Sepasang Pedang Iblis Jilid 09

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 09

"Anak buahmu keok semua oleh Pendekar Siluman! Sudahlah, aku tidak perlu mendengar lebih lanjut. Eh, apakah Locianpwe ini Majikan Pulau Neraka?"

Kakek itu mengangguk. "Aku memang Ketua Pulau Neraka... ehhh, maksudku, bekas ketua."

Bun Beng tidak ingin tahu lebih banyak tentang pulau itu, maka ia lalu melorot terus sambil berkata, "Sudahlah. Aku sudah mengaku namaku, sekarang aku akan turun."

"Wah, mana bisa? Kalau kau turun kemudian kau memutuskan tali layang-layang dari bawah, bukankah aku yang cia-lat?"

Bun Beng berhenti dan memandang ke atas, alisnya terangkat. "Apakah Locianpwe tidak percaya kepadaku? Aku bukanlah orang yang curang seperti Locianpwe!"

"Heh-heh-heh, siapa tahu? Engkau anak Setan Botak. Dalam hal kelicikan, kecurangan dan segala macam sifat busuk ini, di dunia tidak ada yang menyamai dia, siapa tahu sifat liciknya menurun kepadamu. Tunggu, aku pun akan turun!"

Bun Beng tidak peduli dan melanjutkan usahanya merosot turun melalui tali layang-layang, namun tiba-tiba kakek itu berteriak. "Wah, celaka tiga belas! Taufan datang...!"

Teriakan itu dikeluarkan dengan suara keras dan penuh rasa kaget, membuat Bun Beng menengok. Dari jauh tampak awan hitam datang cepat sekali dan tidak lama kemudian, layang-layang itu meliuk ke kiri dengan kekuatan yang hebat.

"Lekas kita turun, Locianpwe!"

"Tidak bisa, terlambat! Lekas kau naik ke sini kalau mau selamat!"

Bun Beng tidak mau menurut dan hendak merosot terus, tetapi mendadak tali layang-layang itu menegang dan bergetar hebat sehingga hampir saja ia tidak kuat bertahan memeganginya karena telapak tangannya terasa nyeri bukan main. Maklumlah dia bahwa kakek itu tidak membohong, sebab itu kini dia mulai merayap naik melalui tali layang-layang.

"Cepat pegang tanganku!" Kakek itu berkata, napasnya agak terengah karena dia yang sekarang mengulurkan tangan untuk membantu Bun Beng naik harus mengendalikan layang-layang yang menjadi liar itu dengan sebelah tangan saja. Bun Beng memegang tangan itu dan dia ditarik naik.

"Berdiri di sini dan pegang tali-temali di atasmu dengan tangan, hati-hati jangan banyak bergerak dan jangan terlalu erat. Turut dan contoh saja aku!"

Kakek itu tak dapat bicara banyak. Kini angin taufan telah mengamuk hebat, membuat layang-layang itu menjadi seperti seekor kuda binal dan tidak dapat dikendalikan lagi. Layang-layang itu kadang-kadang naik makin tinggi, tinggi sekali sampai melengkung seperti akan membalik dari arah angin, lalu terdorong kembali ke belakang dan talinya menegang, meliuk ke kiri sampai seperti tak pernah berakhir, kemudian terdorong ke kanan dan ada kalanya menukik ke bawah secara mengerikan karena kecepatannya luar biasa. Suara angin bercuitan menulikan telinga, dan tali layang-layang itu juga mengeluarkan bunyi berdering-dering seperti sehelai tali yang-kim ditabuh, suaranya kadang-kadang rendah sesuai dengan tinggi rendahnya getaran yang disebabkan oleh tarikan layang-layang yang terbawa angin taufan.

Kakek itu memaki-maki Bun Beng. "Sialan! Engkau bodoh seperti kerbau! Begini lho! Tekan kaki kanan ke depan, cepat. Bantu aku, dong! Bagaimana sih? Setan cilik tolol kau! Dengar baik-baik, jangan sampai layang-layang terus menukik, dan jangan sekali-kali menentang arah angin langsung. Bisa celaka kita! Pindahkan tenaga ke kaki kiri, kaki kanan lepas, tangan kanan menarik tali di atas, cepat! Nah, sekarang kaki kanan yang menekan, tangan kiri menarik. Hayo, seperti bermain layar, akan tetapi jauh lebih sukar, seratus kali lebih sukar!"

Payah juga Bun Beng mengikuti gerakan serta perintah kakek itu. Tenaga yang harus digunakan untuk melawan kekuatan angin ini merupakan tenaga seluruhnya, itu pun hampir tidak ada artinya terhadap kekuatan angin yang maha dahsyat itu. Kini kakek itu memerintahkan agar tenaga dirubah-rubah, bagaimana mungkin begitu mudah? Hampir beberapa detik harus dirubah lagi. Bun Beng merasa seluruh tubuhnya ngilu dan sakit-sakit, kedua kakinya menggigil dan kedua tangannya gemetar, hampir tak kuat memegang tali-temali layang-layang lebih lama lagi.

"Tolol! Jangan berhenti! Aku sendiri mana kuat mengemudikan layang-layang ini? Kalau tidak ada engkau di sini, tentu aku dapat, akan tetapi ditambah beratmu, benar-benar repot!"

Sementara itu angin bertiup makin keras, kini malah disertai kilat menyambar-nyambar, halilintar bermain-main di atas dan kanan kiri mereka. Cuaca menjadi gelap, bahkan kini percikan air-air halus yang amat kuat sehingga seperti berubah menjadi laksaan jarum-jarum kecil menerjang mereka.

"Celaka... celaka...!" Kakek itu makin repot dan jelas bahwa dia ketakutan.

Bun Beng yang biasanya senang menghadapi maut, menyaksikan sikap kakek itu jadi ketularan rasa takut. Memang keadaan amat mengerikan, dibawa oleh layang-layang dan dipermainkan angin taufan, halilintar dan hujan seperti itu!

"Dengar baik-baik kalau kau tidak ingin mati turut perintahku dan pelajari agar jangan sampai gagal. Taufan ini berbahaya sekali, untuk turun sekarang tidak mungkin. Satu-satunya jalan hanya mengemudikan layang-layang ini sebaik mungkin agar tidak sampai menukik turun atau talinya putus." Kakek itu sukar sekali bicara dengan jelas karena kencangnya angin meniup terbang suaranya. Terpaksa ia lalu merangkul Bun Beng dan berteriak. "Rangkul aku dan dekatkan telingamu pada mulutku!"

Setelah Bun Beng melakukan perintah ini, Kwi-bun Lo-mo lalu membisikkan pelajaran sedikit demi sedikit caranya menggerakkan tenaga pada kaki dan tangan, mengatur bobot, memindah-mindahkan tenaga dalam untuk mengimbangi serangan angin yang amat dahsyat. Bun Beng mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian sekalian mempraktekkan pelajaran itu mencontoh gerakan kakek aneh dan membantunya mengemudikan layang-layang.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan berbahaya itu dia telah menerima pelajaran ilmu rahasia yang sangat hebat, yaitu Ilmu Hoan-sinkang (Memindahkan Tenaga Sakti) yang tidak hanya dapat dipergunakan untuk mengemudikan layang-layang melawan serangan angin taufan yang maha dahsyat, tetapi juga merupakan ilmu yang dapat dipergunakan untuk menghadapi lawan berat yang memiliki sinkang amat kuat! Ilmu ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang dimiliki Ketua atau Majikan Pulau Neraka, dan selain Si Ketua sendiri, hanya kakek inilah orang kedua yang memilikinya, maka dia berani main-main dengan maut di tempat berbahaya itu, yaitu bermain dan mengemudikan layang-layang.

Mati-matian kedua orang itu bertempur dengan angin taufan, secara bersama-sama mengemudikan layang-layang yang mereka paksa untuk menuruti kehendak mereka, melawan kehendak angin. Sampai setengah hari lamanya angin taufan mengamuk dan selama setengah hari itu merupakan latihan yang amat hebat bagi Bun Beng, latihan terberat yang pernah ia alami selama hidupnya, akan tetapi karena keadaan yang memaksa, demi menolong nyawa, dalam waktu sependek itu ia telah berhasil memetik inti dari ilmu ini!

Menjelang senja barulah angin taufan itu mereda, hujan pun berhenti. Dengan pakaian basah kuyup kedua orang itu terengah-engah berdiri di atas tali dan berpegang pada tali layang-layang yang juga basah semua dan luntur gambarnya. Mereka kehabisan tenaga dan kini hanya mengandalkan kaki tangan yang sudah gemetar karena penat, tubuh menggigil kedinginan dan kehabisan tenaga. Akan tetapi kakek itu menyeringai tersenyum lebar memandang Bun Beng.

"Engkau hebat, orang muda. Ha-ha-ha, tidak percuma engkau menjadi putera Gak Liat, heh-heh-heh!"

Melihat betapa kakek itu bicara sebenarnya, tidak mengolok-olok dan memaki-maki lagi, Bun Beng berkata sungguh-sungguh. "Locianpwe yang hebat dan aku kagum sekali. Sebetulnya, macam apakah mendiang Ayah itu?"

"Gak Liat? Ya begitulah, seorang manusia seperti aku dan engkau ini," jawab kakek itu seenaknya.

"Akan tetapi banyak orang menyebutnya seorang jahat. Dan Locianpwe sendiri tadi mengatakan dia seorang yang licik dan curang."

"Memang dia licik dan curang, nomor satu di dunia mengenai kelicikannya. Akan tetapi kalau tidak licik, mana mungkin dia menjadi datuk kaum sesat? Tanpa kelicikan, mana mungkin dapat menonjol di dunia hitam?" Biar pun kakek itu mulai memuji ayahnya, namun pujian ini mendatangkan rasa tak puas di hati Bun Beng. Bagaimana hatinya akan senang dan puas kalau ayahnya dipuji sebagai seorang yang paling licik di dunia, sebagai seorang tokoh, bahkan datuk kaum sesat?

"Sudahlah, Locianpwe. Terima kasih atas pertolonganmu, aku hendak turun sekarang."

Setelah berkata demikian, Bun Beng merosot turun dan biar pun kedua telapak tangannya menjadi panas karena tenaganya sudah hampir habis, namun rasa nyeri itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan kesengsaraan selama setengah hari tadi dan ia merosot terus.

"He, tunggu! Apa kau kira aku selamanya akan tinggal di sini? Aku pun mau turun!" Kakek itu bergegas turun pula dari tali layang-layang yang kini terbang dengan anteng dibawa angin semilir halus.

Keduanya lalu merosot turun melalui tali layang-layang yang amat tinggi itu. Demikian tingginya layang-layang itu sehingga Bun Beng melihat pohon-pohon amat kecil di bawah, seperti rumput saja. Ia bergidik. Bukan main kakek bermuka kuning itu, main-main dengan maut seperti itu. Apa sih senangnya bermain-main dengan layang-layang yang begitu tinggi? Memang menegangkan, seperti seekor burung garuda terbang di angkasa, akan tetapi bagaimana kalau tali layang-layang putus? Bagaimana kalau kehabisan angin dan layang-layang itu melayang turun? Benar-benar permainan yang berbahaya dan gila!

"Ha, Bun Beng, aku amat girang dapat bertemu denganmu. Aku akan dapat memenuhi permintaan mendiang Ayahmu. Ikutlah bersamaku dan engkau akan memperoleh kepandaian hebat, apa lagi kalau Pangcu kami bersedia membimbingmu. Ketua kami adalah seorang yang memiliki kepandaian seperti..."

"Iblis!" Bun Beng menyambung. "Ketua Pulau Neraka tentu seorang iblis."

"Ha-ha-ha! Engkau seperti Ayahmu. Memang benar kepandaiannya hebat seperti iblis sendiri."

Bun Beng tidak menjawab dan mencari akal bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari kakek yang melorot turun di atasnya itu. Dia tidak sudi menjadi anggota Pulau Neraka seperti dia tidak mau menjadi anggota Thian-liong-pang. Biar dia dijanji akan diberi pelajaran ilmu yang tinggi, yang tidak diragukannya lagi, akan tetapi satu-satunya yang ia mau menjadi gurunya hanyalah Pendekar Siluman! Kalau Pendekar Siluman yang mengajaknya ke Pulau Es, tentu dia tidak akan menolak, bahkan akan menjadi girang sekali. Kini dia mencari akal bagaimana dapat melarikan diri dari kakek itu. Dia mempercepat gerakan kaki tangannya melorot turun, akan tetapi kakek itu tetap berada dekat di atas kepalanya!

Tiba-tiba Kwi-bun Lo-mo berteriak sambil menggerak-gerakkan tangan ke bawah.

"Heiii...! Bangkotan busuk, pengecut laknat, jangan curang kau! Tunggu sampai aku turun dan kita boleh bertanding sampai selaksa jurus!"

Bun Beng cepat memandang ke bawah dan ia juga terkejut sekali. Di bawah sana ia melihat bahwa tali layang-layang itu oleh Si Kakek aneh diikatkan pada sebatang pohon besar dan ujung tali malah dikaitkan kuat-kuat pada sebuah batu karang yang kokoh. Kiranya setelah kakek itu berhasil menaikkan layang-layangnya sampai tinggi sekali, ia mengikat tali itu di sana kemudian agaknya kakek itu lalu memanjat ke atas melalui tali layang-layang untuk kemudian bermain-main di atas!

Dan kini di dekat pohon itu tampak seorang kakek bersorban dengan tubuh dibelit-belit kain kuning seperti mendiang Kakek Nayakavhira pembuat pedang yang dulu datang menunggang gajah dan juga pernah bertanding dengan kakek muka kuning ini! Di belakang kakek ini tampak seorang laki-laki tampan, dan yang membuat Bun Beng merasa terkejut adalah ketika melihat betapa kakek bersorban itu menghampiri tali layang-layang dan agaknya hendak memutus tali itu!

"Ha-ha-ha!" Kakek itu tertawa bergelak.

Agaknya Kwi-bun Lo-mo baru tahu bahwa kakek bersorban itu bukanlah kakek India penunggang gajah yang dulu pernah bertempur dengannya. Tentu saja Bun Beng mengerti bahwa kakek di bawah itu bukan Nayakavhira karena biar pun hampir sama, kakek di bawah itu lebih tinggi dan kurus, juga kulitnya lebih hitam.

"Setan India! Jangan curang, tunggu aku turun kalau berani!" Kembali Kwi-bun Lo-mo berteriak sambil melorot makin cepat mengikuti Bun Beng, akan tetapi jarak antara mereka dengan tanah masih terlampau tinggi sehingga kalau sekarang tali itu diputus, mereka akan celaka!

"Bun Beng, kau melorot sambil bergantung. Jangan menghalangi aku. Kalau dia berani memutus tali, akan kuarahkan jatuhku ke tubuh si keparat itu!" Kwi-bun Lo-mo berseru dan Bun Beng melanjutkan gerakannya merosot sambil bergantung ke bawah.

"Ha-ha-ha, kalian berdua bermain-main dengan maut. Nah, mampuslah!" Orang India yang tertawa-tawa itu meloncat dekat dan menggerakkan tangan hendak memutus tali layang-layang.

Bun Beng sudah merasa ngeri, apa lagi setelah kini mengenal kakek India itu sebagai kakek sakti yang pernah bertanding melawan Pendekar Siluman, pertadingan yang amat luar biasa di mana kedua orang sakti itu mempergunakan ilmu sihir sehingga yang bertanding adalah bayangan atau semangat mereka!

Celaka, pikirnya, andai kata mereka dapat turun juga, ia merasa ragu-ragu apakah Kwi-bun Lo-mo mampu menandingi kakek yang memiliki ilmu sihir itu! Dan laki-laki yang berada di belakang kakek bersorban itu pun dia kenal, karena laki-laki itulah yang dahulu pernah menculik Kwi Hong, laki-laki berpakaian sastrawan yang setengah gila dan yang mencuri pedang pusaka buatan Kakek Nayakavhira!

Mendadak berkelebat bayangan yang gesit sekali dibarengi bentakan halus, "Iblis tua keparat!"

Muncullah seorang dara yang gerakannya gesit sekali. Bayangannya didahului sinar dari pedangnya yang dia gunakan untuk menerjang kakek bersorban dengan gerakan luar biasa. Pedangnya membentuk lingkaran pada ujungnya seolah-olah hendak mengguratkan lingkaran pada dada kakek bersorban. Menghadapi serangan hebat ini, kakek ini berseru kaget dan cepat meloncat mundur, tidak mendapat kesempatan untuk memutus tali layang-layang. Namun dara itu terus menyerangnya dengan gerakan luar biasa, pedangnya lenyap menjadi sinar bergulung-gulung yang seolah-olah merupakan awan atau kabut menggulung tubuh kakek bersorban!

"Hayo cepat turun!" Kwi-bun Lo-mo berseru.

Tanpa diperintah pun Bun Beng sudah mempercepat gerakannya merosot turun dan bukan main lega hatinya setelah kedua kakinya merasai tanah yang teguh dan kuat. Hampir saja ia terhuyung karena setelah kini menginjak tanah, tubuhnya masih terasa ringan seolah-olah tak berubah, seperti orang mabok arak. Akan tetapi semenjak tadi pandang matanya tidak terlepas dari dara yang masih menyerang kakek bersorban.

Bukan main hebatnya terjangan gadis itu dan jantung Bun Beng berdebar tegang ketika ia mengenal dara itu. Biar pun kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik, namun tidak salah lagi, dia itu adalah Giam Kwi Hong, murid atau juga keponakan Pendekar Siluman! Kakek bersorban itu, yang Bun Beng tahu amat sakti, sampai terdesak mundur, repot mengelak dari sambaran pedang di tangan Kwi Hong.

"Ha-ha-ha-ha, kiranya engkau bukan tua bangka penunggang gajah!" Kwi-bun Lo-mo tertawa.

Pada saat Maharya, kakek India itu mencelat ke kanan untuk menjauhi sinar pedang Kwi Hong dan berada dekat dengannya, Kwi-bun Lo-mo cepat menghantam dengan kedua lengan didorongkan ke depan. Terdengar bunyi bersuit dan angin menyambar ke arah kakek bersorban yang cepat mendorongkan pula kedua tangannya menangkis.

"Dessss!" Dua tenaga sinkang raksasa bertemu dan kedua orang kakek itu terpental ke belakang.

"Wah-wah, kau hebat juga...!" Kwi-bun Lo-mo berseru kaget.

"Mundurlah kalian bertiga...!" Tiba-tiba Maharya membentak, suaranya menggeledek penuh wibawa yang aneh dan bagaikan menanti perintah yang tak dapat dibantah lagi karena segala kemauan hati mereka dikuasai perintah ini, Kwi-bun Lo-mo, Kwi Hong dan Bun Beng otomatis meloncat mundur sampai lima meter!

"Locianpwe, Nona Kwi Hong, awas dia mempunyai ilmu sihir! Jangan memandang matanya dan jangan mendengar suaranya!" Bun Beng cepat berteriak, kemudian ia mendahului menerjang laki-laki yang sejak tadi hanya menonton Maharya bertanding dengan Kwi Hong.

Laki-laki ini bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang tadi bengong memandang Kwi Hong dengan penuh gairah. Dia tadi tidak membantu karena tentu saja ia percaya penuh akan kesaktian gurunya. Akan tetapi melihat betapa dua orang yang secara aneh turun dari tali layang-layang itu bukan orang sembarangan pula, apa lagi kini Bun Beng meloncat maju dan menyerangnya dengan gerakan dahsyat, dia terkekeh, memandang rendah pemuda itu dan mengelak sambil balas menyerang.

Bun Beng menjadi heran melihat gerakan lawan yang luar biasa. Kedua kaki lawan tidak meninggalkan tanah, akan tetapi tubuhnya bisa meliuk-liuk dengan lemas, seperti sebatang pohon cemara pecut tertiup angin. Tubuh atas itu meliuk ke kiri, kemudian membalik sambil balas menyerang dengan tangan kanan menghantam perutnya. Ketika ia menangkis dan menggeser kaki kanan, tahu-tahu tangan kiri lawan sudah mencengkeram kepalanya, hal yang luar biasa sekali mengingat bahwa tangan kiri lawannya itu berada dalam posisi jauh. Tangan kiri itu tiba-tiba memanjang, seperti karet yang dapat mulur dan tahu-tahu jari-jari-nya telah dekat dengan kepalanya.

"Ehhh...!" Ia berseru dan cepat meloncat mundur sambil melepas tendangan ke arah lengan yang sudah ditarik kembali oleh Tan-siucai sambil terkekeh-kekeh.

Sementara itu Kwi Hong yang terheran-heran saat mendengar pemuda tampan itu dapat menyebut namanya, teringat bahwa Maharya memang pandai ilmu sihir, maka otomatis ia pun mentaati peringatan pemuda itu, tidak mau memandang mata kakek bersorban dan dengan kekuatan batinnya ia menulikan telinga agar jangan mendengar bentakan Si Kakek tukang sihir yang mengandung penuh daya melumpuhkan itu. Ia sudah menerjang maju lagi dengan tusukan pedangnya, disusul serangkaian serangan hebat yang membuat Maharya kembali terdesak.

Kwi-bun Lo-mo yang sekarang sudah dapat menguasai dirinya kembali setelah tadi terpengaruh sihir Maharya, merasa kagum kepada Bun Beng yang semuda itu sudah tahu akan ilmu kakek bersorban. Dia pun maklum bahwa ilmu sihir semacam I-hun-to-hoat untuk mempengaruhi pikiran orang mengandalkan kekuatan pandang mata dan getaran suara yang mengandung sinkang amat kuat, maka apabila dapat mengelakkan pandang mata dan suara itu tentu sihir itu tidak akan mempunyai daya kekuatan. Maka ia pun menutup pendengaran dan menghindarkan pertemuan pandang mata, lalu tertawa mengejek.

"He-heh-heh, kau dukun dari Himalaya yang busuk, tanpa sebab kau hendak memutus tali layang-layangku. Sekarang kau kena kutuk para dewamu, bertemu dengan seorang pemuda yang cerdik, seorang dara yang lihai sekali, dan aku yang akan mengirim nyawamu kembali ke puncak Himalaya!"

Sambil mengejek demikian, Kwi-bun Lo-mo maju pula menerjang, membantu Kwi Hong. Karena tokoh Pulau Neraka ini pun maklum bahwa Maharya bukanlah seorang lemah, bukan hanya mengandalkan ilmu sihirnya melainkan memiliki ilmu kepandaian hebat pula dan bertenaga sinkang kuat sekali, maka begitu menyerang ia pun mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus khas dari Pulau Neraka.

Kedua tangannya tiba-tiba berubah menjadi lunak seperti kapas, namun di balik telapak tangan yang menjadi lunak ini tersembunyi kekuatan dahsyat yang akan merusak sebelah dalam tubuh lawan jika bertemu dengan tangan lunak ini. Sesuai dengan namanya yaitu Toat-beng-bian-kun (Tangan Lemas Mencabut Nyawa), ilmu ini adalah ilmu baru yang diterimanya dari Ketua Pulau Neraka. Karena ilmu pukulan tangan kosong ini telah digabung dengan ilmu khas keturunan Pulau Neraka, yaitu hawa dan tenaga beracun yang membuat warna kulit mereka berubah, maka tentu saja pukulan-pukulan tangan yang kelihatannya lemas tak bertenaga dan lunak itu mengandung bahaya mengerikan dan setiap gerakan merupakan maut bagi lawan!

Maharya yang biasanya memandang rendah setiap lawan, kini terkejut sekali. Biar pun tadi ia kelihatan terdesak oleh gulungan sinar pedang Kwi Hong yang seperti kilat menyambar-nyambar, namun dia tidak gentar dan menghadapi dengan tangan kosong saja. Akan tetapi, setelah sekali menangkis dan lengannya tersentuh tangan Kwi-bun Lo-mo yang mengandung Ilmu Toat-beng-bian-kun dan membuat lengannya panas dan gatal, ia terkejut bukan main, berteriak keras dan melompat mundur sambil menggerakkan kedua tangannya ke sebelah dalam pakaiannya.

Sekarang dia telah memegang sepasang senjata yang amat aneh. Tangan kirinya kini telah memakai sarung tangan yang berkilauan seperti emas, sedangkan tangan kanannya memegang seekor ular putih yang kecil dan panjangnya hanya dua kaki, akan tetapi ular putih itu masih hidup!

"Ha-ha-ha, dukun hitam, apa engkau mau main sulap mencari uang kecil? Bukan di sini tempatnya, melainkan di pasar! Aku tidak mempunyai uang kecil sepeser pun, apa lagi yang besar!" Sambil tertawa mengejek, Kwi-bun Lo-mo menerjang lagi dengan tangannya yang beracun, maklum bahwa pertemuan yang satu kali tadi, biar pun tentu saja tidak akan melukai lawan yang begitu pandai akan tetapi sedikitnya membuat hati lawan gentar.

Kwi Hong yang tidak banyak bicara sudah menusukkan lagi pedangnya. Kini Maharya tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kiri yang bersarung tangan emas itu menangkap pedang. Bukan main kagetnya Kwi Hong karena merasa pedangnya tergetar. Ia menarik kembali pedangnya dan pada saat itu Maharya melepas pedang sambil menggunakan tenaga sinkang mendorong.

"Aihhhhh!" Hanya dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik di udara sampai lima kali Kwi Hong dapat menghindarkan diri dari tolakan tenaga sinkang yang dapat melukai isi dadanya itu! Ia terkejut dan maklum bahwa selain sarung tangan yang dipakai kakek India itu tidak mempan senjata, juga bahwa tenaga kakek itu masih jauh melampaui tenaganya sendiri!

Kini Kwi-bun Lo-mo sudah menerjang maju, menggunakan tangan kanan memukul dengan tangan lunaknya yang beracun untuk memberi kesempatan gadis berpedang itu memulihkan kedudukannya. Maharya mengangkat tangan kiri, menangkis pukulan itu dan tangan kanannya digerakkan.

"Plakkk!" Kedua tangan bertemu dan Kakek Kwi-bun Lo-mo terkejut karena tangan bersarung emas itu kiranya sanggup menerima pukulan Toat-beng-bian-kun, dan kini secara tiba-tiba ular yang dipegang ekornya itu melayang dan menyambar lehernya dengan mulut terbuka lebar, mendesis dan menggigit! Ia cepat miringkan kepalanya akan tetapi tetap saja ular itu dapat menggigit pundaknya.

"Mampus kau!" Maharya berseru girang.

"Ha-ha-ha, gigitan cacing itu enak sekali rasanya, menambah vitamin di tubuhku. Suruh dia gigit lagi, dukun India! Ha-ha-ha!" Biar pun pundaknya mengeluarkan sedikit darah, akan tetapi Kwi-bun Lo-mo masih tertawa-tawa. Di dalam tubuhnya yang berkulit kuning itu telah mengalir darah yang penuh racun, mana dia takut akan segala gigitan ular beracun?

Kakek India itu terkejut sekali dan dengan marah dia lalu menyerang kedua orang pengeroyoknya, bukan hanya ularnya yang terayun-ayun mengancam lawan dengan gigitan beracun, juga tangan kirinya yang tidak takut menghadapi senjata tajam atau pukulan beracun itu merupakan tangan maut yang setiap saat menyambar hendak mencabut nyawa lawan.

Tan-siucai yang tadinya memandang rendah Bun Beng, menjadi terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar lihai sekali ilmu silatnya. Tadinya ia menganggap bahwa seorang muda seperti itu akan mudah ia robohkan dengan ilmunya ‘tangan panjang’, yaitu lengan yang dapat ia ulur sampai hampir dua kali panjang normal. Banyak sudah lawan yang roboh oleh ilmunya ini karena tidak menyangka-nyangka bahwa tangan itu dapat mulur seperti karet. Akan tetapi pemuda itu hanya sebentar saja terkejut, kemudian sudah dapat menjaga diri dan mengirim serangan dengan jurus-jurus yang dahsyat, yang mendatangkan angin keras dan membuat Tan-siucai bingung.

Maklum bahwa ia berhadapan dengan murid orang pandai, Tan-siucai berteriak keras dan tampaklah sinar hitam ketika ia mencabut pedangnya, sebatang pedang hitam yang mengeluarkan bau amis seperti telur itik membusuk. Dengan pedangnya ini ia menerjang dan mengobat-abitkan pedang, merupakan sinar yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Bun Beng.

Bun Beng memang tadinya terkejut menyaksikan lengan yang bisa mulur panjang. Akan tetapi kemudian ia mendapat kenyataan bahwa lawannya itu biar pun bertenaga kuat dan memiliki ilmu aneh, tidaklah seberat yang ia kira dan tidak memiliki dasar ilmu silat yang tangguh. Maka ia sudah mendesak dengan jurus-jurus Siauw-lim-pai yang kuat sehingga dua kali memukul bahu kanan dan menendang paha kiri lawan. Biar pun pukulan dan tendangan ini meleset dan tubuh lawan memiliki kekebalan, setidaknya lawannya menjadi panik sehingga mencabut pedang hitam!

Bun Beng tidak menjadi jeri, bahkan ia makin lega hatinya. Gerakan pedang itu lebih didorong rasa marah dari pada gerakan ilmu pedang yang tinggi nilainya, maka baginya pedang hitam itu tidaklah sebahaya tangan kosong yang dapat mulur mungkret tadi. Biar pun lengan itu masih dapat mulur, akan tetapi karena disambung pedang, lebih mudah dapat dilihat arah gerakannya, tidak seperti kalau kosong dapat mencengkeram, menangkap mendorong atau memukul, sukar sekali diduga.

Namun, harus ia akui bahwa lawannya mainkan pedang secara aneh dan istimewa, dengan ilmu pedang yang tidak dikenalnya sama sekali. Pedang itu selalu datang menyerangnya dengan tiupan angin, dan bukan hanya pedang yang menyerangnya melainkan selalu dibarengi dengan pukulan atau tendangan, seolah-olah seluruh daya serang lawan dikumpulkan untuk menghantamnya. Bun Beng harus mengandalkan kelincahan tubuhnya yang segera pulih kembali begitu ia menghadapi bahaya. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa menang, pikirnya. Serangan lawan ini mengingatkan ia akan serangan angin taufan ketika ia berada di atas layang-layang bersama Kwi-bun Lo-mo. Serangan angin taufan!

Tiba-tiba ia ingat akan pelajaran kakek Pulau Neraka itu untuk menghadapi serangan angin taufan. Perhatikan dari mana angin menyerang, jangan ditentang, ikuti tiupannya tetapi harus dapat kau kendalikan sehingga mudah untuk menyimpang. Pindahkan hawa dan tenaga sakti sesuai dengan serangan angin, jangan biarkan kita terseret akan tetapi berusaha selalu berada di atasnya, menunggang angin. Demikianlah antara lain inti pelajaran yang ia terima di atas layang-layang sambil mencontoh gerakan kakek Pulau Neraka. Kini, serangan-serangan lawannya dengan pedang hitam itu seperti angin, mengapa tidak ia coba mengatasinya dengan pelajaran baru di atas layang-layang?

"Wuuuutttt!" Tan-siucai kembali menyerang dengan hebat, dengan semangat menyala dan keyakinan bahwa ia tentu akan dapat membunuh pemuda yang sudah tak mampu balas menyerang itu. Pedang hitamnya menusuk dada, tangan kirinya mendorong dengan pukulan ke arah pusar, dan kaki kanannya telah siap menyusulkan tendangan!

Sekarang Bun Beng tidak menggunakan cara mengelak seperti tadi. Dengan ilmu baru menundukkan angin taufan, tubuhnya yang tadinya miring, dengan kaki kanan di depan itu, ia pindahkan kaki dan tenaga pada kaki kiri, lalu kedua tangannya diangkat ke atas seolah-olah ia memegangi tali-temali layang-layang dan tubuhnya meloncat ke atas tinggi sekali sehingga pukulan dan tusukan lewat di bawah kakinya yang ditekuk ke dada. Tendangan lawan menyusul, ia terima dengan kedua kakinya, menginjak kaki lawan yang menendang dan meminjam tenaga ini ia ayun tubuhnya ke atas dan meluncur ke depan melalui atas kepala lawan, kemudian membalik dan memindahkan tenaga lagi ke kaki kiri yang turun menginjak lawan.

"Plakk! Augghhhh...!" pundak kanan Tan-siucai terkena injakan kaki Bun Beng, lumpuh rasa seluruh lengan kanannya dan pedang hitam itu terlepas. Bun Beng cepat turun menyambar dan pedang hitam telah berada di tangannya!

Tan-siucai membalik dan matanya merah saking marahnya memandang Bun Beng yang kini tersenyum-senyum memegang pedang hitam! Ia girang sekali karena dengan ilmu barunya itu ia berhasil! Pemuda ini memang cerdik sekali sehingga dia dapat menggunakan ilmu baru yang bagi orang lain tentu hanya dapat dipergunakan untuk mengendalikan layang-layang melawan angin taufan itu untuk melawan musuh yang lihai.

Sambil tersenyum, ia lalu menubruk maju dan menyerang Tan-siucai dengan pedang hitam. Tan-siucai memekik, tangan kirinya bergerak dan sinar putih yang amat terang menyilaukan mata berkelebat menangkis pedang.

"Cringggg!" kini Bun Beng yang kaget bukan main karena pedang hitam rampasan itu telah patah menjadi dua!

"Hok-mo-kiam...!" Ia berseru keras, cepat menjatuhkan diri bergulingan karena pedang putih yang kini berada di tangan lawan itu, setelah membabat patah pedangnya, sinarnya masih terus menerjangnya!

Ia meloncat bangun dan memandang dengan mata terbelalak. Tak salah lagi, tentu itulah Hok-mo-kiam, pedang yang dibuat oleh Kakek Nayakavhira dan yang dicuri oleh pemuda sinting ini bersama gurunya, Kakek Maharya! Gentar juga hati Bun Beng menyaksikan pedang bersinar putih yang mengandung penuh wibawa mukjizat itu, dan ia siap siaga berkelahi mati-matian, mengandalkan kelincahannya karena apa artinya pedang buntung yang toh patah lagi kalau bertemu dengan Hok-mo-kiam?

Dia tahu bahwa Pendekar Siluman dan mendiang Kakek Nayakavhira memberi nama Hok-mo-kiam (Pedang Penakluk Iblis) pada pedang itu, yang khusus dibuat untuk menundukkan Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis). Teringatlah ia akan sepasang pedang bersinar kilat yang ia simpan di dalam goa rahasia di tempat tinggal para pemuja Sun-go-kong.

"Kembalikan pedang itu!" Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Kwi Hong telah meninggalkan Kakek Maharya, menyerang Tan-siucai dengan pedang di tangannya. Serangan yang hebat sekali, dilakukan dengan tubuh masih melayang di udara, dengan kecepatan seperti kilat menyambar didorong oleh tenaga sinkang yang kuat sekali.

Biar pun otaknya sinting, Tan-siucai mengenal serangan maut. Dia lalu menggeser kaki ke kiri, menggerakkan pedangnya menangkis sambil mendorongkan tangan kirinya untuk mencegah dara perkasa itu memukulnya.

"Trangggg!" Tampak bunga api muncrat dan Tan-siucai memekik kaget, pedangnya terlepas akan tetapi cepat-cepat ia sambar kembali karena gadis itu tidak sempat menyerangnya lagi.

Ternyata bahwa kini Kwi Hong juga hanya memegang sebatang pedang buntung, persis seperti yang dialami Bun Beng. Dengan mata terbelalak, Kwi Hong memandang pedangnya dan diam-diam ia merasa amat kagum akan keampuhan Hok-mo-kiam yang dibuat oleh Kakek Nayakavhira itu. Pedangnya adalah pemberian pamannya, sebatang pedang pusaka yang cukup ampuh, namun sekali bertemu dengan Hok-mo-kiam menjadi patah! Padahal sudah jelas bahwa dia menang tenaga dan pedang di tangan Tan-siucai itu sampai terlepas. Ia makin marah dan penasaran, bertekad untuk merampas kembali pedang yang dulu dicuri oleh orang itu. Tubuhnya menerjang maju dengan pukulan-pukulan kilat yang biar pun Tan-siucai memegang sebatang pedang pusaka, akan berbahaya sekali bagi sastrawan sinting itu.

"Plakkkk!" Pukulan Kwi Hong tertangkis oleh tangan Maharya yang bersarung tangan. Kiranya kakek ini sudah meloncat meninggalkan Kwi-bun Lo-mo untuk melindungi muridnya, terutama menjaga agar pedang pusaka itu tidak terampas lawan.

"Ho-ho-ho, kau hendak lari ke mana, dukun keparat?" Kwi-bun Lo-mo tertawa dan melompat pula mengejar.

Kini pertandingan menjadi kacau-balau dan akhirnya kini Bun Beng dan Kwi-bun Lo-mo mengeroyok Maharya, sedangkan Kwi Hong masih bertanding melawan Tan-siucai. Karena maklum bahwa gadis itu berbahaya sekali, Tan-siucai memutar pedangnya dan berlindung di balik gulungan sinar pedang. Benar saja, sinar pedang itu demikian hebat dan mengandung wibawa yang amat kuat sehingga biar Kwi Hong lihai, gadis ini tidak berani sembrono mendesak maju, melainkan berusaha mencari lowongan tanpa terancam sinar pedang yang ia tahu amat ampuh.

"Nona yang perkasa! Bun Beng, mundur!" Tiba-tiba Kwi-bun Lo-mo berteriak keras dan terdengarlah ledakan disusul membubungnya asap hitam yang tebal, menggelapkan keadaan di situ. Ternyata kakek Pulau Neraka ini telah melempar sebuah senjata rahasia khas Pulau Neraka, senjata peledak yang mengeluarkan asap hitam beracun.

Kwi Hong dan Bun Beng melompat mundur, melihat betapa di tempat berdirinya dua orang lawan itu kini tertutup oleh asap hitam. Ketika asap membuyar tertiup angin dan mereka memandang, ternyata Tan-siucai dan Maharya telah lenyap dari tempat itu, tanpa meninggalkan bekas.

Kwi-bun Lo-mo mengerutkan alisnya, mengomel. "Sialan! Mereka benar-benar sangat lihai mampu menyelamatkan diri dari asap beracun. Dukun India itu benar-benar merupakan lawan yang lebih tangguh dari pada dukun penunggang gajah. Hayaa...!"

Kwi Hong melangkah maju dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu. "Tua bangka lancang! Kenapa kau melenyapkan mereka?"

Tanpa menanti jawaban, dengan pedang buntungnya Kwi Hong menyerang Kwi-bun Lo-mo. Serangannya hebat sekali dan pedang buntungnya itu masih amat berbahaya, membabat ke arah perut kakek itu yang tentu akan tersayat robek kalau-kalau sampai terkena.

"Aihhhh...!" Kwi-bun Lo-mo meloncat ke belakang dengan mata terbelalak dan balas menyerang sambil memaki, "Gadis liar, siluman galak!"

Kwi Hong miringkan tubuhnya dan membabat ke arah lengan yang memukulnya, akan tetapi kakek itu dapat menarik kembali lengannya.

"Tahan...!" Bun Beng berseru. "Nona Kwi Hong, dia bermaksud membantumu!"

"Membantu apa? Dia... ah, mukanya berwarna, dia tentu iblis dari Pulau Neraka!"

"Hemm, memang aku dari Pulau Neraka, habis kau mau apa?" Kakek itu menantang dengan marah.

"Aku mau membasmi orang-orang Pulau Neraka, dan engkau lebih dulu!" Kembali Kwi Hong menyerang.

"Iblis betina tak tahu diri!" Kwi-bun Lo-mo mengelak lagi.

Diam-diam dia terkejut karena biar pun pedangnya sudah buntung, nona ini merupakan lawan yang tangguh sekali. Gerakannya amat cepat, ilmu pedangnya aneh dan tenaga sinkang-nya sangat kuat, dapat diduga dari suara bercuitan ketika pedang buntung itu menyambar. Terpaksa dia mencelat lagi ke kanan untuk menghindar.

"Tahan! Locianpwe, dia itu adalah murid Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es!" Bun Beng berseru.

"Apa...?" Muka kakek itu berubah, matanya terbelalak. "Be... betulkah...?"

"Aku mengenalnya, masa membohong?"

Kwi Hong makin marah dan menuding dengan pedang buntungnya. "Kakek sialan! Apa kau pura-pura tidak mengenal aku yang pernah kalian culik ke Pulau Neraka?"

Kakek itu menggelengkan kepala. "Aku mendengar akan peristiwa itu, akan tetapi aku sedang merantau keluar pulau, tidak tahu... maaf... aku tak berani mengganggu murid Pendekar Siluman tanpa seijin To-cu kami..."

"Tidak peduli, kau harus mampus!" Kwi Hong menyerang lagi.

Kwi-bun Lo-mo meloncat jauh ke belakang, kemudian melarikan diri! Kakek ini pernah merasai kelihaian Pendekar Siluman ketika ia bertanding melawan Nayakavhira, maka kini mendengar bahwa gadis ini murid pendekar sakti itu, dia menyangka bahwa tentu Pendekar Siluman berada pula di situ. Pula tanpa seijin To-cu, majikannya, mana dia berani mengganggu murid Majikan Pulau Es?

Kwi Hong hendak mengejar, akan tetapi Bun Beng meloncat menghadang dan berkata, "Sudahlah, Nona, perlu apa mengejar orang yang tidak mau melawan? Dahulu pun Pamanmu tidak mengejarnya."

Kwi Hong berhenti, karena maklum bahwa dia pun tak dapat menyusul kakek yang lari seperti terbang cepatnya itu, apa lagi kalau ia ingat bahwa kakek itu memiliki senjata rahasia peledak yang mengandung asap beracun berbahaya.

"Hemmm, aku mengenalmu sekarang," katanya sambil memandang wajah pemuda itu. "Engkau Gak Bun Beng..."

Bun Beng menjura sambil tersenyum. "Kuharap selama ini Nona dalam keadaan baik. Kulihat bahwa Nona telah mewarisi ilmu kepandaian hebat dari Pamanmu. Selamat!"

"Engkau mengejek?" Kwi Hong membentak marah.

Bun Beng melongo dan memandang dengan mata terbelalak. Kenapa Nona ini marah-marah? Dia menggelengkan kepala tanpa dapat menjawab.

"Engkau pasti mengejek, ya? Karena aku tidak mampu merampas kembali pedang itu, karena pedangku patah, karena aku tidak mampu membunuh kakek Pulau Neraka!" Pandang mata itu seperti mengeluarkan api yang menyerang Bun Beng.

Bun Beng mundur ketika dara itu melangkah maju dengan muka merah saking jengkel oleh kegagalannya.

"Hayo katakan engkau mengejekku, biar aku mempunyai alasan untuk menyerangmu!"

"Tidak! Tidak...! Wah, siapa mengejek, Nona? Sama sekali aku tidak mengejek. Bukan salahmu kalau pedang Nona patah, dan kalau tidak dibantu gurunya, kakek India itu, tentu Si Siucai gila sudah mampus olehmu dan pedangnya terampas."

Mendengar kata-kata ini, agak berkurang kemarahan Kwi Hong. Ia membanting kaki dan memandang pedangnya yang buntung, lalu membantingnya ke atas tanah sambil mengomel. "Sialan! Tentu Paman akan marah kepadaku karena pedang ini!"

Melihat wajah cantik jelita yang menjadi merah, mata yang membayangkan penyesalan dan kedukaan besar, hati Bun Beng tergerak. Teringatlah ia akan sepasang pedang yang ditinggalkannya di goa rahasia di tempat para pemuja Sun-go-kong, maka serta merta ia berkata, "Harap Nona jangan berduka, aku mempunyai sepasang pedang pusaka yang hebat, bahkan yang diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw."

"Sepasang pedang yang di... Pedang Iblis?" Kwi Hong memotong, matanya terbelalak, kedukaannya lenyap seketika.

Bun Beng mengangguk. "Agaknya benar Sepasang Pedang Iblis yang kudapatkan secara kebetulan sekali. Kini kusimpan di dalam goa rahasia. Kalau Nona suka, akan kuberikan sebatang kepada Nona, yang pendek. Pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang mendirikan bulu roma sehingga aku tidak berani mencabut seluruhnya, agaknya tidak kalah ampuh oleh pedang yang dicuri Tan-siucai tadi."

"Benarkah itu? Paman juga lagi mencari-cari pedang itu! Benarkah akan kau berikan kepadaku?" Sikap Kwi Hong telah berubah sama sekali, agaknya dia tidak ingat lagi akan kemarahan dan kedukaan hatinya. Wajahnya berseri dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya, amat indah seperti sepasang bintang pagi dalam pandangan Bun Beng.

"Benar, Nona. Pedang itu sepasang, boleh untukmu sebatang dan untukku sebatang."

Tiba-tiba wajah yang cerah itu kembali agak muram oleh berkerutnya sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu. "Bun Beng, bagaimana engkau bisa mendapatkan Siang-mo-kiam? Seluruh dunia kang-ouw mencari dan memperebutkannya. Bagai mana tiba-tiba kau bisa mengatakan kepadaku bahwa engkau menemukan pedang-pedang itu?" Dalam pertanyaan ini terkandung keraguan dan ketidak percayaan.

"Aku mendapatkannya secara kebetulan saja, Nona. Terjadinya ketika aku terjatuh ke dalam pusaran maut di Sungai Huang-ho."

Dengan singkat Bun Beng menceritakan semua pengalamannya, akan tetapi sengaja dia tidak menyebutkan tempat ia menyimpan sepasang pedang itu, juga tidak tentang kitab Sam-po-cin-keng. Kwi Hong mendengarkan dengan alis berkerut.

"Jadi ketika kita saling bertemu itu engkau telah menemukan Siang-mo-kiam?"

"Benar, aku tidak sempat bercerita, lagi pula pada waktu itu memang aku hendak merahasiakannya dari siapa pun juga."

"Hemmm, kalau begitu, mengapa kini mendadak engkau ingin memberikan sebatang kepadaku? Apa sebabnya?" Sambil berkata demikian, Kwi Hong memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Bun Beng kagum bukan main. Ahhh..., mata itu... bukan kepalang indahnya! Sejenak ia menentang pandang mata itu penuh kagum, namun sinar mata itu seperti sepasang pedang iblis sendiri yang menusuk, menembus mata sampai ke jantung! Terpaksa ia menundukkan pandang matanya.

"Mengapa...? Aihhh, tak terpikir olehku... hemmm, agaknya karena melihat pedangmu patah, Nona. Karena melihat engkau berduka tadi..."

"Heh, omong kosong! Mengapa mendadak engkau menaruh perhatian seperti itu kepadaku? Apa hubungannya kedukaanku denganmu? Engkau merasa kasihan? Alasan yang dangkal dan kosong!" Kembali di dalam suaranya terkandung kecurigaan dan ketidak percayaan.

Cepat Bun Beng membantah. "Tidak! Tidak hanya itu, Nona. Sesungguhnya... pertama karena Nona telah menyelamatkan nyawaku tadi. Kalau tidak Nona keburu turun tangan, bukankah aku akan mati terjatuh dari atas kalau tali layangan itu diputus oleh kakek tadi? Untuk membalas budi Nona yang telah menyelamatkan nyawaku, apa artinya pemberian sebatang pedang? Pula, kedua memang aku merasa amat kagum kepada Paman Nona, dan satu-satunya orang di dunia ini yang aku ingin agar pedang yang diperebutkan itu dimilikinya, adalah Paman Nona, Pendekar Super Sakti. Maka, kebetulan sekali aku bertemu dengan Nona, bahkan Nona telah menolongku sehingga ada alasan bagiku untuk menyerahkan pedang."

Kwi Hong mengangguk-angguk, wajahnya kembali cerah dan ia mulai percaya kepada Bun Beng. Pemuda ini girang sekali menyaksikan perubahan wajah itu, memandang penuh kagum wajah cantik jelita yang matanya menunduk itu. Tiba-tiba wajah itu diangkat, pandang mata mereka saling bertaut dan dengan jantung berdebar Bun Beng melihat betapa alis yang bagus itu kembali dikerutkan, lalu terdengar suara gadis itu membentak marah.

"Aku tidak percaya kepadamu!"

Mula-mula Bun Beng tertegun, lalu menarik napas panjang, wajahnya membayangkan kekesalan dan kedukaan hati. "Hemm, agaknya Nona curiga kepadaku?"

"Siapa tahu kalau-kalau engkau ini amat licik, curang dan sengaja hendak menipuku?"

Bun Beng merasa jantungnya perih seperti ditusuk pedang. Dia mengangguk dan menjawab, "Aku mengerti, Nona. Tentu Nona curiga kepadaku mengingat bahwa aku adalah anak seorang tokoh hitam yang amat licik dan curang. Sudah banyak aku mendengar makian itu."

"Tidak peduli! Aku tidak mengatakan begitu dan tidak berpikir begitu. Hanya siapa mau percaya kepada seorang yang telah gulang-gulung bergaul dengan seorang iblis Pulau Neraka? Engkau datang bersama dia, tentu sahabat baiknya, atau siapa tahu engkau sudah menjadi anggota Pulau Neraka. Mereka adalah iblis-iblis kejam, tentu engkau juga bukan orang baik-baik. Bagaimana aku dapat percaya?"

Lega hati Bun Beng. Nona ini satu-satunya orang yang tidak menyinggung ayahnya. Alasan yang diucapkan untuk kecurigaannya memang tepat. Maka ia cepat-cepat menuturkan pengalamannya semenjak ia ditawan oleh Thian-liong-pang sampai berhasil lolos, dikeroyok ikan, diterkam rajawali yang kemudian bertempur melawan garuda dan akhirnya terlepas.

"Ketika melayang jatuh itulah aku tersangkut pada tali layang-layang yang dikemudikan oleh kakek Pulau Neraka itu. Baru pertama itulah aku berkenalan dengan dia dan kami sama-sama turun setelah terhindar dari angin taufan dan terancam maut oleh kakek India yang akan memutus tali. Untung Nona muncul dan menyerangnya."

Penuturan Bun Beng yang amat luar biasa seperti terjadi dalam dongeng itu membuat Kwi Hong melongo.

"Wah-wah... hebat sekali pengalamanmu!" Ia duduk di atas rumput. "Engkau menjadi tawanan Thian-liong-pang? Bukan main! Dan berhasil lolos? Eh, ceritakanlah, Bun Beng. Bagaimana kau bisa lolos dari Thian-liong-pang yang terkenal sekali amat kuat itu? Aku mendengar banyak orang pandai dan sakti di sana, bahkan tidak kalah saktinya oleh orang-orang Pulau Neraka!"

Melihat wajah itu betul-betul sudah percaya kepadanya, sudah cerah dan bekas-bekas kecurigaan dan ketidak-percayaan tidak tampak lagi, Bun Beng duduk pula di atas rumput. Mereka duduk berhadapan, bercakap-cakap dan merasa seperti telah menjadi sahabat lama.

Dengan terus terang Bun Beng menceritakan pengalamannya ketika berusaha menolong Ketua Bu-tong-pai dan melihat tokoh-tokoh kang-ouw itu diadu oleh Ketua Thian-liong-pang untuk dicuri jurus simpanan mereka yang terpaksa digunakan dalam pertandingan itu. Kemudian betapa dia diaku sebagai cucu keponakan Si Muka Singa dan akan dijadikan anggota. Akan tetapi ia menolak dan akhirnya di jebloskan dalam penjara di bawah tanah.

"Sama sekali aku tidak tahu bahwa dinding itu menembus ke sungai yang besar di mana banyak terdapat ikan raksasa yang hampir saja membunuhku. Kalau tahu begitu, agaknya belum tentu aku berani membobol dinding itu. Heran, sungai apakah itu?"

Kwi Hong yang tertarik sekali berkata. "Apakah kau tidak tahu? Kini kita berada di lembah Sungai Huang-ho, dan sarang Thian-liong-pang berada di kota Cie-bun, di sebelah utara kota Cin-an. Sudah lama aku mendengar akan perbuatan Thian-liong-pang menculik orang-orang kang-ouw. Sayang Paman melarang aku bentrok dengan orang Thian-liong-pang, kalau tidak, tentu aku akan menyerbu ke sana. Hemm... kalau Paman mendengar bahwa orang-orang kang-ouw itu diculik untuk dicuri ilmu mereka tentu Paman akan tertarik sekali. Eh, Bun Beng, di manakah adanya goa rahasia di mana engkau menyembunyikan Siang-mo-kiam?"

"Aku tidak tahu namanya, hanya aku tahu jalan ke sana kalau sudah melihat bentuk gunungnya. Kalau tidak salah, dekat dengan laut karang ketika aku dibawa terbang burung rajawali yang kemudian bertanding dengan burung garuda yang kunaiki itu, dan aku terlepas ke bawah, aku jatuh ke dalam laut."

Kwi Hong memutar otaknya. "Hmm, tentu di Laut Utara. Mari kita cari ke sana. Sayang burung kami telah dibunuh oleh siucai sinting dan gurunya, kalau tidak, tentu dengan mudah kita bisa mencari sambil menunggang pek-eng."

"Apakah tidak ada garuda putih lagi di Pulau Es? Aku tadi melihat burung garuda putih menyerang rajawali yang mencengkeramku."

"Benarkah? Tentu burung garuda liar. Kami tidak mempunyai garuda lagi. Aku baru saja keluar dari Pulau Es, baru mendapat ijin dari Paman setelah berulang-ulang aku minta supaya diijinkan merantau. Aku ingin ke kota raja mencari dan menengok makam Ibuku. Akan tetapi sekarang bertemu denganmu, sebaiknya kita mencari Siang-mo-kiam, baru akan pergi ke kota raja. Marilah kita berangkat sebelum gelap, Bun Beng."

"Baiklah, Nona."

Mereka bangkit dan Kwi Hong berkata mencela. "Jangan sebut Nona, kenapa kau begini merendah? Menjemukan benar!"

"Habis, aku harus menyebut apa?"

"Apa kau tidak tahu namaku? Kalau kau mau bersahabat denganku, jangan merendah seolah-olah engkau ini orang bawahanku di Pulau Es. Sebut saja namaku!"

"Baiklah... Kwi Hong." Hati Bun Beng girang sekali.

Dara ini cantik menarik dan membuat hatinya berdebar aneh, membuat ia ingin selalu berdekatan dan bercakap-cakap dengannya. Pula, gadis inilah satu-satunya orang yang tidak menyebut-nyebut tentang kejahatan ayahnya. Dan yang lebih dari semua itu, gadis ini adalah murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, orang yang dikagumi dan dipuja di dalam hati.

"Tempat itu dahulu kutemukan setelah aku terjatuh ke dalam pusaran maut di Sungai Huang-ho, sebuah gunung yang aneh dan terletak dekat laut. Tentu tidak jauh dari muara sungai. Sebaiknya kita mencari jejak mulai dari pulau di tengah muara sungai, dari mana aku terlempar dan jatuh ke dalam pusaran maut."

"Baik, memang mestinya begitu. Kalau tidak dapat menemukan tempat itu melalui darat, kita harus mengikuti jejakmu dahulu melalui pusaran maut."

Bun Beng terbelalak. "Apa...? Wah, itu berbahaya sekali, Kwi Hong!"

Gadis itu memandangnya dan menggeleng kepala. "Engkau pun tidak mati, bukan? Nah, kalau di waktu masih kecil dahulu saja bisa sampai di tempat itu melalui pusaran maut dengan selamat, mengapa sekarang tidak?"

"Ah, dahulu lain lagi. Aku terlempar ke sana bukan atas kehendakku, dan aku setengah pingsan ketika terbawa pusaran, agaknya memang Tuhan tidak menghendaki aku mati di waktu itu. Kalau sekarang aku harus terjun ke sana, hiiiiiih... ngeri sekali, aku tidak berani."

Kwi Hong cemberut. "Kalau kau tidak berani, aku berani! Pedang Siang-mo-kiam itu terlalu penting untuk dibiarkan di tempat itu. Terlalu berharga untuk dicari dengan taruhan nyawa. Kalau bisa kudapatkan dan kuperlihatkan kepada Paman, tentu dia akan girang sekali karena Paman pernah bilang bahwa kalau sepasang pedang iblis itu sampai muncul di dunia dalam tangan orang-orang sesat, sukar untuk ditundukkan dan dunia pasti akan kacau balau dan kejahatan merajalela. Nah, kau tahu betapa besar artinya kedua pedang itu, dan betapa pentingnya untuk didapatkan kembali."

Mereka mulai melakukan perjalanan dan Kwi Hong yang menjadi penunjuk jalan sampai mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho. Akan tetapi malam sudah tiba ketika mereka sampai di tepi sungai.

"Kita bermalam di tepi sungai ini, besok baru kita melanjutkan," kata gadis itu.

Bun Beng lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun. Tepi sungai itu sunyi senyap, akan tetapi menyenangkan sekali bagi Bun Beng. Tempatnya bersih, tanahnya tertutup rumput hijau seperti permadani, pohon-pohon dan bunga-bunga mendatangkan bau yang sedap dan segar, dan bulan hampir bulat muncul tak lama kemudian, membuat tempat itu menjadi indah, romantis, dan menyenangkan. Tentu saja ia tidak sadar bahwa yang membuat keadaan menjadi demikian indah adalah hadirnya Kwi Hong karena kalau tidak ada gadis itu di sana, belum tentu tempat sunyi ini akan tampak seindah malam itu!

Mereka duduk menghadapi api unggun. Enak dan nyaman, hangat. Bun Beng duduk melamun, merasa betapa selama hidupnya, baru sekarang inilah dia dapat mengalami kebahagiaan, merasa betapa senangnya hidup!

"Eh, Bun Beng, kenapa kau melamun saja?"

Bun Beng terkejut dan sadar dari lamunannya yang mengangkatnya ke angkasa. Ia memandang dan tidak dapat menjawab karena sepasang mata yang terkena sinar api unggun itu kelihatan begitu indah dan tajam berkilau.

"Apa perutmu tidak lapar?" Gadis itu bertanya saat melihat pemuda itu hanya melongo.

Mendengar ini, kontan perut Bun Beng berbunyi, seolah-olah menjawab pertanyaan itu. Dengan gugup ia menekan perut dengan tangannya sambil memaki dalam hati kepada perutnya yang tak tahu malu. Memang ia merasa lapar sekali. Apa lagi hawa begitu nyaman, pemandangan begitu indah, membuat perut yang kosong terasa sekali.

"Heiiii! Bagaimana?" Gadis itu kembali bertanya sambil menahan geli hatinya karena telinganya yang berpendengaran tajam dapat menangkap perut yang berkokok tadi.

"He? Apa?" Bun Beng bertanya gugup, masih merasa malu oleh perutnya.

"Lapar tidak?"

"Lapar sekali, Kwi Hong, tapi... makan apa...?"

"Betapa bodohnya! Ikan berkeliaran di dalam sungai masih bertanya makan apa?"

Bun Beng teringat dan meloncat bangun. "Tepat sekali! Mengapa aku begitu bodoh dan pelupa? Ikan-ikan yang mengeroyokku siang tadi! Aku harus membalas dendam, setidaknya harus kutangkap seekor, kupanggang sampai matang dan kita ganyang dagingnya!" Setelah berkata demikian, ia lari ke pinggir sungai dan langsung meloncat ke sungai.

"Byurrrrrr!" Air muncrat tinggi dan Kwi Hong terbelalak, kemudian tertawa terpingkal-pingkal dan menggeleng-geleng kepala.

"Sungguh orang aneh," gumamnya sambil berdiri di pinggir sungai menonton Bun Beng yang menyelam hendak menangkap ikan begitu saja dengan kedua tangan, lengkap dengan pakaiannya, bahkan sepatunya tidak dicopot!

Akan tetapi ia kagum sekali ketika tak lama kemudian Bun Beng sudah muncul lagi, memondong seekor ikan yang besarnya sebantal dan melemparkan ikan itu ke darat! Ikan itu menggelepar-gelepar di darat dan Bun Beng sudah berenang ke pinggir lalu mendarat pula, tersenyum lebar, pakaiannya basah kuyup, air menetes-netes dari seluruh pakaiannya, rambutnya pun basah kuyup dan kuncirnya melibat leher.

"Aihh, ikan sebesar ini mana bisa kita habiskan? Dan bagaimana pula membersihkan isi perutnya. Kaulah yang melakukannya itu, nanti aku yang memanggangnya."

"Jangan khawatir, Kwi Hong. Kalau tidak ada pisau, batu karang pun cukup tajam dan runcing."

Dengan gembira Bun Beng lalu mencari batu karang yang keras, menghampiri ikan. Sekali pukul dengan batu pecahlah kepala ikan itu dan ia segera membelah perut ikan dengan batu yang tajam, membuang isi perutnya ke sungai dan membersihkan kulit ikan yang tak bersisik itu dengan gosokan batu karang.

Kwi Hong sudah menyediakan sebuah ranting, menusuk ikan besar itu dari mulut sampai menembus ekor, kemudian memanggangnya di atas api unggun sambil menanti Bun Beng mencuci tangannya ke air sungai. Setelah pemuda itu duduk dekat api, dia mencela.

"Kau ini aneh sekali, mengapa menangkap ikan begitu saja dengan memakai pakaian lengkap? Lihat, pakaian dan sepatumu basah kuyup, tentu dingin sekali. Sebaiknya kau buka dan peras pakaianmu, panggang dekat api biar kering."

Muka Bun Beng tiba-tiba berubah merah. Bagaimana dia bisa menanggalkan pakaian di depan gadis itu? "Biarlah, diperas begini pun bisa, dan kalau aku duduk dekat api, sebentar juga kering."

Ia memeras rambut dan pakaiannya, melepas sepatunya dan menggeser duduknya dekat api. Beberapa kali Kwi Hong melirik kepadanya dengan pandang mata penuh rasa heran. Pemuda ini aneh sekali. Kadang-kadang pendiam dan canggung, akan tetapi gerak-geriknya amat menarik hatinya.

Bau sedap daging ikan dipanggang menusuk hidung, langsung merangsang selera mulut dan menambah lapar perut. Setelah matang, kedua orang itu lalu menyerbu daging ikan yang terasa sedap dan gurih sekali. Hanya separuh termakan oleh mereka. Terpaksa sisanya mereka buang lagi ke sungai.

"Sayang air sungai begitu kotor, bagaimana bisa minum?" Kwi Hong bertanya sambil mencuci tangannya yang penuh minyak ikan, juga mengusap bibirnya dengan air sungai, kemudian menggosoknya dengan sapu tangan.

"Aku akan mencari buah!" Sambil berkata demikian, Bun Beng meloncat dan lari pergi, mencari-cari pohon yang ada buahnya. Sampai jauh ia meninggalkan tepi sungai itu dan untung bahwa bulan bersinar terang sehingga akhirnya setelah payah mencari-cari, ia datang lagi membawa beberapa butir buah yang sudah masak.

Kemudian, keduanya duduk menghadapi api unggun yang menjadi makin besar setelah ditambah daun kering dan kayu oleh Kwi Hong. Hawa yang hangat, perut yang kenyang, membuat gadis itu merasa mengantuk dan ia menguap di belakang telapak tangannya.

"Ahh, aku ingin tidur. Bun Beng, kau berjagalah dulu, sambil mengeringkan pakaianmu. Nanti aku giliran menjaga dan kau tidur. Di tempat seperti ini, apa lagi baru saja kita bertemu dengan siucai sinting dan gurunya, tidak boleh kita berdua tidur semua tanpa ada yang menjaga."

"Baik, kau tidurlah, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan aku akan menjagamu."

Kwi Hong mundur agak menjauhi api unggun, kemudian merebahkan dirinya, miring menghadapkan mukanya ke api unggun dan memejamkan kedua matanya. Bun Beng kini berani menatap wajah itu sepuas hatinya. Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, menyaksikan wajah yang kemerahan, dengan rambut yang agak mawut dan sebagian terurai menutup pipi dan dahi, melihat bulu mata yang menjadi panjang dan tebal membentuk bayang-bayang di pipi, hidung yang mancung dan cupingnya bergerak sedikit ketika bernapas dalam-dalam, bibir yang merah dan mengkilap terkena minyak daging ikan, ia merasa terharu sekali.

Ia membandingkan wajah ini dengan wajah Ang Siok Bi, puteri Ketua Bu-tong-pai yang pernah menarik hatinya. Keduanya sama cantik dan memiliki daya tarik masing-masing. Akan tetapi, melihat Kwi Hong tertidur tak jauh di depannya, ia harus mengaku bahwa Kwi Hong lebih cantik jelita. Teringatlah ia betapa dalam keadaan menghadapi maut, hanya tiga wajah orang yang terbayang olehnya. Wajah Kwi Hong, wajah Siok Bi dan wajah Milana! Akan tetapi, ketika itu ia membayangkan wajah Kwi Hong dan Milana di waktu mereka masih kecil. Betapa jauh perbedaannya setelah ia bertemu dengan Kwi Hong sekarang, demikian cantik dan menarik.



Di dalam batin tiba-tiba Bun Beng mengutuk diri sendiri. Mengapa ia membayangkan wajah wanita-wanita cantik? Celaka, inikah yang membuat ayahnya dulu memperkosa ibunya? Ia bergidik ketika merasa betapa ada hasrat di hatinya untuk memeluk tubuh wanita yang berbaring di depannya itu, ingin mencium pipi itu, bibir itu! Keparat! Ingin ia menghantam kepalanya sendiri, menghancurkan kepala yang berisi pikiran busuk itu.

Apakah ia mewarisi watak ayahnya? Tidak! Ayahnya telah disebut datuk kaum sesat, tentu merupakan seorang yang sesat kelakuannya. Buktinya sampai memperkosa ibunya! Dia tidak akan melakukan hal seperti itu! Biar pun dia tertarik akan wanita-wanita cantik, dia akan memerangi perasaannya sendiri dan mencegah agar jangan sampai ia melakukan perbuatan terkutuk! Ia harus memilih seorang di antara mereka, bukan untuk diperkosa, bukan untuk dipermainkan, melainkan untuk dijadikan isteri! Kwi Hong ini! Ah, betapa akan bahagia hatinya kalau ia dapat memperisteri Kwi Hong.

Kwi Hong mengeluh perlahan dan menghela napas panjang, agaknya mimpi. Keluhan lirih dan helaan napas itu membuat dara itu tampak makin menarik sehingga Bun Beng terpaksa membuang muka, tidak kuat memandang lebih jauh karena jantungnya sudah berdenyut keras.

Memang tidak dapat terlalu disalahkan kalau Bun Beng diamuk nafsu birahi dan cinta. Usianya sudah cukup dewasa, sudah dua puluh dua tahun lebih. Dalam usia sebanyak itu tentu saja timbul perasaan ini dan masih mengagumkan bahwa dia dapat menahan diri kalau diingat bahwa sejak kecil dia tak pernah menerima pendidikan tentang susila, tidak pernah menerima pendidikan ayah bunda sendiri.

Untung bahwa ia digembleng oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-pai sehingga batinnya cukup kuat, biar pun darahnya, darah ayahnya yang panas membuat ia condong untuk melakukan perbuatan menyeleweng. Namun, justeru nama buruk ayahnya membuat ia berkeras hati untuk menebus semua kesalahan ayahnya dengan perbuatan baik, bukan justru menambah kotor nama ayahnya dengan perbuatan seperti yang pernah dilakukan ayahnya.

Betapa bahagianya kalau ia dapat menjadi suami Kwi Hong, pikirnya lagi setelah hatinya tenang dan dia berani lagi memandang wajah Kwi Hong. Gadis itu kini telah rebah terlentang sehingga nampak tonjolan dadanya yang turun naik kalau bernapas lembut. Bibir itu setengah terbuka, seperti tersenyum menantang!

Betapa cantik jelitanya, betapa gagah perkasanya. Tadi pun sudah dia saksikan sendiri betapa lihai gadis ini. Dia sendiri meragukan apakah dia akan mampu melawan Kwi Hong. Betapa tidak gagah perkasa dan lihai kalau diingat bahwa dara ini adalah keponakan dan murid Pendekar Super Sakti!

Tiba-tiba Bun Beng tertegun dan mengerutkan alisnya. Keponakan Pendekar Siluman! Aihhh, dia telah melamun terlalu jauh. Bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami keponakan Majikan Pulau Es? Mentertawakan! Dia, seorang anak yatim-piatu, bahkan disebut anak haram, putera mendiang datuk kaum sesat yang disebut Setan Botak, mana mungkin berjodoh dengan keponakan Majikan Pulau Es yang berkedudukan tinggi?

"Aihhhh, pikiran yang bukan-bukan," dia menarik napas panjang, berusaha mengusir keinginan hati yang tak mungkin terpenuhi itu.

Ia memaksa diri untuk mengalihkan keinginan hatinya. Bagaimana kalau Milana? Lebih tidak masuk di akal! Tanpa disengaja, ia telah menyaksikan peristiwa hebat yang mungkin menjadi rahasia Pendekar Siluman, Milana adalah puteri Pendekar Siluman itu! Puterinya dari seorang ibu yang amat cantik dan amat sakti! Lebih tidak mungkin lagi. Baik Kwi Hong, apa lagi Milana, tidak mungkin menjadi jodohnya. Kedudukan mereka terlalu tinggi baginya, seperti merindukan bintang-bintang di langit saja! Tinggal seorang lagi, Ang Siok Bi! Dia itulah yang tidak begitu tinggi kedudukannya, akan tetapi hal ini kalau dibandingkan dengan Kwi Hong atau Milana, kalau dibandingkan dengan dia, bahkan Siok Bi masih terlalu tinggi untuknya. Puteri Ketua Bu-tong-pai! Aihh, dia mimpi di siang hari! Tidak ada harapan seujung rambut pun!

"Dasar engkau manusia tak tahu diri!" Bun Beng berbisik dan menjambak kuncirnya, merasa terpukul dan rendah. Lama dia merenung memandang api unggun, diam-diam mengeluh dan menyalahkan ayah bundanya yang telah tiada.

"Sudahlah, aku manusia yang tiada harganya. Akan tetapi akan kubuktikan kepada mereka semua, kepada dunia kang-ouw, bahwa walau pun ayahku seorang manusia yang sejahat-jahatnya dan serendah-rendahnya, aku tidaklah serendah itu. Aku akan membuktikan bahwa aku mampu melakukan hal-hal yang layak dilakukan seorang pendekar besar!"

Pikiran ini sedikitnya menghibur hatinya yang perih. Terhiburlah dia bahwa kini dia akan menyerahkan sebuah di antara Siang-mo-kiam kepada murid dan keponakan Majikan Pulau Es. Sepasang pedang itu diperebutkan oleh orang sedunia kang-ouw, bahkan Pendekar Siluman sendiri mencari-cari tanpa hasil. Sekarang justru dia yang berhasil menemukannya dan menyerahkan sebuah di antaranya kepada murid dan keponakan Majikan Pulau Es, bukankah hal ini sudah merupakan jasa yang besar? Dan dia akan melangkah lebih jauh lagi. Dia akan melakukan hal-hal yang besar, biar pun saat itu dia belum tahu apa gerangan hal-hal yang besar itu.

Bun Beng menambahkan kayu kering sehingga api unggun membesar. Pakaiannya sudah kering dan ia merasa tubuhnya hangat. Malam telah amat larut, akan tetapi dia tidak mau membangunkan Kwi Hong. Biarlah dia yang berjaga sampai pagi. Tidak tega dia mengganggu gadis itu yang tidur dengan nyenyaknya. Ia bersandar pada batang pohon, kadang-kadang menambah kayu pada api unggun, menjaga agar api itu tidak padam.

Pada keesokan harinya ketika terdengar kokok ayam hutan dan kegelapan malam mulai terusir oleh sinar matahari pagi yang kemerahan, Kwi Hong bangun dari tidurnya. Ia mengusap kedua matanya dan begitu membuka mata, melihat bahwa malam telah berganti pagi, melihat pula Bun Beng masih duduk bersandar pohon dekat api unggun, ia meloncat bangun dan membentak.

"Bun Beng, kau terlalu sekali!"

Bun Beng tersenyum, dia tidak merasa aneh lagi menyaksikan sikap gadis yang begitu mudah berubah seperti angin ini, tiba-tiba saja marah, kemudian marahnya berganti sikap ramah. Benar-benar seorang gadis yang penuh semangat berapi-api, "Maaf, Kwi Hong, apakah salahku?"

"Masih bertanya apa salahnya lagi! Enak-enak duduk semalam suntuk, membiarkan orang tertidur sampai pagi. Mengapa tidak kau bangunkan aku agar aku berganti melakukan penjagaan?"

"Aah, tidak mengapa, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan kau... tidurmu enak benar, tidak tega aku membangunkanmu."

Gadis itu memandang aneh. "Mengapa kau menyiksa diri untukku? Kau tidak tidur sama sekali?"

Ucapan ‘karena aku cinta padamu’ sudah berada di ujung lidah Bun Beng, namun cepat ditelannya kembali. "Aku duduk beristirahat sama dengan tidur. Urusan kecil ini masa mesti dibesar-besarkan?"

"Biar pun urusan kecil, akan tetapi aku tidak mau dikatakan tidak adil. Lain kali aku tidak mau begini, engkau harus tidur lebih dulu. Kau membikin aku merasa tidak enak saja!" Dengan uring-uringan Kwi Hong lalu pergi mencari sumber air untuk mencuci muka. Setelah ia kembali, ia melihat Bun Beng sudah mencuci muka di air Sungai Huang-ho.

"Mari kita melanjutkan perjalanan," kata Kwi Hong dan berangkatlah mereka menuju ke jurusan timur, ke arah muara Sungai Huang-ho. Tak lama kemudian Bun Beng mengenal daerah di mana dahulu dia dan suhu-nya, mendiang Siauw Lam Hwesio, berperahu menuju ke muara sungai. Peristiwa beberapa tahun yang lalu seperti terjadi kemarin saja dan teringat akan nasib gurunya, mukanya menjadi berduka dan ia menarik napas panjang.

"Mengapa kau berduka?" Tiba-tiba Kwi Hong bertanya, tidak galak lagi seperti tadi melainkan halus dan menaruh khawatir.

"Tiba-tiba aku teringat pada mendiang Guruku, Siauw Lam Hwesio. Dia tewas secara menyedihkan sekali." Dia lalu menceritakan tentang kematian gurunya di tangan koksu negara dan kaki tangannya, lalu menutup ceritanya, "Aku harus membalas kematian Suhu. Kelak aku harus mencari Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun beserta tiga orang pembantunya yang ikut membunuh Suhu, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong!"

Kwi Hong mendengarkan penuh perhatian, kemudian menghela napas panjang. "Wah, musuh-musuhmu bukanlah orang sembarangan. Menurut Paman, dua orang pendeta Lama itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, apa lagi Im-kan Seng-jin! Lawan-lawan yang amat berat dan sakti."

"Aku tidak takut dan aku harus mencari mereka."

"Aku pun tidak takut, hanya bilang bahwa mereka lihai. Kelak aku akan membantumu, Bun Beng."

Bun Beng menoleh dan mereka berpandangan. Melihat sinar mata penuh rasa syukur dan berterima kasih dari pemuda itu, Si Dara membuang muka dengan perasaan jengah. "Biar pun mereka bukan musuhmu, aku pun akan menentang mereka dan Thian-liong-pang, juga Pulau Neraka!" katanya menambahkan, seolah-olah hendak mengalihkan perhatian Bun Beng bahwa dia menentang mereka bukan semata-mata untuk membantu Si Pemuda.

Mereka berjalan terus, berjalan cepat karena mereka kini mempergunakan ilmu lari cepat setelah Bun Beng mengatakan bahwa pulau di muara sungai itu tidak jauh lagi.

"Nah, itu dia pulaunya, dan di sanalah pusaran maut itu!" Bun Beng berteriak menuding dan mereka berlari cepat menghampiri pantai dari mana tampak pulau kecil di tengah muara yang dahulu menjadi medan pertempuran. Dari pantai itu tampak pula pusaran air dan Bun Beng masih bergidik ngeri melihat air berputar-putar itu, teringat akan pengalamannya beberapa tahun yang lalu.

"Lihat, Kwi Hong. Ketika terjadi pertandingan di pulau itu, aku terlempar dari atas tebing itu, tepat jatuh di pusaran maut."

Kwi Hong mengerutkan alisnya. "Hemmm..., dan setelah kau keluar dari lorong air kau mendarat di lambung gunung katamu dahulu? Gunung yang dekat dengan muara ini hanya sebelah sana itu. Kita harus menyeberang!"

Tempat itu sunyi sekali, akan tetapi dari jauh tampak layar-layar perahu nelayan pencari ikan. Bun Beng yang lebih senang kalau mencari pedang-pedang itu tidak melalui pusaran air, cepat berlari ke bawah dan akhirnya dapat memanggil seorang tukang perahu. Dengan biaya ringan mereka dapat diseberangkan oleh nelayan itu dan melanjutkan perjalanan mendaki gunung karang yang sukar dilalui. Namun berkat kepandaian mereka, mereka dapat juga mendaki dan setelah tiba di sebuah puncak batu karang yang tinggi, Bun Beng meloncat naik dan memandang ke sekeliling, mencari-cari.

Akhirnya ia berseru girang. "Nah, di sana itu agaknya, di seberang jurang lebar itu. Benar, tidak salah lagi, itu yang tampak seperti gerombolan tentulah hutan-hutan di mana mereka mencari akar dan daun obat! Dari sanalah aku diterbangkan rajawali. Nah, sungai berada di sana dan gunung yang puncaknya tinggi itulah tempat aku melayang... ahhh, tidak salah lagi. Mari kita ke sana!"

Akan tetapi, kegirangan Bun Beng yang mengenal tempat itu harus ditebus mahal sekali untuk menjadi kenyataan. Perjalanan amat sukar. Kadang-kadang mereka harus menuruni jurang yang amat dalam, melalui perjalanan yang curam dan kadang-kadang mereka harus mendaki batu karang yang runcing tajam mengakibatkan luka-luka pada telapak tangan. Sepatu mereka juga pecah-pecah.

Malam itu terpaksa mereka harus bermalam di antara batu-batu karang gundul dan terpaksa melalui malam dingin sekali tanpa api unggun karena di daerah di mana mereka bermalam itu tidak terdapat sepotong pun kayu. Juga perut mereka lapar bukan main, namun semangat mereka tetap tinggi. Kini Kwi Hong memaksa Bun Beng supaya tidur lebih dulu, akan tetapi betapa mendongkol dan menyesal hati Bun Beng ketika dia terbangun, ternyata hari telah menjadi pagi dan dara itu ‘membalas dendam’ tidak mau membangunkannya dan berjaga semalam suntuk. Ia mendongkol dan juga terharu sekali. Mereka baru saja melakukan perjalanan yang melelahkan namun gadis itu bersikeras berjaga semalam suntuk.

"Aihh, Kwi Hong. Mengapa kau begini sungkan, sedangkan kita telah menjadi sahabat dan mengalami kesukaran bersama?"

"Tidak akan puas hatiku kalau belum membalas. Aku paling tidak suka kalau merasa diri tidak adil. Setelah membalas, tentu saja hatiku lega dan lain kali kau harus tidak bersikap mengalah dan sungkan pula seperti yang kau lakukan malam kemarin."

Mereka melanjutkan perjalanan. Makin dekat tempat itu, makin yakinlah hati Bun Beng bahwa dia tidak keliru. Lewat tengah hari, kedua orang muda ini mendaki tebing tinggi menuju ke daratan di atas di mana dahulu para pemuja Sun-go-kong menyerahkan keranjang-keranjang obat kepada burung-burung rajawali dari Pulau Neraka! Baru saja mereka meloncat ke puncak yang datar itu, tiba-tiba menyambar banyak senjata rahasia yang ternyata adalah batu-batu karang kecil dari depan. Dengan mudah keduanya mengelak dan Bun Beng berteriak.

"Harap Cu-wi tidak menyerang! Aku Gak Bun Beng!"

Dari balik semak-semak bermunculan delapan belas orang. Ketika mereka melihat Bun Beng, orang-orang itu berteriak sambil lari menghampiri dan semua menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu. "Ah, kiranya Gak-inkong yang datang! Kami bersyukur sekali, In-kong. Kami melihat betapa In-kong diterbangkan burung rajawali dan mengira Gak-inkong sudah tewas...!"

Bun Beng tersenyum lebar. "Memang nyaris aku tewas, tetapi syukurlah Tuhan belum menghendaki demikian. Apakah Cu-wi baik-baik saja?"

"Terima kasih, In-kong. Semenjak peristiwa dahulu itu, kami tidak lagi mengalami gangguan, agaknya Dewa Sun-go-kong melindungi kami."

Mendengar ini, Bun Beng melirik kepada Kwi Hong dan gadis ini yang sudah mendengar tentang para pemuja Siluman Kera itu tersenyum. Gadis ini sebagai murid Pendekar Super Sakti, berhati polos dan jujur, maka tanpa ragu-ragu lagi ia berkata,

"Sun-go-kong hanyalah tokoh dalam dongeng See-yu, mengapa kalian menyembah dan memujanya? Betapa bodohnya kalian ini orang-orang tua memuja tokoh dongeng kanak-kanak!"

Delapan belas orang yang kini sudah bangkit berdiri memandang kepada Kwi Hong dengan alis berkerut tanda tidak senang hati. "Hemm, Nona yang masih muda..., kalau saja engkau tidak datang bersama Gak-inkong dan menjadi sahabatnya, tentu kami tidak membiarkan engkau berkata selancang itu. Semua dewa yang dipuja memang hanyalah tokoh dongeng. Yang penting bukanlah tokoh dongengnya, melainkan hati si pemujanya! Gak-inkong, apakah Nona ini sahabatmu? Kalau bukan, dia tidak kami perkenankan berada di sini!"

Bun Beng diam-diam merasa menyesal mengapa Kwi Hong berlancang mulut, namun dia pun tidak dapat menyalahkan dara itu yang memang suka bicara terang-terangan menurutkan kata hatinya. "Dia sahabat baikku, harap Cu-wi suka memaafkannya."

Wajah delapan belas orang itu menjadi cerah kembali dan mereka sudah memaafkan Kwi Hong. Bahkan seorang di antara mereka, yang termuda, maju dan berkata sambil tertawa, "Sahabat baik Gak-inkong? Ha-ha cocok sekali. Cantik jelita dan patut menjadi sisihan In-kong yang tampan..."

"Plak! Aduh!" Orang itu terguling dan meraba pipinya yang sudah menjadi bengkak oleh tamparan Kwi Hong. Gerakan tangan dara itu cepat bukan main sehingga orang yang ditamparnya hampir tidak tahu bahwa dia ditampar, disangkanya ada halilintar menyambar pipinya!

Teman-temannya menjadi marah dan mereka sudah mengepal tinju, siap mengeroyok Kwi Hong sungguh pun diam-diam mereka terheran-heran. Mereka telah mempelajari Ilmu Sin-kauw-kun-hoat yang diberikan oleh Dewa Sun-go-kong kepada mereka, dan ilmu silat ini mengutamakan kegesitan sehingga mereka semua adalah ahli-ahli mengelak pukulan. Mengapa teman mereka tadi begitu mudah kena ditampar oleh dara ini?

"Tahan, Cu-wi sekalian! Nona ini adalah murid Pendekar Super Sakti, To-cu Pulau Es, harap Cu-wi tidak menimbulkan pertentangan!"

"Murid Pendekar Siluman...?" Terdengar seruan-seruan mereka dan semua orang memandang dengan mata terbelalak. Sebagai pejuang, tentu saja mereka sudah mendengar nama Pendekar Siluman yang dulu pernah menggegerkan musuh di Se-cuan.

Orang tertua dari mereka segera mengangkat tangan memberi hormat kepada Kwi Hong sambil berkata, "Mohon maaf, karena tidak mengenal kami bersikap kurang hormat kepada Lihiap."

Kemudian ia menghadapi Bun Beng dan bertanya, "Setelah bertahun-tahun In-kong meninggalkan kami, sekarang In-kong datang dengan tiba-tiba, apakah yang dapat kami lakukan untuk membantu In-kong dan Lihiap ini?"

Bun Beng tersenyum. "Terima kasih atas kebaikan Cu-wi sekalian. Aku datang hanya untuk menengok dan terutama sekali untuk mengambil sesuatu yang dahulu kusimpan di tempat ini. Harap Cu-wi tidak repot dan aku bersama Nona ini akan mencari dan mengambil sendiri benda yang kusimpan itu."

Orang-orang itu saling pandang. Mereka tidak tahu benda apakah yang disimpan oleh Bun Beng di situ, akan tetapi orang tertua dari mereka menjawab, "Silakan In-kong."

"Mari, Kwi Hong!" kata Bun Beng dengan sikap gembira.

Nona itu pun merasa gembira dan hatinya tegang, melompat dan mengikuti Bun Beng meninggalkan tebing itu, berlari-lari ke arah gunung di mana terdapat goa-goa batu yang sebagian besar tertutup alang-alang tinggi dan lebat.

Dengan hati berdebar Bun Beng mengajak gadis itu pergi ke daerah goa ini yang jauh juga dari tebing sehingga sekumpulan orang pemuja Sun-go-kong itu tidak tampak lagi, kemudian dengan mudah ia mencari goa kecil yang ia tutup dengan tumpukan batu sehingga sama sekali tidak kelihatan dari luar. Tanpa berkata sesuatu ia membongkar batu-batu itu, dibantu oleh Kwi Hong yang juga menjadi tegang hatinya. Siapa yang tidak berdebar hatinya kalau mengingat bahwa Sepasang Pedang Iblis itu berada di belakang tumpukan batu? Sepasang Pedang Iblis yang diperebutkan orang sedunia kang-ouw, bahkan yang dicari-cari tanpa hasil oleh pamannya!

Setelah tumpukan batu yang menutupi goa itu terbongkar semua, Bun Beng berseru girang melihat bungkusan kain yang kuning dan kotor. Ia mengenal itu, sehelai baju yang dipakai membungkus sepasang pedang. Baju itu sudah rusak dan kotor sekali, akan tetapi dengan penuh gairah Bun Beng menariknya dan dengan kedua tangan gemetar ia membuka bungkusan kain butut. Ternyata sepasang pedang itu masih utuh, sebatang agak pendek, sebatang lagi lebih panjang, akan tetapi bentuk gagang dan sarung pedangnya serupa. Ia menyerahkan yang pendek kepada Kwi Hong tanpa bicara. Bersama-sama mereka meneliti pedang itu dan membaca huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang.

"Yang pendek ini adalah Li-mo-kiam (Pedang Iblis Betina)...," kata Kwi Hong setelah membaca huruf-huruf di pedangnya.

"Dan ini adalah Lam-mo-kiam (Pedang Iblis Jantan)...," kata Bun Beng.

"Tepat seperti yang diceritakan Paman, ini adalah sepasang..."

"Sepasang Pedang Iblis! Ha-ha-ha, harus diberikan kepadaku!"

Bun Beng dan Kwi Hong terkejut bukan main mendengar suara di belakang mereka itu. Mereka cepat membalikkan tubuh dan ternyata yang tertawa dan bicara tadi adalah kakek India bersorban bersama muridnya Si Siucai Sinting! Bun Beng maklum bahwa mereka menghadapi bahaya besar dan dalam beberapa detik saja otaknya bekerja cepat, lalu ia berbisik kepada Kwi Hong. "Kau bawa semua pedang ini, serahkan Pamanmu, biar aku menahan..."

"Tidak..." Kwi Hong berbisik pula dan menolak pedang panjang yang diangsurkan kepadanya, "kita pergunakan pedang ini untuk melawan bersama. Pula, kalau kita masing-masing memegang satu, pedang itu berpencar dan kalau terampas orang tidak keduanya."

"Ha-ha-ha-ha! Orang-orang muda, sudah lama aku mencari Sepasang Pedang Iblis, dan melihat gerak-gerikmu kemarin, aku sudah sangat curiga, maka diam-diam kami membayangi kalian. Siapa kira, benar saja kalian telah menemukan Sepasang Pedang Iblis, ha-ha-ha-ha!"

"Maharya!" Tiba-tiba Kwi Hong membentak marah. "Seorang tua bangka macam engkau ini apakah tidak tahu peraturan dunia kang-ouw? Dalam berlomba mencari pusaka, siapa yang mendapatkannya berarti sudah berjodoh! Kami sudah mendapatkannya dan pusaka ini adalah milik kami!"

"Ha-ha-ha! Bocah perempuan, sungguh tajam matamu dapat mengenal aku! Akan tetapi engkau tidak tahu riwayat Sepasang Pedang Iblis. Sepasang pedang itu adalah hak milikku. Karena itu, sudah semestinya kalian berikan kepada Maharya!" kakek India yang kini sudah pandai bicara bahasa daerah itu berkata dengan lidah kaku.

"Sombong dan pembohong besar engkau! Sepasang Pedang Iblis ini adalah milik pribadi Pendekar Wanita Sakti Mutiara Hitam yang menjadi pujaan Pamanku, To-cu dari Pulau Es. Kemudian pusaka-pusaka ini diwariskan kepada kedua muridnya, kemudian ditemukan oleh Paman dan dikubur bersama jenazah kedua murid Mutiara Hitam. Setelah itu lenyap dan akhirnya kami yang menemukannya kembali. Bagaimana kau berani bilang menjadi milikmu? Tak tahu malu!"

Sastrawan sinting itu meloncat ke depan. "Ah, dia ini keponakan Suma Han si jahanam keparat? Guru, kita tangkap dia dan siksa sampai mati, biar terasa oleh Suma Han siluman keparat itu!"

Kwi Hong mendelik saking marahnya dan telunjuk kirinya menuding ke arah sastrawan itu. "Engkau Tan Ki orang gila! Paman sudah menceritakan kepadaku tentang engkau! Tunanganmu, Lu Soan Li tewas dalam perjuangan sebagai seorang wanita pendekar yang gagah perkasa, akan tetapi engkau ini manusia gila telah menyalahkan Paman, bahkan menjadi murid kakek iblis ini membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang Hok-mo-kiam. Sekarang harus kau kembalikan pedang pusaka itu atau kau akan mampus di tanganku!"

"Ha-ha-ha! Bocah ini sombong sekali! Eh, bocah yang manis dan galak, engkau tidak tahu. Biar pun Sepasang Pedang Iblis itu dibuat atas perintah Mutiara Hitam, akan tetapi pembuatnya adalah Kakekku Mahendra, maka akulah yang berhak memilikinya. Lebih baik kalian berikan sepasang pedang itu dan aku akan dapat membujuk muridku untuk membebaskan kalian berdua."

"Singggg!"

"Sratttt!"

Tampak dua sinar berkilat ketika Bun Beng dan Kwi Hong mencabut pedang masing-masing. Sinar ini amat terang sehingga mengejutkan Bun Beng dan Kwi Hong sendiri. Maharya terbelalak kagum dan tertawa lebar saking girangnya. "Sadhu! Sepasang Pedang Iblis yang mulia!" Ia berkata, kemudian menoleh kepada muridnya, "Pergunakan Hok-mo-kiam, mari kita rampas sepasang pedang ini!" Ia sendiri sudah memakai sarung tangan emas dan mengeluarkan senjata hidupnya, yaitu ular putih yang berbahaya.

"Kwi Hong, kau hadapi Siucai gila itu dan coba rampas pedangnya, biar aku menghalau kakek iblis ini!" kata Bun Beng dan tanpa menanti jawaban ia sudah menerjang maju, menyerang Maharya dengan Lam-mo-kiam yang mengeluarkan sinar seperti kilat menyambar.

Maharya terkejut dan cepat meloncat ke belakang. Dia tidak berani sembarangan menangkis sebab maklum bahwa pedang buatan kakeknya itu benar-benar merupakan sebatang pedang yang amat ampuh. Bun Beng tidak memberi hati, meloncat ke depan dan melakukan serangan bertubi-tubi. Dia harus dapat menahan kakek ini untuk memberi kesempatan kepada Kwi Hong menghadapi Tan-siucai yang lebih lemah dibandingkan dengan gurunya yang sakti ini.

Sementara itu, Tan-siucai sudah mencabut Hok-mo-kiam dan tampak sinar kilat yang lebih terang dari pada sinar Sepasang Pedang Iblis, akan tetapi tidak mendatangkan wibawa yang mendirikan bulu roma seperti sepasang pedang itu yang telah menghisap darah entah berapa ribu manusia. Kwi Hong cepat menerjang maju dengan Li-mo-kiam di tangan, melakukan tusukan dan girang sekali ketika merasa betapa pedang itu seolah-olah menambah tenaga pada tangannya, begitu ringan dan seperti telah mendahului jurus yang ia mainkan untuk menyerang, seperti mempunyai nyawa dan terbang sendiri menuju ke arah lawan! Benar-benar sebatang pedang yang amat luar biasa!

"Cringggg...!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika Li-mo-kiam bertemu dengan Hok-mo-kiam dan Kwi Hong terkejut karena merasa betapa pedangnya tergetar, seolah-olah menggigil dan takut setelah bertemu dengan pedang lawan. Padahal dia merasa bahwa dia masih menang tenaga menghadapi Tan-siu-cai. Maka ia menjadi waspada dan teringat bahwa pamannya dan mendiang Kakek Nayakavhira memang sengaja menciptakan Hok-mo-kiam untuk menghadapi dan melawan Sepasang Pedang Iblis!

Di lain pihak, Tan-siucai terkejut sekali. Pedangnya hampir terlepas dari tangannya ketika beradu dengan pedang lawan, lengannya tergetar dan ia maklum bahwa ia harus berhati-hati sekali menghadapi keponakan Pendekar Siluman yang memiliki sinkang yang amat kuat itu.

Setelah kini bertanding satu lawan satu dengan Kakek Maharya, Bun Beng harus mengaku dalam hati bahwa tingkat kepandaiannya masih belum cukup untuk menandingi lawan yang sakti ini. Pantas saja kakek ini dahulu berani menghadapi Pendekar Siluman, kiranya memang memiliki gerakan aneh dan setiap gerakan tangannya mengandung hawa yang panas dan di balik hawa panas ini masih ada pengaruh mukjizat yang membuat bulu tengkuk meremang, seperti bukan manusia yang ia lawan, melainkan iblis sendiri.

Bau harum aneh memuakkan yang keluar dari tubuh kakek tinggi kurus itu benar-benar membuat pikiran menjadi kacau. Untung bahwa sekali ini Bun Beng bersenjatakan Lam-mo-kiam yang juga memiliki wibawa amat mukjizat seolah-olah dalam pedang itu ada penghuninya sehingga pengaruh pedang iblis ini sedikit banyak dapat mengimbangi pengaruh kakek India. Kalau dia tidak memegang senjata ampuh ini, agaknya dia tidak akan mampu melawan sampai lama menghadapi kakek yang selain mahir ilmu silat aneh juga mahir ilmu sihir itu.

Bun Beng mainkan jurus-jurus ilmu pedang Siauw-lim-pai, mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan jurus-jurus pilihan yang jarang tandingnya, namun kakek itu selalu dapat mengelak dan menangkis dari samping dengan tangan kiri yang bersarung emas, sedangkan ular putih yang berbahaya itu terus menyambar-nyambar hendak menggigit, bahkan menyemburkan uap putih dengan suara mendesis-desis. Karena maklum bahwa semburan uap putih itu berbisa, Bun Beng kadang-kadang menahan napas dan mendorong dengan tangan kiri menggunakan hawa sinkang untuk mengusir uap putih.

Pertandingan berlangsung makin seru dan mati-matian. Bun Beng melihat mulut kakek itu berkemak-kemik, kemudian terdengar suara kakek itu tertawa bergelak. Ia terkejut bukan main, merasa betapa suara ketawa itu seolah-olah terdengar dari belakang punggungnya dan mendatangkan rasa dingin seperti es memasuki tulang punggung. Ia mengerahkan sinkang untuk menahan perasaan itu, dan saat ia memecah tenaganya, kakek itu mendesak dengan serangan kedua tangannya. Ia menjadi sibuk dan tiba-tiba ketika kakek itu kembali tertawa, ia terdorong oleh rasa yang amat kuat untuk ikut tertawa! Bun Beng yang cerdik masih ingat bahwa kakek ini mempergunakan sihir, maka ia melawan sekuat tenaga namun tetap saja mulutnya tersenyum!

Mendadak sekali, suara ketawa kakek itu berubah menjadi tangis dan Bun Beng merasa jantungnya seperti disayat-sayat, perasaan terharu meliputi seluruh hatinya dan betapa pun ia bertahan kuat-kuat, dua titik air mata jatuh ke atas pipinya. Ia makin kaget dan diam-diam berseru, "Celaka!"

Maklum dia bahwa dia tidak akan menang menghadapi kakek ini dan biar pun dengan pedang Lam-mo-kiam ia akan dapat mempertahankan diri sampai lama, tetapi akhirnya ia akan kalah juga. Ia amat khawatir, bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan mengkhawatirkan diri Kwi Hong.

"Kwi Hong...!" Ia berteriak, terengah-engah dan cepat membabat ke arah ular yang sudah mengancam leher. Ular itu ditarik kembali dan kini tangan yang bersarung emas itu mencengkeram ke arah pusarnya.

"Cringg!" Pedangnya menangkis dan kakek Maharya berteriak kaget karena tangannya yang terlindung sarung tangan itu terasa panas.

"Kwi Hong, larilah cepat! Beri tahu Pamanmu...!" Bun Beng berteriak sambil memutar pedangnya melindungi tubuh secepatnya.

Ia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menulikan telinga terhadap suara yang keluar dari mulut Maharya, akan tetapi tidak mungkin ia menutup matanya sehingga kadang-kadang sinar matanya bersilang dengan sinar mata Maharya yang seolah-olah mengeluarkan api bernyala-nyala!

Kwi Hong mendengar teriakan Bun Beng, akan tetapi dia sama sekali tidak mau peduli. Mana mungkin dia melarikan diri? Dia sedang mendesak Tan-siucai yang biar pun memegang Hok-mo-kiam, namun tingkat ilmu silatnya masih kalah jauh olehnya. Kalau Sastrawan sinting itu tidak memegang Hok-mo-kiam, tentu sudah sejak tadi mampus di ujung Li-mo-kiam.

Apa lagi ketika gadis ini mengerling dengan sudut matanya dan melihat betapa Bun Beng terdesak hebat oleh Maharya, dia makin tidak mau melarikan diri. Dia harus merobohkan Tan-siucai agar dapat membantu Bun Beng mengeroyok kakek yang sakti itu. Dia harus merampas Hok-mo-kiam dan hal ini amat penting, tidak kalah pentingnya dengan mempertahankan Sepasang Pedang Iblis, bahkan lebih penting dari pada keselamatan Bun Beng yang terancam oleh kakek iblis yang sakti. Maka ia terus mendesak Tan-siucai yang kini memutar pedang Hok-mo-kiam sehingga berubah menjadi gulungan sinar kilat yang menyelimuti tubuhnya, membuat Kwi Hong agak sukar untuk menembusnya.

Tiba-tiba Tan-siucai tertawa aneh dan terdengar suaranya, "Ha-ha-hi-hi, Nona manis, engkau melawan siapa? Aku sudah lenyap, bayanganku tidak tampak olehmu, siapa yang kau lawan? Apakah kau gila?"

Kwi Hong terkejut bukan main karena benar-benar bayangan lawannya itu lenyap dan tidak tampak olehnya. Yang tampak hanya gulungan sinar pedang Hok-mo-kiam yang terang seperti cahaya sinar matahari. Hampir saja sinar pedang mengenai lehernya kalau ia tidak cepat-cepat menjatuhkan diri karena dalam keadaan kaget dan bingung mencari musuhnya tadi ia bersikap lengah. Terdengar suara tertawa Tan-siucai dan sukar bagi Kwi Hong untuk menentukan dari mana datangnya suara tertawa ini karena bayangan orangnya tidak kelihatan.

Ia teringat bahwa sebagai murid kakek sakti ahli sihir itu Tan-siucai pandai pula main sihir, maka ia mengerahkan sinkang sekuatnya, sinkang yang dilatihnya di Pulau Es sehingga ia dapat menggabungkan hawa Im dan Yang di tubuh, menguatkan hatinya dan kini tampaklah olehnya bahwa Tan-siucai masih berada di tempatnya yang tadi, memutar pedang dan mendesaknya.

"Cring-trang-trang... aihhh...!" Tan-siucai terkejut dan untung ia masih dapat menangkis sambil terhuyung ke belakang. Ia maklum bahwa gadis itu dapat melihatnya, maka ia mengerahkan seluruh ilmu sihirnya sehingga kini bayangannya kadang-kadang lenyap, kadang-kadang tampak oleh Kwi Hong.

Hal ini membuat Kwi Hong terdesak hebat dan timbul rasa gentar di hatinya. Yang dilawannya memiliki ilmu setan, bagaimana ia dapat melawan orang yang pandai menghilang? Sedikit saja ia mengurangi pengerahan sinkang-nya, bayangan lawan lenyap. Terpaksa ia membagi tenaganya, sebagian untuk melawan pengaruh sihir sehingga kadang-kadang ia dapat melihat bayangan lawan, kadang-kadang tidak.

"Kwi Hong, larilah cepat... laporkan Pamanmu...!" Kembali ia mendengar teriakan Bun Beng.

"Ha-ha-ha, heh-heh, benar sekali. Kalau kau sudah mati nanti, terbangkan rohmu kepada Si Keparat Suma Han, suruh dia ke sini menerima kematian, ha-ha!"

"Iblis busuk!" Kwi Hong menyerang cepat sekali ketika ia dapat melihat bayangan Tan Ki yang tertawa-tawa. Siucai itu cepat menangkis, akan tetapi Kwi Hong hanya melakukan serangan tusukan sebagai pancingan saja, karena cepat sekali kakinya menendang.

"Desss! Aduhhh... keparat!" Tan-siucai terkena tendangan di samping pinggulnya dan terlempar ke belakang. Kwi Hong cepat mengejar, akan tetapi karena tendangan itu tidak tepat kenanya dan hanya melemparkan tubuh Tan-siucai dan mengagetkan saja, maka Tan-siucai sudah dapat memutar pedang melindungi tubuhnya sambil meloncat bangun.

"Siapa yang kau serang? Aku lenyap sama sekali dari penglihatanmu!" Ucapan ini berulang kali diucapkan Tan-siucai dengan suara menggetar dan kembali Kwi Hong kadang-kadang kehilangan bayangan lawan, membuat ia terdesak lagi.

"Kwi Hong... kau larilah... lekas...!" Bun Beng yang sudah pening oleh pengaruh sihir Maharya, berteriak sekuat tenaga.

Ia mengandalkan ilmu pedang Siauw-lim-pai, mainkan bagian yang bertahan sehingga tubuhnya terlindung gulungan sinar pedang kilat. Dia dapat menahan serangan ular dan tangan bersarung emas, akan tetapi tekanan kekuatan mukjizat dari sihir Maharya benar-benar membuat dia pening dan hanya dengan kebulatan tekadnya dan kemauannya saja untuk mempertahankan diri, pedang Lam-mo-kiam dan terutama melindungi Kwi Hong maka ia masih dapat bertahan.

Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan delapan belas orang pemuja Sun-go-kong yang mendengar pertempuran dan teriakan-teriakan Bun Beng kini telah berada di situ. Tanpa diminta dan tanpa komando, delapan belas orang ini sudah menerjang maju membantu Bun Beng dan Kwi Hong!

Namun, begitu sebagian besar mereka mengeroyok Maharya, kakek itu mengeluarkan gerengan keras yang menggetarkan seluruh urat syaraf, dan terdengarlah teriakan-teriakan mengerikan dan lima orang sudah roboh susul-menyusul terkena hantaman tangan kiri bersarung emas sehingga pecah kepalanya dan sebagian terkena gigitan ular putih di tangan kanan kakek itu! Mereka yang mengeroyok Tan-siucai juga mengalami hal yang menyedihkan. Mereka menyerbu, tidak tahu akan keampuhan sinar pedang Hok-mo-kiam sehingga begitu kena disambar sinar ini, tiga orang roboh dan tewas seketika!

Delapan belas orang maju dan dalam sekejap mata saja delapan orang dari mereka tewas! Sisanya, yang sepuluh orang, menjadi kaget, berduka dan marah bukan main menyaksikan teman-teman mereka tewas sedemikian mudahnya, maka dengan nekat mereka maju untuk membalas dendam atau untuk tewas sekalian.

"Cu-wi, mundur...!" Bun Beng mencegah, akan tetapi sia-sia, mereka malah makin nekat.

"Ha-ha-ha, kalian yang sudah kehabisan tenaga dan setengah lumpuh masih mau melawanku?" Maharya berteriak.

"Jangan dengarkan!"

Bun Beng yang melihat kakek itu membuka mulut lebar memperingatkan, namun terlambat. Sepuluh orang itu tiba-tiba merasa kedua kaki mereka lemas tak bertenaga dan pada saat itu, menyambarlah sinar-sinar hitam dari tangan Tan-siucai dan Maharya. Itulah jarum-jarum hitam beracun dan tentu saja sepuluh orang yang sudah terpengaruh sihir itu tidak mampu mengelak lagi. Mereka mengeluh dan roboh dengan muka berubah menghitam dan nyawa melayang menyusul delapan orang teman mereka. Dalam sekejap mata saja, seluruh pemuja Sun-go-kong, bekas pejuang yang gigih tewas di tangan Maharya dan Tan-siucai dengan amat mudah dan secara sia-sia!

"Kakek iblis yang kejam!" Bun Beng berteriak marah, dan tiba-tiba permainan pedangnya berubah, ia telah mainkan ilmu rahasia yang dipelajarinya dari Kitab Sam-po-cin-keng, dan ternyata akibatnya hebat sekali. Maharya berteriak kaget, berusaha menangkis dengan tangan kirinya karena lingkaran-lingkaran aneh yang dibuat oleh sinar pedang Bun Beng membuat dia menjadi bingung.

"Brettt...! Ihhh!" Kakek Maharya mencelat mundur, wajahnya sebentar pucat sebentar merah, kemarahannya memuncak ketika ia melihat betapa sarung tangannya terobek sedikit dan telapak tangannya berdarah!

"Lihat api...!" Kakek itu membentak.

Karena girang melihat hasil serangannya, Bun Beng menjadi lengah sehingga ia mendengar suara ini, melihat pula betapa kakek itu menggerakkan tangan kiri sambil mendorong ke arahnya dan... ia melihat pula api berkobar meluncur ke arah tubuhnya. Bun Beng terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi bola api itu terus mengejarnya dari atas. Bun Beng cepat memutar pedangnya dan pada saat ia sibuk melawan bola api yang seperti hidup itu, tiba-tiba tangan bersarung emas telah menghantam bagian punggungnya dengan sebuah tamparan keras.

"Plakkk!" Bun Beng berseru kaget dan tubuhnya terguling-guling, napasnya seperti tersumbat. Sadarlah dia bahwa kembali dia menjadi korban sihir, dan bola api itu sebetulnya tidak ada maka dia sampai kena dipukul. Dengan marah ia melompat bangun dan jurus pertahanan dari Sam-po-cin-keng telah menutup tubuhnya sehingga Maharya tidak dapat menyusulkan serangan maut kepada lawan yang telah terluka itu.

"Kwi Hong... lari...!" teriakan Bun Beng sekali ini terdengar lirih karena dadanya sesak dan napasnya terengah. Kwi Hong terkejut sekali, menoleh dan melihat betapa pemuda itu makin terdesak hebat. Ia marah bukan main karena belum juga mampu mengalahkan Tan-siucai.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dari atas disusul menyambarnya bayangan hitam yang besar. Bunyi kelepak sayap bercampur dengan pekik melengking dan tertawa nyaring memenuhi udara ketika bayangan hitam itu menyambar ke arah Bun Beng dan Maharya yang sedang bertempur. Sinar putih panjang dua buah, seperti dua ekor ular putih yang amat panjang, menyambar ke arah tangan Bun Beng sedangkan paruh besar burung rajawali menyambar ke arah tangan Maharya yang memegang ular putih.

Bun Beng berteriak kaget ketika tiba-tiba tangan kanannya menjadi lemas terkena totokan sinar putih dan selagi dia belum sempat mengembalikan tenaga untuk memegang gagang pedang erat-erat, Pedang Lam-mo-kiam telah terlibat tali putih dan terlepas dari tangannya. Juga Maharya berseru keras ketika tiba-tiba ia diserang oleh pukulan sayap dan selagi ia mengelak, ular putih telah terlempar dari tangannya. Dua orang yang sedang bertanding ini melompat mundur, memandang ke atas dan tampaklah oleh mereka seorang pemuda tampan menunggang seekor rajawali raksasa sedang tertawa-tawa memegangi pedang Lam-mo-kiam di tangan kanan dan ular putih yang dirampas rajawali di tangan kiri!

"Iblis cilik dari Pulau Neraka!" Bun Beng memaki. "Kembalikan pedangku!"

Pemuda di atas punggung rajawali itu hanya tertawa mengejek dan pada saat itu, segumpal asap hitam yang dilepas oleh Maharya secara diam-diam menyerang muka Bun Beng. Pemuda ini gelagapan, menyedot asap hitam dan seketika kepalanya pening, pandang matanya gelap dan ia terhuyung-huyung.

"Desss!" Kembali punggungnya dihantam tangan kiri Maharya dan ia roboh terguling. Namun ia masih sempat berteriak, "Kwi Hong, lari...!"

Kemudian ia merangkak bangun duduk bersila memejamkan mata dan berusaha mengusir pengaruh asap beracun yang membuatnya pening dan lemas, apa lagi punggungnya yang telah dua kali dihantam oleh tangan kiri Maharya yang lihai membuat napasnya sesak.

Maharya yang tadinya menyangka bahwa pemuda di punggung rajawali yang datang itu mungkin akan mengeroyoknya, telah merobohkan Bun Beng lebih dulu, kemudian kini ia mengacungkan tangannya ke atas. "Bocah setan, tak peduli engkau dari Pulau Neraka, turunlah sebelum engkau dan rajawalimu mampus di tangan Pendeta Sakti Maharya!"

Pemuda itu bukan lain adalah Wan Keng In, putera To-cu Pulau Neraka. Ia tertawa dan memainkan ular putih di tangan kirinya. "Heh-heh, setan tua. Ular putihmu ini baik sekali, tentu kau dapatkan di Himalaya, bukan?"

Diam-diam Maharya terkejut juga. Ular putihnya itu adalah seekor binatang yang racunnya ampuh sekali. Jarang ada orang sakti yang akan mampu menahan racun binatang itu dan sudah bertahun-tahun ia memelihara dan melatihnya sehingga ular itu akan menjadi ganas kalau dipegang orang lain. Mengapa kini di tangan pemuda itu, ularnya menjadi jinak sekali? Namun tidak peduli anak setan dari mana pemuda itu, dia harus merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan ular putih. Ia menggerakkan tangannya dan sinar hitam menyambar ke arah burung rajawali yang terbang rendah.

Pemuda itu memutar pedang Lam-mo-kiam dan burung rajawali mengibaskan sayapnya, namun tetap saja ada sebatang jarum mengenai kaki burung itu sehingga burung itu memekik keras dan terhuyung.

"Crakk!" Pedang Lam-mo-kiam bergerak dan kaki burung yang terkena jarum hitam itu telah dibuntungi penunggangnya!

"Setan tua itu membikin kakimu putus, hek-tiauw (rajawali hitam), hayo kita bunuh dia!" Pemuda itu berseru dan rajawali itu telah menyambar turun dengan penuh kemarahan.

Disambar oleh cakar dan paruh, dihantam oleh sayap yang besar, serta ditambah lagi serangan pedang Lam-mo-kiam dan ular putihnya sendiri benar-benar membuat Maharya menjadi kaget bukan main. Ia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan hanya dengan jalan bergulingan ini ia terbebas dari bahaya maut.

Sementara itu, saat Kwi Hong melihat penunggang burung rajawali, mukanya berubah dan ia merasa gelisah sekali. Tentu saja dia mengenal Wan Keng In dan maklum bahwa pemuda Pulau Neraka itu merupakan musuh besar, sehingga tentu akan menambah lawannya.

Saat itu ia melihat Bun Beng terguling dan mendengar pesan terakhir pemuda itu. Tidak baik melawan terus, pikirnya. Melawan berarti akan kalah dan pedang Li-mo-kiam akan terampas pula. Apa artinya melawan kalau tidak akan dapat menolong Bun Beng dan merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan Pedang Hok-mo-kiam? Lebih baik seperti yang diminta Bun Beng, melarikan diri selagi ada kesempatan, kemudian melapor kepada pamannya karena kalau bukan pamannya sendiri yang turun tangan, bagaimana mungkin pedang-pedang itu dapat dirampas kembali?

Alisnya berkerut dan hatinya terasa sakit sekali ketika mengerling ke arah Bun Beng yang terpaksa harus ia tinggalkan. Ia berseru keras, pedangnya menyerang ganas sehingga Tan-siucai kaget dan meloncat mundur. Ketika ia memandang ke depan, gadis lawannya itu telah meloncat-loncat jauh dan melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar gurunya berteriak,

"Tan Ki... bantu aku...!"

Ia menengok dan terkejut sekali melihat pemuda yang menunggang burung rajawali itu sambil terkekeh-kekeh menyerang gurunya dari atas, menyambari gurunya seperti seekor burung mempermainkan tikus! Ia menjadi marah dan maju menyerang dengan pedangnya ketika pemuda di atas punggung rajawali itu kembali turun menyambar.

"Trangggg...! Bukkk!" Pemuda di atas punggung rajawali itu berseru kaget, sementara rajawalinya memekik kesakitan dan terbang tinggi. Pemuda itu kaget karena pedang laki-laki yang menangkisnya itu ternyata dapat membuat Lam-mo-kiam terpental dan tangannya tergetar, sedangkan pukulan tangan kiri bersarung emas Maharya telah mengenai paha rajawali itu.

Wan Keng In yang sudah memeriksa pedangnya dan maklum bahwa secara tidak terduga-duga dia telah mendapatkan sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis yang dicari-cari ibunya, tidak mau menempuh bahaya menghadapi dua orang di bawah yang ternyata lihai itu, apa lagi kini rajawalinya terluka berat, sebelah kakinya buntung dan bercucuran darah, sedangkan pahanya juga terluka oleh hantaman kakek sakti itu. Belum tentu rajawalinya akan kuat membawanya terbang ke Pulau Neraka, maka ia lalu menyuruh rajawalinya terbang tinggi dan kembali ke Pulau Neraka.

Maharya menyumpah-nyumpah. "Anak Iblis! Keparat jahanam! Dia sudah membawa lari ularku!"

"Dan Lam-mo-kiam juga dirampasnya. Semua ini kesalahan pemuda sialan itu! Kita bunuh saja dia!" Ia melangkah lebar dan mengayun Hok-mo-kiam ke arah leher Bun Beng yang masih duduk bersila mengatur pernapasan. Karena tidak sanggup membela diri lagi, Bun Beng tetap tidak bergerak, menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.

"Jangan!" Tiba-tiba Maharya berteriak dan Tan Ki menahan pedangnya, menoleh dan memandang gurunya dengan heran.

"Mengapa? Apakah Guru menaruh kasihan kepada bedebah ini?"

"Ha-ha-ha, hatiku sakit sekali karena gara-gara dia sarung tanganku robek, ularku lenyap dan Lam-mo-kiam juga hilang. Aku senang bukan main melihat dia mampus, akan tetapi amat enaklah kalau kau membunuhnya begitu saja. Kita harus membuat dia mati perlahan-lahan, biar dia menderita sampai empat puluh hari, mati tidak hidup pun bukan, baru benar-benar mampus, ha-ha-ha!"

Tan-siucai tertawa geli. "Maksudmu bagaimana, Guru?"

"Begini!" Maharya menghampiri Bun Beng dari belakang dan tangan kirinya yang memakai sarung tangan bergerak, jari-jarinya menusuk. Bun Beng maklum bahwa dirinya diserang, akan tetapi tubuhnya lemas, tenaganya habis sehingga melawan pun hanya akan menyiksa diri, maka dia diam saja menerima hantaman maut.

"Cusss! Cusss!"

Dua kali Maharya menggerakkan jari-jarinya yang menotok di belakang pinggang, kanan kiri tulang punggung. Bun Beng tidak merasakan sesuatu, hanya rasa pegal di tempat yang ditotok.

"Ha-ha-ha, aku mengacaukan jalan darahnya, menindas hawa pusar dan membalikkan hawa kundalini. Dia akan keracunan, kedua kakinya akan lumpuh, darahnya perlahan-lahan akan kotor dan menghitam dan dia setiap hari akan menderita hebat, sedikit demi sedikit nyawanya terancam, sampai empat puluh hari. Dia mati sekerat demi sekerat, ha-ha-ha!"

Tan-siucai juga tertawa-tawa, akan tetapi hatinya tidak puas ketika melihat betapa dua kali totokan gurunya itu tidak membuat Bun Beng kesakitan. "Terlalu enak kalau dia tidak diberi rasa, dan hatiku tidak puas kalau tidak menyiksanya tanpa membunuhnya."

Gurunya mengangguk. "Asal jangan kau gunakan sinkang agar tidak membunuhnya, sesukamulah."

"Kalau tidak gara-gara dia, kita tidak kehilangan dan tentu keponakan Pendekar Siluman sudah dapat kubekuk. Biar dia tahu rasa!" Tan-siucai mengayun kakinya, tanpa menggunakan tenaga sinkang menendang ke arah ulu hati Bun Beng.

"Ngekkk!" Walau pun tidak menggunakan sinkang, namun tendangan yang keras itu membuat Bun Beng terjungkal dan ia muntahkan darah segar.

"Desss!" Kini pipi kanan Bun Beng yang mukanya rebah miring itu diinjak sepatu. Ketika injakan yang keras ini membuat Bun Beng menggerakkan kepala sehingga bangkit duduk lagi, Tan-siucai menendang yang kiri.

"Desss!" Tendangan keras sekali ini membuat tubuh Bun Beng terjengkang, kepalanya pening, bibirnya berlepotan darah segar, mukanya bengkak-bengkak dan membiru.

Tan-siucai tertawa-tawa girang akan tetapi ia masih belum puas. Dengan langkah lebar ia menghampiri Bun Beng, dua kali kakinya bergerak ke arah kedua lutut Bun Beng, menendang keras sekali.

"Krak! Krak!"

Tanpa mengeluh Bun Beng terguling pingsan, sambungan kedua lututnya terlepas!

"Cukup, kalau terlalu berat dia tidak akan menderita sampai empat puluh hari. Mari kita pergi. Sayang sekali Sepasang Pedang Iblis terlepas dari tangan kita. Kita kejar bocah perempuan itu!" Guru dan murid itu sambil tertawa-tawa puas lalu berlari, bayangan mereka berkelebat dan tempat itu menjadi sunyi sekali.

Tubuh Bun Beng menggeletak menelungkup dalam keadaan pingsan, sedangkan tak jauh dari situ delapan belas buah mayat para pemuja Sun-go-kong malang-melintang! Menyeramkan sekali keadaan di situ, apa lagi ketika tampak beberapa ekor burung gagak hitam beterbangan dan berputaran di atas tempat itu, agaknya mereka sudah mencium bau mayat dan darah.

Bun Beng sadar dan membuka matanya ketika ia merasa pipinya sakit seperti ditusuk-tusuk pedang. Betapa mendongkol dan marah hatinya ketika ia melihat dua ekor burung gagak mematuki darah dari pipinya. Sekali mengibas dengan tangan, dua ekor burung itu terpental dan mati seketika. Gerakan ini membuat burung-burung gagak yang lain terbang ke atas dan Bun Beng bergidik. Burung-burung keparat itu pesta mematuki mayat-mayat, makan daging dan darah dari luka-luka di tubuh mayat-mayat itu.

Dengan hati terharu ia memandang ke sekeliling. Hatinya merasa sengsara sekali menyaksikan delapan belas orang itu telah menjadi mayat, dan lebih sakit lagi hatinya karena dia tidak dapat mengubur jenazah mereka. Kedua kakinya tak dapat ia gerakkan, sambungan lutut kedua kakinya terlepas dan rasa nyeri yang amat hebat menusuk tulang-tulangnya. Ia mengeluh dan bangkit duduk. Dengan jari tangannya ia menotok jalan darah di paha untuk melenyapkan rasa nyeri di lututnya, kemudian sedapat mungkin ia mengurut lutut-lututnya. Kemudian ia menggerakkan kedua tangannya, mengesot dan setengah merangkak meninggalkan tempat itu.

Dia harus pergi dari situ, tidak tega ia menyaksikan mayat-mayat itu dimakan burung. Mereka telah mati dalam membelanya. Ia menoleh sebentar dengan air mata membasahi bulu matanya, dia berbisik, "Sahabat-sahabatku sekalian, aku bersumpah kalau masih dapat sembuh dan hidup, aku akan membalas kematian kalian kepada Maharya dan Tan Ki." Kemudian ia merangkak terus meninggalkan tempat itu. Akan tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama sekali dada dan perutnya. Ia maklum bahwa ia telah terluka hebat dan jalan darahnya menjadi kacau-balau, membuat setiap buku tulang terasa seperti ditusuki jarum.

Susah payah Bun Beng merangkak. Bagaimana ia dapat menuruni bukit yang terjal itu? Ah, bagaimana pula nasib Kwi Hong? Mudah-mudahan dia dapat melarikan diri, pikirnya dan ia menjadi agak lega. Biar pun dia mati, tentu Pendekar Super Sakti akan membalaskan sakit hatinya. Bertambah pula musuh-musuhnya, musuh yang amat sakti.

Musuh-musuh pertamanya, Koksu Negara Im-kan Seng-jin dan para pembantunya sudah merupakan lawan yang berat dan belum dapat ia jumpai, kini muncul pula musuh-musuh yang tidak kalah saktinya, yaitu Tan Ki dan gurunya yang pandai ilmu sihir! Dan dia maklum bahwa guru dan murid itu telah membuat dia menjadi seorang cacad dan tinggal menunggu maut. Pukulan beracun itu takkan dapat ia obati, apa lagi dengan kedua kaki tak dapat dipakai berjalan, apa dayanya? Namun dia tidak putus asa, tidak mau putus asa. Selagi ia masih hidup, dia akan berusaha menyembuhkan luka-lukanya, berusaha pergi dari tempat berbahaya ini!

Malam itu Bun Beng mengalami malam yang paling sengsara. Ia berusaha duduk bersila bersiulian, namun tetap saja ia tidak dapat mengerahkan tenaganya. Begitu ia mengerahkan sinkang, perutnya terasa panas seperti dibakar dan seluruh tubuh terasa gatal-gatal. Ia hanya dapat melatih pernapasan, menghirup udara segar, itu pun tidak dapat ia tarik ke pusar seperti biasa karena hal ini juga menimbulkan rasa nyeri yang sama.

Semalaman ia tidak tidur dan kalau ia teringat akan malam penuh bahagia bersama Kwi Hong, ia tersenyum pahit. Baru kemarin ia mengalami malam yang paling bahagia selama hidupnya, duduk menghadapi api unggun, menatap wajah gadis itu yang tidur nyenyak dan merasa betapa dunia menjadi amat indah. Kini perubahan itu seperti sorga dan neraka. Ia teringat akan wejangan Siauw Lam Hwesio bahwa memang demikianlah hidup. Sorga dan neraka penghidupan muncul dan lenyap saling berganti!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah terang tanah, Bun Beng melanjutkan usahanya menuruni bukit dengan merangkak perlahan-lahan. Betapa ia dapat melakukan perjalanan cepat kalau ia hanya mengandalkan kedua tangannya untuk menarik tubuhnya secara mengesot?

Tubuhnya terasa makin panas. Darah yang mengalir ke kepalanya seolah-olah membakar kepala dan menjelang tengah hari ia tidak kuat lagi. Ia rebah di bawah sebatang pohon dalam keadaan setengah pingsan. Ketika ia meletakkan pipinya yang masih membengkak dan nyeri berdenyut-denyut itu ke atas tanah berumput yang dingin basah, ia merasa betapa nikmatnya tidur seperti itu. Ingin ia tidak dapat bangun kembali, rebah seperti itu untuk selamanya!

Sebuah kaki bersepatu membalikkan tubuhnya yang menelungkup. Ia terlentang dan pandang matanya berkunang. Dalam keadaan setengah pingsan ia melihat beberapa orang berdiri mengelilinginya dan jantungnya berdebar penuh kemarahan ketika ia mengenal seorang di antara mereka adalah pemuda Pulau Neraka, si penunggang rajawali! Bagaimana pemuda ini bisa muncul kembali?

Pemuda yang datang bersama dua orang anggota Pulau Neraka bermuka merah tua itu adalah Wan Keng In. Pemuda ini tadinya hendak kembali ke Pulau Neraka menunggang rajawali yang terluka parah. Hatinya girang mendapatkan Lam-mo-kiam, akan tetapi juga kecewa karena dia tidak dapat mengalahkan kakek India dan sastrawan yang menjadi murid kakek itu. Kecewa karena dia tidak bisa mendapatkan pedang Li-mo-kiam karena ibunya tentu akan girang sekali kalau dia bisa mendapatkan Sepasang Pedang Iblis itu, bukan hanya yang jantan, pula, dia pun ingin sekali mendapatkan pedang Si Sastrawan yang mampu menandingi Lam-mo-kiam.

Dengan hati girang Wan Keng In melihat seekor burung rajawalinya terbang di udara. Ia bersuit nyaring dan ketika rajawali itu terbang dekat, ia lalu pindah ke atas punggung rajawali yang sehat. Ketika ia terbang rendah di pantai, ia melihat sebuah perahu hitam, perahu Pulau Neraka. Cepat ia turun dan ternyata perahu itu adalah perahu yang ditumpangi dua orang anggota Pulau Neraka bermuka merah. Biar pun ia agak kecewa mendapat kenyataan bahwa yang berada di perahu hanyalah dua orang anggota rendahan yang tidak dapat banyak diandalkan, namun ia girang juga dan cepat mengajak mereka untuk pergi ke bukit itu. Dia harus menyelidiki bukit itu. Siapa tahu pusaka-pusaka yang yang lain berada di situ.

Demikianlah, ketika di tengah jalan ia melihat Bun Beng yang menggeletak setengah pingsan, alisnya berkerut. "Inilah orangnya yang memegang pedang yang kurampas. Kepandaiannya lumayan juga. Eh, orang yang terluka parah, aku akan mengobatimu sampai sembuh, akan tetapi katakanlah, dari mana engkau mendapatkan Siang-mo-kiam? Dan mana yang sebatang lagi?"

Mendengar pertanyaan ini, Bun Beng menggeleng kepala tanpa menjawab. Biar pun benar-benar pemuda Pulau Neraka ini akan dapat menyembuhkannya, dia tetap tidak sudi memberi tahu kepada pemuda yang dibencinya itu tentang sepasang pedang iblis yang kini telah dirampasnya sebatang. Lebih baik dia mati dari pada memberi tahu bahwa pedang yang sebuah lagi dipegang Kwi Hong. Kalau pemuda ini naik burung rajawali mengejar dan mencari Kwi Hong dari atas, gadis itu bisa terancam bahaya...


BERSAMBUNG KE JILID 10


Thanks for reading Sepasang Pedang Iblis Jilid 09 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »