Kisah Si Bangau Putih Bagian 13

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 13

Siangkoan Lohan dan puteranya mengerutkan alis dan memeriksa para penjaga yang malang melintang itu dengan pandang mata mereka.

“Di mana Ciu Hok Kwi...?” Siangkoan Lohan berseru.

“Mana Kwee Ci Hwa?” Siangkoan Liong juga berseru heran.

Ayah dan anak ini masih merasa heran mengapa tiga orang tawanan ini dapat lolos dan tidak adanya Ciu Hok Kwi dan Kwee Ci Hwa membuat mereka merasa curiga. Namun, tiga orang pendekar itu yang maklum bahwa tidak perlu lagi banyak bicara dengan para pimpinan pemberontak yang lihai ini, sudah cepat menggerakkan pedangnya masing-masing untuk membuka jalan berdarah dan meloloskan diri dari tempat berbahaya itu.

Akan tetapi mereka bertiga segera dikeroyok. Bahkan Ouwyang Sianseng sendiri, juga Siangkoan Lohan turun tangan. Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang yang menjadi pemimpin pemberontakan itu juga sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu huncwe emas. Ouwyang Sianseng juga sudah menggerakkan kipasnya, juga Siangkoan Liong sudah menggunakan pedangnya untuk ikut mengepung.

“Tangkap mereka kembali, jangan dibunuh!” terdengar Ouwyang Sianseng berseru.

Kakek ini sedang berusaha untuk memberontak untuk membalas dendamnya terhadap kerajaan. Dia membutuhkan bantuan orang-orang muda ini, maka dia merasa sayang kalau mereka dibunuh begitu saja. Alangkah akan menguntungkan kalau tiga orang ini dapat dibujuk untuk membantu gerakan mereka.

Sementara itu, dalam kamar Ciu Hok Kwi masih terjadi perkelahian mati-matian antara Ci Hwa dan Ciu Hok Kwi. Meski Ci Hwa mengamuk dengan nekat, namun ia bukanlah lawan Tiat-liong Kiam-eng Ciu Hok Kwi. Setelah lewat tiga puluh jurus, kayu potongan bangku di tangan Hok Kwi berhasil melukai pergelangan tangan gadis itu.

Ci Hwa berteriak kesakitan. Pedangnya terlepas, di lain saat pedang itu telah dirampas oleh Ciu Hok Kwi dan kini, dengan pedang di tangannya, Ciu Hok Kwi dengan beringas memandang gadis itu. Dia sudah marah sekali karena maklum bahwa dia telah ditipu oleh Ci Hwa, mempergunakan keindahan wajah dan tubuhnya, memikatnya sehingga kini tawanan yang lain telah keluar dari kamar-kamar mereka. Dia akan membunuh Ci Hwa, menyiksanya, untuk melampiaskan kemarahannya.

“Wuuuttt...!”

Pedangnya menyambar dan karena dia memang ahli pedang, gerakan pedangnya itu cepat sekali.

Ci Hwa meloncat ke belakang, tetapi tetap saja paha kirinya terserempet ujung pedang. Celananya robek dan kulit paha berikut sedikit dagingnya robek pula. Darah menetes keluar. Ci Hwa menyambar sebuah bangku lain dari sudut kamar dan ia dengan nekat menyerang lawan itu dengan bangku. Akan tetapi, kembali sinar pedang berkelebat dan pangkal lengannya robek terluka!

Ci Hwa menyerang terus mati-matian tanpa mempedulikan dirinya dan dalam belasan jurus saja, dia sudah menderita belasan luka yang tidak parah namun cukup merobek pakaian dan kulit tubuhnya, membuat darah berlepotan membasahi seluruh tubuhnya. Mengerikan sekali keadaan gadis itu, dan Hok Kwi menyeringai puas.

“Akan kubunuh engkau, perempuan setan!” desisnya berkali-kali setiap kali pedangnya mengenai sasaran.

Dia sengaja hanya melukai dengan ujung pedang karena tidak ingin segera membunuh gadis itu. Setelah gerakan Ci Hwa semakin lemah karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Hok Kwi baru melakukan serangan yang sesungguhnya.

“Cappp...!” Pedangnya menancap ke lambung Ci Hwa, agak lebih dalam dan gadis itu pun terhuyung, lalu roboh.

“Mampuslah kau...!” Ciu Hok Kwi menggerakkan pedangnya untuk dibacokkan ke arah leher, namun mendadak sebuah tangan menyambar dan mengetuk pergelangan tangan kanannya.

“Dukkk! Ahhhhh...!”

Ciu Hok Kwi terkejut sekali, seketika tangannya lumpuh dan pedangnya terlepas. Ketika dia mengangkat muka, ternyata di situ telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian serba putih, bersama seorang gadis yang cantik jelita dan bersikap gagah sekali. Makin terkejutlah dia ketika mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tan Sin Hong!

“Paman Ciu Hok Kwi! Apa… apa yang kau lakukan ini dan mengapa engkau berada di sini?” tanya Sin Hong yang juga terkejut dan heran sekali melihat bahwa orang yang hampir membunuh Kwee Ci Hwa itu bukan lain adalah Ciu Hok Kwi atau Ciu Piauwsu, bekas pembantu mendiang ayahnya!

Hok Kwi nampak kebingungan, lalu menjawab gagap, “Aku... aku...,” dan tubuhnya lalu meloncat keluar kamar dan melarikan diri!

“Biar kukejar dia!” kata Suma Lian, gadis yang datang bersama Sin Hong.

“Jangan,” kata Sin Hong. “Gadis ini terluka parah, kita harus menyelamatkan dia dan keluar dulu dari sini.”

Mereka berdua lalu keluar dari dalam kamar. Sin Hong memondong tubuh Ci Hwa yang berlumuran darah dan gadis itu dalam keadaan pingsan. Karena pada waktu itu para tokoh sesat sedang sibuk mengeroyok Hong Beng, Kun Tek, dan Li Sian, maka dua orang muda perkasa ini dapat melarikan diri keluar dari perkampungan Tiat-liong-pang dengan aman.

Sementara itu, dengan amat ketakutan Ciu Hok Kwi meninggalkan kamarnya dan tiba di tempat di mana tiga orang pendekar muda itu dikeroyok. Perkelahian ini tidak seimbang. Tiga orang muda itu memang lihai bukan main, akan tetapi, mereka dikeroyok dan di antara para pengeroyok mereka terdapat orang-orang yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari pada mereka, seperti Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan terutama sekali Ouwyang Sianseng.

Apa lagi tiga orang pendekar ini telah kehilangan senjata mereka, hanya menggunakan pedang biasa saja, hasil rampasan dari para penjaga tadi. Tentu saja pedang-pedang biasa itu tidak ada artinya ketika bertemu dengan senjata-senjata pusaka di tangan para pengeroyok mereka.

Ketika mereka terdesak, kembali dengan gagang kipasnya, Ouwyang Sianseng berhasil menotok roboh mereka satu demi satu. Tiga orang muda itu lalu dibelenggu dan kembali dilempar ke dalam sebuah tahanan yang besar, sekali ini disatukan dan dirantai pada dinding kamar sehingga mereka bertiga tidak akan mampu berkutik lagi!

Ciu Hok Kwi mengajak teman-temannya lari ke kamarnya untuk menghadapi Tan Sin Hong dan wanita cantik itu, akan tetapi ketika mereka tiba di sana, Sin Hong dan Suma Lian telah lenyap, bahkan Ci Hwa yang tadi telah roboh juga tidak nampak di situ.

“Hok Kwi, apa yang telah terjadi?” Siangkoan Lohan menegur muridnya, suaranya tegas dan kereng. “Bagaimana mereka bisa keluar?”

Wajah Hok Kwi berubah pucat. Dia tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi dia seorang yang cerdik dan dalam waktu beberapa detik itu dia telah dapat mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

“Harap Suhu sudi memaafkan, teecu mengaku telah melakukan kesalahan, telah lalai.”

Siangkoan Lohan amat menyayang muridnya ini, karena muridnya ini selain merupakan murid paling lihai, juga cerdik sekali dan selama ini membuat jasa besar untuk kemajuan gerakan pemberontakannya. Melihat muridnya berlutut minta maaf dan mengaku salah, kesabarannya telah datang kembali.

“Sudahlah, ceritakan saja apa yang telah terjadi! Engkau yang memimpin anak buahmu melakukan penjagaan terhadap para tawanan itu, bagaimana mereka dapat keluar dan membuat ribut, bahkan telah membunuh banyak penjaga?”

“Maaf, Suhu. Memang teecu sudah bersalah dan teledor, akan tetapi kalau tidak ada si keparat Tan Sin Hong, putera Tan Piauwsu dari Ban-goan itu, tentu tidak akan terjadi pelepasan para tawanan. Harap Suhu ketahui bahwa gadis itu, yang bernama Kwee Ci Hwa, adalah puteri Kwee Piauwsu di Ban-goan dan sudah mengenali teecu. Teecu... teecu tergoda dan membawanya ke kamar teecu, karena teecu merasa yakin bahwa para tawanan takkan mungkin dapat lolos dengan adanya penjagaan ketat. Akan tetapi, tiba-tiba saja terjadi kegaduhan dan tiga orang tawanan itu lolos, ternyata dilepaskan oleh Tan Sin Hong itu bersama seorang temannya. Karena marah, Kwee Ci Hwa lalu teecu lalu bunuh. Tan Sin Hong dan temannya itu datang, dan terpaksa teecu melarikan diri karena tidak mampu menandingi mereka. Dan ternyata dia sudah pergi bersama temannya itu, dan agaknya membawa pergi mayat Kwee Ci Hwa.”

Cerita ini dapat diterima oleh Siangkoan Lohan. “Sudahlah, sekarang jagalah baik-baik, awas kalau sampai mereka terlepas lagi. Kecerobohanmu tadi membuat kita kehilangan belasan anak buah!”

“Maaf, Suhu. Teecu akan menjaga dengan taruhan nyawa,” kata Ciu Hok Kwi.

Sementara itu, Sin Hong dan Suma Lian berhasil keluar dari sarang Tiat-liong-pang dan memasuki sebuah hutan di lereng bukit. Matahari pagi telah mulai mengirim cahayanya mengusir kegelapan malam ketika mereka berhenti di atas padang rumput dalam hutan itu. Dengan hati-hati Sin Hong merebahkan tubuh Ci Hwa ke atas rumput.

Tadi, dalam perjalanan, dia telah menghentikan beberapa jalan darah untuk menahan keluarnya terlalu banyak darah. Akan tetapi, keadaan Ci Hwa sudah sangat payah dan lemah, disebabkan oleh luka di lambungnya yang dalam, dan juga karena terlampau banyak keluar darah.

Ci Hwa membuka matanya dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal wajah Sin Hong yang berlutut di dekatnya. “Hong-ko... syukurlah... aku dapat bertemu denganmu...”

“Ci Hwa, tenanglah, aku akan berusaha mengobatimu...“

Ci Hwa menggelengkan kepala. Di dalam hatinya ia berkata bahwa ia tidak ingin hidup lagi, setelah penghinaan yang dideritanya dari Siangkoan Liong, juga dari Ciu Hok Kwi.

“Hong-ko, dengarlah baik-baik. Ciu Hok Kwi itu..., dialah yang mengatur semua... yang membunuh ayahmu, membunuh Tang Piauwsu... dan dia pulalah orang bertopeng yang membunuh orang she Lay itu...“

Sin Hong terkejut bukan main. Dia memandang wajah Ci Hwa dengan sinar mata tidak percaya dan mengira bahwa karena keadaannya yang payah, gadis itu telah berbicara tidak karuan.

“Tapi, Hwa-moi, dia... dia itu pembantu mendiang ayahku...“

Ci Hwa menggeleng kepalanya. “Dia murid pertama Siangkoan Lohan..., mereka ingin memberontak, mereka menguasai Piauwkiok ayahmu... agar dapat mengatur hubungan dengan luar Tembok Besar... dengan orang-orang Mongol. Semua itu siasat belaka untuk menguasai Piauwkiok milik ayahmu... dia telah mengaku semua ini kepadaku...“

“Keparat...!” Sin Hong terbelalak, baru dia tahu mengapa ayahnya dibunuh, kiranya ada hubungannya dengan pemberontakan.

Pantas saja orang she Lay itu menyebut Tiat-liong-pang. Kiranya Tiat-liong-pang yang mengatur, dan Ciu Hok Kwi adalah murid kepala ketuanya. Sikap Ciu Hok Kwi yang marah-marah dan menyerbu rumah Kwee Piauwsu, lalu dia dikalahkan Kwee Piauwsu, semua itu hanya siasat belaka!

“Hong-ko... engkau telah tahu sekarang siapa musuh besarmu. Aku... aku...“

Tiba-tiba gadis itu berusaha untuk bangkit duduk, namun tidak kuat dan ia tentu akan rebah kembali kalau saja Sin Hong tidak cepat membantunya. Mata gadis itu terbelalak, mukanya membayangkan kemarahan dan kebencian, dan telunjuk kanannya menuding ke depan, seolah-olah ada orang yang dibencinya berada di situ.

“Siangkoan Liong! Keparat busuk kau...! Engkau sudah menodaiku... engkau... kubunuh engkau... ahhhhh...!” Tubuhnya terkulai dan nyawa gadis yang bernasib malang itu pun melayang pergi meninggalkan tubuhnya.

Sin Hong merebahkan gadis itu, menutupkan mulut dan matanya, kemudian meletakkan kedua tangan di depan dada. Suma Lian yang melihat semua ini, mengerutkan alisnya. Ia melihat betapa Sin Hong duduk tepekur, seperti tenggelam ke dalam lamunan yang menyedihkan.

“Hong-ko, siapakah adik yang malang ini?” Suma Lian memecahkan kesunyian dengan pertanyaannya.

Sin Hong yang sedang melamun sedih itu terkejut dan seolah-olah terseret kembali ke dalam kenyataan. Ia menoleh, memandang wajah Suma Lian kemudian menarik napas panjang. Hubungannya dengan Suma Lian, semenjak mereka berdua meninggalkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun dan menuju ke sarang Tiat-liong-pang itu, menjadi lebih akrab dan mereka saling menyebut kakak dan adik.

“Namanya Kwee Ci Hwa,” katanya menjelaskan. “Dia adalah puteri dari Kwee Piauwsu di Ban-goan, kota kelahiranku. Tadinya aku sudah terbujuk oleh Ciu Piauwsu tadi untuk mencurigai Kwee Piauwsu sebagai dalang pembunuhan ayahku. Agaknya Ci Hwa lalu menjadi penasaran dan melakukan penyelidikan sendiri sampai ke sini ketika ia dan aku memperoleh jejak bahwa Tiat-liong-pang ada hubungannya dengan pembunuh ayahku dan beberapa orang lain. Ternyata setelah sampai di sini dia justru mengalami hal-hal yang lebih menghancurkan kehidupannya, walau pun dia sudah berjasa untukku, telah mengetahui rahasia pembunuhan ayahku.”

“Hemmm, agaknya ia telah diperkosa oleh Siangkoan Liong. Bukankah Siangkoan Liong adalah putera Siangkoan Lohan, pemimpin pemberontak seperti keterangan yang kita dapatkan di sepanjang perjalanan itu? Sungguh jahat. Kita harus segera masuk ke sana dan menghajar mereka!”

“Harap sabar dan tenang, Lian-moi. Kurasa tidak semudah itu. Di sana kini berkumpul banyak sekali orang pandai, apa lagi karena mereka sedang menyusun kekuatan untuk memberontak. Dari keterangan yang kita peroleh, baru anak buah mereka saja sudah tiga ratusan orang, belum lagi anak buah Sin-kiam Mo-li yang merupakan pembantu utama mereka. Ang-I Mo-pang yang menjadi anak buah Sin-kiam Mo-li itu tentu lima puluh orang lebih jumlahnya. Dan masih banyak tokoh sesat yang berada di sarang mereka. Apa artinya tenaga kita berdua?”

Suma Lian bisa membenarkan pendapat Sin Hong. “Lalu, bagaimana baiknya sekarang, apa yang harus kita lakukan?”

“Kita rawat dulu jenazah Ci Hwa, kita kubur saja di bukit ini dengan baik-baik. Kemudian kita melakukan penyelidikan kembali. Kabarnya banyak orang gagah yang tertawan oleh mereka. Kalau saja kita dapat menyelundup dan mampu menolong mereka, alangkah baiknya.”

Suma Lian hanya menyetujui dan mereka berdua lalu mengurus pemakaman jenazah Ci Hwa dengan sederhana akan tetapi cukup khidmat. Sin Hong meletakkan sebuah batu besar di depan makam itu dan menuliskan nama Kwee Ci Hwa di atas batu.

Kemudian, setelah memberi penghormatan terakhir, dua orang muda perkasa itu mulai melakukan penyelidikan kembali ke sarang Tiat-liong-pang, dengan hati-hati sekali.

********

Pouw Li Sian, Gu Hong Beng, serta Cu Kun Tek kini ditahan di dalam sebuah kamar tahanan yang baru, kamar tahanan yang luas sekali. Kaki mereka bertiga dirantai pada besi di dinding yang kuat sekali. Setelah terbebas dari totokan, mereka dapat duduk bersila dan dapat bercakap-cakap karena mereka berada dalam satu kamar tahanan.

Kun Tek yang sadar lebih dahulu, memandang kepada Pouw Li Sian dengan penuh iba. Gadis itu pun mulai dapat bergerak kembali, lalu membereskan pakaiannya yang agak kusut, dan duduk bersila, di sebelah kanan Kun Tek. Hong Beng duduk bersila pula di sebelah kiri Kun Tek yang berada di tengah-tengah. Jarak di antara mereka hanya dua meter, namun mereka tidak dapat saling menghampiri karena rantai yang mengikat kaki mereka.

“Nona, sungguh aku merasa menyesal bahwa Nona mengalami bahaya seperti ini,” kata Kun Tek karena tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam keadaan seperti itu.

“Kenapa menyesalkan aku, saudara Cu Kun Tek? Bukankah engkau dan saudara Gu Hong Beng ini pun mengalami nasib yang sama dengan aku? Kita sama-sama tertawan, sama-sama terancam bahaya maut!” Li Sian menatap wajah pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu sambil menahan senyumnya, senyum sedih karena gadis ini masih menderita tekanan batin akibat dendamnya terhadap Siangkoan Liong yang sedalam lautan dan setinggi langit!

“Ucapan Kun Tek memang benar, Nona. Aku pun merasa menyesal sekali bahwa Nona sampai menjadi tawanan seperti kami. Walau pun kami sendiri tertawan, namun kami adalah laki-laki. Jika saja kami dapat melakukan sesuatu untuk membebaskanmu,” kata pula Hong Beng.

Sekarang Pouw Li Sian mamandang kepada Hong Beng, dan ia pun bertanya, “Menurut keterangan saudara Cu Kun Tek, engkau adalah murid seorang keluarga Pulau Es. Bolehkah aku mengetahui siapa nama besar gurumu, saudara Gu Hong Beng?”

Biar pun Hong Heng tidak pernah membanggakan nama gurunya, namun mendengar pertanyaan ini, terpaksa dia mengaku dengan sikap rendah hati. “Suhu bernama Suma Ciang Bun.”

Li Sian mengangguk-angguk. “Pernah aku mendengar nama besar suhu-mu. Bukankah beliau itu masih cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Ketahuilah, saudara Hong Beng bahwa mendiang guruku adalah mantu dari Pendekar Super Sakti...“

“Aihhh...! Apakah beliau kakek guru Gak Bun Beng...?”

“Benar, akan tetapi namanya sudah berubah menjadi Bu Beng Lokai.”

“Kalau begitu, Nona adalah saudara seperguruan dari nona Suma Lian?”

“Benar sekali! Engkau mengenal suci-ku? Ahh, sungguh semakin sempit saja dunia ini!” Untuk sejenak, Li Sian melupakan kedukaannya dan ia tersenyum gembira sekali.

Kun Tek ikut gembira melihat hal ini. “Sungguh menyenangkan sekali. Kiranya engkau masih ada hubungan keluarga seperguruan yang sangat dekat dengan Hong Beng, dan dia adalah sahabat lamaku yang amat baik. Kita ternyata masih orang segolongan yang berhubungan dekat. Sayang kita saling berjumpa dalam keadaan seperti ini.”

Li Sian teringat kembali akan keadaan mereka, teringat kembali akan keadaan dirinya. Ia membayangkan kemungkinan mengerikan yang akan menimpa dirinya. Kini ia tahu betapa kejam dan kejinya hati Siangkoan Liong dan para pimpinan pemberontak itu.

Ada bahaya yang lebih mengerikan dari pada sekedar kematian mengancam dirinya. Hong Beng dan Kun Tek memang benar kalau tadi mengkhawatirkan keselamatannya karena ia seorang wanita. Membayangkan semua ini, ia teringat akan keadaan dirinya yang sudah ternoda dan ia pun mengepal tinjunya.

“Benar apa yang telah dilakukan enci Ciong Siu Kwi itu! Kalau mendapat kesempatan lagi, aku akan melawan dan mengadu nyawa dengan mereka. Lebih baik aku mati dari pada sampai tertawan kembali!” Wajah gadis itu menjadi pucat dan sepasang matanya seperti bernyala.

“Jangan khawatir, Nona. Aku Cu Kun Tek bersumpah akan membelamu sampai mati,” tiba-tiba Kun Tek berkata dengan suaranya yang dalam dan mantap.

Mendengar ini, Li Sian menoleh dan menatap wajah pendekar muda yang gagah itu dan keduanya saling pandang. Sinar mata mereka bertemu dan berpaut, dan dalam saat beberapa detik itu, Li Sian melihat betapa sinar mata pemuda itu penuh dengan cinta kasih yang ditujukan kepadanya. Hal ini membuat ia terharu dan wajahnya yang pucat tadi berubah kemerahan, lalu sinar matanya menunduk dan kedua matanya menjadi basah.

Melihat keadaan mereka berdua itu, timbul kekhawatiran di dalam hati Hong Beng. Dia sudah mengenal watak Kun Tek yang keras dan pantang mundur, gagah perkasa dan berani menentang kematian sehingga watak ini kadang-kadang bahkan membuat dia menjadi agak sembrono. Dia tahu bahwa kalau kedua orang muda itu nekat mengadu nyawa, hal itu hanya berarti bahwa mereka berdua akan membunuh diri saja, atau mati konyol. Bagaimana pun juga, mereka bertiga tidak akan mungkin mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya demikian banyak dan memiliki banyak orang yang lebih lihai dari pada mereka.

“Nona Li Sian dan Kun Tek, dengarkan kata-kataku baik-baik. Kita bertiga mengalami nasib yang sama, menjadi tawanan tak berdaya di sini. Bagaimana pun juga, kita harus dapat meloloskan diri dan kurasa untuk itu, tak mungkin kalau kita hanya mengandalkan keberanian dan kenekatan saja. Kita harus menggunakan akal dan kuharap kalian suka mengikuti apa yang akan kulakukan, demi keselamatan kita. Kalian harus ingat, kalau aku menggunakan akal, hal itu bukan berarti aku pengecut dan takut mati. Sama sekali bukan. Hanya supaya kita dapat lolos lebih dahulu dari sini, untuk kemudian mengatur siasat bagaimana agar dapat menghancurkan mereka, jika perlu dengan bala bantuan.”

“Menggunakan akal? Apa yang kau maksudkan, Hong Beng?” tanya Kun Tek.

“Kita harus mengakui bahwa kalau hanya menggunakan kenekatan, kita takkan mampu mengalahkan mereka yang jauh lebih banyak jumlahnya, dan akhirnya kita tidak akan mampu lolos dan akan mati konyol di sini.”

“Aku tidak takut, apa lagi untuk melindungi nona Li Sian!” kata Kun Tek dengan sikap gagah.

Hong Beng tersenyum dan diam-diam dia teringat akan masa lampau. Pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu kalau sudah jatuh cinta memang kelihatan nekat sekali!

“Kita semua tidak takut mati, saudaraku yang baik. Akan tetapi mati konyol seperti itu bukanlah perbuatan gagah namanya, namun perbuatan yang bodoh sekali. Bukankah begitu? Tidak, untuk keadaan kita yang dalam perimbangan lebih lemah ini kita harus menggunakan akal. Kalau perlu, aku akan bermain sandiwara dan pura-pura takluk...“

“Takluk kepada mereka? Tidak sudi! Aku akan melawan!” teriak Kun Tek.

“Saudara Kun Tek, harap suka mendengarkan dulu perjelasan saudara Hong Beng. Dia benar, kalau tidak ada harapan menang dengan menggunakan kekerasan, kenapa tidak menggunakan akal mengalah? Mengalah untuk akhirnya menang?”

Aneh sekali, demikian pikir Hong Beng. Mendengar ucapan gadis itu, Kun Tek kelihatan sabar kembali dan mengangguk, lalu berkata, “Bagaimana akalmu, coba katakan Hong Beng.”

Hemmm, raksasa ini sudah menjadi jinak agaknya, di bawah sinar mata lembut gadis hebat ini, demikian Hong Beng berkata dalam hatinya.

“Begini. Mereka itu jelas musuh kita. Akan tetapi, setelah kita memberontak terhadap mereka atas bantuan Ci Hwa tadi, dan setelah kita membunuh belasan orang anak buah mereka, kini kita ditawan kembali. Kita tidak mengalami siksaan, juga tidak dibunuh. Hal ini bukan tidak ada artinya sama sekali. Kalau kita terus dibunuh, hal itu sudah jelas. Akan tetapi tidak, kita tidak dibunuh dan ini hanya berarti bahwa mereka itu, setidaknya pemimpinnya, dan kurasa kakek berkipas itu sendiri, tidak menginginkan kita mati. Dan alasannya tentu hanya satu, yaitu dia menghendaki agar kita membantu pemberontakan mereka.”

“Tidak sudi! Aku...“ Kun Tek langsung menghentikan teriakannya ketika melihat betapa Li Sian menolehkan kepala dan memandang padanya dengan alis berkerut. “Teruskan, Hong Beng...,“ akhirnya dia berkata lirih.

Hong Beng menahan kegelian hatinya melihat sikap Kun Tek, lalu melanjutkan dengan suara bisik-bisik. “Tentu saja kita takkan bersekutu dengan kaum sesat seperti mereka. Akan tetapi, dalam keadaan terjepit dan tak ada pilihan lain, kita boleh memperlihatkan sikap seakan-akan kita setuju untuk bersama mereka menentang pemerintah. Bagai mana pun juga, bukankah kita sendiri juga tidak senang melihat pemerintah penjajah menguasai tanah air kita? Jadi, sikap kita setuju menentang pemerintah penjajah bukan merupakan suatu kepura-puraan belaka. Hanya sikap mau untuk bekerja sama itu yang menjadi permainan sandiwara kita. Nah, kalau sudah begitu, tentu muncul kesempatan bagi kita untuk membebaskan diri kelak. Bagaimana pendapat kalian?”

Kun Tek masih hendak membantah. Pemuda ini merasa betapa memalukan kalau dia harus memperlihatkan sikap lunak dan takluk kepada tokoh-tokoh sesat itu. Akan tetapi, melihat betapa Li Sian mengangguk-angguk menyambut pendapat Hong Beng itu dan nampaknya setuju, dia pun... mengangguk pula beberapa kali dan menutup mulutnya!

Mereka bertiga sekarang terpaksa menutup mulut karena mendengar suara orang dan langkah kaki menuju ke kamar tahanan itu, dan ternyata yang muncul adalah Ouwyang Sianseng bersama Siangkoan Liong! Hong Beng bertukar pandang dengan Kun Tek, memberi isyarat bahwa agaknya apa yang diduganya akan terjadi. Buktinya Ouwyang Sianseng yang lihai sekali itu, kini datang mengunjungi mereka! Apa lagi kalau bukan untuk membujuk mereka agar suka bekerja sama?

Akan tetapi, Hong Beng melihat betapa Li Sian memandang kepada Siangkoan Liong dengan sinar mata memandang penuh kebencian sehingga dia terkejut. Pandang mata seperti itu tidak dapat menipu, yang hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang amat benci karena dendam sakit hati! Apakah yang telah dilakukan pemuda tampan putera ketua Tiat-long-pang itu sehingga membuat Li Sian demikian membencinya?

Di belakang kedua orang ini nampak tiga belas orang yang keadaan tubuhnya sangat menyeramkan. Tinggi besar seperti raksasa, dengan tubuh bagian atas telanjang hingga nampak dada dan pundak lengan yang berotot melingkar-lingkar dan juga berbulu!

Mereka itu bagai segerombolan orang hutan. Mata mereka sempit kemerahan dan mulut mereka lebar menyeringai. Nampak gigi yang tidak terpelihara baik-baik dan kekejaman yang buas nampak pada wajah mereka. Usia mereka sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun dan celana mereka hitam dengan kaki bersepatu kulit tebal.

Ketika Siangkoan Liong dan gurunya membuka pintu kamar tahanan dan memasukinya, tiga belas raksasa Mongol itu tinggal di luar. Akan tetapi mereka menjenguk ke dalam melalui jeruji-jeruji besi dan mata mereka semua memandang kepada Li Sian seperti segerombolan serigala kelaparan, dengan mulut menyeringai, dan di antara mereka ada yang tak dapat menahan air liur yang mengalir keluar melalui ujung bibir mereka. Li Sian membuang muka karena merasa ngeri dan jijik.

Dua orang anak buah Tiat-liong-pang membawa dua buah bangku dan memberikannya kepada guru dan murid itu, kemudian keluar lagi. Siangkoan Liong dan gurunya duduk di dekat pintu, memandang kepada tiga orang tawanan yang kini sudah bangkit berdiri, seperti dua orang yang menonton tiga ekor binatang buas yang diikat pada dinding.

Cu Kun Tek memandang kepada mereka dengan mata melotot marah. Kalau saja kaki kirinya tidak dibelenggu rantai baja dan terikat pada dinding, ingin rasanya ia menerjang kedua orang itu! Hong Beng berdiri dengan sikap tenang saja, sedangkan Li Sian yang juga sudah berdiri, sekarang menundukkan pandang matanya karena ia tidak sudi lagi memandang kepada Siangkoan Liong lebih lama lagi.

“Sian-moi, sungguh aku merasa bersedih dan menyesal sekali bahwa engkau sudah terkena hasutan Bi Kwi sehingga engkau memusuhi aku. Sian-moi, tidak dapatkah kita berbaik kembali? Lupakah engkau akan hubungan antara kita?”

Kalau tadinya Li Sian sudah dapat menenangkan batinnya, kini mendengar ucapan itu, seakan-akan api yang sudah mengecil itu disiram minyak sehingga berkobar kembali, mengingatkan dia akan kematian kakaknya dan akan dirinya yang sudah ternoda oleh pemuda perayu ini.

Ketika ia mengangkat mukanya, sepasang mata Li Sian berkilat memandang Siangkoan Liong penuh kebencian. “Siangkoan Liong, tidak perlu banyak bicara lagi! Omonganmu yang beracun tidak perlu kudengarkan lagi. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kita kecuali hubungan dendam dan permusuhan yang hanya akan dapat dicuci dan dihapus dengan darah!”

Seperti juga Hong Beng, kini Kun Tek memandang dan menekan keheranan hatinya. Dia juga dapat merasakan kebencian yang mendalam dari gadis itu terhadap Siangkoan Liong.

Sebelum Siangkoan Liong menjawab atau berbicara lagi, Ouwyang Sianseng sudah mencegahnya dengan mengangkat tangan kanan ke atas dan kini terdengar kakek itu bicara, suaranya halus dan penuh wibawa, sikapnya tenang sekali dan sikapnya seperti dia sedang bicara kepada para muridnya saja.

“Tidak perlu berbantahan lagi, lebih baik kalau nona Pouw Li Sian mengetahui duduknya persoalan yang sebenarnya. Nona Pouw Li Sian, bukankah engkau merasa penasaran dan mendendam sakit hati karena kakak kandungmu terbunuh? Nah, ketahuilah bahwa memang sesungguhnyalah kalau dia itu dibunuh oleh kami sendiri! Lebih baik berterus terang agar engkau tahu duduknya persoalan.”

Li Sian mengangkat muka memandang wajah kakek itu. Matanya terbelalak dan tentu saja ia mau mendengarkan karena kakek itu agaknya kini berterus terang dan mengakui secara jujur.

“Akan tetapi, mengapa dia dibunuh? Apa kesalahannya?” tanyanya sambil mengamati wajah kakek itu penuh selidik.

“Ia telah mengkhianati perjuangan kami! Ia hendak melaporkan kegiatan kami ke kota raja. Kalau dia tidak dibunuh, kami semua bisa celaka.”

“Bohong! Aku tidak percaya!” kata Li Sian, walau pun di sudut hatinya dia meragukan bantahannya sendiri. Bukankah kakaknya itu sudah memperlihatkan sikap aneh, seolah-olah terkejut dan sama sekali tak setuju melihat ia membantu gerakan perjuangan yang dipimpin Siangkoan Lohan itu? “Bukankah kakakku itu anak buah Coa Tai-ciangkun yang sudah bergabung dengan Tiat-liong-pang?”

“Itulah sebabnya mengapa kami harus bertindak tegas. Pengkhianatannya itu diketahui oleh perwira lain dan ketika dia ditegur, terjadi perkelahian di antara mereka. Kakakmu menang, perwira itu dibunuhnya, akan tetapi pada saat itu kami mengetahuinya dan kami lalu membunuhnya pula. Nah, engkau sudah mendengar sekarang, dan memang demikianlah keadaannya. Oleh karena itu, harap engkau suka menyadari kekeliruanmu memusuhi muridku ini, nona Pouw.”

Pouw Li Sian hampir terbujuk, akan tetapi ia teringat kembali akan kematian Yo Jin dan Bi Kwi yang mengerikan, dan perasaan tidak suka sudah mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap Siangkoan Liong yang tadinya berhasil menjatuhkan hatinya.

“Tidak, aku masih belum percaya! Ini semua tentu tipu muslihat kalian!” katanya.

“Memang kami hendak memperlihatkan bukti kebenaran omongan kami,” kata kakek itu sambil memberi isyarat ke luar kamar tahanan yang luas itu.

Terdengar suara gaduh, dan masuklah seorang anak buah Tiat-liong-pang menyeret lengan seorang wanita yang wajahnya pucat dan pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan. Namun masih dapat nampak jelas bahwa wanita yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu berwajah cantik dan memiliki tubuh yang montok menggairahkan. Wanita itu terhuyung lalu jatuh berlutut di depan kaki Ouwyang Sianseng.

“Nah, Nyonya Pouw Ciang Hin, sudahkah engkau pikir baik-baik? Kalau engkau ingin agar kami dapat mengampunimu, ceritakan dengan terus terang tentang suamimu yang menjadi pengkhianat itu!” kata Ouwyang Sianseng dengan sikap lembut namun kereng.

Li Sian merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan dan ia mengamati wajah wanita itu. Kiranya mendiang kakaknya telah memiliki seorang isteri dan kini isterinya telah menjadi tawanan dari gerombolan ini pula!

Wajah pucat itu diangkat memandang kepada Ouwyang Sianseng dengan sinar mata mohon dikasihani. “Sudah berulang kali kuceritakan semuanya, dan suamiku bukanlah seorang pengkhianat...“

“Bohong!” bentak Siangkoan Liong marah. “Dia mengkhianati Coa Tai-ciangkun, dan dia mengkhianati gerakan perjuangan kami. Dia setia kepada pemerintah penjajah Mancu dan dia merencanakan pengkhianatan dengan laporan ke kota raja. Hayo ceritakan, siapa saja sekutunya dalam pengkhianatan ini!”

“Kongcu... sudah berulang kali kunyatakan bahwa aku tidak tahu... dia seorang yang baik dan tidak mungkin menjadi pengkhianat... Ahhh, Kongcu, aku telah menceritakan segalanya dan engkau masih belum juga percaya? Kalau begitu, bunuh saja aku agar aku dapat menyusul suamiku...“ Wanita itu menangis.

Siangkoan Liong bertukar pandang dengan gurunya dan Ouwyang Sianseng kemudian mengangguk. Siangkoan Liong lalu memanggil ke luar kamar. “Hei, seorang dari kalian masuklah ke sini!”

Pada saat pemuda itu menunjuk kepada mereka, tiga belas orang raksasa Mongol itu menyeringai dan mereka saling berebut hendak masuk, bahkan dorong mendorong dan tarik menarik. Siangkoan Liong menghardik dan mereka pun segera diam, lalu seorang di antara mereka yang paling besar, dengan tubuh yang berbulu seperti seekor gorila, melangkah masuk. Dua tangannya tergantung panjang sampai ke lutut, mulutnya yang lebar menyeringai dan matanya yang sipit kemerahan itu ditujukan kepada wanita yang masih berlutut itu, dan kini memandang dengan mata terbelalak ngeri kepada manusia monyet itu.

Raksasa itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan Siangkoan Liong, dan suaranya terdengar parau dan besar pada saat dia bertanya, “Kongcu, apakah yang harus saya lakukan?” Karena logat bicaranya asing, maka terdengar lucu dan juga menyeramkan.

“Engkau Okatou, kau boleh melakukan apa saja terhadap wanita tawanan ini agar ia mau mengakui semua pengkhianatan suaminya. Akan tetapi jangan bunuh!”

Raksasa itu lalu menyeringai dan menoleh kepada isteri mendiang Pouw Ciang Hin. “Heh-heh-heh, Kongcu. Boleh saya melakukan apa saja terhadapnya, di sini?”

“Ya, bahkan kalau perlu kau boleh memperkosanya agar ia mau mengaku!” kata pula Siangkoan Liong.

Mendengar ini, wajah Kun Tek, Hong Beng dan Li Sian menjadi merah karena marah. Akan tetapi mereka tak berdaya dan hanya dapat menonton dengan hati yang tegang. Sementara itu, dua belas orang raksasa lain di luar kamar, menonton dari balik jeruji. Mereka tertawa-tawa dan menyeringai dengan mulut berliur, agaknya mereka sangat iri terhadap kawan mereka yang dianggap mujur itu.

Raksasa bernama Okatou itu kini bangkit dan menghampiri isteri Pouw Ciang Hin yang terbelalak dengan muka pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia pun bangkit berdiri. Karena keadaan terhimpit, ia pun agaknya hendak berlaku nekat dan memasang kuda-kuda. Agaknya sedikit banyak wanita ini pernah belajar silat dari suaminya. Melihat ini, Okatou tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang besar-besar dan kotor.

“Cui Bi, mengakulah saja sebelum dia menjamah tubuhmu,” terdengar Siangkoan Liong berkata.

Mendengar betapa pemuda ini menyebut nama kecil nyonya itu, mudah diduga bahwa dia sudah akrab dengannya. Dan memang demikianlah semenjak suaminya meninggal, nyonya ini diboyong ke dalam kamar Siangkoan Liong dan dengan cara halus, dengan bujuk rayu dan permainan cinta, pemuda itu sudah berusaha untuk membuat wanita itu mengakui semua kegiatan suaminya. Karena tidak berhasil walau pun nyonya itu telah menyerahkan diri dengan terpaksa, maka diambil jalan ini, untuk memaksa nyonya itu mengaku, juga sekalian untuk membuat Li San dan kedua orang pemuda tawanan itu menjadi jeri dan tunduk.

Nyonya itu menggelengkan kepala berkali-kali. “Tidak... tidak... ohhh… jangan lakukan ini, Kongcu... ahhh, bunuh sajalah aku...”

Raksasa Okatou itu sambil menyeringai telah menubruk dengan kedua lengannya yang panjang. Wanita itu lalu mengelak dan mencoba untuk menendang dari samping. Akan tetapi, sekali sambar, raksasa itu telah menangkap kaki dan menendang.

“Ahhh... lepaskan kakiku... Lepaskan aku...! Nyonya yang bernama Cui Bi itu meronta-ronta, namun percuma saja, kaki kanannya seperti terjepit besi.

Kini tangan kiri raksasa itu menyambar ke depan dan di lain saat tubuh wanita itu telah dirangkulnya dan ditariknya mendekat, didekapnya dan sambil tersenyum menyeringai, raksasa Mongol itu itu menciumi muka Cui Bi! Wanita ini berusaha memutar kepalanya ke kanan kiri untuk mengelak, namun kini tangan kiri Okatou menjambak rambutnya, memaksa kepala itu untuk diam dan dengan lahapnya dia mencium pipi dan mulut Cui Bi dengan ciuman yang mengeluarkan bunyi.

Dua belas orang raksasa Mongol lainnya menonton dengan mata melotot dan mulut mengeluarkan air liur. Sementara itu, Li Sian menarik-narik rantai di kakinya. Dia sudah marah sekali dan kalau saja dia dapat melepaskan diri dari rantai itu, tentu dia akan menerjang raksasa Mongol yang sedang menghina kakak iparnya itu! Akan tetapi rantai itu telalu kuat.

Kun tek juga mengepal tinju dan berteriak. “Jahanam busuk, lepaskan ia!”

Akan tetapi, Okatou yang hanya mentaati perintah Siangkoan Liong, tentu saja tidak mau memperdulikan semua itu.

“Brettttt! Brettttt...!”

Kini kedua tangan raksasa itu merobek-robek dan merenggut pakaian Cui Bi. Bagaikan kertas saja, kain pakaian itu robek dan tanggal sehingga kini tubuh wanita yang malang itu menjadi telanjang bulat! Dan jari-jari tangan yang besar berbulu itu, tanpa rikuh atau malu-malu di depan banyak orang, menggerayangi bagian tubuh dengan penuh nafsu.

Okatou dan kawan-kawannya, yang menjadi pasukan khusus dan anak buah Siangkoan Liong, datang dari luar Tembok Besar. Mereka itu memang merupakan manusia liar yang buas. Mereka sudah biasa melakukan penyiksaan atau pembunuhan, perkosaan begitu saja di depan banyak orang tanpa merasa rikuh sedikit pun juga.

Cui Bi, wanita yang malang itu, hampir pingsan ketika dirinya didekap, diciumi dan kini pakaiannya telah tanggal semua. Akan tetapi ia masih ingat untuk nekat menggigit pipi raksasa Mongol itu sekuat tenaga.

“Aughhh...!”

Okatou mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas dan dia mendorong tubuh Cui Bi dengan keras sehingga gigitan itu terlepas dan tubuh Cui Bi terlempar ke arah Li Sian. Raksasa itu meraba pipinya yang kulitnya robek berdarah oleh gigitan Cui Bi. Kini matanya makin merah memandang ke arah Cui Bi yang tentu akan terbanting kalau saja Li Sian tidak menyambutnya dengan tangan kirinya.

“He-he-heh...“ dalam kemarahannya, Okatou menyeringai dan terkekeh, lalu melangkah perlahan-lahan menghampiri wanita yang telanjang itu. Sinar matanya penuh ancaman mengerikan.

“He-he-heh, engkau kuda betina binal... he-he-heh, mari sini manis...“ Okatou tiba-tiba melompat ke depan, tangannya terulur untuk menangkap rambut Cui Bi yang kini terurai karena terlepas dari sanggulnya. Akan tetapi, sebuah kaki menyambutnya.

“Dukkk...!”

Tubuh Okatou langsung terjengkang keras oleh tendangan yang dilakukan Li Sian untuk melindungi Cui Bi. Tubuh Okatou terbanting keras dan Li Sian berkata kepada Cui Bi, “So-so (Kakak Ipar), engkau bersembunyilah di belakangku. Aku akan melindungimu, aku adalah adik perempuan suamimu.”

Pada saat itu Cui Bi merangkak ke belakang Li Sian. Okatou sudah bangkit lagi dan dengan kemarahan meluap, Okatou sudah menubruk ke depan, kali ini bukan menubruk ke arah Cui Bi, melainkan ke arah Li Sian, wanita tawanan yang berani menendang sehingga dadanya terasa nyeri dan sesak napas itu.

Li Sian yang sudah amat marah dan membenci raksasa ini, sudah mempersiapkan diri, mengumpulkan tenaga sinkang pada seluruh tubuhnya. Ia menanti sampai penyerang itu dekat, lalu ia mendahului dengan luncuran tangan kirinya, dengan dua jari mencuat, yaitu telunjuk dan jari tengah, agak direnggangkan dan dua buah jari itu meluncur dan menghujam ke arah kedua mata raksasa itu.

“Creppp...!”

Dua batang jari itu seperti sumpit baja menusuk dan masuk ke dalam rongga mata Okatou. Tubuh Okatou menggigil dan gerengan aneh keluar dari mulutnya, kemudian dia terjengkang. Akan tetapi pada saat itu, kaki kanan Li Sian menyusul dengan sebuah tendangan maut.

“Desssss...!”

Sekarang tubuh itu terbanting keras dan tidak mampu bergerak lagi. Kedua matanya berlumuran darah dan di bagian tengah celananya juga berlepotan darah. Jika tusukan dua jari tangan itu membutakan matanya, maka tendangan tadi sudah menghancurkan selangkangnya dan membuat nyawa raksasa buas itu melayang!

“Soso, jangan takut, aku melindungimu,” kata pula Li Sian kepada wanita telanjang yang masih berlutut di belakangnya.

Akan tetapi, Cui Bi terbelalak memandangnya, kemudian berkata dengan suara lantang. “Hemmm, kiranya engkau adik suamiku yang bernama Pouw Li Sian? Cihhh, sungguh tidak tahu malu engkau! Kakakmu dibunuh orang dan engkau malah menyerahkan diri dan kehormatanmu kepada Siangkoan Kongcu!”

Wajah Li Sian tiba-tiba menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah dan pada saat itu, Siangkoan Liong yang juga tidak mengira wanita itu akan mengeluarkan kata-kata seperti itu, menghardik, “Cui Bi, ke sini engkau!”

Bagaikan seekor anjing yang takut mendengar panggilan majikannya, Cui Bi berjalan menghampiri Siangkoan Liong, berusaha menggunakan kedua tangan menutupi bagian tubuh atas dan bawah, lalu ia berlutut di depan pemuda itu.

“Kongcu, jangan siksa aku seperti ini. Ampunkan atau bunuh saja aku,” ratapnya.

Ketika menyaksikan semua peristiwa yang tidak diduganya itu, Ouwyang Sianseng lalu mengerutkan alisnya. “Hemmm, Siangkoan Kongcu, apakah engkau masih menyayang dan membutuhkan wanita ini?” tanyanya kepada Siangkoan Liong.

Pemuda itu menggelengkan kepala dan mendengus dengan pandang mata menghina. “Tidak, Suhu, saya sudah bosan padanya.”

“Kalau begitu, suruh bunuh saja ia supaya jangan mendatangkan keributan lagi,” kata Ouwyang Sianseng.

Siangkoan Liong memandang kepada Cui Bi, lalu menoleh kepada wajah dua belas orang raksasa Mongol di luar yang masih terbelalak memandang ke arah tubuh wanita telanjang itu seperti serigala-serigala kelaparan, lalu dia pun berkata, “Tidak Suhu. Biar untuk mereka saja! Nih, dia kuberikan kepada kalian. Bawa pergi ke belakang sana!”

Siangkoan Liong tiba-tiba melakukan gerakan dengan kakinya, menendang tubuh Cui Bi yang terlempar keluar dari pintu kamar. Di luar, sambil mengeluarkan suara teriakan-teriakan liar, dua belas orang itu telah menyambut dan jerit melengking yang keluar dari mulut Cui Bi mengatasi semua suara gaduh.

Li Sian melihat tubuh berkulit putih mulus menjadi rebutan, di antara tangan-tangan yang berbulu dan berotot, lalu tubuh wanita itu diangkat pergi oleh dua belas orang raksasa itu. Yang terdengar hanya lengking tangis. Li Sian lalu menundukkan mukanya dan mematikan pendengarannya agar ia tidak lagi mendengar jeritan kakak iparnya.

Sementara itu, Kun Tek sudah duduk bersila dan matanya menatap ke arah Siangkoan Liong, bagaikan mencorong dan mengeluarkan api. Di dalam hatinya, pemuda ini telah mengambil keputusan untuk kelak membunuh pemuda tampan itu. Bukan hanya untuk menebus perbuatannya yang keji terhadap Cui Bi, melainkan juga karena Li Sian! Kini dia mulai mengerti mengapa gadis perkasa itu demikian penuh kebencian terhadap Siangkoan Liong!

Setelah anak buah Tiat-liong-pang membawa pergi mayat Okatou, Ouwyang Sianseng lalu memandang kepada tiga orang tawanan itu. Dia menarik napas panjang kemudian berkata, “Ahhh, perang memang kejam. Di dalam perjuangan, kadang-kadang memang harus menggunakan kekerasan terhadap musuh. Apa lagi kaum pengkhianat memang harusnya dibasmi. Kami mengenal Sam-wi (kalian bertiga) sebagai orang-orang gagah, keturunan para pendekar sakti, yang sudah tentu mempunyai jiwa patriot dan membenci pemerintah penjajah Mancu. Kami sedang berusaha untuk menumbangkan penjajah, dan membebaskan rakyat dari penjajahan. Oleh karena itu, kami yakin bahwa sebagai pendekar-pendekar gagah yang biasa membela tanah air dan rakyat, Sam-wi tentu akan berpikir panjang. Membantu perjuangan kami atau terpaksa kami lenyapkan Sam-wi sebagai lawan-lawan yang sangat berbahaya. Kami memberi waktu untuk mengambil keputusan sampai besok pagi.”

Setelah berkata demikian, Ouwyang Sianseng mengajak muridnya keluar dari kamar itu dan memesan kepada para anak buah untuk menyuguhkan hidangan yang hangat dan baik kepada mereka bertiga.

Dengan cerdik Hong Beng diam saja, tidak menjawab pertanyaan Ouwyang Sianseng. Dia tahu bahwa batin Kun Tek dan Li Sian masih terguncang menyaksikan kekejaman yang tak berperi kemanusiaan tadi, maka mereka berdua itu pasti akan menentangnya kalau dia menyambut dengan lembut. Apa lagi kakek itu memberi waktu sampai besok. Masih banyak waktu bagi mereka bertiga berunding.
Kisah si bangau putih bagian 13

Suma Ceng Liong dan isterinya, biar pun tinggal di dusun Hong-cun di luar kota Cin-an yang jauh dari keramaian, jauh pula dari urusan para pendekar di dunia persilatan, tapi ada saja kenalan yang memerlukan singgah di dusun itu untuk mengunjungi suami isteri terkenal ini dan menyampaikan penghormatan mereka. Oleh karena itu, berita tentang gerakan orang-orang kang-ouw yang memberontak di perbatasan utara, dipimpin oleh Siangkoan Lohan sebagai ketua Tiat-liong-pang, dapat pula mereka dengar dan hal ini mengejutkan hati mereka.

“Sungguh mengherankan sekali berita itu,” kata Suma Ceng Liong kepada Kam Bi Eng, isterinya. “Padahal, sudah lama nama Siangkoan Tek atau Siangkoan Lohan sebagai ketua Tiat-liong-pang amat terkenal. Perkumpulan itu bahkan pernah berjasa terhadap pemerintah Mancu, dan kalau tidak salah, aku pernah mendengar bahwa Siangkoan Lohan dihadiahi seorang puteri dari keluarga kaisar untuk menjadi isterinya. Bagaimana sekarang tersiar berita bahwa dia memimpin orang-orang kang-ouw untuk mengadakan pemberontakan? Sungguh aneh.”

“Hal seperti itu mungkin saja terjadi,” berkata isterinya. “Bagaimana pun juga, sebagai seorang pendekar yang gagah, tentu Lohan juga merasa kurang puas melihat betapa bangsa dan tanah air dijajah oleh orang-orang Mancu. Kalau sekarang dia mengadakan gerakan perjuangan untuk menentang pemerintah penjajah, apakah anehnya hal itu?”

“Kalau dia menggerakkan orang-orang gagah dan rakyat yang tertindas untuk berjuang menentang penjajahan Mancu, hal itu tidaklah aneh dan tidak mengkhawatirkan. Akan tetapi, menurut berita yang kita dengar itu, dia menggerakkan orang-orang kang-ouw (sungai telaga), golongan hitam dan sesat. Ini amat berbahaya karena perjuangan itu jelas bukan demi rakyat, bukan untuk bangsa dan tanah air, melainkan mengandung pamrih untuk golongan itu dan celakalah rakyat jelata kalau hal itu terjadi. Mereka, kalau menang, bahkan akan lebih jahat dan kejam dari pada pemerintah penjajah sendiri.”

Kam Bi Eng memegang lengan suaminya. “Sudahlah, kenapa kita harus memusingkan kepala turut memikirkan urusan pemberontakan? Itu urusan pemerintah dan bukankah pemerintah mempunyai pasukan yang kuat untuk memberantasnya? Bukan urusan kita untuk mencampurinya. Hanya, aku teringat kepada anak kita. Ke mana perginya Lian-ji? Engkau tahu, watak anak itu masih sangat keras sehingga kalau ia mendengar tentang persekutuan golongan hitam itu, tentu ia akan maju menentangnya.”

Suma Ceng Liong mengangguk. “Itulah yang kukhawatirkan. Ia memang telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk membela diri, namun kalau ia sampai mencampuri urusan pemberontakan itu dan ia turut menentang Tiat-liong-pang, sungguh berbahaya. Tingkat kepandaian Siangkoan Lohan amat tinggi, belum tentu anak kita yang kurang pengalaman itu akan mampu menandinginya. Apa lagi kalau diingat bahwa Siangkoan Lohan mengumpulkan banyak tokoh sesat seperti yang beritanya kita dengar.”

Kam Bi Eng mengerutkan alisnya. “Lalu bagamana baiknya? Kita harus menyusulnya dan melindunginya!”

Suaminya mengangguk-angguk. “Tapi tidaklah mudah mencari anak kita itu. Sebaiknya kita pergi berkunjung ke pertapaan kanda Suma Ciang Bun. Tentu dia sudah tiba di tempat itu untuk menyampaikan pesan kita, dan dari sana kita bisa mengikuti jejaknya, karena tentu Bun-ko tahu kemana anak itu pergi setelah meninggalkan tempatnya.”

Karena mengkhawatirkan keadaan anak tunggal mereka yang tercinta, sepasang suami isteri perkasa ini lalu berkemas dan meninggalkan rumah mereka menuju ke Tapa-san di mana Suma Ciang Bun bertapa, untuk mulai mencari jejak puteri mereka.

Suami isteri yang sakti ini sudah lama tidak pernah memasuki dunia ramai, apa lagi ikut mencampuri urusan dunia persilatan. Belasan tahun lamanya mereka hidup dengan tenang dan tenteram di dusun Hong-cun. Dan kini, begitu meninggalkan rumah, apa lagi setelah mereka tiba di luar dusun, timbul kegembiraan dalam hati mereka.

Jiwa petualangan mereka bangkit kembali. Di waktu muda, mereka adalah orang-orang yang suka bertualang, menghadapi banyak macam bahaya sebagai pendekar-pendekar yang setiap saat siap menentang kejahatan. Kegembiraan itu jelas nampak pada wajah mereka yang berubah cerah.

Bagaikan suami isteri yang sedang bertamasya saja mereka berjalan perlahan menuruni bukit kecil, menuju ke padang rumput di kaki bukit yang menjadi permulaan sawah dan ladang yang amat luas, dengan warna hijau menguning menyedapkan mata. Bau tanah dan tanaman gandum yang harum memasuki hidung mereka, bersama hawa udara yang amat segar dan nyaman.

Akan tetapi, tiba-tiba mata mereka yang sudah terlatih dan amat tajam melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka. Jauh di sana, di luar padang rumput yang membatasi padang rumput dengan sawah ladang, nampak ada beberapa orang manusia bergerak-gerak. Dari tempat jauh mereka itu nampak kecil sekali, akan tetapi gerakan-gerakan mereka itu dapat dikenal suami isteri ini sebagai gerakan orang-orang berkelahi dengan ilmu silat tinggi.

“Di sana ada orang-orang berkelahi!” berkata Kam Bi Eng kepada suaminya. “Seorang dikeroyok oleh tujuh lawan!”

“Benar,” kata suaminya, seolah-olah suami isteri ini sedang mengadu ketajaman mata mereka. “Yang seorang itu agaknya wanita, sedangkan pengeroyoknya seorang wanita dan enam orang pria.”

Mendengar ucapan suaminya itu, Kam Bi Eng mengerahkan tenaganya memandang dan ia pun berseru membenarkan.

“Hayo cepat kita ke sana!” teriak wanita sakti itu.

Tanpa menanti jawaban suaminya, Kam Bi Eng sudah meloncat ke depan dan berlari secepat angin menuruni bukit. Suma Ceng Liong juga segera mempergunakan ilmunya berlari cepat, mengejar isterinya. Karena keduanya mempergunakan ilmu berlari cepat yang hebat sekali, maka tak lama kemudian mereka berdua pun sudah tiba di tempat perkelahian itu. Memang penglihatan Suma Ceng Liong dari jauh tadi tidak keliru.

Nampak seorang gadis cantik manis berusia kurang lebih dua puluh satu tahun sedang dikeroyok oleh seorang wanita setengah tua dan enam orang laki-laki. Para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, namun gadis muda itu pun hebat sekali ilmu silatnya.

Melihat betapa gadis cantik manis itu memainkan ilmu pedang yang aneh, namun yang tidak asing baginya, Suma Ceng Liong segera berkata kepada isterinya. “Mari kita bantu gadis itu, bubarkan para pengeroyoknya sebelum ia celaka!”

Memang pada saat itu, gadis berpedang itu sudah terdesak hebat karena memang para pengeroyoknya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan wanita setengah tua itu agaknya jauh lebih menonjol tingkat kepandaiannya dibanding para pengeroyok lain.

Sesungguhnya, tidak mengherankan jika para pengeroyok itu amat lihai, karena wanita setengah tua itu bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li, tokoh sesat yang menjadi pembantu utama dari Siangkoan Lohan! Dan selain Sin-kiam Mo-li, di antara mereka terdapat pula Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek yang menjadi rekan dan juga kekasihnya, dan lima orang lain yaitu kaki tangan Tiat-liong-pang yang sedang mengadakan pemberontakan. Ada pun gadis cantik manis yang sedang dikeroyok itu adalah Hong Li!

Seperti telah kita ketahui, gadis perkasa ini memang sedang menuju dusun Hong-cun di luar kota Cin-an di Propinsi Shantung, di lembah Huang-ho untuk berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong seperti yang dipesan oleh ayah ibunya. Ketika tiba di padang rumput di kaki bukit itu, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang laki-laki setengah tua pesolek yang genit dan ceriwis sekali. Pria itu adalah Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek.

Sudah menjadi watak atau ciri khas dari tokoh sesat yang berjulukan Raja Pedang ini untuk tidak melewatkan setiap kesempatan bertemu dengan wanita cantik. Selalu saja dia mengganggu dan berusaha mendapatkan wanita itu dan kalau hatinya tertarik, dia tidak peduli lagi siapa wanita itu, isteri orang atau anak gadis orang. Dia akan berusaha menundukkannya, mungkin dengan bujuk rayu mengandalkan kegantengannya, kalau tidak, dia akan menggunakan kepandaiannya untuk mendapatkannya. Dia tidak pantang mempergunakan kekerasan memperkosa wanita itu.

Melihat seorang gadis melakukan perjalanan seorang diri di tempat sunyi itu, apa lagi gadis itu cantik manis sekali, segera hati Giam San Ek terpikat dan ia pun menghadang sambil cengar-cerigir menyeringai untuk memikat. Baru beberapa hari dia dan Sin-kiam Mo-li bersama beberapa orang kaki tangan mereka tinggal mondok di dusun berdekatan dalam tugas mereka menghimpun tenaga bantuan untuk gerakan yang dilakukan oleh Tiat-liong-pang.

“Selamat pagi, Nona Manis! Dari mana hendak ke manakah? Dan bolehkah kutemani Nona yang berjalan sendirian saja supaya tidak kesepian?” demkian tegur Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek kepada Kao Hong Li.

Wajah yang bulat telur itu menjadi merah dan mata yang jeli lebar itu mengeluarkan sinar berapi. Hong Li adalah seorang gadis yang cantik dan manis sekali dan sudah lama melakukan perjalanan seorang diri, maka sudah tidak aneh baginya melihat sikap pria yang mencoba untuk menggodanya. Dan setiap kali digoda pria secara kurang ajar, dia pasti turun tangan menghajar pria yang sama sekali tidak menyangka bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang lihai sekali. Kini melihat sikap pria setengah tua yang amat ceriwis itu, Hong Li yang juga pandai bicara lalu tersenyum simpul, menahan kemarahannya yang membuat kedua pipinya kemerahan itu.

“Hemmm, orang tua, pernahkah engkau bercermin?”

Melihat gadis itu tersenyum simpul yang membuat wajahnya makin manis, dan melihat kedua pipi yang halus itu kemerahan yang disangkanya gadis itu malu-malu kucing, Giam San Ek tidak marah mendengar gadis itu menyebutnya orang tua. Dia meraba rambutnya, dan meneliti pakaiannya apakah ada yang kusut, lalu menjawab.

“Tentu saja, Nona Manis! Aku selalu membawa cermin ke mana pun aku pergi. Lihat!” Dan seperti bermain sulap saja, tangan kirinya yang bergerak itu telah mengeluarkan sebuah cermin kecil dari saku bajunya.

Melihat betapa ucapannya tadi itu dianggap benar-benar dan orang itu benar-benar pula mengeluarkan sebuah cermin, Kao Hong Li tak dapat menahan ledakan ketawanya.

“Hemmm, manusia tak tahu diri! Kalau engkau sering bercermin, apakah engkau belum juga melihat betapa engkau ini sudah tua? Akan tetapi engkau masih pesolek, genit dan suka menggoda gadis muda seperti aku. Tidak malukah engkau?”

Mana mungkin orang macam Giam San Ek memiliki perasaan malu? Teguran Hong Li ini hanya dianggapnya main-main saja, bahkan disangka sebagai tanda bahwa gadis itu menanggapi godaannya.

“Ha-ha-ha, Nona Manis. Betapa pun tuanya seorang laki-laki, kalau melihat gadis manis sepertimu ini, siapa yang tidak menjadi tergila-gila? Hayolah, tak usah malu-malu, mari ikut dengan aku bersenang-senang!” Berkata demikian, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mengulurkan tangannya untuk mencubit dagu gadis itu.

Tentu saja Kao Hong Li menjadi marah melihat sikap orang ini makin berkelanjutan, bahkan makin berani hendak mencolek dagunya. Dengan mudah ia mengelak dengan mundur selangkah, dan tangannya menampar keras sekali ke arah muka orang.

Giam San Ek sama sekali tidak mengira bahwa gadis manis itu berani menamparnya, maka ia cepat mengelak. Akan tetapi karena memandang rendah, dia bergerak kurang cepat sehingga walau pun mukanya tidak kena ditampar, pundaknya masih terserempet ujung tangan gadis itu. Dia terkejut, baru tahu betapa tamparan itu mengandung tenaga yang sangat kuat, maka dia pun melangkah mundur sambil memandang dengan alis berkerut.

“Ehh? Engkau hendak membalas keramahan orang dengan pukulan?” bentaknya, kini kurang ramah.

“Keramahanmu hanyalah kekurang ajaran, dan aku adalah seorang gadis yang tidak sudi kau permainkan. Pukulanku adalah pukulan untuk menghajar laki-laki kurang sopan macam kalian ini!” Dan sekarang Kao Hong Li sudah menerjang ke depan, mengirim tamparan bertubi-tubi. Gerakannya tentu saja cepat dan kuat sekali!

Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mengelak dan menangkis dua kali.

“Dukkk! Plak!”

Pertemuan dua tangan mereka membuat keduanya terkejut. Hong Li juga kaget karena ternyata dalam tangkisan tangan lawan itu terkandung tenaga sinkang yang amat kuat, sedangkan Giam San Ek tentu saja kaget sekali karena pertemuan lengan itu membuat tubuhnya hampir terjengkang kalau saja dia tidak dapat meloncat ke belakang. Kini dia memandang gadis itu penuh perhatian, dan baru tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga dalam yang kuat.

“Ahh, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian, pantas sikapmu jual mahal!” bentak Giam San Ek dan dia pun sudah menerjang lagi dengan cepat dan ganas, menyerang dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar ingin memegang atau mencolek.

Akan tetapi, sekali ini dia kecelik dan bukan hanya gadis itu mampu menghindarkan diri dari semua terkamannya, bahkan membalas tidak kalah dahsyatnya sehingga membuat Toat-beng Kiam-ong itu terdesak mundur. Kalau dilanjutkan perkelahian tangan kosong itu, tentu dia akan kalah, karena Kao Hong Li adalah cucu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, ahli silat tangan kosong dengan ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat, dan juga isterinya ahli silat tangan kosong Han-tok-ciang (Silat Tangan Selaksa Racun).

Kedua ilmu silat ini telah diwarisi Hong Li dari ayahnya, yaitu Kao Cin Liong. Juga dari ibunya, cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es gadis bermata lebar ini telah mewarisi ilmu-ilmunya. Maka, tidaklah mengherankan kalau Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek terdesak hebat setelah mereka berkelahi selama belasan jurus saja.

“Singgg...!”

Nampak sinar berkelebat ketika Giam San Ek yang berjuluk Raja Pedang Pencabut Nyawa itu menghunus pedangnya dan mengelebatkan pedang itu di depan tubuhnya. Melihat ini, Hong Li juga mencabut pedangnya. Giam San Ek yang berwatak tekebur itu tertawa mengejek, memandang rendah.

“Ha-ha-ha, Nona Manis. Dengan tangan kosong memang aku sama sekali tidak berhasil mengalahkanmu, akan tetapi ketahuilah dengan siapa engkau berhadapan! Aku Giam San Ek, terkenal dengan julukan Toat-beng Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa), sungguh sangat disayangkan bahwa seorang gadis jelita seperti engkau terpaksa harus tercabut nyawanya oleh pedangku!”

“Tak perlu banyak cakap, lihat pedangku!” bentak Hong Li dan ia pun sudah memutar pedangnya dan menyerang dengan dahsyatnya.

“Haaaiiitt!”

Dengan lagak mengejek Giam San Ek menangkis serangan, membuat putaran dengan pedangnya dan membalas dengan tusukan ke arah dada Hong Li. Akan tetapi, gadis itu bukan hanya tangguh dalam ilmu silat tangan kosong, juga dia sangat lihai dengan pedangnya. Dia memainkan Ban-tok Kiam-sut dan biar pun ilmu pedang ini paling tepat dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam milik neneknya, akan tetapi dengan pedang di tangannya pun yang tidak beracun, ilmu pedang itu tetap hebat.

Kalau tadinya Giam San Ek masih mengejek dan memandang rendah, makin lama dia menjadi makin kaget mendapat kenyataan betapa lihainya gadis itu dengan pedangnya. Apa lagi mencari kemenangan dengan mudah, baru mempertahankan dirinya agar tidak sampai terkena pedang lawan saja sudah merupakan hal yang tidak mudah baginya! Bahkan makin lama Si Raja Pedang yang sombong ini menjadi semakin terdesak.

Selagi Giam San Ek semakin kebingungan, muncullah bala bantuan baginya yang amat membesarkan hatinya karena yang muncul itu bukan lain adalah kekasihnya, Sin-kiam Mo-li yang lebih lihai darinya dan lima orang anak buahnya, yaitu tiga orang anggota Ang-I Mo-pang dan dua orang murid Tiat-liong-pang yang semuanya memiliki ilmu silat yang sudah boleh diandalkan.

Melihat betapa kekasih dan rekannya itu terdesak oleh seorang wanita muda yang lihai sekali, Sin-kiam Mo-li segera mengeluarkan pedang dan kebutannya, lalu ikut terjun ke dalam pertempuran. Lima orang kawannya juga segera mengeluarkan senjata masing-masing dan kini Hong Li harus menghadapi pengeroyokan tujuh orang lawan tangguh!

Akan tetapi, gadis perkasa ini tidak menjadi gentar meski pun kini ia terkepung, terhimpit dan terdesak karena fihak para pengeroyoknya memang amat kuat, jauh lebih kuat dari padanya. Namun, dengan putaran pedangnya, dibantu tangan kirinya yang mendorong disertai tenaga Swat-im Sinkang, satu di antara ilmu dari Pulau Es yang sangat hebat karena dorongan tangan itu mengeluarkan hawa dingin yang amat kuat, ia melindungi dirinya.

Ketika Suma Ceng Liong melihat dorongan tangan kiri ini, yakinlah dia bahwa gadis itu tentulah keluarga Pulau Es, anggota dari keluarganya sendiri. Siapa lagi gadis itu kalau bukan puteri dari enci-nya, Suma Hui, yang bernama Kao Hong Li? Dia lupa lagi akan wajah keponakannya itu, apa lagi karena bertahun-tahun tidak pernah berjumpa, akan tetapi pukulan itu bagaimana pun juga akan dikenalnya dengan baik!

“Jangan takut, kami datang membantumu!” kata Ceng Liong yang semenjak tadi sudah menganjurkan isterinya untuk membantu gadis yang dikeroyok.

Kini tubuhnya berkelebat menerjang ke depan, dan melihat betapa yang paling lihai di antara para pengeroyok itu adalah wanita yang berpedang dan memegang kebutan, maka dia pun lalu menerjang wanita itu dengan totokan Coan-kut-ci! Coan-kut ci (Jari Penembus Tulang) adalah suatu ilmu yang dahsyat sekali, yang dipelajari Suma Ceng Liong dari Hek-I Mo-ong, gurunya yang juga seorang datuk kaum sesat yang dahulu amat terkenal.

Terdengar suara mencicit dibarengi angin yang kuat bukan main menyambar ke arah Sin-kiam Mo-li. Wanita ini terkejut bukan main, cepat menyambut dengan kebutannya. Akan tetapi, begitu bertemu dengan jari tangan Ceng Liong, bulu kebutan itu rontok dan wanita itu merasa betapa lengannya yang memegang kebutan tergetar hebat.

Ia membalas dengan tusukan pedang, namun didahului oleh tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Badai) yang cepat dari Ceng Liong, membuat wanita itu cepat-cepat melempar diri ke belakang. Nyaris perutnya tertendang dan kini Sin-kiam Mo-li benar-benar kaget bukan main, tidak menyangka akan bertemu dengan lawan sehebat ini! Ia kemudian berkemak-kemik sambil menudingkan pedangnya ke arah Suma Ceng Liong, mengerahkan kekuatan sihirnya dan membentak.

“Engkau yang berani melawan aku, berlututlah!”

Akan tetapi laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu malah tertawa bergelak. Tentu saja sihir itu tidak dapat mempengaruhi Ceng Liong karena pendekar ini pun telah mempelajari ilmu sihir dari ibunya sendiri, yaitu mendiang nenek Teng Siang In. Sambil tertawa, Ceng Liong juga mengerahkan kekuatan sihirnya dan tiba-tiba saja Sin-kiam Mo-li juga tertawa bergelak, tidak dapat menahan geli hatinya karena terseret oleh suara ketawa Ceng Liong!

Sambil tertawa, Ceng Liong sudah melakukan gerakan-gerakan mendorong dengan dua tangannya silih berganti, yang kanan dengan Hwi-yang Sinkang mengeluarkan hawa panas, dan yang kiri mengeluarkan hawa dingin dengan Swat-im Sinkang.

Sin-kiam Mo-li sedang terkejut bukan main karena melihat dirinya tertawa tanpa dapat dikuasainya. Cepat dia mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh tawa itu. Dan pada saat itu, lawannya sudah menyerangnya dengan dua ilmu yang hebat dari Pulau Es. Tentu saja ia menjadi kaget bukan main dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang kemudian bergulingan saja, wanita ini dapat terhindar dari pukulan lawan yang dahsyat.

Sementara itu, Kam Bi Eng juga sudah mencabut suling emasnya dan kini suling itu mengaung-ngaung ketika ia mainkan ilmu pedang gabungan antara Koai-long Kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut! Ilmu ini pun merupakan satu di antara ilmu-ilmu tertinggi pada waktu itu, dan yang diserang oleh Kam Bi Eng adalah Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek.

Orang ini terkejut, mencoba untuk memutar pedangnya. Akan tetapi tangkisannya tidak dapat menahan suling itu yang terus menerobos di antara sinar pedangnya sehingga mengancam ulu hatinya. Giam San Ek berteriak kaget dan melempar tubuh ke samping, lalu meloncat agak jauh dengan keringat dingin membasahi tubuhnya! Nyaris dia celaka oleh suling wanita cantik dan gagah itu!

Meski ia pangling dan tidak mengenal suami isteri perkasa yang datang membantunya, akan tetapi begitu menyaksikan gerakan-gerakan mereka, apa lagi melihat Kam Bi Eng memainkan suling emas, Kao Hong Li segera dapat menduga siapa adanya mereka.

“Paman Liong dan bibi Eng, terima kasih kalian sudah datang membantuku!” teriaknya dan tendangan-tendangannya langsung membuat kelima orang pengeroyoknya menjadi kalang kabut.

Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong adalah dua orang yang cerdik dan licik. Melihat kehebatan musuh, mereka berdua tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri, diikuti oleh lima orang anak buah mereka yang juga menjadi ketakutan! Kao Hong Li meloncat untuk mengejar, akan tetapi Suma Ceng Liong mencegahnya.

“Musuh yang lari jangan dikejar!” kata pendekar ini. Dia maklum betapa lihainya lawan, dan tentu licik sekali sehingga mengejar mereka amatlah berbahaya. Siapa tahu mereka itu lari ke tempat kawan-kawan mereka.

Kao Hong Li mentaati cegahan pamannya, tetapi ia mengerutkan alisnya memandang ke arah menghilangnya tujuh bayangan orang itu dan berkata, “Sayang, seharusnya mereka itu ditumpas, terutama sekali wanita itu!” Lalu, seperti baru teringat bahwa baru saja ia berjumpa dengan paman dan bibinya, gadis itu memberi hormat dan berkata, “Saya segera mengenal Paman dari gerakan Paman, dan mengenal Bibi setelah melihat suling emas itu!”

“Kami pun mengenalmu setelah melihat gerakan silatmu, Hong Li,” kata Kam Bi Eng sambil mengamati wajah yang cantik manis itu.

“Hong Li, siapakah wanita tadi? Ia kelihatan lihai sekali, dan melihat senjatanya pedang dan kebutan, mengingatkan aku akan seorang iblis betina...”

“Dugaan Paman benar. Ia adalah Sin-kiam Mo-li!”

“Ahhh!” Suami isteri itu terkejut.

“Agaknya ia tidak mengenal saya lagi, Paman, karena ketika ia menculik saya, ketika itu usia saya baru tiga belas tahun. Akan tetapi, saya tidak akan pernah dapat melupakan iblis itu dan tadi, begitu bertemu, saya segera mengenalnya. Padahal, saya memang sengaja hendak mencari dan membunuhnya!” kata gadis itu penuh semangat.

Ia teringat akan pengalamannya ketika berusia tiga belas tahun. Pernah ia diculik oleh iblis betina itu, bahkan kemudian diakui sebagai anak angkat dan murid, akan tetapi ia kemudian tahu bahwa sikap baik iblis betina itu hanya siasat belaka.

Suma Ceng Liong menatap tajam wajah Kao Hong Li, diam-diam merasa heran kenapa gadis ini seolah-olah diracuni dendam, padahal, dia mengenal benar pribadi ayah dan ibu gadis ini, orang-orang yang berjiwa pendekar dan tidak mudah dikuasai dendam.

“Hong Li, kenapa engkau ingin membunuhnya dan nampaknya engkau amat membenci wanita itu? Apakah karena ia dahulu menculikmu?” tanya Ceng Liong tak puas.

Hong Li menarik napas panjang. “Memang saya sedang menuju ke rumah Paman untuk menceritakan hal ini. Saya tidak mendendam karena ia pernah menculik saya, Paman. Akan tetapi karena ia dan kawan-kawannya telah menyerbu ke rumah kakek dan nenek di Gurun Pasir. Mereka mengeroyok dan berhasil membunuh kakek, nenek dan juga locianpwe Wan Tek Hoat, bahkan membakar Istana Gurun Pasir.”

“Ihhh...!” Kam Bi Eng berseru kaget.

Suma Ceng Liong juga terkejut sekali. “Apa?! Bagaimana mungkin ia dapat membunuh locianpwe Kao Kok Cu, isterinya, dan bahkan locianpwe Wan Tek Hoat?” Hampir dia tidak percaya bahwa ada orang mampu membunuh tiga orang sakti itu, apa lagi kalau orang itu hanya wanita tadi dan kawan-kawannya.

“Ayah, ibu dan saya sendiri tadinya juga merasa amat terkejut, heran dan tidak percaya, Paman. Akan tetapi pembawa berita itu adalah murid dari ketiga orang tua sakti itu sendiri.” Hong Li lalu mengulang cerita tentang peristiwa di Istana Gurun Pasir itu seperti yang didengarnya dari Tan Sin Hong.

Suami isteri perkasa itu mendengar dengan penuh perhatian. Wajah mereka dibayangi duka mendengar akan kematian tiga orang tua yang sakti itu. Setelah Hong Li selesai bercerita, Kam Bi Eng tidak sabar lagi bertanya.

“Tiga orang tua yang sakti itu tewas semua, akan tetapi bagaimana mungkin murid mereka itu dapat hidup dan dapat menceritakan peristiwa itu kepada keluargamu?”

“Kami juga berpendapat demikian dan dengan penasaran menanyakan hal itu kepada Tan Sin Hong. Dan ternyata bahwa pada saat penyerbuan terjadi, murid itu sama sekali tidak berdaya. Ia baru saja menerima pengoperan tenaga sakti dari tiga orang gurunya dan selama satu tahun dia pantang mempergunakan tenaga sakti karena hal itu berarti akan membunuh dirinya sendiri. Oleh karena itulah maka dia tidak dapat melakukan perlawanan, karena sekali mengerahkan tenaga, dia akan mati konyol.”

Mendengar ini, Ceng Liong menarik napas panjang. “Aihh, sungguh menyedihkan. Akan tetapi bagaimana pun juga, tiga orang locianpwe itu sudah tua sekali dan mereka tewas sebagai orang-orang gagah, gugur dalam menghadapi orang-orang sesat. Heran sekali nasib mereka sama benar dengan nasib kakek dan nenek-nenekku di Pulau Es! Gugur dalam menghadapi penyerbuan tokoh-tokoh sesat. Sekarang aku paham. Tentu setelah mengoper tenaga sakti kepada murid mereka itu, ketiga orang locianpwe itu mengalami kekurangan tenaga dan pada saat itu, para tokoh sesat datang menyerbu. Bagaimana pun juga, hampir semua penyerbu itu tewas, dan ini membuktikan bahwa ketiga orang locianpwe yang sudah berusia tinggi sekali itu memang masih luar biasa hebat. Nyawa manusia di tangan Tuhan! Kalau Tuhan sudah menghendaki, maka ada saja penyebab kematian seseorang. Kita tidak mungkin dapat mengelakkan kehendak Tuhan!”

“Beruntung sekali bahwa saya dapat bertemu dengan Ji-wi di sini sehingga bukan saja Paman dan Bibi dapat menyelamatkan saya dari tangan orang-orang jahat itu, tetapi juga saya tidak kecelik berkunjung ke rumah Paman dan Bibi yang kosong. Sebenarnya, ke manakah Paman dan Bibi hendak pergi, maka kebetulan berada di sini?”

“Kami memang sengaja meninggalkan rumah karena sudah mendengar akan gerakan pemberontakan yang kabarnya dilakukan oleh Tiat-liong-pang dibantu oleh para tokoh sesat. Karena anak kami Suma Lian juga sedang merantau, maka kami merasa sangat khawatir dan ingin mencarinya.”

“Ahh, Paman! Kebetulan sekali belum lama ini saya bertemu dengan adik Suma Lian!”

Hong Li segera bercerita mengenai pertemuan dirinya dengan Suma Lian yang diawali perkelahian karena kesalah pahaman ketika Hong Li mengejar seorang laki-laki yang menculik seorang anak laki-laki.

“Pertemuan itu singkat saja, Paman. Kami lalu berpisah, saya pergi berkunjung kepada Paman, sedangkan adik Lian terus melanjutkan pengejaran terhadap laki-laki penculik anak-anak itu.”

“Di mana terjadi peristiwa itu?”

“Di kota Ban-koan.”

“Kalau begitu, kami akan cepat mencari jejaknya di sana,” kata Ceng Liong.

Mereka kemudian berpisah. Ceng Liong dan Bi Eng segera menuju ke kota Ban-koan, sedangkan Hong Li mencoba untuk mencari jejak Sin-kiam Mo-li yang tadi melarikan diri bersama kawan-kawannya. Ia kini bersikap lebih berhati-hati, maklum bahwa Sin-kiam Mo-li mempunyai banyak kawan yang lihai. Menghadapi wanita itu sendiri, ia tak gentar, akan tetapi kalau dikeroyok banyak orang seperti tadi, ia bisa celaka.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di kota Ban-koan, tentu saja suami isteri pendekar itu sama sekali tidak dapat menemukan lagi jejak puteri mereka. Tiada seorang pun tahu tentang Suma Lian, apa lagi mengenai penculik anak-anak, oleh karena memang kedua orang ini meninggalkan kota itu secara diam-diam, di waktu malam pula.

Dari tempat ini, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng lalu pergi ke Pegunungan Tapa-san untuk mengunjungi pondok tempat tinggal Suma Ciang Bun. Sebelum pergi, Suma Lian telah mereka pesan untuk berkunjung ke rumah pamannya itu dan membujuk Suma Ciang Bun yang hidup sebatang kara untuk tinggal bersama mereka di dusun Hong-cun. Tentu Suma Ciang Bun akan dapat memberi keterangan ke mana selanjutnya puteri mereka itu pergi setelah berkunjung ke sana.

Dugaan mereka yang juga menjadi harapan mereka memang tidak keliru. Di tempat kediaman Suma Ciang Bun, mereka memperoleh keterangan yang banyak. Suma Ciang Bun menyambut mereka dengan gembira sekali dan pendekar ini merangkul adiknya dengan sepasang mata basah. Dia telah merasa rindu sekali kepada Suma Ceng Liong dan pertemuan ini sungguh membuat dia terharu dan juga gembira.

“Bagaimana, Bun-ko, engkau tentu sehat-sehat saja, bukan? Engkau nampak sehat dan segar.”

“Engkau juga semakin gagah saja, Liong-te. Dan isterimu ini juga semakin gagah dan cantik!” kata Suma Ciang Bun.

Kam Bi Eng tertawa, mukanya berubah agak kemerahan. “Ah, Bun-koko ini bisa saja. Orang sudah semakin tua, mana mungkin semakin cantik?”

Seorang anak laki-laki muncul. Usianya baru tujuh tahun lebih, tetapi keadaan anak ini sungguh mengagumkan hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Anak itu mempunyai wajah yang tampan dengan sepasang mata yang tajam bersinar penuh semangat dan keberanian, juga mengandung kecerdikan.

“Ah, Bun-ko telah memiliki seorang murid yang baru? Dia baik sekali, Bunko...”

Suma Ciang Bun tersenyum. “Anak ini hanya titipan, yang menitipkannya di sini adalah puteri kalian!”

Tentu saja suami isteri itu terkejut dan girang sekali. “Suma Lian, anak kami?” keduanya hampir berbareng bertanya.

Suma Ciang Bun mengangguk, kemudian dia mengajak mereka semua duduk di dalam pondoknya yang tidak besar namun karena mempunyai banyak jendela maka terbuka dan sejuk hawanya. Lalu dia menceritakan tentang kunjungan Suma Lian dan Tan Sin Hong dan tentang Yo Han yang dititipkan kepadanya oleh dua orang muda itu.

“Bun-ko, apakah yang kau maksudkan Tan Sin Hong murid dari Istana Gurun Pasir itu?” tanya Ceng Liong memotong cerita kakaknya.

“Benar, engkau sudah mendengar akan mala petaka yang terjadi di sana?”

“Sudah, dari Kao Hong Li yang kami jumpai di jalan.”

“Dan tahukah engkau siapa anak ini? Anak ini adalah putera dari Ciong Siu Kwi dan suaminya, Yo Jin,” kata Suma Ciang Bun.

“Ciong Siu Kwi...? Bi...” Suma Ceng Liong yang tadinya hendak mengatakan Bi Kwi, menahan ucapannya teringat akan kehadiran anak itu.

Suma Ciang Bun maklum dan dia mengangguk, lalu diceritakannya semua yang pernah didengarnya dari Suma Lian tentang anak itu, betapa ayah dan ibu anak itu menjadi tawanan para tokoh sesat yang bergabung dengan Tiat-long-pang.

Mendengar semua cerita itu, Suma Ceng Liong saling pandang dengan isterinya, lalu dia menghela napas panjang. “Kami sudah mengkhawatirkan bahwa tentu Lian-ji akan terlibat dalam urusan pemberontakan Tiat-liong-pang. Jika ia mendengar akan gerakan kaum sesat mendukung pemberontakan, tentu ia akan menentangnya. Kami justru amat mengkhawatirkan hal itu, Bun-ko. Oleh karena itu, kami tidak akan berlama-lama tinggal di sini. Kami akan segera berangkat untuk mencari puteri kami dan membantunya jika dia menentang Tiat-liong-pang.”

Suma Ciang Bun lalu mengangguk-angguk. “Memang sebaiknya begitu, Liong-te. Kaum muda itu memang amat berani, dan kadang-kadang terlalu berani sehingga tidak lagi memakai perhitungan. Aku juga mendengar bahwa gerakan Tiat-liong-pang sekali ini didukung oleh tokoh-tokoh sesat yang sangat lihai, bahkan kabarnya Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai ikut pula mendukung, belum lagi pasukan pemerintah yang berkhianat dan orang-orang Mongol.”

Suami isteri itu lalu berpamit. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari puteri mereka. Sekali ini, tujuan mereka sudah jelas, yaitu perkumpulan Tiat-liong-pang yang pusatnya berada di lereng bukit di kota Sang-cia-kou di utara.

********

Di benteng pasukan-pasukan pemerintah Ceng yang berada di perbatasan utara terjadi peristiwa yang menggegerkan. Selama beberapa minggu ini sudah ada belasan orang perwira menengah dan perwira tinggi secara mendadak saja hilang tanpa meninggalkan jejak! Mereka yang hilang itu semua adalah para perwira yang setia kepada pemerintah.

Karena sebuah pasukan tidak mungkin tanpa pimpinan, maka beberapa pasukan yang kehilangan pimpinan lalu dikuasai oleh Coa Tai-ciangkun, seorang di antara panglima yang bertugas di perbatasan utara. Coa Tai-ciangkun lalu mengangkat perwira-perwira baru untuk memimpin pasukan-pasukan yang telah kehilangan pemimpinnya.

Keadaan seperti itu mencemaskan hati para perwira yang setia kepada pemerintah dan yang masih hidup. Ada beberapa orang di antara mereka nyaris diculik oleh orang-orang berkedok yang berkepandaian tinggi. Mereka ini merasa cemas melihat ada beberapa rekan-rekan mereka yang lenyap dan kini kekuasaan Coa Tai-ciangkun atas pasukan-pasukan di utara semakin besar.

Padahal, mereka sudah mendengar desas-desus bahwa Coa Tai-ciangkun disangsikan kesetiaannya karena kabarnya mengadakan hubungan dengan kekuatan-kekuatan di luar pasukan. Maka, diam-diam di antara para perwira itu mengirim utusan dengan cepat ke selatan, ke kota raja untuk melaporkan peristiwa yang mencemaskan itu.

Pada suatu pagi yang cerah, di atas puncak sebuah bukit tak jauh dari Tembok Besar nampak dua orang menuruni bukit itu perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah dari puncak bukit. Memang indah bukan main pemandangan dari situ. Tembok Besar buatan manusia yang sudah mengorbankan mungkin jutaan orang manusia dalam pembuatannya dan perbaikan-perbaikannya itu, nampak seperti seekor naga di antara bukit-bukit, naik turun dan berkelok-kelok, sehingga membuat dua orang itu kadang-kadang berhenti melangkah untuk lebih menikmati pemandangan itu.

Mereka adalah seorang nenek dan seorang kakek. Kakek itu usianya sudah kurang lebih tujuh puluh tahun, berpakaian sastrawan yang sederhana, bertubuh tinggi agak kurus, namun wajahnya masih membayangkan ketampanan dan tubuh itu masih tegak. Gerak-geriknya halus, dan pandang matanya lembut, meski kadang-kadang mencorong penuh wibawa.

Sementara nenek itu belasan tahun lebih muda, baru lima puluh tahun lebih. Bentuk tubuhnya masih ramping, serta gerak-geriknya masih lincah dan cekatan. Keduanya menggendong sebuah buntalan pakaian di punggung dan keduanya nampak gembira, mungkin karena hawa udara yang sejuk nyaman dan pemandangan alam yang amat indahnya itu menyeret mereka ke dalam suasana gembira.

Manusia adalah sebagian dari alam, merupakan bagian tak terpisahkan dari alam. Oleh karena itu, walau pun manusia mabuk oleh nafsu duniawi yang membuat mereka selalu tenggelam dalam kesibukan mencari uang, mengejar kesenangan, hiburan atau urusan rumah tangga, keluarga, atau juga masyarakat dan Negara, sekali waktu akan timbul rindunya kepada alam.

Dan setelah manusia jenuh dari pada segala keduniawian dengan tata kehidupan yang serba mengejar kesenangan ini, misalnya dia berada di tepi samudera atau di puncak bukit, dia akan tenggelam ke dalam kesyahduan alam, ke dalam keheningan yang amat menghanyutkan, yang mendatangkan ketenangan dan kedamaian di dalam batin.

Timbul suatu pertanyaan masing-masing, dalam batin masing-masing, yaitu: Dapatkah kita bebas dari pada segala kebisingan pikiran sewaktu kita berada di dalam masyarakat ramai sehingga kita memperoleh keheningan ketenangan dan kedamaian seperti kalau kita berada seorang diri di puncak gunung atau di tepi samudera?


Biar pun kakek dan nenek itu kelihatan seperti orang-orang biasa saja, namun kalau ada yang mengenal mereka, tentu si pengenal akan terkejut sekali mendapatkan mereka berdua di situ. Mereka bukanlah orang biasa, melainkan pasangan pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu mereka yang tinggi!

Kakek itu bernama Kam Hong. Puluhan tahun yang lalu ia pernah menggegerkan dunia persilatan dengan ilmunya yang sangat tinggi dan dijuluki Pendekar Suling Emas karena ilmunya mengingatkan dunia persilatan akan kehebatan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling dari seorang pendekar ratusan tahun yang lalu yang juga berjuluk Suling Emas. (baca kisah Suling Emas Naga Siluman).

Ada pun nenek itu adalah isterinya yang juga merupakan seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya, bernama Bu Ci Sian. Isterinya ini, yang belasan tahun lebih muda dari sang suami, juga masih sumoi dari suaminya itu, karena mereka berdualah yang telah menemukan kitab ilmu yang amat tinggi dan keduanya mempelajari ilmu itu. Disamping ilmu memainkan suling emas, juga nenek Bu Ci Sian ini memiliki ilmu menaklukkan ular, dan di samping itu, juga pernah menerima gemblengan ilmu gabungan sinkang Im dan Yang dari pendekar Suma Kian Bu, putera Pendekar Super Sakti Pulau Es.

Sudah puluhan tahun kedua suami isteri ini tak pernah terjun ke dunia persilatan, hidup aman tenteram di istana kuno yang dulu pernah menjadi pusat perkumpulan Khong-sim Kai-pang, yaitu di puncak bukit Nelayan di Pegunungan Tai-hang-san, sebelah selatan kota Pao-teng. Bagaimana kini mendadak suami isteri tua yang sakti itu bisa berada di pegunungan utara dekat Tembok Besar?

Sebulan yang lalu, nenek Bu Ci Sian merasa rindu sekali kepada puterinya, yaitu Kam Bi Eng yang sudah menjadi isteri Suma Ceng Liong. Juga dia ingin sekali melihat dunia luar setelah bertahun-tahun berdiam di rumah saja.

Ia lalu mengajak suaminya untuk meninggalkan istana tua itu dan berkunjung ke tempat kediaman puteri mereka di dusun Hong-cun. Akan tetapi, setelah sampai di tempat itu, ternyata Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng tidak berada di rumahnya dan menurut keterangan para pembantu rumah tangga, suami isteri itu meninggalkan rumah untuk pergi mencari nona Suma Lian yang telah pergi lebih dahulu dari rumah. Para pembantu rumah tangga itu tidak dapat memberi keterangan ke mana majikan mereka pergi.

Kakek dan nenek itu tentu saja merasa kecewa dan mereka hanya tinggal semalam saja di rumah puteri mereka yang kosong. Mereka telah mendengar berita tentang gerakan Tiat-liong-pang yang dibantu oleh banyak tokoh sesat, maka kakek Kam Hong menduga bahwa tentu puteri, mantu dan cucu mereka itu pergi ke sana untuk menentang gerakan kaum sesat.

Maka, mereka berdua lalu pergi ke utara untuk melihat-lihat keadaan dan mencari puteri dan menantu mereka. Di sepanjang perjalanan mereka mencari keterangan dan makin kuat dugaan mereka bahwa puteri mereka tentu pergi ke utara setelah mendengar bahwa memang banyak pendekar yang melakukan perjalanan ke utara sehubungan dengan berita gerakan kaum sesat di utara yang dipimpin oleh Tiat-liong-pang itu.

Demikianlah, pada pagi hari itu, kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian tiba di puncak bukit, menuruni bukit sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah, kadang-kadang berhenti dan memandang ke empat penjuru dengan penuh kagum.

“Eh, lihat di sana itu!” Tiba-tiba nenek itu berseru sambil menuding ke arah selatan, ke bawah. “Bukankah itu sebuah kereta?”

Kakek Kam Hong cepat memandang ke arah yang ditunjuk isterinya dan mengamati. “Benar, sebuah kereta dikawal oleh belasan orang.”

“Dan para pengawal itu mengenakan pakaian seragam!” sambung Bu Ci Sian.

“Juga di kereta itu ada benderanya, tidak jelas dari sini, akan tetapi seperti bendera tanda pangkat. Agaknya orang berpangkat yang duduk di dalam kereta itu.”

“He, lihat! Dari sebelah kanan itu! Dua orang itu seperti hendak menghadang kereta!”

“Siancai...! Benar katamu, dan lihat, mereka sudah bertempur!” kata kakek Kam Hong. “Ah, dua orang itu bukanlah lawan para pengawal, mari kita cepat ke sana untuk melihat apa yang telah terjadi!”

Kakek dan nenek itu bagaikan terbang cepatnya menuruni bukit dan berkat ilmu berlari cepat mereka yang tinggi, tak lama kemudian mereka tiba di tempat pertempuran.

Ketika mereka tiba di tempat itu, belasan orang berpakaian seragam telah rebah malang melintang tanpa nyawa lagi! Hanya tinggal empat orang berpakaian perwira yang masih terus melindungi kereta itu. Dengan pedang di tangan, keempat orang itu repot sekali melindungi dirinya di depan kereta, menahan serangan-serangan seorang pemuda yang juga memainkan pedang, tetapi permainan pedangnya sedemikian hebatnya sehingga empat orang perwira itu terdesak hebat dan agaknya takkan lama lagi mereka dapat bertahan.

Sementara itu, orang ke dua yang menghadang kereta, seorang kakek yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, berpakaian seperti seorang sastrawan, tinggi kurus, dengan gerakan ringan sekali meloncat ke dekat kereta dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan kereta itu pecah berantakan. Dua ekor kudanya yang terkejut meronta lepas dan melarikan diri.

Dari dalam kereta meloncat ke luar seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan, berpakaian sebagai seorang panglima besar dengan tanda pangkatnya di pundak dan dada. Dengan gerakan cukup sigap panglima ini meloncat turun sehingga dia tidak ikut terbanting dengan pecahnya kereta.

Melihat panglima itu, sastrawan tua tersenyum mengejek sambil mengeluarkan sebuah kipas dan mengipasi tubuhnya.

“Hemmm, kiranya engkau yang disebut Panglima Besar Liu, yang datang dari kota raja untuk menyelidiki keadaan di benteng utara? Jangan harap akan dapat menyelidiki apa pun, karena engkau akan mati di sini seperti yang dialami anak buahmu. Nah bersiaplah untuk mati!”

Panglima Besar yang bertubuh tinggi besar itu tidak kelihatan takut, bahkan mencabut pedangnya, bersiap untuk membela diri sedapat mungkin biar pun dia tahu bahwa bela dirinya tidak akan ada gunanya, melihat betapa para pengawalnya yang lihai saja kini nampak repot menghadapi penyerang muda itu.

“Bagus, kini aku mengerti mengapa terjadi geger di benteng utara dan banyak perwira kami yang kabarnya lenyap diculik orang. Kiranya ada musuh yang sengaja bersekutu dengan pengkhianat dan kalau aku tidak keliru, tentu engkau ini yang disebut Ouwyang Sianseng atau Nam San Sianjin seperti yang sudah dikabarkan oleh orang-orang kami. Engkau sudah bersekutu dengan Tiat-liong-pang untuk mengadakan pemberontakan, dan membujuk beberapa orang panglima dan perwira kami untuk berkhianat.”

Ouwyang Sianseng menudingkan kipasnya. “Tidak keliru, Liu Tai-ciangkun. Sekarang bahkan tiba giliranmu untuk mati di tanganku!”

“Tahan...!” Tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat.

Tahu-tahu di depan Ouwyang Sianseng telah berdiri seorang kakek tua yang bukan lain adalah Kam Hong sedangkan Bu Ci Sian berkelebat ke arah pemuda yang mendesak empat orang pengawal itu, mengelebatkan suling emasnya. Nampak sinar terang sekali dan disusul suara berdentang nyaring ketika pedang yang dipergunakan oleh Siangkoan Liong untuk mendesak empat orang lawannya itu bertemu dengan sinar kuning emas.

Siangkoan Liong terkejut dan meloncat mundur ketika merasa betapa benturan senjata itu membuat tangan kanannya tergetar hebat. Maklum bahwa ada lawan tangguh yang muncul, Siangkoan Liong cepat menghampiri gurunya.

Bu Ci Sian juga menghampiri suaminya dan kini suami isteri tua itu berdiri berhadapan dengan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong.


SELANJUTNYA KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 14


Thanks for reading Kisah Si Bangau Putih Bagian 13 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »