Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 22

Kakek yang tadinya kelihatan diam seperti arca itu, kini membuka mata memandang dan Keng In juga kelihatan terkejut karena dia tidak menyangka-nyangka bahwa dara yang dicintanya itu ternyata adalah puteri Pendekar Super Sakti. Cui-beng Koai-ong mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau marah, kemudian tubuhnya mencelat dekat, tangannya bergerak. Milana berusaha mengelak, namun kalah cepat.

"Brettt-brett-brettt...!"

Milana menjerit kaget melihat tubuhnya yang sudah menjadi telanjang bulat sama sekali karena tiga kali renggutan oleh tangan Cui-beng Koai-ong tadi sudah membuat seluruh pakaiannya, luar dan dalam, terobek dan tanggal semua.

"Suhu...!"

Cui-beng Koai-ong melemparkan pakaian itu ke atas tanah. "Perkosa dia! Hayo kau perkosa puteri Pendekar Siluman ini!" katanya kepada Keng In.

Keng In membuka jubah luarnya dan menubruk gadis telanjang bulat yang matanya terbelalak lebar dan mukanya pucat, yang dengan sia-sia mencoba menggunakan tangan untuk menutupi tubuhnya, menutupkan jubah itu menyelimuti tubuh Milana. Dengan cepat gadis itu menggunakan jubah menutupi tubuhnya dan memandang kepada kakek itu dengan sinar mata penuh kebencian akan tetapi juga kengerian.

"Keng In, perkosa dia!" Kembali Cui-beng Koai-ong berkata. "Kalau tidak, aku yang akan melakukannya!"

"Suhu, jangan, Suhu. Aku ingin mendapatkan dia dengan suka rela karena aku cinta padanya."

"Aku tidak peduli kau cinta atau tidak. Saat ini aku ingin melihat engkau memperkosa seorang perempuan, dan kau harus melakukan hal itu!"

"Suhu, tunggu...! Ada orang...!" Wan Keng In berseru dan meloncat ke depan.

Benar saja tampak bayangan berkelebatan dan muncullah lima orang yang gerakannya gesit dan bersikap gagah. Empat orang laki-laki setengah tua yang bersenjata pedang dan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun, juga gagah sikapnya, bersenjata sebatang cambuk.

"Cepat bebaskan Nona itu!" Wanita itu sudah membentak dan cambuknya bergerak mengeluarkan suara meledak-ledak. Juga empat orang laki-laki itu sudah menerjang maju, disambut oleh Keng In yang sudah mengeluarkan pedangnya. Begitu pemuda ini mengelebatkan pedangnya, tampak sinar berkilat dan sinar ini menyambar ke arah empat orang penyerangnya.

"Cringgg trak-trak-trak-trak!"

Empat batang pedang di tangan empat orang laki-laki gagah itu patah semua ketika bertemu dengan Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In, bahkan disusul robohnya tubuh mereka yang hampir putus menjadi dua potong. Mereka roboh dan tak bergerak lagi, mandi darah mereka sendiri.

Milana tadinya hendak bergerak membantu para penolongnya, akan tetapi terpaksa mengurungkan niatnya karena teringat akan tubuhnya yang telanjang bulat dan hanya terselimut jubah luar. Kalau dia bergerak, tentu jubahnya terbuka! Apa lagi melihat betapa dalam segebrakan saja Keng In telah membunuh empat orang itu, harapannya lenyap kembali.

Wanita bercambuk itu menjadi kaget dan marah. Cambuknya menyambar ke arah Wan Keng In yang sambil tersenyum telah menyarungkan Lam-mo-kiam kembali. Cambuk menyambar dan mengenai leher Keng In, melibat leher dan wanita itu menarik. Namun, tubuh Keng In sama sekali tidak bergoyang, bahkan sekali Keng In menarik leher ke belakang, tubuh wanita itu terhuyung ke depan, tertangkap oleh pelukan kedua lengan Keng In. Wanita itu hendak meronta, akan tetapi cambuknya sudah mengikat kedua tangannya sehingga tidak dapat berkutik.

"Apakah Suhu masih tetap ingin melihat aku memperkosa perempuan?" Keng In yang sengaja tidak membunuh wanita ini karena ingin menolong Milana, menoleh kepada gurunya.

"Hem, hayo cepat!" gurunya yang gila itu berkata.

Keng In menotok wanita itu sehingga menjadi lemas, kemudian dia menanggalkan seluruh pakaian wanita itu satu demi satu, melempar-lemparkan pakaian itu kepada Milana sambil berkata, "Milana, kau pakailah pakaiannya, pakaianmu sudah robek semua."

Milana tidak mengerti apa yang akan terjadi, akan tetapi melihat pakaian itu dilempar-lemparkan kepadanya, ia lalu memakainya. Untung bahwa bentuk tubuh wanita itu hanya sedikit lebih besar dari tubuhnya, maka pakaian itu, dari pakaian dalam sampai pakaian luar, dapat dipakainya dengan baik. Akan tetapi, betapa kaget dan ngeri hati Milana ketika melihat Keng In mulai menanggalkan pakaiannya sendiri kemudian menubruk wanita tawanan yang sudah menggeletak di atas rumput tanpa pakaian itu.

"Kau...!" Milana marah bukan main, lupa diri dan bergerak menyerang Keng In.

Tetapi, dengan tangan kirinya Keng In menyambar cambuk wanita tadi, menggerakkan cambuk itu sehingga ujungnya menotok pundak Milana yang terguling roboh dan tidak mampu bergerak lagi. Gadis ini mula-mula terbelalak memandang penglihatan yang terjadi hanya dua meter di depan matanya, kemudian dia memejamkan matanya dan seluruh tubuhnya menggigil. Hatinya penuh dengan kebencian dan dia berjanji untuk membunuh Wan Keng In dan gurunya itu karena dia menganggap mereka itu bukan manusia, kejam melebihi binatang buas, bahkan iblis sendiri belum tentu seganas dan sejahat mereka!

Biar pun dia telah memejamkan matanya, namun Milana tetap saja mendengar rintihan wanita itu. Betapa heran dirinya setelah beberapa lama, terdengar wanita itu berkata diseling isak, "Aku... aku akan membantumu... aku bersedia menjadi pembantumu yang setia... asal jangan bunuh aku... ampunkanlah aku..., aku telah berani menentang seorang gagah seperti engkau..."

Ucapan itu terhenti, terdengar suara "prakkk!" dan keadaan lalu menjadi sunyi. Tidak terdengar apa-apa lagi. Setelah agak lama, baru Milana merasa pundaknya disentuh dan dia terbebas dari totokan. Dibukanya matanya dan dia terbelalak. Sinar matahari pagi menimpa tubuh yang telanjang bulat, tubuh yang berkulit putih bersih, akan tetapi kini kulit yang putih kuning itu telah berlepotan darah, di antaranya darah yang masih menetes keluar dari kepalanya yang pecah!

"Ihhh...!" Milana menutupi mata dengan kedua tangannya.

Wan Keng In yang sudah berpakaian lagi itu merangkulnya dan berbisik, "Terpaksa kulakukan untuk memuaskan hati Suhu, dan sebagai penggantimu..."

Biar pun masih nanar, Milana maklum apa artinya semua itu, dan kejijikan terhadap Keng In makin menghebat. Direnggutnya secara kasar tubuhnya dari rangkulan Keng In.

Tiba-tiba Wan Keng In meloncat ke atas batu besar di puncak itu, memandang ke arah sekeliling. Kemudian dia melayang turun lagi, berkata kepada suhu-nya yang masih duduk di atas batu, "Suhu, kurang lebih lima puluh orang telah mengurung puncak ini, agaknya teman-teman lima orang itu. Bagaimana baiknya? Apakah teecu amuk dan bunuh saja mereka?"

"Mana anak buah kita?" Kakek itu berkata tak acuh.

"Belum ada yang muncul, Suhu."

"Hemmm..., panggil mereka. Suruh mereka basmi anjing-anjing itu!"

Keng In lalu membuat api unggun, terus ditambahi dahan dan daun kering sehingga bernyala besar sekali. Kemudian dia menggunakan tenaga khikang untuk meniup dan setiap kali tiup, segumpal asap hitam bergulung-gulung ke angkasa. Beberapa kali dia lakukan hal ini dalam jarak-jarak waktu tertentu. Milana hanya memandang dengan heran. Hatinya tegang. Benarkah ada lima puluh orang mengurung tempat ini? Siapakah mereka? Dan siapa pula lima orang yang berusaha menolongnya akan tetapi tewas semua ini?

"Ibuuuuuuu...!" Tiba-tiba Milana berteriak sambil mengerahkan khikang-nya. Suaranya melengking tinggi dan bergema di seluruh lereng gunung.

"Milana, jangan...!" Keng In meloncat dengan sigapnya, mengejar gadis yang berusaha melarikan diri itu dan seperti ketika pertama kali dia menculik Milana, gadis itu dikempit pinggangnya dan dipanggulnya setelah ditotok lemas.

Milana meronta-ronta tanpa hasil. Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, akan tetapi suara itu mengecewakan hati Milana karena bukan lengking suara ibunya, bukan pula suara ayahnya yang sudah dikenalnya. Dan ternyata memang bukan karena Keng In segera mengeluarkan teriakan yang sama sebagai jawaban. Tak lama kemudian Milana mendengar suara hiruk-pikuk orang bertanding di sekeliling puncak.

"Suhu, anak buah kita sudah mulai berpesta membunuhi mereka," Keng In berkata dan gurunya hanya mendengus.

"Tahukah engkau, Milana? Anak buah kita, para penghuni Pulau Neraka, telah datang. Sebentar lagi orang-orang yang mengurung kita tentu akan terbasmi dan kita akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Neraka. Jangan mencoba untuk lari lagi, Manis. Kau tahu hal itu percuma, dan pula, bukankah aku sudah bersikap baik terhadapmu? Aku cinta padamu. Milana, berilah ciuman..." Keng In mendekatkan mulutnya, akan tetapi Milana berkata dengan suara mendesis saking marahnya.

"Aku berjanji takkan melarikan diri, berjanji akan menyerah. Akan tetapi kalau kau berani menciumku, berani menjamahku, biar pun aku tidak dapat melawanmu, aku akan membunuh diri!"

Mulut Keng In yang sudah hampir menyentuh pipi Milana itu ditarik ke belakang.

"Aihhh... jangan, Manis. Kalau kau bunuh diri, habis aku bagaimana...?" Ucapannya terdengar tolol dan kekanak-kanakan, atau seperti ucapan orang yang tidak waras otaknya.

"Kalau begitu, lepaskan aku. Aku takkan lari."

Keng In cepat menurunkan tubuh Milana dan membebaskan totokannya. Mereka bertiga duduk di situ menanti sampai suara hiruk-pikuk dari senjata beradu dan teriakan kematian diseling sorak kemenangan itu makin berkurang, akhirnya berhenti. Tak lama kemudian tampak bermunculan tiga puluh lebih orang-orang Pulau Neraka yang mukanya berwarna-warni, ada yang merah, biru, hijau, merah muda dan hijau pupus. Mereka semua menjatuhkan diri berlutut di depan Keng In dan Cui-beng Koai-ong.

"Mohon ampun atas kelambatan kami, Siauw-tocu."

"Tidak mengapa," kata Keng In kepada seorang kakek berkepala gundul bermuka merah muda yang memimpin rombongan orang Pulau Neraka itu. "Kong To Tek, siapa para pengepung tadi dan bagaimana keadaan mereka sekarang?"

"Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang bergabung dengan pengawal-pengawal yang dipimpin oleh seorang panglima pengawal. Kami telah menyerbu dan menurut penglihatan kami, mereka yang jumlahnya lima puluh dua orang telah mati semua, Siauw-tocu. Kami menanti perintah selanjutnya."

"Bagus! Sediakan sebuah perahu, kami hendak kembali ke Pulau Neraka."

Orang-orang yang berlutut itu mengangkat muka dan kelihatan terkejut dan tidak menyangka-nyangka. "Dan kami..., Siauw-tocu?"

"Kalian juga. Kita bangun kembali pulau kita, aku yang akan memimpin bersama calon isteriku ini, dibantu oleh Suhu."

Orang-orang itu bersorak girang. "Perahu sudah siap di pantai dekat goa Naga Hitam, Siauw-tocu."

Sebentar saja mereka sudah menuntun datang beberapa ekor kuda, yaitu tunggangan para penyerbu yang telah tewas semua itu. Para pengurung puncak itu memang benar rombongan pengawal dari kota raja yang dipimpin oleh seorang panglima. Rombongan ini berhasil mengikuti jejak Wan Keng In dan di sepanjang jalan mereka minta bantuan orang-orang kang-ouw, termasuk empat orang dan seorang wanita yang telah lebih dulu menjadi korban keganasan Wan Keng In itu.

"Apakah Suhu juga hendak menunggang kuda?" Wan Keng In bertanya ragu kepada suhu-nya. Biar pun kakek itu gurunya, namun dia sama sekali tidak mengenal betul keadaan kakek itu, yang gerak-geriknya penuh rahasia dan tidak pernah mau bercerita tentang dirinya sendiri.

Cui-beng Koai-ong mendengus, kemudian sekali berkelebat, tubuhnya yang kaku itu telah lenyap. "Suhu telah pergi lebih dulu ke Pulau Neraka. Hanya kalian kawal kami berdua. Semua orang harus tunduk dan hormat kepada Puteri Milana ini, dia adalah calon isteriku. Siapa yang membuat hatinya tidak senang akan kubunuh!"

Semua orang itu adalah tokoh-tokoh Pulau Neraka dan sebagian di antara mereka sudah mengenal Milana, bahkan sudah pernah bentrok dengan gadis ini ketika Milana memimpin orang-orang Thian-liong-pang. Mereka tahu bahwa Milana adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, maka mendengar bahwa dara yang cantik jelita dan perkasa itu akan menjadi isteri majikan mereka, hati mereka menjadi terheran-heran, akan tetapi juga girang.

Berangkatlah Keng In dengan rombongannya. Milana yang tidak mempunyai harapan untuk dapat lolos lagi itu, kini menurut saja. Yang penting baginya sekarang adalah mencegah Keng In memaksanya sebagai isterinya, dan tentang meloloskan diri, akan diatur sebaiknya kalau sudah ada kesempatan terbuka.

Tiada halangan terjadi yang menghalangi rombongan ini sampai mereka menggunakan perahu melanjutkan perjalanan dan tiba di Pulau Neraka. Milana merasa ngeri melihat keadaan pulau ini. Sebuah pulau liar penuh dengan binatang buas yang beracun, dan biar pun sudah pernah diserbu dan dibakar oleh pasukan pemerintah yang amat kuat, kini tidak kehilangan keangkerannya.

Dia tidak banyak memperlihatkan perlawanan, bahkan membantu ketika Keng In dan anak buahnya membangun kembali bangunan yang telah terbakar. Bahkan dia bersikap baik terhadap Cui-beng Koai-ong yang sudah lebih dulu berada di pulau itu. Dengan perantaraan Keng In, gadis ini malah mulai mempelajari ilmu-ilmu aneh dan mukjizat dari Cui-beng Koai-ong!

"Aku hanya bersedia menjadi isterimu dengan satu syarat, yaitu ayah bundaku harus menyetujuinya. Sebelum itu, biar kau paksa sekali pun, aku tidak akan menurut dan kalau kau menggunakan paksaan, aku akan membunuh diri lalu rohku akan selalu mengejarmu untuk membalas dendam."

Ucapan yang dikeluarkan Milana dengan sungguh-sungguh ini membuat Wan Keng In maklum bahwa dia harus memenuhi permintaan itu sebelum dia dapat menundukkan dara itu agar secara suka rela menjadi isterinya. Dia merasa tersiksa sekali karena harus menahan nafsunya yang kadang-kadang membakar dirinya. Dia terlalu mencinta Milana dan ingin hidup selamanya di samping wanita ini, maka betapa pun sukarnya, dia akan mengusahakan agar orang tua dara itu menyatakan persetujuannya, kalau perlu dengan kekerasan dan untuk ini dia mengandalkan bantuan gurunya.

Mulailah sebuah kehidupan baru bagi Milana, di atas Pulau Neraka yang sedang dibangun oleh Keng In, di mana dia dikenal sebagai calon isteri Siauw-tocu, dan di mana dia harus mempergunakan seluruh kecerdikannya untuk menyelamatkan diri dari gangguan Keng In tanpa menimbulkan kecurigaan pemuda luar biasa itu.

******************


Andai kata tidak ada Kwi Hong yang menjadi petunjuk jalan, biar pun Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama dan beberapa orang panglima pembantunya pernah melawat ke Pulau Es, namun agaknya perahu mereka itu takkan pernah dapat sampai ke Pulau Es. Berkat petunjuk Kwi Hong, biar pun makan waktu sampai dua pekan, akhirnya sampai juga perahu besar itu dan mendarat di Pulau Es. Kwi Hong melompat ke darat lebih dahulu. Hatinya terharu sekali menyaksikan pulau di mana dia tinggal sejak kecil yang kini keadaannya sudah banyak rusak, istana pulau yang dari jauh sudah kelihatan runtuh bekas terbakar.

Teringat ia akan pemuda Thung Ki Lok yang mencintanya dan tewas oleh pengkhianat Kwee Sui, teringat akan para paman pembantu Pendekar Super Sakti yang tewas dalam pertempuran ketika pasukan pemerintah menyerbu. Hatinya menjadi terharu sekali, akan tetapi tidak ada setitik pun air mata tumpah. Hati dara ini telah mengeras karena gemblengan-gemblengan pengalamannya.

Para tokoh yang membantu Bhong Ji Kun mengikuti bekas Koksu itu meloncat turun pula. Mereka itu adalah Thian Tok Lama yang mengiringkan Pangeran Yauw Ki Ong yang digandeng oleh dua orang selirnya, yaitu bekas-bekas pelayan yang masih bisa melarikan diri bersamanya, disusul oleh Liong Khek, tokoh kurus muka pucat yang tidak ketinggalan membawa senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang gagang pancing lengkap dengan tali dan mata kailnya, Gozan jagoan Mongol yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa, Thai-lek-gu Si Pendek Gendut bertangan panjang yang bersenjata sepasang golok, dan seorang yang tinggi besar bersenjata tombak panjang.

Orang ini sikapnya kereng, gerak-geriknya gesit dan dihormat oleh pembantu lainnya. Dia adalah seorang ahli tombak dari selatan, berjuluk Sin-jio (Tombak Sakti) bernama Ciat Leng Souw. Memang ilmu tombaknya hebat bukan main, juga tenaga sinkang-nya amat kuat sehingga di dalam rombongan itu, kiranya hanya Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama saja yang akan mampu menandingi tombaknya yang lihai! Pantas kalau dia dihormat oleh para pembantu bekas Koksu itu.

Selain para jagoan ini, juga ada beberapa orang panglima yang berkepandaian tinggi, dan beberapa orang pelayan biasa, tukang kuda yang bertugas sebagai tukang perahu dalam pelayaran itu. Mereka berbondong turun dan kasihan sekali para pelayan yang tidak memiliki kepandaian tinggi karena begitu mendarat di Pulau Es, mereka sudah menderita kedinginan!

Rombongan Pangeran Yauw Ki Ong yang dikawal Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun ini bersama Kwi Hong jumlahnya masih ada dua puluh orang. Segera atas perintah Bhong Ji Kun, mereka mulai membetulkan bekas istana Pulau Es yang telah terbakar itu. Karena istana itu memang besar dan jumlah mereka tidak begitu banyak, maka tempat itu cukup untuk melindungi mereka dari hawa dingin. Sebuah api unggun yang besar terpaksa harus dinyalakan terus di dalam istana itu melawan hawa dingin.

Ketika Kwi Hong yang telah rindu kepada pulau ini mengadakan peninjauan seorang diri, kesempatan ini dipergunakan oleh Bhong Ji Kun untuk mengajak Pangeran Yauw dan para kaki tangannya untuk berunding. Mereka tadinya membujuk Kwi Hong selain untuk menarik Pendekar Super Sakti di pihak mereka, juga untuk memanfaatkan tenaga gadis itu. Sekarang, setelah Kwi Hong berhasil mengantar mereka ke Pulau Es, mereka harus cepat mengambil keputusan menundukkan gadis itu sebelum gadis berwatak keras dan aneh sukar ditundukkan itu berubah pikiran dan memberontak.

Tetapi diam-diam Bhong Ji Kun dan dibantu oleh Thian Tok Lama dan Sin-jio Ciat Leng Souw melakukan penyelidikan di sekitar pulau sambil mencari-cari pusaka-pusaka Pulau Es itu. Namun usaha mereka tidak ada hasilnya, maka pada keesokan harinya, Bhong Ji Kun mengundang Kwi Hong untuk mengadakan perundingan. Mereka semua berkumpul di dalam ruangan istana, tentu saja para pelayan dan dua orang selir Pangeran Yauw yang tidak ikut.

Kwi Hong masih belum lagi menyadari keadaannya sehingga dia tidak curiga ketika dipersilakan duduk, di antara Thian Tok Lama dan Bhong Ji Kun, sedangkan Ciat Leng Souw duduk di sebelah belakangnya, berhadapan dengan Pangeran Yauw dan para panglima.

"Giam-lihiap, kami berterima kasih sekali bahwa lihiap telah suka membawa kami untuk berlindung di pulau ini. Terpaksa kita semua harus tinggal untuk sementara di sini selama kekuatan pasukan kita belum tersusun. Kita harus mengadakan hubungan dengan saudara-saudara di Mongol, Tibet, dan Nepal, juga mengadakan perhubungan baru dengan kaum orang gagah di pedalaman yang mendendam sakit hati kepada Kaisar. Karena itu, sambil menanti keadaan dan untuk menghilangkan rasa kesepian di pulau yang dingin ini, kami harap saja Lihiap suka memperlihatkan setia kawan dan suka mengeluarkan kitab-kitab pusaka Pulau Es agar kita dapat mempelajarinya untuk menambah pengetahuan."

Ucapan Bhong Ji Kun ini terdengar seperti guntur di siang hari oleh Kwi Hong. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa bekas Koksu ini akan mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena soal pusaka Pulau Es tadinya tidak pernah disinggung dalam persekutuan dan kerja sama mereka.

"Apakah yang kau maksudkan, Bhong-Koksu?" Biar pun sekarang bukan Koksu lagi, namun Kwi Hong dan beberapa orang lain masih menyebut Koksu, hal ini adalah karena memang dia dicalonkan sebagai Koksu juga kalau Pangeran Yauw Ki Ong berhasil dengan pemberontakan itu dan merebut tahta kerajaan.

"Maksudku sudah jelas, Nona." Suara Bhong Ji Kun terdengar halus namun dingin dan penuh ejekan. "Ketika kami bertugas menyerbu pulau ini, kami tidak dapat menemukan pusaka-pusaka yang tersimpan di Istana Pulau Es. Padahal Istana Pulau Es dahulu adalah tempat tinggal Manusia Dewa Bu Kek Siansu yang terkenal. Maka kami merasa yakin bahwa pusaka-pusaka itu tentulah disimpan dan disembunyikan, dan Nona sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, tentu dapat mengetahui tempat penyimpanannya."

Bukan main marahnya hati Kwi Hong. Mukanya menjadi merah sekali dan suaranya lantang ketika dia menjawab, "Aku tidak mengerti mengapa engkau membawa-bawa urusan pusaka ke dalam kerja sama kita ini, Bhong-koksu. Akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu akan pusaka yang disimpan. Semua pusaka dan benda berharga Pulau Es telah dibagi-bagikan oleh paman kepada para anggota sebelum dibubarkan, dan kalau kau maksudkan kitab-kitab, semua itu hanya paman yang mengetahui dan menyimpannya."

"Mustahii Giam-lihiap sebagai muridnya tidak tahu di mana disembunyikannya kitab-kitab itu? Pinceng (Saya) rasa lebih baik Lihiap memperlihatkan kepada Bhong-koksu sehingga terbuktilah bahwa Lihiap memang benar-benar ingin bekerja sama dengan kami," kata Thian Tok Lama mendesak.

"Aku tidak tahu! Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Kalau tidak percaya, habis kalian mau apa?" Kwi Hong sudah marah sekali dan kedua tangannya yang berada di atas meja dikepal keras.

"Hemm, Lihiap masih bersikap keras kepada kami. Padahal Lihiap adalah pembantu kami dan sebagai pembantu harus taat kepada pimpinan. Perlukah kami harus mengambil jalan kekerasan?"

"Brakkkk!" Kwi Hong bangkit berdiri dan menggunakan tangannya menggebrak meja. Alisnya diangkat ketika matanya dilebarkan, memandang dengan sinar berapi kepada Bhong Ji Kun. "Boleh saja! Siapa takut akan jalan kekerasanmu?"

Pangeran Yauw segera bangkit berdiri, ia mengangkat kedua tangannya ke atas. "Aih-aih... apa perlunya semua ini? Giam-lihiap, harap suka duduk kembali dan harap suka bersabar. Bhong-koksu, tidak semestinya mendesak Lihiap. Kalau Lihiap bilang tidak tahu tentu benar-benar tidak tahu. Giam-lihiap adalah sahabat kita, bahkan aku telah menganggapnya sebagai pengawal yang paling kupercaya. Di antara orang sendiri tidak semestinya terjadi keributan hanya karena soal kecil saja."

Bhong-koksu tersenyum lebar dan cepat dia berdiri dan menjura ke arah Kwi Hong sambil berkata, "Ahhh, kami sudah terburu nafsu dan harap maafkan kami, Lihiap. Agaknya kekalahan yang kami derita, kemudian keadaan yang penuh kesukaran di sini membuat kami lupa diri. Tetapi, hendaknya Lihiap juga tidak selalu memperlihatkan sikap keras. Sikap Lihiap tentu saja menimbulkan keraguan kami dan hanya ada satu jalan yang kiranya akan membuat keraguan kami lenyap sama sekali, dan bahkan mendatangkan keyakinan di dalam hati kami akan kesetia-kawanan Lihiap terhadap persekutuan kami."

Kwi Hong mengira bahwa tentu Koksu itu tetap akan minta pusaka Pulau Es, dan kini dengan jalan halus dan bujukan, maka dengan kemarahan ditahan dia bertanya, "Satu jalan apakah yang kau maksudkan?"

Koksu melirik ke arah Pangeran Yauw Ki Ong yang tersenyum dan mengangguk-angguk, kemudian berkata, "Pangeran telah membuka rahasia hatinya kepadaku. Semenjak beliau bertemu dengan Lihiap, beliau telah tertarik dan jatuh cinta kepada Lihiap. Maka Pangeran berkenan mengambil Lihiap sebagai selir, dan tentu saja kelak kalau perjuangan kita sudah berhasil, Lihiap akan diperisteri secara resmi dan besar kemungkinan Lihiap kelak akan menjadi permaisuri."

Wajah Kwi Hong menjadi pucat seketika, kemudian berubah merah. Maklumlah dia bahwa orang-orang yang disangkanya sahabat ini ternyata adalah orang-orang yang memiliki niat jahat terhadap dirinya, dan ternyata selama ini dia dikelilingi oleh musuh! Teringatlah dia akan arak suguhan Pangeran Yauw dan tentang surat peringatan yang dikirim secara aneh penuh rahasia oleh orang tak dikenal. Bukan main rasa menyesalnya. Dia telah membantu orang-orang jahat ini! Bahkan dia telah membawa mereka ke Pulau Es! Apakah yang telah dia lakukan?

Akan tetapi dia masih menahan sabar dan bangkit berdiri sambil berkata, "Aku tidak dapat menerima permintaan itu!"

Tentu saja semua ini memang telah direncanakan oleh Bhong Ji Kun, Pangeran Yauw dan para pembantunya. Sama sekali bukan maksud mereka untuk mengangkat dara itu menjadi permaisuri. Maksud sesungguhnya adalah kalau sampai Kwi Hong dapat diperisteri oleh Pangeran Yauw, otomatis Pendekar Super Sakti tentu kelak akan mau membantu usaha pemberontakan mereka.

Sekarang melihat sikap Kwi Hong yang dengan keras menolak, Bhong Ji Kun dan para pembantunya meloncat mundur, Pangeran Yauw cepat menyelamatkan diri dan mundur di belakang para jagoannya dan mereka membuat gerakan mengurung Kwi Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap gagah, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan dengan jari-jari terbuka siap di dekat gagang pedang Li-mo-kiam!

"Jika begitu, jelas engkau tidak berniat baik, maka terpaksa kami harus menggunakan kekerasan!" Bhong Ji Kun berkata sambil mencabut senjatanya, pecut kuda berbulu merah dan sebatang golok besar.

Thian Tok Lama juga sudah mengeluarkan sebatang tongkat pendeta, sebuah senjata baru yang kini selalu dipegangnya karena pendeta ini dalam pengalamannya maklum bahwa kedua tangan kosongnya yang biasanya amat ampuh itu tidak cukup untuk menghadapi seorang lawan tangguh seperti murid Pendekar Super Sakti ini. Sin-jio Ciat Leng Souw Si Tombak Sakti sudah siap pula dengan tombak gagang panjang dilintangkan di depan dada, demikian pula para tokoh pembantu Koksu yang lain telah pula siap dengan senjata masing-masing mengurung Kwi Hong.

"Bhong-koksu, harap jangan melukainya, apa lagi membunuhnya," berkata Pangeran Yauw sebelum mengundurkan diri dari ruangan luas itu.

"Ha-ha, jangan khawatir, Ong-ya. Akan hamba tangkap hidup-hidup untuk Paduka."

Kemarahan hati Kwi Hong yang terdorong rasa penyesalan besar itu tidak dapat ditahannya lagi. Sambil mengeluarkan seruan melengking tinggi nyaring, dara perkasa itu sudah menerjang maju, menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat dan dia telah menerjang Bhong Ji Kun yang amat dibencinya.

Kakek ini cepat-cepat mengelak dan dia masih sempat berseru, "Ingat jangan bentur senjatanya!"

Memang sebelum terjadi pengeroyokan ini, Koksu telah mengatur terlebih dahulu siapa yang akan menghadapi dara ini, dan mereka semua telah diperingatkan untuk tidak mengadu senjata mereka dengan pedang Li-mo-kiam yang amat ampuh itu. Maka semua serangan Kwi Hong hanya dielakkan oleh yang diserangnya, sedangkan teman lain cepat turun tangan menerjang dara itu dari belakang sehingga yang diserang oleh Kwi Hong selalu tertolong, sebaliknya dara itu sendiri yang menghadapi serangan serentak dari belakang dan kanan kiri.

Terjadilah pertandingan mati-matian bagi Kwi Hong karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Yang mengepungnya berjumlah sepuluh orang, dan sebagian besar dari mereka yang paling lihai semua memegang senjata panjang. Bhong Ji Kun dengan cambuk merahnya, Thian Tok Lama dengan tongkat pendetanya, Ciat Leng Souw dengan tombak panjangnya, Liong Khek dengan senjata pancingnya, Thai-lek-gu dengan sepasang golok, dan empat panglima lain yang bersenjata pedang. Hanya Gozan yang bertangan kosong, akan tetapi raksasa Mongol ini tidak ikut menerjang maju, hanya siap untuk turun tangan kalau keadaan mengijinkan untuk menangkap dara itu hidup-hidup seperti yang dikehendaki Pangeran Yauw Ki Ong tadi.

Giam Kwi Hong adalah murid Pendekar Super Sakti, dan dia bahkan telah digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin, tentu saja ilmu silatnya hebat. Apa lagi di tangannya ada Li-mo-kiam yang ampuh, maka andai kata diadakan pertandingan satu lawan satu, kiranya hanya Bhong Ji Kun seoranglah yang akan mampu mengatasinya, sedangkan Thian Tok Lama dan Ciat Leng Souw kiranya akan menghadapi kesukaran hebat untuk dapat mengalahkan dara perkasa ini.

Akan tetapi kini dia dikepung ketat oleh sepuluh orang, dan mereka itu bersikap hati-hati, tidak mau menangkis pedang Li-mo-kiam, melainkan selalu menyerang serentak dari belakang kalau dia menyerang seorang di antara mereka. Senjata mereka panjang dan ini masih ditambah oleh pukulan-pukulan sinkang jarak jauh yang dilontarkan oleh Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama. Tentu saja Kwi Hong menjadi repot sekali, bahkan beberapa kali dia terhuyung oleh angin pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang dilakukan oleh Thian Tok Lama.

Pendeta Tibet ini memang terkenal sekali dengan ilmu pukulannya ini, pukulan mukjizat yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh. Tangan kanannya berubah menjadi biru dan setiap kali dia melakukan pemukulan dengan dorongan telapak tangan, dari perutnya terdengar bunyi kok-kok seperti ayam betina habis bertelur, dan dari telapak tangannya menyambar uap hitam!

Yang amat merepotkan Kwi Hong adalah ujung pecut merah Bhong Ji Kun yang menyambar-nyambar dari atas, meledak-ledak dan mengancamnya dengan totokan-totokan maut. Namun Kwi Hong tidak menjadi jeri dan sudah mengambil keputusan untuk bertanding mati-matian mempertaruhkan nyawa. Karena dia maklum bahwa di antara mereka semua, yang paling lihai adalah Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama, maka kedua kakek inilah yang menjadi sasaran utama dari sinar pedangnya.

Dengan gerakan yang amat cepat disertai bentakan nyaring, pedang Li-mo-kiam yang berubah menjadi sinar kilat itu menyambar ke atas lalu meluncur ke arah tenggorokan Thian Tok Lama yang cepat meloncat ke belakang. Tetapi sinar pedang itu mengejar terus. Mata pendeta Tibet itu menjadi silau dan terpaksa dengan kaget sekali dia menangkis dengan ujung tongkatnya. Sementara itu, Bhong Ji Kun melihat temannya terancam bahaya, sudah menggerakkan cambuknya dan ujung pecut ini menyambar ke arah jari-jari tangan kanan Kwi Hong yang menggenggam gagang pedang. Hal ini sudah dijaga oleh Kwi Hong, maka tanpa menghentikan serangannya kepada Thian Tok Lama, dia merubah kedudukan kaki sehingga tubuhnya membalik, tangan kirinya menyambar dan menangkap ujung pecut itu sambil mengerahkan tenaga menahan!

"Crokkk!"

Ujung tongkat Thian Tok Lama terbabat patah sedikit dan sinar pedang Li-mo-kiam masih terus menyambar tenggorokannya. Pendeta itu berteriak kaget, dengan terpaksa membuang tubuhnya ke belakang dan bergulingan. Biar pun dia kaget setengah mati, dan ujung tongkatnya patah, namun dia selamat.

Dengan tangan kiri masih memegang ujung pecut, Giam Kwi Hong menggerakkan pedangnya yang gagal mengenai Thian Tok Lama untuk menangkis datangnya senjata yang bertubi-tubi. Semua senjata cepat ditarik kembali karena takut terbabat rusak, akan tetapi tali pancing itu di tangan Liong Khek Si Muka Pucat telah melibat pedang, sedangkan Ciat Leng Souw yang melihat pedang yang ditakuti itu sementara tak dapat dipergunakan karena terlibat tali pancing, cepat membabatkan tombaknya ke arah kedua kaki Kwi Hong!

Dara perkasa itu terkejut sekali. Tangan kirinya masih memegang ujung cambuk Bhong Ji Kun dan pedangnya tertahan oleh tali pancing, kini kedua kakinya terancam bahaya diserampang oleh tombak. Maka dia lalu menggunakan tenaga pertahanan cambuk dan tali pancing, menggenjot tubuhnya dan meloncat ke atas sehingga sambaran tombak itu lewat di bawah kakinya. Tetapi pada saat itu, Gozan yang sejak tadi telah siap menanti saat baik, menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang berbulu dan besar itu telah merangkul tubuh Kwi Hong, meringkusnya dengan kekuatan seekor gajah!

Sebelum Kwi Hong yang kaget sekali dapat melawan, Koksu telah menotok pundak kirinya sedangkan gagang tombak Ciat Leng Souw telah mengetuk lututnya. Tubuh dara itu lemas dan dia tidak dapat bergerak lagi, tak dapat melawan ketika kaki tangannya dibelenggu dan dia diseret dan dilempar ke dalam sebuah kamar di istana itu, dipaksa rebah di atas pembaringan dan kaki tangannya dibelenggu pada kaki pembaringan!

Pangeran Yauw minta dengan sangat kepada Koksu agar Kwi Hong tidak diganggu, dan hal ini pun dipenuhi oleh Koksu yang melarang para pembantunya mengganggu tawanan itu. Dia masih menaruh harapan besar agar Kwi Hong dapat ditundukkan, karena hal ini akan menguntungkan mereka. Sebaliknya, kalau terpaksa gagal, mereka tentu akan dimusuhi oleh Pendekar Super Sakti dan hal ini tidak menguntungkan usaha pemberontakan mereka. Karena inilah maka Koksu memerintahkan kepada para pembantunya yang melakukan penjagaan untuk mengirim makan minum kepada tawanan itu dan memperlakukannya baik-baik.

Akan tetapi, Kwi Hong sama sekali tidak mau makan, bahkan setiap kali ada yang memasuki kamar tahanan, dia memaki-maki dan berusaha meronta. Wajahnya menjadi pucat setelah selama dua hari dua malam dia tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur sama sekali. Mendengar laporan tentang dara itu, Pangeran Yauw menjadi khawatir akan keselamatan Kwi Hong, maka dia mengambil keputusan untuk membujuk sendiri.

Demikianlah pada hari ketiga, setelah menyuruh para penjaga menjauhkan diri agar tidak menyaksikan pertemuan itu, Pangeran Yauw seorang diri lalu memasuki kamar tempat Kwi Hong ditahan. Begitu masuk, pangeran itu mengeluh dan berlutut di dekat pembaringan di mana Kwi Hong dibelenggu kaki tangannya.

"Ahhh, betapa sakit hatiku melihat keadaanmu seperti ini, Nona. Mengapa engkau berkeras kepala? Kalau tidak aku yang minta-minta kepada mereka, tentu engkau telah dibunuh atau diperlakukan lebih mengerikan dari pada kematian. Aku yang minta agar kau tidak diganggu dan dilayani sebaiknya, akan tetapi engkau tetap keras hati."

"Cukup! Mau apa engkau datang ke sini? Mau bunuh, bunuhlah. Siapa takut mati? Mendengarkan omonganmu yang beracun lebih mengerikan dari pada menghadapi maut!"

"Aihhhh, Kwi Hong... kenapa engkau bersikap begini? Tidakkah engkau melihat bahwa semua kesabaran itu, semua kerendahan ini kulakukan karena aku cinta padamu? Karena aku tergila-gila kepadamu? Engkau menurutlah menjadi isteriku, kelak engkau akan kuangkat menjadi permaisuri, dan...," suara Pangeran Yauw menurun menjadi bisikan halus, "...sakit hatimu akan terbalas semua. Setelah aku berhasil dengan perjuanganku, aku akan menghukum mampus Bhong-koksu dan semua pembantunya yang telah menghinamu... kau mau bukan menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sayang?"

"Cuhhh...!" Kwi Hong meludah dan tepat mengenai pipi kanan pangeran itu.

"Aduhhh...!" Pangeran itu terjengkang dan meraba pipinya yang terasa nyeri seperti dihantam benda keras. Matanya terbelalak penuh kemarahan, telunjuknya menuding ke arah muka Kwi Hong. "Perempuan laknat! Berani engkau meludahi aku? Aku akan menyiksamu untuk penghinaan ini! Akan kusuruh semua orang memperkosamu di depan mataku, sampai engkau mampus...!"

Pangeran Yauw tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dan sinar merah menyambar ke lehernya, tubuhnya terangkat ke atas dan ternyata dia sudah tergantung di ujung cambuk yang dipegang oleh Koksu. Mata pangeran itu mendelik, kaki tangannya bergerak-gerak.

"Hemm... engkau hendak membunuh kami kelak, ya? Pengkhianat tak tahu malu, tak mengenal budi!" Bhong Ji Kun melemparkan tubuh di ujung cambuk itu kepada Gozan yang bersama yang lain ikut pula masuk, lalu berkata, "Lemparkan dia dalam keadaan telanjang bulat ke luar!"

Pangeran Yauw berteriak-teriak minta ampun dan melimpahkan janji-janji muluk, tetapi Gozan mengangkatnya seperti seorang mengangkat anak kecil, membawanya keluar dari istana. Pangeran itu meronta-ronta, meratap-ratap, namun tidak ada yang suka atau berani menolongnya. Dengan renggutan-renggutan tangannya yang kuat, Gozan menelanjangi pangeran itu hingga tak ada secarik kain pun yang melindungi tubuhnya ketika tubuh itu dilempar ke atas salju yang dingin. Pangeran itu berlutut, menyembah-nyembah minta ampun, akan tetapi setiap kali dia hendak lari ke istana mencari tempat berlindung dari hawa dingin, dia ditendang ke luar. Akhirnya suara ratapannya makin lemah, tak lama kemudian dia sudah rebah meringkuk dengan tubuh beku kedinginan di atas tumpukan salju!

Dua orang pelayan wanita yang tadinya menjadi selir pangeran dan selalu dipandang dengan sinar mata penuh iri oleh anggota rombongan yang lain, kini menjadi rebutan di antara para pembantu Bhong Ji Kun, kecuali Thian Tok Lama dan Ciat Leng Souw yang telah tua. Satu-satunya nafsu keinginan mereka hanyalah mengejar kedudukan dan kemuliaan. Lalu atas perintah Bhong Ji Kun, kedua orang pelayan muda itu harus menyerahkan diri kepada Liong Khek Si Muka Pucat dan Gozan raksasa Mongol!

Memang patut dikasihani seorang manusia yang hidupnya dikuasai nafsu-nafsu keinginan seperti Pangeran Yauw Ki Ong. Dia sebagai seorang makhluk manusia dengan penghidupannya sama sekali tidak ada artinya, tidak penting lagi karena yang terpenting hanyalah pengejaran segala keinginannya itulah. Ketika tergila-gila kepada Kwi Hong, agaknya pangeran yang entah sudah berapa ratus kali berganti selir-selir baru itu, bersedia untuk bersumpah bahwa dia mencinta Kwi Hong. Akan tetapi kenyataannya, begitu Kwi Hong menolak cintanya, perasaannya yang disebut cinta itu berubahlah menjadi benci yang hebat! Cinta macam itu sungguh tidak ada harganya!

Cinta yang begitu mudah merubah diri menjadi benci, hanyalah nafsu birahi, yang nilainya sama rendah dengan benci. Namun, betapa banyaknya orang yang masih belum sadar akan hal ini, menganggap dengan penuh keyakinan bahwa perasaan seperti itu adalah cinta! Bahkan cinta suci katanya! Ada yang kalau cintanya ditolak berubah benci. Ada pula yang cintanya ditolak lalu membunuh diri. Ini lebih gila lagi, karena apa yang di sebutnya hanya sama nilainya dengan kegilaan, karena hanya orang yang tidak waras otaknya sajalah yang akan melakukan bunuh diri! Bagi mereka yang masih belum sadar ini, cinta mereka sama dengan benci, atau cinta mereka sama dengan gila!

Pangeran Yauw Ki Ong selama hidupnya juga didorong untuk selalu memperoleh yang diinginkan. Dia tidak tahu bahwa nafsu memperoleh ini ujungnya adalah kebosanan. Nafsu memperoleh ini pada awalnya menimbulkan gairah, namun pada akhirnya, setelah yang diinginkannya itu diperoleh, berubahlah gairah menjadi kebosanan, dan timbullah pula nafsu memperoleh hal atau benda lain lagi. Dengan demikian ia terseret dalam lingkungan setan yang tiada berkeputusan, hidupnya seperti makhluk penasaran yang selalu mengejar-ngejar nafsu yang dibuatnya sendiri. Tidak menyedihkankah hidup seperti itu, menjadi boneka permainan nafsu keinginan?

Bhong Ji Kun tak hanya marah kepada Pangeran Yauw Ki Ong yang mengkhianatinya, akan tetapi juga dia marah kepada Kwi Hong yang terang-terangan sampai mati pun tidak akan suka menuruti kehendaknya, yaitu menyerahkan pusaka Istana Pulau Es. Kekecewaan hatinya menimbulkan kemarahan yang membuat dia makin kejam dan ganas, merencanakan hukuman dan siksaan yang dianggapnya paling keji dan hebat bagi Kwi Hong.

"Engkau tetap keras kepala, ya? Baiklah ingin kulihat apakah engkau cukup keras untuk tidak minta ampun seperti Pangeran Yauw, Si Keparat tadi! Dua orang selirnya masih jauh lebih terhormat nasibnya dari pada perempuan keras kepala macam engkau! Setidaknya mereka menjadi milik pribadi dua orang pembantuku yang berkedudukan tinggi! Akan tetapi engkau! Hemmm, biar pun engkau seorang yang masih perawan, akan tetapi engkau akan kuserahkan kepada para bujang, tukang kuda dan pelayan. Engkau akan menjadi milik mereka secara bergiliran! Dan siapa yang dapat membuat engkau mengeluh dan menangis akan kuberi hadiah! Ha-ha-ha, ingin sekali aku mendengar teriakanmu seperti yang dilakukan pangeran gila tadi!"

Para bujang yang jumlahnya ada delapan orang itu tentu saja menyeringai gembira, biar pun hati mereka merasa agak gentar juga. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi, tetapi menghambakan diri kepada seorang majikan macam Bhong Ji Kun, tentu saja membuat watak mereka pun tak dapat dikatakan baik. Setelah mendengar keputusan Koksu yang menghadiahkan gadis tawanan itu kepada mereka, dimulai malam nanti, beramai-ramai delapan orang itu sibuk menjadikan Kwi Hong semacam hadiah undian untuk menarik giliran masing-masing!

Kwi Hong yang masih rebah telentang di atas pembaringan, tak dapat melakukan sesuatu ketika Bhong Ji Kun menotok dua jalan darah di punggungnya yang membuat kaki dan tangannya lemas dan setengah lumpuh. Iia dapat bergerak, tetapi tak mampu mengerahkan tenaga sinkang-nya. Setelah ikatan kaki dan tangannya dilepaskan, dia segera meloncat. Akan tetapi dia terbanting roboh lagi di atas pembaringan karena selain kedua kaki dan tangannya lemas juga tubuhnya lemah akibat kurang makan, kurang minum, dan kurang tidur. Bhong Ji Kun tertawa bergelak lalu meninggalkan kamar tahanan itu.

Kwi Hong rebah miring. Dia maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Maklum bahwa mengandalkan tenaganya, tidak mungkin dia menghindarkan diri dari mala petaka. Tanpa dapat menggerakkan kaki tangan secara leluasa, tanpa dapat mengerahkan sinkang, apa dayanya. Kehormatannya terancam dan dia tidak mampu mempertahankan kehormatannya dengan ilmu silat dan tenaga. Akan habiskah dia? Tidak adakah harapan lagi baginya? Dan pada saat itu, terbayanglah wajah Gak Bun Beng.

Tidak terasa lagi dua titik air mata membasahi pelupuk matanya. Dia mencinta Bun Beng, dan biar pun hanya menjadi rahasia hatinya sendiri, sering kali dia bermimpi berjumpa dengan pemuda itu yang dalam mimpinya juga mencintanya. Beberapa kali dia mimpi bercumbu dengan pemuda itu, bahkan mimpi menjadi isteri pemuda itu. Betapa bahagianya! Akan tetapi semua itu hanya mimpi, dan sekarang dia berada di tepi jurang kehancuran, terancam mala petaka yang lebih mengerikan dari pada maut sendiri, dikorbankan oleh Bhong Ji Kun untuk diperkosa secara bergiliran oleh para bujang tanpa dia dapat mempertahankan diri sama sekali.

"Bun Beng... ahhh, Bun Beng..., di manakah engkau...?" Kwi Hong mengeluh dan air matanya bercucuran.

Apakah dia harus minta ampun kepada Bhong Ji Kun? Akan tetapi tidak mungkin. Hal itu hanya akan menimbulkan bahan penghinaan dari para musuhnya itu, karena dia benar-benar tidak tahu di mana pamannya menyimpan kitab-kitab pusaka Istana Pulau Es. Andai kata dia tahu sekali pun, dia tidak percaya bahwa dengan memberikan kitab-kitab itu dia akan terbebas dari kematian.

Orang-orang seperti Bhong Ji Kun dan kaki tangannya sama sekali tak mungkin dapat dipercaya dan mereka itu baru bersikap baik kalau mempunyai maksud tertentu demi keuntungan mereka sendiri. Buktinya telah ada, Pangeran Yauw sudah merencanakan pembunuhan mereka, dan begitu hal ini diketahui Bhong Ji Kun, dengan kejam pangeran itu dibunuh tanpa ampun lagi. Dia, sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, musuh besar mereka, mana mungkin bisa mendapatkan ampun? Betapa bodohnya dia! Mudah saja ditipu oleh Bhong Ji Kun!

Malam tiba. Hal ini diketahui Kwi Hong dari lenyapnya sinar matahari yang makin menyuram melalui lubang angin di bawah genting kamar tahanan dan terganti sinar penerangan dari ruangan samping. Cuaca menjadi remang-remang dan jantung Kwi Hong berdebar. Bahaya telah mulai datang mendekat dan dia mencari akal bagaimana untuk dapat mempertahankan diri.

Yang akan muncul tentulah seorang di antara pelayan yang sebagian besar sudah tua dan lemah. Biar pun dia tidak dapat mengerahkan sinkang, dan tubuhnya lemas, akan tetapi dia masih menguasai ilmu silat. Dia akan menggunakan sedikit tenaga yang ada untuk merobohkan, kalau bisa membunuh setiap laki-laki yang berani menjamahnya! Dia tahu caranya. Dengan tendangan perlahan mengenai alat kelaminnya, dengan tusukan jari tangan mengenai matanya, dua serangan ini saja, betapa pun lemahnya, cukup membuat pengganggunya tak berdaya.

Timbul lagi harapannya untuk lolos dari ancaman bahaya ini. Untung bahwa kebencian Bhong Ji Kun kepadanya amat besar sehingga saking inginnya menghinanya sampai serendah-rendahnya, dia tidak diberikan kepada para pembantunya yang memiliki kepandaian tinggi, melainkan kepada para bujang untuk diperkosa secara bergilir. Kalau dia diberikan kepada seorang seperti Thai-lek-gu atau Gozan, tentu akan habis harapannya, karena dalam keadaannya seperti ini takkan mungkin dia melawan seorang di antara mereka. Dia bergidik! Membayangkan betapa dia dipermainkan seorang laki-laki seperti Gozan, raksasa Mongol yang tubuhnya berbulu-bulu sampai ke jari tangan dan lehernya itu!

"Gerriiittt...!" Pintu kamar tahanan terbuka dari luar, bayangan seorang laki-laki agak bongkok memasuki kamar, membalik dan menutupkan kembali daun pintu.

Dengan gerakan otomatis Kwi Hong meloncat dari keadaan berbaring. Dia lupa diri, maka loncatan itu membuat tubuhnya terbanting kembali ke atas pembaringan. Dia menahan keluhan, terpaksa bangkit duduk di atas pembaringan dengan mata terbelalak memandang laki-laki itu yang sekarang sudah membalikkan tubuh lagi menghadapinya sambil menyeringai.

Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar akan tetapi agak bongkok dan kurus, mukanya penuh brewok yang sudah bercampur uban, usianya tentu kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya tidak karuan dan sepasang matanya bergerak liar, mulutnya menyeringai aneh, Si Gila! Kwi Hong pernah melihat seorang di antara pengurus kuda yang keadaannya menyedihkan ini dan oleh teman-teman pelayan lain dia disebut Si Gila. Aihh, benar-benar Bhong Ji Kun ingin merendahkannya sampai yang paling hina sehingga untuk malam pertama itu dia diserahkan kepada pelayan paling mengerikan dan menjijikkan!

"Heh-heh-heh-heh, ini namanya hukum karma...!" Si Gila itu melangkah perlahan-lahan menghampiri Kwi Hong, tangan kirinya memegang sebatang tabung bambu. Ketika bicara, air ludahnya muncrat-muncrat.

Saking jijiknya, Kwi Hong segera turun tangan. Dia turun dari pembaringan, menahan napas mengumpulkan semua tenaga yang ada, kemudian melakukan serangan dengan jari-jari tangan kiri menusuk ke arah mata Si Gila itu, disusul gerakan kaki kanannya menendang ke bawah pusar. Biar pun serangannya itu tidak mengandung tenaga sinkang, dan tidak lebih hanya mengandung tenaga seorang wanita yang hampir kelaparan, namun kalau mengenai sasaran, mata dan anggota kelamin, agaknya cukup membuat Si Gila itu terjungkal!

"Ehhh...?" Si Gila berseru dan tubuhnya bergerak cepat di luar dugaan Kwi Hong.

Tusukan mata dapat dielakkan, tendangan berhasil ditangkis, dan tubuh Kwi Hong didorong kembali hingga jatuh ke atas pembaringan dalam keadaan telentang! Celaka, pikirnya. Kiranya Si Gila ini bukanlah orang yang lemah. Bahkan gerakan-gerakannya tadi jelas membayangkan gerakan silat yang cukup baik! Habislah harapan Kwi Hong dan dia mulai ketakutan ketika Si Gila mencelat dan duduk di pinggir pembaringan sambil terkekeh-kekeh.

"Hukum karma atau bukan... heh-heh-heh... aku tidak rela engkau dipermainkan orang. Lebih baik kau mati saja dari pada diperkosa mereka secara bergilir." Si Gila itu lalu membuka tutup tabung bambu. "Bocah bodoh, kenapa engkau tidak membunuh diri saja? Apa... apa engkau memang suka untuk diperkosa secara bergilir oleh mereka?"

Kwi Hong memandang dengan mata terbelalak. Orang ini bicaranya tidak karuan, jelas bahwa otaknya miring, akan tetapi isi kata-katanya benar-benar membuat dia berdebar.

"Apa... apa maksudmu...?"

"Biar pun ibumu diperkosa, tetapi pemerkosanya bertanggung jawab dan memang mencinta ibumu. Sedangkan mereka yang hendak memperkosamu secara bergiliran hanya ingin mempermainkanmu, ingin memakaimu seperti orang memakai pakaian yang kalau sudah butut dan rusak dicampakkan begitu saja dan tidak ditoleh lagi!"

"Apa... apa maksudmu dengan Ibu...?"

"Heh-heh! Ibumu masih perawan tulen ketika diperkosa, seperti engkau... heh-heh-heh, akan tetapi pemerkosanya bertanggung jawab, ibumu dijadikan isterinya... dan engkau terlahir. Biar pun ibumu diperkosa, aku tidak rela melihat engkau diperkosa orang! Heh-heh-heh, biar pun aku memperkosa ibumu, tetapi aku cinta padanya... dan aku yang membunuhnya... heh-heh, akan tetapi... aku tidak rela melihat engkau diperkosa orang! Lebih baik kau mati!"

Si Gila itu menggerakkan tabung bambu dan keluarlah seekor ular merah. Karena disentakkan keluar, ular itu tiba di leher Kwi Hong, akan tetapi begitu dia menyentuh leher Kwi Hong sambil dipandang oleh Si Gila yang terkekeh-kekeh, tiba-tiba ular itu menyambar membalik dan menggigit lengan Si Gila.

"Auggghhhh...!" Si Gila memekik dan roboh di atas lantai. "Kwi Hong... lebih baik kau mati dari pada diperkosa... ahh..." Si Gila itu masih sempat berkata kemudian tubuhnya berkelojotan dan ular merah ikut bergerak-gerak di lengannya.

Kwi Hong bangkit berdiri, terbelalak dengan muka pucat memandang wajah Si Gila yang berkelojotan itu. Kini teringatlah dia. "Ayaaahhhh...!" Ia menubruk.

Tentu saja! Tentu saja orang ini ayahnya! Dan tentu ayahnya ini pula yang dahulu memperingatkannya tentang arak beracun di taman yang disuguhkan Pangeran Yauw. Ayahnya telah menjadi gila, atau berpura-pura gila? Bagaimana mungkin dia mengenal ayahnya, yang ditinggal pergi bersama pamannya ketika dia masih kecil? Apa lagi ayahnya yang dahulunya seorang perwira tinggi itu kini telah menjadi tukang kuda yang gila dan pakaiannya tidak karuan. Bagaimana dia dapat mengenalnya?

Betapa pun juga, sampai saat terakhir ayahnya dengan cara gilanya masih berusaha menyelamatkannya dari perkosaan dan penghinaan, yaitu dengan cara membunuhnya. Tentu ayahnya tidak tahu bahwa di dalam tubuhnya telah mengalir obat penolak ular merah sehingga begitu mencium kulit lehernya, ular itu menjadi takut dan membalik menggigit Si Gila sendiri! Entah bagaimana ayahnya dapat menangkap ular dalam tabung itu.

"Ayah...!" Akan tetapi Kwi Hong maklum bahwa ayahnya telah mati.

Racun gigitan ular merah memang amat hebat. Bagi yang lemah berakibat kematian, bagi yang kuat sekali pun akan mendatangkan pengaruh mukjizat, ada yang menjadi terangsang nafsu birahinya, ada pula yang menjadi gila!

Melihat ayahnya, biar pun gila dan menjijikkan akan tetapi tetap ayah kandungnya, menggeletak tak bernyawa lagi dan kini wajahnya yang tadi diselubungi kegilaan tampak tenang dan makin jelas persamaannya dengan wajah ayahnya dahulu, Kwi Hong menjadi marah. Dipegangnya ular itu, ditariknya terlepas dari lengan ayahnya, dan akan dibantingnya. Akan tetapi dia teringat dan tiba-tiba wajahnya berseri biar pun air matanya bercucuran ketika dia memandang ayahnya.

"Ayah, beristirahatlah dengan tenang, Ayah. Usaha pertolongan Ayah tidak sia-sia, anak berterima kasih, Ayah."

Dia lalu menggerakkan sisa tenaganya, menggurat-guratkan tubuh ular pada batu dinding yang agak kasar sehingga kulit itu pecah terluka dan berdarah. Ular itu sama sekali tidak berani melawan, dan setelah dilepaskan di atas lantai dekat mayat Giam Cu, bekas perwira ayah Kwi Hong yang telah menjadi gila itu, ular berkelojotan dan darah mengucur dari luka-lukanya. Kwi Hong maklum bahwa darah ular merah yang keluar dari seekor ular merah yang masih hidup mempunyai bau yang mengandung daya mengundang ular-ular merah lain.

Telah dituturkan di bagian depan cerita ini betapa Giam Cu, panglima tinggi besar brewok yang diwaktu bala tentara Mancu menyerbu ke selatan telah memperkosa Sie Leng, gadis enci (kakak perempuan) Pendekar Super Sakti, akan tetapi lalu menculik gadis itu dan menjadikannya sebagai isterinya. Dalam pernikahan ini Sie Leng mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Giam Kwi Hong.

Ketika Pendekar Super Sakti dituduh melarikan Puteri Nirahai, dalam kekhawatirannya tersangkut karena isterinya adalah enci Suma Han, Giam Cu lalu membunuh isterinya sendiri. Perbuatannya ini membuat dia menyesal bukan main karena dia memang mencinta isterinya. Maka setelah Kwi Hong dilarikan Suma Han, perwira tinggi ini menjadi gila! Tentu saja dia tidak dapat menduduki pangkatnya lagi, dan akhirnya orang tidak tahu ke mana dia pergi. Kiranya, setelah gila dan terlantar, tidak ada orang yang mengenalnya lagi, diam-diam bekas perwira yang gila ini bekerja sebagai tukang kuda di istana Koksu!

Melihat mayat ayahnya, Kwi Hong merasa terharu. Dia mengangkat mayat itu ke atas pembaringan, pekerjaan yang amat sukar bagi tenaganya yang masih lemas itu, kemudian dia duduk bersila, mengumpulkan hawa Swat-im Sinkang yang dilatihnya sejak kecil, perlahan-lahan dia berusaha memulihkan tenaganya dan membuyarkan pengaruh totokan sambil menanti hasil usahanya memanggil ular-ular dengan darah ular merah tadi.

Betapa girangnya ketika hidungnya mencium bau wangi-wangi yang aneh namun tidak asing baginya, dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara mendesis-desis dan tampaklah ular-ular merah merayap-rayap datang dari segala penjuru, memasuki kamar tahanan itu! Kegirangan Kwi Hong bukan hanya karena ular-ular itu dapat melindunginya sehingga orang-orang hendak mengganggunya tidak berani mendekat, akan tetapi juga hawa beracun dari ular-ular merah itu mempunyai daya yang mukjizat.

Hal ini adalah penemuan pamannya dan dia pernah disuruh berlatih sinkang di antara ular-ular merah ini dan hawa yang bagi orang lain mengandung racun berbahaya itu, baginya adalah memperlancar latihannya. Karena itu, kini dengan bantuan hawa beracun, dia makin tekun melancarkan jalan darahnya dan menghimpun tenaga sinkang untuk memulihkan tenaganya. Dia tetap duduk bersila di lantai, membiarkan pembaringannya ditempati mayat ayahnya.

Kalau dia teringat masa lalu, dia terbayang di depan matanya betapa ibu kandungnya dibunuh ayahnya ini, ditusuk dadanya sampai tembus dengan pedang, maka ingatan itu membuat dia tidak dapat berduka oleh kematian ayahnya. Namun, melihat betapa setelah tersiksa dan hidup seperti orang gila, namun pada saat-saat terakhir masih berusaha melindungi anaknya, hatinya merasa terharu juga.

"Ular...! Ular...!"

Jeritan-jeritan itu terdengar dari mulut para penjaga ketika mereka melihat ular-ular merah, apa lagi ketika mereka mengejar ular-ular itu ke kamar tahanan, melihat gadis tawanan itu duduk bersila di atas lantai tengah kamar, dikelilingi ular merah ratusan banyaknya, dan tubuh Si Gila yang menjadi mayat menggeletak di atas pembaringan.

Tak lama kemudian Koksu dan teman-temannya datang. Mereka berada di luar kamar memandang dengan mata terbelalak.

"Mundur semua! Ular-ular itu beracun!" bekas Koksu Bhong Ji Kun berteriak dan semua orang cepat mundur karena bau harum bercampur amis itu pun membuat mereka muak dan tidak tahan.

Tentu saja kecewa sekali hati Kwi Hong. Tenaganya belum pulih, dan dia sudah ketahuan. Kalau Bhong Ji Kun turun tangan, tentu dia tidak mampu membela diri. Akan tetapi dia tidak memperlihatkan rasa takut, bahkan tersenyum dan menggertak,

"Siapa berani mendekati aku, tentu akan mampus! Bhong Ji Kun, aku ingin sekali melihat apakah engkau berani memasuki kamar tahanan ini!"

Bhong Ji Kun menggereget giginya. "Perempuan siluman! Lekas kau enyahkan semua ular itu, kalau tidak, kamar ini akan kubakar sampai engkau dan ular-ularmu mati hangus!"

Tentu saja ancaman membunuhnya dengan cara apa pun juga tidak mendatangkan rasa takut di hati Kwi Hong. Dia memang sudah berada di ambang maut, peduli apa dengan segala gertakan? Akan tetapi dia tidak ingin melihat ular-ular itu ikut pula mati terbakar, dan pula, selama masih ada kesempatan, dia harus mempergunakannya untuk menyelamatkan diri. Kalau sudah tidak ada jalan lain, dalam menghadapi penghinaan, kini dia menemukan cara yang paling tepat, seperti yang dikatakan oleh ayah kandungnya tadi, yaitu membunuh diri! Takut apa lagi? Ia tersenyum.



"Bhong Ji Kun, engkau menyuruh aku mengusir ular-ular ini, kalau mereka sudah pergi, kau akan senang melihat aku diganggu orang-orangmu, bukan? Benar-benar engkau seorang yang amat baik hati. Baiklah, aku akan mengusir ular-ularku. Buka pintu kamar ini agar lebih cepat mereka pergi."

Bhong Ji Kun sendiri melangkah maju membukakan pintu, sedang para pembantunya berdiri di belakangnya dengan muka membayangkan kengerian. Mereka sungguh merasa heran mengapa gadis tawanan itu dapat mengumpulkan ular beracun sekian banyaknya dan sama sekali tidak terganggu! Benar-benar seorang gadis yang amat lihai dan tak boleh dipandang rendah.

Kwi Hong mengeluarkan bunyi dengan lidahnya untuk membangkitkan perhatian ular-ular itu, mengambil ular yang terluka dan masih berkelojotan, kemudian tiba-tiba dia melempar ular terluka itu ke arah Bhong Ji Kun sambil membentak, "Makanlah ini!"

Bhong Ji Kun cepat mengelak, lalu meloncat jauh ke pinggir. Di belakangnya terdengar orang berseru kaget dan ular yang terluka itu ternyata mengenai dadanya, dan... semua ular merah yang berada di dalam kamar itu menyerbu keluar dan langsung menyerang Panglima Mancu yang terkena ular terluka tadi, tubuhnya penuh dengan ular merah yang langsung menggigit. Panglima itu memekik nyaring mengerikan dan roboh berkelojotan terus tewas seketika!

Bhong Ji Kun sudah meloncat ke dalam kamar tahanan yang sudah tidak ada ularnya. Kwi Hong meloncat bangun, namun tubuhnya masih belum pulih, masih lemah maka dalam beberapa gebrakan saja dia telah roboh oleh Bhong Ji Kun yang lihai.

"Gunakan api, usir ular-ular itu!" Bhong Ji Kun berteriak marah.

Para pembantunya cepat menggunakan api. Benar saja, ular-ular itu segera melarikan diri keluar dari tempat itu. Seperti binatang-binatang apa saja di dunia ini, ular-ular itu pun takut sekali akan api yang amat panas itu.

"Bhong-koksu, bunuh saja gadis itu!" Thian Tok Lama berkata.

Ucapan ini dibenarkan semua pembantu Bhong Ji Kun. Setelah menyaksikan betapa dalam keadaan lemah saja gadis itu telah berhasil mengakibatkan kematian seorang bujang dan seorang panglima, mereka menjadi gentar dan akan selalu cemas sebelum gadis yang berbahaya itu dibunuh.

"Dia sudah kutotok dan takkan dapat bergerak selama semalam suntuk. Memang mudah membunuhnya. Akan tetapi kalau dipikir lagi, apa gunanya membunuhnya? Kurasa, kalau dia hidup dia lebih berguna dari pada kalau dia mati. Siapa tahu gunanya kelak. Biarlah besok kita rundingkan lagi, pendeknya dia harus selalu dijaga ketat agar tidak mendapat kesempatan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan lagi."

Keputusan Bhong Ji Kun ini membuat Kwi Hong hampir kehilangan akal dan kehabisan harapan karena selain tertotok, dia pun dibelenggu kaki tangannya, dilempar ke atas pembaringan dalam kamar tahanan itu, pintunya dipalang dari luar dan di luar pintu selalu ada dua orang pembantu Bhong Ji Kun yang berdiri menjaga dengan bergilir! Andai kata dia dapat membebaskan totokan, dia harus membebaskan belenggu, dan masih harus berhadapan dengan dua orang penjaga yang berilmu tinggi dan yang tentu akan memanggil datangnya Bhong Ji Kun dan para pembantunya yang lain!

Akan tetapi, kenyataan bahwa dia belum dibunuh oleh Bhong Ji Kun menimbulkan harapan baru. Hal itu hanya berarti bahwa bekas Koksu itu masih ingin melihat dia hidup, dan selama masih ada harapan untuk hidup, dia tidak akan putus asa dan tidak akan membunuh diri seperti yang dianjurkan ayah kandungnya. Memang amat mudah membunuh diri, tidak memerlukan tenaga dan biar pun dia dibelenggu seperti itu, masih amat mudah membunuh diri. Bagi seorang yang terlatih seperti dia, menahan napas dan dengan paksa menghentikannya sudah cukup untuk membuat nyawanya melayang, atau lebih sederhana lagi, menggigit lidahnya sendiri sampai putus!

Gadis yang keras hati dan tahan uji ini sama sekali tidak tahu bahwa pada keesokan harinya terjadi perubahan yang amat besar, terjadi peristiwa hebat sekali di Pulau Es. Peristiwa itu dimulai dengan munculnya Majikan Pulau Es sendiri, Suma Han Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang datang berperahu bersama dua orang wanita sakti, Nirahai dan Lulu, atau kedua orang isterinya yang bersama dia akan memulai hidup baru di pulau itu!

Ketika pagi hari itu Suma Han tiba di Pulau Es dan melihat sebuah perahu besar telah berlabuh di pantai, pendekar ini mengerutkan alisnya dan berkata kepada dua orang isterinya. "Agaknya kita telah didahului tamu-tamu tidak diundang. Jarang ada orang luar berani mendatangi Pulau Es. Nirahai dan Lulu, kita sudah saling berjanji tidak akan mencari urusan di luar, karena aku tahu bahwa kalian masih mempunyai kekerasan hati, maka apa pun yang terjadi nanti, kuharap kalian tinggal diam dan menonton saja. Biarlah aku sendiri yang akan menanggulanginya."

Nirahai dan Lulu saling pandang, tersenyum dan keduanya mengangguk. Telah terjadi perubahan besar atas diri pria ini, pria berkaki buntung yang mereka cinta dan junjung tinggi. Jika dahulu Suma Han merupakan seorang pendekar sakti yang berhati lemah, kini mulai tampak kejantanannya, dan pertama-tama kejantanannya itu diperlihatkan dengan menguasai kedua orang isterinya!

Setelah menarik perahu kecil mereka di pantai yang dangkal, ketiganya melompat turun ke darat dan berdiri tegak dengan sikap tenang, memandang Bhong Ji Kun yang sudah diberi kabar oleh anak buahnya dan kini berlarian datang menyambut bersama seluruh pembantunya, dengan senjata siap di tangan masing-masing. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan berdebar penuh kegelisahan hati Bhong Ji Kun ketika melihat bahwa yang datang bukan hanya Pendekar Super Sakti seorang, melainkan ditemani oleh Puteri Nirahai bekas Ketua Thian-liong-pang dan Lulu bekas Majikan Pulau Neraka! Baru Pendekar Super Sakti seorang saja sudah merupakan seorang lawan yang amat menakutkan dan amat berat dilawan, apa lagi masih ada dua orang wanita sakti itu!

Dengan sikap tenang Suma Han, Nirahai, dan Lulu berdiri di pantai. Hanya bola mata mereka yang bergerak, melirik ke arah Bhong Ji Kun dan para pembantunya yang datang dari kanan kiri. Diam-diam Suma Han merasa lega ketika mendapat kenyataan bahwa yang boleh dicatat sebagai lawan tangguh hanyalah Bhong Ji Kun sendiri, Thian Tok Lama, dan agaknya orang yang memegang tombak gagang panjang itu. Dia merasa sanggup untuk mengatasi mereka.

Akan tetapi dia merasa curiga melihat sikap Bhong Ji Kun yang kelihatannya sama sekali tidak takut kepadanya, padahal dia datang bersama Nirahai dan Lulu. Salah seorang wanita itu sendiri saja sudah cukup untuk menandingi Bhong Ji Kun! Akan tetapi kakek itu begitu berani menyambutnya dengan sikap seolah-olah keadaannya lebih kuat. Tentu ada apa-apanya ini!

"Aha, Pendekar Super Sakti, engkau baru datang? Sudah lama kami mengharapkan kedatanganmu!" kata Bhong Ji Kun sambil menekan debar jantungnya.

"Hemm, mengunjungi tempat orang tanpa ijin, dan selagi tempat itu ditinggalkan penghuninya. Hanya orang seperti engkaulah yang tidak malu melakukan kedua hal itu, Im-kan Seng-jin," kata Suma Han dengan suara halus namun nadanya cukup membuat para pembantu Bhong Ji Kun merasa seram.

Di antara mereka semua, hanya Ciat Leng Souw seorang yang belum pernah bertemu dengan Suma Han, hanya mendengar nama julukannya saja. Kini melihat bahwa orang yang disohorkan sebagai dewa atau siluman itu ternyata hanyalah seorang yang wajahnya masih muda dan tampan, rambutnya putih semua, dan sebuah kakinya buntung, senjatanya hanya sebatang tongkat butut. Apanya sih yang perlu ditakuti?

Berubah wajah Bhong Ji Kun mendengar ucapan itu. "Harap Tocu (Majikan Pulau) tidak salah paham, karena sesungguhnya kedatangan kami ke sini bukan sebagai tamu tidak diundang."

"Tidak sebagai tamu, melainkan sebagai pelarian-pelarian perang yang sudah hancur kekuatannya!" Nirahai tak dapat menahan hatinya dan berkata nyaring, akan tetapi tidak melanjutkan karena Lulu menyentuh tangannya, membuat dia teringat akan larangan suaminya!

Bhong Ji Kun menjura ke arah Nirahai dan Lulu. "Pelarian sementara! Karena itulah, maka kami bergembira sekali kini berhadapan dengan Pendekar Super Sakti dan dengan Ji-wi Lihiap (Kedua Wanita Pendekar) yang berilmu tinggi, karena kami yakin bahwa dengan kerja sama antara kami dengan Sam-wi (Anda Bertiga), kekalahan kami akan tertebus dan akhirnya perjuangan kami akan berhasil."

"Apa?! Mengajak kami bekerja sama...?" Nirahai kembali berseru saking herannya.

"Aihh, dia sudah gila!" Lulu juga tidak dapat menahan untuk berseru heran.

Siapa orangnya tidak akan heran. Dia dan Nirahailah yang memimpin pasukan pemerintah menghancurkan pemberontak ini, dan sekarang bekas Koksu pemberontak itu mengajak mereka untuk bekerja sama memberontak. Hanya orang gila saja yang mengajukan usul demikian.

Akan tetapi Suma Han berpikir lain. Sejak tadi dia sudah curiga menyaksikan sikap Koksu Bhong Ji Kun yang memberontak itu sama sekali tidak gentar, bahkan kelihatan terlalu berani. Sekarang dengan pertanyaannya itu, yaitu mengusulkan kerja sama, bahkan bukan mengusulkan, karena kata-katanya itu seperti menentukan, makin jelas bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang membuat bekas Koksu ini yakin akan kemenangannya!

"Im-kan Seng-jin, apa yang membuat engkau begitu yakin bahwa kami akan suka bekerja sama denganmu? Tidak perlu bersikap rahasia, katakanlah saja!" Suma Han berkata sambil memandang tajam.

Akan tetapi, teringat akan nasehat mendiang Maharya agar berhati-hati menghadapi Pendekar Siluman ini, terutama jangan sekali-kali menentang pandang matanya, sejak tadi Bhong Ji Kun tidak pernah berani bertemu pandang dengan pendekar itu. Bhong Ji Kun bertepuk tangan, isyarat yang memang sudah diatur sebelumnya dan muncullah seorang Mongol raksasa mengempit tubuh Kwi Hong yang kaki tangannya dibelenggu, wajahnya pucat dan pakaiannya compang-camping.

Bukan main kagetnya Suma Han melihat ini, akan tetapi selain raksasa Mongol itu siap untuk memukul kepala Kwi Hong dengan tangannya yang besar dan kuat, juga Thai-lek-gu yang gendut telah meloncat ke dekat Gozan dan menodongkan goloknya pada gadis tawanannya itu! Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan untuk mencoba menolong keponakannya, pikir Suma Han. Dia tentu kalah cepat dan andai kata dia dapat membunuh semua orang itu, tentu Kwi Hong akan terbunuh lebih dulu.

"Ahhh, Si Jahanam menawan Kwi Hong...!" Lulu berteriak.

Nirahai juga terkejut ketika mendengar bahwa murid atau keponakan suaminya telah menjadi tawanan. Mengertilah dia kini mengapa bekas Koksu itu bersikap seberani itu. Kiranya sama sekali bukan gila, melainkan licin dan curang sekali! Melihat betapa Suma Han menggerakkan jari tangan ke arah mereka, maklumlah kedua orang wanita itu bahwa mereka dilarang untuk turun tangan. Dan memang mereka pun sudah cukup cerdik untuk tidak sembarangan turun tangan, karena hal ini berarti kematian bagi Kwi Hong.

"Kwi Hong! Bagaimana engkau bisa tertawan?" Suma Han menegur muridnya.

Air mata bercucuran dari kedua mata Kwi Hong dan suaranya berduka sekali ketika dia menjawab, "Harap Paman tidak mendengarkan permintaan iblis-iblis ini. Biarkan aku mati, Paman, memang sudah patut kalau aku harus mati. Aku telah ditipunya, aku telah bersekutu dengan pemberontak-pemberontak laknat ini, karena menyangka bahwa pemerintah adalah musuh Paman. Setelah pemberontakan gagal, aku malah mengajak mereka menyembunyikan diri ke pulau ini. Akan tetapi, ternyata mereka adalah iblis-iblis yang jahat. Aku telah salah, dan aku rela mati. Harap Paman tidak mengorbankan apa-apa untukku!"

"Wah, dia benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa!" Bhong Ji Kun memuji. "Akan tetapi kami masih sangsi apakah Pendekar Super Sakti yang terkenal itu memiliki cukup kegagahan seperti muridnya untuk berkorban demi muridnya. Terserah pilihanmu, Tocu!"

"Jahanam busuk!" Nirahai membentak.

"Keparat hina!" Lulu juga memaki.

Akan tetapi Suma Han mengangkat kedua tangannya menyuruh kedua orang wanita itu bersabar dan tidak turun tangan. Kemudian dia menghadapi Bhong Ji Kun dan berkata, "Bhong Ji Kun, engkau tentu mengerti dengan baik bahwa sampai mati sekali pun kami bertiga tidak mau melibatkan diri dalam pemberontakan yang kau pimpin itu. Permintaanmu sebagai pengganti kebebasan keponakanku sungguh tidak masuk akal. Pikirlah baik-baik sebelum terpaksa kami membasmi kalian sebagai penukar nyawa murid dan keponakanku."

Diam-diam Bhong Ji Kun mempertimbangkan. Tak dapat diragukan lagi, jika Pendekar Super Sakti mengamuk dibantu dua orang wanita sakti yang entah bagaimana kini menjadi baik dengan Pendekar Super Sakti, tentu dia dan semua pembantunya ditukar hanya dengan nyawa gadis itu!

"Tentang kerja sama biarlah kita bicarakan kemudian," kata Bhong Ji Kun yang cerdik itu. "Sekarang kuganti penukarannya. Pertama kami mau membebaskan muridmu asal engkau dan dua orang wanita itu tidak mengganggu kami."

"Sudah tentu! Kalau engkau suka membebaskan Kwi Hong, kami pun tidak akan mengganggumu dan kalian boleh pergi dengan aman," jawab Suma Han, jawaban yang membuat alis kedua orang wanita sakti itu berkerut. Mereka sama sekali tidak setuju kalau orang-orang macam Bhong Ji Kun dan teman-teman-nya itu dibiarkan pergi begitu saja! Akan tetapi keduanya tidak berani membantah!

Agaknya mereka pun sudah menarik pelajaran dari pengalaman mereka setelah mereka menderita batin karena asmara gagal selama belasan tahun.

"Dan kedua, engkau harus menyerahkan kitab-kitab pusaka peninggalan Bu Kek Siansu yang tentu tadinya berada di Pulau Es kepada kami."

"Kitab-kitab pusaka Pulau Es tidak berada padaku. Ketika pasukan yang kau pimpin menyerbu ke sini, pusaka-pusaka itu telah dibawa oleh pembantuku."

"Hemm, jangan kau main-main dengan nyawa muridmu, Tocu, dan amat memalukan kalau seorang pendekar dengan kedudukan seperti engkau mengeluarkan kata-kata membohong."

Sepasang mata Suma Han mengeluarkan cahaya menyambar seperti kilat, membuat Bhong Ji Kun terkejut dan cepat menundukkan muka.

"Bhong Ji Kun, untuk kata-katamu itu saja, dalam lain keadaan sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk menghancurkan mulutmu!"

Nada dalam suara Pendekar Super Sakti itu membuat wajah bekas Koksu itu menjadi pucat karena dia merasa betul betapa penuh wibawa dan bukan ancaman kosong saja kata-kata itu.

"Siapa yang bisa percaya bahwa seorang Tocu tidak menyimpan sendiri pusaka milik istananya?" Dia membela diri.

"Pusaka ada di sini...!" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dan bayangannya berkelebat datang. Kiranya orang ini adalah Phoa Ciok Lin yang datang membawa sebuah peti kayu cendana yang berukir indah.

Melihat peti ini, Kwi Hong dengan suara tangisnya berkata, "Bibi... jangan... jangan kau berikan kepada mereka...! Lebih baik aku mati saja dari pada mengorbankan pusaka-pusaka itu...!"

Phoa Ciok Lin, wakil urusan dalam di Pulau Es, pembantu Suma Han yang usianya sebaya dengan kedua isteri pendekar itu, mengerling kepada Suma Han dan dua orang isterinya, tersenyum penuh syukur akan tetapi pandang matanya sayu penuh derita batin, kemudian cepat menghampiri bekas Koksu dan berkata, "Im-kan Seng-jin, engkau membutuhkan pusaka Pulau Es? Inilah pusaka-pusaka itu, boleh kuserahkan kepadamu asal engkau membebaskan Kwi Hong lebih dulu!"

Mata Bhong Ji Kun dan kawan-kawan-nya terbelalak penuh gairah memandang ke arah peti berwarna coklat itu. Akan tetapi Bhong Ji Kun yang sudah biasa melakukan segala macam tipu muslihat, tentu saja menjadi seorang yang tidak mudah percaya dan selalu berprasangka buruk. Memang demikianlah, watak seseorang dibentuk oleh kebiasaan dan pengalamannya sendiri. Seorang pembohong akan selalu tidak percaya kepada kata-kata orang lain, seorang penipu akan selalu curiga terhadap semua orang.

"Suma Tocu, benarkah ini peti berisi pusaka Istana Pulau Es?" tanyanya sambil menoleh ke arah Suma Han.

Pendekar ini mengangguk dan suaranya dingin sekali ketika menjawab, "Dia adalah wakilku dan kepercayaanku yang membawa pusaka Istana Pulau Es."

Makin berseri wajah Bhong Ji Kun. "Suma-tocu, aku mau menukar muridmu dengan pusaka-pusaka itu, akan tetapi berjanjilah bahwa engkau tidak akan menghalangi dan merampas kembali kalau peti berisi pusaka telah diserahkan kepadaku."

"Aku berjanji!"

"Paman, jangan! Lebih baik aku mati!"

"Diam kau!" Suma Han membentak dan Kwi Hong hanya terisak menangis.

"Im-kan Seng-jin, bebaskan Kwi Hong, baru akan kuserahkan kepadamu peti berisi pusaka ini!" kembali Phoa Ciok Lin mendesak, wajahnya yang cantik itu agak pucat.

Bhong Ji Kun tersenyum lega. Setelah mendapatkan janji Suma Han, siapa lagi yang dia takuti? Dia lalu memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada Gozan dan Thai-lek-gu. Dua orang ini lalu melepaskan belenggu kaki tangan Kwi Hong, lalu mendorong tubuh dara yang sudah lemas dan lemah itu ke arah Pendekar Super Sakti.

Kwi Hong jatuh berlutut di depan kaki pamannya, dia menangis terisak-isak dan tidak berani mengangkat muka. Suma Han sama sekali tidak mempedulikan dia, hanya memandang Phoa Ciok Lin dengan alis berkerut dan hati menekan kegelisahan.

"Tawanan telah kubebaskan, berikan peti itu!" Bhong Ji Kun berkata sambil mengulur tangan hendak mengambil peti dari tangan Phoa Ciok Lin.

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara ketawa aneh, petinya terlempar ke belakang, ke arah Suma Han, sedangkan dia sendiri seperti gila telah menubruk bekas Koksu itu dengan pukulan kedua tangannya, pukulan maut yang amat berbahaya.

"Ciok Lin, jangan...!" Suma Han berseru mencegah pembantunya.

Namun terlambat. Serangan Phoa Ciok Lin yang hebat itu membuat Bhong Ji Kun terkejut bukan main. Untuk mengelak sudah tiada kesempatan lagi, maka dia hanya dapat menangkis pukulan ke arah pusarnya yang amat berbahaya dan terpaksa menerima tamparan pada dadanya.

"Desss...!"

Phoa Ciok Lin adalah murid nenek yang terkenal sebagai datuk kaum sesat, Toat-beng Ciu-sian-li, maka tentu saja ilmu kepandaiannya tinggi. Apa lagi setelah dia menjadi pembantu Pendekar Super Sakti dan memperdalam ilmunya selama bertahun-tahun di Pulau Es. Biar pun tentu saja dia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan bekas Koksu yang sakti itu, namun pukulannya itu pun bukanlah pukulan ringan sehingga tubuh Koksu yang sakti itu sampai roboh terjengkang. Akan tetapi dia sendiri pun terhuyung ke kiri karena daya tolak tenaga sinkang bekas Koksu yang lihai itu. Dan tampak sinar putih berkelebat disusul keluhan Phoa Ciok Lin yang roboh terguling, dadanya terluka oleh tombak di tangan Sin-jio Ciat Leng Souw yang menyerangnya dengan kecepatan kilat sehingga Suma Han sendiri sampai tercengang dan tidak mampu mencegahnya.

"Bibi...!" Kwi Hong menjerit dan meloncat menubruk Phoa Ciok Lin, lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke pinggir.

Terdengar suara melengking tinggi nyaring dan tahu-tahu tubuh Suma Han telah berada di depan Bhong Ji Kun yang sudah bangkit kembali. Setelah menyerahkan peti pusaka dalam perlindungan Lulu dan Nirahai, Suma Han dengan marah kini menghadapi bekas Koksu dan para pembantunya.

"Bhong Ji Kun!" Suaranya terdengar tegas dan penuh wibawa sehingga bekas Koksu itu dan para pembantunya memandang dengan hati gentar, akan tetapi juga dengan kesiap siagaan para jagoan yang tahu bahwa mereka menghadapi seorang lawan tangguh. "Sebagai penghuni Pulau Es menghadapi orang-orang yang mengotorkan pulau, aku menantang kalian untuk mengadu ilmu!"

Bhong Ji Kun tentu saja menjadi penasaran dan marah sekali, juga kecewa. Ia sengaja mengeluarkan suara ketawa mengejek. "Ha-ha-ha, Pendekar Super Sakti, Tocu Pulau Es yang terkenal itu ternyata hanyalah seorang yang suka bermain curang! Hendak menarik kembali janjinya, melanggar janji seperti seorang yang rendah. Hendak kemana kau taruh mukamu nanti?"

"Bhong Ji Kun, mulutmu lancang sekali! Kuhancurkan nanti!" Nirahai berteriak marah mendengar suaminya tercinta dimaki orang.

Namun Suma Han bersikap tenang, biar pun pandang matanya tajam menusuk. "Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, siapakah yang curang? Aku tadi berjanji tidak menghalangi apabila pembantuku menyerahkan peti. Akan tetapi dia tidak menyerahkan peti kepadamu, hal itu adalah urusan antara kau dan dia! Dia menipumu dan engkau telah membebaskan Kwi Hong dan mengeroyok pembantuku sampai terluka hebat. Perbuatanmu sungguh tidak patut. Antara kita tidak ada perjanjian apa-apa lagi."

"Ha-ha-ha! Bukankah kau berjanji bahwa kalau kami membebaskan muridmu, engkau akan membiarkan kami pergi tanpa mengganggu?"

"Benar! Akan tetapi ingat, engkau membebaskan Kwi Hong bukan karena perjanjian antara kita, melainkan karena perjanjianmu dengan Phoa Ciok Lin. Sekarang aku menantang kalian mengadu ilmu. Kalau kalian tidak berani, aku baru mau melepaskan kalian kalau kalian mau berlutut dan minta ampun kepada kedua orang isteriku!"

Bhong Ji Kun membelalakkan mata. Kiranya pendekar ini telah akur kembali dengan Puteri Nirahai! Dan Ketua Pulau Neraka itu pun telah menjadi isterinya! Bukan main! Akan tetapi dia tidak berani menyatakan sesuatu akan pengakuan pendekar itu, apa lagi mengejek, karena kalau hal itu dia lakukan, tentu dia akan celaka di bawah tangan suami isteri, tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa itu! Kalau harus berlutut minta ampun, benar-benar hal ini amat berat. Dia adalah bekas Koksu, bahkan seorang tokoh yang terkenal di dunia kang-ouw. Demikian pun para pembantunya adalah orang-orang gagah yang lebih menghargai nama dan kehormatan dari pada nyawa.

"Pendekar Siluman!" teriaknya dengan muka merah. "Menyuruh kami berlutut minta ampun sama dengan menyuruh matahari timbul dari barat!"

"Bagus, kalau begitu majulah, dan juga para pembantumu, terutama yang memegang tombak cagak gagang panjang itu!" Suma Han melirik ke arah Ciat Leng Souw karena hatinya masih panas mengingat betapa pembantunya, Phoa Ciok Lin roboh oleh tombak orang ini.

"Wuuuuttt... syettt!"

Sin-jio Ciat Leng Souw dengan gerakan tangkas sudah meloncat dan berdiri tegak di depan Suma Han, tombak panjangnya itu dipalangkan di depan dada, sikapnya gagah sekali dan matanya menentang lawan sambil memperhatikan keadaan pendekar yang amat terkenal itu, kemudian berkata, "Pendekar Siluman! Orang lain mungkin takut mendengar namamu, tetapi, aku Sin-jio Ciat Leng Souw sama sekali tidak gentar untuk menghadapimu!"

Suma Han memandang orang tinggi besar itu. Sekelebatan saja matanya yang tajam dapat menaksir keadaan calon lawan ini. Tentu memiliki tenaga yang amat kuat dan ilmu tombak yang sakti. Sayang bahwa orang gagah ini sampai dapat terbujuk menjadi kaki tangan Bhong Ji Kun. Kalau dia menghendaki, dengan kekuatan sihir, tentu Suma Han akan dapat menundukkan calon lawan ini dengan mudah. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini.

Dia telah menunjukkan kegagahannya kepada dua orang isterinya, telah menunjukkan kejantanan dengan memaksa mereka mengikutinya ke Pulau Es. Sekarang pun dia harus memperlihatkan, tidak hanya kepada kedua isterinya tercinta, akan tetapi juga kepada Bhong Ji Kun dan semua pembantunya bahwa nama Pendekar Super Sakti sebagai Majikan Pulau Es bukanlah nama kosong belaka, dan bahwa dia, tanpa bantuan siapa pun, akan dapat mempertahankan pulaunya.

"Bagus! Engkau seorang pemberani dan gagah, Ciat Leng Souw, dan tentu ilmu tombakmu lihai sekali. Cobalah robohkan aku seperti engkau merobohkan pembantuku secara membokong tadi!"

Mendengar tantangan yang mengandung teguran dan ejekan ini merahlah muka Ciat Leng Souw. Dia adalah seorang tokoh yang terkenal di selatan dan belum pernah tombaknya menemui tandingan. Kalau tadi dia turun tangan melukai Phoa Ciok Lin adalah karena melihat wanita itu menggunakan kecurangan dan mengancam keselamatan Bhong Ji Kun. Melihat betapa Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, dan para orang gagah yang membantu bekas Koksu itu kelihatan gentar menghadapi Suma Han, dia sudah merasa penasaran sekali.

Dia sudah banyak mendengar nama Pendekar Super Sakti, akan tetapi melihat betapa pendekar yang disohorkan orang itu hanya seorang yang sederhana dan berkaki buntung, dia makin penasaran dan ingin sekali mencoba kepandaiannya. Kini kesempatan itu tiba. Mendengar ucapan Suma Han, Ciat Leng Souw mengeluarkan suara menggereng dan tombak panjangnya sudah bergerak meluncur dan menyambar ke arah dada Suma Han dengan tusukan kilat.

"Trakkk!"

Tombak itu tertangkis oleh tongkat di tangan kiri Suma Han. Benar saja dugaan pendekar buntung itu, tenaga jago dari selatan ini memang kuat sekali. Betapa pun juga, kalau Suma Han menghendaki, dengan pengerahan sinkang-nya yang mukjizat, dia akan dapat mengalahkan lawan dalam pertemuan tenaga pertama kali itu. Akan tetapi dia tidak mau mengalahkan lawan dengan menggunakan sinkang-nya yang jarang ada tandingannya, juga tidak mau menggunakan kekuatan pandang matanya yang dapat melumpuhkan pikiran orang. Melihat betapa lawannya sudah cepat sekali menarik kembali tombaknya yang tertangkis lalu menggerakkan tombak dengan lihai sehingga tampak sinar panjang menyambar-nyambar, Suma Han cepat menghindar dan selanjutnya dia mempergunakan ilmunya yang amat dahsyat, yaitu Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun.

Ilmu silat yang mukjizat ini merupakan gerakan-gerakan berdasarkan ginkang yang hanya dapat dilakukan oleh orang berkaki buntung! Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung terbang dan betapa pun Ciat Leng Souw mainkan tombaknya dengan hebat, tetap saja gerakan tombaknya tidak dapat mengikuti berkelebatnya bayangan lawan yang makin lama makin cepat seperti kilat menyambar-nyambar dan sebentar saja kepalanya menjadi pusing dan pandang matanya berkunang karena bayangan lawannya menjadi bertambah banyak! Hal ini bukan terjadi karena ilmu sihir, melainkan saking cepatnya Suma Han bergerak.

"Siluman...!" Ciat Leng Souw berseru dan dia mulai merasa gentar.

"Krekkk! Plak! Plak!"

Tubuh yang tinggi besar itu terhuyung ke belakang, wajahnya pucat dan dari mulutnya mengalir darah segar, tombaknya patah-patah dan akhirnya dia roboh terguling dan mengeluh. Suma Han telah berdiri dengan tegak, tongkat di tangan dan dia tidak mempedulikan lagi Ciat Leng Souw yang dirobohkan. Pendekar ini dengan sikap tenang menanti majunya jago lain di pihak musuh. Dia telah berhasil mengalahkan Ciat Leng Souw tanpa membunuhnya, hanya mematahkan tombaknya dan dua kali menampar pundak lawan, membuat tulang kedua pundak Ciat Leng Souw patah!

Melihat ini, Gozan, jagoan Mongol yang seperti raksasa, Liong Khek, Si Muka Pucat yang bersenjatakan pancing, Thai-lek-gu Si Pendek Gendut yang bertangan panjang dengan sepasang golok jagal babinya, dan tiga orang panglima kaki tangan Bhong Ji Kun sudah bergerak maju mengurung Suma Han.

"Tak tahu malu!" Lulu membentak.

"Betapa gagahnya, main keroyokan!" Nirahai juga mengejek.

"Biarkan saja tikus-tikus ini, kalian jaga saja peti itu!" Suma Han menoleh kepada dua orang isterinya sambil tersenyum.

Padahal tanpa dia beritahu pun Nirahai dan Lulu tidak akan bergerak membantu suami mereka karena mereka maklum bahwa menghadapi pengeroyokan itu, suami mereka tidak perlu dibantu, apa lagi mereka bertugas menjaga peti pusaka Istana Pulau Es.

Gozan sebagai seorang jagoan Mongol yang juga memandang rendah Suma Han, apa lagi dia mengandalkan ilmu gulatnya dan tenaganya, sudah tidak sabar lagi dan sambil memekik dia lari menerjang dan hendak menangkap pendekar kaki buntung itu dengan kedua lengannya yang berotot kuat. Menghadapi serangan ini, Suma Han hanya berdiri tenang saja, bahkan ia tidak mengelak sama sekali ketika kedua tangan lawan ini mencengkeram pundak dan pinggangnya. Akan tetapi, betapa terkejut hati Gozan ketika dia merasa seolah-olah jari-jari tangannya mencengkeram baja yang dingin dan keras! Dia mengerahkan tenaga, hendak mengangkat tubuh itu dan membantingnya namun betapa pun dia mengerahkan seluruh tenaganya, tubuh yang hanya berdiri dengan satu kaki itu sama sekali tidak bergoyang.

"Pergilah!" Suma Han membentak sambil menggoyangkan tubuh dengan gerakan berputar.

"Krekk! Krekk!" Gozan terpelanting roboh dan mengaduh-aduh, kedua lengannya tergantung lumpuh karena sambungan siku dan pergelangan kedua tangannya telah terlepas, terbawa oleh gerakan memutar tubuh Pendekar Super Sakti tadi.

Liong Khek dan teman-temannya sudah menerjang maju, menggunakan senjata mereka. Hujan senjata menyambar ke arah tubuh Suma Han. Pendekar ini tenang-tenang saja memegang tongkatnya, kemudian secara tiba-tiba tongkatnya diputar, dan terdengarlah suara nyaring disusul runtuhnya senjata para pengeroyok yang patah-patah dan terpental ke sana-sini, kemudian tampak bayangan Suma Han berkelebat di antara mereka.

Para pengeroyok mengeluh panjang pendek dan seorang demi seorang terlempar ke kanan kiri tanpa dapat melawan lagi karena sambaran tongkat Suma Han yang terarah dan dengan tenaga terbatas para pengeroyok itu menderita patah tulang, tertotok lumpuh, atau terluka dalam! Belasan orang itu roboh hanya dalam waktu belasan jurus saja! Tadinya memang hanya enam orang yang maju, akan tetapi begitu Gozan roboh, semua kaki tangan bekas Koksu itu maju mengeroyok. Kini hanya tinggal Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama berdua saja masih berdiri dengan muka agak pucat, namun sikap mereka ditenang-tenangkan ketika Suma Han menghadapi mereka.

"Bhong Ji Kun, sekarang aku ingin merasai kelihaianmu. Dan Thian Tok Lama, kita adalah lawan-lawan lama yang sudah puluhan tahun tak pernah saling mengukur kepandaian. Agaknya engkau telah memperoleh kemajuan hebat, hanya sayangnya, semenjak dahulu kedudukanmu tidak mengalami kemajuan dan selalu menjadi kaki tangan pemberontak!" Wajah Thian Tok Lama menjadi merah mendengar ejekan ini, karena memang dia dan sute-nya yang sudah tewas, Thai Li Lama, dahulu pernah terlibat pula dalam pemberontakan.

Thian Tok Lama sudah pernah mengalami bertanding melawan Pendekar Super Sakti dan dia merasa gentar karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih kalah jauh oleh Majikan Istana Pulau Es itu, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mengaku kalah, apa lagi di situ ada Bhong Ji Kun yang dia andalkan. Bekas Koksu ini biasanya amat percaya kepada kepandaiannya sendiri, namun biar dia belum pernah bentrok dan mengadu ilmu melawan Pendekar Super Sakti, nama pendekar ini membuat dia merasa gentar, apa lagi setelah menyaksikan betapa dengan mudah saja pendekar itu tadi merobohkan semua anak buahnya, maka nyalinya menjadi kecil.

Dia memang cerdik dan dengan suara dibuat-buat agar tidak kentara perasaan jerinya, dia bertanya, "Suma-tocu, apakah engkau menantang kami maju berdua? Benarkah engkau berani menghadapi kami berdua tanpa bantuan orang lain?" Berkata demikian bekas Koksu itu sengaja melirik ke arah Nirahai dan Lulu.

Kalau seorang saja di antara kedua orang wanita sakti itu maju, tentu dia dan Thian Tok Lama takkan mampu menandinginya. Akan tetapi kalau pendekar kaki buntung sebelah ini dia keroyok bersama Thian Tok Lama dia masih tak percaya kalau mereka berdua tidak akan mampu keluar sebagai pemenang!

"Bhong Ji Kun manusia pengecut!" Nirahai membentak marah. "Beraninya hanya main keroyok. Hayo kau lawan aku kalau memang ada kepandaian!"

"Aku pun siap menghadapimu satu lawan satu!" Lulu juga menantang.

Bhong Ji Kun tersenyum. "Bukan kami yang menantang, melainkan Suma-tocu. Kalau dia tidak berani, kami pun tidak akan memaksa."

"Im-kan Seng-jin tak perlu banyak cakap lagi. Majulah bersama Thian Tok Lama, aku sudah siap menghadapi kalian berdua." Terdengar Suma Han berkata, suaranya tenang karena dia tidak dapat dipanaskan hatinya oleh sikap dan ucapan Bhong Ji Kun yang cerdik.

"Tar-tar-tar...!" Pecut merah di tangan bekas Koksu itu meledak-ledak di udara. Kini dia bersikap sungguh-sungguh dan telah melangkah maju dengan senjata istimewa itu di tangan.

Juga Thian Tok Lama sudah siap, lengan kanannya di gerakkan berputaran perlahan dan tangan itu berubah menjadi biru, sedangkan tangan kirinya memegang golok, diacungkan di atas kepala. Dengan langkah-langkah lambat dua orang itu menghampiri Suma Han sambil mengatur posisi yang baik, pandang mata mereka tidak pernah berkedip ditujukan kepada Pendekar Super Sakti.

Suma Han berdiri dengan sikap tenang sekali, tidak bergerak seperti sebuah arca, tongkat di tangan kiri masih membantu berdirinya kaki tunggal itu, tubuh tegak akan tetapi mukanya menunduk, hanya pandang matanya yang bergerak perlahan mengikuti gerak-gerik kedua orang lawannya.

"Hyaaaattt...! Tar-tar-tar-tar...!"

"Haiiittt...! Sing-sing-sing-wuuutttt!"

Serangan yang datang mengikuti pekik yang keluar dari mulut Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama hampir berbareng itu datang bagaikan hujan ke arah tubuh Suma Han. Pecut merah berubah menjadi sinar merah yang menyambar-nyambar dan meledak-ledak seperti halilintar, bertubi-tubi menyambar ke arah kepala dan dada Pendekar Super Sakti. Golok di tangan kiri Thian Tok Lama merupakan sinar putih yang bergulung-gulung membabat ke arah kaki tunggal lawan, sedangkan tangan kanannya digerakkan dengan dorongan dahsyat ke arah pusar Suma Han, mengeluarkan uap hitam karena pukulan itu adalah pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang (Pukulan Sakti Api Angin dan Uap Hitam), dari perut pendeta Lama ini keluar suara kok-kok seperti ayam betina habis bertelur!

Suma Han maklum betapa lihainya kedua orang yang mengeroyoknya itu. Dia sudah mengenal kelihaian Thian Tok Lama dan sudah dapat mengukur sampai di mana tingkat ilmu kepandaian kakek pendeta dari Tibet ini, akan tetapi dia belum hafal benar akan sifat dan tingkat ilmu silat Bhong Ji Kun, karena itulah maka dia berlaku hati-hati dan tadi hanya bersikap menanti dan berjaga-jaga. Setelah melihat kedua orang lawannya secara tiba-tiba dan serentak menerjangnya secara dahsyat, Suma Han segera mengerahkan tenaga dan mempergunakan ilmunya yang mukjizat, yaitu Soan-hong-lui-kun.

Tubuhnya melesat ke sana-sini, cepatnya melebihi sinar senjata lawan, bagaikan kilat menyambar untuk menghindarkan diri dari serbuan kedua orang lawannya. Ketika tubuhnya dapat lolos dari kurungan serangan kedua orang dan melesat ke udara, tampak sinar merah pecut berkelebat menyambar dari bawah mengejar bayangan Suma Han. Pendekar Super Sakti diam-diam merasa terkejut dan kagum akan kecepatan gerak senjata lawan, namun tidak menjadi gugup, kaki tunggalnya digerakkan dan tubuhnya membalik, tongkatnya menangkis sinar cambuk merah.

"Tarrr...!"

Tampak asap mengepul dari pertemuan dahsyat antara tongkat dan cambuk itu, dan Suma Han sudah melayang turun lagi. Diam-diam dia kagum juga akan kelihaian lawan karena dalam pertemuan tenaga tadi tahulah dia bahwa tenaga sakti bekas Koksu ini lebih kuat dari pada Thian Tok Lama! Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk membanding lebih lama lagi karena cambuk merah itu sudah meledak-ledak mencari sasaran, sedangkan golok di tangan Thian Tok Lama juga sudah menerjangnya secara bertubi-tubi.

Suma Han menggerakkan tongkatnya, menangkis semua serangan kedua orang pengeroyoknya. Sampai tiga puluh jurus lebih pendekar ini hanya menjaga diri, mengelak dan menangkis untuk menguji lawan. Melihat sikap suami mereka itu, Lulu dan Nirahai hampir kehilangan kesabaran mereka. Kalau saja mereka menurutkan watak mereka yang dahulu, tentu mereka sudah tadi-tadi turun tangan membunuh bekas Koksu dan pendeta Tibet itu.

Akan tetapi mereka merasa takut kepada suami mereka, takut kalau suami mereka marah! Apa lagi karena mereka yakin bahwa suami mereka tidak akan kalah, maka kedua orang wanita perkasa itu hanya menonton. Peti pusaka Istana Pulau Es terletak di depan kaki mereka.

Ada pun semua anak buah Bhong Ji Kun biar pun tidak ada yang tewas dan hanya terluka ketika mereka dirobohkan Suma Han, tidak ada yang berani maju lagi membantu Bhong Ji Kun. Mereka hanya menonton dan tentu saja mengharapkan agar dua orang kakek itu dapat mengalahkan Pendekar Super Sakti.

Ternyata harapan mereka itu kosong belaka karena kini Pendekar Super Sakti mulai membuat gerakan balasan dengan tongkatnya. Begitu tongkat di tangan kirinya itu menambah gerakan menangkis dengan serangan dahsyat, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama terdesak hebat dan terpaksa banyak mundur karena betapa pun mereka memutar senjata, beberapa kali ujung tongkat itu tahu-tahu telah menyelonong depan hidung mereka dan mengancam bagian tubuh yang lemah.

Ini memang siasat Suma Han yang dalam segala hal, juga dalam pertandingan, bersikap tenang dan penuh perhitungan. Kalau saja dia tadi tidak bersikap mengalah dan mempertahankan diri, kiranya tidak mudah baginya untuk mendesak kedua orang lawannya yang juga memiliki kepandaian sangat tinggi, terutama sekali mendesak Bhong Ji Kun.

Akan tetapi, ketika dia hanya mempertahankan diri selama tiga puluh jurus lebih tadi, diam-diam dia mempelajari dasar gerak kedua orang lawannya, terutama sekali gerakan cambuk Bhong Ji Kun, karena dia sudah tahu akan kepandaian Thian Tok Lama. Tiga puluh jurus cukuplah bagi Pendekar Super Sakti ini, dan setelah mengenal dasar gerakan lawan, barulah kini dia mengeluarkan kepandaiannya untuk menyerang lawan.

Thian Tok Lama merasa cemas karena hal ini memang sudah dikhawatirkannya. Ada pun Bhong Ji Kun yang tadinya sudah merasa girang dan memandang rendah lawan ketika dia dan temannya seolah-olah sudah mendesak Suma Han, kini merasa terkejut bukan main. Tongkat pendekar kaki buntung itu gerakannya aneh sekali, sama anehnya dengan gerakan tubuh pendekar itu yang dapat mencelat ke sana-sini secara luar biasa, dan dari tongkat itu menyambar keluar hawa pukulan yang membuat bekas Koksu ini makin bingung. Tongkat itu kadang-kadang kaku melebihi baja, kadang-kadang lemas seperti batang pohon cemara, akan tetapi yang lebih hebat lagi, kadang-kadang mengandung hawa serangan panas dan ada kalanya amat dingin!

Mendadak terdengar suara melengking tinggi yang keluar dari dalam dada Pendekar Super Sakti. Tongkatnya bergerak menyambut golok dan cambuk lawan dan tiga buah senjata melekat menjadi satu. Betapa pun Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama berusaha menarik kembali senjata mereka, sia-sia saja seolah-olah cambuk dan golok sudah menjadi satu dengan tongkat!

"Haiiiiittttt!" Bhong Ji Kun menggunakan tangan kiri memukul dengan telapak tangan didorongkan ke depan.

"Hyaaattt!" Thian Tok Lama sudah menggunakan pula tangan kanannya, melakukan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang mengeluarkan uap hitam.

Suma Han maklum akan bahaya maut ini. Pukulan tangan kosong Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan Hek-in-hwi-hong-ciang dari pendeta Lama itu. Cepat dia melepaskan tongkatnya selagi kedua lawannya mencurahkan perhatian pada pukulan mereka, kemudian dengan tubuh tegak pendekar kaki tunggal ini sudah mendorongkan pula kedua tangannya ke depan menyambut pukulan kedua lawannya.

"Desss! Desss!"

Tubuh Bhong Ji Kun menggigil dan terhuyung ke belakang. Dia telah terkena hantaman Inti Es yang selain menolak pukulannya sendiri juga dengan kekuatan dahsyat masih mendorongnya. Sedangkan Thian Tok Lama terlempar ke belakang dan terbanting roboh dengan muka merah seperti dibakar. Dia tadi dilawan dengan pukulan panas Inti Api yang luar biasa dahsyat dan kuatnya.

Dengan kemarahan meluap-luap, Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama sudah meloncat bangun lagi tanpa mempedulikan darah yang menetes keluar dari ujung bibir mereka. Bhong Ji Kun menerjang dengan cambuknya yang tadi sudah terlepas dari tongkat Suma Han. Akan tetapi karena benturan tenaga sakti tadi telah mendatangkan luka di dalam dadanya, gerakannya tidak sedahsyat tadi dan menghadapi serangan ini, Suma Han yang telah memegang tongkatnya lagi bersikap tenang sekali.

"Tarr-tarrrr...!"

Cambuk merah itu menyambar ke arah kepala, ujungnya seperti patuk burung garuda mematuk ke arah ubun-ubun kepala Suma Han. Dengan sikap tenang Suma Han menggerakkan tongkatnya menangkis, akan tetapi tiba-tiba tampak sinar kilat berkeredepan menusuk ke arah dada pedekar itu. Suma Han mengeluarkan seruan kaget, maklum bahwa lawannya menggunakan senjata yang luar biasa ampuhnya, maka sambil menggerakkan tubuh mencelat ke kanan, tongkatnya bergerak menangkis senjata yang berkeredepan itu.

"Cringggg! Trakkkk!" Tongkat di tangan Pendekar Super Sakti itu patah menjadi dua bertemu dengan pedang itu.

"Li-mo-kiam...!" Suma Han berteriak kaget. Cepat dia mendorongkan kedua tangannya, yang kiri memukul ke arah pergelangan tangan kiri lawan yang memegang Pedang Iblis itu, sedangkan yang kanan mendorong ke arah dada Bhong Ji Kun.

"Desss! Augghhh...!"

Pedang Iblis Betina terlepas dari pegangannya dan cepat disambar oleh Suma Han, sedangkan tubuh bekas Koksu itu terjengkang seperti dihantam palu godam raksasa yang amat kuat. Mulutnya muntahkan darah segar. Dia terkena pukulan yang mengandung tenaga sakti Inti Api, yang sama sekali tidak diduganya karena dia mengira bahwa lawannya akan menggunakan Im-kang seperti tadi. Apa lagi dia telah mempergunakan Li-mo-kiam yang dirampasnya dari Kwi Hong. Melihat pendekar itu terkejut dan tongkatnya patah, hatinya sudah girang sekali, membuat kewaspadaannya berkurang.

"Singggg... trakkkk! Desss!"

Golok di tangan Thian Tok Lama patah-patah bertemu dengan Li-mo-kiam, tangan kanan Thian Tok Lama yang melancarkan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang bertemu dengan tangan kiri Suma Han yang menyambutnya dengan Im-kang sehingga pendeta Lama dari Tibet ini terpental sampai beberapa meter jauhnya dan roboh pingsan dengan muka pucat kebiruan!

Suma Han memandang Li-mo-kiam di tangannya, mengebutkan bajunya dan kemudian menghampiri Bhong Ji Kun yang sudah merangkak bangun sambil meringis. Suma Han memandang bekas Koksu itu dan berkata dengan suara dingin penuh wibawa, "Bhong Ji Kun, bawa semua kaki tanganmu ke perahumu dan lekas tinggalkan tempat ini!"

Sambil meringis Bhong Ji Kun bangkit berdiri, mukanya pucat dan mulutnya masih berlepotan darahnya sendiri. Dia memandang ke sekelilingnya. Thian Tok Lama masih pingsan dan anak buahnya tidak seorang pun tewas, akan tetapi semua menderita luka yang membuat mereka tidak berdaya. Dia mengangguk, menarik napas panjang dan berkata, "Engkau hebat. Pendekar Super Sakti. Sekali ini aku mengaku kalah, akan tetapi tunggu saja, akan datang saatnya aku menebus kekalahan ini."

Sambil terhuyung-huyung, bekas Koksu ini mengambil cambuk merahnya, kemudian menyuruh anak buahnya membawa teman yang lukanya agak berat, menggotong Thian Tok Lama, kemudian tanpa berkata apa-apa kepada Suma Han dia bersama anak buahnya naik perahu yang segera dilayarkan meninggalkan Pulau Es, menuju ke selatan.

"Anjing-anjing licik macam itu mengapa tidak dibunuh saja?" Baru sekarang Nirahai membuka mulut mencela suaminya.

"Memang sepantasnya mereka dibunuh, kalau tidak kelak hanya akan menimbulkan kekacauan saja," Lulu juga berkata tak puas, dan memandang bekas kakak angkat yang kini menjadi suaminya yang tercinta itu.

Suma Han menarik napas panjang. "Aku kasihan kepada orang-orang sesat seperti itu. Mudah-mudahan kekalahan mereka ini menjadi pelajaran dan membuat mereka bertobat. Pula, aku tidak menghendaki pembunuhan di pulau ini, apa lagi aku tidak ingin memulai hidup baru kita dengan pembunuhan."

"Akan tetapi mereka telah membunuh pembantumu!" kata Nirahai.

Suma Han terkejut dan menengok, seolah-olah baru teringat kepada pembantunya yang setia itu. Dengan cepat dia menghampiri, diikuti oleh Nirahai dan Lulu. Mereka bertiga berlutut dekat Phoa Ciok Lin yang masih rebah di atas tanah dipeluki oleh Kwi Hong yang masih menangis terisak-isak.

Melihat keadaan Phoa Ciok Lin yang dadanya ditembus tombak, Suma Han maklum bahwa nyawa pembantunya itu tak mungkin ditolong lagi. Melihat muridnya atau keponakannya, alisnya berkerut. Dara inilah yang menjadi gara-gara, pikirnya penuh kekecewaan dan penyesalan.

"Perlu apa engkau menangis lagi? Menangis setelah terlambat tiada gunanya! Kenapa sebelumnya engkau tidak berpikir panjang dan percaya kepada orang-orang seperti mereka?"

Tangis Kwi Hong semakin meledak ketika dia mendengar suara yang bernada penuh teguran dari pamannya itu. Dia merebahkan tubuh Phoa Ciok Lin perlahan-lahan di atas tanah, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Han sambil menangis dan berkata, "Harap Paman bunuh saja aku yang berdosa ini!"

Suma Han memandang tajam, kerut di alisnya makin mendalam. "Hemmm, pernahkah aku mengajarmu bersikap seperti pengecut ini? Setiap orang membuat kesalahan, dan sikap terbaik adalah menyadari kesalahan itu, bukan dengan penyesalan yang menimbulkan keinginan untuk bunuh diri! Sekarang aku mempunyai tugas untukmu, jika engkau melaksanakan tugas ini dengan baik berarti engkau mempunyai keinginan untuk menebus kesalahanmu. Sanggupkah engkau?"

"Biar harus mengorbankan nyawa, akan saya laksanakan tugas itu, harap Paman lekas beritahukan kepada saya."

"Kau pergilah meninggalkan pulau ini, carilah Milana sampai dapat, bawa dia ke pulau ini menyusul kami. Juga kau selidiki di mana adanya Gak Bun Beng yang sudah kusuruh mencari Milana. Mereka telah kami tunangkan dan keduanya harus menyusul kami di sini untuk dilaksanakan pernikahannya. Juga kau harus mencari Wan Keng In, selain minta dia menyerahkan Lam-mo-kiam juga katakan kepadanya bahwa ibunya telah berada di Pulau Es, menjadi isteriku. Nah, berangkatlah!"

Wajah Kwi Hong seketika pucat ketika dia mendengar perintah ini. Biar pun amat sukar menundukkan Wan Keng In, apa lagi memaksanya menyerahkan Lam-mo-kiam dan mengajaknya ke Pulau Es, namun hal itu masih tidak membuat dia terkejut. Yang membuat wajahnya pucat adalah ketika dia mendengar akan pertunangan antara Gak Bun Beng dan Milana! Jantungnya seperti ditusuk rasanya dan cepat menundukkan mukanya untuk menyembunyikan kepucatan wajahnya dan dua titik air mata yang sudah bergantung di bulu matanya. Dia mengangguk, kemudian menerima pedang Li-mo-kiam yang disodorkan pamannya. Tanpa menjawab, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia sudah berlari-lari ke pantai, meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang tadi dipergunakan oleh Phoa Ciok Lin, dan meluncurkan perahu dengan cepatnya menuju ke utara, melalui celah-celah pegunungan es yang terapung di lautan.

Suma Han berdiri tegak memandang bayangan keponakannya itu, alisnya berkerut. Pendekar Super Sakti ini diam-diam merasa kasihan dan terharu. Dia memang sengaja tadi memberitahukan tentang pertunangan antara Bun Beng dan Milana, karena dia tahu bahwa keponakannya itu menaruh hati cinta kepada Bun Beng. Dia ingin agar keponakannya yang mudah dibujuk orang jahat itu belajar melihat kenyataan hidup dan menghadapinya dengan penuh keberanian! Hal ini akan menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri, membuatnya waspada dan tidak lengah. Mengingat betapa dia telah menggembleng dara itu, dan bahwa Bu-tek Siauw-jin juga sudah menurunkan ilmu kepada keponakannya itu, dia tidak khawatir lagi akan keselamatan Kwi Hong yang tentu sudah cukup kuat untuk menjaga diri, apa lagi dengan Li-mo-kiam di tangannya.

"Taihiap engkau sungguh kejam...!"

Mendengar suara Phoa Ciok Lin ini, Suma Han cepat menengok lalu berlutut di dekat kedua isterinya. Kiranya pembantunya itu telah siuman dari pingsannya dan sekarang memandang kepadanya dengan muka pucat sekali dan mata sayu. Dengan terharu dia memegang tangan wanita yang sedang sekarat itu tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.

"Taihiap, apakah engkau tidak tahu... bahwa Kwi Hong mencinta Bun Beng seperti... seperti... aku mencintamu pula? Aku bukan seorang muda, aku dapat melihat bahwa cintaku sia-sia, bahwa aku bertepuk sebelah tangan... dan demi cintaku... aku bahagia menyaksikan engkau telah dapat berkumpul dengan kedua orang wanita yang kau cinta. Aku... aku... demi cintaku kepadamu, aku dengan senang hati suka berkorban, aku akan mati dengan hati tenteram... akan tetapi Kwi Hong masih muda sekali! Dapatkah dia bersikap seperti aku? Taihiap... kasihan dia... entah apa yang akan terjadi dengan dia... tapi... aku percaya kepadamu Taihiap, selamat tinggal...!"

Phoa Ciok Lin menghembuskan napas terakhir. Agaknya kekhawatiran dalam hatinya mengenai nasib Kwi Hong tidak dapat mengusir kebahagiaan hatinya menyaksikan orang yang amat dikasihinya itu akhirnya dapat berkumpul dengan Lulu dan Nirahai, sehingga tepat seperti yang diucapkannya tadi, dia menghembuskan napas terakhir dengan senyum di bibirnya!

Suma Han menarik napas panjang, berbisik, "Ciok Lin, aku pun cinta padamu, akan tetapi bukan cinta seperti yang kau maksudkan itu..."

Kemudian, dengan dibantu oleh Lulu dan Nirahai yang tidak berkata sesuatu, Suma Han menguburkan jenazah Phoa Ciok Lin di bagian yang paling tinggi di pulau itu agar kuburannya tidak selalu tertimbun oleh salju.

Ketika mereka bertiga berdiri di depan kuburan itu dan kebetulan mereka menghadap ke selatan, mereka melihat udara di selatan amat gelap dan tampak kilat menyambar-nyambar dan awan hitam bergumpal-gumpal amat menakutkan. Nirahai yang belum pernah menyaksikan penglihatan seperti itu menjadi ngeri dan memegang tangan suaminya.

"Ihhh! Apakah di sana itu?"

Lulu yang menjawabnya, karena Lulu sudah bertahun-tahun tinggal di Pulau Es ini, "Badai. Di selatan ada badai yang mengamuk, Suci. Dan anjing-anjing tadi yang di sini mendapat pengampunan, ternyata tidak diampuni oleh Tuhan. Mereka tentu tewas semua ditelan badai!"

"Untung bahwa Kwi Hong tadi mengambil jalan ke utara," Suma Han berkata.

Dia menggandeng tangan ketua orang wanita itu, dan dengan penuh kasih sayang mereka bertiga berjalan bergandengan menuju ke istana Pulau Es, menuju ke hidup baru setelah belasan tahun ketiga orang sakti ini merana oleh cinta yang putus di antara mereka. 


BERSAMBUNG KE JILID 23


Sepasang Pedang Iblis Jilid 22

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 22

Kakek yang tadinya kelihatan diam seperti arca itu, kini membuka mata memandang dan Keng In juga kelihatan terkejut karena dia tidak menyangka-nyangka bahwa dara yang dicintanya itu ternyata adalah puteri Pendekar Super Sakti. Cui-beng Koai-ong mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau marah, kemudian tubuhnya mencelat dekat, tangannya bergerak. Milana berusaha mengelak, namun kalah cepat.

"Brettt-brett-brettt...!"

Milana menjerit kaget melihat tubuhnya yang sudah menjadi telanjang bulat sama sekali karena tiga kali renggutan oleh tangan Cui-beng Koai-ong tadi sudah membuat seluruh pakaiannya, luar dan dalam, terobek dan tanggal semua.

"Suhu...!"

Cui-beng Koai-ong melemparkan pakaian itu ke atas tanah. "Perkosa dia! Hayo kau perkosa puteri Pendekar Siluman ini!" katanya kepada Keng In.

Keng In membuka jubah luarnya dan menubruk gadis telanjang bulat yang matanya terbelalak lebar dan mukanya pucat, yang dengan sia-sia mencoba menggunakan tangan untuk menutupi tubuhnya, menutupkan jubah itu menyelimuti tubuh Milana. Dengan cepat gadis itu menggunakan jubah menutupi tubuhnya dan memandang kepada kakek itu dengan sinar mata penuh kebencian akan tetapi juga kengerian.

"Keng In, perkosa dia!" Kembali Cui-beng Koai-ong berkata. "Kalau tidak, aku yang akan melakukannya!"

"Suhu, jangan, Suhu. Aku ingin mendapatkan dia dengan suka rela karena aku cinta padanya."

"Aku tidak peduli kau cinta atau tidak. Saat ini aku ingin melihat engkau memperkosa seorang perempuan, dan kau harus melakukan hal itu!"

"Suhu, tunggu...! Ada orang...!" Wan Keng In berseru dan meloncat ke depan.

Benar saja tampak bayangan berkelebatan dan muncullah lima orang yang gerakannya gesit dan bersikap gagah. Empat orang laki-laki setengah tua yang bersenjata pedang dan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun, juga gagah sikapnya, bersenjata sebatang cambuk.

"Cepat bebaskan Nona itu!" Wanita itu sudah membentak dan cambuknya bergerak mengeluarkan suara meledak-ledak. Juga empat orang laki-laki itu sudah menerjang maju, disambut oleh Keng In yang sudah mengeluarkan pedangnya. Begitu pemuda ini mengelebatkan pedangnya, tampak sinar berkilat dan sinar ini menyambar ke arah empat orang penyerangnya.

"Cringgg trak-trak-trak-trak!"

Empat batang pedang di tangan empat orang laki-laki gagah itu patah semua ketika bertemu dengan Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In, bahkan disusul robohnya tubuh mereka yang hampir putus menjadi dua potong. Mereka roboh dan tak bergerak lagi, mandi darah mereka sendiri.

Milana tadinya hendak bergerak membantu para penolongnya, akan tetapi terpaksa mengurungkan niatnya karena teringat akan tubuhnya yang telanjang bulat dan hanya terselimut jubah luar. Kalau dia bergerak, tentu jubahnya terbuka! Apa lagi melihat betapa dalam segebrakan saja Keng In telah membunuh empat orang itu, harapannya lenyap kembali.

Wanita bercambuk itu menjadi kaget dan marah. Cambuknya menyambar ke arah Wan Keng In yang sambil tersenyum telah menyarungkan Lam-mo-kiam kembali. Cambuk menyambar dan mengenai leher Keng In, melibat leher dan wanita itu menarik. Namun, tubuh Keng In sama sekali tidak bergoyang, bahkan sekali Keng In menarik leher ke belakang, tubuh wanita itu terhuyung ke depan, tertangkap oleh pelukan kedua lengan Keng In. Wanita itu hendak meronta, akan tetapi cambuknya sudah mengikat kedua tangannya sehingga tidak dapat berkutik.

"Apakah Suhu masih tetap ingin melihat aku memperkosa perempuan?" Keng In yang sengaja tidak membunuh wanita ini karena ingin menolong Milana, menoleh kepada gurunya.

"Hem, hayo cepat!" gurunya yang gila itu berkata.

Keng In menotok wanita itu sehingga menjadi lemas, kemudian dia menanggalkan seluruh pakaian wanita itu satu demi satu, melempar-lemparkan pakaian itu kepada Milana sambil berkata, "Milana, kau pakailah pakaiannya, pakaianmu sudah robek semua."

Milana tidak mengerti apa yang akan terjadi, akan tetapi melihat pakaian itu dilempar-lemparkan kepadanya, ia lalu memakainya. Untung bahwa bentuk tubuh wanita itu hanya sedikit lebih besar dari tubuhnya, maka pakaian itu, dari pakaian dalam sampai pakaian luar, dapat dipakainya dengan baik. Akan tetapi, betapa kaget dan ngeri hati Milana ketika melihat Keng In mulai menanggalkan pakaiannya sendiri kemudian menubruk wanita tawanan yang sudah menggeletak di atas rumput tanpa pakaian itu.

"Kau...!" Milana marah bukan main, lupa diri dan bergerak menyerang Keng In.

Tetapi, dengan tangan kirinya Keng In menyambar cambuk wanita tadi, menggerakkan cambuk itu sehingga ujungnya menotok pundak Milana yang terguling roboh dan tidak mampu bergerak lagi. Gadis ini mula-mula terbelalak memandang penglihatan yang terjadi hanya dua meter di depan matanya, kemudian dia memejamkan matanya dan seluruh tubuhnya menggigil. Hatinya penuh dengan kebencian dan dia berjanji untuk membunuh Wan Keng In dan gurunya itu karena dia menganggap mereka itu bukan manusia, kejam melebihi binatang buas, bahkan iblis sendiri belum tentu seganas dan sejahat mereka!

Biar pun dia telah memejamkan matanya, namun Milana tetap saja mendengar rintihan wanita itu. Betapa heran dirinya setelah beberapa lama, terdengar wanita itu berkata diseling isak, "Aku... aku akan membantumu... aku bersedia menjadi pembantumu yang setia... asal jangan bunuh aku... ampunkanlah aku..., aku telah berani menentang seorang gagah seperti engkau..."

Ucapan itu terhenti, terdengar suara "prakkk!" dan keadaan lalu menjadi sunyi. Tidak terdengar apa-apa lagi. Setelah agak lama, baru Milana merasa pundaknya disentuh dan dia terbebas dari totokan. Dibukanya matanya dan dia terbelalak. Sinar matahari pagi menimpa tubuh yang telanjang bulat, tubuh yang berkulit putih bersih, akan tetapi kini kulit yang putih kuning itu telah berlepotan darah, di antaranya darah yang masih menetes keluar dari kepalanya yang pecah!

"Ihhh...!" Milana menutupi mata dengan kedua tangannya.

Wan Keng In yang sudah berpakaian lagi itu merangkulnya dan berbisik, "Terpaksa kulakukan untuk memuaskan hati Suhu, dan sebagai penggantimu..."

Biar pun masih nanar, Milana maklum apa artinya semua itu, dan kejijikan terhadap Keng In makin menghebat. Direnggutnya secara kasar tubuhnya dari rangkulan Keng In.

Tiba-tiba Wan Keng In meloncat ke atas batu besar di puncak itu, memandang ke arah sekeliling. Kemudian dia melayang turun lagi, berkata kepada suhu-nya yang masih duduk di atas batu, "Suhu, kurang lebih lima puluh orang telah mengurung puncak ini, agaknya teman-teman lima orang itu. Bagaimana baiknya? Apakah teecu amuk dan bunuh saja mereka?"

"Mana anak buah kita?" Kakek itu berkata tak acuh.

"Belum ada yang muncul, Suhu."

"Hemmm..., panggil mereka. Suruh mereka basmi anjing-anjing itu!"

Keng In lalu membuat api unggun, terus ditambahi dahan dan daun kering sehingga bernyala besar sekali. Kemudian dia menggunakan tenaga khikang untuk meniup dan setiap kali tiup, segumpal asap hitam bergulung-gulung ke angkasa. Beberapa kali dia lakukan hal ini dalam jarak-jarak waktu tertentu. Milana hanya memandang dengan heran. Hatinya tegang. Benarkah ada lima puluh orang mengurung tempat ini? Siapakah mereka? Dan siapa pula lima orang yang berusaha menolongnya akan tetapi tewas semua ini?

"Ibuuuuuuu...!" Tiba-tiba Milana berteriak sambil mengerahkan khikang-nya. Suaranya melengking tinggi dan bergema di seluruh lereng gunung.

"Milana, jangan...!" Keng In meloncat dengan sigapnya, mengejar gadis yang berusaha melarikan diri itu dan seperti ketika pertama kali dia menculik Milana, gadis itu dikempit pinggangnya dan dipanggulnya setelah ditotok lemas.

Milana meronta-ronta tanpa hasil. Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, akan tetapi suara itu mengecewakan hati Milana karena bukan lengking suara ibunya, bukan pula suara ayahnya yang sudah dikenalnya. Dan ternyata memang bukan karena Keng In segera mengeluarkan teriakan yang sama sebagai jawaban. Tak lama kemudian Milana mendengar suara hiruk-pikuk orang bertanding di sekeliling puncak.

"Suhu, anak buah kita sudah mulai berpesta membunuhi mereka," Keng In berkata dan gurunya hanya mendengus.

"Tahukah engkau, Milana? Anak buah kita, para penghuni Pulau Neraka, telah datang. Sebentar lagi orang-orang yang mengurung kita tentu akan terbasmi dan kita akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Neraka. Jangan mencoba untuk lari lagi, Manis. Kau tahu hal itu percuma, dan pula, bukankah aku sudah bersikap baik terhadapmu? Aku cinta padamu. Milana, berilah ciuman..." Keng In mendekatkan mulutnya, akan tetapi Milana berkata dengan suara mendesis saking marahnya.

"Aku berjanji takkan melarikan diri, berjanji akan menyerah. Akan tetapi kalau kau berani menciumku, berani menjamahku, biar pun aku tidak dapat melawanmu, aku akan membunuh diri!"

Mulut Keng In yang sudah hampir menyentuh pipi Milana itu ditarik ke belakang.

"Aihhh... jangan, Manis. Kalau kau bunuh diri, habis aku bagaimana...?" Ucapannya terdengar tolol dan kekanak-kanakan, atau seperti ucapan orang yang tidak waras otaknya.

"Kalau begitu, lepaskan aku. Aku takkan lari."

Keng In cepat menurunkan tubuh Milana dan membebaskan totokannya. Mereka bertiga duduk di situ menanti sampai suara hiruk-pikuk dari senjata beradu dan teriakan kematian diseling sorak kemenangan itu makin berkurang, akhirnya berhenti. Tak lama kemudian tampak bermunculan tiga puluh lebih orang-orang Pulau Neraka yang mukanya berwarna-warni, ada yang merah, biru, hijau, merah muda dan hijau pupus. Mereka semua menjatuhkan diri berlutut di depan Keng In dan Cui-beng Koai-ong.

"Mohon ampun atas kelambatan kami, Siauw-tocu."

"Tidak mengapa," kata Keng In kepada seorang kakek berkepala gundul bermuka merah muda yang memimpin rombongan orang Pulau Neraka itu. "Kong To Tek, siapa para pengepung tadi dan bagaimana keadaan mereka sekarang?"

"Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang bergabung dengan pengawal-pengawal yang dipimpin oleh seorang panglima pengawal. Kami telah menyerbu dan menurut penglihatan kami, mereka yang jumlahnya lima puluh dua orang telah mati semua, Siauw-tocu. Kami menanti perintah selanjutnya."

"Bagus! Sediakan sebuah perahu, kami hendak kembali ke Pulau Neraka."

Orang-orang yang berlutut itu mengangkat muka dan kelihatan terkejut dan tidak menyangka-nyangka. "Dan kami..., Siauw-tocu?"

"Kalian juga. Kita bangun kembali pulau kita, aku yang akan memimpin bersama calon isteriku ini, dibantu oleh Suhu."

Orang-orang itu bersorak girang. "Perahu sudah siap di pantai dekat goa Naga Hitam, Siauw-tocu."

Sebentar saja mereka sudah menuntun datang beberapa ekor kuda, yaitu tunggangan para penyerbu yang telah tewas semua itu. Para pengurung puncak itu memang benar rombongan pengawal dari kota raja yang dipimpin oleh seorang panglima. Rombongan ini berhasil mengikuti jejak Wan Keng In dan di sepanjang jalan mereka minta bantuan orang-orang kang-ouw, termasuk empat orang dan seorang wanita yang telah lebih dulu menjadi korban keganasan Wan Keng In itu.

"Apakah Suhu juga hendak menunggang kuda?" Wan Keng In bertanya ragu kepada suhu-nya. Biar pun kakek itu gurunya, namun dia sama sekali tidak mengenal betul keadaan kakek itu, yang gerak-geriknya penuh rahasia dan tidak pernah mau bercerita tentang dirinya sendiri.

Cui-beng Koai-ong mendengus, kemudian sekali berkelebat, tubuhnya yang kaku itu telah lenyap. "Suhu telah pergi lebih dulu ke Pulau Neraka. Hanya kalian kawal kami berdua. Semua orang harus tunduk dan hormat kepada Puteri Milana ini, dia adalah calon isteriku. Siapa yang membuat hatinya tidak senang akan kubunuh!"

Semua orang itu adalah tokoh-tokoh Pulau Neraka dan sebagian di antara mereka sudah mengenal Milana, bahkan sudah pernah bentrok dengan gadis ini ketika Milana memimpin orang-orang Thian-liong-pang. Mereka tahu bahwa Milana adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, maka mendengar bahwa dara yang cantik jelita dan perkasa itu akan menjadi isteri majikan mereka, hati mereka menjadi terheran-heran, akan tetapi juga girang.

Berangkatlah Keng In dengan rombongannya. Milana yang tidak mempunyai harapan untuk dapat lolos lagi itu, kini menurut saja. Yang penting baginya sekarang adalah mencegah Keng In memaksanya sebagai isterinya, dan tentang meloloskan diri, akan diatur sebaiknya kalau sudah ada kesempatan terbuka.

Tiada halangan terjadi yang menghalangi rombongan ini sampai mereka menggunakan perahu melanjutkan perjalanan dan tiba di Pulau Neraka. Milana merasa ngeri melihat keadaan pulau ini. Sebuah pulau liar penuh dengan binatang buas yang beracun, dan biar pun sudah pernah diserbu dan dibakar oleh pasukan pemerintah yang amat kuat, kini tidak kehilangan keangkerannya.

Dia tidak banyak memperlihatkan perlawanan, bahkan membantu ketika Keng In dan anak buahnya membangun kembali bangunan yang telah terbakar. Bahkan dia bersikap baik terhadap Cui-beng Koai-ong yang sudah lebih dulu berada di pulau itu. Dengan perantaraan Keng In, gadis ini malah mulai mempelajari ilmu-ilmu aneh dan mukjizat dari Cui-beng Koai-ong!

"Aku hanya bersedia menjadi isterimu dengan satu syarat, yaitu ayah bundaku harus menyetujuinya. Sebelum itu, biar kau paksa sekali pun, aku tidak akan menurut dan kalau kau menggunakan paksaan, aku akan membunuh diri lalu rohku akan selalu mengejarmu untuk membalas dendam."

Ucapan yang dikeluarkan Milana dengan sungguh-sungguh ini membuat Wan Keng In maklum bahwa dia harus memenuhi permintaan itu sebelum dia dapat menundukkan dara itu agar secara suka rela menjadi isterinya. Dia merasa tersiksa sekali karena harus menahan nafsunya yang kadang-kadang membakar dirinya. Dia terlalu mencinta Milana dan ingin hidup selamanya di samping wanita ini, maka betapa pun sukarnya, dia akan mengusahakan agar orang tua dara itu menyatakan persetujuannya, kalau perlu dengan kekerasan dan untuk ini dia mengandalkan bantuan gurunya.

Mulailah sebuah kehidupan baru bagi Milana, di atas Pulau Neraka yang sedang dibangun oleh Keng In, di mana dia dikenal sebagai calon isteri Siauw-tocu, dan di mana dia harus mempergunakan seluruh kecerdikannya untuk menyelamatkan diri dari gangguan Keng In tanpa menimbulkan kecurigaan pemuda luar biasa itu.

******************


Andai kata tidak ada Kwi Hong yang menjadi petunjuk jalan, biar pun Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama dan beberapa orang panglima pembantunya pernah melawat ke Pulau Es, namun agaknya perahu mereka itu takkan pernah dapat sampai ke Pulau Es. Berkat petunjuk Kwi Hong, biar pun makan waktu sampai dua pekan, akhirnya sampai juga perahu besar itu dan mendarat di Pulau Es. Kwi Hong melompat ke darat lebih dahulu. Hatinya terharu sekali menyaksikan pulau di mana dia tinggal sejak kecil yang kini keadaannya sudah banyak rusak, istana pulau yang dari jauh sudah kelihatan runtuh bekas terbakar.

Teringat ia akan pemuda Thung Ki Lok yang mencintanya dan tewas oleh pengkhianat Kwee Sui, teringat akan para paman pembantu Pendekar Super Sakti yang tewas dalam pertempuran ketika pasukan pemerintah menyerbu. Hatinya menjadi terharu sekali, akan tetapi tidak ada setitik pun air mata tumpah. Hati dara ini telah mengeras karena gemblengan-gemblengan pengalamannya.

Para tokoh yang membantu Bhong Ji Kun mengikuti bekas Koksu itu meloncat turun pula. Mereka itu adalah Thian Tok Lama yang mengiringkan Pangeran Yauw Ki Ong yang digandeng oleh dua orang selirnya, yaitu bekas-bekas pelayan yang masih bisa melarikan diri bersamanya, disusul oleh Liong Khek, tokoh kurus muka pucat yang tidak ketinggalan membawa senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang gagang pancing lengkap dengan tali dan mata kailnya, Gozan jagoan Mongol yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa, Thai-lek-gu Si Pendek Gendut bertangan panjang yang bersenjata sepasang golok, dan seorang yang tinggi besar bersenjata tombak panjang.

Orang ini sikapnya kereng, gerak-geriknya gesit dan dihormat oleh pembantu lainnya. Dia adalah seorang ahli tombak dari selatan, berjuluk Sin-jio (Tombak Sakti) bernama Ciat Leng Souw. Memang ilmu tombaknya hebat bukan main, juga tenaga sinkang-nya amat kuat sehingga di dalam rombongan itu, kiranya hanya Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama saja yang akan mampu menandingi tombaknya yang lihai! Pantas kalau dia dihormat oleh para pembantu bekas Koksu itu.

Selain para jagoan ini, juga ada beberapa orang panglima yang berkepandaian tinggi, dan beberapa orang pelayan biasa, tukang kuda yang bertugas sebagai tukang perahu dalam pelayaran itu. Mereka berbondong turun dan kasihan sekali para pelayan yang tidak memiliki kepandaian tinggi karena begitu mendarat di Pulau Es, mereka sudah menderita kedinginan!

Rombongan Pangeran Yauw Ki Ong yang dikawal Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun ini bersama Kwi Hong jumlahnya masih ada dua puluh orang. Segera atas perintah Bhong Ji Kun, mereka mulai membetulkan bekas istana Pulau Es yang telah terbakar itu. Karena istana itu memang besar dan jumlah mereka tidak begitu banyak, maka tempat itu cukup untuk melindungi mereka dari hawa dingin. Sebuah api unggun yang besar terpaksa harus dinyalakan terus di dalam istana itu melawan hawa dingin.

Ketika Kwi Hong yang telah rindu kepada pulau ini mengadakan peninjauan seorang diri, kesempatan ini dipergunakan oleh Bhong Ji Kun untuk mengajak Pangeran Yauw dan para kaki tangannya untuk berunding. Mereka tadinya membujuk Kwi Hong selain untuk menarik Pendekar Super Sakti di pihak mereka, juga untuk memanfaatkan tenaga gadis itu. Sekarang, setelah Kwi Hong berhasil mengantar mereka ke Pulau Es, mereka harus cepat mengambil keputusan menundukkan gadis itu sebelum gadis berwatak keras dan aneh sukar ditundukkan itu berubah pikiran dan memberontak.

Tetapi diam-diam Bhong Ji Kun dan dibantu oleh Thian Tok Lama dan Sin-jio Ciat Leng Souw melakukan penyelidikan di sekitar pulau sambil mencari-cari pusaka-pusaka Pulau Es itu. Namun usaha mereka tidak ada hasilnya, maka pada keesokan harinya, Bhong Ji Kun mengundang Kwi Hong untuk mengadakan perundingan. Mereka semua berkumpul di dalam ruangan istana, tentu saja para pelayan dan dua orang selir Pangeran Yauw yang tidak ikut.

Kwi Hong masih belum lagi menyadari keadaannya sehingga dia tidak curiga ketika dipersilakan duduk, di antara Thian Tok Lama dan Bhong Ji Kun, sedangkan Ciat Leng Souw duduk di sebelah belakangnya, berhadapan dengan Pangeran Yauw dan para panglima.

"Giam-lihiap, kami berterima kasih sekali bahwa lihiap telah suka membawa kami untuk berlindung di pulau ini. Terpaksa kita semua harus tinggal untuk sementara di sini selama kekuatan pasukan kita belum tersusun. Kita harus mengadakan hubungan dengan saudara-saudara di Mongol, Tibet, dan Nepal, juga mengadakan perhubungan baru dengan kaum orang gagah di pedalaman yang mendendam sakit hati kepada Kaisar. Karena itu, sambil menanti keadaan dan untuk menghilangkan rasa kesepian di pulau yang dingin ini, kami harap saja Lihiap suka memperlihatkan setia kawan dan suka mengeluarkan kitab-kitab pusaka Pulau Es agar kita dapat mempelajarinya untuk menambah pengetahuan."

Ucapan Bhong Ji Kun ini terdengar seperti guntur di siang hari oleh Kwi Hong. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa bekas Koksu ini akan mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena soal pusaka Pulau Es tadinya tidak pernah disinggung dalam persekutuan dan kerja sama mereka.

"Apakah yang kau maksudkan, Bhong-Koksu?" Biar pun sekarang bukan Koksu lagi, namun Kwi Hong dan beberapa orang lain masih menyebut Koksu, hal ini adalah karena memang dia dicalonkan sebagai Koksu juga kalau Pangeran Yauw Ki Ong berhasil dengan pemberontakan itu dan merebut tahta kerajaan.

"Maksudku sudah jelas, Nona." Suara Bhong Ji Kun terdengar halus namun dingin dan penuh ejekan. "Ketika kami bertugas menyerbu pulau ini, kami tidak dapat menemukan pusaka-pusaka yang tersimpan di Istana Pulau Es. Padahal Istana Pulau Es dahulu adalah tempat tinggal Manusia Dewa Bu Kek Siansu yang terkenal. Maka kami merasa yakin bahwa pusaka-pusaka itu tentulah disimpan dan disembunyikan, dan Nona sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, tentu dapat mengetahui tempat penyimpanannya."

Bukan main marahnya hati Kwi Hong. Mukanya menjadi merah sekali dan suaranya lantang ketika dia menjawab, "Aku tidak mengerti mengapa engkau membawa-bawa urusan pusaka ke dalam kerja sama kita ini, Bhong-koksu. Akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu akan pusaka yang disimpan. Semua pusaka dan benda berharga Pulau Es telah dibagi-bagikan oleh paman kepada para anggota sebelum dibubarkan, dan kalau kau maksudkan kitab-kitab, semua itu hanya paman yang mengetahui dan menyimpannya."

"Mustahii Giam-lihiap sebagai muridnya tidak tahu di mana disembunyikannya kitab-kitab itu? Pinceng (Saya) rasa lebih baik Lihiap memperlihatkan kepada Bhong-koksu sehingga terbuktilah bahwa Lihiap memang benar-benar ingin bekerja sama dengan kami," kata Thian Tok Lama mendesak.

"Aku tidak tahu! Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Kalau tidak percaya, habis kalian mau apa?" Kwi Hong sudah marah sekali dan kedua tangannya yang berada di atas meja dikepal keras.

"Hemm, Lihiap masih bersikap keras kepada kami. Padahal Lihiap adalah pembantu kami dan sebagai pembantu harus taat kepada pimpinan. Perlukah kami harus mengambil jalan kekerasan?"

"Brakkkk!" Kwi Hong bangkit berdiri dan menggunakan tangannya menggebrak meja. Alisnya diangkat ketika matanya dilebarkan, memandang dengan sinar berapi kepada Bhong Ji Kun. "Boleh saja! Siapa takut akan jalan kekerasanmu?"

Pangeran Yauw segera bangkit berdiri, ia mengangkat kedua tangannya ke atas. "Aih-aih... apa perlunya semua ini? Giam-lihiap, harap suka duduk kembali dan harap suka bersabar. Bhong-koksu, tidak semestinya mendesak Lihiap. Kalau Lihiap bilang tidak tahu tentu benar-benar tidak tahu. Giam-lihiap adalah sahabat kita, bahkan aku telah menganggapnya sebagai pengawal yang paling kupercaya. Di antara orang sendiri tidak semestinya terjadi keributan hanya karena soal kecil saja."

Bhong-koksu tersenyum lebar dan cepat dia berdiri dan menjura ke arah Kwi Hong sambil berkata, "Ahhh, kami sudah terburu nafsu dan harap maafkan kami, Lihiap. Agaknya kekalahan yang kami derita, kemudian keadaan yang penuh kesukaran di sini membuat kami lupa diri. Tetapi, hendaknya Lihiap juga tidak selalu memperlihatkan sikap keras. Sikap Lihiap tentu saja menimbulkan keraguan kami dan hanya ada satu jalan yang kiranya akan membuat keraguan kami lenyap sama sekali, dan bahkan mendatangkan keyakinan di dalam hati kami akan kesetia-kawanan Lihiap terhadap persekutuan kami."

Kwi Hong mengira bahwa tentu Koksu itu tetap akan minta pusaka Pulau Es, dan kini dengan jalan halus dan bujukan, maka dengan kemarahan ditahan dia bertanya, "Satu jalan apakah yang kau maksudkan?"

Koksu melirik ke arah Pangeran Yauw Ki Ong yang tersenyum dan mengangguk-angguk, kemudian berkata, "Pangeran telah membuka rahasia hatinya kepadaku. Semenjak beliau bertemu dengan Lihiap, beliau telah tertarik dan jatuh cinta kepada Lihiap. Maka Pangeran berkenan mengambil Lihiap sebagai selir, dan tentu saja kelak kalau perjuangan kita sudah berhasil, Lihiap akan diperisteri secara resmi dan besar kemungkinan Lihiap kelak akan menjadi permaisuri."

Wajah Kwi Hong menjadi pucat seketika, kemudian berubah merah. Maklumlah dia bahwa orang-orang yang disangkanya sahabat ini ternyata adalah orang-orang yang memiliki niat jahat terhadap dirinya, dan ternyata selama ini dia dikelilingi oleh musuh! Teringatlah dia akan arak suguhan Pangeran Yauw dan tentang surat peringatan yang dikirim secara aneh penuh rahasia oleh orang tak dikenal. Bukan main rasa menyesalnya. Dia telah membantu orang-orang jahat ini! Bahkan dia telah membawa mereka ke Pulau Es! Apakah yang telah dia lakukan?

Akan tetapi dia masih menahan sabar dan bangkit berdiri sambil berkata, "Aku tidak dapat menerima permintaan itu!"

Tentu saja semua ini memang telah direncanakan oleh Bhong Ji Kun, Pangeran Yauw dan para pembantunya. Sama sekali bukan maksud mereka untuk mengangkat dara itu menjadi permaisuri. Maksud sesungguhnya adalah kalau sampai Kwi Hong dapat diperisteri oleh Pangeran Yauw, otomatis Pendekar Super Sakti tentu kelak akan mau membantu usaha pemberontakan mereka.

Sekarang melihat sikap Kwi Hong yang dengan keras menolak, Bhong Ji Kun dan para pembantunya meloncat mundur, Pangeran Yauw cepat menyelamatkan diri dan mundur di belakang para jagoannya dan mereka membuat gerakan mengurung Kwi Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap gagah, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan dengan jari-jari terbuka siap di dekat gagang pedang Li-mo-kiam!

"Jika begitu, jelas engkau tidak berniat baik, maka terpaksa kami harus menggunakan kekerasan!" Bhong Ji Kun berkata sambil mencabut senjatanya, pecut kuda berbulu merah dan sebatang golok besar.

Thian Tok Lama juga sudah mengeluarkan sebatang tongkat pendeta, sebuah senjata baru yang kini selalu dipegangnya karena pendeta ini dalam pengalamannya maklum bahwa kedua tangan kosongnya yang biasanya amat ampuh itu tidak cukup untuk menghadapi seorang lawan tangguh seperti murid Pendekar Super Sakti ini. Sin-jio Ciat Leng Souw Si Tombak Sakti sudah siap pula dengan tombak gagang panjang dilintangkan di depan dada, demikian pula para tokoh pembantu Koksu yang lain telah pula siap dengan senjata masing-masing mengurung Kwi Hong.

"Bhong-koksu, harap jangan melukainya, apa lagi membunuhnya," berkata Pangeran Yauw sebelum mengundurkan diri dari ruangan luas itu.

"Ha-ha, jangan khawatir, Ong-ya. Akan hamba tangkap hidup-hidup untuk Paduka."

Kemarahan hati Kwi Hong yang terdorong rasa penyesalan besar itu tidak dapat ditahannya lagi. Sambil mengeluarkan seruan melengking tinggi nyaring, dara perkasa itu sudah menerjang maju, menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat dan dia telah menerjang Bhong Ji Kun yang amat dibencinya.

Kakek ini cepat-cepat mengelak dan dia masih sempat berseru, "Ingat jangan bentur senjatanya!"

Memang sebelum terjadi pengeroyokan ini, Koksu telah mengatur terlebih dahulu siapa yang akan menghadapi dara ini, dan mereka semua telah diperingatkan untuk tidak mengadu senjata mereka dengan pedang Li-mo-kiam yang amat ampuh itu. Maka semua serangan Kwi Hong hanya dielakkan oleh yang diserangnya, sedangkan teman lain cepat turun tangan menerjang dara itu dari belakang sehingga yang diserang oleh Kwi Hong selalu tertolong, sebaliknya dara itu sendiri yang menghadapi serangan serentak dari belakang dan kanan kiri.

Terjadilah pertandingan mati-matian bagi Kwi Hong karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Yang mengepungnya berjumlah sepuluh orang, dan sebagian besar dari mereka yang paling lihai semua memegang senjata panjang. Bhong Ji Kun dengan cambuk merahnya, Thian Tok Lama dengan tongkat pendetanya, Ciat Leng Souw dengan tombak panjangnya, Liong Khek dengan senjata pancingnya, Thai-lek-gu dengan sepasang golok, dan empat panglima lain yang bersenjata pedang. Hanya Gozan yang bertangan kosong, akan tetapi raksasa Mongol ini tidak ikut menerjang maju, hanya siap untuk turun tangan kalau keadaan mengijinkan untuk menangkap dara itu hidup-hidup seperti yang dikehendaki Pangeran Yauw Ki Ong tadi.

Giam Kwi Hong adalah murid Pendekar Super Sakti, dan dia bahkan telah digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin, tentu saja ilmu silatnya hebat. Apa lagi di tangannya ada Li-mo-kiam yang ampuh, maka andai kata diadakan pertandingan satu lawan satu, kiranya hanya Bhong Ji Kun seoranglah yang akan mampu mengatasinya, sedangkan Thian Tok Lama dan Ciat Leng Souw kiranya akan menghadapi kesukaran hebat untuk dapat mengalahkan dara perkasa ini.

Akan tetapi kini dia dikepung ketat oleh sepuluh orang, dan mereka itu bersikap hati-hati, tidak mau menangkis pedang Li-mo-kiam, melainkan selalu menyerang serentak dari belakang kalau dia menyerang seorang di antara mereka. Senjata mereka panjang dan ini masih ditambah oleh pukulan-pukulan sinkang jarak jauh yang dilontarkan oleh Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama. Tentu saja Kwi Hong menjadi repot sekali, bahkan beberapa kali dia terhuyung oleh angin pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang dilakukan oleh Thian Tok Lama.

Pendeta Tibet ini memang terkenal sekali dengan ilmu pukulannya ini, pukulan mukjizat yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh. Tangan kanannya berubah menjadi biru dan setiap kali dia melakukan pemukulan dengan dorongan telapak tangan, dari perutnya terdengar bunyi kok-kok seperti ayam betina habis bertelur, dan dari telapak tangannya menyambar uap hitam!

Yang amat merepotkan Kwi Hong adalah ujung pecut merah Bhong Ji Kun yang menyambar-nyambar dari atas, meledak-ledak dan mengancamnya dengan totokan-totokan maut. Namun Kwi Hong tidak menjadi jeri dan sudah mengambil keputusan untuk bertanding mati-matian mempertaruhkan nyawa. Karena dia maklum bahwa di antara mereka semua, yang paling lihai adalah Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama, maka kedua kakek inilah yang menjadi sasaran utama dari sinar pedangnya.

Dengan gerakan yang amat cepat disertai bentakan nyaring, pedang Li-mo-kiam yang berubah menjadi sinar kilat itu menyambar ke atas lalu meluncur ke arah tenggorokan Thian Tok Lama yang cepat meloncat ke belakang. Tetapi sinar pedang itu mengejar terus. Mata pendeta Tibet itu menjadi silau dan terpaksa dengan kaget sekali dia menangkis dengan ujung tongkatnya. Sementara itu, Bhong Ji Kun melihat temannya terancam bahaya, sudah menggerakkan cambuknya dan ujung pecut ini menyambar ke arah jari-jari tangan kanan Kwi Hong yang menggenggam gagang pedang. Hal ini sudah dijaga oleh Kwi Hong, maka tanpa menghentikan serangannya kepada Thian Tok Lama, dia merubah kedudukan kaki sehingga tubuhnya membalik, tangan kirinya menyambar dan menangkap ujung pecut itu sambil mengerahkan tenaga menahan!

"Crokkk!"

Ujung tongkat Thian Tok Lama terbabat patah sedikit dan sinar pedang Li-mo-kiam masih terus menyambar tenggorokannya. Pendeta itu berteriak kaget, dengan terpaksa membuang tubuhnya ke belakang dan bergulingan. Biar pun dia kaget setengah mati, dan ujung tongkatnya patah, namun dia selamat.

Dengan tangan kiri masih memegang ujung pecut, Giam Kwi Hong menggerakkan pedangnya yang gagal mengenai Thian Tok Lama untuk menangkis datangnya senjata yang bertubi-tubi. Semua senjata cepat ditarik kembali karena takut terbabat rusak, akan tetapi tali pancing itu di tangan Liong Khek Si Muka Pucat telah melibat pedang, sedangkan Ciat Leng Souw yang melihat pedang yang ditakuti itu sementara tak dapat dipergunakan karena terlibat tali pancing, cepat membabatkan tombaknya ke arah kedua kaki Kwi Hong!

Dara perkasa itu terkejut sekali. Tangan kirinya masih memegang ujung cambuk Bhong Ji Kun dan pedangnya tertahan oleh tali pancing, kini kedua kakinya terancam bahaya diserampang oleh tombak. Maka dia lalu menggunakan tenaga pertahanan cambuk dan tali pancing, menggenjot tubuhnya dan meloncat ke atas sehingga sambaran tombak itu lewat di bawah kakinya. Tetapi pada saat itu, Gozan yang sejak tadi telah siap menanti saat baik, menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang berbulu dan besar itu telah merangkul tubuh Kwi Hong, meringkusnya dengan kekuatan seekor gajah!

Sebelum Kwi Hong yang kaget sekali dapat melawan, Koksu telah menotok pundak kirinya sedangkan gagang tombak Ciat Leng Souw telah mengetuk lututnya. Tubuh dara itu lemas dan dia tidak dapat bergerak lagi, tak dapat melawan ketika kaki tangannya dibelenggu dan dia diseret dan dilempar ke dalam sebuah kamar di istana itu, dipaksa rebah di atas pembaringan dan kaki tangannya dibelenggu pada kaki pembaringan!

Pangeran Yauw minta dengan sangat kepada Koksu agar Kwi Hong tidak diganggu, dan hal ini pun dipenuhi oleh Koksu yang melarang para pembantunya mengganggu tawanan itu. Dia masih menaruh harapan besar agar Kwi Hong dapat ditundukkan, karena hal ini akan menguntungkan mereka. Sebaliknya, kalau terpaksa gagal, mereka tentu akan dimusuhi oleh Pendekar Super Sakti dan hal ini tidak menguntungkan usaha pemberontakan mereka. Karena inilah maka Koksu memerintahkan kepada para pembantunya yang melakukan penjagaan untuk mengirim makan minum kepada tawanan itu dan memperlakukannya baik-baik.

Akan tetapi, Kwi Hong sama sekali tidak mau makan, bahkan setiap kali ada yang memasuki kamar tahanan, dia memaki-maki dan berusaha meronta. Wajahnya menjadi pucat setelah selama dua hari dua malam dia tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur sama sekali. Mendengar laporan tentang dara itu, Pangeran Yauw menjadi khawatir akan keselamatan Kwi Hong, maka dia mengambil keputusan untuk membujuk sendiri.

Demikianlah pada hari ketiga, setelah menyuruh para penjaga menjauhkan diri agar tidak menyaksikan pertemuan itu, Pangeran Yauw seorang diri lalu memasuki kamar tempat Kwi Hong ditahan. Begitu masuk, pangeran itu mengeluh dan berlutut di dekat pembaringan di mana Kwi Hong dibelenggu kaki tangannya.

"Ahhh, betapa sakit hatiku melihat keadaanmu seperti ini, Nona. Mengapa engkau berkeras kepala? Kalau tidak aku yang minta-minta kepada mereka, tentu engkau telah dibunuh atau diperlakukan lebih mengerikan dari pada kematian. Aku yang minta agar kau tidak diganggu dan dilayani sebaiknya, akan tetapi engkau tetap keras hati."

"Cukup! Mau apa engkau datang ke sini? Mau bunuh, bunuhlah. Siapa takut mati? Mendengarkan omonganmu yang beracun lebih mengerikan dari pada menghadapi maut!"

"Aihhhh, Kwi Hong... kenapa engkau bersikap begini? Tidakkah engkau melihat bahwa semua kesabaran itu, semua kerendahan ini kulakukan karena aku cinta padamu? Karena aku tergila-gila kepadamu? Engkau menurutlah menjadi isteriku, kelak engkau akan kuangkat menjadi permaisuri, dan...," suara Pangeran Yauw menurun menjadi bisikan halus, "...sakit hatimu akan terbalas semua. Setelah aku berhasil dengan perjuanganku, aku akan menghukum mampus Bhong-koksu dan semua pembantunya yang telah menghinamu... kau mau bukan menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sayang?"

"Cuhhh...!" Kwi Hong meludah dan tepat mengenai pipi kanan pangeran itu.

"Aduhhh...!" Pangeran itu terjengkang dan meraba pipinya yang terasa nyeri seperti dihantam benda keras. Matanya terbelalak penuh kemarahan, telunjuknya menuding ke arah muka Kwi Hong. "Perempuan laknat! Berani engkau meludahi aku? Aku akan menyiksamu untuk penghinaan ini! Akan kusuruh semua orang memperkosamu di depan mataku, sampai engkau mampus...!"

Pangeran Yauw tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dan sinar merah menyambar ke lehernya, tubuhnya terangkat ke atas dan ternyata dia sudah tergantung di ujung cambuk yang dipegang oleh Koksu. Mata pangeran itu mendelik, kaki tangannya bergerak-gerak.

"Hemm... engkau hendak membunuh kami kelak, ya? Pengkhianat tak tahu malu, tak mengenal budi!" Bhong Ji Kun melemparkan tubuh di ujung cambuk itu kepada Gozan yang bersama yang lain ikut pula masuk, lalu berkata, "Lemparkan dia dalam keadaan telanjang bulat ke luar!"

Pangeran Yauw berteriak-teriak minta ampun dan melimpahkan janji-janji muluk, tetapi Gozan mengangkatnya seperti seorang mengangkat anak kecil, membawanya keluar dari istana. Pangeran itu meronta-ronta, meratap-ratap, namun tidak ada yang suka atau berani menolongnya. Dengan renggutan-renggutan tangannya yang kuat, Gozan menelanjangi pangeran itu hingga tak ada secarik kain pun yang melindungi tubuhnya ketika tubuh itu dilempar ke atas salju yang dingin. Pangeran itu berlutut, menyembah-nyembah minta ampun, akan tetapi setiap kali dia hendak lari ke istana mencari tempat berlindung dari hawa dingin, dia ditendang ke luar. Akhirnya suara ratapannya makin lemah, tak lama kemudian dia sudah rebah meringkuk dengan tubuh beku kedinginan di atas tumpukan salju!

Dua orang pelayan wanita yang tadinya menjadi selir pangeran dan selalu dipandang dengan sinar mata penuh iri oleh anggota rombongan yang lain, kini menjadi rebutan di antara para pembantu Bhong Ji Kun, kecuali Thian Tok Lama dan Ciat Leng Souw yang telah tua. Satu-satunya nafsu keinginan mereka hanyalah mengejar kedudukan dan kemuliaan. Lalu atas perintah Bhong Ji Kun, kedua orang pelayan muda itu harus menyerahkan diri kepada Liong Khek Si Muka Pucat dan Gozan raksasa Mongol!

Memang patut dikasihani seorang manusia yang hidupnya dikuasai nafsu-nafsu keinginan seperti Pangeran Yauw Ki Ong. Dia sebagai seorang makhluk manusia dengan penghidupannya sama sekali tidak ada artinya, tidak penting lagi karena yang terpenting hanyalah pengejaran segala keinginannya itulah. Ketika tergila-gila kepada Kwi Hong, agaknya pangeran yang entah sudah berapa ratus kali berganti selir-selir baru itu, bersedia untuk bersumpah bahwa dia mencinta Kwi Hong. Akan tetapi kenyataannya, begitu Kwi Hong menolak cintanya, perasaannya yang disebut cinta itu berubahlah menjadi benci yang hebat! Cinta macam itu sungguh tidak ada harganya!

Cinta yang begitu mudah merubah diri menjadi benci, hanyalah nafsu birahi, yang nilainya sama rendah dengan benci. Namun, betapa banyaknya orang yang masih belum sadar akan hal ini, menganggap dengan penuh keyakinan bahwa perasaan seperti itu adalah cinta! Bahkan cinta suci katanya! Ada yang kalau cintanya ditolak berubah benci. Ada pula yang cintanya ditolak lalu membunuh diri. Ini lebih gila lagi, karena apa yang di sebutnya hanya sama nilainya dengan kegilaan, karena hanya orang yang tidak waras otaknya sajalah yang akan melakukan bunuh diri! Bagi mereka yang masih belum sadar ini, cinta mereka sama dengan benci, atau cinta mereka sama dengan gila!

Pangeran Yauw Ki Ong selama hidupnya juga didorong untuk selalu memperoleh yang diinginkan. Dia tidak tahu bahwa nafsu memperoleh ini ujungnya adalah kebosanan. Nafsu memperoleh ini pada awalnya menimbulkan gairah, namun pada akhirnya, setelah yang diinginkannya itu diperoleh, berubahlah gairah menjadi kebosanan, dan timbullah pula nafsu memperoleh hal atau benda lain lagi. Dengan demikian ia terseret dalam lingkungan setan yang tiada berkeputusan, hidupnya seperti makhluk penasaran yang selalu mengejar-ngejar nafsu yang dibuatnya sendiri. Tidak menyedihkankah hidup seperti itu, menjadi boneka permainan nafsu keinginan?

Bhong Ji Kun tak hanya marah kepada Pangeran Yauw Ki Ong yang mengkhianatinya, akan tetapi juga dia marah kepada Kwi Hong yang terang-terangan sampai mati pun tidak akan suka menuruti kehendaknya, yaitu menyerahkan pusaka Istana Pulau Es. Kekecewaan hatinya menimbulkan kemarahan yang membuat dia makin kejam dan ganas, merencanakan hukuman dan siksaan yang dianggapnya paling keji dan hebat bagi Kwi Hong.

"Engkau tetap keras kepala, ya? Baiklah ingin kulihat apakah engkau cukup keras untuk tidak minta ampun seperti Pangeran Yauw, Si Keparat tadi! Dua orang selirnya masih jauh lebih terhormat nasibnya dari pada perempuan keras kepala macam engkau! Setidaknya mereka menjadi milik pribadi dua orang pembantuku yang berkedudukan tinggi! Akan tetapi engkau! Hemmm, biar pun engkau seorang yang masih perawan, akan tetapi engkau akan kuserahkan kepada para bujang, tukang kuda dan pelayan. Engkau akan menjadi milik mereka secara bergiliran! Dan siapa yang dapat membuat engkau mengeluh dan menangis akan kuberi hadiah! Ha-ha-ha, ingin sekali aku mendengar teriakanmu seperti yang dilakukan pangeran gila tadi!"

Para bujang yang jumlahnya ada delapan orang itu tentu saja menyeringai gembira, biar pun hati mereka merasa agak gentar juga. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi, tetapi menghambakan diri kepada seorang majikan macam Bhong Ji Kun, tentu saja membuat watak mereka pun tak dapat dikatakan baik. Setelah mendengar keputusan Koksu yang menghadiahkan gadis tawanan itu kepada mereka, dimulai malam nanti, beramai-ramai delapan orang itu sibuk menjadikan Kwi Hong semacam hadiah undian untuk menarik giliran masing-masing!

Kwi Hong yang masih rebah telentang di atas pembaringan, tak dapat melakukan sesuatu ketika Bhong Ji Kun menotok dua jalan darah di punggungnya yang membuat kaki dan tangannya lemas dan setengah lumpuh. Iia dapat bergerak, tetapi tak mampu mengerahkan tenaga sinkang-nya. Setelah ikatan kaki dan tangannya dilepaskan, dia segera meloncat. Akan tetapi dia terbanting roboh lagi di atas pembaringan karena selain kedua kaki dan tangannya lemas juga tubuhnya lemah akibat kurang makan, kurang minum, dan kurang tidur. Bhong Ji Kun tertawa bergelak lalu meninggalkan kamar tahanan itu.

Kwi Hong rebah miring. Dia maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Maklum bahwa mengandalkan tenaganya, tidak mungkin dia menghindarkan diri dari mala petaka. Tanpa dapat menggerakkan kaki tangan secara leluasa, tanpa dapat mengerahkan sinkang, apa dayanya. Kehormatannya terancam dan dia tidak mampu mempertahankan kehormatannya dengan ilmu silat dan tenaga. Akan habiskah dia? Tidak adakah harapan lagi baginya? Dan pada saat itu, terbayanglah wajah Gak Bun Beng.

Tidak terasa lagi dua titik air mata membasahi pelupuk matanya. Dia mencinta Bun Beng, dan biar pun hanya menjadi rahasia hatinya sendiri, sering kali dia bermimpi berjumpa dengan pemuda itu yang dalam mimpinya juga mencintanya. Beberapa kali dia mimpi bercumbu dengan pemuda itu, bahkan mimpi menjadi isteri pemuda itu. Betapa bahagianya! Akan tetapi semua itu hanya mimpi, dan sekarang dia berada di tepi jurang kehancuran, terancam mala petaka yang lebih mengerikan dari pada maut sendiri, dikorbankan oleh Bhong Ji Kun untuk diperkosa secara bergiliran oleh para bujang tanpa dia dapat mempertahankan diri sama sekali.

"Bun Beng... ahhh, Bun Beng..., di manakah engkau...?" Kwi Hong mengeluh dan air matanya bercucuran.

Apakah dia harus minta ampun kepada Bhong Ji Kun? Akan tetapi tidak mungkin. Hal itu hanya akan menimbulkan bahan penghinaan dari para musuhnya itu, karena dia benar-benar tidak tahu di mana pamannya menyimpan kitab-kitab pusaka Istana Pulau Es. Andai kata dia tahu sekali pun, dia tidak percaya bahwa dengan memberikan kitab-kitab itu dia akan terbebas dari kematian.

Orang-orang seperti Bhong Ji Kun dan kaki tangannya sama sekali tak mungkin dapat dipercaya dan mereka itu baru bersikap baik kalau mempunyai maksud tertentu demi keuntungan mereka sendiri. Buktinya telah ada, Pangeran Yauw sudah merencanakan pembunuhan mereka, dan begitu hal ini diketahui Bhong Ji Kun, dengan kejam pangeran itu dibunuh tanpa ampun lagi. Dia, sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, musuh besar mereka, mana mungkin bisa mendapatkan ampun? Betapa bodohnya dia! Mudah saja ditipu oleh Bhong Ji Kun!

Malam tiba. Hal ini diketahui Kwi Hong dari lenyapnya sinar matahari yang makin menyuram melalui lubang angin di bawah genting kamar tahanan dan terganti sinar penerangan dari ruangan samping. Cuaca menjadi remang-remang dan jantung Kwi Hong berdebar. Bahaya telah mulai datang mendekat dan dia mencari akal bagaimana untuk dapat mempertahankan diri.

Yang akan muncul tentulah seorang di antara pelayan yang sebagian besar sudah tua dan lemah. Biar pun dia tidak dapat mengerahkan sinkang, dan tubuhnya lemas, akan tetapi dia masih menguasai ilmu silat. Dia akan menggunakan sedikit tenaga yang ada untuk merobohkan, kalau bisa membunuh setiap laki-laki yang berani menjamahnya! Dia tahu caranya. Dengan tendangan perlahan mengenai alat kelaminnya, dengan tusukan jari tangan mengenai matanya, dua serangan ini saja, betapa pun lemahnya, cukup membuat pengganggunya tak berdaya.

Timbul lagi harapannya untuk lolos dari ancaman bahaya ini. Untung bahwa kebencian Bhong Ji Kun kepadanya amat besar sehingga saking inginnya menghinanya sampai serendah-rendahnya, dia tidak diberikan kepada para pembantunya yang memiliki kepandaian tinggi, melainkan kepada para bujang untuk diperkosa secara bergilir. Kalau dia diberikan kepada seorang seperti Thai-lek-gu atau Gozan, tentu akan habis harapannya, karena dalam keadaannya seperti ini takkan mungkin dia melawan seorang di antara mereka. Dia bergidik! Membayangkan betapa dia dipermainkan seorang laki-laki seperti Gozan, raksasa Mongol yang tubuhnya berbulu-bulu sampai ke jari tangan dan lehernya itu!

"Gerriiittt...!" Pintu kamar tahanan terbuka dari luar, bayangan seorang laki-laki agak bongkok memasuki kamar, membalik dan menutupkan kembali daun pintu.

Dengan gerakan otomatis Kwi Hong meloncat dari keadaan berbaring. Dia lupa diri, maka loncatan itu membuat tubuhnya terbanting kembali ke atas pembaringan. Dia menahan keluhan, terpaksa bangkit duduk di atas pembaringan dengan mata terbelalak memandang laki-laki itu yang sekarang sudah membalikkan tubuh lagi menghadapinya sambil menyeringai.

Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar akan tetapi agak bongkok dan kurus, mukanya penuh brewok yang sudah bercampur uban, usianya tentu kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya tidak karuan dan sepasang matanya bergerak liar, mulutnya menyeringai aneh, Si Gila! Kwi Hong pernah melihat seorang di antara pengurus kuda yang keadaannya menyedihkan ini dan oleh teman-teman pelayan lain dia disebut Si Gila. Aihh, benar-benar Bhong Ji Kun ingin merendahkannya sampai yang paling hina sehingga untuk malam pertama itu dia diserahkan kepada pelayan paling mengerikan dan menjijikkan!

"Heh-heh-heh-heh, ini namanya hukum karma...!" Si Gila itu melangkah perlahan-lahan menghampiri Kwi Hong, tangan kirinya memegang sebatang tabung bambu. Ketika bicara, air ludahnya muncrat-muncrat.

Saking jijiknya, Kwi Hong segera turun tangan. Dia turun dari pembaringan, menahan napas mengumpulkan semua tenaga yang ada, kemudian melakukan serangan dengan jari-jari tangan kiri menusuk ke arah mata Si Gila itu, disusul gerakan kaki kanannya menendang ke bawah pusar. Biar pun serangannya itu tidak mengandung tenaga sinkang, dan tidak lebih hanya mengandung tenaga seorang wanita yang hampir kelaparan, namun kalau mengenai sasaran, mata dan anggota kelamin, agaknya cukup membuat Si Gila itu terjungkal!

"Ehhh...?" Si Gila berseru dan tubuhnya bergerak cepat di luar dugaan Kwi Hong.

Tusukan mata dapat dielakkan, tendangan berhasil ditangkis, dan tubuh Kwi Hong didorong kembali hingga jatuh ke atas pembaringan dalam keadaan telentang! Celaka, pikirnya. Kiranya Si Gila ini bukanlah orang yang lemah. Bahkan gerakan-gerakannya tadi jelas membayangkan gerakan silat yang cukup baik! Habislah harapan Kwi Hong dan dia mulai ketakutan ketika Si Gila mencelat dan duduk di pinggir pembaringan sambil terkekeh-kekeh.

"Hukum karma atau bukan... heh-heh-heh... aku tidak rela engkau dipermainkan orang. Lebih baik kau mati saja dari pada diperkosa mereka secara bergilir." Si Gila itu lalu membuka tutup tabung bambu. "Bocah bodoh, kenapa engkau tidak membunuh diri saja? Apa... apa engkau memang suka untuk diperkosa secara bergilir oleh mereka?"

Kwi Hong memandang dengan mata terbelalak. Orang ini bicaranya tidak karuan, jelas bahwa otaknya miring, akan tetapi isi kata-katanya benar-benar membuat dia berdebar.

"Apa... apa maksudmu...?"

"Biar pun ibumu diperkosa, tetapi pemerkosanya bertanggung jawab dan memang mencinta ibumu. Sedangkan mereka yang hendak memperkosamu secara bergiliran hanya ingin mempermainkanmu, ingin memakaimu seperti orang memakai pakaian yang kalau sudah butut dan rusak dicampakkan begitu saja dan tidak ditoleh lagi!"

"Apa... apa maksudmu dengan Ibu...?"

"Heh-heh! Ibumu masih perawan tulen ketika diperkosa, seperti engkau... heh-heh-heh, akan tetapi pemerkosanya bertanggung jawab, ibumu dijadikan isterinya... dan engkau terlahir. Biar pun ibumu diperkosa, aku tidak rela melihat engkau diperkosa orang! Heh-heh-heh, biar pun aku memperkosa ibumu, tetapi aku cinta padanya... dan aku yang membunuhnya... heh-heh, akan tetapi... aku tidak rela melihat engkau diperkosa orang! Lebih baik kau mati!"

Si Gila itu menggerakkan tabung bambu dan keluarlah seekor ular merah. Karena disentakkan keluar, ular itu tiba di leher Kwi Hong, akan tetapi begitu dia menyentuh leher Kwi Hong sambil dipandang oleh Si Gila yang terkekeh-kekeh, tiba-tiba ular itu menyambar membalik dan menggigit lengan Si Gila.

"Auggghhhh...!" Si Gila memekik dan roboh di atas lantai. "Kwi Hong... lebih baik kau mati dari pada diperkosa... ahh..." Si Gila itu masih sempat berkata kemudian tubuhnya berkelojotan dan ular merah ikut bergerak-gerak di lengannya.

Kwi Hong bangkit berdiri, terbelalak dengan muka pucat memandang wajah Si Gila yang berkelojotan itu. Kini teringatlah dia. "Ayaaahhhh...!" Ia menubruk.

Tentu saja! Tentu saja orang ini ayahnya! Dan tentu ayahnya ini pula yang dahulu memperingatkannya tentang arak beracun di taman yang disuguhkan Pangeran Yauw. Ayahnya telah menjadi gila, atau berpura-pura gila? Bagaimana mungkin dia mengenal ayahnya, yang ditinggal pergi bersama pamannya ketika dia masih kecil? Apa lagi ayahnya yang dahulunya seorang perwira tinggi itu kini telah menjadi tukang kuda yang gila dan pakaiannya tidak karuan. Bagaimana dia dapat mengenalnya?

Betapa pun juga, sampai saat terakhir ayahnya dengan cara gilanya masih berusaha menyelamatkannya dari perkosaan dan penghinaan, yaitu dengan cara membunuhnya. Tentu ayahnya tidak tahu bahwa di dalam tubuhnya telah mengalir obat penolak ular merah sehingga begitu mencium kulit lehernya, ular itu menjadi takut dan membalik menggigit Si Gila sendiri! Entah bagaimana ayahnya dapat menangkap ular dalam tabung itu.

"Ayah...!" Akan tetapi Kwi Hong maklum bahwa ayahnya telah mati.

Racun gigitan ular merah memang amat hebat. Bagi yang lemah berakibat kematian, bagi yang kuat sekali pun akan mendatangkan pengaruh mukjizat, ada yang menjadi terangsang nafsu birahinya, ada pula yang menjadi gila!

Melihat ayahnya, biar pun gila dan menjijikkan akan tetapi tetap ayah kandungnya, menggeletak tak bernyawa lagi dan kini wajahnya yang tadi diselubungi kegilaan tampak tenang dan makin jelas persamaannya dengan wajah ayahnya dahulu, Kwi Hong menjadi marah. Dipegangnya ular itu, ditariknya terlepas dari lengan ayahnya, dan akan dibantingnya. Akan tetapi dia teringat dan tiba-tiba wajahnya berseri biar pun air matanya bercucuran ketika dia memandang ayahnya.

"Ayah, beristirahatlah dengan tenang, Ayah. Usaha pertolongan Ayah tidak sia-sia, anak berterima kasih, Ayah."

Dia lalu menggerakkan sisa tenaganya, menggurat-guratkan tubuh ular pada batu dinding yang agak kasar sehingga kulit itu pecah terluka dan berdarah. Ular itu sama sekali tidak berani melawan, dan setelah dilepaskan di atas lantai dekat mayat Giam Cu, bekas perwira ayah Kwi Hong yang telah menjadi gila itu, ular berkelojotan dan darah mengucur dari luka-lukanya. Kwi Hong maklum bahwa darah ular merah yang keluar dari seekor ular merah yang masih hidup mempunyai bau yang mengandung daya mengundang ular-ular merah lain.

Telah dituturkan di bagian depan cerita ini betapa Giam Cu, panglima tinggi besar brewok yang diwaktu bala tentara Mancu menyerbu ke selatan telah memperkosa Sie Leng, gadis enci (kakak perempuan) Pendekar Super Sakti, akan tetapi lalu menculik gadis itu dan menjadikannya sebagai isterinya. Dalam pernikahan ini Sie Leng mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Giam Kwi Hong.

Ketika Pendekar Super Sakti dituduh melarikan Puteri Nirahai, dalam kekhawatirannya tersangkut karena isterinya adalah enci Suma Han, Giam Cu lalu membunuh isterinya sendiri. Perbuatannya ini membuat dia menyesal bukan main karena dia memang mencinta isterinya. Maka setelah Kwi Hong dilarikan Suma Han, perwira tinggi ini menjadi gila! Tentu saja dia tidak dapat menduduki pangkatnya lagi, dan akhirnya orang tidak tahu ke mana dia pergi. Kiranya, setelah gila dan terlantar, tidak ada orang yang mengenalnya lagi, diam-diam bekas perwira yang gila ini bekerja sebagai tukang kuda di istana Koksu!

Melihat mayat ayahnya, Kwi Hong merasa terharu. Dia mengangkat mayat itu ke atas pembaringan, pekerjaan yang amat sukar bagi tenaganya yang masih lemas itu, kemudian dia duduk bersila, mengumpulkan hawa Swat-im Sinkang yang dilatihnya sejak kecil, perlahan-lahan dia berusaha memulihkan tenaganya dan membuyarkan pengaruh totokan sambil menanti hasil usahanya memanggil ular-ular dengan darah ular merah tadi.

Betapa girangnya ketika hidungnya mencium bau wangi-wangi yang aneh namun tidak asing baginya, dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara mendesis-desis dan tampaklah ular-ular merah merayap-rayap datang dari segala penjuru, memasuki kamar tahanan itu! Kegirangan Kwi Hong bukan hanya karena ular-ular itu dapat melindunginya sehingga orang-orang hendak mengganggunya tidak berani mendekat, akan tetapi juga hawa beracun dari ular-ular merah itu mempunyai daya yang mukjizat.

Hal ini adalah penemuan pamannya dan dia pernah disuruh berlatih sinkang di antara ular-ular merah ini dan hawa yang bagi orang lain mengandung racun berbahaya itu, baginya adalah memperlancar latihannya. Karena itu, kini dengan bantuan hawa beracun, dia makin tekun melancarkan jalan darahnya dan menghimpun tenaga sinkang untuk memulihkan tenaganya. Dia tetap duduk bersila di lantai, membiarkan pembaringannya ditempati mayat ayahnya.

Kalau dia teringat masa lalu, dia terbayang di depan matanya betapa ibu kandungnya dibunuh ayahnya ini, ditusuk dadanya sampai tembus dengan pedang, maka ingatan itu membuat dia tidak dapat berduka oleh kematian ayahnya. Namun, melihat betapa setelah tersiksa dan hidup seperti orang gila, namun pada saat-saat terakhir masih berusaha melindungi anaknya, hatinya merasa terharu juga.

"Ular...! Ular...!"

Jeritan-jeritan itu terdengar dari mulut para penjaga ketika mereka melihat ular-ular merah, apa lagi ketika mereka mengejar ular-ular itu ke kamar tahanan, melihat gadis tawanan itu duduk bersila di atas lantai tengah kamar, dikelilingi ular merah ratusan banyaknya, dan tubuh Si Gila yang menjadi mayat menggeletak di atas pembaringan.

Tak lama kemudian Koksu dan teman-temannya datang. Mereka berada di luar kamar memandang dengan mata terbelalak.

"Mundur semua! Ular-ular itu beracun!" bekas Koksu Bhong Ji Kun berteriak dan semua orang cepat mundur karena bau harum bercampur amis itu pun membuat mereka muak dan tidak tahan.

Tentu saja kecewa sekali hati Kwi Hong. Tenaganya belum pulih, dan dia sudah ketahuan. Kalau Bhong Ji Kun turun tangan, tentu dia tidak mampu membela diri. Akan tetapi dia tidak memperlihatkan rasa takut, bahkan tersenyum dan menggertak,

"Siapa berani mendekati aku, tentu akan mampus! Bhong Ji Kun, aku ingin sekali melihat apakah engkau berani memasuki kamar tahanan ini!"

Bhong Ji Kun menggereget giginya. "Perempuan siluman! Lekas kau enyahkan semua ular itu, kalau tidak, kamar ini akan kubakar sampai engkau dan ular-ularmu mati hangus!"

Tentu saja ancaman membunuhnya dengan cara apa pun juga tidak mendatangkan rasa takut di hati Kwi Hong. Dia memang sudah berada di ambang maut, peduli apa dengan segala gertakan? Akan tetapi dia tidak ingin melihat ular-ular itu ikut pula mati terbakar, dan pula, selama masih ada kesempatan, dia harus mempergunakannya untuk menyelamatkan diri. Kalau sudah tidak ada jalan lain, dalam menghadapi penghinaan, kini dia menemukan cara yang paling tepat, seperti yang dikatakan oleh ayah kandungnya tadi, yaitu membunuh diri! Takut apa lagi? Ia tersenyum.



"Bhong Ji Kun, engkau menyuruh aku mengusir ular-ular ini, kalau mereka sudah pergi, kau akan senang melihat aku diganggu orang-orangmu, bukan? Benar-benar engkau seorang yang amat baik hati. Baiklah, aku akan mengusir ular-ularku. Buka pintu kamar ini agar lebih cepat mereka pergi."

Bhong Ji Kun sendiri melangkah maju membukakan pintu, sedang para pembantunya berdiri di belakangnya dengan muka membayangkan kengerian. Mereka sungguh merasa heran mengapa gadis tawanan itu dapat mengumpulkan ular beracun sekian banyaknya dan sama sekali tidak terganggu! Benar-benar seorang gadis yang amat lihai dan tak boleh dipandang rendah.

Kwi Hong mengeluarkan bunyi dengan lidahnya untuk membangkitkan perhatian ular-ular itu, mengambil ular yang terluka dan masih berkelojotan, kemudian tiba-tiba dia melempar ular terluka itu ke arah Bhong Ji Kun sambil membentak, "Makanlah ini!"

Bhong Ji Kun cepat mengelak, lalu meloncat jauh ke pinggir. Di belakangnya terdengar orang berseru kaget dan ular yang terluka itu ternyata mengenai dadanya, dan... semua ular merah yang berada di dalam kamar itu menyerbu keluar dan langsung menyerang Panglima Mancu yang terkena ular terluka tadi, tubuhnya penuh dengan ular merah yang langsung menggigit. Panglima itu memekik nyaring mengerikan dan roboh berkelojotan terus tewas seketika!

Bhong Ji Kun sudah meloncat ke dalam kamar tahanan yang sudah tidak ada ularnya. Kwi Hong meloncat bangun, namun tubuhnya masih belum pulih, masih lemah maka dalam beberapa gebrakan saja dia telah roboh oleh Bhong Ji Kun yang lihai.

"Gunakan api, usir ular-ular itu!" Bhong Ji Kun berteriak marah.

Para pembantunya cepat menggunakan api. Benar saja, ular-ular itu segera melarikan diri keluar dari tempat itu. Seperti binatang-binatang apa saja di dunia ini, ular-ular itu pun takut sekali akan api yang amat panas itu.

"Bhong-koksu, bunuh saja gadis itu!" Thian Tok Lama berkata.

Ucapan ini dibenarkan semua pembantu Bhong Ji Kun. Setelah menyaksikan betapa dalam keadaan lemah saja gadis itu telah berhasil mengakibatkan kematian seorang bujang dan seorang panglima, mereka menjadi gentar dan akan selalu cemas sebelum gadis yang berbahaya itu dibunuh.

"Dia sudah kutotok dan takkan dapat bergerak selama semalam suntuk. Memang mudah membunuhnya. Akan tetapi kalau dipikir lagi, apa gunanya membunuhnya? Kurasa, kalau dia hidup dia lebih berguna dari pada kalau dia mati. Siapa tahu gunanya kelak. Biarlah besok kita rundingkan lagi, pendeknya dia harus selalu dijaga ketat agar tidak mendapat kesempatan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan lagi."

Keputusan Bhong Ji Kun ini membuat Kwi Hong hampir kehilangan akal dan kehabisan harapan karena selain tertotok, dia pun dibelenggu kaki tangannya, dilempar ke atas pembaringan dalam kamar tahanan itu, pintunya dipalang dari luar dan di luar pintu selalu ada dua orang pembantu Bhong Ji Kun yang berdiri menjaga dengan bergilir! Andai kata dia dapat membebaskan totokan, dia harus membebaskan belenggu, dan masih harus berhadapan dengan dua orang penjaga yang berilmu tinggi dan yang tentu akan memanggil datangnya Bhong Ji Kun dan para pembantunya yang lain!

Akan tetapi, kenyataan bahwa dia belum dibunuh oleh Bhong Ji Kun menimbulkan harapan baru. Hal itu hanya berarti bahwa bekas Koksu itu masih ingin melihat dia hidup, dan selama masih ada harapan untuk hidup, dia tidak akan putus asa dan tidak akan membunuh diri seperti yang dianjurkan ayah kandungnya. Memang amat mudah membunuh diri, tidak memerlukan tenaga dan biar pun dia dibelenggu seperti itu, masih amat mudah membunuh diri. Bagi seorang yang terlatih seperti dia, menahan napas dan dengan paksa menghentikannya sudah cukup untuk membuat nyawanya melayang, atau lebih sederhana lagi, menggigit lidahnya sendiri sampai putus!

Gadis yang keras hati dan tahan uji ini sama sekali tidak tahu bahwa pada keesokan harinya terjadi perubahan yang amat besar, terjadi peristiwa hebat sekali di Pulau Es. Peristiwa itu dimulai dengan munculnya Majikan Pulau Es sendiri, Suma Han Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang datang berperahu bersama dua orang wanita sakti, Nirahai dan Lulu, atau kedua orang isterinya yang bersama dia akan memulai hidup baru di pulau itu!

Ketika pagi hari itu Suma Han tiba di Pulau Es dan melihat sebuah perahu besar telah berlabuh di pantai, pendekar ini mengerutkan alisnya dan berkata kepada dua orang isterinya. "Agaknya kita telah didahului tamu-tamu tidak diundang. Jarang ada orang luar berani mendatangi Pulau Es. Nirahai dan Lulu, kita sudah saling berjanji tidak akan mencari urusan di luar, karena aku tahu bahwa kalian masih mempunyai kekerasan hati, maka apa pun yang terjadi nanti, kuharap kalian tinggal diam dan menonton saja. Biarlah aku sendiri yang akan menanggulanginya."

Nirahai dan Lulu saling pandang, tersenyum dan keduanya mengangguk. Telah terjadi perubahan besar atas diri pria ini, pria berkaki buntung yang mereka cinta dan junjung tinggi. Jika dahulu Suma Han merupakan seorang pendekar sakti yang berhati lemah, kini mulai tampak kejantanannya, dan pertama-tama kejantanannya itu diperlihatkan dengan menguasai kedua orang isterinya!

Setelah menarik perahu kecil mereka di pantai yang dangkal, ketiganya melompat turun ke darat dan berdiri tegak dengan sikap tenang, memandang Bhong Ji Kun yang sudah diberi kabar oleh anak buahnya dan kini berlarian datang menyambut bersama seluruh pembantunya, dengan senjata siap di tangan masing-masing. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan berdebar penuh kegelisahan hati Bhong Ji Kun ketika melihat bahwa yang datang bukan hanya Pendekar Super Sakti seorang, melainkan ditemani oleh Puteri Nirahai bekas Ketua Thian-liong-pang dan Lulu bekas Majikan Pulau Neraka! Baru Pendekar Super Sakti seorang saja sudah merupakan seorang lawan yang amat menakutkan dan amat berat dilawan, apa lagi masih ada dua orang wanita sakti itu!

Dengan sikap tenang Suma Han, Nirahai, dan Lulu berdiri di pantai. Hanya bola mata mereka yang bergerak, melirik ke arah Bhong Ji Kun dan para pembantunya yang datang dari kanan kiri. Diam-diam Suma Han merasa lega ketika mendapat kenyataan bahwa yang boleh dicatat sebagai lawan tangguh hanyalah Bhong Ji Kun sendiri, Thian Tok Lama, dan agaknya orang yang memegang tombak gagang panjang itu. Dia merasa sanggup untuk mengatasi mereka.

Akan tetapi dia merasa curiga melihat sikap Bhong Ji Kun yang kelihatannya sama sekali tidak takut kepadanya, padahal dia datang bersama Nirahai dan Lulu. Salah seorang wanita itu sendiri saja sudah cukup untuk menandingi Bhong Ji Kun! Akan tetapi kakek itu begitu berani menyambutnya dengan sikap seolah-olah keadaannya lebih kuat. Tentu ada apa-apanya ini!

"Aha, Pendekar Super Sakti, engkau baru datang? Sudah lama kami mengharapkan kedatanganmu!" kata Bhong Ji Kun sambil menekan debar jantungnya.

"Hemm, mengunjungi tempat orang tanpa ijin, dan selagi tempat itu ditinggalkan penghuninya. Hanya orang seperti engkaulah yang tidak malu melakukan kedua hal itu, Im-kan Seng-jin," kata Suma Han dengan suara halus namun nadanya cukup membuat para pembantu Bhong Ji Kun merasa seram.

Di antara mereka semua, hanya Ciat Leng Souw seorang yang belum pernah bertemu dengan Suma Han, hanya mendengar nama julukannya saja. Kini melihat bahwa orang yang disohorkan sebagai dewa atau siluman itu ternyata hanyalah seorang yang wajahnya masih muda dan tampan, rambutnya putih semua, dan sebuah kakinya buntung, senjatanya hanya sebatang tongkat butut. Apanya sih yang perlu ditakuti?

Berubah wajah Bhong Ji Kun mendengar ucapan itu. "Harap Tocu (Majikan Pulau) tidak salah paham, karena sesungguhnya kedatangan kami ke sini bukan sebagai tamu tidak diundang."

"Tidak sebagai tamu, melainkan sebagai pelarian-pelarian perang yang sudah hancur kekuatannya!" Nirahai tak dapat menahan hatinya dan berkata nyaring, akan tetapi tidak melanjutkan karena Lulu menyentuh tangannya, membuat dia teringat akan larangan suaminya!

Bhong Ji Kun menjura ke arah Nirahai dan Lulu. "Pelarian sementara! Karena itulah, maka kami bergembira sekali kini berhadapan dengan Pendekar Super Sakti dan dengan Ji-wi Lihiap (Kedua Wanita Pendekar) yang berilmu tinggi, karena kami yakin bahwa dengan kerja sama antara kami dengan Sam-wi (Anda Bertiga), kekalahan kami akan tertebus dan akhirnya perjuangan kami akan berhasil."

"Apa?! Mengajak kami bekerja sama...?" Nirahai kembali berseru saking herannya.

"Aihh, dia sudah gila!" Lulu juga tidak dapat menahan untuk berseru heran.

Siapa orangnya tidak akan heran. Dia dan Nirahailah yang memimpin pasukan pemerintah menghancurkan pemberontak ini, dan sekarang bekas Koksu pemberontak itu mengajak mereka untuk bekerja sama memberontak. Hanya orang gila saja yang mengajukan usul demikian.

Akan tetapi Suma Han berpikir lain. Sejak tadi dia sudah curiga menyaksikan sikap Koksu Bhong Ji Kun yang memberontak itu sama sekali tidak gentar, bahkan kelihatan terlalu berani. Sekarang dengan pertanyaannya itu, yaitu mengusulkan kerja sama, bahkan bukan mengusulkan, karena kata-katanya itu seperti menentukan, makin jelas bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang membuat bekas Koksu ini yakin akan kemenangannya!

"Im-kan Seng-jin, apa yang membuat engkau begitu yakin bahwa kami akan suka bekerja sama denganmu? Tidak perlu bersikap rahasia, katakanlah saja!" Suma Han berkata sambil memandang tajam.

Akan tetapi, teringat akan nasehat mendiang Maharya agar berhati-hati menghadapi Pendekar Siluman ini, terutama jangan sekali-kali menentang pandang matanya, sejak tadi Bhong Ji Kun tidak pernah berani bertemu pandang dengan pendekar itu. Bhong Ji Kun bertepuk tangan, isyarat yang memang sudah diatur sebelumnya dan muncullah seorang Mongol raksasa mengempit tubuh Kwi Hong yang kaki tangannya dibelenggu, wajahnya pucat dan pakaiannya compang-camping.

Bukan main kagetnya Suma Han melihat ini, akan tetapi selain raksasa Mongol itu siap untuk memukul kepala Kwi Hong dengan tangannya yang besar dan kuat, juga Thai-lek-gu yang gendut telah meloncat ke dekat Gozan dan menodongkan goloknya pada gadis tawanannya itu! Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan untuk mencoba menolong keponakannya, pikir Suma Han. Dia tentu kalah cepat dan andai kata dia dapat membunuh semua orang itu, tentu Kwi Hong akan terbunuh lebih dulu.

"Ahhh, Si Jahanam menawan Kwi Hong...!" Lulu berteriak.

Nirahai juga terkejut ketika mendengar bahwa murid atau keponakan suaminya telah menjadi tawanan. Mengertilah dia kini mengapa bekas Koksu itu bersikap seberani itu. Kiranya sama sekali bukan gila, melainkan licin dan curang sekali! Melihat betapa Suma Han menggerakkan jari tangan ke arah mereka, maklumlah kedua orang wanita itu bahwa mereka dilarang untuk turun tangan. Dan memang mereka pun sudah cukup cerdik untuk tidak sembarangan turun tangan, karena hal ini berarti kematian bagi Kwi Hong.

"Kwi Hong! Bagaimana engkau bisa tertawan?" Suma Han menegur muridnya.

Air mata bercucuran dari kedua mata Kwi Hong dan suaranya berduka sekali ketika dia menjawab, "Harap Paman tidak mendengarkan permintaan iblis-iblis ini. Biarkan aku mati, Paman, memang sudah patut kalau aku harus mati. Aku telah ditipunya, aku telah bersekutu dengan pemberontak-pemberontak laknat ini, karena menyangka bahwa pemerintah adalah musuh Paman. Setelah pemberontakan gagal, aku malah mengajak mereka menyembunyikan diri ke pulau ini. Akan tetapi, ternyata mereka adalah iblis-iblis yang jahat. Aku telah salah, dan aku rela mati. Harap Paman tidak mengorbankan apa-apa untukku!"

"Wah, dia benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa!" Bhong Ji Kun memuji. "Akan tetapi kami masih sangsi apakah Pendekar Super Sakti yang terkenal itu memiliki cukup kegagahan seperti muridnya untuk berkorban demi muridnya. Terserah pilihanmu, Tocu!"

"Jahanam busuk!" Nirahai membentak.

"Keparat hina!" Lulu juga memaki.

Akan tetapi Suma Han mengangkat kedua tangannya menyuruh kedua orang wanita itu bersabar dan tidak turun tangan. Kemudian dia menghadapi Bhong Ji Kun dan berkata, "Bhong Ji Kun, engkau tentu mengerti dengan baik bahwa sampai mati sekali pun kami bertiga tidak mau melibatkan diri dalam pemberontakan yang kau pimpin itu. Permintaanmu sebagai pengganti kebebasan keponakanku sungguh tidak masuk akal. Pikirlah baik-baik sebelum terpaksa kami membasmi kalian sebagai penukar nyawa murid dan keponakanku."

Diam-diam Bhong Ji Kun mempertimbangkan. Tak dapat diragukan lagi, jika Pendekar Super Sakti mengamuk dibantu dua orang wanita sakti yang entah bagaimana kini menjadi baik dengan Pendekar Super Sakti, tentu dia dan semua pembantunya ditukar hanya dengan nyawa gadis itu!

"Tentang kerja sama biarlah kita bicarakan kemudian," kata Bhong Ji Kun yang cerdik itu. "Sekarang kuganti penukarannya. Pertama kami mau membebaskan muridmu asal engkau dan dua orang wanita itu tidak mengganggu kami."

"Sudah tentu! Kalau engkau suka membebaskan Kwi Hong, kami pun tidak akan mengganggumu dan kalian boleh pergi dengan aman," jawab Suma Han, jawaban yang membuat alis kedua orang wanita sakti itu berkerut. Mereka sama sekali tidak setuju kalau orang-orang macam Bhong Ji Kun dan teman-teman-nya itu dibiarkan pergi begitu saja! Akan tetapi keduanya tidak berani membantah!

Agaknya mereka pun sudah menarik pelajaran dari pengalaman mereka setelah mereka menderita batin karena asmara gagal selama belasan tahun.

"Dan kedua, engkau harus menyerahkan kitab-kitab pusaka peninggalan Bu Kek Siansu yang tentu tadinya berada di Pulau Es kepada kami."

"Kitab-kitab pusaka Pulau Es tidak berada padaku. Ketika pasukan yang kau pimpin menyerbu ke sini, pusaka-pusaka itu telah dibawa oleh pembantuku."

"Hemm, jangan kau main-main dengan nyawa muridmu, Tocu, dan amat memalukan kalau seorang pendekar dengan kedudukan seperti engkau mengeluarkan kata-kata membohong."

Sepasang mata Suma Han mengeluarkan cahaya menyambar seperti kilat, membuat Bhong Ji Kun terkejut dan cepat menundukkan muka.

"Bhong Ji Kun, untuk kata-katamu itu saja, dalam lain keadaan sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk menghancurkan mulutmu!"

Nada dalam suara Pendekar Super Sakti itu membuat wajah bekas Koksu itu menjadi pucat karena dia merasa betul betapa penuh wibawa dan bukan ancaman kosong saja kata-kata itu.

"Siapa yang bisa percaya bahwa seorang Tocu tidak menyimpan sendiri pusaka milik istananya?" Dia membela diri.

"Pusaka ada di sini...!" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dan bayangannya berkelebat datang. Kiranya orang ini adalah Phoa Ciok Lin yang datang membawa sebuah peti kayu cendana yang berukir indah.

Melihat peti ini, Kwi Hong dengan suara tangisnya berkata, "Bibi... jangan... jangan kau berikan kepada mereka...! Lebih baik aku mati saja dari pada mengorbankan pusaka-pusaka itu...!"

Phoa Ciok Lin, wakil urusan dalam di Pulau Es, pembantu Suma Han yang usianya sebaya dengan kedua isteri pendekar itu, mengerling kepada Suma Han dan dua orang isterinya, tersenyum penuh syukur akan tetapi pandang matanya sayu penuh derita batin, kemudian cepat menghampiri bekas Koksu dan berkata, "Im-kan Seng-jin, engkau membutuhkan pusaka Pulau Es? Inilah pusaka-pusaka itu, boleh kuserahkan kepadamu asal engkau membebaskan Kwi Hong lebih dulu!"

Mata Bhong Ji Kun dan kawan-kawan-nya terbelalak penuh gairah memandang ke arah peti berwarna coklat itu. Akan tetapi Bhong Ji Kun yang sudah biasa melakukan segala macam tipu muslihat, tentu saja menjadi seorang yang tidak mudah percaya dan selalu berprasangka buruk. Memang demikianlah, watak seseorang dibentuk oleh kebiasaan dan pengalamannya sendiri. Seorang pembohong akan selalu tidak percaya kepada kata-kata orang lain, seorang penipu akan selalu curiga terhadap semua orang.

"Suma Tocu, benarkah ini peti berisi pusaka Istana Pulau Es?" tanyanya sambil menoleh ke arah Suma Han.

Pendekar ini mengangguk dan suaranya dingin sekali ketika menjawab, "Dia adalah wakilku dan kepercayaanku yang membawa pusaka Istana Pulau Es."

Makin berseri wajah Bhong Ji Kun. "Suma-tocu, aku mau menukar muridmu dengan pusaka-pusaka itu, akan tetapi berjanjilah bahwa engkau tidak akan menghalangi dan merampas kembali kalau peti berisi pusaka telah diserahkan kepadaku."

"Aku berjanji!"

"Paman, jangan! Lebih baik aku mati!"

"Diam kau!" Suma Han membentak dan Kwi Hong hanya terisak menangis.

"Im-kan Seng-jin, bebaskan Kwi Hong, baru akan kuserahkan kepadamu peti berisi pusaka ini!" kembali Phoa Ciok Lin mendesak, wajahnya yang cantik itu agak pucat.

Bhong Ji Kun tersenyum lega. Setelah mendapatkan janji Suma Han, siapa lagi yang dia takuti? Dia lalu memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada Gozan dan Thai-lek-gu. Dua orang ini lalu melepaskan belenggu kaki tangan Kwi Hong, lalu mendorong tubuh dara yang sudah lemas dan lemah itu ke arah Pendekar Super Sakti.

Kwi Hong jatuh berlutut di depan kaki pamannya, dia menangis terisak-isak dan tidak berani mengangkat muka. Suma Han sama sekali tidak mempedulikan dia, hanya memandang Phoa Ciok Lin dengan alis berkerut dan hati menekan kegelisahan.

"Tawanan telah kubebaskan, berikan peti itu!" Bhong Ji Kun berkata sambil mengulur tangan hendak mengambil peti dari tangan Phoa Ciok Lin.

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara ketawa aneh, petinya terlempar ke belakang, ke arah Suma Han, sedangkan dia sendiri seperti gila telah menubruk bekas Koksu itu dengan pukulan kedua tangannya, pukulan maut yang amat berbahaya.

"Ciok Lin, jangan...!" Suma Han berseru mencegah pembantunya.

Namun terlambat. Serangan Phoa Ciok Lin yang hebat itu membuat Bhong Ji Kun terkejut bukan main. Untuk mengelak sudah tiada kesempatan lagi, maka dia hanya dapat menangkis pukulan ke arah pusarnya yang amat berbahaya dan terpaksa menerima tamparan pada dadanya.

"Desss...!"

Phoa Ciok Lin adalah murid nenek yang terkenal sebagai datuk kaum sesat, Toat-beng Ciu-sian-li, maka tentu saja ilmu kepandaiannya tinggi. Apa lagi setelah dia menjadi pembantu Pendekar Super Sakti dan memperdalam ilmunya selama bertahun-tahun di Pulau Es. Biar pun tentu saja dia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan bekas Koksu yang sakti itu, namun pukulannya itu pun bukanlah pukulan ringan sehingga tubuh Koksu yang sakti itu sampai roboh terjengkang. Akan tetapi dia sendiri pun terhuyung ke kiri karena daya tolak tenaga sinkang bekas Koksu yang lihai itu. Dan tampak sinar putih berkelebat disusul keluhan Phoa Ciok Lin yang roboh terguling, dadanya terluka oleh tombak di tangan Sin-jio Ciat Leng Souw yang menyerangnya dengan kecepatan kilat sehingga Suma Han sendiri sampai tercengang dan tidak mampu mencegahnya.

"Bibi...!" Kwi Hong menjerit dan meloncat menubruk Phoa Ciok Lin, lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke pinggir.

Terdengar suara melengking tinggi nyaring dan tahu-tahu tubuh Suma Han telah berada di depan Bhong Ji Kun yang sudah bangkit kembali. Setelah menyerahkan peti pusaka dalam perlindungan Lulu dan Nirahai, Suma Han dengan marah kini menghadapi bekas Koksu dan para pembantunya.

"Bhong Ji Kun!" Suaranya terdengar tegas dan penuh wibawa sehingga bekas Koksu itu dan para pembantunya memandang dengan hati gentar, akan tetapi juga dengan kesiap siagaan para jagoan yang tahu bahwa mereka menghadapi seorang lawan tangguh. "Sebagai penghuni Pulau Es menghadapi orang-orang yang mengotorkan pulau, aku menantang kalian untuk mengadu ilmu!"

Bhong Ji Kun tentu saja menjadi penasaran dan marah sekali, juga kecewa. Ia sengaja mengeluarkan suara ketawa mengejek. "Ha-ha-ha, Pendekar Super Sakti, Tocu Pulau Es yang terkenal itu ternyata hanyalah seorang yang suka bermain curang! Hendak menarik kembali janjinya, melanggar janji seperti seorang yang rendah. Hendak kemana kau taruh mukamu nanti?"

"Bhong Ji Kun, mulutmu lancang sekali! Kuhancurkan nanti!" Nirahai berteriak marah mendengar suaminya tercinta dimaki orang.

Namun Suma Han bersikap tenang, biar pun pandang matanya tajam menusuk. "Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, siapakah yang curang? Aku tadi berjanji tidak menghalangi apabila pembantuku menyerahkan peti. Akan tetapi dia tidak menyerahkan peti kepadamu, hal itu adalah urusan antara kau dan dia! Dia menipumu dan engkau telah membebaskan Kwi Hong dan mengeroyok pembantuku sampai terluka hebat. Perbuatanmu sungguh tidak patut. Antara kita tidak ada perjanjian apa-apa lagi."

"Ha-ha-ha! Bukankah kau berjanji bahwa kalau kami membebaskan muridmu, engkau akan membiarkan kami pergi tanpa mengganggu?"

"Benar! Akan tetapi ingat, engkau membebaskan Kwi Hong bukan karena perjanjian antara kita, melainkan karena perjanjianmu dengan Phoa Ciok Lin. Sekarang aku menantang kalian mengadu ilmu. Kalau kalian tidak berani, aku baru mau melepaskan kalian kalau kalian mau berlutut dan minta ampun kepada kedua orang isteriku!"

Bhong Ji Kun membelalakkan mata. Kiranya pendekar ini telah akur kembali dengan Puteri Nirahai! Dan Ketua Pulau Neraka itu pun telah menjadi isterinya! Bukan main! Akan tetapi dia tidak berani menyatakan sesuatu akan pengakuan pendekar itu, apa lagi mengejek, karena kalau hal itu dia lakukan, tentu dia akan celaka di bawah tangan suami isteri, tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa itu! Kalau harus berlutut minta ampun, benar-benar hal ini amat berat. Dia adalah bekas Koksu, bahkan seorang tokoh yang terkenal di dunia kang-ouw. Demikian pun para pembantunya adalah orang-orang gagah yang lebih menghargai nama dan kehormatan dari pada nyawa.

"Pendekar Siluman!" teriaknya dengan muka merah. "Menyuruh kami berlutut minta ampun sama dengan menyuruh matahari timbul dari barat!"

"Bagus, kalau begitu majulah, dan juga para pembantumu, terutama yang memegang tombak cagak gagang panjang itu!" Suma Han melirik ke arah Ciat Leng Souw karena hatinya masih panas mengingat betapa pembantunya, Phoa Ciok Lin roboh oleh tombak orang ini.

"Wuuuuttt... syettt!"

Sin-jio Ciat Leng Souw dengan gerakan tangkas sudah meloncat dan berdiri tegak di depan Suma Han, tombak panjangnya itu dipalangkan di depan dada, sikapnya gagah sekali dan matanya menentang lawan sambil memperhatikan keadaan pendekar yang amat terkenal itu, kemudian berkata, "Pendekar Siluman! Orang lain mungkin takut mendengar namamu, tetapi, aku Sin-jio Ciat Leng Souw sama sekali tidak gentar untuk menghadapimu!"

Suma Han memandang orang tinggi besar itu. Sekelebatan saja matanya yang tajam dapat menaksir keadaan calon lawan ini. Tentu memiliki tenaga yang amat kuat dan ilmu tombak yang sakti. Sayang bahwa orang gagah ini sampai dapat terbujuk menjadi kaki tangan Bhong Ji Kun. Kalau dia menghendaki, dengan kekuatan sihir, tentu Suma Han akan dapat menundukkan calon lawan ini dengan mudah. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini.

Dia telah menunjukkan kegagahannya kepada dua orang isterinya, telah menunjukkan kejantanan dengan memaksa mereka mengikutinya ke Pulau Es. Sekarang pun dia harus memperlihatkan, tidak hanya kepada kedua isterinya tercinta, akan tetapi juga kepada Bhong Ji Kun dan semua pembantunya bahwa nama Pendekar Super Sakti sebagai Majikan Pulau Es bukanlah nama kosong belaka, dan bahwa dia, tanpa bantuan siapa pun, akan dapat mempertahankan pulaunya.

"Bagus! Engkau seorang pemberani dan gagah, Ciat Leng Souw, dan tentu ilmu tombakmu lihai sekali. Cobalah robohkan aku seperti engkau merobohkan pembantuku secara membokong tadi!"

Mendengar tantangan yang mengandung teguran dan ejekan ini merahlah muka Ciat Leng Souw. Dia adalah seorang tokoh yang terkenal di selatan dan belum pernah tombaknya menemui tandingan. Kalau tadi dia turun tangan melukai Phoa Ciok Lin adalah karena melihat wanita itu menggunakan kecurangan dan mengancam keselamatan Bhong Ji Kun. Melihat betapa Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, dan para orang gagah yang membantu bekas Koksu itu kelihatan gentar menghadapi Suma Han, dia sudah merasa penasaran sekali.

Dia sudah banyak mendengar nama Pendekar Super Sakti, akan tetapi melihat betapa pendekar yang disohorkan orang itu hanya seorang yang sederhana dan berkaki buntung, dia makin penasaran dan ingin sekali mencoba kepandaiannya. Kini kesempatan itu tiba. Mendengar ucapan Suma Han, Ciat Leng Souw mengeluarkan suara menggereng dan tombak panjangnya sudah bergerak meluncur dan menyambar ke arah dada Suma Han dengan tusukan kilat.

"Trakkk!"

Tombak itu tertangkis oleh tongkat di tangan kiri Suma Han. Benar saja dugaan pendekar buntung itu, tenaga jago dari selatan ini memang kuat sekali. Betapa pun juga, kalau Suma Han menghendaki, dengan pengerahan sinkang-nya yang mukjizat, dia akan dapat mengalahkan lawan dalam pertemuan tenaga pertama kali itu. Akan tetapi dia tidak mau mengalahkan lawan dengan menggunakan sinkang-nya yang jarang ada tandingannya, juga tidak mau menggunakan kekuatan pandang matanya yang dapat melumpuhkan pikiran orang. Melihat betapa lawannya sudah cepat sekali menarik kembali tombaknya yang tertangkis lalu menggerakkan tombak dengan lihai sehingga tampak sinar panjang menyambar-nyambar, Suma Han cepat menghindar dan selanjutnya dia mempergunakan ilmunya yang amat dahsyat, yaitu Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun.

Ilmu silat yang mukjizat ini merupakan gerakan-gerakan berdasarkan ginkang yang hanya dapat dilakukan oleh orang berkaki buntung! Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung terbang dan betapa pun Ciat Leng Souw mainkan tombaknya dengan hebat, tetap saja gerakan tombaknya tidak dapat mengikuti berkelebatnya bayangan lawan yang makin lama makin cepat seperti kilat menyambar-nyambar dan sebentar saja kepalanya menjadi pusing dan pandang matanya berkunang karena bayangan lawannya menjadi bertambah banyak! Hal ini bukan terjadi karena ilmu sihir, melainkan saking cepatnya Suma Han bergerak.

"Siluman...!" Ciat Leng Souw berseru dan dia mulai merasa gentar.

"Krekkk! Plak! Plak!"

Tubuh yang tinggi besar itu terhuyung ke belakang, wajahnya pucat dan dari mulutnya mengalir darah segar, tombaknya patah-patah dan akhirnya dia roboh terguling dan mengeluh. Suma Han telah berdiri dengan tegak, tongkat di tangan dan dia tidak mempedulikan lagi Ciat Leng Souw yang dirobohkan. Pendekar ini dengan sikap tenang menanti majunya jago lain di pihak musuh. Dia telah berhasil mengalahkan Ciat Leng Souw tanpa membunuhnya, hanya mematahkan tombaknya dan dua kali menampar pundak lawan, membuat tulang kedua pundak Ciat Leng Souw patah!

Melihat ini, Gozan, jagoan Mongol yang seperti raksasa, Liong Khek, Si Muka Pucat yang bersenjatakan pancing, Thai-lek-gu Si Pendek Gendut yang bertangan panjang dengan sepasang golok jagal babinya, dan tiga orang panglima kaki tangan Bhong Ji Kun sudah bergerak maju mengurung Suma Han.

"Tak tahu malu!" Lulu membentak.

"Betapa gagahnya, main keroyokan!" Nirahai juga mengejek.

"Biarkan saja tikus-tikus ini, kalian jaga saja peti itu!" Suma Han menoleh kepada dua orang isterinya sambil tersenyum.

Padahal tanpa dia beritahu pun Nirahai dan Lulu tidak akan bergerak membantu suami mereka karena mereka maklum bahwa menghadapi pengeroyokan itu, suami mereka tidak perlu dibantu, apa lagi mereka bertugas menjaga peti pusaka Istana Pulau Es.

Gozan sebagai seorang jagoan Mongol yang juga memandang rendah Suma Han, apa lagi dia mengandalkan ilmu gulatnya dan tenaganya, sudah tidak sabar lagi dan sambil memekik dia lari menerjang dan hendak menangkap pendekar kaki buntung itu dengan kedua lengannya yang berotot kuat. Menghadapi serangan ini, Suma Han hanya berdiri tenang saja, bahkan ia tidak mengelak sama sekali ketika kedua tangan lawan ini mencengkeram pundak dan pinggangnya. Akan tetapi, betapa terkejut hati Gozan ketika dia merasa seolah-olah jari-jari tangannya mencengkeram baja yang dingin dan keras! Dia mengerahkan tenaga, hendak mengangkat tubuh itu dan membantingnya namun betapa pun dia mengerahkan seluruh tenaganya, tubuh yang hanya berdiri dengan satu kaki itu sama sekali tidak bergoyang.

"Pergilah!" Suma Han membentak sambil menggoyangkan tubuh dengan gerakan berputar.

"Krekk! Krekk!" Gozan terpelanting roboh dan mengaduh-aduh, kedua lengannya tergantung lumpuh karena sambungan siku dan pergelangan kedua tangannya telah terlepas, terbawa oleh gerakan memutar tubuh Pendekar Super Sakti tadi.

Liong Khek dan teman-temannya sudah menerjang maju, menggunakan senjata mereka. Hujan senjata menyambar ke arah tubuh Suma Han. Pendekar ini tenang-tenang saja memegang tongkatnya, kemudian secara tiba-tiba tongkatnya diputar, dan terdengarlah suara nyaring disusul runtuhnya senjata para pengeroyok yang patah-patah dan terpental ke sana-sini, kemudian tampak bayangan Suma Han berkelebat di antara mereka.

Para pengeroyok mengeluh panjang pendek dan seorang demi seorang terlempar ke kanan kiri tanpa dapat melawan lagi karena sambaran tongkat Suma Han yang terarah dan dengan tenaga terbatas para pengeroyok itu menderita patah tulang, tertotok lumpuh, atau terluka dalam! Belasan orang itu roboh hanya dalam waktu belasan jurus saja! Tadinya memang hanya enam orang yang maju, akan tetapi begitu Gozan roboh, semua kaki tangan bekas Koksu itu maju mengeroyok. Kini hanya tinggal Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama berdua saja masih berdiri dengan muka agak pucat, namun sikap mereka ditenang-tenangkan ketika Suma Han menghadapi mereka.

"Bhong Ji Kun, sekarang aku ingin merasai kelihaianmu. Dan Thian Tok Lama, kita adalah lawan-lawan lama yang sudah puluhan tahun tak pernah saling mengukur kepandaian. Agaknya engkau telah memperoleh kemajuan hebat, hanya sayangnya, semenjak dahulu kedudukanmu tidak mengalami kemajuan dan selalu menjadi kaki tangan pemberontak!" Wajah Thian Tok Lama menjadi merah mendengar ejekan ini, karena memang dia dan sute-nya yang sudah tewas, Thai Li Lama, dahulu pernah terlibat pula dalam pemberontakan.

Thian Tok Lama sudah pernah mengalami bertanding melawan Pendekar Super Sakti dan dia merasa gentar karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih kalah jauh oleh Majikan Istana Pulau Es itu, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mengaku kalah, apa lagi di situ ada Bhong Ji Kun yang dia andalkan. Bekas Koksu ini biasanya amat percaya kepada kepandaiannya sendiri, namun biar dia belum pernah bentrok dan mengadu ilmu melawan Pendekar Super Sakti, nama pendekar ini membuat dia merasa gentar, apa lagi setelah menyaksikan betapa dengan mudah saja pendekar itu tadi merobohkan semua anak buahnya, maka nyalinya menjadi kecil.

Dia memang cerdik dan dengan suara dibuat-buat agar tidak kentara perasaan jerinya, dia bertanya, "Suma-tocu, apakah engkau menantang kami maju berdua? Benarkah engkau berani menghadapi kami berdua tanpa bantuan orang lain?" Berkata demikian bekas Koksu itu sengaja melirik ke arah Nirahai dan Lulu.

Kalau seorang saja di antara kedua orang wanita sakti itu maju, tentu dia dan Thian Tok Lama takkan mampu menandinginya. Akan tetapi kalau pendekar kaki buntung sebelah ini dia keroyok bersama Thian Tok Lama dia masih tak percaya kalau mereka berdua tidak akan mampu keluar sebagai pemenang!

"Bhong Ji Kun manusia pengecut!" Nirahai membentak marah. "Beraninya hanya main keroyok. Hayo kau lawan aku kalau memang ada kepandaian!"

"Aku pun siap menghadapimu satu lawan satu!" Lulu juga menantang.

Bhong Ji Kun tersenyum. "Bukan kami yang menantang, melainkan Suma-tocu. Kalau dia tidak berani, kami pun tidak akan memaksa."

"Im-kan Seng-jin tak perlu banyak cakap lagi. Majulah bersama Thian Tok Lama, aku sudah siap menghadapi kalian berdua." Terdengar Suma Han berkata, suaranya tenang karena dia tidak dapat dipanaskan hatinya oleh sikap dan ucapan Bhong Ji Kun yang cerdik.

"Tar-tar-tar...!" Pecut merah di tangan bekas Koksu itu meledak-ledak di udara. Kini dia bersikap sungguh-sungguh dan telah melangkah maju dengan senjata istimewa itu di tangan.

Juga Thian Tok Lama sudah siap, lengan kanannya di gerakkan berputaran perlahan dan tangan itu berubah menjadi biru, sedangkan tangan kirinya memegang golok, diacungkan di atas kepala. Dengan langkah-langkah lambat dua orang itu menghampiri Suma Han sambil mengatur posisi yang baik, pandang mata mereka tidak pernah berkedip ditujukan kepada Pendekar Super Sakti.

Suma Han berdiri dengan sikap tenang sekali, tidak bergerak seperti sebuah arca, tongkat di tangan kiri masih membantu berdirinya kaki tunggal itu, tubuh tegak akan tetapi mukanya menunduk, hanya pandang matanya yang bergerak perlahan mengikuti gerak-gerik kedua orang lawannya.

"Hyaaaattt...! Tar-tar-tar-tar...!"

"Haiiittt...! Sing-sing-sing-wuuutttt!"

Serangan yang datang mengikuti pekik yang keluar dari mulut Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama hampir berbareng itu datang bagaikan hujan ke arah tubuh Suma Han. Pecut merah berubah menjadi sinar merah yang menyambar-nyambar dan meledak-ledak seperti halilintar, bertubi-tubi menyambar ke arah kepala dan dada Pendekar Super Sakti. Golok di tangan kiri Thian Tok Lama merupakan sinar putih yang bergulung-gulung membabat ke arah kaki tunggal lawan, sedangkan tangan kanannya digerakkan dengan dorongan dahsyat ke arah pusar Suma Han, mengeluarkan uap hitam karena pukulan itu adalah pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang (Pukulan Sakti Api Angin dan Uap Hitam), dari perut pendeta Lama ini keluar suara kok-kok seperti ayam betina habis bertelur!

Suma Han maklum betapa lihainya kedua orang yang mengeroyoknya itu. Dia sudah mengenal kelihaian Thian Tok Lama dan sudah dapat mengukur sampai di mana tingkat ilmu kepandaian kakek pendeta dari Tibet ini, akan tetapi dia belum hafal benar akan sifat dan tingkat ilmu silat Bhong Ji Kun, karena itulah maka dia berlaku hati-hati dan tadi hanya bersikap menanti dan berjaga-jaga. Setelah melihat kedua orang lawannya secara tiba-tiba dan serentak menerjangnya secara dahsyat, Suma Han segera mengerahkan tenaga dan mempergunakan ilmunya yang mukjizat, yaitu Soan-hong-lui-kun.

Tubuhnya melesat ke sana-sini, cepatnya melebihi sinar senjata lawan, bagaikan kilat menyambar untuk menghindarkan diri dari serbuan kedua orang lawannya. Ketika tubuhnya dapat lolos dari kurungan serangan kedua orang dan melesat ke udara, tampak sinar merah pecut berkelebat menyambar dari bawah mengejar bayangan Suma Han. Pendekar Super Sakti diam-diam merasa terkejut dan kagum akan kecepatan gerak senjata lawan, namun tidak menjadi gugup, kaki tunggalnya digerakkan dan tubuhnya membalik, tongkatnya menangkis sinar cambuk merah.

"Tarrr...!"

Tampak asap mengepul dari pertemuan dahsyat antara tongkat dan cambuk itu, dan Suma Han sudah melayang turun lagi. Diam-diam dia kagum juga akan kelihaian lawan karena dalam pertemuan tenaga tadi tahulah dia bahwa tenaga sakti bekas Koksu ini lebih kuat dari pada Thian Tok Lama! Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk membanding lebih lama lagi karena cambuk merah itu sudah meledak-ledak mencari sasaran, sedangkan golok di tangan Thian Tok Lama juga sudah menerjangnya secara bertubi-tubi.

Suma Han menggerakkan tongkatnya, menangkis semua serangan kedua orang pengeroyoknya. Sampai tiga puluh jurus lebih pendekar ini hanya menjaga diri, mengelak dan menangkis untuk menguji lawan. Melihat sikap suami mereka itu, Lulu dan Nirahai hampir kehilangan kesabaran mereka. Kalau saja mereka menurutkan watak mereka yang dahulu, tentu mereka sudah tadi-tadi turun tangan membunuh bekas Koksu dan pendeta Tibet itu.

Akan tetapi mereka merasa takut kepada suami mereka, takut kalau suami mereka marah! Apa lagi karena mereka yakin bahwa suami mereka tidak akan kalah, maka kedua orang wanita perkasa itu hanya menonton. Peti pusaka Istana Pulau Es terletak di depan kaki mereka.

Ada pun semua anak buah Bhong Ji Kun biar pun tidak ada yang tewas dan hanya terluka ketika mereka dirobohkan Suma Han, tidak ada yang berani maju lagi membantu Bhong Ji Kun. Mereka hanya menonton dan tentu saja mengharapkan agar dua orang kakek itu dapat mengalahkan Pendekar Super Sakti.

Ternyata harapan mereka itu kosong belaka karena kini Pendekar Super Sakti mulai membuat gerakan balasan dengan tongkatnya. Begitu tongkat di tangan kirinya itu menambah gerakan menangkis dengan serangan dahsyat, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama terdesak hebat dan terpaksa banyak mundur karena betapa pun mereka memutar senjata, beberapa kali ujung tongkat itu tahu-tahu telah menyelonong depan hidung mereka dan mengancam bagian tubuh yang lemah.

Ini memang siasat Suma Han yang dalam segala hal, juga dalam pertandingan, bersikap tenang dan penuh perhitungan. Kalau saja dia tadi tidak bersikap mengalah dan mempertahankan diri, kiranya tidak mudah baginya untuk mendesak kedua orang lawannya yang juga memiliki kepandaian sangat tinggi, terutama sekali mendesak Bhong Ji Kun.

Akan tetapi, ketika dia hanya mempertahankan diri selama tiga puluh jurus lebih tadi, diam-diam dia mempelajari dasar gerak kedua orang lawannya, terutama sekali gerakan cambuk Bhong Ji Kun, karena dia sudah tahu akan kepandaian Thian Tok Lama. Tiga puluh jurus cukuplah bagi Pendekar Super Sakti ini, dan setelah mengenal dasar gerakan lawan, barulah kini dia mengeluarkan kepandaiannya untuk menyerang lawan.

Thian Tok Lama merasa cemas karena hal ini memang sudah dikhawatirkannya. Ada pun Bhong Ji Kun yang tadinya sudah merasa girang dan memandang rendah lawan ketika dia dan temannya seolah-olah sudah mendesak Suma Han, kini merasa terkejut bukan main. Tongkat pendekar kaki buntung itu gerakannya aneh sekali, sama anehnya dengan gerakan tubuh pendekar itu yang dapat mencelat ke sana-sini secara luar biasa, dan dari tongkat itu menyambar keluar hawa pukulan yang membuat bekas Koksu ini makin bingung. Tongkat itu kadang-kadang kaku melebihi baja, kadang-kadang lemas seperti batang pohon cemara, akan tetapi yang lebih hebat lagi, kadang-kadang mengandung hawa serangan panas dan ada kalanya amat dingin!

Mendadak terdengar suara melengking tinggi yang keluar dari dalam dada Pendekar Super Sakti. Tongkatnya bergerak menyambut golok dan cambuk lawan dan tiga buah senjata melekat menjadi satu. Betapa pun Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama berusaha menarik kembali senjata mereka, sia-sia saja seolah-olah cambuk dan golok sudah menjadi satu dengan tongkat!

"Haiiiiittttt!" Bhong Ji Kun menggunakan tangan kiri memukul dengan telapak tangan didorongkan ke depan.

"Hyaaattt!" Thian Tok Lama sudah menggunakan pula tangan kanannya, melakukan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang mengeluarkan uap hitam.

Suma Han maklum akan bahaya maut ini. Pukulan tangan kosong Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan Hek-in-hwi-hong-ciang dari pendeta Lama itu. Cepat dia melepaskan tongkatnya selagi kedua lawannya mencurahkan perhatian pada pukulan mereka, kemudian dengan tubuh tegak pendekar kaki tunggal ini sudah mendorongkan pula kedua tangannya ke depan menyambut pukulan kedua lawannya.

"Desss! Desss!"

Tubuh Bhong Ji Kun menggigil dan terhuyung ke belakang. Dia telah terkena hantaman Inti Es yang selain menolak pukulannya sendiri juga dengan kekuatan dahsyat masih mendorongnya. Sedangkan Thian Tok Lama terlempar ke belakang dan terbanting roboh dengan muka merah seperti dibakar. Dia tadi dilawan dengan pukulan panas Inti Api yang luar biasa dahsyat dan kuatnya.

Dengan kemarahan meluap-luap, Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama sudah meloncat bangun lagi tanpa mempedulikan darah yang menetes keluar dari ujung bibir mereka. Bhong Ji Kun menerjang dengan cambuknya yang tadi sudah terlepas dari tongkat Suma Han. Akan tetapi karena benturan tenaga sakti tadi telah mendatangkan luka di dalam dadanya, gerakannya tidak sedahsyat tadi dan menghadapi serangan ini, Suma Han yang telah memegang tongkatnya lagi bersikap tenang sekali.

"Tarr-tarrrr...!"

Cambuk merah itu menyambar ke arah kepala, ujungnya seperti patuk burung garuda mematuk ke arah ubun-ubun kepala Suma Han. Dengan sikap tenang Suma Han menggerakkan tongkatnya menangkis, akan tetapi tiba-tiba tampak sinar kilat berkeredepan menusuk ke arah dada pedekar itu. Suma Han mengeluarkan seruan kaget, maklum bahwa lawannya menggunakan senjata yang luar biasa ampuhnya, maka sambil menggerakkan tubuh mencelat ke kanan, tongkatnya bergerak menangkis senjata yang berkeredepan itu.

"Cringggg! Trakkkk!" Tongkat di tangan Pendekar Super Sakti itu patah menjadi dua bertemu dengan pedang itu.

"Li-mo-kiam...!" Suma Han berteriak kaget. Cepat dia mendorongkan kedua tangannya, yang kiri memukul ke arah pergelangan tangan kiri lawan yang memegang Pedang Iblis itu, sedangkan yang kanan mendorong ke arah dada Bhong Ji Kun.

"Desss! Augghhh...!"

Pedang Iblis Betina terlepas dari pegangannya dan cepat disambar oleh Suma Han, sedangkan tubuh bekas Koksu itu terjengkang seperti dihantam palu godam raksasa yang amat kuat. Mulutnya muntahkan darah segar. Dia terkena pukulan yang mengandung tenaga sakti Inti Api, yang sama sekali tidak diduganya karena dia mengira bahwa lawannya akan menggunakan Im-kang seperti tadi. Apa lagi dia telah mempergunakan Li-mo-kiam yang dirampasnya dari Kwi Hong. Melihat pendekar itu terkejut dan tongkatnya patah, hatinya sudah girang sekali, membuat kewaspadaannya berkurang.

"Singggg... trakkkk! Desss!"

Golok di tangan Thian Tok Lama patah-patah bertemu dengan Li-mo-kiam, tangan kanan Thian Tok Lama yang melancarkan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang bertemu dengan tangan kiri Suma Han yang menyambutnya dengan Im-kang sehingga pendeta Lama dari Tibet ini terpental sampai beberapa meter jauhnya dan roboh pingsan dengan muka pucat kebiruan!

Suma Han memandang Li-mo-kiam di tangannya, mengebutkan bajunya dan kemudian menghampiri Bhong Ji Kun yang sudah merangkak bangun sambil meringis. Suma Han memandang bekas Koksu itu dan berkata dengan suara dingin penuh wibawa, "Bhong Ji Kun, bawa semua kaki tanganmu ke perahumu dan lekas tinggalkan tempat ini!"

Sambil meringis Bhong Ji Kun bangkit berdiri, mukanya pucat dan mulutnya masih berlepotan darahnya sendiri. Dia memandang ke sekelilingnya. Thian Tok Lama masih pingsan dan anak buahnya tidak seorang pun tewas, akan tetapi semua menderita luka yang membuat mereka tidak berdaya. Dia mengangguk, menarik napas panjang dan berkata, "Engkau hebat. Pendekar Super Sakti. Sekali ini aku mengaku kalah, akan tetapi tunggu saja, akan datang saatnya aku menebus kekalahan ini."

Sambil terhuyung-huyung, bekas Koksu ini mengambil cambuk merahnya, kemudian menyuruh anak buahnya membawa teman yang lukanya agak berat, menggotong Thian Tok Lama, kemudian tanpa berkata apa-apa kepada Suma Han dia bersama anak buahnya naik perahu yang segera dilayarkan meninggalkan Pulau Es, menuju ke selatan.

"Anjing-anjing licik macam itu mengapa tidak dibunuh saja?" Baru sekarang Nirahai membuka mulut mencela suaminya.

"Memang sepantasnya mereka dibunuh, kalau tidak kelak hanya akan menimbulkan kekacauan saja," Lulu juga berkata tak puas, dan memandang bekas kakak angkat yang kini menjadi suaminya yang tercinta itu.

Suma Han menarik napas panjang. "Aku kasihan kepada orang-orang sesat seperti itu. Mudah-mudahan kekalahan mereka ini menjadi pelajaran dan membuat mereka bertobat. Pula, aku tidak menghendaki pembunuhan di pulau ini, apa lagi aku tidak ingin memulai hidup baru kita dengan pembunuhan."

"Akan tetapi mereka telah membunuh pembantumu!" kata Nirahai.

Suma Han terkejut dan menengok, seolah-olah baru teringat kepada pembantunya yang setia itu. Dengan cepat dia menghampiri, diikuti oleh Nirahai dan Lulu. Mereka bertiga berlutut dekat Phoa Ciok Lin yang masih rebah di atas tanah dipeluki oleh Kwi Hong yang masih menangis terisak-isak.

Melihat keadaan Phoa Ciok Lin yang dadanya ditembus tombak, Suma Han maklum bahwa nyawa pembantunya itu tak mungkin ditolong lagi. Melihat muridnya atau keponakannya, alisnya berkerut. Dara inilah yang menjadi gara-gara, pikirnya penuh kekecewaan dan penyesalan.

"Perlu apa engkau menangis lagi? Menangis setelah terlambat tiada gunanya! Kenapa sebelumnya engkau tidak berpikir panjang dan percaya kepada orang-orang seperti mereka?"

Tangis Kwi Hong semakin meledak ketika dia mendengar suara yang bernada penuh teguran dari pamannya itu. Dia merebahkan tubuh Phoa Ciok Lin perlahan-lahan di atas tanah, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Han sambil menangis dan berkata, "Harap Paman bunuh saja aku yang berdosa ini!"

Suma Han memandang tajam, kerut di alisnya makin mendalam. "Hemmm, pernahkah aku mengajarmu bersikap seperti pengecut ini? Setiap orang membuat kesalahan, dan sikap terbaik adalah menyadari kesalahan itu, bukan dengan penyesalan yang menimbulkan keinginan untuk bunuh diri! Sekarang aku mempunyai tugas untukmu, jika engkau melaksanakan tugas ini dengan baik berarti engkau mempunyai keinginan untuk menebus kesalahanmu. Sanggupkah engkau?"

"Biar harus mengorbankan nyawa, akan saya laksanakan tugas itu, harap Paman lekas beritahukan kepada saya."

"Kau pergilah meninggalkan pulau ini, carilah Milana sampai dapat, bawa dia ke pulau ini menyusul kami. Juga kau selidiki di mana adanya Gak Bun Beng yang sudah kusuruh mencari Milana. Mereka telah kami tunangkan dan keduanya harus menyusul kami di sini untuk dilaksanakan pernikahannya. Juga kau harus mencari Wan Keng In, selain minta dia menyerahkan Lam-mo-kiam juga katakan kepadanya bahwa ibunya telah berada di Pulau Es, menjadi isteriku. Nah, berangkatlah!"

Wajah Kwi Hong seketika pucat ketika dia mendengar perintah ini. Biar pun amat sukar menundukkan Wan Keng In, apa lagi memaksanya menyerahkan Lam-mo-kiam dan mengajaknya ke Pulau Es, namun hal itu masih tidak membuat dia terkejut. Yang membuat wajahnya pucat adalah ketika dia mendengar akan pertunangan antara Gak Bun Beng dan Milana! Jantungnya seperti ditusuk rasanya dan cepat menundukkan mukanya untuk menyembunyikan kepucatan wajahnya dan dua titik air mata yang sudah bergantung di bulu matanya. Dia mengangguk, kemudian menerima pedang Li-mo-kiam yang disodorkan pamannya. Tanpa menjawab, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia sudah berlari-lari ke pantai, meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang tadi dipergunakan oleh Phoa Ciok Lin, dan meluncurkan perahu dengan cepatnya menuju ke utara, melalui celah-celah pegunungan es yang terapung di lautan.

Suma Han berdiri tegak memandang bayangan keponakannya itu, alisnya berkerut. Pendekar Super Sakti ini diam-diam merasa kasihan dan terharu. Dia memang sengaja tadi memberitahukan tentang pertunangan antara Bun Beng dan Milana, karena dia tahu bahwa keponakannya itu menaruh hati cinta kepada Bun Beng. Dia ingin agar keponakannya yang mudah dibujuk orang jahat itu belajar melihat kenyataan hidup dan menghadapinya dengan penuh keberanian! Hal ini akan menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri, membuatnya waspada dan tidak lengah. Mengingat betapa dia telah menggembleng dara itu, dan bahwa Bu-tek Siauw-jin juga sudah menurunkan ilmu kepada keponakannya itu, dia tidak khawatir lagi akan keselamatan Kwi Hong yang tentu sudah cukup kuat untuk menjaga diri, apa lagi dengan Li-mo-kiam di tangannya.

"Taihiap engkau sungguh kejam...!"

Mendengar suara Phoa Ciok Lin ini, Suma Han cepat menengok lalu berlutut di dekat kedua isterinya. Kiranya pembantunya itu telah siuman dari pingsannya dan sekarang memandang kepadanya dengan muka pucat sekali dan mata sayu. Dengan terharu dia memegang tangan wanita yang sedang sekarat itu tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.

"Taihiap, apakah engkau tidak tahu... bahwa Kwi Hong mencinta Bun Beng seperti... seperti... aku mencintamu pula? Aku bukan seorang muda, aku dapat melihat bahwa cintaku sia-sia, bahwa aku bertepuk sebelah tangan... dan demi cintaku... aku bahagia menyaksikan engkau telah dapat berkumpul dengan kedua orang wanita yang kau cinta. Aku... aku... demi cintaku kepadamu, aku dengan senang hati suka berkorban, aku akan mati dengan hati tenteram... akan tetapi Kwi Hong masih muda sekali! Dapatkah dia bersikap seperti aku? Taihiap... kasihan dia... entah apa yang akan terjadi dengan dia... tapi... aku percaya kepadamu Taihiap, selamat tinggal...!"

Phoa Ciok Lin menghembuskan napas terakhir. Agaknya kekhawatiran dalam hatinya mengenai nasib Kwi Hong tidak dapat mengusir kebahagiaan hatinya menyaksikan orang yang amat dikasihinya itu akhirnya dapat berkumpul dengan Lulu dan Nirahai, sehingga tepat seperti yang diucapkannya tadi, dia menghembuskan napas terakhir dengan senyum di bibirnya!

Suma Han menarik napas panjang, berbisik, "Ciok Lin, aku pun cinta padamu, akan tetapi bukan cinta seperti yang kau maksudkan itu..."

Kemudian, dengan dibantu oleh Lulu dan Nirahai yang tidak berkata sesuatu, Suma Han menguburkan jenazah Phoa Ciok Lin di bagian yang paling tinggi di pulau itu agar kuburannya tidak selalu tertimbun oleh salju.

Ketika mereka bertiga berdiri di depan kuburan itu dan kebetulan mereka menghadap ke selatan, mereka melihat udara di selatan amat gelap dan tampak kilat menyambar-nyambar dan awan hitam bergumpal-gumpal amat menakutkan. Nirahai yang belum pernah menyaksikan penglihatan seperti itu menjadi ngeri dan memegang tangan suaminya.

"Ihhh! Apakah di sana itu?"

Lulu yang menjawabnya, karena Lulu sudah bertahun-tahun tinggal di Pulau Es ini, "Badai. Di selatan ada badai yang mengamuk, Suci. Dan anjing-anjing tadi yang di sini mendapat pengampunan, ternyata tidak diampuni oleh Tuhan. Mereka tentu tewas semua ditelan badai!"

"Untung bahwa Kwi Hong tadi mengambil jalan ke utara," Suma Han berkata.

Dia menggandeng tangan ketua orang wanita itu, dan dengan penuh kasih sayang mereka bertiga berjalan bergandengan menuju ke istana Pulau Es, menuju ke hidup baru setelah belasan tahun ketiga orang sakti ini merana oleh cinta yang putus di antara mereka. 


BERSAMBUNG KE JILID 23