Si Bangau Merah Bagian 06

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SI BANGAU MERAH BAGIAN 06

DUA orang yang terluka itu dalam keadaan tidur atau setengah pingsan. Wajah mereka pucat dan pernapasan mereka lemah. Sin Hong sudah memberi obat luka di lambung dan leher ibu mertuanya. Luka-luka itu tidak berat, akan tetapi racun yang terkandung di luka bagian leher sangat berbahaya. Sedangkan pukulan kedua telapak tangan yang berbekas di punggung ayah mertuanya membuat keadaan ayah mertuanya itu lebih parah lagi.

“Hemm, keadaan mereka ini membuat aku menjadi makin sangsi,” katanya lirih kepada isterinya. “Aku mengenal Bu-tong-pai sebagai partai persilatan bersih, satu perkumpulan orang-orang suci dengan para tosu menjadi pimpinan. Murid-murid mereka adalah para pendekar-pendekar gagah. Biar pun mereka memiliki pukulan ampuh yang mengandung sinkang amat kuat, akan tetapi belum pernah aku mendengar mereka mempelajari ilmu pukulan beracun. Juga, belum pernah aku mendengar mereka mempergunakan racun atau paku beracun seperti yang melukai leher ibumu.”

“Akan tetapi, mendiang Thian Kwan Hwesio dengan jelas menyerukan bahwa mereka adalah para tosu Bu-tong-pai,” kata isterinya dan Sin Hong menjadi bingung.

Memang sukar sekali dimengerti kalau seorang pendeta seperti ketua kuil Pao-teng itu berbohong. Apa manfaatnya berbohong? Akan tetapi, Thian Kwan Hwesio sudah tewas sehingga tidak mungkin, dapat diperoleh keterangan yang lebih jelas darinya.

“Kita harus bersabar. Surat yang kukirim kepada Ketua Bu-tong-pai itu sedikit banyak tentu akan dapat menerangkan kegelapan peristiwa semalam.”

Sementara itu, Sian Li berlari keluar rumah dengan hati kesal. Pada waktu ia datang ke rumah kakek dan neneknya, hatinya gembira karena kedua orang tua itu amat sayang kepadanya dan mengajaknya bermain-main. Tapi sekarang, kakek dan neneknya hanya rebah dalam keadaan sakit. Apa lagi bermain-main dengannya, bicara pun mereka itu tidak dapat lagi. Semua itu gara-gara perbuatan penjahat yang menyerbu malam tadi. Hatinya kesal dan marah, maka ia pun keluar dari halaman rumah, bermaksud mencari teman bermain.

Ada beberapa orang pegawai yang biasanya membantu kedua orang tua itu berdagang rempah-rempah. Mereka, empat orang itu, telah mendengar bahwa dua majikan mereka menderita luka oleh serbuan penjahat. Mereka membuka toko rempah-rempah mewakili majikan mereka dengan wajah khawatir.

Sian Li tidak mempedullkan mereka yang tidak dikenalnya itu, dan ia pun keluar dari pekarangan dan terus berjalan-jalan seorang diri di jalan raya. Hatinya tertarik melihat seorang kakek yang berdiri di tepi jalan, sedang memandang ke arah rumah kakek dan neneknya. Ia pun menoleh dan ikut memandang. Nampak belasan orang hwesio memasuki pekarangan itu, dan mereka ini adalah para hwesio dari kuil di kota itu, para murid Thian Kwan Hwesio yang sudah diberi kabar tentang tewasnya guru dan ketua mereka di rumah keluarga Kao. Tak lama kemudian mereka mengangkut peti mati untuk dibawa pulang ke kuil mereka. Sian Li melihat pula bahwa ayah dan ibunya mengantar sampai di luar rumah dan belasan orang hwesio itu meninggalkan pekarangan itu sambil memikul peti mati.

Sian Li mengepal kedua tangannya, memandang dan mengikuti perjalanan para hwesio yang mengikuti peti mati sambil membaca doa sepanjang jalan. Hatinya merasa kasihan dan juga penasaran kepada para penjahat yang bukan saja telah membunuh seorang hwesio, akan tetapi juga melukai kakek dan neneknya.

“Penjahat-penjahat kejam, tunggu saja kalian. Kalau kelak aku sudah besar, aku akan membalaskan kematian hwesio itu dan lukanya Kakek dan Nenekku!”

Sian Li tidak tahu betapa kakek yang tadi berdiri memandang ke arah kesibukan para hwesio mengangkut peti mati, kini memandang kepadanya dengan sinar matanya yang penuh selidik dan mulut tersenyum. Kakek ini berpakaian seperti seorang sastrawan, akan tetapi jelas bahwa dia miskin melihat betapa pakaian itu sudah penuh jahitan dan ada beberapa tambalan, walau pun nampaknya bersih. Dia mirip seorang sastrawan setengah jembel, dengan rambut yang bercampur dengan cambang, kumis dan jenggot yang sudah berwarna kelabu.

Namun wajahnya masih nampak sehat kemerahan belum dimakan keriput, matanya pun masih terang dan senyumnya cerah walau pun mulut itu tidak bergigi lagi. Rambut itu dibiarkan awut-awutan, sampai ke pundak. Tubuhnya jangkung kurus, namun berdirinya tegak. Sebuah caping lebar tergantung di punggungnya, tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut sedang tangan kirinya membawa sebuah keranjang obat, terisi beberapa macam akar-akaran dan daun-daunan.

“Nona kecil yang baik, apakah kakek dan nenekmu luka-luka?” Tiba-tiba saja kakek itu mendekat dan bertanya. Sian Li menoleh dan dia memandang kepada kakek itu penuh perhatian.

“Apakah engkau orang Bu-tong-pai?” tiba-tiba ia bertanya dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh selidik.

“Kalau betul, kenapa?” kakek itu balas bertanya sambil tersenyum.

“Kalau engkau orang Bu-tong-pai, akan kupanggilkan Ayah dan Ibu. Jangan lari, mereka tentu akan menghajarmu!”

“Kalau aku bukan orang Bu-tong-pai?”

“Kalau bukan, jangan mencampuri urusan kami. Engkau tidak akan dapat menolong, Kek!”

“Ha-ha-ha, anak yang baik, mengapa engkau mengatakan bahwa aku tidak akan dapat menolong?”

Sian Li memandang pada orang itu dengan sinar mata penuh selidik. “Engkau seorang kakek tua, miskin, dan nampak lemah. Andai kata engkau mempunyai ilmu kepandaian pun, bagaimana cara engkau mampu menandingi orang-orang Bu-tong-pai yang lihai, sedangkan Ayah Ibuku saja tidak mampu melindungi Kakek dan Nenekku?”

Kakek itu memandang dengan kagum. Anak kecil ini baru berusia empat tahun, akan tetapi sudah mampu mengolah pikiran seperti orang dewasa saja. Hal ini menandakan bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang yang cerdik bukan main.

“Anak baik, engkau tadi bilang mengenai kakek dan nenekmu yang luka-luka. Kebetulan sekali aku mempunyai sedikit ilmu pengobatan. Aku mendengar bahwa ini rumah dari Pendekar Kao Cin Liong, bekas panglima besar yang sangat terkenal itu. Bagaimana kalau aku mencoba kepandaianku untuk menyembuhkan kakek dan nenekmu?”

Mendengar ini, Sian Li menjadi girang sekali. Sejenak ia memandang ke arah keranjang obat di tangan kiri kakek itu, kemudian ia memegang tongkat kakek itu dan menariknya. “Kalau begitu, mari cepat, Kek. Tolonglah Kakek dan Nenekku!”

Dia pun menarik kakek itu berlarian memasuki pekarangan, langsung masuk ke dalam rumah. Empat orang pegawai toko rempah-rempah itu memandang heran, akan tetapi mereka tidak berani menegur. Kakek itu yang merasa rikuh sendiri dan dia berhenti di ruangan depan.

“Anak baik, terlebih dulu beri tahukan orang tuamu bahwa aku datang, tidak sopan kalau aku terus masuk begitu saja.”

“Kakek, memang tidak sopan kalau engkau masuk sendiri. Akan tetapi ada aku yang membawamu masuk, jadi engkau tidak bersalah. Marilah!” Anak itu menariknya masuk dan Sian Li lalu berteriak-teriak, “Ayah! Ibu! Aku datang bersama Kakek yang hendak mengobati Kakek dan Nenek!”

Mendengar teriakan anak mereka. Tan Sin Hong dan isterinya, Hong Li segera berlari keluar. Mereka melihat Sian Li sedang menggandeng tangan seorang kakek tua yang memegang tongkat dan keranjang obat. Sebagai orang-orang yang berpengalaman, sekali pandang saja suami isteri ini bisa mengenal orang luar biasa, akan tetapi mereka belum mengenal siapa dia maka keduanya memberi hormat dengan sopan dan Tan Sin Hong berkata dengan suara lembut.

“Selamat datang, Locianpwe. Kalau benar seperti yang dikatakan puteri kami maka kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe yang hendak mengobati Ayah dan Ibu kami.”

Kakek itu tertawa bergelak sehingga nampak rongga mulutnya yang sudah tidak punya gigi lagi.

“Siancai... sungguh bukan nama besar kosong belaka bahwa Pendekar Bangau Putih adalah seorang pendekar perkasa yang sangat pandai membawa diri, rendah hati, dan sopan, ha-ha-ha!”

Sin Hong dan isterinya saling pandang, lalu keduanya menatap wajah kakek jangkung itu. “Maafkan kami yang tidak ingat lagi siapa Locianpwe, sebaliknya Locianpwe telah mengenal kami.”

“Ha-ha-ha, tentu saja. Rumah ini adalah rumah Pendekar Kao Cin Liong, putera Si Naga Sakti Gurun Pasir, bekas panglima yang sangat terkenal. Dan isterinya adalah seorang wanita sakti, she Suma masih cucu Pendekar Sakti Pulau Es! Begitu melihat nona cilik pakaian merah ini, aku sudah menduga bahwa tentu ia cucu Kao Cin Liong, dan karena kalian adalah ayah ibunya, siapa lagi kalian kalau bukan puteri dan menantunya bekas panglima itu?”

“Wah, Kakek tidak adil!” tiba-tiba Sian Li berseru, “Kakek sudah mengenal Ayah Ibu dan Kakek, akan tetapi belum memperkenalkan diri. Mana adil kalau perkenalan hanya sebelah pihak saja?”

“Sian Li, jangan kurang ajar!” bentak ibunya.

“Ho-ho, namamu Sian Li, anak merah. Bagus, engkau memang seperti seorang sian-li (dewi) cilik. Tan-taihiap dan Kao-lihiap, saya ini orang biasa saja, bahkan orang yang kedudukannya amat rendah, setengah tukang obat, setengah pengemis, ha-ha-ha!”

Kembali suami isteri itu saling pandang. Biar pun suami isteri pendekar ini masih muda, namun mereka sudah mempunyai banyak pengalaman di dunia kang-ouw dan sudah mendengar akan nama besar banyak orang pandai walau pun belum pernah berjumpa dengan mereka. Setengah tukang obat dan setengah pengemis?

“Kalau begitu, Locianpwe ini tentu Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat)!” seru Kao Hong Li.

Kakek itu mengelus jenggotnya sambil tersenyum. “Nyonya muda sungguh mempunyai pemandangan luas!”

“Aihh, maafkan kami berdua yang tidak tahu bahwa yang mulia Yok-sian (Dewa Obat) datang berkunjung!” kata Sin Hong dengan kagum karena dia pun pernah mendengar akan nama besar tokoh ini yang jarang muncul di dunia kang-ouw.

“Ha-ha-ha, alangkah tidak enaknya mendengar nama sebutan Yok-sian (Dewa Obat). Aku lebih suka disebut Lo-kai (Pengemis Tua) saja. Aku mendengar akan keributan yang terjadi di rumah Taihiap Kao Cin Liong, maka sengaja hendak melihat apa yang terjadi. Kebetulan di luar tadi aku bertemu dengan anak ini! Sian Li menarik hatiku dan ternyata ia adalah cucu Taihiap Kao Cin Liong yang sudah kukenal baik. Nah, mari antar aku melihat dia dan isterinya yang kabarnya terluka.”

Bukan main girangnya hati Hong Li dan Sin Hong. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mengantar tamu itu memasuki kamar di mana Kao Cin Liong dan Suma Hui rebah. Sian Li mengikuti dari belakang. Kakek itu menurunkan keranjang obat dan tongkatnya yang cepat disimpan oleh Sian Li ke sudut ruangan, kemudian ia menghampiri Kao Cin Liong, memeriksa denyut nadinya sebentar, kemudian memeriksa keadaan Suma Hui. Dia mengangguk-angguk.

“Kabarnya yang menyerang orang-orang Bu-tong-pai?” tanyanya kepada Sin Hong.

“Begitulah menurut pengakuan mendiang Thian Kwan Hwesio yang malam tadi dikejar oleh mereka sampai ke sini. Agaknya hwesio itu hendak minta bantuan Ayah dan Ibu yang sudah menjadi sahabat baik,” kata Sin Hong.

Yok-sian Lo-kai mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. “Pukulan pada punggung Kao-taihiap ini adalah pukulan yang mengandung Hek-coa-tok (Racun Ular Hitam), agaknya tidak mungkin orang Bu-tong-pai, apa lagi yang sudah tinggi tingkatnya, mau menggunakan pukulan keji semacam itu. Juga jarum yang memasuki leher Suma Lihiap itu merupakan senjata rahasia yang biasa dipergunakan orang-orang golongan hitam. Sebaiknya kucoba mengeluarkan jarum-jarum itu lebih dahulu, karena kalau dibiarkan terlalu lama maka akan berbahaya. Tan Taihiap, engkau mempunyai kekuatan sinkang yang besar, marilah kau bantu aku. Kau tempelkan telapak tanganmu ke luka di tengkuk dan menggunakan sinkang untuk menyedot, sedang aku akan menggunakan totokan dan urutan untuk mendorong keluar jarum-jarum itu. Jangan terlampau kuat agar tidak merusak jalan darah. Bila telapak tanganmu sudah merasakan gagang jarum tersembul, langsung hentikan.” Lalu dia menoleh kepada Hong Li dan berkata, “Lihiap, harap kau rebus sebutir telur, kalau sudah matang, bawa ke sini putihnya saja.”

Hong Li meninggalkan kamar itu untuk pergi ke dapur, sedangkan Sin Hong lalu duduk bersila di atas pembaringan, lalu menempelkan tangan kanan ke tengkuk yang terluka jarum, mengerahkan sinkang menyedot. Kakek itu sendiri duduk di tepian pembaringan, jari tangannya menotok di sekitar pundak dan tengkuk, lalu mengurut tengkuk itu sambil mengerahkan sinkang pula. Sian Li duduk di atas kursi, dia diam saja dan memandang penuh perhatian.

Tak lama kemudian, Sin Hong merasakan ada dua batang jarum tersembul menyentuh telapak tangannya. Dia cepat memberi tanda dan Yok-sian Lo-kai menghentikan urutan jari tangannya. Setelah Sin Hong melepaskan tangannya, nampak gagang dua batang jarum tersembul dan kakek itu lalu mencabutnya. Bekas luka itu nampak hijau kehitaman dan pada saat itu, Kao Hong Li sudah datang membawa putih telur yang sudah dimasak. Yok-sian Lo-kai lalu mencampuri putih telur itu dengan obat bubuk, memupukkan campuran ini di atas dua lubang kecil bekas jarum, lalu membalutnya.

“Dalam waktu satu jam, obat itu boleh diambil dan semua racun sudah akan dihisap keluar,” katanya dan kini dia mulai mengobati Kao Cin Liong yang masih pingsan. Luka senjata tajam pada punggung Suma Hui tidak berbahaya dan sudah diobati oleh Sin Hong dengan obat luka.

Akan tetapi, pukulan tangan yang mengandung racun Hek-coa-tok memang berbahaya sekali. Yok-sian Lo-kai yang memiliki ilmu pengobatan dengan totokan dan tusuk jarum, lalu mulai bekerja. Dia menotok banyak jalan darah di seluruh tubuh Kao Cin Liong, terutama di seputar tempat luka di punggung. Kemudian dia menggunakan tiga batang jarum emas untuk menusuk bagian-bagian tertentu, lalu menggetarkan jarum-jarum itu dengan tenaga sinkang melalui jari-jari tangannya.

Kurang lebih dua jam kakek ini melakukan pengobatan hingga akhirnya, Kao Cin Liong muntah-muntah dan keluarlah darah menghitam dari mulutnya. Melihat ini tentu saja Sin Hong dan Hong Li terkejut dan memandang dengan hati khawatir. Akan tetapi Yok-sian tersenyum nampak lega, dan saat itu terdengar suara rintihan lirih dari pembaringan di mana Suma Hui berbaring. Mendengar suara ibunya, Hong Li cepat menghampiri dan ternyata ibunya baru saja siuman. Melihat ibunya bergerak hendak duduk, Hong Li kemudian membantu ibunya bangkit duduk.

“Ibu, bagaimana rasanya badanmu?” Hong Li bertanya, hatinya gembira karena wajah ibunya nampak kemerahan.

Suma Hui agaknya baru teringat akan semua keadaan. “Mana ayahmu?”

Ketika ia menengok ke arah kiri, dan mendengar suaminya muntah-muntah, ia hendak meloncat turun dan tentu akan terjatuh kalau saja tidak ditahan oleh puterinya.

“Perlahan, Ibu. Ayah juga terluka dan baru saja ditolong oleh Locianpwe itu.”

Suma Hui kembali duduk dan kini ia memandang ke arah kakek yang mengurut tengkuk dan punggung suaminya yang masih muntah-muntah, akan tetapi tidak sehebat tadi.

“Dia... dia... Yok-sian Lo-kai?” Suma Hui mengenalnya.

Pengemis tua ahli pengobatan itu sudah selesai menolong Kao Cin Liong dan dia pun kini menghadapi Suma Hui sambil tersenyum.

“Suma Lihiap, engkau masih mengenal aku? Bagus! Sudah ditakdirkan Tuhan bahwa kebetulan saja aku sedang hendak berkunjung ke sini ketika aku melihat engkau dan suamimu terluka.”

“Ahhh, terima kasih Lo-kai. Bagaimana suamiku?”

“Aku juga sudah sembuh. Sungguh besar budi Lo-kai kepada kita!” kata Kao Cin Liong yang kini juga sudah bangkit duduk.

Yok-sian Lo-kai tertawa gembira. “Ha-ha-ha, kalian ini suami isteri pendekar sungguh lucu. Apa itu budi dan dendam? Menjadi biang penyakit saja. Kao Taihiap, sejak engkau menjadi panglima dahulu, entah sudah berapa puluh atau ratus ribu keluarga yang selamat karena sepak terjangmu. Apa artinya pengobatan yang kuberikan sekarang ini? Pula, kalau bukan Tuhan menghendaki kalian suami isteri budiman supaya masih hidup, bagaimana mungkin aku dapat kebetulan berada di sini?”

Kao Cin Liong menghela napas panjang dan dia memandang kepada puterinya dan menantunya. “Ketahuilah, dahulu, ketika aku memimpin pasukan ke barat, pernah aku menderita luka beracun yang nyaris membunuhku. Untung saat itu aku bertemu dengan Yok-sian Lo-kai ini dan dialah pula yang menyembuhkan aku.”

“Ha-ha-ha, urusan sekecil itu masih teringat oleh Kao Tahiap, sedangkan cara Taihiap ketika menyelamatkan puluhan ribu orang di dusun-dusun yang dilanda gerombolan pemberontak sama sekali dilupakannyal”

“Kongkong...! Bo-bo...!” Sian Li datang menghampiri kakek dan neneknya. Mereka lalu bergantian merangkul cucu mereka itu. “Kelak aku yang akan membasmi para penjahat yang telah melukai Kongkong dan Bo-bo!” kata Sian Li penuh semangat.

“Siancai...! Kalian mempunyai seorang cucu yang sehat!” Yok-sian Lo-kai memuji. “Sian Li, anak yang baik, kalau saja engkau mempelajari ilmu pengobatan seperti itu, tentu engkau akan mudah saja tadi menyembuhkan kakek dan nenekmu. Apakah engkau tak ingin belajar ilmu pengobatan?”

“Aku suka sekali! Kakek yang baik, kau ajarkanlah aku ilmu mengobati seperti itu!”

“Siancai...! Tentu saja aku suka sekali dan engkau memang berbakat. Akan tetapi, tentu saja keputusannya tergantung kepada ayah ibumu, Sian Li.”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk dan berkata kepada puterinya, “Hong Li, kalau saja anakmu bisa dididik oleh Yok-sian Lo-kai, bukan hanya ilmu pengobatan yang akan diwarisinya, akan tetapi juga ilmu totok Im-yang Sin-ci yang tidak ada duanya di seluruh dunia ini!”

Hong Li memandang kepada suaminya. Ia dan suaminya adalah sepasang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bagaimana mungkin mereka menyerahkan anak tunggal mereka kepada orang lain untuk di jadikan murid? Agaknya Sin Hong dapat mengerti akan isi hatinya, maka Sin Hong cepat memberi hormat kepada kakek itu.

“Locianpwe, kami sebagai orang tua Sian Li menghaturkan banyak terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe yang hendak mendidik anak kami. Akan, tetapi karena dia masih amat kecil, biarlah kami akan mendidik dan memberi pelajaran dasar kepadanya lebih dulu. Kelak kalau sudah tiba waktunya, tentu kami akan membawanya menghadap Locianpwe untuk menerima pendidikan dari Locianpwe.”

Kakek itu tersenyum. “Ahhh, bagus sekali kalau begitu, Taihiap. Memang seorang tua bangka yang hidup sebatang kara seperti aku ini, bagaimana mungkin dapat mendidik seorang anak kecil? Biarlah, kelak kalau usiaku masih panjang, setelah Sian Li menjadi seorang gadis dewasa, aku akan mewariskan kepandaianku kepadanya.”

Keluarga yang kini merasa gembira karena kesembuhan Kao Cin Liong dan Suma Hui, menjamu tamu kehormatan itu dengan makan minum dan mereka mempergunakan kesempatan ini untuk bercakap-cakap.

“Engkau adalah orang yang banyak melakukan perantauan, Lo-kai, tentu engkau dapat menjelaskan apa artinya semua peristiwa yang menimpa kami ini,” kata Kao Cin Liong yang sudah mengenal baik dewa obat itu.

Yok-sian Lo-kai menghela napas panjang. “Seperti cerita kalian tadi, ketua kuil yang murid Siauw-lim-pai itu diserang dan dikejar-kejar beberapa orang tosu Bu-tong-pai dan dia lari ke sini sampai akhirnya tewas pula di sini. Bahkan kalian yang hendak melerai dan melindungi hwesio itu juga hampir menjadi korban. Memang aneh sekali. Kalian menderita pukulan beracun, padahal setahuku, Bu-tong-pai pantang mempergunakan ilmu pukulan yang keji, yang hanya pantas dimiliki para tokoh sesat. Bagaimana pun juga, permusuhan antara Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai memang semakin meruncing, seperti juga permusuhan di antara keempat perkumpulan besar, yaitu Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan Go-bi-pai. Aku sendiri merasa heran, bagaimana orang-orang yang mengaku pendekar, bahkan para pemimpinnya terdiri dari pendeta-pendeta, kini bermusuhan, saling serang dan saling bunuh seperti binatang buas, penuh dendam kebencian. Hayaaa, agaknya memang sudah jamannya begini. Jaman penjajahan yang mendatangkan segala macam bentuk kekeruhan.”

“Akan tetapi, Lo-kai, apakah kita harus tinggal diam saja? Kalau didiamkan bukankah permusuhan itu akan makin berlarut-larut dan hal ini amat melemahkan dunia persilatan terutama golongan putih atau kaum pendekar?” kata Sin Hong sambil mengerutkan alisnya.

“Bukan itu saja, bahkan golongan lain yang tidak ikut bermusuhan, dapat terlibat seperti halnya kami sekarang ini,” kata Hong Li. “Kalau menurutkan hati panas, salahkah kalau kita mendatangi Bu-tong-pai kemudian menuntut balas atas apa yang mereka lakukan terhadap ayah dan ibuku yang sama sekali tidak bersalah terhadap mereka?”

“Dalam urusan ini, hati boleh panas akan tetapi kepala harus tetap dingin,” kata pula Sin Hong. “Kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil kesimpulan bahwa Bu-tong-pai sudah mencelakai orang tua kita. Maka, aku juga sudah mengirim surat teguran kepada Ketua Bu-tong-pai dan kita lihat saja bagaimana nanti jawaban dari sana.”

“Siancai... Ji-wi (Kalian berdua) adalah sepasang suami isteri pendekar yang tentu tidak kekurangan kebijaksanaan dan tidak akan bertindak sembarangan. Memang, di dalam jaman penjajahan ini banyak terjadi bentrokan disebabkan salah paham. Ada sebagian pendekar yang mendukung pemerintah karena menganggap pemerintah dapat bersikap baik terhadap rakyat jelata, ada sebaliknya yang membenci penjajah karena mereka itu orang asing. Aihhh, urusan negara adalah urusan yang ruwet, bagaimana aku dapat mencampurinya? Biarlah aku sekarang pergi dan kelak, kalau waktunya tiba, aku akan datang menagih janji untuk mewariskan kepandaian yang ada padaku kepada Sian Li.“

Yok-sian Lo-kai pergi meninggalkan rumah keluarga Kao tanpa dapat ditahan lagi. Oleh karena Kao Cin Liong dan Suma Hui masih lemah biar pun sudah sembuh, maka Sin Hong dan Hong Li yang mewakili mereka melayat ke kuil untuk menghadiri upacara pembakaran atau perabuan jenazah Thian Kwan Hwesio.

*********

Suma Ceng Liong ialah seorang pendekar sakti yang hidup bersama isterinya di dusun Hong-cun, di luar kota Cin-an Propinsi Shan-tung, di lembah Huang-ho yang subur dan indah. Pendekar ini adalah cucu Pendekar Sakti yang paling lihai, putera dari mendiang Suma Kian Bu yang berjuluk Siluman Kecil.

Memang Suma Ceng Liong selain lihai juga amat gagah perkasa. Usianya sudah empat puluh enam tahun namun dia masih nampak gagah, tinggi besar dengan dagu lonjong dan wajah yang selalu cerah gembira. Pendekar ini bukan saja mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Istana Pulau Es, akan tetapi juga dia pernah digembleng oleh Hek I Mo-ong, seorang datuk sesat yang amat lihai.

Juga di samping ilmu silat, dia pernah mempelajari ilmu sihir karena ibunya, Teng Siang In almarhum, adalah seorang ahli sihir yang ampuh. Oleh karena itu, maka pada waktu itu bisa dianggap bahwa di antara semua keturunan keluarga Istana Pulau Es, pendekar Suma Ceng Liong ini merupakan cucu yang paling lihai di antara tiga orang cucu dalam mendiang Pendekar Super Sakti, yaitu Suma Ciang Bun, Suma Hui, dan Suma Ceng Liong.

Pendekar Suma Ceng Liong menikah dengan seorang wanita yang sakti pula, bahkan dalam hal kepandaian silat tingkatnya seimbang dengan tingkat kepandaian suaminya. Wanita ini bernama Kam Bi Eng, puteri dari Pendekar Sakti Kam Hong, pewaris dari ilmu-ilmu hebat dari Pendekar Suling Emas!

Suami isteri ini semenjak menikah hidup bahagia, saling mencinta, saling menghormat dan saling setia. Mereka hanya mempunyai satu orang keturunan, yaitu seorang anak perempuan yang bernama Suma Lian. Puterinya itu juga seorang pendekar yang lihai dan kini sudah menikah dengan seorang pendekar murid Suma Ciang Bun, bernama Gu Hong Beng yang kini tinggal di daerah Heng-san, sebelah selatan Pao-teng.

Demikiandah sedikit riwayat pendekar sakti Suma Ceng Liong. Setelah puterinya yang menjadi anak tunggal itu menikah enam tahun yang lalu, kini Suma Ceng Liong hidup berdua saja dengan isterinya dan kadang merasa kesepian. Untuk melewatkan waktu menganggur, mereka membuka toko obat di dusun Hong-cun itu.

Mereka tadinya bertahan tidak mau menerima murid. Mereka merasa sayang kalau ilmu kepandaian yang mereka peroleh dari keluarga itu, yang merupakan ilmu silat turun temurun, baik dari Suma Ceng Liong mau pun dari isterinya, Kam Bi Eng, akhirnya bisa dipelajari dan dikuasai orang lain yang bukan keluarga mereka.

Akan tetapi, setahun yang lalu, terjadi kebakaran hebat di rumah keluarga Liem di dusun mereka yang menewaskan seluruh isi rumah, kecuali seorang anak laki-laki mereka yang selamat karena kebetulan berada di luar rumah. Suami isteri pendekar itu merasa kasihan sekali kepada Liem Sian Lun, anak laki-laki itu.

Melihat betapa anak laki-laki berusia tujuh tahun itu sedemikian tabahnya menghadapi mala petaka yang menimpa keluarganya sehingga dia menjadi yatim piatu dan sama sekali tidak mempunyai anggota keluarga lagi, melihat anak itu hanya berlutut di depan makam ayah ibunya seperti patung, tidak menangis, tergerak hati mereka.

Suami isteri ini kemudian mengajak Sian Lun pulang. Mula-mula mereka hanya ingin menolong saja, menjadikan Sian Lun sebagai pembantu rumah tangga dan pembantu di toko rempah-rempah milik mereka.

Akan tetapi, melihat betapa anak itu amat pendiam, penurut dan berwatak baik sekali, juga setelah mereka mendapat kenyataan bahwa anak itu berbakat dan bertulang baik, keduanya sepakat untuk mengambil Sian Lun sebagai murid, bahkan dianggap sebagai anak karena setelah Suma Lian pergi mengikuti suaminya, mereka berdua sering kali merasa kesepian.

Biar pun tahu bahwa dia disayang, digembleng ilmu silat bahkan dianggap sebagai anak angkat, Sian Lun tetap bersikap rendah hati dan rajin bekerja sehingga pasangan suami isteri pendekar itu menjadi semakin sayang kepadanya.

Karena sikapnya yang rendah hati ini, walau pun para pegawai toko obat dan rempah-rempah itu tahu belaka bahwa Sian Lun diperlakukan seperti anak angkat oleh majikan mereka, namun tak seorang pun merasa iri. Sian Lun membantu pekerjaan di toko, di rumah, tidak malas dan tidak segan untuk melakukan pekerjaan dan mengepel, bahkan membantu pekerjaan pelayan di dapur. Pendeknya, di mana ada kesibukan, di situ tentu ada Sian Lun, maka dia pun disayang oleh seisi rumah.

Diam-diam pendekar Suma Ceng Liong dan isterinya merasa sayang sekali pada murid ini dan menaruh harapan besar kepada diri anak itu bahwa kelak akan dapat mewarisi kepandaian mereka dan menjunjung tinggi nama mereka sebagai seorang pendekar budiman. Sejak berusia tujuh tahun saja sudah nampak bahwa Sian Lun selain berotak terang, mudah menghafal pelajaran baik sastra mau pun silat, juga bertubuh tinggi dan tegap, pendiam serta tabah sekali, wajahnya pun cerah.

Ketika utusan dari Kao Cin Liong tiba, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng sedang duduk di ruangan depan. Hari masih pagi dan toko obat mereka masih tutup, para pegawai sedang membersihkan toko dan bersiap-siap untuk membukanya. Sian Lun sejak pagi tadi sudah bangun, sudah menyapu pekarangan dan sekarang sedang sibuk menyirami tanaman kembang kesukaan subo-nya (ibu gurunya).

Penunggang kuda yang memasukkan kudanya ke pekarangan itu, kemudian meloncat turun tergesa-gesa, amat menarik perhatian. Melihat betapa pria berusia empat puluhan tahun itu nampak lelah, pakaiannya penuh debu dan jelas bahwa dia baru melakukan perjalanan yang jauh, Suma Ceng Liong dan isterinya memandang dengan hati tertarik. Bahkan Sian Lun yang sedang menyiram kembang cepat menurunkan ember airnya dan lari menghampiri orang yang meloncat turun dari punggung kudanya.

“Paman mencari siapakah, dari mana Paman datang dan siapakah nama Paman? Aku akan melaporkan kepada Suhu dan Subo,” kata Sian Lun dengan sikap hormat, akan tetapi sepasang matanya yang tajam mengamati wajah pendatang itu penuh selidik.

Mendengar anak itu menyebut suhu dan subo, utusan ini pun bersikap ramah. “Anak yang baik, tolonglah beri tahu kepada Locianpwe Suma Ceng Liong dan Nyonya bahwa saya datang sebagai utusan dari keluarga Kao di Pao-teng dan membawa berita yang sangat penting.”

Dari suhu dan subo-nya, Sian Lun pernah mendengar akan nama para keluarga dan kenalan mereka yang terdiri dari para pendekar. Mendengar bahwa orang ini utusan dari keluarga Kao di Pao-teng, maka dia cepat berlari menuju ke ruangan depan di mana suhu dan subo-nya sedang duduk minum teh pagi.

“Suhu dan Subo, maafkan kalau teecu mengganggu. Akan tetapi penunggang kuda itu mengaku utusan dari keluarga Kao di Pao-teng. Katanya membawa berita yang amat penting untuk Suhu dan Subo.”

Tentu saja suami isteri pendekar itu amat terkejut mendengar bahwa penunggang kuda itu utusan keluarga Kao di Pao-teng. Kalau tidak ada urusan penting sekali, tentu Kao Cin Liong tidak akan mengirim utusan. Isteri Kao Cin Liong, yaitu Suma Hui, adalah kakak sepupu Suma Ceng Liong, maka dia pun cepat bangkit dan memandang ke arah penunggang kuda itu.

“Saudara utusan dari Pao-teng, harap lekas datang ke sini menyampaikan berita itu kepada kami!” Lalu kepada murid mereka Suma Ceng Liong berkata, “Sian Lun, cepat kau rawat kuda itu, beri makan dan minum di kandang kuda!”

Sian Lun mentaati perintah gurunya. Dia menerima kendali kuda yang nampak sangat kelelahan itu, cepat membawanya ke kandang di bagian belakang. Sedangkan tamu itu dengan sikap hormat lalu menghampiri tuan dan nyonya rumah yang menanti di serambi depan.

Setelah dipersilakan duduk dan memperkenalkan diri, tamu itu kemudian mengeluarkan sesampul surat yang ditulis oleh Tan Sin Hong, mantu keponakan mereka dan begitu membaca isinya, suami isteri itu mengerutkan alis dengan kaget. Surat itu memberi tahu bahwa kakak sepupu Suma Ceng Liong, yaitu Suma Hui dan suaminya, Kao Cin Liong, terluka parah karena pukulan-pukulan beracun dari para tosu Bu-tong-pai dan bahwa mereka berdua diminta untuk segera datang berkunjung ke Pao-teng untuk memberi pertolongan.

Suma Ceng Liong memandang utusan enci-nya itu dengan pandang mata penuh selidik dan minta padanya untuk menceritakan sejelasnya apa yang telah terjadi. Pelayan toko itu tidak dapat bercerita banyak.

Dia hanya menceritakan apa yang telah didengarnya saja, yaitu bahwa pada beberapa hari yang lalu, pada waktu malam hari, rumah majikannya diserbu beberapa orang tosu Bu-tong-pai yang berkelahi dengan ketua kuil, yaitu Thian Kwan Hwesio di atas rumah majikan mereka. Majikan mereka suami isteri berusaha melerai akan tetapi mereka juga menjadi korban pemukulan para tosu Bu-tong-pai yang marah itu.

Akhirnya Tan Sin Hong dan Kao Hong Li yang ketika kejadian kebetulan berada di sana berhasil mengusir para tosu Bu-tong-pai. Sekarang kedua orang majikan mereka dalam keadaan terluka parah, sedangkan hwesio Siauw-lim-pai itu tewas.

“Kami akan berangkat sekarang juga!” kata Ceng Liong.

Kepada utusan itu dia sarankan untuk beristirahat lebih dahulu sebelum pulang, dan dia menyuruh seorang pembantunya untuk menyambut tamu itu. Dia memanggil Sian Lun dan memesan kepada anak itu agar baik-baik menjaga rumah karena dia dan isterinya akan pergi ke Pao-teng.

Sian Lun mematuhi perintah suhu-nya tanpa berani banyak bertanya. Namun sesudah suhu dan subo-nya pergi, Sian Lun mendapat banyak kesempatan untuk berbicara dan bertanya-tanya kepada utusan dari Pao-teng itu.

Karena anak itu merupakan murid tuan rumah, utusan itu tidak menganggapnya orang luar dan dia pun menceritakan semua hal yang terjadi. Diam-diam Sian Lun mencatat dalam ingatannya dan merasa heran sekali.

Menurut keterangan suhu dan subo-nya, dalam dunia persilatan terdapat dua golongan, yaitu golongan putih atau para pendekar, dan golongan hitam atau para penjahat. Dan Bu-tong-pai termasuk golongan putih. Mengapa sekarang orang Bu-tong-pai membunuh seorang hwesio Siauw-lim-pai, bahkan juga melukai suami isteri yang terkenal menjadi pendekar itu?

Dia mendengar dari suhu-nya, siapa adanya pendekar besar Kao Cin Liong dan siapa pula isterinya yang bernama Suma Hui. Pendekar Kao Cin Liong merupakan keturunan keluarga Istana Gurun Pasir, dan Suma Hui adalah kakak sepupu suhu-nya, keturunan keluarga Istana Pulau Es!

Kedatangan Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, disambut dengan gembira oleh Kao Cin Liong dan Suma Hui, juga oleh Tan Sin Hong dan Kao Hong Li yang masih berada di situ. Sebaliknya, Suma Ceng Liong dan isterinya juga girang melihat bahwa kakaknya telah sembuh, demikian pula kakak iparnya.

"Kami masih dilindungi Thian dan bertemu dengan Yok-sian Lo-kai sehingga kami dapat disembuhkan dengan cepat," berkata Suma Hui kepada adiknya, Suma Ceng Liong, setelah dua orang tamu itu dipersilakan duduk di ruangan dalam.

"Yok-sian Lo-kai? Ah, sudah pernah kudengar nama besarnya, Enci Hui, akan tetapi aku belum pernah bertemu dengan dia. Sungguh kebetulan sekali dia dapat mengobati Enci dan juga Cihu. Akan tetapi, bagaimana mungkin kalian sampai terluka oleh penjahat, padahal di sini terdapat pula puteri kalian dan mantu kalian yang amat lihai ini?"

Suma Ceng Liong memandang kepada Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, seolah hendak menegur kenapa mereka itu tidak mampu melindungi orang tua mereka.

Kao Cin Liong menghela napas panjang. "Semuanya terjadi di luar persangkaan. Begitu mendadak. Lima orang tosu itu memang amat lihai, dan biar pun demikian, mereka pasti tidak akan mungkin dapat melukai kami kalau saja di samping kelihaian mereka, mereka itu tidak amat licik dan curang. Mereka menggunakan kecurangan sehingga kami lengah dan terluka."

"Hemm, kalau lain kali aku bertemu dengan mereka, akan kuhancurkan kepala mereka itu satu demi satu!" kata Suma Hui yang wataknya keras.

"Tidak, Bo-bo. Bo-bo sudah tua, biarlah aku yang akan mencari mereka dan membasmi mereka yang jahat itu!"

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dan Sian Li memasuki ruangan itu. Semua orang menengok dan Suma Ceng Liong dan isterinya memandang kagum. Anak berpakaian merah itu biar baru berusia empat tahun nampak begitu lincah dan gagah.

"Siapakah anak manis ini?" tanya Kam Bi Eng.

Kao Hong Li segera berkata, "Sian Li, hayo cepat memberi hormat kepada kakek dan nenekmu ini. Kakek Suma Ceng Liong ini adalah adik dari nenekmu dan nenek Kam Bi Eng ini isterinya." Hong Li memperkenalkan paman dan bibinya.

Sepasang mata yang lebar dan bening itu mengamati Suma Ceng Liong serta Kam Bi Eng dengan amat heran. "Ibu, mereka itu masih muda dan gagah, bagaimana aku harus menyebut mereka Kakek dan Nenek? Mereka belum pantas disebut Kakek dan Nenek, pantasnya Paman dan Bibi."

Semua orang tertawa mendengar ucapan yang jujur dan lucu itu. Kam Bi Eng kemudian meraihnya dan merangkul Sian Li, menciumi pipinya.

Sian Li memandang wajah Bi Eng dan berkata, "Bibi ini cantik dan gagah sekali, seperti Ibu!"

Kam Bi Eng tertawa. "Ih, engkau ini perayu. Aku ini nenekmu, usiaku sudah tua, sudah dua kali ibumu. Ibumu adalah keponakanku." Ia membelai tubuh anak itu dan berseru kagum, "Aihhh, anakmu ini memiliki tulang dan bakat yang sangat baik, Sin Hong" Lalu kepada suaminya ia pun berkata, "Cobalah kau periksa sendiri!" Dan dengan lembut ia mendorong anak itu kepada Suma Ceng Liong yang juga merangkulnya.

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk. "Kalian memang beruntung. Anak ini memiliki bakat yang amat baik. Hemmm, kami akan merasa berbahagia sekali kalau kelak dapat memberi sedikit bimbingan kepadanya."

"Aihhh, mengapa tidak?" kata Suma Hui. "Kalau adikku Ceng Liong yang memberikan bimbingan, aku yakin kelak Sian Li akan menjadi seorang gadis pendekar yang hebat dan pantas sekali dijuluki Si Bangau Merah Sakti! Sian Li, cepat kau memberi hormat dan terima kasih kepada kakek dan nenekmu itu!"

Sian Li memang seorang anak yang amat cerdik. Ia sudah pernah mendengar bahwa ilmu kepandaian paman kakeknya ini amat hebat, maka mendengar seruan neneknya, ia pun cepat menjauhkan diri berlutut di depan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng yang duduk bersanding. "Kakek dan Nenek, aku menghaturkan terima kasih kepada Kakek dan Nenek!"

Kao Hong Li dan Tan Sin Hong saling pandang, lalu Sin Hong tertawa.

"Ha-ha-ha, anak kami ini masih kecil, baru berusia empat tahun, tetapi sudah banyak yang menjanjikan akan mengambilnya sebagai murid. Ketika Yok-sian Lo-kai mengobati Ayah dan Ibu, dia pun telah minta agar kelak Sian Li boleh mewarisi ilmu-ilmunya, dan sekarang ini Paman dan Bibi juga menjanjikan demikian."

Kao Hong Li cepat memberi hormat kepada Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. "Paman dan Bibi sungguh berbudi, dan atas nama anakku, aku menghaturkan banyak terima kasih."

Sin Hong juga bangkit memberi hormat dan suasana menjadi gembira sekali. Hal ini tentu saja tak akan mungkin terjadi kalau Kao Cin Liong dan Suma Hui masih terancam bahaya seperti tempo hari. Mereka lalu membicarakan tentang permusuhan yang timbul antara para partai persilatan besar.

"Sungguh menyebalkan sekali kalau diingat," kata Suma Ceng Liong. "Bagaimana sih jalan pikiran para pimpinan partai persilatan besar itu? Bangsa kita dijajah orang Mancu, dan betapa pun besar usaha pemerintah Mancu untuk memakmurkan rakyat jelata tetap saja bangsa kita dijajah, menjadi budak dan para pembesar semua adalah orang-orang Mancu, atau kalau ada orang Han juga mereka adalah anjing-anjing penjilat yang tidak segan menindas bangsa sendiri demi kesetiaan mereka pada pemerintah Mancu. Akan tetapi, kini partai-partai besar bahkan ribut saling bermusuhan sendiri sehingga tentu saja rakyat jelata menjadi semakin menderita, golongan sesat pun merajalela tanpa ada yang menentangnya. Aihh, sungguh menyedihkan sekali!"

"Adik Liong, kenapa engkau bisa bilang begitu? Lupakah engkau bahwa darah kita ini pun merupakan darah campuran. Kakek kita Suma Han memang seorang Han tulen, akan tetapi bagaimana dengan Nenek kita? Puteri Nirahai, Nenekmu, dan puteri Lulu, Nenekku, bukanlah orang Han." Suma Hui memperingatkan.

Suma Ceng Liong mengerutkan alisnya. "Tidak kusangkal akan kebenaran hal itu, Enci. Memang kenyataannya demikian. Akan tetapi, Kakek kita, Ayah kita, semenjak dahulu adalah orang-orang gagah yang menjadi pembela rakyat jelata walau pun tidak pernah mencampuri urusan kenegaraan. Bahkan suamimu, Cihu (Kakak Ipar) Kao Cin Liong juga mengundurkan diri dari jabatan panglima karena sungkan untuk mengabdi kepada orang-orang Mancu. Kita tidak perlu menentang pemerintah Mancu, akan tetapi kita harus tetap menjadi pendekar yang membela kepentingan rakyat jelata yang tertindas, menentang semua penindas tidak peduli dari bangsa apa pun! Kalau kini perkumpulan para pendekar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, dan Go-bi-pai saling serang sendiri, bukankah itu amat menyedihkan?"

"Sudahlah, hal itu tidak cukup hanya disesalkan saja. Melihat cara para tosu Bu-tong-pai itu melakukan kecurangan ketika menyerang kami, aku yakin bahwa ada suatu rahasia yang tersembunyi di balik ini semua. Aku bahkan mempunyai dugaan bahwa mereka itu bukan orang-orang Bu-tong-pai yang asli!"

"Tetapi, bukankah sudah lama kita mendengar bahwa memang terdapat permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai?" Suma Hui mencela. "Sebelum tewas pun Thian Kwan Hwesio sendiri mengaku bahwa mereka adalah orang-orang Bu-tong-pai. Bagai mana dia bisa keliru sangka?"

"Keadaan itu memang aneh dan mencurigakan," kata Sin Hong. "Harap Ibu dan Ayah mertua suka menenangkan hati. Sudah menjadi kewajiban saya untuk kelak melakukan penyelidikan. Siapa tahu ada orang luar yang menyelundup ke dalam Bu-tong-pai. Saya mengenal baik para pimpinan Bu-tong-pai dan sudah saya surati ke sana untuk minta pertanggungan jawab mereka."

Dua utusan yang lain beberapa hari kemudian pulang. Yang diutus mengundang Suma Ciang Bun tidak berhasil karena pendekar itu tidak berada di rumah dan tidak seorang pun tahu ke mana perginya. Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun bertemu dengan Gangga Dewi dan keduanya melakukan pengejaran dan pencarian untuk menolong Yo Han yang dilarikan Ang-I Moli dan kawan-kawannya.

Akan tetapi utusan dari Bu-tong-pai datang membawa surat dari Ketua Bu-tong-pai. Seperti telah diduga oleh Sin Hong, di dalam suratnya itu Ketua Butong-pai menyangkal telah menyerang keluarga Kao di Pao-teng!

Memang terdapat sedikit pertentangan dan kesalah pahaman antara Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai, demikian antara lain surat itu mengatakan, akan tetapi itu hanya terbatas di kalangan murid-murid yang tinggal di luar pusat saja. Para pimpinan kedua pihak sedang melakukan penyelidikan dan belum terdapat pertentangan resmi atau berterang. Maka, Ketua Bu-tong-pai menyangsikan bahwa yang membunuh Thian Kwan Hwesio, kepala kuil Pao-teng, bahkan juga melukai pendekar besar Kao Cin Liong dan isterinya, adalah para murid Bu-tong-pai.

Keluarga pendekar itu kini mengadakan perundingan. "Keadaannya sungguh gawat dan perlu penyelidikan," kata Suma Ceng Liong. "Kalau dibiarkan berlarut-larut, tentu akan timbul pertentangan hebat dan akan rusak binasalah para pendekar dari partai-partai besar karena permusuhan yang tidak menentu ujung pangkalnya ini."

"Pendapat Paman itu memang tepat sekali. Saya sendiri sudah mendengar pula bahwa bukan hanya Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai saja yang dilanda pertentangan, bahkan juga Go-bi-pai dan Kun-lun-pai. Agaknya di antara empat partai besar ini timbul suatu kesalah pahaman besar yang membuat mereka saling curiga, dan di antara murid-murid mereka terdapat permusuhan. Saya kira, sudah sepantasnya bila kita semua berusaha mendamaikan."

"Tepat sekali!" Kao Cin Liong juga berseru. "Memang kita harus berusaha menjernihkan segala kekeruhan ini agar tidak berlarut-larut!"

Isterinya, Suma Hui cemberut. "Terlalu enak kalau para pengecut itu didiamkan saja. Bu-tong-pai harus bertanggung jawab dan mencari para pengecut itu sampai dapat, baru aku mau menghabiskan urusan ini dengan Bu-tong-pai!"

Suaminya menghiburnya. "Kita harus bersabar dan tidak makin mengeruhkan suasana. Sudah jelas bahwa Bu-tong-pai dipalsukan orang, tentu saja kita tak bisa menyalahkan Bu-tong-pai. Aku yakin bahwa Bu-tong-pai sendiri akan bertanggung jawab dan akan mencari pengacau itu sampai dapat. Lebih baik kalau kita, keluarga kita, mengundang mereka semua ke sini."

"Bukankah beberapa bulan lagi merupakan hari ulang tahun Ayah yang ke enam puluh empat? Bagaimana kalau kita mengundang mereka untuk menghadiri ulang tahun itu? Dengan demikian tak akan menyolok dan mereka tentu akan datang semua, mengingat akan hubungan baik antara Ayah dan para pendekar," kata Kao Hong Li.

Semua orang setuju dan segera mengatur undangan kepada para tokoh persilatan, terutama empat partai besar itu untuk menghadapi pesta perayaan ulang tahun Kao Cin Liong yang akan jatuh pada tiga bulan lagi. Setelah bermalam di situ selama satu minggu, Suma Ceng Liong dan isterinya pulang ke dusun Hong-cun di kota Cin-an, sedang Tan Sin Hong, isteri dan anaknya kembali ke Ta-tung setelah mereka berjanji kepada Suma Ceng Liong bahwa kelak puteri mereka Sian Li, akan diantar ke Hong-cun untuk belajar silat dari pendekar sakti itu.
Si bangau merah bagian 06

Yo Han menari-nari dengan gerakan yang indah namun aneh. Yang mengiringi gerakan tarinya adalah suaranya suling yang melengking-lengking secara aneh pula. Yo Han tidak tahu bahwa jika terdengar orang lain, suara suling ini akan dapat membuat orang yang mendengarnya menjadi tuli atau setidaknya akan roboh pingsan, karena suara itu melengking tinggi parau dan begitu lembut sehingga dapat menusuk dan menembus kendangan telinga, menggetarkan jantung dan dapat menguasai semangat orang!

Memang Thian-te Tok-ong bukanlah seorang manusia biasa. Tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, bahkan bukan hanya ilmu silat, melainkan juga tenaga sinkang-nya yang sangat kuat itu sukar dicari bandingannya. Suara sulingnya itu saja cukup untuk membuat pendengaran orang menjadi tuli atau mati karena jantungnya terguncang.

Namun Yo Han memiliki suatu kelainan yang timbul secara mukjijat. Kepasrahannya yang mutlak kepada Tuhan membuat dia seolah menjadi kekasih Tuhan yang selalu melindunginya dengan kekuasaan Tuhan yang gaib. Atau lebih tepat lagi, tenaga sakti yang memang sudah terkandung dalam diri setiap orang manusia sejak lahir, dan yang biasanya terpendam dan tak berdaya karena pengaruh nafsu-nafsu daya rendah yang menguasainya, pada diri Yo Han timbul dan justru berkembang sehingga seluruh bagian tubuhnya hidup dan bekerja sesuai dengan tugasnya ketika diciptakan.

Thian-te Tok-ong berusia kurang lebih delapan puluh tahun. Wataknya sudah berubah kekanak-kanakan, kadang bahkan pikun, akan tetapi dia senang sekali bergurau, dan wataknya juga nakal suka menggoda orang, seperti kanak-kanak. Tubuhnya pendek kecil seperti tubuh yang sudah mulai mengkerut dan mengecil saking tuanya, namun gerakannya masih lincah. Matanya kocak, jelas membayangkan kenakalan, dan mulut yang tidak ada giginya sebuah pun itu selalu menyeringai seperti seringai anak kecil. Namun, dia ditakuti seluruh orang Thian-li-pang dan agaknya dia tahu benar akan hal ini.

Di pusat Thian-li-pang itu, Thian-te Tok-ong tinggal di bagian paling belakang, bukan merupakan bangunan lagi, melainkan merupakan sebuah goa besar di bukit. Goa itu luas sekali dan dilapisi dinding buatan menjadi tempat yang amat kokoh, berikut lubang-lubang angin dan lubang-lubang untuk memasukkan sinar matahari dari atas.

Setiap hari yang keluar masuk goa itu hanyalah burung-burung walet kalau siang, dan kelelawar-kelelawar bila malam. Keadaannya menyeramkan sehingga tak seorang pun berani memasuki goa itu tanpa panggilan Thian-te Tok-ong yang jarang pula keluar dari dalam goa. Makanan dan minuman untuknya dikirim setiap hari oleh seorang murid Thian-li-pang, akan tetapi itu pun hanya diletakkan di atas batu dan di ujung depan goa.

Yo Han adalah seorang anak yang jujur dan tidak pernah berprasangka buruk terhadap siapa pun juga, walau pun hal ini bukan menunjukkan bahwa dia bodoh. Sama sekali tidak. Dia peka rasa dan cerdik sekali, akan tetapi karena ada perasaan kasih terhadap semua orang, maka dia tidak pernah berprasangka. Oleh karena itu, ketika Thian-te Tok-ong mengajarkan ilmu ‘tarian’ dan ‘senam’ kepadanya, dia pun lalu mempelajarinya dengan tekun, sama sekali tidak mempunyai prasangka bahwa semua gerakan tari dan senam itu sesungguhnya merupakan dasar-dasar ilmu silat yang amat hebat!

Di lain pihak, Thian-te Tok-ong adalah seorang kakek tua renta yang di waktu mudanya merupakan seorang datuk sesat yang sangat ditakuti orang. Dia bukan saja ahli silat, akan tetapi juga ahli sihir dan ahli tentang racun sehingga mendapat julukan Tok-ong (Raja Racun).

Setelah merasa bosan merajalela seorang diri saja di dunia kang-ouw, terutama sekali setelah dua kali dia menelan pil pahit karena dikalahkan dua orang pendekar sakti, dia lalu mengundurkan diri. Dan untuk melindungi dirinya, dia bersembunyi di balik sebuah perkumpulan yang didirikannya, yaitu Thian-li-pang.

Perkumpulan itu maju pesat berkat kepandaiannya, akan tetapi setelah usianya semakin tua, ia menyerahkan kepengurusan Thian-li-pang kepada sute-nya, yaitu Ban-tok Mo-ko yang dalam ilmu silat juga sangat lihai, namun tentu saja masih jauh di bawah tingkat suheng-nya, Thian-te Tok-ong yang mengundurkan diri dan bertapa di dalam goa itu.

Setelah setahun Yo Han berada di dalam goa itu menjadi murid Thian-te Tok-ong, sedikit demi sedikit gurunya mulai mengungkapkan tabir rahasianya. Kakek itu semakin percaya kepada Yo Han dan mulailah dia menceritakan tentang keadaan Thian-li-pang, bahkan mulai membuka rahasia diri pribadinya. Yo Han juga merasa sayang kepada gurunya ini karena dia menganggap kakek itu sebagai seorang tua renta yang hidupnya tidak berbahagia, yang kesepian dan agaknya kenangan-kenangan pahit menekan sisa hidupnya.

Dari Thian-te Tok-ong, Yo Han mendengar bahwa Thian-li-pang didirikan oleh Thian-te Tok-ong dengan cita-cita yang tinggi. Bukan saja untuk mendirikan sebuah perkumpulan silat yang ampuh dan memiliki banyak murid pandai yang akan menjunjung tinggi nama Thian-li-pang, tapi salah satu ciri khas Thian-li-pang adalah bahwa perkumpulan ini anti pemerintah Mancu, anti penjajahan!

Hal ini sebenarnya bukan karena Thian-te Tok-ong berjiwa patriot, sama sekali bukan, melainkan karena dia pernah merasa sakit hati terhadap pemerintah Mancu. Pernah dulu perkumpulannya cerai berai dan hampir terbasmi ketika pasukan Mancu di bawah pimpinan Panglima Kao Cin Liong mengadakan pembersihan! Sejak itu dia bersumpah untuk memimpin perkumpulannya, menjadi perkumpulan anti pemerintah Mancu.

Tentu saja kepada Yo Han, kakek ini hanya mengemukakan bahwa Thian-li-pang ialah perkumpulan patriot yang gagah, yang cinta tanah air dan bangsa, dan yang bercita-cita membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah. Ia berharap anak yang luar biasa ini akan dapat mewarisi ilmu-ilmunya, dan bahkan kelak menjadi pemimpin Thian-li-pang untuk menghancurkan pemerintah Mancu.

Setelah dua tahun Yo Han menjadi murid Thian-te Tok-ong dan usianya sudah empat belas tahun, pada suatu pagi sehabis berlatih ‘menari’, dia dipanggil menghadap pada gurunya. Sambil berlutut Yo Han duduk di depan gurunya yang bersila di atas batu datar.

Kakek itu memandang kepada muridnya, mengangguk-angguk gembira sekali sambil mengelus jenggotnya yang putih panjang. Muridnya itu kini bukan kanak-kanak lagi. Usianya sudah menjelang dewasa dan tubuhnya yang sedang itu tegap dan agak tinggi. Mukanya yang lonjong itu nampak gagah tampan dengan dagu meruncing dan berlekuk. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkannya tergantung di belakang punggung. Alisnya tebal berbentuk golok, dahinya lebar, hidung mancung dan mulut itu membayangkan senyum yang ramah dan lembut.

"Yo Han, tahukah engkau sudah berapa lama engkau menjadi muridku dan berdiam di sini?"

"Teecu tidak dapat menghitung hari, Suhu. Akan tetapi tentu sudah ada dua tahun."

"Benar, dua tahun telah berlalu dengan cepatnya dan kukira engkau telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu tari, senam dan juga bertiup suling. Nah, sekarang aku ingin mengujimu, Yo Han. Engkau mulailah dengan gerakan senam seperti yang selama ini kau latih. Berdiri dan bersiaplah menanti apa yang kuperintahkan!"

Yo Han memang amat menyayangi dan menghormati gurunya yang sejak dia berada di situ bersikap amat baik kepadanya. Mendengar perintah ini, dia pun segera melepas baju atasnya, bertelanjang dada dan berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung di kanan kiri, siap untuk melakukan senam seperti yang diajarkan oleh gurunya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa gerakan senam itu oleh Thian-te Tok-ong diambil sebagian dari gerakan silat Thai-kek-koan dan Im-yang-kun.

Mulailah dia bergerak setelah mendengar aba-aba gurunya. Mula-mula dia mengangkat lengan kanan ke atas, melingkar di bawah pusar, lalu kedua lengan itu diputar perlahan saling bertemu seperti orang menangkap bola besar di depan dada sambil menarik dan menahan napas, lalu dengan hembusan napas perlahan, kedua tangan itu digerakkan, yang satu ke atas dan yang satu ke bawah seperti menolak dengan pengerahan tenaga dalam perlahan-lahan. Inilah gerakan dari Thai-kek-koan.

Kemudian gerakan itu disambung dengan menjulurkan kedua lengan kanan kiri, dengan telapak tangan agak ke atas, jari-jari menunjuk langit, kemudian siku ditekuk ke atas dan kedua tangan ke pinggang, dilanjutkan dengan gerakan memutar tangan. Telapak yang tadinya di bawah menjadi ke atas bagai orang menyodorkan atau menawarkan sesuatu. Gerakan ini oleh gurunya dinamakan ‘Menghaturkan Anggur Kepada Dewata’.

"Sekarang salurkan tenagamu ke arah pundak, perlahan-lahan sampai seluruh tenaga itu berkumpul di kedua pundakmu!" terdengar Thian-te Tok-ong berkata.

Yo Han menurut. Kedua tangan yang dilonjorkan itu ditarik kembali sampai ke bawah ketiak dan dia pun mengerahkan tenaga dari pusar dan dikumpulkan ke pundak. Kedua pundaknya itu menggembung besar sekali, seperti punuk onta saja!

"Tarik tenaga itu ke punggungmu dan membuat gerakan menyembah Sang Buddha!" kata gurunya.

Yo Han merobah gerakannya, tubuhnya membungkuk dengan muka hampir menyentuh tanah, kedua tangan merangkap ke depan dan kini punuk di kedua pundak berpindah ke punggung, membuat dia menjadi seperti orang yang berpunuk dan bongkok!

Thian-te Tok-ong terus memberi aba-aba dan latihan ‘senam’ ini nampak sungguh amat mengagumkan bagi orang lain kalau ada yang melihatnya. Anak berusia empat belas tahun itu bisa memindahkan gumpalan ‘punuk’ yang sesungguhnya merupakan saluran tenaga sakti itu ke mana saja, ke leher, ke dada, perut, lengan, kaki, bahkan ke tengkuk leher! Yo Han sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa gumpalan yang sebenarnya merupakan hawa sinkang itu dapat membuat tubuh bagian itu menjadi kebal!

"Sekarang kau lihat di dinding itu. Ada gumpalan batu menonjol, bukan? Nah, batu itu mengganggu, Yo Han. Coba engkau kerahkan kemauanmu pada telapak tangan kirimu lalu mendorongnya ke arah batu itu dengan mengerahkan tekad untuk memecahkan gumpalan batu yang mengganggu dinding itu agar dinding menjadi rata!"

Yo Han tidak tahu apa artinya ini dan apa pula gunanya. Akan tetapi karena yang harus diratakan itu hanya batu dinding, dia pun dengan senang hati melakukannya. Dia mulai menyalurkan tenaga yang mendatangkan gumpalan pada semua bagian tubuh itu ke arah telapak tangan kirinya, kemudian dengan kemauan bulat dia mendorong ke arah gumpalan batu menonjol di dinding itu.

Jarak antara tangannya dan dinding itu ada dua meter. Dia tidak menyadari bahwa dari telapak tangannya menyambar hawa pukulan dahsyat dan terdengar suara keras diikuti pecahnya gumpalan batu dinding menonjol itu!

"Brakkkk!"

Yo Han sendiri memandang bengong dan matanya terbelalak. Tak disangkanya bahwa gumpalan batu itu dapat remuk terkena sambaran hawa pukulan tangannya dan hal ini sungguh membuat dia tidak mengerti. Dia menoleh kepada gurunya ketika mendengar gurunya tertawa terkekeh-kekeh dengan senangnya.

"Suhu! Apa yang terjadi? Kenapa batu itu bisa pecah?" tanyanya.

"He-he-heh-heh, itulah berkat latihan senammu, Yo Han. Jangankan seorang manusia, bahkan batu pun akan hancur terkena sambaran angin pukulan tanganmu."

"Ihh! Aku tidak mau memukul orang, Suhu!" kata Yo Han marah.

"Hushh, siapa suruh kau memukul orang? Engkau hanya berlatih senam agar tubuhmu sehat, bukan untuk memukul orang. Tadi pun hanya untuk mengetahui sampai di mana kemajuan latihanmu. Apa kau kira aku ingin muridku menjadi tukang pukul! Heh-heh, Yo Han, jangan engkau mengira yang bukan-bukan. Sekarang sudah kulihat kemajuan ilmu senammu, mari kulihat kemajuan ilmu tarianmu Nah, kau pakai kembali baju atasmu."

Yo Han merasa girang dan dia pun membereskan kembali pakaiannya. Dia tidak tahu bahwa dalam usia empat belas tahun itu, tubuhnya sudah menjadi atletis dan indah sekali, seperti tubuh seorang dewasa yang kuat.

"Aku ingin melihat engkau mainkan tari kera dan akan kucoba engkau dengan sambitan-sambitan batu ini. Seekor kera yang sudah mahir menari, biar disambit bagaimana pun sudah pasti akan mampu mengelak dan tidak akan dapat kena disambit. Nah, engkau mulailah."

Yo Han sudah mempelajari tarian ini dengan baik. Tubuhnya lantas membuat gerakan-gerakan loncatan ke sana-sini, dan kedua tangannya membentuk gerakan kedua tangan kera, siku ditekuk, pergelangan tangan ditekuk serta kedua kakinya sedikit merendah, meloncat ke sana-sini, bahkan mulutnya mengeluarkan bunyi seperti kera, dan bibirnya diruncingkan.

Matanya melirik ke kanan kiri dengan lincahnya. Kadang dia meloncat ke atas, kadang bergulingan, gerakannya gesit, lincah dan cepat sekali. Dan kakek itu pun tidak tinggal diam. Kedua tangannya mengambil batu-batu kecil yang sudah dipersiapkan bertumpuk di depannya dan dia pun mulai menyambit-nyambitkan batu-batu itu. Sambitannya cepat dan kuat, namun sungguh mengagumkan.

Yo Han mampu mengelak dan seolah-olah pendengarannya menjadi sangat tajam dan dia sudah dapat menangkap arah luncuran batu-batu itu tanpa melihat dengan matanya. Sampai puluhan batu kecil menyambar, dan tak sebutir pun mengenai tubuhnya!

"Bagus sekali! Engkau seperti monyet tulen, muridku. Nah, sekarang ilmu tari harimau!"

Yo Han mentaati dan tanpa dia sadari, dia kini memainkan silat Harimau yang jarang didapatkan keduanya. Bukan saja gerakannya tangkas, kedua tangan membentuk cakar harimau dan gerakannya sangat hidup, akan tetapi juga dari mulutnya keluar auman seperti harimau, dan andai kata dia mengenakan pakaian bulu harimau, tentu orang akan mengira dia seekor harimau sungguh!

Ada suatu keanehan luar biasa pada diri Yo Han yang agaknya juga baru dikenal atau diduga-duga oleh orang aneh seperti Thian-te Tok-ong. Kakek yang penuh pengalaman hidup ini pun tidak tahu mengapa ada hal mukjijat terdapat dalam diri anak itu. Kalau dia mengajarkan suatu ilmu silat baru dengan dalih ilmu tari atau senam, dia mengajarkan gerakan silat tanpa mengatakan bahwa gerakan-gerakan itu selain untuk memperkuat tubuh, juga mempunyai daya tahan dan daya serang yang ampuh.

Akan tetapi, dia melihat keanehan. Jika Yo Han sudah memainkan tari monyet misalnya, dia melihat anak itu seolah-olah bukan anak manusia lagi, seolah-olah memang dia seekor monyet! Gerakannya demikian wajar, tidak dibuat-buat, tidak tiruan, bahkan ada gerakan aneh yang tidak mungkin dilakukan manusia, kecuali dilakukan monyet asli.

Demikian pula gerakan harimau. Kalau anak itu sudah membuat gerakan tari harimau, suara aumannya persis harimau asli, bahkan gerakan mulutnya, bibirnya, tiada ubahnya seekor harimau tulen, bahkan kedua matanya juga mencorong seperti mata harimau!

Ini sungguh sangat ajaib! Kadang-kadang seorang datuk besar seperti Thian-te Tok-ong menjadi ngeri sendiri! Anak macam apa yang dijadikan muridnya ini?

“Sekarang pelajaran yang paling akhir, gerakan binatang cecak merayap. Yang paling sukar dan paling baru. Jangan takut, kalau sampai engkau gagal pun aku tidak akan marah, akan tetapi kerahkan seluruh kekuatan pada telapak tanganmu, Yo Han."

"Walau pun teecu tidak tahu apa maksudnya Suhu mengajarkan ilmu merayap seperti cecak, sudah mempelajari dengan tekun dan memang amat sukar, Suhu. Akan tetapi, apa sesungguhnya manfaat ilmu senam meniru akan gerakan cecak seperti itu, Suhu?"

"He-he-he-heh, anak bodoh. Masa engkau yang begini cerdik tak tahu gunanya? Selain bisa menyehatkan tubuhmu, juga amat penting. Bahkan penting sekali. Bayangkan saja. Suatu hari engkau tak sengaja terjerumus ke dalam sumur yang amat dalam. Meloncat keluar sudah tidak mungkin, lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah engkau akan mati kelaparan di dalam lubang itu kalau tak ada orang mendengar teriakanmu minta tolong? Nah kalau engkau pandai menirukan gaya cecak merayap, tentu engkau akan dapat keluar dari sumur itu dengan merayap melalui dindingnya. Nah, kau masih bilang tidak ada manfaatnya?"

Yo Han menjadi girang dan dia pun tentu saja dapat mengerti. "Baik, Suhu. Teecu akan mencobanya sekarang."

Dan seperti yang telah diajarkan gurunya, dia lalu duduk bersila, mengatur pernapasan, menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai buku-buku jarinya mengeluarkan bunyi berkerotokan. Kemudian dia pun bangkit, menghampiri dinding goa dan merayap naik menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya yang tidak bersepatu. Dan ia pun dapat merayap bagai seekor cecak ke atas dan turun ke seberang dinding yang sana! Setelah turun, napasnya terengah dan keringatnya membasahi seluruh tubuh karena dia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau memang muridku yang amat hebat, Yo Han! Sekarang yang terakhir. Engkau pernah belajar tari lutung hitam yang menggunakan tangan dan kakinya untuk menangkapi semua benda yang dilemparkan kepadanya. Nah, aku ingin engkau menarikan itu dan melihat apakah engkau sudah mahir!"

Sebetulnya Yo Han sudah lelah sekali. Akan tetapi dia memang mempunyai kekerasan hati yang mengagumkan dan pantang mundur. Apa lagi ia memang patuh pada gurunya yang dianggapnya amat menyayangnya.

"Suhu, teecu sudah siap!" katanya sambil berdiri dan memasang kuda-kuda di tengah ruangan goa itu.

Dia tahu bahwa jika tadi suhu-nya menghujankan sambitan batu-batu kecil, kini gurunya hendak menggunakan segala macam ranting untuk menyambitnya seperti hujan anak panah dan dia bukan saja harus menghindarkan semua luncuran ranting, akan tetapi juga sedapat mungkin harus bisa menangkap sebanyaknya.

"Awas serangan!" tiba-tiba Thian-te Tok-ong menggerakkan dua tangannya dan puluhan batang ranting meluncur seperti anak panah ke arah seluruh tubuh Yo Han.

Pemuda remaja ini bergerak seperti seekor lutung, kaki tangannya bergerak dan bukan hanya kedua tangannya saja yang mampu menangkis atau menangkap ranting, bahkan kedua kaki telanjang itu pun berhasil menjepit ranting dengan celah-celah jari kaki atau menyepaknya pergi.

Akan tetapi, ketika gurunya menghentikan serangan itu, dia mengeluh dan menjatuhkan diri bersila di atas lantai goa, menahan sakit sambil memegangi kaki tangannya yang berdarah dan bengkak-bengkak membiru!

"Suhu, kenapa kaki tangan teecu menjadi begini?" tanyanya, sekuat tenaga menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan.

Kakek itu menghampiri, langkahnya sudah gontai karena memang dia sudah tua sekali. Akan tetapi matanya mencorong aneh dan berulang kali dia menggelengkan kepala.

"Luar biasa! Ajaib, seribu kali ajaib! Tahukah engkau, Yo Han, kalau orang lain yang menangkis dan menangkapi ranting-ranting tadi, tidak peduli bagaimana tinggi ilmunya saat ini dia pasti sudah akan menjadi kaku dan mampus?"

Yo Han terbelalak memandang wajah tua itu. "Akan tetapi, kenapa, Suhu?"

"Ranting-ranting itu semuanya sudah kupasangi bubuk racun yang paling berbahaya di dunia ini, terdiri dari racun segala macam ular yang paling ampuh. Ada ular cobra, ular belang hitam, ular merah, ular emas, bahkan racun kalajengking hijau. Siapa pun yang terkena, pasti mati seketika. Akan tetapi engkau... engkau hanya luka-luka dan tangan kakimu membiru saja! Bukan main!"

"Tapi, kenapa, Suhu? Apakah Suhu bermaksud untuk membunuh teecu?"

"Ha-ha-ha-ha, aku sayang padamu, aku kagum padamu, kepadamulah seluruh tumpuan harapanku kuberikan, bagaimana mungkin aku akan membunuhmu? Aku hanya akan mengujimu! Andai kata racun-racun itu mengancam nyawamu, aku sudah menyiapkan obat penawarnya. Sekarang bahkan tidak perlu lagi. Racun itu hanya berhenti sampai di pergelangan tangan dan kakimu. Entah kemukjijatan apa yang melindungi dirimu, Yo Han."

"Tidak ada kemukjijatan apa-apa kecuali kekuasaan Tuhan yang teecu yakin akan selalu melindungi teecu, Suhu."

"Heh-heh-heh, sudah terlalu sering engkau mengatakan begitu. Akan tetapi, bagaimana ada kekuasaan Tuhan melindungimu, tetapi tidak melindungi orang lain?"

"Suhu, bagaimana teecu bisa tahu? Kehendak Tuhan, siapa yang tahu? Teecu hanya merasakan bahwa ada sesuatu di luar kehendak akal pikiran teecu, dan teecu hanya menyerahkan kepada Tuhan, menyerah dengan sepenuh jiwa raga teecu. Apa pun yang dikehendaki Tuhan atas diri teecu, akan teecu terima tanpa mengeluh."

"Engkau memang anak aneh sekali. Bagaimana rasanya jari-jari tangan dan kakimu?"

"Rasanya ngilu, nyeri kaku dan gatal-gatal."

"Heh-heh-heh, tidak percuma gurumu ini berjuluk Tok-ong (Raja Racun), tetapi sekali ini, Tok-ong sama sekali tidak berdaya menghadapi kekuasaan Tuhan yang ada pada dirimu. Buktinya, engkau tidak apa-apa. Kalau bukan engkau keadaanmu ini merupakan penghinaan besar bagiku dan sekali pukul engkau akan mampus. Akan tetapi engkau muridku, bahkan engkau akan kuajari bagaimana cara untuk mengobati pengaruh racun dariku."

"Akan tetapi, Suhu, teecu tidak akan menggunakan racun. Teecu tidak mau mencelakai orang, tidak mau meracuni orang."

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau mencelakai orang, tetapi akan dicelakai orang. Engkau tak mau meracuni orang, akan tetapi engkau akan diracuni orang. Aihhh, Yo Han, engkau belum tahu apa artinya hidup ini. Kau kira dunia kita ini seperti sorga? Neraka pun tidak sebusuk dunia, kau tahu? Setan-setan pun tidak sejahat manusia, kau tahu?"

"Tidak, Suhu! Teecu tidak percaya. Semua manusia pada dasarnya baik. Hanya karena mempelajari ilmu kekerasan, maka mereka menjadi jahat dan hendak mengandalkan kekerasan untuk mencari kemenangan. Dan teecu tidak sudi mempelajari kekerasan."

Thian-te Tok-ong tertawa terpingkal-pingkal sesudah mendengar ucapan muridnya itu. Bagaimana dia tidak akan merasa geli? Selama dua tahun ini dia telah menggembleng Yo Han dengan ilmu-ilmu yang amat hebat, ilmu yang akan dapat membunuh puluhan orang lawan dan anak ini masih mengatakan tidak sudi mempelajari kekerasan!

Mereka berada di tengah goa itu, tidak nampak dari luar. Mendadak terdengar suara melengking nyaring dari luar pintu goa, disusul kata-kata yang lembut seorang wanita, namun yang dapat terdengar sampai ke dalam goa.

“Thian-te Tok-ong, keluarlah engkau, aku Ang-I Moli ingin bicara denganmu!”

Mendengar suara yang melengking nyaring ini, diam-diam Yo Han terkejut. Tentu saja dia mengenal siapa itu Ang-I Moli, orang pertama yang memaksanya menjadi murid walau pun dia tidak pernah diajarkan apa pun. Dia tahu bahwa wanita itu seperti iblis, selain amat lihai, juga amat jahat dan kejam, maka diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan kakek tua renta yang selama ini bersikap sangat baik kepadanya.

Akan tetapi kakek itu terkekeh. "Ang-I Moli, suaramu sudah cukup nyaring dan dapat terdengar dari sini. Perlu apa aku harus keluar menemuimu? Kalau engkau mau bicara, bicaralah, dari sini pun aku dapat mendengarmu dengan baik."

"Thian-te Tok-ong, tidak perlu kujelaskan lagi, tentu kunjunganku ini sudah kau ketahui maksudnya. Aku datang untuk menuntut janjimu untuk menukar Sin-tong dengan obat penawar racun ilmu yang telah kusempurnakan."

"He-he-heh, engkau sudah menyempurnakan ilmu Toat-beng Tok-hiat (Darah Beracun Pencabut Nyawa)? Hebat! Ilmu semacam itu hanya ada seratus tahun yang lalu dan kini engkau berhasil menguasainya? Perempuan iblis, engkau akan menjadi seorang tanpa tanding, heh-heh-heh! Mari, Yo Han, mari kita keluar melihat iblis betina itu!" Kakek itu menjulurkan tongkatnya kepada Yo Han.

Anak itu memegang ujung tongkat dan menuntun gurunya keluar dari dalam goa. Dia sendiri sudah sering keluar goa, akan tetapi kakek itu tidak pernah sehingga setelah kini dia keluar dari goa, matanya disipitkan, silau, dan mukanya nampak pucat seperti mayat hidup.

Diam-diam Ang-I Moli sendiri bergidik. Kakek ini seperti bukan manusia lagi dan ia pun sudah mendengar bahwa kakek tua renta ini merupakan tokoh nomor satu perkumpulan Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian tak dapat diukur tingginya.

Setelah Yo Han dan Thian-te Tok-ong tiba di luar goa, mereka melihat ada beberapa orang di situ. Selain Ang-I Moli yang kini nampak semakin cantik saja, juga di situ terdapat Lauw Kang Hui, wakil ketua Thian-li-pang yang berlutut, dan ada pula lima orang pria lain yang melihat pakaian mereka adalah petani-petani biasa dan nampaknya mereka itu ketakutan, berlutut pula tanpa berani mengangkat muka.

Hanya Ang-I Moli seorang yang tidak berlutut. Hal ini tidaklah aneh karena dia bukan anggota Thian-li-pang, bahkan ia adalah pemimpin dari perkumpulan Ang-I Mo-pang di luar kota Kunming.

Dua tahun yang lalu, ketika ia bersekutu dengan Thian-li-pang, kemudian menyerahkan Yo Han kepada Lauw Kang Hui wakil ketua Thian-li-pang untuk ditukar dengan dua belas orang pemuda remaja, ia lalu membawa dua belas orang remaja itu pergi. Diam-diam ia mulai melatih diri dengan ilmu kejinya itu, dan mengorbankan nyawa dua belas orang remaja yang dihisap darahnya. Dan kini, dua tahun kemudian, ia sudah berhasil dengan ilmunya itu dan datang ingin menagih janji, yaitu untuk minta obat penawar bagi keampuhan ilmunya yang beracun.

Baginya sendiri, ilmu tanpa ada obat penawarnya amat berbahaya bagi diri sendiri, juga tidak dapat dipergunakan untuk memaksakan kehendaknya kepada lain orang. Dan di dunia ini, yang mampu membuatkan obat penawar bagi segala macam ilmu pukulan beracun hanyalah Thian-te Tok-ong seorang!

Begitu kakek tua renta itu muncul, Ang-I Moli membungkuk dengan sikap hormat. Lauw Kang Hui yang berlutut juga memberi hormat dan berkata, "Teecu mohon Supek sudi memaafkan kalau teecu mengganggu ketentraman Supek. Teecu mengantarkan Ang-I Moli yang hendak menagih janji dua tahun yang lalu."

"He-he-heh-heh, Lauw Kang Hui, mulutmu bicara satu akan tetapi hatimu bicara dua. Katakan saja bahwa engkau pun datang untuk menagih janji minta diajari sebuah ilmu. Benar tidak?"

Wajah Lauw Kang Hui yang biasanya memang sudah merah itu menjadi semakin gelap, akan tetapi dia menyembah lagi dengan segala kerendahan hati. "Supek, teecu hanya menyerahkan kepada kebijaksanaan Supek saja, karena semua itu juga demi kemajuan Thian-li-pang kita."

"Baiklah, kau tunggu saja. Sekarang, Moli. Aku bukan orang yang suka melanggar janji. Yo Han memang menyenangkan dan sudah menjadi muridku. Untuk itu, aku tentu akan memenuhi janjiku. Akan tetapi, bagaimana aku akan dapat membuat obat pemunah dari ilmu kejimu itu kalau aku tidak melihat dulu buktinya?"

Ang-I Moli tertawa genit dan memang wanita ini masih manis sekali seperti orang muda saja, walau pun usianya sudah empat puluh tahun. "Locianpwe Thian-te Tok-ong, aku sudah mempersiapkan segalanya. Lihatlah lima orang dusun ini. Mereka ini yang akan kujadikan kelinci percobaan. Nah, harap kau lihat baik-baik!"

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, sehingga yang tampak hanya berkelebatnya bayangan merah saja, dan tahu-tahu tiga di antara kelima orang itu roboh terpelanting. Padahal, Ang-I Moli hanya mendorongkan telapak tangannya dari jauh saja, sama sekali tanpa menyentuh orangnya, akan tetapi dari telapak tangan itu menyambar hawa yang kebiruan ke arah mereka.

"Keji sekali kau!" Tlba-tiba Yo Han berseru.

Dari tempat ia berdiri, Yo Han teringat akan ilmu senamnya dan dia pun mendorongkan kedua tangannya ke arah dua orang yang belum roboh. Dua orang itu bagaikan kena disambar angin keras sehingga tubuh mereka terguling-guling sampai jauh, akan tetapi mereka terhindar dari pukulan beracun Ang-I Moli!

Melihat ini, Ang-I Moli marah sekali dan ia pun mengerahkan pukulan kedua tangannya, didorongkan ke arah tubuh Yo Han. Anak ini pun menyambut dengan gerakan senam yang dinamakan ‘mendorong bukit’.

"Dessss...!"

Yo Han terjengkang dan roboh pingsan. Akan tetapi Ang-I Moli terhuyung, berpusing lalu roboh dan muntah darah!

Wanita itu terbelalak penuh kekagetan, keheranan dan juga ketakutan sebab ia merasa betapa ilmunya yang amat keji itu, yaitu yang dia beri nama Toat-beng Tok-hiat, tadi ketika bertemu dengan tenaga dari kedua tangan anak itu, telah membalik dan melukai dirinya sendiri!

Ia tahu bahwa ia telah menjadi korban pukulannya sendiri yang membalik dan ia sendiri tidak mempunyai obat penawarnya! Keadaannya sama dengan tiga orang petani yang dijadikan kelinci percobaan. Mereka pun roboh dan muntah darah. Baik wajah tiga orang itu mau pun wajah Ang-I Moli berubah menjadi kebiruan!

Thian-te Tok-ong menghampiri Yo Han dan ia tertawa terkekeh-kekeh saking girangnya melihat betapa meski pun pingsan Yo Han sama sekali tidak terluka. Dia menotokkan tongkatnya ke tengkuk anak itu dan Yo Han pun siuman kembali.

Yo Han meloncat bangun dan memandang ke arah Ang-I Moli dengan mata terbelalak. "Suhu... apakah teecu... membuat ia roboh...?"

Thian-te Tok-ong mengangguk. "Kalau engkau tidak menggunakan senam mendorong bukit, tentu engkau akan roboh keracunan atau mungkin sudah tewas. Ilmu iblis betina itu keji bukan main."

Ang-I Moli terengah-engah dan bangkit duduk. "Locianpwe, aku yakin bahwa seorang Locianpwe seperti engkau ini tidak akan menelan ludah sendiri dan akan memenuhi janjinya. Aku menuntut diberi obat penawar untuk ilmu pukulan ini."

"Ha-ha-ha, sudah lama kubuatkan. Aku mengenal pukulan keji semacam itu, Moli. Akan tetapi engkau masih untung. Kalau engkau tadi membuat Yo Han tewas, engkau pun tentu akan kubunuh! Nah, inilah obat penawarnya, berikut catatan cara membuatnya, terimalah dan buktikan kemanjurannya pada dirimu sendiri."

Kakek itu melemparkan sebuah bungkusan yang diterima oleh Ang-I Moli. Isi bungkusan itu ternyata belasan butir pel merah dan sehelai kertas catatan resep pembuatannya. Menurutkan petunjuk catatan, Ang-I Moli menelan sebutir pel merah dan setelah bersila sejenak, wajahnya berubah merah kembali dan dia merasa betapa pengaruh racun di tubuhnya lenyap. Dia girang bukan main, meloncat berdiri lalu membungkuk terhadap Thian-te Tok-ong.

"Nama besar Thian-te Tok-ong ternyata bukanlah nama kosong dan bukan pula seorang pembohong. Aku menghaturkan banyak terima kasih." Lalu kepada Lauw Kang Hui ia pun berkata, "Lauw Pangcu, kita sudah saling membantu, harap sampaikan hormatku kepada Ouw Pangcu. Aku mohon diri untuk mengambil jalanku sendiri. Selamat tinggal!"

"Heiiii, nanti dulu!" Tiba-tiba Yo Han berseru keras.

Moli terkejut karena sekali anak itu menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang dan berdiri di depannya! Anak ini, entah disadari atau pun tidak, telah memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat bukan main!

"Huh, mau apa engkau?" bentaknya, tidak berani memandang rendah karena tentu saja ia gentar terhadap guru anak itu.

Dengan menuding telunjuk tangan kanannya, seperti seorang dewasa menegur seorang anak nakal, Yo Han berkata, "Ang-I Moli, sejak dahulu engkau sungguh tidak berubah, bahkan menjadi semakin jahat dan keji. Engkau melukai tiga orang petani yang tidak berdosa itu sampai mereka keracunan dan engkau mau meninggalkan mereka begitu saja? Mana tanggung jawabmu? Engkau harus menyembuhkan mereka lebih dulu, baru boleh pergi!"

Ang-I Moli mengerutkan alisnya. Mana ia mau mentaati permintaan bocah itu?

"Huh! Peduli apa aku dengan mereka?" Serunya dan ia pun sudah meloncat pergi.

Akan tetapi Yo Han juga meloncat dan anak ini terkejut sendiri akan tubuhnya melayang dan dia dapat menghadang di depan wanita pakaian merah itu.

"Aih, kiranya Tok-ong sudah melatihmu, ya? Yo Han, engkau masih kanak-kanak, sama sekali bukan lawanku, jangan coba-coba menghalangiku. Kalau aku tidak melihat muka gurumu, sekali pukul engkau akan mampus. Pergilah!"

"Moli, aku tidak mau berkelahi, aku tak mau melawanmu atau melawan siapa saja. Akan tetapi aku minta pertanggungan jawabmu. Tiga orang itu tidak berdosa. Engkau tidak boleh meninggalkan mereka terluka tanpa kau obati dulu. Hayo cepat kau sembuhkan mereka!"

"Bocah setan kau!"

Akan tetapi mendadak terdengar suara Thian-te Tok-ong terkekeh-kekeh. "Ang-I Moli, jangan mengira bahwa aku mencampuri urusan percekcokanmu dengan Yo Han anak kecil. Akan tetapi, dalam dunia kita sudah terdapat peraturan bahwa siapa yang menang harus ditaati dan siapa kalah harus mentaati. Nah, sekarang begini saja. Engkau boleh menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus, dengan ilmu pukulanmu yang mana pun, boleh semua kepandaianmu kau keluarkan, kecuali pukulan Toat-beng Tok-hiat itu. Jika kau pergunakan pukulan itu dan sampai muridku mati, engkau akan kucabik-cabik. Akan tetapi semua pukulan lain boleh kau lakukan. Kalau sampai dua puluh jurus engkau tak mampu merobohkannya, nah, engkau harus mentaati perintahnya mengobati tiga orang petani itu. Kalau sebelum dua puluh jurus dia jatuh, sudahlah, engkau boleh pergi dan aku yang akan menghajar kelancangan mulut muridku."

Mendengar ini, Lauw Kang Hui wakil ketua Thian-li-pang yang datang pula ke situ diam-diam terkejut bukan main. Bagaimana sih supek-nya itu? Tingkat kepandaian Ang-I Moli sudah tinggi sekali. Apa lagi setelah sekarang menguasai Toat-beng Tok-hiat, bahkan ia sendiri pun harus berhati-hati kalau melawan wanita itu.

Dan kini supek-nya menyuruh Moli menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus. Mana mungkin anak itu mampu bertahan? Baru satu dua jurus saja kepala anak itu dapat hancur! Akan tetapi tentu saja ia tidak berani mencampuri urusan supek-nya yang amat ditakuti dan dihormatinya itu.

Ang-I Moli adalah seorang wanita iblis yang amat licik. Tadinya dengan senang sekali ia berhasil mendapatkan Yo Han, akan tetapi terpaksa dia melepaskan anak itu kepada Thian-te Tok-ong. Kini, mendengar tantangan itu, tentu saja ia mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemarahannya. Kalau ia membunuh anak itu, berarti anak itu tidak terjatuh ke tangan orang lain, dan ia pun dapat membalas penghinaan yang diterimanya ketika Yo Han menangkisnya tadi!

"Bagus sekali! Locianpwe Thian-te Tok-ong, bukan aku yang menantang, tapi syarat itu memang cukup adil. Nah, Yo Han yang manis, majulah engkau ke sini untuk menerima kematianmu. Sayang masih begini muda terpaksa engkau harus mampus di tanganku."

"Suhu, teecu tidak sudi berkelahi, biar pun melawan iblis betina itu sekali pun," kata Yo Han kepada gurunya sambil mengerutkan alisnya.

"Bocah tolol! Siapa suruh engkau berkelahi? Akan tetapi dia hendak membunuh ketiga orang petani itu, juga hendak membunuhmu. Engkau tidak perlu memukulnya, engkau hanya menari saja seperti yang kau pelajari tadi. Gunakan tari monyet dan tari lutung, dan hendak kulihat apakah perempuan sombong ini akan mampu menyentuh selembar rambutmu. Hayo cepat engkau menari!"

Mendengar perintah ini, hati Yo Han tidak ragu-ragu lagi. Ia memang tetap berpendirian bahwa ia tak akan sudi berkelahi menggunakan kekerasan memukul orang. Akan tetapi kalau hanya menari dan menghindarkan diri dari serangan orang, itu namanya bukan berkelahi dan bukan menggunakan kekerasan. Apa lagi ia harus menyelamatkan nyawa tiga orang petani yang tidak berdosa itu. Maka, dia pun melangkah maju menghadapi wanita itu dengan hati tabah.

Bagaimana pun juga, karena ia segan dan takut kepada Thian-te Tok-ong, Ang-I Moli sekali lagi berkata, "Locianpwe Thian-te Tok-ong, benarkah aku boleh menyerangnya sampai dua puluh jurus?"

"Perempuan sombong, siapa yang menyangkal? Cepat serang!"

Ang-I Moli memang seorang yang amat licik dan curang. Biar pun yang dihadapinya itu seorang remaja berusia empat belas tahun, namun begitu mendengar ucapan Thian-te Tok-ong, tanpa memberi peringatan lagi tiba-tiba saja ia sudah menerjang dengan tiga tamparan yang amat ganas, ke arah kepala Yo Han.

"Wuuut-wuut-wuuuttt...!"

Tiga kali ia menampar susul menyusul dan... luput!

Bagaikan seekor kera yang amat lincah, Yo Han telah menari-nari dan semua tamparan itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya. Dia seperti sudah melihat terlebih dahulu datangnya tamparan.

Tentu saja Ang-I Moli terkejut, heran dan juga penasaran sekali. Kini ia tidak main-main lagi, mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh, bukan sekedar untuk menampar atau memukul, melainkan mengirimkan jurus pukulan mautnya! Bahkan, setelah lewat sepuluh jurus, berturut-turut dia memukul dengan pukulan ampuh Pek-lian Tok-ciang, yaitu pukulan beracun yang amat dahsyat, yang dikuasai oleh para murid Pek-lian-kauw tingkat tinggi saja.

Pukulan ini mengandung uap putih dan hawa beracun itu cukup untuk membuat orang yang menghisapnya roboh pingsan! Namun, dengan gerakannya yang lincah selalu Yo Han dapat menghindarkan diri, bahkan asap yang menerjangnya dan tanpa disengaja tersedot olehnya sama sekali tak mempengaruhinya. Ia bahkan masih sempat berseru, "Aih, baunya harum!"

Tentu saja ucapan yang jujur dari Yo Han ini oleh Ang-I Moli merupakan tamparan dan ejekan. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring. Tinggal sisa tiga jurus lagi karena ia sudah menyerang sampai tujuh belas jurus tanpa hasil dan yang tiga jurus ini akan dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, bukan tenaga sembarangan, melainkan ilmu pukulannya yang baru, yaitu Toat-beng Tok-hiat!

Terdengar suara bercuitan seperti tikus-tikus terjepit pada saat ia melancarkan pukulan ampuh Toat-beng Tok-hiat itu. Latihan pukulan ini baru saja dirampungkan Ang-I Moli dan merupakan pukulan tingkat tinggi yang hebat bukan main. Jangankan seorang anak remaja seperti Yo Han yang tidak pernah belajar ilmu silat, bahkan seorang wakil ketua Thian-li-pang seperti Lauw Kang Hui saja belum tentu akan mampu menahan pukulan maut itu!

Diam-diam Lauw Kang Hui amat terkejut. Dia sendiri tidak sayang kepada Yo Han, akan tetapi dia tahu betapa sayangnya supek-nya kepada anak itu sehingga kalau sampai Yo Han celaka, tentu nyawa Ang-I Moli tidak akan dapat diselamatkan lagi!

Akan tetapi, Yo Han yang sama sekali belum menyadari bahwa semua latihan yang dilakukan secara rajin selama dua tahun ini adalah gerakan silat tinggi, telah memiliki ketajaman penglihatan yang luar biasa. Hal ini adalah karena sebagian besar waktunya dia berada di dalam goa yang gelap dan remang-remang.

Maka, kini dia dapat melihat atau mengikuti gerakan tangan dan tubuh Moli dengan jelas sehingga memudahkan dia untuk berloncatan seperti seekor kera mengelak ke sana sini dan tiga kali hantaman berturut-turut yang mengeluarkan bunyi bercicit itu tidak ada yang mengenai tubuhnya.

Ang-I Moli penasaran bukan main sehingga ia menjadi lupa diri, lupa bahwa sudah dua puluh jurus ia menyerang dan kini ia menubruk ke depan untuk menerkam anak yang dianggapnya telah membuat ia kehilangan muka itu.

"Takkk!"

Tubuh Moli terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter jauhnya karena disodok ujung tongkat oleh Thian-te Tok-ong! Sungguh luar biasa sekali gerakan ini. Kakek itu masih duduk bersila dan jaraknya cukup jauh. Akan tetapi, entah tongkatnya yang mulur atau lengannya yang memanjang, ujung tongkatnya dapat menyambut serangan Moli sehingga membuat wanita itu terjengkang.

"Moli, apakah engkau ingin mampus? Sudah dua puluh jurus dan engkau masih ingin menyerang terus?" bentak kakek itu terkekeh.

Ang-I Moli cepat bangkit dan memberi hormat. "Maaf, Locianpwe, tentu aku sudah salah menghitung."

"Heh-heh-heh, engkau sudah kalah bertaruh. Hayo lekas kau sembuhkan tiga orang itu kemudian cepat pergi dari sini, jangan sekali lagi sampai bertemu denganku, karena aku tidak akan sudi mengampunimu lagi!"

Dengan terpaksa Ang-I Moli lalu mendekati ketiga orang petani yang tergeletak dengan muka kebiruan itu. Dia masukkan tangannya ke dalam saku di balik baju luarnya, tempat ia tadi menyimpan belasan butir pel merah penawar racun pukulan Toat-beng Tok-hiat yang diberikan oleh Thian-te Tok-ong. Ketika tangannya keluar dari balik bajunya, tiga butir pel merah sudah berada dalam genggamannya, yang kemudian satu demi satu dimasukkan ke mulut tiga orang petani korban pukulannya tadi.

Pel penawar bikinan Thian-te Tok-ong memang luar biasa mujarab, serta gelar Raja Racun Langit dan Bumi terbukti bukan julukan kosong belaka. Setelah masing-masing diminumkan obat, hanya dalam waktu sebentar saja tiga orang petani itu telah sadar kembali dan lenyap sudah rona kebiruan pada wajah mereka.

Tiga orang petani itu segera bangkit dengan perasaan bingung, akan tetapi keheranan mereka tidak berlangsung lama karena Thian-te Tok-ong cepat berkata kepada mereka, “Kalian berlima lekas pergi dari sini, pulanglah ke tempat asal kalian.”

Meski pun rasa heran dan bingung mereka belum lenyap sama sekali, namun melihat wajah dan potongan orang-orang di sekitar itu, ditambah mendengar kata-kata Thian-te Tok-ong barusan, maka tanpa menanti lebih lama lagi, lima orang petani itu, tiga orang yang baru sadar bersama dua orang lain yang tidak sempat terpukul oleh Ang-I Moli, kemudian mulai melangkahkan kaki, pergi meninggalkan tempat itu.

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Ang-I Moli. Ia memang tahu bahwa Thian-te Tok-ong adalah orang nomor satu dari Thian-li-pang, bahkan merupakan seorang tokoh langka yang tak pernah mencampuri urusan dunia. Dikalahkan Thian-te Tok-ong masih belum merupakan hal yang memalukan.

Akan tetapi, ia, datuk besar yang baru saja selesai menguasai ilmu yang amat hebat, ilmu Toat-beng Tok-hiat yang dianggapnya akan bisa membuat ia menjadi seorang yang paling lihai di dunia, atau setidaknya seorang di antara yang paling lihai, kini tidak dapat merobohkan seorang bocah berusia empat belas tahun yang tidak pandai ilmu silat!

Maka, setelah ia memandang kepada Yo Han dengan sinar mata mengandung penuh kebencian, dan di dalam hatinya ia mencatat bahwa kelak pada suatu hari ia pasti akan membunuh anak ini dan menghisap darahnya sampai tidak tertinggal setetes pun, ia lalu membalikkan tubuhnya dan sekali meloncat ia pun lenyap dari tempat itu.

"He-he-heh-heh, Yo Han, kau ingat. Ialah mungkin wanita yang kelak harus kau bunuh, kalau tidak engkau yang akan dibunuhnya, heh-heh-heh!"

Yo Han mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. "Suhu tahu, teecu tidak akan mau membunuh siapa pun juga!"

"Heh-heh-heh, engkau memang anak yang aneh. Nah, Lauw Kang Hui, engkau tentu datang mengantar perempuan tadi bukan dengan percuma, tentu engkau pun hendak menagih janji, bukan?"

Lauw Kang Hui, seperti juga semua murid Thian-Ii-pang, amat takut kepada kakek ini. Kakek ini bukan saja merupakan orang pertama yang dipuja-puja dan ditakuti, namun juga terkenal bengis dan entah sudah berapa puluh orang anak buah Thian-li-pang semenjak dulu dibunuhnya begitu saja dengan kesalahan yang amat sepele. Maka, dia pun cepat menyembah sambil berlutut.

"Teecu memberanikan diri mengantar Ang-I Moli karena ia desak-desak, Supek. Ada pun tentang Supek hendak memberi anugerah kepada teecu atau tidak, teecu serahkan kepada kebijaksanaan Supek. Bagaimana teecu berani menuntut?"

"Ha-ha-ha, engkau memang seorang di antara para murid yang cerdik, Kang Hui, tidak seperti suheng-mu Ouw Ban yang terlalu keras kepala walau pun kepandaiannya lebih tinggi. Aku sudah mendengar mengenai siasatmu mengadu domba antara empat partai persilatan besar dan berhasil baik. Ha-ha-ha, sungguh, aku sendiri tak akan memikirkan sejauh itu. Engkau memang pandai dan aku suka sekali menambahkan satu dua ilmu pukulan untukmu agar engkau lebih dapat memajukan Thian-li-pang lagi!"

"Terima kasih, Supek. Terima kasih!" Akan tetapi dia lalu menambahkan dengan suara lirih. "Hanya teecu mohon agar Supek sudi melembutkan hati Suhu bila Suhu memarahi teecu karena urusan ini."

"Gurumu? Ha-ha-ha, gurumu selalu berat sebelah, terlalu mudah dirayu oleh Ouw Ban. Jangan takut, kalau gurumu berani mengganggumu, akan kupukul pantatnya sampai bengkak-bengkak, he-he-he! Nah, ke sinilah dan perhatikan baik-baik. Akan kuajarkan ilmu Tok-jiauw-kang (Ilmu Cakar Beracun) dan Kiam-ciang (Tangan Pedang) padamu. Hafalkan baik-baik dan kemudian latihlah, sedikitnya satu dua tahun baru engkau akan dapat mahir."

"Terima kasih, Supek!"

Lauw Kang Hui memasuki mulut goa dan Yo Han yang tidak suka melihat orang belajar silat, lalu masuk ke dalam goa untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, membersihkan goa dan mengirim makanan dan minuman untuk orang hukuman yang berada di dalam sumur. Sampai tiga hari lamanya Lauw Kang Hui menerima petunjuk dua ilmu itu dari Thian-te Tok-ong tanpa ada yang berani mengganggu, bahkan mendekat pun tiada yang berani. Setelah dia hafal benar, Lauw Kang Hui berlutut menghaturkan terima kasih, kemudian meninggalkan goa yang menjadi sunyi kembali.

Dan Yo Han pun mulai lagi setiap hari belajar ilmu menari dan senam, karena sampai hari itu pun Yo Han tetap berkukuh tidak sudi belajar ilmu memukul orang! Pada waktu usianya sudah lima belas tahun, tetap juga dia berkeras hati tak mau belajar silat. Habis sudah kesabaran Thian-te Tok-ong. Ia memanggil muridnya menghadap. Yo Han berlutut di depan Thian-te Tok-ong.


SELANJUTNYA SI BANGAU MERAH BAGIAN 07


Thanks for reading Si Bangau Merah Bagian 06 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »