Jodoh Rajawali Jilid 28

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

JODOH RAJAWALI JILID 28
Siang In berkemak-kemik, membentak ke arah gumpalan jenggot, akan tetapi sia-sia. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali, tepukan tangannya menimbulkan suara meledak dan nampak asap mengepul, dia mengerahkan seluruh tenaga sakti dari ilmu sihirnya, namun kesemuanya itu juga tidak dapat membuyarkan sihir Gitananda yang membuat jenggotnya semakin panjang dan hidup memenuhi seluruh tempat itu. Tempat seluas sepuluh meter persegi itu penuh oleh rambut-rambut bergumpal-gumpal dan yang hidup itu, makin lama makin mulur dan ketat memenuhi tempat itu seperti jaring yang siap menangkap mangsa!

“Hiaaaaakkk!” Gitananda berteriak mengejutkan.

“Syeettttt... Syeeettttt...!” Jenggot itu kini bersatu dan seperti seekor ular besar meluncur ke arah Siang In!

Dara ini terkejut sekali, berusaha mengelak akan tetapi ujung jenggot masih menyapu kakinya dan dia terguling! Kini jenggot itu seperti seekor ular merayap hendak menggulungnya dan Siang In sudah merasa ngeri bukan main. Akan tetapi tiba-tiba ada angin keras dan kuat membawa dan menerbangkan tubuh Siang In yang melayang dan gulungan jenggot itu tidak mengenai tubuh Siang In yang sudah turun agak jauh ke sebelah kanan. Jenggot itu terus menyambar dan melibat sebatang pohon yang tumbuh di sebelah kiri Siang In.

“Brolllll!!” Pohon itu terlibat dan tertarik jebol oleh jenggot panjang yang kuat luar biasa itu.

Siang In maklum bahwa tadi dia telah dibantu orang pandai karena kalau tidak, mana mungkin dia tadi dapat membebaskan diri dari jenggotnya itu? Kini, melihat Gitananda sibuk melepaskan jenggotnya dari batang pohon yang tumbang, dia cepat meloncat ke depan dan menyerang kakek itu dengan pukulan-pukulan kedua tangannya. Tentu saja Gitananda menjadi sibuk sekali. Cepat dia menarik jenggotnya menjadi pendek kembali dan melempar tubuh ke belakang, bergulingan dan setelah dia terbebas dari desakan Siang In, tiba-tiba dia melompat dan kini jenggotnya menyambar seperti tongkat!

“Ihhh!” Siang In terkejut dan cepat mengelak, merasa jijik karena ketika jenggot itu lewat di dekat mukanya, dia mencium bau yang apek dan memuakkan.

Akan tetapi jenggot itu sudah datang kembali, maka terpaksa Siang In memperlihatkan kelincahannya dan balas menyerang dengan pukulan dan tendangan. Kembali kedua orang ini bertanding dengan seru. Akan tetapi sekali ini Siang In tak mampu mendesak seperti tadi ketika dia masih memegang pedang payungnya. Kini dia bertangan kosong dan kakek itu dapat mempergunakan jenggotnya yang panjang sebagai senjata! Dan hebatnya, jenggot itu dapat mulur mengkeret sehingga benar-benar merupakan senjata yang amat berbahaya bagi Siang In.

Akan tetapi, beberapa kali ketika nyaris dara itu terkena totokan atau libatan jenggot ada saja kekuatan tersembunyi yang memukul kembali ujung jenggot sehingga Siang In terlolos dari bahaya. Siang In menjadi penasaran. Dia belum kalah dan dia belum membutuhkan bantuan siapa pun juga. Dia harus dapat mengalahkan kakek Nepal ini, akan tetapi bagaimana akalnya? Sukar menyerang kakek ini kalau jenggotnya masih merupakan senjata yang demikian ampuhnya.

Tiba-tiba Siang In mendapatkan akal yang amat berani. Dia mulai menjauhi kakek itu dan tiada hentinya mengejek, “Jenggotmu seperti jenggot kambing!”

Kakek itu menyerangnya dan kembali Siang In meloncat ke belakang.

“Jangan lari kau, bocah setan!” Gitananda membentak nyaring setelah beberapa kali serangannya hanya dielakkan sambil main mundur saja oleh dara itu.

“Jenggotmu bau apek, bau tahi kambing, aku tidak tahan!” Siang In kembali mengejek.

Kembali kakek itu mengejar dan menyerang dengan jenggotnya, akan tetapi karena memang gerakannya kalah lincah dan kalah ringan oleh dara itu, semua serangannya itu gagal. Akhirnya dia mengeluarkan seruan memekik nyaring seperti tadi dan tiba-tiba jenggotnya telah mulur lagi! Jenggot itu mulur panjang dan digunakan untuk menyerang, dan karena jenggot itu panjang sekali, sukar bagi Siang In untuk mengelak lagi. Akan tetapi memang ini yang dikehendaki oleh dara itu, yaitu memancing agar kakek itu memanjangkan lagi jenggotnya.

Ketika melihat jenggot itu menyambar dari kiri ke kanan, Siang In sengaja bersikap lambat, akan tetapi ketika ujung jenggot hendak melibat pinggangnya, dia meloncat ke atas dan ketika ujung jenggot lewat di bawah kakinya, dia mencengkeram dan berhasil menjambak ujung jenggot panjang itu. Tanpa membuang waktu lagi, dia mengerahkan ginkang-nya dan berlari secepatnya membawa ujung jenggot itu, lari mengitari kakek itu.

“Heee...!” Gitananda berteriak.

Akan tetapi dara itu tak peduli, terus saja berlari cepat sekali sehingga jenggot panjang itu mulai melibat tubuh Gitananda sendiri! Kakek itu meronta dan berusaha melepaskan rambut jenggotnya, akan tetapi Siang In berlari makin cepat, malah dia berloncatan dan terus melibatkan jenggot panjang itu ke leher Gitananda, terus membelenggu kedua lengannya sampai kakek itu tidak mampu berkutik. Siang In masih berlari terus, mengerahkan tenaga sinkang-nya untuk menarik sehingga jenggot itu mencekik leher dan ketika dara ini akhirnya melepaskan ujung jenggot, tubuh kakek itu roboh dengan kaku dan lidahnya terjulur keluar, matanya mendelik dan napasnya putus!

“Ihhh!” Melihat keadaan lawannya itu, Siang In bergidik ngeri dan dia lalu melarikan diri, lari neninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Sampai terengah-engah dia lari dan akhirnya dia menjatuhkan diri di atas rumput tebal dalam hutan, dadanya bergelombang dan wajah serta lehernya berpeluh.

Sementara itu, Kian Bu tidak pernah berhenti membayangi Siang In. Setelah melihat pertandingan antara dua orang ahli sihir itu, Kian Bu seperti orang terkena sihir! Tersihir oleh setiap gerak-gerik dara itu. Dia mengintai dan semua tingkah dan gerak-gerik Siang In mempesona, membuatnya kagum, membuatnya senang dan kini melihat dara itu menjatuhkan diri di atas rumput, mengusap keringat dan tiba-tiba kedua mata dara itu basah dan Siang In mulai terisak menangis, Kian Bu makin terpesona! Jantung Kian Bu berdebar tegang dan dia bingung melihat gadis itu menangis tanpa sebab. Mengapa menangis? Bukankah gadis itu keluar sebagai pemenang dalam pertempuran yang seru tadi? Apakah gadis itu terluka? Tidak, dia tidak melihat gadis itu terkena pukulan.

Memang Siang In bukan menangis karena terluka. Dara ini menangis karena hatinya mengkal dan kesal. Pedang payungnya rusak, dia kehilangan benda yang disayangnya, dan memikirkan betapa dia belum juga bertemu dengan orang yang dicarinya, sebaliknya malah bertemu dengan orang-orang lain seperti Ang-siocia dan Gitananda yang hampir saja mencelakainya, dia merasa sedih dan jengkel. Maka menangislah gadis ini, menangis sepuas hatinya untuk mencurahkan semua kekecewaan dan kesedihan hatinya yang bertumpuk selama ini.

Makin dikenang makin sedih dia akan nasib dirinya yang terlunta-lunta seorang diri. Apakah yang menyebabkan dia selalu gagal dan sial? Mencari-cari Kian Bu bertahun tahun belum juga dapat berkesempatan menyampaikan isi hatinya, setelah bertemu bahkan berpisah lagi. Bertemu dengan Syanti Dewi yang ditolongnya juga kemudian gagal melindungi puteri itu. Kemudian melihat Kian Bu demikian mesra dengan Hwee Li, dan bahkan dicari-cari oleh Ang-siocia.

Ahh, apakah sebaiknya dia kembali saja ke Goa Tengkorak di pantai Po-hai, bertapa bersama gurunya yang sudah tua, dan membiarkan dirinya menjadi pertapa sampai tua di dalam goa itu? Teringat akan hal ini, kembali Siang In menangis tersedu-sedu. Dara ini biasanya lincah jenaka, murah senyum dan gembira, dan wataknya itulah yang seolah-olah menutupi semua duka dan kecewa sampai kini sudah bertumpuk dan membanjir keluar melalui air matanya di tempat sunyi itu.

Tiba-tiba terdengar langkah halus disusul suara seseorang yang halus pula, “Nona, mengapa Nona begini berduka?”

Siang In terperanjat seperti mendengar suara setan. Dia sampai terlonjak dari atas rumput di mana dia duduk, cepat memutar tubuh dan memandang dengan muka pucat dan mata basah. Dari balik air matanya dia melihat wajah tampan dikurung rambut putih keperakan itu. Dia mengusap air matanya untuk dapat melihat lebih jelas. Benar! Siluman Kecil yang berdiri di depannya, kini berjongkok dan memandang dengan sinar mata penuh iba kepadanya. Kembali Siang In menggosok kedua matanya seolah-olah dia tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Jangan-jangan dia masih berada dalam pengaruh sihir kakek Nepal tadi, pikirnya dan setelah membuka mata kembali, ternyata memang Suma Kian Bu yang berada di depannya itu!

Melihat wajah yang demikian cantik jelita dekat di depannya, wajah yang agak pucat, rambut indah hitam awut-awutan, air mata masih menuruni kedua pipinya, Kian Bu terpesona dan hatinya tergerak, penuh keharuan. “Nona... mengapa engkau menangis di sini seorang diri? Apakah kau terluka dalam pertempuran tadi? Mengapa kau amat berduka?”

Suara pemuda itu demikian penuh perhatian dan penuh iba sehingga Siang In merasa hatinya tertusuk dan kini dia makin terisak! Dia menutupi muka dengan kedua tangan, pundaknya bergerak-gerak dan air mata mengalir di antara celah-celah jari tangannya. Suara halus yang menghibur itu malah membuatnya terharu dan makin berduka! Bertahun-tahun dia mencari pemuda ini, setelah dia hampir putus asa, tiba-tiba saja pemuda ini muncul di depannya, seperti dalam mimpi, dan menghibur dia seperti menghibur seorang anak kecil yang cengeng sedang menangis!

Melihat Siang In menangis makin sedih, Kian Bu menjadi bingung. “Kenapakah, Nona? Siapa yang menyakiti hatimu...?” tanyanya.

Akan tetapi Siang In tidak mampu menjawab, tersedu-sedu dan ketika dara itu bingung mencari saputangan di kedua sakunya tanpa hasil, tiba-tiba Kian Bu menyodorkan sapu tangannya, saputangan sutera berwarna biru muda. Tanpa berkata apa-apa Kian Bu menyodorkan saputangannya dan tanpa berkata apa-apa pula Siang In menerimanya dengan pundak masih terguncang oleh tangis, kemudian dia mempergunakan sapu tangan itu untuk mengusap air mata dan membersihkan hidungnya! Kian Bu mengikuti semua gerakan ini dengan hati tertarik dan rasa iba makin menebal.

Kini Siang In sudah dapat menguasai dirinya, tangisnya terhenti dan air matanya tidak mengucur lagi, sungguh pun mata dan terutama ujung hidungnya masih merah! Tanpa bicara pula dia menyerahkan kembali saputangan biru yang kini menjadi basah itu. Kian Bu menerimanya dan tanpa berkata apa-apa juga lalu menyimpan saputangan basah itu ke dalam saku bajunya.

“Jadi engkaukah kiranya yang menolongku tadi?” Tiba-tiba Siang In bertanya, biar pun suaranya masih agak serak-serak basah karena habis menangis, namun dia benar benar telah sembuh dari rasa mengkal dan kesalnya, kini memandang kepada Kian Bu dengan sepasang mata yang membuat Kian Bu tidak berani menentang terlalu lama!

Untuk menjawab pertanyaan itu, dia mengangguk. “Mengapa engkau menangis sedih seperti itu tadi?”

Akan tetapi Siang In seperti tidak mendengar pertanyaan itu karena sebaliknya dari menjawab pertanyaan itu, dia malah bertanya, pertanyaan tiba-tiba yang membuat Kian Bu memandang heran, “Sungguh tak pernah kusangka bahwa Siluman Kecil adalah Suma Kian Bu! Apakah engkau Siluman Kecil?”

Kian Bu memandang heran, akan tetapi dia mengangguk.

“Dan engkau Suma Kian Bu?”

Makin heranlah Kian Bu. Dara ini benar-benar aneh bukan main! Begini muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, begini cantik jelita, akan tetapi memiliki kekuatan sihir yang aneh! Juga wataknya begini luar biasa, baru saja menangis begitu sedih, sekarang sudah tidak kelihatan berduka lagi biar pun mata dan hidungnya masih merah. Hidung yang kecil mancung dan tipis itu kemerahan, menambah cantiknya!

“Heiii, bukankah engkau Suma Kian Bu? Apakah bukan? Kenapa diam saja?”

Kian Bu terkejut dan gagap. “Eh... ohhh... benar, Nona. Aku bernama Suma Kian Bu. Kenapa Nona bertanya lagi? Apakah kakakku tidak menceritakan kepadamu?”

Siang In hanya mengangguk dan semenjak tadi sepasang matanya tidak pernah meninggalkan wajah Kian Bu, memandang penuh selidik. Sudah bertahun-tahun dia ingin bertemu dengan orang ini, ingin bicara, mencurahkan semua isi hatinya, dan kini setelah berhadapan, timbul rasa takut yang amat besar di dalam hatinya, takut kepada diri sendiri! Bagaimana kalau dugaannya selama ini benar, bahwa... bahwa dia jatuh cinta kepada pendekar ini? Berubahnya keadaan Kian Bu, rambutnya yang menjadi putih semua, tidak mengubah perasaan hatinya, bahkan timbul semacam rasa iba yang besar, yang mengharukan hati Siang In. Akan tetapi, dia teringat akan hubungan Kian Bu dengan Hwee Li, kemesraan dan keakraban mereka, maka jantungnya berdebar penuh ketegangan.

“Mengapa Nona tadi menangis di sini setelah berhasil mengalahkan pendeta Nepal itu, jika aku boleh mengetahui?” kembali Kian Bu bertanya, agak mendesak karena hatinya masih merasa penasaran.

“Tadi aku menangis karena duka dan jengkel,” jawab Siang In tak acuh.

“Ahhh! Kusangka engkau sakit...,“ berkata Kian Bu, membayangkan keinginan hatinya bahwa dia ingin tahu mengapa nona itu berduka dan jengkel.

Siang In bangkit berdiri, mengebutkan pakaiannya yang agak kotor karena pertempuran tadi, lalu otomatis kedua tangannya diangkat ke atas untuk membereskan rambutnya yang awut-awutan. Gerakan ini adalah ciri khas wanita, gerakan yang manis sekali karena ketika kedua lengan diangkat itu, tubuh yang ramping dan padat itu makin menonjol dan kedua lengan itu membentuk lengkung-lengkung indah, jari-jari tangan yang lentik itu pun seperti menari-nari di antara rambut yang hitam halus dan panjang.

Kembali Kian Bu memandang terpesona. Biasanya, tidak pernah dia memperhatikan wanita, akan tetapi entah mengapa, kini dia memperhatikan setiap gerakan dara ini, seolah-olah setiap gerakan yang betapa kecil pun amat berarti baginya.

“Akan tetapi sekarang aku tidak berduka atau jengkel lagi, dan aku sama sekali tidak sakit. Lihat, aku sudah tidak menangis lagi!” Dan dara itu tersenyum manis.

Melihat bibir itu merekah kemerahan, memperlihatkan kilatan gigi berderet rapi yang nampak sekilas, Kian Bu melongo dan tanpa disengaja atau disadarinya lagi pemuda ini menelan ludahnya.

Bukan main dara ini, bukan main anehnya dan manisnya! Baru saja menangis demikian sedihnya, kini sudah tersenyum secerah itu. Seperti hari hujan lebat tiba-tiba menjadi terang dan matahari bersinar amat cerahnya.

“Ehhh, Kian Bu, di mana itu temanmu yang cantik?” tiba-tiba saja dara itu bertanya, sampai pemuda itu terkejut dibuatnya.

“Teman cantik? Siapa?” kata Kian Bu.

“Aih, masih pura-pura lagi! Siapa pula kalau bukan Hwee Li yang cantik itu? Bukankah dia itu sahabat baikmu dan bukankah engkau sudah mengejarnya ketika mendengar dia dilarikan oleh Pangeran Liong Bian Cu? Apakah engkau tidak berhasil menolongnya?”

Kian Bu menarik napas panjang, wajahnya membayangkan kekhawatiran. Itulah yang menjadi pengganjal hatinya sejak dia mencari kakaknya. Dia tahu bahwa Kian Lee mengejar Pangeran Nepal untuk menolong Hwee Li, akan tetapi sampai kini dia tidak berhasil menemukan mereka dan dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Hwee Li yang dilarikan Pangeran Nepal. Melihat pemuda itu menarik napas panjang dan wajahnya muram, Siang In tersenyum mengejek untuk menutupi perasaan hatinya yang panas oleh cemburu!

“Engkau tentu mencinta sekali kepada Hwee Li, bukan? Dan engkau khawatir akan keselamatannya?”

Mendengar ini, Kian Bu lalu teringat betapa dara ini amat membenci Hwee Li, atau sebaliknya Hwee Li membenci dara ini karena cemburu, maka mendengar ucapan itu dia cepat menjawab, “Harap Nona jangan salah mengerti. Hwee Li adalah seorang sahabat baikku, tentu saja aku merasa khawatir mendengar dia dilarikan Pangeran Nepal. Akan tetapi tidak ada perasaan saling cinta antara kami seperti yang Nona sangka itu.”

Jawaban ini benar-benar menyenangkan hati Siang In dan senyumnya makin cerah, lalu dia berkata, “Ahhh, kalau begitu aku telah berdosa terhadap Hwee Li! Kiranya dia seorang yang setia terhadap cintanya. Kian Bu, aku sudah salah sangka sehingga aku merasa kasihan kepada Kian Lee dan membenci Hwee Li.”

“Mengapa begitu, Nona?”

“Ih, engkau ini menjemukan! Nona-nonaan segala macam, seperti kita ini belum pernah berkenalan saja!”

Kian Bu menahan senyumnya. Memang dara ini luar biasa sekali, tiada keduanya di dunia ini. Begitu lucu! Padahal, memang dia belum pernah berkenalan dengan dara ini, mengapa sikap dara ini demikian polos terbuka? Akan tetapi, dia tidak mau membikin hati gadis itu tidak senang, maka katanya lagi, “Mengapa tadinya engkau merasa kasihan kepada Lee-ko dan membenci... Enci Hwee Li?”

“Karena kusangka engkau dan Hwee Li sudah saling jatuh cinta!”

Berdebar rasa jantung Kian Bu. “Andai kata benar begitu, mengapa?” Dia mendesak, menatap wajah yang ayu itu penuh perhatian dan penuh selidik.

Siang In juga memandang. Dua pasang mata bertemu, akan tetapi Siang In kemudian membuang muka. “Mengapa? Tentu saja aku kasihan kepada Kian Lee karena cintanya terhadap Hwee Li menjadi sia-sia, dan aku membenci Hwee Li karena berarti dia gadis tidak setia. Akan tetapi syukur, engkau dan dia tidak saling mencinta!”

Ucapan ini membuat jantung Kian Bu makin berdebar girang. “Kalau begitu... kalau begitu... kami, aku dan Hwee Li juga salah sangka! Kami mengira bahwa antara engkau dan Lee-ko...“

“Ya, ada apa? Bicara mengapa gagap-gugup begitu? Beginikah Pendekar Siluman Kecil yang terkenal itu? Bicara saja takut!”

“Kami berdua tadinya mengira bahwa kalian sudah saling cinta. Ahhh, kiranya tidak, sungguh gembira hatiku!” Kian Bu berkata, wajahnya berseri-seri.

Kini Siang In yang memandang penuh selidik, demikian tajam sinar kedua matanya yang jeli dan mempunyai kekuatan sihir itu sehingga Kian Bu teringat akan sinar mata ayahnya.

“Kenapa begitu? Kenapa kau gembira? Kenapa hatimu gembira mendengar bahwa aku dan Kian Lee tidak saling mencinta?”

Kian Bu terkejut. Tentu saja dia tidak berani mengatakan bahwa dia girang karena dengan demikian berarti bahwa hati Siang In masih ‘bebas’, maka dia cepat berkata, “Sama dengan alasanmu tadi. Aku gembira karena hubungan cinta kasih antara Kian Lee koko dan Enci Hwee Li tidak menjadi putus.”

“Hemmm, kukira...” Siang In menundukkan mukanya, tangannya memetik ujung rumput dan jari-jari tangannya mempermainkan rumput itu.

“Kau kira apa, Nona?”

Sepasang mata itu mengerling tajam penuh tuntutan, Kian Bu terperanjat karena ingat bahwa kembali dia memanggil nona. Akan tetapi dia merasa sungkan untuk menyebut nama gadis itu.

“Ehhh, kau kira apa?” Kian Bu mengulang, tanpa menyebut nama apa pun di belakang pertanyaan itu.

Siang In tersenyum. “Tidak apa-apa...”

Keduanya terdiam. Siang In masih menunduk dan kini melangkah lambat ke arah sebatang pohon, lalu bersandar ke pohon itu, matanya dipejamkan. Kian Bu juga melangkah mengikutinya, akan tetapi pemuda ini tidak tahu lagi harus berkata apa. Berada di dekat dara ini dia merasa canggung, bingung, akan tetapi juga gembira dan senang sekali. Seolah-olah dia baru mengenal dara ini, akan tetapi juga hatinya was was karena dia takut kalau-kalau tidak menyenangkan hati dara yang lucu dan aneh ini.

Hening keadaan di situ. Kian Bu memandang wajah yang bersandar batang pohon dengan mata terpejam. Wajah yang cantik molek. Kulit pipinya halus kemerahan, hidungnya kecil lucu, dan dia seolah-olah dapat merasakan napas hangat yang keluar dari hidung dan bibir yang setengah terbuka itu. Tiba-tiba Siang In membuka matanya dan Kian Bu yang sedang bengong memandang wajahnya itu gelagapan, cepat menundukkan mukanya, pura-pura menendang-nendang batu kecil dengan sepatunya.

Dia merasa heran mengapa dia menjadi begini kikuk di depan dara ini, padahal dia bukan anak kecil lagi. Sama sekali bukan. Bahkan dia sudah pernah berhubungan erat dengan wanita, dalam arti sedalam-dalamnya, yaitu ketika untuk beberapa lamanya dia tenggelam dalam peluk rayu Siluman Kucing. Dia sudah cukup dewasa, akan tetapi mengapa berhadapan dengan dara ini dia merasa seperti seorang anak kecil?

“Tak kusangka sama sekali bahwa Siluman Kecil adalah Suma Kian Bu,” terdengar dara itu berkata dan Kian Bu cepat mengangkat muka memandang. “Kalau aku tahu, tentu sudah dulu-dulu aku dapat menjumpaimu.”

“Sekarang kita sudah saling jumpa,” kata Kian Bu, mencoba untuk tersenyum dan membesarkan hatinya mengusir rasa canggung.

Dara itu rnenarik napas panjang. “Kian Bu, tahukah engkau betapa sudah bertahun tahun lamanya aku menginginkan pertemuan ini? Betapa aku mencari-carimu sampai bertahun-tahun, sampai aku pergi ke Bhutan dan menjelajahi seluruh negeri, mencari-carimu?”

Tentu saja hati Kian Bu merasa heran bukan main mendengar pengakuan ini. Biar pun dia amat tertarik kepada dara ini, begitu bertemu, yaitu ketika dara ini berkelahi dengan Hwee Li secara mati-matian, dia sudah tertarik sekali kepada dara ini. Memang dia tidak pernah dapat melupakan Teng Siang In, dara yang ketika beberapa tahun yang lalu sudah nampak cantik jelita dan lincah jenaka, apa lagi karena dia pernah mencium dara ini. Mana mungkin dia dapat melupakan Siang In?

Akan tetapi, dia harus mengaku terus terang bahwa selama ini dia tidak pernah lagi memikirkan Siang In, dan peristiwa yang lalu itu dianggapnya sudah lewat begitu saja, sampai pada saat dia bertemu kembali dengan Siang In ketika Siang In bertanding melawan Hwee Li. Barulah perhatiannya tertarik dan pengalaman-pengalaman yang lalu bersama Siang In teringat olehnya, membuat dia merasa canggung sekali. Akan tetapi kini mendengar betapa dara itu mencarinya selama bertahun-tahun jauh ke Bhutan, dia benar-benar merasa terkejut dan heran sekali.

“Engkau? Mencariku selama bertahun-tahun? Sungguh nengherankan sekali! Siang In, ada urusan apakah engkau mencari-cariku?” Setelah bercakap-cakap agak lama, mulai berkurang rasa canggung yang menghimpit hati Kian Bu, sungguh pun dia masih seperti terpesona oleh segala gerak-gerik dara ini.

Dara ini adalah seorang kenalan lama, akan tetapi seperti seorang sahabat baru saja bagi Kian Bu. Dulu, di waktu dia berjumpa dan berkenalan dengan Siang In, dara ini masih merupakan seorang dara remaja, akan tetapi sekarang Siang In telah dewasa, sungguh pun masih belum kehilangan kelincahannya, kegalakannya dan keanehan wataknya. Dulu, dara ini suka sekali menggoda orang, mengejek dan menirukan gerak gerik orang.

Mendengar pertanyaan Kian Bu itu tiba-tiba saja sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar marah. “Engkau sudah lupa ataukah engkau pura-pura lupa akan perbuatanmu yang biadab beberapa tahun yang lalu, yang kau lakukan kepadaku?”

Seketika wajah Kian Bu rnenjadi merah sekali dan kembali dia menjadi gelisah, gugup dan canggung! Jantungnya berdebar tegang dan tentu saja dia tahu persis apa yang dimaksudkan oleh dara itu! Ah, celaka sekali. Kiranya ciumannya dahulu itu menggores perasaan dara ini dan agaknya hal itu dijadikan dendam yang hebat oleh Siang In!

Dengan muka masih merah sekali dan pandang mata hampir tidak berani bertemu dengan sinar mata dara itu, Kian Bu berkata, kepalanya menunduk, suaranya terdengar penuh penyesalan besar, “Aihhh... itukah maksudmu? Memang... aku menyesal sekali, aku mohon maaf sebesarnya atas kelancangan dan kekurang ajaranku itu, Siang In, akan tetapi, hal itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, pada saat kita masih... ehhh, sama-sama belum dewasa benar. Aku sungguh-sungguh menyesal dan harap kau suka memafkanku...“

“Maafkan, setelah selama bertahun-tahun aku tak pernah dapat melupakan penghinaan itu! Maafkan begitu saja? Aih, terlalu enak di situ dan celaka di sini kalau begitu! Susah payah aku mencarimu bertahun-tahun, setelah sekarang dapat saling jumpa, hanya cukup dengan maaf-memaafkan begitu saja?”

Kian Bu menarik napas panjang, hatinya merasa menyesal dan berduka sekali. Siapa duga, kenakalannya di waktu remaja itu agaknya kini akan mempunyai akibat yang hebat pula! Dara yang menarik hatinya ini, yang benar-benar membangkitkan rasa kagum dan suka di hatinya, ternyata mengandung dendam hebat kepadanya dan bahkan tidak bersedia memaafkan! Memang hidupnya selalu dirundung malang dan agaknya memang dia harus selalu menderita dalam asmara.

Pertama-tama dia merasakan hati kiamat untuk pertama kalinya ketika cinta kasihnya terhadap Puteri Syanti Dewi tidak terbalas karena Puteri Bhutan itu mencinta Tek Hoat. Kemudian dia terbenam ke dalam pelukan seorang wanita seperti Mauw Siauw Mo-li, Siluman Kucing, yang sama sekali hanya mendasarkan hubungan antara mereka karena nafsu birahi semata sehingga dia terseret ke dalam gelombang nafsu birahi yang menghanyutkan. Hal itu pun mendatangkan penyesalan yang amat hebat di dalam hatinya. Setelah itu, dia harus pula melihat kehancuran hati seorang dara yang amat baik, yaitu Phang Cui Lan, karena dia tidak dapat memaksa diri membalas cinta dara yang bijaksana itu. Dan masih ada lagi Ang-siocia yang dia lihat ada gejala jatuh cinta kepadanya pula, dan juga dia tidak mungkin dapat membalas cinta murid Raja Maling itu.

Kini, setelah dia tertarik secara hebat kepada Siang In, dara yang di waktu remajanya memang pernah menarik hatinya tetapi karena ketika itu Siang In masih merupakan seorang dara remaja, maka hal itu tidak berkesan mendalam di hatinya, setelah kini dia merasa suka sekali, mungkin jatuh cinta kepada Siang In, dara ini malah menyimpan dendam sakit hati kepadanya karena kenakalannya dahulu, yaitu mencium dara ini, ciuman yang sesungguhnya ketika itu tidak berkesan amat mendalam di hatinya, akan tetapi yang sekarang, setelah timbul rasa kagumnya terhadap Siang In, agaknya menjadi hidup kembali dan mendatangkan kesan yang amat mendalam.

“Aku sudah salah... aku sudah berdosa besar, terserah kepadamu, hendak memberi hukuman apa kepadaku kalau engkau tidak dapat memaafkan aku, Siang In,” katanya dengan nada sedih dan muka tunduk sehingga dia tidak melihat betapa sinar mata yang tadinya keras dari dara itu kini melembut, bahkan nampak dara itu seperti terharu.

“Selama bertahun-tahun ini aku mencarimu untuk... untuk membunuhmu!”

Tersentak Kian Bu mengangkat mukanya dan terbelalak. “Membunuhku...? Hanya untuk kesalahan men... eh, menciummu itu...? Siang In, engkau agak terlalu keras! Memang aku bersalah dan aku menyesal, aku minta maaf, tetapi engkau hendak membunuhku? Ini sih... keterlaluan...“ Wajah pemuda itu berubah agak pucat karena dia merasa penasaran.

“Memang tadinya aku ingin membunuhmu, sungguh pun aku tahu bahwa tidak mungkin aku akan dapat melakukannya. Kepandaianmu jauh lebih tinggi dari pada semua ilmu yang kumiliki, bahkan guruku sendiri sekali pun takkan mampu menandingimu. Biar pun begitu, aku tetap akan berusaha membunuhmu karena apa yang kau lakukan itu hanya dapat dicuci dengan melayangnya nyawamu atau nyawaku.”

Kian Bu terkejut bukan main, wajahnya menjadi pucat. “Ahhh, Siang In, mengapa pikiranmu demikian sempit? Urusan yang telah lalu itu terjadi ketika kita masih remaja dan aku... aku masih belum dewasa. Mengapa kau jadikan soal yang demikian hebat? Tidak bisakah engkau memaafkan aku?”

Dara itu menyandarkan punggungnya di atas batang pohon dan sejenak dia menatap wajah Kian Bu penuh perhatian, lalu dia menarik napas. “Memang aku sudah meragu, dan agaknya hanya ada dua pilihan bagiku, membunuhmu atau memaafkanmu. Akan tetapi untuk itu, aku harus yakin dulu dan inilah yang membuat aku selama bertahun tahun ini ragu-ragu dan selama hidupku akan selalu meragu kalau tidak ada keyakinan sekarang juga selagi kita bertemu. Hee, Kian Bu! Benar-benarkah engkau menyesali perbuatanmu dahulu itu? Benarkah engkau menyesal dan minta maaf bahwa engkau dahulu pernah menciumku?”

Timbul harapan di dalam hati Kian Bu. Tadinya dia sudah khawatir setengah mati. Dara seaneh Siang In ini mungkin saja melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya, kalau tidak berhasil membunuhnya mungkin saja akan membunuh diri untuk ‘mencuci aib’ dan kalau sampai terjadi demikian, tentu selama hidupnya dia akan merana dan merasa berdosa. Dan dia... dia malah mulai tertarik dan mencinta dara ini! Maka, mendengar pertanyaan itu, tanpa ragu-ragu lagi Kian Bu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Siang In!

“Siang In, demi Langit dan Bumi, aku sungguh merasa menyesal dengan perbuatanku beberapa tahun yang lalu itu, dan aku mohon maaf kepadamu atas perbuatanku itu,” katanya dengan wajah sungguh-sungguh karena memang dia rela minta maaf seperti itu dari pada harus melihat dara itu mati di tangannya atau mati membunuh diri!

Dia menundukkan mukanya sehingga tidak melihat betapa perbuatannya itu membuat wajah yang cantik itu sejenak berseri dan matanya bercahaya! Akan tetapi hanya sebentar saja karena sambil bersandar kepada batang pohon itu, Siang In berkata dengan suara seperti orang yang sama sekali tidak tertarik atau bahkan kesal melihat sikap Kian Bu yang berlutut kepadanya mohon maaf itu!

“Tidak begitu mudah untuk memaafkan dan menghabiskan persoalan itu begitu saja! Aku harus yakin dulu dan untuk membuktikan penyesalanmu, engkau harus dapat memenuhi permintaanku.” Suaranya terdengar keras dan tenang, akan tetapi suara itu agak gemetar, tanda bahwa di balik ketenangannya, dara itu hendak menyembunyikan perasaan tegangnya.

Mendengar ini, Kian Bu meloncat berdiri, timbul harapannya. “Baik, aku akan memenuhi semua permintaanmu, Siang In! Katakanlah, apa yang harus kulakukan?” Kian Bu maklum sepenuhnya bahwa kesanggupan seperti itu merupakan kebodohan, akan tetapi kesanggupannya itu tidaklah ngawur, karena berdasarkan keyakinan hatinya bahwa seorang gadis gagah perkasa seperti Siang In, yang sudah bersahabat erat dengan kakaknya, tentulah merupakan seorang gadis yang berjiwa luhur dan tidak akan minta dia melakukan suatu kejahatan.

Dengan sikap ditenang-tenangkan, namun matanya sayu dan suaranya gemetar, juga tangan yang menunjuk ke mukanya sendiri itu menggigil, berkatalah Siang In, “Kian Bu... kau... kau harus mencium bibirku seperti dulu!”

Wajah Kian Bu menjadi pucat dan matanya memandang terbelalak kepada wajah dara itu, tangan kanan mengusap dagu penuh keheranan. Hampir dia tidak percaya akan apa yang didengarnya keluar dari mulut gadis itu. Minta dicium bibirnya? Bagaimana pula ini? Sedangkan ciumannya beberapa tahun yang lalu itu saja membuat dara ini menjadi sakit hati dan menaruh dendam sampai bertahun-tahun mencarinya untuk membunuhnya. Bagaimana sekarang dara itu minta dicium lagi? Gilakah dara cantik jelita ini? Atau... jangan-jangan dara ini telah tersesat sedemikian jauhnya, menjadi wanita cabul semacam Mauw Siauw Moli? Celaka!

Akan tetapi, dara itu kelihatan wajar saja, sepasang matanya bahkan kelihatan betapa dara itu menahan kengerian, senyumnya hilang dan tubuhnya menggigil, tanda bahwa apa yang dimintanya merupakan hal yang sama sekali asing baginya dan dia merasa ngeri dan takut. Akan tetapi, kalau dara ini tidak gila dan bukan seorang wanita yang cabul, mengapa mengajukan permintaan seperti itu?

“Siang In...“ Kian Bu mendengar suaranya sendiri dengan perasaan heran karena suaranya itu menjadi bisik-bisik dan agak parau penuh perasaan tegang, “... apa artinya ini...?”

Suara Siang In sekarang juga berbisik-bisik dan parau, jelas suara itu menggetar penuh ketegangan, suara yang dipaksakan keluar karena sesungguhnya, saking tegangnya dara itu sudah merasa amat sukar untuk bicara, “Hanya... ini sajalah... yang dapat menentukan... apakah aku akan membunuhmu atau memaafkanmu...“

Setelah berkata demikian, sambil menyandarkan tubuhnya di batang pohon itu, Siang In memejamkan matanya, agaknya tidak kuat lagi dia menatap wajah Kian Bu dengan sinar mata penuh selidik, penuh pertanyaan, dan penuh keheranan itu.

Kian Bu mengerutkan alisnya, otaknya bekerja cepat. Akhirnya dia tak dapat berbuat lain kecuali menuruti permintaan gila itu. Dia masih belum tahu mengapa dara ini mendasarkan pilihannya kepada ciuman! Akan tetapi karena dia sudah menyatakan sanggup untuk melakukan apa saja yang diminta Siang In, maka tidak mungkin dia menarik kembali janjinya.

Dia sudah matang memperoleh ‘pendidikan’ Siluman Kucing sehingga mencium bukan merupakan hal yang terlalu aneh baginya. Akan tetapi, sekali ini, Kian Bu menggigil, tubuhnya terasa panas dingin dan kepalanya terasa puyeng! Dia merasa seperti terkena sihir yang amat kuat, maka cepat dia mengerahkan tenaga sinkang-nya untuk mengusir perasaan itu. Namun, dia tidak tersihir, tenaga sinkang-nya tidak berhasil mengusir sesuatu karena memang ketegangannya itu sudah sewajarnya, datang dari dalam.

Amat berat rasanya melaksanakan tugas ini! Dia tertarik kepada Siang In, bahkan dia merasa jatuh cinta. Tentu saja, untuk mencium dara ini merupakan hal yang amat menyenangkan, jangankan satu kali, biar disuruh menciumnya seribu kali pun dia sanggup. Akan tetapi bukan dalam keadaan seperti ini! Bukan ciuman untuk percobaan atau untuk ujian belaka! Dan dia masih belum juga mengerti mengapa dara yang mendendam sakit hati karena pernah diciumnya lagi untuk meyakinkan hatinya apakah dia akan membunuh atau memaafkan! Sungguh tak masuk akal dan gila! Namun, tidak ada pilihan lain bagi Kian Bu.

Kian Bu melangkah maju, lalu diraihnya kedua pundak dara itu, ditariknya mendekat. Merasa betapa kedua pundaknya disentuh, Siang In makin keras memejamkan matanya, kedua kakinya menggigil dan napasnya terengah-engah, jelas bahwa dara itu merasa tegang bukan main. Wajahnya ditengadahkan, mulutnya agak terbuka karena napasnya tersengal-sengal.

Melihat wajah yang demikian cantiknya, mulut yang demikian menggairahkan, dan kedua pundak yang lembut di bawah telapak tangannya, jantung Kian Bu berdebar. Biar apa pun yang akan terjadi, biar akibatnya dia akan dibunuh atau dimaafkan, dia harus mencurahkan segenap perasaannya sekarang juga. Gadis ini minta dicium, baik, dia akan menciumnya dengan sepenuh perasaan hatinya, sepenuh kemesraannya, akan dicurahkan rasa birahi dan kasih sayangnya dalam ciuman itu!

Didekapnya tubuh itu, dirangkulnya sampai tubuh bagian depan mereka bertemu ketat, kemudian Kian Bu mendekatkan mukanya dan perlahan-lahan diciumnya sepasang bibir yang setengah terbuka itu, diciumnya dengan penuh perasaan dan sepenuh kemesraan yang terkandung di dalam hatinya terhadap Siang In. Seketika naik sedu sedan dari dalam dada Siang In dan kerongkongannya mengeluarkan suara keluhan, akan tetapi kedua tangan dara itu tiba-tiba merangkul leher Kian Bu dan bibirnya membalas ciuman itu. Keduanya seperti tenggelam bersama ke dalam ciuman itu, merasa seolah-olah hati mereka saling bertemu, bertaut dan bersatu.

“Siang In...!” Seluruh lahir batin Kian Bu mengeluh dan memanggil nama ini, ciumannya makin mesra, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu terkejut sekali karena kalau tadinya Siang In merangkulnya dan membalas ciumannya penuh gairah, kini tiba-tiba dara itu menjadi lemas dalam pelukannya. Ketika dia melepaskan ciumannya untuk memandang wajah itu, terdengar dari mulut dara itu keluhan lirih dan wajahnya pucat sekali, matanya terpejam dan tubuhnya lunglai. Melihat bahwa dara itu telah pingsan, Kian Bu terkejut setengah mati!

“Siang In...!” Kini mulutnya yang memanggil nama ini untuk membangunkannya, akan tetapi dara itu tetap pingsan, seperti orang tidur pulas, dan detak jantungnya lemah sekali.

Kian Bu cepat memeriksa pukulan nadi dan detakan jantung, dan dia menjadi gelisah ketika melihat bahwa keadaan tubuh dara itu lemah sekali. Cepat dipondongnya tubuh itu, lalu direbahkannya di atas rumput hijau dan dengan penuh kekhawatiran, dia lalu menempelkan telapak tangannya di atas perut, dekat ulu hati dan disalurkannya tenaga yang hangat untuk membantu bekerjanya perjalanan darah dan pernapasan gadis itu yang amat lemah!

“Siang In... ahhh, Siang In..., maafkan aku... maafkan aku...!” Kian Bu meratap penuh kekhawatiran dan sekarang dia yakin benar bahwa dia jatuh cinta kepada gadis ini, bukan hanya baru sekarang, bahkan mungkin semenjak mereka bertemu beberapa tahun dahulu, ketika mereka masih sama remaja, dalam sebuah hutan.

Dia sungguh merasa bingung dan heran terhadap dara ini, apa lagi ketika dia melihat bahwa Siang In memegang sebuah pisau yang amat tajam runcing, pisau kecil yang tadi tentu dipegangnya dan kalau dara itu menghendaki, ketika mereka berpelukan dan berciuman tadi, sekali tusuk saja tentu akan tewaslah Kian Bu! Betapa pun saktinya dia, dalam keadaan berpelukan dan berciuman tadi, dia tentu menjadi lengah dan sama sekali tidak akan mampu menghindarkan tusukan pisau itu. Akan tetapi, dara ini tidak menyerangnya dan bahkan pingsan! Ini saja sudah menjadi bukti bagi Kian Bu bahwa dara itu tidak hendak membunuhnya, berarti mengampuninya!

“Siang In... sadarlah..., kau maafkan aku...,“ bisiknya dan sekali ini, terdorong oleh rasa haru dan sayangnya, dia mendekatkan mukanya dan dengan sepenuh kasih hatinya, dia mencium dahi dara itu yang agak basah oleh keringat.

“Kian Bu...“ Suara itu lemah menggetar dan Kian Bu girang bukan main, melihat dara itu telah membuka matanya dan memandang kepadanya dengan sinar mata yang aneh, sepasang mata indah itu seperti terkatup, atau setengah terpejam, dan dua sinar mata yang aneh memancar dari balik bulu mata hitam lentik yang setengah menyembunyikan mata itu.

“Siang In... kau... kau tidak apa-apa, bukan? Kau... kau maafkan aku, bukan?”

Siang In tersenyum. Bukan main manisnya, biar pun wajahnya masih pucat dan bibirnya agak gemetar, seperti seekor kelinci yang baru saja terlepas dari ancaman harimau.

“Kini tak perlu lagi engkau minta maaf, Kian Bu. Lihat, aku tidak akan membunuhmu dan aku memaafkan sudah, aku malah bersyukur akan hal yang telah terjadi itu.” Dan sekali menggerakkan tangannya, pisau tajam runcing itu melesat dan lenyap ke dalam semak semak.

“Tringgg...!” Pisau itu mencelat, lalu membalik dan meluncur ke arah Siang In dengan kecepatan kilat.

“Ahhh!” Kian Bu menggerakkan tangannya dan sekali mengibaskan tangan, pisau kecil itu melesat ke bawah masuk ke dalam tanah sampai tidak lagi nampak gagangnya. Pemuda ini cepat membalikkan tubuh memandang ke arah semak-semak, dan Siang In juga sudah meloncat bangun dan memandang ke arah semak-semak itu dengan mata terbelalak.

Dari dalam semak-semak itu keluarlah seorang wanita. Siang In dan Kian Bu terlonjak kaget melihat wanita cantik ini, cantik pesolek yang berdiri tersenyum mengejek kepada mereka. Siang In samar-samar masih mengenal wanita ini, dan bagi Kian Bu, perjumpaannya dengan wanita ini benar-benar amat mengejutkan hatinya. Bagaimana dia tidak akan terkejut ketika mengenal wanita ini yang bukan lain adalah Siluman Kucing?

Mauw Siauw Mo-li yang bernama Lauw Hong Kui itu benar-benar luar biasa sekali. Usianya sekarang tentu sudah mendekati empat puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan muda dan cantik jelita. Pakaiannya rapi dan indah, rambutnya digelung halus dan dihias intan permata, mukanya yang cantik itu dibedaki dan yang perlu warna merah dipoles gincu. Tubuhnya masih ramping padat, dan terutama sekali gayanya ketika dia melangkah maju, lenggangnya sungguh memikat seperti lenggang seekor harimau kelaparan! Sepasang matanya seperti hendak menelan Kian Bu bulat-bulat, penuh dengan rayuan.

Seperti telah diceritakan dalam Kisah Sepasang Rajawali, wanita cantik ini pernah berhasil merayu dan membujuk Kian Bu beberapa tahun yang lalu ketika Kian Bu masih remaja, sehingga pemuda itu terjatuh ke dalam pelukan wanita cabul ini. Akhirnya Kian Bu insyaf dan menjauhkan diri, namun betapa pun juga, wanita pertama yang pernah dikenalnya sebagai teman bermain cinta ini tentu saja selalu masih mendatangkan kenangan padanya dan betapa pun juga, dia tidak dapat membenci wanita yang dia tahu amat mencintanya lahir batin ini. Maka, melihat munculnya Mauw Siauw Mo-li, tentu saja Kian Bu menjadi terkejut dan makin khawatirlah dia karena sekarang dia tahu bahwa sejak tadi wanita cabul ini mengintai dan melihat perbuatannya ketika dia saling berciuman dengan Siang In tadi.

Dan Siang In juga ingat akan wanita ini, yang semenjak dahulu tak pernah disukainya, dianggapnya seorang wanita perayu yang cabul dan menjemukan. Dia mengenal wanita iblis cabul yang lihai ini, maka dia pun kaget melihat kemunculannya yang tidak terduga sama sekali dan wajahnya yang tadinya pucat seketika menjadi merah ketika dia teringat bahwa perbuatannya bersama Kian Bu tadi tentu terlihat oleh wanita cabul ini yang sejak tadi telah bersembunyi di balik semak-semak. Kalau saja dia tahu bahwa iblis betina ini tadi bersembunyi di dalam semak-semak itu, tentu dia akan melontarkan pisaunya dengan tenaga sepenuhnya!

Melihat Kian Bu memandangnya dengan alis berkerut dan dara jelita itu memandangnya dengan mata terbelalak, keduanya jelas memperlihatkan sikap tidak senang, Mauw Siauw Mo-li malah tertawa. Suara ketawanya merdu, mengandung suara seperti seekor kucing, dan gayanya memikat sekali, kemudian lidahnya menjilat-jilat bibir seperti seekor kucing habis makan daging dan darah, dan gerakan bibir yang dijilat-jilat lidah ini amat menggairahkan karena memang dimaksudkan untuk membangkitkan birahi pria yang memandangnya.

“Hi-hi-hik, setelah mendapatkan baju baru lalu mencampakkan baju lama, setelah menemukan makanan baru lalu melupakan kelezatan makanan lama, itulah watak laki laki dan agaknya engkau tidak terkecuali, Kian Bu! Mendapatkan kekasih baru, lupa kepada kekasih lama. Hi-hi-hik, dan tak kusangka bahwa pemuda tampan yang kini sudah berjuluk Pendekar Siluman Kecil kiranya hanya seorang laki-laki pembosan.”

Sinar mata Kian Bu menyambar dan kalau saja sinar mata itu dapat dipergunakan untuk menyerang, tentu Siluman Kucing itu sudah menghadapi serangan maut!

“Mauw Siauw Mo-li, mau apa engkau datang mengacau di sini? Pergilah sebelum aku hilang sabar dan menghalaumu dengan kekerasan!” bentak Kian Bu, mukanya sudah menjadi merah sekali. Dia memang tidak mungkin membenci wanita ini yang bagaimana pun juga pernah menghiburnya, namun melihat wanita itu bersikap mengejek di depan Siang In, tentu saja dia menjadi marah dan tidak ingin wanita itu bicara yang bukan bukan seperti itu.

“He-he-he, engkau marah, Kian Bu? Sekarang engkau marah, akan tetapi beberapa tahun yang lalu... hemmm, di atas kereta itu, lupakah...”

“Tutup mulutmu yang kotor! Dan pergilah!” bentak Kian Bu sambil melangkah maju setindak, kedua tangan dikepal dan sinar matanya penuh ancaman.

Tentu saja dia marah karena wanita cabul itu mengingatkan betapa dulu di atas kereta anak buah Lembah Bunga Hitam, dia dan wanita cabul itu telah bermain cinta dengan mesra! Diingatkan akan hal yang amat memalukan hatinya itu, apa lagi di depan Siang In, benar-benar membuat dia naik darah!

“Hemmm, hendak kulihat apakah pendekar yang terkenal dengan julukan Siluman Kecil itu benar-benar tega membunuhku dan melupakan segala-galanya,” kata wanita itu dan pada saat itu terdengar suara dahsyat dari jauh.

“Sumoi, memang dia itu laki-laki tak tahu malu, perayu jahat! Puteriku pun dirayunya sampai habis-habisan dan sekarang malah puteriku diculik oleh kakaknya. Memang anak-anak Pendekar Siluman Pulau Es ini kurang ajar sekali dan harus dibasmi habis!” Maka muncullah seorang kakek raksasa yang ganas, yang bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo!

Melihat munculnya kakek ini, Kian Bu makin marah. “Bagus! Kalian dua orang manusia iblis, selalu melakukan kejahatan di dunia ini dan sudah sepatutnya kalau aku turun tangan melenyapkan kalian!”

“Kian Bu, kalau aku tidak dapat mendapatkan tubuhmu, biarlah kuperoleh nyawamu! Suheng, mari kita bunuh dia, baru nanti dara itu kuhadiahkan kepadamu!” Setelah berkata demikian, Mauw Siauw Mo-li sudah mencabut pedangnya dan menyerang. Sinar hijau pedangnya meluncur cepat ke arah Kian Bu.

Mendengar kata-kata itu, lenyaplah sisa-sisa kenangan dan perasaan lembut di dalam hati Kian Bu terhadap wanita itu dan dengan cepat dia mengelak, lalu balas menyerang dengan dorongan tangan kiri ke arah perut wanita itu. Mauw Siauw Mo-li sudah mengenal kelihaian Kian Bu, apa lagi setelah pemuda ini berjuluk Siluman Kecil yang sakti dan dikenal di seluruh dunia kang-ouw, maka dia tidak berani lengah. Cepat dia meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya melindungi tubuh.

Pada saat itu, Hek-tiauw Lo-mo yang membenci semua orang Pulau Es, mengeluarkan teriakan dahsyat dan dia pun sudah menerjang ke depan dengan golok gergaji di tangan kanan. Bacokan golok yang mempunyai gerakan berputar ini disusul tamparan tangan kiri yang mengeluarkan uap hitam. Tamparan ini bahkan lebih dahsyat dari pada senjata golok gergajinya yang mengerikan itu, karena pukulan itu adalah salah satu jurus dari Ilmu Hek-coa-tok-ciang (Tangan Beracun Ular Hitam) yang sangat ampuh, suatu ilmu yang diperolehnya dari kitab curian milik Go-bi Bu Beng Lojin atau Si Dewa Bongkok dari Gurun Pasir Go-bi.

Namun Pendekar Siluman Kecil sudah melesat dan menghindarkan diri dari serangan raksasa itu dengan kecepatan kilat, tubuhnya berkelebat seperti kilat, bahkan dia sudah membalas serangan itu dengan kontan, menerjang dari atas setelah tubuhnya tadi melesat naik seperti burung terbang. Ketika Hek-tiauw Lo-mo mengelak sambil memutar goloknya, bayangan Kian Bu sudah mencelat ke arah Mauw Siauw Mo-li dan menyerang dengan tendangan kilat yang hampir saja mengenai lengan wanita cabul itu kalau saja dia tidak cepat melempar tubuh ke belakang.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat. Tingkat kepandaian Siluman Kecil Suma Kian Bu pada waktu itu sudah amat tinggi sehingga andai kata dia harus melawan dua orang kakak beradik seperguruan itu satu lawan satu, maka kiranya dia akan berhasil merobohkan lawan dalam waktu kurang dari tiga puluh jurus. Akan tetapi, dua orang manusia iblis itu maju bersama dan karena mereka itu adalah kakak dan adik seperguruan, tentu saja mereka berdua dapat bekerja sama dengan baik. Mereka saling mengenal dasar gerakan mereka yang sesumber, maka kerja sama mereka teratur sekali dan kelihaian mereka tentu saja menjadi berganda, membuat Kian Bu harus berhati-hati dan pemuda ini mempergunakan ilmunya yang luar biasa, yaitu Sin-ho Coan-in, ilmu yang membuat tubuhnya berkelebatan seperti kilat dengan kecepatan luar biasa hingga dua orang lawannya menjadi bingung seperti mengejar-ngejar bayangan.

Siang In sejak tadi menonton dengan mata terbelalak. Dia masih kagum dan juga ngeri, kagum kepada Kian Bu yang luar biasa hebatnya itu, dan ngeri menyaksikan keganasan dua orang yang mengeroyok Siluman Kecil itu. Dari gerakan-gerakan mereka, dia dapat menilai bahwa tingkat kepandaian silatnya mungkin hanya dapat menandingi wanita siluman itu, sungguh pun dia tahu bahwa tidak akan mudah bagi dia untuk merobohkan wanita yang amat lihai itu, dan dia pun tahu bahwa dibandingkan dengan raksasa itu, dia masih kalah jauh. Dan kini, dua orang lihai itu menyerang dengan senjata yang ampuh, namun Kian Bu menghadapi mereka hanya dengan bertangan kosong, dan pemuda itu sama sekali tidak kelihatan terdesak!

Siang In tidak bergerak membantu Kian Bu. Selain bingung menyaksikan gerakan Kian Bu yang mencelat ke sana-sini secepat itu dan takut kalau bantuannya malah akan mengacaukan gerakannya, juga dia merasa tidak enak mendengar ucapan-ucapan Siluman Kucing tadi. Apa lagi mendengar ucapan Hek-tiauw Lo-mo bahwa Kian Bu merayu puterinya habis-habisan! Hatinya mulai merasa tidak senang dan kini dia hanya menonton sambil berjaga-jaga untuk membantu Kian Bu apa bila perlu, sungguh pun kini dia merasa hampir yakin bahwa Kian Bu pasti akan dapat mengatasi kedua orang lawannya.

Dugaan Siang In memang tidak keliru. Dengan kecepatan gerakan Ilmu Sin-ho Coan-in, Kian Bu mulai mendesak kedua orang lawannya. Dia lebih banyak menyerang, karena dua orang lawan itu sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk menyerang bayangan yang berkelebatan menyambar mereka dari segala jurusan itu. Sedemikian cepatnya gerakan Kian Bu sehingga dia seolah-olah berubah menjadi beberapa orang banyaknya!

“Hyaaaaakkk...!” Hek-tiauw Lo-mo membentak dan tangan kirinya bergerak.

Sinar hitam lebar lantas menyambar ke arah bayangan Kian Bu dan itu adalah senjata rahasianya yang amat ampuh dan bebahaya, yaitu jala hitam yang terbuat dari benang lembut yang amat kuat. Jala itu menyambar cepat sekali, akan tetapi gerakan Kian Bu masih lebih cepat karena dia sudah dapat menghindarkan diri, bahkan tangannya menyambar ujung jala dan ditariknya jala itu ke arah sinar hijau dari pedang Mauw Siauw Mo-li yang menusuknya.

“Brettt...!”

Jala itu terobek pedang, akan tetapi pedang hijau di tangan wanita cabul itu pun terbelit jala. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kian Bu untuk menendang. Wanita itu masih berusaha menghindarkan tendangan dengan melempar tubuh ke belakang dan menarik pedang sekuatnya, namun tetap saja pangkal paha kirinya tercium ujung sepatu.

“Aduhhh...!” Wanita itu terpental dan pedangnya sudah terlepas dari libatan jala, kemudian dia terbanting dan bergulingan lalu meloncat berdiri sambil meringis dan tangan kirinya mengelus-elus pangkal paha yang terasa nyeri dan panas. Akan tetapi, hatinya lebih panas lagi dari pada pangkal pahanya yang tidak terluka parah hanya nyeri dan panas itu, karena dia mengingat betapa dahulu, bagian tubuh itu pernah diusap dan dibelai sayang oleh Kian Bu, akan tetapi kini ditendang! Dia merasa terhina sekali.

Sementara itu, melihat jalanya robek, Hek-tiauw Lo-mo membentak dan goloknya membacok ke arah Kian Bu, disusul hantaman tangan kirinya. Kian Bu miringkan tubuhnya ke kanan, membiarkan golok menyambar lewat dan melihat tangan kiri lawan yang mengeluarkan asap itu memukulnya dengan tangan terbuka ke arah dada, dia pun cepat memapaki dengan tangan kanannya.

“Desss!”

Dua telapak tangan bertemu dengan dahsyatnya dan akibatnya, tubuh Hek-tiauw Lo-mo terjengkang dan roboh bergulingan sampai beberapa meter jauhnya! Biar pun dia tidak terluka parah, namun tenaga pukulannya yang membalik karena kalah kuat bertemu dengan hawa sinkang lawan tadi telah memukulnya sendiri, membuat napasnya sesak dan tubuhnya gemetar!

Akan tetapi pada saat itu, Mauw Siauw Mo-li yang melihat bahwa dia dan suheng-nya takkan mampu mengalahkan Kian Bu, sudah melontarkan beberapa buah benda hitam ke arah Siang In! Dara ini tidak tahu benda apa yang menyambar ke arahnya itu, maka dengan cepat dia hendak menangkis.

“Jangan ditangkis...!” Kian Bu berseru dan tubuhnya berkelebat cepat sekali, tahu-tahu Siang In telah dipondongnya dan dibawanya berloncatan ke kanan kiri.

Terdengar ledakan-ledakan keras bertubi-tubi, akan tetapi selalu dapat dielakkan oleh Kian Bu yang memondong tubuh Siang In. Setelah ledakan tidak terdengar lagi, tempat itu menjadi gelap oleh asap hitam dan dua orang manusia iblis itu telah lenyap.

Kian Bu beberapa kali melompat jauh, keluar dari lingkungan asap itu, lalu menurunkan Siang In dan mengomel gemas, “Hemmm, lain kali aku tidak akan memberi kesempatan kepada mereka untuk melarikan diri.”

Siang In memandang kagum kepada Kian Bu, lalu menghampirinya dan memegang kedua lengannya, “Kian Bu, engkau hebat sekali...,“ katanya.

Mereka saling berpegang tangan, berhadapan dan saling pandang dengan mesra. Ketika pandang mata mereka bertaut, yakinlah Kian Bu bahwa dia benar-benar mencinta dara ini. Semua rasa cintanya terpancar dari pandang matanya, terasa benar oleh Siang In dan membuat bulu tengkuk dara itu meremang dan dia cepat-cepat menundukkan mukanya. Dara lincah yang biasanya suka menggoda orang itu kini kemalu-maluan menatap sinar mata yang demikian penuh cinta kasih.

Akan tetapi Siang In segera teringat akan semua ucapan dua orang manusia iblis tadi, maka alisnya berkerut dan rasa malu tadi lenyap ketika dia mengangkat mukanya dan bertanya, “Kian Bu, apa artinya ucapan raksasa tadi bahwa engkau merayu puterinya?”

Kian Bu tersenyum. “Puterinya adalah Hwee Li, dan sudah kuceritakan kepadamu tentang Hwee Li. Agaknya dia pun menyangka bahwa antara Hwee Li dan aku ada hubungan yang tidak dikehendakinya, padahal di antara kami hanya terdapat tali persahabatan saja, dan Hwee Li mencinta kakakku...“

“Dan ucapan-ucapan wanita tadi? Dia...“ Siang In tidak melanjutkan kata-katanya karena dia merasa malu mengingat dan membayangkan arti ucapan wanita tadi.

Wajah Kian Bu menjadi muram dan alisnya berkerut. “Ahhh, jangan kau dengarkan ucapan iblis betina itu! Dia curang dan bicaranya sama sekali tidak ada artinya, tidak perlu didengar dan dipercaya. Sudah terlalu banyak dia membuat malapetaka.”

Agaknya Siang In percaya dan wajahnya berseri kembali, dan setelah mereka saling pandang kembali timbul kemesraan dan rasa malu, apa lagi ketika Kian Bu kemudian mendekatkan muka sehingga hidung pemuda itu menyentuh pelipisnya, dia cepat menundukkan mukanya. Seketika Kian Bu sudah melupakan dua orang musuh tadi, kini dia teringat akan ciuman yang membuat dara itu tadi menjadi pingsan!

“Siang In, betapa engkau tadi membuat aku hampir mati karena khawatir. Mengapa engkau menjadi pingsan tanpa sebab? Dan apa artinya pisau yang berada di tanganmu tadi? Mengapa pula engkau... menyuruh aku... menciummu? Semua itu merupakan teka-teki bagiku, mengundang banyak dugaan yang membingungkan. Maukah engkau menjelaskan kepadaku, Sayang?”

Mendengar sebutan itu, wajah Siang In menjadi merah sekali dan sambil menunduk dia tersenyum malu-malu dengan penuh rasa bahagia. Jari-jari tangannya yang saling genggam dengan jari tangan Kian Bu itu gemetar dan dari jari-jari tangan kedua orang muda ini tersalur getaran-getaran yang penuh arti, terasa sampai ke dasar jantung….

Jodoh Rajawali Jilid 28


Getaran-getaran cinta yang tak perlu lagi dinyatakan dengan kata-kata, yang dalam keadaan seperti itu sudah kehilangan arti dan fungsinya, bahkan hanya mendatangkan kecanggungan belaka. Bahasa cinta melalui getaran sentuhan, melalui senyum dan terutama melalui sinar mata sudah lebih dari cukup mewakili suara hati masing-masing, jauh lebih sempurna dari pada kata-kata yang biasanya hampa dan dibuat-buat. Getaran dan sinar mata tak mungkin dapat dibuat-buat seperti suara melalui kata-kata.

“Kian Bu, sebelum aku menjawab, aku ingin lebih dulu mengetahui isi hatimu. Jawablah, adakah engkau merasakan sesuatu dalam... dalam... ciuman tadi?”

“Ahhh...!” Dengan mesra Kian Bu merangkul dan mendekap kepala dara itu ke dadanya, jantungnya berdegup dekat telinga Siang In yang seolah-olah mendengar bisikan hati melalui degup jantung itu. “Siang In... aku merasakan sesuatu yang ajaib, seolah-olah langit terbuka dan kita berdua terbang ke angkasa, aku... aku... ah, sukar menceritakan apa yang kurasakan tadi sampai... sampai aku terkejut melihat engkau terkulai...”

Siang In menyandarkan kepalanya di dada yang kuat itu, kemudian dia berbisik halus, “...lanjutkan... lanjutkan...“

“Mula-mula aku merasa heran dan terkejut, lalu takut-takut untuk menciummu seperti yang kau minta, Siang In. Akan tetapi ketika aku melakukannya, ahhh... dunia seakan kiamat! Aku merasa seperti tidak berpijak di atas bumi lagi... dan... dan pada detik itu juga tahulah aku...“ Kian Bu berhenti dan menunduk, mencium rambut kepala yang bersandar di dadanya itu.

“Tahu apakah, Kian Bu...?” Suara itu makin lirih, berbisik dan gemetar.

“Aku tahu dan yakin benar, pada saat aku menciummu tadi, bahwa aku cinta padamu, Siang In.”

Inilah yang dikehendaki oleh Siang In. Pengakuan inilah. Sungguh pun tadi dia telah merasakan cinta pemuda itu melalui ciuman, melalui tatapan mata, melalui sentuhan ujung jari-jari tangan, melalui degup jantung di dekat telinganya, namun belum puas hatinya kalau belum mendengar pengakuan itu melalui mulut.

Memang demikianlah keadaan kita manusia pada umumnya. Semenjak kecil, kita sudah terdidik dan terbiasa untuk menilai segala sesuatu melalui kata-kata hingga kita semua terjerumus ke dalam dunia penuh kepalsuan yang tersembunyi di balik kata-kata manis! Dan kepalsuan-kepalsuan melalui kata-kata manis dan senyum buatan ini oleh kita dinamai peradaban. Sesungguhnya peradaban yang tidak beradab. Kita namakan pula kesopanan. Kesopanan yang tidak sopan.

Kita sudah terbiasa untuk menilai keadaan luarnya saja. Inilah yang menyebabkan kita sering tergelincir oleh kemanisan kata-kata dan sikap palsu. Kita tidak lagi peka untuk mengenal keadaan yang lebih mendalam, karena perasaan kita sudah dibikin tumpul oleh kebiasaan menilai kulitnya saja. Maka diobral oranglah kata-kata ‘aku cinta padamu’ sehingga tidak ada artinya lagi. Diobral orang pula senyum palsu, sikap menghormat, menjilat, yang kesemuanya itu sesungguhnya tidak wajar dan palsu adanya. Hal ini dapat kita lihat jelas sekali terjadi di sekeliling kita, bahkan dalam diri kita, kalau saja kita mau membuka mata memandang dan mengamati apa adanya. Dapatkah kita hidup tanpa menjadi hamba kepalsuan ini?


Demikianlah pula dengan Siang In. Dia sudah yakin benar akan perasaan Kian Bu kepadanya, namun tidak puaslah hatinya kalau dia tidak mendengar pernyataan cinta itu melalui kata-kata, padahal pernyataan macam ini sesungguhnya tidak ada harganya sama sekali, karena apakah artinya kata-kata hampa dibandingkan dengan perasaan yang murni dan agung itu?

Cinta asmara lautan rahasia kemesraan sejuta.
Menciptakan embun sakti menembus lubuk hati.
Anggur semanis madu bunga dan lagu merdu.
Kepuasan yang nikmat sorga yang memikat.
Namun juga membawa bara api menghanguskan hati.
Sepahit empedu maki kutuk menggebu.
Kekecewaan mencekam neraka jahanam!
Cinta asmara, lautan suka-duka
...

Sampai lama rasanya ucapan Kian Bu dalam kalimat terakhir tadi, yaitu ‘aku cinta padamu’ bergema di dalam ruang hati Siang In, membuat dia seperti terlena, seperti terayun dalam buaian kasih sayang yang membawanya terbang ke sorga ke tujuh!

“Sekarang akan kuceritakan padamu, Kian Bu. Dengarlah akan tetapi jangan menatap wajahku, aku... aku malu sesungguhnya untuk menceritakan. Tetapi karena engkau cinta padaku, seperti yang baru saja kau katakan, biarlah kuceritakan kepadamu juga.” Siang In memejamkan matanya dan masih bersandar di dada Kian Bu, kemudian dia melanjutkan dengan suara lirih berbisik-bisik.

“Semenjak engkau menciumku di dalam hutan beberapa tahun yang lalu itu, aku... tidak pernah lagi dapat melupakanmu, tak pernah dapat melupakan saat engkau menciumku itu. Ada dua macam perasaan selalu berperang di dalam hatiku, yaitu perasaan terhina yang menimbulkan benci serta perasaan gembira yang sukar dilukiskan. Perasaan perasaan yang berperang itulah yang menimbulkan suka dan benci pada bayanganmu. Maka setelah aku selesai mempelajari ilmu dari suhu, aku lalu pergi mencarimu, sampai aku tiba di Bhutan dan di tempat-tempat jauh. Aku mencarimu dengan dua macam niat, yaitu membunuhmu atau memaafkanmu. Dan dua niat itu hanya dapat ditentukan oleh perasaan hatiku padamu, apakah benci ataukah cinta! Maka aku mengambil keputusan, yaitu kalau aku bertemu denganmu, sebelum melakukan sesuatu, aku harus lebih dulu yakin, apakah aku benci atau cinta kepadamu, apakah ciumanmu itu mendatangkan duka atau suka. Dan untuk dapat merasa yakin, aku harus minta kau cium sekali lagi! Nah, sekarang engkau mengerti mengapa aku minta cium padamu.” Siang In masih memejamkan mata karena dia menceritakan ini dengan perasaan malu sekali.

Kian Bu tahu betapa berat dan malu rasa hati kekasihnya itu untuk menceritakan semua ini, maka dia pun tidak mau menambah beban itu dengan menatap wajahnya, tetapi mencium rambut kepala itu dengan mesra. “Ahh, engkau memang seorang dara yang luar biasa, aneh, berani, jujur dan... hebat!”

Biar pun yang dicium hanya rambut kepalanya, akan tetapi Siang In sudah merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar dan jantung berdebar. “Dengarkan dulu ceritaku, Kian Bu.” Dia mengeluh dan agak menjauhkan kepalanya untuk menghentikan pemuda itu menciumi rambutnya.

“Lanjutkanlah, Siang In.”

“Ketika engkau menciumku untuk kedua kalinya, aku diam-diam sudah mempersiapkan pisau itu. Kalau dari ciuman itu aku menjadi yakin bahwa aku benci padamu, maka pisau itu akan menewaskanmu di saat itu juga, karena hanya saat itulah kesempatan satu-satunya bagiku untuk membalas dendam. Dalam keadaan biasa, mana mungkin aku dapat menandingimu? Nah, itulah sebabnya mengapa aku memegang pisau itu.”

“Hebat! Engkau memang pintar sekali!” Kian Bu memuji dan hati Siang In merasa senang sekali. Ahh, betapa cinta asmara membuat orang menjadi buta akan kenyataan.

Andai kata pada saat itu perasaan Kian Bu terhadap Siang In lain, tentu bukan pujian yang keluar dari mulut pemuda ini. Mungkin sebutan pintar itu akan berubah menjadi sebutan curang atau pengecut! Jelaslah bahwa penilaian terhadap suatu tindakan atau perbuatan itu tergantung dari keadaan batin seseorang. Bagi seorang yang sedang mencinta, maka segala macam perbuatan orang yang dicintanya itu akan nampak baik dan benar belaka. Sebaliknya, bagi seorang yang sedang membenci, maka segala macam perbuatan orang yang dibencinya itu akan nampak jahat dan salah belaka.

Oleh karena itu sudah jelas pula bahwa penilaian adalah palsu, karena penilaian didasari atas rasa suka atau tidak suka. Penilaian hanya mendatangkan konflik, karena yang dinilai baik oleh A, belum tentu dinilai baik oleh B, dan mungkin dinilai jahat oleh C, dan selanjutnya. Apa adanya dan yang sesungguhnya tidak baik tidak pula jahat, tidak bagus dan tidak pula jelek, karena baik dan buruk hanyalah hasil penilaian dan kita sudah tahu bahwa penilaian adalah palsu. Pengertian yang mendalam dan menyeluruh tentang kenyataan ini akan membuat kita hanya mengamati belaka tanpa penilaian sehingga kita tidak terseret untuk mengambil kesimpulan, pendapat, melainkan mengamati saja penuh kewaspadaan
.

“Sekarang tentang mengapa aku menjadi pingsan. Ohhh, Kian Bu, bagaimana aku dapat menjelaskan itu? Ketika engkau menciumku, aku... aku merasa... seperti yang kau rasakan pula, aku merasa bahwa itulah sesungguhnya yang kurindukan selama ini, pelukan dan ciumanmu, dirimu... dan aku tahu bahwa aku cinta padamu, Kian Bu. Mengingat betapa pisau sudah di tangan, betapa hampir saja aku membunuh satu satunya pria yang kucinta semenjak bertahun-tahun yang lalu, membuat aku begitu tegang dan terharu sampai aku tidak ingat apa-apa lagi...”

“Siang In, dewiku... pujaan hatiku...“

Kian Bu merasa terharu sekali dan kini dia mendekap lebih erat, mengangkat wajah ayu itu dan menciuminya dengan sepenuh perasaan cintanya.

Siang In mengeluh lirih dan mandah saja, bahkan kadang-kadang membalas ciuman itu, terdorong oleh perasaan hatinya yang mencinta. Akan tetapi ketika ciuman-ciuman Kian Bu makin lama makin panas, dara itu lalu menarik dirinya, mukanya merah sekali, pandang matanya setengah terpejam, mulutnya setengah terbuka dan terengah. Ketika Kian Bu hendak merangkulnya, dia menolak halus dengan kedua tangannya.

“Jangan... sudah cukup, Kian Bu, jangan...,“ bisiknya di antara napasnya yang terengah.

Wajah Kian Bu juga merah padam, matanya mengeluarkan sinar aneh. “Kenapa, Siang In? Kenapa...? Bukankah kita saling mencinta...?”

Siang In melangkah mundur dua langkah. “Justeru karena cinta kita, maka kita harus tidak melanjutkan itu, Kian Bu. Tidak baik kalau dilanjutkan. Karena cinta kita, maka kita harus saling menjaga, kita harus mempertahankan, menunda dan menyimpan itu sampai pada saatnya yang tepat, yaitu... kelak kalau kita sudah menjadi suami isteri, sudah menikah!”

Mendengar ini, seketika sadarlah Kian Bu dan dia merasa malu sendiri. Memang tadi, setelah menciumi wajah Siang In, setelah merasa betapa bibir yang lunak itu membalas ciumannya, dia tenggelam dalam gelombang nafsu birahi yang mendorong-dorongnya untuk bertindak lebih jauh, untuk memuaskan gelora nafsu birahinya! Celaka, semua ini adalah gara-gara Siluman Kucing, keluhnya dalam hati. Dia lalu memandang wajah kekasihnya dan tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut karena merasa berdosa sekali.

“Ahh, betapa bijaksana engkau, dewiku. Betapa murni hatimu, dan aku... aku memang bersalah. Aku bersumpah tidak akan berani mengganggumu lagi sampai... sampai kita menikah kelak.”

Siang In tertawa, suara ketawanya sangat merdu dan nyaring karena semua itu amat menyenangkan hatinya. Dia mengulurkan tangan, memegang tangan pemuda itu dan menariknya bangun.

“Sudah, kalau kelihatan orang lain, disangka kita ini sedang berlatih main sandiwara! Kita saling mencinta, dan kita akan menikah! Dua hal ini merupakan rahasia besar dalam batin kita, Kian Bu. Aku ingin sekali bertemu dengan ayah bundamu.”

“Benar, memang aku pun ingin membawamu pulang ke Pulau Es.”

“Kalau begitu, mari kita pergi. Eh, apakah perutmu tidak lapar?”

Ditanya begitu, Kian Bu terbelalak, lalu tertawa. “Ha-ha-ha, memang benar kata orang bahwa cinta membuat kita lupa makan lupa tidur. Aku sampai lupa bahwa sejak kemarin perutku belum kemasukan apa-apa dan setelah sekarang kau peringatkan, baru terasa betapa lapar perutku!”

“Aku lebih percaya kepada kata-kata orang bahwa cinta membuat kita selalu merasa lapar!”

“Ehh, mengapa begitu?”

“Habis, cinta membuat hati menjadi senang, dan hati senang membuat perut selalu merasa lapar dan apa pun yang kita makan terasa lezat. Pendapat ini kudukung karena lebih sehat dari pada pendapatmu tadi yang membuat kita kelaparan dan kecapaian. Kalau menurut pendapatmu itu, bisa-bisa orang yang jatuh cinta lekas mati karena kurang makan dan kurang tidur, bukan?”

Kian Bu tertawa. Kekasihnya ini selain cantik jelita, gagah perkasa, penuh keberanian, baik budi dan jujur, juga lincah jenaka dan pandai bicara! Pendeknya, segala macam kebaikan wanita terdapat lengkap dalam diri kekasihnya ini, pikirnya bangga!

“Kau memang hebat, Siang In. Hebat segala-galanya!”

“Hi-hik, engkau belum merasakan masakanku! Kalau engkau sudah menikmati lezatnya masakanku, engkau akan kehabisan kata-kata untuk memujiku. Tunggu saja. Mari kita mencari bahan-bahannya dulu dalam hutan itu.” Digandengnya lengan Kian Bu dan dua orang muda itu bergandeng tangan meninggalkan tempat itu sambil tersenyum dan tertawa gembira.

Dunia seolah-olah berubah dalam sekejap mata bagi mereka berdua. Penuh keindahan, penuh kegembiraan, penuh harapan dan bayangan yang muluk-muluk…..

********************

“Uhu-huuuuk-huuuu...!” Dara itu menangis mengguguk sambil berlutut di depan kaki gurunya, memeluk kaki itu dan air matanya bercucuran.

Tentu saja Hek-sin Touw-on terkejut bukan main menyaksikan keadaan muridnya ini. Datang-datang muridnya merangkul kakinya dan menangis sedih seperti itu, sungguh membuatnya bingung sekali. Berkali-kali dia menyuruh muridnya menceritakan apa yang begitu menyusahkan hatinya, namun Kang Swi Hwa atau Ang-siocia tidak kuasa mengeluarkan kata-kata, hanya menangis mengguguk makin sedih sehingga akhirnya kakek itu maklum bahwa dia harus membiarkan muridnya menangis dulu sampai kedukaan yang menyesak di dada itu terlampiaskan dalam tangisnya.

Dari mana timbulnya duka? Akibat duka sudah jelas, membuat orang menjadi gelap pikiran dan tidak sabar, dan dalam keadaan sesak oleh duka itu jasmani pun bekerjalah untuk menolong dirinya dari ancaman bahaya karena duka, yaitu dengan jalan menciptakan air mata yang bercucuran keluar dan peristiwa ini dapat melampiaskan duka seperti bendungan yang dibuka sehingga genangan duka itu dapat membanjir keluar. Akan tetapi dari manakah timbulnya duka?

Jelaslah bahwa duka timbul dari pikiran sendiri. Pikiran dilayangkan kepada hal-hal yang sudah lewat, hal-hal yang dianggap merugikan diri sendiri, dianggap tidak cocok dengan apa yang dikehendaki sehingga hal yang telah terjadi itu mendatangkan kekecewaan yang kemudian menciptakan rasa nelangsa dan iba kepada diri sendiri, menjadi duka. Jelaslah bahwa duka menguasai batin hanya pada saat kita tidak sadar, pada saat kita tidak waspada, pada saat kita membiarkan batin diselubungi kenangan hal-hal yang sudah lewat. Dan kita melakukan sesuatu yang amat keliru, yaitu kita selalu ingin lari dari duka yang datang menyerang, kita ingin lari dari duka, kita ingin menghibur dan melupakan hal yang mendukakan. Usaha menjauhkan duka ini malah memperbesar duka itu sendiri!

Kita tidak pernah mau menghadapi duka itu sebagaimana adanya, mengamati duka dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran, mengamati betapa kita penuh dengan iba diri, betapa kita mengenang-ngenang hal yang merugikan itu, terus mengunyah ngunyah kenangan itu sehingga semua kenangan itu seolah-olah merupakan sebuah tangan setan yang meremas-remas hati kita sendiri! Untuk dapat terbebas dari duka, kita harus mengenal duka sebagaimana adanya, kita harus berani mengamati duka, tidak lari darinya. Karena hanya dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan inilah maka akan timbul pengertian yang sedalam-dalamnya tentang duka, dan pengertian ini akan menimbulkan kesadaran yang dengan sendirinya akan melenyapkan duka tanpa kita berusaha menghilangkannya.

Namun sayang, betapa kita semua tidak sadar dan membiarkan diri terseret ke dalam arus suka-duka ini. Kita terseret duka, mengharapkan hiburan, menikmati hiburan yang mendatangkan suka, untuk kemudian diseret ke dalam duka kembali, dan demikian selanjutnya kita terjebak ke dalam lingkaran setan yang berupa suka dan duka. Dan lebih menyedihkan lagi, kita menganggap bahwa memang sudah demikian itulah hidup! Seolah-olah tidak ada jalan lain dalam kehidupan ini kecuali menjadi hamba suka duka yang menyedihkan
.

Akhirnya reda juga tangis Ang-siocia, tinggal terisak-isak yang jarang. Gurunya, kakek Hek-sin Touw-ong lalu mengangkatnya bangun dan disuruhnya murid itu duduk di atas bangku di depannya. Mereka berada di dalam sebuah kuil rusak dan mereka duduk di atas bangku-bangku batu yang kasar. Kuil itu berada dalam sebuah hutan di lereng bukit.

“Swi Hwa, mengapa engkau menangis seperti ini? Sungguh memalukan sekali melihat muridku menangis seperti seorang perempuan lemah yang cengeng. Mana kegagahan yang kugemblengkan pada dirimu selama bertahun-tahun ini?” Kakek itu menarik napas panjang, agaknya dia melihat bahwa betapa pun gagahnya, muridnya itu hanya seorang wanita, dan menurut kata pujangga kuno, wanita tidak dapat dipisahkan dari air mata!

“Suhu, maafkan teecu...“ Gadis itu berkata di antara isaknya.

“Hemmm, entah sudah berapa ratus kali selama menjadi muridku engkau minta maaf, dan sebanyak itu pula aku selalu memaafkanmu. Sekarang ceritakanlah, mengapa kau menangis?”

“Suhu... teecu ingin mati saja...!” Gadis itu menutupi muka dengan kedua tangannya dan dari celah-celah antara jari tangannya nampak air matanya menetes.

“Hehhh? Apa-apaan lagi ini? Mana bisa manusia minta mati kalau belum tiba saatnya? Kalau sudah tiba saatnya, tanpa diminta pun akan mati. Hayo bilang, mengapa kau sampai mengeluarkan kata-kata gila ini? Apa yang terjadi dengan dirimu?”

Gadis itu menggeleng kepala, kemudian menurunkan kedua tangan dari depan muka. Mukanya yang cantik itu agak pucat dan amat muram, basah oleh air matanya. Hati kakek itu terkejut dan kasihan juga melihat ini karena maklumlah dia bahwa muridnya ini mengalami pukulan batin yang parah juga.

“Tidak terjadi apa-apa dengan diri teecu, akan tetapi telah terjadi hal yang hebat dengan diri... dia...“ Gadis itu megap-megap seperti ikan di darat.

“Dia? Dia siapa?” Hek-sin Touw-ong bertanya, memandang wajah muridnya penuh selidik karena dia khawatir kalau-kalau kesedihan membuat muridnya ini mengalami guncangan batin yang akan mengganggu ketenangan jiwanya.

“Dia… Pendekar Siluman Kecil...!”

Alis kakek itu berkerut. Dia sudah mengerti bahwa muridnya ini tergila-gila kepada pendekar sakti itu.

“Ada apa dengan dia?” desaknya.

Siluman Kecil itu menurut muridnya dapat mengalahkan Sin-siauw Sengjin, berarti memiliki kesaktian setinggi langit yang sukar diukur lagi, maka apakah yang dapat menimpa seorang pendekar sakti seperti itu? Apakah pendekar itu terkena malapetaka maka muridnya menjadi berduka seperti ini?

“Siluman Kecil? Ada apa dengan dia? Apa yang terjadi?”

“Dia... dia... mencinta wanita lain, Suhu... uuuhhhu-hu-huuuhhh...!” Dara itu menangis lagi.

Hek-sin Touw-ong mengerutkan alisnya dan memandang kepala yang menunduk dan pundak yang berguncang-guncang dalam tangisnya itu. Dia menarik napas panjang berkali-kali dan hatinya penuh rasa iba kepada muridnya ini. Terbayanglah semua peristiwa semenjak dia mengambil anak itu sebagai murid.

Dia tahu bahwa Kang Swi Hwa adalah cucu dari Sai-cu Kai-ong yang dititipkan kepada Sin-siauw Sengjin untuk dilatih ilmu silat. Karena penasaran terhadap Sin-siauw Sengjin, maka dia menculik anak itu untuk dilatihnya sendiri. Akan tetapi kemudian, maksud yang hanya ingin menimpakan rasa penasaran itu kepada Sin-siauw Sengjin, akhirnya berubah setelah dia mulai mencinta murid itu sebagai puterinya sendiri! Maka anak itu pun dididiknya terus sampai menjadi dewasa dan dia telah mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya, baik ilmu silat, ilmu maling dan ilmu menyamar kepada dara itu.

Dia tahu bahwa muridnya ini adalah cucu dari Sai-cu Kai-ong, seorang yang sudah dikenalnya dengan baik maka ia pun mendidik muridnya itu sekuat tenaganya sehingga muridnya sekarang memiliki tingkat kepandaian yang sudah hebat, hampir menyamai tingkatnya sendiri. Maka ketika dia mendengar betapa muridnya itu ‘dihina’ secara tidak sengaja oleh murid Sai-cu Kai-ong, dia terkejut bukan main dan heran mengapa justeru murid dari kakek gadis ini yang bertemu dan ‘menghina’ nya! Maka timbul pula niatnya untuk menjodohkan muridnya dengan pemuda murid Sai-cu Kai-ong itu, sebab dengan demikian, selain untuk menebus kesalahannya terhadap Sai-cu Kai-ong, juga untuk menghapus aib yang telah dialami oleh Swi Hwa.

Dia sengaja mengganti nama muridnya yang ketika itu masih kecil sekali sehingga tidak mungkin dapat mengingat apa-apa, mengganti namanya menjadi Kang Swi Hwa, bahkan dia telah menghapus tahi lalat di dagu anak itu agar tidak akan dapat dikenali oleh Sai-cu Kai-ong dan Sin-siauw Sengjin! Dan kini, ternyata muridnya itu mencinta Siluman Kecil dan merana, patah hati, karena Siluman Kecil mencinta gadis lain!

Setelah sejenak membiarkan dara itu menangis lagi, dengan hati amat terharu Hek-sin Touw-ong kemudian memegang kedua pundak muridnya, dan berkata dengan suara menghibur, “Kalau begitu, masih jauh lebih baik bagimu, muridku...“

Mendengar ini, dara itu mengangkat mukanya yang basah air mata itu, memandang gurunya dengan penasaran.

“Lebih baik...? Apa... apa maksud Suhu?” Dia sedih setengah mati, gurunya malah mengatakan lebih baik! Hati siapa tidak menjadi penasaran?

“Kakek itu mengangguk-angguk dan kembali menarik napas panjang. “Jauh lebih baik gagal sebelum menikah, dari pada gagal setelah menjadi suami isteri... seperti gurumu ini...“

Sepasang mata yang masih basah itu terbelalak. Tidak disangkanya gurunya akan berkata demikian. Gurunya tidak pernah bercerita tentang diri sendiri, bahkan tidak pernah bercerita tentang riwayatnya, tentang ayah bundanya.

“Apakah Suhu pernah menikah?” tanyanya, hatinya tertarik karena seluruh perhatiannya tertarik akan keadaan suhu-nya, maka otomatis ia melupakan diri sendiri dan lenyaplah seketika rasa duka di hatinya.

Memang, kedudukan bukan lain hanyalah permainan ingatan, permainan pikiran yang mengingat-ingat dan membayang-bayangkan, penuh dengan iba diri. Begitu pikiran meninggalkan semua itu, ditujukan kepada lain hal dengan penuh perhatian, maka duka pun lenyap tanpa bekas!

Kakek itu mengangguk. “Aku pernah menikah, akan tetapi terdapat ketidak cocokan dalam kehidupan rumah tangga kami. Kami hidup menderita, seperti dalam neraka karena percekcokan terjadi setiap hari. Akhirnya, setelah menikah selama tiga tahun tanpa ada keturunan, kami terpaksa berpisah, dan semenjak itu, aku tidak mau lagi menikah...“

Melihat wajah suhu-nya membayangkan penderitaan batin, seketika lupalah Swi Hwa akan kesusahan hatinya sendiri. Dia memandang kepada suhu-nya dengan hati penuh perasaan iba.

Akan tetapi kakek itu lalu melanjutkan, “Karena itulah, Swi Hwa, kukatakan lebih baik gagal sebelum menikah dibandingkan seperti yang kualami ini. Bayangkan saja kalau kegagalanmu ini terjadi setelah engkau menikah dengan seorang suami yang tidak menaruh cinta kepadamu, tentu akan lebih pahit dan sengsara lagi.”

Dara itu kini menunduk, dia mengerti akan maksud ucapan gurunya itu. “Jadi, dalam pernikahan Suhu itu hanya terdapat cinta sepihak?”

Hek-sin Touw-ong mengangguk. “Ya, hanya dariku adanya cinta itu, tidak dari pihaknya. Maka, kalau Siluman Kecil tidak mencintamu dan mencinta orang lain, apa yang perlu disesalkan? Dunia tidak hanya setapak tangan lebarnya, dan masih terdapat banyak sekali pria yang cukup baik untuk menjadi calon jodohmu. Terutama sekali, kita harus mencari pemuda bernama Siauw Hong itu, karena menurut pandanganku, hanya dialah yang harus menjadi suamimu, karena dia yang pernah melihat tubuhmu!”

Dara itu makin menunduk dan mukanya berubah merah mendengar ucapan ini, karena dia teringat akan peristiwa itu, yaitu ketika dia yang menyamar sebagai pria dan terbuka rahasianya oleh Siauw Hong. Pada waktu itu Siauw Hong berusaha mengobatinya dan memeriksa dadanya!

“Hanya ada dua pilihan terhadap pemuda itu. Membunuhnya atau menikah dengan dia! Kehormatan dan nama baikmu tergantung sepenuhnya kepada persoalan ini, muridku. Maka, marilah engkau ikut bersamaku pergi mencari Sai-cu Kai-ong buat membicarakan urusan muridnya itu.”

“Tapi... Suhu, teecu belum mempunyai ingatan untuk menguruskan persoalan jodoh sebelum... sebelum teecu mendengar dari Suhu tentang keadaan keluarga teecu. Suhu selalu mengelak dan tidak mau memberi keterangan kepada teecu. Sekarang teecu mohon Suhu suka memberi penjelasan. Siapakah ayah bunda teecu? Apakah mereka masih hidup dan mengapa teecu sejak kecil ikut bersama Suhu?”

Kakek itu menghela napas. “Dalam hal ini aku berdosa kepadamu, muridku. Ketahuilah, bahwa engkau adalah seperti cucu atau anak angkatku sendiri, di samping engkau muridku satu-satunya. Dan terus terang saja, aku tidak dapat menceritakan tentang keluargamu karena memang aku tidak tahu. Hanya ada satu orang saja yang akan dapat menceritakan hal itu kepadamu.”

“Siapa dia, Suhu?”

“Dia adalah Sai-cu Kai-ong...“

“Apa...?” Ang-siocia atau Kang Swi Hwa memandang kepada suhu-nya dengan mata terbelalak lebar. “Kakek sakti guru... Siauw Hong itu...?”

Hek-sin Touw-ong mengangguk. “Muridku, agaknya sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia yang meliputi dirimu. Akulah yang bertanggung jawab akan semua itu. Maka, mari kau ikut bersamaku menemui Sai-cu Kai-ong, sekalian kita bicarakan urusan muridnya itu.”

Dara itu mengangguk sambil menundukkan mukanya. Dia akan selalu merasa malu dan canggung kalau bicara tentang pemuda yang menjadi pangeran pengemis itu, karena nama Siauw Hong selalu mengingatkan dia akan peristiwa yang dialaminya, ketika rahasia penyamarannya sebagai pria terbuka oleh pemuda itu.

Berangkatlah guru dan murid itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan kuil tua itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang-siocia lari mengejar ketika melihat Siluman Kecil pergi, kemudian di tengah perjalanan dia bertemu dengan Siang In. Mereka berpisah dan tanpa disengaja, kembali dia bertemu dengan Siang In yang sedang berkasih-kasihan dengan Siluman Kecil. Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Kang Swi Hwa melihat betapa pria yang dikaguminya dan diam-diam dicintanya itu ternyata saling mencinta dengan seorang gadis lain.

Maka dia lalu diam-diam meninggalkan tempat itu sambil menangis. Dia tidak tahu bahwa ketika dia lari meninggalkan benteng yang terbakar, dari jauh gurunya selalu membayanginya dan melihat dara itu menangis, Hek-sin Touw-ong lalu mengejar, menyusulnya dan mengajaknya istirahat di kuil tua itu, kemudian bertanya apa yang disusahkan oleh muridnya. Karena kakek ini membayangi muridnya dari jauh, maka dia tidak ikut menyaksikan apa yang menjadi sebab muridnya berduka, dia tidak melihat betapa Siluman Kecil sedang berkasih-kasihan dengan Siang In.

Beberapa hari kemudian guru dan murid ini sudah tiba di puncak Bukit Nelayan di Pegunungan Tai-hang-san, tempat tinggal Sai-cu Kai-ong. Dari lereng saja sudah nampak bangunan besar kuno yang dahulunya merupakan bangunan semacam istana megah dari raja pengemis, nenek moyang dari Sai-cu Kai-ong. Berbeda dengan nenek moyangnya, Saicu Kai-ong kini tidak suka menonjolkan diri dan walau pun dia dijuluki Kai-ong dan pengaruhnya masih besar sekali, dianggap sebagai datuk kaum pengemis dan dipuja-puja oleh semua perkumpulan pengemis, namun dia tidak secara langsung memimpin para pengemis itu. Dia lebih senang menyembunyikan diri di dalam bekas istana nenek moyangnya itu, hidup bersunyi di puncak Bukit Nelayan.

Ketika guru dan murid itu telah berdiri di depan rumah kuno yang kelihatan kosong dan sunyi itu, Hek-sin Touw-ong lalu berseru sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya bergema sampai terdengar dari tempat jauh.

“Kai-ong, ini sahabatmu Touw-ong ingin berjumpa denganmu!”

Memang kedengarannya lucu. Touw-ong (Raja Maling) ingin bertemu dengan Kai-ong (Raja Pengemis)! Suara dari Hek-sian Touw-ong menimbulkan gema yang panjang dari dalam gedung besar itu, dan tidak lama kemudian terdengar suara yang nyaring dari dalam gedung.

“Selamat datang, Touw-ong! Pintu rumahku tidak tertutup, harap kau masuk saja!”

Agaknya di antara dua orang sakti itu terdapat jalinan persahabatan yang sudah akrab, maka mereka menggunakan kata-kata yang ramah dan kasar, tanpa banyak peraturan dan sopan santun yang biasa timbul antara orang-orang yang baru berkenalan. Hek-sin Touw-ong tertawa bergelak, kemudian mengajak muridnya memasuki pintu gerbang besar dari rumah kuno itu.

Hek-sin Touw-ong sendiri hidup sebagai seorang yang kaya, memiliki rumah besar yang terjaga oleh banyak pelayan, maka tentu saja guru dan murid ini tidak asing dengan rumah-rumah besar dan mewah. Akan tetapi, ketika memasuki istana tua ini, dara itu merasa seram juga, dan kagum melihat hiasan-hiasan kuno yang antik dan indah.

Rumah kuno yang besar itu nampak sunyi menyeramkan oleh karena kelihatan kosong tanpa ada seorang pun manusia yang menjaganya, kelihatan dingin karena kurangnya manusia di situ. Berindap-indap dara ini berjalan di samping gurunya, memandang ke kanan kiri seperti memasuki sebuah goa yang penuh ancaman bahaya. Akan tetapi Hek-sin Touw-ong yang dahulu sudah sering memasuki gedung ini, berjalan seenaknya dengan wajah gembira, sungguh pun terdapat ketegangan yang nampak dari kerutan di antara kedua alisnya. Kakek ini merasa gembira karena dia akan mengejutkan dan mendatangkan kegembiraan besar kepada sahabat lamanya ini dengan mengembalikan cucunya, akan tetapi juga dia merasa tegang karena merasa bersalah telah menculik cucu sahabatnya yang diserahkan kepada Sin-siauw Sengjin untuk menjadi murid Kakek Suling Sakti itu. Juga hatinya tegang mengingat bahwa pemuda yang pernah ‘menghina’ muridnya adalah murid sahabatnya ini.

Ketika mereka tiba di dalam sebuah ruangan, muncullah seorang kakek yang gagah perkasa, dan biar pun usianya sudah lebih dari enam puluh lima tahun, namun tubuhnya yang tinggi tegap itu masih nampak kokoh kuat, pakaiannya sederhana, pandang matanya tajam dan penuh kejujuran dan kegagahan. Kakek ini menggunakan sinar matanya menyapu wajah dua orang tamunya dan dia agaknya merasa puas sekali melihat keadaan Hek-sin Touw-ong karena sahabat lamanya itu masih nampak sehat dan sederhana, dengan mukanya yang hitam terbakar matahari dan pakaiannya yang serba hitam pula. Dia tahu bahwa Si Raja Maling ini amat kaya raya, namun pakaian dan sikapnya jelas membuktikan bahwa kakek itu tidak membanggakan kekayaannya.

Ketika Sai-cu Kai-ong, kakek tuan rumah itu, memandang wajah Ang-siocia, dia kelihatan tertarik sekali, bahkan seperti orang tertegun dan sinar matanya melekat pada wajah dara itu. Kalau orang tidak mengenal bahwa kakek ini adalah seorang kakek sakti yang gagah perkasa, yang sudah tidak tertarik lagi oleh wanita muda dan cantik, maka tentu orang akan menyangka dia adalah lelaki mata keranjang yang terpesona oleh kecantikan Ang-siocia.

Melihat tuan rumah seperti tertegun memandangnya, dengan sinar mata penuh selidik menjelajahi setiap bagian wajahnya, Ang-siocia mengerutkan alisnya dan diam-diam hatinya sudah merasa tidak senang. Dia menyangka bahwa kakek itu tentu tergolong pria tua yang cabul dan mata keranjang! Akan tetapi tidak demikian dengan gurunya, Hek-sin Touw-ong tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Kai-ong, dia ini adalah muridku, mengapa engkau memandanginya seperti itu? Apakah engkau sudah mengenal muridku ini?” tanya Hek-sin Touw-ong sambil tersenyum.

Kalau saja dia memang terpesona oleh kecantikan gadis itu, tentu Sai-cu Kai-ong akan merasa canggung dan malu mendengar teguran itu, akan tetapi karena memang dia sama sekali tidak ada pikiran yang tidak patut, teguran itu diterimanya secara sungguh sungguh dan dia pun menjawab tanpa melepaskan pandang matanya dari Ang-siocia.

“Serasa kukenal dia... wajahnya serupa benar dengan... mantuku yang telah meninggal dunia... akan tetapi...,“ kini matanya meneliti ke arah dagu Ang-siocia.

“Ha-ha-ha, pengemis tua bangka, engkau mencari-cari sebuah tahi lalat kecil di dagu?”

Mendengar ini, secepat kilat kakek itu menoleh dan memandang pada tamunya dengan sinar mata berkilat, wajahnya berubah pucat. “Engkau maling tua, hayo katakan yang sebenarnya, apa maksudmu itu? Dari mana kau tahu tentang tahi lalat di dagu?”

Tiba-tiba mata kakek itu terbelalak. Dia menoleh lagi kepada Ang-siocia, memandang tajam wajah dara itu, kemudian dia menoleh lagi kepada Hek-sin Touw-ong, suaranya gemetar ketika dia berkata, “Touw-ong, demi Tuhan! Siapakah dia ini? Benarkah dia ini...?”

“Kai-ong, mari kita duduk yang baik dan akan kuceritakan sesuatu yang pasti akan mendatangkan kegembiraan besar bagimu.”

Dengan mata masih memandang kepada Ang-siocia, tuan rumah itu membawa dua orang tamunya ke sebuah ruangan dan mereka duduk berhadapan. Kemudian tuan rumah itu memandang wajah Si Raja Maling, dan dari sinar matanya dia mengajukan seribu satu macam pertanyaan.

“Kai-ong, tidak perlu kujelaskan lagi, engkau tentu mengenal baik Sin-siauw Sengjin, bukan? Biar pun engkau belum pernah membongkar rahasia kakek suling sakti itu, namun aku dapat menduga bahwa antara engkau dan dia terdapat suatu ikatan yang amat mendalam. Benarkah demikian?”

Urusan yang menyangkut Sin-siauw Sengjin merupakan rahasia besar bagi Si Raja Pengemis, akan tetapi karena dia percaya bahwa Raja Maling ini merupakan seorang gagah yang dapat dipercaya, maka tanpa banyak cakap lagi dia mengangguk.

“Nah, terus terang saja, aku pernah bentrok dengan kakek yang angkuh dan sombong itu dan aku telah kalah olehnya. Memang dia lihai bukan main dan betapa pun aku berusaha, aku tidak pernah dapat menangkan kakek yang penuh rahasia itu.”

Sai-cu Kai-ong tersenyum. “Hal itu tidak aneh, Touw-ong. Aku sendiri pun tidak akan mampu menandinginya.”

“Dan aku merasa penasaran, bukan main...“

“Ahhh, orang-orang macam kita ini, tua bangka-tua bangka yang sudah banyak makan garam dunia, masa masih harus merasa penasaran kalau dikalahkan orang? Engkau tentu tahu bahwa tidak ada orang terpandai di dunia ini,” cela Si Raja Pengemis.

“Engkau benar. Namun entah bagaimana, aku merasa penasaran sekali. Lebih-lebih ketika aku mendengar betapa engkau mempercayakan seorang cucumu kepada kakek sombong itu untuk dididik! Kai-ong, engkau memang terlalu. Jika hanya untuk mendidik cucumu saja, di dunia ini masih banyak sahabat-sahabat lainmu yang tidak sombong, dan termasuk aku yang tentu akan bersedia untuk menurunkan seluruh ilmu tidak berharga yang ada padaku kepada cucumu. Akan tetapi, engkau justeru menyerahkan cucumu itu kepada kakek takabur yang kubenci itu! Tentu saja aku menjadi makin penasaran saja.”

Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya. “Bagaimana engkau dapat berkata demikian, Touw-ong? Urusan keluarga adalah urusan kami sendiri dan kalau aku menyerahkan cucuku kepada Sin-siauw Sengjin, hal itu tentu terjadi dengan suatu sebab dan alasan yang kuat. Kalau tidak demikian, apakah kau kira aku malas untuk mendidik cucuku sendiri?”

Hek-sin Touw-ong mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. “Agaknya engkau benar pula. Akan tetapi ketika itu aku dibikin buta oleh perasaan penasaranku terhadap si suling sombong itu, maka aku tidak dapat berpikir jernih. Dan untuk melampiaskan kemarahan dan rasa penasaranku, aku lalu memasuki rumahnya dan... kuculik cucumu itu, kubawa pergi!”

Terdengar teriakan nyaring dan Sai-cu Kai-ong sudah bangkit berdiri dari bangkunya, matanya melotot dan mukanya menjadi merah sekali. Mendengar teriakan nyaring tadi, Ang-siocia terkejut bukan main karena dia merasa betapa jantungnya tergetar hebat dan tentu dia sudah roboh kalau saja dia tidak cepat mengerahkan sinkang-nya untuk melawan serangan suara yang luar biasa itu. Itulah Ilmu Sai-cu Ho-kang yang barusan dikeluarkan oleh Sai-cu Kai-ong dalam kemarahannya.

“Hemmm, jadi kiranya engkaukah yang menculik cucuku itu?” Suara Raja Pengemis itu terdengar penuh ancaman dan kemarahan yang ditahan-tahan.

Akan tetapi Hek-sin Touw-ong masih bersikap tenang saja sungguh pun wajahnya berubah agak pucat. Dia mengangguk. “Benar, Kai-ong, akulah yang menculiknya, dan aku tidak menyesal karena aku menganggap anak itu seperti anakku atau cucuku sendiri, aku sudah menurunkan seluruh ilmuku kepada muridku itu...“

“Suhu...!” Ang-siocia berteriak kaget mendengar ini.

Sejak tadi dia mendengarkan saja tanpa mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang kakek itu. Akan tetapi, ucapan terakhir suhu-nya itu membuka matanya. Kiranya dialah anak kecil yang dipercakapkan itu. Dialah cucu Raja Pengemis ini yang dititipkan kepada Sin-siauw Sengjin dan kemudian diculik oleh suhu-nya! Pantas saja suhu-nya mengatakan bahwa orang yang dapat menceritakan semua keluarganya adalah Sai-cu Kai-ong yang ternyata adalah kakeknya sendiri!

“Dia... dia ini Yu Hwi cucuku...? Tapi... tapi...“ Sai-cu Kai-ong memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya pucat, suaranya gemetar karena keharuan yang mendalam.

“Maksudmu tahi lalatnya? Tahi lalat di dagu itu telah kuhilangkan dengan obat, dan dia pun hanya mengenal namanya sebagai Kang Swi Hwa, atau julukannya Ang-siocia murid Si Raja Maling.”

“Yu Hwi... kau... kau cucuku...“ Sai-cu Kai-ong berseru dan melangkah maju.

Kang Swi Hwa atau lebih tepat lagi Yu Hwi juga memandang pada kakeknya itu, yang agaknya merupakan satu-satunya keluarganya, maka dia pun lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. “Kong-kong...!”

“Yu Hwi... ahhh, Yu Hwi...!” Kakek itu mengangkat dara itu dengan memegang kedua pundaknya, memandangi wajah itu. “Benar, benar..., engkaulah satu-satunya keturunan keluarga Yu kita... wajah dan mulutmu serupa dengan mendiang ibumu, akan tetapi matamu... ahhh, matamu adalah mata keturunan keluarga Yu...!”

Kakek itu merasa terharu sekali dan memeluk cucunya. Tak dapat menahan keharuan hatinya, dan Yu Hwi pun menangis.

Hek-sin Touw-ong tertegun. Baru sekarang dia merasa betapa dia telah melakukan suatu kesalahan besar. Dia melihat sekarang persamaan sinar mata kedua orang itu, dan dia merasa betapa dia telah membuat sahabatnya itu menderita hebat. Dia tidak mengira sama sekali bahwa sahabatnya itu pun baru belum lama ini mendengar tentang hilangnya Yu Hwi, baru setelah Sin-siauw Sengjin menemuinya beberapa bulan yang lalu. Tadinya, Raja Pengemis itu mengira bahwa cucunya masih belajar pada Kakek Suling Sakti itu dalam keadaan sehat.

“Kai-ong, aku telah melakukan kesalahan besar padamu...!” Dia berkata dengan suara penuh kedukaan, bukan duka karena menyesali kesalahannya, melainkan duka melihat betapa muridnya yang dianggap sebagai keluarga sendiri itu kini benar-benar telah bertemu dengan keluarga asli muridnya, dan baru terasa olehnya bahwa dia bukan apa apa, bahwa dia adalah orang luar, tidak berhak terhadap diri muridnya itu, bahkan dia orang luar yang telah melakukan kesalahan terhadap keluarga Yu!

“Kau... kau... plakkk!” Tiba-tiba tangan kanan Sai-cu Kai-ong menampar pipi Hek-sin Touw-ong.

Melihat ini, Yu Hwi terkejut bukan main. Akan tetapi yang ditampar masih berdiri dan menundukkan mukanya. Pipi kirinya menjadi merah sekali oleh tamparan itu. Kedua kakek itu saja yang tahu bahwa betapa pun marahnya Si Raja Pengemis, namun dia tadi menampar tanpa mengerahkan tenaga sinkang, karena kalau hal itu dilakukannya, tentu yang ditamparnya telah roboh dengan tulang pipi remuk! Dan juga, yang ditampar tadi sama sekali tidak mengelak, bahkan sama sekali tidak mengerahkan sinkang untuk melawan atau melindungi pipinya!

“Aku sudah layak kau tampar, bahkan kalau engkau hendak membunuhku sekali pun, Kai-ong, aku tidak akan melawan. Silakan!”

“Engkau tua bangka keparat!” Sai-cu Kai-ong membentak dan tangannya telah bergerak lagi.

“Kong-kong, tahan...!” Tiba-tiba Yu Hwi berteriak dan dara ini sudah meloncat ke depan dan memegang lengan kakeknya. Kakeknya memutar tubuh, kemudian menatap wajah cucunya dengan sinar mata penuh selidik.

“Kong-kong, biarlah aku yang mintakan ampun untuk Suhu!” Dara itu menjatuhkan diri berlutut. “Setelah aku mendengar riwayat itu, aku tahu bahwa Suhu bersalah besar kepada keluarga kita, terutama telah membuat Kong-kong menderita duka. Akan tetapi, selama ini, semenjak aku kecil, Suhu telah menjadi guruku, sahabatku, dan juga menjadi pengganti orang tuaku. Kalau Kong-kong mau menghukumnya, biarlah aku yang mewakilinya sebagai pembalas semua budi kebaikannya yang telah dilimpahkan kepadaku selama ini.”

Sai-cu Kai-ong berdiri tegak sambil menunduk, memandang kepala cucunya yang berlutut itu, dan Hek-sin Touw-ong juga berdiri dengan kepala tunduk, kelihatan terharu sekali. Hening sekali suasana di dalam ruangan itu setelah Yu Hwi menghentikan kata katanya.

Tiba-tiba meledak suara ketawa bergelak yang memecahkan keheningan itu. Hek-sin Touw-ong mengangkat muka memandang, juga Yu Hwi memandang wajah kakeknya dengan penuh keheranan. Kakek itu tertawa bergelak, menghadapkan mukanya ke atas dan tertawa lagi.

“Ha-ha-ha! Bagus, bagus! Kiranya Hek-sin Touw-ong tidak mencemarkan namanya dan tetap terbukti sebagai seorang laki-laki sejati yang pandai mendidik. Touw-ong, aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Engkau telah mendidik Yu Hwi sebagaimana mestinya sehingga dia tetap menjadi seorang dara yang gagah perkasa, berjiwa pendekar, sungguh tidak memalukan sebagai keturunan terakhir keluarga Yu. Ha-ha-ha, kau maafkanlah tamparanku sebagai ledakan kemarahanku tadi, Touw-ong!”

Hek-sin Touw-ong kini juga tertawa, akan tetapi ketika dia tertawa, ada dua titik air mata meloncat keluar dari sepasang matanya, dua titik air mata yang hinggap di pipi dan cepat dihapusnya dengan punggung tangannya. “Ha-ha-ha, engkau Raja Pengemis, jembel tua bangka yang menjemukan! Kau bilang menampar, namun sesungguhnya engkau hanya mengelus pipiku saja. Kalau engkau benar menampar, apakah mukaku yang buruk ini masih utuh sekarang? Ha-ha-ha, mengelabui anak sekali pun engkau tak becus, Raja Pengemis! Sekarang hutangku telah impas, cucumu telah kukembalikan. Dan tentang si sombong Sin-siauw Sengjin, sampaikan kepadanya bahwa aku mentertawakan dia, katakan bahwa akulah yang dulu mencuri muridnya dan kalau dia tidak terima, dia boleh mencariku. Rumahku tidak tersembunyi seperti rumahnya! Dan katakan lagi bahwa sekumpulan kitab-kitab palsunya telah dicuri orang, dan pencurinya adalah... ha-ha-ha, cucumu inilah! Jangan heran, Kai-ong, cucumu ini adalah murid Hek-sin Touw-ong, maka jangankan hanya milik manusia macam Sin-siauw Sengjin, biar milik kaisar sekali pun dia sanggup untuk mencurinya tanpa diketahui sang pemilik! Dan kalau si suling sombong itu ingin mendapatkan kitab-kitab palsunya kembali, suruh dia mengambil di rumahku. Nah, aku sudah cukup bicara, dan di antara kita tidak ada hutang-pihutang lagi. Selamat tinggal, Kai-ong!”

Setelah berkata demikian, Hek-sin Touw-ong membalikkan tubuh dan melangkah keluar dengan langkah lebar, tanpa menoleh kepada Yu Hwi lagi.

“Suhu...!” Yu Hwi meloncat dan menghadang di depan suhu-nya. Kini tampak olehnya betapa muka suhu-nya itu basah oleh air mata yang masih menetes-netes dari kedua mata itu dan mengalir di sepanjang kedua pipi yang keriput.

“Suhu...!” Yu Hwi menjatuhkan diri berlutut dan menangis di depan kaki suhu-nya, memegangi tangan suhu-nya dengan perasaan penuh keharuan.

Teringatlah dia akan semua kebaikan suhu-nya itu semenjak dia masih kecil sekali. Terasa benar olehnya kasih sayang gurunya ini kepadanya. Tahulah dia mengapa tadi suhu-nya pergi tanpa pamit, bahkan sama sekali tanpa menoleh kepadanya. Kiranya suhu-nya merasa tidak kuat untuk berpamitan kepadanya, dan suhu-nya hendak menyembunyikan kedukaan hatinya karena harus berpisah darinya, bukan hanya berpisah lahir, bahkan harus memutuskan hubungan karena kini dia sudah kembali kepada keluarganya, kepada kakeknya.

“Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan Suhu terhadap teecu, dan sampai mati teecu tidak akan melupakan budi kebaikan Suhu...“

“Swi Hwa, muridku, biar pun engkau adalah Yu Hwi cucu si Raja Pengemis, akan tetapi bagiku engkau tetap Kang Swi Hwa muridku. Engkau sekarang telah kembali kepada kakekmu, seorang gagah perkasa yang patut kau junjung tinggi, patut kau hormati dan patut kau taati. Aku hanyalah seorang maling yang tidak berhak menjadi gurumu, dan aku telah melakukan kesalahan besar terhadap keluargamu. Akan tetapi, biar pun aku tidak mengharapkan lagi untuk kau ingat, aku minta kepadamu, Swi Hwa, agar engkau mempergunakan semua ilmu yang pernah kuajarkan kepadamu itu untuk membela kebenaran dan keadilan. Nah, sudahlah, muridku, kita berpisah dan jangan ingat aku lagi.” Sebelum muridnya sempat menjawab, kakek itu telah berkelebat dan lenyap dari situ, melarikan diri dengan mengerahkan tenaga ginkang-nya sehingga sebentar saja dia sudah jauh sekali.

“Suhu...!” Yu Hwi memekik dan hendak mengejar, namun sebuah tangan memegang pundaknya dengan lembut.

“Yu Hwi, belum pernah keturunan keluarga Yu memperlihatkan kelemahan! Apakah yang kekal di dunia ini? Pengikatan diri hanya merupakan sumber segala derita. Ada waktu berkumpul, pasti ada waktu berpisah.”

Ucapan yang keluar dari mulut kakek Raja Pengemis itu terdengar sedemikian penuh wibawa dan semangat sehingga Yu Hwi atau Kang Swi Hwa atau Ang-siocia seketika berdiri tegak dengan muka agak pucat akan tetapi matanya bersinar-sinar. Dia dapat merasakan kegagahan yang terpancar keluar dari sikap, kata-kata dan pandang mata kakeknya itu dan dia merasa bangga menjadi keturunan keluarga Yu.

Kebanggaan makin membesar dalam diri dara itu pada waktu kakeknya mengajaknya berkeliling ke dalam istana kuno itu dan mendengar penuturan kakeknya mengenai kebesaran nama keluarga Yu, yaitu keluarga nenek moyangnya yang terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan. Kiranya dia bukanlah keturunan keluarga sembarangan, dan hatinya mengandung perasaan penasaran! Dia adalah keturunan keluarga Yu yang besar dan gagah perkasa, tidak kalah hebat dibandingkan dengan keluarga Pulau Es, keluarga dari Siluman Kecil!

“Yu Hwi, setelah engkau kini dapat kutemukan, kita harus cepat-cepat pergi menemui keluarga calon suamimu.”

Ucapan tenang dan lembut dari kakeknya itu mengejutkan hati Yu Hwi bukan kepalang. Namun dara ini dapat menekan perasaannya. Dia adalah keturunan keluarga besar, maka dia pun harus berjiwa besar dan berwatak gagah, tidak boleh memperlihatkan perasaan hatinya! Kenyataan bahwa dia adalah keturunan keluarga besar ini seketika telah mengubah sedikit watak Yu Hwi, mendatangkan semacam keangkuhan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa dirinya ‘besar’. Maka dengan kekuatan batinnya dia telah berhasil menindas perasaannya yang terkejut ketika mendengar ucapan kakeknya itu dan dia hanya memandang tajam kepada kakeknya. Suaranya terdengar tenang saja ketika dia bertanya.

“Calon suami? Apa yang kau maksudkan, Kong-kong?”

Sikap Sai-cu Kai-ong juga tenang sekali dan diam-diam dia merasa girang melihat sikap cucunya. Benar-benar Si Raja Maling tidak mengecewakan, telah mendidik cucunya ini menjadi seorang dara yang gagah perkasa. Dia tersenyum dan memandang cucunya dengan wajah berseri.

“Yu Hwi, semenjak engkau masih bayi, engkau telah bertunangan. Dan jangan engkau khawatir atas keputusan yang diambil kakekmu ini. Tunanganmu itu bukanlah orang sembarangan. Dia adalah keturunan dari keluarga yang jauh lebih besar dan gagah perkasa dari pada keluarga kita malah! Dia adalah keturunan dari keluarga Pendekar Suling Emas, satu-satunya keturunan pendekar itu yang masih ada. Dan jangan kau khawatir, Kam-kongcu, calon suamimu itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, memiliki kepandaian silat yang amat tinggi karena dia mewarisi kepandaian nenek moyangnya, yaitu Pendekar Suling Emas.”

Biar pun sikapnya masih tenang, namun sepasang alis yang hitam kecil itu berkerut. Tentu saja dia sama sekali tidak tertarik ketika mendengar seorang pemuda bernama Kam-kongcu itu, biar pun kakeknya mengatakan betapa pemuda itu tampan dan gagah.

“Kong-kong, mengapa engkau mengikat perjodohanku ketika aku masih seorang bayi? Bukankah perjodohan adalah urusan dua orang yang berhak memilih sendiri calon jodohnya sesuai dengan perasaannya?”

Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek menarik napas panjang. “Boleh jadi benar anggapanmu, cucuku. Akan tetapi di antara kita keluarga Yu dan keluarga Suling Emas, yaitu keluarga Kam, terdapat ikatan yang amat erat semenjak nenek moyang kita dahulu. Kebetulan sekali keturunan keluarga kita yang terakhir terlahir sebagai seorang wanita, yaitu engkau, dan keluarga Kam yang terlahir sebagai seorang pria. Oleh karena itu, atas persetujuan bersama, engkau kutunangkan dengan Kam-kongcu, sehingga dengan demikian, keturunan Yu biar pun akan putus karena tidak ada lagi keturunan laki-laki, namun keturunanmu akan menjadi keturunan keluarga Kam dan berarti keluarga kita tidak putus melainkan menggabungkan dengan keluarga Kam. Sungguh penggabungan yang amat baik dan mengharukan.” Suara kakek itu agak gemetar ketika mengatakan kalimat terakhir.

Biar pun di dalam hatinya merasa tidak setuju dan tidak senang, akan tetapi sebagai keturunan keluarga ‘besar’, Yu Hwi hanya menunduk. Dia tahu bahwa janji seorang seperti kakeknya itu pasti tidak mungkin dapat ditarik kembali! Maka dia pun akan melihat dulu bagaimana keadaan tunangan itu, kalau kelak dia merasa tidak cocok, sampai bagaimana pun juga dia tidak akan tunduk dan menyerah begitu saja!

Sai-cu Kai-ong merasa girang bukan main ketika dia minta kepada cucunya untuk bersilat mempertunjukkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh cucunya itu dari Touw-ong. Dia merasa kagum melihat kehebatan Kiam-to Sin-ciang, dan lebih kagum sekali melihat kecepatan gerakan tangan cucunya yang memperlihatkan kemahiran ilmu mencopet, kemudian tertegun melihat cucunya dapat ‘pian-hoa’ (mengubah diri) menjadi orang lain dalam ilmu penyamarannya yang hebat!

“Ah, engkau telah menjadi seorang gadis yang lihai Yu Hwi. Dalam penggemblenganku sendiri, belum tentu engkau akan menjadi lihai seperti ini. Akan tetapi, engkau berhak untuk mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Yu kita, maka engkau harus menghafal semua ilmu itu untuk kemudian kau latih perlahan-lahan.”

Tentu saja Yu Hwi merasa girang sekali dan selama tiga hari tiga malam kakeknya menurunkan ilmu yang amat hebat, yaitu ilmu warisan keluarga Yu yang mengangkat nama keluarga itu selama puluhan, bahkan ratusan tahun, yaitu Ilmu Silat Khong-sim Sin-ciang, ilmu inti dari para raja pengemis perkumpulan Khong-sim Kai-pang! Setelah dara itu menghafal teori ilmu silat ini dengan baik, maka kakek itu lalu mengajaknya untuk pergi menemui tempat tinggal tunangannya!

Yu Hwi tidak membantah, dan jantungnya berdebar penuh ketegangan pada saat dia melakukan perjalanan dengan kakeknya menuju ke tempat tinggal calon suaminya, yang menurut kakeknya sekarang tinggal bersama Sin-siauw Sengjin! Dia tidak pernah menyinggung nama tunangannya itu, akan tetapi mendengar nama Sin-siauw Sengjin, dia berkata, “Apakah Kong-kong lupa akan pesan suhu? Aku pernah mencuri kumpulan kitab-kitab dari kakek suling sakti itu. Kalau dia mendengar itu dan melihatku, apakah dia tidak akan marah?”

Kakek itu tertawa. “Dia marah kepadamu? Ha-ha-ha, tidak mungkin cucuku. Dan dia tentu malah akan tertawa girang melihat kelihaianmu, apa lagi kitab-kitab yang kau curi itu hanya kitab-kitab palsu. Sudahlah, jangan khawatir. Kita akan menemui keluarga yang paling hebat dalam dunia ini, sedangkan Sin-siauw Sengjin itu hanya merupakan keturunan dari pelayan saja dari keluarga tunanganmu!”

Diam-diam Yu Hwi terkejut sekali mendengar ini dan timbul keinginan hatinya untuk melihat seperti apakah gerangan macamnya orang yang menjadi calon suaminya itu sehingga kakek sakti Sin-siauw Sengjin hanya merupakan keturunan pelayan dari keluarga pemuda itu!

Hari telah sore dan cuaca mulai gelap ketika akhirnya kakek dan cucu itu tiba di puncak sebuah bukit kecil yang kini menjadi tempat tinggal Sin-siauw Sengjin dan para pengikutnya. Di puncak itu terdapat sebuah bangunan sederhana namun cukup besar dan kelihatan sunyi saja. Di sekeliling bangunan terdapat tanaman bermacam-macam sayur dan bunga-bunga, suasananya hening dan bersih sekali.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di depan rumah besar itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri menghadang seorang kakek yang bertubuh tinggi kurus dan memegang tongkat butut. Yu Hwi kagum melihat gerakan kakek ini yang memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi sehingga dapat bergerak secepat itu.

Sejenak kakek tinggi kurus itu memandang kepada Sai-cu Kai-ong dan Yu Hwi, akan tetapi segera sikapnya berubah ketika dia mengenal Sai-cu Kai-ong. Kalau tadinya dia bersikap galak dan angkuh, sekarang wajahnya tersenyum dan dia cepat membungkuk dengan hormat.

“Ahhh, kiranya Kai-ong yang berkenan datang berkunjung. Harap maafkan bahwa guru kami tidak mengetahui sebelumnya sehingga tidak sempat menyambut.”

“Ha-ha-ha, Gin-siauw Lo-jin, engkau makin tua makin gagah saja. Tak usah bersikap sungkan, lebih baik lekas beritahukan gurumu bahwa aku datang dan minta menghadap kepadanya karena urusan keluarga yang amat penting,” kata Sai-cu Kai-ong.

“Silakan Kai-ong masuk dan menanti di ruangan tamu, saya akan melaporkan kepada suhu,” kata kakek itu sambil mempersilakan dua orang tamu itu masuk.

Sai-cu Kai-ong mengangguk dan mengajak Yu Hwi masuk, kemudian mereka berdua duduk di sebuah ruangan yang lebar dan sederhana, sedangkan kakek bertongkat itu lalu mengangguk lagi dan meninggalkan mereka.

“Siapakah kakek lihai itu, Kong-kong? Kalau tidak salah, pada waktu Sin-siauw Sengjin bertanding melawan Pendekar Siluman Kecil, aku pernah melihatnya,” bisik Yu Hwi yang masih kagum melihat kakek itu.

“Dia adalah Gin-siauw Lo-jin. Kau lihat, muridnya saja demikian lihai, apa lagi gurunya! Dan selihai itu pun masih belum dapat menguasai ilmu-ilmu Pendekar Suling Emas dengan sempurna. Yang dapat menguasainya kelak tentu hanya Kam-kongcu, yaitu tunanganmu itu,” kata kakek itu dengan bangga sehingga makin tertarik hati Yu Hwi untuk melihat bagaimana tampangnya pemuda yang dipuji-puji kakeknya ini.

Terdengar suara orang tertawa halus dari arah pintu dalam dan muncullah seorang kakek tua renta yang bukan lain adalah Sin-siauw Sengjin sendiri. Kakek ini nampak tua sekali. Begitu melihat tamunya, dia cepat menjura dengan dalam ke arah Sai-cu Kai-ong sambil berkata, “Ahhh, sungguh girang sekali kami mendapat kunjungan Kai-ong yang terhormat. Mengapa tidak memberi kabar lebih dulu sehingga kami dapat mengadakan penyambutan meriah?”

Sai-cu Kai-ong cepat bangkit dan membalas penghormatan sahabatnya itu, kemudian dia menjawab, “Kami datang secara tergesa-gesa, membawa berita yang amat penting dan tentu akan menggirangkan hati Sengjin yang sudah tua.”

Kakek berambut putih itu memandang kepada Yu Hwi, dan Si Raja Pengemis tahu betapa sinar mata kakek itu nampak tertegun, kemudian sinar mata itu meneliti ke arah dagu cucunya, maka dia tertawa, “Ha-ha-ha, Sengjin, engkau sedang mencari tahi lalat di dagunya?” Dia lalu teringat akan teguran Si Raja Maling kepadanya dan dia tertawa gembira.

Wajah kakek berambut putih itu berubah. “Apa maksudmu, Kai-ong?” Sekarang dia memandang kepada kakek raja pengemis itu penuh keheranan.

Memang tadi dia tertegun melihat Yu Hwi, akan tetapi tentu saja terdapat perbedaan amat besar antara Yu Hwi belasan tahun yang lalu sebagai anak kecil dengan Yu Hwi sekarang yang telah menjadi seorang dara jelita yang sudah dewasa. Kalau dia tadi memandang tertegun, bukan karena dia melihat persamaan, seperti persamaan antara Yu Hwi dan mendiang ibu kandungnya yang dapat dikenal oleh Sai-cu Kai-ong, tetapi karena dia merasa heran mengapa sahabatnya itu datang membawa seorang gadis cantik yang sama sekali tak dikenalnya. Maka, mendengar ucapan sahabatnya tentang tahi lalat di dagu, dia terkejut sekali.

“Maksudku, Sengjin, bahwa yang berdiri di depanmu ini adalah Yu Hwi, cucuku yang dulu kutitipkan kepadamu kemudian hilang diculik orang.”

Mendengar ini, kakek berambut putih itu terkejut bukan main dan dia melangkah maju ke depan, mendekati Yu Hwi dan memandang makin teliti. “Ahhhhh... terima kasih kepada Thian bahwa engkau akhirnya dapat ditemukan dalam keadaan selamat, anak yang baik!” katanya.

“Yu Hwi, lekas beri hormat kepada Sin-siauw Sengjin, karena dia inilah sesungguhnya gurumu sebelum engkau dilarikan oleh gurumu yang sekarang.”

Biar pun hatinya meragu, apa lagi mengingat bahwa dia telah mencuri kitab-kitab milik kakek sakti ini, namun Yu Hwi tidak berani membantah perintah kakeknya dan dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu.

Sin-siauw Sengjin tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk. Dengan sikap lembut jari-jari tangannya meraba baju di punggung dara itu, kemudian membetotnya. Ada tenaga kuat yang memaksa Yu Hwi bangkit berdiri lagi.

“Jangan banyak sungkan, Yu-siocia. Silakan duduk,” katanya lembut.

Yu Hwi merasa heran mendengar betapa di dalam suara itu terkandung penghormatan yang agak berlebihan, seolah-olah kakek itu merendahkan diri dengan menyebutnya Yu-siocia. Akan tetapi dia pun tidak banyak cakap dan duduk di atas bangku yang ditunjuk, yaitu di depan kakek rambut putih itu.

“Kai-ong yang baik, kenapa engkau tidak cepat-cepat memberi kabar kepadaku bahwa engkau telah menemukan kembali cucumu?” Sin-siauw Sengjin menegur sahabatnya.

“Ketahuilah, Sengjin, bahwa aku sendiri pun baru beberapa hari saja bertemu dengan cucuku, dan setelah menurunkan ilmu-ilmu keluarga kami, aku lalu cepat mengajaknya menghadapmu di sini.”

“Ahhh, kalau begitu maafkan teguranku dan terima kasih atas perhatianmu, Kai-ong. Sekarang, coba kau tolong beri tahu kepadaku, bagaimana engkau dapat menemukan cucumu ini? Siapakah yang menculiknya?”

Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang. “Inilah jadinya kalau kita yang sudah tua-tua ini selalu tidak mau kalah mengadu ilmu dengan orang lain. Apakah engkau ingat akan Hek-sin Touw-ong?”

“Ah, Si Raja Maling dari pantai Po-hai yang lihai itu?”

“Benar dia, dan pernahkah engkau bentrok dengan dia?”

Sin-siauw Sengjin lantas mengangguk-angguk. “Ah, aku masih menyesal sekali dengan peristiwa itu. Kami sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah sehingga akhirnya dengan menyesal aku terpaksa melukainya... apa hubungannya dia dengan urusan ini?”

“Bukan hanya jasmaninya yang terluka, akan tetapi juga hatinya, Sengjin. Oleh karena merasa penasaran, apa lagi ketika mendengar bahwa aku, sahabatnya yang akrab, menyerahkan cucuku untuk menjadi muridmu, hatinya menjadi panas sekali dan dialah yang menculik Yu Hwi, yang kemudian diangkatnya sebagai murid, bahkan dianggap sebagai anak sendiri dan dicintanya.”

“Ahhh...!” Wajah kakek tua itu berubah merah, akan tetapi kemarahannya itu segera meluntur. “Salahku sendiri... semua sebab tentu berakibat...!”

“Engkau benar, tidak perlu kita merasa penasaran karena Si Raja Maling itu tidak berniat buruk terhadap Yu Hwi. Bahkan semua kepandaiannya telah diturunkannya kepada Yu Hwi dan cucuku dicinta seperti anak sendiri. Dan kau tahu apa yang dikatakannya kepadaku untuk disampaikan kepadamu? Bahkan kumpulan-kumpulan kitab palsumu telah dicuri orang, dan pencurinya adalah... Yu Hwi sendiri!”

“Ahhh...?” Sin-siauw Sengjin terbelalak memandang kepada Yu Hwi dan dara itu cepat menundukkan mukanya.

“Harap Locianpwe sudi memaafkan kekurang ajaranku...“

Kakek tua renta itu tertawa pahit. “Aihhh, si maling itu sungguh tak kepalang membalas sakit hatinya. Tidak, Yu-siocia, aku tidak marah dan sudah sepatutnya aku menerirna hajaran itu agar aku tidak lagi memandang rendah kepandaian orang lain.”

“Sengjin, kenapa urusan penting dilupakan dan kita bicara urusan sendiri? Mana dia Kam-kongcu? Peristiwa yang amat menggembirakan ini harus kita saksikan, ha-ha-ha! Ingin aku melihat pertemuan antara dua orang calon pengantin yang amat cocok dan sama-sama elok, bukan? Lekas kau persilakan Kam-kongcu keluar!”

Sin-siauw Sengjin tersenyum gembira dan mengangguk-angguk. “Wah, aku sudah pikun, Kai-ong. Dia tadi sedang tekun melatih sinkang bagian terakhir. Anak itu dengan cepat telah dapat menguasai ilmu-ilmu yang paling sukar dan kini sudah melampaui tingkatku. Semua ini berkat bimbinganmu, Kai-ong. Biar kupanggil dia.”

Setelah berkata begitu kakek itu menoleh ke kiri, lalu bibirnya bergerak mengeluarkan suara lirih, akan tetapi suara lirih ini menggetarkan jantung Yu Hwi yang merasa terkejut setengah mati dan cepat dia pun mengerahkan sinkang untuk menahan jantungnya agar tidak terguncang hebat oleh pengaruh khikang suara itu.

“Kam-kongcu, silakan keluar ke kamar tamu, di sini ada Suhu-mu dan tunanganmu!”

Suara itu lirih saja, akan tetapi mengandung getaran amat kuat dan agaknya getaran itu dapat menembus dinding. Hening sejenak setelah gema suara aneh itu lenyap, kemudian lapat-dapat terdengar bisikan yang lirih pula akan tetapi terdengar jelas oleh Yu Hwi.

“Aku datang, Locianpwe...!”

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang halus dari pintu samping ruangan tamu itu. Jantung di dalam dada Yu Hwi lantas berdebar tegang. Kalau dia menurunkan bisikan hatinya yang biasanya wajar, polos dan lincah, tentu dia akan memandang ke arah pintu itu untuk cepat melihat seperti apa gerangan Kam-kongcu yang dikatakan sebagai tunangan atau calon suaminya itu.


SELANJUTNYA JODOH RAJAWALI JILID 29


Thanks for reading Jodoh Rajawali Jilid 28 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »