Kisah Si Bangau Putih Bagian 14

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 14

Ouwyang Sianseng mengamati kakek dan nenek di depannya itu, mengerutkan alisnya dan bertanya kepada muridnya, “Tahukah engkau siapa mereka ini?”

Siangkoan Liong juga memandang penuh perhatian, kemudian dia menggeleng kepala sebagai jawaban. Ouwyang Sianseng kini menatap wajah Kam Hong dengan penuh perhatian dan diam-diam hatinya diliputi kekaguman.

Kakek di depannya ini sebaya dengan dia, dan memiliki sikap yang halus berwibawa. Mengertilah dia bahwa kakek yang pakaiannya juga seperti sastrawan amat sederhana ini adalah seorang yang berilmu tinggi dan merupakan lawan yang tangguh. Ouwyang Sianseng lalu menjura dengan sikap hormat.

“Selamat berjumpa, Sobat,” katanya dengan suara yang halus, “boleh aku mengetahui, siapakah Ji-wi dan apa pula alasan Ji-wi hendak mencampuri urusan kami yang sedang menentang penjajah Mancu?”

Kam Hong mengerutkan alisnya. Harus diakuinya bahwa sikap ramah dan halus dari orang ini membuat dia waspada karena sikap itu hanya menunjukkan bahwa dia tengah berhadapan dengan orang yang sama sekali tak boleh dipandang ringan. Apa lagi orang ini dengan cerdiknya menempatkan dia di posisi yang buruk, seakan-akan orang itu adalah pejuang dan patriot, sedangkan dia dan isterinya merupakan orang-orang yang membela kaum penjajah!

Dengan tenang dia pun tersenyum dan balas menjura dengan hormat, diikuti pula oleh isterinya karena tadi ketika Ouwyang Sianseng menjura, pemuda tampan itu pun ikut pula memberi hormat.

“Maaf, Sobat,” jawabnya dengan halus pula. “Memang di antara kita tidak pernah saling mengenal, juga tidak ada hubungan apa pun. Penjajah Mancu sudah menguasai tanah air semenjak hampir seratus tahun dan kami kira panglima ini bukanlah biang keladi penjajahan, melainkan hanya seorang petugas! Kami melihat betapa Ji-wi membunuhi para pengawal dan menyerang kereta, maka hal ini sudah merupakan urusan pribadi, bukan lagi pertempuran dalam perjuangan melawan penjajah! Dan kami tidak biasa membiarkan saja manusia saling bunuh, apa lagi melihat yang lebih kuat membunuh yang lemah tanpa sebab.”

Ouwyang Sianseng masih bersikap sabar. “Kami adalah pejuang-pejuang yang berjiwa patriot. Kami hendak menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu, dan kami mulai dari utara ini dengan cara melenyapkan para perwira dan panglima. Barulah kami akan bergerak ke selatan, menyerang ke kota raja dan merampas tahta kerajaan!”

Ketika berkata demikian, sinar mata Ouwyang Sianseng mencorong penuh nafsu dan dendam. Juga pemuda yang berdiri di sampingnya, yang bukan lain adalah Siangkoan Liong, memandang dengan muka berseri penuh semangat.

“Kami percaya bahwa Locianpwe berdua tentulah dua orang berilmu tinggi yang berjiwa patriot pula. Oleh karena itu kami akan merasa gembira sekali jika Ji-wi sudi membantu perjuangan kami untuk menentang pemerintah penjajah Mancu!” kata Siangkoan Liong.
Kam Hong tersenyum, diam-diam memuji kecerdikan pemuda itu, dan dia menjawab dengan cerdik, “Kami mendengar akan gerakan pemberontakan yang dipelopori oleh Tiat-liong-pang, tidak tahu apakah Ji-wi ini ada hubungannya dengan Tiat-liong-pang?” Kemudian disambungnya, “Kami pernah mendengar bahwa Siangkoan Tek, ketua dari Tiat-liong-pang, adalah seorang yang gagah.”

“Dia adalah ayah saya!” kata Siangkoan Liong dengan cepat, girang bahwa kakek itu mengenal ayahnya dan menyebut ayahnya orang gagah.

Kam Hong mengangguk-angguk dan memandang kepada isterinya, kemudian berkata, seolah-olah bicara pada isterinya, “Sungguh aneh sekali. Sepanjang pendengaran kita, sekarang Tiat-liong-pang sedang bersekutu dengan orang-orang golongan sesat, bagai mana bisa begitu?”

Bu Ci Sian mendengus. “Huh, kalau perjuangan sudah dikotori dengan masuknya kaum sesat, jelas bahwa perjuangan itu tidak bersih lagi, hanya merupakan pemberontakan yang berpamrih demi kepentingan pribadi atau golongan. Aku tak bisa percaya dengan gerakan macam itu!”

“Maaf, maaf...!” kata Ouwyang Sianseng. “Dalam gerakan perjuangan tidak terdapat istilah golongan jahat atau golongan baik, kaum hitam atau kaum putih. Yang penting kita haruslah mengumpulkan seluruh kekuatan dari rakyat jelata untuk bersama-sama menentang pemerintah penjajah. Dan yang paling penting, tujuan kita adalah baik, yaitu menumbangkan penjajahan, ada pun caranya dapat menggunakan cara apa saja agar berhasil.”

Kam Hong tertawa, merasa bahwa lawannya terjebak. “Ha ha! Sobat yang baik, bagaimana mungkin cara yang kotor bisa menghasilkan tujuan yang bersih? Yang penting bukanlah tujuannya, melainkan caranya itulah! Jikalau caranya kotor, maka kami pun tidak ingin mengotorkan tangan untuk membantunya, bahkan sudah menjadi kewajiban kami untuk menentangnya. Jika kalian telah bersekutu dengan kaum sesat untuk membunuhi para perwira dan panglima, maka terpaksa kami akan menentang kalian!”

Habislah kesabaran Ouwyang Sianseng. Kalau tadi dia bersikap sabar hanya karena dia menghargai kakek dan nenek itu, dan kalau mungkin dapat menarik orang-orang pandai sebanyak mungkin untuk membantu gerakannya. Kini, mendengar ucapan Kam Hong, dia pun maklum bahwa akan percuma saja membujuk kakek dan nenek itu untuk ikut bekerja sama kalau pendiriannya seperti itu.

“Bagus! Kalau begitu ternyata kalian adalah pengkhianat penjual negara kepada orang Mancu dan sebab itu layak mati di tanganku!” berkata demikian, Ouwyang Sianseng lalu menggerakkan kipasnya, melakukan totokan bertubi dengan cepat sekali ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian tubuh atas depan dari lawannya.

Melihat gerakan serangan ini, diam-diam Kam Hong terkejut dan dia pun maklum bahwa lawannya ini sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Sementara itu, melihat betapa gurunya menyerang kakek lawan, Siangkoan Liong juga menggerakkan pedangnya, menerjang ke arah nenek yang semenjak tadi memandang penuh perhatian. Bu Ci Sian tidak terkejut melihat datangnya serangan pedang secepat kilat itu. Begitu tangannya bergerak, nampak sinar keemasan berkelebat dan tangannya telah memegang sebatang suling emas, tak sebesar milik suaminya, akan tetapi cukup panjang untuk menjadi sebuah senjata yang dapat digerakkan seperti pedang.

Siangkoan Liong terkejut ketika mendadak saja matanya silau oleh sinar kuning emas yang mengeluarkan suara mendengung mengerikan, dan tahu-tahu dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang menyambar-nyambar ke arahnya. Dia harus memutar pedangnya secepatnya untuk menarik serangan dan mengubah gerakannya menjadi gerakan pertahanan, membentuk gulungan sinar seperti payung yang menjadi perisai dan pelindung tubuhnya.

“Trang…! Cringgg...!”

Kembali Siangkoan Liong terkejut karena tangannya tergetar dan pada saat itu, tangan kiri nenek itu telah mendorong dan keluarlah hawa panas sekali ke arahnya. Siangkoan Liong adalah seorang pemuda perkasa, dengan ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Maka menghadapi pukulan jarak jauh yang mengandung sinkang panas ini, dia pun cepat mengelak dan mengibaskan lengan kirinya menyampok dan menangkis, lalu pedangnya berkelebat membalas serangan nenek itu dengan tusukan yang dahsyat.

Nenek itu juga maklum akan datangnya tusukan maut, maka dengan amat lincahnya tubuh nenek itu sudah meliuk dan menghindar, lalu dari samping membalas dengan ujung suling yang menotok tiga kali bertubi-tubi ke arah leher, pundak, lalu lambung!

Repot juga Siangkoan Liong menghadapi totokan yang berbahaya ini. Ia hanya mampu menghindarkan diri dengan keadaan terhimpit dan terdesak, lalu memutar pedangnya dan membalas dengan gerakan dahsyat dan sengit karena dia merasa penasaran dan marah sekali.

Ketika Ouwyang Sianseng melakukan totokan ke arah tubuh atas Kam Hong dengan gagang kipasnya, mendadak saja kipasnya bertemu dengan sebatang kipas lain yang dipegang oleh tangan kiri Kam Hong. Ouwyang Sianseng amat terkejut, akan tetapi juga kagum dan gembira. Kiranya lawannya ini pun agaknya pandai mempergunakan kipas sebagai senjata!

Ouwyang Sianseng kemudian mengeluarkan kepandaiannya. Kipasnya bergerak-gerak dengan cepatnya. Kipas itu bagaikan seekor kupu-kupu raksasa, beterbangan, kadang-kadang terbuka sayapnya, kadang-kadang tertutup. Dan kalau terbuka sayapnya, kipas menyambar mendatangkan angin yang kuat, dan kalau tertutup sayapnya, gagang kipas meluncur dengan totokan-totokan maut!

Diam-diam Kam Hong kagum sekali dan dia pun menggerakkan kipasnya dan mainkan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang hebat dan kuat. Dengan ilmu itu, Kam Hong juga ingin menguji ilmu kepandaian lawan.

Ouwyang Sianseng juga kagum. Ternyata lawannya ini memiliki ilmu permainan kipas yang kuat dan tangguh, maka ia pun cepat menggerakkan tangan kanannya, membantu kipasnya dengan pukulan-pukulan tangan miring yang menjadi demikian kuatnya, tiada ubahnya sebatang pedang, membabat dan mengeluarkan suara bercuitan.

Terkejutlah Kam Hong. Sungguh seorang lawan yang amat tangguh. Sudah lama sekali dia tidak pernah bertemu lawan setangguh ini, maka ia pun cepat menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar kuning emas bergulung-gulung, dibarengi suara suling yang melagu seperti ditiup saja. Padahal suling itu mengeluarkan suara hanya karena digerakkan oleh Kam Hong. Sinar terang menyambar bagaikan kilat dari atas mengarah kepala Ouwyang Sianseng.

Orang ini terkejut, menangkis dengan kipasnya dan akibatnya, ia terhuyung-huyung! Ia segera meloncat ke belakang.

“Tahan!” serunya kaget dan dia memandang penuh perhatian.

Kam Hong menghentikan gerakannya, tersenyum menanti, suling emas di tangan kanan sedangkan kipas di tangan kiri, sikapnya halus namun gagah sekali, membuat Ouwyang Sianseng merasa gentar juga.

“Kau… kau… Pendekar Suling Emas...?” Ouwyang Sianseng bertanya, suaranya agak gemetar saking tegangnya.

Kam Hong tersenyum, bukan senyum bangga, tetapi merasa betapa lucunya segala macam julukan itu, seperti kanak-kanak manja yang ingin dipuji saja!

“Dulu orang menyebut aku seperti itu, akan tetapi sekarang aku hanyalah seorang tua bangka yang sebetulnya tidak ingin lagi mempergunakan senjata, kalau tidak terpaksa. Serangan-seranganmu berbahaya, engkau seorang yang mempunyai kepandaian tinggi sehingga terpaksa aku harus mengeluarkan kedua senjataku ini.”

Biar pun belum berkelahi dengan sungguh-sungguh, namun Ouwyang Sianseng merasa gentar. Dia sudah mendengar akan nama besar Pendekar Suling Emas, dan sudah mendengar pula betapa isteri pendekar itu pun merupakan adik seperguruan yang lihai.

Ketika dia melirik, dia melihat betapa Siangkoan Liong repot bukan main menghadapi gulungan sinar kuning emas dari suling di tangan nenek itu, maka dia pun membentak, “Siangkoan Liong, mundur dan jangan kurang ajar di depan orang pandai!”

Mendengar bentakan suhu-nya, Siangkoan Liong merasa heran, akan tetapi juga lega dan dia pun cepat meloncat mundur mendekati gurunya. Dia sudah terdesak hebat dan kini dia dapat menghentikan perkelahian itu tanpa merasa meninggalkan gelanggang karena dia dilarang gurunya! Jadi dia berhenti sebelum kalah.

Melihat lawannya mundur, Bu Ci Sian yang sekarang telah berubah wataknya menjadi penyabar seperti suaminya, lalu tersenyum sambil berdiri di samping suaminya. Kalau mengingat wataknya ketika gadis dahulu, tentu ia tidak akan berhenti sebelum lawannya kalah dan akan mendesak terus!

Ouwyang Sianseng berkata kepada muridnya, sekedar untuk membuyarkan suasana penuh pertentangan tadi, “Ketahuilah, bahwa Locianpwe ini bukan lain adalah Pendekar Suling Emas dan isterinya yang namanya sudah amat terkenal di seluruh dunia sebagai pendekar-pendekar yang berbudi dan gagah perkasa.”

Lalu dia pun menjura kepada Kam Hong dan isterinya, diikuti pula oleh Siangkoan Liong yang sudah cepat-cepat menyimpan kembali pedangnya.

“Saudara yang perkasa,” berkata Ouwyang Sianseng, “kami sudah mendengar bahwa saudara dan isteri saudara adalah pendekar-pendekar perkasa. Oleh karena itu, dengan segala kehormatan kami mengundang Ji-wi untuk bekerja sama dengan kami, bersama-sama menentang pemerintah penjajah dan membasmi mereka untuk menyelamatkan tanah air dan bangsa...”

“Cukup,” kata Kam Hong dengan alis berkerut. “Sudah kami katakan tadi, kalau gerakan kalian itu didukung oleh para tokoh sesat, maka itu merupakan suatu pemberontakan berpamrih demi kepentingan golongan sendiri, dan kami sudah pasti tidak akan suka bekerja sama, bahkan akan menentangnya.”

Ouwyang Sianseng tersenyum pahit. “Terserah kalau demikian penilaianmu! Sudahlah, Siangkoan Liong, mari kita pergi!” katanya dan sekali meloncat, dia pun sudah lenyap. Demikian cepatnya gerakan kakek ini. Siangkoan Liong juga meloncat dan berlari cepat mengejar gurunya yang sudah berada jauh di depan.

Kam Hong menarik napas panjang. “Hebat sekali kepandaian orang itu!”

“Orang muda itu pun lihai sekali!” kata pula isterinya.

Panglima yang tadi hampir celaka di tangan guru dan murid yang lihai itu, sekarang menghampiri mereka dan di depan Kam Hong, dia lalu memberi hormat dengan hati terharu.

“Kalau bukan Ji-wi Taihiap yang muncul dan menolong, tentu kami semua telah tewas di tangan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong itu. Kami menghaturkan terima kasih kepada Ji-wi Taihiap dan mohon tanya nama besar Ji-wi. Kami sendiri adalah Panglima Liu, utusan dari kota raja yang hendak menyelidiki peristiwa aneh yang belakangan ini terjadi di benteng pasukan pemerintah di utara.”

Kam Hong dan Bu Ci Sian membalas penghormatan itu dengan sederhana. Bagaimana pun juga, mereka berdua tidak memiliki perasaan bersahabat dengan para pembesar pemerintah Mancu yang menjajah tanah air mereka. Akan tetapi Kam Hong tertarik juga untuk menyelidiki keadaan para pemberontak yang kini bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat.

“Liu Tai-ciangkun, sebenarnya apakah yang sudah terjadi? Mengapa kedua orang tadi menghadang rombongan Ciangkun di sini dan membunuh?” tanya Kam Hong.

“Di perbentengan utara terjadi kehebohan karena banyak sekali perwira-perwira dan panglima yang setia kepada pemerintah tiba-tiba lenyap, dan kedudukan mereka diganti oleh orang-orangnya Coa-ciangkun yang memimpin sebagian besar pasukan di utara. Menurut laporan yang baru kami terima, Coa-ciangkun dicurigai mengadakan hubungan dengan Tiat-liong-pang yang akan memberontak. Maka, kami diutus dengan wewenang penuh dari raja untuk melakukan penyelidikan dan menangkap mereka yang bersalah dan berkhianat. Kami pun sudah mendapat laporan lengkap tentang Tiat-liong-pang dan tentang hubungan Coa-ciangkun dengan para pemberontak. Oleh karena itu, kami tahu bahwa dua orang tadi adalah Ouwyang Sianseng atau juga dikenal dengan nama Nam San Sianjin, dan yang muda itu adalah Siangkoan Liong, putera dari Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang. Mereka hendak membunuh kami karena mudah diduga bahwa Tiat-liong-pang atau para pemberontak yang bersekutu dengan Coa-ciangkun itulah yang sudah menculik dan membunuhi para perwira dan panglima yang setia kepada pemerintah, untuk diganti dengan kaki tangan mereka sendiri supaya pasukan mudah dikuasai untuk membantu gerakan pemberontakan.”

Kam Hong mengerutkan alisnya. Meski dia sendiri tentu saja sama sekali tidak berniat untuk membantu tegaknya pemerintah penjajah Mancu, namun gerakan Tiat-liong-pang yang didukung para tokoh dunia hitam ini amatlah berbahaya bagi keselamatan rakyat jelata dan dia harus ikut menentangnya. Bukan untuk membantu pemerintah, melainkan untuk membasmi para tokoh sesat yang tentu hendak memancing di air keruh itu.

“Kalau begitu berbahaya sekali. Biar pun Ciangkun sudah terhindar dari bahaya di sini, akan tetapi kedua orang itu tentu akan menghubungi panglima yang menjadi sekutunya dan sebelum Ciangkun tiba di benteng, tentu akan dihadang dan dibunuh.”

Panglima Liu mengangguk-angguk, lalu saling pandang dengan empat orang pengawal pribadinya yang tadi sudah mati-matian mempertahankan keselamatan atasan mereka dari serangan guru dan murid itu.

“Baiklah, kita mencari jalan bagaimana baiknya. Mari, silakan duduk di sana, karena kami hendak mohon bantuan Ji-wi untuk mencari jalan keluar yang terbaik, sementara keempat orang pengawalku ini biar mengubur jenazah belasan orang anggota pasukan pengawal itu.”

Panglima besar Liu mengajak Kam Hong dan Bu Ci Sian bercakap-cakap di bawah pohon, sedangkan keempat orang pengawal itu mulai menggali sebuah lubang besar untuk mengubur belasan orang rekan mereka yang tewas dalam pertempuran tadi.

Sambil duduk di bawah pohon, panglima besar Liu bercakap-cakap dengan kakek dan nenek pendekar itu, minta pendapat dan nasehat mereka. Setelah mendengar semua penjelasan panglima itu, Kam Hong lalu mengajukan siasat, yaitu agar Liu Tai-ciangkun dan empat orang pengawal pribadinya bersembunyi dulu di dalam hutan, ditemani dan dilindungi oleh Bu Ci Sian.

Sedangkan Kam Hong sendiri akan membawa surat dari panglima itu untuk menemui Pouw-ciangkun, yaitu perwira yang sudah mengirimkan laporan kepada para pembesar di kota raja. Kam Hong lalu akan mengajak perwira Pouw itu keluar dari benteng dan menjumpai Liu Tai-ciangkun, dan kemudian baru akan diatur rencana sebaiknya untuk menyambut kedatangan panglima besar itu agar supaya bisa memasuki benteng tanpa gangguan dari pihak pengkhianat dan pemberontak. Setelah masuk ke dalam benteng, dikawal oleh Kam Hong dan isterinya, maka panglima dan perwira yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang dapat diringkus sebelum mereka dapat melakukan gerakan.

Setelah penguburan itu selesai, Kam Hong dan isterinya mengajak Panglima Liu masuk ke dalam hutan dan memilih tempat yang baik untuk bersembunyi, yaitu di sebuah goa. Kemudian, Kam Hong meninggalkan mereka untuk menyelundup ke dalam benteng. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tak sukar bagi Kam Hong untuk menyelundup ke dalam benteng tanpa diketahui para penjaga, melompati pagar tembok benteng dan mencari perwira Pouw!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya perwira Pouw yang sedang tidur dalam kamarnya seorang diri ketika tiba-tiba saja ada orang yang mengguncang tubuhnya. Pada waktu ia terbangun, ia melihat seorang kakek sastrawan sudah berdiri di dekat pembaringannya. Akan tetapi kakek itu memberi isyarat agar dia tidak mengeluarkan suara.

“Tenanglah, Pouw-ciangkun, aku datang bukan dengan niat buruk. Aku adalah utusan dari panglima besar yang datang dari kota raja.”

Wajah Pouw-ciangkun yang tadinya sudah pucat itu menjadi agak kemerahan kembali. Tadinya dia mengira bahwa tentu orang ini masuk ke kamarnya untuk menculik dan membunuhnya, seperti yang telah terjadi pada belasan orang rekannya yang lenyap tanpa meninggalkan bekas. Mendengar kata-kata itu, dia terkejut dan heran, lalu bangkit duduk, masih belum lenyap kekhawatirannya.

Kam Hong maklum akan kegelisahan perwira itu, maka cepat dia mengeluarkan sebuah sampul yang ada cap dari Panglima Besar Liu, dan menyerahkannya kepada perwira itu.

“Nah, inilah surat dari beliau untukmu, Pouw-ciangkun.”

Perwira itu menerima sampul, memeriksanya dan hatinya menjadi semakin lega ketika dia melihat bahwa memang benar cap pada sampul itu adalah cap dari Panglima Besar Liu yang dikenalnya sebagai seorang panglima yang jujur dan adil, juga bertangan besi terhadap para pemberontak.

“Akan tetapi, mengapa Liu Tai-ciangkun tidak langsung saja datang bersama pasukan pengawalnya ke sini? Kenapa harus mengutus Locianpwe?”

Pouw-ciangkun menggunakan sebutan penghormatan ini karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang berilmu tinggi sehingga malam itu dapat tiba-tiba saja muncul di dalam kamarnya bagaikan setan. Bagaimana pun juga, dia masih sangsi karena peristiwa ini terlalu aneh baginya.

Kam Hong maklum akan keraguan perwira itu. “Liu-ciangkun dan pasukan pengawalnya sudah dihadang oleh Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong di dalam perjalanan dan belasan orang pasukan pengawalnya tewas semua. Hanya beliau dan keempat orang pengawal pribadinya yang masih hidup ketika aku dan isteriku datang membantunya. Karena kami maklum bahwa nyawanya masih terancam, maka akulah yang datang mengantar suratnya, dan isteriku melindunginya di tempat persembunyian.”

Mendengar ini, terkejutlah Pouw-ciangkun. Kini dia percaya dan surat itu cepat dibuka dan dibacanya. Ternyata Liu Tai-ciangkun memanggilnya, sekarang juga agar dia ikut dengan kakek yang sakti ini. Tanpa banyak cakap lagi Pouw-ciangkun lalu diam-diam memanggil tiga orang rekannya, yaitu para perwira lain yang setia kepada pemerintah.

Tiga orang perwira itu pun amat terkejut melihat Kam Hong. Akan tetapi ketika mereka mendengar keterangan dari Pouw-ciangkun, mereka kemudian mengatur siasat dengan Pouw-ciangkun.

“Malam ini aku akan pergi menghadap Liu Tai-ciangkun bersama Locianpwe ini. Kalian harus dapat merahasiakan kepergianku ini. Aku akan mengambil jalan rahasia kita, dan mungkin besok malam aku baru kembali.” kata Pouw-ciangkun.

Para rekannya dapat menyetujui dan demikianlah, Pouw-ciangkun lalu pergi bersama Kam Hong, melalui jalan rahasia yang ada di belakang benteng. Tanpa diketahui orang lain, mereka berdua pergi meninggalkan benteng dan lewat tengah malam, mereka tiba di dalam hutan di mana Liu Tai-ciangkun bersembunyi di dalam goa dijaga oleh empat orang pengawal pribadi dan juga nenek Bu Ci Sian.

Pouw-ciangkun cepat memberi hormat kepada atasannya itu dan mereka bersama Kam Hong dan Bu Ci Sian, segera mengadakan perundingan dan mengatur siasat. Pouw-ciangkun menceritakan betapa keadaan sudah amat berbahaya karena kekuasaan Coa Tai-ciangkun kini menjadi semakin besar. Ada tak kurang dari dua puluh orang perwira yang menjadi bawahannya dan yang menyetujui persekutuan dengan Tiat-liong-pang, termasuk mereka yang diangkat untuk menggantikan para perwira setia yang diculik.

“Bagaimana dengan pasukannya sendiri?” tanya Liu-ciangkun, terkejut juga mendengar akan hal itu.

“Sudah saya selidiki, Tai-ciangkun. Para anggota pasukan agaknya belum tahu akan niat Coa-ciangkun yang bersekutu dengan para pemberontak. Akan tetapi, pasukan yang bertugas di utara adalah pasukan istimewa yang selalu mentaati perintah atasan tanpa banyak bertanya. Jadi, jika para perwiranya telah dapat dikuasai Coa-ciangkun, maka dengan sendirinya pasukannya juga akan taat akan segala perintahnya. Mereka takkan mundur walau pun diperintah untuk menyerbu pasukan pemerintah sendiri!”

“Berapa jumlah seluruh pasukan yang berjaga di tapal batas utara?”

“Yang sudah siap di benteng adalah pasukan-pasukan inti yang jumlahnya kurang lebih selaksa orang. Pasukan cadangan berada di benteng sebelah selatan, tetapi mereka itu biasanya kurang siap dan kurang kuat karena merasa jauh dari bahaya, tidak seperti pasukan inti yang berada di tapal batas.”

“Dan berapa banyak yang telah dipengaruhi Coa-ciangkun?”

“Melihat jumlahnya perwira, kurang lebih separuh yang telah dikuasainya. Yang separuh lagi, sebagian masih setia kepada kerajaan, dan ada pula sebagian yang bimbang dan gelisah karena adanya penculikan-penculikan itu.”

Liu-ciangkun mengangguk-angguk. “Kembalilah engkau ke benteng dan hubungi para rekan yang setia, agar mereka siap siaga. Lalu aturlah agar terdapat pasukan khusus yang menyambut kedatanganku yang akan dikawal oleh kedua Locianpwe ini. Dengan adanya penyambutan pasukan khusus yang cukup besar jumlahnya, apa lagi adanya kedua Locianpwe ini, tentu para penjahat itu tidak berani turun tangan. Kemudian, di sana aku akan memanggil semua perwira dan para panglima untuk berkumpul dan mengadakan rapat. Nah, pada saat itu pulalah aku akan mengumumkan penangkapan terhadap mereka. Juga engkau harus sudah mempersiapkan pasukan yang setia untuk mengepung tempat pertemuan itu sehingga mereka tidak akan mampu lolos. Kemudian, akan kuangkat perwira-perwira baru yang setia. Semua gerakan ini harus dirahasiakan, jangan sampai bocor agar jangan diketahui oleh pihak Tiat-liong-pang. Selanjutnya akan kuatur lagi nanti.” Demikianlah Liu Tai-ciangkun mengambil keputusan setelah berunding dengan Kam Hong dan Bu Ci Sian.

Untuk menjaga keselamatannya supaya semua rencana dapat berjalan dengan lancar, ketika kembali ke benteng Pouw-ciangkun kembali ditemani Kam Hong, juga melalui jalan rahasia di belakang benteng. Setelah melihat betapa Pouw ciangkun telah kembali dengan selamat tanpa diketahui siapa pun, Kam Hong lalu kembali dan mereka semua menanti datangnya pasukan yang akan mengadakan penyambutan.

Pouw-ciangkun berunding dengan para rekannya, kemudian mengumumkan bahwa Liu Tai-ciangkun akan datang berkunjung ke banteng. Maka ia beserta para rekannya lalu mempersiapkan dua ratus orang pasukan khusus untuk keluar benteng dan melakukan penyambutan.

Tentu saja diam-diam Coa Tai-ciangkun sudah mendengar dari para sekutunya akan datangnya Lui-tai-ciangkun dari kota raja yang pangkatnya lebih tinggi darinya, bahkan yang membawa surat kuasa dari para penguasa di kota raja. Dia tidak berdaya untuk menghalangi kunjungan ini.

Akan tetapi karena merasa bahwa kekuasaannya di benteng sangat besar, dia tidak merasa khawatir. Bahkan oleh Ouwyang Sianseng dianjurkan untuk menerima utusan kota raja itu di dalam benteng. Nanti kalau gerakan dimulai, akan mudah menyergap Liu Tai-ciangkun, demikian pendapat Ouwyang Sianseng.

Andai kata pasukan penyambut tidak begitu besar, tentu Coa Tai-ciangkun dan para rekannya akan turun tangan menghadang dan membasmi pasukan penyambut serta membunuh utusan kota raja itu. Akan tetapi pasukan yang dikumpulkan dan dikerahkan Pouw-ciangkun itu berjumlah dua ratus orang dan merupakan pasukan khusus, maka tentu saja hal ini akan sukar dilaksanakan tanpa terjadi pertempuran besar yang tentu akan mengguncangkan benteng itu dan akan memecah belah pasukan sehingga akan terjadi perang saudara sendiri yang akan menghancurkan seluruh pasukan!

Ketika pasukan khusus itu memasuki hutan, muncullah Liu Tai-ciangkun bersama empat orang pengawal pribadi, ditemani pula oleh kakek dan nenek itu yang selalu siap siaga, menjaga segala kemungkinan. Akan tetapi, penyambutan itu berjalan lancar dan dengan kehormatan, Liu Tai-ciangkun dikawal oleh pasukan itu memasuki benteng.

Begitu memasuki benteng dan disambut oleh semua perwira dan panglima, dengan suara lantang Liu Tai-ciangkun berkata, “Kami datang membawa perintah dari kota raja! Kami akan mengadakan rapat rahasia dengan seluruh pimpinan di benteng ini. Tidak ada seorang pun dari luar, kecuali kedua Locianpwe ini, yang boleh berada di dalam benteng. Pintu benteng harus ditutup dan dijaga ketat agar tidak ada orang luar dapat masuk. Kuperingatkan pasukan yang menjemputku tadi supaya dibagi dan melakukan penjagaan membantu para penjaga di semua pintu benteng! Sekarang, kuperintahkan agar semua perwira dan panglima berkumpul di ruangan rapat pusat!”

Karena utusan dari kota raja itu memperlihatkan pula surat kuasa yang dibawanya dari kota raja, maka tak seorang pun perwira berani membantah, bahkan Coa Tai-ciangkun tidak membantah. Dia merasa lega karena sikap panglima tinggi dari kota raja itu sama sekali tidak memperlihatkan kecurigaan kepadanya, dan tidak ada tanda-tanda bahwa utusan itu akan melakukan tindakan-tindakan. Maka dia pun memberi isyarat rahasia kepada para kaki tangannya untuk mematuhi perintah itu, untuk terlebih dahulu melihat perkembangan selanjutnya sebelum dia mengambil keputusan untuk bergerak.

Semua perwira kemudian berkumpul di dalam ruangan rapat yang luas itu. Diam-diam pasukan khusus yang sudah disiapkan oleh Pouw-ciangkun dan para rekannya seperti yang telah direncanakan oleh Liu Tai-ciangkun, mulai mengepung ruangan rapat itu.

Ada lima ratus orang pasukan dikerahkan, mengepung rapat tempat itu bukan hanya untuk mencegah mereka yang berada di dalam menerobos keluar, juga untuk menjaga kalau-kalau ada kaki tangan pemberontak yang menyerbu untuk membebaskan mereka yang berada di dalam ruangan rapat! Dan semua ini berlangsung diam-diam tanpa keributan seperti yang diperintahkan Liu Tai-ciangkun sehingga tidak ada seorang pun di antara para perwira yang mengetahui bahwa tempat itu sudah dikepung dengan ketat oleh pasukan. Tentu saja yang mengetahui hanya Liu Tai-ciangkun, Pouw-ciangkun dan para rekan-rekannya yang melaksanakan siasat itu.

Suasana dalam rapat itu tenang setelah semua orang mengambil tempat duduk. Ada lebih dari tiga puluh orang perwira menengah dan perwira tinggi, dan semua kursi diatur menghadap ke arah panggung di mana duduk Liu Tai-ciangkun yang hanya dikawal oleh kakek dan nenek yang duduk tenang di belakangnya itu. Tak ada anggota pasukan pengawal menjaga panglima tinggi ini. Dan kakek nenek itu kelihatannya sudah tua dan lemah, bahkan sama sekali tidak nampak membawa senjata.

Setelah menghitung jumlah perwira. Liu Tai-ciangkun membuka persidangan itu dengan pertanyaan. “Mengapa yang hadir hanya ini? Di mana lagi yang lain? Bukankah di sini terdapat perwira-perwira yang jumlahnya ada lima puluh orang?” Lalu dia memandang ke arah Coa Tai-ciangkun yang duduk di deretan paling depan. “Coa-ciangkun, setelah dua orang panglima lainnya tak hadir, maka engkaulah perwira yang pangkatnya paling tinggi di sini. Nah, sekarang aku ingin mendengar laporanmu di mana adanya belasan orang perwira lainnya itu dan mengapa pula mereka tidak hadir!”

Wajah Coa Tai-ciangkun berubah merah. Dia merasa heran mengapa utusan kota raja ini masih berpura-pura. Dia yakin bahwa tentu ada di antara para perwira yang melapor ke kota raja dan tentu di dalam laporan itu sudah disebutkan akan lenyapnya belasan orang perwira secara aneh. Mengapa Liu Tai-ciangkun masih berpura-pura bodoh dan bertanya kepadanya?

Namun, dengan sikap tenang dia lalu bangkit berdiri, memberi hormat secara militer dan melapor dengan suaranya yang lantang. “Lapor kepada Liu Tai-ciangkun! Empat belas orang perwira dan panglima yang pada hari ini tidak hadir, sudah lenyap dalam waktu selama dua bulan ini. Mereka lenyap secara aneh dan walau pun kami sudah mencari-carinya, namun tidak berhasil menemukan di mana mereka berada, sudah mati ataukah masih hidup!”

Liu Tai-ciangkun mengerutkan alis. “Hemmm, mana mungkin ada belasan orang perwira bisa lenyap begitu saja dari dalam benteng tanpa diketahui orang sama sekali ke mana perginya?”

“Kami semua sudah berusaha mencari dan menyebar penyelidik, namun tidak berhasil. Kami telah menunjuk perwira-perwira pengganti untuk sementara, dan karena mereka belum dilantik dan disahkan, maka tidak kami hadirkan di tempat ini.”

“Hemmm, sungguh kacau balau dan menyedihkan! Kehilangan belasan orang perwira tanpa dapat diketahui ke mana mereka pergi, ini hanya menunjukkan kelemahan para pemimpin yang menguasai benteng ini. Karena itu harus segera diadakan perombakan seperlunya! Sekarang kami hendak mengadakan pemilihan, dan perwira yang namanya kami sebut, harap suka berdiri di bagian kiri ruangan ini!”

Mendengar suara Liu Tai-ciangkun yang penuh wibawa, semua perwira yang hadir di sana saling pandang dan merasa tegang, bahkan Coa Ciangkun sendiri merasa tidak enak. Akan tetapi dia tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh utusan kota raja itu, maka dia pun tidak dapat berbuat sesuatu kecuali saling pandang dengan para anak buahnya. Selagi masih kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara Liu Tai-ciangkun yang lantang memanggil namanya!

“Panglima Coa Seng! Silakan berdiri di bagian kiri sana!”

Tentu saja Coa Tai-ciangkun semakin kaget. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat lain kecuali bangkit berdiri dari tempat duduknya dan memandang ke sekeliling, kemudian kepada Liu Tai-ciangkun yang dengan tangannya mempersilakan dia pergi ke bagian kiri ruangan itu, di mana sudah ada bangku-bangku kosong menunggu. Dengan senyum menghias bibirnya dan sikap yang tenang karena dia percaya akan kekuasaannya, Coa Tai-ciangkun yang bernama Coa Seng itu lalu melangkah, kemudian duduk di bangku terdepan dari tempat yang ditunjuk itu.

“Perwira Song Pun Ki!”

Disebutnya nama yang ke dua ini membuat jantung Coa Tai-ciangkun berdebar tegang. Mengapa kebetulan sekali yang disebut sebagai orang ke dua adalah Song-ciangkun, perwira berkumis tebal yang menjadi tangan kanannya dalam persekutuannya dengan pihak Tiat-liong-pang? Apakah ini hanya kebetulan saja?

Akan tetapi, seperti juga dia, Song-ciangkun tidak dapat membantah dan dia pun lalu bangkit, kemudian berjalan dengan langkah lebar, lalu duduk di dekat Coa Tai-ciangkun. Sejenak mereka saling pandang, akan tetapi tentu saja tidak sempat untuk bicara.

Nama demi nama dipanggil dan keadaan menjadi makin menegangkan karena ternyata bahwa nama-nama yang dipanggil oleh Liu Tai-ciangkun berikutnya adalah nama-nama para perwira yang menjadi anak buah Coa Tai-ciangkun, yaitu para perwira yang sudah setuju untuk melakukan pemberontakan bersama Tiat-liong-pang!

Setelah dua puluh dua orang perwira dipanggil dan berkumpul di bagian kiri ruangan itu, panggilan dihentikan oleh Liu Tai-ciangkun dan panglima tinggi ini lalu bangkit berdiri. Sambil memandang ke arah para perwira yang duduk di ruangan sebelah kiri, dengan suara lantang Panglima Liu itu lalu berkata dengan tegas.

“Panglima Coa Seng dan semua perwira yang sudah berkumpul di sebelah kiri, semua sebanyak dua puluh dua orang, atas nama Kaisar, dengan wewenang yang ada pada kami selaku utusan yang berkuasa penuh, maka kami menangkap dan menahan kalian dengan tuduhan memberontak!”

Coa-ciangkun, Song-ciangkun dan rekan-rekannya serentak bangkit berdiri, bahkan ada pula yang mencabut pedang. Akan tetapi pada saat itu nampak bayangan dua orang berkelebat cepat sekali. Tahu-tahu, kakek Kam Hong dan isterinya, nenek Bu Ci Sian, sudah meloncat ke arah sekumpulan perwira yang hendak ditangkap itu.

Pada saat itu, Coa-ciangkun dan Song-ciangkun bersama rekan-rekannya sudah siap memberontak dan memberi tanda kepada para anak buah mereka yang berada di luar. Bahkan beberapa di antara mereka sudah mencabut pedang masing-masing. Namun, tiba-tiba saja Coa-ciangkun roboh terkulai karena panglima ini sudah terkena totokan jari tangan kakek Kam Hong. Sedangkan Song-ciangkun demikian pula, roboh tertotok oleh nenek Bu Ci Sian!

Para perwira lainnya segera menyerang dan hendak memberontak di ruangan itu, maka kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian bergerak cepat merobohkan beberapa orang. Pada saat itu, pasukan yang sudah siap di luar dan mengepung tempat itu, menerjang masuk dan dengan mudahnya, tanpa banyak menimbulkan kegaduhan, apa lagi karena dibantu oleh Kam Hong dan Bu Ci Sian, dua puluh dua orang perwira pemberontak itu dapat dilumpuhkan, kedua tangan mereka diborgol dan dijadikan tawanan! Semua ini berlangsung tanpa diketahui orang luar.

Liu Tai-ciangkun lalu memerintahkan supaya menjaga ketat benteng itu dan melarang semua anggota pasukan keluar dari dalam benteng. Ternyata perintahnya ini membawa hasil dengan ditangkapnya puluhan orang anak buah pasukan, perwira-perwira rendah yang hendak melarikan diri keluar benteng. Mereka adalah anak buah Coa Tai-ciangkun yang mendengar akan penangkapan-penangkapan itu dan hendak melarikan diri untuk melapor kepada Tiat-liong-pang.

Namun, berkat kesiap siagaan sesuai dengan perintah Liu Tai-ciangkun, mereka semua tertangkap dan selanjutnya, dengan memaksa para tawanan ini, dengan mudah rekan-rekan mereka ditangkapi. Ternyata jaringan itu sudah cukup luas karena jumlah orang tawanan ada seratus orang lebih!

Liu-ciangkun segera mengangkat perwira-perwira baru yang setia terhadap pemerintah untuk menggantikan para pemegang pimpinan di dalam benteng itu dan membersihkan semua unsur pemberontakan. Para tawanan dikawal dengan sangat ketat oleh pasukan khusus, kemudian dikirim ke kota raja untuk diadili. Semua ini terjadi tanpa kebocoran sehingga pihak Tiat-liong-pang sama sekali tidak mengetahuinya.

Setelah penumpasan para perwira pemberontak dalam benteng itu selesai, kakek Kam Hong dan isterinya, nenek Bu Ci Sian, segera meninggalkan benteng untuk melakukan penyelidikan ke Tiat-liong-pang. Mereka kini menduga bahwa besar sekali kemungkinan puteri mereka juga berada di antara para pendekar yang kabarnya juga bergerak untuk menentang para tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-long-pang untuk melakukan pemberontakan, seperti yang mereka dengar dari para penyelidik pasukan yang masih setia kepada pemerintah.

Liu-ciangkun mengucapkan terima kasih. Ketika panglima ini hendak memberi hadiah berupa barang berharga dan emas, tentu saja kakek dan nenek itu menolak secara halus dan sekali berkelebat keduanya pergi tanpa pamit lagi.

********

Pengalamannya yang pahit ketika bertemu dengan kakek sakti Kam Hong dan isterinya itulah yang membuat Ouwyang Sianseng tidak mau membunuh tiga orang pendekar yang tertawan itu begitu saja. Dia tahu betapa di antara para pendekar terdapat banyak sekali orang sakti, dan bahwa dia harus bisa mendapatkan lebih banyak pembantu yang memiliki kepandaian tinggi, karena jika tidak, hanya mengandalkan pasukan saja, akan sukarlah gerakan mereka itu akan berhasil dengan baik.

Para pendekar yang menentang gerakannya harus dapat dihadapi dengan kekuatan yang memiliki ilmu silat tinggi pula. Maka, melihat betapa Hong Beng, Kun Tek dan Li Sian ketiganya adalah orang-orang muda yang mempunyai ilmu silat tinggi, Ouwyang Sianseng merasa sayang jika harus membunuh mereka begitu saja. Oleh karena itu, dia berusaha sedapat mungkin untuk membuat mereka bertiga tunduk dan takluk, kemudian suka membantu gerakan ‘perjuangan’ mereka menjatuhkan pemerintah Mancu.

Setelah memperlihatkan hukuman yang amat mengerikan terhadap Cui Bi atau Nyonya Pouw Ciang Hin untuk membuat hati mereka bertiga itu ngeri, Ouwyang Sianseng pergi meninggalkan mereka dan memberi waktu sehari semalam untuk memilih, yaitu mereka bertiga menakluk dan membantu gerakan perjuangan Tiat-liong-pang, atau dibunuh!

Setelah Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong meninggalkan mereka bertiga, ketiga orang muda itu saling pandang. Pouw Li Sian bergidik mengenang nasib yang menimpa diri bekas kakak iparnya tadi. Akan tetapi dia dapat membayangkan apa yang terjadi pada diri kakak iparnya itu setelah kakaknya terbunuh.

Agaknya Siangkoan Liong sudah menyuruh tangkap wanita itu. Dengan kepandaiannya merayu dan ditambah ketampanan dan kegagahannya, Siangkoan Liong telah berhasil menundukkan wanita yang agaknya tidak mampu mempertahankan kehormatannya dan menyerahkan diri menjadi kekasih atau permainan Siangkoan Liong! Tadi hal ini mudah dilihat ketika kakak iparnya itu mencela dan memakinya, dan sikap wanita itu terhadap Siangkoan Liong.

Sungguh pemuda berhati iblis! Ia sendiri telah menjadi korban rayuan pemuda jahat itu! Li Sian merasa menyesal sekali dan diam-diam ia bersumpah untuk membunuh pemuda itu sebelum ia mati.

Tiba-tiba terdengar suara Gu Hong Beng, halus namun penuh kesungguhan, ditujukan kepada dirinya dan Kun Tek. “Bagaimana pendapat kalian dengan pilihan yang mereka ajukan tadi?”

Mendengar pertanyaan ini, Li Sian meragu untuk menjawab, akan tetapi Cu Kun Tek, dengan suaranya yang besar dan lantang, segera menjawab tanpa banyak pikir lagi. “Pilihan yang mana? Bagiku tidak ada pilihan lain! Lebih baik mati dari pada harus takluk kepada mereka! Menyerah dan membantu pemberontakan mereka? Huh, biar mereka membunuh aku seratus kali, aku tetap tidak akan sudi untuk menakluk!”

“Hemmm, jadi engkau memilih mati konyol di tangan mereka, Kun Tek? Lalu bagaimana dengan pendapatmu, nona Pouw?”

Diam-diam Li Sian merasa kagum sekali melihat sikap Kun Tek. Pemuda tinggi besar ini tidak hanya gagah wajah dan tubuhnya, akan tetapi juga wataknya amat gagah perkasa. Sungguh seorang pendekar perkasa sejati! Ia memandang kagum kepada pemuda itu dan mendengar pertanyaan Hong Beng, ia pun menoleh kepadanya.

“Bagi aku pun tidak ada pilihan lain. Aku tidak sudi menyerah dan menakluk kepada mereka!”

“Bagus sekali! Ha-ha-ha-ha, jangan khawatir, Nona. Kita berdua tidak sudi menakluk, biarlah kalau Hong Beng takut mati dan ingin menakluk. Aku akan menemanimu sampai kita berdua dibunuh, kemudian nyawaku akan menemani nyawamu sampai selamanya. Jangan khawatir, nona Pouw, sekali bicara, aku akan selalu memegang teguh janjiku, disaksikan Langit dan Bumi!”

Mendengar ini, wajah Pouw Li Sian menjadi agak pucat dan ia memandang kepada Kun Tek dengan mata terbelalak. Hatinya seperti ditusuk dan merasa terharu sekali.

“Saudara Cu Kun Tek... engkau... mengapa engkau berkata demikian? Mengapa...?”

Dia bertanya agak gagap karena dia benar-benar merasa terkejut, heran dan bingung mendengar ucapan Kun Tek tadi. Akan tetapi Hong Beng hanya menahan senyumnya, karena pemuda ini sudah dapat menjenguk isi hati Kun Tek dan tahu bahwa Kun Tek telah jatuh hati kepada Pouw Li Sian.

Kun Tek adalah seorang pemuda yang keras hati, jujur dan dalam hal cinta mencinta, dia dapat dikatakan masih hijau. Selama hidupnya, pernah dia satu kali jatuh cinta, yaitu kepada seorang gadis bernama Can Bi Lan yang kini sudah menjadi isteri Pendekar Suling Naga.

Ketika cintanya gagal karena ternyata dia hanya bertepuk tangan sebelah, dia merasa jera untuk mendekati gadis lagi sehingga sampai sekarang dia tidak pernah lagi mau bergaul dengan seorang gadis, sampai kini dia bertemu dengan Li Sian dan tergila-gila karena jatuh cinta! Saking jujurnya, maka di depan Hong Beng dia pun tidak merasa ragu-ragu lagi untuk membuat pengakuan itu, apa lagi kalau mengingat bahwa mereka menghadapi ancaman maut yang agaknya takkan terelakkan lagi itu.

“Nona Pouw Li Sian, aku kagum padamu, aku kasihan kepadamu, dan aku... aku cinta padamu! Nah, legalah rasanya hatiku setelah pengakuan ini. Kita akan mati bersama-sama, dan memang sebaiknya sebelum aku mati engkau mengetahui bahwa aku cinta padamu dan bersedia mati untukmu. Apa lagi dapat mati bersamamu, merupakan suatu kebahagiaan bagiku, Nona. Dan jangan khawatir, sampai mati pun, nyawaku pasti akan tetap mendampingimu, karena kata orang-orang bijaksana, cinta kasih tidak akan mati bersama badan!”

Kini wajah Li Sian berubah merah sekali, lalu berubah pucat lagi, dan merah lagi. Dia merasa begitu terharu sampai tak dapat membendung lagi turunnya air matanya yang deras. Betapa luhur budi pemuda ini, pikirnya, dan betapa jauh dibandingkan Siangkoan Liong! Cinta pemuda ini demikian murni dan agung, bukan sekedar nafsu terselubung kata-kata manis penuh rayuan, melainkan pernyataan cinta yang tulus dan bersih.

Melihat gadis itu mendadak menangis dengan air mata bercucuran, seketika wajah Kun Tek menjadi pucat sekali. Dia khawatir kalau pernyataan cintanya yang terang-terangan itu malah menyinggung hati gadis ini yang ternyata tidak cinta padanya! Ingin rasanya dia memukul kepalanya sendiri!

Dengan suara gemetar ia lalu berkata, “Aih, nona Pouw mohon kau maafkan aku... ahh, mulutku lancang sekali, aku sudah membuatmu menangis. Tentu engkau tersinggung. Barangkali aku sudah gila, bagaimana mungkin seorang kasar seperti aku berani mati mengaku cinta kepada seorang gadis seperti engkau? Maafkanlah aku, Nona...”

“Tidak, bukan begitu maksud tangisanku, saudara Cu Kun Tek! Ah, aku berterima kasih sekali, aku terharu sekali. Aku menangis karena... karena terharu dan bahagia. Seorang pendekar gagah perkasa seperti engkau, Cu-taihiap (Pendekar Besar Cu), mencinta seorang gadis seperti aku? Aih, Taihiap, apakah engkau tidak keliru pilih?”

Kalau tadi wajah Kun Tek keruh dan berduka, kini seolah-olah ada sinar mencorong dari dalam, terutama sekali sepasang matanya yang bersinar-sinar.
Kisah si bangau putih bagian 14

Kun Tek tertawa-tawa, suara ketawanya bebas lepas dan keluar langsung dari dalam perutnya, melepaskan semua keraguan dan kedukaan, dan menjadikannya gembira luar biasa sehingga segala sesuatu nampak indah.

“Ha-ha-ha, ahh, nona Pouw, pertama-tama kumohon padamu, janganlah menyebut aku taihiap! Selain itu, jangan engkau merendahkan dirimu. Engkau sendiri seorang gadis perkasa dan tentang ilmu silat, belum tentu aku akan mampu menang darimu! Engkau membuat aku malu saja dengan menyebutku taihiap. Aku tidak keliru, Nona, karena aku mengenal suara hatiku sendiri. Aku cinta padamu!”

“Tetapi... Toako (Kakak), aku tidak berharga mendapatkan cintamu. Aku... aku adalah seorang gadis yang hina, yang ternoda... aku... aku telah...” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena duka telah menyergap perasaannya lagi ketika ia teringat betapa ia telah menjadi korban kebiadaban Siangkoan Liong.

“Aku sudah tahu, Nona,” kata Kun Tek, suaranya tenang saja seolah-olah yang mereka bicarakan itu tak ada artinya baginya. “Aku telah mendengar apa yang dikatakan wanita itu, dan aku dapat menduga bahwa engkau tentu sudah menjadi korban dari pemuda yang bernama Siangkoan Liong itu.”

Li Sian kini mengusap air matanya, memandang kepada Kun Tek.

“Benar...!” katanya tegas. “Biarlah engkau mendengarnya, Cu-toako, dan juga saudara Gu Hong Beng ini mendengarnya. Tak perlu aku menutupi lagi peristiwa itu karena kita semua akan mati. Dengarlah baik-baik pengakuanku. Ketika aku tiba di sini, aku telah terbujuk oleh mereka untuk dapat menemui kakak kandungku yang kemudian mereka bunuh tanpa sepengetahuanku. Dan pada saat aku berduka karena kematian kakakku, kesempatan itu dipergunakan oleh manusia iblis Siangkoan Liong itu, untuk merayuku. Terdorong oleh kelemahanku saat itu, juga dengan bantuan obat-obat, kekuatan sihir, dan rayuannya, akhirnya aku menyerah. Aku menyerahkan diriku kepadanya, kemudian akhirnya aku dapat melihat kepalsuannya, bahwa dia menyuruh bunuh kakakku, bahwa dia hanya mempermainkan aku... nah, engkau telah tahu sekarang, Toako, bahwa aku memang gadis yang sudah ternoda, bukan perawan lagi, aku seorang gadis hina yang tidak berharga untuk mendapatkan cintamu...” Li Sian menangis lagi.

Kalau saja tidak ada rantai yang menghalanginya, tentu Kun Tek sudah menghampiri untuk merangkul dan menghibur gadis itu. Dia menggerak-gerakkan rantai panjang itu sehingga mengeluarkan bunyi berkerontangan, lalu berkata dengan suara tegas.

“Nona Pouw Li Sian, jangan berkata demikian! Aku cinta padamu, aku semakin kasihan padamu. Dan yang kucinta adalah engkau seluruhnya, bukan keperawananmu! Engkau sekarang inilah yang kucinta, bukan engkau sebelum engkau menjadi korban kejahatan pemuda itu karena ketika itu aku belum mengenalmu. Akulah yang akan membalas sakit hatimu, Nona. Meski pun andai kata aku dibunuh, nyawaku masih akan berusaha untuk membalas kejahatan pemuda itu!”

Kata-kata ini seperti sebuah nyanyian merdu bagi Li Sian. Bukan sekedar menghibur, akan tetapi juga mengangkatnya, dan juga membersihkannya! Ia tidak lagi merasa kotor dan hina rendah dalam pandangan pemuda itu atau bahkan orang lain!

“Terima kasih, Cu-koko..., terima kasih! Aku akan berbohong kalau sekarang mendadak mengaku cinta padamu. Akan tetapi aku kagum padamu, aku berterima kasih padamu, dan aku berjanji bahwa kalau kita berhasil lolos dari maut, kelak aku akan siap untuk menjadi isterimu yang setia, atau kalau kita mati, aku ingin mati bersamamu, dan aku akan girang kalau nyawamu mendampingi nyawaku...”

Cu Kun Tek terbelalak. Ingin rasanya dia bersorak, ingin dia berjingkrak-jingkrak saking girang hatinya. Akan tetapi karena tidak mungkin hal itu dia lakukan, kini matanya yang lebar itu hanya mengamati wajah Li Sian, dan perlahan-lahan ada dua butir air mata besar menggelinding keluar dari kedua matanya, menuruni pipinya!

Melihat ini Li Sian terharu sekali. Bahkan Hong Beng juga merasa terharu dan maklum bahwa cinta pemuda itu memang murni dan hebat! Dia membiarkan saja kedua orang itu saling mencurahkan cinta kasih mereka melalui pandang mata, kemudian ia menarik napas panjang dan berkata, seperti kepada diri sendiri.

“Ah, betapa anehnya kalian ini. Saling mencinta dalam menghadapi maut, dan rela mati konyol...! Sungguh, ke manakah larinya kegagahan kalian?”

Mendengar ucapan ini, Kun Tek memandang kepada Hong Beng dengan sinar mata marah. “Gu Hong Beng, sudahlah engkau jangan mengeluarkan suara karena tiap kali engkau bicara, engkau hanya membuat hatiku muak saja! Sepantasnya pertanyaanmu itu kau ajukan pada dirimu sendiri, bukan kepada kami. Ke mana larinya kegagahanmu? Aku dulu mengenalmu sebagai seorang pendekar gagah perkasa, akan tetapi sekarang engkau hanya seorang pengecut yang takut mati!”

“Kun Tek, engkau bicara tanpa dipikir lebih dahulu. Aku bukan pengecut, bukan pula takut mati. Akan tetapi aku bukan orang tolol yang ingin mati seperti seekor babi, mati konyol tanpa melawan. Kalau toh kita harus mati, sepatutnya kita mati sebagai harimau, mati dalam perlawanan. Akan tetapi, kalau kita dibelenggu seperti ini, bagaimana kita mampu melawan? Kita mati konyol begitu saja!”

“Karena tidak ada pilihan, perlu apa takut mati? Jauh lebih baik mati dibunuh lawan dari pada harus menyerah dan takluk! Dan engkau ingin takluk kepada lawan? Bukankah itu hanya untuk menyelamatkan nyawamu dan itu berarti engkau seorang pengecut?” tanya Kun Tek penasaran.

“Hemmm, nekat dan mati konyol bukan perbuatan gagah perkasa, melainkan perbuatan tolol! Dan menyerah karena keadaan belum tentu pengecut, melainkan perbuatan yang cerdik dan mempergunakan perhitungan.”

“Sudahlah, aku tak sudi mendengar omonganmu lagi. Terserah engkau mau takluk, mau menjilati sepatu para pemberontak itu, mau masuk menjadi anggota golongan sesat. Akan tetapi, aku dan Pouw-moi lebih suka memilih mati!” kata Kun Tek.

Semenjak tadi Li Sian hanya mendengarkan saja. Kini, melihat percekcokan dua orang gagah yang tadinya menjadi sahabat itu, ia lalu berkata, “Cu-koko, kurasa ada benarnya juga apa yang dikatakan saudara Gu Hong Beng. Biarkan dia bicara mengemukakan pendapatnya dan jangan dibantah dulu sebelum dia selesai bicara.”

Kun Tek mengerutkan alisnya, akan tetapi melihat sinar mata Li Sian yang lembut dan senyum manis ditujukan kepadanya, dia pun mengangguk dan menoleh kepada Hong Beng sambil berkata, “Nah, bicaralah!”

Gu Hong Beng menahan senyumnya karena baginya, sikap Kun Tek itu nampak lucu sekali. “Begini, Kun Tek dan nona Pouw. Memang sepintas lalu tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mati sebagai orang-orang gagah yang tidak sudi menyerah. Namun, kurasa jalan itu amat bodoh karena apa untungnya kalau kita mati konyol? Mereka itu akan melanjutkan gerakan pemberontakan mereka, sehingga rakyat banyak yang akan menderita dan mati pula, juga sakit hati nona Pouw takkan dapat dibalas sama sekali! Dan mereka itu memberi kesempatan kepada kita, sebab mereka membutuhkan tenaga kita. Nah, kenapa kita tidak mau berlaku cerdik? Tentu saja aku sendiri tidak sudi untuk benar-benar membantu mereka! Akan tetapi, kenapa kita tak menggunakan kelemahan mereka, yaitu membutuhkan tenaga kita, untuk berusaha meloloskan diri? Kita boleh pura-pura menyerah, dan kita melihat perkembangan selanjutnya. Yang penting, kalau kita dapat bebas dari belenggu-belenggu ini, kita dapat bergerak leluasa. Andai kata kita akan mengamuk juga, sebelum kita mati, kita akan dapat menewaskan banyak lawan sebelum kita mati konyol! Bukankah itu jauh lebih baik dari pada mati konyol seperti babi-babi dalam kandang?”

Kun Tek bukan seorang bodoh. Mendengar pendapat Hong Beng ini, dia pun mulai mengangguk-angguk dan melihat kebenarannya. Dia tadi terlalu terburu nafsu menduga bahwa kawannya itu ketakutan lalu ingin menyerah agar selamat. Kini dia tahu bahwa kalau mereka menakluk, hal itu hanya sebagai siasat untuk mencari kesempatan agar dapat memberontak dan menghantam musuh dengan leluasa. Dan tentu saja dia setuju sekali!

“Cu-koko, kurasa pendapat saudara Gu Hong Beng ini ada benarnya juga. Kalau aku diberi kesempatan, tentu akan kukerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk bisa menyerang dan membunuh si keparat Siangkoan Liong!” kata Li Sian.

Kun Tek mengangguk-angguk. “Memang benar juga. Aku pun setuju jika kita menyerah pura-pura saja, hanya untuk mencari kesempatan lolos dan menghantam mereka. Akan tetapi terserah kalian yang bicara, kalau aku yang disuruh berbicara dengan mereka, kiranya aku hanya dapat memaki dan mencaci mereka!”

“Serahkan saja kepadaku,” kata Hong Beng gembira.

“Aku akan membantu saudara Gu Hong Beng,” sambung Li Sian dan Kun Tek diam saja, namun setuju sepenuhnya.

Jika mereka dapat berhasil lolos, kemudian menghajar para pemberontak, dan akhirnya mereka dapat bebas, dan dia bersama Li Sian tidak mati, alangkah akan bahagianya. Ia akan dapat hidup berdua dengan gadis pujaannya itu, menjadi suami isteri! Bayangan ini saja mendatangkan semangat kepada Kun Tek!

“Sekarang lebih baik kita memperkuat tubuh. Kita menerima hidangan yang mereka suguhkan dan makan sekenyangnya, kemudian malam ini kita bersemedhi menghimpun tenaga baru. Besok, barulah kita menghadapi mereka dan aku sudah mengatur siasat untuk menghadapi mereka. Harap kalian jangan heran dan menyangka yang bukan-bukan kalau aku bersikap ramah kepada mereka. Mengertikah kalian, terutama engkau, saudara Kun Tek?”

Kun Tek mengangguk, setelah melihat Li Sian mengangguk.

“Aku akan sekuat tenaga menahan kemarahanku kalau melihat muka mereka!” katanya.

Li Sian menghadiahinya dengan sebuah senyuman manis. “Aku percaya engkau akan kuat, Cu-koko. Seorang gagah harus kuat segala-galanya, terutama sekali menekan perasaannya sendiri, bukan?”

Senyum itu cukup sudah bagi Kun Tek. Dia mau menebus apa saja untuk memperoleh senyuman seperti itu.

“Jangan khawatir, Moi-moi, demi engkau, aku mampu melakukan apa saja!” katanya bangga dan sekali ini kedua pipi Li Sian menjadi agak merah karena ia melihat betapa ada senyum mengembang di bibir Hong Beng.

Demikianlah, ketiga orang muda ini mulai memperlihatkan sikapnya yang suka bekerja sama ketika mereka menerima hidangan yang disuguhkan, dan mereka melihat bahwa pihak lawan memang agaknya ingin sekali menarik mereka sebagai pembantu. Sebagai bukti, hidangan yang disuguhkan selain banyak, juga masih panas dan cukup mewah, seperti hidangan di rumah makan besar saja!

Mereka bertiga lalu makan sampai kenyang, akan tetapi hanya minum arak sedikit saja. Mereka lebih banyak minum air teh yang mereka minta dari petugas yang menyuguhkan makanan dan minuman. Sesudah itu, semalaman suntuk mereka duduk bersila sambil bersemedhi, menghimpun tenaga murni untuk memulihkan kekuatan dan melenyapkan kelelahan mereka.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ouwyang Sianseng sudah datang berkunjung. Dia datang tanpa diikuti oleh Siangkoan Liong. Ouwyang Sianseng cukup cerdik untuk lebih dulu menjauhkan pemuda itu, mengingat betapa Li Sian mendendam kepadanya. Sebaliknya, dia datang bersama Siangkoan Lohan!

Dua orang paling tinggi kedudukannya dalam persekutuan pemberontakan itu, datang mengunjungi tiga orang tawanan muda itu! Hal ini saja sudah meyakinkan hati Hong Beng bahwa mereka itu benar-benar mengharapkan kerja sama, dan hal ini amat baik.

Setelah mengucapkan selamat pagi dengan sikap lembut seperti biasanya, Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan kemudian duduk di atas bangku yang berada di kamar tahanan itu, menghadapi tiga orang tawanan yang masih duduk bersila. Kun Tek dan Li Sian hanya mengangguk sebagai jawaban, akan tetapi Hong Beng membalas ucapan selamat pagi itu dengan suara yang cukup ramah.

“Bagaimana, orang-orang muda yang gagah. Apakah Sam-wi (Kalian bertiga) sudah mengambil keputusan dan pilihan yang tepat?”

Hong Beng menjawab dengan suara yang cukup tenang. “Ouwyang Sianseng, aku telah mendapat kepercayaan dua orang kawanku ini untuk menjadi wakil pembicara mereka. Sebelum kami menjawab, harap jelaskan lagi apakah pilihan yang harus kami pilih itu?”

Ouwyang Sianseng tersenyum. Sikap pemuda itu saja sudah melegakan hatinya, tidak seperti kemarin di mana mereka bertiga itu memperlihatkan sikap bermusuhan dan tidak ada kompromi.

“Hanya ada dua pilihan sederhana saja. Kalian sanggup bekerja sama dengan kami dan membantu kami berjuang melawan pemerintahan penjajah Mancu, atau kalian menolak, dan terpaksa kami akan membunuh kalian sebagai musuh yang berbahaya. Nah, bagai mana keputusan kalian bertiga...?”

“Nanti dulu, Locianpwe,” kata Hong Beng, kini menyebut locianpwe untuk menghormati orang tua yang memang sakti itu. “Jika kami menolak, hal itu tak perlu dibicarakan lagi. Akan tetapi, kalau kami menerima, lalu bagaimana? Apakah yang harus kami lakukan? Bukankah sekarang belum terjadi perang antara pasukan yang Locianpwe pimpin dan pasukan pemerintah?”

“Lohan, coba jelaskan mengenai kedudukan dan rencana kita kepada mereka ini,” kata Ouwyang Sianseng, suaranya ramah dan halus akan tetapi jelas bernada memerintah dan hal ini saja menunjukkan bahwa kedudukan kakek ini masih lebih tinggi dari pada ketua Tiatliong-pang itu.

Siangkoan Lohan yang dulunya ialah seorang yang terkenal sebagai ketua perkumpulan orang gagah yang pernah membantu Kerajaan Mancu sehingga dia dihadiahi seorang puteri, dapat mengerti akan siasat rekannya untuk membujuk orang-orang muda berilmu tinggi ini supaya mau bekerja sama membantu mereka. Maka dia pun menarik napas panjang dan berkata dengan suara tenang setelah mengisap hun-cwe emasnya dan mengepulkan asap yang berbau tembakau harum.

“Memang menggemaskan sekali kalau mengingat betapa penjajah Mancu yang dulunya kita semua harapkan akan mampu memimpin bangsa kita ke arah kemakmuran, kini ternyata malah menindas bangsa kita dan mendatangkan banyak kesengsaraan kepada rakyat, sedangkan mereka sendiri hidup serba berkelebihan! Hal inilah yang membuat kami semua merasa penasaran untuk berjuang menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu! Kalian tiga orang muda yang perkasa, tentu mempunyai jiwa patriot, siap untuk mengusir penjajah dan menyelamatkan bangsa dan tanah air kita. Dalam usaha untuk menumbangkan kekuasaan Mancu yang besar, tentu saja kita membutuhkan bantuan semua tenaga para patriot dan terus terang saja, kami terpaksa menerima pula uluran tangan dari dunia hitam. Kita membutuhkan tenaga mereka, dan karena itu, kami tidak pedulikan perasaan pribadi, yang terpenting menghimpun tenaga untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Tentu saja, kami akan merasa gembira sekali kalau para pendekar dan patriot, seperti kalian, suka membantu perjuangan ini.” Dia berhenti sebentar untuk melihat reaksi dari tiga orang muda itu.

Kun Tek yang diam-diam tidak percaya, kalau menurutkan gairah hatinya, ingin memaki-maki dan mengatakan bohong, akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, demi Li Sian tentu saja, dan dia hanya menundukkan mukanya agar jangan nampak isi hatinya melalui sikap dan pandangan matanya. Li Sian lebih mampu menguasai perasaannya, maka dia pun mendengarkan seolah-olah merasa tertarik.

“Akan tetapi, Pangcu.” kata Hong Beng dengan sikap hormat. “Walau pun semua yang Pangcu katakan itu benar belaka, akan tetapi bagaimana Pangcu akan bisa melakukan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintahan yang mempunyai banyak bala tentara? Baru pasukan yang berjaga di tapal batas utara ini saja sudah banyak sekali! Dan tiga orang seperti kami ini, dapat berbuat apakah terhadap pasukan pemerintah yang besar jumlahnya?”

Siangkoan Lohan tersenyum bangga. Ia dan Ouwyang Sianseng memang telah sepakat untuk menceritakan segalanya kepada tiga orang muda itu. Andai kata mereka menolak, bukankah mereka akan dibunuh dan semua rahasia itu akan terkubur bersama mereka? Dan jika mereka suka bersekutu, berarti mereka adalah orang-orang sendiri yang layak mengetahui keadaan mereka.

“Hemmm, tentu kalian memandang rendah kepada kami. Akan tetapi ketahuilah, kami sudah lama mengadakan persiapan untuk gerakan perjuangan ini. Kami sendiri sudah mengumpulkan orang-orang yang menjadi anggota kami, yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus orang. Selain itu, kami mengadakan kontak dengan pimpinan bangsa Mongol, bahkan keturunan Jenghis Khan yang perkasa. Mereka sudah bersiap dengan pasukan yang akan dapat melintasi perbatasan dengan mudah berkat kekuasaan kami yang telah memungkinkan penyeberangan itu tanpa terhalang. Selain itu, kami tak takut menghadapi pasukan penjaga perbatasan ini, karena mereka itu pun akan membantu kami!”

“Ehhh...?” Hong Beng pura-pura kaget walau pun sudah dapat menduga bahwa tentu orang-orang cerdik ini berhasil pula mengadakan persekutuan dengan para pimpinan pasukan yang berkhianat terhadap negaranya. “Ahhh, kalau seperti itu keadaannya, sungguh membesarkan hati. Akan tetapi, kami ingin sekali tahu, kalau kami menerima uluran tangan Pangcu dan mau bekerja sama, lalu apakah tugas kami? Terus terang saja, kami bertiga sama sekali tidak mempunyai kepandaian untuk memimpin pasukan dalam peperangan.”

Ouwyang Sianseng tertawa lembut. Hatinya gembira karena sikap tiga orang muda itu agaknya sudah condong untuk mau bekerja sama. Bagaimana pun juga, ketiga orang muda itu agaknya merasa ngeri dengan terjadinya peristiwa kemarin. Mereka tidak ingin mati konyol dan tersiksa, melainkan memilih hidup dan bekerja sama!

“Ha-ha-ha, orang muda yang gagah. Tentu saja untuk memimpin pasukan, kami sudah mempunyai ahli-ahlinya. Tugas kalian sama dengan tugas para orang gagah yang akan membantu kami, yaitu menghadapi pihak lawan yang mempunyai ilmu kepandaian silat tinggi sebab pihak pasukan juga tentu mempunyai banyak jagoan. Akan tetapi, sebelum kami menerima penyerahan diri dari kalian, terpaksa kami harus menguji kalian lebih dahulu. Apakah kalian bertiga ini benar-benar jujur untuk bekerja sama menentang pemerintah penjajah, atau hanya siasat saja dan mencari kesempatan untuk kemudian melarikan diri atau membalik mengkhianati kami.”

Diam-diam tiga orang muda perkasa itu terkejut, dan Hong Beng memuji dalam hatinya. Kakek ini selain lihai sekali ilmu silatnya, juga ternyata amat cerdik. Dia harus sangat berhati-hati menghadapi kakek ini. Seketika wajah Hong Beng menjadi merah dan sinar matanya mencorong karena marah.

“Locianpwe terlalu memandang rendah pada kami orang-orang muda!” katanya dengan nada suara marah, “Kami bukanlah pengkhianat bangsa, kami bukan penjilat penjajah asing. Kami berani bersumpah bahwa di dalam hati kami selalu menentang penjajahan! Kalau gerakan perjuangan yang Ji-wi pimpin ini bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi demi membebaskan rakyat jelata dari penindasan penjajah asing, maka kami akan rela membela dengan pertaruhan nyawa sekali pun!”

Hong Beng memang cerdik sekali. Seperti tanpa disengaja, dia menyinggung cita-cita perjuangan itu. Siapakah orangnya yang mau berterus terang mengemukakan cita-cita pribadinya? Setiap pemimpin penggerak perjuangan atau pemberontakan sudah pasti menyembunyikan tujuan pribadi, dan menonjolkan cita-cita yang mulia demi bangsa dan tanah air. Demikian pula dengan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan.

Mendengar ucapan itu, Siangkoan Lohan yang sebenarnya memberontak karena ingin mengangkat puteranya menjadi kaisar, cepat berseru. “Ahhh, tentu saja! Sudah pasti perjuangan ini demi kepentingan rakyat!”

Ouwyang Sianseng yang cerdik lalu berkata, “Bagaimana pun juga kami harus melihat bukti kejujuran kalian. Gu Hong Beng, dari beberapa orang pembantu kami, kami sudah mendengar bahwa semenjak dulu engkau adalah seorang pendekar muda yang gagah perkasa, dan sekarang kami ingin melihat bukti kegagahanmu itu. Kami mempunyai tugas untukmu. Dua orang temanmu ini akan tetap menjadi sandera, walau pun mereka akan diperlakukan sebagai tamu yang terhormat, bukan sebagai tawanan. Nah, kalau tugasmu itu berhasil kau lakukan dengan baik, barulah kami percaya dan kalian bertiga akan kami terima sebagai pembantu-pembantu yang kami hargai. Dan sebaliknya, kalau engkau bermain curang, ingat bahwa dua orang temanmu masih berada di sini sebagai sandera.”

Ouwyang Sianseng tentu saja sudah mendengar banyak tentang ketiga orang muda itu dari Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, karena mereka itu merupakan musuh-musuh lama, terutama sekali Hong Beng dan Kun Tek.

Hong Beng saling pandang dengan dua orang temannya, lalu berkata kepada mereka, “Kalian berdua tenanglah menjadi sandera di sini, karena sudah pasti aku akan mampu melaksanakan tugas itu dengan baik.”

Kemudian dia menghadapi lagi Ouwyang Sianseng dan berkata, “Baiklah, Locianpwe. Tugas apa yang diserahkan kepadaku? Akan kulaksanakan dengan baik!”

Hong Beng merasa perlu untuk menenangkan hati dua orang temannya, terutama Kun Tek yang keras hati itu, agar Kun Tek mengerti bahwa tentu ia akan bisa mencari akal dan jalan yang baik untuk menghadapi tugas itu! Padahal, tentu saja Hong Beng sendiri belum mengerti bagaimana dia akan dapat keluar dari ujian ini, karena macam ujian itu pun dia belum tahu.

“Begini, orang muda. Seperti telah kukatakan tadi, kami mempunyai hubungan dengan panglima tinggi pemimpin pasukan yang berjaga di tapal batas. Komandan itu adalah Coa Tai-ciangkun sedangkan wakilnya ialah Song-ciangkun. Mereka berdua itulah yang kini memimpin puluhan orang perwira yang mengepalai pasukan-pasukan pemerintah di perbatasan! Dan mereka sudah siap membantu kami. Oleh karena itu, engkau kuberi tugas untuk pergi menyelundup ke dalam benteng itu sambil membawa surat kami untuk disampaikan kepada komandan Coa.”

“Akan tetapi, Locianpwe, jika memang Locianpwe sudah mempunyai hubungan dengan mereka, apa perlunya lagi aku harus menyelundup ke dalam benteng? Bukankah masuk lewat pintu gerbang pun tak mengapa? Jika mereka tahu bahwa aku adalah utusan dari Tiat-liong-pang, tentu akan diterima sebagai sahabat,” bantah Hong Beng yang cerdik.

“Ah, engkau sungguh bodoh, orang muda. Memang komandannya dan para perwiranya sudah bersekutu dengan kita, akan tetapi karena hal itu berbahaya tentu saja mereka tidak terang-terangan, dan tidak semua anak buah pasukan tahu akan hal itu. Pasukan hanya mentaati perintah komandannya, maka tidak perlu mengetahui semua hal, takut kalau-kalau hal itu dibocorkan mereka sebelum gerakan kita berhasil. Sudahlah, engkau bawalah surat dari kami, malam-malam menyelundup masuk ke dalam benteng dan menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Sanggupkah?”

Hong Beng tersenyum. “Tugas itu tidak berat, tentu saja aku sanggup!”

“Masih ada kelanjutannya. Jika engkau telah menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song, engkau harus siap melaksanakan semua tugas yang diserahkan mereka kepadamu! Ingat, membantah mereka berarti membantah kami pula.”

Hong Beng diam-diam merasa gentar juga, akan tetapi dengan tenang dia mengangguk, “Bagaimana andai kata aku ketahuan orang di dalam benteng dan aku diserang dan hendak ditangkap? Apakah aku harus melarikan diri ataukah...”

“Kalau yang melihatmu hanya beberapa orang saja, bunuh mereka. Kalau banyak orang larilah. Akan tetapi kalau mungkin yakinkan hati mereka bahwa engkau adalah sahabat Panglima Coa. Nah, ini suratnya sudah kami persiapkan, sekarang juga berangkatlah, dan ini peta petunjuk di mana adanya benteng itu.”

Hong Beng menerima surat dan peta itu, lalu sebelum berangkat dia menoleh kepada dua orang temannya. “Harap kalian bersabar dan percayalah kepadaku.”

Li Sian merasa terharu. Tentu saja ia percaya kepada pemuda itu. Dia merasa betapa beratnya tugas Hong Beng, bukan hanya tugas menyerahkan surat itu, terutama sekali karena pemuda itu bertanggung jawab atas nyawa mereka berdua, seolah-olah nyawa mereka berdua di dalam genggaman tangan Hong Beng.

“Berangkatlah dan harap hati-hati, saudara Gu Hong Beng,” katanya.

Kun Tek memandang kepada Hong Beng dan terdengar suaranya yang lantang. “Hong Beng, semenjak dahulu aku selalu percaya kepadamu, dan sekarang pun kami percaya penuh kepadamu!”

Hong Beng mengangguk. Setelah semua rantai yang membelenggunya dilepas dia pun segera berangkat meninggalkan sarang pemberontak itu, menuju ke benteng pasukan pemerintah seperti yang ditunjukkan di dalam peta.

Setelah Hong Beng berangkat, Ouwyang Sianseng memegang janji. Dia pun bersama Siangkoan Lohan membebaskan belenggu yang mengikat Kun Tek dan Li Sian, lalu mengantar mereka, dikawal oleh pasukan penjaga, menuju ke dua buah kamar di mana mereka berdua menjadi sandera. Hidup bebas seperti tamu, akan tetapi selalu dikawal dan dijaga ketat.

Ouwyang Sianseng tidak bodoh, maka yang bertugas menjaga kedua orang sandera ini adalah tokoh-tokoh sesat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, Thian Kek Sengjin, Ciu Hok Kwi, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Tok-ciang Hui-moko Liok Cit bahkan Siangkoan Liong sendiri selalu berada di tempat dekat sehingga selalu siap kalau kedua orang sandera itu mencoba untuk memberontak dan melarikan diri.

Akan tetapi dengan cerdik Siangkoan Liong tidak pernah lagi mencoba untuk menggoda Li Sian, bahkan dia tidak pernah memperlihatkan diri agar gadis itu tidak menjadi marah. Dia pun tahu akan siasat gurunya, dan memang dia harus mengakui perlunya banyak tenaga bantuan para ahli silat.

Dia masih ngeri kalau membayangkan kelihaian kakek dan nenek yang telah menolong rombongan utusan kota raja itu. Dia pun mengerti bahwa kini gurunya mengutus Hong Beng pergi mengunjungi Panglima Coa juga untuk melihat apa yang sudah terjadi di dalam benteng itu, karena sudah beberapa hari Panglima Coa tidak pernah mengirim utusan.

********

Hong Beng yang melakukan perjalanan seorang diri, dengan hati-hati sekali menyusup-nyusup ke dalam hutan. Beberapa kali dia berhenti dan menyelinap untuk bersembunyi, kemudian memanjat pohon untuk meneliti apakah perjalanannya itu diikuti orang atau tidak. Akhirnya dia merasa yakin bahwa pihak pemberontak tidak mengutus orang untuk membayanginya, maka hatinya menjadi lega.

Dengan hati-hati Hong Beng lalu membuka sampul surat yang diserahkan kepadanya oleh Ouwyang Sianseng untuk diberikan kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Di dalam keadaan seperti itu, ia tidak rikuh lagi membuka surat orang, dan dibacanya surat itu. Isinya memang penting sekali.

Dalam surat itu, terang-terangan Ouwyang Sianseng memperkenalkan dirinya sebagai pembantu baru yang sedang diuji kesetiaannya! Dan Ouwyang Sianseng menanyakan tentang utusan kota raja kepada Panglima Coa, dan bahwa kalau tidak ada suatu hal yang menjadi penghalang, supaya panglima Coa mempersiapkan pasukannya karena pasukan mereka akan mulai bergerak ke selatan!

Disebutkan pula bahwa sekarang Tiat-liong-pang telah siap, dengan anak buahnya yang berjumlah hampir lima ratus orang banyaknya, dengan Ang-I Mo-pang lima puluh orang, dan agaknya orang-orang Mongol di bawah pimpinan Agakai sudah terkumpul seribu orang! Jika Panglima Coa telah siap, harap membawa pasukannya berkumpul di sarang Tiat-liong-pang agar supaya pasukan itu dapat dibagi-bagi untuk melakukan gerakan ke berbagai jurusan!

Hong Beng termenung. Surat ini penting sekali! Dan dia yang menjadi utusan. Bagai mana pun juga, dia tak dapat mundur, karena di sana ada nyawa dua orang sahabatnya menjadi tanggungan. Dia harus menyampaikan surat ini, dan kembali. Jika Pouw Li Sian dan Cu Kun Tek sudah dibebaskan, baru mereka akan melihat perkembangannya. Sekarang, dia tidak dapat melakukan sesuatu kecuali menyampaikan surat itu kepada Panglima Coa atau Perwira Song.

*********

Sin Hong termenung. Malam itu dia dan Suma Lian terpaksa bermalam di hutan lebat, tidak jauh dari sarang Tiat-liong-pang. Mereka telah melakukan penyelidikan semenjak mengubur jenazah Kwee Ci Hwa, dan mereka berdua terkejut melihat betapa kekuatan para pemberontak memang besar.

Sekarang, agaknya pasukan Mongol sudah pula berkumpul di tempat itu, dan jumlah orang-orang Mongol ini banyak sekali, bahkan jauh lebih banyak dari pada orang-orang Tiat-liong-pang sendiri. Pasukan Mongol yang kelihatan buas ini berkumpul di lapangan luas yang terdapat di sebelah timur sarang Tiat-liong-pang. Mereka membuat banyak sekali tenda-tenda sementara.

Melihat kenyataan ini, Sin Hong dan Suma Lian terkejut sekali dan tentu saja mereka berdua takkan mampu melakukan sesuatu terhadap kekuatan yang demikian besarnya. Mereka lalu mengambil keputusan untuk pergi mencari para pendekar yang kabarnya banyak berkumpul di situ, untuk menentang para tokoh sesat supaya mereka dapat melakukan gerakan bersama, atau menyampaikan berita tentang gerakan kaum sesat ini kepada benteng pasukan penjaga perbatasan.

Malam itu terpaksa mereka melewatkan malam di dalam hutan. Karena melihat Suma Lian kelelahan, setelah mereka makan malam yang terdiri dari roti dan daging kering, Sin Hong mempersilakan gadis itu untuk beristirahat dan tidur, sedangkan dia berjaga di dekat api unggun yang mereka buat.

Sin Hong melamun setelah melihat gadis itu rebah sambil berkerudung jubah luar yang lebar di dekat api unggun. Ia terkenang pada Ci Hwa dan keterangan yang dikemukakan gadis itu sebelum tewas. Dan Sin Hong mengepal tinju.

Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa pembunuhan terhadap ayahnya itu benar-benar didalangi oleh Tiat-liong-pang. Sedangkan Ciu Hok Kwi, Ciu Piauwsu yang dulu pernah menjadi pembantu ayahnya, ternyata adalah tokoh Tiat-liong-pang yang pandai. Bahkan orang she Ciu itu pula yang menjadi pembunuh bertopeng, pembunuh orang she Lay yang gendut, dan kalau begitu, Ciu Hok Kwi ini pula yang mengatur segalanya.

Dia telah terkecoh. Pada waktu Ciu Hok Kwi marah-marah dan pergi menantang Kwee Piauwsu, semua itu ternyata hanya sandiwara belaka! Kini jelaslah sudah semuanya bagi dia.

Tiat-liong-pang memang amat membutuhkan perusahan Piauwkiok itu. Dengan adanya perusahaan itu, mudah saja bagi Tiat-liong-pang untuk mengadakan hubungan dengan sekutunya, yaitu orang-orang Mongol di luar Tembok Besar. Tanpa dicurigai pasukan pemerintah yang berjaga di tapal batas utara. Dan usaha mereka telah berhasil karena buktinya sekarang pasukan Mongol telah dapat diselundupkan ke Tiat-liong-pang dalam jumlah besar tanpa diketahui oleh pasukan pemerintah.

Dan dia tidak tahu bahwa kaum sesat, termasuk Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, tentu membantu pula gerakan pemberontakan itu. Sin-kiam Mo-li berada di sana, tentu dua orang kawannya yang lihai, yaitu Thian Kong Cinjin tokoh Pat-kwa-pai dan Thian Kek Sengjin tokoh Pek-lian-pai, juga berada di sana. Tiga orang itulah yang masih hidup di antara mereka yang menyerbu Istana Gurun Pasir! Dan dua batang pedang pusaka Istana Gurun Pasir, yaitu Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam, berada di tangan tiga orang itu dan dia harus merampasnya kembali.

Dengan demikian, semua persoalan yang harus dibereskan berada di Tiat-liong-pang. Urusan ayahnya, urusan guru-gurunya, dan juga urusan umum! Bagaimana pun juga ia harus bangkit menentang Tiat-liong-pang, demi orang tuanya, demi guru-gurunya dan demi rakyat karena jika pemberontakan yang dipimpin para tokoh sesat itu terjadi, tentu banyak rakyat yang menjadi korban keganasan mereka.

Terdengar Suma Lian mengeluh dan Sin Hong melirik. Gadis itu bergerak dan kini tidur terlentang. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Cantik jelita, gagah perkasa, pemberani, jenaka dan serba menyenangkan, keturunan keluarga Pulau Es pula! Seorang gadis pilihan dan harus diakuinya bahwa hatinya tertarik sekali begitu dia bertemu Suma Lian.

Ia merasa kagum bukan main. Dengan mudah sekali ia akan dapat jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Suma Lian ini. Akan tetapi, dia tahu bahwa hal itu tidak mungkin, bahkan tidak boleh sama sekali. Dia mendengar sendiri percakapan antara Suma Lian dan paman gadis itu, yaitu Suma Ciang Bun. Gadis jelita ini sudah ditunangkan, telah dijodohkan dengan murid pendekar itu yang bernama Gu Hong Beng!

Tidak, dia sama sekali tidak boleh mengganggu gadis ini! Pantangan besar baginya! Dia tidak akan mengorbankan orang lain, apa lagi keluarga para pendekar terhormat itu, demi kesenangan dirinya sendiri! Dia harus menjauhkan diri dari Suma Lian, secepatnya agar jangan sampai pergaulan mereka menjadi semakin akrab, sebab ia melihat betapa ada tanda-tanda gadis ini bersikap sangat baik dan manis kepadanya. Hal ini harus dia cegah!

“Hong-ko, apakah yang kau pikirkan?”

Sin Hong terkejut bukan main mendengar teguran suara halus Suma Lian itu. Dia cepat menoleh. Ternyata gadis itu yang masih terlentang, sudah membuka sepasang matanya yang indah dan kocak itu dan sedang memandang kepadanya dengan penuh selidik, sedangkan mulut tersenyum jenaka.

“Apa? Aku… aku tidak memikirkan apa-apa, Lian-moi.”

Suma Lian bangkit duduk. Pita rambutnya terlepas dan rambut yang hitam panjang itu terurai. Disanggulnya rambut itu dan gerakan kedua lengan ketika menyanggul rambut itu sungguh luwes dan indah, membuat Sin Hong terpesona sejenak. Akan tetapi dia segera menundukkan mukanya agar tidak terus melihat pemandangan yang menarik itu. Seorang gadis menyanggul rambutnya, betapa luwes dan sedap dipandang!

"Hong-ko, tidak perlu kau menyangkal. Semenjak tadi aku melihat engkau melamun, kadang-kadang mengepal tinju, merentang-rentangkan jari tangan, belasan kali engkau menarik napas panjang dan engkau memandangi api seolah-olah seluruh semangatmu melayang-layang ke dalamnya. Dan dari samping aku melihat wajahmu seperti orang berduka. Ada pakah Hong-ko?" Suma Lian selesai menyanggul rambutnya dan ia duduk berhadapan dengan Sin Hong, terhalang api unggun sehingga mereka dapat saling melihat wajah masing-masing dengan jelas.

Sin Hong melihat betapa wajah gadis itu kemerahan oleh sinar api, cantik jelita seperti wajah bidadari. Sin Hong merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan kembali dia menundukkan mukanya agar tidak memandang keindahan yang nampak di depannya itu. Sungguh berbahaya sekali, pikirnya. Betapa mudahnya aku jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi ia sudah ada yang punya! Ia harus menggunakan akal untuk menjauhkan jarak di antara hati mereka.

Dia menghela napas panjang. "Ahhh, hati siapa yang takkan berduka kalau kehilangan orang yang amat disayangnya? Lenyapnya orang yang dikasihi agaknya melenyapkan pula rasa bahagia di hati, melumpuhkan semangat..."

Suma Lian tertarik sekali dan memandang penuh selidik. Kerut di alisnya menunjukkan bahwa ia terkejut dan juga kecewa bahwa pemuda di depannya ini sudah mempunyai seorang kekasih. Padahal ia mulai tertarik sekali!

"Siapakah orang yang kau sayang sedemikian besarnya itu, Hong-ko? Dan mengapa engkau kehilangan? Kemanakah ia pergi?"

"Baru saja dia meninggal dunia secara amat menyedihkan, Lian-moi."

Sepasang mata Suma Lan memandang penuh selidik, kemudian terbelalak ketika dia teringat.

"Ohhh! Kau maksudkan... gadis yang tewas itu, yang bernama... Kwee Ci Hwa...?"

Sin Hong memang suka kepada Ci Hwa, akan tetapi bukan gadis itu yang menjatuhkan hatinya, melainkan gadis yang berada di depannya ini. Akan tetapi dia mengangguk. Inilah satu-satunya jalan untuk menjauhkan diri dari Suma Lian, mengaku cinta kepada gadis yang telah tiada! Tidak ada halangannya. Kalau dia mengaku cinta kepada gadis yang masih hidup tentu akan mendatangkan kesulitan baru saja.

Suma Lian merasa betapa kekecewaan menusuk hatinya, membuat dia heran sekali. Mengapa dia merasa kecewa mendengar Sin Hong cinta kepada seorang gadis lain? Dan di samping kekecewaannya, juga terdapat perasaan lega bahwa gadis yang dicintai Sin Hong itu telah tiada!

"Aih, sungguh aku tidak menyangka, Hong-ko. Kasihan sekali gadis itu."

Sin Hong menarik napas panjang. "Memang patut dikasihani. Ia puteri Kwee Piauwsu yang tadinya kusangka menjadi biang keladi pembunuhan ayahku. Ci Hwa merasa amat penasaran bahwa ayahnya dituduh, maka ia lalu meninggalkan rumah untuk membantu mencari siapa adanya pembunuh ayahku, bukan hanya untuk membantuku, akan tetapi juga untuk membersihkan nama ayahnya. Dan dia berhasil! Dia berhasil menemukan bahwa pelakunya adalah Ciu Hok Kwi, piauwsu yang dahulu pernah menjadi pembantu ayahku, seorang tokoh Tiat-liong-pang yang menyelundup. Dia berhasil mencuci bersih nama ayahnya, dan berhasil membantuku menemukan pelakunya, tapi dengan tebusan nyawanya!"

Sin Hong tidak berpura-pura kalau dia nampak terharu dan berduka mengingat akan nasib yang menimpa diri Ci Hwa. Dan diam-diam dia mengepal tinju teringat akan kata-kata terakhir gadis itu yang menyatakan betapa Siangkoan Liong telah menodainya.

"Ahh, kalau begitu pantas dia mendapatkan cinta dan kasih sayangmu, Hong-ko. Akan tetapi, dia sudah meninggal dunia, tidak perlu diingat dan disedihkan lagi. Di dunia ini masih banyak terdapat gadis-gadis cantik yang akan dapat menggantikan Ci Hwa di dalam hatimu."

Sin Hong menggelengkan kepala. "Agaknya tidak mudah, Lian-moi. Seseorang haruslah setia terhadap perasaan hatinya sendiri. Kematian Ci Hwa telah membuat aku merasa lumpuh lahir batin, tidak akan memikirkan lagi tentang ikatan batin dengan wanita lain sampai entah kapan."

Kembali Suma Lian merasa betapa hatinya tertusuk kekecewaan yang membuatnya heran. Ucapan pemuda itu sekaligus mengingatkan dia akan keadaan dirinya yang telah dipertunangkan, dijodohkan oleh neneknya sebagai pesan terakhir. Dijodohkan dengan Gu Hong Beng! Dan ia pun termenung.

Mendadak Sin Hong meloncat dan menginjak-injak api unggun sehingga padam. Tentu saja Suma Lian terkejut, akan tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan suara, Sin Hong sudah menaruh telunjuk di depan mulutnya.

"Shhhhh, lihat di sana...," bisiknya.

Suma Lian yang juga sudah meloncat berdiri itu cepat membalikkan tubuh memandang ke arah yang ditunjuk Sin Hong. Bulan sepotong memberi penerangan yang cukup bagi matanya yang berpenglihatan tajam sehingga ia mampu pula melihat adanya bayangan yang berlari cepat, datang dari arah sarang Tiat-liong-pang.

"Aku mau kejar dia!" kata Sin Hong.

Tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat sekali, melakukan pengejaran. Sejenak Suma Lian tertegun dan kagum, kemudian dia mengumpulkan buntalan pakaiannya dan buntalan pakaian Sin Hong, dipanggulnya dua buntalan pakaian itu dan dia pun mengejar.

Bayangan yang berlari cepat meninggalkan sarang Tiat-liong-pang itu bukan lain adalah Gu Hong Beng! Seperti kita ketahui, pemuda perkasa ini sedang diuji oleh Siangkoan Lohan untuk mengantarkan surat dari para pimpinan pemberontak itu kepada Panglima Coa, komandan pasukan di benteng pemerintah yang bertugas di perbatasan utara. Komandan Coa inilah tokoh yang bersekutu dengan pihak pemberotak. Gu Hong Beng diuji dengan mengadakan hubungan ke benteng itu, mengantar surat dan dua orang temannya, Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian, masih ditahan dan menjadi sandera.

Selagi dia berlari cepat menuju ke perbentengan, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan di depannya berdiri seorang laki-laki muda yang membentak, "Sobat, berhenti dahulu! Siapakah engkau, dari mana dan hendak ke mana? Aku melihat engkau baru keluar dari perkampungan Tiat-liong-pang!"

Mendengar bentakan ini, dan melihat betapa orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi yang dapat dilihat dari gerakannya yang cepat, Hong Beng mengira bahwa tentu orang ini seorang pandai yang menjadi kaki tangan pemberontak dan yang menjadi satu di antara mata-mata pemberontak yang banyak disebar di daerah itu. Agaknya orang ini belum sempat mengenalnya, pikir Hong Beng. Untuk menghindarkan kesalah pahaman, dia pun langsung saja mengaku.

"Sobat, harap jangan menggangguku. Aku adalah utusan pribadi Siangkoan Pangcu yang melakukan. tugas rahasia amat penting, maka harap kau suka memberi jalan!"

Tetapi sungguh di luar dugaan Hong Beng. Begitu dia menjawab, pemuda itu langsung saja menyerangnya dan menotok ke arah dada dan pundaknya, untuk merobohkannya. Hong Beng cepat meloncat ke belakang sambil menangkis, lalu membalas karena kini dia pun sadar bahwa orang ini berniat buruk kepadanya. Mungkin saja para pimpinan pemberontak itu memang berniat buruk dan sengaja menyuruh kaki tangannya untuk menghadang dan membunuhnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa penghadangnya ini adalah Tan Sin Hong, yang tentu saja segera menyerang untuk menangkapnya begitu mendengar bahwa dia adalah utusan pribadi yang membawa tugas rahasia dari ketua Tiat-liong-pang.

"Dukkk!”

Kedua lengan mereka bertemu dan keduanya terkejut. Hong Beng yang terdorong oleh tenaga yang amat kuat, merasa terkejut karena sama sekali tidak menyangka bahwa penghadangnya ini adalah seorang yang demikian lihainya. Sebaliknya, Sin Hong juga kagum karena merasa betapa lengannya tergetar oleh pertemuan dua tenaga sakti itu.

Hong Beng yang maklum bahwa lawannya walau pun di bawah sinar bulan redup itu nampak masih amat muda, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia tidak mau kalau tugasnya terganggu, dan mungkin saja orang ini adalah utusan khusus Siangkoan Lohan yang dikirim ke situ untuk sengaja menghadangnya dan menguji kesetiaannya!

Maka, begitu menyerang lagi, dia sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu Swat-im Sinkang. Ketika tangan kirinya mendorong ke arah dada Sin Hong, maka hawa yang amat dingin menyambar dahsyat.

Ketika ia menghadapi pukulan ini, merasakan hawa dingin yang menyengat mendahului pukulan, Sin Hong mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat dia menghindar dengan loncatan ke kiri.

"Haiiiii! Apakah itu bukan Swat-im Sinkang?" tanyanya heran.

Mendengar pertanyaan ini, Hong Beng juga tertegun. Kiranya lawannya ini sedemikian lihainya sehingga mengenal pula pukulan dahsyat dari Pulau Es. Pada saat itu, nampak bayangan lain berkelebat dan ternyata bayangan itu adalah seorang gadis cantik jelita yang menggendong dua buntalan pakaian.

Sejenak Hong Beng menjadi bengong. Meski sudah bertahun-tahun tak saling bertemu dan pada saat dia bertemu dengan gadis itu, Suma Lian baru berusia tiga belas tahun, akan tetapi dia tidak pernah dapat melupakan wajah remaja itu, semenjak gadis itu oleh neneknya dijodohkan dengan dia.

Apa lagi setelah dia mengalami kegagalan dalam cintanya kepada gadis bernama Can Bi Lan yang kini menjadi isteri pendekar Sim Houw, maka wajah Suma Lian selalu terbayang di dalam hatinya. Kini, begitu bertemu, dia yakin bahwa gadis cantik jelita ini adalah Suma Lian!

Di lain pihak, Suma Lian juga mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat. Dia merasa tidak asing dengan pria yang tadi berkelahi melawan Sin Hong itu.

"Bukankah... bukankah… Nona ini adalah Sumoi Suma Lian...?" Akhirnya Hong Beng berseru, sedangkan Sin Hong menghentikan serangannya setelah tadi mengenal ilmu dahsyat Swat-im Sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) dari keluarga Pulau Es.

"Ahhh, suheng Gu Hong Beng kiranya...!"

Suma Lian baru teringat begitu pemuda itu menyebutnya sumoi dan seketika wajahnya berubah kemerahan. Dia teringat akan pesan pamannya, Suma Ciang Bun bahwa murid pamannya ini telah dijodohkan dengannya.


SELANJUTNYA KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 15


Thanks for reading Kisah Si Bangau Putih Bagian 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »