Kisah Si Bangau Putih Bagian 04

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 04

Ketika mereka yang keluar dari tempat pesta itu tiba di ruang luar, ternyata masih ada lagi belasan orang yang ikut pula meninggalkan tempat itu! Melihat ini, Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya.

“Siancai..., kalau mereka semua dibiarkan pergi, tentu gerakan kita akan gagal sebelum dimulai!” berkata Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-kauw itu kepada Siangkoan Lohan.

Ketua Tiat-liong-pang itu mengangguk-angguk sambil mengerutkan alisnya, kemudian memberi tanda dengan tangan. Lima orang murid kepala cepat datang menghadap.

“Bawalah teman-teman dan saudara-saudara secukupnya, mereka tadi harus dibasmi. Kalian tahu apa yang harus dilakukan,” katanya dan lima orang murid itu mengangguk, lalu menyelinap pergi.

“Aihh, ini adalah tugas kita bersama,” kata Sin-kiam Mo-li. “Aku akan membantu anak buahmu, Lohan.”

“Aku akan membantumu pula, Sian-li,” berkata Toat-beng Kiam-ong sambil bangkit dan mengikuti wanita cantik itu.

Thian Kong Cinjin, wakil ketua Pat-kwa-kauw, bersama dengan Thian Kek Sengjin tokoh Pek-lian-kauw, juga cepat-cepat bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu, bersama beberapa orang tokoh lain yang sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.

Sesudah mengalahkan Ciok Kim Bouw, Siangkoan Liong bersikap acuh tak acuh saja melihat kesibukan teman-teman ayahnya. Dia hanya mendekati ayahnya dan berkata lirih, “Ini akibat kekurang telitian Ayah sendiri yang mengundang orang-orang itu.”

Setelah berkata demikian, dengan suara mengandung penyesalan, dia pun pergi masuk ke dalam gedung, membiarkan ayahnya duduk kembali sambil mengerutkan alisnya.

*********

Dengan hati penuh rasa penasaran dan kemarahan, Ciok Kim Bouw ketua Cin-sa-pang meninggalkan perkampungan Tiat-liong-pang di lereng bukit itu, menuruni bukit dengan langkah lebar. Hatinya penuh dengan perasaan marah dan malu, juga penasaran sekali. Jelaslah bahwa Tiat-long-pang mengambil jalan sesat, bukan hanya bergaul dengan penjahat, datuk sesat, bahkan juga dengan tokoh-tokoh pemberontak.

Akan tetapi, Tiat-liong-pang kuat sekali, dan melihat betapa puteranya saja sedemikian lihainya, sulit diukur bagaimana tingginya ilmu kepandaian Siangkoan Lohan. Ia bergidik kalau teringat akan kehebatan ilmu silat lawannya yang masih muda remaja tadi.

Dia merasa menyesal bukan main. Semua waktunya selama puluhan tahun digunakan untuk belajar silat, dan ternyata sekarang menghadapi seorang pemuda remaja saja dia kalah! Padahal dia menggunakan golok yang diandalkan, sedangkan pemuda itu hanya bertangan kosong.

Tiba-tiba dia menggaruk siku lengan kanannya yang mendadak terasa gatal-gatal. Saat dia menggaruknya, dia meringis karena begitu digaruk terasa panas bukan main. Dia berhenti melangkah dan menggulung lengan baju untuk melihat lengannya. Terkejutlah dia melihat betapa di lengan bawah, di bawah siku, terdapat tanda berwarna merah kebiruan sebesar jari tangan.

Itulah kiranya yang terasa gatal dan panas! Makin terkejutlah dia ketika teringat bahwa saat dia dikalahkan oleh pemuda tadi, bagian lengan itulah yang tertotok dan membuat lengannya lumpuh dan goloknya terlepas. Agaknya totokan itulah yang mendatangkan bekas yang gatal dan panas ini.

Selagi dia hendak melanjutkan perjalanan dekat dengan kaki bukit itu, tiba-tiba ada dua sosok bayangan orang berkelebat, kemudian terdengar suara seorang wanita tertawa mengejek. Dia mengangkat mukanya dan nampak Sin-kiam Mo-li bersama Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek telah berada di depannya, berdiri sambil tersenyum dan tertawa mengejek!

Ciok Kim Bouw tentu saja dapat menduga pula bahwa munculnya wanita ini pasti tidak mengandung niat baik, maka dia pun sudah mencabut golok besarnya dan menghardik. “Iblis betina, mau apa engkau menghadangku?”

“Hi-hi-hik, Cin-sa-pangcu! Selama ini aku tidak pernah tahu bahwa Cin-sa-pang sudah memiliki seorang ketua baru seperti engkau. Sekarang, setelah kau berani menghinaku di tempat umum, engkau masih bertanya lagi mau apa aku menghadangmu? Tentu saja untuk membunuhmu!”

“Bagus! Memang saat inilah yang kutunggu-tunggu, yaitu membunuhmu atau mati di tanganmu. Dan engkau, Toat-beng Kiam-ong, apakah jagoan seperti engkau hendak membantunya mengeroyok aku? Majulah, jangan kira aku takut menghadapi kalian!” tantangnya, mendahului lawan karena dia maklum bahwa tentu orang ini berpihak kepada Sin-kiam Mo-li.

Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, engkau sungguh tak tahu diri. Melawan seorang pemuda remaja bertangan kosong saja engkau keok (kalah), perlu apa membantu Sian-li. Biar engkau memecah diri menjadi rangkap sepuluh, akan mampus satu demi satu di tangan Sian-li!”

“Iblis betina, bersiaplah untuk mampus!” bentak Ciok Kim Bouw lantang sambil langsung menyerang dengan goloknya.

Dia merasa betapa lengan di bagian dekat siku terasa nyeri, akan tetapi dia tidak peduli dan terus menyerang sekuat tenaga dan dengan kemarahan meluap-luap. Dia sudah nekat karena maklum bahwa sekali ini, akibat perkelahian itu hanya dua, yaitu kalah dan mati, atau menang dan hidup. Meski dia tahu bahwa untuk menang amatlah sukarnya, apa lagi di situ berdiri si Raja Pedang yang pasti akan membantu iblis betina itu, namun sedikitnya dia tidak merasa gentar dan menyerang dengan ganas dan dahsyat.

Sambil tersenyum mengejek, Sin-kiam Mo-li menggerakkan pedangnya menangkis dan membalas dengan serangan kebutannya yang bulu-bulunya mengandung racun jahat. Ciok Kim Bouw mengelak dan melakukan perlawanan mati-matian. Dia bahkan dengan nekatnya melancarkan gerakan-gerakan untuk mengadu nyawa.

Akan tetapi, lengannya kini terasa semakin nyeri dan ngilu sehingga jari-jari tangannya kurang kuat mencengkeram gagang goloknya. Terpaksa ia memindahkan gagang golok itu ke tangan kiri dan kini melakukan perlawanan mati-matian dengan golok di tangan kiri.

Dia memang sudah melatih diri menggunakan golok dengan tangan kiri karena dia pun ahli bermain sepasang golok. Akan tetapi bagaimana pun juga, tentu saja gerakannya tidaklah selincah kalau menggunakan golok itu di tangan kanannya. Maka, tentu saja dia semakin terdesak.

Belum juga lewat dua puluh jurus, sebuah tendangan kaki kiri Sin-kiam Mo-li mengenai pahanya. Ia pun terpelanting, dan untuk mencegah lawan menyusulkan serangan, ketua Cin-sa-pang itu terus bergulingan di atas tanah sambil melindungi tubuh dengan putaran goloknya.

Sambil tertawa-tawa mengejek Sin-kiam Mo-li melakukan pengejaran sambil melecut-lecutkan cambuknya, mengikuti ke mana tubuh lawan itu bergulingan. Sama sekali dia tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk melompat bangun kembali.

Dikejar seperti itu, Ciok Kim Bouw menjadi sibuk sekali. Bukan saja ia harus meiindungi tubuhnya, akan tetapi juga keadaannya berbahaya sekali karena kalau dia meloncat bangun, tentu dia akan terkena serangan pedang atau kebutan yang amat berbahaya itu. Kebutan yang dapat dipergunakan sebagai cambuk, juga menotok atau menusuk bagaikan pedang karena dengan kekuatan sinkang bulu-bulu kebutan itu dapat menjadi kaku seperti baja, sungguh amat berbahaya. Apa lagi tiap lembar bulunya mengandung racun berbahaya!

“Ha-ha-ha, Pangcu dari Cin-sa-pang, sekarang engkau seperti seekor tikus yang lari ke sana-sini dikejar kucing! Sian-li kenapa kau harus main-main dengan dia? Bunuh saja dengan cepat dan kita kembali ke sana!” Laki-laki yang sudah tidak sabar karena ingin segera berduaan dengan kekasihnya itu mendesak.

Mendengar ini, Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara mengejek dan ia pun menggerakkan pedangnya untuk melakukan serangan kilat yang amat hebat pada tubuh yang sedang bergulingan itu. Sukar agaknya bagi Ciok Kim Bouw untuk mampu menyelamatkan diri dari serangan itu.

Akan tetapi mendadak Sin-kiam Mo-li mengeluarkan jeritan halus, lalu cepat menarik pedangnya kembali. Cepat dia membalik ke kanan dan dia melihat seorang pemuda sudah berdiri tak jauh dari situ. Tahulah ia bahwa yang menyambitkan kerikil kecil dan mengenai pundak kanannya sehingga lengan kanannya menjadi kesemutan itu adalah pemuda ini! Dan ia pun terkejut ketika mengenal pemuda itu.

Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek merasa sangat heran melihat kekasihnya tidak jadi menyerang, dan ia pun ikut memandang. Dilihatnya seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba putih berdiri di bawah pohon, tak jauh dari situ. Juga Ciok Kim Bouw yang baru saja terlepas dari bahaya maut, sudah bergulingan menjauh kemudian melompat berdiri, ikut pula memandang.

Pemuda itu berpakaian serba putih, sederhana sekali. Sinar matanya lembut dan pada mulutnya terhias senyum ramah, sama sekali tidak menunjukkan kelebihan dan nampak seperti seorang pemuda petani biasa saja. Namun, Sin-kiam Mo-li kelihatan amat kaget dan kemudian marah ketika ia melangkah maju.

“Bocah setan, kiranya engkau? Bukankah kau... kau ini... yang dari gurun pasir itu?” tanyanya ragu.

Walau pun ia masih teringat benar akan wajah yang sudah pernah dibelai, dirangkul dan diciuminya itu, ia masih belum mau percaya. Pemuda yang pernah dirayunya sampai ia hampir gila karena dirangsang birahi dan pemuda itu selalu dingin saja dan tidak pernah tergairah, adalah seorang pemuda yang lemah dan sama sekali tidak mengenal ilmu silat. Waktunya baru berjalan setahun lebih sedikit, bagaimana mungkin kini pemuda itu mampu menyambitkan kerikil yang membuat lengannya hampir lumpuh?

Pemuda itu memang Tan Sin Hong! Seperti telah kita ketahui, Sin Hong meninggalkan kota Ban-goan untuk pergi ke kota raja. Ia hendak mencari hartawan she Lay, pengirim barang-barang berharga yang mengakibatkan hancurnya keluarga ayah ibunya. Ingin dia menemukan hartawan itu, untuk menyelidiki kematian ayahnya yang penuh rahasia, karena siapa tahu hartawan itu menyimpan rahasia dan dari dia maka rahasia kematian ayahnya akan dapat dibongkarnya.

Dan pada hari itu, dia tiba di kaki bukit di mana terdapat sarang Tiat-liong-pang, tanpa disengaja, melihat Ciok Kim Bouw yang terancam maut di tangan seorang wanita yang membuat darahnya berdenyut kencang dan jantungnya berdebar. Dia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li, seorang di antara datuk sesat yang telah menyerbu Istana Gurun Pasir yang mengakibatkan kematian tiga orang gurunya.

Sin-kiam Mo-li yang pernah menggelutinya dan berusaha memperkosanya, kini tiba-tiba saja berada di kaki bukit itu, sedang berusaha keras membunuh seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang dengan susah payah membela diri. Walau pun dia tidak mengenal siapa pria bermuka hitam itu dan apa urusannya berkelahi dengan Sin-kiam Mo-li, tanpa ragu-ragu lagi Sin Hong menyelamatkan pria itu dari ancaman maut dengan menyambitkan sebuah kerikil kecil yang mengenai pundak kanan wanita iblis itu.

Sekarang dia menghadapi Sin-kiam Mo-li dengan senyum, dan diam-diam dia bersyukur melihat kenyataan bahwa pertemuan dengan wanita iblis yang sudah menyebabkan kematian ketiga orang gurunya itu sama sekali tidak membangkitkan kemarahan atau kebencian dalam hatinya. Ini merupakan suatu kemajuan dalam dirinya, pikir Sin Hong. Dia lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sin-kiam Mo-li tadi, membuyarkan keraguan wanita iblis itu.

“Benar, Sin-kiam Mo-li, aku adalah pemuda gurun pasir itu, dan engkau ternyata masih saja mengumbar kejahatan dan menyebarkan perbuatan kejam di mana pun engkau berada. Kini engkau bahkan hendak membunuh orang yang sudah jelas-jelas tidak lagi mampu melawanmu,” Sin Hong menoleh ke arah Ciok Kim Bouw yang berdiri agak jauh sambil memijit-mijit lengan kanannya, sedangkan golok tadi sudah disarungkan kembali.

Ciok Kim Bouw maklum bahwa baru saja dia terbebas dari maut karena kemunculan pemuda berpakaian putih itu. Entah dengan cara bagaimana pemuda itu bisa membuat Sin-kiam Mo-li menghentikan serangannya yang membuat dia kewalahan tadi. Kini dia memandang penuh perhatian, siap untuk membantu pemuda itu. Bagaimana pun juga, kini muncul seorang yang agaknya dapat diharapkan akan membantunya menghadapi musuh-musuhnya yang terlalu lihai baginya itu.

Akan tetapi, terdapat keraguan pula di dalam hati ketua Cin-sa-pang ini. Pemuda yang berpakaian serba putih itu kelihatan demikian lemah lembut, dan sejak tadi pun belum mengeluarkan tanda bahwa dia pandai ilmu silat. Hanya sikapnya saja yang demikian tenang, bahkan menghadapi Sin-kiam Mo-li yang sudah dikenalnya, nampak demikian tenang dan berani pula mencela.

“Awass...!” Tiba-tiba Ciok Kim Bouw berteriak memperingatkan Sin Hong karena ketika pemuda itu sedang menoleh kepadanya, pada saat itu dia melihat Sin-kiam Mo-li telah menggerakkan pedangnya menusuk ke arah lambung pemuda berpakaian putih itu!

Akan tetapi, biar pun dia sedang menoleh ke arah Ciok Kim Bouw, tentu saja Sin Hong sudah tahu akan serangan gelap itu. Pada waktu itu, tingkat ilmu kepandaiannya telah mencapai titik yang tinggi sekali berkat penggabungan tenaga sinkang yang diterimanya dari tiga orang gurunya dan berkat gemblengan ilmu-ilmu yang sudah mendarah daging di tubuhnya.

Dia tahu akan tusukan yang datang menuju lambungnya dan tanpa menoleh, ketika tusukan tiba, tubuhnya sudah bergeser dan mengelak tanpa banyak kesulitan sehingga tusukan pedang Sin-kiam Mo-li mengenai tempat kosong!

Sin-kiam Mo-li yang merasa penasaran dan bangkit kebenciannya kepada pemuda yang membuatnya tergila-gila namun yang berani menolak cintanya itu, sudah melanjutkan serangannya secara bertubi-tubi dengan kebutan dan pedangnya. Demikian cepat dan bersambungan datangnya serangan-serangan ini.

Akan tetapi semua itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Sin Hong, hanya dengan menggerakkan kedua tangannya ke depan seperti menolak. Setiap kali telapak tangannya mendorong, ada kekuatan dahsyat yang meniup pergi bulu-bulu kebutan, bahkan telapak tangan itu berani menampar pedang itu sehingga tertangkis.

Ciok Kim Bouw yang tadinya sudah siap untuk membantu dengan goloknya yang akan dimainkan dengan tangan kiri, tidak jadi bergerak dan kini dia berdiri melongo. Jika tadi ada seorang pemuda yang halus dan lembut gerak-geriknya menghadapinya dengan tangan kosong dan dia dikalahkan, kini ada lagi seorang pemuda lain yang juga dengan tangan kosong bahkan berani melawan kebutan dan pedang di tangan Sin-kiam Mo-li! Jika tidak melihat sendiri, tentu dia tidak akan percaya bahwa ada orang, apa lagi masih begitu muda, berani menghadapi Sin-kiam Mo-li hanya dengan kedua tangan kosong saja.

Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek juga merasa heran dan amat kagum melihat betapa pemuda berpakaian serba putih itu berani melawan Sin-kiam Mo-li dengan tangan kosong. Akan tetapi dia percaya sepenuhnya bahwa kekasihnya tentu akan menang dan dalam waktu singkat merobohkan pemuda itu. Dia pun tidak akan membunuh Ciok Kim Bouw, khawatir kalau kekasihnya merasa tersinggung dan marah. Biarlah Sin-kiam Mo-li yang melaksanakannya sendiri.

Tetapi, betapa kagetnya Kiam-ong ketika tiba-tiba Sin-kiam Mo-li mengeluarkan jeritan tertahan dan sebagian dari bulu kebutan itu rontok berhamburan ketika bertemu dengan jari-jari tangan Sin Hong yang mencengkeram! Melihat Sin-kiam Mo-li terhuyung ke belakang, tentu saja Giam San Ek cepat melompat maju dan lantas menyerang dengan pedangnya.

“Tranggg...!”

Pedang itu ditangkis oleh golok Ciok Kim Bouw. Si muka hitam ini menjadi gembira sekali dan timbul semangatnya melihat betapa pemuda berpakaian putih itu benar-benar mampu menahan Sin-kiam Mo-li, bahkan dalam belasan jurus saja sudah merontokkan bulu kebutannya. Maka, melihat majunya Toat-beng Kiam-ong, dia pun maju membantu Sin Hong.

“Mundurlah!” Sin Hong membentak sambil mendorongkan kedua tangan bergantian ke arah Giam San Ek.

Si Raja Pedang ini loncat meninggalkan Ciok Kim Bouw untuk menghadapi Sin Hong, namun dia bertemu dengan tenaga dorongan amat kuat, yang merupakan tenaga tidak nampak, seperti angin yang menahannya dan membuatnya terhuyung. Tentu saja dia terkejut bukan main dan pada saat itu Sin-kiam Mo-li berseru keras.

“Kiam-ong, mari kita pergi!” Wanita itu pun sudah meloncat dan melarikan diri!

Melihat ini, tentu saja Kiam-ong terkejut dan tanpa bertanya lagi dia pun membalik dan mengambil langkah seribu menyusul temannya. Melihat ini, Ciok Kim Bouw menjadi semakin kagum kepada Sin Hong. Dia cepat menghadapi pemuda itu dan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil membungkuk memberl hormat.

“Pendekar muda gagah perkasa sudah menyelamatkan nyawaku yang tidak berharga. Aku adalah Ciok Kim Bouw, ketua dari Cin-sa-pang. Tidak tahu siapakah nama Taihiap (Pendekar Besar) yang mulia?”

Sambil memandang wajah laki-laki tinggi besar itu. Sin Hong berkata, “Maaf, Pangcu. Pertemuan antara kita hanya kebetulan saja dan saya tidak ingin dikenal, yang paling penting adalah supaya Paman mengetahui bahwa Paman telah menderita luka pukulan beracun yang amat berbahaya.”

“Ahhh...!” Ciok Kim Bouw berseru kaget, lalu menyingkap lengan bajunya yang kanan, memperlihatkan tanda merah kehitaman sebesar jari di bawah sikunya. “Memang luka ini mendatangkan rasa gatal dan nyeri sekali...“

“Hemmm, itulah tanda bekas totokan jari beracun yang sangat keji, Pangcu,” kata Sin Hong. “Biar saya mencoba untuk mengobatinya.”

“Terima kasih, Taihiap, dan silakan,” berkata ketua Cin-sa-pang itu sambil menyodorkan lengan kanannya.

Sin Hong memegang lengan itu, kemudian menggunakan jari tangannya menotok jalan darah di atas siku, lalu mengurut luka itu. Terasa nyeri bukan main oleh Ciok Kim Bouw, namun ketua ini menahan rasa nyeri. Sin Hong kemudian mencengkeram bagian yang berwarna merah kehitaman, menggunakan hawa sakti di tubuhnya melalui tapak tangan untuk ‘membakar’ hawa beracun itu. Rasa nyeri dan panas membuat wajah ketua itu berpeluh, akan tetapi rasa panas itu semakin lama makin berkurang dan rasa nyeri pun lenyap. Setelah Sin Hong melepaskan tangannya, warna merah itu sudah lenyap dan rasa nyerinya pun lenyap.

“Sudah baik kembali, Pangcu, dan saya harus melanjutkan perjalanan saya,” berkata demikian, Sin Hong lalu meloncat dengan cepat.

Ciok Kim Bouw hendak memanggil, namun diurungkan niatnya karena pemuda itu telah berkelebat cepat dan sudah jauh sekali. Dia hanya berdiri mengikuti bayangan itu yang makin mengecil akhirnya lenyap, berulang kali menarik napas panjang, kemudian dia pun melarikan diri dari tempat berbahaya itu.

Sehari bertemu dengan dua orang muda yang demikian lihainya cukup bagi ketua ini membuka matanya bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh dari pada cukup untuk dipakai malang melintang di dunia kang-ouw. Dia merasa rendah diri dan semenjak itu, dia lebih sering tinggal di pusat perkumpulan Cin-sa-pang untuk giat melatih diri, serta memperdalam ilmu silatnya.

*********

Sementara itu, di ruangan paling dalam yang terletak di belakang gedung perkumpulan Tiat-liong-pang, Siangkoan Lohan menjamu beberapa orang tamunya. Para tamu lain telah pulang dan sekarang hanya mereka yang menjadi sekutunya sajalah yang duduk semeja dengannya. Mereka adalah Sin-kiam Mo-li, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Agakai kepala suku Mongol, Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-pai dan Thian Kek Sengjin tokoh besar Pek-lian-pai.

Masih ada beberapa orang lagi, di antaranya terdapat tiga orang berpakaian perwira yang agaknya baru datang karena mereka ini tidak nampak dalam pesta perayaan ulang tahun siang tadi. Ada pula terdapat seorang laki-laki, yang tentu akan membuat Sin Hong terheran heran kalau dia melihatnya. Laki-laki ini bertubuh tinggi kurus, bermuka pucat dan bermata tajam sekali.

Kini mereka tengah bercakap-cakap dengan sikap yang serius, dipimpin oleh Siangkoan Lohan. Pada ketika itu, Siangkoan Lohan sedang menyatakan penyesalannya kepada Sin-kiam Mo-li.

“Sungguh sayang sekali engkau tidak dapat menemukan ketua Cin-sa-pang itu, Mo-li. Padahal semua orang yang lain telah dapat dibasmi. Akan tetapi sudahlah, kukira dia tidak akan banyak bercerita. Aku mengundang kalian hadir dalam pesta ulang tahun sebagai sesama kaum persilatan, tidak ada bukti apa-apa tentang gerakan kita.”

Sin-kiam Mo-li memang hanya menceritakan bahwa ia dan Toat-beng Kiam-ong tidak berhasil mengejar Ciok Kim Bouw. Ia merasa malu kalau harus menceritakan bahwa ia dan Raja Pedang itu lari ketakutan karena bertemu dengan seorang pemuda dari Istana Gurun Pasir.

Hanya kepada Toat-beng Kiam-ong dia terpaksa menceritakan siapa adanya pemuda berpakaian putih yang amat lihai itu. Pada saat mereka melarikan diri meninggalkan Sin Hong, Raja Pedang itu bertanya siapa adanya pemuda yang memiliki kepandaian hebat itu. Terpaksa Sin-kiam Mo-li kemudian menceritakan bahwa ia pernah bertemu dengan pemuda itu saat ia dan kawan-kawannya melakukan penyerbuan ke Istana Gurun Pasir sehingga akhirnya berhasil membunuh tiga orang tua sakti di istana itu, dan kemudian membakar istana kuno itu. Akan tetapi ketika itu, si pemuda masih merupakan pemuda lemah. Ia pun tidak tahu bagaimana pemuda itu muncul sebagai seorang yang demikian lihainya.

“Lain kali harap Siangkoan Pangcu lebih berhati-hati,” salah seorang di antara ketiga orang berpakaian perwira tinggi itu berkata. “Jangan sampai menimbulkan kecurigaan, terutama sekali kepada pemerintah sehingga kita akan terbentur dan mengalami banyak rintangan. Nah, sekarang harap Pangcu ceritakan dengan jelas segala hasil usaha yang telah dilakukan dan rencana selanjutnya.” Perwira ini nampaknya berwibawa dengan kumisnya yang tebal dan sikapnya yang agaknya sudah biasa memerintah dan ditaati.

“Harap Song-ciangkun jangan khawatir. Kami sengaja sudah mengundang tokoh-tokoh kang-ouw yang kenamaan dan memiliki kepandaian untuk bisa menarik mereka sebagai pembantu dan buktinya, sebagian besar dari mereka boleh diharapkan akan membantu kita. Ada pun mereka yang berani menentang telah kami singkirkan. Lolosnya seorang di antara mereka, yaitu ketua Cin-sa-pang itu tidak ada artinya. Hasil besar usaha kami terutama sekali pembasmian Istana Gurun Pasir dan penghuninya, walau pun untuk hasil itu kami kehilangan banyak sekali kawan dan untuk itu, biarlah diceritakan sendiri oleh ia yang telah berjasa, Sin-kiam Mo-li. Mo-li, ceritakanlah pengalamanmu di Gurun Pasir dua tahun yang lalu itu.”

Sin-kiam Mo-li tadi sudah diperkenalkan kepada tiga perwira itu dan ia maklum bahwa Song-ciangkun itu adalah utusan panglima perang Kerajaan Ceng yang berkuasa di perbatasan utara dan yang telah bersekutu dengan Siangkoan Lohan. Dua orang perwira lain adalah pembantu-pembantunya.

Memang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Siangkoan Lohan untuk memberontak itu sudah direncanakan sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Penyerbuannya ke gurun pasir merupakan satu di antara usaha persekutuan itu untuk memperlicin jalan.

Istana Gurun Pasir dan para penghuninya dianggap sebagai suatu bahaya besar, sebab mereka semua maklum belaka bahwa keluarga Istana Gurun Pasir, seperti juga halnya keluarga Pulau Es, selalu menentang pemberontakan walau pun mereka bukan orang-orang yang menghambakan diri kepada pemerintah Mancu. Oleh karena itu, juga akibat terdorong oleh perasaan benci karena permusuhan semenjak dulu, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai melakukan penyerbuan ke Istana Gurun Pasir.

“Penyerbuan kami yang berhasil baik namun mengorbankan banyak kawan itu terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu. Kami kehilangan empat belas orang kawan, akan tetapi berhasil membunuh tiga orang penghuni istana yang amat lihai, juga kami telah membakar habis istana itu.”

Sin-kiam Mo-li kemudian menceritakan peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu itu, didengarkan dengan penuh perhatian oleh ketiga orang perwira tinggi itu, dan mereka mengangguk-angguk kagum dan juga senang. Lenyapnya Istana Gurun Pasir dan para penghuninya bagi mereka merupakan lenyapnya satu di antara bahaya yang mungkin akan menyusahkan mereka dan menghalangi rencana mereka.

Setelah Sin-kiam Mo-li selesai bercerita, Song-ciangkun lalu berkata kepada Siangkoan Lohan. “Bagus sekali dan jasa itu cukup besar, akan kami catat. Sekarang, bagaimana dengan usaha menghimpun kekuatan dari luar tembok? Sampai di mana hasilnya?”

“Hal itu ditangani sendiri oleh saudara Agakai yang juga hadir di sini dan yang akan dapat menceritakan dengan jelas,” jawab Siangkoan Lohan sambil memandang kepada kepala suku Mongol itu.

Kepala suku Mongol yang mengaku putera mendiang Tailucin dan keturunan Jenghis Khan itu, yang usianya sudah lima puluh tiga tahun, mengangkat dadanya yang bidang dan dengan sikap yang agung karena yakin akan kemampuan dirinya, dia kemudian menceritakan hasil usahanya yang telah dicapai. Dia menceritakan bahwa dia sudah mendapat banyak kemajuan dalam membangkitkan kembali kekuasaan dan kebesaran Mongol, untuk membangun kembali Kerajaan Mongol yang pernah menguasai seluruh daratan Cina dan negeri-negeri di sekitarnya.

“Jangan khawatir,” dia menutup ceritanya. “Biar pun suku terbesar belum dapat saya bujuk, tetapi kelompok-kelompok suku yang kecil-kecil, terutama mereka yang terdesak dan keadaan hidupnya kekurangan, telah menyatakan persetujuan mereka dan apa bila saatnya tiba, kami dapat mengerahkan tidak kurang dari seratus ribu orang.”

Song-ciangkun dan dua orang kawannya kelihatan gembira sekali mendengar laporan Agakai itu. Bagus, pikir Song-ciangkun yang sudah tahu akan siasat yang dipergunakan oleh atasannya, yaitu Panglima Coa yang berkuasa sebagai komandan pasukan yang bertugas jaga di perbatasan utara.

Panglima Coa memang berniat untuk melaksanakan pemberontakan setelah berhasil dibujuk dan dihasut oleh Siangkoan Lohan. Dan dia berpendapat bahwa tanpa bantuan dari pasukan lain yang besar dan kuat, akan sukarlah diharapkan untuk dapat berhasil menggempur pasukan pemerintah. Tetapi, kalau suku bangsa Mongol mau membantu, mengingat akan kemampuan tempur mereka, tentu akan lain jadinya.

Pula, pasukan yang dipimpin Panglima Coa dapat terus minta tambahan pasukan untuk memperkuat posisinya, dengan dalih bahwa bangsa-bangsa liar dari luar tembok terus mengadakan gangguan serta pemberontakan. Dan pihak pasukan pemberontak yang dipimpin Panglima Coa akan membiarkan Agakai bermimpi bahwa gerakan itu adalah demi kepentingan pembangkitan kembali kekuatan serta kekuasaan Mongol! Dengan demikian, kedua pihak diam-diam hanya akan saling mempergunakan demi keuntungan sendiri!

Dan Siangkoan Lohan tahu akan hal ini. Maka diam-diam dia pun ingin mempergunakan kesempatan itu untuk keuntungan diri sendiri atau lebih tepat, keuntungan dan masa depan puteranya! Kalau gerakan itu berhasil, kalau saja mereka berhasil menggulingkan pemerintah Mancu, Panglima Coa sudah setuju untuk mengangkat Siankoang Liong menjadi kaisar kerajaan baru yang mereka bangun, dan Coa-ciangkun tentu saja akan menjadi orang ke dua setelah kaisar!

“Dan bagaimana dengan pusat kedudukan di perbatasan untuk penyebaran mata-mata dan utusan melewati Tembok Besar seperti yang Pangcu pernah ceritakan kepada Coa Tai-ciangkun?” Tanya pula Song-ciangkun.

Siangkoan Lohan tersenyum gembira. “Itu sudah beres, Ciangkun! Rencana yang kita jalankan delapan tahun yang lalu kini telah matang. Piauwkiok di Ban-goan itu telah kita kuasai sepenuhnya sehingga dengan menyamar sebagai para piauwsu, maka utusan-utusan dan mata-mata kita bisa dengan mudah hilir mudik menyeberangi Tembok Besar tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali. Dan untuk pengurusan dalam keperluan itu, telah kami serahkan kepada murid-murid kami sendiri yang boleh dipercaya.”

Persekutuan ini lalu berunding sambil makan minum, dan agaknya tiga orang perwira utusan Coa-ciangkun itu merasa gembira sekali dengan hasil pertemuan malam itu. Apa lagi ketika pertemuan itu selesai. Mereka diantarkan ke dalam kamar masing-masing, sebuah kamar yang indah mewah dan bersih. Dan yang lebih hebat lagi, masing-masing disambut senyum manis dan gaya memikat dari seorang wanita muda yang siap sedia melakukan apa saja untuk menyenangkan hati para tamu agung itu.

Siangkoan Lohan memang pandai mengambil hati orang. Untuk itu dia tak segan-segan memerintahkan selir-selirnya untuk menghibur tamu agung!

Ambisi merupakan ladang subur pertumbuhan si aku. Kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki, tidak pernah merasa senang dengan keadaan kita sendiri. Kita selalu memandang keadaan orang-orang lain, kemudian membanding-bandingkan.

Keadaan orang yang lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, lebih pintar, lebih terhormat dan sebagainya membuat kita selalu merasa diri sendiri rendah, kurang dan serba tidak memuaskan! Dari sinilah timbul ambisi! Ingin yang lebih dari pada keadaan sekarang!

Dan mulailah kita melakukan pengejaran terhadap bayangan indah berupa cita-cita atau ambisi itu. Bagaikan bayangan, yang kita kejar itu tidak pernah berhenti, makin didapat, semakin kurang dan semakin haus. Sekali tidak mampu menikmati keadaan sekarang, sampai kapan pun tak akan pernah mampu menikmati keadaan diri sendiri karena mata selalu memandang keadaan orang lain yang serba lebih, dan mata selalu memandang untuk mengejar yang di depan.

Cita-cita atau ambisi ini makin dikejar makin membesar dan semakin menjauh sehingga tidak akan habisnya kita mengejar, sampai mati! Kita dibius oleh kata-kata yang indah seperti cita-cita, kemajuan, dan sebagainya lagi.

Lalu apakah kita kemudian menjadi layu, melempem, tak bergairah dan tak melangkah, statis dan acuh, mati kutu? Bukanlah demikian bagi orang yang bijaksana dan waspada akan keadaan diri pribadi setiap saat.

Kewaspadaan ini akan menuntun ke arah perbuatan dan langkah yang benar. Hati yang tak dibebani keinginan-keinginan, iri hati, membanding-bandingkan. Hati yang demikian itu bersih dan mampu menampung datangnya sinar bahagia, dapat menikmati keadaan yang bagaimana pun juga. Batin yang kosong dari segala macam nafsu sajalah yang mengenal apa artinya cinta kasih dan hidup penuh sinar cinta kasih adalah bahagia.

Ambisi atau pengejaran keinginan selalu mengakibatkan perbuatan yang menyeleweng! Segala cara dilakukan orang untuk mencapai tujuan. Tujuan menghalalkan segala cara karena tujuanlah yang terpenting bagi orang yang ambisius. Namun sebaliknya, caralah yang paling penting bagi orang yang waspada, karena cara inilah kehidupan sehari-hari, langkah-langkah hidup, sedangkan tujuan hanyalah bayangan, khayalan yang sedang dikejar-kejar.

Pengejaran akan sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kebahagiaan membuat kita buta. Dalam mengejar itu kita tidak peduli lagi apakah kita melangkahi orang atau menendang orang yang kita anggap menghalangi di depan. Pengejaran kesenangan ini sesungguhnya yang menciptakan segala macam tindakan kemaksiatan!

Hal ini jelas nampak di sekeliling kita kalau saja kita mau membuka mata. Pengejaran kesenangan melalui uang menimbulkan perampokan, pencopetan, pencurian, penipuan, korupsi, penyuapan, penyelundupan dan sebagainya lagi. Banyak cara yang dihalalkan untuk mencapai tujuan, yaitu memperoleh uang secara mudah dan banyak, termasuk di antaranya perjudian. Pengejaran kesenangan sex menimbulkan perkosaan, perjinahan dan pelacuran. Pengejaran kesenangan melalui kedudukan mengakibatkan perebutan kekuasaan, pertentangan pemberontakan, dan perang!

Apakah kalau begitu kita tidak boleh menikmati kesenangan? Sebaliknya malah! Orang yang bebas akan pengejaran kesenangan akan menikmati setiap keadaan, sedangkan pengejaran kesenangan melenyapkan kenikmatan dari keadaan yang sudah ada! Tanpa keinginan memperoleh minuman lain, segelas air putih akan terasa nikmat, sedangkan hati yang dipenuhi keinginan minum bir, diberi limun sekali pun takkan dapat menikmati limun itu!

Ada yang berkata bahwa orang takkan menjadi kaya raya tanpa pengejaran! Benarkah ini? Boleh kita lihat buktinya di sekeliling kita! Kita semua ini adalah pengejar-pengejar uang sejak kecil, siapa di antara kita yang kaya raya? Semua masih merasa kurang dan tak seorang pun merasa dirinya kaya raya! Namun, lihatlah dia yang makan demikian lahap dan nikmatnya walau pun hanya dengan sayur asam dan sambal, lihatlah dia tidur demikian nyenyaknya walau di atas tikar, dia yang mampu tertawa lahir batin, dia yang menikmati keadaannya. Dia itulah orang kaya raya!


Cita-cita atau ambisi yang dimiliki Siangkoan Lohan adalah melihat putera tunggalnya, Siangkoan Liong, menjadi pengganti kaisar! Cita-cita yang tak kepalang besarnya, yang muncul dalam benaknya bukan tanpa sebab. Sebab itu terjadi kurang lebih sebelas atau dua belas tahun yang lalu. Ketika itu, Siangkoan Liong baru berusia delapan tahun lebih.

Anak ini memang berbakat sekali dan suka akan ilmu silat sehingga Siangkoan Lohan dengan penuh semangat menggembleng puteranya itu. Pada waktu itu, sedikit pun dia tak memiliki keinginan untuk memberontak. Dia adalah seorang yang dianggap keluarga oleh istana, bahkan isterinya yang telah meninggal, yaitu ibu kandung Siangkoan Liong, adalah seorang puteri dari istana yang dihadiahkan oleh kaisar kepadanya.

Siangkoan Lohan yang bernama Siangkoan Tek itu selalu merasa berterima kasih dan setia kepada Kerajaan Ceng. Di dalam hatinya, sedikit pun dia tidak pernah mempunyai hati untuk memberontak.

Pada suatu hari, selagi Siangkoan Lohan melatih ilmu silat kepada puteranya di kebun belakang yang sunyi, tiba-tiba saja terdengar seruan halus memuji, “Ilmu silat bagus...!”

Siangkoan Lohan cepat-cepat menghentikan gerakannya saat memberi contoh kepada puteranya, dan menengok. Kiranya yang mengeluarkan seruan pujian itu ialah seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh tahun yang berdiri tegak di atas pagar tembok kebun itu. Diam-diam Siangkoan Lohan terkejut. Ada orang meloncat ke dalam pagar tembok demikian dekat dan dia sama sekali tidak tahu atau mendengarnya!

Tetapi laki-laki itu agaknya tidak mempedulikan padanya karena sedang memandang ke arah Siangkoan Liong dan kembali dia memuji.

“Anak yang memiliki bakat yang amat baik untuk menjadi kaisar sekali pun!”

Tentu saja ucapan ini membuat Siangkoan Lohan menjadi terkejut bukan main, apa lagi mendengar betapa kata-kata yang keluar dari mulut orang itu logatnya asing walau pun halus dan teratur rapi. Dia memandang penuh perhatian.

Seorang laki-laki yang tinggi kurus dan mengenakan pakaian bersih yang sangat rapi bagai pakaian seorang pelajar, seorang siucai. Rambutnya tersisir rapi dan segala yang nampak pada dirinya, meski pun tidak mewah namun bersih dan rapi. Siangkoan Lohan yang dapat menduga bahwa tentu orang ini bukan orang biasa, cepat memberi hormat dari bawah tembok.

“Sahabat yang baik terlalu memuji ilmu silat kami yang tak ada artinya dan memuji pula puteraku yang bodoh. Silakan turun dan menikmati secawan arak denganku.”

Orang itu tersenyum mengangguk, “Tidak salah pendengaranku. Ketua Tiat-liong-pang memang seorang laki-laki gagah perkasa dan peramah, dapat menghargai orang lain. Sayang kurang semangat!” Setelah berkata demikian, dia meloncat turun.

Cara dia meloncat turun ini yang mengejutkan hati Siangkoan Lohan karena tubuh itu sama sekali tidak membuat gerakan keseimbangan, melainkan meluncur begitu saja seperti balok jatuh. Akan tetapi ketika tiba di atas tanah, sama sekali tak mengeluarkan suara dan kedudukan kaki dan anggota tubuh lain masih seperti tadi.

Juga ia teringat betapa para anggota Tiat-liong-pang selalu melakukan penjagaan ketat diluar pagar tembok. Bagaimana orang ini bisa enak-enak begitu saja memasuki taman tanpa ada muridnya yang mengetahuinya?

“Harap maafkan jika kami belum mengenal nama besar sahabat yang baru datang dan sebaliknya engkau sudah mengenalku. Siapakah engkau, Sobat, dan dari mana engkau datang, ada keperluan apa pula datang berkunjung secara ini?”

Sikap orang itu terlalu halus sehingga Siangkoan Lohan juga tidak mempunyai alasan untuk marah. Apa lagi orang itu tadi memuji-muji puteranya, memuji ilmu silatnya, dan memuji dirinya sebagai ketua Tiat-liong-pang.

Kembali orang itu tersenyum, bahkan senyumnya saja senyum yang amat sopan!

“Semua orang menyebutku Ouwyang Sianseng (Tuan Ouwyang). Aku harus bercerita panjang lebar untuk dapat memberi tahu dari mana aku datang, dan sebetulnya aku tak mempunyai keperluan khusus, hanya kebetulan lewat dan karena mendengar kalian berlatih silat, aku lalu ingin menonton. Puteramu ini sungguh hebat. Jika dididik dengan benar, kelak akan menjadi orang besar, bahkan patut menjadi kaisar!”

Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya. Orang ini agak keterlaluan bicaranya, pikirnya. Bagaimana mungkin puteranya menjadi kaisar? Dan dia seorang yang setia terhadap kerajaan!

“Ouwyang Sianseng, harap jangan berlebihan memuji puteraku. Aku hanyalah seorang ketua perkumpulan, bagaimana mungkin puteraku menjadi kaisar?”

Ouwyang Sianseng tersenyum. “Semenjak kecil aku mempelajari kesusastraan dan ilmu perbintangan. Aku melihat bahwa puteramu ini memang pantas untuk menjadi kaisar, Pangcu. Bukankah dia memiliki darah bangsawan istana pula? Tidak percuma orang menjuluki aku Nam-san Sianjin (Manusia Dewa Gunung Selatan) kalau aku tidak dapat melihat arti garis-garis pada wajah anak ini,” katanya tanpa bernada menyombongkan diri, bahkan pandangan matanya terhadap Siangkoan Liong jelas membayangkan rasa kagum, “Namun tentu saja ia harus dididik sebaiknya, dan pendidikanmu hanya menjadi pendidikan dasar saja, Pangcu. Jika nanti aku yang melanjutkan pendidikannya, barulah kemungkinan dia menjadi kaisar semakin besar.”

Mendengar ucapan terakhir ini, tentu saja Siangkoan Lohan mengerutkan alis. Hatinya merasa tidak senang. Alangkah sombongnya orang ini, pikirnya, berani mengeluarkan ucapan yang sangat meremehkannya, seolah-olah kepandaiannya masih amat rendah tingkatnya dibandingkan tingkat kepandaian orang itu!

“Nanti dulu, Sobat!” katanya sambil tertawa, akan tetapi ketawanya agak masam karena biar pun orang ini datang memuji puteranya dan bermaksud untuk mendidik puteranya agar menjadi kaisar, namun nada suara orang ini amat memandang rendah. “Tidak ada orang lain boleh mendidik puteraku kecuali kalau orang itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dariku. Kelak dia menjadi orang besar atau tidak, hal itu terserah kepada nasibnya, akan tetapi untuk pendidikannya, ada aku di sini yang mendidiknya, bukan orang lain. Tentu saja boleh dia berguru kepadamu kalau memang ada buktinya bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi dari pada aku.”

Kembali kakek yang halus tutur sapanya itu tersenyum. “Siangkoan Pangcu, namamu sebagai ketua Tiat-liong-pang sudah terkenal di empat penjuru, dan semua orang tahu bahwa engkau memiliki ilmu silat yang hebat, tendangan maut dan tenaga luar dalam yang sukar dicari tandingannya! Akan tetapi untuk dapat mendidik murid seperti aku, engkau masih harus belajar lebih banyak. Tentu saja kepandaianku lebih tinggi darimu, Pangcu. Aku hanya bicara seadanya saja, bukan bermaksud menyombongkan diri.”

Memang demikian, ketua Tiat-liong-pang itu pun kini melihat betapa orang di depannya itu tidak menyombong, bicara dengan suara seakan-akan menerangkan sesuatu yang sudah pasti. Karena sikap orang itu tidak sombong dan tidak mengandung iktikad buruk terhadapnya, maka dia tidak marah, hanya merasa penasaran sekali.

Sementara itu, Siangkoan Liong yang semenjak tadi mendengarkan percakapan antara kedua orang tua itu, kini dia pun merasa penasaran.

“Ayah, buktikan bahwa Ayah tidak kalah olehnya, agar dia cepat-cepat pergi dan tidak mengganggu kita lagi.”

Orang yang mengaku bernama Ouwyang Sianseng atau berjuluk Nam-san Sianjin itu tersenyum gembira memandang Siangkoan Liong.

“Bagus, anak ini sudah memiliki sifat terbuka dan gagah. Majulah, Pangcu, dan mari kita sama membuktikan kebenaran omonganku tadi. Jika engkau tak mampu mengalahkan aku, kelak setelah engkau selesai mengajarkan ilmu-ilmu dasar kepada puteramu, aku akan melanjutkan pendidikannya. Sebaliknya, kalau engkau dapat mengalahkan aku, aku akan minta maaf dan langsung aku pergi dan tidak akan mengganggu kalian lagi.”

Tantangan ini diucapkan dengan suara halus dan sama sekali tidak mengandung nada permusuhan, maka Siangkoan Lohan lalu melangkah maju menghadapi kakek itu.

“Baik. Mari kita memulai perkenalan kita dengan saling menguji kepandaian, Ouwyang Sianseng. Dengan cara bagaimanakah engkau hendak mengadu kepandaian?” Sebagai seorang ketua yang berwibawa dan sadar akan kedudukannya, Siangkoan Lohan tentu saja bersikap mengalah dan mempersilakan calon lawan untuk menentukan cara.

Akan tetapi, kakek berpakaian rapi dan bersikap sopan, itu menjura dengan hormat dan tersenyum. “Senjata yang paling ampuh berada di dalam diri, bukan di luar diri. Hal ini tentu telah kau ketahui pula, Pangcu. Aku sudah mendengar akan kelihaian pukulan dan tendanganmu, dan bahwa dengan kaki tangan dan tenagamu saja, engkau lebih lihai dari pada puluhan orang bersenjata. Kebetulan aku sendiri pun seorang yang paling tidak suka melihat orang mempergunakan senjata dalam perang, membunuhi sesama manusia seperti orang membunuh binatang saja. Nah, bagaimana kalau kita main-main sebentar dengan mengandalkan kaki tangan saja, senjata-senjata pemberian Tuhan sejak kita lahir?”

Hati Siangkoan Lohan tertarik sekali. Tentu saja dia akan merasa beruntung sekali jika ternyata benar bahwa kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya darinya, untuk menjadi guru puteranya. Bagaimana pun juga, dia meragukan akan hal ini.

Dia mengenal tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, dan agaknya hanyalah keturunan para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir saja yang akan mampu menandinginya di antara para pendekar, dan hanya datuk-datuk sesat yang sudah terkenal seperti dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai saja yang setingkat dengan kepandaiannya. Akan tetapi orang ini sama sekali tidak terkenal biar pun mengaku berjuluk Manusia Dewa Gunung Selatan (Nam-san Sianjin)!

“Baiklah Ouwyang Sianseng. Aku mengharapkan petunjuk darimu,” berkata Siangkoan Lohan sambil menggerakkan dua lengannya, saling berputaran dengan jari-jari tangan membentuk cakar naga. Kedua lengan itu menggetar dan terdengar suara berkerotok ketika tenaga yang amat kuat mengalir ke dalam kedua tangan itu.

Melihat ini, Ouwyang Sianseng tersenyum mengangguk-angguk.

“Memang bukan nama kosong, hebat Ilmu Liong-jiauw-kang (Tenaga Cakar Naga) itu. Mulailah, Pangcu, aku siap menyambut seranganmu!”

“Awas pukulan!” tiba-tiba ketua Tiat-liong-pang itu membentak sebagai isyarat bahwa dia mulai menyerang.

Angin menyambar dahsyat ketika lengan kirinya meluncur dari samping dan mengirim cakaran ke arah telinga kanan lawan, sedangkan tangan kanan juga bergerak dalam detik berikutnya menyusul serangan pertama itu dengan cengkeraman ke arah perut.

Dua tangan dengan jari-jari tangan yang membentuk cakar naga ini luar biasa kuatnya. Jangankan bagian tubuh manusia, bahkan batu karang pun akan hancur bila terkena cengkeraman itu! Perlu diketahui bahwa tingkat kepandaian Siangkoan Tek yang sudah terkenal dengan sebutan Siangkoan Pangcu (Ketua Siangkoan) atau Siangkoan Lohan ini sudah amat tinggi.
Kisah si bangau putih bagian 04

Siangkoan Lohan memiliki tenaga yang dahsyat, yaitu tenaga Liong-jiauw-kang (Cakar Naga), sedangkan ilmu silatnya yang dinamakan Tiat-wi Liong-kun (Silat Naga Berekor Besi) amat tangguh pula. Di samping itu, ketua Tiat-liong-pang ini masih memiliki ilmu andalan yang disebut Ban-kin-twi (Tendangan Selaksa Kati). Juga dia adalah seorang ahli ilmu gulat dari bangsa Mongol, maka, kedua tangan yang membentuk cakar naga itu, selain dapat digunakan untuk memukul, menampar dan cengkeraman, juga dapat diubah menjadi jari-jari tangan seorang jago gulat yang tangkapannya membahayakan lawan!

Menghadapi cengkeraman ke arah kepala dan perutnya sekaligus, Ouwyang Sianseng tidak nampak gugup. Kakinya melangkah ke belakang dan dua tangannya, dengan jari tengah dan jari telunjuk tegak, menyambut kedua tangan lawan dengan totokan ke arah telapak tangan!

Melihat ini Siangkoan Lohan terkejut. Kalau orang itu berani menotok telapak tangannya yang penuh dengan tenaga Liong-jiauw-kang, berarti bahwa orang itu tentu mempunyai sinkang yang amat kuat. Dia tidak berani mencoba mengadu tenaganya, karena kalau hal itu terjadi, telapak tangannya menyambut totokan jari tangan lawan, tentu seorang di antara mereka akan dapat terluka parah.

Maka dia pun cepat menarik kembali kedua tangannya dan tiba-tiba saja kedua kakinya melakukan tendangan, mula-mula yang kanan lalu disusul yang kiri, kemudian kanan lagi. Tendangan bertubi-tubi itu selain amat cepat, juga tenaganya bahkan lebih dahsyat dari pada cengkeraman tadi sehingga debu dan tanah mengebul tinggi seolah kedua batang kaki itu menjadi kitiran yang mendatangkan angin besar menerbangkan debu dan daun kering.

Melihat betapa tendangan itu semakin lama semakin kuat, Ouwyang Sianseng yang mengelak ke kanan kiri dan ke belakang itu mengeluarkan suara pujian.

“Ilmu tendangan yang berbahaya!” katanya.

Kini selain mengelak, kedua tangannya yang dimiringkan juga beberapa kali menyambut tendangan dengan tangkisan. Terdengar suara berdebuk-debuk ketika tangan bertemu kaki, dan keduanya terdorong mundur.

Kembali Siangkoan Lohan terkejut. Tangan itu mampu menahan tendangannya! Bukan main, kakek ini benar-benar memiliki sinkang yang amat hebat. Dia pun lalu menyerang dengan desakan, mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Ilmu Silat Tiat-wi Liong-kun. Tubuh ketua ini lalu bergerak cepat bagaikan seekor naga sakti, dengan kedua tangan membentuk cakar dan dua kakinya menyabet-nyabet seperti seekor naga yang sedang mengamuk.

Namun, Ouwyang Sianseng mengimbangi kecepatannya dengan gerakan-gerakan aneh dan lincah sekali. Kadang-kadang kakek ini berloncatan, atau seperti merak terbang, kedua tangannya digerakkan seperti sayap, kedua kakinya itu berloncatan dan sambil meloncat, kakinya itu menendang, atau jari tangannya membentuk kerucut atau paruh burung untuk menotok dari atas. Gerakannya mirip seekor merak dan memang ilmu silat yang dimainkan adalah ilmu silat merak yang aneh dan indah, juga lihai sekali. Memang ilmu silat yang aneh dan tidak pernah dikenal oleh Siangkoan Lohan, dan ilmu silat dari selatan ini disebut Kong-ciak Sin-kun (Ilmu Silat Merak).

Karena sampai puluhan jurus dia tak mampu mendesak lawan, bahkan kadang-kadang gerakannya menjadi kacau oleh keanehan gerakan lawan. Siangkoan Lohan menjadi makin penasaran. Dia menggereng keras dan tiba-tiba cengkeraman tangan kanannya berhasil menangkap pergelangan tangan kiri lawan.

Selagi dia hendak menggunakan ilmu gulat untuk membanting, tiba-tiba saja kakek itu mendekat, memutar tubuhnya dan siku lengan dari tangan yang tertangkap itu sudah menyerang ke arah dada Siangkoan Lohan. Cepat dan hebat serangan ini, sehingga terpaksa pegangannya dilepaskan dan pada saat itu, kedua tangan lawan dengan jari tangannya yang lihai telah menghujankan totokan kearah jalan darah di bagian tubuh depan sebanyak tujuh kali!

Tentu saja dia terkejut dan menjadi repot untuk mengelak dan menangkis, dan terpaksa harus loncat ke belakang karena dia merasa terdesak. Rasa penasaran membuat ketua Tiat-liong-pang ini mengerahkan sinkang, kemudian mengirim serangan dari jarak jauh dengan mendorong kedua tangan dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan.

Melihat ini, Ouwyang Sianseng tersenyum. Ia pun menyambut dengan dorongan kedua telapak tangannya. Segera dua tenaga dahsyat yang tidak nampak bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Siangkoan Lohan terdorong ke belakang sampai terhuyung.

Tahulah Siangkoan Lohan bahwa lawannya itu benar-benar lebih tangguh darinya. Jika lawan itu menghendaki, ia tentu telah roboh dan kalah! Hal ini di samping menimbulkan keheranan dan kekaguman, juga membuat dia merasa girang bukan main dan mulailah dia percaya akan omongan orang ini bahwa puteranya berbakat untuk menjadi kaisar! Dia pun menghentikan gerakannya dan menjura dengan sikap hormat.

“Nam-san Sianjin, sungguh baru sekarang saya harus mengakui keunggulan seseorang yang ternyata lebih pandai dari pada saya. Saya persilakan Sianjin untuk menjadi tamu kami agar perkenalan kita menjadi lebih akrab dan saya ingin minta petunjuk tentang putera kami kepada Sianjin.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Baiklah, Pangcu. Terima kasih atas kepercayaanmu.”

Sementara itu, Siangkoan Liong yang mendengar pengakuan ayahnya bahwa kakek itu lebih lihai dari pada ayahnya, menjadi bengong. Kemudian anak yang cerdik ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Ouwyang Sianseng atau Namsan Sianjin.

“Locianpwe berjanji akan mengambil teecu (murid) sebagai murid, oleh karena itu mulai sekarang, Locianpwe (Orang Tua Gagah) adalah Suhu (Guru) bagi teecu.” Dan dia pun memberi hormat sebanyak delapan kali sambil menyebut ‘suhu’.

Kakek itu tersenyum gembira, kemudian membangunkan anak itu, meraba-raba pundak, lengan dan kakinya sambil mengangguk-angguk.

“Sudah kuduga, bertulang baik sekali. Pantas menjadi muridku, pantas menjadi seorang calon kaisar!”

Mendengar ini, hati Siangkoan Lohan menjadi girang bukan main. Ia pun lalu mengajak tamunya masuk ke dalam, dan mengadakan pesta untuk menyambut dan menghormati tamunya. Dalam kesempatan ini, Siangkoan Lohan lebih banyak mengenal tamunya dan kakek itu pun dengan singkat menceritakan siapa dia sebenarnya.

Nam-san Sianjin adalah seorang bekas pembesar tinggi di negara Birma! Dia seorang bangsa Han yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sejak muda dia suka merantau untuk memperdalam ilmunya. Perantauannya membawanya ke Birma dan di sana dia, berkat kelihaiannya, memperoleh kepercayaan dari raja, diberi kedudukan dan karena jasa-jasanya, dia bahkan kemudian diangkat menjadi penasehat raja.

Dialah yang berjasa besar dalam menghadapi penyerbuan bala tentara Mancu yang berkali-kali menyerbu ke selatan, namun tidak pernah dapat menguasai Birma berkat pertahanan Birma yang kokoh kuat, di bawah pimpinan Nam-san Sianjin! Dia amat setia kepada Birma, apa lagi karena oleh raja, dia telah dihadiahi seorang puteri istana untuk menjadi isterinya. Juga dia menentang keras pasukan Mancu karena dia tahu bahwa bangsa Mancu adalah bangsa yang menjajah Cina, dari mana dia berasal.

Akan tetapi, terjadi mala petaka menimpa keluarganya ketika berkobar perang melawan bala tentara Mancu. Dalam suatu penyerbuan, ada pasukan yang berhasil menerjang kota dan menyerbu gedungnya, dan isteri bersama tiga orang anaknya tewas dibantai mereka!

Wajah yang tadinya halus lembut dan gembira itu berubah menjadi pucat dan matanya memancarkan sinar berapi ketika dia bercerita sampai di bagian itu. Dia mengepal tinju. “Mereka sudah membasmi anak isteriku. Keparat Mancu! Aku kemudian mengamuk, membunuh sebanyak mungkin orang-orang yang sudah menyerbu rumah kami itu, dan akhirnya aku terpaksa lari dari Birma...“

Siangkoan Lohan mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia pun ikut merasa prihatin. “Tapi... mengapa engkau harus lari dari sana, Sianjin?” tanyanya hati-hati melihat orang itu seperti marah-marah.

“Aku dikatakan gila! Yang mengatakan adalah salah seorang menteri. Kubunuh dia dan setelah melakukan pembunuhan terhadap seorang menteri, aku menjadi buronan dan terpaksa melarikan diri dari Birma. Pula, aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga di sana, untuk apa lebih lama tinggal di sana? Aku lalu membawa simpanan hartaku dan melarikan diri, dan kini tinggal di bukit selatan menjadi pertapa. Orang-orang di sekitar daerah itu menyebut aku Nam-san Sianjin.”

Siangkoan Lohan merasa kagum sekali mendengar riwayat hidup kakek yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi itu. Tentu saja Nam-san Sianjin tidak menceritakan apa yang menjadi cita-citanya.

Dia mendendam kepada Kerajaan Mancu yang dianggap telah membasmi keluarganya dan merusak kebahagiaan hidupnya. Oleh karena itu, dia bersumpah untuk membalas dendam, untuk menghancurkan Kerajaan Mancu. Inilah yang menjadi cita-cita terakhir dari hidupnya.

Inilah sebabnya, saat melihat Siangkoan Lohan dan puteranya, ia merasa tertarik sekali. Melalui perkumpulan Tiat-liong-pang yang dia tahu amat berpengaruh dan kuat ini dia akan dapat mengumpulkan kekuatan untuk menentang Kerajaan Mancu. Dan dia dapat menggerakkan hati Siangkoan Lohan dengan memuji-muji puteranya yang dikatakan berbakat besar untuk menjadi calon kaisar. Tentu saja dia sudah menyelidiki keadaan keluarga Siangkoan Lohan ini dan tahu bahwa mendiang ibu anak itu adalah seorang bangsawan tinggi dan masih anggota keluarga Kerajaan Mancu.

Dan dia pun berhasil menggerakkan hati Siangkoan Lohan, seperti ternyata kemudian betapa Siangkoan Lohan yang kini mempunyai ambisi agar puteranya menjadi kaisar, mulai mengadakan persekutuan untuk memberontak dan menjatuhkan Kerajaan Mancu supaya puteranya mendapat kesempatan menjadi kaisar seperti yang diramalkan oleh Nam-san Sianjin!

Selama beberapa tahun, kadang-kadang Nam-san Sianjin datang berkunjung. Dalam percakapan mereka, kakek ini menanam dan menyebar bibit-bibit pemberontakan dalam hati Siangkoan Lohan demi masa depan puteranya sehingga ketua Tiat-liong-pang yang tadinya terkenal sebagai seorang yang amat setia kepada Kerajaan Ceng, kini berubah dan ingin mengadakan persekutuan untuk memberontak!

Sementara itu, Siangkoan Liong digemblengnya dengan sangat keras sehingga setelah dia berusia delapan belas tahun, pemuda itu telah berhasil mewarisi dan menguasai ilmu-ilmu silat dari ayahnya. Juga, menurut nasehat Nam-san Sianjin, Siangkoan Lohan lalu mengundang guru-guru sastra untuk mengajar puteranya, karena menurut nasehat Nam-san Sianjin, seorang calon kaisar haruslah menguasai ilmu tentang sastra dengan baik.

Pada waktu Siangkoan Liong berusia delapan belas tahun, pada suatu pagi muncullah Ouwyang Sianseng atau Nam-san Sianjin. Dia pun mengatakan bahwa kini tiba saatnya bagi Siangkoan Liong untuk digemblengnya.

“Dia akan kuajak ke tempat tinggalku di Nam-san. Aku mengundang Siangkoan Pangcu untuk datang berkunjung pula agar hatinya menjadi tenteram karena dia tahu bahwa puteranya berada di suatu tempat yang dikenalnya.”

Giranglah hati Siangkoan Lohan. Biar pun sekarang dia sudah menjadi kenalan baik Si Manusia Dewa, namun belum pernah dia mengetahui di mana tempat tinggal pertapa itu sehingga tentu saja hatinya akan selalu diliputi kesangsian dan kekhawatiran melepas puteranya untuk mengikuti gurunya ke tempat tinggalnya. Dan kini ia diajak berkunjung, maka tentu saja dia merasa girang dan pada hari itu, berangkatlah dia dan puteranya mengikuti kakek sakti itu.

Pegunungan di daerah selatan tidak setinggi pegunungan di bagian utara, akan tetapi hutan-hutannya lebih lebat dan pohon-pohonnya lebih beraneka ragam. Di atas sebuah puncak di antara bukit-bukit itu terdapat sebuah hutan lebat dan di tempat inilah tinggal Nam-san Sianjin.

Selama ini, Siangkoan Lohan sudah menyuruh beberapa orang anggotanya menyelidiki keadaan kakek pertapa yang menjadi guru puteranya. Dia mendengar hasil penyelidikan orang-orangnya bahwa kakek itu sering mengulurkan tangan menolong para penghuni dusun di sekitar pegunungan itu. Bukan hanya menolong dengan pengobatan, akan tetapi juga sering kali menolong mereka yang kekurangan dan kelaparan dengan bahan makanan, pakaian atau bahkan uang secara royal sekali.

Tidaklah mengherankan kalau kakek itu dinamakan Manusia Dewa oleh para penghuni dusun. Bukan hanya karena dermawan sekali dan pandai mengobati, akan tetapi juga karena kakek itu datang dan pergi seperti menghilang saja. Tak pernah ada yang dapat berhubungan langsung dengan kakek pertapa itu, tetapi melalui para pelayan kakek itu yang kabarnya juga memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, semua murid dan anggota Tiat-liong-pang gagal ketika berusaha mencari tempat tinggal Nam-san Sianjin!

Setelah mereka tiba di tengah hutan di puncak bukit itu, Siangkoan Lohan sendiri lalu terheran-heran. Tidak nampak ada sebuah pun rumah di puncak itu, akan tetapi guru puteranya itu mengatakan bahwa dia tinggal di puncak bukit yang penuh hutan itu! Dan mengertilah dia mengapa anak buahnya gagal semua menemukan tempat tinggal Si Manusia Dewa, karena tempat tinggalnya amat rahasia dan tidak nampak!

“Kita sudah sampai,” kata Nam-san Sianjin seperti dapat membaca kesangsian dalam hati Siangkoan Lohan.

Tiba-tiba saja nampak berlompatan tiga orang lelaki berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, kesemuanya berpakaian indah seperti pelayan-pelayan pembesar dan mereka segera memberi hormat kepada Nam-san Sianjin sambil berlutut!

“Siapkan hidangan untuk menyambut para tamu kita,” kata Nam-san Sianjin kepada tiga orang pelayannya itu. “Siangkoan Pangcu menjadi tamu kita hari ini dan Siangkoan Kongcu (Tuan Muda Siangkoan) ini mulai hari ini tinggal di sini sebagai muridku, jadi sediakan kamar untuknya.”

“Baik,Taijin (Orang Besar),” kata mereka dan mereka lalu menyelinap di antara semak belukar di tepi jurang dan lenyap! Terkejutlah Siangkoan Lohan melihat cara mereka menghilang itu.

“Pangcu, jangan heran. Semak-semak dan jurang itulah pintu gerbang menuju tempat tinggalku. Mari, silakan,” kata Nam-san Sianjin dan dia pun mendahului ayah dan anak itu, menyelinap di antara semak belukar, diikuti oleh Siangkoan Lohan dan puteranya.

Ketika mereka menyusup di antara semak belukar, ternyata di balik semak-semak itu terdapat anak tangga yang menuruni jurang! Pantas tidak ada di antara anak buahnya yang dapat menemukan tempat tinggal kakek ini! Siapa yang menduga bahwa di balik semak belukar, di dalam jurang, merupakan tempat tinggal kakek itu?

Anak tangga itu tidak terus menuju ke dasar jurang, melainkan berhenti hanya sampai di pertengahan dinding jurang dan kiranya di situ terdapat sebuah goa yang tersembunyi dan tidak dapat kelihatan dari atas. Akan tetapi mulut goa yang berada di dinding jurang ini menghadap ke timur sehingga memperoleh penerangan sinar matahari yang cukup.

“Di sinilah tempat tinggalku, pangcu. Silakan masuk,” berkata Nam-San Sianjin sambil melangkah masuk ke dalam goa.

Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya dan ikut masuk bersama puteranya. Diam-diam dia merasa kecewa. Puteranya harus tinggal di tempat seperti ini?

Akan tetapi, setelah memasuki goa itu, ia terbelalak dan menjadi bengong! Goa itu lebar dan nampak biasa saja ketika dia mulai memasukinya, akan tetapi setelah masuk ke sebelah dalam, dia jadi terpesona. Di dalam goa itu ternyata amat luas, seperti rumah gedung besar, dan keadaan di dalamnya tidak kalah dengan gedung tempat tinggalnya sendiri, bahkan jauh lebih mewah. Keadaan goa ini sungguh tiada ubahnya keadaan di dalam gedung istana!

Terdapat banyak kamar, dan setiap ruangan dihias gambar-gambar dan tulisan-tulisan indah. Setiap perabot rumah amat indah dan halus buatannya, dan keadaan di dalam goa itu luar biasa sekali. Sedemikian luasnya, dengan sebagian atasnya berlubang dan terbuka sehingga nampak sinar matahari. Bahkan di tengah-tengah ruangan itu terdapat pula sebuah taman kecil penuh bunga!

Tak nampak pelayan wanita di situ. Agaknya kakek Ouwyang hanya hidup bersama tiga orang pelayan laki-laki yang tadi menyambut. Mereka itulah yang membersihkan tempat tinggal mewah itu, memasak, dan melayani Nam-san Sianjin serta melakukan pekerjaan lainnya.

Setelah membiarkan tamunya mengagumi isi goa itu, Nam-san Sianjin mempersilakan mereka memasuki sebuah ruangan yang paling luas, yang berada di sebelah dalam.

“Ruangan itu kujadikan sebagai ruangan tamu, juga ruang duduk dan sekaligus ruangan untuk berlatih silat. Dan kadang-kadang, seperti sekarang ini, bisa juga menjadi ruangan makan, walau pun baru sekarang aku menjamu seorang tamu.”

Siangkoan Lohan merasa terhormat sekali dan segera bermunculan tiga orang pelayan tadi yang datang membawa hidangan yang lalu mereka atur di atas meja. Akan tetapi perhatian Siangkoan Lohan tertarik kepada hiasan aneh yang terdapat di dekat dinding, di sebelah rak senjata.

Di situ terdapat sebuah rak panjang dengan tombak-tombak yang berdiri berjajar. Akan tetapi, di atas tombak itu tertancap masing-masing sebuah kepala manusia, ada belasan buah banyaknya! Yang mengerikan sekali, kepala manusia itu seperti dalam keadaan hidup. Matanya terbuka dan hanya mukanya yang nampak pucat, namun segalanya masih utuh seperti hidup.

“Itu... itu... apa maksudnya?” tanya Siangkoan Lohan sambil menuding dan Siangkoan Liong juga terkejut melihat kepala yang berjajar itu.

“Aahhh, itu?” berkata tuan rumah sambil menarik napas panjang dan alisnya berkerut, seolah-olah dia teringat akan hal yang tidak menyenangkan. “Itulah kepala beberapa orang yang memimpin penyerbuan. Mereka yang menyebabkan matinya semua anak isteriku. Aku berhasil mencari dan membunuh mereka, kepalanya kuawetkan dengan ramuan obat dan kupasang di sini agar mendinginkan hatiku setiap kali teringat kepada anak isteriku.”

Siangkoan Lohan diam-diam bergidik. Orang yang amat lihai ini ternyata dapat berlaku amat sadis dalam pembalasan dendamnya. Dia tidak tahu sama sekali bahwa memang dendam telah membuat Ouwyang Sianseng menjadi seperti gila, dan karena dianggap gila itulah maka dia dipecat dari kedudukannya dalam istana raja Birma! Dia dianggap berbahaya dan bahkan kemudian dia membunuh seorang menteri dan menjadi buronan pemerintah Birma.

Sebaliknya dari ayahnya, Siangkoan Liong merasa kagum sekali kepada gurunya, yang dianggapnya telah menebus kematian yang membuat penasaran dari keluarganya dan telah membuktikan kesetiaannya kepada keluarganya.

Setelah dijamu dengan masakan yang cukup lezat dan lengkap sehingga terlihat aneh masakan seperti itu bisa dihidangkan di tempat itu, Siangkoan Lohan lalu meninggalkan puteranya di situ dan kembali ke perkampungan Tiat-liong-pang. Dia harus berjanji tak akan memberi tahukan pada siapa pun juga tentang tempat tinggal Ouwyang Sianseng atau Nam-san Sianjin ini. Dan kemudian ternyata bahwa kakek ini pun tidak pernah berhubungan dengan orang lain kecuali Siangkoan Lohan dan puteranya.

Siangkoan Liong lalu menerima gemblengan di tempat rahasia itu oleh kakek bekas penasehat Raja Birma sehingga dalam waktu dua tahun ia telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Setelah lewat dua tahun dan kembali ke rumah orang tuanya, dia melihat betapa ayahnya kini telah mengadakan persekutuan dengan tokoh-tokoh lihai.

Karena girang melihat puteranya telah tamat belajar dan mempunyai kepandaian yang tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari tingkatnya sendiri, Siangkoan Lohan kemudian mengadakan pesta, sekalian untuk merayakan hari ulang tahunnya yang keenam puluh tahun. Dia lalu mengundang tokoh-tokoh, baik dari golongan hitam mau pun putih dan seperti kita ketahui, di dalam pesta itu terjadilah keributan.

Siangkoan Liong maklum bahwa ayahnya sedang bersekutu dengan kekuatan-kekuatan yang ingin menggulingkan pemerintah Mancu. Meski dia sendiri, dalam keangkuhannya merasa diri jauh lebih tinggi, tak suka bergaul dengan orang-orang kang-ouw itu, namun dia tidak menghalangi usaha ayahnya karena dia maklum bahwa usaha pemberontakan itu cocok dengan apa yang dicita-citakan oleh gurunya, yaitu menggulingkan pemerintah Ceng dan dialah yang kelak dicalonkan menjadi kaisar kalau usaha itu berhasil.

**********

Setelah menyelamatkan Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang yang hampir saja tewas di tangan Sin-kiam Mo-li, dan mengobati luka beracun di tangan ketua itu, Tan Sin Hong segera pergi dengan cepat tanpa memperkenalkan diri lagi. Dia tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain dan dia juga tidak mengenal siapa orang yang nyaris tewas di tangan Sin-kiam Mo-li itu. Kalau dia turun tangan membantu orang itu hanyalah karena orang itu terancam maut di tangan Sin-kiam Mo-li yang sudah dia ketahui kejahatannya.

Sin Hong melanjutkan perjalanannya dengan secepatnya menuju ke kota raja. Dia harus menemukan orang kaya yang disebut Lay Wangwe (Hartawan Lay) itu, karena agaknya hanya kalau dia menemukan Lay Wangwe, maka dia akan melanjutkan penyelidikannya tentang kematian ayahnya yang penuh rahasia itu. Dia percaya bahwa tidak akan sukar mencari orang itu karena ciri-cirinya. Pertama, nama keturunannya Lay, kaya raya dan kepalanya botak perutnya gendut. Tentu tidak banyak orang yang sekaligus memiliki ciri-ciri itu.

Akan tetapi, setelah kurang lebih sepekan dia melakukan penyelidikan di kota raja, dia tidak berhasil menemukan orang yang dicari-carinya. Ada hartawan Lay, bahkan ada beberapa orang yang kaya dan she Lay di kota raja, akan tetapi kepalanya tidak botak walau pun ada yang gendut. Kalau ada yang kepalanya botak dan gendut, namanya bukan Lay, juga tidak kaya raya. Namun, tetap saja dia menyelidiki orang kaya yang she Lay, botak atau tidak. Namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang pernah mengirim seratus kati emas dari Ban-goan ke Tuo-lun.

Akhirnya Sin Hong mengambil kesimpulan bahwa nama Lay Wangwe itu mungkin sekali palsu, hanya untuk pancingan saja. Bahkan mungkin peti yang katanya berisi seratus tail emas itu pun bohong dan sengaja digunakan untuk selain membunuh Tan-piauwsu, juga menyita perusahaannya untuk mengganti rugi!

Dan siapa lagi yang membutuhkan kejatuhan Peng An Piauwkiok kecuali saingannya? Saingan terbesar dari Peng An Piauwkiok adalah Ban-goan Piauwkiok yang dikepalai Kwee Tay Seng! Selain saingan dalam urusan perusahaan, juga saingan dalam urusan wanita! Siapa yang tahu kalau Ciu-piauwsu ternyata benar dalam tuduhannya bahwa Kwee-piauwsu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, baik terhadap ayahnya mau pun terhadap Tang-piauwsu.

Pertama karena dendam atas kekalahannya memperebutkan wanita, dan ke dua karena persaingan dalam urusan perusahaan. Memang kini, setelah penyelidikannya terhadap orang bernama Lay Wangwe gagal, satu-satunya orang yang dapat dicurigai adalah Kwee-piauwsu.

Maka dia pun memutuskan untuk segera kembali ke kota Ban-goan untuk melakukan penyelidikan terhadap Kwee-piauwsu dan menunda niatnya berkunjung kepada Kao Cin Liong, suheng-nya yang tinggal di Pao-teng, di sebelah selatan kota raja.

Malam itu bulan purnama. Langit amat bersih, hanya ada awan putih tipis yang amat mengganggu sinar bulan sehingga cuaca amat bersih dan cukup terang. Suasana amat menggembirakan.

Tapi bersama dengan sinar bulan yang indah datang pula angin dingin yang memaksa orang-orang yang tadinya menikmati keindahan sinar bulan di luar rumah, memasuki rumah yang lebih hangat. Hawa yang sangat dingin membuat orang sore-sore sudah memasuki kamar tidur dan menjelang tengah malam suasana di kota Ban-goan sudah amat sunyi. Sebagian besar penduduknya sudah tidur nyenyak.

Ban-goan Piauwkiok juga nampak sunyi, walau pun setiap malam ada saja anggota piauwkiok yang melakukan penjagaan secara bergilir di dalam gardu penjagaan di sudut luar. Perusahaan itu berkantor di depan, sedangkan rumah tinggal Kwee-piauwsu ada di bagian belakang.

Pekerjaan sebagai pimpinan suatu piauwkiok (perusahaan pengawal barang) tentu saja memiliki banyak musuh, yaitu para penjahat, para perampok yang suka mengganggu pengawalan barang. Oleh karena itulah maka semua pimpinan perusahaan piauwkiok selalu berhati-hati dan kantor bersama tempat tinggal mereka selalu dijaga oleh anak buah secara bergilir.

Malam itu terlampau dingin bagi empat orang piauwsu yang bergilir jaga di dalam gardu penjagaan. Tadinya mereka masih berusaha melewatkan waktu dengan bermain kartu, akan tetapi hawa dingin membuat mereka mengantuk sekali dan kini keempat orang itu duduk berhimpit di dalam gardu jaga, menghangatkan tubuh dengan membuat unggun di luar gardu.

Apalagi dalam keadaan kedinginan dan bersembunyi di dalam gardu, andai kata mereka itu berada di luar gardu, berjaga dengan waspada sekali pun, tak mungkin mereka akan dapat melihat bayangan orang yang berkelebat dengan amat cepatnya, hanya nampak berkelebat bagai bayangan burung yang terbang di udara. Dengan kecepatan luar biasa bayangan itu telah melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah besar itu dan telah menyelinap-nyelinap ke dalam taman di sebelah kanan rumah. Setelah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada penjaga di situ, juga di atas genteng nampak sunyi saja, bayangan itu kemudian melayang naik ke atas genteng rumah.

Bayangan itu adalah Tan Sin Hong yang sedang melakukan penyelidikan di rumah keluarga Kwee, tidak tahu dengan jelas apa yang akan dilakukan dan bagaimana harus memulai dengan penyelidikannya itu. Dia merasa yakin bahwa dalam hawa sedingin itu, tidak mungkin ada orang berjaga di atas genteng dan mau menentang hembusan angin malam yang amat dinginnya. Bulan masih tampak cemerlang di atas, dan suasana sunyi sekali.

Sejenak Sin Hong termenung. Dia mengingat kembali ketika Ciu-piauwsu mendatangi rumah ini kemudian menantang Kwee-piauwsu. Teringat betapa gagah dan tenangnya Kwee-piauwsu dan betapa piauwsu itu sudah menyangkal bahwa dia telah membunuh Tan-piauwsu, atau pun Tang-piauwsu. Dia menjadi ragu-ragu. Apa yang harus dicarinya dan bagaimana dia harus memulai penyelidikannya?

Ahhh, siapa tahu Tuhan akan membantunya dan mungkin saja dia akan melihat atau mendengar sesuatu yang akan dapat membantu penyelidikannya. Maka dari itu, setelah mempelajari keadaan dalam gedung itu dari atas, dia pun lalu melayang turun lagi, kini ke sebelah dalam dan dia turun dekat lapangan terbuka, di antara deretan kamar dan lorong menuju ke ruangan besar.

Dengan penuh keyakinan bahwa semua penghuni rumah itu telah tidur pulas, dia pun melangkah dengan hati-hati memasuki ruangan yang nampak gelap sekali karena tidak memperoleh sinar bulan, sedangkan dalam ruangan itu tidak ada lampunya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melangkah masuk, tiba-tiba saja terdengar bentakan suara wanita, “Pencuri jahat, berani engkau mencuri ke sini?”

Dari angin yang menyambar di tempat gelap, tahulah Sin Hong bahwa ada sebatang pedang menyambar ke arah dadanya! Cepat dia meloncat keluar kembali dan membuka pintu kamar. Kalau dia mau meloncat dan melarikan diri pada saat itu, kiranya tidak akan terlambat. Akan tetapi Sin Hong tidak melakukan hal ini.

Dia maklum bahwa dia telah ketahuan orang dan disangka pencuri. Kalau dia melarikan diri dan ketahuan siapa dirinya, tentu hal ini amat tidak baik bagi namanya dan dia akan disangka sebagai penjahat. Mengapa tidak menghadapi saja mereka dengan secara terang-terangan dan mengajak Kwee-piauwsu bicara tentang kematian ayahnya dan Tang-piauwsu? Dari sikap dan kata-kata Kwee-piauwsu dalam percakapan itu, dia akan dapat menduga apa sebenarnya peran piauwsu itu dalam urusan ini.

Maka, dia pun tidak mau meloncat pergi, melainkan menanti saja di luar ruangan itu dan wajahnya dapat kelihatan jelas karena selain cahaya lentera dan lampu yang tergantung di situ menerangi wajahnya, juga sinar bulan membuat tempat itu cukup terang.

Orang pertama yang melompat keluar dari dalam ruangan itu adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun yang manis sekali. Gadis ini bertubuh sedang, dengan sepasang kaki nampak panjang, tubuh yang padat dan ranum, tubuh seorang dara yang mulai dewasa. Rambutnya hitam lebat dan panjang sekali, dikuncir menjadi dua diikat dengan pita merah. Dua kuncir itu bergantungan sampai ke pinggulnya.

Pinggangnya ramping ketika ia bergerak meloncat ke luar dengan pedang di tangan kanan dan sebuah lentera besar dan baru saja dinyalakan di tangan kiri. Dari cahaya lampu ini, nampak jelas oleh Sin Hong wajah gadis itu.

Kulitnya agak hitam, namun manis bukan main, terutama sekali mulutnya. Sepasang bibirnya berbentuk indah seperti gendewa terpentang, dengan garis yang jelas dan bibir itu penuh dan merah basah, sedikit terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih seperti mutiara dan sepasang matanya tajam memandang Sin Hong penuh selidik.

Agaknya gadis itu tertegun dan agak heran melihat betapa ‘maling’ yang mampu mengelak dari serangannya tadi tidak melarikan diri, melainkan berdiri di situ menanti. Dan tak disangkanya bahwa penjahat itu seorang laki-laki muda yang berpakaian serba putih, wajahnya biasa saja, akan tetapi sinar matanya demikian lembut dan mulutnya terhias senyum ramah dan menarik! Sama sekali bukan wajah seorang pencuri atau penjahat yang kejam dan ganas, melainkan wajah seorang pemuda yang ramah dan baik hati.

Akan tetapi karena ia merasa curiga melihat munculnya pemuda tak di kenal, di tengah malam, memasuki ruangan gelap di mana ia tadi berlatih semedhi, ia pun kini mendekati dan menodongkan pedangnya dengan sikap mengancam.

“Menyerahlah sebelum pedangku yang bicara!” Pedangnya menodong dada dan lampu di tangannya diangkat menerangi muka Sin Hong.

“Tahan, jangan serang dia!” Tiba-tiba terdengar suara memerintah.

Mendengar suara ayahnya, gadis itu melangkah mundur dan menurunkan pedangnya, namun sikapnya masih mengancam.

“Ayah, dia sudah memasuki ruangan lian-bu (latihan silat). Lagaknya seperti seorang pencuri!” bantahnya.

Kwee Tay Seng atau Kwee-piauwsu tidak menjawab, hanya melangkah menghampiri Sin Hong. Sejak tadi dia menatap wajah itu dan kini dia sudah berhadapan dengan Sin Hong, matanya masih terus mengamati wajah pemuda berpakaian putih yang berdiri di situ dengan sikap tenang dan juga sedang memandangnya.

“Kau... kau seperti pernah melihatmu... ah, engkau mirip sekali dengannya...! Bukankah engkau ini putera mendiang Tan-piauwsu?”

Sin Hong merasa heran mendengar ini, akan tetapi dia pun teringat akan hubungan pria yang gagah ini dengan mendiang ibunya, dan dia tahu bahwa wajahnya memang mirip dengan wajah ibunya.

“Ayah, kalau dia benar putera Tan-piauwsu, jelas bahwa dia datang bukan dengan niat baik. Tadi dia meloncat turun dari atas genteng dan menyelinap masuk seperti pencuri. Aku yang tadi berada di dalam ruangan gelap dapat melihat dengan jelas. Begitu dia melangkah masuk, aku sudah menyerangnya, akan tetapi dia meloncat keluar lagi,” Kwee Ci Hwa, puteri Kwee-piauwsu itu, berkata lagi.

“Orang muda, aku mengenal mendiang ayahmu sebagai seorang gagah, dan engkau tentu seorang pemuda yang gagah pula. Marilah kita bicara secara jantan dan terbuka, dari pada engkau harus datang secara gelap begini. Silakan masuk dan mari kita bicara di dalam.”

Sin Hong merasa malu sendiri dan dia pun mengangguk, lalu mengikuti tuan rumah itu memasuki ruangan tadi, diikuti oleh Ci Hwa yang membawa lampu. Ternyata ruangan itu luas dan bersih, hanya terdapat beberapa buah bangku di dekat dinding dan sisanya kosong karena ruangan itu adalah sebuah tempat berlatih silat.

Ci Hwa menaruh lampu itu di atas meja kecil, dan dinyalakan lagi tiga buah lentera lain yang digantungkan di dinding sehingga kini ruangan itu menjadi terang. Kwee-piauwsu mempersilakan Sin Hong duduk di atas bangku, kemudian dia sendiri beserta puterinya duduk menghadapinya.

“Orang muda, katakanlah siapa engkau sebenarnya,” kata Kwee-piauwsu.

“Tidak salah dugaanmu tadi, Paman Kwee. Aku adalah Tan Sin Hong, putera dari Tan Piauwsu, dan yang menyebabkan aku malam ini datang menyelundup seperti seorang pencuri adalah karena aku hendak menyelidiki tentang kematian ayahku dan kematian paman Tang Lun.”

“Sungguh aneh,” kata Ci Hwa yang sejak tadi diam saja. “Menyelidiki kematian mereka, kenapa harus mencari di sini? Apakah pembunuh mereka berada di sini?”

Kwee-piauwsu mengeluh panjang. Pada saat itu terdengar suara berisik dan ternyata ada beberapa orang anggota piauwkiok yang meronda dan agaknya mereka merasa heran dan curiga melihat betapa ada suara orang tengah bicara di lian-bu-thia yang juga nampak terang.

“Ci Hwa, engkau keluarlah dan tenangkan mereka. Aku hendak bicara berdua dengan Tan Sin Hong.”

Biar pun gadis itu memandang kecewa karena ia pun ingin sekali mengetahui kelanjutan dari munculnya pemuda itu, namun dia tidak membantah ayahnya, dan dia pun segera keluar dan tak lama kemudian, para anggota piauwkiok pergi meninggalkan tempat itu, melanjutkan perondaan.

“Sin Hong, sudah dua kali ini orang mencurigai aku sebagai pembunuh ayahmu dan Tang-piauwsu. Padahal, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang peristiwa itu. Ketahuilah, bahwa dahulu persaingan yang terjadi antara aku dengan ayahmu adalah persaingan sehat dua orang yang memiliki perusahaan yang sama. Kami sama-sama bersaing untuk mendapat kepercayaan langganan dengan pelayanan sebaiknya, bukan persaingan dengan cara saling menjatuhkan. Pernah Ciu Hok Kwi, piauwsu muda yang belum lama menjadi piauwsu itu pun menuduh aku yang membunuh Tang-piauwsu sehingga dia datang ke sini dan mendatangkan keributan. Dan sekarang engkau sendiri, putera Tan-piauwsu datang ke sini tentu mempunyai dugaan pula bahwa aku yang telah membunuh ayahmu dan Tang-piauwsu. Sungguh membuat aku merasa penasaran sekali!” Kakek itu mengeluh dan mengepal tinju.

“Tidak kusangkal bahwa aku dan ayahmu bersaingan dalam memajukan perusahaan masing-masing, akan tetapi aku, Kwee Tay Seng, selama hidupku belumlah demikian rendah untuk menggunakan cara-cara kotor, apa lagi sampai melakukan pembunuhan dengan curang!”

Sejak tadi Sin Hong menatap wajah kakek itu dengan penuh perhatian dan melihat sikap dan suara Kwee-piauwsu, memang sukar dipercaya orang segagah ini melakukan kecurangan seperti itu, membunuh dengan sembunyi-sembunyi. Akan tetapi masih ada sesuatu yang membuat Sin Hong penasaran, maka dengan terus terang dia berkata, “Paman Kwee, selain persaingan dalam perusahaan, aku juga pernah mendengar dari Tang-piauwsu bahwa dahulu, antara mendiang ibuku dan engkau...“

“Aihh...!” Kwee Tay Seng menghela napas panjang dan mengangguk-angguk, mukanya berubah lesu. “Inilah sebabnya mengapa aku menyuruh Ci Hwa pergi meninggalkan kita. Aku memang hendak membicarakan hal ini, karena aku sudah menduga bahwa tentu ini merupakan satu di antara sebab mengapa aku yang dicurigai. Tadi pun, ketika melihatmu, aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentulah putera Bwee Hwa. Wajahmu demikian mirip dengannya. Sin Hong, tidak perlu kusangkal lagi. Memang di waktu kami muda, terdapat pertalian cinta antara aku dan ibumu, akan tetapi sungguh sayang, orang tua kedua pihak tidak setuju sehingga kami terpaksa saling berpisah. Namun, kemudian aku melihat betapa ia, ibumu yang dulu pernah menjadi kekasihku itu, hidup dengan bahagia bersama Tan Hok, ayahmu. Aku cinta kepada ibumu, maka, lebih tak masuk di akal lagi kalau aku ingin membikin ia sengsara dengan membunuh suaminya! Aku belumlah gila, dan cintaku adalah cinta suci, bukan cinta nafsu belaka yang menimbulkan iri. Tidak, Sin Hong, aku tak akan mengganggunya, seujung rambut pun, tetapi aku mendengar bahwa ketika menyusul suaminya ke utara, rombongannya dihadang perampok dan ia meninggal...“

Sunyi sejenak dan Sin Hong termangu-mangu. Sedikit pun ia tak meragukan kebenaran Kwee-piauwsu. Yang melakukan penghadangan terhadap rombongan ibunya, kemudian mencelakakan dia dan ibunya, juga orang-orang berkedok. Tak mungkin Kwee-piauwsu yang memimpin penghadangan itu dan membikin celaka ibunya, wanita yang dicintanya.

Keterangan dan perasaannya itu melegakan hatinya, akan tetapi juga mendatangkan rasa kecewa dan penasaran. Hatinya lega karena dia yakin orang tua gagah ini bukan pembunuh ayahnya dan Tang-piauwsu, akan tetapi dia penasaran dan kecewa karena kini putuslah sudah jalur penyelidikannya. Setelah Kwee-piauwsu terlepas dari daftar orang yang dicurigai, maka tidak ada lagi orang yang dapat dicurigainya! Pada saat itu terdengar suara Ci Hwa dari luar.

“Ayah, bolehkah aku masuk?” Gadis itu masih ingin melihat bagaimana kelanjutan dari urusan dengan pemuda she Tan itu.

Karena cerita tentang Bwee Hwa, ibu Sin Hong, sudah mereka bicarakan dan tidak akan diulang lagi, maka Kwee Tay Seng lalu menjawab.

“Masuklah, Ci Hwa.”

Gadis itu masuk dan duduk di dekat ayahnya. “Bagaimana urusannya dengan dia ini, Ayah?”

Sin Hong memandang kepada gadis itu dan membungkuk. “Nona, akulah yang salah. Ayahmu tidak tahu apa-apa tentang kematian ayahku dan Paman Tang, dan karena itu maafkan aku. Paman Kwee, maafkan aku...“

Melihat sikap pemuda itu yang nampak kecewa, Kwee-piauwsu berkata, “Sin Hong, aku dapat merasakan kekecewaanmu. Engkau kehilangan ayah ibu, tentu saja engkau ingin membalas dendam kepada mereka yang telah membunuhnya.”

“Ibu bukan dibunuh orang, melainkan meninggal karena badai di gurun pasir, Paman.”

Dengan singkat dia pun lalu menceritakan betapa rombongan ibunya yang dikawal oleh mendiang Tang-piauwsu diserang oleh orang-orang berkedok. Dia bersama ibunya lalu menunggang onta dan melarikan diri memasuki gurun pasir sampai akhirnya ibunya meninggal di gurun pasir.

Sampai di sini dia menghentikan ceritanya karena dia tidak ingin bercerita tentang guru gurunya, hanya menyambung dengan kata-kata yang tegas. “Dan aku sama sekali tidak ditekan dendam, Paman. Kalau aku mencari pembunuh-pembunuh itu, bukan terdorong dendam pribadi, tetapi karena perbuatan yang sedemikian jahatnya itu harus kuselidiki. Apa sebabnya ayah dibunuh, dan kalau pembunuhnya memang melakukannya karena kejahatan, maka kejahatan itu harus ditentang dan dihukum, Paman.”

Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. “Tapi, sampai sejauh mana penyelidikanmu? Aku ingin membantumu, orang muda, karena aku pun merasa penasaran sekarang, apa lagi karena akulah yang dituduh melakukan perbuatan kejam itu.”

Suara Kwee-piauwsu terdengar penuh kesedihan. Memang dia merasa berduka sekali mendengar tentang kematian Bwee Hwa, bekas kekasihnya. Dan biar pun Bwee Hwa tidak mati dibunuh, namun sama saja, ada orang yang menyebabkan ia sampai lari ke gurun pasir dan menemui kematiannya di sana.

Dengan singkat Sin Hong lalu bercerita tentang penyelidikannya terhadap Lay-wangwe, orang yang dia curigai karena hartawan itulah yang mula-mula menemui ayahnya dan mengirim barang berharga itu.

“Kurasa hanya ialah satu-satunya orang yang mengetahui persoalan ini, Paman, karena ia yang mengirim emas itu, dan ia pula yang menuntut ganti rugi sehingga perusahaan ayah berikut rumah dan seisinya disita. Akan tetapi, penyelidikanku gagal. Di kota raja tak pernah ada seorang Lay-wangwe yang berkepala botak dan berperut gendut seperti itu.”

Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. “Aku juga sudah mendengar tentang penyitaan itu dan menurut anak buahku, kini Peng An Piauwkiok telah menjadi perusahaan pengawal yang baru, dengan rumah dan kantornya sudah dibetulkan menjadi cukup megah. Dan kabarnya, Ciu-piauwsu yang kini menjadi pengurusnya.”

Sin Hong mengangguk. “Memang benar, Paman. Paman Ciu telah mencarikan seorang sahabat, atau keluarganya yang kaya untuk memberi pinjaman uang untuk membayar sebagian kerugian itu, dan kini karena perusahaan mundur dan tak mampu membayar pinjaman, semua rumah dan kantor terjatuh ke tangan orang yang memberi pinjaman uang. Agaknya perusahaan itu diperbarui, dilanjutkan dan Ciu-piauwsu yang menjadi pemimpinnya, mengingat bahwa majikannya adalah keluarganya.”

“Orang yang kau sebutkan tadi, Lay-wangwe itu, pernah datang ke sini...“

“Ah, benarkah, Paman? Harap Paman ceritakan...!” Sin Hong memotong, mendapatkan harapan baru.

“Hal itu terjadi beberupa hari sebelum dia menyerahkan angkutan barang berharga yang harus dikawal ke Tuo-lun itu kepada ayahmu. Dia datang dan membawa peti besar yang tertutup rapat, minta kepadaku untuk mengawal ke Tuo-lun dengan janji upah besar. Aku menerimanya dengan syarat bahwa isi peti itu harus dibuka dan dihitung lebih dulu. Dia menolak dan marah-marah karena aku dianggap tak percaya kepadanya. Akhirnya aku mendengar dia mengirim barangnya itu melalui pengawalan Peng An Piauwkiok.”

“Akan tetapi, apakah Paman mengetahui di mana dia tinggal?”

Seperti yang telah dikhawatirkannya, piauwsu itu menggeleng kepala. “Kami semua tak ada yang tahu, akan tetapi karena ada beberapa orang anak buahku pernah melihatnya, biarlah aku membantumu dengan menyebar mereka agar suka mencarinya. Seorang di antara mereka, baru dua hari yang lalu pernah mengatakan kepadaku bahwa si gendut botak itu nampak berkeliaran di kota ini.”

Sin Hong merasa girang sekali dan anak buah itu segera dipanggil.

“Memang saya melihatnya dua hari yang lalu. Lagaknya masih seperti dahulu, seperti seorang hartawan besar, dengan pakaian mewah dan royal dengan uangnya.”

“Sekarang juga, engkau ajak teman-temanmu yang pernah melihatnya untuk melakukan pencarian secara berpencar dan kalau menemukannya, cepat memberi kabar ke sini!”

Setelah orang itu pergi, Kwee Ci Hwa juga bangkit berdiri. “Aku dulu juga melihatnya, biar aku juga membantu mencarinya!”

Tanpa menanti jawaban, gadis itu sudah meloncat keluar. Sin Hong merasa tidak enak sekali.

“Ah, aku ternyata selain membikin ribut di sini, juga membikin repot saja, Paman Kwee.”

“Jangan berkata begitu, Sin Hong. Sudah semestinya dalam hal seperti ini kita saling bantu.”

“Akan tetapi sampai nona...ehhh, adik Kwee sendiri ikut repot...“

“Aku mengerti isi hatinya. Tentu ia merasa tidak enak karena tadinya aku yang disangka sehingga ia ingin sekali membantu untuk membersihkan nama ayahnya. Engkau tunggu saja di sini malam ini sampai ada berita dari mereka tentang hasil penyelidikan mereka.”

“Terima kasih, Paman. Akan tetapi aku tidak berani mengganggu lebih lama lagi malam ini. Biarlah besok pagi saja aku datang ke mari lagi untuk mendengar keterangan hasil penyelidikan itu. Sekarang saya lebih baik pergi saja dulu.”

“Tidak ada yang terganggu, Sin Hong. Setelah terjadinya peristiwa ini, aku pun tidak akan dapat tidur lagi. Biarlah kita bercakap-cakap di sini sambil menanti mereka. Karena kota ini kecil saja kiranya tidak akan lama mereka mencari.”

Karena ditahan-tahan, Sin Hong merasa tidak enak juga kalau tidak mau menerimanya dan ketika mereka bercakap-cakap, dia mendengar kenyataan bahwa orang she Kwee ini memang memiliki sikap yang amat menyenangkan. Dia gagah dan jujur dan Sin Hong merasa tertarik sekali, juga semakin percaya karena orang seperti ini tak mungkin melakukan kejahatan yang keji dan curang.

Juga Kwee Tay Seng mempunyai pengalaman yang luas di dunia kang-ouw, mengenal tokoh-tokoh kang-ouw yang pandai. Dalam ilmu kepandaian, pernah dia melihat ketika Kwee-piauwsu menghadapi amukan Ciu Hok Kwi dan dia tahu bahwa dalam hal ilmu silat, agaknya sukar mencari orang di daerah Ban-goan yang akan mampu menandingi piauwsu ini.

Karena mereka asyik bercakap-cakap, tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya dan menjelang pagi, muncullah Kwee Ci Hwa dan dua orang anak buah piauwkiok.

“Ayah, kami telah menemukan dia!” kata gadis itu.

Sin Hong merasa berterima kasih sekali, apa lagi sesudah melihat betapa gadis itu nampak kedinginan dan lelah.

“Ahh, terima kasih! Dia berada di mana, Nona?”

“Sin Hong, anakku yang hanya satu ini bernama Kwee Ci Hwa, harap engkau jangan sungkan-sungkan dan menyebut nona kepadanya,” kata Kwee-piauwsu yang diam-diam merasa suka kepada pemuda yang sederhana itu.

“Maaf, adik Ci Hwa, akan tetapi aku ingin sekali tahu di mana adanya si gendut botak she Lay itu.”

“Dia... dia... Gu-toako, engkau saja yang menerangkan,” kata gadis itu dan mukanya berubah merah.

Anak buah piauwkiok itu lalu menerangkan dengan jelas. “Orang she Lay yang gendut botak itu sudah beberapa hari berada di Ban-goan dan agaknya memang hanya kalau malam saja dia baru berkeliaran keluar, kalau siang entah bersembunyi di mana. Kami menemukan jejaknya dan kini dia berada di rumah pelesir di ujung timur kota. Selama beberapa hari ini memang dia langganan di situ dan menurut penyelidikan kami, dia amat royal dengan uangnya, dan di sana pun dia dipanggil Lay-wangwe (Hartawan Lay) yang royal memberi hadiah kepada para pelacur.”

Kini mengertilah Sin Hong mengapa gadis itu malu untuk menceritakan, dan dia sendiri sungguh pun kelahiran kota itu, namun tidak tahu di mana letaknya rumah pelesir atau rumah pelacuran itu.


SELANJUTNYA KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 05


Thanks for reading Kisah Si Bangau Putih Bagian 04 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »