Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU
KISAH SEPASANG RAJAWALI BAGIAN 25
Bagaimana Gak Bun Beng, Milana, dan Suma Kian Bu dapat berkumpul dan sekarang dikatakan oleh Hek-tiauw Lo-mo bahwa mereka sedang memimpin pasukan pengawal menyerbu dusun itu? Untuk mengetahui hal ini, baiknya kita membiarkan dulu Topeng Setan yang sedang kebingungan itu dan mari kita mengikuti pengalaman Gak Bun Beng dan Milana.

********************

Seperti telah dituturkan di bagian depan, dengan hati seperti disayat-sayat Gak Bun Beng terpaksa meninggalkan istana Milana, bekas kekasihnya dan yang masih merupakan satu-satunya wanita yang dicintanya di dunia ini. Perih sekali hatinya ketika dia melihat kenyataan bahwa Milana juga masih mencinta dia! Bahwa wanita yang dicintanya itu ternyata hidup merana, hidup sengsara di samping suaminya itu, karena Milana tidak pernah dapat melupakan dia.

Betapa akan mudahnya untuk membiarkan diri terbenam dalam kebahagiaan bersama Milana, menuruti suara hati dan dorongan keinginan yang ditekan-tekannya selama belasan tahun ini. Namun kalau dia menuruti hati dan menerima uluran kasih sayang Milana, akan menjadi orang macam apakah dia? Tidak! Ayahnya dulu terkenal sebagai seorang datuk sesat, berjuluk Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kelahiran dirinya pun adalah akibat perbuatan terkutuk ayahnya itu atas pemerkosaannya terhadap ibunya.

Biar pun ayahnya seorang manusia iblis, dia harus menebus semua penyelewengan ayahnya itu dengan perbuatan yang benar! Dan kalau dia kini menuruti nafsu hatinya, merebut seorang wanita seperti Milana yang masih bersuami, berarti dia adalah sama tersesatnya dengan ayahnya. Tidak, biar hancur hatinya, biar remuk hidupnya, dia tidak sudi melakukan hal ini dan dia telah melarikan diri dari Milana!

Namun, cintanya terhadap Milana demikian besarnya, mengalahkan segala-galanya. Dahulu, selama belasan tahun dia telah mampu menekan perasaannya ini, menekan hasrat hatinya untuk bersanding dengan wanita kekasihnya. Akan tetapi, setelah kini bertemu dengan Milana, duduk berdekatan, mendengar suaranya, bahkan mendengar pernyataan cinta kasih wanita itu yang masih sebesar dahulu terhadap dirinya, mana dia mampu berjauhan? Dia tidak kuat untuk berjauhan lagi.

Maka seperti seorang yang sinting Gak Bun Beng tak pernah jauh meninggalkan kota raja, bahkan kadang-kadang dia mencuri masuk, menggunakan kepandaiannya hanya untuk menjenguk dan melihat wajah kekasihnya. Dia cukup puas hanya dengan melihat sepintas wajah yang tak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu, lalu pergi lagi, akan tetapi tidak jauh, hanya dekat di luar kota raja, bersembunyi.

Gak Bun Beng adalah seorang laki-laki yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, hampir empat puluh tahun dan selama hidup baru dengan Milana saja dia berdekatan dengan wanita. Dia adalah seorang perjaka, bahkan setelah berpisah dengan Milana belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah mau memandang wanita lainnya dan seolah-olah sudah menutupkan pintu hatinya terhadap cinta asmara antara pria dan wanita.

Segala macam bentuk nafsu keinginan lahir dari pikiran. Daya tarik yang terkandung, dalam keindahan bentuk tubuh dan kecantikan serta kelembutan seorang wanita terhadap pandang mata seorang pria memang sudah sewajarnya, akan tetapi dalam daya tarik itu tidak terkandung nafsu birahi.

Kalau kita kaum pria melihat seorang wanita dan kita lalu kagum akan kecantikannya, kelembutan dan keluwesannya, maka hal itu hanya habis pada tingkat kekaguman saja. Akan tetapi begitu sang pikiran masuk mencampuri, pikiran membayangkan hal yang bukan-bukan, kenangan-kenangan yang pernah dirasakannya atau pernah didengar, pernah dilihatnya, maka sang pikiran ini lalu membayangkan betapa akan senang dan nikmatnya kalau kita dapat memiliki wanita itu menjadi kawan bermain cinta dan sebagainya, maka lahirlah nafsu birahi yang pada dasarnya hanyalah keinginan untuk menyenangkan diri pribadi. Pikiran adalah diri pribadi, maka segala yang direncanakan dan diperbuat oleh pikiran selalu berpusat pada kesenangan untuk diri pribadi.

Dengan kekuatan batinnya yang memang amat kokoh kuat, Gak Bun Beng berhasil menjauhkan diri dari nafsu birahi dan tidak merasa terganggu. Akan tetapi tiba-tiba muncul Syanti Dewi dalam kehidupannya, dan sifat-sifat dara yang amat baik ini dengan kekuatan mukjijat membuka lagi pintu hatinya. Jika saja dia tidak mempunyai kesetiaan sampai mati kepada Milana, agaknya dengan amat mudahnya dia menerima uluran tangan Syanti Dewi yang jatuh cinta kepadanya karena terdorong oleh hutang budi dan kekaguman yang berlebihan.

Dia sudah menolak Syanti Dewi dengan bijaksana, mengingat usia mereka, mengingat hubungan hatinya dengan Milana. Akan tetapi penolakan ini membuka lebar-lebar kembali luka di dalam hatinya. Semua ini ditambah lagi dengan perjumpaannya dengan Milana, lalu lebih-lebih lagi dengan pernyataan Milana betapa wanita itu masih selalu mencintanya, betapa wanita itu merana hidupnya karena dia!

Kini Gak Bun Beng tersiksa hebat, jauh lebih hebat dari pada dahulu kerena kini setiap detik dia digerogoti perasaan dendam rindu kepada Milana! Inilah yang membuat dia tidak mampu lagi terpisah jauh-jauh dari wanita yang dicintanya itu, dan penderitaan ini hendak diperingan dengan setiap kali menjenguk wajah orang yang dicintanya. Dia tidak tahu bahwa perbuatan itu sebenarnya bahkan memperhebat penderitaannya, seperti seorang yang kehausan diperlihatkan air yang tidak boleh diminumnya!

Betapa terkejutnya ketika dia mendengar akan geger yang terjadi di kota raja, yaitu tentang tewasnya Pangeran Liong Bin Ong yang kabarnya dibunuh oleh perwira Han Wi Kong dan tentang tewasnya perwira itu pula, kemudian tentang mengamuknya Puteri Milana dan lenyapnya Puteri Syanti Dewi dari istana Kaisar!

Tentu saja dia cepat memasuki kota raja dan melakukan penyelidikan. Dengan muka pucat dia menghadap Perdana Menteri Su dan mendengar semua penuturan perdana menteri itu bahwa suami Milana tewas, kemudian betapa Milana menculik Puteri Syanti Dewi dan melarikan diri dari kota raja setelah membunuh para pengawal Liong Bin Ong yang menewaskan suaminya!

Gak Bun Beng terkejut dan juga berduka sekali. Kekasihnya tertimpa mala petaka yang demikian hebat tanpa dia mampu menolongnya! Dia merasa menyesal sekali. Andai kata dia tidak meninggalkan istana puteri itu, kiranya belum tentu suami puteri ini akan tewas dan membawa akibat sedemikian hebatnya sehingga kini Puteri Milana menjadi seorang pelarian dari istana! Setelah menghaturkan terima kasih kepada Perdana Menteri Su, dia lalu berpamit dan cepat mencari Milana yang dia duga tentu hendak mengantarkan Syanti Dewi kembali ke Bhutan.

Sementara itu, seperti telah diceritakan di bagian depan, Milana yang membawa lari Syanti Dewi bertemu dengan Ang Siok Bi, kemudian bertemu dengan Jenderal Kao Liang dan menyerahkan Syanti Dewi kepada dua losin pengawal jenderal itu yang dipimpin oleh kepala pengawal Can Siok untuk dikawal sampai ke Bhutan. Puteri Milana sendiri lalu berpisah dari Jenderal Kao Liang untuk kembali ke utara karena dia ingin pergi ke orang tuanya, yaitu di Pulau Es.

Lemas rasa seluruh sendi tulangnya ketika Puteri Milana berjalan perlahan memasuki hutan itu. Berkali-kali dia menghela napas panjang, menyesali dirinya sendiri karena dia merasa telah melakukan dosa yang amat besar. Dia merasa seolah-olah dialah yang telah membunuh Han Wi Kong. Dia tahu bahwa suaminya itu seperti membunuh diri, sungguh pun pembunuhan diri yang amat terhormat dan berjasa besar bagi negara. Dan yang menjadi sebab adalah dia.

Suaminya menderita hebat sejak menikah dengan dia karena suaminya itu benar-benar mencintanya dan dapat dibayangkan betapa perih hatinya dan sengsara hidupnya karena semenjak menikah, sampai belasan tahun lamanya, dia hanya menjadi isteri dalam nama saja, tidak pernah menjadi isteri dalam arti yang sesungguhnya.

“Salahkah aku? Berdosakah aku?” Berkali-kali dia bertanya kepada diri sendiri.

Dia dahulu diharuskan menikah oleh Kaisar dan terpaksa dia harus memilih seorang di antara mereka. Pilihannya jatuh kepada Han Wi Kong, akan tetapi bagaimana dia bisa mencinta orang lain kalau hatinya sudah diserahkan sebulatnya kepada Gak Bun Beng? Han Wi Kong ‘membunuh diri’ sebab ingin membahagiakannya, ingin membebaskannya agar dia dapat berkumpul dengan Gak Bun Beng. Jika sampai tujuan terakhir suaminya itu tidak terpenuhi, sama artinya dengan membiarkan suaminya itu mati konyol, mati dengan sia-sia.

Akan tetapi Gak Bun Beng... Milana menarik napas panjang ketika teringat pria yang dicintanya itu, teringat akan pendiriannya, akan keangkuhannya. Teringat betapa Gak Bun Beng berkeras meninggalkannya, kembali dia menarik napas panjang dan bibirnya terdengar mengeluh lirih seperti rintihan, “Gak-suheng...”

“Sumoi...!”

Suara ini memasuki telinganya seperti halilintar dan membuat seluruh tubuhnya tergetar. Wajah Milana menjadi pucat sekali dan cepat dia membalikkan tubuhnya. Ketika melihat orang yang sedang dikenangnya itu kini berdiri di depannya, Gak Bun Beng yang berwajah pucat dan bermata sayu, Milana menggosok kedua matanya.

“Sumoi... Milana, aku di sini...” Gak Bun Beng berkata dengan suara terharu ketika melihat wanita itu seperti tak percaya akan kehadirannya, wanita yang dicintanya, yang berpakaian kusut dan berambut awut-awutan, berwajah pucat sekali akan tetapi yang kecantikannya baginya tak pernah berkurang semenjak mereka masih remaja dahulu.

“Suheng... Gak-suheng...” Milana tak dapat lagi menahan hatinya.

Wanita yang terkenal sebagai seorang pendekar besar, seorang pahlawan dan seorang panglima yang amat gagah perkasa, yang mampu menghadapi segala macam bahaya dengan mata tidak berkedip, yang tidak pernah meruntuhkan air mata dan yang terkenal sebagai seorang wanita gagah berhati baja, kini tidak lebih hanya seorang wanita yang lembut dan tangisnya mengguguk, air matanya jatuh berderai-derai. Seperti seorang anak kecil dia berdiri sambil menangis, tubuhnya berguncang dan kedua punggung tangannya menggosok-gosok matanya.

“Sumoi... tenangkan hatimu, Sumoi...” Dengan suara gemetar Gak Bun Beng mencoba menghibur, melangkah maju dan dengan hati-hati menyentuh kedua pundak wanita itu dengan ujung-ujung jari tangannya. Sedikit sentuhan ini sudah cukup untuk membuka bendungan itu.

“Gak-suheng... aihhh, Gak-suheng...!” Milana lalu memeluk dan mendekap dada pria itu dengan mukanya, menangis sejadi-jadinya.

“Sumoi...” Suara Bun Beng juga mengandung isak dan dia menengadah, memejamkan kedua matanya mencegah keluarnya air mata, dan tangan kanannya mengusap-usap rambut yang awut-awutan dan halus lemas itu.

Sampai lama sekali mereka hanya berdiri saling peluk. Milana menangis terisak-isak, makin lama makin mereda dan Gak Bun Beng memeluk pundaknya serta membelai rambutnya. Setelah tangis wanita itu agak mereda, tinggal terisak-isak saja, Bun Beng lalu dengan halus melepaskan pelukannya, menjauhkan dirinya sambil berkata lembut, “Sumoi, aku telah mendengar semua apa yang terjadi di kota raja. Aku menyesal sekali... tidak dapat membantumu sama sekali...”

Milana masih belum mampu menjawab hanya terisak-isak dan menghapus sisa air mata dengan sehelai sapu tangan sutera.

“Mari kita duduk di bawah pohon itu dan bicara, Sumoi.” Bun Beng mengajaknya dan dia mengangguk, keduanya lalu duduk di atas akar-akar pohon yang menonjol di atas tanah.

Milana menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan, mungkin dikarenakan tangisnya. Isaknya masih ada akan tetapi hanya kadang-kadang dan air matanya sudah berhenti mengucur. Wanita perkasa ini sudah dapat menguasai dirinya lagi.

“Sumoi, aku sudah bertemu dengan Perdana Menteri Su dan mendengar dari beliau akan semua peristiwa. Suamimu telah membunuh Pangeran Liong Bin Ong dan dalam usaha itu dia berhasil akan tetapi dia juga terbunuh oleh para pengawal tokoh pemberontak itu. Dan kau telah melarikan Syanti Dewi... ehh, di mana sekarang?”

“Dia telah dikawal oleh para pengawal Jenderal Kao, kembali ke Bhutan.” Milana lalu menceritakan dengan singkat pertemuannya dengan Jenderal Kao. Kemudian dia juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Ang Siok Bi dan kemudian menambahkan, “Ternyata benar bahwa Ang Tek Hoat itu adalah puteranya, dan dia... dia mencari-carimu sebagai seorang musuh besar, Suheng.”

“Biarlah...” Gak Bun Beng menarik napas panjang, sikapnya tidak peduli. “Sekarang engkau hendak... ke manakah, Sumoi?” Suaranya itu penuh perasaan iba dan hal ini terasa sekali oleh Milana sehingga kembali wanita perkasa ini menggigit bibir menahan tangisnya.

“Tadinya aku hendak mencarimu, Suheng, akan tetapi karena tidak tahu engkau berada di mana, setelah Syanti Dewi diantar para pengawal, aku lalu hendak pergi ke Pulau Es saja. Syukur bahwa kita dapat bertemu di sini, Suheng.”

“Kau... kau mencariku, Sumoi?” Gak Bun Beng memandang dengan jantung berdebar tegang. “Mengapa... engkau mencariku?”

Wajah yang masih agak pucat itu menjadi merah dan jari-jari tangannya gemetar ketika Milana mencari-cari ke balik bajunya, kemudian mengeluarkan sebuah sampul surat. “Aku mencarimu untuk menyampaikan ini, Suheng. Aku menemukan surat peninggalan suamiku ini di dalam kamarnya dan surat ini untukmu.”

Gak Bun Beng menerima surat itu dan membaca tulisan pada sampulnya. Memang ditujukan kepadanya, ditulis oleh tangan Han Wi Kong dengan gaya tulisan yang kuat dan indah. Jantungnya berdebar tegang penuh kekhawatiran dan penyesalan. Apakah yang akan dia baca dan temukan di dalam surat ini? Apakah kata-kata kutukan dan penyesalan dari perwira gagah itu?

Karena dirinya dan isterinya mempunyai hubungan cinta kasih? Apakah perwira itu menderita kesengsaraan batin karena dia? Karena isterinya mencinta dia? Hampir dia tidak berani membuka surat itu dan dia memandang kepada Milana. Akan tetapi wanita itu pun merunduk saja, agaknya menanti dengan penuh ketegangan.

“Sumoi, katakanlah, mengapa suamimu melakukan perbuatan nekat itu? Seorang diri menyerbu istana dan membunuh Pangeran Liong Bin Ong, bukankah hal itu sama saja artinya dengan membunuh diri?”

Ucapan itu terasa oleh Milana seperti tusukan pada jantungnya dan tanpa dapat dicegahnya lagi beberapa butir air mata mengalir turun dan karena dia menunduk, air mata itu berkumpul di ujung hidungnya seperti sebutir mutiara besar. Ketika Milana menggeleng kepala, mutiara itu jatuh dari ujung hidungnya. “Aku... aku tidak tahu...”

Dia merasa lehernya seperti dicekik, tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Gak Bun Beng menarik napas, memandang sampul surat itu lalu memberanikan hatinya, membuka sampul itu dengan jari-jari tangan gemetar dan mengeluarkan suratnya. Dia sudah siap untuk menerima berita yang paling buruk, siap untuk menerima celaan dan kutuk orang yang sudah mati itu. Lalu dibacanya surat itu.

Gak Bun Beng Taihiap, Kalau taihiap membaca surat ini, saya tentu sudah mati. Kematian yang tidak sia-sia karena saya tentu telah berhasil membunuh dalang pemberontak Liong Bin Ong. Terutama sekali, dengan kematian saya, Puteri Milana menjadi bebas untuk hidup bersama satu-satunya pria yang dicintanya, yaitu Taihiap sendiri. Percayalah, sejak dahulu sampai saat ini Puteri Milana hanya mencinta Taihiap seorang, dan dia menjadi isteri saya hanya namanya saja, bukan isteri dalam arti sesungguhnya. Sampai saat ini Puteri Milana masih seorang gadis yang selalu menanti pinangan Taihiap!

Semoga bahagia,
Han Wi Kong
.

Surat itu terlepas dari jari-jari tangan Gak Bun Beng yang gemetar karena jantungnya berdebar dengan keras. “Ohhh...,” demikian keluhnya.

Mendengar keluhan ini, Milana mengangkat mukanya memandang. Gak Bun Beng lalu menyambar kertas itu dan menyerahkannya kepada Milana sambil berkata, suaranya gemetar, “Benarkah ini...? Benarkah ini...?”

Milana menerima surat itu dan membacanya, dipandang dengan tajam oleh Gak Bun Beng. Perlahan-lahan kedua pipi wanita itu berubah menjadi merah sekali dan surat itu pun terlepas dari tangannya yang menggigil.

“Benarkah, Milana...?” tanya Bun Beng, suaranya lirih seperti berbisik.

Milana mengangkat muka memandang. Dua pasang mata saling bertemu dan akhirnya Milana hanya mengangguk penuh kepastian. Bun Beng meloncat berdiri. “Akan tetapi mengapa?” teriaknya. “Milana? Engkau adalah isterinya! Mengapa engkau menyiksanya sedemikian rupa? Belasan tahun menjadi isterinya... hanya dalam nama saja...? Betapa kejamnya engkau...”

Mendengar ucapan ini, Milana juga meloncat berdiri dan memandang Bun Beng dengan mata bersinar-sinar. “Mangapa? Tentu saja aku tidak bisa menyerahkan diri kepada lain pria! Setelah aku menyerahkan cinta kasih dan hatiku kepadamu, suheng, bagaimana mungkin aku dapat menyerahkan tubuhku kepada pria lain?”

“Ahh... tapi... kalau begitu, mengapa engkau menikah dengan dia?”

“Karena Kaisar memaksaku.”

“Kau bisa saja pergi dari istana dan mencari aku, Milana...”

“Suheng, bukankah engkau yang telah meninggalkan aku dan pergi dariku? Aku sudah merasa berdosa kepadamu dahulu, telah tidak mempercayaimu..., akan tetapi aku tidak mungkin bisa menyerahkan diri kepada pria lain...”

“Milana... sumoi, begitu besar cintamu kepadaku...”

“Dan kau tadinya kuanggap telah melupakan aku, Suheng. Kiranya engkau pun rela hidup merana, tak pernah menikah, karena cintamu kepadaku...”

“Milana... aku cinta padamu, sejak dahulu sampai detik ini... aku hanya merasa diriku tidak berharga untukmu. Dan ternyata engkau... engkau begitu setia kepadaku... ternyata aku yang telah menyiksa hidupmu, Milana...”

“Suheng...!” Milana mengeluh dan mereka saling tubruk, saling rangkul karena sekarang keduanya yakin akan cinta kasih mereka masing-masing.

“Sumoi... Milana... ah, Milana... betapa aku rindu padamu.”

“Aku pun rindu padamu, Suheng...”

Sejenak kedua orang itu lupa diri. Milana terlena dalam pelukan Bun Beng, air matanya mengalir turun dari kedua mata yang dipejamkan. Bun Beng kemudian mendekapnya, menciumnya, mencium lehernya, dagunya, bibirnya, hidung dan matanya, menghisap air mata itu, air mata yang seolah-olah menjadi air embun yang menyiram kembang di dalam hatinya yang kehausan dan yang hampir melayu, sehingga kembang itu menjadi segar kembali.

Pada saat itu dicurahkanlah segala kerinduannya, segala cinta kasihnya hingga setiap bulu di tubuhnya seolah-olah bangkit dan membelai wanita itu. Milana memejamkan matanya, merasa terayun di angkasa dengan nikmatnya. Wanita manakah yang tidak akan merasa berbahagia bahwa dia telah menundukkan hati pria yang dicintanya, merasa dibutuhkan, dicinta dan dipuja? Bisikan halus yang keluar dari bibir Bun Beng di dekat telinga, bisikan yang berkali-kali menyatakan cinta kasih yang mendalam, membuat hati Milana bangga dan bisikan itu lebih merdu dari pada nyanyian surga!

Akan tetapi tiba-tiba Milana melepaskan dirinya dengan halus. Kini dia memandang kekasihnya dengan bibir tersenyum dan mata yang masih basah, dengan kedua pipi kemerahan seperti wajah seorang dara remaja yang baru pertama kali menerima ciuman seorang pria. Bun Beng memandang dengan terpesona.

“Jangan... Suheng, jangan dulu..., kita harus menghormati Han Wi Kong... dialah yang sesungguhnya mempertemukan kita kembali. Kita... kita harus sabar menanti... biarkan aku berkabung selama setahun untuknya, Suheng.”

Gak Bun Beng tersenyum, senyum penuh kecerahan yang baru pertama kali ini nampak di wajahnya, seolah-olah wajahnya bersinar kembali dengan cahaya kehidupan. Dia mengangguk dan matanya memandang penuh kelembutan, penuh kemesraan dan penuh pengertian. “Memang sebaiknya begitu, Sumoi. Sebaiknya begitu..., betapa pun juga, secara lahiriah dia adalah suamimu dan sahabat kita yang amat baik. Setelah menanti belasan tahun lamanya, apa artinya setahun bagi kita?”

Milana melangkah maju lagi dan memegang kedua tangan kekasihnya. “Aku tahu bahwa engkaulah satu-satunya manusia yang bijaksana dan mulia di dunia ini. Mulai saat ini aku merasa seolah-olah baru hidup, suheng...”

Gak Bun Beng balas menggenggam jari-jari tangan yang halus itu. “Bukan baru hidup melainkan hidup baru, Sumoi. Sekarang, apakah engkau tetap hendak melanjutkan perjalananmu ke Pulau Es?”

“Aku... aku... terserah kepadamu, Suheng. Sejak saat ini, aku hanya menurut pada apa yang kau katakan dan kau tentukan. Aku takut kalau-kalau keputusanku sendiri akan mengakibatkan kesalahan hebat seperti yang telah kita alami bersama dahulu. Aku menyerahkan segalanya kepadamu, Suheng.”

Bukan main girangnya hati Gak Bun Beng. “Kiranya lebih baik kalau kelak setahun kemudian kita bersama pergi menghadap ke Pulau Es untuk minta doa restu dari orang-orang tua. Sekarang, lebih baik kita mengejar perjalanan Syanti Dewi. Hatiku merasa tidak tenang kalau sampai anak itu hanya dikawal oleh pasukan biasa. Sebaiknya waktu yang satu tahun itu kita pergunakan untuk mengawalnya ke Bhutan.”

Milana mengangguk, lalu berkata, “Dia... Syanti Dewi amat mencintamu, Gak-suheng...”

“Eh, bagaimana kau tahu?”

“Anak yang baik itu menceritakan segalanya kepadaku. Dan tahukah engkau betapa dia marah-marah kepadaku dan menuntut agar aku membahagiakan engkau. Tidakkah aneh sekali itu? Seorang anak belasan tahun mengajarkan aku tentang cinta kasih! Dia benar-benar cinta kepadamu sehingga aku merasa amat heran mengapa engkau tidak menyambut uluran hati seorang dara secantik dia?”

“Sumoi, perlukah kau tanyakan lagi hal itu? Dengan adanya engkau, betapa mungkin aku mencinta wanita lain? Aku tahu akan kebaikan hatinya, karena itu dia kuanggap sebagai keponakan atau anak sendiri, dan karena itu pula kita sudah sepatutnya mengantarkan dia kembali kepada orang tuanya di Bhutan.”

Milana tersenyum manja. “Terima kasih, Suheng. Pernyataanmu itu makin meyakinkan hatiku betapa besar cintamu kepadaku, dan amat membahagiakan hatiku.”

“Hemm, tidak kalah besarnya dengan kebahagiaanku memperoleh kenyataan bahwa selama ini engkau tetap mencintaku, Sumoi. Mari kita berangkat, aku khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik terhadap diri Syanti Dewi.”

Maka berangkatlah kedua orang kekasih yang baru saling menemukan kembali setelah cinta kasih mereka terpisah selama belasan tahun itu. Patut dikagumi Gak Bun Beng dan Milana. Keduanya masih perawan dan perjaka, biar pun usia mereka telah mendekati empat puluh tahun, dan mereka selama belasan tahun menekan kerinduan hati masing-masing.

Sekarang, setelah mereka berdua memperoleh kebebasan dan tidak ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk saling memiliki, seolah-olah kenikmatan itu merupakan setangkai bunga di depan mata, tinggal mengulur tangan memetiknya saja, dan keduanya sudah saling mencinta dan sudah saling percaya, tidak ada halangannya untuk saling menyerahkan diri lahir batin, mereka masih mampu mengatasi dorongan nafsu mereka dan melihat kenyataan bahwa hal itu kurang baik dan bahwa sudah sepatutnya kalau mereka menanti saja sudah menjadi bukti betapa teguh dan kokoh kuat dasar batin kedua orang gagah ini, yang tidak mudah dimabok oleh nafsu birahi!

Sambil bergandeng tangan mereka pergi meninggalkan hutan itu dan dengan kecepatan luar biasa mereka menggunakan ilmu berlari cepat mereka menuju ke barat untuk menyusul rombongan Syanti Dewi yang dikawal oleh dua losin orang pasukan pengawal Jenderal Kao Liang.

Ketika mereka tiba di dekat dusun yang dijadikan markas sementara oleh Hek-tiauw Lo-mo, di tengah jalan mereka bertemu dengan Suma Kian Bu yang memimpin sepasukan yang terdiri dari belasan orang, yaitu pasukan yang didapatnya dari Perdana Menteri. Pemuda ini setelah behasil membantu Tek Hoat membakar ruangan dan membiarkan Tek Hoat menolong Ceng Ceng, lalu melarikan diri ke kota raja dan dia pun pergi menemui Perdana Menteri Su, menceritakan dan minta bantuan untuk menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan.

Perdana Menteri Su dengan singkat menceritakan bahwa Syanti Dewi telah ditolong Tek Hoat dan karena semua perbuatannya itu adalah di luar tahu istana, maka perdana menteri yang bijaksana ini hanya dapat menyuruh pengawal-pengawal pribadinya yang berjumlah lima belas orang untuk membantu Suma Kian Bu menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan. Demikianlah, di tengah jalan mereka saling bertemu.

“Enci Milana! Gak-suheng!” Suma Kian Bu berseru dengan girang bukan main dan dia memegangi kedua tangan suheng dan enci-nya itu.

“Hemmm, ke mana saja engkau selama ini, Kian Bu?” Milana bertanya.

Ditanya demikian, Kian Bu menundukkan muka menyembunyikan perasaan jengah dan malunya. Tentu saja tidak mungkin dia menceritakan pengalamannya dengan Hong Kui.

“Aku hanya merantau saja, Enci, akan tetapi ada hal yang lebih penting untuk kalian ketahui dan kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian. Marilah kita pergi menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan dan di perjalanan nanti kuceritakan semua kepada Ji-wi (Kalian Berdua).”

Tentu saja Gak Bun Beng dan Milana terkejut dan segera mengikuti adik itu melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang dijadikan tempat tinggal Tambolon. Kian Bu telah mendengar penuturan dari Perdana Menteri Su betapa Ceng Ceng masih ditawan oleh Tambolon menurut cerita Tek Hoat dan Syanti Dewi, dan bahwa Tek Hoat sedang pergi untuk menolongnya. Sedangkan Topeng Setan juga masih ditawan Hek-tiauw Lo-mo di dusun Nam-lim.

Dengan singkat namun jelas Kian Bu menceritakan betapa dia bertemu dengan Tek Hoat dan dia membantu Tek Hoat untuk membebaskan Ceng Ceng, kemudian dia pergi ke kota raja untuk minta bantuan.

“Hek-tiauw Lo-mo kuat sekali kedudukannya, apa lagi di dekat dusun Nam-lim itu terdapat pula rombongan Tambolon yang dibantu oleh banyak orang pandai, di antaranya seorang nenek yang amat lihai dan pandai ilmu sihir. Ternyata tadinya Puteri Syanti Dewi ditawan oleh Tambolon dan telah diselamatkan oleh Tek Hoat dengan jalan menukarnya dengan Ceng Ceng. Menurut Perdana Menteri Su, kini puteri itu telah dikawal oleh pasukan Bhutan sendiri, kembali ke Bhutan.” Kian Bu menghentikan ceritanya karena dia masih merasa terluka oleh penolakan cintanya terhadap puteri itu.

“Sungguh aneh sekali! Mengapa pula rombongan Hek-tiauw Lo-mo dan rombongan Tambolon masih saja berkeliaran di sini? Dan bagaimana pula Syanti Dewi yang dikawal oleh pasukan Jenderal Kao sampai dapat tertawan oleh rombongan Tambolon? Bagaimana pula cara Tek Hoat menukar tawanan itu? Ahhh, pemuda itu ternyata hebat! Kembali dia telah menyelamatkan Syanti Dewi dan kini dia seorang diri hendak menolong Ceng Ceng, sungguh berbahaya baginya. Mari kita mempercepat perjalanan dan mendahului pasukan ini,” Bun Beng berkata.

Setelah berpesan kepada pasukan itu, Kian Bu lalu bersama Milana dan Bun Beng menggunakan ilmu berlari cepat, meninggalkan pasukan dan mendahului pergi ke sarang Tambolon di mana kabarnya Ceng Ceng menjadi tawanan raja liar itu.

Akan tetapi ternyata rombongan itu tidak lagi berada di situ. Seperti kita ketahui, akibat khasiat darah anak ular naga yang diminumnya, Ceng Ceng dapat membebaskan diri sendiri dari tangan Tambolon dan kawan-kawannya, dan rombongan raja liar ini pun lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran.

Karena dusun itu kosong, maka Bun Beng lalu mengajak Milana dan Kian Bu untuk melanjutkan perjalanan ke Nam-lim. Kedatangan tiga orang ini dengan pasukan pengawal di belakang mereka, telah diketahui oleh anak buah Hek-tiauw Lo-mo yang cepat melapor kepada Ketua Pulau Neraka ini, tentu saja Hek-tiauw Lo-mo menjadi terkejut sekali dan pada saat itu dia melihat Topeng Setan sudah dapat membebaskan diri secara menggiriskan.

Maka timbullah akalnya untuk mengadu Topeng Setan dengan rombongan Puteri Milana. Biar pun Ceng Ceng sudah tidak berada lagi di tahanan, akan tetapi kebebasan dara ini belum diketahui oleh Topeng Setan dan karenanya dia masih dapat menipu Topeng Setan dan memaksanya untuk membantunya dengan mengancam Ceng Ceng yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di situ.

Demikianlah mengapa Gak Bun Beng, Milana dan Suma Kian Bu dapat muncul di tempat itu dan kini kita kembali kepada Topeng Setan yang dihadapkan pada dua pilihan yang amat berat baginya. Sungguh berat baginya untuk menghadapi rombongan Puteri Milana yang dihormati dan dipandang tinggi itu, akan tetapi apa pun akan dilakukannya demi untuk menolong keselamatan Ceng Ceng.

“Bagaimana, Topeng Setan? Apakah engkau lebih ingin melihat kami membunuh gadis itu kemudian engkau melawan kami mati-matian? Jangan mengira bahwa kami takut kepadamu. Kami hanya ingin menarikmu sebagai kawan untuk menghadapi musuh-musuh yang kuat itu, dan percayalah, aku pasti akan membebaskan engkau dan gadis itu kelak. Mereka telah tiba di luar dan pergilah kau mengundurkan mereka.”

“Baik, akan tetapi awaslah engkau kalau menipuku, Lo-mo!” teriak Topeng Setan yang kini juga sudah mendengar gerakan orang di depan rumah itu. Dia meloncat keluar dan terus ke ruangan depan dan tiba-tiba saja dia sudah berhadapan dengan Puteri Milana, Gak Bun Beng dan Suma Kian Bu!

“Pergilah kalian dari sini...! Ahhh, pergilah segera...!” Topeng Setan berkata sambil melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat agar supaya mereka itu pergi dari situ.

“Topeng Setan, kami datang justru untuk menolong... engkau dan Ceng Ceng...” Suma Kian Bu berkata.

“Tidak..., tidak...! Lekas kalian pergi dari sini, lekas...!” kembali Topeng Setan berseru dengan kacau karena memang hatinya kacau-balau tidak karuan menghadapi keadaan gawat yang mengancam keselamatan Ceng Ceng itu.

Milana dan Gak Bun Beng hanya pernah mendengar nama Topeng Setan, akan tetapi mereka baru sekarang melihat orangnya. Bagi kedua orang pendekar besar ini, orang yang menyembunyikan mukanya di balik topeng sudah menunjukkan ketidak jujuran orang itu, maka topeng itu saja sudah mendatangkan kesan yang kurang baik bagi mereka.

“Topeng Setan atau siapa pun adanya engkau. Mundurlah karena kami datang untuk membebaskan Ceng Ceng!”

“Tidak... tidak... Paduka saja mundurlah. Dan harap jangan mencampuri urusan kami berdua dengan Hek-tiauw Lo-mo!”

Milana menjadi marah. Biar pun satu kali dia pernah melihat Topeng Setan ini dan biar pun dia sudah mendengar bahwa orang ini adalah pembantunya Ceng Ceng, namun sikapnya sekarang amat mencurigakan karena agaknya membela Hek-tiauw Lo-mo.

“Manusia sombong, agaknya engkau telah berkhianat dan memihak Hek-tiauw Lo-mo. Minggir...!” Milana lalu maju dan mendorong Topeng Setan agar ke pinggir akan tetapi Topeng Setan menggerakkan tangan kanannya menangkis.

“Dessss...!”

Milana terlempar hampir jatuh oleh tangkisan itu, baiknya Bun Beng cepat menyambar lengannya. Milana dan Bun Beng terkejut bukan main. Apa lagi Milana. Wanita perkasa ini tadi sudah mengerahkan seluruh tenaganya karena dia dapat menduga bahwa Topeng Setan ini memiliki kepandaian hebat, namun dia terlempar oleh tangkisan itu. Sungguh hebat orang ini.

Hek-tiauw Lo-mo, pembantunya yang utama Ji Song, dan Mauw Siauw Moli juga kaget bukan main melihat betapa Topeng Setan dapat menangkis dan membuat puteri yang mereka segani dan takuti itu terlempar! Akan tetapi, Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang melihat Suma Kian Bu muncul bersama Milana dan Gak Bun Beng menjadi girang dan juga khawatir.

“Kian Bu...!” Dia berseru memanggil akan tetapi pemuda itu sudah cepat melompat ke belakang dan menghilang karena dia merasa malu sekali kalau sampai wanita cantik yang membuat dia mabuk dan lupa daratan, membuat dia tenggelam dalam permainan cinta dan nafsu birahi, akan membuka rahasia yang memalukan di depan enci-nya dan suheng-nya.

Pada saat itu Milana sudah menjadi marah bukan main.

“Kau mundurlah, biar aku yang menghadapinya,” kata Bun Beng.

Akan tetapi Milana yang sudah penasaran itu membantah. “Biar aku mencobanya sekali lagi!”

Puteri Milana sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu tenaga Swat-im Sinkang. Setelah mengerahkan tenaga mukjijat ini, tangan puteri itu kelihatan mengkilap kebiruan dan di ruangan itu menyambar hawa yang amat dingin!

Topeng Setan maklum bahwa puteri ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, maka ia pun terpaksa mengerahkan ilmunya yang mukjijat, yang baru saja dikuasainya, yaitu tenaga Sin-liong-hok-te. Tubuhnya memasang kuda-kuda rendah sekali, hampir menelungkup, lengan kanannya lurus ke depan dengan jari-jari tangan membentuk kepala ular, tubuhnya kaku kejang dan anehnya, lengan kiri yang hanya tinggal lengan bajunya yang kosong itu seolah-olah ‘hidup’, dapat bergerak-gerak lurus ke belakang dan kopat-kapit seperti ekor naga!

“Pergi!” Milana membentak dan wanita ini sudah mendorong dengan lengan tangannya.

Hawa yang amat dingin menyambar ke arah Topeng Setan. Pukulan yang didasari tenaga Swat-im Sinkang ini hebat dan dahsyat bukan main. Dengan ilmu ini yang sudah sampai di puncaknya, air pun terkena hawa pukulan ini akan menjadi beku! Topeng Setan memapaki dengan lengan kanannya dalam tangkisan yang dahsyat pula.

“Dessss...!”

Kembali tubuh Milana terlempar ke belakang, sedang Topeng Setan hanya melangkah mundur dua langkah saja. Dan kembali Gak Bun Beng yang menyambar lengan Milana. Sekali ini Milana tidak banyak membantah ketika Bun Beng yang maju menghadapi Topeng Setan.

Hek-tiauw Lo-mo dan para pembantunya memandang heran dan terkejut, akan tetapi juga girang bahwa ‘pembantu’ mereka itu dapat menolong mereka menghadapi para lawan yang tangguh itu. Diam-diam Hek-tiauw Lo-mo memberi isyarat kepada sumoi-nya dan kepada para pembantu dan anak buahnya dan diam-diam mereka itu mundur ke dalam. Mereka hendak mempergunakan kesempatan selagi para musuh sibuk menghadapi Topeng Setan yang hebat itu untuk meloloskan diri karena mereka merasa tidak akan menguntungkan kalau melawan pasukan pemerintah yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana.

Gak Bun Beng memandang tajam dan dengan penuh keheranan. Selama hidupnya yang penuh dengan pengalaman dan pertempuran melawan orang-orang pandai, tokoh-tokoh sesat dari seluruh dunia persilatan, belum pernah dia bertemu dengan orang yang menggunakan ilmu pukulan macam yang diperlihatkan Topeng Setan. Penghimpunan sinkang dengan tubuh merendah hampir menelungkup itu!

Dia sendiri pernah melatih diri di bawah pimpinan Bu-tek Siauw-jin tokoh besar di Pulau Neraka dengan sinkang mukjijat yang dinamakan Tenaga Sakti Inti Bumi, yang juga pengerahan tenaganya dilakukan dengan menelungkup di atas tanah, akan tetapi sungguh berbeda lagi dengan yang diperlihatkan Topeng Setan tadi. Apa lagi gerakan ilmu silat yang aneh itu, lengan kanan seperti kepala ular dan lengan buntung diwakili lengan baju seperti ekor naga, sungguh amat mengerikan dan hebat. Kalau sinkang Si Topeng Setan mampu menandingi Swat-im-sinkang, sungguh amat luar biasa. Biar pun dia tahu bahwa Milana belum mencapai kesempurnaan dalam latihan Swat-im Sinkang, namun tingkat wanita ini amat tinggi dan sukar mencari tandingannya.

“Kau agaknya tetap berkeras hendak membela Hek-tiauw Lo-mo!” kata Gak Bun Beng. “Terpaksa aku pun harus menggunakan kekerasan.”

“Harap... harap Taihiap mundur saja...” Topeng Setan berkata dengan cemas.

“Aku tidak tahu apa yang memaksamu, akan tetapi jelas engkau membela musuh, maka terpaksa aku akan berusaha menyingkirkanmu!”

Bun Beng kini mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang di tangan kanannya. Tenaga ini sudah dia perkuat dengan tenaga sakti Inti Bumi sehingga lengan kanannya itu kelihatan merah membara seperti baja yang terbakar api dan mengeluarkan uap. Hawa di sekitarnya menjadi panas sekali sehingga para pengawal yang sudah tiba di situ tidak berani mendekat saking panasnya.

Topeng Setan terkejut bukan main, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang benar-benar sakti, akan tetapi karena dia harus melindungi keselamatan Ceng Ceng, dia tidak gentar dan kalau perlu dia akan mempertaruhkan nyawanya. Gak Bun Beng mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, menggunakan tangan kanan dengan jari terbuka untuk menghantam. Serangkum hawa panas sekali menyambar dan Topeng Setan terpaksa menyambutnya dengan telapak tangan kanannya, seperti tadi tubuhnya mengambil posisi rendah dan lengan baju kirinya tergerak-gerak di belakangnya seperti mengatur keseimbangan.

“Blarrrrr...!”

Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti di udara ini, terasa oleh semua orang, bahkan beberapa orang pengawal yang sudah menonton dari jarak jauh ada yang terpental. Topeng Setan berseru keras dan pada saat kedua tangan bertemu tadi, kakinya melangkah ke belakang, akan tetapi tiba-tiba ‘ekor naga’ yang berupa lengan baju kirinya itu menyambar, tubuhnya miring.

“Pyarrrrr...!”

Bun Beng terkejut dan masih sempat menangkis, akan tetapi tetap saja dia terhuyung ke belakang, sedangkan Topeng Setan juga terhuyung ke belakang dengan muka pucat akibat pertemuan tenaga sakti yang pertama tadi.

Topeng Setan memandang dengan mata terbelalak. Dia maklum bahwa dia sudah berhasil menguasai Ilmu Tenaga Sakti Sin-liong-hok-te, biar pun belum sesempurna gurunya, namun ilmu ini hebat sekali dan menurut gurunya, jarang ada orang di dunia yang akan mampu melawannya. Akan tetapi siapa kira, baru saja dia berkesempatan mempergunakan ilmu yang dahsyat ini, dia telah menemui lawan yang begini hebat.

Di lain pihak, Gak Bun Beng juga memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar keras. Baru sekarang dia bertemu dengan lawan yang hebat, yang dapat mengimbangi kepandaiannya. Seolah-olah dia melihat tokoh-tokoh besar seperti Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, dua tokoh Pulau Neraka itu, hidup lagi! Topeng Setan ini merupakan orang yang kepandaiannya sukar ditandingi.

Padahal dia sudah menggembleng dirinya dan pukulannya tadi adalah pukulan yang didasari persatuan tenaga Hwi-yang Sinkang dan Inti Bumi. Kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja yang akan mampu menahan pukulannya, di samping tentu saja orang sakti seperti Pendekar Super Sakti, akan tetapi orang bertopeng ini mampu menahan bahkan membalas dan membuat dia terhuyung.

Sejenak keduanya saling pandang dengan mata terbelalak, seperti dua ekor ayam jago yang berlagak sebelum saling gempur, berdiri saling pandang dan saling taksir. Tiba-tiba Bun Beng mengeluarkan suara melengking tinggi dan pendekar sakti ini sudah bergerak menyerang. Topeng Setan yang sudah memasang kuda-kuda Sin-liong-hok-te menyambut dan bertempurlah kedua orang itu.

Karena yakin bahwa lawannya ini memang dahsyat sekali dan tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari padanya, maka Topeng Setan tidak berani mainkan lain ilmu silat kecuali yang baru saja dikuasainya, yaitu Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat yang sejak dahulu memang sudah dihafalnya benar akan tetapi baru sekarang dia kuasai. Pula, ilmu inilah satu-satunya ilmu silat tinggi yang dikenalnya, yang cocok dimainkan dengan lengan tunggal, sedangkan ilmu silatnya yang lain, dahulu dilatihnya dengan sepasang lengan sehingga tentu sekarang menjadi canggung kalau dia mainkan dengan lengan tunggal.

Sementara itu, menghadapi serangan-serangan yang aneh dari lengan kanan dan ‘ekor’ berupa lengan baju kiri itu, Gak Bun Beng mainkan ilmu silat Kong-jiu-jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan) sambil mengerahkan tenaga saktinya berganti-ganti kadang-kadang dengan Hwi-yang Sinkang, kadang-kadang dengan Swat-im Sinkang yang amat dingin.

Akhirnya Topeng Setan harus mengakui keunggulan Pendekar Sakti Gak Bun Beng. Dan diam-diam Bun Beng juga harus mengakui bahwa kalau saja Topeng Setan tidak sedang terluka hebat, dan kalau saja ilmu silat aneh itu sudah dikuasainya benar, sudah terlatih matang dan banyak dipakai menghadapi orang pandai dalam pertempuran, belum tentu dia akan dapat menang dengan mudah! Kini Topeng Setan terhuyung dan terdesak hebat, agaknya sebentar lagi akan roboh.

Topeng Setan merasa heran sekali mengapa Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li tidak membantunya, padahal kedua orang itu memiliki kepandaian hebat pula dan kalau membantunya, belum tentu dia sampai terdesak seperti ini. Ketika sebuah hantaman yang biar pun sudah ditangkisnya membuat dia terlempar ke belakang, dia menengok dan... dia tidak melihat mereka. Terkejutlah dia. Celaka, pikirnya, siapa tahu dia ditipu oleh orang Pulau Neraka itu.

“Tahan dulu...!” teriaknya ketika Gak Bun Beng mendesak maju. Napasnya sudah terengah-engah dan keringatnya bercucuran.

“Taihiap...! Puteri...! Tolonglah... harap jangan serbu Hek-tiauw Lo-mo karena... karena Ceng Ceng mereka jadikan sandera. Mereka akan membunuh Ceng Ceng kalau saya tidak melawan Ji-wi, maka terpaksa saya melawan agar Ceng Ceng dibebaskan...”

Mendadak terdengar suara teriakan, “Paman...! Kau sudah mati-matian membelaku...! Aku telah dapat lolos, Paman...!”

Kemudian Ceng Ceng membalik, menghadapi Gak Bun Beng dan Puteri Milana dengan kedua tangan terkepal. “Paman Gak Bun Beng dan... Bibi Puteri Milana! Kalau kalian melanjutkan mendesak dan menyerang Paman Topeng Setan, terpaksa aku akan menentang kalian!”

“Hushhh... Ceng Ceng, jangan kurang ajar kau terhadap mereka. Gak-taihiap, celaka, kita telah diadu domba dan ditipu oleh Hek-tiauw Lo-mo!” kata Topeng Setan.

Akan tetapi Ceng Ceng yang kegirangan melihat Topeng Setan tidak mati seperti yang dikhawatirkannya itu, sudah lari dan menubruk, merangkulnya dengan penuh girang dan kebanggaan. Lagi-lagi dalam keadaan seperti itu, Topeng Setan telah memperlihatkan kemuliaan hatinya terhadap dia, telah membelanya mati-matian, bahkan sampai berani melawan Gak Bun Beng yang demikian sakti karena dia ditekan oleh Hek-tiauw Lo-mo yang mengancam hendak membunuhnya kalau Si Buruk Rupa ini tidak melawan Gak Bun Beng.

Dia baru saja tiba dan selagi dia terheran-heran dan kebingungan menyaksikan Topeng Setan bertanding sedemikian hebatnya dengan Gak Bun Beng, dia mendengar ucapan Topeng Setan itu, maka dia lalu berteriak dan muncul memperlihatkan diri.

“Syukur engkau telah bebas pula, Paman. Betapa aku amat mengkhawatirkan dirimu, Paman...,” katanya.

“Dan kau... bagaimana kau dapat bebas, Ceng Ceng?” Topeng Setan bertanya dan mereka lalu bicara dengan asyik, tanpa mempedulikan Milana dan Gak Bun Beng yang sudah menerjang ke dalam. Akan tetapi rumah itu sudah kosong sama sekali dan di belakang mereka berjumpa dengan Suma Kian Bu.

“Eh, kau tadi ke mana, Bu-te?” tanya Milana terheran-heran. Baru sekarang dia teringat bahwa adiknya ini tidak nampak ketika mereka bertanding melawan Topeng Setan.

“Aku... aku tadinya menyelinap ke belakang untuk menolong Ceng Ceng, kiranya Ceng Ceng tidak ada dan mereka semua telah melarikan diri,” jawab Suma Kian Bu yang sebenarnya menghindarkan diri dari Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui.

Mereka semua lalu mencari-cari, mengejar ke sana-sini dan mengerahkan belasan orang pengawal, namun hasilnya sia-sia belaka. Hek-tiauw Lo-mo dan kawan-kawannya sudah melarikan diri entah ke mana, menggunakan kesempatan selagi Milana dan Gak Bun Beng sibuk bertempur melawan Topeng Setan tadi. Terpaksa mereka kembali ke tempat tadi dan melihat Topeng Setan dan Ceng Ceng masih bercakap-cakap dengan asyik sekali.

“Orang itu hebat, entah siapa dia...” Diam-diam Gak Bun Beng berbisik kepada Milana dan wanita perkasa itu mengangguk menyetujui.

“Tapi dia benar-benar setia, agaknya dia mencinta Ceng Ceng...,” bisiknya kembali dan biar pun tidak yakin akan hal ini, Gak Bun Beng juga mengangguk. Baginya, tanpa melihat wajah Si Kedok itu, bagaimana dia bisa menduga isi hati orang? Akan tetapi, dalam hal asmara memang wanita lebih halus perasaannya.

Melihat kedatangan mereka, Ceng Ceng lalu bertanya kepada Milana, “Bibi Puteri Milana, bagaimana dengan Syanti Dewi? Di mana Kakak Syanti?”

Yang menjawabnya adalah Suma Kian Bu, “Menurut penuturan Perdana Menteri Su, puteri itu kini telah dikawal oleh para utusan Bhutan sendiri kembali ke negaranya...”

“Ah...! Kiranya dia bermain curang...!” Ceng Ceng berseru.

“Siapa?”

“Ang Tek Hoat. Dia menolongku dari tahanan di sini, akan tetapi dia membawaku, dan menukarkan aku dengan Enci Syanti yang tadinya tertawan oleh Tambolon. Untung aku dapat meloloskan diri...” Dia tidak menceritakan kepada orang lain kecuali kepada Topeng Setan tadi betapa dia secara aneh dan tiba-tiba memiliki tenaga mukjijat yang amat dahsyat itu.

Selagi mereka bercakap-cakap, datang serombongan pasukan yang dipimpin langsung oleh Jenderal Kao Liang! Begitu tiba di situ dan melihat Ceng Ceng, jenderal ini menjadi girang sekali.

“Ceng Ceng... ahhh, Nona yang baik...! Ternyata benar engkau masih hidup...!” Dengan suara serak karena terharunya dia menghampiri Ceng Ceng dan memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri. “Banyak yang mengatakan bahwa kau masih hidup, akan tetapi sukar bagiku untuk percaya setelah melihat kau terjerumus ke dalam sumur maut! Aihhh, betapa bahagia rasa hatiku dapat bertemu denganmu!”

Ceng Ceng segera memberi hormat dan hatinya terharu sekali. Jenderal ini merupakan satu di antara orang-orang di dunia ini yang amat baik kepadanya.

“Paman, inilah dia Paman Jenderal Kao Liang yang sering kuceritakan kepadamu, seorang yang amat mulia hatinya!” katanya kepada Topeng Setan memperkenalkan.

Jenderal Kao Liang terkejut sekali melihat orang yang bertopeng seperti setan dan amat buruk, lagi lengannya buntung sebelah itu. “Siapa... siapa dia...?”

Gak Bun Beng yang menerangkan, “Goanswe, dia adalah Topeng Setan yang amat terkenal, yang menjadi pembantu dan pengawal Ceng Ceng, akan tetapi ternyata ilmu kepandaiannya hebat bukan main, saya sendiri sampai kewalahan dibuatnya!”

Dengan singkat pendekar ini menuturkan kepada Jenderal Kao tentang peristiwa tadi. Sang Jenderal mengangguk-angguk, kagum memandang ke arah Topeng Setan yang hanya menunduk.

“Selama orang-orang jahat itu masih berkeliaran, negara tidak akan aman,” katanya. “Setelah kini pemberontakan dapat terbasmi, para kaki tangan pemberontak harus dibersihkan karena jelas bahwa mereka tidak mau insyaf dan melanjutkan kejahatan mereka. Saya akan mengerahkan semua kekuatan untuk membasmi mereka.” Lalu kepada Ceng Ceng dia berkata, “Harap engkau suka ikut bersamaku dan singgah di rumahku karena banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, anak yang baik.”

Ceng Ceng hanya menoleh kepada Topeng Setan yang masih menunduk saja, hatinya bimbang karena dia tidak mau berpisah lagi dari Topeng Setan, akan tetapi menolak permintaan jenderal yang amat baik hati itu pun dia merasa tidak enak.

Melihat keraguan Ceng Ceng, jenderal yang gagah perkasa dan berwatak jujur itu lalu tertawa dan dengan suara lantang berkata, “Anak Ceng, biarlah disaksikan oleh para tokoh perkasa di sini, bahkan oleh Puteri Milana yang masih terhitung bibi luarmu, aku mengundangmu untuk membicarakan soal perjodohan! Aku ingin sekali mengambil engkau sebagai mantuku, Ceng Ceng!”

Puteri Milana terbelalak, lalu tersenyum dan mengangguk-angguk setuju, sedangkan Gak Bun Beng juga tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa putera sulung jenderal ini, yang tadinya lenyap, kini telah pulang dan telah menjadi seorang pemuda yang amat lihai dan telah membantu pelaksanaan penghancuran para pemberontak. Biar pun dia sendiri tidak mengenal pemuda itu, namun melihat Jenderal Kao, seorang yang dia ketahui betul sifat dan keadaannya, amat baiklah kalau gadis yang gagah ini menjadi mantu jenderal itu.

Akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng berseru keras, “Ehhh, Paman...! Paman Topeng Setan, kau tunggu aku...!”

Semua orang menoleh dan melihat bahwa Topeng Setan telah pergi dari situ tanpa pamit lagi. Mendengar teriakan Ceng Ceng, dia hanya menoleh sebentar, kemudian melangkah pergi lagi tanpa mengeluarkan kata-kata.

“Paman Jenderal Kao, harap suka maafkan saya. Biarlah lain kali saja saya pergi mengunjungi rumah Paman untuk menghaturkan terima kasih. Paman Gak, Bibi Puteri, maafkan saya...!” Ceng Ceng lalu berlari cepat mengejar Topeng Setan yang sudah agak jauh.

Semua orang memandang ketika dara itu berhasil menyusul Topeng Setan dan mereka berdua itu berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap. Sungguh pasangan yang sama sekali tidak patut dan berat sebelah!

Tampak Jenderal Kao Liang menggosok-gosok dagunya, mengelus jenggot dengan hati penasaran dan kecewa. “Sungguh manusia aneh Topeng Setan itu...”

“Akan tetapi kesetiaannya terhadap dara itu tidak perlu diragukan lagi, Kao-goanswe. Karena itu tenangkanlah hatimu, dara itu tidak akan dibiarkan mengalami mala petaka.”

Jenderal Kao Liang dan pasukannya lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari dan membasmi kaki tangan bekas pemberontak yang masih berkeliaran, sedangkan Gak Bun Beng dan Puteri Milana kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mengejar rombongan Syanti Dewi untuk melindunginya.

“Bu-te, aku dan Gak-suheng akan mengantarnya sampai ke Bhutan. Kau sebaiknya pulang dulu ke Pulau Es dan ceritakan semua yang telah terjadi kepada Ayah dan Ibu dan katakan bahwa setelah mengantar Syanti Dewi ke Bhutan, kami berdua akan pergi ke Pulau Es menghadap Ayah dan Ibu.”

Kian Bu hanya mengangguk, akan tetapi setelah semua orang pergi, dia tidak menuju ke Pulau Es, sebaliknya dia pun menuju ke barat karena dia ingin mencari kakaknya, Suma Kian Lee yang tidak diketahuinya ke mana perginya itu. Juga dia masih perlu waktu panjang untuk memulihkan perasaannya yang terguncang karena dia malu dan menyesal akan semua perbuatannya bersama dengan Mauw Siauw Mo-li. Kini baru dia insyaf betapa dia telah terpikat oleh wanita yang hina, seorang datuk kaum sesat yang gila laki-laki. Sungguh dia merasa menyesal sekali kepada dirinya sendiri yang dianggap amat lemah dan mudah jatuh oleh kecantikan wanita.

********************

Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu berjalan dengan tenang melalui lembah pegunungan, dikawal oleh tiga puluh enam orang yang kelihatan gagah perkasa, kesemuanya menunggang kuda dan biar pun mereka berpakaian seperti orang-orang biasa, bukan pakaian seragam piauwsu (pengawal barang), namun dari cara mereka menunggang kuda, duduk dengan tegak dan kuda mereka teratur rapi di belakang dan di depan kereta, dapat diduga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang biasa berbaris dengan kuda dan mengenal disiplin.

Pemimpinnya, seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis dan jenggot pendek rapi, kelihatan gagah sekali dan mereka melanjutkan perjalanan berkuda itu menuju ke barat tanpa banyak kata-kata. Kereta itu sendiri amat besar, tidak seperti kereta biasa, agaknya kereta yang khusus dibuat untuk keperluan itu. Panjang kereta dua kali panjang kereta biasa, maka penariknya adalah empat ekor kuda, tidak dua ekor seperti biasa kalau hanya menarik penumpang. Di bagian paling belakang dari rombongan itu terdapat seekor kuda menarik sebuah kereta kecil yang terisi barang-barang perbekalan mereka.

Orang-orang yang kelihatan gagah itu ternyata dapat bekerja sama dengan cepat dan setiap kali jalan terlalu mendaki sehingga empat ekor kuda yang menarik kereta besar itu kelihatan payah, mereka lalu langsung meloncat turun dan beberapa orang ikut mendorong roda kereta sehingga kereta itu dapat mendaki dengan lancar dan perjalanan tidak perlu dihentikan. Walau pun mereka tidak tergesa-gesa, akan tetapi perjalanan itu tidak pernah berhenti kecuali kalau hendak makan atau bermalam di tengah perjalanan.

Pagi hari itu amat cerah. Jalan yang dilalui rombongan itu pun datar sehingga kuda mereka berlari congklang dan kereta dapat bergerak lancar. Suara derap kaki kuda menimbulkan bunyi irama yang lucu dan menggembirakan, dan barisan kuda itu akhirnya memasuki sebuah hutan kecil yang mulai diterobos sinar matahari pagi yang membangunkan semua binatang penghuni hutan.

Beberapa ekor kelinci dan tikus lari berserabutan melintasi jalan dan menyelinap ke balik semak-semak ketika rombongan itu tiba. Burung-burung terbang ketakutan dari pohon-pohon di kanan kiri jalan. Kuda-kuda mereka agaknya merasa gembira pula tiba di dalam hutan di antara pohon-pohon dan daun-daun segar. Beberapa di antara mereka meringkik dan mendengus, agaknya bau daun-daunan dan tanah yang sedap menimbulkan gairah dan kegembiraan mereka. Tentu saja jauh bedanya dengan bau pengap di kota-kota dan dusun-dusun yang penuh manusia.

Akan tetapi, selagi rombongan yang terdiri dari tiga puluh enam orang termasuk kusir kereta dan komandan rombongan itu menjalankan kuda dengan hati tenang gembira, tiba-tiba terdengar bunyi berdesing dan tahu-tahu tiga batang tombak menancap di tengah jalan di depan Si Pemimpin. Cepat pemimpin rombongan ini menahan kudanya, mengangkat tangan kiri memberi tanda agar rombongan itu berhenti. Kemudian beberapa orang pembantunya melarikan kuda dari belakang ke depan dan lima orang pemimpin rombongan yang berkuda itu berjajar memenuhi jalan sambil memandang ke arah tiga batang tombak yang masih menggetar di atas tanah itu.

Mereka menyangka bahwa tentu ada perampok-perampok yang ‘bosan hidup’ berani menghadang mereka. Akan tetapi ketika dari balik pohon-pohon besar muncul seorang kakek tinggi besar bersama seorang wanita cantik dan di belakang mereka terdapat belasan orang yang dipimpin oleh seorang kakek gendut tinggi besar, rombongan berkuda ini menjadi terkejut sekali. Andai kata benar mereka itu perampok, tentu bukan perampok-perampok sembarangan. Orang-orang yang datang bersama kakek tinggi besar itu adalah orang-orang yang berwajah menyeramkan sekali, seperti setan-setan karena wajah mereka itu samar-samar masih membayangkan warna-warna bermacam-macam, ada yang kehijauan dan ada yang kemerahan!

“Haii, rombongan yang sedang melakukan perjalanan, jangan kalian takut, kami bukan perampok. Ketahuilah, kami adalah orang-orang Pulau Neraka dan aku adalah Hek-tiauw Lo-mo. Hayo kalian turunlah dari kuda, berikan kereta itu untukku dan berikan kepada anak buahku masing-masing seekor kuda dan kami tidak akan membunuh kalian.”

Rombongan itu belum pernah mendengar tentang Pulau Neraka atau Hek-tiauw Lo-mo, maka tentu saja mereka menjadi marah mendengar ucapan yang bernada sombong itu. Apa lagi harus menyerahkan kereta yang dikawalnya dengan rapi, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan permintaan ini.

Pemimpin rombongan lalu berkata, suaranya tegas dan bernada keras, “Hek-tiauw Lo-mo, kami serombongan pelancong tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, maka harap kalian jangan mengganggu kami. Kuda dan kereta ini kami butuhkan sekali untuk melanjutkan perjalanan kami. Akan tetapi penolakan kami bukan berarti bahwa kami pelit. Nah, sedikit emas dan perak ini kiranya cukup bagi kalian untuk membeli kuda!”

Setelah berkata demikian, pemimpin rombongan itu melemparkan sebuah kantung kecil ke arah Hek-tiauw Lo-mo! Kakek ini menerimanya dan merobeknya, sehingga isinya yang berupa potongan-potongan emas dan perak berhamburan ke atas tanah.

“Ha-ha-ha, ada orang berani memberi sedekah kepada Hek-tiauw Lo-mo. Penghinaan ini selama hidupku belum pernah kuterima. Ji Song, hajar mereka!” Perintahnya kepada pembantunya yang selama ini tidak pernah ketinggalan memimpin para anak buahnya. Ji Song, kakek gendut tinggi besar, segera berteriak memberi aba-aba dan majulah belasan orang anak buah Pulau Neraka itu menyerbu.

Akan tetapi pemimpin rombongan itu pun memberi aba-aba dan bagaikan prajurit-prajurit yang terlatih baik, para anak buahnya juga meloncat dari atas kuda dan menyambut serbuan itu sehingga terjadilah pertempuran yang seru. Akan tetapi betapa kaget hati pemimpin itu menyaksikan kehebatan pihak lawan, terutama kakek gendut tinggi besar. Maka dia sendiri bersama empat orang pembantunya lalu meloncat turun dan disambut oleh wanita cantik itu sambil tertawa-tawa.

Wanita cantik itu bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw Lo-mo yang telah kehilangan Ceng Ceng, menggunakan siasat adu domba ketika dia diserbu oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Milana dan Gak Bun Beng, dan menggunakan kesempatan selagi Topeng Setan melayani mereka, dia lalu mengajak sumoi-nya itu dan semua anak buahnya untuk meloloskan diri.

Mauw Siauw Mo-li penasaran sekali karena kehilangan Kian Bu, pemuda yang amat memuaskan hatinya itu, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo penasaran karena kehilangan Ceng Ceng. Mereka terus mencari ke barat dan di hutan itu mereka bertemu dengan rombongan berkuda itu yang hendak mereka rampas kereta dan kudanya agar perjalanan mereka lebih lancar dan cepat.

Biar pun dikeroyok oleh lima orang pimpinan rombongan itu, Mauw Siauw Mo-li masih melayani seenaknya saja. Untung bahwa lima orang pemimpin rombongan itu adalah laki-laki yang gagah perkasa dan rata-rata berwajah tampan menarik. Laki-laki muda tampan dan menarik merupakan kelemahan Mauw Siauw Mo-li sehingga hati wanita ini tidak tega untuk membunuh mereka. Dia hanya mempermainkan mereka, menangkis senjata mereka dengan pedangnya yang bersinar hijau, sedangkan jari-jari tangan kirinya tidak hentinya mencolek sana-sini di tubuh kelima orang lawannya itu sambil mengeluarkan kata-kata pujian yang membuat lima orang itu terkejut, terheran, akan tetapi juga menjadi muak.

“Hemm, Sumoi, apakah pada saat begini sudah kumat lagi penyakitmu gila laki-laki? Hayo kau bunuh mereka agar lebih cepat urusan ini beres!” teriak Hek-tiauw Lo-mo yang duduk di bawah pohon menonton pertempuran. Dia sendiri merasa terlalu tinggi untuk melayani orang-orang yang kepandaiannya tidak berapa tinggi itu dan dia mendongkol menyaksikan sumoi-nya yang mempermainkan lima orang lawannya.

“Hi-hi-hik, baiklah, Suheng. Wah, sayang sekali, aku terpaksa harus merobohkan kalian, orang-orang ganteng!”

Mauw Siauw Mo-li tertawa dan pedangnya lalu berubah berkelebatan menjadi gulungan sinar hijau yang amat cepat. Lima orang lawannya terkejut sekali dan mereka pun menggerakkan senjata mereka untuk membela diri, akan tetapi biar pun mereka sama sekali tidak dapat menyerang dan hanya mempertahankan diri, tetap saja mereka terhimpit dan terdesak hebat oleh sinar hijau itu dan agaknya pertahanan mereka tidak akan berlangsung lama.



Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat terjun ke medan pertempuran ini, didahului sinar yang seperti halilintar menyitaukan mata.

“Cringgg... trakkkk!”

Mauw Siauw Mo-li mengeluarkan pekik kaget ketika pedangnya yang bersinar hijau itu disambar oleh sinar kilat itu dan ternyata ujung pedangnya yang merupakan pedang pusaka ampuh itu telah patah! Ketika dia yang telah meloncat mundur memandang ke depan, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan gagah yang sudah dikenalnya baik karena pemuda ini bukan lain adalah Tek Hoat!

Setelah pemuda itu menyerahkan Syanti Dewi kepada Perdana Menteri Su, hatinya lega bukan main karena kekasih hatinya itu telah berada dalam keadaan aman. Barulah dia teringat akan Ceng Ceng dan Topeng Setan. Dia suka sekali kepada Ceng Ceng dan agaknya akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada gadis itu andai kata tidak ada Syanti Dewi di dunia ini.

Maka setelah meninggalkan istana Perdana Menteri, dia bergegas keluar dari kota raja dan kembali ke tempat Tambolon di sebelah selatan untuk menolong gadis itu. Diam-diam dia merasa khawatir juga kalau-kalau dia akan terlambat. Dan ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Tambolon dan kawan-kawannya telah pergi dan demikian pula Ceng Ceng, entah pergi ke mana, entah berhasil lolos ataukah dibawa pergi oleh Tambolon. Maka ia menjadi gelisah juga dan dia cepat pergi ke dusun Nam-lim untuk menolong Topeng Setan. Akan tetapi dusun bekas sarang kaum sesat ini pun telah kosong!

Terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu dan secepatnya dia menuju ke barat, karena dia dapat menduga bahwa tentu Syanti Dewi akan dikawal dan dipulangkan ke Bhutan, maka sebaiknya kalau dia mengamat-amati dari jauh. Demikianlah, pada pagi hari itu dia melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li mencegat rombongan berkuda, dan melihat orang-orang yang sekarang menjadi musuhnya ini, orang-orang yang telah menangkap Topeng Setan dan Ceng Ceng, dia menjadi marah dan tanpa mengetahui siapa mereka yang didesak oleh Mauw Siauw Mo-li, dia sudah mencabut Cui-beng-kiam dan sekali tangkis dia telah mematahkan ujung pedang sinar hijau di tangan Siluman Kucing itu.

“Eh, kau... bocah tampan? Kau di sini...? Kenapa kau melawan aku?” Mauw Siauw Mo-li menegur, setengah marah karena kerusakan pedangnya, tetapi juga girang karena sejak dahulu dia ada hati terhadap pemuda tampan itu yang dahulu merupakan tangan kanan dari Pangeran Liong Khi Ong.

Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat ke depan dan menghadapi Tek Hoat dengan alis berkerut. “Bocah lancang! Kenapa engkau mencampuri urusanku? Hayo minggat, sebelum aku marah dan membunuhmu!”

Kalau saja Hek-tiauw Lo-mo tidak bersikap kasar dan bicara dengan baik, agaknya Tek Hoat yang tidak mengenal rombongan itu akan merasa sungkan untuk mencampuri dan akan pergi. Akan tetapi entah mengapa, semenjak dia bertemu dengan Syanti Dewi dan orang-orang seperti Milana dan lain-lain, dia merasa betapa dirinya amat rendah dan hina, betapa dia adalah seorang pemuda yang tersesat dan jahat, betapa dia karena semua perbuatannya yang jahat, sama sekali tidak berharga untuk berdekatan dengan Syanti Dewi. Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main akan perbuatan-perbuatannya yang sudah-sudah.

Dia bukan anak penjahat, mengapa dia telah tersesat sedemikiah jauhnya? Penyesalan inilah, terutama sekali bayangan wajah Syanti Dewi yang lembut dan penuh welas asih, yang membuat dia merasa tidak senang dengan orang-orang dari golongan sesat karena dia menganggap bahwa mereka itulah yang menyeretnya ke lembah kesesatan. Kini, Hek-tiauw Lo-mo bersikap kasar, maka dia menjadi makin marah dan mengambil keputusan untuk melawannya dan membela rombongan yang tak dikenalnya ini.

“Hek-tiauw Lo-mo, engkau manusia sombong dan jahat! Kau kira aku takut kepadamu?” bentaknya dan pedang Cui-beng-kiam yang menggiriskan itu melintang di depan dadanya.

Hek-tiauw Lo-mo memang benar telah menjadi Ketua Pulau Neraka, akan tetapi dia bukanlah asli penghuni Pulau Neraka. Dia adalah pendatang baru yang menggunakan ilmunya untuk menaklukkan orang-orang Pulau Neraka, karena itu dia tidak mengenal pedang di tangan Tek Hoat itu. Akan tetapi Kakek Ji Song, kakek gendut gundul yang memang merupakan tokoh Pulau Neraka asli, begitu melihat pedang di tangan Tek Hoat, seketika dia menjadi ketakutan, gemetar dan berseru, “Cui-beng-kiam...!” Lalu dia menjauhkan diri dari situ.

Hal ini adalah tidak aneh. Cui-beng-kiam ini dahulunya adalah pedang milik Cui-beng Koai-ong, yaitu tokoh nomor satu dari Pulau Neraka yang merupakan iblis Pulau Neraka. Orangnya mengerikan seperti mayat hidup, kepandaiannya pun tidak lumrah manusia. Seperti kita ketahui, pedang pusaka ini berikut kitab-kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin terjatuh ke tangan seorang tokoh Pulau Neraka lainnya, yaitu Kong To Tek dan akhirnya terjatuh ke tangan Tek Hoat.

Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak mengenal pedang ini lalu bergerak menerjang pemuda itu dari kanan kiri. Hek-tiauw Lo-mo yang dapat menduga akan kelihaian pemuda yang pernah menjadi tangan kanan pemberontak ini, langsung mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok besar tajam yang punggungnya berbentuk gergaji! Senjata ini terbuat dari baja pilihan sehingga mengkilap dan amat tajam, ketika digerakkan menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara berdesing.

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui juga marah sekali karena kerusakan pedangnya, akan tetapi karena yang patah hanya ujungnya sedikit, dia masih dapat menyerang dengan ganas. Dia merasa menyesal sekali bahwa obat peledaknya yaitu senjatanya yang paling diandalkan, telah habis dan belum mendapat kesempatan untuk membuat lagi, maka kini dia hanya dapat menyerang dengan pedang buntung dibantu oleh cakaran tangan kirinya yang juga amat berbahaya.

Ang Tek Hoat mengamuk. Kadang-kadang dia menyeringai menahan rasa sakit. Luka-lukanya akibat pertempuran membela Syanti Dewi di dalam hutan melawan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo masih belum sembuh sama sekali. Dan kini dua orang lihai yang mengeroyoknya itu pun mengeluarkan seluruh daya upaya mereka untuk membunuhnya.

Sebetulnya suheng dan sumoi itu sama sekali tidak merasa sakit hati atas kematian Hek-wan Kui-bo karena di antara mereka bertiga biar pun terhitung suheng dan sumoi, tetapi tidak mempunyai hubungan akrab, bahkan saling mengiri dan saling mencurigai. Kematian Hek-wan Kui-bo di tangan pemuda ini tidak mendatangkan perasaan dendam. Akan tetapi, karena kini Tek Hoat berani menentang mereka, maka mereka teringat akan hal itu yang sedikitnya merupakan pukulan bagi nama mereka, maka tanpa berunding lebih dulu, keduanya kini berusaha sekuat tenaga untuk membunuh Tek Hoat.

Tek Hoat juga maklum akan kelihaian lawan, maka dia memutar pedangnya yang ampuh itu dan mengeluarkan semua kepandaiannya. Ilmu yang diwarisinya dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin memang hebat sekali. Dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah memperoleh ilmu menghimpun tenaga sakti, sedangkan dari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dia memperoleh ilmu-ilmu pukulan beracun, ilmu pedang yang dinamakan Cui-beng Kiam-sut dan obat perampas ingatan. Kini dia menggerakkan pedangnya berdasarkan sinkang yang sesungguhnya berpusat pada ilmu mukjijat atau Ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi dan dia memainkan Cui-beng Kiam-sut yang luar biasa gerakannya itu.

Hebat bukan main pertandingan antara tiga orang ini. Sinar pedang Cui-beng-kiam berubah menjadi gulungan sinar kilat menyambar-nyambar menyilaukan mata, dan sinar ini dikeroyok oleh gulungan sinar hijau dan biru! Ada pun lima orang pemimpin rombongan itu kini sudah saling gempur melawan kakek gundul Ji Song yang lihai dan teman-temannya. Akan tetapi karena jumlah para anak buah Pulau Neraka ini kalah jauh dan karena ternyata anggota rombongan berkuda itu pun rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka pertandingan antara mereka itu berjalan seru dan akhirnya pihak Pulau Neraka mulai terdesak.

Mauw Siauw Mo-li yang sudah marah kini tidak lagi memperlihatkan sikapnya yang gila laki-laki, apa lagi dia teringat akan suci-nya yang tewas oleh pemuda ini dan pedangnya yang menjadi buntung. Lebih-lebih lagi karena dia yang mengeroyok dengan suheng-nya yang dia tahu amat lihai, selama hampir seratus jurus masih belum juga dapat mengalahkan pemuda ini. Dia gemas dan penasaran sekali.

“Ang Tek Hoat, kau manusia khianat! Engkau yang sudah banyak makan uang dari pemberontak, pada saat terakhir malah berkhianat. Manusia tak tahu malu! Sekarang engkau agaknya hendak bermuka-muka dan menjilat-jilat pantat Kaisar agaknya! Hi-hik, manusia rendah, pemuda yang hina!”

Bukan main marahnya hati Tek Hoat mendengar ini. Diingatkan akan penyelewengan dan kejahatannya adalah hal yang amat dibencinya karena hal itu mengingatkan dia lagi akan ketidak pantasannya untuk berdekatan dengan Syanti Dewi! Tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya. Biar pun Cui-beng Kiam-sut adalah ilmu pedang iblis yang amat hebat, akan tetapi pertahanan kedua orang itu amat ketat dan mereka mulai dapat mengikuti gerakan dari ilmu pedang ini.

Maka secara tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya dan mainkan Pat-mo Kiam-sut yang pernah dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo, bekas tokoh Thian-liong-pang. Pat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Iblis) juga merupakan ilmu pedang golongan sesat yang amat hebat sekali, dahulu menjadi satu di antara ilmu-ilmu yang paling hebat dari ketuanya, yaitu Puteri Nirahai yang kini menjadi nyonya Pendekar Super Sakti. Dan perubahan mendadak ini membuat kedua orang lawan itu terkejut, terutama sekali Lauw Hong Kui yang memang didesak hebat oleh Tek Hoat yang marah mendengar ejekannya tadi.

Sinar kilat menyambar ke arah ulu hati Lauw Hong Kui. Wanita hamba nafsu birahi ini memekik, cepat dia miringkan tubuhnya dan menangkis.

“Cringgg... trekk... aughhh...!”

Tangkisan itu memang tepat, tapi saking kuatnya Tek Hoat menggerakkan pedangnya, kembali pedang sinar hijau dari wanita itu terbabat putus dan Cui-beng-kiam masih sempat melukai pangkal lengan kanan wanita itu sehingga kulit dan dagingnya terobek lebar dan darah bercucuran, pedang buntungnya yang tinggal pendek saja itu terlepas!

Akan tetapi pada saat itu, sinar hitam menyambar dari atas ke arah kepala Tek Hoat. Pemuda ini terkejut dan cepat menangkis dengan Cui-beng-kiam.

“Plakkkk...!”

Makin kagetlah hati Tek Hoat karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah sehelai jala tipis yang tadi dikepal di tangan kiri Ketua Pulau Neraka dan jala ini terbuat dari bahan yang amat kuat, tidak dapat diputus oleh pedang pusaka. Pedang itu telah tertangkap oleh jala! Dan golok berpunggung gergaji itu menyambar ganas ke arah lehernya!

Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li yang juga marah sekali karena lengannya terluka parah dan pedangnya rusak, menerjang ke depan dengan hantaman tangan kirinya dengan pengerahan sinkang dan dia telah mempergunakan pukulan beracun ke arah kepala Tek Hoat.

Pemuda ini maklum akan datangnya bahaya besar. Pedangnya tidak dapat digerakkan lagi sebab telah tertangkap dan terbelit jala tipis, dan andai kata ia hanya mementingkan pedangnya, tentu dia akan terkena sambaran golok dan hantaman wanita itu. Dia teringat akan Tenaga Sakti Inti Bumi yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin.

Tiba-tiba dia melepaskan pedangnya, melempar diri ke bawah dan menelungkup, kemudian dengan pengerahan sinkang sakti Inti Bumi, kedua kakinya menghantam ke atas seperti seekor jangkrik menendang. Tendangannya yang tak tersangka-sangka dan mengandung tenaga dahsyat itu memapaki golok.

“Dessss... crakkk...!”

Hek-tiauw Lo-mo berteriak keras karena goloknya itu membalik sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu mempertahankan lagi dan goloknya telah menghantam pundaknya sendiri sehingga tulang pundaknya retak dan bahunya terluka! Dengan kemarahan meluap, dia menguyun kakinya.

“Bukkk! Plakkk!”

Tek Hoat terkena tendangan pada perutnya dan terkena hantaman tangan kiri Mauw Siauw Mo-li pada punggungnya. Tubuhnya terlempar dan terbanting lalu bergulingan. Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali, matanya terbelalak marah dan tangan kirinya mengusap mulutnya yang berdarah.

Hek-tiauw Lo-mo menyumpah-nyumpah. Dia telah terluka, juga Mauw Siauw Mo-li telah terluka. Celakanya, anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang sudah terluka. Maka dia lalu bersuit nyaring dan meloncat pergi bersama sumoi-nya. Anak buahnya maklum bahwa pimpinan mereka juga terdesak, maka mereka lalu melarikan diri meninggalkan medan pertempuran sambil memapah teman-teman yang terluka. Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak, tidak dapat mengejar karena dia maklum bahwa dirinya sendiri pun terluka parah.

Setelah melihat bahwa musuh-musuhnya lari pergi membawa pedang Cui-beng-kiam yang terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo, dia mengeluh, memejamkan matanya dan terguling pingsan di dekat kereta rombongan itu.

Tek Hoat, yang memang luka-lukanya akibat pertandingan melawan para pengawal lihai dari Pangeran Liong Khi Ong itu belum sembuh benar, kini mengalami pukulan dan tendangan yang hebat, tentu saja menjadi makin parah luka-luka di sebelah dalam tubuhnya. Dia tidak tahu bahwa selama sehari semalam dia tidak sadar. Ketika dia akhirnya siuman kembali, dia merasa dirinya terguncang-guncang perlahan dan telinganya mendengar suara bergemuruh.

Dia membuka matanya. Kiranya tubuhnya memang sedang terguncang-guncang di dalam bilik kereta yang berjalan perlahan, dan suara gemuruh itu adalah suara roda-roda kereta melindas jalan yang tidak rata. Cuping hidungnya kembang-kempis karena dia mencium bau harum semerbak dan matanya mencari-cari. Kiranya di dalam bilik kecil kereta itu terdapat peralatan rias dari wanita di atas sebuah meja kecil. Sisir, cermin, bedak dan lain-lain. Dia bergerak hendak bangkit duduk dan mengeluh. Kiranya tubuhnya sakit-sakit semua, terutama di dada dan punggungnya. Dia melihat betapa luka-luka luar di lengan dan dahinya telah dibalut orang dan diobati.

Tek Hoat menjadi terheran-heran dan menduga-duga. Tak salah lagi, tentu dia ditolong oleh rombongan itu, karena dia juga melihat ada sebuah kereta besar dari rombongan yang diserbu oleh Hek-tiauw Lo-mo itu. Akan tetapi siapakah orang-orang ini dan kereta siapa ini yang penuh dengan peralatan rias seorang wanita?

Tiba-tiba kereta itu berhenti dan Tek Hoat menyingkap tirai di jendela kereta. Kiranya mereka berhenti di dalam hutan dan waktu itu adalah tengah hari. Dia mengira bahwa belum lama dia berada di situ, karena pertempuran itu terjadi di pagi hari. Baru setengah hari.

Seorang yang berjenggot dan berkumis pendek, yang dikenalnya sebagai seorang di antara para pemimpin yang mengeroyok Mauw Siauw Mo-li, datang menjenguk dan diikuti seorang anggota rombongan yang membawa makanan untuk Tek Hoat.

“Aih, syukurlah bahwa engkau telah siuman kembali, orang muda yang perkasa! Hati kami sudah gelisah melihat kau pingsan selama sehari semalam.”

“Sehari semalam?” Ang Tek Hoat berseru kaget. “Bukankah baru pagi tadi aku jatuh pingsan?”

“Bukan pagi tadi, melainkan kemarin pagi,” orang itu berkata sambil tersenyum dan memandang kagum. “Sungguh hebat engkau, dapat menandingi orang-orang iblis itu! Terpaksa kami membawamu ke dalam kereta karena engkau pingsan dan tentu saja kami tidak tega meninggalkan engkau di dalam hutan itu.”

“Ahhh, terima kasih...!” Tek Hoat mencoba untuk bangkit duduk lagi, akan tetapi dia menyeringai kesakitan.

“Tak usah duduk. Mengasolah dulu, orang muda...”

“Akan tetapi... akan tetapi, siapakah kalian ini...?”

“Kami adalah pelancong-pelancong, rombongan pelancong.”

“Dan ke mana kalian hendak pergi?”

“Engkau sendiri hendak ke mana, orang muda? Kalau tidak satu tujuan dengan kami, biarlah kami mencarikan tempat di sebuah kota atau dusun untuk kau tinggal dan beristirahat. Jangan khawatir, kami akan meninggalkan biaya secukupnya sampai kau sembuh.”

“Terima kasih, kau baik sekali, Paman. Aku... aku akan ke barat...”

“Ahhh! Kalau begitu kita setujuan. Kami pun serombongan sedang menuju ke barat. Kalau begitu, biarlah engkau mengaso dahulu di kereta itu dan kami akan berusaha mengobatimu.”

Tek Hoat merasa girang sekali dan amat berterima kasih. Karena dia belum kuat bangkit duduk, maka dia mengangkat kedua tangan ke dada sambil rebah telentang, lalu berkata, “Engkau sungguh baik sekali, Paman, dan... banyak terima kasih atas pertolonganmu ini.”

Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Orang muda perkasa yang rendah hati! Jangan bicara tentang terima kasih dan pertolongan, karena kalau bukan engkau yang datang menolong, agaknya saat ini kami telah menjadi mayat-mayat yang diperebutkan binatang-binatang hutan! Mengasolah dan biar anak buahku ini melayanimu.” Pemimpin rombongan itu lalu pergi dan kiranya mereka semua berhenti di hutan itu untuk makan siang.

Orang yang membawa bubur dan asinan itu lalu hendak menyuapkan makanan, akan tetapi Tek Hoat mengucapkan terima kasih dan makan sendiri sambil rebah miring. Dia merasa berhutang budi kepada mereka ini dan diam-diam dia harus mengakui bahwa di dunia kaum sesat kiranya tidak berlaku hukum tolong-menolong seperti ini. Baru terbuka matanya bahwa manusia harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, bukan saling bermusuhan seperti di dunia kaum sesat. Betapa tenteramnya dunia ini kalau kehidupan manusia tidak dikotori oleh permusuhan dan kebencian!

Seorang di antara anggota rombongan, seorang kakek, ternyata pandai dengan ilmu pengobatan dan setiap hari Tek Hoat diperiksa dan diberi obat minum yang pahit namun manjur juga karena dia merasa makin tenang dan makin ringan luka-lukanya di dalam tubuh. Tentu saja setelah dapat duduk dia pun bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya sendiri.

Setiap hari, bahkan setiap saat Tek Hoat tidak pernah dapat melupakan Syanti Dewi. Makin dikenang, makin sakitlah hatinya, karena dia makin melihat kenyataan bahwa dia sama sekali tidak berharga berdekatan dengan puteri itu. Jangankan menjadi... kekasih seperti yang selalu mengganggu hatinya, bahkan menjadi sahabat pun tidak pantas, menjadi pelayannya pun tidak patut. Pendeknya dia hanya akan mengotorkan puteri itu kalau berdekatan, karena hawa di sekitar dirinya adalah kotor, hina dan jahat! Teringat akan itu semua, dia mengeluh panjang pendek di dalam bilik itu.

“Keparat kau, Tek Hoat...!” Dia memaki diri sendiri sambil menjambak rambut di bilik itu, tidak peduli bahwa suara hatinya itu keluar dari mulutnya dengan suara lirih. “Engkau manusia sesat, manusia jahat, sejahat-jahatnya orang! Bagaimana orang macam engkau tergila-gila kepada seorang bidadari seperti Puteri Syanti Dewi? Kau sudah gila! Seperti seekor burung gagak merindukan seekor burung hong!”

Kadang-kadang dia memaki-maki dirinya sendiri dan menyesali semua perbuatannya. Kadang-kadang dia membayangkan kecantikan Syanti Dewi, kelembutannya serta keramahannya, kemuliaan budinya, bahkan terdorong oleh suara hatinya, kadang dia bersenandung memuji-muji puteri yang telah menguasai seluruh cinta kasih hatinya itu. Hampir setiap malam dia bermimpi, bertemu dengan puteri itu dan dalam mimpinya tentu dia menyebut-nyebut namanya. Apa lagi ketika luka-lukanya membuat tubuhnya terserang demam, dalam keadaan tak sadar dia mengigau tentang Syanti Dewi.

Berkat usahanya sendiri siulian dan menghimpun tenaga murni, ditambah pengobatan rombongan itu, seminggu kemudian kesehatan Tek Hoat sudah berangsur baik. Biar pun dia belum sembuh sama sekali, dan masih lemah, akan tetapi dia sudah dapat meninggalkan kereta dan di waktu kereta berhenti di dusun-dusun, dia dapat ikut pula turun dan bersama dengan rombongan itu makan di warung-warung.

Hari itu mereka agak lama berhenti di dusun yang agak besar, karena rombongan itu membeli banyak ransum. Setelah melewati dusun itu, perjalanan akan melalui daerah pegunungan yang sunyi dan jarang terdapat dusun yang menjual bahan makanan, maka rombongan itu memperbanyak bekal mereka untuk keperluan di perjalanan. Tek Hoat juga membantu mereka. Karena tenaganya belum pulih kembali, dia ditugaskan untuk menghitung dan menimbang bahan-bahan makanan yang dibeli.

Ketika akhirnya semua beres, dan dia hendak kembali ke kereta karena dia belum kuat naik kuda, Tek Hoat menjadi bingung. Baru sekarang dia melihat bahwa kereta yang panjang itu ternyata terdiri dari dua bilik. Dia hampir saja membuka pintu bilik yang berada di depan, akan tetapi pemimpin rombongan itu memegang lengannya dan berkata, “Engkau keliru, Taihiap.” Dia kini disebut Taihiap setelah dia memperkenalkan diri, Ang-taihiap sebutannya. “Bilikmu adalah yang di belakang ini.”

“Ah, maaf. Akan tetapi siapakah yang berada di bilik depan?” tanyanya.

“Tidak ada siapa-siapa, akan tetapi Taihiap jangan membukanya. Sekali-kali harap jangan membukanya dan kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap.”

Tek Hoat mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya dia curiga sekali. Beberapa kali ingin dia membuka pintu bilik itu kalau tidak ada orang melihatnya, akan tetapi kata-kata pimpinan rombongan itu mengingatkannya. “...kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap.”

Hemm, apakah dia yang sudah menyeleweng dan tersesat itu kini juga menjadi orang yang tidak bisa dipercaya? Betapa pun curiganya, betapa pun inginnya untuk membuka pintu bilik depan itu, dia mengeraskan hati dan tidak mau membukanya! Mulai sekarang, dia harus menjadi seorang yang menjauhi segala keburukan! Dia harus memulai hidup baru dan menanggalkan semua kebiasaan lama yang busuk dan sesat!

Menjelang tengah hari, kereta mulai memasuki daerah hutan yang sunyi. Akan tetapi, ketika memasuki sebuah hutan, baru saja tiba di pinggir hutan itu, tiba-tiba rombongan ini berhenti dan kereta juga berhenti. Ang Tek Hoat terkejut. Kalau sekali ini terjadi pencegatan oleh orang-orang sakti seperti yang terjadi seminggu yang lalu, sedangkan kesehatan dan tenaganya belum pulih sama sekali, tentu mereka semua akan celaka dan dia sama sekali tidak dapat melindungi mereka. Padahal mereka sudah begitu baik kepadanya!

Tetapi tidak terdengar kegaduhan, maka Tek Hoat lalu menyingkap tirai bilik keretanya dan memandang ke depan, menjenguk ke luar. Di depan, tampak seorang dara remaja berdiri menghadang rombongan itu. Ang Tek Hoat memandang kagum. Seorang dara remaja yang amat cantik jelita, sangat cantik dan lincah, sikapnya ramah kekanak-kanakan namun memikat hati, tubuhnya tiada hentinya bergerak, sepasang matanya seperti sepasang bintang senja yang berkedip-kedip dan bersinar terang, jernih dan tajam, bibirnya yang merah itu bersungut-sungut namun bertambah manisnya.

Dengan sikap yang lucu dan jenaka, akan tetapi juga sedikit ugal-ugalan dara itu menggunakan telunjuk tangan kanannya menyodok perut kepala rombongan yang agaknya sudah mengenalnya itu. “Wah, Paman mencari penyakit, ya? Kenapa melalui jalan sini? Di balik hutan ini terdapat rombongan orang jahat yang amat jahat, bukan penjahat biasa melainkan gerombolan yang berilmu tinggi. Kalau rombongan Paman ini diketahuinya, tentu celaka! Suhu sendiri merasa ngeri berhadapan dengan gerombolan itu dan Suhu yang menyuruh aku menghadang Paman di sini untuk memberi peringatan agar Paman menggunakan jalan lain!”

Kepala rombongan itu tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak dara remaja yang jenaka itu sungguh pun sekali ini dia membawa berita yang mengejutkan.

“Aih, Nona Teng, kita bertemu lagi di tempat yang tak tersangka-sangka ini! Di mana Locianpwe yang menjadi gurumu itu? Dan gerombolan apakah yang kau ceritakan itu?”

“Gerombolan apa lagi yang berbahaya kalau bukan gerombolan yang dipimpin Raja Tambolon? Musuh besarmu, bukan? Menurut Suhu, Tambolon selalu menjadi musuh besar orang-orang Bhutan!”

Kepala rombongan itu kelihatan kaget bukan main, juga semua anggota rombongan itu mengeluarkan seruan kaget.

“Celaka...!” Kepala rombongan itu berseru.

Akan tetapi Tek Hoat yang mendengarkan percakapan itu pun terkejut bukan main. Kiranya rombongan ini adalah orang-orang Bhutan! Dia meloncat turun dan pergi ke depan mendekati gadis ini yang memandang kepada Tek Hoat dengan pandang mata penuh selidik.

“Taihiap, sekali ini kita dihadang gerombolan yang lebih berbahaya lagi,” pemimpin rombongan itu berkata ketika melihat Tek Hoat mendekati mereka.

“Paman Jayin, siapa dia yang kau sebut taihiap ini? Aku baru sekali ini melihatnya. Apa dia orang baru?” Dara remaja itu berkata dan dengan sinar mata penuh selidik, seperti seorang pedagang kuda yang hendak membeli seekor kuda dan menaksirnya, dia berjalan dengan gerak penuh kelembutan dan lagak yang memikat, mengelilingi Tek Hoat perlahan-perlahan sambil memandang dengan mata dipicingkan!

Melihat sikap ini, Tek Hoat menjadi geli di dalam hatinya. Benar-benar seorang bocah perempuan yang bersemangat, lincah jenaka dan ugal-ugalan. Rambut yang dikepang dua itu melambai-lambai lucu ketika kepala yang manis itu digerak-gerakkan dan lengannya lemah gemulai sehingga pinggul yang tertutup baju panjang itu bergerak-gerak membayang dengan lemasnya.

Rombongan itu kini berkerumun dan Tek Hoat lalu bertanya kepada dara remaja yang bukan lain adalah Teng Siang In itu. Seperti kita ketahui, Siang In telah diambil murid oleh See-thian Hoat-su, kakek yang sakti bekas suami nenek iblis Durganini. Mereka berdua telah saling berjumpa dan rujuk kembali. Akan tetapi dasar watak Durganini sudah pikun dan sudah berubah. Mereka berdua tadinya mengajak Siang In untuk kembali ke barat, ke Himalaya. Akan tetapi di tengah perjalanan, nenek itu banyak rewel dan kadang-kadang timbul niat buruknya untuk mengganggu penduduk dusun yang mereka lalui di tengah perjalanan. See-thian Hoat-su menentangnya dan kembali mereka cekcok dan bertentangan. Akhirnya, nenek yang ilmu silatnya masih kalah tinggi dibandingkan bekas suaminya ini ngambek dan pergi meninggalkan guru dan murid itu.

Setelah ditinggalkan oleh Nenek Durganini, See-thian Hoat-su menjadi kecewa dan membatalkan niatnya untuk kembali ke Himalaya. Dia mengajak muridnya kembali ke timur, karena dia tidak akan merasa tenang selama nenek yang pernah menjadi isterinya itu masih berkelana di timur. Dialah yang harus mencegah kalau bekas isterinya itu menggunakan ilmu mendatangkan kerusakan dan mala petaka kepada penduduk yang tidak berdosa.

“Adik kecil, apakah ceritamu itu benar? Benarkah Tambolon dan kawan-kawannya sudah berada di sini?” Tek Hoat bertanya kepada Siang In.

Kontan dara ini cemberut dan bertolak pinggang. “Ehhh, kau manusia sombong, ya? Dumeh (mentang-mentang) sudah disebut orang taihiap (pendekar besar) kau lalu merasa tua sekali, ya?”

Tentu saja Tek Hoat yang belum pernah bertemu dengan seorang dara seperti ini menjadi melongo. “Ehh, ehh, kok marah? Apa salahku?”

Perwira Jayin dari Bhutan dan empat orang pembantunya yang sudah mengenal Siang In, bahkan sudah pernah sama-sama menjadi tawanan raja liar Tambolon, menahan senyumnya.

Siang In memandang ke kanan kiri, kepada rombongan itu dan dengan hidung diangkat ke atas dia menuding kepada Tek Hoat. “Coba...! Dia masih pura-pura bertanya apa kesalahannya? Kau menyebut aku adik kecil, apakah itu bukan menghina namanya? Sudah sebegini, masih disebut anak kecil? Kalau aku anak kecil, apakah engkau sudah kakek-kakek?”

Semua rombongan itu tertawa dan muka Tek Hoat menjadi merah. Akan tetapi pemuda ini tersenyum. Pada dasarnya, Tek Hoat adalah seorang yang jenaka dan lincah gembira pula. Kalau dia berubah menjadi pendiam adalah karena banyak hal yang menekan hatinya. Kini dia memandang dengan mata berseri. Dara remaja ini benar-benar jenaka dan kemarahannya itu dia tahu adalah dibuat-buat.

“Kalau begitu, biarlah aku menyebutmu nyonya tua yang galak!” Tek Hoat menggoda.

Dara itu membelalakkan matanya, kelihatan menjadi makin cantik. Dia lalu menarik muka seperti nenek-nenek, tubuhnya agak membungkuk, suaranya lalu gemetar seperti seorang wanita tua yang sudah tua sekali, dan dia menjura ke arah Tek Hoat dengan lagak seorang nenek.

“Baiklah, kakek tua renta yang sudah pikun. Mengapa sudah setua ini kau masih belum juga mati-mati? Apakah tidak merasa bosan?”

Kembali rombongan itu tertawa karena suara dan sikap dara itu persis nenek-nenek tua. Tek Hoat juga tertawa dan dia lalu berkata, “Sudahlah, Nona. Maafkan aku. Aku hanya ingin bertanya apakah benar Tambolon sudah tiba di sini karena belum lama ini aku masih bertemu dengan mereka di timur.”

“Itu Suhu datang. Kalau kau tidak percaya, sudah jangan tanya aku, kau tanya saja kepada Suhu!”

Tek Hoat menoleh dan benar saja dari jauh datang seorang kakek tua renta yang larinya cepat sekali. Perwira Jayin dan para pembantunya cepat memberi hormat.

“Locianpwe, terima kasih atas peringatan Locianpwe tentang gerombolan itu. Sekarang bagaimana baiknya? Belum lama, baru seminggu ini kami juga telah dihadang oleh gerombolan Hek-tiauw Lo-mo dan kalau tidak ada Ang-taihiap ini tentu kami sudah celaka semua.”

Kakek itu bukan lain adalah See-thian Hoat-su. Dia terkejut mendengar bahwa rombongan ini seminggu yang lalu dicegat oleh Hek-tiauw Lo-mo dan dia memandang kepada Tek Hoat dengan kagum. Seorang yang dapat menolong rombongan ini dari gangguan Hek-tiauw Lo-mo, biar pun masih begitu muda, tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, pikirnya. Akan tetapi sekali pandang saja, dia tahu bahwa Tek Hoat pernah mengalami luka-luka dalam yang amat hebat, maka dia terkejut sekali.

“Ahh, engkau telah terpukul hebat sekali, orang muda!”

Tek Hoat menjadi kagum dan dia menjura. “Sudah berangsur baik, Locianpwe, berkat rawatan dan pengobatan rombongan ini.”

“Rombongan ini harus mengambil jalan lain. Cepat! Jangan melalui hutan ini. Mudah-mudahan saja belum terlambat dan tidak akan bertemu dengan mereka. Dan engkau harus diobati secepatnya, orang muda, agar tenagamu pulih dan kau dapat membantu kalau toh mereka masih dapat mengejar.”

Mendengar kata-kata kakek ini, pewira pengawal Bhutan itu tidak ragu-ragu lagi dan cepat memerintahkan rombongannya mengambil jalan berbelok ke selatan, mengambil jalan memutari bukit di depan dan menyimpang dari jalan besar. Ada pun Kakek See-thian Hoat-su lalu mengajak Tek Hoat ke dalam bilik keretanya itu dan setelah dia menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu, dia memanggil muridnya.

“Berikan dia obatmu penyembuh luka dalam yang manjur sekali itu!” kata kakek ini yang segera meninggalkan mereka untuk ikut menjaga di bagian depan barisan itu.

“Hemm, enaknya! Sudah menghina masih minta obat. Panggil dulu aku sebagaimana mestinya, nanti kuberi obat yang paling manjur,” Siang In berkata dengan sikap jual mahal.

Kalau saja Tek Hoat sudah tidak melihat kesesatannya dan mengambil keputusan untuk merubah watak dan sikapnya, tentu dia akan menjadi marah dan akan menghina gadis ini. Akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk dalam. “Nona yang baik, aku minta maaf dan kau berikanlah obat itu.”

Siang In tersenyum. “Nah, begitu dong! Sekarang engkau menjadi sahabatku, tidak usah minta pun tentu akan kuberikan obat itu.” Dia lalu mengeluarkan sebungkus obat yang berwarna merah dan berbentuk bulat kecil. Dia menyerahkan dua butir kepada Tek Hoat sambil berkata, “Telan semua dan kau tidur, nanti setelah bangun baru terasa khasiatnya.” Kemudian dia tersenyum manis dan meloncat turun dari dalam kereta.

Tek Hoat memandang dua butir obat di telapak tangannya itu sambil berkata seorang diri, “Betapa baiknya semua orang. Betapa manisnya dara itu, akan tetapi mana bisa dia menandingi Syanti Dewi...?” Lalu ditelannya dua butir obat itu dan dia pun merebahkan dirinya.

Begitu obat memasuki perutnya, terasa hawa panas memenuhi perut dan dadanya, kemudian seluruh tubuh sehingga dia mengeluarkan keringat. Nyata manjur sekali obat itu dan Tek Hoat menjadi makin kagum. Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu, Teng Siang In, adalah puteri mendiang ahli obat Yok-sian (Dewa Obat) yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dewa atau ahli pengobatan yang tinggal di Lembah Pek-thouw-san.

Menjelang senja, rombongan ini sudah mengelilingi bukit dan memasuki hutan kecil. Tiba-tiba tanpa ada sebabnya, tahu-tahu hutan di sekeliling mereka sudah terbakar! Rombongan ini tentu saja berhenti dan terkejut sekali. Akan tetapi See-thian Hoat-su yang berada di depan rombongan itu berteriak, “Jangan panik! Ini hanya ilmu siluman!”

Dia lalu meloncat ke atas sebuah batu besar, bersedakap dan berteriak, “Durganini, kau terlalu! Terpaksa aku melawanmu!”

Kakek itu bersedakap terus dan tak lama kemudian, rombongan orang Bhutan itu melihat hujan turun secara tiba-tiba dan api yang berkobar itu padam. Akan tetapi anehnya, mereka semua tidak tertimpa hujan! Kiranya baik kebakaran mau pun hujan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan oleh kekuatan sihir yang mukjijat saja!

Tak lama kemudian dari balik pohon-pohon bermunculan banyak orang dan di depan sendiri tampak Tambolon, Si Petani Maut Liauw Kui, Si Siucai Maut Yu Ci Pok, dan si nenek hitam Durganini yang menghadang rombongan!

“Orang gila, kau berani melawan aku?” Durganini memaki bekas suaminya dan dengan ganas dia melontarkan tongkatnya ke udara.

Tongkat itu berubah menjadi seekor naga yang turun menyambar ke arah See-thian Hoat-su yang masih juga berdiri di atas batu. See-thian Hoat-su cepat meloncat turun, menyambar segenggam tanah dan melontarkannya ke arah naga yang menyerangnya dengan dahsyat itu.

“Darrrrr...!”

Tampak kilat menyambar dan naga itu berubah menjadi tongkat butut kembali, lalu melayang ke tangan Durganini, etapi See-thian Hoat-su terhuyung karena memang dia kalah kuat dalam ilmu sihir.

“Kau perempuan iblis!” Kakek itu memaki dan tubuhnya sudah menyambar ke arah bekas isterinya untuk merampas tongkat.

Durganini membalas dengan hantaman tongkatnya, tetapi See-thian Hoat-su menangkis dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah ubun-ubun Si Nenek Ganas. Durganini mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya keserempet jari tangan See-thian Hoat-su sehingga ia memekik kesakitan, terhuyung dan menudingkan tongkatnya. “Kau... kau berani memukulku?” Teriakan ini disertai suara tangis, persis seperti lagak seorang isteri yang marah kepada suaminya!

Tambolon juga sudah mencabut pedangnya dan membantu gurunya menerjang See-thian Hoat-su. Sedangkan Liauw Kui dan Yu Ci Pok telah memimpin anak buah mereka menyerbu Perwira Jayin dan pasukannya. Terjadilah pertempuran yang hebat.

“Heeeiii, bangun! Bangun kau...! Wah, celaka, malasnya orang ini!”

Diguncang-guncang pundaknya itu, Tek Hoat terbangun dengan kaget dan dia meloncat turun dari kereta. Kiranya yang menggugahnya adalah Siang In. “Lekas bantu, lihat Suhu terdesak hebat oleh nenek siluman itu dan Tambolon!”

Tek Hoat meraba pinggangnya dan baru teringat dia ketika tangannya meraba tempat kosong, bahwa pedang yang diandalkannya, yaitu Cui-beng-kiam, telah terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo.

“Kenapa kau sendiri tidak membantu gurumu?” tanyanya.

“Uhhh, mana aku berani? Kau bantu guruku, mereka itu lihai sekali, dan aku akan membantu Paman Jayin!” kata Siang In yang memang belum begitu tinggi ilmu silatnya sehingga dia merasa ngeri kalau harus membantu suhu-nya menghadapi orang-orang seperti Tambolon dan gurunya itu.

Tek Hoat menggerak-gerakkan kedua lengannya. Memang jauh lebih enak dari pada kemarin. Dia menarik napas panjang, juga dadanya tidak terasa nyeri lagi. Dikerahkan sinkang-nya dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa keadaannya jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Maka dia kemudian meloncat dan terjun ke dalam pertempuran, menyerang Tambolon dengan pukulan dahsyat yang dilakukan dengan pengerahan sinkang-nya.

Tambolon terkejut, maklum bahwa lawannya ini lihai sekali. Dia mengelak dan berkata, “Eh, orang muda. Lupakah kau akan hubungan baik kita baru-baru ini? Kau bantulah kami dan engkau akan mendapat bagian, kau takkan kecewa!”

“Manusia keparat, siapa sudi mendengar bujukanmu?” Tek Hoat membentak dan sudah menerjang lagi, mengirim pukulan mautnya. Tambolon menyambut dengan tangan kirinya dan membarengi dengan bacokan pedangnya.

“Dessss...!”

Tambolon terjengkang ke belakang dan pundak kirinya Tek Hoat terkena ujung pedang, akan tetapi hanya luka kecil saja dan dia terus mendesak Tambolon yang ternyata kalah tenaga. Tetapi Tek Hoat mengerutkan alisnya. Memang dia telah mampu mengerahkan sinkang-nya, akan tetapi begitu bertemu dengan lawan yang kuat, dalam pertemuan tenaga dahsyat tadi, biar pun dia berhasil membuat Tambolon terjengkang, akan tetapi dadanya terasa agak nyeri.

Sementara itu Tambolon sudah menubruk maju dengan serangan pedangnya yang membabi buta. Tek Hoat mengelak dengan cepat, akan tetapi kembali dia diam-diam mengeluh oleh karena pengerahan ginkang-nya juga membuat dadanya sakit. Hal ini menandakan bahwa luka di dadanya belum sembuh benar.

“Sut-sutt-sing... desss!”

Biar pun Tek Hoat dapat menghindarkan diri dari sambaran pedang yang bertubi-tubi itu, namun sebuah tendangan mengenai lambungnya dan dia terlempar, jatuh terguling-guling. Dan sialnya, dia terlempar ke dekat Nenek Durganini yang sedang bertanding melawan bekas suaminya.

“Hiyyaaahhh!” Nenek itu mengeluarkan pekik dahsyat dan tangan kirinya bergerak ke arah leher Tek Hoat.

Pemuda yang masih bergulingan ini terkejut sekali. Ternyata kini sepuluh jari tangan nenek itu telah mengeluarkan kuku yang panjang runcing dan ketika dia mengelak, kuku jari tangan itu lewat dekat mukanya dan dia mencium bau yang amis, tanda bahwa kuku-kuku itu mengandung racun yang hebat! Dia berusaha meloncat berdiri, akan tetapi kaki kanan nenek yang memakai gelang itu menyambar.

“Dessss...!” Kembali dia roboh.

See-thian Hoat-su hendak menolongnya, akan tetapi Tambolon sudah menerjang kakek itu dengan putaran pedangnya secara dahsyat sehingga terpaksa kakek itu mengelak ke sana-sini. Tek Hoat terus didesak oleh Nenek Durganini, dan begitu dia bangkit, dua cakar beracun itu menyambarnya. Tek Hoat mengelak ke sana-sini, akan tetapi tetap saja leher dan pundaknya kena dicakar. Panas dan perih rasanya! Tek Hoat terkejut, cepat-cepat dia melempar tubuh ke atas tanah dan ketika nenek itu menendang, dia membiarkan dirinya ditendang.

“Desss...!” Tubuh pemuda itu bergulingan menabrak benda keras.

“Bresss!”

Ketika dilihatnya, ternyata tubuhnya tertumbuk kepada roda kereta! Nenek itu terkekeh-kekeh dan sudah berlari menghampirinya dengan kedua tangan bergerak-gerak secara menyeramkan.

Tek Hoat bangkit dengan kepala pening, siap untuk melawan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba pintu bilik depan kereta itu terbuka dan sebuah tangan yang halus namun kuat mencengkeram punggung bajunya dan menarik tubuh pemuda itu ke dalam bilik kereta yang segera ditutupkan. Nenek itu marah-marah dan hendak mencengkeram kereta, akan tetapi pemilik tangan halus itu menusukkan pedang menembus pintu kereta.

“Crattt! Aihhhh... aduhhhh...!”

Tangan Nenek itu tertusuk pedang dan terasa sakit bukan main. Karena tidak disangka-sangkanya, maka ujung pedang itu dapat melukai tangannya dan nenek yang pikun ini segera membalikkan tubuhnya, menangis lalu mengamuk kepada bekas suaminya, agaknya dia sudah lupa sama sekali akan Tek Hoat yang tidak kelihatan lagi itu.

Tek Hoat membuka matanya memandang dan... dia terbelalak. Matanya melebar dan mulutnya ternganga, karena ternyata yang menolongnya itu bukan lain adalah... Syanti Dewi!

“Ya Tuhan... sudah... sudah matikah aku...? Ataukah... ini hanya... mimpi...?” Tek Hoat menggosok-gosok matanya.

Syanti Dewi yang duduk di atas bangku kereta itu memandang dengan dua titik air mata berlinang, lalu mengulurkan tangan menyentuh leher dan pundak itu dan terdengar suaranya halus, “Kau... kau... terluka lagi...” Disentuhnya luka-luka itu dengan ujung jarinya yang halus.

“Kau... kau... Syanti Dewi...?” Tek Hoat menangkap ujung tangan itu dan menciumnya. “Aku... aku... ahhh, benarkah aku masih hidup?”

Kedua pipi puteri itu menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar ketika dia merasa betapa ujung jarinya diciumi dan merasakan hembusan napas yang panas dari pemuda itu mengenai jari-jari tangannya.

“Engkau masih hidup dan aku memang Syanti Dewi... aku... akulah yang berada di bilik depan kereta ini...”

Tek Hoat menjadi girang bukan main, girang dan juga jengah dan malu. Setiap saat dia teringat kepada puteri ini, dicari-carinya dan dikenang, dikhawatirkannya. Siapa tahu, seminggu lamanya dia berada di satu kereta dengan puteri ini! Dan teringatlah dia betapa dia sering kali menggandrungi puteri ini, bersenandung memuji-muji puteri ini. Tiba-tiba dia teringat. Pertempuran itu masih berlangsung.

“Ahhh, aku harus melindungimu, aku harus membasmi mereka... kalau tidak... Paduka akan celaka... kiranya mereka itu menyerang karena Paduka berada di sini...”

“Kau... kau masih terluka...”

Akan tetapi Tek Hoat sudah tidak peduli lagi. Begitu melihat bahwa Syanti Dewi berada di situ, mengertilah dia mengapa gerombolan Hek-tiauw Lo-mo menyerang rombongan ini, dan mengapa pula kini gerombolan Tambolon juga menyerang rombongan ini. Kiranya mereka itu tahu bahwa Sang Puteri berada di dalam kereta. Hanya dialah yang tolol, yang goblok, sekereta sampai seminggu lamanya tidak tahu! Hatinya girang, tapi juga khawatir, dan dia meloncat keluar dari kereta itu, cepat menutupkan pintunya kembali seolah-olah dia hendak menyembunyikan mustika agar tidak terlihat oleh lain orang!

Kakek See-thian Hoat-su masih dikeroyok dua oleh Tambolon dan Durganini. Kakek ini terdesak hebat, agaknya juga sudah terluka karena pangkal lengan kirinya berdarah. Siang In masih mengamuk membantu Perwira Jayin dan para anggota rombongan, akan tetapi mereka pun terdesak hebat oleh Si Petani Maut Liauw Kui dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, karena memang tingkat kepandaian dua orang pembantu Tambolon ini lebih tinggi dari mereka. Senjata pikulan dari Liauw Kui dan senjata sepasang poan-koan-pit dari Yu Ci Pok memang berbahaya sekali, dan hanya karena Jayin yang dibantu oleh Siang In dan empat orang perwira pembantunya itu melakukan perlawanan gigih, maka pertandingan masih berlangsung dengan seru dan mati-matian.

Tek Hoat maklum bahwa yang boleh diandalkan oleh rombongan ini hanyalah Kakek See-thian Hoat-su. Dia sendiri sudah terluka parah, dan kalau kakek itu roboh, tentu yang lain akan celaka semua. Maka dia lalu menerjang maju lagi membantu kakek itu dan kini entah bagaimana, pertemuannya dengan Syanti Dewi seolah-olah memulihkan semua tenaganya. Ketika dia menyerbu dan menghantam, Tambolon sampai terpental ke belakang dan bergulingan sambil memaki-maki, bangkit berdiri lagi dan menerjang Tek Hoat yang merasa betapa dadanya sakit akan tetapi kini dia pertahankan dengan semangat baru. Dia harus hidup. Dia harus menang, karena kalau tidak, Syanti Dewi akan celaka.

“Sutt... singgg-singgg...!”

Pedang di tangan Tambolon menyambar-nyambar ganas. Tek Hoat mengelak dua kali dan dari samping dia memukul dengan tangan miring, ke arah lambung raja liar itu. Tambolon terkejut dan tidak sempat mengelak akan tetapi karena dia maklum bahwa pemuda itu sudah terluka dan dalam keadaan tidak sehat sehingga tenaganya pun tidak sepenuhnya, dia lalu berlaku nekat, menyambut hantaman itu dengan tangan kirinya sambil mengerahkan seluruh sinkang-nya.

“Dessss...!”

Sekali ini hebat sekali pertemuan tenaga sinkang yang sama kuatnya, dan akibatnya, kembali tubuh Tambolon terpental, mulutnya muntahkan darah segar sedangkan tubuh Tek Hoat terguling-guling sampai beberapa kaki jauhnya dan wajah pemuda ini pucat sekali, napasnya terengah-engah dan sesak sehingga dia menggunakan tangannya untuk menekan dadanya.

Dengan mata mendelik Tambolon meloncat bangun, mengusap darah dari bibirnya dengan gemas, kemudian mengangkat pedangnya sambil lari menerjang Tek Hoat. Sementara itu, kakek See-thian Hoat-su masih belum merobohkan Durganini karena sesungguhnya kakek ini masih merasa kasihan kepada bekas isterinya yang dia tahu berubah jahat karena sudah pikun dan disalah gunakan oleh muridnya, Tambolon yang penuh ambisi dan jahat itu. Ketika melihat betapa Tek Hoat sudah tidak berdaya dan Tambolon mengejar hendak membunuhnya, dia terkejut sekali, akan tetapi karena jaraknya agak jauh, dia maklum bahwa dia tidak akan dapat menyelamatkan pemuda perkasa itu.

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tempat itu muncul seorang kakek berlengan tunggal yang berpunggung bongkok! Punggungnya demikian bongkoknya sehingga ketika dia datang berjalan cepat ke arah pertempuran, kepalanya seperti meluncur di depan saja, sedangkan kedua kakinya seperti terseret jauh di belakang. Atau cara kakek ini berjalan seperti setengah merangkak! Tetapi anehnya, bukan main cepatnya karena tahu-tahu dia telah berada di situ.

Hebatnya, bersama dengan kakek bongkok yang aneh ini datang pula angin berputar yang seperti ombak dahsyatnya, dan semua orang, termasuk Tek Hoat, Tambolon, Durganini dan See-thian Hoat-su terdorong dan terhuyung ke belakang oleh angin dahsyat ini. Jangan ditanya lagi para anggota rombongan orang Bhutan dan anak buah Tambolon, mereka semua roboh jungkir balik dan tumpang-tindih antara kawan dan lawan seperti daun-daun kering diamuk angin puyuh.

Kakek bongkok yang berdirinya seperti mau ‘tiarap’ itu menggerakkan kedua lengannya seperti orang mencegah mereka bertempur, lalu berkata, “Antara sesama manusia, mengapa saling bunuh? Tanpa saling bunuh pun, apakah ada di antara kalian yang kelak bebas dari kematian?”

Durganini yang sudah pikun itu tidak terpengaruh oleh ucapan aneh ini, tidak seperti See-thian Hoat-su yang sudah berdiri tegak dan bersikap hormat. Sebaliknya Durganini malah melangkah maju mendekati kakek bongkok itu, kedua tangannya lurus ditujukan ke arah kakek bongkok itu sambil membentak dengan suara yang amat berpengaruh. Nenek ini sudah mengerahkan kekuatan sihirnya!

“Tua bangka bongkok, kau yang sudah mau mampus, hayo cepat bergulingan di atas tanah!”

“Durganini, jangan...!” See-thian Hoat-su mencegah namun terlambat.

Semua orang di situ merasa betapa ada pengaruh yang amat jahat dan mengerikan terbawa oleh suara dan gerakan kedua tangan Durganini, bahkan ada di antara prajurit yang tanpa disadarinya tahu-tahu sudah merebahkan diri di atas tanah dan bergulingan seperti orang gila! Akan tetapi yang paling aneh adalah ketika semua orang melihat bahwa kakek bongkok itu hanya menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas, sama sekali tidak bergerak dan lucunya, kini Durganini tahu-tahu merebahkan diri dan bergulingan di atas tanah dengan hebatnya!

Tek Hoat yang sudah setengah pingsan itu melihat dengan terbelalak, akan tetapi pengerahan tenaga terakhir dengan Tambolon tadi membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Sebuah tangan yang halus memegang lengannya. Dia menoleh dan kiranya Syanti Dewi yang memegang lengannya. Puteri itu kemudian menariknya perlahan-lahan dan pergi dari situ selagi semua orang masih terpesona oleh peristiwa aneh tadi.

“Kau terluka parah... sebaiknya kita menyingkir dari tempat berbahaya ini...”

Tek Hoat menggeleng kepala. “Aku... aku harus melawan... aku harus melindungimu...”

Akan tetapi Syanti Dewi memaksanya pergi, setengah menyeretnya dan keduanya lalu menyelinap ke dalam hutan yang lebih lebat.

Sementara itu, melihat Durganini makin lama makin hebat bergulingan, kakek bongkok itu mengangkat tangan ke atas. “Sadarlah semua... bangkitlah..., dan lenyaplah semua kekuatan gelap...!”

Aneh, mereka yang bergulingan di atas tanah, termasuk Durganini, menjadi terkejut, sadar dan terheran-heran, lalu Durganini bangkit dengan napas terengah-engah dan wajah pucat. Sekarang dia memandang kepada kakek bongkok itu dengan sinar mata ketakutan karena dia maklum bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti luar biasa.

“Siapa yang pernah bertemu dengan muridku? Harap katakan, di mana muridku? Apakah ada yang melihatnya? Dia berusia kira-kira dua puluh lima tahun, pemuda yang bertubuh tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, matanya tajam seperti mata naga, sikapnya gagah seperti seekor singa, namanya Kok Cu... siapakah yang pernah bertemu dengan dia?”

See-thian Hoat-su dan Durganini menggeleng kepala dan tidak ada seorang pun yang pernah mendengar tentang pemuda murid kakek bongkok itu. See-thian Hoat-su cepat memberi hormat dan bertanya dengan suara tergetar penuh kagum. “Kalau saya tidak keliru sangka, tentu Locianpwe ini adalah Yang Mulia Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir...?”

Kakek bongkok itu menghela napas dan menggerakkan tangannya, seolah-olah tidak mempedulikan kata-kata itu. “See-thian Hoat-su, Durganini dan Tambolon, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku Kok Cu itu?”

Tiga orang itu terkejut bukan main. Selama hidup mereka, baru kini mereka bertemu dengan kakek tua renta itu, akan tetapi kakek ini begitu saja menyebut mereka seolah-olah sudah lama mengenal mereka. Otomatis mereka menggeleng kepala karena memang mereka belum pernah bertemu dengan pemuda yang dimaksudkan kakek itu.

“Sudahlah, aku mencari di tempat lain!” kata kakek itu dan sekali berkelebat dia sudah lenyap!

Selagi semua orang tertegun dan melongo, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan dari jauh di atas bukit tampaklah debu mengepul tinggi dan datang sebuah pasukan besar dari barat yang jumlahnya tentu tidak kurang dari seratus orang.

Tambolon belum dapat mengenal pasukan itu, maka dia sudah berteriak lagi, “Serbu!”

Dan pertandingan pun mulai lagi! Sungguh mereka ini seperti serigala-serigala yang haus darah dan tadi pertempuran terganggu sebentar karena munculnya kakek bongkok luar biasa itu. Durganini kembali menyerang See-thian Hoat-su seperti sikap seorang isteri galak yang mencemburui suaminya, tak pernah mau sudah menyerang! Karena dikeroyok dua oleh bekas isterinya dan Tambolon, sedangkan Tek Hoat sudah tidak ada lagi untuk membantunya, kakek ini tentu saja kembali terdesak hebat dan kewalahan.

Akan tetapi tak lama kemudian pasukan itu tiba dan bersoraklah pihak rombongan Perwira Jayin karena ternyata bahwa pasukan itu adalah pasukan dari Bhutan yang dikirim oleh rajanya untuk menyusul Perwira Jayin yang belum ada kabarnya dalam mencari puteri raja. Tentu saja pertempuran menjadi berubah keadaannya dan terpaksa Tambolon membujuk gurunya untuk lari menyingkir karena menghadapi pasukan pilihan dari Bhutan yang terlatih baik dan yang jumlahnya jauh lebih besar itu, tentu saja dia dan anak buahnya kewalahan dan terancam bahaya kemusnahan. Maka berlarilah mereka, meninggalkan para korban di antara anak buah raja liar Tambolon.

Sementara itu, Syanti Dewi yang dulu sudah berpengalaman ketika menemani Gak Bun Beng yang juga menderita sakit payah, kini setengah menyeret tubuh Tek Hoat yang hampir pingsan itu. Akhirnya, karena tenaganya habis dan napasnya terengah-engah, Syanti Dewi berhenti di belakang semak-semak yang rimbun.

“Aihhh..., kau terluka lagi...” katanya sambil menggunakan sapu tangannya menyeka darah yang mengucur dari luka di leher dan pundak Tek Hoat yang pecah kembali.

“Syanti... puteri... saya... saya harus membantu teman-teman menghadapi mereka...” Tek Hoat bangkit akan tetapi terhuyung.

“Tidak... tidak...! Apakah kau mau bunuh diri? Tidak, aku melarang kau pergi. Aku melarang!” Syanti Dewi memegangi lengannya erat-erat.

Tek Hoat membalik dan menghadapi puteri itu, memandang dengan mata terbelalak. “Paduka... paduka peduli apa... kalau saya mati...?”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya. “Ang Tek Hoat, kau sudah berkali-kali menolong aku dan menyelamatkan aku dengan pengorbanan dirimu, dan kini kau masih bertanya aku peduli apa? Kau anggap aku ini orang apa? Orang yang tidak mengenal budi? Kau terluka, biar aku merawat lukamu...”

“Paduka... kau... merawat lukaku...?” Tubuh Tek Hoat menjadi lemas, kepalanya pening kembali sehingga bicaranya tidak karuan lagi dan dia menurut saja ketika ditarik turun dan disuruh rebah di atas rumput.

“Luka-lukamu harus dicuci bersih... sayang obat-obat untuk luka yang pernah kuterima dari Jenderal Kao sebagai bekal berada di kereta...”

“Aku mempunyai obat seperti itu...” Tek Hoat dengan mata masih terpejam meraba saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan. “Gunakan obat bubuk ini... auhhh... dadaku...”

“Kenapa dadamu? Kenapa...?” Syanti Dewi meraba-raba dan membuka kancing baju pemuda itu untuk memeriksa. Alangkah kagetnya ketika melihat kulit dada yang putih itu tampak tanda biru bekas pukulan sedangkan ketika dia mencuci luka di leher dan pundak bekas cakaran kuku Durganini, luka-luka itu kelihatan kehitaman!

“Ah, kau terluka parah...!” Dia berseru penuh kekhawatiran.

“Tidak mengapa... tidak mengapa, harap paduka cepat kembali ke sana, biarlah saya mengurus diri sendiri...”

“Tek Hoat!” Tiba-tiba Syanti Dewi berkata dengan nada suara agak keras. “Mengapa kau begini angkuh?”

Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak. “Saya...? Angkuh...?”

“Engkau terluka parah dan perlu ditolong, mengapa engkau seolah-olah menolak semua pertolonganku? Engkau benar-benar mengusirku agar kembali ke sana, agar tertawan oleh Tambolon?”

“Ah, tidak..., tidak... jangan paduka salah sangka...!”

“Engkau sungguh... sungguh memuakkan perutku!” Syanti Dewi lalu bangkit berdiri dan membelakangi Tek Hoat.

Pemuda ini menjadi bengong dan dia bangkit duduk, memandangi tubuh belakang Syanti Dewi. Dia benar-benar tidak mengerti harus berkata dan berbuat apa. Sikap wanita ini membingungkannya, dan dia tidak dapat menyelaminya. Ketika dia melihat pundak puteri itu berguncang perlahan, dia terkejut. Puteri itu menangis! Tentu merasa tersinggung dan sakit hatinya, pantas dia dikatakan memuakkan dan memuakkan perut!

“Ahhh, Puteri Syanti Dewi, harap paduka sudi mengampuni saya... saya sungguh tidak tahu terima kasih... saya memang membutuhkan bantuan dan paduka demikian rela membantu, akan tetapi saya keras kepala, sombong dan... memuakkan perut, maafkan saya...” Dengan kaku dia lalu merebahkan dirinya sehingga kepalanya terbentur batu di belakangnya. “Aduhhh...!”

Syanti Dewi cepat membalik dan berlutut. Melihat belakang kepala Tek Hoat menjendol, dia lalu menggosok-gosoknya dan mulutnya berbisik, “Kasihan... kau orang muda yang malang...”

“Saya... saya tidak muda lagi..., paduka lebih muda...”

“Tek Hoat, aku akan marah kalau kau terus menerus merendahkan diri, menyebut aku puteri dan paduka. Engkau mau bersahabat ataukah tidak?” Bibir manis yang merah itu cemberut.

“Baiklah... baiklah, put..., ehh, Syanti Dewi. Engkau tentu lebih muda dari pada aku...”

Syanti Dewi tersenyum, agak lega karena wajah pemuda itu tidak sepucat tadi.

“Tentu saja, kau tadi bilang tidak muda lagi, agaknya engkau sudah kakek-kakek.”

“Aku sudah tua, sudah terlalu tua oleh dosa...”

“Sudah, jangan banyak cakap. Biarkan aku membalut luka-lukamu dan memberi obat-obat secukupnya.” Dengan jari-jari tangan cekatan, sedikit pun tidak jijik melihat darah membeku dan luka kehitaman yang mengerikan, Syanti Dewi mengobati dan membalut luka-luka itu. Bukan main nyerinya, akan tetapi Tek Hoat menggigit giginya menahan sakit.

“Orang-orang muda, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku?”

Tiba-tiba saja kakek bongkok itu berdiri di dekat mereka, membuat Syanti Dewi kaget dan hampir menjerit kalau saja dia tidak menutupi mulut dengan tangannya. Tek Hoat juga bangkit duduk dan memandang tajam, bersiap melindungi Syanti Dewi yang dipeluknya dengan lengan kiri. Ketika dia mengenal kakek bongkok yang tadi datang secara ajaib dan secara mukjijat pula melerai pertempuran, dia lalu bertanya dengan hormat,

“Locianpwe, siapakah murid Locianpwe itu?”

“Dia pemuda gagah perkasa, tinggi besar dan usianya dua puluh lima tahun, namanya Kok Cu...”

“Maafkan saya, Locianpwe, saya belum pernah bertemu dengan dia...” jawab Tek Hoat sejujurnya.

Kakek itu menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku mencari di lain tempat...”

“Nanti dulu, Locianpwe!” Syanti Dewi berseru ketika kakek itu berkelebat lenyap.

Dalam sekejap mata saja kakek itu kelihatan lagi dan Tek Hoat diam-diam kagum bukan main. Selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu dengan seseorang yang memiliki kesaktian sehebat ini!

“Kau mau bicara apa, Nona?”

“Entah dia murid Locianpwe atau bukan, akan tetapi saya pernah mendengar nama Kok Cu. Dia itu adalah Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dahulu kabarnya lenyap di gurun pasir, bukan? Kalau Locianpwe mencari dia, sebaiknya ke kota raja menemui Jenderal Kao Liang.”

“Aihhh...!” Tiba-tiba kakek bongkok itu menepuk dahinya. “Jadi putera Jenderal Kao...?” Sepasang matanya yang mencorong itu kini bersinar-sinar sehingga mengejutkan dan menakutkan hati Syanti Dewi dan Tek Hoat. Mata kakek ini tidak lumrah mata manusia, mencorong seperti mengandung api!

“Orang muda, engkau menderita keracunan yang lumayan. Di sini aku menerima berita tentang muridku, sudah sepatutnya pula kalau aku merubah sedikit keadaanmu agar lekas sembuh!”

Kakek itu lalu menggerakkan lengannya dan Syanti Dewi memandang dengan mata terbelalak dan ngeri. Kakek itu berdiri kurang lebih tiga meter jauhnya dari Tek Hoat, akan tetapi lengannya terus memanjang sampai akhirnya telapak tangannya menempel di punggung pemuda itu, mengusap beberapa kali di punggung, leher dan pundak, lalu lengan itu ditarik.

“Aku pergi!” terdengar suaranya akan tetapi orangnya sudah lenyap!

Syanti Dewi bengong, menoleh ke kanan kiri dengan bulu tengkuk meremang. Sukar dia percaya bahwa kakek tadi seorang manusia, pantasnya sebangsa dewa atau juga siluman!

Tiba-tiba Tek Hoat berseru kaget, “Aihhh... aku sudah sembuh!”

Syanti Dewi cepat berlutut mendekati dan ketika dia memeriksa, benar saja, warna biru kehitaman di dadanya lenyap, juga luka-luka di leher dan pundaknya sudah tidak hitam lagi, bahkan hampir kering. Akan tetapi tubuhnya masih lemas sehingga ketika dia bangkit berdiri, dia terhuyung.

Tek Hoat lalu berlutut. “Terima kasih, Locianpwe.”

“Akan tetapi kenapa kau kelihatan lemas sekali, Tek Hoat?”

“Semua racun telah lenyap dari tubuhku, dan luka-lukaku tidak ada artinya lagi. Akan tetapi tenagaku belum pulih dan aku perlu mengaso...”

Pada saat itu terdengar sorak-sorai dan pertempuran makin menghebat, terdengar dari tempat itu. Mendengar ini, Syanti Dewi terkejut, cepat dia menarik lengan Tek Hoat dan diajaknya terus lari memasuki hutan yang lebat itu, makin jauh ke dalam. Kalau saja dia tahu bahwa sorak-sorai itu adalah tanda kedatangan pasukan pembantu dari negerinya, tentu dia tidak akan lari ketakutan.

Setelah racun yang berada di tubuhnya lenyap semua berkat kesaktian kakek bongkok, tubuh Tek Hoat menjadi lemas sekali. Akan tetapi Syanti Dewi terus memaksanya untuk memasuki hutan lebih dalam sehingga pemuda ini berjalan terhuyung-huyung dipapah oleh dara itu. Hati pemuda ini terharu bukan main. Seorang dara begitu lembut dan halus, seorang puteri kerajaan, kini memapahnya, tersaruk-saruk menerjang semak-semak belukar yang penuh duri sehingga kaki tangan dara itu yang tidak terlindung, luka-luka dan lecet-lecet berdarah.


BERSAMBUNG KE JILID 26


Kisah Sepasang Rajawali Jilid 25

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU
KISAH SEPASANG RAJAWALI BAGIAN 25
Bagaimana Gak Bun Beng, Milana, dan Suma Kian Bu dapat berkumpul dan sekarang dikatakan oleh Hek-tiauw Lo-mo bahwa mereka sedang memimpin pasukan pengawal menyerbu dusun itu? Untuk mengetahui hal ini, baiknya kita membiarkan dulu Topeng Setan yang sedang kebingungan itu dan mari kita mengikuti pengalaman Gak Bun Beng dan Milana.

********************

Seperti telah dituturkan di bagian depan, dengan hati seperti disayat-sayat Gak Bun Beng terpaksa meninggalkan istana Milana, bekas kekasihnya dan yang masih merupakan satu-satunya wanita yang dicintanya di dunia ini. Perih sekali hatinya ketika dia melihat kenyataan bahwa Milana juga masih mencinta dia! Bahwa wanita yang dicintanya itu ternyata hidup merana, hidup sengsara di samping suaminya itu, karena Milana tidak pernah dapat melupakan dia.

Betapa akan mudahnya untuk membiarkan diri terbenam dalam kebahagiaan bersama Milana, menuruti suara hati dan dorongan keinginan yang ditekan-tekannya selama belasan tahun ini. Namun kalau dia menuruti hati dan menerima uluran kasih sayang Milana, akan menjadi orang macam apakah dia? Tidak! Ayahnya dulu terkenal sebagai seorang datuk sesat, berjuluk Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kelahiran dirinya pun adalah akibat perbuatan terkutuk ayahnya itu atas pemerkosaannya terhadap ibunya.

Biar pun ayahnya seorang manusia iblis, dia harus menebus semua penyelewengan ayahnya itu dengan perbuatan yang benar! Dan kalau dia kini menuruti nafsu hatinya, merebut seorang wanita seperti Milana yang masih bersuami, berarti dia adalah sama tersesatnya dengan ayahnya. Tidak, biar hancur hatinya, biar remuk hidupnya, dia tidak sudi melakukan hal ini dan dia telah melarikan diri dari Milana!

Namun, cintanya terhadap Milana demikian besarnya, mengalahkan segala-galanya. Dahulu, selama belasan tahun dia telah mampu menekan perasaannya ini, menekan hasrat hatinya untuk bersanding dengan wanita kekasihnya. Akan tetapi, setelah kini bertemu dengan Milana, duduk berdekatan, mendengar suaranya, bahkan mendengar pernyataan cinta kasih wanita itu yang masih sebesar dahulu terhadap dirinya, mana dia mampu berjauhan? Dia tidak kuat untuk berjauhan lagi.

Maka seperti seorang yang sinting Gak Bun Beng tak pernah jauh meninggalkan kota raja, bahkan kadang-kadang dia mencuri masuk, menggunakan kepandaiannya hanya untuk menjenguk dan melihat wajah kekasihnya. Dia cukup puas hanya dengan melihat sepintas wajah yang tak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu, lalu pergi lagi, akan tetapi tidak jauh, hanya dekat di luar kota raja, bersembunyi.

Gak Bun Beng adalah seorang laki-laki yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, hampir empat puluh tahun dan selama hidup baru dengan Milana saja dia berdekatan dengan wanita. Dia adalah seorang perjaka, bahkan setelah berpisah dengan Milana belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah mau memandang wanita lainnya dan seolah-olah sudah menutupkan pintu hatinya terhadap cinta asmara antara pria dan wanita.

Segala macam bentuk nafsu keinginan lahir dari pikiran. Daya tarik yang terkandung, dalam keindahan bentuk tubuh dan kecantikan serta kelembutan seorang wanita terhadap pandang mata seorang pria memang sudah sewajarnya, akan tetapi dalam daya tarik itu tidak terkandung nafsu birahi.

Kalau kita kaum pria melihat seorang wanita dan kita lalu kagum akan kecantikannya, kelembutan dan keluwesannya, maka hal itu hanya habis pada tingkat kekaguman saja. Akan tetapi begitu sang pikiran masuk mencampuri, pikiran membayangkan hal yang bukan-bukan, kenangan-kenangan yang pernah dirasakannya atau pernah didengar, pernah dilihatnya, maka sang pikiran ini lalu membayangkan betapa akan senang dan nikmatnya kalau kita dapat memiliki wanita itu menjadi kawan bermain cinta dan sebagainya, maka lahirlah nafsu birahi yang pada dasarnya hanyalah keinginan untuk menyenangkan diri pribadi. Pikiran adalah diri pribadi, maka segala yang direncanakan dan diperbuat oleh pikiran selalu berpusat pada kesenangan untuk diri pribadi.

Dengan kekuatan batinnya yang memang amat kokoh kuat, Gak Bun Beng berhasil menjauhkan diri dari nafsu birahi dan tidak merasa terganggu. Akan tetapi tiba-tiba muncul Syanti Dewi dalam kehidupannya, dan sifat-sifat dara yang amat baik ini dengan kekuatan mukjijat membuka lagi pintu hatinya. Jika saja dia tidak mempunyai kesetiaan sampai mati kepada Milana, agaknya dengan amat mudahnya dia menerima uluran tangan Syanti Dewi yang jatuh cinta kepadanya karena terdorong oleh hutang budi dan kekaguman yang berlebihan.

Dia sudah menolak Syanti Dewi dengan bijaksana, mengingat usia mereka, mengingat hubungan hatinya dengan Milana. Akan tetapi penolakan ini membuka lebar-lebar kembali luka di dalam hatinya. Semua ini ditambah lagi dengan perjumpaannya dengan Milana, lalu lebih-lebih lagi dengan pernyataan Milana betapa wanita itu masih selalu mencintanya, betapa wanita itu merana hidupnya karena dia!

Kini Gak Bun Beng tersiksa hebat, jauh lebih hebat dari pada dahulu kerena kini setiap detik dia digerogoti perasaan dendam rindu kepada Milana! Inilah yang membuat dia tidak mampu lagi terpisah jauh-jauh dari wanita yang dicintanya itu, dan penderitaan ini hendak diperingan dengan setiap kali menjenguk wajah orang yang dicintanya. Dia tidak tahu bahwa perbuatan itu sebenarnya bahkan memperhebat penderitaannya, seperti seorang yang kehausan diperlihatkan air yang tidak boleh diminumnya!

Betapa terkejutnya ketika dia mendengar akan geger yang terjadi di kota raja, yaitu tentang tewasnya Pangeran Liong Bin Ong yang kabarnya dibunuh oleh perwira Han Wi Kong dan tentang tewasnya perwira itu pula, kemudian tentang mengamuknya Puteri Milana dan lenyapnya Puteri Syanti Dewi dari istana Kaisar!

Tentu saja dia cepat memasuki kota raja dan melakukan penyelidikan. Dengan muka pucat dia menghadap Perdana Menteri Su dan mendengar semua penuturan perdana menteri itu bahwa suami Milana tewas, kemudian betapa Milana menculik Puteri Syanti Dewi dan melarikan diri dari kota raja setelah membunuh para pengawal Liong Bin Ong yang menewaskan suaminya!

Gak Bun Beng terkejut dan juga berduka sekali. Kekasihnya tertimpa mala petaka yang demikian hebat tanpa dia mampu menolongnya! Dia merasa menyesal sekali. Andai kata dia tidak meninggalkan istana puteri itu, kiranya belum tentu suami puteri ini akan tewas dan membawa akibat sedemikian hebatnya sehingga kini Puteri Milana menjadi seorang pelarian dari istana! Setelah menghaturkan terima kasih kepada Perdana Menteri Su, dia lalu berpamit dan cepat mencari Milana yang dia duga tentu hendak mengantarkan Syanti Dewi kembali ke Bhutan.

Sementara itu, seperti telah diceritakan di bagian depan, Milana yang membawa lari Syanti Dewi bertemu dengan Ang Siok Bi, kemudian bertemu dengan Jenderal Kao Liang dan menyerahkan Syanti Dewi kepada dua losin pengawal jenderal itu yang dipimpin oleh kepala pengawal Can Siok untuk dikawal sampai ke Bhutan. Puteri Milana sendiri lalu berpisah dari Jenderal Kao Liang untuk kembali ke utara karena dia ingin pergi ke orang tuanya, yaitu di Pulau Es.

Lemas rasa seluruh sendi tulangnya ketika Puteri Milana berjalan perlahan memasuki hutan itu. Berkali-kali dia menghela napas panjang, menyesali dirinya sendiri karena dia merasa telah melakukan dosa yang amat besar. Dia merasa seolah-olah dialah yang telah membunuh Han Wi Kong. Dia tahu bahwa suaminya itu seperti membunuh diri, sungguh pun pembunuhan diri yang amat terhormat dan berjasa besar bagi negara. Dan yang menjadi sebab adalah dia.

Suaminya menderita hebat sejak menikah dengan dia karena suaminya itu benar-benar mencintanya dan dapat dibayangkan betapa perih hatinya dan sengsara hidupnya karena semenjak menikah, sampai belasan tahun lamanya, dia hanya menjadi isteri dalam nama saja, tidak pernah menjadi isteri dalam arti yang sesungguhnya.

“Salahkah aku? Berdosakah aku?” Berkali-kali dia bertanya kepada diri sendiri.

Dia dahulu diharuskan menikah oleh Kaisar dan terpaksa dia harus memilih seorang di antara mereka. Pilihannya jatuh kepada Han Wi Kong, akan tetapi bagaimana dia bisa mencinta orang lain kalau hatinya sudah diserahkan sebulatnya kepada Gak Bun Beng? Han Wi Kong ‘membunuh diri’ sebab ingin membahagiakannya, ingin membebaskannya agar dia dapat berkumpul dengan Gak Bun Beng. Jika sampai tujuan terakhir suaminya itu tidak terpenuhi, sama artinya dengan membiarkan suaminya itu mati konyol, mati dengan sia-sia.

Akan tetapi Gak Bun Beng... Milana menarik napas panjang ketika teringat pria yang dicintanya itu, teringat akan pendiriannya, akan keangkuhannya. Teringat betapa Gak Bun Beng berkeras meninggalkannya, kembali dia menarik napas panjang dan bibirnya terdengar mengeluh lirih seperti rintihan, “Gak-suheng...”

“Sumoi...!”

Suara ini memasuki telinganya seperti halilintar dan membuat seluruh tubuhnya tergetar. Wajah Milana menjadi pucat sekali dan cepat dia membalikkan tubuhnya. Ketika melihat orang yang sedang dikenangnya itu kini berdiri di depannya, Gak Bun Beng yang berwajah pucat dan bermata sayu, Milana menggosok kedua matanya.

“Sumoi... Milana, aku di sini...” Gak Bun Beng berkata dengan suara terharu ketika melihat wanita itu seperti tak percaya akan kehadirannya, wanita yang dicintanya, yang berpakaian kusut dan berambut awut-awutan, berwajah pucat sekali akan tetapi yang kecantikannya baginya tak pernah berkurang semenjak mereka masih remaja dahulu.

“Suheng... Gak-suheng...” Milana tak dapat lagi menahan hatinya.

Wanita yang terkenal sebagai seorang pendekar besar, seorang pahlawan dan seorang panglima yang amat gagah perkasa, yang mampu menghadapi segala macam bahaya dengan mata tidak berkedip, yang tidak pernah meruntuhkan air mata dan yang terkenal sebagai seorang wanita gagah berhati baja, kini tidak lebih hanya seorang wanita yang lembut dan tangisnya mengguguk, air matanya jatuh berderai-derai. Seperti seorang anak kecil dia berdiri sambil menangis, tubuhnya berguncang dan kedua punggung tangannya menggosok-gosok matanya.

“Sumoi... tenangkan hatimu, Sumoi...” Dengan suara gemetar Gak Bun Beng mencoba menghibur, melangkah maju dan dengan hati-hati menyentuh kedua pundak wanita itu dengan ujung-ujung jari tangannya. Sedikit sentuhan ini sudah cukup untuk membuka bendungan itu.

“Gak-suheng... aihhh, Gak-suheng...!” Milana lalu memeluk dan mendekap dada pria itu dengan mukanya, menangis sejadi-jadinya.

“Sumoi...” Suara Bun Beng juga mengandung isak dan dia menengadah, memejamkan kedua matanya mencegah keluarnya air mata, dan tangan kanannya mengusap-usap rambut yang awut-awutan dan halus lemas itu.

Sampai lama sekali mereka hanya berdiri saling peluk. Milana menangis terisak-isak, makin lama makin mereda dan Gak Bun Beng memeluk pundaknya serta membelai rambutnya. Setelah tangis wanita itu agak mereda, tinggal terisak-isak saja, Bun Beng lalu dengan halus melepaskan pelukannya, menjauhkan dirinya sambil berkata lembut, “Sumoi, aku telah mendengar semua apa yang terjadi di kota raja. Aku menyesal sekali... tidak dapat membantumu sama sekali...”

Milana masih belum mampu menjawab hanya terisak-isak dan menghapus sisa air mata dengan sehelai sapu tangan sutera.

“Mari kita duduk di bawah pohon itu dan bicara, Sumoi.” Bun Beng mengajaknya dan dia mengangguk, keduanya lalu duduk di atas akar-akar pohon yang menonjol di atas tanah.

Milana menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan, mungkin dikarenakan tangisnya. Isaknya masih ada akan tetapi hanya kadang-kadang dan air matanya sudah berhenti mengucur. Wanita perkasa ini sudah dapat menguasai dirinya lagi.

“Sumoi, aku sudah bertemu dengan Perdana Menteri Su dan mendengar dari beliau akan semua peristiwa. Suamimu telah membunuh Pangeran Liong Bin Ong dan dalam usaha itu dia berhasil akan tetapi dia juga terbunuh oleh para pengawal tokoh pemberontak itu. Dan kau telah melarikan Syanti Dewi... ehh, di mana sekarang?”

“Dia telah dikawal oleh para pengawal Jenderal Kao, kembali ke Bhutan.” Milana lalu menceritakan dengan singkat pertemuannya dengan Jenderal Kao. Kemudian dia juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Ang Siok Bi dan kemudian menambahkan, “Ternyata benar bahwa Ang Tek Hoat itu adalah puteranya, dan dia... dia mencari-carimu sebagai seorang musuh besar, Suheng.”

“Biarlah...” Gak Bun Beng menarik napas panjang, sikapnya tidak peduli. “Sekarang engkau hendak... ke manakah, Sumoi?” Suaranya itu penuh perasaan iba dan hal ini terasa sekali oleh Milana sehingga kembali wanita perkasa ini menggigit bibir menahan tangisnya.

“Tadinya aku hendak mencarimu, Suheng, akan tetapi karena tidak tahu engkau berada di mana, setelah Syanti Dewi diantar para pengawal, aku lalu hendak pergi ke Pulau Es saja. Syukur bahwa kita dapat bertemu di sini, Suheng.”

“Kau... kau mencariku, Sumoi?” Gak Bun Beng memandang dengan jantung berdebar tegang. “Mengapa... engkau mencariku?”

Wajah yang masih agak pucat itu menjadi merah dan jari-jari tangannya gemetar ketika Milana mencari-cari ke balik bajunya, kemudian mengeluarkan sebuah sampul surat. “Aku mencarimu untuk menyampaikan ini, Suheng. Aku menemukan surat peninggalan suamiku ini di dalam kamarnya dan surat ini untukmu.”

Gak Bun Beng menerima surat itu dan membaca tulisan pada sampulnya. Memang ditujukan kepadanya, ditulis oleh tangan Han Wi Kong dengan gaya tulisan yang kuat dan indah. Jantungnya berdebar tegang penuh kekhawatiran dan penyesalan. Apakah yang akan dia baca dan temukan di dalam surat ini? Apakah kata-kata kutukan dan penyesalan dari perwira gagah itu?

Karena dirinya dan isterinya mempunyai hubungan cinta kasih? Apakah perwira itu menderita kesengsaraan batin karena dia? Karena isterinya mencinta dia? Hampir dia tidak berani membuka surat itu dan dia memandang kepada Milana. Akan tetapi wanita itu pun merunduk saja, agaknya menanti dengan penuh ketegangan.

“Sumoi, katakanlah, mengapa suamimu melakukan perbuatan nekat itu? Seorang diri menyerbu istana dan membunuh Pangeran Liong Bin Ong, bukankah hal itu sama saja artinya dengan membunuh diri?”

Ucapan itu terasa oleh Milana seperti tusukan pada jantungnya dan tanpa dapat dicegahnya lagi beberapa butir air mata mengalir turun dan karena dia menunduk, air mata itu berkumpul di ujung hidungnya seperti sebutir mutiara besar. Ketika Milana menggeleng kepala, mutiara itu jatuh dari ujung hidungnya. “Aku... aku tidak tahu...”

Dia merasa lehernya seperti dicekik, tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Gak Bun Beng menarik napas, memandang sampul surat itu lalu memberanikan hatinya, membuka sampul itu dengan jari-jari tangan gemetar dan mengeluarkan suratnya. Dia sudah siap untuk menerima berita yang paling buruk, siap untuk menerima celaan dan kutuk orang yang sudah mati itu. Lalu dibacanya surat itu.

Gak Bun Beng Taihiap, Kalau taihiap membaca surat ini, saya tentu sudah mati. Kematian yang tidak sia-sia karena saya tentu telah berhasil membunuh dalang pemberontak Liong Bin Ong. Terutama sekali, dengan kematian saya, Puteri Milana menjadi bebas untuk hidup bersama satu-satunya pria yang dicintanya, yaitu Taihiap sendiri. Percayalah, sejak dahulu sampai saat ini Puteri Milana hanya mencinta Taihiap seorang, dan dia menjadi isteri saya hanya namanya saja, bukan isteri dalam arti sesungguhnya. Sampai saat ini Puteri Milana masih seorang gadis yang selalu menanti pinangan Taihiap!

Semoga bahagia,
Han Wi Kong
.

Surat itu terlepas dari jari-jari tangan Gak Bun Beng yang gemetar karena jantungnya berdebar dengan keras. “Ohhh...,” demikian keluhnya.

Mendengar keluhan ini, Milana mengangkat mukanya memandang. Gak Bun Beng lalu menyambar kertas itu dan menyerahkannya kepada Milana sambil berkata, suaranya gemetar, “Benarkah ini...? Benarkah ini...?”

Milana menerima surat itu dan membacanya, dipandang dengan tajam oleh Gak Bun Beng. Perlahan-lahan kedua pipi wanita itu berubah menjadi merah sekali dan surat itu pun terlepas dari tangannya yang menggigil.

“Benarkah, Milana...?” tanya Bun Beng, suaranya lirih seperti berbisik.

Milana mengangkat muka memandang. Dua pasang mata saling bertemu dan akhirnya Milana hanya mengangguk penuh kepastian. Bun Beng meloncat berdiri. “Akan tetapi mengapa?” teriaknya. “Milana? Engkau adalah isterinya! Mengapa engkau menyiksanya sedemikian rupa? Belasan tahun menjadi isterinya... hanya dalam nama saja...? Betapa kejamnya engkau...”

Mendengar ucapan ini, Milana juga meloncat berdiri dan memandang Bun Beng dengan mata bersinar-sinar. “Mangapa? Tentu saja aku tidak bisa menyerahkan diri kepada lain pria! Setelah aku menyerahkan cinta kasih dan hatiku kepadamu, suheng, bagaimana mungkin aku dapat menyerahkan tubuhku kepada pria lain?”

“Ahh... tapi... kalau begitu, mengapa engkau menikah dengan dia?”

“Karena Kaisar memaksaku.”

“Kau bisa saja pergi dari istana dan mencari aku, Milana...”

“Suheng, bukankah engkau yang telah meninggalkan aku dan pergi dariku? Aku sudah merasa berdosa kepadamu dahulu, telah tidak mempercayaimu..., akan tetapi aku tidak mungkin bisa menyerahkan diri kepada pria lain...”

“Milana... sumoi, begitu besar cintamu kepadaku...”

“Dan kau tadinya kuanggap telah melupakan aku, Suheng. Kiranya engkau pun rela hidup merana, tak pernah menikah, karena cintamu kepadaku...”

“Milana... aku cinta padamu, sejak dahulu sampai detik ini... aku hanya merasa diriku tidak berharga untukmu. Dan ternyata engkau... engkau begitu setia kepadaku... ternyata aku yang telah menyiksa hidupmu, Milana...”

“Suheng...!” Milana mengeluh dan mereka saling tubruk, saling rangkul karena sekarang keduanya yakin akan cinta kasih mereka masing-masing.

“Sumoi... Milana... ah, Milana... betapa aku rindu padamu.”

“Aku pun rindu padamu, Suheng...”

Sejenak kedua orang itu lupa diri. Milana terlena dalam pelukan Bun Beng, air matanya mengalir turun dari kedua mata yang dipejamkan. Bun Beng kemudian mendekapnya, menciumnya, mencium lehernya, dagunya, bibirnya, hidung dan matanya, menghisap air mata itu, air mata yang seolah-olah menjadi air embun yang menyiram kembang di dalam hatinya yang kehausan dan yang hampir melayu, sehingga kembang itu menjadi segar kembali.

Pada saat itu dicurahkanlah segala kerinduannya, segala cinta kasihnya hingga setiap bulu di tubuhnya seolah-olah bangkit dan membelai wanita itu. Milana memejamkan matanya, merasa terayun di angkasa dengan nikmatnya. Wanita manakah yang tidak akan merasa berbahagia bahwa dia telah menundukkan hati pria yang dicintanya, merasa dibutuhkan, dicinta dan dipuja? Bisikan halus yang keluar dari bibir Bun Beng di dekat telinga, bisikan yang berkali-kali menyatakan cinta kasih yang mendalam, membuat hati Milana bangga dan bisikan itu lebih merdu dari pada nyanyian surga!

Akan tetapi tiba-tiba Milana melepaskan dirinya dengan halus. Kini dia memandang kekasihnya dengan bibir tersenyum dan mata yang masih basah, dengan kedua pipi kemerahan seperti wajah seorang dara remaja yang baru pertama kali menerima ciuman seorang pria. Bun Beng memandang dengan terpesona.

“Jangan... Suheng, jangan dulu..., kita harus menghormati Han Wi Kong... dialah yang sesungguhnya mempertemukan kita kembali. Kita... kita harus sabar menanti... biarkan aku berkabung selama setahun untuknya, Suheng.”

Gak Bun Beng tersenyum, senyum penuh kecerahan yang baru pertama kali ini nampak di wajahnya, seolah-olah wajahnya bersinar kembali dengan cahaya kehidupan. Dia mengangguk dan matanya memandang penuh kelembutan, penuh kemesraan dan penuh pengertian. “Memang sebaiknya begitu, Sumoi. Sebaiknya begitu..., betapa pun juga, secara lahiriah dia adalah suamimu dan sahabat kita yang amat baik. Setelah menanti belasan tahun lamanya, apa artinya setahun bagi kita?”

Milana melangkah maju lagi dan memegang kedua tangan kekasihnya. “Aku tahu bahwa engkaulah satu-satunya manusia yang bijaksana dan mulia di dunia ini. Mulai saat ini aku merasa seolah-olah baru hidup, suheng...”

Gak Bun Beng balas menggenggam jari-jari tangan yang halus itu. “Bukan baru hidup melainkan hidup baru, Sumoi. Sekarang, apakah engkau tetap hendak melanjutkan perjalananmu ke Pulau Es?”

“Aku... aku... terserah kepadamu, Suheng. Sejak saat ini, aku hanya menurut pada apa yang kau katakan dan kau tentukan. Aku takut kalau-kalau keputusanku sendiri akan mengakibatkan kesalahan hebat seperti yang telah kita alami bersama dahulu. Aku menyerahkan segalanya kepadamu, Suheng.”

Bukan main girangnya hati Gak Bun Beng. “Kiranya lebih baik kalau kelak setahun kemudian kita bersama pergi menghadap ke Pulau Es untuk minta doa restu dari orang-orang tua. Sekarang, lebih baik kita mengejar perjalanan Syanti Dewi. Hatiku merasa tidak tenang kalau sampai anak itu hanya dikawal oleh pasukan biasa. Sebaiknya waktu yang satu tahun itu kita pergunakan untuk mengawalnya ke Bhutan.”

Milana mengangguk, lalu berkata, “Dia... Syanti Dewi amat mencintamu, Gak-suheng...”

“Eh, bagaimana kau tahu?”

“Anak yang baik itu menceritakan segalanya kepadaku. Dan tahukah engkau betapa dia marah-marah kepadaku dan menuntut agar aku membahagiakan engkau. Tidakkah aneh sekali itu? Seorang anak belasan tahun mengajarkan aku tentang cinta kasih! Dia benar-benar cinta kepadamu sehingga aku merasa amat heran mengapa engkau tidak menyambut uluran hati seorang dara secantik dia?”

“Sumoi, perlukah kau tanyakan lagi hal itu? Dengan adanya engkau, betapa mungkin aku mencinta wanita lain? Aku tahu akan kebaikan hatinya, karena itu dia kuanggap sebagai keponakan atau anak sendiri, dan karena itu pula kita sudah sepatutnya mengantarkan dia kembali kepada orang tuanya di Bhutan.”

Milana tersenyum manja. “Terima kasih, Suheng. Pernyataanmu itu makin meyakinkan hatiku betapa besar cintamu kepadaku, dan amat membahagiakan hatiku.”

“Hemm, tidak kalah besarnya dengan kebahagiaanku memperoleh kenyataan bahwa selama ini engkau tetap mencintaku, Sumoi. Mari kita berangkat, aku khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik terhadap diri Syanti Dewi.”

Maka berangkatlah kedua orang kekasih yang baru saling menemukan kembali setelah cinta kasih mereka terpisah selama belasan tahun itu. Patut dikagumi Gak Bun Beng dan Milana. Keduanya masih perawan dan perjaka, biar pun usia mereka telah mendekati empat puluh tahun, dan mereka selama belasan tahun menekan kerinduan hati masing-masing.

Sekarang, setelah mereka berdua memperoleh kebebasan dan tidak ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk saling memiliki, seolah-olah kenikmatan itu merupakan setangkai bunga di depan mata, tinggal mengulur tangan memetiknya saja, dan keduanya sudah saling mencinta dan sudah saling percaya, tidak ada halangannya untuk saling menyerahkan diri lahir batin, mereka masih mampu mengatasi dorongan nafsu mereka dan melihat kenyataan bahwa hal itu kurang baik dan bahwa sudah sepatutnya kalau mereka menanti saja sudah menjadi bukti betapa teguh dan kokoh kuat dasar batin kedua orang gagah ini, yang tidak mudah dimabok oleh nafsu birahi!

Sambil bergandeng tangan mereka pergi meninggalkan hutan itu dan dengan kecepatan luar biasa mereka menggunakan ilmu berlari cepat mereka menuju ke barat untuk menyusul rombongan Syanti Dewi yang dikawal oleh dua losin orang pasukan pengawal Jenderal Kao Liang.

Ketika mereka tiba di dekat dusun yang dijadikan markas sementara oleh Hek-tiauw Lo-mo, di tengah jalan mereka bertemu dengan Suma Kian Bu yang memimpin sepasukan yang terdiri dari belasan orang, yaitu pasukan yang didapatnya dari Perdana Menteri. Pemuda ini setelah behasil membantu Tek Hoat membakar ruangan dan membiarkan Tek Hoat menolong Ceng Ceng, lalu melarikan diri ke kota raja dan dia pun pergi menemui Perdana Menteri Su, menceritakan dan minta bantuan untuk menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan.

Perdana Menteri Su dengan singkat menceritakan bahwa Syanti Dewi telah ditolong Tek Hoat dan karena semua perbuatannya itu adalah di luar tahu istana, maka perdana menteri yang bijaksana ini hanya dapat menyuruh pengawal-pengawal pribadinya yang berjumlah lima belas orang untuk membantu Suma Kian Bu menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan. Demikianlah, di tengah jalan mereka saling bertemu.

“Enci Milana! Gak-suheng!” Suma Kian Bu berseru dengan girang bukan main dan dia memegangi kedua tangan suheng dan enci-nya itu.

“Hemmm, ke mana saja engkau selama ini, Kian Bu?” Milana bertanya.

Ditanya demikian, Kian Bu menundukkan muka menyembunyikan perasaan jengah dan malunya. Tentu saja tidak mungkin dia menceritakan pengalamannya dengan Hong Kui.

“Aku hanya merantau saja, Enci, akan tetapi ada hal yang lebih penting untuk kalian ketahui dan kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian. Marilah kita pergi menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan dan di perjalanan nanti kuceritakan semua kepada Ji-wi (Kalian Berdua).”

Tentu saja Gak Bun Beng dan Milana terkejut dan segera mengikuti adik itu melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang dijadikan tempat tinggal Tambolon. Kian Bu telah mendengar penuturan dari Perdana Menteri Su betapa Ceng Ceng masih ditawan oleh Tambolon menurut cerita Tek Hoat dan Syanti Dewi, dan bahwa Tek Hoat sedang pergi untuk menolongnya. Sedangkan Topeng Setan juga masih ditawan Hek-tiauw Lo-mo di dusun Nam-lim.

Dengan singkat namun jelas Kian Bu menceritakan betapa dia bertemu dengan Tek Hoat dan dia membantu Tek Hoat untuk membebaskan Ceng Ceng, kemudian dia pergi ke kota raja untuk minta bantuan.

“Hek-tiauw Lo-mo kuat sekali kedudukannya, apa lagi di dekat dusun Nam-lim itu terdapat pula rombongan Tambolon yang dibantu oleh banyak orang pandai, di antaranya seorang nenek yang amat lihai dan pandai ilmu sihir. Ternyata tadinya Puteri Syanti Dewi ditawan oleh Tambolon dan telah diselamatkan oleh Tek Hoat dengan jalan menukarnya dengan Ceng Ceng. Menurut Perdana Menteri Su, kini puteri itu telah dikawal oleh pasukan Bhutan sendiri, kembali ke Bhutan.” Kian Bu menghentikan ceritanya karena dia masih merasa terluka oleh penolakan cintanya terhadap puteri itu.

“Sungguh aneh sekali! Mengapa pula rombongan Hek-tiauw Lo-mo dan rombongan Tambolon masih saja berkeliaran di sini? Dan bagaimana pula Syanti Dewi yang dikawal oleh pasukan Jenderal Kao sampai dapat tertawan oleh rombongan Tambolon? Bagaimana pula cara Tek Hoat menukar tawanan itu? Ahhh, pemuda itu ternyata hebat! Kembali dia telah menyelamatkan Syanti Dewi dan kini dia seorang diri hendak menolong Ceng Ceng, sungguh berbahaya baginya. Mari kita mempercepat perjalanan dan mendahului pasukan ini,” Bun Beng berkata.

Setelah berpesan kepada pasukan itu, Kian Bu lalu bersama Milana dan Bun Beng menggunakan ilmu berlari cepat, meninggalkan pasukan dan mendahului pergi ke sarang Tambolon di mana kabarnya Ceng Ceng menjadi tawanan raja liar itu.

Akan tetapi ternyata rombongan itu tidak lagi berada di situ. Seperti kita ketahui, akibat khasiat darah anak ular naga yang diminumnya, Ceng Ceng dapat membebaskan diri sendiri dari tangan Tambolon dan kawan-kawannya, dan rombongan raja liar ini pun lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran.

Karena dusun itu kosong, maka Bun Beng lalu mengajak Milana dan Kian Bu untuk melanjutkan perjalanan ke Nam-lim. Kedatangan tiga orang ini dengan pasukan pengawal di belakang mereka, telah diketahui oleh anak buah Hek-tiauw Lo-mo yang cepat melapor kepada Ketua Pulau Neraka ini, tentu saja Hek-tiauw Lo-mo menjadi terkejut sekali dan pada saat itu dia melihat Topeng Setan sudah dapat membebaskan diri secara menggiriskan.

Maka timbullah akalnya untuk mengadu Topeng Setan dengan rombongan Puteri Milana. Biar pun Ceng Ceng sudah tidak berada lagi di tahanan, akan tetapi kebebasan dara ini belum diketahui oleh Topeng Setan dan karenanya dia masih dapat menipu Topeng Setan dan memaksanya untuk membantunya dengan mengancam Ceng Ceng yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di situ.

Demikianlah mengapa Gak Bun Beng, Milana dan Suma Kian Bu dapat muncul di tempat itu dan kini kita kembali kepada Topeng Setan yang dihadapkan pada dua pilihan yang amat berat baginya. Sungguh berat baginya untuk menghadapi rombongan Puteri Milana yang dihormati dan dipandang tinggi itu, akan tetapi apa pun akan dilakukannya demi untuk menolong keselamatan Ceng Ceng.

“Bagaimana, Topeng Setan? Apakah engkau lebih ingin melihat kami membunuh gadis itu kemudian engkau melawan kami mati-matian? Jangan mengira bahwa kami takut kepadamu. Kami hanya ingin menarikmu sebagai kawan untuk menghadapi musuh-musuh yang kuat itu, dan percayalah, aku pasti akan membebaskan engkau dan gadis itu kelak. Mereka telah tiba di luar dan pergilah kau mengundurkan mereka.”

“Baik, akan tetapi awaslah engkau kalau menipuku, Lo-mo!” teriak Topeng Setan yang kini juga sudah mendengar gerakan orang di depan rumah itu. Dia meloncat keluar dan terus ke ruangan depan dan tiba-tiba saja dia sudah berhadapan dengan Puteri Milana, Gak Bun Beng dan Suma Kian Bu!

“Pergilah kalian dari sini...! Ahhh, pergilah segera...!” Topeng Setan berkata sambil melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat agar supaya mereka itu pergi dari situ.

“Topeng Setan, kami datang justru untuk menolong... engkau dan Ceng Ceng...” Suma Kian Bu berkata.

“Tidak..., tidak...! Lekas kalian pergi dari sini, lekas...!” kembali Topeng Setan berseru dengan kacau karena memang hatinya kacau-balau tidak karuan menghadapi keadaan gawat yang mengancam keselamatan Ceng Ceng itu.

Milana dan Gak Bun Beng hanya pernah mendengar nama Topeng Setan, akan tetapi mereka baru sekarang melihat orangnya. Bagi kedua orang pendekar besar ini, orang yang menyembunyikan mukanya di balik topeng sudah menunjukkan ketidak jujuran orang itu, maka topeng itu saja sudah mendatangkan kesan yang kurang baik bagi mereka.

“Topeng Setan atau siapa pun adanya engkau. Mundurlah karena kami datang untuk membebaskan Ceng Ceng!”

“Tidak... tidak... Paduka saja mundurlah. Dan harap jangan mencampuri urusan kami berdua dengan Hek-tiauw Lo-mo!”

Milana menjadi marah. Biar pun satu kali dia pernah melihat Topeng Setan ini dan biar pun dia sudah mendengar bahwa orang ini adalah pembantunya Ceng Ceng, namun sikapnya sekarang amat mencurigakan karena agaknya membela Hek-tiauw Lo-mo.

“Manusia sombong, agaknya engkau telah berkhianat dan memihak Hek-tiauw Lo-mo. Minggir...!” Milana lalu maju dan mendorong Topeng Setan agar ke pinggir akan tetapi Topeng Setan menggerakkan tangan kanannya menangkis.

“Dessss...!”

Milana terlempar hampir jatuh oleh tangkisan itu, baiknya Bun Beng cepat menyambar lengannya. Milana dan Bun Beng terkejut bukan main. Apa lagi Milana. Wanita perkasa ini tadi sudah mengerahkan seluruh tenaganya karena dia dapat menduga bahwa Topeng Setan ini memiliki kepandaian hebat, namun dia terlempar oleh tangkisan itu. Sungguh hebat orang ini.

Hek-tiauw Lo-mo, pembantunya yang utama Ji Song, dan Mauw Siauw Moli juga kaget bukan main melihat betapa Topeng Setan dapat menangkis dan membuat puteri yang mereka segani dan takuti itu terlempar! Akan tetapi, Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang melihat Suma Kian Bu muncul bersama Milana dan Gak Bun Beng menjadi girang dan juga khawatir.

“Kian Bu...!” Dia berseru memanggil akan tetapi pemuda itu sudah cepat melompat ke belakang dan menghilang karena dia merasa malu sekali kalau sampai wanita cantik yang membuat dia mabuk dan lupa daratan, membuat dia tenggelam dalam permainan cinta dan nafsu birahi, akan membuka rahasia yang memalukan di depan enci-nya dan suheng-nya.

Pada saat itu Milana sudah menjadi marah bukan main.

“Kau mundurlah, biar aku yang menghadapinya,” kata Bun Beng.

Akan tetapi Milana yang sudah penasaran itu membantah. “Biar aku mencobanya sekali lagi!”

Puteri Milana sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu tenaga Swat-im Sinkang. Setelah mengerahkan tenaga mukjijat ini, tangan puteri itu kelihatan mengkilap kebiruan dan di ruangan itu menyambar hawa yang amat dingin!

Topeng Setan maklum bahwa puteri ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, maka ia pun terpaksa mengerahkan ilmunya yang mukjijat, yang baru saja dikuasainya, yaitu tenaga Sin-liong-hok-te. Tubuhnya memasang kuda-kuda rendah sekali, hampir menelungkup, lengan kanannya lurus ke depan dengan jari-jari tangan membentuk kepala ular, tubuhnya kaku kejang dan anehnya, lengan kiri yang hanya tinggal lengan bajunya yang kosong itu seolah-olah ‘hidup’, dapat bergerak-gerak lurus ke belakang dan kopat-kapit seperti ekor naga!

“Pergi!” Milana membentak dan wanita ini sudah mendorong dengan lengan tangannya.

Hawa yang amat dingin menyambar ke arah Topeng Setan. Pukulan yang didasari tenaga Swat-im Sinkang ini hebat dan dahsyat bukan main. Dengan ilmu ini yang sudah sampai di puncaknya, air pun terkena hawa pukulan ini akan menjadi beku! Topeng Setan memapaki dengan lengan kanannya dalam tangkisan yang dahsyat pula.

“Dessss...!”

Kembali tubuh Milana terlempar ke belakang, sedang Topeng Setan hanya melangkah mundur dua langkah saja. Dan kembali Gak Bun Beng yang menyambar lengan Milana. Sekali ini Milana tidak banyak membantah ketika Bun Beng yang maju menghadapi Topeng Setan.

Hek-tiauw Lo-mo dan para pembantunya memandang heran dan terkejut, akan tetapi juga girang bahwa ‘pembantu’ mereka itu dapat menolong mereka menghadapi para lawan yang tangguh itu. Diam-diam Hek-tiauw Lo-mo memberi isyarat kepada sumoi-nya dan kepada para pembantu dan anak buahnya dan diam-diam mereka itu mundur ke dalam. Mereka hendak mempergunakan kesempatan selagi para musuh sibuk menghadapi Topeng Setan yang hebat itu untuk meloloskan diri karena mereka merasa tidak akan menguntungkan kalau melawan pasukan pemerintah yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana.

Gak Bun Beng memandang tajam dan dengan penuh keheranan. Selama hidupnya yang penuh dengan pengalaman dan pertempuran melawan orang-orang pandai, tokoh-tokoh sesat dari seluruh dunia persilatan, belum pernah dia bertemu dengan orang yang menggunakan ilmu pukulan macam yang diperlihatkan Topeng Setan. Penghimpunan sinkang dengan tubuh merendah hampir menelungkup itu!

Dia sendiri pernah melatih diri di bawah pimpinan Bu-tek Siauw-jin tokoh besar di Pulau Neraka dengan sinkang mukjijat yang dinamakan Tenaga Sakti Inti Bumi, yang juga pengerahan tenaganya dilakukan dengan menelungkup di atas tanah, akan tetapi sungguh berbeda lagi dengan yang diperlihatkan Topeng Setan tadi. Apa lagi gerakan ilmu silat yang aneh itu, lengan kanan seperti kepala ular dan lengan buntung diwakili lengan baju seperti ekor naga, sungguh amat mengerikan dan hebat. Kalau sinkang Si Topeng Setan mampu menandingi Swat-im-sinkang, sungguh amat luar biasa. Biar pun dia tahu bahwa Milana belum mencapai kesempurnaan dalam latihan Swat-im Sinkang, namun tingkat wanita ini amat tinggi dan sukar mencari tandingannya.

“Kau agaknya tetap berkeras hendak membela Hek-tiauw Lo-mo!” kata Gak Bun Beng. “Terpaksa aku pun harus menggunakan kekerasan.”

“Harap... harap Taihiap mundur saja...” Topeng Setan berkata dengan cemas.

“Aku tidak tahu apa yang memaksamu, akan tetapi jelas engkau membela musuh, maka terpaksa aku akan berusaha menyingkirkanmu!”

Bun Beng kini mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang di tangan kanannya. Tenaga ini sudah dia perkuat dengan tenaga sakti Inti Bumi sehingga lengan kanannya itu kelihatan merah membara seperti baja yang terbakar api dan mengeluarkan uap. Hawa di sekitarnya menjadi panas sekali sehingga para pengawal yang sudah tiba di situ tidak berani mendekat saking panasnya.

Topeng Setan terkejut bukan main, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang benar-benar sakti, akan tetapi karena dia harus melindungi keselamatan Ceng Ceng, dia tidak gentar dan kalau perlu dia akan mempertaruhkan nyawanya. Gak Bun Beng mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, menggunakan tangan kanan dengan jari terbuka untuk menghantam. Serangkum hawa panas sekali menyambar dan Topeng Setan terpaksa menyambutnya dengan telapak tangan kanannya, seperti tadi tubuhnya mengambil posisi rendah dan lengan baju kirinya tergerak-gerak di belakangnya seperti mengatur keseimbangan.

“Blarrrrr...!”

Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti di udara ini, terasa oleh semua orang, bahkan beberapa orang pengawal yang sudah menonton dari jarak jauh ada yang terpental. Topeng Setan berseru keras dan pada saat kedua tangan bertemu tadi, kakinya melangkah ke belakang, akan tetapi tiba-tiba ‘ekor naga’ yang berupa lengan baju kirinya itu menyambar, tubuhnya miring.

“Pyarrrrr...!”

Bun Beng terkejut dan masih sempat menangkis, akan tetapi tetap saja dia terhuyung ke belakang, sedangkan Topeng Setan juga terhuyung ke belakang dengan muka pucat akibat pertemuan tenaga sakti yang pertama tadi.

Topeng Setan memandang dengan mata terbelalak. Dia maklum bahwa dia sudah berhasil menguasai Ilmu Tenaga Sakti Sin-liong-hok-te, biar pun belum sesempurna gurunya, namun ilmu ini hebat sekali dan menurut gurunya, jarang ada orang di dunia yang akan mampu melawannya. Akan tetapi siapa kira, baru saja dia berkesempatan mempergunakan ilmu yang dahsyat ini, dia telah menemui lawan yang begini hebat.

Di lain pihak, Gak Bun Beng juga memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar keras. Baru sekarang dia bertemu dengan lawan yang hebat, yang dapat mengimbangi kepandaiannya. Seolah-olah dia melihat tokoh-tokoh besar seperti Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, dua tokoh Pulau Neraka itu, hidup lagi! Topeng Setan ini merupakan orang yang kepandaiannya sukar ditandingi.

Padahal dia sudah menggembleng dirinya dan pukulannya tadi adalah pukulan yang didasari persatuan tenaga Hwi-yang Sinkang dan Inti Bumi. Kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja yang akan mampu menahan pukulannya, di samping tentu saja orang sakti seperti Pendekar Super Sakti, akan tetapi orang bertopeng ini mampu menahan bahkan membalas dan membuat dia terhuyung.

Sejenak keduanya saling pandang dengan mata terbelalak, seperti dua ekor ayam jago yang berlagak sebelum saling gempur, berdiri saling pandang dan saling taksir. Tiba-tiba Bun Beng mengeluarkan suara melengking tinggi dan pendekar sakti ini sudah bergerak menyerang. Topeng Setan yang sudah memasang kuda-kuda Sin-liong-hok-te menyambut dan bertempurlah kedua orang itu.

Karena yakin bahwa lawannya ini memang dahsyat sekali dan tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari padanya, maka Topeng Setan tidak berani mainkan lain ilmu silat kecuali yang baru saja dikuasainya, yaitu Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat yang sejak dahulu memang sudah dihafalnya benar akan tetapi baru sekarang dia kuasai. Pula, ilmu inilah satu-satunya ilmu silat tinggi yang dikenalnya, yang cocok dimainkan dengan lengan tunggal, sedangkan ilmu silatnya yang lain, dahulu dilatihnya dengan sepasang lengan sehingga tentu sekarang menjadi canggung kalau dia mainkan dengan lengan tunggal.

Sementara itu, menghadapi serangan-serangan yang aneh dari lengan kanan dan ‘ekor’ berupa lengan baju kiri itu, Gak Bun Beng mainkan ilmu silat Kong-jiu-jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan) sambil mengerahkan tenaga saktinya berganti-ganti kadang-kadang dengan Hwi-yang Sinkang, kadang-kadang dengan Swat-im Sinkang yang amat dingin.

Akhirnya Topeng Setan harus mengakui keunggulan Pendekar Sakti Gak Bun Beng. Dan diam-diam Bun Beng juga harus mengakui bahwa kalau saja Topeng Setan tidak sedang terluka hebat, dan kalau saja ilmu silat aneh itu sudah dikuasainya benar, sudah terlatih matang dan banyak dipakai menghadapi orang pandai dalam pertempuran, belum tentu dia akan dapat menang dengan mudah! Kini Topeng Setan terhuyung dan terdesak hebat, agaknya sebentar lagi akan roboh.

Topeng Setan merasa heran sekali mengapa Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li tidak membantunya, padahal kedua orang itu memiliki kepandaian hebat pula dan kalau membantunya, belum tentu dia sampai terdesak seperti ini. Ketika sebuah hantaman yang biar pun sudah ditangkisnya membuat dia terlempar ke belakang, dia menengok dan... dia tidak melihat mereka. Terkejutlah dia. Celaka, pikirnya, siapa tahu dia ditipu oleh orang Pulau Neraka itu.

“Tahan dulu...!” teriaknya ketika Gak Bun Beng mendesak maju. Napasnya sudah terengah-engah dan keringatnya bercucuran.

“Taihiap...! Puteri...! Tolonglah... harap jangan serbu Hek-tiauw Lo-mo karena... karena Ceng Ceng mereka jadikan sandera. Mereka akan membunuh Ceng Ceng kalau saya tidak melawan Ji-wi, maka terpaksa saya melawan agar Ceng Ceng dibebaskan...”

Mendadak terdengar suara teriakan, “Paman...! Kau sudah mati-matian membelaku...! Aku telah dapat lolos, Paman...!”

Kemudian Ceng Ceng membalik, menghadapi Gak Bun Beng dan Puteri Milana dengan kedua tangan terkepal. “Paman Gak Bun Beng dan... Bibi Puteri Milana! Kalau kalian melanjutkan mendesak dan menyerang Paman Topeng Setan, terpaksa aku akan menentang kalian!”

“Hushhh... Ceng Ceng, jangan kurang ajar kau terhadap mereka. Gak-taihiap, celaka, kita telah diadu domba dan ditipu oleh Hek-tiauw Lo-mo!” kata Topeng Setan.

Akan tetapi Ceng Ceng yang kegirangan melihat Topeng Setan tidak mati seperti yang dikhawatirkannya itu, sudah lari dan menubruk, merangkulnya dengan penuh girang dan kebanggaan. Lagi-lagi dalam keadaan seperti itu, Topeng Setan telah memperlihatkan kemuliaan hatinya terhadap dia, telah membelanya mati-matian, bahkan sampai berani melawan Gak Bun Beng yang demikian sakti karena dia ditekan oleh Hek-tiauw Lo-mo yang mengancam hendak membunuhnya kalau Si Buruk Rupa ini tidak melawan Gak Bun Beng.

Dia baru saja tiba dan selagi dia terheran-heran dan kebingungan menyaksikan Topeng Setan bertanding sedemikian hebatnya dengan Gak Bun Beng, dia mendengar ucapan Topeng Setan itu, maka dia lalu berteriak dan muncul memperlihatkan diri.

“Syukur engkau telah bebas pula, Paman. Betapa aku amat mengkhawatirkan dirimu, Paman...,” katanya.

“Dan kau... bagaimana kau dapat bebas, Ceng Ceng?” Topeng Setan bertanya dan mereka lalu bicara dengan asyik, tanpa mempedulikan Milana dan Gak Bun Beng yang sudah menerjang ke dalam. Akan tetapi rumah itu sudah kosong sama sekali dan di belakang mereka berjumpa dengan Suma Kian Bu.

“Eh, kau tadi ke mana, Bu-te?” tanya Milana terheran-heran. Baru sekarang dia teringat bahwa adiknya ini tidak nampak ketika mereka bertanding melawan Topeng Setan.

“Aku... aku tadinya menyelinap ke belakang untuk menolong Ceng Ceng, kiranya Ceng Ceng tidak ada dan mereka semua telah melarikan diri,” jawab Suma Kian Bu yang sebenarnya menghindarkan diri dari Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui.

Mereka semua lalu mencari-cari, mengejar ke sana-sini dan mengerahkan belasan orang pengawal, namun hasilnya sia-sia belaka. Hek-tiauw Lo-mo dan kawan-kawannya sudah melarikan diri entah ke mana, menggunakan kesempatan selagi Milana dan Gak Bun Beng sibuk bertempur melawan Topeng Setan tadi. Terpaksa mereka kembali ke tempat tadi dan melihat Topeng Setan dan Ceng Ceng masih bercakap-cakap dengan asyik sekali.

“Orang itu hebat, entah siapa dia...” Diam-diam Gak Bun Beng berbisik kepada Milana dan wanita perkasa itu mengangguk menyetujui.

“Tapi dia benar-benar setia, agaknya dia mencinta Ceng Ceng...,” bisiknya kembali dan biar pun tidak yakin akan hal ini, Gak Bun Beng juga mengangguk. Baginya, tanpa melihat wajah Si Kedok itu, bagaimana dia bisa menduga isi hati orang? Akan tetapi, dalam hal asmara memang wanita lebih halus perasaannya.

Melihat kedatangan mereka, Ceng Ceng lalu bertanya kepada Milana, “Bibi Puteri Milana, bagaimana dengan Syanti Dewi? Di mana Kakak Syanti?”

Yang menjawabnya adalah Suma Kian Bu, “Menurut penuturan Perdana Menteri Su, puteri itu kini telah dikawal oleh para utusan Bhutan sendiri kembali ke negaranya...”

“Ah...! Kiranya dia bermain curang...!” Ceng Ceng berseru.

“Siapa?”

“Ang Tek Hoat. Dia menolongku dari tahanan di sini, akan tetapi dia membawaku, dan menukarkan aku dengan Enci Syanti yang tadinya tertawan oleh Tambolon. Untung aku dapat meloloskan diri...” Dia tidak menceritakan kepada orang lain kecuali kepada Topeng Setan tadi betapa dia secara aneh dan tiba-tiba memiliki tenaga mukjijat yang amat dahsyat itu.

Selagi mereka bercakap-cakap, datang serombongan pasukan yang dipimpin langsung oleh Jenderal Kao Liang! Begitu tiba di situ dan melihat Ceng Ceng, jenderal ini menjadi girang sekali.

“Ceng Ceng... ahhh, Nona yang baik...! Ternyata benar engkau masih hidup...!” Dengan suara serak karena terharunya dia menghampiri Ceng Ceng dan memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri. “Banyak yang mengatakan bahwa kau masih hidup, akan tetapi sukar bagiku untuk percaya setelah melihat kau terjerumus ke dalam sumur maut! Aihhh, betapa bahagia rasa hatiku dapat bertemu denganmu!”

Ceng Ceng segera memberi hormat dan hatinya terharu sekali. Jenderal ini merupakan satu di antara orang-orang di dunia ini yang amat baik kepadanya.

“Paman, inilah dia Paman Jenderal Kao Liang yang sering kuceritakan kepadamu, seorang yang amat mulia hatinya!” katanya kepada Topeng Setan memperkenalkan.

Jenderal Kao Liang terkejut sekali melihat orang yang bertopeng seperti setan dan amat buruk, lagi lengannya buntung sebelah itu. “Siapa... siapa dia...?”

Gak Bun Beng yang menerangkan, “Goanswe, dia adalah Topeng Setan yang amat terkenal, yang menjadi pembantu dan pengawal Ceng Ceng, akan tetapi ternyata ilmu kepandaiannya hebat bukan main, saya sendiri sampai kewalahan dibuatnya!”

Dengan singkat pendekar ini menuturkan kepada Jenderal Kao tentang peristiwa tadi. Sang Jenderal mengangguk-angguk, kagum memandang ke arah Topeng Setan yang hanya menunduk.

“Selama orang-orang jahat itu masih berkeliaran, negara tidak akan aman,” katanya. “Setelah kini pemberontakan dapat terbasmi, para kaki tangan pemberontak harus dibersihkan karena jelas bahwa mereka tidak mau insyaf dan melanjutkan kejahatan mereka. Saya akan mengerahkan semua kekuatan untuk membasmi mereka.” Lalu kepada Ceng Ceng dia berkata, “Harap engkau suka ikut bersamaku dan singgah di rumahku karena banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, anak yang baik.”

Ceng Ceng hanya menoleh kepada Topeng Setan yang masih menunduk saja, hatinya bimbang karena dia tidak mau berpisah lagi dari Topeng Setan, akan tetapi menolak permintaan jenderal yang amat baik hati itu pun dia merasa tidak enak.

Melihat keraguan Ceng Ceng, jenderal yang gagah perkasa dan berwatak jujur itu lalu tertawa dan dengan suara lantang berkata, “Anak Ceng, biarlah disaksikan oleh para tokoh perkasa di sini, bahkan oleh Puteri Milana yang masih terhitung bibi luarmu, aku mengundangmu untuk membicarakan soal perjodohan! Aku ingin sekali mengambil engkau sebagai mantuku, Ceng Ceng!”

Puteri Milana terbelalak, lalu tersenyum dan mengangguk-angguk setuju, sedangkan Gak Bun Beng juga tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa putera sulung jenderal ini, yang tadinya lenyap, kini telah pulang dan telah menjadi seorang pemuda yang amat lihai dan telah membantu pelaksanaan penghancuran para pemberontak. Biar pun dia sendiri tidak mengenal pemuda itu, namun melihat Jenderal Kao, seorang yang dia ketahui betul sifat dan keadaannya, amat baiklah kalau gadis yang gagah ini menjadi mantu jenderal itu.

Akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng berseru keras, “Ehhh, Paman...! Paman Topeng Setan, kau tunggu aku...!”

Semua orang menoleh dan melihat bahwa Topeng Setan telah pergi dari situ tanpa pamit lagi. Mendengar teriakan Ceng Ceng, dia hanya menoleh sebentar, kemudian melangkah pergi lagi tanpa mengeluarkan kata-kata.

“Paman Jenderal Kao, harap suka maafkan saya. Biarlah lain kali saja saya pergi mengunjungi rumah Paman untuk menghaturkan terima kasih. Paman Gak, Bibi Puteri, maafkan saya...!” Ceng Ceng lalu berlari cepat mengejar Topeng Setan yang sudah agak jauh.

Semua orang memandang ketika dara itu berhasil menyusul Topeng Setan dan mereka berdua itu berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap. Sungguh pasangan yang sama sekali tidak patut dan berat sebelah!

Tampak Jenderal Kao Liang menggosok-gosok dagunya, mengelus jenggot dengan hati penasaran dan kecewa. “Sungguh manusia aneh Topeng Setan itu...”

“Akan tetapi kesetiaannya terhadap dara itu tidak perlu diragukan lagi, Kao-goanswe. Karena itu tenangkanlah hatimu, dara itu tidak akan dibiarkan mengalami mala petaka.”

Jenderal Kao Liang dan pasukannya lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari dan membasmi kaki tangan bekas pemberontak yang masih berkeliaran, sedangkan Gak Bun Beng dan Puteri Milana kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mengejar rombongan Syanti Dewi untuk melindunginya.

“Bu-te, aku dan Gak-suheng akan mengantarnya sampai ke Bhutan. Kau sebaiknya pulang dulu ke Pulau Es dan ceritakan semua yang telah terjadi kepada Ayah dan Ibu dan katakan bahwa setelah mengantar Syanti Dewi ke Bhutan, kami berdua akan pergi ke Pulau Es menghadap Ayah dan Ibu.”

Kian Bu hanya mengangguk, akan tetapi setelah semua orang pergi, dia tidak menuju ke Pulau Es, sebaliknya dia pun menuju ke barat karena dia ingin mencari kakaknya, Suma Kian Lee yang tidak diketahuinya ke mana perginya itu. Juga dia masih perlu waktu panjang untuk memulihkan perasaannya yang terguncang karena dia malu dan menyesal akan semua perbuatannya bersama dengan Mauw Siauw Mo-li. Kini baru dia insyaf betapa dia telah terpikat oleh wanita yang hina, seorang datuk kaum sesat yang gila laki-laki. Sungguh dia merasa menyesal sekali kepada dirinya sendiri yang dianggap amat lemah dan mudah jatuh oleh kecantikan wanita.

********************

Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu berjalan dengan tenang melalui lembah pegunungan, dikawal oleh tiga puluh enam orang yang kelihatan gagah perkasa, kesemuanya menunggang kuda dan biar pun mereka berpakaian seperti orang-orang biasa, bukan pakaian seragam piauwsu (pengawal barang), namun dari cara mereka menunggang kuda, duduk dengan tegak dan kuda mereka teratur rapi di belakang dan di depan kereta, dapat diduga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang biasa berbaris dengan kuda dan mengenal disiplin.

Pemimpinnya, seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis dan jenggot pendek rapi, kelihatan gagah sekali dan mereka melanjutkan perjalanan berkuda itu menuju ke barat tanpa banyak kata-kata. Kereta itu sendiri amat besar, tidak seperti kereta biasa, agaknya kereta yang khusus dibuat untuk keperluan itu. Panjang kereta dua kali panjang kereta biasa, maka penariknya adalah empat ekor kuda, tidak dua ekor seperti biasa kalau hanya menarik penumpang. Di bagian paling belakang dari rombongan itu terdapat seekor kuda menarik sebuah kereta kecil yang terisi barang-barang perbekalan mereka.

Orang-orang yang kelihatan gagah itu ternyata dapat bekerja sama dengan cepat dan setiap kali jalan terlalu mendaki sehingga empat ekor kuda yang menarik kereta besar itu kelihatan payah, mereka lalu langsung meloncat turun dan beberapa orang ikut mendorong roda kereta sehingga kereta itu dapat mendaki dengan lancar dan perjalanan tidak perlu dihentikan. Walau pun mereka tidak tergesa-gesa, akan tetapi perjalanan itu tidak pernah berhenti kecuali kalau hendak makan atau bermalam di tengah perjalanan.

Pagi hari itu amat cerah. Jalan yang dilalui rombongan itu pun datar sehingga kuda mereka berlari congklang dan kereta dapat bergerak lancar. Suara derap kaki kuda menimbulkan bunyi irama yang lucu dan menggembirakan, dan barisan kuda itu akhirnya memasuki sebuah hutan kecil yang mulai diterobos sinar matahari pagi yang membangunkan semua binatang penghuni hutan.

Beberapa ekor kelinci dan tikus lari berserabutan melintasi jalan dan menyelinap ke balik semak-semak ketika rombongan itu tiba. Burung-burung terbang ketakutan dari pohon-pohon di kanan kiri jalan. Kuda-kuda mereka agaknya merasa gembira pula tiba di dalam hutan di antara pohon-pohon dan daun-daun segar. Beberapa di antara mereka meringkik dan mendengus, agaknya bau daun-daunan dan tanah yang sedap menimbulkan gairah dan kegembiraan mereka. Tentu saja jauh bedanya dengan bau pengap di kota-kota dan dusun-dusun yang penuh manusia.

Akan tetapi, selagi rombongan yang terdiri dari tiga puluh enam orang termasuk kusir kereta dan komandan rombongan itu menjalankan kuda dengan hati tenang gembira, tiba-tiba terdengar bunyi berdesing dan tahu-tahu tiga batang tombak menancap di tengah jalan di depan Si Pemimpin. Cepat pemimpin rombongan ini menahan kudanya, mengangkat tangan kiri memberi tanda agar rombongan itu berhenti. Kemudian beberapa orang pembantunya melarikan kuda dari belakang ke depan dan lima orang pemimpin rombongan yang berkuda itu berjajar memenuhi jalan sambil memandang ke arah tiga batang tombak yang masih menggetar di atas tanah itu.

Mereka menyangka bahwa tentu ada perampok-perampok yang ‘bosan hidup’ berani menghadang mereka. Akan tetapi ketika dari balik pohon-pohon besar muncul seorang kakek tinggi besar bersama seorang wanita cantik dan di belakang mereka terdapat belasan orang yang dipimpin oleh seorang kakek gendut tinggi besar, rombongan berkuda ini menjadi terkejut sekali. Andai kata benar mereka itu perampok, tentu bukan perampok-perampok sembarangan. Orang-orang yang datang bersama kakek tinggi besar itu adalah orang-orang yang berwajah menyeramkan sekali, seperti setan-setan karena wajah mereka itu samar-samar masih membayangkan warna-warna bermacam-macam, ada yang kehijauan dan ada yang kemerahan!

“Haii, rombongan yang sedang melakukan perjalanan, jangan kalian takut, kami bukan perampok. Ketahuilah, kami adalah orang-orang Pulau Neraka dan aku adalah Hek-tiauw Lo-mo. Hayo kalian turunlah dari kuda, berikan kereta itu untukku dan berikan kepada anak buahku masing-masing seekor kuda dan kami tidak akan membunuh kalian.”

Rombongan itu belum pernah mendengar tentang Pulau Neraka atau Hek-tiauw Lo-mo, maka tentu saja mereka menjadi marah mendengar ucapan yang bernada sombong itu. Apa lagi harus menyerahkan kereta yang dikawalnya dengan rapi, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan permintaan ini.

Pemimpin rombongan lalu berkata, suaranya tegas dan bernada keras, “Hek-tiauw Lo-mo, kami serombongan pelancong tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, maka harap kalian jangan mengganggu kami. Kuda dan kereta ini kami butuhkan sekali untuk melanjutkan perjalanan kami. Akan tetapi penolakan kami bukan berarti bahwa kami pelit. Nah, sedikit emas dan perak ini kiranya cukup bagi kalian untuk membeli kuda!”

Setelah berkata demikian, pemimpin rombongan itu melemparkan sebuah kantung kecil ke arah Hek-tiauw Lo-mo! Kakek ini menerimanya dan merobeknya, sehingga isinya yang berupa potongan-potongan emas dan perak berhamburan ke atas tanah.

“Ha-ha-ha, ada orang berani memberi sedekah kepada Hek-tiauw Lo-mo. Penghinaan ini selama hidupku belum pernah kuterima. Ji Song, hajar mereka!” Perintahnya kepada pembantunya yang selama ini tidak pernah ketinggalan memimpin para anak buahnya. Ji Song, kakek gendut tinggi besar, segera berteriak memberi aba-aba dan majulah belasan orang anak buah Pulau Neraka itu menyerbu.

Akan tetapi pemimpin rombongan itu pun memberi aba-aba dan bagaikan prajurit-prajurit yang terlatih baik, para anak buahnya juga meloncat dari atas kuda dan menyambut serbuan itu sehingga terjadilah pertempuran yang seru. Akan tetapi betapa kaget hati pemimpin itu menyaksikan kehebatan pihak lawan, terutama kakek gendut tinggi besar. Maka dia sendiri bersama empat orang pembantunya lalu meloncat turun dan disambut oleh wanita cantik itu sambil tertawa-tawa.

Wanita cantik itu bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw Lo-mo yang telah kehilangan Ceng Ceng, menggunakan siasat adu domba ketika dia diserbu oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Milana dan Gak Bun Beng, dan menggunakan kesempatan selagi Topeng Setan melayani mereka, dia lalu mengajak sumoi-nya itu dan semua anak buahnya untuk meloloskan diri.

Mauw Siauw Mo-li penasaran sekali karena kehilangan Kian Bu, pemuda yang amat memuaskan hatinya itu, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo penasaran karena kehilangan Ceng Ceng. Mereka terus mencari ke barat dan di hutan itu mereka bertemu dengan rombongan berkuda itu yang hendak mereka rampas kereta dan kudanya agar perjalanan mereka lebih lancar dan cepat.

Biar pun dikeroyok oleh lima orang pimpinan rombongan itu, Mauw Siauw Mo-li masih melayani seenaknya saja. Untung bahwa lima orang pemimpin rombongan itu adalah laki-laki yang gagah perkasa dan rata-rata berwajah tampan menarik. Laki-laki muda tampan dan menarik merupakan kelemahan Mauw Siauw Mo-li sehingga hati wanita ini tidak tega untuk membunuh mereka. Dia hanya mempermainkan mereka, menangkis senjata mereka dengan pedangnya yang bersinar hijau, sedangkan jari-jari tangan kirinya tidak hentinya mencolek sana-sini di tubuh kelima orang lawannya itu sambil mengeluarkan kata-kata pujian yang membuat lima orang itu terkejut, terheran, akan tetapi juga menjadi muak.

“Hemm, Sumoi, apakah pada saat begini sudah kumat lagi penyakitmu gila laki-laki? Hayo kau bunuh mereka agar lebih cepat urusan ini beres!” teriak Hek-tiauw Lo-mo yang duduk di bawah pohon menonton pertempuran. Dia sendiri merasa terlalu tinggi untuk melayani orang-orang yang kepandaiannya tidak berapa tinggi itu dan dia mendongkol menyaksikan sumoi-nya yang mempermainkan lima orang lawannya.

“Hi-hi-hik, baiklah, Suheng. Wah, sayang sekali, aku terpaksa harus merobohkan kalian, orang-orang ganteng!”

Mauw Siauw Mo-li tertawa dan pedangnya lalu berubah berkelebatan menjadi gulungan sinar hijau yang amat cepat. Lima orang lawannya terkejut sekali dan mereka pun menggerakkan senjata mereka untuk membela diri, akan tetapi biar pun mereka sama sekali tidak dapat menyerang dan hanya mempertahankan diri, tetap saja mereka terhimpit dan terdesak hebat oleh sinar hijau itu dan agaknya pertahanan mereka tidak akan berlangsung lama.



Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat terjun ke medan pertempuran ini, didahului sinar yang seperti halilintar menyitaukan mata.

“Cringgg... trakkkk!”

Mauw Siauw Mo-li mengeluarkan pekik kaget ketika pedangnya yang bersinar hijau itu disambar oleh sinar kilat itu dan ternyata ujung pedangnya yang merupakan pedang pusaka ampuh itu telah patah! Ketika dia yang telah meloncat mundur memandang ke depan, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan gagah yang sudah dikenalnya baik karena pemuda ini bukan lain adalah Tek Hoat!

Setelah pemuda itu menyerahkan Syanti Dewi kepada Perdana Menteri Su, hatinya lega bukan main karena kekasih hatinya itu telah berada dalam keadaan aman. Barulah dia teringat akan Ceng Ceng dan Topeng Setan. Dia suka sekali kepada Ceng Ceng dan agaknya akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada gadis itu andai kata tidak ada Syanti Dewi di dunia ini.

Maka setelah meninggalkan istana Perdana Menteri, dia bergegas keluar dari kota raja dan kembali ke tempat Tambolon di sebelah selatan untuk menolong gadis itu. Diam-diam dia merasa khawatir juga kalau-kalau dia akan terlambat. Dan ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Tambolon dan kawan-kawannya telah pergi dan demikian pula Ceng Ceng, entah pergi ke mana, entah berhasil lolos ataukah dibawa pergi oleh Tambolon. Maka ia menjadi gelisah juga dan dia cepat pergi ke dusun Nam-lim untuk menolong Topeng Setan. Akan tetapi dusun bekas sarang kaum sesat ini pun telah kosong!

Terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu dan secepatnya dia menuju ke barat, karena dia dapat menduga bahwa tentu Syanti Dewi akan dikawal dan dipulangkan ke Bhutan, maka sebaiknya kalau dia mengamat-amati dari jauh. Demikianlah, pada pagi hari itu dia melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li mencegat rombongan berkuda, dan melihat orang-orang yang sekarang menjadi musuhnya ini, orang-orang yang telah menangkap Topeng Setan dan Ceng Ceng, dia menjadi marah dan tanpa mengetahui siapa mereka yang didesak oleh Mauw Siauw Mo-li, dia sudah mencabut Cui-beng-kiam dan sekali tangkis dia telah mematahkan ujung pedang sinar hijau di tangan Siluman Kucing itu.

“Eh, kau... bocah tampan? Kau di sini...? Kenapa kau melawan aku?” Mauw Siauw Mo-li menegur, setengah marah karena kerusakan pedangnya, tetapi juga girang karena sejak dahulu dia ada hati terhadap pemuda tampan itu yang dahulu merupakan tangan kanan dari Pangeran Liong Khi Ong.

Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat ke depan dan menghadapi Tek Hoat dengan alis berkerut. “Bocah lancang! Kenapa engkau mencampuri urusanku? Hayo minggat, sebelum aku marah dan membunuhmu!”

Kalau saja Hek-tiauw Lo-mo tidak bersikap kasar dan bicara dengan baik, agaknya Tek Hoat yang tidak mengenal rombongan itu akan merasa sungkan untuk mencampuri dan akan pergi. Akan tetapi entah mengapa, semenjak dia bertemu dengan Syanti Dewi dan orang-orang seperti Milana dan lain-lain, dia merasa betapa dirinya amat rendah dan hina, betapa dia adalah seorang pemuda yang tersesat dan jahat, betapa dia karena semua perbuatannya yang jahat, sama sekali tidak berharga untuk berdekatan dengan Syanti Dewi. Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main akan perbuatan-perbuatannya yang sudah-sudah.

Dia bukan anak penjahat, mengapa dia telah tersesat sedemikiah jauhnya? Penyesalan inilah, terutama sekali bayangan wajah Syanti Dewi yang lembut dan penuh welas asih, yang membuat dia merasa tidak senang dengan orang-orang dari golongan sesat karena dia menganggap bahwa mereka itulah yang menyeretnya ke lembah kesesatan. Kini, Hek-tiauw Lo-mo bersikap kasar, maka dia menjadi makin marah dan mengambil keputusan untuk melawannya dan membela rombongan yang tak dikenalnya ini.

“Hek-tiauw Lo-mo, engkau manusia sombong dan jahat! Kau kira aku takut kepadamu?” bentaknya dan pedang Cui-beng-kiam yang menggiriskan itu melintang di depan dadanya.

Hek-tiauw Lo-mo memang benar telah menjadi Ketua Pulau Neraka, akan tetapi dia bukanlah asli penghuni Pulau Neraka. Dia adalah pendatang baru yang menggunakan ilmunya untuk menaklukkan orang-orang Pulau Neraka, karena itu dia tidak mengenal pedang di tangan Tek Hoat itu. Akan tetapi Kakek Ji Song, kakek gendut gundul yang memang merupakan tokoh Pulau Neraka asli, begitu melihat pedang di tangan Tek Hoat, seketika dia menjadi ketakutan, gemetar dan berseru, “Cui-beng-kiam...!” Lalu dia menjauhkan diri dari situ.

Hal ini adalah tidak aneh. Cui-beng-kiam ini dahulunya adalah pedang milik Cui-beng Koai-ong, yaitu tokoh nomor satu dari Pulau Neraka yang merupakan iblis Pulau Neraka. Orangnya mengerikan seperti mayat hidup, kepandaiannya pun tidak lumrah manusia. Seperti kita ketahui, pedang pusaka ini berikut kitab-kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin terjatuh ke tangan seorang tokoh Pulau Neraka lainnya, yaitu Kong To Tek dan akhirnya terjatuh ke tangan Tek Hoat.

Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak mengenal pedang ini lalu bergerak menerjang pemuda itu dari kanan kiri. Hek-tiauw Lo-mo yang dapat menduga akan kelihaian pemuda yang pernah menjadi tangan kanan pemberontak ini, langsung mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok besar tajam yang punggungnya berbentuk gergaji! Senjata ini terbuat dari baja pilihan sehingga mengkilap dan amat tajam, ketika digerakkan menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara berdesing.

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui juga marah sekali karena kerusakan pedangnya, akan tetapi karena yang patah hanya ujungnya sedikit, dia masih dapat menyerang dengan ganas. Dia merasa menyesal sekali bahwa obat peledaknya yaitu senjatanya yang paling diandalkan, telah habis dan belum mendapat kesempatan untuk membuat lagi, maka kini dia hanya dapat menyerang dengan pedang buntung dibantu oleh cakaran tangan kirinya yang juga amat berbahaya.

Ang Tek Hoat mengamuk. Kadang-kadang dia menyeringai menahan rasa sakit. Luka-lukanya akibat pertempuran membela Syanti Dewi di dalam hutan melawan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo masih belum sembuh sama sekali. Dan kini dua orang lihai yang mengeroyoknya itu pun mengeluarkan seluruh daya upaya mereka untuk membunuhnya.

Sebetulnya suheng dan sumoi itu sama sekali tidak merasa sakit hati atas kematian Hek-wan Kui-bo karena di antara mereka bertiga biar pun terhitung suheng dan sumoi, tetapi tidak mempunyai hubungan akrab, bahkan saling mengiri dan saling mencurigai. Kematian Hek-wan Kui-bo di tangan pemuda ini tidak mendatangkan perasaan dendam. Akan tetapi, karena kini Tek Hoat berani menentang mereka, maka mereka teringat akan hal itu yang sedikitnya merupakan pukulan bagi nama mereka, maka tanpa berunding lebih dulu, keduanya kini berusaha sekuat tenaga untuk membunuh Tek Hoat.

Tek Hoat juga maklum akan kelihaian lawan, maka dia memutar pedangnya yang ampuh itu dan mengeluarkan semua kepandaiannya. Ilmu yang diwarisinya dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin memang hebat sekali. Dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah memperoleh ilmu menghimpun tenaga sakti, sedangkan dari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dia memperoleh ilmu-ilmu pukulan beracun, ilmu pedang yang dinamakan Cui-beng Kiam-sut dan obat perampas ingatan. Kini dia menggerakkan pedangnya berdasarkan sinkang yang sesungguhnya berpusat pada ilmu mukjijat atau Ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi dan dia memainkan Cui-beng Kiam-sut yang luar biasa gerakannya itu.

Hebat bukan main pertandingan antara tiga orang ini. Sinar pedang Cui-beng-kiam berubah menjadi gulungan sinar kilat menyambar-nyambar menyilaukan mata, dan sinar ini dikeroyok oleh gulungan sinar hijau dan biru! Ada pun lima orang pemimpin rombongan itu kini sudah saling gempur melawan kakek gundul Ji Song yang lihai dan teman-temannya. Akan tetapi karena jumlah para anak buah Pulau Neraka ini kalah jauh dan karena ternyata anggota rombongan berkuda itu pun rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka pertandingan antara mereka itu berjalan seru dan akhirnya pihak Pulau Neraka mulai terdesak.

Mauw Siauw Mo-li yang sudah marah kini tidak lagi memperlihatkan sikapnya yang gila laki-laki, apa lagi dia teringat akan suci-nya yang tewas oleh pemuda ini dan pedangnya yang menjadi buntung. Lebih-lebih lagi karena dia yang mengeroyok dengan suheng-nya yang dia tahu amat lihai, selama hampir seratus jurus masih belum juga dapat mengalahkan pemuda ini. Dia gemas dan penasaran sekali.

“Ang Tek Hoat, kau manusia khianat! Engkau yang sudah banyak makan uang dari pemberontak, pada saat terakhir malah berkhianat. Manusia tak tahu malu! Sekarang engkau agaknya hendak bermuka-muka dan menjilat-jilat pantat Kaisar agaknya! Hi-hik, manusia rendah, pemuda yang hina!”

Bukan main marahnya hati Tek Hoat mendengar ini. Diingatkan akan penyelewengan dan kejahatannya adalah hal yang amat dibencinya karena hal itu mengingatkan dia lagi akan ketidak pantasannya untuk berdekatan dengan Syanti Dewi! Tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya. Biar pun Cui-beng Kiam-sut adalah ilmu pedang iblis yang amat hebat, akan tetapi pertahanan kedua orang itu amat ketat dan mereka mulai dapat mengikuti gerakan dari ilmu pedang ini.

Maka secara tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya dan mainkan Pat-mo Kiam-sut yang pernah dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo, bekas tokoh Thian-liong-pang. Pat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Iblis) juga merupakan ilmu pedang golongan sesat yang amat hebat sekali, dahulu menjadi satu di antara ilmu-ilmu yang paling hebat dari ketuanya, yaitu Puteri Nirahai yang kini menjadi nyonya Pendekar Super Sakti. Dan perubahan mendadak ini membuat kedua orang lawan itu terkejut, terutama sekali Lauw Hong Kui yang memang didesak hebat oleh Tek Hoat yang marah mendengar ejekannya tadi.

Sinar kilat menyambar ke arah ulu hati Lauw Hong Kui. Wanita hamba nafsu birahi ini memekik, cepat dia miringkan tubuhnya dan menangkis.

“Cringgg... trekk... aughhh...!”

Tangkisan itu memang tepat, tapi saking kuatnya Tek Hoat menggerakkan pedangnya, kembali pedang sinar hijau dari wanita itu terbabat putus dan Cui-beng-kiam masih sempat melukai pangkal lengan kanan wanita itu sehingga kulit dan dagingnya terobek lebar dan darah bercucuran, pedang buntungnya yang tinggal pendek saja itu terlepas!

Akan tetapi pada saat itu, sinar hitam menyambar dari atas ke arah kepala Tek Hoat. Pemuda ini terkejut dan cepat menangkis dengan Cui-beng-kiam.

“Plakkkk...!”

Makin kagetlah hati Tek Hoat karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah sehelai jala tipis yang tadi dikepal di tangan kiri Ketua Pulau Neraka dan jala ini terbuat dari bahan yang amat kuat, tidak dapat diputus oleh pedang pusaka. Pedang itu telah tertangkap oleh jala! Dan golok berpunggung gergaji itu menyambar ganas ke arah lehernya!

Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li yang juga marah sekali karena lengannya terluka parah dan pedangnya rusak, menerjang ke depan dengan hantaman tangan kirinya dengan pengerahan sinkang dan dia telah mempergunakan pukulan beracun ke arah kepala Tek Hoat.

Pemuda ini maklum akan datangnya bahaya besar. Pedangnya tidak dapat digerakkan lagi sebab telah tertangkap dan terbelit jala tipis, dan andai kata ia hanya mementingkan pedangnya, tentu dia akan terkena sambaran golok dan hantaman wanita itu. Dia teringat akan Tenaga Sakti Inti Bumi yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin.

Tiba-tiba dia melepaskan pedangnya, melempar diri ke bawah dan menelungkup, kemudian dengan pengerahan sinkang sakti Inti Bumi, kedua kakinya menghantam ke atas seperti seekor jangkrik menendang. Tendangannya yang tak tersangka-sangka dan mengandung tenaga dahsyat itu memapaki golok.

“Dessss... crakkk...!”

Hek-tiauw Lo-mo berteriak keras karena goloknya itu membalik sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu mempertahankan lagi dan goloknya telah menghantam pundaknya sendiri sehingga tulang pundaknya retak dan bahunya terluka! Dengan kemarahan meluap, dia menguyun kakinya.

“Bukkk! Plakkk!”

Tek Hoat terkena tendangan pada perutnya dan terkena hantaman tangan kiri Mauw Siauw Mo-li pada punggungnya. Tubuhnya terlempar dan terbanting lalu bergulingan. Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali, matanya terbelalak marah dan tangan kirinya mengusap mulutnya yang berdarah.

Hek-tiauw Lo-mo menyumpah-nyumpah. Dia telah terluka, juga Mauw Siauw Mo-li telah terluka. Celakanya, anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang sudah terluka. Maka dia lalu bersuit nyaring dan meloncat pergi bersama sumoi-nya. Anak buahnya maklum bahwa pimpinan mereka juga terdesak, maka mereka lalu melarikan diri meninggalkan medan pertempuran sambil memapah teman-teman yang terluka. Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak, tidak dapat mengejar karena dia maklum bahwa dirinya sendiri pun terluka parah.

Setelah melihat bahwa musuh-musuhnya lari pergi membawa pedang Cui-beng-kiam yang terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo, dia mengeluh, memejamkan matanya dan terguling pingsan di dekat kereta rombongan itu.

Tek Hoat, yang memang luka-lukanya akibat pertandingan melawan para pengawal lihai dari Pangeran Liong Khi Ong itu belum sembuh benar, kini mengalami pukulan dan tendangan yang hebat, tentu saja menjadi makin parah luka-luka di sebelah dalam tubuhnya. Dia tidak tahu bahwa selama sehari semalam dia tidak sadar. Ketika dia akhirnya siuman kembali, dia merasa dirinya terguncang-guncang perlahan dan telinganya mendengar suara bergemuruh.

Dia membuka matanya. Kiranya tubuhnya memang sedang terguncang-guncang di dalam bilik kereta yang berjalan perlahan, dan suara gemuruh itu adalah suara roda-roda kereta melindas jalan yang tidak rata. Cuping hidungnya kembang-kempis karena dia mencium bau harum semerbak dan matanya mencari-cari. Kiranya di dalam bilik kecil kereta itu terdapat peralatan rias dari wanita di atas sebuah meja kecil. Sisir, cermin, bedak dan lain-lain. Dia bergerak hendak bangkit duduk dan mengeluh. Kiranya tubuhnya sakit-sakit semua, terutama di dada dan punggungnya. Dia melihat betapa luka-luka luar di lengan dan dahinya telah dibalut orang dan diobati.

Tek Hoat menjadi terheran-heran dan menduga-duga. Tak salah lagi, tentu dia ditolong oleh rombongan itu, karena dia juga melihat ada sebuah kereta besar dari rombongan yang diserbu oleh Hek-tiauw Lo-mo itu. Akan tetapi siapakah orang-orang ini dan kereta siapa ini yang penuh dengan peralatan rias seorang wanita?

Tiba-tiba kereta itu berhenti dan Tek Hoat menyingkap tirai di jendela kereta. Kiranya mereka berhenti di dalam hutan dan waktu itu adalah tengah hari. Dia mengira bahwa belum lama dia berada di situ, karena pertempuran itu terjadi di pagi hari. Baru setengah hari.

Seorang yang berjenggot dan berkumis pendek, yang dikenalnya sebagai seorang di antara para pemimpin yang mengeroyok Mauw Siauw Mo-li, datang menjenguk dan diikuti seorang anggota rombongan yang membawa makanan untuk Tek Hoat.

“Aih, syukurlah bahwa engkau telah siuman kembali, orang muda yang perkasa! Hati kami sudah gelisah melihat kau pingsan selama sehari semalam.”

“Sehari semalam?” Ang Tek Hoat berseru kaget. “Bukankah baru pagi tadi aku jatuh pingsan?”

“Bukan pagi tadi, melainkan kemarin pagi,” orang itu berkata sambil tersenyum dan memandang kagum. “Sungguh hebat engkau, dapat menandingi orang-orang iblis itu! Terpaksa kami membawamu ke dalam kereta karena engkau pingsan dan tentu saja kami tidak tega meninggalkan engkau di dalam hutan itu.”

“Ahhh, terima kasih...!” Tek Hoat mencoba untuk bangkit duduk lagi, akan tetapi dia menyeringai kesakitan.

“Tak usah duduk. Mengasolah dulu, orang muda...”

“Akan tetapi... akan tetapi, siapakah kalian ini...?”

“Kami adalah pelancong-pelancong, rombongan pelancong.”

“Dan ke mana kalian hendak pergi?”

“Engkau sendiri hendak ke mana, orang muda? Kalau tidak satu tujuan dengan kami, biarlah kami mencarikan tempat di sebuah kota atau dusun untuk kau tinggal dan beristirahat. Jangan khawatir, kami akan meninggalkan biaya secukupnya sampai kau sembuh.”

“Terima kasih, kau baik sekali, Paman. Aku... aku akan ke barat...”

“Ahhh! Kalau begitu kita setujuan. Kami pun serombongan sedang menuju ke barat. Kalau begitu, biarlah engkau mengaso dahulu di kereta itu dan kami akan berusaha mengobatimu.”

Tek Hoat merasa girang sekali dan amat berterima kasih. Karena dia belum kuat bangkit duduk, maka dia mengangkat kedua tangan ke dada sambil rebah telentang, lalu berkata, “Engkau sungguh baik sekali, Paman, dan... banyak terima kasih atas pertolonganmu ini.”

Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Orang muda perkasa yang rendah hati! Jangan bicara tentang terima kasih dan pertolongan, karena kalau bukan engkau yang datang menolong, agaknya saat ini kami telah menjadi mayat-mayat yang diperebutkan binatang-binatang hutan! Mengasolah dan biar anak buahku ini melayanimu.” Pemimpin rombongan itu lalu pergi dan kiranya mereka semua berhenti di hutan itu untuk makan siang.

Orang yang membawa bubur dan asinan itu lalu hendak menyuapkan makanan, akan tetapi Tek Hoat mengucapkan terima kasih dan makan sendiri sambil rebah miring. Dia merasa berhutang budi kepada mereka ini dan diam-diam dia harus mengakui bahwa di dunia kaum sesat kiranya tidak berlaku hukum tolong-menolong seperti ini. Baru terbuka matanya bahwa manusia harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, bukan saling bermusuhan seperti di dunia kaum sesat. Betapa tenteramnya dunia ini kalau kehidupan manusia tidak dikotori oleh permusuhan dan kebencian!

Seorang di antara anggota rombongan, seorang kakek, ternyata pandai dengan ilmu pengobatan dan setiap hari Tek Hoat diperiksa dan diberi obat minum yang pahit namun manjur juga karena dia merasa makin tenang dan makin ringan luka-lukanya di dalam tubuh. Tentu saja setelah dapat duduk dia pun bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya sendiri.

Setiap hari, bahkan setiap saat Tek Hoat tidak pernah dapat melupakan Syanti Dewi. Makin dikenang, makin sakitlah hatinya, karena dia makin melihat kenyataan bahwa dia sama sekali tidak berharga berdekatan dengan puteri itu. Jangankan menjadi... kekasih seperti yang selalu mengganggu hatinya, bahkan menjadi sahabat pun tidak pantas, menjadi pelayannya pun tidak patut. Pendeknya dia hanya akan mengotorkan puteri itu kalau berdekatan, karena hawa di sekitar dirinya adalah kotor, hina dan jahat! Teringat akan itu semua, dia mengeluh panjang pendek di dalam bilik itu.

“Keparat kau, Tek Hoat...!” Dia memaki diri sendiri sambil menjambak rambut di bilik itu, tidak peduli bahwa suara hatinya itu keluar dari mulutnya dengan suara lirih. “Engkau manusia sesat, manusia jahat, sejahat-jahatnya orang! Bagaimana orang macam engkau tergila-gila kepada seorang bidadari seperti Puteri Syanti Dewi? Kau sudah gila! Seperti seekor burung gagak merindukan seekor burung hong!”

Kadang-kadang dia memaki-maki dirinya sendiri dan menyesali semua perbuatannya. Kadang-kadang dia membayangkan kecantikan Syanti Dewi, kelembutannya serta keramahannya, kemuliaan budinya, bahkan terdorong oleh suara hatinya, kadang dia bersenandung memuji-muji puteri yang telah menguasai seluruh cinta kasih hatinya itu. Hampir setiap malam dia bermimpi, bertemu dengan puteri itu dan dalam mimpinya tentu dia menyebut-nyebut namanya. Apa lagi ketika luka-lukanya membuat tubuhnya terserang demam, dalam keadaan tak sadar dia mengigau tentang Syanti Dewi.

Berkat usahanya sendiri siulian dan menghimpun tenaga murni, ditambah pengobatan rombongan itu, seminggu kemudian kesehatan Tek Hoat sudah berangsur baik. Biar pun dia belum sembuh sama sekali, dan masih lemah, akan tetapi dia sudah dapat meninggalkan kereta dan di waktu kereta berhenti di dusun-dusun, dia dapat ikut pula turun dan bersama dengan rombongan itu makan di warung-warung.

Hari itu mereka agak lama berhenti di dusun yang agak besar, karena rombongan itu membeli banyak ransum. Setelah melewati dusun itu, perjalanan akan melalui daerah pegunungan yang sunyi dan jarang terdapat dusun yang menjual bahan makanan, maka rombongan itu memperbanyak bekal mereka untuk keperluan di perjalanan. Tek Hoat juga membantu mereka. Karena tenaganya belum pulih kembali, dia ditugaskan untuk menghitung dan menimbang bahan-bahan makanan yang dibeli.

Ketika akhirnya semua beres, dan dia hendak kembali ke kereta karena dia belum kuat naik kuda, Tek Hoat menjadi bingung. Baru sekarang dia melihat bahwa kereta yang panjang itu ternyata terdiri dari dua bilik. Dia hampir saja membuka pintu bilik yang berada di depan, akan tetapi pemimpin rombongan itu memegang lengannya dan berkata, “Engkau keliru, Taihiap.” Dia kini disebut Taihiap setelah dia memperkenalkan diri, Ang-taihiap sebutannya. “Bilikmu adalah yang di belakang ini.”

“Ah, maaf. Akan tetapi siapakah yang berada di bilik depan?” tanyanya.

“Tidak ada siapa-siapa, akan tetapi Taihiap jangan membukanya. Sekali-kali harap jangan membukanya dan kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap.”

Tek Hoat mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya dia curiga sekali. Beberapa kali ingin dia membuka pintu bilik itu kalau tidak ada orang melihatnya, akan tetapi kata-kata pimpinan rombongan itu mengingatkannya. “...kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap.”

Hemm, apakah dia yang sudah menyeleweng dan tersesat itu kini juga menjadi orang yang tidak bisa dipercaya? Betapa pun curiganya, betapa pun inginnya untuk membuka pintu bilik depan itu, dia mengeraskan hati dan tidak mau membukanya! Mulai sekarang, dia harus menjadi seorang yang menjauhi segala keburukan! Dia harus memulai hidup baru dan menanggalkan semua kebiasaan lama yang busuk dan sesat!

Menjelang tengah hari, kereta mulai memasuki daerah hutan yang sunyi. Akan tetapi, ketika memasuki sebuah hutan, baru saja tiba di pinggir hutan itu, tiba-tiba rombongan ini berhenti dan kereta juga berhenti. Ang Tek Hoat terkejut. Kalau sekali ini terjadi pencegatan oleh orang-orang sakti seperti yang terjadi seminggu yang lalu, sedangkan kesehatan dan tenaganya belum pulih sama sekali, tentu mereka semua akan celaka dan dia sama sekali tidak dapat melindungi mereka. Padahal mereka sudah begitu baik kepadanya!

Tetapi tidak terdengar kegaduhan, maka Tek Hoat lalu menyingkap tirai bilik keretanya dan memandang ke depan, menjenguk ke luar. Di depan, tampak seorang dara remaja berdiri menghadang rombongan itu. Ang Tek Hoat memandang kagum. Seorang dara remaja yang amat cantik jelita, sangat cantik dan lincah, sikapnya ramah kekanak-kanakan namun memikat hati, tubuhnya tiada hentinya bergerak, sepasang matanya seperti sepasang bintang senja yang berkedip-kedip dan bersinar terang, jernih dan tajam, bibirnya yang merah itu bersungut-sungut namun bertambah manisnya.

Dengan sikap yang lucu dan jenaka, akan tetapi juga sedikit ugal-ugalan dara itu menggunakan telunjuk tangan kanannya menyodok perut kepala rombongan yang agaknya sudah mengenalnya itu. “Wah, Paman mencari penyakit, ya? Kenapa melalui jalan sini? Di balik hutan ini terdapat rombongan orang jahat yang amat jahat, bukan penjahat biasa melainkan gerombolan yang berilmu tinggi. Kalau rombongan Paman ini diketahuinya, tentu celaka! Suhu sendiri merasa ngeri berhadapan dengan gerombolan itu dan Suhu yang menyuruh aku menghadang Paman di sini untuk memberi peringatan agar Paman menggunakan jalan lain!”

Kepala rombongan itu tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak dara remaja yang jenaka itu sungguh pun sekali ini dia membawa berita yang mengejutkan.

“Aih, Nona Teng, kita bertemu lagi di tempat yang tak tersangka-sangka ini! Di mana Locianpwe yang menjadi gurumu itu? Dan gerombolan apakah yang kau ceritakan itu?”

“Gerombolan apa lagi yang berbahaya kalau bukan gerombolan yang dipimpin Raja Tambolon? Musuh besarmu, bukan? Menurut Suhu, Tambolon selalu menjadi musuh besar orang-orang Bhutan!”

Kepala rombongan itu kelihatan kaget bukan main, juga semua anggota rombongan itu mengeluarkan seruan kaget.

“Celaka...!” Kepala rombongan itu berseru.

Akan tetapi Tek Hoat yang mendengarkan percakapan itu pun terkejut bukan main. Kiranya rombongan ini adalah orang-orang Bhutan! Dia meloncat turun dan pergi ke depan mendekati gadis ini yang memandang kepada Tek Hoat dengan pandang mata penuh selidik.

“Taihiap, sekali ini kita dihadang gerombolan yang lebih berbahaya lagi,” pemimpin rombongan itu berkata ketika melihat Tek Hoat mendekati mereka.

“Paman Jayin, siapa dia yang kau sebut taihiap ini? Aku baru sekali ini melihatnya. Apa dia orang baru?” Dara remaja itu berkata dan dengan sinar mata penuh selidik, seperti seorang pedagang kuda yang hendak membeli seekor kuda dan menaksirnya, dia berjalan dengan gerak penuh kelembutan dan lagak yang memikat, mengelilingi Tek Hoat perlahan-perlahan sambil memandang dengan mata dipicingkan!

Melihat sikap ini, Tek Hoat menjadi geli di dalam hatinya. Benar-benar seorang bocah perempuan yang bersemangat, lincah jenaka dan ugal-ugalan. Rambut yang dikepang dua itu melambai-lambai lucu ketika kepala yang manis itu digerak-gerakkan dan lengannya lemah gemulai sehingga pinggul yang tertutup baju panjang itu bergerak-gerak membayang dengan lemasnya.

Rombongan itu kini berkerumun dan Tek Hoat lalu bertanya kepada dara remaja yang bukan lain adalah Teng Siang In itu. Seperti kita ketahui, Siang In telah diambil murid oleh See-thian Hoat-su, kakek yang sakti bekas suami nenek iblis Durganini. Mereka berdua telah saling berjumpa dan rujuk kembali. Akan tetapi dasar watak Durganini sudah pikun dan sudah berubah. Mereka berdua tadinya mengajak Siang In untuk kembali ke barat, ke Himalaya. Akan tetapi di tengah perjalanan, nenek itu banyak rewel dan kadang-kadang timbul niat buruknya untuk mengganggu penduduk dusun yang mereka lalui di tengah perjalanan. See-thian Hoat-su menentangnya dan kembali mereka cekcok dan bertentangan. Akhirnya, nenek yang ilmu silatnya masih kalah tinggi dibandingkan bekas suaminya ini ngambek dan pergi meninggalkan guru dan murid itu.

Setelah ditinggalkan oleh Nenek Durganini, See-thian Hoat-su menjadi kecewa dan membatalkan niatnya untuk kembali ke Himalaya. Dia mengajak muridnya kembali ke timur, karena dia tidak akan merasa tenang selama nenek yang pernah menjadi isterinya itu masih berkelana di timur. Dialah yang harus mencegah kalau bekas isterinya itu menggunakan ilmu mendatangkan kerusakan dan mala petaka kepada penduduk yang tidak berdosa.

“Adik kecil, apakah ceritamu itu benar? Benarkah Tambolon dan kawan-kawannya sudah berada di sini?” Tek Hoat bertanya kepada Siang In.

Kontan dara ini cemberut dan bertolak pinggang. “Ehhh, kau manusia sombong, ya? Dumeh (mentang-mentang) sudah disebut orang taihiap (pendekar besar) kau lalu merasa tua sekali, ya?”

Tentu saja Tek Hoat yang belum pernah bertemu dengan seorang dara seperti ini menjadi melongo. “Ehh, ehh, kok marah? Apa salahku?”

Perwira Jayin dari Bhutan dan empat orang pembantunya yang sudah mengenal Siang In, bahkan sudah pernah sama-sama menjadi tawanan raja liar Tambolon, menahan senyumnya.

Siang In memandang ke kanan kiri, kepada rombongan itu dan dengan hidung diangkat ke atas dia menuding kepada Tek Hoat. “Coba...! Dia masih pura-pura bertanya apa kesalahannya? Kau menyebut aku adik kecil, apakah itu bukan menghina namanya? Sudah sebegini, masih disebut anak kecil? Kalau aku anak kecil, apakah engkau sudah kakek-kakek?”

Semua rombongan itu tertawa dan muka Tek Hoat menjadi merah. Akan tetapi pemuda ini tersenyum. Pada dasarnya, Tek Hoat adalah seorang yang jenaka dan lincah gembira pula. Kalau dia berubah menjadi pendiam adalah karena banyak hal yang menekan hatinya. Kini dia memandang dengan mata berseri. Dara remaja ini benar-benar jenaka dan kemarahannya itu dia tahu adalah dibuat-buat.

“Kalau begitu, biarlah aku menyebutmu nyonya tua yang galak!” Tek Hoat menggoda.

Dara itu membelalakkan matanya, kelihatan menjadi makin cantik. Dia lalu menarik muka seperti nenek-nenek, tubuhnya agak membungkuk, suaranya lalu gemetar seperti seorang wanita tua yang sudah tua sekali, dan dia menjura ke arah Tek Hoat dengan lagak seorang nenek.

“Baiklah, kakek tua renta yang sudah pikun. Mengapa sudah setua ini kau masih belum juga mati-mati? Apakah tidak merasa bosan?”

Kembali rombongan itu tertawa karena suara dan sikap dara itu persis nenek-nenek tua. Tek Hoat juga tertawa dan dia lalu berkata, “Sudahlah, Nona. Maafkan aku. Aku hanya ingin bertanya apakah benar Tambolon sudah tiba di sini karena belum lama ini aku masih bertemu dengan mereka di timur.”

“Itu Suhu datang. Kalau kau tidak percaya, sudah jangan tanya aku, kau tanya saja kepada Suhu!”

Tek Hoat menoleh dan benar saja dari jauh datang seorang kakek tua renta yang larinya cepat sekali. Perwira Jayin dan para pembantunya cepat memberi hormat.

“Locianpwe, terima kasih atas peringatan Locianpwe tentang gerombolan itu. Sekarang bagaimana baiknya? Belum lama, baru seminggu ini kami juga telah dihadang oleh gerombolan Hek-tiauw Lo-mo dan kalau tidak ada Ang-taihiap ini tentu kami sudah celaka semua.”

Kakek itu bukan lain adalah See-thian Hoat-su. Dia terkejut mendengar bahwa rombongan ini seminggu yang lalu dicegat oleh Hek-tiauw Lo-mo dan dia memandang kepada Tek Hoat dengan kagum. Seorang yang dapat menolong rombongan ini dari gangguan Hek-tiauw Lo-mo, biar pun masih begitu muda, tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, pikirnya. Akan tetapi sekali pandang saja, dia tahu bahwa Tek Hoat pernah mengalami luka-luka dalam yang amat hebat, maka dia terkejut sekali.

“Ahh, engkau telah terpukul hebat sekali, orang muda!”

Tek Hoat menjadi kagum dan dia menjura. “Sudah berangsur baik, Locianpwe, berkat rawatan dan pengobatan rombongan ini.”

“Rombongan ini harus mengambil jalan lain. Cepat! Jangan melalui hutan ini. Mudah-mudahan saja belum terlambat dan tidak akan bertemu dengan mereka. Dan engkau harus diobati secepatnya, orang muda, agar tenagamu pulih dan kau dapat membantu kalau toh mereka masih dapat mengejar.”

Mendengar kata-kata kakek ini, pewira pengawal Bhutan itu tidak ragu-ragu lagi dan cepat memerintahkan rombongannya mengambil jalan berbelok ke selatan, mengambil jalan memutari bukit di depan dan menyimpang dari jalan besar. Ada pun Kakek See-thian Hoat-su lalu mengajak Tek Hoat ke dalam bilik keretanya itu dan setelah dia menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu, dia memanggil muridnya.

“Berikan dia obatmu penyembuh luka dalam yang manjur sekali itu!” kata kakek ini yang segera meninggalkan mereka untuk ikut menjaga di bagian depan barisan itu.

“Hemm, enaknya! Sudah menghina masih minta obat. Panggil dulu aku sebagaimana mestinya, nanti kuberi obat yang paling manjur,” Siang In berkata dengan sikap jual mahal.

Kalau saja Tek Hoat sudah tidak melihat kesesatannya dan mengambil keputusan untuk merubah watak dan sikapnya, tentu dia akan menjadi marah dan akan menghina gadis ini. Akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk dalam. “Nona yang baik, aku minta maaf dan kau berikanlah obat itu.”

Siang In tersenyum. “Nah, begitu dong! Sekarang engkau menjadi sahabatku, tidak usah minta pun tentu akan kuberikan obat itu.” Dia lalu mengeluarkan sebungkus obat yang berwarna merah dan berbentuk bulat kecil. Dia menyerahkan dua butir kepada Tek Hoat sambil berkata, “Telan semua dan kau tidur, nanti setelah bangun baru terasa khasiatnya.” Kemudian dia tersenyum manis dan meloncat turun dari dalam kereta.

Tek Hoat memandang dua butir obat di telapak tangannya itu sambil berkata seorang diri, “Betapa baiknya semua orang. Betapa manisnya dara itu, akan tetapi mana bisa dia menandingi Syanti Dewi...?” Lalu ditelannya dua butir obat itu dan dia pun merebahkan dirinya.

Begitu obat memasuki perutnya, terasa hawa panas memenuhi perut dan dadanya, kemudian seluruh tubuh sehingga dia mengeluarkan keringat. Nyata manjur sekali obat itu dan Tek Hoat menjadi makin kagum. Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu, Teng Siang In, adalah puteri mendiang ahli obat Yok-sian (Dewa Obat) yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dewa atau ahli pengobatan yang tinggal di Lembah Pek-thouw-san.

Menjelang senja, rombongan ini sudah mengelilingi bukit dan memasuki hutan kecil. Tiba-tiba tanpa ada sebabnya, tahu-tahu hutan di sekeliling mereka sudah terbakar! Rombongan ini tentu saja berhenti dan terkejut sekali. Akan tetapi See-thian Hoat-su yang berada di depan rombongan itu berteriak, “Jangan panik! Ini hanya ilmu siluman!”

Dia lalu meloncat ke atas sebuah batu besar, bersedakap dan berteriak, “Durganini, kau terlalu! Terpaksa aku melawanmu!”

Kakek itu bersedakap terus dan tak lama kemudian, rombongan orang Bhutan itu melihat hujan turun secara tiba-tiba dan api yang berkobar itu padam. Akan tetapi anehnya, mereka semua tidak tertimpa hujan! Kiranya baik kebakaran mau pun hujan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan oleh kekuatan sihir yang mukjijat saja!

Tak lama kemudian dari balik pohon-pohon bermunculan banyak orang dan di depan sendiri tampak Tambolon, Si Petani Maut Liauw Kui, Si Siucai Maut Yu Ci Pok, dan si nenek hitam Durganini yang menghadang rombongan!

“Orang gila, kau berani melawan aku?” Durganini memaki bekas suaminya dan dengan ganas dia melontarkan tongkatnya ke udara.

Tongkat itu berubah menjadi seekor naga yang turun menyambar ke arah See-thian Hoat-su yang masih juga berdiri di atas batu. See-thian Hoat-su cepat meloncat turun, menyambar segenggam tanah dan melontarkannya ke arah naga yang menyerangnya dengan dahsyat itu.

“Darrrrr...!”

Tampak kilat menyambar dan naga itu berubah menjadi tongkat butut kembali, lalu melayang ke tangan Durganini, etapi See-thian Hoat-su terhuyung karena memang dia kalah kuat dalam ilmu sihir.

“Kau perempuan iblis!” Kakek itu memaki dan tubuhnya sudah menyambar ke arah bekas isterinya untuk merampas tongkat.

Durganini membalas dengan hantaman tongkatnya, tetapi See-thian Hoat-su menangkis dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah ubun-ubun Si Nenek Ganas. Durganini mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya keserempet jari tangan See-thian Hoat-su sehingga ia memekik kesakitan, terhuyung dan menudingkan tongkatnya. “Kau... kau berani memukulku?” Teriakan ini disertai suara tangis, persis seperti lagak seorang isteri yang marah kepada suaminya!

Tambolon juga sudah mencabut pedangnya dan membantu gurunya menerjang See-thian Hoat-su. Sedangkan Liauw Kui dan Yu Ci Pok telah memimpin anak buah mereka menyerbu Perwira Jayin dan pasukannya. Terjadilah pertempuran yang hebat.

“Heeeiii, bangun! Bangun kau...! Wah, celaka, malasnya orang ini!”

Diguncang-guncang pundaknya itu, Tek Hoat terbangun dengan kaget dan dia meloncat turun dari kereta. Kiranya yang menggugahnya adalah Siang In. “Lekas bantu, lihat Suhu terdesak hebat oleh nenek siluman itu dan Tambolon!”

Tek Hoat meraba pinggangnya dan baru teringat dia ketika tangannya meraba tempat kosong, bahwa pedang yang diandalkannya, yaitu Cui-beng-kiam, telah terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo.

“Kenapa kau sendiri tidak membantu gurumu?” tanyanya.

“Uhhh, mana aku berani? Kau bantu guruku, mereka itu lihai sekali, dan aku akan membantu Paman Jayin!” kata Siang In yang memang belum begitu tinggi ilmu silatnya sehingga dia merasa ngeri kalau harus membantu suhu-nya menghadapi orang-orang seperti Tambolon dan gurunya itu.

Tek Hoat menggerak-gerakkan kedua lengannya. Memang jauh lebih enak dari pada kemarin. Dia menarik napas panjang, juga dadanya tidak terasa nyeri lagi. Dikerahkan sinkang-nya dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa keadaannya jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Maka dia kemudian meloncat dan terjun ke dalam pertempuran, menyerang Tambolon dengan pukulan dahsyat yang dilakukan dengan pengerahan sinkang-nya.

Tambolon terkejut, maklum bahwa lawannya ini lihai sekali. Dia mengelak dan berkata, “Eh, orang muda. Lupakah kau akan hubungan baik kita baru-baru ini? Kau bantulah kami dan engkau akan mendapat bagian, kau takkan kecewa!”

“Manusia keparat, siapa sudi mendengar bujukanmu?” Tek Hoat membentak dan sudah menerjang lagi, mengirim pukulan mautnya. Tambolon menyambut dengan tangan kirinya dan membarengi dengan bacokan pedangnya.

“Dessss...!”

Tambolon terjengkang ke belakang dan pundak kirinya Tek Hoat terkena ujung pedang, akan tetapi hanya luka kecil saja dan dia terus mendesak Tambolon yang ternyata kalah tenaga. Tetapi Tek Hoat mengerutkan alisnya. Memang dia telah mampu mengerahkan sinkang-nya, akan tetapi begitu bertemu dengan lawan yang kuat, dalam pertemuan tenaga dahsyat tadi, biar pun dia berhasil membuat Tambolon terjengkang, akan tetapi dadanya terasa agak nyeri.

Sementara itu Tambolon sudah menubruk maju dengan serangan pedangnya yang membabi buta. Tek Hoat mengelak dengan cepat, akan tetapi kembali dia diam-diam mengeluh oleh karena pengerahan ginkang-nya juga membuat dadanya sakit. Hal ini menandakan bahwa luka di dadanya belum sembuh benar.

“Sut-sutt-sing... desss!”

Biar pun Tek Hoat dapat menghindarkan diri dari sambaran pedang yang bertubi-tubi itu, namun sebuah tendangan mengenai lambungnya dan dia terlempar, jatuh terguling-guling. Dan sialnya, dia terlempar ke dekat Nenek Durganini yang sedang bertanding melawan bekas suaminya.

“Hiyyaaahhh!” Nenek itu mengeluarkan pekik dahsyat dan tangan kirinya bergerak ke arah leher Tek Hoat.

Pemuda yang masih bergulingan ini terkejut sekali. Ternyata kini sepuluh jari tangan nenek itu telah mengeluarkan kuku yang panjang runcing dan ketika dia mengelak, kuku jari tangan itu lewat dekat mukanya dan dia mencium bau yang amis, tanda bahwa kuku-kuku itu mengandung racun yang hebat! Dia berusaha meloncat berdiri, akan tetapi kaki kanan nenek yang memakai gelang itu menyambar.

“Dessss...!” Kembali dia roboh.

See-thian Hoat-su hendak menolongnya, akan tetapi Tambolon sudah menerjang kakek itu dengan putaran pedangnya secara dahsyat sehingga terpaksa kakek itu mengelak ke sana-sini. Tek Hoat terus didesak oleh Nenek Durganini, dan begitu dia bangkit, dua cakar beracun itu menyambarnya. Tek Hoat mengelak ke sana-sini, akan tetapi tetap saja leher dan pundaknya kena dicakar. Panas dan perih rasanya! Tek Hoat terkejut, cepat-cepat dia melempar tubuh ke atas tanah dan ketika nenek itu menendang, dia membiarkan dirinya ditendang.

“Desss...!” Tubuh pemuda itu bergulingan menabrak benda keras.

“Bresss!”

Ketika dilihatnya, ternyata tubuhnya tertumbuk kepada roda kereta! Nenek itu terkekeh-kekeh dan sudah berlari menghampirinya dengan kedua tangan bergerak-gerak secara menyeramkan.

Tek Hoat bangkit dengan kepala pening, siap untuk melawan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba pintu bilik depan kereta itu terbuka dan sebuah tangan yang halus namun kuat mencengkeram punggung bajunya dan menarik tubuh pemuda itu ke dalam bilik kereta yang segera ditutupkan. Nenek itu marah-marah dan hendak mencengkeram kereta, akan tetapi pemilik tangan halus itu menusukkan pedang menembus pintu kereta.

“Crattt! Aihhhh... aduhhhh...!”

Tangan Nenek itu tertusuk pedang dan terasa sakit bukan main. Karena tidak disangka-sangkanya, maka ujung pedang itu dapat melukai tangannya dan nenek yang pikun ini segera membalikkan tubuhnya, menangis lalu mengamuk kepada bekas suaminya, agaknya dia sudah lupa sama sekali akan Tek Hoat yang tidak kelihatan lagi itu.

Tek Hoat membuka matanya memandang dan... dia terbelalak. Matanya melebar dan mulutnya ternganga, karena ternyata yang menolongnya itu bukan lain adalah... Syanti Dewi!

“Ya Tuhan... sudah... sudah matikah aku...? Ataukah... ini hanya... mimpi...?” Tek Hoat menggosok-gosok matanya.

Syanti Dewi yang duduk di atas bangku kereta itu memandang dengan dua titik air mata berlinang, lalu mengulurkan tangan menyentuh leher dan pundak itu dan terdengar suaranya halus, “Kau... kau... terluka lagi...” Disentuhnya luka-luka itu dengan ujung jarinya yang halus.

“Kau... kau... Syanti Dewi...?” Tek Hoat menangkap ujung tangan itu dan menciumnya. “Aku... aku... ahhh, benarkah aku masih hidup?”

Kedua pipi puteri itu menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar ketika dia merasa betapa ujung jarinya diciumi dan merasakan hembusan napas yang panas dari pemuda itu mengenai jari-jari tangannya.

“Engkau masih hidup dan aku memang Syanti Dewi... aku... akulah yang berada di bilik depan kereta ini...”

Tek Hoat menjadi girang bukan main, girang dan juga jengah dan malu. Setiap saat dia teringat kepada puteri ini, dicari-carinya dan dikenang, dikhawatirkannya. Siapa tahu, seminggu lamanya dia berada di satu kereta dengan puteri ini! Dan teringatlah dia betapa dia sering kali menggandrungi puteri ini, bersenandung memuji-muji puteri ini. Tiba-tiba dia teringat. Pertempuran itu masih berlangsung.

“Ahhh, aku harus melindungimu, aku harus membasmi mereka... kalau tidak... Paduka akan celaka... kiranya mereka itu menyerang karena Paduka berada di sini...”

“Kau... kau masih terluka...”

Akan tetapi Tek Hoat sudah tidak peduli lagi. Begitu melihat bahwa Syanti Dewi berada di situ, mengertilah dia mengapa gerombolan Hek-tiauw Lo-mo menyerang rombongan ini, dan mengapa pula kini gerombolan Tambolon juga menyerang rombongan ini. Kiranya mereka itu tahu bahwa Sang Puteri berada di dalam kereta. Hanya dialah yang tolol, yang goblok, sekereta sampai seminggu lamanya tidak tahu! Hatinya girang, tapi juga khawatir, dan dia meloncat keluar dari kereta itu, cepat menutupkan pintunya kembali seolah-olah dia hendak menyembunyikan mustika agar tidak terlihat oleh lain orang!

Kakek See-thian Hoat-su masih dikeroyok dua oleh Tambolon dan Durganini. Kakek ini terdesak hebat, agaknya juga sudah terluka karena pangkal lengan kirinya berdarah. Siang In masih mengamuk membantu Perwira Jayin dan para anggota rombongan, akan tetapi mereka pun terdesak hebat oleh Si Petani Maut Liauw Kui dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, karena memang tingkat kepandaian dua orang pembantu Tambolon ini lebih tinggi dari mereka. Senjata pikulan dari Liauw Kui dan senjata sepasang poan-koan-pit dari Yu Ci Pok memang berbahaya sekali, dan hanya karena Jayin yang dibantu oleh Siang In dan empat orang perwira pembantunya itu melakukan perlawanan gigih, maka pertandingan masih berlangsung dengan seru dan mati-matian.

Tek Hoat maklum bahwa yang boleh diandalkan oleh rombongan ini hanyalah Kakek See-thian Hoat-su. Dia sendiri sudah terluka parah, dan kalau kakek itu roboh, tentu yang lain akan celaka semua. Maka dia lalu menerjang maju lagi membantu kakek itu dan kini entah bagaimana, pertemuannya dengan Syanti Dewi seolah-olah memulihkan semua tenaganya. Ketika dia menyerbu dan menghantam, Tambolon sampai terpental ke belakang dan bergulingan sambil memaki-maki, bangkit berdiri lagi dan menerjang Tek Hoat yang merasa betapa dadanya sakit akan tetapi kini dia pertahankan dengan semangat baru. Dia harus hidup. Dia harus menang, karena kalau tidak, Syanti Dewi akan celaka.

“Sutt... singgg-singgg...!”

Pedang di tangan Tambolon menyambar-nyambar ganas. Tek Hoat mengelak dua kali dan dari samping dia memukul dengan tangan miring, ke arah lambung raja liar itu. Tambolon terkejut dan tidak sempat mengelak akan tetapi karena dia maklum bahwa pemuda itu sudah terluka dan dalam keadaan tidak sehat sehingga tenaganya pun tidak sepenuhnya, dia lalu berlaku nekat, menyambut hantaman itu dengan tangan kirinya sambil mengerahkan seluruh sinkang-nya.

“Dessss...!”

Sekali ini hebat sekali pertemuan tenaga sinkang yang sama kuatnya, dan akibatnya, kembali tubuh Tambolon terpental, mulutnya muntahkan darah segar sedangkan tubuh Tek Hoat terguling-guling sampai beberapa kaki jauhnya dan wajah pemuda ini pucat sekali, napasnya terengah-engah dan sesak sehingga dia menggunakan tangannya untuk menekan dadanya.

Dengan mata mendelik Tambolon meloncat bangun, mengusap darah dari bibirnya dengan gemas, kemudian mengangkat pedangnya sambil lari menerjang Tek Hoat. Sementara itu, kakek See-thian Hoat-su masih belum merobohkan Durganini karena sesungguhnya kakek ini masih merasa kasihan kepada bekas isterinya yang dia tahu berubah jahat karena sudah pikun dan disalah gunakan oleh muridnya, Tambolon yang penuh ambisi dan jahat itu. Ketika melihat betapa Tek Hoat sudah tidak berdaya dan Tambolon mengejar hendak membunuhnya, dia terkejut sekali, akan tetapi karena jaraknya agak jauh, dia maklum bahwa dia tidak akan dapat menyelamatkan pemuda perkasa itu.

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tempat itu muncul seorang kakek berlengan tunggal yang berpunggung bongkok! Punggungnya demikian bongkoknya sehingga ketika dia datang berjalan cepat ke arah pertempuran, kepalanya seperti meluncur di depan saja, sedangkan kedua kakinya seperti terseret jauh di belakang. Atau cara kakek ini berjalan seperti setengah merangkak! Tetapi anehnya, bukan main cepatnya karena tahu-tahu dia telah berada di situ.

Hebatnya, bersama dengan kakek bongkok yang aneh ini datang pula angin berputar yang seperti ombak dahsyatnya, dan semua orang, termasuk Tek Hoat, Tambolon, Durganini dan See-thian Hoat-su terdorong dan terhuyung ke belakang oleh angin dahsyat ini. Jangan ditanya lagi para anggota rombongan orang Bhutan dan anak buah Tambolon, mereka semua roboh jungkir balik dan tumpang-tindih antara kawan dan lawan seperti daun-daun kering diamuk angin puyuh.

Kakek bongkok yang berdirinya seperti mau ‘tiarap’ itu menggerakkan kedua lengannya seperti orang mencegah mereka bertempur, lalu berkata, “Antara sesama manusia, mengapa saling bunuh? Tanpa saling bunuh pun, apakah ada di antara kalian yang kelak bebas dari kematian?”

Durganini yang sudah pikun itu tidak terpengaruh oleh ucapan aneh ini, tidak seperti See-thian Hoat-su yang sudah berdiri tegak dan bersikap hormat. Sebaliknya Durganini malah melangkah maju mendekati kakek bongkok itu, kedua tangannya lurus ditujukan ke arah kakek bongkok itu sambil membentak dengan suara yang amat berpengaruh. Nenek ini sudah mengerahkan kekuatan sihirnya!

“Tua bangka bongkok, kau yang sudah mau mampus, hayo cepat bergulingan di atas tanah!”

“Durganini, jangan...!” See-thian Hoat-su mencegah namun terlambat.

Semua orang di situ merasa betapa ada pengaruh yang amat jahat dan mengerikan terbawa oleh suara dan gerakan kedua tangan Durganini, bahkan ada di antara prajurit yang tanpa disadarinya tahu-tahu sudah merebahkan diri di atas tanah dan bergulingan seperti orang gila! Akan tetapi yang paling aneh adalah ketika semua orang melihat bahwa kakek bongkok itu hanya menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas, sama sekali tidak bergerak dan lucunya, kini Durganini tahu-tahu merebahkan diri dan bergulingan di atas tanah dengan hebatnya!

Tek Hoat yang sudah setengah pingsan itu melihat dengan terbelalak, akan tetapi pengerahan tenaga terakhir dengan Tambolon tadi membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Sebuah tangan yang halus memegang lengannya. Dia menoleh dan kiranya Syanti Dewi yang memegang lengannya. Puteri itu kemudian menariknya perlahan-lahan dan pergi dari situ selagi semua orang masih terpesona oleh peristiwa aneh tadi.

“Kau terluka parah... sebaiknya kita menyingkir dari tempat berbahaya ini...”

Tek Hoat menggeleng kepala. “Aku... aku harus melawan... aku harus melindungimu...”

Akan tetapi Syanti Dewi memaksanya pergi, setengah menyeretnya dan keduanya lalu menyelinap ke dalam hutan yang lebih lebat.

Sementara itu, melihat Durganini makin lama makin hebat bergulingan, kakek bongkok itu mengangkat tangan ke atas. “Sadarlah semua... bangkitlah..., dan lenyaplah semua kekuatan gelap...!”

Aneh, mereka yang bergulingan di atas tanah, termasuk Durganini, menjadi terkejut, sadar dan terheran-heran, lalu Durganini bangkit dengan napas terengah-engah dan wajah pucat. Sekarang dia memandang kepada kakek bongkok itu dengan sinar mata ketakutan karena dia maklum bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti luar biasa.

“Siapa yang pernah bertemu dengan muridku? Harap katakan, di mana muridku? Apakah ada yang melihatnya? Dia berusia kira-kira dua puluh lima tahun, pemuda yang bertubuh tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, matanya tajam seperti mata naga, sikapnya gagah seperti seekor singa, namanya Kok Cu... siapakah yang pernah bertemu dengan dia?”

See-thian Hoat-su dan Durganini menggeleng kepala dan tidak ada seorang pun yang pernah mendengar tentang pemuda murid kakek bongkok itu. See-thian Hoat-su cepat memberi hormat dan bertanya dengan suara tergetar penuh kagum. “Kalau saya tidak keliru sangka, tentu Locianpwe ini adalah Yang Mulia Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir...?”

Kakek bongkok itu menghela napas dan menggerakkan tangannya, seolah-olah tidak mempedulikan kata-kata itu. “See-thian Hoat-su, Durganini dan Tambolon, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku Kok Cu itu?”

Tiga orang itu terkejut bukan main. Selama hidup mereka, baru kini mereka bertemu dengan kakek tua renta itu, akan tetapi kakek ini begitu saja menyebut mereka seolah-olah sudah lama mengenal mereka. Otomatis mereka menggeleng kepala karena memang mereka belum pernah bertemu dengan pemuda yang dimaksudkan kakek itu.

“Sudahlah, aku mencari di tempat lain!” kata kakek itu dan sekali berkelebat dia sudah lenyap!

Selagi semua orang tertegun dan melongo, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan dari jauh di atas bukit tampaklah debu mengepul tinggi dan datang sebuah pasukan besar dari barat yang jumlahnya tentu tidak kurang dari seratus orang.

Tambolon belum dapat mengenal pasukan itu, maka dia sudah berteriak lagi, “Serbu!”

Dan pertandingan pun mulai lagi! Sungguh mereka ini seperti serigala-serigala yang haus darah dan tadi pertempuran terganggu sebentar karena munculnya kakek bongkok luar biasa itu. Durganini kembali menyerang See-thian Hoat-su seperti sikap seorang isteri galak yang mencemburui suaminya, tak pernah mau sudah menyerang! Karena dikeroyok dua oleh bekas isterinya dan Tambolon, sedangkan Tek Hoat sudah tidak ada lagi untuk membantunya, kakek ini tentu saja kembali terdesak hebat dan kewalahan.

Akan tetapi tak lama kemudian pasukan itu tiba dan bersoraklah pihak rombongan Perwira Jayin karena ternyata bahwa pasukan itu adalah pasukan dari Bhutan yang dikirim oleh rajanya untuk menyusul Perwira Jayin yang belum ada kabarnya dalam mencari puteri raja. Tentu saja pertempuran menjadi berubah keadaannya dan terpaksa Tambolon membujuk gurunya untuk lari menyingkir karena menghadapi pasukan pilihan dari Bhutan yang terlatih baik dan yang jumlahnya jauh lebih besar itu, tentu saja dia dan anak buahnya kewalahan dan terancam bahaya kemusnahan. Maka berlarilah mereka, meninggalkan para korban di antara anak buah raja liar Tambolon.

Sementara itu, Syanti Dewi yang dulu sudah berpengalaman ketika menemani Gak Bun Beng yang juga menderita sakit payah, kini setengah menyeret tubuh Tek Hoat yang hampir pingsan itu. Akhirnya, karena tenaganya habis dan napasnya terengah-engah, Syanti Dewi berhenti di belakang semak-semak yang rimbun.

“Aihhh..., kau terluka lagi...” katanya sambil menggunakan sapu tangannya menyeka darah yang mengucur dari luka di leher dan pundak Tek Hoat yang pecah kembali.

“Syanti... puteri... saya... saya harus membantu teman-teman menghadapi mereka...” Tek Hoat bangkit akan tetapi terhuyung.

“Tidak... tidak...! Apakah kau mau bunuh diri? Tidak, aku melarang kau pergi. Aku melarang!” Syanti Dewi memegangi lengannya erat-erat.

Tek Hoat membalik dan menghadapi puteri itu, memandang dengan mata terbelalak. “Paduka... paduka peduli apa... kalau saya mati...?”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya. “Ang Tek Hoat, kau sudah berkali-kali menolong aku dan menyelamatkan aku dengan pengorbanan dirimu, dan kini kau masih bertanya aku peduli apa? Kau anggap aku ini orang apa? Orang yang tidak mengenal budi? Kau terluka, biar aku merawat lukamu...”

“Paduka... kau... merawat lukaku...?” Tubuh Tek Hoat menjadi lemas, kepalanya pening kembali sehingga bicaranya tidak karuan lagi dan dia menurut saja ketika ditarik turun dan disuruh rebah di atas rumput.

“Luka-lukamu harus dicuci bersih... sayang obat-obat untuk luka yang pernah kuterima dari Jenderal Kao sebagai bekal berada di kereta...”

“Aku mempunyai obat seperti itu...” Tek Hoat dengan mata masih terpejam meraba saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan. “Gunakan obat bubuk ini... auhhh... dadaku...”

“Kenapa dadamu? Kenapa...?” Syanti Dewi meraba-raba dan membuka kancing baju pemuda itu untuk memeriksa. Alangkah kagetnya ketika melihat kulit dada yang putih itu tampak tanda biru bekas pukulan sedangkan ketika dia mencuci luka di leher dan pundak bekas cakaran kuku Durganini, luka-luka itu kelihatan kehitaman!

“Ah, kau terluka parah...!” Dia berseru penuh kekhawatiran.

“Tidak mengapa... tidak mengapa, harap paduka cepat kembali ke sana, biarlah saya mengurus diri sendiri...”

“Tek Hoat!” Tiba-tiba Syanti Dewi berkata dengan nada suara agak keras. “Mengapa kau begini angkuh?”

Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak. “Saya...? Angkuh...?”

“Engkau terluka parah dan perlu ditolong, mengapa engkau seolah-olah menolak semua pertolonganku? Engkau benar-benar mengusirku agar kembali ke sana, agar tertawan oleh Tambolon?”

“Ah, tidak..., tidak... jangan paduka salah sangka...!”

“Engkau sungguh... sungguh memuakkan perutku!” Syanti Dewi lalu bangkit berdiri dan membelakangi Tek Hoat.

Pemuda ini menjadi bengong dan dia bangkit duduk, memandangi tubuh belakang Syanti Dewi. Dia benar-benar tidak mengerti harus berkata dan berbuat apa. Sikap wanita ini membingungkannya, dan dia tidak dapat menyelaminya. Ketika dia melihat pundak puteri itu berguncang perlahan, dia terkejut. Puteri itu menangis! Tentu merasa tersinggung dan sakit hatinya, pantas dia dikatakan memuakkan dan memuakkan perut!

“Ahhh, Puteri Syanti Dewi, harap paduka sudi mengampuni saya... saya sungguh tidak tahu terima kasih... saya memang membutuhkan bantuan dan paduka demikian rela membantu, akan tetapi saya keras kepala, sombong dan... memuakkan perut, maafkan saya...” Dengan kaku dia lalu merebahkan dirinya sehingga kepalanya terbentur batu di belakangnya. “Aduhhh...!”

Syanti Dewi cepat membalik dan berlutut. Melihat belakang kepala Tek Hoat menjendol, dia lalu menggosok-gosoknya dan mulutnya berbisik, “Kasihan... kau orang muda yang malang...”

“Saya... saya tidak muda lagi..., paduka lebih muda...”

“Tek Hoat, aku akan marah kalau kau terus menerus merendahkan diri, menyebut aku puteri dan paduka. Engkau mau bersahabat ataukah tidak?” Bibir manis yang merah itu cemberut.

“Baiklah... baiklah, put..., ehh, Syanti Dewi. Engkau tentu lebih muda dari pada aku...”

Syanti Dewi tersenyum, agak lega karena wajah pemuda itu tidak sepucat tadi.

“Tentu saja, kau tadi bilang tidak muda lagi, agaknya engkau sudah kakek-kakek.”

“Aku sudah tua, sudah terlalu tua oleh dosa...”

“Sudah, jangan banyak cakap. Biarkan aku membalut luka-lukamu dan memberi obat-obat secukupnya.” Dengan jari-jari tangan cekatan, sedikit pun tidak jijik melihat darah membeku dan luka kehitaman yang mengerikan, Syanti Dewi mengobati dan membalut luka-luka itu. Bukan main nyerinya, akan tetapi Tek Hoat menggigit giginya menahan sakit.

“Orang-orang muda, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku?”

Tiba-tiba saja kakek bongkok itu berdiri di dekat mereka, membuat Syanti Dewi kaget dan hampir menjerit kalau saja dia tidak menutupi mulut dengan tangannya. Tek Hoat juga bangkit duduk dan memandang tajam, bersiap melindungi Syanti Dewi yang dipeluknya dengan lengan kiri. Ketika dia mengenal kakek bongkok yang tadi datang secara ajaib dan secara mukjijat pula melerai pertempuran, dia lalu bertanya dengan hormat,

“Locianpwe, siapakah murid Locianpwe itu?”

“Dia pemuda gagah perkasa, tinggi besar dan usianya dua puluh lima tahun, namanya Kok Cu...”

“Maafkan saya, Locianpwe, saya belum pernah bertemu dengan dia...” jawab Tek Hoat sejujurnya.

Kakek itu menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku mencari di lain tempat...”

“Nanti dulu, Locianpwe!” Syanti Dewi berseru ketika kakek itu berkelebat lenyap.

Dalam sekejap mata saja kakek itu kelihatan lagi dan Tek Hoat diam-diam kagum bukan main. Selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu dengan seseorang yang memiliki kesaktian sehebat ini!

“Kau mau bicara apa, Nona?”

“Entah dia murid Locianpwe atau bukan, akan tetapi saya pernah mendengar nama Kok Cu. Dia itu adalah Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dahulu kabarnya lenyap di gurun pasir, bukan? Kalau Locianpwe mencari dia, sebaiknya ke kota raja menemui Jenderal Kao Liang.”

“Aihhh...!” Tiba-tiba kakek bongkok itu menepuk dahinya. “Jadi putera Jenderal Kao...?” Sepasang matanya yang mencorong itu kini bersinar-sinar sehingga mengejutkan dan menakutkan hati Syanti Dewi dan Tek Hoat. Mata kakek ini tidak lumrah mata manusia, mencorong seperti mengandung api!

“Orang muda, engkau menderita keracunan yang lumayan. Di sini aku menerima berita tentang muridku, sudah sepatutnya pula kalau aku merubah sedikit keadaanmu agar lekas sembuh!”

Kakek itu lalu menggerakkan lengannya dan Syanti Dewi memandang dengan mata terbelalak dan ngeri. Kakek itu berdiri kurang lebih tiga meter jauhnya dari Tek Hoat, akan tetapi lengannya terus memanjang sampai akhirnya telapak tangannya menempel di punggung pemuda itu, mengusap beberapa kali di punggung, leher dan pundak, lalu lengan itu ditarik.

“Aku pergi!” terdengar suaranya akan tetapi orangnya sudah lenyap!

Syanti Dewi bengong, menoleh ke kanan kiri dengan bulu tengkuk meremang. Sukar dia percaya bahwa kakek tadi seorang manusia, pantasnya sebangsa dewa atau juga siluman!

Tiba-tiba Tek Hoat berseru kaget, “Aihhh... aku sudah sembuh!”

Syanti Dewi cepat berlutut mendekati dan ketika dia memeriksa, benar saja, warna biru kehitaman di dadanya lenyap, juga luka-luka di leher dan pundaknya sudah tidak hitam lagi, bahkan hampir kering. Akan tetapi tubuhnya masih lemas sehingga ketika dia bangkit berdiri, dia terhuyung.

Tek Hoat lalu berlutut. “Terima kasih, Locianpwe.”

“Akan tetapi kenapa kau kelihatan lemas sekali, Tek Hoat?”

“Semua racun telah lenyap dari tubuhku, dan luka-lukaku tidak ada artinya lagi. Akan tetapi tenagaku belum pulih dan aku perlu mengaso...”

Pada saat itu terdengar sorak-sorai dan pertempuran makin menghebat, terdengar dari tempat itu. Mendengar ini, Syanti Dewi terkejut, cepat dia menarik lengan Tek Hoat dan diajaknya terus lari memasuki hutan yang lebat itu, makin jauh ke dalam. Kalau saja dia tahu bahwa sorak-sorai itu adalah tanda kedatangan pasukan pembantu dari negerinya, tentu dia tidak akan lari ketakutan.

Setelah racun yang berada di tubuhnya lenyap semua berkat kesaktian kakek bongkok, tubuh Tek Hoat menjadi lemas sekali. Akan tetapi Syanti Dewi terus memaksanya untuk memasuki hutan lebih dalam sehingga pemuda ini berjalan terhuyung-huyung dipapah oleh dara itu. Hati pemuda ini terharu bukan main. Seorang dara begitu lembut dan halus, seorang puteri kerajaan, kini memapahnya, tersaruk-saruk menerjang semak-semak belukar yang penuh duri sehingga kaki tangan dara itu yang tidak terlindung, luka-luka dan lecet-lecet berdarah.


BERSAMBUNG KE JILID 26