Suling Naga bagian 17

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SULING NAGA BAGIAN 17



"Suhu dan subo, adik Can Bi Lan adalah tunangan teecu dan ia adalah murid dari Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir dan isterinya"

"Juga murid dari mendiang Sam Kwi!" Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng memotong kata-kata yang diucapkan oleh Sim Houw itu.

Semua orang terkejut dan diam-diam Suma Ciang Bun menyesalkan ucapan muridnya yang lancang itu, namun dia maklum bahwa perasaan dongkol di dalam hati muridnya yang membuat muridnya bersikap lancang seperti itu. Sejenak keadaan menjadi kaku dan tegang, akan tetapi Kam Hong yang menoleh kepada Hong Beng, kini tersenyum.

"Aihh, seorang yang sakti dan bijaksana seperti Kao-locianpwe, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, tidak mungkin salah memilih murid. Dan ia sekarang menjadi tunanganmu, Sim Houw. Selamat! Sungguh kami ikut merasa gembira sekali."

"Tunanganmu ini cantik dan gagah, Sim Houw. Selamat!" kata pula Bu Ci Sian, lega hatinya karena dengan adanya pertunangan ini, berarti ia pun terlepas dari beban batin yang merasa bersalah terhadap Sim Houw yang patah hati.

"Terima kasih, suhu dan subo," kata Sim Houw. Barulah dia dan Bi Lan menghadap takoh-tokoh lain dan memberi hormat.

Saat memberi hormat kepada Kao Cin Liong, tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan menyebutnya ‘suheng’ (kakak seperguruan). Mendengar sebutan ini, wajah Cin Liong menjadi merah dan hatinya tidak senang sekali.

"Can Bi Lan," katanya halus namun mengandung kemarahan, "engkau telah menyebut suheng kepadaku, maka aku berhak untuk menegurmu. Aku banyak mendengar hal-hal yang tidak baik tentang dirimu, dan kalau memang benar, maka berarti aku sebagai suhengmu akan terkena lumpur dan noda pula. Benarkah engkau pernah bersekongkol dengan wanita jahat Bi-kwi dan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, bahkan engkau dibantu oleh Pendekar Suling Naga sudah memusuhi keluarga Pulau Es?"

Bi Lan mengerling ke arah Hong Beng. Ingin rasanya ia pada saat itu juga menyerang pemuda itu. Ia dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah yang menyebar fitnah, yang memburukkan namanya di depan semua orang. Tapi sentuhan tangan Sim Houw pada lengannya membuat ia menyadari bahwa di hadapan para locianpwe, tidak sepantasnya kalau ia memperlihatkan sikap kasar. Maka ia pun memberi hormat kepada Kao Cin Liong.

"Kao-suheng, tidak akan kusangkal bahwa aku dan Sim-koko pernah membantu dan membela suci Ciong Siu Kwi, akan tetapi untuk urusan itu terdapat alasan-alasannya yang kuat. Sama sekali kami tidak pernah membantu kejahatannya. Ia telah mengubah hidupnya, bertobat dan ia hanya diperalat oleh para tosu jahat yang telah menyandera calon suaminya. Akan tetapi semua hal itu akan kuceritakan lain kali saja, sekarang yang penting, aku hendak menyampaikan kepada suheng sekeluarga bahwa aku dan Sim-koko datang ke sini sebagai utusan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir."

Mendengar ini, Kao Cin Liong tertegun. Kalau gadis ini sudah diterima orang tuanya, bahkan dijadikan utusan, itu tentu hanya berarti bahwa gadis ini tidak jahat. Sambil mengerutkan alisnya, dia bertanya, "Apakah kalian berdua mengunjungi orang tuaku?"

"Benar, suheng. Kami baru saja datang dari sana dan kami mendapat tugas dari suhu dan subo untuk memberi tahu kepada suheng berdua bahwa kalian telah kejatuhan fitnah yang amat keji, dituduh menjadi pembunuh-pembunuh dari Ang I Lama."

Bukan main kagetnya hati Kao Cin Liong mendengar ini. "Apa?! Apa maksudmu? Coba ceritakan yang jelas!"

"Suheng, ketika kami berada di istana, muncul seorang hwesio yang telah kita kenal baik karena dia adalah Tiong Khi Hwesio. Locianpwe inilah yang mengabarkan kepada suhu dan subo bahwa Ang I Lama tewas dibunuh orang, dan para pembunuhnya adalah suheng berdua"

"Gila! Kami tidak melakukan hal itu!" Kao Cin Liong berseru keras.

"Itu fitnah keji!" Suma Hui juga berseru marah.

"Locianpwe Tiong Khi Hwesio sudah menjadi utusan para pendeta Lama di Tibet untuk menyampaikan protes kepada suhu dan subo karena mereka semua merasa yakin bahwa suheng berdua pembunuhnya. Menurut cerita locianpwe itu, sebelum tewas, dalam keadaan terluka parah dan di depan para pendeta Lama, Ang I Lama sempat menyebut nama suheng berdua."

"Ahhh...!" Wajah Kao Cin Liong berubah. Urusan ini bukanlah urusan kecil dan dia mengerutkan alisnya. "Anak kami hilang belum juga ditemukan jejaknya, dan sekarang muncul lagi fitnah keji yang menuduh kami membunuh Ang I Lama!"

"Ahh… aku mengerti sekarang!" Tiba-tiba Suma Ceng Liong yang terkenal cerdik itu berseru. "Pasti ada hubungan antara kedua peristiwa itu, cihu (kakak ipar)! Si penculik Hong Li mengaku bernama Ang I Lama dan kemudian setelah kalian datang ke barat, ternyata bukan Ang I Lama yang menculiknya. Kemudian, Ang I Lama dibunuh orang dan pendeta itu meninggalkan pesan yang menuduh kalian menjadi pembunuhnya. Bukankah jelas bahwa ada pihak ketiga yang sengaja hendak mengadu domba antara kalian dengan para pendeta Lama? Mula-mula Ang I Lama difitnah menculik Hong Li, kemudian karena tidak melihat kalian bermusuhan dengan Ang I Lama, maka fitnahnya dibalik. Pendeta itu dibunuh dan nama kalian yang kini difitnah."

"Benar! Tentu ada orang yang mengatur semua ini. Akan tetapi siapa?" Kao Cin Liong berseru, penuh rasa penasaran.

"Hemm, setelah mendengar semua laporan tentang hilangnya Kao Hong Li, aku rasa ada kemungkinan lain," tiba-tiba kakek Kam Hong berkata dengan suaranya yang halus tetapi penuh wibawa sehingga semua orang menengok dan memandang kepada orang tua ini. "Mungkin Ang I Lama yang merasa tidak berdosa, setelah dituduh menculik Kao Hong Li, lalu turun tangan sendiri mencari penculiknya, bertemu akan tetapi dia kalah dan tewas."

"Akan tetapi mengapa dia meninggalkan pesan, yaitu menyebut nama cihu Kao Cin Liong berdua, ayah." Kam Bi Eng membantah pendapat ayahnya.

"Hal itu memang aneh, akan tetapi bisa juga dia bermaksud meninggalkan pesan untuk Kao Cin Liong berdua, tentang anak mereka itu, akan tetapi tidak sempat karena keburu tewas," sambung Kam Hong.

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. "Kemungkinan itu besar sekali, Kam-locianpwe. Akan tetapi tetap saja tidak dapat menemukan jejak pembunuh Ang I Lama dan penculik anak kami."

"Suheng, aku dan Sim-koko sudah ditunjuk oleh suhu dan subo untuk menemukan kembali Hong Li, dan juga membikin terang perkara fitnah atas diri suheng mengenai kematian Ang I Lama."

Mendengar ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui menatap wajah gadis itu dan wajah Sim Houw bergantian.

"Kalian...?" Cin Liong berkata, seperti pada diri sendiri, penuh kesangsian apakah dua orang muda ini akan berhasil, sedangkan dia bersama isterinya telah gagal, bahkan Suma Ciang Bun dan muridnya juga gagal, dan tokoh-tokoh lainnya tidak tahu ke mana harus mencari Hong Li. Pesta ulang tahun itu pun bahkan menjadi cara untuk mencari keterangan, sesuai dengan yang diusulkan Suma Ceng Liong.

"Suheng, kami berdua telah berjanji akan mencari Hong Li sampai dapat, kami tidak akan kembali sebelum berhasil, bahkan juga kami tak akan menikah sebelum berhasil," kata pula Bi Lan dan suaranya terdengar begitu tegas dan penuh keyakinan bahwa mereka berdua akan berhasil.

Mendengar tekad ini, diam-diam Kam Hong dan isterinya, Bu Ci Sian, menjadi terharu. Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui merasa bersyukur dan berterima kasih mendengar dua orang itu rela mengorbankan diri sampai sedemikian besarnya untuk mencari puteri mereka yang hilang.

Kini pandang mereka terhadap Sim Houw dan Bi Lan berubah, menjadi ramah dan lenyap sudah prasangka buruk dari hati mereka. Mereka yakin bahwa kalau orang tua mereka di Istana Gurun Pasir mempercayai dua orang muda ini, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk meragukan Sim Houw dan Bi Lan. Sebagai tuan rumah, Kao Cin Liong dan isterinya lalu membujuk agar Sim Houw dan Bi Lan suka tinggal di rumah itu sebelum pesta dimulai tiga hari lagi.

Meski merasa agak sungkan dan tidak enak karena mereka berdua bukan keluarga, dan walau pun Sim Houw melihat suhu dan subo-nya juga tinggal di situ, akan tetapi untuk menolak mereka merasa tidak berani. Maka mereka pun menerima dan mendapatkan dua buah kamar di sebelah belakang.

Hong Beng merasa tidak puas sama sekali dengan kemunculan Sim Houw dan Bi Lan di ruangan tadi. Dia menjadi gelisah di dalam kamarnya, tidak dapat mengaso pada malam hari itu. Hatinya masih panas dan penuh kemarahan kepada Sim Houw dan Bi Lan.

Jelaslah bahwa Bi Lan telah melakukan penyelewengan, berpihak kepada wanita jalang dan jahat seperti Bi-kwi, dengan alasan apa pun juga, dan sudah dua kali malah Bi Lan dan Sim Houw berkelahi melawan dia dan gurunya. Mereka berdua itu jelas bukan golongan sahabat, melainkan musuh. Akan tetapi mereka sekarang disambut sebagai tamu-tamu terhormat, bahkan diberi kamar.

Dan yang lebih menyakitkan hatinya adalah pengakuan Bi Lan bahwa gadis itu sudah bertunangan dengan Sim Houw! Nah, jelaslah bahwa apa yang dilihatnya tempo hari bukan hanya khayal belaka, pikirnya. Di antara mereka tentu terjalin tali perjinahan yang memalukan sekali! Dan mereka itu mengaku bertunangan begitu saja. Kapan resminya dan siapa pula yang menjodohkan antara mereka?

Hong Beng sudah tidak lagi mengharapkan balasan cinta dari Bi Lan, akan tetapi, melihat kenyataan betapa gadis yang menolak cintanya itu telah mendapatkan seorang kekasih, sedangkan dia masih menderita kesepian dan belum ada pengganti Bi Lan, membuat dia tanpa disadarinya merasa iri hati! Terlalu enak rasanya bagi gadis yang telah mengecewakan hatinya itu, yang selain menolak cintanya juga telah melakukan penyelewengan, jelas memihak Bi-kwi dan mewarisi watak jahat dari Sam Kwi, kini diterima pula secara terhormat seperti itu!

Selagi dia gelisah, masuklah Suma Ciang Bun ke dalam kamarnya. Hong Beng cepat bangkit duduk dan memberi hormat kepada suhu-nya.

"Engkau belum tidur?" tanya Suma Ciang Bun sambil duduk di atas kursi, sedangkan muridnya sudah turun dari atas pembaringan dan duduk pula di depan gurunya.

"Belum, suhu. Hati teecu gelisah."

"Engkau gelisah memikirkan diri Can Bi Lan itu, bukan?"

Hong Beng terkejut, namun suhu-nya yang sudah seperti ayahnya sendiri ini boleh saja mengetahui semua isi hatinya. "Benar, suhu. Teecu merasa penasaran sekali. Gadis yang melakukan penyelewengan itu, bersama Sim Houw yang sombong dan memusuhi kita, mengapa sekarang diterima dengan segala kehormatan di tempat terhormat ini? Apakah hal ini tidak akan membuat para tokoh sesat mentertawakan kita?"

Suma Ciang Bun tersenyum. "Memang, keadaan mereka cukup aneh dan meragukan, apa lagi mengingat bahwa gadis itu murid Sam Kwi dan memihak Bi-kwi. Akan tetapi engkau sudah mendengarkan semua cerita mereka. Mereka mendapatkan kepercayaan dan tugas dari locianpwe Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, bahkan menjadi utusan locianpwe itu. Tentu saja Kao-cihu menerima mereka dengan baik. Hong Beng, engkau agaknya terlalu dibakar hati yang panas. Maklumlah, karena engkau pernah mencinta gadis itu dan ditolak, lalu kini gadis itu muncul dan mengumumkan pertunangannya dengan Sim Houw! Aku tidak terlalu menyalahkan kalau engkau berpanas hati. Akan tetapi engkau harus bersikap gagah dan bijaksana. Lihat contohnya sikap Pendekar Suling Naga itu dan sikap nyonya Suma-Ceng Liong."

Hong Beng memandang wajah gurunya dengan heran. "Apa maksud suhu? Ada apa dengan Sim Houw dan isteri susiok (paman guru) Suma Ceng Liong?"

"Persis seperti keadaanmu dengan nona Can Bi Lan itulah! Dahulu, isteri adikku Suma Ceng Liong bernama Kam Bi Eng dan ia oleh orang tuanya telah dijodohkan dengan Sim Houw! Mereka telah ditunangkan secara resmi atas pilihan dan kehendak orang tua. Akan tetapi, Kam Bi Eng kemudian menolak Sim Houw dan memilih Suma Ceng Liong! Dan lihat sikap mereka kini. Tidak ada apa-apa, bukan? Seharusnya demikian pula sikapmu terhadap Sim Houw dan Can Bi Lan. Jodoh hanya dapat berlangsung melalui jembatan cinta kasih, dan cinta kasih haruslah datang dari kedua pihak. Tak mungkin bertepuk tangan sebelah, muridku, dan engkau sepatutnya bergembira bahwa orang yang kau cinta itu kini berjodoh dengan seorang yang berkepandaian tinggi."

Hong Beng termangu mendengarkan keterangan suhu-nya ini. Tak disangkanya bahwa Sim Houw pun pernah menderita kasih tak sampai seperti dia! Bahkan lebih hebat lagi karena Sim Houw telah ditunangkan dengan bibi gurunya itu, pertunangan yang diikat oleh guru Sim Houw sendiri, tapi kemudian dibatalkan karena bibi gurunya itu mencinta paman gurunya, Suma Ceng Liong!

"Tetapi, biar pun pandai, apa gunanya berilmu tinggi kalau melakukan penyelewengan, suhu?"

"Jangan tergesa menduga demikian, Hong Beng. Lihat saja, kalau memang Sim Houw menyeleweng ke jalan sesat, apakah gurunya, pendekar sakti Kam Hong locianpwe akan tinggal diam saja? Pula, kalau benar Bi Lan dan Sim Houw berkelakuan buruk, kukira seorang sakti seperti Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir tidak akan menaruh kepercayaan kepada mereka."

"Akan tetapi jelas bahwa mereka memihak dan membela siluman betina Bi-kwi sehingga menentang kita, suhu!" bantah Hong Beng penasaran.

"Menurut mereka, siluman betina itu kini telah bertobat dan mereka membelanya karena ia sekarang telah kembali ke jalan benar."

"Ah, siapa dapat percaya keterangan itu suhu? Harap suhu bayangkan, seorang wanita yang sudah demikian bejat akhlaknya, sudah demikian jahatnya seperti Bi-kwi, yang sepak terjangnya mengerikan dan jauh lebih jahat dari pada Sam Kwi sendiri, mana mungkin iblis betina macam ia itu dapat kembali ke jalan benar? Alasan yang dicari-cari saja! Keterangan itu harus dibuktikan dulu sebelum kita menerimanya dan menelannya mentah-mentah begitu saja. Teecu tetap masih belum mau percaya!"

"Engkau percaya atau tidak itu hakmu, akan tetapi aku memperingatkan agar engkau tidak membuat gara-gara dengan panasnya hatimu itu di sini, Hong Beng! Tadi, ketika engkau memotong keterangan Bi Lan dan mengumumkan bahwa Bi Lan murid Sam Kwi, aku sudah merasa sangat malu. Engkau tidak boleh mencari keributan dengan mereka lagi, baik di sini atau pun di lain tempat!"

"Suhu...!" Hong Beng terkejut dan menjatuhkan diri berlutut, menundukkan mukanya. Tidak disangkanya bahwa kini gurunya marah kepadanya dan agaknya gurunya bahkan memihak Bi Lan!

Melihat keadaan muridnya, Suma Ciang Bun menarik napas panjang. Dia merasa iba kepada muridnya ini. Semenjak kecil, muridnya ini telah bernasib malang. Ayah ibunya dibunuh orang dan hidup sebatang kara. Dia amat sayang kepada muridnya, seorang murid yang baik, patuh, rajin dan berbakat, bahkan muridnya telah membuktikan dirinya sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Kini, dia tahu bahwa muridnya ini rusak batinnya karena cintanya yang gagal! Muridnya menjadi pendendam, iri hati, dan iba dirinya membengkak.

"Hong Beng, apakah engkau tidak dapat melupakan kegagalanmu dalam cinta? Masih banyak wanita di dunia ini yang bahkan lebih baik dari pada Bi Lan, yang kelak dapat menjadi jodohmu..."

"Suhu...!"

Dan pendekar itu kaget sekali melihat betapa muridnya menitikkan air mata! Hong Beng, muridnya yang gagah perkasa itu, yang tidak gentar menghadapi ancaman maut, kini menangis!

"Hong Beng, ada apakah? Engkau... menangis?"

Pertanyaan ini memperbanyak keluarnya air mata dari kedua mata Hong Beng. Pemuda ini cepat menekan perasaannya, menghapus semua air mata dari mata dan pipinya, menggunakan punggung tangan. Setelah semua air mata terhapus, dia pun memberi hormat sambil berlutut.

"Ampunkan kelemahan hati teecu, suhu. Akan tetapi perkataan suhu tadi mengingatkan teecu bahwa teecu selamanya tak akan mungkin dapat menikah... agaknya... teecu... akan terpaksa mengikuti jejak suhu, tidak akan menikah selamanya."

Wajah Suma Ciang Bun berubah dan alisnya berkerut, pandang matanya penuh selidik ditujukan kepada wajah muridnya. Selama menjadi muridnya, Hong Beng tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengerti akan keadaan dirinya yang tidak normal.

Dia telah berjaga diri, dan muridnya itu tidak pernah tahu bahwa dia tidak menikah bukan karena tidak ada wanita yang mau menjadi isterinya, melainkan dia sendiri yang tidak mau menikah karena dia tak suka berdekatan dengan wanita! Ucapan Hong Beng itu tentu saja mengejutkan hatinya. Apakah Hong Beng kini tahu akan ketidak wajaran dirinya?

"Apa maksudmu, Hong Beng? Kenapa engkau terpaksa tak akan menikah selamanya?" pancingnya dengan hati tegang.

"Karena cinta pertama teecu (murid) telah gagal, dan untuk menikah dengan wanita lain, tidak mungkin! Teecu telah terikat janji dengan seseorang bahwa teecu harus menikah dengan seorang gadis. Padahal, perjodohan ini tidak akan mungkin terjadi, dan untuk melanggar janji kepada orang yang teecu hormati dan yang sudah tidak ada di dunia ini, teecu juga tidak berani."

Lega rasa hati Suma Ciang Bun, perasaan lega yang timbul karena dengan jawaban itu terbukti bahwa Hong Beng tidak tahu akan keadaan dirinya yang tidak wajar. Namun dia juga merasa heran sekali.

"Sungguh aneh! Kepada siapakah engkau berjanji, dan siapa pula gadis yang harus kau jadikan calon isteri itu dan kenapa pula hal itu tak mungkin terjadi?"

Hong Beng menundukkan mukanya, merasa bingung sebab ia tidak berani melanjutkan bicaranya. Gurunya menjadi makin heran melihat muridnya yang hanya menundukkan muka dan tidak menjawab itu.

"Hong Beng, jawablah pertanyaanku tadi!" dia mendesak, penasaran.

"Teecu... teecu tidak berani, suhu."

"Hong Beng, bukankah aku telah menjadi gurumu dan pengganti orang tuamu? Siapa lagi yang akan mengurus dan membela dirimu kalau bukan aku? Akulah yang akan melamarkan gadis yang kau pilih, dan akulah yang akan menikahkan engkau. Katakan, kepada siapa engkau berjanji dan siapa pula gadis itu!"

Hong Beng tadi tidak sengaja hendak membongkar rahasia hatinya itu. Dia tadi bicara karena dilanda duka, dan kini sudah terlanjur. Dia harus membuka rahasia itu kepada suhu-nya. Pula, kalau diingat benar, siapa lagi kalau bukan suhu-nya yang akan dapat membereskan persoalan itu?

"Harap suhu maafkan teecu. Sesungguhnya, teecu telah berjanji kepada... mendiang locianpwe Teng Siang In."

"Bibi Teng Siang In? Ibu kandung Ceng Liong?" Suma Ciang Bun berseru kaget. "Dan siapa gadis yang akan kau jadikan jodohmu itu?"

"Teecu sudah berjanji kepada mendiang locianpwe itu untuk kelak... menjadi suami nona Suma Lian..."

"Ehhh...?" Suma Ciang pun menjadi semakin heran dan memandang wajah muridnya dengan mata terbelalak.

Dia takkan ragu akan kebenaran pengakuan muridnya sebab selama menjadi muridnya, dia sudah mengenal benar watak Hong Beng yang tidak akan suka berbohong. Karena kepercayaan dan keyakinan inilah maka dia membela Hong Beng ketika bentrok dengan Bi Lan dan Sim Houw. Dia tidak dapat membayangkan muridnya itu berbohong dan membuat keterangan palsu.

"Bagaimana pula ini? Coba ceritakan, bagaimana asal mulanya maka engkau berjanji kepada mendiang bibi Teng Siang In untuk kelak berjodoh dengan Suma Lian."

Dengan panjang lebar dan jelas Hong Beng lalu bercerita kepada suhu-nya tentang pengalamannya pada waktu dia berkunjung ke dusun Hong-cun untuk pertama kalinya, di mana dia melihat Suma Lian diculik oleh Sai-cu Lama yang berkelahi melawan nenek Teng Siang In. Betapa dia membantunya sampai Sai-cu Lama melarikan diri.

Akan tetapi Suma Lian dibawa oleh Lama yang jahat itu, sedangkan nenek Teng Siang In menderita luka yang amat parah. Betapa kemudian Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng melakukan pengejaran terhadap penculik anak perempuan itu dan dia merawat nenek Teng Siang In yang terluka parah di pahanya oleh pedang Ban-tok-kiam, pedang yang dirampas dari tangan Bi Lan oleh Sai-cu Lama.

"Ketika itulah, suhu, locianpwe Teng Siang In yang siuman dan menghadapi kematian, minta kepada teecu untuk mencari nona Suma Lian dan minta teecu berjanji agar kelak teecu suka berjodoh dengan nona Suma Lian. Melihat keadaan locianpwe itu, yang dalam sekarat menghadapi maut, bagaimana teecu tega untuk menolak permintaannya yang terakhir itu? Sayang bahwa ketika itu, susiok Suma Ceng Liong dan isterinya tidak ada. Kalau mereka ada, tentu dengan mudah teecu menyerahkan persoalannya kepada mereka. Melihat betapa locianpwe itu menghadapi saat terakhir, terpaksa teecu penuhi permintaannya dan teecu mengucap janji itu. Baru kemudian teecu menyesal. Orang seperti teecu ini, mana mungkin menjadi jodoh nona Suma Lian? Teecu tidak berani..., memikirkan pun tidak berani, dan teecu juga tidak berani melanggar janji teecu sendiri, apa lagi janji terhadap seorang locianpwe yang sudah meninggal dunia..."

Suma Ciang Bun termenung, lalu mengangguk-angguk. "Muridku, aku sendiri tidak tahu bagaimana sikap adikku Ceng Liong dan isterinya mengenai persoalan ini. Akan tetapi, menghadapi setiap masalah, kita harus bersikap jujur dan berani, dalam arti kata, berani menghadapi segala akibatnya. Diterima atau ditolaknya oleh mereka jika urusan ini kita ajukan, hanya merupakan akibat saja dan andai kata ditolak, berarti bukan engkau yang melanggar janjimu terhadap bibi Teng Siang In, melainkan pesan itu tidak terlaksana karena pihak orang tua Suma Lian tidak setuju. Nah, tenangkan hatimu. Setelah pesta ulang tahun cihu selesai, aku akan bicara dengan Ceng Liong dan isterinya tentang pesan terakhir bibi Teng Siang In itu."

"Akan tetapi, suhu, teecu takut..."

"Takut apa? Hong Beng, jangan engkau terlalu merendahkan diri. Engkau muridku, tahu? Engkau cukup gagah dan tampan, cukup berharga untuk menjadi jodoh gadis mana pun juga, termasuk Suma Lian! Nah, sekarang mengasolah dan sedapat mungkin hapuskan rasa tidak sukamu kepada Bi Lan dan Sim Houw. Aku pun ingin beristirahat. Ceritamu sungguh membuat hatiku menjadi tegang dan kaget tadi."

Setelah percakapan dengan gurunya ini, hati Hong Beng menjadi tenang kembali dan dia dapat tidur nyenyak. Juga perasaan tidak suka dalam hatinya terhadap Bi Lan dan Sim Houw seolah olah menjadi padam atau setidaknya berkurang banyak…..

*********

Semenjak membuka rahasia itu kepada gurunya, Hong Beng merasa lebih tenang dan selama beberapa hari ini, dia bahkan selalu menghindarkan pertemuan dengan Sim Houw dan Bi Lan, walau pun mereka tinggal serumah. Mereka hanya saling bertemu pada waktu tuan rumah dan para tamunya makan siang atau malam saja, dan dalam kesempatan itu pun Hong Beng tidak pernah bicara dengan Sim Houw atau Bi Lan.

Seperti telah diduga semula, banyak tamu datang membanjiri tempat pesta ketika hari yang ditentukan tiba. Nama besar Kao Cin Liong cukup terkenal, baik sebagai bekas panglima mau pun sebagai pendekar, dan semua orang tahu bahwa selain pendekar ini putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, juga isterinya adalah keluarga Pulau Es.

Maka, banyaklah tokoh-tokoh kang-ouw datang membanjiri tempat pesta itu. Orang tua Kao Cin Liong sendiri tidak nampak. Memang Cin Liong tidak mengabari, ia tidak ingin membuat orang tuanya yang sudah tua sekali itu melakukan perjalanan yang demikian jauhnya. Pula, ulang tahunnya itu sendiri tidak penting, yang penting adalah maksud yang tersembunyi di balik pesta ulang tahun itu. Maka, Kao Cin Liong sama sekali tidak mengharapkan kunjungan ayah ibunya.

Di antara para tamu, terdapat pula tokoh-tokoh yang membawa bingkisan sebagai hadiah ulang tahun. Bungkusan-bungkusan besar kecil diterima oleh pihak tuan rumah dan diatur rapi di atas meja di tengah ruangan yang luas itu, di mana para tamu telah berkumpul.

Setelah matahari naik tinggi, tidak kurang dari lima ratus orang tamu hadir di tempat itu. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh, mewakili daerah-daerah terpencil. Biar pun tokoh-tokoh sesat, asal tidak mempunyai permusuhan dengan keluarga Kao Cin Liong, memerlukan datang untuk menghormati tuan rumah, juga untuk mempergunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk bertemu dengan tokoh-tokoh dunia persilatan yang lain.

Bahkan banyak pula pembesar-pembesar yang memiliki kedudukan penting, baik dari daerah mana pun dari kota raja, memerlukan hadir dalam pesta ini. Tentu saja mereka bukan hanya mengingat bahwa Kao Cin Liong adalah bekas panglima yang sudah banyak jasanya terhadap kerajaan, melainkan juga diam-diam mengintai apa yang akan dilakukan bekas panglima ini dengan mengadakan pesta besar mengundang banyak tokoh kang-ouw.

Yang menarik perhatian banyak tamu, juga menggembirakan hati keluarga Pulau Es adalah hadirnya sepasang pendekar yang terkenal dengan julukan Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda dari Beng-san), yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, sepasang saudara kembar putera-putera dari pendekar sakti Gak Bun Beng yang kini berjulukan Bu-beng Lokai.

Seperti kita ketahui, Gak Bun Beng adalah mantu pertama dari Pendekar Super Sakti, suami dari mendiang Puteri Milana. Seperti telah diceritakan di bagian depan, sepasang pendekar kembar yang usianya sudah hampir lima puluh tahun ini sekaligus menjadi suami dari murid mereka sendiri yang bernama Souw Hui Lan, yang kini hadir pula.

Souw Hui Lan merupakan seorang wanita muda berusia hampir tiga puluh tahun, yang cantik manis dan gagah, juga mencinta dua orang suaminya yang baginya merupakan satu tokoh saja, biar pun memiliki dua tubuh. Setelah menjadi isteri dari saudara kembar ini selama tiga tahun, kini Souw Hui Lan telah mempunyai seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Anak ini mereka ajak pula dan pertemuan antara keluarga Pulau Es itu mendatangkan kegembiraan besar.

Sayang bahwa kakek Gak Bun Beng atau Bu-beng Lo-kai tidak hadir, padahal Suma Ceng Liong dan isterinya sudah merasa rindu kepada puteri mereka, Suma Lian, yang dibawa pergi oleh paman mereka itu untuk digembleng dengan ilmu-ilmu yang tinggi. Sudah setahun mereka ditinggalkan puteri mereka yang ikut bersama kakeknya itu ke puncak Telaga Warna di Pegunungan Beng-san.

Pihak tuan rumah sibuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan dan setelah tidak ada lagi yang datang, tempat itu sudah hampir penuh. Para pembantu sibuk mengeluarkan hidangan dan suasana di situ amat meriah. Keluarga tuan rumah berkelompok di bagian tengah ruangan itu, menghadap ke luar, sedangkan para tamu memilih teman sendiri-sendiri, berkelompok dengan kelompok masing-masing.

Seperti biasa, para tamu yang baru datang tentu mencari-cari teman yang cocok lalu dihampirinya. Ada pula tamu yang datang lebih dahulu memanggil tamu yang baru tiba untuk bergabung satu meja dengan mereka. Kawan-kawan lama yang sudah lama tak pernah saling berjumpa, kini bertemu dalam pesta itu, maka suasana menjadi semakin riuh dan gembira.

Ketika para tamu sudah disuguhi arak beberapa cawan, Kao Cin Liong lalu bangkit berdiri di atas panggung yang telah disediakan, sehingga semua tamu dapat melihatnya dari tempat duduk masing-masing.

"Cu-wi sekalian, kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas kedatangan cu-wi, juga atas semua hadiah yang diberikan kepada saya. Semoga Thian membalas semua kebaikan cu-wi itu. Setelah cu-wi hadir di sini, kami ingin mohon bantuan cu-wi, untuk membantu kami yang sedang prihatin menghadapi peristiwa yang sudah membuat kami bingung. Hendaknya cuwi ketahui bahwa puteri kami yang bernama Kao Hong Li, anak tunggal kami, telah beberapa bulan yang lalu lenyap diculik orang..."

Suasana menjadi gaduh ketika para tamu mendengar pengumuman ini. Kao Cin Liong membiarkan keadaan gaduh itu berlangsung sebentar, kemudian ia mengangkat kedua tangan memberi hormat dan minta agar suasana menjadi tenang kembali. Setelah para tamu diam, dia melanjutkan.

"Anak kami baru berusia dua belas tahun lebih, dan kami tidak tahu siapa penculiknya. Selagi kami kebingungan dan belum berhasil menemukan anak kami, kembali terjadi hal yang semakin membingungkan. Locianpwe Ang I Lama di Tibet sudah dibunuh orang, dan kami suami isteri yang tidak berdosa dituduh sebagai pembunuhnya."

Kembali suasana menjadi riuh. Setelah semua orang diam, Kao Cin Liong melanjutkan kata-katanya, "Karena kami kebingungan, tak menemukan jejak puteri kami, maka kami mohon dengan hormat kepada cuwi, apabila ada yang mengetahui atau mendengar di mana adanya puteri kami itu, sukalah memberi kabar kepada kami. Atas kebaikan itu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih kepada cuwi."

Setelah Cin Liong menyelesaikan pengumumannya, para tamu menjadi semakin gaduh, bercakap-cakap di antara kelompok sendiri. Ada pula yang cuma diam termangu-mangu dan menduga-duga siapa adanya orang yang demikian nekat dan berani mengganggu keluarga Kao ini dengan menculik puterinya.

Kao Cin Liong adalah seorang bekas panglima yang terkenal dan gagah perkasa, juga dia adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Isterinya juga bukan orang sembarangan, melainkan cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan kini ada orang berani menculik puteri mereka, bahkan menjatuhkan fitnah kepada keluarga ini yang dituduh membunuh Ang I Lama. Apakah peristiwa ini menjadi tanda bahwa nama besar Pulau Es dan Gurun Pasir akan berakhir atau menjadi suram?

Pesta dilanjutkan dengan cukup meriah dan kini percakapan para tamu adalah tentang pengumuman tuan rumah. Mereka saling bertanya, akan tetapi agaknya tiada seorang pun di antara mereka yang tahu di mana adanya anak perempuan yang diculik itu.

Selagi pihak tuan rumah dan keluarganya melayani para tamu makan minum, tiba-tiba penjaga pintu memberi tahu kepada Kao Cin Liong bahwa telah datang lagi tamu baru, sepasang suami isteri she Yo. Karena tidak mengenal siapa suami isteri she Yo ini, Kao Cin Liong dan isterinya bangkit menyambut, sedangkan keluarganya ikut memandang dengan penuh perhatian untuk melihat siapa adanya tamu yang datang agak terlambat itu.

Pada saat Bi Lan yang juga ikut menengok melihat bahwa yang muncul sebagai tamu terlambat itu adalah Bi-kwi dan Yo Jin, jantungnya berdebar tegang penuh kegirangan, akan tetapi juga penuh kekhawatiran. Tidak disangkanya bahwa suci-nya itu berani datang pula ke pesta ulang tahun ini! Akan tetapi hal ini bahkan membuktikan bahwa suci-nya memang benar telah mengubah cara hidupnya dan tentu suci-nya datang karena menaruh perasaan hormat terhadap keluarga Kao yang gagah perkasa.

Keluarga para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir yang berada di situ, banyak yang mengenal Bi-kwi dan mereka semua memandang dengan alis berkerut. Terutama sekali Gu Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang pernah bertempur melawan wanita yang mereka anggap sebagai wanita iblis yang amat jahat itu.

Juga Kao Cin Liong sendiri dan isterinya, Suma Hui, ketika terjadi pertempuran antara para pendekar melawan Sai-cu Lama dan gerombolannya, telah pula mengenal Bi-kwi sebagai murid Sam Kwi. Demikian pula Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Mereka tidak mengira bahwa wanita ini berani muncul sebagai tamu, dan mereka teringat akan pembelaan Bi Lan terhadap suci-nya yang pernah menjadi seorang wanita iblis itu.

Bagaimana pun juga, mereka berdua itu datang sebagai tamu, apa lagi melihat sikap Yo Jin yang demikian sopan dan jujur, juga sikap Bi-kwi yang melihatkan sikap hormat terhadap pihak tuan rumah, Kao Cin Liong dan isterinya terpaksa menyambut. Mereka datang sebagai tamu, dan memang undangan itu ditujukan kepada semua tokoh dunia persilatan tanpa memilih bulu, baik dari golongan putih mau pun dari golongan hitam.

Setelah memberi hormat dan menghaturkan selamat kepada pihak tuan rumah, yang disambut oleh Kao Cin Liong dan isterinya dengan hormat pula, Bi-kwi dan Yo Jin yang menjadi suaminya, menyerahkan sebuah bingkisan yang berupa bungkusan kecil dari sutera merah. Bungkusan itu diterima oleh Suma Hui dan diletakkan di atas tumpukan barang-barang hadiah lain dalam bungkusan-bungkusan besar kecil.

Mereka berdua lalu dipersilakan duduk, tapi karena tempat duduk di bagian depan telah penuh tamu, Bi-kwi dan Yo Jin mencari tempat duduk kosong agak di sudut belakang. Ketika Bi-kwi melihat Bi Lan bersama Sim Houw, ia hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Bi Lan dan Sim Houw juga tersenyum kepada mereka.

Semua ini dilihat oleh Hong Beng dengan hati yang tidak puas. Jelaslah bahwa ada hubungan baik antara kedua orang itu, pikirnya dan walau pun kini Bi-kwi datang untuk menghormati Kao Cin Liong dan datang sebagai tamu, akan tetapi ketika memandang wanita itu, sinar mata Hong Beng penuh rasa tidak senang. Juga Suma Ciang Bun yang pernah berkelahi melawan Bi-kwi, memandang dengan alis berkerut. Bi-kwi tahu akan sikap mereka itu, akan tetapi pura-pura tidak tahu saja.

Sebelum berangkat mengunjungi pesta perayaan itu, Bi-kwi memang sudah menduga bahwa di tempat pesta itu tentu akan menghadapi banyak orang yang mengambil sikap memusuhinya. Namun ia tak peduli akan hal itu. Suaminya, Yo Jin yang telah membuka kehidupan baru di suatu dusun terpencil, tadinya merasa tidak setuju ketika Bi-kwi yang mendengar tentang undangan yang disebar Kao Cin Liong itu menyatakan hendak ikut datang bertamu.

"Isteriku yang baik, apakah perlunya mengunjungi tempat ramai itu? Aku khawatir hanya akan mengundang datangnya urusan dan keributan belaka," demikian antara lain suami yang jujur ini berkata.

"Tidak, suamiku, aku tahu benar bahwa urusan dan keributan hanya timbul karena diri sendiri. Dan aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak akan mencari keributan, seperti telah kuputuskan untuk merubah cara hidupku. Bukankah selama berbulan-bulan ini kita hidup aman dan tenteram di sini tanpa pernah terjadi sesuatu seolah-olah aku hanyalah isterimu yang sederhana, seorang wanita tani yang tidak mengerti ilmu silat?"

"Kuharap engkau akan begini seterusnya, isteriku sayang. Akan tetapi kenapa engkau mengajak aku untuk pergi ke Pao-teng untuk menghadiri pesta ulang tahun seorang pendekar? Biar pun engkau tidak mencari keributan, bagaimana kalau orang lain yang mencari keributan terhadap dirimu? Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki kepandaian untuk melindungi dirimu."

Bi-kwi tersenyum, merangkul suaminya dan merebahkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. Biar pun Yo Jin tidak pandai ilmu silat, namun suaminya mempunyai jiwa pendekar yang gagah perkasa dan ia selalu merasa aman tenteram hidup di samping suaminya.

"Jangan khawatir, suamiku. Bentrokan hanya mungkin terjadi kalau kedua belah pihak menghendakinya. Api tidak akan membakar sesuatu yang basah kuyup. Walau pun ada orang mencari gara-gara, jika tidak kita layani, bagaikan api dia akan kehabisan bahan bakar dan pasti akan padam sendiri. Aku ingin bertamu ke sana bukan untuk mencari perkara, melainkan untuk menghormati pendekar Kao Cin Liong yang merayakan hari ulang tahun. Dia mengundang para ahli silat pada umumnya tanpa pandang bulu, tanpa melihat golongan, dan aku ingin datang mengingat bahwa dia adalah putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, masih terhitung suheng dari adik Bi Lan. Bi Lan pasti datang dan hadir pula. Karena aku pun sudah rindu padanya, dan ingin melihat perkembangan dunia sekarang. Sekali lagi jangan khawatir, bentrokan hanya dapat terjadi kalau kedua pihak maju, seperti sepasang tangan yang bertepuk. Tak mungkin sebelah tangan saja bertepuk menimbulkan panas dan bunyi kalau tidak menemukan lawan."

Demikianlah, akhirnya Yo Jin mengalah dan menemani isterinya melakukan perjalanan ke Pao-teng. Mereka datang agak terlambat, setelah pesta dimulai sehingga kehadiran mereka menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi ketika suami isteri ini memilih tempat duduk di sudut belakang dan tenggelam di antara para tamu yang memenuhi tempat itu, suasana menjadi meriah kembali.

Banyak di antara para tamu mendekati dan merubung meja, agaknya ingin tahu sekali macamnya barang-barang sumbangan yang bertumpuk itu. Melihat ini, Suma Hui yang menjadi gembira karena belum pernah semenjak menikah dia mengadakan pesta, dan ternyata pesta ulang tahun suaminya yang hanya diadakan untuk mengumpulkan orang dunia persilatan dan mengumumkan tentang hilangnya anaknya itu dikunjungi demikian banyak orang dan menerima banyak sumbangan, segera mengusulkan pada suaminya untuk membukai bungkusan-bangkusan itu di depan para tamu.

Suaminya setuju dan ketika mereka berdua, dibantu oleh para anggota keluarga, mulai membukai bungkusan dan mengumumkan nama penyumbangnya sambil mengangkat tinggi setiap buah benda sumbangan, para tamu menjadi gembira sekali. Tiada hentinya para tamu menyatakan kekaguman mereka setiap kali melihat barang sumbangan yang amat berharga dan beraneka warna itu.

Memang bermacam-macam benda sumbangan para tamu, dan rata-rata merupakan benda berharga. Ada perhiasan-perhiasan, senjata yang baik, guci-guci berukir, cawan perak, dan banyak lagi macamnya. Ketika tiba giliran bungkusan sutera merah kecil pemberian Bi-kwi dan Yo Jin hendak dibuka, pembukanya kebetulan adalah Suma Hui sendiri.

Dan di antara para anggota keluarga, yang paling memperhatikan ketika bungkusan ini dibuka adalah Gu Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun. Mereka berdua yang masih merasa penasaran kepada Bi-kwi, ingin sekali melihat barang macam apa yang dibawa oleh tamu yang mereka anggap sebagai siluman betina yang amat jahat itu. Bungkusan itu kecil saja, entah apa isinya. Ketika jari-jari tangan Suma Hui membuka bungkusan itu, guru dan murid ini mendekat dan melihat dengan hati tegang.

Suma Hui sendiri tadi tidak memperhatikan dari siapa pemberian sumbangan dalam bungkusan merah yang kecil ini, maka ketika ia membukanya, ia tersenyum dan tidak merasakan ketegangan seperti yang dirasakan adiknya dan murid adiknya itu. Ketika bungkusan itu dibuka dan Suma Hui mengamatinya, tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan wanita perkasa ini menahan jeritnya, tetapi tetap saja masih terdengar seruannya.

"Aihhh...!"

Kao Cin Liong terkejut, cepat mendekati isterinya dan dengan kedua tangan gemetar Suma Hui memperlihatkan benda yang terbungkus sutera merah itu. Sebuah perhiasan rambut dari emas yang diikat dengan segumpal rambut hitam.

Benda itu sendiri adalah merupakan perhiasan rambut yang biasa saja bagi orang lain, akan tetapi suami isteri itu terbelalak memandang karena mereka mengenal perhiasan rambut yang biasanya menghias rambut Kao Hong Li, puteri mereka yang lenyap diculik orang. Dan rambut itu... rambut siapa lagi kalau bukan rambut Hong Li?

"Enci Hui, ada apakah?" Suma Ciang Bun yang melihat perubahan muka enci-nya dan kakak iparnya segera bertanya.

"Ini... ini... perhiasan rambut milik Hong Li..." Suma Hui berkata dengan masih gemetar dan gugup.

"Hemmm, siapakah tadi pengirim sumbangan ini?" Kao Cin Liong juga berkata dengan suara geram dan memandang ke sekeliling.

Mendengar keterangan nyonya rumah bahwa isi bungkusan itu ialah perhiasan rambut yang biasa dipakai anak perempuan yang hilang diculik orang, tentu saja para tamu yang merubung meja sumbangan itu menjadi gempar. Mereka yang duduk di belakang segera mendengar dari mereka yang duduk di depan dan sebentar saja seluruh tamu mengetahui bahwa telah terjadi hal yang aneh, yaitu bahwa seorang di antara para tamu menyumbang perhiasan milik anak tuan rumah yang tadi dikabarkan telah hilang diculik orang. Tentu saja suasana menjadi gempar seketika.

"Iblis betina itulah yang tadi menyumbangkan bungkusan merah!" Tiba-tiba Gu Hong Beng berseru dan dia pun sudah melompat dan lari menghampiri Bi-kwi dan Yo Jin yang masih ikut bingung dan bertanya-tanya mendengar peristiwa yang meributkan itu.

Begitu berhadapan dengan Bi-kwi, Gu Hong Beng menudingkan telunjuknya ke arah muka Bi-kwi dan berkata dengan suara lantang, "Iblis betina, sungguh engkau jahat dan keterlaluan sekali, berani menghina kami! Engkaulah yang menculik adik Kao Hong Li, kemudian engkau berani mati datang untuk membawa perhiasan dan rambut adik Hong Li sebagai barang sumbangan!"

"Apa... apa maksudmu? Harap jangan sembarang menuduh. Bukan kami yang memberi barang seperti itu. Kami menyumbangkan sebuah benda lain!" kata Bi-kwi dengan sikap masih sabar walau pun pemuda itu memandang dengan mata melotot dan sikap bengis, siap hendak menerjangnya.

"Iblis betina, siapa tidak mengenalmu? Bi-kwi terkenal sebagai seorang wanita iblis yang jahat dan keji. Kiranya engkaulah yang menculik adik Hong Li dan kini datang sengaja hendak membikin kacau!"

Berkata demikian, pemuda ini menyerang. Serangannya sangat hebat sehingga Bi-kwi yang tidak ingin membalas, dan tidak ingin melayani, ketika mengelak ke kiri masih saja tersentuh pundaknya oleh serangan itu dan wanita ini pun terhuyung menabrak meja sehingga semua mangkok dan panci di atas meja itu terlempar dan jatuh berantakan.

Tentu saja para tamu cepat berloncatan menjauhi perkelahian itu. Dan melihat isterinya diserang, Yo Jin segera melangkah maju. Dengan sikap sabar dia menghadapi Hong Beng.

"Saudara yang gagah, harap bersabar dulu. Sesungguhnya, apa yang dikatakan isteriku tadi benar belaka. Kami datang dengan iktikad baik, demi penghormatan kami terhadap tuan rumah yang masih terhitung suheng dari adik Can Bi Lan, dan kami berdua tadi memang memberi bingkisan sutera merah, isinya sebuah bros dari emas permata. Aku sendiri yang memilihkan di antara perhiasan milik isteriku, maka harap saudara suka bersabar dan jangan salah sangka..."

Mendengar bahwa laki-laki ini suami Bi-kwi, tentu saja Hong Beng tidak mau menerima keterangannya. Seorang suami tentu saja membela isterinya, pikirnya dan dia pun lalu mendorong tubuh laki-laki itu ke samping sambil berkata, "Minggirlah kau!"

Dorongan Hong Beng adalah dorongan seorang ahli silat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga sinkang yang hebat, maka tentu saja Yo Jin yang tidak pandai ilmu silat itu, sekali tersentuh dorongan itu, tubuhnya lantas terlempar menabrak beberapa buah kursi kosong dan jatuh terbanting dengan kerasnya.

"Hong Beng, engkau sungguh keterlaluan! Apakah kau kira di dunia ini hanya engkau seorang saja yang gagah dan benar, sedangkan orang lain semua jahat dan bersalah?" Tiba-tiba Bi Lan sudah berada di situ dan membentak dengan marahnya ketika melihat Hong Beng tadi memukul Bi-kwi yang sama sekali tidak melawan, bahkan pemuda itu mendorong roboh Yo Jin dengan keras.

Tadinya Hong Beng terkejut sendiri melihat betapa dorongannya membuat laki-laki yang mengaku suami Bi-kwi itu terlempar dan terjatuh, bahkan khawatir kalau-kalau orang itu terluka parah. Dia tidak tahu bahwa laki-laki yang menjadi suami seorang iblis betina seperti Bi-kwi ternyata tidak pandai ilmu silat sama sekali sehingga roboh oleh dorongan begitu saja. Akan tetapi ketika melihat munculnya Bi Lan yang kembali membela Bi-kwi, kemarahannya berkobar lagi.

"Can Bi Lan, engkau kembali berani hendak melindungi orang yang demikian jahatnya? Benar-benar engkau telah tersesat! Ia adalah iblis betina yang telah menculik adik Hong Li, dan kini ia datang untuk membikin kacau, dan engkau masih membelanya? Kalau begitu, engkau benar-benar telah berubah jahat!"

"Manusia sombong, engkau sudah buta oleh kesombonganmu. Engkaulah yang jahat!" Bi Lan membentak dan mereka berdua, seperti dikomando saja, tidak tahu siapa yang mulai, telah saling menyerang dengan marahnya.

Karena mereka berdua adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka perkelahian itu sangat hebat dan para tamu menjauhkan diri. Diam-diam mereka merasa girang karena mereka memperoleh kesempatan untuk menonton perkelahian yang bermutu.

Para tetamu itu adalah orang-orang dari dunia persilatan, baik dari golongan hitam mau pun putih, maka tidaklah mengherankan kalau mereka suka sekali nonton adu ilmu silat, terutama kalau adu ilmu itu dilakukan oleh dua orang muda yang demikian lihai. Suara angin pukulan mengaung-ngaung dan menyambar-nyambar amat ganas, membuat para penonton menjadi kagum bukan main.

Melihat kekasihnya sudah berkelahi dengan Hong Beng, Sim Houw cepat meloncat ke depan dengan maksud untuk melerai perkelahian itu. Akan tetapi, Suma Ciang Bun yang sejak tadi sudah mendekati tempat perkelahian, siap untuk membantu muridnya kalau muridnya terdesak, merasa curiga dan mengira bahwa majunya Sim Houw tentu untuk membantu Bi Lan.

Maka, tanpa banyak cakap lagi dia pun lantas menyambut datangnya Sim Houw dengan serangan pukulannya yang ganas dan dahsyat karena dia langsung menyerang dengan pengerahan tenaga Hwi-yang Sinkang yang sangat panas. Demikian panasnya hawa serangan itu sehingga terasa oleh para tamu yang sudah menjauhkan diri.

Para tamu menjadi semakin gembira melihat dua orang itu sudah saling terjang dengan dahsyatnya. Sim Houw seperti biasa, mengalah dan hanya menangkis atau mengelak, sedangkan hatinya merasa bingung dan gelisah sekali. Tak disangkanya bahwa kembali dia dan kekasihnya terlibat perkelahian dengan guru dan murid yang galak dan selalu memusuhi Bi Lan itu.

Melihat betapa gara-gara ia dituduh menculik anak tuan rumah, kini sumoi-nya yang jelas membelanya telah berkelahi, juga Sim Houw berkelahi dengan Suma Ciang Bun, Bi-kwi menjadi bingung dan juga khawatir sekali. Ia cepat meloncat maju untuk melerai perkelahian antara Bi Lan dan Hong Beng.

Melihat ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui cepat lari menghampiri tempat perkelahian. Mereka tentu saja ingin menangkap Bi-kwi yang dituduh sebagai pembawa bingkisan yang berisi perhiasan dan rambut kepala anak mereka. Akan tetapi mereka kecelik jika tadi mengira bahwa Bi-kwi hendak membantu Bi Lan. Ternyata Bi-kwi meloncat maju bukan untuk membela Bi Lan melainkan untuk melerai. Ia memegang lengan Bi Lan dan menariknya ke belakang sambil berkata, "Sumoi, tahan dulu, sebaiknya kita bicara baik-baik!"

Perbuatan Bi-kwi ini dapat mencelakakan sumoi-nya karena ia menangkap lengan kiri Bi Lan dan menariknya ke belakang dan pada saat itu, Hong Beng yang juga mengira akan dikeroyok dua, sudah menerjang maju dan menyerang Bi Lan yang posisinya buruk karena sebelah lengannya diganduli Bi-kwi. Untung pada saat itu Kao Cin Liong sudah menangkap pundak Hong Beng.

"Hong Beng, tahan dulu!" teriak Kao Cin Liong.

Dan tentu saja Hong Beng tidak berani meronta setelah dia tahu siapa orangnya yang menahannya. Dengan muka yang masih merah karena marah dan mata bersinar-sinar memandang ke arah Bi Lan dan Bi-kwi, dia pun menghentikan gerakannya dan bahkan melangkah mundur.

Sementara itu, Suma Hui juga sudah melerai perkelahian antara Suma Ciang Bun dan Sim Houw. Jauh lebih mudah melerai perkelahian ini karena memang Sim Houw tidak melawan. Suma Hui hanya menghadang di depan Suma Ciang Bun dan minta kepada adiknya itu untuk menghentikan serangan. Suma Ciang Bun menahan gerakannya dan memandang marah kepada Sim Houw.

"Sudah jelas iblis betina Bi-kwi itulah penculik anakmu, enci Hui. Kalau mereka hendak membela, mari kita turun tangan membasmi mereka yang jahat itu!"

"Nanti dulu, Bun-te, kita bicara dulu dengan mereka, minta penjelasan," kata Suma Hui.

Kini Kao Cin Liong dan Suma Hui menghadapi Bi-kwi yang sudah menolong suaminya. Untung bahwa Yo Jin tidak terluka parah, hanya kulitnya yang lecet-lecet saja. Mereka kini berdiri berdampingan, di depan Kao Cin Liong dan Suma Hui yang melihat betapa sikap suami isteri itu sama sekali tidak kelihatan takut atau khawatir seperti orang yang berdosa. Mereka nampak tenang-tenang saja dan wajah mereka membayangkan rasa penasaran.

Melihat ini, Kao Cin Liong tidak mau sembarangan menuduh. Dia mendahului isterinya, berkata kepada Bi-kwi, "Nona Ciong," katanya, tidak mau menyebut nama julukan Bi-kwi karena dia sudah mendengar penuturan Bi Lan tentang wanita ini, "kami mengharap sukalah engkau memberi keterangan apa artinya engkau dan suamimu sebagai tamu kami memberi bingkisan seperti ini! Ini adalah hiasan rambut anak kami yang hilang diculik orang!" Berkata demikian, Kao Cin Liong dan isterinya memandang tajam kepada wajah wanita itu penuh selidik.

Bi-kwi menghela napas panjang, lalu menjura dengan hormat. "Kao-taihiap berdua yang terhormat, kiranya akan sia-sia kalau orang seperti saya yang memberi keterangan karena tentu tidak akan dipercaya dan saya pun tidak menyalahkan mereka yang tidak percaya karena saya pernah menjadi seorang tokoh sesat yang hidup menyeleweng. Akan tetapi suami saya ini, Yo Jin, adalah seorang petani yang jujur dan selamanya hidup bersih. Biarlah dia saja yang memberikan penjelasan." Berkata demikian Bi-kwi memandang kepada suaminya dengan sinar mata penuh permohonan, dan Yo Jin pun maju dan memberi hormat kepada Kao Cin Liong dan isterinya.

"Semua yang diceritakan isteri saya tadi benar belaka. Ketika mendengar undangan umum untuk menghadiri hari ulang tahun Kao-taihiap, isteri saya menyatakan keinginan hatinya untuk pergi menghadiri pesta perayaan itu. Saya sudah ragu-ragu dan telah pula menyatakan keberatan karena saya takut kalau-kalau timbul urusan lagi dengan isteri saya yang banyak dimusuhi orang. Akan tetapi isteri saya memaksa dengan alasan menghormat Kao-taihiap yang dianggap suheng dari adik Bi Lan yang kami sayang dan hormati. Terpaksa saya setuju dan saya sendiri kemudian memilih di antara kumpulan perhiasan isteri saya untuk dibawa sebagai barang bingkisan. Saya memilih sebuah hiasan bros emas permata berbentuk burung Hong. Inilah keterangan yang sebenarnya dan saya berani bersumpah akan kebenarannya. Tapi jika sekarang bungkusan sutera merah itu berisi benda lain, bagaimana kami mengetahuinya?"

Kao Cin Liong saling pandang dengan isterinya, keduanya mengerutkan alisnya.

Hong Beng yang semenjak tadi mendengarkan, tiba-tiba berkata kepada Kao Cin Liong dengan suara lantang, "Harap Kao-locianpwe dan bibi guru tak mudah ditipu oleh Bi-kwi. Ia terlalu jahat dan saya mengenal kejahatan dan kepalsuannya semenjak Sam Kwi masih hidup. Saya merasa yakin bahwa kalau bukan ia yang telah menculik adik Hong Li, setidaknya ia tentu tahu tentang penculikan itu!"

Mendengar ucapan Hong Beng itu, Bi-kwi lalu maju dan memberi hormat kepada tuan rumah. "Kao-taihiap, tidak saya sangkal bahwa saya memang pernah mengambil jalan hidup yang sesat penuh dosa. Akan tetapi walau pun demikian, belum pernah saya menjadi seorang pengecut. Andai kata benar saya yang menculik puteri taihiap, dan saya telah berani datang ke sini mengembalikan hiasan rambutnya, lalu apa perlunya saya menyangkal mati-matian? Kalau saya sudah berani melakukan hal itu, dan berani pula datang ke sini menyumbangkan hiasan rambut, tentu saya juga berani menghadapi segala resiko dan akibatnya! Dan tentu saja saya tidak akan begitu bodoh dan gila untuk mengajak suami saya yang sedikit pun tak tahu ilmu silat. Harap taihiap pertimbangkan, karena saya tahu bahwa menyangkal dan membela diri dengan kata-kata, tentu tidak akan dipercaya."

Kao Cin Liong kembali saling pandang dengan isterinya, bingung karena mereka sendiri pun bimbang. Mereka percaya kepada tuduhan Hong Beng tadi, akan tetapi mereka juga dapat menerima alasan Bi-kwi.

"Kao-suheng, saya berani menanggung kebenaran ucapan suci Ciong Siu Kwi!" tiba-tiba Bi Lan berkata dengan sikap gagah dan matanya melirik ke arah Hong Beng. "Saya yang mengenal betul keadaan hidup enci Ciong Siu Kwi sebelum ia sadar dan sekarang saya tahu betul bahwa ia telah merubah cara hidupnya. Saya yakin ia tidak bersalah sedikit pun juga dalam urusan kehilangan puteri suheng. Kalau saya menduga bahwa ia penculiknya, saya sendiri yang akan menentangnya, kalau perlu membunuhnya karena bukankah saya sudah berjanji kepada suhu dan subo, bahwa saya takkan menikah dan tidak akan kembali sebelum dapat menemukan puteri suheng? Tidak, suci Siu Kwi tidak bersalah, hal ini saya yakin benar!"

Melihat sikap dan pembelaan Bi Lan yang demikian penuh semangat, Bi-kwi merasa terharu sekali. "Sumoi, jangan engkau terlalu membelaku. Sudah kulihat betapa karena engkau menolong diriku yang kotor dengan air lumpur, maka engkau sendiri terpercik lumpur dan direndahkan orang lain."

"Tidak, suci. Aku bukan membela engkau atau pun seorang suci, melainkan membela kebenaran. Siapa pun dia kalau berada di pihak benar, sudah sepatutnya kubela."

Mendengar percakapan antara suci dan sumoi itu, Kao Cin Liong dan Suma Hui menjadi semakin ragu-ragu akan kesalahan Bi-kwi.

"Nona Ciong, bagaimana pun juga, bingkisan ini tadi adalah pemberianmu. Oleh karena itu, kami yang telah kehilangan anak perempuan kami, jika tidak menuduhmu yang tadi memberi bingkisan ini, lalu sekarang harus menuduh siapa lagi?" kata Suma Hui sambil memandang tajam kepada Bi-kwi.

Wanita ini lalu melangkah maju. "Saya merasa bertanggung jawab, oleh karena itu, saya mohon sukalah Kao-taihiap menyerahkan barang itu kepada saya untuk saya selidiki sebentar."

Tanpa ragu-ragu Kao Cin Liong menyerahkan bungkusan berisi perhiasan rambut dan segumpal rambut itu kepada Bi-kwi, berikut bungkusannya, yaitu sutera merah. Bi-kwi menerimanya, lalu memeriksanya dengan teliti. Mula-mula dia memeriksa kain sutera pembungkusnya, kemudian isinya. Sinar matanya mencorong dan ia pun memandang ke kanan kiri.

"Kao-taihiap, penculik anak taihiap itu berada di sini, di antara kita semua! Dia seorang di antara para tamu!"

Mendengar ucapan ini, Kao Cin Liong dan isterinya, juga para anggota keluarga dan para tamu, terkejut dan suasana pun menjadi bising. Bi-kwi lalu berkata kepada tuan rumah, "Kalau Kao-taihiap percaya kepada saya dan suka meluluskan permintaan saya, marilah kita berunding di dalam saja."

Kao Cin Liong dan isterinya mengangguk, lalu minta kepada Hong Beng dan gurunya untuk mewakili pihak tuan rumah melayani para tamu, sedangkan dia bersama isterinya, juga diikuti oleh para keluarga, yaitu Kam Hong dan Bu Ci Sian, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, lalu Sim Houw dan Bi Lan juga diajak masuk bersama Bi-kwi dan Yo Jin.

Setelah tiba di dalam, Bi-kwi lalu cepat memberi keterangan. "Kao-locianpwe, jelaslah bahwa bingkisan kami tadi ada yang mengambil dan menukarnya dengan bingkisan ini. Hal itu tentu terjadi ketika orang-orang datang merubung meja tempat hadiah dan orang itu tentu pandai sekali sehingga tidak ada yang melihat perbuatannya. Karena kami tadi datang terlambat dan bingkisan kami berada di atas, maka hal itu mudah dia lakukan."

"Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa bingkisanmu itu telah ditukar orang? Apa tandanya?" tanya Suma Hui.

"Sutera merah ini berbeda dengan sutera merah yang kami pakai untuk membungkus perhiasan bros itu. Dan pula, sebelum dibungkus sutera merah, kami membungkusnya dengan kertas kuning lebih dulu. Akan tetapi bungkusan ini tidak ada kertas kuningnya. Jelaslah, ada seorang yang sengaja memalsukannya."

"Akan tetapi, apa maksudnya?" tanya Kao Cin Liong.

"Hemm, jika memang benar demikian, maksud orang itu sudah jelas!" kata Suma Ceng Liong. "Pertama, untuk mengacaukan pesta, ke dua untuk mengadu domba. Kita cari dan tangkap dia selagi masih berada di sini!" Pendekar ini bangkit.

"Nanti dulu!" tiba-tiba Sim Houw berkata. "Saya harap cuwi tidak tergesa-gesa dalam hal ini. Sudah jelas bahwa di antara para tamu terdapat seorang atau lebih musuh yang bergerak secara rahasia. Dan di antara sekian banyaknya tamu, bagaimana kita dapat mengetahui yang mana orangnya? Tidak ada bukti apa pun padanya dan dia yang menukar bingkisan tadi tentu tidak begitu bodoh untuk membiarkan bingkisan itu masih ada padanya kalau dilakukan penggeledahan. Kita akan gagal, bahkan mungkin sekali menyinggung perasaan para tokoh yang tidak berdosa. Juga berarti kita mengejutkan ular yang berada di dalam rumput dan semak-semak kalau kita menggebrak rumput dan semak-semak itu. Kalau hendak menangkap ular yang bersembunyi di dalam rumput, harus dengan hati-hati jangan sampai dia kaget dan siap siaga."

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk. "Pendapat ini memang tepat, akan tetapi aku tidak melihat lain jalan untuk dapat menangkap penculik Hong Li."

"Menangkap penculik itu adalah tugas kami berdua dan kami sudah menemukan jejak. Memang sebaiknya kalau orang yang membikin kacau pesta ini dibiarkan saja agar dia tidak membuat laporan kepada atasannya. Saya yakin bahwa yang datang menukar bingkisan itu hanyalah kaki tangan penculik itu, bukan si penculik sendiri karena kalau ia yang muncul, mungkin kami berdua dapat mengenalnya," kata Bi Lan.

Mendengar ini, Kao Cin Liong dan isterinya jadi terkejut, juga girang. "Sumoi, siapakah penculik jahanam itu?" tanya Kao Cin Liong.

"Suheng, kami memperoleh petunjuk pada saat melakukan perjalanan dari Gurun Pasir, tentang seorang wanita berjuluk Sin-kiam Mo-li. Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nionio, dan menurut pendengaran kami, ia selain amat lihai dalam ilmu silat, juga pandai ilmu sihir. Kami hendak menyelidik ke sana dan mudah-mudahan kami bisa berhasil. Sebaiknya, urusan penukaran bingkisan ini tidak dibikin ribut agar penculik itu tidak menjadi terkejut dan bersiap siaga sehingga justru menyusahkan kita sendiri untuk mencarinya."

"Hemmm, kalau begitu, aku akan ikut membantumu, sumoi!" kata Bi-kwi. "Urusan ini sekarang menjadi urusanku pula karena aku telah dilibatkan orang sehingga namaku dicemarkan dan aku yang dituduh menculik. Untuk membersihkan ini, tiada jalan lain kecuali aku bertindak menangkap si penculik." Lalu ia berkata kepada Yo Jin, "Suamiku, kuharap engkau suka pulang sendiri terlebih dulu, karena aku harus membantu sumoi dan Sim-taihiap untuk menangkap penculik."

Yo Jin mengerutkan alisnya, menarik napas panjang dan menggelengkan kepala, lalu berkata, "Sebenarnya hatiku amat berat melepas engkau pergi, isteriku, akan tetapi aku melihat bahwa memang fitnah itu membuat engkau terpaksa bertindak. Inilah jadinya kalau mendekati keramaian kota, ada saja urusan menyusahkan diri!"

Suma Ceng Liong yang sejak tadi ikut mendengarkan, mengangguk-angguk. "Mudah-mudahan saja semua dugaan itu benar. Memang jelaslah bahwa penculik itu sengaja hendak menyusahkan keluarga kita. Pertama dengan menculik Hong Li, lalu berusaha mengadu domba dan mengacau pesta. Oleh karena Hong Li merupakan keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir, maka si penculik itu tentulah seorang yang memusuhi kedua keluarga itu, atau setidaknya satu di antaranya. Kalau yang disebut Sin-kiam Mo-li itu adalah benar anak angkat mendiang Kim Hwa Nionio, memang kuat alasannya jika dia memusuhi kita. Karena itu, sebaiknya jika kita semua turun tangan menyerbu ke tempat tinggalnya."

"Saudara Suma Ceng Liong, saya kira hal itu tidak perlu karena kami baru menduga saja, dan belum ada bukti-bukti nyata bahwa Sin-kiam Mo-li penculiknya. Biarlah kami menyelidiki lebih dulu. Kalau kami cukup kuat, kami akan merampas kembali nona Kao Hong Li, kalau kami melihat bahwa pihak musuh terlalu kuat, baru kami akan mohon bantuan cu-wi."

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. Sebagai ayah, tentu saja dia menyetujui tiap usaha untuk menemukan kembali puterinya.

"Aku percaya kepada kalian berdua," katanya kepada Sim Houw dan Bi Lan, "dan kalau nona Ciong suka membantu, itu akan lebih baik lagi agar hati kami tidak ragu-ragu lagi terhadap namanya."

"Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, sebaiknya kalau saya dan suami saya pergi meninggalkan tempat ini dari belakang saja, agar para tamu mengira bahwa memang sayalah yang bersalah dan pihak tuan rumah telah mengambil tindakan. Hal ini penting agar orang yang melakukan penukaran bingkisan tadi merasa telah berhasil dan akan melapor ke atasannya," kata Bi-kwi. "Dan aku menunggumu di luar kota sebelah barat, sumoi," tambahnya kepada Bi Lan.

Kao Cin Liong dan isterinya setuju. Kam Hong yang sejak tadi cuma menjadi pendengar saja, diam-diam merasa kagum dan bangga akan sepak terjang orang-orang muda itu. Terutama sekali sikap Sim Houw yang demikian tenang, serta pendiriannya demikian teguh sehingga tidak ragu-ragu bersama Bi Lan yang menjadi calon isterinya berjanji tidak akan menikah sebelum menemukan kembali Hong Li. Dan pembelaan mereka terhadap Bi-kwi walau pun wanita ini pernah menjadi tokoh sesat karena mereka yakin bahwa Bi-kwi kini telah merubah cara hidupnya dan kembali ke jalan benar.

"Pendapat dan keputusan kalian memang tepat," kata Kam Hong. "Akan tetapi kalian harus berhati-hati karena ingat, kalau ada musuh yang sengaja menyerang keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir dengan perbuatan rahasia dan fitnah, juga adu domba, berarti bahwa mereka itu telah siap siaga menyusun kekuatan. Karena itu, Sim Houw, dalam melakukan penyelidikan, berhati-hatilah dan jika sekiranya keadaan pihak musuh terlalu kuat, jangan segan-segan untuk minta bantuan kedua keluarga itu."

Sim Houw memberi hormat kepada kakek perkasa itu. "Baiklah, suhu, teecu pasti akan mentaati semua pesan suhu."

Akhirnya Bi-kwi dan suaminya lebih dahulu pergi melalui pintu belakang, tanpa diketahui oleh para tamu. Baru kemudian tuan rumah dan keluarganya keluar ke tempat ruangan pesta. Akan tetapi baru saja mereka keluar, terjadi keributan lain. Terdengar teriakan-teriakan para pelayan dan ketika keluarga itu lari ke dalam, mereka melihat seorang di antara para pelayan telah mati dengan tubuh kaku dan muka hitam. Keracunan!

"Tahan semua hidangan! Jangan dikeluarkan lagi sebelum kami periksa!" Lalu Kao Cin Liong yang mengeluarkan perintah ini dibantu oleh para keluarga yang gagah perkasa untuk melakukan penyelidikan.

Semua makanan ternyata bersih, akan tetapi ternyata guci-guci arak yang masih belum dihidangkan telah keracunan! Ada sepuluh guci arak yang keracunan. Agaknya pelayan itu tadi minum secawan arak dari guci yang keracunan. Jelaslah bahwa ada orang yang sengaja menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu.

"Apakah tadi ada di antara tamu yang masuk ke sini?" tanya Kao Cin Liong.

Para pelayan itu saling bertanya dan akhirnya seorang di antara mereka teringat bahwa memang tadi ada seorang tamu yang bercambang bauk lebat masuk ke situ, setengah mabok sambil membawa cawan dan sambil tertawa-tawa memuji lezatnya masakan dan harumnya arak. Dia minta arak karena guci di depan sudah kosong.

"Dia datang sendiri ke tempat di mana ditaruh guci-guci itu, kemudian dia keluar sambil membawa seguci arak sambil tertawa-tawa dan terhuyung-huyung setengah mabok," demikian antara lain pelayan itu menerangkan.

Kini ada beberapa orang pelayan lainnya yang juga teringat akan tamu berjenggot dan berkumis brewok itu yang memasuki dapur dalam keadaan setengah mabok.

"Cepat ikut aku dan tunjukkan yang mana tamu itu!" kata Kao Cin Liong mengajak empat orang pelayan itu keluar. Akan tetapi, mereka tidak menemukan orang brewokan itu di antara para tamu.

"Tentu dia sudah pergi," kata Kam Hong yang tadi ikut pula mengadakan pemeriksaan dengan teliti terhadap semua makanan. "Agaknya setelah dia melihat bahwa usahanya yang pertama untuk mengadu domba itu tidak memperlihatkan hasil seperti yang telah diharapkan, dia lalu menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu. Aih, masih untung racun itu hanya mengorbankan nyawa seorang pelayan. Jika sampai dihidangkan dan banyak tamu kang-ouw tewas oleh arak beracun tadi, tentu namamu akan menjadi rusak dan keadaan benar-benar akan menjadi kacau balau."

Kao Cin Liong bergidik dan Suma Hui mengepal tinju.

"Keparat jahanam!" kata Suma Hui. "Siapakah orangnya yang demikian membenci kami sehingga melakukan perbuatan kejam dan terkutuk secara bertubi-tubi terhadap kami? Kalau saja aku tahu siapa orangnya!"

Kematian pelayan karena keracunan itu dirahasiakan dan tidak diketahui oleh para tamu sehingga pesta itu berakhir dengan tenang. Para tamu mulai berpamit meninggalkan tempat itu dan selain menghaturkan ucapan terima kasih, tidak lupa Kao Cin Liong juga mengharapkan supaya para tamu ikut bantu mendengarkan kalau-kalau ada di antara mereka yang dapat mengetahui di mana adanya Kao Hong Li yang lenyap itu. Dengan adanya pesta ini, nama Kao Hong Li segera terkenal di seluruh dunia kang-ouw karena menjadi pokok percakapan dan perbincangan.

Sim Houw dan Bi Lan segera berpamit dari keluarga itu dan memperoleh doa restu, kecuali, tentu saja, dari Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang bagaimana pun juga masih merasa tidak puas. Hong Beng masih merasa tidak puas dan masih tetap saja ada keraguan akan kebersihan Bi-kwi, sedangkan Suma Ciang Bun yang biar pun mulai meragukan kesalahan Bi-kwi, Bi Lan dan Sim Houw karena dia tahu betapa muridnya diracuni iri hati dan cemburu, tetap saja terseret oleh sikap muridnya yang memusuhi Bi-kwi tadi.

Memang tadi dia pun mempunyai dugaan bahwa Bi-kwi bersalah, apa lagi karena dia pernah diserang oleh Bi-kwi yang bersekongkol dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw sehingga hampir saja dia tewas. Kini, kembali ternyata bahwa agaknya dugaan muridnya itu keliru dan Bi-kwi bahkan telah diterima oleh kedua keluarga para pendekar itu untuk bantu mencari Hong Li sampai dapat. Namun, hati pendekar ini tidak merasa puas.

Setelah Bi Lan dan Sim Houw pergi, Suma Ciang Bun lalu mengajak muridnya untuk bicara dengan Ceng Liong dan isterinya. Tentu saja Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa heran ketika Ciang Bun minta kepada mereka untuk bicara di antara mereka berempat sendiri. Mereka memilih sebuah kamar kosong dan begitu mereka duduk di dalam kamar tertutup itu, Suma Ceng Liong tersenyum memandang kepada kakak misannya.

"Bun-ko, engkau sungguh aneh dan membikin kami merasa heran dan ingin tahu sekali! Ada urusan apakah maka engkau bersikap begini penuh rahasia dan mengajak kami bicara tertutup seperti ini?"

Suma Ciang Bun juga tersenyum, maka legalah hati Suma Ceng Liong dan isterinya. Sikap Ciang Bun yang santai itu tidak membayangkan adanya urusan yang amat gawat, walau pun kakak itu mengajak mereka bicara di dalam kamar tertutup.

"Ahhh, hanya urusan kekeluargaan, Liong-te, akan tetapi kurang enak kalau didengar anggota keluarga lain karena hal ini hanya menyangkut keluargamu dan keluargaku saja," jawab Ciang Bun.

Kini Kam Bi Eng tak dapat menahan ketawanya. Sungguh aneh kakak misan ipar ini. Jelas bahwa Suma Ciang Bun tidak pernah menikah, maka tentu saja tidak mempunyai keluarga selain keluarga suaminya juga.

"Aihhh, Bun-ko, bukankah keluargamu juga berarti keluarga kami? Mana ada keluarga kami dan keluarga Bun-ko!"

Ciang Bun juga tersenyum. "Yang aku maksudkan dengan keluargaku adalah aku dan muridku ini, karena dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, Nah, kini aku ingin membicarakan tentang muridku ini dan anak kalian."

Suami isteri itu saling pandang. Keduanya hampir berbareng bertanya, "Suma Lian...?"

Gu Hong Beng hanya menundukkan mukanya saja. Kalau tidak dipaksa oleh gurunya, sampai bagaimana pun juga dia tentu tidak akan berani membuka mulut! Kini dengan jantung berdebar keras dia menanti suhu-nya yang mulai membuka rahasia itu.

"Aku ingin membicarakan tentang perjodohan antara Suma Lian dan muridku Gu Hong Beng ini..."

"Bun-ko...!" Ceng Liong berseru kaget. Dia merasa heran, pandang matanya tajam dan terbelalak.

"Apa maksudmu? Kapankah Bun-ko mengajukan pinangan dan..."

"Anakku Lian-ji masih begitu muda, baru juga dua belas tahun lebih usianya!" Kam Bi Eng juga berseru heran.

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk. Memang agak sukar dia mengatur kata-kata, maklum karena selama hidupnya baru sekali ini dia bicara tentang perjodohan, apa lagi dia kini bertindak sebagai orang tua yang ingin menjodohkan muridnya yang dianggap sebagai anaknya sendiri.

"Aku tahu... aku tahu... akan tetapi ikatan perjodohan antara anak kalian dan muridku telah terjadi semenjak kematian ibumu, yaitu bibi Teng Siang In, Liong-te..."

"Bun-ko, apa pula maksudmu? Sungguh aku tidak mengerti," Ceng Liong bertanya lagi, memandangi guru dan murid itu dengan heran.

"Muridku tidak berani memberitahukan kepada kalian, dia yang merasa rendah hati itu hanya berani menceritakan kepadaku. Begini, Liong-te, kalian tentu masih ingat ketika terjadi penculikan atas diri puterimu, Suma Lian, oleh Sai-cu Lama yang merobohkan bibi Teng Siang In dengan pedang Ban-tok-kiam yang dirampasnya dari gadis she Can itu."

Ceng Liong dan Bi Eng mengangguk tanpa menjawab, tapi mendengarkan dengan hati penuh rasa tegang.

"Nah, pada waktu muridku membawa ibumu pulang dalam keadaan terluka, kalian lalu melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama yang melarikan puterimu, meninggalkan bibi Teng Siang In berdua dengan Hong Beng. Dalam saat terakhirnya itulah bibi Teng Siang In meninggalkan pesan kepada Hong Beng."

"Ibuku meninggalkan pesan terakhir kepadamu? Mengapa engkau tidak menyampaikan pesan itu kepadaku, Hong Beng?" Suma Ceng Liong bertanya dan menegur pemuda itu yang tidak mampu menjawab.

"Maafkan muridku, Liong-te. Dia tidak berani melapor dan hanya berani menyampaikan kepadaku, itu pun baru-baru ini saja dia katakan. Ibumu berpesan supaya kelak Hong Beng suka menjadi suami anakmu, dan ia bahkan menyuruh Hong Beng mengucapkan janjinya untuk mematuhi pesan terakhir itu! Dan Hong Beng telah mengucapkan janji itu!"

"Aihhh...!" Suami isteri itu berseru kaget dan Suma Ceng Liong mengerutkan alisnya. "Kenapa ibu meninggalkan pesan seperti itu? Dan kenapa pula engkau mau berjanji seperti itu, Hong Beng?"

"Saya... saya tidak berani menolak permintaan locianpwe yang sudah hampir meninggal dunia itu...," kata Hong Beng sambil menundukkan mukanya.

Mendengar jawaban ini, Ceng Liong dan Bi Eng saling pandang dan mereka pun tidak dapat terlalu menyalahkan Hong Beng. Pesan dan permintaan seseorang yang hampir putus nyawanya memang sukar ditolak.

"Dan dia tidak berani melaporkan kepada kalian karena dia merasa rendah diri. Dia merasa tidak pantas menjadi calon suami puterimu, takut kalau-kalau kalian menjadi marah kalau dia menyampaikan pesan itu. Akan tetapi di samping itu, dia pun gelisah sekali karena dia sudah berjanji kepada bibi Teng Siang In, dan dia akan selalu merasa berdosa kalau kelak tidak memenuhi janjinya itu. Karena itu, dia menjadi gelisah dan menyampaikan pesan itu kepadaku. Nah, adik Suma Ceng Liong, kurasa engkau akan cukup mengerti jika sekarang aku minta kalian untuk membicarakan urusan perjodohan antara puterimu dan muridku."

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk dan Kam Bi Eng mengerutkan alisnya. "Bun-ko, memang tindakanmu ini wajar dan tepat. Dan kami pun bukan bermaksud mengabaikan pesan ibu kandungku sendiri. Akan tetapi, engkau sendiri pun tentu telah mengetahui riwayat dari pada perjodohan kami berdua. Pilihan orang tua akhirnya tidak cocok dan tidak jadi, dan kami memilih jodoh atas dasar pilihan hati sendiri, bukan pilihan orang tua atau siapa pun juga. Oleh karena itu, sudah sejak mempunyai anak, kami suami isteri telah bersepakat untuk memberi kebebasan pula kepada anak kami Suma Lian. Dialah yang kelak akan menentukan dengan siapa ia akan menikah. Tidak seorang pun boleh memaksanya, bahkan andai kata ibuku masih ada pun, beliau tidak akan kubenarkan kalau memaksa anak kami berjodoh dengan orang yang dipilih ibuku."

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk, mengerti. "Jadi kalau begitu, kalian tidak setuju kalau anak kalian Suma Lian berjodoh dengan muridku Gu Hong Beng?"

"Tidak setuju kalau perjodohan itu tidak dikehendaki oleh Suma Lian, tentu saja," kata Kam Bi Eng yang membenarkan keputusan suaminya itu.

"Bagaimana kalau kelak Suma Lian setuju berjodoh dengan Gu Hong Beng?" desak Suma Ciang Bun.

"Kalau memang kehendak anak kami demikian, tentu saja kami pun tidak akan merasa keberatan, Bun-ko," kata Suma Ceng Liong dengan suara mantap.

"Bagus, kita telah bicara dengan hati terbuka. Nah, Hong Beng. Sekarang tidak ada yang perlu kau susahkan. Pesan terakhir mendiang bibi Teng Siang In kini telah kita sampaikan kepada orang tua Suma Lian dan mereka pun setuju kalau anak itu kelak suka menjadi jodohmu. Kini bebaslah penanggungan hatimu. Kalau kelak Suma Lian suka menjadi isterimu, berarti engkau telah memenuhi pesan terakhir bibi Teng Siang In dan ayah ibu anak itu tidak akan menghalangi dan akan menyetujuinya sehingga semua akan berjalan dengan lancar. Akan tetapi, andai kata Suma Lian tidak setuju dan menolak untuk menjadi isterimu, maka tentu saja tali perjodahan itu gagal, akan tetapi kegagalan itu bukan karena kesalahanmu sehingga engkau tidak perlu merasa berdosa kepada bibi Teng Siang In."

Hong Beng cepat menghaturkan terima kasih kepada suhu-nya, juga kepada Suma Ceng Liong dan isterinya. Hatinya memang terasa lega bukan main. Ketika dia berjanji di depan nenek itu dalam saat terakhir, dia terpaksa sekali dan setelah berjanji, dia merasa terikat. Kini, ikatan itu melonggar dan dadanya terasa lega.

Tinggal mudah saja baginya. Dia akan menanti sampai Suma Lian menjadi seorang gadis dewasa, sekitar lima enam tahun kemudian, lalu dia akan menemui gadis itu, menceritakan tentang pesan terakhir nenek Teng Siang In dan melihat bagaimana sikap dan tanggapan Suma Lian.

Kalau gadis itu setuju, berarti dia akan menjadi suami gadis itu, mantu dari pendekar Suma Ceng Liong, suatu hal yang merupakan penghormatan besar sekali baginya. Kalau sebaliknya gadis itu menolak, maka dia akan bebas dari janjinya terhadap pesan nenek itu dan dia akan bebas berjodoh dengan wanita mana pun juga tanpa merasa berdosa dan melanggar janji.

Akhirnya keluarga keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir itu saling berpisah dan kembali Kao Cin Liong dan isterinya ditinggal berdua saja, melamun dan terbenam kedukaan kehilangan anak mereka walau pun kini mereka mempunyai harapan karena Pendekar Suling Naga sendiri bersama Bi Lan dan dibantu oleh Bi-kwi pula, yang akan mencari anak mereka sampai dapat. Mereka percaya penuh akan kemampuan Pendekar Suling Naga Sim Houw, apa lagi dibantu oleh dua orang wanita yang memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi itu. Mereka hanya dapat menanti dan berdoa….
Suling Naga Bagian 17

"Lihat baik-baik, Hong Li, hari ini akan ada pertunjukan yang amat menarik hati," kata Sin-kiam Mo-li setelah mengajak muridnya meloncat naik ke atas menara.

Kini, setelah memperoleh gemblengan setiap hari dari Sin-kiam Mo-li, gadis cilik itu telah mampu melompat naik ke atas menara itu, bahkan di atas menara itu ia diajar untuk berlatih semedhi oleh gurunya.

"Apakah akan terjadi penyerbuan lagi seperti yang dilakukan lima orang tempo hari, subo?" tanya Hong Li sambil memandang ke sekeliling.

Dari menara itu, nampaklah seluruh daerah kekuasaan gurunya. Rumah tempat tinggal mereka yang dikelilingi semak-semak belukar dan hutan-hutan kecil buatan yang aneh aneh, yang penuh dengan jebakan rahasia dan perangkap-perangkap maut, pasir dan lumpur maut yang mengerikan. Dari atas menara itu Hong Li dapat melihat sampai jauh ke bawah, ke kaki bukit dan sampai ke luar hutan-hutan buatan yang penuh jebakan itu. Akan tetapi ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa. Daerah sekitar tempat itu nampak seperti biasa, sunyi saja dan hanya ada burung-burung yang beterbangan dari pohon ke pohon.

"Aku tidak melihat apa-apa, subo," katanya.

"Bukan ke situ, lihatlah ke sungai sana."

Hong Li menengok ke kiri dan terkejutlah ia melihat lima buah perahu menyusuri Sungai Cin-sa. Ia tadi hanya memperhatikan daerah daratan saja, tidak memperhatikan sungai itu sama sekali.

Di dalam lima buah perahu itu terdapat orang-orang yang jumlahnya semua tiga puluh dua orang! Tidak dapat ia melihat dengan jelas keadaan orang-orang itu walau pun ia dapat menghitung mereka dengan mudah. Sekarang tepat di bagian yang paling dekat dengan tempat tinggal subo-nya, lima buah perahu itu minggir dan semua orang lalu berloncatan ke darat, menyeret perahu-perahu itu naik ke atas daratan.

"Hemm, mereka tentu orang-orang Cin-sa-pang yang tolol!" Hong Li mendengar suara subo-nya berkata lirih. "Dan sekarang agaknya mereka dibantu dua orang kakek pandai, entah pimpinan mereka sendiri ataukah orang lain."

Hong Li memandang penuh perhatian dan kini ia pun melihat bahwa semua orang telah berkumpul, membuat lingkaran mengelilingi tiga orang yang sedang bercakap-cakap dengan dua orang kakek. Melihat betapa tiga orang itu berdiri berhadapan dengan dua orang kakek, Hong Li dapat mengerti apa yang dimaksudkan subo-nya.

Agaknya tiga orang itu tentu para pimpinan Cin-sa-pang dan dua orang kakek itulah yang oleh gurunya disebut dua orang kakek pandai. Dilihat dari atas menara, mudah diduga bahwa para pimpinan itu sedang mengadakan perundingan, mereka itu mungkin sedang mengatur siasat untuk menyerbu ke atas.

Hong Li merasa betapa jantungnya berdebar saking tegangnya. Teringat dia akan lima orang penyerbu dan diam-diam ia bergidik. Jangan-jangan kembali subo-nya juga akan membunuh tiga puluh dua orang pendatang itu!

Seolah-olah dapat membaca jalan pikirannya, terdengar Sin-kiam Mo-li berkata, "Orang-orang Cin-sa-pang sungguh tolol dan jahat, berani sekali memusuhi aku yang hidup tenteram di tempat ini."

"Subo, sebenarnya mengapa mereka itu memusuhi subo?" Hong Li bertanya, teringat betapa lima orang Cin-sa-pang telah dibunuh subo-nya. "Maksudku, kelima orang dari Cin-sa-pang yang dahulu itu, karena yang sekarang ini tentulah ingin membalas atas kematian atau hilangnya lima orang pertama."

Gurunya mengangguk-angguk. "Engkau benar, tentu saja mereka itu datang menyerbu karena kehilangan lima orang teman mereka itu dan mereka dapat menduga bahwa lima orang itu tentu tewas di sini. Ada pun lima orang dahulu itu, ahhh, apa lagi yang mereka kehendaki kecuali niat buruk terhadap kita? Mereka adalah penjahat-penjahat dan agaknya mereka mendengar bahwa yang tinggal di sini hanyalah wanita-wanita cantik tanpa pria dan tentu mereka membayangkan bahwa kita mempunyai banyak harta. Mereka menyerbu untuk merampok dan memperkosa, apa lagi? Engkau tentu masih ingat betapa jahatnya mereka. Seorang di antara mereka kau selamatkan dari ancaman bahaya, dan apa yang telah dia lakukan sebagai balasan? Dia menawanmu!"

Hong Li bergidik. Alangkah jahatnya orang-orang itu, pikirnya. Sama sekali ia tidak tahu bahwa subo-nya menyembunyikan kenyataan yang berlainan sama sekali dari apa yang dikatakannya tadi.

Cin-sa-pang adalah perkumpulan orang-orang kasar. Mereka adalah nelayan-nelayan, juga bajak-bajak sungai, dan ‘pemungut pajak paksaan’ dari para nelayan dan petani di sepanjang Sungai Cin-sa. Perkumpulan ini diketuai seorang lelaki berusia empat puluh tahun bernama Louw Pa, seorang bekas bajak laut tunggal yang dapat mengumpulkan para bajak laut, menundukkan mereka dan mendirikan perkumpulan Cin-sa-pang itu.

Louw Pa adalah seorang ahli silat yang cukup tangguh, terkenal dengan julukan Cin-sa Pa-cu (Macan Tutul Sungai Cin Sa), mungkin karena wajahnya yang bopeng dan totol-totol. Tubuhnya tinggi kurus dan dia lihai sekali memainkan sepasang golok besar. Louw Pa memiliki seorang anak laki-laki berusia dua puluh tahun lebih yang berwajah tampan dan bertubuh gagah, bernama Louw Heng Siok.

Pada suatu hari, ketika Louw Heng Siok sedang naik perahu memancing ikan seorang diri dan perahunya tiba di dekat tempat tinggal Sin-kiam Mo-li. Wanita ini melihatnya dan tergeraklah hatinya.

Walau pun ia bukan seorang yang gila laki-laki, namun kehidupan yang kesepian dari wanita ini membuat ia sekali waktu suka mencari hiburan. Setiap kali bertemu dengan pria yang menarik hatinya, tentu ia akan menggunakan kecantikan dan kepandaiannya untuk memikat hati pria itu dan memaksanya menjadi kekasihnya untuk beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan saja. Setelah merasa bosan, ia akan membunuh pria itu agar jangan mengabarkan hal-hal yang memalukan tentang dirinya.

Demikianlah, ketika melihat Louw Heng Siok, Sin-kiam Mo-li merasa tertarik dan tanpa kesukaran ia berhasil memikat hati pemuda itu karena Louw Heng Siok juga bukanlah seorang pemuda alim.

Bagaikan seekor laba-laba berhasil menangkap seekor lalat, Sin-kiam Mo-li membawa pemuda itu ke sarangnya. Seperti biasa, setelah ia kekenyangan mengisap darahnya dan menjadi bosan, pemuda itu dibunuhnya dan dilemparkannya ke dalam lumpur maut sehingga lenyap tanpa bekas. Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum ia menculik Hong Li.

Meski pun pembunuhan itu tidak meninggalkan jejak, namun akhirnya Louw Pa yang kehilangan puteranya, merasa curiga. Lima orang anak buahnya kemudian melakukan penyelidikan dan mereka pun lenyap di tempat yang penuh rahasia itu.

Louw Pa sudah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa di bukit yang berada di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu tinggal seorang wanita cantik dan berjuluk Sin-kiam Mo-li. Dia merasa yakin bahwa wanita inilah yang telah melenyapkan puteranya.

Apa lagi ketika lima orang anak buahnya yang melakukan penyelidikan juga lenyap, hatinya penuh dengan kemarahan dan dia pun mengumpulkan semua anak buahnya yang berjumlah tiga puluh orang termasuk dia dan dua orang pembantunya. Bahkan dia kemudian minta bantuan dua orang temannya yang menjadi bajak di Sungai Lan-cang (Mekong), yaitu dua kakek yang kini sudah datang bersama dia dan anak buahnya.

"Kalau kau ingin nonton pertunjukan, kau tinggallah saja di sini menjadi penonton," kata Sin-kiam Mo-li kepada muridnya. "Aku akan mengajak tiga pelayanku untuk menyambut para penyerbu itu!" Habis berkata demikian, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat turun dari atas menara.

Gerakannya demikian ringan seperti seekor burung yang terbang saja, diikuti pandang mata muridnya penuh kagum. Hong Li merasa amat kagum pada wanita yang menjadi ibu angkatnya dan juga gurunya itu, menganggapnya seorang wanita cantik jelita, lemah lembut, dan berhati baik di samping ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi. Kadang-kadang ia suka membandingkan gurunya dengan orang tuanya. Ia tidak tahu siapa yang lebih lihai antara gurunya dengan mereka.

Kini ia melihat betapa gurunya diikuti oleh Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio keluar dari dalam rumah menuju ke pantai di mana para penyerbu itu tadi berkumpul. Dari menara itu ia dapat melihat jelas apa yang terjadi di bawah sana. Orang-orang Cin-sa-pang itu ternyata kini dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang di antara dua kakek itu. Kelompok pertama yang disertai pula oleh pimpinan Cin-sa-pang menyerbu dari arah sungai itu, yaitu dari timur sedangkan kelompok ke dua mengambil jalan memutar, dan memasuki daerah berbahaya itu dari arah selatan.

Dengan jantung berdebar Hong Li melihat dari atas menara betapa gurunya dan tiga orang pelayannya itu menyelinap dan menuju ke bagian timur, menyelinap antara pohon dan semak-semak belukar. Nampak gurunya sedang memberi petunjuk, jari tangannya menuding ke sana-sini dan ketiga orang pembantu itu lalu berpencaran, menyelinap di antara pohon-pohon. Pedang telanjang mengkilat di tangan tiga orang wanita pembantu yang cantik-cantik akan tetapi juga lihai itu. Diam-diam Hong Li merasa ngeri.

Ia tahu bahwa akan terjadi pembunuhan-pembunuhan lagi. Melihat demikian banyaknya jumlah lawan yang datang menyerbu, ia dapat membayangkan betapa tempat itu akan menjadi tempat pembantaian. Tentu banyak sekali darah yang akan mengalir dan mayat bertumpuk-tumpuk walau pun semua mayat dapat dilempar ke dalam kubangan lumpur atau pasir dan akan lenyap tanpa meninggalkan bekas. Ia bergidik...


SELANJUTNYA SULING NAGA BAGIAN 18


Thanks for reading Suling Naga bagian 17 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »