Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 17

Ia maklum bahwa orang-orang ini adalah musuh-musuh yang tak akan membiarkan ia hidup, maka hanya ada satu jalan baginya, yaitu melawan mati-matian dengan dua kemungkinan, tewas di tangan mereka atau berhasil lolos untuk menyelamatkan ibunya yang terancam bahaya maut.

"Wuuut-wuuuttttt...!"

Milana terkejut dan cepat melempar diri ke belakang dan berjungkir balik tiga kali untuk meloloskan diri dari sinar merah yang menyambarnya dari samping dan menyilaukan matanya.

"Tarr-tarrr!"

Kiranya yang menyambarnya dan yang kini meledak-ledak adalah pecut kulit berwarna merah yang berada di tangan Koksu yang berdiri sambil tersenyum mengejek di depannya.

"Pemberontak hina! Pengkhianat tak tahu malu!" Milana membentak marah. "Selain hendak berkhianat terhadap pemerintah, engkau juga hendak membunuh Ibuku! Manusia macam engkau ini mana bisa membunuh Ibuku? Lebih dulu kau mampus di tanganku!" Sambil berkata demikian Milana sudah menerjang maju dengan cepat sambil menggerakkan pedangnya secara ganas namun hebat sekali. Koksu yang memandang rendah dara remaja itu, dengan sembarangan mengebut dengan pecut merahnya.

"Singggg...! Tarrr... brettt!"

"Hayaaaa...!" Bhong Ji Kun berseru kaget.

Karena memandang rendah jurus yang dimainkan dara itu dan menangkis secara sembarangan saja, ujung pecut merahnya telah terbabat putus. Itulah jurus dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat yang hebat sekali, ilmu pedang tingkat tinggi ciptaan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan pendiri Beng-kauw, kakek luar dari Pendekar Sakti Suling Emas! Dan Koksu ini dengan sembrono telah berani memandang rendah karena dimainkan oleh seorang dara remaja!

Suara bercuit yang datang dari belakang membuat Milana cepat memutar tubuh sambil membabatkan pedangnya menangkis.

"Tranggg!"

Sekali lagi pedangnya bertemu dengan senjata di tangan Maharya dan hampir saja terlepas dari pegangannya. Cepat ia meloncat ke arah kiri, pedangnya bergerak dan terdengar suara nyaring dua kali ketika ia berhasil membuat dua batang golok patah disusul robohnya dua orang panglima yang ikut mengeroyok akan tetapi belum sempat turun tangan karena telah didahului oleh dara perkasa itu!

"Ihhh, keparat!" Koksu menjadi marah sekali, dengan pecut buntungnya dia menotok dari belakang, mengarah punggung Milana.

Dara itu meloncat ke depan menghindar, akan tetapi dia disambut oleh pukulan Thian Tok Lama yang telah berjongkok dan mengirim dorongan pukulan dengan tangan kiri. Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke depan, menyambut tubuh Milana yang masih melayang turun.

"Siuuuuutttt!"

Milana yang merasa datangnya angin pukulan dahsyat menyambarnya, terkejut bukan main. Dia berusaha untuk berjungkir balik, akan tetapi tidak keburu dan terpaksa dia mengerahkan sinkang ke arah dada dan perutnya untuk menahan serangan itu.

"Dessss!"

Angin pukulan menghantam perut Milana, membuat dara itu terjengkang dan hampir terbanting keras kalau saja dia tidak cepat menjatuhkan diri miring dan menekan lantai dengan tangan, lalu meloncat bangun. Napasnya sesak, mukanya pucat dan dia merasa dadanya sakit. Akan tetapi pada saat itu, senjata di tangan Maharya kembali telah menyambar ke arah kakinya. Agaknya pendeta ini akan merobohkannya tanpa membunuhnya, maka menyerang ke arah kaki Milana. Tentu saja Milana yang tentu tidak memperbolehkan kakinya dibabat senjata, meloncat ke atas, dan pedangnya menyambar ke arah leher Maharya yang cepat mengelak ke belakang.

"Gadis berkepala batu!" Koksu membentak marah. Dia menjadi penasaran sekali. Masa mereka bertiga, kakek-kakek yang berilmu tinggi, harus mengeroyok seorang gadis remaja? Dengan marah dia menerjang dengan pecut yang ujungnya buntung itu, dan kini pecut itu menjadi kaku, dipergunakan sebagai tongkat menotok jalan darah di tengkuk Milana.

"Haiiiitttt!" Milana memutar tubuh, mengelebatkan pedang dengan niat untuk membabat pecut Koksu agar putus tengahnya. Akan tetapi Koksu tiba-tiba membuat pecut lemas dan pedang menyambar dibiarkannya lewat, kemudian pecut yang sudah lemas itu menyusul dan melibat pedang Milana! Dara itu berusaha menarik pedangnya, akan tetapi tidak berhasil.

"Brettt... auhhhhhh!" Milana melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang. Paha kirinya tampak luka dan berdarah karena celana dan kulit pahanya robek diserempet senjata Maharya. Akan tetapi, gadis yang sedikitnya mewarisi watak keras dan berani mati dari ibunya ini, tidak menjadi jeri, bahkan tangannya kanan kiri bergerak dengan cepat. Tampak sinar-sinar menyambar dibarengi bau harum ke arah tiga orang kakek dan empat orang panglima.

"Awas jarum!" teriak Maharya.

Untung dia berseru keras, sehingga empat orang panglima yang dibandingkan tiga orang kakek itu jauh lebih rendah tingkat kepandaiannya dapat cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan. Koksu, Maharya dan Thian Tok Lama tentu saja dengan mudah dapat meruntuhkan jarum-jarum yang menyambar mereka.

Thian Tok Lama kembali mengirim pukulan dari belakang kepada tubuh Milana yang mengeluh perlahan dan roboh miring. Pahanya yang kiri terluka berdarah dan perut serta dadanya juga terluka, biar pun tidak amat parah namun membuat napasnya sesak dan tenaga sinkang-nya tak dapat ia kerahkan.

"Iblis-iblis tua bangka tak tahu malu, mengeroyok seorang anak perempuan!" Tiba-tiba terdengar suara dan tampak bayangan berkelebat amat cepat memasuki ruangan itu melalui jendela yang tadi pecah oleh Maharya.

Sukar diikuti pandangan mata bayangan itu dan tahu-tahu Pendekar Super Sakti telah berdiri di situ, berkata halus kepada Milana. "Bangkitlah dan duduk di punggungku!"

Milana girang bukan main melihat munculnya ayahnya ini. Cepat ia meloncat bangun, menahan rasa nyeri di paha, perut dan dadanya, kemudian ia meloncat ke punggung Suma Han, mengaitkan kedua kakinya yang panjang di pinggang ayahnya dan merangkulkan kedua lengannya di atas kedua pundak. Semua gerakan ini dilakukan selagi Suma Han berdiri dengan satu kaki, sedikit pun tidak bergoyang dan pandang matanya ditujukan kepada Maharya.

"Hemmm, kulihat engkau memperoleh kemajuan setelah berada di kota raja, Maharya!" katanya halus namun nadanya penuh teguran dan ejekan. "Tetapi hanya kemajuan lahiriah dan duniawi yang kau peroleh, sedangkan batinmu makin mundur dan makin mendekati jurang kehancuran!"

"Pendekar Siluman! Engkau manusia kaki buntung sejak dahulu memang sombong! Apa kau kira aku takut kepadamu?" jawab Maharya.

Koksu yang melihat munculnya pendekar yang ditakuti ini, cepat mengeluarkan suitan tiga kali untuk memberi aba-aba kepada para pengawalnya sehingga terdengarlah suara hiruk pikuk di luar ruangan itu dan puluhan orang pengawal telah mengurung tempat itu dengan ketat, siap utuk melakukan penyerbuan dan pengeroyokan!

"Hemmm, sungguh Koksu negara sekarang ini sangat gagah perkasa!" Suma Han mengejek.

Im-kan Seng-jin Bbong Ji Kun berkata lantang. "Pendekar Siluman, engkau datang seperti maling, tentu saja kami mempersiapkan orang untuk mengepungmu! Engkau adalah Tocu dari Pulau Es, mengapa sekarang engkau lancang mencampuri urusan kami dengan puteri Ketua Thian-liong-pang?"

"Bhong-koksu, aku melindungi gadis ini adalah urusan antara aku dan dia sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan engkau. Dan memang aku sengaja datang ke sini untuk bicara dengan engkau dan Maharya!" Suara Suma Han penuh wibawa dan sikapnya tetap tenang, sedikit pun tidak kelihatan gentar biar pun menghadapi pengepungan orang-orang pandai ditambah puluhan orang pasukan pengawal.

"Heh, Pendekar Siluman! Mau apa kau mencariku?!" Maharya membentak, agaknya marah sekali karena menurut perkiraan pendeta ini, yang membunuh Thai Li Lama dan muridnya, Tan Ki, dan juga yang merampas Hok-mo-kiam, tentulah Pendekar Siluman ini.

"Maharya, perlukah kau bertanya lagi? Engkau telah membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang Hok-mo-kiam. Aku datang untuk minta kembali pedang itu!"

Dapat dibayangkan betapa mendongkolnya hati Maharya, akan tetapi diam-diam kakek ini percaya akan kata-kata Pendekar Siluman. Seorang sakti seperti Si Kaki Buntung itu tentulah tidak akan mau bicara bohong dan ucapannya tadi membuktikan bahwa pembunuh muridnya dan perampas pedang Hok-mo-kiam bukanlah Pendekar Siluman.

"Kalau tidak kuberikan engkau mau apa?" tantangnya dan merasa tidak perlu lagi memberi tahu kehilangan pedang itu.

"Aku akan menggunakan kekerasan memaksamu mengembalikannya kepadaku!" kata pula Suma Han.

Bhong Ji Kun tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha! Sungguh hebat sekali, sungguh besar sekali mulutnya dan luar biasa kesombongannya! Pendekar Siluman, engkau hanya seorang yang berkaki satu, kini menggendong gadis yang luka parah itu, masih bicara sombong hendak menggunakan kekerasan terhadap seorang pembantuku! Hemmm, setelah kau mengatakan keperluan mencari Paman Guruku, sekarang ceritakan apa pula keperluanmu mencari aku?"

"Bhong-koksu, engkau juga pandai berpura-pura. Bukan engkau yang harus bertanya, tetapi akulah yang ingin bertanya kepadamu, mengapa engkau memimpin pasukan menyerbu Pulau Es dan Pulau Neraka? Aku kini datang untuk minta pertanggungan jawabmu, dan sebelum engkau menjelaskan, jangan harap engkau akan lolos dari tanganku!"

"Ha-ha-ha, benar-benar manusia sombong! Engkau tahu bahwa engkau sejak dahulu adalah seorang manusia buruan musuh kerajaan. Engkau tahu bahwa aku adalah seorang koksu negara, tentu saja apa yang kulakukan merupakan tugas dari pemerintah! Suma Han, Pendekar Siluman, engkau menyerahlah bersama gadis itu. Melawan pun takkan ada gunanya karena kalian telah terkepung dan sebentar lagi datang pasukan yang ratusan orang jumlahnya. Andai kata engkau mampu lolos dari gedung ini, engkau pun tak mungkin dapat lolos dari kota melalui ribuan orang tentara penjaga."

"Kalian memang manusia-manusia yang curang dan pengecut, beraninya hanya mengandalkan pengeroyokan jumlah besar. Aku tahu betul bahwa pemerintah Kerajaan Ceng tidak akan mengganggu Pulau Es dan Pulau Neraka yang selamanya tidak pernah memberontak atau melawan pemerintah. Tentu karena dorongan kehendakmu dan orang-orang macam Maharya inilah maka terjadi penyerbuan. Bhong Ji Kun dan Maharya, aku menantang kalian menyelesaikan urusan antara kita secara jantan, atau kita putuskan dan selesaikan di ujung senjata!"

"Ha-ha-ha-ha, kematian sudah berada di ujung hidung masih berlagak mengeluarkan tantangan. Serbu dan bunuh pemberontak-pemberontak ini!" Bhong Ji Kun berseru sambil menudingkan pedang Pek-kong-kiam yang dirampasnya dari tangan Milana tadi ke arah Suma Han sebagai isyarat kepada para pengawalnya yang sudah mengurung di luar pintu dan jendela ruangan itu.

"Alan, pegang yang amat erat, kita harus keluar dari sini lebih dulu!" Suma Han berbisik kepada gadis yang berada di gendongan punggungnya.

Dia bukanlah seorang nekat dan maklum bahwa kalau dia mengamuk menuruti nafsu kemarahannya terhadap Bhong-koksu dan Maharya, tak mungkin ia dapat menandingi ratusan, bahkan ribuan orang prajurit pengawal. Juga dia tidak ingin menyebar maut di antara para prajurit itu, maka dia mengambil keputusan untuk melarikan diri lebih dulu, mengobati luka-luka Milana, kemudian mencari jalan untuk dapat berhadapan dengan musuh-musuhnya tanpa campur tangan pasukan pengawal sehingga tertutup dan terjaga kuat.

"Jangan harap dapat melarikan diri!" Bhong-koksu berteriak dan dari pintu besar menyerbulah enam orang pengawal yang berpakaian sebagai perwira-perwira dengan senjata di tangan.

Mereka serempak maju menubruk dan menyerang pendekar berkaki buntung yang menggendong gadis terluka itu. Mereka belum pernah bertemu dengan Suma Han, dan biar pun mereka sudah mendengar akan Pendekar Super Sakti yang seperti dalam dongeng saja, sekarang melihat laki-laki berambut panjang putih dan berkaki buntung sebelah itu, mereka jadi memandang rendah. Apa lagi pria yang tidak kelihatan menyeramkan itu hanya bersenjata sebatang tongkat butut, masih menggendong seorang gadis yang terluka pula! Mereka yakin bahwa sekali serbu saja mereka tentu akan dapat merobohkan Si Buntung itu.

"Rrrrtttttt!!"

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung menyambut hujan senjata itu dan tampak senjata para penyerbu beterbangan disusul robohnya tubuh mereka malang melintang dan mereka tak mampu bangkit kembali, bahkan bergerak pun tidak karena mereka sudah pingsan semua! Suma Han meloncat ke arah pintu setelah merobohkan enam orang penyerbu pertama, akan tetapi pintu telah penuh dengan pasukan pengawal sehingga tertutup dan terjaga kuat.

"Tolol! Kepung dan jaga saja, jangan menyerang sebelum diperintah!" Bhong-koksu berseru memaki para pasukan anak buahnya. "Para panglima pengawal, majulah membantu kami menangkap pemberontak!"

Anak buah pasukan pengawal tidak ada yang berani maju lagi, bukan hanya karena seruan Koksu itu, akan tetapi juga mereka merasa ngeri melihat betapa enam orang teman mereka roboh seolah-olah tanpa sebab. Mereka melihat betapa enam orang teman mereka tadi menyerang dengan senjata terangkat, akan tetapi tidak tampak pria kaki buntung itu bergerak, yang tampak hanya berkelebatnya bayangan yang diselimuti sinar bergulung-gulung dan tahu-tahu enam orang itu menggeletak tak bergerak lagi, agaknya tewas! Mereka tidak tahu bahwa Suma Han tidak membunuh mereka berenam, hanya merobohkan mereka dengan totokan yang membuat mereka pingsan saja.

Sebelas orang panglima pengawal memasuki ruangan dengan senjata di tangan. Mereka menyingkirkan tubuh enam orang pengawal yang pingsan dan mayat dua orang panglima yang tadi roboh oleh pedang Milana, kemudian bersama panglima-panglima tinggi terdahulu, yaitu Bhe Ti Kong dan tiga orang lain, semua berjumlah lima belas orang panglima pengawal, kini maju mengurung. Di luar barisan pengurung ini berdiri Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, dan Maharya.

Koksu yang menganggap bahwa pecut merahnya yang sudah buntung itu tidak berguna lagi, memegang pedang Pek-kong-kiam, Maharya yang memegang senjata tombak bulan sabit juga bersiap-siap, sedangkan Thian Tok Lama berdiri dengan tangan kosong karena dia lebih mengandalkan kedua tangan berikut lengan bajunya dari pada senjata tajam. Tiga orang sakti ini berdiri dengan mata terbelalak. Biar pun mereka mengandalkan pasukan yang berjumlah besar sedangkan lawan yang hanya satu orang cacat yang menggendong gadis terluka, namun mereka merasa agak jeri karena maklum betapa saktinya lawan yang mereka hadapi sekarang.

Maharya berdiri dengan mata mendelik dan muka masih merah padam karena marah dan juga tersinggung hatinya oleh ejekan Pendekar Super Sakti tadi. Memang terjadi banyak perubahan pada pendeta dari barat ini. Biar pun bentuk pakaiannya masih amat sederhana, hanya kain itu yang dililit-lilitkan pada tubuh, namun kain itu bukan sembarang kain, melainkan kain sutera yang mahal dan halus sekali. Kain pengikat kepalanya juga berbentuk sederhana, akan tetapi kain pengikat kepala itu dihias dengan beberapa butir mutiara yang besar dan berkilauan, dan dilengkapi dengan sebuah bulu burung dewata yang indah!

Juga sepasang kakinya ‘ada kemajuan’ seperti yang diucapkan Suma Han tadi. Kalau dahulu kedua kakinya telanjang, kini kedua kaki itu memakai alas kaki dari kayu terukir halus dengan tombol terbuat dari pada emas yang dijepit oleh ibu jari dan jari kedua kakinya. Hebatnya, biar pun kakinya beralaskan kelom kayu, akan tetapi kedua kaki itu masih dapat bergerak gesit dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun!

Lima belas orang pegawal itu adalah panglima-panglima yang memiliki kepandaian tinggi dan bukanlah ahli-ahli silat sembarangan. Mereka itu dipimpin oleh Bhe Ti Kong melakukan pengurungan dan membentuk barisan bersenjata golok pedang atau senjata tombak trisula gagang pendek seperti yang dipergunakan Bhe Ti Kong. Gerakan mereka rapi, dan begitu Bhe Ti Kong mengeluarkan aba-aba dengan suara yang nyaring sekali, tiba-tiba barisan itu bergerak dan mereka yang berdiri di belakang Suma Han, sebanyak empat orang, telah menyerang dengan senjata mereka. Karena tubuh belakang pendekar itu tertutup oleh tubuh Milana yang digendongnya, tentu saja otomatis serangan-serangan itu mengancam tubuh Milana!

Dengan kaki tunggalnya, tiba-tiba Suma Han memutar tubuh menghadapi empat orang itu, memandang dengan sinar mata aneh dan... empat orang itu menghentikan serangan mereka, tubuh mereka kaku seperti arca dalam posisi menyerang seolah-olah mereka telah terkena totokan yang membuat tubuh mereka kaku! Padahal Suma Han sama sekali tidak pernah bergerak dan ternyata bahwa sinar mata Pendekar Super Sakti inilah yang dalam sekejap mata saja sudah menguasai mereka berempat itu!

Tiba-tiba Maharya mengeluarkan teriakan dalam bahasa asing yang amat aneh dan melengking nyaring. Kiranya itu adalah semacam mantera yang mempunyai daya pengaruh amat kuat, menggetarkan perasaan dan empat orang itu tiba-tiba terguling roboh dan sadar! Mereka saling berpandangan dengan heran, kemudian meloncat bangun dengan senjata di tangan, bingung karena tidak tahu apa yang telah terjadi. Bhe Ti Kong dan kawan-kawannya menyerbu dari kanan kiri dan depan, sehingga belasan batang senjata yang dahsyat menyambar ke arah tubuh Suma Han dan Milana.

Suma Han menggunakan gerak kilatnya, tubuhnya mencelat ke belakang yang sudah tak terjaga lagi karena empat orang panglima tadi masih bengong terlongong dan kacau, tongkatnya diputar cepat dan tubuhnya yang mencelat ke belakang itu sudah sampai ke dinding, kaki tunggalnya menyentuh dinding sehingga tubuhnya kembali mencelat ke depan, kini dialah yang menyerbu barisan itu!

Para panglima terkejut melihat bayangan yang berkelebat cepat. Mereka mengangkat senjata masing-masing dan terdengar bunyi nyaring bertubi-tubi disusul teriakan mereka karena senjata mereka telah patah, ada yang terlempar, dan lima orang di antara mereka terguling roboh karena terdorong oleh hawa sakti yang membuat tubuh mereka menggigil kedinginan. Tiga orang di antara mereka yang agak kuat sinkang-nya berhasil merangkak bangun, akan tetapi dua orang yang lemah, tak dapat bangkit lagi dan pingsan!

"Mundur...!" Maharya berseru marah. Bhe Ti Kong yang maklum bahwa dia dan teman-temannya bukanlah lawan Pendekar Kaki Buntung itu, segera mengundurkan diri dan memimpin para panglima untuk memperketat penjagaan dengan pasukan masing-masing.

Maharya kini menerjang Suma Han dengan senjatanya yang mengerikan. Gerakannya dahsyat sekali dan mulutnya terus berkemak-kemik membaca mantera, kadang-kadang hanya berbisik-bisik, kadang-kadang nyaring sedangkan matanya terus melotot menatap sepasang mata Pendekar Super Sakti. Ternyata pendeta India ini menggunakan ilmunya untuk menolak pengaruh sakti dari pandang mata Suma Han dan kini dia menggerakkan senjatanya menyerang ke arah dada pendekar itu.

"Dessss!"

Maharya terhuyung ke belakang ketika senjatanya kena ditangkis, demikian kuat tenaga dari pendekar itu, jauh lebih kuat dibandingkan dengan dahulu, belasan tahun yang lalu ketika Pendekar Super Sakti bertanding melawan Maharya. Maharya terkejut bukan main dan maklumlah dia bahwa selama bertahun-tahun itu, Pendekar Super Sakti bertambah kuat sedangkan dia bertambah lemah, hal ini selain pengaruh usia, juga karena selama itu dia banyak memboroskan tenaga dengan berfoya-foya dan bersenang-senang, sedangkan lawannya menghimpun tenaga dalam hidup berprihatin.

"Singggggg...!" Pedang di tangan Bhong Ji Kun sudah menyambar, merupakan sinar putih cemerlang, mengarah leher Suma Han.

"Awas...!" Milana berseru kaget.

Dara ini sejak tadi mengempitkan kedua kaki di pinggang ayahnya dan merangkulkan kedua lengan di leher, matanya yang indah bentuknya itu terbelalak lebar, mukanya pucat dan ia khawatir sekali, bukan mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan ayah kandungnya yang terkepung oleh banyak orang pandai itu.

"Trangggg!"

"Jangan khawatir, Alan...!"

Suma Han tanpa menoleh sudah berhasil menangkis pedang di tangan Bhong Ji Kun dan diam-diam pendekar ini terkejut karena tangkisan yang dilakukan untuk mengukur tenaga itu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang yang memegang pedang itu tidak kalah kuat dibandingkan dengan Maharya! Ternyata bahwa Koksu itu merupakan orang yang amat lihai, dan dia harus mencatat hal ini di dalam hatinya. Agaknya di dalam ilmu silat, Koksu itu tidak kalah lihai dari Maharya yang ternyata adalah paman gurunya sendiri, hanya mungkin kalah berbahaya karena Maharya memiliki ilmu sihir dan ilmu hitam yang kuat. Orang pertama yang tertangguh adalah Maharya, kedua adalah Koksu inilah.

"Kok-kok-kok! Wuuut-wuuut-wuuuttt!"

"Awas pukulan Si Gundul itu, Paman!" Milana kembali berseru kaget. Dia sendiri sudah merasakan akibat hebat dari tenaga pukulan pendeta Lama itu yang telah melukainya biar pun pukulan itu dilakukan dari jarak jauh.

Tentu saja tanpa diperingatkan Suma Han sudah mengenal suara berkokok seperti suara katak buduk yang keluar dari perut Thian Tok Lama karena pendeta Lama itu adalah musuhnya belasan tahun yang lalu. Dia memutar tubuh dan menghadapi lawan ini dan tepat seperti dugaannya, Thian Tok Lama telah berjongkok, tangan kiri menekan perut dan tangan kanan dengan lengan dilonjorkan membuat gerakan mendorong tiga kali ke arah Suma Han. Itulah pukulan Hek-in-hwi-bong-ciang dan dari tangan kanannya itu keluar uap hitam bergulung-gulung!

Tiga kali pukulan yang ditujukan kepada Suma Han ini tentu saja jauh bedanya dengan pukulan Thian Tok Lama yang tadi merobohkan Milana. Karena tidak ingin membunuh dara itu sesuai dengan kehendak Koksu, tadi Thian Tok Lama hanya mempergunakan seperempat tenaganya saja, akan tetapi kini, menghadapi musuh lama yang ia tahu amat tangguh itu, dia mengerahkan seluruh tenaganya dan memukul sampai tiga kali ke arah dada kanan kiri dan pusar!

Suma Han memindahkan tongkat ke tangan kanannya, kemudian dia pun mendorong ke depan dengan telapak tangan kirinya. Dari telapak tangan ini meluncur tenaga sakti dahsyat sekali menyambut pukulan tiga kali beruntun dari Thian Tok Lama.

Dua tenaga raksasa yang tidak kelihatan bertemu tiga kali di udara dengan amat hebat. Seketika uap hitam pertama yang datang melayang, terhenti dan tersusul oleh gulungan uap hitam kedua dan ketiga, berkumpul menjadi satu dan seperti terjadi dorong-mendorong, akan tetapi akhirnya uap hitam yang telah terkumpul dan bergumpal-gumpal itu kembali ke arah Thian Tok Lama dengan perlahan, makin lama makin cepat.

Thian Tok Lama masih berjongkok dengan tangan kanan dilonjorkan, telapak tangan terbuka. Wajahnya pucat sekali, keringat dingin sebesar kacang tanah menghias kepala dan mukanya. Dia maklum bahwa keselamatan nyawanya terancam hebat. Untuk menghindarkan diri tidak mungkin lagi, dan kini pukulannya Hek-in-hwi-hong-ciang telah membalik dan mengancam untuk menghancurkan isi dada dan isi perutnya sendiri, ‘dipaksa’ kembali oleh dorongan hawa sakti dari tangan Suma Han!

Sebagai ahli-ahli ilmu silat tinggi, tentu saja Koksu dan Maharya maklum akan keadaan kawan mereka, maka serentak Maharya menyerang dengan senjatanya. Serangan berbahaya sekali karena tombak bulan sabit itu membabat ke arah kaki tunggal Suma Han, sedangkan pedang di tangan Bhong Ji Kun menusuk lambung kiri!

Menghadapi serangan ganas dan secepat kilat ini, terpaksa Suma Han meninggalkan Thian Tok Lama dengan jalan menggunakan Soan-hong-lui-kun, kakinya mengenjot dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas sehingga serangan kedua orang itu betapa pun cepatnya, tidak dapat mengenai sasarannya. Milana sampai memejamkan mata saking ngerinya. Seolah-olah terasa olehnya ujung kedua senjata itu yang menyambar dekat dan tahu-tahu tubuhnya sudah berada di atas! Dia pernah menunggang burung rajawali dengan ayah kandungnya ini, namun dibandingkan dengan kecepatan gerakan burung itu, gerakan ayahnya ini lebih cepat lagi. Kalau dia tidak erat-erat memeluk tentu dia akan terlempar jatuh!

Akan tetapi, ketika Milana membuka kedua matanya, ia menjadi makin ngeri. Ayahnya telah turun lagi dan kini ayahnya dikeroyok tiga oleh Maharya, Bhong Ji Kun, dan Thian Tok Lama yang menyerang secara bertubi-tubi dan hebat, sedangkan lima belas orang panglima yang kini tinggal tiga belas karena yang dua orang masih roboh pingsan, mengepung dan membantu dengan kadang-kadang menyerang secara tiba-tiba dari belakang, kanan atau kiri. Milana merasa gelisah sekali. Lawan amat banyak dan lihai, sedangkan ayahnya hanya seorang diri, dan masih menggendongnya pula. Tentu saja dengan menggendongnya gerakan ayahnya menjadi terhalang dan terganggu, tidak leluasa lagi.

Kalau sampai ayahnya terpukul dan tewas, tentu dia sendiri pun tidak akan selamat, dan... ibunya akan celaka pula. Sebaliknya, kalau ayahnya berhasil meloloskan diri, biar pun dia sendiri tertawan, dia tidak akan dibunuh karena bukankah dia hendak dipergunakan sebagai umpan untuk memancing kedatangan ibunya? Kini ada ayahnya, kalau mendampingi ibunya, biar pun dia tertawan apakah mereka berdua yang bergabung menjadi satu tidak akan mampu membebaskannya? Andai kata tidak berhasil sekali pun, yang pasti, ibunya akan selamat! Dia tidak boleh mementingkan diri sendiri saja.

"Paman... beritahukan kepada Ibu... mereka tadi... berunding untuk membunuh Ibu..." Milana berbisik di dekat telinga Suma Han yang menjadi terheran-heran.

Tadi pun dia sudah merasa heran melihat Alan puteri Thian-liong-pang dikeroyok dan dilukai. Bukankah menurut desas-desus, Thian-liong-pang kini merupakan kaki tangan pemerintah? Mengapa puteri Ketuanya malah dilukai dan Ketuanya sendiri, menurut Alan, akan dibunuh?

"Jangan khawatir, kita akan dapat lolos dari sini!" Suma Han menjawab, berbisik.

"Tidak... engkau saja pergi, Paman...," Milana berbisik pula.

Suma Han terkejut, tidak mengerti apa yang dikehendaki gadis itu. Pada saat itu, tiba-tiba Maharya menusukkan tombak bulan sabitnya ke arah muka Suma Han, dan beberapa detik kemudian, Bhong Koksu menerjang dari belakang dengan sebuah loncatan dahsyat, pedangnya membacok dari atas ke bawah mengarah kepala Milana!

"Trangggg!"

Suma Han menangkis senjata Maharya dan membatalkan tongkatnya untuk menangkis pedang yang menyambar dari atas. Dia tidak tahu betapa seorang panglima tinggi mendekat meja kecil bundar dan memutar meja itu. Tiba-tiba saja lantai yang diinjak pendekar itu terbuka!

Milana yang melihat hal ini, terkejut sekali. Dengan menggendongnya, mana mungkin ayahnya dapat melepaskan diri dari bahaya? Cepat dia melepaskan kedua kakinya yang mengempit pinggang dan kedua lengannya yang merangkul leher, membiarkan tubuhnya terlepas dan terjatuh ke bawah!

"Alan...!"

Suma Han sudah berhasil meloncat dengan Soan-hong-lui-kun. Biar pun lantai itu terbuka ke bawah, namun ujung kakinya yang masih menyentuh lantai tadi dapat dipergunakan untuk membuat tubuhnya mencelat ke kanan, selain menghindarkan lubang jebakan, juga menghindarkan pedang dari atas yang dibacokkan oleh Bhong-koksu. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tubuh Alan yang berada di gendongannya terlepas dan jatuh. Hal ini sama sekali tidak diduga-duganya, maka dia tidak dapat mencegahnya. Cepat tubuhnya yang masih mencelat itu membuat gerakan seekor burung walet dan matanya terbelalak melihat tubuh Alan melayang jatuh ke dalam lubang jebakan yang lebarnya dua meter persegi dan kelihatan gelap saking dalamnya.

"Alan...!" Tiba-tiba tubuh Suma Han menukik ke bawah dan bayangannya tak tampak, berkelebat memasuki lubang itu, menyusul Alan!

Lantai yang menjebaknya itu kini tertutup kembali secara otomatis. Bhong Ji Kun dan para pembantunya dengan wajah pucat saling pandang, akhirnya mereka tersenyum dan menarik napas lega.

"Hebat bukan main dia...!" Thian Tok Lama memuji musuh lama itu.

"Heran sekali, mengapa dia mati-matian membela puteri Ketua Thian-liong-pang?" Maharya juga berkata, namun masih penasaran kerena dia tidak tahu siapa yang merampas Hok-mo-kiam.

"Sudahlah, dia sudah begitu tolol memasuki kamar tahanan di bawah tanah bersama gadis itu. Tidak mungkin mereka dapat lolos. Bahkan amat baik untuk memancing datangnya Ketua Thian-liong-pang. Kalau kita berhasil membasmi Pendekar Siluman dan Ketua Thian-liong-pang, ha-ha-ha, bereslah urusan kita dan pasti akan berhasil!"

Tiba-tiba Bhong Ji Kun menepuk dahinya sendiri dan berkata, "Aih... aihh! Mengapa aku begitu tolol? Tentu saja dia membela gadis itu mati-matian, puteri Thian-liong-pang! Ha-ha-ha! Tentu saja!"

Maharya, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan para panglima memandang Koksu itu dengan heran, tetapi hanya Bhe Ti Kong yang berani bertanya, "Harap Koksu suka memberi tahukan kami. Mengapa dia menolong gadis itu?"

"Bubarkan dulu semua pengawal dan suruh bereskan tempat ini. Suruh periksa apakah mereka benar-benar telah berada di dalam kamar tahanan dan perkuat penjagaan di luar kamar-kamar tahanan di bawah tanah! Kemudian susul aku ke dalam kamar untuk mendengar mengapa Suma Han membela gadis itu mati-matian."

Para pembantu koksu itu cepat mengerjakan perintah ini, kemudian Maharya, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan tiga orang panglima tinggi lainnya mememui Koksu dalam kamarnya.

"Ketua Thian-liong-pang adalah Puteri Nirahai, puteri Kaisar yang dahulu melarikan diri bersama Suma Han Si Pendekar Super Sakti. Kalau Puteri Milana itu anak Puteri Nirahai, dan melihat betapa Pendekar Super Sakti membelanya mati-matian, maka tidak akan keliru kiranya dugaanku bahwa dia adalah ayahnya!" Semua yang mendengarkan mengangguk-angguk. "Akan tetapi hal ini harus dirahasiakan, karena kalau Kaisar mendengarnya, biar pun puteri itu telah menjadi orang buruan kiranya Kaisar akan tergerak hatinya dan menaruh kasihan mendengar bahwa Beliau telah mempunyai seorang cucu dari Puteri Nirahai."

Kemudian para pendengarnya mengangguk. Setelah mendengar pelaporan panglima rendahan yang memeriksa ke bawah bahwa dua orang itu telah berada di dalam kamar tahanan yang kokoh kuat dan bahwa pendekar kaki buntung itu tengah merawat luka-luka gadis itu, sedangkan penjagaan dilakukan dengan kuat, Bhong Ji Kun tertawa senang kemudian mengajak para pembantunya melanjutkan perundingan mengenai rencana mereka merebut kekuasan Kaisar!

Betapa pun tinggi dan mahirnya tingkat ginkang Milana, namun dengan perut dan dada terasa nyeri karena terguncang dan terluka oleh pukulan Thian Tok Lama, sedangkan paha kirinya robek kulitnya, kiranya dia pasti akan terbanting juga ke atas lantai kamar tahanan jikalau Suma Han tidak cepat bertindak, melayang turun dan mendahuluinya, lalu memondongnya sebelum tubuh dara itu terbanting ke atas lantai!

Akan tetapi dara itu tidak menjadi girang ditolong ayahnya. Sebaliknya dia merasa makin gelisah dan terkejut sekali karena tadinya dia mengira ayahnya itu telah berhasil membebaskan diri untuk memberi tahukan ibunya. Siapa kira ternyata ayahnya itu malah menyusulnya ke bawah!

"Aihhhh... mengapa engkau berada di sini...?" Milana menegur penuh kekecewaan dan penyesalan.

"Hemmm, Alan, mengapa engkau melepaskan diri dari pondonganku tadi?" Suma Han menegur setelah menurunkan tubuh dara itu duduk di atas lantai yang terbuat dari batu hitam.

Setelah menghela napas melepaskan kekesalan hatinya, Milana menjawab, "Aku sengaja melepaskan diri agar Paman tidak terganggu dan dapat meloloskan diri, kemudian memberi tahukan Ibu, sehingga Paman dan Ibu dapat bekerja sama untuk membebaskan aku dan untuk menghadapi mereka yang hendak membunuh Ibu. Siapa tahu, Paman justru menyusulku ke sini. Apa perlunya Paman menyusulku, malah tidak membebaskan diri sendiri yang aku yakin dapat Paman lakukan lebih mudah setelah tidak menggendongku?"

Suma Han tersenyum dan merasa makin suka kepada dara ini. "Perbuatanmu itu baik dan cerdik, akan tetapi juga bodoh sekali, tidak tahu bahwa dirimu terluka cukup hebat dan akan berbahaya kalau tidak segera diobati."

"Aku tidak pernah khawatir tentang diriku, hanya khawatir tentang Paman... eh, maksudku agar Paman dapat memberi tahu Ibu..." Milana menjadi gugup karena tentu saja dia tidak boleh menyatakan kecemasannya akan keselamatan Pendekar Super Sakti yang ‘bukan apa-apa’ dengan dia! "Mengapa Paman membiarkan diri terjun ke dalam lubang jebakan pula?"

"Alan yang baik dan bodoh! Biar pun menggendongmu, apa kau kira aku akan begitu mudah mereka robohkan? Tidak, karena aku masih mempunyai harapan besar untuk meloloskan diri. Tetapi engkau terjatuh ke dalam jebakan, terpaksa aku menyusulmu karena tidak mungkin aku membiarkan engkau yang terluka terjerumus ke dalam jebakan seorang diri. Kalau engkau tidak terluka, mungkin lain lagi. Aku menyusulmu karena harus mengobatimu. Engkau terkena pukulan beracun."

Diam-diam hati Milana menjadi girang dan terharu, maka terusirlah kekecewaannya. Ayahnya ini benar-benar seorang pendekar tulen! Seorang satria pilihan! Kalau saja ayahnya mengenal dia sebagai anak kandung, hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi ayahnya tidak mengenalnya, bahkan dia adalah puteri musuhnya, seorang tawanan, namun ayahnya ini rela berkorban diri ikut masuk ke dalam jebakan karena tidak tega melihatnya terluka dan ingin mengobatinya! Dia yang sejak kecil rindu akan kasih sayang ayah, kini melihat sikap ayahnya, ingin dia menangis dan berlutut memeluk kaki tunggal orang yang menjadi ayah kandungnya itu. Terhadap orang bukan anaknya saja demikian baik budi, apalalagi kalau tahu dia anaknya!

"Luka di pahaku bukan apa-apa, Paman. Hanya tergores sedikit...!"

"Hmm, kulit dan daging terobek kau bilang hanya tergores. Akan tetapi luka di paha itu memang tidak berbahaya, yang harus segera diobati adalah luka akibat pukulan Thian Tok Lama. Bagian mana yang terkena?"

"Di perut dan dada, Paman. Rasanya sesak napas dan perih-perih di dalam perut."

"Hemmm, kuatkan hatimu dan jangan salah duga, Alan. Aku terpaksa harus melihat tempat yang terpukul untuk menentukan sampai berapa hebat lukanya. Cukup kau buka sedikit pakaianmu, memperlihatkan ulu hatimu dan perut di atas pusar, sebentar saja."

Kalau saja laki-laki lain yang ingin melihat ulu hati dan perutnya, biar pun dia terluka parah dan hendak diobati, tentu dia tidak akan sudi melakukannya. Akan tetapi setelah beberapa hari melakukan perjalanan dengan Pendekar Super Sakti, setelah dengan penuh keyakinan mengenal watak pendekar besar ini, andai kata pendekar ini bukan ayahnya sendiri sekali pun, tentu Milana akan memenuhi permintaannya tanpa ragu-ragu. Apa lagi ayahnya sendiri! Maka dengan gerakan wajar dan sedikit pun tidak kelihatan malu-malu, dara itu lalu membuka pakaiannya dari depan berikut pakaian dalam, memegangi pakaian itu di kanan kiri memperlihatkan bagian tubuh depan dari leher sampai ke pusar.

Suma Han yang sudah berlutut dengan kaki tunggalnya hendak memeriksa tubuh dara yang sudah berbaring terlentang di atas lantai, terpesona dan terbelalak, matanya terbuka lebar dan jelas sekali tampak dadanya terguncang turun naik, napasnya agak memburu. Diam-diam Milana terkejut bukan main, seperti kilat menyambar ke dalam kepalanya dugaan yang mengerikan kalau-kalau ia salah mengenal ayahnya ini, salah mengenal wataknya!

"Ini... apakah ini...?" tiba-tiba Suma Han berkata dengan suara gemetar dan jari tangannya menyentuh belahan dada di atas ulu hati di mana tampak sebuah mata kalung terbuat dari emas berhiaskan batu kemala berwarna hijau, berbentuk seekor burung Hong berbulu hijau.

Leher Milana seperti dicekik. Hampir dia terisak untuk menyatakan penyesalan hatinya yang telah secara keji menuduh ayahnya seorang laki-laki yang berwatak cabul dan mata keranjang. Kiranya ayahnya bukan terpesona oleh kulitnya yang halus dan putih kekuningan, melainkan terpesona oleh mata kalungnya!

"Itu hanya mata kalung, Paman."

"Mata kalung ini... burung Hong berbulu hijau... eh... aku... aku pernah melihatnya... di dada seorang... aih, Alan, dari mana engkau memperoleh benda ini?"

Ketika Milana mengangkat pandang mata dan bertemu pandang dengan ayahnya, dara ini mengkirik. Pantas saja ayahnya dijuluki Pendekar Siluman oleh para musuhnya. Mata ayahnya benar-benar bukan seperti mata manusia kalau sudah memandang seperti itu. Seolah-olah keluar sinar yang melebihi ujung pedang tajamnya, yang menusuk dan langsung menembus dada menjenguk isi hati! Milana menjadi khawatir sekali. Kalung ini adalah pemberian ibunya! Dan dia tahu bahwa yang memakai kalung seperti ini, menurut penuturan ibunya, hanyalah puteri-puteri Kaisar! Celaka sekarang, tentu akan terbongkar rahasia ibunya, rahasianya!

"Ini...? Ah, ini pemberian Ibuku, hasil pencurian anak buah Thian-liong-pang dari kamar pusaka istana Kaisar!" Milana melihat sinar mata itu menjadi kecewa, seperti mata orang yang salah mengira. "Eh, Paman. Mengapa Paman bersikap begini aneh? Hendak memeriksa lukaku ataukah hendak memeriksa kalung?"

Suma Han menghela napas panjang, dengan sukar dia mengalihkan pandang matanya dari mata kalung itu, betapa tidak akan terguncang hatinya melihat mata kalung itu. Dahulu ia pernah mengagumi mata kalung itu di dada wanita lain yang sama halus dan putih seperti dada gadis ini!

"Ohhh... maafkan aku." Dengan cekatan dan cepat dia melihat ulu hati dan perut dara itu, kemudian meraba dengan telapak tangannya sebentar, lalu bangkit berdiri. "Ah, untung pendeta Tibet itu tidak menggunakan seluruh tenaga Hek-in-hwi-hong-ciang. Agaknya memang dia tidak berniat membunuhmu. Lukamu tidak berbahaya, hanya terguncang saja. Bereskan kembali bajumu."

Milana memakai kembali dan mengancingkan kembali bajunya. Kemudian Suma Han memeriksa paha yang terluka. Diambilnya sebungkus obat luka dari saku bajunya, dan begitu luka itu diberi obat bubuk berwarna merah, rasa nyerinya hilang dan terasa dingin nyaman. Kemudian Suma Han duduk di belakang dara itu, menempelkan kedua telapak tangannya di punggung atas dan bawah. Hanya beberapa menit saja dia melakukan pengobatan ini. Milana merasa betapa dari kedua telapak tangan itu keluar hawa yang amat panas, yang menyusup masuk ke dalam tubuhnya, berputaran di sekitar perut dan dadanya. Setelah pendekar itu melepaskan kedua tangannya, rasa nyeri di dalam dada dan perutnya lenyap sama sekali! Tentu saja dia menjadi girang dan kagum bukan main!

"Terima kasih, Paman. Semua rasa nyeri lenyap. Aku sudah sembuh. Sayang sekali Paman tertawan di sini dan pedang Pek-kong-kiam pemberian Paman itu terampas oleh Koksu."

"Jangan menyesalkan semua hal yang sudah terjadi. Engkau perlu beristirahat agar kesehatanmu cepat pulih sama sekali. Rebah dan tidurlah."

Milana menurut, merebahkan diri dan berbaring menghadapi ayahnya. Suma Han duduk menekuk kaki tunggalnya seperti orang bersila, alisnya berkerut dan dia seperti orang termenung, sama sekali tidak mempedulikan keadaannya, tidak memeriksa tempat tahanan seolah-olah tidak ada pikiran untuk berusaha keluar dari situ! Wajah tampan yang dikelilingi rambut putih itu kelihatan berduka sekali.

Milana merasa kasihan. Ayahnya kelihatan berduka sekali. Apakah karena tertawan ini? Mustahil! Ayahnya sengaja membiarkan dirinya tertawan, hanya untuk dapat mengobatinya! Ah, tentu karena mata kalung tadi! Tentu teringat akan Puteri Nirahai! Benarkah ini? Apakah ayahnya masih mencinta ibunya? Kalau masih mencinta, seperti ibunya yang kadang-kadang juga tampak mencinta ayahnya, mengapa mereka saling berpisah?

"Paman, kenapa Paman terkejut melihat kalungku? Siapakah yang dahulu pernah memakai kalung ini, Paman?"

Suma Han hanya menoleh sebentar, akan tetapi pandang matanya sayu dan seolah-olah dia tidak melihat wajah gadis itu. Dia tidak menjawab, hanya terdengar suara menggumam dari bibirnya yang tetap tertutup, melalui hidung, "Hemmm..."

Sunyi sejenak dan pendekar itu tetap duduk melamun, sedangkan Milana merasa makin kasihan. Jelas, tentu ayahnya itu sedang mengenang ibunya! Ingin dia mendengar apa yang sesungguhnya telah terjadi antara kedua orang tuanya itu. Ibunya pun selalu menutup mulut kalau ditanya mengenai hal ini, seakan-akan merasa tidak senang untuk bicara tentang itu. Ingin pula dia tahu rahasia apa yang terdapat antara ayahnya dan Pulau Neraka sehingga ayahnya bersikap demikian lunak terhadap Wan Keng In yang jahat.

"Apakah engkau tidak percaya kepadaku?" Tiba-tiba Milana bertanya, suaranya agak nyaring karena suara ini tanpa disadarinya timbul dari hatinya, melalui mulut sehingga dia sendiri menjadi kaget.

Akan tetapi pertanyaan itu menyadarkan Suma Han. Pendekar ini menoleh dan mereka saling berpandangan. Melihat wajah dara itu, entah mengapa, timbul sesuatu yang mengharukan dan mesra di hati Suma Han sehingga timbul niat di hatinya untuk membuka semua isi hatinya, untuk membuka semua rahasianya terhadap dara ini!

Hanya ada seorang saja di dunia ini yang telah dia percaya, yaitu Phoa Ciok Lin, bekas saudara seperguruannya di waktu dia kecil dahulu, yang kini telah menjadi wakilnya urusan dalam di Pulau Es. Kepada wanita yang dia tahu amat mencintanya itu, cinta sepihak, dia telah membukakan semua rahasia hatinya, telah menumpahkan semua isi hatinya dan kini perasaan seperti itu timbul ketika dia bertemu pandang dengan gadis ini!

"Alan, ketahuilah bahwa aku pernah melihat kalung yang persis seperti yang kau miliki itu tergantung di leher... isteriku."

"Aku pernah mendengar bahwa Paman Pendekar Super Sakti, Tocu Pulau Es adalah seorang yang tidak beristeri."

"Aku pernah mempunyai isteri, Alan."

"Di manakah dia sekarang, Paman?"

"Entah di mana..."

"Kalung ini adalah curian dari kamar pusaka istana, dan menurut keterangan, hanya puteri-puteri Kaisar saja yang memakainya. Bagaimana isteri Paman dapat memakai kalung seperti ini? Apakah Paman juga mencuri dari istana lalu dihadiahkan kepadanya?" Milana memancing.

Suma Han menggeleng-geleng kepala. Agaknya ragu-ragu, kemudian setelah sekali lagi memandang wajah dara itu, melihat betapa sinar mata dara itu penuh keharuan dan penuh harapan mendengar ceritanya dia lalu berkata, "Dengarlah, ia adalah seorang puteri Kaisar! Dia adalah Puteri Nirahai! Dan dia telah meninggalkan aku! Ohhh...!"

Melihat betapa pendekar itu menutupi muka dengan kedua tangan, Milana tak dapat menahan lagi keharuan hatinya. Air matanya bercucuran, akan tetapi dia menahan diri, menekan hatinya agar jangan menjeritkan sebutan ayah, hanya jari tangannya saja yang diangkat menyentuh lengan pendekar itu, suaranya agak tergetar.

"Paman... jangan... jangan bersedih..."

Suara yang penuh getaran ini membuat Suma Han menurunkan kedua tangan dan tampaklah dua titik air mata menuruni pipinya. Dia terkejut dan memegang tangan gadis itu ketika melihat betapa gadis itu mencucurkan air mata!

"Kau... kau menangis?"

Milana mengangguk, berusaha tersenyum sehingga menambah kemesraan dan juga keharuan yang membayang di wajahnya karena biar pun bibirnya tersenyum paksaan, sepasang matanya basah!

"Aku kasihan sekali padamu, Paman. Mengapa dia meninggalkan Paman yang begini baik hati? Mengapa dia begitu kejam?"

"Tidak! Dia tidak kejam, Alan, mungkin akulah yang bersalah, aku... ah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Sebaiknya kau mendengar semua yang terjadi antara aku dan isteriku."

"Baik, akan kudengarkan, Paman dan terima kasih sebelumnya atas kepercayaanmu kepadaku."

"Kami saling mencinta, Puteri Nirahai dan aku. Sampai-sampai dia meninggalkan istana, meninggalkan Kaisar yang menjadi ayahnya dan meninggalkan kedudukan mulia karena dia adalah seorang panglima tertinggi di kerajaan ayahnya. Akan tetapi setelah kami berdua melarikan diri sebagai orang-orang buruan kerajaan, dan kami berkumpul sebagai suami isteri selama sebulan, dia meninggalkan aku! Dia mengajakku pergi menghambakan diri ke Mongol, aku menolaknya dan dia pergi sendiri, meninggalkan aku. Hidupku menjadi hampa, aku merana seorang diri, kemudian aku kembali ke Pulau Es, di mana aku dahulu menggembleng diri ketika masih muda sekali, dan menjadi Tocu di sana. Dan... begitulah... agaknya kami berdua, dia dan aku memang tidak berjodoh..."

Milana mendengarkan dengan penuh perhatian dan diam-diam dia merasa tidak setuju dengan tindakan ibunya. Mengapa ibunya meninggalkan suami yang dicintanya? Seorang isteri seharusnya mengikuti suaminya, ke mana pun suaminya pergi!

"Apakah Paman tidak pernah berjumpa dengan dia lagi?"

"Pernah kira-kira sepuluh tahun yang lalu dan dia... dia telah mempunyai seorang anak perempuan, dia anakku... anak kami... dia telah mengandung saat pergi meninggalkan aku ke Mongolia." Suma Han tak dapat melanjutkan ceritanya karena kembali dia melamun dan kelihatannya berduka sekali.

Melihat itu, Milana yang hanya ingin mendengar penuturan tentang ayah kandungnya itu, segera mengajukan pertanyaan untuk mengalihkan pikiran ayahnya.

"Paman, ketika Paman bertemu dengan Wan Keng In, Paman telah memperlihatkan sikap amat lunak. Ada hubungan apakah kiranya Paman dengan dia? Dan mengapa dia mengatakan bahwa Paman telah merusak penghidupan ibunya, telah membikin sengsara ibunya?"

Benar saja, pertanyaan ini memang membuat Suma Han sadar dan dapat melupakan Nirahai. Akan tetapi, perhatiannya kini berpindah kepada Lulu oleh pertanyaan itu dan kesedihan yang lebih besar lagi melanda hatinya!

"Engkau telah banyak mendengar riwayatku, baiklah engkau dengar seluruhnya, Alan. Ibu Keng In bernama Lulu, dan dia itu adalah adik angkatku yang menikah dengan seorang sahabatku bernama Wan Sin Kiat, seorang pemuda yang gagah perkasa dahulu. Mereka mempunyai seorang putera, yaitu Wan Keng In."

Milana mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya karena dia merasa heran sekali.
"Apakah ayah pemuda itu dahulu ketua Pulau Neraka?"

"Ah, sama sekali tidak! Wan Sin Kiat dahulu adalah seorang pejuang yang amat gagah perkasa, bahkan dia akhirnya tewas karena gugur dalam perjuangan."

"Aihhh, kalau begitu, mengapa adik angkatmu itu bisa menjadi Tocu Pulau Neraka yang kabarnya ganas dan lihai seperti iblis? Dan mengapa pula kemudian puteranya memusuhimu dan kulihat dia amat membencimu? Apakah adik angkatmu itu yang telah menjadi Tocu Pulau Neraka, juga membencimu?"

Suma Han mengangguk. "Seperti juga Nirahai, Lulu telah membenciku. Semua orang di dunia ini membenciku..."

"Mengapa, Paman?"

"Panjang ceritanya, Nona. Akan tetapi sudah kepalang, biarlah engkau mendengar seluruhnya. Aku pun tadinya tidak tahu bahwa dia marah dan membenciku, sebelum aku bertemu dengan dia di Pulau Neraka, ketika aku membebaskan Kwi Hong yang diculiknya. Seperti juga dengan Nirahai, aku tadinya tidak tahu bahwa dia membenciku, baru kuketahui setelah aku bertemu dengannya. Aku seorang manusia bodoh dan sangat canggung..."

Milana memegang tangan pendekar itu. "Tidak! Engkau seorang gagah perkasa yang tiada keduanya di dunia! Engkau seorang yang paling jantan, paling berbudi mulia di dunia ini!"

Mata Suma Han terbelalak, kemudian dia berkata lagi setelah gadis itu melepaskan pegangan tangannya dan menunduk karena baru Milana sadar bahwa kembali dia dikuasai hatinya.

"Ketika aku bertemu dengannya di Pulau Neraka, aku terkejut mengenal Ketua Pulau Neraka itu bukan lain adalah adik angkatku sendiri, Lulu. Dari mulutnya sendiri aku mendengar pengakuannya yang luar biasa, bahwa dia semenjak dahulu mencintaku, bukan sebagai adik angkat, melainkan sebagai seorang wanita terhadap seorang pria. Dia menyalahkan aku yang telah menjodohkannya dengan Wan Sin Kiat padahal kami saling mencinta, katanya. Setelah memperoleh seorang putera, dia meninggalkan suaminya karena tidak tahan lagi berpisah dengan aku, lalu membawa puteranya pergi. Wan Sin Kiat gugur dalam perjuangan karena dia pun tahu akan isi hati isterinya, bahwa isterinya itu sesungguhnya mencinta aku, maka Wan Sin Kiat seolah-olah membunuh diri dengan berjuang secara nekat. Lulu menyatakan bahwa dia hanya bisa hidup sebagai isteriku atau sebagai... musuhku! Hampir sama dengan pendirian Nirahai yang katanya mencintaku akan tetapi juga siap untuk memusuhiku dengan kebencian yang tiada taranya."

Milana mendengarkan penuturan itu tanpa pernah berkejap mata, seolah-olah pandang matanya bergantung kepada bibir Pendekar Super Sakti yang bicara bergerak-gerak. Hatinya tertarik sekali, terbayang dalam pikirannya semua pengalaman ayahnya, dan ia seolah-olah ikut pula hidup dalam pengalaman itu, ikut merasa suka dukanya, merasa tegang, terharu dan penasaran. Barulah sesudah pendekar itu berhenti bicara, ia terlempar kembali ke dunia kenyataan dengan masih membawa semua perasaan terharu dan penasaran.

"Paman, tidak perlu kutanya lagi, kiranya tentu Paman mencinta isteri Paman, Puteri Nirahai itu, bukan?"

"Tentu saja. Kalau tidak, tentu aku tidak menjadi suaminya."

"Bagaimanna perasaan Paman terhadap Lulu itu? Apakah Paman juga cinta kepada wanita aneh itu?"

Suma Han mengangguk, persis seperti pengakuannya ketika Phoa Ciok Lin juga menanyakan hal yang sama. Akan tetapi kalau Phoa Ciok Lin, sebagai seorang wanita yang sudah lebih matang oleh usia dan lebih maklum akan lika-liku cinta antara pria dan wanita yang mengandung banyak keanehan, gadis itu masih penasaran dan mendesak.

"Bukan cinta kakak angkat?"

"Bukan, Alan. Terus terang saja, aku mencinta Lulu sebagai seorang pria terhadap wanita. Bahkan semenjak dahulu dia kucinta. Dialah cinta pertamaku, dan aku tak pernah berhenti mencintanya. Antara kami terdapat api cinta yang kekal, semenjak kami masih belum dewasa, akan tetapi karena hubungan kami sebagai kakak dan adik angkat, kami berdua menganggapnya sebagai cinta saudara. Setelah dia kukawinkan dan kami saling berpisah, barulah terasa bahwa sesungguhnya kami saling mencinta sebagai pria dan wanita! Aku menemukan cintaku yang kedua terhadap Nirahai, akan tetapi gagal pula."

"Paman, kini aku mengerti mengapa Paman bersikap lunak terhadap Wan Keng In. Kiranya dia adalah putera sahabat baik dan adik angkat Paman, jadi dia masih keponakan Paman sendiri. Tentu Paman tidak sampai hati untuk mencelakainya, untuk menghancurkan hati Lulu, wanita yang Paman cinta."

"Hemm, engkau masih begini muda akan tetapi dapat menyelami perasaanku, Alan. Memang demikianlah halnya."

"Paman, siapakah antara mereka berdua yang lebih Paman cinta, Puteri Nirahai ataukah Lulu?" Milana bertanya sambil miringkan tubuh, menghindarkan pandang matanya dan kini dia tidak mengangkat muka, melainkan merebahkan kepalanya di atas lantai dengan telinga menempel lantai.

"Hemm, pertanyaan aneh karena belum pernah ada yang bertanya seperti itu bahkan hatiku sendiri pun belum pernah. Aku mencinta keduanya, sukar untuk dikatakan dan diukur siapa yang lebih kucinta, sungguh pun dasar yang mendorong cinta kasihku berbeda. Terhadap Nirahai didorong oleh anak kami itu, sedangkan terhadap Lulu didorong oleh masa muda kami... heii, ada apakah, Alan?"

Suma Han terkejut ketika melihat sepasang mata gadis itu terbelalak penuh keheranan dan alisnya berkerut, wajahnya agak berubah. Atas pertanyaannya, Alan menudingkan telunjuk ke lantai dan berbisik.

"Ada suara tertawa di bawah lantai!"

Suma Han mengerutkan alisnya. Tak mungkin, kata hatinya. Dia memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari gadis itu, sinkang-nya amat kuat dan pendengarannya tentu jauh lebih tajam. Kalau gadis itu dapat mendengar suara ketawa, masa dia tidak mendengar apa-apa sama sekali? Suma Han menggeleng kepala dan berkata tirih, "Alan, jangan bingung sehingga engkau mendengar yang bukan-bukan. Percayalah, aku akan mampu membawamu keluar dari tempat ini!"

Milana bangkit duduk dan berkata, "Benar-benar ada orang tertawa di bawah lantai ini, Paman. Kalau tidak percaya, kau dengarlah sendiri!"

Suma Han memandang ke lantai dan dia tertarik. Ternyata ada sebuah lubang kecil di lantai itu, di mana tadi Alan menaruh kepalanya. Agaknya melalui lubang kecil itulah dia mendengar suara dari bawah. Kalau begitu mungkin juga! Suma Han lalu mendekatkan kepala pada lantai dan menempelkan telinganya di dekat lubang lantai dan... tak salah lagi! Ada suara orang tertawa-tawa dan bicara di bawah! Bahkan bukan hanya suara satu orang, melainkan dua orang. Suara yang lucu karena diseling tertawa-tawa dan yang dibicarakan juga hal-hal yang lucu, dijawab oleh suara halus seorang wanita. Tiba-tiba Suma Han tersentak kaget ketika mengenal bahwa suara wanita itu adalah suara Kwi Hong!

"Hemmm, kurasa muridku yang bengal, Giam Kwi Hong, berada di ruangan bawah lantai ini," katanya.

Ucapannya itu membuat Milana terheran-heran. Suma Han memindahkan tubuhnya dan dia mendengarkan dari bagian lain dengan hanya menempelkan telinga di lantai karena begitu pun sudah cukup jelas baginya untuk dapat menangkap percakapan di bawah, agar gadis itu dapat ikut mendengarkan. Milana lalu cepat menempelkan telinganya tepat pada lubang kecil itu dan begitu dia mendengar percakapan di bawah yang memasuki telinganya secara sayup-sayup namun cukup jelas, dia tak dapat menahan diri, tertawa cekikikan karena merasa lucu!

"Heh-heh, sungguh untung besar kita! Mendapat teman yang menarik!" terdengar suara parau yang tertawa-tawa dan lucu itu berseru.

"Dikeram seperti ini bagaimana bisa disebut untung besar?" terdengar suara wanita. "Dan siapa teman itu?"

"Ha-ha-ha, dengarlah baik-baik. Bukankah ada suara jangkrik di sini. Hayo kita cari dia!"

Diam sejenak, tidak terdengar apa-apa, akan tetapi mudah bagi dua orang yang mencuri dengar itu untuk menduga behwa dua orang yang berada di bawah lantai itu tentu sedang sibuk mencari jangkrik! Seperti dua orang anak kecil saja!

"Celaka tiga belas! Sial dangkalan! Dia bersembunyi di dalam lantai berbatu! Mana bisa mengeluarkan dia?" terdengar pula suara parau.

"Apa sukarnya! Kita gali saja, biar dia bersembunyi di balik besi masa pedangku tidak bisa menggalinya?"

"Wahhh, tidak tepat! Pedangmu begitu tajam, jangan-jangan bukan hanya batunya yang tergali akan tetapi juga tubuhnya hancur terkena pedangmu!"

"Habis bagaimana?" Wanita itu bertanya, suaranya agak penasaran.

"Engkau memang bodoh! Sudah menjadi muridku masih bodoh! Bagaimana mengeluarkan jangkrik dari lubangnya tanpa bahaya melukainya? Tentu saja mengaliri lubangnya dengan air. Kalau dia terendam air di dalam lubangnya, tentu dia akan keluar sendiri!"

"Akan tetapi dari mana kita mendapatkan air untuk itu? Untuk minum saja kadang-kadang kurang! Si bedebah-bedebah itu harus kuhajar kalau tidak menambah jatah minuman untuk kita!"

"Hssshhh! kita adalah orang-orang tahanan, mana bisa mau enak saja? Dan engkau betul memalukan sekali karena bodohmu. Kenapa ribut-ribut mencari air? Bukankah kita, seperti setiap orang manusia di dunia ini, masing-masing mempunyai simpanan air yang cukup di dalam perut?"

"Ihhh! Suhu jorok sekali!"

"Kenapa jorok? Apanya yang jorok? Masa bicara tentang air kencing saja dikatakan jorok? Siapa sih orangnya yang tidak mengenal air kencing? Kalau aku kencingi lubang ini, masa jangkrik itu tidak akan cepat-cepat keluar?"

"Suhu, jangan!" Terdengar mereka berdua tertawa-tawa. "Jangkrik itu mungkin kuat bertahan di dalam lubangnya, akan tetapi aku yang tidak kuat akan baunya!" Kembali mereka tertawa-tawa.

"Kalau Suhu nekad, aku tidak mau lagi berlatih!"

"Wah-wah-wah, kau mengancam, ya? Kalau begitu biarlah jangkrik itu mengerik di dalam lubangnya, akan tetapi engkau harus berlatih sekarang juga, hendak kulihat sampai di mana kemajuanmu."

Suma Han mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak tertawa geli seperti puteri Ketua Thian-liong-pang itu, melainkan dengan terheran-heran mendengar murid atau keponakannya itu menyebut ‘suhu’ kakek yang ugal-ugalan dan agaknya benar-benar seorang yang aneh sekali itu. Keheranannya memuncak ketika tiba-tiba ia mendengar suara mendesir di bawah itu. Itulah suara pedang yang digerakkan secara mukjizat! Tak mungkin Kwi Hong dapat bermain pedang sehebat itu, seperti badai mengamuk, biar dia menggunakan Li-mo-kiam sekali pun! Akan tetapi, siapa lagi kalau bukan Kwi Hong?

Kalau Pendekar Super Sakti terheran-heran mendengarkan sambaran angin gerakan pedang yang dimainkan Kwi Hong, pembaca tentu terheran-heran bagaimana gadis dengan gurunya yang sinting itu bisa berada di dalam kamar tahanan di bawah tanah, bahkan letaknya di bawah kamar tahanan Suma Han? Kita tinggalkan dulu Suma Han yang terheran-heran untuk mengikuti perjalanan Kwi Hong bersama gurunya yang sinting itu.



Seperti telah dituturkan di bagian depan, Kwi Hong yang tadinya tertawan oleh Wan Keng In, dibebaskan oleh Bu-tek Siauw-jin, gurunya dan juga paman guru Wan Keng In. Kemudian guru dan murid ini menuju ke kota raja, akan tetapi Kwi Hong terpaksa harus mentaati kehendak gurunya untuk melakukan perjalanan melalui padang pasir di utara untuk mencari racun kelabang bagi keperluan Kwi Hong sendiri dalam menerima gemblengan ilmu mukjizat yang tinggi dari kakek sinting itu.

Mereka tiba di tempat itu, sebuah pegunungan yang aneh, jauh dari dunia ramai dan tidak ada seorang pun manusia di sekitar tempat itu. Kwi Hong merasa heran bagai mana gurunya dapat menemukan tempat seperti ini. Kadang-kadang mereka melalui hutan yang penuh pohon-pohon aneh, akan tetapi ada bagian di pegunungan itu yang gundul tidak ada pohonnya sama sekali, bahkan rumput pun tidak dapat tumbuh di situ seolah-olah tanahnya mengandung racun yang membunuh semua tanaman. Ada pula bagian yang penuh pasir, akan tetapi tampak bekas-bekas pohon, hanya tinggal batangnya yang besar setinggi tiga empat meter, tanpa daun sehelai pun dan sudah kering. Di tempat inilah Bu-tek Siauw-jin mencari kelabang!

Kakek itu berhenti di bagian yang penuh pasir dan di sana-sini tampak sisa pohon mati itu, memandang ke kanan kiri dan mengangguk-angguk. "Di sinilah... hmmm aku sudah mencium bau mereka dan tampak bekas mereka..."

Kwi Hong mengempiskan cuping hidungnya, mencium-cium, dan memang ada tercium bau amis yang aneh olehnya.

"Awas udara di sini beracun! Napas yang masuk harus dibakar dengan sinkang!" kakek itu berkata sambil tertawa-tawa. Melihat sikap kakek itu yang suka berkelakar, Kwi Hong memandang rendah dan bernapas seperti biasa.

"Suhu... celaka...!" Tiba-tiba dia mengeluh, kepalanya pening, perutnya mual seperti diaduk dari dalam.

"Wah, bocah bandel! Sudah diberi tahu tidak percaya. Hayo cepat duduk bersila, atur pernapasanmu." Kwi Hong cepat duduk bersila dan Bu-tek Siauw-jin lalu menempelkan telapak tangan kirinya di punggung, membantu gadis itu mengusir keluar hawa beracun dari dalam dada. Beberapa kali Kwi Hong mengeluarkan hawa dari perut melalui mulut dan akhirnya kepeningan kepalanya lenyap.

"Tempat ini penuh hawa beracun, jangan memandang rendah sebelum engkau memakan racun kelabang!" kata kakek itu ketika Kwi Hong meloncat bangun. Kini gadis itu berhati-hati sekali, bernapas dengan teratur dan mempergunakan hawa murni dan sinkang-nya.

"Suhu, apa yang berkilauan itu?"

Tiba-tiba Kwi Hong menuding ke bawah. Tampak ada benda seperti batu permata yang sebesar kepalan tangan.

"Hemm, itu batu biasa."

"Ah, tidak mungkin, Suhu. Batu gunung biasa masa berkilauan seperti itu. Tentu batu mulia."

"Kau tidak percaya? Coba pegang baru kau tahu!"

Kwi Hong membungkuk dan tangannya mengambil batu itu. Tiba-tiba dia berteriak dan melepaskan batu itu kembali, telapak tangannya telah menjadi hitam dan terasa panas dan perih. Batu mengadung racun yang luar biasa!

"Ha-ha-ha! Itulah air liur kelabang yang membasahi batu. Kelihatan berkilauan menarik akan tetapi sebetulnya mengandung racun yang berbahaya. Biar pun sinkang-mu sudah kuat, kalau tanganmu terkena racun ini, tanpa mendapatkan obat anti racun yang tepat, lambat laun akan membusuk, dan hancur seperti terkena penyakit kusta!"

"Kalau sudah tahu berbahaya, mengapa Suhu menyuruh aku memegangnya?" Kwi Hong menuntut.

"Heh-heh-heh, kalau belum jatuh terpeleset, mana bisa hati-hati?"

"Suhu membiarkan aku keracunan? Mana ada guru seperti ini?"

"Ha-ha-ha! Bodoh, aku hanya membikin engkau matang dalam pengalaman. Terkena racun begitu saja, kalau ada aku apa artinya? Biar racun yang seratus kali lebih hebat, selama aku masih menjadi gurumu, engkau tidak akan celaka."

Bu-tek Siauw-jin mengeluarkan sebuah batu yang berwarna hijau dari saku bajunya, menyambar tangan Kwi Hong dan menempelkan batu hijau itu kepada tangan yang telapaknya berubah hitam.

Dalam waktu singkat semua hawa beracun telah tersedot oleh batu dan tangan gadis itu pulih seperti biasa.

"Batu ini sebuah benda pusaka yang ampuh!" Kwi Hong tertarik sekali dan ingin memilikinya.

"Ha-ha-ha! Batu macam ini saja apa artinya? Kalau engkau sudah selesai berlatih ilmu, tidak perlu mengandalkan batu mati seperti ini!"

Kwi Hong menjadi bersemangat sekali. Ingin dia segera memiliki ilmu yang dapat membuat dia kebal akan segala racun! Dia memang harus memiliki kepandaian yang tinggi agar kelak ia dapat menandingi Wan Keng In, pemuda yang amat dibencinya itu!

"Mari kita lekas mencari kelabang bertelur itu, Suhu!"

"Hushh! Bukan kelabang bertelur. Kalau sudah bertelur, tidak ada gunanya lagi. Yang kucari adalah kelabang bunting!"

Kwi Hong menghela napas menyabarkan hati. "Baiklah, kelabang bertelur, kelabang bunting atau kelabang busung sama saja, yang perlu lekas kita menemukannya."

"Tidak begitu mudah. Pergilah engkau ke hutan di sebelah kanan itu dan engkau harus dapat menangkap hidup seekor ayam hutan betina yang gemuk. Nah, pergilah cepat sebelum malam tiba!"

"Baik, Suhu," Kwi Hong membalikkan tubuh hendak meloncat pergi.

"Awas, jangan keliru. Yang betul-betul gemuk, lho, dan jangan yang terlalu tua, darahnya sudah kurang manis!"

Di dalam hatinya Kwi Hong mengomel. Gurunya ini cerewet benar, akan tetapi karena maklum bahwa kecerewetan gurunya itu biar pun dilebih-lebihkan menurut wataknya yang sinting, bukan tidak ada artinya, maka dia hanya mengangguk dan mengingat baik-baik pesan itu lalu melesat pergi dengan cepat. Tak lama kemudian gadis itu telah kembali kepada gurunya, kedua tangannya memegang dua ekor ayam hutan betina yang gemuk-gemuk!

"Ehh... kenapa dua ekor?"

"Yang seekor untuk kelabang bunting, yang seekor lagi untuk Suhu dan aku!"

"Ha-ha-ha-ha, kau pintar sekali!" Bu-tek Siauw-jin menerima seekor ayam, mengikat kedua kaki ayam itu dan mencabuti bulunya. Ayam itu tentu saja berkeok-keok kesakitan akan tetapi kakek sinting itu tidak peduli, mencabuti terus sambil berkata,

"Eh, kenapa bengong saja? Lekas potong leher ayam itu dan bakar dagingnya."

Kwi Hong memutar leher ayam. Setelah binatang itu mati, dia mencabuti bulu-bulunya, mengeluarkan isi perutnya yang diminta oleh gurunya untuk kelabang di samping ayam hidup yang diberunduli semua bulunya. Kwi Hong membuat api membakar daging ayam, kemudian bersama gurunya makan daging panggang sambil menanti datangnya malam gelap.

"Menurut perhitunganku, sekarang tepat bulan purnama! Kelabang-kelabang itu akan keluar dan kalau terjadi perebutan ayam mulus ini, engkau jangan kaget dan diam saja. Setelah ayam itu diseret, barulah kita mengikuti karena para pemenang itu terus akan membawa ayam ini kepada kelabang betina yang bunting. Yang menang tentu kelabang jantan yang terkuat, maka betinanya tentu juga paling hebat!"

"Menurut penuturan Suhu, kelabang jantannya sudah dibunuh oleh yang betina."

"Memang, di waktu terjadi perkawinan. Tetapi setelah bunting, tidak ada lagi kelabang jantan yang mengganggunya, dan kelabang jantan yang menyerahkan hadiah-hadiah adalah calon-calon pengantin-pengantin dan calon bangkai karena pada waktu perkawinan mereka pun akan mati konyol. Ha-ha-ha!"

Kwi Hong merasa ngeri dan membenci kelabang betina yang pekerjaannya hanya kawin, membunuh pengantin jantan, dan bertelur saja itu! Akan tetapi dia juga ngeri kalau mengingat bahwa dia harus makan perut kelabang yang demikian menyeramkan, yang amat beracun, sedangkan air liurnya saja sudah demikian hebatnya!

Malam tiba, kakek sinting itu membiarkan api unggun bernyala terus. "Setelah bulan purnama muncul dan keadaan di sini cukup terang, baru api ini kita padamkan. Betapa pun lihai dan beracun, kelabang-kelabang itu takut melihat cahaya api. Kalau sekarang api kita padamkan, mereka akan bermunculan dan tak hanya ayam dan isi perut ayam yang mereka serang, akan tetapi juga mereka akan menyerang kita."

"Ihhhh...!" Kwi Hong mengkirik ngeri. "Kalau nanti bulan sudah muncul dan api kita padamkan, mereka datang dan menyerang kita bagaimana?"

"Apa sukarnya? Kita meloncat ke atas pohon-pohon mati itu, mereka tidak akan mampu mengejar."

"Sekarang kita bisa meloncat ke sana, Suhu."

"Dasar bodoh! Kalau mereka kita biarkan datang sebelum bulan muncul dan kita menyelamatkan diri ke atas pohon mati, bagaimana kita akan dapat mengikuti ke mana mereka membawa pergi ayam yang kita umpankan itu?"

Sekarang mengertilah Kwi Hong dan dia merasa tegang. Bicara tentang kelabang-kelabang itu, tidak ada nafsu makan lagi padanya sehingga sisa daging ayam panggang itu diganyang habis oleh Bu-tek Siauw-jin, bahkan agaknya dia masih belum puas karena terdengar suara keletak-keletuk bunyi tulang-tulang sayap dan kaki ayam pecah-pecah karena gigitannya, untuk diisap sumsumnya!

"Suhu, bulan sudah muncul. Lihat!" Tiba-tiba Kwi Hong yang sejak tadi memandang ke arah timur berteriak sambil menudingkan telunjuknya.

"Biarkan dia naik agak tinggi sampai tempat ini terang betul," jawab guruya yang masih enak-enak saja menggerogoti tulang kaki ayam.

Akhirnya bulan purnama sudah menyinarkan cahayanya yang cemerlang dan daging berikut tulang ayam panggang sudah habis dikunyah hancur oleh kakek sinting itu. Bu-tek Siauw-jin lalu melemparkan ayam gundul yang diikat kakinya ke atas tanah di samping isi perut ayam yang dipanggang tadi, kemudian memadamkan api dan mengajak muridnya meloncat ke atas dua batang pohon mati yang berdampingan.

Dengan tergesa-gesa karena merasa ngeri, Kwi Hong mendahului gurunya meloncat. Tubuhnya melayang ke atas dan hinggap di atas puncak batang pohon mati seperti seekor burung garuda sigapnya. Gurunya juga mencelat ke atas dan hinggap di pohon kedua. Batang pohon yang tingginya lebih dari tiga meter itu cukup besar sehingga mereka dapat duduk di atasnya sambil memandang ke bawah. Dari tempat itu jelas kelihatan ayam gundul yang mereka pergunakan sebagai umpan karena cahaya bulan dengan lembutnya menyinari seluruh tempat itu.

Kurang lebih dua jam mereka menanti, dua jam penuh ketegangan dan terasa seperti dua pekan bagi Kwi Hong. Beberapa kali dia menoleh ke arah gurunya dan melihat betapa gurunya itu duduk melenggut di atas puncak batang pohon, tidur-tidur ayam kekenyangan daging ayam. Beberapa kali tubuh kakek itu mendoyong ke sana-sini kelihatannya seperti akan jatuh, akan tetapi selalu dia tersentak kaget sebelum terguling dan melenggut lagi. Tentu saja hati Kwi Hong mendongkol sekali. Orang setengah mati karena tegang, gurunya enak-enak melenggut, bahkan kini terdengar dengkurnya perlahan.

Tiba-tiba Kwi Hong mencium bau yang amat keras, bau yang amis dan memuakkan dan mendadak terdengar suara gurunya, "Awas, jangan berisik dan atur napasmu, lawan hawa beracun. Mereka sudah datang!"

Kwi Hong cepat mengerahkan sinkang, mengatur pernapasan dan melindungi paru-paru dengan hawa murni, matanya memandang ke bawah dengan terbelalak dan sama sekali tidak berani mengeluarkan suara. Dilihatnya ayam yang diikat itu masih bergerak-gerak, menggerakkan leher dan berusaha melepaskan diri. Bau makin keras dan dari sebelah kanan tampaklah kini olehnya benda yang berkilauan, bergerak-gerak mendekat. Kelihatan panjang sekali, akan tetapi setelah dekat, barulah tampak olehnya bahwa yang datang adalah barisan kelabang yang besar-besar dan panjang-panjang! Karena binatang-binatang itu merayap beriringan, dari jauh yang tampak hanya sinar berkilauan kulit mereka dan kelihatan seperti sebuah benda atau ular yang panjang.

Terlihat tidak kurang dari lima belas ekor kelabang yang kulitnya merah mengkikap, panjangnya masing-masing antara dua puluh sampai tiga puluh senti meter! Kwi Hong bergidik. Sudah pernah dia melihat kelabang, akan tetapi besarnya paling-paling hanya sebesar jari tangan dan panjangnya tidak lebih dari sepuluh senti. Belum pernah dia melihat kelabang-kelabang raksasa seperti itu!

Barisan kelabang itu makin dekat dengan umpan, dan makin ngeri pula rasa hati Kwi Hong. Tiba-tiba ayam itu meronta dan berkeok-keok keras tanda ketakutan dan Kwi Hong memejamkan kedua matanya melihat betapa belasan ekor kelabang itu seperti terbang cepatnya mencelat ke depan, memperebutkan ayam yang kelabakan sebentar, lalu tak bersuara lagi. Barulah Kwi Hong berani membuka matanya.

Ayam itu telah mati, akan tetapi kini belasan ekor kelabang itu saling serang, saling gigit dan saling terjang dengan hebat. Mereka memperebutkan bangkai ayam seperti yang telah dituturkan oleh gurunya! Kwi Hong melirik ke arah gurunya dan melihat kakek itu tersenyum-senyum menyeringai lebar dan menggosok-gosok kedua tangannya kelihatan girang sekali, bahkan mulutnya bergerak-gerak dan mengeluarkan air liur seperti sikap seorang kelaparan melihat daging empuk! Kwi Hong bergidik!

Gurunya benar-benar bukan manusia! Baru saja mengganyang habis seekor ayam panggang, hanya diambil sedikit olehnya, dan sekarang melihat kelabang-kelabang gemuk, sudah keluar air liurnya! Benar-benar manusia sinting, atau bukan golongan manusia! Betapa pun juga, harus dia akui bahwa gurunya amat baik kepadanya, dan ilmu-ilmu yang diberikan kepadanya benar-benar hebat!

Saking ganasnya kelabang-kelabang itu, pertempuran tidak berlangsung lama. Sepuluh ekor kelabang yang lebih kecil sudah menggeletak tak bergerak, mati. Empat ekor yang lebih besar dan agaknya luka-luka tidak mempedulikan luka mereka dan dengan lahap mereka kini merasa puas dengan isi perut ayam. Karena isi perut itu cukup banyak terutama ususnya yang panjang, empat ekor kelabang itu memperoleh bagian yang cukup dan dari atas mereka tampak seperti ulat-ulat sutera sedang lahap makan daun murbei!

Kwi Hong melihat bahwa seekor kelabang yang terbesar dan tentu yang telah keluar sebagai pemenang dalam perebutan tadi, kini menggondol bangkai ayam gundul dan dia benar-bedar tercengang akan kekuatan kelabang itu! Dengan mulut menggigit leher ayam, kelabang itu mampu membawa bangkai ayam itu dengan gerakan cepat menuju ke sebuah di antara pohon-pohon mati yang terbesar, memasuki sebuah lubang di bawah pohon dan lenyap!

"Bagus! Tempatnya di bawah pohon itu! Mari...!" Bu-tek Siauw-jin tertawa girang dan meloncat turun diikuti oleh Kwi Hong. Ketika dara itu melayang turun, begitu kedua kakinya menginjak tanah, ia sudah menahan jerit dan meloncat lagi melihat benda melintang di bawah kakinya. Benda itu disangkanya kelabang, akan tetapi ternyata hanyalah kayu lapuk!

"Siapkan pedangmu!" Bu-tek Siauw-jin berbisik. "Aku akan mencabut pohon itu dan kalau engkau melihat seekor kelabang yang amat besar dan gemuk, jangan ragu-ragu, kau bacok putus bagian kepala dan ekornya, kemudian bagian tengahnya cepat kau masukkan ke dalam botol ini dan tutup rapat." Kakek itu menyerahkan sebuah botol kosong yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Karena hatinya merasa tegang, Kwi Hong tidak dapat mengeluarkan suara, hanya mengangguk-angguk. Kalau dia disuruh menghadapi lawan manusia, biar musuhnya amat banyak dan seganas iblis, dara perkasa itu takkan merasa gentar seujung rambut pun. Akan tetapi disuruh menghadapi kelabang-kelabang yang menggelikan dan menjijikkan ini, benar-benar dia merasa tegang dan semua bulu yang tumbuh di tubuhnya berdiri tegak! Dengan hati-hati dia mencabut pedangnya, dipersiapkan di tangan kanan yang agak gemetar, tangan kiri memegang botol dan pernapasan tetap teratur agar tidak terserang hawa beracun yang amat hebatnya memenuhi tempat itu. Dengan hati-hati dia lalu mengikuti gurunya menghampiri pohon besar di mana kelabang raksasa yang membawa bangkai ayam tadi lenyap.

Bu-tek Siauw-jin menghampiri pohon, merangkul batang pohon yang sebesar tubuh manusia itu dengan kedua lengannya, berjongkok, kemudian bangkit berdiri sambil mengerahkan tenaga menjebol batang pohon yang tingginya tiga setengah meter itu. Terdengar suara keras ketika akar-akar kering pohon itu patah-patah dan terjebol berikut tanahnya, disusul suara lebih keras karena pohon itu telah dilemparkan jauh oleh kakek sinting.

Hampir Kwi Hong menjerit ketika melihat seekor kelabang besar merayap keluar dan kelihatan marah sekali. Kelabang ini mulutnya masih menggigit kepala ayam, kini seperti hendak menyerang kaki Kwi Hong. Gadis ini melihat bahwa kelabang ini besar sekali, perutnya menggembung dan warna kulitnya sama seperti Kelabang-kelabang yang tadi, merah darah akan tetapi agak kehijauan dan mengeluarkan sinar mengkilap. Sekilas pandang ia melihat bangkai ayam di dalam lubang bekas jebolan pohon dan di samping bangkai ayam itu menggeletak pula kelabang besar yang tadi membawa bangkai, sudah mati pula. Agaknya Sang ‘Ratu’ kelabang yang bunting ini benar-benar amat ganas. Disanjung dan dirayu oleh kelabang besar, dihadiahi bangkai ayam gundul gemuk, malah dibalas dengan membunuhnya!

"Kelabang celaka!" Kwi Hong marah dan gemas sekali teringat akan ini, dua kali pedangnya berkelebat.

"Cres! Cress!"

Dia terkejut karena pedangnya bertemu dengan kulit yang amat alot dan keras. Andai kata bukan Li-mo-kiam yang berada di tangannya, tentu dia akan kecelik kalau tidak mengerahkan sinkang, karena kulit kelabang itu ternyata amat tebal. Akan tetapi Li-mo-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang ampuhnya menggila, maka dua kali sabetan itu berhasil baik, tubuh kelabang terpotong menjadi tiga, leher dekat kepala dan dekat ekornya putus! Akan tetapi bagian tengahnya yang masih panjang itu menggeliat-geliat hidup sehingga Kwi Hong merasa jijik untuk mengambilnya.

"Bodoh, lekas masukkan botol!" Bu-tek Siauw-jin membentak.

Kwi Hong menabahkan hatinya, disambarnya bagian badan yang masih panjang dan menggeliat itu. Hampir saja dilepaskannya kembali karena jari-jari tangannya merasa geli dan jijik, seperti memegang ular saja. Akan tetapi karena botol di tangan kirinya sudah siap, dia cepat memasukkan bagian tubuh yang menggeliat-geliat itu ke dalam botol, menutupkannya rapat-rapat kemudian hendak mengambil kembali pedangnya yang tadi dia tancapkan di atas tanah ketika tangan kanannya mengambil tubuh kelabang.

"Aihhh...!" Kwi Hong menjerit dan tidak jadi mengambil pedang karena melihat betapa seluruh tangan kanannya menjadi merah kehitaman dan mulailah terasa kaku dan lumpuh!

"Itulah racunnya yang kuat sekali. Nih, pegang batu hijau ini!" Gurunya menyerahkan batu hijau ke tangan kanan Kwi Hong yang keracunan. Gadis itu menerima batu hijau dan menggenggamnya. Sebentar saja warna tangannya putih kembali, racun yang amat jahat itu disedot habis oleh batu hijau.

"Kau simpan batu itu dan tak akan ada racun dapat mempengaruhi kulitmu. Akan tetapi kalau engkau sudah selesai berlatih dan sudah makan perut kelabang bunting, tubuhmu lebih kebal dari racun, lebih hebat dari pada batu hijau itu!"

Kakek ini tertawa-tawa, lalu dia mengambil bangkai kelabang jantan yang berada di dalam lubang, kemudian mengajak Kwi Hong kembali ke tempat tadi. Dapat dibayangkan betapa jijik hati Kwi Hong ketika melihat empat ekor kelabang besar yang tadi dengan lahap makan isi perut ayam, kini masih melingkar di tempat tadi, diam tak bergerak sama sekali dan tubuh mereka menjadi gemuk dan menggembung seperti mau pecah. Seluruh isi perut ayam habis bersih, dan anehnya, sepuluh ekor kelabang yang telah mati tadi pun lenyap tak tampak bekasnya sama sekali.

"Ha-ha-ha, heh-heh-heh! Untung besar! Empat ekor ini benar-benar gembul dan kiciak (pelahap dan segala macam dimakan tanpa jijik)! Bangkai sepuluh ekor temannya sendiri masuk perut! Ha-ha-ha, kita pesta besar! Engkau makan kelabang bunting, aku mengganyang lima ekor kelabang gembul!"

Sambil berkata demikian, kakek sinting itu menggunakan kedua tangannya menangkap empat ekor kelabang itu yang sama sekali tidak melawan atau meronta karena memang sudah tak dapat bergerak saking kenyangnya! Dia mengumpulkan empat ekor kelabang kekenyangan itu dengan bangkai kelabang terbesar yang mati di dalam lubang betina. Empat kali telunjuknya bergerak memukul dan empat ekor kelabang itu mati dengan kepala pecah.

"Sebetulnya, daging kelabang paling enak kalau digoreng dan dimakan dengan cocol kecap, hemmm... sedap bukan main. Sayang di sini tidak ada minyak, maka kita godok saja. Dimasak kuah juga enak sekali, kuahnya sedap dan banyak vitamin! Heh-heh-heh!"

Kwi Hong merasa hendak muntah. Akan tetapi ditekannya persaan itu dan berkata, "Suhu, aku khawatir takkan dapat menelan kelabang ini..." Dia meletakkan botol terisi kelabang bunting itu ke depan suhu-nya.

"Eh-eh, bodoh! Apa engkau hendak menyia-nyiakan kesempatan baik mendapatkan ilmu yang membuat tubuhmu kebal akan segala racun yang dapat menimbulkan sinkang yang tiada tandingannya di dunia? Pula, apa kau kira daging kelabang tidak enak?"

"Aku jijik, Suhu. Dan tentu saja tidak enak!"

"Wah-wah, picik sekali engkau. Heh, murid tolol. Kapankah engkau pernah makan daging kelabang?"

"Selama hidupku belum pernah!" jawab Kwi Hong cepat-cepat untuk menyatakan bahwa selama ini, sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, dia hidup ‘bersih’!

"Itulah tololnya! Kalau selama hidupmu engkau belum pernah makan daging kelabang, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa daging kelabang tidak enak dan menjijikkan? He, Kwi Hong, jangan engkau meniru-niru manusia-manusia yang berwatak munafik itu!"

"Hemm, urusan makan daging kelabang, mengapa menyangkut urusan orang berwatak munafik?" Kwi Hong terheran.

"Tentu saja sama! Orang-orang munafik itu pun begitu, hanya karena membaca kitab atau mendengar ucapan mulut orang lain, tanpa membuktikan dan menyatakan sendiri, sudah mengambil keputusan mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi! Sampai-sampai ada yang mati-matian bersumpah bahwa dia mati-matian membenci dan memusuhi segala setan dan iblis!"

"Tentu saja, Suhu!"

Kakek sinting itu memandang muridnya dengan mata terbelalak, lalu meloncat berdiri dan membanting-banting kedua kakinya, seperti anak kecil yang rewel dan sudah siap menangis! "Apa? Engkau...? Muridku...? Engkau pun ikut-ikutan latah dan munafik? Jadi engkau pun membenci dan memusuhi setan dan iblis? Coba katakan, kenapa kau membenci mereka?"

"Hemm... karena mereka jahat, karena musuh manusia!"

"Ngawur! Apakah setan dan iblis itu ada? Pernahkah engkau bertemu dengan setan dan iblis?"

Melihat suhu-nya mencak-mencak dan memekik-mekik marah, Kwi Hong menjadi gentar juga. Dia menggeleng kepala dan menjawab "Tidak pernah ada, Suhu."

"Kau tidak pernah bertemu dengan setan atau iblis, engkau tidak tahu apakah mereka itu ada atau tidak, bagaimana engkau sudah mengambil keputusan memusuhi dan membenci mereka, bagaimana bisa mengatakan mereka jahat dan musuhmu? Ehh, bocah tolol. Coba jawab lagi, pernahkah engkau diganggu setan atau iblis? Dicubit? Dipukul? Dimaki atau ditipu? Hayo jawab yang jujur! Pernahkah engkau diperlakukan jahat oleh setan atau iblis? Kalau pernah, kapan dan di mana, dan bagaimana? Ceritakan!"

Kwi Hohg melongo. Gurunya ini benar-benar sinting, akan tetapi ditanya seperti itu, dia tidak dapat menjawab. Tentu saja dia belum pernah bertemu, dan kalau belum pernah bertemu, bagaimana mungkin dia bisa diganggu. Bahkan ada atau tidaknya setan iblis masih merupakan teka-teki yang tak dapat dijawab dengan kenyataan. Kembali dia menggeleng kepala, "Belum pernah, Suhu!"

"Nah, itulah! Engkau pun termasuk seorang munafik, hanya untuk plintat-plintut mengikuti ketahyulan manusia yang pura-pura suci saja. Jangan engkau terseret oleh kebiasaan umum yang belum tentu benar. Karena umum biasanya makan daging ayam, maka enak saja engkau makan daging ayam. Karena umum tidak biasa makan daging kelabang, biar pun selamanya engkau belum pernah merasakannya, mudah saja kau bilang tidak enak dan menjijikkan. Munafik!"

Kwi Hong merasa bohwat (kehabisan akal), karena biar pun ucapan gurunya kasar dan seenak perutnya sendiri, kebenarannya dalam ucapan itu sukar dibantah. "Maafkanlah, Suhu. Akan tetapi benar enakkah daging kelabang?" Suaranya halus dan penuh penyesalan itu sekaligus mengusir kemarahan Bu-tek Siauw-jin yang sudah menyeringai kembali!

"Heh-heh-heh, engkau mau tahu rasanya? Pernahkah engkau makan daging udang?"

"Pernah, bahkan sering kali, Suhu. Ketika masih tinggal di Pulau Es, di sebelah timur pulau terdapat bagian laut yang dihuni banyak udang besar, sebesar lengan tangan dan sering kali anak buah kami menangkap udang-udang besar itu."

"Pernah kau makan daging udang yang dipanggang dalam tanah liat?"

"Belum pernah. Bagaimana, Suhu?"

"Wah, kalau begitu engkau belum tahu benar-benar rasanya daging udang! Apa lagi udang besar seperti itu. Mula-mula udang itu dilumuri tanah liat basah cukup tebal sampai tidak kelihatan kulitnya, kemudian dipanggang dan dibiarkan sampai tanah liat itu menjadi kering sekali. Setelah tanah liat itu retak-retak dan mengeluarkan bau gurih, nah, itu tandanya udangnya sudah matang. Kalau sudah tampak uap keluar dari bungkusan tanah yang retak-retak, panggang udang itu boleh diangkat dari api. Tanah liat yang sudah kering itu dikupas dan kulit udangnya tentu akan terbawa dan terkupas pula karena melekat pada tanah liat dan kini hanya tinggal daging udangnya, putih bersih kemerahan panas-panas beruap dan sedap baunya. Rasanya? Wah, kalau digigit kenyal-kenyal akan tetapi lunak, sedap manis... hemm!"

Kwi Hong menelan ludah. Timbul seleranya dan dia kemecer (mengeluarkan air liur) mendengar penuturan itu.

"Nah, daging kelabang pun rasanya sama dengan daging udang! Yang lima ekor ini akan kupanggang dalam tanah liat, akan tetapi yang bunting itu harus direbus, karena kalau dipanggang, racunnya banyak yang hilang. Direbus juga enak, coba saja nanti."

Berkuranglah rasa jijik di hati Kwi Hong, Apa lagi setelah dia mencari air sungai yang terdapat dalam bagian bukit yang subur, kemudian mereka memasak kelabang dan memanggang yang lima ekor, gurunya tiada hentinya menceritakan kelezatan daging kelabang yang dagingnya sejenis dengan daging udang, kepiting, belalang, jangkrik, dan lain binatang yang kulitnya keras.

Kesibukan memasak udang itu berlangsung sampai pagi, karena tidak mudah bagi Kwi Hong mencari air dan daun-daun bumbu di dalam hutan di waktu malam seperti itu, sungguh pun sinar bulan banyak membantunya. Akan tetapi, akhirnya masakan-masakan itu selesai di waktu pagi.

"Nah, kau makan dulu seekor daging panggang sebagai cuci mulut!" kata Bu-tek Siauw-jin.

Kwi Hong tertawa. Benar-benar lucu. Masa cuci mulut dengan daging panggang, dan lagi mana ada cuci mulut sebelum makan? Akan tetapi dia tidak membantah dan bersama suhu-nya, dia mengupas tanah liat yang sudah kering. Benar saja kulit kelabang itu ikut terkupas dan tampaklah kini dagingnya yang putih kemerahan dan mengepulkan uap tipis yang sedap. Melihat suhu-nya makan daging itu dengan lahapnya, Kwi Hong lalu menggigit daging yang dipegangnya dan benar-benar gurunya tidak membohong. Rasanya enak sekali, gurih dan enak manis, seperti daging udang!

"Jangan dihabiskan, separuh saja. Yang separuh untuk nanti setelah kau makan daging rebus."

Kwi Hong tersenyum, tanpa membantah lagi dia mengambil panci kecil di mana daging kelabang bunting itu telah dimasak. Bu-tek Siauw-jin mengambil sebuah guci arak dan menuangkan arak ke dalam masakan itu. Uap mengepul dan bau wangi arak merah itu bercampur dengan bau gurih sedap namun ada pula bau yang amis dan keras.

"Makan dagingnya sedikit-sedikit saja agar tidak terlalu mengejutkan tubuhmu. Jangan khawatir apa pun yang terasa olehmu, makan terus sampai habis. Ingat, yang kau makan ini bukan hanya daging yang lezat, akan tetapi terutama sekali obat untuk menyempurnakan latihan ilmu yang kuajarkan kepadamu."

Kwi Hong mengangguk, menggunakan sepotong kayu menusuk daging itu dan mulai menggigit dan memakan daging itu. Terpaksa ia memejamkan mata karena berbeda dengan ketika makan daging kelabang panggang tadi, kini daging kelabang yang direbus kelihatan putih dan besar, juga agak kehitaman di sebelah dalamnya, hitam kehijauan dan dia tahu itu adalah racun kelabang yang amat jahat!

Rasanya memang ada enaknya, akan tetapi lebih banyak tidak enaknya dari pada enaknya. Memang ada bau sedap, akan tetapi hampir tertutup sama sekali oleh bau amis dan keras bahkan bau arak itu pun tidak dapat melenyapkan bau amis. Rasanya memang gurih, akan tetapi terasa pula getir dan pahit, juga ada rasa keras yang membuat lidah terasa seperti ditusuk-tusuk. Namun Kwi Hong dengan nekat mengunyah dan menelan. Hanya sebentar mengunyah, tidak menunggu sampai lembut asal tidak terlalu besar, lalu ditelannya!

Dia terus memejamkan mata dan biar pun terasa betapa dada dan perutnya panas sekali ketika makanan itu ditelannya, dia makan terus. Biarlah kalau dia akan mati karena ini, pikirnya. Sudah kepalang! Makin lama hawa panas makin hebat sehingga terasa gerah sekali. Keringatnya membasahi pakaian, seolah-olah dia merasa tubuhnya dipanggang. Akan tetapi, Kwi Hong adalah seorang gadis yang berhati keras dan nekat. Dia terus makan sampai akhirnya daging kelabang bunting habis ditelannya.

Kepalanya pening. Akan tetapi sebuah tangan menekan tengkuknya. Jari tangan Bu-tek Siauw-jin menotok punggung, rasa ingin muntah yang timbul hilang, kemudian telapak tangan gurunya menempel di punggungnya dan dari telapak tangan itu menjalar hawa dingin sejuk yang melawan hawa panas di tubuhnya. Akan tetapi sebentar saja tangan gurunya ditarik kembali ketika Kwi Hong yang teringat akan Swat-im Sinkang, mengerahkan inti tenaga dingin untuk melawan serangan hawa panas itu. Sinkang-nya sudah amat kuat, apa lagi Im-kang yang didapatkannya ketika berlatih di Pulau Es, bahkan lebih kuat dari pada Im-kang yang disalurkan gurunya tadi. Hal ini adalah karena latihan Im-kang di Pulau Es merupakan puncak latihan menghimpun hawa dingin yang sukar dapat dimiliki oleh mereka yang berlatih di tempat panas.

"Bagus! Engkau dapat menahan hawa panas. Nah, makanlah sisa daging panggang itu."

"Suhu, aku sudah tidak ada nafsu lagi untuk makan daging..."

"Ih, jangan membantah! Ini perlu sekali untuk membuat perutmu kenyang dan terisi cukup..."

"Aku sudah kenyang sekali."

"Bodoh, kalau tidak kau isi sampai penuh sekali, mana dapat bertahan selama tiga hari tiga malam?"

"Apa maksudmu, Suhu?"

"Sudahlah, jangan banyak membantah. Kau makanlah sisa daging panggang ini dan habiskan!"

Karena maklum bahwa menghabiskan daging panggang ini termasuk kepentingan latihan itu, bukan semata-mata untuk membikin kenyang atau makan enak, Kwi Hong terpaksa makan habis sisa daging panggang. Perutnya menjadi kenyang sekali.

"Sekarang, minum kuah dalam panci itu sampai habis."

"Wah, mana perutku kuat, Suhu? Sudah terlalu kenyang dan kuah itu banyak sekali!" Kwi Hong membantah. Sebetulnya bukan soal terlalu kenyang, akan tetapi dia merasa jijik kalau harus minum kuah itu. Baru dagingnya saja tadi sudah begitu memuakkan, apa lagi kuahnya!

"Kwi Hong, tahukah engkau bahwa kuahnya ini yang jauh lebih penting? Andai kata engkau tidak makan dagingnya, masih tidak mengapa, akan tetapi kalau tidak minum kuahnya, kurasa akan sia-sia semua latihanmu. Sari obat berada di dalam kuah inilah!"

Kwi Hong bergidik. Yang dimaksudkan suhu-nya dengan ‘sari obat’ tentulah sari dan semua racun yang mengeram di dalam perut kelabang itu! Apa boleh buat! Sudah terlalu jauh dia melangkah, andai kata mendaki gunung sudah hampir sampai puncaknya. Dia mengangkat panci, membawa bibir panci menempel bibirnya, memejamkan mata, menahan napas agar hidungnya tidak mencium bau yang memuakkan itu, membuka mulut dan menuangkan isi panci itu sekaligus ke dalam perutnya melalui mulut! Begitu isinya habis, Kwi Hong mengeluh, panci kosong terlepas dari pegangannya dan terguling pingsan! Bu-tek Siauw-jin sudah siap, menerima tubuhnya dan membiarkan dara itu rebah terlentang di atas tanah sambil menyeringai dan tersenyum-senyum puas.

"Engkau hebat, muridku. Engkau hebat! Ha-ha-ha, hendak kulihat apa yang dapat dilakukan Suheng kepadamu. Heh-heh-heh, betapa suheng akan mencak-mencak kalau melihat muridnya kalah oleh muridku!"

Kalau tadi Kwi Hong tahu bahwa dia akan pingsan selama tiga hari tiga malam, kiranya dia akan pikir-pikir dulu untuk minum kuah itu! Dan hal ini sudah diketahui oleh Bu-tek Siauw-jin maka tadi kakek sinting ini setengah memaksa muridnya menghabiskan daging kelabang panggang agar selama tiga hari tiga malam pingsan itu, muridnya tidak akan terlalu kelaparan!

Pada pagi hari yang ke empat, Kwi Hong siuman, menggerakkan tangan, mengeluh perlahan dan membuka mata. Ia merasa tubuhnya panas dan lapar sekali. Ketika melihat gurunya duduk bersila tak jauh dari situ sambil memandangnya dan tersenyum-senyum, Kwi Hong cepat bangkit duduk. Segera ia memejamkan kedua matanya karena begitu ia bangkit duduk, matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut keras.

"Jangan tergesa-gesa, Kwi Hong. Tenang-tenang sajalah! Engkau baru saja bangkit dari kematian dan mulai hidup baru. Ha-ha-ha!"

Kwi Hong membuka matanya kembali. "Apa yang terjadi, Suhu? Apakah aku tertidur?"

"Engkau tidur, juga pingsan, bahkan boleh dibilang mati selama tiga hari tiga malam! Dan engkau telah berhasil!"

Kwi Hong teringat kembali. "Aihh! Ketika minum kuah itu... aku lalu pingsan selama tiga hari tiga malam?"

Kwi Hong duduk bersila dan mulailah dia digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin dengan ilmu yang mukjizat, yang diciptakan oleh kakek aneh ini selama menyembunyikan diri. Kakek itu benar-benar amat tekun melatih muridnya, bahkan dia kini yang mencarikan makan untuk muridnya agar Si Murid tidak usah menghentikan latihan, dan hanya berhenti kalau perlu makan saja. Sampai dua pekan Kwi Hong disuruh melatih diri.

Karena memang pada dasarnya gadis ini telah memiliki kekuatan sinkang yang hebat berkat latihan yang ia terima dari Pendekar Super Sakti, maka dalam waktu singkat saja dia sudah dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh kakek sinting itu, padahal bagi orang lain, belum tentu akan dapat dikuasai dalam latihan bertahun-tahun! Kemudian, berdasarkan tenaga mukjizat ini Bu-tek Siauw-jin menambahkan jurus-jurus yang aneh dan dahsyat dalam ilmu pedang Kwi Hong. Juga dara ini dilatih menggunakan pukulan-pukulan dengan telapak tangan, pukulan yang amat hebat karena hawa pukulannya mengandung ancaman maut, mengandung hawa beracun yang selamanya belum pernah dia pelajari.

Tanpa disadarinya, Kwi Hong yang semenjak kecil menerima gemblengan-gemblengan pamannya dengan ilmu-ilmu tinggi yang bersih, kini telah mempelajari ilmu-ilmu golongan hitam! Memang benar bahwa segala ilmu dapat dipergunakan untuk kebaikan mau pun kejahatan, tergantung manusianya. Akan tetapi, ilmu golongan sesat atau golongan hitam mengandung sifat-sifat yang ganas, kejam dan dahsyat, sehingga sekali turun tangan dapat merampas nyawa lawan dengan mudahnya!

Demikianlah sambil melatih diri setiap ada kesempatan, Kwi Hong diajak oleh gurunya melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja. Dasar kakek sinting, begitu tiba di kota raja, dia langsung saja menuju ke gedung koksu, berdiri di depan pintu gerbang karena para penjaga melarang kakek sinting ini masuk. Sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang, kakek itu berteriak,

"Heh, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, keluarlah kamu dan hayo lawan aku Bu-tek Siauw-jin! Kalau aku kalah olehmu, biarlah aku meninggalkan muridku ini karena aku tidak pantas lagi menjadi gurunya!"

Para penjaga yang tadinya menghadang dan melarang kakek ini melalui pintu gerbang menjadi terkejut karena suara itu membuat mereka terpelanting ke kanan kiri dan mereka tidak mampu bangkit lagi, tubuh mereka menggigil dan mereka hanya dapat memandang dengan mata terbelalak saja ketika kakek itu bersama dara jelita di sampingnya memasuki pintu gerbang istana koksu seenaknya!

Kwi Hong juga terkejut, tidak menyangka bahwa gurunya akan bersikap selancang ini. Mestinya, menurut pendapatnya, mereka menyelidik dan menyusup ke dalam istana koksu di malam hari. Akan tetapi gurunya dengan terang-terangan menantang sambil berteriak-teriak seperti itu! Mana ada seorang koksu yang berpangkat tinggi ditantang begitu saja seperti seorang anak kecil menantang berkelahi anak kecil?

Teriakan yang disertai khikang kuat itu tidak saja membuat para penjaga di luar terpelanting, akan tetapi juga mengejutkan seluruh isi istana koksu karena bangunan besar itu seolah-olah tergetar dan akan ambruk! Berbondong-bondong keluarlah pasukan pengawal dengan senjata di tangan. Akan tetapi mereka menjadi ragu-ragu ketika melihat bahwa yang berjalan masuk dengan langkah lenggang kangkung itu hanyalah seorang kakek tua sekali yang tubuhnya pendek, hanya setinggi pundak dara jelita yang berjalan di sampingnya!

"Manusia lancang! Apakah engkau sudah bosan hidup berani mengacau gedung koksu?" Seorang perwira pengawal membentak.

"Heh-heh! Memang aku sudah bosan hidup!" jawab Bu-tek Siauw-jin seenaknya saja. "Apakah engkau ini Giam-lo-ong tukang cabut nyawa?"

Perwira itu merasa diejek dan dihina, maka cepat ia mengayun goloknya membacok ke arah kepala Bu-tek Siauw-jin. Kakek itu sama sekali tidak bergerak, juga dara cantik yang berdiri di sebelahnya dengan wajah dingin sama sekali tidak peduli.

"Wuuuuuttt... krekkkk!"

"Hayaa... aduuuuhhh...!" Perwira itu berteriak dan memegangi lengan kanannya yang patah tulangnya, seperti juga goloknya yang patah ketika bertemu dengan kepala kakek sinting itu!

Para anggota pasukan pengawal tentu saja memandang dengan bengong dan tak seorang pun berani maju menyerang. Sementara itu, Bhong Koksu sendiri bersama para pembantunya juga mendengar gema suara yang mengandung khikang kuat itu dan kini berbondong-bondong mereka keluar dari istana. Melihat munculnya koksu, para pasukan lupa akan rasa ngerinya dan menyerbu ke depan untuk mengeroyok Bu-tek Siauw-jin.

"Tahan...!" Seruan ini keluar dari mulut pendeta Maharya yang kemudian berbisik kepada koksu, "Harap Taijin perintahkan pasukan mundur. Dia adalah seorang yang tidak boleh dibuat main-main!"

"Semua pasukan mundur, biarkan kami menyambut tamu!" Koksu berseru dan para panglima segera membubarkan pasukan pengawal yang sudah mengurung dan hendak turun tangan mengeroyok.

Setelah para pasukan mundur, Bhong Ji Kun, Maharya dan Thian Tok Lama bersama lima orang panglima tinggi termasuk Bhe Ti Kong, maju menghampiri kakek pendek dan gadis cantik itu. Ketika mereka semua mengenal Kwi Hong mereka terkejut dan diam-diam mereka siap untuk mencabut senjata. Tentu saja mereka semua mengenal Giam Kwi Hong, murid atau keponakan Pendekar Super Sakti, penghuni Pulau Es yang dahulu pernah mereka tawan dalam kapal ketika mereka menyerbu Pulau Es itu. Tentu kedatangannya ada hubungannya dengan penyerbuan Pulau Es, akan tetapi siapakah kakek pendek yang tertawa-tawa itu?

Bu-tek Siauw-jin tidak memandang kepada orang lain kecuali kepada Maharya. Setelah memperhatikan pendeta India ini dari kepala sampai ke kaki naik turun beberapa kali, akhirnya dia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, bukankah engkau ini Si Maharya yang dulu sering kali bertanding gulat melawan aku di lereng Himalaya?"

Maharya merangkap sepuluh jari tangannya ke depan hidung sebagai penghormatan lalu menjawab sambil tertawa pula, "Siauw-jin, engkau masih hidup? Sungguh panjang usiamu!"

"Ha-ha-ha, tentu saja usiaku panjang karena aku masih ingin membuat engkau sekali lagi meniru bunyi kambing untuk menyatakan kalah. Heh-heh-heh, Kwi Hong muridku, pernahkah engkau mendengar permainan adu tenaga bergulat, dan yang kalah harus mengeluarkan bunyi seperti kambing sebagai tanda menyerah?"

Kwi Hong semenjak tadi menyapu orang-orang di depannya itu dengan pandang mata penuh kebencian, sikapnya dingin dan tangannya sudah gatal-gatal untuk segera turun tangan menyerang dan membalas dendam.

"Belum pernah, akan tetapi aku tidak tertarik, aku lebih suka melihat pendeta busuk ini mengembalikan Hok-mo-kiam kepadaku!"

"Ha-ha-ha, nanti dulu, itu urusan kecil. Dahulu, di lereng Himalaya, aku sering kali bergulat dengan Maharya ini dan entah sudah berapa kali dia meniru bunyi kambing menyatakan kalah. Wah, dia pandai benar meniru bunyi kambing, benar-benar seperti kambing tulen, ha-ha-ha!"

"Suhu, kurasa sekarang dia lebih pandai meniru bunyi anjing yang suka menjilat telapak kaki orang berpangkat!" Kwi Hong berkata mengejek.

Bhong Koksu segera maju dan mengangkat tangan memberi hormat kepada Bu-tek Siauw-jin yang dia dapat menduga tentu seorang yang amat sakti sehingga paman gurunya begitu menghormat dan mengalah. "Harap maafkan kalau saya tak mengenal Locianpwe yang agaknya sudah mengenal baik Paman Guru Maharya. Kehormatan apakah yang akan Locianpwe berikan kepada kami dengan kunjungan ini?" Koksu ini bersikap cerdik. Dia tahu bahwa gadis ini adalah murid Pendekar Super Sakti, mengapa kini menyebut suhu kepada kakek pendek ini? Setelah muncul sebagai murid kakek ini, dia bersikap hati-hati dan sengaja tidak mau menegur Kwi Hong.

"Ha-ha-ha, engkau murid keponakan Si Maharya? Koksu, kalau begitu engkau tentu murid sahabat ahli pembuat pedang Nayakavhira!"

"Ahh! Locianpwe sudah mengenal mendiang guru saya?"

"Ha-ha-ha! Nayakavhira adalah sahabat kontan, tidak seperti Maharya ini yang sejak mudanya dahulu licik dan curang. Jadi engkau muridnya? Aku mendengar dahulu bahwa Nayakavhira hanya mempunyai seorang murid, yaitu seorang pemuda tukang penggembala kuda!"

Wajah Koksu merah sekali karena dialah yang dimaksudkan itu. Dialah penggembala kuda itu! Cepat ia menyembunyikan pecutnya, senjata yang tadinya dibawanya untuk menghadapi musuh. Akan tetapi Bu-tek Siauw-jin lebih cepat lagi, tangannya bergerak dan tahu-tahu pecut itu seperti hidup, terlepas dari tangan Koksu dan berpindah ke tangannya.

"Bagus! Engkau penggembala kuda itu? Dan sekarang menggembalakan orang-orang termasuk paman gurunya sendiri? Ha-ha-ha!" Kakek itu mengembalikan pecutnya dan Koksu menjadi pucat. Cara kakek itu merampas pecutnya tadi sudah membuktikan bahwa kakek ini benar-benar lihai bukan main!

"Siauw-jin, engkau selamanya benar-benar seorang siauw-jin (manusia rendah budi)!" Maharya membentak marah. "Apakah kedatanganmu mau mencari permusuhan? Ataukah engkau masih mengingat akan hubungan lama dan kini hendak mencoba kepandaianku! Boleh kau coba, mengenai ilmu silat, ilmu sihir atau ilmu kebatinan!"

"Maharya, kembalikan pedang Hok-mo-kiam, kalau tidak, akan kubunuh sekarang juga engkau!"

"Bocah sombong!" Maharya membentak, tangan kirinya bergerak dan asap hitam menyambar ke arah muka Kwi Hong. Hanya sebuah serangan ringan saja, akan tetapi asap itu mengandung racun yang dapat membikin pingsan lawan. Namun Kwi Hong hanya tersenyum, sedikit pun tidak mengelak sehingga angin pukulan berikut asap itu mengenai mukanya.

Maharya terbelalak melihat betapa gadis itu sama sekali tidak terpengaruh, baik oleh angin pukulannya mau pun oleh asap beracun! Kwi Hong sudah menggerakkan jari tangan hendak mencabut pedang, akan tetapi tiba-tiba gurunya menyentuh lengannya dan tertawa.

"Ha-ha-ha, Maharya. Melawan muridku saja engkau tidak akan menang, maka engkau tidak menarik lagi menjadi lawan bertanding. Lawan mengadu kecerdikan dengan teka-teki, engkau pun takkan menang. Dahulu pun, teka-tekiku yang paling mudah sudah kuberi waktu tiga hari tiga malam engkau masih tidak mampu memecahkannya. Apa lagi sekarang! Eh, Kwi Hong, tahukah engkau bahwa teka-teki yang amat sederhana saja dia dahulu tidak becus menebak. Teka-tekiku dahulu itu begini, biar semua orang mendengar betapa mudahnya. Ada sebuah benda mati tercipta dari yang hidup, berkepala dan bertubuh lengkap, akan tetapi seluruh anggota tubuhnya, dari kepala sampai ke kakinya, semua menjadi satu. Nah, apa itu?"

Kwi Hong termenung, mengasah otak dan anehnya, semua orang di situ semua kelihatan mengerutkan alis, semua mencari pemecahan cangkriman ini, termasuk para panglima dan para pasukan yang berdiri di tempat jauh akan tetapi ikut mendengarkan kata-kata Si Kakek Pendek. Melihat ini Maharya terkejut bukan main. Biar pun hanya berupa olok-olok dan teka-teki yang dibuat kelakar, namun suara kakek itu ternyata telah mempengaruhi semua orang sehingga mereka semua lupa keadaan dan ikut mencari jawabannya. Ini saja sudah membuktikan betapa kuat sinkang kakek itu, betapa mukjizat dan tidak akan menanglah dia kalau bertanding ilmu sihir!

Tiba-tiba Maharya mengeluarkan suara tertawa bergelak, suara tawa yang melengking panjang dan bergema di udara seperti guntur, juga mirip suara kuda meringkik, dan semua orang menjadi sadar dengan penuh keheranan betapa mereka tadi sempat mencurahkan seluruh perhatian dan memeras otak untuk mencari jawaban sebuah teka-teki, sungguh merupakan hal yang janggal sekali pada saat seperti itu!

"Hemm, Maharya, engkau sekarang bisa tertawa. Kwi Hong, dia sekarang memandang rendah karena dahulu telah kuberi tahu jawabannya."

"Suhu, apa sih jawabannya? Teka-tekimu itu aneh dan sukar sekali!"

"Jawabannya? Dengar baik-baik...!"

Kembali semua orang, termasuk Koksu sendiri, mendengarkan penuh perhatian. Maharya terkejut dan pendeta ini maklum bahwa pada detik itu kalau Si Kakek Pendek mau mempergunakan kekuatannya, bisa saja dia mempengaruhi semua orang yang berada di situ, disuruh tidur tentu tidur, disuruh apa saja tentu menurut karena mereka semua telah terjatuh ke dalam cengkeraman kekuasaan hebat dari kakek pendek itu. Akan tetapi Bu-tek Siauw-jin hanya mendemonstrasikan kekuatannya saja dan tidak mau melakukan sesuatu, melainkan melanjutkan ucapannya yang sengaja dihentikan sebentar untuk menguasai perhatian semua orang.

"Jawabannya adalah... semut dipelintir. Ha-ha-ha-ha!"

Semua orang memandang heran, termasuk Kwi Hong. "Eh, Suhu, mengapa semut dipelintir?"

"Heh-heh, bukankah semut itu kalau dipelintir, seluruh anggota tubuhnya menjadi satu, sukar dibedakan mana kepala mana kaki lagi? Dan semut itu tadinya hidup, maka benda yang berupa semut dipelintir itu tercipta dari yang hidup dan tentu saja menjadi benda mati!"

Semua orang, termasuk Koksu, tersenyum menyeringai karena merasa dipermainkan seperti anak kecil oleh kakek yang sinting ini.

"Bertanding kesaktian, engkau tentu kalah, Maharya. Bertanding sihir, engkau masih harus berguru seratus tahun lagi. Bertanding teka-teki pun engkau tak akan menang..."

"Siauw-jin, aku hendak menantangmu untuk bertanding pengetahuan kebatinan!" tiba-tiba Maharya berkata tegas.

"Heh-heh, begitu? Boleh! Paling-paling engkau paham filsafat Hindu dan Buddha, dan aku sudah hafal semua."

"Harus memakai taruhan!" kembali Maharya berkata. "Tentu saja kalau kau berani, kalau tidak aku pun tidak akan memaksamu."

"Wah-wah, sejak dahulu engkau memang licik dan curang, bermulut manis dan pandai menggunakan akal bulus! Tahu kau akal bulus? Kalau berdepan, menyembunyikan kepala ke dalam perut, kalau ditinggal, menggigit dari belakang! Akan tetapi jangan kira aku takut. Nah, apa taruhannya?"

"Begini! Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan mengenai hidup yang amat pelik dan engkau harus dapat menjawabnya dengan tepat berikut uraian dan alasannya agar jangan ngawur belaka. Kalau engkau mampu menjawab, kami akan menerimamu sebagai tamu dan sahabat baik, dan semua permintaan Nona yang menjadi muridmu ini tentu akan kami pertimbangkan baik-baik. Akan tetapi kalau engkau tidak bisa menjawab, engkau dan muridmu harus pergi dari sini tanpa banyak ribut lagi dan tidak boleh mencari perkara. Aku beri waktu satu bulan kepadamu dan selama kau memikirkan jawabannya, engkau boleh tinggal di dalam kamar tahanan bersama muridmu selama sebulan dengan jaminan makan minum secukupnya. Bagaimana? Beranikah kau menerima tantanganku ini?"

"Ha-ha-ha! Cukup adil! Boleh sekali, tetapi ingat, kalau sampai aku bisa menjawab, segala permintaanku harus kau penuhi. Permintaanku tidak banyak, hanya menantang Koksu, engkau dan dia ini... ehhh, bukankah aku pernah melihat hwesio gendut ini di Tibet? Kalau tidak salah, ada seorang lagi yang kurus kering, dua orang Lama dari Tibet..."

Thian Tok Lama merangkap kedua tangannya di depan dadanya. "Omitohud, ingatan Locianpwe benar-benar tajam sekali. Memang pinceng adalah Thian Tok Lama dari Tibet."

"Bagus! Dari India, dari Tibet, semua berkumpul di sini mengabdi kepada Mancu, ya? Luar biasa. Nah, aku akan menantang kalian bertiga mengadu ilmu, sedangkan permintaan muridku adalah... eh, Kwi Hong, apa permintaanmu kalau aku menang bertaruh? Jangan malu-malu, katakan saja!"

"Suhu," Kwi Hong mengerutkan alisnya, hatinya kurang senang. "Mengapa urusan ini dibuat main-main? Lebih baik sekarang saja gempur mereka!"

"Wah, jangan begitu! Apa kau mau merampas kesenanganku bertaruh? Jangan khawatir, aku pasti menang. Nah, jika aku menang, apa permintaan dan tuntutanmu?"

"Permintaanku, pertama Maharya harus mengembalikan Hok-mo-kiam dan kupotong ujung hidungnya yang terlalu panjang karena dia telah berani membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang. Kedua, Koksu yang memimpin pasukan yang merusak Pulau Es harus membangun kembali pulau itu seperti dahulu dan berlutut minta ampun ke depan Pendekar Super Sakti, menerima segala hukuman dan keputusan yang dijatuhkan oleh Pendekar Super Sakti."

"Nah, bagaimana, Maharya?"

Koksu hendak membantah. Tentu saja tuntutan itu amat berat dan tak mungkin dilaksanakan. Biar pun kakek pendek ini lihai bukan main, akan tetapi setelah berani memasuki istananya dan dikurung oleh ratusan pengawal, bahkan kalau dia menggerakkan pasukan sampai ribuan orang pun tidak sukar, perlu apa takut dan mengalah. Akan tetapi Maharya sudah cepat menjawab,

"Boleh! Nah, mari kita masuk ke ruangan dalam untuk mulai bertanding pengetahuan ilmu kebatinan."

"Suhu...!" Kwi Hong menyatakan keraguannya dengan pandang mata.

Sungguh amat bodoh memasuki istana itu, sama saja dengan memasuki goa harimau. Akan tetapi gurunya tersenyum lebar dan berkata, "Jangan ragu-ragu, masuk saja. Hendak kulihat apa yang akan dikeluarkan dari perut Maharya!"

Bagaikan seorang pahlawan yang pulang dari medan perang membawa kemenangan, Bu-tek Siauw-jin berjalan penuh gaya. Dadanya diangkat membusung, wajah berseri, mulutnya tersenyum-senyum dan matanya memandang ke kanan kiri! Akan tetapi Kwi Hong berjalan dengan hati-hati, agak menunduk dan sepasang matanya yang indah mengerling ke kanan kiri, siap siaga menghadapi penyerangan gelap atau jebakan musuh.

Koksu kini mengerti bahwa Maharya hendak menundukkan kakek pendek itu secara halus, maka dia pun diam saja, hanya diam-diam dia memberi isyarat kepada para pembantunya untuk mengadakan persiapan dan mengerahkan pasukan untuk menjaga dan mengurung. Ada pun Maharya diam-diam memperhatikan Bu-tek Siauw-jin.

Puluhan tahun yang lalu dia memang pernah bertemu dengan Bu-tek Siauw-jin di lereng Pegunungan Himalaya yang tinggi dan kakek ini dahulu hanya mengaku berjuluk Siauw-jin saja, sebuah ‘julukan’ yang amat aneh dan kiranya orang sedunia, apa lagi seorang tokoh kang-ouw yang berilmu, tidak ada yang sudi menggunakannya karena Siauw-jin berarti manusia rendah budi! Dan orang pendek itu sejak dahulu memang berwatak ugal-ugalan, namun penuh rahasia dan memiliki ilmu yang aneh-aneh.

Memang Bu-tek Siauw-jin, tokoh atau datuk kedua Pulau Neraka ini amat berbeda dengan suheng-nya, Cui-beng Koai-ong datuk pertama Pulau Neraka. Kalau Cui-beng Koai-ong selalu menyembunyikan diri, lebih banyak berdekatan dengan mayat-mayat dan kerangka-kerangka manusia dari pada dengan manusia hidup dan mencari ilmu-ilmu hitam di dalam tanah-tanah kuburan, sebaliknya Bu-tek Siauw-jin ini selain mencari ilmu-ilmu hitam di kuburan, juga suka melakukan perantauan tanpa tujuan dengan menggunakan nama samaran Siauw-jin dan tak pernah mengaku bahwa dia datang dari Pulau Neraka. Karena itu, dia telah merantau sampai jauh ke barat, melalui Himalaya, Tibet, sampai ke India dan Nepal. Akan tetapi namanya tidak terkenal dan dia hanya dikenal oleh orang yang pernah berjumpa dengannya sebagai seorang yang berotak miring atau berwatak sinting. Di lain pihak, biar pun dia sendiri tidak terkenal, namun dalam perantauannya ini Bu-tek Siauw-jin mengenal dunia kang-ouw dan mengenal pula atau setidaknya mendengar nama para tokoh kang-ouw dan tahu akan kelihaian dan keistimewaan mereka.

Mereka telah memasuki ruangan yang luas. Yang ikut masuk ke dalam ruangan itu mengiringkan Bu-tek Siauw-jin dan Kwi Hong adalah Maharya, Koksu, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan belasan orang panglima pengawal. Namun tentu saja dengan diam-diam ruangan itu, juga gedung itu, telah dikurung oleh pasukan yang melakukan penjagaan ketat.

Tanpa dipersilakan lagi, Bu-tek Siauw-jin lalu duduk di atas kursi, menyambar seguci arak dan minum arak itu tanpa cawan dan tanpa penawaran tuan rumah lagi. Arak itu dituangkan begitu saja ke mulut sampai gucinya kosong! Kemudian ia mengembalikan guci kosong ke atas meja, mengusap bibir dengan ujung lengan baju dekil dan berkata,
"Nah, keluarkan isi perutmu, Maharya. Pertanyaan tentang ilmu batin apa yang hendak kau ajukan untuk kupecahkan dan jawab? Hayo, keluarkan seluruh kepunsuanmu (kepandaianmu)!"

Semua orang mengambil tempat duduk, kecuali Kwi Hong yang hanya berdiri di belakang gurunya, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan meraba gagang pedang, wajahnya dingin. Kalau ada orang yang sudah mengenal Kwi Hong sebelum ia menjadi murid Bu-tek Siauw-jin, tentu kini akan terheran-heran melihat betapa wajah dan sikap dara itu berubah sama sekali. Kini wajah yang dahulu cerah dan riang itu kelihatan muram dan dingin, sikapnya angkuh dan memandang rendah. Tanpa disadarinya oleh dia sendiri, pengaruh ilmu mukjizat yang dimilikinya telah menguasai batinnya!

Hal ini tidak diketahui oleh Bu-tek Siauw-jin. Kakek ini adalah seorang yang telah memiliki batin kuat sekali, dan memang memiliki dasar yang baik sehingga dia dapat mengatasi pengaruh segala ilmu hitam yang dipelajarinya...


BERSAMBUNG KE JILID 18


Sepasang Pedang Iblis Jilid 17

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 17

Ia maklum bahwa orang-orang ini adalah musuh-musuh yang tak akan membiarkan ia hidup, maka hanya ada satu jalan baginya, yaitu melawan mati-matian dengan dua kemungkinan, tewas di tangan mereka atau berhasil lolos untuk menyelamatkan ibunya yang terancam bahaya maut.

"Wuuut-wuuuttttt...!"

Milana terkejut dan cepat melempar diri ke belakang dan berjungkir balik tiga kali untuk meloloskan diri dari sinar merah yang menyambarnya dari samping dan menyilaukan matanya.

"Tarr-tarrr!"

Kiranya yang menyambarnya dan yang kini meledak-ledak adalah pecut kulit berwarna merah yang berada di tangan Koksu yang berdiri sambil tersenyum mengejek di depannya.

"Pemberontak hina! Pengkhianat tak tahu malu!" Milana membentak marah. "Selain hendak berkhianat terhadap pemerintah, engkau juga hendak membunuh Ibuku! Manusia macam engkau ini mana bisa membunuh Ibuku? Lebih dulu kau mampus di tanganku!" Sambil berkata demikian Milana sudah menerjang maju dengan cepat sambil menggerakkan pedangnya secara ganas namun hebat sekali. Koksu yang memandang rendah dara remaja itu, dengan sembarangan mengebut dengan pecut merahnya.

"Singggg...! Tarrr... brettt!"

"Hayaaaa...!" Bhong Ji Kun berseru kaget.

Karena memandang rendah jurus yang dimainkan dara itu dan menangkis secara sembarangan saja, ujung pecut merahnya telah terbabat putus. Itulah jurus dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat yang hebat sekali, ilmu pedang tingkat tinggi ciptaan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan pendiri Beng-kauw, kakek luar dari Pendekar Sakti Suling Emas! Dan Koksu ini dengan sembrono telah berani memandang rendah karena dimainkan oleh seorang dara remaja!

Suara bercuit yang datang dari belakang membuat Milana cepat memutar tubuh sambil membabatkan pedangnya menangkis.

"Tranggg!"

Sekali lagi pedangnya bertemu dengan senjata di tangan Maharya dan hampir saja terlepas dari pegangannya. Cepat ia meloncat ke arah kiri, pedangnya bergerak dan terdengar suara nyaring dua kali ketika ia berhasil membuat dua batang golok patah disusul robohnya dua orang panglima yang ikut mengeroyok akan tetapi belum sempat turun tangan karena telah didahului oleh dara perkasa itu!

"Ihhh, keparat!" Koksu menjadi marah sekali, dengan pecut buntungnya dia menotok dari belakang, mengarah punggung Milana.

Dara itu meloncat ke depan menghindar, akan tetapi dia disambut oleh pukulan Thian Tok Lama yang telah berjongkok dan mengirim dorongan pukulan dengan tangan kiri. Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke depan, menyambut tubuh Milana yang masih melayang turun.

"Siuuuuutttt!"

Milana yang merasa datangnya angin pukulan dahsyat menyambarnya, terkejut bukan main. Dia berusaha untuk berjungkir balik, akan tetapi tidak keburu dan terpaksa dia mengerahkan sinkang ke arah dada dan perutnya untuk menahan serangan itu.

"Dessss!"

Angin pukulan menghantam perut Milana, membuat dara itu terjengkang dan hampir terbanting keras kalau saja dia tidak cepat menjatuhkan diri miring dan menekan lantai dengan tangan, lalu meloncat bangun. Napasnya sesak, mukanya pucat dan dia merasa dadanya sakit. Akan tetapi pada saat itu, senjata di tangan Maharya kembali telah menyambar ke arah kakinya. Agaknya pendeta ini akan merobohkannya tanpa membunuhnya, maka menyerang ke arah kaki Milana. Tentu saja Milana yang tentu tidak memperbolehkan kakinya dibabat senjata, meloncat ke atas, dan pedangnya menyambar ke arah leher Maharya yang cepat mengelak ke belakang.

"Gadis berkepala batu!" Koksu membentak marah. Dia menjadi penasaran sekali. Masa mereka bertiga, kakek-kakek yang berilmu tinggi, harus mengeroyok seorang gadis remaja? Dengan marah dia menerjang dengan pecut yang ujungnya buntung itu, dan kini pecut itu menjadi kaku, dipergunakan sebagai tongkat menotok jalan darah di tengkuk Milana.

"Haiiiitttt!" Milana memutar tubuh, mengelebatkan pedang dengan niat untuk membabat pecut Koksu agar putus tengahnya. Akan tetapi Koksu tiba-tiba membuat pecut lemas dan pedang menyambar dibiarkannya lewat, kemudian pecut yang sudah lemas itu menyusul dan melibat pedang Milana! Dara itu berusaha menarik pedangnya, akan tetapi tidak berhasil.

"Brettt... auhhhhhh!" Milana melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang. Paha kirinya tampak luka dan berdarah karena celana dan kulit pahanya robek diserempet senjata Maharya. Akan tetapi, gadis yang sedikitnya mewarisi watak keras dan berani mati dari ibunya ini, tidak menjadi jeri, bahkan tangannya kanan kiri bergerak dengan cepat. Tampak sinar-sinar menyambar dibarengi bau harum ke arah tiga orang kakek dan empat orang panglima.

"Awas jarum!" teriak Maharya.

Untung dia berseru keras, sehingga empat orang panglima yang dibandingkan tiga orang kakek itu jauh lebih rendah tingkat kepandaiannya dapat cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan. Koksu, Maharya dan Thian Tok Lama tentu saja dengan mudah dapat meruntuhkan jarum-jarum yang menyambar mereka.

Thian Tok Lama kembali mengirim pukulan dari belakang kepada tubuh Milana yang mengeluh perlahan dan roboh miring. Pahanya yang kiri terluka berdarah dan perut serta dadanya juga terluka, biar pun tidak amat parah namun membuat napasnya sesak dan tenaga sinkang-nya tak dapat ia kerahkan.

"Iblis-iblis tua bangka tak tahu malu, mengeroyok seorang anak perempuan!" Tiba-tiba terdengar suara dan tampak bayangan berkelebat amat cepat memasuki ruangan itu melalui jendela yang tadi pecah oleh Maharya.

Sukar diikuti pandangan mata bayangan itu dan tahu-tahu Pendekar Super Sakti telah berdiri di situ, berkata halus kepada Milana. "Bangkitlah dan duduk di punggungku!"

Milana girang bukan main melihat munculnya ayahnya ini. Cepat ia meloncat bangun, menahan rasa nyeri di paha, perut dan dadanya, kemudian ia meloncat ke punggung Suma Han, mengaitkan kedua kakinya yang panjang di pinggang ayahnya dan merangkulkan kedua lengannya di atas kedua pundak. Semua gerakan ini dilakukan selagi Suma Han berdiri dengan satu kaki, sedikit pun tidak bergoyang dan pandang matanya ditujukan kepada Maharya.

"Hemmm, kulihat engkau memperoleh kemajuan setelah berada di kota raja, Maharya!" katanya halus namun nadanya penuh teguran dan ejekan. "Tetapi hanya kemajuan lahiriah dan duniawi yang kau peroleh, sedangkan batinmu makin mundur dan makin mendekati jurang kehancuran!"

"Pendekar Siluman! Engkau manusia kaki buntung sejak dahulu memang sombong! Apa kau kira aku takut kepadamu?" jawab Maharya.

Koksu yang melihat munculnya pendekar yang ditakuti ini, cepat mengeluarkan suitan tiga kali untuk memberi aba-aba kepada para pengawalnya sehingga terdengarlah suara hiruk pikuk di luar ruangan itu dan puluhan orang pengawal telah mengurung tempat itu dengan ketat, siap utuk melakukan penyerbuan dan pengeroyokan!

"Hemmm, sungguh Koksu negara sekarang ini sangat gagah perkasa!" Suma Han mengejek.

Im-kan Seng-jin Bbong Ji Kun berkata lantang. "Pendekar Siluman, engkau datang seperti maling, tentu saja kami mempersiapkan orang untuk mengepungmu! Engkau adalah Tocu dari Pulau Es, mengapa sekarang engkau lancang mencampuri urusan kami dengan puteri Ketua Thian-liong-pang?"

"Bhong-koksu, aku melindungi gadis ini adalah urusan antara aku dan dia sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan engkau. Dan memang aku sengaja datang ke sini untuk bicara dengan engkau dan Maharya!" Suara Suma Han penuh wibawa dan sikapnya tetap tenang, sedikit pun tidak kelihatan gentar biar pun menghadapi pengepungan orang-orang pandai ditambah puluhan orang pasukan pengawal.

"Heh, Pendekar Siluman! Mau apa kau mencariku?!" Maharya membentak, agaknya marah sekali karena menurut perkiraan pendeta ini, yang membunuh Thai Li Lama dan muridnya, Tan Ki, dan juga yang merampas Hok-mo-kiam, tentulah Pendekar Siluman ini.

"Maharya, perlukah kau bertanya lagi? Engkau telah membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang Hok-mo-kiam. Aku datang untuk minta kembali pedang itu!"

Dapat dibayangkan betapa mendongkolnya hati Maharya, akan tetapi diam-diam kakek ini percaya akan kata-kata Pendekar Siluman. Seorang sakti seperti Si Kaki Buntung itu tentulah tidak akan mau bicara bohong dan ucapannya tadi membuktikan bahwa pembunuh muridnya dan perampas pedang Hok-mo-kiam bukanlah Pendekar Siluman.

"Kalau tidak kuberikan engkau mau apa?" tantangnya dan merasa tidak perlu lagi memberi tahu kehilangan pedang itu.

"Aku akan menggunakan kekerasan memaksamu mengembalikannya kepadaku!" kata pula Suma Han.

Bhong Ji Kun tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha! Sungguh hebat sekali, sungguh besar sekali mulutnya dan luar biasa kesombongannya! Pendekar Siluman, engkau hanya seorang yang berkaki satu, kini menggendong gadis yang luka parah itu, masih bicara sombong hendak menggunakan kekerasan terhadap seorang pembantuku! Hemmm, setelah kau mengatakan keperluan mencari Paman Guruku, sekarang ceritakan apa pula keperluanmu mencari aku?"

"Bhong-koksu, engkau juga pandai berpura-pura. Bukan engkau yang harus bertanya, tetapi akulah yang ingin bertanya kepadamu, mengapa engkau memimpin pasukan menyerbu Pulau Es dan Pulau Neraka? Aku kini datang untuk minta pertanggungan jawabmu, dan sebelum engkau menjelaskan, jangan harap engkau akan lolos dari tanganku!"

"Ha-ha-ha, benar-benar manusia sombong! Engkau tahu bahwa engkau sejak dahulu adalah seorang manusia buruan musuh kerajaan. Engkau tahu bahwa aku adalah seorang koksu negara, tentu saja apa yang kulakukan merupakan tugas dari pemerintah! Suma Han, Pendekar Siluman, engkau menyerahlah bersama gadis itu. Melawan pun takkan ada gunanya karena kalian telah terkepung dan sebentar lagi datang pasukan yang ratusan orang jumlahnya. Andai kata engkau mampu lolos dari gedung ini, engkau pun tak mungkin dapat lolos dari kota melalui ribuan orang tentara penjaga."

"Kalian memang manusia-manusia yang curang dan pengecut, beraninya hanya mengandalkan pengeroyokan jumlah besar. Aku tahu betul bahwa pemerintah Kerajaan Ceng tidak akan mengganggu Pulau Es dan Pulau Neraka yang selamanya tidak pernah memberontak atau melawan pemerintah. Tentu karena dorongan kehendakmu dan orang-orang macam Maharya inilah maka terjadi penyerbuan. Bhong Ji Kun dan Maharya, aku menantang kalian menyelesaikan urusan antara kita secara jantan, atau kita putuskan dan selesaikan di ujung senjata!"

"Ha-ha-ha-ha, kematian sudah berada di ujung hidung masih berlagak mengeluarkan tantangan. Serbu dan bunuh pemberontak-pemberontak ini!" Bhong Ji Kun berseru sambil menudingkan pedang Pek-kong-kiam yang dirampasnya dari tangan Milana tadi ke arah Suma Han sebagai isyarat kepada para pengawalnya yang sudah mengurung di luar pintu dan jendela ruangan itu.

"Alan, pegang yang amat erat, kita harus keluar dari sini lebih dulu!" Suma Han berbisik kepada gadis yang berada di gendongan punggungnya.

Dia bukanlah seorang nekat dan maklum bahwa kalau dia mengamuk menuruti nafsu kemarahannya terhadap Bhong-koksu dan Maharya, tak mungkin ia dapat menandingi ratusan, bahkan ribuan orang prajurit pengawal. Juga dia tidak ingin menyebar maut di antara para prajurit itu, maka dia mengambil keputusan untuk melarikan diri lebih dulu, mengobati luka-luka Milana, kemudian mencari jalan untuk dapat berhadapan dengan musuh-musuhnya tanpa campur tangan pasukan pengawal sehingga tertutup dan terjaga kuat.

"Jangan harap dapat melarikan diri!" Bhong-koksu berteriak dan dari pintu besar menyerbulah enam orang pengawal yang berpakaian sebagai perwira-perwira dengan senjata di tangan.

Mereka serempak maju menubruk dan menyerang pendekar berkaki buntung yang menggendong gadis terluka itu. Mereka belum pernah bertemu dengan Suma Han, dan biar pun mereka sudah mendengar akan Pendekar Super Sakti yang seperti dalam dongeng saja, sekarang melihat laki-laki berambut panjang putih dan berkaki buntung sebelah itu, mereka jadi memandang rendah. Apa lagi pria yang tidak kelihatan menyeramkan itu hanya bersenjata sebatang tongkat butut, masih menggendong seorang gadis yang terluka pula! Mereka yakin bahwa sekali serbu saja mereka tentu akan dapat merobohkan Si Buntung itu.

"Rrrrtttttt!!"

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung menyambut hujan senjata itu dan tampak senjata para penyerbu beterbangan disusul robohnya tubuh mereka malang melintang dan mereka tak mampu bangkit kembali, bahkan bergerak pun tidak karena mereka sudah pingsan semua! Suma Han meloncat ke arah pintu setelah merobohkan enam orang penyerbu pertama, akan tetapi pintu telah penuh dengan pasukan pengawal sehingga tertutup dan terjaga kuat.

"Tolol! Kepung dan jaga saja, jangan menyerang sebelum diperintah!" Bhong-koksu berseru memaki para pasukan anak buahnya. "Para panglima pengawal, majulah membantu kami menangkap pemberontak!"

Anak buah pasukan pengawal tidak ada yang berani maju lagi, bukan hanya karena seruan Koksu itu, akan tetapi juga mereka merasa ngeri melihat betapa enam orang teman mereka roboh seolah-olah tanpa sebab. Mereka melihat betapa enam orang teman mereka tadi menyerang dengan senjata terangkat, akan tetapi tidak tampak pria kaki buntung itu bergerak, yang tampak hanya berkelebatnya bayangan yang diselimuti sinar bergulung-gulung dan tahu-tahu enam orang itu menggeletak tak bergerak lagi, agaknya tewas! Mereka tidak tahu bahwa Suma Han tidak membunuh mereka berenam, hanya merobohkan mereka dengan totokan yang membuat mereka pingsan saja.

Sebelas orang panglima pengawal memasuki ruangan dengan senjata di tangan. Mereka menyingkirkan tubuh enam orang pengawal yang pingsan dan mayat dua orang panglima yang tadi roboh oleh pedang Milana, kemudian bersama panglima-panglima tinggi terdahulu, yaitu Bhe Ti Kong dan tiga orang lain, semua berjumlah lima belas orang panglima pengawal, kini maju mengurung. Di luar barisan pengurung ini berdiri Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, dan Maharya.

Koksu yang menganggap bahwa pecut merahnya yang sudah buntung itu tidak berguna lagi, memegang pedang Pek-kong-kiam, Maharya yang memegang senjata tombak bulan sabit juga bersiap-siap, sedangkan Thian Tok Lama berdiri dengan tangan kosong karena dia lebih mengandalkan kedua tangan berikut lengan bajunya dari pada senjata tajam. Tiga orang sakti ini berdiri dengan mata terbelalak. Biar pun mereka mengandalkan pasukan yang berjumlah besar sedangkan lawan yang hanya satu orang cacat yang menggendong gadis terluka, namun mereka merasa agak jeri karena maklum betapa saktinya lawan yang mereka hadapi sekarang.

Maharya berdiri dengan mata mendelik dan muka masih merah padam karena marah dan juga tersinggung hatinya oleh ejekan Pendekar Super Sakti tadi. Memang terjadi banyak perubahan pada pendeta dari barat ini. Biar pun bentuk pakaiannya masih amat sederhana, hanya kain itu yang dililit-lilitkan pada tubuh, namun kain itu bukan sembarang kain, melainkan kain sutera yang mahal dan halus sekali. Kain pengikat kepalanya juga berbentuk sederhana, akan tetapi kain pengikat kepala itu dihias dengan beberapa butir mutiara yang besar dan berkilauan, dan dilengkapi dengan sebuah bulu burung dewata yang indah!

Juga sepasang kakinya ‘ada kemajuan’ seperti yang diucapkan Suma Han tadi. Kalau dahulu kedua kakinya telanjang, kini kedua kaki itu memakai alas kaki dari kayu terukir halus dengan tombol terbuat dari pada emas yang dijepit oleh ibu jari dan jari kedua kakinya. Hebatnya, biar pun kakinya beralaskan kelom kayu, akan tetapi kedua kaki itu masih dapat bergerak gesit dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun!

Lima belas orang pegawal itu adalah panglima-panglima yang memiliki kepandaian tinggi dan bukanlah ahli-ahli silat sembarangan. Mereka itu dipimpin oleh Bhe Ti Kong melakukan pengurungan dan membentuk barisan bersenjata golok pedang atau senjata tombak trisula gagang pendek seperti yang dipergunakan Bhe Ti Kong. Gerakan mereka rapi, dan begitu Bhe Ti Kong mengeluarkan aba-aba dengan suara yang nyaring sekali, tiba-tiba barisan itu bergerak dan mereka yang berdiri di belakang Suma Han, sebanyak empat orang, telah menyerang dengan senjata mereka. Karena tubuh belakang pendekar itu tertutup oleh tubuh Milana yang digendongnya, tentu saja otomatis serangan-serangan itu mengancam tubuh Milana!

Dengan kaki tunggalnya, tiba-tiba Suma Han memutar tubuh menghadapi empat orang itu, memandang dengan sinar mata aneh dan... empat orang itu menghentikan serangan mereka, tubuh mereka kaku seperti arca dalam posisi menyerang seolah-olah mereka telah terkena totokan yang membuat tubuh mereka kaku! Padahal Suma Han sama sekali tidak pernah bergerak dan ternyata bahwa sinar mata Pendekar Super Sakti inilah yang dalam sekejap mata saja sudah menguasai mereka berempat itu!

Tiba-tiba Maharya mengeluarkan teriakan dalam bahasa asing yang amat aneh dan melengking nyaring. Kiranya itu adalah semacam mantera yang mempunyai daya pengaruh amat kuat, menggetarkan perasaan dan empat orang itu tiba-tiba terguling roboh dan sadar! Mereka saling berpandangan dengan heran, kemudian meloncat bangun dengan senjata di tangan, bingung karena tidak tahu apa yang telah terjadi. Bhe Ti Kong dan kawan-kawannya menyerbu dari kanan kiri dan depan, sehingga belasan batang senjata yang dahsyat menyambar ke arah tubuh Suma Han dan Milana.

Suma Han menggunakan gerak kilatnya, tubuhnya mencelat ke belakang yang sudah tak terjaga lagi karena empat orang panglima tadi masih bengong terlongong dan kacau, tongkatnya diputar cepat dan tubuhnya yang mencelat ke belakang itu sudah sampai ke dinding, kaki tunggalnya menyentuh dinding sehingga tubuhnya kembali mencelat ke depan, kini dialah yang menyerbu barisan itu!

Para panglima terkejut melihat bayangan yang berkelebat cepat. Mereka mengangkat senjata masing-masing dan terdengar bunyi nyaring bertubi-tubi disusul teriakan mereka karena senjata mereka telah patah, ada yang terlempar, dan lima orang di antara mereka terguling roboh karena terdorong oleh hawa sakti yang membuat tubuh mereka menggigil kedinginan. Tiga orang di antara mereka yang agak kuat sinkang-nya berhasil merangkak bangun, akan tetapi dua orang yang lemah, tak dapat bangkit lagi dan pingsan!

"Mundur...!" Maharya berseru marah. Bhe Ti Kong yang maklum bahwa dia dan teman-temannya bukanlah lawan Pendekar Kaki Buntung itu, segera mengundurkan diri dan memimpin para panglima untuk memperketat penjagaan dengan pasukan masing-masing.

Maharya kini menerjang Suma Han dengan senjatanya yang mengerikan. Gerakannya dahsyat sekali dan mulutnya terus berkemak-kemik membaca mantera, kadang-kadang hanya berbisik-bisik, kadang-kadang nyaring sedangkan matanya terus melotot menatap sepasang mata Pendekar Super Sakti. Ternyata pendeta India ini menggunakan ilmunya untuk menolak pengaruh sakti dari pandang mata Suma Han dan kini dia menggerakkan senjatanya menyerang ke arah dada pendekar itu.

"Dessss!"

Maharya terhuyung ke belakang ketika senjatanya kena ditangkis, demikian kuat tenaga dari pendekar itu, jauh lebih kuat dibandingkan dengan dahulu, belasan tahun yang lalu ketika Pendekar Super Sakti bertanding melawan Maharya. Maharya terkejut bukan main dan maklumlah dia bahwa selama bertahun-tahun itu, Pendekar Super Sakti bertambah kuat sedangkan dia bertambah lemah, hal ini selain pengaruh usia, juga karena selama itu dia banyak memboroskan tenaga dengan berfoya-foya dan bersenang-senang, sedangkan lawannya menghimpun tenaga dalam hidup berprihatin.

"Singggggg...!" Pedang di tangan Bhong Ji Kun sudah menyambar, merupakan sinar putih cemerlang, mengarah leher Suma Han.

"Awas...!" Milana berseru kaget.

Dara ini sejak tadi mengempitkan kedua kaki di pinggang ayahnya dan merangkulkan kedua lengan di leher, matanya yang indah bentuknya itu terbelalak lebar, mukanya pucat dan ia khawatir sekali, bukan mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan ayah kandungnya yang terkepung oleh banyak orang pandai itu.

"Trangggg!"

"Jangan khawatir, Alan...!"

Suma Han tanpa menoleh sudah berhasil menangkis pedang di tangan Bhong Ji Kun dan diam-diam pendekar ini terkejut karena tangkisan yang dilakukan untuk mengukur tenaga itu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang yang memegang pedang itu tidak kalah kuat dibandingkan dengan Maharya! Ternyata bahwa Koksu itu merupakan orang yang amat lihai, dan dia harus mencatat hal ini di dalam hatinya. Agaknya di dalam ilmu silat, Koksu itu tidak kalah lihai dari Maharya yang ternyata adalah paman gurunya sendiri, hanya mungkin kalah berbahaya karena Maharya memiliki ilmu sihir dan ilmu hitam yang kuat. Orang pertama yang tertangguh adalah Maharya, kedua adalah Koksu inilah.

"Kok-kok-kok! Wuuut-wuuut-wuuuttt!"

"Awas pukulan Si Gundul itu, Paman!" Milana kembali berseru kaget. Dia sendiri sudah merasakan akibat hebat dari tenaga pukulan pendeta Lama itu yang telah melukainya biar pun pukulan itu dilakukan dari jarak jauh.

Tentu saja tanpa diperingatkan Suma Han sudah mengenal suara berkokok seperti suara katak buduk yang keluar dari perut Thian Tok Lama karena pendeta Lama itu adalah musuhnya belasan tahun yang lalu. Dia memutar tubuh dan menghadapi lawan ini dan tepat seperti dugaannya, Thian Tok Lama telah berjongkok, tangan kiri menekan perut dan tangan kanan dengan lengan dilonjorkan membuat gerakan mendorong tiga kali ke arah Suma Han. Itulah pukulan Hek-in-hwi-bong-ciang dan dari tangan kanannya itu keluar uap hitam bergulung-gulung!

Tiga kali pukulan yang ditujukan kepada Suma Han ini tentu saja jauh bedanya dengan pukulan Thian Tok Lama yang tadi merobohkan Milana. Karena tidak ingin membunuh dara itu sesuai dengan kehendak Koksu, tadi Thian Tok Lama hanya mempergunakan seperempat tenaganya saja, akan tetapi kini, menghadapi musuh lama yang ia tahu amat tangguh itu, dia mengerahkan seluruh tenaganya dan memukul sampai tiga kali ke arah dada kanan kiri dan pusar!

Suma Han memindahkan tongkat ke tangan kanannya, kemudian dia pun mendorong ke depan dengan telapak tangan kirinya. Dari telapak tangan ini meluncur tenaga sakti dahsyat sekali menyambut pukulan tiga kali beruntun dari Thian Tok Lama.

Dua tenaga raksasa yang tidak kelihatan bertemu tiga kali di udara dengan amat hebat. Seketika uap hitam pertama yang datang melayang, terhenti dan tersusul oleh gulungan uap hitam kedua dan ketiga, berkumpul menjadi satu dan seperti terjadi dorong-mendorong, akan tetapi akhirnya uap hitam yang telah terkumpul dan bergumpal-gumpal itu kembali ke arah Thian Tok Lama dengan perlahan, makin lama makin cepat.

Thian Tok Lama masih berjongkok dengan tangan kanan dilonjorkan, telapak tangan terbuka. Wajahnya pucat sekali, keringat dingin sebesar kacang tanah menghias kepala dan mukanya. Dia maklum bahwa keselamatan nyawanya terancam hebat. Untuk menghindarkan diri tidak mungkin lagi, dan kini pukulannya Hek-in-hwi-hong-ciang telah membalik dan mengancam untuk menghancurkan isi dada dan isi perutnya sendiri, ‘dipaksa’ kembali oleh dorongan hawa sakti dari tangan Suma Han!

Sebagai ahli-ahli ilmu silat tinggi, tentu saja Koksu dan Maharya maklum akan keadaan kawan mereka, maka serentak Maharya menyerang dengan senjatanya. Serangan berbahaya sekali karena tombak bulan sabit itu membabat ke arah kaki tunggal Suma Han, sedangkan pedang di tangan Bhong Ji Kun menusuk lambung kiri!

Menghadapi serangan ganas dan secepat kilat ini, terpaksa Suma Han meninggalkan Thian Tok Lama dengan jalan menggunakan Soan-hong-lui-kun, kakinya mengenjot dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas sehingga serangan kedua orang itu betapa pun cepatnya, tidak dapat mengenai sasarannya. Milana sampai memejamkan mata saking ngerinya. Seolah-olah terasa olehnya ujung kedua senjata itu yang menyambar dekat dan tahu-tahu tubuhnya sudah berada di atas! Dia pernah menunggang burung rajawali dengan ayah kandungnya ini, namun dibandingkan dengan kecepatan gerakan burung itu, gerakan ayahnya ini lebih cepat lagi. Kalau dia tidak erat-erat memeluk tentu dia akan terlempar jatuh!

Akan tetapi, ketika Milana membuka kedua matanya, ia menjadi makin ngeri. Ayahnya telah turun lagi dan kini ayahnya dikeroyok tiga oleh Maharya, Bhong Ji Kun, dan Thian Tok Lama yang menyerang secara bertubi-tubi dan hebat, sedangkan lima belas orang panglima yang kini tinggal tiga belas karena yang dua orang masih roboh pingsan, mengepung dan membantu dengan kadang-kadang menyerang secara tiba-tiba dari belakang, kanan atau kiri. Milana merasa gelisah sekali. Lawan amat banyak dan lihai, sedangkan ayahnya hanya seorang diri, dan masih menggendongnya pula. Tentu saja dengan menggendongnya gerakan ayahnya menjadi terhalang dan terganggu, tidak leluasa lagi.

Kalau sampai ayahnya terpukul dan tewas, tentu dia sendiri pun tidak akan selamat, dan... ibunya akan celaka pula. Sebaliknya, kalau ayahnya berhasil meloloskan diri, biar pun dia sendiri tertawan, dia tidak akan dibunuh karena bukankah dia hendak dipergunakan sebagai umpan untuk memancing kedatangan ibunya? Kini ada ayahnya, kalau mendampingi ibunya, biar pun dia tertawan apakah mereka berdua yang bergabung menjadi satu tidak akan mampu membebaskannya? Andai kata tidak berhasil sekali pun, yang pasti, ibunya akan selamat! Dia tidak boleh mementingkan diri sendiri saja.

"Paman... beritahukan kepada Ibu... mereka tadi... berunding untuk membunuh Ibu..." Milana berbisik di dekat telinga Suma Han yang menjadi terheran-heran.

Tadi pun dia sudah merasa heran melihat Alan puteri Thian-liong-pang dikeroyok dan dilukai. Bukankah menurut desas-desus, Thian-liong-pang kini merupakan kaki tangan pemerintah? Mengapa puteri Ketuanya malah dilukai dan Ketuanya sendiri, menurut Alan, akan dibunuh?

"Jangan khawatir, kita akan dapat lolos dari sini!" Suma Han menjawab, berbisik.

"Tidak... engkau saja pergi, Paman...," Milana berbisik pula.

Suma Han terkejut, tidak mengerti apa yang dikehendaki gadis itu. Pada saat itu, tiba-tiba Maharya menusukkan tombak bulan sabitnya ke arah muka Suma Han, dan beberapa detik kemudian, Bhong Koksu menerjang dari belakang dengan sebuah loncatan dahsyat, pedangnya membacok dari atas ke bawah mengarah kepala Milana!

"Trangggg!"

Suma Han menangkis senjata Maharya dan membatalkan tongkatnya untuk menangkis pedang yang menyambar dari atas. Dia tidak tahu betapa seorang panglima tinggi mendekat meja kecil bundar dan memutar meja itu. Tiba-tiba saja lantai yang diinjak pendekar itu terbuka!

Milana yang melihat hal ini, terkejut sekali. Dengan menggendongnya, mana mungkin ayahnya dapat melepaskan diri dari bahaya? Cepat dia melepaskan kedua kakinya yang mengempit pinggang dan kedua lengannya yang merangkul leher, membiarkan tubuhnya terlepas dan terjatuh ke bawah!

"Alan...!"

Suma Han sudah berhasil meloncat dengan Soan-hong-lui-kun. Biar pun lantai itu terbuka ke bawah, namun ujung kakinya yang masih menyentuh lantai tadi dapat dipergunakan untuk membuat tubuhnya mencelat ke kanan, selain menghindarkan lubang jebakan, juga menghindarkan pedang dari atas yang dibacokkan oleh Bhong-koksu. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tubuh Alan yang berada di gendongannya terlepas dan jatuh. Hal ini sama sekali tidak diduga-duganya, maka dia tidak dapat mencegahnya. Cepat tubuhnya yang masih mencelat itu membuat gerakan seekor burung walet dan matanya terbelalak melihat tubuh Alan melayang jatuh ke dalam lubang jebakan yang lebarnya dua meter persegi dan kelihatan gelap saking dalamnya.

"Alan...!" Tiba-tiba tubuh Suma Han menukik ke bawah dan bayangannya tak tampak, berkelebat memasuki lubang itu, menyusul Alan!

Lantai yang menjebaknya itu kini tertutup kembali secara otomatis. Bhong Ji Kun dan para pembantunya dengan wajah pucat saling pandang, akhirnya mereka tersenyum dan menarik napas lega.

"Hebat bukan main dia...!" Thian Tok Lama memuji musuh lama itu.

"Heran sekali, mengapa dia mati-matian membela puteri Ketua Thian-liong-pang?" Maharya juga berkata, namun masih penasaran kerena dia tidak tahu siapa yang merampas Hok-mo-kiam.

"Sudahlah, dia sudah begitu tolol memasuki kamar tahanan di bawah tanah bersama gadis itu. Tidak mungkin mereka dapat lolos. Bahkan amat baik untuk memancing datangnya Ketua Thian-liong-pang. Kalau kita berhasil membasmi Pendekar Siluman dan Ketua Thian-liong-pang, ha-ha-ha, bereslah urusan kita dan pasti akan berhasil!"

Tiba-tiba Bhong Ji Kun menepuk dahinya sendiri dan berkata, "Aih... aihh! Mengapa aku begitu tolol? Tentu saja dia membela gadis itu mati-matian, puteri Thian-liong-pang! Ha-ha-ha! Tentu saja!"

Maharya, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan para panglima memandang Koksu itu dengan heran, tetapi hanya Bhe Ti Kong yang berani bertanya, "Harap Koksu suka memberi tahukan kami. Mengapa dia menolong gadis itu?"

"Bubarkan dulu semua pengawal dan suruh bereskan tempat ini. Suruh periksa apakah mereka benar-benar telah berada di dalam kamar tahanan dan perkuat penjagaan di luar kamar-kamar tahanan di bawah tanah! Kemudian susul aku ke dalam kamar untuk mendengar mengapa Suma Han membela gadis itu mati-matian."

Para pembantu koksu itu cepat mengerjakan perintah ini, kemudian Maharya, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan tiga orang panglima tinggi lainnya mememui Koksu dalam kamarnya.

"Ketua Thian-liong-pang adalah Puteri Nirahai, puteri Kaisar yang dahulu melarikan diri bersama Suma Han Si Pendekar Super Sakti. Kalau Puteri Milana itu anak Puteri Nirahai, dan melihat betapa Pendekar Super Sakti membelanya mati-matian, maka tidak akan keliru kiranya dugaanku bahwa dia adalah ayahnya!" Semua yang mendengarkan mengangguk-angguk. "Akan tetapi hal ini harus dirahasiakan, karena kalau Kaisar mendengarnya, biar pun puteri itu telah menjadi orang buruan kiranya Kaisar akan tergerak hatinya dan menaruh kasihan mendengar bahwa Beliau telah mempunyai seorang cucu dari Puteri Nirahai."

Kemudian para pendengarnya mengangguk. Setelah mendengar pelaporan panglima rendahan yang memeriksa ke bawah bahwa dua orang itu telah berada di dalam kamar tahanan yang kokoh kuat dan bahwa pendekar kaki buntung itu tengah merawat luka-luka gadis itu, sedangkan penjagaan dilakukan dengan kuat, Bhong Ji Kun tertawa senang kemudian mengajak para pembantunya melanjutkan perundingan mengenai rencana mereka merebut kekuasan Kaisar!

Betapa pun tinggi dan mahirnya tingkat ginkang Milana, namun dengan perut dan dada terasa nyeri karena terguncang dan terluka oleh pukulan Thian Tok Lama, sedangkan paha kirinya robek kulitnya, kiranya dia pasti akan terbanting juga ke atas lantai kamar tahanan jikalau Suma Han tidak cepat bertindak, melayang turun dan mendahuluinya, lalu memondongnya sebelum tubuh dara itu terbanting ke atas lantai!

Akan tetapi dara itu tidak menjadi girang ditolong ayahnya. Sebaliknya dia merasa makin gelisah dan terkejut sekali karena tadinya dia mengira ayahnya itu telah berhasil membebaskan diri untuk memberi tahukan ibunya. Siapa kira ternyata ayahnya itu malah menyusulnya ke bawah!

"Aihhhh... mengapa engkau berada di sini...?" Milana menegur penuh kekecewaan dan penyesalan.

"Hemmm, Alan, mengapa engkau melepaskan diri dari pondonganku tadi?" Suma Han menegur setelah menurunkan tubuh dara itu duduk di atas lantai yang terbuat dari batu hitam.

Setelah menghela napas melepaskan kekesalan hatinya, Milana menjawab, "Aku sengaja melepaskan diri agar Paman tidak terganggu dan dapat meloloskan diri, kemudian memberi tahukan Ibu, sehingga Paman dan Ibu dapat bekerja sama untuk membebaskan aku dan untuk menghadapi mereka yang hendak membunuh Ibu. Siapa tahu, Paman justru menyusulku ke sini. Apa perlunya Paman menyusulku, malah tidak membebaskan diri sendiri yang aku yakin dapat Paman lakukan lebih mudah setelah tidak menggendongku?"

Suma Han tersenyum dan merasa makin suka kepada dara ini. "Perbuatanmu itu baik dan cerdik, akan tetapi juga bodoh sekali, tidak tahu bahwa dirimu terluka cukup hebat dan akan berbahaya kalau tidak segera diobati."

"Aku tidak pernah khawatir tentang diriku, hanya khawatir tentang Paman... eh, maksudku agar Paman dapat memberi tahu Ibu..." Milana menjadi gugup karena tentu saja dia tidak boleh menyatakan kecemasannya akan keselamatan Pendekar Super Sakti yang ‘bukan apa-apa’ dengan dia! "Mengapa Paman membiarkan diri terjun ke dalam lubang jebakan pula?"

"Alan yang baik dan bodoh! Biar pun menggendongmu, apa kau kira aku akan begitu mudah mereka robohkan? Tidak, karena aku masih mempunyai harapan besar untuk meloloskan diri. Tetapi engkau terjatuh ke dalam jebakan, terpaksa aku menyusulmu karena tidak mungkin aku membiarkan engkau yang terluka terjerumus ke dalam jebakan seorang diri. Kalau engkau tidak terluka, mungkin lain lagi. Aku menyusulmu karena harus mengobatimu. Engkau terkena pukulan beracun."

Diam-diam hati Milana menjadi girang dan terharu, maka terusirlah kekecewaannya. Ayahnya ini benar-benar seorang pendekar tulen! Seorang satria pilihan! Kalau saja ayahnya mengenal dia sebagai anak kandung, hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi ayahnya tidak mengenalnya, bahkan dia adalah puteri musuhnya, seorang tawanan, namun ayahnya ini rela berkorban diri ikut masuk ke dalam jebakan karena tidak tega melihatnya terluka dan ingin mengobatinya! Dia yang sejak kecil rindu akan kasih sayang ayah, kini melihat sikap ayahnya, ingin dia menangis dan berlutut memeluk kaki tunggal orang yang menjadi ayah kandungnya itu. Terhadap orang bukan anaknya saja demikian baik budi, apalalagi kalau tahu dia anaknya!

"Luka di pahaku bukan apa-apa, Paman. Hanya tergores sedikit...!"

"Hmm, kulit dan daging terobek kau bilang hanya tergores. Akan tetapi luka di paha itu memang tidak berbahaya, yang harus segera diobati adalah luka akibat pukulan Thian Tok Lama. Bagian mana yang terkena?"

"Di perut dan dada, Paman. Rasanya sesak napas dan perih-perih di dalam perut."

"Hemmm, kuatkan hatimu dan jangan salah duga, Alan. Aku terpaksa harus melihat tempat yang terpukul untuk menentukan sampai berapa hebat lukanya. Cukup kau buka sedikit pakaianmu, memperlihatkan ulu hatimu dan perut di atas pusar, sebentar saja."

Kalau saja laki-laki lain yang ingin melihat ulu hati dan perutnya, biar pun dia terluka parah dan hendak diobati, tentu dia tidak akan sudi melakukannya. Akan tetapi setelah beberapa hari melakukan perjalanan dengan Pendekar Super Sakti, setelah dengan penuh keyakinan mengenal watak pendekar besar ini, andai kata pendekar ini bukan ayahnya sendiri sekali pun, tentu Milana akan memenuhi permintaannya tanpa ragu-ragu. Apa lagi ayahnya sendiri! Maka dengan gerakan wajar dan sedikit pun tidak kelihatan malu-malu, dara itu lalu membuka pakaiannya dari depan berikut pakaian dalam, memegangi pakaian itu di kanan kiri memperlihatkan bagian tubuh depan dari leher sampai ke pusar.

Suma Han yang sudah berlutut dengan kaki tunggalnya hendak memeriksa tubuh dara yang sudah berbaring terlentang di atas lantai, terpesona dan terbelalak, matanya terbuka lebar dan jelas sekali tampak dadanya terguncang turun naik, napasnya agak memburu. Diam-diam Milana terkejut bukan main, seperti kilat menyambar ke dalam kepalanya dugaan yang mengerikan kalau-kalau ia salah mengenal ayahnya ini, salah mengenal wataknya!

"Ini... apakah ini...?" tiba-tiba Suma Han berkata dengan suara gemetar dan jari tangannya menyentuh belahan dada di atas ulu hati di mana tampak sebuah mata kalung terbuat dari emas berhiaskan batu kemala berwarna hijau, berbentuk seekor burung Hong berbulu hijau.

Leher Milana seperti dicekik. Hampir dia terisak untuk menyatakan penyesalan hatinya yang telah secara keji menuduh ayahnya seorang laki-laki yang berwatak cabul dan mata keranjang. Kiranya ayahnya bukan terpesona oleh kulitnya yang halus dan putih kekuningan, melainkan terpesona oleh mata kalungnya!

"Itu hanya mata kalung, Paman."

"Mata kalung ini... burung Hong berbulu hijau... eh... aku... aku pernah melihatnya... di dada seorang... aih, Alan, dari mana engkau memperoleh benda ini?"

Ketika Milana mengangkat pandang mata dan bertemu pandang dengan ayahnya, dara ini mengkirik. Pantas saja ayahnya dijuluki Pendekar Siluman oleh para musuhnya. Mata ayahnya benar-benar bukan seperti mata manusia kalau sudah memandang seperti itu. Seolah-olah keluar sinar yang melebihi ujung pedang tajamnya, yang menusuk dan langsung menembus dada menjenguk isi hati! Milana menjadi khawatir sekali. Kalung ini adalah pemberian ibunya! Dan dia tahu bahwa yang memakai kalung seperti ini, menurut penuturan ibunya, hanyalah puteri-puteri Kaisar! Celaka sekarang, tentu akan terbongkar rahasia ibunya, rahasianya!

"Ini...? Ah, ini pemberian Ibuku, hasil pencurian anak buah Thian-liong-pang dari kamar pusaka istana Kaisar!" Milana melihat sinar mata itu menjadi kecewa, seperti mata orang yang salah mengira. "Eh, Paman. Mengapa Paman bersikap begini aneh? Hendak memeriksa lukaku ataukah hendak memeriksa kalung?"

Suma Han menghela napas panjang, dengan sukar dia mengalihkan pandang matanya dari mata kalung itu, betapa tidak akan terguncang hatinya melihat mata kalung itu. Dahulu ia pernah mengagumi mata kalung itu di dada wanita lain yang sama halus dan putih seperti dada gadis ini!

"Ohhh... maafkan aku." Dengan cekatan dan cepat dia melihat ulu hati dan perut dara itu, kemudian meraba dengan telapak tangannya sebentar, lalu bangkit berdiri. "Ah, untung pendeta Tibet itu tidak menggunakan seluruh tenaga Hek-in-hwi-hong-ciang. Agaknya memang dia tidak berniat membunuhmu. Lukamu tidak berbahaya, hanya terguncang saja. Bereskan kembali bajumu."

Milana memakai kembali dan mengancingkan kembali bajunya. Kemudian Suma Han memeriksa paha yang terluka. Diambilnya sebungkus obat luka dari saku bajunya, dan begitu luka itu diberi obat bubuk berwarna merah, rasa nyerinya hilang dan terasa dingin nyaman. Kemudian Suma Han duduk di belakang dara itu, menempelkan kedua telapak tangannya di punggung atas dan bawah. Hanya beberapa menit saja dia melakukan pengobatan ini. Milana merasa betapa dari kedua telapak tangan itu keluar hawa yang amat panas, yang menyusup masuk ke dalam tubuhnya, berputaran di sekitar perut dan dadanya. Setelah pendekar itu melepaskan kedua tangannya, rasa nyeri di dalam dada dan perutnya lenyap sama sekali! Tentu saja dia menjadi girang dan kagum bukan main!

"Terima kasih, Paman. Semua rasa nyeri lenyap. Aku sudah sembuh. Sayang sekali Paman tertawan di sini dan pedang Pek-kong-kiam pemberian Paman itu terampas oleh Koksu."

"Jangan menyesalkan semua hal yang sudah terjadi. Engkau perlu beristirahat agar kesehatanmu cepat pulih sama sekali. Rebah dan tidurlah."

Milana menurut, merebahkan diri dan berbaring menghadapi ayahnya. Suma Han duduk menekuk kaki tunggalnya seperti orang bersila, alisnya berkerut dan dia seperti orang termenung, sama sekali tidak mempedulikan keadaannya, tidak memeriksa tempat tahanan seolah-olah tidak ada pikiran untuk berusaha keluar dari situ! Wajah tampan yang dikelilingi rambut putih itu kelihatan berduka sekali.

Milana merasa kasihan. Ayahnya kelihatan berduka sekali. Apakah karena tertawan ini? Mustahil! Ayahnya sengaja membiarkan dirinya tertawan, hanya untuk dapat mengobatinya! Ah, tentu karena mata kalung tadi! Tentu teringat akan Puteri Nirahai! Benarkah ini? Apakah ayahnya masih mencinta ibunya? Kalau masih mencinta, seperti ibunya yang kadang-kadang juga tampak mencinta ayahnya, mengapa mereka saling berpisah?

"Paman, kenapa Paman terkejut melihat kalungku? Siapakah yang dahulu pernah memakai kalung ini, Paman?"

Suma Han hanya menoleh sebentar, akan tetapi pandang matanya sayu dan seolah-olah dia tidak melihat wajah gadis itu. Dia tidak menjawab, hanya terdengar suara menggumam dari bibirnya yang tetap tertutup, melalui hidung, "Hemmm..."

Sunyi sejenak dan pendekar itu tetap duduk melamun, sedangkan Milana merasa makin kasihan. Jelas, tentu ayahnya itu sedang mengenang ibunya! Ingin dia mendengar apa yang sesungguhnya telah terjadi antara kedua orang tuanya itu. Ibunya pun selalu menutup mulut kalau ditanya mengenai hal ini, seakan-akan merasa tidak senang untuk bicara tentang itu. Ingin pula dia tahu rahasia apa yang terdapat antara ayahnya dan Pulau Neraka sehingga ayahnya bersikap demikian lunak terhadap Wan Keng In yang jahat.

"Apakah engkau tidak percaya kepadaku?" Tiba-tiba Milana bertanya, suaranya agak nyaring karena suara ini tanpa disadarinya timbul dari hatinya, melalui mulut sehingga dia sendiri menjadi kaget.

Akan tetapi pertanyaan itu menyadarkan Suma Han. Pendekar ini menoleh dan mereka saling berpandangan. Melihat wajah dara itu, entah mengapa, timbul sesuatu yang mengharukan dan mesra di hati Suma Han sehingga timbul niat di hatinya untuk membuka semua isi hatinya, untuk membuka semua rahasianya terhadap dara ini!

Hanya ada seorang saja di dunia ini yang telah dia percaya, yaitu Phoa Ciok Lin, bekas saudara seperguruannya di waktu dia kecil dahulu, yang kini telah menjadi wakilnya urusan dalam di Pulau Es. Kepada wanita yang dia tahu amat mencintanya itu, cinta sepihak, dia telah membukakan semua rahasia hatinya, telah menumpahkan semua isi hatinya dan kini perasaan seperti itu timbul ketika dia bertemu pandang dengan gadis ini!

"Alan, ketahuilah bahwa aku pernah melihat kalung yang persis seperti yang kau miliki itu tergantung di leher... isteriku."

"Aku pernah mendengar bahwa Paman Pendekar Super Sakti, Tocu Pulau Es adalah seorang yang tidak beristeri."

"Aku pernah mempunyai isteri, Alan."

"Di manakah dia sekarang, Paman?"

"Entah di mana..."

"Kalung ini adalah curian dari kamar pusaka istana, dan menurut keterangan, hanya puteri-puteri Kaisar saja yang memakainya. Bagaimana isteri Paman dapat memakai kalung seperti ini? Apakah Paman juga mencuri dari istana lalu dihadiahkan kepadanya?" Milana memancing.

Suma Han menggeleng-geleng kepala. Agaknya ragu-ragu, kemudian setelah sekali lagi memandang wajah dara itu, melihat betapa sinar mata dara itu penuh keharuan dan penuh harapan mendengar ceritanya dia lalu berkata, "Dengarlah, ia adalah seorang puteri Kaisar! Dia adalah Puteri Nirahai! Dan dia telah meninggalkan aku! Ohhh...!"

Melihat betapa pendekar itu menutupi muka dengan kedua tangan, Milana tak dapat menahan lagi keharuan hatinya. Air matanya bercucuran, akan tetapi dia menahan diri, menekan hatinya agar jangan menjeritkan sebutan ayah, hanya jari tangannya saja yang diangkat menyentuh lengan pendekar itu, suaranya agak tergetar.

"Paman... jangan... jangan bersedih..."

Suara yang penuh getaran ini membuat Suma Han menurunkan kedua tangan dan tampaklah dua titik air mata menuruni pipinya. Dia terkejut dan memegang tangan gadis itu ketika melihat betapa gadis itu mencucurkan air mata!

"Kau... kau menangis?"

Milana mengangguk, berusaha tersenyum sehingga menambah kemesraan dan juga keharuan yang membayang di wajahnya karena biar pun bibirnya tersenyum paksaan, sepasang matanya basah!

"Aku kasihan sekali padamu, Paman. Mengapa dia meninggalkan Paman yang begini baik hati? Mengapa dia begitu kejam?"

"Tidak! Dia tidak kejam, Alan, mungkin akulah yang bersalah, aku... ah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Sebaiknya kau mendengar semua yang terjadi antara aku dan isteriku."

"Baik, akan kudengarkan, Paman dan terima kasih sebelumnya atas kepercayaanmu kepadaku."

"Kami saling mencinta, Puteri Nirahai dan aku. Sampai-sampai dia meninggalkan istana, meninggalkan Kaisar yang menjadi ayahnya dan meninggalkan kedudukan mulia karena dia adalah seorang panglima tertinggi di kerajaan ayahnya. Akan tetapi setelah kami berdua melarikan diri sebagai orang-orang buruan kerajaan, dan kami berkumpul sebagai suami isteri selama sebulan, dia meninggalkan aku! Dia mengajakku pergi menghambakan diri ke Mongol, aku menolaknya dan dia pergi sendiri, meninggalkan aku. Hidupku menjadi hampa, aku merana seorang diri, kemudian aku kembali ke Pulau Es, di mana aku dahulu menggembleng diri ketika masih muda sekali, dan menjadi Tocu di sana. Dan... begitulah... agaknya kami berdua, dia dan aku memang tidak berjodoh..."

Milana mendengarkan dengan penuh perhatian dan diam-diam dia merasa tidak setuju dengan tindakan ibunya. Mengapa ibunya meninggalkan suami yang dicintanya? Seorang isteri seharusnya mengikuti suaminya, ke mana pun suaminya pergi!

"Apakah Paman tidak pernah berjumpa dengan dia lagi?"

"Pernah kira-kira sepuluh tahun yang lalu dan dia... dia telah mempunyai seorang anak perempuan, dia anakku... anak kami... dia telah mengandung saat pergi meninggalkan aku ke Mongolia." Suma Han tak dapat melanjutkan ceritanya karena kembali dia melamun dan kelihatannya berduka sekali.

Melihat itu, Milana yang hanya ingin mendengar penuturan tentang ayah kandungnya itu, segera mengajukan pertanyaan untuk mengalihkan pikiran ayahnya.

"Paman, ketika Paman bertemu dengan Wan Keng In, Paman telah memperlihatkan sikap amat lunak. Ada hubungan apakah kiranya Paman dengan dia? Dan mengapa dia mengatakan bahwa Paman telah merusak penghidupan ibunya, telah membikin sengsara ibunya?"

Benar saja, pertanyaan ini memang membuat Suma Han sadar dan dapat melupakan Nirahai. Akan tetapi, perhatiannya kini berpindah kepada Lulu oleh pertanyaan itu dan kesedihan yang lebih besar lagi melanda hatinya!

"Engkau telah banyak mendengar riwayatku, baiklah engkau dengar seluruhnya, Alan. Ibu Keng In bernama Lulu, dan dia itu adalah adik angkatku yang menikah dengan seorang sahabatku bernama Wan Sin Kiat, seorang pemuda yang gagah perkasa dahulu. Mereka mempunyai seorang putera, yaitu Wan Keng In."

Milana mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya karena dia merasa heran sekali.
"Apakah ayah pemuda itu dahulu ketua Pulau Neraka?"

"Ah, sama sekali tidak! Wan Sin Kiat dahulu adalah seorang pejuang yang amat gagah perkasa, bahkan dia akhirnya tewas karena gugur dalam perjuangan."

"Aihhh, kalau begitu, mengapa adik angkatmu itu bisa menjadi Tocu Pulau Neraka yang kabarnya ganas dan lihai seperti iblis? Dan mengapa pula kemudian puteranya memusuhimu dan kulihat dia amat membencimu? Apakah adik angkatmu itu yang telah menjadi Tocu Pulau Neraka, juga membencimu?"

Suma Han mengangguk. "Seperti juga Nirahai, Lulu telah membenciku. Semua orang di dunia ini membenciku..."

"Mengapa, Paman?"

"Panjang ceritanya, Nona. Akan tetapi sudah kepalang, biarlah engkau mendengar seluruhnya. Aku pun tadinya tidak tahu bahwa dia marah dan membenciku, sebelum aku bertemu dengan dia di Pulau Neraka, ketika aku membebaskan Kwi Hong yang diculiknya. Seperti juga dengan Nirahai, aku tadinya tidak tahu bahwa dia membenciku, baru kuketahui setelah aku bertemu dengannya. Aku seorang manusia bodoh dan sangat canggung..."

Milana memegang tangan pendekar itu. "Tidak! Engkau seorang gagah perkasa yang tiada keduanya di dunia! Engkau seorang yang paling jantan, paling berbudi mulia di dunia ini!"

Mata Suma Han terbelalak, kemudian dia berkata lagi setelah gadis itu melepaskan pegangan tangannya dan menunduk karena baru Milana sadar bahwa kembali dia dikuasai hatinya.

"Ketika aku bertemu dengannya di Pulau Neraka, aku terkejut mengenal Ketua Pulau Neraka itu bukan lain adalah adik angkatku sendiri, Lulu. Dari mulutnya sendiri aku mendengar pengakuannya yang luar biasa, bahwa dia semenjak dahulu mencintaku, bukan sebagai adik angkat, melainkan sebagai seorang wanita terhadap seorang pria. Dia menyalahkan aku yang telah menjodohkannya dengan Wan Sin Kiat padahal kami saling mencinta, katanya. Setelah memperoleh seorang putera, dia meninggalkan suaminya karena tidak tahan lagi berpisah dengan aku, lalu membawa puteranya pergi. Wan Sin Kiat gugur dalam perjuangan karena dia pun tahu akan isi hati isterinya, bahwa isterinya itu sesungguhnya mencinta aku, maka Wan Sin Kiat seolah-olah membunuh diri dengan berjuang secara nekat. Lulu menyatakan bahwa dia hanya bisa hidup sebagai isteriku atau sebagai... musuhku! Hampir sama dengan pendirian Nirahai yang katanya mencintaku akan tetapi juga siap untuk memusuhiku dengan kebencian yang tiada taranya."

Milana mendengarkan penuturan itu tanpa pernah berkejap mata, seolah-olah pandang matanya bergantung kepada bibir Pendekar Super Sakti yang bicara bergerak-gerak. Hatinya tertarik sekali, terbayang dalam pikirannya semua pengalaman ayahnya, dan ia seolah-olah ikut pula hidup dalam pengalaman itu, ikut merasa suka dukanya, merasa tegang, terharu dan penasaran. Barulah sesudah pendekar itu berhenti bicara, ia terlempar kembali ke dunia kenyataan dengan masih membawa semua perasaan terharu dan penasaran.

"Paman, tidak perlu kutanya lagi, kiranya tentu Paman mencinta isteri Paman, Puteri Nirahai itu, bukan?"

"Tentu saja. Kalau tidak, tentu aku tidak menjadi suaminya."

"Bagaimanna perasaan Paman terhadap Lulu itu? Apakah Paman juga cinta kepada wanita aneh itu?"

Suma Han mengangguk, persis seperti pengakuannya ketika Phoa Ciok Lin juga menanyakan hal yang sama. Akan tetapi kalau Phoa Ciok Lin, sebagai seorang wanita yang sudah lebih matang oleh usia dan lebih maklum akan lika-liku cinta antara pria dan wanita yang mengandung banyak keanehan, gadis itu masih penasaran dan mendesak.

"Bukan cinta kakak angkat?"

"Bukan, Alan. Terus terang saja, aku mencinta Lulu sebagai seorang pria terhadap wanita. Bahkan semenjak dahulu dia kucinta. Dialah cinta pertamaku, dan aku tak pernah berhenti mencintanya. Antara kami terdapat api cinta yang kekal, semenjak kami masih belum dewasa, akan tetapi karena hubungan kami sebagai kakak dan adik angkat, kami berdua menganggapnya sebagai cinta saudara. Setelah dia kukawinkan dan kami saling berpisah, barulah terasa bahwa sesungguhnya kami saling mencinta sebagai pria dan wanita! Aku menemukan cintaku yang kedua terhadap Nirahai, akan tetapi gagal pula."

"Paman, kini aku mengerti mengapa Paman bersikap lunak terhadap Wan Keng In. Kiranya dia adalah putera sahabat baik dan adik angkat Paman, jadi dia masih keponakan Paman sendiri. Tentu Paman tidak sampai hati untuk mencelakainya, untuk menghancurkan hati Lulu, wanita yang Paman cinta."

"Hemm, engkau masih begini muda akan tetapi dapat menyelami perasaanku, Alan. Memang demikianlah halnya."

"Paman, siapakah antara mereka berdua yang lebih Paman cinta, Puteri Nirahai ataukah Lulu?" Milana bertanya sambil miringkan tubuh, menghindarkan pandang matanya dan kini dia tidak mengangkat muka, melainkan merebahkan kepalanya di atas lantai dengan telinga menempel lantai.

"Hemm, pertanyaan aneh karena belum pernah ada yang bertanya seperti itu bahkan hatiku sendiri pun belum pernah. Aku mencinta keduanya, sukar untuk dikatakan dan diukur siapa yang lebih kucinta, sungguh pun dasar yang mendorong cinta kasihku berbeda. Terhadap Nirahai didorong oleh anak kami itu, sedangkan terhadap Lulu didorong oleh masa muda kami... heii, ada apakah, Alan?"

Suma Han terkejut ketika melihat sepasang mata gadis itu terbelalak penuh keheranan dan alisnya berkerut, wajahnya agak berubah. Atas pertanyaannya, Alan menudingkan telunjuk ke lantai dan berbisik.

"Ada suara tertawa di bawah lantai!"

Suma Han mengerutkan alisnya. Tak mungkin, kata hatinya. Dia memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari gadis itu, sinkang-nya amat kuat dan pendengarannya tentu jauh lebih tajam. Kalau gadis itu dapat mendengar suara ketawa, masa dia tidak mendengar apa-apa sama sekali? Suma Han menggeleng kepala dan berkata tirih, "Alan, jangan bingung sehingga engkau mendengar yang bukan-bukan. Percayalah, aku akan mampu membawamu keluar dari tempat ini!"

Milana bangkit duduk dan berkata, "Benar-benar ada orang tertawa di bawah lantai ini, Paman. Kalau tidak percaya, kau dengarlah sendiri!"

Suma Han memandang ke lantai dan dia tertarik. Ternyata ada sebuah lubang kecil di lantai itu, di mana tadi Alan menaruh kepalanya. Agaknya melalui lubang kecil itulah dia mendengar suara dari bawah. Kalau begitu mungkin juga! Suma Han lalu mendekatkan kepala pada lantai dan menempelkan telinganya di dekat lubang lantai dan... tak salah lagi! Ada suara orang tertawa-tawa dan bicara di bawah! Bahkan bukan hanya suara satu orang, melainkan dua orang. Suara yang lucu karena diseling tertawa-tawa dan yang dibicarakan juga hal-hal yang lucu, dijawab oleh suara halus seorang wanita. Tiba-tiba Suma Han tersentak kaget ketika mengenal bahwa suara wanita itu adalah suara Kwi Hong!

"Hemmm, kurasa muridku yang bengal, Giam Kwi Hong, berada di ruangan bawah lantai ini," katanya.

Ucapannya itu membuat Milana terheran-heran. Suma Han memindahkan tubuhnya dan dia mendengarkan dari bagian lain dengan hanya menempelkan telinga di lantai karena begitu pun sudah cukup jelas baginya untuk dapat menangkap percakapan di bawah, agar gadis itu dapat ikut mendengarkan. Milana lalu cepat menempelkan telinganya tepat pada lubang kecil itu dan begitu dia mendengar percakapan di bawah yang memasuki telinganya secara sayup-sayup namun cukup jelas, dia tak dapat menahan diri, tertawa cekikikan karena merasa lucu!

"Heh-heh, sungguh untung besar kita! Mendapat teman yang menarik!" terdengar suara parau yang tertawa-tawa dan lucu itu berseru.

"Dikeram seperti ini bagaimana bisa disebut untung besar?" terdengar suara wanita. "Dan siapa teman itu?"

"Ha-ha-ha, dengarlah baik-baik. Bukankah ada suara jangkrik di sini. Hayo kita cari dia!"

Diam sejenak, tidak terdengar apa-apa, akan tetapi mudah bagi dua orang yang mencuri dengar itu untuk menduga behwa dua orang yang berada di bawah lantai itu tentu sedang sibuk mencari jangkrik! Seperti dua orang anak kecil saja!

"Celaka tiga belas! Sial dangkalan! Dia bersembunyi di dalam lantai berbatu! Mana bisa mengeluarkan dia?" terdengar pula suara parau.

"Apa sukarnya! Kita gali saja, biar dia bersembunyi di balik besi masa pedangku tidak bisa menggalinya?"

"Wahhh, tidak tepat! Pedangmu begitu tajam, jangan-jangan bukan hanya batunya yang tergali akan tetapi juga tubuhnya hancur terkena pedangmu!"

"Habis bagaimana?" Wanita itu bertanya, suaranya agak penasaran.

"Engkau memang bodoh! Sudah menjadi muridku masih bodoh! Bagaimana mengeluarkan jangkrik dari lubangnya tanpa bahaya melukainya? Tentu saja mengaliri lubangnya dengan air. Kalau dia terendam air di dalam lubangnya, tentu dia akan keluar sendiri!"

"Akan tetapi dari mana kita mendapatkan air untuk itu? Untuk minum saja kadang-kadang kurang! Si bedebah-bedebah itu harus kuhajar kalau tidak menambah jatah minuman untuk kita!"

"Hssshhh! kita adalah orang-orang tahanan, mana bisa mau enak saja? Dan engkau betul memalukan sekali karena bodohmu. Kenapa ribut-ribut mencari air? Bukankah kita, seperti setiap orang manusia di dunia ini, masing-masing mempunyai simpanan air yang cukup di dalam perut?"

"Ihhh! Suhu jorok sekali!"

"Kenapa jorok? Apanya yang jorok? Masa bicara tentang air kencing saja dikatakan jorok? Siapa sih orangnya yang tidak mengenal air kencing? Kalau aku kencingi lubang ini, masa jangkrik itu tidak akan cepat-cepat keluar?"

"Suhu, jangan!" Terdengar mereka berdua tertawa-tawa. "Jangkrik itu mungkin kuat bertahan di dalam lubangnya, akan tetapi aku yang tidak kuat akan baunya!" Kembali mereka tertawa-tawa.

"Kalau Suhu nekad, aku tidak mau lagi berlatih!"

"Wah-wah-wah, kau mengancam, ya? Kalau begitu biarlah jangkrik itu mengerik di dalam lubangnya, akan tetapi engkau harus berlatih sekarang juga, hendak kulihat sampai di mana kemajuanmu."

Suma Han mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak tertawa geli seperti puteri Ketua Thian-liong-pang itu, melainkan dengan terheran-heran mendengar murid atau keponakannya itu menyebut ‘suhu’ kakek yang ugal-ugalan dan agaknya benar-benar seorang yang aneh sekali itu. Keheranannya memuncak ketika tiba-tiba ia mendengar suara mendesir di bawah itu. Itulah suara pedang yang digerakkan secara mukjizat! Tak mungkin Kwi Hong dapat bermain pedang sehebat itu, seperti badai mengamuk, biar dia menggunakan Li-mo-kiam sekali pun! Akan tetapi, siapa lagi kalau bukan Kwi Hong?

Kalau Pendekar Super Sakti terheran-heran mendengarkan sambaran angin gerakan pedang yang dimainkan Kwi Hong, pembaca tentu terheran-heran bagaimana gadis dengan gurunya yang sinting itu bisa berada di dalam kamar tahanan di bawah tanah, bahkan letaknya di bawah kamar tahanan Suma Han? Kita tinggalkan dulu Suma Han yang terheran-heran untuk mengikuti perjalanan Kwi Hong bersama gurunya yang sinting itu.



Seperti telah dituturkan di bagian depan, Kwi Hong yang tadinya tertawan oleh Wan Keng In, dibebaskan oleh Bu-tek Siauw-jin, gurunya dan juga paman guru Wan Keng In. Kemudian guru dan murid ini menuju ke kota raja, akan tetapi Kwi Hong terpaksa harus mentaati kehendak gurunya untuk melakukan perjalanan melalui padang pasir di utara untuk mencari racun kelabang bagi keperluan Kwi Hong sendiri dalam menerima gemblengan ilmu mukjizat yang tinggi dari kakek sinting itu.

Mereka tiba di tempat itu, sebuah pegunungan yang aneh, jauh dari dunia ramai dan tidak ada seorang pun manusia di sekitar tempat itu. Kwi Hong merasa heran bagai mana gurunya dapat menemukan tempat seperti ini. Kadang-kadang mereka melalui hutan yang penuh pohon-pohon aneh, akan tetapi ada bagian di pegunungan itu yang gundul tidak ada pohonnya sama sekali, bahkan rumput pun tidak dapat tumbuh di situ seolah-olah tanahnya mengandung racun yang membunuh semua tanaman. Ada pula bagian yang penuh pasir, akan tetapi tampak bekas-bekas pohon, hanya tinggal batangnya yang besar setinggi tiga empat meter, tanpa daun sehelai pun dan sudah kering. Di tempat inilah Bu-tek Siauw-jin mencari kelabang!

Kakek itu berhenti di bagian yang penuh pasir dan di sana-sini tampak sisa pohon mati itu, memandang ke kanan kiri dan mengangguk-angguk. "Di sinilah... hmmm aku sudah mencium bau mereka dan tampak bekas mereka..."

Kwi Hong mengempiskan cuping hidungnya, mencium-cium, dan memang ada tercium bau amis yang aneh olehnya.

"Awas udara di sini beracun! Napas yang masuk harus dibakar dengan sinkang!" kakek itu berkata sambil tertawa-tawa. Melihat sikap kakek itu yang suka berkelakar, Kwi Hong memandang rendah dan bernapas seperti biasa.

"Suhu... celaka...!" Tiba-tiba dia mengeluh, kepalanya pening, perutnya mual seperti diaduk dari dalam.

"Wah, bocah bandel! Sudah diberi tahu tidak percaya. Hayo cepat duduk bersila, atur pernapasanmu." Kwi Hong cepat duduk bersila dan Bu-tek Siauw-jin lalu menempelkan telapak tangan kirinya di punggung, membantu gadis itu mengusir keluar hawa beracun dari dalam dada. Beberapa kali Kwi Hong mengeluarkan hawa dari perut melalui mulut dan akhirnya kepeningan kepalanya lenyap.

"Tempat ini penuh hawa beracun, jangan memandang rendah sebelum engkau memakan racun kelabang!" kata kakek itu ketika Kwi Hong meloncat bangun. Kini gadis itu berhati-hati sekali, bernapas dengan teratur dan mempergunakan hawa murni dan sinkang-nya.

"Suhu, apa yang berkilauan itu?"

Tiba-tiba Kwi Hong menuding ke bawah. Tampak ada benda seperti batu permata yang sebesar kepalan tangan.

"Hemm, itu batu biasa."

"Ah, tidak mungkin, Suhu. Batu gunung biasa masa berkilauan seperti itu. Tentu batu mulia."

"Kau tidak percaya? Coba pegang baru kau tahu!"

Kwi Hong membungkuk dan tangannya mengambil batu itu. Tiba-tiba dia berteriak dan melepaskan batu itu kembali, telapak tangannya telah menjadi hitam dan terasa panas dan perih. Batu mengadung racun yang luar biasa!

"Ha-ha-ha! Itulah air liur kelabang yang membasahi batu. Kelihatan berkilauan menarik akan tetapi sebetulnya mengandung racun yang berbahaya. Biar pun sinkang-mu sudah kuat, kalau tanganmu terkena racun ini, tanpa mendapatkan obat anti racun yang tepat, lambat laun akan membusuk, dan hancur seperti terkena penyakit kusta!"

"Kalau sudah tahu berbahaya, mengapa Suhu menyuruh aku memegangnya?" Kwi Hong menuntut.

"Heh-heh-heh, kalau belum jatuh terpeleset, mana bisa hati-hati?"

"Suhu membiarkan aku keracunan? Mana ada guru seperti ini?"

"Ha-ha-ha! Bodoh, aku hanya membikin engkau matang dalam pengalaman. Terkena racun begitu saja, kalau ada aku apa artinya? Biar racun yang seratus kali lebih hebat, selama aku masih menjadi gurumu, engkau tidak akan celaka."

Bu-tek Siauw-jin mengeluarkan sebuah batu yang berwarna hijau dari saku bajunya, menyambar tangan Kwi Hong dan menempelkan batu hijau itu kepada tangan yang telapaknya berubah hitam.

Dalam waktu singkat semua hawa beracun telah tersedot oleh batu dan tangan gadis itu pulih seperti biasa.

"Batu ini sebuah benda pusaka yang ampuh!" Kwi Hong tertarik sekali dan ingin memilikinya.

"Ha-ha-ha! Batu macam ini saja apa artinya? Kalau engkau sudah selesai berlatih ilmu, tidak perlu mengandalkan batu mati seperti ini!"

Kwi Hong menjadi bersemangat sekali. Ingin dia segera memiliki ilmu yang dapat membuat dia kebal akan segala racun! Dia memang harus memiliki kepandaian yang tinggi agar kelak ia dapat menandingi Wan Keng In, pemuda yang amat dibencinya itu!

"Mari kita lekas mencari kelabang bertelur itu, Suhu!"

"Hushh! Bukan kelabang bertelur. Kalau sudah bertelur, tidak ada gunanya lagi. Yang kucari adalah kelabang bunting!"

Kwi Hong menghela napas menyabarkan hati. "Baiklah, kelabang bertelur, kelabang bunting atau kelabang busung sama saja, yang perlu lekas kita menemukannya."

"Tidak begitu mudah. Pergilah engkau ke hutan di sebelah kanan itu dan engkau harus dapat menangkap hidup seekor ayam hutan betina yang gemuk. Nah, pergilah cepat sebelum malam tiba!"

"Baik, Suhu," Kwi Hong membalikkan tubuh hendak meloncat pergi.

"Awas, jangan keliru. Yang betul-betul gemuk, lho, dan jangan yang terlalu tua, darahnya sudah kurang manis!"

Di dalam hatinya Kwi Hong mengomel. Gurunya ini cerewet benar, akan tetapi karena maklum bahwa kecerewetan gurunya itu biar pun dilebih-lebihkan menurut wataknya yang sinting, bukan tidak ada artinya, maka dia hanya mengangguk dan mengingat baik-baik pesan itu lalu melesat pergi dengan cepat. Tak lama kemudian gadis itu telah kembali kepada gurunya, kedua tangannya memegang dua ekor ayam hutan betina yang gemuk-gemuk!

"Ehh... kenapa dua ekor?"

"Yang seekor untuk kelabang bunting, yang seekor lagi untuk Suhu dan aku!"

"Ha-ha-ha-ha, kau pintar sekali!" Bu-tek Siauw-jin menerima seekor ayam, mengikat kedua kaki ayam itu dan mencabuti bulunya. Ayam itu tentu saja berkeok-keok kesakitan akan tetapi kakek sinting itu tidak peduli, mencabuti terus sambil berkata,

"Eh, kenapa bengong saja? Lekas potong leher ayam itu dan bakar dagingnya."

Kwi Hong memutar leher ayam. Setelah binatang itu mati, dia mencabuti bulu-bulunya, mengeluarkan isi perutnya yang diminta oleh gurunya untuk kelabang di samping ayam hidup yang diberunduli semua bulunya. Kwi Hong membuat api membakar daging ayam, kemudian bersama gurunya makan daging panggang sambil menanti datangnya malam gelap.

"Menurut perhitunganku, sekarang tepat bulan purnama! Kelabang-kelabang itu akan keluar dan kalau terjadi perebutan ayam mulus ini, engkau jangan kaget dan diam saja. Setelah ayam itu diseret, barulah kita mengikuti karena para pemenang itu terus akan membawa ayam ini kepada kelabang betina yang bunting. Yang menang tentu kelabang jantan yang terkuat, maka betinanya tentu juga paling hebat!"

"Menurut penuturan Suhu, kelabang jantannya sudah dibunuh oleh yang betina."

"Memang, di waktu terjadi perkawinan. Tetapi setelah bunting, tidak ada lagi kelabang jantan yang mengganggunya, dan kelabang jantan yang menyerahkan hadiah-hadiah adalah calon-calon pengantin-pengantin dan calon bangkai karena pada waktu perkawinan mereka pun akan mati konyol. Ha-ha-ha!"

Kwi Hong merasa ngeri dan membenci kelabang betina yang pekerjaannya hanya kawin, membunuh pengantin jantan, dan bertelur saja itu! Akan tetapi dia juga ngeri kalau mengingat bahwa dia harus makan perut kelabang yang demikian menyeramkan, yang amat beracun, sedangkan air liurnya saja sudah demikian hebatnya!

Malam tiba, kakek sinting itu membiarkan api unggun bernyala terus. "Setelah bulan purnama muncul dan keadaan di sini cukup terang, baru api ini kita padamkan. Betapa pun lihai dan beracun, kelabang-kelabang itu takut melihat cahaya api. Kalau sekarang api kita padamkan, mereka akan bermunculan dan tak hanya ayam dan isi perut ayam yang mereka serang, akan tetapi juga mereka akan menyerang kita."

"Ihhhh...!" Kwi Hong mengkirik ngeri. "Kalau nanti bulan sudah muncul dan api kita padamkan, mereka datang dan menyerang kita bagaimana?"

"Apa sukarnya? Kita meloncat ke atas pohon-pohon mati itu, mereka tidak akan mampu mengejar."

"Sekarang kita bisa meloncat ke sana, Suhu."

"Dasar bodoh! Kalau mereka kita biarkan datang sebelum bulan muncul dan kita menyelamatkan diri ke atas pohon mati, bagaimana kita akan dapat mengikuti ke mana mereka membawa pergi ayam yang kita umpankan itu?"

Sekarang mengertilah Kwi Hong dan dia merasa tegang. Bicara tentang kelabang-kelabang itu, tidak ada nafsu makan lagi padanya sehingga sisa daging ayam panggang itu diganyang habis oleh Bu-tek Siauw-jin, bahkan agaknya dia masih belum puas karena terdengar suara keletak-keletuk bunyi tulang-tulang sayap dan kaki ayam pecah-pecah karena gigitannya, untuk diisap sumsumnya!

"Suhu, bulan sudah muncul. Lihat!" Tiba-tiba Kwi Hong yang sejak tadi memandang ke arah timur berteriak sambil menudingkan telunjuknya.

"Biarkan dia naik agak tinggi sampai tempat ini terang betul," jawab guruya yang masih enak-enak saja menggerogoti tulang kaki ayam.

Akhirnya bulan purnama sudah menyinarkan cahayanya yang cemerlang dan daging berikut tulang ayam panggang sudah habis dikunyah hancur oleh kakek sinting itu. Bu-tek Siauw-jin lalu melemparkan ayam gundul yang diikat kakinya ke atas tanah di samping isi perut ayam yang dipanggang tadi, kemudian memadamkan api dan mengajak muridnya meloncat ke atas dua batang pohon mati yang berdampingan.

Dengan tergesa-gesa karena merasa ngeri, Kwi Hong mendahului gurunya meloncat. Tubuhnya melayang ke atas dan hinggap di atas puncak batang pohon mati seperti seekor burung garuda sigapnya. Gurunya juga mencelat ke atas dan hinggap di pohon kedua. Batang pohon yang tingginya lebih dari tiga meter itu cukup besar sehingga mereka dapat duduk di atasnya sambil memandang ke bawah. Dari tempat itu jelas kelihatan ayam gundul yang mereka pergunakan sebagai umpan karena cahaya bulan dengan lembutnya menyinari seluruh tempat itu.

Kurang lebih dua jam mereka menanti, dua jam penuh ketegangan dan terasa seperti dua pekan bagi Kwi Hong. Beberapa kali dia menoleh ke arah gurunya dan melihat betapa gurunya itu duduk melenggut di atas puncak batang pohon, tidur-tidur ayam kekenyangan daging ayam. Beberapa kali tubuh kakek itu mendoyong ke sana-sini kelihatannya seperti akan jatuh, akan tetapi selalu dia tersentak kaget sebelum terguling dan melenggut lagi. Tentu saja hati Kwi Hong mendongkol sekali. Orang setengah mati karena tegang, gurunya enak-enak melenggut, bahkan kini terdengar dengkurnya perlahan.

Tiba-tiba Kwi Hong mencium bau yang amat keras, bau yang amis dan memuakkan dan mendadak terdengar suara gurunya, "Awas, jangan berisik dan atur napasmu, lawan hawa beracun. Mereka sudah datang!"

Kwi Hong cepat mengerahkan sinkang, mengatur pernapasan dan melindungi paru-paru dengan hawa murni, matanya memandang ke bawah dengan terbelalak dan sama sekali tidak berani mengeluarkan suara. Dilihatnya ayam yang diikat itu masih bergerak-gerak, menggerakkan leher dan berusaha melepaskan diri. Bau makin keras dan dari sebelah kanan tampaklah kini olehnya benda yang berkilauan, bergerak-gerak mendekat. Kelihatan panjang sekali, akan tetapi setelah dekat, barulah tampak olehnya bahwa yang datang adalah barisan kelabang yang besar-besar dan panjang-panjang! Karena binatang-binatang itu merayap beriringan, dari jauh yang tampak hanya sinar berkilauan kulit mereka dan kelihatan seperti sebuah benda atau ular yang panjang.

Terlihat tidak kurang dari lima belas ekor kelabang yang kulitnya merah mengkikap, panjangnya masing-masing antara dua puluh sampai tiga puluh senti meter! Kwi Hong bergidik. Sudah pernah dia melihat kelabang, akan tetapi besarnya paling-paling hanya sebesar jari tangan dan panjangnya tidak lebih dari sepuluh senti. Belum pernah dia melihat kelabang-kelabang raksasa seperti itu!

Barisan kelabang itu makin dekat dengan umpan, dan makin ngeri pula rasa hati Kwi Hong. Tiba-tiba ayam itu meronta dan berkeok-keok keras tanda ketakutan dan Kwi Hong memejamkan kedua matanya melihat betapa belasan ekor kelabang itu seperti terbang cepatnya mencelat ke depan, memperebutkan ayam yang kelabakan sebentar, lalu tak bersuara lagi. Barulah Kwi Hong berani membuka matanya.

Ayam itu telah mati, akan tetapi kini belasan ekor kelabang itu saling serang, saling gigit dan saling terjang dengan hebat. Mereka memperebutkan bangkai ayam seperti yang telah dituturkan oleh gurunya! Kwi Hong melirik ke arah gurunya dan melihat kakek itu tersenyum-senyum menyeringai lebar dan menggosok-gosok kedua tangannya kelihatan girang sekali, bahkan mulutnya bergerak-gerak dan mengeluarkan air liur seperti sikap seorang kelaparan melihat daging empuk! Kwi Hong bergidik!

Gurunya benar-benar bukan manusia! Baru saja mengganyang habis seekor ayam panggang, hanya diambil sedikit olehnya, dan sekarang melihat kelabang-kelabang gemuk, sudah keluar air liurnya! Benar-benar manusia sinting, atau bukan golongan manusia! Betapa pun juga, harus dia akui bahwa gurunya amat baik kepadanya, dan ilmu-ilmu yang diberikan kepadanya benar-benar hebat!

Saking ganasnya kelabang-kelabang itu, pertempuran tidak berlangsung lama. Sepuluh ekor kelabang yang lebih kecil sudah menggeletak tak bergerak, mati. Empat ekor yang lebih besar dan agaknya luka-luka tidak mempedulikan luka mereka dan dengan lahap mereka kini merasa puas dengan isi perut ayam. Karena isi perut itu cukup banyak terutama ususnya yang panjang, empat ekor kelabang itu memperoleh bagian yang cukup dan dari atas mereka tampak seperti ulat-ulat sutera sedang lahap makan daun murbei!

Kwi Hong melihat bahwa seekor kelabang yang terbesar dan tentu yang telah keluar sebagai pemenang dalam perebutan tadi, kini menggondol bangkai ayam gundul dan dia benar-bedar tercengang akan kekuatan kelabang itu! Dengan mulut menggigit leher ayam, kelabang itu mampu membawa bangkai ayam itu dengan gerakan cepat menuju ke sebuah di antara pohon-pohon mati yang terbesar, memasuki sebuah lubang di bawah pohon dan lenyap!

"Bagus! Tempatnya di bawah pohon itu! Mari...!" Bu-tek Siauw-jin tertawa girang dan meloncat turun diikuti oleh Kwi Hong. Ketika dara itu melayang turun, begitu kedua kakinya menginjak tanah, ia sudah menahan jerit dan meloncat lagi melihat benda melintang di bawah kakinya. Benda itu disangkanya kelabang, akan tetapi ternyata hanyalah kayu lapuk!

"Siapkan pedangmu!" Bu-tek Siauw-jin berbisik. "Aku akan mencabut pohon itu dan kalau engkau melihat seekor kelabang yang amat besar dan gemuk, jangan ragu-ragu, kau bacok putus bagian kepala dan ekornya, kemudian bagian tengahnya cepat kau masukkan ke dalam botol ini dan tutup rapat." Kakek itu menyerahkan sebuah botol kosong yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Karena hatinya merasa tegang, Kwi Hong tidak dapat mengeluarkan suara, hanya mengangguk-angguk. Kalau dia disuruh menghadapi lawan manusia, biar musuhnya amat banyak dan seganas iblis, dara perkasa itu takkan merasa gentar seujung rambut pun. Akan tetapi disuruh menghadapi kelabang-kelabang yang menggelikan dan menjijikkan ini, benar-benar dia merasa tegang dan semua bulu yang tumbuh di tubuhnya berdiri tegak! Dengan hati-hati dia mencabut pedangnya, dipersiapkan di tangan kanan yang agak gemetar, tangan kiri memegang botol dan pernapasan tetap teratur agar tidak terserang hawa beracun yang amat hebatnya memenuhi tempat itu. Dengan hati-hati dia lalu mengikuti gurunya menghampiri pohon besar di mana kelabang raksasa yang membawa bangkai ayam tadi lenyap.

Bu-tek Siauw-jin menghampiri pohon, merangkul batang pohon yang sebesar tubuh manusia itu dengan kedua lengannya, berjongkok, kemudian bangkit berdiri sambil mengerahkan tenaga menjebol batang pohon yang tingginya tiga setengah meter itu. Terdengar suara keras ketika akar-akar kering pohon itu patah-patah dan terjebol berikut tanahnya, disusul suara lebih keras karena pohon itu telah dilemparkan jauh oleh kakek sinting.

Hampir Kwi Hong menjerit ketika melihat seekor kelabang besar merayap keluar dan kelihatan marah sekali. Kelabang ini mulutnya masih menggigit kepala ayam, kini seperti hendak menyerang kaki Kwi Hong. Gadis ini melihat bahwa kelabang ini besar sekali, perutnya menggembung dan warna kulitnya sama seperti Kelabang-kelabang yang tadi, merah darah akan tetapi agak kehijauan dan mengeluarkan sinar mengkilap. Sekilas pandang ia melihat bangkai ayam di dalam lubang bekas jebolan pohon dan di samping bangkai ayam itu menggeletak pula kelabang besar yang tadi membawa bangkai, sudah mati pula. Agaknya Sang ‘Ratu’ kelabang yang bunting ini benar-benar amat ganas. Disanjung dan dirayu oleh kelabang besar, dihadiahi bangkai ayam gundul gemuk, malah dibalas dengan membunuhnya!

"Kelabang celaka!" Kwi Hong marah dan gemas sekali teringat akan ini, dua kali pedangnya berkelebat.

"Cres! Cress!"

Dia terkejut karena pedangnya bertemu dengan kulit yang amat alot dan keras. Andai kata bukan Li-mo-kiam yang berada di tangannya, tentu dia akan kecelik kalau tidak mengerahkan sinkang, karena kulit kelabang itu ternyata amat tebal. Akan tetapi Li-mo-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang ampuhnya menggila, maka dua kali sabetan itu berhasil baik, tubuh kelabang terpotong menjadi tiga, leher dekat kepala dan dekat ekornya putus! Akan tetapi bagian tengahnya yang masih panjang itu menggeliat-geliat hidup sehingga Kwi Hong merasa jijik untuk mengambilnya.

"Bodoh, lekas masukkan botol!" Bu-tek Siauw-jin membentak.

Kwi Hong menabahkan hatinya, disambarnya bagian badan yang masih panjang dan menggeliat itu. Hampir saja dilepaskannya kembali karena jari-jari tangannya merasa geli dan jijik, seperti memegang ular saja. Akan tetapi karena botol di tangan kirinya sudah siap, dia cepat memasukkan bagian tubuh yang menggeliat-geliat itu ke dalam botol, menutupkannya rapat-rapat kemudian hendak mengambil kembali pedangnya yang tadi dia tancapkan di atas tanah ketika tangan kanannya mengambil tubuh kelabang.

"Aihhh...!" Kwi Hong menjerit dan tidak jadi mengambil pedang karena melihat betapa seluruh tangan kanannya menjadi merah kehitaman dan mulailah terasa kaku dan lumpuh!

"Itulah racunnya yang kuat sekali. Nih, pegang batu hijau ini!" Gurunya menyerahkan batu hijau ke tangan kanan Kwi Hong yang keracunan. Gadis itu menerima batu hijau dan menggenggamnya. Sebentar saja warna tangannya putih kembali, racun yang amat jahat itu disedot habis oleh batu hijau.

"Kau simpan batu itu dan tak akan ada racun dapat mempengaruhi kulitmu. Akan tetapi kalau engkau sudah selesai berlatih dan sudah makan perut kelabang bunting, tubuhmu lebih kebal dari racun, lebih hebat dari pada batu hijau itu!"

Kakek ini tertawa-tawa, lalu dia mengambil bangkai kelabang jantan yang berada di dalam lubang, kemudian mengajak Kwi Hong kembali ke tempat tadi. Dapat dibayangkan betapa jijik hati Kwi Hong ketika melihat empat ekor kelabang besar yang tadi dengan lahap makan isi perut ayam, kini masih melingkar di tempat tadi, diam tak bergerak sama sekali dan tubuh mereka menjadi gemuk dan menggembung seperti mau pecah. Seluruh isi perut ayam habis bersih, dan anehnya, sepuluh ekor kelabang yang telah mati tadi pun lenyap tak tampak bekasnya sama sekali.

"Ha-ha-ha, heh-heh-heh! Untung besar! Empat ekor ini benar-benar gembul dan kiciak (pelahap dan segala macam dimakan tanpa jijik)! Bangkai sepuluh ekor temannya sendiri masuk perut! Ha-ha-ha, kita pesta besar! Engkau makan kelabang bunting, aku mengganyang lima ekor kelabang gembul!"

Sambil berkata demikian, kakek sinting itu menggunakan kedua tangannya menangkap empat ekor kelabang itu yang sama sekali tidak melawan atau meronta karena memang sudah tak dapat bergerak saking kenyangnya! Dia mengumpulkan empat ekor kelabang kekenyangan itu dengan bangkai kelabang terbesar yang mati di dalam lubang betina. Empat kali telunjuknya bergerak memukul dan empat ekor kelabang itu mati dengan kepala pecah.

"Sebetulnya, daging kelabang paling enak kalau digoreng dan dimakan dengan cocol kecap, hemmm... sedap bukan main. Sayang di sini tidak ada minyak, maka kita godok saja. Dimasak kuah juga enak sekali, kuahnya sedap dan banyak vitamin! Heh-heh-heh!"

Kwi Hong merasa hendak muntah. Akan tetapi ditekannya persaan itu dan berkata, "Suhu, aku khawatir takkan dapat menelan kelabang ini..." Dia meletakkan botol terisi kelabang bunting itu ke depan suhu-nya.

"Eh-eh, bodoh! Apa engkau hendak menyia-nyiakan kesempatan baik mendapatkan ilmu yang membuat tubuhmu kebal akan segala racun yang dapat menimbulkan sinkang yang tiada tandingannya di dunia? Pula, apa kau kira daging kelabang tidak enak?"

"Aku jijik, Suhu. Dan tentu saja tidak enak!"

"Wah-wah, picik sekali engkau. Heh, murid tolol. Kapankah engkau pernah makan daging kelabang?"

"Selama hidupku belum pernah!" jawab Kwi Hong cepat-cepat untuk menyatakan bahwa selama ini, sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, dia hidup ‘bersih’!

"Itulah tololnya! Kalau selama hidupmu engkau belum pernah makan daging kelabang, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa daging kelabang tidak enak dan menjijikkan? He, Kwi Hong, jangan engkau meniru-niru manusia-manusia yang berwatak munafik itu!"

"Hemm, urusan makan daging kelabang, mengapa menyangkut urusan orang berwatak munafik?" Kwi Hong terheran.

"Tentu saja sama! Orang-orang munafik itu pun begitu, hanya karena membaca kitab atau mendengar ucapan mulut orang lain, tanpa membuktikan dan menyatakan sendiri, sudah mengambil keputusan mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi! Sampai-sampai ada yang mati-matian bersumpah bahwa dia mati-matian membenci dan memusuhi segala setan dan iblis!"

"Tentu saja, Suhu!"

Kakek sinting itu memandang muridnya dengan mata terbelalak, lalu meloncat berdiri dan membanting-banting kedua kakinya, seperti anak kecil yang rewel dan sudah siap menangis! "Apa? Engkau...? Muridku...? Engkau pun ikut-ikutan latah dan munafik? Jadi engkau pun membenci dan memusuhi setan dan iblis? Coba katakan, kenapa kau membenci mereka?"

"Hemm... karena mereka jahat, karena musuh manusia!"

"Ngawur! Apakah setan dan iblis itu ada? Pernahkah engkau bertemu dengan setan dan iblis?"

Melihat suhu-nya mencak-mencak dan memekik-mekik marah, Kwi Hong menjadi gentar juga. Dia menggeleng kepala dan menjawab "Tidak pernah ada, Suhu."

"Kau tidak pernah bertemu dengan setan atau iblis, engkau tidak tahu apakah mereka itu ada atau tidak, bagaimana engkau sudah mengambil keputusan memusuhi dan membenci mereka, bagaimana bisa mengatakan mereka jahat dan musuhmu? Ehh, bocah tolol. Coba jawab lagi, pernahkah engkau diganggu setan atau iblis? Dicubit? Dipukul? Dimaki atau ditipu? Hayo jawab yang jujur! Pernahkah engkau diperlakukan jahat oleh setan atau iblis? Kalau pernah, kapan dan di mana, dan bagaimana? Ceritakan!"

Kwi Hohg melongo. Gurunya ini benar-benar sinting, akan tetapi ditanya seperti itu, dia tidak dapat menjawab. Tentu saja dia belum pernah bertemu, dan kalau belum pernah bertemu, bagaimana mungkin dia bisa diganggu. Bahkan ada atau tidaknya setan iblis masih merupakan teka-teki yang tak dapat dijawab dengan kenyataan. Kembali dia menggeleng kepala, "Belum pernah, Suhu!"

"Nah, itulah! Engkau pun termasuk seorang munafik, hanya untuk plintat-plintut mengikuti ketahyulan manusia yang pura-pura suci saja. Jangan engkau terseret oleh kebiasaan umum yang belum tentu benar. Karena umum biasanya makan daging ayam, maka enak saja engkau makan daging ayam. Karena umum tidak biasa makan daging kelabang, biar pun selamanya engkau belum pernah merasakannya, mudah saja kau bilang tidak enak dan menjijikkan. Munafik!"

Kwi Hong merasa bohwat (kehabisan akal), karena biar pun ucapan gurunya kasar dan seenak perutnya sendiri, kebenarannya dalam ucapan itu sukar dibantah. "Maafkanlah, Suhu. Akan tetapi benar enakkah daging kelabang?" Suaranya halus dan penuh penyesalan itu sekaligus mengusir kemarahan Bu-tek Siauw-jin yang sudah menyeringai kembali!

"Heh-heh-heh, engkau mau tahu rasanya? Pernahkah engkau makan daging udang?"

"Pernah, bahkan sering kali, Suhu. Ketika masih tinggal di Pulau Es, di sebelah timur pulau terdapat bagian laut yang dihuni banyak udang besar, sebesar lengan tangan dan sering kali anak buah kami menangkap udang-udang besar itu."

"Pernah kau makan daging udang yang dipanggang dalam tanah liat?"

"Belum pernah. Bagaimana, Suhu?"

"Wah, kalau begitu engkau belum tahu benar-benar rasanya daging udang! Apa lagi udang besar seperti itu. Mula-mula udang itu dilumuri tanah liat basah cukup tebal sampai tidak kelihatan kulitnya, kemudian dipanggang dan dibiarkan sampai tanah liat itu menjadi kering sekali. Setelah tanah liat itu retak-retak dan mengeluarkan bau gurih, nah, itu tandanya udangnya sudah matang. Kalau sudah tampak uap keluar dari bungkusan tanah yang retak-retak, panggang udang itu boleh diangkat dari api. Tanah liat yang sudah kering itu dikupas dan kulit udangnya tentu akan terbawa dan terkupas pula karena melekat pada tanah liat dan kini hanya tinggal daging udangnya, putih bersih kemerahan panas-panas beruap dan sedap baunya. Rasanya? Wah, kalau digigit kenyal-kenyal akan tetapi lunak, sedap manis... hemm!"

Kwi Hong menelan ludah. Timbul seleranya dan dia kemecer (mengeluarkan air liur) mendengar penuturan itu.

"Nah, daging kelabang pun rasanya sama dengan daging udang! Yang lima ekor ini akan kupanggang dalam tanah liat, akan tetapi yang bunting itu harus direbus, karena kalau dipanggang, racunnya banyak yang hilang. Direbus juga enak, coba saja nanti."

Berkuranglah rasa jijik di hati Kwi Hong, Apa lagi setelah dia mencari air sungai yang terdapat dalam bagian bukit yang subur, kemudian mereka memasak kelabang dan memanggang yang lima ekor, gurunya tiada hentinya menceritakan kelezatan daging kelabang yang dagingnya sejenis dengan daging udang, kepiting, belalang, jangkrik, dan lain binatang yang kulitnya keras.

Kesibukan memasak udang itu berlangsung sampai pagi, karena tidak mudah bagi Kwi Hong mencari air dan daun-daun bumbu di dalam hutan di waktu malam seperti itu, sungguh pun sinar bulan banyak membantunya. Akan tetapi, akhirnya masakan-masakan itu selesai di waktu pagi.

"Nah, kau makan dulu seekor daging panggang sebagai cuci mulut!" kata Bu-tek Siauw-jin.

Kwi Hong tertawa. Benar-benar lucu. Masa cuci mulut dengan daging panggang, dan lagi mana ada cuci mulut sebelum makan? Akan tetapi dia tidak membantah dan bersama suhu-nya, dia mengupas tanah liat yang sudah kering. Benar saja kulit kelabang itu ikut terkupas dan tampaklah kini dagingnya yang putih kemerahan dan mengepulkan uap tipis yang sedap. Melihat suhu-nya makan daging itu dengan lahapnya, Kwi Hong lalu menggigit daging yang dipegangnya dan benar-benar gurunya tidak membohong. Rasanya enak sekali, gurih dan enak manis, seperti daging udang!

"Jangan dihabiskan, separuh saja. Yang separuh untuk nanti setelah kau makan daging rebus."

Kwi Hong tersenyum, tanpa membantah lagi dia mengambil panci kecil di mana daging kelabang bunting itu telah dimasak. Bu-tek Siauw-jin mengambil sebuah guci arak dan menuangkan arak ke dalam masakan itu. Uap mengepul dan bau wangi arak merah itu bercampur dengan bau gurih sedap namun ada pula bau yang amis dan keras.

"Makan dagingnya sedikit-sedikit saja agar tidak terlalu mengejutkan tubuhmu. Jangan khawatir apa pun yang terasa olehmu, makan terus sampai habis. Ingat, yang kau makan ini bukan hanya daging yang lezat, akan tetapi terutama sekali obat untuk menyempurnakan latihan ilmu yang kuajarkan kepadamu."

Kwi Hong mengangguk, menggunakan sepotong kayu menusuk daging itu dan mulai menggigit dan memakan daging itu. Terpaksa ia memejamkan mata karena berbeda dengan ketika makan daging kelabang panggang tadi, kini daging kelabang yang direbus kelihatan putih dan besar, juga agak kehitaman di sebelah dalamnya, hitam kehijauan dan dia tahu itu adalah racun kelabang yang amat jahat!

Rasanya memang ada enaknya, akan tetapi lebih banyak tidak enaknya dari pada enaknya. Memang ada bau sedap, akan tetapi hampir tertutup sama sekali oleh bau amis dan keras bahkan bau arak itu pun tidak dapat melenyapkan bau amis. Rasanya memang gurih, akan tetapi terasa pula getir dan pahit, juga ada rasa keras yang membuat lidah terasa seperti ditusuk-tusuk. Namun Kwi Hong dengan nekat mengunyah dan menelan. Hanya sebentar mengunyah, tidak menunggu sampai lembut asal tidak terlalu besar, lalu ditelannya!

Dia terus memejamkan mata dan biar pun terasa betapa dada dan perutnya panas sekali ketika makanan itu ditelannya, dia makan terus. Biarlah kalau dia akan mati karena ini, pikirnya. Sudah kepalang! Makin lama hawa panas makin hebat sehingga terasa gerah sekali. Keringatnya membasahi pakaian, seolah-olah dia merasa tubuhnya dipanggang. Akan tetapi, Kwi Hong adalah seorang gadis yang berhati keras dan nekat. Dia terus makan sampai akhirnya daging kelabang bunting habis ditelannya.

Kepalanya pening. Akan tetapi sebuah tangan menekan tengkuknya. Jari tangan Bu-tek Siauw-jin menotok punggung, rasa ingin muntah yang timbul hilang, kemudian telapak tangan gurunya menempel di punggungnya dan dari telapak tangan itu menjalar hawa dingin sejuk yang melawan hawa panas di tubuhnya. Akan tetapi sebentar saja tangan gurunya ditarik kembali ketika Kwi Hong yang teringat akan Swat-im Sinkang, mengerahkan inti tenaga dingin untuk melawan serangan hawa panas itu. Sinkang-nya sudah amat kuat, apa lagi Im-kang yang didapatkannya ketika berlatih di Pulau Es, bahkan lebih kuat dari pada Im-kang yang disalurkan gurunya tadi. Hal ini adalah karena latihan Im-kang di Pulau Es merupakan puncak latihan menghimpun hawa dingin yang sukar dapat dimiliki oleh mereka yang berlatih di tempat panas.

"Bagus! Engkau dapat menahan hawa panas. Nah, makanlah sisa daging panggang itu."

"Suhu, aku sudah tidak ada nafsu lagi untuk makan daging..."

"Ih, jangan membantah! Ini perlu sekali untuk membuat perutmu kenyang dan terisi cukup..."

"Aku sudah kenyang sekali."

"Bodoh, kalau tidak kau isi sampai penuh sekali, mana dapat bertahan selama tiga hari tiga malam?"

"Apa maksudmu, Suhu?"

"Sudahlah, jangan banyak membantah. Kau makanlah sisa daging panggang ini dan habiskan!"

Karena maklum bahwa menghabiskan daging panggang ini termasuk kepentingan latihan itu, bukan semata-mata untuk membikin kenyang atau makan enak, Kwi Hong terpaksa makan habis sisa daging panggang. Perutnya menjadi kenyang sekali.

"Sekarang, minum kuah dalam panci itu sampai habis."

"Wah, mana perutku kuat, Suhu? Sudah terlalu kenyang dan kuah itu banyak sekali!" Kwi Hong membantah. Sebetulnya bukan soal terlalu kenyang, akan tetapi dia merasa jijik kalau harus minum kuah itu. Baru dagingnya saja tadi sudah begitu memuakkan, apa lagi kuahnya!

"Kwi Hong, tahukah engkau bahwa kuahnya ini yang jauh lebih penting? Andai kata engkau tidak makan dagingnya, masih tidak mengapa, akan tetapi kalau tidak minum kuahnya, kurasa akan sia-sia semua latihanmu. Sari obat berada di dalam kuah inilah!"

Kwi Hong bergidik. Yang dimaksudkan suhu-nya dengan ‘sari obat’ tentulah sari dan semua racun yang mengeram di dalam perut kelabang itu! Apa boleh buat! Sudah terlalu jauh dia melangkah, andai kata mendaki gunung sudah hampir sampai puncaknya. Dia mengangkat panci, membawa bibir panci menempel bibirnya, memejamkan mata, menahan napas agar hidungnya tidak mencium bau yang memuakkan itu, membuka mulut dan menuangkan isi panci itu sekaligus ke dalam perutnya melalui mulut! Begitu isinya habis, Kwi Hong mengeluh, panci kosong terlepas dari pegangannya dan terguling pingsan! Bu-tek Siauw-jin sudah siap, menerima tubuhnya dan membiarkan dara itu rebah terlentang di atas tanah sambil menyeringai dan tersenyum-senyum puas.

"Engkau hebat, muridku. Engkau hebat! Ha-ha-ha, hendak kulihat apa yang dapat dilakukan Suheng kepadamu. Heh-heh-heh, betapa suheng akan mencak-mencak kalau melihat muridnya kalah oleh muridku!"

Kalau tadi Kwi Hong tahu bahwa dia akan pingsan selama tiga hari tiga malam, kiranya dia akan pikir-pikir dulu untuk minum kuah itu! Dan hal ini sudah diketahui oleh Bu-tek Siauw-jin maka tadi kakek sinting ini setengah memaksa muridnya menghabiskan daging kelabang panggang agar selama tiga hari tiga malam pingsan itu, muridnya tidak akan terlalu kelaparan!

Pada pagi hari yang ke empat, Kwi Hong siuman, menggerakkan tangan, mengeluh perlahan dan membuka mata. Ia merasa tubuhnya panas dan lapar sekali. Ketika melihat gurunya duduk bersila tak jauh dari situ sambil memandangnya dan tersenyum-senyum, Kwi Hong cepat bangkit duduk. Segera ia memejamkan kedua matanya karena begitu ia bangkit duduk, matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut keras.

"Jangan tergesa-gesa, Kwi Hong. Tenang-tenang sajalah! Engkau baru saja bangkit dari kematian dan mulai hidup baru. Ha-ha-ha!"

Kwi Hong membuka matanya kembali. "Apa yang terjadi, Suhu? Apakah aku tertidur?"

"Engkau tidur, juga pingsan, bahkan boleh dibilang mati selama tiga hari tiga malam! Dan engkau telah berhasil!"

Kwi Hong teringat kembali. "Aihh! Ketika minum kuah itu... aku lalu pingsan selama tiga hari tiga malam?"

Kwi Hong duduk bersila dan mulailah dia digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin dengan ilmu yang mukjizat, yang diciptakan oleh kakek aneh ini selama menyembunyikan diri. Kakek itu benar-benar amat tekun melatih muridnya, bahkan dia kini yang mencarikan makan untuk muridnya agar Si Murid tidak usah menghentikan latihan, dan hanya berhenti kalau perlu makan saja. Sampai dua pekan Kwi Hong disuruh melatih diri.

Karena memang pada dasarnya gadis ini telah memiliki kekuatan sinkang yang hebat berkat latihan yang ia terima dari Pendekar Super Sakti, maka dalam waktu singkat saja dia sudah dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh kakek sinting itu, padahal bagi orang lain, belum tentu akan dapat dikuasai dalam latihan bertahun-tahun! Kemudian, berdasarkan tenaga mukjizat ini Bu-tek Siauw-jin menambahkan jurus-jurus yang aneh dan dahsyat dalam ilmu pedang Kwi Hong. Juga dara ini dilatih menggunakan pukulan-pukulan dengan telapak tangan, pukulan yang amat hebat karena hawa pukulannya mengandung ancaman maut, mengandung hawa beracun yang selamanya belum pernah dia pelajari.

Tanpa disadarinya, Kwi Hong yang semenjak kecil menerima gemblengan-gemblengan pamannya dengan ilmu-ilmu tinggi yang bersih, kini telah mempelajari ilmu-ilmu golongan hitam! Memang benar bahwa segala ilmu dapat dipergunakan untuk kebaikan mau pun kejahatan, tergantung manusianya. Akan tetapi, ilmu golongan sesat atau golongan hitam mengandung sifat-sifat yang ganas, kejam dan dahsyat, sehingga sekali turun tangan dapat merampas nyawa lawan dengan mudahnya!

Demikianlah sambil melatih diri setiap ada kesempatan, Kwi Hong diajak oleh gurunya melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja. Dasar kakek sinting, begitu tiba di kota raja, dia langsung saja menuju ke gedung koksu, berdiri di depan pintu gerbang karena para penjaga melarang kakek sinting ini masuk. Sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang, kakek itu berteriak,

"Heh, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, keluarlah kamu dan hayo lawan aku Bu-tek Siauw-jin! Kalau aku kalah olehmu, biarlah aku meninggalkan muridku ini karena aku tidak pantas lagi menjadi gurunya!"

Para penjaga yang tadinya menghadang dan melarang kakek ini melalui pintu gerbang menjadi terkejut karena suara itu membuat mereka terpelanting ke kanan kiri dan mereka tidak mampu bangkit lagi, tubuh mereka menggigil dan mereka hanya dapat memandang dengan mata terbelalak saja ketika kakek itu bersama dara jelita di sampingnya memasuki pintu gerbang istana koksu seenaknya!

Kwi Hong juga terkejut, tidak menyangka bahwa gurunya akan bersikap selancang ini. Mestinya, menurut pendapatnya, mereka menyelidik dan menyusup ke dalam istana koksu di malam hari. Akan tetapi gurunya dengan terang-terangan menantang sambil berteriak-teriak seperti itu! Mana ada seorang koksu yang berpangkat tinggi ditantang begitu saja seperti seorang anak kecil menantang berkelahi anak kecil?

Teriakan yang disertai khikang kuat itu tidak saja membuat para penjaga di luar terpelanting, akan tetapi juga mengejutkan seluruh isi istana koksu karena bangunan besar itu seolah-olah tergetar dan akan ambruk! Berbondong-bondong keluarlah pasukan pengawal dengan senjata di tangan. Akan tetapi mereka menjadi ragu-ragu ketika melihat bahwa yang berjalan masuk dengan langkah lenggang kangkung itu hanyalah seorang kakek tua sekali yang tubuhnya pendek, hanya setinggi pundak dara jelita yang berjalan di sampingnya!

"Manusia lancang! Apakah engkau sudah bosan hidup berani mengacau gedung koksu?" Seorang perwira pengawal membentak.

"Heh-heh! Memang aku sudah bosan hidup!" jawab Bu-tek Siauw-jin seenaknya saja. "Apakah engkau ini Giam-lo-ong tukang cabut nyawa?"

Perwira itu merasa diejek dan dihina, maka cepat ia mengayun goloknya membacok ke arah kepala Bu-tek Siauw-jin. Kakek itu sama sekali tidak bergerak, juga dara cantik yang berdiri di sebelahnya dengan wajah dingin sama sekali tidak peduli.

"Wuuuuuttt... krekkkk!"

"Hayaa... aduuuuhhh...!" Perwira itu berteriak dan memegangi lengan kanannya yang patah tulangnya, seperti juga goloknya yang patah ketika bertemu dengan kepala kakek sinting itu!

Para anggota pasukan pengawal tentu saja memandang dengan bengong dan tak seorang pun berani maju menyerang. Sementara itu, Bhong Koksu sendiri bersama para pembantunya juga mendengar gema suara yang mengandung khikang kuat itu dan kini berbondong-bondong mereka keluar dari istana. Melihat munculnya koksu, para pasukan lupa akan rasa ngerinya dan menyerbu ke depan untuk mengeroyok Bu-tek Siauw-jin.

"Tahan...!" Seruan ini keluar dari mulut pendeta Maharya yang kemudian berbisik kepada koksu, "Harap Taijin perintahkan pasukan mundur. Dia adalah seorang yang tidak boleh dibuat main-main!"

"Semua pasukan mundur, biarkan kami menyambut tamu!" Koksu berseru dan para panglima segera membubarkan pasukan pengawal yang sudah mengurung dan hendak turun tangan mengeroyok.

Setelah para pasukan mundur, Bhong Ji Kun, Maharya dan Thian Tok Lama bersama lima orang panglima tinggi termasuk Bhe Ti Kong, maju menghampiri kakek pendek dan gadis cantik itu. Ketika mereka semua mengenal Kwi Hong mereka terkejut dan diam-diam mereka siap untuk mencabut senjata. Tentu saja mereka semua mengenal Giam Kwi Hong, murid atau keponakan Pendekar Super Sakti, penghuni Pulau Es yang dahulu pernah mereka tawan dalam kapal ketika mereka menyerbu Pulau Es itu. Tentu kedatangannya ada hubungannya dengan penyerbuan Pulau Es, akan tetapi siapakah kakek pendek yang tertawa-tawa itu?

Bu-tek Siauw-jin tidak memandang kepada orang lain kecuali kepada Maharya. Setelah memperhatikan pendeta India ini dari kepala sampai ke kaki naik turun beberapa kali, akhirnya dia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, bukankah engkau ini Si Maharya yang dulu sering kali bertanding gulat melawan aku di lereng Himalaya?"

Maharya merangkap sepuluh jari tangannya ke depan hidung sebagai penghormatan lalu menjawab sambil tertawa pula, "Siauw-jin, engkau masih hidup? Sungguh panjang usiamu!"

"Ha-ha-ha, tentu saja usiaku panjang karena aku masih ingin membuat engkau sekali lagi meniru bunyi kambing untuk menyatakan kalah. Heh-heh-heh, Kwi Hong muridku, pernahkah engkau mendengar permainan adu tenaga bergulat, dan yang kalah harus mengeluarkan bunyi seperti kambing sebagai tanda menyerah?"

Kwi Hong semenjak tadi menyapu orang-orang di depannya itu dengan pandang mata penuh kebencian, sikapnya dingin dan tangannya sudah gatal-gatal untuk segera turun tangan menyerang dan membalas dendam.

"Belum pernah, akan tetapi aku tidak tertarik, aku lebih suka melihat pendeta busuk ini mengembalikan Hok-mo-kiam kepadaku!"

"Ha-ha-ha, nanti dulu, itu urusan kecil. Dahulu, di lereng Himalaya, aku sering kali bergulat dengan Maharya ini dan entah sudah berapa kali dia meniru bunyi kambing menyatakan kalah. Wah, dia pandai benar meniru bunyi kambing, benar-benar seperti kambing tulen, ha-ha-ha!"

"Suhu, kurasa sekarang dia lebih pandai meniru bunyi anjing yang suka menjilat telapak kaki orang berpangkat!" Kwi Hong berkata mengejek.

Bhong Koksu segera maju dan mengangkat tangan memberi hormat kepada Bu-tek Siauw-jin yang dia dapat menduga tentu seorang yang amat sakti sehingga paman gurunya begitu menghormat dan mengalah. "Harap maafkan kalau saya tak mengenal Locianpwe yang agaknya sudah mengenal baik Paman Guru Maharya. Kehormatan apakah yang akan Locianpwe berikan kepada kami dengan kunjungan ini?" Koksu ini bersikap cerdik. Dia tahu bahwa gadis ini adalah murid Pendekar Super Sakti, mengapa kini menyebut suhu kepada kakek pendek ini? Setelah muncul sebagai murid kakek ini, dia bersikap hati-hati dan sengaja tidak mau menegur Kwi Hong.

"Ha-ha-ha, engkau murid keponakan Si Maharya? Koksu, kalau begitu engkau tentu murid sahabat ahli pembuat pedang Nayakavhira!"

"Ahh! Locianpwe sudah mengenal mendiang guru saya?"

"Ha-ha-ha! Nayakavhira adalah sahabat kontan, tidak seperti Maharya ini yang sejak mudanya dahulu licik dan curang. Jadi engkau muridnya? Aku mendengar dahulu bahwa Nayakavhira hanya mempunyai seorang murid, yaitu seorang pemuda tukang penggembala kuda!"

Wajah Koksu merah sekali karena dialah yang dimaksudkan itu. Dialah penggembala kuda itu! Cepat ia menyembunyikan pecutnya, senjata yang tadinya dibawanya untuk menghadapi musuh. Akan tetapi Bu-tek Siauw-jin lebih cepat lagi, tangannya bergerak dan tahu-tahu pecut itu seperti hidup, terlepas dari tangan Koksu dan berpindah ke tangannya.

"Bagus! Engkau penggembala kuda itu? Dan sekarang menggembalakan orang-orang termasuk paman gurunya sendiri? Ha-ha-ha!" Kakek itu mengembalikan pecutnya dan Koksu menjadi pucat. Cara kakek itu merampas pecutnya tadi sudah membuktikan bahwa kakek ini benar-benar lihai bukan main!

"Siauw-jin, engkau selamanya benar-benar seorang siauw-jin (manusia rendah budi)!" Maharya membentak marah. "Apakah kedatanganmu mau mencari permusuhan? Ataukah engkau masih mengingat akan hubungan lama dan kini hendak mencoba kepandaianku! Boleh kau coba, mengenai ilmu silat, ilmu sihir atau ilmu kebatinan!"

"Maharya, kembalikan pedang Hok-mo-kiam, kalau tidak, akan kubunuh sekarang juga engkau!"

"Bocah sombong!" Maharya membentak, tangan kirinya bergerak dan asap hitam menyambar ke arah muka Kwi Hong. Hanya sebuah serangan ringan saja, akan tetapi asap itu mengandung racun yang dapat membikin pingsan lawan. Namun Kwi Hong hanya tersenyum, sedikit pun tidak mengelak sehingga angin pukulan berikut asap itu mengenai mukanya.

Maharya terbelalak melihat betapa gadis itu sama sekali tidak terpengaruh, baik oleh angin pukulannya mau pun oleh asap beracun! Kwi Hong sudah menggerakkan jari tangan hendak mencabut pedang, akan tetapi tiba-tiba gurunya menyentuh lengannya dan tertawa.

"Ha-ha-ha, Maharya. Melawan muridku saja engkau tidak akan menang, maka engkau tidak menarik lagi menjadi lawan bertanding. Lawan mengadu kecerdikan dengan teka-teki, engkau pun takkan menang. Dahulu pun, teka-tekiku yang paling mudah sudah kuberi waktu tiga hari tiga malam engkau masih tidak mampu memecahkannya. Apa lagi sekarang! Eh, Kwi Hong, tahukah engkau bahwa teka-teki yang amat sederhana saja dia dahulu tidak becus menebak. Teka-tekiku dahulu itu begini, biar semua orang mendengar betapa mudahnya. Ada sebuah benda mati tercipta dari yang hidup, berkepala dan bertubuh lengkap, akan tetapi seluruh anggota tubuhnya, dari kepala sampai ke kakinya, semua menjadi satu. Nah, apa itu?"

Kwi Hong termenung, mengasah otak dan anehnya, semua orang di situ semua kelihatan mengerutkan alis, semua mencari pemecahan cangkriman ini, termasuk para panglima dan para pasukan yang berdiri di tempat jauh akan tetapi ikut mendengarkan kata-kata Si Kakek Pendek. Melihat ini Maharya terkejut bukan main. Biar pun hanya berupa olok-olok dan teka-teki yang dibuat kelakar, namun suara kakek itu ternyata telah mempengaruhi semua orang sehingga mereka semua lupa keadaan dan ikut mencari jawabannya. Ini saja sudah membuktikan betapa kuat sinkang kakek itu, betapa mukjizat dan tidak akan menanglah dia kalau bertanding ilmu sihir!

Tiba-tiba Maharya mengeluarkan suara tertawa bergelak, suara tawa yang melengking panjang dan bergema di udara seperti guntur, juga mirip suara kuda meringkik, dan semua orang menjadi sadar dengan penuh keheranan betapa mereka tadi sempat mencurahkan seluruh perhatian dan memeras otak untuk mencari jawaban sebuah teka-teki, sungguh merupakan hal yang janggal sekali pada saat seperti itu!

"Hemm, Maharya, engkau sekarang bisa tertawa. Kwi Hong, dia sekarang memandang rendah karena dahulu telah kuberi tahu jawabannya."

"Suhu, apa sih jawabannya? Teka-tekimu itu aneh dan sukar sekali!"

"Jawabannya? Dengar baik-baik...!"

Kembali semua orang, termasuk Koksu sendiri, mendengarkan penuh perhatian. Maharya terkejut dan pendeta ini maklum bahwa pada detik itu kalau Si Kakek Pendek mau mempergunakan kekuatannya, bisa saja dia mempengaruhi semua orang yang berada di situ, disuruh tidur tentu tidur, disuruh apa saja tentu menurut karena mereka semua telah terjatuh ke dalam cengkeraman kekuasaan hebat dari kakek pendek itu. Akan tetapi Bu-tek Siauw-jin hanya mendemonstrasikan kekuatannya saja dan tidak mau melakukan sesuatu, melainkan melanjutkan ucapannya yang sengaja dihentikan sebentar untuk menguasai perhatian semua orang.

"Jawabannya adalah... semut dipelintir. Ha-ha-ha-ha!"

Semua orang memandang heran, termasuk Kwi Hong. "Eh, Suhu, mengapa semut dipelintir?"

"Heh-heh, bukankah semut itu kalau dipelintir, seluruh anggota tubuhnya menjadi satu, sukar dibedakan mana kepala mana kaki lagi? Dan semut itu tadinya hidup, maka benda yang berupa semut dipelintir itu tercipta dari yang hidup dan tentu saja menjadi benda mati!"

Semua orang, termasuk Koksu, tersenyum menyeringai karena merasa dipermainkan seperti anak kecil oleh kakek yang sinting ini.

"Bertanding kesaktian, engkau tentu kalah, Maharya. Bertanding sihir, engkau masih harus berguru seratus tahun lagi. Bertanding teka-teki pun engkau tak akan menang..."

"Siauw-jin, aku hendak menantangmu untuk bertanding pengetahuan kebatinan!" tiba-tiba Maharya berkata tegas.

"Heh-heh, begitu? Boleh! Paling-paling engkau paham filsafat Hindu dan Buddha, dan aku sudah hafal semua."

"Harus memakai taruhan!" kembali Maharya berkata. "Tentu saja kalau kau berani, kalau tidak aku pun tidak akan memaksamu."

"Wah-wah, sejak dahulu engkau memang licik dan curang, bermulut manis dan pandai menggunakan akal bulus! Tahu kau akal bulus? Kalau berdepan, menyembunyikan kepala ke dalam perut, kalau ditinggal, menggigit dari belakang! Akan tetapi jangan kira aku takut. Nah, apa taruhannya?"

"Begini! Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan mengenai hidup yang amat pelik dan engkau harus dapat menjawabnya dengan tepat berikut uraian dan alasannya agar jangan ngawur belaka. Kalau engkau mampu menjawab, kami akan menerimamu sebagai tamu dan sahabat baik, dan semua permintaan Nona yang menjadi muridmu ini tentu akan kami pertimbangkan baik-baik. Akan tetapi kalau engkau tidak bisa menjawab, engkau dan muridmu harus pergi dari sini tanpa banyak ribut lagi dan tidak boleh mencari perkara. Aku beri waktu satu bulan kepadamu dan selama kau memikirkan jawabannya, engkau boleh tinggal di dalam kamar tahanan bersama muridmu selama sebulan dengan jaminan makan minum secukupnya. Bagaimana? Beranikah kau menerima tantanganku ini?"

"Ha-ha-ha! Cukup adil! Boleh sekali, tetapi ingat, kalau sampai aku bisa menjawab, segala permintaanku harus kau penuhi. Permintaanku tidak banyak, hanya menantang Koksu, engkau dan dia ini... ehhh, bukankah aku pernah melihat hwesio gendut ini di Tibet? Kalau tidak salah, ada seorang lagi yang kurus kering, dua orang Lama dari Tibet..."

Thian Tok Lama merangkap kedua tangannya di depan dadanya. "Omitohud, ingatan Locianpwe benar-benar tajam sekali. Memang pinceng adalah Thian Tok Lama dari Tibet."

"Bagus! Dari India, dari Tibet, semua berkumpul di sini mengabdi kepada Mancu, ya? Luar biasa. Nah, aku akan menantang kalian bertiga mengadu ilmu, sedangkan permintaan muridku adalah... eh, Kwi Hong, apa permintaanmu kalau aku menang bertaruh? Jangan malu-malu, katakan saja!"

"Suhu," Kwi Hong mengerutkan alisnya, hatinya kurang senang. "Mengapa urusan ini dibuat main-main? Lebih baik sekarang saja gempur mereka!"

"Wah, jangan begitu! Apa kau mau merampas kesenanganku bertaruh? Jangan khawatir, aku pasti menang. Nah, jika aku menang, apa permintaan dan tuntutanmu?"

"Permintaanku, pertama Maharya harus mengembalikan Hok-mo-kiam dan kupotong ujung hidungnya yang terlalu panjang karena dia telah berani membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang. Kedua, Koksu yang memimpin pasukan yang merusak Pulau Es harus membangun kembali pulau itu seperti dahulu dan berlutut minta ampun ke depan Pendekar Super Sakti, menerima segala hukuman dan keputusan yang dijatuhkan oleh Pendekar Super Sakti."

"Nah, bagaimana, Maharya?"

Koksu hendak membantah. Tentu saja tuntutan itu amat berat dan tak mungkin dilaksanakan. Biar pun kakek pendek ini lihai bukan main, akan tetapi setelah berani memasuki istananya dan dikurung oleh ratusan pengawal, bahkan kalau dia menggerakkan pasukan sampai ribuan orang pun tidak sukar, perlu apa takut dan mengalah. Akan tetapi Maharya sudah cepat menjawab,

"Boleh! Nah, mari kita masuk ke ruangan dalam untuk mulai bertanding pengetahuan ilmu kebatinan."

"Suhu...!" Kwi Hong menyatakan keraguannya dengan pandang mata.

Sungguh amat bodoh memasuki istana itu, sama saja dengan memasuki goa harimau. Akan tetapi gurunya tersenyum lebar dan berkata, "Jangan ragu-ragu, masuk saja. Hendak kulihat apa yang akan dikeluarkan dari perut Maharya!"

Bagaikan seorang pahlawan yang pulang dari medan perang membawa kemenangan, Bu-tek Siauw-jin berjalan penuh gaya. Dadanya diangkat membusung, wajah berseri, mulutnya tersenyum-senyum dan matanya memandang ke kanan kiri! Akan tetapi Kwi Hong berjalan dengan hati-hati, agak menunduk dan sepasang matanya yang indah mengerling ke kanan kiri, siap siaga menghadapi penyerangan gelap atau jebakan musuh.

Koksu kini mengerti bahwa Maharya hendak menundukkan kakek pendek itu secara halus, maka dia pun diam saja, hanya diam-diam dia memberi isyarat kepada para pembantunya untuk mengadakan persiapan dan mengerahkan pasukan untuk menjaga dan mengurung. Ada pun Maharya diam-diam memperhatikan Bu-tek Siauw-jin.

Puluhan tahun yang lalu dia memang pernah bertemu dengan Bu-tek Siauw-jin di lereng Pegunungan Himalaya yang tinggi dan kakek ini dahulu hanya mengaku berjuluk Siauw-jin saja, sebuah ‘julukan’ yang amat aneh dan kiranya orang sedunia, apa lagi seorang tokoh kang-ouw yang berilmu, tidak ada yang sudi menggunakannya karena Siauw-jin berarti manusia rendah budi! Dan orang pendek itu sejak dahulu memang berwatak ugal-ugalan, namun penuh rahasia dan memiliki ilmu yang aneh-aneh.

Memang Bu-tek Siauw-jin, tokoh atau datuk kedua Pulau Neraka ini amat berbeda dengan suheng-nya, Cui-beng Koai-ong datuk pertama Pulau Neraka. Kalau Cui-beng Koai-ong selalu menyembunyikan diri, lebih banyak berdekatan dengan mayat-mayat dan kerangka-kerangka manusia dari pada dengan manusia hidup dan mencari ilmu-ilmu hitam di dalam tanah-tanah kuburan, sebaliknya Bu-tek Siauw-jin ini selain mencari ilmu-ilmu hitam di kuburan, juga suka melakukan perantauan tanpa tujuan dengan menggunakan nama samaran Siauw-jin dan tak pernah mengaku bahwa dia datang dari Pulau Neraka. Karena itu, dia telah merantau sampai jauh ke barat, melalui Himalaya, Tibet, sampai ke India dan Nepal. Akan tetapi namanya tidak terkenal dan dia hanya dikenal oleh orang yang pernah berjumpa dengannya sebagai seorang yang berotak miring atau berwatak sinting. Di lain pihak, biar pun dia sendiri tidak terkenal, namun dalam perantauannya ini Bu-tek Siauw-jin mengenal dunia kang-ouw dan mengenal pula atau setidaknya mendengar nama para tokoh kang-ouw dan tahu akan kelihaian dan keistimewaan mereka.

Mereka telah memasuki ruangan yang luas. Yang ikut masuk ke dalam ruangan itu mengiringkan Bu-tek Siauw-jin dan Kwi Hong adalah Maharya, Koksu, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan belasan orang panglima pengawal. Namun tentu saja dengan diam-diam ruangan itu, juga gedung itu, telah dikurung oleh pasukan yang melakukan penjagaan ketat.

Tanpa dipersilakan lagi, Bu-tek Siauw-jin lalu duduk di atas kursi, menyambar seguci arak dan minum arak itu tanpa cawan dan tanpa penawaran tuan rumah lagi. Arak itu dituangkan begitu saja ke mulut sampai gucinya kosong! Kemudian ia mengembalikan guci kosong ke atas meja, mengusap bibir dengan ujung lengan baju dekil dan berkata,
"Nah, keluarkan isi perutmu, Maharya. Pertanyaan tentang ilmu batin apa yang hendak kau ajukan untuk kupecahkan dan jawab? Hayo, keluarkan seluruh kepunsuanmu (kepandaianmu)!"

Semua orang mengambil tempat duduk, kecuali Kwi Hong yang hanya berdiri di belakang gurunya, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan meraba gagang pedang, wajahnya dingin. Kalau ada orang yang sudah mengenal Kwi Hong sebelum ia menjadi murid Bu-tek Siauw-jin, tentu kini akan terheran-heran melihat betapa wajah dan sikap dara itu berubah sama sekali. Kini wajah yang dahulu cerah dan riang itu kelihatan muram dan dingin, sikapnya angkuh dan memandang rendah. Tanpa disadarinya oleh dia sendiri, pengaruh ilmu mukjizat yang dimilikinya telah menguasai batinnya!

Hal ini tidak diketahui oleh Bu-tek Siauw-jin. Kakek ini adalah seorang yang telah memiliki batin kuat sekali, dan memang memiliki dasar yang baik sehingga dia dapat mengatasi pengaruh segala ilmu hitam yang dipelajarinya...


BERSAMBUNG KE JILID 18