Kisah Sepasang Rajawali Jilid 16

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU
KISAH SEPASANG RAJAWALI BAGIAN 16
Tek Hoat yang tidak dapat menemukan musuh-musuhnya, dua orang pemuda lihai yang telah menghilang, apa lagi karena tidak dapat menemukan kembali Syanti Dewi, menjadi jengkel dan marah sekali. Dia menghubungi Panglima Kim Bouw Sin yang telah mengadakan perundingan dengan Raja Tambolon dan melaporkan bahwa di kota itu penuh dengan mata-mata musuh. Atas usulnya, pintu kota benteng itu ditutup dan pasukan-pasukan dikerahkan untuk mengadakan penggeledahan dan perondaan untuk menangkapi mata-mata musuh, terutama sekali tentu saja penggeledahan dari rumah ke rumah ini oleh Tek Hoat ditujukan untuk menemukan kembali Syanti Dewi!

Pasukan Tambolon mulai bergerak di bawah pimpinan Raja Tambolon itu sendiri, telah bersepakat dengan pihak pemberontak untuk membantu pemberontak, dan diberi ijin untuk menyerbu dusun Ang-kiok-teng di mana terdapat pasukan yang dipimpin oleh Thio-ciangkun, bahkan Kim Bouw Sin menyerahkan dusun itu untuk menjadi markas dari Raja Tambolon dan pasukannya. Tentu saja pasukan liar itu menjadi girang karena penyerbuan itu berarti perang, kemenangan, harta, makan minum berlimpah dan yang terutama sekali banyak perempuan tawanan!

Pangeran Tua Liong Khi Ong juga sudah meninggalkan kota itu untuk memasuki kota benteng Teng-bun bersama Panglima Kim Bouw Sin yang menyerahkan penjagaan dan pembersihan kota Koan-bun itu kepada seorang panglima yang mewakilinya setelah Koan-bun direbut. Juga Tek Hoat diharuskan mengawal Pangeran Liong ke depan benteng Teng-bun, pusat pemberontakan itu.

Biar pun hatinya menyesal sekali karena dia tidak berhasil menemukan Syanti Dewi, namun Tek Hoat tidak berani membantah, apa lagi saat itu memang merupakan saat yang penting di mana pihak pemberontak sudah siap mengerahkan kekuatan untuk sewaktu-waktu menyerbu ke selatan, yang diawali oleh penyerbuan pasukan liar Raja Tambolon ke dusun Ang-kiok-teng itu.

Para penduduk di kota Koan-bun kembali menjadi panik setelah pada hari-hari kemarin dibikin geger oleh berita munculnya pasukan liar dari Raja Tambolon. Kini mereka menjadi panik karena setiap rumah di dalam kota itu digeledah oleh prajurit-prajurit yang dipimpin oleh perwira-perwira yang kasar.

Perang memang merupakan puncak kekejaman dari manusia yang mengumbar hawa nafsunya yang tanpa batas itu. Setiap kesempatan di dalam keadaan kacau oleh perang selalu dipergunakan oleh manusia penguasa untuk memuaskan hawa nafsunya. Dalam penggeledahan dari rumah ke rumah ini pun, biar dalihnya adalah untuk pembersihan dan menangkapi mata-mata musuh, akan tetapi pelaksanaannya banyak diselewengkan oleh dorongan hawa nafsu sehingga terjadilah hal-hal yang amat aneh, kejam dan keji. Kesempatan ini dipergunakan oleh mereka yang berkuasa, dalam hal penggeledahan ini tentu saja para perwira yang memimpin pasukan penggeledahan bersama anak buahnya, untuk memeras dan menindas rakyat. Yang termasuk hartawan tentu tidak luput dari pemerasan uang.

Penyogokan atau sumbangan paksaan setengah merampok, mengambil benda-benda berharga yang kecil-kecil secara begitu saja. Yang tidak mampu menyogok, ada yang dipaksa menyogok dengan menyerahkan anak gadisnya untuk sekedar ‘menghibur’ Sang Perwira di dalam kamar selagi anak buahnya menggeledah ke seluruh rumah, dan tidak jarang peristiwa menyedihkan yang hanya berlangsung beberapa lama di dalam kamar itu disusul oleh peristiwa bunuh diri oleh Si Gadis yang dipaksa melayani Sang Perwira atau beberapa orang anggota tentara. Banyak pula orang yang ditangkap dengan tuduhan mata-mata dengan fitnah bermacam-macam hanya untuk pelampiasan kemarahan dan dendam pribadi!

Para pembantu, penyelidik dan mata-mata yang disebar oleh Jenderal Kao dan Puteri Milana, juga anggota Tiat-ciang-pang yang menganggap diri sendiri sebagai pejuang-pejuang, menjadi repot juga ketika melihat betapa banyak teman mereka telah tertawan dan pembersihan masih terus dilakukan. Setelah main kucing-kucingan di dalam kota, menghindarkan diri dari pengejaran para pasukan pemberontak sampai senja, akhirnya Si Gendut anak buah Tiat-ciang-pang bersama belasan orang temannya tiba di dekat dinding benteng yang amat tinggi, bingung karena mereka tidak memperoleh jalan keluar setelah benteng ditutup dan dijaga dengan ketat oleh pasukan pemberontak.



Cuaca senja remang-remang dan mereka berkelompok di dekat dinding yang sunyi itu, mencari akal bagaimana mereka akan dapat keluar dari tempat itu.

“Kita bongkar tembok saja.”

“Ah, akan makan waktu terlalu lama.”

“Selain itu juga berisik dan tentu ketahuan penjaga.”

“Temboknya tebal sekali, tidak mudah membongkarnya tanpa alat lengkap.”

Selagi mereka bercakap-cakap mencari akal, karena untuk meloncat ke atas tembok yang tinggi sekali itu adalah hal yang tidak mungkin, tiba-tiba seorang di antara mereka memberi isyarat, “Sssttt... ada orang...!”

Bagaikan segerombolan tikus melihat ada kucing datang, belasan orang ini menyelinap ke sana-sini dan sebentar saja mereka sudah lenyap bersembunyi! Si Gendut yang memimpin rombongan itu bersembunyi bersama seorang temannya yang masih muda dan tampan bernama A Ciang. Sambil bersembunyi mereka mengintai dan legalah hati Si Gendut ketika melihat bahwa yang datang dari jauh itu bukanlah seorang penjaga, bahkan bukan pula seorang pria, melainkan seorang wanita yang dari jauh kelihatan betapa pinggangnya ramping dan lengannya lemah gemulai menggairahkan.

“Ssst, A Ciang, dia itu wanita, tentu akan tertarik dan suka menolongmu. Kau mintalah tolong kepadanya agar dia suka mencarikan sehelai tali yang kuat untuk kita pakai melarikan diri. Kalau kita memasang kaitan dan melontarkan tali yang panjang ke atas dinding, kita tentu dapat memanjat naik dan keluar dari sini,” berkata Si Gendut kepada temannya.

A Ciang mengangguk dan dia membereskan pakaiannya, kemudian keluar dari tempat persembunyiannya menanti datangnya wanita dari depan itu. Setelah wanita itu datang mendekat, A Ciang hanya melongo dan tidak bisa bicara! Dia terpesona menyaksikan wanita itu karena setelah dekat tampaklah seorang wanita yang sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi kelihatan masih muda sekali, cantik jelita luar biasa, dengan wajah manis yang mengandung tantangan pada sinar mata dan senyumnya. Tubuhnya padat dan ramping penuh gerak hidup, lemas dan bajunya pada bagian dada demikian ketat menempel dadanya sehingga membayanglah sepasang buah dadanya yang menonjol. Pendeknya, selama hidupnya belum pernah A Ciang melihat seorang wanita secantik ini!

Ketika wanita itu melihat ada seorang laki-laki menghadangnya, dia memandang tajam dengan sepasang matanya yang indah, kemudian tersenyum mengejek, akan tetapi pandang matanya penuh selidik menatap wajah yang cukup bersih dan tampan dari A Ciang yang usianya baru dua puluh lima tahun itu.

“Engkau mau apa menghadang perjalananku?” Suara ini halus dan agak serak, seperti bisikan merayu, mulut dan bibir merah itu bergerak genit ketika bicara.

A Ciang menelan ludahnya sebelum menjawab. “Maaf... Nona, saya... saya, ehhh, ingin minta tolong kepada Nona...”

“Minta tolong apa? Dan mengapa banyak teman-temanmu bersembunyi dan mengintai? Apakah kalian perampok?”

Mendengar ini, A Ciang terkejut bukan main. Wanita ini tahu bahwa banyak temannya bersembunyi di sekitar tempat itu! Juga Si Gendut mendengar kata-kata ini maka dia lalu keluar, tubuhnya gendut seperti seekor katak besar keluar dari sarangnya, lalu dia memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk keluar karena percuma bersembunyi setelah wanita itu mengetahui akan keadaan mereka. Pula, seorang wanita tentu saja tidak akan membahayakan keadaan mereka.

“Mereka adalah kawan-kawanku...,” A Ciang berkata.

Akan tetapi Si Gendut sudah maju dan menjura kepada wanita itu. “Kouw-nio (Nona), harap suka menolong kami. Kami harus dapat keluar dari dinding ini, kalau tidak kami akan dibunuh oleh serigala-serigala itu. Tolonglah kami, Kouw-nio, dengan mencarikan sehelai tali yang panjang dan kuat. Percayalah bahwa kami bukanlah orang-orang jahat, melainkan pejuang-pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa dan badan demi negara dan rakyat...”

Wanita itu menggerakkan kedua alisnya. Manis sekali gerakan ini, apa lagi karena dia memang memiliki sepasang mata yang amat bagus. “Jadi kalian ini adalah mata-mata kerajaan?”

“Bukan, kami adalah orang-orang kang-ouw yang membantu pemerintah menghadapi pemberontak hina. Harap Nona suka membantu kami.”

“Keluar dari tempat ini apa sih sukarnya? Mengapa harus menggunakan tali?”

“Ahhh, Kouw-nio, kalau tidak menggunakan tali lalu bagaimana? Apakah Kouw-nio juga mengetahui jalan keluar secara lain yang lebih aman?” Si Gendut bertanya.

Wanita itu menggelengkan kepala. “Aku tadi masuk ke sini juga melalui dinding ini, tapi tanpa tali.”

Semua orang yang mendengar ini terkejut sekali dan memandang dengan terbelalak. “Tanpa tali...?” Si Gendut bertanya.

“Nona yang baik, harap Nona suka mengajari saya agar kami dapat keluar dari sini sebaiknya,” kata A Ciang.

Wanita itu memandang kepada A Ciang, wajahnya berseri dan sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh, kemudian dia tersenyum. “Kalau kalian membutuhkan tali, tunggulah sebentar, aku akan mengambilkan untuk kalian.” Setelah berkata demikian, wanita itu berjalan pergi dengan lenggang yang mempesonakan semua orang, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan khawatir hati mereka ketika melihat wanita itu berjalan menuju ke pos penjagaan yang kelihatan agak jauh dari tempat itu.

“Mampus! Dia melapor kepada penjaga!”

“Wah, dia siluman, kita akan celaka!”

“Hushhh, harap tenang dulu, kawan-kawan. Aku tidak percaya orang seperti dia akan mengkhianati kita, lihat dia sudah kembali!” kata A Ciang kepada teman-temannya dan benar saja, tampak wanita itu datang dan membawa segulung tali!

“Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku,” kata wanita itu kepada A Ciang sambil terus melempar kerling dan senyum manis, membuat jantung pemuda itu seperti hampir copot rasanya. “Nah, ini tambangnya, bagaimana kalian akan naik?” tanya wanita itu sambil tersenyum mengejek, agaknya merasa geli menyaksikan tingkah delapan orang ini.

Si Gendut yang paling lihai di antara mereka, mengikatkan sepotong batu di ujung tali, kemudian dia melemparkan tali yang mengikat batu itu sambil memegangi ujung yang lain lagi. Batu itu meluncur tinggi dan melewati tembok sehingga tali itu tertarik dan menegang. Akan tetapi jangankan dipanjati orang, baru ditarik saja, batu itu sudah jatuh lagi melewati tembok yang tinggi sehingga terpaksa mereka menyingkir agar kepala mereka tidak kejatuhan batu. Berkali-kali Si Gendut mencoba namun selalu batu itu tidak dapat menyangkut sesuatu sehingga setiap kali ditarik tentu akan jatuh kembali.

“Sayang tidak ada besi pengait...,” Si Gendut akhirnya berkata jengkel.

“Berikan padaku tali itu, biar aku yang membawanya ke atas,” tiba-tiba wanita itu berkata.

Si Gendut meragu, akan tetapi A Ciang mengambil tali itu dari tangan Si Gendut dan menyerahkannya kepada wanita cantik itu. Tanpa diketahui orang lain, ketika A Ciang menyerahkan tali, jari mereka bersentuhan dan A Ciang hampir berseru kaget karena tangannya terasa tergetar dan ada hawa hangat sekali memasuki tubuhnya melalui jari tangan yang bersentuhan. Mukanya menjadi merah dan dia memandang kepada wanita aneh itu yang sudah melangkah dengan lenggang yang membuat buah pinggulnya seperti menari-nari, menghampiri tembok benteng, kemudian mengalungkan tali di pinggangnya, menekankan telapak kedua tangannya pada tembok itu, lalu menoleh, tersenyum manis kepada mereka semua lalu... mulailah dia mendaki tembok itu dengan enak, mudah dan cepat seperti gerakan seekor cecak merayap tembok! Oleh karena merayap naik itu, pinggangnya bergerak-gerak, membuat kedua buah pinggulnya dari bawah tampak melenggang-lenggok.

“Aihhh... dia lihai sekali...!”

“Dan cantik bukan main...”

“Seperti bukan manusia...!”

“Dia seperti Kwan Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) saja...!”

“Wanita hebat!”

“Betapa bahagianya pria yang memiliki dia!”

Demikian seruan-seruan belasan orang yang semua berdongak ke atas memandang setiap gerakan wanita itu tanpa berkedip. Dengan amat cepatnya, tahu-tahu wanita itu telah berada di atas tembok, berdiri sambil bertolak pinggang. Mantelnya yang berwarna merah tertiup angin berkibar seperti bendera dan kalau saja tidak ingat bahwa mereka adalah pelarian-pelarian yang dikejar-kejar, tentu mereka telah bertepuk tangan dan memuji.

Wanita itu lalu melepas gulungan tali dan memegang ujungnya dengan tangan kiri. “Panjatlah!” perintahnya.

Tentu saja semua orang merasa ragu-ragu. Gila, pikir mereka. Masa disuruh memanjat tali yang hanya dipegang oleh tangan wanita itu? Mana kuat?

“Talikan ujungnya...!” kata Si Gendut dengan bisikan dari bawah. Tentu saja wanita itu tidak dapat mendengarnya, demikian pikir teman-teman yang lain.

“Biar aku yang memanjat lebih dulu. Dia lihai sekali, tentu dia kuat menahan dengan tangannya,” kata A Ciang dan dia segera memegang ujung tali dan mulai merayap naik menggunakan kedua tangan dan kakinya.

Benar saja. Tali itu tetap saja menegang, sedikit pun tidak tampak wanita itu mendapat kesulitan mempertahankan tali yang diganduli tubuh A Ciang! Melihat ini bergegas mereka mulai memanjat naik, dan biar pun pada tali itu kini bergantungan belasan orang, tetap saja wanita itu hanya menggunakan sebuah tangan untuk menahan sampai semua orang berada di atas tembok!

Setelah belasan orang itu berada di atas tembok, wanita cantik itu mengikatkan ujung tali di atas tembok dan melempar tali ke luar sehingga tergantung di luar tembok. “Nah, turunlah!” katanya halus sedangkan dia sendiri lalu meloncat ke bawah!

“Bukan main...!”

“Hebat sekali dia...!”

Semua orang memandang terbelalak melihat betapa wanita cantik itu terjun ke bawah dari tempat yang demikian tingginya, melayang seperti seekor burung saja karena dia mengembangkan kedua lengannya dan karena sebelumnya dia menalikan kedua ujung mantelnya pada pergelangan tangan, maka kini mantel merah itu berkembang dan melembung seperti sayap yang menahan tenaga luncuran tubuhnya! Dengan ringan sekali wanita itu hinggap di atas tanah, berjungkir balik tiga kali untuk mematahkan tenaga luncuran tubuhnya yang melayang tadi.

Sejenak semua orang memandang bengong, kemudian Si Gendut mendahului teman-temannya memegang tali dan merosot turun melalui tali itu, diikuti teman-temannya yang kini tergesa-gesa karena khawatir ketahuan oleh para penjaga. Setelah semua orang turun, wanita itu sekali tarik saja berhasil membikin putus ujung tali di atas tembok dan melemparkan tali itu ke atas tanah.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan dan terdengar derap kaki para penjaga yang melihat bayangan belasan orang yang sedang melarikan diri ini.

“Lari...! Kita berpencar...!” Si Gendut memberi komando dan mereka lari berserabutan ke pelbagai jurusan.

“Kau lari bersamaku, A Ciang!” tiba-tiba wanita itu berkata dan memegang tangan A Ciang. Dia mengenal nama pemuda tampan itu ketika mendengar seorang di antara mereka tadi menyebut namanya ketika mereka berbisik-bisik ketika merosot turun melalui tali

A Ciang tidak menjawab, bahkan tidak mungkin bisa membantah lagi karena tiba-tiba dia merasa tubuhnya ‘diterbangkan’ oleh wanita itu. Teman-temannya juga tidak ada yang memperhatikan karena mereka sedang sibuk mencari keselamatan masing-masing.

Mereka bukanlah orang-orang penakut yang melihat pasukan lalu lari, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang cerdik, maklum bahwa kalau menghadapi pasukan di dekat tembok benteng itu, tentu akan memancing datangnya semua pasukan dan belasan orang seperti mereka itu mana mampu menghadapi pasukan besar? Si Gendut memerintahkan agar mereka berpencar sehingga andai kata ada yang tertangkap atau terbunuh, tidak semua anggota rombongan itu menjadi korban seperti kalau nekat melawan di tempat berbahaya itu.

Komandan pasukan menjadi marah melihat bahwa belasan orang itu melarikan diri. Tahulah dia bahwa tentu mereka itu adalah mata-mata musuh yang banyak terdapat di dalam benteng dan baru saja melarikan diri. Dia lalu mendatangkan bala bantuan dan dengan lima puluh orang prajurit dia melakukan pengejaran. Komandan pasukan itu adalah seorang perwira muda yang tinggi besar dan gagah, memegang pedang dan menunggang seekor kuda putih.

Para anggota Tiat-ciang-pang makin panik melihat bahwa mereka dikejar pasukan dan cepat mereka melarikan diri di sebuah ladang yang penuh alang-alang liar. Juga wanita itu tadi bahkan telah mendahului mereka, telah membawa A Ciang menyusup ke dalam alang-alang yang tingginya sama dengan manusia.

Dia menggandeng tangan A Ciang dan terus menyusup sampai ke tengah-tengah ladang itu dan mereka seolah-olah tenggelam di dunia tersendiri yang sunyi dan yang terdengar hanya berkelisiknya alang-alang tertiup angin sehingga permukaannya berombak seperti air laut. Tidak tampak dari luar mereka itu, dan hanya kalau ada yang dekat dengan tempat itu saja mungkin dapat mendengarkan percakapan mereka yang aneh.

“Ahhh, Kouw-nio...!” Terdengar suara A Ciang gagap.

“Hemmm, kenapa? Apakah kau tidak suka padaku? Lihatlah aku ini... tidak sukakah engkau... hem...?” Suara bisik-bisik serak ini diakhiri dengan suara aneh seperti seekor kucing.

“...Koauw-nio... kau cantik sekali...”

“Kau suka? Aku suka kepadamu, A Ciang, dan kalau kau pun suka... hemm...”

“Kouw-nio... hemmm...!”

Tak terdengar lagi mereka bercakap-cakap, yang terdengar hanya berkereseknya daun alang-alang kering yang tertindas tubuh mereka, dan tak lama kemudian terdengarlah suara aneh, suara rintihan seperti seekor kucing, berngeong-ngeong tinggi rendah, kadang-kadang suara itu terdengar ganas seperti marah, kadang-kadang halus lembut seperti mengerang dan merintih. Suara ini terdengar terus-menerus sampai lama di tengah ladang ilalang itu sehingga kalau ada orang mendengarnya, tentu mereka akan menjadi serem.

Dan memang ada yang mendengar suara kucing mengeong dan merintih ini, yaitu Si Gendut dan kawan-kawannya yang hampir semua menyusup ke dalam ilalang akan tetapi berpencar. Mereka mendengar suara kucing ini. Bahkan seorang di antara mereka berbisik kepada teman yang kebetulan bersembunyi di dekatnya, “Keparat, di tempat begini ada kucing kawin!”

“Ihh, bagaimana kau tahu suara itu suara kucing kawin?”

“Coba dengarkan baik-baik dan ingat kalau malam-malam di atas genteng ada suara kucing indehoi, bukankah sama benar suaranya?”

Mereka berdua kini diam, mendengarkan dan bergidik. Memang tidak salah lagi, itulah suara kucing, suara kucing betina yang kadang-kadang bersuara ganas seperti sedang marah, kadang-kadang juga halus manja seperti merengek, kadang-kadang merintih. Menyeramkan!

Sementara itu, pasukan yang dipimpin perwira berpedang itu telah tiba di tepi ladang ilalang yang luas itu. Kuda yang mereka tunggangi meringkik-ringkik, dan perwira itu memandang dengan penasaran. “Serbu ke dalam ladang!” perintahnya kepada pasukan yang tidak berkuda. Belasan golok prajurit yang memegang perisai dan golok menyerbu ke dalam ladang itu.

Yang tampak hanya ujung topi besi mereka, ujung golok mereka bergerak-gerak maju ke tengah. Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan berturut-turut robohlah enam orang prajurit, yang lain segera mundur kembali. Mereka diserang dari bawah oleh para pelarian yang mendekam di bawah ilalang, dan tentu saja sukar bagi mereka untuk mempertahankan diri. Para pelarian itu mendekam dan tidak bergerak, sukar diketahui di mana tempatnya, sedangkan para prajurit pemberontak yang mencari itu berjalan dan bergerak, tentu saja mudah sekali diserang secara tiba-tiba.

Perwira itu agaknya mengerti akan hal ini, maka dia pun memberi aba-aba agar sisa anak buahnya mundur dan keluar dari ilalang itu. Sejenak dia berpikir, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan aba-aba, “Bakar...!”

Ladang ilalang itu pun dibakarlah! Sebentar saja api melahap ilalang kering dan makin lama makin menjalar ke tengah. Si Gendut dan teman-temannya tentu saja terkejut sekali dan cepat mereka melarikan diri, menyusup-nyusup ilalang menjauhi api yang mengancam mereka.

Sementara itu, suara kucing tadi masih terus terdengar seolah-olah tidak peduli akan ancaman api yang makin ke tengah. Tiba-tiba terdengar lengking tinggi mengerikan dan tampaklah tubuh wanita cantik tadi meloncat ke atas dalam keadaan hampir tidak berpakaian. Dia kini sibuk membereskan pakaiannya dan berloncatan, tidak menjauhi pasukan yang mengejar para pelarian yang lain, melainkan mendekati dengan jalan memutari api. Kemudian kedua tangannya bergerak bergantian dan terdengar ledakan-ledakan dahsyat. Tanah dan batu muncrat tinggi dan disusul asap hitam mengepul. Beberapa orang terlempar ke kanan kiri dan tidak dapat bangkit kembali, luka-luka parah oleh pecahan ledakan dahsyat tadi. Wanita itu dengan marahnya masih terus melempar benda bulat dan ledakan-ledakan terus terdengar susul-menyusul.

Perwira muda itu terkejut bukan main, maklum bahwa wanita itu menggunakan senjata peledak yang berbahaya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia memerintahkan pasukannya untuk mundur dan berlindung. Pasukan itu mundur dan meninggalkan dua puluh lebih prajurit yang tewas menjadi korban senjata-senjata peledak.

Si Gendut dan teman-temannya cepat berlari ke luar ladang ilalang, akan tetapi ketika dia berlari sampai di tengah ladang, hampir saja dia menginjak tubuh seorang laki-laki yang roboh telentang dalam keadaan telanjang bulat dan sudah mati. Ketika dia dan beberapa orang teman memeriksanya, kiranya itu adalah A Ciang yang sudah menjadi mayat. Anehnya, pemuda itu tewas dalam keadaan seperti orang tidur yang sedang mimpi indah saja, karena wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum!

Beramai-ramai mereka menggotong mayat ini setelah tergesa-gesa mengenakan kembali pakaian A Ciang yang berada di dekat pintu, membawanya pergi melarikan diri dari ladang ilalang, kemudian memasuki daerah pegunungan yang penuh dengan batu-batu gunung kapur yang bentuknya aneh-aneh tanpa ada sebatang pohon pun yang dapat tumbuh di situ. Tempat ini merupakan tempat persembunyian yang amat baik.

Dengan sedih juga terheran-heran akan kematian A Ciang, Si Gendut dan kawan-kawannya lalu mengubur mayat itu dengan menggali pasir gunung dan mereka pun tidak melihat lagi wanita cantik yang tadi telah menyelamatkan mereka dengan menyerang pasukan secara hebat menggunakan senjata-senjata mukjijat yang dapat meledak.

“Mengapa A Ciang mati?” Pertanyaan ini berkali-kali terdengar dan masih menggema di hati semua orang.

Mereka menduga-duga dan merasa heran sekali. Juga mereka makin kagum kepada wanita cantik itu yang ternyata amat lihai, juga berterima kasih karena tanpa wanita itu, tentu mereka tidak dapat keluar dari benteng dan tadi pun tanpa bantuannya, mereka tentu akan tertumpas di ladang ilalang! Akan tetapi kini wanita cantik itu tidak kelihatan lagi.

Siapakah sesungguhnya wanita yang penuh rahasia itu? Tentu pembaca sudah dapat menduganya kalau mengingat cerita Kim Hwee Li kepada Kian Lee. Wanita cantik ini adalah sukouw-nya yang kedua, sumoi dari ayahnya yang berjuluk Mauw Siauw Mo-li Si Kucing Liar atau Siluman Kucing!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw Lo-mo Si Raksasa Bertaring yang merampas kedudukan menjadi Ketua Pulau Neraka adalah seorang pelarian dari Korea. Sebelum menjadi ketua Pulau Neraka, dia telah memiliki kepandaian tinggi sekali dan kelihatannya bertambah ketika dia berhasil mencuri setengah dari kitab tentang racun dari Istana Padang Pasir milik Si Dewa Bongkok bersama-sama dengan Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek, bekas pelayan Si Dewa Bongkok yang kini menjadi Ketua Lembah Hitam.

Hek-tiauw Lo-mo ini mempunyai dua orang sumoi. Yang pertama adalah Hek-wan Kui-bo (Nenek Iblis Lutung Hitam) yang telah muncul membantu pemberontak dan melukai Kian Lee dengan senjata peledaknya, seorang nenek yang amat lihai. Ada pun yang kedua adalah Mauw Siauw Mo-li itulah!

Tidak ada orang mengenal nama aslinya, dia hanya dikenal di daerah utara, di antara orang-orang Mongol dan Mancu, sebagai Si Siluman Kucing atau Sang Kucing Liar. Mendengar nama Kucing Liar ini, orang-orang di daerah utara, betapa pun gagahnya dia, akan merasa seram dan ketakutan. Melihat orangnya, Si Kucing Liar ini memang sama sekali tidak menyeramkan, sebaliknya malah, setiap orang laki-laki, tua mau pun muda, kalau dia waras otaknya dan tidak buta, sudah tentu akan mengakui akan kecantikan Mauw Siauw Mo-li.

Cantik jelita dan manis sekali dia, wajahnya bulat telur dengan dagu kecil meruncing, tulang pipinya sedikit menonjol sehingga membuat lekuk yang manis, dahinya mulus melengkung halus dan putih, dihias anak rambut tipis halus di bawah rambut hitam yang disisir ke belakang, lalu rambut yang hitam subur dan amat panjang itu digelung dengan model indah sekali di atas kepala, seperti gelung kaum puteri istana, merupakan hiasan kepala yang aneh namun menarik. Rambutnya dihias pula dengan kembang-kembang terbuat dari emas dan batu kemala hijau.

Alisnya hitam kecil panjang tanpa dibantu alat hiasan, memang bagus bentuknya, dan sepasang matanya amat indah dan hidup, lebar dan bening sekali, kadang-kadang dapat mengeluarkan sinar tajam menembus jantung, kadang-kadang keras seperti baja dan dingin seperti salju, akan tetapi kadang-kadang, dibarengi suara rintihan seperti kucing merayu, mata itu mengeluarkan sinar yang halus lembut dan penuh kehangatan dan janji muluk. Bulu matanya lentik panjang, menambah keindahan sepasang mata itu.

Hidungnya sedang saja, akan tetapi mulutnya! Hemm, banyak pria menelan ludah kalau menatap mulutnya karena setiap gerak bibirnya mengandung janji kenikmatan dan kemesraan yang menggairahkan. Wajah yang cantik jelita ini masih ditambah lagi oleh bentuk tubuh yang langsing, ramping padat berisi dengan lekuk-lengkung yang penuh kewanitaan dan kelembutan.

Pendeknya, Si Kucing Liar ini memiliki tubuh yang agaknya memang khusus diciptakan untuk membangkitkan gairah birahi kaum pria, dan semua gerak-geriknya menunjukkan kecondongan yang khas seperti telah dikhususkan untuk bercinta. Akan tetapi di balik semua kecantikan yang mempesonakan ini bersembunyi sesuatu yang membuat semua orang bergidik dan merasa ngeri.

Wanita ini dapat membunuh siapa saja, kapan saja dan di mana saja tanpa berkedip! Dan kepandaiannya sedemikian hebatnya sehingga menggetarkan semua petualang di utara. Selain itu, yang membuat orang bergidik ngeri, adalah kebiasaan wanita ini yang suka mengeluarkan suara seperti seekor kucing, dan celakalah kalau terdengar suara ini. Pasti disusul dengan matinya seorang atau lebih dalam keadaan yang mengerikan!

Siluman kucing ini sebenarnya adalah seorang wanita yang kini menjadi setan yang haus akan belaian pria. Semenjak berusia enam belas tahun, dia telah menjadi janda karena setelah menikah selama satu tahun suaminya meninggal dunia! Di waktu menjanda, beberapa kali dia diambil isteri muda oleh bermacam orang, akan tetapi semua itu telah gagal.

Ada yang mati secara aneh, ada pula yang meninggalkannya karena mengejar lain perempuan. Semua pengalaman ini membuat dia menjadi seorang yang sangat binal. Kemudian dia diambil sebagai seorang peliharaan oleh seorang tokoh besar dari Korea, yaitu guru dari Hek-tiauw Lo-mo, seorang kakek yang bernafsu dan tenaganya melebihi orang-orang muda!

Setelah menjadi kekasih kakek ini, barulah ada yang kuat bertahan menjadi pasangan atau ‘suami’ wanita cantik ini sampai belasan tahun lamanya! Si kakek tidak pernah menjadi bosan karena memang kekasihnya ini muda, kuat dan cantik jelita, penuh gairah hidup dan penuh nafsu berapi-api. Sebaliknya, wanita itu pun merasa cukup puas karena Si Kakek memang luar biasa, seorang yang memiliki kesaktian hebat dan yang amat menyenangkan hatinya adalah karena dia yang disayang mulai menerima latihan-latihan ilmu-ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, dia menjadi kekasih dan juga murid, menjadi sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo, bahkan karena ‘suaminya’ amat sayang kepadanya, dia diberi ilmu-ilmu simpanan sehingga kepandaiannya dapat mengimbangi suheng-nya dan melebihi suci-nya! Namun, suami atau guru itu akhirnya menyerah juga terhadap sang kekasihnya yang tidak pernah mengenal puas dalam permainan cinta nafsu itu, juga menyerah terhadap usianya yang tinggi. Dia kemudian meninggal dunia, meninggalkan tiga orang muridnya.

Wanita cantik jelita yang baru berusia tiga puluh tahun itu kembali menjadi janda. Akan tetapi berbeda dengan dahulu, dia kini adalah seorang janda yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, juga merupakan seorang wanita berusia tiga puluhan yang telah ‘matang’, dan celakanya, nafsunya menjadi makin menggila, dia menjadi seorang wanita yang haus akan laki-laki dan semua kehausan itu dipuaskannya kapan saja dan di mana saja dia bertemu dengan pria yang muda dan tampan.

Tentu diculiknya pria itu, dirayunya dan hampir tidak ada pria yang dapat bertahan terhadap rayuan mautnya sehingga bagaikan mabok setiap pria yang dirayunya akan jatuh dalam pelukannya, dibuai oleh rayuan, belaian dan permainan cintanya sehingga seperti seekor lalat yang tertangkap di sarang laba-laba, meronta-ronta namun tak dapat lepas, dihisap sari tubuhnya perlahan-lahan sampai habis dan kering, kemudian mati dalam keadaan masih bermimpi nikmat!

Entah sudah berapa puluh, berapa ratus atau berapa ribu orang laki-laki yang telah menjadi korbannya. Celaka bagi Kucing Liar ini, makin dicari makin banyak dia memeluk pria yang menjadi korbannya, makin hauslah dia, makin tak terpuaskan dan dia masih terus mencari-cari karena dia pun rindu akan cinta kasih seorang pria saja. Kalau saja dia berhasil menemukan seorang pria yang dapat dijadikan teman hidup selamanya! Akan tetapi selalu pria yang dinikmatinya itu akan menjemukan hatinya kemudian, menimbulkan kebencian sehingga dibunuh tanpa pria itu sadar dari kenikmatan.

Ciri khas dari wanita ini adalah suara yang keluar dari kerongkongannya, suara seperti kucing, bahkan persis kucing dan suara ini otomatis keluar dari kerongkongannya apa bila perasaannya tersentuh dan bergelora, di waktu dia marah, bingung, senang dan terutama sekali di waktu dia bermain cinta! Dan suara kucing inilah yang membuat dia dijuluki orang Siluman Kucing atau Kucing Liar!

Selama bertahun-tahun ini, baik Hek-wan Kui-bo yang merupakan nenek buruk rupa, dan Mauw Siauw Mo-li yang cantik jelita, selalu berkeliaran di daerah utara, di antaranya gurun pasir dan pegunungan sehingga nama mereka hanya terkenal di kalangan suku bangsa Mongol, Mancu, dan di perbatasan Negara Korea. Dunia kang-ouw di selatan atau pedalaman tidak ada yang mengenal nama-nama ini. Akan tetapi karena mereka berdua menerima undangan dari suheng mereka, Hek-tiauw Lo-mo untuk datang ke Koan-bun, maka berangkatlah mereka sendiri-sendiri ke Koan-bun.

Seperti kita ketahui, nenek buruk Hek-wan Kui-bo Si Lutung Hitam telah membantu pemberontak karena dia melihat kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan mernbantu pemberontak. Ada pun Mauw Siauw Mo-li masih berkeliaran karena dia sudah mulai ketagihan karena sudah beberapa lama tidak pernah bertemu dengan pemuda tampan. Kebetulan dia melihat rombongan anggota Tiat-ciang-pang yang hendak keluar dari kota itu dan dia tertarik oleh A Ciang yang segera diincarnya sebagai korbannya malam itu.

Kini, Si Gendut dan teman-temannya melewatkan malam itu di daerah batu gunung berkapur itu. Malam terlalu gelap bagi mereka untuk dapat melanjutkan perjalanan mereka. Pada keesokan harinya, dari jauh mereka melihat pasukan berkuda datang lagi ke tempat itu. Mereka segera berunding. Kini jumlah mereka hanya tinggal lima belas orang.

“Kita tidak bisa lari,” Si Gendut berkata. “Kalau kita melarikan diri, tentu akan tampak oleh mereka dan dikejar terus. Lebih baik kita bersembunyi dan setelah mereka pergi, baru kita melanjutkan perjalanan ke selatan, bergabung dengan pasukan pemerintah.”

“Ihh... begitukah seharusnya sikap orang-orang gagah, hanya bersembunyi saja seperti segerombolan pengecut?” Tiba-tiba terdengar suara halus ini.

Mereka terkejut dan cepat menengok. Kiranya di belakang mereka telah berdiri wanita cantik yang malam tadi telah memukul mundur pasukan yang membakar ladang ilalang! Tentu saja mereka menjadi girang, akan tetapi juga merasa ngeri karena munculnya wanita ini seperti setan saja, tidak ada yang mengetahuinya dan tidak ada yang mendengarnya, pula, mereka juga masih bingung memikirkan kematian A Ciang yang demikian anehnya.

“Ahh, kiranya engkau yang datang, Kouw-nio? Kami amat berterima kasih atas bantuan Kouw-nio yang demikian besar dan maafkan kami yang tidak tahu bahwa Kouw-nio adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian setinggi langit,” kata Si Gendut.

Bibir yang merah itu mencibir, akan tetapi kelihatannya tambah manis!

“Kalau kalian memang bermusuhan dengan pasukan itu, kenapa kalian tak menyambut mereka dengan perlawanan?”

“Jumlah kami hanya lima belas orang, dan mereka ada lima puluh orang lebih...”

“Lima belas orang sudah terlalu banyak untuk menghadapi pasukan itu. Kalau kalian dapat membuat mereka terpencar dengan jalan menyelinap di balik batu-batu ini, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba seperti kucing menerkam tikus, apa sih sukarnya mengalahkan mereka? Aku pun akan berpesta membantu kalian menghadapi mereka.”

Semua, orang berseri wajahnya. “Dengan Kouw-nio sebagai pimpinan kami, apa lagi yang kami takuti? Kami tidak takut sekarang!” Si Gendut berkata.

“Benar, kami tidak takut kalau Kouw-nio yang sakti membantu kami!” teriak seorang lain, yaitu yang masih muda dan yang sejak tadi memandang ke arah dada wanita itu dengan mata seperti mata seekor anjing melihat tulang!

Mereka lalu keluar dari tempat persembunyian mereka, dan bersama Kucing Liar berdiri memperlihatkan diri menanti datangnya pasukan yang dipimpin oleh perwira muda berkuda putih itu. Perwira itu tinggi besar dan gagah, kelihatannya tangkas dan lihai.

“Kalian permainkan pasukan itu, akan tetapi berikan perwira itu kepadaku. Biar aku saja yang menghadapinya!” Mauw Siauw Mo-li berkata sambil tersenyum manis dan dari kerongkongannya keluar suara lirih melengking seperti suara kucing! Mendengar ini, Si Gendut dan teman-temannya menggigil dan merasa serem, teringat mereka akan suara kucing itu malam tadi ketika mereka berada di dalam ladang ilalang.

“Cepat menyebar dan bersembunyi...!” Wanita itu berkata dan begitu pasukan itu sudah mendekat, mereka menyelinap ke kanan kiri dan bersembunyi di balik batu-batu kapur itu. Akan tetapi Kucing Liar tidak bersembunyi, bahkan berdiri dengan dada yang sudah busung itu dibusungkan lagi dan matanya memandang tajam kepada perwira muda yang menahan kendali kudanya. Kuda putih itu meringkik, mengangkat kedua kaki depannya dan perwira itu mengayun pedangnya, gagah bukan main.

“Haii kalian mata-mata hina! Menyerahlah sebelum kami bunuh semua!”

Mauw Siauw Mo-li tersenyum. “Apakah engkau juga mau membunuh aku, Ciangkun (Perwira) muda yang gagah perkasa?” Dia malah melangkah maju menghampiri kuda yang meringkik-ringkik itu.

Perwira muda itu terkejut melihat bahwa di antara para mata-mata yang dikejarnya itu terdapat seorang wanita yang begini cantik dan menariknya. Akan tetapi karena dia maklum bahwa mata-mata pemerintah banyak pula orang yang pandai dan merupakan orang-orang berbahaya yang harus dibasminya, maka sambil berseru keras dia lalu menggerakkan kudanya maju ke depan menerjang wanita cantik itu sambil mengayun pedangnya.

Akan tetapi dengan mudah sekali Si Kucing Liar mengelak ke kiri. Empat orang prajurit menyambutnya dengan senjata golok mereka, menyerang dengan berbareng untuk membantu komandan mereka. Amat mudah bagi wanita itu untuk mengelak sambil tersenyum dan kaki tangannya bergerak, maka robohlah empat orang itu tanpa dapat bangkit kembali! Tentu saja Si Perwira Muda terkejut sekali, kudanya diputar dan kembali pedangnya menyerang dari atas kuda dengan dahsyat.

“Ihh, benarkah engkau kejam hendak membunuhku?” Mauw Siauw Mo-li bertanya halus sambil terkekeh dan matanya mengerling genit.

Pedang itu bersuitan menyambar-nyambar, namun tak pernah dapat menyentuh baju wanita itu yang mencelat ke sana-sini dengan kecepatan seperti gerakan seekor burung walet. Tiba-tiba dia berseru, “Turunlah kau!” dan sambil mengelak tangannya terus menyambar ke samping.

“Crotttt...!”

Tangan yang berjari kecil-kecil dan runcing halus itu masuk ke dalam perut kuda seperti ujung golok saja. Kuda putih itu meringkik kesakitan, melonjak-lonjak dan ketika perwira itu berusaha menenangkannya, kakinya ditarik dan robohlah dia, terjatuh dari atas kuda yang terus melarikan diri itu.

Melihat komandannya jatuh, delapan orang anggota pasukan cepat menerjang wanita itu sehingga Si Perwira sempat bangkit kembali. Maka dikeroyoklah wanita itu dan dikepung rapat. Namun, Mauw Siauw Mo-li hanya tersenyum-senyum saja, tubuhnya tidak banyak bergerak, seolah-olah menanti datangnya serangan. Hebatnya, siapa saja yang berani mendahului menyerangnya, kalau tidak roboh tentu senjatanya terlempar sebab dengan gerakan cepat sekali kaki atau tangan wanita cantik itu sudah menangkis tangan yang memegang pedang atau golok.

Sementara itu, Si Gendut dan kawan-kawannya juga mulai melakukan perang kucing-kucingan dan berhasil merobohkan banyak lawan dengan penyergapan tiba-tiba, lalu menyelinap dan lari bersembunyi lagi di belakang batu-batu yang amat banyak terdapat di tempat itu. Pasukan yang menunggang kuda sudah turun semua dari kuda masing-masing karena makin berbahayalah bagi mereka kalau mengejar sambil menunggang kuda.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan teriakan gemuruh. Ternyata yang datang adalah pasukan terdiri dari seratus orang, pasukan bantuan yang keluar dari kota Koan-bun karena perwira yang cerdik itu sudah mengirim seorang utusan berkuda untuk mendatangkan bala bantuan.

Melihat ini, paniklah para anggota Tiat-ciang-pang. Mereka lalu bersembunyi dan biar pun tetap melakukan perang kucing-kucingan atau perang gerilya, namun karena para anggota pasukan itu sekarang mengejar dan mencari mereka dengan berkelompok mengandalkan banyak orang, maka Si Gendut dan kawan-kawannya tidak berani lagi sembarangan menyergap seperti tadi.

Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li dikepung dengan ketat sekali oleh banyak lawan. Biar pun tidak merasa gentar, wanita ini menjadi lelah dan jemu juga, maka sambil tertawa dia lalu meloncat ke belakang, melempar benda hitam ke depan.

“Darrrrr...!”

Benda itu meledak dan belasan orang prajurit musuh yang berdiri rapat itu roboh! Para pengeroyok dan pengepungnya terkejut dan kacau, lari berlindung ke kanan kiri. Hanya terdengar suara seperti kucing terpijak ekornya dan ketika mereka memandang lagi setelah asap hitam membubung ke atas, ternyata wanita itu telah lenyap.

“Kejar mereka! Cari mereka sampai dapat. Tangkap atau bunuh! Terutama wanita itu yang tentu menjadi pemimpin mereka!” Perwira itu dengan hati penasaran dan marah memberi aba-aba.

Terjadilah kejar-kejaran sampai sehari penuh. Wanita itu lenyap, dan belasan orang anggota Tiat-ciang-pang terpaksa terus melarikan diri dan selalu bersembunyi-sembunyi di balik batu-batu gunung sampai akhirnya mereka terdesak di pegunungan batu kapur terakhir, dekat gurun pasir. Kalau dikejar terus, mereka akan terpaksa lari ke arah padang pasir yang berbahaya. Akan tetapi, ketika itu hari telah berganti malam dan baik yang dikejar mau pun yang mengejar telah merasa lelah sekali sehingga masing-masing melewatkan malam sambil beristirahat.

Dapat dibayangkan betapa sengsaranya keadaan para anggota Tiat-ciang-pang. Mereka dikejar-kejar sehari penuh, terus berlarian dan kini mereka mengaso tanpa ada ransum sama sekali sehingga selain kehabisan tenaga, mereka pun lapar dan lemas. Tidak demikian dengan pasukan itu yang tentu saja dapat makan dan minum ransum dari perlengkapan mereka.

Akan tetapi malam itu, di pihak pasukan yang jumlahnya kini seratus orang lebih itu terjadi keributan. Komandan mereka, Si Perwira Muda yang tadi masih tampak makan minum sambil duduk di atas batu-batu, tiba-tiba kini lenyap! Kejadiannya amatlah aneh. Ketika itu, perwira mereka masih tampak makan minum di dekat api unggun, wajahnya agak keruh karena perwira ini merasa jengkel sekali tidak dapat membasmi belasan orang buruannya. Tiba-tiba terdengar suara kucing. Di tempat yang sunyi menyeramkan itu terdengar suara kucing, tentu saja merupakan hal yang amat aneh dan semua orang menoleh ke kanan kiri, mencari-cari dari mana datangnya suara kucing itu. Suara itu makin keras, seolah-olah Si Kucing makin dekat di tempat itu.

“Kucing keparat!” Seorang prajurit memaki sambil menyambar tombaknya. “Kalau kau dapat olehku, akan kusate dagingnya!”

“Haii, Lai-ciangkun ke mana?” Teriakan ini terdengar dari seorang prajurit yang tadi duduknya tidak jauh dari perwira itu.

Semua orang memandang dan terheran-heran. Kemudian berlarian mendatangi dan saling pandang, sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi. Perwira muda itu lenyap! Mangkoknya yang masih berisi sayuran yang agaknya baru saja dimakannya, terguling dan sepasang supitnya juga berceceran.

Semua orang mencari, akan tetapi tidak melihat jejak perwira dan lapat-lapat dari jauh terdengar suara kucing mengeong! Untuk mencari lebih jauh mereka tentu saja tidak berani sebab tak ada yang memerintah mereka, dan mereka tahu betapa berbahayanya mencari di waktu malam gelap itu, di mana sewaktu-waktu musuh dapat muncul dan menyerang mereka dari tempat gelap. Mereka terpaksa menanti-nanti dengan hati berdebar tegang, menanti datangnya pagi.

Sementara itu pula, di antara batu-batu gunung kapur di mana Si Gendut dan kawan-kawannya bersembunyi dengan tubuh lelah, perut lapar dan hati tegang penuh khawatir, juga terjadi peristiwa yang menegangkan. Karena pegunungan yang sunyi melengang itu tiba-tiba menjadi menyeramkan ketika mereka semua mendengar suara kucing mengeong-ngeong!

Dan suara kucing itu makin lama makin ramai, persis seperti keadaan mereka ketika bersembunyi di dalam ladang ilalang kemarin malam, suara kucing betina merengek-rengek, merintih-rintih dan seperti suara kucing kalau sedang memadu kasih di bawah terang bulan di atas genteng! Mendengar suara ini, mereka semua menjadi seram dan otomatis mereka saling mendekati dan berkumpul di dalam sebuah goa, bersama-sama mendengarkan suara yang menyeramkan itu. Jumlah mereka tinggal tiga belas orang karena ada beberapa orang yang tewas di waktu pertempuran gerilya siang tadi.

“Menyeramkan...!” Si Gendut mengomel.

“Tentu suara siluman kucing.”

“Mengingatkan aku akan kematian A Ciang.”

“Hushhh, jangan sembarangan. Mungkin itu memang kucing penduduk yang tersesat di sini.”

“Ah, mana bisa! Kucing tersesat yang kebingungan atau ketakutan tentu suaranya satu-satu, berulang-ulang. Tapi itu... hemm, dengarkan... suaranya merengek tinggi rendah, persis suara kucing kawin!”

“Suaranya datang dari atas sana, di mana banyak batu-batu besar...”

“Sudah,” kata Si Gendut akhirnya untuk meredakan ketegangan hati kawan-kawannya. “Suara apa pun adanya itu, besok pagi-pagi sekali kita melihatnya sambil melarikan diri. Kalau besok kita tidak dapat melarikan diri dari mereka itu, berarti kita semua akan mati konyol.”

Suara kucing itu terdengar terus-menerus semalam suntuk, hanya kadang-kadang berhenti beberapa lama lalu diulang lagi. Hal ini mendatangkan suasana menyeramkan sehingga tiga belas orang pelarian itu sama sekali tidak dapat tidur dan hati mereka selalu tegang. Mereka menanti datangnya pagi dengan tidak sabar lagi. Di tempat sesunyi itu, gelap pekat lagi, dalam keadaan terancam pasukan musuh yang berada tidak jauh di belakang mereka, mendengar suara kucing yang penuh rahasia itu sungguh amat menegangkan hati dan syaraf mereka.

Pada keesokan harinya, baru saja terang tanah dan memungkinkan mereka bergerak, tiga belas orang ini sudah menyelinap di antara batu-batu menuju ke atas bukit terakhir yang penuh dengan batu-batu besar itu. Suara kucing sudah tak terdengar lagi sejak tadi.

Tiba-tiba mereka berhenti dan Si Gendut menudingkan telunjuknya ke depan, mereka semua berindap maju beberapa langkah untuk dapat melihat dengan jelas. Di dalam keremangan pagi, tampak olehnya seorang wanita yang pakaiannya awut-awutan setengah telanjang, sedang duduk di atas batu besar membelakangi mereka.

Rambut wanita itu hitam dan panjang sekali, agaknya dilepas dari sanggulnya, terurai ke bawah dan kini wanita itu sedang menyisiri rambutnya, kadang-kadang mengulet. Dipandang dari tempat itu, dia menyerupai seekor kucing besar yang sedang mengulet-ulet dan menjilat-jilati bulu-bulunya! Akan tetapi yang membuat tiga belas orang itu terbelalak dengan muka pucat adalah ketika mereka melihat sebujur tubuh pria tinggi besar telentang di dekat batu itu, telanjang bulat dan lehernya tampak merah penuh darah, akan tetapi mulutnya seperti orang tersenyum. Persis seperti keadaan A Ciang yang mati sambil tersenyum dan lehernya penuh guratan-guratan seperti dicakar kucing! Mereka bergidik! Apa lagi ketika melihat bahwa tak jauh dari tempat mayat itu rebah, terdapat setumpuk pakaian perwira!

Teringat kepada A Ciang, Si Gendut menjadi marah sekali. Jelas bahwa wanita siluman inilah yang telah membunuh A Ciang, maka dia lalu mengajak teman-temannya untuk menerjang maju sambil berseru, “Siluman kucing keparat!”

Dua belas orang meloncat dan menerjang, mengepung batu besar di mana wanita itu menyisir rambutnya. Yang seorang lagi, seorang muda dengan muka pucat, tidak ikut menyerang karena kedua lututnya sudah menjadi lemas dan menggigil tak dapat digerakkan. Pemuda ini bukan seorang penakut. Menghadapi musuh manusia, dia amat gagah berani tidak takut mati. Akan tetapi dia mempunyai kelemahan, yaitu takut sekali kepada setan dan iblis. Baru mendengar ceritanya saja, dia sudah menggigil. Apa lagi sekarang dia berhadapan dengan siluman kucing, siluman yang benar-benar! Maka dia tidak mampu bergerak, hanya menonton sambil bersembunyi, seluruh tubuhnya menggigil.

“Hi-hi-hik!” Wanita itu terkekeh genit sambil membalikkan tubuhnya dan bangkit berdiri di atas batu.

“Ahhh...!”

“Ohhhh...!”

“Kouw-nio...!”

Semua orang terbelalak memandang. Wanita itu bukan lain adalah Si Wanita Cantik yang telah menolong mereka, kini berdiri dengan tegak di atas batu, hanya memakai pakaian dalam yang tipis dan tembus pandangan sehingga tampak bentuk tubuhnya yang mulus dan menggairahkan, rambutnya terurai panjang sampai ke lutut, matanya bersinar-sinar.

“Kalian memaki aku siluman kucing keparat? Nggg...!”

Kembali terdengar suara lengking dahsyat seperti pekik kucing takut air, dan tiba-tiba mata mereka menjadi silau melihat berkelebatnya tubuh wanita itu melayang turun dan menyambar ke arah mereka.

Terdengar bunyi pekik susul-menyusul dan robohlah dua belas orang itu satu demi satu. Setiap kali jari-jari tangan Mouw Siauw Mo-li bergerak dan kukunya yang runcing merah itu menyambar, tentu seorang lawan roboh dan akhirnya tinggal Si Gendut yang menjadi marah dan menyerang dengan goloknya. Namun dengan mudah Kucing Liar itu mengelak, kemudian dari samping sambil mengelak tadi tangan kirinya menyambar ke depan.

“Crottt...! Retttt...!”

Tubuh Si Gendut terjengkang dan dari perutnya yang pecah oleh tusukan tangan kanan Mauw Siauw Mo-li memancar darah merah, sedangkan lehernya penuh dengan guratan kuku tangan kiri, juga mengucurkan darah.

Orang kurus pucat yang bersembunyi, memandang dengan terbelalak dan hampir saja dia pingsan. Hanya terdengar suara kucing menangis, makin lama makin lirih dan wanita itu sudah lenyap dari situ. Si Kurus Pucat ini memaksa kedua kakinya yang menggigil untuk pergi dari situ, menyelinap di antara batu-batu, jatuh bangun dan hampir terkencing-kencing saking takutnya, akan tetapi akhirnya dia dapat juga berlari jauh dan tujuannya hanya satu, yaitu kembali ke selatan dan melaporkan semua itu kepada pemimpinnya yang baru, yaitu Nona Lu atau Lu-bengcu.

Rombongan pasukan yang setelah pagi tiba kini berani mencari-cari komandannya, kini telah tiba di tempat itu. Dapat dibayangkan betapa geger keadaan mereka ketika menemukan komandan mereka dalam keadaan telanjang bulat telah menjadi mayat, mayat yang tersenyum seolah-olah ketika mati dia berada dalam keadaan yang amat menyenangkan. Dan tak jauh dari situ terdapat mayat-mayat dua belas orang buronan yang berserakan malang-melintang, semua terluka di leher oleh bekas-bekas cakaran seperti yang terdapat pula di leher perwira komandan mereka. Terpaksa pasukan ini menggotong mayat komandan mereka, kemudian kembali ke Koan-bun untuk melapor, dan di sepanjang perjalanan, tiada hentinya mereka bicara tentang semua keanehan itu yang muncul bersama dengan suara kucing.

********************

Wajah Ceng Ceng menjadi merah saking marahnya mendengar pelaporan anggota Tiat-ciang-pang yang kurus bermuka pucat itu. Mendengar kematian Si Gendut dan kawan-kawannya di tangan Siluman Kucing, dia hanya menjadi heran dan penasaran. Akan tetapi mendengar akan sikap Tek Hoat yang ternyata melanggar janjinya, tidak mencari jejak pemuda laknat musuh besarnya dan tidak pula memenuhi untuk tidak mencampuri urusan pemberontakan, dia menjadi marah.

“Keparat, manusia itu memang palsu dan licik!” bentaknya sambil mengepal tinju.

“Dia memang seorang kaki tangan pemberontak, Nona,” Si Topeng Setan yang selalu menemaninya itu berkata lirih.

“Itulah yang menjemukan! Dia menjadi wakilku, dan sekaligus dia menjadi kaki tangan pemberontak, berarti menyeret namaku ke dalam lumpur pengkhianatan pula. In-kong, secepatnya kita kerahkan semua anak buah dan kita membantu pemerintah membasmi pemberontak di utara, kita berangkat sekarang juga!” Biar pun Si Topeng Setan telah menjadi wakilnya, namun Ceng Ceng tetap menyebutnya In-kong (Tuan Penolong), karena selain dia masih berterima kasih, juga sebetulnya dia menarik Si Topeng Setan ini dengan maksud untuk mempelajari ilmunya yang tinggi dan tentu saja untuk membantunya membalas dendamnya terhadap pemuda laknat yang dia tahu amat lihai itu.

“Akan tetapi, mengapa engkau merepotkan diri mencampuri urusan negara, Nona? Apa artinya kekuatan kita yang terdiri dari beberapa ratus kaum sesat ini menghadapi pemberontakan yang terdiri dari laksaan tentara yang terlatih?”

“In-kong, apa engkau tidak mendengar pelaporan tadi? Di utara sudah mulai geger, pemberontak mulai bergerak menduduki Koan-bun. Lebih lagi, menurut pelaporan tadi, Jenderal Kao dan Puteri Milana juga sudah mulai menyusun kekuatan untuk menumpas pemberontak. Bagaimana kemudian aku dapat tinggal diam saja? Ketahuilah, aku adalah keturunan patriot, semenjak dahulu nenek moyangku adalah kaum patriot yang mempertaruhkan nyawa untuk nusa bangsa. Kakekku adalah bekas pengawal kaisar yang setia! Apakah aku harus diam saja melihat negara dalam bahaya, terancam oleh kaum pemberontak?”

Sepasang mata Topeng Setan tampak berkilat-kilat tanda kagum mendengar ucapan dan melihat sikap ini. “Akan tetapi, engkau juga mempunyai urusan pribadi yang lebih penting lagi, bukan?”

Ceng Ceng mengepal tinjunya. “Tentu! Urusan pribadiku itu adalah urusan mati hidup, selama hidupku aku tidak akan pernah berhenti sebelum musuh besarku itu dapat kubunuh!” Kini sepasang mata Topeng Setan memandang dengan lesu, seolah-olah dia tidak setuju dengan sikap ini. “Akan tetapi, dibandingkan dengan urusan negara, urusan pribadiku ini tidak ada artinya. Maka, aku harus memimpin semua patriot, walau pun mereka itu dari golongan sesat, untuk membantu pemerintah mengusir pemberontak dan di samping itu, tentu saja aku juga akan mencari musuh besarku di sana!”

Topeng Setan tidak banyak cakap lagi, lalu memanggil para anggota Tiat-ciang-pang dan memerintahkan agar semua golongan sesat di daerah itu dikumpulkan, dipanggil untuk diajak berangkat ke utara membantu pemerintah. Setelah semua orang golongan sesat berkumpul, yaitu mereka yang memang mempunyai jiwa patriot, Ceng Ceng lalu memerintahkan mereka dengan sedikit kata-kata saja.

“Pada saat seperti ini, negara membutuhkan bantuan kita. Tunjukkanlah bahwa kalian bukan hanya manusia-manusia tidak berguna saja, tetapi kalau keadaan menghendaki, kalian dapat menjadi patriot yang tidak segan-segan pula mengorbankan nyawa demi negara. Negara kini terancam bahaya kaum pemberontak hina-dina, maka berangkatlah kalian semua ke utara dan gabungkan diri dengan kesatuan yang anti pemberontak di sana. Contohlah perbuatan anggota Tiat-ciang-pang yang telah mengorbankan nyawa demi negara. Nama mereka akan selalu dijunjung tinggi sebagai patriot, bukan sebagai manusia sesat yang dianggap rendah.”

Ceng Ceng memang tidak mau membentuk suatu pasukan, karena selain dia sendiri tidak tahu caranya membentuk pasukan, juga hal itu akan lebih sukar diaturnya, bahkan dapat dicurigai kalau mereka berangkat sebagai pasukan. Maka dia hanya menyuruh mereka masing-masing atau merupakan kelompok-kelompok kecil untuk berangkat ke utara dan di sana menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan yang ada. Dia sendiri lalu berangkat bersama Topeng Setan menuju ke utara.

Seperti telah dilakukannya sejak dia tinggal bersama Ceng Ceng sebagai pembantunya, di sepanjang perjalanan Topeng Setan mengajarkan teori-teori silat tinggi kepada Ceng Ceng, yang lalu dilatih prakteknya sewaktu mereka berhenti mengaso atau melewatkan malam. Ceng Ceng kagum bukan main karena memang ilmu silat yang diajarkan oleh Topeng Setan kepadanya itu amat hebat, bahkan kadang-kadang sukar baginya untuk menerima atau menguasainya karena memang dasar ilmu silatnya sendiri yang dia pelajari dari kakeknya tidak dapat menandingi tingkat ilmu yang diajarkan oleh Topeng Setan.

Tetapi, Si Topeng Setan dengan amat tekun dan sabar memberi penjelasan kepadanya dan memberi contoh-contoh gerakannya sehingga Ceng Ceng yang memang cerdas itu dapat segera menangkap intinya. Hanya satu hal yang membuat Ceng Ceng penasaran dan tidak puas melakukan perjalanan dengan orang ini, yaitu sikapnya yang penuh rahasia, topeng yang tak pernah dicopotnya, dan orangnya yang pendiam dan jarang sekali bicara kalau tidak ditanya.

Dia tak memaksa atau membujuk orang itu membuka topengnya. Hal ini adalah karena sudah saling berjanji ketika Topeng Setan itu menjadi tawanan, atau memang sengaja menyerahkan diri karena kini Ceng Ceng maklum bahwa kalau dia menghendakinya, Topeng Setan dengan mudah akan mengalahkannya dan tak mungkin dapat tertawan semudah itu. Ketika menjadi tawanan, Ceng Ceng dan Si Topeng Setan sudah saling berjanji, yaitu Ceng Ceng tidak akan membuka topengnya, tidak akan menanyakan rahasianya, akan tetapi orang itu pun berjanji akan menjadi pembantu Ceng Ceng dan akan mengajarkan ilmu kepadanya. Kini, Topeng Setan sudah menjadi pembantunya, dan sudah mengajarkan ilmu silat, berarti sudah memenuhi janji. Bagaimana dia dapat melanggar janji untuk membuka rahasia yang agaknya amat ditutupi itu?

Betapa pun juga, ketika mereka habis berlatih dan mengaso di bawah pohon untuk berlindung dari teriknya matahari, Ceng Ceng tidak dapat menahan keinginan tahunya dan berkata, “In-kong, aku heran sekali mengapa orang sepandai engkau ini selalu menyembunyikan nama dan rupa, seolah-olah ada sesuatu yang kau rahasiakan sekali. Aku sudah berjanji tidak akan membuka topengmu, akan tetapi aku ingin sekali tahu mengapa engkau melakukan rahasia ini, menutupi keadaan dirimu sedemikian rupa? Agaknya engkau takut akan sesuatu atau seseorang?”

Seperti tak disadari, Topeng Setan yang duduk di depan Ceng Ceng menggenggam sebuah batu dan batu itu remuk menjadi tepung di dalam genggaman tangannya! Kemudian dia menarik napas panjang dan mengangguk. “Memang aku takut.”

Ceng Ceng mengerutkan alisnya. “Aku tidak percaya! Sedangkan orang seperti aku saja sudah tidak mempunyai rasa takut lagi, apa lagi engkau yang memiliki ilmu kepandaian begitu tinggi! Siapa yang kau takuti itu?”

Sejenak Topeng Setan tidak mau menjawab, dan Ceng Ceng tidak berani memaksa akan tetapi tak lama kemudian laki-laki itu berkata, “Aku takut kepada diriku sendiri...”

“Ehhh...?” Ceng Ceng berseru keras, “Mengapa...?”

Topeng Setan tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. Kemudian dia pun berkata, “Nona sudah banyak bertanya, bolehkah aku juga mengajukan sebuah pertanyaan?”

“Hemmm, boleh saja, akan tetapi belum tentu aku dapat menjawabnya pula.”

“Nona mempunyai seorang musuh besar yang menurut Nona amat Nona benci dan Nona akan mencarinya dan tak akan berhenti sebelum Nona dapat membunuhnya. Nona tidak tahu siapa namanya dan di mana dia berada, suatu hal yang amat sulit, dan menurut Nona, yang pernah melihat orangnya hanyalah Nona sendiri dan Ang Tek Hoat. Akan tetapi Tek Hoat agaknya lebih mementingkan pemberontakan dari pada mencari orang itu. Kalau aku boleh bertanya, mengapakah Nona begitu membenci musuh besar itu? Apa yang telah dilakukannya?”

Ceng Ceng menundukkan mukanya yang terasa panas. Dia menekan perasaannya, kemudian mengangkat muka memandang topeng di depannya itu, menghela napas dan menggeleng kepalanya. “Itu... itu adalah rahasiaku, tidak dapat aku memberitahukan kepada orang lain.”

Sejenak sunyi di situ. Keduanya seperti tenggelam dalam lamunan masing-masing. Akhirnya Ceng Ceng yang lebih dulu berkata, “Sekarang aku tidak akan bertanya-tanya lagi tentang dirimu, In-kong. Aku tahu bahwa setiap orang mempunyai rahasianya sendiri yang tidak ingin diketahui orang lain. Biarlah aku tinggal dalam rahasiaku dan engkau dalam rahasiamu.”

Topeng Setan mengangguk-angguk setuju. Selanjutnya keduanya diam lagi sampai lama dan ketika Ceng Ceng perlahan-lahan mengangkat muka memandang, dia melihat Topeng Setan menundukkan muka, matanya terpejam dan kelihatannya berduka sekali! Melihat keadaan orang itu, timbul rasa iba di hatinya dan dia pun menjadi lupa akan kedukaannya sendiri. Tadi pun dia tenggelam ke dalam duka ketika pikirannya sedang melayang-layang dan mengingat-ingat akan semua pengalamannya, akan nasibnya yang buruk.

Akan tetapi melihat temannya begitu berduka, biar pun tidak kentara akan tetapi melihat pundak yang turun itu, muka yang tunduk dan mata yang terpejam, dia dapat menduga bahwa Topeng Setan tenggelam ke dalam duka yang mendalam, dia lalu meloncat bangun dan berkata, “Heii, mengapa tidur? In-kong, aku masih mendapat kesukaran memainkan jurus yang kemarin itu. Mari kita berlatih!”

Topeng Setan terkejut, mengangkat muka dan sepasang matanya tidak muram lagi, menjadi bersinar dan dia pun meloncat bangun. Tak lama kemudian, kedua orang itu telah bertanding, berlatih dengan sungguh-sungguh di tempat yang sunyi itu.

Beberapa hari kemudian, di waktu pagi mereka tiba di luar dusun Ang-kiok-teng yang tak jauh lagi letaknya dari Koan-bun dan Teng-bun. Dari jauh mereka sudah mendengar suara perang yang amat gaduh. Ketika lari mendekat, mereka melihat pertempuran yang dahsyat dan mati-matian antara pasukan pemerintah melawan pasukan liar yang amat kuat. Hampir rata-rata anggota pasukan liar itu terdiri dari orang yang tinggi besar dan kuat, ganas dan liar, gerakannya dahsyat sehingga dalam pertandingan satu lawan satu, bahkan satu dilawan dua atau tiga orang sekali pun, pihak pasukan pemerintah selalu kalah. Serbuan pasukan liar itu demikian kuatnya sehingga pihak pemerintah mulai main mundur dan melarikan diri memasuki dusun Ang-kiok-teng dikejar oleh pasukan liar.

“Ahh... mereka itu seperti pasukan dari barat, pasukan Tambolon!” Ceng Ceng berseru.

Dia pernah melihat pasukan liar ketika rombongan utusan kota raja diserbu, yaitu ketika dia mengawal Puteri Syanti Dewi, dan dia sudah banyak mendengar tentang pasukan liar yang dipimpin oleh Raja Tambolon. Dia lalu mengajak Topeng Setan untuk berlari cepat dan menggunakan kepandaian mereka untuk meloncati pagar dan memasuki dusun Ang-kiok-teng untuk membantu pasukan pemerintah yang jumlahnya sudah tinggal seperempat itu. Sorak-sorai gegap gempita terdengar ketika pintu gerbang didobrak bobol dari luar, dan membajirlah pasukan liar itu memasuki dusun Ang-kiok-teng.

Dugaan Ceng Ceng tadi memang tidak keliru. Pasukan itu adalah pasukan Raja Tambolon yang memimpin sendiri pasukan itu menyerbu dusun Ang-kiok-teng, dusun yang telah ‘diberikan’ oleh Panglima Kim Bouw Sin kepada Tambolon, untuk dijadikan markas dan dibolehkan untuk diduduki, dirampas segala-galanya dan Raja Tambolon beserta pasukannya boleh berbuat apa saja terhadap dusun dan seluruh penduduknya itu!

Panglima Thio Luk Cong yang menjadi komandan pasukan pemerintah di front terdepan itu memang terkejut sekali ketika menghadapi penyerbuan pasukan liar ini. Dia telah mengerahkan kekuatan pasukannya untuk melawan, akan tetapi ternyata pasukan liar itu hebat bukan main dan biar pun lebih banyak jumlahnya, pasukannya tidak mampu bertahan dan terpaksa dia menarik mundur pasukannya ke dalam dusun Ang-kiok-teng.

Panglima Thio naik ke menara dan mengatur pasukannya dari atas menara, melakukan penjagaan-penjagaan ketat dan menyerukan agar supaya penduduk Ang-kiok-teng tidak menjadi panik, melainkan berusaha mengumpulkan kekuatan untuk membantu pasukan melawan para penyerbu liar itu. Akan tetapi, semua usahanya percuma saja karena tak lama kemudian, pintu gerbang dapat dibobolkan dari luar. Terjadilah perang lagi yang kacau-balau, perang di dalam dusun itu.

Selagi Thio-ciangkun mengepal-ngepal tinjunya dengan gemas melihat kekalahan anak buahnya, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang naik ke menara. Enam orang pengawal panglima itu cepat menerjang dengan pedang mereka, namun Ceng Ceng berseru, “Tahan! Kami bukan musuh, kami malah datang untuk melindungi komandan!”

Thio-ciangkun terkejut dan memandang penuh curiga, terutama sekali kepada Si Topeng Setan.

“Siapa kami bukan hal penting, Ciangkun. Kami adalah rakyat yang tidak rela melihat adanya pemberontakan dan melihat musuh yang menyerbu dusun ini dan keadaan Ciangkun yang terancam, kami datang hendak membantu dan melindungi.”

Thio Luk Cong memandang penuh selidik, lalu mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata, “Terima kasih banyak atas bantuan dan kebaikan Ji-wi...”

Pada saat itu, dari bawah menyambar dua batang anak panah yang menuju ke arah tubuh perwira itu.

“Huhhh!” Si Topeng Setan mengeluarkan suara dari hidungnya, ketika kedua tangannya bergerak, dua batang anak panah itu telah ditangkapnya dan sekali dia melontarkan ke bawah, terdengar pekik nyaring dan dua orang tinggi besar terjengkang roboh

Kiranya pasukan liar itu telah menyerbu sampai di tempat itu! Suara makin hiruk-pikuk dan kini diselingi suara jerit wanita dan teriakan-teriakan mengerikan dari mereka yang menyerbu.

Di dalam dusun itu terjadilah peristiwa mengerikan, kekejaman perang yang semenjak ribuan tahun yang lalu terulang terus, puncak dari kemenangan nafsu atas diri manusia di mana terjadi kekejaman-kekejaman yang sukar dapat dibayangkan pada waktu damai akan dapat dilakukan oleh manusia lain. Pasukan liar di bawah pimpinan Raja Tambolon sendiri telah menghancurkan pertahanan pasukan pemerintah yang lari cerai-berai dan mulailah pesta kemenangan dalam perang seperti yang terjadi di mana-mana dan di jaman apa pun.

Semua kaum pria, baik yang masih kanak-kanak sampai yang sudah kakek-kakek, dibunuh di tempat tanpa ampun lagi, dan pembunuhan dilakukan dengan cara yang biadab pula. Penyiksaan-penyiksaan yang mengerikan pada saat seperti itu malah seakan mendatangkan kegembiraan luar biasa pada pihak yang menang seolah-olah semua perbuatan mereka itu merupakan suatu perbuatan gagah perkasa, tanda dari kekuasaan dan kemenangan.

Kaum wanita mengalami nasib yang lebih mengerikan lagi. Mereka diseret, dikumpulkan di jalan raya, ditelanjangi sama sekali, dan ibu-ibu muda dipisahkan dari anak-anak mereka, ada yang bayinya dibunuh dan disembelih di dalam pondongan ibunya. Suara jerit tangis, ratap dan rintih, bercampur aduk dengan suara gelak tawa. Darah mengecat jalan raya, pintu-pintu rumah, ratap tangis membubung tinggi ke angkasa tanpa ada yang mendengar dan mempedulikannya.

Pasukan yang merupakan gerombolan binatang buas itu amat kejam, akan tetapi sungguh mengherankan dan mengagumkan ketaatan mereka terhadap pimpinan. Seperti biasa, mereka membunuhi kaum pria, merampoki harta benda, dan menangkapi serta menelanjangi semua wanita, akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani mengambil harta untuk dirinya sendiri atau memperkosa wanita yang dipilihnya sendiri! Seperti biasa, mereka menanti sampai Raja Tambolon dan para pembantunya menentukan pilihan masing-masing atas wanita dan harta, dan baru setelah ada komando dari raja mereka, gerombolan liar ini akan benar-benar berpesta pora untuk diri mereka sendiri!

Sisa pasukan pemerintah sebagian besar melarikan diri keluar dari dusun itu melalui pintu samping dan belakang, cerai-berai tanpa pimpinan. Ada pula sebagian lagi yang lari ke menara dan di sini di bawah komando Thio-ciangkun melakukan perlawanan sampai titik darah terakhir! Dan memang mereka itu tidak kuat menghadapi serbuan para pasukan itu, biar pun di situ terdapat Ceng Ceng dan Topeng Setan yang lihai dan yang merobohkan banyak sekali tentara pasukan liar. Akhirnya habislah semua prajurit pemerintah dan Ceng Ceng bersama Topeng Setan terpaksa meloncat naik ke atas menara di mana Thio-ciangkun bersama kelima orang pengawal pribadinya siap untuk membela diri.

“Jangan khawatir, Ciangkun. Aku masih mempunyai akal untuk menghajar mereka!” kata Ceng Ceng dengan gemas, apa lagi dari ternpat tinggi itu dia dapat melihat betapa penduduk dibunuhi dan wanita-wanita diseret dan ditelanjangi, dikumpulkan di jalan seperti domba-domba yang hendak dijual ke pasar!

Sambil bersorak-sorak pasukan liar itu mengepung menara. Ceng Ceng mengeluarkan sebuah bungkusan yang terisi bubuk hitam. Sebetulnya bubuk racun ini selalu dibawanya untuk bekal sebagai senjata yang ampuh dan tidak akan dipergunakan kalau tidak amat perlu. Akan tetapi melihat betapa menara itu dikepung dan dia bersama Topeng Setan tidak akan mungkin dapat menang menghadapi pasukan musuh yang begitu banyak jumlahnya, terpaksa dia akan mempergunakan bubuk racun yang dibawanya dari neraka di bawah tanah itu, bubuk racun buatan mendiang Ban-tok Mo-li.

Setelah menyuruh Topeng Setan, Thio-ciangkun dan para pengawalnya mundur ke dalam menara, Ceng Ceng lalu menyebarkan racun itu di sekeliling menara. Racun yang merupakan bubuk hitam lembut itu terbawa angin dan tidak tampak.

Akan tetapi tak lama kemudian terjadilah geger di bawah menara! Mula-mula hanya beberapa orang saja yang berteriak-teriak sambil menggaruki leher, muka dan tangan, bagian tubuh yang tidak tertutup, akan tetapi makin digaruk, rasa gatal yang amat hebat, makin memasuki baju dan di lain saat mereka itu sudah bergulingan, merintih-rintih dan menggaruki seluruh tubuh mereka. Dan hal aneh ini disusul oleh teman-teman yang lain, sehingga menjadi belasan orang, puluhan dan akhirnya tidak kurang dari seratus orang anggota pasukan liar itu bergulingan, saling tindih, bahkan mulai saling pukul karena menjadi seperti gila oleh rasa gatal yang menyiksa tubuh mereka!

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan sisa-sisa pasukan liar cepat mundur menjauhi mereka. Dari atas menara, Ceng Ceng melihat munculnya dua orang laki-laki, yang seorang berpakaian petani dan membawa pikulan, yang kedua berpakaian pelajar.

Mereka ini bukan lain adalah Si Petani Maut Liauw Kui, dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, keduanya adalah pengawal-pengawal pribadi Tambolon yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Ketika mereka melihat betapa amat banyak anggota pasukan mereka yang mendadak bergulingan seperti orang sekarat di bawah menara, mereka cepat datang dan memerintahkan pasukan untuk cepat menjauhkan diri dari menara. Kimonga, komandan pasukan, kini menceritakan kepada mereka bahwa tadi terdapat seorang gadis cantik yang menyebar sesuatu dari menara dan akibatnya seperti itulah.

“Hemm, dia menggunakan racun yang amat berbahaya!” kata Liauw Kui.

“Kalau tidak ditolong, anak buah kita itu bisa celaka!” kata pula Yu Ci Pok.

“Kita harus melaporkan kepada Sri Baginda!” Kimonga berkata dengan khawatir sekali. Kalau kita harus kehilangan seratus orang lebih, sungguh merupakan hal yang amat merugikan dan hebat.

“Benar, harus lapor,” dua orang pengawal Raja Tambolon itu mengangguk, kemudian mereka pergi untuk mencari Raja Tambolon yang sedang menikmati hasil kemenangan pasukannya itu.

“Kurung menara dari jauh, siapkan barisan anak panah!” Kimonga lalu mengatur pengepungan sehingga menara itu dikepung ketat oleh ratusan orang prajurit yang siap dengan gendewa dan anak panah. Sedangkan mereka yang menjadi korban racun itu masih bergulingan dan merintih-rintih di atas tanah di bawah menara.

Raja Tambolon sedang berdiri dan mengelus-elus brewoknya di depan hampir dua ratus orang wanita itu. Dia tersenyum girang, akan tetapi hatinya agak kecewa. Raja yang memiliki kepandaian tinggi ini bukanlah seorang yang haus wanita, sungguh pun hal itu bukan berarti bahwa dia tidak pernah menikmati wanita-wanita rampasan sebagai hasil menang perang. Akan tetapi wanita-wanita dusun itu baginya kurang menarik dan akhirnya hanya ada seorang gadis saja yang dipilihnya.

Dia menunjuk dan gadis itu lalu didorong dan dibawa pergi oleh seorang perwira. Gadis itu dipisahkan dari yang lain. Sungguh mengerikan melihat pemandangan di waktu itu. Wanita-wanita bertelanjang bulat diharuskan berdiri dan ditonton oleh banyak mata pria yang bersinar-sinar penuh nafsu birahi, yaitu mata dari para tentara pasukan liar itu. Mereka berusaha sedapat mungkin untuk menutupi anggota badan mereka dengan rambut dan tangan, tetapi hal ini justru menambah gairah mereka yang memandangnya.

Setelah memilih seorang gadis saja, Tambolon lalu memilih di antara barang-barang rampasan. Juga dia kecewa karena ternyata penduduk dusun itu tidak dapat dibilang kaya-raya. Pada saat itu datanglah Liauw Kwi dan Yu Ci Pok yang melaporkan tentang keadaan anak buah mereka di bawah menara.

“Keparat! Kiranya ada orang pandai di sini! Kenapa kalian tidak memberi hajaran saja kepada mereka?” bentak Tambolon marah sekali mendengar bahwa lebih dari seratus orang-orangnya sekarat di bawah menara.

“Kami menantikan perintah Paduka, karena yang penting adalah bagaimana caranya menyelamatkan anak buah kita itu,” Yu Ci Pok menjawab.

Dengan langkah lebar Tambolon lalu diantar oleh dua orang pengawalnya itu menuju ke menara. Dia melihat betapa menara itu telah dikurung ketat, dan melihat pula seorang gadis cantik dan seorang laki-laki bermuka seperti setan di atas menara, melindungi Thio-ciangkun yang berada di dalam menara.

“Gendewaku...!” Raja Tambolon berseru.

Cepat salah seorang perwira pembantunya menyerahkan gendewa raja itu, sebatang gendewa yang amat berat dan kuat. Raja itu menyambar gendewanya, lalu mengambil sebatang anak panahnya yang terbuat dari baja dan berbulu merah, lalu memasang anak panah itu di gendewanya, menarik gendewa dan membidik ke arah Topeng Setan yang berdiri di dekat Ceng Ceng di atas menara.

“Reeeettt... singgg...!”

Bagaikan kilat anak panah itu meluncur ke arah Si Topeng Setan, karena Tambolon menganggap bahwa laki-laki kasar tinggi besar bermuka setan itulah yang agaknya merupakan lawan berat.

Sinar kilat itu menyambar ke arah dada Topeng Setan. Orang ini tentu saja mengerti dari suara dan kilatan anak panah itu bahwa serangan anak panah ini amat berbahaya, tidak seperti anak panah lain, akan tetapi dengan tenang dia menggunakan tangannya yang dimiringkan menangkis dari samping.

“Plakk...! Sing...!”

Anak panah itu tertangkis dan membalik, menyambar ke bawah dan terdengar teriakan mengerikan disusul robohnya seorang prajurit karena lehernya tertembus anak panah rajanya sendiri itu!

Wajah Tambolon menjadi merah dan dia mengangguk-angguk. “Boleh juga,” gerutunya, kemudian dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di sekeliling menara.

Setelah itu, dengan pengerahan khikang yang amat kuat sehingga suaranya bergema di seluruh tempat, dia lalu berseru, “Haiii... komandan pasukan kerajaan yang berada di menara! Pasukanmu telah kami hancurkan dan menara ini sudah kami kepung dan sewaktu-waktu dapat kami bakar habis berikut engkau dan pengikut-pengikutmu! Akan tetapi melihat kegagahan pengikutmu, kami mengajukan usul kepadamu! Obati prajurit-prajurit kami yang keracunan dan kami akan memberi kesempatan kepadamu untuk melarikan diri! Kalau tidak, biarlah kami kehilangan seratus orang prajurit, akan tetapi menara ini akan kami bakar dan kalian di atas akan menjadi bangkai-bangkai hangus!”

Thio-ciangkun lalu berkata kepada Ceng Ceng, “Lihiap dan Taihiap, harap kalian suka cepat melarikan diri. Ji-wi (Anda Berdua) memiliki kepandaian, tentu dapat lolos, saya adalah seorang komandan yang pasukannya telah hancur, seperti seorang nahkoda yang kapalnya sedang tenggelam. Biarlah saya melawan sampai napas terakhir.”

“Tidak!” Ceng Ceng membantah. “Engkau masih dibutuhkan oleh negara, Ciangkun, tak ada gunanya melawan seperti membunuh diri.”

Lalu dia melangkah maju, menjenguk ke bawah dan memandang kepada laki-laki yang tinggi besar brewokan yang dari pakaiannya saja dapat diduga bahwa dialah rajanya atau pemimpin pasukan liar itu, kemudian dia mengeluarkan suara nyaring, “Heii, pimpinan musuh yang berada di bawah, dengarlah! Yang meracuni pasukan itu adalah aku! Kami setuju dengan pertukaran itu, biarlah Thio-ciangkun dan pengawalnya keluar dari dusun ini tanpa gangguan, kemudian aku akan menyembuhkan semua orangmu yang terkena racun!”

Tambolon terkejut dan merasa heran sekali karena sama sekali tidak mengira bahwa gadis muda cantik jelita itulah yang lihai. “Baik!” teriaknya, kemudian menoleh kepada anak buahnya berkata, “Buka jalan untuk Thio-ciangkun, biarkan dia pergi!”

Para prajurit itu amat takut dan taat kepada raja mereka yang keras, maka cepat mereka membuka jalan. Ceng Ceng setengah memaksa dan membujuk Thio-ciangkun menuruni menara itu bersama lima orang pengawalnya yang berjalan mengelilingi komandan mereka di kanan kiri, depan dan belakangnya, sedangkan Ceng Ceng dan Topeng Setan mengiringkan di belakang dengan sikap tenang.

“Sediakan enam ekor kuda yang baik untuk mereka!” Ceng Ceng berkata, sikapnya memerintah dan penuh wibawa.

Raja Tambolon kembali terkejut, lalu dia tertawa bergelak, hatinya senang sekali! Raja ini adalah seorang kasar dan liar yang berilmu tinggi, dan tidak ada yang disenangi di dunia ini kecuali kegagahan dan keberanian. Kini melihat sikap Ceng Ceng, dia kagum bukan main dan hatinya senang sekali. Biasanya, dia menganggap wanita hanya sebagai makhluk lemah yang hanya memiliki kecantikan dan yang hanya untuk menyenangkan dan menghibur hati pria, makhluk lemah yang biasanya paling banyak hanya menangis! Akan tetapi kini melihat sikap Ceng Ceng, yang demikian tabah penuh keberanian dan kegagahan, dia terkejut, heran, kagum dan senang sekali.

“Sediakan enam ekor kuda, tolol kalian semua! Hayo cepat!” teriak Tambolon dengan keras lalu tertawa lagi bergelak.

Ceng Ceng memandang laki-laki tinggi besar brewok itu dengan kagum. Sudah lama dia mendengar nama besar Raja Tambolon, dan baru sekarang dia melihat orangnya. Seorang jantan asli, seperti seekor binatang yang liar, akan tetapi dia tahu bahwa manusia ini berhati seperti binatang, penuh kekerasan dan kekejaman, seorang manusia yang dapat membunuhi manusia-manusia lain dengan kedua tangan tanpa berkedip sedikit pun.

Setelah Thio-ciangkun bersama lima orang pengawalnya menunggang kuda dan pergi meninggalkan dusun itu dengan cepat, Topeng Setan lalu berkata kepada Ceng Ceng, “Nona, lekas berikan obat pemunah racun dan mari kita cepat pergi dari sini.”

Ceng Ceng mengangguk, kemudian mengeluarkan bungkusan obat bubuk putih dan menyerahkannya kepada Tambolon sambil berkata, “Inilah obat penawarnya. Campur dengan air, suruh mereka minum seorang seperempat cawan kecil, tentu sembuh. Kalau tidak ditolong obat ini, mereka akan menggaruk terus sampai kulit dan daging mereka terkupas habis!”

Tambolon menerima bungkusan itu dan ketika Ceng Ceng dan Topeng Setan hendak pergi, Tambolon tertawa, “Tunggu dulu, tidak semudah itu! Ha-ha-ha!”

Ceng Ceng dan Topeng Setan memandang ke sekeliling dan ternyata mereka telah dikurung rapat oleh ratusan orang prajurit itu!

“Hemm, Tambolon, apa artinya ini?” Ceng Ceng membentak.

Raja Tambolon terkejut. “Eh, kau sudah tahu siapa aku, Nona? Bagus, engkau memang hebat, bukan seorang biasa. Ingat akan janjimu tadi, Nona. Kami telah membebaskan Thio-ciangkun, akan tetapi orang-orangku belum sembuh, belum kau sembuhkan, mana mungkin kami membiarkan kalian lolos? Mari, kalian menjadi tamu-tamuku sambil menanti sembuhnya orang-orangku.”

Ceng Ceng dan Topeng Setan terpaksa menerima undangan ini. Mereka kagum akan kecerdikan Tambolon, akan tetapi juga mereka menduga-duga apakah orang ini dapat dipercaya dan akan membebaskan mereka berdua setelah orang-orangnya sembuh kembali.

Ceng Ceng dan Topeng Setan dipersilakan naik ke menara dan tempat itu segera dibersihkan dan diaturlah meja besar di atas menara karena Raja Tambolon dan dua orang pengawalnya itu hendak menjamu makan minum kedua orang ini. Mengagumkan juga betapa di dalam dusun yang sudah rusak itu, anak buah Raja Tambolon dengan mudah dan cepat dapat mempersiapkan pesta yang cukup meriah, dengan masakan dan minuman pilihan!

Setelah makan minum dihidangkan memenuhi meja, Tambolon mengisi cawan arak dan mengangkat cawannya mengajak dua orang tamunya minum sambil berkata, “Mari kita minum untuk perkenalan yang amat menyenangkan ini!” Mereka lalu minum arak dari cawan masing-masing, diikuti pula oleh dua orang pengawal Tambolon, yaitu Si Petani dan Si Pelajar.

“Kalian berdua yang lihai ini siapakah dan dari mana?” Tambolon bertanya.

“Namaku Lu Ceng dan dia ini berjuluk Topeng Setan, menjadi pembantuku dan juga pengawalku,” jawab Ceng Ceng singkat.

“Nona Lu ini adalah bengcu dari kaum sesat di sekitar kota raja,” Si Topeng Setan menambahkan.

“Ha-ha-ha, hebat, hebat sekali!” Tambolon tertawa bergelak. “Seorang wanita begini muda sudah memiliki kelihaian dan menjadi bengcu! Ha-ha-ha, siapa yang mengira? Nona Lu Ceng, bagaimana engkau dapat mengenal namaku, padahal baru sekarang kita saling bertemu?”

“Hemmm, aku sudah pernah merantau jauh ke barat dan di Bhutan aku mendengar tentang namamu dan pasukanmu, maka begitu aku melihat pasukanmu, aku dapat menduga bahwa tentu ini pasukan Raja Tambolon yang amat terkenal itu.”

“Ha-ha-ha, kau memang cerdik! Kau pantas menerima arak penghormatan dari Raja Tambolon!” Dengan gaya dan geraknya yang kasar Raja Tambolon lalu mempersilakan tamu-tamunya makan. Tanpa sungkan lagi Ceng Ceng dan Topeng Setan makan ditemani oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya.

Tiba-tiba seorang prajurit datang menghadap Raja Tambolon. Dengan sikap amat hormat akan tetapi kasar prajurit itu berkata, “Lapor! Kawan-kawan tidak sabar lagi dengan para tawanan wanita. Mohon keputusan dan perintah Sri Baginda Raja!”

Tambolon minum arak dari cawannya dan tertawa, “Ha-ha-ha, wah, aku sampai lupa. Bagi rata dan bergilir seperti biasa! Awas jangan sampai berebut dan berkelahi, suruh masing-masing perwira mengadakan undian siapa yang lebih dulu mendapat giliran. Eh, bawa pilihanku ke sini untuk melayani makan minum!”

Prajurit itu memberi hormat dengan wajah berseri, kemudian berlari turun dari menara. Ceng Ceng dan Topeng Setan saling pandang, hanya setengah menduga apa yang akan terjadi dengan para tawanan wanita. Saking tidak tahannya, Ceng Ceng berkata, “Sri Baginda, apakah yang akan kau lakukan terhadap para tawanan wanita?”

“Ha-ha-ha, kalian ingin tahu? Mari kita lihat, dari atas sini tentu merupakan pandangan yang amat hebat, ha-ha-ha!”

Tambolon, Ceng Ceng, Topeng Setan dan dua orang pengawal Tambolon lalu bangkit dan berjalan ke pinggir loteng menara sehingga mereka dapat melihat apa yang terjadi di bawah sana. Jantung Ceng Ceng berdebar tegang, kedua telinganya menjadi panas ketika dia melihat apa yang terjadi di sana. Kurang lebih dua ratus orang wanita yang bertelanjang bulat berdiri dengan mata menunduk, ada yang merintih, ada yang menangis terisak-isak, ada orang berdiri ketakutan, dirubung oleh ratusan anak buah Tambolon yang memandang liar dan ada yang menjilat dan seperti sikap serigala kelaparan melihat domba muda.

Tak lama kemudian, terdengar perwira-perwira bicara dan meledaklah sorak-sorai para anak buah Tambolon, kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Ceng Ceng hampir saja meloncat ke bawah untuk mengamuk. Seperti serigala yang dilepaskan, para prajurit pasukan liar itu berlari-larian menyerbu wanita-wanita itu.

Terdengar jerit-jerit mengerikan diseling suara tawa para prajurit liar dan terjadilah peristiwa yang sukar dapat dibayangkan oleh manusia waras. Pemerkosaan begitu saja di atas jalan-jalan, di tepi jalan, ada yang membawa wanita memasuki rumah, akan tetapi ada pula yang memperkosanya di tempat itu juga, tidak peduli akan semua orang di sekitarnya, bahkan ditonton, ditertawakan dan disoraki oleh teman-teman yang belum kebagian! Dua ratus orang wanita itu tentu saja segera habis dan banyak sekali prajurit yang terpaksa menanti giliran karena jumlah mereka lima kali lebih banyak dari jumlah wanita tawanan. Jerit melengking, rintihan dan keluhan, ratap tangis para wanita itu seolah-olah menusuki jantung Ceng Ceng dan terbayanglah dia akan pengalamannya sendiri ketika dia diperkosa oleh pemuda laknat itu!

Dia memejamkan matanya, lalu tiba-tiba membalik dan lari kembali ke dekat meja dengan muka merah seperti udang direbus, matanya mendelik memandang Tambolon yang juga sudah kembali ke kursinya.

“Terkutuk engkau!” Ceng Ceng memaki marah. “Mengapa kau suruh anak buahmu melakukan perbuatan terkutuk itu?”

Tadi Ceng Ceng merasa betapa lengannya disentuh oleh Topeng Setan yang dengan halus menggelengkan kepala, mencegah dia melakukan sesuatu. Kini Ceng Ceng maklum bahwa andai kata dia tadi tidak kuat menahan kemarahannya dan bertindak, tentu mereka berdua akan binasa menghadapi hampir seribu orang lawan itu!

Tambolon hanya tersenyum lebar mendengar makian Ceng Ceng. “Duduklah, Nona, dan kau juga, Topeng Setan. Minumlah arak ini untuk mendinginkan hatimu.”

Ceng Ceng menyambar dan menenggak araknya, karena memang dia membutuhkan arak itu untuk menenangkan hatinya yang bergelora menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan itu.

“Nona, pasukanku telah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya, perjalanan yang ditempuh dengan susah payah siang dan malam. Mereka telah menghadapi bahaya maut entah berapa ribu kali dan kadang-kadang sampai berbulan mereka tidak pernah melihat wajah seorang wanita. Mereka taat sekali kepadaku dan tanpa perkenanku, mereka tidak akan berani mengganggu seorang pun wanita. Akan tetapi, seperti juga makanan untuk perut mereka, mereka itu membutuhkan wanita dan kalau tidak sekali-kali memenuhi kebutuhan mereka itu, tentu mereka tidak akan taat lagi kepadaku. Wanita mana lagi yang dapat kuberikan kepada mereka kecuali wanita tawanan yang suaminya telah tewas dalam pertempuran?”

Sunyi menyambut kata-kata ini dan betapa pun kejinya, Ceng Ceng dapat mengerti apa yang dimaksudkan Tambolon, akan tetapi karena merasa ngeri membayangkan nasib ratusan orang wanita yang suaranya masih terus mengikuti pendengarannya itu Ceng Ceng memejamkan matanya.

“Berapa lama mereka dapat bertahan diterjang oleh sedemikian banyak anak buahmu?” Tiba-tiba Topeng Setan bertanya, suaranya amat halus dan datar seolah-olah tidak menyembunyikan perasaan apa-apa.

“Ha-ha-ha, orang-orangku yang kehausan itu mana tahu akan daya tahan mereka? Telah berbulan mereka kehausan, tentu tidak mengenal puas dan dengan jumlah mereka yang lima enam kali lebih banyak, tidak sampai sepekan pun wanita-wanita itu akan habis.”

“Mati?”

“Ha-ha-ha, bagaimana lagi? Lebih baik begitu dari pada satu mendapat satu, terus menjadi terikat dan akan ikut ke mana pun kami pergi, menghalangi gerakan kami.”

Topeng Setan menghela napas dan pada saat itu Ceng Ceng memandangnya. Mereka saling pandang dan Topeng Setan berkata, “Memang lebih baik begitu. Penderitaan mereka sebentar saja dan mereka akan segera mati menyusul suami atau keluarga mereka.”

Ceng Ceng ingin menjerit. Wanita-wanita itu masih lebih beruntung kalau dibandingkan dengan dia! Mereka itu akan segera mati menyusul dan berkumpul dengan keluarga mereka yang tercinta. Akan tetapi dia? Dia menanggung aib dan malu, derita batin dan penasaran. Akan tetapi sampai sekarang pun orang yang didendamnya belum dapat dia temukan.

Dan dia dijauhkan dari orang-orang yang dia cinta. Ayah bundanya sudah tiada, kakeknya pun tewas, sedangkan orang terakhir yang dicintanya, Syanti Dewi, pun entah berada di mana. Tambolon dan orang-orangnya ini adalah manusia-manusia kejam, demi kemenangan diri sendiri mereka ini bersedia melakukan kekejaman apa pun juga. Akan tetapi mereka ini lihai, jumlah mereka banyak. Dia harus berhati-hati dan harus percaya kepada Si Topeng Setan yang dia percaya pun juga diam-diam mencari siasat agar mereka dapat terlepas dari Tambolon dan anak buahnya.

Tiba-tiba terdengar isak wanita naik ke menara itu. “Ahhh, lepaskah aku... lepaskan aku atau bunuh saja aku...!”

Seorang prajurit muncul mendorong seorang wanita. Ceng Ceng memandang dan melihat bahwa wanita itu adalah seorang gadis muda yang usianya tidak akan lebih dari enam belas tahun, wajahnya cukup cantik dan pakaiannya terlalu besar, seolah-olah bukan pakaiannya sendiri dan dikenakan di tubuhnya dengan tergesa-gesa. Prajurit itu mendorong gadis ini jatuh berlutut di depan Tambolon, lalu memberi hormat kepada rajanya dan pergi ke luar.

“Ha-ha-ha, inilah dia yang kupilih. Hei, perawan cilik, bangun dan berdirilah!”

Gadis itu mengangkat mukanya yang pucat, rambutnya yang terlepas dari sanggulnya terurai, sebagian menutupi mukanya, matanya liar ketakutan ketika memandang kepada Raja Tambolon. Dia mengeluh dan bangkit berdiri, kedua kakinya menggigil ketakutan.

“Nah, begitu baru baik. Ha-ha-ha, sekarang kau tanggalkan pakaianmu! Hayo cepat!”

Gadis itu terbelalak, lalu menggeleng kepala keras-keras. Tambolon bangkit dari bangkunya dan Ceng Ceng sudah mengepal tinju. Kalau manusia ini menggunakan kekerasan di depanku, aku akan membunuhnya, demikian dia mengambil keputusan. Akan tetapi Tambolon yang menghampiri gadis itu, hanya memegang lengannya lalu menariknya ke pinggir loteng menara.

“Nah, kau lihat baik-baik! Di bawah itu, setiap orang wanita sedikitnya harus melayani enam orang prajuritku, terus-menerus sampai beberapa hari lamanya. Engkau bernasib baik karena telah kupilih dan hanya harus melayani aku seorang saja. Dan kau masih rewel? Nah, pilihlah. Engkau melayani aku dengan baik, mentaati segala perintahku, ataukah engkau memilih kulempar ke bawah sana dan menjadi perebutan banyak orang laki-laki?”

Wajah itu makin pucat, matanya terbelalak memandang ke bawah di mana masih terjadi pemerkosaan yang mengerikan, jelas tampak dari atas dan juga terdengar jelas rintih dan ratap tangis para wanita itu. “Kau memilih di sana?”

Gadis itu menggeleng kepala keras-keras.

“Ha-ha-ha, jadi engkau memilih di sini dan mentaati segala perintahku?”

Gadis itu mengangguk lemah, patah semua semangat perlawanannya.

Tambolon kembali duduk di atas kursinya dan memandang bangga kepada dua orang tamunya bahwa dia telah berhasil mematahkan semangat perlawanan gadis tawanan itu. “Hayo kau buka semua pakaianmu, kau tidak pantas dengan pakaian yang terlalu besar itu!”

Gadis itu dengan muka menunduk, seperti dalam mimpi, gerakannya otomatis, mulai menanggalkan pakaiannya. Ceng Ceng memandang dengan dada panas. Ternyata setelah pakaian luarnya ditanggalkan di sebelah bawah pakaian itu tidak ada apa-apa lagi yang menutupi tubuhnya! Agaknya gadis ini tadinya memang sudah telanjang bulat seperti para wanita lain dan ketika dibawa menghadap baru diberi pakaian luar itu. Kini dia berdiri dengan tubuh telanjang sama sekali, menunduk dan matanya setengah dipejamkan, rambutnya terurai ke depan dada dan punggung.

“Hayo sanggul rambutmu itu baik-baik!” kembali Tambolon memberi perintah dan gadis itu, masih merasa ngeri dan takut memikirkan keadaan para wanita lain di bawah sana, mentaati tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Dan untuk menyanggul rambutnya, terpaksa dia mengangkat kedua lengannya ke atas sehingga bentuk tubuhnya tampak senyata-nyatanya.

“Lihat, betapa indah tubuhnya, hemm... bukan main indahnya!” Tambolon memuji.

“Tambolon!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru, tak mampu menahan kemarahannya karena melihat keadaan gadis telanjang itu, dia merasa seolah-olah dirinya sendiri yang dihina seperti itu. “Aku minta padamu agar gadis ini...”

“Tidak, aku yang ingin menantangmu untuk memperebutkan gadis ini, Raja Tambolon!” Tiba-tiba Topeng Setan memotong kata-kata Ceng Ceng. Ketika gadis ini memandang dengan kaget, dia melihat mata yang besar sebelah itu berkedip kepadanya.

Raja Tambolon yang tadinya menikmati pemandangan indah di depannya seperti seorang mengagumi sehelai lukisan, terkejut dan menoleh kepada dua orang tamunya itu. “Eh, kalian mau apa?”

Topeng Setan kini bangkit berdiri, sikapnya berwibawa dan tubuhnya seperti lebih tinggi dari biasanya ketika dia mengangkat dada menghadap Raja Tambolon sambil berkata, suaranya tetap halus datar, akan tetapi terdengar agak kaku, “Raja Tambolon, aku menantangmu untuk memperebutkan gadis ini. Kalau aku kalah, gadis ini boleh menjadi milikmu dan terserah hendak kau apakan dia, akan tetapi kalau aku menang, dia harus diserahkan kepadaku.”

“Ha-ha-ha-ha!” Tambolon menepuk-nepuk perutnya dan tertawa berkakakan, sungguh tidak pantas kalau orang sekasar ini menjadi raja, pikir Ceng Ceng. “Engkau baru melihat yang begini saja sudah timbul nafsu birahimu? Ha-ha-ha! Aku sendiri muak melihatnya. Setelah aku bertemu dengan seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa seperti Nona Lu, sikap gadis-gadis yang lemah dan pucat seperti itu benar-benar amat memuakkan hatiku. Dan engkau malah timbul gairah? Ha-ha-ha, lucu sekali! Topeng Setan, engkau adalah tamuku, tamu terhormat. Kalau engkau menginginkan gadis itu, nah, kau ambillah dia sekarang juga. Aku rela!”

Ceng Ceng merasa betapa jantungnya berdebar aneh. Selama ini, dia menganggap Topeng Setan sebagai seorang laki-laki yang aneh dan penuh rahasia, tetapi yang jelas amat sayang kepadanya, selalu siap melindungi dan membelanya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa begitu. Topeng Setan ini pernah menolongnya, dan mungkinkah seperti halnya Tek Hoat, laki-laki bertopeng penuh rahasia ini hanya terikat oleh janji ketika tertawan dan berjanji hendak membantunya dan mengajarkan ilmu kepadanya?

Berbeda dengan Tek Hoat yang mempunyai pandang mata penuh gairah, laki-laki bertopeng ini selalu kelihatan pendiam dan penuh rahasia, tidak pernah membayangkan gairah apa pun seperti mayat hidup, atau seperti arca bernyawa. Akan tetapi sekarang, mengapa secara tiba-tiba dia menghendaki gadis telanjang bulat yang memang amat menggiurkan dengan tubuhnya yang muda dan mulus itu?

Apakah artinya kedipan mata tadi? Diam-diam dia akan merasa kecewa kalau sampai temannya ini menerima gadis itu sebagai hadiah dari Tambolon, dan dia yakin bahwa pandangannya terhadap Topeng Setan pasti akan berubah sama sekali kalau laki-laki bertopeng ini mau menerima gadis telanjang itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia menjadi makin terheran ketika Topeng Setan berkata, “Terima kasih, Sri Baginda. Tetapi gadis ini patut diperebutkan dan saya akan merasa terhina kalau hanya diberikan begitu saja, dia pun menjadi kurang berharga bagiku. Karena itu, saya menantang Paduka untuk memperebutkan gadis manis ini dengan saya.”

“Ong-ya, kalau dia tidak mau, biarlah diberikan saja kepada saya. Pilihanku tidak semuda dan semanis dia!” Tiba-tiba Yu Ci Pok, Si Siucai Maut, seorang di antara dua orang pengawal Tambolon yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara, sekarang berkata lantang dan matanya memandang ke arah Topeng Setan dengan penuh ejekan. “Pula, saya kira gadis itu akan lebih suka kepada saya dari pada kepada dia!”

Tambolon tertawa. Memang dia sudah biasa dengan sikap para anak buahnya yang tidak banyak peraturan terhadap dia, bahkan kadang-kadang kasar. “Heh, anak manis, kau lihat kami bertiga ini. Kau memilih yang mana? Aku, Raja Tambolon yang gagah perkasa, ataukah pengawalku ini, Yu-siucai yang lebih muda dan tampan, ataukah Topeng Setan itu?”

Dengan mata terbelalak seperti mata seekor kelinci salah masuk ke dalam goa penuh harimau, dan wajahnya pucat, gadis itu memandang mereka bertiga, dan dia menunduk tanpa berani menjawab. Mereka semua mengerikan baginya, terutama sekali wajah Raja Tambolon yang penuh brewok, tinggi besar dan kasar, juga wajah Topeng Setan yang amat buruk dengan tubuhnya yang tinggi pula. Betapa pun juga, wajah siucai itu sama sekali tidak menghibur hatinya. Kalau ada jalan, agaknya baginya lebih baik mati dari pada harus menyerahkan tubuhnya kepada seorang di antara mereka bertiga.

“Hei, kau layani kami, hayo tuangkan arak sebelum aku mengambil keputusan tentang tantangan Si Topeng Setan, ha-ha-ha!” Raja Tambolon berkata.

Dengan tindakan lemas gadis itu menghampiri meja. Tubuhnya menjadi lemas, namun hal ini agaknya membuat lengannya menjadi makin lemah gemulai menggairahkan. Kedua tangannya agak gemetar ketika dia menuangkan arak di cawan Raja Tambolon. Ketika gadis itu menuangkan arak di dekat Raja Tambolon, orang kasar ini sambil tertawa menggunakan jari tangannya meraba dada gadis itu dan ketika menuangkan arak pada cawan Si Siucai, orang she Yu ini pun meraba pinggulnya. Hanya Si Petani dan Topeng Setan yang diam saja, dan Ceng Ceng yang melihat ini, sudah menjadi marah sekali hampir tidak dapat menahan kemarahannya. Akan tetapi sekali lagi dia melihat Topeng Setan berkedip kepadanya, maka dia menahan kemarahannya.

Setelah mengajak tamunya minum arak, Tambolon kemudian berkata, “Topeng Setan, sepatutnya tantanganmu itu cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepadamu! Akan tetapi melihat muka Nona Lu, biarlah kuanggap engkau sudah mabok, mabok arak dan mabok kecantikan gadis ini. Tetapi engkau hanya seorang pengawal dan aku pun sudah kehilangan gairahku terhadap gadis ini, maka biarlah Yu-siucai yang melayanimu. Siapa di antara kalian yang lebih unggul, nah, boleh memiliki gadis ini. Ha-ha-ha!”

Yu-siucai mengeluarkan suara tertawa mengejek lalu meloncat berdiri dan memandang kepada Topeng Setan sambil berkata, “Sobat baik, salahmu sendiri kau tergila-gila kepada gadis ini. Sri Baginda memberikan engkau kepadaku untuk menerima sedikit hajaran!”

Topeng Setan juga bangkit berdiri, menarik napas panjang dan berkata, “Sayang Sri Baginda tidak menerima tantanganku. Memperebutkannya dengan engkau jadi terasa kurang menarik. Akan tetapi kau majulah dan biar aku menerima sedikit hajaranmu itu!”

Yu-siucai adalah seorang di antara dua pengawal jagoan dari Tambolon yang sudah terkenal kelihaiannya. Biar pun dia tidak selihai Si Petani yang sikapnya pendiam itu, namun Tambolon sendiri sudah mengujinya dan jarang ada orang mampu menandingi kepandaian Yu-siucai ini. Dia adalah seorang pelarian dari perguruan tinggi Hoa-san-pai karena menyeleweng dan setelah dia menggembleng dirinya di Pegunungan Himalaya selama sepuluh tahun, ilmu kepandaiannya meningkat hebat dan akhirnya dia bertemu dengan Tambolon dan menjadi pengawal raja orang-orang liar itu.

Karena di waktu mudanya dia pernah mempelajari ilmu, membaca dan menulis, maka dia menganggap dirinya sendiri sebagai seorang sastrawan. Dan memanglah kalau dibandingkan dengan pasukan Tambolon yang hampir semua buta huruf itu, bahkan kalau dibandingkan dengan Tambolon sendiri, Yu Ci Pok boleh dibilang merupakan satu orang yang amat pandai dalam ilmu sastra sehingga dari pakaiannya ini dia terkenal sebagai Si Siucai Maut!

Karena merasa bahwa di dalam pemerintahan Raja Tambolon dia adalah seorang yang nomor tiga, maka muncullah sifat-sifat sombong di dalam hati siucai yang usianya empat puluh tahun lebih ini, menganggap bahwa tidak ada orang lain kecuali Raja Tambolon dan Si Petani yang akan mampu menandinginya! Sudah menjadi wataknya dia memandang rendah kepada orang lain, dan biar pun dia tahu bahwa Topeng Setan ini pun bukan orang biasa, namun tetap saja dia memandang ringan dan kini sambil bertolak pinggang dia menghadapi Topeng Setan sambil berkata, “Topeng Setan, aku yakin bahwa pibu (adu ilmu silat) antara kita ini tidak akan lebih dari sepuluh jurus!”

“Hemmm, agaknya begitulah,” jawab Topeng Setan.

Tiba-tiba Yu-siucai membentak keras dan tubuhnya bergerak cepat sekali, menerjang dengan serangan kilat dan dalam jurus pertama ini kedua tangannya sudah mengirim dua kali pukulan dan kedua kakinya menendang dua kali, semua dilakukan susul-menyusul cepat sekali dan mengandung tenaga sinkang yang amat kuat!

“Wut-wutt... plak! Plak!”

Dengan amat mudahnya Topeng Setan mengelak dari tendangan dan menangkis dua kali pukulan itu dengan tangannya. Dalam melakukan ini, tubuhnya sama sekali tidak berpindah tempat, hanya bergerak mengelak dan menangkis tanpa meloncat ke lain tempat, bahkan juga tidak merubah kuda-kudanya yang dilakukan dengan kedua kaki terpentang lebar.

Hal ini membuat Yu-siucai terkejut sekali, juga Tambolon dan Si Petani sekali pandang saja maklum bahwa Topeng Setan benar-benar tak boleh dibuat permainan. “Yu-siucai, hati-hatilah terhadap dia!” Tiba-tiba Si Petani berkata dan ucapannya ini saja sudah membuktikan bahwa dia bermata awas.

Ceng Ceng tadinya khawatir juga menyaksikan kehebatan serangan Yu-siucai yang demikian ganas. Sekarang dia dapat menjadi lega ketika melihat betapa Topeng Setan menghadapinya dengan begitu tenang dan yakin akan kemenangannya, maka dia mulai mengalihkan perhatiannya, melirik kepada gadis telanjang itu yang kini mundur-mundur ke pinggir loteng dengan mata terbelalak penuh rasa khawatir. Tambolon dan Si Petani mencurahkan perhatiannya kepada pertandingan itu dengan hati tegang, karena tentu saja mereka berdua ini ingin mengukur sampai di mana kepandaian Topeng Setan itu.

Yu-siucai sendiri juga maklum akan kelihaian lawan. Tangkisan dua kali tadi saja sudah membuat kedua tengannya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga sinkang lawan ini tidak berada di sebelah bawah tingkatnya, padahal dia tidak tahu apakah lawan ini sudah mengerahkan seluruh tenaganya. Kalau belum, sukar dibayangkan betapa kuatnya lawan dan mengingat ini, Yu-siucai cepat menerjang lagi dengan kecepatan kilat dan mengirim pukulan-pukulan yang lebih dahsyat dari pada tadi untuk mendahului lawan karena dia masih merasa yakin akan keunggulan permainan silatnya, sungguh pun jelas bahwa lawan memiliki tenaga yang kuat.

Topeng Setan bersikap tenang sekali dan dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan elakan cepat dan dibantu oleh tangkisan-tangkisan kedua tangannya yang digoreskan secara mantap dan kuat. Bahkan dia membiarkan Yu-siucai melancarkan serangan terus-menerus sampai sembilan jurus lamanya, selalu hanya dielakkan dan ditangkisnya, kemudian pada jurus ke sepuluh, dia tidak hanya menangkis melainkan balas mendorong dengan tangannya. Tenaga sinkang yang amat dahsyat menyambar, membuat Yu-siucai terdorong ke belakang. Pada saat tubuhnya condong ke belakang ini, kakinya kena ditendang dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuhnya terlempar dan terbanting jatuh di depan kursi Raja Tambolon!

Menyaksikan hasil ini, Ceng Ceng menjadi gembira dan kumat lagi sifatnya yang nakal dan jenaka, sifat yang telah lama hampir dilupakannya semenjak dia menjadi murid Ban-tok Mo-li kemudian ditimpa mala petaka pemerkosaan itu. Tanpa disadarinya, dia bertepuk tangan dan berkata memuji, “Wah, Yu-siucai sungguh mengagumkan sekali! Sepantasnya kedudukan pengawal diganti menjadi peramal karena ramalan Yu-siucai tepat sekali, pertempuran tadi tepat berlangsung sepuluh jurus seperti yang sudah diramalkannya!”

Mendengar kata-kata yang jelas merupakan ejekan ini, Yu-siucai melompat bangun, tangan kanannya bergerak cepat ke arah pinggangnya dan tahu-tahu dia telah mengeluarkan sepasang poan-koan-pit, yaitu senjata sepasang alat tulis yang terkenal lihai karena sepasang senjata ini merupakan alat-alat menotok jalan darah yang berbahaya.

“Aku tadi telah bersikap kurang hati-hati,” katanya. “Tetapi aku belum kalah, Topeng Setan!”

Dengan sikap mengancam ia melangkah satu-satu dengan gerakan tegap menghampiri Topeng Setan. Mendadak dia mengeluarkan seruan keras, tubuhnya bergerak dan tampak sepasang sinar kilat menyambar-nyambar dari kedua tangannya ketika senjata poan-koan-pit itu mulai menyerang.

“Hemmm...!”

Topeng Setan terpaksa mengelak ke kanan kiri dan bahkan lalu meloncat ke belakang. Demikian cepat dan hebat serangan senjata kecil itu. Dan memang inilah keistimewaan Yu-siucai dan tidak percuma dia dijuluki Siucai Maut karena senjatanya pun sesuai dengan julukannya, yaitu sepasang poan-koan-pit yang berbentuk pensil alat tulis dari baja dan yang dimainkannya secara hebat sekali!

“In-kong, sambut ini!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru dan dia telah melontarkan sepasang sumpitnya yang tadi dipakainya makan kepada Topeng Setan. Sumpit itu terbuat dari gading dan dapat dipakai sebagai sepasang senjata yang lumayan dari pada bertangan kosong menghadapi sepasang poan-koan-pit yang lihai itu.

“Terima kasih!” kata Topeng Setan sambil menyambar sepasang sumpit yang melayang ke arahnya itu. Sebetulnya, biar pun menghadapi sepasang senjata di tangan Yu-siucai dengan tangan kosong, Topeng Setan sama sekali tidak merasa jeri karena ilmu kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dari pada lawannya. Akan tetapi tentu saja Ceng Ceng tidak tahu akan hal ini dan telah membantunya.

“Ha-ha, bagus! Dengan begitu kita sama-sama bersenjata!” Yu-siucai tertawa girang karena tadi dia merasa malu juga harus menyerang lawan dengan senjata, sedangkan lawannya bertangan kosong. Kini, melihat betapa lawannya telah memegang sumpit, dia menjadi girang.

Apalah artinya sepasang sumpit itu dibandingkan dengan poan-koan-pit-nya? Sekali gempur saja tentu sumpit-sumpit itu akan patah-patah! Memang dengan poan-koan-pit-nya ini Yu-siucai telah mengalahkan banyak lawan secara mengagumkan. Ketika akan diterima menjadi pengawal pribadi Tambolon, dia diharuskan memperlihatkan kelihaian poan-koan-pit-nya, melawan pengeroyokan selosin orang Mongol yang bersenjata golok besar dan tidak sampai lima puluh jurus saja semua orang Mongol itu telah roboh tertotok oleh sepasang poan-koan-pit-nya!

Sekarang menghadapi Topeng Setan yang memegang sepasang sumpit dengan tangan kanannya, seperti orang yang hendak makan, diam-diam dia mentertawakannya, lalu poan-koan-pit-nya bergerak cepat sekali, yang kiri menotok ke arah pundak kanan, sedangkan poan-koan-pit yang kanan membayangi gerakan senjata yang kiri ini, siap untuk mengirim totokan susulan yang mematikan!

Topeng Setan tentu saja dapat melihat gerakan ini dengan jelas, akan tetapi dia pura-pura tidak mengerti, menggunakan sumpitnya dengan tangan kanan untuk menerima poan-koan-pit kiri lawan yang menotok pundak kanannya.

“Cappp!”

Hebat memang gerakannya karena sepasang sumpitnya itu berhasil ‘menangkap’ poan-koan-pit kiri lawan itu seperti kalau menyumpit sepotong daging saja!

Menyaksikan kecepatan dan gerakan yang tepat ini, Yu-siucai juga kaget sekali, apa lagi saat mengerahkan tenaga untuk menarik kembali poan-koan-pit itu dia memperoleh kenyataan betapa senjatanya itu seperti telah menjadi satu dengan sepasang sumpit gading dan tidak dapat dicabut kembali. Akan tetapi, hal ini malah membuat dia girang karena kebodohan lawan, maka cepat sekali poan-koan-pit di tangan kanannya lantas meluncur dan menotok jalan darah di bawah ketiak kiri lawan.

“Cusssss...!”

Tepat sekali poan-koan-pit itu mengenai bagian yang harus ditotoknya, yaitu sasaran di bawah ketiak, akan tetapi betapa kagetnya hati siucai itu ketika merasa betapa ujung poan-koan-pit-nya itu mula-mula mengenai kulit daging lunak, tahu-tahu menancap dan seperti ‘dihisap’, juga tidak dapat dicabutnya kembali! Kini Yu-siucai mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk merampas kembali sepasang poan-koan-pit yang sudah tertangkap lawan itu, yang kiri terjepit oleh sepasang sumpit lawan, sedangkan yang kanan terjepit oleh ketiak lawan.

“Pletak...!” tiba-tiba terdengar suara keras dan poan-koan-pit yang terjepit sumpit itu patah menjadi dua.

Yu-siucai kaget bukan main, melepaskan poan-koan-pit yang sudah patah itu, kemudian menggunakan tangan kirinya untuk membantu tangan kanan berusaha mencabut poan-koan-pit yang terjepit di ketiak. Tiba-tiba Topeng Setan melepaskan jepitannya dan tubuh siucai itu terhuyung ke belakang. Dengan kemarahan meluap, dia lalu menerjang lagi dengan poan-koan-pit yang hanya tinggal sebatang itu.

Topeng Setan berkata, “Hemmm, masih belum puas?” Dia membiarkan poan-koan-pit yang menusuk ke arah lehernya itu lewat. Secepat kilat sepasang sumpitnya digerakkan menotok lutut kanan kiri lawannya. Tanpa dapat dicegah lagi Yu-siucai jatuh berlutut!

“Hi-hi-hik, kalah adalah soal biasa, tidak perlu berlutut, Yu-siucai!” Ceng Ceng berkata sambil tertawa.

“Maafkan saya,” Topeng Setan berkata sambil melempar sepasang sumpitnya ke atas meja di mana sumpit itu menancap di depan Ceng Ceng dengan rapi.

“Keparat, engkau Tambolon manusia curang!” Ceng Ceng menjadi marah sekali dan sudah mencabut pedang Ban-tok-kiam dari pinggangnya. Tetapi segera dia dikepung oleh Lauw Kui yang bersenjata batang pikulannya yang terbuat dari baja dan Yu Ci Pok yang kini hanya bersenjata sebatang poan-koan-pit dan belasan orang perwira, termasuk Kimonga komandan pasukan liar itu.

“Ha-ha-ha, Nona Lu! Tambolon adalah orang yang perintahnya tidak boleh dibantah oleh siapa pun juga, termasuk engkau! Engkau dan temanmu itu harus membantuku, mau atau tidak.”

“Tambolon manusia keparat!” Ceng Ceng memutar pedang Ban-tok-kiam di tangannya.

Semua pengeroyoknya cepat meloncat mundur dengan kaget oleh karena pedang itu mengeluarkan hawa yang menyeramkan. Akan tetapi tiba-tiba mereka melihat nona itu terguling! Pedang yang menyeramkan itu terlepas dari pegangannya! Mereka bersorak girang, mengira bahwa nona ini pun menjadi korban racun bius di dalam arak merah, maka mereka cepat menubruk dan sekejap mata saja tubuh Ceng Ceng telah diringkus, kedua kaki tangannya dibelenggu dan gadis ini hanya bisa memaki-maki dan berteriak-teriak. Dua orang perwira sudah roboh berkelojotan karena sambaran rambut serta ludahnya yang disertai tenaga beracun! Akhirnya dua orang pengawal Tambolon itu yang menanganinya sendiri, menotoknya hingga dia tak dapat menggerakkan tubuhnya dan hanya memandang dengan mata melotot!

“Ha-ha-ha, engkau baru tahu kelihaian Tambolon, Nona Lu. Bawa dia ke kamarku dan lempar Topeng Setan itu ke dalam kamar, jaga baik-baik dan belenggu dia jangan sampai terlepas. Tetapi perlakukan mereka itu, calon-calon pembantuku, baik-baik!”

Ceng Ceng mendongkol bukan main, dan juga terheran-heran. Tadi, ketika dia hendak mengamuk mati-matian mempertahankan diri dan melindungi Topeng Setan, tiba-tiba kedua kakinya ditotok orang sehingga dia terguling tanpa dapat dipertahankannya lagi, bahkan ketika dia roboh itu, pedang Ban-tok-kiam juga terlepas dari tangannya karena sikunya ditotok orang. Padahal tidak ada orang lain yang dekat dengannya kecuali Si Topeng Setan yang telah rebah pingsan di atas lantai! Apakah pembantunya itu yang menotoknya?

Ahhh, agaknya tidak mungkin demikian. Ataukah Raja Tambolon sedemikian lihainya sehingga raja itu yang mengeluarkan ilmunya yang mukjijat? Akhirnya dia berhenti memaki-maki dan memutar otaknya mencari akal ketika dia dibawa orang ke dalam sebuah kamar dan diikat di atas pembaringan, tidak dapat bergerak dan banyak perwira menjaga di dalam dan di luar kamar itu. Dia menanti apa yang akan terjadi terhadap dirinya sambil mengasah otak mencari akal, sambil diam-diam dia mengkhawatirkan nasib Topeng Setan.

********************

Tek Hoat terpaksa mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang bergegas menyelamatkan dirinya ke dalam kota Teng-bun yang dijadikan pusat dan markas besar pemberontak karena dia merasa tidak aman berada di luar benteng ini melihat betapa banyaknya terdapat mata-mata pemerintah. Dia khawatir kalau-kalau sampai dia tertangkap basah sebagai puncak pimpinan pemberontak mewakili kakaknya, Pangeran Liong Bin Ong yang masih berada di kota raja mendekati Kaisar.

Tek Hoat diam-diam merasa dongkol bukan main. Dia merasa heran mengapa segala hal yang dipegangnya selalu mengalami kegagalan! Mengapa di dalam waktu singkat ini dia telah bertemu dengan begitu banyak orang pandai yang agaknya pada saat itu semua berkumpul di utara, di tempat yang sedang geger ini.

Yang membuat dia merasa dongkol sekali adalah karena dia kembali telah kehilangan jejak Puteri Syanti Dewi! Sambil mengawal Pangeran Liong memasuki benteng Teng-bun, dia mengenangkan puteri yang cantik dan halus lembut itu, dan ia teringat betapa halus sikap puteri itu terhadap dirinya ketika dia dulu sengaja menghadang perjalanan rombongan puteri ini di dekat sungai, betapa halus puteri itu minta kepadanya agar dia pergi karena Sang Puteri hendak turun mandi di sungai! Teringat pula olehnya betapa Syanti Dewi juga bersikap halus sekali, jauh bedanya dengan sikap kasar Lu Ceng saat ia menyamar sebagai tukang perahu dan ‘menolong’ mereka dengan perahunya. Gara-gara kenakalan Ceng Ceng maka dia terpaksa berpisah dan kehilangan mereka! Bahkan hampir saja kitab-kitab dalam bungkusannya lenyap di dasar sungai karena dibuang oleh gadis galak itu.

Di kota Koan-bun, secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Syanti Dewi! Mula-mula bahkan melihat puteri itu di dusun Ang-kiok-teng di dalam warung. Betapa dia ingin merampas puteri itu di waktu itu juga. Akan tetapi sungguh tidak beruntung baginya, puteri itu disertai tiga orang yang demikian lihainya. Dua orang pemuda itu saja sudah amat lihai, dan dia ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah menolong Jenderal Kao, dengan sendirinya mereka tentulah orang-orang pemerintah, mungkin mata-mata yang memiliki kepandaian lihai. Juga orang tua itu, sungguh amat lihai dan tidak boleh dipandang ringan sama sekali, apa lagi orang setengah tua itu disebut paman oleh mereka.

Di kota Koan-bun dia telah diam-diam membayangi mereka, akan tetapi kedatangan pasukan liar dari Tambolon mengakibatkan geger, ditambah lagi dengan gerakan orang-orang pemerintah dan pendudukan kota Koan-bun oleh Panglima Kim Bouw Sin, membuat dia kembali kehilangan Syanti Dewi di antara orang banyak. Dia sudah mengerahkan kaki tangannya untuk mencari di seluruh kota Koan-bun, namun hasilnya sia-sia. Gadis bangsawan itu seperti lenyap ditelan bumi tidak meninggalkan bekas. Hal inilah yang membuat Tek Hoat termenung dengan hati kesal dan murung, kehilangan kegembiraan hatinya, sungguh pun kini gerakan pemberontakan mulai maju dan hal ini berarti bahwa cita-citanya makin mendekati kenyataan. Dia sendiri merasa heran mengapa setelah kini bertemu dengan Syanti Dewi, dia menjadi kehilangan gairahnya terhadap cita-citanya, bahkan hampir tidak peduli lagi tentang usaha pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Liong.

“Semua gara-gara gadis laknat si Lu Ceng itu,” pikirnya gemas.

Kalau tidak ada Lu Ceng, tentu sekarang dia masih berdekatan dengan Syanti Dewi. Akan tetapi, dia sendiri merasa heran mengapa kalau dia sudah bertemu dengan Lu Ceng yang nakal itu, dia seperti mati kutu, padahal biar pun gadis itu memiliki ilmu tentang racun yang amat lihai, dia toh akan dapat mengalahkan gadis itu dengan mudah. Ada sesuatu yang aneh terjadi kalau dia berhadapan dengan Lu Ceng, ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat dia tidak tega untuk memusuhinya!

Kini dia mengalihkan kemendongkolan hatinya pada dua orang pemuda tampan yang menemani puteri itu, dan kepada orang setengah tua gagah sederhana itu. Mereka itulah yang menjadi penghalang sehingga kembali dia kehilangan Syanti Dewi. Tadinya dia hampir berhasil menawan atau membunuh dua orang pemuda itu, dengan bantuan tiba-tiba dari Hek-wan Kui-bo Si Nenek Hitam buruk yang muncul membantunya, bahkan seorang di antara dua orang pemuda itu telah terluka parah. Akan tetapi, ini pun akhirnya gagal karena pemuda yang terluka itu dapat melenyapkan diri sedangkan pemuda yang kedua telah ditolong oleh laki-laki setengah tua yang amat hebat ilmunya itu! Sungguh sial! Seolah-olah segala yang dipegangnya tidak berhasil baik!

Setelah Pangeran Liong Khi Ong memasuki gedung yang disediakan untuknya, Tek Hoat diperbolehkan mengaso. Pemuda ini memasuki kamarnya sendiri. Dia melempar tubuhnya ke atas pembaringan kemudian memejamkan mata, mengenangkan semua pengalamannya sejak dia meninggalkan ibunya. Betapa lama sudah dia meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah Huang-ho.

Teringat akan ibunya, tiba-tiba timbul rasa rindu di dalam hatinya. Sesungguhnya, di lubuk hatinya terdapat rasa kasih sayang yang amat besar terhadap ibu kandungnya, juga perasaan iba yang amat besar. Teringat dia ketika beberapa tahun yang lalu dia meninggalkan ibunya, dia berjanji akan pulang menengok ibunya. Kenyataannya, sudah lima enam tahun dia pergi, tidak pernah dia pulang ke Bukit Angsa! Sungguh kasihan ibunya, hidup seorang diri, menanti-nanti kedatangannya.

“Kau anak tidak berbakti!” Dia memaki dirinya sendiri. “Sebetulnya engkau sudah harus pulang.”

“Tidak!” Bentaknya sambil membuka kembali matanya. “Kalau kini aku pulang dalam keadaan begini saja, tentu hati ibu akan kecewa. Tidak! Aku baru akan pulang jika cita-citaku sudah berhasil, menjadi raja atau pangeran atau setidaknya seorang pembesar yang berkedudukan tinggi dan mulia di kota raja. Baru aku akan pulang menjemput ibu dengan segala hormat...”

Dia lalu memejamkan matanya kembali, membayangkan betapa dia menjemput ibunya dengan kereta besar dan mewah, dikawal pasukan yang gagah, kemudian mengajak ibunya memasuki sebuah istana miliknya sendiri! Betapa ibunya akan girang dan bangga!

Dan dari dalam istana itu menyambut keluar mantu ibunya, Puteri Syanti Dewi yang cantik jelita! Puteri Raja Bhutan. Betapa ibunya akan makin bangga dan dia... ahhh! Tek Hoat bangkit dan duduk, bertopang dagu. Dia melamun terlalu jauh, sedangkan puteri itu pun berada di mana dia tidak tahu. Mengapa dia bermalas-malas seperti ini?


BERSAMBUNG KE JILID 17


Thanks for reading Kisah Sepasang Rajawali Jilid 16 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »