Kisah Si Bangau Putih Bagian 08

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 08

Pada saat para anggota Cin-sa-pang melaporkan kepada ketua mereka akan datangnya seorang tamu dan Ciok Kim Bouw cepat keluar, dia menjadi gembira sekali melihat pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu.

“Aihh, kiranya Cu-enghiong yang datang!” katanya sambil dia membalas penghormatan pemuda itu.

“Bagaimana kabarnya, Ciok Pangcu? Mudah-mudahan baik-baik saja.”

“Terima kasih, Cu-eng-hiong. Mari silakan duduk di dalam!” Mereka masuk ke ruangan dalam dan bercakap-cakap.

Dalam kesempatan ini Cu Kun Tek bertanya mengenai berita yang dia dengar tentang Tiat-liong-pang. Ketua Cin-sa-pang itu segera menceritakan semua pengalaman dirinya ketika dia menghadiri undangan Tiat-liong-pang, yaitu pada pesta ulang tahun ke enam puluh tahun dari Siangkoan Lohan.

“Bayangkan saja, hati siapa tidak menjadi geram melihat betapa di antara para tamu kehormatan itu terdapat orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, bahkan di sana aku melihat pula iblis betina Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Jelaslah bahwa Tiat-liong-pang hendak merencanakan sesuatu pemberontakan!”

Cu Kun Tek mendengarkan penuh perhatian, alisnya berkerut dan dia pun lalu berkata, “Akan tetapi, bukankah sudah menjadi idaman semua orang gagah untuk membantu usaha mengusir pemerintah penjajah dari tanah air, Pangcu?”

Ciok Kim Bouw menghela napas panjang. “Kalau ada gerakan seperti itu, gerakan para patriot sejati dengan tujuan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, percayalah, kami seluruh anggota Cin-sa-pang akan berdiri di belakangnya. Kami akan bergabung dan siap mempertaruhkan nyawa untuk membantu gerakan itu! Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang Tiat-liong-pang dapat merupakan patriot-patriot sejati? Mereka bahkan berjasa terhadap penjajah Mancu, bahkan Siangkoan Lohan dihadiahi banyak harta dan seorang puteri dari istana kaisar! Kini, dia mengadakan persekutuan dengan para pemberontak, tetapi pemberontak semacam Pek-lian-kauw, dan bersekutu pula dengan orang-orang dari kaum sesat! Bagaimana mungkin gerakan seperti itu bisa mengandung niat bersih dan gagah untuk membebaskan rakyat jelata?”

Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi di dalam pesta itu, tentang kecabulan dan lain-lain, kemudian menceritakan betapa dia secara terang-terangan mengatakan tidak senangnya dengan kehadiran tokoh-tokoh sesat sehingga dia dianggap menghina dan dikalahkan oleh Siangkoan Liong, putera Siangkoan Lohan.

“Ketika aku pergi meninggalkan pesta, masih banyak di antara teman-teman sepaham yang juga meninggalkan tempat itu, sebagai protes dan pernyataan tidak suka karena Tiat-liong-pang bersekutu dengan orang-orang golongan sesat. Dan tahukah engkau apa yang terjadi setelah aku pergi meninggalkan tempat itu? Di tengah perjalanan, aku dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong dan mereka itu sengaja hendak membunuhku!”

Lalu diceritakan betapa dia nyaris tewas kalau tidak muncul seorang pemuda lihai yang berhasil mengusir kedua orang itu, bahkan menyelamatkan nyawanya dari ancaman racun di lengannya akibat serangan Siangkoan Liong.

“Nah, melihat perkembangan itu, kami merasa amat khawatir, Cu-enghiong. Puteraku, Ciok Heng, tadinya berkeras ingin memimpin anak buah menyerbu ke Tiat-liong-pang, akan tetapi kularang dia karena hal itu sama dengan membunuh diri. Di sana berkumpul banyak orang pandai dan agaknya Tiat-liong-pang sudah menyusun kekuatan. Maka, kami lalu menyebarkan berita itu supaya terdengar oleh para pendekar dan orang gagah sehingga gerakan yang berbahaya dari Tiat-liong-pang dapat dicegah.”

Cu Kun Tek diam-diam merasa heran juga mendengar semua cerita itu. Dia pun sudah mendengar perkumpulan macam apa adanya Tiat-liong-pang, yaitu suatu perkumpulan yang pernah membuat jasa terhadap serbuan orang Mancu sehingga perkumpulan itu dianggap pro pemerintah Mancu. Akan tetapi kenapa kini mendadak saja perkumpulan itu hendak memberontak, bahkan bersekutu dengan orang-orang golongan hitam? Hal ini perlu diselidiki secara teliti sebelum dia mempercayai begitu saja keterangan Ciok Pangcu.

Hanya satu hari Cu Kun Tek berdiam di Cin-sa-pang sebagai tamu, bercakap-cakap dengan ketua Cin-sa-pang dan puteranya, Ciok Heng yang gagah perkasa. Kemudian dia minta diri karena dia hendak melanjutkan perjalanannya ke utara, untuk melakukan penyelidikan pada perkumpulan yang katanya bersekutu dengan para golongan sesat dan hendak memberontak itu.

Di dalam perjalanan ini, Kun Tek mengenangkan masa lampaunya, tujuh delapan tahun lalu ketika dia baru berusia sembilan belas tahun, ketika dia bersama para pendekar lain seperti Gu Hong Beng, Can Bi Lan, Sim Houw dan yang lain-lain menghadapi musuh musuh yang amat kuat seperti Kim Hwa Nionio, Sai-cu Lama, dan Sam Kwi yang amat lihai itu. Mereka menjadi kaki tangan Thaikam Hou Seng yang menjadi kekasih Kaisar dan yang hendak merajalela dengan kekuasaannya. Dengan demikian, para datuk sesat itu seolah-olah bekerja sama dengan pemerintah dan membantu pemerintah, sehingga kadang-kadang para pendekar berhadapan dengan pasukan pemerintah.

Tapi kini keadaan berbalik. Tiat-liong-pang yang tadinya menjadi perkumpulan yang pro pemerintah penjajah, kini kabarnya tiba-tiba membalik dan hendak memberontak. Akan tetapi, melihat betapa perkumpulan itu bersekongkol dengan datuk kaum sesat, Kun Tek meragukan kebersihan usaha pemberontakan mereka itu. Tentu mereka tak bermaksud berjuang untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kaum penjajah, namun hendak memberontak dan merebut kekuasaan, untuk mengangkat diri sendiri menjadi golongan pimpinan baru!

Kalau benar demikian, maka gerakan itu harus ditentangnya! Dia hanya akan membantu perjuangan yang benar-benar ditujukan untuk membebaskan rakyat dari tindasan kaum penjajah. Bagaimana pun juga, harus diakuinya bahwa Kaisar Kian Long yang sekarang ini masih jauh lebih baik dan bijaksana dari pada kaisar-kaisar Mancu yang lalu, dan dia tak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya kalau sampai kendali pemerintahan terjatuh ke dalam tangan para datuk sesat yang jahat dan kejam melebihi iblis itu.

Teringat akan masa lalunya, dada yang bidang itu menghembuskan napas panjang. Dia pernah jatuh cinta pada Can Bi Lan, cinta sepihak, karena akhirnya wanita itu menikah dengan Sim Houw, yang masih keponakannya sendiri biar pun usia Sim Houw lebih tua empat belas tahun darinya. Sejak itu dia kembali ke Lembah Naga Siluman dan tidak pernah memasuki dunia ramai.

Dia tidak merasa patah hati, bahkan sudah melupakan peristiwa itu. Namun, kegagalan cintanya itu membuat dia malas dan segan untuk mencari jodoh seperti yang selalu dianjurkan kedua orang tuanya.

Sekarang, setelah kembali dia melakukan perjalanan seorang diri, baru dia dapat membayangkan betapa selama ini ia telah mengecewakan hati ayah bundanya, bahwa membuat mereka berduka dan kecewa merupakan suatu perbuatan yang tidak berbakti. Pula, kenapa dia seolah-olah menjadi putus asa dan tidak pernah mempunyai keinginan untuk berumah tangga?

Ah, siapa tahu, sekali ini Thian akan menunjukkan jalan baginya, akan mempertemukan dia dengan jodohnya. Atau mungkin juga dia akan gugur dalam menunaikan tugasnya sebagai seorang pendekar ketika menyelidiki Tiat-liong-pang. Bagaimana nanti sajalah! Keberuntungan atau kegagalan di masa depan, aku siap menghadapimu, demikian dia menyongsong masa depannya dengan hati lapang dan gagah.

Kun Tek memang keturunan keluarga Cu yang sudah ratusan tahun tinggal di Lembah Naga Siluman sebagai keluarga sakti yang mengasingkan diri. Keluarga Cu ini memiliki ilmu silat keluarga yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, dan nama besar keluarga Cu telah dikenal oleh hampir semua tokoh dunia persilatan, baik dari golongan putih mau pun golongan hitam.

Dan sekarang, Cu Kun Tek, keturunan terakhir mereka, mengubah kebiasaan nenek moyangnya, dia keluar dari lembah untuk mencampuri urusan dunia ramai. Tentu saja sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, siap untuk melindungi yang lemah dan tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang, kalau perlu dengan taruhan nyawa!

Juga diam-diam dia mengharapkan mudah-mudahan kali ini dia akan bertemu dengan jodohnya karena bagaimana pun juga ia merasa kasihan kepada ayah dan ibunya yang sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu dan terutama sekali menimang cucu.

*******

Semenjak Siangkoan Liong membunuh dua orang anggota Tiat-liong-pang yang hendak memperkosa Kwee Ci Hwa, para anggota Tiat-liong-pang kini tidak berani lagi berbuat jahat dan sembarangan saja. Mereka semua maklum betapa kejam dan tanpa ampun adanya putera ketua mereka itu dan mereka kini patuh akan semua perintah atasan. Siangkoan Lohan juga sudah mendengar akan peristiwa itu dan dia sempat menegur puteranya mengapa membunuh dua orang anak buah sendiri.

“Ayah, apa yang akan dapat diharapkan dari anak buah yang suka berbuat sewenang-wenang tanpa menurut peraturan? Akhirnya mereka tak akan dapat dikendalikan dan kalau sudah begitu, mungkin kelak mereka akan berani membalik dan melawan kita. Mengendalikan orang-orang itu harus dengan tangan besi. Mereka harus tunduk dan takut, taat sepenuhnya kepada kita, barulah kita dapat mempergunakan mereka dengan baik. Apa lagi, bukankah kita mempunyai tujuan yang tinggi dan membutuhkan disiplin yang kuat? Kalau mereka tidak berdisiplin, tidak sangat taat seperti sepasukan tentara yang terkendali baik, bagaimana mungkin usaha kita akan berhasil?”

Siangkoan Liong yang biasanya pendiam itu kini bicara penuh semangat dan Siangkoan Lohan menjadi girang sekali.

Benar kata-kata Ouwyang Sianseng, pikirnya. Puteranya ini memang ada bakat untuk menjadi kaisar! Sikapnya saja sudah nampak jelas. Maka, mulai hari itu, Siangkoan Lohan lalu mengadakan peraturan-peraturan yang membuat para anak buahnya tidak lagi berani berbuat sewenang-wenang tanpa perintah atasan.

Setiap hari mereka dilatih oleh Siangkoan Lohan sendiri, kadang-kadang dibantu oleh para sekutunya, yaitu Sin-kiam Mo-li, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Siangkoan Lohan bahkan kadang-kadang turun tangan sendiri dan memberi gemblengan sehingga pasukan Tiat-liong-pang yang kini ditambah jumlahnya itu terbentuk sebagai pasukan yang cukup kuat, dengan jumlah hampir tiga ratus orang!

Pada suatu hari, pasukan itu dilatih perang-perangan, dipimpin oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong. Pasukan dibagi dua, dengan pakaian seragam yang berbeda pula, yang setengah dipimpin Sin-kiam Mo-li dan yang sebagian lagi dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong. Pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong bertugas untuk menyerbu Tiat-liong-pang, sedangkan yang dipimpin Sin-kiam Mo-li bertugas mempertahankan benteng perkumpulan itu.

Penjagaan dilakukan dengan amat ketat, bahkan sebelum tiba saatnya pasukan ‘musuh’ datang menyerbu. Benteng Tiat-liong-pang itu dianggap sebagai benteng kota raja yang harus diserbu dan diduduki. Tentu saja ada pula disebar mata-mata dari pihak penyerbu untuk menyelidiki pertahanan benteng, juga dari pihak yang diserbu untuk mengetahui gerak-gerik musuh. Sampai malam pun masih dilakukan penjagaan ketat, dan pasukan penyerbu yang dipimpin Toat-beng Kiam-ong belum juga melakukan penyerbuan.

Latihan itu memang dilakukan secara besar-besaran. Diam-diam Siangkoan Lohan telah memerintahkan kepada Toat-beng Kiam-ong sebagai penyerbu untuk bisa berhubungan dengan Cia Tai-ciangkun, komandan pasukan pemerintah di perbatasan utara yang juga sudah bersekutu dengan mereka, demikian pula menghubungi Agakai sehingga dari dua orang sekutu itu, diterima bantuan pasukan yang akan menyergap Tiat-liong-pang dari berbagai jurusan!

Siangkoan Lohan dan puteranya, Siangkoan Liong, sendiri merencanakan bagaimana sebaiknya kelak kalau mereka sudah menyerbu kota raja, untuk bisa menyusupkan dan menyelundupkan kawan-kawannya yang berkepandaian tinggi, dari golongan hitam, dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, ke dalam benteng kota raja sehingga dapat melakukan pengacauan dan bantuan dari dalam.

Pagi hari itu nampak sunyi saja di sekitar bukit di luar kota San-cia-kou yang menjadi benteng Tiat-liong-pang itu. Seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Padahal, semua mata-mata dari kedua pihak sudah berkeliaran, bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak belukar.

Tiba-tiba muncullah seorang gadis dari kaki bukit. Pada waktu gadis itu tadi melewati San-cia-kou dan bertanya tentang letak Tiat-liong-pang, jejaknya sudah selalu diikuti orang dari jauh. Namun gadis itu acuh saja walau pun ia tahu bahwa ada beberapa orang selalu mengamati dan membayanginya.

Ketika dahulu ia berkunjung ke Tiat-liong-pang bersama ayahnya, mereka naik kereta dan tentu saja ia sudah lupa akan jalannya, apa lagi hal itu sudah terjadi sangat lama, di waktu ia masih kecil. Dengan langkah santai ia mendaki bukit. Seorang gadis yang amat menarik perhatian orang, apa lagi melakukan perjalanan seorang diri di tempat sunyi itu.

Ketika ia sudah tiba di lereng, tentu saja kehadirannya segera menimbulkan kecurigaan para mata-mata yang bertugas mempertahankan benteng Tiat-liong-pang. Ada seorang gadis cantik dan sikapnya halus, gerak-geriknya pun halus, naik seorang diri ke bukit ini! Tentu mata-mata musuh! Akan tetapi kalau mata-mata musuh, mengapa naik ke bukit secara terang-terangan begitu saja, mudah dilihat dari mana pun juga?

Tiba-tiba muncullah lima orang anggota pasukan Tiat-liong-pang yang bertugas jaga di lereng itu. Jika pasukan penyerbu mengenakan seragam warna kuning, pasukan yang bertahan ini mengenakan seragam warna biru, hampir sama dengan seragam pasukan pemerintah karena memang Tiat-liong-pang pada waktu itu dianggap sebagai benteng kota raja yang hendak diserbu. Lima orang pasukan itu muncul dan mengepung gadis itu sambil menodongkan tombak mereka, sikap mereka galak.

“Berhenti!” bentak kepala pasukan yang berkumis jarang itu, “Siapakah engkau dan menyerahlah, engkau tentu mata-mata musuh!”

Gadis itu bukan lain adalah Pouw Li Sian. Seperti telah kita ketahui, gadis ini baru saja datang dari kota raja di mana ia menyelidiki keadaan keluarganya. Dengan hati berduka dia memperoleh berita bahwa selain ayah ibunya, juga semua keluarganya, kakak-kakaknya telah ditawan dan tewas, kecuali seorang kakaknya yang sulung, bernama Pouw Ciang Hin, yang kabarnya diampuni, bahkan kini menjadi seorang perwira yang bertugas di perbatasan utara. Karena Pouw Ciang Hin kini merupakan satu-satunya anggota keluarganya, maka dengan nekat ia pun menyusul ke utara.

Ia teringat akan Siangkoan Tek atau Siangkoan Lohan, ketua dari Tiat-liong-pang yang pernah menjadi sahabat baik ayahnya. Ayahnya dahulu seorang Menteri Pendapatan, sedangkan Siangkoan Lohan sangat berjasa terhadap pemerintah sehingga mendapat kekuasaan dan dikenal semua pembesar tinggi. Pernah ia diajak ayahnya berkunjung ke Tiat-liong-pang dan karena ia tahu betapa sulitnya mencari seorang perwira di antara pasukan yang berjaga di tapal batas utara, maka dia pun ingin meminta bantuan ketua Tiat-liong-pang agar dapat diselidiki, di mana kakaknya itu ditugaskan.

Kini, tiba-tiba saja ia ditodong tombak, oleh lima orang prajurit! Ia tidak merasa gentar, bahkan dengan wajahnya yang manis itu berseri gembira, ia balas bertanya, “Apakah kalian ini prajurit kerajaan yang berjaga di tapal batas utara?”

Lima orang prajurit itu saling pandang. Mereka jelas anak buah Tiat-liong-pang, akan tetapi pada saat itu mereka bertugas sebagai pasukan yang harus mempertahankan benteng ‘kota raja’. Oleh karena itu, ketika ditanya apakah mereka prajurit kerajaan, mereka menjadi bingung.

“Kalau benar kami prajurit kerajaan, lalu engkau mau apa, Nona?” Lima orang prajurit itu memandang kagum.

Mereka adalah orang-orang kasar yang biasa bersikap kasar dan kurang ajar terhadap wanita, apa lagi secantik ini. akan tetapi sejak ada dua orang kawan mereka dibunuh oleh Siangkoan Kongcu karena mengganggu wanita, mereka kini harus menahan diri dan tidak berani mengulangi perbuatan itu.

Dengan wajah tetap gembira penuh harap, Pouw Li Sian berkata, “Aku bernama Pouw Li Sian dan datang ke sini untuk mencari kakak sulungku yang bernama Pouw Ciang Hin. Dia menjadi seorang perwira kerajaan yang bertugas di tapal batas utara...“

Mendengar bahwa gadis ini adik seorang perwira kerajaan, berarti musuh, tentu saja berubah sikap lima orang itu. Tombak-tombak itu dipegang semakin erat dan pemimpin mereka membentak, “Kalau begitu, menyerahlah engkau, karena engkau harus menjadi tawanan kami dan akan kami hadapkan kepada pimpinan kami!”

Li Sian adalah seorang gadis yang berwatak halus. Walau pun ia telah menjadi murid seorang sakti seperti Bu Beng Lokai dan kini telah mempunyai ilmu kepandaian tinggi, namun ia tetap berwatak halus, bahkan belum pernah ia berkelahi mempergunakan ilmu kepandaiannya. Sikapnya jauh berbeda dengan Suma Lian yang menjadi suci-nya.

Suma Lian galak, keras dan pemberani di samping lincah jenaka. Akan tetapi Li Sian pendiam dan penyabar. Ia tahu bahwa berurusan dengan lima orang prajurit biasa ini tidak ada gunanya, bahkan hanya akan menimbulkan keributan saja, maka dia pun mengangguk dan senyumnya masih melekat di bibir.

“Baiklah, aku tidak akan melawan, dan bawalah aku kepada pemimpin kalian agar aku dapat bicara dengan dia.”

Lima orang itu dengan masih menodongkan tombak mereka, memberi isyarat agar Li Sian berjalan memasuki hutan. Hemmm, pikir mereka. Kalau saja mereka tidak takut kepada Siangkoan Lohan apa lagi Siangkoan Kongcu, tentu gadis yang cantik ini sudah menjadi korban mereka. Takkan ada orang yang tahu!

Tidak lama kemudian, di dalam hutan yang kini menjadi markas besar sementara dari Sin-kiam Mo-li yang bertugas sebagai komandan yang harus mempertahankan benteng, Li Sian digiring masuk ke dalam sebuah pondok besar di mana duduk Sin-kiam Mo-li dan beberapa orang pembantunya yang menjadi perwira-perwira di dalam pasukan itu. Jumlah perwira itu ada lima orang dan mereka tengah merundingkan siasat pertahanan menggunakan sebuah peta yang mereka bentangkan di atas meja. Melihat masuknya lima orang prajurit sambil menggiring seorang gadis cantik, Sin-kiam Mo-li mengangkat muka dan mengerutkan alisnya.

Kelima orang prajurit itu memberi hormat, dan pimpinan mereka lalu melapor kepada Sin-kiam Mo-li dengan sikap seperti seorang prajurit yang melapor kepada atasannya. “Li-ciangkun (Panglima Wanita), kami berlima telah menangkap seorang wanita yang kami curigai sebagai mata-mata, dan menurut pengakuannya ia bernama Pouw Li Sian yang hendak mencari kakaknya yang katanya menjadi seorang perwira kerajaan yang bertugas di perbatasan.”

Kerut di antara alis mata Sin-kiam Mo-li semakin dalam. Sinar matanya membayangkan kemarahan.

Hemmm, tentu ini seorang mata-mata yang dilepas oleh Toat-beng Kiam-ong, pikirnya. Laki-laki semacam Toat-beng Kiam-ong mana mau melepaskan seorang gadis secantik ini? Tentu gadis ini seorang di antara kekasihnya, pikirnya dengan hati penuh cemburu.

Memang, sejak dia berkasih-kasihan dengan Toat-beng Kiam-ong, di antara keduanya terdapat rasa cemburu besar karena keduanya saling menemukan pasangan yang amat cocok. Tentu saja Toat-beng Kiam-ong juga membatasi rasa cemburunya sehingga biar pun dia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li juga bermain cinta dengan Siangkoan Liong, dia tidak berani mencampuri.

“Tinggalkan ia di sini dan kalian boleh ke luar lagi, berjaga yang hati-hati dan jangan ijinkan siapa pun juga masuk!” perintah Sin-kiam Mo-li kepada lima orang itu yang cepat memberi hormat dan keluar lagi.

Kini Pouw Li Sian yang masih tegak itu beradu pandang dengan Sin-kiam Mo-li. Ia tidak memperhatikan lima orang laki-laki berpakaian perwira yang memandangnya dan juga duduk di situ, karena ia tahu bahwa agaknya pimpinan di sini adalah wanita cantik itu. Diam-diam Li Sian merasa heran dan juga kagum melihat Sin-kiam Mo-li, wanita yang sudah setengah tua akan tetapi nampak cantik lemah lembut akan tetapi juga gagah perkasa dan memiliki wibawa besar itu.

Teringat dia akan cerita gurunya, mendiang Bu Beng Lokai, yang pernah menceritakan tentang isteri gurunya itu. Isteri gurunya juga seorang panglima wanita yang terkenal sekali, bernama Panglima Milana, yang kabarnya dahulu memimpin laksaan pasukan menundukkan pemberontakan di mana-mana.

Juga ibu dari isteri gurunya itu bernama Puteri Nirahai, isteri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, pernah menjadi seorang panglima wanita yang gagah perkasa. Seperti inikah mereka itu? Karena membayangkan isteri dan ibu mertua gurunya itu, Li Sian cepat melangkah maju dan memberi hormat kepada Sin-kiam Mo-li.

“Harap Li-ciangkun suka memaafkan kalau kedatangan saya ini merupakan gangguan. Sesungguhnya, seperti yang dilaporkan oleh para prajurit tadi, saya datang ke sini untuk mencari kakak kandung saya, kakak sulung saya yang bernama Pouw Ciang Hin yang kabarnya kini menjadi seorang perwira pasukan kerajaan yang bertugas di perbatasan utara. Semenjak berusia dua belas tahun saya berpisah darinya, dan sekarang saya mencarinya.”

Sin-kiam Mo-li masih memandang dengan sikap tidak senang karena dia masih curiga. “Kalau kau mencari kakakmu, kenapa di sini? Apakah di sini tempat pasukan kerajaan bertugas? Tahukah engkau tempat ini, bukit ini?” tanya Sinkiam Mo-li.

Walau pun pertanyaan itu diajukan dengan kaku, namun Li Sian tidak menjadi marah. Dianggapnya bahwa sikap seorang panglima perang memang harus tegas seperti itu!

“Maaf, Li-ciangkun. Saya sudah tahu bahwa bukit ini adalah tempat pusat perkumpulan Tiat-liong-pang. Saya memang hendak mencari ketua Tiat-liong-pang untuk bertanya, barang kali dia dapat membantu saya memberi tahu di mana adanya kakak saya itu.”

Sin-kiam Mo-li menjadi makin curiga. Tak salah, lagi, tentulah seorang mata-mata yang dikirim oleh Toat-beng Kiam-ong, dan wanita secantik ini siapa lagi kalau bukan seorang di antara kekasih laki-laki mata keranjang itu?

“Jangan berbohong!” bentaknya. “Engkau tentu mata-mata yang dikirim oleh Toat-beng Kiam-ong! Mengakulah saja!”

Li Sian terkejut, dan cepat dia menggeleng kepala. “Saya bukan mata-mata dan tidak mengenal siapa itu Toat-beng Kiam-ong. Saya datang untuk mencari kakak saya dan bertanya kepada ketua Tiat-liong-pang!”

Sin-kiam Mo-li tersenyum. “Mana ada mata-mata mau mengaku? Kalau mengaku bukan mata-mata yang baik dan melihat engkau berani memasuki wilayah ini seorang diri, tentu engkau memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Nah, engkau menyerahlah, kami tangkap untuk menjadi tawanan perang!”

Tentu saja Li Sian menjadi semakin kaget. Mulailah ia merasa curiga dan penasaran. Jangan-jangan ia masih dianggap musuh oleh pasukan pemerintah, sebagai keturunan keluarga Pouw! Akan tetapi, mengapa kakaknya sudah diampuni dan bahkan dijadikan perwira?

“Ciangkun, kalau tadi saya ikut lima orang prajurit itu menghadap ke sini adalah karena saya yakin akan dapat bicara lebih baik dengan pimpinan pasukan. Akan tetapi saya datang bukan untuk menyerahkan diri ditangkap begitu saja tanpa bersalah!”

Sin-kiam Mo-li bangkit dan matanya memancarkan sinar mencorong. “Apa? Engkau seorang mata-mata biasa berani membantah? Kalau begitu tentu engkau mata-mata istimewa dari Toat-beng Kiam-ong maka berani menentang aku. A Sam, tangkap wanita ini!” perintahnya kepada seorang di antara lima perwira yang duduk di situ.

Yang dipanggil A Sam ini seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang tubuhnya gendut seperti babi dikebiri. Perutnya besar dan kepalanya kecil, akan tetapi ketika dia meloncat dari tempat duduknya, dia memiliki kegesitan sehingga mudah diduga bahwa tubuh yang gembrot ini memiliki ketangkasan seorang ahli silat. Dia tersenyum senang, membayangkan bahwa setidaknya dia akan dapat merangkul dan mendekap tubuh gadis cantik manis di depannya itu!

“Baik, Li-ciangkun!” katanya.

Dia pun menubruk ke depan. Agaknya dengan dua lengannya yang panjang dan besar itu dia hendak sekali tubruk sudah bisa menempelkan mukanya pada muka yang cantik itu!

“Hemmm...!” Li Sian berseru lirih dengan hati penuh penasaran.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ia akan mendapatkan sambutan seperti itu! Tentu saja baginya gerakan A Sam itu terlalu lambat. Dengan teramat mudahnya, sekali menggeser kaki, tubrukan A Sam itu mengenai angin kosong saja dan begitu Li Sian menggerakkan kaki menotok pinggiran lutut, tanpa dapat dicegah lagi, tubuh yang perutnya membengkak itu terjerumus ke depan.

“Ngekkk!” ketika terbanting ke atas lantai, perutnya yang lebih dulu menghantam lantai mengeluarkan bunyi. Orang itu pun terengah-engah sehingga sukar bernapas!

Melihat ini, Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya, tak senang hatinya dan diam-diam ia memaki pembantu yang tidak becus itu. Juga dia tahu bahwa gadis ini mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari pada yang diduganya. Akan tetapi tentu saja ia masih memandang rendah. Sepintar-pintarnya seorang mata-mata dari Toat-beng Kiam-ong, tentu masih jauh kalau dibandingkan dengan tingkatnya. Pikiran ini membuat Sin-kiam Mo-li merasa malu kalau harus turun tangan sendiri menandingi seorang mata-mata!

Memang dalam latihan perang-perangan ini, tentu saja tak boleh saling membunuh atau melukai dengan berat karena mereka semua adalah satu golongan. Bahkan juga sudah direncanakan bahwa kalau sampai terjadi pertempuran, semua senjata harus dibuang dan hanya boleh menggunakan kaki tangan saja. Ini pun dengan larangan keras saling membunuh atau melukai dengan parah.

Melihat betapa gadis itu tadi hanya menotok tepi lutut A Sam dengan ujung sepatunya, yang hanya mengakibatkan A Sam jatuh telungkup, ia lebih yakin bahwa tentu gadis ini mata-mata yang sudah tahu pula akan peraturan itu sehingga tidak sampai melukai A Sam.

“Tangkap gadis ini!” bentaknya kepada empat orang perwira yang lain.

Empat orang itu pun penasaran melihat betapa kawan mereka, dalam segebrakan saja sudah roboh oleh gadis cantik itu. Mendengar perintah ini, mereka berempat lalu bangkit dan mengurung Li Sian dari empat penjuru. Pondok itu cukup besar dan karena kosong dan hanya ada meja kursi yang mereka duduki tadi, tempat itu cukup luas untuk suatu perkelahian walau dikeroyok empat sekali pun.

Li Sian tidak merasa gentar. Dia hanya menyayangkan bahwa penyelidikannya harus bertumbuk pada halangan perkelahian seperti ini.

“Ciangkun, aku datang bukan untuk berkelahi!” katanya, kini suaranya agak marah, “Aku datang mencari kakakku. Kalau kalian tahu, beri tahulah, kalau tidak, tidak mengapa, aku akan pergi lagi dari sini!”

“Engkau harus menyerah, Nona. Itu peraturannya. Menyerah atau kalau engkau dapat mengalahkan kami dan dapat meloloskan diri, cobalah!” kata empat orang perwira itu yang sudah mengurungnya.

Sekarang mereka berempat sudah menerjang maju sambil mengulurkan tangan hendak menangkap gadis yang cantik manis itu. Ada yang coba untuk menangkap lengannya, pundaknya, pinggangnya, bahkan ada yang langsung merangkulnya. Karena gerakan mereka itu datang dari empat penjuru, agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi Li Sian, demikian pendapat empat orang perwira atau sebenarnya merupakan murid-murid atau anggota Tiat-liong-pang yang tingkatnya sudah agak tinggi itu.

Akan tetapi, betapa heran dan kaget hati mereka ketika tiba-tiba saja gadis itu lenyap berkelebat ke atas dan mereka hanya dapat saling menangkap lengan masing-masing! Mereka kebingungan, akan tetapi Sin-kiam Mo-li dapat melihat dengan jelas betapa gadis cantik itu tadi ketika ditubruk dari empat penjuru, telah meloncat dengan gerakan seperti seekor burung walet cepatnya, sehingga luput dari tubrukan itu dan tubuhnya sudah melayang keluar dari pintu pondok. Ia terkejut dan sekali melompat ia pun sudah meluncur keluar pondok dan menghadang di depan gadis itu.

“Berhenti!” bentaknya.

Lima orang perwira itu kini berlarian keluar dan mereka memandang kepada Li Sian penuh kagum. Baru kini mereka mengerti bahwa Li Sian bukanlah seorang gadis biasa, melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Sin-kiam Mo-li kini berhadapan dengan Li Sian. Gadis ini mengerutkan alisnya, merasa makin tidak senang. Kenapa ia dianggap musuh dan hendak ditangkap, pikirnya penuh dengan perasaan yang penasaran.

“Hemmm, Li-ciangkun, apa kesalahanku maka engkau agaknya hendak memaksa dan menangkap aku?” tanyanya, sekarang sepasang matanya yang biasanya bersinar halus penuh kesabaran itu mencorong.

Melihat sinar mata ini, Sin-kiam Mo-li juga terkejut dan tahulah ia bahwa gadis ini benar-benar hebat, seorang yang berilmu tinggi, hal yang sama sekali tidak pernah diduganya. Apakah kekasih Toat-beng Kiam-ong? Agaknya bukan, pikirnya dan biar pun ia tidak merasa cemburu lagi, namun ia merasa penasaran.

Alangkah akan malunya kalau tersiar kemudian bahwa ia, sebagai komandan pasukan yang mempertahankan benteng, tidak mampu menahan seorang wanita asing yang kesalahan masuk ke tempat itu!

Kemudian ia teringat akan sesuatu! Ketika dirayakan ulang tahun Siangkoan Lohan, terjadi keributan di tempat ini dan belasan orang tamu, yaitu para pendekar yang tidak sudi menggabungkan diri, telah dibunuh. Jangan-jangan gadis ini mempunyai seorang kakak yang ikut pula terbunuh pada waktu itu dan kini dia datang untuk mencari dan menyelidiki!

“Bocah yang tak tahu diri!” bentak Sin-kiam Mo-li sambil menuding dengan telunjuknya ke arah wajah Li Sian. “Engkau seorang asing berani datang ke wilayah kami tanpa ijin, dan kami masih menerimamu dengan baik-baik dan hanya akan menahanmu menanti sampai para pimpinan berkumpul untuk menentukan keputusan atas dirimu, dan engkau berani memamerkan kepandaian di depanku?”

Wajah Li Sian berubah merah. Baru kini ia melihat bahwa wanita cantik ini sama sekali tidak mengagumkan sikapnya, walau pun dia menjadi seorang panglima wanita. Isteri gurunya tentu tidak seperti ini sikapnya, tinggi hati dan memandang rendah orang lain.

“Ciangkun, aku datang bukan untuk berkelahi, aku datang dengan baik-baik akan tetapi disambut dengan kekerasan. Sudah menjadi hak setiap orang untuk membela diri. Aku sudah banyak mengalah dan hendak pergi saja, kenapa engkau masih juga berkeras hendak menghalangi aku?”

Sin-kiam Mo-li tersenyum mengejek. Memang cantik sekali kalau ia tersenyum, akan tetapi kecantikan yang membayangkan kekejaman.

“Engkau masih muda sudah lihai mulutmu dan ilmumu. Coba aku ingin melihat apakah engkau akan mampu melawan aku.” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Li Sian, Sin-kiam Mo-li sudah menyerang gadis itu dengan cepat dan ganas sekali.

Sin-kiam Mo-li adalah seorang datuk sesat yang sudah tinggi ilmu silatnya, amat lihai. Banyak ilmu silat kaum sesat ia kuasai. Akan tetapi selain kebutan gagang emas dan pedang yang keduanya beracun, ia pun memiliki ilmu silat tangan kosong yang ampuh.

Karena itu kedua tangannya berubah kehitaman dan terutama sekali ujung kuku jari-jari tangannya berubah hitam sekali dan mengandung racun jahat. Sekali tergores kuku itu saja sudah cukup membuat kulit yang terluka menjadi bengkak, apa lagi kalau sampai terkena tamparan tangan yang penuh mengandung hawa beracun itu. Ilmunya ini diberi nama Hek-tok-ciang. Kini, begitu maju menyerang, ia telah mengerahkan Hek-tok-ciang!

Li Sian memang belum berpengalaman dalam hal perkelahian. Namun, gadis ini sejak berusia dua belas tahun telah digembleng dengan hebat dan tekun oleh seorang sakti dan mewarisi ilmu-ilmu silat yang hebat-hebat selain juga telah berhasil menghimpun tenaga sinkang yang tinggi seperti Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang dari keluarga Pulau Es, juga tenaga Inti Bumi yang luar biasa kuatnya.

Pula, ia sudah banyak mendengar nasehat kakek Gak Bun Beng tentang jahatnya ilmu ilmu yang dikuasai para datuk sesat. Maka kini melihat betapa kedua tangan wanita itu berubah kehitaman, ia pun dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan lawan dari golongan hitam yang memiliki ilmu pukulan sesat dan curang. Ia pun berlaku hati-hati dan cepat menggeser kakinya untuk mengelak, tidak berani sembarangan menangkis.

Sin-kiam Mo-li merasa amat penasaran saat serangannya yang dilakukan dengan cepat dan kuat itu dengan amat mudahnya dielakkan oleh gadis muda itu. Ia mengeluarkan suara melengking dan kini tubuhnya bergerak cepat sekali, menghujankan serangan secara bertubi-tubi dan setiap serangan, mengarah bagian yang berbahaya dari tubuh lawan.

Diam-diam Li Sian menjadi marah sekali. Tidak disangkanya bahwa wanita cantik ini, yang semula disangkanya gagah perkasa seperti mendiang isteri gurunya, ternyata hanya seorang wanita yang berhati kejam dan serangannya itu ganas sekali, juga jelas menunjukkan gejala bahwa wanita ini adalah dari golongan sesat! Maka, ia pun cepat memainkan Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun yang sudah dilatihnya dengan baik.

Ilmu Silat Lothian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit) adalah ilmu silat yang memiliki kecepatan, juga didukung tenaga Inti Bumi, maka kini ia berani untuk menangkal dan balas menyerang. Pada waktu sebuah cengkeraman kuku dan tangan menghitam itu menyambar ke arah dadanya, Li Sian menangkisnya dengan memutar lengannya dari samping.

“Dukkk!” Keduanya tergetar dan melangkah mundur.

Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa gadis itu sedemikian lihai dan kuatnya sehingga mampu menangkis serangan pukulan Hek-tok-ciang, bahkan juga membuat lengannya tergetar hebat! Ia menyerang lagi, sekali ini dengan serangan yang lebih dahsyat.

Namun sekarang Li Sian bukan hanya menjaga diri, melainkan juga membalas dengan tamparan dan totokan dari ilmu silat Lo-thian Sin-kun, karena dia pun maklum akan kelihaian lawan sehingga kalau saja ia hanya membiarkan diri diserang terus dan hanya bertahan, besar kemungkinan ia akan celaka dan terkena tangan hitam yang jahat itu.

Serang-menyerang terjadi dengan hebatnya sampai dua puluh jurus lebih, dan hal ini dianggap keterlaluan oleh Sin-kiam Mo-li. Menghadapi seorang gadis muda, sampai dua puluh jurus Hek-tok-ciang kedua tangannya tidak mampu merobohkannya. Jangankan merobohkan, baru mendesak pun tak mampu. Padahal di situ telah berkumpul belasan orang perwira atau anggota Tiat-liong-pang yang sudah tinggi tingkatnya menjadi saksi.

Sin-kiam Mo-li yang selalu membanggakan kepandaiannya itu merasa malu sekali dan kemarahannya pun berkobar. Kalau tadi dia hanya menggertak dan hendak membuat gadis itu menyerahkan diri, maka kini timbul niatnya untuk merobohkan, dan jika perlu membunuh gadis muda yang dianggapnya telah membuatnya malu ini.

“Keparat, engkau tidak boleh dikasih hati!” bentaknya.

Tiba-tiba saja kedua tangannya telah mengeluarkan sepasang senjatanya yang ampuh. Tangan kirinya sudah memegang sebuah kebutan berbulu merah bergagang emas, dan tangan kanannya memegang sebatang pedang. Inilah sepasang senjatanya yang amat ampuh. Selain ia ahli bersilat pedang sehingga mendapat julukan Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), juga kebutannya itu tidak kalah berbahaya dari pada pedangnya karena bulu-bulu kebutan berwarna merah itu mengandung racun yang jahat.

Setelah membentak demikian, Sin-kiam Mo-li sudah menggerakkan kedua senjatanya, menyerang dengan dahsyatnya tanpa malu-malu lagi meski melihat bahwa gadis muda yang diserangnya itu bertangan kosong.

Melihat ini, Li Sian terkejut. Namun, gadis ini memang memiliki ketenangan luar biasa dan ia pun tahu apa yang harus dilakukannya. Cepat-cepat ia memainkan Ilmu San-po Cin-keng, yaitu ilmu langkah ajaib dan bersilat dengan Kong-jiu Jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan).

Langkah-langkah atau geseran-geseran kedua kakinya dengan indahnya dan lembutnya membuat tubuhnya berkelebatan seperti bayangan yang sukar diserang! Meski pedang dan kebutan itu mengepung dan menyambarnya dari semua jurusan, namun Li Sian tetap saja dapat menghindarkan diri dengan langkah ajaibnya!

Namun, melihat kehebatan lawan, kalau hanya terus mengelak pun ia masih terancam bahaya, maka kedua tangannya tidak tinggal diam. Kadang-kadang ia pun melayangkan tamparan yang mengandung Hui-yang Sinkang di tangan kanan dan Swat-im Sinkang di tangan kiri.

Kembali Sin-kiam Mo-li kaget bukan main. Sambaran tangan kanan yang mengandung hawa panas dan tangan kiri mengandung hawa dingin itu amat mengejutkannya.

“Bocah setan! Apakah engkau seorang murid Pulau Es?” bentaknya tanpa mengurangi serangannya. Kebutannya membabat ke arah muka, sedangkan pedangnya menusuk dada.

Li Sian menggeser kaki memutar tubuh sehingga kedua serangan itu luput dan ia pun mendorong dengan tangan kanannya sambil mengerahkan Hui-yang Sinkang. Hawa amat panas menyambar ke arah dada Sin-kiam Mo-li yang terpaksa harus meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan yang cukup berbahaya itu.

“Tidak ada hubungannya denganmu!” jawab Li Sian.

Gadis ini melihat sebatang ranting tidak jauh dari situ, maka cepat kakinya membuat langkah-langkah aneh dan dia sudah berhasil menyambar ranting itu. Sebatang ranting kayu sebesar ibu jari kaki yang panjangnya kurang lebih empat kaki, tepat sekali untuk dipakai sebagai pengganti pedang. Kini dia pun memutar ranting itu sambil memainkan Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut menghadapi sepasang senjata lawan!

Kini lebih mudah bagi Li Sian untuk melindungi dirinya. Akan tetapi karena maklum akan kelihaian sepasang senjata lawan, tetap saja dia mengandalkan langkah-langkah ajaib San-po Cin-keng untuk mengelak dan lantas membalas dengan tusukan ranting yang dia mainkan sebagai pedang!

Terjadilah perkelahian yang amat seru. Gerakan mereka itu cepat dan aneh sehingga para murid Tiat-liong-pang yang menjadi penonton memandang dengan mata kabur dan kepala pening. Mereka tidak berani turun tangan membantu tanpa diperintah karena hal ini tentu akan membuat Sin-kiam Mo-li marah.

Tiba-tiba terdengar suara orang melerai. “Tahan senjata!”

Mendengar suara Siangkoan Lohan ini, terpaksa Sin-kiam Mo-li menahan serangannya, Li Sian juga cepat melompat mundur dan mengangkat muka memandang. Dia melihat munculnya seorang lelaki yang usianya sekitar enam puluh tahun, tinggi kurus dengan muka merah dan jenggot panjang sampai ke dada. Yang seorang lagi adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian indah seperti seorang pelajar kaya raya atau seorang pemuda bangsawan.

Melihat kakek itu, hatinya berdebar girang karena ia masih mengenal bahwa kakek ini adalah Siangkoan Lohan yang pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu.

“Apakah yang telah terjadi di sini?” tanya Siangkoan Lohan, diam-diam kagum sekali melihat betapa seorang gadis muda, dengan hanya sebatang ranting di tangan, mampu menandingi Sin-kiam Mo-li yang mempergunakan sepasang senjatanya.

“Ia datang secara mencurigakan sekali, tentu ia seorang mata-mata pihak musuh!” kata Sin-kiam Mo-li kepada Siangkoan Lohan, agak malu karena tuan rumah dan puteranya itu sempat melihat betapa ia tadi belum mampu merobohkan seorang gadis yang hanya bersenjata ranting.

Kini Siangkoan Lohan menghadapi gadis itu, memandang penuh perhatian, kemudian ia bertanya, “Nona, siapakah engkau dan apa maksudmu datang ke wilayah kami?”

Li Sian melangkah maju menghampiri kakek itu. Ia memberi hormat setelah melepaskan ranting dari tangannya, kemudian berkata, “Bukankah saya berhadapan dengan paman Siangkoan Tek, pangcu dari Tiat-liong-pang?”

Siangkoan Lohan memandang semakin tajam, akan tetapi betapa pun dia mengingat-ingat, dia tidak dapat mengingat siapa adanya gadis yang cantik manis dengan tahi lalat di dagunya ini.

“Maaf, Nona, mungkin penglihatanku sudah tidak terang lagi. Memang benar aku adalah Siangkoan Tek, akan tetapi siapakah engkau?”

“Paman Siangkoan, sudah lupakah engkau kepada saya? Saya bernama Pouw Li Sian. Pernah belasan tahun yang lalu saya bersama ayah datang berkunjung ke sini!”

“Pouw...?” Siangkoan Lohan mengulang nama keturunan itu dengan heran.

“Benar, Paman. Mendiang ayahku adalah Pouw Tong Ki.”

“Ahhhhh...! Ayahmu dahulu Menteri Pendapatan, seorang sahabatku itu? Dan engkau puterinya? Bukankah seluruh keluarga Pouw sudah...“

“Tidak semua binasa, Paman. Ketika rumah kami diserbu, saya sempat melarikan diri. Sekarang, setelah saya menjadi dewasa, saya ke kota raja dan menyelidiki keadaan keluarga saya. Empat orang kakak saya ditahan, tiga orang tewas dan saya mendapat kabar bahwa kakak sulung saya, Pouw Ciang Hin, diampuni bahkan sekarang menjadi seorang perwira yang bertugas di tapal batas utara. Oleh karena itulah, saya menyusul ke utara, dan teringat kepada Paman, saya berkunjung ke sini untuk minta bantuan Paman. Siapa tahu Paman dapat memberi tahu di mana adanya kakak sulung saya itu. Akan tetapi, ketika tiba di sini, saya ditahan dan hendak ditangkap, maka terpaksa saya melawan dan maafkan saya Paman.”

Siangkoan Lohan memandang penuh kagum. “Ahh, sekarang aku ingat. Engkau adalah nona kecil yang pernah ikut dengan Pouw Taijin dahulu itu. Aihh, sungguh penasaran sekali. Ayahmu adalah seorang pejabat yang baik dan setia, akan tetapi, keluarganya kena fitnah karena dia berani menentang pembesar laknat Hou Seng. Kerajaan Mancu memang tidak mengenal budi!”

Siangkoan Lohan mengepal tinju, lalu berkata kepada Sin-kiam Mo-li, “Mo-li, Nona ini adalah orang sendiri, keluarganya terbasmi oleh kerajaan penjajah! Dan nona Pouw, ini adalah Sin-kiam Mo-li, seorang di antara kawan-kawan kita yang siap untuk menentang pemerintah penjajah!”

Walau pun di dalam hatinya merasa penasaran karena tadi belum dapat mengalahkan gadis ini, terpaksa Sin-kiam Mo-li tersenyum, menyimpan sepasang senjatanya dan ia mengangguk-angguk.

“Engkau masih begini muda akan tetapi sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, nona Pouw. Engkau tadi mempergunakan sinkang panas dan dingin, mengingatkan aku akan ilmu dari Pulau Es. Apakah engkau murid dari keluarga Pulau Es?”

“Mendiang guruku adalah mantu dari sucouw Pendekar Super Sakti Pulau Es,” jawab Li Sian sejujurnya.

Mendengar ini terkejutlah semua orang, termasuk Siangkoan Lohan. Pantas gadis ini demikian lihainya. Akan tetapi diam-diam dia pun girang sekali. Bagaimana pun juga, gadis ini telah disudutkan oleh kerajaan, menjadi musuh kerajaan karena keluarganya dibasmi oleh kerajaan sehingga dapat diharapkan gadis ini akan suka membantunya.

“Mari kita bicara di dalam, nona Pouw. Ahh, ya, apakah engkau lupa kepada anakku ini? Bukankah pada saat engkau bersama ayahmu dahulu berkunjung ke sini, kalian sudah saling berkenalan? Ini adalah Siangkoan Liong. Anakku, apakah engkau sudah lupa kepada nona Pouw?”

Mereka saling pandang dan Li Sian merasa kagum. Pemuda ini tampan dan halus, nampak ramah sekali dan juga sopan ketika menjura dengan hormat kepadanya. “Tentu saja aku tidak lupa kepada nona Pouw Li Sian, biar pun dahulu hanya menjadi tamu beberapa hari saja di sini,” katanya.

Li Sian juga teringat, walau pun hanya samar-samar bahwa Siangkoan Lohan dahulu memang mempunyai seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya. Ia pun cepat balas menjura.

“Aku pun masih ingat kepadamu, saudara Siangkoan Liong.”

Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Sin-kiam Mo-li tidak ikut masuk, namun diam-diam ia merasa tidak enak. Gadis itu lihai, dan agaknya pihak tuan rumah menghormatinya. Kenyataan bahwa gadis itu masih keturunan murid keluarga Pulau Es, membuat hatinya merasa tidak enak.

Gadis itu berbahaya, pikirnya, kecuali kalau sinar matanya mencorong gembira. Benar! Itulah satu-satunya jalan. Gadis itu harus dapat ditaklukkan oleh Siangkoan Liong, menjadi kekasihnya atau isterinya, barulah diharapkan gadis itu akan benar-benar setia membantu gerakan persekutuan mereka!

Dia akan membicarakan hal ini dengan Siangkoan Liong. Dengan bantuannya, mustahil gadis itu tidak akan dapat ditundukkan oleh Siangkoan Liong.
Kisah si bangau putih bagian 08

Sementara itu, Li Sian diajak bercakap-cakap di sebelah dalam, diterima dengan ramah dan hormat oleh Siangkoan Lohan dan puteranya, dijamu dan di dalam percakapan itu, pihak tuan rumah mulai menanamkan bibit-bibit permusuhan dan sakit hati terhadap Kerajaan Mancu yang telah membasmi keluarga Pouw.

“Kaum penjajah Mancu memang keterlaluan sekali,” demikian antara lain Siangkoan Lohan berkata, “Bayangkan saja. Pihak kami, Tiat-liong-pang, kurang bagaimana dahulu membantu mereka dan kami telah mengorbankan segalanya untuk membantu mereka. Tetapi ternyata mereka itu merupakan bangsa yang tidak mengenal budi dan mudah melupakan jasa orang. Ayahmu sendiri, nona Pouw, adalah seorang di antara pembesar tinggi yang setia dan baik. Akan tetapi apa jadinya? Keluarga ayahmu dibasmi hanya karena ayahmu berani menentang Hou Seng, padahal ayahmu menentang Hou Seng justru untuk menyelamatkan negara dan kerajaan!”

Sedikit demi sedikit hati Li Sian dibakar. Akan tetapi gadis ini masih ragu-ragu. Gurunya selalu memberi wejangan supaya ia tidak menyimpan dendam terhadap siapa pun juga, dan hidup sebagai seorang pendekar harus bebas dari api dendam karena dendam akan melenyapkan pertimbangan adil. Seorang pendekar harus bertindak adil, membela kebenaran dan keadilan tanpa pilih bulu. Sebaliknya dendam membutakan mata akan kebenaran dan keadilan, semata-mata hanya untuk melampiaskan nafsu dendam saja.

“Saya masih bingung, Paman. Saya ingin sekali berjumpa dengan kakak sulung saya, oleh karena itu saya mohon bantuan Paman, sukalah membantu saya mencari di mana adanya kakak saya itu bertugas supaya saya dapat bertemu dengan anggota keluarga yang tinggal satu-satunya itu.”

“Tentu, tentu sekali, Nona. Kami akan membantumu dan sementara ini, tinggallah di sini sebagai tamu kehormatan, ahhh, tidak, sebagai anggota keluarga kami sendiri, sebagai keponakanku!” kata Siangkoan Lohan dengan ramah sekali.

Li Sian merasa terharu. Kakek ini dan puteranya sungguh baik, menerimanya demikian ramahnya, bahkan menganggapnya sebagai anggota keluarga. Dia pun bangkit berdiri dan memberi hormat.

“Paman sungguh melimpahkan banyak budi kebaikan kepada saya, entah bagaimana saya akan mampu membalasnya. Akan tetapi, harap Paman jangan menyebut saya nona, membuat saya merasa kikuk saja, Paman.”

Siangkoan Lohan tertawa. “Ha-ha-ha, baiklah, Li Sian, baiklah. Mulai sekarang engkau kuanggap keponakanku sendiri, karena mendiang ayahmu dulu amat cocok denganku, seperti saudara pula. Nah, anak Liong, engkau mendengar sendiri. Sekarang, engkau harus bersikap seperti seorang kakak terhadap Li Sian.”

Siangkoan Liong bangkit berdiri, dan sambil tersenyum membalas penghormatan Li Sian. “Aku merasa girang sekali dapat menjadi kakak misanmu, Sian-moi (adik Sian).”

Kedua pipi Li Sian berubah agak merah mendengar sebutan Sian-moi itu, akan tetapi, kalau ia dianggap sebagai keponakan dari Siangkoan Lohan, sudah sepatutnya pemuda itu menyebutnya adik.

“Terima kasih atas kebaikanmu, Liong-toako (kakak Liong),” jawabnya.

Mereka lalu duduk kembali dan melanjutkan makan minum. Semenjak hari itu, Li Sian memperoleh sebuah kamar di rumah besar itu serta diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat. Bahkan pada waktu ia diperkenalkan kepada para murid Tiat-liong-pang, juga kepada Sin-kiam Mo-li, semua orang tak berani bersikap kurang ajar padanya, maklum bahwa gadis itu selain lihai sekali, juga diterima sebagai keponakan Siangkoan Lohan. Bahkan Li Sian ikut pula dalam latihan perang-perangan itu, membantu Sin-kiam Mo-li untuk mempertahankan ‘benteng kota raja’ yang diserbu oleh pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong.

Setelah latihan itu selesai, Li Sian diperkenalkan kepada para sekutu yang lain, kepada Toat-beng Kiam-ong, kepada Agakai kepala suku Mongol, dan kepada Song Ciangkun, tangan kanan Coa Tai-ciangkun yang menjadi komandan pasukan pemerintah yang bertugas jaga di utara. Song Ciangkun inilah yang berjanji kepadanya untuk menyelidiki di mana adanya Pouw Ciang Hin, kakak sulung Li Sian sehingga gadis ini merasa gembira sekali.

Hubungannya dengan Siangkoan Liong juga akrab sekali karena pemuda itu memang pandai mengambil hati, ramah, sopan dan memiliki pengertian yang mendalam tentang sastra dan silat. Bahkan pemuda itu, untuk melakukan penyelidikan, beberapa kali telah mengajak gadis itu berlatih silat. Dengan lega dia mendapat kenyataan bahwa betapa pun lihai Li Sian, akan tetapi dia mampu mengatasi gadis itu walau pun selisihnya tidak berapa jauh!

Sebaliknya, Li Sian kagum sekali akan pengertian pemuda itu mengenai sastra dan tentang pengetahuan lain yang membuat dia merasa bodoh ketinggalan dan dia dapat banyak belajar dari pemuda itu. Dalam ilmu silat, ia pun dapat melihat bahwa Siangkoan Liong ini bahkan jauh lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li, dan sungguh pun belum pernah mereka mengadu ilmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul, namun dia sendiri merasa bahwa agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat menang menandingi ilmu kepandaian pemuda yang tampan itu. Tidaklah mengherankan kalau hati Li Sian mulai terpikat.

*******

Kita tinggalkan dulu Pouw Li Sian yang tanpa disadarinya telah terjatuh ke tempat yang amat berbahaya baginya, dan mari kita melihat keadaan Suma Lian. Gadis ini setelah pulang ke rumah orang tuanya, segera menambah kepandaiannya dengan gemblengan ayah ibunya.

Dari ayahnya, Suma Ceng Liong, dia tekun berlatih Ilmu Coan-kut-ci, semacam ilmu totokan yang ampuh sekali karena jari tangannya yang sudah dilatih secara istimewa itu bukan hanya mampu menotok jalan darah dan menghentikan aliran darah, bahkan bisa menembus tulang sesuai dengan namanya, yaitu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang)! Ilmu ini memang mengerikan dan agak kejam, karena ayahnya dulu menerimanya dari seorang datuk sesat yang bernama Hek I Mo-ong (Raja Iblis Baju Hitam).

Ada pun dari ibunya, Kam Bi Eng, Suma Lian menerima ilmu yang hebat, yaitu ilmu pedang gabungan yang dimainkan dengan sebatang suling dan diberi nama Koai-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Siluman), yaitu gabungan dari Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas). Kini dia sudah memiliki sebuah suling emas yang dapat dimainkan dengan hebatnya sehingga suling emas itu bagaikan sebatang pedang saja yang dapat bergulung-gulung dengan hebatnya sambil mengeluarkan suara melengking-lengking.

Hanya karena ia sudah memiliki dasar yang amat kuat berkat gemblengan mendiang kakek Gak Bun Beng atau Bu Beng Lokai, maka gadis ini mampu mempelajari kedua ilmu yang hebat itu dalam waktu yang tidak berapa lama. Ayah bundanya gembira sekali melihat kemajuan puteri mereka. Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat suami isteri ini agak gelisah, yaitu melihat betapa puteri mereka kini telah berusia dua puluh tahun lebih, hampir dua puluh satu dan puterinya itu bertunangan pun belum!

Sejak puteri mereka pulang, suami isteri itu hampir setiap malam membicarakan hal ini. Akan tetapi mereka merasa ragu untuk mengajak puteri mereka bicara karena melihat betapa puteri mereka memiliki watak keras, dan puteri mereka demikian lincah jenaka dan gembira. Mereka khawatir kalau-kalau usul mereka akan diterima dengan hati yang tidak senang dan membuat puteri mereka menjadi murung.

“Bagaimana pun juga, kita harus memberi tahunya, isteriku,” kata Suma Ceng Liong. “Usia dua puluh tahun lebih sudah terlalu dewasa untuk seorang gadis! Sampai kapan kita harus menanti untuk menikahkan anak kita yang tunggal itu? Biar pun untuk gadis kang-ouw, urusan pernikahan tidak boleh disamakan dengan gadis biasa, akan tetapi bagaimana pun juga, seorang wanita haruslah membentuk rumah tangga dan memiliki keturunan hidup sebagai seorang isteri atau ibu yang berbahagia. Dan kita menjadi kakek dan nenek yang bahagia pula.”

“Baiklah, besok akan kuajak dia bicara. Mudah-mudahan saja, selama ini sudah ada pemuda yang menjadi pilihan hatinya.”

“Aku meragukan hal itu. Bukankah baru saja dia meninggalkan tempat tinggal paman Gak Bun Beng setelah orang tua itu meninggal dunia? Aku bahkan jadi teringat akan cerita kakak Suma Ciang Bun dulu itu...“

“Hemmm, tentang muridnya, Gu Hong Beng itu?” tanya Kam Bi Eng.

Memang, Suma Ciang Bun pernah berterus terang kepada mereka bahwa ketika nenek Teng Siang In, ibu Suma Ceng Liong akan meninggal dunia, ditunggu oleh Gu Hong Beng, nenek itu pernah minta Hong Beng berjanji agar kelak menjadi suami Suma Lian dan karena permintaan itu merupakan permintaan atau pesan terakhir seorang yang akan mati, pemuda itu tentu saja tidak sampai hati untuk menolaknya. Baru setelah nenek itu meninggal, Gu Hong Beng menjadi bingung dan tidak berani mengaku kepada Suma Ceng Liong dan isterinya, hanya berani menceritakannya kepada gurunya, yaitu Suma Ciang Bun. Gurunya inilah yang kemudian memberi tahukannya kepada Suma Ceng Liong berdua.

Akan tetapi ketika itu, Suma Lian sedang belajar silat kepada kakek Gak Bun Beng dan baru berusia tiga belas tahun. Oleh karena itu ayah ibunya menjawab bahwa karena anak itu masih belum dewasa, maka urusan pernikahan ini sebaiknya pembicaraannya ditunda dan kelak akan diserahkan kepada Suma Lian sendiri. Mereka memberi tahu kepada Suma Ciang Bun bahwa tentang perjodohan puteri mereka, mereka akan menyerahkan kepada pilihan Suma Lian sendiri. Kalau kelak Suma Lian suka menjadi jodoh Gu Hong Beng seperti yang diusulkan oleh mendiang nenek Teng Siang In, tentu mereka pun tidak berkeberatan.

Kini, setelah puteri mereka dewasa dan mereka memikirkan perjodohan puteri mereka, tentu saja suami isteri itu teringat kepada Gu Hong Beng! Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu dengan Gu Hong Beng atau pun gurunya, Suma Ciang Bun. Akan tetapi mereka pernah mendengar bahwa kakak mereka itu kini tinggal sebagai pertapa di lereng Gunung Tapa-san, di dekat sumber air Sungai Han-sui di Propinsi Shensi.

“Hemmm, entah berapa usianya sekarang. Kalau tidak keliru, ketika kakak Ciang Bun membicarakan urusan perjodohan itu, Hong Beng berusia sembilan belas tahun dan Lian-ji baru berusia tiga belas tahun. Kalau sekarang Lian-ji berusia dua puluh tahun, berarti Hong Beng sudah berusia dua puluh enam tahun,” kata Suma Ceng Liong mengingat-ingat. “Pemuda itu cukup baik, gagah perkasa dan sederhana dan tentang ilmunya, walau pun mungkin tidak setinggi yang dikuasai Lian-ji, namun tentu selama ini dia telah memperoleh banyak pengalaman dan kemajuan.”

“Hanya kita tidak tahu apakah dia masih belum memperoleh jodoh, dan kita lebih tidak tahu lagi keadaan anak kita sendiri. Sebaiknya, biarlah besok kutanyai Lian-ji, apakah selama ini ia sudah bertemu dengan seorang pemuda yang cocok untuk menjadi calon suaminya.”

“Kalau sudah ada?” tanya suaminya.

“Kita akan desak dia supaya segera diadakan kontak dan kita sebagai orang tua akan membicarakan dengan pihak sana.”

“Bagaimana kalau ia belum mempunyai pandangan?”

“Wah, kalau begitu aku sendiri pun bingung,” kata Kam Bi Eng.

“Begini saja, kalau memang benar ia masih bebas, kita suruh saja ia pergi berkunjung ke tempat pertapaan kakak Suma Ciang Bun. Kasihan Bun-toako, hidup seorang diri. Biarlah Lian-ji berkunjung ke sana dan menyampaikan permintaan kita agar Bun-toako suka tinggal bersama kita di sini. Dengan demikian, memberi kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan Hong Beng dan kita nanti bicarakan urusan jodoh itu, kalau-kalau Lian-ji menyetujuinya.”

Kam Bi Eng menyetujui usul suaminya. Bagaimana pun juga, sebagai seorang ibu tentu saja dia pun ingin sekali melihat puterinya menikah dan biar pun usianya baru empat puluh tahun, karena tidak mempunyai anak lain kecuali Suma Lian, maka Kam Bi Eng juga mendambakan adanya seorang cucu yang mungil.

Demikianlah, pada keesokan harinya, Kam Bi Eng mengajak puterinya bercakap-cakap. Dipancingnya puterinya itu dalam sebuah pembicaraan tentang perjodohan. Suma Lian tersenyum memandang ibunya.

“Aihhh, Ibu ini! Pagi-pagi bicara tentang perjodohan! Siapa sih yang memikirkan soal jodoh?” katanya sambil tertawa.

Kam Bi Eng adalah seorang yang juga berwatak lincah jenaka, akan tetapi ia memiliki ketegasan. “Hentikan main-main itu, anakku. Ingat, berapa usiamu sekarang?”

“Berapa, ya? Dua puluh tahun lebih kukira.”

“Nah, biasanya seorang wanita yang berusia dua puluh tahun lebih telah menggendong seorang anak. Apakah engkau sama sekali belum memikirkan urusan perjodohan? Aku dan Ayahmu menyerahkan pemilihan calon suami kepadamu, maka aku ingin sekali tahu apakah selama ini engkau sudah bertemu dengan seorang pria yang kau anggap cocok untuk menjadi calon suamimu?”

“Wah, Ibu ini ada-ada saja. Selama ini aku tekun berlatih silat, mana ada kesempatan untuk memikirkan soal itu? Tidak, Ibu, aku belum mempunyai pilihan siapa pun juga.”

“Sudahlah kalau begitu. Sekarang, ayahmu dan aku minta agar supaya engkau suka mengundang paman tuamu Suma Ciang Bun. Kasihan dia, hidup mengasingkan diri dan seorang diri pula. Engkau kunjungilah dia dan atas nama kami, undanglah dia ke sini. Sebentar, kupanggil ayahmu!”

Kam Bi Eng lalu memanggil suaminya yang berada di ruangan belakang. Suma Ceng Liong datang dan dia pun membenarkan apa yang dikatakan isterinya.

“Benar, Lian-ji. Kami merasa kasihan kepada Bun-toako. Engkau pergilah ke sana dan katakan bahwa kami mengundang dia untuk datang dan tinggal di sini bersama kita.”

“Akan tetapi, di manakah paman Ciang Bun tinggal?”

“Dia bertapa di lereng Pegunungan Tapa-san, di dekat sumber air Sungai Han Sui, di Propinsi Shensi. Carilah dia sampai dapat, anakku, dan bujuklah dia supaya suka ikut bersamamu ke sini. Kami sudah rindu padanya dan katakan bahwa kami ingin sekali agar dia tinggal bersama kami di sini, sedikitnya untuk beberapa waktu lamanya, syukur kalau dapat selamanya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Lian-ji.”

Suma Lian mengangguk. Memang tidak enak rasanya tinggal di rumah saja, dan ia pun tidak mengira sama sekali bahwa selain mengundang paman tuanya, juga kedua orang tuanya itu mengharapkan ia bertemu dengan Gu Hong Beng yang sudah ditunangkan dengannya secara diam-diam oleh mendiang neneknya!

Beberapa hari kemudian, setelah membawa bekal pakaian beserta uang secukupnya, berangkatlah Suma Lian meninggalkan rumah orang tuanya. Kini ia sudah berbeda lagi dengan ketika dia pulang, karena dia sudah dibekali dua macam ilmu yang membuat dirinya menjadi semakin lihai. Dan di pinggangnya kini terselip sebatang suling emas!

Seperti juga sumoi-nya, Li Sian, ia mampu mempergunakan setiap ranting kayu untuk menjadi pedang dan memainkan ilmu Lo-thian Kiam-sut. Akan tetapi dengan suling emas itu ia merasa lebih mantap dan lebih percaya akan kemampuan diri sendiri.

Perjalanan yang dilakukan Suma Lian cukup jauh, menuju ke barat melalui Propinsi Honan dan Shensi. Kalau pulangnya, akan lebih mudah mengambil jalan air, yaitu naik perahu mengikuti aliran Sungai Kuning, akan tetapi berangkatnya, ia mengambil jalan darat. Namun, bagi seorang gadis perkasa seperti Suma Lian, perjalanan itu bahkan sangat menggembirakan dan ia sama sekali tidak khawatir akan adanya gangguan di dalam perjalanan karena ia sudah membawa bekal ilmu kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi, baru beberapa hari ia meninggalkan Cin-an dan tiba di perbatasan Propinsi Hopei karena dara ini mengambil jalan lurus ke barat, ia memasuki sebuah kota kecil, di perbatasan itu dan oleh karena hari sudah mulai gelap, ia mengambil keputusan untuk bermalam di kota itu. Dia tidak menyangka di tempat itu ia bertemu dengan pengalaman yang berbahaya!

Sore hari itu, setelah memasuki kota Bun-koan yang tidak berapa besar. Suma Lian segera menoleh ke kanan kiri untuk mencari rumah penginapan. Hari itu ia melakukan perjalanan sehari penuh melalui jalan berdebu dan ia merasa tubuhnya lelah, panas dan kotor. Ia ingin mandi, kemudian mencari makan malam yang enak sebelum beristirahat semalam suntuk agar tenaganya pulih kembali dan besok dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dengan tubuh segar.

Kota itu tidak besar dan ternyata hanya mempunyai sebuah rumah penginapan yang tidak berapa besar. Keadaan rumah penginapan itu terlalu kotor bagi Suma Lian. Akan tetapi, gadis ini pernah hidup dalam keadaan yang serba sederhana bahkan sangat kekurangan ketika ia mengikuti gurunya hidup sebagai orang yang miskin, maka ia tidak dapat terlalu banyak memilih dan tidak pula merasa jijik ketika ia akhirnya memperoleh sebuah kamar yang tidak besar dan agaknya jarang dibersihkan. Ia hanya minta agar kain alas tempat tidur dan bantalnya diganti dengan yang bersih, dan untuk itu ia harus mengeluarkan beberapa uang kecil untuk pelayan.

Hanya dengan mengeluarkan uang persenan tambahan pula maka dia akhirnya bisa memperoleh cukup air untuk mandi. Tubuhnya terasa segar dan nikmat setelah mandi bersih dan mengenakan pakaian pengganti, dan atas petunjuk pelayan yang sudah dua kali menerima hadiah uang kecil darinya itu, ia memperoleh keterangan di mana ia bisa membeli makan malam yang enak.

Benar saja, restoran kecil itu ternyata dapat menyuguhkan makanan yang cukup lezat, terutama sekali masakan udang kegemarannya. Harganya pun tidak mahal. Dengan puas Suma Lian kembali ke kamar di rumah penginapannya, siap untuk tidur.

Selagi ia berjalan melalui lorong menuju ke kamarnya, tiba-tiba ia mendengar suara anak laki-laki yang merengek, datangnya dari kamar di sebelahnya.

“Aku mau pulang! Ah, antarkan aku pulang, atau aku mau pulang sendiri. Aku tidak mau lagi melanjutkan perjalanan dan ikut denganmu!” Suara itu jelas suara seorang anak laki-laki dan suaranya terdengar seperti anak yang ketakutan.

Karena tertarik, dan lorong di mana kamar-kamar berjajar itu sepi, Suma Lian kemudian menghentikan langkahnya dan mendengarkan.

“Hushhhhh, jangan ribut-ribut,” terdengar suara seorang laki-lagi, suaranya membujuk. “Kalau sampai terdengar olehnya dan dia menyusul ke sini, tentu kita akan dibunuh, terutama sekali engkau.”

“Ahh, kenapa wanita itu hendak membunuh aku? Kenapa?” Anak itu membentak.

“Ssttt, dia adalah musuh ibumu. Dan hanya ibumu yang dapat melawannya, dapat melindungimu, karena itu aku akan mengantar pada ibumu. Ia berada di kota So-tung, tak jauh dari sini. Besok pagi-pagi kita ke sana dan sekarang diamlah, kita sembunyi di sini...“

Anak itu tidak terdengar merengek lagi. Suma Lian tentu saja merasa heran mendengar ucapan laki-laki itu. Siapakah yang ingin membunuh seorang anak kecil dan mengapa? Akan tetapi, jangan-jangan laki-laki itu hanya menakut-nakuti saja dan karena bukan urusannya, maka ia pun melangkah menuju ke kamarnya dan merebahkan diri setelah membuka sepatunya.

Akan tetapi, percakapan di kamar sebelah itu membuat ia tidak mudah untuk pulas. Perhatiannya tetap saja tertuju ke kamar sebelah dan kewaspadaannya tetap berjaga-jaga, siap untuk turun tangan menolong kalau-kalau benar ada bahaya mengancam anak di sebelah itu!

Akhirnya, karena tidak terjadi sesuatu sampai jauh hampir tengah malam, Suma Lian mulai mengantuk. Ketika ia hampir tertidur, tiba-tiba saja telinganya yang masih dalam keadaan waspada itu menangkap sesuatu yang mencurigakan, suara gerakan di atas genteng! Sedikit suara ini saja sudah cukup baginya untuk terbangun.

Cepat disambarnya sepatunya, dipakainya dan ia pun membuka daun jendela, lalu tubuhnya sudah meluncur keluar dari jendela kamarnya. Pada saat itu, dia melihat seorang laki-laki yang menggendong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun, juga melompat keluar dari jendela kemudian melarikan diri.

Itulah orang yang tinggal di kamar sebelah, pikirnya. Agaknya laki-laki itu pun sudah mendengar akan suara mencurigakan di atas genteng dan kini dia mengajak anak itu melarikan diri. Dan benar saja, pada saat itu pula, dari atas genteng menyambar turun bayangan orang yang berseru dengan halus.

“Hemmm, engkau hendak lari ke mana?“

Mendengar ini laki-laki yang menggendong anak itu mempercepat larinya. Terkejutlah Suma Lian melihat bahwa laki-laki itu ternyata dapat berlari cepat sekali, bukan larinya orang sembarang melainkan larinya orang yang menguasai ilmu berlari cepat dengan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat! Akan tetapi wanita itu, bayangan yang membentak tadi, juga dapat berlari cepat melakukan pengejaran.

Melihat kejadian ini, Suma Lian juga mengerahkan tenaganya dan ikut mengejar pula. Untung baginya bahwa malam itu bulan bersinar terang sehingga ia dapat melihat jelas dua bayangan yang saling berkejaran itu. Laki-laki yang menggendong anak itu dapat berlari cepat sekali, akan tetapi pengejarnya agaknya lebih lihai lagi sehingga jarak di antara mereka menjedi semakin dekat.

Suma Lian yang khawatir kalau-kalau dua orang itu terkejar dan terbunuh, mempercepat larinya dan ketika laki-laki itu menghilang ke dalam sebuah hutan kecil, pengejarnya meragu dan berhenti sebentar di luar hutan. Kesempatan ini dipergunakan oleh Suma Lian untuk mempercepat larinya dan membentak,

“Hai, engkau yang berniat jahat, tunggu dulu!” bentakannya nyaring sehingga membuat wanita yang tadi melakukan pengejaran itu terkejut, lalu membalikkan tubuhnya.

Sekarang mereka berdiri berhadapan, dalam jarak antara dua meter. Sinar bulan cukup terang sehingga walau pun tidak sangat jelas, namun mereka dapat saling melihat dan keduanya diam-diam merasa heran. Suma Lian melihat bahwa wanita itu sama sekali bukan nampak seperti seorang penjahat. Sebaliknya malah, dia seorang wanita muda, seorang gadis yang cantik jelita, matanya lebar dan sikapnya gagah sekali.

Akan tetapi, wanita itu agaknya marah oleh gangguannya. Begitu mereka berhadapan, ia menegur Suma Lian, suaranya nyaring dan ketus.

“Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan orang lain dengan lancang? Mau apa engkau mengejar aku?”

Suma Lian tidak marah, hanya ia merasa heran mengapa ada seorang gadis secantik dan segagah ini berhati kejam hendak membunuh seorang anak kecil.

“Aku mengejar untuk mencegah engkau melakukan suatu kejahatan, Sobat! Mengapa pula engkau mengejar orang yang membawa seorang anak kecil tadi? Tidak usah kau lanjutkan niatmu yang jahat itu...“

“Lancang kau! Kalau aku mengejar mereka, engkau mau apa? Apamukah laki-laki itu?”

“Bukan apa-apa. Aku kebetulan sedang bermalam di kamar dekat kamar mereka dan mendengar bahwa mereka takut kepadamu yang hendak membunuh, maka aku lalu ikut pula mengejar. Kalau engkau lanjutkan pengejaranmu, terpaksa aku akan turun tangan menghalangimu.”

“Hemm, manusia sombong dan lancang yang hendak mencampuri urusan orang! Atau mungkin engkau kaki tangannya, ya? Kalau begitu perlu kuhajar dulu engkau!” Gadis itu sudah menerjang dengan tamparan ke arah muka Suma Lian.

Tentu saja Suma Lian cepat mengelak dan langsung balas menyerang dengan tak kalah cepatnya. Namun, gadis itu meloncat ke samping dan kini dia menerjang lagi sambil menghujankan serangan dengan kaki tangannya, seolah-olah ingin cepat merobohkan Suma Lian agar ia dapat cepat melakukan pengejaran terhadap laki-laki yang melarikan bocah tadi.

Menghadapi serangan yang luar biasa cepatnya ini, Suma Lian terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa gadis yang menjadi lawannya ini benar-benar lihai sekali. Serangan gadis itu bukan saja sangat cepat, akan tetapi juga hawa pukulan yang keluar dari gerakan kaki tangannya amat kuat, tanda bahwa gadis itu memiliki sinkang yang sudah tinggi tingkatnya. Ia pun cepat melindungi dirinya dengan langkah-langkah ajaib Sam-po Cin-keng sehingga dengan mudah ia dapat menghindarkan semua serangan lawan.

Gadis itu menjadi semakin penasaran. “Hemmm, kiranya engkau mempunyai sedikit kepandaian, ya?” bentaknya. “Nah, terimalah ini!”

Tangan kanannya menyambar cepat dan ada hawa yang panas sekali menyambar dari tangan kanannya itu, dan kehebatan serangan ini sukar untuk dielakkan lagi oleh Suma Lian. Ia terkejut, maklum akan hebatnya pukulan lawan, maka ia pun menggerakkan tangan kirinya sambil mengerakkan tenaga Swat-im Sinkang untuk menyambut pukulan yang mengandung hawa panas itu.

“Dukkk!”

Dua buah lengan yang berkulit putih halus itu saling bertemu. Keduanya terdorong ke belakang dan keduanya memandang dengan mata terbelalak.

“Swat-im Sinkang...!” teriak gadis yang menyerang itu.

“Hui-yang Sinkang...!” Suma Lian juga berseru heran.

Gadis itu memandang marah, lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Suma Lian. “Engkau dari mana mencuri ilmu dari Pulau Es?” bentaknya.

Suma Lian tersenyum mengejek. “Sobat, engkaulah yang mencuri ilmu dari keluargaku. Aku bernama Suma Lian, keturunan langsung dari penghuni Pulau Es!”

“Aihhhhh...!” Gadis itu berseru dan memandang dengan mata terbelalak.

“Kau… kau... Suma Lian, puteri dari paman Suma Ceng Liong?”

“Benar, dan siapakah engkau?”

“Aku Kao Hong Li...“

“Aihhh...! Engkau puteri bibi Suma Hui...?” seru Suma Lian dan mereka maju saling berangkulan. “Enci Hong Li, maafkan aku, maafkan kelancanganku tadi.”

”Sudahlah, adik Lian. Sering kali aku datang berkunjung ke rumah paman Suma Ceng Liong, akan tetapi engkau belum juga pulang. Tentu ada sebabnya mengapa engkau tadi mencegah aku mengejar orang yang menculik anak itu.”

Suma Lian merasa kaget setengah mati. “Apa? Dia... dia itu menculik anak itu? Wah, kalau begitu aku yang bersalah, enci Hong Li.”

Lalu ia menceritakan bahwa tadi ia mendengar anak itu merengek minta pulang. “Dan laki-laki itu mengatakan bahwa mereka harus cepat melarikan diri darimu yang hendak membunuh mereka, terutama membunuh anak itu. Maka, ketika melihat betapa mereka melarikan diri dan engkau mengejarnya, aku pun langsung saja turun tangan hendak mencegahmu. Maafkan aku...“

“Hemmm, penculik itu telah menipu si anak dan engkau pun ikut pula tertipu, adik Lian. Aku melihat dia melarikan anak laki-laki itu yang berteriak minta dilepaskan dan minta dipulangkan, maka aku melakukan pengejaran sejak kemarin. Aku kehilangan jejaknya dan baru aku temukan mereka di rumah penginapan ini.”

“Akan tetapi siapakah dia, Enci? Dan mengapa pula dia menculik anak laki-laki itu? Siapa pula anak laki-laki itu?”

“Aku juga tidak tahu siapa mereka dan mengapa pula dia menculik anak itu. Ketahuilah, adik Lian, aku sedang melakukan perjalanan menuju ke rumah orang tuamu, untuk memberi kabar tentang meninggalnya kakek dan nenek di gurun pasir...“

“Ahhh! Penghuni Gurun Pasir...?”

“Benar, kakek dan nenekku tewas setelah istana itu diserbu banyak datuk sesat, dan setelah memberi tahukan kepada orang tuamu, aku akan pergi mencari siapa para datuk yang pernah menyerbu ke sana. Dan engkau sendiri, engkau sudah berapa lama pulang dan sekarang hendak ke mana?”

“Aku diutus oleh orang tuaku untuk mengundang paman tua Suma Ciang Bun agar suka datang ke rumah kami.”

“Aih, paman Suma Ciang Bun? Dia bertapa di Tapa-san dan agaknya sudah tidak mau lagi mencampuri dunia ramai. Aku pun pernah beberapa kali berkunjung ke sana. Ahhh, sungguh tidak kusangka kita akan saling bertemu seperti ini, adik Lian!”

“Aku pun girang sekali dapat bertemu denganmu, enci Hong Li. Akan tetapi, setelah mendengar keteranganmu tentang lelaki yang bercaping lebar tadi bahwa dia menculik anak itu, biarlah aku akan melakukan pengejaran dan menolong anak itu!”

“Tapi, ke mana engkau akan mencarinya, adik Lian? Dan aku pun belum yakin benar, baru mencurigainya menculik anak, belum ada bukti nyata, bahkan aku tidak tahu siapa dia dan siapa anak itu.”

“Biarlah, Enci. Aku akan menyelidiki. Terpaksa kita harus berpisah di sini, Enci. Engkau melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuaku menyampaikan berita duka itu, dan aku akan pergi berkunjung kepada paman Suma Ciang Bun setelah menyelidiki penculik itu.”

Kao Hong Li merangkul lagi, merasa sayang untuk saling berpisah. “Aih, kita baru saja bertemu secara tidak sengaja. Kalau tadi kita tidak sama-sama menggunakan Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang, entah bagaimana jadinya dengan kita yang saling hantam sendiri. Akan kuceritakan ini kepada orang tuamu. Ahhh, aku masih ingin sekali bersamamu dan bercakap-cakap lama, adik Lian.”

“Aku pun begitu, Enci. Akan tetapi karena kita berdua sama-sama mempunyai tugas, biarlah lain kali masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling berjumpa lagi dan bercakap-cakap sepuasnya.”

“Baiklah, adik Lian. Nah, selamat berpisah. Akan tetapi kalau engkau mengejar orang bercaping lebar itu, berhati-hatilah. Melihat gerakannya ketika lari, kurasa dia bukanlah seorang yang lemah.”

“Engkau benar, enci Hong Li. Akan tetapi aku pun belum yakin benar bahwa dia seorang penjahat yang menculik anak itu. Mungkin hanya timbul kesalah pahaman saja antara dia dan engkau. Aku tahu ke mana harus mencarinya karena ketika dia bicara dengan anak itu di dalam kamarnya, dia ada menyebutkan bahwa mereka akan pergi ke kota So-tung. Aku akan menyusul ke sana.”

“Aku tidak khawatir, engkau tentu akan mampu mengatasinya, Lian-moi.”

Kedua orang gadis itu yang masih saudara misan, saling peluk lagi kemudian Kao Hong Li meninggalkan tempat itu, berkelebat lenyap di kegelapan bayangan pohon. Suma Lian juga cepat masuk kembali ke dalam kamarnya dan setelah menggendong buntalan pakaiannya, dia pun meninggalkan kamar rumah penginapan itu tanpa pamit karena dia sudah membayar sewa kamar itu sore tadi.

Tidak sukar bagi Suma Lian untuk menemukan kota So-tung yang letaknya kurang lebih tiga puluh li dari kota di mana ia bermalam itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia telah memasuki kota So-tung. Sayang ia tertinggal jauh sehingga ia tidak lagi melihat bayangan laki-laki bercaping lebar bersama anak laki-laki itu. Namun, Suma Lian tidak putus asa dan ia pun segera berputar-putar melakukan penyelidikan di seluruh kota.

Ketekunannya berhasil baik. Ketika berjalan tiba di dekat pintu gerbang barat, ia melihat bayangan orang berkelebat dan ternyata bayangan itu adalah laki-laki berpakaian serba hijau yang mengenakan caping lebar, yang semalam melarikan diri bersama anak laki laki yang dikejar oleh Kao Hong Li itu! Akan tetapi, kini laki-laki itu berjalan seorang diri tanpa menggendong anak laki-laki itu dan nampaknya tergesa-gesa hendak keluar dari kota melalui pintu gerbang barat.

Melihat ini, Suma Lian juga mempercepat langkahnya keluar dari pintu gerbang itu. Pagi itu masih sunyi sekali, belum nampak seorang pun manusia di luar pintu gerbang dan Suma Lian melihat betapa laki-laki bercaping itu menoleh, kemudian melarikan diri!

“Hei, tunggu...!” Suma Lian berseru.

Dan ia pun mempergunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran. Melihat gadis itu melakukan pengejaran, laki-laki itu mempercepat larinya. Hal ini membuat Suma Lian semakin curiga dan ia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga tidak lama kemudian ia dapat menyusul dan bahkan mendahului, lalu membalik dan menghadang.

“Tunggu dulu!” bentaknya lagi.

Laki-laki itu terkejut bukan main, akan tetapi, ketika melihat bahwa gadis yang larinya melebihi kijang cepatnya ini bukanlah gadis yang kemarin membayanginya, wajahnya menjadi agak lega.

“Ahh, kukira tadinya engkau adalah orang yang jahat itu, Nona,” katanya, dan sepasang matanya mengamati wajah Suma Lian penuh perhatian, dan penuh kagum pula.

Sebaliknya, Suma Lian juga memperhatikan orang ini. Seorang laki-laki muda, usianya tentu paling banyak tiga puluh tahun, agak kurus dan kedua pipinya nampak peyot bagai orang yang pemadatan. Akan tetapi sepasang matanya tajam mencorong menandakan bahwa dia seorang yang ‘berisi’, dan sinar mata itu tajam, juga mengandung kekejaman dan kelicikan. Mulutnya tersenyum dan nampak giginya yang agak menghitam karena banyak yang sudah rusak.

Wajah yang sebetulnya tampan itu nampak tidak menarik lagi ketika dia tersenyum dan diam-diam Suma Lian bersikap waspada. Orang seperti ini tentu tidak boleh dipercaya, demikian bisik hatinya. Sementara itu, pria yang kurus itu ketika melihat bahwa yang mengejarnya seorang gadis yang teramat cantik menarik, memperlebar senyumnya dan melangkah maju sambil menjura dengan sikap sopan.

“Aih, ada urusan apakah engkau mengejar dan menahan aku, Nona? Siapakah nama Nona dan ada keperluan apakah dengan aku?”

Suma Lian mengerutkan alisnya. Orang ini biasa mempergunakan topi caping lebar untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi sekarang dia mengangkat topi itu tinggi-tinggi sehingga nampak wajahnya yang sebenarnya tampan namun kurus sekali itu.

Dan sepasang mata yang tajam itu, selain mengandung kelicikan dan kekejaman, juga Suma Lian merasakan adanya kekuatan yang tidak wajar, seperti dimiliki orang yang biasa mempergunakan ilmu sihir. Hal ini diketahuinya semenjak ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya, sepulangnya dari perguruan. Oleh karena itu, ia pun bersikap hati-hati.

“Tidak ada urusan antara kita, dan tidak ada perlunya aku memperkenalkan nama. Akan tetapi, semalam aku melihat engkau melarikan seorang anak laki-laki sehingga timbul keinginan tahuku apa yang terjadi dengan anak itu? Di mana adanya anak laki-laki itu sekarang dan mengapa engkau melarikannya malam-malam dari rumah penginapan itu?”

Pria itu terbelalak. “Tapi... tapi... kulihat engkau bukanlah wanita yang membayangi dan mengejarku kemarin...”

“Memang bukan! Aku yang bermalam di kamar sebelah dan mendengarmu melarikan diri. Hayo katakan, siapakah anak itu dan mengapa pula engkau melarikannya dan di mana dia sekarang?”

“Bukan urusamu, Nona, dan kunasehatkan agar engkau tidak mencampuri urusanku yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu.”

“Hemmm, setiap kali hidungku mencium sesuatu yang busuk, tak mungkin aku tinggal diam begitu saja sebelum aku tahu betul bahwa tidak ada kejahatan dilakukan orang! Bawa aku pada anak itu agar aku dapat bicara sendiri dengan dia baru aku percaya bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap dia!”

Laki-laki ini mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat. “Nona, engkau masih muda dan cantik, tetapi amat sombong. Engkau tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, agaknya engkau belum mengenal siapa diriku. Aku Liok Cit, tak percuma mempunyai julukan Tok-ciang Hui-moko (Iblis Terbang Bertangan Racun), dan tidak biasa aku diperintah orang lain! Pergilah sebelum terlambat!”

Suma Lian belum pernah mendengar nama julukan itu dan ia tersenyum. Ia seorang gadis yang lincah jenaka dan pemberani, maka mendengar nama julukan itu ia merasa geli.

“Wah-wah, julukanmu demikian hebatnya, seakan-akan engkau ini pandai terbang dan seolah-olah tanganmu beracun. Kulihat mungkin hanya hatimu saja yang beracun, dan mukamu seperti orang berpenyakit keracunan yang sudah mendekati liang kubur. Kalau engkau tak mau membawaku kepada anak itu, sekali dorong engkau tentu akan masuk liang kubur!”

“Bocah sombong!” Liok Cit, laki-laki itu, memaki.

Mendadak dia pun menyerang dengan terkaman tangan kanan ke arah pundak Suma Lian, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut. Serangan ini ganas dan berbahaya sekali, namun dengan mudahnya Suma Lian mengelak sambil mundur dan kakinya mencuat dengan tendangan menyamping, mengarah lambung lawan.

“Dukkk!”

Liok Cit menangkis tendangan itu dan balas menyerang dengan lebih dahsyat lagi. Tubuhnya mendoyong ke depan, kedua tangannya terbuka dan dipergunakan sebagai golok, yang kanan membacok leher, yang kiri menusuk ke arah dada.

Melihat gerakan orang, Suma Lian maklum bahwa lawan ini memang bukan orang sembarangan, memiliki gerakan yang cepat dan dari sambaran kedua lengannya pun dapat dilihat bahwa dia memiliki tenaga sinkang yang kuat. Akan tetapi ia tidak takut. Ia melindungi kedua tangannya dengan tenaga Inti Bumi yang dapat menolak semua hawa beracun, dan menangkis sambil mengerahkan Swat-im Sinkang.

“Plak! Plak!”

Kedua pasang lengan bertemu dan tubuh Liok Cit terdorong ke belakang dan dia agak menggigil karena ketika lengannya bertemu dengan lengan gadis itu, ada hawa dingin melebihi salju menyusup ke tubuhnya melalui lengan yang beradu dengan lengan gadis itu.

“Ihhhhh...!”

Dia mengguncang tubuhnya untuk mengusir hawa dingin dan pada saat itu, Suma Lian sudah datang menyerangnya dengan totokan ke arah pundaknya. Cepat sekali gerakan gadis itu, akan tetapi lebih cepat lagi gerakan Si Iblis Terbang, karena tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat jauh ke belakang.

Suma Lian terkejut dan maklum bahwa orang ini memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa dan kiranya pantas memakai julukan Iblis Terbang. Ia mendesak lagi dengan serangan-serangannya, untuk memaksa orang itu supaya membawanya ke tempat anak yang semalam dibawanya pergi. Kini ia percaya akan keterangen Hong Li. Orang ini tentulah seorang penjahat lihai yang melakukan penculikan terhadap anak itu. Buktinya anak itu merengek minta pulang dan tentu kini disembunyikan di suatu tempat.

Liok Cit mengelak sambil berloncatan ke sana-sini. Dia mempergunakan kecepatan gerakannya, namun dia tidak mampu melepaskan diri dari desakan Suma Lian. Hanya dengan cara berloncatan yang amat cepat dia selalu dapat menjauh lagi tiap kali sudah terdesak hebat.

“Engkau masih tidak mau menyerah dan membawaku kepada anak itu?” bentak Suma Lian dan tiba-tiba ia menotok dengan ilmu totok Coan-kut-ci yang baru saja dipelajarinya dari ayahnya.

Ilmu totokan ini adalah ilmu yang berasal dari golongan hitam, merupakan ilmu yang keji dan dahsyat bukan main. Baru hawa totokannya saja sudah terasa oleh lawan dan Liok Cit juga merasa terkejut. Tadi ketika gadis itu menggunakan tenaga yang berhawa dingin, dia sudah terkejut dan jeri, kini gadis itu menyerangnya dengan totokan yang demikian dahsyatnya.

Kembali dia menyelamatkan diri dengan ilmu ginkang-nya. Tubuhnya terjengkang ke belakang seperti dilemparkan akan tetapi dia selamat dari totokan yang amat dahsyat itu. Tahulah dia bahwa jika dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka. Akan tetapi susahnya, kalau hendak melarikan diri pun pasti dapat dikejar karena ilmu berlari cepat gadis itu pun hebat sekali. Diam-diam dia berkeringat dingin, menduga-duga siapa adanya gadis muda yang demikian lihainya.

Sementara itu, Suma Lian sendiri juga menjadi penasaran. Jelaslah bahwa dalam hal ilmu silat, ia tidak kalah oleh si baju hijau ini, akan tetapi orang ini sungguh licin seperti belut dan mempunyai ginkang yang istimewa sehingga selalu dapat menghindarkan diri pada detik terakhir kalau serangannya sudah hampir mengenai sasaran.

Dengan marah dia lalu mencabut suling emas dari ikat pinggangnya dan menyerang dengan suling emasnya yang diputar dengan cepat. Suling itu mengeluarkan gaung merdu seperti ditiup dan berubah menjadi gulungan sinar emas yang menyilaukan mata, menyambar-nyambar ke arah Liok Cit.

Orang ini pun cepat mencabut pedangnya. Melihat gulungan sinar emas menyambar-nyambar, dengan gugup dia lalu menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

“Cringgg...!“

Pedang itu seperti terlibat gulungan sinar dan Liok Cit tidak mampu mempertahankan pegangan gagang pedangnya yang langsung terlepas dari tangannya. Mana dia mampu menandingi Ilmu Koai-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Siluman) yang baru saja dipelajari gadis itu dari ibunya.

Namun begitu sinar emas menyambar ke arah dadanya, sambil mengeluarkan teriakan melengking tahu-tahu tubuh Liok Cit sudah mencelat ke atas sebatang pohon tak jauh dari situ. Hebat memang gerakan ini, cepat seperti setan terbang saja!

Suma Lian menudingkan sulingnya ke arah lawan yang berada di puncak pohon itu. “Engkau masih belum mau menyerah? Biar engkau melarikan diri ke neraka sekali pun, jangan harap dapat terlepas dari sulingku ini! Cepat turun dan tunjukkan aku di mana adanya anak itu!”

Tok-ciang Hui-moko Liok Cit menghela napas panjang. Dia maklum bahwa dia kalah, akan tetapi dia masih mempunyai andalan lainnya untuk menundukkan gadis ini. Dia adalah seorang yang lama berkecimpung di dunia hitam dan menjadi sahabat baik dari para tosu Pek-lian-kauw sehingga pernah dia mempelajari ilmu sihir. Tentu saja ilmu ini selalu digunakannya untuk melakukan kejahatan dan kini dia hendak mempergunakan ilmu ini untuk menundukkan gadis yang membahayakan dirinya itu.

“Baiklah, Nona aku menyerah kalah. Aku bukan musuhmu, bukan orang jahat dan tidak bermaksud jahat kepadamu. Biarkan aku turun dan mari kita bicara baik-baik, Nona.”

“Turunlah. Tidak usah banyak bicara, asal engkau membawa aku kepada anak itu dan membiarkan aku bicara sendiri dengan dia, cukuplah. Kalau memang engkau tidak melakukan kejahatan, aku pun tidak suka mengganggu orang yang tidak berdosa,” kata Suma Lian sambil menyimpan kembali suling emasnya di ikat pinggang, tertutup oleh bajunya.

Dengan gerakan bagai seekor burung melayang turun, Liok Cit meloncat turun dari atas puncak pohon itu dan berdiri di depan Suma Lian. Diam-diam gadis ini amat kagum dan memujinya. Ginkang orang ini memang hebat sekali, pikirnya, dan ia sendiri masih kalah setingkat dalam hal meringankan tubuh. Untung bahwa dalam hal ilmu silat dan tenaga, ia masih menang jauh sehingga tadi ia mampu membuat orang ini tidak berdaya.

Akan tetapi, kini Liok Cit merangkapkan kedua tangannya seperti orang menyembah di depan dada, matanya memandang tajam penuh wibawa dan suaranya terdengar halus, namun mendesis dan mengandung pengaruh yang kuat pula. “Aku seorang sahabat, Nona, bukan musuh. Aku bermaksud baik kepadamu. Lihat, mukamu penuh keringat, usaplah dulu keringatmu baru kita bicara.”

Otomatis, Suma Lian mengusap sedikit keringat di dahinya dengan ujung lengan baju. Tiba-tiba saja gadis ini maklum. Keparat, pikirnya di dalam hati, orang ini menggunakan kekuatan sihir! Tentu saja ia mengerti dan dapat merasakan karena bukankah baru saja ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya sendiri? Tadi pun, dari pandang mata Liok Cit, ia sudah menduga bahwa orang ini menguasai kekuatan sihir dan sekarang agaknya hendak mempengaruhinya dengan sihir.

Diam-diam gadis ini tersenyum geli dalam hatinya. Baiklah, pikirnya, kalau ia tidak dapat menundukkannya karena orang ini terlalu cepat mengelak, dia akan pura-pura tersihir agar dapat dibawa ke tempat anak itu. Akan tetapi, diam-diam ia mengerahkan tenaga batinnya, bukan hanya sekedar untuk melawan ilmu sihir lawan, melainkan juga untuk mempengaruhi Liok Cit sehingga Liok Cit percaya bahwa ia yang tersihir.


SELANJUTNYA KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 09


Thanks for reading Kisah Si Bangau Putih Bagian 08 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »