Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SEPASANG RAJAWALI

BAGIAN 04

Akan tetapi, ketika mereka tiba di tengah hutan yang subur itu, mereka tertegun melihat seorang laki-laki sedang tidur di atas rumput, berbantal batu, kedua lengan bersilang depan dada dan mukanya tertutup oleh sebuah caping besar bundar. Seekor kuda yang kelihatan lelah sekali sedang makan rumput tak jauh dari laki-laki itu.

Panglima pasukan dan kakek Lu Kiong yang memang di sepanjang perjalanan sudah menduga akan datangnya penyerbuan pihak musuh, tentu saja menjadi curiga ketika melihat laki-laki itu. Akan tetapi karena merasa terlalu tinggi untuk menegur, panglima itu memanggil lima orang prajurit yang sedang duduk tak jauh dari situ dengan lambaian tangannya.

“Usir dia pergi! Sang puteri berkenan hendak mandi di mata air ini,” katanya.

Lima orang prajurit itu dengan sikap gagah, galak dan langkah lebar menghampiri orang yang sedang tidur. “Heiii! Bangun! Sang puteri hendak mempergunakan tempat ini, kau pergi dan pindahlah tidur di lain tempat!” bentak seorang di antara para prajurit itu.

Akan tetapi orang itu tetap tidur, sama sekali tidak bergerak.

“Haiiii! Tulikah engkau?” bentak prajurit kedua.

“Apakah kau sudah mati barangkali?” bentak prajurit ketiga.

“Tak mungkin mati, lihat lututnya bergerak-gerak!”

Memang, orang yang tertidur itu lutut kanannya terangkat dan kini bergerak, akan tetapi terhenti lagi karena dibicarakan orang.

“Haiii, petani...! Lekaslah bangun dan pergi. Apakah kau ingin diseret?” bentak pula seorang prajurit.

Tetap saja orang itu tidak mau bergerak.

Melihat ini, seorang prajurit yang berkumis tebal memegang sebelah kaki orang itu, lalu menarik sekuat tenaga. Akan tetapi, betapa herannya semua orang melihat bahwa si kuat ini sama sekali tidak mampu membuat orang itu bergerak, bahkan menggerakkan kaki itu pun dia tidak mampu! Seolah-olah bukan orang yang ditarik-tariknya, melainkan patung batu yang luar biasa beratnya. Teman-temannya menjadi heran, dan penasaran, kemudian maju bersama dan lima orang itu membetot-betot tubuh orang yang tidur itu. Terdengar mereka mengeluarkan suara ah-ih-uh ketika mengerahkan tenaga, namun tetap saja orang yang dikeroyok lima ini tidak dapat digerakkan sedikit pun juga!

“Eh-eh, apakah engkau minta dipukul?” Seorang prajurit membentak dan kuda orang itu menjadi ketakutan melihat dan mendengar ribut-ribut sehingga binatang ini melarikan diri agak jauh dari tempat itu.

Karena orang itu tetap tidur dengan muka ditutup caping, lima orang prajurit itu menjadi hilang sabar, malu dan penasaran. Mereka berlima tidak mampu menggerakkan orang yang tidur ini. Jelas bahwa orang itu tidak tidur, maka mereka merasa dianggap ringan dan hina. Kini mereka berlima turun tangan menyerang dengan pukulan kalang kabut!

“Plak-plak-plak-duk-dukkk...!”

Aneh bukan main. Tanpa menurunkan topi yang menutupi seluruh mukanya, orang itu dapat menggerakkan kaki tangannya menangkisi semua pukulan. Bukan saja pukulan-pukulan itu tertangkis, bahkan lima orang prajurit itu akhirnya mundur sambil meringis, memegangi lengan mereka yang menjadi bengkak-bengkak terkena tangkisan orang yang masih tertutup mukanya oleh caping itu!

“Hemmm...!” Panglima sudah memegang gagang pedangnya, akan tetapi dia didahului oleh Ceng Ceng yang sekali melompat telah berada di dekat orang itu sambil berkata, suaranya lantang penuh teguran, “Kalau kau seorang gagah, tentu kau tahu bahwa tempat ini bukan hanya milikmu seorang, dan tentu kau mempunyai kesopanan untuk menyingkir karena ada wanita hendak mandi di sini!”

“Adik Candra... jangan...!” Tiba-tiba sang puteri berseru dan sudah lari mendatangi dan berkata dengan halus kepada orang yang mukanya masih ditutupi topi itu. “Harap kau suka pergi dari sini dan setelah kami selesai mempergunakan mata air ini, tentu saja kau boleh menempatinya lagi.”

Tubuh itu bergerak-gerak sedikit, kemudian tangan kanannya meraba tanah, menepuk dengan pengerahan tenaga dan tubuhnya mencelat ke atas punggung kudanya yang berada agak jauh dari situ, kemudian kuda itu membalap pergi meninggalkan suara derap kaki dan sedikit debu mengepul. Semua itu dilakukan tanpa membuat capingnya terbuka!

“Hebat...!” Kakek Lu Kiong memuji dengan kagum.

“Mungkin dia mata-mata musuh...” bisik panglima komandan pasukan yang segera pergi dan memerintahkan para penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan di sekitar hutan itu.

Kakek Lu Kiong mengerutkan alisnya, termenung dan meraba-raba jenggotnya, lalu berkata kepada panglima itu, “Dia adalah seorang Han, dan melihat gerak-geriknya, dia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Sayang bahwa kita belum dapat melihat wajahnya sebelum dia pergi. Kurasa dia bukanlah mata-mata musuh, karena kalau dia mata-mata musuh, tentu tidak demikian perbuatannya, melainkan menyelidiki kita dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Betapa pun juga, dia lihai sekali dan kita harus berhati-hati.”

Juga Tan-ciangkun yang diberitahu tentang orang asing bercaping itu jadi termenung. “Saya mengenal banyak tokoh kang-ouw, dan tentu saja banyak yang bercaping dan berilmu tinggi. Mungkin saya dapat mengenalnya kalau melihat wajahnya. Akan tetapi karena jelas tidak mengganggu, bahkan dalam bentrokan itu dia tidak menewaskan seorang pun prajurit, kurasa dia tidak mempunyai niat buruk terhadap rombongan kita.”

Sementara itu, Ceng Ceng dan sang puteri mandi di mata air. Mereka membicarakan juga laki-laki yang aneh tadi.

“Dia tentu orang jahat. Kalau tadi dia tidak lekas menyingkir, tentu aku akan menghajar dia!” kata Ceng Ceng yang merasa mendongkol juga karena orang asing itu dipuji-puji dan orang itu mendapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya. Memang dara ini memiliki watak yang kadang-kadang keras tidak mau kalah, dan dia paling tidak senang melihat orang memamerkan kepandaiannya.

“Ahhh, belum tentu, adik Candra. Kurasa, melihat gerak-geriknya, dia bukanlah seorang jahat. Buktinya, dikeroyok demikian banyaknya prajurit, dia tidak membunuh seorang pun di antara mereka, padahal kalau melihat kepandaiannya, tentu dengan mudah dia mampu melakukan hal itu.”

“Hemm, dia memang sengaja hendak memamerkan kepandaiannya!” bantah Ceng Ceng masih tak puas. “Kalau saja diberi kesempatan, akan kubuktikan bahwa lagaknya itu hanya kosong belaka!”

Maklum akan watak adik angkatnya, puteri itu hanya tersenyum dan tidak menyebut lagi perihal orang aneh itu. Juga para tokoh dalam rombongan itu tidak bicara lagi tentang orang aneh, dan orang itu hanya disebut-sebut dengan bisik-bisik di antara para prajurit. Namun, peristiwa itu mempertinggi kewaspadaan rombongan dan penjagaan dilakukan ketat malam itu. Karena para penjemput belum juga muncul, maka terpaksa mereka bermalam di hutan itu dengan membangun tenda-tenda darurat. Sang puteri dan Ceng Ceng, juga para pelayan wanita, tidur di dalam kereta joli.

Malam itu sunyi sekali setelah lewat tengah malam. Sebagian besar prajurit yang tidak bertugas jaga, tidur nyenyak karena mereka memang sudah lelah sekali. Akan tetapi mereka yang bertugas jaga, tetap berjaga dengan penuh kewaspadaan di tempat masing-masing. Perondaan dilakukan terus-menerus dari tempat penjaga yang satu kepada tempat penjaga yang lain. Juga kakek Lu Kiong, komandan pasukan, dan Tan-ciangkun tidak dapat tidur dan mereka bercakap-cakap di dalam tenda melewatkan waktu malam yang merupakan bahaya bagi mereka itu.

Di dalam kereta joli, Ceng Ceng dan Syanti Dewi juga tidak dapat tidur. Mereka sudah terbiasa dengan kamar yang serba lengkap, dengan pembaringan yang lunak sehingga tidur setengah duduk di kereta joli merupakan hal yang sukar dilakukan. Maka keduanya juga setengah berbaring sambil bercakap-cakap. Diam-diam keduanya merasakan sesuatu yang aneh dan seolah-olah ada tanda-tanda rahasia akan datangnya hal yang tidak mereka kehendaki. Setelah munculnya orang aneh siang tadi, segala sesuatu kelihatan penuh rahasia. Suara angin berdesir mempermainkan daun-daun pohon saja terdengar seperti bisikan-bisikan iblis dan siluman. Bayang-bayang pohon yang dibuat oleh sinar lentera penjagaan tampak seperti bayangan raksasa! Keadaan serba menyeramkan dan menegangkan.

“Kulik! Kulik! Kulik!”

Suara burung malam itu terdengar jelas sekali karena suasana yang amat sunyi. Suara itu memecah kesunyian dan Puteri Syanti Dewi menggerakkan kedua pundaknya. Tengkuknya terasa dingin meremang.

“Ihhhh... menyeramkan sekali...!” Bisiknya. “Adik Candra, hatiku terasa tidak enak sekali. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan kita?”

Ceng Ceng juga merasa seram, namun dia menghibur hati kakak angkatnya dengan senyum lebar. “Apa yang dapat terjadi kepada kita? Engkau dikawal oleh lima ratus prajurit pilihan, enci Syanti.”

“Lima ratus orang prajurit di tempat seperti ini tidaklah meyakinkan sekali, adik Candra. Aku mendengar bahwa di daerah perbatasan ini sering kali muncul gerombolan yang dipimpin oleh Raja Muda Tambolon yang biadab itu.”

“Siapakah Raja Muda Tambolon yang terkenal itu, enci?”.

Syanti Dewi bergidik. “Aku sendiri belum pernah melihat orangnya. Akan tetapi menurut kabar, dia adalah seorang peranakan Tibet dan Mongol, seorang laki-laki bertubuh raksasa yang amat sakti dan juga amat kejam, terutama sekali terhadap wanita.”

“Hemmm, kejam terhadap wanita? Bagaimanakah?”

“Hihh, aku merasa ngeri baru mengingat cerita yang kudengar itu saja. Bayangkan, kalau Tambolon sudah menyerang sebuah dusun, dia akan membunuh semua laki-laki yang tidak mau menyerah, dan tidak ada seorang pun wanita yang dilepaskannya. Semua kanak-kanak dibunuh, dan wanita dari usia empat belas tahun ke atas, semua menjadi korban kebiadabannya. Kabarnya, dia sendiri akan memilih sedikitnya lima orang wanita tercantik untuk dia permainkan sampai bosan. Ada pun sisanya, semua diberikan begitu saja kepada para anak buahnya dan terjadilah peristiwa yang lebih mengerikan dari pada penyembelihan terhadap kaum pria dan anak-anak. Para wanita itu diperkosa di dalam rumah, di jalan-jalan, di sawah, di mana saja mereka ditemukan, bahkan di antara mayat-mayat suami dan atau saudara-saudara mereka.”

“Keparat jahanam!” Ceng Ceng mendesiskan kata-kata ini penuh kebencian.

“Dan beberapa hari kemudian, wanita-wanita tua dibunuh, yang muda digiring sebagai orang tawanan atau lebih tepat lagi, sebagai alat hiburan mereka sampai kaum wanita itu mati atau bunuh diri. Anak-anak yang lahir dari perbuatan laknat ini kelak menjadi anak buah gerombolan. Kabarnya Tambolon sendiri merupakan hasil kelahiran dari perbuatan biadab seperti itulah.”

“Hemm, kalau begitu biarlah mereka muncul. Ingin aku memenggal leher manusia iblis itu dengan pedangku sendiri!” Ceng Ceng berkata lagi.

Tiba-tiba, seolah-olah menjawab kata-kata Ceng Ceng, terdengar suara melengking tinggi berulang-ulang. Mula-mula suara itu datangnya dari arah barat, kemudian disusul dari selatan, timur dan utara. Suara melengking yang agaknya bukan keluar dari leher manusia, melainkan dari semacam alat tiup yang aneh. Segera terdengar teriakan-teriakan dan kegaduhan hebat di luar kereta joli.

“Apa itu...?” Syanti Dewi bertanya kaget dan mukanya pucat.

“Jangan keluar dulu, biar aku yang memeriksa!” Ceng Ceng sudah meloncat keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hatinya melihat ratusan anak panah berapi datang bagaikan hujan menyerang tempat itu!

Di sana-sini sudah terjadi kebakaran pada tenda-tenda dan keadaan menjadi kacau. Para prajurit yang baru saja terbangun dari tidur dan dalam keadaan panik, lari ke sana ke mari sampai akhirnya teriakan-teriakan kakek Lu Kiong, komandan pasukan, Tan-ciangkun dan beberapa orang perwira lain dapat meredakan kepanikan. Pasukan-pasukan disusun dan dibagi empat, siap menghadapi serangan dari empat penjuru itu.

Tak lama kemudian, muncullah pihak musuh yang menyerang dari empat penjuru, dan terjadi pertempuran yang amat hebat. Perang yang terjadi di dalam gelap itu amat kejam dan dahsyat, namun sungguh tidak menguntungkan pihak pasukan Bhutan. Mereka sebagian besar baru saja bangun tidur, masih nanar dan agaknya pihak penyerang lebih tangkas dan lebih biasa dengan pertempuran di dalam hutan yang gelap. Selain itu, segera didapatkan kenyataan yang mengejutkan bahwa jumlah musuh luar biasa banyaknya, jauh lebih banyak dari pada jumlah pasukan Bhutan yang lima ratus orang itu. Juga di pihak musuh banyak terdapat orang-orang pandai dari bermacam suku bangsa. Ada pendeta Lama dari Tibet, ada orang Turki yang bersorban, orang Mongol dan juga orang Han!

Perang tanding mati-matian itu terjadi sampai hampir pagi. Ceng Ceng yang siap dengan pedang di tangan melindungi Syanti Dewi yang juga memegang pedang. Ada beberapa orang musuh dapat menyelundup masuk dan Ceng Ceng sudah merobohkan empat orang musuh, sedangkan Syanti Dewi sendiri yang selama hidupnya belum pernah bertempur, apa lagi membunuh orang, terpaksa membunuh seorang laki-laki tinggi besar yang hendak menangkapnya. Kini dengan muka pucat dan tubuh menggigil puteri itu memandang korbannya. Pedangnya tertinggal di dalam perut korban itu karena merasa terlalu ngeri untuk mencabut pedangnya!

Tiba-tiba kakek Lu Kiong datang dengan muka agak pucat. Seluruh pakaian kakek itu berlumur darah, dan mukanya penuh keringat. Pedang di tangan kakek ini pun penuh berlepotan darah dan kelihatannya dia lelah sekali. Seperti juga para prajurit dan para pimpinan, kakek ini telah ikut berperang dan mengamuk seperti seekor harimau.

“Ceng Ceng... cepatlah persiapkan diri dan tuan puteri! Kita harus melarikan diri, pihak musuh terlalu kuat!”

“Apa? Melarikan diri? Tidak, kongkong!” Ceng Ceng membantah marah. “Biarlah kita melawan sampai titik darah terakhir!”

“Hushhhhh! Kau kira kakekmu ini pengecut? Kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, kita harus menyelamatkan sang puteri!”

Barulah Ceng Ceng teringat. Dia menoleh dan melihat Syanti Dewi berdiri pucat memandang orang yang telah ditusuk perutnya dengan pedangnya itu. Orang itu masih berkelojotan di depan kakinya!

“Bagaimana kita bisa melarikan sang puteri, kongkong? Tempat ini sudah terkurung.”

“Cepat, kalian berdua pakai pakaian ini dan mari ikut dengan aku!” Kakek Lu Kiong memberikan dua stel pakaian petani kepada Ceng Ceng dengan nada memerintah. “Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan tuan puteri. Ini sudah diatur oleh kami, komandan pasukan, Tan-ciangkun, dan aku sendiri. Kita berdua harus dapat mengawal dan menyelamatkan puteri keluar dari tempat ini!”

Dua orang gadis itu tidak banyak membantah lagi, lalu mengenakan pakaian petani yang agak kebesaran itu, menutupi pakaian mereka sendiri, menguncir rambut seperti model laki-laki, kemudian tergesa-gesa mengikuti kakek itu menyelinap di antara pohon-pohon gelap. Sang puteri menyerahkan segenggam perhiasan berharga kepada Ceng Ceng untuk membantu membawanya sebagai bekal. Dengan perhiasan di kantung baju yang lebar, dan pedang disembunyikan di bawah baju, mereka bergerak di bawah pohon-pohon. Syanti Dewi telah mendapatkan kembali pedangnya setelah dicabut dari perut penyerangnya tadi dan dibersihkan darahnya pada pakaian korban.

Akan tetapi, di mana-mana mereka bertemu dengan pihak musuh dan beberapa kali terpaksa mereka terpaksa membuka jalan darah dan merobohkan musuh untuk dapat melanjutkan usaha mereka melarikan diri. Namun, kakek Lu Kiong sedapat mungkin menghindarkan diri dari pertempuran, memilih lowongan-lowongan untuk keluar dari dalam hutan tanpa diketahui musuh.

Akhirnya, setelah matahari pagi tersembul di antara daun-daun pohon, mereka bertiga telah berhasil lolos dan keluar dari dalam hutan di mana masih berlangsung perang yang amat hebat itu. Suara pertempuran masih terdengar jauh di luar hutan. Baru saja hati ketiga orang pelarian itu merasa lega karena dapat lolos, dan memasuki sebuah hutan kecil di antara gurun pasir yang hanya kadang-kadang saja menyelingi gundukan perbukitan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lima orang sudah berdiri di depan mereka dengan golok terhunus di tangan!

“Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga tentu akan ada yang menyelinap ke sini! Eh, kakek tua, apakah kalian ini anggota rombongan puteri... ehhhh! Kalian berdua ini begini tampan, persis perempuan... heiiii, bukankah kalian perempuan?” Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bermata lebar menunjuk dengan goloknya ke arah muka Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Ahhhh, dia puteri Bhutan! Tidak salah lagi! Aku pernah melihatnya, dia Puteri Bhutan!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang tinggi kurus bermuka kuning. Mendengar ini, lima orang itu cepat maju mengurung.

“Ha-ha-ha-ha, benarkah itu, kawan? Kalau begitu, kita telah berhasil menjebak kakap dalam jaring kita! Ha-ha-ha, raja muda tentu akan memberikan hadiah banyak sekali kepada kita. Tangkap dia!” teriak si muka hitam, dialah yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan lima orang kasar ini.

Si muka hitam dan si muka kuning sudah menggunakan golok mereka untuk menerjang kakek Lu Kiong, sedangkan tiga orang teman mereka menubruk Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Plak-plak, dess!”

Tiga orang itu tersungkur karena Ceng Ceng sudah memukul dan menendang dua orang, sedangkan Syanti Dewi sendiri merobohkan seorang dengan sebuah tendangan kilat.

“Tranggg...! Cringgg...!”

Kakek Lu Kiong berhasil menangkis dua batang golok lawan, biar pun dia terkejut sekali karena ketika dia menangkis, dia merasa betapa dua kali pedangnya tergetar hebat, tanda bahwa si muka hitam dan si muka kuning itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali!

Melihat tiga orang temannya tersungkur dan meloncat kembali, si muka hitam tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya memiliki kepandaian juga si puteri dan pelayannya...!”

“Mulut busuk! Aku bukan pelayan!” bentak Ceng Ceng yang marah sekali dan dia sudah menghunus pedangnya, demikian pula Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha-ha, tangkap mereka, jangan sampai mereka terluka. Sang Puteri boleh untuk Raja Muda, akan tetapi si cantik liar itu untukku saja, ha-ha-ha!”

“Keparat!” Lu Kiong sudah menggerakkan pedangnya menyerang dan dapat ditangkis oleh si muka hitam. Segera terjadi pertandingan yang seru sekali antara kakek Lu Kiong dikeroyok dua orang yang ternyata memiliki ilmu silat yang tangguh juga.

Tiga orang anak buah mereka itu sudah mencabut golok dan kini menyerang Ceng Ceng dan Syanti Dewi. Akan tetapi karena mereka tidak berani melukai, sedangkan dua orang dara itu melawan mati-matian, tentu saja tiga orang itu menjadi kewalahan, betapa pun lihai ilmu silat mereka. Ceng Ceng mulai mendesak dengan pedangnya dan tiga puluh jurus kemudian, dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan bacokan pedangnya yang hampir memisahkan kepala dari tubuh lawan itu!

Terdengar teriakan keras. Ceng Ceng melihat kakeknya juga telah berhasil merobohkan si muka kuning yang terbabat hampir putus pinggangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa kakeknya juga terluka parah pada pundak kirinya sehingga bajunya penuh darah.

“Kongkong...!” Teriaknya sambil menangkis dua batang golok yang menyerangnya.

“Ceng Ceng, jaga sang puteri...!” kakek itu berteriak.

“Wuuuutttt... singgg...!” Golok itu menjadi sinar terang meluncur cepat sekali dari atas membacok ke arah kepala kakek Lu Kiong. Si muka hitam ternyata marah sekali melihat saudaranya tewas dan kini dia mengerahkan tenaga untuk membalas dendam.

“Tringggg... augghhh...!” Tubuh kakek Lu Kiong tersungkur dan dia bergulingan.

Ketika menangkis tadi, rasa nyeri menusuk pundak kirinya yang terluka sehingga dia kehilangan tenaga dan hanya dengan jalan menjatuhkan diri saja dia terbebas dari bacokan golok. Si muka hitam mengejar dan menghujankan bacokan. Namun kakek itu dengan sigapnya bergulingan sambil mengangkat pedang beberapa kali menangkis, lalu dengan teriakan keras dia sudah meloncat bangun dan segera terjadi pertandingan mati-matian antara kedua orang itu.

“Kakekmu terluka... bantulah dia, adik Candra!” Syanti Dewi berkata sambil pedangnya membacok ke arah lawan yang dapat ditangkis oleh lawan itu.

“Tidak, kita bereskan dulu dua ekor anjing ini!” Ceng Ceng berseru.

Dia mengerti bahwa puteri itu bukanlah lawan kedua orang yang cukup lihai ini, maka ia cepat memutar pedangnya. Kemarahan melihat kakeknya terluka menambah semangat dara ini. Dengan putaran pedang secepat kitiran, akhirnya ia berhasil menendang roboh seorang lawan. Tendangan dengan ujung sepatu yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga orang itu berlutut tanpa mampu berdiri kembali.

“Singggg...!” Pedang di tangan Syanti Dewi menyambar.

“Tranggg...!”

Orang yang sudah berlutut itu berusaha menangkis, namun karena kedudukannya yang tidak baik, tangkisannya membuat goloknya terpental dan terlempar.

“Wuuttt...! Crottt!” pedang Ceng Ceng sudah menyambar dan merobek tenggorokannya.

Orang itu mengeluarkan suara seperti babi disembelih dan roboh terjengkang, darah muncrat-muncrat dari lehernya yang coba ditutupinya dengan telapak tangan. Melihat ini, Syanti Dewi loncat mundur dan membuang muka dengan penuh kengerian. Hampir dia muntah-muntah menyaksikan pemandangan yang mengerikan hatinya ini.

Ceng Ceng mengamuk dan menekan lawan yang tinggal seorang lagi itu. Orang itu kini menjadi panik karena kedua orang kawannya telah tewas. Setelah menangkis tiga kali dan selalu tangannya tergetar sehingga goloknya hampir terlepas, dia berteriak, meloncat ke belakang hendak lari.

“Robohlah...!” Teriak Ceng Ceng. Dengan gerakan indah dia melontarkan pedangnya ke depan. Pedang itu meluncur seperti anak panah dan menancap di punggung orang itu, menembus sampai ke dada. Dengan teriakan keras orang itu roboh terguling.

“Kongkong...!” Ceng Ceng menjerit ketika melihat kakeknya terhuyung, lalu kakek itu roboh di atas mayat si muka hitam yang baru saja dirobohkan dan ditewaskan.

Ternyata kakek yang kosen ini biar pun berhasil membunuh si muka hitam yang lihai, menderita luka pula karena kena bacokan golok si muka hitam yang mengenai dadanya sehingga dada itu terobek lebar!

“Kongkong...!” Ceng Ceng berlutut dan memangku kepala kakeknya. Wajahnya pucat dan matanya terbelalak penuh kegelisahan menyaksikan keadaan kakeknya yang telah terluka hebat dan seluruh pakaiannya berlepotan darah itu.

Kakek Lu Kiong membuka matanya, memandang kepada Ceng Ceng lalu kepada Syanti Dewi yang juga sudah datang berlutut di dekat Ceng Ceng. “Ceng Ceng, kau... kau selamatkan puteri... harus. Sekarang juga... pergilah kau ke kota raja... jumpai di sana Puteri Milana, dia sahabat mendiang ibumu. Lindungi puteri dengan nyawamu sebagai... sebagai keturunan seorang bekas pengawal setia...” Kakek itu menghentikan kata-katanya karena napasnya telah terhenti.

“Kongkong...!”

Ceng Ceng memeluk kepala kakek itu, kemudian dia mengangkat mukanya. Dia tidak menangis, walau pun ada dua butir air mata di pipinya yang pucat. “Engkau benar, kongkong! Kita adalah pengawal-pengawal setia sampai mati. Engkau gugur sebagai orang gagah, kongkong! Dan aku akan melanjutkan kegagahanmu.” Dia melepaskan pelukannya dan dengan hati-hati dia merebahkan tubuh kakeknya itu di antara mayat-mayat lima orang lawan tadi.

“Marilah, enci. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum musuh datang!”

“Tapi... tapi jenazah kakekmu...”

“Tidak apa! Kongkong akan tahu bahwa kita tidak sempat menguburnya. Biarlah semua orang melihat bahwa kongkong tewas di antara musuh-musuhnya dalam tugas sebagai seorang pengawal perkasa! Marilah...!” Sekuatnya Ceng Ceng berusaha menahan tangis karena sesungguhnya hatinya perih sekali harus meninggalkan mayat kakeknya seperti itu. Namun dia tahu bahwa kalau dia terlambat, musuh akan datang dan dia akan sukar sekali menyelamatkan sang puteri.

Puteri Syanti Dewi menahan isak, mengeluarkan sehelai kalung dan sambil berlutut mengalungkan benda itu di leher kakek Lu Kiong. “Ini adalah kalungku sendiri, biarlah sebagai tanda terima kasihku...” Dia terisak dan lengannya disambar oleh Ceng Ceng lalu diajaknya puteri itu melarikan diri. Hampir saja Ceng Ceng tadi menangis melihat sikap puteri itu, dan dengan mengeraskan hati dia setengah menyeret kakak angkatnya karena kalau dia menurutkan hati dan ikut menangisi jenazah kakeknya, keadaan mereka bisa berbahaya sekali.

Demikianlah, dengan menyamar sebagai dua orang petani yang melarikan diri karena terjadi perang, Ceng Ceng dan Syanti Dewi melewati gurun pasir, pegunungan dan hutan-hutan lebat menuju ke timur. Tentu saja perjalanan itu sukar bukan main bagi mereka berdua, seperti dua ekor ikan kecil yang dilepas di tengah lautan. Mereka tidak mengenal jalan. Satu-satunya yang mereka ketahui hanyalah bahwa kota raja Kerajaan Ceng berada jauh sekali di timur!

Mereka membawa bekal banyak perhiasan berharga, namun apa artinya semua itu kalau mereka selama belasan hari tidak pernah bertemu dengan orang lain? Mereka terpaksa harus makan binatang buruan dan daun-daun, minum dari air sungai dan mereka selalu dalam keadaan waspada dan gelisah karena mereka maklum bahwa sebelum tiba di kota raja, mereka selalu akan terancam bahaya karena pihak musuh, yaitu orang-orang bawahan Raja Muda Tambolon tentu melakukan pengejaran.

* * * * * *

“Lee-ko, mari kita turun dari sini. Lihat itu sepasang rajawali kita beterbangan di atas permukaan laut, agaknya tentu ada sesuatu terjadi. Mungkin ada ikan besar terdampar ke pulau seperti dahulu!” kata Kian Bu sambil menudingkan telunjuknya ke bawah puncak di mana tampak sepasang rajawali itu terbang rendah di permukaan laut.

“Ahh, Bu-te, sekarang bukan waktunya bermain-main. Ingat, hari ini kita harus melatih sinkang untuk menghimpun Hui-yang-sinkang (Tenaga Sakti Inti Api) yang amat sukar.”

“Memang sukar, Lee-ko. Tidak semudah ketika kita melatih Swat-im-sinkang.”

“Tentu saja, untuk menghimpun Swat-im-sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) kita dibantu oleh hawa dingin dan salju, sedang Hui-yang-sinkang adalah sebaliknya, menyalurkan sinkang menjadi berhawa panas. Karena sukarnya, maka kita harus giat berlatih, jangan terlalu banyak main-main. Marilah kita berlatih lagi, kurasa di dalam goa itu sudah cukup panas, apinya sudah sejak pagi tadi menyala.”

Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tidak berani membantah kakaknya dan mereka memasuki sebuah goa di puncak itu. Kalau orang lain yang belum terlatih, baru memasuki goa itu saja tentu tidak akan kuat bertahan. Di situ dinyalakan api arang yang amat besar sehingga hawa menjadi panas luar biasa, baru masuk saja terasa kulit seperti dibakar. Namun kedua orang pemuda yang sudah terlatih itu seolah-olah mereka tidak merasakan hal ini. Mereka berjalan masuk dan duduk bersila, mulai berlatih Hui-yang-sinkang.

Kedua orang muda putera majikan Pulau Es ini memang selalu tekun berlatih silat semenjak mereka dahulu tersesat ke Pulau Neraka dan terancam bahaya maut. Biar pun mereka dapat terhindar dari mala petaka, bahkan pulang ke Pulau Es membawa sepasang rajawali, namun keduanya maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluar merantau hampir celaka, maka di bawah gemblengan dan bimbingan yang amat keras dari ayah mereka, keduanya berlatih setiap hari sehingga memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Akan tetapi belum lama mereka melakukan siulian (semedhi) untuk berlatih sinkang, tiba-tiba telinga Kian Bu menangkap suara rajawali yang melengking panjang. Dia membuka mata memandang keluar goa. Tentu saja dari dalam goa itu dia tidak melihat sepasang rajawali, akan tetapi kembali telinganya menangkap suara lengking panjang dari sepasang rajawali itu.

“Lee-ko...!”

Kian Lee membuka matanya memandang dengan cemberut. “Bu-te, mengapa kau belum juga berlatih? Apa kau ingin mendapat marah dari ayah?”

“Lee-ko dengarkan! Sepasang rajawali kita marah-marah, tentu ada sesuatu!”

Terpaksa Kian Lee mencurahkan perhatiannya pada pendengarannya dan tak lama kemudian dia mendengar lengking panjang dari sepasang rajawali mereka. Tak salah lagi, memang sepasang rajawali itu sedang marah-marah. Hal ini amat mengherankan karena kalau tidak terjadi sesuatu di Pulau Es, mengapa sepasang rajawali itu marah-marah?

“Hemm, mereka marah sekali. Entah apa yang sedang terjadi...,” kata pemuda yang bersikap tenang ini.

“Mendengar suara mereka, kalau tidak melihat dulu, mana bisa aku menyatukan tenaga untuk berlatih? Aku mau melihatnya dulu, Lee-ko!” Berkata demikian, Kian Bu sudah menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat keluar dari goa itu. Gerakannya memang hebat sekali karena pemuda ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

“Tunggu, Bu-te...!” Kian Lee juga meloncat dengan kecepatan yang sama.

Kedua orang kakak beradik itu berlari cepat menuruni puncak dan ketika mereka tiba di pantai tampaklah oleh mereka apa penyebab sepasang rajawali itu beterbangan rendah dan mengeluarkan suara pekik kemarahan. Kiranya Pulau Es kedatangan tamu! Hal yang luar biasa sekali karena selama mereka hidup di Pulau Es, baru satu kali ini ada orang-orang asing yang datang di Pulau Es, menggunakan sebuah perahu besar yang berlabuh di tepi pantai.

Kakak beradik itu merasa heran sekali, apa lagi ketika melihat bahwa yang datang adalah orang banyak. Ada dua puluh orang yang kini sudah mendarat dan mereka itu berdiri di pantai, berhadapan dengan Suma Han dan kedua orang isterinya! Karena ayah dan ibu mereka telah hadir, kakak beradik ini tidak berani bersuara, hanya melangkah maju dan mendengarkan percakapan.yang baru berlangsung. Agaknya orang tua mereka juga baru saja datang ke tempat itu menyambut para pendatang ini. Dua puluh orang itu rata-rata telah berusia lanjut, paling muda empat puluh lima tahun sampai ada yang sudah tua sekali. Akan tetapi yang paling menarik adalah dua orang kakek yang berdiri di depan, karena mereka ini adalah yang paling aneh di antara mereka semua.

Dua orang kakek ini menarik karena wajah mereka serupa benar. Sukar membedakan dua wajah itu yang bentuk dan garis-garisnya sama, bahkan rambut mereka yang panjang terurai sampai ke leher juga sama. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat menyolok pada pakaian mereka dan warna muka mereka. Yang seorang bermuka putih, bukan pucat melainkan putih seperti dicat! Kakek ini memakai baju tebal dari bulu, akan tetapi masih kelihatan seperti orang kedinginan, bahkan mukanya yang lebar bulat itu, yang berwarna putih, agak kebiruan seperti orang menderita dingin hampir beku.

Ada pun kakek kedua merupakan kebalikan dari kakek pertama. Kakek kedua bermuka merah, muka yang seperti orang kepanasan. Orang kedua ini hanya memakai celana sebatas lutut dan sepatu, sama sekali tidak memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kurus dengan tulang iga menonjol itu kelihatan. Anehnya, biar pun berada di Pulau Es yang dingin sekali, kakek ini masih kelihatan seperti orang kegerahan, mengipas-ngipas tubuh atasnya yang telanjang itu dengan sehelai sapu tangan yang sudah basah oleh keringatnya. Dan ini bukan hanya aksi belaka karena memang lehernya selalu basah oleh keringat!

Delapan belas orang yang lainnya terdiri dari empat belas orang kakek yang rata-rata kelihatan aneh dan membayangkan ilmu kepandaian tinggi, dan empat orang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun yang masing-masing membawa pedang di punggung mereka. Empat orang wanita ini kepalanya dibalut dengan kain putih seperti orang berkabung dan wajah mereka angker, penuh kebencian ketika mereka memandang kepada Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya. Melihat dari bentuk pakaian mereka, jelas bahwa empat orang wanita ini bukanlah wanita Han, sungguh pun wajah mereka seperti wanita Han biasa, akan tetapi pakaian mereka agak lain. Dan memang mereka itu adalah wanita-wanita dari Korea, dan tergolong tokoh-tokoh orang gagah di negeri itu.

Siapakah kedua orang kakek kembar yang agaknya menjadi pimpinan rombongan yang secara tidak terduga-duga datang mendarat di Pulau Es ini? Nama mereka tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, karena memang kedua kakek kembar ini selama puluhan tahun pergi meninggalkan dunia kang-ouw dan merantau di luar negeri. Mereka adalah kakak beradik kembar, berasal dari Taiwan (Formosa) dan pernah mereka menjelajah ke daratan besar dan membuat nama dengan ilmu kepandaian mereka.

Akan tetapi, mereka berbeda haluan dengan suheng mereka yang mencari kedudukan dengan menghambakan diri kepada Bangsa Mancu yang menduduki Tiongkok. Suheng mereka kemudian terkenal sebagai Koksu (Guru Negara), yaitu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun. Mereka berdua merasa kecewa melihat kakak seperguruan yang mereka anggap sebagai pengganti suhu itu menghambakan diri kepada musuh, maka keduanya lalu pergi meninggalkan daratan besar dan mereka berpencar untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu mereka. Yang tua pergi ke utara dan selama puluhan tahun bermukim di daerah Kutub Utara yang amat dingin. Ada pun yang muda merantau ke selatan, ke daerah panas di mana matahari lewat tepat di atas kepala.

Beberapa tahun yang lalu, kedua orang ini kembali ke daratan besar sebagai dua orang lihai bukan main. Setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kutub Utara, kakek tertua menjadi putih mukanya dan selalu berpakaian tebal seperti yang biasa dipakai orang-orang Eskimo di daerah Kutub Utara. Kakek ini kemudian terkenal dengan sebutan Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Utara). Ada pun adik kembarnya, sekembalinya dari daerah panas, menjadi merah mukanya dan selalu merasa kegerahan dan tidak pernah berbaju. Dia kini dijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Selatan).

Biar pun baru datang beberapa tahun saja, kelihaian mereka membuat nama Siang Lo-mo (Sepasang Iblis) ini terkenal sekali, terutama pada golongan yang menentang Pemerintah Mancu karena kedua orang ini pun terkenal anti kepada Kerajaan Mancu. Memang aneh sekali keadaan kedua orang itu. Lajimnya, orang yang selamanya tinggal di daerah dingin seperti Kutub Utara, kalau datang ke tempat yang lebih panas tentu akan kegerahan, akan tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, terus-menerus kedinginan! Demikian pula dengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun dia tinggal di daerah panas, semestinya kini dia akan merasa kedinginan, akan tetapi biar pun berada di Pulau Es, dia masih terus merasa panas!

Sebetulnya mereka tidak pura-pura dan yang menyebabkannya demikian adalah sinkang mereka. Di Kutub Utara, Pak-thian Lo-mo melatih diri secara liar sehingga dia dapat menghimpun inti tenaga yang mengandung hawa dingin. Memang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya karena dilatih secara liar, dia selalu merasa kedinginan dan harus memakai jubah tebal berbulu dan sering kali minum arak tanpa takaran untuk menghangatkan tubuhnya, demikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih dan menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu terasa terlalu panas!

Ketika kakek kembar ini mendengar betapa suheng mereka telah digagalkan semua usahanya memberontak oleh Pendekar Super Sakti, bahkan kabarnya suheng mereka itu tewas di Pulau Es, tentu saja menjadi marah sekali dan menaruh hati dendam kepada Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Apa lagi ketika mendengar pendekar yang menjadi musuh besar mendiang suheng mereka itu adalah mantu Kaisar Mancu, kebencian mereka makin meluap-luap.

Mereka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu mereka yang menentang Pemerintah Mancu. Di antaranya adalah keempat wanita dari Korea itu. Mereka itu adalah kakak beradik dari Jepang yang telah menikah dengan perwira-perwira Korea. Ketika suami mereka semua gugur dalam perang melawan pasukan Mancu, mereka bersumpah untuk membalas dendam dan menggabung dengan mereka yang anti Pemerintah Mancu sehingga akhirnya mereka dapat bekerja sama dengan Siang Lo-mo. Mendengar bahwa Siang Lo-mo hendak mencari Pulau Es dan menyerang Majikan Pulau Es yang menjadi mantu Kaisar Mancu, tentu saja mereka berempat menjadi girang dan segera menyatakan hendak ikut membantu.

Empat belas kakek yang lainnya sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang merasa dirugikan oleh Pemerintah Mancu, ada pula yang ikut menyerbu Pulau Es semata-mata untuk membalas dendam kepada Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti karena sahabat atau saudara seperguruan mereka pernah roboh di tangan pendekar ini.

Suma Han dan dua orang isterinya yang juga mendengar pekik sepasang rajawali dan melihat sebuah perahu besar mendarat, sudah cepat menyambut dan kini mereka bertiga menanti keluarnya dua puluh orang itu dari perahu. Sikap Suma Han dan dua orang isterinya tenang-tenang saja sungguh pun mereka juga merasa heran sekali melihat rombongan orang asing datang ke pulau mereka dan mereka bertiga sudah dapat menduga bahwa rombongan itu tentulah bukan datang dengan iktikad baik.

Namun, sesuai dengan wataknya yang tenang dan sopan, Suma Han mengangkat kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda penghormatan, lalu bertanya dengan suara halus, “Siapakah cu-wi (anda sekalian) yang telah mendarat di Pulau Es dan apa gerangan keperluan cu-wi?”

Sejenak kedua orang kakek kembar itu tak dapat menjawab, hanya mata mereka memandang Suma Han penuh perhatian dan penuh selidik, memandang pendekar itu dari rambutnya yang putih semua dan panjang sampai ke pundak sampai kakinya yang tinggal sebelah. Akhirnya Pak-thian Lo-mo menghela napas panjang. Dia merasa heran sekali dan hampir tidak percaya bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kelihatannya lemah, tubuhnya sedang, kakinya tinggal yang kanan dan rambutnya sudah putih semua, bersikap halus dan lemah lembut ini adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang demikian tersohor!

Dia tersenyum dan dengan sikap tak acuh tanpa membalas penghormatan tuan rumah, dia bertanya, “Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es?”

“Kalau benar demikian, kau mau apakah?” Lulu tidak dapat menahan kemarahannya melihat sikap orang yang sama sekali tidak menghormat suaminya, padahal suaminya telah bersikap sopan dan ramah.

Pak-thian Lo-mo memandang pada Lulu dan mengangguk-angguk. “Hebat, aku sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti mempunyai dua orang isteri yang kabarnya lihai bukan main dan bahwa yang seorang adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri! Apakah engkau puteri kaisar itu?”

“Kakek tua bangka yang tidak mengenal orang!” Nirahai membentak. “Akulah puteri kaisar yang kau tanyakan. Engkau siapakah dan mau apa berlagak di tempat ini dengan membawa banyak anak buah?”

Pak-thian Lo-mo saling pandang dengan adik kembarnya, kemudian mereka berdua tertawa bergelak. Kini Lam-thian Lo-mo yang menjawab, suaranya kering tetapi nyaring sekali, “Eh, Pendekar Siluman! Kami hendak bertanya, apakah benar suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di Pulau Es ini?”

Suma Han dan kedua orang isterinya terkejut. Kiranya dua orang kakek kembar yang aneh itu adalah sute-sute dari mendiang Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun! Jelaslah bahwa kedatangan mereka ini mengandung niat yang tidak baik.

Namun suara Suma Han masih tetap tenang ketika dia menjawab, “Benar, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di tempat ini karena perbuatannya sendiri yang menyalahi kebenaran.

“Kaukah yang membunuhnya?” Pak-thian Lo-mo bertanya, suaranya penuh ancaman.

Sebetulnya, Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun terjungkal dari tebing yang amat curam ketika bertanding dengan Gak Bun Beng. Namun bukan watak Suma Han untuk menyebutkan kesalahan orang lain hanya untuk melindungi dirinya sendiri, maka jawabnya, “Yang membunuhnya adalah tingkah lakunya sendiri yang tidak benar.”

Pak-thian Lo-mo mengangkat tangannya ke pinggang, bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali. “Pendekar Siluman, dengarlah baik-baik! Kami berdua adalah Siang Lo-mo, aku disebut Pak-thian Lo-mo dan dia ini adikku Lam-thian Lo-mo. Kami datang untuk menuntut kematian suheng kami! Bukan itu saja, karena engkau adalah mantu kaisar penjajah dan isterimu itu puteri kaisar, maka kami para patriot bergabung untuk membasmi kalian dan mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah markas baru!”

“Iblis tua bangka bosan hidup!” Nirahai sudah membentak marah sekali dan hampir berbareng dengan Lulu yang juga marah, kedua orang wanita sakti ini sudah melompat ke depan. Terjangan mereka disambut oleh Pak-thian Lomo dan Lam-thian Lo-mo yang tertawa-tawa menghina dan memandang rendah kedua wanita itu.

“Dessss! Desssss!”

Empat pasang lengan saling bertemu dengan hebatnya, dan akibatnya, Nirahai dan Lulu terlempar ke belakang sedangkan kedua kakek ini pun terhuyung! Melihat ketangguhan kedua orang kakek Siang Lo-mo itu, Suma Han berkata kepada kedua orang isterinya yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh mereka, “Biarlah aku menghadapi mereka.”

“Pendekar Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!” Lam-thian Lo-mo berteriak keras.

Bersama saudara kembarnya dia lalu menubruk ke depan dan dari kedua tangannya menyambar hawa yang panas seperti api menyala, sedangkan dari kedua tangan Pak-thian Lo-mo menyambar hawa yang dingin sekali. Namun Suma Han dengan gerakan tenang sudah menggerakkan tongkatnya ke depan, dengan gerakan aneh tongkatnya berputar seperti mencoret-coret huruf di udara.

“Plak-plak...!”

Secara aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat mengenai punggung dua kakek itu yang cepat melompat ke belakang, saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka kaget bukan main! Sama sekali mereka tidak mengerti bagaimana tongkat di tangan si kaki buntung itu dapat memukul punggung mereka! Namun mereka tidak menjadi jeri dan cepat tangan mereka meraba pinggang dan mereka melolos sabuk mereka, yang ternyata merupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!

Suma Han merasa khawatir sekali di dalam hatinya. Kalau kedua orang kakek itu menggunakan senjata yang dia dapat menduga tentu ampuh dan lihai sekali, maka pertandingan akan menjadi sungguh-sungguh dan ada kemungkinan dia kesalahan tangan dan terpaksa membunuh mereka untuk menyelamatkan diri. Biar pun dia tidak merasa takut, namun betapa pun juga dia tidak menghendaki dia sekeluarga terpaksa membunuh orang dan mengotori Pulau Es yang sudah beberapa kali dikotori darah manusia yang terbunuh di situ akibat kejahatan-kejahatan mereka. Selama puluhan tahun dia hidup damai, tenteram, dan aman bersama dua orang isterinya dan kedua orang puteranya. Kini dia tidak ingin terjadi pembunuhan.

“Jiwi harap bersabar. Apakah urusan ini tidak dapat diselesaikan dengan damai?” tanyanya tenang.

“Pendekar Siluman, jangan kau kira bahwa kami gentar menghadapi tongkatmu! Kami datang untuk menantang engkau berkelahi!” bentak Pak-thian Lo-mo.

Suma Han menahan napas. “Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita hanya menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?” Sambil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin mereka lebih erat dari pada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang, kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.

“Engkau hendak mengadu tenaga sinkang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kau terima pukulan kami ini!”

Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lam-thian Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap dingin!

Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sinkang istimewa masing-masing, menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.

Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam dia pun telah mengerahkan tenaga sinkang-nya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali dengan sinkang-nya, karena ia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sinkang yang berlawanan, yaitu Swat-im-sinkang (Tenaga Inti Salju) dan Hwi-yang-sinkang (Tenaga Inti Api).

Kini, menghadapi dua serangan yang datang mengandalkan sinkang yang berlawanan, tentu saja dia sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sinkang-nya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi serangan dari dua tenaga sinkang yang berlawanan itu, tetapi Pendekar Super Sakti dapat menyalurkan dua tenaga bertentangan itu dalam satu saat, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sinkang menyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanan juga mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.

“Dess! Dess...!”

Pertemuan tenaga mukjijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di situ dapat merasakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Selama hidup mereka yang puluhan tahun berkecimpung di dunia kang-ouw, baru pertama kali itu mereka menyaksikan beradunya tenaga mukjijat sehebat itu.

Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih. Mereka seperti daun kering tertiup angin, terhuyung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguh pun tidak terlalu berat karena mereka telah membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya.

Akan tetapi, di lain pihak, biar pun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser selangkah pun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biar pun pendekar ini dapat mempertahankan, namun tanah di bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!

Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan, hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik dari pada keadaan mereka. Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua orang itu sudah mencabut cambuk masing-masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menerjang maju.

“Tar-tar-tar-tar...!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala Suma Han.

“Trak-trak-trak-trakkk!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan kakek Pendekar Siluman, sekarang telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biar pun kaki tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan tenangnya dapat menangkis semua sambaran sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke mana pun ujung cambuk menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu api!

Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mereka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samurai model Jepang, berada di kedua tangan mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk memegang gagang pedang, seperti orang memegang toya dan kini mereka memekik sambil berlari ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.

“Haaaiiiiikkkk...!”

“Trang-cring-cring-cring...!”

Empat orang wanita itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah menghadang mereka dan menangkis samurai-samurai itu dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung. Merasakan tangkisan yang membuat tangan mereka tergetar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum akan kelihaian dua orang wanita isteri Pendekar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.

“Lee-ko, mari...!”

Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.

“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu ke depan.

“Haiiiitt!”

“Hyaaaahhh!”

Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biar pun mereka hanya bertangan kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke belakang. Biar pun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membuat mereka menjadi kaget dan panik. Apa lagi ketika terdengar lengking memanjang dari atas dan dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu dua orang majikan mereka! Keadaan makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!

Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tiba-tiba sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu lawan itu telah menyerangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang! Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mukjijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu kesaktian paling cepat gerakannya di dunia ini!

Diam-diam Suma Han juga harus mengakui bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek kembar itu hebat sekali, sinkang mereka kuat dan tubuh mereka kebal, juga mereka merupakan ahli-ahli silat yang sudah berhasil mengumpulkan inti sari segala gerakan ilmu silat, diringkas dan dimainkan dasarnya saja sehingga mereka berdua merupakan lawan yang amat ulet dan kuat.

Namun, andai kata dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun yang membingungkan mereka, tentu saja dia dapat merobohkan mereka dengan tongkatnya, membunuh atau sedikitnya melukai mereka. Dia tidak menghendaki hal ini. Dia maklum bahwa jalan kekerasan hanya akan berakhir dengan kekerasan pula, dengan dendam dan kebencian yang tak kunjung henti. Maka dia bersikap sabar dan mengalah.

Ketika Suma Han mendengar bentakan kedua orang isterinya beserta kedua orang puteranya, dia menengok dan terkejutlah hati Pendekar Super Sakti ini. Kedua orang isterinya dan dua orang pemuda itu mengamuk seperti naga-naga marah. Dua orang wanita Korea telah roboh dan tak dapat bertanding lagi karena terluka parah, sedangkan di antara empat belas orang itu, sudah ada delapan orang yang roboh, entah tewas atau pingsan!

Celaka, dia sendiri tidak mau turun tangan keras, isteri-isteri dan anak-anaknya malah mengamuk seperti itu!

“Heiii, tahan dan mundur kalian semua!” Teriaknya sambil mencelat ke arah kedua isteri dan anaknya. “Kian Bu, Kian Lee, hayo panggil burung-burung setan itu!” teriaknya pula melihat betapa kedua ekor rajawali itu pun turut mengamuk hebat, membuat para lawan menjadi panik dan sibuk mempertahankan diri dari paruh dan cakar yang kuat.

Kedua isterinya mengerutkan alis, namun mereka mengenal suami mereka dan tidak mau membantah. Mereka maklum bahwa suami mereka akan berduka sekali kalau sampai keluarganya menggunakan kekerasan. Juga Kian Lee dan Kian Bu meloncat mundur dan berusaha memanggil sepasang rajawali yang sedang marah dan mengamuk itu. Akan tetapi, pekerjaan itu tidaklah mudah karena sepasang rajawali itu agaknya telah datang kembali sifat liar mereka dan sekali mencium darah, mereka menjadi buas!

Akan tetapi, sama sekali tidak disangka-sangka oleh Suma Han. Dia sendiri mundur dan menyuruh anak isterinya untuk berhenti bertanding, akan tetapi sepasang kakek itu, dua orang wanita Korea, dan enam orang teman mereka yang masih belum roboh, sudah datang lagi menerjang dengan kemarahan meluap. Suma Han menghela napas panjang. Sedih dia melihat betapa begitu banyak orang ternyata amat membencinya sehingga mereka itu siap mempertaruhkan nyawa untuk membunuh dia!

“Siang Lo-mo dan cu-wi sekalian! Apakah kalian sudah bosan hidup? Lihat..., bukit itu longsor ke sini...!” mendadak Suma Han berteriak keras, suaranya disertai khikang dan mengandung tenaga sakti mukjijat yang bergema di seluruh tempat itu, tongkatnya menuding ke tengah pulau di mana tampak bagian yang menjulang tinggi seperti bukit es yang putih.

Sepasang kakek kembar dan para temannya menengok ke arah yang ditunjuk itu dan tiba-tiba mata mereka terbelalak dan muka mereka pucat sekali. Mereka melihat betapa bukit itu pecah-pecah, batu dan es yang besar-besar sedang bergulingan dari atas menuju ke tempat itu disertai suara gemuruh dan tanah yang mereka injak bergoyang-goyang seperti ada gempa bumi yang hebat.



"Celaka...! Cepat lari...!” Pak-thian Lo-mo berteriak sambil menyambar tubuh dua orang pembantu yang terluka.

“Lari..., bawa teman-teman...!” berteriak pula Lam-thian Lo-mo yang juga menjadi pucat wajahnya.

Tentu saja tidak perlu dikomando dua kali, karena mereka yang belum roboh menjadi pucat ketakutan menyaksikan malapetaka itu, bencana alam yang amat hebat dan yang tentu akan menggulung dan membasmi mereka semua kalau mereka terlambat lari dari tempat yang agaknya sudah dikutuk dan akan musnah itu. Mereka cepat menyambar teman yang terluka, lalu cepat lari ke arah perahu mereka, berloncatan ke dalam perahu dan sekuat tenaga mendayung perahu ke tengah laut. Angin segera mendorong layar dan perahu itu melaju cepat meninggalkan Pulau Es.

Suma Han menghela napas lega. Dua orang pemuda yang tadinya berlutut merangkul kedua kaki ibu masing-masing dengan muka pucat, sekarang menengadah melihat ibu mereka tersenyum. Keduanya bangkit berdiri, menoleh ke arah bukit dan ternyata tidak ada terjadi apa-apa di sana! Padahal tadi, mereka ikut menengok dan melihat betapa bukit itu pecah dan mengeluarkan suara bergemuruh, mengancam tempat itu dengan gumpalan batu dan es sebesar rumah!

“Untung mereka dapat dikelabui...“ Suma Han berkata perlahan.

“Hemmm, kalau mereka tidak lari, tentu sebentar lagi mereka tak sempat berlari lagi!” kata Lulu.

“Mereka itu tidak seberapa kuat, mengapa harus dipergunakan hoat-sut (ilmu sihir)?” kata Nirahai, tidak puas karena tadi sedang ‘enak-enaknya’ membabati musuh.

Sudah belasan tahun puteri kaisar yang gagah perkasa ini tak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan ilmunya untuk bertempur, padahal dahulu puteri ini mempunyai kesukaan untuk bertanding ilmu silat. Peristiwa tadi sebetulnya amat menggembirakan hatinya, siapa yang tidak mengkal hatinya kalau sedang enak-enak membabat musuh lalu dihentikan?

“Aihhhh... jadi ayah tadi mempergunakan ilmu sihir?” Kian Lee berkata, memandang ayahnya dengan kagum dan heran. “Akan tetapi... aku melihat sendiri, bukit itu seperti pecah...“

“Karena kau ikut menengok, maka kau menjadi korban kekuasaan ilmu sihir ayahmu pula,” kata Lulu. Dia dan Nirahai yang sudah tahu bagaimana caranya melawan ilmu sihir itu, tadi tidak menengok dan karenanya tidak terseret.

“Wah, hebat sekali, ayah! Harap ajarkan ilmu itu kepadaku!” Kian Bu bersorak.

Ayahnya diam saja, hanya memandang sepasang rajawali yang masih berputaran terbang di angkasa. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua ekor burung rajawali itu terkejut, lalu menukik turun dan tidak lama kemudian hinggap di atas tanah, di depan pendekar itu.

“Kian Lee, Kian Bu, lihat apa yang berada di paruh mereka itu!” bentak Suma Han.

Kian Lee dan Kian Bu menghampiri sepasang rajawali dan mengambil sesuatu dari paruh mereka. Kiranya burung rajawali kesayangan Kian Lee membawa sebatang jari tangan di paruhnya, sedangkan burung rajawali kesayangan Kian Bu membawa sebuah daun telinga manusia!

“Ihhh...! Ini jari tangan orang!” Kian Lee bergidik dan membuang jari tangan itu ke atas tanah.

“Haiiii! Ini daun telinga orang...!” Kian Bu juga membuang benda menjijikkan itu.

Suma Han menghela napas, menggunakan tongkatnya membuat lobang di atas tanah, kemudian menjemput jari tangan dan daun telinga itu, kemudian sambil menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala dia berjalan ke tengah pulau.

“Ayah, ajarkan aku ilmu sihir itu...!” Kian Bu berseru dan hendak mengejar ayahnya.

Akan tetapi tangannya dipegang ibunya. “Ilmu itu tak mungkin diajarkan ayahmu kepada siapapun juga,” puteri kaisar itu berkata.

“Mengapa tidak mungkin, ibu?”

“Ilmu yang kelihatan seperti ilmu sihir itu dimiliki oleh ayahmu tanpa dipelajarinya karena ayahmu memiliki kekuatan mukjijat. Pula, dengan kepandaian silat yang kau miliki saat ini, tidak perlu lagi menginginkan kekuatan sihir karena kau akan mampu menghadapi lawan yang bagaimana kuat pun.”

“Kian Lee, apa yang diucapkan oleh ibumu Nirahai itu benar sekali,” Lulu juga berkata, ditujukan kepada puteranya sendiri. “Tingkat kepandaian kalian berdua sudah cukup tinggi, dan melihat gerakan kalian ketika menghadapi musuh tadi, kiranya tingkat kalian tidak berada di sebelah bawah kami berdua. Ketika dahulu aku masih menjadi ketua Pulau Neraka, dan ibumu Nirahai menjadi ketua Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh dunia, tingkat kami berdua kiranya masih belum setinggi tingkat kalian sekarang ini.”

Nirahai mengangguk-angguk dan menyambung ucapan madunya itu, “Memang benar, apa lagi kalau diingat bahwa kalian berdua adalah pemuda-pemuda yang sedang kuat-kuatnya, sedangkan kami makin tua dan makin lemah. Maka jangan kalian berdua menginginkan ilmu kesaktian ayah kalian yang tidak mungkin dipelajari itu.”

Tentu saja hati sepasang pemuda ini menjadi gembira dan girang mendengar pujian Nirahai itu. Kegirangan itu bertambah besar ketika pada malam harinya, setelah keluarga itu makan malam, Suma Han berkata dengan suaranya yang selalu tenang dan halus, “Lee-ji dan Bu-ji, sekarang telah tiba saatnya bagi kalian berdua untuk keluar dari pulau, merantau meluaskan pengetahuan kalian.”

Kedua orang pemuda itu hampir bersorak saking girangnya mendengar ini, dan mereka berdua saling pandang dengan muka berseri dan mata bersinar-sinar. Demikian gembira mereka sampai tidak melihat betapa sebaliknya wajah ibu mereka menyuram.

“Akan tetapi ingat, kalian jangan mengira bahwa kalian boleh berbuat sesuka hati setelah bebas. Kebebasan yang benar adalah kebebasan yang dapat mengatur diri sendiri, bukan kebebasan liar (sesuka hati!) yang tentu akan menyeret kalian ke dalam perbuatan sesat. Memang, tingkat ilmu silat kalian sudah cukup tinggi sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan dicelakakan oleh musuh, namun kalian masih kurang sekali dalam pengalaman. Karena itu, dalam meluaskan pengalaman, kalian pergilah ke kota raja dan jumpai enci kalian, Milana. Dari enci kalian itu kalian akan mendapat banyak petunjuk. Dan ingat, kalian jangan sekali-kali menyombongkan diri dengan menyebut nama Pulau Es. Mengerti?”

Kedua orang pemuda itu mengangguk dan menyembunyikan rasa girang mereka di dalam hati. “Ayah, bolehkah kami membawa sepasang rajawali?”

Suma Han menahan senyumnya. Puteranya yang kedua ini selalu berwatak riang gembira dan biar pun usianya sudah hampir delapan belas tahun, tetapi masih kekanak-kanakan sehingga merantau pun ingin membawa rajawali kesayangannya!

“Rajawali jangan dibawa. Sekali ini kalian merantau, berarti akan memasuki tempat-tempat ramai, apa lagi akan memasuki kota raja. Kalau kalian membawa sepasang rajawali, tentu akan menimbulkan ribut dan kekacauan. Ingat kalian harus menganggap bahwa kalian adalah seperti sepasang rajawali yang terbang bebas di angkasa, tidak menggantungkan nasib dan keselamatan kalian pada perlindungan siapa pun juga. Seperti sepasang rajawali, kalian harus selalu waspada, jangan lengah karena segala kemungkinan dapat saja terjadi, segala bahaya dapat saja datang dari segala penjuru.”

Setelah banyak-banyak memberi nasehat kepada kedua orang puteranya sehingga semalam itu mereka hampir tidak tidur, pada keesokan harinya berangkatlah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu meninggalkan Pulau Es. Mereka hanya membekal beberapa potong emas dan sejumlah uang perak untuk biaya di jalan, tetapi mereka berdua tidak diberi bekal senjata.

Perahu layar yang membawa mereka pergi meninggalkan Pulau Es, menuju ke arah yang telah ditunjuk dan digambarkan dalam peta oleh ayah mereka, diikuti pandangan mata kedua ibu mereka yang basah oleh air mata.

Setelah perahu itu lenyap dari pandangan mata, kedua orang wanita itu tidak dapat menahan tangis mereka. Betapa hati mereka tidak akan berkhawatir dan berduka ditinggalkan putera tercinta yang semenjak lahir berada di pulau itu bersama mereka? Suma Han mendiamkan saja kedua isterinya berduka, karena dia dapat menyelami perasaan mereka. Dia hanya berdiri dibantu tongkatnya, memandang jauh lepas ke arah lautan, mencoba untuk mempelajari dan mengerti akan hidup dari permukaan laut yang tak bertepi.

Andai kata ada yang bertanya kepada kedua orang ibu itu mengapa mereka menangis dan mengapa mereka berduka karena berpisahan dengan putera mereka, tentu mereka akan menjawab langsung bahwa mereka berduka karena mereka mencinta putera mereka yang sekarang pergi meninggalkan mereka. Jelas bahwa mereka menangis bukan demi putera mereka, karena sepasang pemuda itu bergembira dan tidak perlu ditangisi. Akan tetapi mereka menangis karena mereka ditinggalkan! Mereka menangis demi dirinya sendiri, menangis karena iba diri yang ditinggalkan pergi orang-orang yang dicinta!

‘Cinta’ yang bersifat pengikatan diri kepada sesuatu yang dicinta, seperti kedua ibu ini, hanya akan membawa kedukaan. Pengikatan diri kepada keluarga, pada harta benda, pada kemuliaan duniawi, kepada kesenangan, sebenarnya bukanlah cinta kasih sejati, melainkan nafsu mementingkan dan menyenangkan diri sendiri belaka. Segala sesuatu, baik benda hidup atau pun mati, yang dipunyai seseorang secara lahiriah, kalau sampai dimiliki pula secara batiniah, hanya akan menimbulkan kesengsaraan.

Segala sesuatu tidak kekal di dunia ini, sekali waktu tentu terjadi perpisahan. Kalau kita mengikatkan diri kepada sesuatu, berarti kita memiliki secara batiniah dan seolah-olah yang kita miliki itu telah berakar di dalam hati. Maka jika tiba saatnya kita harus berpisah dari sesuatu yang kita miliki secara batiniah itu, sama saja dengan dicabutnya sesuatu itu dari hati sehingga merobek dan menyakitkan hati!

Mengikatkan diri kepada apa pun juga, kepada suami, isteri, anak, keluarga, harta dan apa saja berarti menghambakan diri dan ikatan-ikatan ini yang membuat orang menjadi takut dan khawatir. Takut kalau-kalau dipaksa berpisah, karena kehilangan, karena kematian dan lain-lain. Rasa takut akan perpisahan dengan yang telah mengikat dirinya, membuat orang menjaga dan melindungi mati-matian, dan untuk ini tidak segan-segan orang menggunakan kekerasan. Maka timbullah pertentangan, dan dari pertentangan ini lahirlah kesengsaraan hidup.


* * * * * *

Kita tinggalkan dulu Pulau Es dan suami isteri yang termenung ditinggalkan putera-puteranya itu, dan kita biarkan sepasang pemuda itu mulai dengan perantauan mereka seperti sepasang rajawali, dan mari kita menengok kembali keadaan Syanti Dewi dan Ceng Ceng.

Seperti telah diceriterakan di bagian depan, dua orang dara jelita ini melarikan diri dan terpaksa meninggalkan kakek Lu Kiong yang tewas oleh pengeroyokan para tokoh pemberontak yang memusuhi Kerajaan Bhutan. Dengan berpakaian seperti dua orang petani sederhana, dua orang gadis itu terus melarikan diri. Mereka melumuri pipi yang halus putih itu dengan lumpur untuk menyembunyikan wajah cantik mereka setelah memperoleh kenyataan bahwa penyamaran itu dapat diketahui oleh para penghadang sehingga hampir saja mereka tertangkap.

Sukarlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri karena daerah perbatasan itu termasuk daerah kekuasaan pasukan-pasukan Raja Muda Tambolon. Dusun-dusun di sekitar daerah itu telah berada di bawah kekuasaannya. Puteri Syanti Dewi yang pernah mendengar tentang ini mengerti akan bahaya yang mengancam mereka, maka dia selalu menganjurkan kepada Ceng Ceng untuk berhati-hati.

Pada suatu senja, pelarian mereka membawa mereka ke sebuah dusun. Mereka menanti di luar dusun sambil bersembunyi, dan setelah cuaca menjadi gelap, barulah mereka berani memasuki dusun itu. Bau masakan dan bumbu terbawa uap masakan yang sedap membuat mereka tidak menahan diri. Telah beberapa hari lamanya mereka hanya makan daun-daun dan daging panggang tanpa bumbu.

Kini perut mereka terasa lapar sekali ketika hidung mereka mencium bau yang amat gurih dan sedap itu, dan berindap-indap keduanya memasuki warung yang berada di pinggir dusun. Warung itu ternyata cukup besar dan ketika keduanya masuk, di situ terdapat tujuh orang tamu yang pakaiannya agak kotor dan tujuh orang ini semua membawa topi caping bundar lebar yang kini mereka taruh di atas meja.

Ketika Syanti Dewi dan Ceng Ceng memasuki warung dengan muka kotor berlumpur dan muka tunduk, mereka berhenti bicara, melirik sebentar akan tetapi melihat bahwa yang masuk hanyalah dua orang petani muda yang agaknya baru pulang dari sawah karena pakaian dan mukanya kotor, tujuh orang itu melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka adalah orang-orang kasar dan jujur dan berani bicara keras begitu melihat keadaan aman.

Syanti Dewi memesan makanan dan makan bersama Ceng Ceng tanpa bicara, akan tetapi mereka berdua tertarik sekali oleh percakapan antara tujuh orang itu.

“Kabarnya sang puteri lenyap...”

Kata-kata ini yang membuat mereka terkejut dan memaksa mereka mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Ahhh, kasihan sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan rombongan utusan kaisar?”

“Entahlah, kabarnya banyak yang tewas. Akan tetapi pasukan penjemput dari kerajaan Ceng lalu tiba dan musuh dapat dihalau pergi. Hanya celakanya, sang puteri tidak ada lagi...”

“Aihh, jangan-jangan dia tertawan musuh”

“Mungkin sekali...”

“Aduh kasihan!”

“Kalau saja kita dapat menolongnya...”

“Wahh, orang-orang pedagang garam macam kita ini bagaimana bisa menolongnya? Untuk memasuki kota Tai-cou saja kita tentu harus mengeluarkan banyak biaya untuk menyuap penjaga, baru kita akan boleh masuk.”

“Memang celaka, dan hanya di kota itu garam kita akan laku dengan harga tinggi.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng saling pandang dan sinar mata mereka berseri. Mereka juga harus melalui kota Tai-cou dan setelah dapat melewati kota terakhir dari kekuasaan Raja Muda Tambolon itulah mereka dapat dikatakan telah lolos dari cengkeraman musuh. Dan mendengarkan percakapan antara pedagang garam itu, agaknya mereka itu tak dapat disangsikan lagi adalah orang-orang yang berpihak kepada Kerajaan Bhutan dan Kerajaan Ceng, orang-orang yang anti kepada Raja Muda Tambolon. Hal ini berarti orang-orang itu adalah sahabat!

Alangkah kaget dan herannya hati ketujuh orang pedagang garam itu ketika mereka meninggalkan warung dan sedang berjalan sambil bercakap-cakap di lorong dusun yang gelap dan sunyi, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan tahu-tahu dua orang ‘pemuda’ yang tadi makan di warung telah berdiri di depan mereka.

“Para paman harap berhenti sebentar!” Ceng Ceng berkata.

Mendengar suara wanita, karena Ceng Ceng menggunakan suara aslinya, tujuh orang itu tertegun dan mencoba untuk melihat lebih jelas lagi di tempat gelap itu.

“Kami sudah mendengar percakapan paman bertujuh dan kami percaya bahwa paman sekalian akan suka membantu kami untuk melewati kota Tai-cou,” kata pula Ceng Ceng.

“Apa... apa maksudmu... tuan... eh, nona...?” seorang di antara mereka yang berkumis tebal bertanya bingung karena dia masih ragu-ragu. Melihat pakaiannya, dua orang itu adalah pria, akan tetapi suaranya seperti wanita!

“Paman, lihatlah baik-baik. Aku adalah seorang wanita, dan dia ini bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan yang kalian bicarakan tadi.”

Tujuh orang itu terkejut bukan main. Cepat mereka memandang ke arah Syanti Dewi, membuka caping dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu!

“Maafkan kami... hamba tidak mengetahui...”

Syanti Dewi cepat berkata, “Harap paman semua bangkit berdiri. Jika sampai kelihatan orang tentu dicurigai.”

Mendengar ini, mereka cepat bangkit berdiri. Mereka adalah pedagang-pedagang garam yang berhutang budi kepada Pemerintah Bhutan karena mereka diijinkan untuk mengangkut garam dari Bhutan yang mereka jual di daerah pedalaman.

Dari Pemerintah Bhutan mereka tidak pernah mengalami gangguan, maka tentu saja mereka merasa terlindung dan di dalam hati mereka bersimpati kepada kerajaan ini dan sebaliknya, mereka sering kali mengalami gangguan dari para anak buah Raja Muda Tambolon, maka tentu saja mereka membenci mereka.

“Paman, tolonglah kami agar dapat lewat kota Tai-cou. Kami hendak melarikan diri ke ibukota Kerajaan Ceng,” kata Syanti Dewi.

“Tentu saja hamba senang sekali kalau dapat menolong paduka. Marilah paduka berdua ikut bersama hamba ke tempat peristirahatan rombongan pedagang garam di kuil tua.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng mengikuti mereka dan ketika mereka tiba di dalam kuil tua yang kini diterangi dengan api-api penerangan lilin, tampak oleh mereka bahwa jumlah rombongan pedagang garam itu ada tujuh belas orang! Ketua mereka adalah si kumis tebal tadi, maka begitu mendengar bahwa Sang Puteri Bhutan yang mereka dengar diboyong ke Tiong-goan dan di tengah jalan rombongan puteri itu diserbu gerombolan pemberontak, mereka segera berlutut menghaturkan selamat dan dengan senang hati mereka ingin membantu dan melindungi puteri ini melewati Tai-cou dengan selamat.

“Kota terakhir di bawah kekuasaan Raja Muda Tambolon ini terjaga kuat sekali,” kata si kumis tebal. “Jalan satu-satunya bagi sang puteri agar dapat lolos dengan selamat hanya dengan menyamar menjadi seorang di antara kita, menyamar sebagai pedagang garam dan bersama rombongan kita memikul garam memasuki kota.”

Semua orang menyatakan setuju dan dengan tergesa-gesa dibuatlah dua stel pakaian pedagang garam untuk dipakai Syanti Dewi dan Ceng Ceng, juga mereka diberi masing-masing sebuah caping lebar bundar itu beserta sebuah pikulan terisi dua keranjang garam. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu berangkat meninggalkan dusun tanpa membangkitkan kecurigaan penduduk yang tidak tahu bahwa rombongan tujuh belas orang itu kini telah menjadi sembilan belas!

Perjalanan dari dusun itu menuju ke kota Tai-cou memakan waktu sehari. Di sepanjang perjalanan, para pedagang garam itu tentu saja membebaskan dua orang dara itu dari memikul garam dan hanya apa bila mereka melewati dusun-dusun saja kedua orang dara itu harus memikul garam.

Menjelang sore, tibalah rombongan ini di depan pintu gerbang kota Tai-cou. Semua orang menjadi tegang hatinya ketika mereka tiba di pintu gerbang itu dan terpaksa harus berhenti karena akan dilakukan pemeriksaan oleh para penjaga pintu gerbang yang dikepalai oleh seorang perwira komandan yang tinggi besar, galak dan brewok. Kebetulan sekali ketika rombongan pedagang garam yang berjumlah sembilan belas orang ini tiba, di pintu gerbang itu tiba pula rombongan pedagang garam dari lain daerah yang jumlahnya dua puluh orang lebih sehingga keadaan di situ menjadi ramai sekali.

“Haiiii!” Sang komandan yang melompat ke atas sebuah meja berteriak dengan tangan di pinggang, lagaknya keras dan angkuh sekali. “Kalian harus masuk seorang demi seorang! Setiap keranjang akan diperiksa, juga setiap orang akan diperiksa baik-baik karena dikhawatirkan ada penyelundup! Kalau kami dapat menangkap seorang saja penyelundup, kalian semua akan dihukum berat!”

Si kumis tebal sudah menyelinap dan mendekati komandan itu, berbisik perlahan sambil menyerahkan sebuah kantung berisi uang. “Maafkan, tai-ciangkun, kami tergesa-gesa sekali. Lihat, ada rombongan pedagang garam lain, kalau kami kalah dulu, tentu akan jatuh harga garam. Ini sedikit tanda terima kasih untuk tai-ciangkun dan kalau kami sudah menjual habis garam kami, tentu akan ditambah lagi...“

Perwira komandan itu menyambar kantung uang dan berkata kereng, “Hemm... kalian akan kuperbolehkan lewat lebih dahulu, tetapi tetap harus diperiksa! Keadaan sekarang gawat!”

Si kumis tebal telah mundur dan wajahnya pucat. Kalau sampai diperiksa dan ketahuan bahwa dua orang di antara mereka adalah wanita, tentu akan terjadi keributan, apa lagi kalau sampai sang puteri dikenal! Pada saat itu, terjadi keributan di bagian rombongan pedagang garam yang dua puluh orang lebih itu. Seorang pedagang garam yang mukanya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar, berteriak-teriak dan mencak-mencak, “Hayaaa... celaka... siapa yang menaruh ular-ular ini di keranjangku...? Tentu pedagang garam dari barat, keparat...!”

Terjadilah gaduh dan ribut karena memang mendadak muncul banyak sekali ular-ular besar kecil di tempat itu! Ceng Ceng yang bermata tajam tadi melihat betapa pedagang garam yang bermuka hitam bopeng itu telah mengeluarkan bungkusan kain kuning dari dalam keranjang dan agaknya ular-ular itu keluar dari bungkusan itulah! Dan selagi Ceng Ceng termenung, tiba-tiba dia melihat betapa kaki si bopeng menendang seekor ular kecil. Ular itu melayang ke atas dan... mengenai dada komandan yang berdiri di atas meja. Tidak ada orang yang melihat gerakan ini kecuali Ceng Ceng. Si komandan berteriak-teriak dan mengebut-ngebutkan pakaiannya.

“Basmi semua ular...!” teriaknya kepada para anak buahnya. “Hayo kalian segera maju, jangan memenuhi tempat ini!” Teriaknya kepada rombongan si kumis tebal.

Menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau itu, Ceng Ceng dan Syanti Dewi sudah memanggul pikulan masing-masing dan dengan desakan dari si kumis tebal mereka cepat memikul keranjang garam memasuki pintu gerbang.

“Haiii, diperiksa dulu... eihhh, celaka...!” Komandan yang berteriak itu kembali terkejut karena ada seekor ular hijau yang melayang dan mengenai mukanya, hampir menggigit hidungnya!

Ceng Ceng dan Syanti Dewi dapat lolos dengan cepat, kemudian dilindungi oleh para temannya, kedua orang dara itu melepaskan pikulan dan tergesa-gesa berjalan memasuki kota Tai-cou. Karena dia tidak memikul garam, maka setelah keadaan gaduh di pintu gerbang itu mereda dan semua pedagang diperiksa, dalam rombongan itu tidak lagi terdapat dua orang wanita ini dan mereka tidak dipanggil karena tidak ada penjaga yang menyangka bahwa dua orang yang berjalan pergi tanpa membawa pikulan itu adalah anggota rombongan pedagang garam. Apa lagi karena semua penjaga tadi sibuk membunuhi ular-ular itu sehingga perhatian mereka terpecah.

Semalam suntuk itu kedua orang dara itu melarikan diri. Mereka maklum bahwa kalau mereka tidak cepat-cepat meninggalkan kota Tai-cou, keadaan mereka masih terancam bahaya besar, sungguh pun sampai saat itu tidak ada yang mencurigai mereka.

Dengan mudah mereka telah lolos dari Tai-cou, keluar dari pintu sebelah utara dan menempuh perjalanan di sepanjang malam yang gelap tanpa arah tujuan tertentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu melarikan diri sejauh mungkin dari Tai-cou yang merupakan benteng terakhir dari kekuasaan Tambolon. Dan mereka hanya tahu bahwa mereka melarikan diri menuju ke timur. Dengan melihat letaknya bintang, mereka dapat mengarahkan kaki menuju ke timur.

Pada kesokan harinya, mereka beristirahat sebentar di sebuah hutan, makan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal dari pemberian para pedagang garam, minum air jernih yang mereka dapatkan di hutan itu, lalu berbaring di atas rumput melepaskan lelah.

“Aihhhhh... bukan main nyamannya rebah begini...,” Sang Puteri Syanti Dewi mengeluh nikmat. “Dan roti kering tadi, betapa lezatnya, air jernih itu juga menyegarkan sekali. Belum pernah selama hidupku aku dapat menlkmati makan-minum dan tiduran seperti ini!”

Mendengar ini, Ceng Ceng tertawa bebas sampai kelihatan deretan gigi dan lidahnya. Karena di situ tidak ada orang lain, maka dia tertawa sebebasnya. Mendengar ini, Syanti Dewi memandang heran. ”Eh, kau kenapa, adik Candra? Mengapa tertawa segembira itu?”

“Aku geli mendengarkan ucapanmu tadi, enci Syanti, dan mungkin aku tertawa karena merasa lega dan gembira telah terbebas dari bahaya. Ucapanmu tadi membuat aku teringat akan dongeng tentang raja yang tidak suka makan dan tidak dapat tidur....”

“Raja itu meninggalkan istana karena merasa jengkel, dan di tengah hutan dia melihat seorang petani mencangkul tanah lalu makan dengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani, mencangkul tanah untuk mendapatkan semangkok nasi dan lauknya yang hanya terdiri dari ikan asin, dan minumnya yang hanya terdiri dari air jernih. Setelah dia selesai bekerja keras sampai tangannya lecet-lecet dan tubuhnya lelah bukan main, dia memperoleh makan minum itu dan menikmatinya seperti belum pernah dirasakannya selama hidupnya! Persis seperti keadaanmu ini! Engkau adalah seorang puteri raja yang tiap hari makan hidangan yang serba mahal, sekarang makan roti kering minum air jernih, tidurmu bukan di dalam kamar indah dan berlandaskan kasur tebal melainkan di hutan, di atas rumput, namun engkau merasa nikmat sekali! Hi-hik, bukankah lucu ini?”

Syanti Dewi tertawa juga. “Kau samakan aku dengan raja di dalam dongeng? Jangan begitu, ah! Dia sih pemalas, kalau aku kan tidak! Tetapi aku pun heran sekali mengapa aku dapat menikmati ini semua. Pengalaman ini telah membuka mataku, adik Chandra, bahwa yang dikatakan enak atau tidak enak, menyenangkan atau tidak menyenangkan, sama sekali bukanlah bergantung kepada keadaan di luar, melainkan kepada hati sendiri! Kepada hati dan kepada tubuh, pendeknya bergantung kepada diri sendiri....”

“Lezatnya makanan bukan berada di mangkok, baik buruknya sesuatu bukan ada di depan kita, melainkan di dalam diri kita sendiri. Pikiranku sekarang sedang lega karena lepas dari bencana, tubuh lelah dan perut lapar. Tentu saja segala makanan dan minuman terasa lezat sekali! Rumput ini jauh lebih nikmat ditiduri dari pada segala macam kasur bulu karena sekarang tubuhku sedang lelah sekali. Jadi kalau begitu... pernyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini baik itu tak baik, bukan kenyataan sebenarnya, melainkan pendapat hati yang dipengaruhi oleh keadaan waktu itu.”

“Hemm... lalu bagaimana?” Ceng Ceng mengerutkan alisnya yang berbentuk bagus, matanya memandang dengan sinar gembira karena dia mulai dapat menangkap yang dimaksudkan dalam ucapan kakak angkatnya itu.

“Kalau begitu... sejatinya tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini. Kita sendiri yang menentukan! Dan... ahh, aku jadi bingung sendiri menghadapi kenyataan yang jelas ini! Biasanya kita selalu dipermainkan oleh pikiran sendiri yang suka mengada-ada saja!”

Ceng Ceng sudah tidak dapat menjawab karena dia hampir tidak dapat menahan kantuknya, hanya mengangguk lemah dan menutupi mulut dengan jari tangan menahan mulut yang ingin menguap saja. Tak lama kemudian, kedua orang dara itu telah tertidur pulas di bawah pohon, berlandaskan rumput yang lunak. Tubuh yang lelah menuntut istirahat setelah perut yang lapar diisi kenyang.

Matahari telah naik tinggi ketika kedua orang dara itu terbangun dan mereka menjadi terkejut melihat bahwa hari telah siang. Mula-mula Syanti Dewi yang terbangun lebih dulu. Dia terbangun seperti orang kaget dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya dan mengeluh lirih. “Uuhhh, kiranya hanya mimpi...,” bisiknya karena dia telah mimpi tertangkap dan dihadapkan kepada Raja Muda Tambolon! Ketika mendapat kenyataan bahwa matahari telah naik tinggi, dia menoleh kepada Ceng Ceng.

“Haiii, adik Candra! Bangun! Sudah siang...!” Dia mengguncang pundak adik angkatnya itu.

Ceng Ceng terbangun dan bangkit duduk, menahan kuapnya dengan punggung tangan kiri. “Wah, keenakan tidur, enci Syanti. Rasanya malas untuk bangun!”

“Hushhh, jangan malas! Matahari telah naik tinggi dan kita masih enak-enak tidur di sini. Perjalanan masih amat jauh, mari kita lanjutkan, adikku.”

Ceng Ceng sudah bangun berdiri dan kini teringatlah dia akan keadaan mereka. “Aihhh, hampir aku lupa bahwa kita adalah pelarian yang dikejar musuh! Mari, enci Syanti Dewi!”

Ketika dua orang dara itu melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Ceng Ceng memegang lengan puteri dan berbisik sambil menuding ke kanan, “Lihat itu...!”

Syanti Dewi menengok, dan sang puteri menutupkan tangan ke depan mulut menahan jeritnya. Tidak jauh dari situ tampak tubuh seorang laki-laki setengah tua rebah di atas tanah, telah menjadi mayat dan mukanya yang terlentang itu memperlihatkan sepasang mata yang terbelalak lebar tanpa sinar. Di tenggorokan orang itu tampak luka berlubang dan darah masih menetes dari luka itu, tanda bahwa orang ini belum lama terbunuh.

“Dan di sana itu... lihat, enci!” Kembali Ceng Ceng berbisik.

Kakak angkatnya menengok dan makin terkejut karena di sebelah kiri, hanya terpisah belasan meter dari situ, juga tampak sebuah mayat yang lehernya berlubang! Mereka berdua saling pandang, kemudian Ceng Ceng menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ke atas pohon besar dan dari tempat tinggi ini Ceng Ceng memandang ke sekeliling, memeriksa.

Namun tidak tampak bayangan seorang pun manusia dan dari tempat tinggi itu dia melihat bahwa bukan hanya ada dua orang mayat di situ, melainkan ada delapan orang! Delapan orang telah mengurung tempat dia dan kakak angkatnya tidur tadi dan kini delapan orang itu telah mati semua dengan leher berlubang, mungkin terkena senjata rahasia yang ampuh! Setelah yakin bahwa tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dia turun lagi dan menceritakan kepada kakak angkatnya apa yang telah dilihatnya dari tempat tinggi tadi.

“Ahhh, kalau begitu, tentu mereka itu musuh yang tadinya mengepung kita, dan ada sahabat yang telah menolong kita,” kata sang puteri.

Ceng Ceng mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia juga dapat menduga demikian, akan tetapi hatinya tidak senang kepada penolongnya yang bersikap rahasia itu! Kalau memang orang bersahabat, mengapa tidak menolong secara berterang? Pula, dia pun belum dapat yakin benar bahwa delapan mayat itu adalah pihak musuh.

“Lebih baik kita cepat pergi dari sini, enci,” katanya. Syanti Dewi hanya mengangguk, dan berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Sore hari mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, sebuah dusun yang cukup besar di kaki gunung. Karena letaknya yang terpencil ini, maka dusun itu agaknya menjadi pos peristirahatan mereka yang melakukan perjalanan di daerah itu, dan di situ terdapat pula sebuah rumah penginapan sederhana dan sebuah warung nasi. Karena merasa ngeri dengan pengalaman mereka tadi, dua orang gadis itu mengambil keputusan untuk bermalam di rumah penginapan.

Para pelayan rumah penginapan hanya sebentar memandang dengan heran karena dalam keadaan kacau seperti itu, daerah yang sering kali terjadi perang antara pasukan Raja Muda Tambolon melawan pasukan Ceng atau pasukan Bhutan, tak terlalu mengherankan melihat dua orang gadis yang berpakaian seperti petani biasa dan memakai caping lebar, melakukan perjalanan berdua saja.

Banyak sudah wanita-wanita muda yang ketakutan akan perang melarikan diri ke timur karena sudah terkenal betapa pasukan anak buah Raja Muda Tambolon amat kejam terhadap tawanan wanita, apa lagi yang masih muda dan cantik. Tentu wanita itu akan dijadikan perebutan dan akan dipermainkan oleh banyak orang sampai mati dalam keadaan menyedihkan dan mengerikan sekali.

“Ji-wi kouwnio hendak menginap?” tanya seorang pelayan dengan sikap ramah.

Ceng Ceng merogoh saku dan mengeluarkan potongan perak. Dia memperlihatkan perak itu sambil berkata, “Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur, harap pilihkan yang bersih.”

Melihat potongan perak itu, sikap si pelayan bertambah hormat. Ia maklum bahwa yang membawa uang perak dalam perjalanan hanyalah orang-orang dari kalangan ‘atas’, kalau bukan puteri-puteri hartawan tentulah wanita-wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk dan tersenyum lebar dia lalu menjawab, “Harap ji-wi jangan khawatir. Mari, silahkan masuk!”

Tentu saja kamar yang bersih dalam rumah penginapan itu sebetulnya masih terlalu kotor bagi Syanti Dewi karena kamar yang katanya paling bersih itu masih jauh lebih kotor dari pada kamar dapur di istananya!

Setelah mencuci muka dan makan malam, kedua orang dara itu lalu duduk di atas pembaringan di dalam kamar mereka dan bercakap-cakap dengan suara perlahan setengah berbisik. “Aku khawatir bahwa peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, delapan orang itu mati tentu ada yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah-olah kita di sini pun kini sedang diawasi orang.”

Syanti Dewi mengangguk. “Aku pun mempunyai perasaan demikian, Candra. Namun, kurasa orang yang membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika kita tertidur di hutan!”

“Perjalanan kita masih amat jauh dan biar pun kita sudah melewati kota Tai-cou, namun kita akan melewati daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kongkong... eh, mendiang kongkong...” Sampai di sini, Ceng Ceng tak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai terkubur!

Syanti Dewi mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata, “Ahhh, kongkong-mu telah berkorban nyawa demi keselamatanku, adikku! Entah bagai mana aku akan dapat membalas budi kongkong-mu itu ...”

Ceng Ceng cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras, “Jangan berkata begitu, enci!”

Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Syanti Dewi berkata, “Engkau adalah seorang dara perkasa, di dalam tubuhmu mengalir darah keturunan petualang kang-ouw yang berani dan perkasa! Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, Candra. Akan tetapi aku...! Sejak kecil aku hidup mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tidak mengherankan kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kongkong-mu tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang..., adikku yang tercinta, engkau pun harus menderita karena mengawalku!”

Ceng Ceng tertawa. “Kata siapa aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!”

“Apa? Tidak usah berpura-pura. Pakaian kita pun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh bahwa tentu ada kutu di pakaian kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri. “Aihhh, jangan bicara tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku? Aku pun hanya seorang gadis dusun yang belum pernah melakukan perantauan. Keadaan kita sama saja, enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biarlah kita saling melindungi dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkanmu. Aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang kongkong, yaitu mengantarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita dapat minta bantuan Puteri Milana seperti yang dipesankan kongkong.”

Melihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Syanti Dewi. Dia mengepal tinju dan berkata, “Ah, kiranya tidak percuma pula aku dulu tekun mempelajari ilmu silat, apa lagi memperoleh petunjuk-petunjukmu, adik Candra. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, tetapi seorang dara kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apa pun juga! Kalau ada bahaya mengancam, hemmm... haiittttt...!” Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-olah dia mengamuk dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Ceng Ceng tertawa dan merangkul kakak angkatnya itu.

“Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang terbang lepas di udara. Bebas dan kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba, kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!”

Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan kedua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur, mereka lebih besar hati dan aman!

Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh di atas kamar mereka. Mula-mula Ceng Ceng yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun dari pembaringan. Pada saat itu Syanti Dewi juga terbangun dan puteri ini berbisik, “Suara apa itu...?”

Ceng Ceng sudah menyambar bungkusan perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja, menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, kemudian menyerahkan topi caping yang sebuah kepada puteri itu sambil berbisik, “Sssttttt, ada orang bertempur di atas genteng...“

Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas. Makin jelas kini suara orang bertanding di atas dan menurut dugaan Ceng Ceng yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima orang bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena biar pun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar suara nyaring beradunya senjata tajam.

Tiba-tiba di antara suara beradunya senjata dan berdesingnya angin gerakan senjata tajam, terdengar suara seorang laki-laki berpantun, suaranya nyaring dan seperti tidak ada artinya, namun bagi sepasang gadis itu pantun yang dinyanyikan memiliki arti penting. Yang mengherankan hati Ceng Ceng dan mendebarkan adalah suara itu, seperti suara yang telah dikenalnya!

Sepasang merpati terkurung
tiada jalan terbang lari,
dihadang depan belakang
maut mengintai dari utara
di sepanjang lembah sungai!


“Enci Syanti, mari kita cepat lari...!”

Puteri itu meragu. “Mengapa lari? Di luar... bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada bahaya baru kita membela diri.”

“Sssttt... kau turutlah aku, enci. Cepat!” Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya keluar dari kamar dan terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap, melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.

“Kita lari ke mana, Candra?” puteri itu bertanya, heran kenapa adik angkatnya ini tanpa ragu-ragu melarikan diri ke arah tertentu.

“Enci, ingatlah kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-lari-belakang-utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”

Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.

“Dia siapa, adik Candra?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti... heiiii!” Mendadak Ceng Ceng menghentikan larinya karena dia kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”

“Apa katamu?” Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu. “Dia siapa?”

“Penolong kita itu, yang berpantun tadi... suaranya seperti si muka bopeng yang bikin ribut dengan ular-ular di Tai-cou itu dan... dan... wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya, menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.

“Prakkkk!”

Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sinkang-nya sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat merobohkan orang.

Namun bayangan itu menangkis dengan lengannya. Akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, akan tetapi dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan kongkong-nya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah dalam bajunya.

“Hyaaatttt...!” Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan yang dahsyat dan lihai sekali, apa lagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

“Plak-plak... wuuuutttt...!”

Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap, menangkis lengan kanan kiri, bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan kecepatan yang mengerikan.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak menjadi gentar. Dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau, melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!

“Sing, sing...! Plakkk!”

Ceng Ceng mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Ceng Ceng dapat mencegahnya, bayangan itu sudah menangkap Syanti Dewi! Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!

“Jahanam, lepaskan dia!” Ceng Ceng sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah bukan main dan sedikit pun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawatirkan adalah Puteri Syanti Dewi, maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk menyerang dan berusaha merampas tubuh Syanti Dewi yang telah dipondong orang itu.

Namun ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng merasa kurang leluasa gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya mengenai tubuh enci angkatnya. Kemudian dengan beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Ceng Ceng.

“Iblis, hendak lari ke mana kau?” Ceng Ceng tentu saja mengejar secepatnya.

Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Ceng Ceng belum hafal akan keadaan di situ sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Syanti Dewi itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba orang itu berteriak dan roboh terguling! Tubuh Syanti Dewi yang masih lemas tertotok juga ikut terguling, akan tetapi tiba-tiba ada tangan menyambarnya dan tubuh itu seketika terbebas dari totokan. Syanti Dewi mengeluh dan cepat menjauhkan diri sambil terhuyung-huyung dan berpegang kepada sebatang pohon.

Ketika Ceng Ceng tiba di tempat itu, orang yang melarikan Syanti Dewi tadi telah lari, dikejar bayangan lain yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan membebaskan totokan Syanti Dewi. Dalam sekejap mata saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.

“Engkau tidak apa-apa, enci?”

Syanti Dewi menggeleng kepalanya.

Ceng Ceng merasa gembira. Cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajaknya terus lari ke utara, seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah yang menolong Syanti Dewi dari tangan penculik itu pun sama orangnya dengan yang tadi berpantun di atas kamar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di pintu gerbang Tai-cou?

Ceng Ceng merasa heran dan bingung. Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main. Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding di atas kamar penginapan itu memiliki ginkang yang amat tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadi pun dia mendapat kenyataan yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Syanti Dewi adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Syanti Dewi!

Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa pihak musuh sudah mengenal penyamaran mereka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang adalah Syanti Dewi. Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!

“Mari cepat, enci!” Dia berkata dan mereka berlari secepatnya.

Namun, betapa pun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apa lagi ketika mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya meraba-raba dan menyelinap di antara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka terjerat akar pohon atau semak-semak.

Dengan napas terengah-engah Syanti Dewi mengeluh, “Aduuhhhh... kita berhenti dulu... ahhh, lelah sekali...”

“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai... mereka sudah mengenal engkau!”

Ucapan Ceng Ceng ini membuat sang puteri terkejut sekali. “Be... benarkah mereka telah mengenaliku? Celaka... hayo... hayo lari cepat...”

Kini Syanti Dewi yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai tertawan dan dibawa kepada Raja Muda Tambolon... ahh, tidak berani dia membayangkan nasib seperti itu, maka dia lari secepatnya.

“Enci... hati-hati... !” Kini Ceng Ceng yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa melihat-lihat ke depan.

“Oughhh...!” Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang!

“Enci Syanti...!” Ceng Ceng menjerit.

Cepat dia menjatuhkan diri menelungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan menghitam di dalam gelap. Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terjerumus ke dalam jurang yang gelap!

“Enci Syanti...!” Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi, terdengar suara lemah dari bawah.

“Adik Candra...!”

Jantung Ceng Ceng berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat? Jangan-jangan yang memanggil dirinya tadi adalah... arwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang meremang, lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi, “Enci Syanti... di mana engkau...?”

“Aku di sini... aku selamat, Candra. Untung ada pohon di sini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku dapat melihatmu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap. Lekas kau cari tali, tak perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah... aku dapat memanjat ke atas melalui tali...”

Girang sekali rasa hati Ceng Ceng. Sekarang dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh di bawah. Sepuluh kaki? “Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”

“Ah, tidak mungkin. Pohon ini kecil, jika dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat. Pula, begini gelap, bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali...”

Ceng Ceng bingung lagi. Ke mana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apa lagi di dalam hutan? Akhirnya dia mendapat akal baik. Tanpa ragu-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaiannya setelah dia mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah. Ditanggalkannya bajunya, celananya, baju dalam dan celana dalam.

Seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Lalu, sambil meraba-raba, dia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah digulungnya hingga merupakan gulungan kain yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang, menggulung-gulungkan kain itu sambil berteriak, “Enci Syanti... ini talinya...!”

“Ke sini, Candra. Di sebelah sini...!” Terdengar jawaban dari bawah dan Ceng Ceng mengulur tali ke arah suara itu.

Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Syanti Dewi.

“Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini...?”

“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati...“

Ceng Ceng mengerahkan tenaganya menahan ketika Syanti Dewi mulai memanjat naik. Tak lama kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah. Dia menubruk Ceng Ceng dan keduanya saling berpelukan dan menangis! Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Syanti Dewi selamat dari bahaya maut yang mengerikan itu.

“Heiiiii...! Kau... kau... telanjang bulat...!” Tiba-tiba Syanti Dewi berseru kaget dan heran sambil meraba-raba tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat kegelian dan memegang tangan Syanti Dewi.

”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”

Syanti Dewi tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Ceng Ceng mulai memakai lagi pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini dia merasa tubuhnya panas dingin kalau membayangkan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan kebetulan ada orang yang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!

“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap. Melanjutkan perjalanan berbahaya sekali, apa lagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan. Masih untung Thian melindungimu ketika kau terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”

“Ahhh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu jauh lebih baik dari pada jatuh ke tangan Tambolon.”

“Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku “

Mereka melanjutkan perjalanan, dan sekarang dengan sangat hati-hati. Setelah mereka mendapatkan sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah satu pohon yang diapit oleh batu-batu gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat di atas rumput, bersandar kepada batu gunung. Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.

“Tidurlah, enci Syanti, biarlah aku menjaga di sini.”

“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita membuat api unggun?”

“Ahhh, berbahaya, enci. Api unggun itu akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat jauh.”

Tubuh mereka memang dapat beristirahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam.

Dalam keadaan segelap itu, di dalam hutan yang asing, apa lagi setelah mengalami hal-hal yang mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Mereka duduk berhimpit bersandarkan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata.

Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang memperhatikan mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apa lagi malam-malam berkeliaran di dalam hutan gelap!

Ada pun Ceng Ceng, biar pun ia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya, namun perjalanan seperti ini pun baru pertama kali dia alami bersama Syanti Dewi itu.

Mereka makin berhimpitan, dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika di dalam kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang bernyanyi! Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!

Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka menduga bahwa sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi, tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali.

Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri. “Hayo kita tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,” kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat mereka lewatkan dengan selamat.

“Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!”

“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkampungan siluman yang tentu saja tidak tampak.”

Syanti Dewi segera bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan mengantuk, tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.

“Haii... banyak bangkai anjing di sini...!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran saat mereka keluar dari tempat itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada yang lehernya hampir putus, ada pula yang kepalanya pecah. Darah masih belum kering betul, menunjukkan bahwa gerombolan serigala ini dibunuh orang semalam!

“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Syanti Dewi sambil menengok ke kanan kiri.

Juga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik. “Heran sekali, siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi...”
“Aku juga!” kata Syanti Dewi. Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena merasa ngeri.

“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang...”

“Benar, aku pun mendengarnya.”

“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.”

“Siapa dia gerangan?”

“Tidak peduli siapa, aku sama sekali tidak takut!” Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak, “Heiii, orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk, mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir yang mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, kembali mereka tertegun ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga.

Seperti juga gerombolan serigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jeri juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan serigala tadi, tetapi cepat mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan ke utara.


BERSAMBUNG KE JILID 05


Kisah Sepasang Rajawali Jilid 04

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

KISAH SEPASANG RAJAWALI

BAGIAN 04

Akan tetapi, ketika mereka tiba di tengah hutan yang subur itu, mereka tertegun melihat seorang laki-laki sedang tidur di atas rumput, berbantal batu, kedua lengan bersilang depan dada dan mukanya tertutup oleh sebuah caping besar bundar. Seekor kuda yang kelihatan lelah sekali sedang makan rumput tak jauh dari laki-laki itu.

Panglima pasukan dan kakek Lu Kiong yang memang di sepanjang perjalanan sudah menduga akan datangnya penyerbuan pihak musuh, tentu saja menjadi curiga ketika melihat laki-laki itu. Akan tetapi karena merasa terlalu tinggi untuk menegur, panglima itu memanggil lima orang prajurit yang sedang duduk tak jauh dari situ dengan lambaian tangannya.

“Usir dia pergi! Sang puteri berkenan hendak mandi di mata air ini,” katanya.

Lima orang prajurit itu dengan sikap gagah, galak dan langkah lebar menghampiri orang yang sedang tidur. “Heiii! Bangun! Sang puteri hendak mempergunakan tempat ini, kau pergi dan pindahlah tidur di lain tempat!” bentak seorang di antara para prajurit itu.

Akan tetapi orang itu tetap tidur, sama sekali tidak bergerak.

“Haiiii! Tulikah engkau?” bentak prajurit kedua.

“Apakah kau sudah mati barangkali?” bentak prajurit ketiga.

“Tak mungkin mati, lihat lututnya bergerak-gerak!”

Memang, orang yang tertidur itu lutut kanannya terangkat dan kini bergerak, akan tetapi terhenti lagi karena dibicarakan orang.

“Haiii, petani...! Lekaslah bangun dan pergi. Apakah kau ingin diseret?” bentak pula seorang prajurit.

Tetap saja orang itu tidak mau bergerak.

Melihat ini, seorang prajurit yang berkumis tebal memegang sebelah kaki orang itu, lalu menarik sekuat tenaga. Akan tetapi, betapa herannya semua orang melihat bahwa si kuat ini sama sekali tidak mampu membuat orang itu bergerak, bahkan menggerakkan kaki itu pun dia tidak mampu! Seolah-olah bukan orang yang ditarik-tariknya, melainkan patung batu yang luar biasa beratnya. Teman-temannya menjadi heran, dan penasaran, kemudian maju bersama dan lima orang itu membetot-betot tubuh orang yang tidur itu. Terdengar mereka mengeluarkan suara ah-ih-uh ketika mengerahkan tenaga, namun tetap saja orang yang dikeroyok lima ini tidak dapat digerakkan sedikit pun juga!

“Eh-eh, apakah engkau minta dipukul?” Seorang prajurit membentak dan kuda orang itu menjadi ketakutan melihat dan mendengar ribut-ribut sehingga binatang ini melarikan diri agak jauh dari tempat itu.

Karena orang itu tetap tidur dengan muka ditutup caping, lima orang prajurit itu menjadi hilang sabar, malu dan penasaran. Mereka berlima tidak mampu menggerakkan orang yang tidur ini. Jelas bahwa orang itu tidak tidur, maka mereka merasa dianggap ringan dan hina. Kini mereka berlima turun tangan menyerang dengan pukulan kalang kabut!

“Plak-plak-plak-duk-dukkk...!”

Aneh bukan main. Tanpa menurunkan topi yang menutupi seluruh mukanya, orang itu dapat menggerakkan kaki tangannya menangkisi semua pukulan. Bukan saja pukulan-pukulan itu tertangkis, bahkan lima orang prajurit itu akhirnya mundur sambil meringis, memegangi lengan mereka yang menjadi bengkak-bengkak terkena tangkisan orang yang masih tertutup mukanya oleh caping itu!

“Hemmm...!” Panglima sudah memegang gagang pedangnya, akan tetapi dia didahului oleh Ceng Ceng yang sekali melompat telah berada di dekat orang itu sambil berkata, suaranya lantang penuh teguran, “Kalau kau seorang gagah, tentu kau tahu bahwa tempat ini bukan hanya milikmu seorang, dan tentu kau mempunyai kesopanan untuk menyingkir karena ada wanita hendak mandi di sini!”

“Adik Candra... jangan...!” Tiba-tiba sang puteri berseru dan sudah lari mendatangi dan berkata dengan halus kepada orang yang mukanya masih ditutupi topi itu. “Harap kau suka pergi dari sini dan setelah kami selesai mempergunakan mata air ini, tentu saja kau boleh menempatinya lagi.”

Tubuh itu bergerak-gerak sedikit, kemudian tangan kanannya meraba tanah, menepuk dengan pengerahan tenaga dan tubuhnya mencelat ke atas punggung kudanya yang berada agak jauh dari situ, kemudian kuda itu membalap pergi meninggalkan suara derap kaki dan sedikit debu mengepul. Semua itu dilakukan tanpa membuat capingnya terbuka!

“Hebat...!” Kakek Lu Kiong memuji dengan kagum.

“Mungkin dia mata-mata musuh...” bisik panglima komandan pasukan yang segera pergi dan memerintahkan para penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan di sekitar hutan itu.

Kakek Lu Kiong mengerutkan alisnya, termenung dan meraba-raba jenggotnya, lalu berkata kepada panglima itu, “Dia adalah seorang Han, dan melihat gerak-geriknya, dia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Sayang bahwa kita belum dapat melihat wajahnya sebelum dia pergi. Kurasa dia bukanlah mata-mata musuh, karena kalau dia mata-mata musuh, tentu tidak demikian perbuatannya, melainkan menyelidiki kita dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Betapa pun juga, dia lihai sekali dan kita harus berhati-hati.”

Juga Tan-ciangkun yang diberitahu tentang orang asing bercaping itu jadi termenung. “Saya mengenal banyak tokoh kang-ouw, dan tentu saja banyak yang bercaping dan berilmu tinggi. Mungkin saya dapat mengenalnya kalau melihat wajahnya. Akan tetapi karena jelas tidak mengganggu, bahkan dalam bentrokan itu dia tidak menewaskan seorang pun prajurit, kurasa dia tidak mempunyai niat buruk terhadap rombongan kita.”

Sementara itu, Ceng Ceng dan sang puteri mandi di mata air. Mereka membicarakan juga laki-laki yang aneh tadi.

“Dia tentu orang jahat. Kalau tadi dia tidak lekas menyingkir, tentu aku akan menghajar dia!” kata Ceng Ceng yang merasa mendongkol juga karena orang asing itu dipuji-puji dan orang itu mendapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya. Memang dara ini memiliki watak yang kadang-kadang keras tidak mau kalah, dan dia paling tidak senang melihat orang memamerkan kepandaiannya.

“Ahhh, belum tentu, adik Candra. Kurasa, melihat gerak-geriknya, dia bukanlah seorang jahat. Buktinya, dikeroyok demikian banyaknya prajurit, dia tidak membunuh seorang pun di antara mereka, padahal kalau melihat kepandaiannya, tentu dengan mudah dia mampu melakukan hal itu.”

“Hemm, dia memang sengaja hendak memamerkan kepandaiannya!” bantah Ceng Ceng masih tak puas. “Kalau saja diberi kesempatan, akan kubuktikan bahwa lagaknya itu hanya kosong belaka!”

Maklum akan watak adik angkatnya, puteri itu hanya tersenyum dan tidak menyebut lagi perihal orang aneh itu. Juga para tokoh dalam rombongan itu tidak bicara lagi tentang orang aneh, dan orang itu hanya disebut-sebut dengan bisik-bisik di antara para prajurit. Namun, peristiwa itu mempertinggi kewaspadaan rombongan dan penjagaan dilakukan ketat malam itu. Karena para penjemput belum juga muncul, maka terpaksa mereka bermalam di hutan itu dengan membangun tenda-tenda darurat. Sang puteri dan Ceng Ceng, juga para pelayan wanita, tidur di dalam kereta joli.

Malam itu sunyi sekali setelah lewat tengah malam. Sebagian besar prajurit yang tidak bertugas jaga, tidur nyenyak karena mereka memang sudah lelah sekali. Akan tetapi mereka yang bertugas jaga, tetap berjaga dengan penuh kewaspadaan di tempat masing-masing. Perondaan dilakukan terus-menerus dari tempat penjaga yang satu kepada tempat penjaga yang lain. Juga kakek Lu Kiong, komandan pasukan, dan Tan-ciangkun tidak dapat tidur dan mereka bercakap-cakap di dalam tenda melewatkan waktu malam yang merupakan bahaya bagi mereka itu.

Di dalam kereta joli, Ceng Ceng dan Syanti Dewi juga tidak dapat tidur. Mereka sudah terbiasa dengan kamar yang serba lengkap, dengan pembaringan yang lunak sehingga tidur setengah duduk di kereta joli merupakan hal yang sukar dilakukan. Maka keduanya juga setengah berbaring sambil bercakap-cakap. Diam-diam keduanya merasakan sesuatu yang aneh dan seolah-olah ada tanda-tanda rahasia akan datangnya hal yang tidak mereka kehendaki. Setelah munculnya orang aneh siang tadi, segala sesuatu kelihatan penuh rahasia. Suara angin berdesir mempermainkan daun-daun pohon saja terdengar seperti bisikan-bisikan iblis dan siluman. Bayang-bayang pohon yang dibuat oleh sinar lentera penjagaan tampak seperti bayangan raksasa! Keadaan serba menyeramkan dan menegangkan.

“Kulik! Kulik! Kulik!”

Suara burung malam itu terdengar jelas sekali karena suasana yang amat sunyi. Suara itu memecah kesunyian dan Puteri Syanti Dewi menggerakkan kedua pundaknya. Tengkuknya terasa dingin meremang.

“Ihhhh... menyeramkan sekali...!” Bisiknya. “Adik Candra, hatiku terasa tidak enak sekali. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan kita?”

Ceng Ceng juga merasa seram, namun dia menghibur hati kakak angkatnya dengan senyum lebar. “Apa yang dapat terjadi kepada kita? Engkau dikawal oleh lima ratus prajurit pilihan, enci Syanti.”

“Lima ratus orang prajurit di tempat seperti ini tidaklah meyakinkan sekali, adik Candra. Aku mendengar bahwa di daerah perbatasan ini sering kali muncul gerombolan yang dipimpin oleh Raja Muda Tambolon yang biadab itu.”

“Siapakah Raja Muda Tambolon yang terkenal itu, enci?”.

Syanti Dewi bergidik. “Aku sendiri belum pernah melihat orangnya. Akan tetapi menurut kabar, dia adalah seorang peranakan Tibet dan Mongol, seorang laki-laki bertubuh raksasa yang amat sakti dan juga amat kejam, terutama sekali terhadap wanita.”

“Hemmm, kejam terhadap wanita? Bagaimanakah?”

“Hihh, aku merasa ngeri baru mengingat cerita yang kudengar itu saja. Bayangkan, kalau Tambolon sudah menyerang sebuah dusun, dia akan membunuh semua laki-laki yang tidak mau menyerah, dan tidak ada seorang pun wanita yang dilepaskannya. Semua kanak-kanak dibunuh, dan wanita dari usia empat belas tahun ke atas, semua menjadi korban kebiadabannya. Kabarnya, dia sendiri akan memilih sedikitnya lima orang wanita tercantik untuk dia permainkan sampai bosan. Ada pun sisanya, semua diberikan begitu saja kepada para anak buahnya dan terjadilah peristiwa yang lebih mengerikan dari pada penyembelihan terhadap kaum pria dan anak-anak. Para wanita itu diperkosa di dalam rumah, di jalan-jalan, di sawah, di mana saja mereka ditemukan, bahkan di antara mayat-mayat suami dan atau saudara-saudara mereka.”

“Keparat jahanam!” Ceng Ceng mendesiskan kata-kata ini penuh kebencian.

“Dan beberapa hari kemudian, wanita-wanita tua dibunuh, yang muda digiring sebagai orang tawanan atau lebih tepat lagi, sebagai alat hiburan mereka sampai kaum wanita itu mati atau bunuh diri. Anak-anak yang lahir dari perbuatan laknat ini kelak menjadi anak buah gerombolan. Kabarnya Tambolon sendiri merupakan hasil kelahiran dari perbuatan biadab seperti itulah.”

“Hemm, kalau begitu biarlah mereka muncul. Ingin aku memenggal leher manusia iblis itu dengan pedangku sendiri!” Ceng Ceng berkata lagi.

Tiba-tiba, seolah-olah menjawab kata-kata Ceng Ceng, terdengar suara melengking tinggi berulang-ulang. Mula-mula suara itu datangnya dari arah barat, kemudian disusul dari selatan, timur dan utara. Suara melengking yang agaknya bukan keluar dari leher manusia, melainkan dari semacam alat tiup yang aneh. Segera terdengar teriakan-teriakan dan kegaduhan hebat di luar kereta joli.

“Apa itu...?” Syanti Dewi bertanya kaget dan mukanya pucat.

“Jangan keluar dulu, biar aku yang memeriksa!” Ceng Ceng sudah meloncat keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hatinya melihat ratusan anak panah berapi datang bagaikan hujan menyerang tempat itu!

Di sana-sini sudah terjadi kebakaran pada tenda-tenda dan keadaan menjadi kacau. Para prajurit yang baru saja terbangun dari tidur dan dalam keadaan panik, lari ke sana ke mari sampai akhirnya teriakan-teriakan kakek Lu Kiong, komandan pasukan, Tan-ciangkun dan beberapa orang perwira lain dapat meredakan kepanikan. Pasukan-pasukan disusun dan dibagi empat, siap menghadapi serangan dari empat penjuru itu.

Tak lama kemudian, muncullah pihak musuh yang menyerang dari empat penjuru, dan terjadi pertempuran yang amat hebat. Perang yang terjadi di dalam gelap itu amat kejam dan dahsyat, namun sungguh tidak menguntungkan pihak pasukan Bhutan. Mereka sebagian besar baru saja bangun tidur, masih nanar dan agaknya pihak penyerang lebih tangkas dan lebih biasa dengan pertempuran di dalam hutan yang gelap. Selain itu, segera didapatkan kenyataan yang mengejutkan bahwa jumlah musuh luar biasa banyaknya, jauh lebih banyak dari pada jumlah pasukan Bhutan yang lima ratus orang itu. Juga di pihak musuh banyak terdapat orang-orang pandai dari bermacam suku bangsa. Ada pendeta Lama dari Tibet, ada orang Turki yang bersorban, orang Mongol dan juga orang Han!

Perang tanding mati-matian itu terjadi sampai hampir pagi. Ceng Ceng yang siap dengan pedang di tangan melindungi Syanti Dewi yang juga memegang pedang. Ada beberapa orang musuh dapat menyelundup masuk dan Ceng Ceng sudah merobohkan empat orang musuh, sedangkan Syanti Dewi sendiri yang selama hidupnya belum pernah bertempur, apa lagi membunuh orang, terpaksa membunuh seorang laki-laki tinggi besar yang hendak menangkapnya. Kini dengan muka pucat dan tubuh menggigil puteri itu memandang korbannya. Pedangnya tertinggal di dalam perut korban itu karena merasa terlalu ngeri untuk mencabut pedangnya!

Tiba-tiba kakek Lu Kiong datang dengan muka agak pucat. Seluruh pakaian kakek itu berlumur darah, dan mukanya penuh keringat. Pedang di tangan kakek ini pun penuh berlepotan darah dan kelihatannya dia lelah sekali. Seperti juga para prajurit dan para pimpinan, kakek ini telah ikut berperang dan mengamuk seperti seekor harimau.

“Ceng Ceng... cepatlah persiapkan diri dan tuan puteri! Kita harus melarikan diri, pihak musuh terlalu kuat!”

“Apa? Melarikan diri? Tidak, kongkong!” Ceng Ceng membantah marah. “Biarlah kita melawan sampai titik darah terakhir!”

“Hushhhhh! Kau kira kakekmu ini pengecut? Kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, kita harus menyelamatkan sang puteri!”

Barulah Ceng Ceng teringat. Dia menoleh dan melihat Syanti Dewi berdiri pucat memandang orang yang telah ditusuk perutnya dengan pedangnya itu. Orang itu masih berkelojotan di depan kakinya!

“Bagaimana kita bisa melarikan sang puteri, kongkong? Tempat ini sudah terkurung.”

“Cepat, kalian berdua pakai pakaian ini dan mari ikut dengan aku!” Kakek Lu Kiong memberikan dua stel pakaian petani kepada Ceng Ceng dengan nada memerintah. “Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan tuan puteri. Ini sudah diatur oleh kami, komandan pasukan, Tan-ciangkun, dan aku sendiri. Kita berdua harus dapat mengawal dan menyelamatkan puteri keluar dari tempat ini!”

Dua orang gadis itu tidak banyak membantah lagi, lalu mengenakan pakaian petani yang agak kebesaran itu, menutupi pakaian mereka sendiri, menguncir rambut seperti model laki-laki, kemudian tergesa-gesa mengikuti kakek itu menyelinap di antara pohon-pohon gelap. Sang puteri menyerahkan segenggam perhiasan berharga kepada Ceng Ceng untuk membantu membawanya sebagai bekal. Dengan perhiasan di kantung baju yang lebar, dan pedang disembunyikan di bawah baju, mereka bergerak di bawah pohon-pohon. Syanti Dewi telah mendapatkan kembali pedangnya setelah dicabut dari perut penyerangnya tadi dan dibersihkan darahnya pada pakaian korban.

Akan tetapi, di mana-mana mereka bertemu dengan pihak musuh dan beberapa kali terpaksa mereka terpaksa membuka jalan darah dan merobohkan musuh untuk dapat melanjutkan usaha mereka melarikan diri. Namun, kakek Lu Kiong sedapat mungkin menghindarkan diri dari pertempuran, memilih lowongan-lowongan untuk keluar dari dalam hutan tanpa diketahui musuh.

Akhirnya, setelah matahari pagi tersembul di antara daun-daun pohon, mereka bertiga telah berhasil lolos dan keluar dari dalam hutan di mana masih berlangsung perang yang amat hebat itu. Suara pertempuran masih terdengar jauh di luar hutan. Baru saja hati ketiga orang pelarian itu merasa lega karena dapat lolos, dan memasuki sebuah hutan kecil di antara gurun pasir yang hanya kadang-kadang saja menyelingi gundukan perbukitan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lima orang sudah berdiri di depan mereka dengan golok terhunus di tangan!

“Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga tentu akan ada yang menyelinap ke sini! Eh, kakek tua, apakah kalian ini anggota rombongan puteri... ehhhh! Kalian berdua ini begini tampan, persis perempuan... heiiii, bukankah kalian perempuan?” Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bermata lebar menunjuk dengan goloknya ke arah muka Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Ahhhh, dia puteri Bhutan! Tidak salah lagi! Aku pernah melihatnya, dia Puteri Bhutan!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang tinggi kurus bermuka kuning. Mendengar ini, lima orang itu cepat maju mengurung.

“Ha-ha-ha-ha, benarkah itu, kawan? Kalau begitu, kita telah berhasil menjebak kakap dalam jaring kita! Ha-ha-ha, raja muda tentu akan memberikan hadiah banyak sekali kepada kita. Tangkap dia!” teriak si muka hitam, dialah yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan lima orang kasar ini.

Si muka hitam dan si muka kuning sudah menggunakan golok mereka untuk menerjang kakek Lu Kiong, sedangkan tiga orang teman mereka menubruk Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Plak-plak, dess!”

Tiga orang itu tersungkur karena Ceng Ceng sudah memukul dan menendang dua orang, sedangkan Syanti Dewi sendiri merobohkan seorang dengan sebuah tendangan kilat.

“Tranggg...! Cringgg...!”

Kakek Lu Kiong berhasil menangkis dua batang golok lawan, biar pun dia terkejut sekali karena ketika dia menangkis, dia merasa betapa dua kali pedangnya tergetar hebat, tanda bahwa si muka hitam dan si muka kuning itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali!

Melihat tiga orang temannya tersungkur dan meloncat kembali, si muka hitam tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya memiliki kepandaian juga si puteri dan pelayannya...!”

“Mulut busuk! Aku bukan pelayan!” bentak Ceng Ceng yang marah sekali dan dia sudah menghunus pedangnya, demikian pula Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha-ha, tangkap mereka, jangan sampai mereka terluka. Sang Puteri boleh untuk Raja Muda, akan tetapi si cantik liar itu untukku saja, ha-ha-ha!”

“Keparat!” Lu Kiong sudah menggerakkan pedangnya menyerang dan dapat ditangkis oleh si muka hitam. Segera terjadi pertandingan yang seru sekali antara kakek Lu Kiong dikeroyok dua orang yang ternyata memiliki ilmu silat yang tangguh juga.

Tiga orang anak buah mereka itu sudah mencabut golok dan kini menyerang Ceng Ceng dan Syanti Dewi. Akan tetapi karena mereka tidak berani melukai, sedangkan dua orang dara itu melawan mati-matian, tentu saja tiga orang itu menjadi kewalahan, betapa pun lihai ilmu silat mereka. Ceng Ceng mulai mendesak dengan pedangnya dan tiga puluh jurus kemudian, dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan bacokan pedangnya yang hampir memisahkan kepala dari tubuh lawan itu!

Terdengar teriakan keras. Ceng Ceng melihat kakeknya juga telah berhasil merobohkan si muka kuning yang terbabat hampir putus pinggangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa kakeknya juga terluka parah pada pundak kirinya sehingga bajunya penuh darah.

“Kongkong...!” Teriaknya sambil menangkis dua batang golok yang menyerangnya.

“Ceng Ceng, jaga sang puteri...!” kakek itu berteriak.

“Wuuuutttt... singgg...!” Golok itu menjadi sinar terang meluncur cepat sekali dari atas membacok ke arah kepala kakek Lu Kiong. Si muka hitam ternyata marah sekali melihat saudaranya tewas dan kini dia mengerahkan tenaga untuk membalas dendam.

“Tringggg... augghhh...!” Tubuh kakek Lu Kiong tersungkur dan dia bergulingan.

Ketika menangkis tadi, rasa nyeri menusuk pundak kirinya yang terluka sehingga dia kehilangan tenaga dan hanya dengan jalan menjatuhkan diri saja dia terbebas dari bacokan golok. Si muka hitam mengejar dan menghujankan bacokan. Namun kakek itu dengan sigapnya bergulingan sambil mengangkat pedang beberapa kali menangkis, lalu dengan teriakan keras dia sudah meloncat bangun dan segera terjadi pertandingan mati-matian antara kedua orang itu.

“Kakekmu terluka... bantulah dia, adik Candra!” Syanti Dewi berkata sambil pedangnya membacok ke arah lawan yang dapat ditangkis oleh lawan itu.

“Tidak, kita bereskan dulu dua ekor anjing ini!” Ceng Ceng berseru.

Dia mengerti bahwa puteri itu bukanlah lawan kedua orang yang cukup lihai ini, maka ia cepat memutar pedangnya. Kemarahan melihat kakeknya terluka menambah semangat dara ini. Dengan putaran pedang secepat kitiran, akhirnya ia berhasil menendang roboh seorang lawan. Tendangan dengan ujung sepatu yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga orang itu berlutut tanpa mampu berdiri kembali.

“Singggg...!” Pedang di tangan Syanti Dewi menyambar.

“Tranggg...!”

Orang yang sudah berlutut itu berusaha menangkis, namun karena kedudukannya yang tidak baik, tangkisannya membuat goloknya terpental dan terlempar.

“Wuuttt...! Crottt!” pedang Ceng Ceng sudah menyambar dan merobek tenggorokannya.

Orang itu mengeluarkan suara seperti babi disembelih dan roboh terjengkang, darah muncrat-muncrat dari lehernya yang coba ditutupinya dengan telapak tangan. Melihat ini, Syanti Dewi loncat mundur dan membuang muka dengan penuh kengerian. Hampir dia muntah-muntah menyaksikan pemandangan yang mengerikan hatinya ini.

Ceng Ceng mengamuk dan menekan lawan yang tinggal seorang lagi itu. Orang itu kini menjadi panik karena kedua orang kawannya telah tewas. Setelah menangkis tiga kali dan selalu tangannya tergetar sehingga goloknya hampir terlepas, dia berteriak, meloncat ke belakang hendak lari.

“Robohlah...!” Teriak Ceng Ceng. Dengan gerakan indah dia melontarkan pedangnya ke depan. Pedang itu meluncur seperti anak panah dan menancap di punggung orang itu, menembus sampai ke dada. Dengan teriakan keras orang itu roboh terguling.

“Kongkong...!” Ceng Ceng menjerit ketika melihat kakeknya terhuyung, lalu kakek itu roboh di atas mayat si muka hitam yang baru saja dirobohkan dan ditewaskan.

Ternyata kakek yang kosen ini biar pun berhasil membunuh si muka hitam yang lihai, menderita luka pula karena kena bacokan golok si muka hitam yang mengenai dadanya sehingga dada itu terobek lebar!

“Kongkong...!” Ceng Ceng berlutut dan memangku kepala kakeknya. Wajahnya pucat dan matanya terbelalak penuh kegelisahan menyaksikan keadaan kakeknya yang telah terluka hebat dan seluruh pakaiannya berlepotan darah itu.

Kakek Lu Kiong membuka matanya, memandang kepada Ceng Ceng lalu kepada Syanti Dewi yang juga sudah datang berlutut di dekat Ceng Ceng. “Ceng Ceng, kau... kau selamatkan puteri... harus. Sekarang juga... pergilah kau ke kota raja... jumpai di sana Puteri Milana, dia sahabat mendiang ibumu. Lindungi puteri dengan nyawamu sebagai... sebagai keturunan seorang bekas pengawal setia...” Kakek itu menghentikan kata-katanya karena napasnya telah terhenti.

“Kongkong...!”

Ceng Ceng memeluk kepala kakek itu, kemudian dia mengangkat mukanya. Dia tidak menangis, walau pun ada dua butir air mata di pipinya yang pucat. “Engkau benar, kongkong! Kita adalah pengawal-pengawal setia sampai mati. Engkau gugur sebagai orang gagah, kongkong! Dan aku akan melanjutkan kegagahanmu.” Dia melepaskan pelukannya dan dengan hati-hati dia merebahkan tubuh kakeknya itu di antara mayat-mayat lima orang lawan tadi.

“Marilah, enci. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum musuh datang!”

“Tapi... tapi jenazah kakekmu...”

“Tidak apa! Kongkong akan tahu bahwa kita tidak sempat menguburnya. Biarlah semua orang melihat bahwa kongkong tewas di antara musuh-musuhnya dalam tugas sebagai seorang pengawal perkasa! Marilah...!” Sekuatnya Ceng Ceng berusaha menahan tangis karena sesungguhnya hatinya perih sekali harus meninggalkan mayat kakeknya seperti itu. Namun dia tahu bahwa kalau dia terlambat, musuh akan datang dan dia akan sukar sekali menyelamatkan sang puteri.

Puteri Syanti Dewi menahan isak, mengeluarkan sehelai kalung dan sambil berlutut mengalungkan benda itu di leher kakek Lu Kiong. “Ini adalah kalungku sendiri, biarlah sebagai tanda terima kasihku...” Dia terisak dan lengannya disambar oleh Ceng Ceng lalu diajaknya puteri itu melarikan diri. Hampir saja Ceng Ceng tadi menangis melihat sikap puteri itu, dan dengan mengeraskan hati dia setengah menyeret kakak angkatnya karena kalau dia menurutkan hati dan ikut menangisi jenazah kakeknya, keadaan mereka bisa berbahaya sekali.

Demikianlah, dengan menyamar sebagai dua orang petani yang melarikan diri karena terjadi perang, Ceng Ceng dan Syanti Dewi melewati gurun pasir, pegunungan dan hutan-hutan lebat menuju ke timur. Tentu saja perjalanan itu sukar bukan main bagi mereka berdua, seperti dua ekor ikan kecil yang dilepas di tengah lautan. Mereka tidak mengenal jalan. Satu-satunya yang mereka ketahui hanyalah bahwa kota raja Kerajaan Ceng berada jauh sekali di timur!

Mereka membawa bekal banyak perhiasan berharga, namun apa artinya semua itu kalau mereka selama belasan hari tidak pernah bertemu dengan orang lain? Mereka terpaksa harus makan binatang buruan dan daun-daun, minum dari air sungai dan mereka selalu dalam keadaan waspada dan gelisah karena mereka maklum bahwa sebelum tiba di kota raja, mereka selalu akan terancam bahaya karena pihak musuh, yaitu orang-orang bawahan Raja Muda Tambolon tentu melakukan pengejaran.

* * * * * *

“Lee-ko, mari kita turun dari sini. Lihat itu sepasang rajawali kita beterbangan di atas permukaan laut, agaknya tentu ada sesuatu terjadi. Mungkin ada ikan besar terdampar ke pulau seperti dahulu!” kata Kian Bu sambil menudingkan telunjuknya ke bawah puncak di mana tampak sepasang rajawali itu terbang rendah di permukaan laut.

“Ahh, Bu-te, sekarang bukan waktunya bermain-main. Ingat, hari ini kita harus melatih sinkang untuk menghimpun Hui-yang-sinkang (Tenaga Sakti Inti Api) yang amat sukar.”

“Memang sukar, Lee-ko. Tidak semudah ketika kita melatih Swat-im-sinkang.”

“Tentu saja, untuk menghimpun Swat-im-sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) kita dibantu oleh hawa dingin dan salju, sedang Hui-yang-sinkang adalah sebaliknya, menyalurkan sinkang menjadi berhawa panas. Karena sukarnya, maka kita harus giat berlatih, jangan terlalu banyak main-main. Marilah kita berlatih lagi, kurasa di dalam goa itu sudah cukup panas, apinya sudah sejak pagi tadi menyala.”

Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tidak berani membantah kakaknya dan mereka memasuki sebuah goa di puncak itu. Kalau orang lain yang belum terlatih, baru memasuki goa itu saja tentu tidak akan kuat bertahan. Di situ dinyalakan api arang yang amat besar sehingga hawa menjadi panas luar biasa, baru masuk saja terasa kulit seperti dibakar. Namun kedua orang pemuda yang sudah terlatih itu seolah-olah mereka tidak merasakan hal ini. Mereka berjalan masuk dan duduk bersila, mulai berlatih Hui-yang-sinkang.

Kedua orang muda putera majikan Pulau Es ini memang selalu tekun berlatih silat semenjak mereka dahulu tersesat ke Pulau Neraka dan terancam bahaya maut. Biar pun mereka dapat terhindar dari mala petaka, bahkan pulang ke Pulau Es membawa sepasang rajawali, namun keduanya maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluar merantau hampir celaka, maka di bawah gemblengan dan bimbingan yang amat keras dari ayah mereka, keduanya berlatih setiap hari sehingga memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Akan tetapi belum lama mereka melakukan siulian (semedhi) untuk berlatih sinkang, tiba-tiba telinga Kian Bu menangkap suara rajawali yang melengking panjang. Dia membuka mata memandang keluar goa. Tentu saja dari dalam goa itu dia tidak melihat sepasang rajawali, akan tetapi kembali telinganya menangkap suara lengking panjang dari sepasang rajawali itu.

“Lee-ko...!”

Kian Lee membuka matanya memandang dengan cemberut. “Bu-te, mengapa kau belum juga berlatih? Apa kau ingin mendapat marah dari ayah?”

“Lee-ko dengarkan! Sepasang rajawali kita marah-marah, tentu ada sesuatu!”

Terpaksa Kian Lee mencurahkan perhatiannya pada pendengarannya dan tak lama kemudian dia mendengar lengking panjang dari sepasang rajawali mereka. Tak salah lagi, memang sepasang rajawali itu sedang marah-marah. Hal ini amat mengherankan karena kalau tidak terjadi sesuatu di Pulau Es, mengapa sepasang rajawali itu marah-marah?

“Hemm, mereka marah sekali. Entah apa yang sedang terjadi...,” kata pemuda yang bersikap tenang ini.

“Mendengar suara mereka, kalau tidak melihat dulu, mana bisa aku menyatukan tenaga untuk berlatih? Aku mau melihatnya dulu, Lee-ko!” Berkata demikian, Kian Bu sudah menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat keluar dari goa itu. Gerakannya memang hebat sekali karena pemuda ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

“Tunggu, Bu-te...!” Kian Lee juga meloncat dengan kecepatan yang sama.

Kedua orang kakak beradik itu berlari cepat menuruni puncak dan ketika mereka tiba di pantai tampaklah oleh mereka apa penyebab sepasang rajawali itu beterbangan rendah dan mengeluarkan suara pekik kemarahan. Kiranya Pulau Es kedatangan tamu! Hal yang luar biasa sekali karena selama mereka hidup di Pulau Es, baru satu kali ini ada orang-orang asing yang datang di Pulau Es, menggunakan sebuah perahu besar yang berlabuh di tepi pantai.

Kakak beradik itu merasa heran sekali, apa lagi ketika melihat bahwa yang datang adalah orang banyak. Ada dua puluh orang yang kini sudah mendarat dan mereka itu berdiri di pantai, berhadapan dengan Suma Han dan kedua orang isterinya! Karena ayah dan ibu mereka telah hadir, kakak beradik ini tidak berani bersuara, hanya melangkah maju dan mendengarkan percakapan.yang baru berlangsung. Agaknya orang tua mereka juga baru saja datang ke tempat itu menyambut para pendatang ini. Dua puluh orang itu rata-rata telah berusia lanjut, paling muda empat puluh lima tahun sampai ada yang sudah tua sekali. Akan tetapi yang paling menarik adalah dua orang kakek yang berdiri di depan, karena mereka ini adalah yang paling aneh di antara mereka semua.

Dua orang kakek ini menarik karena wajah mereka serupa benar. Sukar membedakan dua wajah itu yang bentuk dan garis-garisnya sama, bahkan rambut mereka yang panjang terurai sampai ke leher juga sama. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat menyolok pada pakaian mereka dan warna muka mereka. Yang seorang bermuka putih, bukan pucat melainkan putih seperti dicat! Kakek ini memakai baju tebal dari bulu, akan tetapi masih kelihatan seperti orang kedinginan, bahkan mukanya yang lebar bulat itu, yang berwarna putih, agak kebiruan seperti orang menderita dingin hampir beku.

Ada pun kakek kedua merupakan kebalikan dari kakek pertama. Kakek kedua bermuka merah, muka yang seperti orang kepanasan. Orang kedua ini hanya memakai celana sebatas lutut dan sepatu, sama sekali tidak memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kurus dengan tulang iga menonjol itu kelihatan. Anehnya, biar pun berada di Pulau Es yang dingin sekali, kakek ini masih kelihatan seperti orang kegerahan, mengipas-ngipas tubuh atasnya yang telanjang itu dengan sehelai sapu tangan yang sudah basah oleh keringatnya. Dan ini bukan hanya aksi belaka karena memang lehernya selalu basah oleh keringat!

Delapan belas orang yang lainnya terdiri dari empat belas orang kakek yang rata-rata kelihatan aneh dan membayangkan ilmu kepandaian tinggi, dan empat orang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun yang masing-masing membawa pedang di punggung mereka. Empat orang wanita ini kepalanya dibalut dengan kain putih seperti orang berkabung dan wajah mereka angker, penuh kebencian ketika mereka memandang kepada Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya. Melihat dari bentuk pakaian mereka, jelas bahwa empat orang wanita ini bukanlah wanita Han, sungguh pun wajah mereka seperti wanita Han biasa, akan tetapi pakaian mereka agak lain. Dan memang mereka itu adalah wanita-wanita dari Korea, dan tergolong tokoh-tokoh orang gagah di negeri itu.

Siapakah kedua orang kakek kembar yang agaknya menjadi pimpinan rombongan yang secara tidak terduga-duga datang mendarat di Pulau Es ini? Nama mereka tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, karena memang kedua kakek kembar ini selama puluhan tahun pergi meninggalkan dunia kang-ouw dan merantau di luar negeri. Mereka adalah kakak beradik kembar, berasal dari Taiwan (Formosa) dan pernah mereka menjelajah ke daratan besar dan membuat nama dengan ilmu kepandaian mereka.

Akan tetapi, mereka berbeda haluan dengan suheng mereka yang mencari kedudukan dengan menghambakan diri kepada Bangsa Mancu yang menduduki Tiongkok. Suheng mereka kemudian terkenal sebagai Koksu (Guru Negara), yaitu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun. Mereka berdua merasa kecewa melihat kakak seperguruan yang mereka anggap sebagai pengganti suhu itu menghambakan diri kepada musuh, maka keduanya lalu pergi meninggalkan daratan besar dan mereka berpencar untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu mereka. Yang tua pergi ke utara dan selama puluhan tahun bermukim di daerah Kutub Utara yang amat dingin. Ada pun yang muda merantau ke selatan, ke daerah panas di mana matahari lewat tepat di atas kepala.

Beberapa tahun yang lalu, kedua orang ini kembali ke daratan besar sebagai dua orang lihai bukan main. Setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kutub Utara, kakek tertua menjadi putih mukanya dan selalu berpakaian tebal seperti yang biasa dipakai orang-orang Eskimo di daerah Kutub Utara. Kakek ini kemudian terkenal dengan sebutan Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Utara). Ada pun adik kembarnya, sekembalinya dari daerah panas, menjadi merah mukanya dan selalu merasa kegerahan dan tidak pernah berbaju. Dia kini dijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Selatan).

Biar pun baru datang beberapa tahun saja, kelihaian mereka membuat nama Siang Lo-mo (Sepasang Iblis) ini terkenal sekali, terutama pada golongan yang menentang Pemerintah Mancu karena kedua orang ini pun terkenal anti kepada Kerajaan Mancu. Memang aneh sekali keadaan kedua orang itu. Lajimnya, orang yang selamanya tinggal di daerah dingin seperti Kutub Utara, kalau datang ke tempat yang lebih panas tentu akan kegerahan, akan tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, terus-menerus kedinginan! Demikian pula dengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun dia tinggal di daerah panas, semestinya kini dia akan merasa kedinginan, akan tetapi biar pun berada di Pulau Es, dia masih terus merasa panas!

Sebetulnya mereka tidak pura-pura dan yang menyebabkannya demikian adalah sinkang mereka. Di Kutub Utara, Pak-thian Lo-mo melatih diri secara liar sehingga dia dapat menghimpun inti tenaga yang mengandung hawa dingin. Memang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya karena dilatih secara liar, dia selalu merasa kedinginan dan harus memakai jubah tebal berbulu dan sering kali minum arak tanpa takaran untuk menghangatkan tubuhnya, demikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih dan menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu terasa terlalu panas!

Ketika kakek kembar ini mendengar betapa suheng mereka telah digagalkan semua usahanya memberontak oleh Pendekar Super Sakti, bahkan kabarnya suheng mereka itu tewas di Pulau Es, tentu saja menjadi marah sekali dan menaruh hati dendam kepada Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Apa lagi ketika mendengar pendekar yang menjadi musuh besar mendiang suheng mereka itu adalah mantu Kaisar Mancu, kebencian mereka makin meluap-luap.

Mereka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu mereka yang menentang Pemerintah Mancu. Di antaranya adalah keempat wanita dari Korea itu. Mereka itu adalah kakak beradik dari Jepang yang telah menikah dengan perwira-perwira Korea. Ketika suami mereka semua gugur dalam perang melawan pasukan Mancu, mereka bersumpah untuk membalas dendam dan menggabung dengan mereka yang anti Pemerintah Mancu sehingga akhirnya mereka dapat bekerja sama dengan Siang Lo-mo. Mendengar bahwa Siang Lo-mo hendak mencari Pulau Es dan menyerang Majikan Pulau Es yang menjadi mantu Kaisar Mancu, tentu saja mereka berempat menjadi girang dan segera menyatakan hendak ikut membantu.

Empat belas kakek yang lainnya sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang merasa dirugikan oleh Pemerintah Mancu, ada pula yang ikut menyerbu Pulau Es semata-mata untuk membalas dendam kepada Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti karena sahabat atau saudara seperguruan mereka pernah roboh di tangan pendekar ini.

Suma Han dan dua orang isterinya yang juga mendengar pekik sepasang rajawali dan melihat sebuah perahu besar mendarat, sudah cepat menyambut dan kini mereka bertiga menanti keluarnya dua puluh orang itu dari perahu. Sikap Suma Han dan dua orang isterinya tenang-tenang saja sungguh pun mereka juga merasa heran sekali melihat rombongan orang asing datang ke pulau mereka dan mereka bertiga sudah dapat menduga bahwa rombongan itu tentulah bukan datang dengan iktikad baik.

Namun, sesuai dengan wataknya yang tenang dan sopan, Suma Han mengangkat kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda penghormatan, lalu bertanya dengan suara halus, “Siapakah cu-wi (anda sekalian) yang telah mendarat di Pulau Es dan apa gerangan keperluan cu-wi?”

Sejenak kedua orang kakek kembar itu tak dapat menjawab, hanya mata mereka memandang Suma Han penuh perhatian dan penuh selidik, memandang pendekar itu dari rambutnya yang putih semua dan panjang sampai ke pundak sampai kakinya yang tinggal sebelah. Akhirnya Pak-thian Lo-mo menghela napas panjang. Dia merasa heran sekali dan hampir tidak percaya bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kelihatannya lemah, tubuhnya sedang, kakinya tinggal yang kanan dan rambutnya sudah putih semua, bersikap halus dan lemah lembut ini adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang demikian tersohor!

Dia tersenyum dan dengan sikap tak acuh tanpa membalas penghormatan tuan rumah, dia bertanya, “Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es?”

“Kalau benar demikian, kau mau apakah?” Lulu tidak dapat menahan kemarahannya melihat sikap orang yang sama sekali tidak menghormat suaminya, padahal suaminya telah bersikap sopan dan ramah.

Pak-thian Lo-mo memandang pada Lulu dan mengangguk-angguk. “Hebat, aku sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti mempunyai dua orang isteri yang kabarnya lihai bukan main dan bahwa yang seorang adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri! Apakah engkau puteri kaisar itu?”

“Kakek tua bangka yang tidak mengenal orang!” Nirahai membentak. “Akulah puteri kaisar yang kau tanyakan. Engkau siapakah dan mau apa berlagak di tempat ini dengan membawa banyak anak buah?”

Pak-thian Lo-mo saling pandang dengan adik kembarnya, kemudian mereka berdua tertawa bergelak. Kini Lam-thian Lo-mo yang menjawab, suaranya kering tetapi nyaring sekali, “Eh, Pendekar Siluman! Kami hendak bertanya, apakah benar suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di Pulau Es ini?”

Suma Han dan kedua orang isterinya terkejut. Kiranya dua orang kakek kembar yang aneh itu adalah sute-sute dari mendiang Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun! Jelaslah bahwa kedatangan mereka ini mengandung niat yang tidak baik.

Namun suara Suma Han masih tetap tenang ketika dia menjawab, “Benar, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di tempat ini karena perbuatannya sendiri yang menyalahi kebenaran.

“Kaukah yang membunuhnya?” Pak-thian Lo-mo bertanya, suaranya penuh ancaman.

Sebetulnya, Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun terjungkal dari tebing yang amat curam ketika bertanding dengan Gak Bun Beng. Namun bukan watak Suma Han untuk menyebutkan kesalahan orang lain hanya untuk melindungi dirinya sendiri, maka jawabnya, “Yang membunuhnya adalah tingkah lakunya sendiri yang tidak benar.”

Pak-thian Lo-mo mengangkat tangannya ke pinggang, bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali. “Pendekar Siluman, dengarlah baik-baik! Kami berdua adalah Siang Lo-mo, aku disebut Pak-thian Lo-mo dan dia ini adikku Lam-thian Lo-mo. Kami datang untuk menuntut kematian suheng kami! Bukan itu saja, karena engkau adalah mantu kaisar penjajah dan isterimu itu puteri kaisar, maka kami para patriot bergabung untuk membasmi kalian dan mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah markas baru!”

“Iblis tua bangka bosan hidup!” Nirahai sudah membentak marah sekali dan hampir berbareng dengan Lulu yang juga marah, kedua orang wanita sakti ini sudah melompat ke depan. Terjangan mereka disambut oleh Pak-thian Lomo dan Lam-thian Lo-mo yang tertawa-tawa menghina dan memandang rendah kedua wanita itu.

“Dessss! Desssss!”

Empat pasang lengan saling bertemu dengan hebatnya, dan akibatnya, Nirahai dan Lulu terlempar ke belakang sedangkan kedua kakek ini pun terhuyung! Melihat ketangguhan kedua orang kakek Siang Lo-mo itu, Suma Han berkata kepada kedua orang isterinya yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh mereka, “Biarlah aku menghadapi mereka.”

“Pendekar Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!” Lam-thian Lo-mo berteriak keras.

Bersama saudara kembarnya dia lalu menubruk ke depan dan dari kedua tangannya menyambar hawa yang panas seperti api menyala, sedangkan dari kedua tangan Pak-thian Lo-mo menyambar hawa yang dingin sekali. Namun Suma Han dengan gerakan tenang sudah menggerakkan tongkatnya ke depan, dengan gerakan aneh tongkatnya berputar seperti mencoret-coret huruf di udara.

“Plak-plak...!”

Secara aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat mengenai punggung dua kakek itu yang cepat melompat ke belakang, saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka kaget bukan main! Sama sekali mereka tidak mengerti bagaimana tongkat di tangan si kaki buntung itu dapat memukul punggung mereka! Namun mereka tidak menjadi jeri dan cepat tangan mereka meraba pinggang dan mereka melolos sabuk mereka, yang ternyata merupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!

Suma Han merasa khawatir sekali di dalam hatinya. Kalau kedua orang kakek itu menggunakan senjata yang dia dapat menduga tentu ampuh dan lihai sekali, maka pertandingan akan menjadi sungguh-sungguh dan ada kemungkinan dia kesalahan tangan dan terpaksa membunuh mereka untuk menyelamatkan diri. Biar pun dia tidak merasa takut, namun betapa pun juga dia tidak menghendaki dia sekeluarga terpaksa membunuh orang dan mengotori Pulau Es yang sudah beberapa kali dikotori darah manusia yang terbunuh di situ akibat kejahatan-kejahatan mereka. Selama puluhan tahun dia hidup damai, tenteram, dan aman bersama dua orang isterinya dan kedua orang puteranya. Kini dia tidak ingin terjadi pembunuhan.

“Jiwi harap bersabar. Apakah urusan ini tidak dapat diselesaikan dengan damai?” tanyanya tenang.

“Pendekar Siluman, jangan kau kira bahwa kami gentar menghadapi tongkatmu! Kami datang untuk menantang engkau berkelahi!” bentak Pak-thian Lo-mo.

Suma Han menahan napas. “Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita hanya menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?” Sambil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin mereka lebih erat dari pada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang, kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.

“Engkau hendak mengadu tenaga sinkang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kau terima pukulan kami ini!”

Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lam-thian Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap dingin!

Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sinkang istimewa masing-masing, menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.

Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam dia pun telah mengerahkan tenaga sinkang-nya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali dengan sinkang-nya, karena ia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sinkang yang berlawanan, yaitu Swat-im-sinkang (Tenaga Inti Salju) dan Hwi-yang-sinkang (Tenaga Inti Api).

Kini, menghadapi dua serangan yang datang mengandalkan sinkang yang berlawanan, tentu saja dia sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sinkang-nya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi serangan dari dua tenaga sinkang yang berlawanan itu, tetapi Pendekar Super Sakti dapat menyalurkan dua tenaga bertentangan itu dalam satu saat, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sinkang menyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanan juga mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.

“Dess! Dess...!”

Pertemuan tenaga mukjijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di situ dapat merasakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Selama hidup mereka yang puluhan tahun berkecimpung di dunia kang-ouw, baru pertama kali itu mereka menyaksikan beradunya tenaga mukjijat sehebat itu.

Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih. Mereka seperti daun kering tertiup angin, terhuyung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguh pun tidak terlalu berat karena mereka telah membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya.

Akan tetapi, di lain pihak, biar pun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser selangkah pun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biar pun pendekar ini dapat mempertahankan, namun tanah di bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!

Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan, hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik dari pada keadaan mereka. Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua orang itu sudah mencabut cambuk masing-masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menerjang maju.

“Tar-tar-tar-tar...!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala Suma Han.

“Trak-trak-trak-trakkk!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan kakek Pendekar Siluman, sekarang telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biar pun kaki tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan tenangnya dapat menangkis semua sambaran sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke mana pun ujung cambuk menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu api!

Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mereka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samurai model Jepang, berada di kedua tangan mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk memegang gagang pedang, seperti orang memegang toya dan kini mereka memekik sambil berlari ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.

“Haaaiiiiikkkk...!”

“Trang-cring-cring-cring...!”

Empat orang wanita itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah menghadang mereka dan menangkis samurai-samurai itu dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung. Merasakan tangkisan yang membuat tangan mereka tergetar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum akan kelihaian dua orang wanita isteri Pendekar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.

“Lee-ko, mari...!”

Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.

“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu ke depan.

“Haiiiitt!”

“Hyaaaahhh!”

Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biar pun mereka hanya bertangan kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke belakang. Biar pun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membuat mereka menjadi kaget dan panik. Apa lagi ketika terdengar lengking memanjang dari atas dan dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu dua orang majikan mereka! Keadaan makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!

Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tiba-tiba sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu lawan itu telah menyerangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang! Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mukjijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu kesaktian paling cepat gerakannya di dunia ini!

Diam-diam Suma Han juga harus mengakui bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek kembar itu hebat sekali, sinkang mereka kuat dan tubuh mereka kebal, juga mereka merupakan ahli-ahli silat yang sudah berhasil mengumpulkan inti sari segala gerakan ilmu silat, diringkas dan dimainkan dasarnya saja sehingga mereka berdua merupakan lawan yang amat ulet dan kuat.

Namun, andai kata dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun yang membingungkan mereka, tentu saja dia dapat merobohkan mereka dengan tongkatnya, membunuh atau sedikitnya melukai mereka. Dia tidak menghendaki hal ini. Dia maklum bahwa jalan kekerasan hanya akan berakhir dengan kekerasan pula, dengan dendam dan kebencian yang tak kunjung henti. Maka dia bersikap sabar dan mengalah.

Ketika Suma Han mendengar bentakan kedua orang isterinya beserta kedua orang puteranya, dia menengok dan terkejutlah hati Pendekar Super Sakti ini. Kedua orang isterinya dan dua orang pemuda itu mengamuk seperti naga-naga marah. Dua orang wanita Korea telah roboh dan tak dapat bertanding lagi karena terluka parah, sedangkan di antara empat belas orang itu, sudah ada delapan orang yang roboh, entah tewas atau pingsan!

Celaka, dia sendiri tidak mau turun tangan keras, isteri-isteri dan anak-anaknya malah mengamuk seperti itu!

“Heiii, tahan dan mundur kalian semua!” Teriaknya sambil mencelat ke arah kedua isteri dan anaknya. “Kian Bu, Kian Lee, hayo panggil burung-burung setan itu!” teriaknya pula melihat betapa kedua ekor rajawali itu pun turut mengamuk hebat, membuat para lawan menjadi panik dan sibuk mempertahankan diri dari paruh dan cakar yang kuat.

Kedua isterinya mengerutkan alis, namun mereka mengenal suami mereka dan tidak mau membantah. Mereka maklum bahwa suami mereka akan berduka sekali kalau sampai keluarganya menggunakan kekerasan. Juga Kian Lee dan Kian Bu meloncat mundur dan berusaha memanggil sepasang rajawali yang sedang marah dan mengamuk itu. Akan tetapi, pekerjaan itu tidaklah mudah karena sepasang rajawali itu agaknya telah datang kembali sifat liar mereka dan sekali mencium darah, mereka menjadi buas!

Akan tetapi, sama sekali tidak disangka-sangka oleh Suma Han. Dia sendiri mundur dan menyuruh anak isterinya untuk berhenti bertanding, akan tetapi sepasang kakek itu, dua orang wanita Korea, dan enam orang teman mereka yang masih belum roboh, sudah datang lagi menerjang dengan kemarahan meluap. Suma Han menghela napas panjang. Sedih dia melihat betapa begitu banyak orang ternyata amat membencinya sehingga mereka itu siap mempertaruhkan nyawa untuk membunuh dia!

“Siang Lo-mo dan cu-wi sekalian! Apakah kalian sudah bosan hidup? Lihat..., bukit itu longsor ke sini...!” mendadak Suma Han berteriak keras, suaranya disertai khikang dan mengandung tenaga sakti mukjijat yang bergema di seluruh tempat itu, tongkatnya menuding ke tengah pulau di mana tampak bagian yang menjulang tinggi seperti bukit es yang putih.

Sepasang kakek kembar dan para temannya menengok ke arah yang ditunjuk itu dan tiba-tiba mata mereka terbelalak dan muka mereka pucat sekali. Mereka melihat betapa bukit itu pecah-pecah, batu dan es yang besar-besar sedang bergulingan dari atas menuju ke tempat itu disertai suara gemuruh dan tanah yang mereka injak bergoyang-goyang seperti ada gempa bumi yang hebat.



"Celaka...! Cepat lari...!” Pak-thian Lo-mo berteriak sambil menyambar tubuh dua orang pembantu yang terluka.

“Lari..., bawa teman-teman...!” berteriak pula Lam-thian Lo-mo yang juga menjadi pucat wajahnya.

Tentu saja tidak perlu dikomando dua kali, karena mereka yang belum roboh menjadi pucat ketakutan menyaksikan malapetaka itu, bencana alam yang amat hebat dan yang tentu akan menggulung dan membasmi mereka semua kalau mereka terlambat lari dari tempat yang agaknya sudah dikutuk dan akan musnah itu. Mereka cepat menyambar teman yang terluka, lalu cepat lari ke arah perahu mereka, berloncatan ke dalam perahu dan sekuat tenaga mendayung perahu ke tengah laut. Angin segera mendorong layar dan perahu itu melaju cepat meninggalkan Pulau Es.

Suma Han menghela napas lega. Dua orang pemuda yang tadinya berlutut merangkul kedua kaki ibu masing-masing dengan muka pucat, sekarang menengadah melihat ibu mereka tersenyum. Keduanya bangkit berdiri, menoleh ke arah bukit dan ternyata tidak ada terjadi apa-apa di sana! Padahal tadi, mereka ikut menengok dan melihat betapa bukit itu pecah dan mengeluarkan suara bergemuruh, mengancam tempat itu dengan gumpalan batu dan es sebesar rumah!

“Untung mereka dapat dikelabui...“ Suma Han berkata perlahan.

“Hemmm, kalau mereka tidak lari, tentu sebentar lagi mereka tak sempat berlari lagi!” kata Lulu.

“Mereka itu tidak seberapa kuat, mengapa harus dipergunakan hoat-sut (ilmu sihir)?” kata Nirahai, tidak puas karena tadi sedang ‘enak-enaknya’ membabati musuh.

Sudah belasan tahun puteri kaisar yang gagah perkasa ini tak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan ilmunya untuk bertempur, padahal dahulu puteri ini mempunyai kesukaan untuk bertanding ilmu silat. Peristiwa tadi sebetulnya amat menggembirakan hatinya, siapa yang tidak mengkal hatinya kalau sedang enak-enak membabat musuh lalu dihentikan?

“Aihhhh... jadi ayah tadi mempergunakan ilmu sihir?” Kian Lee berkata, memandang ayahnya dengan kagum dan heran. “Akan tetapi... aku melihat sendiri, bukit itu seperti pecah...“

“Karena kau ikut menengok, maka kau menjadi korban kekuasaan ilmu sihir ayahmu pula,” kata Lulu. Dia dan Nirahai yang sudah tahu bagaimana caranya melawan ilmu sihir itu, tadi tidak menengok dan karenanya tidak terseret.

“Wah, hebat sekali, ayah! Harap ajarkan ilmu itu kepadaku!” Kian Bu bersorak.

Ayahnya diam saja, hanya memandang sepasang rajawali yang masih berputaran terbang di angkasa. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua ekor burung rajawali itu terkejut, lalu menukik turun dan tidak lama kemudian hinggap di atas tanah, di depan pendekar itu.

“Kian Lee, Kian Bu, lihat apa yang berada di paruh mereka itu!” bentak Suma Han.

Kian Lee dan Kian Bu menghampiri sepasang rajawali dan mengambil sesuatu dari paruh mereka. Kiranya burung rajawali kesayangan Kian Lee membawa sebatang jari tangan di paruhnya, sedangkan burung rajawali kesayangan Kian Bu membawa sebuah daun telinga manusia!

“Ihhh...! Ini jari tangan orang!” Kian Lee bergidik dan membuang jari tangan itu ke atas tanah.

“Haiiii! Ini daun telinga orang...!” Kian Bu juga membuang benda menjijikkan itu.

Suma Han menghela napas, menggunakan tongkatnya membuat lobang di atas tanah, kemudian menjemput jari tangan dan daun telinga itu, kemudian sambil menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala dia berjalan ke tengah pulau.

“Ayah, ajarkan aku ilmu sihir itu...!” Kian Bu berseru dan hendak mengejar ayahnya.

Akan tetapi tangannya dipegang ibunya. “Ilmu itu tak mungkin diajarkan ayahmu kepada siapapun juga,” puteri kaisar itu berkata.

“Mengapa tidak mungkin, ibu?”

“Ilmu yang kelihatan seperti ilmu sihir itu dimiliki oleh ayahmu tanpa dipelajarinya karena ayahmu memiliki kekuatan mukjijat. Pula, dengan kepandaian silat yang kau miliki saat ini, tidak perlu lagi menginginkan kekuatan sihir karena kau akan mampu menghadapi lawan yang bagaimana kuat pun.”

“Kian Lee, apa yang diucapkan oleh ibumu Nirahai itu benar sekali,” Lulu juga berkata, ditujukan kepada puteranya sendiri. “Tingkat kepandaian kalian berdua sudah cukup tinggi, dan melihat gerakan kalian ketika menghadapi musuh tadi, kiranya tingkat kalian tidak berada di sebelah bawah kami berdua. Ketika dahulu aku masih menjadi ketua Pulau Neraka, dan ibumu Nirahai menjadi ketua Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh dunia, tingkat kami berdua kiranya masih belum setinggi tingkat kalian sekarang ini.”

Nirahai mengangguk-angguk dan menyambung ucapan madunya itu, “Memang benar, apa lagi kalau diingat bahwa kalian berdua adalah pemuda-pemuda yang sedang kuat-kuatnya, sedangkan kami makin tua dan makin lemah. Maka jangan kalian berdua menginginkan ilmu kesaktian ayah kalian yang tidak mungkin dipelajari itu.”

Tentu saja hati sepasang pemuda ini menjadi gembira dan girang mendengar pujian Nirahai itu. Kegirangan itu bertambah besar ketika pada malam harinya, setelah keluarga itu makan malam, Suma Han berkata dengan suaranya yang selalu tenang dan halus, “Lee-ji dan Bu-ji, sekarang telah tiba saatnya bagi kalian berdua untuk keluar dari pulau, merantau meluaskan pengetahuan kalian.”

Kedua orang pemuda itu hampir bersorak saking girangnya mendengar ini, dan mereka berdua saling pandang dengan muka berseri dan mata bersinar-sinar. Demikian gembira mereka sampai tidak melihat betapa sebaliknya wajah ibu mereka menyuram.

“Akan tetapi ingat, kalian jangan mengira bahwa kalian boleh berbuat sesuka hati setelah bebas. Kebebasan yang benar adalah kebebasan yang dapat mengatur diri sendiri, bukan kebebasan liar (sesuka hati!) yang tentu akan menyeret kalian ke dalam perbuatan sesat. Memang, tingkat ilmu silat kalian sudah cukup tinggi sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan dicelakakan oleh musuh, namun kalian masih kurang sekali dalam pengalaman. Karena itu, dalam meluaskan pengalaman, kalian pergilah ke kota raja dan jumpai enci kalian, Milana. Dari enci kalian itu kalian akan mendapat banyak petunjuk. Dan ingat, kalian jangan sekali-kali menyombongkan diri dengan menyebut nama Pulau Es. Mengerti?”

Kedua orang pemuda itu mengangguk dan menyembunyikan rasa girang mereka di dalam hati. “Ayah, bolehkah kami membawa sepasang rajawali?”

Suma Han menahan senyumnya. Puteranya yang kedua ini selalu berwatak riang gembira dan biar pun usianya sudah hampir delapan belas tahun, tetapi masih kekanak-kanakan sehingga merantau pun ingin membawa rajawali kesayangannya!

“Rajawali jangan dibawa. Sekali ini kalian merantau, berarti akan memasuki tempat-tempat ramai, apa lagi akan memasuki kota raja. Kalau kalian membawa sepasang rajawali, tentu akan menimbulkan ribut dan kekacauan. Ingat kalian harus menganggap bahwa kalian adalah seperti sepasang rajawali yang terbang bebas di angkasa, tidak menggantungkan nasib dan keselamatan kalian pada perlindungan siapa pun juga. Seperti sepasang rajawali, kalian harus selalu waspada, jangan lengah karena segala kemungkinan dapat saja terjadi, segala bahaya dapat saja datang dari segala penjuru.”

Setelah banyak-banyak memberi nasehat kepada kedua orang puteranya sehingga semalam itu mereka hampir tidak tidur, pada keesokan harinya berangkatlah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu meninggalkan Pulau Es. Mereka hanya membekal beberapa potong emas dan sejumlah uang perak untuk biaya di jalan, tetapi mereka berdua tidak diberi bekal senjata.

Perahu layar yang membawa mereka pergi meninggalkan Pulau Es, menuju ke arah yang telah ditunjuk dan digambarkan dalam peta oleh ayah mereka, diikuti pandangan mata kedua ibu mereka yang basah oleh air mata.

Setelah perahu itu lenyap dari pandangan mata, kedua orang wanita itu tidak dapat menahan tangis mereka. Betapa hati mereka tidak akan berkhawatir dan berduka ditinggalkan putera tercinta yang semenjak lahir berada di pulau itu bersama mereka? Suma Han mendiamkan saja kedua isterinya berduka, karena dia dapat menyelami perasaan mereka. Dia hanya berdiri dibantu tongkatnya, memandang jauh lepas ke arah lautan, mencoba untuk mempelajari dan mengerti akan hidup dari permukaan laut yang tak bertepi.

Andai kata ada yang bertanya kepada kedua orang ibu itu mengapa mereka menangis dan mengapa mereka berduka karena berpisahan dengan putera mereka, tentu mereka akan menjawab langsung bahwa mereka berduka karena mereka mencinta putera mereka yang sekarang pergi meninggalkan mereka. Jelas bahwa mereka menangis bukan demi putera mereka, karena sepasang pemuda itu bergembira dan tidak perlu ditangisi. Akan tetapi mereka menangis karena mereka ditinggalkan! Mereka menangis demi dirinya sendiri, menangis karena iba diri yang ditinggalkan pergi orang-orang yang dicinta!

‘Cinta’ yang bersifat pengikatan diri kepada sesuatu yang dicinta, seperti kedua ibu ini, hanya akan membawa kedukaan. Pengikatan diri kepada keluarga, pada harta benda, pada kemuliaan duniawi, kepada kesenangan, sebenarnya bukanlah cinta kasih sejati, melainkan nafsu mementingkan dan menyenangkan diri sendiri belaka. Segala sesuatu, baik benda hidup atau pun mati, yang dipunyai seseorang secara lahiriah, kalau sampai dimiliki pula secara batiniah, hanya akan menimbulkan kesengsaraan.

Segala sesuatu tidak kekal di dunia ini, sekali waktu tentu terjadi perpisahan. Kalau kita mengikatkan diri kepada sesuatu, berarti kita memiliki secara batiniah dan seolah-olah yang kita miliki itu telah berakar di dalam hati. Maka jika tiba saatnya kita harus berpisah dari sesuatu yang kita miliki secara batiniah itu, sama saja dengan dicabutnya sesuatu itu dari hati sehingga merobek dan menyakitkan hati!

Mengikatkan diri kepada apa pun juga, kepada suami, isteri, anak, keluarga, harta dan apa saja berarti menghambakan diri dan ikatan-ikatan ini yang membuat orang menjadi takut dan khawatir. Takut kalau-kalau dipaksa berpisah, karena kehilangan, karena kematian dan lain-lain. Rasa takut akan perpisahan dengan yang telah mengikat dirinya, membuat orang menjaga dan melindungi mati-matian, dan untuk ini tidak segan-segan orang menggunakan kekerasan. Maka timbullah pertentangan, dan dari pertentangan ini lahirlah kesengsaraan hidup.


* * * * * *

Kita tinggalkan dulu Pulau Es dan suami isteri yang termenung ditinggalkan putera-puteranya itu, dan kita biarkan sepasang pemuda itu mulai dengan perantauan mereka seperti sepasang rajawali, dan mari kita menengok kembali keadaan Syanti Dewi dan Ceng Ceng.

Seperti telah diceriterakan di bagian depan, dua orang dara jelita ini melarikan diri dan terpaksa meninggalkan kakek Lu Kiong yang tewas oleh pengeroyokan para tokoh pemberontak yang memusuhi Kerajaan Bhutan. Dengan berpakaian seperti dua orang petani sederhana, dua orang gadis itu terus melarikan diri. Mereka melumuri pipi yang halus putih itu dengan lumpur untuk menyembunyikan wajah cantik mereka setelah memperoleh kenyataan bahwa penyamaran itu dapat diketahui oleh para penghadang sehingga hampir saja mereka tertangkap.

Sukarlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri karena daerah perbatasan itu termasuk daerah kekuasaan pasukan-pasukan Raja Muda Tambolon. Dusun-dusun di sekitar daerah itu telah berada di bawah kekuasaannya. Puteri Syanti Dewi yang pernah mendengar tentang ini mengerti akan bahaya yang mengancam mereka, maka dia selalu menganjurkan kepada Ceng Ceng untuk berhati-hati.

Pada suatu senja, pelarian mereka membawa mereka ke sebuah dusun. Mereka menanti di luar dusun sambil bersembunyi, dan setelah cuaca menjadi gelap, barulah mereka berani memasuki dusun itu. Bau masakan dan bumbu terbawa uap masakan yang sedap membuat mereka tidak menahan diri. Telah beberapa hari lamanya mereka hanya makan daun-daun dan daging panggang tanpa bumbu.

Kini perut mereka terasa lapar sekali ketika hidung mereka mencium bau yang amat gurih dan sedap itu, dan berindap-indap keduanya memasuki warung yang berada di pinggir dusun. Warung itu ternyata cukup besar dan ketika keduanya masuk, di situ terdapat tujuh orang tamu yang pakaiannya agak kotor dan tujuh orang ini semua membawa topi caping bundar lebar yang kini mereka taruh di atas meja.

Ketika Syanti Dewi dan Ceng Ceng memasuki warung dengan muka kotor berlumpur dan muka tunduk, mereka berhenti bicara, melirik sebentar akan tetapi melihat bahwa yang masuk hanyalah dua orang petani muda yang agaknya baru pulang dari sawah karena pakaian dan mukanya kotor, tujuh orang itu melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka adalah orang-orang kasar dan jujur dan berani bicara keras begitu melihat keadaan aman.

Syanti Dewi memesan makanan dan makan bersama Ceng Ceng tanpa bicara, akan tetapi mereka berdua tertarik sekali oleh percakapan antara tujuh orang itu.

“Kabarnya sang puteri lenyap...”

Kata-kata ini yang membuat mereka terkejut dan memaksa mereka mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Ahhh, kasihan sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan rombongan utusan kaisar?”

“Entahlah, kabarnya banyak yang tewas. Akan tetapi pasukan penjemput dari kerajaan Ceng lalu tiba dan musuh dapat dihalau pergi. Hanya celakanya, sang puteri tidak ada lagi...”

“Aihh, jangan-jangan dia tertawan musuh”

“Mungkin sekali...”

“Aduh kasihan!”

“Kalau saja kita dapat menolongnya...”

“Wahh, orang-orang pedagang garam macam kita ini bagaimana bisa menolongnya? Untuk memasuki kota Tai-cou saja kita tentu harus mengeluarkan banyak biaya untuk menyuap penjaga, baru kita akan boleh masuk.”

“Memang celaka, dan hanya di kota itu garam kita akan laku dengan harga tinggi.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng saling pandang dan sinar mata mereka berseri. Mereka juga harus melalui kota Tai-cou dan setelah dapat melewati kota terakhir dari kekuasaan Raja Muda Tambolon itulah mereka dapat dikatakan telah lolos dari cengkeraman musuh. Dan mendengarkan percakapan antara pedagang garam itu, agaknya mereka itu tak dapat disangsikan lagi adalah orang-orang yang berpihak kepada Kerajaan Bhutan dan Kerajaan Ceng, orang-orang yang anti kepada Raja Muda Tambolon. Hal ini berarti orang-orang itu adalah sahabat!

Alangkah kaget dan herannya hati ketujuh orang pedagang garam itu ketika mereka meninggalkan warung dan sedang berjalan sambil bercakap-cakap di lorong dusun yang gelap dan sunyi, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan tahu-tahu dua orang ‘pemuda’ yang tadi makan di warung telah berdiri di depan mereka.

“Para paman harap berhenti sebentar!” Ceng Ceng berkata.

Mendengar suara wanita, karena Ceng Ceng menggunakan suara aslinya, tujuh orang itu tertegun dan mencoba untuk melihat lebih jelas lagi di tempat gelap itu.

“Kami sudah mendengar percakapan paman bertujuh dan kami percaya bahwa paman sekalian akan suka membantu kami untuk melewati kota Tai-cou,” kata pula Ceng Ceng.

“Apa... apa maksudmu... tuan... eh, nona...?” seorang di antara mereka yang berkumis tebal bertanya bingung karena dia masih ragu-ragu. Melihat pakaiannya, dua orang itu adalah pria, akan tetapi suaranya seperti wanita!

“Paman, lihatlah baik-baik. Aku adalah seorang wanita, dan dia ini bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan yang kalian bicarakan tadi.”

Tujuh orang itu terkejut bukan main. Cepat mereka memandang ke arah Syanti Dewi, membuka caping dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu!

“Maafkan kami... hamba tidak mengetahui...”

Syanti Dewi cepat berkata, “Harap paman semua bangkit berdiri. Jika sampai kelihatan orang tentu dicurigai.”

Mendengar ini, mereka cepat bangkit berdiri. Mereka adalah pedagang-pedagang garam yang berhutang budi kepada Pemerintah Bhutan karena mereka diijinkan untuk mengangkut garam dari Bhutan yang mereka jual di daerah pedalaman.

Dari Pemerintah Bhutan mereka tidak pernah mengalami gangguan, maka tentu saja mereka merasa terlindung dan di dalam hati mereka bersimpati kepada kerajaan ini dan sebaliknya, mereka sering kali mengalami gangguan dari para anak buah Raja Muda Tambolon, maka tentu saja mereka membenci mereka.

“Paman, tolonglah kami agar dapat lewat kota Tai-cou. Kami hendak melarikan diri ke ibukota Kerajaan Ceng,” kata Syanti Dewi.

“Tentu saja hamba senang sekali kalau dapat menolong paduka. Marilah paduka berdua ikut bersama hamba ke tempat peristirahatan rombongan pedagang garam di kuil tua.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng mengikuti mereka dan ketika mereka tiba di dalam kuil tua yang kini diterangi dengan api-api penerangan lilin, tampak oleh mereka bahwa jumlah rombongan pedagang garam itu ada tujuh belas orang! Ketua mereka adalah si kumis tebal tadi, maka begitu mendengar bahwa Sang Puteri Bhutan yang mereka dengar diboyong ke Tiong-goan dan di tengah jalan rombongan puteri itu diserbu gerombolan pemberontak, mereka segera berlutut menghaturkan selamat dan dengan senang hati mereka ingin membantu dan melindungi puteri ini melewati Tai-cou dengan selamat.

“Kota terakhir di bawah kekuasaan Raja Muda Tambolon ini terjaga kuat sekali,” kata si kumis tebal. “Jalan satu-satunya bagi sang puteri agar dapat lolos dengan selamat hanya dengan menyamar menjadi seorang di antara kita, menyamar sebagai pedagang garam dan bersama rombongan kita memikul garam memasuki kota.”

Semua orang menyatakan setuju dan dengan tergesa-gesa dibuatlah dua stel pakaian pedagang garam untuk dipakai Syanti Dewi dan Ceng Ceng, juga mereka diberi masing-masing sebuah caping lebar bundar itu beserta sebuah pikulan terisi dua keranjang garam. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu berangkat meninggalkan dusun tanpa membangkitkan kecurigaan penduduk yang tidak tahu bahwa rombongan tujuh belas orang itu kini telah menjadi sembilan belas!

Perjalanan dari dusun itu menuju ke kota Tai-cou memakan waktu sehari. Di sepanjang perjalanan, para pedagang garam itu tentu saja membebaskan dua orang dara itu dari memikul garam dan hanya apa bila mereka melewati dusun-dusun saja kedua orang dara itu harus memikul garam.

Menjelang sore, tibalah rombongan ini di depan pintu gerbang kota Tai-cou. Semua orang menjadi tegang hatinya ketika mereka tiba di pintu gerbang itu dan terpaksa harus berhenti karena akan dilakukan pemeriksaan oleh para penjaga pintu gerbang yang dikepalai oleh seorang perwira komandan yang tinggi besar, galak dan brewok. Kebetulan sekali ketika rombongan pedagang garam yang berjumlah sembilan belas orang ini tiba, di pintu gerbang itu tiba pula rombongan pedagang garam dari lain daerah yang jumlahnya dua puluh orang lebih sehingga keadaan di situ menjadi ramai sekali.

“Haiiii!” Sang komandan yang melompat ke atas sebuah meja berteriak dengan tangan di pinggang, lagaknya keras dan angkuh sekali. “Kalian harus masuk seorang demi seorang! Setiap keranjang akan diperiksa, juga setiap orang akan diperiksa baik-baik karena dikhawatirkan ada penyelundup! Kalau kami dapat menangkap seorang saja penyelundup, kalian semua akan dihukum berat!”

Si kumis tebal sudah menyelinap dan mendekati komandan itu, berbisik perlahan sambil menyerahkan sebuah kantung berisi uang. “Maafkan, tai-ciangkun, kami tergesa-gesa sekali. Lihat, ada rombongan pedagang garam lain, kalau kami kalah dulu, tentu akan jatuh harga garam. Ini sedikit tanda terima kasih untuk tai-ciangkun dan kalau kami sudah menjual habis garam kami, tentu akan ditambah lagi...“

Perwira komandan itu menyambar kantung uang dan berkata kereng, “Hemm... kalian akan kuperbolehkan lewat lebih dahulu, tetapi tetap harus diperiksa! Keadaan sekarang gawat!”

Si kumis tebal telah mundur dan wajahnya pucat. Kalau sampai diperiksa dan ketahuan bahwa dua orang di antara mereka adalah wanita, tentu akan terjadi keributan, apa lagi kalau sampai sang puteri dikenal! Pada saat itu, terjadi keributan di bagian rombongan pedagang garam yang dua puluh orang lebih itu. Seorang pedagang garam yang mukanya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar, berteriak-teriak dan mencak-mencak, “Hayaaa... celaka... siapa yang menaruh ular-ular ini di keranjangku...? Tentu pedagang garam dari barat, keparat...!”

Terjadilah gaduh dan ribut karena memang mendadak muncul banyak sekali ular-ular besar kecil di tempat itu! Ceng Ceng yang bermata tajam tadi melihat betapa pedagang garam yang bermuka hitam bopeng itu telah mengeluarkan bungkusan kain kuning dari dalam keranjang dan agaknya ular-ular itu keluar dari bungkusan itulah! Dan selagi Ceng Ceng termenung, tiba-tiba dia melihat betapa kaki si bopeng menendang seekor ular kecil. Ular itu melayang ke atas dan... mengenai dada komandan yang berdiri di atas meja. Tidak ada orang yang melihat gerakan ini kecuali Ceng Ceng. Si komandan berteriak-teriak dan mengebut-ngebutkan pakaiannya.

“Basmi semua ular...!” teriaknya kepada para anak buahnya. “Hayo kalian segera maju, jangan memenuhi tempat ini!” Teriaknya kepada rombongan si kumis tebal.

Menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau itu, Ceng Ceng dan Syanti Dewi sudah memanggul pikulan masing-masing dan dengan desakan dari si kumis tebal mereka cepat memikul keranjang garam memasuki pintu gerbang.

“Haiii, diperiksa dulu... eihhh, celaka...!” Komandan yang berteriak itu kembali terkejut karena ada seekor ular hijau yang melayang dan mengenai mukanya, hampir menggigit hidungnya!

Ceng Ceng dan Syanti Dewi dapat lolos dengan cepat, kemudian dilindungi oleh para temannya, kedua orang dara itu melepaskan pikulan dan tergesa-gesa berjalan memasuki kota Tai-cou. Karena dia tidak memikul garam, maka setelah keadaan gaduh di pintu gerbang itu mereda dan semua pedagang diperiksa, dalam rombongan itu tidak lagi terdapat dua orang wanita ini dan mereka tidak dipanggil karena tidak ada penjaga yang menyangka bahwa dua orang yang berjalan pergi tanpa membawa pikulan itu adalah anggota rombongan pedagang garam. Apa lagi karena semua penjaga tadi sibuk membunuhi ular-ular itu sehingga perhatian mereka terpecah.

Semalam suntuk itu kedua orang dara itu melarikan diri. Mereka maklum bahwa kalau mereka tidak cepat-cepat meninggalkan kota Tai-cou, keadaan mereka masih terancam bahaya besar, sungguh pun sampai saat itu tidak ada yang mencurigai mereka.

Dengan mudah mereka telah lolos dari Tai-cou, keluar dari pintu sebelah utara dan menempuh perjalanan di sepanjang malam yang gelap tanpa arah tujuan tertentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu melarikan diri sejauh mungkin dari Tai-cou yang merupakan benteng terakhir dari kekuasaan Tambolon. Dan mereka hanya tahu bahwa mereka melarikan diri menuju ke timur. Dengan melihat letaknya bintang, mereka dapat mengarahkan kaki menuju ke timur.

Pada kesokan harinya, mereka beristirahat sebentar di sebuah hutan, makan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal dari pemberian para pedagang garam, minum air jernih yang mereka dapatkan di hutan itu, lalu berbaring di atas rumput melepaskan lelah.

“Aihhhhh... bukan main nyamannya rebah begini...,” Sang Puteri Syanti Dewi mengeluh nikmat. “Dan roti kering tadi, betapa lezatnya, air jernih itu juga menyegarkan sekali. Belum pernah selama hidupku aku dapat menlkmati makan-minum dan tiduran seperti ini!”

Mendengar ini, Ceng Ceng tertawa bebas sampai kelihatan deretan gigi dan lidahnya. Karena di situ tidak ada orang lain, maka dia tertawa sebebasnya. Mendengar ini, Syanti Dewi memandang heran. ”Eh, kau kenapa, adik Candra? Mengapa tertawa segembira itu?”

“Aku geli mendengarkan ucapanmu tadi, enci Syanti, dan mungkin aku tertawa karena merasa lega dan gembira telah terbebas dari bahaya. Ucapanmu tadi membuat aku teringat akan dongeng tentang raja yang tidak suka makan dan tidak dapat tidur....”

“Raja itu meninggalkan istana karena merasa jengkel, dan di tengah hutan dia melihat seorang petani mencangkul tanah lalu makan dengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani, mencangkul tanah untuk mendapatkan semangkok nasi dan lauknya yang hanya terdiri dari ikan asin, dan minumnya yang hanya terdiri dari air jernih. Setelah dia selesai bekerja keras sampai tangannya lecet-lecet dan tubuhnya lelah bukan main, dia memperoleh makan minum itu dan menikmatinya seperti belum pernah dirasakannya selama hidupnya! Persis seperti keadaanmu ini! Engkau adalah seorang puteri raja yang tiap hari makan hidangan yang serba mahal, sekarang makan roti kering minum air jernih, tidurmu bukan di dalam kamar indah dan berlandaskan kasur tebal melainkan di hutan, di atas rumput, namun engkau merasa nikmat sekali! Hi-hik, bukankah lucu ini?”

Syanti Dewi tertawa juga. “Kau samakan aku dengan raja di dalam dongeng? Jangan begitu, ah! Dia sih pemalas, kalau aku kan tidak! Tetapi aku pun heran sekali mengapa aku dapat menikmati ini semua. Pengalaman ini telah membuka mataku, adik Chandra, bahwa yang dikatakan enak atau tidak enak, menyenangkan atau tidak menyenangkan, sama sekali bukanlah bergantung kepada keadaan di luar, melainkan kepada hati sendiri! Kepada hati dan kepada tubuh, pendeknya bergantung kepada diri sendiri....”

“Lezatnya makanan bukan berada di mangkok, baik buruknya sesuatu bukan ada di depan kita, melainkan di dalam diri kita sendiri. Pikiranku sekarang sedang lega karena lepas dari bencana, tubuh lelah dan perut lapar. Tentu saja segala makanan dan minuman terasa lezat sekali! Rumput ini jauh lebih nikmat ditiduri dari pada segala macam kasur bulu karena sekarang tubuhku sedang lelah sekali. Jadi kalau begitu... pernyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini baik itu tak baik, bukan kenyataan sebenarnya, melainkan pendapat hati yang dipengaruhi oleh keadaan waktu itu.”

“Hemm... lalu bagaimana?” Ceng Ceng mengerutkan alisnya yang berbentuk bagus, matanya memandang dengan sinar gembira karena dia mulai dapat menangkap yang dimaksudkan dalam ucapan kakak angkatnya itu.

“Kalau begitu... sejatinya tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini. Kita sendiri yang menentukan! Dan... ahh, aku jadi bingung sendiri menghadapi kenyataan yang jelas ini! Biasanya kita selalu dipermainkan oleh pikiran sendiri yang suka mengada-ada saja!”

Ceng Ceng sudah tidak dapat menjawab karena dia hampir tidak dapat menahan kantuknya, hanya mengangguk lemah dan menutupi mulut dengan jari tangan menahan mulut yang ingin menguap saja. Tak lama kemudian, kedua orang dara itu telah tertidur pulas di bawah pohon, berlandaskan rumput yang lunak. Tubuh yang lelah menuntut istirahat setelah perut yang lapar diisi kenyang.

Matahari telah naik tinggi ketika kedua orang dara itu terbangun dan mereka menjadi terkejut melihat bahwa hari telah siang. Mula-mula Syanti Dewi yang terbangun lebih dulu. Dia terbangun seperti orang kaget dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya dan mengeluh lirih. “Uuhhh, kiranya hanya mimpi...,” bisiknya karena dia telah mimpi tertangkap dan dihadapkan kepada Raja Muda Tambolon! Ketika mendapat kenyataan bahwa matahari telah naik tinggi, dia menoleh kepada Ceng Ceng.

“Haiii, adik Candra! Bangun! Sudah siang...!” Dia mengguncang pundak adik angkatnya itu.

Ceng Ceng terbangun dan bangkit duduk, menahan kuapnya dengan punggung tangan kiri. “Wah, keenakan tidur, enci Syanti. Rasanya malas untuk bangun!”

“Hushhh, jangan malas! Matahari telah naik tinggi dan kita masih enak-enak tidur di sini. Perjalanan masih amat jauh, mari kita lanjutkan, adikku.”

Ceng Ceng sudah bangun berdiri dan kini teringatlah dia akan keadaan mereka. “Aihhh, hampir aku lupa bahwa kita adalah pelarian yang dikejar musuh! Mari, enci Syanti Dewi!”

Ketika dua orang dara itu melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Ceng Ceng memegang lengan puteri dan berbisik sambil menuding ke kanan, “Lihat itu...!”

Syanti Dewi menengok, dan sang puteri menutupkan tangan ke depan mulut menahan jeritnya. Tidak jauh dari situ tampak tubuh seorang laki-laki setengah tua rebah di atas tanah, telah menjadi mayat dan mukanya yang terlentang itu memperlihatkan sepasang mata yang terbelalak lebar tanpa sinar. Di tenggorokan orang itu tampak luka berlubang dan darah masih menetes dari luka itu, tanda bahwa orang ini belum lama terbunuh.

“Dan di sana itu... lihat, enci!” Kembali Ceng Ceng berbisik.

Kakak angkatnya menengok dan makin terkejut karena di sebelah kiri, hanya terpisah belasan meter dari situ, juga tampak sebuah mayat yang lehernya berlubang! Mereka berdua saling pandang, kemudian Ceng Ceng menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ke atas pohon besar dan dari tempat tinggi ini Ceng Ceng memandang ke sekeliling, memeriksa.

Namun tidak tampak bayangan seorang pun manusia dan dari tempat tinggi itu dia melihat bahwa bukan hanya ada dua orang mayat di situ, melainkan ada delapan orang! Delapan orang telah mengurung tempat dia dan kakak angkatnya tidur tadi dan kini delapan orang itu telah mati semua dengan leher berlubang, mungkin terkena senjata rahasia yang ampuh! Setelah yakin bahwa tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dia turun lagi dan menceritakan kepada kakak angkatnya apa yang telah dilihatnya dari tempat tinggi tadi.

“Ahhh, kalau begitu, tentu mereka itu musuh yang tadinya mengepung kita, dan ada sahabat yang telah menolong kita,” kata sang puteri.

Ceng Ceng mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia juga dapat menduga demikian, akan tetapi hatinya tidak senang kepada penolongnya yang bersikap rahasia itu! Kalau memang orang bersahabat, mengapa tidak menolong secara berterang? Pula, dia pun belum dapat yakin benar bahwa delapan mayat itu adalah pihak musuh.

“Lebih baik kita cepat pergi dari sini, enci,” katanya. Syanti Dewi hanya mengangguk, dan berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Sore hari mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, sebuah dusun yang cukup besar di kaki gunung. Karena letaknya yang terpencil ini, maka dusun itu agaknya menjadi pos peristirahatan mereka yang melakukan perjalanan di daerah itu, dan di situ terdapat pula sebuah rumah penginapan sederhana dan sebuah warung nasi. Karena merasa ngeri dengan pengalaman mereka tadi, dua orang gadis itu mengambil keputusan untuk bermalam di rumah penginapan.

Para pelayan rumah penginapan hanya sebentar memandang dengan heran karena dalam keadaan kacau seperti itu, daerah yang sering kali terjadi perang antara pasukan Raja Muda Tambolon melawan pasukan Ceng atau pasukan Bhutan, tak terlalu mengherankan melihat dua orang gadis yang berpakaian seperti petani biasa dan memakai caping lebar, melakukan perjalanan berdua saja.

Banyak sudah wanita-wanita muda yang ketakutan akan perang melarikan diri ke timur karena sudah terkenal betapa pasukan anak buah Raja Muda Tambolon amat kejam terhadap tawanan wanita, apa lagi yang masih muda dan cantik. Tentu wanita itu akan dijadikan perebutan dan akan dipermainkan oleh banyak orang sampai mati dalam keadaan menyedihkan dan mengerikan sekali.

“Ji-wi kouwnio hendak menginap?” tanya seorang pelayan dengan sikap ramah.

Ceng Ceng merogoh saku dan mengeluarkan potongan perak. Dia memperlihatkan perak itu sambil berkata, “Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur, harap pilihkan yang bersih.”

Melihat potongan perak itu, sikap si pelayan bertambah hormat. Ia maklum bahwa yang membawa uang perak dalam perjalanan hanyalah orang-orang dari kalangan ‘atas’, kalau bukan puteri-puteri hartawan tentulah wanita-wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk dan tersenyum lebar dia lalu menjawab, “Harap ji-wi jangan khawatir. Mari, silahkan masuk!”

Tentu saja kamar yang bersih dalam rumah penginapan itu sebetulnya masih terlalu kotor bagi Syanti Dewi karena kamar yang katanya paling bersih itu masih jauh lebih kotor dari pada kamar dapur di istananya!

Setelah mencuci muka dan makan malam, kedua orang dara itu lalu duduk di atas pembaringan di dalam kamar mereka dan bercakap-cakap dengan suara perlahan setengah berbisik. “Aku khawatir bahwa peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, delapan orang itu mati tentu ada yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah-olah kita di sini pun kini sedang diawasi orang.”

Syanti Dewi mengangguk. “Aku pun mempunyai perasaan demikian, Candra. Namun, kurasa orang yang membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika kita tertidur di hutan!”

“Perjalanan kita masih amat jauh dan biar pun kita sudah melewati kota Tai-cou, namun kita akan melewati daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kongkong... eh, mendiang kongkong...” Sampai di sini, Ceng Ceng tak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai terkubur!

Syanti Dewi mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata, “Ahhh, kongkong-mu telah berkorban nyawa demi keselamatanku, adikku! Entah bagai mana aku akan dapat membalas budi kongkong-mu itu ...”

Ceng Ceng cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras, “Jangan berkata begitu, enci!”

Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Syanti Dewi berkata, “Engkau adalah seorang dara perkasa, di dalam tubuhmu mengalir darah keturunan petualang kang-ouw yang berani dan perkasa! Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, Candra. Akan tetapi aku...! Sejak kecil aku hidup mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tidak mengherankan kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kongkong-mu tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang..., adikku yang tercinta, engkau pun harus menderita karena mengawalku!”

Ceng Ceng tertawa. “Kata siapa aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!”

“Apa? Tidak usah berpura-pura. Pakaian kita pun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh bahwa tentu ada kutu di pakaian kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri. “Aihhh, jangan bicara tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku? Aku pun hanya seorang gadis dusun yang belum pernah melakukan perantauan. Keadaan kita sama saja, enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biarlah kita saling melindungi dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkanmu. Aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang kongkong, yaitu mengantarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita dapat minta bantuan Puteri Milana seperti yang dipesankan kongkong.”

Melihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Syanti Dewi. Dia mengepal tinju dan berkata, “Ah, kiranya tidak percuma pula aku dulu tekun mempelajari ilmu silat, apa lagi memperoleh petunjuk-petunjukmu, adik Candra. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, tetapi seorang dara kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apa pun juga! Kalau ada bahaya mengancam, hemmm... haiittttt...!” Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-olah dia mengamuk dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Ceng Ceng tertawa dan merangkul kakak angkatnya itu.

“Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang terbang lepas di udara. Bebas dan kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba, kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!”

Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan kedua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur, mereka lebih besar hati dan aman!

Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh di atas kamar mereka. Mula-mula Ceng Ceng yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun dari pembaringan. Pada saat itu Syanti Dewi juga terbangun dan puteri ini berbisik, “Suara apa itu...?”

Ceng Ceng sudah menyambar bungkusan perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja, menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, kemudian menyerahkan topi caping yang sebuah kepada puteri itu sambil berbisik, “Sssttttt, ada orang bertempur di atas genteng...“

Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas. Makin jelas kini suara orang bertanding di atas dan menurut dugaan Ceng Ceng yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima orang bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena biar pun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar suara nyaring beradunya senjata tajam.

Tiba-tiba di antara suara beradunya senjata dan berdesingnya angin gerakan senjata tajam, terdengar suara seorang laki-laki berpantun, suaranya nyaring dan seperti tidak ada artinya, namun bagi sepasang gadis itu pantun yang dinyanyikan memiliki arti penting. Yang mengherankan hati Ceng Ceng dan mendebarkan adalah suara itu, seperti suara yang telah dikenalnya!

Sepasang merpati terkurung
tiada jalan terbang lari,
dihadang depan belakang
maut mengintai dari utara
di sepanjang lembah sungai!


“Enci Syanti, mari kita cepat lari...!”

Puteri itu meragu. “Mengapa lari? Di luar... bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada bahaya baru kita membela diri.”

“Sssttt... kau turutlah aku, enci. Cepat!” Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya keluar dari kamar dan terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap, melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.

“Kita lari ke mana, Candra?” puteri itu bertanya, heran kenapa adik angkatnya ini tanpa ragu-ragu melarikan diri ke arah tertentu.

“Enci, ingatlah kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-lari-belakang-utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”

Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.

“Dia siapa, adik Candra?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti... heiiii!” Mendadak Ceng Ceng menghentikan larinya karena dia kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”

“Apa katamu?” Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu. “Dia siapa?”

“Penolong kita itu, yang berpantun tadi... suaranya seperti si muka bopeng yang bikin ribut dengan ular-ular di Tai-cou itu dan... dan... wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya, menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.

“Prakkkk!”

Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sinkang-nya sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat merobohkan orang.

Namun bayangan itu menangkis dengan lengannya. Akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, akan tetapi dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan kongkong-nya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah dalam bajunya.

“Hyaaatttt...!” Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan yang dahsyat dan lihai sekali, apa lagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

“Plak-plak... wuuuutttt...!”

Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap, menangkis lengan kanan kiri, bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan kecepatan yang mengerikan.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak menjadi gentar. Dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau, melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!

“Sing, sing...! Plakkk!”

Ceng Ceng mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Ceng Ceng dapat mencegahnya, bayangan itu sudah menangkap Syanti Dewi! Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!

“Jahanam, lepaskan dia!” Ceng Ceng sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah bukan main dan sedikit pun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawatirkan adalah Puteri Syanti Dewi, maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk menyerang dan berusaha merampas tubuh Syanti Dewi yang telah dipondong orang itu.

Namun ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng merasa kurang leluasa gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya mengenai tubuh enci angkatnya. Kemudian dengan beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Ceng Ceng.

“Iblis, hendak lari ke mana kau?” Ceng Ceng tentu saja mengejar secepatnya.

Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Ceng Ceng belum hafal akan keadaan di situ sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Syanti Dewi itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba orang itu berteriak dan roboh terguling! Tubuh Syanti Dewi yang masih lemas tertotok juga ikut terguling, akan tetapi tiba-tiba ada tangan menyambarnya dan tubuh itu seketika terbebas dari totokan. Syanti Dewi mengeluh dan cepat menjauhkan diri sambil terhuyung-huyung dan berpegang kepada sebatang pohon.

Ketika Ceng Ceng tiba di tempat itu, orang yang melarikan Syanti Dewi tadi telah lari, dikejar bayangan lain yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan membebaskan totokan Syanti Dewi. Dalam sekejap mata saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.

“Engkau tidak apa-apa, enci?”

Syanti Dewi menggeleng kepalanya.

Ceng Ceng merasa gembira. Cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajaknya terus lari ke utara, seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah yang menolong Syanti Dewi dari tangan penculik itu pun sama orangnya dengan yang tadi berpantun di atas kamar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di pintu gerbang Tai-cou?

Ceng Ceng merasa heran dan bingung. Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main. Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding di atas kamar penginapan itu memiliki ginkang yang amat tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadi pun dia mendapat kenyataan yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Syanti Dewi adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Syanti Dewi!

Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa pihak musuh sudah mengenal penyamaran mereka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang adalah Syanti Dewi. Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!

“Mari cepat, enci!” Dia berkata dan mereka berlari secepatnya.

Namun, betapa pun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apa lagi ketika mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya meraba-raba dan menyelinap di antara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka terjerat akar pohon atau semak-semak.

Dengan napas terengah-engah Syanti Dewi mengeluh, “Aduuhhhh... kita berhenti dulu... ahhh, lelah sekali...”

“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai... mereka sudah mengenal engkau!”

Ucapan Ceng Ceng ini membuat sang puteri terkejut sekali. “Be... benarkah mereka telah mengenaliku? Celaka... hayo... hayo lari cepat...”

Kini Syanti Dewi yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai tertawan dan dibawa kepada Raja Muda Tambolon... ahh, tidak berani dia membayangkan nasib seperti itu, maka dia lari secepatnya.

“Enci... hati-hati... !” Kini Ceng Ceng yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa melihat-lihat ke depan.

“Oughhh...!” Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang!

“Enci Syanti...!” Ceng Ceng menjerit.

Cepat dia menjatuhkan diri menelungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan menghitam di dalam gelap. Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terjerumus ke dalam jurang yang gelap!

“Enci Syanti...!” Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi, terdengar suara lemah dari bawah.

“Adik Candra...!”

Jantung Ceng Ceng berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat? Jangan-jangan yang memanggil dirinya tadi adalah... arwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang meremang, lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi, “Enci Syanti... di mana engkau...?”

“Aku di sini... aku selamat, Candra. Untung ada pohon di sini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku dapat melihatmu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap. Lekas kau cari tali, tak perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah... aku dapat memanjat ke atas melalui tali...”

Girang sekali rasa hati Ceng Ceng. Sekarang dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh di bawah. Sepuluh kaki? “Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”

“Ah, tidak mungkin. Pohon ini kecil, jika dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat. Pula, begini gelap, bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali...”

Ceng Ceng bingung lagi. Ke mana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apa lagi di dalam hutan? Akhirnya dia mendapat akal baik. Tanpa ragu-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaiannya setelah dia mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah. Ditanggalkannya bajunya, celananya, baju dalam dan celana dalam.

Seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Lalu, sambil meraba-raba, dia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah digulungnya hingga merupakan gulungan kain yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang, menggulung-gulungkan kain itu sambil berteriak, “Enci Syanti... ini talinya...!”

“Ke sini, Candra. Di sebelah sini...!” Terdengar jawaban dari bawah dan Ceng Ceng mengulur tali ke arah suara itu.

Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Syanti Dewi.

“Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini...?”

“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati...“

Ceng Ceng mengerahkan tenaganya menahan ketika Syanti Dewi mulai memanjat naik. Tak lama kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah. Dia menubruk Ceng Ceng dan keduanya saling berpelukan dan menangis! Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Syanti Dewi selamat dari bahaya maut yang mengerikan itu.

“Heiiiii...! Kau... kau... telanjang bulat...!” Tiba-tiba Syanti Dewi berseru kaget dan heran sambil meraba-raba tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat kegelian dan memegang tangan Syanti Dewi.

”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”

Syanti Dewi tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Ceng Ceng mulai memakai lagi pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini dia merasa tubuhnya panas dingin kalau membayangkan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan kebetulan ada orang yang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!

“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap. Melanjutkan perjalanan berbahaya sekali, apa lagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan. Masih untung Thian melindungimu ketika kau terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”

“Ahhh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu jauh lebih baik dari pada jatuh ke tangan Tambolon.”

“Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku “

Mereka melanjutkan perjalanan, dan sekarang dengan sangat hati-hati. Setelah mereka mendapatkan sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah satu pohon yang diapit oleh batu-batu gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat di atas rumput, bersandar kepada batu gunung. Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.

“Tidurlah, enci Syanti, biarlah aku menjaga di sini.”

“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita membuat api unggun?”

“Ahhh, berbahaya, enci. Api unggun itu akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat jauh.”

Tubuh mereka memang dapat beristirahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam.

Dalam keadaan segelap itu, di dalam hutan yang asing, apa lagi setelah mengalami hal-hal yang mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Mereka duduk berhimpit bersandarkan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata.

Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang memperhatikan mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apa lagi malam-malam berkeliaran di dalam hutan gelap!

Ada pun Ceng Ceng, biar pun ia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya, namun perjalanan seperti ini pun baru pertama kali dia alami bersama Syanti Dewi itu.

Mereka makin berhimpitan, dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika di dalam kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang bernyanyi! Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!

Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka menduga bahwa sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi, tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali.

Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri. “Hayo kita tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,” kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat mereka lewatkan dengan selamat.

“Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!”

“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkampungan siluman yang tentu saja tidak tampak.”

Syanti Dewi segera bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan mengantuk, tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.

“Haii... banyak bangkai anjing di sini...!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran saat mereka keluar dari tempat itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada yang lehernya hampir putus, ada pula yang kepalanya pecah. Darah masih belum kering betul, menunjukkan bahwa gerombolan serigala ini dibunuh orang semalam!

“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Syanti Dewi sambil menengok ke kanan kiri.

Juga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik. “Heran sekali, siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi...”
“Aku juga!” kata Syanti Dewi. Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena merasa ngeri.

“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang...”

“Benar, aku pun mendengarnya.”

“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.”

“Siapa dia gerangan?”

“Tidak peduli siapa, aku sama sekali tidak takut!” Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak, “Heiii, orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk, mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir yang mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, kembali mereka tertegun ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga.

Seperti juga gerombolan serigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jeri juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan serigala tadi, tetapi cepat mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan ke utara.


BERSAMBUNG KE JILID 05