Suling Naga Bagian 11

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SULING NAGA BAGIAN 11



"Dan mereka memang lihai sekali," sambungnya ketika melihat betapa tiga orang pria itu semua memandang kepadanya. "Yang tinggi sekali itu adalah suhu Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang tangguh. Lengannya dapat mulur sampai dua setengah kali lebih panjang. Yang amat pendek itu adalah Iblis Akhirat, biar pun pendek akan tetapi tubuhnya kebal dan tendangan Pat-hong-twi yang dikuasainya amat berbahaya, di samping sinkang-nya yang kuat dan senjata Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa) juga tak boleh dipandang ringan. Yang ke tiga, seperti tengkorak itu adalah Iblis Mayat Hidup. Ilmunya Hun-kin Tok-ciang berbahaya, sekali, juga di antara mereka bertiga, Iblis Mayat Hidup inilah yang memiliki Kiam-ciang paling kuat. Harus diingat bahwa dalam usia mereka yang sudah tujuh puluh tahun lebih itu, mereka bertiga telah menciptakan ilmu baru, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun yang amat lihai."

"Dan engkau telah menguasai semua ilmu itu, nona Bi Lan? Sungguh hebat!" kata Kun Tek.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hong Beng dan Kun Tek kini tiba-tiba saja menyebut ‘nona’ kepadanya. Kenapa ada perubahan sikap mereka itu setelah ia menolak cinta mereka? Nampak kaku, berkurang keakraban mereka, bahkan begitu canggung.

"Memang aku telah mempelajari itu semua, akan tetapi ilmu yang kupelajari masih mentah, saudara Kun Tek, sama sekali tak boleh dibandingkan dengan mereka."

Ia pun menambahkan sebutan ‘saudara’, mengubah kebiasaannya yang dulu menyebut dua orang pemuda itu dengan begitu saja memanggil nama mereka. Diam-diam gadis ini merasa heran mengapa penolakan cinta itu seolah-olah menciptakan suatu jurang pemisah di antara ia dan dua orang pemuda itu!

"Aihh, untung kedua orang muda gagah ini datang menolong kita, Lan-moi," kata Sim Houw. "Jika kita berusaha meloloskan diri sendiri dan harus menghadapi mereka semua itu tentu akan repot juga!" Sim Houw lalu memandang kepada dua orang pemuda itu. "Terima kasih kuhaturkan kepada paman Cu Kun Tek dan juga saudara Hong Beng yang telah menolong kami tadi."

"Bagaimana kalian berdua dapat mengetahui bahwa kami berdua menjadi tawanan di sana?" tanya Bi Lan.

Hong Beng lalu bercerita, betapa dia dan Kun Tek berjumpa di sebuah restoran dan mereka berdua sama-sama menghadapi pengeroyokan Bhok Gun dan Bi-kwi bersama anak buah mereka. Mereka melarikan diri dan mulailah mereka melakukan penyelidikan tentang Hou Taijin, dan dengan jalan melakukan pengintaian, mereka melihat betapa Sim Houw dan Bi Lan digiring sebagai tawanan.

"Karena kami dapat menduga betapa bahayanya menjadi tawanan para iblis itu, maka kami segera mengambil keputusan untuk pada malam ini menyelundup ke gedung itu dan berusaha membebaskan kalian."

"Untung kalian datang tepat pada saatnya," kata Sim Houw.

Mendengar betapa Pendekar Suling Naga itu memuji-muji dua orang pemuda itu, Bi Lan merasa tidak senang.

"Hendaknya kalian ketahui bahwa sebelum kalian datang, sebenarnya Sim-toako sudah berhasil membebaskan kami berdua dari pengaruh totokan dan belenggu kaki tangan. Kami memang sudah siap untuk melarikan diri dan tepat ketika terjadi keributan, kalian muncul."

"Dan tentu saja memudahkan kami meloloskan diri," kata Sim Houw pula yang ingin menyembunyikan jasa sendiri akan tetapi hendak mengangkat jasa dua orang muda itu. "Akan tetapi, kami masih belum selesai dengan mereka. Aku harus merampas kembali Liong-siauw-kiam, sedangkan Lan-moi harus merampas kembali Ban-tok-kiam."

"Akan tetapi itu berbahaya sekali," kata Hong Beng sambil memandang wajah gadis yang pernah menolak cintanya itu. "Ban-tok-kiam dikuasai oleh Sai-cu Lama yang lihai sedangkan Liong-siauw-kiam telah dirampas Kim Hwa Nionio, apa lagi sekarang di sana terdapat Sam Kwi, kedudukan mereka menjadi semakin kuat."

"Betapa pun besar bahayanya, aku harus mendapatkan kembali Ban-tok-kiam dan aku akan pergi bersama Sim-toako," kata Bi Lan.

"Biar aku membantu kalian!" kata Hong Beng.

"Aku juga!" kata Kun Tek.

"Paman Kun Tek dan saudara Hong Beng, terima kasih atas kebaikan kalian. Tetapi, menyusup ke tempat seperti ini lebih baik dilakukan secara berpencar," kata Sim Houw.

Mendadak dia berhenti bicara dan memberi isyarat kepada tiga orang temannya untuk diam. Mereka semua diam tak bergerak, mencurahkan ketajaman pendengaran mereka. Lapat-lapat terdengar suara lirih di luar kuil itu.

"Omitohud..., harap sam-wi tidak mencurigai pinceng. Katakan saja kepada nona yang kehilangan Ban-tok-kiam bahwa pinceng datang untuk membicarakan tentang pedang itu."

Mendengar suara itu, Bi Lan bangkit berdiri. "Ssttt, kalau tak salah...itu sura hwesio yang dulu mengejar Sai-cu Lama..."

"Benar... sepertinya suara Tiong Khi Hwesio...," berkata Hong Beng yang teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan bersama Bi Lan dan pedang itu terampas oleh Sai-cu Lama kemudian muncul hwesio tua renta itu.

"Kalian masih mengenal suara pinceng? Bagus!" terdengar suara dari luar itu dan Sim Houw sendiri terkejut.

Hwesio di luar itu benar-benar memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya! Maka mereka berempat lalu menyambut keluar. Dan memang benar dugaan Bi Lan dan Hong Beng, diluar berdiri seorang hwesio tua yang berjubah kuning. Itulah Tiong Khi Hwesio, nama baru dari Wan Tek Hoat.

"Locianpwe hendak bicara dengan saya?" tanya Bi Lan sambil memandang tajam dan penuh perhatian. Bagaimana pun juga, dia belum mengenal orang ini dan tidak tahu hwesio ini seorang kawan ataukah seorang lawan.

"Locianpwe, silakan masuk dan kita bicara di dalam," kata Sim Houw yang tidak ragu-ragu lagi bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti.

Mereka lalu masuk ke ruangan belakang itu setelah tiga orang hwesio penjaga kuil itu dapat diyakinkan bahwa hwesio tua yang baru tiba ini memang telah mengenal para pendekar muda itu. Setelah mengambil tempat duduk, hwesio tua itu kemudian berkata mendahului mereka.

"Pinceng sudah mendengar semua akan peristiwa yang terjadi di gedung markas Kim Hwa Nionio itu. Kalian adalah orang-orang muda yang berani dan pinceng merasa kagum sekali. Pinceng sudah mengenal dua orang di antara kalian." Dia lalu menunjuk kepada Bi Lan. "Engkau adalah murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng, para majikan Istana Gurun Pasir, dan engkau telah kehilangan Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama. Dan engkau," dia menunjuk kepada Hong Beng, "engkau adalah murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi pinceng belum mengenal kalian dua orang muda yang lain. Murid-murid siapakah kalian?"

"Locianpwe, saya bernama Sim Houw dan guru-guru saya adalah mendiang ayah saya sendiri yang bernama Sim Hong Bu dan suhu yang bernama Kam Hong," kata Sim Houw dengan sikap merendah.

"Wah, apakah Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas itu? Kalau begitu bukan orang lain, masih segolongan sendiri."

"Dan saya bernama Cu Kun Tek, guru saya adalah ayah saya sendiri yang bernama Cu Kang Bu. Sim Houw ini masih terhitung keponakan saya, dan kami tinggal di Lembah Naga Siluman."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Keluarga Cu memiliki nama besar. Sungguh pinceng girang sekali bahwa pinceng mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang muda perkasa, yang mengingatkan pinceng akan masa muda pinceng dahulu. Orang-orang muda, pinceng sudah mendengar bahwa selain Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, juga pedang pusaka milik seorang di antara kalian telah dirampas oleh Kim Hwa Nionio."

"Pedang Sim-toako ini yang dirampas, pedang itu adalah Liong-siauw-kiam dan oleh Sim-toako diserahkan begitu saja karena mereka mengancam akan membunuh saya yang sudah ditangkap lebih dahulu," kata Bi Lan.

Hwesio itu mengangguk-angguk. "Tadi pinceng sudah mendengar bahwa kalian hendak memasuki sarang itu untuk merampas pedang. Hal itu sama sekali tak boleh dilakukan. Untuk menangkap harimau, orang harus memancing harimau-harimau itu keluar dari sarangnya, bukan memasuki sarang. Itu berbahaya sekali.”

"Saya mengerti maksud locianpwe. Lalu bagaimana baiknya? Saya harus merampas kembali Ban-tok-kiam," kata Bi Lan.

"Ha-ha-ha, andai kata engkau tidak ingin merampas kembali, aku tentu akan berusaha untuk mengambil kembali dari tangan pendeta palsu itu untuk dikembalikan kepada Wan Ceng," kata Tiong Ki Hwesio. "Pihak lawan amat kuat. Kalian tentu sudah tahu betapa lihainya Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio. Dan ditambah lagi dengan Sam Kwi, maka kekuatan di pihak mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Itu semua masih ditambah lagi dengan pasukan pemerintah. Kalau sampai pasukan pemerintah dikerahkan, mana mungkin kita mampu melawan pemerintah? Kita bisa dicap sebagai pemberontak, kemudian akan berhadapan dengan bala tentara pemerintah. Kita harus memakai akal dan membagi-bagi tugas. Aku akan memancing keluar mereka dari dalam sarang sehingga kita tidak mudah terkepung."

Empat orang muda itu serentak tunduk terhadap kakek ini yang kelihatan demikian tegas dan mantap dalam semua rencananya. Akan tetapi di tengah-tengah percakapan mereka, Bi Lan yang selalu ingin tahu dengan jelas memotong percakapan itu dan bertanya,

"Maafkan dulu, locianpwe. Kini di antara kita telah terdapat suatu persekutuan untuk melawan musuh dan terus terang saja, kami orang-orang muda tunduk dan dapat menerima semua akal dan rencana locianpwe. Locianpwe telah mengenal kami semua, tetapi kami sebaliknya belum tahu benar siapa sesungguhnya locianpwe ini. Bukankah sudah waktunya bagi kami untuk mengenal siapa sebenarnya diri locianpwe?"

Mendengar ucapan gadis itu, tiga orang muda itu mengangguk-angguk membenarkan. Memang mereka semua juga sudah menduga-duga siapa sesungguhnya kakek ini, akan tetapi mereka tidak seberani Bi Lan untuk menanyakannya.

Mendengar ucapan gadis itu, Tiong Khi Hwesio tertawa. "Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, kaum wanita lebih teliti dan lebih ingin tahu. Tetapi memang sebaiknya demikianlah, karena kerja sama harus didasari saling percaya yang sepenuhnya. Bi Lan, kalau engkau ini murid dari nenek Wan Ceng, engkau harus menyebut aku susiok (paman guru) karena antara kami ada pertalian persaudaraan. Namun, sudah puluhan tahun aku memisahkan diri ke barat sehingga antara kami tidak ada hubungan lagi."

"Ahh, kalau begitu, mungkin saya dapat menebak siapa adanya locianpwe ini!" Hong Beng berseru dengan sepasang mata bersinar gembira.

Murid ini di waktu senggang banyak mendengar cerita dari gurunya tentang keluarga para pendekar Pulau Es, maka mendengar bahwa antara nenek Wan Ceng dan hwesio itu terdapat pertalian persaudaraan, dia pun dapat menduga siapa orangnya.

"Benarkah kau dapat menebaknya siapa, Hong Beng?" Kun Tek bertanya, ikut gembira.

"Omitohud, agaknya murid keluarga Pulau Es banyak mendengar tentang diri pinceng. Cobalah, barangkali tebakanmu tepat, orang muda." Hwesio itu pun membujuknya.

"Sebelumnya harap locianpwe sudi memaafkan saya, akan tetapi bukankah locianpwe, seperti juga nenek Wan Ceng, masih terhitung keluarga Pulau Es pula?"

Hwesio itu mengangguk sambil tersenyum. "Boleh dibilang begitulah, walau pun sebagai keluarga luar."

"Kalau begitu, agaknya tidak keliru lagi bahwa locianpwe dahulu di waktu muda adalah pendekar yang berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat, dan yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari Bhutan dan..."

“Cukuplah, anak baik. Tak pinceng sangkal, memang dahulu pinceng bernama Wan Tek Hoat, akan tetapi kini pinceng adalah Tiong Khi Hwesio, tidak punya apa-apa lagi, sudah habis semua yang pernah pinceng miliki. Nah, tentu sekarang engkau lebih percaya kepadaku, bukan?" tanyanya kepada Bi Lan. Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan.

"Sejak tadi pun aku sudah percaya kepada locianpwe, hanya ingin tahu saja. Kiranya locianpwe... ehhh, susiok malah masih saudara dari subo."

"Nah, sekarang kalian semua perhatikan dengan baik-baik. Kita harus mengatur siasat yang sudah direncanakan baik-baik. Ketahuilah bahwa sebelum menghubungi kalian, pinceng sudah bertemu dengan keluarga Pulau Es yang kini telah berada di kota raja, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya, juga Suma Ceng Liong dan isterinya."

Mendengar ini, empat orang muda itu menjadi girang dan mereka mendengarkan siasat yang direncanakan oleh kakek sakti itu dengan penuh perhatian. Mereka menganggap siasat itu baik sekali, untuk mempertemukan golongan sesat itu dengan para pendekar dan mengadakan pertandingan perkelahian tanpa campur tangan pemerintah.

**********

Para penjaga gedung yang menjadi sarang Kim Hwa Nionio menjadi gempar ketika pada suatu pagi, mereka melihat sebatang pisau menancap di daun pintu gerbang dan pisau itu membawa sebuah sampul putih dengan tulisan berwarna merah, ditujukan ke pada Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio! Bergegas komandan jaga mengambil pisau dan sampul itu, kemudian berlari-lari masuk menghadap Kim Hwa Nionio.

Nenek itu bersama para temannya sudah duduk menghadapi hidangan makan pagi. Di sini hadir Sai-cu Lama, ketiga orang Sam Kwi, Bhok Gun, Bi-kwi dan mereka kelihatan gembira. Malam tadi, berkat kelihaian Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, mereka telah berhasil menyingkirkan dua orang selir yang juga menjadi dua orang pengawal pribadi Hou Seng. Dua orang selir ini dianggap sebagai saingan oleh Kim Hwa Nionio, karena dua orang ini sering kali mempengaruhi Hou Taijin dengan bisikan-bisikan mereka.

Ketika Suma Lian diserahkan sebagai hadiah oleh Sai-cu Lama kepada Hou Seng, dua orang selir ini yang membisikkan agar pembesar itu menerima saja, akan tetapi harus memperlakukan anak itu dengan baik-baik dan jangan diganggu, memperingatkan Hou Taijin bahwa Pendekar Pulau Es masih ada hubungan keluarga dengan kaisar.

Dan masih banyak nasehat-nasehat yang diberikan oleh dua orang selir itu, yang selalu diturut oleh Hou Seng. Oleh karena itu Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama merasa bahwa mereka berdua itu merupakan saingan yang mengkhawatirkan. Bagaimana kalau sekali waktu dua orang selir itu membisikkan agar Hou Taijin tidak mempercayai Kim Hwa Nionio dan teman-temannya lagi?

Dan kesempatan baik mereka peroleh ketika mereka memperkenalkan Sam Kwi kepada pembesar itu. Malam itu, Hou Taijin berkenan menerima mereka bersama Sam Kwi untuk datang menghadap. Seperti biasa, Hou Taijin menyambut pembantu-pembantu baru yang berilmu tinggi itu dengan perjamuan makan. Dan seperti biasa pula, dua orang selir yang pandai ilmu siiat itu tidak pernah meninggalkan Hou Taijin, seolah-olah menjadi bayangannya.

Setelah Sam Kwi diperkenalkan, Hou Taijin merasa gembira sekali. Tiga orang dengan bentuk tubuh dan muka seperti itu, demikian menyeramkan, bahkan mengerikan, tanpa diuji lagi dia sudah percaya bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Maka dari itu, Hou Taijin lalu berkata sambil tersenyum lebar, "Kedatangan sam-wi amat menggembirakan hatiku, karena itu kami ingin menyambut kedatangan sam-wi dengan secawan arak!"

Mendengar ucapan ini, seorang di antara dua selir merangkap pengawal pribadi itu lalu melayani majikan mereka dengan menuangkan secawan arak dari guci yang tersedia, ke dalam cawan pembesar itu yang sudah tersedia pula di atas meja. Juga Sam Kwi sambil tertawa mengisi cawan mereka dengan arak sampai penuh, kemudian mereka semua mengangkat cawan arak masing-masing.

Akan tetapi, sebelum cawan itu menempel di bibir Hou Taijin, Kim Hwa Nionio berseru, "Taijin, tahan!"

Secepat kilat, ia pun menyambar cawan itu dari tangan Hou Seng, kemudian terdengar suara gaduh dan dua orang selir itu telah roboh dan tewas seketika karena mereka telah terkena pukulan maut dari Sai-cu Lama. Pukulan kedua tangan kakek itu tadi langsung menyambar ganas dan tepat mengenai dada mereka, membuat mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, muka mereka menjadi agak kehitaman karena pukulan tadi adalah pukulan beracun!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hou Taijin. Ia terbelalak. "Apa... apa artinya ini...?!"

Ia membentak, khawatir bahwa jangan-jangan para pembantunya ini akan mengadakan pengkhianatan dan pemberontakan. Akan tetapi hatinya lega karena sikap mereka tidak demikian.

Kim Hwa Nionio berkata halus, "Harap paduka maafkan kelancangan kami, akan tetapi kami telah menyelamatkan nyawa paduka dari pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang pengawal pribadi paduka ini," kata Kim Hwa Nionio dan cawan arak tadi masih berada di tangannya.

"Apa? Mereka ini hendak berkhianat? Ahh, hal itu tidak mungkin! Kalian tentu keliru. Mereka adalah selir-selirku yang setia!"

"Kim Hwa Nionio berkata benar, Taijin. Kami berdua melihat betapa tadi mereka sudah memasukkan bubukan putih ke dalam cawan paduka. Itu tentu racun yang amat jahat!" kata Sai-cu Lama. "Karena itu, selagi Kim Hwa Nionio mencegah paduka minum, saya mendahului mereka dan membunuhnya agar tidak sempat menyerang paduka."

Hou Taijin masih ragu-ragu dan ketika dia memandang kepada tiga orang tamu baru, Sam Kwi yang sudah tahu akan rencana teman-temannya, mengangguk-angguk. "Kami pun melihatnya," kata mereka. "Begini saja, Taijin. Tuduhan kami itu perlu dibuktikan agar Taijin dapat percaya."

Melihat pembesar itu yang masih memandang mayat dua orang selirnya dengan muka pucat, Kim Hwa Nionio lalu berteriak menyuruh dua orang pengawal cepat membawa dua ekor kucing ke situ.

Sebelum kucing yang diminta itu datang, Kim Hwa Nionio berkata, "Taijin, kalau taijin belum percaya, boleh taijin periksa di saku atau ikat pinggang mereka, tentu mereka membawa sebotol kecil bubukan putih."

Dengan jari-jari tangan gemetar, pembesar itu memeriksa dan benar saja, di tubuh dua orang selirnya, masing-masing terdapat sebuah botol kecil berisi bubukan putih, yang disembunyikan di dalam ikat pinggang mereka. Dia lalu mengambil botol-botol itu dan meletakkannya di atas meja.

"Apakah ini?" tanyanya, suaranya masih agak gemetar karena hatinya masih diliputi ketegangan.

"Racun yang jahat sekali, taijin. Dan sebagian dari racun itu tadi ditaburkan ke dalam cawan taijin ini," kata pula Kim Hwa Nionio.

Dua ekor kucing yang diminta itu datang. Kim Hwa Nionio membuka dengan paksa mulut kucing itu dan menuangkan arak dari cawan Hou Seng ke dalam mulut kucing. Walau pun kucing itu meronta, percuma saja, arak itu telah memasuki perutnya. Dan seketika kucing itu berkelojotan dan tewas, tubuhnya berubah menghitam!

"Nah, apa akan jadinya kalau saya tadi tidak mencegah paduka minum arak dari cawan itu?" kata Kim Hwa Nionio.

Hou Seng bergidik, kembali memandang kepada dua orang selirnya, sekarang pandang matanya mulai mengandung kemarahan dan kebencian. "Mereka.. mereka nampaknya begitu baik, mencinta dan setia... dan aku telah memberi segala-galanya, tetapi... tapi mengapa..."

"Tidak aneh, taijin. Musuh taijin banyak sekali dan agaknya mereka itu mampu merubah pendirian dua orang ini. Karena itu, taijin harus berhati-hati dan percayalah, selama ada kami, kami akan selalu melindungi taijin dari ancaman bahaya," berkata Sai-cu Lama dengan suaranya yang halus.

Kini dari dua botol itu dituangkan bubuk putih ke dalam arak, lalu dituangkan dengan paksa ke dalam mulut kucing yang ke dua dan akibatnya, kucing ini pun kejang-kejang berkelojotan dan tewas seketika. Percayalah Hou Taijin dan dua mayat dan bangkai kucing itu lalu disingkirkan, dan perjamuan itu dilanjutkan, walau pun Hou Taijin sudah kehilangan seleranya.

Demikianlah, peristiwa semalam itu tentu saja sudah diatur oleh komplotan Kim Hwa Nionio yang amat cerdik. Melalui para pelayan, mereka berdua memperoleh keterangan bahwa dua orang selir itu selalu membawa sebotol kecil racun. Racun ini selalu mereka bawa karena mereka ingin membunuh diri dengan cepat kalau sekali waktu mereka itu terjatuh ke tangan musuh-musuh Hou Seng, sehingga mereka tidak usah menderita siksaan dan juga tidak ada bahayanya mereka akan membocorkan rahasia suami dan juga majikan mereka itu. Demikian besarnya kesetiaan mereka kepada Hou Seng.

Akan tetapi justru keterangan inilah yang memudahkan Kim Hwa Nionio mengatur siasat keji itu. Ketika Hou Seng hendak minum araknya, tentu saja di dalam arak itu tidak ada apa-apanya. Ia sengaja merampasnya hanya untuk membuat suasana menjadi kalut dan memberi kesempatan kepada Sai-cu Lama untuk membunuh dua orang selir itu.

Walau pun memiliki kepandaian silat yang lumayan, tentu saja dua orang selir itu sama sekali bukan tandingan Sai-cu Lama dan sama sekali tidak mampu menghindar ketika pukulan maut datang menyambar. Dan dalam kegaduhan ini, dengan mudah Kim Hwa Nionio memasukkan bubuk racun ke dalam cawan arak itu. Ketika diminumkan kepada kucing, tentu saja kucing itu tewas seketika. Dan botol bubuk racun itu benar saja dapat ditemukan dan karena memang benda itu adalah racun, ketika diminumkan kucing ke dua, binatang itu pun mati!

Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya menganggap bahwa siasat itu berhasil dengan amat baiknya. Dua orang selir yang mereka anggap saingan yang berbahaya itu telah berhasil mereka singkirkan, dan yang lebih penting, Hou Seng agaknya percaya akan pengkhianatan selir-selirnya sehingga dengan demikian, semua kepercayaan pembesar itu tentu akan jatuh ke tangan mereka! Untuk kemenangan ini, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka telah merayakan kemenangan itu dengan sarapan pagi yang mewah.

Akan tetapi, kegembiraan mereka itu terganggu oleh datangnya pengawal yang dengan muka pucat menyerahkan pisau dan sampul. "Kami tidak tahu siapa yang menancapkan pisau itu di pintu gerbang, karena tahu-tahu ketika kami membuka pintu gerbang, pisau itu sudah menancap di daun pintu, membawa sampul itu." Demikian laporan pengawal itu.

Oleh karena surat itu ditujukan kepada Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, nenek yang dianggap sebagai pimpinan kelompok pembantu Hou Taijin itu segera membuka sampul dan mengeluarkan suratnya yang bertuliskan dengan tinta merah. Ternyata surat itu adalah tantangan untuk pi-bu (mengadu ilmu silat), seperti yang biasa dilakukan di dunia persilatan. Yang menantang adalah Tiong Khi Hwesio yang menantang Sai-cu Lama, dan Sim Houw menantang Kim Hwa Nionio. Pada hari itu lewat tengah hari, dua orang penantang itu menunggu di tepi hutan di sebelah utara pintu gerbang kota raja!

"Heemmm... keparat!" Kim Hwa Nionio memaki dengan muka merah dan melemparkan surat itu kepada Sai-cu Lama.

Pendeta ini membacanya dan dia pun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio sudah mengejarku sampai di sini? Ha-ha-ha, dia memang sudah bosan hidup. Dengan Ban-tok-kiam di tangan, dia pasti akan mampus di tanganku sekali ini!" Sambil tertawa-tawa, Sai-cu Lama menyerahkan surat itu kepada Iblis Mayat Hidup yang duduk di sebelahnya.

Sam Kwi membaca surat itu bergantian, kemudian Bhok Gun dan Bi-kwi juga turut membacanya. Ketika surat itu kembali ke tangan Kim Hwa Nionio, Iblis Akhirat, si cebol dari Sam Kwi, yang melihat betapa Kim Hwa Nionio tidak gembira, berkata dengan suaranya yang lantang dan membuyarkan ketegangan yang timbul oleh surat itu.

"Suci, tidak usah takut menghadapi Sim Houw itu. Bukankah Liong-siauw-kiam sudah berada di tanganmu? Dan kami pun akan membantumu."

Kim Hwa Nionio mengerutkan alisnya. "Siapa bilang aku takut menghadapi orang muda itu? Akan tetapi, aku khawatir kalau-kalau surat tantangan ini hanya suatu perangkap belaka untuk memancing harimau keluar dari sarang!"

"Ha-ha-ha!" Sai-cu Lama tertawa gembira. "Harimau tetap harimau, di dalam mau pun di luar sarang, kita tetap berani dan menang!"

"Apakah engkau akan mengabaikan saja tantangan pi-bu ini, suci?" tanya Iblis Akhirat dengan khawatir, oleh karena mengabaikan tantangan pi-bu amat mencemarkan nama seorang datuk persilatan.

"Pinceng pasti datang memenuhi tantangan Tiong Khi Hwesio, ha-ha-ha!" Sai-cu Lama masih tertawa-tawa memandang rendah lawannya.

Dan dia pun memiliki alasannya untuk memandang rendah. Bukankah dia dahulu kalah oleh Tiong Khi Hwesio dalam perkelahian yang seimbang dan setelah berjalan lama baru akhirnya dia kalah? Kalau kini dia menggunakan pedang Ban-tok-kiam, dia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya itu.

"Mengabaikan tantangan pibu tidak mungkin, akan tetapi..." Kim Hwa Nionio masih kelihatan ragu-ragu.

"Kalau kita semua pergi bertujuh, walau andai kata mereka itu membawa teman-teman, kita tidak perlu takut," kata pula Iblis Akhirat membesarkan hati suci-nya.

"Aku mengerti akan kekhawatiran subo," tiba-tiba Bhok Gun berkata. "Dan memang kekhawatiran itu beralasan. Penantang kita adalah musuh-musuh dan bisa saja mereka menggunakan pi-bu ini sebagai pancingan untuk menjebak kita semua. Akan tetapi, subo, justru kita harus dapat memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari perangkap yang mereka pasang ini."

"Ehh? Maksudmu bagaimana?" tanya Kim Hwa Nionio kepada muridnya yang cerdik itu.

"Mereka menggunakan muslihat memancing harimau keluar sarang? Baik, kita keluar! Akan tetapi diam-diam aku akan menghubungi Coa-ciangkun agar dikerahkan pasukan sebanyak seratus orang untuk mengepung tempat itu dan begitu lawan berkumpul dan kita hendak dijebak, kita kerahkan pasukan untuk menangkap mereka semua. Dengan demikian berarti perangkap kita menghancurkan perangkap mereka."

Sai-cu Lama mengangguk-angguk. "Wah, Nionio, muridmu ini boleh juga!"

Semua orang menyatakan kagum dan Kim Hwa Nionio dapat menerima usul itu. Mereka melanjutkan makan minum sambil menyusun rencana untuk menghadapi pihak lawan yang mengajukan tantangan.

Tempat yang dipilih dalam surat tantangan pi-bu itu memang sunyi sekali. Di luar kota raja sebelah utara terdapat sebuah hutan yang lebat, dan di luar hutan ini terdapat lapangan rumput. Kalau musim semi tiba dan rumput di situ telah gemuk sekali, banyak penggembala ternak membawa ternaknya ke situ untuk makan rumput. Akan tetapi pada waktu itu, rumput di situ gundul dan kering maka tiada seorang pun pengembala mau membawa ternaknya ke tempat itu dan keadaan di situ amat sunyi.

Matahari amat cerahnya dan cahayanya yang panas menimpa segala yang nampak di permukaan bumi, memberi kehidupan yang segar. Kita adalah mahluk-mahluk yang sama sekali tidak dapat menikmati berkah yang berlimpahan dalam kehidupan ini. Satu di antara berkah-berkah yang berlimpahan adalah sinar matahari!

Tanpa sinar matahari, kita dan segala sesuatu di permukaan bumi ini akan mati! Sinar matahari menyehatkan, menghidupkan, dan memberi segala yang menjadi kebutuhan mutlak kita. Memberi panas, kehangatan, penerangan, kenikmatan yang tiada habis-habisnya. Namun, hanya sedikit di antara kita dapat menikmatinya.

Segala keindahan yang terbentang di depan kita hidup karena sinar matahari. Bahkan pandang mata kita tidak akan ada artinya tanpa sinar matahari. Sedikit saja di antara kita yang dapat menghirup berkah melimpah ini dengan sepuasnya, mereguknya dan menikmatinya. Dan yang sedikit itu pun hanya dapat menikmatinya jarang sekali, di waktu mereka teringat saja.

Dan di samping sinar matahari, masih banyak sekali berkah itu, seperti hawa udara, air, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Namun otak ini sudah terlalu penuh dengan dijejali persoalan-persoalan, dengan masalah-masalah yang kita buat sendiri sehingga hidup di dunia yang begini indah penuh berkah ini tidak terasa lagi sebagai suatu keindahan melainkan berubah menjadi neraka karena kita terbenam ke dalam duka dan sengsara oleh problema-problema buatan kita sendiri itu
.

Bayangan makin memendek mendekati kaki, tanda bahwa matahari sudah naik semakin tinggi. Tengah hari pun terlewat dan tak lama kemudian, tempat yang sunyi itu berubah dengan munculnya beberapa orang di lapangan rumput itu. Yang muncul adalah seorang kakek tua renta yang berjubah pendeta hwesio dan berkepala gundul, bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sederhana. Mereka ini adalah Tiong Khi Hwesio dan Sim Houw, dua orang penantang pi-bu itu!

Belum lama kedua orang penantang ini muncul di lapangan rumput yang luas, nampak bermunculan Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, diiringkan oleh Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi! Kim Hwa Nionio tersenyum mengejek, hatinya girang sekali karena kini nenek itu tidak khawatir akan terjebak pihak musuh.

Ada seratus dua puluh orang pasukan sejak pagi tadi bersembunyi di dalam hutan itu, siap untuk menyerbu setiap saat mereka dibutuhkan! Bahkan Coa-ciangkun sendiri, perwira tinggi yang menjadi sekutu Hou Seng Taijin, memimpin pasukan itu. Tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dan tentang pi-bu itu sendiri, ia pun tidak takut.

Andai kata kemudian ternyata bahwa ia tidak mampu menandingi orang muda she Sim itu, di sebelahnya masih ada Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi yang tentu tidak akan tinggal diam. Apa lagi ketika melihat bahwa yang muncul hanya dua orang penantang itu, Kim Hwa Nionio tersenyum mengejek.

"Ha-ha-ha-ha!" Sai-cu Lama tertawa bergelak setelah berhadapan dengan Tiong Khi Hwesio. "Kiranya engkau sampai juga ke sini. Tiong Khi Hwesio, mau apakah engkau jauh-jauh menyusulku dari Tibet, kemudian mengajukan tantangan pi-bu itu?"

Tiong Khi Hwesio memandang tajam kepada lawannya. "Sai-cu Lama, pinceng memiliki kewajiban untuk menangkapmu karena engkau telah membunuh dua orang pimpinan Lama. Dahulu pinceng merasa kasihan dan membebaskanmu, akan tetapi engkau tidak mengubah kelakuan yang buruk, bahkan menimbulkan kekacauan di mana-mana."

"Menangkap aku? Ha-ha-ha, jangan sesombong itu, Tiong Khi Hwesio. Dahulu pun, hanya setelah berkelahi mati-matian sampai ribuan jurus, baru engkau dapat sedikit mengungguli aku. Tetapi sekarang, jangan harap lagi! Aku bahkan akan membunuhmu di sini, ha-ha!" Berkata demikian, Sai-cu Lama menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar berkelebat dan berkilat ketika sebatang pedang yang mengandung hawa menyeramkan telah dicabutnya. Itulah Ban-tok-kiam!

"Omitohud, kejahatanmu semakin meningkat saja, Sai-cu Lama. Engkau menggunakan pedang yang kau rampas dari orang lain. Dan justru karena pedang itulah maka pinceng semakin bersemangat untuk mengejarmu. Selama ini pinceng pantang mempergunakan senjata, akan tetapi sekali ini terpaksa, omitohud,...!"

Dan ketika tangan Tiong Khi Hwesio bergerak ke bawah jubahnya, dia sudah mencabut sebatang pedang yang mengandung hawa sedemikian menyeramkan sehingga semua orang merasakan ini. Bahkan Sam Kwi sendiri bergidik ketika melihat pedang itu. Tidak mengherankan karena kini Tiong Khi Hwesio mengeluarkan senjata pusakanya yang selama ini disembunyikannya saja, yaitu pedang pusaka yang bernama Cui-beng-kiam (Pedang Pencabut Nyawa)!

Pedang pusaka ini dahulu milik seorang datuk sesat seperti iblis yang menjadi penghuni Pulau Neraka bernama Cui-beng Koai-ong (Raja Setan Pengejar Nyawa), sebatang pedang yang luar biasa ampuhnya dan akan menjadi lawan yang kuat seimbang sekali bagi Ban-tok-kiam.

Sementara itu, Kim Hwa Nionio sudah berhadapan dengan Sim Houw. "Hemm, orang muda, engkau berhasil meloloskan diri dan kini datang mengantar nyawa, sungguh lucu sekali. Dengan Liong-siauw-kiam di tanganku, bagaimana kau akan mampu menandingi aku?" Nenek itu mencabut Liong-siauw-kiam yang dipegangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang kebutannya. Sepasang senjata ini memang membuat Kim Hwa Nionio menjadi semakin lihai bukan main.

"Senjata pusaka itu milikku dan engkau merampasnya dengan cara licik. Akan tetapi, jangan mengira aku takut menghadapimu, Kim Hwa Nionio." Berkata demikian, kedua tangan Sim Houw pun bergerak.

Dia telah mengeluarkan sepasang senjata, yaitu sebatang suling emas dan sebatang pedang yang juga memiliki sinar yang menyeramkan sekali. Pedang di tangan kanannya itu bukan lain adalah Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman). Mudah saja diduga dari mana Sim Houw memperoleh sepasang senjata ini.

Sebelum datang ke tempat pi-bu ini, Cu Kun Tek telah menyerahkan dan meminjamkan sepasang senjatanya kepada pendekar ini, senjata yang tadinya memang menjadi milik Sim Houw dan dahulu dikembalikannya kepada keluarga Cu itu, meminjamkannya agar Sim Houw dapat menandingi nenek yang memegang Liong-siauw-kiam.

Seperti juga Sai-cu Lama yang terkejut melihat betapa lawannya mempunyai sebatang pedang pusaka yang kelihatannya ampuh itu, Kim Hwa Nionio tercengang melihat lawannya kini memegang sepasang senjata suling emas dan pedang pusaka berkilauan dan memiliki hawa yang demikian menyeramkan. Diam-diam dia pun merasa jeri dan mengerling ke arah Sam Kwi, sebagai tanda kepada tiga orang sutenya itu agar bersiap-siap membantunya.

"Heh-heh, sudah lama aku mendengar nama Pendekar Suling Naga, dan kesempatan ini takkan kusia-siakan!" kata Iblis Akhirat dan tiba-tiba saja tangannya bergerak.

Sinar terang berkelebat meluncur dari tangannya, menyambar ke arah Sim Houw. Itulah Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa), yang telah dipergunakan secara curang oleh Im-kan Kwi, orang pertama dari Sam Kwi itu.

Akan tetapi, Sim Houw telah mendengar banyak tentang kelihaian dan kecurangan tiga orang yang dia dapat menduga adalah Sam Kwi ini, maka dia telah bersikap waspada sejak tadi. Dia dapat cepat menundukkan kepala mengelak dan golok itu terbang di atas kepalanya, kemudian kembali kepada pemiliknya! Diam-diam Sim Houw terkejut. Ilmu melempar golok yang hebat, pikirnya, dan berbahaya sekali. Golok yang dapat terbang kembali seperti itu dapat dipergunakan berkali-kali. Dia sudah sering mendengar cerita Bi Lan tentang kehebatan tiga orang iblis ini.

"Hemm, kiranya Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama hanya berani menerima tantangan karena mengandalkan banyak lawan," kata Sim Houw mengejek.

"Omitohud, sudah pinceng duga bahwa kalian akan bertindak curang. Kalian datang bertujuh, maka sudah sepatutnya kalau kami pun keluar bertujuh!" Kakek ini tiba-tiba mengeluarkan suara melengking panjang dan dari balik batu-batu besar bermunculan lima orang yang dengan cepatnya berlari menuju ke padang rumput itu.

Kim Hwa Nionio dan teman-temannya cepat memandang. Yang muncul itu lima orang, akan tetapi mereka hanya mengenal seorang di antara mereka, yaitu Bi Lan. Ada pun empat orang lainnya adalah Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui, kemudian Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng! Dua pasang suami isteri inilah yang telah bertemu dengan Tiong Khi Hwesio dan mereka segera diajak berunding untuk bersama-sama menghadapi gerombolan datuk sesat yang menjadi kaki tangan Hou Seng.

Seperti telah kita ketahui, Suma Ceng Liong dan isterinya Kam Bi Eng yang kematian nenek Teng Siang In dan kehilangan puteri mereka, Suma Lian, tak sempat mendengar dari Hong Beng siapa adanya kakek yang menculik puteri mereka ini. Akan tetapi mereka mengenal luka yang diakibatkan oleh pedang Ban-tok-kiam, maka mereka lalu melakukan perjalanan cepat pergi mengunjungi keluarga Kao, yaitu penghuni Istana Gurun Pasir di luar Tembok Besar.

Dari nenek Wan Ceng, mereka mendengar bahwa pedang itu tadinya oleh nenek Wan Ceng dipinjamkan kepada muridnya, yang juga menjadi murid Sam Kwi. Tetapi nenek Wan Ceng memperkuat keyakinannya bahwa muridnya itu tidak mungkin melakukan kejahatan, dan ia mengkhawatirkan bahwa pedang itu telah terampas oleh orang jahat dari tangan muridnya.

Setelah mendengar penuturan nenek Wan Ceng tentang pedang Ban-tok-kiam, suami isteri itu kembali ke selatan dan sampai di kota raja. Mereka hendak mengunjungi Kao Cin Liong untuk minta bantuannya, akan tetapi kebetulan sekali Kao Cin Liong dan Suma Hui juga baru saja tiba di kota raja dan mereka bertemu di perjalanan.

Pertemuan mereka yang mengharukan di tengah jalan itu menarik perhatian seorang kakek hwesio yang bukan lain adalah Tiong Khi Hwesio. Wajah Suma Ceng Liong yang mirip dengan wajah Suma Kian Bu di waktu muda, menarik perhatiannya dan melihat sikap dan gerakan mereka, Tiong Khi Hwesio dapat mengetahui bahwa empat orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka dia pun segera menghubungi mereka dan memperkenalkan diri sebagai Tiong Khi Hwesio yang dahulu pernah bernama Wan Tek Hoat.

Tentu saja nama ini amat dikenal oleh Suma Ceng Liong dan Suma Hui, dan mereka lalu mengadakan perundingan. Girang hati Suma Ceng Liong ketika mendengar dari kakek ini bahwa yang mempergunakan pedang Ban-tok-kiam adalah seorang pendeta Lama bernama Sai-cu Lama.

Apa lagi setelah mereka berempat itu dipertemukan dengan Hong Beng, Kun Tek dan terutama Bi Lan. Mereka dapat mendengar secara jelas segala hal mengenai Sam Kwi dan Sai-cu Lama. Dan mereka bersama-sama lalu mengadakan perundingan, dipimpin oleh Tiong Khi Hwesio yang mengatur siasat. Mereka itu merupakan sekelompok kecil anggota keluarga para pendekar Pulau Es, kecuali Cu Kun Tek, dan mereka membagi-bagi tugas.

Melihat munculnya lima orang itu, Sam Kwi, Bi-kwi dan Bhok Gun cepat menyambut mereka. Sesuai dengan tugas mereka, Kao Cin Liong menghadapi Iblis Akhirat, Suma Ceng Liong menghadapi Raja Iblis Hitam, Kam Bi Eng yang sudah siap dengan suling emasnya menghadapi Iblis Mayat Hidup, Bhok Gun dihampiri oleh Suma Hui sedangkan Bi-kwi dihadapi Bi Lan! Kini mereka benar-benar melakukan pi-bu satu lawan satu dan semua ini sudah diperhitungkan oleh keluarga Pulau Es itu!

Sam Kwi yang tidak mengenal lawannya, memandang rendah. Terutama sekali Im-kan Kwi (Iblis Akhirat), orang pertama dari Sam Kwi, ketika melihat majunya seorang laki-laki setengah tua yang tidak begitu mengesankan, memandang rendah. Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah Kao Cin Liong, bekas panglima yang amat terkenal di kota raja, putera dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

"Ha-ha-ha, kalian ini semua sudah bosan hidup, mengantar nyawa untuk mati konyol!" Berkata demikian, Ibiis Akhirat ini membuka perkelahian satu lawan satu itu dengan serangannya yang ganas, yaitu dengan menggunakan Kiam-ciang (Tangan Pedang) menubruk ke arah Cin Liong.

Melihat lawan maju dan menyerang sembarangan dengan tangan kanan dibarengi pengerahan tenaga sinkang yang membuat tangan itu berdesing seperti senjata tajam, Cin Liong yang sudah mendengar tentang si cebol ini dari Bi Lan, menyambut dengan tangkisan dan untuk mengadu tenaga, dia pun mengerahkan sinkang-nya yang istimewa, pelajaran dari Istana Guruu Pasir.

"Desss...!"

Dan Iblis Akhirat mengeluarkan pekik kaget karena tangkisan itu bukan saja mampu menangkis serangan Kiam-ciang, akan tetapi bahkan dia merasa betapa seluruh lengan kanannya tergetar hebat seperti bertemu dengan baja yang lemas namun kuat sekali.

Dan ternyata Iblis Akhirat tidak menyendiri dalam kekagetannya. Raja Iblis Hitam yang menyerang Ceng Liong, membuka serangan dengan menggunakan jurus dari Hek-wan Sip-pat-ciang, tangan kirinya mencengkeram dan lengannya mulur panjang melewati kepala lawan, lalu dari belakang tubuh lawan, lengan itu membalik dan tangannya mencengkeram ke arah kepala Ceng Liong!

Cucu Pendekar Super Sakti ini sudah mendengar pula dari Bi Lan tentang kepandaian si Raja Iblis Hitam, bahkan Bi Lan sudah mendemonstrasikan semua ilmu tiga orang gurunya, maka dia pun tidak terkejut melihat lengan yang dapat mulur memanjang itu. Dia membalik dan menangkis, mengerahkan tenaga Swat-im Sinkang.

"Dukkkk...!"

Dan seperti juga rekannya, Raja Iblis Hitam yang tinggi besar ini mengeluarkan teriakan kaget dan cepat menarik kembali lengan kirinya yang mulur tadi karena tangkisan lawan itu bukan saja membuat pukulannya membalik dan tangannya terpental, akan tetapi seluruh lengannya merasa dingin seperti dimasuki air es! Dia terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar Pulau Es, maka dia pun tidak berani main-main lagi.

Sama saja kekejutan yang dialami oleh Iblis Mayat Hidup. Kakek yang seperti tengkorak hidup ini pun tadinya memandang ringan kepada Kam Bi Eng, wanita yang masih nampak cantik jelita dalam usianya yang tiga puluh dua tahun itu. Seorang wanita yang hanya bersenjatakan sebatang suling emas! Maka dia ingin menangkap wanita ini hidup-hidup, dan sudah menubruk dengan Ilmu Hun-kin Tok-ciang untuk membikin putus otot kedua pundak lawan dan sekaligus membekuknya.

Seperti juga suaminya, Kam Bi Eng sudah mempelajari lebih dahulu ilmu-ilmu dari calon lawannya. Diketahuinya sudah bahwa lawannya ini memiliki Sam Kwi Cap-sha-ciang seperti yang lain, juga paling ahli dalam penggunaan Kiam Ciang, dan memiliki ilmu silat yang berbahaya, yaitu Hun-kin Tok ciang.

Kini, melihat datangnya serangan, ia mengenai jurus Hun-kin Tok-ciang dan cepat ia sudah memutar sulingnya. Terdengar suara melengking-lengking dan tahu-tahu lengan kanan Iblis Mayat Hidup sudah tertangkis, sedangkan lengan kirinya tiba-tiba menjadi kejang karena serangannya disambut oleh totokan yang cepat sekali datangnya dari suling yang menangkis lengan kanan tadi, mengenai tepat pada pergelangan tangannya dan membuat lengan itu menjadi kejang. Dia menahan pekiknya akan tetapi melangkah mundur untuk mengurut lengan kirinya, lalu maju lagi menyerang dengan Kiam-ciang, bertubi-tubi dan dengan marah sekali.

Bhok Gun yang dihadapi Suma Hui terkejut bukan main dan segera dia mengerti bahwa wanita ini bukan lawannya! Wanita ini memiliki pukulan-pukulan yang mengandung hawa panas sekali, bagaikan api, dan ketika menangkis mengenai lengan kirinya ada hawa yang amat dingin seperti es menyusup ke dalam lengannya! Hampir saja dia melepaskan pedangnya, dan ia cepat-cepat melompat mundur dengan mata terbelalak. Suma Hui tersenyum mengejek dan ialah yang kini menerjang mendesak lawannya cepat memutar pedangnya melindungi tubuh.

Bi-kwi seoranglah yang agaknya menemukan tandingan yang seimbang. Akan tetapi ia menjadi semakin penasaran saja karena semua serangannya terhadap Bi Lan atau Siauw-kwi yang ketika kecil menjadi muridnya ini, dapat dihindarkan oleh Bi Lan, bahkan Bi Lan membalas dengan tidak kalah sengitnya! Dua orang ini, ketika mempergunakan ilmu silat dari Sam Kwi, nampaknya seperti orang berlatih saja karena gerakan mereka sama, dan kelincahan mereka berimbang.

Bi-kwi menjadi semakin penasaran dan sambil mencoba untuk mendesak sumoi-nya, ia berteriak-teriak memaki dan menghina, disambut oleh Bi Lan sambil tersenyum saja. Memang ialah yang minta kepada Tiong Khi Hwesio agar diperbolehkan menghadapi suci-nya, karena ia sudah hafal akan semua ilmu suci-nya, dan ia pun tahu bagaimana caranya untuk menghadapi dan melawannya.

Ada sedikit kelebihan pada diri Bi-kwi, yaitu ia lebih matang dalam hal ilmu-ilmu dari Sam Kwi dibandingkan sumoi-nya. Akan tetapi kekurangan Bi Lan ini tertutup oleh ilmu-ilmu dari Naga Sakti Gurun Pasir yang pernah dilatihnya, bahkan ilmu-ilmu ini akan membuat Bi-kwi bingung kalau dikeluarkan oleh Bi Lan.
Sementara itu, Kim Hwa Nionio sudah terlibat dalam perkelahian yang amat hebat dan seru melawan Sim Houw. Liong-siauw-kiam di tangan nenek itu memang membuatnya semakin lihai. Kebutan di tangan kirinya itu sudah berbahaya sekali. Ujung bulu kebutan yang kadang-kadang lemas kadang-kadang kaku seperti batangan-batangan baja itu menyambar-nyambar ganas dan setiap ujung bulu kebutan itu dapat menghancurkan otot atau jalan darah dapat ditotoknya. Ini semua masih ditambah lagi dengan pedang suling yang menyambar-nyambar seperti seekor naga.

Akan tetapi, dalam hal penggunaan Liong-siauw-kiam ini, nenek Kim Hwa Nionio hanya dapat memanfaatkan ketajamannya saja, sedangkan lubang-lubang di pedang itu hanya mengeluarkan suara mendengung panjang, tidak seperti jika dimainkan oleh Sim Houw. Biar pun demikian, karena pedang suling itu bekerja sama dengan kebutan, nenek itu benar-benar merupakan lawan yang berbahaya dan kuat sekali.

Akan tetapi, Sim Houw telah mempergunakan sepasang senjata yang memang menjadi senjata istimewanya sebelum dia memiliki pedang suling. Sekarang pedang di tangan kanannya berkelebatan dan mengaung-ngaung seperti seekor naga sedang mengamuk, sedangkan suling emas di tangan kiri mengeluarkan suara melengking-lengking, malah lebih kuat dari pada lengking suara suling yang keluar dari suling emas di tangan Kam Bi Eng, sumoi-nya yang menghadapi Iblis Mayat Hidup, seorang di antara Sam Kwi. Dan dengan sepasang senjata yang ampuh ini, Sim Houw mampu menandingi dan mengimbangi permainan sepasang senjata Kim Hwa Nionio sehingga mereka terlibat dalam pertandingan yang amat seru.

Perkelahian antara Sai-cu Lama dan Tiong Khi Hwesio agaknya merupakan perkelahian yang paling hebat di antara mereka. Dua orang kakek ini memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi, dan keduanya memiliki tenaga sinkang yang sudah matang, juga pengalaman berkelahi puluhan tahun lamanya. Lebih lagi, kini keduanya menggunakan pedang pusaka yang amat ampuh dan baru sinar pedangnya saja sudah cukup untuk menggentarkan hati lawan.

Kalau tadinya Sai-cu Lama mengandalkan keampuhan Ban-tok-kiam sehingga dengan senjata ampuh itu dia dapat menebus kekalahannya yang sedikit dari Tiong Khi Hwesio, kini harapannya itu kandas. Ternyata pedang pusaka di tangan lawan itu tidak kalah ampuhnya, bahkan kini Tiong Khi Hwesio memainkan ilmu pedang yang amat aneh dari Pulau Neraka, membuat Sai-cu Lama repot dan harus melindungi diri kuat-kuat.

Dengan demikian dia mulai terdesak dan lebih banyak menangkis dari pada menyerang. Terasa beratlah melawan kakek yang menggunakan pedang Cui-beng-kiam dengan Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan didasari dengan tenaga Inti Bumi, yaitu semacam sinkang yang hebat dari Pulau Neraka.

Hebat bukan main perkelahian yang terjadi di luar hutan, di padang rumput yang sunyi itu. Yang terdengar adalah sambaran-sambaran senjata yang berdesingan, bentrokan-bentrokan senjata dan teriakan-teriakan yang mengiringi suatu serangan.

Akan tetapi, lebih-lebih dari itu semua, terdengar dua suara suling melengking-lengking seperti ditiup, yaitu dari suling emas yang digerakkan oleh Kam Bi Eng dan yang digerakkan oleh Sim Houw. Biar pun Kam Bi Eng adalah puteri Pendekar Suling Emas Kam Hong, akan tetapi dalam hal memainkan suling emas, dia masih kalah matang dibandingkan suheng-nya, Sim Houw. Dua batang suling yang berkelebatan bagaikan naga itu selain mengeluarkan hawa pukulan yang hebat, mengintai nyawa lawan, juga mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup dan dimainkan saja.

Yang paling repot di antara gerombolan datuk sesat itu adalah Bhok Gun. Dia diserang dan terus didesak oleh Suma Hui yang kini sudah mengeluarkan senjatanya pula, yaitu sepasang pedang! Padahal tadi, dengan kedua tangan kosong saja ia masih mampu mengatasi pedang lawan. Karena jengkel tak dapat segera mengalahkan lawan, Suma Hui telah mencabut sepasang pedangnya dan kini ia mainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang luar biasa ganasnya.

Bhok Gun amat terkejut dan dia terus didesak mundur oleh lawan. Hal ini sungguh sama sekali di luar perhitungan Bhok Gun. Ketika berangkat, Kim Hwa Nionio begitu yakin bahwa mereka bertujuh akan mampu mengalahkan lawan tanpa perlu bantuan pasukan. Akan tetapi sekarang, ternyata mereka menghadapi tujuh orang lawan yang demikian tangguhnya sehingga mereka semua terdesak. Maka, Bhok Gun segera mengeluarkan suara teriakan tiga kali.

Mendengar ini, Kim Hwa Nionio yang juga sedang terdesak hebat dan maklum bahwa dari teman-temannya ia tidak dapat mengharapkan bantuan karena mereka sendiri pun terdesak, segera bersuit tiga kali.

Teriakan Bhok Gun dan suitan gurunya itu merupakan isyarat untuk segera bergerak bagi pasukan yang bersembunyi di dalam hutan. Terdengar sorak-sorai dan seratus dua puluh orang prajurit keluar dari dalam hutan menuju ke padang rumput. Akan tetapi, pada saat itu, nampak seorang laki-laki tinggi besar berlari-lari mendahului para prajurit ke arah padang rumput dan di belakangnya ikut berlari Hong Beng dan Kun Tek!

Pada waktu tiba di dekat padang rumput, panglima itu dibawa meloncat oleh Hong Beng ke atas sebuah batu besar. Panglima itu kemudian mengeluarkan sebuah sempritan dari saku bajunya dan meniup alat ini berkali-kali. Mendengar itu, para prajurit menahan langkah mereka dan hanya mengurung tempat perkelahian itu, dan semua prajurit itu memandang ke arah orang berpakaian panglima itu dengan bingung.

"Berhenti di tempat! Dilarang bergerak mencampuri perkelahian!"

Mendengar teriakan ini, tentu saja para prajurit tak berani bergerak. Yang mengeluarkan perintah itu adalah Coa-ciangkun, komandan mereka sendiri! Ketika mereka membuat persiapan di dalam hutan tadi, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok memiliki seorang perwira atau kepala kelompok. Dan kini, para kepala kelompok itu sendiri menjadi bingung dan cepat memberi aba-aba agar anak buahnya jangan bergerak. Mereka terkejut dan merasa heran sekali akan perintah dari komandan mereka itu.

Tentu saja Kim Hwa Nionio menjadi lebih kaget lagi. "Coa-ciangkun, cepat bergerak menangkap pemberontak-pemberontak ini!" teriaknya sambil terus memutar sepasang senjatanya melindungi tubuhnya dari desakan Sim Houw.

"Kim Hwa Nionio, kami tidak melihat adanya seorang pun pemberontak. Mereka adalah para pendekar, keluarga dari para pendekar Pulau Es! Karena perkelahian ini adalah urusan pribadi dan tidak menyangkut pemerintah, kami tidak mau ikut campur tangan. Seluruh pasukan mundur...!"

Sempritan itu ditiupnya beberapa kali sebagai isyarat agar pasukannya mundur. Para perwira juga cepat memberi aba-aba dan pasukan itu pun mundur kembali ke dalam hutan!

Semua ini adalah hasil rencana yang matang dari Tiong Khi Hwesio. Dia sudah dapat menduga bahwa orang-orang licik semacam Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, untuk mencari kemenangan, tentu bukan hanya membawa semua temannya, melainkan juga mengandalkan bantuan pasukan pemerintah.

Perhitungannya itu tepat ketika pagi hari itu, para pendekar melihat masuknya pasukan yang seratus orang lebih besarnya ke dalam hutan dengan cara sembunyi. Mereka itu agaknya keluar dari pintu gerbang timur, lalu mengambil jalan memutar ke utara dan memasuki hutan itu dari timur.

Melihat ini, Hong Beng dan Kun Tek segera melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Tiong Khi Hwesio kepada mereka berdua. Dua orang pendekar muda ini menyusup ke dalam hutan, mendekati tempat persembunyian para prajurit.

Ketika mereka melihat betapa Coa-ciangkun sedang memberi perintah dan keterangan serta perintah kepada para pembantunya, mereka hanya terus mengintai saja. Selesai Coa-ciangkun memberi perintah dan pasukan itu sudah dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing dikepalai oleh seorang perwira, dan panglima itu mengundurkan diri dan beristirahat ke dalam sebuah pondok darurat yang dibuat oleh anak buahnya, barulah mereka berdua turun tangan.

Dengan kepandaian mereka yang tinggi, mudah saja bagi Hong Beng dan Kun Tek untuk menyergap dan membuat para prajurit yang berjaga di belakang pondok tiba-tiba saja roboh pingsan tanpa mengetahui apa yang menimpa diri mereka. Totokan-totokan yang dilakukan dua orang pendekar itu membuat enam orang prajurit roboh terkulai dan seperti orang tidur saja. Mereka lalu membongkar dinding belakang pondok darurat itu dan masuk ke dalam.

Dapat dibayangkan betapa kaget Coa-ciangkun ketika tiba-tiba ada dua orang pemuda gagah berdiri di depan pembaringannya selagi dia beristirahat. Sebelum dia sempat berteriak, Kun Tek sudah menodongkan sebatang pisau belati ke arah dada pembesar militer itu dan Hong Beng cepat menotok urat gagunya dan membuat tubuh pembesar itu lemas.

Kemudian, dua orang pemuda itu membawa tubuh Coa-ciangkun keluar pondok melalui pintu belakang, dan terus membawanya jauh ke dalam hutan, tempat yang memang sudah mereka persiapkan. Di tempat sunyi ini, Hong Beng membebaskan totokannya sehingga panglima itu dapat bergerak dan bicara kembali.

"Maafkan kami, Coa-ciangkun, akan tetapi kami terpaksa melakukan hal ini terhadap ciangkun, karena kami sedang menghadapi fitnah yang dilakukan oleh Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama bersama kawan-kawan mereka!"

Setelah merasa dirinya bebas dan dua orang pemuda itu tidak menodongnya lagi, Panglima Coa marah sekali. Dia bukan orang lemah, bahkan orang yang memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi. Maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerjang maju, mengirim pukulan ke arah dada Hong Beng. Pemuda ini tidak mengelak, malah menerima pukulan itu begitu saja.

"Bukkk...!"

Bukan pemuda itu yang roboh, melainkan panglima itu terkejut dan berseru keras sambil meloncat ke belakang. Saat tangannya bertemu dada pemuda itu, ia merasa tangannya sakit dan ada hawa yang amat dingin seperti es menyusup ke dalam tubuhnya melalui tangan yang memukul!

"Siapa... siapa kalian...?!" bentaknya, "dan... apa maksud kalian berbuat kurang ajar seperti ini terhadap aku?"

"Maaf, ciangkun. Harap engkau suka dengarkan dulu baik-baik. Kami tujuh orang adalah pendekar-pendekar yang melihat betapa ada sekelompok datuk kaum sesat kini sedang merajalela di kota raja. Mereka adalah Kim Hwa Nionio, Sai-cu Lama, Sam Kwi dan yang lain-lain. Kami harus menentang mereka dan hari ini kami menantang mereka mengadakan pi-bu di luar hutan ini. Akan tetapi kami tahu bahwa tentu orang-orang sesat itu mengunakan akal jahat, menarik pasukan pemerintah untuk campur tangan dengan tuduhan bahwa kami adalah pemberontak-pemberontak. Karena itu terpaksa kami mendahului, mendatangi ciangkun untuk memperkenalkan diri dan menceritakan hal yang sebenarnya."

Coa-ciangkun adalah seorang pembesar militer yang korup dan ambisius, dan karena inilah maka mudah saja dia diperalat oleh Hou Seng. Tentu saja dia mengerti bahwa Hou Seng mempergunakan datuk-datuk kaum sesat untuk memperkuat kedudukan. Hal itu tidak dia pedulikan karena dianggap bukan urusannya. Yang penting baginya, dia memperoleh banyak hadiah dan janji bahwa kelak kedudukannya akan dinaikkan kalau dia membantu Hou Taijin yang sedang berkembang kekuasaannya itu. Oleh karena itu, mendengar ucapan Hong Beng, dia tidak merasa heran, bahkan memandang dengan sikap tidak peduli, bahkan dia mencurigai Hong Beng.

"Orang muda, mana aku tahu bahwa engkau dan kawan-kawanmu bukan pemberontak-pemberontak. Aku hanya mendengar laporan bahwa ada pemberontak-pemberontak sedang hendak ditangkap oleh Kim Hwa Nionio dan teman-temannya, maka aku hendak menangkap mereka dengan kekuatan pasukanku."

"Tentu saja ciangkun juga telah kena dikelabui. Tahukah ciangkun bahwa kami bertujuh dipimpin oleh seorang hwesio tua?"

"Ya, menurut laporan, para pemberontak ini dipimpin oleh seorang hwesio tua yang bernama Tiong Khi Hwesio."

"Hemm, ciangkun adalah seorang panglima yang sudah lama bertugas, tentu mengenal pula catatan sejarah dan riwayat para panglima besar di kota raja yang setia kepada kaisar dan pemerintah. Tentu ciangkun pernah pula mendengar nama Puteri Milana, bukan? Apakah ciangkun mau berpura-pura tidak mengenal pada puteri dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es itu? Dan kenalkah akan nama Puteri Nirahai?"

Coa-ciangkun menelan ludah dan mukanya berubah ketika dia menatap wajah pemuda itu. "Tentu... tentu aku mengenal nama Puteri Nirahai dan... ketika masih muda sekali pernah aku melihat Puteri Milana memimpin pasukan. Gagah sekali, akan tetapi apa hubungannya dengan ini semua?"

"Sabarlah, ciangkun dan dengarkan ceritaku. Ciangkun tahu bahwa yang memimpin kami bertujuh adalah Tiong Khi Hwesio dan hwesio tua itu bukan lain adalah Pendekar Jari Maut Wan Tek Hoat, cucu tiri Pendekar Super Sakti, suami Puteri Syanti Dewi dari Bhutan."

"Ahhh...!" panglima itu terkejut.

"Nah, apakah ciangkun masih percaya bahwa tujuh orang yang dipimpin oleh pendekar Wan Tek Hoat yang kini telah menjadi seorang pendeta itu, para pendekar budiman dan gagah perkasa itu benar-benar hendak memberontak? Hanya tujuh orang dan hendak memberontak? Apakah itu masuk di akal?"

Panglima itu mulai merasa bimbang. "Aku... aku tidak tahu..."

"Dan ketahuilah pula, bahwa di antara kami yang dianggap pemberontak ini, terdapat pula bekas Panglima Kao Cin Liong! Tentu ciangkun juga belum lupa dengan nama besarnya...!"

Panglima Coa menjadi semakin gelisah. Tentu saja dia mengenal Kao Cin Liong yang sudah lama mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai panglima. Namun Panglima Kao itu terkenal jujur dan bersih sehingga tidak disuka di antara rekan-rekannya.

"Dan mereka semua, ketujuh orang yang akan mengadakan pi-bu dengan Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya, semua adalah anggota keluarga Pulau Es."

"Hemm, engkau sendiri agaknya seorang di antara mereka dari Pulau Es, bukan?" Panglima itu bertanya.

Hong Beng mengangguk. Memang tadi dia sengaja menerima pukulan dari panglima ini untuk mendemonstrasikan kekuatan Swat-im Sinkang dari Pulau Es.

"Guru saya adalah cucu dari Pendekar Pulau Es, ciangkun."

"Hemm, kalau begitu, apa yang kalian kehendaki?"

"Kami mengharap kebijaksanaan Coa-ciangkun agar menarik mundur pasukan, agar tidak mencampuri pi-bu antara kami dan para datuk sesat itu."

Coa-ciangkun mengerutkan alis. Mana mungkin hal ini dilakukan? Kalau dia melakukan hal itu, tentu Hou Seng akan marah kepadanya. Bukankah Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya itu merupakan para pembantu yang amat dipercaya oleh Hou Taijin? Dia menggeleng kepala beberapa kali.

"Tidak mungkin aku melakukan hal itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi pemberontak. Kalau aku tidak setia kepada kewajibanku, berarti aku berdosa besar dan mendapat hukuman."

Hong Beng mengerutkan alisnya dan mencoba membantah. "Akan tetapi, ciangkun sama sekali tidak dapat melihat bukti bahwa kami memberontak terhadap pemerintah. Kami hanya menentang para datuk kaum sesat yang merajalela di kota raja!"

"Aku tidak tahu akan hal itu. Mereka itu adalah pembantu-pembantu Hou Taijin..."

Tahulah Hong Beng bahwa panglima ini sudah menjadi antek Hou Taijin, maka dia segera berkata dengan nada suara tegas. "Kalau ciangkun tidak mau memenuhi permintaan kami dengan baik, terpaksa kami akan membunuh ciangkun!"

"Hong Beng, bunuh saja dia ini! Dia tentu antek Hou Seng dan sedang merencanakan pemberontakan terhadap kaisar!" Kun Tek juga berkata dengan sikap mengancam.

Orang seperti Panglima Coa ini hanya galak terhadap bawahannya atau terhadap rakyat jelata yang tidak mampu melawan saja. Kalau dia sendiri menghadapi ancaman dan berada dalam keadaan tak berdaya, kekuasaan dan anak buahnya tidak lagi mampu melindunginya, dia berubah menjadi seorang penakut dan pengecut.

Orang yang paling kejam sebetulnya adalah orang yang menyembunyikan rasa takut yang besar sekali di dalam batinnya. Melihat betapa dua orang pemuda yang dia tahu amat lihai ini bersikap hendak membunuhnya, Coa-ciangkun segera menjadi ketakutan. Wajahnya berubah pucat dan tubuhnya gemetar.

"Jangan kira kami akan kalah kalau kau tidak mau memenuhi permintaan kami!" bentak Hong Beng. "Kami dapat membunuhmu, kemudian kami masih mempunyai waktu cukup untuk membunuh enam orang perwira pembantu itu, barulah kami akan mengamuk membunuhi pasukan yang tentu akan kacau karena kehilangan pimpinan itu. Kami tidak melakukan hal itu, justru karena kami bukan pemberontak dan kami juga tidak mau menyusahkan pasukan pemerintah. Nah, cepat kau pilih sekarang juga!"

Ucapan itu merupakan desakan yang membuat Coa-ciangkun tidak berdaya lagi. Dia tahu bahwa orang-orang kang-ouw ini berbahaya sekali. Membunuh atau dibunuh bagi mereka tidak ada artinya, seperti para prajurit yang maju perang.

"Baiklah," akhirnya dia berkata sambil menundukkan muka, seperti tunduknya hati yang sudah tidak mampu mencari jalan keluar lagi. Dia terpaksa melakukan ini, dan tentang akibatnya dengan Hou Taijin, itu urusan nanti dan dia baru akan mencari jalan keluarnya kalau saatnya sudah tiba.

Demikianlah, Hong Beng dan Kun Tek lalu membawa pembesar militer itu mendekati padang rumput, sambil bersembunyi. Ternyata perkelahian pibu itu sudah dimulai dan ketika Bhok Gun dan Kim Hwa Nionio memberi isyarat kepada pasukan yang bergerak maju, dua orang pendekar muda itu kemudian membawa Coa-ciangkun keluar. Karena terpaksa, Coa-ciangkun meneriakkan perintahnya agar pasukannya itu tidak bergerak lalu mengundurkan diri.

Tentu saja peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya. Mereka terkejut bukan main dan sekaligus menjadi gelisah. Pasukan itu mundur ke dalam hutan dan mereka tidak terlindung pasukan lagi! Pada hal, mereka semua terdesak dengan hebat oleh pihak lawan.

"Coa-ciangkun, engkau akan dihukum gantung oleh Hou Taijin atas perbuatanmu ini...!"
Kim Hwa Nionio berteriak marah, akan tetapi kemarahannya yang ditujukan kepada Coa-ciangkun inilah yang mencelakakannya.

Ia sudah terdesak hebat oleh suling dan pedang di tangan Sim Houw, dan karena ia marah-marah dan meneriakkan kata-kata itu kepada Coa-ciangkun sambil menoleh ke arah batu besar di mana panglima itu berdiri, berarti dia membagi perhatiannya, dan kelengahan sedikit saja membuat Sim Houw melihat lowongan yang baik sekali.

"Singgg... srattt...!"

Darah muncrat dan Kim Hwa Nionio terpekik. Liong-siauw-kiam terlepas dari tangan kanannya dan Sim Houw sudah cepat menyambar pedang pusaka itu dengan suling emasnya. Pedang pusaka itu dapat ditempel suling dan ditariknya, lalu dipegangnya dengan tangan kiri sambil menyimpan suling emas.

Kim Hwa Nionio terbelalak melihat lengan kanannya. Ujung pedang Koai-liong Po-kiam tadi dengan kecepatan seperti kilat melihat lowongan dan sudah menyambar ke arah lengan kanan, membuat putus urat nadi lengan kanannya sehingga darahnya muncrat-muncrat keluar.

Kim Hwa Nionio menotok lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah, kemudian sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, ia menggunakan kebutan di tangan kiri untuk menyerang Sim Houw dengan membabi-buta. Akan tetapi, kalau tadi saja ketika ia masih menggunakan dua senjata, ia selalu terdesak oleh Sim Houw, apa lagi sekarang setelah lengan kanannya tak dapat dipergunakan lagi untuk menyerang!

Dengan mudah saja Sim Houw mengelak, lalu nampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika Koai-liong Po-kiam meluncur dan membabat. Nampak bulu-bulu kebutan itu berhamburan karena terbabat putus dan selagi nenek itu terhuyung, Liong-siauw-kiam sudah bergerak di tangan kiri Sim Houw.

"Tukkk...!”

Nampaknya ujung Liong-siauw-kiam itu hanya menyentuh sedikit saja belakang kepala nenek itu sebelah kiri, akan tetapi akibatnya sungguh hebat. Nenek Kim Hwa Nionio mengeluarkan jeritan mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, dan tubuh itu diam tak bergerak lagi.

Kiranya ujung pedang pusaka Suling Naga itu telah membikin retak bagian kepala itu dan merusak isi kepala sehingga nenek itu pun tewas seketika setelah mengeluarkan jeritan itu. Kebutan buntungnya masih tergenggam di tangan kirinya. Nenek ini, bagai mana pun juga tewas sebagai seorang gagah, tidak pernah menyerah sampai maut merenggut nyawanya.

Jeritan nenek yang mengantar nyawanya itu disusul pekik yang keluar dari mulut Bhok Gun. Sejak tadi, di antara tujuh orang di masing-masing pihak, Bhok gun yang paling repot keadaannya. Tingkat kepandaian lawannya, yaitu Suma Hui, masih lebih tinggi dengan selisih yang lumayan. Maka sejak bentrokan pertama terjadi, Bhok Gun selalu terdesak dan lebih banyak menangkis dari pada menyerang.

Ketika mendengar teriakan Coa-ciangkun yang memerintahkan pasukannya mundur, wajahnya menjadi pucat sekali, dan jeritan gurunya benar-benar merupakan pukulan hebat baginya. Tubuhnya seketika menjadi lemas dan ia tak mampu lagi menghindarkan benturan pedangnya dengan pedang kiri Suma Hui yang langsung membuat pedangnya menyeleweng dan terpental, kemudian tahu-tahu pedang kanan lawan telah menembus dadanya. Dengan teriakan panjang dia pun roboh dan nyawanya melayang, menyusul nyawa subo-nya.

Kematian dua orang ini tentu saja mendatangkan perasaan tidak tenang dan gelisah dalam dada Bi Kwi, Sam Kwi dan bahkan Sai-cu Lama sendiri. Di antara mereka, hanya Sai-cu Lama dan Bi Kwi yang dapat mengimbangi permainan lawan, sedangkan tiga orang Sam Kwi itu harus mengakui bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang sakti dan mereka merasakan betapa beratnya menandingi mereka.

"Sai-cu Lama, kembalikan Ban-tok-kiam milik keluarga Gurun Pasir itu!" Sim Houw yang sudah mengembalikan pedang dan suling kepada Kun Tek kini maju menerjang Sai-cu Lama dengan Liong-siauw-kiam, membantu Tiong Khi Hwesio.

Diserang oleh senjata pusaka itu dari samping, Sai-cu Lama terkejut karena serangan dengan pedang pusaka itu selain mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, juga mengeluarkan suara lengkingan nyaring seolah-olah ada suling ditiup dekat telinganya dan mengguncang jantungnya. Suara itu pun mengandung khikang yang amat hebat! Dia cepat menggerakkan Ban-tok-kiam menangkis.

"Cringggg...!" Nampak bunga api berhamburan ketika Ban-tok-kiam bertemu dengan Liong-siauw-kiam.

"Bagus! Kalian ini pendekar macam apa? Main keroyok!" bentak Sai-cu Lama dengan sikap congkak untuk menutupi kegelisahannya, matanya sudah liar mencari-cari jalan keluar untuk melarikan diri.

"Ingat, Sai-cu Lama. Yang melakukan tantangan adalah aku dan locianpwe Tiong Khi Hwesio terhadap Kim Hwa Nionio dan engkau, jadi boleh saja aku maju melawanmu dan membantu locianpwe ini karena lawanku sudah tewas." Dan Sim Houw melanjutkan serangannya.

"Omitohud..., memang sudah tiba saatnya engkau harus menyerah, Sai-cu Lama. Ucapan Pendekar Suling Naga itu benar, dan pinceng tidak malu harus mengeroyokmu agar engkau cepat takluk!"

Tiong Khi Hwesio juga menyerang dengan pedang pusakanya, Cui-beng-kiam yang ampuh itu. Hwesio tua ini maklum bahwa andai kata dia akan menang pun, akan makan waktu banyak sekali untuk menundukkan Lama yang menyerang Ban-tok-kiam. Akan tetapi, kalau seorang pendekar muda sakti seperti Sim Houw itu maju membantunya, pihak lawan tentu takkan dapat bertahan lama.

Sai-cu Lama tidak melihat adanya lowongan untuk melarikan diri. Melarikan diri dari dua orang lawan yang sakti itu berarti bunuh diri, maka dia pun mengamuk dan melawan mati-matian dan sekuat tenaga. Tentu saja sekarang dia harus bergerak lebih cepat dan mengalurkan tenaga lebih banyak dari pada dua orang yang mengeroyoknya. Karena itu, sebentar saja tubuhnya sudah penuh dengan keringat, napasnya memburu dan dari kepalanya yang gundul itu keluar uap tebal!

Setelah merobohkan lawannya, Suma Hui membalikkan tubuhnya dan melihat betapa suaminya, Kao Cin Liong masih terlibat dalam perkelahian yang amat seru melawan kakek cebol Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat, wanita yang gagah ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia pun menerjang ke dalam perkelahian itu.

"Haiiiittt...!"

Sepasang pedang di tangannya sudah berubah menjadi dua sinar bergulung-gulung yang menyambar-nyambar ke arah kepala dan tubuh Iblis Akhirat. Tentu saja orang pertama dari Sam Kwi ini terkejut bukan main. Menghadapi Kao Cin Liong saja dia sudah merasa repot dan terdesak terus, makin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah dan lelah sedangkan lawannya nampak masih segar. Kini, isteri lawannya yang memainkan sepasang pedang dengan amat ganasnya ikut maju mengeroyok! Tentu saja dia menjadi panik dan gerakannya kacau. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kao Cin Liong utuk mengirim sebuah tendangan ke arah perut kakek cebol itu.

"Dukkk...!"

Iblis Akhirat yang juga seorang ahli tendangan Pat-hong-twi itu, berhasil menangkis tendangan itu dengan kakinya, akan tetapi pada detik yang sama, pedang di tangan kiri Suma Hui ‘masuk’ dan menyayat paha kakinya.

"Srattt...!" Darah mengucur deras dari celana dan kulit paha yang robek.

Iblis Akhirat terkejut, golok Toat-beng Hui-to yang hanya dapat digunakan dalam jarak jauh, kini dibabatkan ke arah perut Suma Hui, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah selangkangan Kao Cin Liong. Hebat memang orang pertama dari Sam Kwi ini.

Dalam keadaan terluka itu, dia masih mampu sekaligus membagi serangan kepada dua orang lawannya. Dan serangan berganda ini pun sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena kalau mengenai sasaran, tentu dua orang lawannya itu akan roboh tewas! Akan tetapi, tentu saja suami isteri keturunan Gurun Pasir dan Pulau Es itu tidak mudah dirobohkan oleh lawan yang sudah terdesak.

"Tranggg...!"

Golok itu dibabat oleh pedang sedemikian kerasnya sehingga patah, dan tangan yang mencengkeram itu pun dapat ditangkis oleh Cin Liong yang menyusulkan tamparan ke arah kepala. Dan pada saat yang sama, sepasang pedang di tangan Suma Hui telah melakukan gerakan menggunting, satu ke arah kaki dan satu ke arah pinggang! Dalam detik yang sama, tubuh Iblis Akhirat menghadapi serangan ke arah kepala, pinggang dan kakinya. Dia terkejut dan dengan gugup berusaha meloncat ke belakang. Namun kurang cepat.

"Prokk!" Iblis Akhirat tidak sempat mengeluh karena kepalanya retak terkena tamparan tangan Cin Liong dan tubuhnya terlempar lalu terbanting jatuh tanpa dapat bergerak kembali!

Suma Hui yang seperti seekor naga betina haus darah, begitu lawan ke dua ini tewas, ia sudah menerjang lagi memasuki perkelahian antara Iblis Mayat Hidup dan Kam Bi Eng. Sepasang pedangnya bergulung-gulung mengurung tubuh Iblis Mayat Hidup yang menjadi terkejut karena sejak tadi dia pun sudah repot menghadapi suara suling emas yang melengking-lengking dan yang membawa sinar-sinar maut itu dari lawannya, Kam Bi Eng.

Melihat betapa Suma Hui menerjang maju membantunya, Kam Bi Eng lalu berseru, "Enci Hui, kuserahkan tengkorak ini kepada enci dan cihu (kakak ipar) berdua, aku mau membantu suamiku!" Berkata demikian, Kam Bi Eng meloncat keluar dari perkelahian itu dan langsung menubruk ke arah Raja Iblis Hitam yang sedang berkelahi melawan suaminya, Suma Ceng Liong.

Sebenarnya, kalau dia menghendaki, Suma Ceng Liong sudah akan dapat merobohkan lawannya sejak tadi. Tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari lawannya. Namun pendekar ini memang sengaja mempermainkan lawannya. Betapa pun juga, tiada niat membunuh lawan dalam hatinya.

Tapi tiba-tiba isterinya masuk dan mengirim serangan dahsyat ke arah Raja Iblis Hitam yang menjadi kaget dan terhuyung ke belakang. Maka dia pun menerjang maju lagi membantu isterinya yang tentu saja membuat Hek-kwi-ong si Raja Iblis Hitam menjadi semakin repot dan terdesak.

Kao Cin Liong juga tidak membiarkan isterinya maju sendiri melawan Iblis Mayat Hidup. Dia pun membantu isterinya sehingga kedua orang Sam Kwi yang masih tinggal itu menjadi repot bukan main menghadapi pengeroyokan suami isteri pendekar itu. Baik Raja Iblis Hitam mau pun Iblis Mayat Hidup sama sekali bukan lawan suami isteri yang maju bersama itu. Dalam waktu belasan jurus saja, Raja Iblis Hitam roboh oleh pukulan suling di tangan Kam Bi Eng, sedangkan Iblis Mayat Hidup roboh oleh tusukan pedang Suma Hui!

Sam Kwi sudah tewas, dan sekarang tinggal Bi-kwi dan Sai-cu Lama saja yang masih mempertahankan diri.

Ketika Hong Beng hendak membantunya, Bi Lan berseru nyaring, "Jangan bantu aku, biarkan aku sendiri yang membuat perhitungan dengan Bi-kwi!"

Karena teriakan ini maka para pendekar hanya nonton saja, dan biar pun mereka tidak ada yang membantu karena teriakan itu, namun mereka bersiap-siap untuk melindungi Bi Lan kalau sampai terancam. Betapa pun juga, Bi-kwi merupakan lawan yang berat bagi Bi Lan karena mereka berdua itu memiliki tingkat yang seimbang.

Sementara itu, Sai-cu Lama menjadi semakin lemah. Beberapa kali dia terhuyung dan Sim Houw yang ingin merampas Ban-tok-kiam, mempergunakan kesempatan itu untuk menerjang dengan Liong-siauw-kiam di tangannya. Senjata pusaka ini mengancam kepala lawan dan pada saat yang sama, tangan Tiong Khi Hwesio mencengkeram ke arah pusar. Sai-cu Lama yang sudah kerepotan itu menangkis cengkeraman dengan tangan kiri sedangkan pedang Ban-tok-kiam menyambut serangan Liong-siauw-kiam.

"Cringgg... tukk...!”

Pertemuan pedang pusaka itu disusul totokan yang dilakukan cepat sekali oleh Sim Houw, tepat mengenai pundak kanan Sai-cu Lama. Biar pun tubuh Sai-cu Lama kebal dan totokan itu hanya membuat lengan kanannya kesemutan sebentar, namun ini cukup bagi Sim Houw untuk merenggut dan merampas pedang Ban-tok-kiam dari tangan yang dalam beberapa detik kesemutan dan kehilangan tenaga itu! Pada saat Ban-tok-kiam terampas, kaki Tiong Khi Hwesio menendang, tepat mengenai lutut Sai-cu Lama dan pendeta ini pun roboh!

"Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio, engkau menang dengan keroyokan. Sekarang apa yang hendak kau lakukan kepadaku?" Sai-cu Lama yang sudah tak berdaya itu masih tertawa mengejek.

"Pinceng akan membawamu ke Tibet supaya diadili oleh para pimpinan Dalai Lama," jawab Tiong Khi Hwesio.

"Ha-ha-ha, kau hanya akan dapat membawa mayatku!"

Tiba-tiba saja, sebelum ada orang mampu mencegahnya, tangan kanan pendeta Lama itu bergerak ke arah kepalanya sendiri dan jari-jari tangannya sudah mencengkeram dan amblas ke dalam kepalanya. Dia mengeluarkan pekik dahsyat dan tewas seketika dengan kelima jari tangannya masih terbenam ke dalam kepalanya. Darah dan otak mengalir keluar dari jari jari tangan yang masih menancap itu. Mengerikan!

"Lan-moi, terimalah kembali pedangmu!" Sim Houw berkata sambil menyusup masuk dalam perkelahian antara Bi Lan dan Bi-kwi.

Bi Lan menyambut pedang Ban-tok-kiam dengan girang. Sekarang dia seperti seekor harimau betina yang tumbuh sayap. Begitu pedang berada di tangannya dan diputarnya, Bi-kwi nampak terkejut dan jeri. Akan tetapi tiba-tiba saja Bi-kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan Bi Lan!

Wanita ini melihat betapa enam orang yang lain telah tewas. Melanjutkan perkelahian tidak ada gunanya lagi. Menghadapi Bi Lan saja sejak tadi ia tidak mampu menang. Setiap kali gadis itu mengeluarkan ilmu yang didapatnya dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, Bi-kwi selalu menjadi bingung dan terdesak. Maka, ketika Bi Lan menerima Ban-tok-kiam dari Sim Houw, Bi-kwi maklum bahwa kalau ia melanjutkan perkelahian, ia tentu akan roboh di tangan bekas sumoi-nya sendiri. Maka ia pun mempergunakan siasat, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut.

"Sumoi, jika kau mau melupakan hubungan lama dan hendak membunuhku, bunuhlah!" katanya. Wanita ini sudah mengenal betul watak sumoi-nya ini. Di balik kekerasan hati dan keberanian Bi Lan, tersembunyi watak yang halus dan mengenal budi.

Melihat bekas suci-nya berlutut di depan kakinya, Bi Lan menjadi bengong. Dia pun teringat betapa bagaimana pun juga, selama bertahun-tahun wanita inilah yang sudah mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadanya, mewakili Sam Kwi. Biar pun kemudian Bi-kwi menyelewengkan ajaran-ajaran itu, namun harus diakuinya bahwa ia mempelajari banyak dari Bi-kwi.

Apa lagi kalau diingat bahwa ketika ia berada di ambang kehancuran, tertawan oleh Sam Kwi dan hendak dijadikan mangsa mereka, Bi-kwilah yang menyelamatkannya dan membebaskannya. Semua ini terbayang di dalam ingatannya dan Bi Lan menjadi lemas.

"Bangkit dan pergilah dari sini. Selamanya jangan sampai jumpa dengan aku lagi," kata Bi Lan.

Bi-kwi bangkit, dia hampir tidak percaya. Ia memandang kepada Bi Lan dengan bibir mengulum senyum, hatinya mengejek, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi, dengan muka tunduk ia lalu pergi dari situ. Para pendekar memandang saja, tidak ada yang berani mencampuri, walau pun diam-diam merasa heran bagaimana Bi Lan membiarkan seorang wanita sejahat itu bebas.

"Omitohud... suatu tindakan yang amat bijaksana," tiba-tiba terdengar Tiong Khi Hwesio berseru kagum. "Sudah terlalu banyak orang yang mati terbunuh, mengerikan sekali!" Dia memandang kepada enam mayat yang berserakan di situ dan semua orang pun ikut memandang.

Akan tetapi tidak ada seorang pun di antara para pendekar itu yang merasa menyesal. Orang-orang seperti Sam Kwi, Sai-cu Lama, Kim Hwa Nionio dan muridnya itu, kalau tidak disingkirkan dari dunia, tentu hanya akan memperbanyak jumlah perbuatan jahat saja dan membikin banyak orang tak berdosa menderita oleh perbuatan mereka.

Hanya dua orang yang kelihatan menyesal dan bingung. Mereka adalah Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. "Mereka telah tewas, akan tetapi... di mana adanya anak kami yang diculik oleh Sai-cu Lama?"

Tiba-tiba terdengar suara yang besar dan tegas, "Jangan khawatir, anak kalian selamat, berada di sini bersamaku!"

Semua orang menengok dan dari dalam hutan keluarlah seorang kakek tua renta yang menggandeng dua orang anak perempuan di kanan kirinya. Seorang di antara dua anak perempuan itu adalah Suma Lian.

"Ayah...! Ibu...!" Suma Lian berlari menghampiri orang tuanya yang menyambutnya dengan rangkulan dan ciuman penuh kegembiraan dan keharuan.

"Ayah, tahukah ayah siapa kakek yang menyelamatkan aku ini?" Suma Lian berlari dan menggandeng tangan kakek tua renta yang datang menghampiri sambil menuntun anak perempuan kedua sambil tersenyum.

Suma Ceng Liong dan isterinya memandang, juga semua orang memandang.

"Omitohud!" Tiong Khi Hwesio berseru paling dulu. "Locianpwe sudah meninggalkan Beng-san dan hidup merantau dalam pakaian pengemis? Sungguh aneh sekali dan amat mengherankan!"

Kakek yang kini memakai nama julukan Bu-beng Lo-kai itu tersenyum. "Tidak begitu mengherankan seperti melihat engkau, mantu raja ini, sekarang malah menjadi seorang hwesio!" Dan dua orang kakek itu pun tertawa.

Mendengar bahwa kakek berpakaian pengemis itu datang dari Beng-san, Suma Ceng Liong sangat terkejut. "Dari Beng-san...?" Serunya. "Apakah... locianpwe ini... paman... paman..." Dia masih ragu-ragu untuk menyebutkan nama orang itu.

"Ayah, kakek ini adalah suami nenek Milana!"

"Benar, dia paman Gak Bun Beng!" Seru Suma Hui dan ia bersama Suma Ceng Liong segera memberi hormat kepada kakek berpakaian jembel itu.

Kakek itu tertawa dan memandang kepada Tiong Khi Hwesio. "Agaknya keadaanku tidak jauh bedanya dengan dia yang kini telah menjadi hwesio itu. Nama lama itu sudah hampir kulupa, namaku sekarang adalah Bu-beng Lo-kai, nama yang diberikan oleh Suma Lian kepadaku, ha-ha-ha. Dan engkau, hwesio yang baik, siapakah namamu?"

Tiong Khi Hwesio menjura dengan hormat. "Nama pinceng adalah Tiong Khi Hwesio."

Kakek jembel itu kini memandang kepada Suma Lian. "Nah, Suma Lian, engkau sudah bertemu dengan orang tuamu. Bagaimana sekarang? Aku akan segera pergi bersama Li Sian."

"Enci Lian, mari kita pergi!" kata Li Sian.

Suma Lian memandang kepada ayah ibunya. "Ayah dan ibu, bolehkah aku ikut dengan kakek untuk belajar ilmu silat?"

Suami isteri itu saling pandang. Tentu saja mereka merasa berat untuk berpisah dari anak satu-satunya ini. Akan tetapi mereka pun merasa sungkan terhadap kakek itu jika hanya melarang begitu saja. Ceng Liong lalu bertanya kepada Bu-beng Lo-kai.

"Benarkah bahwa paman ingin mengajak Suma Lian untuk dibimbing dalam ilmu silat?"

Bu-beng Lo-kai tersenyum. "Usiaku tidak berapa banyak lagi dan memang aku ingin meninggalkan semua ilmu yang pernah kupelajari kepada Suma Lian dan Li Sian, kalau saja kalian tidak menaruh keberatan."

Semakin tidak enak rasa hati Suma Ceng Liong kalau dia harus melarang, maka dia mengharapkan bantuan anaknya. "Lian-ji, di rumah engkau dapat belajar ilmu silat dari ayah ibumu. Kenapa engkau ingin ikut paman Gak?"

"Ayah, aku suka sekali kepada kakek Bu-beng Lo-kai, juga aku suka sekali kepada Li Sian. Aku ingin ikut dia merantau, menjelajahi dunia sambil berlatih silat bersama adik Li Sian. Ayah, aku tidak akan melupakan ayah dan ibu, dan setelah selesai belajar, tentu aku akan pulang lagi."

Suami isteri itu saling pandang. Kakek itu menghendakinya, bahkan tadi dengan suara memohon seolah menyatakan keinginannya untuk mewariskan ilmu-ilmunya pada Suma Lian, dan anak itu sendiri pun menginginkannya. Tentu akan janggal sekali rasanya jika mereka melarang.

Mereka adalah pendekar-pendekar dan di waktu masih kecil dan masih muda, itulah saatnya bagi seorang pendekar untuk menerima gemblengan-gemblengan dalam hidup, menderita kesukaran-kesukaran dan pengalaman-pengalaman berbahaya. Semua itu telah mereka alami dahulu di waktu mereka masih muda.

Tentu saja mereka tidak ingin puteri mereka menjadi lemah dan luput dari pengalaman-pengalaman yang amat diperlukan itu. Maka mereka pun menyetujui dan Kam Bi Eng menahan air matanya ketika ia dan suaminya mengikuti bayangan anak mereka yang digandeng pergi oleh kakek tua renta itu, bersama seorang anak perempuan lain, puteri keluarga Pouw yang juga telah menderita musibah yang amat hebat.

Para pendekar yang tadi terlibat dalam perkelahian, kini di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio sibuk melakukan penguburan atas semua mayat bekas lawannya. Kemudian mereka pun bubar dan meninggalkan tempat itu yang kembali menjadi sunyi-senyap seperti biasanya. Peristiwa hebat itu, perkelahian antara datuk-datuk sesat dan para pendekar, hanya ditandai dengan adanya sebuah makam baru di tepi hutan itu.
Suling Naga Bagian 11

Peristiwa hebat yang mengakibatkan terbasminya semua pembantu Hou Seng, bukan tidak ada pengaruhnya bagi pergolakan yang terjadi di kota raja karena ulah pembesar Hou Seng. Perubahan besar terjadi dengan sendirinya. Saat mendengar betapa semua pembantunya dibasmi oleh para pendekar, terutama keturunan para pendekar Pulau Es, Hou Seng menjadi terkejut bukan main. Berita itu tersiar luas sampai kaisar sendiri mendengarnya dan bertanya kepadanya, ada hubungan apa antara para datuk sesat itu dengan dirinya!

Tetapi Hou Seng memang cerdik. Sambil menangis dia mengadu kepada kaisar betapa limpahan kasih sayang dari kaisar itu menimbulkan iri hati yang membuat dia dimusuhi oleh banyak pejabat. Karena merasa dirinya terancam, terpaksa dia mempergunakan tenaga luar untuk melindungi keselamatannya, dan dia sama sekali tidak tahu bahwa tenaga luar itu kemasukan tokoh-tokoh dari dunia sesat.

Sebagai contoh, ia menceritakan tentang dibunuhnya dua orang pengawal pribadi yang merangkap selirnya oleh para datuk sesat. Panjang lebar dia bercerita dan berbagai alasan dikemukakan sampai akhirnya kaisar merasa kasihan dan berpihak kepadanya! Dan sejak itu, urusan para datuk yang menyelundup ke kota raja itu tidak dibicarakan lagi, kesalahan Hou Seng dimaafkan.

Akan tetapi, Hou Seng sendiri tidak berani banyak tingkah semenjak peristiwa itu dan dia tidak lagi mau mencari gara-gara. Kedudukannya sudah cukup baik dan dia harus tahu diri dan tidak mengadakan tindakan-tindakan yang menimbulkan kecurigaan kaisar.

Hou Seng tidak begitu membela kematian para datuk itu karena dia telah mengetahui bahwa kedua orang selir yang menjadi pengawal pribadi itu sebetulnya difitnah oleh Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya. Hal ini diketahuinya sebelum terjadi pembunuhan atas diri para datuk sesat oleh para pendekar.

Diketahuinya karena dia merasa curiga melihat betapa kematian kedua kucing itu tidak sama keadaannya. Kucing pertama mati dengan muka kehitaman, akan tetapi kucing ke dua tidak demikian. Hal itu menunjukkan bahwa racun pertama yang diminumkan kucing dari cawan araknya itu tidak sama dengan racun yang diambil dari tubuh selir-selirnya yang diminumkan kucing ke dua.

Racun-racun yang dibawa dua orang selirnya itu membuat kucing mati tanpa hitam pada mukanya, sedangkan racun yang berada dalam cawan araknya itu merupakan racun yang lain lagi, berarti racun itu berada dalam cawan araknya bukan dari kedua orang selirnya melainkan dari luar!

Apa lagi ketika dia mendengar dari para selirnya bahwa dua orang selir merangkap pengawal pribadi itu memang selalu membawa racun di tubuhnya, untuk membunuh diri jika sampai mereka tertangkap musuh agar mereka tidak perlu disiksa untuk mengakui dan membuka rahasia Hou Seng! Mendengar ini, Hou Seng merasa menyesal sekali dan kepercayaannya terhadap para datuk sudah goyah.

Itulah sebabnya, ketika mendengar betapa para datuk itu tewas oleh para pendekar, dia pura-pura tidak tahu saja. Bahkan Coa-ciangkun tak ditegurnya sama sekali! Diam-diam dia malah bersyukur akan tindakan Coa-ciangkun. Bayangkan saja kalau pasukan itu mencampuri dan kemudian terdengar berita bahwa pasukan itu bekerja sama dengan para datuk sesat atas perintahnya! Mungkin kaisar sendiri tidak akan memaafkannya kalau sampai terjadi hal seperti itu.

Betapa pun juga, usaha para pendekar menentang Kim Hwa Nionio, dan pada akhirnya dapat membasmi komplotan itu, amat berhasil dan keadaan kota raja menjadi tenteram kembali. Diam-diam para pembesar yang setia kepada kaisar bersyukur dan memuji-muji para pendekar. Mereka maklum akan kelemahan kaisar dan mereka tidak akan mengadakan reaksi terhadap Hou Seng sebagai kekasih dan kepercayaan kaisar kalau saja Hou Seng tidak mengadakan tindakan yang bukan-bukan. Dan kini, dibasminya komplotan kaki tangan Hou Seng, membuat pembesar itu menjadi jeri dan tidak begitu menonjol lagi.

Sementara itu, para pendekar sudah kembali ke tempat masing-masing. Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, yang kehilangan puteri mereka dengan suka rela, hanya bercakap-cakap sebentar, karena adanya Sim Houw di situ membuat suami isteri ini merasa kurang enak hatinya.

Seperti diketahui, Kam Bi Eng tadinya adalah tunangan dari Sim Houw menurut ikatan orang tua mereka, tetapi kemudian tunangan itu terputus karena Bi Eng tidak mencinta Sim Houw, melainkan mencinta Suma Ceng Liong. Setelah suami isteri itu pergi, Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui juga berpamit setelah Cin Liong meningggalkan pesan kepada Bi Lan.

"Sumoi, biar pun engkau baru setahun belajar dari ayah ibuku, engkau tetap seorang sumoi (adik seperguruan) dariku. Ibu telah meminjamkan Ban-tok-kiam, hal itu berarti bahwa ibu sayang dan percaya kepadamu. Dan aku sendiri, dalam pergaulan beberapa saat ini, tahu bahwa pilihan ayah ibu terhadap dirimu tidak keliru. Nah, engkau berhati-hatilah menjaga Ban-tok-kiam dan bawa pusaka itu kembali kepada ibuku."

Tiong Khi Hwesio juga meninggalkan tempat itu untuk pulang ke Bhutan, karena semua pengalamannya setelah bertemu dengan para pendekar itu, membuka matanya bahwa dia telah terlalu menurutkan kedukaan hati sehingga lupa bahwa dia telah melupakan puterinya sendiri, Wan Hong Bwee atau Puteri Gangga Dewi yang kini hidup bersama suaminya di Bhutan. Dia ingin kembali dan tiba-tiba merasa rindu kepada puterinya itu, ingin menghabiskan sisa usianya di dekat keluarga puterinya dan dekat pula dengan makam isterinya.

Setelah Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek juga pergi untuk melanjutkan lagi perjalanan masing-masing, tinggallah Bi Lan dan Sim Houw berdua. Mereka saling pandang dan akhirnya Sim Houw yang bertanya lebih dahulu, "Lan-moi, sekarang engkau hendak ke manakah?"

Sampai lama Bi Lan tak mampu menjawab. Gadis ini sedang merasakan sesuatu yang amat aneh terjadi di dalam hatinya. Ia melihat Sam Kwi, tiga orang gurunya, tewas dan tidak merasa kehilangan. Kepergian Bi-kwi yang disusul kepergian semua pendekar, termasuk Hong Beng dan Kun Tek, juga tidak sedikit pun membekas di dalam hatinya. Ia tidak merasa kehilangan dan kesepian.

Akan tetapi mengapa sekarang, setelah berada di ambang perpisahannya dengan Sim Houw, tiba-tiba saja ia merasa bahwa tak mungkin dia dapat berpisah dari orang ini? Ia seakan-akan sudah seharusnya berada di samping Sim Houw, menghadapi kehidupan yang penuh dengan kesulitan ini bersama Sim Houw! Ia merasa bahwa begitu berpisah, ia akan kehilangan segala-galanya. Apa pula gejala seperti ini? Apa artinya? Apakah ia jatuh cinta kepada Sim Houw? Tidak mungkin!

Selama dalam perjalanan berdua, Sim Houw bersikap seperti seorang kakak, begitu penuh perhatian dan sayang, akan tetapi kesayangan seorang saudara. Sedikit pun Sim Houw tak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia cinta padanya. Berbeda dengan sikap Hong Beng atau Kun Tek ketika berdua bersamanya. Dan ia sendiri?

Tiba-tiba Bi Lan merasa nelangsa. Bagaimana kalau ia benar-benar mencinta orang ini akan tetapi di lain pihak Sim Houw tidak cinta kepadanya? Tiba-tiba ia menjadi panik, takut kehilangan Sim Houw!

"Eh, Lan-moi, kenapa kau kelihatan melamun dan tidak menjawab pertanyaanku?" Sim Houw bertanya, suaranya mengandung perasaan iba.

Dia tahu bahwa sejak kecil, gadis ini bergaul dengan Sam Kwi sebagai guru-guru dan penolongnya. Juga dengan Bi-kwi sebagai suci-nya yang pernah mendidiknya seperti diceritakan gadis itu kepadanya. Dan kini tiba-tiba saja ia kehilangan semua orang itu! Tentu Bi Lan berduka, walau pun tidak diperlihatkannya, demikian Sim Houw berpikir.

Bi Lan menjadi kaget dan kedua pipinya berubah merah. "Aku... aku... ahh, aku tidak mendengar pertanyaanmu, toako. Engkau bertanya apakah tadi?"

"Aku bertanya, ke mana engkau hendak pergi sekarang, Lan-moi."

"Ke mana...? Ahhh, tadi aku bingung, toako. Yang jelas, aku harus mengembalikan pedang Ban-tok-kiam ini kepada subo."

"Itu benar, Lan-moi. Dan mengapa engkau menjadi bingung?"

"Entahlah, toako Setelah semua orang pergi, juga setelah semua tujuan perjalananku tercapai, semua masalah yang tadinya kujadikan tujuan dan kewajiban terpenuhi, aku merasa kosong, sunyi dan bingung. Baru terasa olehku betapa hampanya hidup ini, toako. Aku tadinya mempunyai guru-guru, mempunyai suci, mempunyai mereka sebagai musuh-musuhku juga. Sekarang mereka telah tiada. Dan aku seperti berada seorang diri saja di dunia ini, kosong dan sunyi, tidak ada gunanya lagi..."

"Ahh, engkau dilanda perasaan kesepian, Lan-moi. Pernah aku mengalaminya..." Sim Houw menghentikan kata-katanya, merasa bahwa dia telah terlanjur bicara. Akan tetapi, ucapannya itu rupanya menarik perhatian Bi Lan karena gadis itu cepat mendesaknya.

"Pernah kau mengalami kesepian seperti aku ini, toako? Kapan engkau mengalaminya? Dan mengapa? Orang seperti engkau ini, yang memiliki kepandaian tinggi, pengetahuan luas, banyak kawan-kawan baik, bagaimana bisa kesepian seperti aku?"

Belum pernah selamanya Sim Houw menceritakan keadaan dirinya kepada siapa pun juga. Biar pun dia pernah menderita sengsara karena kesepian, namun hal itu selama ini menjadi rahasia hatinya. Akan tetapi, entah bagaimana, kini mendengar desakan Bi Lan, dia ingin membuka rahasia hatinya! Dia ingin sekali nampak oleh gadis itu sebagai mana adanya, tanpa rahasia dan biarlah segala keburukan dan cacatnya nampak, kalau ada!

"Baru-baru ini perasaan itu berakhir, Lan-moi, akan tetapi selama bertahun-tahun, aku bagai hidup di alam mimpi. Setiap hari aku melamun dan ada rasa kesepian yang selalu menghantui diriku. Dan semua itu timbul karena... putus cinta, Lan-moi."

Bi Lan tertarik sekali. "Ceritakan, toako, ceritakanlah. Aku ingin sekali mendengarkan tentang cinta itu!"

Melihat betapa gadis itu kini nampak bersemangat, Sim Houw tersenyum. "Mari kita tinggalkan dulu tempat ini," dia melirik ke arah gundukan tanah di mana terkubur enam mayat itu. "Di dalam hutan sana itu aman kita bicara."

Mereka lalu memasuki hutan dan di bawah sebuah pohon besar, di mana terdapat batu batu yang kering dan bersih, mereka duduk berhadapan.

"Ketahuilah, Lan-moi. Ketika aku berusia belasan tahun, oleh orang tuaku aku telah ditunangkan dengan seorang gadis yang kemudian menjadi sumoi-ku sendiri karena gadis itu adalah puteri tunggal dari suhu-ku. Akan tetapi, kalau aku yang telah menerima ikatan perjodohan itu dengan taat mulai memperhatikan gadis itu dan sudah mempunyai perasaan cinta, sebaliknya gadis itu tidak cinta kepadaku, melainkan cinta kepada orang lain! Melihat kenyataan ini, maka aku mengalah. Akulah yang kemudian memutuskan tali perjodohan itu sehingga gadis itu dapat menikah dengan pria yang dicintainya." Sampai di sini, Sim Houw berhenti dan termenung.

"Dan kau...?" Bi Lan bertanya, hatinya merasa terharu. Ia dapat membayangkan betapa sedihnya hati pemuda itu, dan betapa luhur budinya. Pemuda ini mengalah karena ingin membahagiakan gadis yang dicintanya.

"Aku...?" Sim Houw tersenyum pahit. "Aku lalu merantau... sampai sekarang ini."

"Sumoi-mu...? Ah, bukankah wanita cantik yang sakti itu, yang memegang suling emas, isteri dari pendekar Suma Ceng Liong, ia itulah sumoi-mu? Jadi iakah orangnya gadis... yang pernah menjadi tunanganmu itu?"

Sim Houw sudah menguasai kembali hatinya dan dia mengangguk sambil tersenyum. "Ia hebat dan lihai, bukan? Dan suaminya juga hebat. Mereka memang pasangan yang sepadan dan cocok. Aku juga ikut gembira melihat ia berbahagia dengan suaminya dan mereka telah mempunyai seorang anak perempuan yang demikian manis."

Bi Lan memandang dengan sinar mata kasihan. "Dan engkau sekarang masih merasa kesepian, toako?"

"Tidak, tidak lagi! Penderitaan itu sudah lewat bagiku."

Diam-diam Sim Houw maklum bahwa yang melenyapkan perasaan kesepian itu adalah setelah dia berjumpa dengan Bi Lan! Dia mencinta gadis ini, akan tetapi cintanya sekali ini bukan sekedar cinta nafsu yang dibangkitkan oleh gairah karena tertarik oleh pribadi dan kecantikan Bi Lan.

Tidak! Ia mencinta Bi Lan, merasa kasihan kepada Bi Lan dan dia ingin melihat orang yang dicintanya ini bahagia. Bukan hanya ingin memperoleh gadis ini sebagai isterinya agar selamanya tidak berpisah darinya, Dia tidak akan menderita lagi walau pun dia tidak menjadi suami Bi Lan, asal gadis ini hidup bahagia.

"Dan sejak itu kau... kau tak pernah jatuh cinta lagi?"

Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan hati Sim Houw. Akan tetapi dia tenang sekali sehingga kekagetannya tidak sampai nampak di wajahnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Apa lagi yang dapat dilakukannya? Mengaku bahwa kini dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan? Tidak!

Biar pun dia sungguh mencinta gadis ini, dia tak akan membuat pengakuan, tidak akan memberi kesempatan gadis ini mentertawakannya. Putus cinta merupakan suatu kegagalan yang pernah dialaminya, dan akan merupakan hal yang lebih menyakitkan lagi jika cintanya ditertawakan. Biarlah cintanya kepada Bi Lan menjadi suatu rahasia saja bagi dirinya sendiri.

Tiba-tiba ada suatu keinginan menyelinap di hati Bi Lan. Ia ingin menghapus kedukaan Sim Houw akibat penderitaan putus cinta itu. Ia ingin membahagiakan orang ini. Ia ingin orang ini dapat jatuh cinta lagi dan bukan kepada orang lain, kecuali kepada dirinya!

Betapa akan bahagianya dicinta oleh seorang pendekar yang mempunyai cinta kasih sedemikian besar dan tulusnya. Seorang pria yang sudah matang, tidak dan bukan pemuda mentah seperti Hong Beng dan Kun Tek, cinta yang penuh cemburu, dan cinta yang membanding-bandingkan seperti Kun Tek. Ahhh…, Hong Beng dan Kun Tek! Dua orang pemuda itu dapat membantunya. Setidaknya, nama mereka.

"Cinta memang membuat orang menjadi bingung, ya, toako? Aku sendiri pun bingung menghadapinya!" Tiba-tiba Bi Lan berkata dan wajahnya membayangkan kedukaan.

Rasa kaget yang lebih besar melanda hati Sim Houw. Tidak lagi! Begitu kejamkah nasib sehingga baru saja bertemu dan jatuh cinta, dia sudah harus mendengar bahwa Bi Lan juga sudah mencinta pemuda lain? Terlalu cepat datangnya, terlalu kejam walau pun dia sudah siap dengan kekuatan batin yang sudah mengalami luka patah cinta. Dia tetap tenang ketika bertanya.

"Hemm... apakah hatimu juga dilanda cinta, Lan-moi?"

"Aku tidak tahu. Akan tetapi ada dua orang pemuda yang sama-sama menyatakan cinta kepadaku. Mereka adalah Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek..."

"Ahhh!" Sim Houw tercengang karena hal ini sama sekali tak pernah dibayangkannya. Paman cilik itu telah jatuh cinta! Hampir dia tertawa, tetapi lalu teringat bahwa sekarang Kun Tek bukan seorang anak kecil lagi, melainkan seorang pemuda yang telah dewasa!

"Mula-mula Hong Beng yang lebih dahulu mengaku cinta. Kemudian Kun Tek juga menyatakan cinta kepadaku. Hong Beng pernah merasa cemburu dan berkelahi dengan Kun Tek. Akan tetapi sekarang agaknya mereka sudah dapat mengatasi rasa cemburu itu dan keduanya nampak sudah rukun dan akrab. Aku menjadi bingung, Sim-toako."

"Kenapa bingung? Pilih saja salah satu, mana yang berkenan di hatimu."

"Sim-toako, kalau menurut pandanganmu, siapa di antara kedua pemuda itu yang lebih baik?" Bertanya demikian, Bi Lan menatap wajah itu dengan penuh perhatian dan sinar matanya yang tajam itu seolah-olah hendak menembus ke dalam dan menjenguk isi hati Pendekar Suling Naga.

Sim Houw mengerutkan alisnya. Dia berpikir dengan sungguh-sungguh karena dia ingin menanggapi permintaan gadis itu dengan kesungguhan hati pula. "Lan-moi, sungguh pertanyaanmu ini aneh sekali. Perjodohan hanya benar kalau berdasarkan cinta kasih, dan hanya engkau sendiri yang mengetahui siapa di antara kedua orang pemuda itu yang kau cinta."

"Justru itu yang tidak aku ketahui, toako. Selama hidupku, belum pernah aku jatuh cinta. Aku tidak tahu yang mana di antara mereka yang kucinta. Akan tetapi terus terang saja, aku suka keduanya karena mereka berdua adalah murid-murid orang sakti, memiliki ilmu kepandaian tinggi. Keduanya adalah pendekar-pendekar sejati, dan keduanya telah pernah menyelamatkan aku dari ancaman maut. Oleh karena itu, sukar bagiku untuk memilih seorang di antara mereka. Tolonglah, toako, tolong bantu aku. Menurut engkau, siapa di antara mereka yang lebih baik?" Ia berhenti sebentar lalu menyambung, "Terus terang sajalah, Sim-toako, apakah aku harus memilih salah satu dan pilih yang mana, ataukah aku harus menolak dua-duanya?"

Tentu saja kalau menurut kata hatinya, Sim Houw akan mengatakan supaya gadis itu menolak keduanya! Akan tetapi Sim Houw tidak melakukan hal ini, tidak mau melakukan begitu karena dia tidak mau mempengaruhi pilihan hati Bi Lan. Betapa pun juga, dia harus membantu gadis itu agar jangan salah pilih.

"Aku tidak ingin mempengaruhimu, Lan-moi. Engkau tahu bahwa Cu Kun Tek adalah pamanku, walau pun usianya jauh lebih muda dariku. Akan tetapi hubungan keluarga itu sama sekali tidak kumasukkan dalam penilaianku. Mari kita nilai mereka itu seorang demi seorang. Pertama kita menilai Gu Hong Beng. Dia murid pendekar Sakti Suma Ciang Bun, seorang anggota keluarga Pulau Es, akan tetapi aku tidak tahu siapa orang tuanya. Dan menurut ceritamu, dia berwatak pencemburu, sedangkan sifat-sifatnya tentu engkau yang lebih tahu karena engkau pernah bergaul dengannya. Sekarang Cu Kun Tek. Dia keturunan penghuni Lembah Naga Siluman dan keturunan keluarga Cu yang terkenal sebagai keluarga yang memiliki kepandaian tinggi dan kegagahan luar biasa, dan tentu dia telah mewarisi ilmu dari keluarga itu. Sepanjang pengetahuanku, dia jujur dan keras akan tetapi sifat-sifat itu memang merupakan sifat keluarga Cu di Lembah Naga Siluman. Ada pun sifat-sifat lainnya, engkau yang lebih mengenalnya pula. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memilih yang mana."

Diam-diam sejak tadi Bi Lan memperhatikan Sim Houw dan mendengar ucapan dan melihat sikap yang sungguh-sungguh itu, tiba-tiba saja Bi Lan merasa kecewa. Agaknya pendekar ini sama sekali tidak peduli ia akan berjodoh dengan pria mana! Pendekar ini sama sekali tidak menaruh perhatian kepada dirinya!

Tiba-tiba saja Bi Lan merasa nelangsa sekali. Ia merasa betapa kini, satu-satunya orang yang dekat dirinya, dekat pula dengan hatinya, hanyalah Sim Houw. Kalau Sim Houw begitu acuh terhadap pilihannya akan seorang calon suami, berarti pendekar ini tidak menaruh hati kepadanya. Ia menarik napas panjang.

"Sudahlah, Sim-toako. Aku sendiri sudah menolak cinta mereka. Hong Beng kuanggap kekanak-kanakan dan pencemburu besar, sedangkan Kun Tek hanyalah seorang laki-laki yang tinggi hati mengenai wanita. Aku sudah menolak cinta mereka berdua karena aku tidak cinta kepada mereka! Sekarang aku mau pergi saja, mencari subo... selamat tinggal!" Dan gadis itu sudah meloncat dan lari dengan cepat meninggalkan Sim Houw.

"Heiii! Nanti dulu, Lan-moi...!" Sim Houw mengejar, akan tetapi gadis itu mengerahkan seluruh ilmu ginkang (meringankan tubuh) dan tenaganya sehingga tubuhnya berlari seperti terbang saja. Sim Houw harus mengerahkan tenaga pula untuk dapat menyusul dan setelah mereka berlari berkejaran sampai jauh meninggalkan hutan itu, barulah Bi Lan dapat tersusul oleh Sim Houw.

"Lan-moi, berhentilah sebentar, aku mau bicara dulu!" kata Sim Houw setelah berhasil mendahului lalu menghadang di depan gadis itu. Dia melihat betapa selain terengah-engah kelelahan, juga ada bekas-bekas air mata di kedua pipi Bi Lan. Mudah dilihat bahwa ketika berlari-larian, Bi Lan telah menangis!

"Sim-toako, kenapa engkau mengejarku?" Bi Lan bertanya, dan suaranya yang agak parau juga membayangkan bekas tangis. Akan tetapi karena gadis itu berusaha keras menyembunyikan tangisnya, biar pun Sim Houw merasa heran sekali, dia pura-pura tidak melihat tangis itu.

"Lan-moi, engkau begitu tergesa-gesa pergi. Engkau hendak mencari keluarga Istana Gurun Pasir, apakah engkau sudah tahu di mana tempat itu?"

Bi Lan menggelengkan kepala. "Aku belum pernah ke sana, akan tetapi subo pernah memberi keterangan tentang arah dan tanda-tandanya menuju ke sana setelah keluar dan melewati Tembok Besar di utara."

"Aih, perjalanan itu begitu jauhnya! Lewat Tembok Besar? Sungguh merupakan daerah yang asing dan berbahaya sekali, Lan-moi. Karena itu, aku akan mengantarmu sampai engkau tiba di Istana Gurun Pasir."

Sinar kegembiraan yang cerah menerangi wajah yang tadinya kusut dan keruh itu. Dengan sepasang mata terbelalak gadis itu menatap wajah Sim Houw. Melihat betapa sepasang mata yang masih basah itu kini terbelalak lebar dan indah memandangnya, dan bayangan senyum didahului lesung pipit di kanan kiri pipi, Sim Houw memejamkan kedua matanya. Kagum dan haru memenuhi hatinya, akan tetapi dia memejamkan mata agar tidak terpesona oleh keindahan yang dilihatnya.

"Sim-toako... benarkah engkau hendak mengantar aku?"

Sim Houw mengangguk, tersenyum. "Tentu saja benar."

"Tapi... aku hanya akan mengganggu waktumu..."

"Sama sekali tidak, Lan-moi. Aku tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, tidak mempunyai tugas sesuatu, bahkan tidak mempunyai tempat tinggal. Kemana pun aku pergi, sama saja. Di mana-mana adalah tempat tinggalku. Perjalanan itu amat berbahaya dan hatiku tidak rela membiarkan engkau pergi seorang diri menempuh bahaya sebesar itu."

"Akan tetapi... kenapa, toako? Kenapa engkau mau bersusah payah untukku? Kenapa?"

Ingin sekali Sim Houw mengatakan seperti yang juga diharapkan oleh Bi Lan, bahwa untuk Bi Lan dia mau melakukan apa saja karena dia mencinta gadis itu. Akan tetapi Sim Houw menahan mulutnya dan tidak mau mengatakan hal seperti itu. Tidak, dia tidak akan membuka rahasia hatinya kepada Bi Lan sebelum dia yakin benar bahwa Bi Lan juga mencintanya dan akan menerima dan membalas cintanya.

"Lan-moi, engkau masih bertanya lagi kenapa? Bukankah kita sudah menjadi sahabat yang baik? Bukankah kita sudah sama-sama mengalami hal-hal yang hebat, bahkan sama-sama menghadapi bahaya maut di tangan Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio dan kawan-kawan mereka? Setelah apa yang kita alami bersama itu, bagaimana mungkin sekarang aku membiarkan engkau pergi menempuh bahaya melakukan perjalanan ke luar Tembok Besar? Dan aku pun hidup seorang diri, tidak mempunyai tempat tinggal, jadi, tiada salahnya kalau aku menemanimu pergi ke utara sampai engkau tiba di tempat yang kau cari, bukan?"

Bi Lan merasa kurang puas dengan jawaban itu, akan tetapi karena hatinya terlalu gembira mendengar keputusan Sim Houw yang hendak mengantarnya mencari Istana Gurun Pasir, ia pun tersenyum gembira kini.

"Ahh, terima kasih, Sim-toako, engkau sungguh baik sekali kepadaku. Ahh, bagaimana aku akan dapat membalas semua kebaikanmu? Engkau pernah menolongku, bahkan engkau juga membantu aku mendapatkan kembali Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, dan sekarang engkau pun hendak mengantarkan aku mencari subo dan suhu di gurun pasir! Ahh, betapa senangnya hatiku. Tadinya aku sudah bingung. Biar pun subo sudah memberi gambaran tentang jalan menuju ke tempat itu, aku masih bingung dan aku... aku takut!"

Sim Houw tersenyum melihat kegembiraan gadis itu. Saat ini hatinya juga dipenuhi oleh perasaan girang yang belum pernah dirasakannya selama ini. Melihat gadis itu demikian gembira mendatangkan perasaan nyaman di hatinya. Kalau saja selamanya dia dapat membuat gadis itu bergembira selalu!

"Lan-moi, ucapanmu itu membuat aku merasa lucu, Engkau takut? Aihh, selama ini aku mengenalmu sebagai seorang gadis perkasa yang tidak mengenal takut! Sungguh aneh dan lucu mendengar engkau berkata bahwa engkau takut."

"Sungguh, toako, aku tidak bohong. Aku ketakutan, bukan takut akan ancaman orang tertentu, bukan takut akan bahaya. Melainkan takut... eh, aku merasa begitu sunyi dan terpencil, seperti seekor semut di tengah-tengah daun yang hanyut di tengah sungai. Aku takut akan kesepian itu sendiri, toako."

Sim Houw mengangguk-angguk. Tentu saja ketakutan seperti itu pernah dia rasakan pula. Kesepian, merasa hidup sendirian dan tidak dibutuhkan oleh siapa-siapa lagi! Hal yang betapa mengerikan.

"Aku mengerti, Lan-moi. Marilah kita berangkat sebelum hari menjadi gelap. Kita harus mencari tempat istirahat yang baik malam ini karena kita terlalu lelah setelah semua pengalaman dan perkelahian yang menegangkan itu. Kita tak perlu tergesa-gesa, tetapi harus dapat menikmati perjalanan ini, menikmati semua keindahan alam yang tentu berlainan dengan keadaan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Dan waspada akan bahaya di tempat asing itu. Mari kita berangkat."

Dengan wajah berseri keduanya lalu berjalan berdampingan, menuju ke utara, melalui jalan yang sunyi itu. Akan tetapi kini mereka tidak merasa sunyi lagi. Bahkan sinar matahari nampak cerah sekali, dan awan-awan di angkasa membentuk gambar-gambar yang menarik, seperti sekelompok domba yang berjalan perlahan-lahan menuju ke timur dalam suasana yang begitu bersih, jernih dan gembira…..

**********

Wanita itu menangis seorang diri, terisak-isak dan tersedu-sedan di dalam pondok tua di tepi jalan yang sunyi itu. Sudah berjam-jam ia menangis seorang diri, pundaknya masih terguncang-guncang dan kadang-kadang tangisnya terdengar menyedihkan.

Ia seorang wanita cantik, usianya tiga puluh dua tahun. Sebetulnya ia mengenakan pakaian yang indah, dari sutera yang mahal dan mewah, dengan hiasan-hiasan rambut dan tubuh terbuat dari pada emas permata. Akan tetapi pakaian yang indah itu kini kusut dan bahkan kotor karena beberapa hari tidak pernah diganti. Rambutnya yang panjang hitam itu terlepas dari sanggulnya, riap-riapan menutupi sebagian mukanya. Di dekatnya, terletak di atas lantai, nampak sebuah pedang dalam sarung pedang yang indah.

Ia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi. Jarang ada orang dapat menandinginya. Ia seorang wanita kosen dan lihai. Akan tetapi, sekarang ia berada dalam kedukaan dan ketika ia menangis seperti itu, nampak betapa bagaimana pun juga, ia hanyalah seorang perempuan yang lemah tak berdaya dan membutuhkan perlindungan!

Wanita itu adalah Ciong Siu Kwi atau yang dikenal dengan julukan Bi-kwi (Iblis Cantik). Seperti telah kita ketahui, gerakan wanita ini dengan semua sekutunya telah mengalami kegagalan dan hanya berkat pengampunan yang diberikan oleh Bi Lan atau Siauw-kwi (Iblis Cilik) sajalah maka ia sendiri dapat keluar dari pertempuran itu dengan selamat.

Sekutunya telah hancur, semua orang yang bekerja sama dengannya telah tewas dalam pertempuran melawan para pendekar. Tiga orang guru-gurunya, Sam Kwi, telah tewas semua, juga Bhok Gun, kekasihnya yang terakhir, sudah tewas. Demikian pula orang-orang sakti seperti Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio tewas di tangan para pendekar.

"Uuhhhh...hu-hu-huhhh...!" Ciong Siu Kwi menangis terisak-isak.

Ia bukan menangisi mereka itu. Sama sekali tidak. Bagaimana pun juga, permainan cintanya dengan Bhok Gun hanya merupakan petualangannya saja. Tidak ada rasa cinta di dalam hatinya terhadap Bhok Gun atau siapa pun juga. Ia, wanita ini belum pernah mencinta orang, arti kata yang sesungguhnya. Permainan cintanya dengan pria-pria seperti yang sudah-sudah, hanyalah merupakan pelampiasan nafsu belaka. Juga tidak ada rasa cinta terhadap Sam Kwi, tiga orang gurunya yang juga memperlakukan sebagai kekasih.

Cinta kasih tidak mendatangkan duka. Cinta kasih tidak membelenggu batin. Cinta kasih itu bebas dan wajar, seperti sinar matahari yang menghidupkan segala yang berada dalam sentuhannya, menghidupkan dan membahagiakan, sama sekali tanpa pamrih untuk kepentingan atau kesenangan diri sendiri. Sebaliknya, nafsu birahi, seperti segala macam nafsu, menimbulkan ikatan, membelenggu. Dan tentu saja menimbulkan derita karena ikatan berarti ketergantungan.

Kita menggantungkan kesenangan batin terhadap sesuatu atau seseorang dan kalau gantungan itu terlepas, tentu kita akan jatuh dan kita menderita duka. Ikatan itu dapat saja berupa ikatan terhadap kekasih, keluarga, harta benda, kedudukan, bahkan ikatan terhadap suatu cita-cita. Dan yang suka menggantungkan diri, mengikatkan diri adalah si aku, ciptaan pikiran.

Pikiran menciptakan aku yang selalu ingin senang, pikiran menimbulkan ikatan terhadap segala sesuatu yang menyenangkan si aku, dan kalau terjadi kegagalan dan perpisahan sehingga terlepas ikatan itu, maka pikiran pula yang tenggelam ke dalam duka. Si aku selalu condong untuk membesarkan iba diri, pementingan diri pribadi, karena dasarnya adalah pengejaran terhadap kesenangan pribadi serta pelarian terhadap hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan
.

Siu Kwi tidak menyedihi kematian orang-orang itu. Tidak ada ikatan dalam batinnya terhadap mereka. Guru-gurunya, Bhok Gun dan yang lain-lain itu baginya hanya berupa alat belaka, untuk mencapai idaman hatinya, cita-citanya. Kehilangan alat-alat itu tidak mendatangkan duka, karena dapat saja ia mencari alat-alat lain.

Akan tetapi, yang menimbulkan duka adalah hancurnya semua cita-citanya. Habislah segala-galanya. Gagal semuanya dan rasa kecewa dan iba diri membuatnya berduka sehingga ia, seorang wanita perkasa yang biasanya amat keras hati, kini menangis dan air matanya mengalir deras tanpa dapat dibendungnya. Ia sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi yang dicengkeram duka. Ia merasa hampa, kosong dan tidak ada artinya hidup ini baginya. Hatinya nelangsa dan terasa kesepian yang mengerikan mencekam hatinya.

Apa lagi kalau diingat betapa ia telah kalah oleh Bi Lan! Gadis itu adalah sumoi-nya, bahkan lebih dari itu, dapat dibilang muridnya karena ialah yang dulu membimbing dan melatihnya semenjak awal. Bahkan ia telah menyelewengkan pelajaran silatnya untuk mencelakakan Bi Lan. Akan tetapi, Bi Lan tidak mati, tidak celaka, bahkan memperoleh ilmu-ilmu yang hebat. Membanding-bandingkan keadaan dirinya dan Bi Lan membuat perasaan hatinya tertusuk dan terasa nyeri sekali. Tertusuk rasa kecewa dan iri hati. Anak yang hampir gila itu kini malah menjadi seorang pendekar, menjadi seorang tokoh baik yang menonjol, dan bahkan dibela oleh para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir!

Penilaian secara otomatis menimbulkan perbandingan antara keadaan diri kita sendiri dengan orang lain dan muncullah ketidak puasan, bahkan putus harapan. Kita selalu merasa kurang, selalu merasa alangkah buruk keadaan kita karena kita menilai dan membandingkan. Dan kalau sudah ada penilaian dan perbandingan, tentu saja tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Hasil pemikiran tentu saja tidak sempurna karena pikiran merupakan suatu sumber kekacauan dari konflik-konflik dan pertentangan-pertentangan antara baik buruk, untung rugi dan sebagainya. Bagi orang yang tidak menilai, tidak membandingkan, melainkan memandang dan mengamati segala sesuatu tanpa penilaian, tanpa perhitungan untung rugi, akan nampak bahwa tidak ada yang tidak sempurna pada alam semesta ini! Bagaimana mungkin hasil dari ulah dan perbuatan kita akan sempurna kalau kita sendiri penuh dengan benci, iri, dan pementingan diri sendiri?


Siu Kwi menangis tersedu-sedu. Mengingat akan keadaan Bi Lan yang dianggapnya hidup penuh kebahagiaan, ia merasa betapa ia tidak punya apa-apa lagi. Ia merasa kesepian dan takut untuk melanjutkan hidup, merasa tidak kuat untuk memulai hidup baru.

Mengapa hidupnya begini sengsara dan serba mengecewakan? Mengapa seakan-akan ia dikutuk? Ketika hatinya mengeluh demikian, ada bisikan pada hati nuraninya yang membuat Siu Kwi menghentikan tangisnya, mukanya pucat dan sepasang matanya yang menjadi membengkak dan merah karena tangis itu kini sayu memandang jauh ke depan, merenungkan segala kehidupannya yang lalu.

Nalurinya membisikkan bahwa hidupnya yang lalu penuh dengan penyelewengan dan kejahatan. Sebagai manusia, tentu saja ia memiliki kesadaran dan pengertian tentang baik buruk. Akan tetapi, selama kejahatan yang dilakukannya itu mendatangkan hasil baik dan mendatangkan kesenangan, ia tidak mau peduli dan seperti lupa bahwa yang dilakukan adalah jahat. Barulah, setelah perbuatan jahat itu mendatangkan suatu mala petaka yang menimpa diri, timbullah penyesalan! Walau pun penyesalan itu belum tentu berarti mendatangkan perasaan bertobat, namun lebih condong menyesali kegagalan atau mala petaka itu!

Akan tetapi, Siu Kwi merasa benar-benar menyesal mengapa ia membiarkan dirinya terseret ke dalam kejahatan. Timbul keinginan hatinya untuk mengubah cara hidupnya, meninggalkan dunia sesat dan mencontoh jalan yang ditempuh oleh sumoi-nya. Akan tetapi bagaimana caranya? Jalan apakah yang harus diambil?

Namanya sudah menjadi rusak dan kiranya tidak ada seorang pun manusia di dunia ini, kecuali mereka dari golongan sesat pula, yang akan mempercayainya sehingga mau menerimanya. Akan tetapi kalau ia bergaul lagi dengan golongan sesat, maka sejarah akan terulang. Ia tentu akan bergelimang kejahatan lagi dan ia sudah merasa takut untuk menderita akibatnya yang amat buruk, seperti yang dirasakannya sekarang.

Pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan memang dapat menimbulkan kepalsuan-kepalsuan dalam batin kita. Kalau kita tahu bahwa kita berbuat baik, maka pengetahuan ini saja sudah menyembunyikan suatu pamrih di balik perbuatan kita itu. Tahu tentang kebaikan tentu saja dirangkai dengan tahu bahwa kebaikan itu membuahkan suatu keuntungan! Sebaliknya, tahu tentang kejahatan disertai pengetahuan bahwa perbuatan jahat itu membuahkan keburukan dan kerugian kepada kita.

Dengan demikian, kita berusaha untuk melakukan kebaikan, tentu saja karena tahu bahwa hal itu akan mendatangkan keuntungan bagi kita. Kita memaksa diri tidak mau melakukan kejahatan dengan pengetahuan bahwa hal itu pasti akan mencelakakan kita sendiri. Jelas bahwa pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan ini bisa mendorong kita untuk menjadi munafik, untuk menjadikan perbuatan kita palsu dan tidak wajar!

Tentu saja bukan maksud kita untuk mengabaikan pengetahuan tentang baik dan jahat. Tetapi kita harus mengenal dasar dari perbuatan kita sendiri, mengenal watak-watak palsu kita sendiri dengan cara pengamatan terhadap diri sendiri, setiap kali kita berbuat, setiap kali kita bicara, setiap kali kita berpikir. Amat jauh bedanya antara perbuatan baik yang kita sadari dengan perbuatan apa pun juga yang kita lakukan dengan dasar cinta kasih!

Jika sinar cinta kasih menerangi sikap dan perbuatan kita, maka perbuatan itu wajar, kita lakukan tanpa penilaian baik ataukah buruk dan yang sudah pasti sekali, segala perbuatan yang dilakukan dengan dasar cinta kasih, bagaikan matahari menyinarkan cahayanya, bagaikan bunga menyiarkan keharuman dan keindahannya, bagaikan ibu menyusui anaknya, maka perbuatan itu adalah suci!


Ketika Siu Kwi sedang terombang-ambing dalam lamunannya sendiri, mulai timbul rasa penyesalan terhadap segala perbuatannya yang sudah-sudah, dan timbul keinginan untuk mengubah jalan hidupnya, meninggalkan kesesatannya, mendadak ia mendengar suara seorang laki-laki bernyanyi. Suara itu lantang dan bersih, meski kadang-kadang suaranya tersendat seperti tertahan sesuatu, dan lagunya pun adalah lagu dusun yang sederhana sekali, seperti orang membaca sajak saja.

Alangkah cantiknya duniaku!
Langit biru terhias awan bergumpal-gumpal
Itulah atap rumahku!
Pohon-pohon berdaun hijau
berbunga aneka warna
Itulah dinding rumahku!
Tanah segar dengan babut rumput hijau
Itulah lantai rumahku...!


Siu Kwi membelalakkan kedua matanya. Hatinya tersentuh. Ada kesederhanaan dan keaslian di dalam suara itu. Kewajaran yang indah walau pun isi nyanyian itu teramat sederhana. Dan suara itu begitu wajar dan segar, membayangkan bahwa penyanyinya tentulah berada dalam kebahagiaan.

Siu Kwi yang tadinya merasa sengsara, jauh dari kebahagiaan yang didambakannya, menjadi tertarik sekali. Tangisnya terlupa, terhenti dengan sendirinya dan sejak tadi ia terbawa hanyut oleh suara nyanyian.

Suara itu masih bernyanyi, mengulang-ulang kata-kata itu namun tidak menjemukan, seperti suara burung-burung pagi berkicau dengan riang.

Siu Kwi bangkit berdiri, membereskan pakaiannya yang kusut, juga rambutnya yang awut-awutan, dalam keadaan setengah sadar karena gerakan itu hanya terjadi karena kebiasaan, kemudian ia keluar dari dalam pondok tua dan berjalan menuju ke arah suara nyanyian. Wajahnya masih agak pucat, bekas-bekas air mata masih nampak di kedua pipinya. Matanya masih kemerahan dan agak membengkak. Isaknya terkadang masih mengguncang dadanya, seperti gema tangisnya tadi. Ia berjalan perlahan ke arah suara.

Pria itu berusia antara dua puluh lima tahun. Dia tidak berbaju, hanya memakai sebuah celana dari kain kasar yang berwarna hitam. Celana panjang itu digulungnya sampai ke lutut dan di sana-sini ternoda lumpur. Badan yang tidak tertutup baju itu memperlihatkan otot-otot yang berkembang dengan bagusnya, bergerak-gerak ketika kedua lengannya mengayun cangkul.

Tubuh yang tegap itu nampak penuh dengan tenaga. Wajahnya sederhana saja, bersih dan penuh kejantanan. Pria itu mencangkul tanah berlumpur sambil bernyanyi, suara nyanyiannya kadang tersendat kalau cangkulnya terayun dan menghunjam tanah basah di depan kakinya.

“Crokk! Crokk!” Bunyi cangkulnya seirama dengan nyanyiannya dan agaknya suara itu menjadi pengiring nyanyiannya yang sederhana.

Pria itu memusatkan perhatiannya sepenuhnya kepada tanah yang dicangkulnya dan ini merupakan suatu keharusan. Kalau tidak, cangkulnya dapat menghantam batu atau menyeleweng ke arah kakinya sendiri. Akan tetapi ada yang lebih dari pada itu, yaitu rasa cinta terhadap apa yang dikerjakannya! Dan rasa cinta inilah yang mendatangkan ketekunan, mendatangkan pencurahan perhatian, sepenuhnya.

Dan sepatutnya, kita semua mencontoh pemuda itu, yaitu melakukan segala pekerjaan dengan perasaan cinta terhadap apa saja yang kita kerjakan! Dan kalau sudah begitu, kita bekerja tanpa mengharapkan apa-apa, karena di dalam pekerjaan itu sendiri kita sudah menemukan suatu kebahagiaan besar. Ada pun hasil pekerjaan itu hanyalah merupakan akibat saja dari pekerjaan kita, merupakan bunga dan buah dari pada pohon yang kita tanam.

Siu Kwi memandang ke arah pria itu dengan terpesona. Sampai lama ia berdiri seperti patung mengamati pria itu, mengikuti seluruh nyanyiannya, mengikuti setiap gerak kaki tangannya. Biasanya, ia memandang rendah kepada orang-orang yang bekerja kasar, apa lagi seorang petani miskin dan kotor seperti pria itu! Seorang pria yang tentu saja tidak terpelajar, bodoh dan juga lemah, hanya memiliki tenaga kasar saja, bukan ahli silat! Biasanya, terhadap seorang pria mencangkul sawah seperti ini, ia tentu sama sekali acuh, menengok pun tidak sudi. Akan tetapi sekarang, ia terpesona!

Ada keindahan tersendiri yang khas pada tubuh pria itu. Wajahnya yang sederhana, tubuhnya yang tegap, nyanyiannya, semua itu nampak begitu riang dan cerah, seperti burung yang berkicau sambil berlompatan dari dahan ke dahan, seperti sinar matahari pagi itu.

Ahhh, dia tentu seorang yang berbahagia, pikir Siu Kwi. Dan ia pun ingin sekali tahu. Bagaimana ia akan bisa memperoleh kebahagiaan? Bagaimana pula petani sederhana ini dapat hidup demikian bahagia, walau pun bergelimang kesederhanaan, lumpur kotor dan mungkin kemiskinan? Pada hal pria itu jelas seorang yang amat sederhana, bodoh hanya seorang petani biasa!

Siu Kwi melangkah maju menghampiri sampai ia tiba di tepi sawah. Pemuda yang sedang mencangkul itu belum juga melihat kedatangannya. Ini saja biasanya cukup untuk menjengkelkan hati Siu Kwi yang merasa tidak diperhatikan, pada hal jarak antara ia dan pemuda itu hanya beberapa meter saja.

"Heii, bung! Aku ingin bertanya sedikit padamu." Akhirnya Siu Kwi berkata dan biar pun tiada kemarahan di hatinya terhadap pemuda itu, karena sudah menjadi kebiasaannya, suaranya terdengar lantang dan juga galak.

Pria petani itu nampak terkejut. Tidak disangkanya akan ada seorang wanita datang menegurnya dan ketika dia menengok, dia menjadi semakin terkejut sehingga sampai beberapa lamanya dia hanya bengong saja memandang, menoleh ke arah Siu Kwi dengan cangkul masih dalam genggaman kedua tangan. Tentu saja, melihat seorang wanita dengan pakaian indah dan sedemikian cantiknya kini berdiri di depannya dan mengajak dia bicara, tentu saja merupakan suatu pengalaman yang amat mengejutkan dan mengherankan bagi petani itu. Tentu saja dia menjadi bengong dan tak mampu mengeluarkan jawaban.

Siu Kwi mengerutkan alisnya. Biasanya, melihat pertanyaannya tidak segera dijawab orang, tentu akan membuat ia marah sekali. Akan tetapi aneh, sekali ini tidak. Ia seperti dapat mengerti bahwa pria ini terheran-heran dan terkejut, sehingga melihat orang itu bengong, ia merasa geli sendiri.

"Heii, bung! Apakah engkau ini tuli ataukah gagu sehingga tidak mendengar dan tidak dapat menjawab?"

Barulah pemuda petani itu nampak semakin gugup. Ia cepat menurunkan cangkulnya, demikian keras dan canggung sehingga cangkul itu menimpa lumpur yang memercik ke atas dan mengenai dagunya! Melihat ini, Siu Kwi menjadi semakin geli sehingga tanpa disadarinya, wanita itu tersenyum lebar dan ia pun tidak sadar betapa senyumnya ini membuat wajahnya manis sekali.

"Uhh, maaf...!" kata pemuda itu, kemudian mencoba untuk membungkuk sebagai tanda penghormatan. "Nyonya... ehhh, nona... tadi bertanya apakah?"

Sikap canggung dan suara yang lantang itu saja sudah mendatangkan kegembiraan di hati Siu Kwi.

"Aku belum bertanya," jawabnya, "akan tetapi aku ingin bertanya sedikit padamu dan maafkan jika aku mengganggu pekerjaanmu."

Siu Kwi merasa heran sendiri ketika mendengar sikap dan bahasanya. Ia seolah-olah mendengar suara orang lain yang bicara melalui dirinya. Belum pernah ia ‘seramah’ dan ‘sesopan’ ini terhadap orang lain, apa lagi hanya seorang pria petani.

Pemuda itu tentu saja mengira bahwa tentu nona kota ini hendak bertanya jalan, atau menanyakan dusun di sekitar tempat itu, maka dia menjawab, "Boleh saja kalau nona mau bertanya. Apakah yang nona tanyakan?"

"Yang ingin kutanyakan adalah, apakah engkau berbahagia?"

Petani muda itu melongo. Sama sekali tidak pernah disangkanya dia akan menerima pertanyaan seperti itu. "Apa...? Ehh...... aku...? Bahagia? Ahh, aku tidak tahu, nona."

Pemuda ini terlalu polos dan jujur, kalau mengatakan tidak tahu, tentu benar-benar tidak tahu, atau tidak mengerti apa yang ia tanyakan. Ia mengangguk yakin. "Engkau tentu seorang yang hidup bahagia. Ya, aku yakin engkau tentu berbahagia!"

Akan tetapi pemuda itu tidak yakin. "Bahagia? Apa sih bahagia itu, nona?"

Kini Siu Kwi yang bengong. Apa sih bahagia itu?

"Bahagia... ya, bahagia, hidupnya senang dan tenteram, aman makmur penuh damai..."

Pemuda itu mengangguk-angguk. "Itukah yang dinamakan bahagia?"

"Begitulah... atau mungkin aku keliru, entahlah."

Pemuda itu memandang bingung. "Bagaimana pula ini? Kalau nona sendiri tidak tahu dengan jelas, apa lagi aku. Aku tidak pernah mendengar kata itu dan agaknya aku pun tidak membutuhkan kebahagiaan itu."

Siu Kwi membelalakkan kedua matanya. Tidak membutuhkan kebahagiaan! Pemuda sederhana ini tidak membutuhkan kebahagiaan! Sedangkan ia yang berenang di dalam kemewahan begitu rindu dan butuh akan kebahagiaan karena merasa tidak bahagia, karena merasa nelangsa dan berduka. Agaknya itulah jawabannya.

Pemuda itu berbahagia di dalam kesederhanaannya, berbahagia karena dia tidak butuh bahagia lagi. Dan ia yang berduka, merasa ditinggalkan kebahagiaan, maka ia amat membutuhkan kebahagiaan! Kalau saja ia tidak berduka, kalau saja ia dapat menikmati segalanya seperti pemuda ini, tentu ia pun tidak akan butuh kebahagiaan karena sudah berbahagia!

"Ya, tentu engkau berbahagia, karena engkau bekerja sambil bernyanyi-nyanyi gembira. Engkau tentu seorang yang hidup berbahagia," katanya lagi, memandang wajah dan tubuh pemuda itu dengan kagum.

Pemuda itu mengerutkan alis sejenak, lalu mengangguk-angguk pula. "Boleh jadi. Aku dapat melihat semua keindahan pagi ini, dapat mendengarkan kicau burung yang riang gembira, melihat bunga-bunga dan pohon-pohon, mencium keharuman tanah yang kucangkul, dapat menghirup udara segar dengan bebas, kalau lapar dapat makan dan kalau haus dapat minum, memiliki pekerjaan. Mau apa lagi?"

Siu Kwi semakin tertarik dan memandang kagum. Bukan kagum dan bukan seperti biasanya tertarik oleh laki-laki karena dorongan nafsu birahi. Bukan, sama sekali. Sekali ini, ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam hatinya. Ia merasa tertarik dan kagum karena ia melihat betapa laki-laki yang berlepotan lumpur ini lebih utuh sebagai manusia dari pada dirinya sendiri. Laki-laki ini jauh lebih berarti dalam kehidupan ini.

Ia seperti melihat mutiara gemerlapan di dalam lumpur. Seorang pemuda yang amat polos, jujur terbuka, bersih seperti batu kemala yang belum digosok, nampak kasar dan biasa saja namun mengandung keindahan yang amat berharga di dalamnya. Jawaban pemuda itu merupakan suatu pelajaran yang tak ternilai harganya, walau pun pemuda itu tidak sengaja hendak mengajarkan sesuatu kepadanya.

Memang demikianlah. Guru berada di mana-mana kalau saja kita mau membuka mata lahir batin dan mau mengamati segala sesuatu di dalam dunia ini, di luar dan di dalam diri sendiri, secara seksama dan waspada. Melayangnya sehelai daun kering dari atas pohon karena patah dari tangkainya, sudah dapat merupakan suatu pelajaran tentang hidup dan mati.

Dalam mempelajari dan mengerti tentang hidup, tak perlu mencari guru dalam bentuk seorang manusia, karena kehidupan adalah sesuatu yang bergerak terus. Kehidupan adalah suatu kenyataan yang kita hayati sendiri. Sedangkan apa yang dapat diajarkan oleh seorang guru hanyalah pengetahuan mati tentang kehidupan.

Jawaban pemuda petani itu pun dapat merupakan suatu pembukaan rahasia tentang kebahagiaan. Dia sudah dapat menerima segala sesuatu yang ada sebagai suatu kenikmatan hidup. Dia tidak mencari sesuatu yang tidak ada padanya! Karena itulah dia tidak merasa kekurangan apa-apa, dia tidak mengejar apa-apa. Kalau sudah begitu, tentu saja tidak ada kekecewaan, tidak ada iri, tidak ada kebutuhan akan sesuatu dan tidak ada duka. Dan kalau sudah begini, tentu saja dia tidak membutuhkan kebahagiaan, karena kebutuhan akan kebahagiaan muncul apabila kita merasa bahwa kita tidak bahagia!

Kalau semua orang seperti pemuda petani itu, tentu tidak akan ada kemajuan! Demikian orang membantah. Mungkin mereka benar! Akan tetapi, apakah yang kita namakan kemajuan itu? Kita mendambakan kemajuan, kita mengagung-agungkan kemajuan. Akan tetapi apakah sebenarnya kemajuan itu?

Model celana dipotong pendek, lalu panjang lagi, lalu pendek lagi, panjang lagi. Sempit, lalu longgar, sempit lagi. Itukah kemajuan? Benda-benda dibikin modern supaya lebih menyenangkan. Jadi, kemajuan berarti pengejaran sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan! Itukah kemajuan? Dan sampai di mana kita sekarang ini maju? Sudah majukah? Sudah sampai di batas manakah?

Matahari menyinarkan cahayanya yang cerah. Burung-burung berkicau di pohon-pohon. Bunga-bunga mekar semerbak harum. Sejak jutaan tahun yang lalu sudah begitu, dan terus begitu. Semua itu tidak mengejar kemajuan, melainkan bertumbuh dengan wajar. Apakah keadaan alam seperti itu dapat kita katakan tidak maju?

Pikiran yang didorong oleh keinginan mencari kesenangan yang lebih, tidak mungkin berdaya cipta (creative). Tidak akan menjadikan kita bijaksana dan cerdas. Sebaliknya, pikiran yang selalu mengejar kesenangan yang lebih akan menjadi licik dan penuh akal, kejam dan tak pernah mengenal puas. Perbaikan keadaan tentu terjadi karena manusia mempergunakan akal budi yang memang sudah ada padanya sejak lahir.

Keburukan hidup menghadapi alam, akan mendorong manusia mempergunakan akal budinya untuk mengatasi segala kesukaran. Daya cipta akan berkembang secara wajar, demi kesejahteraan hidup, bukan demi pergejaran kesenangan
...


SELANJUTNYA SULING NAGA BAGIAN 12


Thanks for reading Suling Naga Bagian 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »