai hubungan...!”

Pendekar Bongkok mengerutkan alisnya. Sikap itu sungguh menarik sekali.

“Aku tidak menuduhmu memiliki hubungan, hanya ingin mendapat keterangan darimu tentang diri mereka.”

Barulah Coa Kiu kelihatan lega. “Mereka adalah tokoh-tokoh paling ditakuti di Tibet, dan kini mereka menjadi pendukung-pendukung utama dari Kim Sim Lama, pendeta tingkat tinggi yang memberontak karena hendak merampas kedudukan Dalai Lama.”

“Pemberontak? Ahh, di mana kini mereka itu?”

“Mereka di sekitar telaga Yam-so di sebelah selatan Lasha. Lima Harimau Tibet menjadi pendukung. Bahkan lima orang tokoh itulah yang sebenarnya menjadi pelopor karena tanpa adanya mereka, tentu Kim Sim Lama tidak mampu berbuat sesuatu.”

Pendekar Bongkok mengangguk-angguk. Pada waktu itu, para penduduk dusun sudah datang semakin dekat dan Coa Kiu nampak gelisah. Maka dia lalu menyuruh orang itu membawa jenazah dua orang saudaranya dan melarikan diri ke jurusan lain. Coa Kiu mengucapkan terima kasih dan memanggul jenazah kakaknya dan adiknya, pergi dari situ sambil terhuyung.

Pendekar Bongkok tidak menanti datangnya orang-orang dusun, melainkan cepat dia lari ke arah rumah yang menjadi tempat tinggal Thai Yang Suhu dan teman-temannya.

Sembilan orang gadis yang berada dalam ruangan di rumah itu, terkejut ketika daun pintu dirobohkan orang dari luar. Mereka bergerombol saling peluk dengan ketakutan, semua mata memandang ke arah pemuda bongkok yang berdiri di ambang pintu.

“Ampunkan kami... jangan... jangan ganggu kami...!” kata seorang di antara mereka.

Melihat betapa semua gadis yang berada di ruangan itu cantik-cantik dan masih amat muda, dan kini wajah yang manis-manis itu nampak pucat, dan mata mereka terbelalak seperti sekelompok kelinci yang ketakutan melihat seekor harimau, Pendekar Bongkok tersenyum pahit. Dia teringat akan bongkoknya, dan dia maklum bahwa tentu mereka mengira bahwa dia adalah seorang jahat!

“Tenanglah, nona-nona. Aku tidak berniat jahat. Aku datang untuk membebaskan kalian. Para penjahat itu telah kuusir pergi dan keluarga kalian kini sedang menuju ke sini.”

Namun, para gadis remaja itu masih belum percaya dan mereka masih memandang kepada pemuda berpunuk itu dengan curiga. Pada saat itu, orang-orang dusun sudah tiba di situ. Mereka menyerbu ke dalam rumah dan dipimpin oleh Gumo Cali, mereka tiba di ruangan yang daun pintunya sudah dijebol Sie Liong. Mereka melihat Sie Liong masih berdiri di ambang pintu dan para gadis itu sedang memandang ketakutan.

“Ayah...!” teriakan ini bukan hanya keluar dari mulut dua orang gadis puteri Gumo Cali, akan tetapi juga dari para gadis lain.

Ternyata para ayah dari gadis-gadis yang diculik itu ikut pula dalam rombongan para penyerbu. Terjadilah pertemuan yang mengharukan dan para gadis itu segera dihujani pertanyaan oleh ayah mereka. Diam-diam Pendekar Bongkok merasa lega dan gembira mendengar keterangan mereka bahwa benar seperti yang diceritakan Coa Kiu, mereka itu sama sekali tidak diganggu, bahkan diperlakukan dengan baik.

“Semua ini karena jasa Pendekar Bongkok! Taihiap, terimalah terima kasih kami!” Gumo Cali menjatuhkan diri berlutut menghadap Pendekar Bongkok, diturut oleh semua orang.

Para gadis yang tadinya merasa ketakutan itu kini baru sadar bahwa pemuda bongkok itu memang benar menjadi penolong mereka. Maka mereka pun ikut berlutut di samping ayah masing-masing.

Salah seorang di antara para gadis itu menjatuhkan diri berlutut paling dekat di depan Pendekar Bongkok dan ia menangis sesenggukan. Tadi pun Sie Liong melihat bahwa berbeda dengan para gadis lain, tak ada seorang pun yang memeluk gadis ini. Tadinya dia mengira bahwa tentu ayah gadis yang satu ini tidak ikut.

Dia seorang gadis yang bertubuh sedang, berkulit agak gelap namun wajahnya manis sekali, dengan mata yang lebar dan bening. Pakaiannya sederhana, bahkan ia tidak memakai perhiasan seperti para gadis lainnya. Usianya kurang lebih delapan belas tahun dan tubuhnya sudah mulai padat ramping, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar.

“Nona, kau kenapa?” tanya Sie Liong, dan kepada semua orang dia berkata, “Harap kalian suka berdiri, tidak perlu memberi hormat berlebihan seperti itu!”

Gumo Cali bangkit dan yang lain ikut berdiri. Gadis itu masih tetap berlutut di depan Sie Liong. Sie Liong segera menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.

“Nona, bangkitlah, tak perlu berlutut. Kenapa engkau menangis? Bukankah seharusnya engkau bergembira karena sudah terbebas dari cengkeraman penjahat?” Mendadak dia merasa curiga jangan-jangan gadis ini telah mengalami nasib yang buruk di tangan para penjahat. “Nona, apakah para penjahat itu mengganggumu?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya, akan tetapi masih terisak. Akhirnya, dengan suara bercampur tangis, dia berkata, “Aku... aku tidak mau pulang... ke rumah mereka...”

“Kenapa, nona? Di mana rumahmu?” tanya Sie Liong.

Seorang di antara para penduduk dusun itu, seorang laki-laki setengah tua, kemudian mendekat dan berkata, “Ling Ling, kenapa engkau tidak mau pulang?”

Gadis itu tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala sambil menangis.

“Siapakah nona ini, paman, dan di mana rumahnya?” tanya Sie Liong.

Orang itu lalu memberi keterangan bahwa gadis itu bernama Sam Ling, biasa dipanggil Ling Ling. Ia adalah seorang gadis yatim piatu. Ketika ia berusia sepuluh tahun, ayah dan ibunya meninggal dunia karena wabah, dan ia lalu dipungut anak oleh keluarga di dusunnya. Dijadikan anak angkat dan bekerja seperti pelayan.

“Sepanjang pengetahuan kami, keluarga yang memungutnya itu bersikap baik padanya. Mereka tidak mempunyai anak, maka mau mengambil Ling Ling menjadi anak mereka. Ling Ling, katakanlah, kenapa engkau tidak mau pulang! Ayah dan ibu angkatmu tentu mengharapkan kedatanganmu!” kata orang itu.

Gadis itu mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang kepada orang itu dan menggeleng kepala keras-keras sambil berkata, “Tidak..., tidak... aku tidak mau pulang ke sana... Lebih baik aku mati saja dari pada harus kembali lagi ke sana...!” Dan ia pun menangis lagi.

Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia menduga bahwa tentu ada alasan yang kuat sekali sehingga gadis ini tidak mau pulang ke rumah ayah dan ibu angkatnya.

“Marilah, nona. Kita berbicara di luar,” katanya, lalu dia berkata kepada semua orang. “Kalau kalian setuju, rumah ini sebaiknya dibakar saja supaya jangan menjadi sarang penjahat lainnya! Semua orang boleh pulang, akan tetapi kerukunan seperti sekarang ini harus dipelihara terus. Kalau kalian dapat bersatu seperti ini, tidak akan ada penjahat yang berani mengganggu kalian.”

Berkata demikian, Sie Liong lalu mengajak gadis bernama Sam Ling atau Ling Ling itu untuk keluar. Dia mengajak gadis itu agak menjauhi rumah, lalu duduk di atas sebuah batu besar.

“Nah, Ling Ling, duduklah kau dan ceritakan mengapa engkau memilih mati dari pada pulang ke rumah orang tua angkatmu.”

Setelah mereka berada di tempat sepi, hanya berdua saja, tiba-tiba gadis itu kembali mpnjatuhkan diri berlutut.

“Taihiap, engkau telah menyelamatkan aku bersama teman-teman, harap taihiap jangan kepalang tanggung untuk menolongku. Berjanjilah bahwa taihiap akan suka menolong diriku, dan aku akan menceritakan keadaanku.”

“Baiklah, dan duduklah supaya engkau dapat bicara dengan enak. Ceritakan apa yang terjadi. Tentu saja aku suka membantumu kalau memang engkau perlu dibantu.”

“Sejak berusia sepuluh tahun, ayah ibuku meninggal dunia karena penyakit...”

Ling Ling mulai bercerita sambil duduk di atas batu, di depan Sie Liong. Suaranya lirih dan memelas, dan matanya yang lebar itu kini agak kemerahan dan masih basah walau pun ia sudah tidak menangis lagi.

“Aku diangkat anak oleh ayah ibu angkatku yang sekarang karena mereka tidak memiliki anak. Sekarang mereka berusia kurang lebih empat puluh tahun. Dahulu memang sikap mereka itu baik sekali walau pun aku tidak menguntungkan mereka karena aku seorang anak perempuan. Aku pun bekerja keras di rumah mereka, seperti seorang budak untuk membalas budi kebaikan hati mereka. Akan tetapi akhir-akhir ini...” Ling Ling menutupi mukanya, hatinya merasa sedih dan berat untuk menceritakan peristiwa yang membuat dirinya merasa sengsara itu.

Sie Liong membiarkan gadis itu sejenak, dan setelah kelihatan agak tenang, ia berkata, “Bagaimana lanjutannya? Aku baru akan dapat menolongmu bila aku sudah mengetahui persoalannya.”

Gadis itu menatap wajah Sie Liong dengan sepasang mata yang penuh permohonan, sepasang mata yang tentu akan nampak indah kalau tidak tertutup awan kedukaan.

“Taihiap, aku akan kelihatan sebagai orang yang tak mengenal budi kalau sekarang aku seolah menceritakan keburukan orang tua angkatku. Akan tetapi, kepadamu aku harus berterus terang. Harap taihiap mengerti bahwa bukan maksudku untuk memburukkan mereka. Aku masih berterima kasih kepada mereka. Begini taihiap. Akhir-akhir ini, sejak beberapa bulan yang lalu ini, ayah angkatku berusaha untuk... untuk menodaiku...”

Sie Liong mengerutkan alis. Dia mengamati wajah itu dengan sinar matanya yang tajam menyelidik. Dia sudah menduga, akan tetapi ingin mendapat keyakinan.

“Apa maksudmu dengan menodai itu?”

“Dia... dia mula-mula merayuku... agar aku suka melayaninya, suka tidur dengan dia. Aku menolak dan beberapa kali dia nyaris berhasil memperkosa aku...! Karena aku selalu menghindar dan menolak, dia kini seperti benci kepadaku. Ibu angkatku agaknya melihat pula gejala itu dan ia pun menjadi cemburu dan membenci aku...”

“Hemmm...!” Sie Liong mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi rambut. Mengertilah dia kini mengapa gadis ini tidak ada yang menjemput, dan mengapa pula Ling Ling tidak mau pulang ke rumah orang tua angkatnya.

“Ling Ling, engkau tadi menceritakan bahwa tadinya, sebelum timbul perubahan sikap ayah angkatmu itu, mereka amat baik kepadamu. Bagaimana kalau sekarang engkau kuantar ke sana, ayah angkatmu itu kuancam agar dia tidak lagi melakukan hal yang tidak pantas itu, dan aku membujuk ibu angkatmu agar ia mau mengerti bahwa engkau tidak bersalah dalam peristiwa itu? Kalau mereka mau mendengarnya dan mentaati permintaanku, maukah engkau kembali kepada mereka?”

Ling Ling mengerutkan alisnya. Ia menatap wajah pemuda itu sampai beberapa lama. Sinar matanya penuh kegelisahan dan keraguan, lalu ia pun menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin, taihiap. Ayah angkatku itu akan tetap membenciku selama aku tidak mau memenuhi permintaannya. Aku melihat nafsu yang amat mengerikan dari pandang matanya. Dan ibu angkatku... ia amat membenciku karena cemburu. Tidak, aku tidak akan kembali lagi ke sana. Bahkan, terus terang saja, taihiap. Ketika wanita cantik yang menyamar sebagai siluman merah itu menculikku, membawaku ke sini, melihat betapa gerombolan itu tidak menggangguku, memperlakukan dengan baik, aku merasa girang untuk menjadi pelayan. Asalkan aku tidak harus kembali ke rumah orang tua angkatku.”

“Tapi... kalau engkau tidak mau kembali ke sana, lalu ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau mempunyai keluarga lain, sanak keluarga dari orang tua kandungmu sendiri?”

Diam-diam Sie Liong merasa kasihan sekali dan dia dapat menerima alasan gadis itu. Tentu saja dia tidak mungkin dapat menanggung dan memastikan bahwa ayah angkat Ling Ling kelak tak akan mengulang perbuatannya terhadap gadis yang bagai setangkai bunga baru mulai mekar ini.

Mungkin karena segan dan takut kepadanya, ayah angkat itu mau berjanji, bahkan mau bersumpah. Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat berada di dusun itu terus! Dan gadis ini makin hari menjadi semakin cantik manis dan semakin menarik. Kalau nafsu sudah menguasai hati ayah angkat itu, siapa berani tanggung dia tidak akan menjadi buta akan kebenaran?

Dan dia dapat menduga bahwa seorang gadis yang demikian kukuh mempertahankan kehormatannya seperti Ling Ling ini, kalau sampai diperkosa ayah angkatnya, tentu akan membunuh diri!

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mempunyai siapa pun juga di dunia ini. Aku sebatang kara...,” jawabnya lirih dengan air mata kembali mengalir di pipi.

“Kalau begitu, lalu engkau hendak pergi ke mana, Ling Ling? Jika engkau tidak memiliki keluarga lain, dan engkau tidak mau kembali ke rumah orang tua angkatmu, lalu bagai mana?”

Mendengar pertanyaan ini, Ling Ling turun dari atas batu dan kembali ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Liong sambil berkata dengan suara mengandung isak, “Aku ingin turut denganmu, taihiap...”

“Ehhh?” Sie Liong terkejut dan heran bukan main.

Tadinya timbul dugaan di hatinya bahwa tentu gadis manis ini telah mempunyai seorang kekasih dan ia akan pergi bersama kekasihnya itu. Sungguh seujung rambut pun dia tidak pernah menyangka akan mendengar jawaban seperti itu.

“Apa maksudmu, Ling Ling? Bangkitlah, dan mari kita bicara dengan baik.”

“Tidak, aku tak akan bangkit sebelum engkau sudi menerimaku. Taihiap, tolonglah aku. Aku... aku ingin membalas budimu, aku ingin ikut denganmu, biar kau jadikan pelayan... aku akan mencucikan pakaianmu, memasakkan makananmu, melayani keperluanmu...”

Tiba-tiba Sie Liong tertawa. Dia memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya bangun, mendudukkannya di atas batu kembali. Ling Ling tidak mampu menolak karena ia bagaikan sebuah boneka saja di kedua tangan yang memiliki tenaga dahsyat itu. Ia pun kini yang memandang bengong.

Pendekar itu tertawa bergelak dan alangkah gagah dan tampannya wajah itu sekarang nampak olehnya. Wajah yang tadinya selalu nampak dilanda duka itu, wajah yang selalu menimbulkan perasaan iba kepada siapa pun yang memandang, kini nampak cerah dan berseri!

“Aihh, Ling Ling... engkau ini sungguh lucu sekali!” kata Sie Liong setelah menghentikan ketawanya.

“Taihiap, apanya yang lucu?” Ling Ling bertanya khawatir.

“Bagaimana mungkin engkau ikut denganku? Kau tahu siapa aku ini?”

“Taihiap seorang pria yang sakti dan berbudi mulia, yang telah menyelamatkan aku dan banyak gadis di sini, yang pantas kupuja dan kubalas budinya...”

“Cukup semua itu. Aku hanyalah seorang laki-laki yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai tempat tinggal, miskin dan papa. Dan engkau malah hendak ikut dengan aku. Bukankah itu sama sekali tidak mungkin, dan lucu sekali?”

“Kenapa tidak mungkin dan kenapa lucu, taihiap? Aku ingin ikut denganmu ke mana pun engkau pergi. Aku tidak peduli apakah engkau kaya atau miskin taihiap. Bahkan kebetulan sekali kalau engkau pun sebatang kara seperti aku, karena tidak akan ada keluargamu yang mungkin tidak suka kepadaku. Aku akan melayanimu, membantumu dalam segala hal. Taihiap, kasihanilah aku...”

“Tapi, Ling Ling, engkau tidak mengerti! Kau tahu, aku seorang pengembara, hidupku penuh bahaya! Aku seorang yang selalu menentang kejahatan, sehingga aku dimusuhi para penjahat yang kejam. Engkau akan ikut terancam bahaya kalau bersamaku.”

“Aku tidak takut! Kalau aku berada di sampingmu, bahaya maut pun tak akan membuat aku gentar, taihiap. Aku pun siap mati kalau perlu!”

Diam-diam Sie Liong menjadi kagum dan juga heran. Mengapa gadis ini mati-matian hendak ikut dengan dia?

“Ling Ling, aku kadang-kadang tidur di hutan... di atas rumput...”

“Hemm, tentu menyenangkan sekali, taihiap. Apa lagi di waktu terang bulan, dengan api unggun menghangatkan badan. Rumput tentu lunak dan amat nyaman untuk tidur...”

“Kadang-kadang harus di atas pohon besar...”

“Ahh, aku belum pernah tidur di atas pohon, taihiap. Aku ingin sekali merasakan. Tentu aman dari gangguan binatang buas...”

“Ling Ling...” Sie Liong kewalahan. “Kadang-kadang aku tidur di dalam kuil tua yang kuno dan kotor, yang pantas menjadi tempat tinggal para iblis dan setan!”

Wajah itu menjadi pucat seketika, matanya terbelalak dan tubuhnya jelas nampak menggigil, pandang matanya ketakutan dan penuh kengerian. Bagi orang-orang dusun di daerah itu, iblis dan setan amat menakutkan karena mereka itu pada umumnya masih amat tebal rasa ketahyulan mereka.

Melihat ini, Sie Liong menjadi tidak tega dan tanpa disadarinya dia menyambung. “Akan tetapi selama ini belum pernah aku bertemu setan dan iblis, semua itu hanya dongeng kosong belaka untuk menakut-nakuti anak-anak dan orang-orang penakut.”

Ling Ling menarik napas lega. “Aku juga... ti... tidak takut, taihiap.”

Akan tetapi, membayangkan betapa gadis ini ikut dengannya, Sie Liong menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

“Ling Ling, maafkan aku. Bagaimana pun juga, rasanya tidak mungkin jika engkau ikut denganku. Ingatlah, aku seorang pria, dan engkau seorang wanita, seorang gadis muda yang cantik. Apa akan kata orang? Tentu mereka akan menyangka yang bukan-bukan terhadap kita.”

“Taihiap, apakah kita harus menggantungkan hidup kita kepada kata-kata dan pendapat orang lain? Yang terpenting adalah kita sendiri, bukan? Apa bila kita tidak melakukan sesuatu yang tidak benar, mengapa takut disangka orang? Taihiap, aku akan menjaga diri agar tidak sampai membikin kecewa dan malu padamu. Aku akan menjadi pelayan yang baik...”

“Sekali lagi maaf, Ling Ling. Terpaksa aku menolak. Tidak mungkin aku dapat mengajak engkau berkelana menempuh banyak bahaya.”

Tiba-tiba wajah gadis itu nampak layu dan muram. Ia menundukkan mukanya, sampai lama tidak bergerak. Tidak lagi ia menangis, akan tetapi ketika ia bicara, suaranya lirih dan mengandung rintihan.

“Baiklah, taihiap. Maafkan gangguanku tadi. Aku akan pergi sekarang juga, selamat... tinggal...” Dan gadis itu pun membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah satu-satu dengan tubuh lemas dan agak terhuyung.

“Nanti dulu, Ling Ling! Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Sie Liong dengan hati penuh rasa iba.

Gadis itu berhenti melangkah, menoleh dan wajahnya nampak demikian pucat. Matanya tidak ada sinarnya lagi dan sebelum menjawab ia tersenyum, senyum yang menyayat perasaan Sie Liong karena senyum itu demikian pahitnya.

“Ke mana saja kakiku membawaku, taihiap. Habis, ke mana lagi? Aku pun tidak tahu...” dan ia pun melanjutkan langkahnya. Langkah satu-satu.

Dari belakang Sie Liong melihat betapa kedua pundak itu menurun, kemudian sedikit bergoyang-goyang, tanda bahwa gadis itu menangis lagi. Tiba-tiba gadis itu terhuyung, lalu jatuh berlutut dan menangis!

Sie Liong marasa semakin iba dan sekali meloncat, dia telah berada di samping gadis yang berlutut sambil menangis itu.

“Ling Ling...” katanya lirih.

“Biarkan aku mati saja... ahhh, biarkan aku mati saja...” gadis itu berbisik-bisik dan tangisnya mengguguk.

Dengan dua tangannya, Sie Liong memegang pundak gadis itu dan menariknya bangun berdiri. “Ling Ling, jangan berkata demikian! Kalau engkau memang nekat dan berani menghadapi kesengsaraan, baiklah, aku suka menerimamu.”

Kedua tangan itu menurun dari depan mata, mata itu terbelalak, air matanya masih menetes-netes, muka itu masih pucat, akan tetapi mulut itu mengembangkan senyum. “Benarkan, taihiap? Ah, terima kasih...! Aku tidak akan sengsara. Aku akan menjaga agar taihiap tidak sengsara! Aku siap menghadapi segala kesukaran tanpa mengeluh. Dan aku dapat bekerja, taihiap. Aku memiliki keahlian menyulam indah, dan dengan itu aku akan dapat mencari uang untuk dipakai keperluan kita sehari-hari! Ahh, aku bahagia sekali, terima kasih, taihiap... terima kasih...”

Pada saat itu terdengar suara sorak sorai dan ketika mereka menengok, nampak rumah itu sudah dibakar. Api bernyala besar dan orang-orang dusun itu bersorak gembira. Lalu mereka berbondong menghampiri Sie Liong, dipimpin oleh Gumo Cali. Mereka kembali menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu, menghaturkan terima kasih.

“Saudara sekalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kuharap saja mulai sekarang saudara sekalian bisa mempersatukan tenaga untuk menjaga keamanan dusun sendiri. Sekarang, perkenankan aku pergi.”

Pendekar Bongkok meninggalkan tempat itu dan Ling Ling mengikutinya. Semua orang memandang dengan heran melihat gadis itu ikut pergi bersama Pendekar Bongkok, namun tidak ada seorang pun yang berani bertanya. Mereka hanya mengira bahwa pendekar itu tentu hendak mengantarkan gadis yang tidak dijemput orang tuanya itu ke dusunnya sendiri.

Mereka pun bubar dengan hati gembira karena gadis-gadis itu ternyata dalam keadaan selamat. Di dusun itu nama Pendekar Bongkok lebih dikenal dari pada nama Sie Liong. Mereka tidak akan pernah melupakan pertolongan yang diberikan pendekar itu dalam mengusir para penjahat yang menyamar sebagai siluman merah, penculik gadis-gadis remaja yang cantik.

“Ling Ling, aku mau mengajakmu pergi, akan tetapi engkau harus mentaati semua permintaanku,” demikian Sie Liong berkata setelah dia dan gadis itu berada di kaki Bukit Onta, jauh dari para penduduk dusun.

Wajah yang manis itu basah oleh keringat. Sejak tadi, Sie Liong berjalan saja, seolah tidak mempedulikan gadis yang berjalan di belakangnya itu, bahkan kadang-kadang dia sengaja melangkah lebar sehingga Ling Ling terpaksa harus setengah berlari untuk mengikutinya.

Sie Liong mendengar langkah kaki pendek-pendek itu, dan dia mendengar pula betapa pernapasan gadis itu mulai memburu. Akan tetapi, sedikit pun Sie Liong tidak pernah mendengar gadis itu mengeluh.

Kini, dia berhenti dan berkata demikian sambil menatap wajah itu. Wajah itu basah oleh keringat, dan napas gadis itu agak memburu, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun kekesalan hati. Bahkan wajah itu berseri-seri dan penuh kegembiraan! Mendengar ucapan itu, ia menjawab lantang dan mantap, tanpa ragu.

“Tentu saja, taihiap! Aku akan mentaati semua perintahmu, biar pun untuk itu aku harus berkorban nyawa...” tiba-tiba dia cepat menyambung kalimat yang sebenarnya sudah berakhir itu, “... asal saja taihiap tidak menyuruh aku pergi meninggalkanmu!”

Sie Liong tersenyum. Gadis dusun ini sederhana dan tabah, tapi dalam kesederhanaan, ternyata ia cerdik juga.

“Nah, kalau begitu, perintahku yang pertama adalah jangan sebut aku taihiap. Namaku Sie Liong dan mengingat bahwa engkau pantas menjadi adikku, sebut saja aku sebagai kakakmu.”

“Baiklah, Liong-ko (kakak Liong)!” kata Ling Ling gembira.

“Dan ke dua, sekarang engkau harus mengantar aku ke rumah orang tua angkatmu.” Dia melihat wajah itu terkejut, maka disambungnya cepat, “Bagaimana pun juga, aku ingin menemui mereka dan mengatakan bahwa engkau tidak suka kembali ke sana dan akan ikut dengan aku. Hendak kulihat bagaimana sikap mereka, dan juga tidak baik pergi begitu saja tanpa pamit.”

Ling Ling mengangguk, nampak hilang kagetnya. “Baiklah, Liong-ko.”

Mereka pun pergi menuju ke dusun tempat tinggal orang tua angkat Ling Ling. Ketika tiba di rumah itu, mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang memandang pada Ling Ling dengan mulut cemberut. Apa lagi mereka melihat bahwa gadis itu pulang bersama seorang pemuda bongkok.

Ayah angkatnya yang dipenuhi kecewa dan cemburu segera menudingkan telunjuknya kepada Ling Ling dan mulutnya langsung mengeluarkan makian.

“Perempuan tak tahu malu! Kiranya engkau bukan diculik siluman merah akan tetapi minggat bersama siluman bongkok ini, ya? Bagus, engkau membikin malu padaku!”

“Dasar anak tak tahu diri, tidak mengenal budi!” bentak ibu angkatnya. “Bertahun-tahun kami memeliharamu, memberi makan dan pakaian sampai kau dewasa, sekarang tidak membalas budi malah melempar kotoran ke rumah kami!”

Sejak tadi Sie Liong mengamati dua orang ini. Seorang pria tinggi kurus dengan muka pucat seperti berpenyakitan, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Mulutnya lebar dan giginya yang panjang-panjang itu kelihatan separuhnya lebih di luar bibir. Matanya membayangkan wataknya yang kurang baik.

Ada pun wanita itu beberapa tahun lebih muda. Tubuhnya gendut dan hidungnya pesek, dengan muka yang tidak menarik dan nampaknya juga galak. Sungguh ia merasa heran bagaimana sepasang suami isteri seperti ini menjadi orang tua angkat seorang gadis seperti Ling Ling, bahkan dipuji oleh gadis itu sebagai orang-orang yang tadinya amat baik kepadanya.

“Ayah, ibu, aku tidak minggat, memang benar diculik...”

“Diculik setan bongkok ini, ya? Sungguh kalian pantas dihajar!” habis berkata demikian, laki-laki jangkung itu menerjang maju, siap menghajar dan tangannya menampar ke arah kepala Sie Liong.

Apa bila menurutkan panasnya hati karena dimaki-maki, ingin Sie Liong sekali pukul menghancurkan mulut yang giginya panjang-panjang itu. Namun dia tidak menurutkan nafsu amarahnya, melainkan menangkap lengan yang memukul, lalu memuntirnya dan mendorongnya.

Pria itu mengeluarkan teriakan dan roboh terbanting lalu berguling-guling, berteriak mengaduh-aduh. Isterinya juga sudah maju dan dengan tangan membentuk cakar telah siap mencakari muka Ling Ling yang berdiri diam saja tidak melawan.

Akan tetapi, sebelum kuku-kuku jari tangan wanita itu mengenai kulit muka Ling Ling, kakinya ditendang oleh Sie Liong dan wanita itu jatuh berdebuk. Pantat yang besar itu terbanting ke atas tanah dan ia mengaduh-aduh, mengelus pantatnya dan tidak mampu bangun, seperti seekor kura-kura yang jatuh telentang.

“Berani kamu memukul orang...?”

Ayah angkat Ling Ling sudah bangkit lagi dan membantu isterinya berdiri. Keduanya semakin marah, akan tetapi hanya mulut mereka saja yang nyerocos, tidak berani lagi menyerang.
cerita silat karya kho ping hoo

Pada saat itu juga, beberapa orang dusun yang tadi turut menyerbu ke bukit Onta, datang mengiringkan dua orang gadis dusun itu yang terbebas dari penculikan. Melihat betapa ayah dan ibu angkat Ling Ling memaki-maki Pendekar Bongkok, mereka terkejut dan cepat semua orang lari ke situ.

“Engkau setan bongkok, kunyuk bongkok, beraninya melarikan gadis orang!” teriak ayah angkat gadis itu yang menjadi semakin berani melihat para tetangga berlarian datang.

“Heiii! Gumalung... tutup mulutmu yang kotor itu!” bentak beberapa orang. Mendengar ini, tentu saja Gumalung, demikian nama ayah angkat Ling Ling, memandang heran.

“Sungguh engkau lancang mulut! Tahukah engkau siapa pendekar ini? Dia adalah Sie Taihiap! Dialah yang telah mengusir para penjahat yang menculik gadis-gadis itu! Malah anak kalian Ling Ling juga dibebaskannya. Sekarang, datang-datang dia kalian semprot dengan makian. Kalian sungguh orang-orang yang jahat!”

Mendengar ini, seketika pucat wajah Gumalung dan isterinya. “Ahhh... ohhh... maafkan kami... maafkan kami... sungguh kami tidak tahu…” kata Gumalung, diikuti oleh isterinya dan mereka membungkuk-bungkuk.

“Sudahlah!” kata Sie Liong membentak. Melihat banyak orang di sana, dia menganggap kebetulan sekali untuk membersihkan nama Ling Ling.

“Kalian memang suami isteri yang tidak berbudi! Ketika Ling Ling berusia sepuluh tahun, dengan dalih tidak memiliki anak, kalian kemudian mengangkat dia sebagai anak. Ling Ling telah bekerja seperti budak di sini untuk membalas budi kalian. Akan tetapi setelah ia dewasa, engkau yang menjadi ayah angkatnya mulai bersikap tidak wajar, merayunya bahkan hendak memperkosanya. Karena Ling Ling tidak sudi memenuhi permintaanmu yang kotor itu, engkau lalu membencinya. Dan isterinya yang tidak tahu diri ini bukannya menyalahkan suaminya, bahkan juga membenci Ling Ling karena cemburu. Nah, coba kalian berdua katakan, betul tidak apa yang kukatakan semua ini. Kalian harus mengaku terus terang, baru akan kumaafkan. Kalau kalian membohong, aku akan turun tangan menghajar kalian!”

Suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa takut kepada Pendekar Bongkok, akan tetapi mereka juga merasa malu kalau harus mengaku di depan para tetangga yang kini sudah berdatangan ke tempat itu. Karena merasa bingung dan serba salah, akhirnya isteri yang galak itu menuding-nudingkan telunjuknya ke muka suaminya.

“Memang engkau yang celaka! Engkau suami tidak setia, engkau rakus, engkau suami mata keranjang! Sudah kuduga bahwa tentu engkau yang hendak memaksa Ling Ling, akan tetapi engkau selalu mengatakan bahwa Ling Ling yang menggodamu! Pendusta besar! Perempuan mana yang sudi menggoda laki-laki bermuka buruk seperti mukamu? Engkau hendak memperkosanya, ya? Bagus, engkau memang layak mampus!” Wanita itu menerjang suaminya menggunakan kedua tangannya yang hendak mencakar-cakar.

Suaminya cepat-cepat menangkap kedua pergelangan tangan isterinya dan mereka pun mulai bersitegang. Agaknya si suami yang kerempeng ini kalah tenaga sehingga justru dialah yang terbawa terhuyung ke kanan kiri.

“Engkau perempuan cerewet! Engkaulah yang membenci Ling Ling, engkau iri hati dan cemburu melihat ia cantik jelita, tidak macam engkau ini babi gemuk!”

“Apa kau bilang? Aku babi? Dan engkau ini monyet, engkau tikus kurus mau mampus!”

Kedua suami isteri itu saling dorong dan para tetangga mulai tertawa melihat mereka berkelahi. Tidak ada seorang pun yang berusaha untuk memisahkan pasangan suami isteri itu.

Sie Liong dengan gerakan tidak sabar segera maju. Sekali dia menggerakkan tangan, kedua suami isteri itu saling melepaskan cengkeraman dan keduanya lalu terpelanting, untuk kedua kalinya mereka terbanting jatuh. Keduanya sangat terkejut, kesakitan dan ketakutan, lalu mereka berdua berlutut menghadap Pendekar Bongkok.

“Taihiap, ampunkan saya...” Wanita itu merengek.

“Taihiap, ampunkan kami, kami mengaku salah. Kami bersalah terhadap Ling Ling...” kata sang suami, lalu tanpa memandang wajah anak angkatnya, dia pun menyambung, “Ling Ling, maafkanlah ayahmu yang bersalah ini...”

“Aku tidak mempunyai ayah dan ibu seperti kalian! Aku datang untuk berpamit, aku akan pergi meninggalkan kalian!”

“Ehhh...? Kenapa, Ling Ling? Kenapa engkau hendak meninggalkan kami?” Gumalung berseru kaget, juga isterinya kaget mendengar ucapan ini.

Mereka memang tidak sayang lagi kepada Ling Ling, dan kesayangan ayah angkat itu merupakan kesayangan yang terdorong nafsu, akan tetapi mereka akan repot apa bila ditinggalkan Ling Ling yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.

“Tapi, kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja, Ling Ling!” kata pula Nyonya gendut itu.

Sie Liong sudah merasa lega. Percekcokan suami isteri itu tadi saja sudah merupakan pengakuan dari mereka bahwa Ling Ling tidak berbohong, dan semua orang pun sudah mendengarnya. Maka, dia pun lalu berkata dengan suara tegas.

“Ling Ling akan meninggalkan rumah ini, dan dia akan pergi bersamaku. Apakah kalian merasa berkeberatan?”

“Tapi... tapi... ia merupakan bantuan bagi kami di rumah ini. Tanpa Ling Ling... pakaian tidak tercuci bersih, masakan pun tidak enak rasanya...”

“Anjing kurus, engkau mencela aku lagi, ya?” bentak isterinya. “Kalau kurang bersih, kau cuci sendiri pakaianmu, dan kalau engkau tak menyukai masakanku, pergi sana makan di luar! Taihiap, kami memang berkeberatan kalau Ling Ling pergi karena... karena...”

“Karena apa?” Sie Liong mendesak.

Wanita gendut itu beberapa kali menelan ludah, agaknya dia takut untuk bicara. Akan tetapi dengan memaksa diri akhirnya dia berkata juga, “... anak itu sudah delapan tahun tinggal bersama kami... dan entah sudah berapa banyak kami mengeluarkan uang untuk memeliharanya, makannya... pakaiannya...”

Sie Liong menahan diri untuk tidak menampar muka wanita itu. “Hemmmm, jadi engkau merasa rugi? Katakanlah, berapa banyak hutang Ling Ling kepada kalian?”

“Sedikitnya seratus tail perak...”

Terdengar suara orang-orang yang mengomel panjang pendek. Banyak penduduk yang merasa sikap orang tua angkat Ling Ling itu keterlaluan sekali.

Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki beberapa ekor kuda dan ternyata yang muncul adalah Gumo Cali dan beberapa orang dusun lainnya yang tadi memimpin penyerbuan ke Bukit Onta. Gumo Cali cepat memberi hormat kepada Pendekar Bongkok dan dia menurunkan sebuah bungkusan kain dari atas kudanya.

“Sie Taihiap, tadi ketika kami menggeledah rumah para penjahat di puncak Bukit Onta, kami menemukan uang sebanyak tiga ratus tail perak. Kami semua sudah bersepakat untuk menyerahkan uang ini kepada taihiap!”

Sie Liong tersenyum. Dia memang sedang bingung memikirkan bagaimana caranya dia akan dapat membayar hutang Ling Ling kepada orang tua angkatnya itu. Dan sekarang mereka datang hendak menyerahkan uang, bukan hanya seratus tail, bahkan tiga ratus tail! Kalau Tuhan hendak menolong, ternyata ada saja jalannya!

“Terima kasih!” katanya. “Tolong ambilkan seratus tail perak dan serahkan kepadaku.”

Gumo Cali membuka kantung itu dan mengeluarkan sepertiga bagian dari isi kantung. Gumpalan perak senilai lima tail itu besar dan berkilauan, jumlahnya ada sebanyak dua puluh buah.

“Lihat, inilah uang yang pernah kau keluarkan untuk Ling Ling!” berkata demikian, Sie Liong mengambil gumpalan-gumpalan perak itu dan melemparkannya ke arah dinding.

Potongan potongan perak itu beterbangan dan menancap pada dinding, sampai masuk ke dalam, berjajar dua puluh lubang banyaknya. Tentu saja suami isteri itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Kalau saja tadi gumpalan perak itu diarahkan kepada mereka, tentu akan remuk dada mereka dan pecah kepala mereka!

“Paman, harap sisanya ini paman bagi-bagikan kepada para gadis yang sudah menjadi korban penculikan. Nah, selamat tinggal dan terima kasih!”

Bersama Ling Ling yang sudah berlari mengambil pakaiannya dari dalam kamarnya dan memasukkan bekal pakaian itu ke dalam buntalan kain, Sie Liong lalu meninggalkan tempat itu…..

*********

Mereka duduk menghadapi api unggun di bawah pohon dekat hutan besar itu. Hawa amat dinginnya walau pun udara cerah pada sore hari itu. Bahkan panasnya api unggun yang dihadapinya tidak cukup kuat untuk dapat mengusir hawa dingin yang dirasakan Ling Ling. Ia kadang-kadang masih menggigil.

Melihat keadaan gadis ini, Sie Liong merasa kasihan. Dia membuka baju luarnya yang agak tebal, kemudian diselimutkan dari belakang ke tubuh gadis itu. Melihat hal ini, Ling Ling tersenyum dan menarik baju luar itu agar lebih banyak menyelimuti lehernya.

“Terima kasih...” katanya lirih.

Ling Ling termenung memandang ke arah api unggun yang bernyala indah. Ia merasa betapa kedua kakinya nyeri, kiut-miut rasanya karena seharian itu mereka hampir terus menerus berjalan naik turun bukit. Ia tidak pernah mengeluh walau pun kakinya terasa seperti akan patah-patah, dan telapak kakinya terasa tebal dan panas sekali.

Kelelahan membuat ia merasa lemas, ditambah pula rasa lapar karena sejak pagi tadi mereka tidak pernah makan apa pun. Minum pun hanya dari sumber air yang mereka lewati di kaki bukit terakhir tadi. Ia tidak tahu betapa pemuda itu semenjak tadi mencuri pandang dan mengamati wajahnya.

Ia merasa berbahagia! Biar pun ia merasa lelah bukan main, namun senyum manis tak pernah meninggalkan mulutnya, cahaya matanya tidak pernah meredup, dan wajahnya berseri-seri. Apa lagi karena sepanjang hari itu dia banyak bergerak jalan, kedua pipinya menjadi kemerahan, puncak pipi di bawah dan kanan kiri mata bagaikan buah tomat masak.

Sie Liong duduk di seberang api unggun. Dari atas nyala api, dia dapat memandang wajah gadis itu dengan jelas. Cuaca sudah mulai suram, akan tetapi cahaya api yang kuning kemerahan menimpa wajah yang manis itu. Diam-diam dia kagum sekali kepada Ling Ling.

Sudah sepekan gadis itu melakukan perjalanan dengan dia. Sengaja dia membawa Ling Ling merasakan kelelahan, kekurangan makan dan minum, kepanasan dan kedinginan. Namun, gadis itu selalu tersenyum, tidak pernah mengeluh.

Dia sengaja menguji karena dia belum yakin apakah benar gadis ini hendak nekat ikut bersama dengan dia mengembara dan hidup serba kekurangan. Tetapi selama sepekan ini dia mendapatkan kenyataan bahwa memang gadis ini hebat bukan main!

Seorang gadis yang lemah badannya karena tidak pernah mempelajari silat, akan tetapi yang memiliki batin yang amat kuat, semangat membaja dan pantang mundur! Seorang gadis yang sama sekali tidak cengeng. Timbullah perasaan iba dan suka dalam hatinya terhadap Ling Ling.

Agaknya Ling Ling merasa bahwa dirinya dipandang. Dia mengangkat muka dan pada saat itu, pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sie Liong. Dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut agak lama. Akhirnya Sie Liong yang mengalihkan lebih dahulu pandang matanya, merasa tidak enak memandang orang terlalu lama dan penuh perhatian.

“Liong-ko, ada apakah? Engkau memandangku seperti hendak mengatakan sesuatu.”

Sie Liong memandang padanya sambil tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya, apakah engkau masih kedinginan, Ling Ling?”

Ling Ling merapatkan baju luar yang tebal itu dan tersenyum makin lebar. “Tadi aku memang kedinginan, akan tetapi sekarang tidak lagi. Hangat dan nyaman, Liong-ko.”

Mereka diam sejenak.

“Lelah...?” terdengar Sie Liong bertanya.

Gadis itu mengangkat mukanya dan kembali mereka bertemu pandang. Ia mengangguk. “Akan tetapi, alangkah nyamannya dan enaknya beristirahat seperti ini setelah merasa kelelahan!”

“Kakimu terasa nyeri?”

Sejenak Ling Ling tidak menjawab, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan memandang ke kakinya, kemudian menarik kedua kakinya dari bawah untuk diluruskan. Gerakan ini mendatangkan perasaan nyeri bukan main, akan tetapi ia sama sekali tidak mengeluh, hanya matanya tergetar sedikit dan juga bibirnya dikatupkan makin kuat. Akan tetapi ia menggelengkan kepala.

“Tidak, tidak nyeri...”

Hening lagi sejenak. Dalam keheningan ini, pendengaran Sie Liong yang terlatih dan amat peka itu mendengar suara perut gadis itu berkeruyuk, seperti juga perutnya sendiri yang sejak tadi berkeruyuk.

“Lapar...?” tanyanya sambil menatap wajah itu.

Ling Ling mengangkat muka dan kembali mereka bertemu pandang. Kembali gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sekali ini sambil menambahkan kayu kering pada perapian di depannya.

“Ling Ling, aku melihat engkau adalah seorang gadis yang tabah dan jujur, akan tetapi mengapa engkau membohongi aku?”

Gadis itu nampak terkejut sekali. Sebatang ranting yang sedang dipegangnya terlepas dan matanya terbelalak ketika dia memandang kepada pemuda itu. Sepasang alisnya berkerut dan suaranya terdengar heran, “Aku? Bohong?”

Sie Liong menganguk dan tersenyum. “Baru saja dua kali engkau berbohong kepadaku. Kakimu pasti nyeri sekali dan engkau mengatakan tidak, perutmu lapar dan engkau juga mengatakan tidak. Bukankah itu bohong namanya?”

Wajah yang tadinya menjadi agak pucat itu merah kembali, dan sepasang mata itu pun berseri kembali. “Aih, Liong-ko, engkau benar-benar mengejutkan aku. Kiranya itu yang kau namakan bohong. Itu bukan bohong, koko, melainkan untuk melawan keadaan dan untuk menguatkan hati.”

“Hemm, apa pula maksudnya itu?”

“Sebelum kujawab, aku ingin tahu bagaimana engkau begitu yakin bahwa kakiku nyeri dan perutku lapar?”

“Kita sudah berjalan sehari, naik turun bukit, sudah sepatutnya kalau kakimu nyeri dan pada saat engkau meluruskan kakimu tadi, jelas nampak pada wajahmu bahwa engkau menahan rasa nyeri. Juga sejak pagi kita belum makan lagi, sudah sepantasnya kalau perutmu lapar, dan tadi, aku sempat mendengar perutmu berkeruyuk.”

Ling Ling tertawa sambil menutupi mulutnya. Ia merasa lucu, juga sangat malu. “Ihhh, engkau membikin aku malu saja, koko. Telingamu usil amat sih, mendengarkan bunyi perut orang! Sekarang kujawab pertanyaanmu tadi. Memang kakiku terasa nyeri, habis mengapa? Andai kata aku mengaku nyeri pun, pengakuan itu tak akan mengurangi rasa nyeri, bahkan akan menambah. Maka aku membohongi diri sendiri saja, mengatakan tidak nyeri sehingga rasa nyeri banyak berkurang. Demikian pula tentang perutku yang lapar. Jika aku mengaku lapar juga tidak akan ada sesuatu yang dapat kumakan. Lebih baik mengaku tidak lapar supaya rasa laparnya berkurang. Ketika tadi engkau bertanya apakah aku lelah dan dingin, aku menjawab ya karena di sini ada tempat beristirahat untuk menghilangkan lelah dan api unggun penahan dingin. Nah, jelas, kan? Aku bukan pembohong, ya koko?”

Kalimat terakhir ini terdengar manja seperti rengek kanak-kanak sehingga Sie Liong memandang dengan senyum dan hatinya terharu. Dia teringat kepada Yauw Bi Sian.

Teringat dia betapa ketika masih kecil, Bi Sian yang tidak mempunyai teman lain kecuali dia, juga sering merengek seperti ini kalau minta sesuatu kepadanya. Dan seperti juga dahulu, ketika dia selalu menuruti permintaan Bi Sian kalau keponakannya itu sedang merengek, kini pun ia menuruti permintaan Ling Ling dan dia mengangguk.

“Engkau memang bukan pembohong, Ling Ling. Dan sekarang aku hendak membuat pengakuan.”

Kini gadis itu yang memandang heran dan penuh selidik. “Engkau hendak membuat pengakuan? Pengakuan apa lagi, Liong-ko?”

“Aku telah bersikap kejam sekali kepadamu, Ling Ling...”

“Aihhh! Sama sekali tidak, Liong-ko! Apa yang kau maksudkan ini? Bagiku engkaulah satu-satunya orang yang paling baik di dunia ini. Engkau bagiku menjadi pengganti ayah ibu kandungku, pengganti saudara dan keluargaku, menjadi sahabat dan juga guruku...”

“Jangan terlalu tinggi memuji, Ling Ling. Lihat dan rasakan, bukankah selama sepekan ini engkau sudah kubawa berjalan sampai melampaui batas kekuatanmu, memaksamu berjalan jauh melalui bukit dan tempat yang amat sukar, lalu membiarkanmu kelaparan dan kehausan? Bukankah selama sepekan ini aku juga membiarkan engkau mengalami sengsara, tubuhmu lelah, kakimu nyeri, perut lapar dan mulut haus? Aku telah bersikap kejam sekali!”

“Tidak, tidak! Aku tidak pernah menganggapmu kejam, koko. Sudah sewajarnya karena memang kita berdua ini sepasang kelana yang merantau, tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki rumah, bukan? Rumah kita adalah dunia ini, lantainya tanah ini, atapnya langit. Betapa indahnya rumah kita, koko, tidak ada di dunia ini yang seindah tempat tinggal kita. Di mana-mana tempat tinggal kita. Lantai kita bertilamkan rumput lunak, kebun kita penuh pohon dan bunga, kupu-kupu, burung...”

Mau tak mau Sie Liong tertawa gembira. Bukan main gadis ini, pikirnya girang. Memiliki ketabahan dan tahan uji, akan tetapi juga memiliki kelincahan dan kegembiraan hidup sehingga baru berkumpul sepekan saja semua kenangan buruk dan perasaan nelangsa di dalam hatinya tersapu bersih, membuat dia pun ikut gembira. Tiba-tiba saja segala sesuatu di sekelilingnya nampak demikian indahnya!

“Engkau tidak tahu, Ling Ling. Selama sepekan ini, aku memang sengaja membuatmu menderita. Aku sengaja membuat engkau kecapaian, kelaparan dan kehausan!”

Gadis itu memandang heran. “Kau sengaja? Aku... aku tak mengerti maksudmu, koko.”

“Aku memang hendak mengujimu. Setelah engkau menderita, hendak kulihat apakah engkau benar-benar sudah nekat untuk tetap ikut denganku. Apa bila engkau tidak kuat, aku akan mencarikan tempat yang baik untukmu, pada sebuah keluarga yang dapat kupercaya dan...”

“Liong-ko, kenapa begitu? Sudah kukatakan bahwa aku hanya mempunyai satu saja keinginan hidup ini, ialah ikut denganmu ke mana pun engkau pergi. Jangankan hanya kesukaran yang tidak seberapa ini, hanya keletihan, kelaparan dan kehausan, biar pun sampai mati aku tidak akan menyesal telah ikut denganmu, koko!”

Sie Liong menundukkan mukanya agar jangan nampak oleh gadis ini betapa wajahnya merasa terharu sekali. Apakah yang mendorong gadis ini demikian nekat? Mungkinkah gadis ini mencintanya? Ahhh, bagaimana mungkin?

Semua orang, terutama kaum wanita, takut dan benci kepadanya, jijik melihat keadaan tubuhnya. Bagaimana mungkin ada yang jatuh cinta kepadanya? Dan gadis ini bukan seorang gadis yang buruk rupa atau pun cacat, melainkan seorang gadis yang sehat lahir batinnya, bahkan cantik manis dan pasti akan mudah menundukkan hati pria yang mana pun.

“Maafkan aku, Ling Ling. Sudahlah, sekarang lebih baik kita makan. Perut kita sudah lapar sekali. Aku masih menyimpan roti tawar, kini hanya tinggal mencari daging segar untuk dijadikan teman roti.”

“Tapi...”
“Ssstttt, di sana ada daging...!”

Sie Liong yang sudah menyambar sebatang ranting dengan tangannya, secara tiba-tiba menyambitkan ranting itu ke arah kiri. Ranting itu pun meluncur bagaikan anak panah ke dalam semak-semak tidak jauh dari situ dan seekor kelinci putih terguling keluar dengan leher tertembus ranting dan mati seketika. Melihat hal ini, tentu saja Ling Ling menjadi girang bukan main.

“Hebat, engkau hebat, Liong-ko! Kelinci ini gemuk sekali... ahhh, akan kubuatkan daging kelinci panggang yang lezat untukmu, Liong-ko.” Mendadak ia kelihatan bimbang dan kemudian mengeluh. “Ahh, bagaimana mungkin dapat lezat tanpa bumbu?”

Melihat wajah gadis yang tadinya sangat gembira itu tiba-tiba menjadi sedih, Sie Liong tersenyum. “Jangan khawatir, Ling Ling. Bumbu apakah yang kau butuhkan? Katakan saja!”

Gadis itu memandang wajah Sie Liong dengan putus asa. Yang dia butuhkan itu hanya dapat dibeli di pasar, mana mungkin pendekar itu akan bisa mendapatkan bumbu untuk memanggang daging kelinci tadi?

Dengan lesu dia pun menjawab, “Lada untuk penghilang bau amis, atau jahe, bawang putih untuk penyedap, garam... dan gula agar terasa gurih dan manis...”

Akan tetapi, Ling Ling terbelalak ketika Sie Liong mengeluarkan barang-barang yang ia butuhkan itu dari dalam buntalan pakaian. Bumbu lengkap! Ling Ling bersorak gembira.

“Seorang pengelana harus selalu menyimpan dan membawa bekal bumbu-bumbu ini, Ling Ling.”

Akan tetapi gadis itu kini sudah bekerja keras, apa lagi ketika Sie Liong menyerahkan sebatang pisau yang sangat tajam, yang juga menjadi bekal Sie Liong untuk keperluan memasak makanan. Ia lupa akan dinginnya hawa udara dan sambil bersenandung lagu rakyat Tibet, Ling Ling menguliti kelinci gemuk itu dan mengambil dagingnya.

Kegembiraan gadis itu menular kepada Sie Liong. Dia pun merasa gembira dan lincah, merasa seolah-olah dia menjadi kanak-kanak atau remaja kembali. Dia mempersiapkan ranting penusuk daging, lalu membantu Ling Ling dan tidak lama kemudian, bau daging panggang yang sedap karena bumbunya lengkap, membuat perut mereka makin keras berkeruyuk saling bersahutan.

Sie Liong lalu mengeluarkan bungkusan roti tawar dan seguci anggur merah yang tidak keras, melainkan anggur manis. Dan kemudian mereka pun makan roti tawar dengan daging kelinci panggang yang benar lezat karena masih segar, lunak dan gurih.

Pada waktu mereka makan ini pun Sie Liong menemukan kenyataan yang membuat dia semakin termenung dan hatinya berdebar aneh. Kenapa mereka berdua berebut saling memilihkan daging terbaik? Kenapa mereka saling mementingkan kawannya dan saling memperhatikan? Inikah cinta? Dia merasa heran dan ragu.

Pernah dia mengalami perasaan seperti ini, ketika berhadapan dengan Yauw Bi Sian, keponakannya! Hanya bedanya, jika dari Bi Sian dia tidak merasakan perhatian lainnya kecuali kasih sayang yang kekanak-kanakan dari seorang keponakan yang sejak kecil menjadi temannya bermain.

Sebaliknya, dari Ling Ling dia dapat merasakan perhatian yang lain, yang lebih dewasa dan membuat dirinya merasa dimanja, merasakan suatu kemesraan yang belum pernah dirasakannya. Inikah cinta? Dia tidak dapat menjawabnya. Terlampau pagi untuk dapat menduga sejauh itu.

Kini perut mereka tidak berkeruyuk lagi. Mereka menemukan sumber air tidak jauh dari situ. Sesudah mencuci tangan dan mulut, mereka duduk lagi menghadapi api unggun. Malam mulai larut dan mereka membesarkan api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk. Kembali mereka saling berpandangan melalui atas nyala api.

“Ling Ling...” Sie Liong meragu, suaranya lirih dan seolah dia sangsi apakah perlu dia menyatakan isi hatinya.

Gadis itu memandangnya dan bibir itu terseryyum. Bibir yang kini nampak merah segar, tidak layu dan agak pucat seperti ketika kelaparan dan keletihan menguasainya tadi.

“Ya, Liong-ko?”
Aku heran sekali...”

Melihat pemuda itu jadi meragu, Ling Ling menjadi penasaran. “Apa yang kau herankan, Liong-ko?”

“Engkau...”

“Ehhh? Aku kenapa sih?” Ling Ling tertawa kecil. “Apakah mataku tiga? Hidungku dua? Apanya yang mengherankan pada diriku?”

“Seorang gadis seperti engkau... mengapa nekat hendak ikut dengan aku? Aku seorang laki-laki yang sebatang kara, miskin dan tidak mempunyai apa-apa...”

“Sama dengan aku!” Ling Ling menyambung cepat.

“Akan tetapi engkau seorang gadis yang cantik dan masih muda, sedangkan aku...”

“Engkau adalah seorang pendekar yang budiman, seorang jantan yang mengagumkan dan hebat sekali, dan...”

“Bukan itu maksudku, Ling Ling. Aku adalah seorang laki-laki yang cacat, bongkok dan menjijikkan...”

“Cukup, Liong-ko!” Ling Ling berteriak dan ia mengerutkan alisnya, sepasang matanya bersinar-sinar seperti orang marah. “Liong-ko, kenapa engkau begitu merendahkan diri? Ketika engkau muncul di ambang pintu itu, ketika semua gadis ketakutan melihatmu dan mengira engkau adalah seorang penjahat karena cacat tubuhmu, aku melihat betapa engkau seperti menerima tamparan atau tusukan. Aih koko, aku tidak dapat melupakan pandang matamu pada waktu itu dan di saat itu pula aku... aku memutuskan untuk ikut denganmu, ke mana pun engkau pergi...” Kini sepasang mata yang tadinya nampak marah itu menjadi lembut sinarnya, mata itu seperti redup.

“Kenapa, Ling Ling? Justru itulah yang ingin sekali kuketahui! Kenapa tiba-tiba engkau berani mengambil keputusan yang begitu nekat? Pergi mengikuti aku yang tidak engkau kenal sama sekali?”

“Pada saat itu aku melihat pandang matamu seperti itu, koko, aku... aku merasa hatiku tertusuk, aku merasa terharu dan kasihan sekali kepadamu. Ingatkah engkau betapa aku menangis sesenggukan, menangis dengan sedih? Bukan hanya karena aku tidak ada yang menjemput, bukan hanya karena aku takut membayangkan harus kembali ke rumah orang tua angkatku, melainkan terutama sekali karena kasihan kepadamu!”

Sie Liong menatap tajam wajah gadis itu. “Engkau kasihan kepadaku karena... tubuhku bongkok? Karena cacat tubuhku?”

Dengan tegas Ling Ling menggelengkan kepalanya. “Sama sekali tidak! Kenapa cacat tubuhmu harus dikasihani? Walau pun engkau mempunyai cacat, akan tetapi cacat itu sama sekali tidak mengganggumu, bahkan engkau memiliki kesaktian luar biasa. Tidak, aku bukan kasihan karena cacatmu, koko, melainkan kasihan karena engkau begitu menderita batin karena cacat itu, yang membuatmu begitu merendahkan diri. Engkau tentu merasa betapa semua orang, terutama wanita, jijik dan benci kepadamu...”

“Memang kenyataannya demikian!” kata Sie Liong, suaranya agak keras.

“Tidak, tidak semua merasa seperti itu! Hanya perempuan yang tinggi hati saja yang memandang rendah kepada seorang pria yang cacat. Padahal, cacat tubuh bukan hal yang terlalu memalukan, tidak seperti cacat batin! Tidak, koko, tidak semua perempuan benci kepadamu, setidaknya... aku kagum kepadamu, aku menganggap engkau orang yang paling baik di dunia ini, dan paling gagah...”

“... dan paling buruk?” Sie Liong menambahkan sambil tersenyum pahit.

Ling Ling mengerutkan alisnya. “Liong-ko, jangan tersenyum seperti itu! Begitulah cara engkau tersenyum ketika berdiri di ambang pintu itu, tersenyum seolah engkau melihat dunia kiamat dan engkau tidak peduli! Tidak, koko. Siapa bilang engkau paling buruk? Bagiku, engkau gagah dan tampan!”

Sie Liong membelalakkan matanya, menatap wajah gadis itu, dan jantungnya berdebar keras. Dan dia pun lalu bertanya kepada matanya, bagaimana gadis itu nampak dalam pandangannya.

Dia melihat seorang gadis yang sangat cantik manis, yang menimbulkan rasa iba dan suka, seorang gadis yang membuat dia merasa berbahagia. Pandang mata yang bening itu seperti memberi nyala hidup dalam hatinya, senyum manis di bibir itu seperti tetesan embun pagi pada perasaannya yang mulai mengering dan dia pun mendadak tertawa bergelak.

Suara ketawanya bebas lepas dan nyaring, memecahkan kesunyian malam. Beberapa ekor burung yang bertengger di pepohonan yang berdekatan sampai terkejut, dan bunyi kelepak sayap mereka menandakan bahwa mereka itu terkejut sekali dan terbang pergi menjauhi suara aneh itu.

Ling Ling juga memandang kepada Sie Liong dengah sinar mata khawatir. Suara tawa pemuda itu mula-mula perlahan, semakin lama semakin kuat dan anehnya, dia seperti mendengar isak tangis terselip di antara bunyi tawa itu.

Bagaikan terdorong oleh sesuatu, Ling Ling bangkit berdiri, menghampiri Sie Liong dan berlutut di dekat pemuda itu yang masih duduk bersila sambil tertawa. Dipegangnya pundak pemuda itu, diguncangnya dan dia pun berteriak dengan gelisah.

“Liong-ko...! Liong-ko... Kau... kau kenapa, Liong-ko?”

Ketika merasa betapa tubuhnya diguncang-guncang, Sie Liong baru sadar. Kalau tadi pada waktu tertawa dia menengadah, kini dia menundukkan muka dan suara ketawanya terhenti. Ketika dia melihat Ling Ling di dekatnya dan gadis itu kelihatan gelisah hampir menangis, mengguncang pundaknya, Sie Liong ingat akan keadaan dirinya dan seperti didorong oleh sesuatu yang amat kuat, dia lalu merangkul.

“Ling Ling...!”

“Liong-ko... ahhh, Liong-koko...!”

Keduanya saling rangkul, hanya berpelukan saja dengan kuat seolah-olah ingin menjadi satu dan tidak akan berpisah lagi. Rangkulan yang penuh dengan keharuan dan rasa syukur, tidak mengandung nafsu birahi sama sekali.

Sie Liong yang lebih dulu sadar bahwa keadaan mereka itu tidak semestinya. Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya. Merasa akan hal ini, Ling Ling juga melepaskan rangkulannya, akan tetapi dia diam saja ketika kedua tangannya dipegang oleh kedua tangan Sie Liong.

Mereka duduk berhadapan, saling berpegang tangan. Dengan suara menggetar karena keharuan Sie Liong berkata lirih.

“Ling Ling, terima kasih, engkau telah mengembalikan harga diriku!”

“Dan engkau telah mengembalikan pengharapanku untuk menghadapi kehidupan yang kejam ini, Liong-ko.”

“Nah, sekarang mengasolah. Engkau harus tidur yang enak agar besok memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan, Ling Ling.”

Ling Ling bangkit berdiri, lalu membongkar buntalan pakaiannya. Dikeluarkan sehelai selimut, dibentangkan selimut itu di atas rumput dekat api unggun.

“Akan tetapi engkau bagaimana, Liong-ko? Engkau pun harus mengaso!”

Pemuda itu tersenyum. “Aku sudah terbiasa dengan kehidupan begini, Ling Ling. Aku tidak perlu tidur karena harus menjagamu, menjaga supaya api unggun tidak padam. Tidurlah, dengan bersila saja aku akan dapat melepaskan lelah.”

“Baiklah, Liong-ko.”

Gadis itu menguap dan menutupi mulut dengan punggung tangan karena dia merasa lelah sekali dan mengantuk. Begitu dia merebahkan diri miring, dia pun pulas tertidur.

Dia miring menghadap api unggun sehingga Sie Liong dapat melihat mukanya. Hatinya penuh rasa haru dan rasa sayang melihat wajah itu tidur pulas dengan mulut tersenyum membayangkan kebahagiaan, dan napasnya amat halus. Seorang gadis yang baik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah pergi ke sumber air untuk mandi. Hawa sangat dingin, akan tetapi karena tubuhnya memang kuat sekali, maka mandi di waktu pagi itu terasa amat segar dan nyaman. Tubuhnya mengepulkan uap putih ketika dia merendam tubuhnya ke dalam air yang amat dingin itu.

Dia merasa segar sekali ketika dia kembali ke tempat mereka melewatkan malam dan dia mendapatkan Ling Ling sudah bangun. Pakaian dan rambutnya kusut, namun hal ini tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Melihat Sie Liong datang dengan rambut masih basah, gadis itu tertawa kecil.

“Aih, sepagi ini dan sedingin ini engkau agaknya telah mandi, koko! Hi-hik-hik, aku tidak berani mandi. Hawa begini dinginnya dan air itu tentu amat dingin pula seperti salju!” Ia mengeluarkan pakaian dari dalam buntalannya. “Akan tetapi aku akan bertukar pakaian dan mencuci pakaian yang kotor. Kesinikan pakaianmu yang kotor, Liong-ko, akan aku cucikan sekalian!”

Sie Liong memperlihatkan pakaian yang masih basah dan sudah diperasnya. “Sudah kucuci tadi!” katanya.

Gadis itu cemberut. “Aihh, koko. Berulang kali engkau mencuci sendiri pakaianmu. Apa kau kira aku tidak dapat mencuci bersih? Itu sudah menjadi kewajibanku, koko. Lain kali jangan kau cuci sendiri!”

Sie Liong mengangguk dan tertawa. “Baiklah, Ling Ling, aku berjanji.”

Gadis itu berlari kecil menuju ke sumber air yang berada kurang lebih tiga ratus meter dari tempat itu, menuruni tebing yang tidak curam. Sie Liong memandang sejenak dari belakang sambil tersenyum. Sesudah gadis itu menghilang di balik semak dan batang pohon, dia pun membuat persiapan untuk memanggang sisa roti tawar semalam untuk dipakai sarapan.

Sie Liong merasa gembira bukan main pagi itu. Dia merasa seolah-olah mengalami hidup baru. Suasana nampak indah bukan main. Matahari pagi dengan lembut mengusir kabut pagi, menggugah burung-burung yang kini mulai sibuk membuat persiapan untuk melaksanakan tugas kewajiban mereka sehari-hari, yaitu mencari makan.

Rumput dan daun pohon juga tergugah, nampak berseri dan segar, dihiasi butir-butir embun yang seperti mutiara berkilauan tertimpa sinar matahari pagi yang masih lemah. Kicau burung bagaikan musik yang amat riang dan merdu. Sie Liong tersenyum-senyum seorang diri.

Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. Roti yang dipanggangnya sudah matang sejak tadi. Terlalu lama gadis itu pergi ke sumber air, pikirnya. Biar pun dengan mencuci pakaian, pakaian itu tidak berapa banyak. Mestinya sudah selesai sejak tadi.

Dia bangkit berdiri dan memandang ke arah hutan, di mana terdapat sumber air itu. Tak nampak dari situ karena selain tertutup semak dan pohon, juga jalan ke sumber air itu agak menurun.

“Ling Ling...!” Dia berteriak memanggil, mengerahkan tenaganya agar suaranya sampai ke sumber air itu. Dia menanti jawaban, namun tak kunjung tiba.

“Ling Ling, rotinya sudah masak...” Dia berteriak lagi, lebih nyaring. Juga tidak terdengar jawaban.

Dia mengerutkan alisnya. Tak mungkin gadis itu tidak mendengar, dan andai kata gadis itu menjawabnya, tentu dengan pendengarannya yang peka terlatih, dia pasti akan bisa mendengarnya.

Memang tidak pantas kalau dia mendatangi sumber air itu. Siapa tahu gadis itu sedang mandi dan telanjang. Akan tetapi kekhawatiran hatinya membuat dia melangkah ke arah sumber air.

Setelah tiba di atas tebing, dia berhenti dan mendengarkan. Hanya suara gemercik air sumber bermain dengan batu-batu yang terdengar. Tidak terdengar suara orang mandi, bermain di air, atau mencuci pakaian. Akan tetapi dia masih belum mau turun.

“Ling Ling...!” Dia memanggil lagi.

Sekarang tidak mungkin sama sekali kalau gadis itu tidak mendengar karena sumber itu berada dekat di bawahnya, biar pun belum nampak dari situ karena terhalang batu-batu besar. Tidak ada jawaban!

Sie Liong tidak ragu-ragu lagi, dengan hati gelisah dia meloncat turun. Dia memandang ke sana-sini. Tidak nampak bayangan Ling Ling sama sekali.

“Ling Ling...!” Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Ketika dia mendekat ke sumber air, dia terkejut sekali melihat pakaian Ling Ling berada di situ, baik pakaian kotor yang akan dicucinya tadi mau pun pakaian kering untuk ganti. Gadis itu lenyap, tanpa berpakaian!

Wajahnya seketika pucat ketika detik jantungnya seperti terhenti, kemudian jantung itu berdebar-debar penuh ketegangan. Diterkam harimau atau binatang buas lain? Tentu ada bekas darahnya. Dengan muka pucat dia lalu meneliti ke atas tanah, mencari bekas atau bercak darah. Tidak ada darah, yang ada hanyalah jejak-jejak kaki!

Jejak banyak sepatu dengan ukuran besar. Banyak laki-laki baru saja berada di tempat itu! Dan jejak itu masih baru sekali. Celaka, pikirnya, Ling Ling tentu sudah diculik oleh entah berapa orang laki-laki, dalam keadaan telanjang bulat!

Dengan hati tidak karuan rasanya, dipenuhi oleh kegelisahan, dia lalu mengikuti jejak itu dengan cepat. Jejak itu membawanya masuk hutan. Dia berlari dengan cepat mengikuti jejak itu dan tiba-tiba dia mendengar suara-suara tertahan, seperti mulut yang menjerit akan tetapi dibungkam.

Cepat dia meloncat ke kiri, ke arah suara dan matanya terbelalak, melotot ketika melihat apa yang terjadi di balik semak-semak belukar, di atas rumput tebal itu.

Ling Ling, dalam keadaan telanjang bulat sedang menggeliat-geliat dan meronta-ronta, melawan mati-matian terhadap lima orang laki-laki yang hendak menggelutinya! Empat orang memegangi kedua tangan dan kakinya yang dipentang dan seorang lagi, yang brewokan, sambil terkekeh-kekeh berusaha untuk memperkosanya!

Ling Ling meronta-ronta, menggigit, menjerit, akan tetapi mulutnya dibungkam. Biar pun demikian, bagaikan seekor singa betina Ling Ling mempertaruhkan kehormatannya.

Dari dalam dada Sie Liong keluar lengking panjang yang menggetarkan hutan itu. Lima orang itu terkejut, menengok. Akan tetapi Sie Liong sudah tidak dapat lagi menahan kemarahan hatinya yang seolah-olah dibakar nyala api. Matanya mencorong, napasnya seperti mengeluarkan uap panas.

Begitu tubuhnya menerjang ke depan dan tangannya menyambar, maka rambut kepala si brewok itu telah dijambaknya. Dengan sekali angkat, tubuh si brewok yang setengah telanjang itu sudah diangkat dan diayun-ayun ke atas kepalanya seakan-akan tubuh si brewok yang tinggi besar itu hanya sehelai kain saja.

Si brewok berteriak-teriak, dia ketakutan setengah mati. Akan tetapi, dengan kemarahan meluap-luap Sie Liong membanting tubuh itu ke atas sebongkah batu.

“Prakkk!” kepala si brewok itu pecah dan otaknya berantakan bersama darah.

Melihat betapa pemimpin mereka tewas dalam keadaan demikian mengerikan, empat orang itu terbelalak dan mereka melepaskan kaki dan tangan Ling Ling. Dengan marah, mereka yang belum menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar sakti, mereka mencabut golok dari punggung masing-masing lantas serentak mereka menyerang Sie Liong dengan golok mereka.

Akan tetapi, kembali Sie Liong mengeluarkan suara melengking, menyambut mereka dengan kaki kanan yang melakukan tendangan berputar.

Terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan dan empat batang golok terpental lepas dari tangan empat orang itu. Mereka mengaduh-aduh, memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri karena pergelangan tangan kanan mereka telah patah disambar tendangan memutar tadi!

Sekarang mereka memandang dengan kedua mata terbelalak, penuh rasa takut melihat pemuda bongkok itu dengan langkah perlahan-lahan menghampiri mereka. Dan saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Ampun... ampunkan kami...”

Akan tetapi, lengkingan ketiga kalinya terdengar dan kembali kaki Sie Liong bergerak menendang. Empat kali dia menendang, dan tubuh empat orang itu terjengkang dan mereka tewas seketika dengan tulang leher patah-patah!

Ling Ling yang berlutut di atas tanah, memandang dengan tubuh menggigil dan muka pucat. Biar pun ia merasa marah dan membenci lima orang itu, namun ia merasa ngeri melihat pembunuhan itu terjadi di depan matanya, melihat betapa lima orang itu tewas seketika, melihat Sie Liong yang biasanya lemah lembut itu mengamuk, laksana iblis maut sendiri!

Sie Liong meloncat dan melihat gadis itu dalam keadaan telanjang bulat berlutut di atas tanah, dia pun lalu menghampirinya.

“Ling Ling..., kau tidak apa-apa...?” tanyanya lembut.

“Liong-ko...!” Ling Ling menjerit dan ia pun pingsan dalam dekapan Sie Liong.

Pemuda itu lalu memondongnya, membawanya ke sumber air, mengambil pakaian Ling Ling dan membawa gadis itu kembali ke tempat mereka melewatkan malam tadi. Sambil memaksa matanya supaya jangan melihat bagian terlarang dari tubuh gadis itu, dia lalu merebahkan Ling Ling ke atas selimut dan menyelimuti tubuh yang telanjang itu. Baru ia memijat-mijat tengkuk gadis itu untuk menyadarkannya.

Ling Ling siuman kembali, mengeluh dan membuka matanya. Tiba-tiba ia terbelalak dan menjerit karena teringat kembali akan peristiwa tadi. Jerit melengking ketakutan sambil bangkit duduk.

Sie Liong merangkul gadis yang menjerit-jerit histeris itu. Begitu dirangkul, Ling Ling bahkan meronta-ronta dan menjerit semakin nyaring.

“Lepaskan aku...! Lepaskan! Keparat jahanam kalian... lepaskan akuuuu...!”

Sie Liong mendorong gadis itu dan memaksanya untuk memandang kepadanya.

“Ling Ling, lihat siapa aku...!” katanya setengah membentak untuk menyadarkan gadis yang dilanda ketakutan dan kengerian itu.

Ling Ling terbelalak memandang, sadar dan merangkul. “Liong-ko... ahhh, Liong-ko...!”

Dan dia pun menangis di dada Sie Liong, tanpa sadar bahwa selimut yang menutupi tubuhnya menjadi terbuka.

“Tenanglah, Ling Ling. Tenanglah, engkau sudah terbebas dari kelima orang anjing itu! Tenanglah, dan pakailah pakaian ini...” Sie Liong menutupkan lagi selimut yang tadinya menutupi tubuh gadis itu.

Ling Ling baru sadar bahwa kini ia masih telanjang bulat. Hal ini mengingatkan ia akan pengalaman tadi dan ia pun bergidik ngeri. Lalu dengan kedua tangan gemetar ia cepat mengenakan pakaiannya di balik selimut.

Sie Liong duduk di atas rumput membelakangi gadis itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia menarik napas panjang. Dia termenung dan wajahnya muram sekali.

Tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, dan suara itu lirih berbisik penuh kekhawatiran. “Liong-ko, engkau kenapakah...? Liong-ko, kenapa kau diam saja? Tadi... ketika aku berada di sumber, ketika aku habis mencuci muka membersihkan diri, ketika hendak berganti pakaian, mendadak mereka itu datang menyergapku. Aku tidak dapat menjerit karena mereka membungkam mulutku. Aku melawan mati-matian. Pada waktu engkau berteriak memanggil namaku, mereka lalu membawa aku pergi ke hutan itu dan di sana... ahh, untung engkau datang tepat pada waktunya, Liong-ko. Hampir aku tidak kuat bertahan lagi...”

Tiba-tiba Sie Liong mengepal tinju dan tangan Ling Ling yang memegang pundak itu cepat ditarik kembali karena kaget. Pundak itu seperti mengeluarkan tenaga yang amat panas! Ling Ling melangkah maju dan memandang wajah pemuda itu. Ia terkejut. Wajah itu pucat, mata itu seperti sayu dan sedih, seperti akan menangis!

“Liong-ko, engkau kenapa? Engkau kelihatan begini berduka! Apa yang telah terjadi?”

Suara itu parau dan penuh penyesalan. “Aku telah membunuh mereka...”

Gadis itu memandang heran. “Tentu saja, koko! Orang-orang seperti mereka memang layak kau bunuh! Mereka itu jahat sekali!”

Sie Liong menghela napas panjang. “Untuk menentang kejahatan, memang kadang-kadang terpaksa kita harus membunuh, akan tetapi tidak seperti yang kulakukan tadi, Ling Ling. Aku tadi membunuh karena rasa benci! Membunuh dengan hati dipenuhi dendam kebencian, karena aku melihat mereka memperlakukan engkau seperti itu. Membunuh karena cemburu dan benci. Ah, aku menjadi kejam sekali, tidak ada bedanya dengan mereka...!”

“Tentu saja engkau berbeda sekali dengan mereka! Engkau seorang pendekar sakti yang budiman, penentang kejahatan, dan mereka itu adalah segerombolan orang jahat yang berhati kejam, yang suka melakukan kejahatan. Bayangkan saja andai kata tidak ada engkau, Liong-ko, aihh... aku akan tertimpa mala petaka yang bagiku bahkan lebih mengerikan dan menyedihkan dari pada maut sendiri. Engkau sudah benar, Liong-ko, tidak ada sesuatu untuk disesalkan.”

Sie Liong memandang gadis itu dan tersenyum, akan tetapi senyumnya tidak segembira malam tadi atau pagi tadi sebelum terjadi peristiwa itu.

“Engkau tidak mengerti, Ling Ling. Sudahlah, mari kita kemasi barang-barang kita untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, sebelum itu aku akan menguburkan lebih dulu lima jenazah itu.”

“Menguburkan mereka?” Gadis itu terbelalak, akan tetapi melihat sinar mata pendekar itu, ia pun menunduk. “Baiklah, Liong-ko... aku hanya menuruti semua perintahmu.”

Mendengar jawaban ini dan melihat sikap Ling Ling, senyum Sie Liong melebar dan tak begitu pahit lagi. Gadis ini sungguh merupakan sinar baru dalam kehidupannya.

Dia tadi merasa amat terpukul dan berduka sekali mengenangkan kekejaman yang telah dilakukannya terhadap lima orang yang tidak dikenalnya itu. Dia tahu bahwa kekejaman itu dia lakukan karena cemburu dan kebencian yang amat hebat. Padahal, kebencian merupakan suatu hal yang harus dihindarkan, demikian yang selalu dipesankan oleh Pek-sim Siansu kepadanya. Tidak lama kemudian, Sie Liong sudah membuat lubang kuburan untuk lima jenazah orang-orang yang tidak pernah dikenalnya itu. Orang-orang yang kini menjadi jenazah karena sudah dibunuhnya secara kejam.

Ling Ling hanya menonton dari kejauhan, tidak mau mendekat karena merasa ngeri. Diam-diam gadis ini semakin kagum kepada Sie Liong. Seorang pendekar sakti yang budiman, gagah perkasa, namun berhati lembut. Mana ada orang mau menguburkan jenazah orang-orang jahat yang tadi menjadi musuhnya? Setelah selesai mengubur jenazah lima orang yang dibunuhnya itu dengan sederhana namun pantas, Sie Liong lalu mengajak Ling Ling melanjutkan perjalanan ke selatan.


BERSAMBUNG KE PENDEKAR BONGKOK BAGIAN 11