Jodoh Rajawali Jilid 30

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

JODOH RAJAWALI JILID 30
Dan di dalam hutan itu dia menemukan dua jenazah yang sudah menjadi abu, tinggal beberapa potong tulang saja yang tidak sempat terbakar habis. Dan di situ dia menemukan senjata-senjata dari suhengnya, di antara abu mayat dan arang. Tahulah dia bahwa suheng-nya telah tewas dan telah dibakar menjadi abu, bersama seorang lain lagi yang diduganya tentu Hek-hwa Lo-kwi karena suheng-nya berjanji akan bertemu dengannya di hutan itu bersama Hek-hwa Lo-kwi….

Siluman Kucing merasa kaget dan juga terheran-heran. Siapakah orangnya yang demikian lihainya, mampu membunuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi? Dia bergidik, dan juga penasaran. Betapa pun juga, Hek-tiauw Lo-mo adalah suheng-nya, dan setelah orang itu tewas, dia teringat akan hubungan mereka antara kakak dan adik seperguruan, maka timbul rasa penasaran dan marah dalam hatinya terhadap pembunuh suhengnya.

Setelah mencari-cari di sekitar hutan itu, akhirnya dia menemukan Dewa Bongkok yang tengah bersemedhi seorang diri di atas batu besar! Melihat kakek ini, Siluman Kucing memandang dari jauh penuh perhatian. Dia tidak mengenal kakek ini, akan tetapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi dia dapat menduga bahwa kakek itu tengah duduk bersemedhi dan melihat pernapasannya yang teratur dan panjang-panjang, dia pun dapat menduga bahwa kakek itu sedang menghimpun hawa murni. Orang yang melakukan hal seperti itu hanyalah orang yang sedang mengobati luka di dalam tubuhnya.

Mengingat bahwa di dalam hutan tak jauh dari tempat ini suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi tewas dan kakek aneh ini duduk bersemedhi mengobati luka dalam mudahlah bagi Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui untuk menarik kesimpulan. Sudah hampir boleh dipastikan bahwa suheng-nya dan Hek-hwa lo-kwi tentu telah bertanding melawan kakek ini dengan akibat tewasnya suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi, dan kakek ini pun menderita luka parah dalam pertandingan itu! Maka mulailah sepasang mata yang genit itu mengeluarkan sinar berapi. Inilah orangnya yang telah membunuh suhengnya!

Akan tetapi, Lauw Hong Kui bukanlah seorang yang bodoh. Sebaliknya malah, dia amat cerdik. Orang yang sudah mampu menewaskan suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi, tentu bukan orang sembarangan dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya. Tetapi sebaliknya, betapa pun saktinya orang ini, kalau sedang menderita luka dalam yang parah, tentu dia akan mampu merobohkannya tanpa banyak kesukaran.

Oleh karena itu, dia bersikap hati-hati dan tidak menurunkan nafsu amarah untuk langsung menyerang kakek yang duduk diam seperti arca itu.

“Locianpwe yang terhormat, kalau boleh saya bertanya, siapakah nama Locianpwe?” Siluman Kucing bertanya sambil menjura ke arah kakek tua renta yang duduk bersila dengan kedua mata terpejam itu.

Tentu saja kehadiran wanita itu sudah diketahui oleh Dewa Bongkok. Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, Dewa Bongkok sama sekali tidak mau menjawab, bergerak pun tidak. Dia tidak pernah mau memperkenalkan diri kepada siapa pun, apa lagi kepada seorang wanita yang gerak-geriknya penuh kecabulan dan kejahatan itu. Maka dia diam saja, dan juga dia memang tidak ingin berurusan dengan siapa pun di saat itu.

Mauw Siauw Mo-li mengerutkan alisnya. Kakek itu sama sekali tidak mau menjawab, dan dia menduga bahwa kakek ini tentu seorang tokoh berilmu tinggi yang selama ini menyembunyikan diri. Akan tetapi, dia cerdik sekali dan dia tahu bagaimana caranya untuk memaksa kakek itu membuka suara! Dia tahu bahwa kelemahan dari pada locianpwe adalah keangkuhan! Kalau sedikit disentuh keangkuhannya, para Locianpwe biasanya lalu melakukan tanggapan.

“Locianpwe, di dalam hutan saya melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi telah tewas terbunuh orang. Siapakah yang telah membunuh mereka?”

Kembali tidak ada jawaban dari kakek itu. Dan suara Mauw Siauw Mo-li yang sengaja dikeluarkan dengan pengerahan khikang itu bergema di dalam hutan di bawah lereng itu. Setelah gema itu mengaung, sunyi kembali keadaan di situ.

Siluman Kucing mengerutkan alisnya dan mencari akal. “Saya tadinya menduga bahwa Locianpwe yang membunuh mereka, akan tetapi melihat Locianpwe diam saja, saya menjadi ragu-ragu. Seorang seperti Locianpwe, kalau melakukan sesuatu, tentu berani mengaku dan mempertanggung jawabkannya, berbeda dengan para siauw-jin (orang hina) yang berwatak pengecut dan tidak berani mengakui perbuatannya!”

Memang cerdik sekali Siluman Kucing. Dewa Bongkok bukan termasuk tokoh yang suka mengangkat diri atau berwatak angkuh, sebaliknya malah dia selalu menyembunyikan dirinya. Akan tetapi ucapan wanita itu tentu saja menggugah watak gagah yang selalu di junjung tinggi oleh semua kaum pendekar di dunia kang-ouw. Lebih baik mati dari pada disebut pengecut hina! Seorang pendekar tentu akan selalu berani mempertanggung jawabkan semua perbuatannya dan berani menghadapi semua akibat perbuatannya! Maka, mendengar ucapan itu, sepasang mata itu terbuka memandang ke arah Mauw Siauw Mo-li.

“Ihhhhh...!” Mauw Siauw Mo-li undur dua langkah. Dia terkejut dan merasa ngeri melihat betapa sepasang mata itu mencorong dan seolah-olah mengeluarkan sinar kilat yang menyambar ke arahnya. Belum pernah dia melihat mata yang mencorong seperti itu, seperti bukan mata manusia!

“Aku tidak membunuh mereka, adalah mereka yang memukulku hingga mereka tewas karena tenaga mereka sendiri!” Setelah berkata demikian, Dewa Bongkok kembali memejamkan matanya dan tidak mau berkata apa-apa lagi. Baginya pengakuan ini sudah cukup dan dia tidak mau membicarakan hal itu dengan wanita ini.

Mendengar ucapan itu, tahulah kini Siluman Kucing bahwa dugaannya tidak keliru. Kakek ini telah bertanding melawan suheng-nya dan Hek-hwa Lo-kwi sehingga kedua orang itu tewas dan kakek ini sendiri mengalami luka parah. Dalam keadaan terluka parah dan sedang mengobati lukanya itu, tentu kakek yang amat sakti ini berkurang banyak kelihaiannya. Namun Mauw Siauw Mo-li tetap bersikap hati-hati dan tidak mau ceroboh yang akan mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri. Dia tidak mau langsung menyerang kakek itu.

“Mengapa Locianpwe memandang rendah sekali kepada saya? Sebaiknya Locianpwe duduk di atas tanah agar tidak terlalu tinggi hati!” Setelah berkata demikian, Siluman Kucing itu lalu mendorong dengan kedua tangannya ke arah batu besar yang diduduki oleh Dewa Bongkok.

Dorongan itu mengandung tenaga sinkang yang amat kuat dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar dan mendorong batu itu. Batu itu terguling dan tubuh Dewa Bongkok ikut pula terguling, tanpa kakek itu dapat mempertahankan diri. Tentu saja jika dia hendak mempertahankan diri, bukanlah hal sukar. Tetapi dalam keadaannya seperti saat itu, amatlah berbahaya baginya untuk mempergunakan tenaga sinkang-nya. Sekali mengerahkan sinkang, lukanya yang sudah sembuh sebagian itu tentu akan terbuka dan kambuh kembali, bahkan mungkin akan lebih hebat sehingga dapat mengakibatkan kematiannya. Oleh karena itulah, ketika batu besar itu terguling, dia pun ikut terguling dan terbanting ke atas tanah. Namun, kakek ini lalu merangkak bangun dan duduk bersila kembali ke atas tanah.

Melihat ini, Siluman Kucing menjadi heran dan juga girang. Kalau kakek ini sudah dapat membunuh dua orang seperti Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, jelas bahwa kakek itu tentu seorang yang sakti luar biasa. Akan tetapi, sekarang, dengan sekali dorong saja batu itu roboh bersama tubuh kakek itu yang kelihatan sama sekali tidak mampu menjaga diri, dia pun tahu bahwa kakek itu benar-benar telah terluka parah dan tidak berani mempergunakan sinkang-nya!

“Hi-hi-hi-hi-hik! Kiranya engkau telah terluka parah? Tahukah engkau siapa aku, orang tua buruk? Aku adalah Lauw Hong Kui, sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo yang telah kau bunuh. Nah, aku datang untuk membalaskan kematian suheng-ku!” setelah berkata demikian, Siluman Kucing itu menerjang ke depan, ke arah kakek yang duduk bersila di atas tanah itu.

Dengan pengerahan tenaga sinkang-nya, tangannya menyambar dan menampar ke arah kepala Dewa Bongkok yang botak.

“Syuuuuuttt... plakkk!”

Dewa Bongkok tentu saja tidak mau menerima kematian secara konyol. Dia tidak berani mengerahkan sinkang karena hal ini dapat berarti bunuh diri, maka dia pun miringkan kepalanya ketika merasa ada angin dahsyat menyambar kepalanya. Pukulan itu luput, akan tetapi masih menghantam pundaknya sehingga untuk kedua kalinya tubuh Dewa Bongkok terguling-guling! Namun dia sudah duduk lagi bersila.

Makin giranglah hati Mauw Siauw Mo-li karena dia yakin bahwa semua dugaannya benar belaka. Biar pun jelas bahwa kakek itu amat lihai, terbukti bahwa dalam keadaan duduk bersila tanpa melawan tadi kakek itu telah mampu mengelak sehingga kepalanya terluput dari tamparannya yang sedemikian cepatnya. Akan tetapi ketika tadi tangannya menampar pundak dia sama sekali tidak merasakan ada hawa sinkang yang menolak, tanda bahwa benar-benar kakek sakti itu tidak berani mengerahkan sinkang! Kakek itu lebih mengandalkan kelemasan untuk menerima tamparan tadi, membiarkan tubuhnya terguling sehingga tamparan itu hanya membuatnya terbanting tanpa mendatangkan luka parah karena dia sama sekali tidak melawan.

“Hi-hi-hik, tua bangka, bersiaplah engkau untuk mampus!” bentaknya dan dia sudah menerjang, maju lagi.

Dewa Bongkok maklum bahwa dia tidak akan mampu melawan dalam keadaan seperti itu. Kalau dia mengerahkan sinkang, tentu dia akan mampu menewaskan wanita ini dengan mudah, walau pun untuk itu dia sendiri akan berkorban nyawa. Akan tetapi, kakek ini tidak ingin membunuh orang, apa lagi dalam keadaan mendekati akhir hidupnya itu. Kalau dua hari yang lalu dia menewaskan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, hal itu terjadi karena dia tidak sengaja, karena dia diserang dengan tiba-tiba sehingga pengerahan sinkang yang otomatis membuat tenaga pukulan mereka membalik dan mengakibatkan tewasnya dua orang itu. Kini, dia tidak mau melakukan pembunuhan dan dia hanya menanti datangnya maut melalui tangan wanita yang tidak dikenalnya ini.

“Wuuuuuttt... plakkk!”

Siluman Kucing memekik kaget dan meloncat mundur. Pukulannya telah ditangkis oleh sinar hitam yang panjang dan ternyata yang menangkis lengannya itu adalah seekor ular hitam besar dan panjang yang kini melingkar di lengan dan leher seorang dara cantik jelita berpakaian serba hitam!

“Hwee Li!” bentaknya dengan marah. “Engkau melawan bibi gurumu?”

Dara yang telah menangkis pukulan Siluman Kucing yang menyelamatkan nyawa Dewa Bongkok tadi memang benar Hwee Li adanya. Seperti kita ketahui, dara ini mengalami guncangan batin yang hebat pada saat ditinggal kekasihnya yang menyatakan benci padanya karena dia keturunan pemberontak. Bahkan gurunya sendiri, Ceng Ceng, juga memutuskan hubungan dan tidak mau mengakuinya lagi. Hal ini amat menyedihkan hatinya, akan tetapi karena memang pada dasarnya Hwee Li berwatak keras, lincah dan gembira, penderitaan batinnya itu tertutup oleh kelincahannya dan hanya mukanya yang agak pucat itu saja yang menjadi bukti bahwa di lubuk hatinya, dara ini menderita batin yang amat hebat.

Memang kenyataannya watak Hwee Li jauh sekali bedanya dengan watak Hek-tiauw Lo-mo, orang yang selama belasan tahun dia anggap ayah kandungnya sendiri. Biar pun semenjak kecil dia dididik oleh seorang manusia iblis seperti Hek-tiauw Lo-mo sehingga Hwee Li memiliki sifat-sifat liar yang keras, namun pada lubuk hatinya dia menjunjung tinggi kegagahan dan tidak suka bertindak sewenang-wenang, bahkan lebih condong untuk melindungi orang-orang lemah tertindas. Apa lagi setelah dia berkenalan dengan orang-orang gagah, bahkan kemudian dia memperoleh didikan dari Ceng Ceng, sifat kegagahan seorang pendekar ini menonjol.

Hal ini makin kuat ketika dia menemukan rahasia bahwa dia sesungguhnya bukan anak kandung Hek-tiauw Lo-mo. Dia merasa lain dan berbeda dengan golongan Hek-tiauw Lo-mo, bahkan dia menentang tindakan-tindakan mereka seperti nampak ketika dia menjadi tawanan Pangeran Liong Bian Cu yang tergila-gila kepadanya. Maka, ketika secara kebetulan dia melihat Mauw Siauw Mo-li hendak menghantam seorang kakek botak tua renta yang kelihatannya tak berdaya dan tak melawan, bangkit kemarahannya dan segera dia turun tangan menangkis pukulan itu dengan menggunakan ular hitamnya yang panjang.

Sambil tersenyum dan sepasang matanya menatap wajah Mauw Siauw Mo-li dengan tajam, dia menjawab, “Sudah tentu, Mauw Siauw Mo-li. Mana mungkin aku membiarkan saja engkau melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, membunuh seorang kakek yang tidak berdaya dan tidak melawan? Seharusnya engkau merasa malu untuk menyerang seorang kakek tua tidak melawan!”

“Bocah setan! Engkau menyebut namaku begitu saja? Bukankah aku ini bibi gurumu?”

“Aku tidak mempunyai bibi guru seperti engkau! Engkau jahat, kejam dan curang!”

“Ehhh, Hwee Li, berani engkau kurang ajar? Engkau murid murtad! Ingat, aku adalah sumoi dari ayahmu!” Mauw Siauw Mo-li membentak marah. “Kau tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu? Ayahmu, Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi telah tewas oleh kakek itu! Hayo kita bunuh dia sebelum dia sembuh kembali dari lukanya untuk membalas kematian ayahmu!” Setelah berkata demikian, Mauw Siauw Mo-li melompat dan hendak menerjang Dewa Bongkok.

Akan tetapi nampak bayangan hitam berkelebat dan Hwee Li sudah menghadang di depannya. “Tidak! Engkau tidak boleh membunuhnya!” katanya dengan wajah keras dan suara tegas.

Mauw Siauw Mo-li mengerutkan alisnya dan perlahan-lahan mukanya berubah merah, matanya berapi-api tanda bahwa wanita ini sudah kehilangan kesabarannya. Kalau tadi dia masih bersikap sabar adalah karena dia masih mengingat bahwa dara ini adalah murid keponakannya.

“Hwee Li, siapakah kakek ini dan apamukah dia maka engkau hendak melindunginya?”

“Bukan apa-apa. Aku tidak kenal padanya, akan tetapi jelas bahwa dia adalah seorang tua renta yang sudah terluka dan tidak berdaya, maka kalau engkau berkeras hendak membunuhnya, akulah yang akan membelanya!”

“Keparat, murid murtad engkau!” bentak Mauw Siauw Mo-li dan dia sudah menerjang ke depan dan menyerang Hwee Li dengan pukulan maut. Namun, dengan lincahnya Hwee Li mengelak ke kiri dan dari sini kakinya meluncur dengan tendangan kilat ke arah lambung bibi gurunya!

“Ehhh!” Mauw Siauw Mo-li terkejut dan makin marah. Kiranya murid keponakannya ini benar-benar berani melawannya.

“Singgg...!”

Sinar hijau nampak dan Siluman Kucing itu telah mencabut sebatang pedang, lalu dia menubruk ke depan dan menyerang dengan dahsyatnya.

Hwee Li cepat berloncatan menghindarkan diri, kemudian tiba-tiba sinar hitam meluncur dari tangannya dan ular hitam itu telah digerakkan seperti senjata, menyerang dan mematuk ke arah leher Lauw Hong Kui. Wanita ini cepat menarik tubuh ke belakang dan mengibaskan pedang untuk membacok putus leher ular itu. Namun ular itu amat gesit, sudah mengelak dengan leher dilengkungkan, dan pada saat itu, tangan kiri Hwee Li telah melancarkan pukulan tangan kiri yang mengandung uap berwarna putih. Itulah pukulan beracun yang berbau harum.

“Ihhhh...!” Untuk kedua kalinya Mauw Siauw Mo-li terkejut dan cepat dia mengelak, lalu dia memutar pedangnya dengan cepat sehingga lenyaplah bentuk pedang itu, berubah menjadi segulung sinar hijau yang melingkar-lingkar dan bergerak menyambar ke sana sini dengan hebatnya.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian. Setelah mendapat gemblengan dari Ceng Ceng dan petunjuk-petunjuk dari suami gurunya itu, yaitu Si Naga Sakti Gurun Pasir, kini tingkat kepandaian Hwee Li sudah naik tinggi sehingga tidaklah mudah bagi Mauw Siauw Mo-li untuk mengalahkannya. Sebaliknya, Hwee Li pun merasa sukar untuk mengalahkan bekas bibi gurunya yang lihai ini. Sampai seratus jurus mereka bertanding, masih belum ada yang nampak terdesak.

Diam-diam Mauw Siauw Mo-li menjadi penasaran sekali. Masa sampai lewat seratus jurus dia masih belum mampu mengalahkan bekas murid keponakannya? Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangan kirinya melemparkan sebuah benda ke atas tanah. Terdengar ledakan dan nampak asap mengepul tinggi. Hwee Li maklum akan kelihaian bibi gurunya ini menggunakan bahan-bahan ledak, maka dia pun cepat meloncat jauh ke kiri. Akan tetapi kembali dia disambut oleh ledakan yang membuat pandang matanya gelap dan pada saat itu, dia masih melihat sinar hijau meluncur ke arah dadanya. Cepat-cepat dia melempar tubuh ke belakang dan menggerakkan ular hitamnya untuk menangkis.

“Crakkk!”

Ularnya terbabat putus menjadi dua dan terdengar suara ketawa mengejek dari Siluman Kucing itu, suara ketawa yang bercampur dengan suara kucing, ciri khas dari wanita ini!

“Setan!” Hwee Li memaki dan membuang bangkai ular itu, kemudian dia mengelak dari sambaran pedang berikutnya, lalu membalas dengan tamparan tangannya yang juga dapat dielakkan oleh lawan. Melihat Hwee Li kehilangan senjata ular yang ampuh itu, Mauw Siauw Mo-li tertawa lagi.

“Hwee Li, hayo kau berlutut minta ampun kepada bibi gurumu, baru aku ampuni engkau dan lekas kau bunuh kakek itu untuk membalas kematian ayahmu!” Dia masih tak ingin membunuh dara cantik itu.

“Siluman betina!” Hwee Li memaki dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, kedua tangannya mengirim pukulan berantai yang cepat dan kuat. Mauw Siauw Mo-li menjadi marah.

“Bagus, engkau sudah bosan hidup!” bentaknya dan dia memutar pedangnya.

Namun dara itu benar-benar lihai. Meski kini tidak lagi memegang ular sebagai senjata, akan tetapi setiap serangan pedang dapat dielakkannya dengan mudah, bahkan untuk setiap serangan dia membalas kontan dengan pukulan atau tendangan yang tidak kalah bahayanya.

Mauw Siauw Mo-li makin gemas. Kembali tangannya melempar sebuah benda, sekali ini benda itu dilemparkan ke arah Dewa Bongkok! Melihat ini Hwee Li menjerit dan tubuhnya meluncur ke samping, cepat dia menyambar benda itu sebelum mengenai tanah dan meledak, kemudian dia melontarkan benda itu ke arah pemiliknya. Terdengar ledakan keras dan asap makin memenuhi tempat itu. Tiba-tiba ada angin menyambar dari kanan. Hwee Li maklum bahwa bibi gurunya itu menyerang dengan hebat, maka dia mengelak dan membalas dengan tendangan.

“Singgggg... brettttt!”

Sinar hijau menyambar di antara gumpalan asap dan celana kiri Hwee Li di bagian paha terobek ujung pedang, berikut kulit dan sedikit dagingnya sehingga paha itu luka dan berdarah.

“Ha-ha-ha, bocah murtad, engkau tidak lekas berlutut?” bentak Mauw Siauw Mo-li sambil tertawa dan mendesak dengan pedangnya.

Hwee Li terpincang-pincang, namun dara yang berhati baja ini sama sekali tidak mau tunduk, bahkan sambil mengelak dia masih mencoba untuk balas menyerang. Akan tetapi, karena pahanya sudah terluka yang membuatnya terpincang, gerakan kakinya menjadi kaku dan tentu saja kegesitannya berkurang sehingga ia mulai terdesak hebat oleh pedang di tangan Siluman Kucing.

“Serang lambung kirinya!” tiba-tiba Hwee Li mendengar bisikan halus dan dia mengenal suara kakek tua renta yang bersemedhi itu.

Suara itu demikian halus namun jelas sekali, seperti diucapkan di dekat telinganya saja, maka tahulah dia bahwa kakek itu telah mempergunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) untuk membantunya. Karena dia merasa yakin bahwa kakek itu adalah seorang yang amat sakti, maka dengan membuta dia lalu mengikuti petunjuknya dan tiba-tiba dia menerjang dengan serangan hebat ke arah lambung kiri Siluman Kucing.

“Ihhh...!” Siluman Kucing menjerit kaget karena pada saat itu memang lambung kirinya ‘terbuka’ dan merupakan bagian yang paling lemah dari kedudukannya. Dia masih dapat melempar dirinya ke kanan sehingga terjangan Hwee Li itu luput sungguh pun dia sudah rnerasakan hawa pukulan menyerempet lambungnya. Kalau saja Hwee Li tadi tidak terheran dan sedikit terlambat, tentu serangannya sudah mengenai sasaran.

Siluman Kucing tidak tahu bahwa lawannya diberi petunjuk oleh kakek itu. Dia mengira bahwa serangan Hwee Li tadi hanya kebetulan saja, maka bangkitlah kemarahannya karena dia nyaris celaka. Sambil mengeluarkan lengking panjang pedangnya menusuk dan membacok kembali dengan bertubi-tubi dan kini Hwee Li terdesak lagi seperti tadi. Hwee Li terpaksa mengelak ke sana-sini dengan kakinya yang pincang. Dia merasa menyesal mengapa tadi dia agak terlambat sehingga petunjuk kakek itu tidak mampu dipergunakan sebaiknya. Kalau dia tidak agak meragu, dia yakin bahwa serangan tadi pasti mengenai sasaran.

“Tendang lutut kiri dan hantam pundak kanan!” kembali terdengar bisikan.

Kali ini Hwee Li bergerak secara otomatis menurutkan petunjuk itu tanpa mempedulikan hal lain. Dia mentaati secara membuta dan secara cepat sekali dan hasilnya luar biasa! Terdengar Siluman Kucing menjerit dan biar pun dia berusaha melempar tubuh ke belakang, namun hantaman ke arah pundaknya itu tetap saja mengenai sasaran.

“Plakkk...! Aduhhhhh...!”

Pedang di tangan Siluman Kucing terlepas karena begitu pundaknya kena dihantam, lengan kanannya seperti lumpuh. Tadi dia sangat terkejut melihat tendangan tiba-tiba dari Hwee Li yang ditujukan kepada lutut kirinya. Tendangan itu memang tepat dan berbahaya sekali sebab pada saat itu, kuda-kudanya dititik beratkan kepada kaki kirinya yang berada di depan. Maka dia cepat menarik kaki kirinya agar lututnya yang dalam keadaan ‘terbuka’ itu jangan kena tendang, akan tetapi siapa kira, gerakannya ini bagai telah dapat diduga terlebih dulu oleh dara itu yang sudah mengirim pukulan ke arah pundak kanannya pada saat pundak itu dalam keadaan tak terjaga.

Siluman Kucing terhuyung ke belakang dan merasa jeri. Lama dia tidak bertemu dengan murid keponakannya ini dan kiranya sekarang telah memiliki kepandaian yang demikian lihai! Melawan Hwee Li saja dia kewalahan dan hampir roboh, apa lagi kalau kakek itu turun tangan membantu! Maka dia lalu mengeluarkan teriakan panjang seperti seekor kucing yang terpijak ekornya, dan tubuhnya sudah meloncat jauh ke belakang dan sebentar saja Siluman Kucing telah lenyap.

Hwee Li cepat mengambil pedang yang ditinggalkan oleh bekas bibi gurunya itu, dan dia menoleh ke arah Dewa Bongkok. Kakek itu masih duduk bersila di atas tanah, memejamkan kedua matanya. Hwee Li menarik napas panjang. Benar dugaannya. Kakek ini lihai bukan main akan tetapi berada dalam keadaan terluka parah. Kalau saja kakek aneh itu tidak membantunya dengan dua kali bisikan dan petunjuk, agaknya tidak mungkin dia dapat menangkan Mauw Siauw Mo-li yang lihai, apa lagi karena pahanya telah terluka.

Hwee Li menghampiri kakek itu, sejenak memandang kakek yang masih bersemedhi dengan tekunnya. Dia tidak mau mengganggu, teringat bahwa kakek itu terluka parah dan sedang mengobati luka sendiri. Hwee Li lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, memeriksa pahanya yang terluka dan menaruhkan obat bubuk kepada lukanya. Dia menyeringai. Perih sekali obat itu, akan tetapi dengan cepat dapat menutup luka dan menghentikan keluarnya darah. Dengan saputangan yang bersih dibalutnya paha yang terluka itu, kemudian dia pun duduk bersila tak jauh dari kakek itu. Dia mengambil keputusan untuk menjaga dan melindungi kakek itu sampai kakek itu sembuh dan dapat membela diri sendiri.

Demikianlah, kini di tempat sunyi itu nampak dua orang duduk bersila dalam semedhi! Setelah memulihkan tenaganya dan rasa nyeri di pahanya yang terluka berkurang, Hwee Li membuka matanya, lalu bangkit berdiri. Dia merasa lapar sekali. Kakek itu masih tetap duduk bersila seperti tadi, napasnya panjang-panjang dan sebagai seorang muda yang terlatih, Hwee Li maklum pula bahwa kakek itu memang benar sedang berdaya untuk mengobati dirinya sendiri.

Maka dia pun tidak berani mengganggu, dan hanya ingin menunggu sampai kakek itu selesai mengobati luka di dalam tubuhnya. Pergilah Hwee Li untuk mencari makanan pengisi perutnya yang lapar. Akan tetapi karena dia tidak berani meninggalkan kakek itu terlampau jauh, dia hanya mencari di sekitar tempat itu dan akhirnya dia hanya bisa mendapatkan akar-akaran yang dapat dimakan! Tidak ada pohon-pohon buah di hutan dekat situ dan dia tidak melihat binatang hutan pula. Akan tetapi, akar-akaran itu cukup enak kalau dibakar.

Maka dia lalu membuat api dan mulai memanggang akar-akaran itu. Dimakannya sebagian dari makanan itu dan sebagian lagi disisihkannya untuk kakek itu kalau sudah sadar dari semedhinya nanti. Bukan menjadi kebiasaan Hwee Li untuk mencampuri urusan orang. Akan tetapi dia tidak suka kepada Mauw Siauw Mo-li yang dia tahu merupakan seorang iblis betina yang selain kejam dan curang, juga cabul itu. Maka, melihat bekas bibi gurunya itu tadi hendak membunuh kakek ini, dia lalu turun tangan menentang.

Lalu dia mendengar bahwa kakek ini telah membunuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, maka dia merasa tertarik sekali. Hek-tiauw Lo-mo adalah musuh besarnya, yang telah merusak kehidupan ibu kandungnya, bahkan hampir saja menjerumuskan dia ke dalam lembah kehinaan dengan ‘menjualnya’ kepada Pangeran Liong Bian Cu. Maka, mendengar bekas ayahnya dan juga musuh besarnya itu terbunuh oleh kakek ini, dia merasa tertarik sekali untuk bicara dengan kakek ini. Di samping itu, juga dia tidak ingin melihat kakek ini terancam bahaya dan terbunuh oleh Mauw Siauw Mo-li, maka dia lalu menjaganya dan menanti sampai kakek itu selesai mengobati dirinya sendiri.

Akan tetapi, sehari penuh dia menanti dan hari telah berganti malam, namun kakek itu masih belum juga bangun dari semedhinya! Hati Hwee Li mulai menjadi kesal. Dia bukan seorang gadis yang penyabar. Akan tetapi melihat betapa nyamuk-nyamuk mulai merubung tubuh kakek itu dan tentu merupakan gangguan bagi semedhinya, timbul pula rasa kasihan di hatinya. Dibuatnya api unggun dan diusirnya nyamuk-nyamuk itu. Setelah kehangatan api unggun mengusir dingin dan nyamuk, barulah dia duduk di dekat api unggun dan menoleh kepada kakek itu sambil mengomel.

“Kalau sampai besok pagi engkau belum juga terbangun, jangan salahkan aku kalau terpaksa aku meninggalkanmu, Kek. Aku masih harus melakukan perjalanan jauh, mencari orang yang entah ke mana perginya!” Dia menarik napas panjang, kemudian merebahkan diri di atas daun-daun kering yang dikumpulkannya di tempat itu, rebah miring menghadapi api dan termenung ke dalam nyala api yang menjilat-jilat.

Semalam itu Hwee Li hanya dapat tidur ayam, yaitu antara tidur dan sadar, terkantuk kantuk di dekat api unggun. Biar pun kadang-kadang dia tertidur, namun kesadarannya masih selalu waspada sehingga sedikit suara saja cukup untuk membangunkannya, juga dia selalu tahu kalau api unggun padam atau mengecil sehingga cepat dia bangun dan menambah kayu bakar. Berkali-kali, kalau terbangun, dia menengok kepada kakek itu dan ternyata kakek itu masih saja duduk bersila dan tenggelam dalam semedhi seperti siang tadi!

Pada keesokan harinya, setelah sinar mentari menerangi tanah, Hwee Li memanggang lagi beberapa potong akar-akaran untuk dimakan dan sebagian dia letakkan di depan kakek itu bersama pedang yang ditinggalkan oleh Mauw Siauw Mo-li kemarin.

“Kek, terpaksa aku harus meninggalkanmu. Ini ubi bakar untukmu, dan ini pedang untuk menjaga diri kalau ada penjahat hendak mengganggumu. Maafkan aku, Kek, aku tidak bisa menjagamu di sini selamanya!”

Hwee Li menatap wajah itu dan tiba-tiba sepasang mata itu terbuka.

“Ihhhhh...!” Hwee Li terkejut dan terlompat mundur.

Kedua mata kakek itu benar-benar mempunyai cahaya yang mengejutkan, mencorong seperti mata harimau di tempat gelap! Akan tetapi kagetnya segera lenyap ketika dia melihat hetapa sepasang mata itu biar pun mencorong aneh, namun memandang kepadanya dengan lembut dan mulut tua itu mengulum senyum. Dia mendekat lagi, duduk di dekat kakek itu sambil memandang wajahnya yang agak pucat.

“Thian Yang Maha Kuasa...,“ terdengar kakek itu berkata halus, “Kalau belum berkenan mencabut nyawa seorang tua seperti aku, ada saja yang menyelamatkan. Agaknya masih belum cukup hukumanku maka aku masih diberi usia panjang...“

Mendengar keluhan ini, Hwee Li tersenyum geli. “Kek, orang lain minta umur panjang, mengapa engkau sebaliknya mengomel diberi umur panjang? Dan tentang menolong tadi, aku tidak tahu siapa menolong siapa. Kalau tidak ada engkau yang membisiki dua jurus serangan kemarin, mungkin aku yang tidak bisa berumur panjang!”

Sepasang mata itu berseri dengan pandang matanya memperhatikan Hwee Li penuh selidik. “Namamu Hwee Li?”

“Benar, Kek.”

“Siapa nama keturunanmu?”

Hwee Li membuang muka, dia merasa sebal. “Uhhh, tidak perlu menyebutkan nama keturunanku, Kek, hanya akan mendatangkan sial saja kepadaku. Namaku Hwee Li, cukuplah.”

Karena membuang muka, Hwee Li tidak melihat betapa pandang mata kakek itu makin berseri, karena sikap dara ini amat menarik hatinya dan menimbulkan rasa suka di hatinya.

“Hwee Li, ketika aku diserang oleh wanita itu, mengapa engkau membelaku? Bukankah wanita itu bibi gurumu? Mengapa engkau berani melawan bibi guru sendiri?”

“Huh, bibi guru macam apa dia? Jangankan bibi guru, biar ayah sendiri, kalau jahat, tentu akan kutentang!” jawab Hwee Li marah.

Kakek itu makin tertarik. Gadis ini benar-benar luar biasa. Jarang menemukan seorang gadis yang begini keras namun tegas dan wajar, penuh kepolosan dan keberanian. Mirip watak mantunya, isteri dari muridnya!

“Bukankah engkau sudah mendengar dari bibi gurumu bahwa ayahmu tewas karena aku? Bukankah Hek-tiauw Lo-mo itu ayah kandungmu?”

“Sama sekali bukan, Kek!” Hwee Li makin gemas karena dia diingatkan akan keadaan keluarganya yang hanya mendatangkan kesialan baginya. “Dia adalah musuh besarku!”

“Hemmm... bagaimana pula ini?” Kakek itu bertanya dan tersenyum.

“Sebenarnya aku tidak suka bicara tentang ini, Kek, akan tetapi agar engkau tidak menjadi penasaran dan bingung, biarlah kuceritakan kepadamu. Memang aku dan semua orang tadinya menganggap Hek-tiauw Lo-mo itu ayah kandungku. Akan tetapi kini telah terbuka kedoknya. Dia sama sekali bukan ayah kandungku, bahkan dia musuh besarku yang dulu menculik ibuku dan menjadi sebab kematian ibuku. Ah, andai kata dia itu ayahku sendiri sekali pun, tetap saja kutentang karena dia jahat.”

Kakek itu memandang dengan penuh perhatian.

“Kau akan menentang ayah kandung sendiri?”

“Tentu!” Hwee Li berkata gemas dan mengepal kedua tinju tangannya, lalu bangkit berdiri dan berdongak memandang ke udara. “Apa artinya ayah kandung kalau dia jahat? Dia hanya akan melumuri aku dengan kekotoran namanya! Nama busuk seorang ayah akan diwarisi anaknya yang tidak bersalah, mendatangkan kesialan, membuat aku dibenci orang, hanya karena orang tua...!” Dan tiba-tiba saja Hwee Li menangis sambil membanting-banting kakinya.

Sepasang mata kakek itu terbelalak. Dia membiarkan gadis itu menangis sesunggukan sambil menutupi muka dengan kedua tangan. Akan tetapi tidak lama Hwee Li menangis. Dia tadi menangis karena mendapat kesempatan menumpahkan rasa penyesalan dan penasaran hatinya, teringat betapa Kian Lee menyia-nyiakan dan meninggalkannya hanya karena dia keturunan pemberontak! Kekerasan hatinya membuat tangisnya itu hanya sebentar lalu mereda.

Melihat ini, Dewa Bongkok menarik napas panjang. “Hwee Li, apakah orang tuamu sendiri, ayah kandungmu, juga seorang jahat seperti Hek-tiauw Lo-mo?”

Hwee Li menggeleng kepala. Dia tidak mengenal kakek ini. Dan karena kakek ini orang asing, orang asing yang kebetulan saja kini terlibat menjadi orang yang menjadi tempat pencurahan semua rasa penasaran hatinya, maka dia tidak ragu-ragu untuk bicara tentang dirinya sendiri. “Aku sendiri tidak pernah melihat ayah kandungku, Kek. Entah dia orang baik atau jahat aku pun tidak tahu. Hanya karena dia dikenal sebagai seorang pemberontak, maka orang lalu menghinaku, bahkan orang yang paling baik... yang paling kucinta... telah meninggalkanku. Kek, apa sih salahnya orang yang menjadi anak pemberontak? Ayah kandungku memberontak ketika aku masih bayi, aku tidak tahu mengapa dan untuk apa dia memberontak. Akan tetapi mengapa semua orang benci kepadaku?”

Kakek itu menarik napas panjang dan menengadah seolah-olah dia bicara kepada awan yang berarak di langit, bukan kepada Hwee Li, “Begitulah memang pendapat umum, watak masyarakat yang sudah membudaya! Manusia dinilai dari keturunannya, dari agamanya, dari kedudukannya, dari harta bendanya, dari pengetahuannya. Betapa menyedihkan ini. Dan karena penilaian didasarkan atas semua itu, maka manusia lalu memperebutkan semua itu yang dianggap sebagai syarat untuk dapat hidup mulia! Manusia dianggap seperti pohon. Pohon yang buahnya masam pasti menghasilkan bibit yang masam pula. Manusia yang dianggap jahat pasti menurunkan anak yang jahat pula! Betapa menyedihkan anggapan ini! Dan betapa banyaknya anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban nama buruk orang tuanya. Memang tidak adil! Bahkan menilai seseorang sebagai jahat pun tidak adil. Kehidupan ini selalu berubah. Manusia pun selalu mengalami perubahan, ada kalanya dia dianggap jahat, ada kalanya dia dianggap baik. Anggapan itu hanya penilaian belaka, tergantung kepada kepentingan si penilai. Aih, Hwee Li, kalau orang menganggap engkau rendah dan hina, maka yang jelas dia itulah yang rendah dan hina, karena anggapan seperti itu sudah rendah namanya. Mengapa engkau hiraukan benar? Jangankan hanya beberapa orang yang menganggapmu jahat, kalau engkau meneliti diri sendiri dan mendapat kenyataan bahwa engkau tidak jahat, peduli apa? Biarlah semua orang menilaimu jahat. Hidup bukan tergantung dari pada penilaian orang lain. Yang penting adalah mengamati diri sendiri. Biar tidak ada seorang pun manusia lain mengetahuinya, akan tetapi kalau dalam pengamatanmu itu engkau melihat dirimu kotor, haruslah segera dibersihkan! Jadi, yang penting bukan penilaian orang lain, melainkan pengamatan diri sendiri terhadap diri sendiri. Mengertikah engkau, Hwee Li?”

Ucapan kakek yang dilakukan dengan suara halus itu meresap ke dalam hati sanubari Hwee Li dan gadis itu merasa bangkit kembali semangatnya, “Engkau benar, Kek! Terima kasih. Akan tetapi, aku pun tidak akan peduli penilaian orang lain, biar orang sedunia sekali pun, hanya... karena mereka berdua itulah yang membuat hatiku terasa perih..., penilaian mereka berdua yang kini menjauhiku membuat hatiku merana.”

“Hemmm, mereka berdua itu siapakah? Mengapa justeru mereka berdua yang amat kau hiraukan?”

“Dia... dia... pacarku, Kek. Dan yang seorang guruku...“

Diam-diam kakek itu terharu juga. Dara ini sungguh amat jujur, tidak seperti orang lain yang malu-malu kucing dan menyembunyikan perasaannya. Dara ini berterus terang, apa adanya, dan amat menarik hatinya.

“Hemmm, mereka itu tidak bijaksana. Tidak mengherankan kalau pacarmu memiliki pandangan umum seperti itu karena tentu dia masih muda dan hijau. Akan tetapi gurumu, mengapa dia sepicik itu pula?”

“Guruku pun masih muda, Kek, tidak banyak selisihnya usianya dengan pacarku. Dia pantas menjadi enci-ku. Aku amat sayang kepadanya dan dia pun tadinya amat cinta kepadaku, akan tetapi setelah dia tahu bahwa aku keturunan pemberontak... dia lalu memutuskan hubungan...“ Hwee Li memejamkan mata, menahan air matanya yang sudah membikin panas kedua matanya lagi.

“Hemmm, gurumu masih begitu muda? Dan kau sudah selihai itu? Tentu gurumu lihai sekali.”

“Tentu saja dia lihai! Suaminya lebih lihai lagi, Kek. Suaminya adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir!”

Karena kakek itu menundukkan mukanya, Hwee Li tidak melihat keheranan yang membayang di kedua mata kakek itu. Tentu saja kakek itu terkejut dan heran. Kiranya gadis yang amat menarik hatinya ini adalah murid dari Ceng Ceng, isteri muridnya sendiri! Dia memang pernah mendengar bahwa isteri muridnya itu mempunyai seorang murid yang selama beberapa bulan pernah pula ikut ke Istana Gurun Pasir, akan tetapi dia tidak pernah tahu siapa namanya dan tidak pernah pula saling bertemu. Memang selama itu dia hanya bertapa saja, menyendiri di kamar rahasia dalam istana itu.

Dan tadi ketika melawan Mauw Siauw Mo-li, Hwee Li juga tidak pernah menggunakan jurus dari aliran Dewa Bongkok maka dia tidak mengenalnya. Kakek ini tidak tahu bahwa sesungguhnya gadis ini menjadi murid Ceng Ceng hanya dalam hal penggunaan racun dan pukulan-pukulan beracun saja, dan kemudian mendapat bimbingan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang telah dimilikinya, yaitu yang dipelajarinya dari Hek-tiauw Lo-mo.

Sebaliknya, Hwee Li tentu saja tahu bahwa suami dari gurunya adalah murid seorang manusia dewa yang berjuluk Si Dewa Bongkok atau Go-bi Bu Beng Lojin, akan tetapi karena belum pernah jumpa, sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa kakek yang ditolongnya ini adalah kakek gurunya itu! Apa lagi dia membayangkan kakek guru itu sebagai dewa yang tidak pernah memperlihatkan diri kepada manusia lain.

Hening sampai lama semenjak Hwee Li menyebut nama Naga Sakti Gurun Pasir tadi. Berbagai pikiran memenuhi kepala Dewa Bongkok dan dia sudah mengambil keputusan mengenai gadis ini.

“Hwee Li, maukah engkau menjadi ahli waris ilmu silat yang akan membuat engkau tidak mudah dikalahkan orang, apa lagi kalau hanya oleh orang seperti wanita tadi? Maukah engkau mempelajari ilmu simpananku yang belum lama kuciptakan?!” Tiba-tiba kakek itu bertanya.

“Dan menjadi muridmu, Kek?” Hwee Li mengangkat muka memandang.

Dia merasa pernah melihat sepasang mata mencorong seperti itu, akan tetapi dia lupa lagi entah di mana. Dia lupa bahwa yang memiliki mata mencorong seperti itu adalah suami gurunya, Si Naga Sakti Gurun Pasir!

“Akan tetapi, aku belum mengenalmu.”

“Hemmm, tidak perlu mengenal. Engkau tentu sudah tahu bahwa Hek-tiauw Lomo dan Hek-hwa Lo-kwi tewas karena mereka itu menyerangku dan aku menderita luka parah. Biar pun aku telah menyembuhkan luka itu, namun aku perlu beristirahat dan mengingat usiaku sudah amat tua, kalau tidak sekarang kuturunkan kepada seseorang, tentu aku tidak akan sempat lagi mewariskan kepada orang lain. Kau cocok untuk menjadi ahli warisku, Hwee Li.”

“Kalau begitu aku tidak perlu menjadi muridmu?”.

“Murid atau bukan hanya sebutan saja. Aku percaya bahwa di tanganmu, ilmuku tidak akan sia-sia.”

“Baiklah, Kek. Akan tetapi, aku harus melakukan perjalanan jauh menyusul dia...!”

“Pacarmu?”

“Benar. Aku masih penasaran. Dia tidak boleh membawa-bawa aku dalam keburukan nama ayah kandung yang sama sekali tak pernah kukenal itu. Dia tidak adil dan aku harus menegurnya!”

“Bagus! Memang engkau benar, dan pacarmu itu picik. Dia tentu seorang pemuda tolol, mengapa engkau memilih pacar macam dia?”

“Uwah! Kakek terlalu memandang rendah dia! Engkau tidak tahu siapa dia, Kek, dia adalah Suma Kian Lee, putera dari Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!”

Kembali kakek itu terkejut bukan main, akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu. “Ahhh, kiranya begitu? Sungguh kebetulan sekali aku memilihmu sebagai ahli waris ilmuku karena dengan ilmu itu engkau harus dapat melindungi Pendekar Super Sakti.”

“Ehhh, apa maksudmu, Kek?”

“Menurut pengakuan Hek-hwa Lo-kwi sebelum dia tewas oleh ulahnya sendiri, di gurun pasir di dataran Bukit Chang-pai-san akan diadakan pertemuan yang pasti akan menjadi pertandingan mati-matian antara Pendekar Super Sakti dan Im-kan Ngo-ok, maka mereka ini tentu mendatangkan jagoan-jagoan untuk membantu mereka mengeroyok Pendekar Super Sakti. Kalau tidak sedang terluka, tentu aku akan dapat mendamaikan mereka dan melindungi Majikan Pulau Es itu. Akan tetapi aku terluka, maka aku sengaja memilihmu untuk mewarisi ilmuku dan mewakili aku melindungi pendekar sakti itu.”

“Jadi untuk itukah maka engkau hendak menurunkan ilmu itu kepadaku, Kek?”

“Sebagian, yang terutama untuk itu. Akan tetapi juga karena aku suka melihatmu, Hwee Li.”

“Biar pun aku keturunan pemberontak?”

“Hemmm, mereka yang menghinamu karena keturunanmu akan aku tegur kalau aku sempat bertemu dengan mereka. Mereka itu tolol dan picik!”

Besarlah hati Hwee Li mendengar ini. Kakek ini adalah orang pertama yang bukan saja tidak merendahkan keturunannya, bahkan hendak membelanya dan lebih dari itu, hendak menurunkan ilmunya kepadanya. Dan mengingat betapa kakek ini dapat merobohkan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, apa lagi sudah dapat dia buktikan kesaktiannya ketika memberi petunjuk dia menghadapi Mauw Siauw Mo-li, dia yakin bahwa ilmu yang akan diturunkan itu tentu hebat bukan main.

“Nah, sekarang bersiaplah, Hwee Li. Engkau harus menghafal kauw-koat (teori silat) lebih dulu, baru kuberi petunjuk tentang gerakan-gerakannya, yaitu gerakan dasar dan gerakan pokok. Kita hanya memiliki waktu sebulan lebih lagi, yaitu pada malam bulan purnama bulan depan.”

“Mana mungkin menghafal ilmu yang hebat hanya dalam waktu sesingkat itu?” tanya Hwee Li.

“Ilmu itu hanya terdiri dari delapan jurus, Hwee Li.”

“Delapan jurus? Kalau hanya sedemikian pendeknya, mana bisa disebut hebat?”

“Ah, engkau tidak tahu. Aku telah menghabiskan waktu belasan tahun untuk merangkai ilmu yang kunamakan Cui-beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Mengejar Arwah) ini. Dan biar pun kauw-koat-nya dapat kau hafalkan dalam waktu singkat setelah kuberi kunci kuncinya, namun untuk mematangkan ilmu ini, biar sampai lima puluh tahun sekali pun masih dapat terus ditingkatkan, Hwee Li. Dasar dan pokok gerakan ilmu yang hanya delapan jurus ini telah mencakup semua dasar ilmu silat dan dapat kau pergunakan untuk menghadapi ilmu yang bagaimana lihai pun dari lawan.”

Hwee Li menjulurkan lidahnya karena kaget, kagum dan juga girang. Dia lalu mulai mempelajari Ilmu Silat Cui-beng Pat-ciang dengan penuh ketekunan. Kakek itu merasa girang karena gadis ini memang cerdas sekali, dengan mudah dapat mengerti ketika dia memberi penjelasan tentang kunci rahasia ilmu itu, kemudian menghafal teorinya.

Semua ini mereka lakukan sambil melanjutkan perjalanan perlahan-lahan karena kakek itu harus sering beristirahat untuk menghimpun tenaganya. Siang malam Hwee Li menghafal dan melatih gerakan-gerakan pokok dan dasar dari ilmu silat baru itu, dan dengan girang sekali dia memperoleh kenyataan betapa baru melatih beberapa hari saja, sinkang-nya sudah bertambah kuat. Apa lagi ketika kakek itu memberi petunjuk kepadanya cara mengumpulkan hawa murni dan menggunakan tenaga dari pusarnya, dia memperoleh kemajuan hebat dalam waktu beberapa hari saja…..

********************

“Syanti Dewi...!” Dia terhuyung, hampir jatuh, akan tetapi bangun lagi dan terus berlari sambil terhuyung-huyung.

“Dewi... kau ampunkan aku, Dewi...!”

Tek Hoat terus memasuki hutan yang lebat itu, berlari sambil mengeluh dan bersambat, menyebut-nyebut nama Syanti Dewi seperti orang gila. Pemuda ini setelah ditolong oleh Panglima Jayin dan pasukannya, dibawa kembali ke dalam istana. Akan tetapi baru dua hari dia dirawat, begitu siuman dia sudah meloloskan diri lagi, malam-malam dia melarikan diri meninggalkan istana untuk mengejar dan mencari Syanti Dewi.

Akhirnya, kegelapan malam membuat dia roboh tersungkur menabrak batang pohon dalam hutan yang gelap itu. Dia merangkak bangun, lalu duduk dan menggunakan kedua tangan memegangi kepalanya yang terasa pening berdenyut-denyut. Dia belum sembuh benar, tubuhnya masih terasa lemah, kepalanya masih pening.

“Syanti... kalau engkau tidak mau mengampunkan aku, lebih baik kau bunuh saja aku...“ keluhnya.

Pikirannya melayang-layang ke masa lampau ketika dia merasa betapa sengsaranya rasa hatinya, ditinggalkan oleh Syanti Dewi yang marah kepadanya. Syanti Dewi tentu benci kepadanya! Ahh, semua ini tentu merupakan hukuman baginya, hukuman atas semua penyelewengannya, atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya di masa lampau.

Terbayang kembali semua perbuatannya, yang baru sekarang nampak olehnya betapa kejam, jahat dan terkutuknya. Dia telah banyak melakukan pembunuhan-pembunuhan, perjinahan-perjinahan, perbuatan yang kejam dan jahat sekali di masa lampau. Kalau dia membayangkan semua perbuatannya itu, di waktu dia masih muda remaja, maka amatlah tidak patut kalau dia kini dicinta seorang wanita seperti Syanti Dewi! Hal ini merupakan kenyataan yang luar biasa, terlampau baik baginya.

Syanti Dewi adalah seorang puteri raja yang demikian cantik jelita, demikian berbudi dan mulia. Sedangkan dia? Hanya seorang bekas penjahat yang terkutuk! Dan dia masih tidak menerima kebahagiaan ini. Dia menghancurkan sendiri kebahagiaan yang tidak patut dimilikinya itu. Dia bahkan berani memaki, berani menghina sang puteri yang demikian mulia, yang terlalu mulia baginya. Menjadi pelayan puteri itu saja masih terlalu mulia baginya. Dia sebenarnya amat tidak berharga, bahkan untuk menggosok sepatu puteri itu saja dia masih terlalu kotor.

Namun dia terangkat sebagai kekasih, sebagai calon suami puteri itu! Dan puteri itu mencintanya dengan suci. Puteri itu telah rela hidup sengsara demi untuk dia! Dan dia... dia malah memaki dan menghina puteri itu! Dituduhnya berjinah, padahal dialah sendiri tukang berjinah di waktu remaja. Dituduhnya memberontak, padahal dialah yang pernah membantu pemberontak! Dituduhnya keji dan hina, padahal dialah yang jelas seorang manusia keji dan hina!

“Syanti...!” hatinya menjerit dan dia menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Kau memang layak mampus! Kau layak sengsara!” Dia berteriak-teriak dan menjambak rambutnya, lalu menghempas-hempaskan dirinya, membentur-benturkan kepalanya ke batang pohon itu sampai kulit dahinya luka-luka dan pecah-pecah berdarah dan akhirnya dia roboh pula tak sadarkan diri di bawah batang pohon itu. Malam itu sunyi sekali, sunyi dan gelap, dan tubuh Tek Hoat membujur di bawah pohon, pingsan.

Dia bermimpi. Dia terjerumus ke dalam lumpur. Betapa pun dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, selalu tidak berhasil. Lumpur itu menyedot kedua kakinya, makin dia berusaha lolos, makin dalam dia tersedot sampai akhirnya tubuhnya tersedot sebatas pinggang. Dia meronta, kedua tangannya mencakar sana-sini dengan sia-sia. Kemudian muncul Dewi Kwan Im yang berwajah Syanti Dewi, dengan ringannya sang dewi melangkah di atas lumpur tanpa mengotorkan sepatunya yang bersih, lalu sang dewi mengulurkan tangan, hendak menariknya keluar dari dalam lumpur.

Akan tetapi pada saat itu dia teringat akan hal yang tak pernah dilupakannya sama sekali itu, ialah ketika Syanti Dewi bercumbu dengan Mohinta, kemudian betapa Syanti Dewi telah berusaha membunuh Raja Bhutan, ayahnya sendiri. Teringat akan ini semua, tangan yang terulur kepadanya untuk menariknya keluar dari dalam lumpur itu malah diludahinya! Sang dewi menangis dan melarikan diri sambil terisak-isak. Tek Hoat yang ditinggalkan di dalam lumpur itu tersedot makin dalam. Lumpur mencapai lehernya, bahkan masih terus saja tubuhnya tersedot ke bawah, kini lumpur mencapai dagunya. Barulah dia, teringat kepada Syanti Dewi, betapa dia mencinta dara itu dan dengan napas terengah-engah seperti ikan dilempar ke darat, dia memanggil-manggil nama Syanti Dewi.

“Syanti Dewi...! Syanti Dewi...!”

Tek Hoat terbangun dengan napas terengah-engah. Dia membuka matanya dengan penuh kegelisahan dan menjadi semakin bingung ketika dia menemukan dirinya sendiri telah rebah di atas pembaringan dalam sebuah kamar yang indah, kamarnya di istana Bhutan! Dan terdengar suara yang tenang dan penuh perasaan iba.

“Tenanglah, Taihiap. Harap engkau suka menguatkan batinmu.”

Tek Hoat menoleh dan ternyata yang bicara itu adalah Panglima Jayin. Dia bangkit duduk dan memegang tangan panglima itu yang dijulurkan kepadanya. “Panglima apakah yang terjadi dengan Syanti Dewi?”

Panglima itu menggeleng kepalanya. “Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan beliau, Taihiap.”

“Akan tetapi... dia... dia telah mati dan aku... aku masih bertemu dengannya...“

Panglima Jayin itu tersenyum sedih dan mengira bahwa pemuda ini tentu mengigau. “Taihiap terlalu mendalam memikirkan beliau. Beliau belum meninggal dunia, dan atas perkenan sri baginda raja saya akan menceritakan semua kepadamu, Taihiap. Wanita yang kau sangka sang puteri itu, yang datang bersama pengkhianat Mohinta, kemudian berusaha membunuh sri baginda dan akhirnya tewas, sebenarnya bukanlah Sang Puteri Syanti Dewi, melainkan seorang wanita lain yang memalsukan beliau. Sang Puteri Syanti Dewi adalah seorang wanita budiman dan mulia, tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu.”

Tek Hoat meloncat berdiri, wajahnya berseri biar pun masih amat pucat. “Ahhh, sudah kuduga demikian, hanya hati yang lemah ini, otak yang tolol ini masih saja meragukan kesuciannya! Aku harus pergi mencarinya!”

Panglima Jayin memegang lengannya dan dengan lembut menyuruh pemuda itu duduk kembali. “Ketika engkau menderita luka-luka parah dan rebah tak berdaya, kami tidak berani menceritakan tentang beliau padamu. Kemudian, kemarin kami tidak melihatmu di dalam kamar dan setelah kami mencari-cari, kami menemukan Taihiap rebah pingsan di dalam hutan, kemudian kami bawa kembali ke sini. Agaknya Taihiap mengigau atau mimpi...“

“Tidak, tidak...! Aku tidak mimpi, aku benar-benar bertemu dengan Syanti Dewi. Ah, aku harus segera mencarinya sebelum dia pergi jauh!”

“Engkau masih lemah, Taihiap.”

“Tidak, biarkan aku menghadap sri baginda, mohon perkenannya. Akan kucari sang puteri sampai dapat!”

Raja Bhutan merasa girang melihat betapa Tek Hoat kelihatan sembuh dan dia pun tidak berkeberatan mendengar permohonan Tek Hoat.

“Memang hanya engkaulah yang kiranya akan mampu menemukan kembali anakku itu, Tek Hoat. Engkau carilah dia, bawa bekal secukupnya, kalau perlu bawa pasukan sebanyaknya, dan jangan kembali ke sini kalau belum bersama anakku.” Demikian antara lain Raja Bhutan berpesan kepada pemuda yang telah diakuinya sebagai panglima muda dan juga sebagai calon mantunya itu.

Demikianlah, untuk kedua kalinya Tek Hoat meninggalkan Bhutan. Akan tetapi sekali ini kepergiannya jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Sekali ini dia pergi dengan doa restu dari Raja Bhutan dan membawa perbekalan secukupnya. Akan tetapi Tek Hoat tidak mau membawa pasukan dan pergi seorang diri saja. Dia melakukan pengejaran dan mencari jejak Syanti Dewi yang diketahuinya penuh keyakinan telah datang menjenguknya, akan tetapi karena ketololannya kembali dia menyakitkan hati puteri itu, sungguh pun tidak seorang pun di Bhutan percaya bahwa sang puteri benar-benar telah pulang untuk waktu singkat sekali itu.

Penderitaan batin yang timbul akibat cinta asmara memang penanggungannya amatlah berat, karena orang akan merasa amat kesunyian, amat nelangsa, hidup seakan-akan kosong tidak ada artinya, lenyaplah semua gairah hidup, lenyap semua kegembiraan, yang terasa hanyalah kelesuan, lemah lunglai rasanya seluruh tubuh, tanpa semangat membuat orang malas dan tak acuh. Semua ini timbul karena perasaan iba diri yang amat mendalam.

Tek Hoat melakukan perjalanan seperti boneka hidup, seorang manusia yang sudah kehilangan semangat dan kegembiraannya. Hanya ada satu saja yang masih membuat dia kuat mempertahankan semua itu, ialah semangat mencari Syanti Dewi sampai dapat! Dia melakukan perjalanan yang susah payah, tak pernah berhenti, hanya makan kalau perutnya sudah tidak kuat menahan lagi, hanya tidur kalau matanya sudah tak dapat dibuka, dan hanya beristirahat kalau kedua kakinya sudah mogok jalan. Berhari hari dia menjelajahi seluruh hutan di mana dia mengejar Syanti Dewi, kemudian dia melanjutkan perjalanan ke timur, karena dia merasa yakin bahwa kekasihnya itu tentu pergi ke timur. Ke mana lagi kalau tidak ke sana? Dan dia akan terus mencari, sampai ke ujung dunia sekali pun!

Tanpa diketahuinya, Tek Hoat sedang menuju ke arah tempat di mana Su-ok dan anak buahnya, yaitu para orang cebol itu, berkumpul dan menimbulkan kekacauan di dusun. Pagi itu dia berjalan seenaknya memasuki daerah itu, tidak tahu bahwa gerak-geriknya sudah diintai oleh banyak mata, karena dianggap sebagai hasil pancingan orang-orang pendek yang mempergunakan Yan Hui sebagai umpan!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ouw Yan Hui yang lihai itu dikeroyok oleh anak buah Su-ok dan akhirnya tertawan, dibelenggu di belakang kuil sebagai umpan karena Su-ok merasa yakin bahwa wanita yang lihai itu pasti datang bersama teman temannya. Dan pagi hari itu, muncul seorang pemuda yang dari jauh saja sudah dikenal oleh Su-ok!

Seperti diketahui, Tek Hoat pernah membantu para pendekar saat terjadi pertandingan di dalam benteng para pemberontak, dan Su-ok mengenal pemuda ini sebagai Si Jari Maut! Tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan terhitung musuh karena bukankah kemudian ternyata bahwa pemuda ini membantu pihak pendekar yang ikut menyerbu benteng?

Maka diam-diam Su-ok sudah mempersiapkan lima orang sute-nya yang lihai itu, mengikuti gerak-gerik Tek Hoat. Dan tepat seperti yang dia duga, pemuda itu menuju ke kuil, tentu saja untuk menolong wanita tawanan mereka itu! Padahal, Tek Hoat sendiri tidak pernah menduga bahwa di belakang kuil itu ada seorang wanita tertawan, dan kalau dia menuju ke kuil itu adalah karena kakinya telah merasa lelah dan dia hendak beristirahat di dalam kuil itu. Karena pikirannya banyak termenung, kewaspadaannya banyak berkurang dan dia tidak tahu bahwa ada beberapa orang mengintai gerak geriknya.

Maka terkejutlah Tek Hoat ketika tiba-tiba saja dari balik pohon-pohon, semak-semak dan batu-batu berlompatan keluar lima orang cebol yang dengan buasnya serta-merta menerjang dan menyerangnya tanpa banyak cakap lagi!

“Eh, ehh, ehhh, mau apa kalian ini?” bentaknya sambil mengelak ke kanan kiri.

“Ha-ha-ha, Si Jari Maut, kenapa kelihatan gugup? Hayo kau coba pecahkan Khai-lo-sin Ngo-heng-tin, ha-ha-ha!”

Mendengar suara orang itu dari atas, Tek Hoat menengok dan segeralah dia mengenal Su-ok Siauw-siang-cu, orang keempat dari Ngo-ok yang lihai. Terkejutlah dia dan tahulah dia bahwa dia telah bertemu orang jahat, musuh yang tak mungkin dapat diajak bicara lagi. Maka dia pun lalu mencurahkan perhatiannya untuk membela diri. Kini dia melihat betapa lima orang cebol itu mulai mengurungnya, melangkah lambat-lambat mengitarinya, wajah mereka yang lucu-lucu dan aneh-aneh itu kelihatan menyeramkan, mata mereka terbelalak dan seperti mata binatang haus darah. Agaknya gerakan mereka itu dipimpin oleh kakek cebol yang brewok, karena empat yang lain selalu melirik ke arah si brewok ini. Maka Tek Hoat yang berdiri tegak di tengah-tengah lingkaran itu juga memperhatikan cebol brewok itu. Dan dugaannya itu memang tepat. Si brewok ini memang merupakan pimpinan dari Khai-lo-sin Ngo-heng-tin, yaitu barisan lima orang yang amat lihai dan yang kemarin telah merobohkan Ouw Yan Hui itu.

Tiba-tiba, seperti merupakan aba-aba, si brewok itu mengeluarkan bentakan yang parau seperti suara singa kelaparan dan tubuhnya yang pendek itu sudah bergerak. Serangan si brewok cebol itu amat dahsyat, tubuhnya melayang ke atas dan kedua tangannya mencengkeram ke arah mata dan leher Tek Hoat. Namun, dengan tenang Tek Hoat sudah memutar tubuhnya mengelak dan tangannya sudah siap untuk merobohkan lawan ini dengan pukulan dari bawah. Akan tetapi, pada saat itu, dari empat penjuru, empat orang cebol lainnya telah menyerbu dengan gerakan berbareng, dan terpaksa Tek Hoat harus menghadapi mereka semua itu dengan mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak karena masing-masing lawan yang bertubuh kecil pendek itu ternyata melakukan serangan yang cukup ampuh dan berbahaya.

Tubuh Tek Hoat masih belum sembuh betul dari kelemahan yang menyerangnya selama berbulan-bulan, dan selama itu, dia tidak pernah berlatih silat sehingga otot ototnya kaku. Akan tetapi, begitu menghadapi bahaya, secara otomatis semua syaraf dan otot tubuhnya bekerja dan mulailah dia menggerakkan tubuhnya dengan penuh tenaga sinkang dan kini dia mulai membalas dengan tamparan, pukulan mau pun tendangan. Dan setiap tamparannya yang ditangkis lawan tentu membuat lawan itu terdorong, bahkan angin pukulannya yang kuat membuat beberapa orang cebol mengeluarkan teriakan kaget. Tak mereka sangka bahwa lawan ini ternyata lebih lihai dari pada wanita cantik itu!

Tek Hoat sama sekali tidak memandang rendah lawan, sungguh pun lima orang cebol yang mengeroyoknya itu seolah-olah hanya merupakan lima orang anak kecil yang nakal. Dengan hadirnya Su-ok di situ, dia dapat menduga bahwa tentu lima orang cebol ini pun berkepandaian tinggi.

Maka dia pun cepat mengerahkan tenaga dan menggunakan seluruh kepandaian untuk menghadapi lima orang pengeroyoknya ini. Melihat betapa lima orang itu setiap kali menyerang tentu mengarah kepada nyawanya, Tek Hoat menjadi marah dan dia pun mengerahkan ilmunya yang ampuh, yaitu Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa), ilmu pukulan dengan jari yang membuat dia dikenal sebagai Si Jari Maut. Jari-jari tangan ini bukan hanya menotok jalan darah, akan tetapi sekali mengenai lawan akan langsung mencabut nyawa lawan. Jari-jari itu dapat memutus otot dan tulang, merusak jalan darah, bahkan dapat menusuk kepala dengan mpuh….

Jodoh Rajawali Jilid 30


Perkelahian yang terjadi ini amat hebat. Gerakan Tek Hoat, tidak begitu cepat karena dia yang cerdik, maklum bahwa tidak mungkin dia dapat mengandalkan kecepatan melawan lima orang yang memiliki gerakan teratur dan kerja sama yang amat baik seolah-olah dikemudikan oleh satu kepala saja itu. Dia bersilat dengan tenang, lambat tapi gerakannya kuat sekali dan setiap bagian tubuhnya selalu terjaga dan terlindung.

Lima orang itu pun mengeluarkan semua kepandaian mereka. Gerakan mereka teratur dan saling membantu, saling melindungi, dengan serangan-serangan yang bertubi dan bergiliran secara teratur sekali, dan serangan mereka itu berubah-ubah dengan tenaga yang berubah-ubah pula sesuai dengan sifat Ngo-heng.

Namun, Tek Hoat yang bersikap tenang itu tidak menjadi gugup. Dia bersilat dengan ilmu silat gabungan Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun, dan dia selalu mengerahkan tenaga Inti Bumi yang amat hebat sehingga setiap kali beradu lengan dengan seorang lawan, tentu lawan itu terpelanting. Namun begitu terpelanting, empat orang saudaranya telah melindunginya secara otomatis!

Seratus jurus telah lewat dan barisan Ngo-heng-tin itu belum mampu merobohkan Tek Hoat. Kalau tadinya Tek Hoat masih bersilat dengan lambat berhubungan dengan kekuatannya yang belum pulih, sekarang nampak dia mulai bersemangat, gerakan gerakannya lebih dahsyat. Hal ini adalah karena semangat bertanding Tek Hoat mulai ‘hidup’ lagi. Mengingat bahwa Su-ok merupakan seorang di antara mereka yang berusaha menawan Syanti Dewi dan mengganti kekasihnya itu dengan wanita palsu, semangatnya bangkit dan kemarahannya meluap.

“Bagus, kalian semua sudah bosan hidup agaknya!” dia membentak dan kini dari kedua tangan dengan jari-jari terbuka itu keluar hawa yang mengeluarkan suara bercuitan mengerikan!

Begitu dia memutar tubuh dan kedua lengannya dikembangkan, lima orang lawan itu terkejut, ada yang meloncat mundur, akan tetapi dua di antara mereka memberanikan hati menangkis.

“Dukkk! Dukkkkk!”

Dua orang itu terpelanting dan mereka berloncatan bangun dengan muka pucat. Lengan mereka terluka, kulitnya robek berdarah! Memang luka-luka itu tidak berat, akan tetapi setidaknya membuat mereka terkejut dan jeri sekali terhadap pemuda yang amat lihai ini. Melihat itu, Su-ok marah bukan main.

“Sute semua jangan takut, biar aku membantu kalian merobohkan bocah sombong ini!”

Tubuh yang pendek kecil itu menyambar turun langsung saja menerkam Tek Hoat dengan dahsyatnya. Namun Tek Hoat sudah siap siaga, dengan cepat dia meloncat mundur, kemudian mengirim tendangan yang juga dapat dielakkan oleh Su-ok. Lima orang cebol menjadi besar hati dan timbul kembali keberanian mereka ketika mereka melihat suheng mereka ikut maju mengeroyok, dan sekarang mereka menyerang dan menghujani Tek Hoat dengan pukulan-pukulan yang dibantu pula oleh berbagai macam senjata!

Tek Hoat mengamuk terus. Tetapi kini dia menghadapi lawan yang amat berat. Su-ok Siauw-siang-cu adalah seorang datuk kaum sesat yang sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sukar dicari bandingannya. Melawan kakek cebol ini sendirian saja masih amat sukar bagi Tek Hoat untuk menang, apa lagi kini Su-ok dibantu oleh lima orang sute-nya, dan dia sendiri baru saja sembuh dari sakit sehingga betapa pun juga, dia belum dapat menguasai kembali seluruh kelincahan dan tenaganya. Betapa pun juga, Tek Hoat tidak merasa gentar dan dia terus mengamuk, biar pun kini dia harus lebih banyak berloncatan dan mengerahkan dan untuk menangkis. Dia tidak mempunyai banyak kesempatan lagi untuk membalas serangan.

Tiba-tiba Su-ok meloncat ke depan, tubuhnya berjongkok rendah, kedua tangannya digerak-gerakkan secara aneh dan lima orang sute-nya meloncat ke kanan kiri menjauh! Tiba-tiba Su-ok mendorongkan kedua tangannya ke arah Tek Hoat dan terdengar dari perutnya keluar bunyi berkokok beberapa kali. Angin dahsyat menyambar dibarengi bau yang amis ke arah Tek Hoat.

Pemuda ini terkejut bukan main, dapat mengenal ilmu pukulan yang dahsyat dan amat berbahaya, maka dia sudah meloncat jauh ke kanan di mana dia disambut dan dikurung oleh lima orang kakek cebol lainnya. Su-ok mengeluarkan pukulan Katak Buduk ini sebagai selingan dan selalu Tek Hoat meloncat jauh, tidak berani menghadapi pukulan ini dengan langsung, tidak berani menangkis, karena dari sambaran anginnya saja dia tahu bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.

Dia sendiri pun sudah memiliki tenaga ampuh, dan pukulan-pukulan beracun setelah dia mempelajari kitab-kitab peninggalan para tokoh Pulau Neraka, yaitu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin. Akan tetapi karena dia kalah tingkat dan kalah latihan, maka dia tahu bahwa menghadapi pukulan itu secara langsung amatlah berbahaya. Maka, dia lalu mengamuk dan makin mendesak lima orang sute dari Su-ok itu saja, dan begitu Su-ok datang menyerangnya, dia meloncat menjauhkan diri.

Sementara itu, setelah melihat bahwa penjaganya, Su-ok yang mengerikan itu, telah pergi dan agaknya ada suara perkelahian di sebelah depan kuil, Ouw Yan Hui berusaha untuk melepaskan belenggu kedua tangannya, akan tetapi usahanya itu tidak berhasil. Belenggu dari rantai besi yang kokoh itu terlampau kuat baginya sehingga dia tidak berhasil mematahkannya, bahkan kedua pergelangan tangannya lecet-lecet dan terasa nyeri sekali.

Hatinya mulai khawatir. Dia tidak tahu siapa yang datang dan bertanding dengan para orang cebol itu. Melihat betapa sampai lama orang itu dapat mempertahankan diri, jelas bahwa yang datang adalah orang yang pandai. Betapa inginnya untuk dapat bebas dan membantu orang itu, siapa pun juga orangnya, untuk menghajar orang-orang cebol yang kurang ajar itu.

“Hui-ci..., sssttttt...!”

Yan Hui terkejut, menoleh dan wajahnya berseri melihat munculnya orang yang sama sekali tidak disangka-sangkanya akan muncul di tempat itu. Kiranya yang muncul adalah Syanti Dewi!

“Syanti! Cepat... belengguku ini...,” bisiknya kembali.

Syanti Dewi meloncat ke belakang pilar, menggunakan pedangnya untuk mematahkan belenggu yang mengikat kedua tangan Ouw Yan Hui. Dan setelah bebas, Ouw Yan Hui lalu menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya, memandang kepada Syanti Dewi dengan muka merah.

“Syanti... ahhh, ternyata engkau malah yang menolongku! Mari kita bantu orang itu!” Tanpa menanti jawaban lagi, tubuh Yan Hui mencelat keluar kuil, diikuti oleh Syanti Dewi.

Seperti telah kita ketahui, dalam perjalanannya, Syanti Dewi melihat penduduk dusun diganggu sekumpulan orang cebol yang sakti menurut penuturan para prajurit Bhutan yang mengenalnya. Dia menyuruh para prajurit meminta bantuan ke Kota Raja Bhutan, sedangkan dia sendiri kemudian melakukan penyelidikan pada pagi hari itu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia tiba di kuil itu dari belakang, dia melihat Ouw Yan Hui terbelenggu pada pilar besar, sedangkan di bagian depan kuil itu terjadi perkelahian yang belum dia ketahui siapa orangnya. Tanpa ragu-ragu lagi dia lantas menolong gurunya, kemudian mengikuti Ouw Yan Hui pada saat gurunya itu meloncat keluar kuil untuk membantu orang menghadapi para orang cebol yang sakti.

Ketika dua orang wanita cantik ini tiba di depan kuil, pertempuran antara Tek Hoat yang dikeroyok enam masih berlangsung seru, biar pun kini Tek Hoat hanya mengelak dan menangkis saja, sama sekali tak mampu lagi membalas serangan. Pemuda itu sungguh hebat, masih dapat mempertahankan diri dan belum dapat dirobohkan.

“Manusia-manusia cebol terkutuk!” mendadak Ouw Yan Hui membentak nyaring dan tubuhnya melesat ke depan, terjun ke dalam medan pertempuran.

Semua orang cebol merasa kaget, terutama sekali si brewok yang langsung menerima serangan Ouw Yan Hui. Datangnya serangan demikian tiba-tiba dan pada saat itu, tubuhnya masih terhuyung oleh tangkisan Tek Hoat. Maka tanpa dapat dicegah lagi, tendangan Ouw Yan tepat mengenai lambungnya. Si brewok berteriak dan tubuhnya terlempar, perutnya mendadak menjadi mulas dan dia mengaduh-aduh.

Su-ok adalah seorang yang cerdik, juga licik. Dia tahu bahwa Tek Hoat Si Jari Maut amat berbahaya, bahkan setelah dibantu oleh lima orang sute-nya, sampai ratusan jurus dia dan para sute-nya belum mampu mengalahkan pemuda ini. Dan sekarang muncul wanita yang memiliki ginkang amat luar biasa itu. Munculnya wanita yang terbelenggu itu membuktikan bahwa tentu ada orang sakti lain yang membebaskannya, maka tentu akan muncul orang-orang sakti lain. Keadaan menjadi berbahaya dan tidak menguntungkan bagi pihaknya, maka dia lalu mengeluarkan teriakan sebagai isyarat dan cepat dia meloncat jauh dan melarikan diri, diikuti oleh para sute-nya, si brewok paling belakang karena dia harus berlari sambil memegangi perutnya yang masih mulas!

Ang Tek Hoat berdiri dengan kepala pening dan terasa berdenyut-denyut. Dia baru saja sembuh, tetapi tadi dia telah terlalu banyak mengerahkan tenaga sehingga kepalanya kini menjadi pening, dan dia tidak mengejar mereka yang melarikan diri. Dia tahu bahwa dia telah dibantu orang pandai, maka biar pun pandang matanya menjadi agak kabur karena kepeningan kepalanya, dia tetap menengok dan memandang orang yang telah membantunya sehingga musuh melarikan diri. Dia melihat seorang wanita cantik jelita dan seorang wanita lain agak jauh di belakangnya.

“Dewi...! Ahhh, Syanti Dewi...!” Dia berseru dan seperti orang mabuk dia terhuyung ke depan, menghampiri Syanti Dewi yang sejak tadi berdiri bengong ketika mendapat kenyataan bahwa orang yang bertanding dikeroyok banyak orang cebol dan dibantu oleh gurunya itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!

“Ahhh, engkau...!” Dia terisak lalu sekali meloncat dia telah melarikan diri.

“Syanti...! Syanti Dewi...! Jangan tinggalkan aku...!” Tek Hoat meloncat dan mengejar akan tetapi kepalanya terasa makin pening dan dia tersandung, jatuh terguling.

“Syanti, tunggu dulu!” Ouw Yan Hui yang menyaksikan semua itu menjadi bingung, akan tetapi dia lalu mengejar Syanti Dewi.

Syanti Dewi tidak mau berhenti sehingga Ouw Yan Hui terpaksa terus mengejar sambil mengerahkan tenaganya karena muridnya itu telah memiliki ilmu berlari cepat yang hebat dan tidak jauh selisihnya dengan ilmunya sendiri. Suara panggilan dari mulut Tek Hoat sudah tidak terdengar lagi ketika akhirnya dia berhasil menyusul Syanti Dewi.

“Syanti, tunggulah aku ingin bicara denganmu!” kata Ouw Yan Hui.

Syanti Dewi akhirnya berhenti dan mengusap beberapa butir air matanya. Sejenak Ouw Yan Hui berdiri tertegun di depan muridnya itu. Dia adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalaman, dan dia pernah mendengar penuturan Puteri Bhutan ini tentang riwayatnya.

“Syanti, apakah dia itu tadi yang bernama Ang Tek Hoat itu?”

Syanti Dewi masih menunduk, dan dia hanya mengangguk.

“Aih, Syanti, bagaimana engkau ini? Bukankah engkau dulu mencari-carinya? Bukankah engkau menderita karena perpisahanmu dengan dia? Dan sekarang, setelah bertemu, mengapa engkau malah menjauhkan dirimu darinya?”

Diam-diam Ouw Yan Hui harus mengakui bahwa pria yang dicinta oleh muridnya itu adalah seorang pemuda yang tampan dan memiliki kepandaian tinggi, seorang yang patut menjadi jodoh puteri yang cantik jelita ini.

Akan tetapi Syanti Dewi hanya menangis. Syanti Dewi teringat akan nasibnya yang dianggapnya amat buruk. Harapannya yang mulai timbul kembali hancur berantakan. Kehidupannya yang penuh damai di Pulau Ular di sisi gurunya ini dihancurkan oleh kenyataan keji, oleh kebiasaan gurunya yang menjijikkan sehingga membuatnya lari ketakutan. Kemudian, pertemuannya dengan Tek Hoat yang menghidupkan kembali harapan dan cinta kasihnya, dihancurkan oleh kenyataan ketika Tek Hoat memakinya. Kini dia tidak tahu lagi ke mana harus pergi, dan apa yang harus diperbuat!

Melihat ini, Ouw Yan Hui merasa kasihan kepada Syanti Dewi dan dengan lembut tangannya menyentuh pundak Syanti Dewi. Akan tetapi, begitu pundak itu tersentuh, puteri itu tersentak kaget dan meloncat ke belakang, mengelak dan memandang kepada gurunya dengan mata terbelalak, mata yang amat indah, akan tetapi kini terbuka lebar seperti mata seekor kelinci yang ketakutan.

“Tidak...! Tidak... jangan sentuh aku...!”

Melihat sikap muridnya ini, Ouw Yan Hui memandang dengan muka pucat, kemudian dia menjatuhkan diri di atas rumput, menutupi mukanya dan menarik napas panjang berkali-kali. “Ahhh, sekarang aku mengerti mengapa engkau melarikan diri dari pulau... maafkan aku, Syanti, bukan maksudku untuk membuat engkau terkejut dan ketakutan. Maafkan aku... wanita yang kesepian dan sengsara ini...“ Dan Ouw Yan Hui, wanita yang angkuh dan bersikap dingin itu kini menangis tersedu-sedu!

Syanti Dewi tertegun. Sejenak dia berdiri seperti patung memandang kepada gurunya, kemudian timbul rasa iba di hatinya. Betapa pun juga, dia telah berhutang banyak budi kepada gurunya ini, dan harus diakuinya bahwa gurunya ini merupakan sahabat yang amat baik, yang telah banyak melakukan kebaikan kepadanya, banyak menghiburnya, banyak pula mendidiknya, bahkan telah menyelamatkan nyawanya ketika Ouw Yan Hui membawanya lari dari dalam benteng yang terbakar. Akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut di samping gurunya dan memegang lengan gurunya. “Enci... akulah yang harus minta maaf, telah pergi tanpa pamit.”

Ouw Yan Hui menurunkan kedua tangannya dan memandang melalui air matanya yang memenuhi kelopak matanya, dan dia mencoba untuk tersenyum, senyum pahit sekali. “Tidak, Syanti, engkau tidak bersalah. Tentu engkau jijik dan ngeri menyaksikan apa yang waktu itu kulakukan itu bersama bibi Maya Dewi...“ Dia menarik napas panjang dan mengusap air matanya.

“Tapi... kenapa engkau lakukan perbuatan seperti itu, Enci Hui?”

“Ahhh, engkau tentu tidak mengerti, Syanti. Aku adalah wanita yang telah mengalami kehancuran hati karena pria, maka, anehkah kalau aku mencari hiburan antara sesama wanita? Memang aku lemah... ahhh, akan tetapi... sungguh mati aku tak ingin menyeretmu ke dalam kebiasaan buruk itu. Aku sayang kepadamu, Syanti, seperti kepada adik sendiri. Aku merasa terkejut dan berduka sekali saat engkau pergi, aku mencari-carimu untuk minta maaf. Dan siapa yang duga, engkau malah yang tadi telah menyelamatkan aku...”

“Itu semua tidak ada artinya, Enci. Engkau pun pernah menyelamatkan aku, bahkan telah melimpahkan banyak sekali kebaikan.”

“Syanti, kalau engkau memang mencinta pemuda itu, yang kulihat amat baik dan gagah perkasa, mengapa engkau lari meninggalkannya? Kulihat dia masih amat mencintamu, bahkan agaknya menderita karenamu...”

“Tidak! Dia keji, dia menyakitkan hati, biar dia menderita sekarang!” Tiba-tiba Syanti Dewi mengepal tinju dan wajahnya membayangkan kemarahan, biar pun kembali air matanya mengalir keluar. Kemudian dia pun menceritakan semua yang telah dialaminya dengan Tek Hoat, betapa dia dituduh yang bukan-bukan oleh Tek Hoat setelah segala pengorbanan yang dilakukannya demi cintanya kepada pemuda itu.

Ouw Yan Hui mendengar dengan penuh perhatian dan akhirnya dia pun mengangguk angguk. “Ahh, pantas engkau merasa sakit hati. Memang sesungguhnya prialah mahluk berhati lemah, bukan wanita! Prialah yang suka menyeleweng, yang tidak mempunyai keteguhan hati, tidak mempunyai kesetiaan, mudah tergoda oleh kesenangan! Memang sepatutnya kalau engkau memberi pelajaran kepadanya, Syanti. Mari engkau ikut saja bersamaku ke pulau, bersembunyi di sana dan kita hidup bahagia di sana, jauh dari godaan kaum pria yang mata keranjang dan berhati palsu.”

“Terima kasih, Enci. Memang aku senang sekali tinggal di sana, hanya...“

“Harap kau jangan ulangi lagi hal itu. Kasihanilah aku, Syanti. Aku merasa malu dan menyesal sekali telah membuatmu ketakutan. Aku berjanji bahwa engkau tidak akan melihat lagi hal seperti itu terjadi di pulau...“

“Akan tetapi... bibi Maya...“

“Jangan khawatir, dia telah pergi dan tidak akan pernah datang lagi ke pulau.”

Syanti Dewi merasa girang dan hatinya terasa lapang. “Aku girang sekali, Enci, akan tetapi aku hanya... mengganggu kesenanganmu saja...“

“Tidak, kesenangan terkutuk itu memang harus dihentikan. Andai aku menghendaki, aku masih dapat melakukannya di luar pulau, di luar pengetahuanmu. Sudahlah, Syanti Dewi, mari kita pergi menikmati hidup berdua di sana.”

“Terima kasih, Enci. Aku pun berjanji tidak akan meninggalkan pulau lagi sampai… sampai datang... dia yang minta-minta ampun kepadaku.”

“Aku mengerti, dan aku akan membantumu, adikku yang manis.”

Maka pergilah kedua orang wanita itu dengan perjalanan cepat sekali, pulang menuju ke Kim-coa-to (Pulau Ular Emas) dan dikarenakan memang ada rasa sayang di antara keduanya, sebentar saja mereka telah akur dan menjadi akrab kembali. Di sepanjang perjalanan, semua orang, terutama yang pria, tentu memandang mereka dengan sinar mata penuh kagum karena mereka merupakan dua wanita yang luar biasa cantiknya, dengan pakaian yang mewah pula dan Ouw Yan Hui amat royal mengeluarkan uang di sepanjang perjalanan. Seperti dua orang puteri istana saja yang sedang melakukan tamasya tanpa pengawalan…..

********************

Sejauh mata memandang yang nampak hanya pasir dan pasir. Itulah permulaan gurun pasir di luar Tembok Besar. Jarang ada manusia lewat di tempat yang sunyi dan liar ini, kecuali pada waktu-waktu tertentu, di musim tenang karena hanya kalau tidak banyak angin bertiup dan panas matahari tidak begitu menyengat saja maka tempat ini sering dilalui rombongan pedagang yang membawa barang-barang dagangan ke utara, dan pulangnya membawa kulit-kulit binatang yang berharga dan hasil-hasil lain untuk dibawa pulang ke selatan.

Hanya keledai-keledai saja yang kuat menyeberangkan manusia melalui padang pasir, kecuali tentu saja binatang onta. Di musim yang banyak mengandung angin besar, bahkan kadang-kadang angin puyuh, tidak ada orang berani lewat di daerah ini. Padang pasir itu berubah menjadi lautan pasir, bergelombang, membuat orang tak mampu membuka mata, dan kalau angin besar menyerang, terjadilah ‘banjir’ pasir yang kadang kadang menimbun apa saja sampai puluhan kaki tingginya!

Akan tetapi di dataran Chang-pai-san, pasirnya tidak begitu tebal, bahkan di sana-sini. nampak batu-batu menonjol keluar dan ada pula tanah yang berpadas. Daerah ini pun sunyi sekali, akan tetapi pada pagi hari itu nampak dua orang berjalan menyeberangi padang pasir menuju ke Bukit Chang-pai-san yang nampak menjulang tinggi di depan. Melihat ada dua orang berada di tempat sunyi ini saja sudah merupakan suatu kejanggalan, apa lagi kalau melihat mereka, karena mereka itu sama sekali bukan orang-orang yang pantas melakukan perjalanan jauh sampai ke daerah tandus dan sunyi liar ini.

Yang seorang adalah seorang kakek yang sudah tua sekali, sukar ditaksir berapa usianya, tubuhnya bongkok sekali biar pun agak gemuk, jalannya lambat-lambat malas malasan dan kepalanya botak sampai licin mengkilap. Sudah tua renta, punggungnya bongkok pula, masih ditambah lengan kirinya buntung! Sungguh merupakan gambaran seorang tua yang patut dikasihani, yang kelihatan cacat dan lemah, maka amatlah mengherankan melihat seorang tua renta cacat ini melakukan perjalanan di tempat seliar itu. Dan temannya? Juga tidak patut menemani seorang tua renta lemah seperti itu karena orang kedua ini adalah seorang dara yang masih amat muda, cantik jelita dan pakaiannya yang serba hitam itu membuat kulit leher dan tangannya yang nampak menjadi semakin halus dan putih.

Memang merupakan pasangan yang aneh dan juga janggal karena mereka berdua adalah orang-orang lemah nampaknya. Akan tetapi kalau orang mengenal siapa adanya mereka, tentu orang tidak akan merasa heran lagi. Kakek tua renta yang lengan kirinya buntung dan punggungnya bongkok itu bukan lain adalah Go-bi Bu Beng Lojin atau Si Dewa Bongkok, penghuni atau majikan dari Istana Gurun Pasir! Seorang datuk besar dalam dunia persilatan dan namanya dihubungkan dengan dongeng-dongeng aneh karena kakek ini lebih dikenal dalam dongeng dari pada dalam kenyataan yang jarang dijumpai manusia.

Sedangkan dara remaja itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang sudah amat terkenal, baik oleh golongan pendekar mau pun golongan hitam. Dia adalah Kim Hwee Li, yang pernah dikenal sebagai puteri Hek-tiauw Lo-mo majikan Pulau Neraka! Nama dara ini bahkan tidak kalah tenarnya dibandingkan nama Hek-tiauw Lo-mo sendiri.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, dengan gagah berani Hwee Li telah menolong Dewa Bongkok dari bahaya maut ketika kakek yang telah menderita luka parah itu nyaris dibunuh oleh Mauw Siauw Mo-li. Hwee Li sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kakek yang ditolongnya dan yang kemudian menurunkan ilmu-ilmunya yang aneh kepadanya itu sebenarnya adalah kakek gurunya sendiri. Kakek ini adalah guru dari Kao Kok Cu, suami dari subo-nya! Memang selamanya, biar pun pernah datang ke Istana Gurun Pasir, Hwee Li belum pernah bertemu dengan kakek sakti ini.

Setelah menolong kakek itu, Hwee Li lalu diajak ke dataran Chang-pai-san oleh Dewa Bongkok yang ingin menyaksikan pertemuan antara Pendekar Super Sakti dan kelima Ngo-ok yang lihai, juga kakek ini ingin bicara dengan Pendekar Super Sakti tentang putera pendekar itu yang telah menyusahkan hati Hwee Li! Di sepanjang perjalanan itu, Hwee Li menerima ilmu-ilmu yang amat hebat, ilmu baru ciptaan kakek itu yang diberi nama Cui-beng Pat-ciang oleh kakek itu. Sebutan Cui-beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Arwah) ini dipergunakan oleh Dewa Bongkok bukan untuk memberi kesan menyeramkan seperti yang biasa dilakukan oleh tokoh-tokoh dunia hitam, melainkan untuk memperingatkan muridnya bahwa delapan jurus pukulan sakti itu sungguh amat ampuh dan sekali dipergunakan, amat berbahaya bagi lawan yang bagaimana lihai pun sehingga agar muridnya yang baru ini tidak sembarangan mempergunakannya untuk memukul orang, melainkan lebih condong mempergunakan untuk menjaga diri.

Selain menurunkan Pat-ciang ini, juga Bu Beng Lojin menyempurnakan ilmu-ilmu silat yang telah dikuasai dara itu dengan menyuruh Hwee Li berlatih silat dan memberi petunjuk-petunjuk dan perbaikan-perbaikan sehingga dalam ilmu-ilmu ini Hwee Li memperoleh kemajuan amat hebat, menutupi kelemahan-kelemahan dan menambah daya-daya serangan dalam setiap jurus. Dasar anak ini berotak tajam dan Si Dewa Bongkok memberi petunjuk secara langsung, maka dalam waktu beberapa bulan saja dalam perjalanan, Hwee Li telah menguasai semua petunjuk, bahkan telah menguasai pula Cui-beng Pat-ciang dengan baik, tinggal mematangkan saja dalam latihan.

Selain itu, yang amat mengharukan hati Hwee Li dan membuat dara ini menjadi amat menyayang kakek itu ialah, ketika pada suatu malam kakek tua renta ini memindahkan tenaga sinkang dari tubuhnya ke dalam tubuh Hwee Li! Hal ini tentu saja hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sudah memiliki kesaktian setingkat dengan kakek bongkok ini. Dewa Bongkok telah mempergunakan ilmu yang disebut Hoan-khi-khai-hiat (Memindahkan Hawa Sakti Membuka Jalan Darah). Tentu saja perbuatan ini sungguh merugikan dirinya sendiri, mengurangi banyak sekali tenaga saktinya, akan tetapi di lain pihak amat menguntungkan Hwee Li karena dara ini mendapat tambahan tenaga sakti yang berlipat ganda.

Pada pagi hari itu tibalah mereka di tempat yang dituju, yaitu di dataran Chang-pai-san. Dari jauh mereka sudah melihat seorang pria yang bertubuh kurus jangkung, rambutnya putih semua seperti perak, berkibar-kibar tertiup angin, kaki kirinya buntung sebatas paha, berdiri dengan satu kaki ditunjang tongkat bututnya, tak bergerak seperti patung. Biar pun kakek itu hanya berkaki satu dan menimbulkan belas kasihan, namun dalam keadaan berdiri tegak seperti patung itu, terdapat sesuatu yang membuat orang merasa jeri dan kagum.

Saat melihat orang itu dari jauh, Hwee Li merasa bulu tengkuknya meremang dan dia bertanya kepada Dewa Bongkok dalam bisikan, “Lo-cianpwe...” dia tidak menyebut suhu atau kakek kepada Dewa Bongkok meski dia telah menerima ilmu-ilmu itu, melainkan menyebutnya locianpwe, “Siapakah orang di sana itu...?”

Biar mulutnya bertanya, namun batinnya menduga hahwa orang itu, pastilah Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es, ayah dari Kian Lee! Ketika masih kecil, nama Pendekar Super Sakti dari Pulau Es merupakan nama dongeng yang menakutkan baginya, seperti juga bagi semua penghuni Pulau Neraka, bahkan ayahnya sendiri, atau ayah angkat, Hek-tiauw Lo-mo, merasa takut sekali mendengar nama itu. Dan sekarang, orang itu di sana, begitu menyeramkan, tentu saja hatinya menjadi gentar sekali.

Go-bi Bu Beng Lojin adalah seorang tua renta yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, maka melihat sikap Hwee Li yang jeri itu dia pun sudah dapat menduganya. Tentu anak ini merasa gelisah bertemu dengan ayah dari kekasihnya, dan tentu anak ini sudah dapat menduga siapa adanya orang itu karena memang amat mudah mengenal Pendekar Super Sakti, melihat kaki buntung dan rambut putih seperti benang-benang perak itu. Dia sendiri memandang kagum ketika dia melangkah mendekati dan diikuti oleh Hwee Li yang agak ketinggalan oleh karena gadis ini merasa betapa jantungnya berdebar tegang dan kedua kakinya gemetar! Bahkan dia lalu berhenti, membiarkan kakek bongkok itu seorang diri menghampiri kakek berkaki tunggal.

Dari jauh Hwee Li melihat betapa kakek berambut putih itu memutar tubuhnya yang hanya berkaki satu, menghadapi kakek bongkok dan keduanya lalu saling memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, entah apa yang mereka ucapkan karena Hwee Li berada terlalu jauh untuk dapat mendengar kata-kata mereka. Akan tetapi, melihat betapa sikap kedua orang itu amat bersahabat, kelihatan saling beramah-tamah dan saling menghormat, timbul keberanian di dalam hatinya dan dia pun mendekati sampai dapat mendengar percakapan mereka, dia berhenti lagi, merasa sungkan untuk makin mendekat dan dia mendengar kakek bongkok berkata dengan suara halus.

“Pertama-tama, aku telah mendengar bahwa Ngo-ok menantangmu untuk mengadakan pertemuan di sini, Taihiap. Dan aku merasa khawatir karena orang-orang sesat seperti mereka itu dapat melakukan segala macam kecurangan, oleh karena itu aku datang untuk menjadi saksi.”

Pendekar Super Sakti menjura dengan hormat, “Banyak terima kasih atas perhatian Locianpwe, akan tetapi sungguh tidak enak jika sampai menyeret Locianpwe ke dalam urusan pribadi ini, padahal Locianpwe berada dalam keadaan terluka begitu parah. Biarkanlah saya mengobati Locianpwe...“

“Terima kasih, Taihiap, tidak perlu lagi, sudah terlambat. Memang aku tidak akan dapat membantumu menghadapi mereka, namun setidaknya, dengan memandang mukaku, mereka tidak akan berani sembarangan melakukan kecurangan. Dan urusan kedua lebih penting lagi, Taihiap. Aku sengaja menemuimu untuk membicarakan keadaan puteramu yang bernama Suma Kian Lee.”

Pendekar Super Sakti Suma Han nampak terkejut mendengar disebutnya nama Kian Lee. “Ahh, ada apakah dengan dia, Locianpwe?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Sebetulnya tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, juga tidak semestinya kalau aku mencampuri, akan tetapi mengingat pemuda itu adalah puteramu, putera seorang pendekar yang sudah lama amat kukagumi, perlu kiranya aku membicarakannya denganmu, Taihiap. Suma Kian Lee puteramu itu saling mencinta dengan seorang gadis, akan tetapi akhirnya meninggalkan gadis ini setelah mendengar bahwa gadis itu adalah puteri angkat Hek-tiauw Lo-mo dan ternyata anak tunggal dari mendiang Kim Bouw Sin yang telah memberontak...“

“Ah, sungguh terlalu dia, mau saja terpikat oleh seorang perempuan rendah! Ada berita yang sampai kepada saya tentang hal itu, Locianpwe, dan saya pun memang hendak mencari dan menegurnya. Bagaimana pun juga, saya tidak akan membiarkan dia merendahkan diri sedemikian rupa berdekatan dengan anak seorang penjahat keji seperti Hek-tiauw Lo-mo, apa lagi kalau perempuan itu ternyata anak kandung seorang pemberontak seperti Kim Bouw Sin! Tindakannya itu benar kalau dia meninggalkan perempuan itu.” Pendekar Super Sakti bicara penuh perasaan marah dan penasaran.

Dan hal ini tidak aneh karena memang semenjak dia mendengar dari Ngo-ok tentang puteranya yang tergila-gila kepada puteri Hek-tiauw Lo-mo, hatinya sudah penuh dengan kemarahan terhadap puteranya. Maka, begitu mendengar kakek itu menyebut tentang puteranya yang berhubungan cinta dengan gadis itu, kemarahannya berkobar sehingga dia agak lupa diri dan mengeluarkan kata-kata keras.

Si Dewa Bongkok sendiri yang tidak kebagian waktu bicara dan sudah didahului oleh kemarahan Pendekar Super Sakti sampai melongo dan hanya memandang wajah pendekar itu dengan alis berkerut. Sementara itu, ketika mendengar ucapan Pendekar Super Sakti, Hwee Li mendadak menjadi pucat mukanya, dia merasa seolah-olah jantungnya ditusuk pisau berkarat. Dia mengeluh dan membalikkan tubuhnya kemudian melarikan diri sambil merintih panjang.

Tentu saja hal ini tidak terlepas dari penglihatan Suma Han dan juga Dewa Bongkok. Keduanya memandang dan selagi Dewa Bongkok hendak memanggil gadis itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa mengejek, “Seorang pendekar besar tapi tidak mampu mengurus puteranya sendiri, sungguh amat menggelikan!”

Suma Han dan Dewa Bongkok menoleh dan melihat munculnya empat orang di antara Ngo-ok. Yang pertama adalah Ji-ok (Si Jahat Nomor Dua) Kui-bin Nionio, wanita yang mukanya selalu tertutup oleh topeng tengkorak tulen yang mengerikan itu, tubuhnya kecil ramping seperti tubuh seorang gadis muda, dari balik mata tengkorak yang berlubang itu mengintai sepasang mata yang amat menyeramkan, mata yang terbelalak lebar, jernih seperti mata kanak-kanak tetapi tajam bukan main dan selalu bergerak gerak bola matanya, sedangkan rambutnya sudah putih semua. Di sebelah kanannya berjalan Twa-ok (Si Jahat Nomor Satu) Su Lo Ti, kakek tinggi besar yang mukanya seperti gorilla itu, pakaiannya sederhana, gerak-geriknya tenang dan halus.

Di belakang dua orang ini berjalan Su-ok (Si Jahat Nomor Empat) Siauw-siang-cu yang berkepala gundul seperti hwesio, juga jubahnya seperti jubah hwesio, tubuhnya cebol dan wajahnya selalu menyeringai, bersama Ngo-ok (Si Jahat Nomor Lima) Toat-beng Siansu, si jangkung kurus yang jubahnya seperti tosu, juga gelung rambutnya. Hanya Sam-ok (Si Jahat Nomor Tiga) Ban Hwa Sengjin atau Koksu Nepal saja yang tidak nampak. Akan tetapi Pendekar Super Sakti tidak memandang rendah, karena dia dapat menduga bahwa belum tentu kalau hanya empat orang ini saja yang datang, dan kemungkinan besar teman-teman mereka masih bersembunyi. Maka dengan tenang dia lalu menyambut mereka dengan sikap angkuh.

“Im-kan Ngo-ok datang tepat pada waktunya akan tetapi belum lengkap!”

Ucapan Suma Han ini sekaligus memuji dan juga menantang, seolah-olah dia merasa kecewa mengapa musuh-musuhnya tidak datang lengkap!

Twa-ok tertawa halus mendengar ini dan dia pun menjura lalu berkata, suaranya ramah tamah seperti orang yang manis budi bahasanya, “Ah, Pendekar Super Sakti memang gagah perkasa, memenuhi undangan kami. Akan tetapi agaknya keberanian Majikan Pulau Es yang disohorkan orang itu. terlalu berlebihan, karena sekarang dia membawa bawa seorang teman yang tidak kepalang tanggung. Bukankah Locianpwe ini Si Dewa Bongkok, majikan Istana Gurun Pasir?”

Kembali Twa-ok menjura ke arah Dewa Bongkok sambil tersenyum mengejek. Memang orang pertama dari Im-kan Ngo-ok ini pandai sekali berpura-pura, padahal sejak muncul tadi, hatinya sudah gentar bukan main ketika melihat Dewa Bongkok berada di situ bersama Pendekar Super Sakti. Biar pun dia belum pernah bertemu dengan kakek sakti itu, akan tetapi dia dapat menduganya melihat keadaan kakek itu dan mendengar Pendekar Super Sakti tadi menyebut Locianpwe kepadanya. Betapa pun juga, sebagai seorang ahli yang pandai dia pun dapat melihat bahwa kakek sakti yang amat ditakuti orang ini sedang berada dalam keadaan luka hebat sekali, hal yang membuatnya diam diam merasa heran akan tetapi juga girang. Hilang kekhawatirannya karena dia maklum bahwa kakek sakti ini tidak mungkin ikut maju membantu Pendekar Super Sakti.

“Im-kan Ngo-ok, jangan mengukur baju orang dengan bentuk tubuh sendiri!” Dewa Bongkok berkata penuh wibawa. “Aku datang bukan atas ajakan atau undangan Suma taihiap, melainkan secara suka rela karena aku ingin menonton pertemuan ini dan akan menjadi saksi agar jangan ada perbuatan pengecut dan curang dilakukan di sini!”

“Hi-hi-hik, Twako, perlu apa bicara dengan dia? Tidak peduli siapa dia itu, kulihat dia tiada lain hanyalah seorang kakek tua renta yang sudah menderita luka hebat dan hampir mampus, tapi sombongnya bukan main!” tiba-tiba Ji-ok Kui-bin Nionio berkata sambil meludah melalui lubang di antara gigi-gigi tengkorak yang mengerikan itu.

Ji-ok bukanlah seorang perempuan muda yang lancang dan sombong, sama sekali bukan. Dia adalah seorang wanita yang cerdik sekali, dan kalau dia tidak melihat betapa kakek tua renta itu memang sudah terluka parah, tentu saja dia akan bersikap lain dan sama sekali tidak berani main-main seperti itu.

Mendengar ucapan wanita bermuka tengkorak itu, Dewa Bongkok hanya menarik napas panjang karena memang apa yang dikatakan wanita itu bahwa dia terluka parah merupakan kenyataan. Tentu saja kalau dia mau, sekali dia menggerakkan tubuh dan menyerang dengan ilmunya yang hebat, wanita muka tengkorak itu akan dapat ditewaskannya seketika, akan tetapi pengerahan tenaga itu pun akan mencabut nyawa sendiri. Hal ini dia sadari benar, maka dia pun hanya menarik napas panjang.

Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti maklum akan keadaan Dewa Bongkok, maka dia menggerakkan tangannya, berkata dengan suara lantang, “Kita bukan anak anak kecil yang jauh-jauh datang untuk mengadu mulut. Mari, silakan duduk dan bicara sepatutnya!” Dia kemudian duduk bersila dengan sebelah kakinya didahului oleh Dewa Bongkok yang memang perlu banyak beristirahat sambil duduk bersila.

Melihat kedua orang itu sudah duduk berdampingan, empat orang di antara Im-kan Ngo-ok itu lalu mengambil tempat duduk pula, duduk di atas tanah berpasir. Twa-ok dan Su-ok di depan mereka, Ji-ok dan Ngo-ok di kanan kiri. Dewa Bongkok sudah duduk diam, memejamkan mata dan melintangkan lengan tunggalnya di depan dada.

Keadaan menjadi sunyi menegangkan. Keenam orang itu duduk saling berhadapan membentuk lingkaran dan Pendekar Super Sakti menatap wajah empat orang lawan itu satu demi satu. Kemudian terdengarlah suaranya lantang dan suara ini mengandung getaran amat kuat.

“Im-kan Ngo-ok, kalian mengundangku untuk mengadakan pertemuan di tempat ini. Nah, aku sudah datang, kalau ada persoalan lekas kemukakan, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani kalian!”

Diam-diam Dewa Bongkok kagum. Pendekar Super Sakti adalah seorang tokoh yang jauh lebih muda dibandingkan dengan dia, namun pendekar ini telah membuat nama besar sehingga namanya menggetarkan dunia persilatan dan menjadi semacam nama dalam dongeng. Dan ternyata sikap pendekar ini memang amat berwibawa, sungguh pun tadi dia merasa kecewa akan wawasan Pendekar Super Sakti tentang hubungan puteranya dengan seorang gadis. Getaran suara penuh wibawa itu juga mempengaruhi empat orang datuk kaum sesat itu, karena sejenak mereka duduk diam dan tiga orang di antara mereka memandang kepada Twa-ok karena orang tertua atau pertama inilah yang diharapkan untuk menjadi wakil pembicara.

Twa-ok dapat merasakan tuntutan saudara-saudaranya ini, dan dia sendiri pun agak gugup. Menghadapi pendekar yang demikian tenang dan penuh wibawa sikapnya, sungguh mendatangkan kegugupan dan biar pun dia mengerahkan tenaga batinnya untuk menenangkan diri, tetap saja suaranya terdengar agak gemetar ketika dia menjawab, “Kami telah lama mendengar bahwa Majikan Pulau Es adalah seorang datuk yang telah mengundurkan diri dari dunia ramai, selalu tinggal dengan aman tenteram di Pulau Es. Akan tetapi secara tiba-tiba saja Pendekar Super Sakti muncul lagi di dunia kang-ouw. Hal ini amat mengherankan dan membuat kami merasa penasaran.”

Suma Han mengerutkan alisnya yang sudah bercampur dengan uban. “Im-kan Ngo-ok, sesungguhnya bukan berita kosong yang mengabarkan bahwa kami sudah bertahun tahun berada di Pulau Es dan tidak mau lagi mencampuri urusan dunia yang penuh dengan permusuhan. Akan tetapi kami keluar dari Pulau Es bukanlah untuk mencari permusuhan, melainkan untuk mencari kedua orang putera kami. Sebaliknya Im-kan Ngo-ok yang juga terkenal sebagai tokoh-tokoh yang sudah mengundurkan diri dan bertapa, tiba-tiba muncul dan bahkan mengacau dunia dengan perbuatan-perbuatan jahat mereka, bahkan membantu pemberontakan. Andai kata kami mendengar dari Pulau Es, agaknya sudah wajar pula kalau kami lantas sengaja keluar dari sana untuk menghadapi kalian! Sekarang, kulihat pemberontakan telah dipadamkan, dan aku pun tidak mempunyai niat untuk bermusuhan dengan kalian, dan ini bukan berarti bahwa aku takut kepada kalian. Nah, cukuplah, aku harus pergi mencari anak-anakku.”

“Nanti dulu!” Twa-ok membentak dan sekarang orang pertama dari Im-kan Ngo-ok ini sudah mendapatkan kembali keberaniannya. “Pendekar Super Sakti, sudah semenjak dahulu kami ingin sekali berkenalan dengan kelihaianmu, bahkan kami pernah merencanakan untuk mengunjungi Pulau Es, hanya untuk menguji kepandaianmu. Sekarang setelah kita dapat bertemu di sini, dan memang jalan hidup kita selalu bersimpangan, maka kami menantangmu untuk melanjutkan pertempuran antara kita beberapa bulan yang lalu, dan sekali ini kami tidak akan berhenti sebelum satu di antara kita roboh!” Setelah berkata demikian, Twa-ok meloncat bangun diikuti oleh tiga orang temannya. Mereka berempat sudah memasang kuda-kuda dan siap maju menerjang.

Agaknya masa untuk menyukai pertempuran bagi Suma Han sudah lewat. Kalau dulu, tentu dia akan menyambut tantangan ini dengan gembira. Akan tetapi sekarang dia bangkit dengan segan, menarik napas panjang dan merasa malas untuk berkelahi.

“Tanpa alasan kalian menantang orang berkelahi, sungguh kalian ini orang-orang tua sudah kembali seperti kanak-kanak.”

“Ha-ha-ha, Pendekar Siluman, bilang saja terus terang engkau tidak berani, ha-ha-ha!” Siauw-siang-cu atau Su-ok yang pendek cebol itu mentertawakan dengan lagak yang amat mengejek dan dia sudah memasang kuda-kuda dengan berjongkok, siap untuk melancarkan pukulan Katak Buduk yang amat lihai itu.

“Majulah, siapa takut kepada kalian?” kata Suma Han, suaranya sama sekali tidak mengandung kemarahan. Dia tidak mudah terpancing lagi untuk terjerumus ke dalam kemarahan yang hanya akan melemahkannya.

“Siancai...! Sungguh inilah yang kukhawatirkan!” Mendadak terdengar Dewa Bongkok berkata halus. “Im-kan Ngo-ok, kalian semua termasuk datuk-datuk yang sudah memiliki kedudukan dan ilmu kepandaian tinggi, kenapa bersikap seperti tukang-tukang pukul bayaran yang muda saja? Dunia kang-ouw selama puluhan tahun tentu mengetahui hal ini. Kini kalian hendak maju melakukan pengeroyokan, apakah itu dapat dinamakan gagah perkasa? Apakah kalian ingin merendahkan diri sebagai jagoan-jagoan pasar saja?”

“Ha-ha-ha!” Su-ok tertawa. “Kalau kau merasa penasaran, majulah, Dewa Bongkok!”

“Su-te, serahkan Si Bongkok itu kepadaku!” Ji-ok menyambung.

Akan tetapi Twa-ok dengan sikap ramah-tamah dan suara halus menjawab, “Locianpwe agaknya tidak tahu bahwa julukan kami adalah Im-kan Ngo-ok dan kami sudah biasa maju bersama, baik menghadapi seorang lawan atau seratus orang lawan! Jumlah sudah tidak masuk hitungan lagi. Kalau Pendekar Super Sakti maju ditemani orang orang lain, kami pun tidak akan menolak. Nah, Pendekar Super Sakti, apakah engkau berani melawan kami?”

Suma Han berkata kepada Dewa Bongkok, “Harap Locianpwe suka menonton saja di pinggir, saya masih sanggup menghadapi mereka ini.”

Dewa Bongkok menarik napas panjang. Kalau saja dia tidak terluka, tentu akan mudah saja menanggulangi golongan sesat ini. Karena dia sendiri tak mampu berbuat sesuatu, maka dia lalu melangkah ke pinggir dan memandang penuh perhatian karena dia tahu bahwa pertandingan yang akan terjadi ini adalah pertandingan tingkat tinggi yang tentu amat hebat.

Dan memang sesungguhnya demikianlah. Empat orang Im-kan Ngo-ok itu merupakan tokoh-tokoh tingkat atas yang telah memiliki kepandaian sedemikian hebatnya sehingga dalam perkelahian mereka itu tidak lagi mengandalkan ketajaman dan kekuatan senjata. Kaki tangan mereka telah menjadi senjata yang amat ampuh. Hanya orang-orang yang benar-benar sudah mencapai tingkat tinggi saja yang tidak lagi membutuhkan bantuan senjata.

Twa-ok Su Lo Ti berdiri dengan kedua lengan terpentang lebar, dan sikunya ditekuk dan tangannya membentuk cakar-cakar, bagai sikap seekor gorilla yang hendak menyerang. Dan memang kakek bermuka gorilla ini mendasarkan ilmunya kepada gerakan gorilla, hanya bedanya, kalau binatang gorilla atau kera raksasa itu mengandalkan kekuatan otot dan tulang, kakek ini mengisi gerakannya dengan tenaga sinkang yang amat kuatnya, dan bahkan sambaran angin pukulannya saja sudah amat berbahaya bagi lawan, di samping kekebalan kedua tangannya yang mampu menangkis senjata-senjata tajam.

Ji-ok Kui-bin Nionio amat berbahaya dengan ilmunya yang luar biasa, yaitu Kiam-ci (Jari Pedang). Jangan kata tersentuh atau tertusuk oleh jari-jari tangannya, baru terkena hawanya saja sudah dapat melukai lawan. Su-ok Siauw-siang-cu amat hebat dengan ilmu pukulan Katak Buduk yang berbisa, sedangkan Ngo-ok Toat-beng Siansu yang tubuhnya jangkung tidak lumrah manusia itu bersilat dengan jungkir balik, dan memiliki ginkang yang amat tinggi di samping pukulan-pukulan beracun pula. Empat orang itu masing-masing sudah merupakan lawan yang cukup berat, apa lagi kalau mereka maju berbareng.

Namun, Pendekar Super Sakti Suma Han berdiri tegak dengan sebelah kakinya dengan sikap tenang sekali, tangan kanan memegang tongkat bututnya, tangan kiri disilangkan di depan dada, sikapnya menanti gerakan lawan, menanti saat penyerangan lawan. Dan saat yang dinantinya itu pun tibalah.

Cepat bukan main gerakan pertama yang dilakukan oleh Ngo-ok itu. Tubuhnya sudah berjungkir balik dan tiba-tiba sekali ada dua batang kaki yang panjang dan besar, seperti dua buah cangkul menyerang Suma Han, mencangkul ke arah kepala dan dada pendekar itu. Kecepatannya sukar diikuti dengan pandang mata.

“Plak-plak, wuuuttttt!”

Dua batang kaki itu tertangkis oleh tongkat dan cengkeraman tangan Ngo-ok, dari bawah mengarah bawah pusar itu dihindarkan oleh Suma Han dengan meloncat ke kiri. Akan tetapi, dengan gerakan otomatis, dia disambut oleh Twa-ok yang mencengkeram dari kanan kiri, akan tetapi sebelum lawan sempat menangkis, gerakan mencengkeram itu sudah berubah, yang kanan menampar dan yang kiri menotok ke arah lambung. Sungguh merupakan dua serangan yang amat berbahaya dan satu di antaranya saja mengenai sasaran akan cukup merenggut nyawa dari tubuh!

Tetapi, Pendekar Super Sakti tidak menjadi gugup, dia cepat memutar tongkatnya yang berubah menjadi segulung sinar terang, kemudian dia meloncat ke depan sehingga dia terhindar dari serangan itu untuk menghadapi serangan langsung lagi dari Ji-ok.

Terdengar suara bercuitan pada waktu jari-jari tangan yang kecil runcing itu bergerak menyambar, seperti ujung-ujung pedang yang menyerang secara bertubi-tubi. Namun, semua tusukan jari tangannya yang menjadi Kiam-ci ini dapat di tolak oleh kibasan tangan kiri Suma Han. Belum juga jari-jari tangan itu tertangkis, sudah ada hawa dingin sekali, lebih dingin dari pada hawa Kiam-ci, menolak sehingga tangan Ji-ok terpental. Kini Su-ok menyerang dari bawah dengan pukulan Katak Buduk. Suma Han mengenal pukulan beracun, maka dia pun cepat menggunakan kelincahannya untuk meloncat dan menghindar dengan loncatan tinggi.

Kini, empat orang itu mulai menyerang secara bertubi-tubi, kadang-kadang berbareng dan saling membantu dan terjadilah pertandingan yang amat luar biasa. Suma Han yang mengenal kelihaian lawan, kini sudah mempergunakan ilmunya yang membuat dia amat terkenal, yaitu Ilmu Soan-hong-lui-kun, yang membuat tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan yang menyambar-nyambar, ke kanan ke kiri, kadang-kadang melesat jauh ke atas, sukar sekali diikuti dan dengan Soan-hong-lui-kun, maka pendekar ini berhasil menghindarkan diri dari semua serangan lawan. Dia pun membalas dengan tamparan dan tusukan tongkatnya.

Namun empat orang lawannya itu pun mampu membela diri, apa lagi karena mereka saling bantu sehingga kedudukan mereka amat kuat. Agaknya, pengalaman bertempur melawan Suma Han tiga bulan yang lalu membuat mereka berhati-hati dan sudah mengatur siasat untuk menandingi pendekar itu, yaitu dengan jalan saling bantu dan tidak melakukan penyerangan sendiri-sendiri, melainkan dengan teratur sehingga saling terlindung oleh kawan.

Sambil duduk bersila di pinggir, Dewa Bongkok menonton pertandingan itu dengan hati tertarik sekali. Jarang ada kesempatan menyaksikan pertandingan seperti ini, dan dia amat kagum melihat Soan-hong-lui-kun yang hanya didengarnya saja akan tetapi baru sekarang ini dapat dinikmatinya. Dari gerakan-gerakan itu, maklumlah dia bahwa Suma Han telah menemukan suatu ilmu yang hanya mungkin dapat dimainkan secara sempurna oleh orang yang berkaki tunggal. Orang yang berkaki dua jangan harap akan dapat menguasai ilmu itu sebaik seperti yang dimiliki oleh Majikan Pulau Es itu.

Diam-diam dia tersenyum, mengingat bahwa keadaannya hampir sama dengan Suma Han. Ia pun telah menemukan suatu ilmu yang khas untuk orang yang hanya berlengan satu seperti dia atau seperti Kao Kok Cu, muridnya itu, yaitu Ilmu Sin-liong-liok-te dan Sin-hong-ciang-hoat. Orang yang berlengan dua jangan harap akan dapat mainkan ilmu ini sebaik orang yang berlengan satu! Dia menonton dengan kagum dan beberapa kali dia memuji kalau melihat gerakan yang amat indah dari Suma Han ketika pendekar ini menghindarkan diri secara cepat dan tepat sekali menggunakan kelincahan tubuhnya yang dapat melesat ke sana-sini seperti ada per nya itu.

Akan tetapi, setelah menyaksikan mereka itu bertempur sampai seratus jurus, Dewa Bongkok dapat melihat perbedaan antara Ilmu Soan-hong-lui-kun dengan ilmunya, yaitu Sin-liong-ciang-hoat. Ilmu milik Pendekar Super Sakti itu lebih condong sebagai ilmu untuk membela diri atau menghindarkan diri dari serangan lawan, kurang sekali daya serangnya, dan pendekar itu membalas serangan dengan pukulan lain-lain yang tidak sehebat Ilmu Sin-liong-ciang-hoat. Sebaliknya, ilmunya itu lebih banyak menyerang dan lebih kuat daya serangnya dari pada daya tahannya.

Dengan Soan-hong-lui-kun, biar pun Suma Han tidak sampai terancam bahaya, namun sukar pula bagi pendekar itu untuk dapat mengalahkan empat orang lawan yang kini dapat bekerja sama dengan amat baiknya itu. Diam-diam Dewa Bongkok lalu mulai berkemak-kemik, menggunakan Imu Coan-im-jip-bit untuk memberi petunjuk kepada Suma Han seperti yang dilakukannya ketika dia membantu Hwee Li. Dia memberi petunjuk megunakan gerakan-gerakan dari Sin-liong-ciang-hoat untuk lebih memperkuat daya serangan dari pendekar itu.

Diam-diam Suma Han mendengar bisikan-bisikan ini yang memang hanya ditujukan kepadanya. Dia maklum bahwa kakek itu memiliki ilmu yang tinggi, dan dia tidak malu malu untuk menerima petunjuk ini. Dan tiba-tiba dia berhenti meloncat, melainkan menggeser ke dalam, memutar tubuh ke kanan kemudian ke kiri tiga kali dan tahu-tahu dia telah berhadapan langsung dengan Su-ok. Cepat dia memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang.

“Wusssss...!”

Hawa dingin yang tak tertahankan membuat Su-ok terdorong ke belakang dengan muka pucat. Biar pun tiga orang temannya sudah menolongnya dan menyerang dari kanan kiri sehingga pukulan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) itu tidak dapat dilanjutkan karena pendekar itu harus menghindarkan tiga orang penyerangnya, namun hawa pukulan dingin masih menyerangnya dan membuat Su-ok menggigil!

Kembali Suma Han bergerak aneh, kini meloncat ke kiri, kemudian membalik dan tahu tahu dia sudah menyerang dari samping kanan ke arah Twa-ok, dan sekali ini dia menggunakan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang amat panas. Kakek itu terkejut dan mengerahkan kedua tangannya ke depan dengan tenaga sinkang sepenuhnya. Tidak urung dia merasa kedua telapak tangannya seperti dibakar dan untung baginya, pada saat yang amat berbahaya itu tiga orang temannya sudah menerjang lagi sehingga terpaksa Suma Han kembali menghindar dan tidak mendesaknya. Demikianlah, dengan petunjuk-petunjuk dari Dewa Bongkok, Suma Han berhasil menyerang dan beberapa kali mendesak empat orang lawannya, sungguh pun selalu dapat digagalkan oleh kerja sama empat orang itu yang saling membantu.

“Mana Sam-te, mengapa terlambat benar?” Tiba-tiba terdengar Ji-ok berseru nyaring.

“Aku datang... aku datang...!”

Dan bersama dengan suara itu muncullah Sam-ok Ban Hwa Sengjin, koksu atau lebih tepat lagi bekas koksu dari Nepal itu. Setelah kegagalan-kegagalannya, apa lagi setelah tewasnya Pangeran Liong Bian Cu, nama koksu ini tidak terkenal lagi di Nepal, bahkan dia dicurigai dan tidak disuka di kalangan istana Nepal. Dalam keadaan seperti itu, pada saat datang Su-ok menyusulnya dan minta padanya untuk membantu teman-temannya menghadapi Pendekar Super Sakti, Sam-ok ini lalu meninggalkan Nepal tanpa pamit lagi, melepaskan jabatan koksu yang dirasakan makin panas dan tidak enak itu.

Kedatangannya agak terlambat, tetapi belum terlambat benar karena teman-temannya belum ada yang roboh, bahkan kedatangannya tepat sekali di waktu empat orang teman atau saudara segolongannya itu terancam dan mulai terdesak oleh Suma Han yang dibantu oleh Dewa Bongkok yang memberi petunjuk. Begitu datang dan melihat Dewa Bongkok berada di situ, Sam-ok terkejut setengah mati, akan tetapi dia pun lega ketika mendapat kenyataan bahwa kakek sakti ini sudah menderita luka hebat sehingga tidak mungkin ikut bertanding.

Sejenak Sam-ok melihat kedudukan teman-temannya. Dia girang bahwa ternyata empat orang teman itu dapat menandingi Pendekar Super Sakti, maka dia lalu mengeluarkan suara gerengan seperti beruang marah dan tubuhnya lalu berputar-putar seperti gasing! Itulah Ilmu Thian-te-hong-i yang hebat, yang dilakukan dengan tubuh berpusing seperti gasing, dan dari putaran tubuhnya itu kadang-kadang mencuat pukulan seperti kilat cepatnya yang amat kuat menghantam ke arah Pendekar Super Sakti!

Melawan empat orang itu saja keadaannya sudah seimbang, apa lagi kini dibantu oleh orang seperti Ban Hwa Sengjin. Kepandaian Sam-ok ini tidak banyak selisihnya kalau dibandingkan dengan kepandaian Twa-ok atau pun Ji-ok dan masing-masing memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Memang sebenarnya lima orang itu sama sekali tidak mempunyai pertalian persaudaraan, baik kekeluargaan mau pun perguruan, maka ilmu mereka masing-masing jauh berbeda dan memiliki keistimewaan masing-masing. Kalau mereka bergabung, adalah karena watak dan kesukaan mereka sama, dan tingkat mereka itu ditentukan oleh pertandingan yang mereka adakan untuk mengukur tingkat masing-masing. Namun selisihnya tidaklah amat banyak.

Kini Suma Han mulai terdesak lagi, bukan terdesak dalam arti kata terancam. Sama sekali tidak. Dengan Soan-hong-lui-kun, jangankan hanya lima orang itu, biar ditambah lima orang lagi seperti mereka, kiranya tidak akan mudah untuk merobohkan Suma Han yang mempergunakan Soan-hong-lui-kun, yang membuat tubuhnya seperti bersayap dan sukar sekali dipukul itu. Akan tetapi, terdesak di sini berarti bahwa dia tidak sempat lagi untuk membalas serangan lawan, dan harus selalu menghindarkan diri dari semua serangan. Tentu saja pertandingan seperti ini menjadi berat sebelah dan Suma Han terus didesak dan dikejar-kejar oleh lima orang Im-kan Ngo-ok yang lihai-lihai itu.

Dewa Bongkok tak sempat lagi memberi petunjuk saking cepatnya serangan lima orang yang bertubi-tubi datangnya dan dilakukan dengan gaya ilmu silat yang jauh berlainan itu. Kalau saja dia tidak terluka tentu dia dapat membantu, dan bersama dengan Suma Han, dalam waktu singkat tentu dia akan mampu merobohkan lima orang itu. Suma Han di bagian bertahan dan dia di bagian menyerang! Akan tetapi, apa mau dikata, dia tidak mungkin dapat bergerak mengerahkan sinkang karena hal itu akan berarti kematiannya.

Suma Han juga harus mengakui bahwa lima orang Im-kan Ngo-ok ini sungguh-sungguh terlalu berat baginya. Ilmu-ilmu mereka selain tinggi, juga aneh-aneh dan kelimanya mempergunakan ilmu yang berbeda-beda sehingga sukar juga baginya untuk mengenal dasar atau sifat ilmu mereka, dan hal ini membuat dia tak mungkin melakukan serangan balasan. Serangan mereka bertubi-tubi dan berganti-ganti sehingga dia tidak sempat membalas, terpaksa dia harus mengerahkan tenaga menggunakan Soan-hong-lui-kun untuk menghindarkan semua serangan. Namun, tidak mungkin berkelahi hanya dengan mengelak dan menangkis terus-menerus tanpa membalas satu kali pun!

Tiba-tiba Suma Han mengeluarkan suara melengking panjang, diikuti suaranya yang terdengar seolah-olah dari atas langit kemudian berpencar dan bergema di semua penjuru, “Haiii! Aku di sini!” disusul gemanya, “Aku di sini! Aku di sini! Aku di sini! Aku di sini!”

Lima orang Im-kan Ngo-ok mengeluarkan seruan kaget dan mereka bergerak dengan kacau-balau sebab mereka melihat betapa Pendekar Siluman itu telah berubah menjadi lima orang! Lima Pendekar Siluman, semua memegang tongkat, dan masing-masing kini menghadapi seorang Pendekar Siluman!

Seketika keadaan menjadi berbalik sama sekali! Kini mereka berlima tidak lagi dapat bekerja sama karena masing-masing menghadapi seorang lawan yang sama kuatnya! Dan kini Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman itu mulai menyerang! Repotlah lima orang itu dan segera mereka terdesak mundur!

Dewa Bongkok memandang dan mengangguk-angguk kagum. Dia sendiri tidak sampai terpengaruh oleh kekuatan sihir itu, tetapi dia dapat menduga bahwa tentu Pendekar Super Sakti yang dia dengar juga dinamakan Pendekar Siluman karena pandai bermain sihir itu kini telah mempergunakan kekuatan sihirnya sehingga lima orang lawan itu menjadi kacau-balau gerakan mereka, nampak ketakutan dan kini Pendekar Super Sakti yang berbalik menyerang mereka satu demi satu, dan lima orang itu kehilangan kerja sama mereka! Kini Dewa Bongkok tidak merasa ragu lagi bahwa tentu Majikan Pulau Es itu akan keluar sebagai pemenang dalam pertempuran satu lawan lima itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa mengikik, suara ketawa terkekeh-kekeh yang hanya dapat dilakukan oleh seorang nenek tua yang sudah ompong! Muncullah seorang nenek tua renta yang pakaiannya serba hitam. Nenek itu sedemikian tuanya sehingga tubuhnya seperti telah mengerut menjadi kecil! Nenek itu adalah nenek bangsa India, kulitnya pun hitam seperti pakaiannya dan mulutnya berkeriput terkekeh kekeh seperti orang gila.

“Heh-heh-heh, permainan kanak-kanak! Hanya satu orang mana bisa berubah lima?” Nenek itu berkata sambil mengacungkan tongkat hitamnya ke atas.


SELANJUTNYA JODOH RAJAWALI JILID 31


Thanks for reading Jodoh Rajawali Jilid 30 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »