Mutiara Hitam Jilid 15

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

MUTIARA HITAM

JILID 15

KEMBALI hening sesaat. Wajah Bouw Lek Couwsu keruh sekali. Dia sudah menduga akan kekerasan hati orang muda ini, akan tetapi tidak mengharapkan jawaban ini. Apa untungnya kalau mereka ini mati? Ruginya jelas. Khitan akan memusuhinya, para pendekar akan memusuhinya, para pengemis baju butut akan memusuhinya. Tiba-tiba keheningan dipecahkan suara Hauw lam.

“Haii!, Bouw Lek Couwsu! Aku kok tidak ditanya? Apa aku bukan orang?” Hauw Lam berteriak-teriak.

Akan tetapi, Bouw Lek Couwsu tidak mempedulikan Hauw Lam, sebaliknya berkata kepada Kiang Liong, suaranya penuh ancaman, “Hemm, kau kira begitu enak hukumannya? Sebelum mati kalian harus menyaksikan dan menderita siksaan batin. Terlalu sayang kalau dua orang gadis jelita itu dibunuh begitu saja.” Bouw Lek Couwsu menoleh ke arah Bu-tek Siu-lam dan berkata, “Kau memilih yang mana?”

“Heh-heh, biar hitam, mutiara namanya. Tetap cemerlang dan indah, tentu saja aku memilih dia.”

“Baik, biar Sang Puteri untuk pinceng. Nah, kau mulailah, seperti kita sudah setujui, kita harus berani melakukan di depan semua orang.”

Bu-tek Siu-lam tertawa terkekeh-kekeh matanya memandang ke arah Kwi Lan, menjelajahi tubuh gadis itu dengan pandang mata lahap dan haus.

“He, dengar! Kalian ini pimpinan orang-orang Hsi-Hsia. Kau Bouw Lek Couwsu, dan kalian Bu-tek Ngo-sian! Di mana kegagahan kalian? Huh, menyebut tokoh-tokoh kang-ouw yang jempolan! Bouw Lek Couwsu, orang seperti engkau ini mana patut membimbing bangsa Hsi-hsia yang gagah perkasa?”

Karena disinggung kepemimpinannya, mau tidak mau Bouw Lek Couwsu mengangkat muka memandang Hauw Lam dengan keningnya yang tebal berkerut. “Hemm, kalian sudah memilih wakil pembicara, yaitu Kiang-kongcu, mengapa kau ini anjing kecil besar mulut?”

“Siapa memilih? Huh, Bouw Lek Couwsu, tampak sekarang kebodohanmu dan kecuranganmu. Memang yang lain di bawah ini sudah memilih Kiang-kongcu, akan tetapi, hayo telinga siapa yang tadi mendengar aku memilih! Aku belum memilih dan aku berhak untuk bicara!”

Bouw Lek Couwsu tertegun. Betapa pun gilanya, benar juga ucapan bocah itu dan kalau ia melanggar, maka benar-benar tidak tepat dengan kedudukannya sebagai pemimpin besar bangsa Hsi-Hsia. Biarlah ia memberi kesempatan bicara bocah ini, apa bedanya?



"Hemm, kau bicaralah."

Kiang Liong yang memandang muka Hauw Lam melihat betapa sinar mata pemuda itu bersinar-sinar dan wajahnya berseri-seri. "Ah, bocah ini cerdik," pikirnya, "agaknya hendak mengelabuhi Bouw Lek Couwsu atau setidaknya mengulur waktu."

"Bouw Lek Couwsu, aku tidak akan mendengar usul atau ancamanmu seperti yang kau kemukakan kepada teman-temanku yang lain. Sebaliknya, akulah yang mengajukan usul sebagai tantangan tanpa mengancam sepertimu. Aku akan mengajukan teka-teki hitungan dan bukan hanya engkau, bahkan Bu-tek Ngo-sian boleh membantumu! Kalau di antara kalian ada yang sanggup menjawab tepat, aku akan membenturkan kepalaku pada dinding ini sampai kepalaku pecah. Dan kalau di antara kalian tidak ada yang dapat menjawab tepat, terserah mau diapakan tubuhku ini, masa bodoh! Bagaimana, sanggupkah kalian?”

Mendengar ucapan ini, bukan pihak Bouw Lek Couwsu saja yang terheran, bahwa Kiang Liong dan teman-temannya juga menjadi heran. Gilakah pemuda itu? Agaknya karena digantung seperti itu sejak tadi, terlalu banyak darah mengalir ke kepalanya membuat kepalanya pening dan bicaranya melantur! Pertaruhan macam apa itu? Kalau terjawab, ia akan membunuh diri dan kalau tidak terjawab ia boleh diperlakukan apa juga, berarti tentu saja juga dibunuh. Mengapa tidak minta bebas kalau tidak terjawab?

Bouw Lek Couwsu yang terheran-heran tadinya tidak mau melayaninya lagi dan menganggap pemuda ini gila, akan tetapi Siauw-bin Lo-mo dan Bu-tek Siu-lam tertarik. Pemuda itu aneh sekali dan gila, teka-teki macam apa yang akan dikemukakannya? Gila atau tidak, mereka menjadi tertarik untuk mendengarnya.

“Ha-ha-ha, Couwsu, biarkan dia mengajukan teka-tekinya,” kata Bu-tek Siu-lam.

“He-he, benar, Couwsu. Dia toh takkan dapat melarikan diri terbang ke langit,” kata Siauw-bin Lo-mo.

Bouw Lek Couwsu mengerutkan kening. Ia tidak mau dipermainkan bocah ini, dan ia curiga, takut kalau-kalau ditipu. Maka ia bertanya, “Bocah gila, kau ulangi syaratmu tadi agar kami dengar baik-baik.”

“Ha-ha, Bouw Lek Couwsu, kau takut ditipu? Boleh saja asal jangan takut kalah karena hanya pengecut yang takut kalah. Dengar kalian semua. Kalau teka-tekiku nanti terjawab, aku akan membenturkan kepalaku ke dinding sampai pecah, kalau tidak, terserah kepadamu terhadap diriku.”

“Hemmm, baik. Akan tetapi untuk membenturkan kepala ke dinding tak mungkin dilakukan dalam keadaan itu. Turunlah!” Tangan Bouw Lek Couwsu bergerak, serangkum tenaga dahsyat menyambar ke atas rantai yang menggantung tubuh Hauw Lam dan... rantai pada kakinya itu terlepas dari langt-langit dan tubuh pemuda itu jatuh ke bawah dengan kepala lebih dulu!

Akan tetapi, dengan gerakan pinggangnya, tubuh Hauw Lam berjungkir balik dan ia jatuh ke lantai dengan kaki dulu sehingga berdiri tegak, akan tetapi kaki tangannya masih terbelenggu. Semua orang kagum, karena tanpa ilmu ginkang yang tinggi, tak mungkin dapat berjungkir balik dalam keadaan kaki tangan terbelenggu seperti itu.

“Berandal, apa kau gila? Kalah menang kau tetap mati!” seru Kwi Lan yang tidak dapat menahan ketegangan hatinya.

Hauw Lam tertawa. “Ha-ha-ha, Mutiara, apa artinya mati? Yang penting dalam saat terakhir ini, aku menikmati kemenangan kalau teka-tekiku tak tertebak. Hendak kulihat, apakah Bouw Lek Couwsu yang sudah dikalahkan masih ada muka untuk mengangkat diri menjadi calon raja, dan lima Bu-tek Ngo-sian ini masih ada muka untuk menjagol dunia kang-ouw!”

Bouw Lek Couwsu mendongkol dan diam-diam di dalam hatinya ia mengumpat. “Kau tunggu saja bocah, kematianmu akan menjadi kematian yang paling sengsara!”

“Tak perlu banyak cerewet, lekas majukan teka-teki gilamu!” bentaknya.

Di antara mereka semua, hanya Kiang Liong yang benar-benar menjadi tegang hatinya. Tegang sekali karena kini ia mengenal siasat yang dilakukan Hauw Lam. Bocah jenaka yang ia tahu kegilaan terhadap Mutiara Hitam dan oleh Mutiara Hitam disebut Berandal ini jelas menggunakan akal mengulur waktu. Tadi keadaan Mutiara Hitam terancam bahaya mengerikan di tangan Bu-tek Siu-lam tanpa mereka dapat menolong. Kini karena tingkah Hauw Lam, hukuman itu otomatis menjadi mundur dan tentu dalam siasat mengulur waktu ini, Si Berandal sudah mendapatkan akal lain lagi yang belum ia ketahui apa dan bagaimana.

Dalam keadaan terbelenggu, Hauw Lam berdiri tegak, kaku dan mengangkat mukanya, membusungkan dadanya. “Guruku adalah seorang manusia dewa yang sakti tiada bandingan. Tidak perlu yang budiman Bu Kek Siansu datang ke sini, baru guruku saja, kalian akan dibikin kocar-kacir.”

“Hemm, siapa gurumu, bocah sombong?” Thai-lek Kauw-ong, si Tukang Cari Lawan, tertarik sekali dan hatinya agak berdebar mendengar nama Bu Kek Siansu disebut-sebut.

“Guruku bukan manusia biasa, orang-orang seperti kalian belum cukup berharga untuk mendengar namanya.”

“Bocah gila! Lekas ceritakan teka-tekimu, tentang gurumu setan atau iblis kami tidak perlu tahu!”

Kiang Liong tidak heran mendengar pemuda ini menyebut-nyebut nama Bu Kek Siansu, ini adalah siasat untuk membikin gentar lawan, pikirnya. Tapi apa gunanya siasat seperti itu? Kemudian ia teringat akan sesuatu dan bulu tengkuk Kiang Liong meremang. Tadi...! Benar sekali, tadi sebelum muncul musuh, ada suara yang menertawakan Suling Emas tolol. Suara siapakah itu?

Ia mendengar dari gurunya bahwa kakek sakti yang bernama Bu-tek Lo-jin adalah seorang kakek yang edan-edanan, seperti watak Hauw Lam ini. Mungkinkah suara tadi suara Bu-tek Lo-jin? Timbul harapan di hatinya dan ia mulai mengerti mengapa Hauw Lam menggunakan siasat mengulur waktu. Agaknya dia menanti pertolongan gurunya!

“Teka-tekiku adalah teka-teki hitungan yang berbentuk syair. Tentu saja buatan guruku karena siapa lagi manusia di dunia dapat membuat teka-teki seperti ini? Di dalam syair ini terdapat angka-angka terpendam dan kalian boleh menebak berenam! Beginilah syairnya!" Hauw Lam lalu bernyanyi dengan suaranya yang nyaring dan cukup merdu, sambil menggoyang-goyang tubuhnya yang terikat seperti gerak tari mengikuti irama lagu nyanyiannya.

Terang bulan memancing kura,
air jernih laksana cermin.
lima ekor yang satu emas,
berapakah jumlah terbilang?


"Nah, hayo kalian boleh tebak. Angka berapa yang tersembunyi di dalam syair itu tadi? Pergunakan otak, jangan ngawur, ini bukan sembarangan hitungan melainkan hitungan para dewa. Kuberi waktu satu tahun!"

Hampir Kiang Liong tertawa kalau tidak cepat menekan perasaannya. Ia memandang wajah tampan itu dengan kagum. Benar-benar pemuda cerdik, akan tetapi ugal-ugalan, pantas... disebut berandal. Masa memberi waktu setahun? Betapa pun juga, siasat itu berhasil karena kecuali Kam Sian Eng, mereka semua mulai mengerutkan kening, berpikir dengan aksi masing-masing. Kam Sian Eng hanya berdiri tak bergerak, kadang-kadang memandang ke arah Kwi Lan, kadang-kadang termenung, tarikan wajahnya tersembunyi di belakang kerudung hitam. Suma Kiat pasang aksi pula, berusaha ikut menebak teka-teki.

Suasana dalam kamar tahanan hening. Bouw Lek Couwsu meraba-raba hidungnya, satu kebiasaan tanpa disadari kalau ia sedang berpikir, Thai-lek Kauw-ong sudah duduk bersila, bersemedhi mengumpulkan kekuatannya, sambil kadang-kadang terkekeh- kekeh seperti orang gila. Pak-sin-ong makin angkuh mukanya, telunjuk kanan menempel antara kening.

Lucunya, melihat para kakek ini memeras otak, Yu Siang Ki, Kwi Lan, Puteri Mimi, dan Pangeran Talibu ikut pula berpikir memecahkan teka-teki! Sungguh permainan yang lucu dan aneh, mudah menular! Ketika Kiang Liong bertemu pandang dengan Hauw Lam, mereka saling berkedip menahan senyum.

Sampai lama keheningan menyelubungi kamar itu. Para penjaga di luar kamar tahanan saling bertanya-tanya dan terheran-heran. Namun karena para datuk ini berkumpul di situ, tak seorang pun di antara mereka berani lancang mengintai. Waktu ini dipergunakan oleh Kiang Liong dan Yu Siang KI untuk bersemedhi memulihkan luka-luka mereka.

Akhirnya terdengar suara Bu-tek Siu-lam yang bernyanyi menirukan syair tadi. Suaranya merdu sekali, akan tetapi kecil seperti suara perempuan. Ia bernyanyi sambil berdiri dan tubuhnya bergoyang-goyang pula, akan tetapi ia betul-betul menari seperti seorang perempuan genit. Selesai bernyanyi, ia berkata, "Heh-hehheh, sudah terdapat olehku jawabannya! He-he-he, amat mudahnya!"

"Jangan tertawa dulu, kakek banci!" kata Hauw Lam berani. "Dan jangan katakan dulu tebakanmu, menanti yang lain. Aku memberi bantuan. Jawaban angkanya tidak lebih dari dua puluh! Nah, lebih mudah bukan?"

Wajah Bu-tek Siu-lam tampak girang, agaknya jawabannya memang tidak lebih dari angka dua puluh, maka ia merasa yakin bahwa jawabannya tentu benar! Juga kini tokoh-tokoh yang lain sudah siap dengan jawabannya.

"Sudah siap? Nah, boleh katakan seorang demi seorang tapi jangan ngawur, berikut alasan jawaban. Nanti baru kukatakan siapa benar siapa salah," kata pula Hauw Lam yang hatinya sudah berdebar-debar karena gurunya yang tadi suaranya ia dengar belum juga muncul.

Ia harus mencari akal lain dan otaknya yang cerdik sudah memikir-mikir mencari siasat yang lebih berhasil. Ketika melihat betapa tadi wanita berkerudung yang kini ia tahu adalah Sian-toanio dan guru Kwi Lan berdiri tak acuh akan tetapi sering kali mencuri pandang ke arah muridnya, ia sudah merencanakan akalnya sebagai lanjutan dari pada akal teka-tekinya.

Keadaan kembali tegang. Bahkan para tawanan juga ikut memperhatikan apa dan berapa gerangan jawaban pihak musuh, apakah sama dengan tebakan mereka? Bu-tek Siu-lam yang sudah tidak sabar mulai dengan jawabannya.

"Hi-hi-hik, orang muda yang lucu. Kalau kau tidak menjadi musuh Couwsu, aku akan senang sekali tidur satu kamar bersamamu mendengar syair-syair dan teka-tekimu yang lain! Syairmu tadi mudah saja. Jawabannya adalah angka 'Tujuh'! Betul tidak?"

Hauw Lan tersenyum. "Betul atau tidaknya nanti kuberi tahu. Yang penting apa yang kau jadikan dasar tebakanmu, supaya diberi tahu. "

"Hi-hi-hik, heh-heh, bocah nakal. Kau ingin membikin bingung kami dengan syair itu? Hi-hik, Bu-tek Siu-lam tak mungkin bingung oleh itu. Yang pokok dan penting dalam syairmu hanyalah bulan dan kura-kura. Waktu itu terang bulan, tentu bulan purnama dan air jernih, berarti bulan terbayang di air, jadi ada dua buah bulan, bukankah sudah jelas bilangannya? Bulan, bayangannya, dan kura jumlahnya tujuh. Nah, angka yang tersembunyi tujuh!"

Hauw Lam hanya tersenyum lebar, lalu menoleh kepada yang lain, sikapnya menantang. "Bagus sekali uraian Bu-tek Siu-lam. Kini siapa lagi yang menebak?"

"Bocah gila, betul atau tidak tebakan kami nasibmu toh sama saja. Menurut perhitunganku, bilangan yang tersembunyi adalah 'dua puluh'. Sudah jelas, bulan sedang purnama, airnya jernih, jadi jumlah bulan ada dua. Permukaan bulan bundar berarti angka nol, jadi dua dan nol sama dengan dua puluh!" kata Bouw Lek Couwsu.

Hauw Lam berseri-seri wajahnya, senyumnya tetap gembira. "Siapa lagi?"

Thai-lek Kauw-ong mengeluarkan suaranya yang parau besar, "Bulan purnama berarti tanggal lima belas. Nah, angka bilangan yang tersembunyi tentu lima belas."

Hauw Lam mengangguk-angguk. "Bagus juga khayalmu, Locianpwe. Nah, siapa lagi?"

"Tidak ada yang penting dalam syair itu kecuali bulan dan emas. Sinar bulan pun seperti emas, bulan dan bayangannya laksana bola emas. Yang penting hanya tiga, bulan, bayangannya, dan emas, maka tentu angka tiga yang dimaksudkan," kata Pak-sin-ong tenang.

Kembali Hauw Lam hanya tersenyum sehingga tidak ada yang dapat menduga, jawaban siapa yang paling tepat. "Siapa lagi? Kau bagaimana, Siauw-bin Lo-mo?"

"Ha-ha-ha, kau bocah edan! Membikin orang-orang tua memeras otak dan teman-temanku sampai harus menggunakan arti yang dalam-dalam. Akan tetapi bocah seperti engkau ini mana mengerti arti yang dalam? Tentu kau maksudkan di dalam syair itu jumlah semua benda hidup atau mati dan yang disebut adalah lima ekor kura-kura, sebuah pancing, seorang manusia yang memancing, dan sebuah bulan. Jumlahnya hanya delapan. Nah, angkanya tentu delapan!"

"Boleh kau terka sesukamu. Nah, siapa lagi? Engkau bagaimana, Toanio?" Hauw Lam menghadapi Kam Sian Eng. Sepasang sinar mata menyorot dari balik kerudung hitam dan Hauw Lam bergidik.

"Jangan ganggu aku, tolol!" hardik Kam Sian Eng.

Hauw Lam menahan napas. Sekali wanita itu bergerak, dia bisa celaka, maka ia lalu cepat-cepat menghadapi para penebaknya dan berkata, "Sudah jelas semua tadi, Bu-tek Siu-lam menebak angka tujuh, Bouw Lek Couwsu angka dua puluh, Thai-lek Kauw-ong angka lima belas, Pak-sin-ong angka tiga, dan Siauw-bin Lo-mo angka delapan. Bukan begitu?"

Lima orang kakek mengangguk-angguk tertarik untuk mendengar siapa di antara mereka yang tepat tebakannya.

"Ketahuilah, biar pun kalian mengaku kakek-kakek yang pandai, akan tetapi ternyata tebakan kalian ngawur tidak karuan, tidak ada seorang pun yang benar! Mau tahu jawabannya yang betul? Nah, jawabannya, adalah angka empat!"

Hening sejenak, Bouw Lek Couwsu cemberut, semua mengerutkan kening, menghitung-hitung kembali. "Aihhh, kenapa empat?" Akhirnya Bu-tek Siu-lam bertanya.

"Kalian yang bodoh, kecual Sian-toanio yang tentu saja sudah mengerti maka tidak mau menjawab. Yang dipersoalkan dalam syair hanya baris ke tiga yang berbunyi Lima Ekor Yang Satu Emas. Nah, kalau ada lima ekor kura-kura tapi yang seekor adalah emas, maka yang empat ekorlah yang benar-benar kura-kura tolol, kura-kura yang buruk dan tua seperti kakek-kakek tua buruk dan jahat. Yang satu adalah emas, cantik dan cemerlang, mana bisa direndahkan dengan empat ekor kura-kura? Maka kalau dibilang lima ekor adalah keliru, yang benar hanya ada empat ekor kura-kura tua sedangkan yang satu hanya terbawa-bawa akan tetapi sama sekali tidak patut disebut kura-kura melainkan emas. Maka aku mempunyai sebutan untuk empat ekor kura-kura itu, paling tepat adalah Bu-tek Su-kwi (Empat Setan Tanpa Tanding)! Ha-ha-ha-ha!"

Hebat bukan main siasat Hauw Lam ini, pikir Kiang Liong sambil memandang dengan hati berdebar. Jelas maksudnya, Hauw Lam dalam jawabannya yang teratur telah menyindir Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding). Ia mengumpamakan empat kakek itu kura-kura dan Sian-toanio diumpamakan emas. Sisanya empat kakek itu ia sebut sebagai Bu-tek Su-kwi! Inilah siasat memecah belah, memperingatkan Sian-toanio bahwa ia sama sekali tidak pantas merendahkan diri bersekutu dengan empat orang kakek. Cerdik Hauw Lam, pikirnya. Ingin meminjam tangan Sian-toanio untuk menghadapi empat orang kakek.

Bu-tek Siu-lam, Pak-sin-ong, Siauw-bin Lo-mo, dan Thai-lek Kauw-ong bukanlah orang bodoh. Mereka kini maklum bahwa mereka dipermainkan dan diejek, akan tetapi karena yang berkuasa di situ Bouw Lek Couwsu, mereka tidak berani turun tangan.

Bouw Lek Couwsu juga mengerti bahwa tamu-tamu dan sekutunya dihina, maka ia berkata, "Bocah gila, kau tunggu saja giliranmu. Kematianmu akan menjadi kematian yang paling sengsara dan mengerikan. Sebelum kau mati terakhir, kau saksikan dulu teman-temanmu! Bu-tek Siu-lam, harap lanjutkan rencana kita tadi."

Bu-tek Siu-lam melangkah maju menghampiri Kwi Lan yang memandangnya dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian. Semua tawanan menjadi tegang, akan tetapi Hauw Lam tertawa bergelak dan berkata, "Salahkah aku menyebut mereka ini kura-kura tua bangka buruk dan jahat? Lihat saja Bu-tek Siu-lam ini. Katanya mengaku jagoan utama dari dunia barat! Mengaku seorang di antara Bu-tek Ngo-sian. Sebetulnya lebih tepat disebut setan tak bermalu. Masa seorang tua bangka yang mengaku jago, kini menghadapi seorang gadis remaja seperti Mutiara Hitam saja takut-takut dan begini pengecut? Coba Mutiara Hitam tidak terbelenggu tentu dia sudah terkencing-kencing di celana saking takutnya. Ha-ha-ha!"

Hebat memang penghinaan dan ejekan Hauw Lam ini. Kwi Lan girang mendengar ini dan berkata, "Ah, mana dia berani, Berandal? Dia pengecut besar, seekor kura-kura masih terlampau baik baginya. Ia mirip... eh, kadal buduk!"

Merah sepasang mata Bu-tek Siu-lam. Senyumnya melebar dan tiba-tiba tangannya bergerak ke depan dua kali. Terdengar suara keras dan... belenggu pada kaki tangan Kwi Lan sudah patah-patah. Gadis itu bebas!

"Hi-hik, anak manis. Sekarang kau sudah bebas. Mari kita coba-coba lihat sampai berapa jurus kau mampu melawan Bu-tek Siu-lam sebelum kutelanjangi dan kunikmati tubuhmu!"

Kwi Lan merasa lega. Biar pun ia maklum akan kelihaian Bu-tek Siu-lam, namun setelah kini ia bebas, ia akan melawan mati-matian dan tidak menyerah begitu saja seperti kalau dia dibelenggu tadi. Sambil mengeluarkan jerit melengking keras ia menerjang maju, menggunakan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya menyerang Bu-tek Siu-lam. Sayang bahwa ia tidak berpedang, dan lebih sayang lagi bahwa tenaganya sudah banyak berkurang karena lelah dengan penderitaan yang bertubi-tubi, dengan penahanan dan dalam belenggu yang membikin kaku urat tubuh.

Bu-tek Siu-lam tertawa terkekeh ketika mengelak dan balas menyerang. Pertandingan terjadi dalam ruang tahanan. Pertandingan yang berat sebelah. Keahlian Kwi Lan adalah bermain pedang. Kini ia bertangan kosong dan biar pun ia merupakan seorang gadis remaja yang jarang bandingnya dalam bersilat tangan kosong, namun menghadapi seorang tokoh seperti Bu-tek Siu-lam, ia masih kalah setingkat. Bahkan kini karena tenaganya sudah banyak berkurang, ia kalah tenaga sehingga tiap kali lengan mereka beradu, Kwi Lan terhuyung mundur. Bu-tek Siu-lam makin mendesak sambil terkekeh-kekeh. Kini gerakan tokoh banci ini makin kurang ajar, kadang-kadang menowel pipi, meraba dada dan mencubit paha.

Kwi Lan malu dan marah sekali, berlaku nekat dan mati-matian. Lewat seratus jurus, tiba-tiba Bu-tek Siu-lam menubruk, tangan kiri mencengkeram dada dan tangan kanan mencengkeram paha. Kwi Lan kaget dan jengah. Serangan ini kurang ajar sekali, melanggar batas kesopanan. Mana ia mau membiarkan dirinya dipegang? Ia menjatuhkan diri dan bergulingan, akan tetapi tiba-tiba gadis ini menjerit ketika terdengar bunyi kain robek.

Kiranya serangan Bu-tek Siu-lam tadi hanya siasat belaka dan ia kini mencengkeram baju Kwi Lan terus direnggut robek. Hebat tenaga Bu-tek Siu-lam sehingga pakaian gadis itu, baik yang luar mau pun yang dalam sebagian besar berada dalam tangannya dan hanya sedikit saja yang masih menempel ditubuh Kwi Lan. Gadis ini cepat menelungkup di lantai, tak berani bangkit lagi karena tubuhnya sudah setengah telanjang. Bahkan ketika menelungkup pun, sebagian pinggul dan pahanya yang putih bersih tampak nyata!

"Hi-hik, begini saja kepandaianmu?"

Bu-tek Siu-lam terkekeh-kekeh dan membawa robekan pakaian ke depan hidung sambil menyedot-nyedot dan berseru, "Aihh, wangi...! Mari kita main-main, Nona manis!"

Hauw Lam berseru, "Coba dengar sombongnya si Tokoh Banci! Biar pun ada guru Mutiara Hitam hadir, dia berani memandang rendah ilmunya. Murid sama dengan anak, kalau murid dipermainkan berarti guru dihina! Kalau murid dihina berarti guru dibunuh! Di depan Sian-toanio si Banci menjemukan ini berani bermain gila. Sungguh tak tahu diri!"

Ketika itu Bu-tek Siu-lam sudah melangkah maju hendak memaksa Kwi Lan membalikkan tubuh, hendak melakukan penghinaan seperti direncanakan Bouw Lek Couwsu untuk menundukkan Pangeran Talibu, Kiang Liong, dan Yu Siang Ki. Tak seorang pun tahu kecuali Hauw Lam dan Kiang Liong betapa wajah di balik kerudung hitam itu mengeluarkan napas yang membuat kerudung bergerak-gerak, betapa pandang mata dari balik kerudung seperti dua titik api membakar.

Ketika Hauw Lam mengeluarkan kata-kata yang bagaikan minyak menyiram api, terdengar lengking mengerikan dan tubuh Kam Sian Eng sudah berkelebat maju, tangannya yang kanan mencengkeram pundak Bu-tek Siu-lam sedangkan tangan kiri melemparkan jubahnya yang tepat menyelimuti tubuh Kwi Lan.

Bu-tek Siu-lam mengeluh dan tubuhnya terlempar membentur dinding. Cengkeraman tadi bukan sembarang cengkeraman, melainkan cengkeraman dengan jari-jari beracun yang sudah menembus baju dan kulit pundak Bu-tek Siu-lam! Wajah si Banci menjadi pucat ketika ia melompat bangun, jelas ia kesakitan bercampur marah dan keluarlah senjata guntingnya dan jarum di ujung benang. Ia memekik dan menerjang maju.

Namun tangan kiri Kam Sian Eng bergerak dan sinar hitam menyambar ke depan. Itulah jarum-jarum hitam yang sebetulnya adalah warna merah yang amat tua sehingga kalau disambitkan sinarnya menjadi hitam. Tiga belas batang jarum menyambar ke tiga belas jalan darah di tubuh Bu-tek Siu-lam!

Sinar ini mendatangkan suara berciutan mengerikan. Namanya Ang-sin-ciam (Jarum Sakti Merah) dan jarang ada lawan dapat menyelamatkan diri terhadap serangan jarum-jarum ini. Dilepas dari jarak dekat, cepatnya seperti kilat menyambar, sasarannya tiga belas jalan darah di sebelah depan tubuh, suaranya mengerikan dan racunnya sedemikian hebat sehingga jangankan terluka, baru tergores sedikit saja sudah mendatangkan maut!

Jarum-jarum hijau milik Kwi Lan kalau dibandingkan dengan jarum-jarum merah milik gurunya ini masih belum apa-apa. Baru Ang-sin-ciam sudah begini hebat, belum lagi Pek-sin-ciam (Jarum Sakti Putih). Jarum-jarum ini tidak mengeluarkan suara, hampir tak tampak sinarnya akan tetapi racunnya lebih gila lagi, tersentuh kulit orang bisa menimbulkan maut! Racunnya terdapat dari kerangka-kerangka manusia di bawah tanah!

Bu-tek Siu-lam memang lihai sekali tetapi ia tetap saja kaget dan repot menyelamatkan diri dari sambaran sinar hitam jarum-jarum itu. Memang benar dengan jalan memutar gunting melempar diri ia berhasil terbebas dari terjangan jarum, namun Kam Sian Eng yang sudah menduga akan gerakan ini, sudah berkelebat maju dan sebuah tamparan tepat mengenai punggung Bu-tek Siu-lam yang sedang repot menghindarkan diri dari jarum-jarum.

"Plakk...! Auuuukhhh!" Bu-tek Siu-lam terhuyung ke belakang dan dari mulutnya menyembur darah segar.

Ia sudah terluka hebat! Kini ia berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang, bibir berlepotan darah, mata beringas memandang Kam Sian Eng yang berdiri tenang dan dengan gerakan tenang pula Kam Sian Eng membuka kerudung hitamnya. Semua orang menahan napas.

Betapa cantiknya wajah di balik kerudung itu! Kulitnya putih kemerahan seperti kulit muka gadis remaja, hidungnya mancung dengan cuping bergerak-gerak kembang-kempis dan angkuh. Matanya tajam namun sinarnya aneh bergerak-gerak ke kanan kiri, dan senyumnya membuat bulu tengkuk berdiri. Senyum wanita biasanya membuat hati makin tenang, mendatangkan kehangatan. Akan tetapi senyum ini dingin sekali, seperti kita melihat senyum pada bibir orang-orang mati! Dengan kerudung hitam di tangan kiri, diputar-putar seperti seorang gadis remaja memutar sapu tangan sutera, tangan kanannya bergerak ke pinggang dan... sebatang pedang tipis telah dipegangnya.

"Bu-tek Siu-lam, apakah kau masih berani memandang rendah ilmuku?" Suara ini merdu dan manis, namun didorong ancaman yang mengerikan.

Bu-tek Siu-lam yang sudah dua kali terkena pukulan yang membuatnya terluka dalam amat hebat, maklum bahwa keselamatannya sukar ditolong lagi. Hatinya gelisah dan kemarahan membuat lehernya serasa tercekik. Ia tidak dapat menjawab, hanya mengeluarkan suara seperti tertawa atau ringkik seekor kuda, kemudian tubuhnya menerjang ke depan, guntingnya bergerak menggunting ke arah, leher Kam Sian Eng, sedangkan jarumnya meluncur ke arah perut lawan.

Namun gunting itu terhenti di tengah jalan, bertemu dengan kerudung hitam yang kini menjadi semacam senjata ampuh. Kerudung itu terbuat dari pada bahan yang kuat sekali, dari benang baja hitam yang halus, maka biar pun Bu-tek Siu-lam menggerakkan guntingnya menggunting tidak ada hasilnya, malah guntingnya terlibat-libat kerudung tak dapat bergerak lagi. Ada pun jarumnya dapat dielakkan oleh Kam Sian Eng yang sambil tersenyum membetot kerudungnya, membuat tubuh lawan doyong ke depan lalu ia papaki dengan tusukan pedang mematikan!

Bu-tek Siu-lam terkejut. Tidak mengira bahwa ia akan mati demikian mudah di tangan wanita ini, akan tetapi apa daya, racun mulai bekerja di tubuhnya, membuat tenaganya menjadi lemas dan ia hanya dapat memejamkan mata menanti datangnya pedang dan memasuki dadanya.

"Tranggg...!" Pedang di tangan Kam Sian Eng terpental ketika tongkat kuningan Bouw Lek Couwsu menangkisnya.

"Toanio, tak boleh kau membunuh tamuku!" bentak Bouw Lek Couwsu sambil menyerang dengan tongkatnya.

Kam Sian Eng mengeluarkan suara melengking marah, tubuhnya berkelebat cepat dan dalam waktu beberapa menit saja ia sudah bertanding sampai belasan jurus, balas-membalas dengan ketua orang Hsi-hsia.

"Ha, kau tangguh, Toanio. Tapi tetap saja aku yang menjadi orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian!" Inilah suara Thai-lek Kauw-ong yang sudah berjongkok lalu memukul dengan ilmu pukulan Thai-lek-kang yang luar biasa lihainya.

Kam Sian Eng terkejut, berusaha menahan namun ia tetap saja terhuyung ke belakang. Permainan pedangnya menjadi kacau dan pada saat ia memutar pedang menghadapi tongkat kuningan Bouw Lek Couwsu, dari belakang ada tangan menyambar.

"Awas, Bibi...!" terdengar Kwi Lan berseru. Gadis ini sudah membungkus tubuh dengan jubah gurunya dan kini melihat serangan ganas Bu-tek Siu-lam dari belakang, ia memperingatkan gurunya.

Namun Sian Eng yang sudah marah itu menggerakkan tangan kiri dan sinar putih menyambar. Hanya tiga batang jarum yang ia sambitkan namun ketiga-tiganya memasuki tubuh Bu-tek Siu-lam yang roboh berkelojotan dan menjerit-jerit seperti babi disembelih karena seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit tak tertahankan. Rasa nyeri yang amat hebat membuat tokoh banci ini seperti gila, guntingnya bergerak menggunting bagian tubuhnya yang terasa nyeri sehingga dalam sekejap mata saja lengan kirinya buntung, lalu kedua kakinya dan terakhir sekali batang lehernya! Ia mati dalam keadaan tubuh terpotong-potong gunting seperti nasib sekian banyak korbannya.

Andai kata ia harus menghadapi Bouw Lek Couwsu atau bahkan Thai-lek Kauw-ong satu lawan satu saja agaknya Kam Sian Eng tidak akan mudah dapat dikalahkan. Akan tetapi sekarang ia harus menghadapi Bouw Lek Couwsu dan Thai-lek Kauw-ong, malah kini Pak-sin-ong dan Siauw-bin Lo-mo sudah maju mengeroyoknya! Dikeroyok empat orang sakti itu, tentu saja ia menjadi repot sekali.

Kwi Lan dengan nekat membantu gurunya. Ia menyambar gunting Bu-tek Siu-lam yang berlepotan darah, lalu mengamuk, mainkan gunting itu seperti orang mainkan pedang. Namun karena senjata ini tidak cocok, ia menjadi kaku dan gerakannya canggung.

"Kwi Lan, kau bebaskan saja kami agar kami dapat membantu. Lekas!" teriak Hauw Lam, Siang Ki, dan Kiang Liong.

Akan tetapi dalam kemarahan meluap-luap gadis itu tidak ingat akan hal ini dan akhirnya, ketika Thai-lek Kauw-ong memutar-mutar tubuh mainkan ilmu Soan-hong-sin-ciang sehingga tubuhnya berputaran seperti gasing, Kwi Lan roboh tertotok dan tak mampu bergerak lagi!

Hauw Lam menjadi kecewa sekali dan pemuda ini hanya mampu memaki-maki dan berteriak-teriak, "Tak tahu malu! Empat ekor kura-kura busuk tua bangka hanya berani melakukan pengeroyokan! Aku berani mempertaruhkan kepala nenek moyangku kalau bertanding satu lawan satu, semua tentu dapat terbunuh mampus oleh Sian-toanio!"

Namun teriakan-teriakannya percuma saja dan akhirnya Kam Sian Eng harus mengakui keunggulan empat orang pengeroyoknya. Ia tak dapat bertahan lama. Serangan Thai-lek Kauw-ong membuat ia terhuyung-huyung dan pening. Ia sudah menghabiskan jarum-jarumnya, sudah mainkan pedang dan kerudung, namun sia-sia dan akhirnya ia roboh terkena hantaman gergaji Pak-sin-ong yang mengenai lambungnya. Lambungnya robek.

Kam Sian Eng memekik marah dan tendangan kakinya yang dilakukan secara tak terduga-duga membuat Pak-sin-ong terlempar, akan tetapi pada saat itu tongkat Bouw Lek Couwsu, senjata gembreng Thai-lek Kauw-ong, dan pukulan tangan Siauw-bin Lo-mo membuat ia roboh terkapar tak bernyawa lagi! Pak-sin-ong sudah bangkit dan hanya terluka ringan.

"Wanita hebat...!" Thai-lek Kauw-ong mengangguk-angguk dan diam-diam ia memuji karena biar pun ia sanggup seorang diri mengalahkan Kam Sian Eng namun tentu memakan waktu yang lama.

Kiang Liong, Pangeran Talibu, Mimi, Yu Siang Ki, dan Hauw Lam memandang ke arah empat orang kakek itu dengan jantung berdebar. Bahkan Hauw Lam sendiri kini diam saja, maklum bahwa kata-kata tidak ada artinya lagi sekarang. Bahaya hebat mengancam mereka, akan tetapi mengapa gurunya belum juga muncul? Ataukah ia salah dengar dan bukan suara gurunya?

Bouw Lek Couwsu dengan muka geram menghadapi para tawanan muda. Ia marah sekali karena sekaligus kehilangan dua orang pembantu kuat, yaitu Kam Sian Eng dan Bu-tek Siu-lam. Suma Kiat hanya berdiri memandang mayat ibunya, tidak menangis tidak tertawa hanya menunduk.

"Suma-kongcu, bagaimana pendapatmu kini?" Tiba-tiba Bouw Lek Couwsu bertanya kepada pemuda itu. Ia hendak menjenguk isi hati pemuda yang kematian ibunya ini.

Suma Kiat berkata, suaranya menggetar. "Apa yang dapat kukatakan, Couwsu? Kami ibu dan anak telah membantumu dengan kenyataan, akan tetapi Ibu karena membela gadis sialan ini telah menjadi korban. Couwsu, berikan gadis itu kepadaku, aku ingin membalas dendam ini kepadanya!"

Bouw Lek Couwsu mengangguk. Baik sekali kalau begitu pendapat pemuda ini. "Boleh saja, asal kemudian dibunuh. Dia telah menimbulkan banyak kerewelan." Kemudian setelah Suma Kiat memondong tubuh Kwi Lan yang pingsan dan dibawa ke luar kamar tahanan, Bouw Lek Couwsu menghadapi Pangeran Talibu dan berkata,

"Pangeran, untuk penghabisan kali, apakah kau masih keras kepala? Kalau sekarang kalian semua kubunuh, siapa yang akan berani menolongmu?"

Sunyi tiada jawaban dari para tawanan muda. Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras disusul sorak-sorai. Agaknya ini sebagai jawaban pertanyaan Bouw Lek Couwsu karena pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan semua tawanan muda itu tiba-tiba saja berkelebat bayangan orang dan bagaikan gerakan iblis, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ berdiri seorang laki-laki yang tinggi tegap tampan dan gagah berusia lima puluh lima tahun kurang lebih. Sebatang suling terselip di pinggang, topinya lebar dan sepasang mata yang memandang dari bayangan topi itu penuh wibawa.

"Suling Emas...!" Seruan ini keluar dari mulut Thai-lek Kauw-ong, dan semua kakek itu terkejut seperti disambar kilat. Terutama sekali Bouw Lek Couwsu yang mendengar suara ribut-ribut di sekeliling markasnya, tanda bahwa di luar terjadi perang hebat.

Suling Emas tidak mempedulikan empat orang kakek itu yang menatapnya dengan mata terbelalak dan sikap gentar. Ia melirik dan dengan ujung matanya menyapu keadaan para tawanan. Pandang matanya mencari-cari, kemudian bertemu dengan pandang mata Kiang Liong.

"Di mana Mutiara Hitam...?" tanyanya. Suaranya tenang dan halus, seperti sikapnya.

"Dia dibawa pergi Suma Kiat, putera Sian-toanio..." Kiang Liong menunjuk dengan pandang matanya ke arah mayat Kam Sian Eng.

Sejenak pandang mata Suling Emas menuju kepada muka Kam Sian Eng yang sudah mati, muka yang cantik dan tersenyum aneh. Sedetik Suling Emas memejamkan mata, seperti terkejap. Yang menggeletak tak bernyawa itu adalah adik tirinya! Kemudian kaki kanannya dibanting perlahan dan... gunting besar milik Bu-tek Siu-lam terbang dari lantai menuju tangannya. Suling Emas menyambar gunting dan terdengar bunyi nyaring dua kali ketika gunting menyambar belenggu kaki tangan Kiang Liong. Suling Emas melempar gunting ke atas lantai sambil berkata, "Pergi kau kejar dan ambil kembali Mutiara Hitam."

"Baik, Suhu!" Kiang Liong menyambar gunting dan menggunting pula belenggu Yu Siang Ki, kemudian berkelebat pergi meninggalkan gunting kepada Siang Ki yang kini sibuk membebaskan teman-temannya.

Suling Emas menjura kepada Thai-lek Kauw-ong, "Kauw-ong, selamat berjumpa kembali. Agaknya sahabat-sahabat ini adalah Pak-sin-ong dan Siauw-bin Lomo. Sayang bahwa Sam-wi (Tuan Bertiga) terperosok rendah mengabdi orang Hsi-hsia."

"Suling Emas, jangan sombong! Kamu kira dapat menangkan kami berempat?" Bouw Lek Couwsu berseru dan tongkat kuningan di tangannya sudah bergerak menyerang Suling Emas, disusul gergaji di tangan Pak-sin-ong yang bertemu musuh lamanya. Dahulu ia gagal mengacau di Khitan karena Suling Emas, maka sekarang ia hendak membalas dendam, menggunakan kesempatan selagi ada teman-teman sakti.

"Suling Emas, hadapilah kematianmu!" bentaknya.

Thai-lek Kauw-ong yang sudah mengalami kelihaian Suling Emas membunyikan gembreng dan menerjang maju secara dahsyat. Demikian pula Siauw-bin Lo-mo, biar pun bertangan kosong kini menerjang maju dengan pukulan tangan kanan sedangkan tangan lainnya siap dengan bumbung berisi racun.

Suling Emas menggerakkan sulingnya. Hebat luar biasa gerakannya ini. Sinar kuning menyilaukan mata bergulung-gulung seperti naga bermain di angkasa, dan semua senjata lawan terpukul mundur. Namun ia dikurung rapat dan empat orang pengeroyoknya adalah jagoan-jagoan yang berilmu tinggi. Tempat itu kurang luas untuk menghadapi pengeroyokan, apa lagi di situ terdapat mayat Kam Sian Eng dan Bu-tek Siu-lam.

Suling Emas tidak mau menginjak mayat adik tirinya, maka terdengar suara melengking panjang dan sinar sulingnya menyambar dengan lingkaran-lingkaran besar. Ketika empat orang pengeroyoknya mundur, ia melesat ke luar kamar. Tentu saja empat orang pengeroyoknya tidak membiarkan ia pergi dan cepat menyusul. Kiranya Suling Emas sudah menanti mereka di luar, di tempat yang luas, sambil memalangkan suling di depan dada dan tangan kiri diangkat tinggi di atas kepala. Sikapnya gagah bukan main dan biar pun usianya sudah setengah abad lebih, ia tampak gagah dan tampan, tubuhnya masih padat dengan sikap tegak berdiri, dadanya bidang.

"Hyaaaahhh!!" Bouw Lek Couwsu memekik dan tongkatnya menyambar kepala Suling Emas yang hanya miringkan tubuh menghindarkan diri, namun sulingnya menyambar dengan totokan ke arah lambung ketua Hsi-hsia ini.

Dengan menyontekkan tongkat ke samping Bouw Lek Couwsu berhasil menangkisnya. Pada setengah detik berikutnya, gergaji Pak-sin-ong menyambar pinggang dan Suling Emas sudah menangkis dengan suling, berusaha menempel gergaji dengan sinkang. Akan tetapi pada saat itu Thai-lek Kauw-ong sudah menghimpitnya dengan sepasang gembreng yang amat berbahaya itu sehingga Suling Emas terpaksa melepaskan sulingnya dan meloncat ke belakang, membiarkan gembreng lewat. Siku kirinya menotok pergelangan tangan Bouw Lek Couwsu yang hendak menyerang sehingga kakek ini meloncat ke samping, kemudian Suling Emas sudah meloncat lagi ke depan. Selagi Thai-lek Kauw-ong belum menarik kembali gembrengnya, pendekar sakti ini sudah memukulkan suling ke arah kepala. Thai-lek Kauw-ong tentu saja tidak mau kepalanya dipecahkan suling, cepat menghindar. Suling Emas sekali lagi meloncat ke belakang karena tangan Siauw-bin Lo-mo sudah memukulnya dengan jari tangan miring yang kalau mengenai iganya dapat mematahkan tulang iga.

Pertandingan terjadi makin seru dan cepat. Gerakan Suling Emas indah sekali, indah dan cepat namun karena empat orang pengeroyoknya juga bukan orang-orang biasa, ia kalah cepat dan terpaksa bertubi-tubi menangkis serangan yang datang bergantian bagaikan hujan lebatnya. Setelah pendekar sakti ini mainkan ilmunya, Hong-in-bun-hoat, sulingnya mencorat-coret huruf-huruf sakti di udara barulah dia dapat mematahkan semua serangan dan dapat mengimbangi gencarnya serangan, sungguh pun ia masih belum dapat membalas serangan.

Sementara itu, di luar terjadi perang hebat antara pasukan-pasukan Khitan yang besar jumlahnya melawan orang orang Hsi-hsia dan pendeta jubah merah. Pasukan Khitan ini memang mencari Pangeran Mahkota mereka dan akhirnya dapat menyerbu ke markas Hsi-hsia. Akan tetapi agaknya mereka takkan berhasil kalau saja tidak bertemu dengan Suling Emas di luar hutan. Suling Emas yang memimpin mereka memasuki markas tanpa diketahui sehingga mereka dapat menyerbu secara mendadak. Karena jumlah mereka lebih banyak dan karena pasukan Khitan ini lebih berpengalaman dalam perang, maka pihak Hsi-hsia segera terdesak hebat dan banyak jatuh korban.

Sementara itu, Siang Ki telah berhasil membebaskan Hauw Lam, Talibu, dan Mimi. Setelah mereka beristirahat sebentar untuk memulihkan jalan darah yang membeku karena terlalu lama dibelenggu, mereka lalu keluar dari kamar tahanan yang menyeramkan dengan adanya mayat Bu-tek Siu-lam yang terpotong-potong! Mereka siap membantu Suling Emas, bahkan Pangeran Talibu sendiri cemas melihat ayah kandungnya dikeroyok tadi. Akan tetapi hatinya lega mendengar teriakan-teriakan pasukannya, teriakan-teriakan itu adalah tanda bahwa pihak pasukannya berhasil mendesak dan menang.

Ketika mereka tiba di luar, hati mereka makin lega. Kiranya Suling Emas kini bukan hanya seorang diri menghadapi pengeroyokan empat musuh, melainkan dibantu seorang kakek tua renta yang cebol berkepala besar dan tertawa cekikikan. Yang paling girang hatinya adalah Hauw Lam karena ia mengenal kakek ini yang bukan lain adalah kakek aneh luar biasa, Bu-tek Lo-jin yang menjadi gurunya hanya untuk beberapa hari lamanya.

Pak-sin-ong dan Thai-lek Kauw-ong mengeroyok Suling Emas, adapun Siauw-bin Lo-mo dan Bouw Lek Couwsu mengeroyok Bu-tek Lo-jin. Baik Bu-tek Lo-jin yang hanya memegang sebatang ranting kecil mau pun Suling Emas yang bersenjatakan suling dapat mendesak kedua pengeroyok masing-masing.

Akan tetapi pada saat itu, serombongan hwesio jubah merah yang mendengar tanda bahaya yang dikeluarkan Bouw Lek Couwsu, sudah datang dengan senjata di tangan untuk mengeroyok dua orang pendekar sakti itu. Mereka ini jumlahnya ada dua puluh orang, murid-murid pilihan yang terpaksa meninggalkan peperangan yang terdesak untuk membantu dan membela guru mereka.

Melihat munculnya hwesio-hwesio jubah merah ini, Yu Siang Ki dan Hauw Lam segera meloncat maju menerjang dengan senjata golok yang mereka temukan di luar kamar tahanan. Juga Pangeran Talibu tidak mau ketinggalan. Pangeran ini sudah mengambil sebatang pedang seperti juga Puteri Mimi, dan kedua orang muda bangsawan yang pandai ilmu silat ini pun lalu menyerbu dan membantu Siang Ki dan Hauw Lam.

Sebagian dari hwesio-hwesio itu menyambut serbuan empat orang muda, akan tetapi sebagian besar membantu Bouw Lek Couwsu. Suling Emas menjadi marah melihat datangnya banyak hwesio jubah merah yang otomatis mengeroyok kakek cebol. Ia membuat gerakan panjang, gulungan sinar suling yang sungguh luar biasa melibat bayangan Thai-lek Kauw-ong.

Kauw-ong kaget, merasa betapa sinar itu mengandung hawa dingin yang tajam melebihi pedang. Untuk menjaga diri, Kauw-ong lalu berputaran seperti gasing, sepasang gembrengnya menjadi sinar yang membungkus tubuhnya. Akan tetapi ia kena diakali Suling Emas yang memang hanya menggertak saja. Setelah kakek raksasa yang amat lihai itu berputaran, tiba-tiba Suling Emas mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian kepada Pak-sin-ong. Tubuhnya berkelebat, sulingnya melengking bagaikan sinar kilat menyambar ke arah Pak-sin-ong. Kini Pak-sin-ong tidak ada pembantu karena sahabatnya sedang berputaran seperti gasing. Terpaksa ia menangkis dengan gergaji di tangan kanan sedangkan tali pancingnya menyambar ke arah kaki Suling Emas.

"Cringg... krekkkk!" gergaji itu patah-patah menjadi beberapa potong.

Pak-sin-ong hendak meloncat mundur akan tetapi alangkah kagetnya ketika gerakannya itu terhalang oleh tali pancingnya sendiri yang kini sudah melibat-libat tangan Suling Emas. Kiranya pendekar sakti itu telah menangkap pancingnya dan karena talinya diikatkan pada pinggang, Pak-sin-ong tak dapat melarikan diri! Ia menjadi nekat, membetot-betot tali pancing dan mengirim pukulan sambil tiba-tiba menubruk maju. Tubuh yang menubruk itu diterima dengan tusukan suling.

Pak-sin-ong mengulur tangan menangkap suling. Gerakannya cepat dan tak terduga-duga sehingga suling itu dapat tertangkap. Mereka saling betot, adu tenaga. Namun Pak-sin-ong kalah kuat sehingga terpaksa mempergunakan kedua tangan melawan tangan kanan Suling Emas. Sambil tersenyum Suling Emas mempertahankan suling dengan tangan kanan, ada pun tangan kirinya bergerak cepat, jari-jari tangan yang ampuh dan kuat itu satu kali menusuk ke arah pelipis lawan. Tanpa mengeluarkan suara Pak-sin-ong melepaskan suling dan roboh tak bergerak lagi.

Ketika Suling Emas siap menghadapi Thai-lek Kauw-ong, ternyata Si Raja Monyet itu telah melompat jauh melarikan diri! Ia tidak mengejar, melainkan menyerbu ke depan membantu kakek cebol yang kini dikeroyok banyak sekali lawan. Para murid Bouw Lek Couwsu tentu saja semua mengeroyok si Cebol ini untuk membantu guru mereka.

Si Kakek Cebol benar-benar hebat luar biasa sehingga mengagumkan hati Suling Emas. Ia dapat menduga siapa adanya kakek ini, tentulah Bu-tek Lo-jin karena siapa lagi di dunia ini ada tokoh sakti memiliki tubuh seperti kanak-kanak dan kepala besar seperti raksasa? Memang kini sudah kelihatan tua sekali sehingga kalau melihat mukanya orang yang pernah bertemu akan menjadi pangling, akan tetapi melihat potongan tubuh dan kepalanya, melihat sikapnya yang ugal-ugalan mudah saja menduga siapa tokoh ini.

"Locianpwe Bu-tek Lo-jin, terima kasih atas bantuan Locianpwe!" kata Suling Emas sambil menerjang maju, menyerang Siauw-bin Lo-mo.

"Heh-heh-heh. Suling Emas, siapa membantu siapa? Aku hanya ingin menghajar monyet-monyet gundul berpakaian pendeta ini!"

"Brettt... brettt...!" celana dua orang hwesio jubah merah robek dan putus tali kolornya.

Tentu saja dua orang hwesio itu kedodoran dan tersipu-sipu, kemudian mundur untuk membenarkan celananya yang robek. Kakek cebol itu tertawa bergelak dan tubuhnya kembali berkelebatan di antara sinar senjata para pengeroyoknya yang amat banyak.

"Hayo Bouw Lek Couwsu, lepaskan celanamu!" kembali kakek cebol itu tertawa dan menerjang.

Ia tidak pedulikan para hwesio yang menghalanginya. Dengan lincahnya ia melejit dan menyelinap, tahu-tahu ia sudah berhadapan lagi dengan Bouw Lek Couwsu. Kalau tadi ia belum berhasil adalah karena selain Bouw Lek Couwsu sendiri amat lihai, kakek pemimpin Hsi-hsia ini dibantu pula oleh Siauw-bin Lo-mo. Kini menghadapi kakek cebol seorang diri, Bouw Lek Couwsu menjadi pucat dan marah. Tongkat kuningnya yang berat digerakkan menghantam tubuh Bu-tek Lo-jin.

"Desss...!" Dan Bouw Lek Couwsu melongo.

Jelas tadi ia melihat tongkatnya secara tepat menyambar tubuh cebol itu, akan tetapi mengapa kini hanya tanah saja yang dihantamnya dan ke mana perginya si Cebol? Tiba-tiba terdengar bunyi kain robek dan Bouw Lek Couwsu cepat membalikkan tubuh karena merasa tubuh belakangnya dingin. Kiranya Bu-tek Lo-jin sudah berdiri di belakangnya dan ketika Bouw Lek Couwsu meraba tubuh belakang, celananya di bagian belakang sudah robek lebar sekali sehingga nampak buah pantatnya yang besar menghitam!

"Ha-ha-ha-ha, persis pantat monyet, ha-ha-ha," Bu-tek Lo-jin tertawa terbahak-bahak.

Bouw Lek Couwsu marah bukan main. Murid-muridnya sudah mengurung dan mengeroyok lagi kakek cebol itu dan seorang murid datang membawa celana baru yang cepat dipakai oleh Bouw Lek Couwsu. Kemudian sambil menggigit bibir saking marahnya, ia memutar tongkatnya lagi menerjang si Kakek Nakal.

Pertandingan antara empat orang muda melawan para pendeta jubah merah juga berjalan seru. Para pendeta itu adalah murid-murid pilihan Bouw Lek Couwsu yang merupakan pengawal pribadi, maka kepandaian mereka cukup tinggi. Kini bermunculan pasukan pengawal Hsi-hsia yang membantu sehingga empat orang muda itu harus bekerja keras. Banyak sudah orang Hsi-hsia roboh oleh pedang mereka, akan tetapi jumlah pihak lawan makin banyak.

Betapa pun juga, dengan enaknya Yu Siang Ki dan Tang Hauw Lam mempermainkan dan membabati mereka karena tingkat ilmu kepandaian dua orang muda ini jauh lebih tinggi. Puteri Mimi bersama Talibu sudah mundur karena Sang Pangeran terlalu lelah oleh luka-lukanya. Dia dibimbing Puteri Mimi yang siap melindunginya. Tadinya Talibu tidak mau berhenti dalam bertanding melawan musuh, akan tetapi Yu Siang Ki yang melihat betapa gerakan Pangeran ini lemah dan tidak tetap, bahkan wajahnya pucat sekali, maka ia lalu memutar senjata memberi jalan ke luar kepada Pangeran ini, minta supaya Sang Pangeran mengaso dijaga Puteri Mimi.

Siauw-bin Lo-mo repot sekali menghadapi Suling Emas. Tiga kali ia dibikin jungkir-balik oleh suling di tangan lawan. Untung ke tiga kali itu ia cukup cepat sehingga hanya mengalami jungkir-balik dan babak belur, kalau ia kurang cepat sedikit saja, tentu nyawanya telah melayang. Karena maklum bahwa ia bukan tandingan Suling Emas yang luar biasa saktinya, tiba-tiba Siauw-bin Lo-mo tertawa bergelak, tangan kirinya membanting bumbung, juga tangan kanannya meraih bola yang bergantungan pada pinggangnya.

Terdengar bunyi ledakan-ledakan keras dan tanpak asap bermacam-macam warnanya mengebul memenuhi tempat pertandingan itu. Bouw Lek Couwsu berseru memberi peringatan kepada anak buahnya yang lari cerai-berai, namun terlambat sedikit. Lebih dari sepuluh orang Hsi-hsia dan pendeta jubah merah roboh berkelojotan, ada yang terkena besi, ada yang menghisap asap beracun.

Pangeran Talibu dan Puteri Mimi yang mengaso di emper bangunan, dari jauh melihat betapa setelah membantingi bahan-bahan peledak dan asap beracun, Siauw-bin Lo-mo roboh telentang. Akan tetapi mereka tidak melihat di mana adanya Suling Emas, Bu-tek Lo-jin, Yu Siang Ki, dan Tang Hauw Lam! Apakah mereka berempat juga sudah menjadi korban?

Kiranya ketika terjadi ledakan-ledakan tadi, keadaan amatlah berbahaya sehingga orang-orang lihai seperti Siang Ki dan Hauw Lam sekali pun belum tentu dapat menyelamatkan diri karena mereka sedang menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi, tiba-tiba mereka berdua berseru kaget, tubuh mereka terangkat dan terbang melayang ke atas genteng markas Bouw Lek Couwsu. Setelah memandang, kiranya Suling Emas yang menyambar tubuh Siang Ki dan Bu-tek Lo-jin yang membawa ‘terbang’ Hauw Lam! Setelah dilepaskan di atas genteng, dua orang muda itu segera bertekuk lutut menghaturkan terima kasih.

Bu-tek Lo-jin duduk di atas genteng, merangkul pundak Hauw Lam. "Heh-heh, kau lumayan, aku tidak kecewa. Apa lagi permainanmu di depan Bouw Lek Couwsu dan sekutunya, hebat!"

"Berkat bimbingan Suhu," kata Hauw Lam merendah.

"Heh, bimbingan apa? Aku tidak pernah mengajarmu bersyair!"

"Suhu telah datang, kenapa tidak cepat turun tangan tadi?"

"Kenapa? Aku belum ada kegembiraan."

"Bukankah tadi keadaan Mutiara Hitam terancam bahaya?"

"Uuuhh, berani bermain api jangan takut terbakar. Berani bermusuhan jangan takut berkelahi dan berani berkelahi jangan takut mati! Perlu apa mesti kutolong? Eh, Hauw Lam, syairmu tadi yang memuat teka-teki, mengapa kau begitu sembrono? Hatiku sampai berdebar tidak karuan. Bagaimana kalau kebetulan di antara mereka ada yang menebak tepat angka empat? Kau tentu kalah.”

Hauw Lam maklum bahwa gurunya ini memang ugal-ugalan, maka jawaban dan alasan tadi tidak ia masukkan hati. "Teecu (murid) takkan kalah, Suhu. Walau pun ada yang menjawab empat umpamanya, teecu akan salahkan dia karena jawabannya bukan empat."

"Heeeii, bagaimana ini?"

"Aah, ini hanya akal anak kecil, Suhu. Di dalam syair itu terdapat angka atau jumlah bermacam-macam. Kura-kuranya empat, emasnya satu, bulannya dengan bayangannya dua, tanggal purnama lima belas. Kalau sekalian angka-angka itu dikali, ditambah, dikurangi atau dibagi, bisa saja kita mencari bilangan dari satu sampai seratus! Tentu saja semua tebakan bisa teecu salahkan!"

Bu-tek Lo-jin mengerutkan kening berpikir-pikir, kemudian setelah mengerti duduknya persoalan ia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kalau begitu kau tipu mereka mentah-mentah!"

"Bukan menipu, Suhu, melainkan ini akal anak kecil. Hanya orang goblok dan tolol saja yang dapat diakali permainan kanak-kanak macam ini. Dan di dunia ini terlalu banyak orang tolol dan goblok."

"Ha-ha-ha, orang-orang yang punya kedudukan tinggi bisa diakali. Kau lihat nanti, Hauw Lam. Aku tak mau kalah denganmu. Kau lihat nanti bagaimana aku permainkan mereka dengan akal anak kecil juga. Lihat ini!" Setelah berkata demikian, Bu-tek Lo-jin menggunakan jari kelingkingnya mengorek-ngorek ke dalam lubang hidungnya, mengeluarkan upil (tahi hidung) dan mengumpulkan lalu memelintir-lintirnya menjadi semacam pel. "Ah, terlalu sedikit," katanya tertawa. "Hayo kau keluarkan punyamu. Kau juga, Suling Emas, dan kau... eh, jembel muda."

Hauw Lam mengedipkan mata kepada Siang Ki agar pemuda itu suka memenuhi permintaan kakek itu. Akan tetapi tanpa diberi tanda juga Siang Ki tentu akan mentaatinya karena pemuda ini sudah cukup berpengalaman untuk mengenal seorang sakti yang aneh seperti Bu-tek Lo-jin. Tanpa ragu-ragu ia pun lalu mengorek lubang hidungnya.

Suling Emas tersenyum kepada kakek nakal itu. Kalau dia mentaati permintaannya, berarti dia sudah kena dipermainkan juga, maka ia lalu mengambil kotoran tanah yang menempel di bawah sepatunya, "Bu-tek Lo-jin, dicampur dengan kotoran ini tentu lebih lezat rasanya," Ia menyerahkan segelintir tanah kotor yang diambilnya dari bawah sepatu.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Memang tahi hidung saja kurang banyak," ia lalu menuding dan menghitung baju-baju merah di bawah, "Wah, ada dua puluh orang bersama Bouw Lek si tolol. Biar kutambah lumpur!" Kakek ini lalu mengumpulkan tanah dari bawah kakinya, dicampur dengan tahi hidung yang ia terima dari Siang Ki, Hauw Lam, dan dia sendiri, ditambah pula dengan debu-debu yang menempel pada genteng. Karena debu-debu itu kering, ia lalu meludahinya, dan mengepal-ngepal campuran ini menjadi sekepal kecil yang warnanya tidak karuan, agak kehitaman, kemerahan dan abu-abu!

"Asap sudah buyar, lihat, Pangeran dan Puteri kelihatan bingung kehilangan kita. Mari turun!" kata Suling Emas yang melayang turun, diikuti dua orang pemuda dan kakek nakal.

Suling Emas lebih dulu mengambil sulingnya yang menancap di dahi Siauw-bin Lo-mo yang sudah tewas. Melihat empat orang ini melayang turun, Pangeran Talibu dan Puteri Mimi bersorak dan lari menghampiri. Sorak-sorai terdengar keras sekali dan kini bermunculan prajurit-prajurit Khitan yang sudah berhasil menyapu bersih orang-orang Hsi-hsia.

Bouw Lek Couwsu bersama sembilan belas orang murid pilihan kini berdiri bingung, dikurung di tengah-tengah. Pangeran Talibu mengeluarkan aba-aba kepada para prajurit yang segera mengurung tempat itu dan tak seorang pun di antara mereka berani turun tangan. Para prajurit ini bersorak girang melihat bahwa pangeran mereka dan Puteri Mimi dalam keadaan selamat, sungguh pun Pangeran Mahkota itu tubuhnya luka-luka. Seorang komandan pasukan cepat-cepat maju menghampiri membawa sebuah jubah indah yang dikenakan pada tubuh Pangeran Talibu yang telanjang bagian atasnya. Kemudian komandan itu mundur lagi setelah memberi hormat.

Dengan wajah keruh Bouw Lek Couwsu melangkah maju menghadapi Suling Emas dan teman-temannya. "Suling Emas, kau menggagalkan usahaku. Aku sudah kalah, mau bunuh lekas bunuh!" Setelah berkata demikian, Bouw Lek Couwsu melempar tongkatnya ke atas tanah. Perbuatan ini diturut oleh anak muridnya yang semua melempar senjata ke atas tanah.

Orang akan keliru kalau mengira bahwa perbuatan Bouw Lek Couwsu ini merupakan tanda sifat pengecut atau penakut. Tidak, sama sekali bukan begitu. Bouw Lek Couwsu tidak akan dapat menjadi pimpinan orang Hsi-hsia kalau ia penakut atau bodoh. Perbuatan ini malah membuktikan kecerdikannya. Ia tentu saja mengenal siapa Suling Emas. Seorang pendekar sakti yang bernama besar dan yang terkenal memiliki watak satria dan gagah. Seorang satria yang gagah perkasa tak mungkin sudi membunuh musuh yang tidak melawan lagi! Sedangkan kalau dia dan murid-muridnya melawan, tak dapat diragukan lagi dia dan murid-muridnya tentu akan binasa semua.

"Bouw Lek Couwsu, kami tidak akan membunuhmu. Ketahuilah bahwa Kaisar Sung yang bijaksana tidak menghendaki permusuhan dengan bangsa apa pun juga. Juga dengan bangsa Hsi-hsia tidak menghendaki permusuhan. Oleh karena kau kini melanggar wilayah Sung, maka Pemerintah Sung yang berhak memutuskan. Akan tetapi karena aku sudah tahu akan kehendak Kaisar, biarlah kekalahanmu ini menjadi pelajaran bagimu agar kelak kau tidak berani main-main dengan Kerajaan Sung mau pun dengan Kerajaan Khitan. Kau pergilah pulang ke tempat asalmu!"

"Eh-eh-eh, nanti dulu!" tiba-tiba Bu-tek Lo-jin berkata sambil terkekeh. "Suling Emas, kau membebaskan mereka tanpa mengobati mereka, sama artinya dengan melepaskan kepala memegang buntutnya! Mereka kau bebaskan untuk mati, apa bedanya? Lihat, bukankah mereka semua menderita luka keracunan yang hebat dan tiada obatnya? Ini, lihat leher Bouw Lek Couwsu!" Ia mendekati dan tangannya menunjuk ke arah leher, "Tentu Bouw Lek Couwsu tidak dapat melihat lehernya sendiri, tapi coba tarik napas dalam tidakkah terasa gatal dan sakit?"

Bouw Lek Couwsu benar-benar menarik napas dalam dan ia kaget bukan main. Memang terasa gatal-gatal dan sakit. Sebagai seorang ahli ia berusaha menggunakan napas untuk memunahkan racun ini, namun makin dilawan makin sakit. Sementara itu, Bu-tek Lo-jin terus mendekati murid-murid Bouw Lek Couwsu, menuding sana-sini, ada yang lehernya sakit, ada yang punggungnya, pundaknya, pahanya pendeknya di mana kakek itu menuding, tentu di situ benar-benar terasa gatal dan sakit apa bila dipakai menarik napas panjang. Ributlah mereka dan dua puluh orang itu menjadi cemas sekali.

"Ha-ha-ha! Bouw Lek Couwsu, tahukah engkau luka apa dan racun apa yang bersarang di tubuh kalian semua? Inilah racun hebat yang tak mungkin dapat disembuhkan kecuali oleh obat yang dinamakan batu hitam dari goa kembar! Atau dengan cara lain, bagian yang kena racun itu dipotong. Kalau paha yang terkena, ya. pahanya dipotong, kalau pinggang atau leher... yah, pinggangnya dan lehernya dipotong!"

Sepasang mata Bouw Lek Couwsu melotot marah, akan tetapi murid-muridnya menggigil ketakutan. Mana ada cara pengobatan macam itu? Pinggang atau leher dipotong berarti mati!

"Suling Emas, apakah benar apa yang dikatakan tua bangka gila ini?"

"Bouw Lek Couwsu, aku bukan seorang ahli tentang racun, akan tetapi harus diakui bahwa Locianpwe Bu-tek Lo-jin adalah seorang ahli tentang pukulan-pukulan beracun. Harap Couwsu suka bertanya kepada beliau."

Bouw Lek Couwsu dengan sikap angkuh kini menghadapi kakek cebol yang tertawa-tawa, "Apakah omonganmu itu betul dan tidak omong kosong belaka?"

"Heh-heh-heh, memang omong kosong? Apa sih isinya omongan? Tapi yang kosong berisi, yang isi itu kosong, bukan begitu Bouw Lek Couwsu? Kau menyebut aku gila sebetulnya tidak gila, kau yang menganggap diri tidak gila sebetulnya gila. Anjing bukan manusia dan manusia bukan anjing tapi manusia dan anjing sama! Luka-luka kalian adalah akibat dari getaran ledakan yang disertai asap beracun. Kami yang melompat ke atas tidak terkena, akan tetapi kalian yang berada di bawah, terkena tanpa kalian rasakan. Padahal andai kata kami di bawah dan terkena racun juga, tidak mengapa karena aku mempunyai obat pemunahnya. Kebetulan sekali di antara perbekalanku terdapat Pel Batu Sepasang Goa."

"Omitohud...!" Bouw Lek Couwsu menyebut nama Buddha, hatinya lega karena ancaman maut yang mencengkeram dia dan anak-anak muridnya ada obat penawarnya, "Bu-tek Lo-jin, kalau begitu pinceng mengharapkan kau suka memberikan obat itu kepada kami."

"Tadi maki-maki sekarang minta-minta. Inilah watak manusia kalau membutuhkan sesuatu! Obat ini mencarinya juga bertaruhan nyawa. Sepasang goa itu tak seorang pun dapat memasukinya. Aku berani mempertaruhkan kepalaku kalau ada orang yang mampu memasuki sepasang goa itu. Hanya dengan kecerdikan luar biasa barulah batu hitam dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dicampur dengan sari bumi dan debu angkasa. Bayangkan saja betapa sukarnya mendapatkan obat ini," Bu-tek Lo-jin mengeluarkan sekepal ‘obat’ yang sudah ia bungkus kain kuning.

Bouw Lek Couwsu mengilar sekali. Kalau ia tidak ingat betapa lihainya kakek cebol ini, tentu sekali pukul ia membikin mampus padanya dan merampas obatnya. "Lo-jin, sekali lagi pinceng mohon pertolonganmu. Kalau perlu dibeli, katakan saja berapa, pinceng akan sanggup menggantinya."

"Heh-heh-heh, kita sudah saling bertanding, itu berarti kita sudah menjadi sahabat. Di antara sobat, mana ada jual beli? Akan tetapi karena kau sudah menghina sobat-sobatku yang lain, kalau sekarang kau dan semua muridmu mau berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali kepadaku, obat akan kuberikan dengan gratis!"

Tanpa dikomando lagi, sembilan belas orang, hwesio jubah merah itu serentak lalu berlutut ke arah Bu-tek Lo-jin dan mengangguk-anggukkan kepala seperti sekumpulan ayam bulu merah mematuk beras, berulang-ulang, tidak hanya tujuh kali, sampai puluhan kali! Akan tetapi Bouw Lek Couwsu tetap berdiri, mukanya pucat dan matanya menyinarkan kemarahan. Orang telah mempermainkan dan menghinanya di luar batas. Namun ia tidak berdaya melampiaskan kemarahannya.

"Hemm, paling-paling pinceng akan mati kalau tidak dapat mengobati sendiri, akan tetapi seluruh dunia akan mendengar tentang perlakuan Bu-tek Lojin yang tidak patut!"

"Biarlah, mengingat bahwa engkau adalah seorang pemimpin bangsa Hsi-hsia, sekali ini kubebaskan dari berlutut. Akan tetapi lain kali kalau engkau pilek atau masuk angin lalu datang minta obat kepadaku, engkau harus berlutut!" kata Bu-tek Lo-jin yang agaknya sudah puas mempermainkan mereka. Ia membuka bungkusan kain kuning, mengeluarkan sekepal ‘obat’ itu, mengangkatnya tinggi di atas kepala sambil berkata seperti lagak penjual obat di pasar mendemonstrasikan obatnya. "Obat ini adalah obat paling manjur di dunia dan akhirat! Jangankan manusia sakit keracunan, bengek, mulas, pening dan lain-lain, bahkan dewa sekali pun dapat disembuhkan!" Ia lalu membagi-bagi menjadi dua puluh butir, dan membagi-bagikan kepada Bouw Lek Cousu dan murid-muridnya sambil berkata, "Telan sekarang juga sebelum terlambat!"

Bouw Lek Couwsu menelan pel kemulutnya. Ia merasakan betapa ‘pel’ itu kasar dan agak asin, terus ditelannya. Demikian pula dengan murid-muridnya, tanpa ragu-ragu lagi telah menelan obat mustajab itu. Alangkah lega rasa hati mereka ketika kini mereka menarik napas panjang bagian tubuh yang keracunan itu tidak begitu nyeri lagi. Demikian pula dengan Bouw Lek Couwsu. Kini ia menarik napas panjang sambil mengerahkan sinkang dan rasa nyeri lenyap. Mau tak mau ia jadi berterima kasih sekali lalu menjura kepada Bu-tek Lo-jin.

"Omitohud, Lo-jin telah menyelamatkan nyawa pinceng dan para murid, sungguh merupakan budi besar. Nah, Cu-wi sekalian, sampai jumpa," Ia menjura ke arah Suling Emas dan teman-teman, memungut tongkatnya lalu membalikkan tubuh, menyeret tongkat dengan lenggang angkuh, diikuti para muridnya. Atas isyarat Pangeran Talibu, para pasukan Khitan membuka jalan, membiarkan rombongan pimpinan Hsi-hsia ini lewat.

Begitu mereka pergi, Bu-tek Lo-jin tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya, bahkan ia sampai bergulingan di atas tanah terbahak-bahak dan di antara suara ketawanya ia berkata, "... lucu... ha-ha-ha... lucu!"

Mereka yang tidak mengerti, termasuk Pangeran Talibu dan Puteri Mimi, tentu saja menjadi heran sekali, mengira bahwa kakek ini memang betul gila. Akan tetapi Hauw Lam yang merasa bangga akan gurunya, segera bercerita dengan suara lantang, bahwa Bouw Lek Couwsu dan murid-muridnya tadi sama sekali tidak terkena racun, melainkan terkena hawa pukulan tangan Bu-tek Lojin ketika menuding dan sama sekali tidak terancam maut, karena akibat hawa pukulan itu hanya menimbulkan rasa nyeri sebentar saja. Bahwa ‘obat mustajab’ itu adalah upil (tahi hidung) yang dicampur dengan debu genteng dan tanah di telapak kaki.

Orang-orang Khitan yang mengerti bahasa Han lalu menterjemahkannya dalam bahasa Khitan kepada teman-temannya dan meledaklah suara ketawa mereka. Bahkan Puteri Mimi sampai terpingkal-pingkal dan Pangeran Talibu tertawa geli. Yang membuat keadaan amat lucu adalah ketika mereka teringat betapa tahi hidung disebut batu hitam dari sepasang goa, tentu saja sepasang goa adalah sepasang lubang hidung dan tentu saja tidak ada manusia dapat memasuki lubang hidung! Dan sari bumi adalah kotoran di telapak kaki sedangkan debu angkasa adalah debu di atas genteng!

Setelah suara ketawa mereda, Suling Emas lalu menyarankan kepada Pangeran Talibu agar bersama Puteri Mimi kembali ke Khitan dikawal oleh pasukan Khitan yang sebagian ditugaskan untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan. Di depan banyak orang, Suling Emas menyebut pangeran kepada puteranya itu. Pangeran Talibu tidak membantah, lalu mengajak Mimi naik kuda yang disediakan oleh pasukan Khitan, minta diri dari Suling Emas dan Bu-tek Lo-jin, berpamit secara hangat kepada Yu Siang Ki dan Tang Hauw Lam yang dipersilakan sewaktu-waktu datang ke Khitan, kemudian berangkatlah rombongan itu.

Bu-tek Lo-jin lalu menarik lengan Hauw Lam, diajak menjauhi Suling Emas di tempat tersendiri untuk diajak bicara. Dengan singkat tapi jelas Hauw Lam menceritakan pengalamannya, pertemuannya dengan Mutiara Hitam, pengalaman mereka berdua, kemudian betapa berkat keterangan Mutiara Hitam, ia dapat bertemu dengan ibunya yang kini masih tinggal di istana bawah tanah karena tidak mau meninggalkan tempat itu.

Bu-tek Lo-jin mendengarkan penuturan ini dan segera dapat mengambil kesimpulan bahwa muridnya ‘ada hati’ kepada Mutiara Hitam. “Eh, kau mencinta Mutiara Hitam?”

Hauw Lam kaget, mukanya menjadi merah sekali. “Bagaimana Suhu tahu?”

“Heh-heh, kau kira aku begitu tolol? Pembelaanmu di kamar tahanan, dan ketika kau bercerita setiap menyebut namanya, sinar matamu bercahaya. Hayo katakan, kau cinta dia?”

Hauw Lam menghela napas, “Tak dapat teecu sangkal, Suhu. Teecu mencintanya, akan tetapi... ah, seperti hendak menjangkau bintang, seperti kumbang merindukan matahari. Terlalu tinggi....“

“Uaaahh! Siapa bilang? Biar pun hanya untuk beberapa hari, engkau murid Bu-tek Lo-jin! Gadis mana yang terlalu tinggi untukmu? Biar puteri Kaisar sekali pun, kalau aku yang melamar untukmu, akan diberikan! Kenapa kau tidak mengawininya? Dia ke mana?”

Hauw Lam maklum akan sifat gurunya yang ugal-ugalan. Kalau saat itu Mutiara Hitam berada di situ, tentu akan diseret gurunya dan dipaksa menikah dengannya! Ia tidak mau terjadi hal seperti ini, maka ia menjawab, “Teecu sendiri tidak tahu, Suhu. Akan tetapi menurut penuturan ibuku, Mutiara Hitam itu sesungguhnya adalah Puteri Khitan, puterinya Ratu Khitan. Ibu tidak dapat menerangkan secara jelas duduknya perkara, tapi....“

“Sudahlah. Kau pergilah ke Khitan, aku akan melamarnya dari tangan Ratu Khitan! Nah, sampai jumpa di Khitan!” Kakek itu meloncat bangun, melambai ke arah Suling Emas, berseru, “Haii, Suling Emas! Aku pergi sekarang!” Tanpa menanti jawaban ia sudah melesat jauh dan lenyap dari pandangan mata.

Suling Emas yang sedang bercakap-cakap dengan Yu Siang Ki hanya melambaikan tangan ke arah kakek itu. Ia sedang bicara dengan sikap sungguh-sungguh dan serius dengan pemuda itu.

“Kau sendiri sudah kalah olehnya?” Suling Emas melanjutkan percakapan yang tertunda oleh teriakan Bu-tek Lojin tadi.

“Betul, Locianpwe. Dia amat lihai,” jawab Siang Ki yang tadi bercerita tentang Suling Emas palsu yang menantang-nantang Yu Kang Tianglo!

“Dia tinggal di Lembah Ang-san-kok di Gunung Heng-tuan-san, kau bilang tadi? Dan dia pandai menggunakan hui-to (golok terbang)?”

“Benar, Locianpwe.”

Suling Emas mengangguk-angguk. “Hemm, urusan ini penting, harus kubereskan sendiri. Akan tetapi aku masih ada persoalan di kota raja. Siang Ki, sekarang kau buatlah surat, memakai nama Yu Kang Tianglo dan mengajukan tantangan kepada Suling Emas pada bulan depan tanggal lima belas di markas Khong-sim Kai-pang di Kang-hu.”

“Tapi, Locianpwe...,“ Yu Siang Ki tentu saja bingung mendengar perintah yang aneh ini.

“Lakukan sajalah. Kalau dia datang sebagai Suling Emas biarlah aku yang menjadi Yu Kang Tianglo. Kita lihat saja nanti.”

Yu Siang Ki akhirnya menyanggupi dan menjura sambil berpamit. Pada saat itu Tang Hauw Lam juga datang berpamit hendak melanjutkan perjalanan. Mereka berpisah. Suling Emas ke kota raja, Yu Siang Ki hendak mengerjakan perintah pendekar sakti itu, ada pun Hauw Lam sebelum ke Khitan hendak menyampaikan kepada ibunya lebih dulu tentang maksud pelamarannya kepada Kwi Lan.

********************


Kwi Lan masih pingsan ketika tubuhnya dipondong oleh Suma Kiat yang membawanya lari ke luar. Pemuda ini meloncat ke atas seekor kuda dan terus mengaburkan kuda lari menuju ke selatan. Perang tanding telah terjadi dengan hebatnya, namun Suma Kiat tidak mempedulikan semua itu. Ia membalapkan kudanya dan karena orang-orang Hsi-hsia sudah mengenal siapa pemuda ini maka mereka tidak mengganggunya. Prajurit-prajurit Khitan juga tidak menghalanginya karena pemuda yang membawa lari gadis pingsan itu tidak menyerang mereka. Satu dua orang yang mencoba-coba menghalangi, roboh oleh pukulan tangan kiri Suma Kiat. Akhirnya ia keluar dari tempat pertempuran dan terus membalap ke selatan.

Setelah hari menjadi petang, berhentilah Suma Kiat di depan sebuah kuil tua. Kuil bobrok ini adalah kuil yang sudah kosong dan hanya dipergunakan mengaso dan bermalam mereka yang kemalaman di jalan. Kebetulan kuil itu kosong. Suma Kiat memondong tubuh Kwi Lan memasuki kuil.

Baru saja ia menurunkan tubuh gadis itu di atas lantai, Kwi Lan mengeluh dan bergerak. Suma Kiat cepat menotok jalan darah gadis itu, membuat Kwi Lan yang sudah sadar tidak mampu bergerak karena kaki tangannya menjadi lemas. Gadis itu membuka matanya dan teringatlah ia akan semua peristiwa yang dialami. Teringat betapa gurunya dikeroyok dan betapa ia membantu akan tetapi roboh oleh Thai-lek Kauw-ong yang lihai. Kemudian ia melihat cahaya api menerangi kegelapan.

Ketika ia melirik, ia melihat Suma Kiat sudah menyalakan lilin. Agaknya para penghuni kuil yang kemalaman di jalan lupa membawa sisa lilin mereka dan kini dinyalakan oleh Suma Kiat. Kemudian pemuda ini mendekati Kwi Lan dan duduk di atas lantai, wajahnya keruh dan tampak lelah. Kwi Lan berusaha mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka karena baru saja ia tertotok di luar tahunya.

Ia tahu bahwa suheng-nya ini memiliki watak yang aneh, bahkan tidak normal seperti gurunya. Dan ia sama sekali tidak dapat menerka, apa yang hendak dilakukan pemuda ini terhadap dirinya, mengapa ia dibawa sampai ke tempat ini dan bahkan dibuat tak berdaya dengan totokan. Ia bergidik. Jatuh ke tangan suheng-nya ini tidak kurang berbahayanya dari pada jatuh ke tangan Bu-tek Siu-lam. Akan tetapi Kwi Lan membesarkan hatinya dan bertanya, suaranya biasa.

“Suheng..., bagaimana dengan Bibi Sian?”

Tiba-tiba saja Suma Kiat menangis tersedu-sedu, menyembunyikan muka dalam pelukan lengannya. Sampai lama pemuda ini menangis, pundaknya bergoyang-goyang, sampai mengguguk. Mau tak mau Kwi Lan agak terharu juga. Betapa pun juga pemuda ini bersama-sama dengan dia sejak kecil dan kini ditinggal mati ibunya. Tanpa ia sadari, sepasang mata Kwi Lan juga mencucurkan air mata. Gurunya tentu sudah mati.

Akhirnya tangis Suma Kiat terhenti. Kemudian ia mengangkat mukanya, memandang Kwi Lan dengan sepasang mata merah, “Ibu sudah meninggal dunia...,” katanya, suaranya parau, “Aku ditinggal seorang diri. Karena itu engkau harus menolongku, Sumoi.”

“Tentu saja, Suheng,” jawab Kwi Lan halus. “Sebagai adik seperguruan, tentu saja aku suka menolongmu. Tapi kau bebaskan dulu aku dari totokan. Amat tidak enak bicara dalam keadaan begini.”

Tiba-tiba, seperti ketika menangis tadi, Suma Kiat tertawa bergelak, “Ha-ha-ha! Kau kira aku begitu bodoh? Membebaskanmu kemudian engkau menyerangku, ya? Ha-ha, Suma Kiat tidak begitu bodoh, Sumoi. Ha-ha!” Sambil tertawa ha-ha-he-he, pemuda itu menowel paha Kwi Lan. Gadis ini bergidik. Benar gila suheng-nya ini.

“Aku tidak akan menyerangmu, Suheng. Aku berjanji takkan menyerangmu.”

“Ho-ho-ha-ha, kalau tidak menyerang tentu lari meninggalkan aku! Ha-ha, aku tidak bodoh. Tidak boleh kau meninggalkan aku. Ibu sudah pergi, engkau tidak boleh pergi. ibu sudah mati... huu-huuuk-huuuk...“ Ia menangis lagi, “Ibu mati dan aku tidak bisa menjadi kaisar, menjadi pangeran pun tidak. Aaahhh, aku hanya punya engkau. Hanya engkau yang dapat menjadikan aku pangeran. Ahh, Sumoi, karena itu engkau tidak boleh meninggalkan aku dan terpaksa kutotok.”

“Apa maksudmu, Suheng? Menjadikan kau pangeran?” Kwi Lan bertanya, makin heran akan tetapi juga makin gelisah.

“Tentu saja. Ibu pernah bilang bahwa kau adalah puteri Ratu Khitan. Kalau aku menjadi suamimu, berarti aku mantu Ratu Khitan, seorang pangeran. Kalau kelak aku tidak menggantikan ibumu, menjadi Raja Khitan, setidaknya aku menjadi pangeran. Maka engkau harus menjadi isteriku, Sumoi.”

Kwi Lan terkejut sekali. Celaka, pikirnya. Jalan pikiran orang gila ini aneh sekali. Bagaimana ia dapat lolos? Ia harus cerdik.

“Ah, mana bisa, Suheng? Kau tidak mencintaku, aku pun tidak cinta kepadamu. Ingat, sejak kecil kita saling bertengkar saja, mana mungkin menjadi suami isteri?”

“Ha-ha-ha, siapa bilang aku tidak cinta padamu? Kau begini cantik manis, begini molek. Eh, Sumoi, tahukah kau bahwa setelah kita dewasa, sering kali aku rindu kepadamu? Engkau cantik jelita,” Suma Kiat membelai dagu wanita itu kemudian menunduk dan mencium pipinya!

Kwi Lan bergidik. Celaka sekarang! “Ah, Suheng. Kau jangan bodoh. Kau tahu bahwa aku bukan seorang wanita yang mudah ditundukkan. Sekali aku bilang tidak mau, sampai mati pun aku tidak mau. Kalau aku tidak sudi menjadi isterimu, kau mau apa? Lebih baik kita tidak bertengkar dan bebaskan aku. Kita bicara dengan baik, mungkin aku dapat memberi jalan baik kepadamu.”

“Ha-ha, jangan coba untuk menipuku, Sumoi. Engkau boleh tidak sudi menjadi isteriku, akan tetapi aku punya cara untuk memaksamu.”

“Suheng, jangan gila!”

“Heh-heh-heh, memang aku gila. Bukankah Ibu juga dianggap gila oleh orang lain? Mau tidak mau engkau akan menjadi isteriku, Kwi Lan. Heh-heh, kau bukan sumoi lagi sekarang, melainkan Lan-moimoi yang cantik manis, kekasih hatiku, isteriku yang molek. Ini sebabnya mengapa kau kutotok. Aku akan memaksamu malam ini juga menjadi isteriku. Kalau sudah terlanjur kau menjadi isteriku, masa kau bisa menolak lagi besok? Apa kau ingin menjadi bahan hinaan orang, bukan gadis lagi sebelum kawin? Kalau malam ini engkau menjadi isteriku, engkau akan terpaksa menerima aku sebagai suami. Ha-ha-ha, aku akan menjadi mantu Ratu Khitan. Hebat bukan rencanaku?”

Kerongkongan Kwi Lan serasa tersumbat! Ia tahu bahwa orang gila ini tidak akan segan-segan melakukan rencana gilanya dan dia akan menjadi korban. Dicobanya menggertak, “Suheng! Biar pun sekarang aku tidak berdaya, akan tetapi kalau kau melakukan niat keji itu, besok kau akan kubunuh! Percayalah, kalau kau benar-benar memperkosa, besok kau akan kubunuh, kucincang hancur tubuhmu!”

Sesaat sinar takut menyelubungi wajah tampan itu. Memang pemuda itu agak takut terhadap Kwi Lan yang ia tahu memiliki kepandaian lebih lihai dari padanya. Mulutnya berkemak-kemik seperti bicara kepada diri sendiri. Melihat ini, Kwi Lan melanjutkan.

“Tidak ada gunanya, Suheng. Kau dapat memaksaku sekarang, akan tetapi kau takkan dapat menjadi mantu Ratu, tidak menjadi pangeran, melainkan besok kau menjadi mayat yang hancur lebur dagingnya. Lebih baik kita bicara baik-baik, kau bebaskan aku.”

Akan tetapi tiba-tiba wajah itu tersenyum-senyum lagi, seakan telah mendapat sebuah pikiran baru, kemudian Suma Kiat tertawa, “Ha-ha-ha, tidak bisa kau membunuh aku. Kau kira aku begitu tolol memaksamu menjadi isteri malam ini dan besok kubebaskan? Ha-ha, salahmu sendiri kau membuka rahasia dan rencanamu. Kalau kau tadi tidak bicara, tentu malam ini kau kujadikan isteri dan besok kubebaskan. Tapi pikiranmu busuk sekali. Biar malam ini sudah menjadi isteri, besok hendak membunuh dan mencincang tubuhku. Iihh, isteri macam apa ini? Aku tidak akan membebaskanmu, Kwi Lan. Tiap tujuh jam kau kutotok kembali dan setiap saat kau akan kupaksa menjadi isteriku sampai... ha-ha-ha, sampai kau mengandung! Nah, kalau kau sudah mengandung, baru kubebaskan. Setelah kau mengandung keturunanku, masa kau masih mau membandel!”

Sesak jalan pernapasan Kwi Lan. Ia merasa ngeri dan bulu tengkuknya meremang. Alangkah akan ngeri dan sengsaranya kalau rencana gila ini dilaksanakan. Dan sesungguhnya, kalau dilaksanakan ia tidak akan dapat berbuat sesuatu! Ia akan hidup seperti mayat, makan dipaksa, minum dipaksa, lalu diperkosa sesuka hati, dan baru akan dibebaskan kalau sudah mengandung. Celaka! Hampir ia menjerit saking ngeri dan cemasnya. Apa akal sekarang?

Teringatlah Kwi Lan akan keadaannya ketika terancam oleh Bu-tek Siu-lam di kamar tahanan. Teringat ia akan akal Hauw Lam yang cerdik yang berdaya upaya sedapat mungkin untuk menyelamatkannya. Hauw Lam, si Berandal! Ah, terbayang wajah sahabat baik ini. Betapa cerdiknya, betapa setia dan betapa besar cinta kasihnya ketika pemuda itu mati-matian membelanya dengan segala macam akal. Pemuda yang cerdik, gagah dan jenaka. Dunia selalu akan berseri kalau berada di samping pemuda itu. Hauw Lam mencintanya. Akan tetapi... di sana ada Pangeran Talibu. Ah, betapa besar cinta kasihnya terhadap Pangeran itu. Tak mungkin ia mencinta pemuda lain.

Aihh, mengapa ia teringat yang bukan-bukan? Bagaimana andai kata Hauw Lam yang menghadapi persoalan dan ancaman mengerikan seperti dia sekarang? Ia kembali mengenangkan sikap Hauw Lam. Mengulur waktu! Ya, mengulur waktu sambil memperpanjang ancaman dan memperlebar kesempatan.

Tiba-tiba ia menangis. Tadinya ia hanya ingin berpura-pura menangis saja, akan tetapi teringat akan kematian gurunya, akan sikap Pangeran Talibu yang bermesraan dengan Puteri Mimi, ia jadi menangis sungguh-sungguh! Air matanya bercucuran dan ia terisak-isak. Suma Kiat kaget melihat ini. Selama hidupnya, belum pernah ia melihat sumoi-nya menangis seperti ini.

Dahulu, semenjak mereka kecil, kalau mereka bertengkar dialah yang menangis, bukan Kwi Lan. Agaknya Kwi Lan tidak mempunyai air mata untuk menangis. Akan tetapi sekarang menangis terisak-isak begitu menyedihkan! Seketika air mata Suma Kiat juga bercucuran dan ia merangkul Kwi Lan, mengangkat tubuh yang lemas itu sehingga terduduk dan menyandarkannya pada dinding kuil yang kering.

“Ada apakah, Sumoi? Ada apakah, kekasihku yang manis, isteriku yang denok? Kenapa menangis? Aku tidak akan menyakitimu, manis. Aku akan menjadi suamimu yang penuh kasih sayang. Anak kitak kelak tentu laki-laki dan tampan. Kita didik dia menjadi seperti... eh, Paman Suling Emas! Ya, anak kita tentu jagoan!”

Hiburan ini bukan mengurangi kesedihan, bahkan menambah, membuat Kwi Lan menangis makin sesenggukan. Betapa tidak kalau hiburan itu mengingatkan ia akan keadaan yang mengerikan ini? Ia dihadapkan ancaman seorang gila dan ia tidak berdaya menyelamatkan diri. Ah, Hauw Lam di mana engkau? Kalau ada pemuda cerdik itu, tentu ada saja akalnya!

“Suheng..., apa engkau tidak kasihan kepadaku? Benarkah kau tega hendak menyiksaku lahir batin? Suheng, lebih baik kau bunuh saja aku...“

Suma Kiat merangkul lebih erat, “Aihhh mana mungkin, sayang? Bagaimana aku dapat membunuh orang yang paling kucinta di dunia ini? Jangan khawatir, Kwi Lan, aku tidak akan menyakitimu. Percayalah, aku sayang kepadamu...”

Dapat dibayangkan betapa takut dan ngeri hati Kwi Lan ketika pemuda itu mulai membelainya, bahkan dengan gerakan halus dan hati-hati penuh kasih sayang. Suma Kiat meraba-raba jubah gurunya yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya. Berdiri seluruh bulu di tubuh Kwi Lan dan ia cepat-cepat berkata.

“Suheng..., dengarlah kata-kataku. Eh... aduh, tolong kau sandarkan aku di dinding, jangan sentuh aku dan dengarkan dulu baik-baik... aku... aku menyerah, akan tetapi ada syaratnya...”

Suma Kiat menarik kembali tangannya, menyandarkan Kwi Lan di dinding dan memandang penuh perhatian, penuh kemesraan. “Apa, manisku? Kau mau bilang apa?”

Mengulur waktu, harus mengulur waktu, demikian jalan pikiran Kwi Lan, teringat akan kecerdikan dan akal Hauw Lam. “Suheng...,” suaranya ia buat manis dan halus, “setelah kupikir-pikir, memang kau benar. Kita sudah kehilangan Bibi Sian, kalau tidak saling tolong, bagaimana lagi? Dan kupikir-pikir... eh, engkau bukan seorang pemuda yang buruk. Engkau tampan, cerdik, juga gagah. Tidak kecewa menjadi isterimu. Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi....”

“Heh-heh-heh, jangan kau menipuku, Kwi Lan. Kalau aku disuruh membebaskanmu, tak mungkin. Aku tahu kelihaianmu. Engkau akan menjadi isteriku dalam keadaan tertotok...”

“Sesukamulah, Suheng. Aku sudah menyerah. Akan tetapi... kuminta dengan sangat, jangan... jangan malam ini! Lupakah engkau, Suheng, bahwa ibumu baru siang tadi meninggal dunia? Bagaimana kita dapat melakukan... eh... hal itu malam ini? Ini amat tidak baik dan durhaka, Suheng. Kau boleh totok aku, aku toh tidak mampu lari. Tapi malam ini jangan..., besok saja, terserah kepadamu dan aku menyerah, bahkan kemudian aku tidak akan menolak menjadi isterimu yang sah. Engkau menjadi mantu Kerajaan Khitan, mungkin kelak menjadi Raja Khitan, dan aku permaisurimu. Wah alangkah bahagianya!”

Makin berseri wajah Suma Kiat. Akhirnya ia bersorak dan berjingkrak-jingkrak dalam kuil itu, lalu berjongkok dan... “ngokk!” ia mencium pipi Kwi Lan dengan hidungnya.

“Bagus! Terima kasih, Kwi Lan. Terima kasih, kau baik sekali. Tapi... kalau sekarang, mengapa sih?”

Tadinya Kwi Lan sudah girang menyaksikan akalnya berhasil, akan tetapi kembali ia berdebar mendengar kalimat terakhir. Sungguh sukar menjenguk keadaan hati pemuda gila ini.

“Suheng, terus terang saja, wajah Bibi Sian masih terbayang di depan mataku. Tidak mau aku mendurhakai guru melakukan... hal itu pada hari guru meninggal dunia. Kalau kau memaksa, aku akan mencari kesempatan membunuhmu atau membunuh diri sendiri. Awas, alangkah mudahnya membunuh diri. Jika aku menggunakan kekuatan kemauan menahan napas, sekarang pun aku dapat membunuh diri!”

Suma Kiat mengangguk-angguk, “Baiklah, Kwi Lan. Menanti sampai besok pun tidak apa. Aku pun lelah sekali, harus tidur malam ini. Selamat tidur, sayang. Sampai besok!” Pemuda itu lalu berbaring di dekat Kwi Lan dan sebentar saja sudah mendengkur!

Kwi Lan duduk bersandar dinding, matanya kedap-kedip memandang api lilin yang hampir padam. Suram-suram keadaan di dalam kuil, sesuram hatinya. Ia sudah berhasil mengulur waktu. Berhasil untuk sementara terhindar dari pada mala-petaka hebat. Selanjutnya bagaimana? Ia tetap tidak melihat kesempatan. Dan tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdetik. Benar! Pemuda ini tidur dan kurang lebih tiga jam lagi pengaruh totokan akan lenyap dengan sendirinya dari tubuhnya. Ia akan dapat bergerak dan alangkah mudahnya untuk membebaskan diri kalau ia sudah dapat bergerak!

Jam-jam berikutnya merupakan waktu yang amat sengsara, tegang dan menggelisahkan bagi Kwi Lan. Api lilin sudah padam dan karena ia menanti waktu pulihnya tenaga tubuhnya, maka setiap menit berlalu seakan-akan setahun. Orang bisa menjadi lekas tua kalau menanti jalannya waktu dengan tak sabar. Satu jam, dua jam... hampir tiga jam. Dan Suma Kiat masih juga belum bergerak. Jantung Kwi Lan berdebar. Berkali-kali ia berusaha mengerahkan tenaga dari pusar, namun sia-sia. Totokan belum punah.

Akhirnya, ia dapat menggerakkan pinggangnya! Ia hampir bebas! Kwi Lan memejamkan mata, mengumpulkan seluruh semangat dan tenaga untuk menggerakkan kaki tangan yang lumpuh. Dan... pada saat itu, jari-jari yang kuat telah menotok punggungnya, membuat ia roboh miring dan lemas kembali seperti tadi. Suma Kiat tertawa dan Kwi Lan menahan isak tangisnya.

Hatinya kecewa bukan main. Sudah mati-matian menanti, pada saat terakhir semua harapannya tersapu habis. Ia sudah ditotok kembali dan kini Suma Kiat sudah rebah miring lagi, malah memeluknya dan sebentar saja pemuda itu sudah mendengkur. Untung bahwa ketika rebah tadi, kaki tangannya tertarik sehingga biar pun dipeluk, hanya pundaknya saja yang dirangkul pemuda itu. Napas pemuda itu terasa meniup dahinya. Kwi Lan bergidik, hatinya penuh kemarahan dan kebencian.

Matahari telah menyinarkan cahayanya melalui jendela kuil yang tak berdaun lagi. Kwi Lan memicingkan mata, silau oleh sinar matahari. Suma Kiat terbangun, menggeliat dan bangkit duduk, lalu tersenyum dan terkekeh memandangi wajah Kwi Lan.

“Aduh, cantik nian kau Kwi Lan. Tersinar cahaya matahari pagi engkau tiada ubahnya setangkai bunga mawar. Rambutmu kusut, sebagian menutupi dahi, matamu sayu oleh kantuk, bibirmu basah kemerahan seperti kuncup bunga, mandi embun, ahhh, engkau sekarang tentu akan memegang janjimu, bukan? Kita menjadi suami isteri, disaksikan cahaya matahari pagi...“ Pemuda itu berbisik-bisik dan membungkuk hendak mencium bibir yang merah itu. Tiba-tiba ia tersentak kaget dan meloncat mundur karena bentakan di belakangnya.

“Suma Kiat! Engkau benar-benar keji dan jahat!”

Suma Kiat meloncat bangun, membalikkan tubuh dan berhadapan dengan... Kiang Liong! Pemuda berpakaian putih itu berdiri tegak dengan wajah penuh amarah dan wibawa, di punggungnya nampak menonjol ujung alat musik yang-khim. Seperti diketahui, pemuda ini diperintah oleh Suling Emas untuk mengejar Suma Kiat. Ia bertanya-tanya kepada prajurit Khitan dan akhirnya mendapat keterangan bahwa Suma Kiat membawa Kwi Lan berkuda ke selatan.

Ia mengejar terus, akan tetapi terhalang malam gelap. Pagi-pagi sekali, setelah malam itu ia bermalam di dalam hutan, ia melanjutkan perjalanan dan melihat kuil tua di pinggir jalan dan seekor kuda di luarnya. Hatinya girang dan cepat ia meloncat masuk dan masih sempat menegur dan mencegah Suma Kiat yang hendak melakukan perbuatan keji terhadap Kwi Lan.

Suma Kiat kaget bukan main dan sejenak ia hanya dapat memandang Kiang Liong dengan melongo dan muka pucat. Kiang Liong sebaliknya menyapu ke dalam dan memandang ke arah Kwi Lan. Hatinya bersorak lega melihat bahwa kedatangannya belum terlambat. Biar pun gadis itu dalam keadaan tertotok, namun tidak lebih dari pada itu. Diam-diam Kiang Liong merasa heran bagaimana Kwi Lan dapat terhindar dari pada penghinaan yang hebat.

“Piauwheng (Kakak Misan)... kau... menyusul ke sini? Ah, Piauwheng... Ibuku telah... telah meninggal dunia...” Dan Suma Kiat menangis!

“Suma Kiat!” Kiang Liong membentak marah. “Simpan air mata buaya itu! Dan katakan, apa maksudmu melarikan Mutiara Hitam dan apa yang hendak kau lakukan tadi?”

Suma Kiat berhenti menangis, lalu memandang Kiang Liong dengan mata terbelalak dan tidak mengerti agaknya mengapa kakak misannya marah-marah. “Dia ini...? Ah, dia ini sumoiku dan calon isteriku, Piauwheng. Dia akan menjadi isteriku. Kau tanya saja kepadanya!”

Kwi Lan cepat berkata. “Suma Kiat! Engkau memang gila dan jahat. Kau hendak memperkosaku dan sejak kemarin menotokku, siapa ingin menjadi isterimu? Tunggu saja, kalau sudah bebas aku akan membunuhmu!”

“Heh...? Tapi... tapi... malam tadi kau berjanji... kau akan menyerah pagi ini... kau...”

Kiang Liong kini mengerti duduknya perkara. Kiranya Mutiara Hitam telah berhasil meloloskan diri malam tadi dengan jalan memberi janji dan mengulur waktu. Ia menjadi marah sekali, melangkah maju dan tangannya bergerak.

“Plak-plak-plak-plak!” Empat kali kedua pipi Suma Kiat ditampar.

Biar pun Suma Kiat berusaha mengelak dan menangkis, namun tetap saja tamparan-tamparan itu mengenai kedua pipinya sampai matang biru! Ia terhuyung-huyung mundur beberapa langkah, meraba kedua pipinya lalu mewek, menangis!

“Piauwheng... Piauwheng... kau... kau mau bunuh aku...?” Ia mundur-mundur ketakutan.

Kiang Liong menggigit bibir, “Kalau engkau bukan adik misan, atau kalau engkau sudah berhasil berbuat keji, tentu kau sudah kubunuh sekarang juga. Hayo, pergilah sebelum aku bunuh engkau!”

Suma Kiat membalikkan tubuh lalu... lari secepatnya meninggalkan kuil itu sambil berteriak-teriak menangis dan memegangi kedua pipinya!

Kiang Liong menghampiri Kwi Lan, lalu membebaskan totokan di punggung. Kwi Lan bangkit duduk perlahan. Tubuhnya kaku dan sakit-sakit karena terlalu lama lumpuh. Setelah duduk bersila sejenak dan tenaga serta jalan darahnya pulih, ia lalu bangun berdiri. Kiang Liong sudah berada di luar kuil, tadi membiarkan dia beristirahat.

Kiang Liong sudah duduk bersila di luar kuil, memangku yang-khim. Kwi Lan berhenti dan mendengarkan, terpesona. Indah bukan main petikan yang-khim itu, suaranya mengalun merdu. Kemudian terdengar suara pemuda itu bernyanyi, suaranya halus dan mengandung ketenangan, namun juga menimbulkan haru dan iba. Mutiara Hitam berdiri tertegun, tak bergerak beberapa meter di belakang pemuda itu. Bahkan kuda yang ditinggalkan Suma Kiat dan berada di belakang pemuda itu pun diam, seakan ikut mendengarkan.

Matahari cerah
menerangi bumi dan angkasa
tidak menembus hatiku
tetap gelap dan gelisah
hanya sepatah kata
kuharapkan dirimu
pengusir gelap dan resah
.

Dengan iringan suara yang-khim, nyanyian berhenti dan heninglah keadaan sekeliling tempat itu. Kiang Liong masih duduk bersila memangku yang-khim, tak bergerak seperti arca orang melamun. Kwi Lan menarik napas panjang, melangkah maju dan memanggil.

“Kiang-kongcu...“

Kiang Liong terkejut, bangkit berdiri, mengalungkan yang-khim di punggung dan membalikkan tubuh. Mereka berdiri berhadapan, pandang mata mereka bertemu, masing-masing seperti hendak menjenguk isi hati. Perlahan-lahan kedua pipi Kwi Lan menjadi merah. Dalam nyanyian tadi dia merasa seakan-akan pemuda ini bicara kepadanya, seakan-akan dari dialah pemuda itu mengharapkan sepatah kata pengusir gelap dan resah! Dengan perasaan wanitanya yang kini amat tajam karena berkali-kali menerima pernyataan cinta, Kwi Lan merasa bahwa pemuda yang perkasa ini, pemuda yang terkenal di kota raja, pemuda idaman setiap wanita remaja, murid Suling Emas, agaknya juga... jatuh cinta kepadanya! Jelas tersinar dari pandang mata itu!

Kwi Lan menunduk, lalu berkata, “Kiang-kongcu, kau telah menolongku, membebaskan aku dari pada malapetaka. Terimalah ucapan syukur dan terima kasihku, Kongcu.”

Kiang Liong menjura, “Ah. Nona mengapa banyak sungkan? Kita sudah pernah senasib sependeritaan di dalam kamar tahanan Bouw Lek Couwsu, kita bersama sudah lolos dari lubang jarum di sana. Apa artinya perbuatanku tadi? Agaknya memang nasib Nona harus mengalami banyak kaget dan ancaman bahaya, namun selalu terhindar ini membuktikan bahwa orang baik selalu dilindungi Thian.”

Kwi Lan bergidik. “Tidak sangka..., Suheng makin gila...“

“Maafkanlah dia, Nona. Suheng-mu atau adik misanku itu patut dikasihani. Dia tidak normal dan... dan baru saja kehilangan ibunya...“

Kwi Lan menggerakkan pundak. Setelah apa yang diiakukan Suma Kiat terhadap dirinya, sukar baginya untuk memaafkannya, biar pun ia tahu bahwa pemuda itu gila. Menggigil ia kalau ingat pipinya dicium, tubuhnya dipeluk semalaman. Hih, masih untung tidak tercapai maksudnya yang keji! Cepat-cepat ia mengusir kenangan mengerikan ini dan mengalihkan percakapan.

“Apa yang terjadi di markas Bouw Lek Couwsu, Kongcu? Bagaimana Kongcu dapat lolos dan bagaimana dengan... Pangeran... dan teman-teman yang lain?” Berdebar jantung Kwi Lan teringat akan Pangeran Talibu, penuh kekhawatiran.

“Suhu datang setelah gurumu tewas dan berhasil menewaskan Bu-tek Siu-lam. Sungguh harus diakui kecerdikan Hauw Lam. Karena ketajaman lidahnya dan kecerdikannya memanaskan hati gurumulah kita semua selamat! Gurumu berhasil membunuh Bu-tek Siu-lam, akan tetapi tewas pula oleh pengeroyokan yang lain. Kemudian muncul guruku bersama pasukan-pasukan Khitan yang besar jumlahnya. Pasukan Khitan menghancurkan orang-orang Hsi-hsia, sedangkan guruku dikeroyok empat kakek-kakek sakti. Aku tidak tahu bagaimana selanjutnya karena aku dibebaskan Suhu dan disuruh mengejar Suma Kiat untuk menolongmu.”.

Kwi Lan mengerutkan kening. Ia percaya akan kesaktian Suling Emas dan besar harapan Pangeran Talibu dan yang lain-lain akan selamat. Akan tetapi mengapa Kiang Liong disuruh menolongnya?

“Gurumu menyuruhmu mengejar Suma-suheng dan menolongku?”

“Aku sendiri tidak mengerti, Nona. Begitu datang, Suhu bertanya kepadaku tentang kau. Ketika aku memberi tahu bahwa kau dibawa lari Suma Kiat, Suhu membebaskan aku dan menyuruh aku cepat mengejar. Suhu agaknya amat memperhatikammu.”

Kwi Lan tidak mengerti, akan tetapi ia tidak memusingkan hal itu lebih lanjut karena ia masih mengkhawatirkan keselamatan yang lain-lain. “Bagaimana dengan mereka? Ah, jangan-jangan...“

“Tak usah khawatir, Nona. Suhu tidak akan menyuruh aku pergi kalau beliau tidak yakin akan kemenangannya. Kurasa mereka semua selamat. Sekarang aku akan kembali ke kota raja mencari berita tentang mereka. Dan engkau, hendak ke manakah, Nona? Kalau tidak berkeberatan, kita melakukan perjalanan bersama.” Pandang mata pemuda itu penuh harapan.

Kwi Lan tersenyum. Semua pemuda yang dijumpainya selalu ingin melakukan perjalanan bersamanya. Semua mencintanya. Tapi di sana ada Pangeran Talibu! Selain Pangeran ini, kalau disuruh memilih, sungguh amat sukar. Semua mempunyai kelebihan dan kebaikan masing-masing!

“Aku ingin ke Khitan, akan tetapi, baiklah kita ke kota raja dulu, karena aku pun ingin sekali mendengar bagaimana dengan akhir pertempuran di markas orang Hsi-hsia itu.” Tentu saja, bagaimana ia dapat pergi ke Khitan menyusul Pangeran Talibu kalau ia belum mendengar tentang keadaan Pangeran itu?

Berangkatlah mereka ke kota raja. Kiang Liong mempersilakan Kwi Lan naik kuda sedang ia sendiri berjalan di samping kuda. Pemuda itu nampak gembira bukan main. Besar harapannya melihat sikap gadis itu yang selalu manis dan ramah kepadanya. Ia merasa betapa hatinya benar-benar jatuh terhadap Kwi Lan. Belum pernah selamanya ia menaruh simpati begini besar terhadap seorang gadis, yang kehadirannya membuat matahari bersinar lebih terang, bunga-bunga mekar lebih indah. Ia tidak mau secara sembrono menyatakan cinta kasihnya, dan mengharap senyum itu dapat dimengerti gadis ini. Kelak kalau sudah tiba saatnya, ia akan mengajukan lamaran secara resmi!

Dapat dibayangkan betapa besar rasa kegembiraan mereka, terutama hati Kwi Lan, ketika mereka tiba di luar kota raja, mereka sudah mendengar berita tentang kesudahan pertempuran di markas Bouw Lek Couwsu. Mereka mendengar berita bahwa markas orang Hsi-hsia dihancurkan oleh Suling Emas dan pasukan Khitan, bahwa Pangeran Talibu dan Puteri Mimi yang ditahan di sana telah dibebaskan dan kembali ke Khitan, juga tentang kematian Siauw-bin Lo-mo dan Pak-sin-ong oleh Suling Emas yang dibantu oleh seorang kakek cebol berkepala raksasa yang amat aneh dan lihai!

Dua orang muda itu menduga-duga dan Kiang Liong berkata, “Tak salah lagi, kakek aneh itu tentulah Bu-tek Lo-jin!”

“Guru Berandal? Betul-betul dia datang?” tanya Kwi Lan, tertawa geli kalau teringat kepada Hauw Lam. Muridnya begitu ugal-ugalan, entah bagaimana gurunya!

“Tentu dia, siapa lagi kakek begitu aneh yang dapat menandingi orang-orang seperti Siauw-bin Lo-mo? Akan tetapi, agar dapat mendengar keterangan lebih jelas, mari kita memasuki kota raja. Mungkin Suhu masih berada di kota raja.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Di depan pintu gerbang kota raja, mereka disambut pasukan kota raja sebanyak dua losin orang yang dikepalai seorang komandan. Begitu bertemu, komandan itu lalu membentak.

“Kiang Liong, lebih baik engkau menyerah!”

Kiang Liong terkejut bukan main. Ia mengenal komandan ini, seperti juga komandan yang lain. Dia sudah terkenal dan selalu dihormati mereka. Bagaimana sekarang komandan ini membentak suruh ia menyerah?

“Heii, apa maksudmu?” ia balas bertanya, terheran-heran.

Komandan ini berkata angkuh, “Lekas berlutut dan dengarkan firman Kaisar!”

Melihat betapa komandan itu mengeluarkan segulung surat perintah, Kiang Liong segera berlutut, mendengarkan bagaikan mimpi suara komandan itu yang lantang membacakan surat perintah. Hampir tidak percaya ia ketika mendengar bahwa surat perintah itu adalah pernyataan Kaisar bahwa dia adalah seorang pemberontak yang memancing permusuhan dengan bangsa Hsi-hsia dan tidak mentaati perintah damai dari Kaisar! Ia termenung tak dapat berkata-kata. Ketika komandan menghampirinya membawa belenggu, ia menyerahkan kedua lengannya tanpa membantah, wajahnya pucat.

“Heii, lepaskan dia!” Tiba-tiba Kwi Lan menerjang maju dan si Komandan terpental jauh, jatuh bergulingan dan pingsan! Dua losin tentara mengurung, namun Kwi Lan mengamuk. Begitu kaki tangannya bergerak, enam orang tentara sudah terpelanting, roboh!

“Nona, jangan...!” Kiang Liong berseru menahan.

“Jangan bagaimana? Kiang Liong, engkau mengapa begini lemah? Biar kaisar biar setan kalau perintahnya tidak benar perlu apa ditaati? Kau tidak bersalah hendak ditangkap, masa menyerah begitu saja? Kau boleh menyerah, akan tetapi aku tetap tidak membiarkan kau ditangkap!”

Kiang Liong bingung, apa lagi melihat nona itu mengamuk terus dan setiap orang tentara yang mendekatinya tentu terpelanting roboh. Ia menghela napas, kemudian mengambil keputusan untuk sementara lari dan mencari suhu-nya minta pertimbangan agar mencegah Mutiara Hitam mengamuk yang dapat menimbulkan bencana lebih besar lagi.

“Baiklah, Mutiara Hitam. Mari kita lari!”

Mereka berdua lalu kabur dengan ilmu lari cepat. Pasukan yang kehilangan komandan karena komandan itu masih pingsan menjadi bingung dan hanya dapat menolong mereka yang terluka dan pingsan.

Setelah lari jauh, dengan suara penuh harapan Kiang Liong bertanya, “Mutiara Hitam, engkau... mengapa kau menolongku mati-matian?”

Kwi Lan tersenyum. “Siapa bicara tentang tolong-menolong? Bagaimana aku dapat melihat kau ditangkap begitu saja? Nah, kita berpisah di sini. Aku akan terus ke Khitan.”

“Aku mendengar bahwa Nona adalah puteri Ratu Khitan. Nona hendak menemui ibumu?”

Di dalam hatinya, Kwi Lan sebetulnya bukan hanya ingin menemui ibunya, melainkan terutama sekali menyusul... Pangeran Talibu. Akan tetapi ia menjawab dengan anggukan kepala dan melanjutkan, “Nah, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, Mutiara Hitam dan terima kasih. Kelak aku akan berkunjung ke Khitan.”

Ketika Mutiara Hitam membalapkan kudanya, Kiang Liong berdiri mengikutinya dengan pandang mata sampai bayangan manusia dan kuda lenyap ditelan debu yang mengebul tinggi. Kemudian Kiang Liong melanjutkan perjalanan, bertanya-tanya dan akhirnya mendengar bahwa Suling Emas setelah menghadap kaisar lalu meninggalkan kota raja dengan wajah muram. Ada tokoh pengemis yang mengetahui bahwa Suling Emas pergi menyusul Yu-pangcu ke Kang-hu. Berangkatlah Kiang Liong ke Kang-hu.

********************


Pagi hari itu kota Kang-hu kebanjiran... pengemis! Dari segenap penjuru kota berbondong-bondong datang para pengemis, bahkan banyak pula datang dari luar kota. Berita telah tersiar luas, berita yang amat aneh, yang menarik perhatian bukan saja para pengemis baju kotor, bahkan para pengemis baju bersih, golongan kaum sesat, dan para tokoh kang-ouw juga tertarik.

Maka pada hari itu, kota Kang-hu tidak hanya kebanjiran kaum pengemis, bahkan bermacam orang kang-ouw datang berkunjung. Berita apakah yang begitu menarik? Bukan lain adalah berita penantangan Yu Kang Tianglo kepada Suling Emas! Sha-gwee Cap-go. Bulan tiga tanggal lima belas, itulah harinya!

Perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang sudah mempersiapkan panggung besar di depan rumah perkumpulan. Sebuah panggung dari papan yang luas, yang biasa disebut panggung tempat pibu (adu silat). Yu Siang Ki atau Yu-pangcu sendiri yang mengatur segalanya, sesuai dengan pesan Suling Emas. Dan malam tadi Suling Emas sudah datang, kini berada di dalam rumah perkumpulan, mengenakan pakaian tambal-tambalan.

Bagi mereka yang mengerti duduknya persoalan, menjadi tegang dan gelisah. Yu Kang Tianglo sudah meninggal dunia dan yang kini menggunakan nama Yu Kang Tianglo adalah Suling Emas yang sebenarnya, menantang Suling Emas palsu! Yu Kang Tianglo tidak ada dan kini berarti Suling Emas tulen berhadapan dengan Suling Emas palsu, atau lebih tepat, Yu Kang Tianglo palsu berhadapan dengan Suling Emas palsu!
Yu Siang Ki sendiri yang menyampaikan surat tantangan dari ‘Yu Kang Tianglo’ kepada ‘Suling Emas’ di Lembah Ang-san-tok di Gunung Heng-tuan-san, dan mendapat jawaban siap oleh ‘Suling Emas’ bahkan menentukan jamnya di waktu pagi!

Demikianlah, ketika jam penentuan sudah dekat, Suling Emas yang berpakaian sebagai pengemis itu keluar dari dalam rumah perkumpulan, lalu duduk di atas sebuah bangku di atas panggung. Sorak-sorai para pengemis menyambut munculnya tokoh ini, terutama dari para anggota Khong-sim Kai-pang yang mengenal bahwa tokoh besar inilah sesungguhnya Suling Emas tulen! Yang tidak tahu duduknya persoalan dan tidak mengenal Suling Emas, mengira bahwa tokoh ini benar-benar Yu Kang Tianglo tokoh Khong-sim Kai-pang.

Suling Emas duduk di atas bangku, hatinya tegang karena ia masih belum mengerti apa maksunya orang memalsukan namanya dan menantang Yu Kang Tianglo! Tentu ada rahasia tersembunyi di balik kejadian ini. Juga ia merasa penasaran dan ingin menguji kepandaian orang yang memalsukan namanya.

Tepat pada jam yang ditentukan, tiba-tiba terdengar bunyi melengking tinggi dari jauh, disusul suara orang. “Suling Emas tiba! Adakah Yu Kang Tianglo sudah tiba?”

Suling Emas terkejut. Bukan main suara itu. Jelas bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki khikang yang hebat, mampu mengirim suara dari jauh, bahkan mampu menirukan lengkingnya yang khas Suling Emas! Ia lalu bangkit berdiri dari bangkunya, berdongak dan membusungkan dada, kemudian menjawab dengan pengerahan khikang sehingga suaranya dapat mencapai tempat jauh, ke arah dari mana suara tadi terdengar.

“Yu Kang Tianglo siap menerima kunjungan Suling Emas!”

Keadaan menjadi hening. Mereka yang hadir dan memenuhi tempat di bawah panggung menjadi tegang. Tak lama kemudian tampak berkelebat bayangan dan bagaikan seekor burung besar, di atas panggung itu muncul seorang laki-laki tua yang meloncat turun seperti burung terbang cepatnya. Ketika semua orang memperhatikan, terdengar suara ketawa di sana-sini.

Laki-laki itu sudah tua, lebih tua sedikit dari pada Suling Emas. Tubuhnya kurus sekali, jenggotnya panjang, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan keangkuhan. Akan tetapi yang lucu adalah pakaiannya. Pakaian itu terlalu besar gedobyoran akan tetapi di bagian dadanya jelas tersulam sebatang suling dengan latar belakang bulan purnama, persis seperti tanda gambar pada pakaian Suling Emas!

Bahkan Yu Siang Ki sendiri terheran-heran dan mendongkol menyaksikan pemalsuan yang mentertawakan ini. Orang ini bukan muncul seperti Suling Emas yang terkenal kegagahan dan ketampanannya, melainkan sebagai seorang badut! Betapa pun juga, harus ia akui bahwa cara laki-laki tua ini datang benar amat mengagumkan, sesuai dengan ilmunya yang tinggi.

Kalau semua orang memperhatikan dan mentertawakan, adalah Suling Emas yang memandang dengan serius dan terkejut. Orang ini bukan semata-mata hendak memalsukan namanya, pikirnya. Pemalsuan yang dibuat untuk berolok-olok, memperolok Suling Emas karena orang ini jelas sengaja memakai pakaian yang kebesaran dan kedodoran seperti hendak memperlihatkan bahwa Suling Emas hanya seorang badut. Ia cepat menyambut dengan kedua tangan di depan dada, sambil memandang tajam ia bertanya.

“Benarkah yang saya hadapi ini adalah Suling Emas yang menantang Yu Kang Tianglo?” Sambil bicara, Suling Emas sengaja hendak menguji lawannya, mengerahkan sinkang pada kedua tangannya yang mendorong.

Orang itu balas menjura, menangkis dengan sinkang pula, dan biar pun tubuh orang itu agak doyong ke belakang sedikit, namun Suling Emas harus mengakui bahwa tenaga sinkang orang itu tidak lemah. Orang itu pun biar tahu bahwa lawannya benar bertenaga hebat, tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum mengejek dan balas bertanya.

“Sebelum saya menjawab, saya hendak bertanya apakah yang saya hadapi ini benar-benar Yu Kang Tianglo yang gagah perkasa?”

Suling Emas tercengang, menduga-duga siapa gerangan orang ini. Ia merasa disindir dan menjadi tidak enak sekali. Bagaimana ia dapat menuduh orang palsu kalau ia sendiri juga palsu? Segera ia berkata lagi, suaranya tetap halus.

“Sepanjang ingatanku, di antara Yu Kang Tianglo dan Suling Emas terjalin persahabatan yang erat, bagaimana sekarang terjadi permusuhan? Apa kehendak yang tersembunyi di balik kelakuanmu, sobat?”

“Tidak salah!” Orang itu menjawab, matanya menentang tajam, “Memang dahulu terjalin persahabatan yang erat, akan tetapi persahabatan erat dapat putus kalau seorang di antara mereka berkhianat!”

Suling Emas makin tidak enak. Pandang mata orang itu biar pun membayangkan kekerasan hati, namun menyinarkan keberanian dan kejujuran! Maka ia merasa tidak perlu pura-pura dan berkata, “Sobat, terus terang saja, aku tidak mengenalmu. Tidak perlu memalsukan nama Suling Emas, lebih baik menggunakan nama sendiri. Ingat, Suling Emas masih hidup!”

Orang itu tertawa bergelak, suara ketawanya nyaring sekali, tanda bahwa lweekang-nya sudah matang, “Ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya! Memalsukan nama orang yang sudah mati saja ada orang berani lakukan, mengapa memalsukan nama orang yang masih hidup tidak berani? Sedikitnya, yang terakhir ini lebih jujur dan berani dari yang terdahulu!”

Merah Suling Emas. Ia merasa disindir-sindir. Apa hak orang ini menyindirnya kalau ia mengaku bernama Yu Kang Tianglo? Sedikitnya tidak merugikan Yu Kang Tianglo yang sudah mati, dan ia pun menyamar bukan dengan maksud buruk. Maka ia lalu maju selangkah dan berkata, “Sobat, engkau Suling Emas palsu. Akulah Suling Emas!”

Kembali orang itu tertawa, “Begitukah? Apakah engkau ini sebangsa bunglon bisa saja berganti-ganti nama seenaknya? Kemarin mengaku Yu Kang Tianglo kini mengaku Suling Emas? Ho-ho, tidak begitu mudah, sobat. Akulah Suling Emas!”

Suasana menjadi makin tegang dan di antara para pengemis Khong-sim Kai-pang sudah ada yang berteriak, “Hantam saja Suling Emas palsu ini!”

“Enyahkan si badut!”

“Buka kedoknya!”

Suling Emas makin mendongkol, “Hemm, kalau kau berkeras berarti engkau menghendaki kekerasan?”

“Terserah! Demi kebenaran, aku tidak takut kepadamu!”

“Baik! Majulah!” bentak Suling Emas.

Dua orang itu lalu bergerak maju. Suling Emas yang ingin mencoba kepandaian orang itu sudah menerjang dengan pukulan-pukulan berat. Namun orang itu ternyata lincah sekali, dapat mengelak cepat dan menangkis, bahkan balas menyerang! Ternyata bahwa ilmu silat tangan kosong orang ini cukup lihai dan memiliki daya tahan yang kuat luar biasa sehingga kalau ia melanjutkan pertandingan tangan kosong itu tentu makan waktu yang lama. Apa lagi kalau ia pikir bahwa tidak sekali-kali ia ingin mencelakakan orang ini sebelum ia mengetahui apa latar belakang perbuatannya yang aneh.

Maka ia lalu mengirim pukulan sambil melangkah maju. Ia mengerahkan tenaga ketika melihat betapa lawannya menerima pukulannya dengan jari terbuka itu dengan dorongan yang sama, agaknya untuk mengadu tenaga,. Dua telapak tangan bertemu keras sekali dan akibatnya... tubuh keduanya terpental ke udara dan mencelat ke belakang! Hanya bedanya, kalau Suling Emas hanya berjungkir balik satu kali saja, lawannya berjungkir balik sampai tiga kali baru turun ke atas papan panggung!

Sorak-sorai tepuk tangan menyambut demonstrasi ini. Dalam penglihatan mereka yang kurang tinggi ilmunya, gerakan ‘Suling Emas’ itu lebih indah karena sampai tiga kali berjungkir balik, akan tetapi dalam pandangan yang mengerti, kakek yang memalsu nama Suling Emas itu jelas kalah kuat tenaganya.

Kini mereka sudah berhadapan lagi. Suling Emas ingin menguji apakah pemalsunya juga mempunyai suling, maka sekali tangannya bergerak, sebatang suling emas berkilauan berada di tangan kanannya.

“Ha-ha-ha-ha! Lucu sekali! Yu Kang Tianglo yang sudah mati kini hidup lagi dan senjatanya berubah menjadi suling emas! Sebaliknya Suling Emas yang sudah puluhan tahun tenggelam entah ke mana kini muncul dengan tongkat di tangan!” Berkata demikian, kakek itu mengeluarkan sebatang tongkat rotan kecil dari tangannya, dan langsung menyerang Suling Emas. Tongkat rotan kecil itu ketika digerakkan mengeluarkan bunyi melengking-lengking!

Melihat ini, Suling Emas dan Yu Siang Ki mengeluarkan seruan kaget. Suling Emas cepat menangkis dengan sulingnya dan ketika lawannya menerjang terus sampai belasan jurus secara bertubi-tubi, ia cepat mencelat ke belakang sambil berseru.

“Tahan dulu! Sobat, pernah apakah engkau dengan Yu Kang Tianglo almarhum?”

Orang itu memandang Suling Emas dengan mata melotot, “Kau sudah tahu almarhum, kenapa masih tega memalsukan namanya? Suling Emas adalah seorang pendekar sakti yang dikagumi seluruh dunia kang-ouw, mengapa menjadi pengecut, menyembunyikan diri seperti penjahat dikejar, kemudian menyelinap bersembunyi di bawah nama Yu Kang Tianglo? Mengapa orang yang sudah mati diganggu, biar pun oleh sahabatnya sendiri? Seorang laki-laki sudah berani berbuat berani bertanggung jawab, tidak nanti melarikan diri dari pada tanggung jawab. Yang tidak berani mengakui semua perbuatannya, yang tidak berani menghadapi kenyataan pahit sebagai akibat perbuatannya, tidak patut disebut laki-laki! Hayo, kalau mau dilanjutkan aku akan melayani sampai mati!”

Suling Emas seperti ditusuk jantungnya. Ia memejamkan mata menahan keperihan hati. Kata-kata tadi amat menusuk perasaannya karena tepat sekali menyindir keadaannya. Puluhan tahun menyembunyikan diri, melarikan diri dari Ratu Yalina, dari musuh-musuh mendiang ibunya. Kemudian ia melihat akibat perbuatannya dengan terlahirnya Kiang Liong, terlahirnya Talibu dan Kwi Lan. Akan tetapi ia tetap masih menyembunyikan semua itu, dengan dalih menjaga nama baik mereka! Ah, lebih tepat menjaga nama baiknya sendiri. Ia memang pengecut selama ini!

“Sudahlah!!” katanya dengan keluhan berat dengan dua titik air mata membasahi matanya dan sekali renggut robeklah jubah pengemis dan tampak pakaian aslinya, pakaian Suling Emas! “Akulah Suling Emas dan memang aku pernah mempergunakan nama mendiang sahabat Yu Kang Tianglo! Akan tetapi hal ini tidak menyinggung siapa pun juga. Siapakah engkau ini yang mencampuri urusanku?”

“Tidak menyinggung orang lain akan tetapi menyinggung aku, Suling Emas!” kata kakek itu sambil merobek pula jubah ‘Suling Emas’-nya dan ternyata ia berpakaian ringkas sederhana. “Namaku adalah Ong Toan Liong dan aku suheng dari Yu Kang Tianglo! Ketika engkau menyamar sebagai Yu Kang Tianglo, aku besusah payah membantu Kauw Bian Cinjin membalaskan kehancuran Beng-kauw! Dan engkau enak-enak saja mempermainkan kaum pengemis dengan penyamaranmu.”

Suling Emas tertegun dan pada saat itu, Yu Siang Ki melompat naik ke atas papan panggung, langsung berlutut di depan kakek itu sambil berseru, “Ong-supek (Uwa Seperguruan Ong)...! Mendiang Ayah banyak bercerita tentang Supek... kenapa baru sekarang Supek memperkenalkan diri?"...


BERSAMBUNG KE JILID 16


Thanks for reading Mutiara Hitam Jilid 15 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »