Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 14

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES JILID 14
"Bun-te, engkau terlalu lemah. Kenapa engkau tidak hajar saja kedua orang gadis yang tidak tahu malu itu?” Suma Hui menegur adiknya ketika mereka melakukan perjalanan dan di tengah jalan Ciang Bun terpaksa menceritakan persoalannya dengan dua orang gadis tadi.

“Ahh, aku kasihan kepada mereka, enci. Apalagi, Tan Hok Sim begitu baik kepadaku. Kalau aku berterus terang, tentu akan mengakibatkan terputusnya tali perjodohan antara dia dan tunangannya. Pula, aku tidak menganggap mereka yang.... ehhh, suka kepadaku itu sebagai suatu kesalahan, hanya aku yang tidak dapat membalas cinta mereka....”

“Hemmm, engkau memang aneh. Kulihat mereka itu cantik-cantik, kenapa engkau tidak suka dan bahkan bersikap keras kepada mereka?”

“Aku.... aku memang tidak pernah suka kepada gadis-gadis....,” Ciang Bun agaknya menemui wadah penuangan perasaannya melalui enci-nya.

“Ehh....! Bun-te, engkau sudah cukup dewasa, perasaanmu tidak pernah suka kepada gadis itu sungguh-sungguh tidak wajar,” kata Suma Hui prihatin sambil menghentikan langkahnya, memegang kedua pundak adiknya dan menatap wajah adiknya itu dengan penuh selidik.

Ciang Bun balas memandang dan dia melihat seolah-olah sinar mata enci-nya itu menembus dadanya dan menjenguk ke dalam. Selama ini, dia melihat kelainan pada dirinya dengan penuh kecemasan, menyimpannya sebagai rahasia dan dia tidak berani membicarakannya kepada siapa pun juga. Tetapi kini dia berhadapan dengan enci-nya, satu-satunya orang yang dekat dengan dia, satu-satunya orang yang benar-benar amat disayangnya karena sejak kecil dia bergaul dengan enci-nya siang malam.

Ayahnya dianggapnya terlalu keras dan menakutkan, ibunya terlalu memanjakannya, hanya enci-nya ini yang selalu bersikap terbuka dan jujur. Tiba-tiba saja ada keharuan menyelinap di hati pemuda ini dan seperti bendungan pecah, dia pun menangis terisak!

Bukan main kaget rasa hati Suma Hui. Adiknya ini sejak kecil pendiam dan serius, tak banyak bicara akan tetapi sama sekali tidak cengeng! Belum pernah ia melihat adiknya menangis seperti ini, apalagi sekarang sudah berusia tujuh belas tahun, sudah dewasa! Ciang Bun menangis terisak-isak? Sukar ia membayangkannya, akan tetapi kini hal itu terjadi di depannya.

Tentu saja ia merasa kaget dan juga khawatir dan dirangkulnya adiknya itu, seperti ketika mereka masih kecil dan dituntunnya Ciang Bun, diajak duduk di bawah pohon yang rindang. Tempat itu sunyi tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

“Bun-te, tenanglah. Ingat, sangat tidak baik seorang pendekar gagah seperti engkau ini menangis. Hapus air matamu dan mari kita bicara secara dewasa. Ceritakanlah apa yang merisaukan hatimu sampai engkau menangis. Aku enci-mu, saudara tunggalmu, aku akan membelamu lahir batin!”

“Enci Hui, tolonglah aku, enci....,” Ciang Bun mencoba untuk menghentikan tangisnya. Semua kegelisahan hatinya tumpah pada saat itu melalui air mata dan akhirnya dia merasa dadanya agak lega.

“Hemm, tentu saja aku akan menolongmu, adikku, jika perlu dengan taruhan nyawaku. Nah, ceritakan, apakah masalah itu?”

Ciang Bun mengusap air matanya dan kini dia dapat memandang wajah enci-nya dengan mata agak merah. “Enci Hui, tadi engkau mengatakan bahwa aku tidak wajar....”

“Aihh....! Itu? Aku hanya main-main. Mungkin engkau masih terlalu kekanak-kanakan, tidak biasa bergaul dengan wanita sehingga engkau masih belum dapat menyukai gadis-gadis. Hal itu tidak aneh, kenapa dirisaukan?” Suma Hui tersenyum, merasa lega karena ternyata yang dirisaukan adiknya itu hanyalah persoalan sepele saja.

Akan tetapi Ciang Bun menggeleng kepala. “Bukan, bukan hanya itu, enci. Ketahuilah, memang aku.... ada sesuatu yang tidak wajar kepadaku, di dalam hatiku....”

Suma Hui mengerutkan alisnya, bangkit berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada adiknya. “Hemmm, apa maksudmu, adikku? Ada ketidak wajaran apa dalam hatimu? Engkau sungguh membikin aku heran dan cemas.”

“Enci, kalau tidak ada engkau, tentu rahasia ini akan kubawa mati. Kepada ayah dan ibu sendiri aku enggan bercerita. Ketahuilah, memang ada ketidak wajaran di dalam hatiku, ada suatu kelainan yang terasa amat menakutkan hatiku. Sejak dahulu, aku.... aku tidak pernah merasa suka kepada wanita, akan tetapi aku.... aku malah tertarik kepada pria, kepada pemuda....”

“Ehhh....?” Sepasang mata Suma Hui terbelalak dan dia memandang adiknya seperti melihat hantu di siang hari.

“Enci Hui, jangan.... janganlah memandang padaku seperti itu....!” Suma Ciang Bun mengeluh. “Jangan engkau juga menganggap aku seperti setan....”

“Bun-te....!” Suma Hui maju merangkul adiknya dan beberapa lamanya enci dan adik ini saling rangkul dengan hati nelangsa. Suma Hui teringat akan nasib dirinya sendiri dan kini ia melihat adiknya menghadapi masalah yang lebih rumit lagi.

“Bagaimana.... bagaimana bisa begitu....? Aku.... aku tidak mengerti, adikku, sungguh, aku belum mengerti....” Suma Hui meragu. “Mungkinkah itu bahwa engkau.... engkau adalah seorang pria pembenci wanita....?”

“Tidak, enci. Aku sama sekali tidak membenci wanita. Aku kira.... aku akan dapat bersahabat dengan wanita, sahabat baik, seperti aku dengan engkau ini.... akan tetapi, hanya sampai di situ saja. Persahabatan biasa, tidak ada daya tarik menimbulkan gairah birahi. Pendeknya, aku tidak pernah berani melihat wanita, enci, semua wanita hanya kupandang seperti aku melihatmu, seperti saudara, seperti sahabat.”

“Apa salahnya dengan itu?” Suma Hui menegas karena ia belum mengerti dan selama hidupnya baru sekarang ia mendengar hal seperti ini.

“Memang tidak salah, akan tetapi.... aku.... aku tertarik oleh pria, oleh pemuda, merasa mesra berdekatan dengan pemuda dan timbul gairah birahiku. Aku.... aku hanya dapat jatuh cinta kepada pemuda, enci....”

“Hehh....?!” Suma Hui terbelalak, melepaskan rangkulannya, lalu mendekat lagi dan menjamah dahi adiknya seperti hendak melihat apakah adiknya tidak sedang terserang demam sehingga mengigau.

Ciang Bun tersenyum sedih melihat enci-nya meraba dahinya. Dengan halus dia menjauhkan tangan enci-nya. “Enci Hui, aku tidak gila.... biar pun kadang-kadang aku sendiri bertanya-tanya apakah aku sudah gila. Tidak, aku belum gila dan mudah-mudahan tidak akan gila. Akan tetapi, aku melihat kenyataan yang menakutkan ini pada diriku. Aku.... aku agaknya mempunyai selera seperti wanita. Tubuhku pria, segala-galanya, akan tetapi seleraku, juga terutama sekali dalam hal selera birahi, aku seperti... seperti wanita....”

“Ahhh....!”

“Enci Hui, jangan ber-ah-eh-uh saja. Tolonglah aku!”

Suma Hui menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah dengan tubuh lemas. Ia merasa tidak berdaya sama sekali, bahkan bingung. “Bagaimana cara aku harus menolongmu, Bun-te?”

“Mungkin ada obat....”

“Kita bicarakan saja dengan ayah dan ibu, minta nasehat mereka....”

“Tidak! Aku akan malu sekali kalau engkau menceritakan hal itu kepada mereka, aku akan lari minggat!”

Gadis itu merasa prihatin sekali sehingga memikirkan keadaan adiknya, ia dapat sedikit melupakan kedukaan hatinya sendiri. Ia kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan Cin Liong yang memimpin pasukan menyerbu ke Nepal dan ia merasa nelangsa selama ini. Akan tetapi kini semua keprihatinan hatinya ditujukan untuk Ciang Bun.

“Aku akan bantu memikirkan keadaan dirimu, adikku. Engkau tenang sajalah dan jangan terlalu menyedihi keadaanmu, kelak tentu akan ada jalan baik untukmu. Mari kita pulang dulu, sudah terlalu lama kita meninggalkan ayah dan ibu, tentu mereka merasa cemas dan berduka.”

Mereka pun melanjutkan perjalanan dan di sepanjang perjalanan itu mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka berpisah. Ciang Bun juga merasa prihatin melihat enci-nya berduka dan kecewa karena belum juga dapat bertemu dengan Kao Cin Liong.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang lama sekali, tanpa ada halangan yang berarti, tibalah kedua kakak beradik ini pada suatu siang di kota Thian-cin, tempat tinggal orang tua mereka! Berdebar juga hati mereka ketika mereka tiba di kota yang mereka kenal sejak kecil ini dan perasaan mereka bercampur aduk ketika mereka melihat rumah mereka dari jauh.

Ada rasa gembira karena hendak bertemu kembali dengan ayah bunda mereka yang sudah lama mereka tinggalkan. Ada perasaan takut-takut karena mereka dapat menduga bahwa ayah mereka tentu akan marah sekali kepada mereka. Ada perasaan terharu karena mereka teringat akan segala peristiwa yang terjadi di tempat tinggal mereka ini. Bagaimana pun juga, akhirnya kampung halaman merupakan tempat yang paling indah di dunia ini.

Pada siang hari itu, sekitar rumah keluarga mereka nampak sunyi. Dengan jantung berdebar tegang, Suma Hui dan Suma Ciang Bun memasuki pekarangan rumah yang amat mereka kenal itu. Seorang pelayan tua yang melihat mereka datang, segera berteriak dan lari masuk ke dalam sambil berteriak-teriak.

“Siocia dan kongcu pulang....!”

Seruan ini membuat tiga orang keluar menyambut. Mereka adalah Suma Kian Lee, Kim Hwee Li, dan Louw Tek Ciang! Sejenak dua orang kakak beradik yang baru tiba itu berdiri saling pandang dengan mereka yang menyambut. Ada keharuan di dalam hati mereka semua.

Suma Ciang Bun memperhatikan ayah ibunya. Ayahnya yang kini berusia kurang lebih lima puluh satu tahun itu kelihatan semakin tua. Agaknya selama kurang lebih dua tahun ini Suma Kian Lee menderita tekanan batin yang membuat wajahnya dihias banyak garis-garis yang dalam, juga rambutnya kini banyak ubannya. Ibunya masih kelihatan muda dan sama saja, masih cantik dan wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar.

Di sebelah ayahnya dia melihat suheng-nya yang tak disenanginya, yaitu Louw Tek Ciang walau pun harus diakuinya bahwa selama dua tahun ini nampak kemajuan pada diri pemuda itu. Tek Ciang semakin tampan dan gagah, nampak lebih matang dan sepasang matanya itu jelas membayangkan kecerdikan dan senyumnya kini terkendali, menunjukkan kematangan!

“Ayah....! Ibu....!” Kakak beradik itu berseru sambil menghampiri ke depan dan memberi hormat.

“Kalian baru pulang....!” Kim Hwee Li meloncat dan merangkul mereka. Sepasang mata ibu yang juga banyak memikirkan mereka ini membasah.

Akan tetapi, Suma Kian Lee tetap bersikap tenang, seolah-olah pulangnya kedua orang anaknya itu tidak mendatangkan perubahan pada hatinya. Memang pendekar ini pandai menyimpan perasaannya yang pada waktu itu penuh dengan kegirangan melihat anak-anaknya selamat dan pulang, juga penuh kemarahan, terutama sekali terhadap Suma Hui.

“Mari kita masuk dan bicara di dalam,” katanya dan suaranya begitu datar, membuat hati kakak beradik itu berdebar.

“Sumoi dan sute, selamat datang!” kata Tek Ciang dengan suara gembira dan agaknya dia tidak tersinggung ketika kedua orang kakak beradik itu hanya memandang padanya dan mengangguk tanpa menjawab.

Mereka semua mengikuti Suma Kian Lee yang sudah melangkah lebar menuju ke ruangan dalam yang luas, yang menjadi ruangan duduk atau ruangan keluarga. Tanpa banyak cakap Suma Kian Lee duduk menghadapi meja dan semua keluarganya juga mengambil tempat duduk. Kim Hwee Li duduk di sebelah kanannya, Tek Ciang mengambil tempat duduk agak jauh di belakang, sedangkan Ciang Bun dan Suma Hui duduk di depan ayah mereka dengan muka tunduk.

Keadaan amat hening dan semua orang merasakan keheningan yang mencekam itu. Semua orang tahu bahwa pendekar setengah tua itu dalam keadaan marah sekali. Udara di dalam ruangan itu seolah-olah terbakar panas oleh kemarahan Suma Kian Lee ketika duduk menghadapi kedua orang anaknya dan memandang wajah putera dan puterinya itu bergantian.

Ciang Bun, Suma Hui dan Tek Ciang tidak berani berkutik, menguasai diri sepenuhnya agar jangan mengeluarkan suara. Bahkan Kim Hwee Li yang merupakan satu-satunya orang di dunia yang dapat mencairkan kebekuan dan kemarahan hati Suma Kian Lee, saat itu pun berdiam diri. Isteri ini ikut prihatin dan ia menghormati perasaan suaminya, tahu benar betapa penasaran, marah dan kecewa hati suaminya terhadap anak-anak mereka.

Tiba-tiba pendekar itu mengeluarkan suara dan biar pun kata-katanya tidak kasar atau keras, namun terdengar dingin menyeramkan.

“Hemm, setelah kalian ingat untuk pulang ke rumah sini, apa yang hendak kalian katakan sekarang?”

Suma Hui dan Ciang Bun tidak berani menjawab, tidak berani mengangkat muka karena mereka maklum bahwa ayah mereka itu benar-benar sedang marah sekali.

“Brakkkk....!”

Kian Lee menggebrak meja di depannya sehingga seluruh ruangan itu seperti tergetar. “Kenapa kalian tidak menjawab? Apakah tuli dan bisu? Kalian pergi meninggalkan rumah tanpa pamit, orang tua kalian anggap sampah saja! Begitukah watak anak-anak yang berbakti kepada orang tua? Apalagi engkau, Hui-ji, engkau sebagai seorang anak perempuan sungguh tidak patut pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Kalian ini sungguh hanya dapat membikin susah hati orang tua saja. Begitukah kalian membalas budi orang tua, dengan cara merusak hati kami berdua? Begitukah?”

Suma Hui makin menunduk dan biar pun ia tidak mengeluarkan suara, namun kedua matanya menjadi basah oleh air mata. Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia teringat akan nasib dirinya, akan aib yang menimpa dirinya, akan dendam sakit hatinya terhadap Cin Liong yang belum dapat dibalas. Ia telah pergi tanpa pamit karena hendak membalas dendam, mencari orang yang telah merusak kebahagiaan hidupnya. Tetapi kepergiannya sia-sia, tanpa hasil dan setelah pulang, dimaki-maki ayahnya sebagai anak puthauw (tidak berbakti)!

Hampir semua orang tua mengharapkan agar anak mereka berbakti kepada mereka. Bahkan semenjak kecil, anak-anak ditekankan dan diajar agar berbakti kepada orang tuanya. Berbakti adalah sikap yang timbul dengan sendirinya karena rasa sayang, dan perasaan sayang tidak mungkin dipelajari, tidak mungkin dilatih. Berbakti yang dilakukan karena latihan berarti merupakan suatu sikap yang dipaksakan dan sikap apa pun kalau dipaksakan, berarti palsu.

Sikap berbakti yang dipaksakan bukanlah kebaktian lagi namanya, melainkan penjilatan atau bermuka-muka. Berbakti, menghormati, menyayang, menaruh rasa iba, semuanya itu ada dengan sendirinya apabila terdapat rasa cinta kasih di dalam hati. Kalau ada cinta kasih di dalam hati seorang anak, maka tidak perlu lagi anak itu diajari untuk berbakti dan sebagainya. Sebaliknya, kalau batin si anak kosong dari cinta kasih, maka semua kebaktian yang dilakukannya itu hanyalah palsu belaka, mengandung pamrih dan sama dengan penjilatan.

Orang tua yang mengharapkan anaknya berbakti atau membalas budi, bukanlah orang tua yang mencinta anaknya. Cintanya hanya cinta dagangan, dengan perhitungan untung rugi, memberi hutang dan menagih hutang berikut bunga-bunganya. Cintanya hanya berupa penanaman budi agar kelak dapat memetik buahnya. Cinta macam ini hanyalah cinta nafsu, yang berarti cinta kepada diri sendiri belaka, si anak hanya dijadikan jembatan untuk menikmati kesenangan dirinya sendiri.

Karena itulah, maka cinta seperti ini baru dapat bertumbuh subur kalau si anak dapat menyenangkan hatinya, sebaliknya, begitu si anak tidak menyenangkan hatinya atau malah menyusahkan, cintanya menjadi kabur dan mungkin saja berubah menjadi kebencian. Dan untuk menjamin kesenangan yang hendak direguknya melalui diri si anak, orang tua tidak segan-segan untuk mempergunakan senjata berupa sebutan hauw (kebaktian). Anak yang tidak menyenangkan hatinya disebut puthauw (tidak berbakti atau durhaka) dan pada umumnya di Tiongkok orang-orang paling takut disebut puthauw. Sebutan ini seperti semacam kutukan baginya.

Khong Cu menekankan pentingnya hauw (kebaktian) ini. Akan tetapi pelajaran beliau itu ditujukan untuk orang-orang dalam kedudukannya sebagai anak. Sayangnya, orang dalam kedudukan sebagai anak tidak begitu memperhatikan pelajaran itu, sebaliknya kalau sudah menjadi orang tua, hendak mempergunakan pelajaran itu sebagai senjata agar supaya anak-anak mereka berbakti kepadanya! Berbakti yang tentu saja berarti menyenangkan hatinya! Kita manusia ini memang ingin enaknya saja, dalam segala bidang, bahkan dalam bidang kerohanian atau agama pun, kita mau yang enaknya saja untuk diri kita.

Kalau di dalam batin orang tua dan anak terdapat cinta kasih, maka segala macam pelajaran tentang hauw, tentang penghormatan, tentang kelakuan baik dan sebagainya itu tidak dibutuhkan lagi! Cinta kasih merupakan landasan mutlak bagi semua tindakan, semua sikap dan perbuatan apa pun. Cinta kasih merupakan sinar terang yang akan membuat segala perbuatan menjadi bersih dan suci, tanpa pura-pura, tanpa pamrih demi kesenangan diri sendiri, tanpa harapan untuk dibalas.

Suma Kian Lee adalah seorang pendekar besar, putera mendiang Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es. Namun, dia tetap hanya seorang manusia biasa dengan segala kelemahannya seperti juga kita. Kekeliruan dalam sikapnya terhadap anak-anaknya itu merupakan kekeliruan kita pada umumnya yang kita lakukan seperti dengan sendirinya dan tanpa disadari lagi. Akan tetapi kalau kita mau membuka mata mempelajari batin kita sendiri, mengamati sikap kita terhadap keluarga, terhadap isteri, anak, orang tua, sahabat-sahabat, maka akan nampak dengan jelas segala kepalsuan yang terkandung di dalamnya!


“Hayo jawab, jangan diam saja!” Suma Kian Lee membentak, kemarahannya makin berkobar karena kedua orang anaknya diam saja.

Melihat ayah mereka marah, Suma Hui dan Ciang Bun tidak berani berkata apa-apa. Mereka berdua sudah merasa salah, maka apa lagi yang hendak dikatakan? Akan tetapi, mereka pun penasaran karena biar pun bersalah, mereka sama sekali tidak berniat untuk menyusahkan hati orang tua mereka.

Suma Hui pergi karena didorong oleh dendam sakit hatinya dan dia pergi untuk mencari musuh besarnya. Sedangkan Suma Ciang Bun pergi karena selain hatinya sakit melihat betapa ayahnya telah mengangkat ahli waris ilmu silat keluarga mereka kepada orang lain juga ingin menyusul enci-nya. Mereka bersedia untuk ditegur dan dimarahi, akan tetapi mereka tidak mau minta ampun!

Melihat kemarahan Suma Kian Lee, tiba-tiba Tek Ciang yang sejak tadi mendengarkan tanpa mengeluarkan suara, lalu turun dari tempat duduknya dan menjatuhkan dirinya berlutut menghadap suhu-nya.

“Suhu dan subo, sudilah kiranya suhu dan subo mengampunkan sumoi dan sute, mengingat bahwa usia mereka masih amat muda. Teecu mohon agar suhu dan subo bersabar dan sudi mengampuni mereka.”

Suma Hui mengerutkan alisnya dan dengan sinar mata berapi ia memandang kepada pemuda itu, kemudian terdengar ia membentak, “Louw-suheng, siapa membutuhkan pembelaanmu? Aku tidak ingin dikasihani dan sungguh engkau lancang mencampuri urusan orang!”

“Hui-ji....!” Suma Kian Lee bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada puterinya dengan mata bersinar-sinar. “Tidak patut sekali sikapmu ini! Suheng-mu telah memperlihatkan sikap yang amat baik, mintakan ampun untukmu dan engkau malah berani mengeluarkan ucapan yang kasar itu. Sungguh tidak mengenal budi! Pula, dia adalah suheng-mu dan calon suamimu!”

Kalau tadi ketika dimarahi ayahnya Suma Hui diam saja, kini mendengar ucapan ayahnya itu tiba-tiba ia membantah dengan suara yang cukup lantang. “Ayah, dia bukan calon suamiku!”

Suma Kian Lee terkejut juga mendengar bantahan yang lancang itu dan diam-diam Kim Hwee Li tersenyum di dalam hatinya. Itulah puterinya dan dia bangga melihat sikap puterinya! Wanita ini memang paling tidak suka melihat kelemahan karena ia sendiri adalah seorang wanita yang keras hati dan penuh keberanian, selalu kagum melihat kegagahan.

Akan tetapi Suma Kian Lee mengerutkan alisnya dan sejenak dia beradu pandang mata dengan puterinya. “Bagus sekali! Apakah engkau sudah lupa akan janjimu sebelum engkau pergi? Engkau bilang bahwa engkau mau menjadi isteri Tek Ciang kalau dia dapat mengalahkanmu dalam ilmu silat. Nah, apakah engkau sekarang hendak menjilat ludah kembali seperti seorang pengecut?”

Suma Kian Lee sengaja menyentuh hal ini karena dia memang sudah mengenal watak puterinya. Suma Hui, seperti juga Kim Hwee Li, merupakan seorang gadis yang paling pantang dikatakan pengecut. Seorang wanita gagah seperti Suma Hui atau ibunya itu lebih baik mati dari pada menjadi pengecut! Maka, mendengar ucapan ayahnya, Suma Hui meloncat bangun dari tempat duduknya dan memandang kepada Tek Ciang.

“Aku tidak akan mengingkari janjiku. Louw Tek Ciang, kalau engkau memang ada kepandaian, mari kau coba robohkan aku!” Dara itu langsung menantang dengan suara geram. Dalam kemarahannya ia tidak menyebut suheng kepada pemuda itu melainkan langsung menyebut namanya begitu saja.

Wajah Tek Ciang berubah merah akan tetapi dia masih pandai bersikap merendah.

“Aih, sumoi, mana aku berani....?”

“Ucapan seorang gagah takkan diingkarinya sendiri. Hui-ji sudah mengucapkan janjinya dan kini tantangannya. Hayo kalian selesaikan ketentuan urusan ini di lian-bu-thia!” kata Suma Kian Lee sambil melangkah menuju ke ruangan silat.

Dengan langkah tegap dan muka merah karena marah Suma Hui melangkah mengikuti ayahnya. Barulah Tek Ciang melangkah perlahan dengan sikap ragu-ragu dan sungkan-sungkan. Di belakangnya, Kim Hwee Li dan Ciang Bun juga turut berjalan memasuki lian-bu-thia.

Ciang Bun yang melihat ayahnya membersihkan ruangan bermain silat itu, kemudian membantunya. Ruangan itu cukup luas sebab memang sengaja dibangun untuk berlatih silat.

Kini Suma Hui sudah berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Setelah mengikatkan sabuknya lebih erat, dara ini berdiri dengan dua kaki terpentang dan sikap menantang. Sebaliknya, Tek Ciang bersikap hati-hati dan ragu-ragu. Dia melepaskan jubah luarnya dan ternyata di sebelah dalamnya, dia sudah siap dengan pakaian ringkas sekali dan dalam pakaian itu dia nampak gagah dan tampan. Pemuda ini memang pandai sekali berdandan.

Tentu saja diam-diam Ciang Bun mengharapkan enci-nya akan menang karena dia sendiri pun tidak setuju kalau enci-nya menjadi isteri orang ini. Akan tetapi, Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li berpikir lain. Suami isteri ini tahu bahwa selama dua tahun menerima gemblengan, Tek Ciang telah memperoleh kemajuan pesat sekali.

Anak itu memang berbakat dan cerdik sehingga ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es dapat diserapnya dan dapat dilatihnya dengan baik. Bahkan dia telah mempelajari dua ilmu inti dari Pulau Es, yaitu Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang. Walau pun kedua ilmu ini belum dapat dikuasainya dengan baik dan dia masih kurang latihan, namun dia sudah mampu mempergunakannya dan tenaganya cukup hebat!

Tentu saja suami isteri pendekar ini sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa selain menerima gemblengan ilmu dari Suma Kian Lee, diam-diam Tek Ciang juga menerima dan mempelajari ilmu-ilmu dari Jai-hwa Siauw-ok!

Suma Hui tidak mau membuang-buang banyak waktu lagi. Begitu melihat Tek Ciang melangkah masuk ke ruangan dan menghampirinya, ia lalu mengeluarkan bentakan nyaring, “Lihat serangan!” dan tubuhnya sudah meluncur maju dan ia sudah mengirim serangan kilat yang cukup hebat.

Melihat datangnya serangan, Tek Ciang cepat mengelak. Akan tetapi, Suma Hui terus menghujankan serangan dan mainkan Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun (Silat Kapas Pencabut Nyawa). Ilmu silat ini diwarisi Suma Kian Lee dari mendiang Lulu, ibunya dan merupakan ilmu silat yang gerakan-gerakannya halus akan tetapi di balik kehalusan itu mengandung jurus-jurus mematikan. Tek Ciang sudah mempelajari ilmu silat ini, maka dia pun dapat menghadapinya dan mengelak ke sana-sini sambil kadang-kadang menangkis.

Lewat tiga puluh jurus, Tek Ciang hanya menangkis dan mengelak saja tanpa pernah membalas. Tetapi diam-diam Suma Hui terkejut juga karena tenaga yang ia kerahkan dengan tenaga sinkang Pulau Es seperti Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, dapat ditangkis oleh pemuda itu dan ia merasa betapa lengan yang ditangkis menjadi tergetar dan agak nyeri, tanda bahwa tenaga pemuda tidak kalah kuat olehnya!

Suma Hui merasa penasaran dan ia pun merubah-rubah ilmu silatnya, namun ilmu silat apa pun yang dikeluarkannya, dapat dihadapi dengan baik oleh Tek Ciang. Hanya kadang-kadang saja, kalau sudah terlampau terdesak, Tek Ciang terpaksa membalas serangan, hanya untuk membuyarkan desakan Suma Hui saja.

“Tek Ciang, jangan main-main! Balas serang!” Tiba-tiba Suma Kian Lee berseru, tidak sabar melihat ulah Tek Ciang yang banyak mengalah itu.

Tek Ciang terkejut dan dia pun tidak berani membantah. Kemudian mulailah dia balas menyerang. Suma Hui melindungi dirinya dan berusaha membalas, namun ternyata kini gerakan Tek Ciang cepat sekali sehingga ia tidak memperoleh waktu untuk membalas. Maka segera ia terdesak hebat oleh pemuda itu.

Agaknya Tek Ciang memang tidak mau mengalahkan Suma Hui, atau tidak ingin membuat malu gadis itu. Pemuda ini memang cerdik sekali. Dia tahu bahwa Suma Hui masih belum mau tunduk kepadanya, maka dia pun ingin menundukkan hati gadis itu dengan sikap baiknya. Kalau dia secara langsung mengalahkan gadis itu, mungkin gadis itu akan menjadi semakin penasaran dan bahkan mungkin akan membencinya.

Maka, dia bersikap cerdik dan tidak mau terlalu mendesak, membiarkan pertandingan itu berjalan seru dan seimbang. Padahal, kalau dia mau, tidak terlalu sukar baginya untuk mengalahkan Suma Hui karena selain telah mewarisi ilmu keluarga gadis ini, juga dia telah digembleng oleh gurunya yang lain, yaitu Jai-hwa Siauw-ok yang juga lihai sekali.

Memang Tek Ciang sangat cerdik. Sikapnya yang banyak mengalah itu setidaknya telah membuat Suma Kian Lee semakin suka kepadanya. Bahkan seorang wanita yang amat cerdas seperti Kim Hwee Li juga kena diakali dan kini wanita ini tidak lagi begitu tidak suka kepada Tek Ciang yang selalu bersikap baik, jujur dan halus. Apalagi menyaksikan pertandingan ini, diam-diam Kim Hwee Li harus mengakui bahwa Tek Ciang benar-benar mengalah dan hal ini dianggapnya sebagai tanda cinta pemuda itu kepada Suma Hui.

Ciang Bun sendiri menggigit bibir dan mengepal tinju. Dia maklum bahwa tingkat kepandaian Tek Ciang kini sudah amat hebat, lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian enci-nya dan dia dapat menduga bahwa tentu enci-nya akan kalah dan akan terpaksa menjadi isteri Tek Ciang.

Tetapi, tiba-tiba terjadi perubahan dalam perkelahian itu dan Kim Hwee Li mengeluarkan seruan tertahan. Mendadak Suma Hui merubah gerakannya dan Tek Ciang nampak terkejut dan bingung, lalu berbalik terdesak!

Kiranya kini gadis itu memainkan Ilmu Cui-beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Roh)! Ilmu ini adalah ilmu silat istimewa terdiri dari delapan jurus yang dimiliki Kim Hwee Li dan telah diturunkan kepada puterinya. Tentu saja Tek Ciang belum pernah mempelajari ilmu ini dan tidak mengherankan kalau dia merasa bingung karena ilmu itu, biar pun hanya delapan jurus banyaknya, akan tetapi merupakan ilmu silat tinggi pilihan.

Kim Hwee Li memperoleh ilmu silat yang sakti itu dari mendiang Dewa Bongkok dari Gurun Pasir! Apalagi kini dimainkan oleh Suma Hui yang bersemangat penuh untuk merobohkan lawan. Tek Ciang segera terdesak mundur dan hampir terkena pukulan sampai dia terhuyung. Melihat betapa lihainya ilmu silat yang dimainkan Suma Hui, Tek Ciang tidak ingin kalah dan tiba-tiba dia pun menggerakkan tubuh lebih cepat lagi, tangannya mencengkeram ke arah leher Suma Hui!

Suma Kian Lee sendiri sampai mengerutkan alis. Jurus apa yang dimainkan muridnya itu? Demikian keji dan tak tahu malu kalau dipergunakan menyerang lawan wanita. Tangan kanan Tek Ciang mencengkeram ke arah leher sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada! Juga Kim Hwee Li terkejut dan heran.

Akan tetapi, Tek Ciang yang tadi tanpa disadarinya memainkan jurus dari ilmu silat yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, segera tersadar ketika Suma Hui mengeluarkan seruan kaget. Betapa bodohnya dia, pikirnya dan cepat dia merubah gerakannya, kini menggunakan jurus dari Ilmu Silat Hong-in Bun-hwat melanjutkan cengkeramannya menjadi totokan dan tangan kanan yang tadi mencengkeram ke arah leher digerakkan ke atas dan tahu-tahu tusuk konde Suma Hui telah dapat dicabutnya!

“Hyaaaattt....!”

Suma Hui marah sekali dan menendang. Tetapi sekali ini Tek Ciang memperlihatkan kelihaiannya. Dia tidak mengelak ke belakang menghadapi tendangan itu, sebaliknya dia malah maju dan memiringkan tubuh, tusuk kondenya dipakai menotok atau menusuk ke arah lutut yang menendang. Melihat ini, Suma Hui menahan tendangannya dan inilah yang dikehendaki Tek Ciang karena secepat kilat tangan kirinya menyambar ke depan dan.... sepatu kaki yang menendang itu pun copot, terampas oleh tangan kiri Tek Ciang.

Suma Hui terbelalak dan menubruk ke depan, tangan kirinya dikepal menghantam dada lawan. Tek Ciang yang sudah berhasil merampas tusuk konde dan sepatu, yang berarti menang mutlak, menyambut pukulan ke dadanya itu sambil tersenyum. Dia sama sekali tidak mengelak atau menangkis.

“Dukkk....!”

Tubuh Tek Ciang terjengkang. Ketika dia bangkit kembali, bibirnya berdarah. Agaknya, biar pun dia telah menggunakan sinkang untuk menahan pukulan itu, tetap saja getaran pukulan membuat dia menderita sedikit luka di dalam tubuhnya. Akan tetapi dia tetap tersenyum dan menghampiri Suma Hui sambil berkata,

“Engkau semakin lihai saja, sumoi. Maafkan aku!” Dan dia menyerahkan kembali sepatu dan tusuk konde.

Suma Hui menerimanya dengan renggutan, lalu mengenakan sepatunya.

“Hui-ji, apakah engkau masih tidak mau mengaku kalah?” Suma Kian Lee menegur puterinya.

Suma Hui bukan anak kecil, bukan pula bodoh. Sepatu dan tusuk kondenya terampas lawan, itu berarti kalah mutlak. Ia pun tahu bahwa pukulannya yang mengenai dada Tek Ciang tadi adalah pukulan yang sengaja diterima pemuda itu untuk ‘memberi muka’ kepadanya.

“Sudahlah, aku mengaku kalah!” katanya dengan suara lirih.

“Dan engkau tidak mengingkari janji, mau berjodoh dengannya?” ayahnya mendesak.

“Terserah kepada ayah sajalah, aku hanya mentaati ayah.”

Setelah berkata demikian, tanpa menoleh kepada Tek Ciang, Suma Hui kemudian lari meninggalkan ruangan itu, langsung masuk ke kamarnya dan membanting tubuhnya di atas pembaringannya lalu menangis terisak-isak, menutupi muka dengan bantal untuk menyembunyikan tangisnya.

“Enci....”

Suara halus Ciang Bun dan sentuhan lembut pada pundaknya membuat Suma Hui semakin terharu dan tangisnya semakin mengguguk. Ciang Bun duduk dengan muka pucat dan alis berkerut, membiarkan enci-nya menangis sepuasnya. Setelah enci-nya dapat menenangkan hatinya, dia pun berbisik.

“Enci Hui, kalau engkau tidak suka menjadi jodohnya, jangan memaksa diri. Tolak saja, jangan mau!” Ciang Bun berkata dengan penasaran dan merasa kasihan sekali kepada enci-nya.

Suma Hui bangkit duduk dan menarik napas panjang. Setelah isaknya terhenti dan ia dapat menguasai kembali hatinya, ia berkata, “Adikku, sekali ini tidak mungkin aku mengelak. Mau tidak mau aku harus mentaati perintah ayah dan rela menjadi isteri Louw Tek Ciang.”

“Hemm, mengapa begitu, enci? Apakah alasanmu?”

“Pertama, sudah banyak aku membikin susah hati ayah dan ibu dan aku tidak mau lagi mengulanginya. Ke dua, aku tidak mau kalau sampai orang tuaku melanggar janji kepada keluarga Tek Ciang. Ke tiga, aku sendiri mana sudi menjilat ludah, aku harus berani mempertanggung jawabkan semuanya dan memenuhi janjiku. Ke empat, aku sudah tidak mempunyai ikatan hati dengan siapa pun. Engkau tahu betapa benciku sekarang kepada orang yang pernah kucinta. Ke lima, aku bisa minta bantuan Tek Ciang dalam menghadapi si keparat Cin Liong karena sekarang ilmu kepandaiannya sudah memperoleh kemajuan hebat. Dan ke enam, melihat sikapnya tadi, betapa dia mengalah, harus diakui bahwa sesungguhnya Tek Ciang berhati baik.”

Ciang Bun mengangguk-angguk. “Terlalu baik, dia itu.... terlalu baik....!”

**********

Pesta pernikahan yang diadakan tiga bulan kemudian di rumah pendekar Suma Kian Lee di Thian-cin itu amat meriah. Pestanya sendiri sederhana saja karena keluarga ini bukan keluarga kaya. Namun karena nama besar pendekar Suma Kian Lee sudah amat terkenal, apalagi sebagai keturunan keluarga pendekar Pulau Es, maka banyaknya para tamu yang datang membuat perayaan itu menjadi meriah dan megah.

Bukan hanya para pendekar di dunia kang-ouw yang membanjiri perayaan itu di samping para pembesar, akan tetapi bahkan tokoh-tokoh dunia hitam ada pula yang muncul sebagai tamu karena menghormati keluarga Pulau Es. Dan sebagian besar yang datang itu tidak menanti undangan. Orang kang-ouw yang mendengar bahwa keluarga Suma mempunyai kerja, merasa tertarik dan datang begitu saja sebagai tamu tak diundang! Akan tetapi, Suma Kian Lee sekeluarga menerima kedatangan semua tamu tanpa pandang bulu, menyambut mereka dengan sikap hormat tanpa membeda-bedakan.

Perayaan itu menjadi amat meriah karena kesempatan itu dipergunakan oleh para pendekar Pulau Es untuk berkumpul. Bertemulah semua keluarga mendiang Pendekar Super Sakti di rumah Suma Kian Lee di Thian-cin dan tentu saja pertemuan keluarga ini mendatangkan suasana gembira dan juga terharu. Mereka bergembira karena dapat memperoleh kesempatan saling bertemu dan berkumpul sekeluarga besar, dan mereka terharu karena mereka bersama kehilangan orang tua yang mereka hormati dan sayang, yaitu Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya yang tewas di Pulau Es, hanya disaksikan oleh tiga orang cucu Pendekar Super Sakti, yaitu Suma Hui yang kini menikah, Suma Ciang Bun dan Suma Ceng Liong yang pada kesempatan itu belum juga pulang!

Kakak kandung Suma Kian Bu, yaitu satu-satunya puteri Pendekar Super Sakti yang bernama Milana, tidak dapat datang. Puteri Milana dan suaminya kini telah menjauhi keramaian dunia dan bertapa di puncak Beng-san yang bernama Puncak Telaga Warna. Akan tetapi suami isteri yang tidak lagi mau berurusan dengan keramaian dunia ini telah diwakili oleh putera kembar mereka, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong.

Seperti telah diceritakan dalam kisah ’Suling Emas dan Naga Siluman’, pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya, Puteri Milana, hanya mempunyai sepasang anak kembar itu. Pada waktu mereka berdua datang berkunjung ke dalam pesta pernikahan Suma Hui, usia mereka sudah kurang lebih tiga puluh tahun, akan tetapi keduanya masih belum menikah!

Agaknya ada keistimewaan pada sepasang pendekar kembar ini, yaitu mereka agaknya tidak rela kalau saudaranya menikah dengan wanita lain! Padahal, agaknya sukar dilaksanakan kalau mereka harus menikah hanya seorang isteri saja. Persoalan sepasang pendekar kembar inilah yang membuat suami isteri Gak Bun Beng menjadi kecewa dan mereka lebih banyak mengasingkan diri di puncak Gunung Telaga Warna. Ada pun dua orang pendekar kembar itu sendiri pun agaknya sudah putus asa untuk mendapatkan jodoh yang cocok.

Suma Kian Bu dan isterinya juga hadir. Sepasang suami isteri pendekar ini pun berada dalam keadaan tidak begitu gembira, bahkan mereka menahan dan menyembunyikan kegelisahan hati mereka. Sampai sekian lamanya mereka belum berhasil menemukan kembali putera mereka, yaitu Suma Ceng Liong, walau pun keduanya sudah mengikuti jejak Hek-i Mo-ong sampai jauh ke barat dan kemudian kehilangan jejak orang itu di Pegunungan Himalaya!

Suma Kian Bu dan isterinya tentu saja merasa heran melihat bahwa Suma Hui menikah dengan seorang pemuda yang menjadi murid Kian Lee, padahal mereka pernah melihat huhungan asmara antara Suma Hui dengan Kao Cin Liong yang masih terhitung keponakan sendiri dari Suma Hui. Akan tetapi tentu saja mereka menekan keheranan mereka ini dan tidak berani bertanya, takut kalau-kalau menyinggung.

Keluarga Kao Kok Cu tidak muncul. Tentu saja mereka yang juga mendengar tentang pernikahan itu merasa canggung dan tidak enak untuk muncul setelah pinangan mereka terhadap diri Suma Hui ditolak, bahkan setelah terjadi keributan dengan adanya tuduhan bahwa putera mereka, Kao Cin Liong, telah memperkosa Suma Hui. Sejak itu, ada ganjalan mendalam di antara kedua keluarga ini dan bagaimana pun juga, tidak mungkin Kao Kok Cu dan isterinya berani datang berkunjung sebagai tamu.

Di antara para tokoh pendekar yang kenamaan, yang hadir dalam perayaan pernikahan itu, nampak pula seorang pendekar tua yang gagah perkasa. Wajahnya tampan, sikapnya ramah dan simpatik dan semua orang yang berada di situ memandang ketika rombongan tamu ini datang memasuki ruangan.

Dia adalah Bu-taihiap, seorang pendekar kenamaan berusia lima puluh delapan tahun, namun masih nampak gagah, diiringkan tiga orang wanita cantik yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. Tiga orang wanita cantik ini adalah isteri-isterinya dan pendekar bernama Bu Seng Kin itu memang terkenal sebagai seorang pria romantis yang semenjak muda dicinta banyak wanita dan bahkan mempunyai isteri di mana-mana!

Tiga orang isterinya itu pun bukan wanita sembarangan. Yang tertua, berusia lima puluh satu tahun, adalah seorang puteri peranakan Nepal yang pernah menjadi Panglima Nepal. Ilmu silat dan ilmu perangnya cukup hebat dan namanya terkenal sebagai Puteri Nandini. Yang ke dua, berusia empat puluh delapan tahun, masih nampak cantik manis, adalah seorang wanita berpakaian nikouw akan tetapi memelihara rambut dan ia pun menjadi isteri pendekar petualang asmara itu, bernama Ga Cui Bi. Yang ke tiga, mungkin yang paling lihai di antara tiga orang isteri itu, juga termuda, dua tiga tahun lebih muda dari pada nikouw itu, adalah seorang wanita cantik genit hernama Tan Cun Ciu yang berjuluk Cui-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa).

Dia sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu silat amat tinggi, jarang dapat ditemukan tandingan, masih ada tiga orang isterinya yang kesemuanya lihai-lihai selalu berada di sampingnya! Tentu saja jarang ada pihak yang berani mengganggu keluarga jagoan ini. Masih banyak sekali tamu yang terdiri dari orang-orang kenamaan. Bahkan Kaisar Kian Liong sendiri mengirim utusan pribadi dan mengirim sumbangan, suatu kehormatan yang besar sekali! Maka, suasana pesta pernikahan itu menjadi meriah, megah dan gembira sekali.

Suma Kian Lee dan isterinya sibuk menyambut dan melayani para tamu, menerima ucapan-ucapan selamat dan mereka merasa gembira bukan main. Tak mereka sangka bahwa pernikahan puteri mereka yang diawali dengan hal-hal amat menggelisahkan itu kini dapat berlangsung dengan lancar.

Suma Hui sendiri pun tidak banyak rewel, dan memang gadis ini benar-benar telah menyerahkan kesemuanya kepada ayahnya tanpa membantah. Agaknya sudah bulat tekadnya yang bertujuan satu, yaitu mengajak suaminya untuk membantunya membalas dendam dan membunuh Kao Cin Liong kelak! Untuk itu ia siap mengorbankan diri dan hati dan akan menerima nasib menjadi isteri Louw Tek Ciang!

Baginya toh sama saja menjadi isteri siapa pun, hanya pada diri Louw Tek Ciang ia dapat mengharapkan bantuan menghadapi Cin Liong. Dan bagaimana pun juga, Tek Ciang adalah suheng-nya sendiri dan sudah dipercaya oleh ayahnya. Ia boleh salah pilih, akan tetapi agaknya ayahnya cukup teliti sehingga tidak akan salah memilihkan suami untuknya. Dengan pikiran ini, Suma Hui dapat melaksanakan segala upacara pernikahan itu dengan tenang dan diam saja. Tidak nampak senyum di wajahnya, juga tidak nampak duka. Ia hanya menunduk dan menutup semua panca indera terhadap hal lain, dan mengikuti upacara secara membuta saja.

Kiranya hanya Ciang Bun seorang yang dapat menyelami hati enci-nya. Pemuda yang halus perasaan ini mengerti sepenuhnya bahwa enci-nya itu bagaimana pun juga masih mencinta Cin Liong dan bahwa enci-nya melaksanakan pernikahan itu dengan memaksakan diri. Dia dapat membayangkan betapa hancur hati enci-nya dan diam-diam dia pun merasa menyesal dan berjanji dalam hatinya untuk kelak menegur dan membalas dendam kepada Cin Liong yang dianggapnya tidak bertanggung jawab dan telah menghancurkan kebahagiaan hidup enci-nya.

Perayaan pernikahan itu berjalan lancar sampai selesai. Meriah dan tidak terjadi sesuatu yang tidak baik, seperti yang sering terjadi dalam perayaan di rumah seorang pendekar. Agaknya, hadirnya para pendekar gagah membuat kaum pengacau menjadi gentar dan tidak ada yang berani mencoba-coba.

Setelah semua tamu bubaran, Suma Kian Bu dan isterinya juga berpamit karena mereka hendak kembali ke rumah mereka yang sudah terlalu lama mereka tinggalkan dalam usaha mereka mencari Ceng Liong. Sepasang pendekar kembar she Gak juga berpamit dari paman mereka. Tinggallah kini keluarga tuan rumah yang mempunyai kerja.

Seperti biasa pada semua keluarga yang mempunyai kerja, di waktu pesta terlaksana tidak terasa apa-apa, akan tetapi begitu pesta selesai, terasalah betapa lelahnya badan! Keluarga itu menyerahkan semua pemberesan perabot-perabot dan pembersihan tempat kepada tenaga-tenaga bantuan, dan mereka sendiri sore-sore telah memasuki kamar masing-masing. Juga sepasang pengantin sudah memasuki kamar mereka….

kisah para pendekar pulau es jilid 14


Malam itu sungguh sunyi setelah pada siang harinya tempat itu demikian meriah dikunjungi banyak orang. Tidak terdengar suara berisik, bahkan para tenaga bantuan yang masih bekerja membersihkan tempat, bekerja dengan hati-hati dan tidak berani berisik. Setelah hari gelap benar, mereka pun menghentikan pekerjaan mereka dan mengaso di bagian belakang rumah keluarga Suma itu.

Suma Kian Lee dan isterinya telah merebahkan diri beristirahat. Ciang Bun bergulingan gelisah di tempat tidurnya. Tak dapat dia melepaskan pikirannya dari membayangkan keadaan enci-nya. Dia menjadi gelisah dan sedih.

Sementara itu, di dalam kamar pengantin sendiri, sepasang pengantin sudah bertukar pakaian. Suma Hui duduk termenung di atas kursi. Kamar yang terhias amat indah itu, dengan bau semerbak harum kamar pengantin, seperti tidak dirasakannya. Ia merasa seperti ada kelumpuhan di dalam batinnya, dan kadang-kadang ia tersentak kaget dan memejamkan mata membayangkan orang yang juga berada di kamar ini, yang kini menjadi suaminya dan yang harus dilayaninya!

Ngeri ia membayangkan semua itu, akan tetapi ia maklum bahwa bagaimana pun juga, ia harus taat! Tek Ciang sendiri nampak gugup dan canggung. Pengantin pria ini pun sudah berganti pakaian yang longgar, pakaian dari sutera biru yang membuat dia nampak tampan.

Pada saat Tek Ciang menghampirinya dan menyentuh pundaknya, Suma Hui merasa tubuhnya seperti dimasuki ratusan ekor semut yang membuatnya gemetar dan bulu tengkuknya meremang. Mengerikan, pikirnya. Tapi dia adalah seorang wanita pendekar, seorang gagah yang tidak akan mengingkari janji. Apa pun yang terjadi, dia sudah menyerah dan ia harus mempertanggung jawabkan semua itu.

“Hui-moi.... Hui-moi....” terdengar suara Tek Ciang, suara yang kedengaran aneh bagi telinga Suma Hui.

Biasanya, kalau memanggilnya sumoi dan kalau bicara kepadanya, di dalam suara Tek Ciang mengandung suara halus merayu dan juga perendahan diri. Kini, suara itu selain mengandung rayuan juga kekuasaan! Maka aneh kedengarannya. Namun ia menoleh dan menjawab lirih, “Ada apakah?”

Tentu saja jawaban ini membuat Tek Ciang menjadi agak gugup. Dia bukan orang yang tidak biasa berdekatan dengan wanita-wanita. Banyak sudah dia mendekati wanita dan berhubungan dengan wanita, yang dilakukan secara diam-diam selama ini. Akan tetapi, dia harus mengakui bahwa berdekatan dengan Suma Hui ini lain lagi, ada sesuatu yang membuatnya merasa agak gentar.

Tadi, panggilannya sudah jelas maknanya, panggilan seorang suami untuk isterinya, seorang pengantin pria kepada mempelainya, yang bernada rayuan, tuntutan atau pun pembuka jalan. Namun isterinya itu langsung bertanya terang-terangan ada keperluan apa, maka tentu saja dia menjadi canggung.

Dia pun membelai tangan Suma Hui yang dipegangnya. Tangan yang memiliki jari-jari tangan kecil runcing dan berkulit halus, akan tetapi agak dingin dan Tek Ciang tahu betapa berbahayanya jari-jari tangan berkulit halus ini! Suma Hui mendiamkan saja ketika tangannya dibelai, hanya jantungnya berdebar demikian kencangnya sampai kedua telinganya dapat mendengar detak jantungnya sendiri.

“Moi-moi, engkau tentu lelah. Mari kita mengaso di pembaringan....”

Suma Hui melirik ke arah lilin di atas meja, lalu bangkit berdiri dan berkata lirih seperti berbisik, “Padamkan dulu lilinnya....”

Tek Ciang tersenyum gembira, melepaskan tangan halus itu dan menghampiri meja. Sementara itu, Suma Hui sudah mendahuluinya menuju ke pembaringan dan segera menyingkap kelambu dan naik ke atas pembaringan yang berbau harum itu. Detak jantungnya makin menghebat. Lilin padam dan kamar itu hanya remang-remang saja, mendapat sedikit penerangan yang menerobos masuk melalui celah-celah atas jendela dari luar.

Detak jantung di dalam dada Suma Hui hampir disusul jerit yang ditahan ketika dia merasa betapa Tek Ciang sudah naik ke atas pembaringan pula dan merangkulnya, menindihnya dan menggelutinya, lalu menciumi seluruh mukanya, matanya, pipinya, hidungnya dan mengecup bibirnya. Akan tetapi ia tidak mengelak, tidak menolak, tidak pula menyambut, hanya diam saja bergumul dengan perasaan hatinya sendiri. Hatinya ingin menolak, akan tetapi dengan kekerasan kemauan dia melumpuhkan keinginan hatinya sendiri dan menyerah saja, bahkan memejamkan matanya, hanya merasakan apa yang diperbuat oleh Tek Ciang atas dirinya.

“Moi-moi.... ahh, Hui-moi.... akhirnya engkau menjadi isteriku.... ahh, betapa aku cinta padamu....” Dengan bisikan tersendat-sendat dan jari-jari tangan gemetar Tek Ciang menggeluti isterinya.

Mendadak terdengar jeritan melengking keluar dari mulut Suma Hui. Tanpa disengaja tangannya meraba punggung suaminya yang tak berpakaian lagi itu dan jari tangannya meraba benjolan daging di punggung kiri. Tonjolan daging sebesar telur burung yang ditumbuhi rambut!

“Engkau....!” Dan ia pun menghantamkan tangannya ke arah kepala suaminya!

Tek Ciang kaget setengah mati. Akan tetapi dia masih sempat menggulingkan tubuhnya dari atas pembaringan sehingga terhindar dari hantaman maut.

“Hui-moi, ada apakah....?”

“Keparat jahanam! Kiranya engkau malah orangnya....?” Suma Hui pun menjerit sambil menangis.

Cepat Suma Hui membereskan kembali pakaiannya yang tadi sudah hampir tertanggal seluruhnya oleh jari-jari tangan Tek Ciang. Tek Ciang sendiri dalam kekagetannya cepat membereskan pakaiannya sendiri, lalu menyalakan lilin. Kamar itu kini menjadi terang kembali dan Suma Hui meloncat turun dari atas pembaringan, menghadapi suaminya dengan sepasang mata berapi-api walau pun ada air mata menetes-netes turun.

“Engkau....!” Telunjuknya menuding ke arah muka Tek Ciang yang memandang dengan mata terbelalak. “Engkaulah orangnya! Jahanam terkutuk, engkaulah orangnya yang telah memperkosaku dahulu!”

Setelah berkata demikian, dengan kemarahan meluap Suma Hui menerjang ke depan dan menyerang dengan sekuat tenaganya, menghantam ke arah dada Tek Ciang dengan tangan terbuka. Akan tetapi Tek Ciang mengelak dan meloncat ke belakang.

“Hui-moi, apa yang kau katakan ini....? Sudah jelas perbuatan terkutuk itu dilakukan oleh Kao Cin Liong....”

“Tutup mulutmu yang busuk! Baru sekarang aku mengerti! Ternyata engkau adalah seekor ular busuk yang amat jahat, khianat, curang dan pengecut! Engkaulah yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dan engkau menimpakan kesalahan kepada orang lain! Tidak perlu engkau menyangkal, daging menonjol dan berambut yang tumbuh di punggungmu itulah saksinya.” Suma Hui menyerang lagi dengan sengit.

“Kau salah sangka....” Tek Ciang membela diri akan tetapi suaranya gemetar dan lemah karena dia kehabisan akal setelah rahasianya terbuka.

Dia merasa menyesal sekali mengapa di punggungnya tumbuh daging jadi itu, dan mengapa pula sampai Suma Hui mengetahui tentang tonjolan daging itu. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dahulu ketika dia memperkosa Suma Hui, biar pun gadis itu berada dalam keadaan terbius, namun Suma Hui masih setengah sadar ketika tangannya bergerak dan jari-jari tangannya menyentuh punggung yang telanjang dan bertemu dengan tonjolan daging berambut itu. Dia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya. Hanya itulah satu-satunya tanda yang dikenalnya dari tubuh pemerkosanya. Sungguh tak pernah dia mengira bahwa yang punggungnya menonjol itu adalah Tek Ciang!

Suma Hui menyerang dengan beringas dan kini Tek Ciang juga berusaha untuk menundukkan. Pria ini maklum bahwa rahasianya sudah terbuka dan dia hendak menundukkan Suma Hui melalui kekerasan. Maka, sambil mengelak dia pun balas menyerang dan sebuah tendangan mengenai paha Suma Hui, membuat wanita ini terguling.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara keras dan daun pintu jebol. Muncullah Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li. Suami isteri ini terkejut sekali mendengar suara gaduh di kamar pengantin dan ketika mereka keluar dari kamar menghampiri kamar pengantin, mereka mendengar perkelahian itu, bahkan mereka sempat mendengarkan kata-kata Suma Hui yang terakhir tadi yang membuat mereka terkejut setengah mati.

Pada saat perkelahian menghebat, Suma Kian Lee tidak sabar lagi dan sekali dorong robohlah daun pintu. Mereka melihat Suma Hui baru merangkak hendak bangkit dan Louw Tek Ciang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

“Apa yang telah terjadi?” Suma Kian Lee bertanya, suaranya marah, penuh selidik.

“Hui-ji, apa artinya kata-katamu tentang pemerkosaan dan daging tumbuh di punggung tadi?” Kim Hwee Li juga bertanya.

Tendangan tadi tidak mendatangkan luka berat, tetapi tetap saja Suma Hui melangkah dengan terpincang-pincang menghampiri ibunya. Air matanya bercucuran.

“Ibu.... ayah.... dia.... dialah.... iblis terkutuk yang dahulu memperkosaku! Buktinya adalah tonjolan daging berambut di punggungnya.... dahulu aku mengetahui tanda itu secara tidak disengaja dan tadi.... tadi pun hanya kebetulan saja.... dialah jahanam busuk itu!”

“Aihhhh....!” Kim Hwee Li menjerit.

“Hahhh....?!” Suma Kian Lee juga berteriak kaget.

Dia lalu melangkah maju menghampiri muridnya. Tek Ciang menjadi semakin pucat dan dia sudah melirik ke arah jendela dan pintu, seperti tikus tersudut hendak mencari jalan keluar untuk melarikan diri.

“Tek Ciang! Apa artinya ini? Benarkah apa yang diceritakan Hui-ji?” Suma Kian Lee bertanya ragu karena dia belum mau percaya begitu saja akan hal yang demikian jauh berlawanan dengan perkiraan dan harapan hatinya.

“Ti.... tidak.... suhu....,” jawab Tek Ciang gugup dan suaranya gemetar.

“Kalau tidak, buka bajumu dan perlihatkan kepada kami apakah benar ada tonjolan daging jadi di punggungmu!” Kim Hwee Li membentak.

Kini wanita yang cerdik itu pun sudah dapat menduga dan membayangkan apa yang dahulu telah terjadi. Suma Kian Lee hanya berdiri terbelalak, sampai tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking hebatnya perasaan memenuhi hatinya. Marah, heran, ragu-ragu, menyesal dan malu bercampur aduk menjadi satu.

Dialah yang setengah memaksakan terikatnya perjodohan antara puteri tunggalnya dan Tek Ciang, bahkan dia telah mengangkat Tek Ciang menjadi murid utama, murid yang mewarisi semua ilmu-ilmu keluarga Pulau Es dan kini, ternyata pemuda ini yang telah memperkosa Suma Hui! Tentu saja sukar baginya untuk dapat menerima kenyataan ini.

“Ayah, aku sekarang mengerti semuanya!” Suma Hui berteriak lantang. “Ayahnya tewas karena bersama penjahat bayaran bermaksud membunuh Cin Liong. Penyerangan itu tentu dilakukan oleh karena mereka hendak menyingkirkan Cin Liong yang dianggap menghalangi niat mereka untuk menarik kita sebagai keluarga. Keparat ini mendendam kepada Cin Liong atas kematian ayahnya maka dia merencanakan perbuatan terkutuk itu dengan mempergunakan nama Cin Liong untuk memfitnah. Cin Liong kita musuhi sedangkan dia sendiri, si keparat busuk ini, tampil sebagai pahlawan yang membela nama baik keluarga kita! Dia memperoleh keuntungan ganda. Dapat membalas dendam kepada Cin Liong dengan fitnah itu, dapat menguasai diriku, dan dapat mewarisi ilmu keturunan keluarga kita, ayah....”

“Louw Tek Ciang! Cepat jawablah dan coba sangkal semua itu dengan penjelasan yang tepat kalau memang engkau bukan seorang iblis terkutuk seperti yang digambarkan oleh Hui-ji!” Suma Kian Lee membentak dan mukanya berubah merah sekali.

“Suhu, teecu....” Tek Ciang berkata gagap karena memang apa yang dikatakan Suma Hui itu semua tepat sekali, menelanjangi seluruh perbuatannya sehingga dia tidak dapat menyangkal lagi.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketawa seorang laki-laki. “Ha-ha-ha, Tek Ciang, apakah engkau bukan laki-laki lagi yang tidak berani menghadapi semua ini?”

Mendengar suara yang amat dikenalnya ini, suara Jai-hwa Siauw-ok, gurunya yang lain, guru rahasia, wajah Tek Ciang menjadi cerah. Datangnya bantuan ini sungguh di waktu yang tepat sekali. Dia mengangkat dadanya dan berkata, “Suhu, semua itu benar dan setelah sekarang aku menjadi suami Hui-moi....”

“Jahanam!” Suma Kian Lee sudah menubruk maju dan langsung melakukan pukulan maut dengan tenaga Hwi-yang Sin-ciang. Angin keras yang amat panas menyambar ke depan.

Tek Ciang tentu saja mengenal pukulan ini dan tahu betapa hebat dan berbahayanya serangan gurunya. Akan tetapi karena hatinya sudah menjadi besar dengan datangnya Jai-hwa Siauw-ok, dia pun mengerahkan tenaganya. Sambil mengelak dia menangkis, mengerahkan tenaga sambil membongkokkan tubuhnya. Ketika lengannya menangkis, terdengar suara aneh seperti suara katak dari perutnya.

“Desss....!”

Tubuh Tek Ciang terhuyung, akan tetapi dengan menggulingkan tubuhnya, dia dapat meloncat bangkit kembali.

Suma Kian Lee terbelalak. Tenaga tangkisan itu tadi cukup kuat dan bukan dari ilmu keluarganya, melainkan ilmu aneh yang mirip Ilmu Hoa-mo-kang atau Ilmu Katak Buduk. Memang dugaannya benar. Ketika menangkis tadi, Tek Ciang mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, untuk menyatakan bahwa mulai saat itu dia adalah lawan keluarga Suma, pula kalau dia mengeluarkan Hwi-yang Sin-ciang pula, jelas dia kalah kuat oleh gurunya.

Kim Hwee Li dan Suma Hui sudah menerjang maju pula, akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan dari luar, “Tek Ciang, keluarlah!”

Tek Ciang menggerakkan tangan, melemparkan sesuatu ke tengah kamar itu. Segera terdengar bunyi ledakan keras dan asap memenuhi kamar.

“Awas asap beracun!” teriak Suma Kian Lee untuk memperingatkan anak isterinya dan dia sendiri cepat melompat ke arah jendela dari mana tadi dia melihat tubuh Tek Ciang berkelebat keluar.

Setibanya di luar, dia melihat pemuda itu telah meloncat ke atas genteng dan di atas wuwungan telah berdiri seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun lebih, berpakaian indah pesolek dan wajahnya ganteng.

“Iblis busuk, jangan lari!”

Suma Kian Lee yang kini merasa marah bukan main itu kembali menyerang Tek Ciang. Serangannya jauh lebih hebat dari pada tadi karena dia menggunakan kedua tangan menyerang secara beruntun, tangan kanannya mengerahkan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang yang panas sedangkan tangan kiri menghantam dengan pengerahan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang yang amat dingin.

Walau pun belum mampu menggabungkan kedua tenaga yang berlawanan intinya itu, pendekar ini ternyata kini sudah demikian mahirnya untuk mempergunakannya secara beruntun dengan kedua tangan. Tentu saja Tek Ciang menjadi gentar. Dia maklum akan kehebatan gurunya ini, dan dia sendiri walau pun telah mempelajari kedua ilmu mukjijat itu, namun latihannya belum matang dan tentu saja dia belum mampu menggunakannya secara berbareng pada kedua lengannya.

Melihat serangan hebat ditujukan kepada muridnya, Jai-hwa Siauw-ok mendengus dan berkata, “Mana ada murid dibunuh gurunya sendiri?” Dan dia pun melangkah maju menangkis dari kiri sedangkan Tek Ciang menangkis dari kanan.

“Dess! Desss!”

Kedua orang itu menangkis dua macam pukulan. Tek Ciang yang menangkis pukulan Swat-im Sin-ciang itu merasa tubuhnya kedinginan dan dia terhuyung ke belakang. Akan tetapi, tangkisan Jai-hwa Siauw-ok membuat dia dan Suma Kian Lee melangkah mundur, tanda bahwa kekuatan mereka berimbang.

“Keparat! Siapa engkau berani mencampuri urusan antara guru dan murid?” bentak Suma Kian Lee, terkejut melihat bahwa orang ini lihai pula.

“Ha-ha, dia muridku, tentu saja kubela dia,” kata Jai-hwa Siauw-ok sambil membalas serangan lawan. Kedua tangannya bergerak, jari-jari tangan terbuka dan terdengar suara bercicitan ketika jari-jari tangan itu meluncur cepat sekali mendatangkan hawa dingin.

“Cuiiiittt....!”

Jari tangan Jai-hwa Siauw-ok kembali menyambar ke arah dada Suma Kian Lee dan pada saat itu, Tek Ciang juga menyerangnya dengan pukulan Toat-beng Bian-kun!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Suma Kian Lee melihat muridnya sendiri berani menyerangnya dengan pukulan maut. Bahkan mengeroyoknya bersama seorang tokoh jahat, dan menggunakan ilmu keluarga Pulau Es untuk menghantamnya.

“Iblis murtad!” bentaknya dan dia menyambut pukulan Tek Ciang dengan pengerahan tenaga untuk merobohkan murid itu.

Akan tetapi, sambaran jari tangan Jai-hwa Siauw-ok sudah tiba dan biar pun Kian Lee mengelak dan membatalkan niatnya merobohkan Tek Ciang, tetapi hanya menangkis serangan pemuda itu, tetap saja jari tangan Jai-hwa Siauw-ok menyerempet bajunya.

“Brettttt....!”

Baju di dada Kian Lee terobek, kulitnya tergurat sehingga terasa perih seperti tergurat pedang. Dia terkejut dan maklum bahwa itu adalah ilmu yang disebut Kiam-ci (Jari Pedang) yang amat lihai.

Pada saat itu, Suma Hui dan Kim Hwee Li berlompatan naik ke atas genteng. Ketika Suma Hui melihat kakek pesolek itu, ia terkejut dan membentak, “Jai-hwa Siauw-ok manusia iblis! Engkau datang mengantar kematian!”

Suma Hui sudah menerjang ke depan membantu ayahnya, juga Kim Hwee Li yang melihat bahwa lawan suaminya seorang lihai, cepat membantu suaminya. Kian Lee dan isterinya terkejut mendengar bentakan puteri mereka itu. Baru mereka tahu bahwa yang datang membantu Tek Ciang adalah datuk sesat yang pernah menculik dan melarikan Suma Hui itu.

Marahlah hati Kian Lee. Kini makin jelas baginya. Kiranya sejak dahulu, Tek Ciang adalah seorang yang palsu, dan diam-diam mengelabuinya, dengan sikap pura-pura baik, sehingga bukan hanya berhasil mempelajari ilmu-ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi juga malah berhasil memperisteri Suma Hui setelah memperkosanya! Berhasil pula mengadu domba antara keluarganya dan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir!

“Bedebah!” bentaknya dan dia bersama isteri dan puterinya mengamuk.

Melihat keluarga yang lihai itu sudah keluar semua karena kini nampak pula bayangan Ciang Bun membawa pedang, Jai-hwa Siauw-ok berseru. “Tek Ciang, mari kita pergi!”

Guru dan murid itu menggerakkan tangan dan terdengar ledakan-ledakan diikuti asap tebal ketika mereka membanting benda-benda bulat ke atas wuwungan. Di dalam kegelapan asap tebal ini mereka pun menghilang.

Kian Lee, Hwee Li, Suma Hui dan Ciang Bun berusaha untuk melakukan pengejaran, akan tetapi malam gelap telah menelan dua orang itu.

“Jangan mengejar secara terpisah, mereka itu berbahaya.” Kian Lee memperingatkan sehingga dengan mengejar berkelompok, mereka tidak berhasil dan akhirnya terpaksa kembali ke rumah mereka.

Suma Hui menangis dalam rangkulan ibunya. “Uhh, ibu.... aku berdosa besar sekali.... aku telah memaki, menghina dan membenci Cin Liong.... padahal dia sama sekali tidak berdosa.... ah, ibuuu....”

Ingin rasanya Suma Hui menjerit-jerit ketika ia membayangkan pemuda yang dicintanya itu. Dapat dibayangkan betapa sakit dan sengsaranya hati Cin Liong dan betapa sakit pula hati orang tuanya menerima tuduhan yang keji itu. Ibunya hanya dapat merangkul dan menciuminya dengan hati penuh iba.

Suma Kian Lee terduduk di atas kursi, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Perasaan menyesal yang amat hebat seperti gelombang menyeretnya, dan di antara celah-celah jari tangannya ada beberapa tetes air. Terdengar suaranya penuh getaran dan tubuhnya menggigil ketika dia bicara dari balik kedua telapak tangan yang menutupi mukanya.

“Aku.... aku telah merusak anak sendiri.... dan aku pun telah mengkhianati ilmu keluarga sendiri.... aku telah berdosa terhadap keluarga Kao.... ahhh, orang bodoh macam aku layak mati.... layak mati....!” Pendekar ini mengeluh panjang dan tubuhnya lalu terguling.

“Ayahhh....!” Ciang Bun menubruk dan merangkul sehingga tubuh ayahnya tidak sampai terguling jatuh. Ternyata pendekar itu telah roboh pingsan saking hebatnya guncangan batin yang dideritanya.

Kim Hwee Li menjerit dan melepaskan rangkulan pada puterinya, kemudian menubruk suaminya sambil menangis dan mengguncang-guncang pundak suaminya yang pingsan itu. Setelah dipijat bagian leher dan bawah lengannya, Kian Lee siuman kembali. Melihat dia rebah di pembaringan ditangisi oleh isterinya dan kedua orang anaknya, pendekar ini sadar lalu bangkit duduk. Dia memandang kepada Suma Hui yang berlutut di depan pembaringannya sambil menangis. Melihat puterinya ini, tak dapat lagi Suma Kian Lee menahan hatinya.

“Hui-ji....!” Dia menubruk dan merangkul, mendekap kepala puterinya itu, air matanya bercucuran. “Hui-ji, kau maafkan aku....”

“Ayaahh.... ayaahhh....!” Suma Hui juga hanya dapat menangis tersedu-sedu di dada ayahnya. Suasana sungguh amat mengharukan ketika empat orang anggota keluarga itu membiarkan diri mereka tenggelam dalam kedukaan, dalam penyesalan yang amat mendalam.

Akan tetapi Kim Hwee Li yang pada dasarnya memiliki watak keras itu dapat lebih dahulu menguasai dirinya dan ia pun berkatalah. “Sudahlah, apa gunanya penyesalan yang berlarut-larut ini? Lebih baik kita melihat apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki semua kesalahan.”

“Ayah, yakinkah ayah sekarang bahwa Cin Liong tidak berdosa?” Dengan halus akan tetapi suaranya membayangkan kesedihan Suma Hui bertanya.

Suma Kian Lee mengangguk dan pendekar itu tiba-tiba saja nampak jauh lebih tua dari pada biasanya. “Aku pernah melupakan bahwa dia adalah keturunan Naga Sakti Gurun Pasir....”

“Dan ayah.... ayah masih berkeberatan terhadap hubungan antara kami?” tanya pula Suma Hui.

Suma Kian Lee menarik napas panjang. “Aku bersalah.... tadinya memang kuanggap tidak baik melakukan ikatan jodoh antara keluarga sendiri. Aku lupa bahwa urusan jodoh adalah urusan yang mutlak menyangkut diri kedua orang itu sendiri.... akan tetapi aku telah menggagalkan segalanya, aku telah merusak kebahagiaanmu, Hui-ji.”

“Disesalkan pun tiada gunanya lagi,” Suma Hui menyusut air matanya. “Aku tidak patut lagi mendekatinya. Hidupku hanya untuk dua tujuan kini. Pertama, menemui Cin Liong dan minta agar dia sudi mengampuni dosaku, dan ke dua, aku belum mau mati sebelum dapat membunuh si jahanam Louw Tek Ciang!”

“Hemmm, aku sendiri yang akan menanganinya!” kata Suma Kian Lee penuh geram.

“Tidak, ayah. Harus aku sendiri yang membunuh jahanam itu!” kata pula Suma Hui.

“Dan aku akan membantumu, enci Hui!” kata Ciang Bun yang juga ikut merasa dendam.

Suma Kian Lee mengangguk. “Kita semua akan maju karena jahanam itu berkawan dengan tokoh-tokoh sesat yang pandai. Akan tetapi, kepandaian kalian masih belum cukup untuk menandinginya, maka mulai sekarang, biar kuajar semua ketinggalan, akan kucurahkan seluruh waktu dan perhatianku untuk mewariskan semua ilmu keluarga kita kepada kalian.”

Demikianlah, peristiwa hebat yang mengguncang keluarga pendekar ini bahkan membuat ayah dan anak menjadi akrab, dan mulai hari itu, Suma Hui dan Ciang Bun digembleng oleh ayah mereka secara tekun dan keras. Suma Kian Lee yang merasa bersalah kepada dua orang anaknya karena dia telah mengambil murid dan ahli waris dari luar yang ternyata seorang penjahat itu, sekarang hendak menebus kesalahannya dengan menguras semua kepandaiannya untuk diwariskan kepada mereka. Sebaliknya, Suma Hui dan Ciang Bun yang bertekad untuk menandingi Tek Ciang, berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga dalam waktu dua tahun lebih mereka sama sekali tidak pernah meninggalkan rumah dan tempat latihan!

Segala macam peristiwa yang terjadi dan menimpa diri kita adalah kenyataan-kenyataan yang tak dapat dirubah lagi dan kesemuanya itu tentu mengandung sebab. Sebab-sebab itu pun tidak akan jauh dari pada diri kita sendiri, dan sumber segala peristiwa yang menimpa diri kita berada di dalam diri kita sendiri. Menyesalkan peristiwa yang terjadi sungguh tidak ada gunanya sama sekali, karena penyesalan itu hanya akan mendatangkan duka dan karenanya pikiran bahkan menjadi keruh dan tidak dapat bekerja dengan baik.

Lebih baik kita membuka mata melihat kenyataan itu, karena semua peristiwa yang terjadi adalah suatu kenyataan, suatu fakta. Pengamatan yang mendalam dan terbuka terhadap suatu peristiwa akan membuka mata kita, membuat kita waspada dan di dalam setiap peristiwa terkandung pelajaran kehidupan yang amat berharga.

Hujan yang jatuh tak mungkin ditahan dan diminta untuk terbang ke atas lagi. Hujan turun merupakan satu di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi, suatu kenyataan yang wajar, tidak baik tidak buruk. Tidak ada manfaatnya sama sekali kalau kita bermurung atau marah-marah oleh turunnya hujan karena kita merasa dirugikan. Juga berbahaya kalau sebaliknya kita bersenang-senang melampaui batas karena kita merasa diuntungkan oleh turunnya hujan itu karena segala macam kesenangan setiap saat bisa saja berubah menjadi kedukaan.

Para petani yang merasa diuntungkan oleh turunnya hujan tidak akan bersenang hati saja, melainkan waspada menjaga agar jangan sampai air hujan itu terlalu membanjiri sawahnya sehingga bahkan merusak padinya. Anak-anak yang bergembira dan bermain dalam hujan pun harus diamati dengan waspada, jangan sampai mereka menjadi kedinginan bahkan sebaliknya lalu menjadi sakit.

Jadi, dalam setiap peristiwa tentu terkandung segi baik buruknya, kalau kita sudah membiarkan diri terseret dalam perhitungan untung rugi. Lalu apa yang kita lakukan menghadapi setiap peristiwa, setiap kenyataan? Apakah lalu berdiam diri saja, masa bodoh dan tidak perduli? Sama sekali tidak bijaksana kalau begitu! Alangkah baiknya kalau dalam menghadapi setiap periswa yang menimpa diri, kita bersikap waspada, membuka mata dan menghadapi kenyataan tanpa dipengaruhi untung rugi.

Misalnya hujan turun di waktu kita hendak keluar. Perlu apa mengeluh? Yang penting, akal budi kita pergunakan untuk mengatasi halangan itu, menggunakan payung, kendaraan, atau berteduh. Tindakan ini yang penting, bukan keluhan. Keluhan muncul kalau pikiran kita sibuk menimbang-nimbang untung rugi. Dan ini tidak ada manfaatnya sedikit juga. Demikian pula, seperti peristiwa hujan turun, dalam menghadapi segala peristiwa apa pun dalam hidup, kewaspadaan dan pengamatan yang mendalam akan menciptakan tindakan-tindakan yang tepat! Tepat.....


**********

Kao Cin Liong bukan hanya seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi juga sudah digembleng oleh banyak pengalaman, baik dalam kehidupannya sebagai seorang pendekar yang berkecimpung di dunia kang-ouw mau pun sebagai seorang panglima muda yang berkecimpung di dalam kancah-kancah peperangan. Semua pengalaman pahit dalam hidupnya membuat pemuda ini matang dan dia dapat menghadapi segala peristiwa dengan tenang.

Akan tetapi, ketika pemuda yang kini usianya sudah tiga puluh dua tahun itu pulang dari tugasnya membebaskan Tibet dari pasukan Nepal, bahkan kemudian dia menyerang Nepal dan berhasil menundukkan negara ini sehingga Kerajaan Nepal terpaksa harus mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng yang kuat itu, dia menghadapi hal yang membuat dirinya tertegun. Setelah kembali ke kota raja dan menerima hadiah dan anugerah Kaisar Kian Liong yang memuji-mujinya, Jenderal Kao Cin Liong lalu berpamit meminta cuti untuk menengok orang tuanya di utara.

Akan tetapi, begitu dia memasuki rumahnya dan menghadap ayah bundanya, jenderal muda itu tertegun melihat sikap ayah bundanya terhadap dirinya. Ayahnya memandang dengan mata mencorong sedangkan ibunya menyambutnya dengan mata merah dan basah! Cin Liong dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, maka cepat dia menjatuhkan diri berlutut depan kedua orang tuanya yang duduk di kursi panjang.

“Ayah, ibu, aku datang membawa berita kemenangan dan berhasilnya tugas yang kupikul. Akan tetapi, mengapa ayah dan ibu nampak marah dan duka? Harap ayah dan ibu suka mengampunkan kalau aku membuat kesalahan, dan harap memberi tahu kesalahan apa gerangan yang telah kulakukan?”

“Cin Liong, karena ulahmu, atau setidaknya karena engkaulah maka kami berdua, ayah bundamu menerima penghinaan dan makian orang,” kata Kok Cu.

Pendekar ini sudah hampir enam puluh tahun usianya, namun masih nampak gagah perkasa. Buntungnya sebelah lengannya sama sekali tidak membayangkan kelemahan, bahkan menambah kegagahannya, kegagahan yang aneh. Sikapnya tenang dan serius, sepasang matanya mencorong seperti mata naga sehingga patutlah kalau dia dikenal sebagai Naga Sakti Gurun Pasir.

Di sampingnya duduk isterinya, Wan Ceng yang kini sudah berusia lima puluh tiga tahun. Nenek yang biasanya gembira itu nampak muram dan ketika ia memandang kepada puteranya, hampir ia tidak dapat menahan air matanya.

Tentu saja Cin Liong merasa terkejut sekali mendengar teguran ayahnya itu. Akan tetapi sebagai seorang yang sudah matang dan berpengalaman, dia tetap tenang. Dia lalu bangkit duduk menghadapi ayah bundanya, dan sambil memandang kepada mereka bergantian dengan sinar mata penuh selidik, dia pun bertanya. “Ayah dan ibu, apakah yang telah terjadi? Harap suka segera memberi tahu kepadaku.”

Wan Ceng yang tetap tidak mau percaya akan kesalahan puteranya, segera mendahului suaminya. “Liong-ji, kami telah pergi ke Thian-cin....”

“Ahhh....!” Cin Liong teringat akan urusannya dengan Suma Hui dan tentang permintaan kepada ayah bundanya untuk mengajukan pinangan. “Lalu bagaimana, ibu?”

“Kami tiba di Thian-cin, berhasil menemui paman Suma Kian Lee dan keluarganya, dan kami telah mengajukan pinangan terhadap diri Suma Hui seperti yang kau minta.” Wan Ceng berhenti karena suaminya memotong.

“Pinangan yang janggal karena masih keluarga, dan menurut hitungan, kita kalah tua lagi, dan berakhir dengan aneh dan memalukan pula.”

“Ibu, apakah yang terjadi selanjutnya?”

“Singkatnya, pinangan kita ditolak, bahkan kami berdua dihina dan dimaki!” kata Wan Ceng gemas.

Cin Liong bangkit berdiri dan mengepal tinju, alisnya berkerut. “Ahhh, sungguh tidak pantas! Mereka boleh saja menolak pinangan, akan tetapi mengapa harus memakai penghinaan dan makian? Sungguh tidak patut, apakah mereka itu begitu tinggi hati karena merasa sebagai keluarga Pulau Es?”

“Cin Liong, lupakah engkau bahwa segala macam penilaian adalah palsu karena penilaian didasari pendapat sendiri yang muncul dari perhitungan untung rugi? Dapatkah kita menilai orang dari keadaan luarnya? Memang, menolak pinangan sambil marah-marah tidak patut sekali, akan tetapi engkau harus menyadari bahwa setiap sikap dan perbuatan itu tentu ada sebab-sebabnya! Jadi, tanpa mengetahui sebab-sebabnya, kita sama sekali tidak berhak menilai sikap atau perbuatan orang lain!”

“Maaf, ayah. Aku terbawa oleh perasaan penasaran mendengar betapa ayah dan ibu sudah ditolak pinangannya masih juga dihina dan dimaki. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi, ayah? Mengapa keluarga Suma marah-marah kepada kita?”

“Nah, begitu lebih tepat. Setiap menghadapi persoalan, amatilah diri sendiri dan cari tahu kenapa demikian, cari sebab-sebabnya sehingga kita tidak hanya berbuat menuruti perasaan hati dan nafsu belaka. Ketahuilah, Cin Liong, pada waktu kami mengajukan pinangan, paman Suma Kian Lee dan isterinya menolak. Bukan hanya itu, bahkan Suma Hui dengan lantang mengatakan bahwa engkau telah memperkosanya!”

“Ahhh....!” Cin Liong terbelalak kaget dan untuk kedua kalinya dia bangkit berdiri, sekali ini dengan muka menjadi pucat dan pandang mata penuh keheranan.

“Kami tidak pernah meragukan dirimu, anakku,” kata Wan Ceng. “Tentu saja kami tidak percaya dan hampir terjadi kesalah pahaman. Akan tetapi, kiranya tidak mungkin pula kalau Suma Hui mengada-ada hendak menjatuhkan fitnah kepadamu. Sebetulnya ada apakah antara engkau dan Suma Hui?”

Cin Liong sudah terduduk kembali dan menutupi muka dengan kedua tangannya, mulutnya menggumam heran, “Diperkosa.... dan.... dan aku yang memperkosanya? Ya Tuhan, apa artinya semua ini? Ibu dan ayah, aku tidak perlu bersumpah kiranya bahwa aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Tidak kepada Suma Hui dan tidak pula kepada siapa pun juga. Melihat penjahat memperkosa wanita, aku akan turun tangan membunuhnya. Kalau aku sendiri yang melakukan perbuatan keji itu, tentu aku akan membunuh diriku sendiri. Tidak, aku tidak pernah melakukan itu. Dan sekarang baru aku mengerti, kiranya ada hubungannya dengan itu maka sikap Suma Hui dahulu itu demikian aneh.”

“Apa yang kau maksudkan?” tanya ibunya.

“Seperti pernah kuceritakan kepada ayah ibu, antara aku dan Suma Hui sudah terjalin tali cinta kasih. Kami saling mencinta dan biar pun kami tahu akan besarnya halangan di antara kami karena ikatan keluarga, kami berdua sudah bertekad untuk bersama-sama menghadapinya. Akan tetapi, ketika aku pergi ke kota raja dan sebelum menerima perintah kaisar, aku pergi ke Thian-cin. Ketika bertemu denganku, secara aneh dan tiba-tiba saja ia menyerangku dan hendak membunuh! Ia begitu marah sehingga sukar diajak bicara, maka aku lalu pergi meninggalkannya. Kemudian, aku terikat tugas dan sampai demikian lamanya tak pernah bertemu dengannya, dan selama ini aku memang bertanya-tanya bagaimana jadinya dengan pinangan ayah berdua.”

Ayahnya mengangguk-angguk, “Aku makin yakin bahwa tentu ada sesuatu di balik semua itu. Suma Hui menuduhmu memperkosa, bahkan berusaha membunuhmu. Dan engkau tidak merasa sama sekali telah melakukan perbuatan keji itu. Tentu terselip suatu rahasia di antara kedua perbedaan yang saling berlawanan itu.”

“Sudah menjadi kuwajibanku untuk membikin terang persoalan ini, ayah. Aku akan segera berangkat ke Thian-cin dan aku akan bicara terus terang dengan mereka.”

“Akau tetapi, keluarga Suma sudah begitu marah kepadamu....,” kata ayahnya sambil mengerutkan alisnya.

“Ayah. Kita semua tahu bahwa Suma Kian Lee locianpwe adalah seorang pendekar besar. Aku yakin bahwa kalau kuajak dia terus terang membicarakan persoalan itu dan menyelidiki rahasianya, dia akan dapat menerimanya.”

“Tapi, Cin Liong....” Suara Wan Ceng menjadi lembut dan pandang matanya penuh iba kepada putera tunggalnya. “Engkau terlambat sudah.... karena tak lama setelah engkau pergi, Suma Hui telah menikah....”

Ciu Liong adalah seorang pemuda yang amat kuat batinnya. Berita yang diucapkan dengan lembut oleh ibunya ini sebetulnya amat hebat menikam jantungnya. Akan tetapi hanya mukanya saja yang sedikit pucat dan matanya tergetar sedikit, akan tetapi selanjutnya dia nampak tenang.

“Ahh, begitukah....?”

“Kami tidak datang karena.... engkau tahu sendiri, tentu tidak enak bagi kami untuk hadir setelah peristiwa peminangan dahulu itu,” kata Kao Kok Cu.

“Kami mendengar bahwa ia menikah dengan suheng-nya sendiri, murid tunggal paman Suma Kian Lee,” sambung Wan Ceng.

“Ah, tentu Louw Tek Ciang itu! Hemmm.... syukurlah kalau begitu, karena pemuda itu kelihatan baik dan berbakat.” Cin Liong menunduk, tidak tahan melihat pandang mata ibunya yang penuh iba. Dia telah gagal lagi dalam asmara!

“Engkau tentu tidak jadi ke Thian-cin, bukan?” tanya ibunya.

Cin Liong mengangkat muka, memandang kepada ibunya dengan senyum. Senyum layu!

“Tentu saja, ibu. Aku pergi untuk menjernihkan kekeruhan antara keluarga kita dengan keluarga Suma. Bagaimana pun juga, di antara kita masih ada hubungan keluarga, maka tidaklah baik kalau sampai awan hitam itu tidak dijernihkan. Aku harus dapat menyadarkan mereka bahwa aku terkena fitnah, bahwa aku tidak melakukan perbuatan itu.”

“Tapi.... tapi Suma Hui telah menjadi isteri orang. Tidak baik kalau sampai urusannya yang mendatangkan aib itu dibicarakan,” Kao Kok Cu memperingatkan.

“Aku akan membicarakannya dengan Suma-locianpwe dan isterinya. Pula, ketika terjadi keributan, Louw Tek Ciang juga mengetahui sehingga dia pun telah mengetahui segala-galanya. Dia pun sudah mengenalku.”

Karena memang masalah yang merisaukan itu perlu dijernihkan, akhirnya Kao Kok Cu dan Wan Ceng tidak dapat membantah dan setelah bermalam di rumah orang tuanya selama sepekan, berangkatlah Cin Liong kembali ke selatan, hendak pergi ke Thian-cin.

Suatu hari tibalah dia di dusun Pei-san yang terletak di kaki Pegunungan Tai-hang-san, tidak jauh dari kota raja, di sebelah barat. Karena hari sudah lewat senja dan dia pun merasa lelah setelah pada hari itu sejak pagi dia melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, maka Cin Liong ingin bermalam di dusun itu. Biar pun dusun Pei-san berada tidak jauh dari kota raja, akan tetapi Cin Liong belum pernah lewat dusun ini.

Dia kini memang sengaja mengambil jalan lain di sepanjang kaki Gunung Tai-hang-san ketika dia menuju ke Thian-cin, untuk melihat-lihat keadaan dan dia memang hendak mengambil jalan memutar agar jangan melalui kota raja. Kalau dia melalui kota raja, dia khawatir kalau dia mendengar sesuatu yang membuat dia menunda kepergiannya ke Thian-cin. Kalau urusannya dengan keluarga Suma sudah selesai, barulah dia akan kembali ke kota raja menunaikan tugasnya sebagai panglima kembali.

Dan karena jenderal muda ini bepergian dengan pakaian preman, tidak ada pejabat atau petugas yang mengenalnya sehingga dia dapat melakukan tugasnya secara bebas kalau dia sedang melakukan penyelidikan. Baru dia mengenakan pakaian kebesaran kalam dia memimpin pasukan dengan resmi.

Pei-san merupakan sebuah dusun di lereng bukit Pegunungan Tai-hang-san. Sebuah dusun yang cukup makmur karena tanahnya yang subur karena letaknya yang dekat dengan kota raja, di sebelah baratnya sehingga dusun ini menjadi semacam pintu masuk atau jembatan, juga menjadi tempat perhentian mereka yang datang dari barat hendak menuju ke kota raja. Para pedagang yang datang dari barat atau pergi ke barat, selalu singgah di dusun ini, untuk mengaso, atau makan, atau juga untuk melewatkan malam kalau mereka kemalaman di jalan. Tidaklah mengherankan apabila di dusun itu bertumbuhan usaha penginapan dan kedai-kedai makan minum.

Ketika Cin Liong memasuki dusun Pei-san, kesan pertama dalam hatinya adalah bahwa dusun ini amat ramai dan sibuk. Akan tetapi, penglihatannya yang tajam dapat menangkap bayangan-bayangan ketakutan tersembunyi di balik senyum dan pandang mata para penduduk. Agaknya ada sesuatu, atau telah terjadi sesuatu yang membuat hati penghuni dusun itu dicekam ketakutan.

Kesan ini dirasakannya pula ketika Cin Liong memasuki sebuah kedai makan yang tidak begitu ramai dan terletak di ujung jalan raya. Perutnya lapar dan tubuhnya lelah sekali. Dia tidak suka memasuki kedai makan yang penuh sesak oleh tamu, melainkan memilih kedai yang sepi itu. Dalam keadaan lapar, tidak perlu terlalu memilih makanan yang enak. Segala macam makanan terasa enak di mulut kalau perut sedang lapar.

Di kedai itu ada beberapa orang tamu yang duduk berpencaran. Cin Liong memilih sebuah meja di sudut dalam. Seorang pelayan tua segera menghampirinya dan dengan ramah lalu bertanya makanan apa yang hendak dipesan oleh pemuda itu. Cin Liong juga melihat betapa di wajah kakek pelayan ini pun terbayang rasa cemas seperti yang dilihatnya pada wajah orang-orang lain itu.

Dia memesan makanan dan ketika pelayan tua itu datang membawakan makanan, Cin Liong lalu berkata, “Lopek, aku melihat wajahmu seperti orang ketakutan, dan juga pada wajah penghuni dusun ini ada bayangan ketakutan seperti itu. Apakah yang telah terjadi, lopek?”

Kakek pelayan itu memandang dengan muka pucat, lalu dia menoleh ke kanan kiri, nampaknya semakin takut, akan tetapi juga ada pandang mata heran mengapa ada orang menanyakan hal itu, karena bukankah semua orang sudah tahu?

“Lopek, aku bukan orang sini, dan aku baru saja masuk ke dusun Pei-san ini. Ada peristiwa apakah?” tanya pula Cin Liong secara sambil lalu seperti lumrahnya seorang tamu yang ingin tahu dan dia pun makan hidangan yang diantarkan oleh pelayan itu.

“Tidak ada apa-apa, tuan.... tidak ada apa-apa....”

Cin Liong mengerutkan alisnya dan diam-diam dia mengerling ke arah para tamu yang duduk di situ. Akan tetapi para tamu itu tidak memperlihatkan suatu ketidak wajaran. Mereka duduk, ada yang sedang makan minum, ada yang sedang bercakap-cakap urusan perdagangan dan pekerjaan mereka. Dia tahu bahwa kakek ini membohong dan takut bicara.

“Lopek, jangan takut. Ceritakanlah, kalau ada apa-apa aku yang akan tanggung. Kalau ada kesukaran menimpa dusun ini, tentu aku akan berusaha untuk membereskannya,” kata pula Cin Liong lirih agar tidak sampai terdengar oleh orang lain.

Pelayan itu memandang dengan ragu, akan tetapi matanya terbelalak ketika dia melihat betapa tangan tamunya itu meremas sebuah sendok batu yang menjadi hancur seperti tepung di antara jari-jari tangannya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tahulah pelayan itu bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar.

“Di.... di dusun ini semenjak dua pekan yang lalu ada.... ada.... Eng-jiauw-pang....”

Hanya sampai di situ saja pelayan itu berani bicara karena dia pun cepat meninggalkan Cin Liong sambil menoleh ke kanan kiri penuh rasa cemas. Cin Liong tidak mendesak lebih jauh, lalu melanjutkan makan sambil termenung. Eng-jiauw-pang (Perkumpulan Kuku Garuda)?

Dia pernah mendengar nama itu. Kalau dia tidak salah ingat, Eng-jiauw-pang adalah perkumpulan orang jahat, perkumpulan para perampok yang amat lihai, terkenal dengan anggota-anggota mereka yang mempergunakan sarung tangan kuku garuda yang selain ahli dalam ilmu silat, juga lihai dalam penggunaan racun. Akan tetapi, perkumpulan perampok Eng-jiauw-pang itu berada di daerah Se-cuan, jauh di barat. Bagaimana bisa muncul di tempat ini dan apa yang telah mereka lakukan sehingga orang-orang menjadi ketakutan?

Tiba-tiba terdengar jeritan lemah dan Cin Liong cepat menoleh. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat kakek pelayan yang tadi melayaninya, tiba-tiba jatuh terpelanting dan mangkok-mangkok terisi makanan dalam baki yang dibawanya ikut terbanting dan menimbulkan suara gaduh. Gegerlah di rumah makan itu.

Para pelayan lain dan para tamu segera menghampiri. Cin Liong tidak ketinggalan, malah dia paling dulu menghampiri kakek ini, lalu dia berlutut dan memeriksa. Ternyata pelayan itu telah tewas dengan muka berubah kebiruan, sedangkan di leher sebelah kanan nampak tiga guratan yang masih mengeluarkan darah. Guratan tanda kuku garuda! Dan sekali lihat saja maklumlah Cin Liong bahwa kakek ini tewas keracunan yang memasuki tubuhnya melalui guratan-guratan pada leher itu.

Dia menjadi marah sekali dan memandang kepada semua orang yang berada di situ penuh selidik. Akan tetapi, karena dia tidak melihat sendiri penyerangan itu, siapa yang hendak dituduhnya?

Pula, melihat kenyataan bahwa tidak ada orang yang melihat bagai mana caranya kakek itu diserang dan dibunuh, menjadi bukti bahwa penjahat itu lihai sekali. Juga bahwa penjahat itu bisa mendengar atau mengetahui bahwa kakek pelayan tadi telah menceritakan sedikit tentang Eng-jiauw-pang kepadanya, membuktikan bahwa gerombolan penjahat itu benar-benar lihai...


SELANJUTNYA KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES JILID 15


Thanks for reading Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »