Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PENDEKAR SUPER SAKTI

BAGIAN 18

Begitu Han Han membalikkan tubuhnya, ketiga orang sakti itu menyerangnya. Gerakan pedang di tangan Ma Su Nio cepat bukan main sehingga pedangnya merupakan sekelebatan sinar menyilaukan mata. Juga gerakan golok di tangan kedua orang Hek-pek Giam-ong mendatangkan angin berdesir, tanda bahwa tenaga mereka kuat sekali. Tiga orang ini menyerang dari depan, kanan dan kiri Han Han dan begitu senjata mereka meluncur dengan tangan kanan, tangan kiri mereka menyusul dengan pukulan Toat-beng Hwi-ciang dan Hiat-ciang!

Han Han yang baru saja membalikkan tubuh melihat berkelebatnya tiga batang senjata tajam itu, cepat menangkis dengan putaran tongkatnya, tidak menyangka bahwa tiga orang lawannya itu menyusulkan pukulan-pukulan tangan kiri yang amat kuat, maka ia hanya menangkis pedang dan golok.

“Cring-trang-tranggg...!”

Tiga batang senjata lawan ini terpental dan hampir terlepas dari pegangan, akan tetapi pukulan tiga tangan yang mengandung hawa sakti kuat, menyambar ke tubuh Han Han. Pemuda ini mengerahkan sinkang dan menerima pukulan itu. Tubuhnya bergoyang-goyang.

Melihat betapa tubuh Han Han bergoyang-goyang akibat sambaran tiga buah pukulan jarak jauh, Ma Su Nio menjadi girang dan mengira bahwa pemuda buntung yang amat lihai itu telah terluka. Ia mengeluarkan pekik melengking kemudian menubruk maju, pedangnya menusuk ke arah lambung kiri Han Han dan tangan kirinya dengan tenaga Hiat-ciang sepenuhnya mencengkeram ke arah leher.

Hebat bukan main serangan Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ini, dan entah mana yang lebih berbahaya antara pedang di tangan kanan ataukah pukulan Hiat-ciang tangan kirinya. Terjangan ganas yang merupakan serangan maut dari Ma Su Nio ini masih disusul oleh serbuan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang siap-siap mendekati dan mencari kesempatan baik sebagai perkembangan serangan Ma Su Nio.

Han Han melihat betapa para prajurit Mancu sudah mengepung rapat tempat itu, melihat pula sikap para tokoh kaum sesat yang siap hendak membunuhnya. Ia maklum bahwa makin lama akan makin berbahayalah keadaannya. Kini menghadapi terjangan Ma Su Nio, ia mengeluarkan seruan keras, tongkatnya bergerak ke pinggir menangkis dan terus menggunakan sinkang menempel pedang wanita itu. Pukulan Hiat-ciang yang mengeluarkan bau amis itu tidak ia elakkan, melainkan ia papaki dengan tangan kanannya yang terbuka telapak tangannya.

“Dukkk! Plakkk!”

Pedang dan tongkat bertemu dan melekat, kedua tangan pun bertemu dan melekat. Ma Su Nio kembali mengeluarkan suara melengking nyaring ketika merasa betapa pedangnya melekat pada tongkat dan betapa tangan kirinya yang menempel tangan kanan pemuda itu, pertama-tama terasa menggigil kemudian terasa betapa hawa yang amat dingin menjalar masuk ke tubuh melalui lengan kirinya.

“Aiiihhhhh!” Ia berseru, melepaskan pedangnya yang masih menempel tongkat lawan, menggunakan tangan kanannya untuk menghantamkan lagi pukulan Hiat-ciang yang lebih hebat ke arah dada Han Han.

“Bukkkkk!”

Han Han sengaja menerima pukulan tangan kanan wanita itu dan... telapak tangan Ma Su Nio menempel pada dadanya, langsung hawa dingin menjalar memasuki lengan kanan wanita itu. Ma Su Nio mengerahkan sinkang dan berusaha menarik kembali kedua lengannya, namun terlambat. Hawa dingin yang tersalur keluar dari tubuh Han Han adalah inti dari Im-kang yang dihimpunnya di Pulau Es, maka hawa dingin yang amat luar biasa itu telah melukai jantung Ma Su Nio yang seketika menjadi seperti kaku dan membeku!

“Setan buntung!” Bentakan ini keluar dari mulut Pek-giam-ong.

Iblis yang berjuluk Raja Maut Putih ini mencelat maju hendak menolong sumoi-nya. Goloknya menyambar ke tengkuk Han Han dengan kecepatan seperti kilat menyambar, sedangkan Hek-giam-ong juga sudah menusukkan goloknya untuk menyodet perut pemuda itu dari kanan.

Han Han melepaskan Ma Su Nio sambil meloncat mundur. Tubuh wanita itu roboh tak bernyawa lagi, roboh seperti patung kayu yang kaku. Sambil meloncat mundur Han Han merendahkan tubuh, tongkatnya menyelinap dari bawah, tangan kanannya didorongkan ke atas menggunakan hawa pukulan menangkis bacokan golok Pek-giam-ong.

Pek-giam-ong menjerit ngeri ketika tahu-tahu orang yang dibacok tengkuknya itu sekali mengangkat tangan membuat goloknya tertahan dan tanpa dapat ia elakkan lagi, tongkat Han Han yang tadi bergerak dari bawah, melemparkan pedang Ma Su Nio yang tadi menempel di ujung tongkat.

Pedang itu meluncur seperti anak panah dari jarak dekat, menembus perut Pek-giam-ong sampai ke punggung. Pek-giam-ong membelalakkan mata melihat ke perutnya, kemudian dengan kedua tangannya ia mencabut pedang itu dan... berbareng dengan menyemburnya darah dari perut dan punggungnya, iblis muka putih ini menubruk maju!

Han Han menangkis pedang itu, sekaligus ia mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan itu tergelimpang dan tewas. Cara Han Han menendang amatlah mengherankan, tubuhnya mencelat ke atas, di udara kakinya bergerak dan tendangannya seperti tendangan ayam jago bertanding. Sambil menendang, ia telah menyambar pedang Ma Su Nio dengan tangan kanan, pedang yang oleh Pek-giam-ong dipergunakan untuk menyerangnya dalam keadaan sudah sekarat tadi.

Hek-giam-ong sudah menubruk dengan kemarahan meluap-luap. Melihat kematian dua orang saudara seperguruannya, ia menjadi marah sekali. Tanpa mempedulikan sesuatu, maklum bahwa dengan pukulan dan senjata akan percuma terhadap pemuda buntung itu, ia telah membuang goloknya dan menubruk maju memeluk pinggang Han Han dari belakang.

Sebelum pemuda buntung ini sempat menghindarkan diri karena baru menghadapi Pek-giam-ong yang ditendangnya, tahu-tahu tubuhnya telah dipeluk oleh sepasang lengan yang panjang hitam dan amat kuat dari Hek-giam-ong! Raksasa hitam ini bukan hanya memeluk, bahkan kedua tangannya dengan jari-jari tangan mengandung Toat-beng Hwi-ciang itu telah mencengkeram, yang kanan mencengkeram perut, dan yang kiri mencengkeram tenggorokan Han Han.

Sedetik pemuda buntung ini bingung juga menghadapi serangan tidak lumrah ini. Namun tentu saja dia tidak kehilangan akal. Mula-mula tubuhnya secara otomatis telah menggerakkan sinkang untuk melindungi perut dan tenggorokannya, kemudian kakinya dan tongkatnya menekan tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas tinggi sekali.

Semua prajurit Mancu dan para tokoh yang menyaksikan pertandingan ini menahan napas. Mereka melihat betapa tubuh Hek-giam-ong ikut terbawa mencelat ke atas dan tampaklah betapa pemuda buntung itu berkali-kali melakukan gerakan jungkir-balik seperti kitiran di atas udara sehingga sukar diikuti pandang mata. Tiba-tiba bayangan yang berputaran itu pecah dua dan melayanglah tubuh Hek-giam-ong yang terbanting jatuh ke atas tanah dengan suara berdebuk dan dalam keadaan tak bernyawa lagi, kepalanya pecah oleh pukulan ujung tongkat Han Han.

Han Han melesat ke depan melampaui kepala pasukan Mancu. Akan tetapi ketika ia melayang lagi ke atas pohon, tiba-tiba ada desir angin yang amat hebat dari pohon itu. Kiranya di atas pohon itu telah berdiri seorang pendeta gendut yang bukan lain adalah Thian Tok Lama dan yang mengirim pukulan ke arahnya. Pendeta Lama itu berdiri setengah berjongkok di atas dahan pohon yang besar, perutnya mengeluarkan bunyi berkokok seperti suara ayam betina dan kedua lengannya didorongkan ke arah tubuh Han Han yang sedang mencelat ke atas. Itulah pukulan jarak jauh Hek-in-hwi-hong-ciang yang amat dahsyat. Agaknya kakek ini sudah mengenal gerakan-gerakan Han Han yang cepat seperti kilat, maka ia sengaja menghadangnya dari atas pohon. Angin yang keras dan panas dengan uap hitam menyambar ke arah tubuh Han Han.

Han Han terkejut sekali, maklum bahwa lawan tangguh ini melancarkan pukulan yang dahsyat dan berbahaya selagi tubuhnya masih di udara. Namun tidak percuma dia digembleng oleh wanita sakti buntung Khu Siauw Bwee dan telah mewarisi ilmu gerak kilat Soan-hong-lui-kun. Sambaran angin pukulan yang dahsyat itu dapat ia pergunakan sebagai tenaga landasan, dan sambil mengerahkan sinkang di tangan kanan yang didorongkan ke depan menangkis, ia dapat ‘meminjam’ hawa pukulan lawan membuat tubuhnya mencelat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu luput.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara kagum, “Omitohud...!”

Dari pohon sebelah kiri menyambar pula angin pukulan yang biar pun tidak sehebat Hek-in-hwi-hong-ciang tadi, namun dibarengi bentakan, “Robohlah!”

Luar biasa sekali bentakan ini karena Han Han merasa seolah-olah ia terpaksa harus roboh! Biar pun ia sudah menggerakkan lengan menangkis dan mendapat kenyataan bahwa serangan dari pendeta kurus Thai Li Lama ini tidaklah sekuat serangan Thian Tok Lama tadi, namun di dalam bentakan itu terkandung wibawa dan kekuatan yang lebih berbahaya dari pada pukulan itu! Seperti mimpi Han Han terpelanting, seolah-olah lebih parah terkena ‘pukulan’ bentakan itu pada lubuk hatinya.

Masih untung bahwa Han Han memiliki kekuatan batin yang aneh. Andai kata tidak demikian, tentu serangan tadi benar-benar akan membuat ia roboh terbanting karena pendeta kurus ini telah menggunakan ilmunya yang hebat, yaitu Sin-kun-hoat-lek, semacam ilmu pukulan yang disertai ilmu sihir yang terkandung dalam bentakannya tadi. Dalam waktu dua detik saja setelah ia merasa tubuhnya melayang turun, Han Han sudah dapat menguasai dirinya dan cepat ia berjungkir-balik sehingga ketika turun ke tanah, ia berdiri tegak dengan kaki tunggalnya.

Akan tetapi, baru saja ia turun, kembali Thian Tok Lama dan Thai Li Lama sudah menyerangnya. Sekarang kedua orang pendeta Tibet itu menyerangnya dari atas tanah, dari kanan kiri. Thian Tok Lama masih menggunakan pukulan maut Hek-in-hwi-hong-ciang yang menyambar dari kanan, sedangkan pendeta kurus Thai Li Lama mengirim hantaman dari kiri sambil membentak lagi, “Robohlah!”

Han Han merasa tubuhnya tergetar, bukan hanya oleh bentakan, melainkan juga oleh hawa pukulan. Ia mengerahkan semua sinkang-nya, maklum betapa lihainya dua orang lawan itu dan secepat kilat ia menancapkan pedang rampasan dan tongkat di atas tanah kemudian mengembangkan kedua lengan ke kanan kiri mendorong kembali serangan lawan. Secara otomatis, tangan kiri Han Han mengerahkan tenaga inti es, sedangkan tangan kanan mengerahkan tenaga inti api. Memang pemuda ini memiliki sinkang yang sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga dia dapat memecah sinkang-nya menjadi dua, yaitu menggunakan tangan kiri dengan Im-kang dan tangan kanan dengan Yang-kang.

“Wuuut... wuuuttttt... desssssss!”

Pertemuan tenaga sakti yang amat dahsyat ini membuat tubuh Han Han tergetar, akan tetapi kedua orang pendeta Tibet juga terkejut dan mundur selangkah. Tubuh Thai Li Lama agak menggigil kedinginan, sedangkan wajah Thian Tok Lama menjadi merah sekali. Dalam detik berikutnya, mereka berdua sudah menambah tenaga dan memukul lagi, sambil melangkah dekat.

Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan berkelebat dan tubuh Han Han berikut pedang dan tongkatnya telah lenyap karena pemuda itu sudah mencelat ke atas. Hampir saja kedua orang pendeta sakti ini saling mengadu pukulan sendiri dan hanya karena tingkat mereka yang sudah amat tinggi membuat mereka dapat mengubah sasaran sehingga menyeleweng dan masing-masing hanya merasakan sambaran angin pukulan teman.

Han Han mencelat ke atas dengan niat hendak melepaskan diri dari kepungan, akan tetapi tiba-tiba puluhan batang anak panah menyambar dari atas pohon-pohon yang mengelilinginya. Ia makin terkejut, maklum bahwa pihak musuh telah melakukan persiapan sehingga barisan panah telah menutup jalan keluarnya melalui puncak-puncak pohon. Terpaksa ia memutar tongkatnya turun lagi, agak jauh dari situ.

Begitu ia turun, ia sudah dikepung lagi oleh puluhan orang prajurit Mancu. Senjata pasukan ini datang menyerangnya bagaikan hujan. Han Han makin marah. Ia memang tidak suka berkelahi dengan mereka, akan tetapi kalau dipaksa seperti itu, tentu saja ia harus membela diri mati-matian. Ia mengeluarkan seruan keras, tongkat dan pedang rampasannya ia gerakkan seperti kilat menyambar-nyambar sehingga dalam waktu singkat enam orang pengeroyok roboh dan tewas.

“Minggir...!” Bentakan ini keluar dari mulut Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Dua orang pendeta sakti dari Tibet ini maklum bahwa pemuda ini bukan lawan para prajurit itu dan hanya mereka berdua dan para tokoh sakti saja yang akan mampu menandinginya.

Han Han berdiri tegak, bersandar pada tongkat di tangan kirinya, sedangkan pedang rampasan yang sudah merah oleh darah itu ia pegang dengan tangan kanan. Kedua alisnya yang tebal dikerutkan, sepasang matanya tajam melirik ke arah lima orang sakti yang bergerak melangkah perlahan-lahan mengepungnya.

Mereka itu bukan lain adalah Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Bhong Lek si Muka Tikus dan Bhong Poa Sik yang kepalanya ada ‘telurnya’, yaitu sepasang saudara kakak beradik yang terkenal dengan julukan Tikus Kuburan, seorang kakek kurus kecil berjenggot panjang yang ia tidak kenal siapa, dan di bawah sebatang pohon, dengan cara berdirinya yang aneh, tampak Sin-tiauw-kwi Ciam Tek si Burung Hantu yang tidak ikut mengepungnya, hanya menonton dengan mata tak pernah berkedip seperti mata seekor burung bangau mengintai katak!

Han Han bersikap waspada. Ia dapat menduga bahwa di antara enam orang lawannya yang sakti ini, kedua orang pendeta Tibet dan Si Burung Hantu itulah yang agaknya paling lihai. Kedua Tikus Kuburan itu biar pun berkepandaian tinggi, namun bukan merupakan lawan tangguh, hal ini tampak bukan hanya dalam sikap mereka yang kelihatan gentar, juga terbukti bahwa mereka berdua memegang senjata.

Bhong Lek si Muka Tikus itu memegang senjata siang-kek (sepasang tombak bercabang) bergagang pendek, sedangkan adiknya Bhong Poa Sik yang kepalanya benjol sebesar telur itu memegang sebatang pedang. Orang ke tiga yang memegang senjata adalah kakek kurus kecil berjenggot panjang yang bertelanjang kaki, memegang sebatang rantai panjang yang ia putar-putar dengan kedua tangannya.

Aku harus dapat lebih dulu merobohkan tiga orang yang paling berbahaya itu, pikir Han Han. Musuh terlampau banyak. Kalau dia melawan mereka yang lebih lemah namun banyak jumlahnya sehingga nanti tenaganya akan habis untuk menghadapi tiga orang sakti itu, tentu dia akan celaka. Kalau dia berhasil merobohkan tiga orang lawan tangguh itu, dia akan selamat, yang lain-lain tidaklah berat untuk dihadapi dan dia akan dapat menyelamatkan diri.

Setelah berpikir demikian, Han Han mengeluarkan seruan melengking dari dalam pusar menembus dada dan tenggorokan, kemudian tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir-balik dan berputaran membingungkan para pengurungnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke arah Ciam Tek si Burung Hantu yang kelihatannya melenggut di bawah pohon, bersandar pada gagang sabitnya yang amat tajam.

Gerakan Han Han amatlah cepatnya karena memang dia mempergunakan gerak kilat dari Soan-hong-lui-kun sehingga Si Burung Hantu yang lihai itu pun kini menjadi amat terkejut. Dahulu, ketika ikut membantu Giam Kok Ma menjebak Han Han, Ciam Tek si Burung Hantu ini pernah mendapat kesempatan bergebrak sejurus menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li, dan ternyata kepandaiannya berimbang dengan nenek itu!

Karena itu, biar pun terkejut sekali, ia tidak kehilangan akal melihat tubuh pemuda buntung itu meluncur dan menusuknya dengan pedang rampasan. Ciam Tek si Burung Hantu tahu-tahu sudah meloncat naik pula. Senjatanya yang hebat berbentuk sabit itu berubah menjadi sinar menyilaukan, menyambar ke atas menangkis pedang rampasan yang dipergunakan Han Han untuk menyerangnya.

“Tranggggg...!”

Pedang rampasan di tangan Han Han patah menjadi dua, akan tetapi senjata sabit itu pun patah, bahkan Ciam Tek masih terhuyung-huyung ke belakang. Ia terkejut bukan main. Cepat ia menjatuhkan diri bergulingan dan setelah meloncat bangun, Ciam Tek sudah siap menghadapi lawannya yang buntung namun memiliki tenaga sinkang yang amat luar biasa itu.

Akan tetapi ketika Si Burung Hantu ini meloncat bangun, ia melihat Han Han telah dikeroyok dua oleh Thian Tok Lama dan Thai Li Lama! Kembali Ciam Tek tertegun dan memandang kagum. Dua orang pendeta Tibet yang terhitung suheng-suheng-nya karena dia pernah belajar di bawah satu guru dengan mereka itu, sudah ia ketahui kelihaian mereka. Namun kini mereka berdua maju berbareng, mengeroyok si pemuda buntung Han Han! Benar-benar hal yang amat aneh dan mulai menipislah rasa penasaran di hatinya mengapa dalam segebrakan saja senjatanya yang ampuh menjadi patah dan dia terhuyung ke belakang.

Dengan tongkat bututnya Han Han menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Tibet. Pemuda ini mengerti bahwa dua orang lawannya memiliki pukulan-pukulan ampuh sekali, maka ia menghadapi mereka dengan hati-hati, akan tetapi juga ingin mengakhiri pertandingan itu secepatnya agar dia dapat membebaskan diri sebelum terlambat dan kehabisan tenaga.

Oleh karena ini Han Han mainkan tongkat di tangan kirinya dengan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang amat dahsyat, hanya bedanya, kalau Siang-mo Kiam-sut lebih hebat dimainkan dengan sepasang senjata pedang, kini dia hanya menggunakan sebatang tongkat di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia pergunakan untuk menangkis pukulan-pukulan lawan atau membalas dengan pukulannya sendiri yang mengandung tenaga dahsyat.

Dua buah kitab yang dahulu diberikan kepadanya oleh Sepasang Pedang Iblis Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa adalah dua kitab yang mengandung pelajaran ilmu pedang iblis, yaitu Iblis Jantan dan Iblis Betina yang kalau digabungkan menjadi Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang amat ampuh. Kini, karena dia hanya memegang sebatang tongkat di tangan kiri, Han Han hanya bisa mainkan semacam saja, yaitu bagian Ilmu Pedang Iblis Jantan dari kitab peninggalan Can Ji Kun.

Melihat gerakan tongkat yang amat hebat, apa lagi didasari ginkang yang sukar dicari lawannya dan tenaga sinkang yang amat kuat, dua orang pendeta Tibet itu diam-diam merasa heran sekali, juga kagum. Belum pernah selamanya mereka bertemu tanding selihai ini dan diam-diam mereka mengerti bahwa kalau mereka harus melawan satu-satu, mereka tentu akan sukar sekali menandingi kehebatan pemuda buntung ini!

Selama tiga empat puluh jurus kedua orang pendeta itu berusaha merobohkan Han Han dengan serangan bertubi-tubi. Namun akhirnya mereka tahu bahwa kalau mereka mempergunakan jurus-jurus silat, tak mungkin mereka akan dapat merobohkan pemuda buntung yang ternyata dapat bergerak secepat kilat secara aneh ini, bahkan membahayakan mereka sendiri karena gerakan loncatan Han Han amat sukar diikuti pandangan mata dan sukar diduga ke mana tubuh yang hanya berkaki satu itu mencelat.

Tiba-tiba Thian Tok Lama mengeluarkan gerengan keras yang agaknya menjadi isyarat bagi sute-nya. Keduanya sudah meloncat dua langkah ke belakang, menghadapi Han Han dari barat dan timur, kemudian mereka melancarkan pukulan dahsyat yang berdasarkan sinkang mereka yang kuat!

Thian Tok Lama sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang, tubuhnya merendah seperti jongkok, perutnya mengeluarkan bunyi berkokok dan dari kedua tangannya menyambar angin pukulan yang amat panas hawanya, bahkan dari lengan kanannya yang membiru itu keluar suara bercuitan, dibarengi mengebulnya uap hitam yang menerjang ke arah Han Han. Thai Li Lama juga berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, kedua lengannya bergerak, yang kanan melakukan gerakan mendorong ke arah Han Han, yang kiri dengan telunjuk mengacung membuat gerakan berputar dan mencoret-coret seperti sedang menggambar atau menulis huruf di udara.

Han Han juga maklum bahwa kalau ia mengandalkan ilmu silatnya saja, akan sukarlah ia mengalahkan kedua orang pendeta Tibet itu, maka begitu melihat mereka mulai mengandalkan pukulan sakti, ia pun cepat menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian cepat ia mengerahkan tenaga di kedua lengannya dan dia menggerakkan kedua lengannya ke kanan kiri, dilonjorkan untuk menahan pukulan-pukulan lawan dengan sinkang yang menggetar keluar dari telapak kedua tangannya yang terbuka.

Han Han merasa betapa kedua tangannya seolah-olah bertemu dengan dinding baja yang panas. Maklumlah ia bahwa kedua orang kakek itu telah mengeluarkan tenaga Yang-kang, maka ia pun mengerahkan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke arah kedua lengannya. Bukan main hebatnya pertemuan tenaga di udara ini. Biar pun kedua tangan Han Han masih terpisah dari tangan lawan, masih sejauh setengah meter, namun sudah terasa panasnya dan uap hitam yang mengebul dari kedua tangan Thian Tok Lama makin menebal!

Han Han berdiri tegak, tidak bergeming, kedua lengannya tampak kokoh kuat menahan ke kanan kiri. Pemuda ini merasa betapa tenaga kedua orang lawannya tidak seimbang. Tenaga Thian Tok Lama lebih kuat. Melihat kedua orang itu makin mendekat, Han Han sengaja membiarkan hal ini karena ia maklum bahwa kalau dia tidak berani membiarkan mereka mendekat, akan makin sukar baginya mencapai kemenangan. Dalam hal sinkang, ia percaya kepada tenaganya sendiri, dan kalau mereka sudah dekat, tentu akan lebih mudah baginya mempergunakan ginkang dari Soan-hong-lui-kun untuk mendahului mereka mengirim serangan maut.

Para prajurit Mancu dan para tokoh yang menonton pertandingan itu menjadi tegang hatinya. Pertandingan yang aneh bagi para prajurit, akan tetapi bagi tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan, mereka paham betapa bahayanya mencampuri pertandingan seperti itu yang seolah-olah mengeluarkan sinar-sinar kilat yang akan mematikan orang yang berani mendekat. Dari jauh saja mereka sudah dapat merasakan getaran-getaran hebat yang keluar dari benturan tenaga sakti tiga orang itu.

Tubuh kedua orang hwesio Tibet itu makin dekat dan telapak tangan mereka hampir menyentuh kedua telapak tangan Han Han. Tiba-tiba Han Han menjadi terkejut bukan main. Dari sebelah kirinya di mana Thai Li Lama menyerang dengan hawa pukulan, timbul semacam gelombang yang amat aneh. Gelombang yang menggetarkan seluruh tubuhnya, yang kemudian menyelimuti pikirannya dan terdengar suara pendeta itu, amat dekat di telinganya atau seperti di dalam kepalanya, suara perlahan namun mempunyai daya tarik yang sukar dilawan.

“Menyerahlah... engkau tidak kuat lagi... menyerahlah... berlututlah...!”

Suaranya sendirikah itu? Tiba-tiba Han Han merasa betapa beratnya mempertahankan diri, betapa kedua lengannya yang tadi masih kuat menahan himpitan tenaga sakti dari kanan kiri itu terasa lelah sekali, hampir tidak kuat dia.

“Menyerahlah, berlutut...!”

Suaranyakah itu? Ah, bukan! Itu suara Thai Li Lama yang entah bagaimana memasuki otaknya. Ketika Han Han di dalam hatinya menggoyang kepala mengusir keadaan seperti mimpi itu, seketika pandang matanya terang kembali, bisikan lenyap akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa dia sudah benar-benar menekuk lutut kaki tunggalnya! Dan terdengarlah olehnya sorakan-sorakan para prajurit Mancu yang melihat dia berlutut, mementangkan kedua lengannya ke kanan kiri dengan tubuh gemetar.

“Setan!” Han Han mengerahkan seluruh kekuatan batin dan sinkang-nya, lalu perlahan-lahan ia bangkit berdiri.

Kiranya telapak tangannya sudah menempel kepada telapak tangan kedua lawan di kanan kiri dan ia merasa betapa hawa panas yang keluar dari tangan mereka itu masih dapat ia tahan. Ia melirik ke arah Thai Li Lama dan melihat pendeta kurus ini mulutnya berkemak-kemik. Tangan kanan pendeta ini menempel di tangan kirinya dan tangan kiri pendeta itu membuat gerakan-gerakan aneh. Kini mengertilah Han Han bahwa tentu pendeta ini menggunakan ilmu hitam.

Teringat ia akan kekuatan mukjizat yang terkandung dalam tubuhnya sendiri, maka ia pun membalas pandang mata hwesio Tibet itu, mengerahkan kekuatan kemauannya dan di dalam hatinya ia membentak, “Thai Li Lama, mengapa kau menyuruh orang lain? Engkaulah yang ingin menyerah dan berlutut. Berlututlah!”

Tiba-tiba pendeta Tibet yang kurus itu mengeluarkan seruan aneh dari dadanya dan... kedua kakinya bertekuk lutut!

“Ji-suheng...!” terdengar suara parau Burung Hantu.

Agaknya teriakan inilah yang menyadarkan Thai Li Lama. Pendeta kurus ini terkejut sekali dan cepat bangkit berdiri, akan tetapi terlambat. Saat yang hanya sejenak itu telah dimanfaatkan oleh Han Han yang tiba-tiba, dengan kemampuannya yang luar biasa dalam tubuhnya, telah mengubah inti hawa panas Hwi-yang Sin-ciang menjadi Swat-im Sin-ciang yang dingin sekali. Seketika tubuh Thai Li Lama menggigil sedangkan Thian Tok Lama berseru keras, mengerahkan seluruh tenaganya melawan hawa dingin.

“Aihhhhhh...!” Han Han mengeluarkan seruan keras sekali, berkali-kali, ia mengubah-ubah sinkang-nya, dari dingin ke panas, dari panas ke dingin sehingga kedua orang lawannya menjadi bingung dan tersiksa. Lebih-lebih lagi Thai Li Lama yang memang sudah terluka sebagai akibat kelengahannya jatuh di bawah pengaruh kekuatan mukjizat Han Han. Perubahan-perubahan hawa sakti itu membuat keringat dingin bercucuran dan mukanya pucat sekali.

Akan tetapi, pertandingan hebat ini bukan tidak merugikan Han Han sendiri karena melawan dua orang tokoh yang begitu kuat membutuhkan pengerahan seluruh tenaganya. Biar pun dia dapat menguasai keadaan, namun sesungguhnya dia terhimpit oleh tenaga raksasa, dan tadi hampir saja ia celaka ketika sejenak ia tertekan hebat.

Maklum bahwa tidak boleh ia berlama-lama karena keadaannya sendiri berbahaya, Han Han mengumpulkan seluruh tenaganya, tubuhnya direndahkan sedikit kemudian ia mendorong ke kanan kiri dengan keras sambil berteriak.

“Hyyyaaaaattttt!”

Inti tenaga sinkang Han Han memang bukan didapat dengan latihan biasa. Tenaga saktinya sudah timbul ketika ia mengalami hal yang mengguncang jiwanya, kemudian ia menggunakan kekuatan kemauan untuk melatih sinkang yang tinggi tingkatnya seperti Hwi-yang Sin-ciang. Lebih-lebih lagi setelah ia melatih diri di Pulau Es, dia sudah memiliki sinkang yang sukar dicari bandingnya. Kemudian sekali, dia digembleng oleh Khu Siauw Bwee, seorang di antara pemilik Pulau Es, tentu saja tingkatnya menjadi amat tinggi.

Biar pun kedua orang pendeta Tibet itu merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet dan sukar dicari tandingannya, namun setelah mereka dibingungkan dengan hawa sinkang yang berubah-ubah tadi, kini serangan terakhir Han Han tak dapat mereka tahan dan tubuh mereka terlempar ke belakang sampai sebelasan meter jauhnya. Begitu terbanting roboh, kedua orang pendeta Tibet ini cepat bersila dan meramkan mata, cepat-cepat mengatur pernapasan dan menggunakan sinkang untuk menolong nyawa mereka dari luka dalam yang cukup berbahaya.

Akan tetapi, Han Han sendiri pun harus menggunakan tenaga terakhir tadi untuk dapat melontarkan dua orang lawannya yang kuat, maka kini biar pun dia berhasil, dia sendiri pun tidak keluar tanpa luka, biar pun lukanya tidak seberat kedua orang lawan. Begitu kedua orang lawannya terlempar, pemuda buntung ini terhuyung-huyung, tubuhnya bergoyang-goyang dan ia muntahkan sedikit darah segar. Ia pejamkan kedua matanya dan tangan kirinya meraba-raba gagang tongkat yang tadi ia tancapkan di atas tanah.

“Aku hanya ingin mencari adikku... kenapa kalian mendesakku...?” Mulutnya berbisik penuh penyesalan.

Tiba-tiba dari belakangnya menyambar angin pukulan yang amat hebat. Han Han terkejut, cepat ia memutar tubuh. Akan tetapi karena kepalanya masih pening, gerakannya kurang cepat. Terpaksa ia hanya menggerakkan tangan kanan menangkis, dan berhasil menangkis tangan kiri Ciam Tek. Akan tetapi tangan kanan Si Burung Hantu masih tepat memukul dadanya dengan pukulan Hek-in-sin-ciang yang beracun.

“Desssss...!”

Tubuh Han Han terpelanting ke kanan dan kembali ia muntahkan darah segar. Pemuda ini masih sadar dan maklum bahwa kalau tidak cepat bergerak, akan celakalah dia. Kaki tunggalnya menjejak tanah, tangan dan tongkat juga bergerak dan tubuhnya sudah mencelat ke atas. Benar saja dugaannya, pukulan Si Burung Hantu tiba dan mengenai tanah tempat ia tadi rebah.

Melihat pukulannya gagal, Ciam Tek Si Burung Hantu yang sudah kegirangan karena serangan pertamanya tadi berhasil, cepat meloncat naik mengejar dan mengirim pukulan pula.

“Pengecut curang...!” Han Han memapaki, terpaksa ia berjungkir-balik untuk mengelak dan terpaksa ia meloncat turun lagi ke atas tanah. Si Burung Hantu juga melayang turun. Han Han membelalakkan matanya penuh amarah, bibirnya masih berdarah, dadanya terasa sakit sekali. Ia marah oleh kecurangan lawan yang memukul dari belakang selagi ia pening.

“Ha-ha-ha, mampuslah!” Ciam Tek tertawa mengejek.

Kembali ia melakukan pukulan Hek-in-sin-ciang dengan gerakan yang aneh. Pukulan ini sebetulnya sama sumbernya dengan pukulan kedua orang pendeta Tibet dan memang dahulu ketika merantau sampai ke Tibet, Si Burung Hantu belajar ilmu pukulan ini dari guru kedua orang pendeta Lama ini, maka mereka itu terhitung suheng-suheng-nya.

Pukulannya yang disebut Hek-in-sin-ciang (Pukulan Sakti Awan Hitam) ini pun mengeluarkan uap hitam dan beracun. Sungguh pun tidak sedahsyat Hek-in-hwi-hong-ciang dari Thian Tok Lama akan tetapi juga cukup hebat dan jarang ada orang mampu menahan pukulan maut ini. Manusia bermuka seperti burung ini amat licik dan juga bermata tajam. Ia dapat mengerti bahwa sedikit banyak pemuda luar biasa ini sudah terluka dalam pertandingan melawan kedua orang pendeta Tibet, maka ia mempergunakan kesempatan untuk menghantam Han Han dari belakang. Ketika pukulannya mengenai dada, ia menjadi girang sekali dan terus mendesak Han Han.

Akan tetapi Han Han kini sudah marah bukan main. Orang telah mendesak dia yang tidak ingin berkelahi. Apa lagi Si Burung Hantu yang curang ini. Baik, ia menggigit bibir. Mari kita bertanding mati-matian! Dengan kemarahan meluap, melihat Ciam Tek memukul, Han Han tidak mau mengelak, melainkan menerima pukulan Hek-in-sin-ciang ini dengan pukulan pula sambil mengerahkan Im-kang.

“Desssss!”

Si Burung Hantu jatuh terduduk, tubuhnya menggigil kedinginan dan matanya terbelalak. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya mencelat ke arah Han Han, dari kerongkongannya keluar suara mencicit seperti burung, tangan kanannya menghantam didahului uap hitam ke arah ulu hati Han Han.

Pemuda ini miringkan tubuh mengelak sambil berputar. Tiba-tiba tangan kiri Si Burung Hantu dengan jari terbuka dan digerakkan miring membabat ke arah lehernya seperti sebatang golok. Han Han kembali mengelak, akan tetapi rambutnya yang panjang itu terbabat sedikit dan... putus! Han Han terkejut. Kiranya tangan kiri manusia aneh bermuka burung ini dapat dipergunakan sebagai senjata yang tajamnya tidak kalah oleh pedang, dapat membabat putus gumpalan rambut. Bukan main!

“Heh-heh-heh!” Ciam Tek mengejek.

Kembali kedua lengannya yang panjang-panjang itu sudah bergerak ke depan. Yang kiri membacok kepala, yang kanan menonjok perut. Pada saat itu tiga orang perwira Mancu ikut pula menerjang maju dengan senjata tombak mereka.

“Pergi, jangan bantu...!” Si Burung Hantu membentak.

Tetapi tiga orang perwira Mancu itu terus saja menyerang Han Han, pura-pura tidak mengerti. Dan memang mereka tentu saja mengerti bahwa mereka tidak semestinya menyerang terus. Namun karena penasaran maka mereka pura-pura tidak mendengar dan menerjang Han Han menggunakan tombak, seolah-olah berlomba memperebutkan jasa.

Diam-diam Han Han menjadi girang. Dia sudah agak lemah dan terluka. Biar pun dia masih sanggup menandingi Ciam Tek, namun kalau manusia burung itu dibantu oleh tokoh-tokoh lain yang lihai, tentu keadaannya akan berbahaya sekali. Untung baginya bahwa tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan dan yang lain-lain agak jauh dari situ, sehingga yang datang membantu Ciam Tek adalah perwira yang tidak memiliki kepandaian tinggi.

Hal ini menguntungkan dia dan merugikan Ciam Tek. Bagi ahli silat tinggi, bantuan dari orang-orang yang tingkat kepandaiannya tidak seimbang bukan merupakan bantuan, bahkan menjadi pengganggu! Karena itulah maka tadi Ciam Tek berteriak mencegah mereka sungguh pun ia belum yakin benar akan dapat mengalahkan Han Han sendiri saja.

Han Han membiarkan dua tombak datang meluncur. Setelah dekat sekali, kemudian ia menangkap kedua tombak dengan kedua tangan sedangkan kakinya menendang roboh perwira ketiga. Sekali ia mengerahkan tenaga, tubuh dua orang perwira itu terbawa oleh tombaknya sendiri ke atas dan melayang ke arah tubuh Ciam Tek!

“Tolol kamu!” Ciam Tek mendengus marah.

Kedua tangannya bergerak mendorong dan tubuh dua orang perwira itu terbanting ke atas tanah, bergulingan dan pingsan. Kesempatan itulah yang dinanti-nantikan Han Han. Melihat betapa manusia burung itu menangkis dan melontarkan kedua orang perwira Mancu, ia sudah loncat ke depan dan mengirim pukulan dahsyat dengan kedua tangan, tangan kanan menonjok dada, tangan kiri menggunakan ujung tongkat menotok.

Si Burung Hantu atau Sin-tiauw-kwi Ciam Tek memang amat lihai. Biar pun serangan Han Han ini amat cepat dan terjadi hanya beberapa detik setelah ia menangkis tubuh dua orang perwira, namun ia masih dapat menghadapinya. Dengan tangan kirinya ia menangkis pukulan Han Han, kemudian tangan kanannya mencengkeram ke arah tongkat yang menotok lehernya. Tetapi karena ia tergesa-gesa dan sebaliknya Han Han sudah mengatur siasat lebih dulu, tiba-tiba tongkat itu bergerak melejit dan sebaliknya malah menggempur lengannya dengan pukulan yang menggetar karena mengandung tenaga sinkang.

“Krakkk! Auuuggghhh!”

Si manusia burung itu mencelat ke belakang, menyeringai kesakitan karena tulang lengan kanannya retak! Saking marahnya, ia tidak terlalu merasakan keretakan tulang tangan kanannya, malah maju menubruk ke depan seperti gerakan seekor burung.

Han Han terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka masih begitu nekat, padahal saat itu ia melihat berkelebatnya bayangan Sepasang Tikus Kuburan. Maka ia sengaja menerima hantaman tangan kanan Ciam Tek yang ia tahu telah terluka, sedangkan cengkeraman tangan kiri lawan ke arah ubun-ubunnya ia tangkis dengan tangan kanan, kemudian ujung tongkatnya meluncur ke arah dada lawan.

“Krakkk...! Crotttt...!”

Terdengar jerit melengking dari mulut Ciam Tek, tubuhnya berkelojotan di ujung tongkat yang menembus dadanya, tulang lengannya patah bertemu dengan dada Han Han karena memang tadinya tulang itu telah retak.

Han Han menyeringai kesakitan. Biar pun lengan kanan Ciam Tek telah retak tulangnya, namun pukulan yang mengenai dadanya itu masih hebat sekali, membuat napasnya sesak dan matanya berkunang. Pemuda ini maklum bahwa dirinya terancam bahaya, maka cepat ia mencabut tongkatnya dan tubuhnya mencelat ke atas. Pandang matanya masih berkunang dan kepalanya berat sekali. Ia perlu cepat-cepat membebaskan diri agar dapat mengobati luka di dalam dadanya.

Akan tetapi, selagi tubuhnya meloncat tiba-tiba kaki tunggalnya terbelit ujung rantai baja yang panjang dan kuat. Kiranya dia telah dikejar dan dikurung Sepasang Tikus Kuburan dan kakek kecil bertelanjang kaki yang telah menggerakkan rantai bajanya secara istimewa. Rantai baja itu meluncur cepat dan berhasil melibat pergelangan kaki Han Han selagi pemuda ini meloncat.

Han Han terkejut bukan main. Ia menendangkan kakinya namun tak dapat terlepas dari libatan rantai baja sehingga tubuhnya tertarik turun dan terbanting ke bawah! Cepat ia menggunakan lengan kiri merangkul batang pohon agar tubuhnya tidak terbanting. Pada saat itu tampak sinar berkelebat dan pedang di tangan Bhong Poa Sik telah menyambar ke arah lehernya!

Han Han menjadi amat marah. Teriakan dahsyat keluar dari kerongkongannya, teriakan yang mengandung hawa khikang sehingga si manusia berkepala benjol itu terkejut. Gerakannya tertahan sedetik, namun cukup bagi Han Han yang masih bergantung dengan lengan kiri pada batang pohon sedangkan kaki tunggalnya masih terlibat rantai itu. Han Han gerakkan tangan kanannya, mencengkeram ujung pedang, mengerahkan sinkang dan sekali betot pedang itu telah dirampasnya. Pergelangan tangannya bergerak, pedang membalik dan kini ia telah memegang gagang pedang, langsung ia tusukkan ke lambung Bhong Phoa Sik.

Pengerahan sinkang tadi membuat dadanya makin sesak dan matanya menjadi gelap, namun Han Han masih dapat menusuk lambung lawannya dengan tepat sehingga pedang rampasannya menembus dari lambung kiri Bhong Poa Sik. Bukan itu saja, juga berbareng ia mengerahkan tenaga pada kakinya, menarik kaki itu ke belakang. Bersamaan dengan jerit kematian yang keluar dari mulut Bhong Poa Sik bersama semburan darahnya, terdengar pekik kaget kakek yang memegang ujung rantai karena tubuhnya terbawa oleh tarikan kaki Han Han. Betapa pun ia mempertahankan, tetap saja tubuhnya terbawa melayang ke arah Han Han.

“Cappppp!”

Han Han terkejut bukan main. Karena pandang matanya gelap, ia kurang waspada sehingga pada saat ia menusukkan pedang ke lambung Bhong Poa Sik dan membetot tubuh kekek yang memegang rantai, sebuah tusukan tombak pendek di tangan kiri Bhong Lek si Muka Tikus menancap di paha kaki tunggalnya!

Rasa sakit membuat Han Han makin marah. Tubuh kakek yang memegang rantai itu telah melayang dekat dan sekali Han Han menendang ke belakang, tumit kakinya menendang perut kakek itu yang seketika putus napasnya karena isi perutnya remuk! Dan Bhong Lek yang tadinya girang dapat melukai paha Han Hang tiba-tiba melihat sinar bergulungan di depan matanya dan... arwahnya melayang tanpa disadarinya karena tahu-tahu leher Si Muka Tikus ini telah putus oleh sinar pedang yang digerakkan Han Han.

Pemuda buntung ini berdiri dengan kaki tunggalnya yang terluka dan bercucuran darah. Pedang di tangan kanan, tongkat di tangan kiri, tubuhnya agak bergoyang, rambutnya riap-riapan, mukanya beringas penuh keringat, pakaiannya berlepotan darahnya sendiri dan darah para korban yang tewas di tangannya. Dia siap menghadapi maut, akan tetapi kematiannya akan ditebus mahal sekali oleh musuh-musuhnya karena dia siap untuk membela diri mati-matian sampai tetesan darah terakhir!

Para perwira dan prajurit Mancu gentar menghadapi pemuda kaki buntung yang luar biasa itu. Kakak beradik Tikus Kuburan tewas, kakek Mongol yang terkenal lihai dengan rantai bajanya juga tewas, tiga orang murid Setan Botak yang amat lihai tewas pula, belum lagi banyak prajurit dan perwira yang roboh. Bahkan kedua orang pendeta Tibet masih duduk bersila memejamkan mata memulihkan tenaga! Namun, para prajurit yang mengurung itu pun maklum bahwa pemuda buntung yang sakti itu sudah terluka hebat.

“Tangkap... Bunuh...!” terdengar teriakan-teriakan.

“Jangan dekati!” teriak seorang perwira. “Serang dengan anak panah...!”

Sibuklah para prajurit, seperti serombongan orang yang ketakutan mengurung seekor harimau yang ganas dan kuat. Han Han menggigit bibirnya. Tak mungkin dia menerjang maju karena kakinya, satu-satunya anggota badan yang ia andalkan untuk menahan tubuh, telah terluka cukup parah. Tidak, kalau ia menggerakkan kakinya berarti ia memperlemah pertahanannya sendiri. Dia akan tetap berdiri di situ dan menghadapi semua terjangan musuh sampai mati!

“Serrr... serrr-serrrrr...!” Puluhan batang anak panah menyambar.

Han Han memutar pedang rampasan di tangannya sehingga terdengar suara nyaring berkali-kali. Tampak bunga api berpijar dan disusul pekik beberapa orang prajurit yang termakan anak panah mereka sendiri yang membalik oleh tangkisan Han Han.

Sebagian besar anak panah runtuh, ada sebatang menancap di antara rambut yang awut-awutan itu seperti hiasan rambut, dan sebatang lagi menancap di bajunya setelah melukai kulit pinggul, tidak dapat menembus kulit karena Han Han memutar pedang sambil mengerahkan sinkang melindungi tubuh!

“Hentikan serangan...!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan ternyata di tempat itu telah datang pasukan yang terdiri dari seratus orang lebih yang merupakan pasukan pilihan Mancu, dikepalai oleh seorang wanita yang cantik sekali, cantik dan gagah serta bermata seperti bintang kembar.

“Han-koko...! Aihh... kalian orang-orang gila! Berani menyerang kakakku? Pergi semua! Pergi...! Dia itu Han-koko, kakakku...! Han-koko...!”

Gadis jelita yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Lulu! Gadis ini, seperti kita ketahui, telah menjadi sumoi dari Puteri Nirahai di bawah gemblengan Puteri Maya, yaitu nenek bangsa Khitan yang sakti itu. Kemudian, karena pelaporan dari barisan yang menyerbu Se-cuan selalu terpukul mundur, Puteri Nirahai menjadi penasaran dan datang sendiri ke garis depan di perbatasan Se-cuan, mengajak Lulu.

Ketika itu Lulu sedang bertugas meronda tapal batas memimpin sebuah pasukan. Tentu saja ia segera mengenal Han Han dan kedatangannya pada saat yang amat tepat itu menyelamatkan kakaknya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika melihat bahwa kakaknya itu berdiri hanya dengan sebuah kaki!

“Han-ko...!” Ia menjerit lagi, meloncat turun dari kudanya dan melesat cepat seperti terbang, langsung menubruk dan berlutut merangkul kaki Han Han yang tinggal sebuah sambil menangis sesenggukan.

“Lulu...!” Han Han juga memanggil nama adiknya dengan hati yang amat tidak karuan rasanya.

Mula-mula semangatnya seperti terbang saking girangnya mendengar suara dan melihat betapa adiknya masih sehat dan selamat, akan tetapi hatinya menjadi perih melihat kedatangan adiknya itu bersama pasukan Mancu. Karena itu, panggilannya keluar dengan suara seperti orang merintih. Betapa pun juga, keharuan hatinya lebih besar dan dia pun menjatuhkan tubuhnya yang sudah lemas itu, berlutut dan merangkul adiknya dengan kedua lengannya. Sejenak mereka berangkulan dan bertangisan.

“Lulu... kau... bocah nakal... ke mana saja kau pergi?” Han Han menegur, tangan kirinya diletakkan di atas pundak dara itu, tangan kanannya menghapus air mata yang bercucuran di atas pipi Lulu.

Akan tetapi Lulu tidak menjawab, melainkan meraba-raba paha kiri Han Han yang buntung. Matanya yang basah air mata itu terbelalak memandang, lalu ia meloncat bangun. Matanya yang lebar indah itu liar memandang ke arah para prajurit Mancu yang sibuk mengurus teman-teman yang tewas dan merawat yang luka, wajahnya yang manis dan jelita itu menjadi beringas, kulit mukanya merah sekali.

“Siapa yang membuntungi kakimu, Han-ko? Siapa? Hayo katakan kepadaku agar dapat kubalas dia! Han-ko, katakan siapa yang membuntungi kakimu? Katakan...!”

Para perwira dan prajurit Mancu menjadi ketakutan dan saling pandang. Mereka tentu saja amat takut kepada adik seperguruan Puteri Nirahai ini, bukan hanya takut akan kepandaiannya yang kabarnya amat lihai seperti sang puteri, akan tetapi terutama takut akan kekuasaan dan kedudukan Puteri Nirahai sendiri.

“Lulu, bukan mereka... kakiku sudah sangat lama buntung...” Han Han berkata.

“Aihhhhh, Koko...!” Lulu menubruk lagi dan menangis, meraba-raba kaki yang buntung, lalu meraba-raba muka Han Han, menyibakkan rambut kakaknya yang awut-awutan menutupi muka yang tampan itu. “Kau... kau terluka hebat... ahhh... Koko, mengapa kau berada di sini?” Kembali Lulu meloncat bangun dengan sigapnya, membalikkan tubuh dan membentak kepada para prajurit.

“Pergi kalian semua! Pergi dari sini! Kalau tidak, kubunuh semua! Pergi!”

Para perwira Mancu dan para prajurit terkejut. Cepat-cepat mereka membawa mayat dan teman-teman yang terluka meninggalkan tempat itu. Dua orang pendeta Lama sudah tidak kelihatan lagi di tempat itu. Mereka berdua maklum bahwa setelah Lulu datang secara tidak terduga-duga, rencana mereka membunuh Han Han yang dianggap seorang lawan berbahaya itu menjadi gagal.

Setelah tempat itu bersih ditinggalkan semua pasukan, Lulu kembali menubruk Han Han. “Han-ko, apakah yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kakimu buntung? Siapa yang dapat melakukan perbuatan keji ini kepadamu, Han-koko?” Kembali kedua mata gadis itu bercucuran air mata begitu ia melihat ke arah kaki buntung kakaknya.

Akan tetapi Han Han tidak menjawab. Lulu masih menangis sambil membenamkan mukanya di dada kakaknya, kedua lengannya merangkul leher.

“Han-koko... setengah mati aku mencarimu... bertahun-tahun hingga amat lama rasanya, hampir aku putus harapan. Aku sampai di tempat sejauh ini juga mencarimu... tetapi... siapa menduga bahwa kau... ah, kakimu... aduh, Koko...! Katakanlah, siapa orangnya yang begitu kejam membuntungi kakimu? Aku bersumpah untuk menuntut balas!”

Akan tetapi Han Han tetap diam tak menjawab.

Lulu yang sedang diamuk keharuan, kegirangan, juga kemarahan melihat kaki Han Han buntung, tidak merasa betapa semua pertanyaannya tak terjawab. Kini ia mengangkat mukanya dan berkata penuh semangat.

“Jangan khawatir, Han-ko. Kalau musuh itu terlalu lihai, aku dapat membantumu. Aku, adikmu ini, sekarang bukanlah Lulu yang dahulu! Aku sudah memiliki kepandaian tinggi dan....” Tiba-tiba Lulu menghentikan kata-katanya ketika ia melihat wajah Han Han. Kiranya semenjak tadi kakaknya itu memandangnya dengan sepasang mata mendelik penuh amarah!

Wajah Han Han pucat, matanya mendelik seolah-olah mengeluarkan api, akan tetapi dari pelupuk matanya menetes-netes air mata! Pemuda yang terluka ini tidak hanya terluka pahanya yang robek oleh tusukan tombak Bhong Lek, melainkan yang lebih berbahaya lagi adalah luka di dalam dadanya akibat pukulan Ciam Tek si Burung Hantu. Napasnya makin sesak dan seluruh dada terasa panas. Setengah mati ia mencari Lulu, bertahun-tahun lamanya dengan hati rindu dan penuh kekhawatiran. Sekarang setelah bertemu, kegirangan hatinya ternoda oleh kenyataan bahwa adiknya telah memimpin pasukan Mancu!

“Koko... Han-ko... kau... kau menangis...? Kenapakah...?” Dengan jari tangan gemetar Lulu mengusap air mata yang mengalir di atas pipi yang pucat itu.

Gerakan Lulu yang penuh kasih sayang ini memancing naiknya sedu-sedan dari dada Han Han. Tangan kirinya merangkul dan mengelus-elus rambut di kepala Lulu, akan tetapi tangan kanannya mengepal keras sekali. Mulutnya tidak mampu menjawab, dua macam perasaan bertanding dalam hatinya sendiri.

“Koko..., Koko... bicaralah... kau kenapakah? Kakimu...” Lulu masih terisak, “siapa yang membuntungi kakimu...?”

“Buk! Buk! Bukkk!”

Tiga kali kepalan tangan kanan Han Han menghantam tanah sehingga Lulu merasa betapa tanah yang diinjak tergetar. Ia kaget sekali dan memandang wajah kakaknya dengan kedua mata terbelalak lebar.

“Han-ko! Kenapa...?”

“Lulu! Buntungnya kakiku bukan hal penting!” Akhirnya ia dapat mengeluarkan kata-kata dengan napas terengah. “Urusan diriku tidak perlu dibicarakan! Akan tetapi engkau...! Engkau...!”

Lulu mengerutkan keningnya, memandang wajah kakaknya penuh selidik, kemudian memegang kedua pundak kakaknya. “Han-ko, apa maksudmu? Ada apa denganku...?”

Tiba-tiba Han Han menggunakan kedua tangan mendorong sepasang lengan adiknya sehingga Lulu terjengkang ke belakang. “Ada apa dengan engkau? Masih hendak bertanya lagi? Engkau... menjadi pemimpin pasukan Mancu terkutuk!”

Seketika pucat wajah Lulu. Air mata yang tadi telah berhenti mengalir kini bercucuran dari sepasang mata yang tak pernah berkedip menatap wajah kakaknya. Perlahan ia bangkit kembali, merangkak menghampiri Han Han dan menubruk kakaknya sambil menangis sesenggukan.

“Han-koko... lupakah engkau bahwa aku adalah seorang gadis Mancu? Anehkah kalau aku membantu bangsaku menghadapi para pemberontak...?”

“Plak! Plak!” Kedua tangan Han Han menyambar dan sepasang pipi yang pucat itu ditamparnya.

Lulu terpekik dan mundur ke belakang sambil meloncat bangun berdiri, memegangi kedua pipinya yang terasa panas dan sedikit berdarah keluar dari ujung bibir kiri yang pecah. Matanya terbelalak, mukanya pucat sekali. Rasa sakit di kedua pipinya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan rasa nyeri yang menusuk masuk di hatinya. Ia ditampar kakaknya! Selamanya Han Han belum pernah memperlakukan dia seperti ini. Jangankan menampar, bersikap kasar sedikit pun belum!

Han Han ikut pula berdiri, bersandar pada tongkatnya. Wajahnya lebih pucat lagi dan matanya juga terbelalak ketika ia melihat darah di ujung bibir Lulu. Rambutnya terurai menutupi muka, ia sibakkan dengan gerakan kepala, akan tetapi rambut itu terurai kembali menutupi sebelah mukanya.

“Lulu...! Adikku...! Ahh... apa yang telah kulakukan...?” Suaranya gemetar, mengandung isak, penuh penyesalan seolah-olah ia baru sadar dari sebuah mimpi buruk.

Namun wajah adiknya yang biasanya berseri-seri, yang biasanya jenaka, yang biasarya selalu cerah seperti sinar matanari di siang hari, kini berubah, dingin dan seperti muka mayat, amat pucat, matanya tidak bersinar, bahkan suaranya berubah ketika bibir itu bergerak bicara.

“Han-koko...!” Ia berhenti dan terisak, susah payah menahan isak agar dapat bicara. “Kau tidak adil...! Memang aku membantu bangsaku karena aku memang bangsa Mancu. Memang aku telah bersalah, akan tetapi karena engkau tidak berada di sampingku, aku menjadi bimbang dan akhirnya terseret ke dalam perang. Akan tetapi engkau sendiri? Bukankah engkau menjadi seorang panglima Bu Sam Kwi yang mempertahankan Se-cuan? Sudah lama kami mendengar akan adanya panglima kaki buntung dari pihak musuh yang lihai. Tak kusangka engkaulah orangnya! Engkau seorang berbangsa Han membela bangsamu menghadapi Mancu, sebaliknya aku seorang berbangsa Mancu membela bangsaku menghadapi musuh. Siapakah yang benar di antara kita? Siapa yang bersalah? Engkau... telah menamparku, bukan hanya menampar pipi, tetapi menampar dan menghancurkan hatiku. Ahhh, Han-koko, engkau tidak adil...!” Lulu mendekap muka dengan kedua tangan dan air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.

“Lulu..., Moi-moi adikku... kau ampunkan aku....”

Han Han melangkah maju hendak memegang lengan adiknya. Akan tetapi sentuhan jari tangannya seperti ujung api menyengat tangan Lulu yang cepat menarik tangannya, memandang dengan mata basah penuh penyesalan, kemudian terisak dan gadis ini membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu.

“Lulu...!”

“...engkau tidak adil...! Engkau kejam... tidak adil...!”

Suara Lulu yang bercampur tangis itu terdengar oleh Han Han seperti tusukan pedang menembus jantungnya. Ia meloncat dan mengejar sambil berteriak-teriak seperti orang gila, “Lulu...! Lulu adikku...!” Akan tetapi ia terguling roboh.

Pertemuan dengan adiknya yang mengakibatkan pukulan batin hebat itu membuat luka di dadanya makin parah. Ia masih memanggil-manggil nama Lulu sambil merangkak, kemudian bangkit perlahan-lahan dan berjalan terhuyung-huyung menyeret tongkat, berloncatan tanpa mempedulikan pahanya yang mengucurkan darah. Namun Lulu telah jauh, telah lenyap dari situ. Biar pun bayangan gadis itu tidak tampak lagi, namun masih terngiang di telinga Han Han, merupakan tusukan-tusukan yang membikin hatinya perih, jeritan adiknya tadi, “Engkau tidak adil...! Tidak adil... tidak adil...!”

Han Han hampir tak kuat menahan. Ia merangkul sebatang pohon dan menangis, mengguguk seperti anak kecil. Ia sadar akan kesalahannya terhadap Lulu tadi. Memang dia tidak adil terhadap Lulu. Akan tetapi, bukankah dia mendengar bahwa Lulu telah menjadi adik angkat Sin Lian dan bahkan ikut pula membantu gerakan para pejuang? Mengapa kini Lulu menjadi pemimpin pasukan Mancu? Benarkah dia tidak adil? Siapa yang tidak adil? Siapa yang salah? Siapa yang benar?

Han Han menggeleng kepala dan berbisik, “Tidak ada yang salah kecuali perang! Yang tidak adil adalah perang! Terkutuklah perang!”

Dan pemuda ini lalu terpincang-pincang meninggalkan tempat itu, terus memasuki hutan tanpa tujuan. Hatinya kosong, lenyap sudah gairah hidup. Pikirannya pun kosong, dan ia hanya mengikuti gerak kaki berloncatan secara otomatis. Akhirnya, di dalam jantung hutan yang lebat, ia terguling pingsan..



"engkau tidak adil...! Hu-huu-huuuu... tidak adil... tidak adil...! Hi-hiii-hiiiii... hu-huuuuu!" Lulu berlari cepat sekali sambil menangis dan merintih-rintih di sepanjang jalan, kedua tangannya menggosok-gosok kedua mata seperti anak kecil menangis, beberapa kali ia terhuyung karena kakinya tersandung batu atau akar pohon.

"Sumoi...!"

Lulu terkejut, seperti sadar dari mimpi. Dia menahan kakinya dan berdiri memandang melalui air matanya. Nirahai sudah berdiri di depannya. Wajah yang cantik jelita dan biasanya bersikap ramah penuh kasih kepadanya itu kini kelihatan marah, kedua tangan bertolak pinggang.

Akan tetapi dalam kesedihannya, Lulu tidak melihat perubahan ini. Begitu bertemu suci-nya, ia lalu menubruk, merangkul dan menangis di pundak Nirahai.

“Aduh, suci... hu-huuuuu...!”

“Hemmm, tenanglah dan jangan seperti bocah cengeng! Bicaralah!” kata Nirahai yang masih bersikap marah.

“Suci... dia... dia...” Lulu menangis lagi, terlampau sakit hatinya oleh sikap kakaknya tadi sehingga sukar untuk bicara.

Nirahai memegang kedua pundak Lulu dan mendorongnya mundur. “Sumoi, hentikan tangismu! Apa yang telah kudengar dari laporan pasukanmu? Engkau telah melindungi musuh!”

Lulu mengusap air matanya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai. “Suci, dia... dia adalah Han-koko yang kucari-cari!”

Nirahai mengangguk. “Aku sudah mendengar. Jadi panglima pemberontak berkaki buntung itulah Han Han yang selama ini kau cari-cari? Di mana dia sekarang?”

“Kaki... kau... mau apakan dia...?”

“Mau apakan dia? Dia adalah panglima musuh! Harus ditawan atau dibunuh!”

“Suci...!”

“Sumoi, tidak tahukah engkau bahwa tadi engkau telah melakukan perbuatan yang khianat? Engkau membantu musuh!”

“Tapi dia kakakku!” Lulu membantah penasaran.

“Tapi dia panglima musuh!” Nirahai membentak, lebih penasaran lagi.

Lulu menjadi lemah kembali dan meratap, “Suci... suci... ingatlah, dia kakakku! Bagai mana aku dapat memusuhinya?”

Nirahai menarik napas panjang. “Hemmm, sudahlah! Biar pun kakak, tapi hanya kakak angkat. Andai kata kakak kandung sekali pun, kalau membantu musuh harus ditentang. Lulu, dalam masa perang, urusan pribadi harus dikeduakan, yang diutamakan adalah urusan negara! Aku tidak membenci kakakmu yang belum pernah kujumpai, bahkan aku tidak pernah membenci para pemberontak secara pribadi, akan tetapi aku akan membunuh mereka sebagai musuh negara. Sudah, biarlah untuk sekali ini, aku tidak akan mengejar panglima buntung dari Se-cuan itu. Mari kita kembali ke pesanggrahan kita.”

Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. Setelah aku melihat kenyataan bahwa Han-koko berada di pihak musuh, aku tidak mau perang lagi. Aku akan pergi.”

“Ke mana?” Nirahai menyembunyikan kemarahannya. “Pergi menyeberang ke Se-cuan membantu pemberontak?”

Lulu menggeleng kepala dengan sedih. “Tidak, aku mau pergi menjauhi semua ini, mau menjauhi perang yang menghancurkan hidupku. Aku tidak sudi lagi terlibat...”

“Sumoi! Engkau harus kembali bersama aku! Ini merupakan perintah!”

Baru sekali ini selama menjadi sumoi Nirahai, suci-nya itu mengeluarkan suara keras dan memperlihatkan sikap marah. Hal ini mengingatkan Lulu akan sikap Han Han tadi dan sakitlah hatinya. Ia pun memandang suci-nya dengan sinar mata penuh penasaran dan tentangan, lalu bertanya dengan suara tegas.

“Perintah siapa kepada siapa?”

“Perintah seorang pemimpin kepada bawahannya! Perintah seorang wakil kaisar kepada warga negaranya! Perintah seorang suci kepada sumoi-nya!”

Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. apa pun yang terjadi, aku tidak mau kembali ke markas, tidak mau ikut perang. Aku hendak pergi ke mana aku suka!”

“Lulu! Membangkang berarti memberontak dan kau bisa dihukum!”

“Terserah!”

“Sumoi, engkau hendak melawan suci-mu? Engkau berani melawan aku?”

“Suci, ketika aku ikut bersamamu, tidak ada perjanjian jual beli kebebasanku. Kalau sekarang engkau hendak memaksa, hendak mengganggu kebebasanku, terpaksa aku melawanmu. Melawan engkau sebagai orang yang hendak memaksaku, bukan sekali-kali melawan bangsa atau negara! Aku tidak peduli akan urusan bangsa dan negara, tidak peduli akan perang, aku muak! Biarkan mereka yang suka perang itu maju sendiri mempertaruhkan nyawa. Bagiku, terima kasih! Aku tidak mau kembali dan kalau suci hendak memaksa, apa boleh buat, aku melawan sebisaku!”

Nirahai menghela napas, wajahnya terlihat penuh kecewa dan sesal. Dia amat mencinta Lulu yang dianggapnya sebagai adik sendiri, tidak ingin menggunakan kekerasan. Akan tetapi dia pun sudah mengenal watak Lulu yang sekali menentukan sikap akan dibela sampai mati. Betapa pun juga tak mungkin ia melepaskan sumoi-nya ini. Kalau sampai sumoi-nya ini kemudian membantu pemberontak, hal itu merupakan mala petaka yang lebih hebat lagi. Bayangkan saja. Sumoi-nya, seorang gadis Mancu pula, membantu pemberontak melawan bangsa sendiri! Tidak, ia harus mencegah hal yang terkutuk itu. Lebih baik melihat sumoi-nya mati di depan kakinya untuk kemudian ia tangisi dan kabungi dari pada melihat sumoi-nya menjadi pengkhianat!

“Sumoi, sekali lagi, marilah kau ikut aku kembali dan kita bicarakan semua urusan dengan baik. Jangan menuruti perasaan yang sedang terganggu. Perlukah urusan begini saja sampai mematahkan ikatan persaudaraan dan kasih di antara kita?” Suara Nirahai yang lemah lembut ini membuat Lulu kembali terisak.

“Suci... suci... kau kasihanilah aku, biarkan aku pergi...,” ia meratap.

“Sumoi!” Nirahai membentak lagi. “Engkau seorang gadis yang perkasa! Engkau adalah sumoi-ku! Engkau adalah murid Subo Maya! Mengapa sikapmu begini lemah? Hayo ikut aku kembali!”

Lulu menggeleng kepala, “Tidak mau, suci.”

“Hemmm, baik. Kita lihat saja siapa di antara kita yang lebih kuat. Akan tetapi ingat, sekali ini kita bukan sedang berlatih!” Nirahai berkata mengejek dan menubruk ke depan mengirim totokan ke arah leher Lulu disusul cengkeraman ke arah pundak.

Lulu cepat mengelak dari totokan dan menangkis cengkeraman, bahkan langsung ia membalas dengan pukulan dari ilmu silatnya yang ampuh dan yang ia latih dari Puteri atau Nenek Maya, yaitu Toat-beng Sian-kun. Pukulan yang mengarah dada dan perut Nirahai dengan kedua tangan terbuka ini kelihatannya ringan saja. Akan tetapi tentu saja Nirahai mengenal pukulan sakti. Cepat ia mengelak dan balas menyerang. Makin lama makin cepat gerakan mereka sehingga yang tampak hanya dua bayangan berkelebat, kadang-kadang menjadi satu!

Betapa pun lihainya Lulu, tentu saja dia tidak dapat menandingi kehebatan Nirahai yang memiliki banyak ilmu silat tinggi yang luar biasa. Sebentar saja, tidak sampai tiga puluh jurus, Lulu mulai terdesak hebat dan hanya mengandalkan kelincahan gerakannya yang ia dapat dari latihan di Pulau Es saja yang membuat ia dapat bertahan dari serangan Nirahai yang bertubi-tubi. Lulu mulai berloncatan ke sana-sini dan terus mundur.

“Lu-moi, jangan takut! Aku datang membantumu!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah Sin Kiat yang langsung menyerang Nirahai dengan pedangnya. Gerakan murid Im-yang Seng-cu yang berjuluk Hoa-san Gi-hap ini cepat dan dahsyat sekali, pedangnya mengeluarkan suara berdesing dan berubah menjadi sinar terang bergulung-gulung.

“Hemmm... pemberontak cilik bosan hidup!” Nirahai berseru dan tiba-tiba mata Sin Kiat menjadi gelap ketika ada sinar hitam lebar menutupi tubuh lawannya kemudian dari tengah bayangan hitam itu meluncur sinar putih yang menusuk ke arah lambungnya.

“Cringggg...!”

Sin Kiat terkejut sekali. Ternyata bayangan hitam itu adalah sebatang payung yang tiba-tiba sudah berada di tangan Nirahai dan payung itu berkembang, kemudian ujung payung yang runcing seperti pedang menusuknya. Tangkisannya membuat tangannya tergetar, tanda bahwa puteri Mancu itu memiliki sinkang amat kuat.

Sin Kiat memutar pedangnya dan bergerak cepat, namun semua serangannya kena dihalau oleh tangkisan kuat, dan dalam beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak oleh serangan balasan ujung payung yang menyembunyikan gerakan lengan dan pundak lawan.

“Plak... cring...! Aaaihhh!”

Sin Kiat terpaksa loncat ke belakang. Hampir saja lututnya kena disambar ujung payung yang gerakannya amat lihai itu. Sin Kiat memandang tajam, kemudian ia berkata.

“Hemm... kalau tidak salah dugaanku, tentu engkaulah Puteri Nirahai yang terkenal licik itu, pengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!” katanya sambil melintangkan pedang di depan dada. Kemudian ia menoleh ke arah Lulu dengan wajah berseri, “Lu-moi, engkau pergilah. Han Han mencarimu. Biar aku yang menghadapi iblis betina ini!”

“Wah, melihat gerakan pedangmu, engkau tentu Hoa-san Gi-hiap seperti yang pernah diceritakan Lulu kepadaku. Ah, tidak kecewa engkau menjadi murid Im-yang Seng-cu, akan tetapi engkau harus belajar seratus tahun lagi untuk dapat melawanku!” Nirahai berseru dan kembali payung pedangnya mengirim serangan hebat.

Sin Kiat tidak berani berlaku lengah. Cepat ia menangkis sambil meloncat ke samping, kemudian mengirim serangan balasan yang dapat dielakkan secara mudah oleh Nirahai dengan sikap mengejek.

“Wan-twako, jangan...! Jangan campuri, biar aku sendiri hadapi suci!”

Wan Sin Kiat terkejut bukan main dan untuk kedua kalinya ia meloncat mundur. “Apa?! Suci-mu...?”

Nirahai tersenyum dan memandang wajah tampan itu dengan tajam. Diam-diam ia kagum kepada pemuda yang tampan dan gagah ini, akan tetapi karena ia tahu bahwa pemuda ini pun salah seorang panglima Se-cuan, maka dia menganggap pemuda ini musuhnya.

“Benar, Wan Sin Kiat, ataukah Wan-ciangkun? Engkau seorang panglima pemberontak, bukan? Lulu adalah sumoi-ku, akan tetapi mencampuri urusan kami atau tidak, setelah engkau berada di daerah ini, engkau harus menyerah menjadi tawananku atau terpaksa aku akan membunuhmu sebagai tokoh pemberontak!”

“Lu-moi...! Eh, bagaimana ini...?”

Sin Kiat bingung sekali, akan tetapi Nirahai telah menyerangnya kembali dengan hebat.

“Tranggg... cringgggg...!”

Dua kali Sin Kiat menangkis dan ia terhuyung ke belakang. Nirahai terus menerjang maju dan mendesak pemuda yang terhuyung itu dengan ujung payungnya.

“Trikkkkk!”

Nirahai mencelat mundur. Lulu telah mencabut pedang dan menangkis gagang payung itu untuk menolong Sin Kiat.

“Suci, tidak boleh kau bunuh dia. Mari kita lanjutkan pertandingan kita.”

“Sumoi, kau makin tersesat! Sekarang kau membantu pemberontak di depanku, ya?”

Nirahai menyerang dengan hebat dan kembali kedua orang gadis yang sama cantik jelita dan sama lincah itu saling serang, kini menggunakan senjata. Melihat ini, serta merta Sin Kiat membantu dan mengeroyok Nirahai. Pertempuran hebat berlangsung di dalam hutan yang sunyi itu. Kelebatan sinar pedang menyliaukan mata dan gerakan mereka amat cepatnya.

Diam-diam Sin Kiat menjadi amat heran, heran dan kagum. Kini ia mendapat kenyataan betapa Lulu telah memperoleh kemajuan pesat, bahkan dari gerakan-gerakan gadis yang dicintanya itu ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Lulu kini telah jauh melampaui tingkatnya sendiri!

Akan tetapi, dengan kaget ia pun mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Puteri Nirahai yang terkenal ini lebih hebat lagi, dikeroyok dua sama sekali tidak terdesak, bahkan beberapa kali dia dan Lulu terancam oleh ujung gagang payung yang luar biasa aneh dan lihainya itu. Pantas saja tokoh-tokoh besar seperti orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tewas di tangan gadis puteri Kaisar Mancu ini!

Oleh karena dibantu Sin Kiat, kini tidaklah begitu mudah lagi bagi Nirahai untuk dapat mengalahkan Lulu, sungguh pun ia masih terus mendesak karena memang tingkat kepandaiannya jauh di atas kedua orang pengeroyoknya. Setelah lewat seratus jurus, Nirahai mulai penasaran dan marah. Kalau tadinya ia ingin merobohkan Lulu tanpa membunuhnya, bahkan kalau mungkin tidak melukainya, kini ia tidak peduli lagi dan kalau perlu hendak membunuh mereka berdua. Ia mengeluarkan lengking nyaring sekali dan tampaklah sinar emas berkilau.

Lulu dan Sin Kiat terkejut sekali. Mata mereka menjadi silau dan mendadak permainan pedang mereka kacau-balau oleh suara yang keluar dari sebatang suling emas yang kini dimainkan oleh Nirahai. Itulah senjata pusaka Suling Emas yang ampuhnya menggila!

“Trang-cringgg...!” Lulu dan Sin Kiat terhuyung, kedua tangan mereka tergetar hebat.

“Lu-moi, pergilah... Cepat pergi... selamatkan dirimu...!” Sin Kiat berkata sambil memutar pedangnya dengan cepat, membentuk gulungan sinar pedang seperti perisai baja.

“Tidak, Wan-twako! Engkau saja pergilah, jangan menyia-nyiakan nyawa untuk aku. Biar kuhadapi urusanku sendiri!” Lulu berkata sambil memutar pedangnya.

“Trang-tranggg...!”

Kini kedua orang muda itu tidak hanya terhuyung, bahkan terlempar ke belakang dan bergulingan. Nirahai tertawa dan terus menerjang maju.

“Moi-moi... pergilah selamatkan dirimu...!” Sin Kiat mendesak.

“Twako, kenapa sih engkau hendak mengorbankan diri untukku?” Lulu bertanya dengan rasa penasaran.

“Moi-moi, kau tahu. Aku cinta padamu, aku rela berkorban untukmu. Pergilah dan temui Han Han... di Se-cuan...!” kata Sin Kiat sambil menangkis.

“Trakkk!” Pedangnya patah menjadi dua bertemu dengan suling emas! Tendangan kaki Nirahai menyerempet pahanya dan pemuda itu terguling.

“Wan-twako...!” Lulu berteriak dan ia memutar pedangnya menghalangi Nirahai yang mengirim serangan terakhir kepada pemuda itu.

“Cringgg...!”

“Sumoi, dia mencintamu, apakah engkau juga mencintanya?”

Lulu tak menjawab, mukanya merah dan ia menyerang dengan tusukan kilat yang dapat ditangkis oleh Nirahai. Sin Kiat sudah meloncat bangun lagi. Ia terkejut melihat betapa Puteri Nirahai kini menangkis pedang dan memutar-mutar suling emas sehingga Lulu ikut pula terputar-putar, kemudian pedang itu tak dapat dipertahankan lagi, terlepas dari tangan Lulu!

“Hi-hik, kau menyerahlah, sumoi!” Nirahai berkata.

Lulu makin marah. Ia menubruk maju, tetapi sebuah dorongan membuat ia terjengkang.

“Moi-moi...!” Sin Kiat menghampiri Lulu lega hatinya mendapat kenyataan bahwa Lulu tidak terluka. “Cepat kau lari... biar aku saja yang mati...!”

Tanpa menanti jawaban Lulu, Sin Kiat mengeluarkan bentakan keras dan ia sudah menubruk dengan nekat ke arah Nirahai! Melihat kenekatan pemuda ini, Nirahai terkejut sekali dan hampir saja pundaknya kena dicengkeram Sin Kiat. Terpaksa puteri yang lihai ini melempar diri ke belakang dan bergulingan, lalu ia meloncat dan memandang pemuda itu dengan mata marah.

“Hemmm, kau mau bunuh diri, ya? Nah, mampuslah!”

Sinar kuning emas menyambar dan Sin Kiat terpelanting. Hanya kena dorongan hawa pukulan senjata ampuh itu saja ia sudah jatuh terpelanting. Nirahai melangkah maju, mengayun payungnya.

“Biarlah aku mati bersamamu, twako!” Lulu menubruk maju dari belakang, menyerang Nirahai.

“Hemmm... kau mencintanya juga, bukan?”

Nirahai membalikkan tubuh tanpa menghentikan tusukannya pada Sin Kiat, akan tetapi ujung gagang payungnya hanya menusuk pundak, sedangkan sulingnya menotok ke arah jalan darah di leher Lulu. Hebat bukan main gerakan Nirahai, terlalu cepat bagi dua orang muda yang nekat itu.

“Krekkk!” Tubuh Sin Kiat terkulai, tulang pundaknya patah.

“Cusss!” Tubuh Lulu lemas karena jalan darahnya terkena totokan suling emas secara tepat sekali.

Nirahai tersenyum. Gadis ini menyimpan suling dan payung, menyambar tubuh Lulu dan dipanggulnya, kemudian memandang Sin Kiat yang duduk sambil memegangi pundak kirinya yang patah.

“Wan Sin Kiat, karena melihat kau dan Lulu saling mencinta, aku mengampuni dan tak akan membunuhmu. Akan tetapi pada pertemuan kedua, jikalau engkau masih menjadi pemberontak, tentu mengakibatkan kematianmu di tanganku.” Sambil berkata demikian, Nirahai membalikkan tubuh, tidak mempedulikan pemuda yang memandangnya dengan mata mendelik itu.

“Nirahai! Aku bersumpah, kalau engkau mengganggu Lulu, kelak aku akan mencarimu dan akan membunuhmu!”

Nirahai menoleh, tersenyum mengejek lalu tubuhnya berkelebat pergi dari tempat itu bersama Lulu yang terkulai lemas di atas pundaknya. Sin Kiat mengerutkan keningnya, masih terheran-heran mengapa Lulu menjadi sumoi puteri itu, dan heran pula mengapa keduanya saling serang mati-matian. Ia menggeleng-geleng kepala, menghela napas panjang penuh sesal mengapa dia tidak mampu melindungi Lulu dari tangan puteri yang luar biasa lihainya itu. Akan tetapi diam-diam masih terngiang di telinganya suara Lulu ketika membantunya tadi. “Biar aku mati bersamamu, twako!”

Betapa merdunya suara ini. Bukankah kata-kata itu merupakan pencerminan hati yang mencinta? Secara kebetulan saja ia bertemu dengan Lulu di tempat ini. Susah payah ia mencari dan mengikuti jejak Han Han semenjak pemuda buntung itu meninggalkannya. Dan di tempat sunyi ini, bukan Han Han yang ia temukan, melainkan Lulu! Ke manakah perginya Han Han? Tentu tidak jauh dari tempat ini karena jejaknya menuju ke tempat ini. Dia harus mencari Han Han! Kiranya hanya Han Han seorang yang akan mampu menandingi Nirahai yang begitu lihai!

Setelah tiga hari tiga malam berkeliaran di dalam hutan-hutan sambil mengobati sendiri pundaknya yang patah tulangnya, akhirnya pada suatu pagi Sin Kiat melihat sesosok tubuh yang duduk bagaikan arca di bawah pohon, di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Dan orang itu bukan lain adalah Han Han!

“Han Han...!” Sin Kiat berteriak girang.

Akan tetapi Han Han tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan siulian dan matanya terpejam. Tongkat butut melintang di depan lututnya. Luka di pahanya sudah mengering, dan luka di dalam dadanya pun sudah sembuh, akan tetapi pemuda ini terus saja bersemedhi, seolah-olah sudah berubah menjadi arca dan tidak ada nafsu untuk sadar kembali.

Han Han mengalami pukulan batin yang amat hebat secara bertubi-tubi sehingga membuat dia seolah-olah sudah bosan hidup. Pertama-tama urusan dengan Kim Cu sudah merupakan tekanan batin yang berat, disusul lagi dengan kematian Lu Soan Li yang juga menjadi korban cinta kasihnya kepadanya. Pertemuannya dengan Tan Hian Ceng yang mencintanya membuat hatinya makin terhimpit dan satu-satunya harapan hatinya untuk dapat keluar dari himpitan dan mendapatkan hiburan batin adalah pertemuannya kembali dengan Lulu.

Akan tetapi, begitu berjumpa dengan adiknya yang tercinta itu, ia malah menerima hantaman batin yang lebih berat lagi, yaitu dengan kenyataan bahwa Lulu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Mancu! Lebih celaka lagi, dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya yang timbul karena baru saja ia dikeroyok dan hampir celaka di tangan para pemimpin Mancu sehingga dia menampar adiknya itu, membuat Lulu sakit hati dan gadis itu melarikan diri dengan kebencian terkandung di hati adiknya yang merupakan satu-satunya manusia yang ia harapkan akan dapat menghibur hatinya yang sakit!

“Han Han, mengapa engkau menjadi begini? Apa yang sudah terjadi denganmu? Sadarlah, aku telah berjumpa dengan Lulu!”

Han Han membuka matanya, memandang Sin Kiat dan bertanya dengan suara lesu, “Di manakah dia? Mana Lulu?”

“Han Han, celaka sekali! Aku bertemu dengan Lulu, akan tetapi dia dan aku tidak dapat melawan Puteri Nirahai. Aku dirobohkan dan terluka, sedangkan Lulu, dia dilarikan Nirahai. Anehnya Lulu menyebutnya suci, dan...” Akan tetapi Sin Kiat melongo ketika tiba-tiba tubuh Han Han mencelat dan lenyap dari tempat itu!

“Han Han...!” Sin Kiat berteriak, akan tetapi tubuh Han Han sudah berloncatan jauh sekali. Sin Kiat menggeleng-geleng kepala mengerti bahwa tidak mungkin ia dapat mengejar pemuda buntung itu, terpaksa ia pun meninggalkan tempat itu. Dengan hati berat Sin Kiat lalu kembali ke Se-cuan, minta diri dari Raja Muda Bu Sam Kwi dan meletakkan jabatan untuk pergi mencari Han Han dan terutama sekali Lulu.

******************


Begitu mendengar dari Sin Kiat bahwa adiknya ditawan Puteri Nirahai, kemarahan Han Han memuncak. Tanpa pamit ia meninggalkan Sin Kiat, menggunakan kepandaiannya pergi menuju ke kota raja untuk mengejar dan menolong adiknya.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pemuda berkaki buntung yang berjalan terpincang-pincang memasuki kota raja itu mengandung perasaan marah dan sakit hati yang akan menggegerkan kota raja! Han Han berjalan perlahan memasuki kota raja....

“Tak-tok-tak-tok...!” tongkat yang membantunya terpincang-pincang itu mengeluarkan bunyi ketika mengetuk jalan berbatu yang keras.

Beberapa orang menoleh dan memandangnya dengan perasaan kasihan. Juga banyak yang menjadi heran melihat pemuda tampan yang wajahnya menyinarkan sesuatu yang aneh menyeramkan, yang pakaiannya amat sederhana dan rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai di atas kedua pundak dan punggungnya, rambut yang kusut.

Han Han tidak tahu ke mana adiknya dibawa oleh Puteri Nirahai, akan tetapi ia teringat betapa dahulu adiknya itu diculik oleh Ouwyang Seng, maka ia dapat menduga bahwa antara Puteri Nirahai dan keluarga Pangeran Ouwyang tentu ada hubungan erat. Karena itu dengan perasaan marah memenuhi dada, dengan hati panas oleh dendam, ia lalu menujukan langkahnya yang terpincang-pincang itu ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok!

Lima orang penjaga pintu gerbang di luar pekarangan gedung besar Pangeran Ouwyang Cin Kok cepat menghadang dan memandang heran ketika melihat pemuda buntung itu seenaknya saja memasuki pintu gerbang.

“Haiii! Berhenti! Tidak boleh mengemis di sini!” Seorang di antara mereka membentak, kemudian menodongkan tombaknya ke depan dada Han Han. “Pergi!”

Han Han tidak marah mendengar makian ini. Baginya, dikatakan pengemis bukan merupakan makian atau penghinaan. “Minggirlah, aku hendak mencari Ouwyang Seng!”

Lima orang penjaga itu tercengang. Mendengar seorang pemuda kaki buntung yang mereka anggap pengemis itu menyebut nama Ouwyang-kongcu begitu saja, timbul dugaan bahwa tentu pengemis buntung ini miring otaknya.

“Eh, orang gila. Pergilah kalau tidak mau kami pukul!” bentak penjaga ke dua.

“Kalian minggirlah, jangan halangi aku!” Han Han berkata dengan suara dingin. Tanpa mempedulikan mereka, dia berjalan terus memasuki pekarangan gedung besar.

Lima orang penjaga itu menjadi marah dan berkelebatlah tombak-tombak mereka ke arah Han Han.

“Trang-trang-krek-krek-krekkk!”

Lima batang tombak patah-patah dan beterbangan disusul tubuh lima orang penjaga itu yang terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin! Han Han tidak mempedulikan mereka lagi dan terus dia berloncatan menuju gedung.

Teriakan-teriakan para penjaga ini menarik perhatian para penjaga di gedung dan mereka ini, dua belas orang banyaknya, datang berlari-lari. Mereka terkejut melihat para penjaga pintu gerbang roboh semua dan melihat pemuda buntung itu berloncatan ke ruangan depan. Cepat mereka mengurung, akan tetapi Han Han yang tidak sabar telah meloncat tinggi ke atas kepala mereka, kedua tangan didorong ke bawah dan dua belas orang itu roboh terbanting tunggang-langgang.

“Ouwyang Seng! Keluarlah! Kalau tidak, kuhancurkan tempat ini!” Han Han berteriak-teriak dan sekali sambar ia mengangkat singa-singaan batu yang belum tentu dapat terangkat oleh sepuluh orang biasa, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan melontarkan singa-singaan batu itu ke dalam.

“Braaaaakkkkk!” pecahlah pintu ruangan depan itu.

Han Han meloncat ke dalam ruangan itu, suaranya lantang ketika berteriak, “Ouwyang Seng! Puteri Nirahai! Keluarlah dan serahkan kembali adikku Lulu! Kalau tidak, akan kuhancurkan kota raja!”

Tiba-tiba dari sebelah dalam menyambar senjata rahasia yang berupa gelang-gelang kecil. Cepat dan kuat sekali sambaran ini, akan tetapi dengan tenang Han Han menggerakkan tubuh meloncat tinggi sehingga sambaran senjata-senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Di udara, tubuh Han Han berjungkir balik dan ia sudah meloncat keluar karena kalau ada lawan tangguh menghadapinya, lebih baik ia berada di luar gedung.

Benar saja dugaannya, dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tahu-tahu seorang pemuda yang memegang sebatang golok telah berdiri di depannya. Pemuda itu bukan lain adalah Gu Lai Kwan! Ketika Lai Kwan melihat Han Han, ia pun terkejut dan marah.

“Keparat! Kiranya engkau setan buntung!” Lai Kwan memaki dan goloknya sudah menyambar, menjadi sinar putih yang menyilaukan dan mengeluarkan suara berdesing ketika golok itu membelah angin.

“Singggg...!”

Lai Kwan terkejut karena tiba-tiba lawannya lenyap. Cepat ia memutar tubuh dan mengelebatkan goloknya ke belakang, akan tetapi Han Han yang sudah berada di sebelah belakangnya mudah saja mengelak sambil berkata.

“Gu Lai Kwan, aku menjadi setan buntung karena engkau! Sekarang bukan maksudku datang untuk membalas dendam, sebab aku tidak mendendam kepadamu. Akan tetapi suruhlah Nirahai dan Ouwyang Seng keluar membawa adikku Lulu, kalau tidak... hemmm... siapa pun yang menghalangiku akan kubunuh, termasuk engkau!”

“Buntung sombong!” Lai Kwan malah menyerang lagi.

Melihat betapa pemuda bekas suheng-nya ini nekat, Han Han yang memang sedang berduka dan marah sekali menjadi gemas, akan tetapi ia masih tidak bergerak, hanya mengelebatkan tongkat bututnya menangkis sambil mengerahkan tenaga memutar tongkat itu.

“Trakkk! Aihhhhhh...!”

Lai Kwan terkejut bukan main. Betapa pun ia mempertahankan diri sambil mengerahkan tenaga, tetap saja ia terpelanting dan cepat ia bergulingan karena takut kalau-kalau Han Han menyerangnya. Akan tetapi Han Han masih berdiri tegak dan tenang. Melihat ini, sambil meloncat bangun Lai Kwan berteriak keras.

“Suhu...! Sian-kouw...! Harap bantu...!”

Setelah berteriak demikian Lai Kwan sudah menerjang lagi sambil mengerahkan semua tenaganya. Akan tetapi sekali ini ia berhati-hati, maklum bahwa lawannya yang buntung ini biar pun dahulu hanyalah seorang sute-nya, namun sekarang sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa.

“Syuuuttt... syuuuuttttt... singggggg!” Sinar berkilauan dari golok Lai Kwan menyambar ganas bertubi-tubi.

“Wuuuttttt!”

Tubuh Han Han sudah melayang lagi keluar dari ruangan depan menuju ke pekarangan. Lai Kwan mengejar dan Han Han berhenti di atas anak tangga depan ruangan. Lai Kwan yang memang memiliki ilmu kepandaian tinggi tidak memberi kesempatan kepadanya, sudah membacok lagi dengan goloknya mengarah kepala Han Han. Pemuda buntung ini tidak begitu mempedulikan Lai Kwan, hanya menundukkan muka mengelak sambil siap menghadapi lawan yang lebih tangguh, yang ia duga tentu akan muncul mendengar teriakan Lai Kwan.

Dan pada saat itu, terdengar suara lengkingan dahsyat dibarengi suara ringkik kuda dan muncullah Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dari pintu samping, langsung ia memukul ke arah Han Han dengan ilmu pukulan dahsyat Swat-im Sin-ciang! Juga tampak berkelebatnya bayangan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat. Nenek lihai itu melayang turun dari atas dengan jari tangan mencengkeram ke arah kepala Han Han menggunakan ilmu sakti Toat-beng Tok-ciang! Dan berbareng di saat itu juga, Lai Kwan sudah membabat ke arah kaki Han Han!

“Desss!”

Pukulan Ma-bin Lo-mo telah ditangkis oleh Han Han dengan telapak tangan kanannya. Sambaran golok Lai Kwan didiamkannya saja karena dalam gugupnya Lai Kwan menyerang ke bawah untuk membabat kaki Han Han, lupa bahwa kaki kiri Han Han telah tidak ada lagi sehingga goloknya menyerang angin kosong!

Han Han lebih memperhatikan cengkeraman si nenek ke arah kepalanya. Ia tidak mengelak, melainkan memapaki tubuh nenek yang menyerang dari atas itu dengan tongkatnya. Gerakan pertamanya menotok telapak tangan kiri nenek itu dan ketika Toat-beng Ciu-sian-li terkejut menarik kembali tangannya, Han Han melanjutkan serangan tongkatnya dengan totokan pada pinggang nenek itu.

“Aiiihhhhh!” Toat-beng Ciu-sian-li memutar tubuh di udara, berjungkir balik dan dari kedua tangannya menyambar dua buah gelang, yaitu senjata rahasia yang amat ampuh!

Han Han telah memutar tongkat menangkis bacokan susulan Lai Kwan dari belakang, dan kembali tangan kanannya menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo. Melihat datangnya sambaran dua buah senjata rahasia ini, teringatlah ia akan Kim Cu yang dahulu hampir tewas akibat senjata rahasia ini, maka ia menjadi gemas sekali. Kepalanya bergerak, rambutnya yang panjang menyambar ke depan dan... dua gumpal ujung rambutnya berhasil melibat dua buah gelang yang menyambar, kemudian secara kontan dan keras gelang-gelang itu ia kembalikan ke arah pemiliknya, menyambar dahi dan tenggorokan Ciu-sian-li yang menjadi terkejut.

Dewi Mabuk ini cepat mengelak sambil terus menubruk maju mengirim pukulan sakti dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya kembali mengarah ubun-ubun kepala Han Han dengan cengkeraman maut. Juga Ma-bin Lo-mo yang menjadi kagum dan terkejut menyaksikan gerakan Han Han yang mendapat kemajuan secara aneh dan hebat, kini telah membarengi menyerang dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang sekuatnya. Bukan main hebatnya serangan yang dilakukan secara berbareng oleh Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo ini, dahsyat dan mengingat bahwa keduanya merupakan datuk-datuk golongan hitam yang sudah mencapai tingkat di puncak, tentu saja amat sukar bagi lawan yang dikeroyok dua orang ini untuk dapat menyelamatkan diri dari serangan mereka yang dilakukan berbareng.

Namun betapa kaget dan heran hati kedua orang tokoh hitam ini ketika secara tiba-tiba tubuh Han Han lenyap dari tengah-tengah antara mereka, telah menghindarkan diri dengan sebuah loncatan yang luar biasa sekali, secepat kilat menyambar sehingga mereka berdua hampir tak dapat mengikuti dengan pandang mata mereka! Akan tetapi, Lai Kwan yang berada di luar gelanggang dapat melihat gerakan Han Han yang menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun, gerakan kilat yang membuat tubuhnya seperti mencelat dan keluar dari kepungan dua orang datuk hitam itu.

Gu Lai Kwan adalah murid Toat-beng Ciu-sian-li yang paling setia dan paling disayang oleh nenek itu dan oleh Ma-bin Lo-mo. Pemuda ini amat benci kepada Han Han karena sesungguhnya pemuda ini mencinta Kim Cu. Peristiwa yang menimpa diri Kim Cu sebagai akibat gadis itu membela Han Han, membuat Gu Lai Kwan menaruh dendam kebencian kepada Han Han. Maka kini melihat Han Han meloncat keluar dari kepungan kedua orang gurunya, Lai Kwan mengeluarkan bentakan nyaring dan menggunakan goloknya menyambut tubuh Han Han yang masih melayang di udara.

“Mampuslah engkau, manusia buntung keparat!” bentaknya, goloknya menyambar seperti naga mengamuk.

Han Han dapat melihat sinar maut terpancar dari pandang mata Gu Lai Kwan, maka ia pun membentak, “Begitu kejamkah hatimu?”

Biar pun tubuh Han Han baru meloncat dan kini disambut dengan serangan golok yang ganas, namun loncatannya itu memang merupakan keampuhan ilmunya yang mukjizat yang ia pelajari dari nenek Khu Siauw Bwee, maka sambil meloncat, ia melihat menyambarnya golok. Han Han lalu menggerakkan tongkatnya, dengan tenaga sinkang yang dahsyat tongkatnya menempel pada golok dengan sepenuhnya mengandung daya melekat! Betapa pun Lai Kwan berusaha menarik kembali goloknya, sia-sia saja karena goloknya telah melekat pada tongkat seperti berakar di situ!

Pada saat Lai Kwan menarik golok, tiba-tiba Han Han melepas golok itu sambil mendorong. Tak dapat ditahan lagi golok itu menyambar ke arah Gu Lai Kwan sendiri. Gu Lai Kwan terkejut, matanya terbelalak dan ia berusaha menggulingkan tubuhnya, namun golok di tangannya itu lebih cepat, tahu-tahu sudah membacok lehernya. Teriakan mengerikan seperti leher tercekik keluar dari mulut Lai Kwan dan tubuhnya yang tadi bergulingan itu rebah menelungkup, kepalanya miring secara aneh, golok masih di tangan dan tanah di bawah lehernya perlahan-lahan menjadi basah dan merah. Pemuda ini tewas oleh goloknya sendiri, lehernya hampir putus!

Peristiwa ini terjadi cepat sekali, hanya beberapa detik selagi tubuh Han Han masih mengapung di udara. Kini Han Han mencelat ke depan, tidak mempedulikan lagi kepada Gu Lai Kwan yang seolah-olah telah melakukan ‘bunuh diri’ dengan golok sendiri itu.

“Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, mundurlah! Aku tidak ingin bermusuhan denganmu atau dengan siapa pun juga!” bentak Han Han dan suaranya mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya sehingga dua orang datuk hitam itu sampai tercengang dan sejenak mereka itu memandang Han Han dengan mata terbelalak.

Akhirnya Toat-beng Ciu-sian-li memaki. “Bocah setan, murid murtad! Begini sikapmu terhadap bekas guru?”

Han Han mengerutkan keningnya. “Aku bukan muridmu lagi, Nenek yang bewatak ganas. Aku datang untuk mencari adikku, dan siapa pun dia yang menghalangi aku mencari adikku, akan kuhancurkan!”

Teringat akan Lulu, kembali Han Han menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. “Di mana Puteri Nirahai?! Hayo keluarlah dan serahkan Lulu kepadaku!”

Teriakannya ini amat nyaring sehingga bergema sampai jauh. Kembali Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li bergidik. Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini telah menjadi ahli waris Pulau Es dan memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, akan tetapi melihat pemuda ini setelah buntung kakinya menjadi makin lihai dan gerakan-gerakannya seperti orang yang pandai menghilang, benar-benar membuat mereka berdua menjadi ngeri!

Betapa pun juga, tentu saja dua orang yang menjadi tokoh dunia hitam itu tidak merasa takut dan mendengar tantangan Han Han terhadap Puteri Nirahai, mereka marah dan cepat menerjang lagi dengan hebatnya. Nenek itu selain menggerakkan kedua tangannya yang mengandung tenaga sakti Toat-beng Tok-ciang, juga menggerakkan rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya sebagai senjata yang ampuh dan aneh. Tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, persis seperti keganasan seorang kuntilanak dalam dongeng dunia setan. Ada pun Ma-bin Lo-mo yang sudah mengerti bahwa lawannya biar pun buntung dan masih amat muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia, juga telah menerjang maju dengan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang sekuat tenaga.

Han Han tidak ingin berkelahi dan tidak ingin pula bermusuh dengan mereka. Akan tetapi karena mereka berdua menghalangi usahanya mencari Lulu, ia menjadi marah dan cepat mainkan ilmu silatnya yang membuat tubuhnya mencelat ke sana ke mari dengan gerakan yang tak terduga-duga dan cepat bukan main. Kepala Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo menjadi pening karena harus mengikuti gerakan-gerakan kilat pemuda buntung itu dan setiap serangan mereka selalu mengenai tempat kosong. Dengan penasaran kedua orang itu menubruk dengan pukulan-pukulan sakti.

“Wuuuttt!” Pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung hawa dingin menyambar dari kiri.

“Singgg... syuuttt!” Serangan tangan ampuh beracun dari Ciu-sian-li dibarengi sambaran rantai gelang di telinganya tidak kalah ampuh dan berbahayanya.

Dua serangan ini menyambar dari kanan kiri ketika kaki buntung Han Han baru saja turun menyentuh tanah. Akan tetapi tiba-tiba saja Han Han kembali mencelat ke atas dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya, mengatasi kecepatan serangan kedua lawannya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menukik dari atas dan tongkatnya melakukan dua kali totokan ke arah ubun-ubun kepala dua orang pengeroyoknya.

“Hayaaa...!” Ma-bin Lo-mo berseru kaget dan cepat menggulingkan tubuhnya yang ia lempar ke atas tanah sambil berteriak.

“Aiiihhhhh...!” Toat-beng Ciu-sian-li juga mengelak, melempar tubuh bagian atas ke belakang lalu berjungkir balik sampai lima kali sehingga rambutnya menjadi awut-awutan dan saling belit dengan kedua rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya.

Pada saat itu, serombongan pasukan pengawal datang berlari dan mengurung Han Han. Jumlah mereka lebih tiga puluh orang, semua bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat dan bertubuh kuat. Pada waktu itu, yang berada di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok hanyalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan muridnya yang terkasih, Gu Lai Kwan, ada pun tokoh-tokoh lain telah ikut membantu penyerbuan ke Se-cuan. Ketika melihat pemuda buntung mengamuk, semua pasukan pengawal dikerahkan.

Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri bersembunyi sambil mengintai. Ia menjadi gelisah bukan main. Betapa pun juga, pembesar ini masih mengharapkan kemenangan karena di situ terdapat dua orang tokoh sakti dan di lubuk hatinya ia tidak percaya apakah seorang pemuda yang buntung kakinya akan mampu melawan Ciu-sian-li serta Ma-bin Lo-mo dan puluhan orang pasukan pengawal.

Akan tetapi Han Han sudah marah sekali. Pemuda ini mengamuk secara menggiriskan hati. Tubuhnya berkelebat, lebih banyak di udara dari pada di darat, karena setiap kali ujung tongkat atau ujung kaki tunggalnya menyentuh sesuatu, baik tanah, pundak atau kepala lawan, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, seperti capung bermain di atas bunga-bunga di permukaan air, cepatnya seperti kilat sehingga setiap kali tubuhnya menukik ke bawah tentulah roboh dua tiga orang pengawal secara berbareng, menjadi korban ujung tongkat atau kedua tangannya!

Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li menjadi marah dan penasaran sekali, juga mereka berdua merasa malu mengapa mereka tidak mampu merobohkan pemuda buntung itu, padahal dibantu puluhan orang pengawal. Ma-bin Lo-mo meringkik keras dan kedua tangannya mendorong ke arah Han Han ketika pemuda itu turun ke atas tanah.

“Wuuusssss!” Angin yang mengandung hawa dingin sekali menyambar.

Han Han sudah menangkap seorang pengawal dan melemparkan ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh pengawal itu terbanting kaku, darahnya membeku, mukanya biru! Dan seorang pengawal lain roboh pula karena oleh Han Han dipergunakan untuk menangkis pukulan beracun Ciu-sian-li, roboh dengan tubuh yang menghitam terkena hantaman pukulan Toat-beng Tok-ciang!

Ketika para pengawal menubruk dengan senjata mereka, Han Han sudah mencelat ke atas lagi, meloncat sambil menyambar dua orang pengawal, kemudian ketika tubuhnya membalik, dua orang itu ia lemparkan ke arah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, disusul tubuhnya yang meluncur dengan serangan kilat.

Dua orang kakek dan nenek itu terkejut. Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda buntung yang lihai itu menyusul dengan serangan, maka apa boleh buat mereka menangkis keras sehingga dua orang pengawal itu terbanting roboh dengan tulang-tulang iga remuk. Benar saja seperti yang mereka duga, tubuh Han Han menyambar seperti seekor burung garuda, dan saking cepatnya hanya tampak bayangan berkelebat. Dua orang datuk hitam ini cepat meloncat untuk mengelak, namun masih kurang cepat sehingga pukulan tangan Han Han yang amat panas karena mengandung inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang itu telah mampir di dada Ma-bin Lo-mo sedangkan ujung tongkatnya telah menotok pundak Toat-beng Ciu-sian-li.

“Hyaaaaahhhhh...!”

“Haiiikkkkk...!”

Ma-bin Lo-mo terjengkang dan bergulingan, mukanya menjadi pucat sekali dan dadanya sesak, terasa panas seperti dibakar. Ada pun nenek sakti itu juga terbanting ke belakang, cepat duduk bersila untuk menyelamatkan nyawanya karena dia telah terkena totokan yang hebat. Kalau saja Han Han tidak ingat bahwa kedua orang itu pernah menjadi gurunya, biar pun pada saat itu ada puluhan orang pengawal yang menerjangnya, tentu ia akan mudah saja melanjutkan serangan membunuh kedua orang datuk hitam itu. Akan tetapi Han Han tidak ingin membunuh mereka dan dia hanya menggerakkan tangan dan tongkatnya, melempar-lemparkan para pengawal seperti orang melempar-lemparkan rumput saja.

Gegerlah para pengawal dan mereka mundur-mundur dengan muka ketakutan. Pemuda buntung itu terlalu kuat bagi mereka, seperti sekumpulan nyamuk melawan api saja. Melanjutkan pengeroyokan sama artinya dengan membunuh diri bagi mereka. Ada pun Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah menderita luka tidak berani melanjutkan pertandingan sebelum mengobati luka mereka, maka mereka berdua pun sudah lenyap memasuki gedung itu, menyelinap di antara sisa para pengawal yang hanya berani mengurung dari jauh sambil bersiap-siap untuk melarikan diri apa bila Han Han mengejar. Namun pemuda itu tidak mengejar, hanya berdiri tegak, bersandar pada tongkatnya, menengadah dan mengeluarkan suara nyaring memekakkan telinga.

“Puteri Nirahai! Kembalikan adikku...!”

Setelah beberapa kali berteriak tanpa ada jawaban, Han Han lalu meloncat ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Melihat ini, biar pun hati mereka dicekam rasa gentar dan ngeri, namun para pengawal tentu saja segera menghadang dan berusaha mencegah pemuda buntung itu memasuki gedung. Han Han mengeluarkan seruan keras dan begitu tongkatnya berkelebat, para pengawal itu roboh terpelanting ke kanan kiri seperti disambar kilat dan mereka tidak mungkin dapat menghalang lagi ketika pemuda itu berloncatan cepat melesat ke dalam gedung. Sambil berteriak-teriak para pengawal ini kalang kabut mengejar ke dalam.

Han Han sudah marah sekali. Dia mengamuk seperti gila, menggeledah seluruh kamar gedung itu, mencari Ouwyang Seng dan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Setiap orang pengawal yang berusaha menerjangnya dirobohkan dengan sekali gebrakan saja. Namun hasil penggeledahannya sia-sia. Tidak tampak batang hidung Ouwyang Seng yang dicarinya. Ketika ada lima orang perwira pengawal dengan nekat menerjangnya, ia melompat ke atas dan dari atas sinar tongkatnya bergulung-gulung, empat orang perwira roboh dan seorang lagi ia jambak rambutnya dan ia seret ke sudut ruangan. Dengan ujung tongkat ditodongkan di leher perwira itu ia membentak.

“Di mana Ouwyang Seng? Hayo jawab!”

Wajah perwira itu pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia dipaksa jatuh berlutut. Dengan napas sengal-sengal ia menjawab, “Ham... hamba... tidak tahu. Sudah lama tidak berada di sini...”

“Mana Ouwyang Cin Kok?”

“Tadi... ketika ribut-ribut... beliau lari... mungkin ke istana...”

“Dan di mana kakek dan nenek tadi? Mana Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li?”

“Lari... mereka lari... ke istana...”

Han Han menjadi sebal dan marah, tubuhnya bergerak dan perwira itu sudah ia lemparkan ke sudut. Tubuh perwira itu menabrak dinding dan tak dapat bangun lagi karena pingsan saking takutnya. Han Han meloncat keluar dan kini ia melesat amat cepatnya meninggalkan gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah diobrak-abriknya itu, menuju ke istana!

Kemarahan membuat manusia menjadi mata gelap dan lupa diri, lupa akan bahaya dan demikian pula dengan Han Han. Dia sedang marah sekali. Penderitaan batin yang ia alami bertubi-tubi ditambah kemarahannya mendengar bahwa adiknya ditawan membuat Han Han menjadi nekat dan tidak memakai perhitungan lagi, lupa bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang, betapa pun saktinya, untuk menyerbu seorang diri ke istana kaisar!

Tentu saja penjagaan di istana tidak dapat dibandingkan dengan penjagaan para pengawal di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pasukan pengawal yang dipusatkan menjaga istana amat besar jumlahnya, dan di situ pun banyak terdapat pengawal yang berilmu tinggi di samping keadaan istana sendiri yang merupakan semacam benteng yang amat kuat! Maka, begitu Han Han tiba di depan pintu gerbang, ia sudah dikurung oleh puluhan bahkan lebih dari seratus orang pengawal mengepung ketat, dan ia sudah dikeroyok secara hebat!

“Tangkap pemberontak!”

“Bunuh pemberontak!”

Para pengawal berteriak-teriak biar pun dalam beberapa gebrakan saja Han Han telah merobohkan tujuh orang pengeroyok, namun mereka tetap maju menerjang sehingga Han Han terpaksa memutar tongkat melindungi dirinya sambil berteriak.

“Aku bukan pemberontak! Aku hanya ingin bertemu dengan Puteri Nirahai dan minta supaya adikku dibebaskan!”

Tentu saja teriakannya sia-sia karena para pengawal sudah mendengar betapa hebatnya pemuda buntung ini mengacau gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Kini pemuda itu akan mencelakakan keluarga kaisar, ditambah pula Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri dengan dikawal oleh Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sudah lari mengungsi ke istana, karena itu di situ pun diadakan penjagaan yang ketat.

Biar pun para pengawal tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap ada yang roboh tentu tempatnya digantikan yang lain, namun dengan ilmunya yang mukjizat, yaitu gerakan kilat Soan-hong-lui-kun, Han Han dapat menembus pintu gerbang dan memasuki halaman istana. Betapa pun juga, dia tidak pernah dapat membebaskan diri dari kepungan yang makin lama makin ketat. Setelah dia memasuki pekarangan istana yang luas, pintu gerbang itu ditutup oleh para pengawal sehingga Han Han kini kehilangan jalan keluar!

“Bebaskan Lulu...! Lepaskan adikku!” Han Han berteriak-teriak dan mengamuk seperti seekor harimau terjebak.

Betapa pun juga, pemuda ini masih ingat bahwa kedatangannya bukan untuk menyebar kematian di antara para pengawal yang ia tahu hanya menjalankan kewajiban mereka menjaga keamanan istana. Oleh karena itu dia hanya merobohkan mereka tanpa membunuh dan hal ini tentu saja amat mudah ia lakukan karena pasukan pengawal itu bukan tandingannya. Hanya dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan dan tongkatnya saja sudah cukup baginya untuk membuat kocar-kacir seperti serombongan semut mengeroyok seekor jengkerik.

Kalau hanya pasukan pengawal yang mengepungnya, biar ditambah sampai seribu orang, kiranya akan mudah baginya untuk menyelamatkan diri dan keluar dari tempat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras, aba-aba dari komandan penjaga yang menyuruh semua pasukan mundur dan mengepung dari jarah jauh. Para pengawal yang tadinya mengeroyok secara mati-matian, kini mundur dengan hati lega dan tampaklah oleh Han Han munculnya orang-orang sakti yang sekarang menghadapinya. Mereka itu bukan lain adalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Lima orang tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian hebat!

Han Han maklum bahwa lima orang lawan ini merupakan lawan yang amat berat, terutama sekali dua orang hwesio Tibet yang merupakan wakil dari Pangeran Kiu yang mengkhianati perjuangan Bu Sam Kwi dan para orang gagah dengan mengadakan persekutuan gelap dengan pemerintah Mancu! Ia tersenyum dingin dan berkata.

“Ji-wi Losuhu, aku tidak mau mencampuri urusan kalian, tidak mau melibatkan diri dengan segala kepalsuan orang-orang yang mencari kedudukan melalui perang, fitnah, pengkhianatan dan lain-lain kekotoran lagi. Aku datang hanya untuk menuntut agar adikku Lulu yang ditawan Puteri Nirahai dibebaskan. Biarlah Puteri Nirahai sendiri keluar menemuiku! Aku datang bukan untuk mengacau, bukan untuk mencari musuh, melainkan semata-mata untuk menolong adikku. Bebaskan adikku, dan aku bersama adikku akan mengangkat kaki dari sini dan selamanya tidak akan mencampuri urusan perang yang terkutuk!”

“Murid murtad! Engkau masih harus menerima hukuman dariku!” Toat-beng Ciu-sian-li berteriak, penuh kemarahan karena nenek ini masih penasaran dan malu mengingat akan kematian muridnya terkasih, yaitu Gu Lai Kwan.

“Han Han, engkau bekas murid yang selain menyeleweng juga telah banyak melakukan penghinaan kepadaku, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” kata Ma-bin Lo-mo, sengaja mengeluarkan kata-kata besar untuk menutupi rasa malunya dan untuk berlagak di depan begitu banyak pengawal yang mengurung tempat itu.

“Ha-ha-ha, engkau bekas kacungku, kiranya engkau benar cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat yang menyembunyikan she Suma menjadi she Sie! Ha-ha-ha, mengingat bahwa engkau adalah Suma Han cucu Suma Hoat, biarlah aku akan mengampunimu asal engkau suka bertekuk lutut dan menyerah, Han Han!” kata Kang-thouw-kwi Gak Liat.

Sepasang mata Han Han mendelik. Dia memang tidak akan menyembunyikan nenek moyangnya, akan tetapi disebutnya nama kakeknya yang diam-diam amat dibencinya karena dianggapnya sebagai biang keladi keburukan nasibnya itu membuat hatinya mengkal sekali, namun ia tetap membungkam.

“Omitohud...! Suma-taihiap biar pun masih muda memiliki kepandaian hebat sekali, benar-benar mengagumkan hati pinceng. Perlu apa menyia-nyiakan usia muda dan berkepandaian tinggi? Menyerahlah, Suma-taihiap!” kata Thian Tok Lama.

“Benar ucapan suheng. Suma-taihiap, lebih baik menyerah dan kalau taihiap berjanji akan membantu menumpas pengkhianat Bu Sam Kwi, tentu yang mulia kaisar akan suka memberi ampun, bahkan menganugerahkan kedudukan kepadamu.” Thai Li Lama membujuk.

Namun semua ucapan keras menghina dan lembut membujuk itu sama sekali tidak mendatangkan kemarahan di hati Han Han. Ia berdiri tegak di atas kaki tunggalnya, memegang tongkal butut di tangan kiri dan menyilangkan lengan kanan di depan dada, kemudian berkata.

“Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan pemerintah mau pun dengan Ngo-wi Locianpwe yang merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Aku datang hanya untuk minta kebebaskan adikku!”

“Hiye-heh-heh! Bocah sombong! Kalau tidak diserahkan, kau mau apa?”

“Akan kurebut dengan paksa dan kuusahakan sampai aku mati.”

“Pemuda buntung sombong!” Toat-beng Ciu-sian-li sudah menggerakan rantai gelang di kedua telinganya sehingga terdengar suara berdencingan nyaring dan menggetarkan hati para pengawal yang mengurung tempat itu sambil berjaga-jaga, menutup jalan keluar pemuda buntung itu.

“Omitohud, betapa tabahnya!” Thian Tok Lama yang gendut itu berseru memuji karena benar-benar pendeta dari Tibet ini merasa kagum sekali. “Apakah taihiap berani melawan kami sedangkan tempat ini telah dikurung oleh ribuan orang pengawal?”

Han Han menoleh ke sekelilingnya. Ia melihat bahwa pasukan pengawal kini bertambah banyak, tentu ada dua tiga ribu orang banyaknya. Ketika ia menyapu keadaan di seluruh halaman istana dengan pandang matanya yang tajam, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di puncak genteng istana, akan tetapi lenyap lagi, entah bayangan manusia ataukah bukan.

“Thian Tok Lama, bagiku persoalannya bukan berani atau takut, melainkan benar atau salah. Kalau aku berpijak pada kebenaran, tidak ada lagi kata-kata takut, karena mati dalam kebenaran adalah mati yang terhormat. Kalau aku benar, biar menghadapi iblis sekali pun aku tidak takut, sebaliknya kalau aku salah, biar menghadapi seorang anak kecil pun aku tidak berani. Aku datang untuk membebaskan adikku, dan hal ini benar, maka aku tidak takut. Terserah kepada Ngo-wi, apakah akan menonjolkan kegagahan dengan cara mengeroyok aku dibantu pula oleh ribuan orang pasukan pengawal!” Ucapan terakhir Han Han ini mengandung ejekan yang amat tajam sehingga wajah kelima orang tokoh beser itu menjadi merah.

Memang harus diakui bahwa peristiwa yang kini mereka hadapi merupakan peristiwa yang ajaib dan amat memalukan. Biasanya setiap orang di antara mereka berlima yang telah memiliki kesaktian tinggi, tidak pernah atau jarang sekali menemui tanding sehingga mereka bersikap angkuh dan menganggap diri sendiri sebagai tokoh tingkat tinggi yang tidak mau sembarangan bergerak, apa lagi hendak mengeroyok lawan.

Dan sekarang, mereka berlima menghadapi seorang pemuda yang selain masih amat muda dan patut menjadi cucu mereka, juga yang hanya memegang sebatang tongkat butut dan kakinya tinggal satu! Menghadapi seorang lawan muda penderita cacat dengan masih mengandalkan pengurungan ribuan orang pengawal! Benar-benar merupakan peristiwa yang tak pernah mereka mimpikan dan amatlah merendahkan nama besar mereka!

“Omitohud, orang muda yang sombong. Kau kira pinceng tidak berani menghadapimu seorang diri?” Thai Li Lama menjadi tersinggung sekali dan ia sudah meloncat maju menghadapi Han Han.

Empat orang tokoh yang lain juga merasa jengah dan tersinggung, maka mereka ini hanya menonton, ingin melihat apakah pendeta Tibet yang kurus itu akan dapat mengatasi Han Han si pemuda buntung yang benar-benar merupakan lawan aneh yang baru pertama kali mereka jumpai selama hidup mereka yang sudah setengah abad lebih.

Han Han mengerti bahwa Thai Li Lama adalah seorang yang selain pandai ilmu silat aneh dari barat, juga memiliki kepandaian ilmu hitam dan ilmu sihir, maka ia bersikap waspada dan sudah bersiap dengan tongkat dilintangkan di depan dada, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka berada di atas kepala, telapak tangannya menghadap ke langit, diam-diam ia telah mengerahkan sinkang di tubuhnya, yang berputaran dan siap disalurkan untuk menghadapi lawan yang kuat ini.

Akan tetapi aneh, pendeta Tibet itu tidak segera bergerak menyerang, melainkan berdiri tegak dan kaku, kepala lurus, kedua lengan lurus di kanan kiri tubuhnya, kemudian terdengar suaranya, halus seperti membujuk.

“Suma-taihiap, kau turutilah permintaanku, tundukkan kepalamu...”

Han Han merasa ada getaran aneh terbawa oleh suara ini, begitu lembut mengelus perasaannya, mendatangkan rasa terharu dan tidak tega untuk menolak permintaan itu. Akan tetapi kesadarannya membisikkan bahwa kakek ini tentu menggunakan ilmu sihir, maka sebaliknya dari menundukkan kepala, ia malah menengadah, memandang ke angkasa! Benar-benar merupakan gerakan kebalikan dari pada apa yang diminta hwesio Tibet itu! Merupakan tantangan!

“Omitohud, agaknya taihiap hendak menggunakan kekerasan. Baiklah. Suma Han, kau pandang mataku kalau berani!”

Andai kata ucapan yang dikeluarkan merupakan perintah nyaring dan berwibawa ini tidak diembel-embeli ‘kalau berani’, tentu Han Han tidak sudi menurut, sungguh pun di dalam suara itu terkandung wibawa dan tenaga mukjizat yang seolah-olah memaksanya dan menguasai perasaan dan pikirannya. Akan tetapi kata ‘kalau berani’ membuat Han Han penasaran. Mengapa tidak berani? Ia segera memandang ke depan, menentang pandang mata hwesio itu. Dua pasang sinar mata bertemu!

Semua orang menahan seruan saking kaget dan seram melihat dua pasang pandang mata yang luar biasa itu. Sepasang mata Thai Li Lama yang sipit itu berubah bundar dan seolah-olah ada sinar terang keluar dari sepasang matanya, sedangkan sepasang mata Han Han menjadi tajam seperti mengandung api!

Thai Li Lama berkemak-kemik dan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguasai kemauan dan pikiran Han Han melalui pandang matanya, menyerang pemuda itu dengan ilmu i-hun-to-hoat untuk membetot semangat (hypnotism). Tetapi Han Han yang merasa betapa sinar mata itu seolah-olah menembus jantungnya, cepat membulatkan tekadnya untuk tidak tunduk dan dia malah membalas dengan pandang mata berapi-api.

Di luar kehendak manusia, memang terjadi keanehan yang mukjizat dalam diri pemuda buntung ini. Suatu kekuatan gaib telah dimilikinya semenjak mala petaka menimpa keluarganya dan daya kemauannya menjadi luar biasa sekali. Kemauan yang mukjizat ini tidak saja membuat dia tidak mungkin dapat ditembusi oleh ilmu hitam yang hendak menguasainya, bahkan kemauannya yang amat kuat ini dapat memancar ke luar dan masih cukup kuat untuk menguasai orang lain!

Kini Han Han yang maklum apa yang sedang dilakukan lawannya, membulatkan tekadnya untuk melawan dan menolak getaran halus yang keluar dari sinar mata Thai Li Lama. Ketika ia disuruh memandang, dia memang melakukannya, akan tetapi sama sekali bukan berdasarkan tunduk akan perintah itu, melainkan karena memang timbul atas kehendaknya sendiri hendak ‘mengadu kekuatan pandang mata’ dengan hwesio Tibet itu. Maka terjadilah ‘pertandingan’ yang luar biasa, lebih hebat dari pada pertandingan adu kekuatan sinkang karena yang diadu kini adalah kekuatan batin yang getarannya bergelombang, terasa oleh semua orang yang hadir sehingga mereka itu terpesona seperti kemasukan pengaruh mukjizat.

Kedua pandang sinar mata itu masih saling dorong, saling banting dan berusaha sekuatnya untuk menundukkan lawan, kalau kelihatan tentu amat seru seperti dua ekor naga saling serang. Keduanya tak pernah berkedip, bahkan mata mereka makin lama makin lebar, dengan sinar yang berapi-api. Diam-diam Thai Li Lama terkejut bukan main. Dia tadinya hanya menganggap bahwa pemuda buntung itu amat lihai ilmu silatnya, dan siapa mengira bahwa ternyata pemuda ini pun agaknya seorang ahli hoat-sut, ahli sihir yang memiliki kekuatan batin luar biasa sekali!

Biasanya, betapa pun pandai silat lawannya, sekali ia menggunakan ilmu membetot semangat ini, lawannya tentu akan mudah ia tundukkan. Thai Li Lama menjadi kaget dan penasaran melihat kenyataan betapa sama sekali ia tidak mampu menundukkan pemuda buntung ini, bahkan seolah-olah sinar matanya melekat pada sinar mata pemuda itu, sukar dilepaskan lagi. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan ia menggunakan seluruh kepandaian sihirnya yang dahulu ia pelajari dari guru-guru besar dari India di lereng Pegunungan Himalaya. Tiba-tiba ia mengeluarkan gerengan seperti suara seekor beruang dan membentak.

“Suma Han, lihat baik-baik siapa aku? Akulah manusia naga dari Himalaya, berkepala tiga berlengan delapan! Lekas kau berlutut dan menyerah!”

Dari kepala pendeta Tibet itu mengepul uap putih kebiruan dan terdengarlah suara berisik ketika pasukan itu berseru dan berbisik penuh ketakutan sambil memandang ke arah Thai Li Lama dengan mata terbelalak dan muka pucat, tangan menuding dan kaki gemetar. Siapa orangnya yang tidak akan akan merasa ngeri dan takut?

Pendeta Tibet yang tadinya bertubuh kurus kecil dan wajahnya sama sekali tidak menimbulkan rasa gentar itu kini telah berubah menjadi makhluk yang luar biasa. Tubuhnya masih tidak berubah, akan tetapi kepalanya berubah menjadi kepala naga, yang hidungnya menghembuskan uap biru. Kepala naga yang mengerikan itu bukan hanya sebuah, melainkan ada tiga buah! Dan lengannya bukan dua lagi, melainkan bertumbuh enam buah lengan tangan lain di pundaknya, sehingga lengannya berjumlah delapan!

Bagi Han Han, karena penglihatannya dilindungi oleh perisai kemauan yang membaja, perubahan pada diri Thai Li Lama itu hanya tampak suram-suram saja. Pemuda ini mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya. Pemuda ini tidak pernah mempelajari hoat-sut, tidak tahu bagaimana untuk mempergunakan kekuatan batinnya dalam ilmu ini, akan tetapi ia mengerti bahwa kalau ia mengerahkan kemauannya, maka ia tidak akan dapat terpengaruh orang lain bahkan dapat menguasai kemauan orang. Kini ia mengerti bahwa lawannya menggunakan ilmu sihir yang aneh, maka setelah mengerahkan seluruh tenaga kemauannya, ia tertawa dan berkata.

“Hemmm, Thai Li Lama, engkau ini seorang pendeta yang sudah tua, kenapa bersikap seperti anak kecil? Permainanmu ini hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, akan tetapi bagiku, engkau tetap Thai Li Lama yang biasa, berkepala hanya sebuah yang penuh dengan akal muslihat kotor dan berlengan dua yang tidak segan-segan melakukan perbuatan jahat!”

Semua pasukan yang mendengar ucapan Han Han yang keras dan berwibawa ini melihat perubahan aneh pada diri Thai Li Lama. Sekarang pendeta itu berubah menjadi biasa kembali dan kedua orang lawan itu masih melanjutkan mengadu kekuatan melalui sinar mata yang berapi-api! Akhirnya Thai Li Lama tidak kuat menahan, kepalanya berdenyut-denyut amat peningnya dan dari kedua matanya keluar air mata karena saking panas dan pedas rasa kedua matanya. Ia terhuyung dua langkah, dan tiba-tiba memekik sambil memukulkan sebelah tangannya ke arah dada Han Han, sedangkan tangan yang lain membuat gerakan seperti orang menulis huruf.

Han Han sudah siap sedia. Ia melengking nyaring dan kedua tangannya juga mendorong ke depan, sebelah kiri dengan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan yang kanan dengan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang! Dilanda dua macam tenaga yang berhawa amat dingin dan amat panas ini, Thai Li Lama terlempar ke belakang dan roboh terguling-guling. Ia dapat meloncat bangun lagi, akan tetapi napasnya terengah-engah dan mukanya pucat!

Melihat keadaan sute-nya, Thian Tok Lama sudah merendahkan tubuhnya yang gendut, perutnya mengeluarkan suara berkokok seperti ayam biang, dan kedua tangannya menyerang dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang ampuhnya menggila itu. Tangan kanannya berubah biru dan dari kedua telapak tangan itu menyambar uap hitam ke arah Han Han. Pada saat yang hampir sama, tiga orang tokoh sakti yang lain, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menerjang dengan pukulan-pukulan sakti mereka ke arah Han Han.

Namun semua pukulan sakti yang membawa maut itu luput. Pada saat yang tepat, tubuh Han Han telah lenyap dan pemuda buntung yang amat sakti ini telah melesat ke atas, kemudian menukik turun dengan tongkatnya yang diputar menjadi sinar kehijauan melingkar-lingkar dan menyambar ke arah kepala lima orang pengeroyoknya! Lima orang tokoh besar yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang sudah mencapai puncaknya itu cepat mengelak dan melakukan pengurungan ketat dari lima penjuru, seolah-olah secara otomatis membentuk ngo-heng-tin (barisan lima anasir).

Terjadilah pertandingan yang amat seru dan luar biasa. Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak melancarkan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang berhawa panas sekali. Juga Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee Si Iblis Muka Kuda menghujankan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin seperti salju. Toat-beng Ciu-sian-li dengan penuh amarah menggerakkan sepasang rantai gelang di kedua telinganya yang merupakan sepasang senjata ampuh, dibantu sambaran rambutnya dan serangan kedua tangan penuh kuku runcing dengan pukulan Toat-beng Tok-ciang yang beracun. Karena maklum akan kelihaian pemuda buntung itu, kedua orang pendeta Lama dari Tibet juga tanpa segan-segan lagi menyerang dengan pukulan-pukulan sakti mereka.

Han Han mengerti sepenuhnya bahwa dia terancam maut. Dia mengenal kehebatan lima orang lawannya. Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, dia yakin akan dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi dikeroyok lima orang yang memiliki kepandaian setinggi itu benar-benar amat berbahaya dan selama hidupnya, baru sekali ini ia benar-benar dihadapkan dengan pengeroyokan lawan yang menggiriskan! Terpaksa pemuda buntung yang amat sakti ini mengerahkan seluruh kepandaiannya yang pernah dipelajarinya dan mengerahkan seluruh tenaga sinkang yang berada di tubuhnya untuk melindungi diri dan juga untuk balas menyerang.

Pada saat itu senja telah datang dan keadaan cuaca mulai gelap. Di atas wuwungan istana, jauh tinggi di puncaknya, terdapat dua orang yang menonton pertandingan itu penuh takjub. Mereka ini bukan lain adalah Puteri Nirahai dan gurunya, Puteri Maya. Tadi mereka keluar dari istana ketika mendengar akan kekacauan di depan istana, akan tetapi melihat bahwa yang datang mengacau hanya seorang pemuda buntung dan yang menghadapi pemuda buntung itu sudah amat banyak, hati Maya menjadi tertarik, maka ia memegang tangan muridnya diajak meloncat naik ke atas wuwungan dan menonton...


BERSAMBUNG KE JILID 19


Pendekar Super Sakti Jilid 18

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PENDEKAR SUPER SAKTI

BAGIAN 18

Begitu Han Han membalikkan tubuhnya, ketiga orang sakti itu menyerangnya. Gerakan pedang di tangan Ma Su Nio cepat bukan main sehingga pedangnya merupakan sekelebatan sinar menyilaukan mata. Juga gerakan golok di tangan kedua orang Hek-pek Giam-ong mendatangkan angin berdesir, tanda bahwa tenaga mereka kuat sekali. Tiga orang ini menyerang dari depan, kanan dan kiri Han Han dan begitu senjata mereka meluncur dengan tangan kanan, tangan kiri mereka menyusul dengan pukulan Toat-beng Hwi-ciang dan Hiat-ciang!

Han Han yang baru saja membalikkan tubuh melihat berkelebatnya tiga batang senjata tajam itu, cepat menangkis dengan putaran tongkatnya, tidak menyangka bahwa tiga orang lawannya itu menyusulkan pukulan-pukulan tangan kiri yang amat kuat, maka ia hanya menangkis pedang dan golok.

“Cring-trang-tranggg...!”

Tiga batang senjata lawan ini terpental dan hampir terlepas dari pegangan, akan tetapi pukulan tiga tangan yang mengandung hawa sakti kuat, menyambar ke tubuh Han Han. Pemuda ini mengerahkan sinkang dan menerima pukulan itu. Tubuhnya bergoyang-goyang.

Melihat betapa tubuh Han Han bergoyang-goyang akibat sambaran tiga buah pukulan jarak jauh, Ma Su Nio menjadi girang dan mengira bahwa pemuda buntung yang amat lihai itu telah terluka. Ia mengeluarkan pekik melengking kemudian menubruk maju, pedangnya menusuk ke arah lambung kiri Han Han dan tangan kirinya dengan tenaga Hiat-ciang sepenuhnya mencengkeram ke arah leher.

Hebat bukan main serangan Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ini, dan entah mana yang lebih berbahaya antara pedang di tangan kanan ataukah pukulan Hiat-ciang tangan kirinya. Terjangan ganas yang merupakan serangan maut dari Ma Su Nio ini masih disusul oleh serbuan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang siap-siap mendekati dan mencari kesempatan baik sebagai perkembangan serangan Ma Su Nio.

Han Han melihat betapa para prajurit Mancu sudah mengepung rapat tempat itu, melihat pula sikap para tokoh kaum sesat yang siap hendak membunuhnya. Ia maklum bahwa makin lama akan makin berbahayalah keadaannya. Kini menghadapi terjangan Ma Su Nio, ia mengeluarkan seruan keras, tongkatnya bergerak ke pinggir menangkis dan terus menggunakan sinkang menempel pedang wanita itu. Pukulan Hiat-ciang yang mengeluarkan bau amis itu tidak ia elakkan, melainkan ia papaki dengan tangan kanannya yang terbuka telapak tangannya.

“Dukkk! Plakkk!”

Pedang dan tongkat bertemu dan melekat, kedua tangan pun bertemu dan melekat. Ma Su Nio kembali mengeluarkan suara melengking nyaring ketika merasa betapa pedangnya melekat pada tongkat dan betapa tangan kirinya yang menempel tangan kanan pemuda itu, pertama-tama terasa menggigil kemudian terasa betapa hawa yang amat dingin menjalar masuk ke tubuh melalui lengan kirinya.

“Aiiihhhhh!” Ia berseru, melepaskan pedangnya yang masih menempel tongkat lawan, menggunakan tangan kanannya untuk menghantamkan lagi pukulan Hiat-ciang yang lebih hebat ke arah dada Han Han.

“Bukkkkk!”

Han Han sengaja menerima pukulan tangan kanan wanita itu dan... telapak tangan Ma Su Nio menempel pada dadanya, langsung hawa dingin menjalar memasuki lengan kanan wanita itu. Ma Su Nio mengerahkan sinkang dan berusaha menarik kembali kedua lengannya, namun terlambat. Hawa dingin yang tersalur keluar dari tubuh Han Han adalah inti dari Im-kang yang dihimpunnya di Pulau Es, maka hawa dingin yang amat luar biasa itu telah melukai jantung Ma Su Nio yang seketika menjadi seperti kaku dan membeku!

“Setan buntung!” Bentakan ini keluar dari mulut Pek-giam-ong.

Iblis yang berjuluk Raja Maut Putih ini mencelat maju hendak menolong sumoi-nya. Goloknya menyambar ke tengkuk Han Han dengan kecepatan seperti kilat menyambar, sedangkan Hek-giam-ong juga sudah menusukkan goloknya untuk menyodet perut pemuda itu dari kanan.

Han Han melepaskan Ma Su Nio sambil meloncat mundur. Tubuh wanita itu roboh tak bernyawa lagi, roboh seperti patung kayu yang kaku. Sambil meloncat mundur Han Han merendahkan tubuh, tongkatnya menyelinap dari bawah, tangan kanannya didorongkan ke atas menggunakan hawa pukulan menangkis bacokan golok Pek-giam-ong.

Pek-giam-ong menjerit ngeri ketika tahu-tahu orang yang dibacok tengkuknya itu sekali mengangkat tangan membuat goloknya tertahan dan tanpa dapat ia elakkan lagi, tongkat Han Han yang tadi bergerak dari bawah, melemparkan pedang Ma Su Nio yang tadi menempel di ujung tongkat.

Pedang itu meluncur seperti anak panah dari jarak dekat, menembus perut Pek-giam-ong sampai ke punggung. Pek-giam-ong membelalakkan mata melihat ke perutnya, kemudian dengan kedua tangannya ia mencabut pedang itu dan... berbareng dengan menyemburnya darah dari perut dan punggungnya, iblis muka putih ini menubruk maju!

Han Han menangkis pedang itu, sekaligus ia mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan itu tergelimpang dan tewas. Cara Han Han menendang amatlah mengherankan, tubuhnya mencelat ke atas, di udara kakinya bergerak dan tendangannya seperti tendangan ayam jago bertanding. Sambil menendang, ia telah menyambar pedang Ma Su Nio dengan tangan kanan, pedang yang oleh Pek-giam-ong dipergunakan untuk menyerangnya dalam keadaan sudah sekarat tadi.

Hek-giam-ong sudah menubruk dengan kemarahan meluap-luap. Melihat kematian dua orang saudara seperguruannya, ia menjadi marah sekali. Tanpa mempedulikan sesuatu, maklum bahwa dengan pukulan dan senjata akan percuma terhadap pemuda buntung itu, ia telah membuang goloknya dan menubruk maju memeluk pinggang Han Han dari belakang.

Sebelum pemuda buntung ini sempat menghindarkan diri karena baru menghadapi Pek-giam-ong yang ditendangnya, tahu-tahu tubuhnya telah dipeluk oleh sepasang lengan yang panjang hitam dan amat kuat dari Hek-giam-ong! Raksasa hitam ini bukan hanya memeluk, bahkan kedua tangannya dengan jari-jari tangan mengandung Toat-beng Hwi-ciang itu telah mencengkeram, yang kanan mencengkeram perut, dan yang kiri mencengkeram tenggorokan Han Han.

Sedetik pemuda buntung ini bingung juga menghadapi serangan tidak lumrah ini. Namun tentu saja dia tidak kehilangan akal. Mula-mula tubuhnya secara otomatis telah menggerakkan sinkang untuk melindungi perut dan tenggorokannya, kemudian kakinya dan tongkatnya menekan tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas tinggi sekali.

Semua prajurit Mancu dan para tokoh yang menyaksikan pertandingan ini menahan napas. Mereka melihat betapa tubuh Hek-giam-ong ikut terbawa mencelat ke atas dan tampaklah betapa pemuda buntung itu berkali-kali melakukan gerakan jungkir-balik seperti kitiran di atas udara sehingga sukar diikuti pandang mata. Tiba-tiba bayangan yang berputaran itu pecah dua dan melayanglah tubuh Hek-giam-ong yang terbanting jatuh ke atas tanah dengan suara berdebuk dan dalam keadaan tak bernyawa lagi, kepalanya pecah oleh pukulan ujung tongkat Han Han.

Han Han melesat ke depan melampaui kepala pasukan Mancu. Akan tetapi ketika ia melayang lagi ke atas pohon, tiba-tiba ada desir angin yang amat hebat dari pohon itu. Kiranya di atas pohon itu telah berdiri seorang pendeta gendut yang bukan lain adalah Thian Tok Lama dan yang mengirim pukulan ke arahnya. Pendeta Lama itu berdiri setengah berjongkok di atas dahan pohon yang besar, perutnya mengeluarkan bunyi berkokok seperti suara ayam betina dan kedua lengannya didorongkan ke arah tubuh Han Han yang sedang mencelat ke atas. Itulah pukulan jarak jauh Hek-in-hwi-hong-ciang yang amat dahsyat. Agaknya kakek ini sudah mengenal gerakan-gerakan Han Han yang cepat seperti kilat, maka ia sengaja menghadangnya dari atas pohon. Angin yang keras dan panas dengan uap hitam menyambar ke arah tubuh Han Han.

Han Han terkejut sekali, maklum bahwa lawan tangguh ini melancarkan pukulan yang dahsyat dan berbahaya selagi tubuhnya masih di udara. Namun tidak percuma dia digembleng oleh wanita sakti buntung Khu Siauw Bwee dan telah mewarisi ilmu gerak kilat Soan-hong-lui-kun. Sambaran angin pukulan yang dahsyat itu dapat ia pergunakan sebagai tenaga landasan, dan sambil mengerahkan sinkang di tangan kanan yang didorongkan ke depan menangkis, ia dapat ‘meminjam’ hawa pukulan lawan membuat tubuhnya mencelat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu luput.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara kagum, “Omitohud...!”

Dari pohon sebelah kiri menyambar pula angin pukulan yang biar pun tidak sehebat Hek-in-hwi-hong-ciang tadi, namun dibarengi bentakan, “Robohlah!”

Luar biasa sekali bentakan ini karena Han Han merasa seolah-olah ia terpaksa harus roboh! Biar pun ia sudah menggerakkan lengan menangkis dan mendapat kenyataan bahwa serangan dari pendeta kurus Thai Li Lama ini tidaklah sekuat serangan Thian Tok Lama tadi, namun di dalam bentakan itu terkandung wibawa dan kekuatan yang lebih berbahaya dari pada pukulan itu! Seperti mimpi Han Han terpelanting, seolah-olah lebih parah terkena ‘pukulan’ bentakan itu pada lubuk hatinya.

Masih untung bahwa Han Han memiliki kekuatan batin yang aneh. Andai kata tidak demikian, tentu serangan tadi benar-benar akan membuat ia roboh terbanting karena pendeta kurus ini telah menggunakan ilmunya yang hebat, yaitu Sin-kun-hoat-lek, semacam ilmu pukulan yang disertai ilmu sihir yang terkandung dalam bentakannya tadi. Dalam waktu dua detik saja setelah ia merasa tubuhnya melayang turun, Han Han sudah dapat menguasai dirinya dan cepat ia berjungkir-balik sehingga ketika turun ke tanah, ia berdiri tegak dengan kaki tunggalnya.

Akan tetapi, baru saja ia turun, kembali Thian Tok Lama dan Thai Li Lama sudah menyerangnya. Sekarang kedua orang pendeta Tibet itu menyerangnya dari atas tanah, dari kanan kiri. Thian Tok Lama masih menggunakan pukulan maut Hek-in-hwi-hong-ciang yang menyambar dari kanan, sedangkan pendeta kurus Thai Li Lama mengirim hantaman dari kiri sambil membentak lagi, “Robohlah!”

Han Han merasa tubuhnya tergetar, bukan hanya oleh bentakan, melainkan juga oleh hawa pukulan. Ia mengerahkan semua sinkang-nya, maklum betapa lihainya dua orang lawan itu dan secepat kilat ia menancapkan pedang rampasan dan tongkat di atas tanah kemudian mengembangkan kedua lengan ke kanan kiri mendorong kembali serangan lawan. Secara otomatis, tangan kiri Han Han mengerahkan tenaga inti es, sedangkan tangan kanan mengerahkan tenaga inti api. Memang pemuda ini memiliki sinkang yang sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga dia dapat memecah sinkang-nya menjadi dua, yaitu menggunakan tangan kiri dengan Im-kang dan tangan kanan dengan Yang-kang.

“Wuuut... wuuuttttt... desssssss!”

Pertemuan tenaga sakti yang amat dahsyat ini membuat tubuh Han Han tergetar, akan tetapi kedua orang pendeta Tibet juga terkejut dan mundur selangkah. Tubuh Thai Li Lama agak menggigil kedinginan, sedangkan wajah Thian Tok Lama menjadi merah sekali. Dalam detik berikutnya, mereka berdua sudah menambah tenaga dan memukul lagi, sambil melangkah dekat.

Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan berkelebat dan tubuh Han Han berikut pedang dan tongkatnya telah lenyap karena pemuda itu sudah mencelat ke atas. Hampir saja kedua orang pendeta sakti ini saling mengadu pukulan sendiri dan hanya karena tingkat mereka yang sudah amat tinggi membuat mereka dapat mengubah sasaran sehingga menyeleweng dan masing-masing hanya merasakan sambaran angin pukulan teman.

Han Han mencelat ke atas dengan niat hendak melepaskan diri dari kepungan, akan tetapi tiba-tiba puluhan batang anak panah menyambar dari atas pohon-pohon yang mengelilinginya. Ia makin terkejut, maklum bahwa pihak musuh telah melakukan persiapan sehingga barisan panah telah menutup jalan keluarnya melalui puncak-puncak pohon. Terpaksa ia memutar tongkatnya turun lagi, agak jauh dari situ.

Begitu ia turun, ia sudah dikepung lagi oleh puluhan orang prajurit Mancu. Senjata pasukan ini datang menyerangnya bagaikan hujan. Han Han makin marah. Ia memang tidak suka berkelahi dengan mereka, akan tetapi kalau dipaksa seperti itu, tentu saja ia harus membela diri mati-matian. Ia mengeluarkan seruan keras, tongkat dan pedang rampasannya ia gerakkan seperti kilat menyambar-nyambar sehingga dalam waktu singkat enam orang pengeroyok roboh dan tewas.

“Minggir...!” Bentakan ini keluar dari mulut Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Dua orang pendeta sakti dari Tibet ini maklum bahwa pemuda ini bukan lawan para prajurit itu dan hanya mereka berdua dan para tokoh sakti saja yang akan mampu menandinginya.

Han Han berdiri tegak, bersandar pada tongkat di tangan kirinya, sedangkan pedang rampasan yang sudah merah oleh darah itu ia pegang dengan tangan kanan. Kedua alisnya yang tebal dikerutkan, sepasang matanya tajam melirik ke arah lima orang sakti yang bergerak melangkah perlahan-lahan mengepungnya.

Mereka itu bukan lain adalah Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Bhong Lek si Muka Tikus dan Bhong Poa Sik yang kepalanya ada ‘telurnya’, yaitu sepasang saudara kakak beradik yang terkenal dengan julukan Tikus Kuburan, seorang kakek kurus kecil berjenggot panjang yang ia tidak kenal siapa, dan di bawah sebatang pohon, dengan cara berdirinya yang aneh, tampak Sin-tiauw-kwi Ciam Tek si Burung Hantu yang tidak ikut mengepungnya, hanya menonton dengan mata tak pernah berkedip seperti mata seekor burung bangau mengintai katak!

Han Han bersikap waspada. Ia dapat menduga bahwa di antara enam orang lawannya yang sakti ini, kedua orang pendeta Tibet dan Si Burung Hantu itulah yang agaknya paling lihai. Kedua Tikus Kuburan itu biar pun berkepandaian tinggi, namun bukan merupakan lawan tangguh, hal ini tampak bukan hanya dalam sikap mereka yang kelihatan gentar, juga terbukti bahwa mereka berdua memegang senjata.

Bhong Lek si Muka Tikus itu memegang senjata siang-kek (sepasang tombak bercabang) bergagang pendek, sedangkan adiknya Bhong Poa Sik yang kepalanya benjol sebesar telur itu memegang sebatang pedang. Orang ke tiga yang memegang senjata adalah kakek kurus kecil berjenggot panjang yang bertelanjang kaki, memegang sebatang rantai panjang yang ia putar-putar dengan kedua tangannya.

Aku harus dapat lebih dulu merobohkan tiga orang yang paling berbahaya itu, pikir Han Han. Musuh terlampau banyak. Kalau dia melawan mereka yang lebih lemah namun banyak jumlahnya sehingga nanti tenaganya akan habis untuk menghadapi tiga orang sakti itu, tentu dia akan celaka. Kalau dia berhasil merobohkan tiga orang lawan tangguh itu, dia akan selamat, yang lain-lain tidaklah berat untuk dihadapi dan dia akan dapat menyelamatkan diri.

Setelah berpikir demikian, Han Han mengeluarkan seruan melengking dari dalam pusar menembus dada dan tenggorokan, kemudian tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir-balik dan berputaran membingungkan para pengurungnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke arah Ciam Tek si Burung Hantu yang kelihatannya melenggut di bawah pohon, bersandar pada gagang sabitnya yang amat tajam.

Gerakan Han Han amatlah cepatnya karena memang dia mempergunakan gerak kilat dari Soan-hong-lui-kun sehingga Si Burung Hantu yang lihai itu pun kini menjadi amat terkejut. Dahulu, ketika ikut membantu Giam Kok Ma menjebak Han Han, Ciam Tek si Burung Hantu ini pernah mendapat kesempatan bergebrak sejurus menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li, dan ternyata kepandaiannya berimbang dengan nenek itu!

Karena itu, biar pun terkejut sekali, ia tidak kehilangan akal melihat tubuh pemuda buntung itu meluncur dan menusuknya dengan pedang rampasan. Ciam Tek si Burung Hantu tahu-tahu sudah meloncat naik pula. Senjatanya yang hebat berbentuk sabit itu berubah menjadi sinar menyilaukan, menyambar ke atas menangkis pedang rampasan yang dipergunakan Han Han untuk menyerangnya.

“Tranggggg...!”

Pedang rampasan di tangan Han Han patah menjadi dua, akan tetapi senjata sabit itu pun patah, bahkan Ciam Tek masih terhuyung-huyung ke belakang. Ia terkejut bukan main. Cepat ia menjatuhkan diri bergulingan dan setelah meloncat bangun, Ciam Tek sudah siap menghadapi lawannya yang buntung namun memiliki tenaga sinkang yang amat luar biasa itu.

Akan tetapi ketika Si Burung Hantu ini meloncat bangun, ia melihat Han Han telah dikeroyok dua oleh Thian Tok Lama dan Thai Li Lama! Kembali Ciam Tek tertegun dan memandang kagum. Dua orang pendeta Tibet yang terhitung suheng-suheng-nya karena dia pernah belajar di bawah satu guru dengan mereka itu, sudah ia ketahui kelihaian mereka. Namun kini mereka berdua maju berbareng, mengeroyok si pemuda buntung Han Han! Benar-benar hal yang amat aneh dan mulai menipislah rasa penasaran di hatinya mengapa dalam segebrakan saja senjatanya yang ampuh menjadi patah dan dia terhuyung ke belakang.

Dengan tongkat bututnya Han Han menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Tibet. Pemuda ini mengerti bahwa dua orang lawannya memiliki pukulan-pukulan ampuh sekali, maka ia menghadapi mereka dengan hati-hati, akan tetapi juga ingin mengakhiri pertandingan itu secepatnya agar dia dapat membebaskan diri sebelum terlambat dan kehabisan tenaga.

Oleh karena ini Han Han mainkan tongkat di tangan kirinya dengan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang amat dahsyat, hanya bedanya, kalau Siang-mo Kiam-sut lebih hebat dimainkan dengan sepasang senjata pedang, kini dia hanya menggunakan sebatang tongkat di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia pergunakan untuk menangkis pukulan-pukulan lawan atau membalas dengan pukulannya sendiri yang mengandung tenaga dahsyat.

Dua buah kitab yang dahulu diberikan kepadanya oleh Sepasang Pedang Iblis Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa adalah dua kitab yang mengandung pelajaran ilmu pedang iblis, yaitu Iblis Jantan dan Iblis Betina yang kalau digabungkan menjadi Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang amat ampuh. Kini, karena dia hanya memegang sebatang tongkat di tangan kiri, Han Han hanya bisa mainkan semacam saja, yaitu bagian Ilmu Pedang Iblis Jantan dari kitab peninggalan Can Ji Kun.

Melihat gerakan tongkat yang amat hebat, apa lagi didasari ginkang yang sukar dicari lawannya dan tenaga sinkang yang amat kuat, dua orang pendeta Tibet itu diam-diam merasa heran sekali, juga kagum. Belum pernah selamanya mereka bertemu tanding selihai ini dan diam-diam mereka mengerti bahwa kalau mereka harus melawan satu-satu, mereka tentu akan sukar sekali menandingi kehebatan pemuda buntung ini!

Selama tiga empat puluh jurus kedua orang pendeta itu berusaha merobohkan Han Han dengan serangan bertubi-tubi. Namun akhirnya mereka tahu bahwa kalau mereka mempergunakan jurus-jurus silat, tak mungkin mereka akan dapat merobohkan pemuda buntung yang ternyata dapat bergerak secepat kilat secara aneh ini, bahkan membahayakan mereka sendiri karena gerakan loncatan Han Han amat sukar diikuti pandangan mata dan sukar diduga ke mana tubuh yang hanya berkaki satu itu mencelat.

Tiba-tiba Thian Tok Lama mengeluarkan gerengan keras yang agaknya menjadi isyarat bagi sute-nya. Keduanya sudah meloncat dua langkah ke belakang, menghadapi Han Han dari barat dan timur, kemudian mereka melancarkan pukulan dahsyat yang berdasarkan sinkang mereka yang kuat!

Thian Tok Lama sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang, tubuhnya merendah seperti jongkok, perutnya mengeluarkan bunyi berkokok dan dari kedua tangannya menyambar angin pukulan yang amat panas hawanya, bahkan dari lengan kanannya yang membiru itu keluar suara bercuitan, dibarengi mengebulnya uap hitam yang menerjang ke arah Han Han. Thai Li Lama juga berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, kedua lengannya bergerak, yang kanan melakukan gerakan mendorong ke arah Han Han, yang kiri dengan telunjuk mengacung membuat gerakan berputar dan mencoret-coret seperti sedang menggambar atau menulis huruf di udara.

Han Han juga maklum bahwa kalau ia mengandalkan ilmu silatnya saja, akan sukarlah ia mengalahkan kedua orang pendeta Tibet itu, maka begitu melihat mereka mulai mengandalkan pukulan sakti, ia pun cepat menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian cepat ia mengerahkan tenaga di kedua lengannya dan dia menggerakkan kedua lengannya ke kanan kiri, dilonjorkan untuk menahan pukulan-pukulan lawan dengan sinkang yang menggetar keluar dari telapak kedua tangannya yang terbuka.

Han Han merasa betapa kedua tangannya seolah-olah bertemu dengan dinding baja yang panas. Maklumlah ia bahwa kedua orang kakek itu telah mengeluarkan tenaga Yang-kang, maka ia pun mengerahkan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke arah kedua lengannya. Bukan main hebatnya pertemuan tenaga di udara ini. Biar pun kedua tangan Han Han masih terpisah dari tangan lawan, masih sejauh setengah meter, namun sudah terasa panasnya dan uap hitam yang mengebul dari kedua tangan Thian Tok Lama makin menebal!

Han Han berdiri tegak, tidak bergeming, kedua lengannya tampak kokoh kuat menahan ke kanan kiri. Pemuda ini merasa betapa tenaga kedua orang lawannya tidak seimbang. Tenaga Thian Tok Lama lebih kuat. Melihat kedua orang itu makin mendekat, Han Han sengaja membiarkan hal ini karena ia maklum bahwa kalau dia tidak berani membiarkan mereka mendekat, akan makin sukar baginya mencapai kemenangan. Dalam hal sinkang, ia percaya kepada tenaganya sendiri, dan kalau mereka sudah dekat, tentu akan lebih mudah baginya mempergunakan ginkang dari Soan-hong-lui-kun untuk mendahului mereka mengirim serangan maut.

Para prajurit Mancu dan para tokoh yang menonton pertandingan itu menjadi tegang hatinya. Pertandingan yang aneh bagi para prajurit, akan tetapi bagi tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan, mereka paham betapa bahayanya mencampuri pertandingan seperti itu yang seolah-olah mengeluarkan sinar-sinar kilat yang akan mematikan orang yang berani mendekat. Dari jauh saja mereka sudah dapat merasakan getaran-getaran hebat yang keluar dari benturan tenaga sakti tiga orang itu.

Tubuh kedua orang hwesio Tibet itu makin dekat dan telapak tangan mereka hampir menyentuh kedua telapak tangan Han Han. Tiba-tiba Han Han menjadi terkejut bukan main. Dari sebelah kirinya di mana Thai Li Lama menyerang dengan hawa pukulan, timbul semacam gelombang yang amat aneh. Gelombang yang menggetarkan seluruh tubuhnya, yang kemudian menyelimuti pikirannya dan terdengar suara pendeta itu, amat dekat di telinganya atau seperti di dalam kepalanya, suara perlahan namun mempunyai daya tarik yang sukar dilawan.

“Menyerahlah... engkau tidak kuat lagi... menyerahlah... berlututlah...!”

Suaranya sendirikah itu? Tiba-tiba Han Han merasa betapa beratnya mempertahankan diri, betapa kedua lengannya yang tadi masih kuat menahan himpitan tenaga sakti dari kanan kiri itu terasa lelah sekali, hampir tidak kuat dia.

“Menyerahlah, berlutut...!”

Suaranyakah itu? Ah, bukan! Itu suara Thai Li Lama yang entah bagaimana memasuki otaknya. Ketika Han Han di dalam hatinya menggoyang kepala mengusir keadaan seperti mimpi itu, seketika pandang matanya terang kembali, bisikan lenyap akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa dia sudah benar-benar menekuk lutut kaki tunggalnya! Dan terdengarlah olehnya sorakan-sorakan para prajurit Mancu yang melihat dia berlutut, mementangkan kedua lengannya ke kanan kiri dengan tubuh gemetar.

“Setan!” Han Han mengerahkan seluruh kekuatan batin dan sinkang-nya, lalu perlahan-lahan ia bangkit berdiri.

Kiranya telapak tangannya sudah menempel kepada telapak tangan kedua lawan di kanan kiri dan ia merasa betapa hawa panas yang keluar dari tangan mereka itu masih dapat ia tahan. Ia melirik ke arah Thai Li Lama dan melihat pendeta kurus ini mulutnya berkemak-kemik. Tangan kanan pendeta ini menempel di tangan kirinya dan tangan kiri pendeta itu membuat gerakan-gerakan aneh. Kini mengertilah Han Han bahwa tentu pendeta ini menggunakan ilmu hitam.

Teringat ia akan kekuatan mukjizat yang terkandung dalam tubuhnya sendiri, maka ia pun membalas pandang mata hwesio Tibet itu, mengerahkan kekuatan kemauannya dan di dalam hatinya ia membentak, “Thai Li Lama, mengapa kau menyuruh orang lain? Engkaulah yang ingin menyerah dan berlutut. Berlututlah!”

Tiba-tiba pendeta Tibet yang kurus itu mengeluarkan seruan aneh dari dadanya dan... kedua kakinya bertekuk lutut!

“Ji-suheng...!” terdengar suara parau Burung Hantu.

Agaknya teriakan inilah yang menyadarkan Thai Li Lama. Pendeta kurus ini terkejut sekali dan cepat bangkit berdiri, akan tetapi terlambat. Saat yang hanya sejenak itu telah dimanfaatkan oleh Han Han yang tiba-tiba, dengan kemampuannya yang luar biasa dalam tubuhnya, telah mengubah inti hawa panas Hwi-yang Sin-ciang menjadi Swat-im Sin-ciang yang dingin sekali. Seketika tubuh Thai Li Lama menggigil sedangkan Thian Tok Lama berseru keras, mengerahkan seluruh tenaganya melawan hawa dingin.

“Aihhhhhh...!” Han Han mengeluarkan seruan keras sekali, berkali-kali, ia mengubah-ubah sinkang-nya, dari dingin ke panas, dari panas ke dingin sehingga kedua orang lawannya menjadi bingung dan tersiksa. Lebih-lebih lagi Thai Li Lama yang memang sudah terluka sebagai akibat kelengahannya jatuh di bawah pengaruh kekuatan mukjizat Han Han. Perubahan-perubahan hawa sakti itu membuat keringat dingin bercucuran dan mukanya pucat sekali.

Akan tetapi, pertandingan hebat ini bukan tidak merugikan Han Han sendiri karena melawan dua orang tokoh yang begitu kuat membutuhkan pengerahan seluruh tenaganya. Biar pun dia dapat menguasai keadaan, namun sesungguhnya dia terhimpit oleh tenaga raksasa, dan tadi hampir saja ia celaka ketika sejenak ia tertekan hebat.

Maklum bahwa tidak boleh ia berlama-lama karena keadaannya sendiri berbahaya, Han Han mengumpulkan seluruh tenaganya, tubuhnya direndahkan sedikit kemudian ia mendorong ke kanan kiri dengan keras sambil berteriak.

“Hyyyaaaaattttt!”

Inti tenaga sinkang Han Han memang bukan didapat dengan latihan biasa. Tenaga saktinya sudah timbul ketika ia mengalami hal yang mengguncang jiwanya, kemudian ia menggunakan kekuatan kemauan untuk melatih sinkang yang tinggi tingkatnya seperti Hwi-yang Sin-ciang. Lebih-lebih lagi setelah ia melatih diri di Pulau Es, dia sudah memiliki sinkang yang sukar dicari bandingnya. Kemudian sekali, dia digembleng oleh Khu Siauw Bwee, seorang di antara pemilik Pulau Es, tentu saja tingkatnya menjadi amat tinggi.

Biar pun kedua orang pendeta Tibet itu merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet dan sukar dicari tandingannya, namun setelah mereka dibingungkan dengan hawa sinkang yang berubah-ubah tadi, kini serangan terakhir Han Han tak dapat mereka tahan dan tubuh mereka terlempar ke belakang sampai sebelasan meter jauhnya. Begitu terbanting roboh, kedua orang pendeta Tibet ini cepat bersila dan meramkan mata, cepat-cepat mengatur pernapasan dan menggunakan sinkang untuk menolong nyawa mereka dari luka dalam yang cukup berbahaya.

Akan tetapi, Han Han sendiri pun harus menggunakan tenaga terakhir tadi untuk dapat melontarkan dua orang lawannya yang kuat, maka kini biar pun dia berhasil, dia sendiri pun tidak keluar tanpa luka, biar pun lukanya tidak seberat kedua orang lawan. Begitu kedua orang lawannya terlempar, pemuda buntung ini terhuyung-huyung, tubuhnya bergoyang-goyang dan ia muntahkan sedikit darah segar. Ia pejamkan kedua matanya dan tangan kirinya meraba-raba gagang tongkat yang tadi ia tancapkan di atas tanah.

“Aku hanya ingin mencari adikku... kenapa kalian mendesakku...?” Mulutnya berbisik penuh penyesalan.

Tiba-tiba dari belakangnya menyambar angin pukulan yang amat hebat. Han Han terkejut, cepat ia memutar tubuh. Akan tetapi karena kepalanya masih pening, gerakannya kurang cepat. Terpaksa ia hanya menggerakkan tangan kanan menangkis, dan berhasil menangkis tangan kiri Ciam Tek. Akan tetapi tangan kanan Si Burung Hantu masih tepat memukul dadanya dengan pukulan Hek-in-sin-ciang yang beracun.

“Desssss...!”

Tubuh Han Han terpelanting ke kanan dan kembali ia muntahkan darah segar. Pemuda ini masih sadar dan maklum bahwa kalau tidak cepat bergerak, akan celakalah dia. Kaki tunggalnya menjejak tanah, tangan dan tongkat juga bergerak dan tubuhnya sudah mencelat ke atas. Benar saja dugaannya, pukulan Si Burung Hantu tiba dan mengenai tanah tempat ia tadi rebah.

Melihat pukulannya gagal, Ciam Tek Si Burung Hantu yang sudah kegirangan karena serangan pertamanya tadi berhasil, cepat meloncat naik mengejar dan mengirim pukulan pula.

“Pengecut curang...!” Han Han memapaki, terpaksa ia berjungkir-balik untuk mengelak dan terpaksa ia meloncat turun lagi ke atas tanah. Si Burung Hantu juga melayang turun. Han Han membelalakkan matanya penuh amarah, bibirnya masih berdarah, dadanya terasa sakit sekali. Ia marah oleh kecurangan lawan yang memukul dari belakang selagi ia pening.

“Ha-ha-ha, mampuslah!” Ciam Tek tertawa mengejek.

Kembali ia melakukan pukulan Hek-in-sin-ciang dengan gerakan yang aneh. Pukulan ini sebetulnya sama sumbernya dengan pukulan kedua orang pendeta Tibet dan memang dahulu ketika merantau sampai ke Tibet, Si Burung Hantu belajar ilmu pukulan ini dari guru kedua orang pendeta Lama ini, maka mereka itu terhitung suheng-suheng-nya.

Pukulannya yang disebut Hek-in-sin-ciang (Pukulan Sakti Awan Hitam) ini pun mengeluarkan uap hitam dan beracun. Sungguh pun tidak sedahsyat Hek-in-hwi-hong-ciang dari Thian Tok Lama akan tetapi juga cukup hebat dan jarang ada orang mampu menahan pukulan maut ini. Manusia bermuka seperti burung ini amat licik dan juga bermata tajam. Ia dapat mengerti bahwa sedikit banyak pemuda luar biasa ini sudah terluka dalam pertandingan melawan kedua orang pendeta Tibet, maka ia mempergunakan kesempatan untuk menghantam Han Han dari belakang. Ketika pukulannya mengenai dada, ia menjadi girang sekali dan terus mendesak Han Han.

Akan tetapi Han Han kini sudah marah bukan main. Orang telah mendesak dia yang tidak ingin berkelahi. Apa lagi Si Burung Hantu yang curang ini. Baik, ia menggigit bibir. Mari kita bertanding mati-matian! Dengan kemarahan meluap, melihat Ciam Tek memukul, Han Han tidak mau mengelak, melainkan menerima pukulan Hek-in-sin-ciang ini dengan pukulan pula sambil mengerahkan Im-kang.

“Desssss!”

Si Burung Hantu jatuh terduduk, tubuhnya menggigil kedinginan dan matanya terbelalak. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya mencelat ke arah Han Han, dari kerongkongannya keluar suara mencicit seperti burung, tangan kanannya menghantam didahului uap hitam ke arah ulu hati Han Han.

Pemuda ini miringkan tubuh mengelak sambil berputar. Tiba-tiba tangan kiri Si Burung Hantu dengan jari terbuka dan digerakkan miring membabat ke arah lehernya seperti sebatang golok. Han Han kembali mengelak, akan tetapi rambutnya yang panjang itu terbabat sedikit dan... putus! Han Han terkejut. Kiranya tangan kiri manusia aneh bermuka burung ini dapat dipergunakan sebagai senjata yang tajamnya tidak kalah oleh pedang, dapat membabat putus gumpalan rambut. Bukan main!

“Heh-heh-heh!” Ciam Tek mengejek.

Kembali kedua lengannya yang panjang-panjang itu sudah bergerak ke depan. Yang kiri membacok kepala, yang kanan menonjok perut. Pada saat itu tiga orang perwira Mancu ikut pula menerjang maju dengan senjata tombak mereka.

“Pergi, jangan bantu...!” Si Burung Hantu membentak.

Tetapi tiga orang perwira Mancu itu terus saja menyerang Han Han, pura-pura tidak mengerti. Dan memang mereka tentu saja mengerti bahwa mereka tidak semestinya menyerang terus. Namun karena penasaran maka mereka pura-pura tidak mendengar dan menerjang Han Han menggunakan tombak, seolah-olah berlomba memperebutkan jasa.

Diam-diam Han Han menjadi girang. Dia sudah agak lemah dan terluka. Biar pun dia masih sanggup menandingi Ciam Tek, namun kalau manusia burung itu dibantu oleh tokoh-tokoh lain yang lihai, tentu keadaannya akan berbahaya sekali. Untung baginya bahwa tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan dan yang lain-lain agak jauh dari situ, sehingga yang datang membantu Ciam Tek adalah perwira yang tidak memiliki kepandaian tinggi.

Hal ini menguntungkan dia dan merugikan Ciam Tek. Bagi ahli silat tinggi, bantuan dari orang-orang yang tingkat kepandaiannya tidak seimbang bukan merupakan bantuan, bahkan menjadi pengganggu! Karena itulah maka tadi Ciam Tek berteriak mencegah mereka sungguh pun ia belum yakin benar akan dapat mengalahkan Han Han sendiri saja.

Han Han membiarkan dua tombak datang meluncur. Setelah dekat sekali, kemudian ia menangkap kedua tombak dengan kedua tangan sedangkan kakinya menendang roboh perwira ketiga. Sekali ia mengerahkan tenaga, tubuh dua orang perwira itu terbawa oleh tombaknya sendiri ke atas dan melayang ke arah tubuh Ciam Tek!

“Tolol kamu!” Ciam Tek mendengus marah.

Kedua tangannya bergerak mendorong dan tubuh dua orang perwira itu terbanting ke atas tanah, bergulingan dan pingsan. Kesempatan itulah yang dinanti-nantikan Han Han. Melihat betapa manusia burung itu menangkis dan melontarkan kedua orang perwira Mancu, ia sudah loncat ke depan dan mengirim pukulan dahsyat dengan kedua tangan, tangan kanan menonjok dada, tangan kiri menggunakan ujung tongkat menotok.

Si Burung Hantu atau Sin-tiauw-kwi Ciam Tek memang amat lihai. Biar pun serangan Han Han ini amat cepat dan terjadi hanya beberapa detik setelah ia menangkis tubuh dua orang perwira, namun ia masih dapat menghadapinya. Dengan tangan kirinya ia menangkis pukulan Han Han, kemudian tangan kanannya mencengkeram ke arah tongkat yang menotok lehernya. Tetapi karena ia tergesa-gesa dan sebaliknya Han Han sudah mengatur siasat lebih dulu, tiba-tiba tongkat itu bergerak melejit dan sebaliknya malah menggempur lengannya dengan pukulan yang menggetar karena mengandung tenaga sinkang.

“Krakkk! Auuuggghhh!”

Si manusia burung itu mencelat ke belakang, menyeringai kesakitan karena tulang lengan kanannya retak! Saking marahnya, ia tidak terlalu merasakan keretakan tulang tangan kanannya, malah maju menubruk ke depan seperti gerakan seekor burung.

Han Han terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka masih begitu nekat, padahal saat itu ia melihat berkelebatnya bayangan Sepasang Tikus Kuburan. Maka ia sengaja menerima hantaman tangan kanan Ciam Tek yang ia tahu telah terluka, sedangkan cengkeraman tangan kiri lawan ke arah ubun-ubunnya ia tangkis dengan tangan kanan, kemudian ujung tongkatnya meluncur ke arah dada lawan.

“Krakkk...! Crotttt...!”

Terdengar jerit melengking dari mulut Ciam Tek, tubuhnya berkelojotan di ujung tongkat yang menembus dadanya, tulang lengannya patah bertemu dengan dada Han Han karena memang tadinya tulang itu telah retak.

Han Han menyeringai kesakitan. Biar pun lengan kanan Ciam Tek telah retak tulangnya, namun pukulan yang mengenai dadanya itu masih hebat sekali, membuat napasnya sesak dan matanya berkunang. Pemuda ini maklum bahwa dirinya terancam bahaya, maka cepat ia mencabut tongkatnya dan tubuhnya mencelat ke atas. Pandang matanya masih berkunang dan kepalanya berat sekali. Ia perlu cepat-cepat membebaskan diri agar dapat mengobati luka di dalam dadanya.

Akan tetapi, selagi tubuhnya meloncat tiba-tiba kaki tunggalnya terbelit ujung rantai baja yang panjang dan kuat. Kiranya dia telah dikejar dan dikurung Sepasang Tikus Kuburan dan kakek kecil bertelanjang kaki yang telah menggerakkan rantai bajanya secara istimewa. Rantai baja itu meluncur cepat dan berhasil melibat pergelangan kaki Han Han selagi pemuda ini meloncat.

Han Han terkejut bukan main. Ia menendangkan kakinya namun tak dapat terlepas dari libatan rantai baja sehingga tubuhnya tertarik turun dan terbanting ke bawah! Cepat ia menggunakan lengan kiri merangkul batang pohon agar tubuhnya tidak terbanting. Pada saat itu tampak sinar berkelebat dan pedang di tangan Bhong Poa Sik telah menyambar ke arah lehernya!

Han Han menjadi amat marah. Teriakan dahsyat keluar dari kerongkongannya, teriakan yang mengandung hawa khikang sehingga si manusia berkepala benjol itu terkejut. Gerakannya tertahan sedetik, namun cukup bagi Han Han yang masih bergantung dengan lengan kiri pada batang pohon sedangkan kaki tunggalnya masih terlibat rantai itu. Han Han gerakkan tangan kanannya, mencengkeram ujung pedang, mengerahkan sinkang dan sekali betot pedang itu telah dirampasnya. Pergelangan tangannya bergerak, pedang membalik dan kini ia telah memegang gagang pedang, langsung ia tusukkan ke lambung Bhong Phoa Sik.

Pengerahan sinkang tadi membuat dadanya makin sesak dan matanya menjadi gelap, namun Han Han masih dapat menusuk lambung lawannya dengan tepat sehingga pedang rampasannya menembus dari lambung kiri Bhong Poa Sik. Bukan itu saja, juga berbareng ia mengerahkan tenaga pada kakinya, menarik kaki itu ke belakang. Bersamaan dengan jerit kematian yang keluar dari mulut Bhong Poa Sik bersama semburan darahnya, terdengar pekik kaget kakek yang memegang ujung rantai karena tubuhnya terbawa oleh tarikan kaki Han Han. Betapa pun ia mempertahankan, tetap saja tubuhnya terbawa melayang ke arah Han Han.

“Cappppp!”

Han Han terkejut bukan main. Karena pandang matanya gelap, ia kurang waspada sehingga pada saat ia menusukkan pedang ke lambung Bhong Poa Sik dan membetot tubuh kekek yang memegang rantai, sebuah tusukan tombak pendek di tangan kiri Bhong Lek si Muka Tikus menancap di paha kaki tunggalnya!

Rasa sakit membuat Han Han makin marah. Tubuh kakek yang memegang rantai itu telah melayang dekat dan sekali Han Han menendang ke belakang, tumit kakinya menendang perut kakek itu yang seketika putus napasnya karena isi perutnya remuk! Dan Bhong Lek yang tadinya girang dapat melukai paha Han Hang tiba-tiba melihat sinar bergulungan di depan matanya dan... arwahnya melayang tanpa disadarinya karena tahu-tahu leher Si Muka Tikus ini telah putus oleh sinar pedang yang digerakkan Han Han.

Pemuda buntung ini berdiri dengan kaki tunggalnya yang terluka dan bercucuran darah. Pedang di tangan kanan, tongkat di tangan kiri, tubuhnya agak bergoyang, rambutnya riap-riapan, mukanya beringas penuh keringat, pakaiannya berlepotan darahnya sendiri dan darah para korban yang tewas di tangannya. Dia siap menghadapi maut, akan tetapi kematiannya akan ditebus mahal sekali oleh musuh-musuhnya karena dia siap untuk membela diri mati-matian sampai tetesan darah terakhir!

Para perwira dan prajurit Mancu gentar menghadapi pemuda kaki buntung yang luar biasa itu. Kakak beradik Tikus Kuburan tewas, kakek Mongol yang terkenal lihai dengan rantai bajanya juga tewas, tiga orang murid Setan Botak yang amat lihai tewas pula, belum lagi banyak prajurit dan perwira yang roboh. Bahkan kedua orang pendeta Tibet masih duduk bersila memejamkan mata memulihkan tenaga! Namun, para prajurit yang mengurung itu pun maklum bahwa pemuda buntung yang sakti itu sudah terluka hebat.

“Tangkap... Bunuh...!” terdengar teriakan-teriakan.

“Jangan dekati!” teriak seorang perwira. “Serang dengan anak panah...!”

Sibuklah para prajurit, seperti serombongan orang yang ketakutan mengurung seekor harimau yang ganas dan kuat. Han Han menggigit bibirnya. Tak mungkin dia menerjang maju karena kakinya, satu-satunya anggota badan yang ia andalkan untuk menahan tubuh, telah terluka cukup parah. Tidak, kalau ia menggerakkan kakinya berarti ia memperlemah pertahanannya sendiri. Dia akan tetap berdiri di situ dan menghadapi semua terjangan musuh sampai mati!

“Serrr... serrr-serrrrr...!” Puluhan batang anak panah menyambar.

Han Han memutar pedang rampasan di tangannya sehingga terdengar suara nyaring berkali-kali. Tampak bunga api berpijar dan disusul pekik beberapa orang prajurit yang termakan anak panah mereka sendiri yang membalik oleh tangkisan Han Han.

Sebagian besar anak panah runtuh, ada sebatang menancap di antara rambut yang awut-awutan itu seperti hiasan rambut, dan sebatang lagi menancap di bajunya setelah melukai kulit pinggul, tidak dapat menembus kulit karena Han Han memutar pedang sambil mengerahkan sinkang melindungi tubuh!

“Hentikan serangan...!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan ternyata di tempat itu telah datang pasukan yang terdiri dari seratus orang lebih yang merupakan pasukan pilihan Mancu, dikepalai oleh seorang wanita yang cantik sekali, cantik dan gagah serta bermata seperti bintang kembar.

“Han-koko...! Aihh... kalian orang-orang gila! Berani menyerang kakakku? Pergi semua! Pergi...! Dia itu Han-koko, kakakku...! Han-koko...!”

Gadis jelita yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Lulu! Gadis ini, seperti kita ketahui, telah menjadi sumoi dari Puteri Nirahai di bawah gemblengan Puteri Maya, yaitu nenek bangsa Khitan yang sakti itu. Kemudian, karena pelaporan dari barisan yang menyerbu Se-cuan selalu terpukul mundur, Puteri Nirahai menjadi penasaran dan datang sendiri ke garis depan di perbatasan Se-cuan, mengajak Lulu.

Ketika itu Lulu sedang bertugas meronda tapal batas memimpin sebuah pasukan. Tentu saja ia segera mengenal Han Han dan kedatangannya pada saat yang amat tepat itu menyelamatkan kakaknya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika melihat bahwa kakaknya itu berdiri hanya dengan sebuah kaki!

“Han-ko...!” Ia menjerit lagi, meloncat turun dari kudanya dan melesat cepat seperti terbang, langsung menubruk dan berlutut merangkul kaki Han Han yang tinggal sebuah sambil menangis sesenggukan.

“Lulu...!” Han Han juga memanggil nama adiknya dengan hati yang amat tidak karuan rasanya.

Mula-mula semangatnya seperti terbang saking girangnya mendengar suara dan melihat betapa adiknya masih sehat dan selamat, akan tetapi hatinya menjadi perih melihat kedatangan adiknya itu bersama pasukan Mancu. Karena itu, panggilannya keluar dengan suara seperti orang merintih. Betapa pun juga, keharuan hatinya lebih besar dan dia pun menjatuhkan tubuhnya yang sudah lemas itu, berlutut dan merangkul adiknya dengan kedua lengannya. Sejenak mereka berangkulan dan bertangisan.

“Lulu... kau... bocah nakal... ke mana saja kau pergi?” Han Han menegur, tangan kirinya diletakkan di atas pundak dara itu, tangan kanannya menghapus air mata yang bercucuran di atas pipi Lulu.

Akan tetapi Lulu tidak menjawab, melainkan meraba-raba paha kiri Han Han yang buntung. Matanya yang basah air mata itu terbelalak memandang, lalu ia meloncat bangun. Matanya yang lebar indah itu liar memandang ke arah para prajurit Mancu yang sibuk mengurus teman-teman yang tewas dan merawat yang luka, wajahnya yang manis dan jelita itu menjadi beringas, kulit mukanya merah sekali.

“Siapa yang membuntungi kakimu, Han-ko? Siapa? Hayo katakan kepadaku agar dapat kubalas dia! Han-ko, katakan siapa yang membuntungi kakimu? Katakan...!”

Para perwira dan prajurit Mancu menjadi ketakutan dan saling pandang. Mereka tentu saja amat takut kepada adik seperguruan Puteri Nirahai ini, bukan hanya takut akan kepandaiannya yang kabarnya amat lihai seperti sang puteri, akan tetapi terutama takut akan kekuasaan dan kedudukan Puteri Nirahai sendiri.

“Lulu, bukan mereka... kakiku sudah sangat lama buntung...” Han Han berkata.

“Aihhhhh, Koko...!” Lulu menubruk lagi dan menangis, meraba-raba kaki yang buntung, lalu meraba-raba muka Han Han, menyibakkan rambut kakaknya yang awut-awutan menutupi muka yang tampan itu. “Kau... kau terluka hebat... ahhh... Koko, mengapa kau berada di sini?” Kembali Lulu meloncat bangun dengan sigapnya, membalikkan tubuh dan membentak kepada para prajurit.

“Pergi kalian semua! Pergi dari sini! Kalau tidak, kubunuh semua! Pergi!”

Para perwira Mancu dan para prajurit terkejut. Cepat-cepat mereka membawa mayat dan teman-teman yang terluka meninggalkan tempat itu. Dua orang pendeta Lama sudah tidak kelihatan lagi di tempat itu. Mereka berdua maklum bahwa setelah Lulu datang secara tidak terduga-duga, rencana mereka membunuh Han Han yang dianggap seorang lawan berbahaya itu menjadi gagal.

Setelah tempat itu bersih ditinggalkan semua pasukan, Lulu kembali menubruk Han Han. “Han-ko, apakah yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kakimu buntung? Siapa yang dapat melakukan perbuatan keji ini kepadamu, Han-koko?” Kembali kedua mata gadis itu bercucuran air mata begitu ia melihat ke arah kaki buntung kakaknya.

Akan tetapi Han Han tidak menjawab. Lulu masih menangis sambil membenamkan mukanya di dada kakaknya, kedua lengannya merangkul leher.

“Han-koko... setengah mati aku mencarimu... bertahun-tahun hingga amat lama rasanya, hampir aku putus harapan. Aku sampai di tempat sejauh ini juga mencarimu... tetapi... siapa menduga bahwa kau... ah, kakimu... aduh, Koko...! Katakanlah, siapa orangnya yang begitu kejam membuntungi kakimu? Aku bersumpah untuk menuntut balas!”

Akan tetapi Han Han tetap diam tak menjawab.

Lulu yang sedang diamuk keharuan, kegirangan, juga kemarahan melihat kaki Han Han buntung, tidak merasa betapa semua pertanyaannya tak terjawab. Kini ia mengangkat mukanya dan berkata penuh semangat.

“Jangan khawatir, Han-ko. Kalau musuh itu terlalu lihai, aku dapat membantumu. Aku, adikmu ini, sekarang bukanlah Lulu yang dahulu! Aku sudah memiliki kepandaian tinggi dan....” Tiba-tiba Lulu menghentikan kata-katanya ketika ia melihat wajah Han Han. Kiranya semenjak tadi kakaknya itu memandangnya dengan sepasang mata mendelik penuh amarah!

Wajah Han Han pucat, matanya mendelik seolah-olah mengeluarkan api, akan tetapi dari pelupuk matanya menetes-netes air mata! Pemuda yang terluka ini tidak hanya terluka pahanya yang robek oleh tusukan tombak Bhong Lek, melainkan yang lebih berbahaya lagi adalah luka di dalam dadanya akibat pukulan Ciam Tek si Burung Hantu. Napasnya makin sesak dan seluruh dada terasa panas. Setengah mati ia mencari Lulu, bertahun-tahun lamanya dengan hati rindu dan penuh kekhawatiran. Sekarang setelah bertemu, kegirangan hatinya ternoda oleh kenyataan bahwa adiknya telah memimpin pasukan Mancu!

“Koko... Han-ko... kau... kau menangis...? Kenapakah...?” Dengan jari tangan gemetar Lulu mengusap air mata yang mengalir di atas pipi yang pucat itu.

Gerakan Lulu yang penuh kasih sayang ini memancing naiknya sedu-sedan dari dada Han Han. Tangan kirinya merangkul dan mengelus-elus rambut di kepala Lulu, akan tetapi tangan kanannya mengepal keras sekali. Mulutnya tidak mampu menjawab, dua macam perasaan bertanding dalam hatinya sendiri.

“Koko..., Koko... bicaralah... kau kenapakah? Kakimu...” Lulu masih terisak, “siapa yang membuntungi kakimu...?”

“Buk! Buk! Bukkk!”

Tiga kali kepalan tangan kanan Han Han menghantam tanah sehingga Lulu merasa betapa tanah yang diinjak tergetar. Ia kaget sekali dan memandang wajah kakaknya dengan kedua mata terbelalak lebar.

“Han-ko! Kenapa...?”

“Lulu! Buntungnya kakiku bukan hal penting!” Akhirnya ia dapat mengeluarkan kata-kata dengan napas terengah. “Urusan diriku tidak perlu dibicarakan! Akan tetapi engkau...! Engkau...!”

Lulu mengerutkan keningnya, memandang wajah kakaknya penuh selidik, kemudian memegang kedua pundak kakaknya. “Han-ko, apa maksudmu? Ada apa denganku...?”

Tiba-tiba Han Han menggunakan kedua tangan mendorong sepasang lengan adiknya sehingga Lulu terjengkang ke belakang. “Ada apa dengan engkau? Masih hendak bertanya lagi? Engkau... menjadi pemimpin pasukan Mancu terkutuk!”

Seketika pucat wajah Lulu. Air mata yang tadi telah berhenti mengalir kini bercucuran dari sepasang mata yang tak pernah berkedip menatap wajah kakaknya. Perlahan ia bangkit kembali, merangkak menghampiri Han Han dan menubruk kakaknya sambil menangis sesenggukan.

“Han-koko... lupakah engkau bahwa aku adalah seorang gadis Mancu? Anehkah kalau aku membantu bangsaku menghadapi para pemberontak...?”

“Plak! Plak!” Kedua tangan Han Han menyambar dan sepasang pipi yang pucat itu ditamparnya.

Lulu terpekik dan mundur ke belakang sambil meloncat bangun berdiri, memegangi kedua pipinya yang terasa panas dan sedikit berdarah keluar dari ujung bibir kiri yang pecah. Matanya terbelalak, mukanya pucat sekali. Rasa sakit di kedua pipinya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan rasa nyeri yang menusuk masuk di hatinya. Ia ditampar kakaknya! Selamanya Han Han belum pernah memperlakukan dia seperti ini. Jangankan menampar, bersikap kasar sedikit pun belum!

Han Han ikut pula berdiri, bersandar pada tongkatnya. Wajahnya lebih pucat lagi dan matanya juga terbelalak ketika ia melihat darah di ujung bibir Lulu. Rambutnya terurai menutupi muka, ia sibakkan dengan gerakan kepala, akan tetapi rambut itu terurai kembali menutupi sebelah mukanya.

“Lulu...! Adikku...! Ahh... apa yang telah kulakukan...?” Suaranya gemetar, mengandung isak, penuh penyesalan seolah-olah ia baru sadar dari sebuah mimpi buruk.

Namun wajah adiknya yang biasanya berseri-seri, yang biasanya jenaka, yang biasarya selalu cerah seperti sinar matanari di siang hari, kini berubah, dingin dan seperti muka mayat, amat pucat, matanya tidak bersinar, bahkan suaranya berubah ketika bibir itu bergerak bicara.

“Han-koko...!” Ia berhenti dan terisak, susah payah menahan isak agar dapat bicara. “Kau tidak adil...! Memang aku membantu bangsaku karena aku memang bangsa Mancu. Memang aku telah bersalah, akan tetapi karena engkau tidak berada di sampingku, aku menjadi bimbang dan akhirnya terseret ke dalam perang. Akan tetapi engkau sendiri? Bukankah engkau menjadi seorang panglima Bu Sam Kwi yang mempertahankan Se-cuan? Sudah lama kami mendengar akan adanya panglima kaki buntung dari pihak musuh yang lihai. Tak kusangka engkaulah orangnya! Engkau seorang berbangsa Han membela bangsamu menghadapi Mancu, sebaliknya aku seorang berbangsa Mancu membela bangsaku menghadapi musuh. Siapakah yang benar di antara kita? Siapa yang bersalah? Engkau... telah menamparku, bukan hanya menampar pipi, tetapi menampar dan menghancurkan hatiku. Ahhh, Han-koko, engkau tidak adil...!” Lulu mendekap muka dengan kedua tangan dan air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.

“Lulu..., Moi-moi adikku... kau ampunkan aku....”

Han Han melangkah maju hendak memegang lengan adiknya. Akan tetapi sentuhan jari tangannya seperti ujung api menyengat tangan Lulu yang cepat menarik tangannya, memandang dengan mata basah penuh penyesalan, kemudian terisak dan gadis ini membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu.

“Lulu...!”

“...engkau tidak adil...! Engkau kejam... tidak adil...!”

Suara Lulu yang bercampur tangis itu terdengar oleh Han Han seperti tusukan pedang menembus jantungnya. Ia meloncat dan mengejar sambil berteriak-teriak seperti orang gila, “Lulu...! Lulu adikku...!” Akan tetapi ia terguling roboh.

Pertemuan dengan adiknya yang mengakibatkan pukulan batin hebat itu membuat luka di dadanya makin parah. Ia masih memanggil-manggil nama Lulu sambil merangkak, kemudian bangkit perlahan-lahan dan berjalan terhuyung-huyung menyeret tongkat, berloncatan tanpa mempedulikan pahanya yang mengucurkan darah. Namun Lulu telah jauh, telah lenyap dari situ. Biar pun bayangan gadis itu tidak tampak lagi, namun masih terngiang di telinga Han Han, merupakan tusukan-tusukan yang membikin hatinya perih, jeritan adiknya tadi, “Engkau tidak adil...! Tidak adil... tidak adil...!”

Han Han hampir tak kuat menahan. Ia merangkul sebatang pohon dan menangis, mengguguk seperti anak kecil. Ia sadar akan kesalahannya terhadap Lulu tadi. Memang dia tidak adil terhadap Lulu. Akan tetapi, bukankah dia mendengar bahwa Lulu telah menjadi adik angkat Sin Lian dan bahkan ikut pula membantu gerakan para pejuang? Mengapa kini Lulu menjadi pemimpin pasukan Mancu? Benarkah dia tidak adil? Siapa yang tidak adil? Siapa yang salah? Siapa yang benar?

Han Han menggeleng kepala dan berbisik, “Tidak ada yang salah kecuali perang! Yang tidak adil adalah perang! Terkutuklah perang!”

Dan pemuda ini lalu terpincang-pincang meninggalkan tempat itu, terus memasuki hutan tanpa tujuan. Hatinya kosong, lenyap sudah gairah hidup. Pikirannya pun kosong, dan ia hanya mengikuti gerak kaki berloncatan secara otomatis. Akhirnya, di dalam jantung hutan yang lebat, ia terguling pingsan..



"engkau tidak adil...! Hu-huu-huuuu... tidak adil... tidak adil...! Hi-hiii-hiiiii... hu-huuuuu!" Lulu berlari cepat sekali sambil menangis dan merintih-rintih di sepanjang jalan, kedua tangannya menggosok-gosok kedua mata seperti anak kecil menangis, beberapa kali ia terhuyung karena kakinya tersandung batu atau akar pohon.

"Sumoi...!"

Lulu terkejut, seperti sadar dari mimpi. Dia menahan kakinya dan berdiri memandang melalui air matanya. Nirahai sudah berdiri di depannya. Wajah yang cantik jelita dan biasanya bersikap ramah penuh kasih kepadanya itu kini kelihatan marah, kedua tangan bertolak pinggang.

Akan tetapi dalam kesedihannya, Lulu tidak melihat perubahan ini. Begitu bertemu suci-nya, ia lalu menubruk, merangkul dan menangis di pundak Nirahai.

“Aduh, suci... hu-huuuuu...!”

“Hemmm, tenanglah dan jangan seperti bocah cengeng! Bicaralah!” kata Nirahai yang masih bersikap marah.

“Suci... dia... dia...” Lulu menangis lagi, terlampau sakit hatinya oleh sikap kakaknya tadi sehingga sukar untuk bicara.

Nirahai memegang kedua pundak Lulu dan mendorongnya mundur. “Sumoi, hentikan tangismu! Apa yang telah kudengar dari laporan pasukanmu? Engkau telah melindungi musuh!”

Lulu mengusap air matanya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai. “Suci, dia... dia adalah Han-koko yang kucari-cari!”

Nirahai mengangguk. “Aku sudah mendengar. Jadi panglima pemberontak berkaki buntung itulah Han Han yang selama ini kau cari-cari? Di mana dia sekarang?”

“Kaki... kau... mau apakan dia...?”

“Mau apakan dia? Dia adalah panglima musuh! Harus ditawan atau dibunuh!”

“Suci...!”

“Sumoi, tidak tahukah engkau bahwa tadi engkau telah melakukan perbuatan yang khianat? Engkau membantu musuh!”

“Tapi dia kakakku!” Lulu membantah penasaran.

“Tapi dia panglima musuh!” Nirahai membentak, lebih penasaran lagi.

Lulu menjadi lemah kembali dan meratap, “Suci... suci... ingatlah, dia kakakku! Bagai mana aku dapat memusuhinya?”

Nirahai menarik napas panjang. “Hemmm, sudahlah! Biar pun kakak, tapi hanya kakak angkat. Andai kata kakak kandung sekali pun, kalau membantu musuh harus ditentang. Lulu, dalam masa perang, urusan pribadi harus dikeduakan, yang diutamakan adalah urusan negara! Aku tidak membenci kakakmu yang belum pernah kujumpai, bahkan aku tidak pernah membenci para pemberontak secara pribadi, akan tetapi aku akan membunuh mereka sebagai musuh negara. Sudah, biarlah untuk sekali ini, aku tidak akan mengejar panglima buntung dari Se-cuan itu. Mari kita kembali ke pesanggrahan kita.”

Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. Setelah aku melihat kenyataan bahwa Han-koko berada di pihak musuh, aku tidak mau perang lagi. Aku akan pergi.”

“Ke mana?” Nirahai menyembunyikan kemarahannya. “Pergi menyeberang ke Se-cuan membantu pemberontak?”

Lulu menggeleng kepala dengan sedih. “Tidak, aku mau pergi menjauhi semua ini, mau menjauhi perang yang menghancurkan hidupku. Aku tidak sudi lagi terlibat...”

“Sumoi! Engkau harus kembali bersama aku! Ini merupakan perintah!”

Baru sekali ini selama menjadi sumoi Nirahai, suci-nya itu mengeluarkan suara keras dan memperlihatkan sikap marah. Hal ini mengingatkan Lulu akan sikap Han Han tadi dan sakitlah hatinya. Ia pun memandang suci-nya dengan sinar mata penuh penasaran dan tentangan, lalu bertanya dengan suara tegas.

“Perintah siapa kepada siapa?”

“Perintah seorang pemimpin kepada bawahannya! Perintah seorang wakil kaisar kepada warga negaranya! Perintah seorang suci kepada sumoi-nya!”

Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. apa pun yang terjadi, aku tidak mau kembali ke markas, tidak mau ikut perang. Aku hendak pergi ke mana aku suka!”

“Lulu! Membangkang berarti memberontak dan kau bisa dihukum!”

“Terserah!”

“Sumoi, engkau hendak melawan suci-mu? Engkau berani melawan aku?”

“Suci, ketika aku ikut bersamamu, tidak ada perjanjian jual beli kebebasanku. Kalau sekarang engkau hendak memaksa, hendak mengganggu kebebasanku, terpaksa aku melawanmu. Melawan engkau sebagai orang yang hendak memaksaku, bukan sekali-kali melawan bangsa atau negara! Aku tidak peduli akan urusan bangsa dan negara, tidak peduli akan perang, aku muak! Biarkan mereka yang suka perang itu maju sendiri mempertaruhkan nyawa. Bagiku, terima kasih! Aku tidak mau kembali dan kalau suci hendak memaksa, apa boleh buat, aku melawan sebisaku!”

Nirahai menghela napas, wajahnya terlihat penuh kecewa dan sesal. Dia amat mencinta Lulu yang dianggapnya sebagai adik sendiri, tidak ingin menggunakan kekerasan. Akan tetapi dia pun sudah mengenal watak Lulu yang sekali menentukan sikap akan dibela sampai mati. Betapa pun juga tak mungkin ia melepaskan sumoi-nya ini. Kalau sampai sumoi-nya ini kemudian membantu pemberontak, hal itu merupakan mala petaka yang lebih hebat lagi. Bayangkan saja. Sumoi-nya, seorang gadis Mancu pula, membantu pemberontak melawan bangsa sendiri! Tidak, ia harus mencegah hal yang terkutuk itu. Lebih baik melihat sumoi-nya mati di depan kakinya untuk kemudian ia tangisi dan kabungi dari pada melihat sumoi-nya menjadi pengkhianat!

“Sumoi, sekali lagi, marilah kau ikut aku kembali dan kita bicarakan semua urusan dengan baik. Jangan menuruti perasaan yang sedang terganggu. Perlukah urusan begini saja sampai mematahkan ikatan persaudaraan dan kasih di antara kita?” Suara Nirahai yang lemah lembut ini membuat Lulu kembali terisak.

“Suci... suci... kau kasihanilah aku, biarkan aku pergi...,” ia meratap.

“Sumoi!” Nirahai membentak lagi. “Engkau seorang gadis yang perkasa! Engkau adalah sumoi-ku! Engkau adalah murid Subo Maya! Mengapa sikapmu begini lemah? Hayo ikut aku kembali!”

Lulu menggeleng kepala, “Tidak mau, suci.”

“Hemmm, baik. Kita lihat saja siapa di antara kita yang lebih kuat. Akan tetapi ingat, sekali ini kita bukan sedang berlatih!” Nirahai berkata mengejek dan menubruk ke depan mengirim totokan ke arah leher Lulu disusul cengkeraman ke arah pundak.

Lulu cepat mengelak dari totokan dan menangkis cengkeraman, bahkan langsung ia membalas dengan pukulan dari ilmu silatnya yang ampuh dan yang ia latih dari Puteri atau Nenek Maya, yaitu Toat-beng Sian-kun. Pukulan yang mengarah dada dan perut Nirahai dengan kedua tangan terbuka ini kelihatannya ringan saja. Akan tetapi tentu saja Nirahai mengenal pukulan sakti. Cepat ia mengelak dan balas menyerang. Makin lama makin cepat gerakan mereka sehingga yang tampak hanya dua bayangan berkelebat, kadang-kadang menjadi satu!

Betapa pun lihainya Lulu, tentu saja dia tidak dapat menandingi kehebatan Nirahai yang memiliki banyak ilmu silat tinggi yang luar biasa. Sebentar saja, tidak sampai tiga puluh jurus, Lulu mulai terdesak hebat dan hanya mengandalkan kelincahan gerakannya yang ia dapat dari latihan di Pulau Es saja yang membuat ia dapat bertahan dari serangan Nirahai yang bertubi-tubi. Lulu mulai berloncatan ke sana-sini dan terus mundur.

“Lu-moi, jangan takut! Aku datang membantumu!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah Sin Kiat yang langsung menyerang Nirahai dengan pedangnya. Gerakan murid Im-yang Seng-cu yang berjuluk Hoa-san Gi-hap ini cepat dan dahsyat sekali, pedangnya mengeluarkan suara berdesing dan berubah menjadi sinar terang bergulung-gulung.

“Hemmm... pemberontak cilik bosan hidup!” Nirahai berseru dan tiba-tiba mata Sin Kiat menjadi gelap ketika ada sinar hitam lebar menutupi tubuh lawannya kemudian dari tengah bayangan hitam itu meluncur sinar putih yang menusuk ke arah lambungnya.

“Cringggg...!”

Sin Kiat terkejut sekali. Ternyata bayangan hitam itu adalah sebatang payung yang tiba-tiba sudah berada di tangan Nirahai dan payung itu berkembang, kemudian ujung payung yang runcing seperti pedang menusuknya. Tangkisannya membuat tangannya tergetar, tanda bahwa puteri Mancu itu memiliki sinkang amat kuat.

Sin Kiat memutar pedangnya dan bergerak cepat, namun semua serangannya kena dihalau oleh tangkisan kuat, dan dalam beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak oleh serangan balasan ujung payung yang menyembunyikan gerakan lengan dan pundak lawan.

“Plak... cring...! Aaaihhh!”

Sin Kiat terpaksa loncat ke belakang. Hampir saja lututnya kena disambar ujung payung yang gerakannya amat lihai itu. Sin Kiat memandang tajam, kemudian ia berkata.

“Hemm... kalau tidak salah dugaanku, tentu engkaulah Puteri Nirahai yang terkenal licik itu, pengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!” katanya sambil melintangkan pedang di depan dada. Kemudian ia menoleh ke arah Lulu dengan wajah berseri, “Lu-moi, engkau pergilah. Han Han mencarimu. Biar aku yang menghadapi iblis betina ini!”

“Wah, melihat gerakan pedangmu, engkau tentu Hoa-san Gi-hiap seperti yang pernah diceritakan Lulu kepadaku. Ah, tidak kecewa engkau menjadi murid Im-yang Seng-cu, akan tetapi engkau harus belajar seratus tahun lagi untuk dapat melawanku!” Nirahai berseru dan kembali payung pedangnya mengirim serangan hebat.

Sin Kiat tidak berani berlaku lengah. Cepat ia menangkis sambil meloncat ke samping, kemudian mengirim serangan balasan yang dapat dielakkan secara mudah oleh Nirahai dengan sikap mengejek.

“Wan-twako, jangan...! Jangan campuri, biar aku sendiri hadapi suci!”

Wan Sin Kiat terkejut bukan main dan untuk kedua kalinya ia meloncat mundur. “Apa?! Suci-mu...?”

Nirahai tersenyum dan memandang wajah tampan itu dengan tajam. Diam-diam ia kagum kepada pemuda yang tampan dan gagah ini, akan tetapi karena ia tahu bahwa pemuda ini pun salah seorang panglima Se-cuan, maka dia menganggap pemuda ini musuhnya.

“Benar, Wan Sin Kiat, ataukah Wan-ciangkun? Engkau seorang panglima pemberontak, bukan? Lulu adalah sumoi-ku, akan tetapi mencampuri urusan kami atau tidak, setelah engkau berada di daerah ini, engkau harus menyerah menjadi tawananku atau terpaksa aku akan membunuhmu sebagai tokoh pemberontak!”

“Lu-moi...! Eh, bagaimana ini...?”

Sin Kiat bingung sekali, akan tetapi Nirahai telah menyerangnya kembali dengan hebat.

“Tranggg... cringgggg...!”

Dua kali Sin Kiat menangkis dan ia terhuyung ke belakang. Nirahai terus menerjang maju dan mendesak pemuda yang terhuyung itu dengan ujung payungnya.

“Trikkkkk!”

Nirahai mencelat mundur. Lulu telah mencabut pedang dan menangkis gagang payung itu untuk menolong Sin Kiat.

“Suci, tidak boleh kau bunuh dia. Mari kita lanjutkan pertandingan kita.”

“Sumoi, kau makin tersesat! Sekarang kau membantu pemberontak di depanku, ya?”

Nirahai menyerang dengan hebat dan kembali kedua orang gadis yang sama cantik jelita dan sama lincah itu saling serang, kini menggunakan senjata. Melihat ini, serta merta Sin Kiat membantu dan mengeroyok Nirahai. Pertempuran hebat berlangsung di dalam hutan yang sunyi itu. Kelebatan sinar pedang menyliaukan mata dan gerakan mereka amat cepatnya.

Diam-diam Sin Kiat menjadi amat heran, heran dan kagum. Kini ia mendapat kenyataan betapa Lulu telah memperoleh kemajuan pesat, bahkan dari gerakan-gerakan gadis yang dicintanya itu ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Lulu kini telah jauh melampaui tingkatnya sendiri!

Akan tetapi, dengan kaget ia pun mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Puteri Nirahai yang terkenal ini lebih hebat lagi, dikeroyok dua sama sekali tidak terdesak, bahkan beberapa kali dia dan Lulu terancam oleh ujung gagang payung yang luar biasa aneh dan lihainya itu. Pantas saja tokoh-tokoh besar seperti orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tewas di tangan gadis puteri Kaisar Mancu ini!

Oleh karena dibantu Sin Kiat, kini tidaklah begitu mudah lagi bagi Nirahai untuk dapat mengalahkan Lulu, sungguh pun ia masih terus mendesak karena memang tingkat kepandaiannya jauh di atas kedua orang pengeroyoknya. Setelah lewat seratus jurus, Nirahai mulai penasaran dan marah. Kalau tadinya ia ingin merobohkan Lulu tanpa membunuhnya, bahkan kalau mungkin tidak melukainya, kini ia tidak peduli lagi dan kalau perlu hendak membunuh mereka berdua. Ia mengeluarkan lengking nyaring sekali dan tampaklah sinar emas berkilau.

Lulu dan Sin Kiat terkejut sekali. Mata mereka menjadi silau dan mendadak permainan pedang mereka kacau-balau oleh suara yang keluar dari sebatang suling emas yang kini dimainkan oleh Nirahai. Itulah senjata pusaka Suling Emas yang ampuhnya menggila!

“Trang-cringgg...!” Lulu dan Sin Kiat terhuyung, kedua tangan mereka tergetar hebat.

“Lu-moi, pergilah... Cepat pergi... selamatkan dirimu...!” Sin Kiat berkata sambil memutar pedangnya dengan cepat, membentuk gulungan sinar pedang seperti perisai baja.

“Tidak, Wan-twako! Engkau saja pergilah, jangan menyia-nyiakan nyawa untuk aku. Biar kuhadapi urusanku sendiri!” Lulu berkata sambil memutar pedangnya.

“Trang-tranggg...!”

Kini kedua orang muda itu tidak hanya terhuyung, bahkan terlempar ke belakang dan bergulingan. Nirahai tertawa dan terus menerjang maju.

“Moi-moi... pergilah selamatkan dirimu...!” Sin Kiat mendesak.

“Twako, kenapa sih engkau hendak mengorbankan diri untukku?” Lulu bertanya dengan rasa penasaran.

“Moi-moi, kau tahu. Aku cinta padamu, aku rela berkorban untukmu. Pergilah dan temui Han Han... di Se-cuan...!” kata Sin Kiat sambil menangkis.

“Trakkk!” Pedangnya patah menjadi dua bertemu dengan suling emas! Tendangan kaki Nirahai menyerempet pahanya dan pemuda itu terguling.

“Wan-twako...!” Lulu berteriak dan ia memutar pedangnya menghalangi Nirahai yang mengirim serangan terakhir kepada pemuda itu.

“Cringgg...!”

“Sumoi, dia mencintamu, apakah engkau juga mencintanya?”

Lulu tak menjawab, mukanya merah dan ia menyerang dengan tusukan kilat yang dapat ditangkis oleh Nirahai. Sin Kiat sudah meloncat bangun lagi. Ia terkejut melihat betapa Puteri Nirahai kini menangkis pedang dan memutar-mutar suling emas sehingga Lulu ikut pula terputar-putar, kemudian pedang itu tak dapat dipertahankan lagi, terlepas dari tangan Lulu!

“Hi-hik, kau menyerahlah, sumoi!” Nirahai berkata.

Lulu makin marah. Ia menubruk maju, tetapi sebuah dorongan membuat ia terjengkang.

“Moi-moi...!” Sin Kiat menghampiri Lulu lega hatinya mendapat kenyataan bahwa Lulu tidak terluka. “Cepat kau lari... biar aku saja yang mati...!”

Tanpa menanti jawaban Lulu, Sin Kiat mengeluarkan bentakan keras dan ia sudah menubruk dengan nekat ke arah Nirahai! Melihat kenekatan pemuda ini, Nirahai terkejut sekali dan hampir saja pundaknya kena dicengkeram Sin Kiat. Terpaksa puteri yang lihai ini melempar diri ke belakang dan bergulingan, lalu ia meloncat dan memandang pemuda itu dengan mata marah.

“Hemmm, kau mau bunuh diri, ya? Nah, mampuslah!”

Sinar kuning emas menyambar dan Sin Kiat terpelanting. Hanya kena dorongan hawa pukulan senjata ampuh itu saja ia sudah jatuh terpelanting. Nirahai melangkah maju, mengayun payungnya.

“Biarlah aku mati bersamamu, twako!” Lulu menubruk maju dari belakang, menyerang Nirahai.

“Hemmm... kau mencintanya juga, bukan?”

Nirahai membalikkan tubuh tanpa menghentikan tusukannya pada Sin Kiat, akan tetapi ujung gagang payungnya hanya menusuk pundak, sedangkan sulingnya menotok ke arah jalan darah di leher Lulu. Hebat bukan main gerakan Nirahai, terlalu cepat bagi dua orang muda yang nekat itu.

“Krekkk!” Tubuh Sin Kiat terkulai, tulang pundaknya patah.

“Cusss!” Tubuh Lulu lemas karena jalan darahnya terkena totokan suling emas secara tepat sekali.

Nirahai tersenyum. Gadis ini menyimpan suling dan payung, menyambar tubuh Lulu dan dipanggulnya, kemudian memandang Sin Kiat yang duduk sambil memegangi pundak kirinya yang patah.

“Wan Sin Kiat, karena melihat kau dan Lulu saling mencinta, aku mengampuni dan tak akan membunuhmu. Akan tetapi pada pertemuan kedua, jikalau engkau masih menjadi pemberontak, tentu mengakibatkan kematianmu di tanganku.” Sambil berkata demikian, Nirahai membalikkan tubuh, tidak mempedulikan pemuda yang memandangnya dengan mata mendelik itu.

“Nirahai! Aku bersumpah, kalau engkau mengganggu Lulu, kelak aku akan mencarimu dan akan membunuhmu!”

Nirahai menoleh, tersenyum mengejek lalu tubuhnya berkelebat pergi dari tempat itu bersama Lulu yang terkulai lemas di atas pundaknya. Sin Kiat mengerutkan keningnya, masih terheran-heran mengapa Lulu menjadi sumoi puteri itu, dan heran pula mengapa keduanya saling serang mati-matian. Ia menggeleng-geleng kepala, menghela napas panjang penuh sesal mengapa dia tidak mampu melindungi Lulu dari tangan puteri yang luar biasa lihainya itu. Akan tetapi diam-diam masih terngiang di telinganya suara Lulu ketika membantunya tadi. “Biar aku mati bersamamu, twako!”

Betapa merdunya suara ini. Bukankah kata-kata itu merupakan pencerminan hati yang mencinta? Secara kebetulan saja ia bertemu dengan Lulu di tempat ini. Susah payah ia mencari dan mengikuti jejak Han Han semenjak pemuda buntung itu meninggalkannya. Dan di tempat sunyi ini, bukan Han Han yang ia temukan, melainkan Lulu! Ke manakah perginya Han Han? Tentu tidak jauh dari tempat ini karena jejaknya menuju ke tempat ini. Dia harus mencari Han Han! Kiranya hanya Han Han seorang yang akan mampu menandingi Nirahai yang begitu lihai!

Setelah tiga hari tiga malam berkeliaran di dalam hutan-hutan sambil mengobati sendiri pundaknya yang patah tulangnya, akhirnya pada suatu pagi Sin Kiat melihat sesosok tubuh yang duduk bagaikan arca di bawah pohon, di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Dan orang itu bukan lain adalah Han Han!

“Han Han...!” Sin Kiat berteriak girang.

Akan tetapi Han Han tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan siulian dan matanya terpejam. Tongkat butut melintang di depan lututnya. Luka di pahanya sudah mengering, dan luka di dalam dadanya pun sudah sembuh, akan tetapi pemuda ini terus saja bersemedhi, seolah-olah sudah berubah menjadi arca dan tidak ada nafsu untuk sadar kembali.

Han Han mengalami pukulan batin yang amat hebat secara bertubi-tubi sehingga membuat dia seolah-olah sudah bosan hidup. Pertama-tama urusan dengan Kim Cu sudah merupakan tekanan batin yang berat, disusul lagi dengan kematian Lu Soan Li yang juga menjadi korban cinta kasihnya kepadanya. Pertemuannya dengan Tan Hian Ceng yang mencintanya membuat hatinya makin terhimpit dan satu-satunya harapan hatinya untuk dapat keluar dari himpitan dan mendapatkan hiburan batin adalah pertemuannya kembali dengan Lulu.

Akan tetapi, begitu berjumpa dengan adiknya yang tercinta itu, ia malah menerima hantaman batin yang lebih berat lagi, yaitu dengan kenyataan bahwa Lulu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Mancu! Lebih celaka lagi, dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya yang timbul karena baru saja ia dikeroyok dan hampir celaka di tangan para pemimpin Mancu sehingga dia menampar adiknya itu, membuat Lulu sakit hati dan gadis itu melarikan diri dengan kebencian terkandung di hati adiknya yang merupakan satu-satunya manusia yang ia harapkan akan dapat menghibur hatinya yang sakit!

“Han Han, mengapa engkau menjadi begini? Apa yang sudah terjadi denganmu? Sadarlah, aku telah berjumpa dengan Lulu!”

Han Han membuka matanya, memandang Sin Kiat dan bertanya dengan suara lesu, “Di manakah dia? Mana Lulu?”

“Han Han, celaka sekali! Aku bertemu dengan Lulu, akan tetapi dia dan aku tidak dapat melawan Puteri Nirahai. Aku dirobohkan dan terluka, sedangkan Lulu, dia dilarikan Nirahai. Anehnya Lulu menyebutnya suci, dan...” Akan tetapi Sin Kiat melongo ketika tiba-tiba tubuh Han Han mencelat dan lenyap dari tempat itu!

“Han Han...!” Sin Kiat berteriak, akan tetapi tubuh Han Han sudah berloncatan jauh sekali. Sin Kiat menggeleng-geleng kepala mengerti bahwa tidak mungkin ia dapat mengejar pemuda buntung itu, terpaksa ia pun meninggalkan tempat itu. Dengan hati berat Sin Kiat lalu kembali ke Se-cuan, minta diri dari Raja Muda Bu Sam Kwi dan meletakkan jabatan untuk pergi mencari Han Han dan terutama sekali Lulu.

******************


Begitu mendengar dari Sin Kiat bahwa adiknya ditawan Puteri Nirahai, kemarahan Han Han memuncak. Tanpa pamit ia meninggalkan Sin Kiat, menggunakan kepandaiannya pergi menuju ke kota raja untuk mengejar dan menolong adiknya.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pemuda berkaki buntung yang berjalan terpincang-pincang memasuki kota raja itu mengandung perasaan marah dan sakit hati yang akan menggegerkan kota raja! Han Han berjalan perlahan memasuki kota raja....

“Tak-tok-tak-tok...!” tongkat yang membantunya terpincang-pincang itu mengeluarkan bunyi ketika mengetuk jalan berbatu yang keras.

Beberapa orang menoleh dan memandangnya dengan perasaan kasihan. Juga banyak yang menjadi heran melihat pemuda tampan yang wajahnya menyinarkan sesuatu yang aneh menyeramkan, yang pakaiannya amat sederhana dan rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai di atas kedua pundak dan punggungnya, rambut yang kusut.

Han Han tidak tahu ke mana adiknya dibawa oleh Puteri Nirahai, akan tetapi ia teringat betapa dahulu adiknya itu diculik oleh Ouwyang Seng, maka ia dapat menduga bahwa antara Puteri Nirahai dan keluarga Pangeran Ouwyang tentu ada hubungan erat. Karena itu dengan perasaan marah memenuhi dada, dengan hati panas oleh dendam, ia lalu menujukan langkahnya yang terpincang-pincang itu ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok!

Lima orang penjaga pintu gerbang di luar pekarangan gedung besar Pangeran Ouwyang Cin Kok cepat menghadang dan memandang heran ketika melihat pemuda buntung itu seenaknya saja memasuki pintu gerbang.

“Haiii! Berhenti! Tidak boleh mengemis di sini!” Seorang di antara mereka membentak, kemudian menodongkan tombaknya ke depan dada Han Han. “Pergi!”

Han Han tidak marah mendengar makian ini. Baginya, dikatakan pengemis bukan merupakan makian atau penghinaan. “Minggirlah, aku hendak mencari Ouwyang Seng!”

Lima orang penjaga itu tercengang. Mendengar seorang pemuda kaki buntung yang mereka anggap pengemis itu menyebut nama Ouwyang-kongcu begitu saja, timbul dugaan bahwa tentu pengemis buntung ini miring otaknya.

“Eh, orang gila. Pergilah kalau tidak mau kami pukul!” bentak penjaga ke dua.

“Kalian minggirlah, jangan halangi aku!” Han Han berkata dengan suara dingin. Tanpa mempedulikan mereka, dia berjalan terus memasuki pekarangan gedung besar.

Lima orang penjaga itu menjadi marah dan berkelebatlah tombak-tombak mereka ke arah Han Han.

“Trang-trang-krek-krek-krekkk!”

Lima batang tombak patah-patah dan beterbangan disusul tubuh lima orang penjaga itu yang terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin! Han Han tidak mempedulikan mereka lagi dan terus dia berloncatan menuju gedung.

Teriakan-teriakan para penjaga ini menarik perhatian para penjaga di gedung dan mereka ini, dua belas orang banyaknya, datang berlari-lari. Mereka terkejut melihat para penjaga pintu gerbang roboh semua dan melihat pemuda buntung itu berloncatan ke ruangan depan. Cepat mereka mengurung, akan tetapi Han Han yang tidak sabar telah meloncat tinggi ke atas kepala mereka, kedua tangan didorong ke bawah dan dua belas orang itu roboh terbanting tunggang-langgang.

“Ouwyang Seng! Keluarlah! Kalau tidak, kuhancurkan tempat ini!” Han Han berteriak-teriak dan sekali sambar ia mengangkat singa-singaan batu yang belum tentu dapat terangkat oleh sepuluh orang biasa, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan melontarkan singa-singaan batu itu ke dalam.

“Braaaaakkkkk!” pecahlah pintu ruangan depan itu.

Han Han meloncat ke dalam ruangan itu, suaranya lantang ketika berteriak, “Ouwyang Seng! Puteri Nirahai! Keluarlah dan serahkan kembali adikku Lulu! Kalau tidak, akan kuhancurkan kota raja!”

Tiba-tiba dari sebelah dalam menyambar senjata rahasia yang berupa gelang-gelang kecil. Cepat dan kuat sekali sambaran ini, akan tetapi dengan tenang Han Han menggerakkan tubuh meloncat tinggi sehingga sambaran senjata-senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Di udara, tubuh Han Han berjungkir balik dan ia sudah meloncat keluar karena kalau ada lawan tangguh menghadapinya, lebih baik ia berada di luar gedung.

Benar saja dugaannya, dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tahu-tahu seorang pemuda yang memegang sebatang golok telah berdiri di depannya. Pemuda itu bukan lain adalah Gu Lai Kwan! Ketika Lai Kwan melihat Han Han, ia pun terkejut dan marah.

“Keparat! Kiranya engkau setan buntung!” Lai Kwan memaki dan goloknya sudah menyambar, menjadi sinar putih yang menyilaukan dan mengeluarkan suara berdesing ketika golok itu membelah angin.

“Singggg...!”

Lai Kwan terkejut karena tiba-tiba lawannya lenyap. Cepat ia memutar tubuh dan mengelebatkan goloknya ke belakang, akan tetapi Han Han yang sudah berada di sebelah belakangnya mudah saja mengelak sambil berkata.

“Gu Lai Kwan, aku menjadi setan buntung karena engkau! Sekarang bukan maksudku datang untuk membalas dendam, sebab aku tidak mendendam kepadamu. Akan tetapi suruhlah Nirahai dan Ouwyang Seng keluar membawa adikku Lulu, kalau tidak... hemmm... siapa pun yang menghalangiku akan kubunuh, termasuk engkau!”

“Buntung sombong!” Lai Kwan malah menyerang lagi.

Melihat betapa pemuda bekas suheng-nya ini nekat, Han Han yang memang sedang berduka dan marah sekali menjadi gemas, akan tetapi ia masih tidak bergerak, hanya mengelebatkan tongkat bututnya menangkis sambil mengerahkan tenaga memutar tongkat itu.

“Trakkk! Aihhhhhh...!”

Lai Kwan terkejut bukan main. Betapa pun ia mempertahankan diri sambil mengerahkan tenaga, tetap saja ia terpelanting dan cepat ia bergulingan karena takut kalau-kalau Han Han menyerangnya. Akan tetapi Han Han masih berdiri tegak dan tenang. Melihat ini, sambil meloncat bangun Lai Kwan berteriak keras.

“Suhu...! Sian-kouw...! Harap bantu...!”

Setelah berteriak demikian Lai Kwan sudah menerjang lagi sambil mengerahkan semua tenaganya. Akan tetapi sekali ini ia berhati-hati, maklum bahwa lawannya yang buntung ini biar pun dahulu hanyalah seorang sute-nya, namun sekarang sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa.

“Syuuuttt... syuuuuttttt... singggggg!” Sinar berkilauan dari golok Lai Kwan menyambar ganas bertubi-tubi.

“Wuuuttttt!”

Tubuh Han Han sudah melayang lagi keluar dari ruangan depan menuju ke pekarangan. Lai Kwan mengejar dan Han Han berhenti di atas anak tangga depan ruangan. Lai Kwan yang memang memiliki ilmu kepandaian tinggi tidak memberi kesempatan kepadanya, sudah membacok lagi dengan goloknya mengarah kepala Han Han. Pemuda buntung ini tidak begitu mempedulikan Lai Kwan, hanya menundukkan muka mengelak sambil siap menghadapi lawan yang lebih tangguh, yang ia duga tentu akan muncul mendengar teriakan Lai Kwan.

Dan pada saat itu, terdengar suara lengkingan dahsyat dibarengi suara ringkik kuda dan muncullah Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dari pintu samping, langsung ia memukul ke arah Han Han dengan ilmu pukulan dahsyat Swat-im Sin-ciang! Juga tampak berkelebatnya bayangan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat. Nenek lihai itu melayang turun dari atas dengan jari tangan mencengkeram ke arah kepala Han Han menggunakan ilmu sakti Toat-beng Tok-ciang! Dan berbareng di saat itu juga, Lai Kwan sudah membabat ke arah kaki Han Han!

“Desss!”

Pukulan Ma-bin Lo-mo telah ditangkis oleh Han Han dengan telapak tangan kanannya. Sambaran golok Lai Kwan didiamkannya saja karena dalam gugupnya Lai Kwan menyerang ke bawah untuk membabat kaki Han Han, lupa bahwa kaki kiri Han Han telah tidak ada lagi sehingga goloknya menyerang angin kosong!

Han Han lebih memperhatikan cengkeraman si nenek ke arah kepalanya. Ia tidak mengelak, melainkan memapaki tubuh nenek yang menyerang dari atas itu dengan tongkatnya. Gerakan pertamanya menotok telapak tangan kiri nenek itu dan ketika Toat-beng Ciu-sian-li terkejut menarik kembali tangannya, Han Han melanjutkan serangan tongkatnya dengan totokan pada pinggang nenek itu.

“Aiiihhhhh!” Toat-beng Ciu-sian-li memutar tubuh di udara, berjungkir balik dan dari kedua tangannya menyambar dua buah gelang, yaitu senjata rahasia yang amat ampuh!

Han Han telah memutar tongkat menangkis bacokan susulan Lai Kwan dari belakang, dan kembali tangan kanannya menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo. Melihat datangnya sambaran dua buah senjata rahasia ini, teringatlah ia akan Kim Cu yang dahulu hampir tewas akibat senjata rahasia ini, maka ia menjadi gemas sekali. Kepalanya bergerak, rambutnya yang panjang menyambar ke depan dan... dua gumpal ujung rambutnya berhasil melibat dua buah gelang yang menyambar, kemudian secara kontan dan keras gelang-gelang itu ia kembalikan ke arah pemiliknya, menyambar dahi dan tenggorokan Ciu-sian-li yang menjadi terkejut.

Dewi Mabuk ini cepat mengelak sambil terus menubruk maju mengirim pukulan sakti dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya kembali mengarah ubun-ubun kepala Han Han dengan cengkeraman maut. Juga Ma-bin Lo-mo yang menjadi kagum dan terkejut menyaksikan gerakan Han Han yang mendapat kemajuan secara aneh dan hebat, kini telah membarengi menyerang dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang sekuatnya. Bukan main hebatnya serangan yang dilakukan secara berbareng oleh Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo ini, dahsyat dan mengingat bahwa keduanya merupakan datuk-datuk golongan hitam yang sudah mencapai tingkat di puncak, tentu saja amat sukar bagi lawan yang dikeroyok dua orang ini untuk dapat menyelamatkan diri dari serangan mereka yang dilakukan berbareng.

Namun betapa kaget dan heran hati kedua orang tokoh hitam ini ketika secara tiba-tiba tubuh Han Han lenyap dari tengah-tengah antara mereka, telah menghindarkan diri dengan sebuah loncatan yang luar biasa sekali, secepat kilat menyambar sehingga mereka berdua hampir tak dapat mengikuti dengan pandang mata mereka! Akan tetapi, Lai Kwan yang berada di luar gelanggang dapat melihat gerakan Han Han yang menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun, gerakan kilat yang membuat tubuhnya seperti mencelat dan keluar dari kepungan dua orang datuk hitam itu.

Gu Lai Kwan adalah murid Toat-beng Ciu-sian-li yang paling setia dan paling disayang oleh nenek itu dan oleh Ma-bin Lo-mo. Pemuda ini amat benci kepada Han Han karena sesungguhnya pemuda ini mencinta Kim Cu. Peristiwa yang menimpa diri Kim Cu sebagai akibat gadis itu membela Han Han, membuat Gu Lai Kwan menaruh dendam kebencian kepada Han Han. Maka kini melihat Han Han meloncat keluar dari kepungan kedua orang gurunya, Lai Kwan mengeluarkan bentakan nyaring dan menggunakan goloknya menyambut tubuh Han Han yang masih melayang di udara.

“Mampuslah engkau, manusia buntung keparat!” bentaknya, goloknya menyambar seperti naga mengamuk.

Han Han dapat melihat sinar maut terpancar dari pandang mata Gu Lai Kwan, maka ia pun membentak, “Begitu kejamkah hatimu?”

Biar pun tubuh Han Han baru meloncat dan kini disambut dengan serangan golok yang ganas, namun loncatannya itu memang merupakan keampuhan ilmunya yang mukjizat yang ia pelajari dari nenek Khu Siauw Bwee, maka sambil meloncat, ia melihat menyambarnya golok. Han Han lalu menggerakkan tongkatnya, dengan tenaga sinkang yang dahsyat tongkatnya menempel pada golok dengan sepenuhnya mengandung daya melekat! Betapa pun Lai Kwan berusaha menarik kembali goloknya, sia-sia saja karena goloknya telah melekat pada tongkat seperti berakar di situ!

Pada saat Lai Kwan menarik golok, tiba-tiba Han Han melepas golok itu sambil mendorong. Tak dapat ditahan lagi golok itu menyambar ke arah Gu Lai Kwan sendiri. Gu Lai Kwan terkejut, matanya terbelalak dan ia berusaha menggulingkan tubuhnya, namun golok di tangannya itu lebih cepat, tahu-tahu sudah membacok lehernya. Teriakan mengerikan seperti leher tercekik keluar dari mulut Lai Kwan dan tubuhnya yang tadi bergulingan itu rebah menelungkup, kepalanya miring secara aneh, golok masih di tangan dan tanah di bawah lehernya perlahan-lahan menjadi basah dan merah. Pemuda ini tewas oleh goloknya sendiri, lehernya hampir putus!

Peristiwa ini terjadi cepat sekali, hanya beberapa detik selagi tubuh Han Han masih mengapung di udara. Kini Han Han mencelat ke depan, tidak mempedulikan lagi kepada Gu Lai Kwan yang seolah-olah telah melakukan ‘bunuh diri’ dengan golok sendiri itu.

“Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, mundurlah! Aku tidak ingin bermusuhan denganmu atau dengan siapa pun juga!” bentak Han Han dan suaranya mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya sehingga dua orang datuk hitam itu sampai tercengang dan sejenak mereka itu memandang Han Han dengan mata terbelalak.

Akhirnya Toat-beng Ciu-sian-li memaki. “Bocah setan, murid murtad! Begini sikapmu terhadap bekas guru?”

Han Han mengerutkan keningnya. “Aku bukan muridmu lagi, Nenek yang bewatak ganas. Aku datang untuk mencari adikku, dan siapa pun dia yang menghalangi aku mencari adikku, akan kuhancurkan!”

Teringat akan Lulu, kembali Han Han menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. “Di mana Puteri Nirahai?! Hayo keluarlah dan serahkan Lulu kepadaku!”

Teriakannya ini amat nyaring sehingga bergema sampai jauh. Kembali Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li bergidik. Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini telah menjadi ahli waris Pulau Es dan memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, akan tetapi melihat pemuda ini setelah buntung kakinya menjadi makin lihai dan gerakan-gerakannya seperti orang yang pandai menghilang, benar-benar membuat mereka berdua menjadi ngeri!

Betapa pun juga, tentu saja dua orang yang menjadi tokoh dunia hitam itu tidak merasa takut dan mendengar tantangan Han Han terhadap Puteri Nirahai, mereka marah dan cepat menerjang lagi dengan hebatnya. Nenek itu selain menggerakkan kedua tangannya yang mengandung tenaga sakti Toat-beng Tok-ciang, juga menggerakkan rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya sebagai senjata yang ampuh dan aneh. Tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, persis seperti keganasan seorang kuntilanak dalam dongeng dunia setan. Ada pun Ma-bin Lo-mo yang sudah mengerti bahwa lawannya biar pun buntung dan masih amat muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia, juga telah menerjang maju dengan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang sekuat tenaga.

Han Han tidak ingin berkelahi dan tidak ingin pula bermusuh dengan mereka. Akan tetapi karena mereka berdua menghalangi usahanya mencari Lulu, ia menjadi marah dan cepat mainkan ilmu silatnya yang membuat tubuhnya mencelat ke sana ke mari dengan gerakan yang tak terduga-duga dan cepat bukan main. Kepala Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo menjadi pening karena harus mengikuti gerakan-gerakan kilat pemuda buntung itu dan setiap serangan mereka selalu mengenai tempat kosong. Dengan penasaran kedua orang itu menubruk dengan pukulan-pukulan sakti.

“Wuuuttt!” Pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung hawa dingin menyambar dari kiri.

“Singgg... syuuttt!” Serangan tangan ampuh beracun dari Ciu-sian-li dibarengi sambaran rantai gelang di telinganya tidak kalah ampuh dan berbahayanya.

Dua serangan ini menyambar dari kanan kiri ketika kaki buntung Han Han baru saja turun menyentuh tanah. Akan tetapi tiba-tiba saja Han Han kembali mencelat ke atas dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya, mengatasi kecepatan serangan kedua lawannya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menukik dari atas dan tongkatnya melakukan dua kali totokan ke arah ubun-ubun kepala dua orang pengeroyoknya.

“Hayaaa...!” Ma-bin Lo-mo berseru kaget dan cepat menggulingkan tubuhnya yang ia lempar ke atas tanah sambil berteriak.

“Aiiihhhhh...!” Toat-beng Ciu-sian-li juga mengelak, melempar tubuh bagian atas ke belakang lalu berjungkir balik sampai lima kali sehingga rambutnya menjadi awut-awutan dan saling belit dengan kedua rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya.

Pada saat itu, serombongan pasukan pengawal datang berlari dan mengurung Han Han. Jumlah mereka lebih tiga puluh orang, semua bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat dan bertubuh kuat. Pada waktu itu, yang berada di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok hanyalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan muridnya yang terkasih, Gu Lai Kwan, ada pun tokoh-tokoh lain telah ikut membantu penyerbuan ke Se-cuan. Ketika melihat pemuda buntung mengamuk, semua pasukan pengawal dikerahkan.

Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri bersembunyi sambil mengintai. Ia menjadi gelisah bukan main. Betapa pun juga, pembesar ini masih mengharapkan kemenangan karena di situ terdapat dua orang tokoh sakti dan di lubuk hatinya ia tidak percaya apakah seorang pemuda yang buntung kakinya akan mampu melawan Ciu-sian-li serta Ma-bin Lo-mo dan puluhan orang pasukan pengawal.

Akan tetapi Han Han sudah marah sekali. Pemuda ini mengamuk secara menggiriskan hati. Tubuhnya berkelebat, lebih banyak di udara dari pada di darat, karena setiap kali ujung tongkat atau ujung kaki tunggalnya menyentuh sesuatu, baik tanah, pundak atau kepala lawan, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, seperti capung bermain di atas bunga-bunga di permukaan air, cepatnya seperti kilat sehingga setiap kali tubuhnya menukik ke bawah tentulah roboh dua tiga orang pengawal secara berbareng, menjadi korban ujung tongkat atau kedua tangannya!

Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li menjadi marah dan penasaran sekali, juga mereka berdua merasa malu mengapa mereka tidak mampu merobohkan pemuda buntung itu, padahal dibantu puluhan orang pengawal. Ma-bin Lo-mo meringkik keras dan kedua tangannya mendorong ke arah Han Han ketika pemuda itu turun ke atas tanah.

“Wuuusssss!” Angin yang mengandung hawa dingin sekali menyambar.

Han Han sudah menangkap seorang pengawal dan melemparkan ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh pengawal itu terbanting kaku, darahnya membeku, mukanya biru! Dan seorang pengawal lain roboh pula karena oleh Han Han dipergunakan untuk menangkis pukulan beracun Ciu-sian-li, roboh dengan tubuh yang menghitam terkena hantaman pukulan Toat-beng Tok-ciang!

Ketika para pengawal menubruk dengan senjata mereka, Han Han sudah mencelat ke atas lagi, meloncat sambil menyambar dua orang pengawal, kemudian ketika tubuhnya membalik, dua orang itu ia lemparkan ke arah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, disusul tubuhnya yang meluncur dengan serangan kilat.

Dua orang kakek dan nenek itu terkejut. Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda buntung yang lihai itu menyusul dengan serangan, maka apa boleh buat mereka menangkis keras sehingga dua orang pengawal itu terbanting roboh dengan tulang-tulang iga remuk. Benar saja seperti yang mereka duga, tubuh Han Han menyambar seperti seekor burung garuda, dan saking cepatnya hanya tampak bayangan berkelebat. Dua orang datuk hitam ini cepat meloncat untuk mengelak, namun masih kurang cepat sehingga pukulan tangan Han Han yang amat panas karena mengandung inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang itu telah mampir di dada Ma-bin Lo-mo sedangkan ujung tongkatnya telah menotok pundak Toat-beng Ciu-sian-li.

“Hyaaaaahhhhh...!”

“Haiiikkkkk...!”

Ma-bin Lo-mo terjengkang dan bergulingan, mukanya menjadi pucat sekali dan dadanya sesak, terasa panas seperti dibakar. Ada pun nenek sakti itu juga terbanting ke belakang, cepat duduk bersila untuk menyelamatkan nyawanya karena dia telah terkena totokan yang hebat. Kalau saja Han Han tidak ingat bahwa kedua orang itu pernah menjadi gurunya, biar pun pada saat itu ada puluhan orang pengawal yang menerjangnya, tentu ia akan mudah saja melanjutkan serangan membunuh kedua orang datuk hitam itu. Akan tetapi Han Han tidak ingin membunuh mereka dan dia hanya menggerakkan tangan dan tongkatnya, melempar-lemparkan para pengawal seperti orang melempar-lemparkan rumput saja.

Gegerlah para pengawal dan mereka mundur-mundur dengan muka ketakutan. Pemuda buntung itu terlalu kuat bagi mereka, seperti sekumpulan nyamuk melawan api saja. Melanjutkan pengeroyokan sama artinya dengan membunuh diri bagi mereka. Ada pun Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah menderita luka tidak berani melanjutkan pertandingan sebelum mengobati luka mereka, maka mereka berdua pun sudah lenyap memasuki gedung itu, menyelinap di antara sisa para pengawal yang hanya berani mengurung dari jauh sambil bersiap-siap untuk melarikan diri apa bila Han Han mengejar. Namun pemuda itu tidak mengejar, hanya berdiri tegak, bersandar pada tongkatnya, menengadah dan mengeluarkan suara nyaring memekakkan telinga.

“Puteri Nirahai! Kembalikan adikku...!”

Setelah beberapa kali berteriak tanpa ada jawaban, Han Han lalu meloncat ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Melihat ini, biar pun hati mereka dicekam rasa gentar dan ngeri, namun para pengawal tentu saja segera menghadang dan berusaha mencegah pemuda buntung itu memasuki gedung. Han Han mengeluarkan seruan keras dan begitu tongkatnya berkelebat, para pengawal itu roboh terpelanting ke kanan kiri seperti disambar kilat dan mereka tidak mungkin dapat menghalang lagi ketika pemuda itu berloncatan cepat melesat ke dalam gedung. Sambil berteriak-teriak para pengawal ini kalang kabut mengejar ke dalam.

Han Han sudah marah sekali. Dia mengamuk seperti gila, menggeledah seluruh kamar gedung itu, mencari Ouwyang Seng dan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Setiap orang pengawal yang berusaha menerjangnya dirobohkan dengan sekali gebrakan saja. Namun hasil penggeledahannya sia-sia. Tidak tampak batang hidung Ouwyang Seng yang dicarinya. Ketika ada lima orang perwira pengawal dengan nekat menerjangnya, ia melompat ke atas dan dari atas sinar tongkatnya bergulung-gulung, empat orang perwira roboh dan seorang lagi ia jambak rambutnya dan ia seret ke sudut ruangan. Dengan ujung tongkat ditodongkan di leher perwira itu ia membentak.

“Di mana Ouwyang Seng? Hayo jawab!”

Wajah perwira itu pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia dipaksa jatuh berlutut. Dengan napas sengal-sengal ia menjawab, “Ham... hamba... tidak tahu. Sudah lama tidak berada di sini...”

“Mana Ouwyang Cin Kok?”

“Tadi... ketika ribut-ribut... beliau lari... mungkin ke istana...”

“Dan di mana kakek dan nenek tadi? Mana Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li?”

“Lari... mereka lari... ke istana...”

Han Han menjadi sebal dan marah, tubuhnya bergerak dan perwira itu sudah ia lemparkan ke sudut. Tubuh perwira itu menabrak dinding dan tak dapat bangun lagi karena pingsan saking takutnya. Han Han meloncat keluar dan kini ia melesat amat cepatnya meninggalkan gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah diobrak-abriknya itu, menuju ke istana!

Kemarahan membuat manusia menjadi mata gelap dan lupa diri, lupa akan bahaya dan demikian pula dengan Han Han. Dia sedang marah sekali. Penderitaan batin yang ia alami bertubi-tubi ditambah kemarahannya mendengar bahwa adiknya ditawan membuat Han Han menjadi nekat dan tidak memakai perhitungan lagi, lupa bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang, betapa pun saktinya, untuk menyerbu seorang diri ke istana kaisar!

Tentu saja penjagaan di istana tidak dapat dibandingkan dengan penjagaan para pengawal di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pasukan pengawal yang dipusatkan menjaga istana amat besar jumlahnya, dan di situ pun banyak terdapat pengawal yang berilmu tinggi di samping keadaan istana sendiri yang merupakan semacam benteng yang amat kuat! Maka, begitu Han Han tiba di depan pintu gerbang, ia sudah dikurung oleh puluhan bahkan lebih dari seratus orang pengawal mengepung ketat, dan ia sudah dikeroyok secara hebat!

“Tangkap pemberontak!”

“Bunuh pemberontak!”

Para pengawal berteriak-teriak biar pun dalam beberapa gebrakan saja Han Han telah merobohkan tujuh orang pengeroyok, namun mereka tetap maju menerjang sehingga Han Han terpaksa memutar tongkat melindungi dirinya sambil berteriak.

“Aku bukan pemberontak! Aku hanya ingin bertemu dengan Puteri Nirahai dan minta supaya adikku dibebaskan!”

Tentu saja teriakannya sia-sia karena para pengawal sudah mendengar betapa hebatnya pemuda buntung ini mengacau gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Kini pemuda itu akan mencelakakan keluarga kaisar, ditambah pula Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri dengan dikawal oleh Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sudah lari mengungsi ke istana, karena itu di situ pun diadakan penjagaan yang ketat.

Biar pun para pengawal tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap ada yang roboh tentu tempatnya digantikan yang lain, namun dengan ilmunya yang mukjizat, yaitu gerakan kilat Soan-hong-lui-kun, Han Han dapat menembus pintu gerbang dan memasuki halaman istana. Betapa pun juga, dia tidak pernah dapat membebaskan diri dari kepungan yang makin lama makin ketat. Setelah dia memasuki pekarangan istana yang luas, pintu gerbang itu ditutup oleh para pengawal sehingga Han Han kini kehilangan jalan keluar!

“Bebaskan Lulu...! Lepaskan adikku!” Han Han berteriak-teriak dan mengamuk seperti seekor harimau terjebak.

Betapa pun juga, pemuda ini masih ingat bahwa kedatangannya bukan untuk menyebar kematian di antara para pengawal yang ia tahu hanya menjalankan kewajiban mereka menjaga keamanan istana. Oleh karena itu dia hanya merobohkan mereka tanpa membunuh dan hal ini tentu saja amat mudah ia lakukan karena pasukan pengawal itu bukan tandingannya. Hanya dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan dan tongkatnya saja sudah cukup baginya untuk membuat kocar-kacir seperti serombongan semut mengeroyok seekor jengkerik.

Kalau hanya pasukan pengawal yang mengepungnya, biar ditambah sampai seribu orang, kiranya akan mudah baginya untuk menyelamatkan diri dan keluar dari tempat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras, aba-aba dari komandan penjaga yang menyuruh semua pasukan mundur dan mengepung dari jarah jauh. Para pengawal yang tadinya mengeroyok secara mati-matian, kini mundur dengan hati lega dan tampaklah oleh Han Han munculnya orang-orang sakti yang sekarang menghadapinya. Mereka itu bukan lain adalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Lima orang tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian hebat!

Han Han maklum bahwa lima orang lawan ini merupakan lawan yang amat berat, terutama sekali dua orang hwesio Tibet yang merupakan wakil dari Pangeran Kiu yang mengkhianati perjuangan Bu Sam Kwi dan para orang gagah dengan mengadakan persekutuan gelap dengan pemerintah Mancu! Ia tersenyum dingin dan berkata.

“Ji-wi Losuhu, aku tidak mau mencampuri urusan kalian, tidak mau melibatkan diri dengan segala kepalsuan orang-orang yang mencari kedudukan melalui perang, fitnah, pengkhianatan dan lain-lain kekotoran lagi. Aku datang hanya untuk menuntut agar adikku Lulu yang ditawan Puteri Nirahai dibebaskan. Biarlah Puteri Nirahai sendiri keluar menemuiku! Aku datang bukan untuk mengacau, bukan untuk mencari musuh, melainkan semata-mata untuk menolong adikku. Bebaskan adikku, dan aku bersama adikku akan mengangkat kaki dari sini dan selamanya tidak akan mencampuri urusan perang yang terkutuk!”

“Murid murtad! Engkau masih harus menerima hukuman dariku!” Toat-beng Ciu-sian-li berteriak, penuh kemarahan karena nenek ini masih penasaran dan malu mengingat akan kematian muridnya terkasih, yaitu Gu Lai Kwan.

“Han Han, engkau bekas murid yang selain menyeleweng juga telah banyak melakukan penghinaan kepadaku, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” kata Ma-bin Lo-mo, sengaja mengeluarkan kata-kata besar untuk menutupi rasa malunya dan untuk berlagak di depan begitu banyak pengawal yang mengurung tempat itu.

“Ha-ha-ha, engkau bekas kacungku, kiranya engkau benar cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat yang menyembunyikan she Suma menjadi she Sie! Ha-ha-ha, mengingat bahwa engkau adalah Suma Han cucu Suma Hoat, biarlah aku akan mengampunimu asal engkau suka bertekuk lutut dan menyerah, Han Han!” kata Kang-thouw-kwi Gak Liat.

Sepasang mata Han Han mendelik. Dia memang tidak akan menyembunyikan nenek moyangnya, akan tetapi disebutnya nama kakeknya yang diam-diam amat dibencinya karena dianggapnya sebagai biang keladi keburukan nasibnya itu membuat hatinya mengkal sekali, namun ia tetap membungkam.

“Omitohud...! Suma-taihiap biar pun masih muda memiliki kepandaian hebat sekali, benar-benar mengagumkan hati pinceng. Perlu apa menyia-nyiakan usia muda dan berkepandaian tinggi? Menyerahlah, Suma-taihiap!” kata Thian Tok Lama.

“Benar ucapan suheng. Suma-taihiap, lebih baik menyerah dan kalau taihiap berjanji akan membantu menumpas pengkhianat Bu Sam Kwi, tentu yang mulia kaisar akan suka memberi ampun, bahkan menganugerahkan kedudukan kepadamu.” Thai Li Lama membujuk.

Namun semua ucapan keras menghina dan lembut membujuk itu sama sekali tidak mendatangkan kemarahan di hati Han Han. Ia berdiri tegak di atas kaki tunggalnya, memegang tongkal butut di tangan kiri dan menyilangkan lengan kanan di depan dada, kemudian berkata.

“Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan pemerintah mau pun dengan Ngo-wi Locianpwe yang merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Aku datang hanya untuk minta kebebaskan adikku!”

“Hiye-heh-heh! Bocah sombong! Kalau tidak diserahkan, kau mau apa?”

“Akan kurebut dengan paksa dan kuusahakan sampai aku mati.”

“Pemuda buntung sombong!” Toat-beng Ciu-sian-li sudah menggerakan rantai gelang di kedua telinganya sehingga terdengar suara berdencingan nyaring dan menggetarkan hati para pengawal yang mengurung tempat itu sambil berjaga-jaga, menutup jalan keluar pemuda buntung itu.

“Omitohud, betapa tabahnya!” Thian Tok Lama yang gendut itu berseru memuji karena benar-benar pendeta dari Tibet ini merasa kagum sekali. “Apakah taihiap berani melawan kami sedangkan tempat ini telah dikurung oleh ribuan orang pengawal?”

Han Han menoleh ke sekelilingnya. Ia melihat bahwa pasukan pengawal kini bertambah banyak, tentu ada dua tiga ribu orang banyaknya. Ketika ia menyapu keadaan di seluruh halaman istana dengan pandang matanya yang tajam, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di puncak genteng istana, akan tetapi lenyap lagi, entah bayangan manusia ataukah bukan.

“Thian Tok Lama, bagiku persoalannya bukan berani atau takut, melainkan benar atau salah. Kalau aku berpijak pada kebenaran, tidak ada lagi kata-kata takut, karena mati dalam kebenaran adalah mati yang terhormat. Kalau aku benar, biar menghadapi iblis sekali pun aku tidak takut, sebaliknya kalau aku salah, biar menghadapi seorang anak kecil pun aku tidak berani. Aku datang untuk membebaskan adikku, dan hal ini benar, maka aku tidak takut. Terserah kepada Ngo-wi, apakah akan menonjolkan kegagahan dengan cara mengeroyok aku dibantu pula oleh ribuan orang pasukan pengawal!” Ucapan terakhir Han Han ini mengandung ejekan yang amat tajam sehingga wajah kelima orang tokoh beser itu menjadi merah.

Memang harus diakui bahwa peristiwa yang kini mereka hadapi merupakan peristiwa yang ajaib dan amat memalukan. Biasanya setiap orang di antara mereka berlima yang telah memiliki kesaktian tinggi, tidak pernah atau jarang sekali menemui tanding sehingga mereka bersikap angkuh dan menganggap diri sendiri sebagai tokoh tingkat tinggi yang tidak mau sembarangan bergerak, apa lagi hendak mengeroyok lawan.

Dan sekarang, mereka berlima menghadapi seorang pemuda yang selain masih amat muda dan patut menjadi cucu mereka, juga yang hanya memegang sebatang tongkat butut dan kakinya tinggal satu! Menghadapi seorang lawan muda penderita cacat dengan masih mengandalkan pengurungan ribuan orang pengawal! Benar-benar merupakan peristiwa yang tak pernah mereka mimpikan dan amatlah merendahkan nama besar mereka!

“Omitohud, orang muda yang sombong. Kau kira pinceng tidak berani menghadapimu seorang diri?” Thai Li Lama menjadi tersinggung sekali dan ia sudah meloncat maju menghadapi Han Han.

Empat orang tokoh yang lain juga merasa jengah dan tersinggung, maka mereka ini hanya menonton, ingin melihat apakah pendeta Tibet yang kurus itu akan dapat mengatasi Han Han si pemuda buntung yang benar-benar merupakan lawan aneh yang baru pertama kali mereka jumpai selama hidup mereka yang sudah setengah abad lebih.

Han Han mengerti bahwa Thai Li Lama adalah seorang yang selain pandai ilmu silat aneh dari barat, juga memiliki kepandaian ilmu hitam dan ilmu sihir, maka ia bersikap waspada dan sudah bersiap dengan tongkat dilintangkan di depan dada, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka berada di atas kepala, telapak tangannya menghadap ke langit, diam-diam ia telah mengerahkan sinkang di tubuhnya, yang berputaran dan siap disalurkan untuk menghadapi lawan yang kuat ini.

Akan tetapi aneh, pendeta Tibet itu tidak segera bergerak menyerang, melainkan berdiri tegak dan kaku, kepala lurus, kedua lengan lurus di kanan kiri tubuhnya, kemudian terdengar suaranya, halus seperti membujuk.

“Suma-taihiap, kau turutilah permintaanku, tundukkan kepalamu...”

Han Han merasa ada getaran aneh terbawa oleh suara ini, begitu lembut mengelus perasaannya, mendatangkan rasa terharu dan tidak tega untuk menolak permintaan itu. Akan tetapi kesadarannya membisikkan bahwa kakek ini tentu menggunakan ilmu sihir, maka sebaliknya dari menundukkan kepala, ia malah menengadah, memandang ke angkasa! Benar-benar merupakan gerakan kebalikan dari pada apa yang diminta hwesio Tibet itu! Merupakan tantangan!

“Omitohud, agaknya taihiap hendak menggunakan kekerasan. Baiklah. Suma Han, kau pandang mataku kalau berani!”

Andai kata ucapan yang dikeluarkan merupakan perintah nyaring dan berwibawa ini tidak diembel-embeli ‘kalau berani’, tentu Han Han tidak sudi menurut, sungguh pun di dalam suara itu terkandung wibawa dan tenaga mukjizat yang seolah-olah memaksanya dan menguasai perasaan dan pikirannya. Akan tetapi kata ‘kalau berani’ membuat Han Han penasaran. Mengapa tidak berani? Ia segera memandang ke depan, menentang pandang mata hwesio itu. Dua pasang sinar mata bertemu!

Semua orang menahan seruan saking kaget dan seram melihat dua pasang pandang mata yang luar biasa itu. Sepasang mata Thai Li Lama yang sipit itu berubah bundar dan seolah-olah ada sinar terang keluar dari sepasang matanya, sedangkan sepasang mata Han Han menjadi tajam seperti mengandung api!

Thai Li Lama berkemak-kemik dan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguasai kemauan dan pikiran Han Han melalui pandang matanya, menyerang pemuda itu dengan ilmu i-hun-to-hoat untuk membetot semangat (hypnotism). Tetapi Han Han yang merasa betapa sinar mata itu seolah-olah menembus jantungnya, cepat membulatkan tekadnya untuk tidak tunduk dan dia malah membalas dengan pandang mata berapi-api.

Di luar kehendak manusia, memang terjadi keanehan yang mukjizat dalam diri pemuda buntung ini. Suatu kekuatan gaib telah dimilikinya semenjak mala petaka menimpa keluarganya dan daya kemauannya menjadi luar biasa sekali. Kemauan yang mukjizat ini tidak saja membuat dia tidak mungkin dapat ditembusi oleh ilmu hitam yang hendak menguasainya, bahkan kemauannya yang amat kuat ini dapat memancar ke luar dan masih cukup kuat untuk menguasai orang lain!

Kini Han Han yang maklum apa yang sedang dilakukan lawannya, membulatkan tekadnya untuk melawan dan menolak getaran halus yang keluar dari sinar mata Thai Li Lama. Ketika ia disuruh memandang, dia memang melakukannya, akan tetapi sama sekali bukan berdasarkan tunduk akan perintah itu, melainkan karena memang timbul atas kehendaknya sendiri hendak ‘mengadu kekuatan pandang mata’ dengan hwesio Tibet itu. Maka terjadilah ‘pertandingan’ yang luar biasa, lebih hebat dari pada pertandingan adu kekuatan sinkang karena yang diadu kini adalah kekuatan batin yang getarannya bergelombang, terasa oleh semua orang yang hadir sehingga mereka itu terpesona seperti kemasukan pengaruh mukjizat.

Kedua pandang sinar mata itu masih saling dorong, saling banting dan berusaha sekuatnya untuk menundukkan lawan, kalau kelihatan tentu amat seru seperti dua ekor naga saling serang. Keduanya tak pernah berkedip, bahkan mata mereka makin lama makin lebar, dengan sinar yang berapi-api. Diam-diam Thai Li Lama terkejut bukan main. Dia tadinya hanya menganggap bahwa pemuda buntung itu amat lihai ilmu silatnya, dan siapa mengira bahwa ternyata pemuda ini pun agaknya seorang ahli hoat-sut, ahli sihir yang memiliki kekuatan batin luar biasa sekali!

Biasanya, betapa pun pandai silat lawannya, sekali ia menggunakan ilmu membetot semangat ini, lawannya tentu akan mudah ia tundukkan. Thai Li Lama menjadi kaget dan penasaran melihat kenyataan betapa sama sekali ia tidak mampu menundukkan pemuda buntung ini, bahkan seolah-olah sinar matanya melekat pada sinar mata pemuda itu, sukar dilepaskan lagi. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan ia menggunakan seluruh kepandaian sihirnya yang dahulu ia pelajari dari guru-guru besar dari India di lereng Pegunungan Himalaya. Tiba-tiba ia mengeluarkan gerengan seperti suara seekor beruang dan membentak.

“Suma Han, lihat baik-baik siapa aku? Akulah manusia naga dari Himalaya, berkepala tiga berlengan delapan! Lekas kau berlutut dan menyerah!”

Dari kepala pendeta Tibet itu mengepul uap putih kebiruan dan terdengarlah suara berisik ketika pasukan itu berseru dan berbisik penuh ketakutan sambil memandang ke arah Thai Li Lama dengan mata terbelalak dan muka pucat, tangan menuding dan kaki gemetar. Siapa orangnya yang tidak akan akan merasa ngeri dan takut?

Pendeta Tibet yang tadinya bertubuh kurus kecil dan wajahnya sama sekali tidak menimbulkan rasa gentar itu kini telah berubah menjadi makhluk yang luar biasa. Tubuhnya masih tidak berubah, akan tetapi kepalanya berubah menjadi kepala naga, yang hidungnya menghembuskan uap biru. Kepala naga yang mengerikan itu bukan hanya sebuah, melainkan ada tiga buah! Dan lengannya bukan dua lagi, melainkan bertumbuh enam buah lengan tangan lain di pundaknya, sehingga lengannya berjumlah delapan!

Bagi Han Han, karena penglihatannya dilindungi oleh perisai kemauan yang membaja, perubahan pada diri Thai Li Lama itu hanya tampak suram-suram saja. Pemuda ini mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya. Pemuda ini tidak pernah mempelajari hoat-sut, tidak tahu bagaimana untuk mempergunakan kekuatan batinnya dalam ilmu ini, akan tetapi ia mengerti bahwa kalau ia mengerahkan kemauannya, maka ia tidak akan dapat terpengaruh orang lain bahkan dapat menguasai kemauan orang. Kini ia mengerti bahwa lawannya menggunakan ilmu sihir yang aneh, maka setelah mengerahkan seluruh tenaga kemauannya, ia tertawa dan berkata.

“Hemmm, Thai Li Lama, engkau ini seorang pendeta yang sudah tua, kenapa bersikap seperti anak kecil? Permainanmu ini hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, akan tetapi bagiku, engkau tetap Thai Li Lama yang biasa, berkepala hanya sebuah yang penuh dengan akal muslihat kotor dan berlengan dua yang tidak segan-segan melakukan perbuatan jahat!”

Semua pasukan yang mendengar ucapan Han Han yang keras dan berwibawa ini melihat perubahan aneh pada diri Thai Li Lama. Sekarang pendeta itu berubah menjadi biasa kembali dan kedua orang lawan itu masih melanjutkan mengadu kekuatan melalui sinar mata yang berapi-api! Akhirnya Thai Li Lama tidak kuat menahan, kepalanya berdenyut-denyut amat peningnya dan dari kedua matanya keluar air mata karena saking panas dan pedas rasa kedua matanya. Ia terhuyung dua langkah, dan tiba-tiba memekik sambil memukulkan sebelah tangannya ke arah dada Han Han, sedangkan tangan yang lain membuat gerakan seperti orang menulis huruf.

Han Han sudah siap sedia. Ia melengking nyaring dan kedua tangannya juga mendorong ke depan, sebelah kiri dengan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan yang kanan dengan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang! Dilanda dua macam tenaga yang berhawa amat dingin dan amat panas ini, Thai Li Lama terlempar ke belakang dan roboh terguling-guling. Ia dapat meloncat bangun lagi, akan tetapi napasnya terengah-engah dan mukanya pucat!

Melihat keadaan sute-nya, Thian Tok Lama sudah merendahkan tubuhnya yang gendut, perutnya mengeluarkan suara berkokok seperti ayam biang, dan kedua tangannya menyerang dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang ampuhnya menggila itu. Tangan kanannya berubah biru dan dari kedua telapak tangan itu menyambar uap hitam ke arah Han Han. Pada saat yang hampir sama, tiga orang tokoh sakti yang lain, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menerjang dengan pukulan-pukulan sakti mereka ke arah Han Han.

Namun semua pukulan sakti yang membawa maut itu luput. Pada saat yang tepat, tubuh Han Han telah lenyap dan pemuda buntung yang amat sakti ini telah melesat ke atas, kemudian menukik turun dengan tongkatnya yang diputar menjadi sinar kehijauan melingkar-lingkar dan menyambar ke arah kepala lima orang pengeroyoknya! Lima orang tokoh besar yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang sudah mencapai puncaknya itu cepat mengelak dan melakukan pengurungan ketat dari lima penjuru, seolah-olah secara otomatis membentuk ngo-heng-tin (barisan lima anasir).

Terjadilah pertandingan yang amat seru dan luar biasa. Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak melancarkan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang berhawa panas sekali. Juga Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee Si Iblis Muka Kuda menghujankan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin seperti salju. Toat-beng Ciu-sian-li dengan penuh amarah menggerakkan sepasang rantai gelang di kedua telinganya yang merupakan sepasang senjata ampuh, dibantu sambaran rambutnya dan serangan kedua tangan penuh kuku runcing dengan pukulan Toat-beng Tok-ciang yang beracun. Karena maklum akan kelihaian pemuda buntung itu, kedua orang pendeta Lama dari Tibet juga tanpa segan-segan lagi menyerang dengan pukulan-pukulan sakti mereka.

Han Han mengerti sepenuhnya bahwa dia terancam maut. Dia mengenal kehebatan lima orang lawannya. Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, dia yakin akan dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi dikeroyok lima orang yang memiliki kepandaian setinggi itu benar-benar amat berbahaya dan selama hidupnya, baru sekali ini ia benar-benar dihadapkan dengan pengeroyokan lawan yang menggiriskan! Terpaksa pemuda buntung yang amat sakti ini mengerahkan seluruh kepandaiannya yang pernah dipelajarinya dan mengerahkan seluruh tenaga sinkang yang berada di tubuhnya untuk melindungi diri dan juga untuk balas menyerang.

Pada saat itu senja telah datang dan keadaan cuaca mulai gelap. Di atas wuwungan istana, jauh tinggi di puncaknya, terdapat dua orang yang menonton pertandingan itu penuh takjub. Mereka ini bukan lain adalah Puteri Nirahai dan gurunya, Puteri Maya. Tadi mereka keluar dari istana ketika mendengar akan kekacauan di depan istana, akan tetapi melihat bahwa yang datang mengacau hanya seorang pemuda buntung dan yang menghadapi pemuda buntung itu sudah amat banyak, hati Maya menjadi tertarik, maka ia memegang tangan muridnya diajak meloncat naik ke atas wuwungan dan menonton...


BERSAMBUNG KE JILID 19