Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PENDEKAR SUPER SAKTI

BAGIAN 20

Ouwyang Seng tertawa mengejek. Betapa pun cepat gerakan Hian Ceng, namun dia lebih cepat lagi mengelak sambil tertawa-tawa mengejek. Hian Ceng menjadi makin marah dan terus menyerang secara bertubi-tubi yang selalu mengenai tempat kosong, bahkan dia mendesak dan mengejar terus ketika Ouwyang Seng sambil melompat memancing gadis itu menjauhi kawannya.

Ada pun Sin Lian yang tahu bahwa kakek dan nenek yang berdiri tenang itu jauh lebih berbahaya dan lihai, membiarkan Hian Ceng menyerang Ouwyang Seng, sedangkan dia tanpa banyak cakap lagi lalu menggerakkan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang hebat menyerang Ma-bin Lo-mo. Kakek ini mendengus dan tentu saja dia dapat menghindarkan serangan Sin Lian hanya dengan mengibaskan ujung lengan bajunya yang mengandung tenaga sinkang amat kuat membuat pedang yang menyerang itu menyeleweng. Namun Sin Lian tidak menjadi gentar dan terus melanjutkan penyerangannya dengan gerakan cepat sekali, mainkan jurus-jurus dari Chit-seng-sin-kiam sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar terang dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing.

"Hemmm, kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus!" Ma-bin Lo-mo memuji sambil mengelak. Dia tidak ingin cepat-cepat merobohkan gadis ini karena dia tertarik oleh ilmu pedang itu, hendak menyaksikannya lebih dulu.

"Hi-hik, ilmu pedang yang dasarnya adalah Ilmu Silat Siauw-lim-pai. Tentu inilah Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang terkenal itu, ciptaan Siauw-lim Chit-kiam! Si Setan Botak Gak Liat pernah memuji-muji ilmu pedang ini kepadaku!" kata Toat-beng Ciu-sian-li sambil minum arak dari gucinya, matanya menyipit memperhatikan gerakan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.

Sin Lian menjadi terkejut sekali, akan tetapi ia hanya dapat memperhebat serangannya secara nekat. Kecemasannya memuncak ketika ia mendengar Hian Ceng mengeluh dan dengan kerling matanya ia melihat Hian Ceng sudah ditawan oleh Ouwyang Seng, dipegang kedua pergelangan tangannya dan dipanggul oleh Ouwyang Seng yang membawanya memasuki sebuah kemah sambil tertawa-tawa.

Kedua kaki Hian Ceng menendang-nendang dan mulutnya memaki-maki, akan tetapi ia tidak dapat terlepas. Kemarahan membuat Sin Lian makin nekat dan penyerangannya makin hebat. Akan tetapi makin hebat dia menyerang, hal ini agaknya membuat Ma-bin Lo-mo yang selalu mengelak atau menangkis dan nenek yang menonton sambil minum arak itu makin gembira!

Betapa pun Hian Ceng meronta-ronta dan memaki-maki, dia tidak berdaya menghadapi Ouwyang Seng yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya. Akhirnya dara yang biasanya riang gembira ini tertotok dan hanya dapat mengeluh dan menangisi nasibnya yang malang. Di dalam tenda itu terjadilah perkosaan yang keji, perbuatan kejam dan ganas yang hanya akan dapat dilakukan oleh seorang manusia yang sudah menjadi buta oleh nafsu dan sudah bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang menguasainya!

“Ha-ha-ha-ha, dahulu engkau terlepas dari tanganku, sekarang akhirnya engkau menyerah dan menjadi milikku. Siapa yang akan menolongmu, manis?” Ouwyang Seng manusia biadab itu mengejek sambil tertawa memandang korbannya yang terengah-engah seperti hendak pecah dadanya, air matanya bercucuran dan keadaannya amat mengenaskan.

“Ha-ha, aku takkan membunuhmu, manis. Sayang kalau dibunuh, aku belum bosan padamu. Nanti kutemani lagi, aku hendak melihat temanmu itu dan...”

“Ouwyang Seng manusia binatang!” Tiba-tiba Ouwyang Seng terbelalak kaget ketika tiba-tiba muncul Han Han di depannya! Bagaimanakah pemuda buntung yang sudah terjebak dan terhimpit batu besar itu tiba-tiba bisa muncul di depannya? Setannyakah ini?

Tentu saja bukan! Yang muncul itu adalah Han Han. Setelah dengan susah payah menggali dinding tanah di atasnya, akhirnya Han Han berhasil membuka lubang di sebelah atas batu yang menutup setengah lubang sumur itu dan ia cepat meloncat ke atas. Terlalu lama ia tertutup tadi dan ia sungguh cemas akan nasib Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng. Ia mengharap mudah-mudahan tidak terlambat, maka cepat ia meloncat keluar dari kemah palsu itu, tidak mempedulikan rasa sesak dan sakit di dalam dadanya. Ketika ia tiba di luar kemah, ia melihat Sin Lian menyerang Ma-bin Lo-mo dengan pedangnya. Kakek itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus, tidak membalas, hanya menangkis dan mengelak sambil berulang-ulang memuji keindahan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.

Ada pun Sin Lian yang melihat munculnya Han Han, cepat menjerit, “Han Han! Cepat kau tolong Hian Ceng di kemah itu!”

Han Han melihat keadaan Sin Lian memang belum terancam, maka ia berkelebat cepat ke arah kemah dan mendengar suara ketawa Ouwyang Seng. Begitu ia menerobos memasuki tenda dan melihat keadaan Hian Ceng, hatinya seperti diremas rasanya. Dia telah terlambat!

Sekali saja melirik Hian Ceng, maka kemarahannya membuat wajah Han Han menjadi beringas, sepasang matanya terbelalak seperti mengeluarkan api ketika ia menatap wajah Ouwyang Seng. Apa lagi darah yang tadi keluar dari ujung-ujung bibirnya masih belum dibersihkan, rambutnya masih kotor dengan tanah dan riap-riapan, wajah Han Han pada saat itu seperti wajah maut sendiri!

Ouwyang Seng gemetar. Wajahnya pucat dan ia terbelalak, meraba gagang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya masih berusaha mengancingkan bajunya yang baru saja ia pakai kembali.

“Ouwyang Seng... kau bukan manusia... kau... iblis... tidak berhak hidup lagi setelah apa yang kau lakukan terhadap Hian Ceng...!” Han Han bicara dengan bisik-bisik parau, akan tetapi bagi telinga Ouwyang Seng terdengar makin menyeramkan dan lebih menakutkan dari pada kalau pemuda buntung itu berteriak-teriak.

Namun pemuda bangsawan ini teringat bahwa di luar terdapat dua orang pembantunya yang sakti, maka hatinya menjadi besar dan ia berseru, “Ji-wi Locianpwe lekas ke sini! Si Buntung di sini!” Akan tetapi ia cepat mengelebatkan pedangnya ketika melihat tubuh Han Han bergerak ke depan menerjangnya.

Cepat bukan main gerakan Han Han yang sedang marah ini sehingga Ouwyang Seng secara ngawur saja menyambut berkelebatnya tubuh Han Han itu dengan sabetan pedangnya. Pemuda bangsawan ini mengeluarkan jerit kesakitan, pedangnya terlepas jatuh ke atas lantai karena pergelangan tangan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan tongkat, kemudian ia terbanting roboh kena disambar tamparan telapak tangan kiri Han Han yang amat kuat. Pemuda itu mengerang kesakitan, berusaha bangkit akan tetapi roboh lagi karena tamparan itu membuat dua buah tulang iganya remuk!

Menyaksikan keadaan tubuh Hian Ceng yang masih telanjang bulat, sambil menahan sedu-sedan yang naik ke lehernya dari dalam dada Han Han cepat menggunakan jari tangan kanannya membebaskan totokan Hian Ceng. Gadis itu menjerit dan menangis sedih, meloncat bangun, terhuyung dan menyambar pedang Ouwyang Seng yang terlepas tadi. Han Han hanya dapat memandang dengan hati hancur, kemudian malah menundukkan mukanya, tidak kuat lebih lagi memandang tubuh yang masih telanjang bulat itu.

Hian Ceng mengeluarkan pekik mengerikan, pedang di tangannya berkelebat dan putuslah leher Ouwyang Seng disambar pedangnya sendiri. Gadis itu masih terus membacoki mayat Ouwyang Seng sampai menjadi puluhan potong, darah berhamburan memenuhi ruangan dan lantai, kemudian Hian Ceng menggerakkan tangan yang memegang pedang ke arah lehernya sendiri!

Seperti digerakkan sesuatu yang aneh, Han Han mengangkat muka memandang dan wajahnya menjadi pucat, mulutnya berseru, “Ceng-moi...!”

Ia menubruk maju, namun kembali untuk kedua kalinya ia terlambat. Pedang itu telah menyambar leher sampai hampir putus! Han Han terisak merangkul Hian Ceng, lalu berlutut menyangga punggung dan leher yang terluka hebat. Hian Ceng membuka matanya yang masih berlinangan air mata, akan tetapi bibirnya tersenyum! Han Han merasa seperti jantungnya ditarik-tarik. Sakit sekali rasanya menyaksikan betapa sinar mata gadis itu sama benar dengan sinar mata mendiang Soan Li ketika berangkat mati dalam pelukannya.

“Ceng-moi... Ceng moi...!” Han Han berbisik dan mendekap tubuh itu, tidak peduli betapa darah gadis itu yang mengucur keluar dari leher membasahi seluruh bajunya. Air matanya sendiri menetes-netes ke muka Hian Ceng yang kini memperlebar senyumnya dan makin memucat wajahnya. Beberapa detik kemudian Hian Ceng tewas dalam pelukan Han Han dengan mulut masih setengah terbuka, tersenyum!

Kekejangan terakhir yang disusul kelemasan tubuh yang dipeluknya membuat Han Han merintih, lalu perlahan-lahan ia merebahkan tubuh Hian Ceng ke atas lantai, menarik selimut yang berada di atas pembaringan, menutup jenazah itu dengan selimut, kemudian ia terisak dan meloncat ke luar karena teringat akan keselamatan Sin Lian yang menghadapi lawan tangguh.

“Sin Lian...!” Lengking ini hebat sekali keluar dari mulut Han Han ketika tubuhnya mencelat jauh ke depan, ke arah pertandingan itu. Lengking yang keluar mengandung kemarahan memuncak, kecemasan mendalam dan kedukaan yang mengguncang seluruh perasaan hati Han Han.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kaget hatinya ketika ia melihat Ma-bin Lo-mo berhasil melibat ujung pedang Sin Lian dengan ujung lengan bajunya, dan dengan pengerahan Swat-im Sin-ciang yang amat kuat, Iblis Muka Kuda ini dengan tiba-tiba membalikkan pedang itu dengan kuatnya sehingga pedang di tangan Sin Lian itu membalik dan menusuk dada dara itu sampai tembus! Sin Lian terhuyung-huyung dan matanya terbelalak memandang gagang pedangnya sendiri di depan dada.

Han Han yang mencelat dengan kecepatan seperti sinar menyambar itu telah menukik ke arah Ma-bin Lo-mo dan menggerakkan tongkatnya menusuk dada kakek itu, sedang tangannya ia pukulkan ke arah kepala Toat-beng Ciu-sian-li!

“Prakkk! Desssss...!”

Tongkat di tangan Han Han patah-patah bertemu dengan golok melengkung di tangan Ma-bin Lo-mo, tangan kanannya terbentur dengan lengan Toat-beng Ciu-sian-li yang menangkis pukulannya tadi. Kakek dan nenek itu mengeluarkan seruan kaget dan muka mereka menjadi pucat ketika tubuh mereka terlempar ke belakang dan terbanting ke tanah, akan tetapi mereka bergulingan dan sudah meloncat bangun kembali. Han Han yang sudah terluka sebelah dalamnya ketika ia menghabiskan tenaga mengangkat batu, kini menggunakan serangan dahsyat yang bertemu dengan sinkang kedua lawannya yang kuat pula, maka tongkatnya patah-patah dan biar pun ia tidak terlempar, namun ujung mulutnya kembali mengucurkan darah segar. Han Han tidak mempedulikan dirinya sendiri dan berloncatan ke dekat Sin Lian. Gadis itu masih berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang dan kini ia mengeluh.

“Han Han... ohhhhh, Han Han...”

Gadis itu juga mengucurkan darah dari mulutnya dan tubuhnya tentu roboh kalau Han Han tidak cepat menyambarnya, memeluk dan memondongnya lalu dibawa berloncatan ke bawah pohon. Dengan menyandarkan punggung di pohon dan memondong tubuh Sin Lian, Han Han menangis.

“Sin Lian... aduh Sin Lian... kau... kau ampunkan aku, Sin Lian...! Aku... aku terlambat menyelamatkanmu...”

Akan tetapi Sin Lian tersenyum sehingga tampak aneh sekali. Dalam keadaan seperti itu, dengan wajah yang makin pucat sehingga darah yang mengalir ke pipinya kelihatan amat merah, pedangnya menancap di ulu hati, gadis ini masih dapat tersenyum! Perlahan-lahan lengan kiri Sin Lian yang tergantung itu diangkat dengan lemah, kemudian jari-jari tangan gadis itu mengusap air mata Han Han, mengusap darah di pinggir mulut, membelai rambut yang riap-riapan itu dan dibereskannya ke belakang, mulutnya berbisik-bisik.

“Han Han... ohhhh, Han Han... aku rela... aku senang mati... dalam pelukanmu...! Han Han... kau... kau menangisi aku...?”

Han Han merasa jantungnya seperti diremas-remas. Baru saja menghadapi kematian Hian Ceng yang masih melukai hatinya, kini ia memeluk tubuh Sin Lian yang sedang menghadapi kematian pula! Kepalanya menjadi pening, air matanya menetes-netes dan melihat betapa sepasang mata itu memandangnya penuh harap, naik sedu-sedan di kerongkongannya dan tak kuasa ia mengeluarkan suara, maka ia hanya mengangguk-angguk dan terisak membenamkan mukanya di leher yang berkulit putih halus itu. Ia merasa betapa leher itu berdenyut-denyut dan merasa betapa jari-jari tangan halus itu membelai rambutnya, dengan mesra mendorong mukanya sehingga terpaksa ia mengangkat muka memandang wajah yang makin melayu.

“Han... Han... aku... cinta padamu..., aku rela mati... kau tolong Hian Ceng... dia... gadis baik yang mencintamu pula... selamat tinggal...” Kepala Sin Lian terkulai ke belakang.

“Sin Lian... aduhhh, Sin Lian...!”

Han Han tidak kuasa menahan kesedihannya yang datang bertumpuk-tumpuk, pukulan batin yang datang bertubi-tubi dan ia menangis, mengguguk, dan kalau tidak bersandar pada batang pohon, tentu ia sudah roboh karena seluruh tubuhnya menggigil.

Melihat keadaan pemuda yang menangis dan agaknya tidak ingat apa-apa lagi itu, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li melihat kesempatan baik. Mereka memang merasa jeri menghadapi pemuda buntung yang amat sakti itu, akan tetapi kini mereka melihat kesempatan untuk menerjangnya.

Akan tetapi tiba-tiba Toat-beng Ciu-sian-li berbisik pelan, “Celaka... bocah pengacau itu datang...!” Telunjuknya menuding dan Ma-bin Lo-mo yang memegang golok menoleh.

“Kak Han Han...!”

Lulu datang berlari seperti terbang cepatnya. Dari jauh ia sudah melihat keadaan Han Han yang memondong mayat seorang gadis yang belum ia kenal siapa.

“Han-twako...!”

Ia menjerit lagi melihat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li mempercepat larinya, bahkan kini berloncatan jauh sehingga tiba di depan Han Han.

Han Han tersentak kaget. Seperti baru bangun dari mimpi ia teringat dan sedetik hatinya lega dan girang mendapat kenyataan bahwa adiknya selamat, akan tetapi segera timbul kemarahan dan penyesalannya. Ia memandang Lulu melalui air matanya, mukanya pucat seperti mayat.

Kini Lulu membelalakkan mata memandang mayat gadis yang masih dipondong kakaknya itu, lalu menjerit, “Enci Lian...! Dia kenapa...?” Ia merenggut tubuh itu dari kedua lengan Han Han, diletakkannya di atas tanah, diguncang-guncangnya pundak Sin Lian.

“Enci Lian...! Ooohhhh, dia... dia... kenapa...? Mati...! Enci Lian mati...!” Lulu memeluk mayat itu dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia mengangkat muka memandang Han Han yang masih berdiri bersandar pada batang pohon, melihat muka yang pucat dan basah air mata itu, melihat pakaian di bagian dada dan perut penuh darah, melihat darah di ujung mulut, segera ia meloncat bangun memeluk kakaknya.

“Han-koko...! Kau... kau kenapa...? Apa kau terluka...?” Hatinya penuh kekhawatiran, suaranya menggetar.

“Ah, Lulu anak nakal...!” Han Han merangkul adiknya. “Kemana saja engkau pergi? Sungguh mendatangkan banyak kedukaan di hatiku. Lulu, aku girang melihat engkau selamat dan sehat. Sekarang pergilah, adikku. Pergilah tinggalkan aku, jangan dekat-dekat di sini, berbahaya sekali. Pergilah mencari Sin Kiat, dia seorang yang baik sekali dan amat cinta kepadamu. Pergilah tinggalkan aku bersama mayat Sin Lian...!”

“Koko! Apa kau bilang? Aku tidak mau meninggalkan engkau lagi! Engkau sendiri mau apa?”

“Aku akan mengadu nyawa dengan dua iblis itu!”

“Tapi engkau terluka! Jangan khawatir, ada Lulu di sini. Tidak ada seorang pun iblis yang akan berani mengganggumu!”

“Lulu, adikku sayang, satu-satunya orang yang kukasihi di dunia ini...! Adikku, pergilah, aku rela mati asal engkau selamat dan bahagia. Sin Lian... dia... dia... demi cintanya kepadaku... dia sudah berkorban untuk kakakmu ini... dia berkorban nyawa dalam usahanya menolongku. Tidak bolehkah kalau aku menemaninya mati untuk membalas budinya?”

“Tidak!” Dan tiba-tiba Lulu membalikkan tubuh menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li lalu menundingkan telunjuknya. “Hemmm, kalian dua orang tua bangka yang melukai kakakku dan membunuh enciku, ya? Aku tidak akan mengampunimu!”

“Lulu, jangan...! Jangan mencampuri urusan ini!” Han Han yang mengkhawatirkan keselamatan Lulu, cepat menubruk dan menyambar lengan adiknya, ditarik ke belakang. “Akulah lawan mereka...!”

Han Han hendak menyerbu, akan tetapi begitu ia mengerahkan sinkang untuk meloncat, ia mengeluh dan tubuhnya roboh terguling, pingsan di samping mayat Sin Lian.

“Koko...! Han-koko...! Jangan engkau mati... janganlah tinggalkan aku, Kak Han Han...!” Lulu menjadi bingung dan menangis sambil memeluki dada Han Han, mengguncang-guncang pundaknya, tidak peduli lagi akan keadaan sekitarnya. Akan tetapi Han Han tidak bergerak, mukanya pucat seperti mayat.

Baru Lulu sadar saat sebuah tangan halus tetapi kuat memegang dan mengguncangkan pundaknya. Ia mengangkat mukanya dari dada Han Han, menoleh dan melihat Nirahai telah berdiri di situ dengan wajah lembut akan tetapi angkuh, sedangkan tempat itu telah dikurung oleh banyak pasukan Mancu.

Lulu meloncat bangun, mencabut pedangnya dan melintangkan pedang di depan dada sambil berkata, “Suci! Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa kalau engkau datang hendak mencelakai Han-koko, aku tidak sudi menjadi sumoi-mu lagi dan aku akan melawanmu sampai mati di depan kakimu!”

Nirahai tersenyum, kagum menyaksikan kesetiaan dan cinta kasih sumoi-nya terhadap Han Han. Dia datang dan sudah mendengar akan semua yang terjadi di situ. Melihat tubuh Ouwyang Seng yang hancur lebur di dalam kemah di samping jenazah Hian Ceng yang masih telanjang, ia dapat menduga apa yang terjadi. Dia mendengar pula betapa Han Han berhasil lolos dari himpitan batu besar yang membuatnya kagum bukan main. Kini melihat sumoi-nya, ia diam-diam menjadi kagum dan terharu. Ketika melihat sikap Lulu, ia tersenyum menggeleng kepala dan berkata, “Sumoi, simpanlah pedangmu. Aku tidak akan membunuh kakakmu. Pula, jikalau engkau melawan aku, apakah kau kira dengan cara itu engkau akan dapat melindungi kakakmu? Sama dengan membunuh diri.”

“Aku tidak takut mati! Aku bangga mati membela Han-koko, aku bahagia kalau mati bersama kakakku!”

Nirahai memperlebar senyumnya. “Mengapa bicara tentang mati kalau masih hidup? Aku tidak akan membunuh kalian, akan tetapi karena dia membunuh Ouwyang-kongcu, aku harus menawannya. Engkau boleh ikut dan merawatnya. Lihat, dia terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya, kalau tidak mendapat perawatanmu, dia bisa mati.”

Mendengar ini, Lulu menyimpan pedangnya dan menubruk Han Han lagi, penuh kekhawatiran.

“Biarlah dia digotong ke dalam dan kau boleh merawatnya, akan tetapi kalian adalah orang-orang tawananku,” kata Nirahai.

Terpaksa Lulu menyerah. Kalau memang masih ada jalan untuk menghindari kematian, ia tidak ingin nekat membiarkan kakaknya mati dan dia sendiri melawan sampai mati. Dia sudah mengenal Nirahai dan tahu sedalam-dalamnya bahwa suci-nya itu pada hakekatnya bukan seorang kejam, malah sebaliknya. Nirahai adalah seorang dara yang berbudi mulia dan lemah lembut, hanya terlalu ‘matang’ mengurus tugas dan membantu pemerintah.

Han Han dan Lulu dimasukkan dalam kamar tahanan yang khusus dibuat di daerah perbatasan. Sebuah kamar yang cukup kuat dan besar, dengan dua pembaringan yang baik dan perlengkapan secukupnya, akan tetapi kamar itu terbuat dari tembok tebal dengan pintu bertirai besi yang masih dijaga oleh para penjaga di luar pintu. Lulu dibiarkan merawat Han Han, bahkan Nirahai mengirim obat-obatan yang dimasak sendiri oleh Lulu di dalam kamar, juga apa saja yang dibutuhkan Lulu dapat diminta melalui penjaga. Namanya saja mereka menjadi tahanan, akan tetapi mereka diperlakukan sebagai tamu-tamu agung.

******************


Sampai sebulan lamanya Han Han berada di dalam kamar tahanan bersama adiknya. Ia telah sehat kembali dan diam-diam mereka berdua berterima kasih kepada Nirahai, terutama sekali ketika mereka bertanya tentang kedua jenazah Hian Ceng dan Sin Lian, dijawab bahwa jenazah kedua orang gadis itu telah dimakamkan sepantasnya oleh Nirahai, bukan disia-siakan seperti mayat-mayat musuh.

“Kini pemerintah tidak lagi memusuhi para orang gagah. Dua orang dara perkasa itu adalah orang-orang gagah yang patut dihormati. Makam mereka terawat baik dan diberi nisan sehingga akan dapat dicari dan dikenal semua orang, terutama keluarga mereka,” demikian Nirahai menyampaikan pesan melalui seorang perwira. Anehnya, semenjak kedua orang kakak beradik itu ditahan, Nirahai tidak pernah menengok.

“Lulu, kini aku sudah sehat kembali. Kita telah mendengar semua pengalaman masing-masing dan menurut pendapatku, kita berdua telah salah jalan yang biang keladinya ditimbulkan oleh perpisahan kita. Kalau kita dahulu tidak berpisah, tak mungkin engkau sampai terlibat dalam urusan perang, demikian pula aku. Semenjak kecil kita sudah sadar bahwa permusuhan tak boleh dibesar-besarkan. Engkau keturunan Mancu, dan aku seorang pribumi, namun kita telah menjadi kakak beradik. Engkau kehilangan orang tua yang dibunuh para pejuang, aku kehilangan orang tua yang dibunuh perwira-perwira Mancu, namun kau tidak mendendam kepada bangsaku dan aku tidak mendendam kepada bangsamu. Mengapa kita sampai terlibat sehingga kita menjadi bentrok sendiri? Ahhh, adikku sayang, aku telah bersikap terlalu kepadamu, maukah engkau memaafkan aku, Lulu?”

Lulu menangis lalu berlutut di depan Han Han yang duduk di atas pembaringannya, menangisi kaki yang buntung. “Ahh, Han-koko, jangan kau bicara begitu. Akulah yang mohon ampun kepadamu, Koko. Aku adikmu yang nakal, yang selalu tidak menurut kata-katamu, menimbulkan banyak kesengsaraan padamu. Kakimu... ahhhh, kakimu sampai buntung sebelah... Koko... Aku akan rela kalau boleh mengganti kakimu yang buntung...!” Lulu memeluki kaki buntung yang tinggal paha saja itu, dan menangis terisak-isak.

Tiba-tiba Han Han tertawa. “Ha-ha-ha, bocah lucu!”

Ia mengangkat tubuh Lulu sehingga gadis itu bangkit berdiri di depan Han Han yang masih duduk dan memeluk pinggang adiknya dengan kedua lengan, sedangkan kedua lengan Lulu merangkul pundak kakaknya. Lulu juga tertawa, apa lagi ketika Han Han berkata, “Bocah lucu! Aneh sekali. Andai kata engkau bisa memberikan kakimu dan dapat dipasang di tubuhku, tentu kaki darimu lebih pendek, kakiku pendek sebelah, malah buruk sekali, kalau jalan terpincang-pincang... ha-ha-ha!”

Keduanya tertawa akan tetapi Lulu melihat betapa kakaknya itu biar pun mulutnya tertawa, matanya menitikkan air mata. Tahulah ia bahwa kakaknya itu terharu dan hanya memaksa diri tertawa untuk menghiburnya, maka ia merangkul leher dan menangis juga. Keduanya lalu bertangisan!

“Han-koko... dadamu berdebar-debar sangat kencang...!” Tiba-tiba Lulu berkata sambil melepaskan rangkulannya.

Han Han terpaksa tersenyum. Adiknya ini tetap nakal seperti dulu, jujur polos blak-blakan tanpa tedeng aling-aling kalau bicara. Tanpa disadari, ucapan Lulu menikam ulu hatinya dan membuatnya sadar. Ketika berpelukan tadi, rasa haru yang aneh, rasa bahagia yang luar biasa seolah-olah ia memeluk surga dan membuat jantungnya berdebar keras. Wajahnya menjadi merah sekali dan cepat ia berkata.

“Lulu adikku yang terkasih, kau tahu betapa kasih sayangku kepadamu. Kebahagiaanku bersembunyi di balik kebahagiaanmu, adikku. Aku baru akan merasa lega dan senang kalau engkau sudah ada yang melindungi, ada yang mencintamu sampai selama hidupmu. Karena itu, engkau harus mentaati kehendakku, Lulu. Engkau akan kubawa pergi mencari Sin Kiat, karena aku hendak menjodohkan engkau dengan dia. Sin Kiat adalah seorang pemuda yang baik, tampan, gagah perkasa, dan dia amat mencintamu.”

Lulu mengerutkan keningnya dan tidak menjawab sampai lama. Kemudian ia menarik napas panjang, mengangkat muka yang tadi ditundukkan, memandang wajah kakaknya dan berkata, “Aku sudah tahu bahwa dia mencintaku Koko, dan aku tahu pula bahwa dia seorang yang amat baik dan gagah perkasa.”

“Ha...! Kalau begitu kiranya diam-diam engkau telah jatuh cinta kepadanya, bukan?”

Akan tetapi Lulu tidak tertawa atau tersenyum malu, malah masih cemberut dan alisnya berkerut. Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang sebelum menjawab lirih, “Aku tidak tahu apakah aku cinta padanya, Koko. Memang aku suka kepadanya dan kagum, akan tetapi cinta? Ah, aku tidak tahu...! Koko, aku... aku tidak mau dikawinkan dengan siapa pun juga!”

Han Han melengak kaget, “Eh! Mengapa? Apakah engkau sudah mempunyai pilihan lain? Bocah nakal, kalau memang engkau mencinta seorang pemuda lain, asal dia itu benar orang baik-baik, kakakmu tidak akan memutuskan cintamu.”

Lulu menggelengkan kepalanya pula. “Pendeknya aku tidak mau menikah, Koko.”

“Engkau harus mau!”

“Tidak mau!”

Kembali dua saudara angkat ini beradu pandang, sama-sama membelalak lebar penuh kekerasan hati. Han Han yang lebih dulu menghalau kemarahannya. Ia menarik napas panjang.

“Ah, sungguh aku yang tidak tahu diri. Ada hak apakah aku hendak memaksamu? Aku hanya seorang kakak angkat. Maafkanlah, Lulu, aku selalu lupa bahwa aku tidak berhak atas dirimu, akan tetapi semua itu kulakukan di luar kesadaranku, seolah-olah engkau adalah adik kandungku, aku... aku hanya ingin melihat engkau bahagia... hatiku selalu akan menjadi risau dan sengsara, selalu cemas memikirkan engkau kalau engkau belum menjadi isteri seorang yang dapat kupercaya penuh.”

Kekerasan Lulu pun luluh dan ia merangkul kakaknya. “Koko bukan..., bukan seperti yang kau sangka, bukan sekali-kali aku hendak merendahkan permintaanmu dan tidak suka mematuhi perintahmu. Tidak, Koko. Engkau pun merupakan pengganti orang tuaku, dan aku telah berkali-kali membikin susah hatimu. Koko, aku ingin sekali dapat menyenangkan hatimu, aku amat kasihan kepadamu dan aku... aku...” Lulu terisak menangis.

Besar sekali rasa hati Han Han ketika ia mengelus-elus rambut panjang hitam dan berbau harum itu. “Lulu, adikku yang manis, yang cantik jelita...”

Tiba-tiba Lulu melepaskan rangkulannya, menatap tajam dan bertanya, “Han-koko, benarkah engkau menganggap aku manis dan cantik jelita?”

Han Han tersenyum, memandang wajah adiknya itu. Setelah lama tidak berkumpul, kini melihat wajah itu begitu dekatnya, makin nyatalah kecantikan adiknya, kecantikan Nirahai, dengan bentuk-bentuk yang sama, terutama sekali sepasang matanya.

“Engkau cantik manis, adikku. Terutama sekali sepasang matamu, seperti sepasang bintang bercahaya di angkasa, seperti sepasang mata seekor burung hong, dan... dan... juga mulutmu...” Ia terhenti, merasa terlanjur dalam pujiannya.

“Aaahhhhh, lanjutkan, Koko, bagaimana dengan mulutku?” Lulu bertanya, cemberut dan timbul kembali sifat manjanya seperti ketika ia berada di Pulau Es dahulu.

Terpaksa Han Han melanjutkan sambil memandang mulut adiknya, sepasang bibir yang garis pinggirnya jelas seperti dilukis, yang berkulit tipis merah dan selalu basah, berdaging penuh, kalau tersenyum terbuka sedikit tampak ujung gigi seperti mutiara berbaris rapi menyembunyikan lidah kecil merah yang selalu bergerak-gerak dalam goa kemerahan itu. “Mulutmu... hemmm... seperti telaga madu, menjadi sumber kemanisan yang tiada habisnya.”

Mata yang lebar itu berseri-seri dan Lulu kembali merangkul lalu mencium pipi kakaknya seperti dulu sering kali dilakukannya ketika mereka berdua masih tinggal di Pulau Es. “Terima kasih, Koko, terima kasih! Engkau semulia-mulianya manusia bagiku, engkau satu-satunya manusia yang paling kucinta di dunia ini!”

Han Han kembali menggunakan kemauannya untuk menekan debaran aneh pada jantungnya, lalu ia memegang kedua pundak Lulu, didorongkan dan dipandangnya wajah adiknya. “Lulu adikku, aku hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melihat engkau bahagia. Karena itu, engkau hendak kuajak mencari Sin Kiat. Kenapa engkau menolak?”

“Koko, kalau aku dijodohkan dengan orang lain, apakah aku harus ikut dengan suamiku?”

“Tentu saja!”

“Dan engkau akan meninggalkan aku?”

“Hemmm... sudah semestinya begitu, adikku.”

“Kalau begitu aku tidak mau! Aku tidak mau!” Lulu menangis lagi.

Han Han memejamkan mata, menguatkan hatinya dan bertanya dengan suara tegas, “Kenapa, Lulu?”

“Karena aku tidak mau berpisah lagi darimu, Koko! Aku selamanya tidak mau berpisah dari sampingmu!” Tangisnya mengguguk.

Kembali perasaan aneh sekali menikam hati Han Han, perasaan bahagia dan senang luar biasa. Tidak bisa! Ini gila! Dia harus melawan perasaan ini. Dia ini adikku! Adikku, pikirnya.

Ia memaksa diri tertawa. “Ha-ha, engkau bocah nakal! Masa engkau akan ikut kakakmu ini sampai kita menjadi kakek dan nenek?”

“Biar! Aku akan senang sekali, Koko. Biarlah aku tidak pernah kawin, aku akan ikut denganmu sampai mati!”

Han Han mengeraskan hatinya, mendorong tubuh Lulu dan memandang tajam wajah yang basah air mata itu. “Lulu, tidak boleh! Apakah engkau akan membikin hati kakakmu ini sengsara selamanya? Engkau adikku, dan seorang adik yang baik akan mentaati kakaknya. Adikku Lulu, tidak maukah engkau menyenangkan hati kakakmu dengan mentaati permintaanku? Engkau akan hidup bahagia bersama Sin Kiat, aku yakin akan hal ini. Dia seorang yang amat baik. Lulu, sekali lagi kuminta, penuhilah permintaanku ini!”

Sampai lama mereka saling pandang, dan akhirnya, dengan suara berat Lulu berkata lirih, “Han-koko... kalau hal itu berarti kebahagiaanmu... aku... baiklah, aku menurut.” Dia lalu membenamkan muka di dada Han Han sambil menangis.

Han Han mendiamkan saja, membiarkan adiknya menangis. Setelah tangis adiknya mereda, ia lalu berkata, “Marilah kita menemui Nirahai. Kita minta dibebaskan, kalau dia berkemauan baik, tentu permintaan kita akan dia pehuhi. Kalau tidak, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!”

Tanpa menanti jawaban adiknya, Han Han menggandeng tangan Lulu, diajak meloncat ke pintu yang tertutup dengan terali besi. Dia sudah mempunyai sebatang tongkat kayu yang diberikan oleh penjaga atas permintaan Lulu.

“Koko, pintunya kuat sekali dan di luar ada penjaga-penjaga...!”

“Ssstttt, kau ikutlah saja,” kata Han Han yang menggunakan tongkatnya mengetuk-ngetuk pintu dan ketika para penjaga yang enam orang jumlahnya itu menengok, ia berkata, “Harap kalian suka membuka pintu ini, kami hendak menghadap Puteri Nirahai!”

“Ah, kami tidak berani! Kami diharuskan menjaga di sini dan tidak membolehkan kalian berdua keluar dari pintu!” Komandan jaga membantah sedangkan enam orang itu sudah meraba gagang senjata golok mereka untuk menjaga segala kemungkinan.

Han Han tersenyum. “Kalau begitu, aku akan keluar sendiri!” katanya dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan pintu kamar itu jebol berikut jeruji-jeruji besinya, terlepas dari tembok!

Enam orang penjaga itu menerjang maju, akan tetapi Han Han mengelebatkan tongkatnya dan robohlah mereka dalam keadaan lemas tertotok! Sambil menggandeng tangan adiknya, tenang-tenang saja Han Han meninggalkan tempat itu, keluar dari rumah tahanan untuk mencari Nirahai.

Para penjaga yang berada di luar menjadi kaget sekali dan mengurung. Han Han dan Lulu berdiri tegak, kemudian gadis itu berseru, “Apakah kalian sudah bosan hidup hendak menghalangi aku? Aku hendak mencari Suci Nirahai, kalian mau apa?”

Para prajurit Mancu sudah tahu bahwa gadis ini adalah adik seperguruan Puteri Nirahai, maka mereka tidak berani turun tangan mengganggu. Apa lagi, di sudut hati mereka, para prajurit yang sudah mendengar akan kesaktian Han Han yang dijuluki Pendekar Super Sakti, merasa jeri terhadap pemuda berkaki satu itu. Kini mereka hanya dapat memandang, kemudian mengikuti dari belakang ketika Han Han dan Lulu berjalan menuju ke sebuah kemah besar yang berwarna merah, kemah yang ditinggali Puteri Nirahai.

Berbeda dengan perkemahan yang dijadikan tempat tinggal para panglima dan perwira yang selalu dijaga prajurit, di depan kemah merah ini tidak nampak penjaga. Nirahai memang seorang puteri yang tidak mau bersikap sebagai seorang pembesar tinggi yang gila hormat. Ia tetap sederhana dan dia lebih condong hidup dan bersikap sebagai seorang kang-ouw yang mengandalkan diri sendiri dan hidup bebas tidak terikat banyak peraturan yang membosankan.

Di depan kemah merah itu para prajurit bergerombol dan hanya memandang ketika melihat Han Han dan Lulu dengan tenangnya memasuki kemah. Selain para prajurit ini tidak berani mengganggu Lulu dan jeri terhadap Han Han, juga mereka telah mendapat peringatan keras dari Puteri Nirahai untuk tidak melakukan pertempuran selama sang puteri menjalankan siasat perdamaian dengan para pejuang, bahkan tidak boleh menyerbu ke Se-cuan melewati perbatasan sebelum ada perintah. Sisa pasukan istimewa yang tadinya dipimpin Ouwyang Seng, oleh sang puteri telah disuruh tangkap semua dan dikirim ke penjara besar untuk menerima hukuman!

Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu ruangan dalam, Han Han dan Lulu berhenti karena mendengar suara lantang dari Nirahai yang terdengar marah.

“Tidak bisa! Biar pun Ouwyang-kongcu telah terbunuh, akan tetapi Pangeran Ouwyang Cin Kok tidak berhak untuk memerintahkan kepadaku mengirim kepala pembunuhnya! Dia kira siapakah dia itu yang bisa menjatuhkan perintah seperti itu kepadaku? Di daerah perang, di perbatasan ini, akulah yang berkuasa. Aku yang mewakili Ayahanda Kaisar dan semua orang tawanan adalah tanggung jawabku dan hanya aku seorang yang dapat menjatuhkan keputusan hukumannya! Tidak, aku tidak akan dan belum menjatuhkan hukuman mati kepada Suma Han dan aku tidak akan mengirimkan kepalanya kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok seperti dimintanya! Ji-wi Locianpwe tahu bahwa kita sedang menjalankan politik perdamaian dengan kaum pejuang, sedangkan Suma Han tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Pembunuhan yang dilakukannya terhadap Ouwyang-kongcu adalah urusan pribadi dan ji-wi cukup maklum apa yang menjadi sebabnya!”

Han Han dan Lulu mendengarkan dengan hati berdebar. Kemudian mereka mendengar suara Ma-bin Lo-mo penuh desakan dan penyesalan, “Mengapa Paduka menolak permintaan Pangeran Ouwyang Cin Kok? Bukankah pemuda buntung itu telah menimbulkan banyak kekacauan? Dan apakah Paduka lupa bahwa dahulu Paduka telah direncanakan untuk menjadi jodoh mendiang Ouwyang-kongcu! Dengan demikian, Ouwyang-kongcu menjadi tunangan Paduka. Setelah tunangan Paduka terbunuh secara keji, apakah Paduka tidak merasa terhina dan merasa sakit hati terhadap pemuda buntung itu?”

“Hi-hi-hik, Ma-bin Lo-mo, engkau ini sudah tua namun masih bodoh!” Terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li diseling suara berkerincingnya rantai gelang penghias kedua telinganya. “Apakah tidak depat menjenguk isi hati orang muda? Biar pun kakinya buntung sebelah, hati wanita muda yang manakah tidak akan tertarik? Dan kalau mau bicara tentang hati wanita, dari puteri sampai jembel pun tiada bedanya. Hi-hik!”

Tiba-tiba terdengar suara Nirahai penuh kemarahan, “Ji-wi adalah orang tua yang selalu membawa kotoran dalam hati dan pikiran ji-wi! Lekas ji-wi pergi dari sini, karena aku dapat melupakan bahwa ji-wi pernah membantu kami dan kalau aku turun tangan, apakah ji-wi kira aku tidak mampu membunuh kalian?”

“Puteri Nirahai, akulah musuh dan lawan mereka! Haiii, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, aku Suma Han menantang kalian dan kutunggu di depan kemah, keluarlah kalau kalian berani!” Han Han berseru keras, menggandeng tangan adiknya dan keluar dari dalam kemah itu. Para prajurit memandang mereka ini dengan mata terbelalak. Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, maka hanya mengurung tempat itu sambil menanti perintah Puteri Nirahai.

Tak lama kemudian muncullah Nirahai, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dari dalam kemah. Melihat para prajurit, Nirahai lalu melambaikan tangan dan berkata, suaranya berwibawa, “Semua prajurit mundur, boleh menonton dalam lingkaran yang lebar, paling dekat sepuluh meter!”

Para prajurit lalu mundur dan karena semua ingin menonton dan mendengar, mereka lalu membentuk lingkaran mengelilingi tempat itu. Bahkan para prajurit lainnya yang mendengar lalu berdatangan sehingga tempat itu penuh oleh lingkaran prajurit-prajurit Mancu.

“Siapa yang mengeluarkan kalian?” Puteri Nirahai bertanya dengan kereng sambil memandang Lulu.

“Suci, akulah yang memaksa keluar,” kata Lulu.

“Bukan! Akulah yang menjebol pintu karena para perjaga tidak mau membukanya. Kami hendak bicara denganmu, Puteri Nirahai. Akan tetapi mendengar suara dua orang tua bangka jahat ini, biarlah kutunda dulu pembicaraan kita dan sekarang aku menantang Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li untuk bertanding denganku!”

“Hemmm... di puncak Tai-hang-san sudah kuputuskan bahwa kini kami mengadakan perdamaian dengan orang-orang kang-ouw. Apakah engkau menjadi wakil pemberontak Bu Sam Kwi dan menantang pembantu-pembantu pemerintah?” Nirahai bertanya.

Han Han menjawab tegas. “Sama sekali bukan. Aku dan adikku Lulu sekarang tidak sudi mencampuri perang. Aku menantang Ma-bin Lo-mo karena urusan pribadi, karena ingin membalaskan dendam puluhan orang anak murid In-kok-san yang orang tuanya telah dibunuh semua oleh Iblis Muka Kuda ini dan untuk membalaskan dendam terhadap kematian Lauw Sin Lian! Aku pun menantang Toat-beng Ciu-sian-li, karena berkali-kali dia hendak membunuhku, bahkan yang terakhir aku tentu telah mati dibunuhnya kalau tidak muncul Kim Cu sehingga hanya sebelah kakiku yang buntung. Aku tantang mereka berdua sebagai musuh pribadi!”

Di dalam lubuk hatinya, semenjak dua orang iblis tua itu muncul sebagai utusan Pangeran Ouwyang Cin Kok untuk minta kepala Han Han sebagai hukuman atas kematian Ouwyang Seng, Nirahai sudah mengambil keputusan untuk mengenyahkan dua orang itu. Dan ketika Han Han datang bersama Lulu, dia pun sudah tahu maka dia sengaja bicara keras.

Tantangan Han Han terhadap dua orang itu amat menggirangkan hatinya, maka puteri cerdik ini tidak mengusir para prajurit, bahkan memperkenankan mereka menonton agar mereka mendengar dan menjadi saksi atas pertandingan yang memang ia harapkan ini. Ia tahu bahwa Han Han telah sembuh dan bahwa pemuda itu amat sakti, tentu sanggup menandingi mereka berdua. Maka kini dengan aksi mengangkat pundak ia berkata.

“Pemerintah tidak akan mencampuri urusan dendam pribadi, bahkan selalu akan menjadi saksi. Terserah tanggapan Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li atas tantangan Suma Han, kami tidak mencampurinya, hanya ingin melihat pertandingan yang adil dan sah!”

Dua orang datuk kaum sesat itu diam-diam merasa jeri terhadap Han Han, akan tetapi untuk menolak tantangan, tentu saja mereka merasa malu. Pula, mereka adalah dua orang tokoh besar, masa harus melarikan diri terhadap tantangan seorang pemuda yang buntung sebelah kakinya? Biar pun kini tiada tokoh kang-ouw yang menyaksikan, bahkan kedua orang pendeta yang menjadi utusan Pangeran Kiu juga telah kembali ke Se-cuan, namun ada ratusan orang prajurit Mancu menjadi penonton.

Akan tetapi, Toat-beng Ciu-sian-li masih berusaha untuk menghindarkan pertandingan dan berkata, “Suma Han, engkau sekarang mengakui sebagai keturunan Suma! Jai-hwa-sian Suma Hoat adalah Kakekmu! Lupakah engkau bahwa aku adalah isteri Kakek Buyutmu Suma Kiat? Aku adalah Nenek Buyutmu sendiri! Hayo berlutut memberi hormat atas kekurang ajaranmu menantangku!”

Akan tetapi Han Han tertawa mengejek. “Tidak kusangkal bahwa aku menyesal sekali, adalah keturunan keluarga Suma yang jahat seperti keluarga iblis itu! Engkau adalah seorang di antara selir-selir Suma Kiat yang tentu banyak jumlahnya, entah selir yang syah ataukah selir gelap-gelapan! Akan tetapi aku tidak akan mengakuimu, bahkan andai kata Kakekku yang berjuluk Jai-hwa-sian itu masih hidup, kalau mengingat akan kejahatannya, dia akan kutantang pula! Toat-beng Ciu-sian-li, aku ulangi lagi tantanganku kepadamu, bukan sekali-kali sebagai nenek buyut, melainkan sebagai seorang datuk kaum sesat yang telah menumpuk dosa. Ataukah kau tidak berani melawan bekas muridmu sendiri yang telah kau buntungi kakinya? Dan engkau, Ma-bin Lo-mo, apakah engkau telah berubah menjadi pengecut, lebih pengecut dari pada perbuatanmu membunuhi keluarga para murid In-kok-san?”

Kemarahan dua orang tokoh tua itu memuncak dan biar pun mereka maklum akan kesaktian Han Han, namun keduanya juga memiliki kepandaian yang sudah amat tinggi tingkatnya. Toat-beng Ciu-sian-li memekik dan begitu tangannya bergerak, tiga sinar terang menyambar ke arah dahi, dada dan pusar Han Han. Itulah senjata gelap gelang yang ia lolos dari rantai gelang di telinganya.

“Lulu, mundur!” Han Han berteriak.

Lulu meloncat ke dekat Nirahai dan Han Han menggerakkan tangannya. Dengan hawa pukulan sinkang yang kuat sekali ia membuat tiga buah gelang itu menyeleweng dan menghilang ke dalam tanah di depan kakinya!

“Wuuuttt, tring-tring-tranggggg...!”

Toat-beng Ciu-sian-li sudah menerjang maju dan sekaligus kedua anting-anting rantai gelang rambutnya yang panjang dan kedua tangannya sudah bergerak melakukan penyerangan secara berbareng.

“Singgg... ngiuuukkkkk...!”

Ma-bin Lo-mo juga sudah menerjang maju, golok melengkung di tangan kanan menjadi gulungan sinar, tangan kirinya memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang!

“Cuat-cuattt...!”

Tubuh Han Han mencelat seperti kilat dan telah lolos dari kepungan serangan yang amat hebat itu. Tubuhnya bergerak-gerak dengan loncatan aneh sehingga pandang mata Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li menjadi kabur. Mereka harus membelalakkan mata, bergerak cepat dan bersikap waspada.

“Heiiiii! Mengapa main keroyok? Ini tidak adil!” Nirahai berseru. Biar pun ia tidak khawatir melihat pengeroyokan atas diri Han Han, namun sebagai saksi dan juri, dia harus mencela agar tidak dianggap berat sebelah.

“Terima kasih, Puteri. Biarlah mereka mengeroyok, memang selama hidupnya orang-orang seperti mereka ini hanya mengandalkan kemenangan dengan kecurangan!” Han Han mengejek.

Kedua orang itu menjadi makin marah, akan tetapi tentu saja mereka menulikan telinga terhadap ejekan-ejekan ini karena maklum bahwa kalau maju seorang demi seorang, tentu mereka akan celaka. Tanpa menjawab mereka telah mengirim serangan secara bertubi-tubi.

Han Han tetap mainkan ilmu silat Soan-hong-lui-kun yang amat hebat. Tubuhnya lenyap dan hanya tampak berkelebatnya bayangannya yang saking cepat gerakannya sampai seolah-olah berubah menjadi banyak itu. Dia hanya mengelak dengan loncatan-loncatan ke sana-sini sehingga tampaknya seperti dua orang anak-anak yang canggung mengejar dan berusaha untuk memukul seekor lalat yang amat cekatan.

Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee adalah seorang ahli bermain golok melengkung, dan tenaganya Swat-im Sin-ciang amat kuatnya, bahkan lebih kuat dari pada tenaga sinkang Setan Botak, lebih kuat pula dari tenaga sinkang Toat-beng Ciu-sian-li. Akan tetapi nenek itu jauh lebih berbahaya karena biar pun sinkang-nya tidak sekuat Ma-bin Lo-mo, namun dalam hal ilmu silat, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat lebih lihai dan banyak sekali macam ilmunya.

Nenek ini puluhan tahun lamanya berkecimpung di dunia kaum sesat, mempelajari bermacam ilmu dan sebagai selir terkasih Suma Kiat, dia menuruni pula ilmu-ilmu aneh dan mengerikan dari suaminya itu. Dia ahli mempergunakan rambutnya sebagai senjata. Biar rambutnya sudah banyak uban-nya, namun masih panjang dan rambut yang halus ini berbahaya sekali, dapat melibat senjata lawan, dapat menjerat leher, dan bahkan dapat pula menjadi keras menegang dan digunakan sebagai alat penotok jalan darah!

Senjata rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya juga merupakan senjata yang ampuh sekali, karena selain sukar diduga gerakannya karena digerakkan bukan dengan tangan melainkan dengan gerakan kepala, menjadi imbangan yang membingungkan bagi lawan dengan gerakan penyerangan rambut. Ditambah lagi dengan kuku-kuku jari tangannya yang beracun, telapak tangannya yang mengandung hawa pukulan Toat-beng-tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa) yang biar pun tidak sekuat Swat-im Sin-ciang, namun mengandung hawa beracun yang jahat sekali!

Han Han yang sudah beberapa kali bertanding melawan dua orang ini tahu bahwa dikeroyok dua orang ini sama dengan dikeroyok sedikitnya sepuluh orang. Yang paling berbahaya baginya adalah si nenek yang sambil menyerang menyembunyikan anting-antingnya, suaranya berkerincingan mengacaukan perhatian, bahkan bagi para pendengar yang tidak memiliki sinkang kuat dapat menggetarkan jantungnya.

Baiknya para prajurit menonton dari jarak jauh sehingga getaran suara itu hanya membuat mereka menutupi telinga karena amat tidak enak didengar, seperti orang mendengar suara kaleng digurat-gurat. Maka, kini setelah berloncatan ke sana-sini dan gerakan ilmu gerak kilat pada kaki tunggalnya sudah lancar, mulailah ia membalas dengan serangan tongkat yang ia mainkan dengan gerakan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, sedangkan tangan kirinya ia pukulkan dengan sinkang yang berubah-ubah, kadang-kadang ia menggunakan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang, kadang-kadang ia menghadapi pukulan Ma-bin Lo-mo dengan tenaga yang sama, yaitu Swat-im Sin-ciang, namun jauh lebih kuat!

Kini mulailah Han Han menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun yang memungkinkan ia berloncatan cepat menjauhi Toat-beng Ciu-sian-li dan mendesak Ma-bin Lo-mo! Toat-beng Ciu-sian-li maklum bahwa Han Han hendak merobohkan murid keponakannya dulu, maka ia berteriak-teriak dan mengejar terus. Namun gerakannya jauh kalah cepat oleh Han Han sehingga bagi para penonton yang tidak dapat mengikuti dengan pandangan mata biasa, seperti prajurit-prajurit Mancu itu, yang kelihatan hanya berkelebatan tubuh Han Han dan Ma-bin Lo-mo yang sibuk menangkis dengan goloknya, dan melihat nenek itu berlari-lari memutari tubuh Ma-bin Lo-mo sambil berteriak-teriak memaki seperti orang gila!

Ma-bin Lo-mo mempertahankan diri sekuatnya. Ketika melihat tongkat menyambar, ia mengerahkan tenaga mengayun goloknya menangkis, dan tangan kirinya sudah menghantam ke arah bayangan Han Han dengan Swat-im Sin-ciang. Saat inilah yang dinanti-nantikan oleh Han Han. Tongkatnya ia pukulkan dengan kuat, dan tangan kanannya menyambut pukulan itu dengan tenaga Im-kang pula yang jauh lebih kuat. Dua senjata bertemu di udara, tepat pada saat dua telapak tangan mereka bertemu.

“Krakkk! Dessss...!”

Golok patah menjadi tiga dan tubuh Ma-bin Lo-mo menggigil, kemudian ia terhuyung mundur, dari telinga, mata, hidung dan mulut juga dari lubang-lubang di bawah tubuh, mengucur darah dan akhirnya roboh dengan napas putus. Tubuhnya berubah membiru dan kaku seperti sebatang kayu karena tubuh itu sudah membeku!

“Bocah setan...!” Toat-beng Ciu-sian-li memaki menutupi rasa gentarnya, semua senjatanya yang ampuh, rambut, sepasang rantai gelang dan kedua tangannya menyerang kalang-kabut.

Ketika Han Han menggunakan tongkatnya menangkis, sepasang rantai gelang yang panjang dan pendek itu bergerak seperti dua ekor ular, tahu-tahu telah melibat-libat pada tongkat itu dan mendadak nenek itu menggerakkan kepalanya. Dua helai rantai gelang itu membetot ke kanan kiri. Han Han terkejut karena benar-benar amat kuat tarikan dua rantai gelang itu. Dia pun mengerahkan tenaga membetot.

“Krekkk-krekkk-kraaakkkkk!”

“Aihhhhh...!” Nenek itu menjerit.

Tongkat Han Han patah-patah menjadi tiga potong, akan tetapi dua helai rantai gelang itu pun copot dari kedua telinga Si Nenek, merobek bagian bawah daun telinga di mana rantai itu tergantung! Nyerinya begitu hebat bagi seorang nenek yang demikian sakti, akan tetapi rasa kaget dan malu membuat ia menjadi marah dan nekat. Kepalanya bergerak dan rambutnya sudah membelit leher Han Han.

Pemuda ini tak sempat mengelak, rambut itu seperti hidup, tahu-tahu telah membelit dan mencekik leher. Otomatis kedua tangannya ia gerakkan ke leher untuk melepaskan libatan dan menarik putus rambut itu, akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menggerakkan kedua tangannya yang berkuku panjang, yang kiri mencengkeram ke arah ulu hati, sedangkan yang kanan mencengkeram ke bawah pusar Han Han untuk meremas hancur anggota kelaminnya!

“Koko, awas...!” Tak tertahankan lagi Lulu yang menyaksikan gerakan nekat dan curang itu berseru.

Nirahai menonton dengan sepasang mata tak pernah berkedip dan hatinya menjadi tegang, namun ia tetap waspada untuk mencegah kalau-kalau Lulu yang sudah tak enak berdiri sejak tadi itu turun tangan membantu kakaknya.

Han Han sekarang bukanlah seperti Han Han dahulu ketika baru keluar dari Pulau Es. Setelah menerima gemblengan dari Khu Siauw Bwee, dia telah menguasai ilmu silat tinggi dan memiliki kewaspadaan seorang ahli. Dia tidak akan patut disebut orang sebagai Pendekar Super Sakti kalau dia tidak melihat gerakan kedua tangan nenek itu. Dari gerakan pundak saja ia sudah mengetahui lebih dulu sebelum kedua tangan nenek itu menerkam tubuhnya.

Ia membiarkan lehernya tercekik, mengerahkan tenaga untuk melindungi leher sehingga cekikan tidak menghalangi pernapasannya, berbareng secepat kilat ia menggerakkan kedua tangan menerima kedua tangan nenek itu sehingga dua pasang telapak tangan bertemu. Nenek itu terus mencengkeram kedua tangan Han Han sambil mengerahkan tenaga Toat-beng-tok-ciang. Akan tetapi Han Han tidak menolak, malah pemuda ini pun mengerahkan sinkang, yang kiri mengerahkan inti Swat-im Sin-ciang, yang kanan mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang!

Dua orang itu berdiri tegak, rambut nenek itu mencekik leher, kedua pasang tangan mereka saling cengkeram dan terjadilah adu tenaga yang amat menegangkan bagi Lulu dan Nirahai. Mereka berdua maklum bahwa Han Han dan nenek itu mengadu tenaga sakti yang amat berbahaya.

Kini tangan kiri nenek itu yang bertemu tangan kanan Han Han yang mengepulkan asap dan kuku-kukunya yang panjang hangus, sedangkan tangan kanannya menggigil. Muka nenek itu sebentar pucat sebentar merah, napasnya terengah-engah dan ia berkata parau.

“Aku Nenek Buyutmu... Nenek Buyutmu...!” dan dari kedua mata nenek itu bercucuran air mata!

Han Han merasa muak, juga kasihan. Air mata hanya dapat dikeluarkan dari hati yang baik! Hanya orang yang berduka, orang yang menyesali perbuatannya, orang yang kalah dan tertekan batinnya saja yang akan dapat mengucurkan air mata. Dan tak dapat disangkal lagi, menangis sama dengan berdoa, karena hanya orang yang menangis saja yang mendekatkan hatinya dengan Tuhan!

“Pergilah!” seru Han Han dan ia mengerahkan semua tenaganya mendorong.

Tubuh nenek itu terlempar dibarengi jeritnya yang menyayat hati. Rambutnya masih melibat leher Han Han karena dalam saat terakhir itu, nenek ini masih tidak mau melepaskan niatnya membunuh Han Han, maka masih melakukan perlawanan. Kalau saja dia mengaku kalah dan tidak melakukan perlawanan dengan seluruh tenaga, agaknya ia akan terlempar saja dan masih selamat. Akan tetapi ia melawan, maka selain rambut kepalanya coplok dan tertinggal semua di leher Han Han, juga tenaga yang ia kerahkan di kedua tangannya membalik dan menghantam isi dadanya sendiri. Ia terbanting dengan kepala tak berambut lagi, kedua telinga robek, dan tubuhnya hangus sebelah. Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat tewas dalam keadaan yang lebih mengerikan dari pada kematian Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee!

Lulu berlari menghampiri kakaknya dan memeluk pundak Han Han yang melepaskan libatan rambut dan membuang rambut itu dengan helaan napas panjang. Kemudian ia melepaskan pelukan Lulu dan menengok ke kiri. Juga Lulu mendengar suara ribut-ribut di antara para prajurit. Nirahai sendiri pun memandang ke jurusan itu dan wajahnya berubah, keningnya berkerut.

“Katanya diadakan perdamaian, kenapa hendak menghadap Puteri Nirahai saja kalian ribut-ribut hendak menggunakan kekerasan?” Terdengar suara lantang di antara hiruk-pikuk suara para prajurit.

“Sin Kiat...!” Han Han berseru girang.

“Biarkan mereka menghadap!” perintah Puteri Nirahai.

Para prajurit mundur dan membuka jalan, membiarkan serombongan orang muda memasuki tempat itu. Mereka terdiri dari belasan orang muda. Sin Kiat berjalan di depan dan orang-orang muda lainnya adalah murid-murid In-kok-san, empat orang gadis dan belasan orang pemuda yang kesemuanya bersikap gagah. Han Han melihat di antara mereka para murid In-kok-san ada yang pernah menyerang Nirahai dalam jolinya.

Melihat Han Han dan Lulu, Sin Kiat berteriak girang dan lari menghampiri. Akan tetapi ketika melihat Puteri Nirahai berdiri di situ, Sin Kiat lalu menghadap puteri itu dan berkata gagah, “Aku bernama Wan Sin Kiat dan kawan-kawan ini adalah murid-murid In-kok-san. Kami mendengar keributan yang terjadi di sini, mendengar bahwa sahabat-sababatku Han Han dan Nona Lulu tertawan, maka kami datang untuk mengajukan protes. Pemerintah mengumumkan perdamaian akan tetapi mengapa sahabat-sahabatku ditawan?”

Sementara itu, para murid In-kok-san memandang mayat-mayat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dengan mata terbelalak, bahkan empat orang gadis itu menangis, bukan karena duka melainkan karena terharu melihat betapa musuh besar mereka, Ma-bin Lo-mo bekas guru yang ternyata menjadi pembunuh keluarga mereka, kini telah menggeletak tak bernyawa.

Puteri Nirahai tersenyum dan memandang dengan sinar mata dingin. “Apa yang terjadi di sini bukanlah urusan perang, melainkan urusan pribadi. Dan kalian melihat sendiri, kedua orang yang kau maksudkan itu tidak lagi menjadi tawanan kami. Bahkan kami memberi kebebasan kepada Suma Han untuk bertanding melawan dua orang musuhnya tanpa campur tangan dari kami!”

Lega hati Sin Kiat mendengar ini dan ia menghampiri Han Han, memegang tangan sahabatnya itu dan memandang penuh kagum, kemudian menoleh kepada Lulu dengan sinar mata penuh kebahagiaan dapat bertemu kembali dengan Lulu, penuh kemesraan sehingga wajah Lulu berubah merah sekali.

“Suma Han! Engkau sudah merobohkan dua orang musuhmu, dan kalau Lulu Su-moi mau pergi, silakan. Kalau engkau hendak pergi, aku pun tidak akan menghalangi, hanya di sini aku menantang engkau untuk berpibu mengadu kepandaian denganku pada malam nanti, tepat tengah malam, di puncak Gunung Cengger Ayam di sebelah utara itu. Aku akan menanti di sana dan kalau engkau tidak datang, aku hanya akan menganggap engkau sebagai seorang laki-laki sombong yang hanya berani melawan orang-orang lemah, juga seorang pengecut besar!”

“Nirahai...!” Han Han terkejut dan menyebut nama itu tanpa disadarinya.

Akan tetapi, sambil mengebutkan lengan bajunya, Nirahai sudah membalikkan tubuh dan pergi memasuki kemahnya.



Lulu menarik tangan Han Han dan pergilah orang muda itu dari tempat itu. Dua orang murid In-kok-san mengangkat jenazah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sambil berkata, “Mereka ini orang-orang jahat di waktu hidup mereka, akan tetapi ini adalah jenazah-jenazah manusia dan mengingat bahwa kami pernah menerima gemblengan mereka, kami akan memakamkan jenazah mereka sebagaimana mestinya.”

Han Han menjadi terharu dan memandang kagum. Para prajurit tidak ada yang berani menghalangi rombongan ini keluar dari daerah perbatasan. Setelah murid-murid In-kok-san membawa pergi dua jenazah itu, hanya tinggal Han Han, Lulu dan Sin Kiat yang duduk di dalam hutan.

Han Han kemudian menceritakan pengalamannya bersama Lulu. Sedangkan Sin Kiat juga menceritakan betapa dia menari-cari Han Han dan kemudian kebetulan sekali mendengar bahwa Sin Lian dan Hian Ceng tewas dalam penyerbuan mereka ke perkemahan Ouwyang Seng, mendengar pula berita mengejutkan bahwa Ouwyang Seng juga terbunuh dan Han Han ditawan bersama Lulu. Maka dengan nekat ia lalu menyusul, bertemu dengan rombongan murid In-kok-san yang kesemuanya merupakan teman-teman seperjuangan dan yang ikut pula bersamanya karena pada waktu itu perang telah dihentikan.

Setelah mereka menceritakan perjalanan masing-masing, Han Han lalu bertanya sambil memandang Sin Kiat dengan sinar mata tajam penuh selidik, “Sin Kiat, engkau adalah sahabatku terbaik, sahabat semenjak kita kecil. Katakanlah sejujurnya, di depan adikku, apakah engkau setulus hatimu mencinta Lulu?”

Wajah Sin Kiat menjadi merah. Lulu yang kedua pipinya menjadi merah pula menunduk, jari-jari tangan kirinya mencabuti rumput di dekat kakinya, jantungnya berdebar. Setelah mendengar keputusan Han Han dalam kamar tahanan, begitu Sin Kiat muncul, ia amat memperhatikan pemuda itu dan memang pemuda ini tak dapat dicela, gagah perkasa dan tampan, sikapnya pun menyenangkan.

“Han Han, seorang laki-laki sejati tidak akan mempermainkan cinta kasih. Aku telah menyatakan kepada Adik Lulu tentang cinta kasihku kepadanya. Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa aku mencinta Adik Lulu sepenuh hatiku, mencinta dengan jiwa ragaku!”

Lega hati Han Han mendengar ini. “Dan engkau berjanji akan melindunginya seperti engkau melindungi dirimu sendiri?”

“Lebih dari itu! Kalau aku diberi kehormatan besar itu, aku akan mendahulukan keselamatan dan kepentingannya. Aku rela berkorban nyawa untuk melindunginya!”

Han Han menoleh kepada Lulu yang makin menunduk, memegang tangan adiknya dan berkata, “Nah, engkau mendengar sendiri, Lulu. Engkau tidak akan menyesal selama hidupmu. Maka sekarang jawablah terus terang saja, aku menjadi saksinya. Apakah engkau bersedia kalau dijodohkan dengan Sin Kiat?”

Sepasang mata yang indah dan lebar itu terangkat, memandang Han Han dan dua butir air mata jatuh berderai di atas kedua pipinya, bibirnya gemetar ketika ia berkata lirih, “Kalau itu yang kau kehendaki...”

“Memang aku menghendaki engkau berjodoh dengan Sin Kiat, adikku. Akan tetapi tentu saja aku tidak akan memaksamu kalau engkau tidak setuju. Jawablah. Maukah engkau menjadi jodoh Wan Sin Kiat?”

Lulu menunduk dan menganggukkan kepalanya. Gerakan ini membuat dua butir air mata baru jatuh lagi. Sin Kiat hampir tidak dapat percaya akan mata dan telinganya sendiri. Mau rasanya ia menari-nari saking girangnya, akan tetapi tentu saja ia merasa malu, hanya jantungnya yang berdebar-debar menari-nari di dalam rongga dadanya.

“Sin Kiat, engkau telah melihat sendiri. Adikku sudah sepatutnya menjadi ratu rumah tangga. Sekarang harap engkau suka mengajak Lulu pergi dan mempersiapkan acara pernikahan. Siapakah yang akan menjadi walimu dan di mana kiranya upacara itu akan dilaksanakan?”

“Aku sudah mengambil keputusan untuk mohon kepada suhu agar suka menjadi waliku, ada pun tempatnya, kurasa paling baik di rumah Tan-piauwsu.”

“Hemmm... di Pek-eng-piauwkiok? Di kota Kwan-leng?”

“Benar, aku tidak mempunyai keluarga, dan Tan-piauwsu adalah orang yang amat baik, kuanggap keluarga sendiri.”

“Baiklah. Kau berangkatlah bersama Lulu ke Kwan-teng, buatlah persiapan upacara pernikahan. Tiga bulan lagi semenjak hari ini, aku akan menyusul ke sana.”

Lulu tiba-tiba mengangkat muka dan berkata, “Koko, kenapa begitu? Kenapa engkau tidak sekalian pergi bersama kami? Engkau hendak pergi ke mana?”

“Masih ada urusan yang harus kuselesaikan, Moi-moi. Pertama-tama, malam ini aku harus memenuhi tantangan pibu dari Puteri Nirahai.”

“Aihhhhh...! Aku... aku ikut denganmu, Koko! Puteri Nirahai adalah suci-ku, dan engkau adalah kakakku. Kini kalian berdua hendak mengadu kepandaian. Suci amat sakti, Koko, bagaimana kalau... kalau... ahh, aku hendak menjadi saksi!”

“Tidak boleh, Lulu. Dia mengajak pibu di tengah malam di puncak Gunung Cengger Ayam, hal ini berarti bahwa dia tidak akan membawa teman dan tidak menghendaki saksi. Mungkin dia merasa malu kalau-kalau akan kalah. Tenangkanlah hatimu, aku akan berusaha mencapai kemenangan tanpa harus membunuhnya. Kau berangkatlah sekarang juga bersama Sin Kiat dan tunggu kedatanganku di Kwan-teng tiga bulan lagi.”

Wajah Lulu menjadi pucat dan ia terisak menangis. “Bagaimana kalau... kalau engkau tidak datang, Koko? Kita baru saja bertemu dan berkumpul dan... dan... engkau sudah menyuruhku pergi... aku tidak ingin berpisah denganmu.”

Han Han merasa jantungnya perih, namun ia memaksa diri tersenyum dan memegang pundak adiknya. “Aku pasti akan datang, Lulu. Tidak ada peristiwa yang lebih penting bagiku melebihi upacara pernikahanmu, melihat engkau berbahagia. Hanya kematian saja yang akan mampu menggagalkan kedatanganku tiga bulan mendatang di Kwan-teng. Akan tetapi andai kata demikian, aku pun akan puas karena percaya bahwa di sampingmu ada Sin Kiat yang akan membela dan melindungimu dengan sepenuh jiwa raganya. Berangkatlah, Lulu dan kau sudah berjanji akan menjadi adik yang baik, yang mentaati permintaan kakaknya, bukan?”

“Koko...!” Lulu menubruk dan karena Han Han sudah bangkit berdiri, ia merangkul kaki tunggal itu sambil menangis. Berat sekali rasa hatinya untuk pergi meninggalkan Han Han.

Hampir saja Han Han tidak dapat menahan keharuan hatinya dan kalau ia sampai balas memeluk adiknya, tentu dia akan membiarkan adiknya ikut dia dan kelak bersama-sama ke Kwan-teng. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, lalu berkata kepada Sin Kiat yang memandang penuh keharuan dan bingung apa yang harus ia lakukan.

“Sin Kiat, lekas kau ajak Lulu pergi. Hari sudah hampir gelap, jangan sampai kalian kemalaman di jalan dan di hutan.”

Sin Kiat menghampiri Lulu, memegang lengan gadis itu dengan mesra dan hati-hati, mengangkatnya bangun dan berkata halus, “Marilah, Moi-moi. Kakakmu memang benar, dan sepatutnya kalau kita mentaati apa yang dikehendakinya. Tiga bulan lagi dia akan menyusul kita di Kwan-teng. Dia bukanlah orang yang tidak menepati janjinya, Moi-moi. Marilah!” Sin Kiat menarik dengan halus dan terpaksa Lulu menurut, akan tetapi gadis itu terisak-isak dan sambil berjalan digandeng Sin Kiat, ia menoleh memandang ke arah kakaknya yang berdiri tegak sambil tersenyum.

Han Han melambaikan tangan sambil berkata, “Selamat jalan, Lulu adikku. Selamat berpisah sampai jumpa kembali. Jangan kau nakal, ya?”

Tiba-tiba Lulu merenggutkan lengannya terlepas dari gandengan Sin Kiat, lalu lari menghampiri Han Han, merangkul leher dan mencium pipi Han Han sambil tersedu-sedu. “Koko... Koko... sudah tetapkah keputusanmu...?”

Han Han menahan air matanya yang memenuhi pelupuk mata. “Pergilah, adikku sayang. Pergilah, doaku bersamamu...”

Lulu terisak, melepaskan rangkulan lalu lari meninggalkan Han Han. Terpaksa Sin Kiat juga lari dan dari jauh Han Han melihat kedua orang muda itu lari cepat berdampingan. Air matanya tak dapat ia tahan lagi, mengalir turun ke atas kedua pipinya, bersatu dengan air mata Lulu yang membasahi mukanya, matanya tak pernah berkedip sampai bayangan kedua orang itu lenyap.

“Bodoh! Lemah!” Han Han memaki diri sendiri untuk menguatkan hatinya, akan tetapi kaki tunggalnya menjadi lemas dan ia menjatuhkan diri berlutut di tempat itu, merasa kehilangan, merasa sunyi dan mulutnya berbisik-bisik, “Semoga Tuhan memberkahimu, Lulu adikku tersayang...!”

Han Han termenung dalam keadaan itu, di tempat sunyi, sesunyi hatinya yang terasa kosong. Setelah kegelapan menyelimuti dirinya, barulah ia teringat akan tantangan Nirahai dan ia lalu meloncat bangun, menyambar tongkat yang tadi ia buat dari ranting pohon, dan melesatlah tubuhnya cepat sekali menuju ke gunung kecil Cengger Ayam untuk menghadapi Puteri Nirahai.

******************


Puncak bukit kecil itu merupakan padang rumput yang rata dan malam itu amatlah terang di situ karena bulan sedang purnama. Mengertilah Han Han mengapa Puteri Nirahai memilih tempat ini. Memang sunyi dan padang rumput itu luas, leluasa untuk dijadikan tempat bertanding, pula malam itu bulan purnama membuat tempat itu terang benderang seperti sinar matahari pagi.

Dia tiba di puncak menjelang tengah malam. Di tempat yang sunyi ini Han Han duduk di atas rumput, diam-diam merasa heran mengapa Puteri Nirahai menantang dia untuk pibu. Benarkah puteri itu hendak memenuhi janji, datang di tempat yang sunyi ini? Benar-benar aneh watak puteri itu. Mengajak pibu di tempat ini, tanpa saksi. Bagaimana kalau terjadi seperti yang dikhawatirkan Lulu, yaitu seorang di antara mereka roboh, terluka parah atau tewas? Tentu takkan ada seorang pun manusia mengetahui dan akan terlantar! Apa boleh buat! Sebagai seorang gagah, dia harus berani menghadapi kekalahan.

Dan puteri itu, ahhh, akan tegakah hatinya untuk melukai Nirahai? Dia harus berani mengaku di dalam hatinya bahwa hatinya amat tertarik oleh kecantikan dara itu, bahkan segala gerak-gerik Nirahai amat menimbulkan gairah hatinya. Dan kini dia akan menghadapi dara itu sebagai lawan! Bagaimana ia harus bersikap? Mengalah? Tidak mungkin! Mengalah terhadap lawan biasa mungkin saja dilakukan, akan tetapi terhadap seorang dara yang memiliki kesaktian luar biasa seperti Nirahai, mengalah berarti menghina dan tentu akan diketahui oleh dara itu!

Tiba-tiba Han Han meloncat berdiri ketika melihat bayangan yang amat cepat dan ringan sehingga tidak menimbulkan suara, berkelebat mendatangi dari depan. Jantungnya berdebar keras. Puteri Nirahai telah berdiri di depannya, cantik jelita seperti dewi bulan turun dari kahyangan. Rambutnya yang hitam mengkilap tertimpa cahaya bulan, wajahnya yang jelita seolah-olah diselaput emas, sepasang matanya bersinar-sinar. Puteri ini benar-benar telah menepati janji, datang tepat pada tengah malam dan seorang diri! Betapa gagahnya!

“Bagus, engkau telah menanti di sini? Marilah kita mulai!” Dara itu telah melintangkan pedang payungnya di depan dada.

Terpincang-pincang dibantu tongkatnya Han Han maju tiga langkah menghadapi puteri itu. “Puteri Nirahai, apakah perlunya diadakan pibu ini? Di antara kita tidak ada urusan sesuatu, perlu apa bertanding tanpa sebab yang hanya akan mendatangkan kematian bagi yang kalah dan penyesalan di kemudian hari bagi yang menang?”

“Hemmm... Suma Han, tidak akan mudah bagimu untuk membunuh aku begitu saja seperti yang kau lakukan terhadap Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li siang tadi!”

Han Han tersenyum. Puteri ini cantik, lihai, cerdik akan tetapi juga angkuh dan bersikap agung sesuai dengan kedudukannya sebagai puteri kaisar! “Katakanlah aku yang akan kalah dan mati di tanganmu. Apakah kelak engkau tidak akan menyesal telah membunuh orang tanpa sebab dan tanpa dosa?”

“Tiada gunanya bersilat lidah. Baiklah kukatakan saja sebabnya agar engkau tidak menjadi penasaran dan menganggap aku gila bertanding! Engkau adalah murid Bibi Guru Khu Siauw Bwee yang telah mewarisi ilmu kepandaiannya yang dahsyat, bukan? Dan aku adalah murid guruku Nenek Maya. Timbullah keinginan hatiku untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!”

Han Han menghela napas panjang. “Puteri Nirahai, sebenarnya di sudut hatiku, aku amat membenci penggunaan kekerasan. Membenci perkelahian. Selama ini aku hanya dipaksa untuk berkelahi, padahal aku tidak suka untuk bertanding, apa lagi dengan engkau yang gagah perkasa dan lihai. Engkau adalah pewaris ilmu-ilmu yang dahsyat dari pendekar-pendekar sakti jaman dahulu, pewaris ilmu-ilmu dari pendekar wanita Mutiara Hitam, menjadi murid Nenek Maya yang maha sakti. Biarlah, tanpa bertanding pun aku sudah mengakui keunggulanmu dan aku mengaku kalah.”

“Suma Han, apa kau kira aku ini anak kecil yang dapat kau bujuk dengan kata-kata mengalah seperti diberi kembang gula? Tidak, aku tidak mau menerima alasan seperti itu. Aku menantangmu untuk pibu dan aku hanya akan meniadakan pibu ini kalau engkau mengaku bahwa engkau takut dan pengecut, tidak berani melawanku!”

Wajah Han Han menjadi merah. Ia bukan seorang bodoh dan maklum bahwa sengaja puteri itu menggunakan kata-kata ‘pengecut’ hanya untuk memaksanya. Dia tidak dapat mundur lagi. Bagi seorang gagah, dianggap takut dan pengecut lebih hebat dari pada mati.

“Hemm, baiklah. Agaknya engkau sudah bertekad untuk menguji kepandaianku yang tidak seberapa ini. Hanya satu pesan dan permintaanku kepadamu sebelum kita mulai bertanding, Puteri Nirahai.”

“Katakanlah, engkau cerewet benar. Apa pesanmu?”

Han Han tersenyum. Biar pun Nirahai seorang puteri kaisar yang angkuh, sikap dara ini mengingatkan ia akan kegalakan Lulu!

“Kalau aku menang dan kesalahan tangan sampai membuatmu tewas dalam pertandingan ini, aku akan menyesali peristiwa ini selama hidupku, engkau akan selalu terbayang olehku dan hidupku akan selalu dibayangi penyesalan yang hebat. Sebaliknya kalau aku yang tewas, dan agaknya begitulah mengingat akan kesaktianmu, aku pesan kepadamu, sudilah kiranya engkau tiga bulan mendatang ini mengunjungi Kwan-teng, di Pek-eng-piauwkiok dan mewakili aku melaksanakan upacara pernikahan antara adikku Lulu dengan Hoa-san Gi-hiap Wan Sin Kiat. Maukah engkau berjanji?”

Puteri itu kelihatan kaget dan termangu-mangu. “Sumoi... akan... kawin?” Akan tetapi ia sudah menguasai hatinya dan menjawab tenang, “Baiklah, aku berjanji akan memenuhi pesanmu itu. Mari kita mulai!”

“Aku sudah siap!” kata Han Han, memandang tajam penuh kewaspadaan karena ia maklum bahwa senjata berupa payung itu tidak boleh dipandang ringan.

“Sambut serangan!” Nirahai berseru.

Mata Han Han menjadi gelap. Tiba-tiba payung hitam itu terbuka menyembunyikan tubuh Nirahai dan tahu-tahu ujung payung yang runcing itu sudah meluncur ke arah dadanya. Hebat bukan main serangan ini. Han Han kaget dan kagum, akan tetapi cepat mengangkat tongkatnya menangkis dengan putaran pergelangan tangannya.

“Cring-cring-cring...!”

Setelah tiga kali menangkis, baru Nirahai menghentikan tusukan bertubi-tubi dan berganti gerakan, payungnya tiba-tiba tertutup dan tangan kirinya menampar dari samping mengarah pelipis Han Han, sedangkan payung yang tertutup itu meluncur dengan totokan ke arah lutut kiri lawan!

Han Han cepat mengelak dan melihat serangan itu disusul dengan serangan-serangan dahsyat sekali secara bertubi-tubi, terpaksa ia lalu bersilat dengan gerak kilat yang membuat tubuhnya seolah-olah menghilang, yaitu Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun! Namun dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat dara itu memutar pedang payungnya sambil berputaran, mengarahkan pedang payungnya itu ke atas!

Seperti diketahui, ilmunya Soan-hong-lui-kun yang berdasarkan gerak kilat itu selalu menitik beratkan serangan dari atas, mempergunakan kesempatan selagi tubuhnya mencelat-celat ke atas yang kecepatannya tak mungkin dapat dicapai orang yang berkaki dua. Akan tetapi kini Nirahai memutar tubuh dan pedangnya sehingga tubuhnya bagian atas seperti diselimuti atau dilindungi benteng baja yang tak mungkin ditembus oleh air hujan sekali pun! Inilah ilmu terbaru yang diajarkan Nenek Maya kepada Nirahai yang khusus diciptakan untuk menghadapi Soan-hong-lui-kun!

Han Han menjadi penasaran juga karena sama sekali dia tidak mendapat kesempatan menyerang kalau menggunakan gerak kilatnya, maka ia meluncur turun dan membalas serangan lawan dengan mainkan tongkatnya, mencampur-adukkan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut dengan gerakan ilmu silat yang ia pelajari dari kitab-kitab di Pulau Es.

Nirahai sama sekali tidak berani memandang rendah. Tadi ketika tubuh Han Han mencelat dan lenyap, ia kaget setengah mati. Cepat ia mainkan ilmu yang diajarkan subo-nya melindungi tubuhnya bagian atas. Ia maklum bahwa kalau saja dia tidak mempelajari ilmu baru itu, tentu dia tak akan sanggup menghadapi ilmu mencelat-celat seperti itu yang kecepatannya saja sudah membuat pandang matanya kabur, seolah-olah yang dihadapinya bukan manusia melainkan iblis yang pandai menghilang!

Kini setelah Han Han menyerangnya dengan tongkat yang dimainkan secara kuat dan cepat, hatinya menjadi tenang. Segera ia pun menggerakkan pedang payungnya untuk mengimbangi permainan lawan sehingga kedua orang yang sama kuatnya ini bertanding secara hebat dan seru. Berkali-kali terdengar suara nyaring ketika pedang payung bertemu dengan tongkat, dan terdengar bunyi bercuitan atau berdesingan kalau senjata mereka yang menyambar itu dielakkan lawan yang menusuk tempat kosong.

Han Han merasa tidak tega kalau dia menggunakan sinkang-nya yang luar biasa, yang sukar dicari bandingnya di dunia persilatan masa itu. Juga dia merasa bahwa kalau dia menangkan pertandingan mengandalkan tenaga, ia merasa malu sendiri. Dia adalah seorang pria, dan lawannya seorang wanita. Baru pembawaan mereka saja sudah berbeda semenjak lahir, tentu saja pria lebih kuat. Maka dia hanya menggerakkan tenaga sinkang sedikit saja untuk mengimbangi kekuatan Nirahai.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa hampir ia kecelik dan celaka karena perasaan sungkan ini. Ketika pedang payung itu untuk kesekian kalinya menyambar, dan ia menangkis dengan tongkat, tiba-tiba tongkatnya melekat pada senjata lawan dan payung itu diputar dengan pengerahan tenaga sinkang sedemikian kuatnya sehingga tongkatnya ikut pula terputar! Dia memperbesar tenaganya untuk bertahan, namun masih saja tongkatnya terbawa! Kalau dilanjutkan, tentu tongkatnya itu akan patah atau akan terlepas, maka terpaksa ia mengerahkan sinkang-nya. Setelah mengerahkan delapan bagian tenaganya, barulah tongkatnya terlepas!

“Hebat!” Tak terasa lagi Han Han berseru karena kini ternyata olehnya bahwa dalam hal tenaga sinkang, dara ini sama sekali tidak boleh dipandang rendah, bahkan belum tentu kalah oleh para datuk kaum sesat, malah agaknya sebanding dengan tenaga kedua orang pendeta Lama dari Tibet, berarti hanya selisih sedikit di bawah tenaganya sendiri!

“Sombong! Engkau boleh mengandalkan sinkang-mu!” Nirahai berkata dan wajah Han Han menjadi merah.

Menghadapi dara secerdik ini dia harus berhati-hati. Baru jalan pikirannya saja yang tadinya tidak mau mengandalkan sinkang-nya telah dapat diterka tepat oleh Nirahai! Han Han mengerahkan kecepatannya dan masih mainkan tongkatnya dengan Siang-mo Kiam-sut. Dasar dari ilmu pedang ini tentu saja dikenal oleh Nirahai yang telah mewarisi banyak ilmu-ilmu peninggalan Mutiara Hitam.

Siang-mo Kiam-sut diciptakan oleh pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, akan tetapi tidak pernah dipelajari Nirahai karena memang peninggalan kitabnya tidak ada. Hanya saja karena Han Han mainkan ilmu pedang ini dengan pencampuran ilmu-ilmu yang dilatihnya di Pulau Es, Nirahai menjadi bingung dan bersikap hati-hati. Pertama-tama dara ini menutup payungnya, mainkan payungnya seperti sebatang pedang dengan ilmu pedang Pat-mo Kiam-hoat yang gerakannya liar dan ganas, sesuai dengan namanya Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis). Hebat bukan main ilmu pedang peninggalan Mutiara Hitam ini, akan tetapi masih belum dapat mendesak Han Han.

Pemuda ini pun merasa jengah dan malu kalau mengalah lagi. Biar pun dia masih tidak mau menggunakan pukulan maut, namun sambil memainkan tongkatnya, tangan kirinya didorongkan ke depan dari samping atau dari bawah, sehingga hawa yang amat kuat menyambar keluar dari telapak tangannya. Kadang-kadang ia menggunakan tenaga hawa panas, kadang-kadang hawa dingin, akan tetapi selalu ia memukul ke arah pangkal bahu, lengan, atau paha. Namun betapa kagumnya ketika dara itu tak sempat mengelak lagi, dara itu pun dapat menangkis dengan kibasan tangan kirinya yang mengeluarkan hawa sinkang yang hampir sama kuatnya sehingga hawa pukulannya menyeleweng!

Sampai habis semua jurus-jurus dari Pat-mo Kiam-hoat dimainkan Nirahai, namun keadaannya tetap terdesak oleh tongkat Han Han. Gadis ini memang hendak menguji, maka ia lalu mengeluarkan bentakan halus dan tiba-tiba ilmu pedangnya berubah sama sekali, berbeda seperti bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan yang tadi. Kalau pedang payungnya tadi bergerak seperti iblis-iblis mengamuk, ganas dan liar, kini gerakannya halus teratur rapi, kelihatannya lambat namun sesungguhnya cepat, kelihatan lemah namun sesungguhnya menyembunyikan kekuatan dahsyat sehingga setiap kali pedang payung itu bergerak, terdengar suara bercuitan panjang! Inilah Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) yang dahulu dicipta sebagai lawan dari Pat-mo Kiam-hoat dan tentu saja lebih kuat dan dahsyat dari pada ilmu pedang yang pertama.

Han Han kagum bukan main oleh karena segera ia terdesak hebat! Namun ia juga mengerahkan seluruh kepandaiannya, terutama sekali mengandalkan gerak kilatnya sehingga dalam kecepatan ia selalu mengetahui dan selalu dapat mengelak atau menangkis sambil membalas dengan hebat sehingga perlahan-lahan ia dapat mengurangi desakan lawan, bahkan setelah lewat seratus jurus lebih, dia kembali telah mendesak puteri itu sehingga perbandingan serangan menjadi tiga dua yaitu dia menyerang tiga kali hanya dapat dibalas dua kali oleh Nirahai.

Kembali dua ratus jurus telah lewat dan pertandingan sudah berjalan kurang lebih empat jam! Sinar bulan makin menyuram tanpa terasa dan tahu-tahu keadaan telah menjadi gelap karena bulan sudah lenyap di balik puncak. Tiba-tiba Han Han meloncat ke belakang dan menghentikan serangannya.

“Cuaca begini gelap, sebaiknya kita menghentikan pertandingan,” katanya.

“Sambut seranganku!” Nirahai yang kini hanya mengandalkan ketajaman telinganya sudah menerjang dengan luncuran ujung pedang payungnya.

“Cringgg...!”

Han Han menangkis dan kembali pemuda itu meloncat, menggunakan gerak kilat sehingga loncatannya tidak menimbulkan suara. Puteri itu menjadi bingung karena tidak tahu ke mana Han Han menyingkir, sedangkan untuk menggunakan mata sudah tak mungkin lagi saking gelapnya cuaca yang kehilangan sinar bulan sedangkan matahari masih terlalu pagi untuk dapat menggantikan kedudukan bulan.

“Hemmm, Suma Han! Di mana engkau? Apakah engkau melarikan diri?” Terpaksa Nirahai bertanya, siap dengan pedang payungnya karena begitu Han Han menjawab, dia akan dapat menyerangnya.

Sunyi tiada jawaban.....

“Suma Han, apakah engkau seorang pengecut?” Nirahai bertanya lagi, gemas karena merasa dipermainkan. Dia tidak percaya bahwa pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa itu melarikan diri.

“Jangan menyerang dulu! Dalam keadaan gelap seperti ini, bagaimana bisa dilakukan pibu secara jujur dan adil? Kita tunggu sampai pagi dan kita boleh melanjutkan pertandingan. Pula, aku lelah sekali, ingin mengaso!”

“Kita masih mempunyai telinga! Awas serangan!” Nirahai meloncat ke depan dan menusukkan senjatanya ke arah datangnya suara tadi.

“Trakkk!” Nirahai terkejut karena senjatanya menusuk sebuah batu besar. Kiranya pemuda itu bersembunyi di balik batu besar!

Han Han menahan ketawanya dan berkata, “Nirahai, mengapa engkau seperti haus akan darahku? Aku memiliki gerakan kilat yang jika kupergunakan dalam gelap ini, aku akan mudah menyerangmu dari belakang tanpa kau ketahui. Akan tetapi aku bukan seorang pengecut curang yang hendak menggunakan kelebihan ini untuk mencapai kemenangan dalam gelap. Kita menanti sampai pagi, kalau tidak mau, terpaksa aku akan pergi saja, tidak mau melayani engkau yang haus darah!”

Nirahai penasaran dan marah sekali, tetapi ia tahu bahwa ucapan pemuda itu memang ada benarnya. Ia menghela napas dan segera duduk bersila di atas rumput, menjawab lirih, “Aku akan menanti sampai sinar matahari pagi menerangi cuaca.”

Han Han menjadi lega hatinya. Bertanding melawan seorang yang sakti seperti dara itu di dalam gelap, benar-benar amat berbahaya dan kalau dia menghendaki kemenangan, agaknya dia harus terpaksa merobohkan dara itu yang mungkin akan tewas. Padahal dia sama sekali tidak menghendaki terjadinya hal itu. Sama sekali tidak. Setelah empat ratus jurus lebih bertanding melawan gadis ini, dia merasa makin tertarik, makin kagum dan menaruh hati sayang. Maka ia pun lalu duduk bersila untuk memulihkan tenaganya dan mengatur pernapasannya.

Setelah berhenti bertanding, berhenti menggerakkan tubuh, baru terasa oleh Nirahai betapa lelahnya dia dan betapa dinginnya hawa udara menjelang pagi itu. Dia ingin mengaso dan memulihkan tenaga, maka tidak mau menggunakan tenaga sinkang untuk melawan hawa dingin. Akan tetapi, dengan demikian ia menderita oleh hawa dingin sehingga mulutnya menggigil dan kedua baris giginya saling beradu.

Han Han adalah seorang yang telah tinggal selama bertahun-tahun di Pulau Es, bahkan melatih sinkang di sana, maka tentu saja hawa dingin di puncak Bukit Cengger Ayam ini baginya sama sekali tidak terasa dingin. Dia boleh mengaso dan memulihkan tenaga dengan tenang, sama sekali tidak menderita hawa dingin. Akan tetapi telinganya yang berpendengaran tajam itu dapat menangkap suara gigi dara itu yang saling beradu karena menggigil maka timbullah rasa iba di hatinya.

Tanpa bicara sesuatu ia lalu pergi mencari kayu, membuat api unggun di dekat Nirahai. Semua ini ia lakukan tanpa bicara karena ia tahu bahwa seorang dengan hati sekeras itu tentu akan tersinggung kalau ia membuka mulut. Ia membuat api unggun, seolah-olah dia sendiri yang membutuhkannya, akan tetapi setelah api unggun itu menyala besar, ia lalu pergi menjauh dan duduk di bawah sebatang pohon, menanti datangnya pagi.

Nirahai menjadi gelisah dan tak dapat bersemedhi sebagaimana mestinya. Jantungnya berdebar-debar keras. Pemuda yang hebat sekali, kepandaiannya benar-benar luar biasa dan sukar dicari keduanya. Dan hatinya begitu mulia. Kalau keadaan tidak segelap itu, tentu ia akan menyembunyikan mukanya yang terasa panas dan tentu merah sekali ketika Han Han membuat api ungggun.

Betapa bijaksana pemuda itu yang tidak mau mengeluarkan suara, namun dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti betapa pemuda itu sengaja menbuat api unggun untuk dia! Pemuda itu tahu bahwa dia menderita kedinginan maka membuatkan api unggun sehingga kini tubuhnya terasa hangat dan dia tidak terganggu hawa dingin sehingga dapat mengaso dan memulihkan tenaga dengan bersemedhi. Akan tetapi, kini bukan hawa dingin yang mengganggunya, melainkan hatinya yang berdebar keras!

Sinar matahari pagi mulai bercahaya kemerahan. Perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar itu makin menjadi terang dan mulai mengusir kabut tebal yang menyelimuti puncak bukit kecil itu. Kabut lari membawa serta hawa dingin sehingga permukaan puncak bermandi cahaya matahari dan bumi mengeluarkan hawa yang hangat seolah-olah menyambut dengan hangat mesra kedatangan sinar matahari. Rumput-rumput hijau tegak semua, kehijauan dengan ujung terhias mutiara air embun, seperti perawan-perawan jelita yang muda dan segar sehabis mandi pagi.

“Suma Han, mari kita lanjutkan pertandingan!”

Han Han membuka kedua matanya, sejenak ia mengagumi keindahan cahaya matahari bercumbu dengan daun-daun pohon dan rumput-rumput, kemudian ia menoleh dan memandang kepada Puteri Nirahai yang sudah berdiri tegak dengan pedang payung di tangan. Biar pun hampir semalam bertanding dan sama sekali tidak tidur, dara itu tidak tampak lesu atau kusut, bahkan wajahnya segar kemerahan, hanya rambutnya yang sedikit terurai kusut, namun malah menambah kecantikannya yang asli.

“Suma Han, aku sudah siap! Mari kita lanjutkan!” Nirahai menegur lagi ketika melihat pemuda itu hanya bengong memandang wajahnya.

Han Han menghela napas panjang, lalu bangkit perlahan bersandar pada tongkatnya. Ia bersungut-sungut dan suaranya membayangkan penyesalan hatinya, “Ah, sepagi ini enaknya mandi-mandi lalu minum teh panas menyegarkan tubuh! Akan tetapi engkau sudah mendesakku mengajak bertanding. Nirahai, demikian besarkah rasa sukamu akan berkelahi? Tiada bosan-bosannya setelah setengah malam kita bertanding?”

Sepasang alis Nirahai bergerak. “Semalam kita belum selesai bertanding, terhalang kegelapan dan aku pun belum merasa kalah. Mari kita segera melanjutkan untuk menyelesaikan pibu agar diketahui siapa di antara kita yang lebih unggul!”

Han Han mengerti bahwa seorang seperti puteri ini kalau sudah menghendaki sesuatu pasti akan dikejarnya sampai dapat. Dia harus menyelesaikan pertandingan ini, dan dia akan mengalahkan Nirahai untuk menundukkan hati yang keras ini, untuk menundukkan keangkuhannya.

“Baiklah, Nirahai, kalau demikian kehendakmu. Majulah!” Han Han menantang sambil melintangkan tongkatnya di depan dada dan kaki tunggalnya berdiri tegak, sepasang matanya memandang tajam bersinar-sinar.

Ketika tadi bersemedhi, Nirahai memutar otaknya. Dia telah mengeluarkan Pat-mo Kiam-hoat, kemudian malah mainkan Pat-sian Kiam-hoat, namun kedua ilmu pedangnya yang sukar dicari tandingannya itu ternyata tidak mampu mendesak Han Han. Dia sudah mengambil keputusan untuk mengeluarkan seluruh simpanan ilmunya untuk menguji kepandaian pemuda berkaki satu ini. Maka begitu melihat sikap Han Han, ia lalu membentak nyaring dan kedua tangannya bergerak.

“Sambut jarum-jarumku!”

Han Han melihat berkelebatnya sinar-sinar kecil dan mencium bau yang amat harum. Ia kagum dan terkejut. Jarum-jarum yang mengeluarkan bau harum ini amat berbahaya, selain cepat seperti menyambarnya kilat, juga bau yang harum itu memabukkan, dapat menyeret perhatian lawan sehingga kurang cepat menyelamatkan diri, dan mencium baunya yang harum, Han Han dapat menduga bahwa tentu senjata-senjata rahasia yang halus dan paling berbahaya di antara segala senjata rahasia ini, tentulah mengandung racun.

Maka ia pun cepat menggerakkan tubuhnya, mencelat ke sana sini. Nirahai terus menggerakkan kedua tangannya, menyambit dengan jarum-jarumnya ke mana pun bayangan Han Han berkelebat. Dan dara ini benar-benar kagum sekali. Jarum-jarumnya memang ia pergunakan untuk menguji sampai di mana kehebatan ginkang dari pemuda itu, sampai di mana kecepatan gerak kilatnya. Dia sendiri tidak mungkin dapat mengimbangi kecepatan itu dengan gerakan tubuhnya, maka ia menggunakan jarum-jarumnya.

Dan ternyata, jarum-jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum) yang biasanya sekali lepas tentu mengenai lawan itu, kini tidak ada artinya sama sekali terhadap Han Han. Sampai habis semua jarumnya disambitkan, tidak sebatang pun mengenai Han Han yang terus berloncatan mengerahkan ilmunya Soan-hong-lui-kun! Setelah dara itu tidak menyambit lagi karena jarumnya habis, barulah Han Han meloncat turun di tempat tadi, mukanya biasa saja hanya matanya memandang tajam ke arah Nirahai.

Nirahai yang selain merasa kagum juga merasa penasaran sekali, cepat menerjang maju dengan pedang payungnya. Han Han sudah siap dengan tongkatnya, mulai ia mengelak ke sana-sini untuk melihat dulu sifat-sifat serangan gadis itu. Apakah akan menggunakan ilmu pedang yang telah dimainkan semalam? Akan tetapi ternyata tidak, dan sekali ini permainan pedang payung itu berbeda lagi dengan kedua ilmu pedang yang sudah dimainkan semalam. Jauh lebih aneh dan hebat karena sekarang Nirahai telah membuka payungnya dan mulailah ia mainkan ilmu pedang simpanannya yang paling diandalkan, yaitu Tiat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Payung Besi) yang merupakan penggabungan dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat dan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat!

Payung itu membuka menutup secara tiba-tiba dan terputar merupakan perisai dan menyembunyikan gerakan-gerakan Nirahai, sehingga datangnya serangan dengan ujung payung meruncing itu sama sekali tidak dapat diduga oleh Han Han. Setelah Nirahai mainkan ilmu pedangnya yang aneh ini, Han Han terkejut sekali dan terdesak hebat! Namun ia dapat menghindarkan bahaya dengan loncatan dan gerak kilatnya.

Sambil mengelak ini ia diam-diam memperhatikan dan merasa kagum karena ilmu yang dimainkan dara ini memang luar biasa sekali. Gerakannya kelihatan kacau-balau namun menyembunyikan jurus-jurus yang mengerikan. Itulah penggabungan dua macam ilmu pedang yang sesungguhnya berlawanan sifatnya!

“Kiam-sut yang aneh!” Han Han berseru.

Kini terpaksa ia mengerahkan tenaga pada kedua lengannya sehingga tongkatnya menggetar mengandung hawa Hwi-yang Sin-ciang dan setiap kali menangkis pedang payung, Nirahai merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat dan hampir saja payung itu terlepas dari pegangannya! Ia mengeluarkan suara melengking keras dan memperhebat desakannya. Namun gerakan Han Han terlampau cepat baginya, apa lagi pada saat pemuda itu hampir terkena serangan, tangkisan tongkat pemuda itu membuat Nirahai terhuyung mundur. Tangkisan dengan pengerahan tenaga yang mukjizat itu benar-benar terlampau kuat bagi Puteri ini.

Kembali dua ratus jurus lewat dan dengan ilmu gabungan itu, masih juga Han Han tak dapat dirobohkan oleh Nirahai! Dara itu menjadi marah dan penasaran sekali, tiba-tiba ia membentak dan pedang payungnya membuat gerakan serangan yang amat ganas. Senjatanya itu berubah menjadi gulungan sinar melingkar-lingkar yang menutupi jalan keluar Han Han karena sudah mengurung di bagian atas, tidak memberi kesempatan bagi Han Han untuk meloncat ke atas, sedangkan tangan kiri dara itu memukul dengan ilmu pukulan maut Sin-coa-kun-hoat (Ilmu Silat Ulat Sakti)! Bukan main ganas dan dahsyatnya ilmu-ilmu itu sehingga Han Han berseru kaget. Terpaksa ia mengerahkan tenaga pada tongkatnya, menangkis dan dengan tangan kirinya ia mendorong ke arah pukulan lawan.

“Krekkk! Plakkk... desssss!”

Cepat sekali terjadinya. Payung itu patah menjadi dua, lalu telapak tangan kiri mereka bertemu dan... lambung kiri Han Han dicium ujung sepatu Nirahai yang mengirim tendangan kilat.

Han Han mencelat ke belakang, menyeringai menahan rasa nyeri karena biar pun ia tidak terluka dalam, ujung sepatu yang runcing itu membuat kulit lambungnya lecet! Di lain pihak, Nirahai dengan muka pucat memandang gagang payungnya.

“Maaf, Nirahai. Aku telah kena kau tendang, aku mengaku kalah.”

Nirahai memandang dengan mata mendelik, akan tetapi bagi Han Han, dara itu tampak makin menarik, mengingatkan ia kepada Lulu kalau sedang ngambek!

“Suma Han, benar bahwa pedang payungku telah patah, akan tetapi aku pun telah berhasil menendangmu, maka jangan kau mentertawakan aku lebih dulu. Aku belum kalah. Mari kita lanjutkan!” Setelah berkata demikian, kembali Nirahai menerjang maju menyerang Han Han.

“Aiiihhhhh...!” Han Han terkejut ketika melihat sinar kuning emas yang menyilaukan mata dan tahu-tahu ada hawa yang mukjizat menyambar ke arah dadanya ketika sinar kuning emas itu meluncur dan menusuk dada.

“Tranggggg...!” Ia menangkis dengan tongkatnya dan keduanya terpental mundur.

Han Han memandang dengan mata terbelalak. “Aihhh... itukah senjata keramat Suling Emas?” Ia berseru.

Nirahai tersenyum mengejek, yakin akan keampuhan senjata di tangannya. “Payungku telah kau patahkan, akan tetapi aku masih memegang suling keramat ini, Suma Han. Hendak kulihat apakah engkau akan dapat mengalahkan senjata keramat ini!”

“Ahhh, Nirahai, mengapa engkau menggunakan senjata keramat itu hanya untuk menguji kepandaianku? Kalau sampai aku tewas, hal itu tidaklah amat penting, akan tetapi kalau senjata keramat itu sampai minum darahku, bukankah hal itu patut disesalkan? Bukankah hal itu berarti engkau mengotorkan senjata keramat itu? Marilah kita hentikan, atau kalau dilanjutkan juga, kita menggunakan kedua tangan kosong!”

“Hemmm, kau kira aku sebodoh itu mudah saja untuk kau tipu? Engkau mengandalkan sinkang-mu yang amat kuat, kalau kita bertanding dengan tangan kosong, tentu aku yang kalah. Apakah kau takut menghadapi aku yang bersenjata suling emas?”

“Engkau memang nekat! Marilah!” Han Han berkata, jengkel juga melihat desakan dara ini.

“Sambut ini!”

Nirahai sudah menerjang cepat dan kini ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emas. Terdengar suara aneh seolah-olah suling itu ditiup. Tampak sinar gemerlapan menyilaukan mata dan terbentuklah gulungan sinar kuning emas melingkar-lingkar seperti seekor naga emas beterbangan di angkasa dan bermain-main di dalam sinar matahari pagi!

Perlu diketahui bahwa Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat adalah ilmu pedang yang dahulu dimiliki pendekar sakti Suling Emas, dan memang paling tepat dimainkan dengan senjata keramat ini. Malam tadi Nirahai sudah mainkan Pat-sian Kiam-hoat untuk menyerang Han Han akan tetapi dia tidak berhasil karena dia mainkan ilmu itu dengan pedang payung. Kini setelah ia mainkan ilmu itu dengan suling emas, kehebatannya menjadi berlipat ganda sehingga kembali untuk kesekian kalinya Han Han terdesak hebat.

Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaiannya, mengandalkan kecepatannya, akan tetapi ia lebih banyak mengelak dan menangkis dari pada menyerang sehingga setelah lewat seratus jurus, sudah dua kali ia dicium ujung suling, yaitu pada pangkal lengan kirinya dan pada pahanya sehingga baju di bagian itu robek dan kulitnya berdarah. Untung bahwa dia memiliki sinkang yang amat kuat sehingga ia masih dapat bertahan dan tidak roboh. Rasa penasaran membuat dia melakukan perlawanan sekuatnya. Tadinya memang dia tidak suka mengandalkan sinkang-nya untuk mengalahkan Nirahai karena ia khawatir kalau-kalau akan mengakibatkan Nirahai terluka parah atau tewas. Akan tetapi kini melihat desakan Nirahai yang seolah-olah hendak bersikeras membunuhnya, mulailah ia melawan.

Ketika sinar kuning emas yang menyilaukan matanya itu menyambar ke arah dada, ia cepat menggerakkan tongkat di tangan kirinya untuk menangkis dan terus mengerahkan sinkang sehingga suling itu melekat pada tongkatnya. Nirahai mengeluarkan seruan kaget karena tiba-tiba suling yang dipegangnya itu menjadi panas seperti dibakar, telapak tangannya terasa panas sekali. Maklumlah ia bahwa pemuda itu menggunakan Hwi-yang Sin-ciang. Ia mengerahkan sinkang-nya untuk bertahan sedangkan tangan kirinya ia hantamkan ke perut Han Han dengan ilmu Sin-coa-kun. Akan tetapi Han Han menerima pukulan ini dengan telapak tangan kanannya sambil mengerahkan hawa sakti Hwi-yang Sin-ciang.

“Plakkk!” Kepalan tangan Nirahai menempel pada telapak tangan kanan Han Han dan seketika tubuh dara itu menggigil!

“Lepaskan sulingmu...!” Han Han membentak, suaranya halus karena dia tidak ingin menyinggung perasaan dara itu.

“Tidak!” Nirahai membantah biar pun tangannya yang memegang suling seperti dibakar rasanya dan dari tangan kirinya menjalar hawa dingin yang membuat ia menggigil.

Kedua orang muda itu berdiri seperti arca, saling tidak mau mengalah, akan tetapi juga saling menjaga agar tidak mencelakakan lawan! Kalau Han Han menghendaki, dengan pengerahan tenaga sinkang sekuatnya, tentu Nirahai akan roboh dan tewas, akan tetapi dia tidak tega melakukan hal ini. Di lain pihak, Nirahai yang kini sudah merasa yakin benar bahwa dia tidak dapat mengalahkan Han Han, diam-diam menjadi kagum sekali dan kini ia membuat ujian terakhir, yaitu ingin melihat apa yang akan dilakukan Han Han. Akan membunuhnya? Ataukah... seperti yang dia harapkan, pemuda ini menaruh hati sayang kepadanya?

"Memalukan!" Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan tampak dua bayangan berkelebat cepat sekali ke arah dua orang muda itu. Nirahai dan Han Han tiba-tiba merasa tubuh mereka terlempar ke belakang oleh tenaga yang amat dahsyat.

"Subo...!" Nirahai berseru dan menghampiri Nenek Maya, dua titik air mata menetes di pipinya dan mukanya menjadi merah sekali.

"Subo...!" Han Han berlutut di depan Nenek Khu Siauw Bwee.

Akan tetapi kedua orang nenek itu tidak mempedulikan murid mereka, melainkan berdiri tegak saling pandang dengan mata yang sukar dilukiskan. Ada rasa haru, rasa sayang, rasa dendam dan penasaran bercampur aduk menjadi satu pada sinar mata kedua orang nenek sakti itu.

“Suci...!” Akhirnya Nenek Khu Siauw Bwee menegur, suaranya halus dan anehnya, ada rasa iba terkandung di dalam suaranya ini.

“Sumoi...! Syukur... engkau masih hidup...!” Nenek Maya berkata, suaranya dingin sehingga sukar diduga perasaan apa yang tersembunyi di balik kata-katanya.

Han Han dan Nirahai hanya memandang dengan hati tegang menyaksikan pertemuan antara kedua orang nenek sakti itu.

“Sumoi, jangan kira bahwa muridmu telah dapat menangkan muridku. Jelas kulihat tadi bahwa Nirahai tidak bersungguh-sungguh, kalau dia bersungguh-sungguh, tentu dia sudah dapat membunuh muridmu!”

Nenek Khu Siauw Bwee tersenyum dan dengan suara tenang menjawab, “Suci, tidak terbalikkah wawasanmu itu? Kulihat Han Han yang mengalah tadi!”

“Tidak bisa. Muridku masih lebih lihai dari pada muridmu!” bentak Nenek Maya tidak mau kalah.

Nenek Khu Siauw Bwee yang jelas memiliki watak lebih sabar dan halus, menoleh ke arah Han Han dan bertanya, suaranya kereng, “Han Han, mengapa engkau tadi tidak menggunakan seluruh tenagamu di saat terakhir? Mengapa engkau mengalah?”

Han Han tidak mau menyinggung hati Nirahai, maka sambil menundukkan muka ia berkata, “Dia terlampau sakti, subo. Teecu memang kalah.”

Wajah Nirahai menjadi makin merah mendengar ini dan ia pun menunduk, tidak berani menentang pandang mata Han Han.

“Nirahai, ketika kalian berdua berdiri mengadu tenaga tadi, ada kesempatan baik bagimu. Sekali menendang dengan tendangan sakti ke arah bawah pusarnya, bukankah lawanmu akan kehilangan nyawanya? Mengapa engkau mengalah?” Nenek Maya menegur muridnya pula, suaranya galak.

“Maaf, subo. Teecu... teecu tidak mampu mengalahkannya. Dia terlalu lihai dan teecu memang kalah!”

Han Han mengangkat muka. Nirahai mengangkat muka. Dua pasang sinar mata bertemu pandang, sejenak bertaut, penuh perasaan dan seolah-olah dalam persilangan sinar mata itu terjadi pencurahan seribu kata-kata yang tak terucapkan, membuat keduanya segera menunduk kembali dengan jantung berdebar.

“Hemmm... bocah-bocah ini saling mengalah, mana bisa diukur siapa di antara ilmu kita yang lebih tinggi? Sumoi, marilah kita lanjutkan sendiri!”

Nenek Khu Siauw Bwee tersenyum mengejek. “Kita lanjutkan pertandingan puluhan tahun yang lalu, suci? Baiklah, tapi ingat, sekarang aku tidak akan suka mengalah lagi kepadamu, suci.”

Nenek Maya tertawa dan Han Han harus mengakui bahwa biar pun usianya sudah amat tua, akan tetapi ketika tertawa nenek itu masih mempunyai daya tarik yang luar biasa!

“Sumoi, sekarang pun engkau masih takkan dapat mengalahkan aku!”

“Bagus! Kau kira setelah kakiku buntung satu, engkau dapat memandang rendah kepadaku?” Nenek Khu Siauw Bwee berkata marah.

“Majulah, Khu Siauw Bwee!”

Nenek Khu Siauw Bwee mengeluarkan suara bentakan halus dan tubuhnya lalu lenyap karena dia sudah mencelat cepat sekali, gerakannya lebih cepat dari Han Han dan bagaikan kilat menyambar, dia sudah menyerang Nenek Maya. Akan tetapi Nenek Maya sudah menggerakkan kedua tangan ke atas dan menyambut serangan sumoi-nya. Dua lengan bertemu dan Nenek Khu Siauw Bwee mencelat ke atas lagi, terus menyambar-nyambar dari atas dengan hebatnya. Di lain pihak, Nenek Maya yang sudah siap menciptakan ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu nenek kaki tunggal ini, tetap berdiri tegak, hanya memutar tubuh menghadapi ke arah menyambarnya tubuh sumoi-nya dan selalu dapat menangkis sambil balas memukul. Pertandingan hebat sekali terjadi.

Han Han dan Nirahai yang masih berlutut memandang bengong. Cemas sekali hati mereka, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri urusan antara guru-guru mereka yang masih ada hubungan dekat itu, suci dan sumoi! Mereka melihat pertandingan yang lebih hebat dari pada pertandingan mereka tadi. Melihat betapa tubuh Nenek Khu Siauw Swee menyambar-nyambar seperti seekor burung garuda, sedangkan Nenek Maya tegak seperti seekor harimau yang siap mencakar di saat sang garuda menyambar ke bawah.

Tiba-tiba Nenek Khu Siauw Bwee yang masih berjungkir-balik di udara cepat sekali itu mengeluarkan lengking nyaring. Tubuhnya menerjang dan menukik ke bawah, tangan kirinya mencengkeram ke ubun-ubun Nenek Maya. Nenek Maya menangkap tangan sumoi-nya itu dan tangan kedua orang nenek yang tidak saling mencengkeram itu bergerak cepat memukul.

“Plak! Plak!”

“Celaka...!” Han Han dan Nirahai berseru hampir berbareng dan dengan muka pucat mereka berdua memandang betapa guru masing-masing terhuyung ke belakang dan muntah darah lalu roboh terguling. Akan tetapi keduanya dapat merangkak bangun, saling pandang dan tiba-tiba Nenek Khu Siauw Bwee berkata lemah.

“Suci, engkau memang hebat!”

“Sumoi, engkau lihai! Pukulanmu mendatangkan maut...!”

“Aku pun takkan dapat hidup lagi, suci. Pukulanmu meremukkan isi dada...”

“Ah, sumoi... Siauw Bwee... aku telah berdosa besar padamu. Kasihan sekali engkau, sumoi... puluhan tahun hidup menderita karena setelah kakimu kubikin buntung... kau maafkan aku sumoi...”

“Tidak, Suci Maya... akulah yang menaruh kasihan kepadamu... penderitaanku hanya penderitaan lahir, akan tetapi kau... ah, suheng ternyata mencinta aku seorang dan kau... kau menderita batin yang hebat...”

“Sumoi...!”

“Suci...!”

Kedua orang nenek itu merangkul saling menghampiri, lalu saling rangkul sambil menangis!

Han Han memandang dengan muka pucat, sedangkan Nirahai memandang dengan air mata bercucuran. Terharu hati Han Han melihat puteri itu menangis. Tadinya, sukar baginya membayangkan Puteri seangkuh dan sekeras itu hatinya mengucurkan air mata!

Setelah bertangis-tangisan dalam menghadapi maut itu, Khu Siauw Bwee berkata, “Suci, apakah engkau melihat apa yang kulihat?”

“Maksudmu?”

“Murid-murid kita...!” Khu Siauw Bwee berkata.

Maya tersenyum menyeringai menahan rasa sakit di dadanya oleh tamparan tangan sumoi-nya di punggungnya tadi. Ia mengangguk.

Khu Siauw Bwee menekan dadanya yang tadi terpukul suci-nya. “Suci..., kita sudah saling memaafkan... biarlah kita akhiri pertentangan ini dengan persatuan. Aku mewakili muridku, suci... mengajukan lamaran kepadamu agar muridmu menjadi jodoh muridku...”

Nenek Maya tertawa terkekeh-kekeh girang akan tetapi ia berhenti tertawa karena dadanya menjadi makin sesak. “Baik... kuterima pinanganmu... hi-hi-hi, bagus sekali, memang pantas... Nirahai menjadi isteri Suma Han...! Eh, sumoi, sayang kita tak dapat menyaksikan...”

“Han Han, engkau mendengar sendiri suci telah menerima pinanganku. Engkau tentu suka menjadi suami Nirahai, bukan?”

Jantung Han Han memukul keras, seolah-olah akan pecah dadanya. Ia menoleh ke arah Nirahai yang mukanya juga menjadi pucat. “Subo, teecu... teecu mana berharga untuk...?”

“Jangan bicara tentang berharga atau tidak. Pendeknya, engkau mau atau tidak? Jawab!” Nenek Khu Siauw Bwee berkata sambil menekan dadanya.

Han Han mengangguk dan tidak berani melirik ke arah Nirahai. “Tentu saja..., teecu akan merasa bahagia dan terhormat sekali, teecu mau, subo.”

“Hi-hi-hik, itulah jawaban laki-laki! Eh, Nirahai, bagaimana dengan engkau? Maukah engkau menjadi isteri pemuda kaki buntung ini? Engkau pernah mengatakan bahwa engkau hanya mau menjadi isteri seorang pemuda yang dapat mengalahkan engkau. Dan jelas bahwa engkau takkan dapat menangkan Suma Han. Bagaimana?”

Nirahai yang biasanya tabah itu, kini menundukkan mukanya yang menjadi merah kembali, jawabnya lirih, “Teecu... menurut perintah subo.”

“Eh, itu bukan jawaban gagah! Engkau mau atau tidak? Jawab!” Sikap Nenek Maya persis seperti sikap Nenek Khu Siauw Bwee tadi.

Nirahai menunduk makin dalam. “Teecu... teecu mau...”

Dua orang nenek itu tertawa, tertawa bergelak-gelak sambil saling rangkul, dengan dua pasang mata tua mengeluarkan air mata.

“Subo...!”

“Subo...!”

Seperti berlomba cepat Han Han dan Nirahai sudah menubruk guru masing-masing dan ternyata bahwa dua orang nenek itu telah tewas sambil berpelukan. Mereka dahulu bermusuhan, akan tetapi dalam ambang maut mereka saling peluk dan tertawa, juga menangis!

Nirahai terisak menangis. Han Han berlutut sambil menunduk duka. Setelah reda tangis Nirahai dan gadis itu dengan mata merah menoleh kepadanya, mereka saling pandang dan Han Han berkata halus lirih.

“Lebih baik kita mengubur jenazah mereka. Di mana sebaiknya dimakamkan?”

Nirahai mengangguk, juga menjawab lirih, “Sebaiknya di sini saja. Tempat ini amat baik, bersih dan sunyi.”

“Tepat sekali. Memang tempat ini amat baik, bahkan merupakan tempat keramat bagi kita.”

Nirahai memandang wajah pemuda itu. “Mengapa begitu?”

“Bukankah tempat ini yang mempertemukan kita, bahkan... yang menjadi saksi perjodohan kita?”

Nirahai menjadi merah mukanya. Mereka saling berpandangan, kemudian dara itu berbisik, “Marilah kita menggali tanah untuk makam mereka...”

Han Han meloncat bangun dan pemuda ini merasakan kegembiraan yang luar biasa sekali, yang membuat tangannya terasa ringan ketika ia menggunakan tongkatnya untuk menggali tanah di bawah pohon di pinggir padang rumput. Nirahai mengambil pedang payungnya yang sudah patah, lalu menggunakan ujung payung yang runcing itu untuk menggali sebuah lubang di pinggir lubang yang digali Han Han. Mereka berdua seperti berlomba dan Han Han sengaja mengurangi tenaganya sehingga lubang yang dua buah itu selesai digali dalam waktu berbareng. Karena keduanya merupakan orang-orang yang memiliki tenaga sakti, dalam waktu pendek saja dua buah lubang yang cukup dalam telah tergali.

Dengan penuh khidmat dan tanpa berbicara mereka lalu mengubur kedua jenazah itu berdampingan, lalu menutup lubang itu dengan tanah galian. Ketika melakukan ini Nirahai menangis dan Han Han menghiburnya dengan kata-kata halus. Setelah selesai Han Han mencari dua buah batu besar dan kedua orang muda itu kembali seperti berlomba, mengukir permukaan batu nisan dengan ujung tongkat dan ujung payung.

Han Han mengukir huruf-huruf yang berbunyi:

MAKAM NENEK KHU SIAUW BWEE, SUMOI TERCINTA DARI NENEK MAYA

Ada pun ukiran Nirahai berbunyi sebaliknya:

MAKAM NENEK MAYA, SUCI TERCINTA DARI NENEK KHU SIAUW BWEE

Ukiran Han Han lebih dalam, tanda bahwa tenaganya lebih kuat, akan tetapi ukiran yang dibuat Nirahai lebih halus tulisannya. Kini tanpa bicara kedua orang itu memperbaiki ukiran masing-masing, Nirahai memperhalus ukiran Han Han sebaliknya pemuda itu memperdalam ukiran Nirahai. Setelah selesai, mereka lalu berlutut di depan kedua nisan yang dipasang di depan makam kedua orang nenek sakti itu. Hari telah menjadi malam dan kedua orang itu masih berlutut di depan makam.

Untuk mengusir hawa dingin, Han Han membuat api unggun kemudian duduk menghadapi api unggun, duduk di atas rumput dekat dengan Nirahai. Keduanya merasa canggung, akan tetapi kemudian Han Han menghela napas panjang dan berkata.

“Nirahai, aku merasa seperti mimpi dan masih belum percaya benar bahwa semua ini dapat terjadi. Seorang puteri kaisar seperti engkau, berkedudukan tinggi dan mulia, cantik jelita, berilmu tinggi, mau menjadi calon isteri seorang seperti aku... yang...”

“Ssttttt, jangan lanjutkan, Han Han. Aku yang merasa heran mengapa engkau mau dijodohkan dengan aku?”

Mereka saling pandang dan kini sinar mata mereka saling berusaha menembus dan menjenguk isi hati masing-masing. Sinar api unggun yang bermain di wajah mereka membuat wajah mereka kemerahan dan menyembunyikan warna kedua pipi mereka yang merah sekali.

“Telah lama sekali aku aku jatuh cinta kepadamu, Nirahai. Semenjak aku datang ke Pulau Es...”

“Heee...? Menurut keterangan Lulu, engkau masih kecil, baru berusia belasan tahun ketika kalian datang ke pulau itu...! Betapa mungkin?”

“Benar, dan di sanalah, di dalam Istana Pulau Es itu, pertama kali aku melihatmu, Nirahai, dan sekaligus hatiku telah terpikat... dan aku telah jatuh cinta!”

Percakapan itu mengusir rasa canggung kedua pihak dan Nirahai lalu tertawa geli. “Ihhh, kiranya engkau seperti Lulu pula, suka bergurau! Kita baru saling jumpa pertama kali di istana ketika kau datang menyerbu, dan selama hidupku aku tidak pernah datang ke Pulau Es!”

“Memang bukan engkau, Nirahai, melainkan sebuah arca yang amat indah buatannya, seolah-olah hidup. Di sana terdapat tiga buah arca, yang sebuah adalah arca Koai-lojin, yang ke dua arca Subo Khu Siauw Bwee dan yang ke tiga adalah arca Subo Maya, yaitu ketika mereka masih muda. Arca Subo Maya itu serupa benar dengan engkau, Nirahai. Karena itu, begitu aku bertemu denganmu, tentu saja bagiku sama halnya dengan bertemu orang yang arcanya membuat aku tergila-gila itu. Herankah engkau betapa bahagia dan gembiranya rasa hatiku ketika subo menjodohkan aku dengan engkau? Serasa kejatuhan bulan purnama...!”

Pada saat itu bulan purnama mulai muncul dan otomatis Nirahai memandang bulan. Sinar bulan yang kuning emas membuat wajah dara ini tampak nyata dan amat cantik jelita sehingga Han Han menahan napas saking kagumnya, kemudian ia memberanikan hati memegang tangan dara itu yang duduk di sampingnya. “Nirahai... betapa cantik jelita engkau...”

Tangan Nirahai menggigil, akan tetapi dia tidak melepaskan genggaman Han Han, dan ketika ia menoleh, ia tersenyum. Wanita manakah yang takkan berbesar hati penuh kebanggaan kalau dipuji cantik? Apa lagi yang memuji adalah seorang pria yang menjadi pilihan hatinya!

“Aku girang sekali mendengar pernyataan isi hatimu, Han Han. Ketahuilah bahwa aku pun merasa beruntung sekali bahwa engkau telah berhasil mengalahkan aku dalam pibu...”

“Engkau tidak kalah! Dan mengapa engkau merasa beruntung kalau kukalahkan?”

“Engkau sudah mendengar sendiri kata-kata subo tadi. Memang aku telah bersumpah bahwa aku hanya mau menjadi isteri seorang pria yang mampu mengalahkan aku. Dan aku semenjak mendengar obrolan Lulu tentang dirimu, bahkan bocah nakal itu hendak menjodohkan aku denganmu, semenjak itu, kemudian setelah bertemu, melihatmu dan melihat kegagahanmu, hemmm... aku akan merasa menyesal sekali andai kata engkau kalah olehku.”

Bukan main besar hati Han Han mendengar ini dan kegirangan yang meluap membuat ia menarik lengan dara itu. Nirahai seperti lemas tubuhnya dan membiarkan kepalanya rebah di dada Han Han. Sejenak mereka berdua tidak bergerak, bermandi cahaya bulan yang tersenyum-senyum menyaksikan ulah tingkah dua insan yang mabuk asmara ini.

Han Han membelai-belai rambut yang halus dan hitam itu dan Nirahai memejamkan mata, mendengarkan debar jantung di dada Han Han yang baginya seperti bunyi musik yang amat merdu dan indah. Kemudian ia membuka matanya, dan mengangkat pandang matanya ke atas untuk menatap wajah di atasnya itu sehingga sepasang mata itu menjadi lebar sekali dan amat indah seperti mata Lulu!

“Han Han, katakanlah. Mengapa engkau jatuh cinta kepada arca subo di waktu muda yang kau katakan serupa benar denganku itu? Mengapa engkau jatuh cinta kepadaku?”

Sampai lama Han Han tidak dapat menjawab, menatap wajah yang tengadah itu seolah-olah hendak mencari jawabnya dari wajah yang jelita itu. Mata itu! Mulut itu! Dan ia teringat akan perasaannya di waktu ia memandang arca di dalam Istana Pulau Es, kemudian seperti menemukan jawabannya, lalu berkata girang.

“Aku tahu! Aku tergila-gila kepadamu, Nirahai, karena pertama-tama karena matamu!”

Nirahai terkekeh dan mendekap mulutnya sendiri dengan tangan, matanya terbelalak lebar, “Karena mataku? Hi-hik! Mataku kenapa?”

“Matamu begini indah... seperti sepasang bintang di langit... kulihat laut yang bening dalam di situ, menghanyutkan...” jawab Han Han sambil memandang sepasang mata yang amat indah itu, seperti mata Lulu!

“Ihhh, seperti laut yang menghanyutkan? Mengerikan!”

“Tidak! Sama sekali tidak! Aku akan rela dan bahagia sekali kalau mati hanyut di situ, tenggelam dalam lautan kenikmatan yang membayang di dalam matamu. Matamu seperti... seperti... bulan kembar...!”

“Hi-hik, kau aneh...”

Nirahai memejamkan matanya sehingga ‘bulan kembar’ itu bersembunyi di balik pelupuk dan dilindungi bulu mata yang kini menjadi tebal dan panjang, mendatangkan bayangan-bayangan menggairahkan di atas pipi, membuat Han Han makin terpesona. Kalau terbuka mata itu mempesona, kalau tertutup malah menggairahkan. Bukan main!

“Kau bilang tadi, pertama-tama karena mataku. Adakah yang ke dua?” tanya Nirahai tanpa membuka matanya.

“Memang ada, dan aku tidak tahu yang mana yang lebih menarik dan membuat aku tergila-gila. Yang ke dua adalah... mulutmu, Nirahai!”

Mata itu terbuka kembali, terbelalak dan mengandung senyum terheran-heran.

“Mulutku...? Ada apa dengan mulutku...?” suaranya penuh dengan hati yang riang gembira, bangga dan juga geli dan heran.

“Mulutmu... bibirmu...” Han Han berbisik dan suaranya gemetar.

Pandang matanya tak pernah dapat melepaskan sepasang bibir yang lunak halus kemerahan itu, yang kini bergerak-gerak seperti menggigil seolah-olah bisikan Han Han merupakan penggeli yang membuat bibir itu tak dapat diam, “entah mengapa, Nirahai... melihat mulutmu... bagiku seolah-olah ketika aku kelaparan dahulu melibat buah apel yang masak...! Aku... aku...”

Han Han tidak melanjutkan kata-katanya karena desakan rasa kasih bercampur birahi membuat ia tak kuasa menahan hasrat hatinya, membuat ia seperti tak sadar lagi menunduk, mencium bibir itu, mencium mata itu, lalu mencium bibir kembali, sepenuh rasa kasihnya, semesra-mesranya. Hmmm.

Mula-mula Nirahai tersentak seolah-olah tubuhnya menjadi kaku menegang, kemudian ia menjadi lemas, naik sedu-sedan dari rongga dadanya dan seperti dalam mimpi ia pun tidak sadar bahwa dia telah membalas ciuman pemuda yang sudah menjatuhkan cinta kasihnya itu...


BERSAMBUNG KE JILID 21


Pendekar Super Sakti Jilid 20

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PENDEKAR SUPER SAKTI

BAGIAN 20

Ouwyang Seng tertawa mengejek. Betapa pun cepat gerakan Hian Ceng, namun dia lebih cepat lagi mengelak sambil tertawa-tawa mengejek. Hian Ceng menjadi makin marah dan terus menyerang secara bertubi-tubi yang selalu mengenai tempat kosong, bahkan dia mendesak dan mengejar terus ketika Ouwyang Seng sambil melompat memancing gadis itu menjauhi kawannya.

Ada pun Sin Lian yang tahu bahwa kakek dan nenek yang berdiri tenang itu jauh lebih berbahaya dan lihai, membiarkan Hian Ceng menyerang Ouwyang Seng, sedangkan dia tanpa banyak cakap lagi lalu menggerakkan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang hebat menyerang Ma-bin Lo-mo. Kakek ini mendengus dan tentu saja dia dapat menghindarkan serangan Sin Lian hanya dengan mengibaskan ujung lengan bajunya yang mengandung tenaga sinkang amat kuat membuat pedang yang menyerang itu menyeleweng. Namun Sin Lian tidak menjadi gentar dan terus melanjutkan penyerangannya dengan gerakan cepat sekali, mainkan jurus-jurus dari Chit-seng-sin-kiam sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar terang dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing.

"Hemmm, kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus!" Ma-bin Lo-mo memuji sambil mengelak. Dia tidak ingin cepat-cepat merobohkan gadis ini karena dia tertarik oleh ilmu pedang itu, hendak menyaksikannya lebih dulu.

"Hi-hik, ilmu pedang yang dasarnya adalah Ilmu Silat Siauw-lim-pai. Tentu inilah Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang terkenal itu, ciptaan Siauw-lim Chit-kiam! Si Setan Botak Gak Liat pernah memuji-muji ilmu pedang ini kepadaku!" kata Toat-beng Ciu-sian-li sambil minum arak dari gucinya, matanya menyipit memperhatikan gerakan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.

Sin Lian menjadi terkejut sekali, akan tetapi ia hanya dapat memperhebat serangannya secara nekat. Kecemasannya memuncak ketika ia mendengar Hian Ceng mengeluh dan dengan kerling matanya ia melihat Hian Ceng sudah ditawan oleh Ouwyang Seng, dipegang kedua pergelangan tangannya dan dipanggul oleh Ouwyang Seng yang membawanya memasuki sebuah kemah sambil tertawa-tawa.

Kedua kaki Hian Ceng menendang-nendang dan mulutnya memaki-maki, akan tetapi ia tidak dapat terlepas. Kemarahan membuat Sin Lian makin nekat dan penyerangannya makin hebat. Akan tetapi makin hebat dia menyerang, hal ini agaknya membuat Ma-bin Lo-mo yang selalu mengelak atau menangkis dan nenek yang menonton sambil minum arak itu makin gembira!

Betapa pun Hian Ceng meronta-ronta dan memaki-maki, dia tidak berdaya menghadapi Ouwyang Seng yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya. Akhirnya dara yang biasanya riang gembira ini tertotok dan hanya dapat mengeluh dan menangisi nasibnya yang malang. Di dalam tenda itu terjadilah perkosaan yang keji, perbuatan kejam dan ganas yang hanya akan dapat dilakukan oleh seorang manusia yang sudah menjadi buta oleh nafsu dan sudah bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang menguasainya!

“Ha-ha-ha-ha, dahulu engkau terlepas dari tanganku, sekarang akhirnya engkau menyerah dan menjadi milikku. Siapa yang akan menolongmu, manis?” Ouwyang Seng manusia biadab itu mengejek sambil tertawa memandang korbannya yang terengah-engah seperti hendak pecah dadanya, air matanya bercucuran dan keadaannya amat mengenaskan.

“Ha-ha, aku takkan membunuhmu, manis. Sayang kalau dibunuh, aku belum bosan padamu. Nanti kutemani lagi, aku hendak melihat temanmu itu dan...”

“Ouwyang Seng manusia binatang!” Tiba-tiba Ouwyang Seng terbelalak kaget ketika tiba-tiba muncul Han Han di depannya! Bagaimanakah pemuda buntung yang sudah terjebak dan terhimpit batu besar itu tiba-tiba bisa muncul di depannya? Setannyakah ini?

Tentu saja bukan! Yang muncul itu adalah Han Han. Setelah dengan susah payah menggali dinding tanah di atasnya, akhirnya Han Han berhasil membuka lubang di sebelah atas batu yang menutup setengah lubang sumur itu dan ia cepat meloncat ke atas. Terlalu lama ia tertutup tadi dan ia sungguh cemas akan nasib Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng. Ia mengharap mudah-mudahan tidak terlambat, maka cepat ia meloncat keluar dari kemah palsu itu, tidak mempedulikan rasa sesak dan sakit di dalam dadanya. Ketika ia tiba di luar kemah, ia melihat Sin Lian menyerang Ma-bin Lo-mo dengan pedangnya. Kakek itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus, tidak membalas, hanya menangkis dan mengelak sambil berulang-ulang memuji keindahan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.

Ada pun Sin Lian yang melihat munculnya Han Han, cepat menjerit, “Han Han! Cepat kau tolong Hian Ceng di kemah itu!”

Han Han melihat keadaan Sin Lian memang belum terancam, maka ia berkelebat cepat ke arah kemah dan mendengar suara ketawa Ouwyang Seng. Begitu ia menerobos memasuki tenda dan melihat keadaan Hian Ceng, hatinya seperti diremas rasanya. Dia telah terlambat!

Sekali saja melirik Hian Ceng, maka kemarahannya membuat wajah Han Han menjadi beringas, sepasang matanya terbelalak seperti mengeluarkan api ketika ia menatap wajah Ouwyang Seng. Apa lagi darah yang tadi keluar dari ujung-ujung bibirnya masih belum dibersihkan, rambutnya masih kotor dengan tanah dan riap-riapan, wajah Han Han pada saat itu seperti wajah maut sendiri!

Ouwyang Seng gemetar. Wajahnya pucat dan ia terbelalak, meraba gagang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya masih berusaha mengancingkan bajunya yang baru saja ia pakai kembali.

“Ouwyang Seng... kau bukan manusia... kau... iblis... tidak berhak hidup lagi setelah apa yang kau lakukan terhadap Hian Ceng...!” Han Han bicara dengan bisik-bisik parau, akan tetapi bagi telinga Ouwyang Seng terdengar makin menyeramkan dan lebih menakutkan dari pada kalau pemuda buntung itu berteriak-teriak.

Namun pemuda bangsawan ini teringat bahwa di luar terdapat dua orang pembantunya yang sakti, maka hatinya menjadi besar dan ia berseru, “Ji-wi Locianpwe lekas ke sini! Si Buntung di sini!” Akan tetapi ia cepat mengelebatkan pedangnya ketika melihat tubuh Han Han bergerak ke depan menerjangnya.

Cepat bukan main gerakan Han Han yang sedang marah ini sehingga Ouwyang Seng secara ngawur saja menyambut berkelebatnya tubuh Han Han itu dengan sabetan pedangnya. Pemuda bangsawan ini mengeluarkan jerit kesakitan, pedangnya terlepas jatuh ke atas lantai karena pergelangan tangan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan tongkat, kemudian ia terbanting roboh kena disambar tamparan telapak tangan kiri Han Han yang amat kuat. Pemuda itu mengerang kesakitan, berusaha bangkit akan tetapi roboh lagi karena tamparan itu membuat dua buah tulang iganya remuk!

Menyaksikan keadaan tubuh Hian Ceng yang masih telanjang bulat, sambil menahan sedu-sedan yang naik ke lehernya dari dalam dada Han Han cepat menggunakan jari tangan kanannya membebaskan totokan Hian Ceng. Gadis itu menjerit dan menangis sedih, meloncat bangun, terhuyung dan menyambar pedang Ouwyang Seng yang terlepas tadi. Han Han hanya dapat memandang dengan hati hancur, kemudian malah menundukkan mukanya, tidak kuat lebih lagi memandang tubuh yang masih telanjang bulat itu.

Hian Ceng mengeluarkan pekik mengerikan, pedang di tangannya berkelebat dan putuslah leher Ouwyang Seng disambar pedangnya sendiri. Gadis itu masih terus membacoki mayat Ouwyang Seng sampai menjadi puluhan potong, darah berhamburan memenuhi ruangan dan lantai, kemudian Hian Ceng menggerakkan tangan yang memegang pedang ke arah lehernya sendiri!

Seperti digerakkan sesuatu yang aneh, Han Han mengangkat muka memandang dan wajahnya menjadi pucat, mulutnya berseru, “Ceng-moi...!”

Ia menubruk maju, namun kembali untuk kedua kalinya ia terlambat. Pedang itu telah menyambar leher sampai hampir putus! Han Han terisak merangkul Hian Ceng, lalu berlutut menyangga punggung dan leher yang terluka hebat. Hian Ceng membuka matanya yang masih berlinangan air mata, akan tetapi bibirnya tersenyum! Han Han merasa seperti jantungnya ditarik-tarik. Sakit sekali rasanya menyaksikan betapa sinar mata gadis itu sama benar dengan sinar mata mendiang Soan Li ketika berangkat mati dalam pelukannya.

“Ceng-moi... Ceng moi...!” Han Han berbisik dan mendekap tubuh itu, tidak peduli betapa darah gadis itu yang mengucur keluar dari leher membasahi seluruh bajunya. Air matanya sendiri menetes-netes ke muka Hian Ceng yang kini memperlebar senyumnya dan makin memucat wajahnya. Beberapa detik kemudian Hian Ceng tewas dalam pelukan Han Han dengan mulut masih setengah terbuka, tersenyum!

Kekejangan terakhir yang disusul kelemasan tubuh yang dipeluknya membuat Han Han merintih, lalu perlahan-lahan ia merebahkan tubuh Hian Ceng ke atas lantai, menarik selimut yang berada di atas pembaringan, menutup jenazah itu dengan selimut, kemudian ia terisak dan meloncat ke luar karena teringat akan keselamatan Sin Lian yang menghadapi lawan tangguh.

“Sin Lian...!” Lengking ini hebat sekali keluar dari mulut Han Han ketika tubuhnya mencelat jauh ke depan, ke arah pertandingan itu. Lengking yang keluar mengandung kemarahan memuncak, kecemasan mendalam dan kedukaan yang mengguncang seluruh perasaan hati Han Han.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kaget hatinya ketika ia melihat Ma-bin Lo-mo berhasil melibat ujung pedang Sin Lian dengan ujung lengan bajunya, dan dengan pengerahan Swat-im Sin-ciang yang amat kuat, Iblis Muka Kuda ini dengan tiba-tiba membalikkan pedang itu dengan kuatnya sehingga pedang di tangan Sin Lian itu membalik dan menusuk dada dara itu sampai tembus! Sin Lian terhuyung-huyung dan matanya terbelalak memandang gagang pedangnya sendiri di depan dada.

Han Han yang mencelat dengan kecepatan seperti sinar menyambar itu telah menukik ke arah Ma-bin Lo-mo dan menggerakkan tongkatnya menusuk dada kakek itu, sedang tangannya ia pukulkan ke arah kepala Toat-beng Ciu-sian-li!

“Prakkk! Desssss...!”

Tongkat di tangan Han Han patah-patah bertemu dengan golok melengkung di tangan Ma-bin Lo-mo, tangan kanannya terbentur dengan lengan Toat-beng Ciu-sian-li yang menangkis pukulannya tadi. Kakek dan nenek itu mengeluarkan seruan kaget dan muka mereka menjadi pucat ketika tubuh mereka terlempar ke belakang dan terbanting ke tanah, akan tetapi mereka bergulingan dan sudah meloncat bangun kembali. Han Han yang sudah terluka sebelah dalamnya ketika ia menghabiskan tenaga mengangkat batu, kini menggunakan serangan dahsyat yang bertemu dengan sinkang kedua lawannya yang kuat pula, maka tongkatnya patah-patah dan biar pun ia tidak terlempar, namun ujung mulutnya kembali mengucurkan darah segar. Han Han tidak mempedulikan dirinya sendiri dan berloncatan ke dekat Sin Lian. Gadis itu masih berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang dan kini ia mengeluh.

“Han Han... ohhhhh, Han Han...”

Gadis itu juga mengucurkan darah dari mulutnya dan tubuhnya tentu roboh kalau Han Han tidak cepat menyambarnya, memeluk dan memondongnya lalu dibawa berloncatan ke bawah pohon. Dengan menyandarkan punggung di pohon dan memondong tubuh Sin Lian, Han Han menangis.

“Sin Lian... aduh Sin Lian... kau... kau ampunkan aku, Sin Lian...! Aku... aku terlambat menyelamatkanmu...”

Akan tetapi Sin Lian tersenyum sehingga tampak aneh sekali. Dalam keadaan seperti itu, dengan wajah yang makin pucat sehingga darah yang mengalir ke pipinya kelihatan amat merah, pedangnya menancap di ulu hati, gadis ini masih dapat tersenyum! Perlahan-lahan lengan kiri Sin Lian yang tergantung itu diangkat dengan lemah, kemudian jari-jari tangan gadis itu mengusap air mata Han Han, mengusap darah di pinggir mulut, membelai rambut yang riap-riapan itu dan dibereskannya ke belakang, mulutnya berbisik-bisik.

“Han Han... ohhhh, Han Han... aku rela... aku senang mati... dalam pelukanmu...! Han Han... kau... kau menangisi aku...?”

Han Han merasa jantungnya seperti diremas-remas. Baru saja menghadapi kematian Hian Ceng yang masih melukai hatinya, kini ia memeluk tubuh Sin Lian yang sedang menghadapi kematian pula! Kepalanya menjadi pening, air matanya menetes-netes dan melihat betapa sepasang mata itu memandangnya penuh harap, naik sedu-sedan di kerongkongannya dan tak kuasa ia mengeluarkan suara, maka ia hanya mengangguk-angguk dan terisak membenamkan mukanya di leher yang berkulit putih halus itu. Ia merasa betapa leher itu berdenyut-denyut dan merasa betapa jari-jari tangan halus itu membelai rambutnya, dengan mesra mendorong mukanya sehingga terpaksa ia mengangkat muka memandang wajah yang makin melayu.

“Han... Han... aku... cinta padamu..., aku rela mati... kau tolong Hian Ceng... dia... gadis baik yang mencintamu pula... selamat tinggal...” Kepala Sin Lian terkulai ke belakang.

“Sin Lian... aduhhh, Sin Lian...!”

Han Han tidak kuasa menahan kesedihannya yang datang bertumpuk-tumpuk, pukulan batin yang datang bertubi-tubi dan ia menangis, mengguguk, dan kalau tidak bersandar pada batang pohon, tentu ia sudah roboh karena seluruh tubuhnya menggigil.

Melihat keadaan pemuda yang menangis dan agaknya tidak ingat apa-apa lagi itu, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li melihat kesempatan baik. Mereka memang merasa jeri menghadapi pemuda buntung yang amat sakti itu, akan tetapi kini mereka melihat kesempatan untuk menerjangnya.

Akan tetapi tiba-tiba Toat-beng Ciu-sian-li berbisik pelan, “Celaka... bocah pengacau itu datang...!” Telunjuknya menuding dan Ma-bin Lo-mo yang memegang golok menoleh.

“Kak Han Han...!”

Lulu datang berlari seperti terbang cepatnya. Dari jauh ia sudah melihat keadaan Han Han yang memondong mayat seorang gadis yang belum ia kenal siapa.

“Han-twako...!”

Ia menjerit lagi melihat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li mempercepat larinya, bahkan kini berloncatan jauh sehingga tiba di depan Han Han.

Han Han tersentak kaget. Seperti baru bangun dari mimpi ia teringat dan sedetik hatinya lega dan girang mendapat kenyataan bahwa adiknya selamat, akan tetapi segera timbul kemarahan dan penyesalannya. Ia memandang Lulu melalui air matanya, mukanya pucat seperti mayat.

Kini Lulu membelalakkan mata memandang mayat gadis yang masih dipondong kakaknya itu, lalu menjerit, “Enci Lian...! Dia kenapa...?” Ia merenggut tubuh itu dari kedua lengan Han Han, diletakkannya di atas tanah, diguncang-guncangnya pundak Sin Lian.

“Enci Lian...! Ooohhhh, dia... dia... kenapa...? Mati...! Enci Lian mati...!” Lulu memeluk mayat itu dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia mengangkat muka memandang Han Han yang masih berdiri bersandar pada batang pohon, melihat muka yang pucat dan basah air mata itu, melihat pakaian di bagian dada dan perut penuh darah, melihat darah di ujung mulut, segera ia meloncat bangun memeluk kakaknya.

“Han-koko...! Kau... kau kenapa...? Apa kau terluka...?” Hatinya penuh kekhawatiran, suaranya menggetar.

“Ah, Lulu anak nakal...!” Han Han merangkul adiknya. “Kemana saja engkau pergi? Sungguh mendatangkan banyak kedukaan di hatiku. Lulu, aku girang melihat engkau selamat dan sehat. Sekarang pergilah, adikku. Pergilah tinggalkan aku, jangan dekat-dekat di sini, berbahaya sekali. Pergilah mencari Sin Kiat, dia seorang yang baik sekali dan amat cinta kepadamu. Pergilah tinggalkan aku bersama mayat Sin Lian...!”

“Koko! Apa kau bilang? Aku tidak mau meninggalkan engkau lagi! Engkau sendiri mau apa?”

“Aku akan mengadu nyawa dengan dua iblis itu!”

“Tapi engkau terluka! Jangan khawatir, ada Lulu di sini. Tidak ada seorang pun iblis yang akan berani mengganggumu!”

“Lulu, adikku sayang, satu-satunya orang yang kukasihi di dunia ini...! Adikku, pergilah, aku rela mati asal engkau selamat dan bahagia. Sin Lian... dia... dia... demi cintanya kepadaku... dia sudah berkorban untuk kakakmu ini... dia berkorban nyawa dalam usahanya menolongku. Tidak bolehkah kalau aku menemaninya mati untuk membalas budinya?”

“Tidak!” Dan tiba-tiba Lulu membalikkan tubuh menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li lalu menundingkan telunjuknya. “Hemmm, kalian dua orang tua bangka yang melukai kakakku dan membunuh enciku, ya? Aku tidak akan mengampunimu!”

“Lulu, jangan...! Jangan mencampuri urusan ini!” Han Han yang mengkhawatirkan keselamatan Lulu, cepat menubruk dan menyambar lengan adiknya, ditarik ke belakang. “Akulah lawan mereka...!”

Han Han hendak menyerbu, akan tetapi begitu ia mengerahkan sinkang untuk meloncat, ia mengeluh dan tubuhnya roboh terguling, pingsan di samping mayat Sin Lian.

“Koko...! Han-koko...! Jangan engkau mati... janganlah tinggalkan aku, Kak Han Han...!” Lulu menjadi bingung dan menangis sambil memeluki dada Han Han, mengguncang-guncang pundaknya, tidak peduli lagi akan keadaan sekitarnya. Akan tetapi Han Han tidak bergerak, mukanya pucat seperti mayat.

Baru Lulu sadar saat sebuah tangan halus tetapi kuat memegang dan mengguncangkan pundaknya. Ia mengangkat mukanya dari dada Han Han, menoleh dan melihat Nirahai telah berdiri di situ dengan wajah lembut akan tetapi angkuh, sedangkan tempat itu telah dikurung oleh banyak pasukan Mancu.

Lulu meloncat bangun, mencabut pedangnya dan melintangkan pedang di depan dada sambil berkata, “Suci! Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa kalau engkau datang hendak mencelakai Han-koko, aku tidak sudi menjadi sumoi-mu lagi dan aku akan melawanmu sampai mati di depan kakimu!”

Nirahai tersenyum, kagum menyaksikan kesetiaan dan cinta kasih sumoi-nya terhadap Han Han. Dia datang dan sudah mendengar akan semua yang terjadi di situ. Melihat tubuh Ouwyang Seng yang hancur lebur di dalam kemah di samping jenazah Hian Ceng yang masih telanjang, ia dapat menduga apa yang terjadi. Dia mendengar pula betapa Han Han berhasil lolos dari himpitan batu besar yang membuatnya kagum bukan main. Kini melihat sumoi-nya, ia diam-diam menjadi kagum dan terharu. Ketika melihat sikap Lulu, ia tersenyum menggeleng kepala dan berkata, “Sumoi, simpanlah pedangmu. Aku tidak akan membunuh kakakmu. Pula, jikalau engkau melawan aku, apakah kau kira dengan cara itu engkau akan dapat melindungi kakakmu? Sama dengan membunuh diri.”

“Aku tidak takut mati! Aku bangga mati membela Han-koko, aku bahagia kalau mati bersama kakakku!”

Nirahai memperlebar senyumnya. “Mengapa bicara tentang mati kalau masih hidup? Aku tidak akan membunuh kalian, akan tetapi karena dia membunuh Ouwyang-kongcu, aku harus menawannya. Engkau boleh ikut dan merawatnya. Lihat, dia terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya, kalau tidak mendapat perawatanmu, dia bisa mati.”

Mendengar ini, Lulu menyimpan pedangnya dan menubruk Han Han lagi, penuh kekhawatiran.

“Biarlah dia digotong ke dalam dan kau boleh merawatnya, akan tetapi kalian adalah orang-orang tawananku,” kata Nirahai.

Terpaksa Lulu menyerah. Kalau memang masih ada jalan untuk menghindari kematian, ia tidak ingin nekat membiarkan kakaknya mati dan dia sendiri melawan sampai mati. Dia sudah mengenal Nirahai dan tahu sedalam-dalamnya bahwa suci-nya itu pada hakekatnya bukan seorang kejam, malah sebaliknya. Nirahai adalah seorang dara yang berbudi mulia dan lemah lembut, hanya terlalu ‘matang’ mengurus tugas dan membantu pemerintah.

Han Han dan Lulu dimasukkan dalam kamar tahanan yang khusus dibuat di daerah perbatasan. Sebuah kamar yang cukup kuat dan besar, dengan dua pembaringan yang baik dan perlengkapan secukupnya, akan tetapi kamar itu terbuat dari tembok tebal dengan pintu bertirai besi yang masih dijaga oleh para penjaga di luar pintu. Lulu dibiarkan merawat Han Han, bahkan Nirahai mengirim obat-obatan yang dimasak sendiri oleh Lulu di dalam kamar, juga apa saja yang dibutuhkan Lulu dapat diminta melalui penjaga. Namanya saja mereka menjadi tahanan, akan tetapi mereka diperlakukan sebagai tamu-tamu agung.

******************


Sampai sebulan lamanya Han Han berada di dalam kamar tahanan bersama adiknya. Ia telah sehat kembali dan diam-diam mereka berdua berterima kasih kepada Nirahai, terutama sekali ketika mereka bertanya tentang kedua jenazah Hian Ceng dan Sin Lian, dijawab bahwa jenazah kedua orang gadis itu telah dimakamkan sepantasnya oleh Nirahai, bukan disia-siakan seperti mayat-mayat musuh.

“Kini pemerintah tidak lagi memusuhi para orang gagah. Dua orang dara perkasa itu adalah orang-orang gagah yang patut dihormati. Makam mereka terawat baik dan diberi nisan sehingga akan dapat dicari dan dikenal semua orang, terutama keluarga mereka,” demikian Nirahai menyampaikan pesan melalui seorang perwira. Anehnya, semenjak kedua orang kakak beradik itu ditahan, Nirahai tidak pernah menengok.

“Lulu, kini aku sudah sehat kembali. Kita telah mendengar semua pengalaman masing-masing dan menurut pendapatku, kita berdua telah salah jalan yang biang keladinya ditimbulkan oleh perpisahan kita. Kalau kita dahulu tidak berpisah, tak mungkin engkau sampai terlibat dalam urusan perang, demikian pula aku. Semenjak kecil kita sudah sadar bahwa permusuhan tak boleh dibesar-besarkan. Engkau keturunan Mancu, dan aku seorang pribumi, namun kita telah menjadi kakak beradik. Engkau kehilangan orang tua yang dibunuh para pejuang, aku kehilangan orang tua yang dibunuh perwira-perwira Mancu, namun kau tidak mendendam kepada bangsaku dan aku tidak mendendam kepada bangsamu. Mengapa kita sampai terlibat sehingga kita menjadi bentrok sendiri? Ahhh, adikku sayang, aku telah bersikap terlalu kepadamu, maukah engkau memaafkan aku, Lulu?”

Lulu menangis lalu berlutut di depan Han Han yang duduk di atas pembaringannya, menangisi kaki yang buntung. “Ahh, Han-koko, jangan kau bicara begitu. Akulah yang mohon ampun kepadamu, Koko. Aku adikmu yang nakal, yang selalu tidak menurut kata-katamu, menimbulkan banyak kesengsaraan padamu. Kakimu... ahhhh, kakimu sampai buntung sebelah... Koko... Aku akan rela kalau boleh mengganti kakimu yang buntung...!” Lulu memeluki kaki buntung yang tinggal paha saja itu, dan menangis terisak-isak.

Tiba-tiba Han Han tertawa. “Ha-ha-ha, bocah lucu!”

Ia mengangkat tubuh Lulu sehingga gadis itu bangkit berdiri di depan Han Han yang masih duduk dan memeluk pinggang adiknya dengan kedua lengan, sedangkan kedua lengan Lulu merangkul pundak kakaknya. Lulu juga tertawa, apa lagi ketika Han Han berkata, “Bocah lucu! Aneh sekali. Andai kata engkau bisa memberikan kakimu dan dapat dipasang di tubuhku, tentu kaki darimu lebih pendek, kakiku pendek sebelah, malah buruk sekali, kalau jalan terpincang-pincang... ha-ha-ha!”

Keduanya tertawa akan tetapi Lulu melihat betapa kakaknya itu biar pun mulutnya tertawa, matanya menitikkan air mata. Tahulah ia bahwa kakaknya itu terharu dan hanya memaksa diri tertawa untuk menghiburnya, maka ia merangkul leher dan menangis juga. Keduanya lalu bertangisan!

“Han-koko... dadamu berdebar-debar sangat kencang...!” Tiba-tiba Lulu berkata sambil melepaskan rangkulannya.

Han Han terpaksa tersenyum. Adiknya ini tetap nakal seperti dulu, jujur polos blak-blakan tanpa tedeng aling-aling kalau bicara. Tanpa disadari, ucapan Lulu menikam ulu hatinya dan membuatnya sadar. Ketika berpelukan tadi, rasa haru yang aneh, rasa bahagia yang luar biasa seolah-olah ia memeluk surga dan membuat jantungnya berdebar keras. Wajahnya menjadi merah sekali dan cepat ia berkata.

“Lulu adikku yang terkasih, kau tahu betapa kasih sayangku kepadamu. Kebahagiaanku bersembunyi di balik kebahagiaanmu, adikku. Aku baru akan merasa lega dan senang kalau engkau sudah ada yang melindungi, ada yang mencintamu sampai selama hidupmu. Karena itu, engkau harus mentaati kehendakku, Lulu. Engkau akan kubawa pergi mencari Sin Kiat, karena aku hendak menjodohkan engkau dengan dia. Sin Kiat adalah seorang pemuda yang baik, tampan, gagah perkasa, dan dia amat mencintamu.”

Lulu mengerutkan keningnya dan tidak menjawab sampai lama. Kemudian ia menarik napas panjang, mengangkat muka yang tadi ditundukkan, memandang wajah kakaknya dan berkata, “Aku sudah tahu bahwa dia mencintaku Koko, dan aku tahu pula bahwa dia seorang yang amat baik dan gagah perkasa.”

“Ha...! Kalau begitu kiranya diam-diam engkau telah jatuh cinta kepadanya, bukan?”

Akan tetapi Lulu tidak tertawa atau tersenyum malu, malah masih cemberut dan alisnya berkerut. Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang sebelum menjawab lirih, “Aku tidak tahu apakah aku cinta padanya, Koko. Memang aku suka kepadanya dan kagum, akan tetapi cinta? Ah, aku tidak tahu...! Koko, aku... aku tidak mau dikawinkan dengan siapa pun juga!”

Han Han melengak kaget, “Eh! Mengapa? Apakah engkau sudah mempunyai pilihan lain? Bocah nakal, kalau memang engkau mencinta seorang pemuda lain, asal dia itu benar orang baik-baik, kakakmu tidak akan memutuskan cintamu.”

Lulu menggelengkan kepalanya pula. “Pendeknya aku tidak mau menikah, Koko.”

“Engkau harus mau!”

“Tidak mau!”

Kembali dua saudara angkat ini beradu pandang, sama-sama membelalak lebar penuh kekerasan hati. Han Han yang lebih dulu menghalau kemarahannya. Ia menarik napas panjang.

“Ah, sungguh aku yang tidak tahu diri. Ada hak apakah aku hendak memaksamu? Aku hanya seorang kakak angkat. Maafkanlah, Lulu, aku selalu lupa bahwa aku tidak berhak atas dirimu, akan tetapi semua itu kulakukan di luar kesadaranku, seolah-olah engkau adalah adik kandungku, aku... aku hanya ingin melihat engkau bahagia... hatiku selalu akan menjadi risau dan sengsara, selalu cemas memikirkan engkau kalau engkau belum menjadi isteri seorang yang dapat kupercaya penuh.”

Kekerasan Lulu pun luluh dan ia merangkul kakaknya. “Koko bukan..., bukan seperti yang kau sangka, bukan sekali-kali aku hendak merendahkan permintaanmu dan tidak suka mematuhi perintahmu. Tidak, Koko. Engkau pun merupakan pengganti orang tuaku, dan aku telah berkali-kali membikin susah hatimu. Koko, aku ingin sekali dapat menyenangkan hatimu, aku amat kasihan kepadamu dan aku... aku...” Lulu terisak menangis.

Besar sekali rasa hati Han Han ketika ia mengelus-elus rambut panjang hitam dan berbau harum itu. “Lulu, adikku yang manis, yang cantik jelita...”

Tiba-tiba Lulu melepaskan rangkulannya, menatap tajam dan bertanya, “Han-koko, benarkah engkau menganggap aku manis dan cantik jelita?”

Han Han tersenyum, memandang wajah adiknya itu. Setelah lama tidak berkumpul, kini melihat wajah itu begitu dekatnya, makin nyatalah kecantikan adiknya, kecantikan Nirahai, dengan bentuk-bentuk yang sama, terutama sekali sepasang matanya.

“Engkau cantik manis, adikku. Terutama sekali sepasang matamu, seperti sepasang bintang bercahaya di angkasa, seperti sepasang mata seekor burung hong, dan... dan... juga mulutmu...” Ia terhenti, merasa terlanjur dalam pujiannya.

“Aaahhhhh, lanjutkan, Koko, bagaimana dengan mulutku?” Lulu bertanya, cemberut dan timbul kembali sifat manjanya seperti ketika ia berada di Pulau Es dahulu.

Terpaksa Han Han melanjutkan sambil memandang mulut adiknya, sepasang bibir yang garis pinggirnya jelas seperti dilukis, yang berkulit tipis merah dan selalu basah, berdaging penuh, kalau tersenyum terbuka sedikit tampak ujung gigi seperti mutiara berbaris rapi menyembunyikan lidah kecil merah yang selalu bergerak-gerak dalam goa kemerahan itu. “Mulutmu... hemmm... seperti telaga madu, menjadi sumber kemanisan yang tiada habisnya.”

Mata yang lebar itu berseri-seri dan Lulu kembali merangkul lalu mencium pipi kakaknya seperti dulu sering kali dilakukannya ketika mereka berdua masih tinggal di Pulau Es. “Terima kasih, Koko, terima kasih! Engkau semulia-mulianya manusia bagiku, engkau satu-satunya manusia yang paling kucinta di dunia ini!”

Han Han kembali menggunakan kemauannya untuk menekan debaran aneh pada jantungnya, lalu ia memegang kedua pundak Lulu, didorongkan dan dipandangnya wajah adiknya. “Lulu adikku, aku hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melihat engkau bahagia. Karena itu, engkau hendak kuajak mencari Sin Kiat. Kenapa engkau menolak?”

“Koko, kalau aku dijodohkan dengan orang lain, apakah aku harus ikut dengan suamiku?”

“Tentu saja!”

“Dan engkau akan meninggalkan aku?”

“Hemmm... sudah semestinya begitu, adikku.”

“Kalau begitu aku tidak mau! Aku tidak mau!” Lulu menangis lagi.

Han Han memejamkan mata, menguatkan hatinya dan bertanya dengan suara tegas, “Kenapa, Lulu?”

“Karena aku tidak mau berpisah lagi darimu, Koko! Aku selamanya tidak mau berpisah dari sampingmu!” Tangisnya mengguguk.

Kembali perasaan aneh sekali menikam hati Han Han, perasaan bahagia dan senang luar biasa. Tidak bisa! Ini gila! Dia harus melawan perasaan ini. Dia ini adikku! Adikku, pikirnya.

Ia memaksa diri tertawa. “Ha-ha, engkau bocah nakal! Masa engkau akan ikut kakakmu ini sampai kita menjadi kakek dan nenek?”

“Biar! Aku akan senang sekali, Koko. Biarlah aku tidak pernah kawin, aku akan ikut denganmu sampai mati!”

Han Han mengeraskan hatinya, mendorong tubuh Lulu dan memandang tajam wajah yang basah air mata itu. “Lulu, tidak boleh! Apakah engkau akan membikin hati kakakmu ini sengsara selamanya? Engkau adikku, dan seorang adik yang baik akan mentaati kakaknya. Adikku Lulu, tidak maukah engkau menyenangkan hati kakakmu dengan mentaati permintaanku? Engkau akan hidup bahagia bersama Sin Kiat, aku yakin akan hal ini. Dia seorang yang amat baik. Lulu, sekali lagi kuminta, penuhilah permintaanku ini!”

Sampai lama mereka saling pandang, dan akhirnya, dengan suara berat Lulu berkata lirih, “Han-koko... kalau hal itu berarti kebahagiaanmu... aku... baiklah, aku menurut.” Dia lalu membenamkan muka di dada Han Han sambil menangis.

Han Han mendiamkan saja, membiarkan adiknya menangis. Setelah tangis adiknya mereda, ia lalu berkata, “Marilah kita menemui Nirahai. Kita minta dibebaskan, kalau dia berkemauan baik, tentu permintaan kita akan dia pehuhi. Kalau tidak, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!”

Tanpa menanti jawaban adiknya, Han Han menggandeng tangan Lulu, diajak meloncat ke pintu yang tertutup dengan terali besi. Dia sudah mempunyai sebatang tongkat kayu yang diberikan oleh penjaga atas permintaan Lulu.

“Koko, pintunya kuat sekali dan di luar ada penjaga-penjaga...!”

“Ssstttt, kau ikutlah saja,” kata Han Han yang menggunakan tongkatnya mengetuk-ngetuk pintu dan ketika para penjaga yang enam orang jumlahnya itu menengok, ia berkata, “Harap kalian suka membuka pintu ini, kami hendak menghadap Puteri Nirahai!”

“Ah, kami tidak berani! Kami diharuskan menjaga di sini dan tidak membolehkan kalian berdua keluar dari pintu!” Komandan jaga membantah sedangkan enam orang itu sudah meraba gagang senjata golok mereka untuk menjaga segala kemungkinan.

Han Han tersenyum. “Kalau begitu, aku akan keluar sendiri!” katanya dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan pintu kamar itu jebol berikut jeruji-jeruji besinya, terlepas dari tembok!

Enam orang penjaga itu menerjang maju, akan tetapi Han Han mengelebatkan tongkatnya dan robohlah mereka dalam keadaan lemas tertotok! Sambil menggandeng tangan adiknya, tenang-tenang saja Han Han meninggalkan tempat itu, keluar dari rumah tahanan untuk mencari Nirahai.

Para penjaga yang berada di luar menjadi kaget sekali dan mengurung. Han Han dan Lulu berdiri tegak, kemudian gadis itu berseru, “Apakah kalian sudah bosan hidup hendak menghalangi aku? Aku hendak mencari Suci Nirahai, kalian mau apa?”

Para prajurit Mancu sudah tahu bahwa gadis ini adalah adik seperguruan Puteri Nirahai, maka mereka tidak berani turun tangan mengganggu. Apa lagi, di sudut hati mereka, para prajurit yang sudah mendengar akan kesaktian Han Han yang dijuluki Pendekar Super Sakti, merasa jeri terhadap pemuda berkaki satu itu. Kini mereka hanya dapat memandang, kemudian mengikuti dari belakang ketika Han Han dan Lulu berjalan menuju ke sebuah kemah besar yang berwarna merah, kemah yang ditinggali Puteri Nirahai.

Berbeda dengan perkemahan yang dijadikan tempat tinggal para panglima dan perwira yang selalu dijaga prajurit, di depan kemah merah ini tidak nampak penjaga. Nirahai memang seorang puteri yang tidak mau bersikap sebagai seorang pembesar tinggi yang gila hormat. Ia tetap sederhana dan dia lebih condong hidup dan bersikap sebagai seorang kang-ouw yang mengandalkan diri sendiri dan hidup bebas tidak terikat banyak peraturan yang membosankan.

Di depan kemah merah itu para prajurit bergerombol dan hanya memandang ketika melihat Han Han dan Lulu dengan tenangnya memasuki kemah. Selain para prajurit ini tidak berani mengganggu Lulu dan jeri terhadap Han Han, juga mereka telah mendapat peringatan keras dari Puteri Nirahai untuk tidak melakukan pertempuran selama sang puteri menjalankan siasat perdamaian dengan para pejuang, bahkan tidak boleh menyerbu ke Se-cuan melewati perbatasan sebelum ada perintah. Sisa pasukan istimewa yang tadinya dipimpin Ouwyang Seng, oleh sang puteri telah disuruh tangkap semua dan dikirim ke penjara besar untuk menerima hukuman!

Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu ruangan dalam, Han Han dan Lulu berhenti karena mendengar suara lantang dari Nirahai yang terdengar marah.

“Tidak bisa! Biar pun Ouwyang-kongcu telah terbunuh, akan tetapi Pangeran Ouwyang Cin Kok tidak berhak untuk memerintahkan kepadaku mengirim kepala pembunuhnya! Dia kira siapakah dia itu yang bisa menjatuhkan perintah seperti itu kepadaku? Di daerah perang, di perbatasan ini, akulah yang berkuasa. Aku yang mewakili Ayahanda Kaisar dan semua orang tawanan adalah tanggung jawabku dan hanya aku seorang yang dapat menjatuhkan keputusan hukumannya! Tidak, aku tidak akan dan belum menjatuhkan hukuman mati kepada Suma Han dan aku tidak akan mengirimkan kepalanya kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok seperti dimintanya! Ji-wi Locianpwe tahu bahwa kita sedang menjalankan politik perdamaian dengan kaum pejuang, sedangkan Suma Han tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Pembunuhan yang dilakukannya terhadap Ouwyang-kongcu adalah urusan pribadi dan ji-wi cukup maklum apa yang menjadi sebabnya!”

Han Han dan Lulu mendengarkan dengan hati berdebar. Kemudian mereka mendengar suara Ma-bin Lo-mo penuh desakan dan penyesalan, “Mengapa Paduka menolak permintaan Pangeran Ouwyang Cin Kok? Bukankah pemuda buntung itu telah menimbulkan banyak kekacauan? Dan apakah Paduka lupa bahwa dahulu Paduka telah direncanakan untuk menjadi jodoh mendiang Ouwyang-kongcu! Dengan demikian, Ouwyang-kongcu menjadi tunangan Paduka. Setelah tunangan Paduka terbunuh secara keji, apakah Paduka tidak merasa terhina dan merasa sakit hati terhadap pemuda buntung itu?”

“Hi-hi-hik, Ma-bin Lo-mo, engkau ini sudah tua namun masih bodoh!” Terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li diseling suara berkerincingnya rantai gelang penghias kedua telinganya. “Apakah tidak depat menjenguk isi hati orang muda? Biar pun kakinya buntung sebelah, hati wanita muda yang manakah tidak akan tertarik? Dan kalau mau bicara tentang hati wanita, dari puteri sampai jembel pun tiada bedanya. Hi-hik!”

Tiba-tiba terdengar suara Nirahai penuh kemarahan, “Ji-wi adalah orang tua yang selalu membawa kotoran dalam hati dan pikiran ji-wi! Lekas ji-wi pergi dari sini, karena aku dapat melupakan bahwa ji-wi pernah membantu kami dan kalau aku turun tangan, apakah ji-wi kira aku tidak mampu membunuh kalian?”

“Puteri Nirahai, akulah musuh dan lawan mereka! Haiii, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, aku Suma Han menantang kalian dan kutunggu di depan kemah, keluarlah kalau kalian berani!” Han Han berseru keras, menggandeng tangan adiknya dan keluar dari dalam kemah itu. Para prajurit memandang mereka ini dengan mata terbelalak. Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, maka hanya mengurung tempat itu sambil menanti perintah Puteri Nirahai.

Tak lama kemudian muncullah Nirahai, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dari dalam kemah. Melihat para prajurit, Nirahai lalu melambaikan tangan dan berkata, suaranya berwibawa, “Semua prajurit mundur, boleh menonton dalam lingkaran yang lebar, paling dekat sepuluh meter!”

Para prajurit lalu mundur dan karena semua ingin menonton dan mendengar, mereka lalu membentuk lingkaran mengelilingi tempat itu. Bahkan para prajurit lainnya yang mendengar lalu berdatangan sehingga tempat itu penuh oleh lingkaran prajurit-prajurit Mancu.

“Siapa yang mengeluarkan kalian?” Puteri Nirahai bertanya dengan kereng sambil memandang Lulu.

“Suci, akulah yang memaksa keluar,” kata Lulu.

“Bukan! Akulah yang menjebol pintu karena para perjaga tidak mau membukanya. Kami hendak bicara denganmu, Puteri Nirahai. Akan tetapi mendengar suara dua orang tua bangka jahat ini, biarlah kutunda dulu pembicaraan kita dan sekarang aku menantang Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li untuk bertanding denganku!”

“Hemmm... di puncak Tai-hang-san sudah kuputuskan bahwa kini kami mengadakan perdamaian dengan orang-orang kang-ouw. Apakah engkau menjadi wakil pemberontak Bu Sam Kwi dan menantang pembantu-pembantu pemerintah?” Nirahai bertanya.

Han Han menjawab tegas. “Sama sekali bukan. Aku dan adikku Lulu sekarang tidak sudi mencampuri perang. Aku menantang Ma-bin Lo-mo karena urusan pribadi, karena ingin membalaskan dendam puluhan orang anak murid In-kok-san yang orang tuanya telah dibunuh semua oleh Iblis Muka Kuda ini dan untuk membalaskan dendam terhadap kematian Lauw Sin Lian! Aku pun menantang Toat-beng Ciu-sian-li, karena berkali-kali dia hendak membunuhku, bahkan yang terakhir aku tentu telah mati dibunuhnya kalau tidak muncul Kim Cu sehingga hanya sebelah kakiku yang buntung. Aku tantang mereka berdua sebagai musuh pribadi!”

Di dalam lubuk hatinya, semenjak dua orang iblis tua itu muncul sebagai utusan Pangeran Ouwyang Cin Kok untuk minta kepala Han Han sebagai hukuman atas kematian Ouwyang Seng, Nirahai sudah mengambil keputusan untuk mengenyahkan dua orang itu. Dan ketika Han Han datang bersama Lulu, dia pun sudah tahu maka dia sengaja bicara keras.

Tantangan Han Han terhadap dua orang itu amat menggirangkan hatinya, maka puteri cerdik ini tidak mengusir para prajurit, bahkan memperkenankan mereka menonton agar mereka mendengar dan menjadi saksi atas pertandingan yang memang ia harapkan ini. Ia tahu bahwa Han Han telah sembuh dan bahwa pemuda itu amat sakti, tentu sanggup menandingi mereka berdua. Maka kini dengan aksi mengangkat pundak ia berkata.

“Pemerintah tidak akan mencampuri urusan dendam pribadi, bahkan selalu akan menjadi saksi. Terserah tanggapan Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li atas tantangan Suma Han, kami tidak mencampurinya, hanya ingin melihat pertandingan yang adil dan sah!”

Dua orang datuk kaum sesat itu diam-diam merasa jeri terhadap Han Han, akan tetapi untuk menolak tantangan, tentu saja mereka merasa malu. Pula, mereka adalah dua orang tokoh besar, masa harus melarikan diri terhadap tantangan seorang pemuda yang buntung sebelah kakinya? Biar pun kini tiada tokoh kang-ouw yang menyaksikan, bahkan kedua orang pendeta yang menjadi utusan Pangeran Kiu juga telah kembali ke Se-cuan, namun ada ratusan orang prajurit Mancu menjadi penonton.

Akan tetapi, Toat-beng Ciu-sian-li masih berusaha untuk menghindarkan pertandingan dan berkata, “Suma Han, engkau sekarang mengakui sebagai keturunan Suma! Jai-hwa-sian Suma Hoat adalah Kakekmu! Lupakah engkau bahwa aku adalah isteri Kakek Buyutmu Suma Kiat? Aku adalah Nenek Buyutmu sendiri! Hayo berlutut memberi hormat atas kekurang ajaranmu menantangku!”

Akan tetapi Han Han tertawa mengejek. “Tidak kusangkal bahwa aku menyesal sekali, adalah keturunan keluarga Suma yang jahat seperti keluarga iblis itu! Engkau adalah seorang di antara selir-selir Suma Kiat yang tentu banyak jumlahnya, entah selir yang syah ataukah selir gelap-gelapan! Akan tetapi aku tidak akan mengakuimu, bahkan andai kata Kakekku yang berjuluk Jai-hwa-sian itu masih hidup, kalau mengingat akan kejahatannya, dia akan kutantang pula! Toat-beng Ciu-sian-li, aku ulangi lagi tantanganku kepadamu, bukan sekali-kali sebagai nenek buyut, melainkan sebagai seorang datuk kaum sesat yang telah menumpuk dosa. Ataukah kau tidak berani melawan bekas muridmu sendiri yang telah kau buntungi kakinya? Dan engkau, Ma-bin Lo-mo, apakah engkau telah berubah menjadi pengecut, lebih pengecut dari pada perbuatanmu membunuhi keluarga para murid In-kok-san?”

Kemarahan dua orang tokoh tua itu memuncak dan biar pun mereka maklum akan kesaktian Han Han, namun keduanya juga memiliki kepandaian yang sudah amat tinggi tingkatnya. Toat-beng Ciu-sian-li memekik dan begitu tangannya bergerak, tiga sinar terang menyambar ke arah dahi, dada dan pusar Han Han. Itulah senjata gelap gelang yang ia lolos dari rantai gelang di telinganya.

“Lulu, mundur!” Han Han berteriak.

Lulu meloncat ke dekat Nirahai dan Han Han menggerakkan tangannya. Dengan hawa pukulan sinkang yang kuat sekali ia membuat tiga buah gelang itu menyeleweng dan menghilang ke dalam tanah di depan kakinya!

“Wuuuttt, tring-tring-tranggggg...!”

Toat-beng Ciu-sian-li sudah menerjang maju dan sekaligus kedua anting-anting rantai gelang rambutnya yang panjang dan kedua tangannya sudah bergerak melakukan penyerangan secara berbareng.

“Singgg... ngiuuukkkkk...!”

Ma-bin Lo-mo juga sudah menerjang maju, golok melengkung di tangan kanan menjadi gulungan sinar, tangan kirinya memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang!

“Cuat-cuattt...!”

Tubuh Han Han mencelat seperti kilat dan telah lolos dari kepungan serangan yang amat hebat itu. Tubuhnya bergerak-gerak dengan loncatan aneh sehingga pandang mata Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li menjadi kabur. Mereka harus membelalakkan mata, bergerak cepat dan bersikap waspada.

“Heiiiii! Mengapa main keroyok? Ini tidak adil!” Nirahai berseru. Biar pun ia tidak khawatir melihat pengeroyokan atas diri Han Han, namun sebagai saksi dan juri, dia harus mencela agar tidak dianggap berat sebelah.

“Terima kasih, Puteri. Biarlah mereka mengeroyok, memang selama hidupnya orang-orang seperti mereka ini hanya mengandalkan kemenangan dengan kecurangan!” Han Han mengejek.

Kedua orang itu menjadi makin marah, akan tetapi tentu saja mereka menulikan telinga terhadap ejekan-ejekan ini karena maklum bahwa kalau maju seorang demi seorang, tentu mereka akan celaka. Tanpa menjawab mereka telah mengirim serangan secara bertubi-tubi.

Han Han tetap mainkan ilmu silat Soan-hong-lui-kun yang amat hebat. Tubuhnya lenyap dan hanya tampak berkelebatnya bayangannya yang saking cepat gerakannya sampai seolah-olah berubah menjadi banyak itu. Dia hanya mengelak dengan loncatan-loncatan ke sana-sini sehingga tampaknya seperti dua orang anak-anak yang canggung mengejar dan berusaha untuk memukul seekor lalat yang amat cekatan.

Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee adalah seorang ahli bermain golok melengkung, dan tenaganya Swat-im Sin-ciang amat kuatnya, bahkan lebih kuat dari pada tenaga sinkang Setan Botak, lebih kuat pula dari tenaga sinkang Toat-beng Ciu-sian-li. Akan tetapi nenek itu jauh lebih berbahaya karena biar pun sinkang-nya tidak sekuat Ma-bin Lo-mo, namun dalam hal ilmu silat, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat lebih lihai dan banyak sekali macam ilmunya.

Nenek ini puluhan tahun lamanya berkecimpung di dunia kaum sesat, mempelajari bermacam ilmu dan sebagai selir terkasih Suma Kiat, dia menuruni pula ilmu-ilmu aneh dan mengerikan dari suaminya itu. Dia ahli mempergunakan rambutnya sebagai senjata. Biar rambutnya sudah banyak uban-nya, namun masih panjang dan rambut yang halus ini berbahaya sekali, dapat melibat senjata lawan, dapat menjerat leher, dan bahkan dapat pula menjadi keras menegang dan digunakan sebagai alat penotok jalan darah!

Senjata rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya juga merupakan senjata yang ampuh sekali, karena selain sukar diduga gerakannya karena digerakkan bukan dengan tangan melainkan dengan gerakan kepala, menjadi imbangan yang membingungkan bagi lawan dengan gerakan penyerangan rambut. Ditambah lagi dengan kuku-kuku jari tangannya yang beracun, telapak tangannya yang mengandung hawa pukulan Toat-beng-tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa) yang biar pun tidak sekuat Swat-im Sin-ciang, namun mengandung hawa beracun yang jahat sekali!

Han Han yang sudah beberapa kali bertanding melawan dua orang ini tahu bahwa dikeroyok dua orang ini sama dengan dikeroyok sedikitnya sepuluh orang. Yang paling berbahaya baginya adalah si nenek yang sambil menyerang menyembunyikan anting-antingnya, suaranya berkerincingan mengacaukan perhatian, bahkan bagi para pendengar yang tidak memiliki sinkang kuat dapat menggetarkan jantungnya.

Baiknya para prajurit menonton dari jarak jauh sehingga getaran suara itu hanya membuat mereka menutupi telinga karena amat tidak enak didengar, seperti orang mendengar suara kaleng digurat-gurat. Maka, kini setelah berloncatan ke sana-sini dan gerakan ilmu gerak kilat pada kaki tunggalnya sudah lancar, mulailah ia membalas dengan serangan tongkat yang ia mainkan dengan gerakan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, sedangkan tangan kirinya ia pukulkan dengan sinkang yang berubah-ubah, kadang-kadang ia menggunakan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang, kadang-kadang ia menghadapi pukulan Ma-bin Lo-mo dengan tenaga yang sama, yaitu Swat-im Sin-ciang, namun jauh lebih kuat!

Kini mulailah Han Han menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun yang memungkinkan ia berloncatan cepat menjauhi Toat-beng Ciu-sian-li dan mendesak Ma-bin Lo-mo! Toat-beng Ciu-sian-li maklum bahwa Han Han hendak merobohkan murid keponakannya dulu, maka ia berteriak-teriak dan mengejar terus. Namun gerakannya jauh kalah cepat oleh Han Han sehingga bagi para penonton yang tidak dapat mengikuti dengan pandangan mata biasa, seperti prajurit-prajurit Mancu itu, yang kelihatan hanya berkelebatan tubuh Han Han dan Ma-bin Lo-mo yang sibuk menangkis dengan goloknya, dan melihat nenek itu berlari-lari memutari tubuh Ma-bin Lo-mo sambil berteriak-teriak memaki seperti orang gila!

Ma-bin Lo-mo mempertahankan diri sekuatnya. Ketika melihat tongkat menyambar, ia mengerahkan tenaga mengayun goloknya menangkis, dan tangan kirinya sudah menghantam ke arah bayangan Han Han dengan Swat-im Sin-ciang. Saat inilah yang dinanti-nantikan oleh Han Han. Tongkatnya ia pukulkan dengan kuat, dan tangan kanannya menyambut pukulan itu dengan tenaga Im-kang pula yang jauh lebih kuat. Dua senjata bertemu di udara, tepat pada saat dua telapak tangan mereka bertemu.

“Krakkk! Dessss...!”

Golok patah menjadi tiga dan tubuh Ma-bin Lo-mo menggigil, kemudian ia terhuyung mundur, dari telinga, mata, hidung dan mulut juga dari lubang-lubang di bawah tubuh, mengucur darah dan akhirnya roboh dengan napas putus. Tubuhnya berubah membiru dan kaku seperti sebatang kayu karena tubuh itu sudah membeku!

“Bocah setan...!” Toat-beng Ciu-sian-li memaki menutupi rasa gentarnya, semua senjatanya yang ampuh, rambut, sepasang rantai gelang dan kedua tangannya menyerang kalang-kabut.

Ketika Han Han menggunakan tongkatnya menangkis, sepasang rantai gelang yang panjang dan pendek itu bergerak seperti dua ekor ular, tahu-tahu telah melibat-libat pada tongkat itu dan mendadak nenek itu menggerakkan kepalanya. Dua helai rantai gelang itu membetot ke kanan kiri. Han Han terkejut karena benar-benar amat kuat tarikan dua rantai gelang itu. Dia pun mengerahkan tenaga membetot.

“Krekkk-krekkk-kraaakkkkk!”

“Aihhhhh...!” Nenek itu menjerit.

Tongkat Han Han patah-patah menjadi tiga potong, akan tetapi dua helai rantai gelang itu pun copot dari kedua telinga Si Nenek, merobek bagian bawah daun telinga di mana rantai itu tergantung! Nyerinya begitu hebat bagi seorang nenek yang demikian sakti, akan tetapi rasa kaget dan malu membuat ia menjadi marah dan nekat. Kepalanya bergerak dan rambutnya sudah membelit leher Han Han.

Pemuda ini tak sempat mengelak, rambut itu seperti hidup, tahu-tahu telah membelit dan mencekik leher. Otomatis kedua tangannya ia gerakkan ke leher untuk melepaskan libatan dan menarik putus rambut itu, akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menggerakkan kedua tangannya yang berkuku panjang, yang kiri mencengkeram ke arah ulu hati, sedangkan yang kanan mencengkeram ke bawah pusar Han Han untuk meremas hancur anggota kelaminnya!

“Koko, awas...!” Tak tertahankan lagi Lulu yang menyaksikan gerakan nekat dan curang itu berseru.

Nirahai menonton dengan sepasang mata tak pernah berkedip dan hatinya menjadi tegang, namun ia tetap waspada untuk mencegah kalau-kalau Lulu yang sudah tak enak berdiri sejak tadi itu turun tangan membantu kakaknya.

Han Han sekarang bukanlah seperti Han Han dahulu ketika baru keluar dari Pulau Es. Setelah menerima gemblengan dari Khu Siauw Bwee, dia telah menguasai ilmu silat tinggi dan memiliki kewaspadaan seorang ahli. Dia tidak akan patut disebut orang sebagai Pendekar Super Sakti kalau dia tidak melihat gerakan kedua tangan nenek itu. Dari gerakan pundak saja ia sudah mengetahui lebih dulu sebelum kedua tangan nenek itu menerkam tubuhnya.

Ia membiarkan lehernya tercekik, mengerahkan tenaga untuk melindungi leher sehingga cekikan tidak menghalangi pernapasannya, berbareng secepat kilat ia menggerakkan kedua tangan menerima kedua tangan nenek itu sehingga dua pasang telapak tangan bertemu. Nenek itu terus mencengkeram kedua tangan Han Han sambil mengerahkan tenaga Toat-beng-tok-ciang. Akan tetapi Han Han tidak menolak, malah pemuda ini pun mengerahkan sinkang, yang kiri mengerahkan inti Swat-im Sin-ciang, yang kanan mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang!

Dua orang itu berdiri tegak, rambut nenek itu mencekik leher, kedua pasang tangan mereka saling cengkeram dan terjadilah adu tenaga yang amat menegangkan bagi Lulu dan Nirahai. Mereka berdua maklum bahwa Han Han dan nenek itu mengadu tenaga sakti yang amat berbahaya.

Kini tangan kiri nenek itu yang bertemu tangan kanan Han Han yang mengepulkan asap dan kuku-kukunya yang panjang hangus, sedangkan tangan kanannya menggigil. Muka nenek itu sebentar pucat sebentar merah, napasnya terengah-engah dan ia berkata parau.

“Aku Nenek Buyutmu... Nenek Buyutmu...!” dan dari kedua mata nenek itu bercucuran air mata!

Han Han merasa muak, juga kasihan. Air mata hanya dapat dikeluarkan dari hati yang baik! Hanya orang yang berduka, orang yang menyesali perbuatannya, orang yang kalah dan tertekan batinnya saja yang akan dapat mengucurkan air mata. Dan tak dapat disangkal lagi, menangis sama dengan berdoa, karena hanya orang yang menangis saja yang mendekatkan hatinya dengan Tuhan!

“Pergilah!” seru Han Han dan ia mengerahkan semua tenaganya mendorong.

Tubuh nenek itu terlempar dibarengi jeritnya yang menyayat hati. Rambutnya masih melibat leher Han Han karena dalam saat terakhir itu, nenek ini masih tidak mau melepaskan niatnya membunuh Han Han, maka masih melakukan perlawanan. Kalau saja dia mengaku kalah dan tidak melakukan perlawanan dengan seluruh tenaga, agaknya ia akan terlempar saja dan masih selamat. Akan tetapi ia melawan, maka selain rambut kepalanya coplok dan tertinggal semua di leher Han Han, juga tenaga yang ia kerahkan di kedua tangannya membalik dan menghantam isi dadanya sendiri. Ia terbanting dengan kepala tak berambut lagi, kedua telinga robek, dan tubuhnya hangus sebelah. Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat tewas dalam keadaan yang lebih mengerikan dari pada kematian Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee!

Lulu berlari menghampiri kakaknya dan memeluk pundak Han Han yang melepaskan libatan rambut dan membuang rambut itu dengan helaan napas panjang. Kemudian ia melepaskan pelukan Lulu dan menengok ke kiri. Juga Lulu mendengar suara ribut-ribut di antara para prajurit. Nirahai sendiri pun memandang ke jurusan itu dan wajahnya berubah, keningnya berkerut.

“Katanya diadakan perdamaian, kenapa hendak menghadap Puteri Nirahai saja kalian ribut-ribut hendak menggunakan kekerasan?” Terdengar suara lantang di antara hiruk-pikuk suara para prajurit.

“Sin Kiat...!” Han Han berseru girang.

“Biarkan mereka menghadap!” perintah Puteri Nirahai.

Para prajurit mundur dan membuka jalan, membiarkan serombongan orang muda memasuki tempat itu. Mereka terdiri dari belasan orang muda. Sin Kiat berjalan di depan dan orang-orang muda lainnya adalah murid-murid In-kok-san, empat orang gadis dan belasan orang pemuda yang kesemuanya bersikap gagah. Han Han melihat di antara mereka para murid In-kok-san ada yang pernah menyerang Nirahai dalam jolinya.

Melihat Han Han dan Lulu, Sin Kiat berteriak girang dan lari menghampiri. Akan tetapi ketika melihat Puteri Nirahai berdiri di situ, Sin Kiat lalu menghadap puteri itu dan berkata gagah, “Aku bernama Wan Sin Kiat dan kawan-kawan ini adalah murid-murid In-kok-san. Kami mendengar keributan yang terjadi di sini, mendengar bahwa sahabat-sababatku Han Han dan Nona Lulu tertawan, maka kami datang untuk mengajukan protes. Pemerintah mengumumkan perdamaian akan tetapi mengapa sahabat-sahabatku ditawan?”

Sementara itu, para murid In-kok-san memandang mayat-mayat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dengan mata terbelalak, bahkan empat orang gadis itu menangis, bukan karena duka melainkan karena terharu melihat betapa musuh besar mereka, Ma-bin Lo-mo bekas guru yang ternyata menjadi pembunuh keluarga mereka, kini telah menggeletak tak bernyawa.

Puteri Nirahai tersenyum dan memandang dengan sinar mata dingin. “Apa yang terjadi di sini bukanlah urusan perang, melainkan urusan pribadi. Dan kalian melihat sendiri, kedua orang yang kau maksudkan itu tidak lagi menjadi tawanan kami. Bahkan kami memberi kebebasan kepada Suma Han untuk bertanding melawan dua orang musuhnya tanpa campur tangan dari kami!”

Lega hati Sin Kiat mendengar ini dan ia menghampiri Han Han, memegang tangan sahabatnya itu dan memandang penuh kagum, kemudian menoleh kepada Lulu dengan sinar mata penuh kebahagiaan dapat bertemu kembali dengan Lulu, penuh kemesraan sehingga wajah Lulu berubah merah sekali.

“Suma Han! Engkau sudah merobohkan dua orang musuhmu, dan kalau Lulu Su-moi mau pergi, silakan. Kalau engkau hendak pergi, aku pun tidak akan menghalangi, hanya di sini aku menantang engkau untuk berpibu mengadu kepandaian denganku pada malam nanti, tepat tengah malam, di puncak Gunung Cengger Ayam di sebelah utara itu. Aku akan menanti di sana dan kalau engkau tidak datang, aku hanya akan menganggap engkau sebagai seorang laki-laki sombong yang hanya berani melawan orang-orang lemah, juga seorang pengecut besar!”

“Nirahai...!” Han Han terkejut dan menyebut nama itu tanpa disadarinya.

Akan tetapi, sambil mengebutkan lengan bajunya, Nirahai sudah membalikkan tubuh dan pergi memasuki kemahnya.



Lulu menarik tangan Han Han dan pergilah orang muda itu dari tempat itu. Dua orang murid In-kok-san mengangkat jenazah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sambil berkata, “Mereka ini orang-orang jahat di waktu hidup mereka, akan tetapi ini adalah jenazah-jenazah manusia dan mengingat bahwa kami pernah menerima gemblengan mereka, kami akan memakamkan jenazah mereka sebagaimana mestinya.”

Han Han menjadi terharu dan memandang kagum. Para prajurit tidak ada yang berani menghalangi rombongan ini keluar dari daerah perbatasan. Setelah murid-murid In-kok-san membawa pergi dua jenazah itu, hanya tinggal Han Han, Lulu dan Sin Kiat yang duduk di dalam hutan.

Han Han kemudian menceritakan pengalamannya bersama Lulu. Sedangkan Sin Kiat juga menceritakan betapa dia menari-cari Han Han dan kemudian kebetulan sekali mendengar bahwa Sin Lian dan Hian Ceng tewas dalam penyerbuan mereka ke perkemahan Ouwyang Seng, mendengar pula berita mengejutkan bahwa Ouwyang Seng juga terbunuh dan Han Han ditawan bersama Lulu. Maka dengan nekat ia lalu menyusul, bertemu dengan rombongan murid In-kok-san yang kesemuanya merupakan teman-teman seperjuangan dan yang ikut pula bersamanya karena pada waktu itu perang telah dihentikan.

Setelah mereka menceritakan perjalanan masing-masing, Han Han lalu bertanya sambil memandang Sin Kiat dengan sinar mata tajam penuh selidik, “Sin Kiat, engkau adalah sahabatku terbaik, sahabat semenjak kita kecil. Katakanlah sejujurnya, di depan adikku, apakah engkau setulus hatimu mencinta Lulu?”

Wajah Sin Kiat menjadi merah. Lulu yang kedua pipinya menjadi merah pula menunduk, jari-jari tangan kirinya mencabuti rumput di dekat kakinya, jantungnya berdebar. Setelah mendengar keputusan Han Han dalam kamar tahanan, begitu Sin Kiat muncul, ia amat memperhatikan pemuda itu dan memang pemuda ini tak dapat dicela, gagah perkasa dan tampan, sikapnya pun menyenangkan.

“Han Han, seorang laki-laki sejati tidak akan mempermainkan cinta kasih. Aku telah menyatakan kepada Adik Lulu tentang cinta kasihku kepadanya. Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa aku mencinta Adik Lulu sepenuh hatiku, mencinta dengan jiwa ragaku!”

Lega hati Han Han mendengar ini. “Dan engkau berjanji akan melindunginya seperti engkau melindungi dirimu sendiri?”

“Lebih dari itu! Kalau aku diberi kehormatan besar itu, aku akan mendahulukan keselamatan dan kepentingannya. Aku rela berkorban nyawa untuk melindunginya!”

Han Han menoleh kepada Lulu yang makin menunduk, memegang tangan adiknya dan berkata, “Nah, engkau mendengar sendiri, Lulu. Engkau tidak akan menyesal selama hidupmu. Maka sekarang jawablah terus terang saja, aku menjadi saksinya. Apakah engkau bersedia kalau dijodohkan dengan Sin Kiat?”

Sepasang mata yang indah dan lebar itu terangkat, memandang Han Han dan dua butir air mata jatuh berderai di atas kedua pipinya, bibirnya gemetar ketika ia berkata lirih, “Kalau itu yang kau kehendaki...”

“Memang aku menghendaki engkau berjodoh dengan Sin Kiat, adikku. Akan tetapi tentu saja aku tidak akan memaksamu kalau engkau tidak setuju. Jawablah. Maukah engkau menjadi jodoh Wan Sin Kiat?”

Lulu menunduk dan menganggukkan kepalanya. Gerakan ini membuat dua butir air mata baru jatuh lagi. Sin Kiat hampir tidak dapat percaya akan mata dan telinganya sendiri. Mau rasanya ia menari-nari saking girangnya, akan tetapi tentu saja ia merasa malu, hanya jantungnya yang berdebar-debar menari-nari di dalam rongga dadanya.

“Sin Kiat, engkau telah melihat sendiri. Adikku sudah sepatutnya menjadi ratu rumah tangga. Sekarang harap engkau suka mengajak Lulu pergi dan mempersiapkan acara pernikahan. Siapakah yang akan menjadi walimu dan di mana kiranya upacara itu akan dilaksanakan?”

“Aku sudah mengambil keputusan untuk mohon kepada suhu agar suka menjadi waliku, ada pun tempatnya, kurasa paling baik di rumah Tan-piauwsu.”

“Hemmm... di Pek-eng-piauwkiok? Di kota Kwan-leng?”

“Benar, aku tidak mempunyai keluarga, dan Tan-piauwsu adalah orang yang amat baik, kuanggap keluarga sendiri.”

“Baiklah. Kau berangkatlah bersama Lulu ke Kwan-teng, buatlah persiapan upacara pernikahan. Tiga bulan lagi semenjak hari ini, aku akan menyusul ke sana.”

Lulu tiba-tiba mengangkat muka dan berkata, “Koko, kenapa begitu? Kenapa engkau tidak sekalian pergi bersama kami? Engkau hendak pergi ke mana?”

“Masih ada urusan yang harus kuselesaikan, Moi-moi. Pertama-tama, malam ini aku harus memenuhi tantangan pibu dari Puteri Nirahai.”

“Aihhhhh...! Aku... aku ikut denganmu, Koko! Puteri Nirahai adalah suci-ku, dan engkau adalah kakakku. Kini kalian berdua hendak mengadu kepandaian. Suci amat sakti, Koko, bagaimana kalau... kalau... ahh, aku hendak menjadi saksi!”

“Tidak boleh, Lulu. Dia mengajak pibu di tengah malam di puncak Gunung Cengger Ayam, hal ini berarti bahwa dia tidak akan membawa teman dan tidak menghendaki saksi. Mungkin dia merasa malu kalau-kalau akan kalah. Tenangkanlah hatimu, aku akan berusaha mencapai kemenangan tanpa harus membunuhnya. Kau berangkatlah sekarang juga bersama Sin Kiat dan tunggu kedatanganku di Kwan-teng tiga bulan lagi.”

Wajah Lulu menjadi pucat dan ia terisak menangis. “Bagaimana kalau... kalau engkau tidak datang, Koko? Kita baru saja bertemu dan berkumpul dan... dan... engkau sudah menyuruhku pergi... aku tidak ingin berpisah denganmu.”

Han Han merasa jantungnya perih, namun ia memaksa diri tersenyum dan memegang pundak adiknya. “Aku pasti akan datang, Lulu. Tidak ada peristiwa yang lebih penting bagiku melebihi upacara pernikahanmu, melihat engkau berbahagia. Hanya kematian saja yang akan mampu menggagalkan kedatanganku tiga bulan mendatang di Kwan-teng. Akan tetapi andai kata demikian, aku pun akan puas karena percaya bahwa di sampingmu ada Sin Kiat yang akan membela dan melindungimu dengan sepenuh jiwa raganya. Berangkatlah, Lulu dan kau sudah berjanji akan menjadi adik yang baik, yang mentaati permintaan kakaknya, bukan?”

“Koko...!” Lulu menubruk dan karena Han Han sudah bangkit berdiri, ia merangkul kaki tunggal itu sambil menangis. Berat sekali rasa hatinya untuk pergi meninggalkan Han Han.

Hampir saja Han Han tidak dapat menahan keharuan hatinya dan kalau ia sampai balas memeluk adiknya, tentu dia akan membiarkan adiknya ikut dia dan kelak bersama-sama ke Kwan-teng. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, lalu berkata kepada Sin Kiat yang memandang penuh keharuan dan bingung apa yang harus ia lakukan.

“Sin Kiat, lekas kau ajak Lulu pergi. Hari sudah hampir gelap, jangan sampai kalian kemalaman di jalan dan di hutan.”

Sin Kiat menghampiri Lulu, memegang lengan gadis itu dengan mesra dan hati-hati, mengangkatnya bangun dan berkata halus, “Marilah, Moi-moi. Kakakmu memang benar, dan sepatutnya kalau kita mentaati apa yang dikehendakinya. Tiga bulan lagi dia akan menyusul kita di Kwan-teng. Dia bukanlah orang yang tidak menepati janjinya, Moi-moi. Marilah!” Sin Kiat menarik dengan halus dan terpaksa Lulu menurut, akan tetapi gadis itu terisak-isak dan sambil berjalan digandeng Sin Kiat, ia menoleh memandang ke arah kakaknya yang berdiri tegak sambil tersenyum.

Han Han melambaikan tangan sambil berkata, “Selamat jalan, Lulu adikku. Selamat berpisah sampai jumpa kembali. Jangan kau nakal, ya?”

Tiba-tiba Lulu merenggutkan lengannya terlepas dari gandengan Sin Kiat, lalu lari menghampiri Han Han, merangkul leher dan mencium pipi Han Han sambil tersedu-sedu. “Koko... Koko... sudah tetapkah keputusanmu...?”

Han Han menahan air matanya yang memenuhi pelupuk mata. “Pergilah, adikku sayang. Pergilah, doaku bersamamu...”

Lulu terisak, melepaskan rangkulan lalu lari meninggalkan Han Han. Terpaksa Sin Kiat juga lari dan dari jauh Han Han melihat kedua orang muda itu lari cepat berdampingan. Air matanya tak dapat ia tahan lagi, mengalir turun ke atas kedua pipinya, bersatu dengan air mata Lulu yang membasahi mukanya, matanya tak pernah berkedip sampai bayangan kedua orang itu lenyap.

“Bodoh! Lemah!” Han Han memaki diri sendiri untuk menguatkan hatinya, akan tetapi kaki tunggalnya menjadi lemas dan ia menjatuhkan diri berlutut di tempat itu, merasa kehilangan, merasa sunyi dan mulutnya berbisik-bisik, “Semoga Tuhan memberkahimu, Lulu adikku tersayang...!”

Han Han termenung dalam keadaan itu, di tempat sunyi, sesunyi hatinya yang terasa kosong. Setelah kegelapan menyelimuti dirinya, barulah ia teringat akan tantangan Nirahai dan ia lalu meloncat bangun, menyambar tongkat yang tadi ia buat dari ranting pohon, dan melesatlah tubuhnya cepat sekali menuju ke gunung kecil Cengger Ayam untuk menghadapi Puteri Nirahai.

******************


Puncak bukit kecil itu merupakan padang rumput yang rata dan malam itu amatlah terang di situ karena bulan sedang purnama. Mengertilah Han Han mengapa Puteri Nirahai memilih tempat ini. Memang sunyi dan padang rumput itu luas, leluasa untuk dijadikan tempat bertanding, pula malam itu bulan purnama membuat tempat itu terang benderang seperti sinar matahari pagi.

Dia tiba di puncak menjelang tengah malam. Di tempat yang sunyi ini Han Han duduk di atas rumput, diam-diam merasa heran mengapa Puteri Nirahai menantang dia untuk pibu. Benarkah puteri itu hendak memenuhi janji, datang di tempat yang sunyi ini? Benar-benar aneh watak puteri itu. Mengajak pibu di tempat ini, tanpa saksi. Bagaimana kalau terjadi seperti yang dikhawatirkan Lulu, yaitu seorang di antara mereka roboh, terluka parah atau tewas? Tentu takkan ada seorang pun manusia mengetahui dan akan terlantar! Apa boleh buat! Sebagai seorang gagah, dia harus berani menghadapi kekalahan.

Dan puteri itu, ahhh, akan tegakah hatinya untuk melukai Nirahai? Dia harus berani mengaku di dalam hatinya bahwa hatinya amat tertarik oleh kecantikan dara itu, bahkan segala gerak-gerik Nirahai amat menimbulkan gairah hatinya. Dan kini dia akan menghadapi dara itu sebagai lawan! Bagaimana ia harus bersikap? Mengalah? Tidak mungkin! Mengalah terhadap lawan biasa mungkin saja dilakukan, akan tetapi terhadap seorang dara yang memiliki kesaktian luar biasa seperti Nirahai, mengalah berarti menghina dan tentu akan diketahui oleh dara itu!

Tiba-tiba Han Han meloncat berdiri ketika melihat bayangan yang amat cepat dan ringan sehingga tidak menimbulkan suara, berkelebat mendatangi dari depan. Jantungnya berdebar keras. Puteri Nirahai telah berdiri di depannya, cantik jelita seperti dewi bulan turun dari kahyangan. Rambutnya yang hitam mengkilap tertimpa cahaya bulan, wajahnya yang jelita seolah-olah diselaput emas, sepasang matanya bersinar-sinar. Puteri ini benar-benar telah menepati janji, datang tepat pada tengah malam dan seorang diri! Betapa gagahnya!

“Bagus, engkau telah menanti di sini? Marilah kita mulai!” Dara itu telah melintangkan pedang payungnya di depan dada.

Terpincang-pincang dibantu tongkatnya Han Han maju tiga langkah menghadapi puteri itu. “Puteri Nirahai, apakah perlunya diadakan pibu ini? Di antara kita tidak ada urusan sesuatu, perlu apa bertanding tanpa sebab yang hanya akan mendatangkan kematian bagi yang kalah dan penyesalan di kemudian hari bagi yang menang?”

“Hemmm... Suma Han, tidak akan mudah bagimu untuk membunuh aku begitu saja seperti yang kau lakukan terhadap Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li siang tadi!”

Han Han tersenyum. Puteri ini cantik, lihai, cerdik akan tetapi juga angkuh dan bersikap agung sesuai dengan kedudukannya sebagai puteri kaisar! “Katakanlah aku yang akan kalah dan mati di tanganmu. Apakah kelak engkau tidak akan menyesal telah membunuh orang tanpa sebab dan tanpa dosa?”

“Tiada gunanya bersilat lidah. Baiklah kukatakan saja sebabnya agar engkau tidak menjadi penasaran dan menganggap aku gila bertanding! Engkau adalah murid Bibi Guru Khu Siauw Bwee yang telah mewarisi ilmu kepandaiannya yang dahsyat, bukan? Dan aku adalah murid guruku Nenek Maya. Timbullah keinginan hatiku untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!”

Han Han menghela napas panjang. “Puteri Nirahai, sebenarnya di sudut hatiku, aku amat membenci penggunaan kekerasan. Membenci perkelahian. Selama ini aku hanya dipaksa untuk berkelahi, padahal aku tidak suka untuk bertanding, apa lagi dengan engkau yang gagah perkasa dan lihai. Engkau adalah pewaris ilmu-ilmu yang dahsyat dari pendekar-pendekar sakti jaman dahulu, pewaris ilmu-ilmu dari pendekar wanita Mutiara Hitam, menjadi murid Nenek Maya yang maha sakti. Biarlah, tanpa bertanding pun aku sudah mengakui keunggulanmu dan aku mengaku kalah.”

“Suma Han, apa kau kira aku ini anak kecil yang dapat kau bujuk dengan kata-kata mengalah seperti diberi kembang gula? Tidak, aku tidak mau menerima alasan seperti itu. Aku menantangmu untuk pibu dan aku hanya akan meniadakan pibu ini kalau engkau mengaku bahwa engkau takut dan pengecut, tidak berani melawanku!”

Wajah Han Han menjadi merah. Ia bukan seorang bodoh dan maklum bahwa sengaja puteri itu menggunakan kata-kata ‘pengecut’ hanya untuk memaksanya. Dia tidak dapat mundur lagi. Bagi seorang gagah, dianggap takut dan pengecut lebih hebat dari pada mati.

“Hemm, baiklah. Agaknya engkau sudah bertekad untuk menguji kepandaianku yang tidak seberapa ini. Hanya satu pesan dan permintaanku kepadamu sebelum kita mulai bertanding, Puteri Nirahai.”

“Katakanlah, engkau cerewet benar. Apa pesanmu?”

Han Han tersenyum. Biar pun Nirahai seorang puteri kaisar yang angkuh, sikap dara ini mengingatkan ia akan kegalakan Lulu!

“Kalau aku menang dan kesalahan tangan sampai membuatmu tewas dalam pertandingan ini, aku akan menyesali peristiwa ini selama hidupku, engkau akan selalu terbayang olehku dan hidupku akan selalu dibayangi penyesalan yang hebat. Sebaliknya kalau aku yang tewas, dan agaknya begitulah mengingat akan kesaktianmu, aku pesan kepadamu, sudilah kiranya engkau tiga bulan mendatang ini mengunjungi Kwan-teng, di Pek-eng-piauwkiok dan mewakili aku melaksanakan upacara pernikahan antara adikku Lulu dengan Hoa-san Gi-hiap Wan Sin Kiat. Maukah engkau berjanji?”

Puteri itu kelihatan kaget dan termangu-mangu. “Sumoi... akan... kawin?” Akan tetapi ia sudah menguasai hatinya dan menjawab tenang, “Baiklah, aku berjanji akan memenuhi pesanmu itu. Mari kita mulai!”

“Aku sudah siap!” kata Han Han, memandang tajam penuh kewaspadaan karena ia maklum bahwa senjata berupa payung itu tidak boleh dipandang ringan.

“Sambut serangan!” Nirahai berseru.

Mata Han Han menjadi gelap. Tiba-tiba payung hitam itu terbuka menyembunyikan tubuh Nirahai dan tahu-tahu ujung payung yang runcing itu sudah meluncur ke arah dadanya. Hebat bukan main serangan ini. Han Han kaget dan kagum, akan tetapi cepat mengangkat tongkatnya menangkis dengan putaran pergelangan tangannya.

“Cring-cring-cring...!”

Setelah tiga kali menangkis, baru Nirahai menghentikan tusukan bertubi-tubi dan berganti gerakan, payungnya tiba-tiba tertutup dan tangan kirinya menampar dari samping mengarah pelipis Han Han, sedangkan payung yang tertutup itu meluncur dengan totokan ke arah lutut kiri lawan!

Han Han cepat mengelak dan melihat serangan itu disusul dengan serangan-serangan dahsyat sekali secara bertubi-tubi, terpaksa ia lalu bersilat dengan gerak kilat yang membuat tubuhnya seolah-olah menghilang, yaitu Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun! Namun dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat dara itu memutar pedang payungnya sambil berputaran, mengarahkan pedang payungnya itu ke atas!

Seperti diketahui, ilmunya Soan-hong-lui-kun yang berdasarkan gerak kilat itu selalu menitik beratkan serangan dari atas, mempergunakan kesempatan selagi tubuhnya mencelat-celat ke atas yang kecepatannya tak mungkin dapat dicapai orang yang berkaki dua. Akan tetapi kini Nirahai memutar tubuh dan pedangnya sehingga tubuhnya bagian atas seperti diselimuti atau dilindungi benteng baja yang tak mungkin ditembus oleh air hujan sekali pun! Inilah ilmu terbaru yang diajarkan Nenek Maya kepada Nirahai yang khusus diciptakan untuk menghadapi Soan-hong-lui-kun!

Han Han menjadi penasaran juga karena sama sekali dia tidak mendapat kesempatan menyerang kalau menggunakan gerak kilatnya, maka ia meluncur turun dan membalas serangan lawan dengan mainkan tongkatnya, mencampur-adukkan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut dengan gerakan ilmu silat yang ia pelajari dari kitab-kitab di Pulau Es.

Nirahai sama sekali tidak berani memandang rendah. Tadi ketika tubuh Han Han mencelat dan lenyap, ia kaget setengah mati. Cepat ia mainkan ilmu yang diajarkan subo-nya melindungi tubuhnya bagian atas. Ia maklum bahwa kalau saja dia tidak mempelajari ilmu baru itu, tentu dia tak akan sanggup menghadapi ilmu mencelat-celat seperti itu yang kecepatannya saja sudah membuat pandang matanya kabur, seolah-olah yang dihadapinya bukan manusia melainkan iblis yang pandai menghilang!

Kini setelah Han Han menyerangnya dengan tongkat yang dimainkan secara kuat dan cepat, hatinya menjadi tenang. Segera ia pun menggerakkan pedang payungnya untuk mengimbangi permainan lawan sehingga kedua orang yang sama kuatnya ini bertanding secara hebat dan seru. Berkali-kali terdengar suara nyaring ketika pedang payung bertemu dengan tongkat, dan terdengar bunyi bercuitan atau berdesingan kalau senjata mereka yang menyambar itu dielakkan lawan yang menusuk tempat kosong.

Han Han merasa tidak tega kalau dia menggunakan sinkang-nya yang luar biasa, yang sukar dicari bandingnya di dunia persilatan masa itu. Juga dia merasa bahwa kalau dia menangkan pertandingan mengandalkan tenaga, ia merasa malu sendiri. Dia adalah seorang pria, dan lawannya seorang wanita. Baru pembawaan mereka saja sudah berbeda semenjak lahir, tentu saja pria lebih kuat. Maka dia hanya menggerakkan tenaga sinkang sedikit saja untuk mengimbangi kekuatan Nirahai.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa hampir ia kecelik dan celaka karena perasaan sungkan ini. Ketika pedang payung itu untuk kesekian kalinya menyambar, dan ia menangkis dengan tongkat, tiba-tiba tongkatnya melekat pada senjata lawan dan payung itu diputar dengan pengerahan tenaga sinkang sedemikian kuatnya sehingga tongkatnya ikut pula terputar! Dia memperbesar tenaganya untuk bertahan, namun masih saja tongkatnya terbawa! Kalau dilanjutkan, tentu tongkatnya itu akan patah atau akan terlepas, maka terpaksa ia mengerahkan sinkang-nya. Setelah mengerahkan delapan bagian tenaganya, barulah tongkatnya terlepas!

“Hebat!” Tak terasa lagi Han Han berseru karena kini ternyata olehnya bahwa dalam hal tenaga sinkang, dara ini sama sekali tidak boleh dipandang rendah, bahkan belum tentu kalah oleh para datuk kaum sesat, malah agaknya sebanding dengan tenaga kedua orang pendeta Lama dari Tibet, berarti hanya selisih sedikit di bawah tenaganya sendiri!

“Sombong! Engkau boleh mengandalkan sinkang-mu!” Nirahai berkata dan wajah Han Han menjadi merah.

Menghadapi dara secerdik ini dia harus berhati-hati. Baru jalan pikirannya saja yang tadinya tidak mau mengandalkan sinkang-nya telah dapat diterka tepat oleh Nirahai! Han Han mengerahkan kecepatannya dan masih mainkan tongkatnya dengan Siang-mo Kiam-sut. Dasar dari ilmu pedang ini tentu saja dikenal oleh Nirahai yang telah mewarisi banyak ilmu-ilmu peninggalan Mutiara Hitam.

Siang-mo Kiam-sut diciptakan oleh pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, akan tetapi tidak pernah dipelajari Nirahai karena memang peninggalan kitabnya tidak ada. Hanya saja karena Han Han mainkan ilmu pedang ini dengan pencampuran ilmu-ilmu yang dilatihnya di Pulau Es, Nirahai menjadi bingung dan bersikap hati-hati. Pertama-tama dara ini menutup payungnya, mainkan payungnya seperti sebatang pedang dengan ilmu pedang Pat-mo Kiam-hoat yang gerakannya liar dan ganas, sesuai dengan namanya Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis). Hebat bukan main ilmu pedang peninggalan Mutiara Hitam ini, akan tetapi masih belum dapat mendesak Han Han.

Pemuda ini pun merasa jengah dan malu kalau mengalah lagi. Biar pun dia masih tidak mau menggunakan pukulan maut, namun sambil memainkan tongkatnya, tangan kirinya didorongkan ke depan dari samping atau dari bawah, sehingga hawa yang amat kuat menyambar keluar dari telapak tangannya. Kadang-kadang ia menggunakan tenaga hawa panas, kadang-kadang hawa dingin, akan tetapi selalu ia memukul ke arah pangkal bahu, lengan, atau paha. Namun betapa kagumnya ketika dara itu tak sempat mengelak lagi, dara itu pun dapat menangkis dengan kibasan tangan kirinya yang mengeluarkan hawa sinkang yang hampir sama kuatnya sehingga hawa pukulannya menyeleweng!

Sampai habis semua jurus-jurus dari Pat-mo Kiam-hoat dimainkan Nirahai, namun keadaannya tetap terdesak oleh tongkat Han Han. Gadis ini memang hendak menguji, maka ia lalu mengeluarkan bentakan halus dan tiba-tiba ilmu pedangnya berubah sama sekali, berbeda seperti bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan yang tadi. Kalau pedang payungnya tadi bergerak seperti iblis-iblis mengamuk, ganas dan liar, kini gerakannya halus teratur rapi, kelihatannya lambat namun sesungguhnya cepat, kelihatan lemah namun sesungguhnya menyembunyikan kekuatan dahsyat sehingga setiap kali pedang payung itu bergerak, terdengar suara bercuitan panjang! Inilah Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) yang dahulu dicipta sebagai lawan dari Pat-mo Kiam-hoat dan tentu saja lebih kuat dan dahsyat dari pada ilmu pedang yang pertama.

Han Han kagum bukan main oleh karena segera ia terdesak hebat! Namun ia juga mengerahkan seluruh kepandaiannya, terutama sekali mengandalkan gerak kilatnya sehingga dalam kecepatan ia selalu mengetahui dan selalu dapat mengelak atau menangkis sambil membalas dengan hebat sehingga perlahan-lahan ia dapat mengurangi desakan lawan, bahkan setelah lewat seratus jurus lebih, dia kembali telah mendesak puteri itu sehingga perbandingan serangan menjadi tiga dua yaitu dia menyerang tiga kali hanya dapat dibalas dua kali oleh Nirahai.

Kembali dua ratus jurus telah lewat dan pertandingan sudah berjalan kurang lebih empat jam! Sinar bulan makin menyuram tanpa terasa dan tahu-tahu keadaan telah menjadi gelap karena bulan sudah lenyap di balik puncak. Tiba-tiba Han Han meloncat ke belakang dan menghentikan serangannya.

“Cuaca begini gelap, sebaiknya kita menghentikan pertandingan,” katanya.

“Sambut seranganku!” Nirahai yang kini hanya mengandalkan ketajaman telinganya sudah menerjang dengan luncuran ujung pedang payungnya.

“Cringgg...!”

Han Han menangkis dan kembali pemuda itu meloncat, menggunakan gerak kilat sehingga loncatannya tidak menimbulkan suara. Puteri itu menjadi bingung karena tidak tahu ke mana Han Han menyingkir, sedangkan untuk menggunakan mata sudah tak mungkin lagi saking gelapnya cuaca yang kehilangan sinar bulan sedangkan matahari masih terlalu pagi untuk dapat menggantikan kedudukan bulan.

“Hemmm, Suma Han! Di mana engkau? Apakah engkau melarikan diri?” Terpaksa Nirahai bertanya, siap dengan pedang payungnya karena begitu Han Han menjawab, dia akan dapat menyerangnya.

Sunyi tiada jawaban.....

“Suma Han, apakah engkau seorang pengecut?” Nirahai bertanya lagi, gemas karena merasa dipermainkan. Dia tidak percaya bahwa pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa itu melarikan diri.

“Jangan menyerang dulu! Dalam keadaan gelap seperti ini, bagaimana bisa dilakukan pibu secara jujur dan adil? Kita tunggu sampai pagi dan kita boleh melanjutkan pertandingan. Pula, aku lelah sekali, ingin mengaso!”

“Kita masih mempunyai telinga! Awas serangan!” Nirahai meloncat ke depan dan menusukkan senjatanya ke arah datangnya suara tadi.

“Trakkk!” Nirahai terkejut karena senjatanya menusuk sebuah batu besar. Kiranya pemuda itu bersembunyi di balik batu besar!

Han Han menahan ketawanya dan berkata, “Nirahai, mengapa engkau seperti haus akan darahku? Aku memiliki gerakan kilat yang jika kupergunakan dalam gelap ini, aku akan mudah menyerangmu dari belakang tanpa kau ketahui. Akan tetapi aku bukan seorang pengecut curang yang hendak menggunakan kelebihan ini untuk mencapai kemenangan dalam gelap. Kita menanti sampai pagi, kalau tidak mau, terpaksa aku akan pergi saja, tidak mau melayani engkau yang haus darah!”

Nirahai penasaran dan marah sekali, tetapi ia tahu bahwa ucapan pemuda itu memang ada benarnya. Ia menghela napas dan segera duduk bersila di atas rumput, menjawab lirih, “Aku akan menanti sampai sinar matahari pagi menerangi cuaca.”

Han Han menjadi lega hatinya. Bertanding melawan seorang yang sakti seperti dara itu di dalam gelap, benar-benar amat berbahaya dan kalau dia menghendaki kemenangan, agaknya dia harus terpaksa merobohkan dara itu yang mungkin akan tewas. Padahal dia sama sekali tidak menghendaki terjadinya hal itu. Sama sekali tidak. Setelah empat ratus jurus lebih bertanding melawan gadis ini, dia merasa makin tertarik, makin kagum dan menaruh hati sayang. Maka ia pun lalu duduk bersila untuk memulihkan tenaganya dan mengatur pernapasannya.

Setelah berhenti bertanding, berhenti menggerakkan tubuh, baru terasa oleh Nirahai betapa lelahnya dia dan betapa dinginnya hawa udara menjelang pagi itu. Dia ingin mengaso dan memulihkan tenaga, maka tidak mau menggunakan tenaga sinkang untuk melawan hawa dingin. Akan tetapi, dengan demikian ia menderita oleh hawa dingin sehingga mulutnya menggigil dan kedua baris giginya saling beradu.

Han Han adalah seorang yang telah tinggal selama bertahun-tahun di Pulau Es, bahkan melatih sinkang di sana, maka tentu saja hawa dingin di puncak Bukit Cengger Ayam ini baginya sama sekali tidak terasa dingin. Dia boleh mengaso dan memulihkan tenaga dengan tenang, sama sekali tidak menderita hawa dingin. Akan tetapi telinganya yang berpendengaran tajam itu dapat menangkap suara gigi dara itu yang saling beradu karena menggigil maka timbullah rasa iba di hatinya.

Tanpa bicara sesuatu ia lalu pergi mencari kayu, membuat api unggun di dekat Nirahai. Semua ini ia lakukan tanpa bicara karena ia tahu bahwa seorang dengan hati sekeras itu tentu akan tersinggung kalau ia membuka mulut. Ia membuat api unggun, seolah-olah dia sendiri yang membutuhkannya, akan tetapi setelah api unggun itu menyala besar, ia lalu pergi menjauh dan duduk di bawah sebatang pohon, menanti datangnya pagi.

Nirahai menjadi gelisah dan tak dapat bersemedhi sebagaimana mestinya. Jantungnya berdebar-debar keras. Pemuda yang hebat sekali, kepandaiannya benar-benar luar biasa dan sukar dicari keduanya. Dan hatinya begitu mulia. Kalau keadaan tidak segelap itu, tentu ia akan menyembunyikan mukanya yang terasa panas dan tentu merah sekali ketika Han Han membuat api ungggun.

Betapa bijaksana pemuda itu yang tidak mau mengeluarkan suara, namun dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti betapa pemuda itu sengaja menbuat api unggun untuk dia! Pemuda itu tahu bahwa dia menderita kedinginan maka membuatkan api unggun sehingga kini tubuhnya terasa hangat dan dia tidak terganggu hawa dingin sehingga dapat mengaso dan memulihkan tenaga dengan bersemedhi. Akan tetapi, kini bukan hawa dingin yang mengganggunya, melainkan hatinya yang berdebar keras!

Sinar matahari pagi mulai bercahaya kemerahan. Perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar itu makin menjadi terang dan mulai mengusir kabut tebal yang menyelimuti puncak bukit kecil itu. Kabut lari membawa serta hawa dingin sehingga permukaan puncak bermandi cahaya matahari dan bumi mengeluarkan hawa yang hangat seolah-olah menyambut dengan hangat mesra kedatangan sinar matahari. Rumput-rumput hijau tegak semua, kehijauan dengan ujung terhias mutiara air embun, seperti perawan-perawan jelita yang muda dan segar sehabis mandi pagi.

“Suma Han, mari kita lanjutkan pertandingan!”

Han Han membuka kedua matanya, sejenak ia mengagumi keindahan cahaya matahari bercumbu dengan daun-daun pohon dan rumput-rumput, kemudian ia menoleh dan memandang kepada Puteri Nirahai yang sudah berdiri tegak dengan pedang payung di tangan. Biar pun hampir semalam bertanding dan sama sekali tidak tidur, dara itu tidak tampak lesu atau kusut, bahkan wajahnya segar kemerahan, hanya rambutnya yang sedikit terurai kusut, namun malah menambah kecantikannya yang asli.

“Suma Han, aku sudah siap! Mari kita lanjutkan!” Nirahai menegur lagi ketika melihat pemuda itu hanya bengong memandang wajahnya.

Han Han menghela napas panjang, lalu bangkit perlahan bersandar pada tongkatnya. Ia bersungut-sungut dan suaranya membayangkan penyesalan hatinya, “Ah, sepagi ini enaknya mandi-mandi lalu minum teh panas menyegarkan tubuh! Akan tetapi engkau sudah mendesakku mengajak bertanding. Nirahai, demikian besarkah rasa sukamu akan berkelahi? Tiada bosan-bosannya setelah setengah malam kita bertanding?”

Sepasang alis Nirahai bergerak. “Semalam kita belum selesai bertanding, terhalang kegelapan dan aku pun belum merasa kalah. Mari kita segera melanjutkan untuk menyelesaikan pibu agar diketahui siapa di antara kita yang lebih unggul!”

Han Han mengerti bahwa seorang seperti puteri ini kalau sudah menghendaki sesuatu pasti akan dikejarnya sampai dapat. Dia harus menyelesaikan pertandingan ini, dan dia akan mengalahkan Nirahai untuk menundukkan hati yang keras ini, untuk menundukkan keangkuhannya.

“Baiklah, Nirahai, kalau demikian kehendakmu. Majulah!” Han Han menantang sambil melintangkan tongkatnya di depan dada dan kaki tunggalnya berdiri tegak, sepasang matanya memandang tajam bersinar-sinar.

Ketika tadi bersemedhi, Nirahai memutar otaknya. Dia telah mengeluarkan Pat-mo Kiam-hoat, kemudian malah mainkan Pat-sian Kiam-hoat, namun kedua ilmu pedangnya yang sukar dicari tandingannya itu ternyata tidak mampu mendesak Han Han. Dia sudah mengambil keputusan untuk mengeluarkan seluruh simpanan ilmunya untuk menguji kepandaian pemuda berkaki satu ini. Maka begitu melihat sikap Han Han, ia lalu membentak nyaring dan kedua tangannya bergerak.

“Sambut jarum-jarumku!”

Han Han melihat berkelebatnya sinar-sinar kecil dan mencium bau yang amat harum. Ia kagum dan terkejut. Jarum-jarum yang mengeluarkan bau harum ini amat berbahaya, selain cepat seperti menyambarnya kilat, juga bau yang harum itu memabukkan, dapat menyeret perhatian lawan sehingga kurang cepat menyelamatkan diri, dan mencium baunya yang harum, Han Han dapat menduga bahwa tentu senjata-senjata rahasia yang halus dan paling berbahaya di antara segala senjata rahasia ini, tentulah mengandung racun.

Maka ia pun cepat menggerakkan tubuhnya, mencelat ke sana sini. Nirahai terus menggerakkan kedua tangannya, menyambit dengan jarum-jarumnya ke mana pun bayangan Han Han berkelebat. Dan dara ini benar-benar kagum sekali. Jarum-jarumnya memang ia pergunakan untuk menguji sampai di mana kehebatan ginkang dari pemuda itu, sampai di mana kecepatan gerak kilatnya. Dia sendiri tidak mungkin dapat mengimbangi kecepatan itu dengan gerakan tubuhnya, maka ia menggunakan jarum-jarumnya.

Dan ternyata, jarum-jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum) yang biasanya sekali lepas tentu mengenai lawan itu, kini tidak ada artinya sama sekali terhadap Han Han. Sampai habis semua jarumnya disambitkan, tidak sebatang pun mengenai Han Han yang terus berloncatan mengerahkan ilmunya Soan-hong-lui-kun! Setelah dara itu tidak menyambit lagi karena jarumnya habis, barulah Han Han meloncat turun di tempat tadi, mukanya biasa saja hanya matanya memandang tajam ke arah Nirahai.

Nirahai yang selain merasa kagum juga merasa penasaran sekali, cepat menerjang maju dengan pedang payungnya. Han Han sudah siap dengan tongkatnya, mulai ia mengelak ke sana-sini untuk melihat dulu sifat-sifat serangan gadis itu. Apakah akan menggunakan ilmu pedang yang telah dimainkan semalam? Akan tetapi ternyata tidak, dan sekali ini permainan pedang payung itu berbeda lagi dengan kedua ilmu pedang yang sudah dimainkan semalam. Jauh lebih aneh dan hebat karena sekarang Nirahai telah membuka payungnya dan mulailah ia mainkan ilmu pedang simpanannya yang paling diandalkan, yaitu Tiat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Payung Besi) yang merupakan penggabungan dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat dan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat!

Payung itu membuka menutup secara tiba-tiba dan terputar merupakan perisai dan menyembunyikan gerakan-gerakan Nirahai, sehingga datangnya serangan dengan ujung payung meruncing itu sama sekali tidak dapat diduga oleh Han Han. Setelah Nirahai mainkan ilmu pedangnya yang aneh ini, Han Han terkejut sekali dan terdesak hebat! Namun ia dapat menghindarkan bahaya dengan loncatan dan gerak kilatnya.

Sambil mengelak ini ia diam-diam memperhatikan dan merasa kagum karena ilmu yang dimainkan dara ini memang luar biasa sekali. Gerakannya kelihatan kacau-balau namun menyembunyikan jurus-jurus yang mengerikan. Itulah penggabungan dua macam ilmu pedang yang sesungguhnya berlawanan sifatnya!

“Kiam-sut yang aneh!” Han Han berseru.

Kini terpaksa ia mengerahkan tenaga pada kedua lengannya sehingga tongkatnya menggetar mengandung hawa Hwi-yang Sin-ciang dan setiap kali menangkis pedang payung, Nirahai merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat dan hampir saja payung itu terlepas dari pegangannya! Ia mengeluarkan suara melengking keras dan memperhebat desakannya. Namun gerakan Han Han terlampau cepat baginya, apa lagi pada saat pemuda itu hampir terkena serangan, tangkisan tongkat pemuda itu membuat Nirahai terhuyung mundur. Tangkisan dengan pengerahan tenaga yang mukjizat itu benar-benar terlampau kuat bagi Puteri ini.

Kembali dua ratus jurus lewat dan dengan ilmu gabungan itu, masih juga Han Han tak dapat dirobohkan oleh Nirahai! Dara itu menjadi marah dan penasaran sekali, tiba-tiba ia membentak dan pedang payungnya membuat gerakan serangan yang amat ganas. Senjatanya itu berubah menjadi gulungan sinar melingkar-lingkar yang menutupi jalan keluar Han Han karena sudah mengurung di bagian atas, tidak memberi kesempatan bagi Han Han untuk meloncat ke atas, sedangkan tangan kiri dara itu memukul dengan ilmu pukulan maut Sin-coa-kun-hoat (Ilmu Silat Ulat Sakti)! Bukan main ganas dan dahsyatnya ilmu-ilmu itu sehingga Han Han berseru kaget. Terpaksa ia mengerahkan tenaga pada tongkatnya, menangkis dan dengan tangan kirinya ia mendorong ke arah pukulan lawan.

“Krekkk! Plakkk... desssss!”

Cepat sekali terjadinya. Payung itu patah menjadi dua, lalu telapak tangan kiri mereka bertemu dan... lambung kiri Han Han dicium ujung sepatu Nirahai yang mengirim tendangan kilat.

Han Han mencelat ke belakang, menyeringai menahan rasa nyeri karena biar pun ia tidak terluka dalam, ujung sepatu yang runcing itu membuat kulit lambungnya lecet! Di lain pihak, Nirahai dengan muka pucat memandang gagang payungnya.

“Maaf, Nirahai. Aku telah kena kau tendang, aku mengaku kalah.”

Nirahai memandang dengan mata mendelik, akan tetapi bagi Han Han, dara itu tampak makin menarik, mengingatkan ia kepada Lulu kalau sedang ngambek!

“Suma Han, benar bahwa pedang payungku telah patah, akan tetapi aku pun telah berhasil menendangmu, maka jangan kau mentertawakan aku lebih dulu. Aku belum kalah. Mari kita lanjutkan!” Setelah berkata demikian, kembali Nirahai menerjang maju menyerang Han Han.

“Aiiihhhhh...!” Han Han terkejut ketika melihat sinar kuning emas yang menyilaukan mata dan tahu-tahu ada hawa yang mukjizat menyambar ke arah dadanya ketika sinar kuning emas itu meluncur dan menusuk dada.

“Tranggggg...!” Ia menangkis dengan tongkatnya dan keduanya terpental mundur.

Han Han memandang dengan mata terbelalak. “Aihhh... itukah senjata keramat Suling Emas?” Ia berseru.

Nirahai tersenyum mengejek, yakin akan keampuhan senjata di tangannya. “Payungku telah kau patahkan, akan tetapi aku masih memegang suling keramat ini, Suma Han. Hendak kulihat apakah engkau akan dapat mengalahkan senjata keramat ini!”

“Ahhh, Nirahai, mengapa engkau menggunakan senjata keramat itu hanya untuk menguji kepandaianku? Kalau sampai aku tewas, hal itu tidaklah amat penting, akan tetapi kalau senjata keramat itu sampai minum darahku, bukankah hal itu patut disesalkan? Bukankah hal itu berarti engkau mengotorkan senjata keramat itu? Marilah kita hentikan, atau kalau dilanjutkan juga, kita menggunakan kedua tangan kosong!”

“Hemmm, kau kira aku sebodoh itu mudah saja untuk kau tipu? Engkau mengandalkan sinkang-mu yang amat kuat, kalau kita bertanding dengan tangan kosong, tentu aku yang kalah. Apakah kau takut menghadapi aku yang bersenjata suling emas?”

“Engkau memang nekat! Marilah!” Han Han berkata, jengkel juga melihat desakan dara ini.

“Sambut ini!”

Nirahai sudah menerjang cepat dan kini ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emas. Terdengar suara aneh seolah-olah suling itu ditiup. Tampak sinar gemerlapan menyilaukan mata dan terbentuklah gulungan sinar kuning emas melingkar-lingkar seperti seekor naga emas beterbangan di angkasa dan bermain-main di dalam sinar matahari pagi!

Perlu diketahui bahwa Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat adalah ilmu pedang yang dahulu dimiliki pendekar sakti Suling Emas, dan memang paling tepat dimainkan dengan senjata keramat ini. Malam tadi Nirahai sudah mainkan Pat-sian Kiam-hoat untuk menyerang Han Han akan tetapi dia tidak berhasil karena dia mainkan ilmu itu dengan pedang payung. Kini setelah ia mainkan ilmu itu dengan suling emas, kehebatannya menjadi berlipat ganda sehingga kembali untuk kesekian kalinya Han Han terdesak hebat.

Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaiannya, mengandalkan kecepatannya, akan tetapi ia lebih banyak mengelak dan menangkis dari pada menyerang sehingga setelah lewat seratus jurus, sudah dua kali ia dicium ujung suling, yaitu pada pangkal lengan kirinya dan pada pahanya sehingga baju di bagian itu robek dan kulitnya berdarah. Untung bahwa dia memiliki sinkang yang amat kuat sehingga ia masih dapat bertahan dan tidak roboh. Rasa penasaran membuat dia melakukan perlawanan sekuatnya. Tadinya memang dia tidak suka mengandalkan sinkang-nya untuk mengalahkan Nirahai karena ia khawatir kalau-kalau akan mengakibatkan Nirahai terluka parah atau tewas. Akan tetapi kini melihat desakan Nirahai yang seolah-olah hendak bersikeras membunuhnya, mulailah ia melawan.

Ketika sinar kuning emas yang menyilaukan matanya itu menyambar ke arah dada, ia cepat menggerakkan tongkat di tangan kirinya untuk menangkis dan terus mengerahkan sinkang sehingga suling itu melekat pada tongkatnya. Nirahai mengeluarkan seruan kaget karena tiba-tiba suling yang dipegangnya itu menjadi panas seperti dibakar, telapak tangannya terasa panas sekali. Maklumlah ia bahwa pemuda itu menggunakan Hwi-yang Sin-ciang. Ia mengerahkan sinkang-nya untuk bertahan sedangkan tangan kirinya ia hantamkan ke perut Han Han dengan ilmu Sin-coa-kun. Akan tetapi Han Han menerima pukulan ini dengan telapak tangan kanannya sambil mengerahkan hawa sakti Hwi-yang Sin-ciang.

“Plakkk!” Kepalan tangan Nirahai menempel pada telapak tangan kanan Han Han dan seketika tubuh dara itu menggigil!

“Lepaskan sulingmu...!” Han Han membentak, suaranya halus karena dia tidak ingin menyinggung perasaan dara itu.

“Tidak!” Nirahai membantah biar pun tangannya yang memegang suling seperti dibakar rasanya dan dari tangan kirinya menjalar hawa dingin yang membuat ia menggigil.

Kedua orang muda itu berdiri seperti arca, saling tidak mau mengalah, akan tetapi juga saling menjaga agar tidak mencelakakan lawan! Kalau Han Han menghendaki, dengan pengerahan tenaga sinkang sekuatnya, tentu Nirahai akan roboh dan tewas, akan tetapi dia tidak tega melakukan hal ini. Di lain pihak, Nirahai yang kini sudah merasa yakin benar bahwa dia tidak dapat mengalahkan Han Han, diam-diam menjadi kagum sekali dan kini ia membuat ujian terakhir, yaitu ingin melihat apa yang akan dilakukan Han Han. Akan membunuhnya? Ataukah... seperti yang dia harapkan, pemuda ini menaruh hati sayang kepadanya?

"Memalukan!" Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan tampak dua bayangan berkelebat cepat sekali ke arah dua orang muda itu. Nirahai dan Han Han tiba-tiba merasa tubuh mereka terlempar ke belakang oleh tenaga yang amat dahsyat.

"Subo...!" Nirahai berseru dan menghampiri Nenek Maya, dua titik air mata menetes di pipinya dan mukanya menjadi merah sekali.

"Subo...!" Han Han berlutut di depan Nenek Khu Siauw Bwee.

Akan tetapi kedua orang nenek itu tidak mempedulikan murid mereka, melainkan berdiri tegak saling pandang dengan mata yang sukar dilukiskan. Ada rasa haru, rasa sayang, rasa dendam dan penasaran bercampur aduk menjadi satu pada sinar mata kedua orang nenek sakti itu.

“Suci...!” Akhirnya Nenek Khu Siauw Bwee menegur, suaranya halus dan anehnya, ada rasa iba terkandung di dalam suaranya ini.

“Sumoi...! Syukur... engkau masih hidup...!” Nenek Maya berkata, suaranya dingin sehingga sukar diduga perasaan apa yang tersembunyi di balik kata-katanya.

Han Han dan Nirahai hanya memandang dengan hati tegang menyaksikan pertemuan antara kedua orang nenek sakti itu.

“Sumoi, jangan kira bahwa muridmu telah dapat menangkan muridku. Jelas kulihat tadi bahwa Nirahai tidak bersungguh-sungguh, kalau dia bersungguh-sungguh, tentu dia sudah dapat membunuh muridmu!”

Nenek Khu Siauw Bwee tersenyum dan dengan suara tenang menjawab, “Suci, tidak terbalikkah wawasanmu itu? Kulihat Han Han yang mengalah tadi!”

“Tidak bisa. Muridku masih lebih lihai dari pada muridmu!” bentak Nenek Maya tidak mau kalah.

Nenek Khu Siauw Bwee yang jelas memiliki watak lebih sabar dan halus, menoleh ke arah Han Han dan bertanya, suaranya kereng, “Han Han, mengapa engkau tadi tidak menggunakan seluruh tenagamu di saat terakhir? Mengapa engkau mengalah?”

Han Han tidak mau menyinggung hati Nirahai, maka sambil menundukkan muka ia berkata, “Dia terlampau sakti, subo. Teecu memang kalah.”

Wajah Nirahai menjadi makin merah mendengar ini dan ia pun menunduk, tidak berani menentang pandang mata Han Han.

“Nirahai, ketika kalian berdua berdiri mengadu tenaga tadi, ada kesempatan baik bagimu. Sekali menendang dengan tendangan sakti ke arah bawah pusarnya, bukankah lawanmu akan kehilangan nyawanya? Mengapa engkau mengalah?” Nenek Maya menegur muridnya pula, suaranya galak.

“Maaf, subo. Teecu... teecu tidak mampu mengalahkannya. Dia terlalu lihai dan teecu memang kalah!”

Han Han mengangkat muka. Nirahai mengangkat muka. Dua pasang sinar mata bertemu pandang, sejenak bertaut, penuh perasaan dan seolah-olah dalam persilangan sinar mata itu terjadi pencurahan seribu kata-kata yang tak terucapkan, membuat keduanya segera menunduk kembali dengan jantung berdebar.

“Hemmm... bocah-bocah ini saling mengalah, mana bisa diukur siapa di antara ilmu kita yang lebih tinggi? Sumoi, marilah kita lanjutkan sendiri!”

Nenek Khu Siauw Bwee tersenyum mengejek. “Kita lanjutkan pertandingan puluhan tahun yang lalu, suci? Baiklah, tapi ingat, sekarang aku tidak akan suka mengalah lagi kepadamu, suci.”

Nenek Maya tertawa dan Han Han harus mengakui bahwa biar pun usianya sudah amat tua, akan tetapi ketika tertawa nenek itu masih mempunyai daya tarik yang luar biasa!

“Sumoi, sekarang pun engkau masih takkan dapat mengalahkan aku!”

“Bagus! Kau kira setelah kakiku buntung satu, engkau dapat memandang rendah kepadaku?” Nenek Khu Siauw Bwee berkata marah.

“Majulah, Khu Siauw Bwee!”

Nenek Khu Siauw Bwee mengeluarkan suara bentakan halus dan tubuhnya lalu lenyap karena dia sudah mencelat cepat sekali, gerakannya lebih cepat dari Han Han dan bagaikan kilat menyambar, dia sudah menyerang Nenek Maya. Akan tetapi Nenek Maya sudah menggerakkan kedua tangan ke atas dan menyambut serangan sumoi-nya. Dua lengan bertemu dan Nenek Khu Siauw Bwee mencelat ke atas lagi, terus menyambar-nyambar dari atas dengan hebatnya. Di lain pihak, Nenek Maya yang sudah siap menciptakan ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu nenek kaki tunggal ini, tetap berdiri tegak, hanya memutar tubuh menghadapi ke arah menyambarnya tubuh sumoi-nya dan selalu dapat menangkis sambil balas memukul. Pertandingan hebat sekali terjadi.

Han Han dan Nirahai yang masih berlutut memandang bengong. Cemas sekali hati mereka, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri urusan antara guru-guru mereka yang masih ada hubungan dekat itu, suci dan sumoi! Mereka melihat pertandingan yang lebih hebat dari pada pertandingan mereka tadi. Melihat betapa tubuh Nenek Khu Siauw Swee menyambar-nyambar seperti seekor burung garuda, sedangkan Nenek Maya tegak seperti seekor harimau yang siap mencakar di saat sang garuda menyambar ke bawah.

Tiba-tiba Nenek Khu Siauw Bwee yang masih berjungkir-balik di udara cepat sekali itu mengeluarkan lengking nyaring. Tubuhnya menerjang dan menukik ke bawah, tangan kirinya mencengkeram ke ubun-ubun Nenek Maya. Nenek Maya menangkap tangan sumoi-nya itu dan tangan kedua orang nenek yang tidak saling mencengkeram itu bergerak cepat memukul.

“Plak! Plak!”

“Celaka...!” Han Han dan Nirahai berseru hampir berbareng dan dengan muka pucat mereka berdua memandang betapa guru masing-masing terhuyung ke belakang dan muntah darah lalu roboh terguling. Akan tetapi keduanya dapat merangkak bangun, saling pandang dan tiba-tiba Nenek Khu Siauw Bwee berkata lemah.

“Suci, engkau memang hebat!”

“Sumoi, engkau lihai! Pukulanmu mendatangkan maut...!”

“Aku pun takkan dapat hidup lagi, suci. Pukulanmu meremukkan isi dada...”

“Ah, sumoi... Siauw Bwee... aku telah berdosa besar padamu. Kasihan sekali engkau, sumoi... puluhan tahun hidup menderita karena setelah kakimu kubikin buntung... kau maafkan aku sumoi...”

“Tidak, Suci Maya... akulah yang menaruh kasihan kepadamu... penderitaanku hanya penderitaan lahir, akan tetapi kau... ah, suheng ternyata mencinta aku seorang dan kau... kau menderita batin yang hebat...”

“Sumoi...!”

“Suci...!”

Kedua orang nenek itu merangkul saling menghampiri, lalu saling rangkul sambil menangis!

Han Han memandang dengan muka pucat, sedangkan Nirahai memandang dengan air mata bercucuran. Terharu hati Han Han melihat puteri itu menangis. Tadinya, sukar baginya membayangkan Puteri seangkuh dan sekeras itu hatinya mengucurkan air mata!

Setelah bertangis-tangisan dalam menghadapi maut itu, Khu Siauw Bwee berkata, “Suci, apakah engkau melihat apa yang kulihat?”

“Maksudmu?”

“Murid-murid kita...!” Khu Siauw Bwee berkata.

Maya tersenyum menyeringai menahan rasa sakit di dadanya oleh tamparan tangan sumoi-nya di punggungnya tadi. Ia mengangguk.

Khu Siauw Bwee menekan dadanya yang tadi terpukul suci-nya. “Suci..., kita sudah saling memaafkan... biarlah kita akhiri pertentangan ini dengan persatuan. Aku mewakili muridku, suci... mengajukan lamaran kepadamu agar muridmu menjadi jodoh muridku...”

Nenek Maya tertawa terkekeh-kekeh girang akan tetapi ia berhenti tertawa karena dadanya menjadi makin sesak. “Baik... kuterima pinanganmu... hi-hi-hi, bagus sekali, memang pantas... Nirahai menjadi isteri Suma Han...! Eh, sumoi, sayang kita tak dapat menyaksikan...”

“Han Han, engkau mendengar sendiri suci telah menerima pinanganku. Engkau tentu suka menjadi suami Nirahai, bukan?”

Jantung Han Han memukul keras, seolah-olah akan pecah dadanya. Ia menoleh ke arah Nirahai yang mukanya juga menjadi pucat. “Subo, teecu... teecu mana berharga untuk...?”

“Jangan bicara tentang berharga atau tidak. Pendeknya, engkau mau atau tidak? Jawab!” Nenek Khu Siauw Bwee berkata sambil menekan dadanya.

Han Han mengangguk dan tidak berani melirik ke arah Nirahai. “Tentu saja..., teecu akan merasa bahagia dan terhormat sekali, teecu mau, subo.”

“Hi-hi-hik, itulah jawaban laki-laki! Eh, Nirahai, bagaimana dengan engkau? Maukah engkau menjadi isteri pemuda kaki buntung ini? Engkau pernah mengatakan bahwa engkau hanya mau menjadi isteri seorang pemuda yang dapat mengalahkan engkau. Dan jelas bahwa engkau takkan dapat menangkan Suma Han. Bagaimana?”

Nirahai yang biasanya tabah itu, kini menundukkan mukanya yang menjadi merah kembali, jawabnya lirih, “Teecu... menurut perintah subo.”

“Eh, itu bukan jawaban gagah! Engkau mau atau tidak? Jawab!” Sikap Nenek Maya persis seperti sikap Nenek Khu Siauw Bwee tadi.

Nirahai menunduk makin dalam. “Teecu... teecu mau...”

Dua orang nenek itu tertawa, tertawa bergelak-gelak sambil saling rangkul, dengan dua pasang mata tua mengeluarkan air mata.

“Subo...!”

“Subo...!”

Seperti berlomba cepat Han Han dan Nirahai sudah menubruk guru masing-masing dan ternyata bahwa dua orang nenek itu telah tewas sambil berpelukan. Mereka dahulu bermusuhan, akan tetapi dalam ambang maut mereka saling peluk dan tertawa, juga menangis!

Nirahai terisak menangis. Han Han berlutut sambil menunduk duka. Setelah reda tangis Nirahai dan gadis itu dengan mata merah menoleh kepadanya, mereka saling pandang dan Han Han berkata halus lirih.

“Lebih baik kita mengubur jenazah mereka. Di mana sebaiknya dimakamkan?”

Nirahai mengangguk, juga menjawab lirih, “Sebaiknya di sini saja. Tempat ini amat baik, bersih dan sunyi.”

“Tepat sekali. Memang tempat ini amat baik, bahkan merupakan tempat keramat bagi kita.”

Nirahai memandang wajah pemuda itu. “Mengapa begitu?”

“Bukankah tempat ini yang mempertemukan kita, bahkan... yang menjadi saksi perjodohan kita?”

Nirahai menjadi merah mukanya. Mereka saling berpandangan, kemudian dara itu berbisik, “Marilah kita menggali tanah untuk makam mereka...”

Han Han meloncat bangun dan pemuda ini merasakan kegembiraan yang luar biasa sekali, yang membuat tangannya terasa ringan ketika ia menggunakan tongkatnya untuk menggali tanah di bawah pohon di pinggir padang rumput. Nirahai mengambil pedang payungnya yang sudah patah, lalu menggunakan ujung payung yang runcing itu untuk menggali sebuah lubang di pinggir lubang yang digali Han Han. Mereka berdua seperti berlomba dan Han Han sengaja mengurangi tenaganya sehingga lubang yang dua buah itu selesai digali dalam waktu berbareng. Karena keduanya merupakan orang-orang yang memiliki tenaga sakti, dalam waktu pendek saja dua buah lubang yang cukup dalam telah tergali.

Dengan penuh khidmat dan tanpa berbicara mereka lalu mengubur kedua jenazah itu berdampingan, lalu menutup lubang itu dengan tanah galian. Ketika melakukan ini Nirahai menangis dan Han Han menghiburnya dengan kata-kata halus. Setelah selesai Han Han mencari dua buah batu besar dan kedua orang muda itu kembali seperti berlomba, mengukir permukaan batu nisan dengan ujung tongkat dan ujung payung.

Han Han mengukir huruf-huruf yang berbunyi:

MAKAM NENEK KHU SIAUW BWEE, SUMOI TERCINTA DARI NENEK MAYA

Ada pun ukiran Nirahai berbunyi sebaliknya:

MAKAM NENEK MAYA, SUCI TERCINTA DARI NENEK KHU SIAUW BWEE

Ukiran Han Han lebih dalam, tanda bahwa tenaganya lebih kuat, akan tetapi ukiran yang dibuat Nirahai lebih halus tulisannya. Kini tanpa bicara kedua orang itu memperbaiki ukiran masing-masing, Nirahai memperhalus ukiran Han Han sebaliknya pemuda itu memperdalam ukiran Nirahai. Setelah selesai, mereka lalu berlutut di depan kedua nisan yang dipasang di depan makam kedua orang nenek sakti itu. Hari telah menjadi malam dan kedua orang itu masih berlutut di depan makam.

Untuk mengusir hawa dingin, Han Han membuat api unggun kemudian duduk menghadapi api unggun, duduk di atas rumput dekat dengan Nirahai. Keduanya merasa canggung, akan tetapi kemudian Han Han menghela napas panjang dan berkata.

“Nirahai, aku merasa seperti mimpi dan masih belum percaya benar bahwa semua ini dapat terjadi. Seorang puteri kaisar seperti engkau, berkedudukan tinggi dan mulia, cantik jelita, berilmu tinggi, mau menjadi calon isteri seorang seperti aku... yang...”

“Ssttttt, jangan lanjutkan, Han Han. Aku yang merasa heran mengapa engkau mau dijodohkan dengan aku?”

Mereka saling pandang dan kini sinar mata mereka saling berusaha menembus dan menjenguk isi hati masing-masing. Sinar api unggun yang bermain di wajah mereka membuat wajah mereka kemerahan dan menyembunyikan warna kedua pipi mereka yang merah sekali.

“Telah lama sekali aku aku jatuh cinta kepadamu, Nirahai. Semenjak aku datang ke Pulau Es...”

“Heee...? Menurut keterangan Lulu, engkau masih kecil, baru berusia belasan tahun ketika kalian datang ke pulau itu...! Betapa mungkin?”

“Benar, dan di sanalah, di dalam Istana Pulau Es itu, pertama kali aku melihatmu, Nirahai, dan sekaligus hatiku telah terpikat... dan aku telah jatuh cinta!”

Percakapan itu mengusir rasa canggung kedua pihak dan Nirahai lalu tertawa geli. “Ihhh, kiranya engkau seperti Lulu pula, suka bergurau! Kita baru saling jumpa pertama kali di istana ketika kau datang menyerbu, dan selama hidupku aku tidak pernah datang ke Pulau Es!”

“Memang bukan engkau, Nirahai, melainkan sebuah arca yang amat indah buatannya, seolah-olah hidup. Di sana terdapat tiga buah arca, yang sebuah adalah arca Koai-lojin, yang ke dua arca Subo Khu Siauw Bwee dan yang ke tiga adalah arca Subo Maya, yaitu ketika mereka masih muda. Arca Subo Maya itu serupa benar dengan engkau, Nirahai. Karena itu, begitu aku bertemu denganmu, tentu saja bagiku sama halnya dengan bertemu orang yang arcanya membuat aku tergila-gila itu. Herankah engkau betapa bahagia dan gembiranya rasa hatiku ketika subo menjodohkan aku dengan engkau? Serasa kejatuhan bulan purnama...!”

Pada saat itu bulan purnama mulai muncul dan otomatis Nirahai memandang bulan. Sinar bulan yang kuning emas membuat wajah dara ini tampak nyata dan amat cantik jelita sehingga Han Han menahan napas saking kagumnya, kemudian ia memberanikan hati memegang tangan dara itu yang duduk di sampingnya. “Nirahai... betapa cantik jelita engkau...”

Tangan Nirahai menggigil, akan tetapi dia tidak melepaskan genggaman Han Han, dan ketika ia menoleh, ia tersenyum. Wanita manakah yang takkan berbesar hati penuh kebanggaan kalau dipuji cantik? Apa lagi yang memuji adalah seorang pria yang menjadi pilihan hatinya!

“Aku girang sekali mendengar pernyataan isi hatimu, Han Han. Ketahuilah bahwa aku pun merasa beruntung sekali bahwa engkau telah berhasil mengalahkan aku dalam pibu...”

“Engkau tidak kalah! Dan mengapa engkau merasa beruntung kalau kukalahkan?”

“Engkau sudah mendengar sendiri kata-kata subo tadi. Memang aku telah bersumpah bahwa aku hanya mau menjadi isteri seorang pria yang mampu mengalahkan aku. Dan aku semenjak mendengar obrolan Lulu tentang dirimu, bahkan bocah nakal itu hendak menjodohkan aku denganmu, semenjak itu, kemudian setelah bertemu, melihatmu dan melihat kegagahanmu, hemmm... aku akan merasa menyesal sekali andai kata engkau kalah olehku.”

Bukan main besar hati Han Han mendengar ini dan kegirangan yang meluap membuat ia menarik lengan dara itu. Nirahai seperti lemas tubuhnya dan membiarkan kepalanya rebah di dada Han Han. Sejenak mereka berdua tidak bergerak, bermandi cahaya bulan yang tersenyum-senyum menyaksikan ulah tingkah dua insan yang mabuk asmara ini.

Han Han membelai-belai rambut yang halus dan hitam itu dan Nirahai memejamkan mata, mendengarkan debar jantung di dada Han Han yang baginya seperti bunyi musik yang amat merdu dan indah. Kemudian ia membuka matanya, dan mengangkat pandang matanya ke atas untuk menatap wajah di atasnya itu sehingga sepasang mata itu menjadi lebar sekali dan amat indah seperti mata Lulu!

“Han Han, katakanlah. Mengapa engkau jatuh cinta kepada arca subo di waktu muda yang kau katakan serupa benar denganku itu? Mengapa engkau jatuh cinta kepadaku?”

Sampai lama Han Han tidak dapat menjawab, menatap wajah yang tengadah itu seolah-olah hendak mencari jawabnya dari wajah yang jelita itu. Mata itu! Mulut itu! Dan ia teringat akan perasaannya di waktu ia memandang arca di dalam Istana Pulau Es, kemudian seperti menemukan jawabannya, lalu berkata girang.

“Aku tahu! Aku tergila-gila kepadamu, Nirahai, karena pertama-tama karena matamu!”

Nirahai terkekeh dan mendekap mulutnya sendiri dengan tangan, matanya terbelalak lebar, “Karena mataku? Hi-hik! Mataku kenapa?”

“Matamu begini indah... seperti sepasang bintang di langit... kulihat laut yang bening dalam di situ, menghanyutkan...” jawab Han Han sambil memandang sepasang mata yang amat indah itu, seperti mata Lulu!

“Ihhh, seperti laut yang menghanyutkan? Mengerikan!”

“Tidak! Sama sekali tidak! Aku akan rela dan bahagia sekali kalau mati hanyut di situ, tenggelam dalam lautan kenikmatan yang membayang di dalam matamu. Matamu seperti... seperti... bulan kembar...!”

“Hi-hik, kau aneh...”

Nirahai memejamkan matanya sehingga ‘bulan kembar’ itu bersembunyi di balik pelupuk dan dilindungi bulu mata yang kini menjadi tebal dan panjang, mendatangkan bayangan-bayangan menggairahkan di atas pipi, membuat Han Han makin terpesona. Kalau terbuka mata itu mempesona, kalau tertutup malah menggairahkan. Bukan main!

“Kau bilang tadi, pertama-tama karena mataku. Adakah yang ke dua?” tanya Nirahai tanpa membuka matanya.

“Memang ada, dan aku tidak tahu yang mana yang lebih menarik dan membuat aku tergila-gila. Yang ke dua adalah... mulutmu, Nirahai!”

Mata itu terbuka kembali, terbelalak dan mengandung senyum terheran-heran.

“Mulutku...? Ada apa dengan mulutku...?” suaranya penuh dengan hati yang riang gembira, bangga dan juga geli dan heran.

“Mulutmu... bibirmu...” Han Han berbisik dan suaranya gemetar.

Pandang matanya tak pernah dapat melepaskan sepasang bibir yang lunak halus kemerahan itu, yang kini bergerak-gerak seperti menggigil seolah-olah bisikan Han Han merupakan penggeli yang membuat bibir itu tak dapat diam, “entah mengapa, Nirahai... melihat mulutmu... bagiku seolah-olah ketika aku kelaparan dahulu melibat buah apel yang masak...! Aku... aku...”

Han Han tidak melanjutkan kata-katanya karena desakan rasa kasih bercampur birahi membuat ia tak kuasa menahan hasrat hatinya, membuat ia seperti tak sadar lagi menunduk, mencium bibir itu, mencium mata itu, lalu mencium bibir kembali, sepenuh rasa kasihnya, semesra-mesranya. Hmmm.

Mula-mula Nirahai tersentak seolah-olah tubuhnya menjadi kaku menegang, kemudian ia menjadi lemas, naik sedu-sedan dari rongga dadanya dan seperti dalam mimpi ia pun tidak sadar bahwa dia telah membalas ciuman pemuda yang sudah menjatuhkan cinta kasihnya itu...


BERSAMBUNG KE JILID 21