Kisah Sepasang Rajawali Jilid 18

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU
KISAH SEPASANG RAJAWALI BAGIAN 18
"Mundur kalian...!" Mauw Siauw Mo-li berteriak nyaring.

Dan ketika belasan orang pasukan itu mundur, dia sudah melemparkan bola-bola hitam berturut-turut sebanyak lima buah ke arah Ceng Ceng. Gadis ini maklum bahwa lawan mempergunakan senjata rahasia yang aneh dan belum dikenalnya, maka cepat dia menjatuhkan diri dan bergulingan. Untung saja dia melakukan pengelakan secara ini, karena ketika bola-bola itu terbanting ke atas tanah terdengar ledakan-ledakan dan tentu Ceng Ceng akan terluka kalau saja dia tidak bergulingan di atas tanah.

Ceng Ceng terkejut bukan main. Cepat dia menggerakkan pedang menangkis sambil meloncat bangun ketika wanita itu menubruknya dan mengirim tusukan, tusukan maut yang nyaris mengenai perutnya. Tetapi berkat keampuhan Ban-tok-kiam yang membuat lawannya menjadi jeri dan tidak berani beradu pedang secara langsung, Ceng Ceng mampu meloncat tinggi dan terus mencelat ke atas genteng, lalu melarikan diri! Dia maklum akan kelihaian wanita itu dan kalau pasukan pemberontak sampai datang lebih banyak lagi, lebih-lebih kalau sampai Hek-tiauw Lo-mo muncul, tentu dia akan celaka.

“Kejar dia...!” Mauw Siauw Mo-li berteriak sambil meloncat naik ke atas genteng dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.

Untung bahwa Ceng Ceng telah lebih dulu menghilang di atas genteng, kalau tidak agaknya akan sukar baginya untuk menyelamatkan diri karena dalam hal ginkang, dia pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan Siluman Kucing itu. Mauw Siauw Mo-li terus mencari dengan penasaran, bahkan mendatangkan pasukan lebih banyak lagi. Biar pun pasukan bantuan dari Teng-bun berhasil mengalahkan dan hampir membasmi habis pasukan liar Tambolon, namun pasukan pemberontak itu sendiri kehilangan banyak sekali anggota tentara dan jika dia atau suheng-nya tak mampu menangkap Tambolon dan para pembantunya, mati atau hidup, hati Mauw Siauw Mo-li belum puas.

Ceng Ceng berlari-larian, kadang-kadang di atas genteng, kemudian meloncat turun dan menyelinap di antara bayangan-bayangan rumah yang gelap. Ketika dia berhenti sebentar di belakang sebuah rumah, tiba-tiba terdengar suara bisikan, “Lu-bengcu... mari sini...!”

Ceng Ceng terkejut, apa lagi ketika dapat mengenali Raja Tambolon dan dua orang pembantunya yang lihai itu. Kiranya Tambolon, Liauw Kui Si Petani Maut dan Si Siucai Yu Ci Pok bersembunyi di dalam rumah kosong itu! Biar pun hatinya tidak suka, namun Ceng Ceng yang sedang dikejar-kejar Mauw Siauw Mo-li dan pasukannya itu segera meloncat masuk melalui pintu kecil di belakang rumah yang dibuka oleh Tambolon. Mereka berempat segera menutup pintu dan memasuki rumah kosong. Ceng Ceng memandang ruangan yang diterangi lentera itu penuh harapan, akan tetapi hatinya kecewa ketika dia tidak melihat Topeng Setan di situ.

“Untung ada kalian di sini...” kata Ceng Ceng. “Akan tetapi di mana adanya Topeng Setan?”

“Hemmm... justru kami hendak bertanya kepadamu, Lu-bengcu. Di manakah Topeng Setan pembantumu itu?”

Mendengar suara dan melihat sikap Raja Tambolon, Ceng Ceng terkejut, apa lagi ketika melihat bahwa tiga orang itu membuat gerakan mengurungnya, Tambolon di depannya sedangkan dua orang pembantu raja di kanan kirinya, sikap mereka seperti orang yang marah kepadanya.

“Eh, apa maksudmu, Raja Tambolon?” Ceng Ceng bertanya dengan sikap biasa.

“Ha-ha-ha, engkau masih pandai berpura-pura lagi! Sikap dan maksudku sudah jelas! Engkau telah menjebloskan kami ke dalam perangkap. Engkau telah menyebabkan pasukan kami terbasmi habis, dan kini pembantumu itu tidak tampak bayangannya dan engkau masih berpura-pura lagi, Nona.”

Di dalam hatinya Ceng Ceng terkejut sekali. Akan tetapi dia cerdik dan dia berkata dengan nada suara dan penasaran. “Raja Tambolon, begitu tidak tahu terima kasihkah engkau? Apakah engkau tidak melihat betapa aku tadi hampir celaka oleh pasukan yang dipimpin wanita lihai itu? Kalau usaha kita tidak berhasil karena keburu datang bala bantuan dari Teng-bun, apakah itu salahku? Mengapa engkau tidak menyalahkan pasukanmu sendiri yang tidak becus dan kurang mampu?!”

Raja Tambolon yang sudah kehilangan segala-galanya itu masih bisa tertawa lepas. Kemudian dia berkata, “Nona Lu Ceng, kalau tadi kami tidak melihat betapa engkau dikejar-kejar, tentu sekarang engkau sudah mati di tanganku! Namun jangan mengira bahwa hal itu sudah cukup bagi kami. Tidak hadirnya Topeng Setan di sampingmu memperkuat dugaan kami bahwa kalian telah mempermainkan kami dan oleh karena engkaulah maka kini pasukanku terbasmi habis. Mana bisa aku mendiamkannya saja hal ini? Tidak! Untuk meyakinkan hatiku bahwa engkau tidak mengkhianati aku, engkau tidak boleh lagi berpisah dari sampingku.”

Berdebar jantung Ceng Ceng mendengar ucapan ini. Sudah cukup jelas baginya apa yang terkandung di dalam hati raja liar ini. Akan tetapi untuk mengulur waktu sambil memutar otaknya mencari akal dia berpura-pura tidak mengerti dan kemudian bertanya, “Maksudmu?”

“Ha-ha-ha! Pasukanku boleh terbasmi habis, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang sahabat dan pembantuku yang setia ini, ditambah lagi memiliki engkau yang cantik jelita, muda lagi pintar dan cerdik sebagai sahabat dan penghiburku, sebagai permaisuriku! Dengan adanya kita berempat, mudah bagi kita untuk menghimpun pasukan lagi dan membangun sebuah negara yang kuat, ha-ha-ha!”

Makin berdebar rasa jantung Ceng Ceng. Tepat seperti telah diduganya. Akan tetapi melihat Tambolon dan dua orang pembantunya itu menghadapi dengan sikap bersiap untuk menghalangi dia melarikan diri, dia masih berkata, “Hemm, rencanamu memang bagus sekali, akan tetapi bagaimana dengan Topeng Setan?”

“Dia? Ha-ha-ha, kalau memang dia itu bukan pengkhianat dan saat ini tidak bergabung kepada musuh, dia pun bisa menjadi orang kelima, bisa menjadi pembantuku. Tetapi kalau dia tidak muncul, persetan dengan dia. Kita berempat sekarang juga harus kabur keluar dari kota terkutuk ini!”

“Engkau memang manusia hina!” Tiba-tiba Ceng Ceng membarengi makiannya itu dengan gerakan kedua tangannya yang menyebar jarum-jarum hitam beracun yang tadi diam-diam sudah disiapkannya di kedua tangannya.

“Ehhhh!”

“Heiitttt!”

“Hyaattt!”

Tambolon dan dua orang pembantunya itu memang bukan orang-orang sembarangan. Mereka bertiga itu selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga sudah puluhan tahun menghadapi segala macam keadaan sehingga tentu saja mereka sudah waspada akan akal yang dipergunakan Ceng Ceng tadi yang mereka anggap tiada lebih sebagai akal kanak-kanak saja. Maka begitu kedua tangan dara itu bergerak dan ada sinar hitam menyambar ke arah mereka, tiga orang ini sudah bergerak cepat, membuang diri ke bawah dan bergulingan sehingga serangan jarum-jarum beracun yang mendadak itu dapat mereka elakkan.

Akan tetapi kesempatan ini cukup bagi Ceng Ceng untuk secepat kilat meloncat keluar dari rumah itu melalui jendela, terus berloncatan ke atas genteng melarikan diri karena dia maklum bahwa menghadapi tiga orang pandai itu dia tidak akan mampu menang.

“Ha-ha-ha, betina liar, kau hendak lari ke mana?” Tambolon berseru dan bersama dua orang pembantunya, dia mengejar dengan cepat. Mereka bertiga juga mempunyai ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakan mereka cepat sekali sehingga setelah melewati empat wuwungan rumah, Ceng Ceng yang meloncat turun telah dikurung lagi di sebelah kebun kosong yang sunyi.

“Ha-ha-ha-ha, sungguh hebat! Makin liar dan hebat engkau melawan, akan makin manis dan mesra kalau engkau sudah terjatuh ke dalam pelukanku, ha-ha!” Tambolon tertawa bergelak.

“Tambolon, manusia iblis! Kau hanya dapat menguasai aku kalau aku sudah menjadi mayat!” Ceng Ceng berteriak sambil mencabut pedangnya, yaitu Ban-tok-kiam yang mengeluarkan hawa mukjijat dan menyeramkan.

Dengan nekat Ceng Ceng yang maklum bahwa melarikan diri pun percuma saja lalu menerjang maju dan menggerakkan pedangnya yang mengandung hawa beracun itu dengan sengit dan membabi buta. Akan tetapi jangankan dikurung bertiga, baru melawan seorang di antara mereka saja Ceng Ceng tidak akan mampu menang.

Petani Maut Liauw Kui menggerakkan pikulannya dan senjatanya ini saja sudah cukup untuk menahan gulungan sinar pedang Ban-tok-kiam sehingga tidak dapat bergerak leluasa karena selalu terhalang oleh pikulan yang digerakkan secara lihai sekali. Sedangkan dari kanan kiri, Yu Ci Pok yang menggunakan sepasang senjata poan-koan-pit terus mengancam dengan totokan-totokan cepat dan Tambolon yang tertawa itu menggunakan kedua lengannya yang panjang berbulu itu untuk menerkam tubuh Ceng Ceng!

Tentu saja Ceng Ceng menjadi sibuk sekali. Semua kepandaian telah dikeluarkannya, bahkan dia telah menggunakan pukulan tangan kiri beracun, juga menggunakan ludah yang telah menjadi beracun karena pengerahan ilmunya, namun tiga orang lawan itu terlalu kuat baginya. Hanya karena Tambolon menghendaki dia hidup-hidup sajalah maka dia masih belum roboh. Kalau mereka itu ingin membunuhnya, tentu sudah sejak tadi dia tewas. Justru karena tahu bahwa dia akan ditangkap hidup-hidup dan dijadikan barang permainan oleh Tambolon, Ceng Ceng merasa ngeri.

Dia tidak takut mati, akan tetapi dia menggigil penuh kengerian kalau teringat betapa dia akan diperkosa dan dipermainkan oleh raja liar itu. Teringat akan pengalamannya ketika diperkosa orang, Ceng Ceng ingin menjerit. Dia tidak sudi dijadikan permainan oleh Tambolon, akan tetapi dia pun tidak ingin mati sebelum mampu membalas sakit hatinya kepada Kok Cu, pemuda murid Si Dewa Bongkok yang telah memperkosanya. Tidak, dia tidak ingin mati sebelum dapat berhadapan dengan Kok Cu! Akan tetapi dia pun tidak sudi menderita perkosaan lagi, perkosaan yang lebih mengerikan dan lebih menghina kalau dia sampai tertangkap oleh Tambolon!

“Cringgg...!”

Tiba-tiba pedang Ban-tok-kiam yang bertemu dengan pukulan Petani Maut tidak dapat dia tarik kembali, seolah-olah melekat pada pikulan itu. Pada saat itu, ujung senjata pensil di tangan siucai itu menyentuh jalan darah di pergelangan tangan kanannya. Ceng Ceng menjerit dan terpaksa melepaskan pedangnya karena lengannya itu seketika menjadi lumpuh.

“Ha-ha-ha, kuda betina liar! Apakah engkau masih belum mau jinak?” Tambolon yang sudah menyambar pedang Ban-tok-kiam itu kini tertawa bergelak.

Ceng Ceng mengeluarkan suara melengking nyaring dan dengan penuh kenekatan dia menerjang dengan pukulan kedua tangannya ke arah dada Tambolon.

“Plakk...! Dukkk!”

Tubuh Ceng Ceng terjengkang dan dia roboh bergulingan ketika pukulannya ditangkis dan tubuhnya didorong oleh Tambolon sambil tertawa-tawa itu.

“Wah, kuda betina seperti ini harus ditudukkan dan dijinakkan sekarang juga, jika tidak, dia akan bertingkah terus! Liauw Kui, Yu Ci Pok, pegang dia, biar dia merasakan dan mengenal siapa yang berkuasa di sini! Ha-ha-ha!” Tambolon tertawa-tawa dan dengan gerakan tenang mulai menanggalkan jubah luarnya.

Ceng Ceng membelalakkan matanya. Dia akan diperkosa begitu saja, dengan kedua orang itu memegangnya dan Tambolon menggagahinya.

“Tidaaaakkk...! Jangaaan...!” jeritnya penuh kengerian ketika dua orang lihai itu mulai mendekatinya. Dia masih duduk di atas tanah karena kepalanya agak pening ketika dia terbanting tadi.

“Hemm, engkau perawan liar memang harus dipaksa!” Si Petani berkata dan bersama Yu Ci Pok dia menubruk ke depan.

“Plak! Plakk!”

“Eihhhh...?”

“Heiiii...!”

Tiba-tiba Liauw Kui dan Yu Ci Pok terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak kepada Kian Lee yang sudah berdiri di situ dengan sikap tenang akan tetapi mukanya merah dan alisnya berkerut, matanya seperti bercahaya di tempat gelap itu ketika dia memandang kepada mereka.

“Raja Tambolon, kiranya selain menjadi raja orang-orang liar kau sendiri juga seorang manusia biadab!” Kian Lee berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka raja tinggi besar itu.

Sementara itu, Ceng Ceng yang masih saja terduduk tadi memandang kepada Kian Lee tanpa mengenalinya. Dia menduga-duga siapa adanya pemuda tampan dan gagah perkasa yang muncul secara tiba-tiba dan yang sekali menangkis membuat dua orang pembantu Tambolon terhuyung mundur itu.

Tadi Kian Lee sedang menyaksikan kehancuran pasukan liar Tambolon yang didesak oleh pasukan-pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun ketika tiba-tiba dia melihat bayangan-bayangan orang berkelebatan cepat sekali di atas genteng. Ketika melihat seorang wanita dikejar tiga orang, dia merasa heran, apa lagi melihat betapa gerakan mereka amat cepat. Ketika mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa tiga orang laki-laki itu adalah Tambolon dan dua orang pembantunya, Kian Lee makin menaruh perhatian.

Tetapi dia baru turun tangan membantu ketika melihat dengan hati kaget dan berdebar aneh bahwa gadis yang dikeroyok itu bukan lain adalah Lu Ceng, saudara angkat Syanti Dewi, penolong Jenderal Kao Liang, gadis yang telah beberapa kali dijumpainya dan yang tidak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu! Begitu dia mengenal Ceng Ceng, cepat dia bergerak dan menangkis dua orang yang hendak menangkap gadis itu.

Tambolon memandang dengan matanya yang lebar dan ganas, kemudian tertawa lagi karena dia memandang rendah kepada pemuda yang baru muncul itu. “Liauw dan Yu, kalian bereskan bocah lancang itu, biar aku menjinakkan sendiri betina liar ini karena kita tidak mempunyai banyak waktu.” Sambil berkata demikian, dia sudah menubruk Ceng Ceng yang baru saja hendak bangkit berdiri.

“Keparat!” Kian Lee membentak akan tetapi ketika dia bergerak maju, Yu Ci Pok sudah mengirim totokan bertubi-tubi dengan sepasang poan-koan-pit ke arah jalan-jalan darah berbahaya di depan tubuh Kian Lee, sedangkan Liauw Kui sudah mengayun pikulannya menghantam ke arah kepalanya.

Kian Lee terpaksa mengelak. Ketika dia melirik, ternyata Ceng Ceng sudah menyambut tubrukan itu dengan tendangan kakinya. Ditendang seperti itu, Tambolon tertawa saja dan ketika tendangan mengenai perutnya, bukan dia yang roboh, bahkan Ceng Ceng sendiri yang terjengkang dan terbanting telentang di atas rumput. Sambil tertawa, Tambolon menubruk tubuh gadis yang sudah telentang itu.

“Dessss...!”

“Auggghhh...!” Tambolon berteriak keras sekali.

Dia masih sempat menangkis dorongan tangan orang yang tiba-tiba muncul di samping, dan ketika kedua dengan itu bertemu, Tambolon terpelanting dan hampir roboh. Dia cepat meloncat dan menghadapi laki-laki yang baru muncul itu. Laki-laki itu setengah tua, berpakaian sederhana dan sikapnya tenang, namun pandang matanya membuat Tambolon bergidik karena pandang mata itu tajam seolah-olah menembus jantungnya.

“Huh, banyak manusia lancang yang sudah bosan hidup!” Tambolon berteriak marah sekali.

“Suheng...!” Kian Lee menjadi girang melihat bahwa yang muncul itu adalah Gak Bun Beng.

Bun Beng hanya tersenyum kepadanya, tetapi dia tidak sempat bicara karena Tambolon yang marah karena kehendaknya selalu dirintangi orang itu telah menerjangnya dengan dahsyat. Raja liar itu memang hebat. Dia adalah keturunan seorang Panglima Mongol yang berilmu tinggi dan sekarang serangannya itu dibarengi dengan pekik dahsyat yang mengandung khikang kuat sekali sedangkan tangannya yang memukul ke arah Bun Beng juga mengandung pengerahan tenaga sinkang yang amat besar.

Bun Beng sudah mendengar akan kehebatan Raja liar ini dan kini melihat gerakan pukulan itu yang didahului oleh suara angin pukulan bersiutan diam-diam dia menjadi kagum juga. Sungguh mengagumkan dan jarang ada, seorang manusia biadab yang hidupnya liar dapat memiliki tingkat kepandaian seperti ini. Maka dia pun dengan cepat menggerakkan tangannya, didorong ke depan untuk menyambut hantaman lawan itu.

Melihat ini Tambolon menjadi girang. Selama ini, dia terkenal dengan pukulan mautnya dan belum pernah ada orang berani menerima pukulannya yang memiliki kekuatan ribuan kati. Batu karang pun pecah terkena pukulannya dan hawa pukulannya dapat membuat air di dalam sumur bergelombang! Kini lawannya yang sederhana ini berani menyambut pukulannya, dasar mencari jalan kematian yang cepat, pikirnya.

“Dessss...!”

Dua telapak tangan bertemu di udara didahului oleh bertemunya hawa pukulan yang amat hebat dan akibatnya membuat Tambolon terhuyung ke belakang sampai tiga langkah! Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini dan memandang dengan mata terbelalak. Orang ini sama sekali tidak bergoyang! Mana mungkin ini? Dia menjadi penasaran sekali, dan bagaikan seekor kerbau mengamuk, dia menyerbu lagi, sekarang menggunakan kedua tangannya untuk memukul.

“Plak! Desss...!”

Makin hebat pukulan Tambolon, semakin hebat pula dia terguncang ketika ditangkis, sehingga kini dia terhuyung ke belakang sampai lima langkah!

“Darrr...! Darrr...!”

Dua buah benda meledak dan untung bahwa mereka semua yang berada di situ adalah orang-orang pandai sehingga dapat mengelak dan mengebut pecahan-pecahan yang menyambar ke arah mereka. Muncullah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li!

“Ahh, badai besar! Berlindung...!” Teriakan Tambolon ini merupakan isyarat kepada dua orang pembantunya bahwa bahaya yang tak terlawan telah datang dan mereka perlu melarikan diri.

Liauw Kui dan Yu Ci Pok yang juga menghadapi lawan berat karena pemuda tampan itu ternyata mampu menghadapi senjata mereka dengan gerakan cepat, maklum akan teriakan pemimpin mereka dan cepat mereka meloncat ke dalam gelap, mengikuti arah perginya Raja Tambolon.

“Hi-hik, ini dia Si Perempuan Jalang!” Mauw Siauw Mo-li membentak ketika dia melihat Ceng Ceng.

“Ha-ha-ha, cantik... cantik...!” Hek-tiauw Lo-mo terkekeh.

Ceng Ceng yang baru saja terlepas dari bahaya tadi masih berdiri dengan muka pucat memandang kepada dua orang yang datang menolongnya. Kini melihat munculnya Mauw Siauw Mo-li dengan pasukan pemberontak, juga munculnya Hek-tiauw Lo-mo yang sudah dia ketahui amat lihai, menjadi putus harapan.

“Hek-tiauw Lo-mo iblis busuk!” bentaknya sambil meloncat ke depan dan menghantam raksasa itu karena Hek-tiauw Lo-mo yang berada paling dekat dengannya.

“Ha-ha-ha, kiranya engkau ini?” Hek-tiauw Lo-mo tertawa, dan karena ia maklum bahwa gadis ini memiliki ilmu tentang racun yang amat berbahaya, ia lalu mengerahkan tenaga beracun dan menangkis sambil terus menampar.

“Plakk! Bukk...!”

Tubuh Ceng Ceng terbanting karena selain pukulannya kena ditangkis, juga pundaknya terkena tamparan tangan beracun Ketua Pulau Neraka yang amat lihai itu.

“Hek-tiauw Lo-mo manusia keji!” Kian Lee yang tadinya hendak mengejar Tambolon, melihat Ceng Ceng roboh terpukul, menjadi marah sekali dan dia sudah menerjang raksasa itu dengan pukulan tangannya.

“Dukk-dukk-dessss!”

Tiga kali lengan pemuda itu beradu dengan Hek-tiauw Lo-mo dan melihat betapa kakek itu ternyata kuat sekali, Gak Bun Beng sudah meloncat maju menggantikan Kian Lee menerjang Hek-tiauw Lo-mo yang menjadi terkejut setengah mati ketika merasa betapa angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Gak Bun Beng menimbulkan angin besar dan amat kuatnya.

“Sute, kau selamatkan dulu gadis itu dan tinggalkan tempat ini...!” Bun Beng berseru.

Kian Lee cepat meloncat ke dekat Ceng Ceng yang masih rebah. Saat dia mengangkat bangun gadis itu, Ceng Ceng mengeluh.

“Ah, engkau terluka, Nona. Mari kupondong keluar dari kepungan mereka...”

Akan tetapi Ceng Ceng menggeleng kepalanya. “Tidak usah... aku... aku akan melawan mereka... sampai napas terakhir...”

“Tidak, Nona. Suheng-ku mampu menahan mereka, marilah...”

Tetapi kembali Ceng Ceng menolak dan tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek. “Hi-hik, percuma kau membujuk, orang muda yang tampan. Dia sudah keracunan dan akan mampus. Engkau sungguh hebat, muda, ganteng, dan lihai. Menyerahlah saja, dan engkau akan menikmati kesenangan bersama aku, hi-hik!” Dari dada wanita itu lalu terdengar suara mirip suara kucing.

Kian Lee terkejut, cepat dia meloncat berdiri melindungi di depan Ceng Ceng yang masih duduk di atas tanah sambil memegangi pundaknya yang tadi terpukul oleh Hek-tiauw Lo-mo. “Hemm, kiranya engkau yang disebut Siluman Kucing itu?”

Dia teringat akan penuturan Kim Hwee Li, puteri Ketua Pulau Neraka tentang bibi gurunya yang lihai ini, yang katanya malah lebih lihai dari pada Hek-wan Kui-bo yang telah melukai pahanya dengan obat peledak. Mengertilah dia sekarang bahwa yang melepaskan senjata peledak sehingga menakutkan Tambolon tadi adalah wanita ini.

Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih rapi dan menarik sekali. “He-hemm... kiranya engkau sudah mengenal aku, pemuda ganteng? Kebetulan sekali kalau begitu...”

“Sumoi, apa perlunya mengobrol? Cepat tangkap atau bunuh mereka dan lekas kau membantuku!” Tlba-tiba Hek-tiauw Lo-mo berteriak.

Kiranya Ketua Pulau Neraka ini mulal terdesak oleh Gak Bun Beng! Makin lama Hek-tiauw Lo-mo menjadi makin kaget dan heran melihat betapa lawannya ini benar-benar amat hebat kepandaiannya sehingga semua ilmu pukulannya yang beracun mampu ditangkisnya tanpa melukainya, bahkan dia yang selalu tergetar dan terdorong oleh hawa pukulan yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin amat luar biasa.

Mauw Siauw Mo-li lalu memberi aba-aba dan para prajurit pemberontak serentak maju mengepung dan mengeroyok. Ceng Ceng yang masih menyeringai kesakitan sudah melompat berdiri dan mengamuk dengan kaki tangannya, karena pedangnya Ban-tok-kiam telah dirampas oleh Tambolon. Biar pun bertangan kosong, gadis ini masih hebat sekali karena dia menggunakan pukulan-pukulan beracun, sehingga setiap prajurit pemberontak yang terkena pukulannya tentu terjungkal dan tak dapat bangkit kembali. Akan tetapi setiap kali merobohkan lawan dengan pengerahan tenaga, dara ini mengeluh lirih dan makin lama gerakannya menjadi makin lemah.

Kian Lee mengamuk sambil melindungi Ceng Ceng sedapat mungkin. Karena sebagian besar perhatiannya dicurahkan untuk melindungi gadis itu dan dia telah berkali-kali menghalau bahaya yang mengancam Ceng Ceng dengan merobohkan penyerang gelap dari belakang gadis itu, maka dia masih belum mampu mengalahkan Mauw Siauw Mo-li yang memang amat lihai Itu.

Gerakan Siluman Kucing itu cepat sekali, ginkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga karena dia tidak berani mendekati Ceng Ceng, maka sukar baginya untuk dapat merobohkan wanita itu. Sedangkan Gak Bun Beng yang mulai mendesak hebat kepada Hek-tiauw Lo-mo, juga terpaksa harus membagi tenaganya untuk menghadapi pengeroyokan prajurit-prajurit pemberontak yang makin banyak itu.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan agak jauh, disusul sorak-sorai dan pekik banyak sekali manusia yang agaknya datang dari luar tembok kota. Tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan di antara prajurit pemberontak yang berlari-larian di dekat tempat itu.

“Celaka, barisan pemerintah menyerbu benteng!”

“Kita telah dikurung!”

“Kita terjebak...!”

“Mereka telah membobolkan pintu gerbang di tiga tempat!”

Teriakan-teriakan itu terdengar dengan jelas dan membikin panik para pengeroyok, termasuk Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li.

“Sumoi, apa artinya itu?” Beberapa kali ketua Pulau Neraka itu berteriak sambil terus mundur dari desakan Bun Beng, mengandalkan pengeroyokan puluhan orang prajurit itu.

“Entah, Suheng...!” Mauw Siauw Mo-li menjawab bingung dan dia pun tidak begitu mendesak lagi kepada Kian Lee sehingga pemuda ini dengan leluasa dapat membantu dan melindungi Ceng Ceng dari pengeroyokan puluhan orang prajurit pemberontak yang sudah menjadi gelisah itu.

Suara gemuruh itu semakin lama semakin dekat dan tak lama kemudian makin banyak prajurit pemberontak yang lari cerai-berai, agaknya ketakutan.

“Hai...! Tikus-tikus bernyali kecil, pengecut-pengecut tak tahu malu!” Hek-tiauw Lo-mo berteriak marah. “Kenapa kalian berlari-larian? Apa yang terjadi?” Suaranya nyaring sekali mengatasi suara hiruk-pikuk dan dia telah meninggalkan Gak Bun Beng yang masih dikeroyok oleh puluhan orang prajurit pemberontak.

“Barisan pemerintah telah menyerbu ke dalam kota Koan-bun seperti banjir! Kita telah terjebak dan dikurung!” Seorang perwira pemberontak menjawab dengan muka pucat.

Hek-tiauw Lo-mo terkejut sekali. Ia dan sumoi-nya mencampuri urusan pemberontakan karena kebetulan saja melihat gerakan para pemberontak dan ingin ‘membonceng’ agar dapat memperoleh kedudukan dan kemuliaan, maka mereka sudah menawarkan diri membantu. Siapa tahu, belum apa-apa sudah tampak gejala kegagalan pemberontakan ini, bahkan kini mereka terhimpit di dalam kota Koan-bun.

“Sumoi, tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi?!” teriaknya, karena Ketua Pulau Neraka ini pun jeri menghadapi Gak Bun Beng yang memiliki kepandaian amat tinggi itu.

Akan tetapi tiba-tiba datang pasukan pemerintah di tempat itu dan seorang pemuda tinggi besar meloncat dengan gerakan kilat dan tahu-tahu telah berada di depan Hek-tiauw Lo-mo sambil membentak, “Hek-tiauw Lo-mo pencuri rendah! Kiranya engkau berada di sini pula menjadi kaki tangan pemberontak. Hayo cepat kembalikan sebagian kitab yang kau curi dari Istana Gurun Pasir!”

“Orang muda lancang mulut! Siapa kau...?!”

“Aku adalah murid majikan Istana Gurun Pasir yang diutus Suhu untuk merampas kembali kitab pusaka dan memberi hajaran kepada pencurinya.”

“Bocah sombong!” Biar pun telah berkali-kali bertemu lawan tangguh, Hek-tiauw Lo-mo masih memandang rendah orang lain dan menghadapi pemuda tinggi besar itu dia pun memandang rendah, lalu menyerang dengan tiba-tiba.

“Dessss...!”

Pukulan majikan Pulau Neraka itu ditangkis oleh pemuda itu dan kagetlah Hek-tiauw Lo-mo ketika tangkisan itu membuat dia terdesak ke belakang. Baru dia percaya bahwa murid Si Dewa Bongkok ini lihai sekali. Akan tetapi tentu saja untuk mengembalikan kitab yang hanya sebagian berada di tangannya itu dia merasa sayang. Dia masih belum berhasil merampas sebagian dari kitab yang berada di tangan Ketua Lembah Bunga Hitam, yaitu Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek sehingga dia belum dapat mempelajari isi kitab dengan sempurna.

“Kok Cu...! Jahanam engkau...!” Mendadak terdengar jerit melengking dan Ceng Ceng sudah lari menghampiri pemuda tinggi besar itu dan menyerang dengan pukulan ganas, mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

Kao Kok Cu, pemuda itu, terbelalak memandang Ceng Ceng yang menyerangnya bagai orang terpesona, sama sekali tidak mengelak mau pun menangkis.

“Bukkkk! Bukkk!”

“Nona Lu Ceng...!” Kian Lee yang menjadi terkejut sekali sudah meninggalkan para pengeroyoknya dan berteriak memanggil sambil meloncat ketika dia melihat Lu Ceng seperti orang gila menyerang dan memukul Kok Cu.

Pada saat itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat jauh dan melarikan diri bersama Mauw Siauw Mo-li, dan Kok Cu hanya berdiri bengong setelah dipukul dadanya dua kali oleh Ceng Ceng. Dara itu setelah memukul dua kali dengan pengerahan tenaga sekuatnya, mengeluh dan terguling roboh. Untung Kian Lee cepat menyambarnya sehingga dia tidak terbanting roboh dan pingsan di dalam pelukan Kian Lee.

Gak Bun Beng juga sudah loncat mendekat. Melihat wajah Ceng Ceng yang agak kehijauan itu, pendekar ini terkejut bukan main karena dia maklum bahwa dara itu telah menderita luka hebat akibat racun! Dia memandang Kok Cu dengan alis berkerut dan melihat pemuda tinggi besar itu pemimpin pasukan pemerintah dan agaknya kenal dengan Kian Lee, dia bertanya, “Lee-sute, siapa dia ini?”

“Suheng, dia adalah saudara Kao Kok Cu, putera Jenderal Kao.”

Bu Beng mengangguk. “Ahhh...!” Kemudian dia berkata, “Sute, cepat kau bawa pergi nona ini. Dia terluka dan keracunan hebat.”

Kok Cu yang masih berdiri bengong memandang Ceng Ceng yang pingsan di dalam pelukan Kian Lee berkata, “Saudara Kian Lee, kau bawalah nona ini, ikutlah perwira ini agar mendapat perawatan sebaiknya.”

Dia memerintahkan seorang perwira yang segera mengajak Kian Lee yang memondong tubuh Ceng Ceng itu pergi meninggalkan tempat itu. Kok Cu kini berhadapan dengan Gak Bun Beng, keduanya saling pandang penuh selidik karena masing-masing dapat menduga akan kelihaian mereka. Kok Cu yang mendengar Kian Lee menyebut suheng kepada laki-laki setengah tua ini, diam-diam terkejut. Dia sudah tahu sekarang bahwa Kian Lee dan Kian Bu adalah putera-putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, tentu saja ilmu kepandaian mereka hebat sekali. Dan laki-laki setengah tua yang sederhana dan tenang ini adalah suheng mereka!

Sebenarnya dia ingin sekali berkenalan dengan orang yang berilmu tinggi ini, akan tetapi hatinya sudah dibuat gelisah bukan main oleh pertemuan dengan Ceng Ceng, gadis penolong ayahnya akan tetapi juga gadis yang mendendam sakit hati setinggi langit sedalam lautan kepadanya! Gadis yang diperkosanya sewaktu dia berada dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh racun jahat. Dan yang menjadi biang keladi peristiwa memalukan ini adalah Ketua Lembah Bunga Hitam dan Ketua Pulau Neraka, dua orang yang mencuri kitab suhu-nya. Merekalah yang membuat dia keracunan hebat itu sehingga dia melakukan perbuatan keji terhadap Lu Ceng!

“Kiranya engkau adalah putera Kao-goanswe? Sungguh menggembirakan sekali, bagai mana pasukan pemerintah bisa datang begini tepat? Di mana ayahmu?” Gak Bun Beng bertanya.

“Semua ini adalah berkat jasa Nona Lu Ceng itu yang telah mengatur siasatnya...,” Kok Cu berkata akan tetapi matanya memandang ke arah larinya Hek-tiauw Lo-mo.

“Ah..., maksudmu...?” Gak Bun Beng tercengang.

“Dia membujuk Tambolon menyerang Koan-bun dan selagi pemberontak dan pasukan Tambolon bertempur sendiri, barisan pemerintah bergerak, sebagian menyerbu Koan-bun, sebagian dipimpin Puteri Milana memotong jalan dan sebagian dipimpin Ayah menyerbu Teng-bun malam ini juga.”

“Ahhh... sungguh hebat!” Bun Beng memuji.

“Maaf, saya harus mengejar Hek-tiauw Lo-mo!” Kok Cu berkata.

Cepat dia meninggalkan Bun Beng dan sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari situ, membuat Bun Beng mengikutinya dengan pandang mata kagum sekali. Pendekar ini terheran-heran dan masih tercengang dengan jalannya peristiwa yang begitu cepat dan tidak tersangka-sangka.

Dia tadi pun seperti juga Kian Lee, menonton dengan penuh keheranan betapa pasukan yang dipimpin oleh Tambolon menyerbu Koan-bun dan seperti juga sute-nya itu, dia menolong banyak penduduk yang diganggu oleh tentara kedua pihak. Terheran-heran hati pendekar ini melihat munculnya begitu banyak orang pandai. Mula-mula Tambolon dengan dua orang pembantunya yang lihai, kemudian Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak kalah lihainya. Yang terakhir muncul pemuda putera Jenderal Kao itu! Pemuda itu pun amat lihai, akan tetapi anehnya, mengapa Nona Lu Ceng itu begitu melihatnya lalu menyerangnya dengan penuh kebencian?

Akan tetapi pendekar ini tidak mau memusingkan hal itu. Dia lalu membantu pasukan pemerintah yang telah melakukan perang mati-matian melawan pasukan pemberontak dan pertempuran terjadi di seluruh kota sampai keesokan harinya. Kota Koan-bun mengalami perang yang luar biasa hebatnya, dimulai dari penyerbuan pasukan liar yang dipimpin oleh Tambolon lalu dilanjutkan oleh pasukan pemerintah yang menumpas pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun sebagai bala bantuan. Kalau tadinya pasukan Tambolon membasmi pasukan yang bertahan di Koan-bun, kemudian tiba giliran pasukan liar itu yang dibasmi oleh pasukan besar pemberontak dari Teng-bun, kini pasukan pemerintah turun tangan melakukan pukulan terakhir kepada barisan pemberontak.

Yang patut dikasihani adalah penduduk kota Koan-bun. Sukarlah bagi mereka untuk mengatakan mana kawan dan mana lawan karena semua anak buah pasukan selalu mengganggu mereka. Kota mereka menjadi neraka yang penuh dengan mayat dan orang-orang luka, darah membanjir setiap tempat dan banyak rumah yang habis terbakar.

Pertempuran-pertempuran mengerikan itu berlangsung sampai dua hari lamanya, tentu saja menjatuhkan korban manusia di kedua pihak yang banyak sekali. Akan tetapi akhirnya Koan-bun jatuh ke tangan barisan pemerintah yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong dan Kao Kok Cu yang sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sejak dia melakukan pengejaran terhadap Hek-tiauw Lo-mo untuk merampas kembali kitab suhu-nya yang dicuri oleh Ketua Pulau Neraka itu.

Mulai malam itu, dimulai dengan penyerbuan pasukan Tambolon ke dalam kota Koan-bun, terjadilah perang yang seru dan dahsyat, yang mengerikan karena sejak malam itu sampai beberapa hari lamanya di kota itu terjadi pembunuhan dan pembantaian antara manusia, bahkan antara bangsa sendiri sehingga puluhan ribu manusia tewas di ujung senjata tajam!

Tidak hanya di Koan-bun terjadi perang yang hebat dan kacau-balau, akan tetapi juga di tengah jalan antara Koan-bun dan Teng-bun, di mana barisan yang dipimpin oleh Puteri Milana melakukan pencegatan dan barisan pemberontak yang menyerbu ke Koan-bun untuk menumpas pasukan Tambolon itu tidak dapat lagi kembali ke Teng-bun karena dihadang dan disergap oleh barisan Milana ini, bahkan Sang Puteri yang melihat betapa pihak musuh amat lemah lalu memecah barisannya, sebagian lalu menuju ke Teng-bun untuk membantu barisan penyerbu Teng-bun yang merupakan barisan inti dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dibantu oleh Suma Kian Bu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Liong Khi Ong tertunda niatnya yang keji untuk memaksa Syanti Dewi menjadi miliknya dengan jalan memperkosanya ketika mendadak ada laporan bahwa Koan-bun telah diserang oleh pasukan Tambolon. Gangguan ini sekaligus mengusir nafsu birahinya dan malam itu dia tidak berani tidur, selalu berdekatan dengan Panglima Kim Bouw Sin agar dapat mengetahui keadaan.

Mereka semua mengharapkan bahwa pasukan besar yang dikirim dari Teng-bun ke Koan-bun dan yang dibantu oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li itu akan berhasil menumpas pasukan liar Tambolon. Akan tetapi tentu saja mereka menjadi gempar ketika datang laporan bahwa pasukan yang menggempur Tambolon di Koan-bun itu telah terhimpit oleh barisan pemerintah yang secara tiba-tiba saja muncul. Bahkan kini barisan pemerintah yang amat kuat sedang menuju ke Teng-bun!

Panglima Kim Bouw Sin segera mengumpulkan para pembantunya dan menyusun kekuatan untuk mempertahankan benteng Teng-bun. Menjelang pagi muncullah musuh yang ditunggu-tunggu itu, disertai suara gemuruh yang menggetarkan hati semua prajurit pemberontak yang sudah berjaga-jaga di benteng dan di luar benteng. Panglima Kim Bouw Sin sendiri dengan beberapa orang panglima pembantunya berdiri di atas benteng untuk meninjau keadaan.

Barisan pemerintah itu belum melakukan gerakan, dan memang Jenderal Kao Liang menanti sampai matahari terbit! Dia ingin melakukan gertakan lebih dulu dengan harapan untuk menggetarkan dan mengecilkan hati para prajurit pemberontak yang dahulu adalah bekas anak buahnya. Setelah matahari timbul di ufuk timur, Jenderal Kao Liang yang menunggang kuda ditemani oleh Suma Kian Bu, mendekati menara di sudut tembok benteng itu, di mana terdapat panglima pemberontak Kim Bouw Sin dan para perwira pembantunya, sedangkan Pangeran Liong Khi Ong yang berada pula di situ menyembunyikan diri, tidak ingin dikenal orang sebelum usaha pemberontakan berhasil seluruhnya.

“Kim Bouw Sin pemberontak hina dina!” Jenderal Kao berseru sambil mengerahkan tenaganya sehingga suaranya terdengar oleh mereka yang berada di menara dan juga oleh sebagian besar prajurit pemberontak yang sudah berjaga di atas tembok benteng. “Apakah engkau masih belum insyaf betapa pemberontakanmu telah mendekati akhir dan kehancuran? Koan-bun sudah terjatuh kembali ke tangan kami! Pasukanmu yang ke sana malam tadi telah habis terbasmi, demikian pula sekutumu Tambolon sudah dihancurkan! Lebih baik engkau segera menakluk dan mengakui dosamu dari pada mengorbankan nyawa ribuan prajurit yang hanya terkena hasutanmu!”

“Keparat dia! Hujani anak panah!” Pangeran Liong Khi Ong membentak marah sekali karena dia maklum betapa berbahayanya suara jenderal itu terdengar oleh para prajurit, karena jenderal itu merupakan seorang tokoh besar dalam ketentaraan yang amat disegani. Dia sudah melihat betapa wajah para pengawal dan prajurit yang berada di menara itu berubah pucat mendengar suara ini.

“Lepaskan anak panah!” Tiba-tiba Kim Bouw Sin memberi aba-aba, karena dia sendiri pun marah dan merasa tidak mampu untuk menjawab ucapan Jenderal Kao di bawah itu.

Para prajurit pasukan panah segera melakukan perintah ini dan anak panah meluncur ke bawah seperti hujan banyaknya. Melihat ini, Kian Bu cepat memutar pedang yang diterimanya dari Jenderal Kao. Tampaklah segulungan sinar berkilauan yang membuat anak panah yang menyambarnya runtuh semua. Juga Jenderal Kao telah memutar pedangnya, kemudian berkata kepada Kian Bu. “Taihiap, kau lindungilah aku. Aku harus membalas kecurangan mereka itu!”

Kian Bu lalu meloncat turun dari atas kudanya dan bergerak-gerak memutar pedangnya yang sekarang berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti mereka berdua. Jenderal Kao lalu menurunkan busur dan memasang anak panah, membidik ke atas dan tak lama kemudian terdengarlah suara berdesing ketika sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan seperti kilat ke arah panglima pemberontak Kim Bouw Sin yang melihat penyerangan anak buahnya dengan penuh harapan.

“Ciangkun, awas...!” Lam-thian Lo-mo yang selalu mendampingi panglima pemberontak ini bersama Pak-thian Lo-mo, berseru dan cepat dia menarik tangan panglima itu hingga tubuhnya tertarik ke samping. Terdengar teriakan nyaring ketika seorang perwira yang berdiri di belakang panglima pemberontak ini roboh, lehernya tertembus anak panah dan dia tewas seketika.

Jenderal Kao dan Kian Bu telah meninggalkan tempat berbahaya itu, maka dimulailah perang yang amat dahsyat di sekeliling tembok benteng kota Teng-bun. Mula-mula hujan anak panah dari kedua pihak, kemudian setelah Panglima Kim Bouw Sin melihat bahwa kekuatan barisan yang dipimpin oleh Jenderal Kao Liang itu tidak besar, kurang dari separoh jumlah pasukannya yang berjaga di Teng-bun, dia lalu memerintahkan pasukan untuk menyerbu ke luar, dibantu oleh barisan anak panah dan batu-batu yang menghalau setiap usaha musuh yang hendak naik ke tembok benteng.

Maka terjadilah perang tanding di luar pintu gerbang benteng sebelah selatan. Memang perhitungan Kim Bouw Sin tepat. Jumlah pasukannya jauh lebih besar dan dia hendak menggunakan keunggulan jumlah pasukan ini untuk menggempur dan menghancurkan pasukan Jenderal Kao. Akan tetapi Jenderal Kao Liang adalah seorang pemimpin yang banyak siasatnya.

Segera dia memberi komando melalui bunyi terompet dan pasukan-pasukannya lalu berpencar, sebagian lari ke pintu gerbang di timur dan sebagian lagi menyerbu melalui sungai di barat kota Teng-bun. Melihat ini, dengan sendirinya Kim Bouw Sin harus pula membagi bagi pasukannya. Karena gerakan Jenderal Kao yang merubah-ubah jumlah pasukannya amat cepat, kadang-kadang di selatan hanya ada sedikit pasukan dan agaknya mengerahkan kekuatan untuk menggempur pintu gerbang timur, akan tetapi ketika pihak pemberontak mengerahkan tenaga menjaga di timur, kiranya yang di selatan itulah justru yang lebih kuat sehingga penjagaan-penjagaan dan pertahanan-pertahanan di benteng itu menjadi kacau dan panik.

Tetapi, karena Kim Bouw Sin adalah panglima yang tadinya menjadi pembantu Jenderal Kao, dia pun amat ahli mengatur penjagaan sehingga dengan jumlah pasukan yang jauh kalah banyak itu, agaknya tidak mudah bagi Jenderal Kao untuk menduduki kota benteng Teng-bun yang amat kuat itu. Perang telah berlangsung dua hari dua malam dan hanya diseling waktu untuk menyusun kekuatan di pihak masing-masing.

Pada hari ketiga, datanglah barisan bantuan dari selatan yang dipimpin oleh Puteri Milana, yang memimpin sisa pasukannya setelah berhasil membantu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong yang telah merebut kembali kota Koan-bun. Tentu saja bantuan ini amat menggirangkan hati Jenderal Kao Liang dan disusunlah kekuatan baru dan dengan dahsyat barisan gabungan ini lalu melakukan hantaman-hantaman yang menggetarkan dan mengguncangkan tembok benteng kota Teng-bun berikut semangat perlawanan para prajurit pemberontak yang memang sudah gentar ketika mendengar bahwa Jenderal Kao Liang yang mereka takuti itu kini dibantu oleh Puteri Milana yang telah mereka kenal pula itu.

Biar pun pihak pemberontak masih mampu mempertahankan dirinya selama tiga hari tiga malam, namun kedudukan mereka telah goyah. Pasukan telah gelisah dan para penjaga yang mempertahankan pintu-pintu gerbang telah turun semangat dan sangat kelelahan.

Semua ini tentu saja diketahui baik oleh Pangeran Liong Khi Ong yang menjadi makin gelisah. Selama sepekan ini dia tidak bisa tidur dan selalu gelisah. Dia dan kakaknya memang merupakan orang-orang yang berambisi besar, akan tetapi sekali-kali bukan orang peperangan, maka menyaksikan perang di depan hidungnya dia menjadi gelisah bukan main, dan dikuasai ketakutan yang mencekam hatinya setiap saat.

Demikian takutnya dia hingga dia melarang Tek Hoat meninggalkan dirinya. Tentu saja Tek Hoat juga tidak berani membantu dan bahkan pemuda ini merasa girang karena dia dapat menjaga agar pangeran ini tidak melakukan hal yang amat dikhawatirkannya terhadap diri Syanti Dewi.

Ketika Pangeran Liong Khi Ong mendengar bahwa pihak musuh yang masih juga belum berhasil membobol benteng Teng-bun itu kabarnya dibantu oleh pasukan baru di bawah pimpinan Puteri Milana, dia menjadi pucat ketakutan. Memang sejak dahulu dia merasa jeri terhadap Puteri Milana yang dalam persaingan di istana selalu memihak lawannya, yaitu Perdana Menteri Su.

Kim Bouw Sin menenangkan hati pangeran ini dengan mengatakan bahwa pasukan mereka tidak akan kalah, dan andai kata keadaan mendesak dan berbahaya, pangeran itu masih dapat menyelamatkan diri dengan sebuah kereta melalui pintu rahasia yang keluar ke dalam hutan di sebelah barat benteng. Akan tetapi akhirnya Panglima Kim Bouw Sin harus mengakui akan kekuatan musuh setelah pasukan yang dipimpin Puteri Milana datang membantu Jenderal Kao Liang. Atas permintaannya, terpaksa Pangeran Liong membolehkan Tek Hoat membantu Panglima Kim Bouw Sin.

Mulailah Tek Hoat terjun ke medan pertempuran bersama Siang Lo-mo. Mereka bertiga ini memang berhasil membangkitkan semangat para prajurit pemberontak, dan kini pertempuran secara berhadapan mulai terjadi di dua pintu gerbang. Pihak tentara pemerintah makin mendesak dan akhirnya, pada hari keempat, bobollah pintu selatan diserbu oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana dibantu oleh Suma Kian Bu. Amukan dua orang keturunan Pendekar Super Sakti itu sedemikian hebatnya sehingga menggiriskan hati para prajurit pemberontak yang terus mundur memasuki kota.

Siang Lo-mo yang mengamuk di pintu barat dan timur merobohkan banyak prajurit musuh, mendengar akan bobolnya pintu gerbang selatan. Selagi mereka hendak lari membantu para penjaga di pintu gerbang selatan itu, tiba-tiba ada perwira-perwira yang memanggil mereka dan ternyata bahwa mereka dipanggil oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk mengawal pangeran itu keluar dari Teng-bun.

Panglima Kim Bouw Sin mengerahkan pasukan istimewa, dengan panah api berhasil menghalau pasukan musuh yang telah menyerbu masuk melalui pintu gerbang selatan. Melihat pasukannya banyak yang roboh dan panik oleh hujan anak panah berapi, terpaksa Milana dan Kian Bu menarik kembali pasukan itu keluar dari pintu gerbang dan kembali pintu gerbang dikuasai oleh pihak pemberontak yang menutupnya dengan pintu besi yang tadi sudah ambruk, menjaganya kuat-kuat dan memasang barisan panah di tempat itu. Untung malam tiba sehingga pihak pasukan pemerintah menghentikan serangan dan mundur, menghimpun kembali tenaga untuk dipakai menyerang lagi pada keesokan harinya.

Tek Hoat kembali ke gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong. Tubuhnya lelah karena dia ikut bertempur sejak pagi sampai sore. Pakaiannya berlepotan darah korban yang dirobohkannya dan pahanya berdarah, luka sedikit oleh tombak para pengeroyok yang amat banyak jumlahnya dalam perang sampyuh tadi.

Dia mulai merasa bosan berperang, kebosanan yang menyerangnya sejak dia bertemu dengan Syanti Dewi. Dia merasa bahwa semua orang, termasuk dia, menjadi alat-alat yang dipergunakan oleh beberapa orang terutama Pangeran Liong Bin Ong dan Liong Khi Ong untuk merebut kemuliaan di kota raja! Biar pun dia membantu pemberontak dengan hasrat ingin memperoleh kedudukan yang tinggi kelak, namun harus diakuinya bahwa dia pun hanya merupakan alat dari dua orang pangeran itu, dan andai kata pemberontakan itu berhasil kelak, sudah terbayang olehnya bahwa dia tentu hanya akan menjadi orang bawahan dua pangeran itu, karena bukan hal yang mudah untuk mencapai kedudukan tertinggi.

Dan dia merasa pula bahwa betapa pun tinggi kedudukan yang diperolehnya kelak, kalau dia melihat Syanti Dewi menjadi barang permainan Liong Khi Ong, hatinya tidak akan pernah mengalami kebahagiaan. Sekarang pun, hatinya gelisah karena dia pagi tadi harus membantu perang, dan dia tidak dapat lagi mengawasi pangeran tua mata keranjang itu. Bagaimana kalau ketidak-hadirannya tadi membuka kesempatan bagi Pangeran Liong Khi Ong untuk memaksa Syanti Dewi menuruti keinginannya?

Sungguh pun dia tahu bahwa rasa ketakutan hebat kiranya tidak memberi kesempatan kepada Pangeran Liong Khi Ong untuk ingat akan nafsunya terhadap Syanti Dewi, namun tetap saja hati Tek Hoat berdebar tegang, mukanya menjadi panas dan dia mengepal tinjunya ketika dia menghampiri gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong yang kelihatan sunyi itu.

Tiba-tiba dia menyelinap di balik pohon ketika dia mendengar suara roda kereta. Dia mengenal kereta itu, kereta yang disediakan untuk Pangeran Liong Khi Ong. Dan di dalam kereta itu duduk Siang Lo-mo! Hatinya curiga. Dia pun sudah mendengar bahwa kereta itu memang disiapkan oleh Panglima Kim Bouw Sin untuk Sang Pangeran, dapat dipergunakan oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk lari mengungsi apa bila keadaan berbahaya, melalui sebuah pintu rahasia yang menembus hutan di sebelah barat benteng. Cepat dia menggunakan kepandaiannya untuk berlari di belakang kereta dan karena roda kereta itu menimbulkan bunyi yang cukup keras, maka betapa pun lihainya Siang Lo-mo, mereka tidak tahu bahwa ada orang yang lari di belakang kereta, dekat sekali.

“Mengapa kita yang disuruh mengawal Pangeran, bukan Ang Tek Hoat?” terdengar oleh Tek Hoat suara Pak-thian Lo-mo.

“Ha-ha, apakah engkau tidak dapat melihat kenyataan? Dari penuturan Hek-wan Kui-bo saja sudah jelas bahwa pemuda sombong itu jatuh cinta kepada puteri Bhutan itu! Tentu saja Pangeran juga tahu tentang urusan ini, maka dia akan ditinggalkan di sini untuk membantu Panglima Kim sedangkan sebaliknya kita dan Hek-wan Kui-bo yang disuruh mengawal sampai Pangeran dan puteri Bhutan itu tiba di kota raja.”

“Untung kita!” Pak-thian Lo-mo berkata dengan nada suara gembira. “Benteng ini tidak akan dapat dipertahankan lebih lama lagi. Dan kita sudah akan berada di kota raja kalau benteng itu jatuh ke tangan musuh!”

“Sstttt..., kita sudah sampai, sebaiknya tidak bicara tentang itu,” bisik Lam-thian Lo-mo.

Kereta itu berhenti di belakang istana yang gelap. Agaknya Pangeran yang hendak melarikan diri itu menghendaki demikian dan segalanya sudah diatur sebelumnya.

Sepasang kakek kembar yang lihai itu meloncat turun dari dalam kereta. “Kau tunggu di sini sebentar!” kata Lam-thian Lo-mo kepada kusir kereta yang berpakaian seperti prajurit dan yang duduk di bagian depan kereta itu, memegang cambuk panjang.

Kusir itu menjawab singkat, “Baik, Locianpwe.”

Memang semua prajurit yang bertugas dekat dengan Pangeran dan Panglima Kim mengenal dua orang kakek kembar yang lihai ini dan semuanya menyebut mereka ‘locianpwe’. Ketika dua orang kakek itu dengan cepat lari memasuki gedung, kusir itu duduk menanti, memandang ke kanan kiri yang amat sunyi. Sesuai dengan kehendak pangeran, supaya tempat itu dikosongkan sehingga tidak ada penjaga yang melihat keberangkatannya karena hal itu mendatangkan pengaruh kurang baik bagi semua prajurit yang harus mempertahankan benteng itu sampai saat terakhir.

Beberapa saat kemudian dengan sikap tergesa-gesa tampak Pangeran Liong Khi Ong yang memakai pakaian biasa, menyamar sebagai seorang pedagang, menggandeng tangan Syanti Dewi yang juga memakai pakaian biasa, setengah menyeret dara itu keluar dari gedung menuju ke kereta yang menanti di belakang gedung. Wajah Syanti Dewi kelihatan pucat dan jelas bahwa puteri ini kelihatan marah dan tidak suka, akan tetapi dia dipaksa oleh pangeran itu dan di belakang mereka ini berjalan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo. Tidak ada orang lain lagi yang mengawal mereka. Lam-thian Lo-mo lalu membukakan pintu kereta, dan Pangeran Liong Khi Ong menarik tangan puteri itu untuk memasuki kereta.

Di depan pintu kereta, Syanti Dewi merenggutkan tangannya sambil berkata, suaranya tetap tenang akan tetapi penuh penyesalan dan kemarahan. “Pangeran, sungguh tidak kusangka bahwa engkau ternyata hanya seorang pengecut yang akan melarikan diri setelah melihat benteng ini terkepung musuh. Dan tidak kusangka bahwa aku akan dipaksa begini, seolah-olah aku berada di tangan sekelompok penjahat. Biarlah aku ditinggalkan di sini saja, aku tidak ingin ikut dengan Pangeran ke kota raja.”

“Aih, mana bisa, manis! Engkau adalah calon isteriku, ke mana pun harus kubawa serta. Maafkan aku, selama berada di tempat ini aku kurang perhatian terhadap dirimu karena kita menghadapi perang. Akan tetapi di kota raja nanti, hemm... kita akan bersenang-senang...”

“Tidak! Kita bukan tunangan lagi! Aku dahulu suka menuruti kehendak ayahku karena ayahku sebagai Raja di Bhutan menerima pinangan langsung dari Kaisar Kerajaan Ceng-tiauw. Akan tetapi ternyata bahwa engkau sekarang malah memberontak kepada Kerajaan Ceng! Tentu saja saya tidak sudi menerima pinangan seorang pemberontak yang hina!” Sikap puteri itu kini marah sekali dan dia berdiri tegak dengan pandang mata menghina kepada pangeran yang berdiri dengan canggung di depannya itu.

“Pangeran, mengapa melayaninya? Semua wanita dari tingkat apa pun juga selalu cerewet!” Lam-thian Lo-mo berkata.

“Heh-heh-heh-heh, Lam-thian Lo-mo, jangan lancang begitu mulutmu memaki orang perempuan!” Hek-wan Kui-bo mencela sambil tertawa.

“Perempuan memang harus cerewet dan galak, baru menarik, seperti mawar dengan durinya.” Pak-thian Lo-mo yang biasanya pendiam itu kini memberi komentar. Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo menyambut komentar ini dengan tertawa, dan Pangeran Liong tertawa juga.

Syanti Dewi maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara dengan pangeran ini, tidak ada gunanya memasukkan segala alasan berdasarkan kesusilaan dan kesopanan kepada pangeran tua yang sudah bebal ini karena dia melihat sudah bahwa tidak ada bedanya antara pangeran ini dengan tiga orang tua seperti iblis itu. Hanya pada lahirnya saja pangeran ini halus dan terpelajar, namun di dalam batinnya dia malah lebih parah dari orang-orang kasar ini.

Maka dia membuang muka, tidak mempedulikan lagi kepada mereka dan memasuki kereta sendiri karena dia pikir lebih baik begitu dari pada dipaksa. Dia masih merasa beruntung bahwa keadaan perang di Teng-bun membuat pangeran itu belum sempat mengganggunya. Dia akan menghadapi apa saja yang akan menimpa dirinya dengan tabah, masih belum terlambat baginya untuk menggunakan pisau yang disembunyikan di dalam lipatan bajunya apa bila saatnya tidak memberi harapan lagi kepadanya.

Pangeran Liong Khi Ong masih tertawa ketika dia pun masuk ke dalam kereta dan duduk di dekat Syanti Dewi. Sepasang kakek kembar dan Hek-wan Kui-bo juga masuk dan duduk di depan mereka sebagai pengawal.

“Kusir dungu! Hayo jalan!” Lam-thian Lo-mo membentak ke arah kusir yang duduk tegak di belakang kuda agak tinggi itu. Sejak tadi kusir ini tidak berani menengok dan pura-pura tidak melihat atau mendengar apa yang terjadi di depan pintu kereta tadi.

“Baik, Locianpwe!” jawabnya otomatis dengan suaranya yang tinggi dan parau.

Kereta bergerak setelah terdengar cambuk meledak dan melecut di atas kepala empat ekor kuda itu. Kuda-kuda itu meringkik dan tak lama kemudian kereta berjalan cepat sekali menuju ke barat.

“Locianpwe, saya belum tahu harus pergi ke mana...,” kusir itu berkata dengan suara lirih seolah-olah dia merasa takut terhadap para penumpangnya.

“Pangeran, harap memberitahukan jalannya,” Lam-thian Lo-mo berkata.

“Terus saja,” kata Pangeran Liong Khi Ong, karena hanya dia sendiri dan Panglima Kim Bouw Sin serta beberapa orang perwira kepercayaan yang laln saja yang tahu akan tempat itu, termasuk Tek Hoat. “Setelah tiba di pintu gerbang barat, lalu membelok ke selatan kurang lebih satu li.”

Kusir itu mencambuk kuda dan kereta meluncur cepat di malam gelap itu menuju ke barat. Orang-orang yang melihat bahwa kusir kereta itu adalah orang yang berpakaian prajurit, tidak ada yang menduga siapa yang berada di dalamnya, hanya mengira bahwa penumpangnya tentulah seorang di antara para perwira tinggi.

Setelah tiba di pintu gerbang barat yang terjaga kuat dan membelok ke selatan, kereta memasuki sebuah kebun yang tidak terawat dan akhirnya, di tempat yang amat sunyi ini, Pangeran Liong Khi Ong menyuruh Siang Lo-mo membuka sebuah pintu rahasia yang tertutup rumpun ilalang dan cara membukanya digerakkan oleh alat rahasia yang tersembunyi di dalam batang pohon yang berlubang. Setelah kereta itu menerobos pintu rahasia di tembok benteng yang sunyi itu, Siang Lo-mo menutupkan kembali dari luar dan kereta lalu melanjutkan perjalanannya. Ternyata di sebelah luar tembok itu adalah sebuah hutan yang lebat, gelap dan sunyi.

“Terus masuk ke dalam hutan,” Pangeran Liong berkata. “Kita sembunyi di dalam hutan malam ini, besok pagi baru melanjutkan perjalanan ke selatan.”

Setelah kereta tiba di dalam hutan, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo turun dari kereta, melihat-lihat keadaan. Hutan itu sunyi dan mereka merasa lega.

“Kita menanti sampai pagi dan tentu pihak musuh sudah mulai menyerang benteng lagi,” kata Pangeran itu. “Semua perhatian mereka akan tercurah ke benteng sehingga kita memperoleh kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dengan aman. Dari sini kita harus ke barat sampai keluar dari hutan dan tiba di lereng bukit dan dari sana mulailah kita menuju ke selatan.”

Kusir kereta itu turun pula dan tanpa mengeluarkan suara dia melepaskan empat ekor kuda itu, membawanya ke tempat yang banyak rumputnya dan membiarkan mereka makan rumput. Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah membuat api unggun dan duduk di sekeliling api sambil bercakap-cakap.

Pangeran Liong Khi Ong dan Syanti Dewi berada di dalam kereta. Hek-wan Kui-bo yang memandang ke kereta itu berkata lirih sambil terkekeh, “Heh-heh, Pangeran sampai lupa dingin, tidak turun dari kereta.”

“Nenek tua, apa engkau tidak tahu senangnya orang berpengantinan?” Lam-thian Lo-mo juga terkekeh.

“Hi-hik, agaknya di dalam kereta itu Pangeran merasa lebih hangat dari pada di dekat api ini.” Hek-wan Kui-bo tertawa lagi.

Akan tetapi tak lama kemudian tiga orang datuk kaum sesat itu sudah bicara dengan serius, suara mereka berbisik-bisik karena mereka kini terlibat dalam percakapan yang amat penting bagi mereka, yaitu tentang gerakan pemberontak yang mulai terpukul oleh barisan pemerintah. Mereka bertiga itu, seperti juga Ang Tek Hoat, bersedia membantu pemberontakan karena mereka hendak mengejar kedudukan dan kemuliaan di hari tua mereka.

Sekarang, melihat kenyataan betapa pasukan pemberontak mulai dihajar oleh barisan pemerintah yang jauh lebih kuat, semangat mereka juga menurun. Akan tetapi mereka masih belum kehilangan harapan selama mereka masih mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang mereka tahu mempunyai kedudukan mulia di kota raja. Selama mereka masih menjadi pembantu-pembantu kedua orang Pangeran Liong, harapan masih terbuka bagi mereka. Setidaknya sebagai pengawal-pengawal Pangeran Liong kedudukan mereka pun sudah cukup terhormat di kota raja.



Karena senasib dan segolongan, dalam waktu singkat Hek-wan Kui-bo dan sepasang kakek kembar itu sudah menjadi sahabat yang akrab dan mereka bicara secara terus terang tanpa saling mencurigai karena sudah mengenal isi hati masing-masing.

“Apa katamu?” Hek-wan Kui-bo bicara lirih kepada Pat-thian Lo-mo. “Kalau sampai di kota raja dan kedua pangeran itu gagal? Ah, kalau sudah berada di istana, mana bisa gagal? Setidaknya sebelum aku pergi dari kota raja, banyak terbuka kesempatan untuk mengambil banyak barang berharga dari istana dan hasil itu pun sudah lumayan untuk menutup kegagalanku.”

“Uhh, apa artinya harta kekayaan bagi kita yang sudah tua?” Lam-thian Lo-mo mencela.

“Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan kalau ternyata usaha Pangeran Liong gagal pula di istana?” tanya nenek itu.

“Kami tidak mau mencuri barang berharga, akan tetapi kami akan membawa dia...” Lam-thian Lo-mo menggerakkan kepalanya ke arah kereta.

“Eihh...?! Puteri Bhutan...?” nenek itu bertanya dan ketika melihat dua orang kakek itu mengangguk, dia bertanya, “Untuk apa? Apakah kalian ini kiranya bandot-bandot tua bangka pula seperti Pangeran Liong?”

“Bodoh!” Pak-thian Lo-mo mencela. “Kami antar dia pulang ke Bhutan dan di sana kami akan berusaha mencapai kedudukan tinggi.”

“Aihh, kiranya kalian benar-benar gila pangkat.” Nenek itu berkata geli dan pada saat itu terdengar jerit tertahan dari dalam kereta.

“Hi-hi-hik, Pangeran itu sungguh tidak sabar lagi!” Hek-wan Kui-bo terkekeh. “Apa dia hendak memaksa Puteri Bhutan di ruangan kereta yang sempit itu?”

“Tidak...! Jangan engkau menyentuhku!” Terdengar suara Syanti Dewi menjerit marah. “Pangeran Liong Khi Ong, ternyata engkau hanyalah seorang laki-laki keji dan hina. Akan tetapi jangan mengira akan dapat menyentuhku, lihat apa yang kupegang ini! Sebelum engkau menjamahku, lebih dulu aku akan menjadi mayat!”

Tiga orang tua lihai yang tadinya hanya tertawa-tawa saja sambil memandang ke arah kereta, menjadi kaget juga mendengar teriakan Syanti Dewi itu, dan mereka terbelalak makin heran dan kaget ketika melihat betapa kusir kereta yang tadinya menggunakan kain menggosok dan membersihkan kereta itu tiba-tiba kini menghampiri pintu kereta dan menyingkap tirai yang menutupi pintu kereta itu.

“Heiii, kusir tolol! Mau apa kau?” Hek-wan Kui-bo membentak marah.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati tiga orang tua itu ketika mereka melihat kusir itu membuka pintu kereta dengan paksa, lalu meloncat ke dalam kereta. Terdengar suara teriakan Pangeran Liong, teriakan mengerikan yang disusul dengan berkelebatnya bayangan kusir tadi yang telah memondong tubuh Syanti Dewi yang meronta-ronta dan berteriak-teriak, “Lepaskan aku!”

“Eh, kusir keparat!”

Tiga orang tua itu cepat meloncat dan mengejar ke arah kereta. Sekali bergerak, Hek-wan Kui-bo sudah membuka pintu kereta dan mereka menjenguk ke dalam, terkejut bukan main melihat Pangeran Liong Khi Ong sudah menggeletak tak bernyawa lagi dan di dahi pangeran itu tampak tiga gambar jari tangan hitam.

“Si Jari Maut...!”

“Kiranya dia si jahanam itu!”

Mereka melompat dan mengejar. Ketika melihat bayangan kusir yang memondong tubuh Syanti Dewi itu meloncat ke atas seekor kuda sedangkan tiga ekor kuda yang lain dicambuk dan lari cerai-berai, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo cepat mengejar.

Kusir itu memang Tek Hoat adanya. Ketika tadi melihat kereta yang ditumpangi Siang Lo-mo menuju ke gedung Pangeran Liong, dia lalu membayangi dan dapat mendengar percakapan antara kedua orang kakek itu. Tek Hoat merasa gelisah sekali. Tanpa disadarinya sendiri, urusan Syanti Dewi telah menjadi hal yang amat penting baginya, jauh lebih penting dari urusan apa pun, lebih penting dari pada cita-citanya untuk memperoleh kedudukan mulia.

Maka setelah Sepasang Kakek Iblis itu memasuki gedung, secepatnya dia turun tangan meloncat dan menyergap kusir kereta itu seperti seekor harimau menerkam domba, menyeret kusir itu menjauhi kereta, menotoknya lumpuh dan tak dapat bersuara, melucuti pakaiannya dan mengenakan pakaian dan topi kusir itu lalu dengan tenang dia menggantikan tempat kusir itu.

Dia tadi pernah mendengar suara kusir itu ketika menjawab perintah Siang Lo-mo, maka dia mampu menirukan suaranya dan untung baginya bahwa baik Pangeran Liong mau pun ketiga orang pengawalnya itu tidak dapat mengenali mukanya yang selalu dia sembunyikan agar tidak langsung menerima sinar lampu penerangan di sepanjang perjalanan itu.

Dia tidak berani turun tangan menolong Syanti Dewi di dalam kota Teng-bun karena hal itu amatlah berbahaya. Baru setelah kereta keluar dari kota dan berada di dalam hutan, dia melepas-lepaskan kuda dan ketika mendengar teriakan marah Syanti Dewi, tahulah dia bahwa saat baginya untuk turun tangan telah tiba. Maka secepat kilat dia memasuki kereta, membunuh Pangeran yang mulai dibencinya sejak Syanti Dewi terjatuh ke tangan Pangeran itu, memondong dengan paksa tubuh Syanti Dewi dan melarikan diri dengan menunggang seekor kuda setelah dia mencambuk tiga ekor kuda yang lainnya sehingga binatang-binatang itu kabur ketakutan.

“Ang Tek Hoat pengkhianat rendah!” Lam-thian Lo-mo memaki dan bersama Pak-thian Lo-mo dia melakukan pengejaran.

“Minggirlah, biar kurobohkan dia!” Hek-wan Kui-bo berteriak dan dua orang kakek itu masih mengejar akan tetapi berpencar ke kanan kiri untuk memberi kesempatan kepada Hek-wan Kui-bo untuk melakukan penyerangan.

Nenek itu sudah mengeluarkan dua buah senjata rahasianya yang berbentuk besi bulat, lalu melontarkan dua buah benda itu ke arah Tek Hoat yang membalapkan kudanya.

Mendengar desingan angin dari belakang, Tek Hoat terkejut sekali. Dia sudah pernah menyaksikan Hek-wan Kui-bo menggunakan senjata rahasianya yang dapat meledak, maka kini tahu bahwa nenek itu menyerangnya dengan senjata dahsyat itu. Dia terkejut dan cepat meloncat dari atas punggung kuda sambil memondong tubuh Syanti Dewi, dan begitu kakinya menyentuh tanah, dia terus bergulingan menjauh dan masih tetap memondong tubuh dara itu.

“Maaf, terpaksa begini, senjatanya berbahaya sekali...,” Tek Hoat berbisik.

“Darrr! Darrr!” Dua buah senjata rahasia itu meledak dan mengeluarkan kilat dibarengi muncratnya pecahan-pecahan besi. Kuda itu meringkik dan roboh terguling, perutnya pecah.

“Ahhh...!” Syanti Dewi mengeluh, ngeri menyaksikan nasib kuda itu.

Sekarang dia tidak meronta lagi karena menduga bahwa pemuda ini memang sengaja membunuh Pangeran Liong dan membawanya pergi hendak menolongnya, sungguh pun dia masih merasa sangsi apakah pemuda yang menjadi kaki tangan pemberontak ini benar menolongnya dengan niat baik. Betapa pun juga, kiranya jauh lebih baik dan lebih ada harapan terjatuh ke tangan pemuda yang bersikap halus ini dari pada terjatuh ke tangan dua orang kakek dan nenek iblis yang mengerikan itu.

“Nona, kau tunggulah dulu di sini, biar kuhadapi mereka itu,” kata Tek Hoat yang telah membuang topi prajurit dan telah menanggalkan pakaian prajurit yang tadi menutupi pakaiannya sendiri. Dengan tenang dia lalu menanti tiga orang lawan itu yang sudah berlari mendatangi.

Kini mereka berdiri berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Bulan di langit meluncurkan sinarnya yang lembut dan menerobos celah-celah daun pohon sehingga kini biar pun tidak memperoleh penerangan lentera kereta yang jauh dari mereka, empat orang itu dapat saling memandang cukup jelas.

“Heh-heh-heh, sudah kuduga sebelumnya! Sejak semula engkau dahulu menyerangku, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang pengkhianat, Ang Tek Hoat! Aku sudah peringatkan Pangeran, akan tetapi dia tidak percaya. Sekarang dia percaya, akan tetapi sudah terlambat!” Hek-wan Kui-bo berkata.

“Belum terlambat!” Pak-thian Lo-mo berkata. “Kita mengirim dia menyusul Pangeran.”

“Sayang, seorang seperti engkau ini menjadi berubah begitu bertemu dengan wanita cantik, Si Jari Maut! Engkau telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, satu-satunya orang yang sudah memberi harapan kepada kita. Sekarang kami tidak dapat pergi ke kota raja lagi, gara-gara engkau!”

Tek Hoat tecsenyum mengejek. “Orang yang cerdik selalu dapat melihat keadaan, akan tetapi kalian bertiga tua bangka ini agaknya tidak dapat melihat kenyataan. Jatuhnya Koan-bun dan Teng-bun yang tidak akan dapat bertahan lama lagi berarti berakhirnya petualangan Pangeran Liong, apakah kita masih harus mengabdi kepada kekuasaan yang sudah mendekati keruntuhannya?”

“Engkau yang tolol!” Hek-wan Kui-bo membentak. “Biar pun pemberontakan itu sendiri gagal, akan tetapi dengan adanya Pangeran, kita dapat mengunjungi istana kerajaan dengan aman dan di sana terbuka banyak kesempatan bagi kita. Akan tetapi engkau sekarang membunuhnya sehingga hancur semua harapan dan susah payah kita!”

“Hmm, aku sudah membunuhnya dan kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela kematiannya?”

“Cuhhh!” Pak-thian Lo-mo meludah. “Kami takkan membela siapa pun kecuali membela kepentingan kami sendiri!”

“Apa yang dikatakannya itu benar, Ang-sicu,” Lam-thian Lo-mo berkata. “Soal engkau membunuh pangeran atau raja, tidak ada sangkut-pautnya dengan kami. Kami bukan orang yang mengekor kepada siapa pun, apa lagi kepada Liong Khi Ong. Kalau kami membantu dia, seperti juga engkau, hanya karena kami melihat kemungkinan baik bagi kami untuk memperoleh kemuliaan. Akan tetapi sekarang dia kau bunuh, berarti kau merugikan kami yang hanya dapat kau bayar sekarang juga.”

“Dengan nyawaku? Cobalah jika kalian mampu!” Tek Hoat menantang dengan senyum mengejek.

“Sombong engkau!” Hek-wan Kui-bo sudah marah sekali dan hendak menyerang, akan tetapi Lam-thian Lo-mo mencegahnya dan nenek ini yang sekarang merasa menjadi sekutu Siang Lo-mo untuk menghadapi pemuda lihai itu tidak membantah.

“Ang Tek Hoat, jangan salah duga. Liong Khi Ong sudah mampus, maka biarlah. Hanya karena kami juga kehilangan harapan untuk pergi ke kota raja, maka sekarang kami minta bantuanmu. Kami hendak mengantarkan Puteri Bhutan itu kepada ayahnya di Bhutan. Kami tentu akan memperoleh balas jasa di Kerajaan Bhutan dan siapa tahu kami akan mendapatkan ganti kemuliaan di sana.” Lam-thian Lo-mo berkata dengan suara bernada halus.

“Keparat, jangan minta yang bukan-bukan!” Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi permintaan itu membuat Tek Hoat naik darah.

“Hi-hi-hik, percuma, Lam-thian Lo-mo. Dia ingin mengangkangi sendiri gadis itu. Aku sudah tahu akan hal ini sejak dulu!” Hek-wan Kui-bo berkata.

Tek Hoat melirik ke arah Syanti Dewi. Puteri itu telah bangkit berdiri dan bersembunyi di balik pohon dan sekarang mengintai dan memandang ke arahnya dengan sinar mata ketakutan.

“Apa yang kurasakan tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian bertiga. Pendeknya, aku tidak percaya kepada kalian dan tidak akan menyerahkan dia kepada kalian!”

“Ang Tek Hoat, apakah engkau memilih mati dari pada menyerahkan puteri itu kepada kami?” Pak-thian Lo-mo berteriak.

“Hemm, kalian yang akan mampus di tanganku kalau berani menentangku.”

“Bocah sombong! Engkau berani menentang kami bertiga?” bentak Lam-thian Lomo marah.

“Perlu apa banyak cakap? Bunuh saja bocah ini!” Hek-wan Kui-bo membentak dan dia sudah menubruk ke depan dan menggerakkan tongkatnya, disusul oleh Siang Lo-mo yang merasa marah sekali terhadap bekas rekan ini.

Ang Tek Hoat memang bersikap sombong terhadap tiga orang tokoh hitam ini, tetapi dia cerdik dan dia sebenarnya tidak memandang ringan. Dia maklum bahwa mereka bertiga adalah orang-orang yang amat lihai dan kalau maju bersama merupakan lawan yang berat dan berbahaya. Maka begitu melihat mereka sudah menyerang, dia pun meloncat mundur menjauhi tempat Syanti Dewi bersembunyi, sambil mencabut pedang Cui-beng-kiam yang dipalangkan di depan dadanya.

Sinar pedang yang mengandung hawa mukjijat dan menyeramkan ini mendatangkan kengerian juga di hati tiga orang lawannya. Akan tetapi karena mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar dan sudah bergerak mengurung dengan senjata di tangan. Tangan Hek-wan Kui-bo memutar-mutar tongkat sehingga di depan tubuhnya tampak sinar hitam bergulung-gulung seperti terdapat sebuah kitiran besar berputar di depan tubuhnya dan mengeluarkan suara berdesingan.

“Tar-tarr-tarrr!” Senjata di tangan kedua orang Lo-mo itu berupa sabuk atau pecut baja yang ketika digerak-gerakkan di atas kepala mengeluarkan bunyi meledak-ledak dan ujungnya yang melecut mengenai batangnya sendiri mengeluarkan bunga api!

Syanti Dewi yang bersembunyi di balik batang pohon itu menonton dengan muka pucat dan mata terbelalak. Percakapan antara empat orang itu tadi saja sudah menceritakan kepadanya orang-orang macam apa adanya mereka itu. Kalau dia terjatuh di tangan pemuda yang bernama Ang Tek Hoat dan yang telah berkhianat kepada majikannya sendiri dan telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, dia masih belum tahu apa yang akan terjadi atas dirinya.

Kalau memang pemuda itu mempunyai niat keji dan buruk terhadap dirinya seperti yang dikatakan Hek-wan Kui-bo tadi, dia tentu akan menjaga diri dan akan membunuh diri sebelum pemuda itu dapat menjamah tubuhnya. Sebaliknya kalau dia terjatuh ke dalam tangan tiga orang iblis tua itu, seperti juga Tek Hoat, dia tidak percaya bahwa mereka akan menyerahkan dia begitu saja kepada ayahnya, Raja Bhutan. Orang-orang seperti mereka ini tentu tidak akan segan-segan untuk memeras ayahnya, memaksa ayahnya menuruti kehendak mereka untuk melihat puterinya selamat! Tidak, betapa pun juga, kalau bisa dikatakan ada kesempatan memilih, dia memilih terjatuh ke tangan pemuda itu yang belum tentu akan berbuat jahat kepada dirinya.

Tek Hoat berdiri dengan sikap tenang dan sedikit pun tidak bergerak, pedang melintang di depan dada dan tangan kiri dengan jari terbuka di atas kepala, telunjuknya menuding langit, hanya sepasang manik matanya saja yang bergerak ke kanan kiri untuk terus mengikuti gerakan tiga orang yang menghadapinya. Hek-wan Kui-bo berdiri tegak di depannya, Lam-thian Lo-mo di sebelah kanannya dan Pak-thian Lo-mo di sebelah kirinya.

Dia maklum bahwa di antara tiga orang ini, kepandaian Hek-wan Kui-bo yang dapat dianggap paling rendah sungguh pun senjata rahasia peledak dari nenek ini amat berbahaya. Dia tahu pula bahwa senjata pecut besi di tangan kakek kembar itu tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangannya karena senjata dua orang kakek itu mengandung racun yang amat jahat. Hanya pedangnya, peninggalan dari iblis Pulau Neraka, Cui-beng Koai-ong, adalah sebatang pedang mukjijat yang mengandung hawa mukjijat dan inilah keunggulan senjatanya dari senjata tiga orang lawannya.

“Taarrr... siuuuutttt...!”

Pecut yang tadi berputaran di atas dan meledak-ledak itu kini menyambar dari kanan mengarah kepalanya dan ujung pecut itu meluncur untuk menotok ubun-ubun kepala Tek Hoat. Menghadapi serangan maut dari Lam-thian Lo-mo ini, cepat Tek Hoat mengelak dengan tubuh direndahkan, akan tetapi pada saat itu, dari kiri menyambar pecut Pak-thian Lo-mo sedangkan dari depan menyusul tongkat Hek-wan Kui-bo yang meluncur ke arah pusarnya.

Tek Hoat meloncat, menghindarkan kakinya yang ditotok secara bertubi oleh ujung pecut Pak-thian Lo-mo yang mengarah kedua mata kaki dan lututnya, dan pedangnya digerakkan menangkis tongkat Hek-wan Kui-bo. Nenek ini sudah mengenal keampuhan pedang Cui-beng-kiam, maka dia tidak berani mengadu tenaga, melainkan hanya menarik tongkatnya dan dibalik sehingga dalam detik lain ujung tongkat itu sudah menusuk ke arah mata Tek Hoat.

Tek Hoat menggerakkan pedang menangkis sambil melompat mundur menghindarkan sambitan ujung pecut dari kanan. Akan tetapi kembali dua batang pecut besi itu sudah menyambar dari atas dan bawah, sedangkan tongkat dari nenek itu pun menyerang dengan bertubi-tubi. Tek Hoat segera mengeluarkan kepandaiannya, pedangnya diputar menjadi sinar bergulung-gulung melindungi tubuhnya, sekaligus menangkis serangan tiga buah senjata lawan, kemudian tiba-tiba dari dalam gulungan itu mencuat sinar terang yang membuat gerakan melengkung dan menyambar ke arah perut tiga orang lawan itu seperti seekor naga melayang.

Tiga orang itu terkejut dan cepat mengelak ke belakang karena sambaran pedang itu amat berbahaya, kemudian dari jarak agak jauh pecut-pecut dari kanan kiri sudah menyambar lagi. Suara kedua senjata ini meledak-ledak seperti petir menyambar dan bunga api berpancaran menyilaukan mata. Namun Tek Hoat selalu dapat mengelak atau menangkis semua serangan itu, bahkan dia tentu mengadakan balasan yang tidak kalah dahsyatnya untuk setiap serangan lawan.

Syanti Dewi yang menonton pertandingan itu menjadi bengong. Bukan main hebatnya pertandingan itu, matanya sampai menjadi silau dan berkunang. Tidak dapat lagi dia mengikuti gerakan empat orang itu, bahkan bayangan mereka pun lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka. Hanya kadang-kadang saja nampak kaki atau tangan yang segera lenyap lagi ke dalam gulungan sinar senjata. Jantung Syanti Dewi berdebar tegang. Dia tidak dapat pergi dari tempat itu karena dia tidak mengenal jalan dan hutan itu amat lebat. Ke mana dia harus pergi?

Tentu akan menghadapi banyak bahaya yang lebih besar lagi. Kalau terjatuh ke tangan orang-orang ini, dia tahu bahwa dia belum akan menghadapi bahaya maut sungguh pun dia tidak dapat membayangkan nasib apa yang akan dideritanya. Akan tetapi kalau dia lari dan bertemu dengan binatang buas, tentu dia akan menjadi mangsanya, dan kalau sampai dia terjatuh ke tangan orang-orang liar, nasibnya tentu akan lebih mengerikan lagi. Setidaknya, empat orang itu adalah orang-orang pandai yang agaknya ingin mencari kedudukan dan kemuliaan dengan mempergunakan dirinya.

Pertandingan itu memang hebat sekali. Tiga orang tokoh tua itu menjadi kagum bukan main. Baru sekali itu mereka bertemu dengan lawan seorang pemuda yang begitu lihai sehingga dikeroyok tiga oleh mereka tidak hanya mampu bertahan sampai seratus jurus lebih, akan tetapi juga bahkan sempat membalas dengan tidak kalah hebatnya.

Kadang-kadang bulan tertutup awan dan dalam keadaan gelap mereka berempat melanjutkan pertandingan hanya mengandalkan pendengaran yang tajam dan perasaan yang peka. Ketika pertandingan sudah hampir berlangsung dua ratus jurus tanpa ada yang mengalami luka atau terdesak, bulan bersinar kembali dengan terangnya karena awan telah menjauh.

“Kui-bo, lekas lepas peledakmu!” Tiba-tiba Lam-thian Lo-mo yang merasa penasaran itu berteriak dan bersama Pak-thian Lo-mo dia sudah bertiarap di atas tanah.

Hek-wan Kui-bo benar-benar memenuhi permintaan kakek itu dan dia melemparkan senjata peledaknya ke arah Tek Hoat. Pemuda itu cepat meloncat jauh ke samping dan bergulingan sehingga ketika senjata rahasia itu meledak, dia terhindar dari sambaran pecahan besi. Akan tetapi kembali nenek itu melemparkan senjata dahsyat kepadanya dan terpaksa Tek Hoat meloncat tinggi sekali.

Pecahan senjata peledak itu menyerong dan hanya akan mengenai orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka ketika Tek Hoat meloncat jauh ke atas, dia pun terhindar dari pecahan besi. Akan tetapi itulah saat yang dinanti-nanti oleh Lam-thian Lo-mo dan Pak-thian Lo-mo. Siang Lo-mo yang memiliki kerja sama amat baik berdasarkan naluri atau getaran perasaan yang saling berhubungan antara mereka itu, dalam waktu yang sama tanpa direncana lebih dulu telah menggerakkan cambuk besi mereka yang meluncur ke atas, yang kanan menyerang ke arah mata kaki Tek Hoat, yang kiri menyerang ke arah tengkuk!

Serangan yang dilakukan berbareng pada saat Tek Hoat masih meloncat ke atas dan yang mengarah dua tempat yang berlainan itu ternyata membuat Tek Hoat terkejut juga. Dia harus memilih salah satu. Karena penyerangan di tengkuknya merupakan serangan maut, maka dia menggerakkan pedangnya menangkis cambuk yang digerakkan oleh Pak-thian Lo-mo ke arah tengkuknya itu sambil sedapat mungkin menarik kakinya yang disambar pecut Lam-thian Lo-mo. Namun gerakan ini tidak cukup dan betisnya dihujam ujung pecut besi sehingga celana berikut daging betisnya robek.

“Haiiiittt...!” Tek Hoat mengerahkan tenaganya, berjungkir balik sehingga pecut itu tidak melibatnya dan ketika tubuhnya menukik turun, dia menyerang Lam-thian Lo-mo yang telah melukai betis kanannya itu.

“Trang-trang...! Cringgg...!” ketiga senjata lawan menangkis pedangnya dan penyatuan kekuatan tiga orang itu membuat Tek Hoat terpental dan terguling-guling.

Selagi Tek Hoat bergulingan itu, tiga orang lawannya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mereka mengejar. Hek-wan Kui-bo yang merasa penasaran telah menggerakkan tongkatnya menghantam dan menusuk berkali-kali, namun Tek Hoat dapat mengelak dengan ilmunya bergulingan yang amat cepat. Akan tetapi karena dia pun dihujani sambaran dua ujung cambuk, maka akhirnya Hek-wan Kui-bo berhasil menghantam pundaknya, nyaris saja mengenai kepalanya.

“Bukkk!” Tek Hoat merasa betapa pundaknya seperti remuk ditimpa tongkat butut itu.

Dia menjadi marah dan nekat, otomatis tangan kirinya menyambar tongkat itu dan membetot dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang amat hebat kekuatannya. Hek-wan Kui-bo terkejut ketika tiba-tiba dia terbetot ke bawah dan sebelum dia mampu melihat bahaya dan melepaskan tongkat yang membuat tubuhnya ikut terbetot, tahu-tahu Cui-beng-kiam telah meluncur dari bawah dan menembus perutnya sampai ke punggung!

“Aigghhhhh...!” Hek-wan Kui-bo memekik dahsyat.

Tek Hoat mendorong tongkat dan mencabut pedangnya sehingga tubuh nenek itu terjengkang. Akan tetapi, pada saat itu ujung cambuk di tangan Pak-thian Lo-mo telah menyambar pada saat pemuda itu meloncat bangun dan tahu-tahu telah membelit leher pemuda itu!

Tek Hoat terkejut sekali, apa lagi ketika saat itu terdengar Lam-thian Lo-mo tertawa. “Jangan lepaskan dia, ha-ha-ha, biar kuhancurkan kepalanya!”

“Tarrr-tarrr-tarrr!” Cambuk Lam-thian Lo-mo meledak-ledak dan menyambar-nyambar kepalanya, mengarah ubun-ubun, tengkuk, dahi dan kedua pelipls!

Sibuk juga Tek Hoat memutar pedangnya menangkisi sambaran pecut besi di tangan Lam-thian Lo-mo itu, sedangkan lehernya masih dicekik oleh cambuk Pak-thian Lo-mo yang makin lama makin erat mencekiknya. Terasa napasnya terhenti dan kulit lehernya berdarah! Maklumlah dia bahwa kalau dia tidak menemukan akal, dia akan mati sekali ini. Maka untuk menghindarkan ancaman bertubi-tubi dari ujung cambuk Lam-thian Lo-mo, dia cepat dengan tiba-tiba merebahkan diri dan bergulingan mendekati Pak-thian Lo-mo agar cekikan cambuk itu mengendur.

“Tarrr!” Ujung cambuk milik Lam-thian Lo-mo tepat mengenai punggungnya, untung tak mengenai tengkuk sehingga Tek Hoat hanya mengeluh karena rasa nyeri yang amat hebat. Dia meloncat lagi.

“Tar-tarrr!” Dua kali ujung cambuk Lam-thian Lo-mo menggigit paha dan lambungnya, membuat celana dan bajunya robek berikut kulit dan dagingnya.

Badannya sudah berlumur darah yang bercucuran dari punggung, leher, lambung dan paha. Pada saat itu, dengan kemarahan memuncak Tek Hoat mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, pekik yang membuat Syanti Dewi jatuh terduduk dan hampir pingsan karena memang dia sudah gemetar seluruh tubuhnya menyaksikan betapa pemuda itu telah terbelit lehernya dan dicambuki serta berlumur darah amat mengerikan.

Akan tetapi bersamaan dengan bunyi pekik itu, tampak sinar berkelebat dan Pak-thian Lo-mo mengeluarkan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekitar tempat itu. Tubuh iblis tua ini terhuyung, cambuknya terlepas dari tangan dan kedua tangannya mencengkeram gagang pedang Cui-beng-kiam yang berada di dadanya karena pedang itu sendiri telah tertanam di dadanya sampai menembus punggungnya ketika dilontarkan secara tiba-tiba dan amat kuatnya oleh Tek Hoat tadi!
“Kau... bunuh dia...?” Lam-thian Lo-mo berteriak dengan suara terisak.

“Tar-tar-tar-tarrr...!”

Cambuknya mengamuk dan tubuh Tek Hoat menjadi bulan-bulanan sambaran cambuk yang ujungnya seperti mulut ular mematuk-matuk sehingga membuat pakaian Tek Hoat robek-robek dan makin banyak lagi luka-luka di tubuhnya. Tetapi, dengan penderitaan rasa nyeri yang hebat itu karena semua luka mengandung racun, akhirnya Tek Hoat berhasil menangkap ujung cambuk. Ketika Lam-thian Lo-mo yang melotot marah itu menarik-narik cambuknya, Tek Hoat melibat-libatkan ujung cambuk di tangan kanannya dan terjadilah betot-membetot di antara mereka. Akhirnya, dengan mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking dahsyat, kedua orang itu meloncat ke depan saling terjang di udara.

“Desssss...!”

Syanti Dewi yang menonton dari balik batang pohon hanya melihat bayangan dua orang itu bertumbukan di udara, kemudian dia melihat kedua orang itu terbanting roboh dan tidak bergerak lagi.

“Ahhhh...!”

Syanti Dewi sejenak berdiri dengan hati penuh kengerian, ditelan kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti tempat itu. Tidak ada suara apa-apa lagi terdengar, akan tetapi setelah keadaan di dalam hutan itu sunyi, semua orang kecuali dia telah rebah tidak berkutik lagi, lapat-lapat dan sayup sampai telinganya menangkap suara gemuruh dan hiruk-pikuk dari tempat yang jauh sekali. Suasananya menjadi makin menyeramkan karena suara yang lapat-lapat terdengar itu seperti mengandung suara tangis dan tawa yang agaknya datang dari angkasa atau mungkin juga dari dalam bumi, pantasnya suara yang keluar dari dalam neraka seperti yang pernah dia dengar dongengnya.

“Ahhh... matikah dia...?” Tanpa terasa lagi Syanti Dewi berbisik dengan hati penuh khawatir. Puteri Bhutan ini adalah seorang yang berbudi mulia dan memiliki kepekaan rasa sehingga tidak mudah bagi dia melupakan budi orang lain yang dilimpahkan kepadanya. Dia tahu bahwa dia tidak boleh mempercayai seorang seperti Ang Tek Hoat yang telah menjadi kaki tangan pemberontak, akan tetapi yang ternyata mengkhianati atasannya sendiri itu.

Akan tetapi, dia tahu pula bahwa sekali ini Ang Tek Hoat melakukan pengkhianatan dan melawan rekan-rekannya sendiri sampai mempertaruhkan nyawa karena hendak menolongnya! Sungguh pun dia sendiri belum dapat memastikan apakah perbuatan pemuda itu terdorong oleh maksud menolongnya ataukah hendak memperebutkannya, akan tetapi harus dia akui bahwa kalau tidak ada Tek Hoat, tentu dia telah membunuh diri ketika hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong. Perasaan berterima kasih ini ditambah lagi perasaan seolah-olah Tek Hoat bukan merupakan orang asing baginya, membuat puteri ini keluar dari tempat persembunyiannya dan kemudian berindap-indap menghampiri pemuda itu.

Dia bergidik ketika melewati tubuh Lam-thian Lo-mo. Kakek yang hampir telanjang, yang hanya mengenakan cawat ini, rebah telentang, matanya melotot, mulutnya terbuka dan kepalanya pecah. Hek-wan Kui-bo rebah menelungkup dengan seluruh tubuhnya bermandi darahnya sendiri, sedangkan tubuh Pak-thian Lo-mo juga terlentang dengan dada masih tertusuk pedang. Syanti Dewi bergidik ngeri, lalu memutari mayat-mayat itu dan menghampiri Tek Hoat yang menggeletak miring dan tidak bergerak lagi.

“Ohhhh...” Syanti Dewi mengeluh dan merasa kasihan melihat pemuda itu.

Pakaiannya robek-robek dan penuh darah, tampak luka-luka bekas cambukan dari kaki sampai ke lehernya yang dibelit luka yang berdarah. Ketika Syanti Dewi melihat muka pemuda itu, dia makin cemas. Muka itu pucat sekali, seperti muka mayat. Dengan hati berdebar dia menggerakkan tangannya, menyentuh dahi yang pucat itu. Masih hangat! Lalu dengan jari-jari tangan gemetar dia meraba dada. Masih ada ketukan jantungnya. Masih hidup! Hatinya lega. Pemuda ini belum mati.

Syanti Dewi pernah merawat Gak Bun Beng ketika pendekar itu menderita sakit, maka sedikit banyak dia telah mempunyai pengalaman. Sekarang menghadapi pemuda yang tubuhnya penuh dengan luka, mandi darah dan pingsan itu, dia cepat memberanikan diri berlari ke arah kereta. Dia tahu bahwa Pangeran Liong Khi Ong juga membawa perbekalan-perbekalan dan dia membutuhkan arak untuk menolong Tek Hoat.

Dalam ketegangannya hendak menolong Tek Hoat, dia lupa akan Pangeran Liong Khi Ong dan begitu saja dia menyingkap tirai kereta dan naik ke dalam kereta.

“Aiihhh...!” Syanti Dewi menjerit dan cepat meloncat turun lagi keluar kereta.

Dalam keadaan terkejut setengah mati itu, otomatis kepandaian silat yang pernah dipelajarinya keluar, bahkan kecepatan gerakannya bertambah! Siapa yang tidak kaget setengah mati? Ketika dia masuk kereta tadi, tanpa disengaja kakinya menyentuh kaki mayat Pangeran Liong Khi Ong yang mati sambil duduk di kereta dan ketika kakinya tersentuh, tubuhnya terguling sehingga bagi Syanti Dewi yang lupa akan pangeran ini, dia seperti melihat mayat itu hidup kembali dan menubruknya!

Dengan seluruh tubuh gemetar, Syanti Dewi memberanikan diri menyingkap tirai, memperingatkan diri sendiri bahwa Pangeran itu tadi telah mati! Ketika dia menyingkap tirai, dia melihat Pangeran itu menelungkup di lantai kereta, sama sekali tidak bergerak. Syanti Dewi bergidik, lalu dengan hati-hati dia naik ke dalam kereta, melangkahi mayat Pangeran itu dan cepat mulai mencari-cari di bagian belakang kereta itu. Di dalam kereta itu tidak begitu gelap seperti di luar karena lentera kereta masih menyala. Setelah dia menemukan guci arak, dia melompat turun dan cepat berlari menghampiri tubuh Tek Hoat yang kini sudah rebah terlentang akan tetapi agaknya masih belum siuman dari pingsannya.

Syanti Dewi menggunakan sapu tangannya yang dibasahi dengan arak untuk menekan-nekan luka-luka di tubuh Tek Hoat, selain membersihkan luka juga agar darah yang keluar dapat berhenti. Hatinya lega ketika melihat bahwa luka-luka itu tidak dalam, hanya kulit yang robek berikut sedikit daging di bawahnya. Akan tetapi luka di sekeliling leher itu amat mengerikan, seolah-olah leher itu dikerat pisau hendak disembelih. Luka ini terjadi ketika lehernya dijerat oleh cambuk besi tadi dan darah yang mengucur dari luka ini yang paling banyak sehingga sebentar saja sapu tangan Syanti Dewi menjadi merah oleh darah.

Setelah matahari mulai bersinar, Syanti Dewi bangkit berdiri, lalu pergi dari situ mencari-cari air. Untung tak jauh dari situ dia menemukan sebatang anak sungai kecil yang airnya jernih sekali. Cepat dia mengambil air, menggunakan guci arak yang sudah kosong dan kini dia dapat mencuci luka-luka di tubuh Tek Hoat dengan jelas. Setelah dia membalut leher yang terluka itu dengan sapu tangan, dia lalu menggunakan air untuk membasahi muka dan kepala pemuda yang masih juga belum siuman itu.

Tek Hoat mengeluh lirih, lalu gelagapan. “Hepp... haeppp... haeppp...!” Dia gelagapan seperti orang tenggelam di air!

“Ehhh, kenapa...? Kau kenapa...? Apanya yang sakit...?”

Syanti Dewi mengguncang pundak Tek Hoat ketika melihat pemuda itu gelagapan dengan mulut megap-megap. Tanpa disengaja, Syanti Dewi mengguncang pundak yang terluka berat karena tadi ditimpa tongkat Hek-wan Kui-bo. Tentu saja diguncang seperti itu menjadi nyeri bukan main, pemuda yang sudah siuman dan dapat merasakan itu berteriak mengaduh, kiut-miut rasa pundaknya.

“Add... duuuhh-duh duhhh... pundakku...!” Karena masih setengah pingsan, maka Tek Hoat berteriak-teriak dan bersambat. Kalau dia sudah sadar betul, tentu saja pemuda yang keras hati ini tidak akan sudi bersambat, apa lagi di depan gadis itu.

“Ohhh...!” Syanti Dewi cepat menarik kembali tangannya dan melihat pundak itu. Baju di pundak itu juga robek dan baru sekarang dia melihat betapa pundak itu kulitnya biru menghitam. “Maafkan aku...!”

“Maaf...? Sudah menghantam pundak masih minta maaf? Nenek keparat...!” Tek Hoat memaki dan membuka matanya.

“Ouhhhh...!” Syanti Dewi menutup mulutnya.

“Aahhhhh...!” Tek Hoat membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang berlutut di dekatnya.

Tek Hoat cepat teringat akan keadaannya. Segera dia bangkit duduk dan menggigit bibir karena begitu dia bangkit, dunia di sekelilingnya seperti berpusingan dan seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, berdenyut-denyut serta menusuk-nusuk. Akan tetapi dia mempertahankan rasa nyeri itu, memandang ke sekeliling dan baru lega hatinya ketika dia melihat mayat Hek-wan Kui-bo, Pak-thian Lo-mo dan Lam-thian Lo-mo berserakan tidak jauh dari situ. Barulah dia memperhatikan dirinya sendiri, meraba lehernya yang terasa panas dan mendapat kenyataan bahwa lehernya telah terbalut, mukanya basah kuyup dan air masih menetes-netes dari rambutnya ke atas muka.

Jantungnya berdebar penuh kebingungan dan hampir dia tidak percaya akan dugaannya sendiri. Dengan gagap dia bertanya, suaranya berbisik, “Kau... kau... yang merawatku...?”

Syanti Dewi yang masih memandang kepadanya dengan terbelalak, takut kalau-kalau pemuda ini sudah berubah ingatannya, juga takut kalau pemuda ini menjadi liar dan ganas seperti yang pernah disangkanya, bergerak mundur menjauhi, tangan kanannya meraba gagang pisau yang terselip di pinggangnya dan dia mengangguk, tangan kirinya masih memegang kain basah yang tadi dipergunakan untuk membasahi muka dan kepala pemuda itu. Dia hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepalanya.

Kenyataan ini merupakan pukulan hebat bagi Tek Hoat. Gadis itu, Puteri Bhutan itu, yang telah membuat dia tergila-gila, yang ingin dirampasnya dan dipaksanya menjadi isterinya, ketika dia pingsan dan tidak berdaya, ternyata tidak membunuhnya. Padahal, alangkah mudahnya bagi puteri itu untuk membunuhnya. Sekali tikam saja dengan pisau di pinggang itu, dia akan tewas dan karena semua pengawal pangeran sudah tewas, hal itu berarti kebebasan sepenuhnya bagi Syanti Dewi. Akan tetapi tidak! Puteri itu, wanita bangsawan tinggi itu, malah merawat luka-lukanya! Kenyataan ini membuat Tek Hoat tertawa sendiri, suara ketawa yang aneh.

Syanti Dewi memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Wajah itu, suara ketawa itu. Dia pernah rasanya mengenal pemuda ini! Bukan, bukan sejak menawannya dan membawanya kepada Pangeran Liong Khi Ong, akan tetapi jauh sebelum itu, dan dalam keadaan yang lebih baik. Akan tetapi dia lupa lagi kapan dan di mana.

Dipandang seperti itu, Tek Hoat menghentikan suara ketawanya yang tadi keluar di luar kehendaknya, dengan gugup dia berkata, “Aku... aku... bermimpi... tenggelam ke dalam sungai... kiranya engkau membasahi mukaku...”

“Aihhh...!” Syanti Dewi meloncat berdiri, ucapan itu mengingatkan dia. “Engkau adalah tukang perahu itu! Ya, engkaulah tukang perahu dahulu itu!” Dia mengingat-ingat, lalu berkata lagi. “Kini aku mengerti! Engkau dahulu menyamar sebagai tukang perahu, pantas ada yang menyebutmu Si Jari Maut!”

Tek Hoat berusaha untuk tersenyum, tetapi mana bisa dia tersenyum kalau seluruh tubuhnya terasa sakit, dan lebih lagi dari itu, kalau seluruh hati dan pikirannya terasa sakit? Dia begitu jahat, dan puteri itu begitu baik! Seperti si binatang liar dan si Dewi Kahyangan! Dia menghela napas dan memejamkan matanya. “Puteri Syanti Dewi, kau pergilah...! Pergilah sebelum terlambat...!”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya. “Akan tetapi engkau... engkau terluka parah...”

“Biarkan aku mampus, dunia takkan rugi karenanya!” Katanya dengan hati sebal dan dia melemparkan tubuh ke belakang.

“Dukkk!” Kepalanya menimpa akar pohon dan dia mengerang lirih, menjadi setengah pingsan lagi karena benturan kepalanya dengan akar yang dalam keadaan biasa tentu tidak akan terasa olehnya itu, kini terasa seolah-olah kepalanya dihantam palu godam sebesar kerbau!

“Aihhh, kasihan engkau... pemuda yang malang...!” Syanti Dewi sudah berlutut lagi di dekatnya, menggunakan kain basah itu untuk menghapus darah yang kembali mengalir di leher dan pipi, karena benturan tadi membuat kepala yang luka oleh lecutan cambuk berdarah lagi.

“Kasihan? Engkau... kasihan kepadaku?” Tek Hoat bangkit duduk, tidak peduli betapa pandang matanya sendiri berkunang dan kepalanya menjadi pening sekali. “Puteri Syanti Dewi kasihan kepadaku? Ha-ha-ha! Semestinya engkau kasihan kepada dirimu sendiri yang sudah begitu percaya kepada orang lain, kepada tukang perahu jahanam itu!”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya, memandang khawatir. Tidak salah lagi, pemuda ini menjadi miring otaknya karena pukulan-pukulan yang diterimanya ketika bertanding tadi!

“Mengapa? Tukang perahu itu telah menolong aku dan Adik Candra Dewi,” bantahnya.

“Ha-ha-ha! Betapa bodohnya! Tukang perahu itu adalah mata-mata Pangeran Liong yang sengaja diutus untuk menyelidik dan untuk menawan Puteri Syanti Dewi! Dan puteri itu malah percaya kepada seorang pembantu dan tangan kanan pemberontak Liong Khi Ong!”

“Akan tetapi, engkau tadi telah menyelamatkan aku dari mereka, engkau malah telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang kaki tangannya!”

Ang Tek Hoat memandang puteri itu dengan mata merah, tertawa dan menudingkan telunjuknya seperti orang gila. “Ha-ha-ha-ha, engkau puteri bodoh! Patut dikasihani! Engkau terlalu baik hati, engkau terlalu percaya orang. Aku membunuh mereka karena ingin memperebutkan engkau! Aku hanyalah orang jahat, dan engkau... engkau malah merawatku! Ha-ha-ha, belum pernah aku melihat yang segila ini. Pergilah kau... pergi...! Sebelum aku lupa diri...!”

Kembali Tek Hoat merebahkan dirinya dan memejamkan mata, menggunakan jari-jari tangannya menjambak rambutnya sendiri. “Aku keracunan... terluka parah, tentu akan segera mati... kau pergilah, kau menjauhlah, jangan dekat-dekat... aku kotor sekali, aku perampok, pembunuh, tukang perkosa... aku tidak berharga... ahhh, Ibu...!” Ucapan Tek Hoat sudah kacau tidak karuan.

Memang pemuda ini selain menderita luka-luka, juga telah terkena racun yang hebat, racun yang berada di cambuk Siang Lo-mo. Seperti telah diketahui, sejak Siang Lo-mo merampas kitab cacatan tentang racun dari Ban-tok Mo-li, mereka telah menggunakan ilmu tentang racun itu untuk membuat cambuk mereka menjadi senjata yang mengandung racun amat berbahaya. Dan kini, terluka berkali-kali oleh cambuk-cambuk beracun itu, tentu saja Tek Hoat terpengaruh dan luka-luka itu mulai membengkak dan membiru, bahkan lehernya telah menjadi matang biru dan mengerikan sekali.

“Ah, kasihan engkau, orang muda yang malang...!” Syanti Dewi adalah seorang wanita yang berwatak lembut. Melihat kesengsaraan dan penderitaan pemuda ini, hatinya menjadi tidak tega, penuh dengan perasaan iba, maka dia tidak mempedulikan sikap pemuda itu, bahkan tanpa takut-takut lagi dia lari mendekat, berlutut dan membasahi dahi pemuda itu dengan air karena dahi itu amat panas sampai mengepulkan uap!

Tek Hoat merintih-rintih dan mengeluh, menyebut-nyebut ibunya karena dia seolah-olah melihat ibunya yang marah-marah dan memaki-makinya, kemudian melihat wajah Kam Siok, pemilik restoran di Shen-yang yang dibunuhnya, wajah Kam Siu Li, puteri Kam Siok yang telah dikawinkan kepadanya kemudian dibunuhnya pula, wajah Liok Si, janda Kam Siok yang genit itu, dan wajah orang-orang yang pernah dibunuhnya, semuanya datang mengejar-ngejarnya hendak membalas dendam! Dia lari ketakutan, kemudian melihat Syanti Dewi yang melayang turun dari angkasa seperti Dewi Kwan Im Pouwsat, cantik jelita dan agung, lemah-lembut dan ramah, mengulurkan tangan kepadanya.

“Lindungi aku... ohhh, lindungi aku...”

“Tenanglah, Tek Hoat, tenanglah...” Dewi itu berkata halus dan menaruh tangannya ke atas dahinya. Tangan yang lembut dan halus, sejuk dan mengusir nyeri.

“Ampunkan aku yang penuh dosa...” Dia berbisik, meraba dan menangkap tangan halus lembut itu dan mencium tangan itu.

Syanti Dewi menarik tangannya dengan halus. Hatinya terharu. Boleh jadi orang ini telah melakukan penyelewengan-penyelewengan hebat, pikirnya, dan penyesalan telah menggerogoti perasaannya sendiri. Penyesalan akan perbuatan yang berdosa pastilah merupakan hukuman yang amat berat bagi orang itu.

“Ang Tek Hoat, engkau tadi begitu gagah, mengapa sekarang menjadi begini lemah?” Suara Syanti Dewi ini merupakan air dingin yang mengguyur kepala Tek Hoat. Seketika dia berhenti mengeluh, membuka mata dan pandang matanya kembali menjadi dingin, biar pun mukanya kini merah sekali seperti dibakar.

Tek Hoat bangkit duduk, menggoyang-goyang kepala sebentar seperti hendak mengusir kepeningannya, lalu dia berkata, “Puteri Syanti Dewi, terima kasih atas kebaikanmu. Engkau mulia seperti dewi, dan aku jahat seperti iblis. Engkau pergilah dari sini, kau cari Jenderal Kao. Dia seorang gagah yang akan menolongmu...” Tiba-tiba mata pemuda itu kelihatan beringas memandang ke kanan. Syanti Dewi bangkit berdiri, juga menoleh dengan ketakutan, mengira bahwa ada musuh-musuh baru yang datang.

Tampak beberapa orang berlarian mendatangi. Cepat sekali gerakan mereka, seperti sekumpulan binatang rusa yang lari sambil berlompatan menuju ke tempat itu. Sukar bagi Syanti Dewi untuk mengenal bayangan orang-orang yang berlari secepat itu dan kini mereka yang terdiri dari tiga orang itu telah berdiri di situ, memandangi kereta dan mayat-mayat yang berserakan, kemudian memandang kepada Tek Hoat dan Syanti Dewi.

“Bu-koko...!” Syanti Dewi berseru dengan lega dan girang ketika melihat mereka dan di antara mereka itu terdapat Jenderal Kao Liang dan Suma Kian Bu! Terutama sekali melihat Kian Bu hatinya begitu lega sehingga tak terasa lagi dia berlari ke arah pemuda ini yang juga berlari menghampirinya.

“Adik Syanti Dewi...!”

Tanpa dapat dicegah lagi, lupa akan keadaan saking lega dan girangnya hati, Syanti Dewi membiarkan dirinya dipeluk oleh Suma Kian Bu! Dia menangis dengan penuh keharuan dan kelegaan hati.

Ternyata yang datang adalah Jenderal Kao Liang, Kian Bu, dan Puteri Milana. Malam tadi menjelang pagi, ketika barisan yang dipimpin Puteri Milana tiba di depan Teng-bun untuk membantu Jenderal Kao, jenderal ini segera mengerahkan seluruh barisan untuk menyerbu Teng-bun dengan kekuatan yang jauh lebih besar setelah ada bantuan itu. Perang hebat terjadi, akan tetapi sekali ini Kim Bouw Sin tidak lagi dapat bertahan.

Apa lagi karena dia sudah kehilangan para pembantunya yang lihai. Tek Hoat tidak kelihatan mata hidungnya, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah pergi mengawal Pangeran Liong Khi Ong, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li juga tidak kelihatan lagi. Maka setelah matahari terbit, pasukan-pasukan pemerintah berhasil membobolkan pintu-pintu gerbang dan menyerbu masuk seperti banjir. Teng-bun tak dapat dipertahankan lagi dan Kim Bouw Sin sendiri tewas dalam perang itu.

Tentu saja Jenderal Kao dan Milana, juga diikuti oleh Kian Bu, pertama-tama menyerbu gedung yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong untuk menangkap pangeran pemberontak itu. Akan tetapi ternyata Pangeran itu telah melarikan diri semalam. Ketika mendengar dari para pelayan bahwa Pangeran itu sudah pergi membawa Puteri Bhutan, Kian Bu dan Jenderal Kao terkejut sekali. Bersama Puteri Milana, mereka lalu secepatnya melakukan pengejaran melalui pintu rahasia yang tentu saja dikenal oleh Jenderal Kao dan mereka terus mengejar ke dalam hutan.

Tek Hoat membuka mata dan mengejap-ngejapkan matanya, sejenak memandang ke arah Syanti Dewi yang menangis dalam dekapan seorang pemuda tampan yang dia kenal sebagai salah seorang di antara dua orang pemuda kakak beradik yang pernah berlawan dengannya.

Dia melihat pula Jenderal Kao dan seorang wanita cantik sekali yang amat gagah perkasa. Dia pernah melihat wanita ini dan samar-samar teringatlah dia kepada wanita yang dulu dijumpainya di dalam hutan ketika wanita yang amat lihai ini membunuh seekor harimau besar. Akan tetapi dia tidak mempedulikan itu semua, matanya kini menatap Syanti Dewi, yang dipeluk oleh pemuda itu. Hatinya menjadi panas sekali dan tanpa mempedulikan apa-apa lagi Tek Hoat melompat dan menerjang ke arah Suma Kian Bu!

“Plakkk!”

Tek Hoat terpelanting saat dari samping ada lengan halus yang mendorongnya dengan kekuatan yang amat dahsyat. Kiranya wanita itu dengan sikap gagah dan pandang mata tajam menusuk menegurnya, “Engkau mau apa?”

Tek Hoat menjadi marah sekali. Dia tidak peduli siapa adanya wanita gagah itu, akan tetapi yang ada di dalam hatinya hanyalah kemarahan yang amat hebat. Kemarahan yang timbul seketika pada saat dia melihat Syanti Dewi dalam pelukan pemuda tampan itu.

“Aku mau membunuh!” bentaknya.

Kemarahannya membuat dia lupa akan segala kenyerian yang menusuk-nusuk seluruh tubuh dari kepala sampai kaki, dan dengan ganas dia sudah menerjang lagi, otomatis dia menggunakan jurus Pat-mo Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Iblis) yang menjadi ilmu silat tinggi pertama kali yang dilatihnya. Gerakan ilmu silat ini memang hebat dan ganas sekali, dan sinkang yang mendorong gerakan ilmu ini adalah sinkang yang mengeluarkan hawa panas.

“Aihhh...!”

Puteri Milana terkejut dan terheran-heran bukan main. Cepat dia menggerakkan kaki tangannya dengan ilmu silat yang sama pula. Tentu saja dia merasa heran karena gerakan pemuda ini adalah gerakan ilmu silat rahasia dari perkumpulan Thian-liong-pang, yaitu perkumpulan yang dahulu diketuai oleh ibunya, Puteri Nirahai. Dan ilmu silat ini adalah ciptaan ibunya itu, yang mengambil gerakan-gerakan dari Ilmu Silat Pat-mo Kiam-sut digabung dengan Ilmu Silat Pat-sian Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Dewa) sehingga terciptalah Ilmu Silat Tangan Kosong Pat-mo Sin-kun itu. Akan tetapi ilmu itu hanya dikenal oleh ibunya, dia sendiri dan para bekas tokoh Thian-liong-pang saja. Bagaimana sekarang bisa dimainkan oleh pemuda ini secara demikian baiknya?

“Hai, dari mana engkau mempelajari Pat-mo Sin-kun?” Puteri Milana berseru makin heran karena mendapat kenyataan betapa pemuda ini memiliki tenaga yang amat kuat, sungguh pun jelas bahwa pemuda ini sudah menderita luka-luka parah dan keracunan.

Tek Hoat juga terkejut ketika melihat wanita menghadapinya dengan Pat-mo Sin-kun yang demikian baik gerakannya, jauh lebih baik dari pada gerakannya sendiri. Maka tanpa menjawab dia lalu mengerahkan tenaga Inti Bumi dan mendorong.

“Bresss... ihhhh...!” Milana terdorong dan terhuyung, bukan main kagetnya.

“Keparat, engkau pemberontak keji!” Kian Bu sudah melepaskan Syanti Dewi. Melihat kakaknya terdorong itu, dia lalu menerjang ke depan dan memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang.

Tek Hoat yang amat marah dan benci kepada pemuda yang memeluk Syanti Dewi ini, lalu membalikkan tubuh mengerahkan tenaga sinkang-nya dan menangkis. Keduanya mengeluarkan tenaga sekuatnya, akan tetapi Kian Bu sama sekali tidak tahu bahwa lawannya itu telah terluka parah.

“Desssss...!”

Tubuh Tek Hoat terlempar, membentur batang pohon dan roboh tergelimpang, tidak bergerak lagi! Ketika mengadu tenaga dengan Puteri Milana tadi, ternyata dia telah mengerahkan tenaga Inti Bumi dan hal ini membuat luka-lukanya di sebelah dalam tubuhnya menjadi lebih parah lagi. Maka begitu dia bertemu dengan Kian Bu yang memiliki sinkang murni dari Pulau Es, tentu saja dia tidak mampu menandinginya dan dia terbanting dengan keras sampai pingsan.

“Ahhh, Bu-ko, kau membunuhnya...?” Syanti Dewi berlari menghampiri tubuh Tek Hoat, berlutut dan memandang penuh kekhawatiran.

“Adik Syanti Dewi, dia kaki tangan pemberontak, dia jahat...!” Kian Bu berkata dengan heran dan penasaran melihat dara itu membela lawannya.

Puteri Milana memandang dengan heran dan diam-diam dia kagum akan kecantikan Puteri Bhutan ini. Pantas saja adik kandungnya tertarik kepada puteri ini dan sikap mereka ketika bertemu tadi menimbulkan dugaannya bahwa adiknya itu jatuh hati kepada Syanti Dewi. Maka kini sikap Syanti Dewi yang berlutut di dekat kaki tangan pemberontak itu mengherankan hatinya.

“Apa artinya ini?” Dia bertanya.

“Adik Syanti, pemberontak ini dibunuh pun sudah sepatutnya,” Kian Bu berkata lagi.

“Tidak... tidak...! Bu-koko, engkau tidak tahu. Dialah yang telah menolongku. Dia yang telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya. Lihat itu, mayat mereka masih berada di sana. Kalau tidak ada Tek Hoat ini, aku tentu telah menjadi mayat sekarang.” Syanti Dewi berkata sambil menunjuk ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan dan dia membayangkan betapa dia sekarang tentu telah membunuh dirinya karena hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong kalau saja tidak ditolong oleh Tek Hoat.

“Ehhh...?” Kian Bu tertegun heran.

“Dia adalah tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong yang terkenal sekali. Dialah yang berjuluk Si Jari Maut dan yang mempergunakan nama Gak Bun Beng Taihiap! Dia jahat dan keji, juga menjadi kaki tangan pemberontak. Syanti, minggirlah, orang ini harus ditangkap atau dibunuh.” Jenderal Kao Liang juga berkata sambil melangkah maju menghampiri Puteri Bhutan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.

“Gi-hu (Ayah Angkat)...!”

Syanti Dewi bangkit dan memegang lengan jenderal tinggi besar itu. “Harap jangan bunuh dia. Dia terluka dan menderita seperti itu karena menolong saya. Andai kata dia tidak menolong saya, tentu dia sudah dapat melarikan diri jauh dari sini dan kalian tidak dapat menangkapnya. Dia menolong saya dan karenanya dia terluka dan tidak dapat lari. Kalau kalian membunuhnya, sama artinya dengan saya yang membunuhnya. Gi-hu, apakah engkau ingin mempunyai seorang anak angkat yang berwatak palsu tidak mengenal budi orang?”

Puteri Milana sudah melangkah maju dan berkata kepada adiknya, “Bu-te (Adik Bu), dia betul. Kita harus merawatnya, dan aku melihat keanehan pada dirinya. Dia mengenal ilmu rahasia Thian-liong-pang! Mungkin pemuda ini menyimpan rahasia.”

Kian Bu masih ragu-ragu. “Tetapi, Enci, menurut Kao-goanswe dia telah menggunakan nama Gak-suheng dan merusak namanya!”

“Hal itu pun ada rahasianya. Kita rawat dan menahan dia sebagai seorang tawanan yang terawat baik. Betapa pun juga, dia telah berjasa dengan membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya yang lihai ini.”

Kian Bu tidak berani membantah lagi, dia lalu memanggul tubuh Tek Hoat yang lunglai dan pingsan. Mereka lalu kembali ke Teng-bun yang sudah diduduki oleh pasukan pemerintah. Pukulan hebat yang dilakukan oleh pasukan di bawah pimpinan Jenderal Kao Liang dan Puteri Milana itu sekaligus menghancurkan kekuatan pemberontak, apa lagi kematian Panglima Kim Bouw Sin dan kematian Pangeran Liong Khi Ong melemahkan semangat perlawanan para anak buah pasukan sehingga sebagian besar di antara mereka segera takluk dan menyerah dan hanya sedikit saja yang melarikan diri secara liar karena takut akan hukuman yang pasti dijatuhkan kepada mereka.

Seperti juga kota Teng-bun, kota pemberontak kedua, Koan-bun, dengan mudah terjatuh ke tangan pemerintah setelah terjadi perang yang amat hebat di dalam kota itu. Pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio dan dibantu oleh putera Jenderal Kao itu telah berhasil membasmi pemberontak yang telah kelelahan karena baru saja pasukan pemberontak bertanding mati-matian ketika mereka menghancurkan pasukan liar Tambolon. Apa lagi di kota ini terdapat Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee yang telah berhasil mengusir tokoh hitam lihai yang membantu pemberontak, yaitu ketua Pulau Neraka Hek-tiauw Lo-mo dan sumoi-nya, Mauw Siauw Mo-li.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng telah roboh pingsan karena luka-lukanya akibat pukulan-pukulan yang mengandung racun, terutama sekali pukulan yang diterimanya dari Hek-tiauw Lo-mo, karena tangan Ketua Pulau Neraka ini mengandung racun yang amat ampuh sehingga biar pun Ceng Ceng sendiri merupakan seorang ahli tentang racun, namun tetap saja dia menderita luka di sebelah dalam tubuhnya yang parah.

Dengan hati penuh kekhawatiran, Suma Kian Lee memondong tubuh dara yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali dia melihat dara ini di pasar kuda dahulu, mengikuti seorang perwira menuju ke sebuah gedung yang telah diduduki pasukan pemerintah. Setelah merebahkan tubuh yang mukanya sekarang pucat agak kehijauan itu di atas pembaringan, Kian Lee cepat duduk bersila di dekat gadis itu, meletakkan kedua tangannya di atas pundak Ceng Ceng dan mulailah dia mengerahkan tenaga sinkang yang amat kuat untuk membantu gadis itu mengusir hawa beracun yang mengeram di dalam tubuhnya.

Namun dengan amat terkejut dan heran Kian Lee merasakan betapa ada tenaga lain yang keluar melawan pengerahan tenaganya. Dia tidak tahu bahwa tubuh dara itu telah mengandung racun setelah dia menguasai ilmu tentang racun dari Ban-tok Mo-li dan melatih diri, tubuhnya menjadi beracun sehingga dara itu dapat mengerahkan hawa beracun yang amat hebat, bukan hanya di dalam pukulannya, bahkan di ludahnya sekali pun! Adalah hawa ini yang melawan ketika dia mengerahkan sinkang untuk mengusir hawa beracun yang disangkanya adalah akibat pukulan-pukulan Hek-tiauw Lo-mo.

Andai kata pukulan Hek-tiauw Lo-mo itu merupakan pukulan beracun biasa saja, agaknya tidak akan mampu membuat Ceng Ceng terluka sedemikian beratnya. Akan tetapi pukulan Hek-tiauw Lo-mo adalah pukulan beracun yang dilatihnya dari kitab yang dapat dicurinya dari Dewa Bongkok, dan pukulan beracun ini hebat sekali, melebihi kehebatan hawa beracun di tubuh Ceng Ceng! Itulah sebabnya maka pemuda yang memiliki sinkang murni dari Pulau Es ini akan tetapi bukan seorang ahli pengobatan, menjadi gagal dan bingung.

Akan tetapi dia tidak menghentikan usahanya untuk menolong Ceng Ceng dan masih terus saja dia mengerahkan sinkang-nya, tidak peduli bahkan ketika dia mulai merasa betapa ada perasaan gatal-gatal menjalar masuk melalui telapak tangannya. Dia tahu bahwa secara aneh sekali, ada hawa beracun yang menular kepadanya, akan tetapi dia tidak mempedulikan dirinya sendiri dalam keinginannya untuk menyembuhkan Ceng Ceng.

Setengah hari lebih Kian Lee berusaha mati-matian untuk menyembuhkan gadis itu dengan sia-sia. Lewat tengah hari, Ceng Ceng siuman dari pingsannya dan terkejutlah dia ketika melihat pemuda tampan yang menolongnya itu duduk bersila, menempelkan kedua telapak tangan di kedua pundaknya dan dari kedua telapak tangan pemuda itu keluar hawa yang hangat. Apa lagi ketika dia melihat betapa kedua tangan pemuda itu menjadi agak kehijauan, dia terkejut sekali, dan tahu apa yang telah terjadi dengan diri pemuda itu.

“Jangan...! Hentikan itu...!” katanya sambil bangkit duduk.

“Tenanglah, Nona. Aku sedang berusaha untuk mengusir hawa beracun dari dalam tubuhmu...”

“Jangan lakukan itu! Ah, engkau tidak tahu... engkau mencari celaka sendiri...!” Ceng Ceng menolak kedua tangan pemuda itu dan duduk di pinggir pembaringan, kepalanya terasa pening sekali dan di dada kanan dan punggung terasa nyeri. “Engkau malah meracuni dirimu sendiri...” katanya, suaranya agak terharu melihat tangan pemuda itu menjadi kehijauan.

“Nona Lu, engkau terkena pukulan-pukulan beracun, kalau tidak segera dilenyapkan hawa beracun itu, amat berbahaya. Biarlah aku mencobanya lagi...”

“Tidak! Engkau sendiri yang akan celaka... ah, kau tidak tahu. Racun di tubuhku telah menular kepadamu. Lihat kedua telapak tanganmu.”

Kian Lee memandang kedua telapak tangannya. “Tidak mengapa, yang penting engkau harus terhindar dari bahaya maut.”

Ceng Ceng memandang pemuda itu penuh perhatian, alisnya berkerut saat ia bertanya, “Engkau mengenalku?”

Kian Lee mengangguk. “Engkau adalah Nona Lu Ceng, saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan, engkau seorang dara perkasa yang berjiwa pahlawan, engkau hampir mengorbankan nyawa sendiri ketika menolong Jenderal Kao Liang, sekarang engkau pun terancam bahaya maut setelah engkau berhasil mengadu domba Tambolon dengan pemberontak. Engkau seorang dara yang hebat, Nona Lu.”

Jantung gadis ini berdebar tegang dan aneh. Pandang mata pemuda ini mengingatkan dia akan pandangan mata Pangeran Yung Hwa, sungguh pun sikapnya tidak seperti pangeran itu yang menyatakan cintanya terang-terangan! Pandang mata seorang pria yang mencintanya.


BERSAMBUNG KE JILID 19


Thanks for reading Kisah Sepasang Rajawali Jilid 18 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »