Kisah Si Bangau Putih Bagian 01

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 01

BAGI mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tak pernah melakukan perjalanan melintasi Tembok Besar, pastilah menyangka bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang oleh bangsa Mancu tentu berhenti sampai di Tembok Besar itu saja. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian.

Bangsa Mancu sendiri adalah bangsa yang tinggal jauh di utara yang sangat dingin, di daerah yang keras dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih terdapat daerah yang sangat luas. Di sebelah utara Tembok Besar masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang luas, kemudian masih terdapat pula daerah Mongolia Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih luas.

Akan tetapi, setelah melewati Tembok Besar memang merupakan daerah yang liar serta kejam, dengan tidak terhitung banyaknya bukit di antara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.

Padang pasir seperti ini memang ganas, dan bahkan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-tulang kuda, onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan di sana sini dapat diketahui bahwa lautan pasir itu sudah banyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi lautan pasir dibiarkan saja berserakan, membusuk dimakan terik panas matahari, atau pun digerogoti anjing-anjing serigala dan binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama mengering.

Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu memang kejam, juga mengandung kesunyian yang mendatangkan suasana menyeramkan penuh keajaiban. Bayangkan saja betapa mengerikan tersesat di lautan pasir seperti itu, di mana tidak dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir. Yang ada hanya pasir di mana-mana, panas dan silau, tidak diketahui lagi mana utara dan mana selatan. Belum lagi kalau datang badai yang membuat pasir bergulung-gulung dan seakan berombak seperti air di lautan, menelan apa saja yang menghalang di depan.

Para pedagang yang melakukan perjalanan dan kemudian tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan terjebak di dalam lautan pasir tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan ngerinya, banyak di antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang aneh-aneh.

Ada yang melihat air terjun dengan air yang melimpah-limpah dan segar sejuk, akan tetapi ketika mereka menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak sungai dengan airnya yang segar, atau melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Akan tetapi, semua itu hanyalah bayangan khayal belaka, yang timbul karena alangkah besarnya keinginan hati mereka mengharapkan air, pohon dan sebagainya yang amat mereka butuhkan itu.

Di tengah-tengah salah satu di antara padang-padang pasir yang amat luas itu, terdapat sebuah gedung istana kuno, lengkap dengan kebun yang cukup luas, dengan pohon-pohon buah yang subur, dan sayur-sayuran, bahkan tumbuh pula gandum di ladang. Terdapat pula sumber air tidak jauh dari istana kuno itu. Sungguh merupakan suatu keadaan yang ajaib. Andai kata ada orang tersesat sampai ke daerah itu lalu melihat bangunan istana berikut perkebunannya yang subur itu, tentu dia akan mengira bahwa dia pun hanya melihat pemandangan khayal belaka.

Akan tetapi tidaklah demikian sesungguhnya. Bangunan itu memang sebuah bangunan istana yang besar, pernah di jaman dulu bangunan ini merupakan istana peristirahatan dari seorang raja-diraja, seorang kaisar besar yang bukan lain adalah Kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol.

Akan tetapi, puluhan tahun yang lalu, istana itu dihuni oleh seorang sakti yang aneh, yang di dunia persilatan tingkat tinggi dikenal sebagai tokoh dongeng yang bernama Dewa Bongkok. Nama Dewa Bongkok yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak kalah terkenalnya dan dianggap sebagai setengah dongeng saja, seperti halnya PENDEKAR SUPER SAKTI penghuni Pulau Es! Setelah Dewa Bongkok meninggal dunia, kini yang menjadi penghuni istana Gurun Pasir itu adalah muridnya yang bernama Kao Kok Cu, yang di dunia persilatan dikenal sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

Nama besar Pendekar Naga Sakti ini pernah menggemparkan dunia persilatan, dan dia tidak kalah terkenalnya dibandingkan mendiang gurunya. Kini Kao Kok Cu telah menjadi seorang kakek yang tua renta, tinggal di dalam istana kuno itu berdua saja dengan isterinya.

Isterinya bukanlah wanita sembarangan, melainkan seorang pendekar wanita yang juga pernah menggemparkan dunia persilatan. Namanya Wan Ceng, dan ketika kecil pernah tinggal di Kerajaan Bhutan, jauh di barat bahkan menjadi saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan sehingga ia memperoleh nama julukan Candra Dewi.

Wan Ceng juga memiliki kesaktian dan kini ia dalam usia tujuh puluh dua tahun tinggal bersama suaminya di Istana Gurun Pasir. Mereka berdua hidup di situ tanpa pelayan, hanya berdua saja, mengerjakan ladang dan kebun sendiri yang hasilnya jauh lebih dari pada cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sebagian besar dari waktu luang mereka dipergunakan untuk bersemedhi dan bertapa.

Keadaan sepasang suami isteri ini tidak dapat disamakan dengan keadaan para pertapa yang sengaja mengasingkan diri dari dunia ramai, pergi bertapa dengan suatu pamrih tertentu.

Orang pergi meninggalkan dunia ramai untuk bertapa di puncak bukit yang sunyi, di dalam goa yang sederhana, hanya mengenakan cawat saja, hanya makan seadanya, menyiksa diri menahan haus dan lapar, tentu mempunyai suatu tujuan tertentu. Tujuan inilah pamrih, dan semua pamrih, baik yang terbuka mau pun terselubung, tentu selalu menjangkau suatu keadaan yang menyenangkan.

Walau pun pamrih mendapatkan keadaan yang menyenangkan ini diperhalus dengan sebutan muluk, tetap saja merupakan pamrih demi kesenangan diri. Mungkin dia akan mengatakan bahwa dia bertapa untuk mencari kesempurnaan hidup, mencari Tuhan, mencari kebahagiaan, dan sebagainya. Namun pencariannya itu sendiri membuktikan bahwa dia menginginkan sesuatu yang dianggapnya akan mendatangkan kesenangan dalam bentuk kedamaian, kebahagiaan, dan lain sebutan lagi
.

Sepasang suami isteri itu tidak mencari apa-apa. Istana Gurun Pasir itu memang milik mereka, peninggalan dari Dewa Bongkok kepada muridnya, yaitu kakek Kao Kok Cu. Mereka berdua memang amat senang tinggal di tempat sunyi itu, bukan untuk mencari sesuatu atau menjadikan tempat yang sunyi itu sebagai pelarian dari dunia ramai. Sama sekali tidak. Mereka memang merasa senang tinggal di tempat yang penuh keheningan itu dan merasa berbahagia.

Akan tetapi, pada hari itu, Istana Gurun Pasir tidaklah setenang biasanya. Dari dalam gedung istana tua itu kini terdengar suara gelak tawa dan percakapan yang diselingi suara ketawa gembira. Kiranya suami isteri tua itu kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka.

Tamu itu bukan seorang asing. Dia seorang hwesio yang bernama Tiong Khi Hwesio, usianya juga sudah tujuh puluh dua tahun dan tentu saja kunjungan hwesio ini disambut gembira oleh kakek dan nenek itu, terutama sekali nenek itu karena hwesio ini bukan lain adalah saudara tirinya sendiri, seayah berlainan ibu.

Pada waktu mudanya, Tiong Khi Hwesio adalah seorang pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dengan julukan yang mengerikan, yaitu Si Jari Maut! Dia menikah dengan Syanti Dewi, puteri Kerajaan Bhutan dan sampai tua dia tinggal di kerajaan kecil itu. Setelah isterinya meninggal dunia, dia hampir gila karena duka. Akan tetapi, pertemuannya dengan seorang pendeta tua menyadarkannya dan mulai saat itu, Wan Tek Hoat, demikian namanya, lalu menggundul rambut kepala dan mengenakan jubah, menjadi seorang hwesio yang berkelana.

Mereka bertiga bercakap-cakap sambil makan sederhana dengan sayuran segar yang dimasak sendiri oleh nenek Wan Ceng. Kemudian mereka bertiga keluar dari istana itu dan duduk di serambi depan sambil bercakap-cakap. Kao Kok Cu yang dahulu berjuluk Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu, walau pun usianya sudah hampir delapan puluh tahun masih nampak gagah penuh semangat.

Lengan kirinya yang buntung itu tak membuatnya terlihat mengerikan, bahkan membuat dirinya nampak lebih berwibawa. Wajahnya yang tampan membayangkan kelembutan, sinar matanya mencorong seperti mata naga namun juga membayangkan kelembutan dan kesabaran. Melihat sepintas lalu, takkan ada orang mengira bahwa kakek tua renta yang lengan kirinya buntung ini memiliki kesaktian yang amat hebat.

Dua macam ilmu simpanannya, yaitu Sin-liong Hok-te, jurus pasangan kuda-kuda yang membuat tubuhnya seperti mendekam di atas tanah bagaikan seekor naga, kemudian dapat menimbulkan tenaga dahsyat yang mukjijat, dan Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, jarang dapat ditandingi di dunia persilatan.

Isterinya, nenek Wan Ceng, meski pun usianya juga sudah tua sekali, masih nampak sehat. Mukanya tidak penuh keriput dan kulit muka itu masih halus kemerahan saking sehatnya, walau pun giginya telah ompong dan rambut di kepala telah putih semua.

Nenek ini pun memiliki ilmu simpanan yang khas, yaitu Ban-tok-ciang. Kalau dia sudah mengerahkan tenaga memainkan ilmu silat ini, kedua tangannya mengandung selaksa racun (ban-tok) yang amat dahsyat dan berbahaya bagi lawan. Dan juga pedangnya, Ban-tok-kiam, merupakan pusaka yang mengerikan.

Ada pun tamu itu, Tiong Khi Hwesio, biar pun sudah setua nenek itu, namun tubuhnya masih tegap, jalannya masih tegak. Jubahnya kuning bersih, matanya tajam berkilat dan mulutnya selalu tersenyum sinis. Kakek yang dulunya pernah berjuluk Toat-beng-ci (Si Jari Maut) ini mempunyai berbagai ilmu silat simpanan seperti Pat-mo Sin-kun, Pat-sian Sin-kun, dan memiliki ilmu sinkang (tenaga sakti) yang diberi nama Tenaga Inti Bumi. Juga pedangnya, Cui-beng-kiam, adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh sekali.

Sebetulnya baru beberapa bulan yang lalu, Tiong Khi Hwesio berjumpa dengan kakek dan nenek itu ketika mereka semua menghadiri pernikahan Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw, dengan Can Bi Lan, gadis yang pernah mendapat bimbingan ilmu silat dalam waktu singkat dari kakek dan nenek ini sehingga dapat dibilang gadis itu murid mereka. Pernikahan itu diadakan di rumah Pendekar Kao Cin Liong, yaitu putera tunggal suami isteri dari Istana Gurun Pasir ini.

Akan tetapi karena pertemuan itu terjadi di dalam sebuah pesta di mana hadir banyak tamu, mereka merasa kurang leluasa bercakap-cakap. Siapa kira, tahu-tahu kini hwesio tua itu muncul di istana mereka, tentu saja kakek dan nenek itu menjadi gembira bukan main.

“Tek Hoat, sungguh aku girang bukan main bahwa engkau sudi datang berkunjung pada kami. Pertemuan dalam usia yang amat tua ini sungguh mendatangkan kenangan ketika masih muda, dan menggembirakan sekali. Terima kasih, Tek Hoat.”

Nenek itu memang selalu menyebut saudara tirinya dengan nama kecilnya saja, tidak peduli bahwa sekarang saudara tirinya itu sudah menjadi seorang hwesio tua, seorang pendeta!

Tiong Khi Hwesio tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, bertemu dan bercakap-cakap denganmu membuat orang sama sekali lupa bahwa ia telah menjadi tua bangka, Wan Ceng. Sikap dan kata-katamu seakan tidak pernah berubah, aku melihatmu seperti melihat engkau ketika masih gadis, ha-ha-ha!”

Kao Kok Cu juga turut tersenyum. Kemudian dia yang biasa bersikap serius, berkata dengan halus namun meyakinkan, “Memang, waktu berjalan dengan cepatnya dan tahu-tahu kita semua telah menjadi tua, sudah masak untuk meninggalkan dunia ini. Akan tetapi, pernahkah kita menyelidiki pada diri sendiri, kebaikan dan kegunaan apa saja yang pernah kita lakukan untuk mengisi kehidupan kita yang tidak berapa panjang ini?”

Ucapan ini membuat Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio termenung sampai beberapa lama. Mereka terbenam dalam lamunan masing-masing. Kemudian Tiong Khi Hwesio berkata.

“Omitohud Kao-taihap, ucapanmu itu menggugah semua kenangan lama dan pinceng melihat betapa selama hidup pinceng itu, jauh lebih banyak dukanya dari pada sukanya dan perbuatan pinceng jauh lebih banyak buruknya dari pada baiknya. Perbuatan buruk itu pinceng lakukan karena ada dorongan nafsu, sedangkan perbuatan baik pun pinceng lakukan dengan menyembunyikan pamrih demi keuntungan diri pribadi. Omitohud, kalau dikaji benar, tidak ada baiknya perbuatan pinceng.”

“Aihh, jangan kau berkata demikian, Tek Hoat. Aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, engkau berjiwa pendekar yang gagah perkasa. Kalau tidak demikian, mana mungkin enci Syanti Dewi sampai tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu? Engkau memang terlalu merendahkan diri sendiri,” kata Wan Ceng. “Banyaklah sudah kegagahan kau lakukan karena memang watakmu yang gagah perkasa, seperti seorang pendekar sejati, tanpa pamrih.”

“Tapi... tapi... kalau pinceng ingat sekarang, semua perbuatan itu pinceng lakukan demi cinta pinceng kepada mendiang isteriku, Syanti Dewi. Andai kata tidak ada Syanti Dewi, tidak ada cintaku terhadapnya... ahh, tidak tahulah aku, apa yang akan terjadi dengan diriku...“ Tiong Khi Hwesio nampak termangu.

Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Memang demikian keadaannya. Kita tidak pernah bebas. Perbuatan kita tidak pernah bebas dari pada pamrih. Karena ikatan-ikatan maka kita selalu berbuat dengan adanya pamrih di belakang perbuatan itu, membuat semua perbuatan kita palsu adanya. Betapa pun baiknya suatu perbuatan itu menyembunyikan pamrih, maka perbuatan itu adalah suatu kejahatan pula, karena perbuatan itu hanya menjadi semacam cara untuk mendapatkan hasil yang kita kehendaki.”

Tiong Khi Hwesio juga menarik napas panjang. “Omitohud, bijaksana sekali ucapanmu itu, Kok-taihiap. Akan tetapi, bagaimana mungkin perbuatan kita tidak menyembunyikan pamrih?”

“Bukankah pamrih itu muncul dari ikatan kepada sesuatu? Ikatan inilah yang menjadi pamrih dalam perbuatan kita. Karena itu, satu-satunya kebenaran adalah kebebasan! Sebelum bebas dari semua ikatan, tak mungkin perbuatan kita benar, dalam arti yang sedalam-dalamnya. Kita harus berani bebas, harus berani sendirian, sebab bersendirian ini merupakan kenyataan hidup. Masing-masing dari kita membawa kehidupan sendiri-sendiri dan akan mengakhiri kehidupan ini sendiri-sendiri pula. Kita takut bersendirian, melihat kenyataan betapa kita ini masing-masing kosong, lemah tidak berarti, maka timbullah rasa takut dan kita lalu mencari pegangan, mencari ikatan sebanyaknya agar si aku tidak kehilangan pijakan. Kita memperbanyak ikatan yang kita anggap mampu mendatangkan kekuatan dan mendatangkan hiburan, seperti orang takut terhadap setan lalu mencari banyak teman. Padahal, ikatan-ikatan ini pangkal semua kesengsaraan.”

Wan Ceng yang sejak tadi mendengarkan, mengerutkan alis. Sudah sering ia bercakap-cakap dengan suaminya tentang hal ini, namun masih juga merasa sukar untuk dapat menangkap maknanya yang tepat. Sekarang ada Tiong Khi Hwesio di situ, maka dia mengajukan bantahannya lagi agar dapat lebih mudah menyelidiki dan mengerti.

“Akan tetapi, kalau kita membiarkan diri bebas dari ikatan, lalu mana ada cinta? Apakah kita harus bersikap tak peduli, apakah kita harus meniadakan kewajiban-kewajiban dan hidup dengan sikap acuh dan masa bodoh?”

Suaminya tersenyum, senyum penuh kasih yang selalu ditujukan pada isterinya. Sudah sering isterinya membantah seperti ini, dan dia tahu bahwa isterinya masih juga belum mengerti benar dan kini hendak minta dukungan Tiong Khi Hwesio terhadap sanggahan atau bantahannya itu.

“Benar sekali, Kao-taihiap, seperti apa yang dikemukakan isterimu. Agaknya kebebasan seperti ini, seperti yang kau katakan tadi, berlawanan dengan tugas-tugas dalam hidup ini, seperti kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, pemerintah dan lain sebagainya. Bukankah jika sudah bebas dari segalanya seperti itu, kita lalu menjadi acuh dan hidup seperti boneka saja?”

Kao Kok Cu tersenyum dengan penuh kesabaran. Ia tahu betapa sukarnya mempelajari hidup, betapa sukarnya membuka mata melihat kenyataan hidup seperti apa adanya. Dia sendiri pun baru-baru ini saja, dalam usia tua renta, dapat melihat kenyataan ini dengan waspada.

“Marilah kita selidiki bersama. Semua perbuatan kita ini merupakan pencerminan dari keadaan batin, bukan? Kalau batin tidak bebas, perbuatan pun tidak akan bebas dari pamrih. Karena itu, yang dimaksudkan dengan kebebasan di sini bukanlah kebebasan lahiriah. Lahiriah, kita tidak mungkin bebas. Kita adalah bagian dari masyarakat, bagian dari bangsa dan negara dengan segala macam adat istiadat dan hukumnya. Kita secara lahiriah tidak mungkin bebas dari semua itu, dari kewajiban terhadap keluarga, terhadap pemerintah, terhadap pekerjaan, terhadap teman, masyarakat dan sebagainya. Akan tetapi, haruskah batin juga terikat? Tak dapatkah secara lahiriah kita mempunyai, akan tetapi batin tidak ikut memiliki? Hanya batin yang bebas saja yang akan dapat mengenal cinta kasih, bukan cinta nafsu yang mengikat.”

Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng mendengarkan, terdiam dan seperti terpesona karena mereka pun dapat melihat kenyataan melalui petunjuk ini.

“Sekarang aku mulai bisa melihat,” kata Wan Ceng mengangguk-angguk. “Bebas bukan berarti bebas semau gua, karena semau gua merupakan tindakan lahiriah, tindakan badan yang penuh nafsu, tindakan pikiran yang selalu ingin enak sendiri. Bebas batin mendatangkan cinta kasih, dan perbuatan yang didasari cinta kasih tentu tidak akan menyeleweng dari pada kebenaran.”

“Omitohud...!”Tiong Khi Hwesio memuji sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada. “Betapa bahagianya hati pinceng, betapa beruntungnya pinceng dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah menuntun pinceng untuk berkunjung ke sini sehingga sempat berbincang-bincang dengan kalian berdua. Pinceng mengalami sendiri akan buruknya ikatan. Pinceng terikat lahir batin dengan Syanti Dewi sehingga ketika isteriku itu meninggal dunia, pinceng seperti orang gila karena kehilangan!”

“Ikatan selalu mendatangkan duka dan kehilangan. Yang bisa kehilangan hanya mereka yang memiliki. Kalau batin tidak memiliki apa-apa, bagaimana bisa kehilangan? Itulah namanya bebas batiniah, biar pun lahiriah terikat kaki tangan dan lehernya oleh segala macam kewajiban hidup.”

“Wah-wah, terima kasih!” Tiong Khi Hwesio bangkit dengan wajah cerah dan gembira sekali. “Tetapi, mengapa kita tenggelam ke dalam hal-hal yang begini serius? Pinceng ingin sekali melihat-lihat lautan pasir yang maha luas ini. Kabarnya di padang pasir sering terjadi keanehan-keanehan, nampak kekuasaan alam yang maha hebat. Maukah kalian mengantar pinceng melihat-lihat dan menunjukkan segala kehebatan itu kepada pinceng?”

Kao Kok Cu dan Wan Ceng juga bangkit sambil tertawa dan mereka bertiga lalu pergi meninggalkan istana itu, menuju ke selatan karena istana itu menghadap ke timur, ke arah Mongol dari mana Kaisar Jenghis Khan berasal.
Kisah si bangau putih bagian 01

Tiong Khi Hwesio kagum bukan main ketika suami isteri itu membawanya ke bagian-bagian yang luar biasa dari padang pasir itu. Ada bagian di mana pasirnya besar-besar dan agak hitam, ada pula bagian di mana pasirnya lembut sekali dengan warna putih berkilauan seperti bubuk perak. Ada yang permukaannya demikian halus seperti sutera, ada pula yang membentuk keriput-keriput seperti alun samudera. Juga terdapat bagian di mana terdapat batu-batu besar berbentuk aneh-aneh karena permainan angin dan terpukul pasir-pasir yang diterbangkan angin.

Luar biasa sekali melihat betapa ada permukaan pasir yang tak pernah diam, seperti air di lautan, selalu berubah bentuknya karena pasir-pasir halus di permukaan itu terbawa angin membentuk garis-garis yang selalu berubah. Seolah-olah ada kehidupan yang tak nampak di tempat yang teramat sunyi itu. Berkali-kali Tiong Khi Hwesio mengeluarkan suara pujian dengan penuh kagum dan heran.

Melihat kegembiraan saudara tirinya, Wan Ceng menjadi ikut bergembira dan bangga. “Engkau belum melihat yang paling hebat, Tek Hoat,” katanya bangga.

“Wah?! Masih ada yang lebih hebat dari ini? Bawa pinceng ke sana, pinceng ingin melihat yang paling hebat!”

“Bagian itu jauh di selatan, makan waktu perjalanan hampir satu hari, disebut sebagai Lautan Maut. Di sana engkau akan melihat badai lautan pasir, melihat pasir bagaikan air laut menderu-deru, dengan ombak yang setinggi rumah.”

“Wah, hebat! Hayo kita lekas ke sana!” ajak Tiong Khi Hwesio, tertarik sekali. Sebagai seorang bekas pendekar, tentu saja keadaan bahaya merupakan tantangan yang amat menggairahkan hatinya.

“Di sana berbahaya sekali,” kata Kao Kok Cu. “Bahkan rombongan onta dengan orang-orang yang paling berpengalaman sekali pun akan menjauhi bagian itu dan lebih baik melakukan perjalanan memutar yang lebih jauh dari pada harus menempuh Lautan Maut itu.”

“Akan tetapi kita bukanlah orang-orang yang lemah seperti mereka!” kata Wan Ceng kepada suaminya. “Bukankah kita pernah beberapa kali ke sana dan mampu menahan serangan badai?”

Kao Kok Cu tersenyum kepada isterinya. “Haa! Agaknya engkau lupa bahwa hal itu terjadi puluhan tahun yang lalu. Ketika itu usia kita belum lima puluh tahun.”

“Apa bedanya? Kita masih kuat dan bahwa kita bertiga dapat menguji diri apakah masih ada kemampuan dalam tubuh yang tua ini.”

“Cocok! Ha-ha-ha-ha, Kao-taihiap, apakah engkau tidak ingin menggembirakan seorang sahabat seperti pinceng ini? Sebelum maut datang menjemput, pinceng ingin sekali melihat dan merasakan betapa hebatnya badai di Lautan Maut itu.”

Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Baiklah, tentu saja kita bertiga dapat melindungi diri sendiri dari badai. Di sana terdapat banyak batu besar yang dapat dipergunakan sebagai tempat berlindung. Akan tetapi perjalanan itu tentu akan makan waktu dua hari pulang pergi dan di sana tidak terdapat makanan atau minuman apa pun. Kita harus membawa bekal.”

Mereka kembali ke istana tua. Sibuklah mereka membuat perbekalan untuk perjalanan besok. Mereka bergembira seperti tiga orang pemuda remaja yang membuat persiapan untuk perbekalan perjalanan tamasya besok.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah berangkat meninggalkan istana gurun pasir, menuju ke selatan. Lewat tengah hari mereka tiba di bagian lautan pasir yang dimaksudkan oleh Wan Ceng. Sebelum mereka berangkat, Kao Kok Cu memperingatkan mereka agar berhati-hati.

“Sekarang musim yang paling ganas di sana, di waktu badai sedang besarnya dengan adanya pemutaran angin dari utara ke timur.”

Dengan buntalan perbekalan di punggung mereka, ketiga orang ini memasuki daerah Lautan Maut. Nampaknya memang tidak ada apa-apa dan Tiong Khi Hwesio mulai kecewa. Akan tetapi makin ke selatan, terasa angin semakin keras dan dibandingkan dengan pasir yang mereka injak, yang panas, angin itu terasa dingin sekali. Dan ketika mereka tiba di daerah yang berbatu-batu, tiba-tiba saja badai datang mengamuk.

Mula-mula dari arah barat dan utara, nampak seperti awan hitam dan debu angin tiba-tiba terhenti. Akan tetapi tidak lama kemudian, awan hitam dan debu yang ternyata gelombang pasir itu datang menerpa, didorong angin yang amat kuatnya.

Tiga orang gagah itu lalu memasang kuda-kuda sambil mengerahkan tenaga melawan hantaman pasir halus yang dibawa angin. Mereka seakan-akan masuk ke dalam tirai pasir yang mendorong kuat dari depan. Makin lama semakin kuat saja hantaman pasir dan angin itu.

Pertama-tama Wan Ceng yang agak terhuyung. Cepat ia berpegangan tangan dengan suaminya yang membantunya, dan ketika akhirnya Tiong Khi Hwesio juga terhuyung, Kao Kok Cu berteriak nyaring untuk mengatasi gemuruh suara badai pasir.

“Cepat, kita berlindung di balik batu di sana itu!” Dia menunjuk ke arah sebuah batu karang yang besar dan kokoh kuat.

Memilih tempat berlindung ini pun ada bahayanya. Karena kalau salah pilih, bisa saja ada batu yang roboh dilanda badai sehingga menindih dan membunuh orang-orang yang berlindung di bawahnya.

Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio, sejak mudanya memang memiliki hati yang pantang menyerah. Oleh karena itu, ajakan Kao Kok Cu itu diterima dengan gelengan kepala, bahkan Wan Ceng sudah melepaskan pegangan tangan suaminya, kembali memasang kuda-kuda lagi dan mengerahkan tenaganya. Demikian pula Tiong Khi Hwesio, agaknya tidak mau kalah oleh saudara tirinya!

Melihat lagak kedua orang ini, mau tidak mau Kao Kok Cu tertawa geli dan gembira. Dia pun lalu memasang kuda-kuda untuk melawan badai yang semakin kuat datangnya itu. Akan tetapi beberapa menit kemudian, Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio terpaksa harus mengakui keunggulan badai karena mereka terdorong sampai roboh bergulingan!

Terpaksa mereka sekarang membiarkan diri mereka diseret. Wan Ceng berpegangan tangan dengan Tiong Khi Hwesio sedang Kao Kok Cu dengan satu tangan kanannya memegang tangan hwesio itu dan menyeretnya di atas pasir menuju ke balik batu besar dan barulah mereka dapat bernapas lega karena terjangan badai ditangkis oleh batu karang yang kokoh kuat itu.

Akan tetapi, kegembiraan mereka semakin menjadi-jadi. Setelah beristirahat dan dapat mengumpulkan tenaga kembali, melihat betapa badai masih saja membesar, Tiong Khi Hwesio lalu meloncat keluar dari balik batu karang dan kini dia mulai bersilat menentang badai. Hebat memang kakek hwesio ini.

Ia ternyata telah menggabungkan dua macam ilmu silat yang merupakan ilmu silat yang saling berlawanan, yaitu Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa)! Tidak saja dia telah mampu menggabungkan dua aliran silat yang bertentangan ini, akan tetapi juga dia mempergunakan tenaga sakti yang hebat, yaitu Tenaga Inti Bumi.

Biar pun usianya sudah tujuh puluh dua tahun, namun gerakannya demikian gesit dan pukulan-pukulannya demikian kuat sehingga angin menderu-deru dari kaki tangannya menentang badai sehingga pasir-pasir yang diterbangkan badai itu membuyar terkena hantaman angin pukulan kaki tangannya!

Tiong Khi Hwesio bersilat terus sampai akhirnya dia melompat kembali ke balik batu karang dengan muka merah, keringat membasahi tubuh dan napasnya terengah-engah, akan tetapi matanya berseri dan mulutnya tertawa gembira.

Wan Ceng tidak mau kalah. Nenek yang usianya sebaya dengan saudara tirinya ini juga meloncat keluar dan bersilat menentang badai. Ia mengeluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu Ban-tok-ciang dan dari kedua telapak tangannya nampak ada uap yang kadang-kadang berwarna hitam, lalu hijau atau biru, berubah lagi kemerahan.

Melihat ini, diam-diam Tiong Khi Hwesio bergidik karena dia pun tahu betapa ampuhnya pukulan-pukulan adik tirinya itu. Nenek ini pun bersilat sampai ia tidak kuat bertahan lagi dan terpaksa harus meloncat ke belakang batu karang dengan tubuh basah keringat dan napasnya terengah-engah.

Melihat kegembiraan kedua orang itu, Kao Kok Cu lantas ketularan. Dia pun keluar dan menentang badai, lalu ia mulai bersilat, di tonton dengan penuh rasa kagum oleh Tiong Khi Hwesio. Dia melihat betapa kakek berlengan sebelah ini bersilat secara aneh sekali, dengan tubuh kadang-kadang meluncur ke depan bagaikan seekor naga, akan tetapi gerakannya membawa angin pukulan yang bercuitan.

Sekarang dia melihat betapa di bagian depan Kao Kok Cu seolah-olah ada dinding atau perisai yang tidak nampak, terbuat dari hawa pukulan sehingga pasir yang terbang dari depan itu terhenti dan runtuh dengan sendirinya, seperti membentur batu karang! Kakek berlengan buntung yang usianya telah tujuh puluh delapan tahun ini bersilat paling lama dibandingkan Tiong Khi Hwesio atau Wan Ceng, tapi ketika akhirnya dia menghentikan gerakannya dan kembali ke belakang batu karang, napasnya tidak terengah-engah dan wajahnya biasa saja walau pun napasnya agak memburu.

“Wahh! Usia tua menggerogoti dari dalam sehingga tenaga dan daya tahanku banyak berkurang,” katanya sambil mengatur pernapasan.

“Kao-taihiap, engkau amat hebat!” Tiong Khi Hwesio memuji. “Engkau yang paling tua di antara kita, namun ternyata tenaga dan daya tahanmu paling kuat. Sungguh membuat aku takluk dan kagum sekali!”

Akan tetapi Kao Kok Cu tidak menjawab, melainkan menuding ke arah barat.

“Lihat, bukankah itu suara onta yang datang dari arah sana?”

Dua orang itu menoleh ke arah barat, namun tidak kelihatan sesuatu, hanya memang mereka mendengar ada suara onta. Suaranya merintih seperti sedang menderita.

“Onta tidak pernah merintih kecuali menghadapi kematiannya dan di mana ada binatang onta terancam maut, di situ tentu ada pula penunggangnya yang juga terancam mala petaka,” sambung Wan Ceng. “Mari kita lihat!”

Dua orang kakek itu mengangguk setuju dan mereka bertiga segera berloncatan keluar dari balik batu karang dan berlari cepat menuju ke barat, ke arah datangnya suara tadi. Tidak terlalu lama mereka mencari karena segera mereka melihat seekor onta yang dalam keadaan sekarat, tergencet batu yang roboh menimpa dan menghimpitnya. Dan di dekatnya nampak seorang wanita yang telah tewas pula, sedangkan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahun berlutut dan mengguncang-guncang tubuh wanita itu.

“Ibu... ibu... bangunlah, ibu... kuatkanlah, mari kugendong ibu pergi dari sini...“ kata anak itu dengan suara pilu dan gemetar.

Dia lalu dengan susah payah menarik tubuh ibunya yang kedua kakinya terhimpit tubuh onta, kemudian mencoba untuk menggendongnya. Akan tetapi baru beberapa langkah saja anak itu berjalan, dia disambar hantaman badai dan dia pun terguling bersama mayat ibunya, bergulingan.

“Ibuuuuu...!” Anak itu berteriak.

Pada saat itu, Tiong Khi Hwesio telah menyambar tubuhnya dan dibawa meloncat ke balik sebuah batu karang untuk berlindung dari serangan badai. Wan Ceng juga sudah menyambar mayat wanita itu dan membawanya ke tempat yang sama.

“Ibuuu...! Lepaskan ibuku, jangan ganggu ibuku...!”

Tiba-tiba anak itu meronta dan saking marah dan khawatirnya, anak itu memiliki tenaga yang demikian hebatnya sehingga dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Tiong Khi Hwesio dan kini dia menyerang Wan Ceng yang masih memondong tubuh wanita yang telah mati itu. Anak laki-laki itu menubruk, tangan kirinya mendorong ke arah dada Wan Ceng, dan tangan kanannya mencoba untuk merampas tubuh wanita itu, gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga yang kuat.

Wan Ceng tidak melawan, hanya menarik tubuh atas untuk mengelak dari dorongan anak itu, dan ia membiarkan anak itu merampas tubuh mayat itu. Anak laki-laki itu kini memandang mayat itu, menghadapi tiga orang tua itu dengan mata terbelalak. Mata itu liar dan beringas, seperti mata seekor anak harimau tersudut. Dia siap melawan tiga orang itu mati-matian untuk mempertahankan dan melindungi ibunya.

“Jangan kalian mengganggu ibuku! Akan kulawan sampai mati! Walau pun kalian Dewa Kematian, Dewa Badai dan Dewa Padang Pasir, aku tidak takut!”

Dia menantang dan sikapnya sungguh berani, sikap seorang yang sudah nekat karena tidak melihat jalan lain.

Tiga orang tua renta itu sejenak terpesona, juga terharu. Mereka adalah orang-orang sakti yang sudah banyak makan garam, banyak pengalaman dan tahu saja artinya duka karena mereka pun sudah kenyang mengalami duka dalam kehidupan mereka.

Oleh karena itu, mereka dapat menduga bahwa anak ini menjadi demikian nekat dan berani karena terhimpit duka yang bertubi-tubi dan yang terakhir kalinya agaknya karena melihat ibunya yang tercinta tewas. Atau mungkin juga saking bingung, khawatir dan dukanya, dia sampai tidak sadar bahwa ibunya telah kehilangan nyawanya dan yang hendak dilindungi dan dipertahankan itu ialah sesosok mayat yang telah mulai menjadi dingin!

Dengan hati terharu penuh iba, Kao Kok Cu melangkah maju. “Anak yang baik, kami bukan dewa atau iblis, kami adalah orang-orang biasa yang datang ingin menolongmu. Tidak ada yang akan mengganggu ibumu lagi, Nak, karena ibumu itu telah meninggal dunia. Lihatlah baik-baik dan jangan keliru menyangka orang.”

Suara itu begitu halus, tenang dan sabar dan suara itu saja sudah cukup membuat anak itu percaya. Kini anak itu memandangi wajah mayat yang dipeluknya. Wajah seorang wanita yang kurus pucat, dengan mata setengah terbuka, dengan pandang kosong tanpa cahaya sama sekali, seperti mata sebuah patung yang pernah dilihatnya. Dia lalu mengangkat mayat itu mendekat dan merendahkan mukanya sampai mukanya dekat sekali dengan muka mayat itu. Hidung dan mulut ibunya tidak bernapas lagi!

“Ibuuuuu...!”

Untuk kedua kalinya dia pun terjungkal bersama mayat ibunya, dan roboh pingsan di dekat mayat itu.

“Omitohud...!” Tiong Khi Hwesio mengeluh ketika dia melihat peristiwa ini.

Kao Kok Cu menarik napas dan menggeleng-geleng kepalanya sedangkan Wan Ceng lalu mendekati anak itu, berlutut dan mengurut tengkuk dan dadanya.

Anak itu pun mengeluh, lalu membuka matanya. Dia segera mencari dengan pandang matanya dan ketika dia melihat tubuh ibunya menggeletak tidak jauh dari situ, dia pun bangkit dan menubruk mayat ibunya sambil menangis. Akan tetapi, anak itu agaknya memang memiliki kekerasan dan ketabahan hati.

Tidak lama dia menangis dan agaknya dia sudah teringat lagi akan tiga orang tua itu. Maka ia bangkit berdiri memandang, lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap mereka, agaknya sama sekali tak peduli akan luka-luka yang diderita tubuhnya, babak belur dan lecet-lecet. Juga kaki kanannya kehilangan sepatunya, sedangkan pergelangan kaki itu menggembung besar, tanda bahwa kaki itu salah urat.

“Harap Sam-wi Locianpwe (Tiga Orang Tua Perkasa) memberi ampun kepada saya yang tadi bersikap kurang ajar. Dalam keadaan seperti ini, saya menjadi bingung dan mengira Sam-wi (Kalian Bertiga) bukan manusia.“

Tiga orang itu saling pandang dan sependapat bahwa anak ini ternyata mempunyai pendidikan yang baik dan mengenal aturan. Juga, mata mereka yang tajam dapat mengenal bahwa anak ini memiliki nyali yang besar, sikap gagah dan juga bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang pendekar.

“Anak baik, sekarang belum waktunya banyak bicara. Apakah engkau hanya berdua dengan ibumu ini?” tanya Kao Kok Cu. Anak itu mengangguk.

“Kalau begitu, yang terpenting sekarang, mari ikut bersama kami dan kami juga akan membawa jenazah ibumu supaya mendapatkan penguburan yang sepatutnya di tempat kami.”

“Baik, Locianpwe, dan terima kasih atas perhatian Sam-wi,” kata anak itu.

Anak itu segera bangkit. Tanpa diperintah lagi ia menghampiri mayat ibunya, bermaksud untuk memondongnya. Hal ini saja membuat tiga orang tua itu menjadi kagum. Anak ini tidak cengeng, tahu diri, cerdik dan tabah sekali.

“Biarkan pinceng yang membawa jenazah ibumu, anak baik,” kata Tiong Khi Hwesio dan sekali kedua lengannya bergerak, mayat wanita itu telah dipondongnya.

Anak itu terbelalak dan merasa seperti melihat sulapan atau sihir saja. Dia hampir tidak melihat hwesio tua itu menyentuh mayat ibunya atau mengulurkan tangan, seolah-olah mayat itu yang terbang ke dalam pondongan hwesio tua itu!

“Dan engkau pun tidak sehat benar, marilah engkau kugendong!” kata pula Kao Kok Cu.

Dan anak itu menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya melayang naik dan tahu-tahu dia telah berada di atas punggung kakek yang lengan kirinya buntung! Hampir dia menjerit ketakutan dan hampir kehilangan lagi kepercayaannya bahwa tiga orang itu adalah manusia. Jangan-jangan mereka ini ternyata benar-benar iblis-iblis yang hendak membawa pergi dia dan mayat ibunya!

Akan tetapi, nenek itu berkata, “Mari kita pergi!”

Kini anak itu mengalami peristiwa yang membuat dia tidak akan dapat melupakannya selama hidupnya. Dia merasa dibawa terbang oleh kakek berlengan satu dan ketika dia melirik ke kanan, dia melihat hwesio itu pun seperti terbang membawa mayat ibunya, sedangkan nenek itu terbang paling depan.

Badai masih mengamuk hebat, akan tetapi tiga orang ini dapat berlari secepat terbang, menempuh badai yang menyerang dari samping. Cepat sekali gerakan mereka dan berkali-kali dia harus memejamkan matanya saking ngeri. Dan ketika mereka keluar dari daerah badai, anak itu merasa betapa mereka berlari lebih cepat lagi.

Kadang-kadang mereka melompati jurang-jurang seperti terbang, membuat dia merasa ngeri bukan main. Akhirnya dia pun hanya memejamkan mata agar tidak melihat betapa tubuhnya meluncur pesat di atas pundak kakek yang terbang di atas pasir.

Setelah mereka berhenti, barulah anak itu membuka matanya dan dia pun menahan keinginannya untuk berteriak saking herannya. Dia diturunkan, lalu digandeng masuk ke dalam sebuah istana besar yang indah dan juga menyeramkan karena istana itu berdiri megah ditengah-tengah gurun pasir, tidak mempunyai tetangga seorang pun!

Jenazah ibunya juga dibawa masuk dan nenek itu lalu merawat jenazah ibunya, diberi pakaian yang utuh, kemudian diadakan upacara sembahyang sekadarnya sehingga dia sebagai putera ibunya dapat memberi hormat dan berkabung atas kematian ibunya. Dia pun menurut saja ketika tiga orang tua itu mengusulkan agar ibunya segera dikubur pada hari itu juga. Mereka kemudian menggali lubang di kebun belakang dan mengubur jenazah itu tanpa peti.

Setelah penguburan selesai dan mereka semua kembali ke dalam istana, barulah anak itu yakin bahwa semua yang dialaminya bukanlah mimpi. Kemarin sore dia dibawa oleh tiga orang tua ini, bersama jenazah ibunya, dengan cara yang luar biasa, lari bagaikan terbang, sehingga malam-malam mereka tiba di istana ini. Hanya semalam ibunya yang telah menjadi jenazah itu dirawat dan pada keesokan harinya, penguburan ibunya telah dilakukan dengan baik dan selesai.

Kini dia telah menjadi seorang anak yang kehilangan ibu, tidak tahu berada di tempat apa, merasa berada di tempat yang aneh, bukan bagian dari dunia, bersama tiga orang manusia yang juga luar biasa. Apakah dia masih hidup, ataukah dia sudah berada di akhirat? Akan tetapi kalau dia sudah mati, tentu dia bertemu dengan ibunya. Tidak, dia masih hidup! Ibunyalah yang telah mati, dan dia berada di tempat tiga orang sakti.

Sebagai putera seorang ahli silat, tentu saja dia pernah mendengar tentang orang-orang tua yang sakti, akan tetapi biasanya mereka itu adalah pertapa-pertapa atau pendeta-pendeta di kuil. Dan kini, tiga orang tua itu, biar pun yang seorang adalah hwesio, bukan tinggal di dalam goa, melainkan di dalam sebuah istana!

Demikianlah anak itu membolak-balik pikirannya sendiri ketika dia berlutut di atas lantai, di depan tiga orang yang duduk di bangku rendah sambil bersila. Kemudian dia teringat betapa tiga orang tua ini sudah melimpahkan kebaikan-kebaikan kepadanya.

Pertama, kalau tidak ada mereka yang datang ketika dia diserang badai digurun pasir itu, tentu dia sudah tewas pula bersama ibunya dan onta mereka. Kedua, mereka pula yang membawa dia dan jenazah ibunya ke istana aneh ini, dan ketiga, mereka sudah mengurus penguburan ibunya sampai selesai.

Teringat akan semua ini, dia kemudian memberi hormat kepada mereka sampai dahinya berkali-kali menyentuh lantai.

“Sam-wi Locianpwe telah menyelamatkan saya dan telah mengurus pemakaman ibu, sungguh budi kemuliaan ini sampai mati pun saya tidak akan melupakannya,” demikian dia berkata berulang kali dan baru berhenti setelah kakek yang lengan kirinya buntung itu berkata dengan suara halus.

“Anak baik, duduklah yang benar, dan ceritakan dengan jelas bagaimana asal mulanya maka engkau bersama mendiang ibumu dapat berada di tempat yang berbahaya itu dan terserang badai.”

“Nanti dulu!” Tiba-tiba Wan Ceng berkata. “Siapa tahu dia menderita luka berat. Mari, majulah ke dekatku ke sini, Nak, akan kuperiksa keadaanmu.”

Mendengar ini, anak itu tidak berani membantah dan dia pun merangkak dan mendekati nenek itu. Wan Ceng cepat-cepat memeriksa dan ternyata anak itu hanya menderita lecet-lecet dan babak belur, luka di kulit saja, sedangkan pergelangan kakinya yang membengkak itu adalah karena salah urat. Dengan cepat Wan Ceng mengurut kaki itu dan membetulkan kembali urat yang tertarik dan salah duduk, dan mengobati lecet-lecet dengan obat luka.

“Nah, engkau tidak apa-apa sekarang, ceritakanlah keadaanmu,” kata Wan Ceng.

Anak itu lalu berlutut kembali seperti tadi dan menceritakan riwayatnya. “Nama saya Tan Sin Hong, tinggal bersama orang tua saya di kota Ban-goan di selatan Tembok Besar. Ayah saya dikenal sebagai Tan-piauwsu (pengawal Tan) karena ayah saya membuka perusahaan piauw-kiok (perusahaan pengawal barang kiriman) yang mengawal barang-barang dagangan yang dikirim dari dan keluar Tembok Besar…”

Anak itu, yang bernama Tan Sin Hong, dengan lancar kemudian menceritakan semua peristiwa yang baru-baru ini menimpa keluarganya.

Pada suatu hari, Tan-piauwsu ayah Sin Hong, menerima tugas untuk mengawal barang-barang berharga untuk diantar ke kota Tuo-lun, sebuah kota yang terletak di daerah Mongol. Barang itu berupa sebuah peti besar terisi emas permata yang amat berharga. Karena itu, Tan-piauwsu tidak berani menyerahkan pengawalan kepada anak buahnya saja. Dia berangkat sendiri mengawal barang itu dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Tang-piauwsu, yaitu wakilnya.

Sebulan kemudian, datanglah seorang utusan yang membawa pesan dari Tan-piauwsu agar isterinya dan puteranya menyusul kekota Tuo-lun untuk diajak nonton keramaian tradisionil yang diadakan oleh suku bangsa campuran Mancu dan Mongol yang tinggal di sana. Biar pun perjalanan itu jauh dan memakan waktu lama, namun Nyonya Tan dan puteranya dengan girang memenuhi pesan itu.

Tang-piauwsu merasa khawatir dan dia sendiri yang rnelakukan pengawalan, memimpin dua belas orang anggota piauw-kiok. Berangkatlah rombongan ini keluar dari Tembok Besar menuju ke utara. Saat mereka tiba di dekat kota Tuo-lun, di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba muncul gerombolan perampok bertopeng yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang. Gerombolan perampok ini menyerang dan tentu saja Tang-piauwsu memimpin anak buahnya melakukan perlawanan.

Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi gerombolan perampok itu lihai dan dua kali lebih besar jumlahnya, maka pihak pengawal terdesak dan mulai ada yang roboh. Melihat keadaan berbahaya ini, Tang-piauwsu lalu melarikan kereta yang membawa Nyonya Tan dan Sin Hong, melarikan diri dari tempat itu. Namun, setelah merobohkan semua pengawal, gerombolan perampok bertopeng itu melakukan pengejaran.

Tang-piauwsu melarikan kereta tanpa tujuan dan akhirnya mereka tiba di padang pasir. Melihat ada penduduk daerah itu yang membawa garam dengan menunggang seekor onta, Tang-piauwsu lalu membeli onta itu dan menyuruh Nyonya Tan beserta Sin Hong untuk melanjutkan larinya dengan menunggang onta, sedangkan dia sendiri menanti di situ dengan pedang di tangan untuk menahan gerombolan perampok yang tadi sudah mengancam hendak menawan Nyonya Tan yang masih kelihatan muda dan cantik.

Karena ketakutan, Nyonya Tan dan Sin Hong lalu menunggang onta, membawa bekal seadanya saja dan onta itu pun memasuki gurun pasir! Mereka tidak lagi melihat apa yang telah terjadi selanjutnya dengan Tang-piauwsu.

“Karena takut ditawan gerombolan perampok yang kasar itu, yang menurut perkiraan Tang-piauwsu agaknya hendak menangkap ibu beserta saya untuk membalas dendam kepada ayah, ibu lalu melarikan onta itu tanpa tujuan, terus memasuki gurun pasir yang luas. Akhirnya kami tidak tahu jalan lagi, di mana-mana hanya pasir belaka dan kami membiarkan saja onta itu mengambil jalan sendiri. Entah berapa hari kami melakukan perjalanan seperti itu, kehabisan bekal, bahkan kantung air yang banyak itu pun sudah hampir habis. Kami menderita sekali dan akhirnya kami diserang badai. Kami berlindung di balik batu karang, akan tetapi batu karang itu lalu runtuh dan menimpa kami, dan selanjutnya... Sam-wi telah mengetahui…”

Begitu Sin Hong mengakhiri ceritanya, Tiong Khi Hwesio langsung berseru. “Omitohud... permusuhan yang tidak ada hentinya antara yang untung dan yang rugi! Para perampok merasa dirugikan oleh para piauwsu, sehingga banyak bentrokan terjadi antara mereka yang hendak merampok dan mereka yang hendak melindungi barang kiriman!”

“Ada yang mencurigakan di dalam urusan ini,” kata Kao Kok Cu, “Bagaimana seorang piauwsu yang berpengalaman begitu sembrono untuk memanggil isteri dan puteranya menyuruh ke tempat yang demikian jauh, melalui perjalanan yang berbahaya.”

“Memang mencurigakan sekali. Dan Tang-piauwsu itu malah membiarkan ibu dan anak itu melintasi gurun pasir dengan binatang onta tanpa pengawalan, benar-benar gegabah sekali,” kata pula Wan Ceng.

“Biarlah pinceng (saya) yang akan pergi ke Tuo-lun untuk mencari Tan-piauwsu dan memberi kabar kepadanya tentang isteri dan puteranya. Sin Hong, engkau tinggal dulu saja di sini sampai pinceng dapat menemukan ayahmu dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.”

Tan Sin Hong mengangguk, “Baik, Locianpwe, saya di sini akan menanti berita dari hasil penyelidikan Locianpwe.”

Dia merasa suka sekali di tempat yang indah itu, dan dia merasa berhutang budi. Ingin dia membalas budi itu, walau pun hanya dengan membersihkan tempat itu, istana tua itu yang nampaknya tidak begitu terawat dengan baik. Apa lagi ketika dia lantas mendapat kenyataan bahwa di istana tua itu tidak terdapat seorang pun pelayan.

Sambil menanti kembalinya Tiong Khi Hwesio, Sin Hong mendengar lebih banyak dari nenek Wan Ceng tentang istana tua itu dan kini dia tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir itu adalah kakek dan nenek she Kao ini, sedangkan Tiong Khi Hwesio yang kini pergi mencari ayahnya adalah seorang sahabat baik dan tamu kehormatan dari mereka.

Tiga hari kemudian, muncullah Tiong Khi Hwesio. Setelah minum air sejuk jernih yang dihidangkan oleh Sin Hong, kakek ini menarik napas panjang.

“Omitohud..., Tan Sin Hong. Pinceng kali ini terpaksa membawa berita yang amat tidak menyenangkan untukmu.” Dan dia pun mengelus kepala anak itu yang sudah berlutut di depannya.

Anak itu memang berhati tabah. Biar mukanya agak pucat dan matanya membayangkan kekhawatiran, namun suaranya masih tenang ketika dia berkata kepada hwesio tua itu. “Locianpwe, apakah yang telah terjadi dengan ayah saya?”

Nenek Wan Ceng juga tidak sabar. “Tek Hoat, apa yang telah terjadi di sana?”

Kakek yang masih terlihat lelah karena habis melakukan perjalanan jauh itu mengusap peluh dari leher dan mukanya menggunakan sehelai sapu tangan lebar, lalu menghela napas dan memandang kepada Sin Hong dengan sinar mata kasihan.

“Pinceng tiba di kota Tuo-lun dan melakukan penyelidikan. Akan tetapi ternyata bahwa Tan-piauwsu tidak pernah sampai di kota itu...“

“Ayah...!” Sin Hong berseru dengan suara tertahan, matanya menatap wajah Tiong Khi Hwesio, penuh pertanyaan dan kekhawatiran.

“Di kota itu pinceng bertemu dengan beberapa orang sahabat baik Tan-piauwsu karena memang sudah beberapa kali Tan-piauwsu mengawal barang ke kota itu. Dan bersama mereka pinceng lalu menyelidiki sepanjang jalan menuju ke kota itu dari selatan yang biasa diambil oleh rombongan piauw-kiok dan di sebuah hutan pinceng menemukan mereka.” Suara kakek ini menurun dan Sin Hong kembali menatap dengan muka pucat.

“Locianpwe menemukan ayah...?“ tanyanya, kini suaranya agak gemetar, jelas bahwa dia telah menduga buruk. Dan kakek itu mengangguk.

“Pinceng menemukan Tan-piauwsu dan sepuluh orang anak buahnya, semuanya telah tewas terbunuh.”

“Ayah...! Ibu...!” Teriakan Sin Hong ini lirih saja, seperti keluhan dan dalam keadaan berlutut dia menutupi muka dengan kedua tangannya.

Tiga orang tua itu hanya memandang dan membiarkan saja. Sampai beberapa lamanya Sin Hong menutupi mukanya, tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya. Kemudian dia mengusap air matanya dengan kedua tangan, lalu dengan suara agak parau dia bertanya kepada Tiong Khi Hwesio.

“Locianpwe, siapa yang membunuh ayah?”

Tiong Khi Hwesio menggeleng kepala. “Tidak ada yang tahu dan tiada tanda-tandanya. Mereka semua tewas dan agaknya dirampok karena tidak ada barang berharga lagi di sana, kecuali pakaian yang menempel di tubuh mereka.”

“Ahh, siapa lagi kalau bukan para perampok bertopeng itu? Dan yang mengirim utusan mengundang nyonya Tan serta Sin Hong tentu juga anggota perampok bertopeng itu yang sengaja menghadang dan menjebak,” kata kakek Kao Kok Cu. “Agaknya mereka adalah gerombolan perampok yang mendendam kepada Tan-piauwsu sehingga selain merampok, juga ingin membasmi keluarganya.”

“Aku lebih condong untuk mencurigai Tang-piauwsu itu!” Tiba-tiba Wan Ceng berkata. “Mengawal barang yang sangat berharga tentunya amat dirahasiakan dan kukira yang mengetahui hanyalah Tan-piauwsu dan pembantunya itu. Aku tidak akan heran kalau kelak diketahui bahwa yang mengatur semua perampokan dan pembunuhan itu adalah Tang-piauwsu. Oleh karena itu dia pulalah yang menyuruh nyonya Tan dan Sin Hong melarikan diri ke gurun pasir, yang artinya sama dengan mengirim mereka ke lembah maut.”

“Omitohud, kita tidak boleh sembarangan sangka. Urusan ini adalah urusan Sin Hong dan biarlah dia saja yang kelak melakukan penyelidikan. Engkau tenangkan hatimu Sin Hong. Teman-teman ayahmu sudah mengurus penguburan jenazah ayahmu dan anak buahnya, dan kalau suami isteri tua penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak berkeberatan, pinceng mengusulkan agar Sin Hong tinggal di sini mempelajari ilmu dari kita bertiga.”

Suami isteri itu agak terkejut dan memandang wajah hwesio itu penuh perhatian. “Apa alasanmu berkata demikian, Tek Hoat?” kata nenek Wan Ceng.

“Banyak peristiwa aneh-aneh yang terjadi di dunia, dan biasanya kita anggap sebagai hal yang kebetulan saja. Akan tetapi, bukankah di balik peristiwa itu sudah ada yang mengaturnya? Bukankah sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa maka bisa terjadi hal-hal yang kelihatan kebetulan itu? Contohnya Tan Sin Hong ini. Keluarganya tertimpa mala petaka, ibunya tewas, ayahnya tewas pula dan ia pun nyaris tewas. Coba lihatlah segala macam kebetulan yang sudah terjadi! Pertama-tama, kebetulan sekali pinceng mengunjungi kalian dan kemudian kebetulan sekali kita bertiga bermain-main dengan badai gurun pasir! Kalau tidak kebetulan pinceng berkunjung tentu kita tidak bermain-main dengan badai dan kalau tidak kebetulan kita bermain-main dengan badai tentu kita tidak akan melihat Sin Hong! Dan kalau begitu, apa jadinya? Tentu dia telah tewas pula! Bukankah semua kebetulan itu seperti telah diatur oleh Thian (Tuhan)? Nah, kita jangan menolak kehendak Thian dan harus menerima sebagai perintah-Nya. Mari kita menerima anak ini sebagai murid kita yang terakhir, untuk menampung peninggalan terakhir dari kita. Bagaimana pendapat kalian?”

Suami isteri itu saling pandang. Mereka telah mewariskan semua ilmu mereka kepada putera tunggal mereka yang bernama Kao Cin Liong dan kini tinggal dikota Pao-teng dekat kota raja. Juga mereka mengajarkan beberapa macam ilmu kepada Can Bi Lan yang kini menjadi nyonya Sim Houw. Apakah kini mereka harus mengambil seorang murid lagi ketika usia mereka sudah amat tua?

Tetapi, ada benarnya juga pendapat Tiong Khi Hwesio tadi tentang peristiwa kebetulan yang merupakan tanda kekuasaan dan kehendak Thian. Mereka mengangguk setuju dan Wan Ceng berkata sambil tersenyum.

“Tek Hoat, kalau begitu engkau juga harus tinggal di sini untuk mewariskan ilmu-ilmumu kepadanya.”

“Ha-ha-ha, tentu saja! Pinceng memang suka sekali menghabiskan sisa usia pinceng di sini, tentu saja kalau kalian tidak berkeberatan.”

“Kenapa keberatan? Kami suka sekali!” kata kakek Kao Kok Cu. “Akan tetapi kita tidak boleh melupakan hal yang terpenting, yaitu apakah Tan Sin Hong suka tinggal di sini sebagai murid kita?”

Sin Hong sejak tadi mendengarkan saja percakapan itu. Dia sedang tenggelam dalam lamunan penuh duka. Ayah ibunya tewas secara mendadak dan dia tidak memiliki apa-apa lagi. Terutama sekali, dia terkesan sekali oleh percakapan tiga orang tua itu tentang kematian ayahnya.

Ayahnya dibunuh orang! Agaknya sudah direncanakan. Tang-piauwsu patut dicurigai, walau pun belum ada buktinya. Dan dialah yang kelak harus menyelidiki dan membuka rahasia itu. Untuk itu dia perlu memiliki kepandaian yang tinggi. Ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya masih tidak ada artinya. Ayahnya sendiri pun tewas melawan penjahat, apa lagi dia!

Kini, mendengar percakapan tiga orang tua sakti itu yang ingin mengambilnya sebagai murid, dan mendengar kakek Kao Kok Cu menyinggung apakah dia suka menjadi murid mereka atau tidak, tanpa ditanya lagi dia lalu menjatuhkan diri bertiarap di atas lantai, menyentuh lantai dengan dahinya berulang kali.

“Sam-wi Locianpwe, teecu (murid) Tan Sin Hong bersumpah untuk menjadi murid yang baik kalau Sam-wi sudi mengambil teecu sebagai murid.” Berulang-ulang dia berkata demikian.

Dengan suaranya yang lantang dan tegas kakek Kao Kok Cu berkata, “Tan Sin Hong, benarkah engkau bersedia untuk mematuhi semua perintah kami kalau engkau menjadi murid kami?”

“Teecu bersumpah untuk mentaati dan mematuhi semua petunjuk dan perintah Sam-wi Locianpwe!” kata Sin Hong dengan setulus hatinya.

“Dan engkau tak akan mengeluh menghadapi latihan yang amat berat?” sambung Tiong Khi Hwesio.

“Biar sampai mati sekali pun dalam mentaati perintah, teecu tidak akan mengeluh.”

Tiga orang tua itu diam-diam menjadi girang dan mulai hari itu, Tan Sin Hong tinggal di sana. Dia bekerja keras sebagai pelayan, membersihkan istana dan bekerja di kebun, melayani semua kebutuhan tiga orang tua itu, akan tetapi sebagai imbalannya, dia pun mulai digembleng oleh mereka bertiga! Menjadi murid seorang saja di antara tiga orang sakti ini sudah merupakan suatu keberuntungan besar, apa lagi sekaligus menjadi murid mereka bertiga!

Sin Hong tidak menyia-nyiakan kesempatan yang amat baik ini dan dia pun belajar dan berlatih dengan amat tekunnya, siang malam tak pernah berhenti kecuali kalau sedang bekerja. Bahkan dalam melaksanakan pekerjaannya sekali pun, ia melatih diri sehingga dia memperoleh kemajuan pesat. Kalau malam, setelah lelah berlatih, dia mencurahkan pikirannya untuk mengingat semua pelajaran yang diterimanya dari tiga orang gurunya.

Tiga orang tua renta itu maklum bahwa bagi seorang murid seperti Sin Hong, tidaklah mungkin dapat mempelajari semua ilmu mereka bertiga, akan memakan waktu terlalu lama. Mereka sudah tua sekali, selain itu sudah merasa malas untuk banyak bergerak melatih ilmu silat, juga maklum bahwa akan sayang kalau sampai mereka mati sebelum ilmu mereka dapat diterima dengan baik oleh murid terakhir itu.

Oleh karena itulah mereka masing-masing sengaja memilih ilmu-ilmu simpanan mereka saja untuk diajarkan kepada Sin Hong, setelah menggembleng pemuda itu untuk dapat menguasai langkah-langkah dan gerakan-gerakan dasar dari ilmu mereka bertiga.

Kao Kok Cu menurunkan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat dan meski muridnya tidak berlengan buntung, dia mengajarkan juga caranya menghimpun tenaga sakti melalui Ilmu Sin-liong Hok-te. Nenek Wan Ceng juga mengajarkan Ilmu Ban-tok-ciang dan melatih pemuda itu untuk menghimpun tenaga beracun agar dapat melakukan Ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) dengan baik. Sementara itu Tiong Khi Hwesio menurunkan gabungan Ilmu Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun, juga melatih menghimpun tenaga sakti lewat ilmu sinkang Tenaga Inti Bumi!

Tentu saja untuk bisa menguasai ilmu-ilmu yang sakti itu, Sin Hong harus berlatih mati matian, menggembleng diri sehingga ia tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang kurus saking bekerja keras setiap hari dan malam untuk menguasai ilmu-ilmu itu! Dan semenjak tinggal di situ, ia hanya mau memakai pakaian serba putih untuk mengabungi ayah ibunya yang tewas secara menyedihkan.

Tiga tahun kemudian ketika dia berada di situ mempelajari ilmu, pada suatu hari datang berkunjung seorang laki-laki gagah perkasa yang berusia lima puluh tiga tahun. Dia ini bukan lain adalah Kao Cin Liong, putera tunggal dari Kao Kok Cu dan Wan Ceng, yang datang berkunjung dan membujuk ayah ibunya yang telah tua itu untuk tinggal bersama dia di Pao-teng.

“Kini ayah dan ibu telah berusia lanjut, dan saya sekeluarga tinggal jauh di Pao-teng. Sungguh tidak enak bagi saya kalau mengingat keadaan ayah dan ibu. Sebaiknya kalau ayah berdua tinggal bersama kami di Pao-teng supaya kami dapat mengurus semua keperluan ayah berdua,” demikian antara lain Kao Cin Liong membujuk orang tuanya.

Akan tetapi ayah ibunya tetap tidak mau menuruti permintaan puteranya. “Ketahuilah bahwa aku lebih suka tinggal di tempat yang sunyi ini bersama ayahmu, Cin Liong. Kami dapat mengurus diri sendiri dan andai kata kelak kami meninggal dunia, kami dapat saling mengurus atau merawat dan ada satu di antara kami yang akan mengabarimu di Pao-teng,” demikian nenek Wan Ceng berkata.

Puteranya tidak merasa heran mendengar ibunya sedemikian enaknya bicara tentang kematian. Dia sudah mengenal watak ibu dan ayahnya yang menganggap kematian sebagai hal yang biasa saja.

“Pula, kami sekarang mempunyai seorang murid yang juga melayani semua keperluan kami. Inilah dia, namanya Tan Sin Hong.” kata Kao Kok Cu. “Juga di sini tinggal pula Tiong Khi Hwesio yang menambah kegembiraan kami. Tak perlu engkau memusingkan kami tiga orang-orang tua dan biarkan kami dalam kegembiraan kami sendiri.”

Dia lalu menceritakan tentang Sin Hong yang segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong yang disebutnya ‘suheng’ (kakak seperguruan). Diam-diam Cin Liong merasa heran dan kagum akan baiknya nasib anak itu yang secara tak terduga telah menjadi murid ayah ibunya dan juga Tiong Khi Hwesio!

Kao Cin Liong tinggal selama satu minggu di Istana Gurun Pasir, dan setelah dia pergi meninggalkan tempat itu, pulang ke Pao-teng, kehidupan di situ menjadi seperti biasa lagi. Sin Hong tekun berlatih silat, dan ketiga orang tua renta itu kadang-kadang masih suka berkeliaran di padang pasir, bahkan beberapa kali masih senang bermain-main dengan badai.
Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya. Kalau kita masing-masing menengok ke belakang, kepada kehidupan kita di masa lalu di masa kanak-kanak, di masa muda dan selanjutnya, akan nampak betapa cepatnya waktu berjalan.

Bagi seorang dewasa, masa kanak-kanak yang lewat belasan tahun yang lalu, hanya seolah-olah baru kemarin saja. Semua peristiwa di masa kanak-kanak nampak seperti baru terjadi kemarin dan kenangan pada masa lalu ini akan membuat setiap orang menyadari bahwa tahu-tahu dia telah menjadi tua!

Demikian pendeknya kehidupan ini, kenapa waktu yang pendek itu tidak kita isi dengan langkah-langkah yang berguna, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain? Apa yang telah kita lakukan bagi manusia, bagi dunia, bagi Tuhan? Pertanyaan seperti ini sudah sepatutnya kita pertanyakan kepada diri sendiri masing-masing, dan bagi mereka yang belum pernah melakukan hal yang berguna atau merasa belum pernah, marilah mulai dari saat ini juga.

Langkah hidup apakah yang berguna? Tentu bukan langkah hidup atau perbuatan yang mengandung pamrih bagi kepentingan diri sendiri, karena langkah seperti itu hanya akan menimbulkan konflik atau pertentangan. Langkah hidup yang benar dan berguna hanyalah langkah atau perbuatan yang didasari oleh cinta kasih. Karena itu, mengapa tidak membiarkan cinta kasih bersinar menerangi batin?

Bukan dengan cara memupuk cinta kasih, karena hal ini tidak mungkin. Bukan dengan jalan mempraktekkan cinta kasih atau mengusahakan agar kita bisa menjadi baik dan menjadi seorang pengasih. Sama sekali tidak mungkin. Kita hanya dapat menyingkirkan hal-hal yang memenuhi batin kita, hal-hal yang bukan cinta kasih, bahkan yang justru membuat batin tertutup bagi masuknya sinar cinta kasih.

Kita harus menyingkirkan kebencian, permusuhan, dendam, pementingan diri, ambisi pribadi, iri hati dan segala macam keinginan yang didorong oleh nafsu. Kalau batin sudah bersih dari semua itu, tanpa kita panggil, tanpa kita cari, sinar cinta kasih akan menerangi batin. Dalam keadaan demikian, semua perbuatan kita akan didasari cinta kasih, berarti hidup kita berguna, baik bagi manusia mau pun bagi Tuhan!


Tanpa terasa lagi, sudah tujuh tahun Tan Sin Hong tinggal di Istana Gurun Pasir! Dan berkat ketekunannya, kerajinannya yang tak mengenal lelah, dalam usia dua puluh satu tahun, berhasillah dia menguasai seluruh ilmu yang diajarkan oleh ketiga orang gurunya kepadanya.

Sementara itu, tiga orang tua yang tinggal di Istana Gurun Pasir, kini menjadi semakin tua! Tiong Khi Hwesio sudah berusia hampir delapan puluh tahun, demikian pula nenek Wan Ceng, sedangkan suaminya Kao Kok Cu, telah berusia delapan puluh lima tahun! Mereka merasa betapa tenaga mereka digerogoti usia dari dalam, daya tahan mereka telah berkurang, hanya penggunaan otak mereka yang belum mundur, bahkan mereka menjadi semakin waspada dan pandai.

Karena merasa bahwa mereka bertiga sudah mendekati akhir usia, setelah melakukan latihan semedhi bersama, mereka bertiga mendapat kesempatan untuk bersama-sama menciptakan suatu ilmu yang khas untuk diwariskan kepada murid mereka yang baik itu. Selama tujuh tahun mereka melihat betapa Sin Hong adalah seorang yang selain tekun, tabah dan juga berkemauan keras, memiliki kesetiaan dan kebaktian terhadap mereka. Hal ini membuat mereka merasa suka dan sayang kepada Sin Hong.

Mereka pun mulai menciptakan suatu ilmu bersama dan setelah berhasil, mereka lalu mengajarkan ilmu ini kepada Sin Hong. Ilmu ini diilhami oleh gerakan seekor burung bangau, walau pun intinya mengandung sari dari ilmu ketiga orang tua itu. Dan karena gerakannya, mereka memberi nama ilmu ini Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dan kemudian mengajarkannya kepada Sin Hong.

Akan tetapi, bukan mudah mempelajari ilmu silat yang didasari ilmu batin yang kuat ini. Sin Hong sendiri tertegun karena kaget mendengar pesan Kao Kok Cu yang mewakili mereka bertiga.

“Sin Hong, ketahuilah bahwa ilmu yang akan kami berikan kepadamu ini bukanlah ilmu sembarangan, melainkan ilmu perahan dari seluruh kepandaian kami bertiga. Sinkang yang dikandung ilmu silat ini merupakan sinkang gabungan dari kami bertiga yang akan kami salurkan kepadamu pula. Untuk itu, sebelumnya engkau harus tahu bahwa setelah engkau menerima saluran sinkang dari kami, lalu mempelajari Pek-ho Sin-kun sampai tamat, engkau harus menghindarkan dirimu dari semua gerakan ilmu silat selama satu tahun penuh. Sanggupkah engkau?”

Sambil berlutut Sin Hong bertanya. “Sebelum teecu menyatakan kesanggupan teecu, ingin teecu mengerti apa yang Suhu maksudkan dengan menghindarkan diri dari semua gerakan silat itu?”

“Engkau tidak boleh bersilat walau pun menghadapi ancaman apa pun juga, dan sama sekali tidak boleh mengerahkan sinkang. Dan setiap kali ada kesempatan, engkau harus bersemedhi dengan mengendurkan seluruh otot dan syaraf, meniadakan segala pikiran dan kemauan, supaya tenaga yang kami salurkan kepadamu dapat mengendap dan menyesuaikan diri dengan tubuhmu. Kalau engkau melanggarnya, engkau akan celaka oleh tenagamu itu sendiri. Nah, syaratnya amat berat. Sanggupkah engkau?”

Sin Hong berpikir dengan keras. Sungguh berat sekali syarat itu. Bagaimana dia dapat membiarkan diri kosong seperti itu selama setahun? Berlatih silat pun tidak boleh! Akan tetapi, makin sukar syaratnya, tentu semakin hebat pula ilmunya. Maka dia pun segera mengangguk.

“Teecu menerima syarat itu, Suhu. Akan tetapi teecu mohon keterangan lagi untuk dapat teecu mengerti benar dan agar tidak sampai teecu melakukan pelanggaran kelak. Bagaimana kalau ada orang yang mengancam dan menyerang teecu?”

“Omitohud… kenapa engkau dihantui rasa khawatir, Sin Hong?” kata Tiong Khi Hwesio. ”Biar pun ada yang menyerangmu, hendak membunuhmu sekali pun engkau tidak boleh menggerakkan ilmu silat yang akan menggerakkan pula tenaga sinkang di tubuhmu.”

“Jadi teecu sama sekali tidak boleh membela diri walau pun teecu takkan menentang?”

“Tentu saja kau boleh berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi engkau hanya boleh menggunakan akal atau kalau terpaksa menggunakan tenaga juga, hanya tenaga otot biasa saja, bukan tenaga sinkang. Sudah tentu engkau dapat terancam bahaya maut dengan syarat ini, tetapi itu sudah menjadi resikonya mempelajari ilmu yang dahsyat,” kata Wan Ceng.

“Baik, teecu menerima syarat itu!” berkata Sin Hong dengan suara tegas dan penuh semangat.

Mulailah dia mempelajari Ilmu Pek-ho Sin-kun. Karena dia sudah menguasai ilmu-ilmu simpanan dari tiga orang gurunya, maka ilmu gabungan ini dapat dikuasainya dalam waktu pendek saja. Kemudian, dia disuruh duduk bersila. Ketiga orang gurunya duduk bersila pula di belakangnya.

Tiong Khi Hwesio lalu menempelkan telapak tangan kanan ke pundak kanannya, Kao Kok Cu menempelkan telapak tangan di punggungnya, dan Wan Ceng menempelkan tangan di pundak kirinya. Perlahan-lahan, setelah dia disuruh membuka dirinya tanpa melakukan perlawanan sedikit pun, Sin Hong lalu merasa betapa hawa yang hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui tiga bagian tubuh yang ditempel telapak tangan itu. Makin lama hawa itu menjadi semakin banyak mengalir dan menjadi semakin panas, berputar di seluruh tubuhnya, kemudian perlahan-lahan berkumpul di pusarnya.

Dia tahu betapa ada hawa sakti yang luar biasa kuatnya memasuki tubuhnya, maka dia hanya menerima saja tanpa melawan sedikit pun. Setelah tiga orang itu menghentikan penyaluran hawa sakti itu dan ketiganya menggeser duduk mereka ke belakang, Sin Hong merasa betapa ada hawa yang kuat sekali berpusing di dalam pusarnya. Dia membalik dan berlutut menghadap ketiga orang gurunya.

Mereka itu agak pucat dan terengah, namun mereka tersenyum memandang kepadanya dengan pandang mata penuh kasih sayang. Hal ini membuat Sin Hong terharu bukan main dan dia pun bertiarap, menyentuh lantai di depan kaki mereka dengan dahinya berulang kali sambil menghaturkan terima kasih.

“Sekarang, sebaiknya engkau segera melakukan siu-lian (semedhi) di dalam kamarmu, Sin Hong. Boleh engkau melaksanakan pekerjaanmu, akan tetapi yang penting saja dan selebihnya dari waktumu, pergunakan untuk semedhi. Dan ingat pesan kami bertiga.”

Sin Hong kembali menghaturkan terima kasih kemudian dia pun keluar dari ruangan itu, memasuki kamarnya dan cepat duduk bersila dan bersemedhi mengendurkan seluruh tubuhnya luar dalam dan membiarkan tenaga sakti yang berpusingan di dalam pusarnya itu bergerak-gerak seperti benda hidup di dalam tubuhnya!

Seperti biasa, dengan amat tekun Sin Hong kini mempergunakan kesempatan untuk bersemedhi. Dengan girang dia mendapat kenyataan betapa keliaran tenaga sakti yang dia terima dari tiga orang gurunya itu, semakin teratur dan bergerak mengelilingi semua bagian tubuhnya dengan lembut, tidak lagi liar seperti pada hari-hari pertama. Semakin lama tenaga itu mengendap di pusarnya dan dia mendapat kenyataan betapa sedikit ketegangan saja sudah cukup untuk membuat tenaga itu bangkit dan berputaran di seluruh tubuhnya.

Kini tahulah dia akan maksud guru-gurunya yang melarang dia mengerahkan sinkang selama satu tahun. Kalau dia mengerahkan tenaga, maka tenaga sakti yang amat besar itu akan bangkit dan mengamuk, dan tentu tubuhnya bagian dalam tidak akan mampu menahannya karena tenaga sakti itu masih setengah liar dan belum dapat dikendalikan sepenuhnya.

Keadaan seperti itu berlangsung terus selama sepuluh bulan. Kini, semenjak mereka selesai mengajarkan ilmu gabungan terakhir kepada Sin Hong, tiga orang tua itu banyak menganggur dan mereka lebih banyak bersemedhi. Mereka merasa betapa tenaga mereka makin berkurang, bukan karena disalurkan kepada Sin Hong, melainkan karena dimakan usia tua.

Pada suatu pagi yang cerah, istana itu nampak sunyi sekali. Empat orang penghuninya semua masih duduk bersila, melakukan semedhi pagi yang amat baik karena pada saat itu, sinar matahari pagi merupakan sumber yang sangat baik, mengandung kekuatan yang dahsyat. Dengan bersemedhi, mereka dapat menampung kekuatan ini, kekuatan yang menghidupkan.

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, di tempat yang sunyi itu kini didatangi serombongan orang yang aneh-aneh. Nampak tak kurang dari tujuh belas orang yang perlahan-lahan menghampiri Istana Gurun Pasir. Mereka datang dari arah selatan dan sikap mereka amat berhati-hati, bahkan seperti orang-orang yang takut-takut, agaknya gentar karena mereka sudah mendengar akan kehebatan nama Istana Gurun Pasir ini. Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan, tentu saja mereka tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir ini adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang sakti, bahkan isterinya juga seorang nenek yang sakti.

Di halaman depan istana itu, mereka berhenti. Enam orang di antara mereka, agaknya yang menjadi pemimpin, berbisik-bisik seperti merundingkan sesuatu dan sikap mereka jelas membayangkan perasaan gentar. Bagi orang yang sudah biasa menjelajahi dunia kang-ouw, akan mengenal enam orang ini karena mereka adalah tokoh-tokoh besar yang terkenal di dunia persilatan.

Orang pertama adalah seorang wanita yang usianya sudah enam puluh tujuh tahun, akan tetapi masih nampak cantik karena ia pesolek, dan pakaiannya juga serba indah, sikapnya lemah lembut dan gerak-geriknya yang halus tidak menunjukkan bahwa ia sebenarnya adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan namanya ditakuti banyak orang di dunia persilatan.

Tubuhnya tinggi ramping dengan pinggang yang lemas seperti batang pohon yang-liu. Inilah Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), seorang yang tidak saja memiliki ilmu pedang yang dahsyat, akan tetapi bahkan pandai pula ilmu sihir! Kini ia berdiri dengan tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang kebutan bergagang emas.

Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia lima puluh dua tahun, tubuhnya tinggi besar dengan brewok. Dia juga bukan orang sembarangan karena dia terkenal sebagai seorang pencuri yang amat lihai, berjuluk Sai-cu Sin-touw (Maling Sakti Muka Singa), memiliki sepasang tangan yang bergerak cepat sekali sehingga dengan kedua tangan kosong saja dia berani menghadapi lawan tangguh yang bersenjata. Sai-cu Sin-touw ini merupakan seorang tangan kanan dan pembantu yang dipercaya oleh Sin-kiam Mo-li.

Orang ke tiga seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun, juga bertubuh tinggi besar dengan perut gendut sekali seperti karung beras, mengenakan jubah kuning yang di bagian dadanya bergambar pat-kwa. Dari jubahnya ini mudah dikenal bahwa dia adalah seorang tokoh Pat-kwa-kauw (Agama Segi Delapan) yang tinggi kedudukannya.

Rambutnya yang telah putih semua itu menutupi sebagian mukanya karena riap-riapan. Mukanya pucat kekuningan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi Ok Cin Cu, kakek pendeta ini, lihai bukan main dengan tongkatnya yang berbentuk ular dan berwarna hitam.

Orang ke empat adalah suheng-nya, bernama Thian Kong Cinjin dan dia adalah wakil ketua Pat-kwa-kauw cabang utara. Usianya sudah tua sekali, tujuh puluh delapan tahun. Rambut dan jenggotnya sudah putih, tubuhnya tinggi kurus namun berwibawa. Sikapnya halus lemah lembut. Dia membawa sebatang tongkat setinggi tubuhnya. Dibandingkan para pendeta lainnya, Thian Kong Cinjin ini yang paling lihai dan tingkat kepandaiannya bahkan seimbang dengan Sin-kiam Mo-li yang dianggap pimpinan rombongan ini.

Orang ke lima juga sudah tua, tujuh puluh lima tahun usianya. Dia adalah Thian Kek Sengjin. Melihat jubahnya yang bergambar bunga teratai di dadanya, dapat diketahui bahwa dia adalah seorang tokoh besar perkumpulan Pek-lian-kauw. Biar pun usianya sudah tua namun mukanya merah seperti darah, tubuhnya kurus kering dan dia memiliki sepasang mata bagai mata kucing. Ia juga membawa sebatang tongkat yang berbentuk ular berwarna hitam.

Orang ke enam dari kelompok pimpinan ini bernama Coa-ong Sengjin, usianya tujuh puluh dua tahun dan dia juga tokoh Pek-lian-kauw, sute (adik seperguruan) dari Thian Kek Sengjin. Tubuhnya kecil bongkok, mukanya buruk mirip muka monyet. Akan tetapi jangan dipandang rendah kakek kecil buruk ini, karena selain ilmu silat yang cukup lihai dengan tongkat ular hidup sepanjang lima kaki, dia juga ahli atau pawang ular yang dapat memanggil ular-ular berbisa untuk membantunya menghadapi lawan!

Enam orang ini bersatu dibawah pimpinan Sin-kiam Mo-li yang dianggap paling lihai. Hanya Sin-kiam Mo-li seorang yang tidak menjadi tokoh dari suatu perkumpulan agama sedangkan lima orang itu, yang seorang adalah pembantunya, sedangkan empat yang lain adalah para pendeta Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw. Bahkan sebelas orang yang menjadi anak buah mereka adalah para anggota Pek-lian-kauw yang pilihan dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.

Apakah maksud kedatangan tujuh belas orang itu ke Istana Gurun Pasir? Para pendeta itu terkena hasutan Sin-kiam Mo-li yang menganggap dua keluarga dari Pulau Es dan Istana Gurun Pasir sebagai musuh-musuh besarnya. Dan karena dua perkumpulan itu, Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, juga merupakan dua perkumpulan pemberontak yang telah banyak melakukan penyelewengan dan kejahatan, maka sudah seringkali mereka bentrok dengan anggota keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Maka, ketika dihasut dan diajak oleh Sin-kiam Mo-li untuk menyerbu Istana Gurun Pasir, mereka pun menyambut dengan baik walau pun mereka masih ragu-ragu dan takut-takut.

Melihat betapa para pendeta itu kelihatan jeri sekali setibanya di pekarangan depan istana, sambil berbisik-bisik Sin-kiam Mo-li mengulangi bujukannya.

“Kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi takut lagi? Sudah kukatakan berkali-kali, menurut perhitunganku, suami isteri itu telah menjadi kakek dan nenek yang tua sekali, jauh lebih tua dari pada kalian semua. Tentu mereka telah menjadi kakek dan nenek pikun yang akan mudah saja kita kalahkan. Apa yang perlu kita takuti? Kita semua berjumlah tujuh belas orang, sedangkan mereka hanya berdua, seorang kakek dan seorang nenek yang mungkin sudah berpenyakitan. Dan ingat akan harta benda dan pusaka-pusaka yang tidak ternilai harganya di dalam istana! Semuanya akan menjadi milik kita kalau sudah membunuh mereka.”

“Tapi... tapi... bagaimana kalau putera mereka dan para pendekar lain berada di dalam istana itu? Kita semua akan mati konyol!” bantah Ok Cin Cu, tokoh Pat-kwa-kauw itu. Keraguannya ini disetujui oleh tiga orang pendeta lainnya karena mereka mengangguk-angguk membenarkan.

“Ahhh, kalian kira aku sudah begitu bodoh? Sebelum berangkat, aku sudah melakukan penyelidikan ke Pao-teng dan Kao Cin Liong bersama keluarganya berada di rumah. Percayalah, di dalam istana tua ini hanya ada kakek dan nenek itu, dan aku yakin kita akan mampu mengalahkan mereka. Mari...!” Sin-kiam Mo-li lalu melangkah maju terus menghampiri istana.

Keadaan istana yang amat sunyi itu membuat para pendeta menjadi berani dan mereka mulai percaya akan keterangan Sin-kiam Mo-li. Istana itu memang nampak sunyi saja, seperti tidak ada penghuninya saja atau kalau pun ada, tentu tidak banyak.

Rombongan penyerbu ini sama sekali tidak pernah mimpi bahwa barang-barang yang mereka sangat inginkan itu, terutama kitab-kitab ilmu, tidak akan mereka dapatkan di tempat itu. Tiga orang kakek itu, terutama Kao Kok Cu dan Wan Ceng sudah sejak lama membakar semua kitab pelajaran. Mereka berpendapat bahwa ilmu merupakan sesuatu yang amat berbahaya kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat. Oleh karena itu, setelah merasa bahwa mereka sudah tua dan setelah mereka mewariskan ilmu-ilmu mereka kepada murid terakhir, mereka lalu membakar semua kitab yang ada!

Juga Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya sama sekali tak tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir walau pun sudah tua renta namun masih amat lihai dan cerdik sehingga kedatangan mereka itu sudah semenjak tadi diketahui. Oleh karena itu, ketika mereka menyerbu serambi depan istana tua itu, tiba-tiba saja pintu depan terbuka dan mereka melihat tiga orang tua sedang duduk bersila di belakang ambang pintu depan, dengan sikap yang tenang, bahkan tersenyum menghadapi mereka!

Melihat ini, para pendeta itu hampir berteriak kaget dan kembali nyali mereka menjadi kecil, apa lagi mereka melihat kenyataan bahwa suami isteri tua penghuni Istana Gurun Pasir itu ternyata ditemani oleh seorang hwesio yang mereka kenal sebagai Tiong Khi Hwesio yang juga lihai! Mereka tentu saja mengenal hwesio ini yang dahulunya adalah seorang pendekar dengan julukan Si Jari Maut!

“Celaka,” pikir mereka. “Kiranya di samping Pendekar Naga Sakti dan isterinya, masih ada lagi Si Jari Maut!”

Akan tetapi, Sin-kiam Mo-li yang tadinya kaget juga melihat adanya Tiong Khi Hwesio di situ, membesarkan hati kawan-kawannya dan berkata, “Mari maju, mereka hanyalah tiga orang tua bangka yang sudah mau mampus!”

“Omitohud...!” Tiong Khi Hwesio berseru sambil tersenyum lebar. “Bukankah yang datang ini sahabat-sahabat lama, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawan dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw? Sin-kiam Mo-li, sudah bertahun-tahun engkau agaknya belum juga mau bertobat? Mau apakah engkau dan teman-temanmu mengunjungi tempat sunyi ini?”

Sin-kiam Mo-li memandang kepada hwesio itu dengan marah sekali. Tiong Khi Hwesio adalah musuh besarnya. Adalah hwesio ini yang dahulu memimpin para pendekar untuk menentang ibu angkatnya, yaitu mendiang Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama sehingga ibu angkatnya itu tewas. Melihat kehadiran kakek ini di Istana Gurun Pasir, bukan saja mengejutkan hatinya, akan tetapi lebih lagi mendatangkan kemarahan dan kebencian mendalam. Ia tidak takut karena kini hwesio itu nampak sudah demikian tua!

“Tiong Khi Hwesio, tua bangka yang mau mampus. Kebetulan engkau berada di sini sehingga kami dapat membasmi dirimu sekalian!” bentaknya.

Selama beberapa tahun ini, Wan Ceng sudah dapat memenangkan diri sendiri. Ia yang dahulunya merupakan seorang wanita yang gagah perkasa, galak dan keras hati, kini menjadi seorang nenek yang berhati lembut. Biar pun ia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya itu adalah tokoh-tokoh sesat yang amat jahat, namun tidak timbul kebencian atau kemarahan dalam hatinya.

Melihat kenyataan ini, bukan main girangnya rasa hati Wan Ceng. Inilah ujian terakhir baginya, ujian bagi keadaan batinnya apakah benar-benar dia sudah bebas dari pada kemarahan dan kebencian. Dan dia melihat kenyataan yang menggembirakan bahwa kemunculan orang-orang jahat yang berniat buruk ini pun kini tidak dapat mengusik dan memunculkan kemarahan atau kebencian dalam batinnya.

Ia menoleh kepada suaminya yang nampak tenang saja seolah-olah tidak menghadapi ancaman, dan kepada Tiong Khi Hwesio yang tertawa-tawa. Hatinya terharu. Sungguh Wan Tek Hoat kini telah berubah sama sekali. Dahulu pernah dijuluki Si Jari Maut yang bersikap keras tanpa mengenal ampun kepada orang jahat atau musuhnya, akan tetapi sekarang telah menjadi seorang hwesio yang masih tertawa-tawa biar pun diancam dan dimaki.

Kakek Kao Kok Cu yang bersikap tenang itu bangkit berdiri, diikuti oleh isterinya dan Tiong Khi Hwesio, dan berkata dengan halus namun berwibawa sekali, “Kami penghuni Istana Gurun Pasir sudah puluhan tahun tidak pernah mempunyai urusan dengan siapa pun juga, dan kami pun tidak mau bermusuhan dengan Cu-wi (Kalian). Harap kalian suka tinggalkan kami yang ingin hidup aman dan damai.”

Melihat sikap Pendekar Naga Sakti yang mereka takuti demikian lunak, dan nampaknya sudah tua sekali, hati Sin-kiam Mo-li menjadi besar.

“Hemmm, ingin kami melihat sampai di mana kebenaran nama besar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Biar pun kalian tinggal diam di sini, namun keturunan dan murid-murid kalian bersama murid keluarga Pulau Es, selalu memusuhi kami. Karena itu hari ini kami sengaja datang untuk membunuh kalian. Kami berpendapat bahwa membunuh sebatang pohon haruslah membongkar akarnya dahulu, baru seluruh pohonnya akan rontok.”

“Omitohud...!” seru Tiong Khi Hwesio. “Sin-kiam Mo-li dan para sobat dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Kebetulan bahwa musuh kalian yang paling besar adalah diri kalian sendiri! Tidak sadarkah kalian bahwa kalian banyak mendapat tentangan adalah akibat dari pada tindakan kalian sendiri? Kalau kalian mengambil jalan yang benar, tak pernah mengganggu orang baik-baik, pasti tidak akan ada yang menentang kalian. Dari pada membunuh kami bertiga orang tua yang tidak akan ada gunanya, lebih berguna kalau kalian mawas diri dan mengubah cara hidup kalian...“

“Tutup mulutmu, hwesio busuk!” bentak Sin-kiam Mo-li. “Kami datang bukan untuk mendengarkan khotbah atau ceramah. Hayo kalian bertiga keluarlah kalau memang berani, kami menunggu di luar!”

Wanita ini menantang dan memberi isyarat pada teman-temannya untuk mundur sampai ke pekarangan istana yang luas. Dia memang cerdik. Kalau dia dan kawan-kawannya menyerbu ke dalam, selain ruangan di sana tidak begitu luas sehingga sukar melakukan pengepungan dan pengeroyokan, juga dia khawatir kalau istana tua itu mengandung jebakan-jebakan dan alat rahasia yang membahayakan. Kalau berkelahi di pekarangan ini, dia dapat mengerahkan semua temannya yang berjumlah tujuh belas orang untuk mengepung dan mengeroyok tiga orang tua itu.

Tiong Khi Hwesio melangkah keluar sambil tertawa. Sedangkan Kao Kok Cu saling pandang dengan Wan Ceng, dan keduanya tersenyum.

“Suamiku, kalau Tuhan menghendaki, biarlah kita berpisah di dunia ini untuk bertemu di alam lain.”

Kao Kok Cu mengangguk, tersenyum dan tangan mereka saling sentuh dengan mesra, penuh perasaan kasih sayang. “Selamat berpisah, isteriku.”

Mereka pun bergandeng tangan keluar mengikuti Tiong Khi Hwesio. Sejenak mereka berdua seolah-olah merasa sedang menjadi pengantin, melangkah perlahan di belakang seorang pendeta yang mengawinkan mereka, menuju ke tempat sembahyangan!

Setelah ketiga orang tua ini tiba di pekarangan, Sin-kiam Mo-li segera memberi isyarat kepada semua temannya dan tujuh belas orang itu lalu mengepung dua orang kakek dan seorang nenek yang berdiri saling membelakangi membentuk segi tiga.

“Bagaimana, Kao-taihiap? Apakah kita harus melayani mereka ini?” terdengar Tiong Khi Hwesio bertanya sambil tersenyum. Pertanyaan itu seolah-olah hendak menguji apakah jalan pikiran sahabatnya itu sama dengan pikirannya.

“Tentu saja,” jawab Kao Kok Cu tenang.

“Omitohud! Untuk apa?” Tiong Khi Hwesio mendesak.

“Pertama, sudah menjadi kewajiban kita untuk melindungi dan membela diri dari semua ancaman yang datang dari dalam mau pun luar, dan ke dua, sudah menjadi kewajiban kita pula sebagai orang-orang yang pernah mempelajari ilmu untuk mencegah terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang sesat,” kini yang menjawab adalah nenek Wan Ceng.

“Ha-ha-ha, bagus!” kata Tiong Khi Hwesio. “Tetapi, kita membela diri dan menghadapi mereka ini tanpa marah dan benci?”

“Tanpa marah dan benci!” kata kakek Kao Kok Cu dengan suara tegas.

Sementara itu, mendengarkan tiga orang tua itu bercakap-cakap seenaknya, dengan sikap acuh seakan-akan mereka sedang bercengkerama, bukan sedang dikepung dan diancam musuh, Sin-kiam Mo-li menjadi marah sekali. Ia menganggap tiga orang tua itu memandang rendah kepadanya dan teman-temannya, maka ia pun berteriak dengan suara lantang sekali.

“Serbuuuuu! Bunuh mereka...!”

Sin-kiam Mo-li sendiri sudah menggerakkan sepasang senjatanya, yaitu pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri, menyerang kepada kakek Kao Kok Cu karena ia tahu bahwa Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang buntung lengan kirinya inilah yang paling tangguh.

Sai-cu Sin-touw si Maling Sakti Muka Singa sudah cepat menyusulkan serangan pula dengan kedua tangannya, membantu Sin-kiam Mo-li. Namun dengan gerakan ringan dan halus, Kao Kok Cu dapat menghindarkan serangan mereka itu dengan elakan dan kebutan ujung lengan bajunya yang kiri dan kosong.

Ok Cin Cu dan Thian Kong Cinjin, dua orang tokoh Pat-kwa-kauw itu, segera menerjang Tiong Khi Hwesio dengan tongkat mereka. Tiong Khi Hwesio bergelak tertawa dan dia pun mencabut Cui-beng-kiam yang tadi sudah dipersiapkannya ketika mereka bertiga bersila menyambut datangnya rombongan tamu tak diundang itu. Terjadilah perkelahian antara dia dan dua orang pengeroyoknya yang lihai.

Wan Ceng juga sudah mencabut Ban-tok-kiam untuk menghadapi terjangan dua orang kakek tokoh Pek-lian-kauw, yaitu Thian Kek Sengjin yang bersenjatakan tongkat naga hitam dan Coa-ong Sengjin yang bersenjatakan seekor ular hidup dan dua orang ini menyerang dengan ganas. Akan tetapi nenek Wan Ceng menghadapi mereka dengan tenang. Pada wajahnya sedikit pun tidak terbayang kemarahan, sungguh jauh bedanya dengan wataknya di waktu yang lalu.

Sebelas orang anak buah Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw yang mengepung mereka juga telah memegang senjata masing-masing. Seorang di antara mereka mengeluarkan sebongkok hio (dupa biting), membakar ujungnya sampai membara, dan lalu membagi-bagikan hio itu, masing-masing mendapatkan tiga batang. Kemudian, tiga batang hio itu mereka pasang di kepala, diselipkan pada ikat kepala yang sudah mereka pakai.

Kemudian, sebelas orang itu memakai dupa di kepalanya ini lalu berlari-lari mengelilingi pertempuran itu sambil membaca mantera. Kiranya, seperti yang sebelumnya sudah mereka rencanakan, dipimpin oleh seorang pendeta Pek-lian-kauw, mereka membentuk sebuah barisan siluman yang mempergunakan kekuatan mantera dan ilmu hitam dari Pek-lian-kauw!

Barisan yang memupuk tenaga ilmu hitam ini berlari-larian, makin lama semakin cepat mengitari pertempuran itu, kemudian tiba-tiba membalik dan demikian berkali-kali sambil membaca mantera sampai muka mereka dipenuhi keringat dan kini ada sinar aneh pada pandang mata mereka seperti mata orang yang tidak sadar lagi, bahkan mulut mereka, yang masih berkemak-kemik itu kini mengeluarkan busa! Kiranya sebelas orang itu kini seperti dalam keadaan kesurupan. Mulailah mereka melakukan pengeroyokan kepada tiga orang tua dari Istana Gurun Pasir itu.


SELANJUTNYA KISAH SI BANGAU PUTIH BAGIAN 02


Thanks for reading Kisah Si Bangau Putih Bagian 01 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »