Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 08

Namun Nirahai yang memiliki tingkatan lebih tinggi bersikap tenang-tenang saja. Dari kedua tangan lawan di kanan kirinya, menerobos tenaga sinkang yang kuat sekali melalui kedua lengannya yang terkembang. Wanita cerdik ini tidak melawan sehingga kedua lawannya terkejut dan heran, tiba-tiba mereka tersentak kaget ketika ada tenaga amat kuat menahan dorongan sinkang mereka. Sejenak kedua orang itu mengerahkan semangat dan tenaga dalam dan ketika mereka melihat betapa wanita itu kelihatannya enak-enak saja tanpa mengerahkan tenaga, barulah mereka sadar bahwa mereka kena diakali! Kiranya lawan mereka itu sengaja mempertemukan kedua tenaga sakti dari kanan kiri sehingga Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang bertanding sendiri, saling dorong dengan tenaga sinkang melalui tubuh Si Wanita berkerudung yang seolah-olah hanya menyediakan dirinya menjadi arena pertandingan sambil menonton seenaknya!

Mereka sadar dan cepat hendak menarik tenaga sakti mereka, namun terlambat karena pada saat itu Nirahai sudah menggunakan tenaganya sendiri, menggunakan kesempatan selagi kedua orang saling dorong sehingga tenaga sinkang mereka terpusat kemudian mereka menarik kembali tenaga ketika sadar bahwa sesungguhnya mereka itu saling gempur antara saudara sendiri. Ketika kedua orang kakek itu menarik kembali tenaga sinkang, saat itulah Nirahai menyerang mereka dengan tenaga sakti yang amat dahsyat. "Cukup, rebahlah!"

Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang tak dapat mempertahankan diri lagi, begitu Nirahai menarik kedua lengannya mereka roboh dan biar pun mereka sudah berusaha sekuatnya untuk tidak terguling, tetap saja mereka jatuh berlutut dan cepat memejamkan mata sambil mengatur pernapasan. Tenaga sinkang mereka sendiri yang tadi mereka tarik telah menghantam dada mereka karena didorong oleh tenaga wanita berkerudung itu, membuat dada terasa sakit dan pernapasan menjadi sesak. Yang membuat mereka heran dan bingung adalah keadaan lengan kanan mereka yang menjadi lumpuh seolah-olah tulang pundak lengan dalam keadaan terkunci, sama sekali tidak dapat digerakkan!

"Wi Siang, bantulah kedua orang Suheng-mu itu. Kau totok jalan darah Hong-hu-hiat di pundak kanan mereka masing-masing dua kali." Nirahai berkata kepada Tang Wi Siang yang berdiri menonton pertandingan tadi penuh kagum. Ia mengangguk, menghampiri kedua orang suheng-nya dan tanpa ragu-ragu menotok belakang pundak kanan mereka dua kali seperti yang diperintahkan wanita berkerudung itu.

Begitu terkena totokan dua kali, jalan darah mereka normal kembali dan lengan kanan dapat digerakkan. Kini kedua orang kakek itu benar-benar tunduk dan merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. Timbul rasa kagum dan suka di hati mereka untuk mengangkatnya menjadi ketua, karena dengan ketua sehebat ini, Thian-liong-pang pasti akan menjadi sebuah perkumpulan yang kuat dan terpandang. Maka mereka lalu berlutut di depan Nirahai sambil berkata,

"Pangcu!"

Terdengar sorak sorai dari para anggota yang kini sudah pula berlutut menghadap Si Wanita berkerudung yang tersenyum di balik kerudungnya. Nirahai mengangkat kedua lengan ke atas dan suara sorakan itu terhenti. Keadaan menjadi sunyi dan semua orang mendengarkan ucapan dari balik kerudung, ucapan yang halus merdu namun berwibawa,

"Mulai saat ini Thian-liong-pang di bawah pimpinanku harus menjadi perkumpulan yang kuat, dihormati dan disegani di seluruh dunia kang-ouw. Untuk dapat menjadi kuat, kalian semua harus menggembleng diri dan mempertinggi tingkat ilmu silat yang akan kuajarkan kepada kalian semua, sesuai dengan tingkat masing-masing. Untuk menjadi perkumpulan yang disegani, Thian-liong-pang harus menunjukkan kegagahan dan kekuatannya menundukkan semua pihak yang menentang kita, dan untuk dapat dihormati, Thian-liong-pang harus bersih dari pada segala perbuatan yang jahat. Tidak boleh ada penyelewengan lagi, tidak boleh ada perampokan, penindasan dan perbuatan jahat lagi. Semua perbuatan yang dilakukan oleh anggota, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang akan ku adakan. Setiap pelanggar akan menerima hukuman berat!"

Mendengar perintah pertama yang keluar dari mulut wanita berkerudung itu, diam-diam Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang menjadi girang sekali. Sai-cu Lo-mo demikian kagum dan gembiranya sehingga ia mengangkat tangan kanan ke atas sambil berteriak, "Hidup Pangcu kita!"

Semua anggota juga tertegun mendengar perintah tadi, tentu saja yang biasanya mengumbar nafsu, diam-diam menjadi gentar dan khawatir kalau-kalau dia akan mangalami nasib sial dan dihukum seperti para pimpinan mereka yang kini masih menggeletak di situ menjadi mayat. Maka, mendengar seruan Sai-cu Lo-mo, serentak semua anggota berteriak, "Hidup pangcu...!" Bahkan mereka yang tadinya suka mengandalkan nama besar Thian-liong-pang untuk melakukan penindasan dan perbuatan-perbuatan jahat, berteriak paling keras!

"Sekarang singkirkan dan urus jenazah mereka ini baik-baik, kuburkan sebagaimana mestinya. Sai-cu Lo-mo, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, mulai sekarang kalian berdua kuangkat menjadi pembantu-pembantuku, sedangkan Tang Wi Siang, sesuai dengan kehendaknya sendiri menjadi pelayanku yang paling kupercaya. Mari kita masuk dan merundingkan segala urusan mengenai Thian-liong-pang. Aku ingin mendengar, hal apa saja yang dihadapi Thian-liong-pang saat ini."

Nirahai diiringkan oleh tiga orang pembantunya memasuki gedung menuju ke ruangan dalam. Tak seorang pun pelayan diijinkan masuk ketika empat orang ini mengadakan perundingan, sedangkan para anak buah Thian-liong-pang sibuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan di ruangan tadi. Mereka, juga para pelayan, saling berbisik membicarakan Ketua partai yang penuh rahasia itu. Nirahai dengan tenang mendengarkan pelaporan tiga orang pembantunya mengenai keadaan Thian-liong-pang. Segala macam urusan mengenai perkumpulan ini diceritakan oleh Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, sedangkan Tang Wi Siang yang duduk di dekat Nirahai hanya mendengarkan dan bersikap sebagai seorang pelayan.

"Tiga perkumpulan yang menentang kita mudah dibereskan. Aku akan mendatangi mereka dan menundukkan mereka. Hal-hal lain dijalankan seperti biasa, akan tetapi harus disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Hanya satu hal yang mengherankan hatiku. Kau tadi menceritakan tentang usaha Thian-liong-pang yang gagal dalam memperebutkan seorang anak bernama Gak Bun Beng. Benarkah utusan kita itu dikalahkan oleh Pendekar Siluman dan anak itu akhirnya dibawa oleh Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai?"

"Benar, Pangcu," jawab Sai-cu Lo-mo.

Nirahai mengerutkan keningnya. "Anak ini... Gak Bun Beng, ada hubungan apakah dengan Thian-liong-pang sehingga perkumpulan kita harus berusaha merebutnya?"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang seperti jenggot singa itu. "Maaf, Pangcu. Sesungguhnya, dengan perkumpulan kita tak ada hubungan apa-apa, dan mendiang Ketua kami hanya memenuhi permintaan saya, karena sesungguhnya sayalah yang mempunyai hubungan dengan anak itu. Anak itu masih cucu keponakan saya sendiri."

"Hemmm.... begitukah? Coba jelaskan, siapa sebenarnya anak itu, dia anak siapa dan bagaimana hubugannya denganmu, Lo-mo? Kalau kuanggap penting, percayalah, aku yang akan mendapatkannya untukmu. Tentang Pendekar Siluman, jangan khawatir, aku akan dapat menghadapinya!"

Bahkan Wi Siang sendiri diam-diam menjadi kaget mendengar ini. Berani menentang Pendekar Siluman? Benarkah Ketua yang baru ini memiliki kesaktian yang demikian hebat sehingga berani menentang Pendekar Siluman? Baru mendengar cerita para anggota Thian-liong-pang tentang Pendekar Siluman yang bisa pian-hoa (merobah diri) menjadi raksasa dan menjadi setan tanpa kepala saja sudah membuat semua orang gagah di Thian-liong-pang ngeri dan seram!

Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang juga kaget dan sambil memandang wajah yang tertutup kerudung itu, Sai-cu Lo-mo menjawab, "Dia adalah putera dari keponakan saya yang bernama Bhok Khim, murid Siauw-lim-pai."

"Hemmm... Bhok Kim yang berjuluk Bi-kiam, seorang di antara Kang-lam Sam-eng?"

"Betul, Pangcu," jawab Sai-cu Lo-mo makin kagum dan terheran bagaimana wanita berkerudung ini agaknya tahu akan segala hal dan mengenal semua orang. Maka dia tidak menyembunyikan dirinya lagi dan menyambung, "Saya dahulu bernama Bhok Toan Kok, Bhok Kim adalah anak tunggal adikku..."

Akan tetapi agaknya Nirahai tidak mempedulikannya dan seperti orang melamun karena mengingat, lalu berkata, "Dan bocah itu she Gak? Hem... tentu anak dari Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak..."

Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu terbelalak, makin heran dan kagum. Sai-cu Lo-mo berteriak, "Bagaimana Pangcu dapat mengetahuinya...?"

Nirahai memandangnya. "Aku tahu, dan Gak Liat yang memperkosa Bhok Kim hingga wanita itu dihukum di Siauw-lim-pai, kemudian melahirkan anak dan... mereka berdua kemudian saling bunuh. Hemm... jadi engkau ingin mengambil cucu keponakanmu itu, Sai-cu Lo-mo? Apa perlunya? Anak itu adalah keturunan Gak Liat, datuk kaum sesat!"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. "Betapa pun juga, dia adalah cucu keponakan saya, Pangcu."

Nirahai mengangguk, "Baiklah, urusan anak itu kita tunda dulu saja. Aku tidak ingin melibatkan Thian-liong-pang hanya karena urusan keturunan Gak Liat. Betapa pun juga, kalau engkau mendengar di mana adanya bocah itu sekarang dan jika ada kemungkinan merebutnya, aku suka membantumu. Tahukah engkau di mana dia itu sekarang?"

"Dia menjadi murid di Siauw-lim-si."

Nirahai menggeleng kepala. "Kalau di Siauw-lim-si, kita tidak dapat berbuat sesuatu, Lo-mo. Ibu anak itu adalah murid Siauw-lim-pai, sudah semestinya kalau anaknya menjadi murid Siauw-lim-pai pula. Jangan mengira bahwa aku takut menghadapi Siauw-lim-pai, akan tetapi apa perlunya kita menyeret perkumpulan menjadi musuh Siauw-lim-pai yang amat kuat hanya karena memperebutkan seorang anak, apa lagi anak keturunan seorang seperti Gak Liat?"

Diam-diam Sai-cu Lo-mo harus membenarkan pendapat pangcunya ini. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan berkata, "Pangcu... maaf... hati saya akan selalu gelisah kalau tidak menyatakannya sekarang. Kalau tidak keliru menduga... saya dapat mengenal siapa kiranya Pangcu!"

Nirahai menoleh ke arah Chie Kang dan bertanya, "Bagaimana dengan engkau, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang? Apakah engkau pun dapat menduga siapa aku?"

Chie Kang terkejut. Dia pun sedang berpikir-pikir. Kalau wanita berkerudung itu tidak memperlihatkan sikap mengenal semua orang, bahkan mengetahui segala hal yang bagi banyak tokoh kang-ouw merupakan rahasia, maka di dunia ini kiranya hanya ada seorang saja wanita seperti itu, akan tetapi diam-diam dia terkejut dan tidak percaya bahwa pangcunya yang baru adalah orang itu! Kini dia makin gugup mendengar pertanyaan itu dan menjawab, "Saya... saya hanya menduga-duga akan tetapi tidak berani memastikannya. Pribadi Pangcu penuh rahasia, sukar untuk diduga..."

Nirahai tersenyum di balik kerudung-nya. "Sai-cu Lo-mo, aku dapat menjenguk isi hatimu. Dugaanmu itu agaknya tidak keliru. Engkau dan Chie Kang telah kuangkat menjadi pembantu-pembantuku yang setia dan boleh dipercaya, sedangkan Wi Siang menjadi pelayan dan pengawalku. Hanya kalian bertiga sajalah yang boleh mengetahui siapa sebenarnya aku. Akan tetapi, kalau sampai seorang di antara kalian berani membocorkan rahasiaku, tanganku sendiri yang akan membunuhnya! Nah, agar hati kalian tidak ragu-ragu lagi, kalian boleh mengenalku." Berkata demikian, wanita berkerudung itu membuka kerudungnya, dan tampaklah wajahnya yang cantik jelita, wajah puteri Kaisar Mancu. Puteri Nirahai yang pernah menggemparkan seluruh dunia kang-ouw sebagai pemimpin pasukan-pasukan pemerintah yang membasmi para pemberontak!

Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu belum pernah bertemu muka sendiri dengan Nirahai, akan tetapi nama besar puteri ini sudah lama mereka dengar. Kini mendapat kenyataan bahwa yang menjadi Ketua mereka adalah puteri yang terkenal itu, yang berdiri dengan cantik dan agungnya, dengan sepasang mata yang amat berwibawa memandang kepada mereka dengan mulut yang berbentuk indah itu tersenyum halus, mereka serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Nirahai.

"Harap Paduka suka mengampunkan hamba sekalian yang tidak mengenal Puteri yang mulia," kata Sai-cu Lo-mo mewakili saudara-saudaranya.

"Bangunlah kalian!" tiba-tiba Nirahai membentak. Ketika mereka dengan kaget bangkit berdiri memandang, Nirahai telah memakai lagi kerudungnya, menutupi mukanya yang cantik, dan kini dari sepasang lubang di depan kerudung, matanya memandang marah.

"Mulai saat ini, sekali-kali kalian tidak boleh menyebutku Puteri dan jangan bocorkan rahasia ini! Aku adalah Pangcu (Ketua) Thian-liong-pang dan kalian sebut saja aku Pangcu. Nah, mari duduk dan melanjutkan perundingan demi kemajuan perkumpulan kita."

Demikianlah, semenjak hari itu, Nirahai menjadi Ketua Thian-liong-pang. Kecuali tiga orang pembantunya itu, tidak seorang pun di antara para anggota Thian-liong-pang mengetahui bahwa Ketua mereka yang selalu menyembunyikan muka di belakang kerudung, yang diliputi penuh rahasia, yang memiliki ilmu kepandaian hebat seperti iblis, sebenarnya adalah Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu.

Nirahai menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada tiga orang pembantunya sehingga dalam waktu dua tahun saja, Sai-cu Lo-mo, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Tang Wi Siang telah memperoleh kemajuan yang amat hebat, tingkat mereka naik jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya, akan tetapi watak mereka pun berubah, penuh rahasia seperti watak Ketua mereka. Para anak buah Thian-liong-pang juga dilatih ilmu silat oleh tiga orang tokoh ini sehingga pasukan Thian-liong-pang kini menjadi pasukan yang hebat, setiap orang anggotanya memiliki kepandaian tinggi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, tadinya Nirahai menitipkan puterinya, Milana, kepada Pangeran Jenghan di Kerajaan Mongol. Selama membangun dan memperkuat Thian-liong-pang beberapa tahun, dia meninggalkan puterinya itu dan hanya kira-kira sebulan sekali dia pergi ke Mongol mengunjungi puterinya. Milana sama sekali tidak tahu bahwa ibunya adalah Ketua Thian-liong-pang yang amat terkenal itu. Setelah Nirahai mengajaknya ke Thian-liong-pang anak perempuan ini baru tahu bahwa ibunya adalah wanita berkerudung, Ketua Thian-liong-pang yang menggemparkan dunia kang-ouw. Dengan hati penuh kebanggaan namun juga kedukaan, kini Milana juga tahu bahwa ayahnya adalah Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang agaknya berselisih paham dengan ibunya sehingga ayah bundanya itu saling berpisah, bahkan timbul gejala saling bertentangan!

Pertemuannya dengan suaminya, Suma Han, mendatangkan rasa duka yang hebat di hati Nirahai. Dia adalah seorang puteri kaisar, seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi sekali. Betapa pun besar cinta kasihnya kepada Suma Han, namun sikap suaminya itu membuatnya berduka. Ia tidak mau menyembah-nyembah minta dibawa, sungguh rasa rindunya kadang-kadang menyesak di dada. Dia ingin memperlihatkan bahwa kalau Suma Han tidak membutuhkan dia, dia pun tidak akan merangkak-rangkak mengejar suaminya!

Keangkuhan ini membuat dia amat menderita, membuat cintanya kadang-kadang berubah menjadi kebencian, membuat dia ingin menandingi kebesaran suaminya, menandingi kepandaiannya. Dalam dua kali pertemuannya dengan Suma Han, yang pertama ketika tokoh-tokoh kang-ouw memperebutkan rahasia pusaka di Sungai Huang-ho, kedua baru-baru ini, Nirahai maklum bahwa dalam ilmu kesaktian dia masih belum mampu menandingi Suma Han.

Biar pun Perkumpulan Thian-liong-pang kini menjadi amat kuat dan agaknya para pembantu dan anak buahnya tidak kalah hebat oleh anak buah Pulau Es, namun kalau dia sendiri tidak mampu menandingi Suma Han, semua akan sia-sia belaka. Tidak ada seorang pun di Thian-liong-pang yang akan kuat bertanding dengan Suma Han. Maka dia harus mempertinggi ilmu-ilmunya.

Terutama sekali Nirahai ingin melihat puterinya, Milana menjadi seorang yang lebih pandai dari padanya. Keinginan untuk menjadi seorang yang lebih sakti dari Suma Han inilah yang membuat Nirahai melakukan hal-hal yang amat berani, di antaranya ialah menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua perkumpulan silat yang diundang, atau kalau tidak mau dipaksa mengunjungi Thian-liong-pang! Untuk apa? Sebaiknya kita sekarang mengikuti perjalanan Gak Bun Beng yang sedang mengunjungi Thian-liong-pang dengan mengikuti bayangan dua orang tokoh Thian-liong-pang dengan hati-hati karena dia maklum bahwa kedua orang itu sedang memancingnya untuk memasuki markas besar perkumpulan yang terkenal itu.

Markas Thian-liong-pang yang menjadi pusat perkumpulan itu merupakan sekumpulan bangunan besar, dikelilingi oleh dinding batu yang tingginya dua kali tinggi manusia. Di tempat ujung dinding temboknya terdapat tempat di mana tampak penjaga yang melakukan penjagaan siang malam sehingga sarang perkumpulan itu seperti benteng tentara saja. Pintu gerbang yang lebar terbuat dari kayu tebal berlapis besi, dijaga pula oleh selosin orang.

Pintu gerbang terbuka ketika dua orang tokoh Thian-liong-pang tiba di situ, akan tetapi begitu kedua orang itu masuk melalui pintu gerbang, daun pintu tertutup kembali dari dalam. Bun Beng memeriksa keadaan pintu gerbang yang amat kuat dan dinding tembok yang tinggi. Ia tersenyum. Agaknya, orang-orang Thian-liong-pang itu terlalu memandang rendah kepadanya. Apa artinya dinding tembok setinggi itu baginya? Lebih tinggi lagi pun dia akan mampu melompatinya.

Dia maklum bahwa mereka tentu sudah menantinya, akan tetapi dia tidak takut. Dia harus memasuki sarang Thian-liong-pang, menolong Ketua Bu-tong-pai, mungkin menolong banyak orang lagi yang terculik dan menjadi tawanan di tempat itu. Pula, dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menemui Ketua Thian-liong-pang dan menegurnya agar tidak melakukan penculikan-penculikan. Dia maklum bahwa orang-orang Thian-liong-pang amat lihai, apa lagi ketuanya yang pernah ia lihat di pulau Sungai Huang-ho beberapa tahun yang lalu. Ia masih bergidik kalau teringat akan wanita berkerudung yang amat lihai itu.

Akan tetapi kepandaiannya sekarang tidak seperti dahulu. Kini dia telah dewasa dan berilmu tinggi, kalau dia tidak menentang perbuatan sewenang-wenang ini, untuk apa dia mempelajari ilmu sampai bertahun-tahun? Pula, dia teringat betapa tokoh wanita Thian-liong-pang dahulu bersikap baik kepadanya, dan rata-rata orang Thian-liong-pang tidaklah seganas orang Pulau Neraka. Selain kenyataan itu, juga dalam perjalanannya dia tidak pernah mendengar Thian-liong-pang sebagai perkumpulan orang jahat, tidak pernah melakukan kejahatan. Kalau sekarang mereka menculik ketua-ketua perkumpulan dan tokoh-tokoh kang-ouw tentu ada rahasia di balik perbuatan mereka itu dan dia harus membongkar rahasia itu dan berusaha menghentikan perbuatan mereka.

Akan tetapi Bun Beng bukan seorang yang sembrono. Dia maklum bahwa meloncat begitu saja pada siang hari itu merupakan perbuatan yang amat berbahaya. Tidak, dia tidak berani bersikap sembarangan. Maka dia mundur kembali dan mengintai dari jauh, menanti sampai malam tiba karena dia mengambil keputusan untuk memasuki sarang naga itu setelah hari menjadi gelap.

Setelah hari berganti malam, Bun Beng berindap-indap mendekati dinding yang mengurung sarang Thian-liong-pang. Ia sudah memilih bagian kiri di ujung sebelah kiri pintu gerbang untuk meloncat masuk. Tiba-tiba ia mendengar suara gembreng dan tambur di sebelah dalam. Ia berhenti di bawah dinding dan mendengarkan penuh perhatian. Apakah sedang Thian-liong-pang mengadakan pesta? Hmm, bukan, bantah hatinya.

Tambur dan gembreng itu dipukul seperti kalau dipergunakan untuk mengiringi orang bermain silat! Agaknya mereka sedang berlatih silat. Dia tidak akan merasa heran kalau mereka telah siap menantinya, bahkan dia menduga bahwa tentu gerak-geriknya sejak tadi telah diintai. Namun dia tidak peduli. Sekarang atau dia akan terlambat.

Dengan gerakan indah Bun Beng meloncat. Tubuhnya melayang ke atas dan kedua kakinya hinggap di atas dua ujung tombak, gerakannya amat ringan seolah-olah seekor burung garuda yang besar. Ia merasa heran sekali karena tidak ada anak panah atau senjata orang menyambutnya. Di bawah tidak tampak orang menjaga, hanya tampak genteng bangunan-bangunan dan tampak sinar penerangan yang besar, terutama di depan sebuah bangunan terbesar di situ. Tampak pula orang-orang hilir mudik, akan tetapi tidak ada yang menengok, seakan-akan mereka itu hanya orang-orang dusun yang tidak paham ilmu silat dan tidak tahu akan kedatangannya.

Bun Beng merasa penasaran. Apakah pihak Thian-liong-pang menganggap dia begitu rendah sehingga tidak pantas untuk menjaga dan menghebohkan kedatangannya? Ia melayang turun dari tembok, hinggap di atas genteng, kemudian melayang turun pula ke bagian samping bangunan besar yang agaknya saat itu menjadi pusat keramaian.

Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang kakek yang berkata tenang. "Selamat datang, Siauw-hiap dari Siauw-lim-pai. Biar pun caramu masuk tidak selayaknya, namun mengingat bahwa Siauw-hiap adalah seorang murid Siauw-lim-pai, Pangcu kami mempersilakan Siauw-hiap untuk duduk sebagai tamu menonton pertunjukan kami. Kami menerima Siauw-hiap sebagai seorang tamu yang terhormat, ataukah... Siauw-hiap lebih suka dianggap sebagai seorang pencuri yang rendah?"

Bun Beng memandang orang itu yang ternyata adalah seorang kakek berkepala gundul, berjenggot dan berkumis, pakaiannya seperti seorang sastrawan, usianya kurang lebih enam puluh tahun, suaranya tinggi nyaring akan tetapi sikapnya halus dan seperti orang lemah. Mendengar ucapan itu, Bun Beng tersenyum.

"Terserah kepada Thian-liong-pang akan menganggap aku sebagai apa. Akan tetapi karena aku ingin bertemu dengan Pangcu kalian, dan melihat betapa aku disambut sebagai tamu, biarlah aku menerima sambutan ini."

"Kalau begitu, silakan Siauw-hiap!" kata kakek itu.

Bun Beng berjalan dengan sikap tenang menuju ke ruangan depan bangunan besar diiringkan oleh kakek gundul. Kini mengertilah dia mengapa dia tidak disambut sebagai musuh dan tidak diserang. Kiranya Thian-liong-pang agaknya merasa enggan bermusuhan dengan Siauw-lim-pai, dan hanya karena memandang Siauw-lim-pai maka dia disambut dengan manis budi. Dia mengerti bahwa andai kata kedua orang tokoh yang menawan Ketua Bu-tong-pai tadi tidak mengenal dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang ia miliki dan tidak melaporkan bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, tentu penyambutan mereka akan lain sekali.

Ketika kakek gundul itu mengajaknya memasuki ruangan depan yang luas dan diterangi banyak lampu gantung besar, dia cepat melayangkan pandang matanya menyapu keadaan di situ. Ruangan itu luas sekali dan terdapat anak tangga di sebelah dalam. Di atas anak tangga itu terdapat ruangan lain dan tampaklah seorang wanita berkerudung duduk di atas sebuah kursi besar yang lantainya ditilami kulit seekor biruang. Wanita berkerudung yang dikenalnya sebagai Ketua Thian-liong-pang yang dahulu pernah datang ke Sungai Huang-ho itu duduk dengan sikap tenang, kedua kakinya menginjak kepala biruang yang berada di bawah kursinya.

Di sebelah kanan wanita ini duduk seorang kakek yang mukanya seperti seekor singa, kursinya agak kecil dibandingkan dengan kursi Si Wanita berkerudung. Di sebelah kanan agak belakang Ketua Thian-liong-pang ini berdiri seorang wanita cantik yang dikenal pula oleh Bun Beng sebagai wanita yang dahulu mewakili Thian-liong-pang di Sungai Huang-ho. Sedangkan di belakang, agak mundur, berdiri seorang wanita lain yang juga cantik, pakaiannya seperti wanita lihai yang berdiri di sebelah kanan Ketua itu.

"Silakan duduk di sini, Siauw-hiap," kata kakek gundul sambil mempersilakan Bun Beng duduk di atas kursi dekat anak tangga.

Akan tetapi Bun Beng tidak segera duduk, hanya berdiri dengan terheran-heran memandang ke arah para tamu yang duduk menghadap ke arah Ketua, dengan kursi-kursi yang diatur setengah lingkaran mengurung ruangan di bawah anak tangga, sedangkan para penabuh tambur dan gembreng berdiri paling ujung. Dia tidak peduli dan tidak melihat betapa Ketua Thian-liong-pang sama sekali tidak mengacuhkannya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat Ang-lojin, Ketua Bu-tong-pai yang akan ditolongnya itu, duduk pula di antara para tamu dengan sikap tenang dan sama sekali tidak menoleh kepadanya!

Mengapa orang itu seperti tidak mengenalinya? Mustahil kalau tidak mengenal atau tidak tahu bahwa kedatangannya untuk menolong ketua itu! Atau pura-pura tidak kenal? Ah, ini pun tidak mungkin. Bukankah dua orang tokoh Thian-liong-pang sudah tahu betapa di tengah jalan dia berusaha menolong Ketua Bu-tong-pai itu? Tentu hal ini sudah dilaporkannya pula kepada Ke-tua Thian-liong-pang. Apa perlunya lagi Ketua Bu-tong-pai berpura-pura? Dia pun tidak mau berpura-pura karena hal ini berarti bahwa dia takut, maka dia lalu menghampiri Ketua Bu-tong-pai dan menegur.

"Ang-locianpwe, engkau baik-baik sajakah?"

Kakek itu memandangnya akan tetapi sinar matanya seperti tidak mengenalnya sama sekali. Dia hanya mengangguk tanpa menjawab! Bun Beng menjadi penasaran sekali. Mengapa Ketua Bu-tong-pai bersikap seperti ini? Padahal susah payah ia berusaha menolongnya dan di jalan tadi sikapnya tidak sedingin ini!

"Locianpwe, apakah kau lupa kepadaku?" Ia menegur lagi.

Kakek itu kembali memandangnya dengan sikap tidak acuh, lalu menjawab dengan suara ragu-ragu, "Siapakah? Maaf, aku tidak mengenalmu." Setelah berkata demikian kakek ini kembali membuang muka menonton dua orang yang sedang bertanding di bawah anak tangga, memandang penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh semua orang yang duduk di situ.

Makin heran Bun Beng ketika melihat betapa para tamu yang sebagian besar terdiri dari kakek-kakek yang kelihatannya berilmu tinggi itu sama sekali tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia hanya seekor lalat saja! Dengan hati mengkal Bun Beng lalu duduk di atas kursi yang ditunjuk oleh kakek gundul. Kakek ini pun duduk di atas sebuah kursi di sebelah kanan Bun Beng. Seorang pelayan datang menyuguhkan arak kepada Bun Beng, akan tetapi pemuda ini menolak dan menyuruh taruh arak dengan guci dan cawannya di atas meja. Pelayan itu lalu memenuhi meja di depan kakek gundul dan Bun Beng dengan hidangan-hidangan seperti yang memenuhi meja-meja lain pula.

Kini Bun Beng memperhatikan para tamu yang duduk di situ. Ada belasan orang, tepatnya empat belas orang tamu yang melihat sikapnya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sikap mereka dingin dan tak acuh seperti sikap Ketua Bu-tong-pai. Di depan mereka ini pun terdapat meja penuh makanan dan mereka semua menonton pertandingan sambil makan minum.

Di belakang para tamu duduk pula banyak orang dan di antara mereka Bun Beng mengenal dua orang tokoh yang pernah dilawannya siang tadi, yaitu mereka yang menculik Ketua Bu-tong-pai. Sedangkan di belakang rombongan yang duduk ini, yang jumlahnya juga belasan orang, nampak puluhan orang berdiri menonton. Sepasang kakek kembar yang lihai dan yang menggotong kerangkeng Ketua Bu-tong-pai tampak di antara mereka yang berdiri. Diam-diam Bun Beng menduga-duga dan dia terkejut.

Agaknya sepasang kakek kembar itu adalah anggota-anggota rendahan saja, sedang kakek muka tengkorak dan pemuda tampan adalah anggota yang lebih tinggi. Kakek gundul yang duduk di sebelahnya, yang tadi menyambutnya ketika baru datang, tentu lebih tinggi kedudukannya, apa lagi kakek muka singa dan wanita cantik yang duduk dan berdiri di dekat Ketua Thian-liong-pang. Kalau sepasang kakek kembar yang demikian lihai itu saja menjadi anggota rendahan, dapat dibayangkan betapa lihai kakek gundul di sebelahnya ini, apa lagi kakek muka singa, dan lebih-lebih ketuanya!

Bun Beng bersikap hati-hati. Ia tidak mau bergerak, hendak melihat perkembangannya karena dia sungguh-sungguh bingung dan terheran-heran mengapa Ang-lojin yang tadinya diculik sekarang menjadi tamu dan bersikap tidak mengenalnya? Kini Bun Beng mulai memperhatikan dua orang yang bertanding dan kembali dia tercengang. Yang bertanding dengan golok dan pedang itu bukanlah orang-orang sembarangan!

Laki-laki berusia empat puluh tahun yang berkepala besar dan bersenjata golok itu memiliki ilmu golok yang amat hebat, sedangkan kakek kurus yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih itu memiliki ilmu pedang yang amat tinggi pula. Diam-diam ia menonton dan mencurahkan perhatiannya. Bun Beng banyak mengenal ilmu silat, bahkan dahulu gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, telah membuka rahasia tentang dasar-dasar gerakan ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dimiliki oleh partai-partai besar.

Maka setelah menonton belasan jurus, Bun Beng mengenal bahwa Si Pemain golok itu tentulah seorang tokoh Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang amat terkenal karena kehebatan ilmu golok mereka, sedangkan Si Pemain pedang itu tidak salah lagi tentulah seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai karena ilmu pedang yang dimainkannya tidak salah lagi adalah Hoa-san Kiam-sut! Dia menjadi heran buka main. Mengapa dua orang tokoh dari Sin-to-pang dan Hoa-san-pai bertanding di tempat ini? Dan selain ditonton oleh banyak tamu dan orang-orang Thian-liong-pang sambil makan minum, juga diiringi tambur dan gembreng!

Pertandingan itu berjalan dengan seru dan jelas tampak betapa tokoh Sin-to-pang mulai terdesak, bahkan pundaknya telah terluka goresan pedang. Kalau semua tamu memandang dengan sikap dingin, demikian pula para tokoh Thian-liong-pang, hanya Bun Heng seoranglah yang menonton dengan hati tegang.

"Cukup...!" Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, namun penuh wibawa keluar dari balik kerudung yang menyembunyikan kepala Ketua Thian-liong-pang.

Seketika tambur dan gembreng berhenti dan kedua orang yang bertanding itu pun meloncat mundur menghentikan gerakan masing-masing! Bahkan kini seorang kakek yang agaknya merupakan ahli pengobatan Thian-liong-pang menghampiri tokoh Sin-to-pang yang seperti bekas lawannya telah duduk kembali di kursi masing-masing, kemudian mengobati luka di pundak tokoh ini.

Bun Beng memandang bengong. Hampir dia tidak dapat percaya akan dugaannya yang agaknya tidak dapat salah lagi. Kedua orang tokoh itu diadu! Seperti dua ekor jangkrik diadu! Betapa mungkin ini? Mengapa mereka sudi? Dan agaknya mereka berdua tadi bukanlah pasangan pertama yang diadu. Selagi ia menduga-duga dengan bingung, terdengar suara merdu dari balik kerudung.

"Ang-lojin dari Bu-tong-pai dan Tok-ciang Siucai dari Lam-hai-pang, harap suka maju dan memperlihatkan kepandaian!"

Jantung Bun Beng berdebar tegang.

"Siauw-hiap, silakan mencoba hidangan!" Tiba-tiba kakek gundul berkata.

"Terima kasih, aku tidak lapar," jawab Bun Beng tanpa mengalihkan pandang matanya dari Ketua Bu-tong-pai yang kini telah bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah maju ke tempat pertandingan dengan wajah tidak membayangkan sesuatu dan sikapnya tanpa ragu-ragu.

"Kalau begitu, silakan minum secawan arak sebagai penyambutan dari Pangcu kami," kata pula kakek itu yang sudah bangkit dan menyodorkan secawan arak penuh kepada Bun Beng.

Mendengar ini Bun Beng menoleh ke kiri, ke arah Ketua Thian-liong-pang. Ia melihat betapa sepasang mata di balik lubang kerudung itu tertuju kepadanya dengan sinar tajam. Tanpa menjawab ia menerima cawan arak dan minum arak itu habis sekali teguk. Hampir ia tersedak, tubuhnya terasa nyaman hangat setelah ia minum arak tadi. Kepalanya menjadi agak pening sehingga diam-diam ia terkejut sekali. Tak mungkin secawan arak membuat ia mabok!

"Harap Siauw-hiap minum secawan lagi sebagai penyuguhan dari Thian-liong-pang," kata pula kakek gundul.

"Cukup, aku tidak ingin minum lagi, ingin menonton pertandingan!" kata Bun Beng dengan hati-hati, dan biar pun ia menjadi curiga sekali, pikirannya diputar untuk menduga apa yang terdapat di dalam arak yang diminumnya tadi. Tetapi ia menujukan pandang matanya ke depan, ke arah Ketua Bu-tong-pai yang kini telah berhadapan dengan seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus tampan dengan pakaian seperti seorang siucai (gelar sastrawan).

"Harap Ji-wi suka mulai pertandingan tangan kosong! Awas, Ang-lojin, lawanmu adalah seorang yang memiliki Tok-ciang (Tangan Beracun), harus dilawan dengan jurus-jurus simpananmu!" Terdengar pula suara halus dingin Ketua Thian-liong-pang.

Betapa heran hati Bun Beng ketika ia melihat dua orang itu, seperti dua ekor jangkerik atau ayam aduan, telah mulai saling serang tanpa banyak cakap lagi! Pemuda yang dipanggil julukannya sebagai Tok-ciang Siucai (Sastrawan Tangan Beracun) telah membuka serangan setelah menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan tangan terbuka dan telapak tangannya berwarna kemerahan! Serangan pertama ini merupakan tamparan dengan tangan kiri ke arah muka lawan disusul dorongan telapak tangan kanan ke arah dada! Cepat sekali gerakannya dan kalau diingat bahwa kedua telapak tangannya mengandung hawa beracun, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahaya serangan ini.

Namun Ang-lojin adalah Ketua Bu-tong-pai yang tentu saja memiliki tingkat ilmu silat yang sudah amat tinggi. Dengan tenang namun tidak kalah cepatnya, ia mengelak dengan geseran kaki ke kiri sambil mengibaskan tangan kanan ke kanan menangkis dan dari samping, tiba-tiba kaki kanannya melakukan tendangan menyerong ke arah perut siucai itu.

"Bagus sekali!" tiba-tiba kakek muka singa memuji tendangan itu dan memang Bun Beng juga dapat melihat betapa indah dan berbahayanya serangan balasan Ketua Bu-tong-pai yang dilakukan dengan cekatan.

Tok-siang Siucai ternyata juga lihai karena sambil merobah kaki melangkah mundur tangan kirinya dapat menangkis serangan itu dengan melemparkan ke kanan. Namun, tiba-tiba tendangan kaki kanan dari Ketua Bu-tong-pai itu telah disusul dengan tendangan kaki kiri yang digerakkan dengan memutar dari belakang, kembali tendangan ini menyerong dan yang diarah adalah lutut kanan lawan! Si Pemuda kaget, mundur selangkah menyelamatkan lututnya, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai terus melakukan tendangan kedua kakinya, cepat dan kuat sekali sehingga kedua kakinya yang kelihatan banyak saking cepatnya itu menimbulkan suara angin.

"Hemmmm... Soan-hong-twi... seperti itukah?" Ucapan Ketua Thian-liong-pang ini lirih sekali dan agaknya tidak terdengar oleh orang lain, akan tetapi Bui Beng yang sejak tadi memperhatikannya, walau hanya dengan pendengaran karena matanya ditujukan untuk mengikuti pertandingan, dapat menangkap kata-katanya.

Jantung Bun Beng makin berdebar. Para tokoh kang-ouw itu, termasuk Ketua Bu-tong-pai yang baru saja ditawan, semua menjadi begitu jinak dan penurut dan... arak yang secawan saja sudah membuat dia mabok... bukan tidak mungkin ada hubungannya! Ia baru minum secawan saja sudah pening dan seolah-olah semangatnya mengendor, dan kakek gundul itu tadi berusaha membuat dia minum lebih banyak! Kemudian, para tokoh yang saling bertanding mati-matian dan dengan bersungguh hati, Ketua Thian-liong-pang yang menonton dan memberi komentar!

Hemmm, seolah-olah ada sinar terang memasuki kepala Bun Beng, namun pengaruh arak membuat keningnya berdenyut-denyut sehingga sukar bagi dia untuk memutar otaknya, tidak seperti biasa. Betapa pun juga, Bun Beng mengerahkan seluruh pikirannya untuk melakukan penyelidikan, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan mengumpulkan dugaan-dugaan.

Pertandingan antara Ketua Bu-tong-pai dan tokoh-tokoh Lam-hai-pang berlangsung makin seru. Akan tetapi Bun Beng mendapat kenyataan yang menyenangkan hatinya. Ternyata ayah Ang Siok Bi, yaitu Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, biar pun kini mau saja diadu seperti jangkerik, tetap memiliki watak yang baik, sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang ketua partai persilatan besar.

Pemuda bertangan ganas itu jelas melakukan serangan-serangan berbahaya dan mematikan, namun Ketua Bu-tong-pai itu banyak mengalah dan biar pun terpaksa mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Bu-tong-pai untuk menyelamatkan diri, namun serangan balasannya tidak bersungguh-sungguh seolah-olah dia enggan untuk mencelakai lawan, tidak mau melukai hebat, apa lagi membunuh. Hal ini tentu saja dapat ia lihat karena banyak lowongan baik tidak dipergunakan oleh kakek itu. Kalau Ang-lojin menghendaki, tentu tidak sampai tiga puluh jurus lawannya dapat dirobohkan dengan pukulan-pukulan istimewanya.

Betapa pun juga, tingkat pemuda itu kalah tinggi dan kini dia selalu terdesak mundur. Ketika sebuah tendangan kilat menyerempat pinggang pemuda itu dan membuatnya terhuyung miring, jika Ang-lojin mau tentu mudah baginya menyerang dengan pukulan maut. Namun kakek ini hanya mendorong pundak pemuda itu dan membuatnya roboh terjengkang.

"Cukup!" teriak Ketua Thian-liong-pang. "Tok-ciang Siucai, harap mundur dan Pek-eng Sai-kong harap maju untuk melayani Ang-lojin dengan senjata. Ang-lojin, ilmu silat tangan kosong Bu-tong-pai hebat, harap perlihatkan ilmu silatmu dengan senjata. Bukankah Siang-kiam (Sepasang Pedang) menjadi keistimewaan Bu-tong-pai? Silakan!"

Berkata demikian, Ketua Thian-liong-pang ini menggerakkan tangan kirinya dan sepasang pedang melayang ke arah Ang-lojin. Ketua Bu-tong-pai ini tidak menjawab melainkan menerima sepasang pedang itu dengan gerakan indah. Bun Beng melihat munculnya seorang pendeta berpakaian lebar dan bermuka penuh brewok telah menerima sebatang toya dari tangan kakek muka singa yang duduk di sebelah kanan Ketua Thian-liong-pang.

"Pek-eng Sai-kong, kami telah menyaksikan dan mengagumi ilmu toyamu. Harap jangan sungkan-sungkan, pergunakan jurus-jurus yang paling hebat, terutama jurus kedua puluh tujuh Pek-eng-coan-ci (Garuda Putih Menyabetkan Ekor). Hati-hati, ilmu siang-kiam Bu-tong-pai amat lihai!" Dalam suara dari balik kerudung itu terkandung kegembiraan besar. Bun Beng makin berdebar karena di dalam otaknya yang kacau oleh pengaruh arak memabokkan, ia kini mulai dapat menyingkap tabir yang merahasiakan semua peristiwa yang aneh yang dihadapinya.

Kembali terjadi pertandingan dan sekali ini lebih hebat menegangkan dari pada tadi. Sai-kong itu amat kuat, toyanya benar-benar berbahaya dan teringatlah Bun Beng akan sebuah aliran yang menamakan dirinya Pek-eng-pang (Toya Garuda Putih) yang merupakan sekelompok orang gagah yang sesungguhnya memiliki dasar ilmu toya Siauw-lim-pai namun telah dicampur-aduk dengan ilmu silat golongan hitam! Jadi saikong ini adalah seorang tokoh Pek-eng-pang! Ia memandang penuh perhatian karena dia pun ingin sekali menyaksikan bagaimana ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah diubah itu!

Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika toya bertemu dengan pedang, dan tampaklah sinar toya yang kuning bergulung-gulung menjadi satu dengan sinar pedang yang putih. Sekali ini, Ketua Bu-tong-pai harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena yang menjadi lawannya adalah orang terpandai dari Pek-eng-pang! Biar pun Ketua Bu-tong-pai ini tidak mempunyai hati yang kejam tidak ingin melukai apa lagi membunuh lawan, namun sekali ini mau tidak mau dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, karena kalau tidak, dia sendiri yang akan menjadi korban toya yang ganas.

Bun Beng mengepal ujung lengan kursinya. Diam-diam ia telah siap sedia untuk menolong kalau Ketua Bu-tong-pai terancam bahaya. Biar pun dia kini dapat menduga bahwa saikong itu, seperti juga Ketua Bu-tong-pai, hanya berperan seperti dua ekor jangkerik aduan, namun tetap saja hatinya berpihak kepada Ang-lojin. Bukan semata-mata karena kakek itu adalah ayah Ang Siok Bi yang cantik, biar pun hal ini sedikit banyak menjadi sebab juga, akan tetapi terutama sekali karena ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah berubah itu menurut keterangan suhu-nya dibawa lari oleh seorang murid Siauw-lim-pai yang murtad!

"Hyaaatttt...!"

Tiba-tiba saikong itu membentak keras dan Bun Beng diam-diam terkejut sekali sehingga tanpa disadarinya ia telah meremas patah ujung lengan kursinya, siap untuk disambitkan kalau Ang-lojin terancam bahaya! Dan memang hebat sekali jurus yang kini dipergunakan oleh Sai-kong itu dalam penyerangannya. Itulah jurus dari ilmu toya Siauw-lim-pai, hal ini diketahui jelas oleh Bun Beng, akan tetapi jurus itu telah dirobah sedemikian rupa sehingga selain lihai juga menjadi ganas dan licik sekali.

Toya itu menyodok ke arah pusar lawan dengan cepatnya, dan begitu Ang-lojin menangkis dengan pedang kiri, tiba-tiba tubuh saikong itu terguling ke depan, lalu tubuhnya menggelinding ke arah lawan, tongkat atau toya itu diputar menyerampang kaki lawan dilanjutkan dengan sodokan ke atas, mengarah mata dibarengi dengan tendangan ke arah anggota tubuh di bawah pusar. Serangan yang mematikan!

Namun Ang-lojin tidak menjadi gugup menghadapi jurus yang oleh Ketua Thian-liong-pang disebut Pek-eng-coan-ci tadi, terpaksa dia pun mengeluarkan jurus simpanannya. Kedua pedangnya melakukan gerakan menggunting dan begitu berhasil menjepit toya, tubuhnya terangkat ke atas dengan kaki ke atas, kemudian ia berjungkir balik, melepaskan jepitan toya dan sambil menukik turun, sepasang pedangnya melakukan gerakan menyerang dari kanan kiri, lagi-lagi menggunting bagian leher dan pinggang lawan dengan sepasang pedang!

"Heh, itukah Siang-in-toan-san (Sepasang Awan Memutuskan Gunung)?" terdengar Ketua Thian-liong-pang berseru lirih namun dapat terdengar cukup jelas oleh Bun Beng.

Saikong itu kaget sekali dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang sambil memutar toya membentuk lingkaran melindungi tubuh ia dapat menyelamatkan diri, akan tetapi ia terkejut dan sampai terhuyung-huyung. Kini ia berteriak lagi dan tiba-tiba tubuhnya membalik, sikapnya seperti hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba sambil membalik ini toyanya meluncur terlepas dari tangan, merupakan anak panah raksasa yang menyambar ke arah tubuh Ang-lojin.

"Trakkk!" Toya itu menyeleweng dan menancap di atas lantai di depan Ang-lojin yang tadi saking tak menyangka hampir saja menjadi korban toya.

"Cukup! Harap Ji-wi kembali ke kursi masing-masing!" Terdengar Ketua Thian-liong-pang berkata sambil memandang ke arah Bun Beng yang sudah bangkit berdiri. Semua orang Thian-liong-pang kini menoleh ke arah Bun Beng, maklum bahwa Ketua mereka marah sekali kepada tamu muda yang dengan lancang telah menimpuk toya dengan ujung lengan kursi yang dipatahkan.

"Chie Kang, berapa cawankah tamu Siauw-lim-pai itu minum arak?" terdengar wanita berkerudung bertanya kepada kakek gundul. Bagi orang yang tidak tahu, tentu mengira Ketua itu bertanya apakah tamu mudanya terlalu banyak minum arak sehingga mabok dan melakukan kelancangan itu.

Akan tetapi Bun Beng yang sudah dapat menduga, hanya tersenyum, apa lagi ketika mendengar kakek gundul menjawab, "Dia hanya minum secawan dan menolak untuk minum lagi, Pangcu."

"Dan untung bahwa aku hanya minum secawan, kalau tidak tentu aku pun akan kau jadikan jangkerik aduan, bukan begitu, Thian-liong-pangcu?" Sekarang Bun Beng menghadapi Ketua itu dengan sikap tenang, sedikit pun tidak gentar, bahkan mulutnya tersenyum mengejek.

Biar pun wajah itu tidak tampak, namun sepasang mata yang tampak dari kedua lubang itu mengeluarkan sinar berapi, tanda bahwa Ketua ini marah sekali. Sejenak hening di situ, hening yang penuh ketegangan, dirasakan benar oleh semua anggota Thian-liong-pang. Kalau Ketua mereka sudah marah, tentu akan terjadi hal yang mengerikan.

"Orang muda, karena engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai dan kami tidak mempunyai permusuhan dengan Siauw-lim-pai, maka perbuatanmu menyerang dua pembantu kami, kami maafkan. Bahkan kami menerimamu sebagai seorang tamu terhormat, biar pun engkau masuk seperti seorang pencuri. Akan tetapi jangan mengira bahwa karena engkau seorang murid Siauw-lim-pai lalu boleh berbuat sesuka hatimu dan lancang!"

Bun Beng mengangkat dadanya dan memandang Ketua itu dengan sikap menantang.

"Thian-liong-pangcu! Aku datang bukan sebagai utusan Siauw-lim-pai, memelainkan atas nama pribadi yang ingin mengingatkanmu bahwa perbuatanmu tidak baik dan kuminta engkau segera menghentikan perbuatanmu itu!"

"Eh, bocah sombong. Perbuatan apa yang kau maksudkan?" Suara Ketua Thian-liong-pang mengandung keheranan karena dia benar-benar merasa bahwa di dunia ini terdapat seorang pemuda yang begini tidak tahu diri berani menentangnya secara terang-terangan, bahkan menegurnya seperti seorang dewasa menegur seorang kanak-kanak!

"Hemmm, perlukah dijelaskan lagi? Baiklah agar jangan aku dikatakan bicara mengawur dan menuduh kosong, baik kukatakan bahwa aku sudah mengetahui rahasia semua penculikan yang dilakukan Thian-liong-pang terhadap para tokoh kang-ouw. Engkau menculik mereka, termasuk Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, kemudian kau beri mereka minuman arak yang mengandung racun perampas ingatan, mungkin yang pengaruhnya hanya untuk sementara saja. Kemudian, selagi para Locianpwe yang bernasib malang ini kehilangan ingatan mereka, kau jadikan mereka jangkerik-jangkerik aduan karena engkau ingin mengetahui rahasia ilmu silat simpanan mereka yang terpaksa harus mereka pergunakan dalam pertandingan untuk menyelamatkan diri. Bukankah begitu?"

Keadaan makin tegang dan semua anggota Thian-liong-pang menganggap pemuda lancang itu menjadi calon mayat, karena mana mungkin Ketua mereka membiarkan saja kekurang-ajaran seperti itu? Tetapi sikap dan ucapan Bun Beng menimbulkan kekaguman di hati Nirahai, Ketua Thian-liong-pang itu. Memang sebagai seorang sakti wanita ini akan selalu kagum terhadap orang yang gagah berani, yang menganggap nyawa sebagai hal yang ringan, menganggap kematian sebagai hal sepele, menganggap bahaya bukan apa-apa dalam membela kebenaran yang dipercayanya. Hanya ada keraguan di hatinya... apakah pemuda ini bersikap sedemikian berani terdorong sifat gagah yang asli, ataukah hanya untuk bersombong saja terdorong oleh nama besar Siauw-lim-pai.

"Bocah sombong! Kalau benar begitu, mengapa? Apa kehendakmu?"

"Pangcu, aku hanya memperingatkan bahwa engkau main-main dengan api! Engkau menanam permusuhan dengan seluruh dunia kang-ouw dengan perbuatanmu ini. Aku minta agar engkau menghentikan perbuatan ini dan membebaskan semua tawanan."

"Hemm, tanpa kau minta, semua sahabat yang menjadi tamuku akan kubebaskan. Kau memperingatkan agar kami menghentikan perbuatan kami. Kalau aku menolak peringatanmu ini, habis kau mau apa?"

"Terpaksa aku akan menantangmu bertanding! Aku tahu bahwa engkau sakti, Thian-liong-pangcu, akan tetapi demi membela kebenaran, demi keselamatan seluruh tokoh kang-ouw, aku siap mengorbankan nyawa!"

"Keparat cilik! Engkau sombong sekali! Pangcu, ijinkan saya membasmi bocah sombong ini!" Tan Wi Siang sudah meloncat maju dengan marah sekali.

"Wi Siang, mundurlah!" Ketua Thian-liong-pang membentak, "Bocah ini mempunyai ketabahan besar, atau memang hanya seorang bocah sombong yang mengandalkan nama Siauw-lim-pai. Biar Paman Chie Kang saja yang melayaninya!"

"Baik, Pangcu!" Lui-hong Sin-ciang Chie Kang sudah meloncat maju. Kakek gudul ini sudah sejak tadi merasa marah menyaksikan sikap Bun Beng, "Eh, orang muda yang tidak mengenal kebaikan orang! Majulah, ingin kulihat sampai di mana kepandaianmu!" katanya dengan suara yang tinggi nyaring.

"Chie Kang, jangan bunuh dia, kau tahu apa yang harus kau lakukan!"

"Hemmm," Bun Beng mengejek. "Aku pun sudah tahu, Pangcu! Tentu engkau hendak mempelajari pula jurus-jurus simpanan dari Siauw-lim-pai, bukan? Ha, sekali ini engkau akan kecelik!"

Kembali Nirahai tertegun. Bocah ini selain memiliki keberanian yang luar biasa, juga amat cerdik seolah-olah mengetahui semua isi hatinya. Terhadap bocah seperti ini, dia harus berlaku hati-hati. Diam-diam ia menduga-duga, siapakah gerangan bocah ini? Apakah Ketua Siauw-lim-pai yang mendengar akan penculikan-penculikan yang dilakukannya sengaja mengirim seorang murid yang dapat dipercaya untuk melakukan penyelidikan? Dia maklum bahwa di Siauw-lim-pai terdapat banyak orang pandai, maka dia tidak pernah berurusan dengan Siauw-lim-pai, bahkan memesan kepada para anak buah untuk menjauhkan diri dari permusuhan dengan partai itu. Akan tetapi Ketua Siauw-lim-pai yang mengambil langkah pertama memusuhi Thian-liong-pang, hemmm, dia pun tidak takut!

Lui-hong Sin-ciang Chie Kang maklum akan maksud Ketuanya dan kata-kata Bun Beng yang dengan tepat membongkar niat Ketuanya membuat ia makin marah. Sambil menggereng ia telah menerjang maju, sengaja mengeluarkan jurus berbahaya untuk memaksa lawan muda itu mengeluarkan jurus simpanan dari Siauw-lim-pai agar dapat dilihat oleh Ketuanya.

Memang apa yang dilontarkan oleh Bun Beng sebagai tuduhan tadi tepat sekali. Nirahai sengaja menculik tokoh-tokow kang-ouw, kemudian membius mereka dengan arak beracun, mengadu mereka untuk dapat mempelajari gerakan yang asli dari jurus-jurus terlihai semua partai yang hanya dikenalnya bagian teorinya saja. Dia ingin memperdalam ilmu silatnya sedemikian rupa dalam persiapannya menghadapi suaminya, Suma Han atau Pendekar Siluman, juga Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!

Menghadapi terjangan kakek gundul, Bun Beng terkejut. Hebat bukan main serangan lawannya yang menubruk dengan kedua tangan terbuka jarinya, mencengkeram dari atas dan bawah dengan getaran hawa yang membuktikan tenaga sinkang kuat. Untuk menggunakan ilmu silat Siauw-lim-pai, dia tidak mau karena dia tidak ingin kalau Ketua Thian-liong-pang yang amat lihai itu ‘mencuri’ jurus-jurus pilihan dengan melihat dia mainkan jurus itu.

Akan tetapi terjangan kakek gundul yang menjadi lawannya benar-benar amat berbahaya. Maka ia cepat mengerahkan ginkangnya dan hanya mengelak ke sana ke mari tanpa mainkan jurus pilihan Siauw-lim-pai! Untung bahwa dalam hal ginkang, dia dapat mengatasi gerakan kakek itu sehingga sampai belasan jurus ia mampu menghindarkan semua terjangan kakek itu dengan hanya mengandalkan ilmunya meringankan tubuh!

"Heh, kau masih keras kepala, ya?" Chie Kang mendengus marah menyaksikan lawannya itu benar-benar tidak mengeluarkan jurus Siauw-lim-pai dan hanya mengelak ke sana-sini. Ia merobah serangannya, kini dia mengerahkan sinkang dan menyerang dengan gerakan lambat, tetapi kedua tangannya mendatangkan angin yang bergulung-gulung menghadang semua jalan keluar Bun Beng!

Pemuda itu terkejut, maklum bahwa menghadapi penyerangan seperti itu tak mungkin baginya untuk hanya mengandalkan ginkang saja. Maka ia berseru keras, tubuhnya melakukan gerakan aneh sekali, tubuhnya menyeruduk ke depan, kedua tangannya membentuk lingkaran-lingkaran aneh sekaligus menghalau semua serangan lawan dan berbalik kedua tangannya yang seolah-olah berubah menjadi banyak sekali itu mengirim pukulan dari semua penjuru!

"Aihhhh...!" Chie Kang berteriak, berusaha mengelak namun tetap saja pundaknya terkena tangan Bun Beng sehingga ia terhuyung ke belakang. Bun Beng mendesak ke depan untuk mengirim pukulan yang akan merobohkan lawan.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat. Kedua tangan Bun Beng tertolak ke samping, dan sebelum Bun Beng sempat menjaga diri, tahu-tahu ia telah terguling roboh. Tubuhnya jatuh terlentang dan tahu-tahu kaki kiri Ketua Thian-liong-pang telah menginjak dadanya! Bun Beng merasa betapa kaki yang kecil itu seperti gunung beratnya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi, dan maklumlah pemuda ini bahwa sekali wanita itu mengerahkan tenaga, dadanya akan pecah! Namun dia tidak takut dan memandang dengan mata melotot.

"Bocah sombong! Dari mana engkau mempelajari ilmu tadi?"

Biar pun dia sudah tidak berdaya dan hanya menanti maut yang berada di telapak kaki wanita itu, namun Bun Beng merasakan kegirangan dan kepuasan besar karena ia mendapat kenyataan bahwa wanita sakti ini tidak mengerti jurusnya tadi!

"Ha-ha-ha-ha! Thian-liong-pangcu, mau bunuh, lekas bunuhlah. Siapa takut mati dan siapa takut padamu? Engkau memang pandai seperti iblis, akan tetapi juga menyeleweng dan jahat seperti iblis. Memang engkau iblis, kalau tidak, tentu engkau tidak akan menyembunyikan mukamu di belakang kerudung! Akan tetapi, biar pun engkau iblis sendiri yang masih belum puas dan ingin mencuri ilmu silat seluruh orang kang-ouw, tetap saja engkau tidak menang melawan Pendekar Siluman dari Pulau Es! Ha-ha-ha, engkau akan dipermainkan lagi seperti dulu di Sungai Fen-ho, seperti yang telah kusaksikan sendiri. Ha-ha-ha!"

Bun Beng merasa betapa kaki itu makin berat menindih dadanya. Ia memejamkan mata, menanti datangnya maut, akan tetapi kaki itu tidak menginjak terus, bahkan turun dari dadanya dan tiba-tiba rambutnya yang dikuncir itu terjambak, tubuhnya terangkat dan dipaksa bangkit. Ia kini berdiri di depan wanita itu, melihat sepasang mata di balik kerudung yang seolah-olah hendak membakarnya.

"Siapa engkau? Siapa...?" Wanita itu membentak, kini suaranya tidak halus merdu lagi, melainkan melengking nyaring penuh kemarahan.

"Aku akan mati, perlu apa menyembuyikan nama? Aku Gak Bun Beng..."

"Ya Tuhan...!"

Bun Beng mendengar suara ini dari atas anak tangga, akan tetapi dia tidak tahu siapa yang berseru kaget itu karena Ketua Thian-liong-pang di depannya tiba-tiba tertawa menghina.

"Hi-hik, kiranya anak haram, keturunan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak datuk kaum sesat? Pantas... pantas saja...! Engkau jahat, melebihi Ayahmu yang tidak sah. Manusia macammu ini tidak layak hidup!"

Nirahai mengangkat tangan kanannya, siap menghantam kepala Bun Beng. Sekali ini, karena Bun Beng sudah berdiri dan tidak seperti tadi, diinjak tak mampu berkutik, tentu saja tidak sudi mampus begitu saja tanpa melawan.

"Plakkk!" Hantaman dengan telapak wanita itu berhasil dia tangkis dengan jurus Sam-po-cin-keng dan biar pun tubuhnya terlempar sampai lima meter jauhnya, ia berhasil menangkis dan tidak terluka. Dia sudah meloncat bangun lagi, siap melawan mati-matian.

"Pangcu...!" Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan berkelebatlah tubuh kakek bermuka singa menghadang tubuh Nirahai yang sudah berjalan menghampiri Bun Beng dengan mata berkilat penuh penasaran.

"Sai-cu Lo-mo, minggirlah engkau! Bocah ini harus kubunuh!" bentak ketuanya.

"Pangcu, ampunkanlah... dia... cucu keponakan saya, satu-satunya keturunan saya, bagaimana Pangcu tega untuk membasmi keturunan saya? Ampunkanlah, atau Pangcu bunuh saya sekalian!"

Mendengar ini, tiba-tiba lemaslah tubuh Nirahai. Ia memandang wajah pembantunya yang berlutut di depan kakinya. Bu Beng berdiri memandang dengan mata terbelalak! Dia cucu keponakan kakek bermuka singa itu?

"Sudahlah! Tidak dibunuh pun tidak mengapa, akan tetapi harus suka menjadi anggota kita."

"Apa? Aku menjadi anggota Thian-liong-pang, membantu kalian menculiki orang-orang gagah untuk dicuri kepandaiannya? Terima kasih, lebih baik aku mati!" Bun Beng membentak sambil membanting kakinya penuh kemarahan.

Sai-cu Lo-mo cepat meloncat ke depan Bun Beng sambil membentak penuh teguran, "Gak Bun Beng, engkau tidak boleh berkata begitu! Engkau adalah cucu keponakanku sendiri, harus mentaati kata-kataku."

Bun Beng memandang kakek itu penuh perhatian. "Locianpwe, sejak kapankah aku menjadi cucu keponakanmu dan siapakah Locianpwe?"

"Aku adalah Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok, dan mendiang Ibumu Bhok Khim adalah keponakanku."

Diam-diam Bun Beng merasa terharu. Baru sekali ini dia bertemu dengan orang yang ada hubungan keluarga dengannya, akan tetapi dia bertanya penuh rasa penasaran.

"Kalau benar demikian mengapa baru sekarang Locianpwe mengaku sebagai Paman Kakekku?"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. "Engkau tidak tahu, Bun Beng. Dahulu aku telah berusaha merampasmu dengan mengirim anak buah Thian-liong-pang ke kuil tua, di dekat Sungai Fen-ho. Akan tetapi usahaku gagal, engkau dirampas oleh Pendekar Siluman dan diberikan kepada orang Siauw-lim-pai. Sekarang kebetulan sekali kita bisa berkumpul, engkau menurutlah, tinggal di sini menjadi anggota kami, mempelajari ilmu dari Pangcu dan membuat jasa."

"Maaf, Kakek, hal ini tidak dapat kulakukan. Bukan sekali-kali aku tidak memandang perhubungan keluarga antara kita. Aku tahu engkau seorang yang baik dan telah berusaha menyelamatkan aku, akan tetapi untuk menjadi anggota Thian-liong-pang aku tidak sudi. Terserah kepada Thian-liong-pangcu, hendak membebaskan aku bersama para tokoh kang-ouw di sini atau hendak membunuhku!"

"Sai-cu Lo-mo, mengingat dia cucu keponakanmu, aku tidak membunuhnya. Akan tetapi dia harus menjadi anggota kita atau mati!" terdengar Nirahai berkata, suaranya dingin dan mengandung keputusan yang tidak dapat dibantah lagi.

Sai-cu Lo-mo menjadi bingung sekali. Dia ingin menyelamatkan keturunannya ini, akan tetapi maklum bahwa pemuda ini memiliki keberanian dan kenekatan yang sukar ditundukkan dan ia maklum pula bahwa kalau Pangcunya marah, tidak ada seorang pun berani membantahnya. Lalu ia mendapatkan akal dan berkata.

"Pangcu, ampunkan saya dan ampunkan dia yang masih muda. Kalau dia tidak mau, biar dia kita tawan dan perlahan-lahan saya akan membujuknya."

Terdengar jawaban dengan suara kesal, "Sesukamulah...."

Sai-cu Lo-mo menjadi girang sekali. "Bun Beng, dengarlah betapa baiknya Ketua kita. Engkau menurutlah, Cucuku!"

"Maaf, aku tidak mau menjadi anggota Thian-liong-pang! Biar pun Ayahku yang tidak pernah kukenal itu disebut seorang datuk kaum sesat, namun aku bukanlah orang sesat!"

"Bocah bandel, kalau begitu aku akan menawanmu!" Sai-cu Lo-mo membentak dan menubruk ke depan hendak menangkap Bun Beng. Akan tetapi, Bun Beng sudah mengelak cepat dan ketika kakek itu menyusul dengan serangan totokan untuk merobohkannya, dia cepat menangkis.

"Plak-plak!" Bun Beng terpental ke belakang dan Sai-cu Lo-mo terhuyung. Diam-diam Bun Beng terkejut, maklum bahwa orang yang mengaku kakeknya ini memang memiliki kepandaian dan tenaga lebih hebat dari pada kakek gundul yang berhasil ia kalahkan tadi.

Di lain pihak, Sai-cu Lo-mo juga kagum. Kiranya cucu keponakannya ini benar-benar tangguh, pantas saja sute-nya kalah.

"Gak Bun Beng, berani engkau melawan kakekmu sendiri?"

"Aku tidak melawan seorang kakekku, melainkan melawan orang-orang Thian-liong-pang." jawab Bun Beng tegas.

"Engkau benar tak tahu diri dan sombong!" Sai-cu Lo-mo kini menerjang dengan hebatnya.

Bun Beng terpaksa menggerakkan kaki tangan melawan dan kembali ia menggunakan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng. Begitu ia mainkan jurus-jurus aneh ilmu silat ini, Sai-cu Lo-mo mengeluarkan seruan kaget dan kakek ini terdesak hebat! Melihat gerakan pemuda itu Nirahai menjadi kagum dan tertarik sekali. Dia telah melihat dan mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, akan tetapi belum pernah ia menyaksikan ilmu silat tangan kosong seperti yang dimainkan pemuda itu. Sungguh pun gerak kaki pemuda itu mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang sudah matang, namun jurus itu bukanlah jurus ilmu silat Siauw Lim Pai.



"Wi Siang kau bantulah Lo-mo menangkap bocah itu, pancing sedapatmu agar dia mengeluarkan seluruh ilmunya," bisiknya dengan tertarik sekali sambil duduk kembali ke atas kursinya untuk menonton dan mempelajari jurus-jurus yang dimainkan Bun Beng.

Tang Wi Siang kini sudah mengenal Bun Beng sebagai anak yang dahulu pernah menolongnya ketika ia bertanding melawan Thai Li Lama di pulau Sungai Huang-ho dan hampir celaka oleh ilmu sihir Lama itu. Dia meloncat dan menyerang Bun Beng dengan gerakan lincah sekali.

Bun Beng terkejut. Dia maklum bahwa wanita ini memiliki gerakan yang cepat luar biasa dan mungkin lebih lihai dari pada Sai-cu Lo-mo. Dan memang dugaannya benar, Tang Wi Siang menjadi orang yang paling disayang dan dipercaya oleh Nirahai di antara para pembantunya, maka wanita itu dia beri pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi dari pada pembantu-pembantu lain, bahkan Tang Wi Siang telah dia beri Ilmu Silat Yancu-sinkun (Ilmu Silat Burung Walet) yang mengandalkan gerakan ginkang tinggi sekali.

Menghadapi Sai-cu Lo-mo saja dia sudah merasa berat, bukan hanya karena kakek itu lihai sekali, juga ia merasa enggan untuk melukai orang tua paman ibunya ini. Sekarang ditambah lagi dengan Tang Wi Siang, dia benar-benar menjadi terancam hebat. Gerakan penyerangan Wi Siang demikian cepatnya seolah-olah kedua lengan wanita itu berubah menjadi enam dan karena Bun Beng harus menjaga jangan sampai ia tertawan oleh kakek itu, sebuah totokan tangan kiri wanita itu ke arah lehernya tak dapat ia elakkan lagi. Akan tetapi, ternyata tangan itu tidak dilanjutkan menotok, hanya mendorong pundaknya sehingga ia terpental dekat anak tangga.

Ia meloncat lagi dan sekilas pandang ia melihat muka berkerudung Ketua Thian-liong-pang yang sedang memandangnya penuh perhatian. Ia menjadi terkejut sekali, sadar bahwa Tang Wi Siang yang turun membantu Sai-cu Lo-mo tentu hanya mendesaknya agar dia mengeluarkan semua jurus ilmunya, yaitu Sam-po-cin-keng dan Si Ketua itu hendak menyaksikan dan mencuri ilmu itu dengan jalan melihat gerakan-gerakannya!

Bun Beng adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu bahwa betapa pun juga, dia takkan mampu menang karena kalau Si Ketua sendiri turun tangan, betapa pun dia melawan tetap akan percuma saja, maka dia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan ilmunya agar tidak dicuri oleh Ketua itu. Tak mungkin engkau akan dapat mencuri jurus-jurus simpanan Siauw-lim-pai dan Sam-po-cin-keng, pikirnya dan kini ia melawan dengan gerakan sederhana sehingga dalam belasan jurus saja ia telah roboh tertotok oleh Sai-cu Lo-mo.

Nirahai menjadi terkejut, penasaran, dan marah. Dia pun mengerti bahwa pemuda bandel itu sengaja tidak memperlihatkan jurus-jurus aneh itu, dan sengaja membiarkan dirinya tertangkap!

"Lempar dia ke dalam penjara di bawah tanah!" bentak Ketua Thian-liong-pang. "Jangan keluarkan sebelum dia mentaati perintah!"

Sai-cu Lo-mo terkejut dan memandang Ketuanya. Akan tetapi sinar mata ketuanya jelas menyatakan tidak mau dibantah. Terpaksa Sai-cu Lo-mo diam saja melihat tubuh pemuda itu diseret oleh dua orang petugas yang membawa ke tempat tahanan di bawah tanah yang letaknya di sebelah belakang kompleks bangunan-bangunan sarang Thian-liong-pang.

Biar pun tubuhnya sudah lemas tertotok, ketika ia diseret pergi, Bun Beng masih mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang, "Lanjutkan pesta dan pertandingan!"

Dia merasa puas dapat menangkap kemarahan dan kejengkelan dalam suara itu. Dia telah kalah, dia telah gagal menolong para tokoh kang-ouw, namun sedikitnya dia telah berhasil membuat Ketua Thian-liong-pang kecewa, terhina dan marah-marah!

Tahanan di bawah tanah itu amat menyeramkan. Dua orang petugas yang kini menggotong tubuh Bun Beng, membawa pemuda itu memasuki lorong bawah tanah yang menurun melalui anak tangga batu. Lorong yang gelap dan di tiap tikungan terdapat pintu besi yang terjaga oleh dua orang anggota Thian-liong-pang. Setelah melalui tujuh pintu, sampailah mereka di sebuah kamar tahanan dan tubuh Bun Beng dilempar ke dalam kamar ini.

Bun Beng tidak memperhatikan tempat itu, juga tidak peduli ketika pintu kamar itu ditutup dari luar. Dia sibuk mengatur pernapasan, dan berusaha membebaskan totokan agar jalan darahnya mengalir normal kembali. Dia maklum bahwa tanpa usaha ini pun, akhirnya totokan itu akan punah, akan tetapi, hal itu akan makan waktu beberapa jam lamanya. Akhirnya dia berhasil memulihkan kembali jalan darahnya dan ia bangkit duduk, bersila dan menghimpun tenaga karena mulai saat itu dia harus berlaku hati-hati dan tenaganya harus pulih untuk meghadapi segala kemungkinan.

Sekitar sejam lamanya dia bersiulian, tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Setelah tenaganya pulih dan batinnya tenang kembali, baru Bun Beng menghentikan semedhinya dan membuka mata. Mula-mula yang ia dapati adalah bahwa kamar itu agak gelap, remang-remang dan lembab. Kemudian setelah membiasakan matanya dalam cuaca yang remang-remang itu, ia bangkit berdiri dan mulai menyelidiki kamar tahanan.

Sebuah kamar berdinding batu yang lebarnya tiga meter persegi, langit-langitnya juga batu, tingginya dari lantai ada empat meter. Tidak ada jendelanya, hanya terdapat sebuah pintu dari mana dia dilempar masuk. Pintu ini kecil hanya cukup dimasuki satu orang, dan terbuat dari baja tebal yang masuk ke dalam dinding batu. Kokoh kuat pintu itu, tak mungkin dibongkar.

Bun Beng menarik napas panjang karena sekali pandang saja dia maklum bahwa tidak mungkin lolos dari tempat ini menggunakan tenaga membongkar pintu atau menjebol dinding. Harus mencari akal. Namun, andai kata dia dapat keluar, bagaimana ia dapat lolos dari Thian-liong-pang? Lorong itu saja mempunyai tujuh buah pintu yang terjaga, belum lagi diingat bahwa kalau dapat keluar dari lorong bawah tanah, di atas sana masih ada tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang lihai, terutama sekali Ketuanya!

"Aku harus bersabar dan melihat perkembangan selanjutnya," akhirnya ia menghibur diri sendiri.

Betapa pun juga dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibunuh, karena selain Sai-cu Lo-mo mengaku sebagai kakeknya itu tidak suka melihat keturunannya terbunuh, juga Ketua Thian-liong-pang agaknya ingin sekali mendapatkan ilmu silatnya, terutama sekali Sam-po-cin-keng! Betapa pun, dia masih memiliki ilmu sebagai ‘modal’ untuk hidup! Dengan pikiran ini, hatinya menjadi lebih tenang dan Bun Beng lalu mencari tempat duduk di lantai yang enak. Akan tetapi, mana ada tempat duduk yang enak?

Lantai itu terbuat dari batu pula, kasar dan agak basah karena selalu ada air menitik turun dan di atas lantai tampak rangka-rangka manusia berserakan! Bun Beng mengerutkan keningnya. Ada tujuh buah tengkorak manusia di dalam kamar mereka itu. Siapa tahu mungkin lebih banyak lagi, tersembunyi di balik batu-batu berlumut. Dia tidak peduli, akan tetapi rangka-rangka manusia di situ memperingatkannya bahwa kalau dia tidak mentaati perintah Ketua Thian-liong-pang dan tidak mau menjadi anggotanya, tanpa dibunuh pun dia akan mati di tempat ini, seperti rangka-rangka itu! Akan tetapi, mungkinkah kakek muka singa yang telah berani mati membelanya itu akan membiarkan dia mati?

Tidak! Dia tidak boleh mati kelaparan di tempat ini. Dia harus berusaha untuk keluar dari neraka ini. Mulailah Bun Beng melakukan penyelidikan. Mula-mula dia memeriksa pintu itu dan mencoba tenaganya. Namun segera mendapat kenyataan bahwa tidak mungkin ia menjebol pintu yang amat kuat itu. Dia lalu memeriksa dinding batu. Dinding yang amat kokoh, batu bertumpuk dengan tanah yang keras. Kokoh kuat tak mungkin dibongkar dengan tangan kosong.

Siapa tahu akan ada penjaga datang menyerahkan makanan, pikirnya. Kalau mereka, terutama kakek muka singa, tidak menghendaki dia mati, tentu mereka akan mengirim makanan dan minuman. Dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibiarkan mati begitu saja sebelum dibujuk.

Maka ia menghentikan pemeriksaannya dan kembali duduk di sudut kamar itu, bersila dan bersemedhi. Teringat ia akan semua pengalamannya di waktu kecil. Semenjak terseret oleh pusaran maut air Sungai Huang-ho, sudah berkali-kali dia terancam bahaya maut, bahkan terpaksa harus hidup di antara sekumpulan monyet, dibawa terbang burung raksasa dan jatuh terlepas ke atas laut, namun selalu dia tertolong! Kalau Thian menghendaki, sekali ini pun dia tentu akan selamat. Teringat akan kekuasaan Tuhan, Bun Beng menjadi tenang.

Manusia hidup tergantung dari kekuasaan Tuhan, mutlak dan seluruhnya! Tanpa kekuasaan Tuhan, manusia tak mungkin dapat hidup. Detik jantung yang memompa darah ke seluruh bagian tubuh, pernapasan yang memberi makan darah, semua berjalan otomatis tanpa dikuasai manusia. Dalam tidur sekali pun, detik jantung dan pompa paru-paru tetap bekerja, siapa yang mengerjakannya kalau bukan kekuasaan Tuhan?

Dalam keadaan sunyi gelap menghadapi ancaman maut ini, perasaan Bun Beng makin dekat dengan kekuasaan Tuhan. Teringatlah ia akan wejangan-wejangan gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, akan kekuasaan Tuhan dan betapa lemahnya manusia, betapa tidak ada artinya. Ingin ia tertawa karena geli hatinya kalau teringat akan wejangan suhu-nya dahulu. Bagaimana pula yang dikatakan gurunya itu akan kelemahan manusia?

Orang yang merasa dirinya pandai dan berkuasa adalah sebodoh-bodoh orang, demikian antara lain gurunya pernah berkata. Manusia memiliki puluhan ribu rambut dan bulu di tubuhnya, namun mengatur pertumbuhan sehelai rambut atau bulunya saja dia tidak mampu! Jangankan mengatur pertumbuhan kuku, mengatur detik jantung, menentukan mati hidupnya! Hanya oleh kehendak dan kekuasaan Tuhan sajalah manusia dapat hidup dan mati!

Pelajaran seperti ini memperkuat batin Bun Beng, memperbesar kepercayaannya kepada Tuhan sehingga dia tidak takut menghadapi ancaman bahaya maut, karena ia sudah merasa yakin sepenuhnya, bahkan sudah berkali-kali mengalaminya dalam hidup, bahwa apa pun yang terjadi, baru dapat terjadi apabila Tuhan menghendaki.

Kalau Tuhan menghendaki dia mati, tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat menghindarkannya dari kematian. Sebaliknya, apabila Tuhan menghendaki dia hidup, juga tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membuat dia mati! Apa lagi hanya kekuasaan manusia, biar dia sesakti Ketua Thian-liong-pang sekali pun. Teringat akan semua ini Bun Beng tertawa. Ingin dia bertanya kepada Ketua Thian-liong-pang yang sakti itu apakah dia mampu mengatur pertumbuhan rambut-rambutnya, tidak usah semua, sehelai saja!

Betapa pun juga, Tuhan takkan menolong manusia yang tidak berusaha menolong dirinya sendiri. Usaha atau ikhtiar merupakan kewajiban manusia yang sekali-kali tidak boleh dihentikan selama dia hidup. Ada pun akan jadinya, terserah kepada kekuasaan Tuhan, akan tetapi dia harus berusaha menyelamatkan diri. Kalau Tuhan menghendaki dia mati akan matilah dia. Mati dibunuh Ketua Thian-liong-pang, atau mati kelaparan di situ, atau mati dalam usahanya menyelamatkan diri, semua itu hanya dijadikan lantaran atau jalan, dipilih oleh Tuhan sebagai penyebab kematiannya.

Pikiran ini membuat Bun Beng menjadi tenang sekali, sedikit pun dia tidak merasa khawatir karena hatinya telah bebas dari pada keinginan hidup atau mati, sudah ia serahkan seluruhnya kepada keputusan Thian. Ia hanya memutar otaknya mencari jalan keluar, bagaimana harus menggunakan akal.

Setelah keadaan di dalam kamar tahanan itu gelap pekat, tanda tentu di luar ada api penerangan yang dipadamkan, Bun Beng merebahkan dirinya, terlentang di atas lantai batu yang lembab dan tertidurlah dia karena hatinya tenang. Sinar yang membuat keadaan gelap pekat itu menjadi remang-remang membangunkannya. Ia menduga bahwa tentu malam telah terganti pagi karena cahaya yang kini sedikit menerangi kamar itu berbeda dengan cahaya semalam, cahaya matahari yang putih dengan cahaya lampu kemerahan.

Sebuah kepala nampak di balik jeruji baja di bagian atas pintu. Kepala Sai-cu Lo-mo! Kemudian, tangan kakek itu diulurkan di antara jeruji, membawa dua potong roti kering yang panjang dan seguci air.

Bun Beng dapat menangkap getaran suara penuh haru dan harap dalam kata-kata kakek itu. Ia menahan kilas pikiran untuk menangkap kedua lengan kakek yang diulur masuk melalui jeruji besi. Apa gunanya? Dia tidak akan dapat memaksa kakek ini, dan tidak dapat pula mencelakakannya. Ia menerima roti dan guci air.

"Terima kasih." Tanpa berkata-kata lagi pemuda ini makan roti kering. Dua potong roti itu cukup baginya untuk mengenyangkan perutnya, kemudian ia minum air jernih yang menyegarkan tubuhnya. Selesai makan dan minum, Bun Beng yang melihat kakek itu masih berdiri di luar pintu dan sejak tadi memandangnya bertanya.

"Sampai berapa lama aku akan ditahan di sini? Apakah makanan dan minuman diberi racun perampas ingatan agar aku suka membuka rahasia ilmu silat untuk dipelajari Pangcu-mu?"

Sai-cu Lo-mo menggeleng kepalanya. "Tidak, Bun Beng. Engkau adalah cucuku, engkau dianggap sebagai orang sendiri, tidak perlu Pangcu mempelajari ilmumu yang kelak akan ditukar dengan ilmu yang lebih tinggi oleh Pangcu sendiri. Bun Beng, tidak tahukah engkau bahwa kami bermaksud baik kepadamu? Engkau cucuku, hanya satu-satunya, maka engkau tidak akan dibunuh. Kalau engkau suka menjadi anggota Thian-liong-pang, engkau malah akan memperoleh kedudukan tinggi, sesuai dengan kepandaianmu."

Bun Beng menggeleng kepala. Biar pun dia harus berusaha meloloskan diri, akan tetapi tak pernah terpikir olehnya menukar keselamatannya dengan merendahkan diri menjadi anggota Thian-liong-pang yang ia anggap amat jahat dan keji!

"Percuma saja engkau membujuk. Aku tidak akan suka menjadi anggota Thian-liong-pang hanya untuk menyelamatkan nyawaku. Kalau aku berhasil keluar dari sini, aku tetap akan menentang Thian-liong-pang menculiki tokoh-tokoh kang-ouw."

"Ahhh, engkau tidak tahu, Bun Beng. Pangcu adalah seorang bijaksana, sama sekali bukan orang jahat. Bahkan dia telah merobah Thian-liong-pang dari kesesatannya, kembali ke jalan benar. Kalau dia melakukan penculikan atas diri tokoh-tokoh kang-ouw, itu sekali-kali bukan dengan niat mencelakakan mereka, melainkan hendak mempelajari dan menyaksikan jurus-jurus rahasia mereka yang telah diketahui Pangcu bagian teorinya saja. Kemudian mereka dibebaskan kembali. Pangcu adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat!"

"Hemmm, kalau memang sakti, mengapa masih ingin mencuri ilmu orang-orang lain?"

"Pangcu tidak akan menggunakan ilmu-ilmu itu, hanya ingin menghimpun, kemudian menciptakan ilmu baru untuk menandingi kehebatan To-cu Pulau Es."

Bun Beng mengerutkan keningnya. "Justeru itulah yang aku tidak suka! Aku kagum dan suka kepada Pendekar Siluman yang aku yakin adalah seorang yang selain sakti, juga amat bijaksana. Kalau Pangcu-mu memusuhi Pendekar Siluman, sudah pasti sekali aku berpihak kepada Majikan Pulau Es itu!"

Sai-cu Lo-mo kelihatan berduka. "Aihh, Bun Beng. Mengapa engkau menyusahkan hati seorang tua seperti aku? Apa perlunya engkau mencampuri segala urusan yang tiada sangkut-pautnya denganmu? Engkau menyerah dan taatlah, dan aku bersumpah bahwa kelak engkau tidak akan menyesal. Akan kau lihat sendiri kebaikan Thian-liong-pang!"

"Maaf, aku tetap tidak mau menjadi anggota Thian-liong-pang."

"Bun Beng, engkau tidak akan dapat keluar dari sini. Jalan satu-satunya adalah mentaati Pangcu dan aku hanya diperbolehkan membujukmu selama tiga hari. Kalau selama itu engkau belum menurut, engkau akan menjadi tahanan di sini selamanya! Dan engkau... engkau akan mati dengan sia-sia..."

"Menyesal sekali. Aku lebih memilih bahaya mati dari pada harus menuruti kehendak Pangcu-mu yang seperti iblis itu!"

Kakek itu menghela napas panjang, kemudian pergi dengan muka berduka. Selama tiga hari terus-menerus datang dan membujuk, namun tetap saja Bun Beng tidak mau menuruti bujukannya. Bahkan pemuda itu kini semakin tekun dengan penyelidikannya. Dibongkarnya batu-batu di lantai, di antara tulang-tulang rangka manusia, dan dia menemukan sebuah kapak bergagang panjang. Tentu kapak ini merupakan senjata dari seorang di antara mereka yang telah menjadi rangka itu. Kemudian ia memeriksa dinding, dinding di sebelah kanan pintu lebih berlumut dan dingin sekali. Kalau ia menempelkan telinganya di situ, terdengar bunyi air berkerosok. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa tentu dinding ini yang paling tipis sehingga dia dapat mendengar bunyi air bergerak. Akan tetapi mengapa ada air di balik dinding ini?

Setelah hari ketiga dan kakek muka singa menghabiskan bujukannya dengan sia-sia, kakek itu tidak muncul lagi. Setiap malam ada seorang penjaga melemparkan roti kering dan guci air ke dalam kamar tahanan. Dan mulailah Bun Beng bekerja. Dengan kapak gagang panjang itu dia mulai membongkar batu dinding kanan sekuat tenaga. Dia bekerja setelah penjaga melemparkan makanan. Setelah menghabiskan roti dan air, mulailah dia menghantami dinding batu dengan kapaknya. Dia mempunyai waktu sehari semalam lamanya. Besok malam, barulah ada penjaga datang untuk memberi makanan dan minuman. Dia harus berhasil selama sehari semalam ini, karena kalau tidak, tentu penjaga akan melihatnya dan dia akan ketahuan, yang berarti gagal!

Bun Beng bekerja dengan semangat menyala-nyala, tak pernah sedetik pun ia berhenti dan dia tidak mempedulikan kedua telapak tangannya yang sudah lecet-lecet dan otot-otot lengannya yang menggelepar-gelepar di dalam daging. Ia terus menghantamkan kapaknya dan satu demi satu batu dinding dapat ia bongkar. Batu itu keras sekali dan semalam suntuk dia hanya dapat membongkar sedalam satu meter. Namun belum tampak tanda-tanda bahwa dinding itu telah menipis!

Pada keesokan harinya Bun Beng masih terus bekerja, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, seluruh pikiran, perhatian, dan tenaga dikerahkan untuk menghantami batu-batu dengan kapaknya. Dia tidak tahu berapa lama dia bekerja, hanya bahwa dia harus berlomba dengan waktu. Betapa pun juga, hatinya mulai risau ketika dinding yang tadinya jelas itu mulai tampak suram tanda bahwa hari telah mulai sore dan sebentar lagi malam akan tiba dan berarti Si Penjaga akan datang mengantar roti dan air. Dia akan ketahuan dan akan gagal! Teringat akan ini, Bun Beng memperhebat ayunan kapaknya, menghantam dinding batu yang kini sudah ia gali sedalam dua meter lebih, tingginya seukuran tubuhnya. Batu-batu berserakan di dalam kamar itu, ia tendang-tendangi sehingga bertumpuk di kanan kiri dan belakangnya.

Malam tiba. Kegelapan cuaca kini diterangi seberkas cahaya kemerahan sinar lampu penerangan seperti biasa. Tak seberapa lama lagi penjaga tentu muncul. Bun Beng menghentikan kapaknya yang menjadi panas karena terus menerus menghantam batu keras. Dia terduduk, terengah-engah dan menghapus peluh sambil mengasah otak. Bagaimana sekarang? Dinding terkutuk itu tidak juga dapat ia tembus, agaknya setebal perut gunung!

Dan Si Penjaga sebentar lagi datang! Akan terbuang sia-sialah usahanya yang mati-matian selama sehari semalam! Tubuhnya terasa penat sekali, perutnya lapar dan kerongkongannya kering, haus. Lapar dan haus! Teringat akan ini, Bun Beng meloncat bangun dan lari ke pintu, menempelkan tubuhnya ke pintu yang lebarnya hanya sebesar orang. Kedua lengannya ia keluarkan dari celah-celah jeruji baja, mukanya ia tempelkan pada jeruji dan matanya mengerling ke arah datangnya penjaga.

Ketika ia melihat penjaga datang membawa roti dan guci air, Bun Beng berteriak-teriak memaki, "Penjaga keparat! Mengapa begitu lama? Aku sudah kelaparan dan hampir mati kehausan! Hayo cepat bawa roti dan air itu ke sini! Keparat jahanam engkau!"

Penjaga itu berhenti dan tertawa. "Ha-ha-ha, orang muda. Jangan kira aku tidak tahu akan akal bulusmu!"

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Bun Beng mendengar ini. Ia makin merapat pada jeruji pintu, menutupi seluruh celah jeruji dengan kedua lengan di kanan kiri mukanya. "Apa... apa maksud-mu?"

Kembali penjaga itu tertawa dan berdiri agak jauh sehingga Bun Beng tidak akan mampu menjangkau dengan tangannya. "Ha-ha-ha, apa kau kira aku bodoh? Engkau tentu ingin agar aku mendekat sehingga engkau dapat menangkap dan membunuhku, bukan?"

Rasa lega menyelubungi hati Bun Beng. Ia membentak, "Memang aku ingin sekali mencekik lehermu dan mematahkan tulang punggungmu!"

"Jangan mimpi, aku lebih cerdik darimu. Begitu melihat engkau di pintu, aku sudah curiga karena biasanya engkau tidak mengacuhkan roti dan air yang kubawa untukmu. Tentu engkau hendak menggunakan akal, pikirku, maka aku tidak mau mendekat. Nah, nih, kau tangkap roti dan airmu. Ha-ha-ha!" Penjaga itu melemparkan roti dan guci air ke arah kedua tangan Bun Beng.

Dengan sengaja Bun Beng bergerak lambat. Roti dapat ditangkapnya, akan tetapi guci air itu luput dan jatuh ke atas lantai di luar pintu, airnya tumpah. "Jahanam, lekas ambilkan air untukku. Aku haus sekali!" Bun Beng berteriak-teriak akan tetapi penjaga itu tertawa.

"Rasakan kau!" katanya sambil berjalan pergi!

Bun Beng cepat mengambil kapaknya dan lupa makan. Dia mulai lagi bekerja, hatinya lega. Dia telah dapat memperpanjang waktu usahanya sehari semalam lagi! Batu-batu itu mulai mudah dibongkar karena tanahnya lembek dan basah, bahkan kini ada air menetes-netes memasuki kamar. Dia menggali terus penuh semangat.

Pada keesokan harinya lewat pagi, air yang menetes makin banyak, bahkan kini jelas terdengar bunyi riak air. Bun Beng mengapak terus, tampak ada batu bergerak, kapaknya terayun ke arah batu itu dan...

"Krasak-krasak... byuuuurrrr...!"

Bun Beng cepat meloncat ke samping, melempar kapaknya dan mepet pada dinding dekat lubang yang kini tiba-tiba pecah menjadi lebar terdorong oleh masuknya air seperti dituang. Bun Beng berdiri mepet dinding dengan muka pucat. Bahaya yang datang mengancamnya ini tidak kalah mengerikan. Memang benar dia telah berhasil membobol dinding, akan tetapi ternyata di belakang dinding itu adalah air yang entah berapa banyaknya, yang kini membanjiri kamar tahanan.

Bun Beng tidak mau panik, dan otak otaknya bekerja cepat. Jika ia menerobos lubang itu, tidak mungkin dia kuat menghadapi tenaga air yang menerjang masuk, maka ia hanya mepet dinding dekat lubang sambil mencengkeram dinding batu dengan kedua tangannya. Dia maklum bahwa kalau kamar itu telah penuh, air akan terus menerobos keluar melalui celah-celah jeruji pintu. Akan tetapi, mengingat bahwa lubang itu tidak begitu besar dan air yang menerobos tidak banyak, maka tekanan air dari luar lubang dinding tentu tidak begitu besar. Maka dengan kenekatan luar biasa, Bun Beng menanti sampai kamar itu penuh. Air naik dengan cepatnya sampai ke leher, dia memejamkan mata dan mengumpulkan napas sepenuh paru-parunya sambil menanti.

Bun Beng memang cerdik. Kalau dia panik dan berusaha keluar dari lubang dinding, selain air menerjang masuk, tentu dia akan terseret dan terbanting kembali sehingga membahayakan keselamatannya. Sebentar saja air menjadi penuh dan Bun Beng yang telah tenggelam di dalam air itu merasa betapa dorongan air dari lubang dinding yang jebol itu tidak begitu kuat lagi.

Cepat ia melepaskan cengkeraman tangannya pada dinding, berenang ke arah lubang dengan tangan meraba-raba karena ketika ia membuka matanya, dia tidak dapat melihat apa-apa, air itu keruh dan akhirnya dia dapat meraba dinding yang jebol. Dia merangkak, berpegangan pada pinggiran lubang, terus merayap keluar lubang itu. Ketika ia meluncur ke depan, tubuhnya terdorong ke atas dan tahulah dia bahwa dia berada di air yang dalam, entah telaga, sungai atau laut! Tak mungkin lautan, pikirnya, karena air tidak asin. Dia membiarkan dirinya meluncur ke atas, bahkan membantu dengan kaki tangannya karena dia harus dapat tiba di permukaan air. Dadanya seperti akan meledak karena sudah terlalu lama dia menahan napas!

Betapa girang hati Bun Beng ketika akhirnya kepalanya tersembul di permukaan air. Ia membuka mulut dan menghisap napas banyak-banyak sampai dadanya terasa nyeri. Ia terengah-engah, berganti napas dan membuka kedua matanya. Kiranya ia telah tiba di permukaan sebuah sungai yang amat lebar, sungai yang selain lebar juga dalam, dan airnya keruh. Demikian lebarnya sungai itu sehingga dari tempat ia muncul, yaitu di tengah-tengah, ia melihat kedua tepinya jauh sekali.

"Aduhhh...!"

Tiba-tiba secara otomatis Bun Beng mengerahkan sinkang membuat kakinya keras karena kakinya terasa digigit sesuatu dari bawah. Ia dapat menahan gigitan itu dengan sinkang-nya yang membuat kaki kirinya kebal, tetapi kini makhluk yang mengigitnya itu meronta dan hendak menyeretnya ke bawah.

Bun Beng menjadi marah. Cepat ia menarik kakinya dan tampaklah seekor ikan menggigit kakinya itu. Ikan yang besar sekali, sebantal besarnya.

"Ikan keparat!" Bun Beng membentak dan menendangkan kakinya.

Ikan itu mencelat karena gigitannya terlepas dan karena dia tidak dapat tahan lama di atas permukaan air. Akan tetapi kini Bun Beng melihat suara hiruk pikuk di kanan kirinya, air berguncang dan suaranya berkecipak, tampaklah kepala-kepala dan ekor ekor banyak ikan besar mengurungnya dan menyerangnya dari depan, kanan kiri dan belakang!

Bun Beng makin mendongkol. Dia mengenal ikan-ikan ini, semacam ikan lele yang tidak bersisik, kulitnya licin halus, kepalanya bulat mengkilap dan matanya seperti mata orang yang licik, gerakannya cepat sekali. Biasanya ikan macam ini merupakan bahan hidangan yang lezat, baik dipanggang mau pun dimasak atau digoreng sekali pun. Biasanya melihat seekor ikan seperti ini di darat menimbulkan selera. Akan tetapi pada saat itu, agaknya selera ikan-ikan itulah yang timbul melihat tubuh Bun Beng! Dan ikan-ikan ini, berbeda dengan yang biasanya dilihat Bun Beng, amatlah besarnya. Belum pernah ia melihat ikan lele sedemikian besarnya, biasanya hanya sebesar betis. Mungkin bukan ikan-ikan lele, karena tidak mempunyai kumis!

Bun Beng tidak memusingkan ikan apa-apa yang mengeroyoknya dan dia mulai mengamuk. Dengan tangan kanan, ia memukul seekor ikan yang menyerangnya dari depan sehingga tubuh ikan itu terlempar jauh di atas air, kemudian kaki tangannya bekerja memukul dan menendang ikan-ikan itu.

"Aupppp...!"

Karena lupa bahwa dia bukan sedang berada di darat, maka begitu dia main silat di air, tubuhnya tenggelam dan dia gelagapan. Cepat ia menggerakkan kedua kakinya dan kini setelah tubuh atasnya timbul, ia hanya menggunakan kedua tangan saja untuk memukul dan mendorong ikan-ikan itu, sedangkan kedua kakinya dia pergunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak tenggelam.

Bun Beng adalah seorang yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi, dan kalau hanya dikeroyok oleh ikan-ikan seperti itu saja, agaknya dia akan dapat mengalahkan para pengeroyoknya dengan mudah. Akan tetapi itu kalau di darat. Kalau di air, dialah yang repot sekali. Kepandaiannya berenang di air amat terbatas, bukan termasuk ahli, tentu saja dibandingkan dengan ikan-ikan yang memang hidupnya di air dia kalah jauh dan sebentar saja Bun Beng menjadi gelagapan dan sudah beberapa kali tubuhnya terkena gigitan ikan-ikan kelaparan itu.

Celaka, keluhnya. Baru saja terbebas dari kamar neraka, dia sudah diancam bahaya air, dan baru saja dia terbebas dari ancaman itu, kini dia kembali menghadapi maut di mulut ikan lele! Benar-benar menyebalkan bahaya yang sekali ini mengancamnya. Betapa tidak menyebalkan kalau dia harus mati di mulut ikan-ikan lele! Padahal, semestinya ikan-ikan lele itulah yang mati di mulut manusia. Betapa memalukan, seorang pendekar mati dikeroyok ikan lele! Tidak, dia tidak mau mati begitu remeh! Bun Beng melawan sedapatnya sambil berusaha berenang ke tepi sungai itu.

Tiba-tiba terdengar lengking nyaring disusul suara berkelepaknya sayap. Bun Beng mendengar ini, akan tetapi dia tidak dapat mengalihkan perhatiannya terhadap pengeroyokan ikan-ikan itu. Sekali ia memutar tubuh menghantam seekor ikan dengan tangan kanannya, membuat ikan itu terlempar dalam keadaan mati karena kepalanya pecah.

Tiba-tiba saja, seperti munculnya tadi, ikan-ikan itu menyelam dan lenyap, kecuali beberapa ekor yang telah menjadi bangkai. Dan sebelum Bun Beng sempat sadar akan datangnya bahaya lain, tahu-tahu pundaknya terasa nyeri dan tubuhnya sudah melayang ke atas!

Bun Beng terkejut sekali. Tubuhnya melayang tinggi dan di atas terdengar kelepak sayap burung! Ia memandang ke atas dan tepat seperti yang ia duga dan khawatirkan, pundaknya telah dicengkeram oleh kaki seekor burung rajawali yang besar dan ia dibawa terbang tinggi sekali!

"Sialan!" Bun Beng menyumpahi dirinya. Terlepas dari mulut ikan lele, kini masuk ke dalam cengkeraman rajawali raksasa yang buas! Mengapa dirinya selalu ditimpa kemalangan dan diancam bahaya maut yang mengerikan?

Teringat ia akan pengalamannya dahulu ketika ia diterbangkan seekor burung dan dia bersembunyi di dalam keranjang. Dia memandang penuh perhatian dan keningnya berkerut. Celaka! Burungnya yang itu-itu juga! Burung rajawali milik Pulau Neraka! Tak salah lagi, dia mengenal modelnya. Wah, wah, kalau burungnya ada, tentu pemiliknya ada. Bocah laki-laki menjemukan itu, bocah iblis yang keji dan sadis! Sekarang tentu sudah menjadi seorang pemuda, dan tentu lebih kejam dari pada dahulu.

Hampir saja Bun Beng memukul kalau saja dia tidak ingat bahwa dia bukan di atas tanah. Ia melirik ke bawah dan menjadi ngeri. Burung itu terbang tinggi sekali sehingga sungai yang besar itu kini tampak jelas seperti seekor naga jauh di bawah. Dan burung itu tidak lagi berada di atas sungai. Kalau dia memukul dan terlepas dari cengkeraman, tentu dia akan jatuh terbanting ke atas tanah dan remuk semua tulangnya! Maka ia lalu meraih ke atas dan tangannya memegang kaki burung erat-erat sambil melepaskan cengkeraman kaki burung yang masih mencengkeram pundaknya. Kini dialah yang memegang kaki burung, tidak berani melepaskan karena hal itu akan berarti kematian yang mengerikan baginya.

Tiba-tiba ia melihat seekor burung lain, juga amat besar, terbang cepat datang dari jauh. Sudah terdengar suara pekik burung itu melengking keras. Celaka, pikirnya, tak salah lagi tentulah bocah setan itu yang datang menunggang burungnya. Masih terlalu jauh untuk dapat dilihat apakah burung yang terbang datang itu ada penunggangnya atau tidak.

Ia memutar otaknya, mencari akal apa yang harus dilakukannya kalau sampai pemuda setan itu betul-betul datang. Kalau saja dia bisa naik ke atas punggung burung ini, dia akan mendapat kesempatan untuk menghadapi lawan. Sama-sama menunggang burung, barulah ramai dan sebanding kalau bertempur. Kalau dia bergantung pada kaki burung, tentu saja dia tidak dapat melakukan perlawanan dengan baik, paling-paling dia hanya bisa melindungi tubuhnya dengan sebelah tangan, yang sebelah lagi harus ia pergunakan untuk bergantungan pada kaki burung.

Tiba-tiba burung yang membawanya itu melengking keras, lengking tanda kemarahan, dan ketika burung yang terbang datang itu sudah tampak dekat, hati Bun Beng agak lega karena tidak tampak ada penunggangnya. Namun kelegaan hatinya itu menjadi berubah seketika saat kedua ekor burung itu sudah saling serang dengan hebatnya. Kini tampak jelas oleh Bun Beng bahwa burung yang baru datang adalah seekor burung garuda putih. Dia mengenal burung itu. Burung tunggangan Pendekar Siluman. Burung garuda dari Pulau Es! Tentu saja dua ekor burung yang menjadi musuh lama itu kini saling terjang mati-matian, saling cakar, saling patuk, saling kabruk sambil mengeluarkan suara melengking menulikan telinga.

Bun Beng yang celaka dalam pertarungan antar dua ekor burung raksasa itu. Betapa tidak? Tubuhnya tergantung di kaki burung rajawali dan di dalam pertandingan itu, kedua ekor burung saling terjang sehingga tubuh Bun Beng terbawa, terguncang, bahkan dia menjadi korban terkaman burung garuda yang tentu saja tidak dapat membedakan antara dia dari kaki burung lawan.

Bun Beng yang masih bergantung pada kaki rajawali menjadi serba salah. Mau membantu garuda putih dengan memukul tubuh rajawali, berarti dia seperti memukul diri sendiri. Kalau rajawali itu jatuh, bukankah berarti dia sendiri pun jatuh jatuh ke bawah? Mau membantu burung rajawali, dapat ia lakukan dengan jalan memukul garuda putih di waktu dua ekor burung itu saling kabruk, hatinya tidak mengijinkan karena dalam pertandingan antara kedua ekor burung itu otomatis dia berpihak kepada garuda putih yang menjadi peliharaan Pendekar Siluman yang ia kagumi. Membantu rajawali salah, membantu garuda pun tidak mungkin. Diam saja juga tidak baik karena dialah yang paling payah dalam pertadingan angkasa itu.

Bun Beng benar-benar merasa tersiksa sekali, tersiksa lahir batin. Tubuhnya menjadi bulan-bulanan, montang-manting terdorong ke sana sini, kena patuk dan cakar hingga ia luka-luka dan tubuhnya terasa sakit-sakit, pakaiannya pun banyak yang terkoyak. Ini benar-benar menyiksa hatinya.

Dalam pertadingan biasa, biar pun melawan musuh yang jauh lebih pandai, sedikitnya dia bisa melawan, balas menyerang, atau kalau sudah merasa kalah, dapat melarikan diri. Akan tetapi sekarang ini sama sekali dia tidak berdaya. Membalas tidak bisa, melindungi tubuh sendiri pun tidak sempurna, melarikan diri pun... mana mungkin? Habislah ikhtiar sebagai manusia dan dalam keadaan seperti itu, tidak lain jalan lagi kecuali menyerahkan nasib ke tangan Tuhan! Dia hanya dapat menggunakan sebelah tangan untuk menangkis setiap ada bahaya patukan, cengkeraman atau kabrukan sayap yang mempunyai tenaga kwintalan!

Dalam pertandingan angkasa yang ramai itu, Si rajawali raksasa akhirnya terdesak hebat. Banyak bulu sayapnya membodol dan kepalanya berdarah. Hal ini tidak mengherankan. Dalam keadaan biasa saja, garuda putih dari Pulau Es yang terlatih itu merupakan lawan berat baginya, apa lagi sekarang sebelah kakinya diganduli orang, tentu saja hal ini membuat gerakannya kurang leluasa sehingga dia lebih banyak menerima patukan dan cengkeraman. Oleh karena itu, sambil mengeluarkan suara melengking bingung, seperti seekor ayam dikejar-kejar anak kecil, rajawali raksasa itu mulai menggerak-gerakkan kakinya yang diganduli Bun Beng, berusaha melepaskan orang yang menjadi pengganggu gerakannya.

Bun Beng maklum akan niat rajawali itu dan tentu saja dia tidak sudi disuruh turun begitu saja. Terlepas berarti melayang turun dari tempat yang tingginya ribuan kaki! Maka ia malah menggunakan tenaganya untuk memegang kaki rajawali itu sekuat mungkin sehingga biar pun rajawali itu berusaha untuk menendangkan kakinya, tubuh Bun Beng tetap saja tidak terlepas dari kakinya.

Namun kini keadaan Bun Beng makin payah. Kalau tadinya dia hanya menjaga diri dari serangan garuda putih yang sebetulnya menyerang Si rajawali dan tanpa disengaja menyerang Bun Beng pula, setelah rajawali itu kini berusaha melepaskannya, Bun Beng harus menghadapi dua serangan, yaitu dari garuda yang masih menyerang secara ngawur sehingga dirinya ikut diserang, dan dari rajawali yang hendak menendang dirinya supaya terlepas.

Tubuh Bun Beng terayun-ayun dan beberapa kali hampir saja pegangannya terlepas. Betapa pun juga, dia tidak berani memegang kaki rajawali itu dengan dua tangannya, karena tangan yang kanan ia perlukan untuk menjaga diri, menangkis terjangan garuda. Kepalanya menjadi pening dan tangan kirinya terasa penat sekali. Kalau sudah tidak kuat, dia mengganti tangan kiri dengan tangan kanan yang menggandul, sedang tangan kirinya yang penat itu ia pergunakan untuk melindungi tubuhnya dari terjangan garuda putih.

Burung garuda itu menyambar lagi, kini dari bawah. Agaknya garuda yang cerdik itu melihat betapa lawannya sibuk dengan kakinya. Otomatis paruh dan cakar garuda yang menerjang perut rajawali itu mengabruk pula tubuh Bun Beng yang tergantung.

"Celaka...!" Pemuda itu berseru keras.

Betapa pun ia hendak mempertahankan, tak mungkin ia menangkis serangan garuda sehebat itu hanya dengan tangan yang sudah penat. Gerakan menyelamatkan dirinya secara otomatis membuat ia menggunakan pula tangan kanan, lupa bahwa tangan kanannya tak boleh dilepaskan dari kaki rajawali. Begitu ia menggerakkan tangan kanan melepaskan kaki rajawali, tentu saja tubuhnya terlepas dan melayang ke bawah.

"Mampus aku sekarang...!" Ia mengomel karena jengkel akan kebodohannya sendiri, tetapi ia segera teringat dan disambungnya tenang, "...kalau Tuhan menghendaki...!"

Akan tetapi betapa mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri dengan tubuh meluncur ke bawah sedemikian cepatnya, menuju ke arah tanah di bawah yang berbatu? Betapa pun lihainya, tidak mungkin ia dapat menguasai tubuhnya yang meluncur turun cepat sekali, seperti batu disambitkan.

Bukan main herannya rasa hati Bun Beng. Di saat kematian berada di depan mata ini, seperti dalam mimpi ia melihat wajah yang berubah-ubah. Pertama wajah Milana, kemudian berubah menjadi wajah Kwi Hong, dan berubah lagi menjadi wajah Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai. Gila, ia menyumpah. Mengapa dalam menghadapi maut yang agaknya sekali ini tidak mungkin dapat ia elakkan lagi, pikirannya jadi kacau-balau dan ia teringat akan gadis-gadis itu? Inikah yang disebut watak mata keranjang seorang pria?

Ayahnya memperkosa ibunya! Ayahnya dan ibunya saling bunuh! Anak haram, kata Ketua Thian-liong-pang. Anak seorang datuk kaum sesat, sering kali ia mendengarnya. Dan dia masih cucu keponakan seorang tokoh Thian-liong-pang yang mukanya seperti singa. Orang macam apakah dia? Mati pun tidak akan ada yang kehilangan. Pikiran ini membuat dia makin tenang, karena ia berpendapat bahwa orang seperti dia ini kalau terus hidup pun hanya akan mengalami kesengsaraan dan penghinaan, mengalami tekanan batin dan tidak dihargai orang.

Satu-satunya orang yang paling baik terhadapnya adalah suhu-nya yang pertama, Siauw Lam Hwesio. Namun suhu-nya itu telah dibunuh secara mengerikan oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun koksu (guru negara) yang tinggi kurus itu bersama pembantu-pembantunya. Tidak, dia tidak boleh mati!

Biar pun kalau hidup ia mengalami kesengsaraan batin, akan tetapi dia harus hidup untuk menuntut balas atas kematian Siauw Lam Hwesio yang demikian menyedihkan! Dan dia masih meninggalkan sepasang pedang pusaka yang belum diambilnya. Sayang kalau pedang itu tersia-sia hilang di tempat rahasia itu. Kini timbul keinginan hatinya untuk menyerahkan pedang itu kepada Pendekar Siluman, satu-satunya orang yang dikaguminya di antara seluruh tokoh sakti di dunia ini.

"Aku tidak mau mati dulu...!!" Bun Beng berteriak diluar kesadarannya.

Tiba-tiba ia melihat seekor burung raksasa lain di bawahnya. Celaka, apakah ia dikejar dua ekor burung tadi? Ah, tidak, burung ini berada di bawahnya, bergerak-gerak terbang menyongsongnya, tentu akan menyerangnya pula. Dalam keadaan melayang dan meluncur turun ini, sedangkan untuk menjaga jatuhnya saja dia tidak mampu, bagaimana akan dapat mempertahankan diri kalau burung raksasa ini menyerangnya?

Ah, dia akan tertolong kalau dapat menangkap burung itu. Asal dapat menangkapnya, entah merangkul lehernya atau merangkul kakinya, pendeknya dia harus dapat mengunakan burung itu sebagai penyelamatnya dari kejatuhan yang tak dapat disangsikan lagi akan kehancuran tubuhnya. Kalau tadi timbul kengerian karena takut diserang burung baru ini, sekarang dia malah mengharap agar burung itu benar-benar menyerangnya. Karena kalau dia yang harus menuju ke burung itu, tentu saja tidak mungkin. Tanpa sayap mana mungkin dia bisa mengatur meluncurnya itu?

Makin dekat... dan Bun Beng kembali menyumpah, "Dasar awak sialan!"

Yang disangkanya burung raksasa itu ternyata hanya sebuah layangan besar sekali. Memang bentuknya seperti burung, bahkan dilukis seperti burung, akan tetapi tetap saja benda itu hanya sebuah layang-layang yang biasa menjadi permainan seorang kanak-kanak! Apa artinya sebuah layang-layang baginya dalam keadaan terancam bahaya maut seperti itu? Seakan-akan malah mengejeknya, bergerak-gerak ke kanan kiri dipermainkan angin.

Melihat betapa layang-layang itu bergerak-gerak seperti seekor burung yang menari-nari mengejeknya, timbul rasa panas di hati Bun Beng. Memang dia terancam bahaya maut, akan tetapi sedikit pun dia tidak takut. Mengapa harus diejek? Karena dia tidak berdaya membalas, kalau dia dapat tentu akan ditangkapnya layang-layang itu dan dicabik-cabiknya, maka Bun Beng hanya memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya meluncur terus ke bawah.

Teringat ia ketika dahulu ia jatuh pula dari kaki burung rajawali terbang dan berada di dalam keranjang, akan tetapi di bawahnya adalah laut luas sehingga dia terjatuh dengan empuk. Hanya satu perbedaannya, kalau dahulu di waktu dia masih kecil dia menjadi pingsan ketika meluncur turun, kini dia dapat mempertahankan diri dan tidak menjadi pingsan. Hal ini karena sinkang-nya sudah bertambah jauh lebih kuat, maka ia merasa dadanya sesak dan sukar bernapas, namun ia masih dapat menahannya dan masih dalam keadaan sadar sepenuhnya, merasakan betapa tubuhnya melayang turun dengan kecepatan yang mengerikan.

Tiba-tiba ia merasa kakinya nyeri dan luncuran tubuhnya tertahan, bahkan kini tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah. Ketika ia membuka mata, ia melihat bahwa kedua kakinya terlibat oleh sehelai tali yang cukup besar, sebesar kelingking. Tubuhnya yang bergantung itu bergoyang ke kanan kiri, akan tetapi tidak melucur ke bawah lagi. Ia melihat ke atas, di atas kepalanya, tidak begitu tinggi, hanya sejauh lima enam meter, tampak layang-layang raksasa tadi bergerak-gerak.

"Setan! Iblis! Siluman angkasa laknat! Engkau mengacau layang-layangku, si keparat!"

Tiba-tiba Bun Beng mendengar suara makian dari atas dan dengan mata terbelalak ia melihat bahwa di bawah layang-layang itu tampak seorang kakek berdiri di tali-temali layang-layang, seorang kakek yang bertubuh pendek, berjenggot panjang dengan rambut terurai lepas, melambai tertiup angin. Yang membuat ia terkejut adalah wajahnya berwarna kekuningan mendekati putih, hanya karena jenggot dan rambutnya sudah berwarna putih perak maka wajahnya tampak menguning! Seorang tokoh Pulau Neraka! Tidak salah lagi. Orang dari mana lagi kalau bukan dari Pulau Neraka yang memiliki kulit kuning seperti dicat itu?

Timbul harapannya di hati Bun Beng. Kalau kakek itu dapat hidup di tali layang-layang, tentu ia pun dapat. Harapan untuk hidup membuat Bun Beng sadar dan cepat-cepat ia menggunakan kedua tangannya memegang tali layang-layang dengan erat, kemudian melepaskan kakinya dari belitan dan membalikkan tubuh sehingga kini dia bergantung pada tali layang-layang itu, kedua tangannya memegang erat dan kedua kakinya ia libatkan. Gerakan-gerakannya ini membuat layang-layang itu makin kacau gerakannya, bergoyang ke kanan kiri, kadang-kadang menukik turun dengan kecepatan mengerikan dan mengeluarkan bunyi angin bercuitan.

"Setan! Bodoh! Kiranya engkau hanya seorang pemuda tolol. Dari mana kau datang mengacau layang-layangku, heh? Lekas... wah celaka, pindahkan berat tubuhmu ke kanan, injakkan kakimu pada tali dan enjot tubuhmu ke atas. Wah-wah... celaka, bisa turun terus layang-layang ini. Sialan, kau merampas kegembiraanku!"

Tidak usah dimaki dan diperingatkan pun, Bun Beng sudah maklum betapa bahayanya ‘menunggang’ layang-layang dengan bergantungan pada talinya. Ketika layang-layang itu menukik turun, dia menjadi ngeri sekali. Mengertilah dia bahwa kakek Pulau Neraka yang aneh itu tadi ‘mengemudikan’ layang-layang secara aneh dan biar pun di dalam hatinya dia tidak suka kepada tokoh Pulau Neraka yang dianggapnya jahat, namun mendengar perintah itu, otomatis dia mentaatinya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada kawan atau lawan, yang ada hanyalah orang senasib sependeritaan, kalau gagal sama-sama mati kalau berhasil sama-sama selamat.

Dia mengerahkan tenaganya ke kanan, menginjak tali layang-layang dan mengenjot tubuh ke atas. Benar saja, layang-layang yang kehilangan gandulan dan bobot di bawah itu segera menghentikan gerakan menukik ke bawah, kepalanya kembali ke atas dan kini layang-layang itu menjadi ‘odek’ (bergoyang-goyang ke kanan kiri cepat sekali) membuat tubuh Bun Beng terbawa goyang-goyang membuat kepalanya pening karena tubuhnya seperti dikocok ke kanan kiri.

"Setan udara! Apakah engkau sudah bosan hidup? Jangan pegang erat-erat, layang-layang menjadi odek tidak karuan, sialan!"

Biar pun dimaki-maki, Bun Beng yang maklum bahwa keselamatan mereka berdua tergantung dengan keahlian kakek itu, tidak menjadi marah dan bertanya.

"Habis bagaimana, Kakek yang baik?"

"Wah-wah, kau mulai menjilat-jilat, ya? Heiii, bukankah tampangmu pernah kulihat?"

Bun Beng menjadi bengong. Setelah kini layang-layang itu tidak menukik ke bawah, dia mendapat kesempatan untuk memandang wajah kakek itu penuh perhatian dan... teringatlah ia bersama Milana ditolong oleh kakek muka kuning yang aneh. Kiranya inilah orangnya! Tak salah lagi. Biar pun kini kelihatan lebih tua dan memakai sepatu pula, tidak bertelanjang kaki macam dulu, akan tetapi sikap aneh kakek itu malah bertambah dan sikap inilah yang mengingatkan dia. Akan tetapi dia pun teringat betapa dalam pertemuan-pertemuan pertama itu dia telah mengakali kakek ini untuk dapat melarikan diri bersama Milana, maka ia menganggap bahwa tidaklah cerdik untuk mengakuinya.

"Aku tidak pernah berjumpa dengan Locianpwe."

"Ahhh, bohong! Aku pernah melihat mukamu, hemm... kalau saja engkau sudah tua dan kepalamu botak... heiii, kau mau ke mana?"

Bun Beng tidak mau melayani kakek gila itu lebih lama lagi. Dia melihat ke bawah dan maklum bahwa kalau dia merosot turun melalui tali layang-layang itu, dia akan dapat sampai ke bumi dan dapat membebaskan diri. Maka kini dia mulai melorot turun sambil berkata, "Locianpwe, aku mau turun, tidak kerasan di sini!"

"Eh, eh, enak saja! Mana bisa?" Kakek itu tertawa bergelak dan tiba-tiba layang-layang itu menukik ke kiri, kemudian membuat gerakan melingkar sehingga tali itu pun menggantung dan ikut pula berputar.

"Wuuuttt!"

"Aihhhh...!" Bun Beng cepat mengelak dengan memindahkan tangan, bergantung pada tali agar jangan sampai terkena patukan layang-layang yang menyambar ke arah tubuhnya! Serangan aneh layang-layang itu luput, akan tetapi Bun Beng maklum bahwa dengan kepandaiannya yang dahsyat, tentu kakek itu akhirnya akan dapat memaksa ia meloncat turun dan akan hancurlah tubuhnya. Ia lalu menggerak-gerakkan tubuhnya, menarik-narik tali layang-layang itu sehingga kembali layang-layang itu menjadi kacau balau gerakannya.

"Ehhh... Ohhh... setan cilik! Jangan kacau layanganku!" Kakek itu terkejut dan memaki-maki.

Bun Beng tersenyum. "Kalau Locianpwe tetap menyerangku, aku pun akan tetap menarik-narik tali layangan sampai putus, biar kita berdua mampus!"

"Eh, jangan, eh... nanti dulu. Kalau talinya putus, aku bagaimana?"

"Masa bodoh. Aku akan jatuh dan mati seketika, tidak menderita. Tetapi Locianpwe akan terbawa terbang layang-layang putus, mungkin dibawa ke neraka!"

"Hahh-hoh kalau neraka memang tempatku. Akan tetapi jangan... biarlah kita berjanji, aku tidak akan menyerangmu akan tetapi kau jangan menarik-narik talinya."

"Aku berjanji takkan menarik-narik talinya, akan tetapi Locianpwe jangan menghalangi aku turun."

"Wah, perjanjian kentut! Mana bisa begitu? Aku tidak menyerangmu dan kau tidak menarik-narik tali, itu sudah satu lawan satu. Kalau ditambah lagi kau kubiarkan turun berarti kau minta dua memberi satu. Mana adil?"

"Kalau aku tidak boleh turun, apa artinya perjanjian ini? Locianpwe mau menang sendiri saja. Aku hendak turun, Locianpwe menghalang, maka aku menarik tali. Kalau Locianpwe tidak menghalangi aku turun, aku tidak akan menarik talinya, itu baru adil namanya."

"Wah, monyet cilik. Engkau benar pokrol bambu kering busuk! Ha-ha-ha, nah, kau turunlah, hendak kulihat bagaimana!" Tiba-tiba angin bertiup keras sekali membuat layang-layang itu terbang miring ke kiri.

"Wuuuutttt...!"

"Aihhh, celaka. Engkau jangan erat-erat memegang talinya, longgar-longgar saja, kau mengganggu kendaliku!" Kakek itu memindahkan berat tubuhnya dan meloncat ke pinggir kanan layang-layang itu.

"Siuuuttt...!" Kini layang-layang miring ke kanan dengan cepatnya sehingga tubuh Bun Beng terbawa melayang ke kiri kemudian ke kanan, membuat kepalanya pening dan jantungnya berdebar penuh kengerian.

"Aku mau turun, Locianpwe. Akan tetapi Locianpwe harus bersumpah tidak akan menyerangku!" Di dalam hatinya, pemuda ini masih curiga kepada kakek yang ia tahu amat cerdik dan curang itu.

"Apa? Bersumpah?" Kakek itu tertawa-tawa dan kini layang-layang kembali telah lurus dan tenang. "Boleh saja. Sudah sepuluh kali aku bersumpah dan lima puluh kali melanggarnya, sekarang ditambah lagi satu kali sumpah untuk dilanggar lima kali, tidak mengapalah!"

"Wah, sumpah seperti itu apa harganya?" Bun Beng mendongkol sekali dan maklum bahwa sumpah kakek ini tidak boleh dipercaya. Diam-diam ia merasa geli juga. Kakek ini curang ataukah jujur? Mengapa kebiasaan melanggar sumpah dia katakan secara terus terang macam itu? Tidak curang tidak jujur, melainkan gila agaknya!

"Kalau begitu, biar kutarik putus tali ini!" katanya dan mulai menarik-narik lagi.

"Eit-eit-eit-eiitt...! Jangan...! Biarlah, tanpa sumpah-sumpahan. Kau boleh turun tanpa kuhalangi, akan tetapi kau harus memberi-tahukan namamu."

Bun Beng berpikir. Kabarnya ayahnya seorang datuk kaum sesat. Orang-orang Pulau Neraka tentulah bukan dari golongan bersih, maka apa salahnya kalau dia mengaku? Sesama kaum tentulah tidak ada pertentangan.

"Baiklah, Locianpwe. Aku bernama Gak Bun Beng..."

"Astaga! Engkau bocah yang dulu kucari-cari? Bocah yang ditinggalkan Ibumu di kuil tua di lembah Sungai Fen-ho? Ha-ha-ha, engkau putera Gak Liat Si Botak! Pantas saja aku seperti pernah melihat macammu, kiranya anak Si Gak Liat, Si Setan Botak. Ha-ha-ha-heh-heh-heh!" Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal, tangan kanan memegangi tali layang-layang, tangan kiri menekan-nekan perutnya.

Mengkal sekali rasa hati Bun Beng menyaksikan lagak kakek itu. "Kakek gila, engkau terlalu menghina orang! Siapa sih engkau yang begini sombong? Dan apa hubunganmu dengan Ayah Bundaku?"

"Ha-ha-heh-heh-heh!" Kakek itu masih terpingkal-pingkal, bahkan saking geli hatinya, air matanya bercucuran di atas pipinya yang kuning. "Namaku Ngo Bouw Ek, di dunia kang-ouw aku dijuluki Kwi-bun Lo-mo akan tetapi aku baru beberapa tahun merantau. Dalam perantauanku yang pertama, kebetulan sekali aku bertemu dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat Ayahmu. Kami bertanding dan aku membuat dia payah sampai terkencing-kencing! Ha-ha, dia datuk kaum sesat, mengaku kalah dan dia mengangkat aku sebagai kakak angkat! Lalu dia menceritakan bahwa yang membuat dia sering kali tak dapat tidur adalah perbuatannya atas diri Bhok Kim murid Siauw-lim-pai. Dia mendengar kabar bahwa wanita itu melahirkan seorang putera sebagai akibat perbuatannya yang memperkosa wanita itu. Dia berpesan agar aku kelak mengambil anaknya itu sebagai anak angkat. Ha-ha-ha, biar pun hasil perkosaan, namun Gak Liat amat sayang kepada anaknya karena memang dia tidak pernah punya keturunan. Demikianlah, ketika mendengar berita dia tewas bersama Ibumu, aku lalu menyuruh anak buahku untuk merampasmu, akan tetapi."


BERSAMBUNG KE JILID 09


Sepasang Pedang Iblis Jilid 08

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

SEPASANG PEDANG IBLIS

BAGIAN 08

Namun Nirahai yang memiliki tingkatan lebih tinggi bersikap tenang-tenang saja. Dari kedua tangan lawan di kanan kirinya, menerobos tenaga sinkang yang kuat sekali melalui kedua lengannya yang terkembang. Wanita cerdik ini tidak melawan sehingga kedua lawannya terkejut dan heran, tiba-tiba mereka tersentak kaget ketika ada tenaga amat kuat menahan dorongan sinkang mereka. Sejenak kedua orang itu mengerahkan semangat dan tenaga dalam dan ketika mereka melihat betapa wanita itu kelihatannya enak-enak saja tanpa mengerahkan tenaga, barulah mereka sadar bahwa mereka kena diakali! Kiranya lawan mereka itu sengaja mempertemukan kedua tenaga sakti dari kanan kiri sehingga Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang bertanding sendiri, saling dorong dengan tenaga sinkang melalui tubuh Si Wanita berkerudung yang seolah-olah hanya menyediakan dirinya menjadi arena pertandingan sambil menonton seenaknya!

Mereka sadar dan cepat hendak menarik tenaga sakti mereka, namun terlambat karena pada saat itu Nirahai sudah menggunakan tenaganya sendiri, menggunakan kesempatan selagi kedua orang saling dorong sehingga tenaga sinkang mereka terpusat kemudian mereka menarik kembali tenaga ketika sadar bahwa sesungguhnya mereka itu saling gempur antara saudara sendiri. Ketika kedua orang kakek itu menarik kembali tenaga sinkang, saat itulah Nirahai menyerang mereka dengan tenaga sakti yang amat dahsyat. "Cukup, rebahlah!"

Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang tak dapat mempertahankan diri lagi, begitu Nirahai menarik kedua lengannya mereka roboh dan biar pun mereka sudah berusaha sekuatnya untuk tidak terguling, tetap saja mereka jatuh berlutut dan cepat memejamkan mata sambil mengatur pernapasan. Tenaga sinkang mereka sendiri yang tadi mereka tarik telah menghantam dada mereka karena didorong oleh tenaga wanita berkerudung itu, membuat dada terasa sakit dan pernapasan menjadi sesak. Yang membuat mereka heran dan bingung adalah keadaan lengan kanan mereka yang menjadi lumpuh seolah-olah tulang pundak lengan dalam keadaan terkunci, sama sekali tidak dapat digerakkan!

"Wi Siang, bantulah kedua orang Suheng-mu itu. Kau totok jalan darah Hong-hu-hiat di pundak kanan mereka masing-masing dua kali." Nirahai berkata kepada Tang Wi Siang yang berdiri menonton pertandingan tadi penuh kagum. Ia mengangguk, menghampiri kedua orang suheng-nya dan tanpa ragu-ragu menotok belakang pundak kanan mereka dua kali seperti yang diperintahkan wanita berkerudung itu.

Begitu terkena totokan dua kali, jalan darah mereka normal kembali dan lengan kanan dapat digerakkan. Kini kedua orang kakek itu benar-benar tunduk dan merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. Timbul rasa kagum dan suka di hati mereka untuk mengangkatnya menjadi ketua, karena dengan ketua sehebat ini, Thian-liong-pang pasti akan menjadi sebuah perkumpulan yang kuat dan terpandang. Maka mereka lalu berlutut di depan Nirahai sambil berkata,

"Pangcu!"

Terdengar sorak sorai dari para anggota yang kini sudah pula berlutut menghadap Si Wanita berkerudung yang tersenyum di balik kerudungnya. Nirahai mengangkat kedua lengan ke atas dan suara sorakan itu terhenti. Keadaan menjadi sunyi dan semua orang mendengarkan ucapan dari balik kerudung, ucapan yang halus merdu namun berwibawa,

"Mulai saat ini Thian-liong-pang di bawah pimpinanku harus menjadi perkumpulan yang kuat, dihormati dan disegani di seluruh dunia kang-ouw. Untuk dapat menjadi kuat, kalian semua harus menggembleng diri dan mempertinggi tingkat ilmu silat yang akan kuajarkan kepada kalian semua, sesuai dengan tingkat masing-masing. Untuk menjadi perkumpulan yang disegani, Thian-liong-pang harus menunjukkan kegagahan dan kekuatannya menundukkan semua pihak yang menentang kita, dan untuk dapat dihormati, Thian-liong-pang harus bersih dari pada segala perbuatan yang jahat. Tidak boleh ada penyelewengan lagi, tidak boleh ada perampokan, penindasan dan perbuatan jahat lagi. Semua perbuatan yang dilakukan oleh anggota, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang akan ku adakan. Setiap pelanggar akan menerima hukuman berat!"

Mendengar perintah pertama yang keluar dari mulut wanita berkerudung itu, diam-diam Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang menjadi girang sekali. Sai-cu Lo-mo demikian kagum dan gembiranya sehingga ia mengangkat tangan kanan ke atas sambil berteriak, "Hidup Pangcu kita!"

Semua anggota juga tertegun mendengar perintah tadi, tentu saja yang biasanya mengumbar nafsu, diam-diam menjadi gentar dan khawatir kalau-kalau dia akan mangalami nasib sial dan dihukum seperti para pimpinan mereka yang kini masih menggeletak di situ menjadi mayat. Maka, mendengar seruan Sai-cu Lo-mo, serentak semua anggota berteriak, "Hidup pangcu...!" Bahkan mereka yang tadinya suka mengandalkan nama besar Thian-liong-pang untuk melakukan penindasan dan perbuatan-perbuatan jahat, berteriak paling keras!

"Sekarang singkirkan dan urus jenazah mereka ini baik-baik, kuburkan sebagaimana mestinya. Sai-cu Lo-mo, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, mulai sekarang kalian berdua kuangkat menjadi pembantu-pembantuku, sedangkan Tang Wi Siang, sesuai dengan kehendaknya sendiri menjadi pelayanku yang paling kupercaya. Mari kita masuk dan merundingkan segala urusan mengenai Thian-liong-pang. Aku ingin mendengar, hal apa saja yang dihadapi Thian-liong-pang saat ini."

Nirahai diiringkan oleh tiga orang pembantunya memasuki gedung menuju ke ruangan dalam. Tak seorang pun pelayan diijinkan masuk ketika empat orang ini mengadakan perundingan, sedangkan para anak buah Thian-liong-pang sibuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan di ruangan tadi. Mereka, juga para pelayan, saling berbisik membicarakan Ketua partai yang penuh rahasia itu. Nirahai dengan tenang mendengarkan pelaporan tiga orang pembantunya mengenai keadaan Thian-liong-pang. Segala macam urusan mengenai perkumpulan ini diceritakan oleh Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, sedangkan Tang Wi Siang yang duduk di dekat Nirahai hanya mendengarkan dan bersikap sebagai seorang pelayan.

"Tiga perkumpulan yang menentang kita mudah dibereskan. Aku akan mendatangi mereka dan menundukkan mereka. Hal-hal lain dijalankan seperti biasa, akan tetapi harus disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Hanya satu hal yang mengherankan hatiku. Kau tadi menceritakan tentang usaha Thian-liong-pang yang gagal dalam memperebutkan seorang anak bernama Gak Bun Beng. Benarkah utusan kita itu dikalahkan oleh Pendekar Siluman dan anak itu akhirnya dibawa oleh Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai?"

"Benar, Pangcu," jawab Sai-cu Lo-mo.

Nirahai mengerutkan keningnya. "Anak ini... Gak Bun Beng, ada hubungan apakah dengan Thian-liong-pang sehingga perkumpulan kita harus berusaha merebutnya?"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang seperti jenggot singa itu. "Maaf, Pangcu. Sesungguhnya, dengan perkumpulan kita tak ada hubungan apa-apa, dan mendiang Ketua kami hanya memenuhi permintaan saya, karena sesungguhnya sayalah yang mempunyai hubungan dengan anak itu. Anak itu masih cucu keponakan saya sendiri."

"Hemmm.... begitukah? Coba jelaskan, siapa sebenarnya anak itu, dia anak siapa dan bagaimana hubugannya denganmu, Lo-mo? Kalau kuanggap penting, percayalah, aku yang akan mendapatkannya untukmu. Tentang Pendekar Siluman, jangan khawatir, aku akan dapat menghadapinya!"

Bahkan Wi Siang sendiri diam-diam menjadi kaget mendengar ini. Berani menentang Pendekar Siluman? Benarkah Ketua yang baru ini memiliki kesaktian yang demikian hebat sehingga berani menentang Pendekar Siluman? Baru mendengar cerita para anggota Thian-liong-pang tentang Pendekar Siluman yang bisa pian-hoa (merobah diri) menjadi raksasa dan menjadi setan tanpa kepala saja sudah membuat semua orang gagah di Thian-liong-pang ngeri dan seram!

Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang juga kaget dan sambil memandang wajah yang tertutup kerudung itu, Sai-cu Lo-mo menjawab, "Dia adalah putera dari keponakan saya yang bernama Bhok Khim, murid Siauw-lim-pai."

"Hemmm... Bhok Kim yang berjuluk Bi-kiam, seorang di antara Kang-lam Sam-eng?"

"Betul, Pangcu," jawab Sai-cu Lo-mo makin kagum dan terheran bagaimana wanita berkerudung ini agaknya tahu akan segala hal dan mengenal semua orang. Maka dia tidak menyembunyikan dirinya lagi dan menyambung, "Saya dahulu bernama Bhok Toan Kok, Bhok Kim adalah anak tunggal adikku..."

Akan tetapi agaknya Nirahai tidak mempedulikannya dan seperti orang melamun karena mengingat, lalu berkata, "Dan bocah itu she Gak? Hem... tentu anak dari Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak..."

Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu terbelalak, makin heran dan kagum. Sai-cu Lo-mo berteriak, "Bagaimana Pangcu dapat mengetahuinya...?"

Nirahai memandangnya. "Aku tahu, dan Gak Liat yang memperkosa Bhok Kim hingga wanita itu dihukum di Siauw-lim-pai, kemudian melahirkan anak dan... mereka berdua kemudian saling bunuh. Hemm... jadi engkau ingin mengambil cucu keponakanmu itu, Sai-cu Lo-mo? Apa perlunya? Anak itu adalah keturunan Gak Liat, datuk kaum sesat!"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. "Betapa pun juga, dia adalah cucu keponakan saya, Pangcu."

Nirahai mengangguk, "Baiklah, urusan anak itu kita tunda dulu saja. Aku tidak ingin melibatkan Thian-liong-pang hanya karena urusan keturunan Gak Liat. Betapa pun juga, kalau engkau mendengar di mana adanya bocah itu sekarang dan jika ada kemungkinan merebutnya, aku suka membantumu. Tahukah engkau di mana dia itu sekarang?"

"Dia menjadi murid di Siauw-lim-si."

Nirahai menggeleng kepala. "Kalau di Siauw-lim-si, kita tidak dapat berbuat sesuatu, Lo-mo. Ibu anak itu adalah murid Siauw-lim-pai, sudah semestinya kalau anaknya menjadi murid Siauw-lim-pai pula. Jangan mengira bahwa aku takut menghadapi Siauw-lim-pai, akan tetapi apa perlunya kita menyeret perkumpulan menjadi musuh Siauw-lim-pai yang amat kuat hanya karena memperebutkan seorang anak, apa lagi anak keturunan seorang seperti Gak Liat?"

Diam-diam Sai-cu Lo-mo harus membenarkan pendapat pangcunya ini. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan berkata, "Pangcu... maaf... hati saya akan selalu gelisah kalau tidak menyatakannya sekarang. Kalau tidak keliru menduga... saya dapat mengenal siapa kiranya Pangcu!"

Nirahai menoleh ke arah Chie Kang dan bertanya, "Bagaimana dengan engkau, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang? Apakah engkau pun dapat menduga siapa aku?"

Chie Kang terkejut. Dia pun sedang berpikir-pikir. Kalau wanita berkerudung itu tidak memperlihatkan sikap mengenal semua orang, bahkan mengetahui segala hal yang bagi banyak tokoh kang-ouw merupakan rahasia, maka di dunia ini kiranya hanya ada seorang saja wanita seperti itu, akan tetapi diam-diam dia terkejut dan tidak percaya bahwa pangcunya yang baru adalah orang itu! Kini dia makin gugup mendengar pertanyaan itu dan menjawab, "Saya... saya hanya menduga-duga akan tetapi tidak berani memastikannya. Pribadi Pangcu penuh rahasia, sukar untuk diduga..."

Nirahai tersenyum di balik kerudung-nya. "Sai-cu Lo-mo, aku dapat menjenguk isi hatimu. Dugaanmu itu agaknya tidak keliru. Engkau dan Chie Kang telah kuangkat menjadi pembantu-pembantuku yang setia dan boleh dipercaya, sedangkan Wi Siang menjadi pelayan dan pengawalku. Hanya kalian bertiga sajalah yang boleh mengetahui siapa sebenarnya aku. Akan tetapi, kalau sampai seorang di antara kalian berani membocorkan rahasiaku, tanganku sendiri yang akan membunuhnya! Nah, agar hati kalian tidak ragu-ragu lagi, kalian boleh mengenalku." Berkata demikian, wanita berkerudung itu membuka kerudungnya, dan tampaklah wajahnya yang cantik jelita, wajah puteri Kaisar Mancu. Puteri Nirahai yang pernah menggemparkan seluruh dunia kang-ouw sebagai pemimpin pasukan-pasukan pemerintah yang membasmi para pemberontak!

Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu belum pernah bertemu muka sendiri dengan Nirahai, akan tetapi nama besar puteri ini sudah lama mereka dengar. Kini mendapat kenyataan bahwa yang menjadi Ketua mereka adalah puteri yang terkenal itu, yang berdiri dengan cantik dan agungnya, dengan sepasang mata yang amat berwibawa memandang kepada mereka dengan mulut yang berbentuk indah itu tersenyum halus, mereka serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Nirahai.

"Harap Paduka suka mengampunkan hamba sekalian yang tidak mengenal Puteri yang mulia," kata Sai-cu Lo-mo mewakili saudara-saudaranya.

"Bangunlah kalian!" tiba-tiba Nirahai membentak. Ketika mereka dengan kaget bangkit berdiri memandang, Nirahai telah memakai lagi kerudungnya, menutupi mukanya yang cantik, dan kini dari sepasang lubang di depan kerudung, matanya memandang marah.

"Mulai saat ini, sekali-kali kalian tidak boleh menyebutku Puteri dan jangan bocorkan rahasia ini! Aku adalah Pangcu (Ketua) Thian-liong-pang dan kalian sebut saja aku Pangcu. Nah, mari duduk dan melanjutkan perundingan demi kemajuan perkumpulan kita."

Demikianlah, semenjak hari itu, Nirahai menjadi Ketua Thian-liong-pang. Kecuali tiga orang pembantunya itu, tidak seorang pun di antara para anggota Thian-liong-pang mengetahui bahwa Ketua mereka yang selalu menyembunyikan muka di belakang kerudung, yang diliputi penuh rahasia, yang memiliki ilmu kepandaian hebat seperti iblis, sebenarnya adalah Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu.

Nirahai menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada tiga orang pembantunya sehingga dalam waktu dua tahun saja, Sai-cu Lo-mo, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Tang Wi Siang telah memperoleh kemajuan yang amat hebat, tingkat mereka naik jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya, akan tetapi watak mereka pun berubah, penuh rahasia seperti watak Ketua mereka. Para anak buah Thian-liong-pang juga dilatih ilmu silat oleh tiga orang tokoh ini sehingga pasukan Thian-liong-pang kini menjadi pasukan yang hebat, setiap orang anggotanya memiliki kepandaian tinggi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, tadinya Nirahai menitipkan puterinya, Milana, kepada Pangeran Jenghan di Kerajaan Mongol. Selama membangun dan memperkuat Thian-liong-pang beberapa tahun, dia meninggalkan puterinya itu dan hanya kira-kira sebulan sekali dia pergi ke Mongol mengunjungi puterinya. Milana sama sekali tidak tahu bahwa ibunya adalah Ketua Thian-liong-pang yang amat terkenal itu. Setelah Nirahai mengajaknya ke Thian-liong-pang anak perempuan ini baru tahu bahwa ibunya adalah wanita berkerudung, Ketua Thian-liong-pang yang menggemparkan dunia kang-ouw. Dengan hati penuh kebanggaan namun juga kedukaan, kini Milana juga tahu bahwa ayahnya adalah Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang agaknya berselisih paham dengan ibunya sehingga ayah bundanya itu saling berpisah, bahkan timbul gejala saling bertentangan!

Pertemuannya dengan suaminya, Suma Han, mendatangkan rasa duka yang hebat di hati Nirahai. Dia adalah seorang puteri kaisar, seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi sekali. Betapa pun besar cinta kasihnya kepada Suma Han, namun sikap suaminya itu membuatnya berduka. Ia tidak mau menyembah-nyembah minta dibawa, sungguh rasa rindunya kadang-kadang menyesak di dada. Dia ingin memperlihatkan bahwa kalau Suma Han tidak membutuhkan dia, dia pun tidak akan merangkak-rangkak mengejar suaminya!

Keangkuhan ini membuat dia amat menderita, membuat cintanya kadang-kadang berubah menjadi kebencian, membuat dia ingin menandingi kebesaran suaminya, menandingi kepandaiannya. Dalam dua kali pertemuannya dengan Suma Han, yang pertama ketika tokoh-tokoh kang-ouw memperebutkan rahasia pusaka di Sungai Huang-ho, kedua baru-baru ini, Nirahai maklum bahwa dalam ilmu kesaktian dia masih belum mampu menandingi Suma Han.

Biar pun Perkumpulan Thian-liong-pang kini menjadi amat kuat dan agaknya para pembantu dan anak buahnya tidak kalah hebat oleh anak buah Pulau Es, namun kalau dia sendiri tidak mampu menandingi Suma Han, semua akan sia-sia belaka. Tidak ada seorang pun di Thian-liong-pang yang akan kuat bertanding dengan Suma Han. Maka dia harus mempertinggi ilmu-ilmunya.

Terutama sekali Nirahai ingin melihat puterinya, Milana menjadi seorang yang lebih pandai dari padanya. Keinginan untuk menjadi seorang yang lebih sakti dari Suma Han inilah yang membuat Nirahai melakukan hal-hal yang amat berani, di antaranya ialah menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua perkumpulan silat yang diundang, atau kalau tidak mau dipaksa mengunjungi Thian-liong-pang! Untuk apa? Sebaiknya kita sekarang mengikuti perjalanan Gak Bun Beng yang sedang mengunjungi Thian-liong-pang dengan mengikuti bayangan dua orang tokoh Thian-liong-pang dengan hati-hati karena dia maklum bahwa kedua orang itu sedang memancingnya untuk memasuki markas besar perkumpulan yang terkenal itu.

Markas Thian-liong-pang yang menjadi pusat perkumpulan itu merupakan sekumpulan bangunan besar, dikelilingi oleh dinding batu yang tingginya dua kali tinggi manusia. Di tempat ujung dinding temboknya terdapat tempat di mana tampak penjaga yang melakukan penjagaan siang malam sehingga sarang perkumpulan itu seperti benteng tentara saja. Pintu gerbang yang lebar terbuat dari kayu tebal berlapis besi, dijaga pula oleh selosin orang.

Pintu gerbang terbuka ketika dua orang tokoh Thian-liong-pang tiba di situ, akan tetapi begitu kedua orang itu masuk melalui pintu gerbang, daun pintu tertutup kembali dari dalam. Bun Beng memeriksa keadaan pintu gerbang yang amat kuat dan dinding tembok yang tinggi. Ia tersenyum. Agaknya, orang-orang Thian-liong-pang itu terlalu memandang rendah kepadanya. Apa artinya dinding tembok setinggi itu baginya? Lebih tinggi lagi pun dia akan mampu melompatinya.

Dia maklum bahwa mereka tentu sudah menantinya, akan tetapi dia tidak takut. Dia harus memasuki sarang Thian-liong-pang, menolong Ketua Bu-tong-pai, mungkin menolong banyak orang lagi yang terculik dan menjadi tawanan di tempat itu. Pula, dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menemui Ketua Thian-liong-pang dan menegurnya agar tidak melakukan penculikan-penculikan. Dia maklum bahwa orang-orang Thian-liong-pang amat lihai, apa lagi ketuanya yang pernah ia lihat di pulau Sungai Huang-ho beberapa tahun yang lalu. Ia masih bergidik kalau teringat akan wanita berkerudung yang amat lihai itu.

Akan tetapi kepandaiannya sekarang tidak seperti dahulu. Kini dia telah dewasa dan berilmu tinggi, kalau dia tidak menentang perbuatan sewenang-wenang ini, untuk apa dia mempelajari ilmu sampai bertahun-tahun? Pula, dia teringat betapa tokoh wanita Thian-liong-pang dahulu bersikap baik kepadanya, dan rata-rata orang Thian-liong-pang tidaklah seganas orang Pulau Neraka. Selain kenyataan itu, juga dalam perjalanannya dia tidak pernah mendengar Thian-liong-pang sebagai perkumpulan orang jahat, tidak pernah melakukan kejahatan. Kalau sekarang mereka menculik ketua-ketua perkumpulan dan tokoh-tokoh kang-ouw tentu ada rahasia di balik perbuatan mereka itu dan dia harus membongkar rahasia itu dan berusaha menghentikan perbuatan mereka.

Akan tetapi Bun Beng bukan seorang yang sembrono. Dia maklum bahwa meloncat begitu saja pada siang hari itu merupakan perbuatan yang amat berbahaya. Tidak, dia tidak berani bersikap sembarangan. Maka dia mundur kembali dan mengintai dari jauh, menanti sampai malam tiba karena dia mengambil keputusan untuk memasuki sarang naga itu setelah hari menjadi gelap.

Setelah hari berganti malam, Bun Beng berindap-indap mendekati dinding yang mengurung sarang Thian-liong-pang. Ia sudah memilih bagian kiri di ujung sebelah kiri pintu gerbang untuk meloncat masuk. Tiba-tiba ia mendengar suara gembreng dan tambur di sebelah dalam. Ia berhenti di bawah dinding dan mendengarkan penuh perhatian. Apakah sedang Thian-liong-pang mengadakan pesta? Hmm, bukan, bantah hatinya.

Tambur dan gembreng itu dipukul seperti kalau dipergunakan untuk mengiringi orang bermain silat! Agaknya mereka sedang berlatih silat. Dia tidak akan merasa heran kalau mereka telah siap menantinya, bahkan dia menduga bahwa tentu gerak-geriknya sejak tadi telah diintai. Namun dia tidak peduli. Sekarang atau dia akan terlambat.

Dengan gerakan indah Bun Beng meloncat. Tubuhnya melayang ke atas dan kedua kakinya hinggap di atas dua ujung tombak, gerakannya amat ringan seolah-olah seekor burung garuda yang besar. Ia merasa heran sekali karena tidak ada anak panah atau senjata orang menyambutnya. Di bawah tidak tampak orang menjaga, hanya tampak genteng bangunan-bangunan dan tampak sinar penerangan yang besar, terutama di depan sebuah bangunan terbesar di situ. Tampak pula orang-orang hilir mudik, akan tetapi tidak ada yang menengok, seakan-akan mereka itu hanya orang-orang dusun yang tidak paham ilmu silat dan tidak tahu akan kedatangannya.

Bun Beng merasa penasaran. Apakah pihak Thian-liong-pang menganggap dia begitu rendah sehingga tidak pantas untuk menjaga dan menghebohkan kedatangannya? Ia melayang turun dari tembok, hinggap di atas genteng, kemudian melayang turun pula ke bagian samping bangunan besar yang agaknya saat itu menjadi pusat keramaian.

Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang kakek yang berkata tenang. "Selamat datang, Siauw-hiap dari Siauw-lim-pai. Biar pun caramu masuk tidak selayaknya, namun mengingat bahwa Siauw-hiap adalah seorang murid Siauw-lim-pai, Pangcu kami mempersilakan Siauw-hiap untuk duduk sebagai tamu menonton pertunjukan kami. Kami menerima Siauw-hiap sebagai seorang tamu yang terhormat, ataukah... Siauw-hiap lebih suka dianggap sebagai seorang pencuri yang rendah?"

Bun Beng memandang orang itu yang ternyata adalah seorang kakek berkepala gundul, berjenggot dan berkumis, pakaiannya seperti seorang sastrawan, usianya kurang lebih enam puluh tahun, suaranya tinggi nyaring akan tetapi sikapnya halus dan seperti orang lemah. Mendengar ucapan itu, Bun Beng tersenyum.

"Terserah kepada Thian-liong-pang akan menganggap aku sebagai apa. Akan tetapi karena aku ingin bertemu dengan Pangcu kalian, dan melihat betapa aku disambut sebagai tamu, biarlah aku menerima sambutan ini."

"Kalau begitu, silakan Siauw-hiap!" kata kakek itu.

Bun Beng berjalan dengan sikap tenang menuju ke ruangan depan bangunan besar diiringkan oleh kakek gundul. Kini mengertilah dia mengapa dia tidak disambut sebagai musuh dan tidak diserang. Kiranya Thian-liong-pang agaknya merasa enggan bermusuhan dengan Siauw-lim-pai, dan hanya karena memandang Siauw-lim-pai maka dia disambut dengan manis budi. Dia mengerti bahwa andai kata kedua orang tokoh yang menawan Ketua Bu-tong-pai tadi tidak mengenal dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang ia miliki dan tidak melaporkan bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, tentu penyambutan mereka akan lain sekali.

Ketika kakek gundul itu mengajaknya memasuki ruangan depan yang luas dan diterangi banyak lampu gantung besar, dia cepat melayangkan pandang matanya menyapu keadaan di situ. Ruangan itu luas sekali dan terdapat anak tangga di sebelah dalam. Di atas anak tangga itu terdapat ruangan lain dan tampaklah seorang wanita berkerudung duduk di atas sebuah kursi besar yang lantainya ditilami kulit seekor biruang. Wanita berkerudung yang dikenalnya sebagai Ketua Thian-liong-pang yang dahulu pernah datang ke Sungai Huang-ho itu duduk dengan sikap tenang, kedua kakinya menginjak kepala biruang yang berada di bawah kursinya.

Di sebelah kanan wanita ini duduk seorang kakek yang mukanya seperti seekor singa, kursinya agak kecil dibandingkan dengan kursi Si Wanita berkerudung. Di sebelah kanan agak belakang Ketua Thian-liong-pang ini berdiri seorang wanita cantik yang dikenal pula oleh Bun Beng sebagai wanita yang dahulu mewakili Thian-liong-pang di Sungai Huang-ho. Sedangkan di belakang, agak mundur, berdiri seorang wanita lain yang juga cantik, pakaiannya seperti wanita lihai yang berdiri di sebelah kanan Ketua itu.

"Silakan duduk di sini, Siauw-hiap," kata kakek gundul sambil mempersilakan Bun Beng duduk di atas kursi dekat anak tangga.

Akan tetapi Bun Beng tidak segera duduk, hanya berdiri dengan terheran-heran memandang ke arah para tamu yang duduk menghadap ke arah Ketua, dengan kursi-kursi yang diatur setengah lingkaran mengurung ruangan di bawah anak tangga, sedangkan para penabuh tambur dan gembreng berdiri paling ujung. Dia tidak peduli dan tidak melihat betapa Ketua Thian-liong-pang sama sekali tidak mengacuhkannya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat Ang-lojin, Ketua Bu-tong-pai yang akan ditolongnya itu, duduk pula di antara para tamu dengan sikap tenang dan sama sekali tidak menoleh kepadanya!

Mengapa orang itu seperti tidak mengenalinya? Mustahil kalau tidak mengenal atau tidak tahu bahwa kedatangannya untuk menolong ketua itu! Atau pura-pura tidak kenal? Ah, ini pun tidak mungkin. Bukankah dua orang tokoh Thian-liong-pang sudah tahu betapa di tengah jalan dia berusaha menolong Ketua Bu-tong-pai itu? Tentu hal ini sudah dilaporkannya pula kepada Ke-tua Thian-liong-pang. Apa perlunya lagi Ketua Bu-tong-pai berpura-pura? Dia pun tidak mau berpura-pura karena hal ini berarti bahwa dia takut, maka dia lalu menghampiri Ketua Bu-tong-pai dan menegur.

"Ang-locianpwe, engkau baik-baik sajakah?"

Kakek itu memandangnya akan tetapi sinar matanya seperti tidak mengenalnya sama sekali. Dia hanya mengangguk tanpa menjawab! Bun Beng menjadi penasaran sekali. Mengapa Ketua Bu-tong-pai bersikap seperti ini? Padahal susah payah ia berusaha menolongnya dan di jalan tadi sikapnya tidak sedingin ini!

"Locianpwe, apakah kau lupa kepadaku?" Ia menegur lagi.

Kakek itu kembali memandangnya dengan sikap tidak acuh, lalu menjawab dengan suara ragu-ragu, "Siapakah? Maaf, aku tidak mengenalmu." Setelah berkata demikian kakek ini kembali membuang muka menonton dua orang yang sedang bertanding di bawah anak tangga, memandang penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh semua orang yang duduk di situ.

Makin heran Bun Beng ketika melihat betapa para tamu yang sebagian besar terdiri dari kakek-kakek yang kelihatannya berilmu tinggi itu sama sekali tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia hanya seekor lalat saja! Dengan hati mengkal Bun Beng lalu duduk di atas kursi yang ditunjuk oleh kakek gundul. Kakek ini pun duduk di atas sebuah kursi di sebelah kanan Bun Beng. Seorang pelayan datang menyuguhkan arak kepada Bun Beng, akan tetapi pemuda ini menolak dan menyuruh taruh arak dengan guci dan cawannya di atas meja. Pelayan itu lalu memenuhi meja di depan kakek gundul dan Bun Beng dengan hidangan-hidangan seperti yang memenuhi meja-meja lain pula.

Kini Bun Beng memperhatikan para tamu yang duduk di situ. Ada belasan orang, tepatnya empat belas orang tamu yang melihat sikapnya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sikap mereka dingin dan tak acuh seperti sikap Ketua Bu-tong-pai. Di depan mereka ini pun terdapat meja penuh makanan dan mereka semua menonton pertandingan sambil makan minum.

Di belakang para tamu duduk pula banyak orang dan di antara mereka Bun Beng mengenal dua orang tokoh yang pernah dilawannya siang tadi, yaitu mereka yang menculik Ketua Bu-tong-pai. Sedangkan di belakang rombongan yang duduk ini, yang jumlahnya juga belasan orang, nampak puluhan orang berdiri menonton. Sepasang kakek kembar yang lihai dan yang menggotong kerangkeng Ketua Bu-tong-pai tampak di antara mereka yang berdiri. Diam-diam Bun Beng menduga-duga dan dia terkejut.

Agaknya sepasang kakek kembar itu adalah anggota-anggota rendahan saja, sedang kakek muka tengkorak dan pemuda tampan adalah anggota yang lebih tinggi. Kakek gundul yang duduk di sebelahnya, yang tadi menyambutnya ketika baru datang, tentu lebih tinggi kedudukannya, apa lagi kakek muka singa dan wanita cantik yang duduk dan berdiri di dekat Ketua Thian-liong-pang. Kalau sepasang kakek kembar yang demikian lihai itu saja menjadi anggota rendahan, dapat dibayangkan betapa lihai kakek gundul di sebelahnya ini, apa lagi kakek muka singa, dan lebih-lebih ketuanya!

Bun Beng bersikap hati-hati. Ia tidak mau bergerak, hendak melihat perkembangannya karena dia sungguh-sungguh bingung dan terheran-heran mengapa Ang-lojin yang tadinya diculik sekarang menjadi tamu dan bersikap tidak mengenalnya? Kini Bun Beng mulai memperhatikan dua orang yang bertanding dan kembali dia tercengang. Yang bertanding dengan golok dan pedang itu bukanlah orang-orang sembarangan!

Laki-laki berusia empat puluh tahun yang berkepala besar dan bersenjata golok itu memiliki ilmu golok yang amat hebat, sedangkan kakek kurus yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih itu memiliki ilmu pedang yang amat tinggi pula. Diam-diam ia menonton dan mencurahkan perhatiannya. Bun Beng banyak mengenal ilmu silat, bahkan dahulu gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, telah membuka rahasia tentang dasar-dasar gerakan ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dimiliki oleh partai-partai besar.

Maka setelah menonton belasan jurus, Bun Beng mengenal bahwa Si Pemain golok itu tentulah seorang tokoh Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang amat terkenal karena kehebatan ilmu golok mereka, sedangkan Si Pemain pedang itu tidak salah lagi tentulah seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai karena ilmu pedang yang dimainkannya tidak salah lagi adalah Hoa-san Kiam-sut! Dia menjadi heran buka main. Mengapa dua orang tokoh dari Sin-to-pang dan Hoa-san-pai bertanding di tempat ini? Dan selain ditonton oleh banyak tamu dan orang-orang Thian-liong-pang sambil makan minum, juga diiringi tambur dan gembreng!

Pertandingan itu berjalan dengan seru dan jelas tampak betapa tokoh Sin-to-pang mulai terdesak, bahkan pundaknya telah terluka goresan pedang. Kalau semua tamu memandang dengan sikap dingin, demikian pula para tokoh Thian-liong-pang, hanya Bun Heng seoranglah yang menonton dengan hati tegang.

"Cukup...!" Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, namun penuh wibawa keluar dari balik kerudung yang menyembunyikan kepala Ketua Thian-liong-pang.

Seketika tambur dan gembreng berhenti dan kedua orang yang bertanding itu pun meloncat mundur menghentikan gerakan masing-masing! Bahkan kini seorang kakek yang agaknya merupakan ahli pengobatan Thian-liong-pang menghampiri tokoh Sin-to-pang yang seperti bekas lawannya telah duduk kembali di kursi masing-masing, kemudian mengobati luka di pundak tokoh ini.

Bun Beng memandang bengong. Hampir dia tidak dapat percaya akan dugaannya yang agaknya tidak dapat salah lagi. Kedua orang tokoh itu diadu! Seperti dua ekor jangkrik diadu! Betapa mungkin ini? Mengapa mereka sudi? Dan agaknya mereka berdua tadi bukanlah pasangan pertama yang diadu. Selagi ia menduga-duga dengan bingung, terdengar suara merdu dari balik kerudung.

"Ang-lojin dari Bu-tong-pai dan Tok-ciang Siucai dari Lam-hai-pang, harap suka maju dan memperlihatkan kepandaian!"

Jantung Bun Beng berdebar tegang.

"Siauw-hiap, silakan mencoba hidangan!" Tiba-tiba kakek gundul berkata.

"Terima kasih, aku tidak lapar," jawab Bun Beng tanpa mengalihkan pandang matanya dari Ketua Bu-tong-pai yang kini telah bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah maju ke tempat pertandingan dengan wajah tidak membayangkan sesuatu dan sikapnya tanpa ragu-ragu.

"Kalau begitu, silakan minum secawan arak sebagai penyambutan dari Pangcu kami," kata pula kakek itu yang sudah bangkit dan menyodorkan secawan arak penuh kepada Bun Beng.

Mendengar ini Bun Beng menoleh ke kiri, ke arah Ketua Thian-liong-pang. Ia melihat betapa sepasang mata di balik lubang kerudung itu tertuju kepadanya dengan sinar tajam. Tanpa menjawab ia menerima cawan arak dan minum arak itu habis sekali teguk. Hampir ia tersedak, tubuhnya terasa nyaman hangat setelah ia minum arak tadi. Kepalanya menjadi agak pening sehingga diam-diam ia terkejut sekali. Tak mungkin secawan arak membuat ia mabok!

"Harap Siauw-hiap minum secawan lagi sebagai penyuguhan dari Thian-liong-pang," kata pula kakek gundul.

"Cukup, aku tidak ingin minum lagi, ingin menonton pertandingan!" kata Bun Beng dengan hati-hati, dan biar pun ia menjadi curiga sekali, pikirannya diputar untuk menduga apa yang terdapat di dalam arak yang diminumnya tadi. Tetapi ia menujukan pandang matanya ke depan, ke arah Ketua Bu-tong-pai yang kini telah berhadapan dengan seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus tampan dengan pakaian seperti seorang siucai (gelar sastrawan).

"Harap Ji-wi suka mulai pertandingan tangan kosong! Awas, Ang-lojin, lawanmu adalah seorang yang memiliki Tok-ciang (Tangan Beracun), harus dilawan dengan jurus-jurus simpananmu!" Terdengar pula suara halus dingin Ketua Thian-liong-pang.

Betapa heran hati Bun Beng ketika ia melihat dua orang itu, seperti dua ekor jangkerik atau ayam aduan, telah mulai saling serang tanpa banyak cakap lagi! Pemuda yang dipanggil julukannya sebagai Tok-ciang Siucai (Sastrawan Tangan Beracun) telah membuka serangan setelah menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan tangan terbuka dan telapak tangannya berwarna kemerahan! Serangan pertama ini merupakan tamparan dengan tangan kiri ke arah muka lawan disusul dorongan telapak tangan kanan ke arah dada! Cepat sekali gerakannya dan kalau diingat bahwa kedua telapak tangannya mengandung hawa beracun, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahaya serangan ini.

Namun Ang-lojin adalah Ketua Bu-tong-pai yang tentu saja memiliki tingkat ilmu silat yang sudah amat tinggi. Dengan tenang namun tidak kalah cepatnya, ia mengelak dengan geseran kaki ke kiri sambil mengibaskan tangan kanan ke kanan menangkis dan dari samping, tiba-tiba kaki kanannya melakukan tendangan menyerong ke arah perut siucai itu.

"Bagus sekali!" tiba-tiba kakek muka singa memuji tendangan itu dan memang Bun Beng juga dapat melihat betapa indah dan berbahayanya serangan balasan Ketua Bu-tong-pai yang dilakukan dengan cekatan.

Tok-siang Siucai ternyata juga lihai karena sambil merobah kaki melangkah mundur tangan kirinya dapat menangkis serangan itu dengan melemparkan ke kanan. Namun, tiba-tiba tendangan kaki kanan dari Ketua Bu-tong-pai itu telah disusul dengan tendangan kaki kiri yang digerakkan dengan memutar dari belakang, kembali tendangan ini menyerong dan yang diarah adalah lutut kanan lawan! Si Pemuda kaget, mundur selangkah menyelamatkan lututnya, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai terus melakukan tendangan kedua kakinya, cepat dan kuat sekali sehingga kedua kakinya yang kelihatan banyak saking cepatnya itu menimbulkan suara angin.

"Hemmmm... Soan-hong-twi... seperti itukah?" Ucapan Ketua Thian-liong-pang ini lirih sekali dan agaknya tidak terdengar oleh orang lain, akan tetapi Bui Beng yang sejak tadi memperhatikannya, walau hanya dengan pendengaran karena matanya ditujukan untuk mengikuti pertandingan, dapat menangkap kata-katanya.

Jantung Bun Beng makin berdebar. Para tokoh kang-ouw itu, termasuk Ketua Bu-tong-pai yang baru saja ditawan, semua menjadi begitu jinak dan penurut dan... arak yang secawan saja sudah membuat dia mabok... bukan tidak mungkin ada hubungannya! Ia baru minum secawan saja sudah pening dan seolah-olah semangatnya mengendor, dan kakek gundul itu tadi berusaha membuat dia minum lebih banyak! Kemudian, para tokoh yang saling bertanding mati-matian dan dengan bersungguh hati, Ketua Thian-liong-pang yang menonton dan memberi komentar!

Hemmm, seolah-olah ada sinar terang memasuki kepala Bun Beng, namun pengaruh arak membuat keningnya berdenyut-denyut sehingga sukar bagi dia untuk memutar otaknya, tidak seperti biasa. Betapa pun juga, Bun Beng mengerahkan seluruh pikirannya untuk melakukan penyelidikan, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan mengumpulkan dugaan-dugaan.

Pertandingan antara Ketua Bu-tong-pai dan tokoh-tokoh Lam-hai-pang berlangsung makin seru. Akan tetapi Bun Beng mendapat kenyataan yang menyenangkan hatinya. Ternyata ayah Ang Siok Bi, yaitu Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, biar pun kini mau saja diadu seperti jangkerik, tetap memiliki watak yang baik, sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang ketua partai persilatan besar.

Pemuda bertangan ganas itu jelas melakukan serangan-serangan berbahaya dan mematikan, namun Ketua Bu-tong-pai itu banyak mengalah dan biar pun terpaksa mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Bu-tong-pai untuk menyelamatkan diri, namun serangan balasannya tidak bersungguh-sungguh seolah-olah dia enggan untuk mencelakai lawan, tidak mau melukai hebat, apa lagi membunuh. Hal ini tentu saja dapat ia lihat karena banyak lowongan baik tidak dipergunakan oleh kakek itu. Kalau Ang-lojin menghendaki, tentu tidak sampai tiga puluh jurus lawannya dapat dirobohkan dengan pukulan-pukulan istimewanya.

Betapa pun juga, tingkat pemuda itu kalah tinggi dan kini dia selalu terdesak mundur. Ketika sebuah tendangan kilat menyerempat pinggang pemuda itu dan membuatnya terhuyung miring, jika Ang-lojin mau tentu mudah baginya menyerang dengan pukulan maut. Namun kakek ini hanya mendorong pundak pemuda itu dan membuatnya roboh terjengkang.

"Cukup!" teriak Ketua Thian-liong-pang. "Tok-ciang Siucai, harap mundur dan Pek-eng Sai-kong harap maju untuk melayani Ang-lojin dengan senjata. Ang-lojin, ilmu silat tangan kosong Bu-tong-pai hebat, harap perlihatkan ilmu silatmu dengan senjata. Bukankah Siang-kiam (Sepasang Pedang) menjadi keistimewaan Bu-tong-pai? Silakan!"

Berkata demikian, Ketua Thian-liong-pang ini menggerakkan tangan kirinya dan sepasang pedang melayang ke arah Ang-lojin. Ketua Bu-tong-pai ini tidak menjawab melainkan menerima sepasang pedang itu dengan gerakan indah. Bun Beng melihat munculnya seorang pendeta berpakaian lebar dan bermuka penuh brewok telah menerima sebatang toya dari tangan kakek muka singa yang duduk di sebelah kanan Ketua Thian-liong-pang.

"Pek-eng Sai-kong, kami telah menyaksikan dan mengagumi ilmu toyamu. Harap jangan sungkan-sungkan, pergunakan jurus-jurus yang paling hebat, terutama jurus kedua puluh tujuh Pek-eng-coan-ci (Garuda Putih Menyabetkan Ekor). Hati-hati, ilmu siang-kiam Bu-tong-pai amat lihai!" Dalam suara dari balik kerudung itu terkandung kegembiraan besar. Bun Beng makin berdebar karena di dalam otaknya yang kacau oleh pengaruh arak memabokkan, ia kini mulai dapat menyingkap tabir yang merahasiakan semua peristiwa yang aneh yang dihadapinya.

Kembali terjadi pertandingan dan sekali ini lebih hebat menegangkan dari pada tadi. Sai-kong itu amat kuat, toyanya benar-benar berbahaya dan teringatlah Bun Beng akan sebuah aliran yang menamakan dirinya Pek-eng-pang (Toya Garuda Putih) yang merupakan sekelompok orang gagah yang sesungguhnya memiliki dasar ilmu toya Siauw-lim-pai namun telah dicampur-aduk dengan ilmu silat golongan hitam! Jadi saikong ini adalah seorang tokoh Pek-eng-pang! Ia memandang penuh perhatian karena dia pun ingin sekali menyaksikan bagaimana ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah diubah itu!

Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika toya bertemu dengan pedang, dan tampaklah sinar toya yang kuning bergulung-gulung menjadi satu dengan sinar pedang yang putih. Sekali ini, Ketua Bu-tong-pai harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena yang menjadi lawannya adalah orang terpandai dari Pek-eng-pang! Biar pun Ketua Bu-tong-pai ini tidak mempunyai hati yang kejam tidak ingin melukai apa lagi membunuh lawan, namun sekali ini mau tidak mau dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, karena kalau tidak, dia sendiri yang akan menjadi korban toya yang ganas.

Bun Beng mengepal ujung lengan kursinya. Diam-diam ia telah siap sedia untuk menolong kalau Ketua Bu-tong-pai terancam bahaya. Biar pun dia kini dapat menduga bahwa saikong itu, seperti juga Ketua Bu-tong-pai, hanya berperan seperti dua ekor jangkerik aduan, namun tetap saja hatinya berpihak kepada Ang-lojin. Bukan semata-mata karena kakek itu adalah ayah Ang Siok Bi yang cantik, biar pun hal ini sedikit banyak menjadi sebab juga, akan tetapi terutama sekali karena ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah berubah itu menurut keterangan suhu-nya dibawa lari oleh seorang murid Siauw-lim-pai yang murtad!

"Hyaaatttt...!"

Tiba-tiba saikong itu membentak keras dan Bun Beng diam-diam terkejut sekali sehingga tanpa disadarinya ia telah meremas patah ujung lengan kursinya, siap untuk disambitkan kalau Ang-lojin terancam bahaya! Dan memang hebat sekali jurus yang kini dipergunakan oleh Sai-kong itu dalam penyerangannya. Itulah jurus dari ilmu toya Siauw-lim-pai, hal ini diketahui jelas oleh Bun Beng, akan tetapi jurus itu telah dirobah sedemikian rupa sehingga selain lihai juga menjadi ganas dan licik sekali.

Toya itu menyodok ke arah pusar lawan dengan cepatnya, dan begitu Ang-lojin menangkis dengan pedang kiri, tiba-tiba tubuh saikong itu terguling ke depan, lalu tubuhnya menggelinding ke arah lawan, tongkat atau toya itu diputar menyerampang kaki lawan dilanjutkan dengan sodokan ke atas, mengarah mata dibarengi dengan tendangan ke arah anggota tubuh di bawah pusar. Serangan yang mematikan!

Namun Ang-lojin tidak menjadi gugup menghadapi jurus yang oleh Ketua Thian-liong-pang disebut Pek-eng-coan-ci tadi, terpaksa dia pun mengeluarkan jurus simpanannya. Kedua pedangnya melakukan gerakan menggunting dan begitu berhasil menjepit toya, tubuhnya terangkat ke atas dengan kaki ke atas, kemudian ia berjungkir balik, melepaskan jepitan toya dan sambil menukik turun, sepasang pedangnya melakukan gerakan menyerang dari kanan kiri, lagi-lagi menggunting bagian leher dan pinggang lawan dengan sepasang pedang!

"Heh, itukah Siang-in-toan-san (Sepasang Awan Memutuskan Gunung)?" terdengar Ketua Thian-liong-pang berseru lirih namun dapat terdengar cukup jelas oleh Bun Beng.

Saikong itu kaget sekali dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang sambil memutar toya membentuk lingkaran melindungi tubuh ia dapat menyelamatkan diri, akan tetapi ia terkejut dan sampai terhuyung-huyung. Kini ia berteriak lagi dan tiba-tiba tubuhnya membalik, sikapnya seperti hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba sambil membalik ini toyanya meluncur terlepas dari tangan, merupakan anak panah raksasa yang menyambar ke arah tubuh Ang-lojin.

"Trakkk!" Toya itu menyeleweng dan menancap di atas lantai di depan Ang-lojin yang tadi saking tak menyangka hampir saja menjadi korban toya.

"Cukup! Harap Ji-wi kembali ke kursi masing-masing!" Terdengar Ketua Thian-liong-pang berkata sambil memandang ke arah Bun Beng yang sudah bangkit berdiri. Semua orang Thian-liong-pang kini menoleh ke arah Bun Beng, maklum bahwa Ketua mereka marah sekali kepada tamu muda yang dengan lancang telah menimpuk toya dengan ujung lengan kursi yang dipatahkan.

"Chie Kang, berapa cawankah tamu Siauw-lim-pai itu minum arak?" terdengar wanita berkerudung bertanya kepada kakek gundul. Bagi orang yang tidak tahu, tentu mengira Ketua itu bertanya apakah tamu mudanya terlalu banyak minum arak sehingga mabok dan melakukan kelancangan itu.

Akan tetapi Bun Beng yang sudah dapat menduga, hanya tersenyum, apa lagi ketika mendengar kakek gundul menjawab, "Dia hanya minum secawan dan menolak untuk minum lagi, Pangcu."

"Dan untung bahwa aku hanya minum secawan, kalau tidak tentu aku pun akan kau jadikan jangkerik aduan, bukan begitu, Thian-liong-pangcu?" Sekarang Bun Beng menghadapi Ketua itu dengan sikap tenang, sedikit pun tidak gentar, bahkan mulutnya tersenyum mengejek.

Biar pun wajah itu tidak tampak, namun sepasang mata yang tampak dari kedua lubang itu mengeluarkan sinar berapi, tanda bahwa Ketua ini marah sekali. Sejenak hening di situ, hening yang penuh ketegangan, dirasakan benar oleh semua anggota Thian-liong-pang. Kalau Ketua mereka sudah marah, tentu akan terjadi hal yang mengerikan.

"Orang muda, karena engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai dan kami tidak mempunyai permusuhan dengan Siauw-lim-pai, maka perbuatanmu menyerang dua pembantu kami, kami maafkan. Bahkan kami menerimamu sebagai seorang tamu terhormat, biar pun engkau masuk seperti seorang pencuri. Akan tetapi jangan mengira bahwa karena engkau seorang murid Siauw-lim-pai lalu boleh berbuat sesuka hatimu dan lancang!"

Bun Beng mengangkat dadanya dan memandang Ketua itu dengan sikap menantang.

"Thian-liong-pangcu! Aku datang bukan sebagai utusan Siauw-lim-pai, memelainkan atas nama pribadi yang ingin mengingatkanmu bahwa perbuatanmu tidak baik dan kuminta engkau segera menghentikan perbuatanmu itu!"

"Eh, bocah sombong. Perbuatan apa yang kau maksudkan?" Suara Ketua Thian-liong-pang mengandung keheranan karena dia benar-benar merasa bahwa di dunia ini terdapat seorang pemuda yang begini tidak tahu diri berani menentangnya secara terang-terangan, bahkan menegurnya seperti seorang dewasa menegur seorang kanak-kanak!

"Hemmm, perlukah dijelaskan lagi? Baiklah agar jangan aku dikatakan bicara mengawur dan menuduh kosong, baik kukatakan bahwa aku sudah mengetahui rahasia semua penculikan yang dilakukan Thian-liong-pang terhadap para tokoh kang-ouw. Engkau menculik mereka, termasuk Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, kemudian kau beri mereka minuman arak yang mengandung racun perampas ingatan, mungkin yang pengaruhnya hanya untuk sementara saja. Kemudian, selagi para Locianpwe yang bernasib malang ini kehilangan ingatan mereka, kau jadikan mereka jangkerik-jangkerik aduan karena engkau ingin mengetahui rahasia ilmu silat simpanan mereka yang terpaksa harus mereka pergunakan dalam pertandingan untuk menyelamatkan diri. Bukankah begitu?"

Keadaan makin tegang dan semua anggota Thian-liong-pang menganggap pemuda lancang itu menjadi calon mayat, karena mana mungkin Ketua mereka membiarkan saja kekurang-ajaran seperti itu? Tetapi sikap dan ucapan Bun Beng menimbulkan kekaguman di hati Nirahai, Ketua Thian-liong-pang itu. Memang sebagai seorang sakti wanita ini akan selalu kagum terhadap orang yang gagah berani, yang menganggap nyawa sebagai hal yang ringan, menganggap kematian sebagai hal sepele, menganggap bahaya bukan apa-apa dalam membela kebenaran yang dipercayanya. Hanya ada keraguan di hatinya... apakah pemuda ini bersikap sedemikian berani terdorong sifat gagah yang asli, ataukah hanya untuk bersombong saja terdorong oleh nama besar Siauw-lim-pai.

"Bocah sombong! Kalau benar begitu, mengapa? Apa kehendakmu?"

"Pangcu, aku hanya memperingatkan bahwa engkau main-main dengan api! Engkau menanam permusuhan dengan seluruh dunia kang-ouw dengan perbuatanmu ini. Aku minta agar engkau menghentikan perbuatan ini dan membebaskan semua tawanan."

"Hemm, tanpa kau minta, semua sahabat yang menjadi tamuku akan kubebaskan. Kau memperingatkan agar kami menghentikan perbuatan kami. Kalau aku menolak peringatanmu ini, habis kau mau apa?"

"Terpaksa aku akan menantangmu bertanding! Aku tahu bahwa engkau sakti, Thian-liong-pangcu, akan tetapi demi membela kebenaran, demi keselamatan seluruh tokoh kang-ouw, aku siap mengorbankan nyawa!"

"Keparat cilik! Engkau sombong sekali! Pangcu, ijinkan saya membasmi bocah sombong ini!" Tan Wi Siang sudah meloncat maju dengan marah sekali.

"Wi Siang, mundurlah!" Ketua Thian-liong-pang membentak, "Bocah ini mempunyai ketabahan besar, atau memang hanya seorang bocah sombong yang mengandalkan nama Siauw-lim-pai. Biar Paman Chie Kang saja yang melayaninya!"

"Baik, Pangcu!" Lui-hong Sin-ciang Chie Kang sudah meloncat maju. Kakek gudul ini sudah sejak tadi merasa marah menyaksikan sikap Bun Beng, "Eh, orang muda yang tidak mengenal kebaikan orang! Majulah, ingin kulihat sampai di mana kepandaianmu!" katanya dengan suara yang tinggi nyaring.

"Chie Kang, jangan bunuh dia, kau tahu apa yang harus kau lakukan!"

"Hemmm," Bun Beng mengejek. "Aku pun sudah tahu, Pangcu! Tentu engkau hendak mempelajari pula jurus-jurus simpanan dari Siauw-lim-pai, bukan? Ha, sekali ini engkau akan kecelik!"

Kembali Nirahai tertegun. Bocah ini selain memiliki keberanian yang luar biasa, juga amat cerdik seolah-olah mengetahui semua isi hatinya. Terhadap bocah seperti ini, dia harus berlaku hati-hati. Diam-diam ia menduga-duga, siapakah gerangan bocah ini? Apakah Ketua Siauw-lim-pai yang mendengar akan penculikan-penculikan yang dilakukannya sengaja mengirim seorang murid yang dapat dipercaya untuk melakukan penyelidikan? Dia maklum bahwa di Siauw-lim-pai terdapat banyak orang pandai, maka dia tidak pernah berurusan dengan Siauw-lim-pai, bahkan memesan kepada para anak buah untuk menjauhkan diri dari permusuhan dengan partai itu. Akan tetapi Ketua Siauw-lim-pai yang mengambil langkah pertama memusuhi Thian-liong-pang, hemmm, dia pun tidak takut!

Lui-hong Sin-ciang Chie Kang maklum akan maksud Ketuanya dan kata-kata Bun Beng yang dengan tepat membongkar niat Ketuanya membuat ia makin marah. Sambil menggereng ia telah menerjang maju, sengaja mengeluarkan jurus berbahaya untuk memaksa lawan muda itu mengeluarkan jurus simpanan dari Siauw-lim-pai agar dapat dilihat oleh Ketuanya.

Memang apa yang dilontarkan oleh Bun Beng sebagai tuduhan tadi tepat sekali. Nirahai sengaja menculik tokoh-tokow kang-ouw, kemudian membius mereka dengan arak beracun, mengadu mereka untuk dapat mempelajari gerakan yang asli dari jurus-jurus terlihai semua partai yang hanya dikenalnya bagian teorinya saja. Dia ingin memperdalam ilmu silatnya sedemikian rupa dalam persiapannya menghadapi suaminya, Suma Han atau Pendekar Siluman, juga Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!

Menghadapi terjangan kakek gundul, Bun Beng terkejut. Hebat bukan main serangan lawannya yang menubruk dengan kedua tangan terbuka jarinya, mencengkeram dari atas dan bawah dengan getaran hawa yang membuktikan tenaga sinkang kuat. Untuk menggunakan ilmu silat Siauw-lim-pai, dia tidak mau karena dia tidak ingin kalau Ketua Thian-liong-pang yang amat lihai itu ‘mencuri’ jurus-jurus pilihan dengan melihat dia mainkan jurus itu.

Akan tetapi terjangan kakek gundul yang menjadi lawannya benar-benar amat berbahaya. Maka ia cepat mengerahkan ginkangnya dan hanya mengelak ke sana ke mari tanpa mainkan jurus pilihan Siauw-lim-pai! Untung bahwa dalam hal ginkang, dia dapat mengatasi gerakan kakek itu sehingga sampai belasan jurus ia mampu menghindarkan semua terjangan kakek itu dengan hanya mengandalkan ilmunya meringankan tubuh!

"Heh, kau masih keras kepala, ya?" Chie Kang mendengus marah menyaksikan lawannya itu benar-benar tidak mengeluarkan jurus Siauw-lim-pai dan hanya mengelak ke sana-sini. Ia merobah serangannya, kini dia mengerahkan sinkang dan menyerang dengan gerakan lambat, tetapi kedua tangannya mendatangkan angin yang bergulung-gulung menghadang semua jalan keluar Bun Beng!

Pemuda itu terkejut, maklum bahwa menghadapi penyerangan seperti itu tak mungkin baginya untuk hanya mengandalkan ginkang saja. Maka ia berseru keras, tubuhnya melakukan gerakan aneh sekali, tubuhnya menyeruduk ke depan, kedua tangannya membentuk lingkaran-lingkaran aneh sekaligus menghalau semua serangan lawan dan berbalik kedua tangannya yang seolah-olah berubah menjadi banyak sekali itu mengirim pukulan dari semua penjuru!

"Aihhhh...!" Chie Kang berteriak, berusaha mengelak namun tetap saja pundaknya terkena tangan Bun Beng sehingga ia terhuyung ke belakang. Bun Beng mendesak ke depan untuk mengirim pukulan yang akan merobohkan lawan.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat. Kedua tangan Bun Beng tertolak ke samping, dan sebelum Bun Beng sempat menjaga diri, tahu-tahu ia telah terguling roboh. Tubuhnya jatuh terlentang dan tahu-tahu kaki kiri Ketua Thian-liong-pang telah menginjak dadanya! Bun Beng merasa betapa kaki yang kecil itu seperti gunung beratnya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi, dan maklumlah pemuda ini bahwa sekali wanita itu mengerahkan tenaga, dadanya akan pecah! Namun dia tidak takut dan memandang dengan mata melotot.

"Bocah sombong! Dari mana engkau mempelajari ilmu tadi?"

Biar pun dia sudah tidak berdaya dan hanya menanti maut yang berada di telapak kaki wanita itu, namun Bun Beng merasakan kegirangan dan kepuasan besar karena ia mendapat kenyataan bahwa wanita sakti ini tidak mengerti jurusnya tadi!

"Ha-ha-ha-ha! Thian-liong-pangcu, mau bunuh, lekas bunuhlah. Siapa takut mati dan siapa takut padamu? Engkau memang pandai seperti iblis, akan tetapi juga menyeleweng dan jahat seperti iblis. Memang engkau iblis, kalau tidak, tentu engkau tidak akan menyembunyikan mukamu di belakang kerudung! Akan tetapi, biar pun engkau iblis sendiri yang masih belum puas dan ingin mencuri ilmu silat seluruh orang kang-ouw, tetap saja engkau tidak menang melawan Pendekar Siluman dari Pulau Es! Ha-ha-ha, engkau akan dipermainkan lagi seperti dulu di Sungai Fen-ho, seperti yang telah kusaksikan sendiri. Ha-ha-ha!"

Bun Beng merasa betapa kaki itu makin berat menindih dadanya. Ia memejamkan mata, menanti datangnya maut, akan tetapi kaki itu tidak menginjak terus, bahkan turun dari dadanya dan tiba-tiba rambutnya yang dikuncir itu terjambak, tubuhnya terangkat dan dipaksa bangkit. Ia kini berdiri di depan wanita itu, melihat sepasang mata di balik kerudung yang seolah-olah hendak membakarnya.

"Siapa engkau? Siapa...?" Wanita itu membentak, kini suaranya tidak halus merdu lagi, melainkan melengking nyaring penuh kemarahan.

"Aku akan mati, perlu apa menyembuyikan nama? Aku Gak Bun Beng..."

"Ya Tuhan...!"

Bun Beng mendengar suara ini dari atas anak tangga, akan tetapi dia tidak tahu siapa yang berseru kaget itu karena Ketua Thian-liong-pang di depannya tiba-tiba tertawa menghina.

"Hi-hik, kiranya anak haram, keturunan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak datuk kaum sesat? Pantas... pantas saja...! Engkau jahat, melebihi Ayahmu yang tidak sah. Manusia macammu ini tidak layak hidup!"

Nirahai mengangkat tangan kanannya, siap menghantam kepala Bun Beng. Sekali ini, karena Bun Beng sudah berdiri dan tidak seperti tadi, diinjak tak mampu berkutik, tentu saja tidak sudi mampus begitu saja tanpa melawan.

"Plakkk!" Hantaman dengan telapak wanita itu berhasil dia tangkis dengan jurus Sam-po-cin-keng dan biar pun tubuhnya terlempar sampai lima meter jauhnya, ia berhasil menangkis dan tidak terluka. Dia sudah meloncat bangun lagi, siap melawan mati-matian.

"Pangcu...!" Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan berkelebatlah tubuh kakek bermuka singa menghadang tubuh Nirahai yang sudah berjalan menghampiri Bun Beng dengan mata berkilat penuh penasaran.

"Sai-cu Lo-mo, minggirlah engkau! Bocah ini harus kubunuh!" bentak ketuanya.

"Pangcu, ampunkanlah... dia... cucu keponakan saya, satu-satunya keturunan saya, bagaimana Pangcu tega untuk membasmi keturunan saya? Ampunkanlah, atau Pangcu bunuh saya sekalian!"

Mendengar ini, tiba-tiba lemaslah tubuh Nirahai. Ia memandang wajah pembantunya yang berlutut di depan kakinya. Bu Beng berdiri memandang dengan mata terbelalak! Dia cucu keponakan kakek bermuka singa itu?

"Sudahlah! Tidak dibunuh pun tidak mengapa, akan tetapi harus suka menjadi anggota kita."

"Apa? Aku menjadi anggota Thian-liong-pang, membantu kalian menculiki orang-orang gagah untuk dicuri kepandaiannya? Terima kasih, lebih baik aku mati!" Bun Beng membentak sambil membanting kakinya penuh kemarahan.

Sai-cu Lo-mo cepat meloncat ke depan Bun Beng sambil membentak penuh teguran, "Gak Bun Beng, engkau tidak boleh berkata begitu! Engkau adalah cucu keponakanku sendiri, harus mentaati kata-kataku."

Bun Beng memandang kakek itu penuh perhatian. "Locianpwe, sejak kapankah aku menjadi cucu keponakanmu dan siapakah Locianpwe?"

"Aku adalah Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok, dan mendiang Ibumu Bhok Khim adalah keponakanku."

Diam-diam Bun Beng merasa terharu. Baru sekali ini dia bertemu dengan orang yang ada hubungan keluarga dengannya, akan tetapi dia bertanya penuh rasa penasaran.

"Kalau benar demikian mengapa baru sekarang Locianpwe mengaku sebagai Paman Kakekku?"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. "Engkau tidak tahu, Bun Beng. Dahulu aku telah berusaha merampasmu dengan mengirim anak buah Thian-liong-pang ke kuil tua, di dekat Sungai Fen-ho. Akan tetapi usahaku gagal, engkau dirampas oleh Pendekar Siluman dan diberikan kepada orang Siauw-lim-pai. Sekarang kebetulan sekali kita bisa berkumpul, engkau menurutlah, tinggal di sini menjadi anggota kami, mempelajari ilmu dari Pangcu dan membuat jasa."

"Maaf, Kakek, hal ini tidak dapat kulakukan. Bukan sekali-kali aku tidak memandang perhubungan keluarga antara kita. Aku tahu engkau seorang yang baik dan telah berusaha menyelamatkan aku, akan tetapi untuk menjadi anggota Thian-liong-pang aku tidak sudi. Terserah kepada Thian-liong-pangcu, hendak membebaskan aku bersama para tokoh kang-ouw di sini atau hendak membunuhku!"

"Sai-cu Lo-mo, mengingat dia cucu keponakanmu, aku tidak membunuhnya. Akan tetapi dia harus menjadi anggota kita atau mati!" terdengar Nirahai berkata, suaranya dingin dan mengandung keputusan yang tidak dapat dibantah lagi.

Sai-cu Lo-mo menjadi bingung sekali. Dia ingin menyelamatkan keturunannya ini, akan tetapi maklum bahwa pemuda ini memiliki keberanian dan kenekatan yang sukar ditundukkan dan ia maklum pula bahwa kalau Pangcunya marah, tidak ada seorang pun berani membantahnya. Lalu ia mendapatkan akal dan berkata.

"Pangcu, ampunkan saya dan ampunkan dia yang masih muda. Kalau dia tidak mau, biar dia kita tawan dan perlahan-lahan saya akan membujuknya."

Terdengar jawaban dengan suara kesal, "Sesukamulah...."

Sai-cu Lo-mo menjadi girang sekali. "Bun Beng, dengarlah betapa baiknya Ketua kita. Engkau menurutlah, Cucuku!"

"Maaf, aku tidak mau menjadi anggota Thian-liong-pang! Biar pun Ayahku yang tidak pernah kukenal itu disebut seorang datuk kaum sesat, namun aku bukanlah orang sesat!"

"Bocah bandel, kalau begitu aku akan menawanmu!" Sai-cu Lo-mo membentak dan menubruk ke depan hendak menangkap Bun Beng. Akan tetapi, Bun Beng sudah mengelak cepat dan ketika kakek itu menyusul dengan serangan totokan untuk merobohkannya, dia cepat menangkis.

"Plak-plak!" Bun Beng terpental ke belakang dan Sai-cu Lo-mo terhuyung. Diam-diam Bun Beng terkejut, maklum bahwa orang yang mengaku kakeknya ini memang memiliki kepandaian dan tenaga lebih hebat dari pada kakek gundul yang berhasil ia kalahkan tadi.

Di lain pihak, Sai-cu Lo-mo juga kagum. Kiranya cucu keponakannya ini benar-benar tangguh, pantas saja sute-nya kalah.

"Gak Bun Beng, berani engkau melawan kakekmu sendiri?"

"Aku tidak melawan seorang kakekku, melainkan melawan orang-orang Thian-liong-pang." jawab Bun Beng tegas.

"Engkau benar tak tahu diri dan sombong!" Sai-cu Lo-mo kini menerjang dengan hebatnya.

Bun Beng terpaksa menggerakkan kaki tangan melawan dan kembali ia menggunakan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng. Begitu ia mainkan jurus-jurus aneh ilmu silat ini, Sai-cu Lo-mo mengeluarkan seruan kaget dan kakek ini terdesak hebat! Melihat gerakan pemuda itu Nirahai menjadi kagum dan tertarik sekali. Dia telah melihat dan mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, akan tetapi belum pernah ia menyaksikan ilmu silat tangan kosong seperti yang dimainkan pemuda itu. Sungguh pun gerak kaki pemuda itu mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang sudah matang, namun jurus itu bukanlah jurus ilmu silat Siauw Lim Pai.



"Wi Siang kau bantulah Lo-mo menangkap bocah itu, pancing sedapatmu agar dia mengeluarkan seluruh ilmunya," bisiknya dengan tertarik sekali sambil duduk kembali ke atas kursinya untuk menonton dan mempelajari jurus-jurus yang dimainkan Bun Beng.

Tang Wi Siang kini sudah mengenal Bun Beng sebagai anak yang dahulu pernah menolongnya ketika ia bertanding melawan Thai Li Lama di pulau Sungai Huang-ho dan hampir celaka oleh ilmu sihir Lama itu. Dia meloncat dan menyerang Bun Beng dengan gerakan lincah sekali.

Bun Beng terkejut. Dia maklum bahwa wanita ini memiliki gerakan yang cepat luar biasa dan mungkin lebih lihai dari pada Sai-cu Lo-mo. Dan memang dugaannya benar, Tang Wi Siang menjadi orang yang paling disayang dan dipercaya oleh Nirahai di antara para pembantunya, maka wanita itu dia beri pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi dari pada pembantu-pembantu lain, bahkan Tang Wi Siang telah dia beri Ilmu Silat Yancu-sinkun (Ilmu Silat Burung Walet) yang mengandalkan gerakan ginkang tinggi sekali.

Menghadapi Sai-cu Lo-mo saja dia sudah merasa berat, bukan hanya karena kakek itu lihai sekali, juga ia merasa enggan untuk melukai orang tua paman ibunya ini. Sekarang ditambah lagi dengan Tang Wi Siang, dia benar-benar menjadi terancam hebat. Gerakan penyerangan Wi Siang demikian cepatnya seolah-olah kedua lengan wanita itu berubah menjadi enam dan karena Bun Beng harus menjaga jangan sampai ia tertawan oleh kakek itu, sebuah totokan tangan kiri wanita itu ke arah lehernya tak dapat ia elakkan lagi. Akan tetapi, ternyata tangan itu tidak dilanjutkan menotok, hanya mendorong pundaknya sehingga ia terpental dekat anak tangga.

Ia meloncat lagi dan sekilas pandang ia melihat muka berkerudung Ketua Thian-liong-pang yang sedang memandangnya penuh perhatian. Ia menjadi terkejut sekali, sadar bahwa Tang Wi Siang yang turun membantu Sai-cu Lo-mo tentu hanya mendesaknya agar dia mengeluarkan semua jurus ilmunya, yaitu Sam-po-cin-keng dan Si Ketua itu hendak menyaksikan dan mencuri ilmu itu dengan jalan melihat gerakan-gerakannya!

Bun Beng adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu bahwa betapa pun juga, dia takkan mampu menang karena kalau Si Ketua sendiri turun tangan, betapa pun dia melawan tetap akan percuma saja, maka dia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan ilmunya agar tidak dicuri oleh Ketua itu. Tak mungkin engkau akan dapat mencuri jurus-jurus simpanan Siauw-lim-pai dan Sam-po-cin-keng, pikirnya dan kini ia melawan dengan gerakan sederhana sehingga dalam belasan jurus saja ia telah roboh tertotok oleh Sai-cu Lo-mo.

Nirahai menjadi terkejut, penasaran, dan marah. Dia pun mengerti bahwa pemuda bandel itu sengaja tidak memperlihatkan jurus-jurus aneh itu, dan sengaja membiarkan dirinya tertangkap!

"Lempar dia ke dalam penjara di bawah tanah!" bentak Ketua Thian-liong-pang. "Jangan keluarkan sebelum dia mentaati perintah!"

Sai-cu Lo-mo terkejut dan memandang Ketuanya. Akan tetapi sinar mata ketuanya jelas menyatakan tidak mau dibantah. Terpaksa Sai-cu Lo-mo diam saja melihat tubuh pemuda itu diseret oleh dua orang petugas yang membawa ke tempat tahanan di bawah tanah yang letaknya di sebelah belakang kompleks bangunan-bangunan sarang Thian-liong-pang.

Biar pun tubuhnya sudah lemas tertotok, ketika ia diseret pergi, Bun Beng masih mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang, "Lanjutkan pesta dan pertandingan!"

Dia merasa puas dapat menangkap kemarahan dan kejengkelan dalam suara itu. Dia telah kalah, dia telah gagal menolong para tokoh kang-ouw, namun sedikitnya dia telah berhasil membuat Ketua Thian-liong-pang kecewa, terhina dan marah-marah!

Tahanan di bawah tanah itu amat menyeramkan. Dua orang petugas yang kini menggotong tubuh Bun Beng, membawa pemuda itu memasuki lorong bawah tanah yang menurun melalui anak tangga batu. Lorong yang gelap dan di tiap tikungan terdapat pintu besi yang terjaga oleh dua orang anggota Thian-liong-pang. Setelah melalui tujuh pintu, sampailah mereka di sebuah kamar tahanan dan tubuh Bun Beng dilempar ke dalam kamar ini.

Bun Beng tidak memperhatikan tempat itu, juga tidak peduli ketika pintu kamar itu ditutup dari luar. Dia sibuk mengatur pernapasan, dan berusaha membebaskan totokan agar jalan darahnya mengalir normal kembali. Dia maklum bahwa tanpa usaha ini pun, akhirnya totokan itu akan punah, akan tetapi, hal itu akan makan waktu beberapa jam lamanya. Akhirnya dia berhasil memulihkan kembali jalan darahnya dan ia bangkit duduk, bersila dan menghimpun tenaga karena mulai saat itu dia harus berlaku hati-hati dan tenaganya harus pulih untuk meghadapi segala kemungkinan.

Sekitar sejam lamanya dia bersiulian, tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Setelah tenaganya pulih dan batinnya tenang kembali, baru Bun Beng menghentikan semedhinya dan membuka mata. Mula-mula yang ia dapati adalah bahwa kamar itu agak gelap, remang-remang dan lembab. Kemudian setelah membiasakan matanya dalam cuaca yang remang-remang itu, ia bangkit berdiri dan mulai menyelidiki kamar tahanan.

Sebuah kamar berdinding batu yang lebarnya tiga meter persegi, langit-langitnya juga batu, tingginya dari lantai ada empat meter. Tidak ada jendelanya, hanya terdapat sebuah pintu dari mana dia dilempar masuk. Pintu ini kecil hanya cukup dimasuki satu orang, dan terbuat dari baja tebal yang masuk ke dalam dinding batu. Kokoh kuat pintu itu, tak mungkin dibongkar.

Bun Beng menarik napas panjang karena sekali pandang saja dia maklum bahwa tidak mungkin lolos dari tempat ini menggunakan tenaga membongkar pintu atau menjebol dinding. Harus mencari akal. Namun, andai kata dia dapat keluar, bagaimana ia dapat lolos dari Thian-liong-pang? Lorong itu saja mempunyai tujuh buah pintu yang terjaga, belum lagi diingat bahwa kalau dapat keluar dari lorong bawah tanah, di atas sana masih ada tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang lihai, terutama sekali Ketuanya!

"Aku harus bersabar dan melihat perkembangan selanjutnya," akhirnya ia menghibur diri sendiri.

Betapa pun juga dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibunuh, karena selain Sai-cu Lo-mo mengaku sebagai kakeknya itu tidak suka melihat keturunannya terbunuh, juga Ketua Thian-liong-pang agaknya ingin sekali mendapatkan ilmu silatnya, terutama sekali Sam-po-cin-keng! Betapa pun, dia masih memiliki ilmu sebagai ‘modal’ untuk hidup! Dengan pikiran ini, hatinya menjadi lebih tenang dan Bun Beng lalu mencari tempat duduk di lantai yang enak. Akan tetapi, mana ada tempat duduk yang enak?

Lantai itu terbuat dari batu pula, kasar dan agak basah karena selalu ada air menitik turun dan di atas lantai tampak rangka-rangka manusia berserakan! Bun Beng mengerutkan keningnya. Ada tujuh buah tengkorak manusia di dalam kamar mereka itu. Siapa tahu mungkin lebih banyak lagi, tersembunyi di balik batu-batu berlumut. Dia tidak peduli, akan tetapi rangka-rangka manusia di situ memperingatkannya bahwa kalau dia tidak mentaati perintah Ketua Thian-liong-pang dan tidak mau menjadi anggotanya, tanpa dibunuh pun dia akan mati di tempat ini, seperti rangka-rangka itu! Akan tetapi, mungkinkah kakek muka singa yang telah berani mati membelanya itu akan membiarkan dia mati?

Tidak! Dia tidak boleh mati kelaparan di tempat ini. Dia harus berusaha untuk keluar dari neraka ini. Mulailah Bun Beng melakukan penyelidikan. Mula-mula dia memeriksa pintu itu dan mencoba tenaganya. Namun segera mendapat kenyataan bahwa tidak mungkin ia menjebol pintu yang amat kuat itu. Dia lalu memeriksa dinding batu. Dinding yang amat kokoh, batu bertumpuk dengan tanah yang keras. Kokoh kuat tak mungkin dibongkar dengan tangan kosong.

Siapa tahu akan ada penjaga datang menyerahkan makanan, pikirnya. Kalau mereka, terutama kakek muka singa, tidak menghendaki dia mati, tentu mereka akan mengirim makanan dan minuman. Dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibiarkan mati begitu saja sebelum dibujuk.

Maka ia menghentikan pemeriksaannya dan kembali duduk di sudut kamar itu, bersila dan bersemedhi. Teringat ia akan semua pengalamannya di waktu kecil. Semenjak terseret oleh pusaran maut air Sungai Huang-ho, sudah berkali-kali dia terancam bahaya maut, bahkan terpaksa harus hidup di antara sekumpulan monyet, dibawa terbang burung raksasa dan jatuh terlepas ke atas laut, namun selalu dia tertolong! Kalau Thian menghendaki, sekali ini pun dia tentu akan selamat. Teringat akan kekuasaan Tuhan, Bun Beng menjadi tenang.

Manusia hidup tergantung dari kekuasaan Tuhan, mutlak dan seluruhnya! Tanpa kekuasaan Tuhan, manusia tak mungkin dapat hidup. Detik jantung yang memompa darah ke seluruh bagian tubuh, pernapasan yang memberi makan darah, semua berjalan otomatis tanpa dikuasai manusia. Dalam tidur sekali pun, detik jantung dan pompa paru-paru tetap bekerja, siapa yang mengerjakannya kalau bukan kekuasaan Tuhan?

Dalam keadaan sunyi gelap menghadapi ancaman maut ini, perasaan Bun Beng makin dekat dengan kekuasaan Tuhan. Teringatlah ia akan wejangan-wejangan gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, akan kekuasaan Tuhan dan betapa lemahnya manusia, betapa tidak ada artinya. Ingin ia tertawa karena geli hatinya kalau teringat akan wejangan suhu-nya dahulu. Bagaimana pula yang dikatakan gurunya itu akan kelemahan manusia?

Orang yang merasa dirinya pandai dan berkuasa adalah sebodoh-bodoh orang, demikian antara lain gurunya pernah berkata. Manusia memiliki puluhan ribu rambut dan bulu di tubuhnya, namun mengatur pertumbuhan sehelai rambut atau bulunya saja dia tidak mampu! Jangankan mengatur pertumbuhan kuku, mengatur detik jantung, menentukan mati hidupnya! Hanya oleh kehendak dan kekuasaan Tuhan sajalah manusia dapat hidup dan mati!

Pelajaran seperti ini memperkuat batin Bun Beng, memperbesar kepercayaannya kepada Tuhan sehingga dia tidak takut menghadapi ancaman bahaya maut, karena ia sudah merasa yakin sepenuhnya, bahkan sudah berkali-kali mengalaminya dalam hidup, bahwa apa pun yang terjadi, baru dapat terjadi apabila Tuhan menghendaki.

Kalau Tuhan menghendaki dia mati, tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat menghindarkannya dari kematian. Sebaliknya, apabila Tuhan menghendaki dia hidup, juga tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membuat dia mati! Apa lagi hanya kekuasaan manusia, biar dia sesakti Ketua Thian-liong-pang sekali pun. Teringat akan semua ini Bun Beng tertawa. Ingin dia bertanya kepada Ketua Thian-liong-pang yang sakti itu apakah dia mampu mengatur pertumbuhan rambut-rambutnya, tidak usah semua, sehelai saja!

Betapa pun juga, Tuhan takkan menolong manusia yang tidak berusaha menolong dirinya sendiri. Usaha atau ikhtiar merupakan kewajiban manusia yang sekali-kali tidak boleh dihentikan selama dia hidup. Ada pun akan jadinya, terserah kepada kekuasaan Tuhan, akan tetapi dia harus berusaha menyelamatkan diri. Kalau Tuhan menghendaki dia mati akan matilah dia. Mati dibunuh Ketua Thian-liong-pang, atau mati kelaparan di situ, atau mati dalam usahanya menyelamatkan diri, semua itu hanya dijadikan lantaran atau jalan, dipilih oleh Tuhan sebagai penyebab kematiannya.

Pikiran ini membuat Bun Beng menjadi tenang sekali, sedikit pun dia tidak merasa khawatir karena hatinya telah bebas dari pada keinginan hidup atau mati, sudah ia serahkan seluruhnya kepada keputusan Thian. Ia hanya memutar otaknya mencari jalan keluar, bagaimana harus menggunakan akal.

Setelah keadaan di dalam kamar tahanan itu gelap pekat, tanda tentu di luar ada api penerangan yang dipadamkan, Bun Beng merebahkan dirinya, terlentang di atas lantai batu yang lembab dan tertidurlah dia karena hatinya tenang. Sinar yang membuat keadaan gelap pekat itu menjadi remang-remang membangunkannya. Ia menduga bahwa tentu malam telah terganti pagi karena cahaya yang kini sedikit menerangi kamar itu berbeda dengan cahaya semalam, cahaya matahari yang putih dengan cahaya lampu kemerahan.

Sebuah kepala nampak di balik jeruji baja di bagian atas pintu. Kepala Sai-cu Lo-mo! Kemudian, tangan kakek itu diulurkan di antara jeruji, membawa dua potong roti kering yang panjang dan seguci air.

Bun Beng dapat menangkap getaran suara penuh haru dan harap dalam kata-kata kakek itu. Ia menahan kilas pikiran untuk menangkap kedua lengan kakek yang diulur masuk melalui jeruji besi. Apa gunanya? Dia tidak akan dapat memaksa kakek ini, dan tidak dapat pula mencelakakannya. Ia menerima roti dan guci air.

"Terima kasih." Tanpa berkata-kata lagi pemuda ini makan roti kering. Dua potong roti itu cukup baginya untuk mengenyangkan perutnya, kemudian ia minum air jernih yang menyegarkan tubuhnya. Selesai makan dan minum, Bun Beng yang melihat kakek itu masih berdiri di luar pintu dan sejak tadi memandangnya bertanya.

"Sampai berapa lama aku akan ditahan di sini? Apakah makanan dan minuman diberi racun perampas ingatan agar aku suka membuka rahasia ilmu silat untuk dipelajari Pangcu-mu?"

Sai-cu Lo-mo menggeleng kepalanya. "Tidak, Bun Beng. Engkau adalah cucuku, engkau dianggap sebagai orang sendiri, tidak perlu Pangcu mempelajari ilmumu yang kelak akan ditukar dengan ilmu yang lebih tinggi oleh Pangcu sendiri. Bun Beng, tidak tahukah engkau bahwa kami bermaksud baik kepadamu? Engkau cucuku, hanya satu-satunya, maka engkau tidak akan dibunuh. Kalau engkau suka menjadi anggota Thian-liong-pang, engkau malah akan memperoleh kedudukan tinggi, sesuai dengan kepandaianmu."

Bun Beng menggeleng kepala. Biar pun dia harus berusaha meloloskan diri, akan tetapi tak pernah terpikir olehnya menukar keselamatannya dengan merendahkan diri menjadi anggota Thian-liong-pang yang ia anggap amat jahat dan keji!

"Percuma saja engkau membujuk. Aku tidak akan suka menjadi anggota Thian-liong-pang hanya untuk menyelamatkan nyawaku. Kalau aku berhasil keluar dari sini, aku tetap akan menentang Thian-liong-pang menculiki tokoh-tokoh kang-ouw."

"Ahhh, engkau tidak tahu, Bun Beng. Pangcu adalah seorang bijaksana, sama sekali bukan orang jahat. Bahkan dia telah merobah Thian-liong-pang dari kesesatannya, kembali ke jalan benar. Kalau dia melakukan penculikan atas diri tokoh-tokoh kang-ouw, itu sekali-kali bukan dengan niat mencelakakan mereka, melainkan hendak mempelajari dan menyaksikan jurus-jurus rahasia mereka yang telah diketahui Pangcu bagian teorinya saja. Kemudian mereka dibebaskan kembali. Pangcu adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat!"

"Hemmm, kalau memang sakti, mengapa masih ingin mencuri ilmu orang-orang lain?"

"Pangcu tidak akan menggunakan ilmu-ilmu itu, hanya ingin menghimpun, kemudian menciptakan ilmu baru untuk menandingi kehebatan To-cu Pulau Es."

Bun Beng mengerutkan keningnya. "Justeru itulah yang aku tidak suka! Aku kagum dan suka kepada Pendekar Siluman yang aku yakin adalah seorang yang selain sakti, juga amat bijaksana. Kalau Pangcu-mu memusuhi Pendekar Siluman, sudah pasti sekali aku berpihak kepada Majikan Pulau Es itu!"

Sai-cu Lo-mo kelihatan berduka. "Aihh, Bun Beng. Mengapa engkau menyusahkan hati seorang tua seperti aku? Apa perlunya engkau mencampuri segala urusan yang tiada sangkut-pautnya denganmu? Engkau menyerah dan taatlah, dan aku bersumpah bahwa kelak engkau tidak akan menyesal. Akan kau lihat sendiri kebaikan Thian-liong-pang!"

"Maaf, aku tetap tidak mau menjadi anggota Thian-liong-pang."

"Bun Beng, engkau tidak akan dapat keluar dari sini. Jalan satu-satunya adalah mentaati Pangcu dan aku hanya diperbolehkan membujukmu selama tiga hari. Kalau selama itu engkau belum menurut, engkau akan menjadi tahanan di sini selamanya! Dan engkau... engkau akan mati dengan sia-sia..."

"Menyesal sekali. Aku lebih memilih bahaya mati dari pada harus menuruti kehendak Pangcu-mu yang seperti iblis itu!"

Kakek itu menghela napas panjang, kemudian pergi dengan muka berduka. Selama tiga hari terus-menerus datang dan membujuk, namun tetap saja Bun Beng tidak mau menuruti bujukannya. Bahkan pemuda itu kini semakin tekun dengan penyelidikannya. Dibongkarnya batu-batu di lantai, di antara tulang-tulang rangka manusia, dan dia menemukan sebuah kapak bergagang panjang. Tentu kapak ini merupakan senjata dari seorang di antara mereka yang telah menjadi rangka itu. Kemudian ia memeriksa dinding, dinding di sebelah kanan pintu lebih berlumut dan dingin sekali. Kalau ia menempelkan telinganya di situ, terdengar bunyi air berkerosok. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa tentu dinding ini yang paling tipis sehingga dia dapat mendengar bunyi air bergerak. Akan tetapi mengapa ada air di balik dinding ini?

Setelah hari ketiga dan kakek muka singa menghabiskan bujukannya dengan sia-sia, kakek itu tidak muncul lagi. Setiap malam ada seorang penjaga melemparkan roti kering dan guci air ke dalam kamar tahanan. Dan mulailah Bun Beng bekerja. Dengan kapak gagang panjang itu dia mulai membongkar batu dinding kanan sekuat tenaga. Dia bekerja setelah penjaga melemparkan makanan. Setelah menghabiskan roti dan air, mulailah dia menghantami dinding batu dengan kapaknya. Dia mempunyai waktu sehari semalam lamanya. Besok malam, barulah ada penjaga datang untuk memberi makanan dan minuman. Dia harus berhasil selama sehari semalam ini, karena kalau tidak, tentu penjaga akan melihatnya dan dia akan ketahuan, yang berarti gagal!

Bun Beng bekerja dengan semangat menyala-nyala, tak pernah sedetik pun ia berhenti dan dia tidak mempedulikan kedua telapak tangannya yang sudah lecet-lecet dan otot-otot lengannya yang menggelepar-gelepar di dalam daging. Ia terus menghantamkan kapaknya dan satu demi satu batu dinding dapat ia bongkar. Batu itu keras sekali dan semalam suntuk dia hanya dapat membongkar sedalam satu meter. Namun belum tampak tanda-tanda bahwa dinding itu telah menipis!

Pada keesokan harinya Bun Beng masih terus bekerja, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, seluruh pikiran, perhatian, dan tenaga dikerahkan untuk menghantami batu-batu dengan kapaknya. Dia tidak tahu berapa lama dia bekerja, hanya bahwa dia harus berlomba dengan waktu. Betapa pun juga, hatinya mulai risau ketika dinding yang tadinya jelas itu mulai tampak suram tanda bahwa hari telah mulai sore dan sebentar lagi malam akan tiba dan berarti Si Penjaga akan datang mengantar roti dan air. Dia akan ketahuan dan akan gagal! Teringat akan ini, Bun Beng memperhebat ayunan kapaknya, menghantam dinding batu yang kini sudah ia gali sedalam dua meter lebih, tingginya seukuran tubuhnya. Batu-batu berserakan di dalam kamar itu, ia tendang-tendangi sehingga bertumpuk di kanan kiri dan belakangnya.

Malam tiba. Kegelapan cuaca kini diterangi seberkas cahaya kemerahan sinar lampu penerangan seperti biasa. Tak seberapa lama lagi penjaga tentu muncul. Bun Beng menghentikan kapaknya yang menjadi panas karena terus menerus menghantam batu keras. Dia terduduk, terengah-engah dan menghapus peluh sambil mengasah otak. Bagaimana sekarang? Dinding terkutuk itu tidak juga dapat ia tembus, agaknya setebal perut gunung!

Dan Si Penjaga sebentar lagi datang! Akan terbuang sia-sialah usahanya yang mati-matian selama sehari semalam! Tubuhnya terasa penat sekali, perutnya lapar dan kerongkongannya kering, haus. Lapar dan haus! Teringat akan ini, Bun Beng meloncat bangun dan lari ke pintu, menempelkan tubuhnya ke pintu yang lebarnya hanya sebesar orang. Kedua lengannya ia keluarkan dari celah-celah jeruji baja, mukanya ia tempelkan pada jeruji dan matanya mengerling ke arah datangnya penjaga.

Ketika ia melihat penjaga datang membawa roti dan guci air, Bun Beng berteriak-teriak memaki, "Penjaga keparat! Mengapa begitu lama? Aku sudah kelaparan dan hampir mati kehausan! Hayo cepat bawa roti dan air itu ke sini! Keparat jahanam engkau!"

Penjaga itu berhenti dan tertawa. "Ha-ha-ha, orang muda. Jangan kira aku tidak tahu akan akal bulusmu!"

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Bun Beng mendengar ini. Ia makin merapat pada jeruji pintu, menutupi seluruh celah jeruji dengan kedua lengan di kanan kiri mukanya. "Apa... apa maksud-mu?"

Kembali penjaga itu tertawa dan berdiri agak jauh sehingga Bun Beng tidak akan mampu menjangkau dengan tangannya. "Ha-ha-ha, apa kau kira aku bodoh? Engkau tentu ingin agar aku mendekat sehingga engkau dapat menangkap dan membunuhku, bukan?"

Rasa lega menyelubungi hati Bun Beng. Ia membentak, "Memang aku ingin sekali mencekik lehermu dan mematahkan tulang punggungmu!"

"Jangan mimpi, aku lebih cerdik darimu. Begitu melihat engkau di pintu, aku sudah curiga karena biasanya engkau tidak mengacuhkan roti dan air yang kubawa untukmu. Tentu engkau hendak menggunakan akal, pikirku, maka aku tidak mau mendekat. Nah, nih, kau tangkap roti dan airmu. Ha-ha-ha!" Penjaga itu melemparkan roti dan guci air ke arah kedua tangan Bun Beng.

Dengan sengaja Bun Beng bergerak lambat. Roti dapat ditangkapnya, akan tetapi guci air itu luput dan jatuh ke atas lantai di luar pintu, airnya tumpah. "Jahanam, lekas ambilkan air untukku. Aku haus sekali!" Bun Beng berteriak-teriak akan tetapi penjaga itu tertawa.

"Rasakan kau!" katanya sambil berjalan pergi!

Bun Beng cepat mengambil kapaknya dan lupa makan. Dia mulai lagi bekerja, hatinya lega. Dia telah dapat memperpanjang waktu usahanya sehari semalam lagi! Batu-batu itu mulai mudah dibongkar karena tanahnya lembek dan basah, bahkan kini ada air menetes-netes memasuki kamar. Dia menggali terus penuh semangat.

Pada keesokan harinya lewat pagi, air yang menetes makin banyak, bahkan kini jelas terdengar bunyi riak air. Bun Beng mengapak terus, tampak ada batu bergerak, kapaknya terayun ke arah batu itu dan...

"Krasak-krasak... byuuuurrrr...!"

Bun Beng cepat meloncat ke samping, melempar kapaknya dan mepet pada dinding dekat lubang yang kini tiba-tiba pecah menjadi lebar terdorong oleh masuknya air seperti dituang. Bun Beng berdiri mepet dinding dengan muka pucat. Bahaya yang datang mengancamnya ini tidak kalah mengerikan. Memang benar dia telah berhasil membobol dinding, akan tetapi ternyata di belakang dinding itu adalah air yang entah berapa banyaknya, yang kini membanjiri kamar tahanan.

Bun Beng tidak mau panik, dan otak otaknya bekerja cepat. Jika ia menerobos lubang itu, tidak mungkin dia kuat menghadapi tenaga air yang menerjang masuk, maka ia hanya mepet dinding dekat lubang sambil mencengkeram dinding batu dengan kedua tangannya. Dia maklum bahwa kalau kamar itu telah penuh, air akan terus menerobos keluar melalui celah-celah jeruji pintu. Akan tetapi, mengingat bahwa lubang itu tidak begitu besar dan air yang menerobos tidak banyak, maka tekanan air dari luar lubang dinding tentu tidak begitu besar. Maka dengan kenekatan luar biasa, Bun Beng menanti sampai kamar itu penuh. Air naik dengan cepatnya sampai ke leher, dia memejamkan mata dan mengumpulkan napas sepenuh paru-parunya sambil menanti.

Bun Beng memang cerdik. Kalau dia panik dan berusaha keluar dari lubang dinding, selain air menerjang masuk, tentu dia akan terseret dan terbanting kembali sehingga membahayakan keselamatannya. Sebentar saja air menjadi penuh dan Bun Beng yang telah tenggelam di dalam air itu merasa betapa dorongan air dari lubang dinding yang jebol itu tidak begitu kuat lagi.

Cepat ia melepaskan cengkeraman tangannya pada dinding, berenang ke arah lubang dengan tangan meraba-raba karena ketika ia membuka matanya, dia tidak dapat melihat apa-apa, air itu keruh dan akhirnya dia dapat meraba dinding yang jebol. Dia merangkak, berpegangan pada pinggiran lubang, terus merayap keluar lubang itu. Ketika ia meluncur ke depan, tubuhnya terdorong ke atas dan tahulah dia bahwa dia berada di air yang dalam, entah telaga, sungai atau laut! Tak mungkin lautan, pikirnya, karena air tidak asin. Dia membiarkan dirinya meluncur ke atas, bahkan membantu dengan kaki tangannya karena dia harus dapat tiba di permukaan air. Dadanya seperti akan meledak karena sudah terlalu lama dia menahan napas!

Betapa girang hati Bun Beng ketika akhirnya kepalanya tersembul di permukaan air. Ia membuka mulut dan menghisap napas banyak-banyak sampai dadanya terasa nyeri. Ia terengah-engah, berganti napas dan membuka kedua matanya. Kiranya ia telah tiba di permukaan sebuah sungai yang amat lebar, sungai yang selain lebar juga dalam, dan airnya keruh. Demikian lebarnya sungai itu sehingga dari tempat ia muncul, yaitu di tengah-tengah, ia melihat kedua tepinya jauh sekali.

"Aduhhh...!"

Tiba-tiba secara otomatis Bun Beng mengerahkan sinkang membuat kakinya keras karena kakinya terasa digigit sesuatu dari bawah. Ia dapat menahan gigitan itu dengan sinkang-nya yang membuat kaki kirinya kebal, tetapi kini makhluk yang mengigitnya itu meronta dan hendak menyeretnya ke bawah.

Bun Beng menjadi marah. Cepat ia menarik kakinya dan tampaklah seekor ikan menggigit kakinya itu. Ikan yang besar sekali, sebantal besarnya.

"Ikan keparat!" Bun Beng membentak dan menendangkan kakinya.

Ikan itu mencelat karena gigitannya terlepas dan karena dia tidak dapat tahan lama di atas permukaan air. Akan tetapi kini Bun Beng melihat suara hiruk pikuk di kanan kirinya, air berguncang dan suaranya berkecipak, tampaklah kepala-kepala dan ekor ekor banyak ikan besar mengurungnya dan menyerangnya dari depan, kanan kiri dan belakang!

Bun Beng makin mendongkol. Dia mengenal ikan-ikan ini, semacam ikan lele yang tidak bersisik, kulitnya licin halus, kepalanya bulat mengkilap dan matanya seperti mata orang yang licik, gerakannya cepat sekali. Biasanya ikan macam ini merupakan bahan hidangan yang lezat, baik dipanggang mau pun dimasak atau digoreng sekali pun. Biasanya melihat seekor ikan seperti ini di darat menimbulkan selera. Akan tetapi pada saat itu, agaknya selera ikan-ikan itulah yang timbul melihat tubuh Bun Beng! Dan ikan-ikan ini, berbeda dengan yang biasanya dilihat Bun Beng, amatlah besarnya. Belum pernah ia melihat ikan lele sedemikian besarnya, biasanya hanya sebesar betis. Mungkin bukan ikan-ikan lele, karena tidak mempunyai kumis!

Bun Beng tidak memusingkan ikan apa-apa yang mengeroyoknya dan dia mulai mengamuk. Dengan tangan kanan, ia memukul seekor ikan yang menyerangnya dari depan sehingga tubuh ikan itu terlempar jauh di atas air, kemudian kaki tangannya bekerja memukul dan menendang ikan-ikan itu.

"Aupppp...!"

Karena lupa bahwa dia bukan sedang berada di darat, maka begitu dia main silat di air, tubuhnya tenggelam dan dia gelagapan. Cepat ia menggerakkan kedua kakinya dan kini setelah tubuh atasnya timbul, ia hanya menggunakan kedua tangan saja untuk memukul dan mendorong ikan-ikan itu, sedangkan kedua kakinya dia pergunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak tenggelam.

Bun Beng adalah seorang yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi, dan kalau hanya dikeroyok oleh ikan-ikan seperti itu saja, agaknya dia akan dapat mengalahkan para pengeroyoknya dengan mudah. Akan tetapi itu kalau di darat. Kalau di air, dialah yang repot sekali. Kepandaiannya berenang di air amat terbatas, bukan termasuk ahli, tentu saja dibandingkan dengan ikan-ikan yang memang hidupnya di air dia kalah jauh dan sebentar saja Bun Beng menjadi gelagapan dan sudah beberapa kali tubuhnya terkena gigitan ikan-ikan kelaparan itu.

Celaka, keluhnya. Baru saja terbebas dari kamar neraka, dia sudah diancam bahaya air, dan baru saja dia terbebas dari ancaman itu, kini dia kembali menghadapi maut di mulut ikan lele! Benar-benar menyebalkan bahaya yang sekali ini mengancamnya. Betapa tidak menyebalkan kalau dia harus mati di mulut ikan-ikan lele! Padahal, semestinya ikan-ikan lele itulah yang mati di mulut manusia. Betapa memalukan, seorang pendekar mati dikeroyok ikan lele! Tidak, dia tidak mau mati begitu remeh! Bun Beng melawan sedapatnya sambil berusaha berenang ke tepi sungai itu.

Tiba-tiba terdengar lengking nyaring disusul suara berkelepaknya sayap. Bun Beng mendengar ini, akan tetapi dia tidak dapat mengalihkan perhatiannya terhadap pengeroyokan ikan-ikan itu. Sekali ia memutar tubuh menghantam seekor ikan dengan tangan kanannya, membuat ikan itu terlempar dalam keadaan mati karena kepalanya pecah.

Tiba-tiba saja, seperti munculnya tadi, ikan-ikan itu menyelam dan lenyap, kecuali beberapa ekor yang telah menjadi bangkai. Dan sebelum Bun Beng sempat sadar akan datangnya bahaya lain, tahu-tahu pundaknya terasa nyeri dan tubuhnya sudah melayang ke atas!

Bun Beng terkejut sekali. Tubuhnya melayang tinggi dan di atas terdengar kelepak sayap burung! Ia memandang ke atas dan tepat seperti yang ia duga dan khawatirkan, pundaknya telah dicengkeram oleh kaki seekor burung rajawali yang besar dan ia dibawa terbang tinggi sekali!

"Sialan!" Bun Beng menyumpahi dirinya. Terlepas dari mulut ikan lele, kini masuk ke dalam cengkeraman rajawali raksasa yang buas! Mengapa dirinya selalu ditimpa kemalangan dan diancam bahaya maut yang mengerikan?

Teringat ia akan pengalamannya dahulu ketika ia diterbangkan seekor burung dan dia bersembunyi di dalam keranjang. Dia memandang penuh perhatian dan keningnya berkerut. Celaka! Burungnya yang itu-itu juga! Burung rajawali milik Pulau Neraka! Tak salah lagi, dia mengenal modelnya. Wah, wah, kalau burungnya ada, tentu pemiliknya ada. Bocah laki-laki menjemukan itu, bocah iblis yang keji dan sadis! Sekarang tentu sudah menjadi seorang pemuda, dan tentu lebih kejam dari pada dahulu.

Hampir saja Bun Beng memukul kalau saja dia tidak ingat bahwa dia bukan di atas tanah. Ia melirik ke bawah dan menjadi ngeri. Burung itu terbang tinggi sekali sehingga sungai yang besar itu kini tampak jelas seperti seekor naga jauh di bawah. Dan burung itu tidak lagi berada di atas sungai. Kalau dia memukul dan terlepas dari cengkeraman, tentu dia akan jatuh terbanting ke atas tanah dan remuk semua tulangnya! Maka ia lalu meraih ke atas dan tangannya memegang kaki burung erat-erat sambil melepaskan cengkeraman kaki burung yang masih mencengkeram pundaknya. Kini dialah yang memegang kaki burung, tidak berani melepaskan karena hal itu akan berarti kematian yang mengerikan baginya.

Tiba-tiba ia melihat seekor burung lain, juga amat besar, terbang cepat datang dari jauh. Sudah terdengar suara pekik burung itu melengking keras. Celaka, pikirnya, tak salah lagi tentulah bocah setan itu yang datang menunggang burungnya. Masih terlalu jauh untuk dapat dilihat apakah burung yang terbang datang itu ada penunggangnya atau tidak.

Ia memutar otaknya, mencari akal apa yang harus dilakukannya kalau sampai pemuda setan itu betul-betul datang. Kalau saja dia bisa naik ke atas punggung burung ini, dia akan mendapat kesempatan untuk menghadapi lawan. Sama-sama menunggang burung, barulah ramai dan sebanding kalau bertempur. Kalau dia bergantung pada kaki burung, tentu saja dia tidak dapat melakukan perlawanan dengan baik, paling-paling dia hanya bisa melindungi tubuhnya dengan sebelah tangan, yang sebelah lagi harus ia pergunakan untuk bergantungan pada kaki burung.

Tiba-tiba burung yang membawanya itu melengking keras, lengking tanda kemarahan, dan ketika burung yang terbang datang itu sudah tampak dekat, hati Bun Beng agak lega karena tidak tampak ada penunggangnya. Namun kelegaan hatinya itu menjadi berubah seketika saat kedua ekor burung itu sudah saling serang dengan hebatnya. Kini tampak jelas oleh Bun Beng bahwa burung yang baru datang adalah seekor burung garuda putih. Dia mengenal burung itu. Burung tunggangan Pendekar Siluman. Burung garuda dari Pulau Es! Tentu saja dua ekor burung yang menjadi musuh lama itu kini saling terjang mati-matian, saling cakar, saling patuk, saling kabruk sambil mengeluarkan suara melengking menulikan telinga.

Bun Beng yang celaka dalam pertarungan antar dua ekor burung raksasa itu. Betapa tidak? Tubuhnya tergantung di kaki burung rajawali dan di dalam pertandingan itu, kedua ekor burung saling terjang sehingga tubuh Bun Beng terbawa, terguncang, bahkan dia menjadi korban terkaman burung garuda yang tentu saja tidak dapat membedakan antara dia dari kaki burung lawan.

Bun Beng yang masih bergantung pada kaki rajawali menjadi serba salah. Mau membantu garuda putih dengan memukul tubuh rajawali, berarti dia seperti memukul diri sendiri. Kalau rajawali itu jatuh, bukankah berarti dia sendiri pun jatuh jatuh ke bawah? Mau membantu burung rajawali, dapat ia lakukan dengan jalan memukul garuda putih di waktu dua ekor burung itu saling kabruk, hatinya tidak mengijinkan karena dalam pertandingan antara kedua ekor burung itu otomatis dia berpihak kepada garuda putih yang menjadi peliharaan Pendekar Siluman yang ia kagumi. Membantu rajawali salah, membantu garuda pun tidak mungkin. Diam saja juga tidak baik karena dialah yang paling payah dalam pertadingan angkasa itu.

Bun Beng benar-benar merasa tersiksa sekali, tersiksa lahir batin. Tubuhnya menjadi bulan-bulanan, montang-manting terdorong ke sana sini, kena patuk dan cakar hingga ia luka-luka dan tubuhnya terasa sakit-sakit, pakaiannya pun banyak yang terkoyak. Ini benar-benar menyiksa hatinya.

Dalam pertadingan biasa, biar pun melawan musuh yang jauh lebih pandai, sedikitnya dia bisa melawan, balas menyerang, atau kalau sudah merasa kalah, dapat melarikan diri. Akan tetapi sekarang ini sama sekali dia tidak berdaya. Membalas tidak bisa, melindungi tubuh sendiri pun tidak sempurna, melarikan diri pun... mana mungkin? Habislah ikhtiar sebagai manusia dan dalam keadaan seperti itu, tidak lain jalan lagi kecuali menyerahkan nasib ke tangan Tuhan! Dia hanya dapat menggunakan sebelah tangan untuk menangkis setiap ada bahaya patukan, cengkeraman atau kabrukan sayap yang mempunyai tenaga kwintalan!

Dalam pertandingan angkasa yang ramai itu, Si rajawali raksasa akhirnya terdesak hebat. Banyak bulu sayapnya membodol dan kepalanya berdarah. Hal ini tidak mengherankan. Dalam keadaan biasa saja, garuda putih dari Pulau Es yang terlatih itu merupakan lawan berat baginya, apa lagi sekarang sebelah kakinya diganduli orang, tentu saja hal ini membuat gerakannya kurang leluasa sehingga dia lebih banyak menerima patukan dan cengkeraman. Oleh karena itu, sambil mengeluarkan suara melengking bingung, seperti seekor ayam dikejar-kejar anak kecil, rajawali raksasa itu mulai menggerak-gerakkan kakinya yang diganduli Bun Beng, berusaha melepaskan orang yang menjadi pengganggu gerakannya.

Bun Beng maklum akan niat rajawali itu dan tentu saja dia tidak sudi disuruh turun begitu saja. Terlepas berarti melayang turun dari tempat yang tingginya ribuan kaki! Maka ia malah menggunakan tenaganya untuk memegang kaki rajawali itu sekuat mungkin sehingga biar pun rajawali itu berusaha untuk menendangkan kakinya, tubuh Bun Beng tetap saja tidak terlepas dari kakinya.

Namun kini keadaan Bun Beng makin payah. Kalau tadinya dia hanya menjaga diri dari serangan garuda putih yang sebetulnya menyerang Si rajawali dan tanpa disengaja menyerang Bun Beng pula, setelah rajawali itu kini berusaha melepaskannya, Bun Beng harus menghadapi dua serangan, yaitu dari garuda yang masih menyerang secara ngawur sehingga dirinya ikut diserang, dan dari rajawali yang hendak menendang dirinya supaya terlepas.

Tubuh Bun Beng terayun-ayun dan beberapa kali hampir saja pegangannya terlepas. Betapa pun juga, dia tidak berani memegang kaki rajawali itu dengan dua tangannya, karena tangan yang kanan ia perlukan untuk menjaga diri, menangkis terjangan garuda. Kepalanya menjadi pening dan tangan kirinya terasa penat sekali. Kalau sudah tidak kuat, dia mengganti tangan kiri dengan tangan kanan yang menggandul, sedang tangan kirinya yang penat itu ia pergunakan untuk melindungi tubuhnya dari terjangan garuda putih.

Burung garuda itu menyambar lagi, kini dari bawah. Agaknya garuda yang cerdik itu melihat betapa lawannya sibuk dengan kakinya. Otomatis paruh dan cakar garuda yang menerjang perut rajawali itu mengabruk pula tubuh Bun Beng yang tergantung.

"Celaka...!" Pemuda itu berseru keras.

Betapa pun ia hendak mempertahankan, tak mungkin ia menangkis serangan garuda sehebat itu hanya dengan tangan yang sudah penat. Gerakan menyelamatkan dirinya secara otomatis membuat ia menggunakan pula tangan kanan, lupa bahwa tangan kanannya tak boleh dilepaskan dari kaki rajawali. Begitu ia menggerakkan tangan kanan melepaskan kaki rajawali, tentu saja tubuhnya terlepas dan melayang ke bawah.

"Mampus aku sekarang...!" Ia mengomel karena jengkel akan kebodohannya sendiri, tetapi ia segera teringat dan disambungnya tenang, "...kalau Tuhan menghendaki...!"

Akan tetapi betapa mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri dengan tubuh meluncur ke bawah sedemikian cepatnya, menuju ke arah tanah di bawah yang berbatu? Betapa pun lihainya, tidak mungkin ia dapat menguasai tubuhnya yang meluncur turun cepat sekali, seperti batu disambitkan.

Bukan main herannya rasa hati Bun Beng. Di saat kematian berada di depan mata ini, seperti dalam mimpi ia melihat wajah yang berubah-ubah. Pertama wajah Milana, kemudian berubah menjadi wajah Kwi Hong, dan berubah lagi menjadi wajah Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai. Gila, ia menyumpah. Mengapa dalam menghadapi maut yang agaknya sekali ini tidak mungkin dapat ia elakkan lagi, pikirannya jadi kacau-balau dan ia teringat akan gadis-gadis itu? Inikah yang disebut watak mata keranjang seorang pria?

Ayahnya memperkosa ibunya! Ayahnya dan ibunya saling bunuh! Anak haram, kata Ketua Thian-liong-pang. Anak seorang datuk kaum sesat, sering kali ia mendengarnya. Dan dia masih cucu keponakan seorang tokoh Thian-liong-pang yang mukanya seperti singa. Orang macam apakah dia? Mati pun tidak akan ada yang kehilangan. Pikiran ini membuat dia makin tenang, karena ia berpendapat bahwa orang seperti dia ini kalau terus hidup pun hanya akan mengalami kesengsaraan dan penghinaan, mengalami tekanan batin dan tidak dihargai orang.

Satu-satunya orang yang paling baik terhadapnya adalah suhu-nya yang pertama, Siauw Lam Hwesio. Namun suhu-nya itu telah dibunuh secara mengerikan oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun koksu (guru negara) yang tinggi kurus itu bersama pembantu-pembantunya. Tidak, dia tidak boleh mati!

Biar pun kalau hidup ia mengalami kesengsaraan batin, akan tetapi dia harus hidup untuk menuntut balas atas kematian Siauw Lam Hwesio yang demikian menyedihkan! Dan dia masih meninggalkan sepasang pedang pusaka yang belum diambilnya. Sayang kalau pedang itu tersia-sia hilang di tempat rahasia itu. Kini timbul keinginan hatinya untuk menyerahkan pedang itu kepada Pendekar Siluman, satu-satunya orang yang dikaguminya di antara seluruh tokoh sakti di dunia ini.

"Aku tidak mau mati dulu...!!" Bun Beng berteriak diluar kesadarannya.

Tiba-tiba ia melihat seekor burung raksasa lain di bawahnya. Celaka, apakah ia dikejar dua ekor burung tadi? Ah, tidak, burung ini berada di bawahnya, bergerak-gerak terbang menyongsongnya, tentu akan menyerangnya pula. Dalam keadaan melayang dan meluncur turun ini, sedangkan untuk menjaga jatuhnya saja dia tidak mampu, bagaimana akan dapat mempertahankan diri kalau burung raksasa ini menyerangnya?

Ah, dia akan tertolong kalau dapat menangkap burung itu. Asal dapat menangkapnya, entah merangkul lehernya atau merangkul kakinya, pendeknya dia harus dapat mengunakan burung itu sebagai penyelamatnya dari kejatuhan yang tak dapat disangsikan lagi akan kehancuran tubuhnya. Kalau tadi timbul kengerian karena takut diserang burung baru ini, sekarang dia malah mengharap agar burung itu benar-benar menyerangnya. Karena kalau dia yang harus menuju ke burung itu, tentu saja tidak mungkin. Tanpa sayap mana mungkin dia bisa mengatur meluncurnya itu?

Makin dekat... dan Bun Beng kembali menyumpah, "Dasar awak sialan!"

Yang disangkanya burung raksasa itu ternyata hanya sebuah layangan besar sekali. Memang bentuknya seperti burung, bahkan dilukis seperti burung, akan tetapi tetap saja benda itu hanya sebuah layang-layang yang biasa menjadi permainan seorang kanak-kanak! Apa artinya sebuah layang-layang baginya dalam keadaan terancam bahaya maut seperti itu? Seakan-akan malah mengejeknya, bergerak-gerak ke kanan kiri dipermainkan angin.

Melihat betapa layang-layang itu bergerak-gerak seperti seekor burung yang menari-nari mengejeknya, timbul rasa panas di hati Bun Beng. Memang dia terancam bahaya maut, akan tetapi sedikit pun dia tidak takut. Mengapa harus diejek? Karena dia tidak berdaya membalas, kalau dia dapat tentu akan ditangkapnya layang-layang itu dan dicabik-cabiknya, maka Bun Beng hanya memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya meluncur terus ke bawah.

Teringat ia ketika dahulu ia jatuh pula dari kaki burung rajawali terbang dan berada di dalam keranjang, akan tetapi di bawahnya adalah laut luas sehingga dia terjatuh dengan empuk. Hanya satu perbedaannya, kalau dahulu di waktu dia masih kecil dia menjadi pingsan ketika meluncur turun, kini dia dapat mempertahankan diri dan tidak menjadi pingsan. Hal ini karena sinkang-nya sudah bertambah jauh lebih kuat, maka ia merasa dadanya sesak dan sukar bernapas, namun ia masih dapat menahannya dan masih dalam keadaan sadar sepenuhnya, merasakan betapa tubuhnya melayang turun dengan kecepatan yang mengerikan.

Tiba-tiba ia merasa kakinya nyeri dan luncuran tubuhnya tertahan, bahkan kini tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah. Ketika ia membuka mata, ia melihat bahwa kedua kakinya terlibat oleh sehelai tali yang cukup besar, sebesar kelingking. Tubuhnya yang bergantung itu bergoyang ke kanan kiri, akan tetapi tidak melucur ke bawah lagi. Ia melihat ke atas, di atas kepalanya, tidak begitu tinggi, hanya sejauh lima enam meter, tampak layang-layang raksasa tadi bergerak-gerak.

"Setan! Iblis! Siluman angkasa laknat! Engkau mengacau layang-layangku, si keparat!"

Tiba-tiba Bun Beng mendengar suara makian dari atas dan dengan mata terbelalak ia melihat bahwa di bawah layang-layang itu tampak seorang kakek berdiri di tali-temali layang-layang, seorang kakek yang bertubuh pendek, berjenggot panjang dengan rambut terurai lepas, melambai tertiup angin. Yang membuat ia terkejut adalah wajahnya berwarna kekuningan mendekati putih, hanya karena jenggot dan rambutnya sudah berwarna putih perak maka wajahnya tampak menguning! Seorang tokoh Pulau Neraka! Tidak salah lagi. Orang dari mana lagi kalau bukan dari Pulau Neraka yang memiliki kulit kuning seperti dicat itu?

Timbul harapannya di hati Bun Beng. Kalau kakek itu dapat hidup di tali layang-layang, tentu ia pun dapat. Harapan untuk hidup membuat Bun Beng sadar dan cepat-cepat ia menggunakan kedua tangannya memegang tali layang-layang dengan erat, kemudian melepaskan kakinya dari belitan dan membalikkan tubuh sehingga kini dia bergantung pada tali layang-layang itu, kedua tangannya memegang erat dan kedua kakinya ia libatkan. Gerakan-gerakannya ini membuat layang-layang itu makin kacau gerakannya, bergoyang ke kanan kiri, kadang-kadang menukik turun dengan kecepatan mengerikan dan mengeluarkan bunyi angin bercuitan.

"Setan! Bodoh! Kiranya engkau hanya seorang pemuda tolol. Dari mana kau datang mengacau layang-layangku, heh? Lekas... wah celaka, pindahkan berat tubuhmu ke kanan, injakkan kakimu pada tali dan enjot tubuhmu ke atas. Wah-wah... celaka, bisa turun terus layang-layang ini. Sialan, kau merampas kegembiraanku!"

Tidak usah dimaki dan diperingatkan pun, Bun Beng sudah maklum betapa bahayanya ‘menunggang’ layang-layang dengan bergantungan pada talinya. Ketika layang-layang itu menukik turun, dia menjadi ngeri sekali. Mengertilah dia bahwa kakek Pulau Neraka yang aneh itu tadi ‘mengemudikan’ layang-layang secara aneh dan biar pun di dalam hatinya dia tidak suka kepada tokoh Pulau Neraka yang dianggapnya jahat, namun mendengar perintah itu, otomatis dia mentaatinya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada kawan atau lawan, yang ada hanyalah orang senasib sependeritaan, kalau gagal sama-sama mati kalau berhasil sama-sama selamat.

Dia mengerahkan tenaganya ke kanan, menginjak tali layang-layang dan mengenjot tubuh ke atas. Benar saja, layang-layang yang kehilangan gandulan dan bobot di bawah itu segera menghentikan gerakan menukik ke bawah, kepalanya kembali ke atas dan kini layang-layang itu menjadi ‘odek’ (bergoyang-goyang ke kanan kiri cepat sekali) membuat tubuh Bun Beng terbawa goyang-goyang membuat kepalanya pening karena tubuhnya seperti dikocok ke kanan kiri.

"Setan udara! Apakah engkau sudah bosan hidup? Jangan pegang erat-erat, layang-layang menjadi odek tidak karuan, sialan!"

Biar pun dimaki-maki, Bun Beng yang maklum bahwa keselamatan mereka berdua tergantung dengan keahlian kakek itu, tidak menjadi marah dan bertanya.

"Habis bagaimana, Kakek yang baik?"

"Wah-wah, kau mulai menjilat-jilat, ya? Heiii, bukankah tampangmu pernah kulihat?"

Bun Beng menjadi bengong. Setelah kini layang-layang itu tidak menukik ke bawah, dia mendapat kesempatan untuk memandang wajah kakek itu penuh perhatian dan... teringatlah ia bersama Milana ditolong oleh kakek muka kuning yang aneh. Kiranya inilah orangnya! Tak salah lagi. Biar pun kini kelihatan lebih tua dan memakai sepatu pula, tidak bertelanjang kaki macam dulu, akan tetapi sikap aneh kakek itu malah bertambah dan sikap inilah yang mengingatkan dia. Akan tetapi dia pun teringat betapa dalam pertemuan-pertemuan pertama itu dia telah mengakali kakek ini untuk dapat melarikan diri bersama Milana, maka ia menganggap bahwa tidaklah cerdik untuk mengakuinya.

"Aku tidak pernah berjumpa dengan Locianpwe."

"Ahhh, bohong! Aku pernah melihat mukamu, hemm... kalau saja engkau sudah tua dan kepalamu botak... heiii, kau mau ke mana?"

Bun Beng tidak mau melayani kakek gila itu lebih lama lagi. Dia melihat ke bawah dan maklum bahwa kalau dia merosot turun melalui tali layang-layang itu, dia akan dapat sampai ke bumi dan dapat membebaskan diri. Maka kini dia mulai melorot turun sambil berkata, "Locianpwe, aku mau turun, tidak kerasan di sini!"

"Eh, eh, enak saja! Mana bisa?" Kakek itu tertawa bergelak dan tiba-tiba layang-layang itu menukik ke kiri, kemudian membuat gerakan melingkar sehingga tali itu pun menggantung dan ikut pula berputar.

"Wuuuttt!"

"Aihhhh...!" Bun Beng cepat mengelak dengan memindahkan tangan, bergantung pada tali agar jangan sampai terkena patukan layang-layang yang menyambar ke arah tubuhnya! Serangan aneh layang-layang itu luput, akan tetapi Bun Beng maklum bahwa dengan kepandaiannya yang dahsyat, tentu kakek itu akhirnya akan dapat memaksa ia meloncat turun dan akan hancurlah tubuhnya. Ia lalu menggerak-gerakkan tubuhnya, menarik-narik tali layang-layang itu sehingga kembali layang-layang itu menjadi kacau balau gerakannya.

"Ehhh... Ohhh... setan cilik! Jangan kacau layanganku!" Kakek itu terkejut dan memaki-maki.

Bun Beng tersenyum. "Kalau Locianpwe tetap menyerangku, aku pun akan tetap menarik-narik tali layangan sampai putus, biar kita berdua mampus!"

"Eh, jangan, eh... nanti dulu. Kalau talinya putus, aku bagaimana?"

"Masa bodoh. Aku akan jatuh dan mati seketika, tidak menderita. Tetapi Locianpwe akan terbawa terbang layang-layang putus, mungkin dibawa ke neraka!"

"Hahh-hoh kalau neraka memang tempatku. Akan tetapi jangan... biarlah kita berjanji, aku tidak akan menyerangmu akan tetapi kau jangan menarik-narik talinya."

"Aku berjanji takkan menarik-narik talinya, akan tetapi Locianpwe jangan menghalangi aku turun."

"Wah, perjanjian kentut! Mana bisa begitu? Aku tidak menyerangmu dan kau tidak menarik-narik tali, itu sudah satu lawan satu. Kalau ditambah lagi kau kubiarkan turun berarti kau minta dua memberi satu. Mana adil?"

"Kalau aku tidak boleh turun, apa artinya perjanjian ini? Locianpwe mau menang sendiri saja. Aku hendak turun, Locianpwe menghalang, maka aku menarik tali. Kalau Locianpwe tidak menghalangi aku turun, aku tidak akan menarik talinya, itu baru adil namanya."

"Wah, monyet cilik. Engkau benar pokrol bambu kering busuk! Ha-ha-ha, nah, kau turunlah, hendak kulihat bagaimana!" Tiba-tiba angin bertiup keras sekali membuat layang-layang itu terbang miring ke kiri.

"Wuuuutttt...!"

"Aihhh, celaka. Engkau jangan erat-erat memegang talinya, longgar-longgar saja, kau mengganggu kendaliku!" Kakek itu memindahkan berat tubuhnya dan meloncat ke pinggir kanan layang-layang itu.

"Siuuuttt...!" Kini layang-layang miring ke kanan dengan cepatnya sehingga tubuh Bun Beng terbawa melayang ke kiri kemudian ke kanan, membuat kepalanya pening dan jantungnya berdebar penuh kengerian.

"Aku mau turun, Locianpwe. Akan tetapi Locianpwe harus bersumpah tidak akan menyerangku!" Di dalam hatinya, pemuda ini masih curiga kepada kakek yang ia tahu amat cerdik dan curang itu.

"Apa? Bersumpah?" Kakek itu tertawa-tawa dan kini layang-layang kembali telah lurus dan tenang. "Boleh saja. Sudah sepuluh kali aku bersumpah dan lima puluh kali melanggarnya, sekarang ditambah lagi satu kali sumpah untuk dilanggar lima kali, tidak mengapalah!"

"Wah, sumpah seperti itu apa harganya?" Bun Beng mendongkol sekali dan maklum bahwa sumpah kakek ini tidak boleh dipercaya. Diam-diam ia merasa geli juga. Kakek ini curang ataukah jujur? Mengapa kebiasaan melanggar sumpah dia katakan secara terus terang macam itu? Tidak curang tidak jujur, melainkan gila agaknya!

"Kalau begitu, biar kutarik putus tali ini!" katanya dan mulai menarik-narik lagi.

"Eit-eit-eit-eiitt...! Jangan...! Biarlah, tanpa sumpah-sumpahan. Kau boleh turun tanpa kuhalangi, akan tetapi kau harus memberi-tahukan namamu."

Bun Beng berpikir. Kabarnya ayahnya seorang datuk kaum sesat. Orang-orang Pulau Neraka tentulah bukan dari golongan bersih, maka apa salahnya kalau dia mengaku? Sesama kaum tentulah tidak ada pertentangan.

"Baiklah, Locianpwe. Aku bernama Gak Bun Beng..."

"Astaga! Engkau bocah yang dulu kucari-cari? Bocah yang ditinggalkan Ibumu di kuil tua di lembah Sungai Fen-ho? Ha-ha-ha, engkau putera Gak Liat Si Botak! Pantas saja aku seperti pernah melihat macammu, kiranya anak Si Gak Liat, Si Setan Botak. Ha-ha-ha-heh-heh-heh!" Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal, tangan kanan memegangi tali layang-layang, tangan kiri menekan-nekan perutnya.

Mengkal sekali rasa hati Bun Beng menyaksikan lagak kakek itu. "Kakek gila, engkau terlalu menghina orang! Siapa sih engkau yang begini sombong? Dan apa hubunganmu dengan Ayah Bundaku?"

"Ha-ha-heh-heh-heh!" Kakek itu masih terpingkal-pingkal, bahkan saking geli hatinya, air matanya bercucuran di atas pipinya yang kuning. "Namaku Ngo Bouw Ek, di dunia kang-ouw aku dijuluki Kwi-bun Lo-mo akan tetapi aku baru beberapa tahun merantau. Dalam perantauanku yang pertama, kebetulan sekali aku bertemu dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat Ayahmu. Kami bertanding dan aku membuat dia payah sampai terkencing-kencing! Ha-ha, dia datuk kaum sesat, mengaku kalah dan dia mengangkat aku sebagai kakak angkat! Lalu dia menceritakan bahwa yang membuat dia sering kali tak dapat tidur adalah perbuatannya atas diri Bhok Kim murid Siauw-lim-pai. Dia mendengar kabar bahwa wanita itu melahirkan seorang putera sebagai akibat perbuatannya yang memperkosa wanita itu. Dia berpesan agar aku kelak mengambil anaknya itu sebagai anak angkat. Ha-ha-ha, biar pun hasil perkosaan, namun Gak Liat amat sayang kepada anaknya karena memang dia tidak pernah punya keturunan. Demikianlah, ketika mendengar berita dia tewas bersama Ibumu, aku lalu menyuruh anak buahku untuk merampasmu, akan tetapi."


BERSAMBUNG KE JILID 09