Pendekar Super Sakti Jilid 03

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PENDEKAR SUPER SAKTI BAGIAN 03

USUL ini diterima, bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki masing-masing berjanji untuk menculik anak pembesar yang paling tinggi kekuasaannya, kalau mungkin malah akan menculik putera Raja Mancu! Kesanggupan kedua orang sakti ini tentu saja disambut gembira. Di antara mereka yang hadir dan membicarakan semua rencana perlawanan dengan bermacam cara terhadap penjajah ini, hanya Siauw-lim Chit-kiam saja yang tidak mencampuri dan mereka tetap bersemedhi sambil melatih diri untuk menghadapi Setan Botak yang mereka tahu amatlah lihainya.

Akan tetapi, sehari itu mereka menanti-nanti, Setan Botak belum juga tampak muncul. Menjelang senja, tiba-tiba dari luar menyambar sebatang piauw beronce merah ke arah Khu Cen Tiam. Pendekar Siauw-lim-pai ini cepat mengulurkan tangan dan menyambar piauw itu sambil berseru heran karena ia mengenal piauw ini sebagai senjata rahasia sumoinya. Juga Liem Sian mengenalnya, maka pendekar ke dua dari Kang-lam Sam-eng ini tubuhnya sudah melesat ke luar dari kuil tua dan terdengar suaranya di luar kuil.

“Sumoi...!”

Akan tetapi, tak lama kemudian Liem Sian kembali ke dalam kuil dengan wajah muram dan pandang mata heran. “Dia benar sumoi, akan tetapi sudah pergi jauh,” ucapan ini ia tujukan kepada suhengnya.

Khu Cen Tiam menarik napas panjang. “Biarlah, memang dia tidak ingin datang ke sini, buktinya ini dia mengirim surat dengan piauwnya. Betapa pun juga, dia selamat, Sute, dan kita boleh bersyukur karenanya.”

Akan tetapi setelah Khu Cen Tiam membuka surat yang terikat pada piauw tadi, keningnya berkerut dan ia menoleh ke arah Siauw-lim Chit-kiam yang masih bersemedhi. “Susiok, teecu persilakan membaca surat sumoi,” bisik Khu Cen Tiam kepada Song Kai Sin.

Kakek ini membuka mata memandang, lalu dengan tenang mengulur tangan menerima surat dan dibacanya. Wajahnya masih tenang, namun pandang matanya mengandung sinar kilat, lalu menyerahkan surat itu kepada hwesio gendut di sebelahnya, orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam. Hwesio ini menerima surat, membaca dan bibirnya bergerak, “Omitohud...!” lalu menyerahkan surat itu kepada orang ke tiga.

Sebentar saja surat itu beralih tangan dan Siauw-lim Chit-kiam sudah membaca semua. Yang terakhir dari ketujuh orang tokoh Siaiw-lim-pai ini adalah seorang kakek kurus bermuka merah. Setelah membaca surat itu, bibirnya mengeluarkan suara mendesis seperti ular dan surat yang dikepalnya itu hancur menjadi bubuk ketika ia membuka kembali tangannya! Kemarahannya membuat kakek ini lupa diri dan kekuatan yang ia perlihatkan sungguh dahsyat. Mengepal hancur benda keras bukanlah hal yang amat mengagumkan, akan tetapi mengepal benda lemas seperti kertas sampai hancur membubuk, benar-benar tidaklah mudah dilakukan oleh sembarang ahli!

“Chit-te (Adik ke Tujuh), simpan tenagamu untuk menghadapi lawan tangguh, bukan diumbar dan habis dihisap kemarahan,” kata pula Song Kai Sin dengan nada menegur. Orang ke tujuh yang bernama Liong Ki Tek ini menghela napas panjang dan segera meramkan mata kembali.

Apakah bunyi surat yang dikirim secara aneh oleh Bhok Khim itu? Bunyinya pendek saja namun isinya dipahami oleh dua orang suheng-nya dan tujuh orang susioknya.

Kedua Suheng,
Perbuatan keji biadab Kang-thouw-kwi memaksa aku tidak ada muka untuk bertemu dengan orang lain, memaksa aku pergi mengurung diri ke dalam ‘kamar siksa diri’ di kuil. Kalau Suheng berdua dapat menewaskannya, syukurlah. Kalau tidak, aku akan memperdalam ilmu dan kelak aku sendiri yang akan menghancurkan kepalanya.
Bhok Khim
.

Tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu diam-diam mengeluh dan menangis dalam hati. Mereka tahu bahwa murid wanita Siauw-lim-pai itu telah diperhina oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat dan mereka tahu bahwa mengurung diri ke dalam ‘kamar siksa diri’ merupakan perbuatan nekat seperti orang membunuh diri.

“Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa dengan Kang-thouw-kwi...!” Tiba-tiba Song Kai Sin berseru keras ke arah luar kuil.

Semua orang terkejut dan ketika mereka memandang ke luar, ternyata Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah tampak berdiri di luar kuil bersama dua orang lain yang kelihatan amat menarik karena perbedaan muka mereka. Yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti pantat kuali, ada pun yang seorang lagi bertubuh pendek kurus bermuka putih seperti kapur!

Akan tetapi mereka yang mengenal dua orang ini maklum bahwa dua orang yang menemani Si Setan Botak ini bukanlah sembarang orang, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat terkenal, yaitu kakak beradik yang terkenal dengan julukan Hek-pek Giam-ong (Raja Maut Hitam Putih)! Mereka ini adalah murid-murid Si Setan Botak. Masih ada seorang lagi murid Si Setan Botak, yaitu seorang murid wanita yang bernama Ma Su Nio, berjuluk Hiat-ciang Sian-li (Dewi Bertangan Darah) yang kabarnya malah lebih lihai dari pada Hek-pek Giam-ong dan lebih kejam dari pada gurunya. Akan tetapi iblis wanita itu tidak nampak hadir.

“Hah-ha-ha-ha-ha!” Terdengar Si Setan Botak tertawa, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, hanya tertawa dengan nada mengejek. Yang membuka mulut bicara adalah Hek-giam-ong, muridnya yang bermuka hitam. Hek-giam-ong melangkah maju dan berkata, suaranya nyaring sekali.

“Bukankah Siauw-lim Chit-kiam murid-murid Ceng San Hwesio? Sejak kapankah murid-murid Ceng San Hwesio bersekutu dengan para pemberontak?”

“Sejak iblis-iblis macam kalian membantu penjajah Mancu!” bentak Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang suaranya lebih menggeledek dari suara Si Muka Hitam. “Kalau kalian berani, masuklah ke dalam kuil, di sini lega dan memang sudah disediakan untuk kita bertanding mengadu ilmu!” Tantangan Ban-kin Hek-gu Giam Ki ini bukan sekedar karena wataknya yang keras dan kasar, melainkan menurut rencana Ho-han-hwe untuk memancing musuh yang tangguh ke dalam kuil.

“Hah-ha-ha-ha-ha!” Si Setan Botak makin keras tertawa dan ia melangkah memasuki kuil, diikuti oleh dua orang muridnya yang kelihatan agak ragu-ragu. Hek-pek Giam-ong maklum betapa berbahaya memasuki ‘sarang’ musuh, akan tetapi karena di situ ada guru mereka, dan melihat guru mereka sudah memasuki kuil, tentu saja mereka berbesar hati dan melangkah masuk sambil mengangkat dada.

Suara ketawa Si Setan Botak makin nyaring dan biar pun mereka bertiga sudah tiba di ruangan kuil yang luas, kakek botak ini masih tertawa terus, makin lama makin keras dan terkejutlah mereka semua yang hadir karena tubuh mereka tergetar hebat oleh suara ketawa yang mengandung tenaga khikang amat luar biasa ini. Hanya mereka yang sudah tinggi tingkat sinkang-nya saja yang tidak terpengaruh, hanya tergetar dan masih mampu mengatasi getaran hebat ini. Siauw-lim Chit-kiam, kedua Kang-lam Sam-eng, Lauw-pangcu, Ban-kin Hek-gu dan It-ci Sin-mo yang masih dapat bertahan, sungguh pun mereka ini diam-diam harus mengerahkan sinkang untuk melawan suara ketawa itu.

Beberapa orang anggota Ho-han-hwe juga masih mampu melawan sambil cepat duduk bersila, akan tetapi belasan orang lain yang tingkat tenaga sinkang mereka masih kurang kuat sudah terjungkal dan cepat-cepat merangkak lalu berlari menjauhi ruangan itu ke sebelah belakang kuil sambil menutupi telinga mereka! Kalau mereka tidak cepat pergi dan menutupi telinga, mereka akan mati oleh suara ketawa yang mengguncang jantung itu!

Melihat ini, Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang berwatak keras berangasan menjadi marah sekali. Ia seorang ahli silat tinggi dan tentu saja maklum bahwa Setan Botak itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, mengerti bahwa orang yang telah pandai menggunakan khikang dalam suaranya untuk menyerang lawan dengan Ilmu Ho-kang seperti auman suara harimau adalah seorang sakti yang sukar dikalahkan. Akan tetapi, selain kasar dan keras, Ban-kin Hek-gu ini juga terkenal tidak pernah takut menghadapi siapa pun juga. Dengan kemarahan memuncak, keberaniannya bertambah dan ia menerjang maju menyerang Si Setan Botak sambil berseru.

“Setan Botak! Jangan menjual lagak di depan Ban-kin Hek-gu!”

Ban-kin Hek-gu bertenaga besar dan kini menyerang dengan penuh kemarahan, maka pukulan tangan kanannya yang dikepal mengarah kepala Kang-thouw-kwi Gak Liat amatlah dahsyatnya. Pukulan belum tiba anginnya sudah menyambar hebat. Akan tetapi kakek botak itu tenang-tenang saja, masih tertawa lebar sungguh pun sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Setelah kepalan tangan yang besar itu menyambar dekat, hanya tinggal sepuluh sentimeter lagi dari dahinya, kakek ini mengangkat tangan kirinya dan menerima kepalan tangan Ban-kin Hek-gu dengan telapak tangan.

“Plakkk!”

Si Kerbau Hitam itu terkejut bukan main karena merasa betapa telapak tangan Setan Botak itu lunak dan panas seperti air mendidih, di mana tenaganya sendiri seperti tenggelam. Cepat ia menarik tangannya, akan tetapi kepalan itu melekat pada telapak tangan Setan Botak yang tertawa-tawa. Ban-kin Hek-gu Giam Ki meronta-ronta dan rasa panas dari telapak tangan itu menerobos lengannya, membuat tubuhnya mandi keringat dan mukanya yang hitam berubah makin hitam.

“Ha-ha-ha, siapa yang berlagak?” Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa. “Pergilah, kau tidak berharga untuk bertanding melawan aku!” Sekali kakek botak itu mendorongkan lengannya, Ban-kin Hek-gu Giam Ki terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan.

Akan tetapi dia memang bandel dan berani. Cepat ia meloncat bangun lagi dan memaki. “Siluman botak! Hayo bertanding menggunakan ilmu silat, jangan menggunakan ilmu siluman! Aku masih dapat berdiri, sebelum mati aku Giam Ki tidak sudi mengaku kalah terhadapmu!”

“Phuahhh, sombongnya!” Hek-giam-ong yang juga bermuka hitam dan sama tinggi besarnya dengan Giam Ki sudah melompat maju dan bertolak pinggang. “Engkau ini berjuluk Kerbau Hitam, memang otakmu seperti otak kerbau! Suhu-ku telah berlaku lunak terhadapmu, akan tetapi kau masih banyak lagak. Kerbau macam engkau ini tidak perlu Suhu yang melayaninya, cukup dengan aku yang akan mencabut nyawa kerbaumu!”

“Bagus! Memang hendak kubasmi sampai ke akar-akarnya, baik guru mau pun murid harus dibasmi agar jangan mengotori dunia!” Ban-kin Hek-gu Giam Ki sudah menerjang maju dengan kepalannya yang besar.

Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, sama tinggi besar dan karenanya suka mempergunakan tenaga kasar. Dengan ilmu Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) ditambah tenaganya yang besar, dia benar amat lihai. Melihat datangnya pukulan Giam Ki, ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan lengannya.

“Dukkk!” Dua buah lengan yang besar dan kuat bertumbuk dan keduanya terpental ke belakang.

Tenaga mereka seimbang, akan tetapi Hek-giam-ong menang dalam hal ‘isi’ lengannya yang mengandung hawa panas. Giam Ki merasa betapa lengannya panas akan tetapi ia maju terus dan ternyata bahwa gerakan tubuhnya lebih cepat dari pada gerakan Hek-giam-ong. Dengan kemenangan ini ia bisa menutup kekalahannya dalam hal ilmu pukulan Hwi-ciang.

Segera terdengar suara bak bik buk dan dak duk dak duk ketika dua orang raksasa ini saling gebuk. Mereka ini selain bertenaga besar, juga memiliki kekebalan sehingga pukulan yang tidak tepat kenanya, tidak cukup merobohkan mereka. Akan tetapi terjadi perubahan aneh pada diri Ban-kin Hek-gu Ciam Ki sehingga membuat teman-temannya yang tentu saja menjagoinya menjadi heran dan juga gelisah. Kini raksasa tinggi besar hitam ini sering mempergunakan kedua tangannya bukan untuk menyerang lawan, melainkan untuk menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya!

Karena diseling dengan garuk sana garuk sini, pertandingan menjadi kacau karena ternyata gerakan-gerakan menggaruk ini malah membingungkan Hek-giam-ong. Raja Maut Hitam ini sudah mengirim pukulan Toat-beng Hwi-ciang ke arah dada lawan. Ketika melihat tangan kiri Giam Ki bergerak menuju ke dada, Hek-giam-ong menarik kembali pukulannya karena takut lengannya dicengkeram. Akan tetapi ternyata bahwa Giam Ki menggerakkan tangan itu bukan untuk mencengkeram tangan lawan, melainkan untuk menggaruk-garuk keras dadanya. Kemudian Giam Ki berseru aneh dan membawa tangan kanannya ke atas seperti hendak menyerang dari bagian atas.

Melihat ini Hek-giam-ong cepat mengelak, akan tetapi kembali ia kecelik karena tangan kanan yang bergerak ke atas itu kini menggaruk-garuk kepala! Kejadian-kejadian ini aneh dan lucu sekali, juga menegangkan dan mendatangkan kekecewaan bagi para teman kedua pihak. Hek-giam-ong menjadi marah, merasa seolah-olah ia dipermainkan, maka ia menerjang lagi dengan gerakan dahsyat.

Giam Ki yang diam-diam mengeluh di hatinya karena secara tiba-tiba tubuhnya diserang penyakit gatal yang tak tertahankan, cepat menangkis dan kembali pertemuan dua lengan yang kuat itu membuat mereka terpental mundur. Giam Ki meloncat maju lagi, kini menggerakkan tangan kiri ke atas. Hek-giam-ong meragu. Tangan itu hendak memukul ataukah hendak garuk-garuk?

Akan tetapi ia tidak mau menanggung resiko dan cepat menggerakkan kedua tangan ke atas, maksudnya kalau lawan memukul benar-benar, ia akan menangkap lengan itu dan akan mematahkannya, kalau hanya garuk-garuk, ia akan mencengkeram kepala lawan. Dan ternyata tangan kiri Giam Ki itu kembali hanya menggaruk kepala, akan tetapi kepalan kanannya sudah menonjok ke depan. Gerakan ini sama sekali tidak tersangka oleh Hek-giam-ong sehingga dadanya tertonjok.

“Bukkk!” Tubuh Hek-giam-ong terjengkang dan bergulingan di atas tanah. Dadanya ampek, napasnya sesak dan setelah terbatuk-batuk, barulah ia meloncat bangun dan menghadapi lawannya dengan mata merah. Akan tetapi Giam Ki tidak peduli dan masih terus garuk-garuk.

“Kau masih belum mampus?” bentaknya dan kembali ia menerjang. Memang gerakan Giam Ki lebih cekatan dari pada Hek-giam-ong. Kembali tangan Giam Ki diangkat ke atas.

Hek-giam-ong mengejek dengan dengusan marah. Ia tidak mau ditipu lagi dan tahu bahwa lawannya yang agaknya mempunyai penyakit kudis ini tentu mengangkat tangan untuk menggaruk kepala yang gatal. Maka ia pun tidak mau mengelak, bahkan cepat melangkah maju dan menonjok dada Giam Ki.

“Bukkk! Desssss...!”

Dua tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki roboh kelenger (pingsan) karena tertonjok dadanya sehingga napasnya menjadi sesak, akan tetapi di lain pihak Hek-giam-ong tadi pun kecelik karena sekali ini Giam Ki mengangkat tangan bukan untuk garuk-garuk lagi melainkan untuk memukul sehingga dalam saat yang bersamaan, Giam Ki berhasil menghantam pangkal leher Hek-giam-ong dengan tangan miring. Robohlah Hek-giam-ong dan tidak bergerak-gerak karena ia pun telah semaput (pingsan)!

Pek-giam-ong sudah menyambar tubuh kakaknya dan ia merasa lega bahwa kakaknya tidak terluka parah, hanya terguncang oleh kerasnya pukulan. Di lain pihak, para anggota Ho-han-hwe telah mengangkat tubuh Ban-kin Hek-gu, dipimpin oleh Lauw-pangcu. Atas isyarat Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiang, tubuh Giam Ki yang pingsan itu dibawa mendekat. Song Kai Sin cepat memeriksa dan ia menghela napas panjang.

“Untung...,” kata tokoh Siauw-lim-pai ini. “Tadinya ia keracunan maka ketika bertanding terus diganggu rasa gatal-gatal di tubuhnya. Tentu ia terkena racun ketika beradu tangan dengan iblis tua itu. Baiknya pukulan Hek-giam-ong tadi pun mengandung hawa panas dan pukulan ini malah membuyarkan pengaruh racun di tubuhnya sehingga nyawanya tertolong.”

Pek-giam-ong yang marah menyaksikan saudaranya terluka, kini melangkah maju dengan sikap menantang. Akan tetapi ia dibentak gurunya, “Mundurlah!”

Bagaikan seekor anjing dipecut, Pek-giam-ong mundur dan kembali ia merawat kakaknya. Kini Kang-thouw-kwi Gak Liat melangkah maju, menyapu semua anggota Ho-han-hwe dengan pandang mata yang membuat mereka itu merasa seram, kemudian sambil tersenyum lebar Si Setan Botak ini berkata.

“Aku sudah datang, siapa di antara anggota Ho-han-hwe yang ternyata hanyalah segerombolan pemberontak ingin menyusul para anggota Pek-lian Kai-pang?” Suaranya penuh ejekan, akan tetapi matanya menatap ke arah Siauw-lim Chit-kiam karena hanya tokoh-tokoh Siauw-lim-pai ini sajalah yang dipandang cukup berharga untuk menjadi lawannya.

It-ci Sin-mo Tan Sun biar pun tubuhnya kecil namun hatinya besar. Ia maklum akan kelihaian kakek botak ini, namun ia merasa tidak puas kalau ia tidak turun tangan. Kalah atau mati sekali pun bukan apa-apa bagi seorang patriot, akan tetapi sungguh hina dan rendah kalau dianggap takut bertemu dengan lawan tangguh.

“Kang-thouw-kwi! Engkau bukan saja seorang datuk hitam yang jahat, juga sekarang malah menjadi pengkhianat bangsa! Aku It-ci Sin-mo Tan Sun tidak takut kepadamu, jagalah seranganku ini!”

Gerakan It-ci Sin-mo Tan Sun cepat sekali, jauh lebih cepat dari pada gerakan Ban-kin Hek-gu Giam Ki. Tubuhnya melesat ke depan dan kedua tangannya digerakkan untuk menyerang dengan totokan-totokan maut. Si Setan Botak tertawa-tawa dan hanya tampak ia menggoyang-goyangkan tubuhnya akan tetapi aneh, semua totokan It-ci Sin-mo tidak ada satu pun yang menyentuh kulitnya.

“Sut sut sut cet cet...!”

Cepat sekali It-ci Sin-mo Tan Sun melanjutkan totokan-totokannya secara bertubi-tubi, tubuhnya berloncatan mencari posisi yang baik. Namun, tak pernah ia mampu mengenai tubuh lawan biar pun kecepatan gerakannya membuat ia berada di belakang tubuh Si Setan Botak. Padahal Kang-thouw-kwi Gak Liat tak pernah mengubah kedudukan kedua kakinya, hanya tubuhnya saja yang bergoyang-goyang, akan tetapi entah bagai mana semua serangan lawan tidak ada yang berhasil.

Belasan orang anggota Ho-han-hwe yang melihat betapa It-ci Sin-mo seperti dipermainkan sudah bergerak mengurung hendak mengeroyok Si Setan Botak. Melihat ini Pek-giam-ong berteriak keras dan tubuhnya menyambar ke depan, langsung ia menyerbu dan gegerlah tempat itu dengan jerit-jerit kesakitan dan robohnya beberapa orang anggota Ho-han-hwe karena amukan Pek-giam-ong.

“Krek-krekkk...!” Setan Botak menggerakkan kedua tangan menampar lengan lawan dan tubuh It-ci Sin-mo Tan Sun terlempar, kedua tangannya tergantung lumpuh karena tulang-tulang lengannya telah patah-patah!

“Huah-ha-ha-ha! Pek-giam-ong, pergilah dan bawa kakakmu pergi!”

Pek-giam-ong yang terkenal berwatak kejam seperti iblis itu kini merupakan seorang murid yang amat taat. Tanpa berani berlambat sedikit pun ia lalu meninggalkan para lawan yang tadi mengeroyoknya, menyambar tubuh kakaknya yang masih pingsan lalu sekali melompat ia lenyap dari tempat itu. Lauw-pangcu dan kedua orang saudara Kang-lam Sam-eng membiarkannya saja lewat, karena yang menjadi sasaran untuk dibinasakan adalah Si Setan Botak yang kini hanya seorang diri saja di dalam kuil.

“Ha-ha-ha, Siauw-lim Chit-kiam, hanya kalianlah yang patut main-main denganku. Majulah!”

Lima orang anggota Ho-han-hwe yang masih penasaran karena banyaknya kawan mereka yang roboh, masih mencoba untuk menyerang Si Setan Botak dengan senjata mereka. Akan tetapi kini kakek botak itu berseru keras, kedua tangannya mendorong ke depan dan... lima orang itu roboh dengan tubuh hangus dan mati seketika! Itulah kehebatan ilmu pukulan Hwi-yang-sin-ciang yang sengaja diperlihatkan oleh Kang-thouw-kwi untuk membikin gentar hati lawan.

Memang semua anggota Ho-han-hwe menjadi pucat wajahnya melihat kedahsyatan ilmu kepandaian kakek botak ini, akan tetapi melihat itu, Siauw-lim Chit-kiam bukannya menjadi gentar, sebaliknya malah menjadi marah sekali.

“Kang-thouw-kwi, engkau telah berani menghina seorang murid Siauw-lim-pai. Hari ini kami Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa denganmu! Beranikah engkau menghadapi gabungan Siauw-lim Chit-kiam?” kata Song Kai Sin dengan suara tenang namun sinar matanya membayangkan kemarahan.

“Huah-ha-ha-ha! Siauw-lim Chit-kiam masih terlalu ringan, boleh ditambah guru kalian. Mana Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai? Walau pun dia datang membantu kalian, aku masih akan kurang puas. Ha-ha!”

“Omitohud... engkau benar-benar tokoh sesat yang sengsara, Gak-locianpwe,” kata Lui Kong Hwesio, orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam sambil menggeser duduknya, bersila di sebelah kiri Song Kai Sin.

Kemudian secara berjajar, ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini duduk bersila, menurutkan urutan tingkat mereka. Dari kanan ke kiri mereka ini adalah Song Kai Sin, Lui Kong Hwesio, Ui Swan dan adiknya Ui Kiong, Lui Pek Hwesio, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek. Sebetulnya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini merupakan orang-orang berilmu tinggi yang mempunyai keistimewaan masing-masing. Jika dinilai secara perseorangan, tingkat masing-masing masih lebih tinggi dari pada tingkat Ban-kin Hek-gu Giam Ki atau bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun.

Akan tetapi, sekali ini, menghadapi seorang di antara Lima Datuk Besar, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat yang amat terkenal di antara golongan sesat sebagai seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak berani berlaku sembrono, tidak berani memandang rendah dan karenanya mereka lalu bergabung untuk mengeluarkan ilmu gabungan mereka yang paling ampuh, yaitu Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang secara khusus digubah oleh Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai untuk diajarkan kepada tujuh orang muridnya.

Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang) ini dapat dimainkan secara perorangan dan sudah merupakan sebuah ilmu pedang yang ampuh, akan tetapi permainannya tidak akan menjadi lengkap dan utuh kalau tidak dimainkan secara bergabung oleh tujuh orang itu. Kalau dimainkan secara bergabung, maka Chit-seng-sin-kiam merupakan sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang sukar dilawan karena amat kuat.

Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang dengan wajah berseri. Sudah lama ia mendengar akan ciptaan ilmu pedang ketua Siauw-lim-pai ini yang disarikan dari inti ilmu kepandaian Ceng San Hwesio. Kini ia berhadapan dengan kiam-tin ini, berarti bahwa ia berhadapan dengan Ceng San Hwesio yang sejak dahulu merupakan lawan seimbang darinya. Kalau ia bisa menangkan kiam-tin ini, berarti ia akan dapat menangkan Ceng San Hwesio pula! Ia melihat betapa tujuh orang murid Siauw-lim-pai itu sudah duduk bersila dengan pedang di tangan kanan, pandang mata lurus ke depan menatapnya. Bahkan tujuh pasang mata itu seolah-olah bersatu ketika memandangnya, menimbulkan wibawa yang kuat sekali.

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang aku sudah lama ingin melihat sampai di mana lihainya Chit-seng-sin-kiam dari Ceng San Hwesio!” Sambil tertawa, kakek botak ini lalu duduk bersila pula di depan ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai.

Jarak di antara Setan Botak dan tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu ada tiga meter jauhnya, dan kalau tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu semua bersenjatakan pedang pusaka, adalah Setan Botak ini sambil tersenyum menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong! Memang datuk hitam ini sombong, akan tetapi kesombongannya tidaklah kosong belaka. Ia memang amat sakti dan biar pun kakek botak ini menyimpan sebatang pedang lemas yang ia belitkan di pinggang sebelah dalam bajunya, namun tidak pernah orang melihat ia mempergunakan senjata dalam pertempuran. Hal ini berarti bahwa ia masih memandang rendah Siauw-lim Chit-kiam!

Song Kai Sin dapat menduga sikap lawan, maka ia pun tidak mau banyak sungkan lagi. Kakek botak ini selain merupakan tokoh sesat yang amat jahat dan sudah sepatutnya dibasmi, juga telah menghina murid keponakan mereka, telah mencemarkannya dan berarti mencemarkan kehormatan Siauw-lim-pai pula. Oleh karena itu, Song Kai Sin dan adik-adik seperguruannya maklum bahwa sekali ini mereka akan bertanding mati-matian, bukan saja untuk melenyapkan seorang tokoh sesat yang jahat, juga untuk mempertahankan nama dan kehormatan Siauw-lim-pai.

“Sudah siapkah engkau, Kang-thouw-kwi?”

“Ha-ha, sudah, sudah! Lekas keluarkan Chit-seng-sin-kiam itu!” jawab Si Botak sambil menggerak-gerakkan kedua lengannya yang segera menjadi kemerahan.

“Lihat pedang!” Song Kai Sin berseru dan pedang di tangannya itu ia tusukkan ke depan.

Menurut pendapat dan pandangan umum, biar pun lengan dilonjorkan ditambah panjangnya pedang, masih belum dapat melewati jarak tiga meter itu. Akan tetapi tanpa dapat dilihat mata, dari ujung pedang itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat sehingga selain tampak sinar pedang yang keemasan juga terdengar suara mencicit yang aneh.

Kang-thouw-kwi mengangkat lengan kiri-nya dan menggetarkan jari tangannya. Tentu saja tangannya tidak menyentuh pedang yang dipegang Song Kai Sin, akan tetapi jelas tampak betapa pedang itu terpental dan lengan tangan orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam itu tergetar!

Melihat kehebatan tenaga sinkang yang amat panas dari tangan Setan Botak, tokoh Siauw-lim-pai yang lainnya maklum bahwa mereka harus maju bersama. Maka serentak pedang-pedang mereka bergerak, ada yang membacok, ada yang menusuk, ada pula yang membabat.

Tampak sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata, pantulan cahayanya gemerlapan di dinding ruangan yang luas itu. Apa lagi setelah beberapa orang anggota Ho-han-hwe tadi menyalakan belasan batang lilin dan menaruh lilin-lilin itu di atas lantai di kanan kiri ruangan, maka sinar-sinar pedang itu menjadi amat indahnya. Tanpa terasa senja telah berganti malam dan kini para anggota Ho-han-hwe menonton pertandingan yang amat aneh dan yang belum pernah mereka saksikan selama hidupnya.

Betapa mereka tidak akan terheran-heran dan bengong menyaksikan pertandingan itu? Baik ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu mau pun Setan Botak, hanya duduk berhadapan, bersila di atas lantai dan jarak antara mereka terlampau jauh sehingga mereka itu tidak dapat saling menyentuh. Akan tetapi kini mereka ‘bertanding’ dan tujuh orang itu mengeroyok Si Setan Botak dengan serangan-serangan pedang yang berubah menjadi sinar-sinar gemerlapan.

Sebaliknya, Setan Botak menggerak-gerakkan kedua lengannya, kadang menangkis, ada kalanya mencengkeram dan mendorong, bahkan balas memukul tanpa menyentuh pedang dan tubuh para pengeroyoknya. Kedua tangannya kini selain berwarna merah seperti api membara, juga mengepulkan uap putih seperti asap panas!

Kalau dilihat begitu saja, seolah-olah Si Setan Botak dan ketujuh Siauw-lim Chit-kiam sedang bermain-main. Mereka tidak saling sentuh, namun mereka bergerak dengan sungguh-sungguh dan ruangan itu kini seperti dihujani sinar-sinar gemerlapan dan udara menjadi sebentar panas sebentar dingin.

Hanya beberapa orang saja di antara mereka, yaitu Lauw-pangcu, kedua Kang-lam Sam-eng, Ban-kin Hek-gu yang sudah sadar dari pingsannya, dan It-ci Sin-mo yang maklum apa yang sedang terjadi dan mereka memandang dengan hati penuh ketegangan. Mereka ini mengerti bahwa Siauw-lim Chit-kiam sedang bertanding melawan Si Setan Botak mengadu ilmu pedang yang digerakkan oleh tenaga sinkang tingkat tertinggi! Mengerti pula betapa selain sinar-sinar gemerlapan itu mengandung hawa maut, juga gerakan tangan Setan Botak itu mengandung hawa pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.

Akan tetapi mereka yang tidak mengerti cara pertandingan seperti ini menjadi amat penasaran. Si Setan Botak dan kedua muridnya telah menyebar maut, kini Setan Botak itu hanya duduk bersila dan menggerak-gerakkan kedua tangan. Bukankah ini membuka kesempatan baik untuk membinasakannya?

Mereka yang merasa amat benci kepada Setan Botak ini yang sudah membasmi Pek-lian Kai-pang dan menewaskan lima puluh orang lebih anggota perkumpulan itu yang merupakan kawan-kawan seperjuangan mereka, kini ingin membalas dendam. Tujuh orang anggota Ho-han-hwe setelah saling memberi isyarat dengan kedipan mata dan diam-diam mengambil jalan memutar, serentak maju menerjang tubuh kakek botak yang bersila itu dari belakang. Mereka bertujuh menggunakan senjata dan menyerang secara berbareng.

“Celaka...!” It-ci Sin-mo Tan Sun berseru. Juga teman-temannya yang tahu akan bahaya mengancam, berseru kaget namun sudah tidak keburu mencegah.

Segera terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang anggota Ho-han-hwe itu yang roboh tewas dengan tubuh tersayat-sayat dan ada pula yang roboh dengan tubuh hangus! Mereka tadi seperti sekumpulan nyamuk yang menerjang api, tidak tahu bahwa udara di sekitar arena pertandingan aneh itu penuh dengan berkelebatnya sinar pedang yang tajam dan hawa pukulan yang mengandung panasnya api. Sebelum mereka dapat menyentuh tubuh Si Setan Botak, tubuh mereka lebih dulu sudah dihujani sinar pedang yang menyambar-nyambar dan hawa pukulan yang membakar!

Melihat ini, Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiam berseru keras. Mereka bertujuh tadi terdesak hebat oleh Setan Botak yang benar-benar amat tangguh dan lihai sekali. Karena mereka melakukan pengeroyokan secara bertubi, maka setiap orang dari mereka mengadu tenaga dengan Kang-thouw-kwi dan ternyata bahwa mereka kalah kuat jauh sekali. Karena itu gerakan pedang mereka makin lama makin lemah dan terdesak sehingga ketika tujuh orang anggota Ho-han-hwe tadi maju, biar pun mereka tahu akan bahayanya, mereka tidak keburu menarik sinar pedang dan sinar pedang mereka itu ada yang mengenai tubuh para penyerbu.

Maka begitu Song Kai Sin berseru keras, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam lalu menggunakan siasat terakhir. Dengan tangan kiri mereka menyentuh punggung kawan yang bersila di sebelah kiri, tangan kanan memegang pedang dan kini mereka telah menyatukan tenaga. Getaran sinkang mereka bersatu dan karenanya gerakan pedang mereka pun sama, hanya merupakan satu serangan saja, akan tetapi yang mengandung tenaga tujuh kali lipat kuat dari pada tenaga perorangan.

Ketika Si Setan Botak menangkis dengan dorongan Hwi-yang-sin-ciang, menghalau sinar pedang yang amat besar dan kuat yang menyambarnya, ia mengeluarkan seruan marah dan kaget. Ia berhasil menghalau sinar pedang itu, akan tetapi telapak tangan kirinya robek sedikit dan mengeluarkan darah!

“Keparat! Kalian sudah bosan hidup!” bentaknya dan kini Si Setan Botak menggunakan kedua tangannya menahan.

Hebat bukan main adu tenaga sakti ini. Tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang saling menyentuh punggung dan menyalurkan tenaga disatukan dengan teman-teman seperguruan sehingga tenaga mereka menjadi satu, kini menghadapi dorongan kedua tangan Setan Botak dan terjadilah adu tenaga, keras lawan keras! Mereka tidak bergerak-gerak lagi, pedang mereka menuding ke satu jurusan, yaitu ke arah Kang-thouw-kwi yang sebaliknya mengulur kedua lengan ke depan, dengan kedua telapak tangan mendorong ke arah tujuh orang pengeroyoknya.

Wajah Siauw-lim Chit-kiam pucat dan penuh keringat, di lain pihak, wajah Kang-thouw-kwi menjadi merah sekali dan kepalanya mengepulkan uap panas! Dorong-mendorong terjadi, akan tetapi sedikit demi sedikit keadaan Siauw-lim Chit-kiam terdesak!

Lauw-pangcu yang melihat keadaan tidak menguntungkan ini lalu mendekati Khu Cen Tiam dan Liem Sian. Mereka bertiga ini sudah terluka, tentu saja tidak berani membantu. Andai kata mereka tidak terluka sekali pun, tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk mencampuri pertandingan tingkat tinggi itu. Mereka berbisik-bisik dan akhirnya mengambil keputusan untuk menjalankan siasat yang telah mereka atur sebelumnya, yaitu hendak membakar kuil itu selagi Si Setan Botak terikat dalam pertandingan mati-matian melawan Siauw-lim Chit-kiam! Memang siasat ini kalau dijalankan berarti akan membahayakan keselamatan Siauw-lim Chit-kiam sendiri, namun memang telah mereka sepakati sebelumnya bahwa untuk membasmi Si Setan Botak, Siauw-lim Chit-kiam bersedia untuk mergorbankan nyawa.

Dengan isyarat Lauw-pangcu, mereka semua mengundurkan diri dan mulailah mereka membakar kuil itu dari luar. Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang membantu pekerjaan ini mengucurkan air mata, karena maklum bahwa nyawa ketujuh orang susiok (paman guru) mereka terancam maut bersama nyawa Setan Botak. Para anggota Ho-han-hwe demikian sibuknya dengan pekerjaan menuangkan minyak dan membakar kuil sehingga mereka tidak tahu betapa di antara kegelapan malam itu, sesosok tubuh kecil menyelinap memasuki kuil melalui bagian yang belum terbakar. Tubuh cilik ini bukan lain adalah Lauw Sin Lian, gadis cilik puteri Lauw-pangcu!

Sin Lian tadinya dititipkan kepada seorang sahabatnya oleh Lauw-pangcu. Akan tetapi, anak perempuan ini diam-diam merasa tidak senang. Ia tahu bahwa ayahnya dan teman-teman ayahnya sedang berusaha membalas dendam atas kematian semua anggota Pek-lian Kai-pang. Dia ingin sekali menonton, bahkan kalau mungkin ingin sekali membantu! Selain itu, juga anak ini amat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya, maka diam-diam ia minggat keluar dari rumah sahabat ayahnya itu dan berlari menyusul ayahnya.

Bocah ini amat cerdik dan ia menduga bahwa Ho-han-hwe pasti diadakan di kuil tua yang sudah tak terpakai di luar kota. Tanpa ragu-ragu ia langsung lari menuju ke kuil itu dan malam telah tiba ketika ia akhirnya sampai di tempat tujuan. Karena melihat banyak orang sibuk membakar kuil, hatinya makin gelisah. Ia tidak melihat ayahnya, dan untuk bertanya ia tidak berani, takut mendapat marah. Maka ia lalu menyelinap dan berhasil memasuki kuil dari bagian yang gelap dan yang belum dicium api.

Ruangan dalam kuil kosong itu mulai berasap. Di antara asap tipis, Sin Lian melihat musuh besar ayahnya, Setan Botak, duduk bersila membelakanginya, tak bergerak seperti sebuah arca batu yang menyeramkan. Kedua lengannya dilonjorkan ke depan dan telapak tangan dibuka ke arah tujuh orang laki-laki yang bersikap kereng dan yang kesemuanya memegang pedang. Juga tujuh orang itu diam tak bergerak seperti arca, akan tetapi muka mereka pucat dan penuh peluh, bahkan tubuh mereka, terutama tangan yang memegang pedang, mulai gemetar.

Melihat musuh besar itu, Sin Lian menjadi marah. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan tujuh orang berpedang itu dengan musuhnya. Akan tetapi melihat musuhnya duduk membelakanginya, diam seperti arca, ia melihat kesempatan baik untuk menyerang! Berindap-indap Sin Lian menghampiri kakek itu, setelah dekat ia lalu menerjang maju, memukul tengkuk.

“Dukkk...!”

Sin Lian terjengkang dan terbanting keras. Kepalanya menjadi pening, tangannya sakit, akan tetapi ia bandel, terus melompat bangun dan siap menyerang lagi. Ia tadi merasa betapa tengkuk kakek botak itu keras seperti baja, dan amat panas seperti baja dibakar. Ia tidak tahu betapa tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam memandang kepadanya dengan heran dan juga khawatir. Memang bocah ini masih baik nasibnya, tidak seperti tujuh orang anggota Ho-han-hwe tadi yang tewas secara konyol.

Kalau Siauw-lim Chit-kiam dan Setan Botak sedang bertanding seperti tadi, serang-menyerang antar sinar pedang yang digerakkan sinkang dan pukulan jarak jauh Hwi-yang-sin-ciang yang amat dahsyat, tentu sebelum menyentuh tubuh Setan Botak, Sin Lian telah roboh tewas, kalau tidak hangus karena Hwi-yang-sin-ciang, tentu tersayat-sayat oleh sinar pedang Chit-seng-sin-kiam!

Akan tetapi kebetulan sekali pada saat itu, kedua pihak sedang mengadu tenaga sehingga kedua pihak seolah-olah saling menempel, saling mendorong dan tidak bergerak ke mana-mana. Inilah sebabnya mengapa ketika Sin Lian memukul, ia tidak terkena pengaruh Hwi-yang-sin-ciang, melainkan terbanting roboh karena kekebalan tubuh kakek botak itu.

Betapa pun juga, karena berani memukul Kang-thouw-kwi, tentu saja nyawa anak ini berada dalam cengkeraman maut. Sekali saja Kang-thouw-kwi bergerak, tentu bocah itu takkan dapat tertolong lagi nyawanya. Hal inilah yang membuat Siauw-lim Chit-kiam menjadi gelisah. Keadaan mereka sendiri terancam maut dan sedang terdesak hebat, bagai mana mereka akan dapat menolong bocah ini?

Mereka tadinya tidak mengharapkan dapat keluar sebagai pemenang karena makin lama tenaga Setan Botak itu makin hebat, hawa di situ makin panas sebagai bukti bahwa Hwi-yang-sin-ciang makin unggul. Akan tetapi mereka merasa lega bahwa para anggota Ho-han-hwe sudah mulai bergerak membakar kuil. Mereka akan mati dengan lega karena merasa yakin bahwa Si Setan Botak juga akan mati terbakar hidup-hidup!

Kang-thouw-kwi Gak Liat maklum akan gangguan seorang anak perempuan di belakangnya. Akan tetapi ia tidak peduli, karena kalau ia membagi perhatian, apa lagi membagi tenaga, ia akan celaka. Menghadapi persatuan Siauw-lim Chit-kiam ini ia merasa bahwa amat sukar mencapai kemenangan dan hanya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya saja ia akan dapat menang. Akan tetapi kini kuil mulai terbakar dan tahulah ia bahwa keadaannya berada dalam bahaya pula. Kalau saja tidak ada gangguan ini, tentu ia akan dapat segera merobohkan Siauw-lim Chit-kiam dan masih ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Dalam usahanya untuk segera dapat merobohkan tujuh orang pengeroyok yang berilmu tinggi itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat tidak mempedulikan Sin Lian sama sekali, karena anak itu sama sekali tidak ada arti baginya. Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga, kedua lengannya menggigil dan lengan yang diluruskan ke depan itu menjadi makin panas. Kekuatan mukjizat yang amat dahsyat kini menerjang maju bagaikan hembusan angin badai yang panas ke arah Siauw-lim Chit-kiam! Getaran gelombang tenaga sakti ini segera terasa oleh Siauw-lim Chit-kiam dan betapa pun mereka ini menggerakkan tenaga mempertahankan diri, tetap saja tangan mereka yang menudingkan pedang gemetar keras.

“Werrrrr... cringgg... krak-krak...!”

Pertahanan Siauw-lim Chit-kiam menjadi berantakan ketika dua batang pedang di tangan Ui Swan dan Ui Kiong, dua orang di antara mereka, patah dan terlepas dari tangan mereka yang menjadi pucat wajahnya. Melihat betapa orang ke tiga dan ke empat dari Siauw-lim Chit-kiam ini kehilangan pedang yang tadi bergetar keras lalu patah-patah, lima orang tokoh Siauw-lim itu mengerahkan seluruh tenaga untuk me-nahan gelombang tenaga hebat yang menekannya, namun kini mereka jauh kalah kuat setelah tenaga mereka berkurang dua orang. Pedang mereka mulai tergetar hebat, muka mereka pucat dan napas terengah.

Ui Swan dan Ui Kiong yang sudah bertangan kosong tentu saja tidak dapat berdiam diri begitu saja menyaksikan keadaan saudara-saudaranya terdesak. Mereka ini lalu menggunakan tangan kanan yang kosong untuk mendorong ke depan dengan pukulan jarak jauh, sedangkan tangan kiri masih menempel punggung saudara yang berada di sebelahnya seperti tadi. Akan tetapi dengan pedang di tangan saja mereka tadi tidak dapat bertahan, apa lagi bertangan kosong. Begitu mereka mendorong dengan tangan, telapak tangan mereka bertemu dengan hawa panas yang menyusup kuat, terus menyerang isi dada. Kedua kakak beradik Ui ini mengeluh perlahan dan tubuh mereka rebah miring!

Melihat ini, lima orang Siauw-lim Chit-kiam menjadi terkejut. Tahulah mereka bahwa mereka akan roboh semua, namun mereka berkeras untuk mempertahankan diri sampai api menjilat tempat itu agar musuh mereka yang amat tangguh itu mati pula terbakar. Pada saat mereka terhimpit dan terancam hebat itu, tiba-tiba Kang-thouw-kwi Gak Liat berteriak marah dan bajunya sudah termakan api! Bagaimanakah baju Setan Botak ini dapat terbakar padahal api kebakaran kuil itu belum menjilat ke situ?

Bukan lain adalah hasil perbuatan Sin Lian! Karena tubuhnya terjengkang dan terbanting sendiri ketika memukul tubuh Setan Botak, Sin Lian menjadi penasaran dan marah sekali. Sebagai puteri Lauw-pangcu yang tidak asing akan kehebatan ilmu silat, anak ini maklum bahwa tubuh Setan Botak itu kebal dan percuma saja kalau ia memukul. Maka ia lalu mencari akal dan barulah ia sadar bahwa tempat itu telah terkurung api yang mulai membakar ruangan! Dalam kaget dan paniknya, timbul akalnya. Ia lalu lari ke tempat kebakaran, mengambil sepotong kayu yang terbakar dan tanpa ragu-ragu lagi ia menghampiri Setan Botak den membakar pakaian musuh ini dengan api itu! Bahkan ia lalu berusaha membakar rambut di kepala botak itu pula!

Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang ahli Yang-kang, bahkan kedua lengannya sudah memiliki Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang bersumber pada panasnya api. Boleh jadi kedua lengannya itu sudah kebal terhadap api, namun tubuhnya tidak, apa lagi rambut di kepalanya. Begitu melihat bahwa bajunya terbakar, bahkan sebagian rambutnya dimakan api, ia terkejut dan marah sekali.

Sambil berteriak dan menggereng seperti harimau, ia menggulingkan tubuhnya ke kiri. Pertama untuk memadamkan api yang berkobar pada bajunya, dan ke dua untuk menyingkirkan diri dari pada gelombang sinar pedang Siauw-lim Chit-kiam. Kemudian, setelah bergulingan dan keluar dari sasaran lawan, ia membalikkan tubuhnya dan memukul ke arah Sin Lian dari jarak jauh. Saking marahnya, kini ia menumpahkan semua kemarahan dan kebencian kepada anak perempuan itu.

Kelima orang Siauw-lim Chit-kiam maklum bahwa nyawa bocah itu berada di cengkeraman maut. Mereka juga maklum bahwa bocah perempuan itulah yang telah menyelamatkan nyawa mereka yang tadi sudah tertekan hebat. Tentu saja sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa, kini mereka tidak mungkin dapat berpeluk tangan saja menyaksikan penolong mereka terancam.

Tanpa komando, lima orang Siauw-lim Chit-kiam itu kini menodongkan pedang mereka dan mengerahkan tenaga, menghadang pukulan jarak jauh Setan Botak yang ditujukan kepada Sin Lian. Tenaga serangan itu tertangkis oleh sinar pedang, akan tetapi biar pun Sin Lian dapat diselamatkan, sebagian hawa pukulan menerobos dan sedikit saja sudah cukup membuat Sin Lian terguling roboh dan pingsan dengan muka gosong!

Karena ruangan itu mulai terbakar, Gak Liat yang tahu akan bahaya lalu tertawa dan tubuhnya sudah melesat ke luar menerjang api, lalu lenyap di dalam kegelapan malam di luar kuil. Lima orang Siauw-lim Chit-kiam tidak mengejar, karena selain mereka harus menyelamatkan dua orang saudara yang terluka dan gadis cilik yang pingsan, juga mengejar keluar kuil apa gunanya? Mereka takkan mampu mengalahkan Setan Botak yang lihai itu. Diangkutlah Ui Swan dan Ui Kiong, juga tubuh Sin Lian dan mereka pun cepat-cepat menerjang api menerobos ke luar sebelum ruangan itu ambruk.

Para anggota Ho-han-hwe menjadi kecewa dan berduka. Tidak saja usaha mereka menewaskan Setan Botak itu gagal sama sekali, juga mereka harus cepat-cepat angkat kaki dari Tiong-kwan karena kini tentu kaki tangan pemerintah Mancu akan mencari untuk membasmi mereka. Terutama sekali Lauw-pangcu yang kehilangan lima puluh lebih anggota Pek-lian Kai-pang, menjadi berduka sekali.

Akan tetapi di samping kedukaan ini, ada sinar terang yang membahagiakan hati ketua kai-pang ini, yaitu bahwa Siauw-lim Chit-kiam berkenan mengambil Sin Lian sebagai murid mereka! Setelah Ui Swan dan Ui Kiong diobati, dan juga Sin Lian sembuh, anak ini lalu dibawa pergi Siauw-lim Chit-kiam untuk mendapat gemblengan ilmu di kuil Siauw-lim-si.

Ada pun Lauw-pangcu sendiri lalu pergi ke barat untuk menyampaikan laporan kepada Raja Muda Bu Sam Kwi dan membantu perjuangan raja muda itu dalam usahanya mengusir penjajah Mancu dari tanah air. Juga semua anggota Ho-han-hwe yang mengunjungi pertemuan itu cepat-cepat meninggalkan Tiong-kwan, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka menghentikan atau mengurangi semangat perjuangan mereka yang anti penjajah.

******************


Kurang lebih setengah tahun lamanya Han Han berada di dalam gedung besar di pinggir kota Tiong-kwan, menjadi pelayan dari Setan Botak bersama muridnya Ouwyang Seng. Mengapa Han Han dapat bertahan sampai demikian lamanya menjadi pelayan di situ?

Sesungguhnya hatinya amat tidak senang menjadi pelayan Ouwyang Seng, akan tetapi karena anak ini menemukan hal-hal yang amat menarik hatinya maka ia memaksa diri tidak mau meninggalkan tempat itu. Ia tertarik melihat cara-cara latihan yang diajarkan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. Bahkan diam-diam kalau tidak dilihat guru dan murid itu, ia pun mulai melatih kedua lengannya dan merendamnya di dalam air panas bercampur racun!

Mula-mula ia tidak berani. Akan tetapi karena tekadnya memang luar biasa, ketika ia diberi tugas menggodok air beracun, ia mencelup kedua tangannya. Dengan kemauan yang amat luar biasa, terdorong oleh sifat aneh yang menguasainya, akhirnya dalam sebulan saja ia sudah mampu menahan kedua lengannya direndam air panas beracun sampai semalam suntuk!

Apa yang dicapai oleh Ouwyang Seng dalam latihan dua tiga tahun, dapat ia peroleh hanya dengan latihan sebulan saja! Dan pada bulan-bulan berikutnya, ia bahkan telah jauh melampaui Ouwyang Seng karena ia sudah dapat bertahan untuk merendam kedua lengannya ke dalam air panas batu bintang! Padahal latihan merendam lengan di air batu bintang ini hanya dilakukan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, sedangkan Ouwyang Seng hanya baru mulai dengan latihan yang berat ini!

Guru dan murid yang wataknya aneh dan keras itu ternyata merasa suka kepada Han Han yang juga tidak kalah aneh wataknya. Han Han dapat menjadi seorang anak yang pendiam dan penurut sekali kalau ia kehendaki, dan ia pandai menyimpan rahasia, sehingga guru dan murid itu merasa suka, bahkan akan merasa kehilangan kalau tidak ada Han Han yang mengerjakan segala keperluan mereka berdua itu dengan alat-alat dan keperluan berlatih.

Apa lagi Ouwyang Seng, sama sekali tentu saja tidak pernah menduga bahwa kacung itu telah ikut berlatih, bahkan telah melampauinya. Sedangkan gurunya, Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri tidak pernah mimpi bahwa bocah jembel itu ternyata selain melatih diri dengan dasar-dasar ilmu Hwi-yang-sin-ciang, juga sudah berani memasuki daerah terlarang, tempat ia berlatih dan yang merupakan tempat terlarang bagi semua orang! Dia tidak pernah menduga bahwa semua ajaran teori yang ia berikan kepada Ouwyang Seng, diam-diam telah didengar jelas oleh Han Han, bahkan bocah ini segera mempraktekkan ajaran-ajaran itu.

Apa bila Kang-thouw-kwi Gak Liat sedang bepergian, dan hal ini sering kali ia lakukan tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya, Ouwyang Seng yang pada dasarnya malas berlatih dan lebih suka berkuda atau berjalan-jalan keluar kota mengumbar kenakalannya. Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Han Han. Setelah ia dapat bertahan merendam kedua lengannya dalam air cairan batu bintang, mulailah ia diam-diam memasuki daerah tertarang!

Mula-mula jantungnya berdebar dan ia merasa ngeri. Di kebun yang liar itu terdapat banyak lubang-lubang dan ketika ia memperhatikan, ia terbelalak memandang ke arah kerangka-kerangka manusia yang berada di dalam lubang-lubang itu. Tahulah ia bahwa kuburan-kuburan yang berada di situ seperti yang pernah diceritakan Ouwyang Seng kepadanya, kini telah dibongkar dan tulang-tulang manusia serta tengkorak-tengkorak berserakan di tempat itu!

Benar-benar bukan merupakan tempat latihan seorang manusia. Lebih tepat dinamakan tempat seekor siluman atau iblis. Teringat pula ia akan cerita Setan Botak kepada Ouwyang Seng bahwa kalau latihan merendam lengan dalam cairan batu bintang sudah mencapai puncaknya, maka latihan dilanjutkan dengan membakar kedua lengan di atas api bernyala!

“Bukan api sembarang api,” demikian ia menangkap pelajaran yang diberikan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. “Melainkan api yang menyala dari tulang-tulang manusia yang dibakar. Api dari tulang-tulang itu mengandung sari hawa Yang-kang, sudah merupakan racun Hwi-yang. Dengan latihan itu, sari Hwi-yang akan meresap ke dalam kedua lengan memperkuat tulang lengan. Akan tetapi untuk mencapai tingkat ini, kau harus berlatih dengan tekun sampai sedikitnya sepuluh tahun, Kongcu.” Demikian antara lain penjelasan Setan Botak.

Entah mengapa ia suka mempelajari semua ini, Han Han sendiri tidak akan dapat menjawab. Ia tidak bermaksud mendapatkan kekuatan pada kedua lengannya karena ia tidak suka, bahkan benci berkelahi. Akan tetapi mungkin sifat aneh pada pelajaran inilah yang menarik hatinya dan yang membuatnya ingin mencoba dan melatih diri! Maka setelah ia mendapat kesempatan memasuki daerah terlarang, ia segera mulai dengan latihan-latihan yang menegangkan hatinya.

Mula-mula ia memanaskan kuali tua yang terisi cairan tulang-tulang tengkorak manusia, merendam kedua lengannya dalam cairan yang menjijikkan itu sebagai mana ia dengar dari penjelasan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. Kemudian mulailah ia melatih kedua lengannya di atas api bernyala yang ia buat dengan bahan bakar kayu-kayu dan tulang-tulang kering manusia yang berserakan di tempat itu.



Sampai setengah tahun lebih Han Han melatih diri di daerah terlarang itu. Tentu saja hal ini dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena ia pun tahu bahwa kalau sampai hal ini diketahui Setan Botak, nyawanya takkan tertolong lagi! Kini sudah lebih dari setahun ia menjadi pelayan Ouwyang Seng dan gurunya, dan mulailah ia merasa bosan.

Memang ia melatih diri selama ini tanpa pamrih apa-apa, hanya karena tertarik dan kini setelah ia dapat bertahan menaruh tangannya di dalam api berkobar sampai api itu mati sendiri kehabisan bahan bakar, ia menjadi bosan dan menganggap bahwa apa yang dicarinya sudah dapat. Ia mulai bosan setelah mengingat betapa ia telah membuang waktu dengan sia-sia.

Kalau ia renungkan dan bertanya sendiri, apakah yang ia dapatkan selama setahun lebih ini? Ia tidak dapat menjawab karena harus ia akui bahwa kedua lengannya yang dapat menahan panasnya api itu sesungguhnya tidak ada guna atau manfaatnya sama sekali! Sungguh ia tidak tahu bahwa sebetulnya ia telah dapat menguasai dasar-dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang amat hebat! Tidak tahu bahwa bakatnya jauh melampaui Setan Botak sendiri sehingga kalau ia latih terus dan melatih pula ilmu pukulannya, ia akan menjadi seorang ahli Hwi-yang-sin-ciang yang tidak ada tandingannya di dunia ini.

Sayang bahwa Han Han sama sekali tidak tertarik kalau ia melihat Ouwyang Seng berlatih silat, juga tidak mau mendengarkan kalau Setan Botak memberi penjelasan tentang kouw-koat (teori silat) kepada Ouwyang Seng. Sampai saat itu pun Han Han masih belum suka akan ilmu silat. Bukan hanya tidak suka, malah membencinya. Apa lagi kalau ia terkenang akan pertandingan antara Setan Botak dengan orang-orang Pek-lian Kai-pang, ia menjadi muak dan makin membenci ilmu silat yang dianggapnya hanya merupakan ilmu membunuh manusia lain!

Kalau dipikirkan memang lucu sekali. Anak ini membenci ilmu silat yang dianggapnya ilmu yang keji. Akan tetapi tanpa ia ketahui sama sekali, ia kini telah memiliki dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang, padahal ilmu ini adalah ilmu golongan hitam atau ilmu sesat yang amat keji! Ilmu meracuni kedua lengan seperti ini, yang sebagian menggunakan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia, tidak akan dipelajari oleh orang gagah di mana pun juga kecuali oleh kaum sesat.

Untuk memperkuat kedua lengan tangan, kaum gagah di rimba persilatan biasanya menggembleng lengan dengan pasir panas, pasir besi panas, dan lain-lain yang pada dasarnya hanya untuk memperkuat kedua lengan. Akan tetapi kaum sesat mencampurkan racun dalam latihan ini sehingga tangan mereka menjadi tangan beracun yang sesuai dengan watak mereka. Han Han sama sekali tidak tahu akan hal ini, maka amatlah lucu kalau dipikirkan bahwa dia membenci ilmu silat namun diam-diam menjadi calon ahli Hwi-yang-sin-ciang!

Akan tetapi kebosanannya melatih diri ini menolongnya. Kalau ia lanjutkan, tentu akhirnya ia akan ketahuan dan hal ini berarti mati baginya. Dan kebetulan sekali sebelum kebosanannya membuat ia berlaku nekat dan minggat dari situ, pada pagi hari itu Setan Botak pulang dan siang harinya ia dipanggil Ouwyang Seng.

“Han Han, lekas berkemas, bungkus pakaian-pakaianku yang terbaik. Kita akan pergi dari sini ke kota raja!”

“Kota raja?” Han Han bengong. Sebutan kota raja hanya ia dapat dalam kitab-kitabnya saja karena selama hidupnya belum pernah ia melihat kota raja.

“Ya, kota raja di utara! Ha-ha-ha! Engkau akan bengong keheranan kalau melihat kota raja, dan aku sudah rindu kepada orang tuaku, kepada teman-temanku. Lekas berkemas, kalau terlambat, suhu akan marah.”

“Aku... aku diajak, Kongcu?” Han Han menyembunyikan debar jantungnya.

Kalau ia minggat, ia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Akan tetapi ia akan bebas dan merasa berbahagia. Dia tidak suka untuk menjadi pelayan selamanya. Betapa pun juga, kalau diajak ke kota raja, ia akan mengesampingkan dulu ketidaksukaannya menjadi pelayan. Kota raja! Ia harus melihatnya!

“Tentu saja kau kuajak. Bukankah kau pelayanku? Habis, kalau tidak diajak, siapa yang akan mengurus keperluan kami?” bentak Ouwyang Seng marah.

“Siapa saja yang pergi, Kongcu?”

“Siapa lagi kalau bukan suhu, aku dan engkau? Sudahlah, cerewet amat sih! Lekas berkemas dan suruh tukang kuda menyediakan dua ekor kuda untuk suhu dan aku!”

“Dan aku sendiri jalan kaki? Apakah hal itu tidak akan memperlambat perjalanan, Kongcu?” Han Han membantah, penasaran.

“Huh, mana ada pelayan menunggang kuda? Akan tetapi kalau suhu menghendaki perjalanan cepat, boleh membonceng di belakangku. Cuma, jangan lupa. Sebelum berangkat kau mandi yang bersih pula. Nah cukup, lekas berkemas!”

Han Han berkemas dan diam-diam mengomel. Biar pun menjadi pelayan, namun tidak pernah ia menerima upah, tidak pernah menerima pakaian, hanya mendapat makan setiap hari. Pakaiannya masih pakaian setahun yang lalu, penuh tambalan. Namun ia mempunyai satu stel pakaian cadangan, pemberian seorang pelayan di situ yang menaruh kasihan kepadanya. Pakaian ini pun sudah ia tambal-tambal. Dengan adanya cadangan pakaian ini, ia selalu berpakaian bersih, yang satu dipakai, yang satu dicuci. Biar pun penuh tambalan, pakaiannya selalu bersih!

Setelah selesai berkemas, berangkatlah Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ouwyang Seng dan Han Han meninggalkan gedung di kota Tiong-kwan. Perjalanan itu amat melelahkan bagi Han Han karena, berbeda dengan Kang-thouw-kwi dan muridnya yang masing-masing menunggang kuda, Han Han berjalan kaki.

Akan tetapi biar pun amat melelahkan, perjalanan ini pun mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya. Terlalu lama ia terkurung di dalam gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan dan kini ia selalu berada di alam terbuka, menyaksikan keindahan alam dan melalui bermacam kota dan dusun. Kadang-kadang kalau Kang-thouw-kwi menghendaki perjalanan dipercepat, baru Han Han diperbolehkan membonceng Ouwyang Seng, duduk di punggung kuda di belakang pemuda bangsawan itu. Dan di sepanjang perjalanan ini dia pulalah yang melayani segala keperluan mereka.

Hanya dengan kemauan keras yang dikendalikan kecerdikannya saja membuat Han Han dapat menekan perasaaannya yang panas penuh dendam dan kebencian setiap kali ia memasuki kota-kota besar dan melihat tentara-tentara dan perwira-perwira Mancu berkeliaran dengan lagak sombong. Melihat tentara penjajah ini, teringatlah ia akan keluarganya yang terbasmi dan terbayang makin jelaslah wajah tujuh orang pembesar Mancu yang dilayani ayahnya ketika mereka berpesta-pora di dalam rumahnya. Terbayanglah wajah dua orang di antara ketujuh perwira itu, wajah yang sudah terukir di hatinya dan yang selamanya takkan pernah dapat ia lupakan, yaitu wajah perwira muka kuning dan perwira muka brewok.

Pada suatu pagi mereka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san dan Kang-thouw-kwi Gak Liat menyuruh muridnya berhenti. “Kita berhenti dan mengaso di sini!” kata Setan Botak itu sambil meloncat turun dari kudanya.

Han Han cepat-cepat meloncat turun dari belakang Ouwyang Seng dan menuntun kuda Setan Botak untuk diikat kepada sebatang pohon. Kemudian ia merawat kuda tunggangan Ouwyang Seng pula. Sejak pagi-pagi sekali mereka melarikan kuda dan kini kedua ekor kuda itu berpeluh dan terengah-engah. Han Han cepat mengeluarkan kain kuning dari buntalannya yang tergantung di sela kuda, dan menyusuti tubuh kuda yang berpeluh. Dua ekor kuda yang sedang makan rumput itu menggosok-gosokkan telinga dan muka pada Han Han, seolah-olah mereka menyatakan terima kasih.

“Kongcu, lihatlah, puncak di sana itu menjadi tempat tinggal seorang kenalan baik yang daerahnya sama sekali tidak boleh diganggu.”

Ouwyang Seng memandang suhunya dengan heran. Baru sekali ini suhu-nya memperlihatkan dan memperdengarkan suara yang sifatnya segan kepada seseorang. “Suhu, siapakah kenalan suhu itu? Dia orang macam apa?”

Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang ke arah puncak gunung yang tertutup awan putih itu dengan kening berkerut, termenung sejenak lalu berkata, “Namanya Siangkoan Lee, julukannya Ma-bin Lo-mo (Iblis Tua Bermuka Kuda)! Semenjak muda dia menjadi sainganku, menjadi lawanku yang paling ulet. Hemmm... lebih lima tahun aku tidak pernah bertemu dengannya. Entah bagai mana sekarang tingkat ilmunya yang paling diandalkan.”

“Ah, jadi di sanakah tempat tinggal Ma-bin Lo-mo yang amat terkenal itu? Suhu, bukankah dia seorang di antara tokoh-tokoh yang disebut datuk-datuk besar di samping suhu?”

“Benar dialah orangnya...” Kembali Kang-thouw-kwi tampak melamun. Teringat ia akan masa dahulu di mana ia bersama Ma-bin Lo-mo malang-melintang di dunia kang-ouw dan hanya Si Muka Kuda itu sajalah yang merupakan lawan yang paling tangguh. “Dia bekas seorang menteri di Kerajaan Beng lima puluhan tahun yang lalu, kemudian mengundurkan diri. Entah bagai mana kedudukannya di jalan kerajaan baru ini.”

“Ilmu apakah yang paling ia andalkan, suhu?”

Setan Botak itu menghela napas panjang. “Dia sengaja memperdalam ilmu untuk menandingi Hwi-yang-sin-ciang! Ilmunya itu disebut Swat-im-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Sari Salju). Ah, betapa inginku mengetahui sampai di mana sekarang tingkat ilmunya itu...”
“Suhu, kenapa kita tidak naik ke sana saja kalau suhu ingin mencobanya? Teecu yakin suhu tidak akan kalah!”

“Hemmm, Kongcu. Lupakah engkau akan pelajaranku bahwa kalau kita ingin dapat lama bertahan di dunia kang-ouw, kita harus selalu pandai menilai keadaan lawan? Turun tangan kalau sudah yakin akan menang, dan berhati-hati apa bila menghadapi keadaan yang akan dapat merugikan. Itulah syarat utama dan syarat itulah yang kupakai selama puluhan tahun ini sehingga namaku masih menjulang tinggi tak pernah runtuh.”

Ouwyang Seng mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa kagum dan penasaran kepada tokoh yang julukannya Ma-bin Lo-mo itu. Ia tidak mau percaya dan tidak mau mengerti bahwa ada orang yang akan dapat menandingi gurunya.

Ada pun Han Han yang menyusuti keringat kuda, ikut mendengarkan semua itu. Tentu saja ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat Setan Botak yang dianggapnya pengecut dan sama sekali tidak tepat menjadi watak orang gagah. Orang gagah mendasarkan wataknya kepada yang baik dan jahat. Betapa pun kuatnya lawan, kalau jahat harus ditentang, sebaliknya, biar pun lawan lemah, kalau benar tidak semestinya ditentang, bahkan harus dibantu. Akan tetapi dia tidak peduli akan watak guru dan murid itu, hanya merasa kagum dan ingin sekali melihat tokoh yang dijuluki Iblis Tua Muka Kuda itu.

“Han Han, lekas pergi ke dalam hutan di depan itu mencarikan buah-buahan untuk Suhu! Jangan kembali kalau belum mendapatkan buah-buahan yang cukup banyak!” Ouwyang Seng yang melihat bahwa Han Han mendengarkan percakapan mereka tadi memerintah karena betapa pun juga ia merasa tidak senang melihat kacungnya itu mendengar betapa suhu-nya seolah-olah jeri terhadap tokoh yang berjuluk Iblis Tua Muka Kuda itu.

Han Han yang juga merasa lapar, mengangguk lalu meninggalkan tempat itu, memasuki hutan yang berada di sebuah lereng dekat kaki gunung itu. Timbul lagi kegembiraan hatinya. Memasuki hutan liar itu seorang diri saja amat menyenangkan hatinya. Ia merasa seolah-olah menjadi satu dengan hutan itu, bebas lepas seperti burung yang beterbangan di antara pohon-pohon raksasa, seperti seekor di antara kera-kera yang berloncatan, kelinci-kelinci yang berlarian.

Ah, betapa ingin hatinya untuk menggunakan kesempatan itu melarikan diri. Akan tetapi ia ingin menyaksikan kota raja. Ia juga tahu bahwa kalau ia melarikan diri, tentu akan mudah dikejar Setan Botak yang amat sakti itu, dan dia tentu akan mengalami hukuman di tangan Ouwyang Seng yang kejam dan suka menyiksa orang. Biarlah kucarikan buah untuk mereka, pikirnya. Belum tiba saatnya bagi dia melarikan diri.

Untung baginya bahwa hutan itu mempunyai banyak pohon berbuah yang sudah matang dan tinggal pilih saja. Akan tetapi selagi ia menengadah mencari buah-buah apa yang akan dipilihnya, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan-bentakan halus dan nyaring.

“... heiiiiit... siaaat... heiiiiittt!”

Han Han tertarik dan cepat ia menyelinap di antara pohon-pohon itu ke arah datangnya suara. Ternyata bahwa yang membentak-bentak itu adalah seorang anak perempuan, usianya takkan jauh selisihnya dari usianya sendiri. Bocah itu sedang berlatih ilmu silat, memukul, menangkis, menendang, berloncatan dan sekali-kali mengeluarkan jerit membentak untuk memperkuat pukulan atau tendangan.

Anak perempuan berusia sepuluh atau sebelas tahun itu amat cantik dan mungil. Gerakannya gesit bukan main, mengingatkan Han Han akan Sin Lian, puteri Lauw-pangcu. Akan tetapi gadis cilik ini lebih cantik, dan mukanya manis sekali, tidak membayangkan kegalakan dan keliaran seperti yang terbayang pada wajah Sin Lian. Ada pun gerakan-gerakannya jauh lebih cepat dari pada gerakan Sin Lian, hal ini saja menjadi tanda bahwa tingkat kepandaian ilmu silat anak perempuan ini lebih tinggi dari pada puteri Lauw-pangcu.

Selain cepat, juga ilmu silat yang dimainkan gadis cilik itu bagi Han Han kelihatan amat indahnya, seperti menari-nari. Tubuh yang semampai itu berkelebatan, berloncatan dan kadang-kadang membuat gerakan kaki tangan demikian halus dan indah sehingga ia memandang dengan bengong penuh kekaguman. Ada sepuluh menit anak perempuan itu berlatih, kemudian mengakhiri latihannya dengan tendangan berantai dan tubuhnya mencelat ke atas, ketika kakinya seperti kitiran membuat gerakan menendang secara bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sampai lima kali, baru tubuhnya berjungkir balik melompat ke belakang. Indah sekali gerakannya.

“Bagus sekali...!” Tak terasa lagi pujian ini keluar dari mulut Han Han.

Anak perempuan itu menengok dan memandang. Han Han terkejut dan tahu bahwa dia telah berlaku lancang. Ia mengira bahwa anak perempuan itu, seperti halnya Sin Lian, tentu akan marah dan memakinya. Setelah ia bergaul dengan Sin Lian, kesannya terhadap anak perempuan adalah mudah marah, mudah memaki, akan tetapi mudah pula tertawa.

Akan tetapi ia kecelik! Anak perempuan itu tidak marah melainkan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, memperhatikannya dari atas sampai ke bawah, kemudian tersenyum dan melangkah maju menghampirinya. Setelah mereka berdiri saling berhadapan, gadis cilik itu memperhatikan pakaian di tubuh Han Han, membuat Han Han menjadi merah mukanya karena ia merasa betapa pakaiannya sungguh tidak boleh dibanggakan. Penuh tambalan dan tidak begitu bersih lagi karena dia belum sempat berganti pakaian.

Gadis cilik itu tiba-tiba merogoh saku bajunya den mengeluarkan dua potong uang tembaga. Tanpa berkata-kata ia menjulurkan tangan, memberikan dua potong uang tembaga itu kepada Han Han. Tentu saja Han Han melongo dan tidak mengerti, terpaksa ia bertanya.

“Untuk apa ini...?”

“Sedekah seadanya untukmu. Engkau tersasar jalan, di daerah ini tidak akan kau temui dusun, akan percuma mencari sumbangan...”

“Aku bukan pengemis!” Han Han membentak dan mundur dua langkah, matanya memandang penasaran.

Gadis cilik itu menatap wajahnya dan agaknya kaget sekali ketika bertemu pandang dengan Han Han, lalu cepat-cepat menyimpan kembali uangnya dan mengalihkan pandangnya, meneliti pakaian tambal-tambalan dan kaki telanjang itu. Han Han merasa menyesal mengapa ia membentak karena kini ia tahu bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan bermaksud menghinanya, melainkan keadaan pakaiannyalah yang membuat anak itu menduga bahwa dia seorang pengemis. Begitu berjumpa, tanpa diminta telah memberi sumbangan, benar-benar hati bocah ini tidak buruk, pikirnya. Cepat-cepat ia berkata dengan suara halus.

“Aku memang miskin, pakaianku tambal-tambalan, akan tetapi aku belum pernah mengemis. Maafkan penolakanku.”

Kembali anak itu mengangkat alis dan memandang dengan heran. Ucapan Han Han begitu halus dan susunan kata-katanya teratur rapi, bukan seperti seorang anak dusun, apa lagi pengemis!

“Kau... siapakah? Dan apakah kehendakmu datang ke tempat ini?”

“Aku bernama Han, she Sie. Aku hanya seorang kacung yang kebetulan mengikuti perjalanan majikanku. Mereka berhenti di kaki gunung dan menyuruh aku mencari buah-buah di hutan ini. Engkau siapakah? Kalau tadi kau katakan di sini tidak ada dusun, bagai mana engkau bisa berada di sini?”

“Namaku Cu, she Kim. Aku memang penghuni daerah ini, di puncak sana itu. Lebih baik engkau lekas pergi, dan katakan kepada majikanmu agar cepat pergi meninggalkan daerah ini. Daerah ini milik suhuku dan siapa pun juga tidak boleh berada di sini. Lekas pergilah bersama majikanmu sebelum terjadi hal-hal yang hebat menimpa kalian.”

“Nona Kim Cu, engkau baik sekali.”

“Eh, baik bagaimana?”

“Aku lancang memuji ilmu silatmu, kau tidak marah. Kini engkau menasehati aku agar tidak sampai tertimpa malapetaka. Benar-benar engkau seorang anak yang amat baik.”

Anak perempuan itu menggeleng kepala. “Apa sih artinya baik? Engkau ini yang amat aneh. Pakaianmu seperti pengemis akan tetapi engkau tak pernah mengemis. Pekerjaanmu sebagai kacung akan tetapi sikap dan bicaramu seperti seorang anak terpelajar. Dan kau agaknya kau pandai ilmu silat, ya?”

Han Han cepat menggeleng kepala. “Ah, mana aku bisa? Aku tidak bisa ilmu silat...”

“Kalau tidak bisa, bagaimana tadi dapat memuji ilmu silatku?”

“Karena memang bagus dan indah, seperti tarian. Nona Kim Cu, apakah gurumu itu pandai sekali ilmu silatnya? Aku tadi mendengar percakapan majikanku dan muridnya, menyebut-nyebut nama Ma-bin Lo-mo yang tinggal di In-kok-san. Kenalkah engkau dengan dia?”

Tiba-tiba wajah gadis cilik itu berubah agak pucat dan seperti lupa diri, dia memegang lengan Han Han. “Wah, celaka...! Siapa majikanmu itu, begitu berani mati menyebut-nyebut nama suhu...?”

Melihat gadis cilik yang menimbulkan rasa suka di hatinya ini kelihatan gelisah, Han Han juga memegang tangannya dan berkata menghibur, “Nona, tidak perlu khawatir. Majikanku juga bukan orang biasa, julukannya Kang-thouw-kwi...”

“Ihhhh...?”

Pada saat itu terdengar bentakan. “Han Han! Kau kacung malas! Disuruh mencari buah-buahan malah bermain gila dengan seorang gadis gunung!”

Han Han cepat melepaskan pegangannya pada tangan Kim Cu, menoleh dan memandang kepada Ouwyang Seng dengan penuh kemarahan. Ucapan yang menghina dirinya tidaklah mendatangkan kemarahan, akan tetapi teguran itu sekaligus menghina Kim Cu yang begitu baik. Masa Kim Cu dikatakan gadis gunung dan dituduh bermain gila dengan dia?

“Ouwyang-kongcu, jangan bicara sembarangan...!”

Kim Cu sudah melepaskan tangannya, dan dengan langkah lebar gadis cilik ini telah menghadapi Ouwyang Seng. Sepasang mata yang tadinya berseri dan bening itu kini kelihatan memancarkan cahaya kilat.

“Sie Han, mengapa manusia macam ini kau sebut Kongcu? Pantasnya engkaulah yang harus dia sebut Kongcu, karena menurut pendapatku, dia ini menjadi kacungmu saja masih belum patut!”

“Budak hina, jangan membuka mulut besar kalau tidak ingin kuhajar mulutmu!” bentak Ouwyang Seng yang menjadi marah sekali. Selama hidupnya baru sekali ini ada orang berani menghinanya seperti itu.

“Kau yang membutuhkan hajaran!” Kim Cu berseru dan tubuhnya sudah melesat ke depan dengan serangan kilat. Kedua kepalan tangan yang kecil itu dengan gerakan cepat sekali sudah menghantam ke arah kepala dan dada Ouwyang Seng!

Akan tetapi murid Kang-thouw-kwi ini tertawa mengejek, menggerakkan kedua tangannya untuk menangkap kedua kepalan itu. Anehnya, gadis cilik itu tidak peduli, bahkan membiarkan kedua kepalan tangannya tertangkap, padahal ini merupakan bahaya besar baginya. Ouwyang Seng memperkeras ketawanya karena ia yakin bahwa sekali cengkeram, kepalan kedua tangan gadis itu akan remuk-remuk tulangnya. Namun segera dia berseru kaget, cepat melepaskan cengkeramannya dan berusaha meloncat mundur. Terlambat! Perutnya masih kena serempet ujung sepatu Kim Cu sehingga ia terjengkang ke belakang sambil memegangi perutnya dan meringis. Biar pun tidak mengalami luka, namun setidaknya perutnya menjadi mulas seketika.

Dengan kemarahan meluap-luap, Ouwyang Seng kini membalas dengan serangan yang dahsyat. Bertempurlah kedua orang anak itu, ditonton oleh Han Han yang menjadi makin kagum. Jelas tampak betapa gadis cilik itu telah memiliki dasar yang matang, gerakan-gerakannya jauh lebih cepat dari pada Ouwyang Seng sehingga dialah yang lebih banyak menghujankan serangan dari pada murid Setan Botak itu.

“Rebahlah, manusia sombong!” Kim Cu berseru keras dengan serangan desakan yang sukar sekali dijaga karena kedua tangan itu seolah-olah telah berubah menjadi banyak saking cepat gerakahnya, dan tubuhnya pun berkelebatan di kanan kiri lawan.

“Bukkk...! Aduuuhhhhh...!”

Kembali Ouwyang Seng terjengkang karena pukulan tangan kiri Kim Cu bersarang di dadanya. Kini agak tepat kenanya sehingga napasnya menjadi sesak. Namun Ouwyang Seng yang terlatih sejak kecil telah memiliki kekebalan, dan biar pun ilmu silatnya lebih unggul dan ginkangnya lebih tinggi dari pada Ouwyang Seng, namun agaknya gadis cilik itu belum memiliki tenaga yang cukup kuat untuk merobohkan lawan dengan beberapa kali pukulan saja.

“Budak hina, engkau sudah bosan hidup!” Ouwyang Seng marah sekali. Kedua matanya merah, mulutnya menyeringai seperti mulut harimau haus darah.

Ia meloncat bangun, menggerak-gerakkan kedua lengannya kemudian ia menerjang maju, mengirim pukulan dengan mendorongkan kedua lengannya itu dengan jari-jari terbuka ke arah Kim Cu, tubuhnya agak merendah. Melihat ini, Han Han terkejut sekali. Itulah pukulan beracun yang dilatih Ouwyang Seng dengan tenaga inti api sebagai hasil latihan merendam kedua lengan ke dalam air beracun mendidih.

“Kongcu...!” Ia berseru, akan tetapi Ouwyang Seng yang sudah amat marah itu lupa pula akan pesan suhunya bahwa tidak boleh ia sembarangan mempergunakan dasar pukulan Ilmu Hwi-yang-sin-ciang itu.

Kim Cu yang tadinya sudah beberapa kali berhasil memukul lawannya, tentu saja memandang rendah dan melihat datangnya pukulan, ia menangkis sambil miringkan tubuh.

“Plakkk...! Augghhhh...!”

Tubuh Kim Cu terlempar dan masih untung bahwa ketika menangkis tadi ia miringkan tubuh sehingga pukulan api beracun itu tidak mengenainya dengan tepat. Namun hawa pukulan yang hebat itu cukup membuat gadis cilik itu terlempar dan terbanting keras. Dan selagi Kim Cu masih pening, berusaha bangkit, Ouwyang Seng yang masih belum puas telah meloncat dekat dan mengirim pukulan api beracun untuk kedua kalinya. Kalau mengenai tepat dan tidak ditangkis, pukulan ini akan membahayakan nyawa Kim Cu!

“Jangan...!” Han Han cepat loncat mendekat dan mendorongkan kedua tangannya menyambut pukulan maut yang dilakukan Ouwyang Seng itu.

“Desssss...!”

“Aiiihhhhh...!”

Kini tubuh Ouwyang Seng yang terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dan jatuh bergulingan, lalu meloncat bangun dengan muka pucat sekali. Kedua lengannya seperti terbakar rasanya dan tenaganya tadi begitu bertemu dengan dorongan Han Han telah membalik dan membuat ia terlempar. Saking nyeri, marah dan heran ia sampai bengong terlongong. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan Setan Botak dan Han Han mengeluh karena ia sudah roboh tertotok oleh Setan Botak yang tahu-tahu telah berada di situ.

“Anak setan, dari mana kau mencuri pukulan itu?” bentak Setan Botak yang kemudian menoleh kepada Ouwyang Seng dan bertanya, “Ouwyang-kongcu, engkau tidak apa-apa?”

Ouwyang Seng menggeleng kepala, kini kemarahannya ditimpakan semua kepada Han Han. Cepat ia menyambar sebatang kayu yang terletak di bawah pohon, kemudian meloncat ke depan dan menggunakan ranting itu memukuli tubuh Han Han yang tertotok dan tidak mampu bergerak itu. Terdengar suara bak-buk-bak-buk ketika ranting itu jatuh seperti hujan di seluruh tubuh Han Han!

“Pengecut...!” Bentakan ini dikeluarkan oleh Kim Cu yang telah menerjang maju dan sebuah tendangannya tepat mengenai lengan Ouwyang Seng yang memegang ranting sehingga ranting itu terlepas di atas tanah.

Ouwyang Seng sendiri meloncat ke belakang karena khawatir kalau mendapat serangan susulan dari gadis cilik yang amat cepat gerakannya itu. Di depan gurunya, tentu saja ia tidak berani lagi menggunakan pukulan api beracun.

Kim Cu menolong Han Han dan membangunkannya, akan tetapi Han Han sudah dapat bergerak kembali dan kini ia bangkit duduk. Biar pun totokan Setan Botak itu amat lihai, akan tetapi karena tubuh Han Han memang memiliki sifat luar biasa, hanya sebentar saja anak ini terpengaruh. Dengan kemauannya yang hebat, timbullah hawa tan-tian dari pusarnya, mendorong jalan darahnya sehingga pengaruh totokan itu buyar.

“Budak hina, kacung busuk! Tunggu saja, kalian tentu akan kuhajar sampai mampus!” Ouwyang Seng menudingkan telunjuknya dan mengancam.

“Engkau bangsawan berwatak rendah melebihi anjing!” Kim Cu balas memaki dan diam-diam Han Han kecewa sekali mendengar betapa gadis cilik ini pun pandai memaki seperti Sin Lian. Dia sendiri amat marah kepada Ouwyang Seng dan diam-diam ia meraih ranting yang terletak di depannya, yang tadi dipergunakan kongcu itu untuk mencambuki tubuhnya.

Akan tetapi perhatian Ouwyang Seng segera terpecah dan tertarik ketika ia mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh yang amat aneh, persis suara ringkik kuda. Ketika ia memandang, kiranya suhu-nya telah bertanding melawan seorang kakek berpakaian hitam yang aneh sekali.

Kakek itu mukanya persis muka kuda, lonjong dan meruncing ke depan. Rambutnya riap-riapan, namun pakaiannya yang serba hitam itu amat indah dan mewah, dihias pinggiran benang yang kuning emas! Caranya bertanding melawan gurunya juga aneh. Mereka itu tidak bergerak-gerak dari tempat masing-masing. Si Muka Kuda itu berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangan kiri bertolak pinggang dan hanya dengan tangan kanan yang dibuka jari-jarinya saja ia menandingi Setan Botak!

Ouwyang Seng belum pernah melihat suhunya berwajah serius seperti ketika berhadapan dengan Si Muka Kuda itu. Suhunya berdiri tegak pula dengan kedua kaki teguh memasang kuda-kuda, yang kiri di belakang yang kanan di depan, kemudian tangan kanannya menampar dengan jari terbuka ke arah dada Si Muka Kuda. Andai kata didiamkan saja pukulan itu pun tidak akan menyentuh baju Si Muka Kuda. Akan tetapi pukulan itu bukanlah sembarang pukulan, melainkan pukulan dahsyat yang amat ampuh dengan Ilmu Hwi-yang-sin-ciang!

“Hi-yeh-heh-heh-heh-heh!” Si Muka Kuda itu meringkik lalu menggerakkan tangan kanannya seperti menangkis. Bukan tangan Setan Botak yang ditangkisnya, melainkan hawa pukulan itu yang bagaikan angin panas menyambar-nyambar dahsyat. Dari kibasan atau tangkisan tangan kanan Iblis Tua Muka Kuda ini bertiup hawa yang dingin luar biasa karena untuk menghadapi pukulan sakti lawan, ia pun mengeluarkan ilmunya Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin melebihi salju!

“Darrr...!”

Pertemuan dua hawa yang bertentangan itu menimbulkan suara nyaring dibarengi sinar berapi, seperti pertemuan dua hawa Im dan Yang di angkasa yang menimbulkan kilat halilintar! Tubuh kedua orang tokoh besar itu tergetar dan masing-masing mundur dua langkah.

“Hi-yeh-heh-heh...! Hwi-yang Sin-ciang tidaklah begitu buruk...!” Si Muka Kuda tertawa mengejek.

Kang-thouw-kwi Gak Liat diam-diam terkejut sekali. Dari pertemuan tenaga sakti itu tadi saja ia sudah dapat mengukur kehebatan Swan-im Sin-ciang yang ternyata dapat menandingi ilmunya. Padahal di dalam hatinya ia sudah menganggap bahwa Hwi-yang Sin-ciang yang dilatihnya itu paling hebat di dunia. Ia menjadi penasaran dan mukanya merah oleh ejekan lawan.

“Siangkoan Lee, kau sambutlah ini...!”

Kini dari tempat ia berdiri, Setan Botak itu mengerahkan seluruh tenaga Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke dalam sepasang lengannya. Mengepullah uap putih dari sepasang lengan itu yang kulitnya berubah makin merah seperti besi dibakar. Melihat ini, kembali Si Muka Kuda terkekeh meringkik-ringkik, namun sambil meringkik itu dia pun telah mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya tampak mengebulkan uap pula, uap putih yang bergerak naik, keluar dari dalam lengan bajunya.

Biar pun sepasang lengan mereka itu masing-masing mengeluarkan uap putih, akan tetapi sesungguhnya amatlah jauh bedanya. Uap yang keluar dari sepasang lengan Setan Botak adalah panas, sebaliknya yang mengebul keluar dari lengan Si Muka Kuda adalah uap dingin.

Bentakan Kang-thouw-kwi itu disusul dengan mencelatnya tubuhnya ke udara dan ia telah menerjang Si Muka Kuda dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang sekuatnya. Namun Si Muka Kuda yang tahu pula akan kelihaian serangan ini sudah melesat pula ke atas untuk menyambut pukulan lawan dengan pukulan Swat-im Sin-ciang pula.

Kalau gebrakan yang pertama tadi dilakukan di atas tanah dan masing-masing hanya ingin mengukur kehebatan ilmu pukulan lawan, kini mereka bertumbukan di udara dengan pengerahan tenaga sepenuhnya. Karena kini mereka mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan kedua telapak tangan, maka benturan tenaga yang berlawanan sifatnya ini terjadi dengan dahsyatnya.

Ledakan keras disusul sinar terang menyilaukan mata dan tubuh keduanya mencelat ke belakang seperti dilontarkan! Hanya bedanya, kalau Kang-thouw-kwi roboh setengah terbanting sehingga ia terhuyung-huyung di atas tanah, adalah Si Muka Kuda dapat berjungkir-balik dengan indahnya dan kemudian turun ke atas tanah dalam keadaan tenang. Hal ini membuktikan dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) Si Muka Kuda masih berada di atas Setan Botak tingkatnya.

“Suhu... suhu... tolong...!”

Mendengar seruan muridnya ini, Kang-thouw-kwi meloncat ke kiri di mana Ouwyang Seng sedang dihajar oleh Han Han dengan ranting, dicambuki dan setiap kali Ouwyang Seng hendak melawan, Han Han dibantu oleh Kim Cu. Dikeroyok dua, Ouwyang Seng menjadi repot sekali, dan tubuhnya sudah babak-belur dihajar sabetan ranting di tangan Han Han. Sambil meloncat, Kang-thouw-kwi mengulur tangannya dan tiba-tiba saja Han Han dan Kim Cu kehilangan lawan karena Ouwyang Seng telah lenyap dari depan mereka. Ketika mereka memandang ke depan, ternyata pemuda tanggung itu telah dikempit oleh lengan Kang-thouw-kwi yang sudah mengangguk ke arah Si Muka Kuda sambil berkata.

“Siangkoan Lee, Swat-im Sin-ciang yang tersohor itu tidak buruk! Karena aku ada keperluan di kota raja, tidak ada waktu untuk lebih lama melayanimu. Kau perdalam ilmumu itu agar kelak kalau ada kesempatan dapat kita bertanding tiga hari tiga malam lamanya!”

Si Muka Kuda meringkik keras sekali, kemudian menjawab, “Gak Liat, engkau memang licik. Akan tetapi karena tidak sengaja kau datang melanggar wilayahku, biarlah kali ini kuampuni nyawamu! Lain kali boleh kita bertanding sampai mampus untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita.”

Mendengar ucapan mereka itu, Han Han mendapat kesan bahwa keduanya adalah orang-orang yang tinggi hati dan sombong, menganggap diri sendiri terpandai. Akan tetapi pada saat itu, Kang-thouw-kwi sudah menoleh kepadanya dan membentak, “Han Han, hayo kita kembali!”

Pada saat itu Han Han merasa betapa tangan kirinya dipegang orang, dipegang oleh sebuah tangan yang berkulit lunak halus. Tanpa melirik ia mengerti bahwa yang memegang tangannya tentulah anak perempuan yang bernama Kim Cu tadi. Ia merasa suka kepada anak ini, merasa seolah-olah mereka telah menjadi sahabat lama. Dan ia pun maklum bahwa ikut kembali bersama Kang-thouw-kwi dan Ouwyang Seng berarti mengalami siksaan karena Ouwyang Seng tentu akan membalas dendam. Maka ia lalu berkata dengan suara lantang.

“Saya tidak mau kembali! Saya tidak sudi lagi dipaksa menjadi pelayan Ouwyang-kongcu yang jahat dan kejam!”

Sepasang mata Setan Botak mengeluarkan sinar kemarahan. Sejenak ia memandang tajam, lalu terdengar kata-katanya, “Engkau telah mencuri ilmu pukulanku, dan sekarang engkau tidak mau ikut, sepatutnya engkau mampus!”

Setelah berkata demikian, dengan lengan kiri masih mengempit tubuh muridnya, Kang-thouw-kwi mendorongkan tangan kanannya ke arah Han Han. Ia memukul anak itu dengan Hwi-yang Sin-ciang dari jarak jauh dengan penuh keyakinan bahwa sekali pukul tubuh bocah itu tentu akan menjadi hangus! Han Han maklum akan datangnya bahaya, maka ia menjadi nekat. Cepat ia pun mengerahkan seluruh kemampuannya dan memaksa hawa di pusarnya bergerak ke arah kedua lengannya yang ia dorongkan menyambut pukulan kakek botak itu.

“Desssss...!” Han Han tertumbuk hawa yang amat panas. Kedua lengannya yang ia dorongkan seolah-olah remuk seperti ditusuk-tusuk jarum nyerinya. Tubuhnya terlempar ke belakang, bergulingan dan ia roboh dengan mata mendelik. Ia telah pingsan!

Kim Cu lari menubruknya dan melindungi tubuhnya sambil berteriak ke arah kakek botak yang memandang terheran-heran, “Jangan bunuh dia...!”

Kang-thouw-kwi Gak Liat benar-benar terheran-heran dan penasaran bercampur marah bukan main menyaksikan betapa kacungnya itu mampu menangkis dorongannya sehingga tidak roboh hangus dan mati, melainkan hanya pingsan saja! Dan ia juga dapat merasakan betapa dorongan anak itu mengandung hawa yang jauh lebih panas dari pada tingkat yang dimiliki Ouwyang Seng. Tingkat seperti itu tidak mungkin dapat dimiliki anak ini kalau hanya meniru-niru Ouwyang Seng dalam berlatih, maka timbullah kecurigaannya bahwa kacung itu tentu telah menggeratak ke dalam daerah terlarang di gedung di Tiong-kwan itu yang menjadi tempat ia berlatih dengan rahasia!

“Bocah setan, pencuri busuk! Mampuslah!” Ia mengirim pukulan lagi, tidak peduli bahwa pukulannya kali ini membahayakan pula Kim Cu yang berlutut di dekat tubuh Han Han.

“Desssss...!”

Hawa yang amat dingin menangkis pukulannya dari samping. Kiranya Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee, Si Muka Kuda itu telah menangkisnya dan kini berdiri bertolak pinggang sambil berkata, “Gak Liat, apakah engkau sudah tidak memandang aku sebagai orang setingkat, bahkan lebih tinggi dari padamu? Di daerahku ini tidak boleh engkau membunuh orang sembarangan saja tanpa seijinku!”

“Siangkoan Lee, aturan apa ini? Bocah ini adalah kacungku sendiri, mau kubunuh atau tidak, apa sangkut-pautnya denganmu?” Setan Botak itu membentak marah.

Ma-bin Lo-mo tertawa meringkik. “Engkau boleh membunuh bocah itu, akan tetapi aku pun akan membunuh muridmu itu.”

Gak Liat makin marah. “Mengapa?”

“Hemmm, engkau ini tua bangka yang pura-pura bodoh. Kalau tidak ada bocah itu yang menolong muridku dari pukulan muridmu, apakah kau kira aku tinggal diam saja? Kalau bocah ini tadi tidak menangkis pukulan muridmu, tentu aku yang turun tangan dan apa kau kira muridmu masih dapat hidup sekarang? Aku sudah memandang mukamu yang buruk, apa engkau berani memandang rendah kepadaku? Aku telah mengampuni muridmu, apakah engkau masih berkeras hendak membunuh anak ini?”

“Tapi, dia bukan muridmu, dia kacungku!”

“Kau keliru. Setelah dia menolong muridku, berarti dia pun menjadi orang In-kok-san!”

“Ahhh! Engkau tidak tahu siapa dia! Hemmm, dia telah mencuri ilmuku...”

“Itu bukan alasan. Salahmu sendiri. Pendeknya, aku melarang engkau membunuhnya dan kalau engkau hendak melanjutkan pertandingan, silakan.”

Setan Botak itu meragu. Ia tidak sayang kepada Han Han dan ia tidak peduli anak itu menjadi murid In-kok-san. Apa lagi mengingat kakek anak itu! Hanya ia membenci anak itu yang sudah mencuri Hwi-yang Sin-ciang, sungguh pun ia tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Ia mendengus marah.

“Baiklah, lain kali masih banyak waktu untuk membunuhnya dan lain kali aku akan membalas kebaikanmu ini!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Setan Botak itu bersama muridnya.

“Panggil saudara-saudaramu, bawa dia ke atas!” Ma-bin Lo-mo berkata kepada Kim Cu dan ia pun berkelebat lenyap dari tempat itu.

Kim Cu lalu memasukkan dua buah jari tangannya ke dalam mulut, menekuk lidah dan bersuit keras dam nyaring sekali. Suara suitan itu bergema ke empat penjuru dan dari sana-sini terdengar suitan-suitan balasan. Tak lama kemudian muncullah dua orang anak laki-laki dan dua anak perempuan yang usianya antara sepuluh sampai tiga belas tahun, berlari-larian dengan gerakan ringan. Mereka itu adalah anak-anak yang tampan dan cantik, dan segera mereka merubung Kim Cu dengan hujan pertanyaan sambil memandang tubuh Han Han yang masih menggeletak pingsan di atas tanah.

“Nanti saja kuceritakan. Namanya Sie Han, dia murid baru suhu. Mari bantu aku menggotongnya ke puncak.”

Beramai-ramai lima orang anak ini menggotong tubuh Han Han. Sambil bercakap-cakap mereka menggotong Han Han mendaki puncak dan asyik sekali Kim Cu menceritakan peristiwa yang telah terjadi, tentang Kang-thouw-kwi Gak Liat yang sudah lama mereka dengar namanya itu.

Siapakah sebenarnya kakek yang mukanya berbentuk muka kuda ini? Seperti telah diceritakan Setan Botak kepada muridnya, dia bernama Siangkoan Lee dan julukannya adalah Ma-bin Lo-mo. Kakek ini di waktu mudanya adalah seorang pembesar tinggi Kerajaan Beng-tiauw, akan tetapi karena menyalahgunakan kedudukannya dan bersikap sewenang-wenang mengandalkan kedudukan, harta dan terutama sekali ilmu silatnya yang tinggi, ia dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw sehingga akhirnya ia dipecat.

Siangkoan Lee lalu melarikan diri dan memperdalam ilmunya sehingga kemudian ia muncul sebagai seorang tokoh atau datuk golongan sesat, melakukan segala macam perbuatan kejam dan tidak peduli akan perikemanusiaan. Namanya makin meningkat dan ditakuti semua orang setelah belasan tahun yang lalu ia berhasil mendapatkan sebuah di antara ilmu-ilmu yang mukjizat dan tinggi yang seolah-olah disebarkan oleh penghuni Pulau Es yang hanya dikenal dengan sebutan Koai-lojin (Kakek Aneh). Bersama-sama dengan puluhan orang tokoh kang-ouw dia mengejar dan memperebutkann ilmu-ilmu ini dan akhirnya ia kebagian ilmu yang diciptakannya menjadi Swat-im Sin-ciang, di samping Setan Botak yang mendapatkan ilmu inti sari tenaga Yang sehingga ia dapat menciptakan Ilmu Hwi-yang Sin-ciang.

Biar pun puluhan tahun Ma-bin Lomo hidup sebagai seorang manusia iblis, namun di dasar hatinya dia adalah seorang yang berjiwa patriot. Dia tidak secara langsung menentang pemerintah penjajah Mancu, akan tetapi di lubuk hatinya ia membenci bangsa Mancu ini. Maka ia lalu memilih In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san, di mana ia mengumpulkan anak-anak berusia belasan tahun, anak-anak yang bertulang dan berbakat baik, juga yang memiliki wajah yang elok-elok.

Ia sudah mengumpulkan belasan orang anak yang ia gembleng sebagai murid-muridnya dengan cita-cita untuk kelak membentuk barisan murid-murid yang pandai untuk menentang dan menggulingkan pemerintah penjajah, memimpin rakyat yang berniat memberontak terhadap Kerajaan Mancu. Ma-bin Lo-mo boleh jadi kejam dan tak berperikemanusiaan terhadap lawan-lawannya, akan tetapi ia memimpin murid-muridnya penuh ketekunan dan kasih sayang, bersikap seperti seorang kakek terhadap cucu-cucunya. Namun di samping kasih sayang ini, ia pun menekankan disiplin yang amat keras sehingga kalau perlu ia tidak segan-segan untuk memberi hukuman yang mengerikan kepada murid yang bersalah.

In-kok-san (Puncak Lembah Berawan) merupakan puncak indah yang mempunyai banyak lapangan datar. Di situ Ma-bin Lo-mo membangun beberapa buah pondok untuk dia dan murid-muridnya. Han Han digotong naik ke puncak In-kok-san dan dibawa masuk ke sebuah pondok. Ma-bin Lo-mo sendiri mengobati anak ini dari pengaruh dorongan hawa Hwi-yang Sin-ciang yang amat hebat. Dalam beberapa hari saja Han Han sudah sembuh kembali. Ketika ia siuman dari pingsannya, ia melihat Ma-bin Lo-mo, Kim Cu dan dua orang anak laki-laki berada di pondok menjaganya. Ia cepat bangkit dan memandang ke sekeliling. Sinar matanya penuh pertanyaan ditujukan kepada Kim Cu.

Anak perempuan ini tertawa lalu berkata, “Han Han, engkau berada di In-kok-san dan engkau telah menjadi seorang di antara kami, menjadi murid Suhu.”

Mendengar ini, Han Han cepat meloncat turun dan berdiri memandang kakek muka kuda. “Aku... aku tidak mau menjadi murid di sini! Aku tidak mau belajar silat!”

“Eh, kenapa, Han Han?” Kim Cu bertanya heran. “Engkau sudah memiliki pukulan sakti! Kalau engkau pandai silat, tentu tidak akan mudah dipukul orang, seperti yang dilakukan Kongcu keparat itu kepadamu.”

Dengan keras kepala Han Han menggeleng. “Belajar silat menjemukan, membuang waktu sia-sia belaka. Kalau sudah pandai hanya dipakai untuk memukul orang! Aku benci ilmu silat! Kalau aku tidak bisa silat, aku tidak akan berdekatan dengan orang pandai silat dan tidak akan mengalami pukulan.”

“Wah, seorang jantan harus berani menghadapi pukulan, malah membalas lebih hebat lagi. Harus tabah dan tegas agar tidak sampai kalah oleh orang lain. Apakah senangnya menjadi orang lemah dipukul orang kanan kiri dan menjadi pengecut?” Ucapan ini keluar dari seorang anak laki-laki usianya paling banyak sepuluh tahun, bahkan lebih muda dari Kim Cu yang kurang lebih berusia sebelas tahun.

Han Han yang merasa dimaki pengecut menjadi marah sekali. Ia menghadapi anak itu dan membentak, “Kau bilang aku pengecut? Siapa yang pengecut? Bukan aku, melainkan engkaulah! Engkau...!”

Di luar kesadarannya, dalam kemarahannya Han Han kembali telah memandang anak itu dengan sinar matanya yang aneh, membentaknya dengan suara yang mengandung getaran hebat.

Anak laki-laki itu menjadi pucat. Tubuhnya menggigil, kemudian jatuh berlutut dan mulutnya berbisik-bisik, “Ya... aku... akulah yang pengecut...”

“Heiii, Sute! Mengapa kau ini...?” Kim Cu meloncat dan menarik bangun anak itu.

Han Han menjadi sadar dan teringat akan peristiwa aneh yang sama ketika ia marah-marah kepada Sin Lian dan Lauw-pangcu. Ia terkejut dan cepat menahan kemarahannya, menggunakan kekuatan kemauannya untuk tidak melanjutkan pengaruh aneh yang menguasai dirinya dan yang kalau ia pergunakan mudah saja mempengaruhi orang lain itu. Ia menundukkan mukanya, tidak peduli terhadap anak itu yang telah bangkit berdiri dan terheran-heran berkata, “Apa yang terjadi...? Ahhh... apakah aku mimpi...?”

“Ehhh... tak mungkin...!”

Seruan ini keluar dari mulut Ma-bin Lo-mo dan ia sudah meloncat maju dan memegang kedua pundak Han Han, memaksa anak itu memandang wajahnya. Han Han sudah pernah diperiksa seperti ini oleh Lauw-pangcu dan juga oleh Kang-thouw-kwi, maka sekali ini ia berlaku cerdik. Cepat ia menindas segala perasaannya sehingga batinnya berada dalam keadaan ‘kosong’. Maka ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ma-bin Lo-mo, kakek itu tidak mendapatkan sesuatu yang aneh kecuali sinar mata bocah itu benar-benar amat terang dan tajam, seolah-olah dapat menjenguk ke dalam hatinya melalui sinar matanya.

“Hemmm, aneh sekali. Bocah aneh, engkau akan hidup senang menjadi murid di sini, akan tetapi di samping itu pun engkau harus belajar taat. Aku menjamin kepada semua muridku kelak akan menjadi jago yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi kalau tidak taat dan melanggar peraturan, akan kuhukum berat. Kalau berhati keras dan berkepala batu seperti engkau, sekali dijatuhi hukuman, lehermu akan putus! Hayo lekas ceritakan kepadaku tentang dirimu dan siapa saja yang pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadamu!”

Di lubuk hati Han Han menentang, akan tetapi ketika ia mengerling kepada Kim Cu, ia melihat gadis cilik itu berkedip-kedip dan mengangguk kepadanya, pandang mata anak perempuan itu penuh kekhawatiran dan penuh pembelaan. Sadarlah Han Han. Ia tidak boleh main-main. Kakek ini tidak kurang kejamnya dari pada Setan Botak. Kalau ia menentang dan dibunuh, apa untungnya? Pula belajar di sini agaknya lebih menyenangkan, terutama karena di situ ada Kim Cu yang manis budi.

Ia duduk kembali di pembaringan menghadapi Ma-bin Lo-mo. Teringat ia akan tata susila, dan karena ia tidak melihat jalan ke luar lagi, terpaksa ia lalu menekuk lututnya, berlutut di depan kakek muka kuda itu sambil berkata.

“Teecu Sie Han menerima kebaikan Suhu untuk memberi bimbingan.”

“Heh-heh-hiyeeehhhhh...! Anak baik, lekas ceritakan riwayatmu. Tunggu dulu, mari kita keluar dan kau Kim Cu, kumpulkan semua saudaramu agar mengenal muridku yang baru, Sie Han!”

Han Han mengikuti mereka keluar dari pondok dan ternyata di luar pondok itu adalah tanah datar berumput yang luas sekali. Dari jauh tampak awan putih berkelompok seperti sekelompok domba berbulu putih. Hawanya dingin sekali dan di sekeliling tempat itu tampak halimun tipis seperti sutera putih yang jarang. Seperti juga tadi, Kim Cu memasukkan dua buah jari tangan ke mulut lalu bersuit nyaring beberapa kali.

Terdengar suitan-suitan balasan dari empat penjuru dan tak lama kemudian datanglah berlari-larian lima belas orang anak-anak yang sebaya dengan Kim Cu, sekitar sepuluh sampai tiga belas tahun usianya. Jumlah semua murid, termasuk Han Han, ada lima orang anak perempuan dan empat belas orang anak laki-laki, kesemuanya sembilan belas orang. Dengan mata terbelalak Han Han melihat bahwa tiga orang laki-laki di antara mereka cacad, yang seorang buntung kaki kirinya, seorang buntung lengan kirinya dan seorang lagi buntung kedua daun telinganya! Namun gerakan mereka sama cepatnya dengan yang lain. Bahkan Si Buntung kaki itu pun dapat berlari cepat dibantu sebatang tongkat.

Ma-bin Lo-mo duduk di atas sebuah batu hitam yang halus permukaannya, kemudian menarik tangan Han Han dan menyuruh anak itu duduk di dekatnya sambil mengelus-elus kepala anak itu. Diam-diam Han Han merasa agak terharu. Benarkah guru barunya ini adalah seorang yang kejam? Sentuhan tangan pada kepalanya mendatangkan perasaan haru karena semenjak ia tidak berayah ibu lagi, belum pernah ada orang mencurahkan kasih sayang seperti kakek ini. Namun hanya sebentar saja ia sudah dapat menguasai keharuan hatinya.

“Nah, berceritalah, muridku.”

“Jangan sungkan-sungkan dan banyak aturan, Han Han Sute (Adik Seperguruan)!” kata Kim Cu gembira. “Di sini kita berada di antara keluarga sendiri!”

“Benar! Benar sekali!” teriak anak-anak itu dan mereka pun duduk membentuk lingkaran kipas menghadapi Han Han dan guru mereka.

Timbul kegembiraan di hati Han Han. Agaknya guru dan murid-muridnya ini merupakan orang-orang yang amat baik. Maka lenyaplah keraguan dan kesungkanan hatinya dan ia pun mulai bercerita.

“Namaku Sie Han dan kedua orang tuaku, seluruh keluarga terbunuh oleh orang-orang Mancu yang kejam...”

“Aaahhh, aku juga begitu...!”

“Orang tuaku juga!”

“Keluargaku juga terbunuh orang Mancu...!”

Han Han tercengang. Semua anak itu, delapan belas orang banyaknya termasuk Kim Cu, berteriak-teriak mengatakan bahwa orang tua dan keluarga mereka pun terbasmi oleh orang-orang Mancu! Mengapa begini kebetulan? Ataukah kakek muka kuda itu memang sengaja mengumpulkan murid-murid dari keluarga yang terbasmi orang Mancu? Betapa pun juga, ia menjadi terharu dan baru kini terbuka matanya bahwa bukan dia seorang saja yang bernasib buruk, kehilangan orang tua dan keluarga yang menjadi korban keganasan orang Mancu. Baru sekarang yang berkumpul di In-kok-san saja sudah ada begini banyak, belum yang tidak ia ketahui.

“Seorang diri aku mengembara merantau tak tentu arah tujuan. Kemudian aku bertemu dengan Lauw-pangcu dan menjadi muridnya hampir setengah tahun.”

“Kau maksudkan Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang?” Ma-bin Lo-mo tiba-tiba bertanya.

“Benar, suhu.”

“Hemmm, apa saja yang ia ajarkan kepadamu?”

“Dalam waktu lima bulan lebih teecu hanya belajar memasang kuda-kuda dan langkah-langkah kaki saja, di samping belajar bersemedhi dan mengatur pernapasan.”

“Bagus, coba kau berlatih langkah-langkah kaki menurut ajaran Lauw-pangcu.”

Han Han mulai tertarik kepada kakek ini. Berbeda dengan Lauw-pangcu, agaknya guru baru ini penuh perhatian terhadap dirinya, maka sekaligus timbul kegairahan hatinya untuk belajar. Ia lalu melangkah ke depan, kemudian memainkan gerak-gerak langkah yang pernah ia pelajari dari Lauw-pangcu, atau lebih tepat dari Sin Lian karena anak perempuan itulah yang lebih banyak memberi petunjuk-petunjuk kepadanya. Ia sudah siap untuk bersikap sabar apa bila murid-murid yang lain akan mentertawakannya karena ia tahu bahwa mereka itu rata-rata, seperti Kim Cu, tentu telah memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi ternyata mereka itu tidak ada yang tertawa, hanya memandang penuh perhatian. Setelah selesai mainkan langkah-langkah itu, Han Han kembali duduk di dekat gurunya yang mengangguk-angguk.

“Baik sekali. Dasar-dasar langkah yang diajarkan Lauw-pangcu tepat dan memudahkan engkau mempelajari ilmu selanjutnya. Sekarang lanjutkan ceritamu.”

“Kemudian muncul Kang-thouw-kwi yang membasmi Pek-lian Kai-pang dan dia memaksa aku ikut pergi bersamanya dan menjadi kacung di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan. Aku dipaksanya melayani semua keperluan dia dan Ouwyang Seng yang berlatih ilmu silat di sana. Sampai setahun lamanya aku menjadi kacung mereka, lalu mereka mengajak aku melakukan perjalanan menuju ke kota raja dan akhirnya bertemu dengan Suhu di sini...”

“Nanti dulu, Han Han. Selama setahun engkau bekerja kepada Gak Liat. Apakah dia mengajar silat kepadamu?”

“Sama sekali tidak, suhu.”

“Hemmm, kalau tidak sama sekali, bagai mana engkau bisa melakukan pukulan Hwi-yang Sin-ciang?”

“Pukulan Hwi-yang Sin-ciang?” Han Han memandang gurunya yang baru ini penuh keheranan. “Teecu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa...”

“Perlihatkan lenganmu!”

Han Han mengangsurkan kedua lengannya. Ma-bin Lo-mo memegang tangan muridnya ini dan menekan. Rasa dingin menjalar ke dalam tangan Han Han, membuat kedua lengannya menggigil. Makin lama makin dingin dan karena ia merasa tidak tahan, terpaksa ia mengerahkan hawa dari pusarnya untuk melawan hawa dingin ini. Hawa panas yang timbul karena latihan-latihan secara diam-diam di tempat latihan Setan Botak merayap ke luar melalui kedua lengannya dan kedua lengan itu menjadi hangat kembali.

Ma-bin Lo-mo melepaskan kedua lengan anak itu dan berkata, alisnya berkerut. “Han Han, awas jangan engkau membohong. Apakah engkau minta dihukum?”

Ketika kebetulan Han Han mengerling ke arah Kim Cu, ia melihat wajah anak perempuan itu menjadi pucat dan anak itu memberi tanda dengan kedipan mata.

“Teecu sama sekali tidak membohong. Memang Setan Botak itu tidak memberi pelajaran apa-apa kepada teecu.”

“Dari mana engkau bisa mendapatkan hawa panas yang keluar dari tan-tian di pusarmu?” Wajah yang tadinya ramah dari kakek itu kini menjadi bengis, seperti muka seekor kuda marah.

Wajah Han Han menjadi merah karena malu. “Teecu mencurinya dari mendengarkan ajarannya kepada Ouwyang Seng dan secara diam-diam teecu berlatih seorang diri tanpa mereka ketahui.”

Anak-anak itu kini tertawa, akan tetapi sama sekali bukan mentertawakannya karena terdengar mereka memuji. Bahkan Kim Cu bersorak, “Bagus sekali! Engkau cerdik sekali, Han Han!”

Han Han memandang anak-anak itu, hampir tidak percaya dia. Juga gurunya kelihatan girang dan mengangguk-angguk. Bagaimana mereka ini? Mendengar dia mencuri malah dipuji, dan dikatakan cerdik!

Agaknya Ma-bin Lo-mo mengerti akan kebingungan muridnya, maka ia berkata, “Kemajuan hanya dapat diperoleh dengan kecerdikan. Untuk memperoleh kemajuan, segala jalan dapat ditempuh, bahkan mencuri pun baik saja. Demi tercapainya cita-cita, segala cara boleh digunakan dan tidak ada yang buruk! Anak-anak semua, contohlah perbuatan Han Han yang cerdik!”

Di dalam hatinya Han Han sama sekali tidak menyetujui pendapat ini, akan tetapi mulutnya tidak membantah. Bahkan ia mulai meragukan pendapatnya sendiri berdasarkan kitab-kitab filsafat yang menyatakan bahwa kalau jalan yang ditempuh buruk, maka hasilnya pun tidak baik. Kalau dia yang benar, mengapa semua murid Ma-bin Lo-mo ini menerima dan menyetujui nasehat guru ini?

Betapa pun juga, kebenaran pendapat Ma-bin Lo-mo sudah terbukti. Kalau dia tidak mencuri, mana mungkin dia bisa memiliki kekuatan yang timbul dari latihan merendam kedua lengan datam air panas, bahkan membakarnya dalam nyala api tulang-tulang manusia? Han Han masih terlampau kecil untuk dapat yakin akan kebenaran, dan tentu saja anak seusia dia itu mudah terpengaruh keadaan sekelilingnya. Tanpa ia sadari, mulailah pengaruh-pengaruh buruk kaum sesat memasuki hatinya.

“Coba ceritakan bagai mana caramu melatih kedua lenganmu di sana,” kata pula Ma-bin Lo-mo dengan suara memerintah. Anak-anak yang lain tidak ada yang bergerak atau mengeluarkan suara, semua mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Pertama-tama teecu merendam kedua lengan ke dalam air mendidih, yaitu air yang dicampuri obat-obatan dan racun oleh Kang-thouw-kwi, entah racun apa. Mula-mula memang terasa panas, akan tetapi dengan mempertebal tekad dan memperkuat kemauan sambil mengerahkan hawa dari pusar ke arah kedua lengan, akhirnya teecu kuat bertahan sampai semalam suntuk. Kemudian karena teecu disuruh menggodok batu bintang...” Han Han berhenti dan teringat dengan hati menyesal mengapa ia ceritakan ini semua! Ilmu yang dipelajari itu adalah rahasia. Mengapa ia begitu bodoh untuk menceritakan kepada orang lain? Kalau barang rahasia dibuka, tentu saja akan hilang keampuhannya.

“Batu bintang? Benar-benarkah Si Botak menggunakannya? Di mana ia mengumpulkan batu bintang itu?” Ma-bin Lo-mo bertanya penuh perhatian.

Han Han tidak dapat mundur lagi. Biarlah kuceritakan sampai pada batu bintang itu saja, pikirnya. “Batu-batu bintang itu didapatkan di sepanjang Sungai Huang-ho di sebelah timur kota Tiong-kwan.”

“Lalu bagai mana? Teruskan...!” Desakan ini keluar dari mulut para murid Ma-bin Lo-mo yang agaknya ingin sekali tahu bagai mana cara melatih diri untuk mendapatkan Ilmu Pukulan Sakti Inti Api itu.

“Diam-diam teecu lalu merendam kedua tangan teecu ke dalam air larutan batu bintang yang mencair setelah digodok berhari-hari lamanya. Panasnya hampir tak tertahan, akan tetapi berkat ketekadan teecu, akhirnya teecu kuat juga. Nah, hanya itulah yang secara diam-diam teecu lakukan, akan tetapi, sesungguhnya teecu tidak pernah mempelajari ilmu pukulan apa-apa dari Kang-thouw-kwi.”

“Inilah yang dinamakan bakat dan jodoh! Han Han, engkau berbakat secara ajaib sekali sehingga tanpa bimbingan engkau dapat berhasil melatih Hwi-yang Sin-ciang. Dan engkau berjodoh dengan kami, berjodoh untuk menjadi muridku dan ini merupakan nasib baikmu. Aku akan menyelidiki Hwi-yang Sin-ciang, dan kelak engkau akan membikin Gak Liat kecelik karena kau akan melawannya dengan ilmunya sendiri. Ha-ha-ha, jangan khawatir, aku akan menyempurnakan latihanmu di samping kau mempelajari ilmu ciptaanku. Akan tetapi, untuk itu membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan yang luar biasa. Sekarang engkau harus melakukan kewajiban bersembahyang dan bersumpah, muridku.”

“Bersumpah...?” Han Han tertegun dan terheran ketika melihat murid-murid itu tanpa diperintah telah berlari-lari dan mempersiapkan meja sembahyang di ruangan depan pondok.

“Semua murid harus menjalankan sumpah,” ia mendengar Kim Cu berkata.

Gadis cilik ini membawa sesetel pakaian dan menyerahkannya kepada Han Han. “Untuk sementara kau pakailah dulu pakaian seorang suheng (Kakak Seperguruan) ini sebelum dapat kubuatkan yang baru untukmu. Yang ada hanya warna putih ini. Warna apa yang paling kau sukai?”

“Putih...” jawab Han Han sekedarnya. Ia tidak ingin memakai pakaian orang lain, akan tetapi karena pakaiannya penuh tambalan dan kotor, dan dia tidak tega untuk menolak kebaikan Kim Cu, ia menerimanya juga. Pula, bukankah ia kini sudah menjadi murid di situ, berarti menjadi seorang di antara anak-anak itu? Masa ia memakai pakaian seperti pengemis?

“Lekas kau pakai pakaian itu dan membersihkan diri. Suhu telah menanti untuk upacara pengambilan sumpah. Hayo kuantar, di sana ada air...”

Tanpa menanti jawaban, Kim Cu memegang tangan Han han, ditariknya dan diajak berlarian ke belakang puncak. Ternyata di situ terdapat sumber air yang amat sejuk dan jernih sehingga segala batu-batuan di dasarnya tampak jelas dan air itu sendiri agak kehijauan saking jernihnya.

“Lekas kau mandi dan tukar pakaian, Sute.”

Mendengar sebutan sute ini, sejenak Han Han tertegun kemudian ia teringat akan Sin Lian yang juga menyebutnya sute (adik seperguruan). Ia tersenyum dan diam-diam merasa geli hatinya. Ada dua orang gadis cilik yang keduanya lebih muda dari padanya, akan tetapi keduanya adalah suci-nya (kakak perempuan seperguruan)!

“Eh, kenapa kau tersenyum-senyum dan tidak lekas mandi?”

Han Han tertawa. “Engkau... engkau baik sekali, Suci.”

“Tentu saja! Bagaimana seorang Suci tidak baik kepada Sute-nya? Kau pun harus baik dan taat kepada Suci mu. Nah, hayo lekas mandi dan tukar pakaian bersih.”

Han Han mendekati air dan hendak membuka bajunya. Akan tetapi ia melihat betapa Kim Cu masih berdiri di situ menghadapinya dan memandangnya, maka ia melepaskan lagi baju yang sudah ia pegang untuk ditanggalkan.

“Eh, Suci. Harap jangan memandang ke sini...”

“Mengapa sih?”

“Malu ah...”

Kim Cu mengangkat alisnya, membelalakkan kedua mata kemudian tertawa terkekeh-kekeh, menutup mulut dengan tangan sambil membalikkan tubuh membelakangi Han Han. “Hi-hi-hik, engkau benar-benar orang aneh! Apakah tubuhmu mempunyai cacad maka kau malu untuk ditonton? Lekaslah mandi dan tukar pakaian, aku menanti di sana. Jangan lama-lama karena Suhu sudah menunggu!”

Gadis cilik itu berlarian pergi dan Han Han cepat menanggalkan pakaian, kemudian membersihkan tubuh dengan pikiran melayang-layang. Benar aneh. Apakah bagi anak-anak di situ bertelanjang di depan orang lain bukan merupakan hal yang membuat malu? Ia tidak mau mempedulikan hal itu lebih lanjut, melainkan cepat ia mandi.

Air itu dingin sekali, membuatnya menggigil. Akan tetapi seperti biasa, berkat kekuatan kemauannya yang luar biasa, secara otomatis timbul hawa dari pusarnya melawan rasa dingin sehingga tubuhnya tidak menggigil lagi, bahkan terasa sejuk dan segar. Setelah cepat-cepat berpakaian dengan warna putih yang bersih dan masih baru, memakai pula sepatu yang disediakan oleh Kim Cu, Han Han merasa seolah-olah menjadi orang baru. Di dalam saku baju itu ia menemukan sebuah pita rambut, maka setelah memeras rambutnya sampai kering, ia lalu mengikat rambutnya di atas kepala dan ketika pemuda tanggung ini kembali ke pondok, semua murid Ma-bin Lo-mo memandangnya dengan mata berseri dan kagum. Apa lagi Kim Cu. Nona cilik ini menyambutnya dengan kata-kata memuji.

“Sute, engkau benar-benar tampan dan gagah!”

Dipuji secara begitu terbuka di depan banyak anak-anak, wajah Han Han menjadi merah. Ma-bin Lo-mo tertawa dan memanggilnya dari belakang meja sembahyang.

“Han Han, muridku yang baik. Lekas engkau menyalakan sembilan batang hio dan bersembahyang, kemudian berlutut di depan meja sembahyang untuk bersumpah menirukan semua kata-kataku.”

“Baik, Suhu.”

Han Han menghampiri meja sembahyang, ditonton semua murid di situ. Sambil menyalakan sembilan batang hio, ia mengangkat muka memandang. Di atas meja sembahyang itu terdapat arca setengah badan, arca seorang kakek tua yang wajahnya kereng, hidungnya agak bengkok seperti hidung burung. Wajah yang tampan dan gagah akan tetapi membayangkan kekejaman.

“Arca siapakah itu...?” Ia berbisik, akan tetapi gurunya tidak menjawab, dan sebaliknya ia mendengar suara Kim Cu di sebelah kanan.

“Jangan banyak bertanya. Itu arca Suma-couwsu (Kakek Guru she Suma)...”

Hemmm, arca itu tentulah arca guru Ma-bin Lo-mo atau kakek guru yang dipuja-puja di tempat itu. Ia tidak peduli lalu mulai bersembayang, mengacung-acungkan dupa bernyala itu dengan sikap hormat, kemudian menancapkan hio (dupa) itu di atas tempat dupa dan menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan terkepal di depan dada. Pada saat itu, terdengar suara Ma-bin Lo-mo yang ditujukan kepadanya.

“Murid baru Sie Han, sekarang bersumpahlah dan meniru semua kata-kataku.”

“Baiklah, Suhu. Teecu siap,” jawab Han Han.

Bulu tengkuknya meremang juga karena suasana hening itu menyeramkan, apa lagi dengan asap hio yang mengepul dan berbau harum, dan ditambah suara Ma-bin Lo-mo yang terdengar parau mengandung getaran penuh kesungguhan. Maka bersumpahlah Han Han, tidak sepenuh hatinya karena ia hanya menirukan ucapan Ma-bin Lo-mo, dia bukan bersumpah secara suka rela, hanya untuk syarat paksaan.

“Teecu Sie Han bersumpah di hadapan Couwsu yang mulia bahwa mulai saat ini teecu menjadi murid Suhu Siangkoan Lee dan berjanji akan belajar dengan tekun dan rajin, mematuhi segala perintah dan larangan Suhu, siap untuk menerima hukuman apa pun juga jika teecu melakukan pelanggaran. Mulai saat ini, teecu menyerahkan jiwa raga ke tangan Suhu Siangkoan Lee yang akan menurunkan ilmu-ilmu warisan dari Couwsu yang mulia. Ilmu-ilmu itu kelak akan teecu pergunakan untuk mengangkat tinggi nama besar Couwsu dan nama besar Suhu, untuk mengusir penjajah dari tanah air dan untuk melaksanakan segala perintah Suhu.”

Di dalam hatinya, Han Han amat tidak setuju dengan isi sumpahnya itu. Tentang ketaatan dan hukuman ia dapat menerimanya, akan tetapi mengapa setelah tamat belajar, cita-citanya hanya mengusir penjajah dan mengangkat tinggi nama guru? Mengapa tidak disebut-sebut tentang kewajiban para pendekar yang membela dan mempertahankan keadilan dan kebenaran, membela orang-orang tertindas dan menentang pihak yang sewenang-wenang?

Akan tetapi agaknya Ma-bin Lo-mo memiliki ilmu untuk menjenguk isi hati orang, demikian pikir Han Han, karena kakek itu lalu mengajak mereka duduk di lapangan di luar pondok kemudian berkata.

“Han Han dan semua muridku. Jangan kalian mudah disesatkan oleh pendapat orang-orang yang menyebut diri pendekar-pendekar kang-ouw bahwa seorang yang berkepandaian berkewajiban untuk membasmi orang jahat dan membela orang benar. Karena jahat dan baik atau benar itu merupakan pendapat pribadi yang sering kali menyesatkan! Yang penting bagi kita adalah kita sendiri! Tunjukkanlah setiap tindakan kalian untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Manusia adalah mahluk yang paling tidak mengenal budi, sehingga akan percuma belaka kalau kalian menggunakan kepandaian demi orang lain. Keliru sama sekali! Yang penting adalah diri kita sendiri dan demi tercapainya cita-cita kita, yaitu mengusir penjajah dan membentuk pemerintah bangsa sendiri dengan kita sebagai tokoh-tokoh pimpinan!”

Kembali timbul keraguan di dalam hati Han Han akan segala yang pernah dibacanya tentang syarat-syarat menjadi seorang budiman dan gagah, karena ia melihat semua murid mengangguk-angguk dengan wajah berseri, dan ia pun merasa bahwa yang terpenting di atas segalanya memang diri sendiri lebih dahulu. Buktinya, dia sudah banyak mengalami penghinaan dan kesengsaraan, tidak ada orang yang membelanya. Kalau dia tidak membela diri sendiri, tentu selamanya ia akan hidup terhina dan sengsara seperti itu. Pula, kalau dia tidak berkepandaian tinggi bagai mana ia akan dapat mengusir penjajah dan terutama sekali, menghancurkan tujuh perwira terutama perwira muka brewok dan muka kuning bangsa Mancu yang telah membasmi semua keluarganya?

“Han Han, sebagai murid baru kini engkau mendapat kesempatan untuk bertanya. Tanyakanlah apa yang perlu kau ketahui, dan jangan sembunyi-sembunyikan perasaan. Segala pertanyaanmu akan kujawab,” kata Ma-bin Lo-mo.

Sampai lama Han Han memandang gurunya yang baru ini. Sukar baginya untuk menilai kakek yang bermuka kuda ini karena muka itu tidak membayangkan sesuatu kecuali keanehan. Ia tidak tahu apakah gurunya ini jahat dan keji seperti Setan Botak, ataukah baik dan gagah seperti Lauw-pangcu. Betapa pun juga, ia tahu bahwa gurunya ini amat lihai, dan pribadi suhunya diliputi banyak keanehan. Ingin ia mengetahui riwayat gurunya. Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lalu bertanya.

“Hanya ada sebuah pertanyaan teecu. Yaitu, siapakah Suhu ini, bagai mana riwayat Suhu dan siapa pula Couwsu yang kita puja-puja itu?”

Terdengar seruan-seruan heran di antara murid-murid yang berada di situ. Semua murid ketika diterima selalu diberi kesempatan bertanya, akan tetapi mereka semua menanyakan tentang ilmu silat. Baru sekali ini ada murid baru yang datang-datang bertanya tentang riwayat gurunya dan riwayat Couwsu yang amat dihormati itu!


BERSAMBUNG KE JILID 04


Thanks for reading Pendekar Super Sakti Jilid 03 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »